12 pengaruh terhadap Bumi. b. Pengaruh dari revolusi bumi antara lain. 1) Pergantian Musim Bumi mengelilingi Matahari dengan posisi miring sebesar 23½° ke arah timur laut dari sumbu Bumi. Posisi ini menyebabkan terjadinya pergantian musim. Ketika kutub selatan Bumi condong ke Matahari, belahan Bumi bagian selatan bertambah dekat dengan Matahari. Hal ini menyebabkan belahan Bumi selatan mengalami musim panas. Pada saat yang sama, belahan Bumi utara semakin jauh dari Mathari. Belahan Bumi utara mengalami musim dingin. Di antara pergantian musim panas ke dingin, terjadi musim gugur. Diantara pergantian musim dingin ke panas, terjadi musim semi. Jadi, belahan Bumi selatan dan utara mengalami empat musim. 2) Gerak Semu Tahunan Matahari Matahari sebenarnya tidak mengalami perubahan posisi. Kenampakan ini terjadi akibat revolusi Bumi. Matahari seolah-olah bergerak atau berpindah tempat. Gerak inilah yang disebut gerak semu tahunan C. Metode Bermain Peran (Role Playing) 1. Pengertian Metode pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Role Playing adalah bermain peran, yang berpusat pada peserta didik, role playing menekankan sifat sosial pembelajaran, dan melihat perilaku kerja sama siswa untuk merangsang baik secara sosial maupun intelektual. Role playing sebagai strategi pengajaran menawarkan beberapa keuntungan untuk guru dan siswa (Pratiwi,2015). 2. Efektifitas Metode Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Role playing menciptakan Susana belajar yang aktif dan kreatif dalam kelompok, semua siswa dapat mengeksplor diri sebagai ahli, mengungkapkan gagasan kepada teman serta dapat menerima penjelasan dari teman yang lain, serta bermain peran sebagai tokoh bangsa bersama kelompoknya. Role playing di desain untuk meningkatkan kemampuan
13 kerja sama (Trianto, 2017). Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera kedalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktek-praktek berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri siswa. Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, siswa akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berprestasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran siswa harus aktif, karena tanpa adanya aktifitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. 3. Langkah-langkah Pembelajaran Metode Bermain Peran (Role Playing) a. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. b. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan belajar mengajar. c. Guru membantu kelompok siswa. d. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. e. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakukan skenario yang sudah dipersiapkan. f. Masing-masing siswa berada dikelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan. g. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas atau memberi penilaian atas penampilan masingmasing kelompok. h. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. i. Guru memberikan kesimpulan secara umum. j. Evaluasi. k. Penutup.
14 4. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) Kelebihan metode pembelajaran role playing a. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. b. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. c. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. d. Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar Kekurangan metode pembelajaran role playing a. Bermain peran memakan waktu yang banyak. b. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya. c. Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika Susana kelas tidak mendukung. d. Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh. e. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini. D. Penilaian Hasil Belajar IPA Menurut Suharjo (2006:77) Penilaian digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi yang diharapkan. Penilaian dapat berbentuk tertulis, kinerja, produk, penugasan/proyek, atau portofolio sesuai dengan aspek yang diukur. Upaya untuk mengevaluasi hasil belajar IPA diperlukan berbagai cara dan teknik penilaian yang sesuai dengan hakikat IPA. Supranata (2004) mengemukakan berbagai bentuk penilaian yang dapat digunakan khususnya dalam penilaian berbasis kelas, yakni : a. Tes tertulis, yang mengungkap aspek kognitif siswa. Bentuknya dapat berupa uraian, pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.
15 b. Tes perbuatan, yang dilakukan saat kegiatan berlangsung dengan prilaku siswa. c. Pemberian tugas, yang dilakukan untuk mengembangkan kreativitas siswa dengan bakat,minat, dan tingkat perkembangan. d. Penilaian proyek, yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian hasil belajar IPA adalah cara untuk mengukur hasil belajar IPA siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
16 BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Subjek Penelitian, Tempat, dan Waktu Penelitian serta Pihak yang Membantu 1. Subyek Penelitian Dalam Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VI.A SDN Kemirimuka 2 Depok sebanyak 43 siswa yang terdiri dari 26 siswa laki – laki dan 17 siswa perempuan. Dengan peneliti membagi kelompok atas berjumlah 15 siswa, kelas sedang 15 siswa dan kelas rendah 13 siswa. 2. Tempat Penelitian Sekolah yang dijadikan tempat penelitian adalah SD Negeri Kemirimuka 2, yang beralamat di Jln.H.Nyiur Rt 02 Rw 17, Kelurahan Kemirimuka Kecamatan Beji Kota Depok, Jawa Barat. Dengan jumlah keseluruhan 472 siswa. Saat ini yang menjabat sebagai Kepala Sekolah adalah Rusnadi,S.Pd. Dan disekolah ini, sekaligus tempat peneliti bertugas dengan harapan dapat meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar. 3. Waktu Pelaksanaan Penelitian tindakan kelas dilaksanakan mulai tanggal 31 Januari 2020 sampai dengan 7 Februari 2020, dengan tiga susunan dua siklus, dan berikut jadwal pelaksanaan tindakan penelitian kelas yang penulis sajikan dalam bentuk tabel seperti dibawah ini : Tabel 3.1 Jadwal Perbaikan Pembelajaran Pelaksanaan Perbaikan Hari/Tanggal Waktu Pra Siklus Kamis/ 31 Januari 2020 10.00 – 10.30 Siklus I Kamis/ 6 Februari 2020 10.00 – 10.30 Siklus II Jum’at/ 7 Februari 2020 09.30 – 10.00
17 4. Pihak yang membantu Penelitian ini dilakukan di kelas VI.A SDN Kemirimuka 2 Depok, Pihak yang membantu dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Kepala sekolah SDN Kemirimuka 2 yang bernama Bapak Rusnadi,S.Pd dan Ibu Inayah,S.Pd.SD sebagai supervisor yang bertugas sebagai guru kelas VI.B. B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran Kegiatan dirancang dengan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelas sendiri melalui refleksi dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar peserta didik meningkat (Zainal Aqib,2008). Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi. Penelitian dilaksanakan pada kelas VI.A SDN Kemirimuka 2 Kec. Beji Kota Depok. Waktu pelaksanaan menggunakan jam pelajaran reguler yang berlaku pada kelas penelitian, sehingga kegiatan PTK tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar (KBM). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yang meliputi : 1) tahap perencanaan, 2) implementasi tindakan, 3) tindakan observasi dan 4) refleksi. Berikut ini akan digambarkan tahap-tahap dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
18 Permasalahan : Hasil belajar yang rendah Perencanaan : • Menyusun RPP peristiwa rotasi dan revolusi bumi • Skenario penelitian siklus I Pelaksanaan : Pembelajaran sesuai dengan setting penelitian Pengamatan : Observasi pengamatan atau penelitian Refleksi : • Analisis hasil pengamatan siklus I • Hasil pembelajaran Siklus II Pelaksanaan : Pelaksanaan sesuai setting penelitian Perencanaan : • RPP siklus II • Pokok bahasan siklus I yang belum maksimal Menyempurnakan siklus I, skenario penelitian siklus II Pengamatan : Observasi pengamatan atau penelitian Refleksi : Hasil pengamatan siklus II Hasil pembelajaran Siklus I Hasil Gambar 3.1 Desain Penelitian Tindakan Kelas
19 Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan oleh peneliti. Adapun proses kerja dalam penelitian ini adalah: 1. Pra Siklus Pelaksanaan prasiklus dilakukan dengan tahap perencanaan, pelaksanaan,observasi dan refleksi. a. Perencanaan 1) Memohon izin dan Berkoordinasi terhadap pihak sekolah yaitu Kepala Sekolah untuk melakukan penelitian disekolah tersebut. 2) Berkoordinasi dengan supervisor yang akan dijadikan pengamat atau observasi dalam melakukan kegiatan penelitian terutama dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan 3) Membuat RPP dan kelengkapannya 4) Menyususn alat evaluasi 5) Menentukan waktu pelaksanaan b. Pelaksanaan 1) Membuka proses pembelajaran dengan mengucapkan salam dan mengajak semua siswa untuk berdoa. 2) Guru membuka pelajaran dengan memperkenalkan judul tema (Tema : Bumiku). 3) Guru memberikan beberapa pertanyaan untuk menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang topik yang akan dibahas pada tema. • Apa yang dapat kamu lakukan dan lihat ketika siang hari? • Apa yang dapat kamu lakukan dan lihat ketika malam hari? • Pernahkah kamu berpergian ke suatu tempat yang memiliki waktu berbeda dengan kota asalmu? • Bagaimana dengan cuaca sekarang? • Kata apa yang muncul dipikiranmu ketika mendengar kata musim? 4) Motivasi : Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami gerakan bumi.
20 5) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 6) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang pengertian rotasi bumi. 7) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang akibat dari rotasi bumi. 8) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang revolusi bumi. 9) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang akibat dari revolusi bumi. 10) Siswa bersama guru melakukan Tanya jawab tentang rotasi dan revolusi bumi. 11) Guru memberikan penguatan terhadap jawaban – jawaban siswa. 12) Siswa bersama guru menyimpulkan hasil pembelajaran tentang rotasi dan revolusi bumi. 13) Siswa mengerjakan soal evaluasi. 14) Guru mengakhiri pelajaran dengan doa dan salam. c. Observasi Berdasarkan pengamatan teman sejawat pada tahap prasiklus, ditemukan beberapa hal yang menjadi permasalahan untuk dijadikan penelitian yaitu : 1) Metode mengajar kurang menarik, hanya ceramah. 2) Media yang digunakan kurang menarik. 3) Siswa terlihat kurang perhatian pada saat pembelajaran. 4) Siswa kurang aktif dalam tanya jawab. 5) Guru kurang memberi motivasi pada siswa dalam pembelajaran. 6) Guru kurang menguasai strategi penguasaan kelas.
21 d. Refleksi Guru mengambil hasil evaluasi dari pembelajaran IPA kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi sebelum penelitian. Berdasarkan evaluasi pembelajaran pada kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi sebelumnya diperoleh nilai dari 34 anak (79%) yang nilainya masih di bawah KKM, dan 9 anak (21%) yang memenuhi KKM dengan nilai terendah 20 dan nilai tertinggi 90 rata-rata kelas 62. Berarti nilai IPA peserta didik kelas VI.A yang ada di SDN Kemirimuka 2 masih rendah. Dalam pra siklus ini peneliti belum memberikan metode yang akan diterapkan kepada siswa sehingga pengajaran yang digunakan masih menggunakan metode konvensional. Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk membandingkan keberhasilan pembelajaran menggunakan metode bermain peran (role playing) pada siklus I dan siklus II. 2. Siklus I Siklus I dalam penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari tahap perencanaan, implementasi tindakan, tindakan observasi dan refleksi. a. Perencanaan Dalam perencanaan yang akan dilakukan oleh peneliti, maka penelitian memerlukan sebuah perencanaan yang matang karena keberhasilan seseorang dalam melaksanakan penelitian sangat tergantung kepada persiapan atau perencanaan yang dilakukan. Terkait dengan penelitian yang akan penulis lakukan, dalam tahapan perencanaan ini penulis melakukan beberapa kegiatan / langkahlangkah dalam perencanaan sebagai berikut : 1) Memohon izin dan Berkoordinasi terhadap pihak sekolah yaitu Kepala Sekolah untuk penelitian disekolah tersebut. 2) Berkoordinasi dengan supervisor yang akan dijadikan pengamat atau observasi dalam melakukan kegiatan penelitian terutama dalam proses pembelajaran yang akan
22 dilakukan. 3) Bersama supervisor diskusi untuk menyusun lembar observasi yang sesuai dengan aspek yang akan diamati pada kegiatan perbaikan pembelajaran yang akan peneliti lakukan. 4) Menyusun RPP beserta kelengkapannya 5) Mengembangkan skenario pelaksanaan pembelajaran Peristiwa Rotasi dan revolusi Bumi : • Pembagian tim • Penetapan tugas untuk masing-masing tim • Mekanisme diskusi tim 6) Menyusun alat evaluasi 7) Melakukan simulasi pembelajaran dengan diamati oleh teman sejawat untuk mengukur ketepatan waktu dan metode yang akan digunakan 8) Menentukan waktu pelaksanaan. b. Tindakan Dengan dibantu oleh teman sejawat peneliti akan melaksanakan kegiatan implementasi tindakan pembelajaran dengan langkah- langkah sebagai berikut : 1) Guru mempersiapkan administrasi sekolah yaitu mempersiapkan RPP , silabus dan materi serta metode pembelajaran yang akan digunakan oleh guru 2) Guru memberikan salam kepada semua peserta didik. 3) Guru mengadakan absensi terhadap kehadiran peserta didik. 4) Guru melakukan penataan ulang ruang belajar dengan terlebih dahulu membuat kelompok untuk diskusi 5) Guru mempersiapkan siswa untuk memulai pembelajaran dan memberikan semangat dengan menggunakan yel yel dikelas 6) Guru mempersiapkan apersepsi dengan menanyakan hal – hal sebagai berikut : “Apa yang menyebabkan siang dan malam?”
23 “Bumi atau Mataharikah yang sesungguhnya bergerak? ““Ada berapa perbedaan waktu di Indonesia ?” “Ada berapa musim di Indonesia?” “Sebutkan musim yang ada di Indonesia!” 7) Guru memberikan motivasi akan pentingnya menguasai materi dengan baik untuk membantu siswa dalam memahami rotasi dan revolusi bumi 8) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai 9) Guru menjelaskan langkah – langkah dengan metode pembelajaran bermain peran (role playing) 10) Guru memulai pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran (role playing) dengan langkah – langkah sebagai berikut : (a). Guru memberikan pengantar mengenai materi rotasi dan revolusi. (b).Guru membentuk kelompok siswa yang masing-masing beranggotakan 4 orang. (c). Guru membagikan dan menjelaskan skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang akan ditampilkan oleh setiap kelompok (yang sudah disiapkan seminggu sebelumnya). (d).Kelompok secara bergantian melakoni skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang sudah diberikan guru. (e). Kelompok yang belum maju, mengamati skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang sedang diperagakan. (f). Setelah ditampilkan, guru membahas penampilan masing- masing kelompok. (g).Guru memerintah masing-masing kelompok menulis dan menyampaikan hasil kesimpulan tentang rotasi dan revolusi bumi. (h).Guru mempersilahkan kepada kelompok untuk bertanya (i). Guru bersama murid membuat kesimpulan tentang pembelajaran hari ini (j). Guru memberikan penguatan kepada seluruh siswa
24 (k).Guru memberikan evaluasi serta memeriksa hasil evaluasi pembelajaran hari ini berupa soal isian sebanyak 10 soal c. Observasi Berdasarkan pengamatan pada siklus I, ditemukan beberapa hal yang menjadi permasalahan yaitu hasil belajar siswa kurang memuaskan, dan nilai siswa yang tuntas masih rendah. Dan permasalahan lain yang ditemukan adalah : 1) Nilai siswa yang belum tuntas yaitu mencapai 30% ( 13 Orang) 2) Metode yang digunakan masih kurang efektif karena siswa masih malu-malu untuk memerankan skenario 3) Masih ada siswa yang belum menghafal skenario 4) Media pembelajaran masih perlu diubah 5) Pendekatan kelompok yang dilakukan sudah baik tetapi perlu ditingkatkan d. Refleksi Berdasarkan hasil pengamatan dengan supervisor, maka ditemukan adanya kekuatan dan kelemahan pada diri peneliti diantaranya : 1) Kekuatan (a). Guru Memiliki suara yang lantang sehingga siswa bisa focus dalam menerima pembelajaran (b).Guru berpenampilan menarik (c). Guru sudah membuat administrasi sekolah (d).Guru sudah melakukan apersepsi dengan baik (e). Guru juga sudah menjelaskan tujuan pembelajaran (f). Guru sudah menyiapkan skenario dan sudah menyiapkan evaluasi (g).Guru sudah membagikan kelompok dengan menyesuaikan tempat duduk siswa (h).Guru sudah memberikan kesempatan kepada semua kelompok untuk menampilkan skenario
25 2) Kelemahan (a). Guru belum bisa mengkondisikan waktu dengan baik (b).Masih ada siswa yang malu-malu saat memainkan skenario (c).Masih ada siswa yang belum hafal skenario (d).Guru belum maksimal dalam pembagian kelompok (e). Guru belum bisa menguatkan materi rotasi dan revolusi bumi dengan menggunakan metode bermain peran (role playing) Dengan demikian setelah melihat kekurangan dan kelebihan serta nilai yang masih ada dibawah KKM yaitu 30 % (13 orang) . Maka peneliti perlu melakukan perbaikan pada siklus ke II, supaya pada pembelajaran berikutnya dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Maka peneliti membuat Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut : 1. Guru belum bisa mengkondisikan waktu dengan baik, dengan jumlah siswa 43 orang butuh waktu yang lama untuk menunggu giliran sehingga siswa yang tidak maju masih terlihat berbicang kepada teman yang lainnya atau siswa berjalan-jalan ketempat kelompok lainnya. Pada siklus ke II guru mendatangi kepada setiap kelompok untuk menghemat waktu dan selalu memotivasi kepada setiap kelompok untuk tetap bersemangat dan penuh antusias dalam memainkan skenario. 2. Masih ada siswa yang malu-malu saat memainkan skenario, maka pada siklus II guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi diri siswa dan memberikan gairah dan semangat agar lebih berani dan menghayati dalam memainkan skenario. 3. Masih ada siswa yang belum hafal skenario, maka pada siklus ke II guru melakukan penjelasan materi rotasi dan revolusi lebih diperjelas kembali. 4. Guru belum maksimal dalam pembagian kelompok, maka pada siklus ke II guru melakukan pengundian secara acak dimana siswa yang lebih pintar akan disebar kepada tiap – tiap kelompok.
26 5. Guru belum bisa menguatkan materi rotasi dan revolusi bumi dengan metode bermain peran (role playing), maka pada siklus ke II guru memberikan penguatan kembali dengan menjelaskan kembali skenario yang akan diperankan. 6. Guru mempersiapkan LKS untuk berdiskusi pada siklus ke II. Supaya siswa lebih aktif lagi dalam pembelajaran. 3. Siklus II a. Perencanaan Peneliti membuat rencana perbaikan pembelajaran berdasarkan refleksi Siklus I untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik. Hal-hal yang akan dipersiapkan adalah menyusun perangkat pembelajaran yang lebih baik dan lengkap sesuai dengan tujuan pembelajaran dan refleksi. Peneliti membuat RPP model pembelajaran bermain peran (role playing) dan kelengkapannya yang sudah diperbaiki pada siklus I, menambahkan alat bantu pembelajaran yaitu globe. b. Tindakan Implementasi tindakan dalam siklus II adalah sebagai berikut : 1) Guru mempersiapkan administrasi sekolah yaitu mempersiapkan RPP , silabus dan materi serta metode pembelajaran yang akan digunakan oleh guru 2) Guru memberikan salam kepada semua peserta didik. 3) Guru mengadakan absensi terhadap kehadiran peserta didik. 4) Guru melakukan penataan ulang ruang belajar dengan terlebih dahulu membuat kelompok untuk diskusi 5) Guru mempersiapkan siswa untuk memulai pembelajaran dan memberikan semangat dengan menggunakan yel yel dikelas 6) Guru mempersiapkan apersepsi dengan menanyakan hal – hal sebagai berikut : “Mengapa ada siang da nada malam ?” “Apakah Matahari itu bergerak sehingga ia terbit dan tenggelam?” “Jika di Jakarta pukul 12.00, pukul berapakah di
27 Irian Jaya ?” “Ada berapa musim di dunia?” “Perhatikan keadaan sekarang ini. Musim apakah sekarang?” 7) Guru memberikan motivasi akan pentingnya menguasai materi dengan baik untuk membantu siswa dalam memahami rotasi dan revolusi bumi 8) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai 9) Guru menjelaskan langkah-langkah dengan metode pembelajaran bermain peran (role playing) 10) Guru memulai pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran (role playing) dengan langkah-langkah sebagai berikut : a) Guru memberikan pengantar mengenai materi rotasi dan revolusi. b) Guru membentuk kelompok siswa yang masing-masing beranggotakan 4 orang dengan siswa yang pintar disebar ditiap-tiap kelompok. c) Guru membagikan dan menjelaskan skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang akan ditampilkan oleh setiap kelompok dengan menambahkan dan mengubah media. d) Kelompok secara bergantian melakoni skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang sudah diberikan guru dengan speaker. e) Kelompok yang belum maju, mengamati skenario tentang rotasi dan revolusi bumi yang sedang diperagakan. f) Setelah ditampilkan, guru membahas penampilan masing- masing kelompok. g) Guru memerintah masing-masing kelompok menulis dan menyampaikan hasil kesimpulan tentang rotasi dan revolusi bumi. h) Guru mempersilahkan kepada kelompok untuk bertanya i) Guru bersama murid membuat kesimpulan tentang pembelajaran hari ini
28 j) Guru memberikan penguatan kepada seluruh siswa k) Guru memberikan evaluasi serta memeriksa hasil evaluasi pembelajaran hari ini berupa soal isian sebanyak 10 soal l) Guru memberikan penghargaan berupa reward 5 bintang yang akan ditempel pada papan prestasi yang berada didepan kelas kepada salah satu kelompok yang terbaik dalam melakoni skenario. c. Observasi Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh supervisor, maka terdapat beberapa hasil dalam pelaksanaan siklus III, dintaranya : 1) siswa sangat antusias dalam melakoni peran dan kelas menjadi dinamis. 2) Guru menggunakan media yang disukai oleh siswa serta alat dan bahan yang konkre 3) Siswa sangat semangat karena dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar 4) Kebersamaan di dalam kelompok sangat terasa d. Refleksi Berdasarkan hasil pengamatan dengan supervisor, maka ditemukan adanya kekuatan dan kelemahan pada diri penetili diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Kekuatan a) Guru sudah mempersiapkan administrasi dengan baik. b) Guru sudah bisa mengkondisikan waktu dengan tepat c) Guru sudah membagikan kelompok dimana siswa yang lebih pintar disebar kepada kelompok lain. d) Guru mengubah dan menambahkan media e) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi diri siswa dan memberikan gairah dan semangat agar lebih berani dan menghayati dalam memainkan skenario. f) Guru sudah memberikan apersepsi dengan baik.
29 g) Guru sudah menggunakan alat dan bahan yang kongkret. h) Guru memberikan reward berupa bintang yang akan ditempel pada papan prestasi. 2) Kelemahan Ternyata masih saja ada siswa yang belum focus dalam memperhatikan kelompok lain yang sedang maju. Peneliti melakukan refleksi terhadap pembelajaran terhadap siklus II. Setelah siklus II barulah pembelajaran mencapai target yang diharapkan oleh penulis dengan nilai siswa yang tidak tuntas mencapai 9 % (4 orang). Dimana nilai siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan dari siklus sebelumnya. Pada siklus ke II presentasi ketuntasan mencapai > 80 % dengan rata – rata 91 %. Sehingga penulis mencukupkan perbaikan hanya pada siklus ke II. C. Teknik Analisis Data Dalam menganalisis data, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Pengumpulan data keberhasilan belajar siswa dilakukan dengan cara melaksanakan evaluasi pada setiap siklus pembelajaran. 2. Setelah mengumpulkan data maka penulis membuat rata-rata keberhasilan siswa untuk setiap siklus. 3. Peneliti membandingkan semua hasil evaluasi dari siklus I sampai dengan siklus II untuk melihat perkembangan perubahan hasil belajar siswa yang terjadi pada setiap siklusnya. 4. Guru dikatakan berhasil dalam pelaksanaan pembelajaran jika hasil evaluasi siswa mendapat nilai > 80 % atau diatas rata-rata KKM. Untuk mengetahui keaktifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisi data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yaitu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk
30 mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau presentasi keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi pada siklus pertama yaitu soal pilihan ganda berupa 10 soal, dilanjutkan dengan siklus ke II evaluasi diberikan dengan soal isian sebanyak 10 soal.
31 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran 1. Prasiklus Pada hari kamis tanggal 30 Januari 2020 peneliti melaksanakan prasiklus untuk mengetahui kondisi awal hasil pembelajaran IPA kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi sebelum dilakukan penelitian sangat rendah. Hal ini terbukti dari hasil evaluasi prasiklus. Berikut adalah data perolehan nilai prasiklus : Tabel 4.1 PENILAIAN PRASIKLUS KELAS VI.A SDN KEMIRIMUKA 2 DEPOK NO NAMA SISWA L/P NILAI KET. 1 Abdul Aziz. A L 50 Belum Tuntas 2 Achmad Rosicky .R L 40 Belum Tuntas 3 Aditya Djanuarto L 90 Tuntas 4 Ahmad Prabu .S L 60 Belum Tuntas 5 Ahmad Ramdhani L 60 Belum Tuntas 6 Alifia Nur’aini . S P 80 Tuntas 7 ALliftia Ramadhani .S P 60 Belum Tuntas 8 Audina Rizqitalitha P 90 Tuntas 9 Bias Raissa Akbar L 70 Belum Tuntas 10 Bunga Savira P 60 Belum Tuntas 11 Dhini Aura .R P 60 Belum Tuntas 12 Elsa Emilia .S P 70 Belum Tuntas 13 Fahira Alisyah .I P 60 Belum Tuntas 14 Fahrezhi Mangaraja .H.P L 50 Belum Tuntas 15 Futri Kamilia .K P 80 Tuntas 16 Ganes Ayu Wulandari P 80 Tuntas 17 Gilang Maulidan L 70 Belum Tuntas 18 Kasih Rafifah .A P 70 Belum Tuntas 19 Keiysa Alyssa .P P 20 Belum Tuntas
32 20 Keyla Aulia .R P 90 Tuntas 21 M. Miftakhul Rozaq .A.S L 60 Belum Tuntas 22 Mawar Indriani P 20 Belum Tuntas 23 Miftah Elfa .A L 40 Belum Tuntas 24 Mohamad Alfarizi L 70 Belum Tuntas 25 Mohamad Fauzan Ali L 60 Belum Tuntas 26 Muhamad Farel Alfarizi L 20 Belum Tuntas 27 Muhammad Fadli .P L 80 Tuntas 28 Muhammad Farel .S L 70 Belum Tuntas 29 Muhammad Fattan .M L 60 Belum Tuntas 30 Muhammad Haikal .S L 60 Belum Tuntas 31 Muhammad Rafi L 60 Belum Tuntas 32 Muhammad Rizky .G.A L 70 Belum Tuntas 33 Nabil Firmansyah L 60 Belum Tuntas 34 Nayya Atsillah .P P 60 Belum Tuntas 35 Oka Satia .D L 90 Tuntas 36 Ramizar Pratama L 70 Belum Tuntas 37 Ricky Dwi Andika L 40 Belum Tuntas 38 Safira Haifah .M P 70 Belum Tuntas 39 Safitri P 60 Belum Tuntas 40 Said Khaidar Maulana .A L 60 Belum Tuntas 41 Syailendra Aryasatya .S L 60 Belum Tuntas 42 Tasya Diniati Aulia P 90 Tuntas 43 Valencia Milano .A.H L 40 Belum Tuntas Jumlah Nilai : 2680 Rata-rata : 62 Nilai Tertinggi : 90 Nilai Terendah : 20 Jumlah siswa yang tuntas : 9 Siswa 21% Jumlah siswa yang tidak tuntas : 34 Siswa 79% Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 43 siswa yang mengikuti evaluasi prasiklus, baru 9 anak (21%) yang mencapai ketuntasan. Nilai rata-rata siswa masih di bawah KKM. Nilai rata-rata siswa 62, dengan nilai tertinggi 90 dan terendah 20. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata masih di bawah KKM kelas, yaitu 75.
33 Berikut adalah penyajian rating prasiklus dalam data diagram dibawah ini : Gambar 4.1 Diagram Nilai IPA Prasiklus Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang belum tuntas ada 34 siswa (79%) sedangkan yang tuntas hanya 9 siswa (21%). Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian pada siklus I dan siklus II menggunakan metode bermain peran (role playing). 2. Siklus I Pada hari kamis tanggal 6 Februari 2020 peneliti melaksanakan siklus I, yang berguna untuk melakukan perbaikan pembelajaran prasiklus. Pada perbaikan awal, ternyata siswa masih banyak yang mengalami kesulitan dalam melakoni skenario dalam bermain peran. Hal ini dapat terlihat dengan ketuntasan siswa yang mengalami kenaikan, meski belum mencapai nilai ketuntasan yang telah ditentukan. Berikut adalah data perolehan nilai siklus I :
34 Tabel 4.2 PENILAIAN SIKLUS I KELAS VI.A SDN KEMIRIMUKA 2 DEPOK NO NAMA SISWA L/P NILAI KET. 1 Abdul Aziz. A L 60 Belum Tuntas 2 Achmad Rosicky .R L 50 Belum Tuntas 3 Aditya Djanuarto L 90 Tuntas 4 Ahmad Prabu .S L 50 Belum Tuntas 5 Ahmad Ramdhani L 50 Belum Tuntas 6 Alifia Nur’aini . S P 100 Tuntas 7 ALliftia Ramadhani .S P 100 Tuntas 8 Audina Rizqitalitha P 90 Tuntas 9 Bias Raissa Akbar L 80 Tuntas 10 Bunga Savira P 80 Tuntas 11 Dhini Aura .R P 80 Tuntas 12 Elsa Emilia .S P 80 Tuntas 13 Fahira Alisyah .I P 70 Belum Tuntas 14 Fahrezhi Mangaraja .H.P L 70 Belum Tuntas 15 Futri Kamilia .K P 100 Tuntas 16 Ganes Ayu Wulandari P 90 Tuntas 17 Gilang Maulidan L 100 Tuntas 18 Kasih Rafifah .A P 90 Tuntas 19 Keiysa Alyssa .P P 80 Tuntas 20 Keyla Aulia .R P 90 Tuntas 21 M. Miftakhul Rozaq .A.S L 80 Tuntas 22 Mawar Indriani P 70 Belum Tuntas 23 Miftah Elfa .A L 80 Tuntas 24 Mohamad Alfarizi L 80 Tuntas 25 Mohamad Fauzan Ali L 90 Tuntas 26 Muhamad Farel Alfarizi L 50 Belum Tuntas 27 Muhammad Fadli .P L 90 Tuntas 28 Muhammad Farel .S L 100 Tuntas 29 Muhammad Fattan .M L 60 Belum Tuntas 30 Muhammad Haikal .S L 90 Tuntas 31 Muhammad Rafi L 80 Tuntas 32 Muhammad Rizky .G.A L 80 Tuntas 33 Nabil Firmansyah L 70 Belum Tuntas 34 Nayya Atsillah .P P 70 Belum Tuntas
35 35 Oka Satia .D L 90 Tuntas 36 Ramizar Pratama L 80 Tuntas 37 Ricky Dwi Andika L 70 Belum Tuntas 38 Safira Haifah .M P 80 Tuntas 39 Safitri P 80 Tuntas 40 Said Khaidar Maulana .A L 90 Tuntas 41 Syailendra Aryasatya .S L 90 Tuntas 42 Tasya Diniati Aulia P 90 Tuntas 43 Valencia Milano .A.H L 50 Belum Tuntas Jumlah Nilai : 3410 Rata-rata : 79 Nilai Tertinggi : 100 Nilai Terendah : 50 Jumlah siswa yang tuntas : 30 Siswa 70% Jumlah siswa yang belum tuntas : 13 Siswa 30% Berdasarkan tabel 4.2 diatas, dapat di deskripsikan bahwa pada siklus I, dari 43 siswa hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan prasiklus. Dari data diatas bahwa siswa yang tuntas mencapai 70% (30 Orang). Dan siswa yang tidak tuntas sebesar 30% (13 orang). Dengan nilai rata-rata sebesar 79, maka sudah mencapai KKM. Tetapi masih belum mencapai target persentase nilai ketuntasan kelas. Berikut adalah penyajian rating peningkatan dalam data diagram dibawah ini: Gambar 4.2 Diagram Nilai IPA Siklus I
36 Berdasarkan dari Gambar 4.2, dapat dideskripsikan bahwa hampir seluruh nilai siswa mengalami kenaikan, setelah menggunakan metode bermain peran (role playing). Dimana pada siklus I ini yang mendominasi adalah warna merah, sehingga nilai siswa yang tuntas terlihat sangat jelas dan tinggi dimana terdapat 30 siswa (70%) yang tuntas diatas KKM. Sedangkan diagram yang berwarna biru hanya terdapat 13 siswa (30%) yang masih belum tuntas dan dibawah KKM. 3. Siklus II Pada hari jum’at tanggal 7 Februari 2020 peneliti melaksanakan siklus II, yang berguna untuk melakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I. Pada perbaikan kedua, ternyata siswa tambah antusias dalam melakoni skenario bermain peran. Hal ini dapat terlihat dengan ketuntasan siswa yang mengalami kenaikan, meski masih tersisa 4 siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan yang telah ditentukan. Berikut adalah data perolehan nilai siklus II : Tabel 4.3 PENILAIAN SIKLUS II KELAS VI.A SDN KEMIRIMUKA 2 DEPOK NO NAMA SISWA L/P NILAI KET. 1 Abdul Aziz. A L 80 Tuntas 2 Achmad Rosicky .R L 60 Belum Tuntas 3 Aditya Djanuarto L 100 Tuntas 4 Ahmad Prabu .S L 80 Tuntas 5 Ahmad Ramdhani L 90 Tuntas 6 Alifia Nur’aini . S P 90 Tuntas 7 ALliftia Ramadhani .S P 100 Tuntas 8 Audina Rizqitalitha P 100 Tuntas 9 Bias Raissa Akbar L 80 Tuntas 10 Bunga Savira P 95 Tuntas 11 Dhini Aura .R P 90 Tuntas 12 Elsa Emilia .S P 95 Tuntas 13 Fahira Alisyah .I P 90 Tuntas
37 14 Fahrezhi Mangaraja .H.P L 80 Tuntas 15 Futri Kamilia .K P 80 Tuntas 16 Ganes Ayu Wulandari P 100 Tuntas 17 Gilang Maulidan L 90 Tuntas 18 Kasih Rafifah .A P 90 Tuntas 19 Keiysa Alyssa .P P 80 Tuntas 20 Keyla Aulia .R P 100 Tuntas 21 M. Miftakhul Rozaq .A.S L 90 Tuntas 22 Mawar Indriani P 60 Belum Tuntas 23 Miftah Elfa .A L 90 Tuntas 24 Mohamad Alfarizi L 90 Tuntas 25 Mohamad Fauzan Ali L 80 Tuntas 26 Muhamad Farel Alfarizi L 60 Belum Tuntas 27 Muhammad Fadli .P L 100 Tuntas 28 Muhammad Farel .S L 100 Tuntas 29 Muhammad Fattan .M L 85 Tuntas 30 Muhammad Haikal .S L 80 Tuntas 31 Muhammad Rafi L 90 Tuntas 32 Muhammad Rizky .G.A L 80 Tuntas 33 Nabil Firmansyah L 80 Tuntas 34 Nayya Atsillah .P P 90 Tuntas 35 Oka Satia .D L 100 Tuntas 36 Ramizar Pratama L 90 Tuntas 37 Ricky Dwi Andika L 80 Tuntas 38 Safira Haifah .M P 60 Belum Tuntas 39 Safitri P 90 Tuntas 40 Said Khaidar Maulana .A L 85 Tuntas 41 Syailendra Aryasatya .S L 100 Tuntas 42 Tasya Diniati Aulia P 100 Tuntas 43 Valencia Milano .A.H L 80 Tuntas Jumlah Nilai Jumlah Nilai : 3730 Rata-rata Rata-rata : 87 Nilai Tertinggi Nilai Tertinggi : 100 Nilai Terendah Nilai Terendah : 60 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tuntas : 39 Siswa 91% Jumlah siswa yang belum tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas : 4 Siswa 9%
38 Berdasarkan tabel 4.3 diatas, dapat di deskripsikan bahwa pada siklus II, dari 43 siswa hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan dibandingakan dengan siklus I. Dari data diatas bahwa siswa yang tuntas mencapai 91% (39 Orang). Dan siswa yang tidak tuntas sebesar 9% (4 orang). Dengan nilai rata – rata sebesar 87. Berikut adalah penyajian rating peningkatan dalam data diagram dibawah ini : Gambar 4.3 Diagram Nilai IPA Siklus II Berdasarkan gambar 4.3 diatas, dapat dideskripsikan bahwa 39 siswa (91%) mengalami kenaikan. Hanya 4 siswa (9%) yang belum mengalami kenaikan. Dan peneliti berdiskusi dengan teman sejawat untuk memberhentikan perbaikan pembelajaran dan peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran pada siklus ke II. 4. Rekapitulasi Penelitian Tabel 4.4 DATA REKAPITULASI NILAI PEMBELAJARAN IPA PADA PENELITIAN PRASIKLUS, SIKLUS I DAN SIKLUS II KELAS VI.A SDN KEMIRIMUKA 2 DEPOK
39 Hasil yang dicapai Prasiklus Siklus I Siklus 1 Abdul Aziz II . A L 50 60 80 2 Achmad Rosicky .R L 40 50 60 3 Aditya Djanuarto L 90 90 100 4 Ahmad Prabu .S L 60 50 80 5 Ahmad Ramdhani L 60 50 90 6 Alifia Nur’aini . S P 80 100 90 7 ALliftia Ramadhani .S P 60 100 100 8 Audina Rizqitalitha P 90 90 100 9 Bias Raissa Akbar L 70 80 80 10 Bunga Savira P 60 80 95 11 Dhini Aura .R P 60 80 90 12 Elsa Emilia .S P 70 80 95 13 Fahira Alisyah .I P 60 70 90 14 Fahrezhi Mangaraja .H.P L 50 70 80 15 Futri Kamilia .K P 80 100 80 16 Ganes Ayu Wulandari P 80 90 100 17 Gilang Maulidan L 70 100 90 18 Kasih Rafifah .A P 70 90 90 19 Keiysa Alyssa .P P 20 80 80 20 Keyla Aulia .R P 90 90 100 21 M. Miftakhul Rozaq .A.S L 60 80 90 22 Mawar Indriani P 20 70 60 23 Miftah Elfa .A L 40 80 90 24 Mohamad Alfarizi L 70 80 90 25 Mohamad Fauzan Ali L 60 90 80 26 Muhamad Farel Alfarizi L 20 50 60 27 Muhammad Fadli .P L 80 90 100 28 Muhammad Farel .S L 70 100 100 29 Muhammad Fattan .M L 60 60 85 30 Muhammad Haikal .S L 60 90 80 31 Muhammad Rafi L 60 80 90 32 Muhammad Rizky .G.A L 70 80 80 33 Nabil Firmansyah L 60 70 80 34 Nayya Atsillah .P P 60 70 90 35 Oka Satia .D L 90 90 100 36 Ramizar Pratama L 70 80 90 37 Ricky Dwi Andika L 40 70 80
40 38 Safira Haifah .M P 70 80 60 39 Safitri P 60 80 90 40 Said Khaidar Maulana .A L 60 90 85 41 Syailendra Aryasatya .S L 60 90 100 42 Tasya Diniati Aulia P 90 90 100 43 Valencia Milano .A.H L 40 50 80 Jumlah Nilai : 2680 3410 3730 Rata-rata : 62 79 87 Nilai Tertinggi : 90 100 100 Nilai Terendah : 20 50 60 Jumlah siswa yang tuntas : 9 Siswa (21%) 30 Siswa (70%) 39 Siswa (91%) Jumlah siswa yang belum tuntas : 34 Siswa (79%) 13 Siswa (30%) 4 Siswa (9%) Berdasarkan data rekapitulasi pada tabel 4.4 di atas, peneliti mengamati bahwa pembelajaran yang dilakukan mengalami peningkatan yang sangat baik. Pengamatan pada tahapan prasiklus pada 43 peserta didik di kelas VI.A SDN Kemirimuka 2 Depok, didapat rata-rata nilai 62 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 20, dan didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 1 siswa (20%) dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 34 siswa (79%). Pengamatan pada tahapan siklus 1, didapat rata-rata nilai 79 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50, dan didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 30 orang (70%), dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 13 orang (30%). Pengamatan pada tahapan siklus 2, didapat rata-rata nilai 87 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60, dan didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 39 siswa (91%), dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 4 siswa (9%). Berdasarkan data tersebut, rekapitulasi nilai keseluruhan mulai dari tahapan prasiklus, siklus 1 hingga siklus 2, hasil peserta didik dalam mencapai target ketuntasan mengalami kenaikan yang
41 signifikan. Hal ini berarti bahwa penerapan metode bermain peran (role playing) dapat membantu keaktifan peserta didik dalam memahami kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi. Semua itu terlihat dari nilai yang dicapai peserta didik setelah tahapan siklus 2. Adapun rekapitulasi persentase target ketuntasan peserta didik di setiap tahapannya, tersaji pada gambar di bawah ini. Gambar 4.4 Diagram Rekapitulasi Ketuntasan Nilai IPA Prasiklus, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 4.4 di atas, yaitu diagram rekapitulasi persentase target ketuntasan nilai IPA dalam tahapan prasiklus, siklus 1, dan siklus 2 dapat diketahui bahwa pada tahapan prasiklus didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 9 orang dari 43 peserta didik (21%) dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 34 orang (79%). Pada tahapan siklus 1 didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 30 siswa dari 43 peserta didik (70%) dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 13 orang (30%). Pada tahapan siklus 2 didapatkan jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 39 orang dari 43 peserta didik (91%) dan yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 4 siswa (9%).
42 B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan pembelajaran 1. Prasiklus Pelajaran IPA merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa. Pada tes awal prasiklus peneliti memberikan 10 soal esai. Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat diketahui bahwa secara umum peserta didik masih belum menguasai materi tentang rotasi dan revolusi bumi. Dikarenakan proses pembelajaran didalam kelas masih didominasi oleh guru dengan menggunakan metode konvensional yaitu ceramah. Metode ceramah menurut Gilstrap dan Martin 1975 : ceramah berasal dari bahasa latin yaitu Lecturu, Legu ( Legree, lectus) yang berati membaca kemudian diartikan secara umum dengan mengajar sebagai akibat dari guru menyampaikan pelajaran dengan membaca dari buku dan mendiktekan pelajaran dengan penggunaan buku. Kadang-kadang guru sangat mengejar disampaikannya bahan sebanyak-banyaknya, sehingga hanya menjadi bersifat pemompaan. Sehingga metode ini kurang menarik minat para siswa. Dengan menggunakan metode ini guru hanya mengandalkan media papan tulis dan sebuah gambar matahari dan bumi. Sehingga Siswa hanya duduk diam memperhatikan dan mendengarkan ceramah guru. Setelah guru menjelaskan materi pelajaran, siswa menyalin atau mencatat materi tersebut di buku mereka masing-masing. Siswa kurang pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, guru tidak sering melakukan demonstrasi di depan kelas dan siswa tidak pernah diajak untuk melakukan diskusi sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Media yang digunakan masih sangat terbatas dan kurang tepat. Dilihat dari segi media pun siswa kurang tertarik. Apabila penceramah tidak memperhatikan segi-segi psikologis dan didastis dari anak didik, ceramah dapat bersifat melantur-lantur. Dalam proses pembelajaran dikelas yang masih terlalu berorientasi terhadap penguasaan teori dan hafalan banyak siswa yang terlihat kurang perhatian dan tidak fokus karena merasa bosan. Mereka lebih memilih berbincangbincang dengan temannya atau mengganggu temannya yang lain. Disaat guru mulai melemparkan pertanyaan setelah materi
43 dijelaskan, lebih banyak siswa yang diam dan bingung. Begitupun saat guru menanyakan apa ada pertanyaan yang tidak dimengerti, banyak siswa juga lebih memilih diam dan malu. Siswa cenderung menjadi pasif dan ada kemungkinan kurang tepat dalam mengambil kesimpulan, sebab guru menyampaikan bahan-bahan tersebut dengan lisan. Hanya siswa yang ituitu saja yang selalu aktif. Sehingga saat pembelajaran terlihat kurang hidup. Dengan suasana kelas yang kurang hidup, guru juga tidak memberikan penghargaan secara lisan maupun perbuatan kepada siswa yang bisa bertanya dan menjawab. Sehingga guru masih kurang memberikan motivasi kepada siswa untuk bertanya jawab. Menurut (Slater : 2005) dapat diartikan bahwa psikologi perkembangan anak sebagai ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan dan tingkah laku manusia. Psikologi perkembangan pendidikan dimaksudkan untuk memberikan pengaruh dalam kegiatan pembelajaran dan proses belajar mengajar yang lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan tingkah laku anak didik. Terlihat bahwa strategi penguasaan kelas di kelas VI.A masih kurang, dikarenakan banyaknya jumlah siswa dikelas dengan 43 siswa yang terdiri dari 26 siswa laki – laki dan 17 siswa perempuan. Dengan belum diadakannya strategi penguasaan kelas oleh guru maka para peserta didik menjadi gaduh di dalam kelas sehingga keadaan kelas menjadi tidak kondusif. Suparta, dkk (2002:205) mengemukakan bahwa Pengelolaan kelas adalah kegiatan belajar itu sendiri yang melibatkan materi, metode, media, dan diakhiri dengan evaluasi. Sedangkan pengelolaan kelas adalah usaha guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung dengan berhasil. Pada prasiklus peserta didik yang mencapai ketuntasan sebanyak 9 anak, yang belum mencapai ketuntasan adalah 34 anak dan nilai rata- rata 62. Dengan ketuntasan persentase peserta didik tuntas hanya 21 % dan persentase peserta didik yang tidak tuntas mencapai 79 %. Oleh Karena itu dapat dinyatakan pada saat pra siklus banyak yang harus diperbaiki mulai
44 dari metode pembelajaran, media pembelajaran, serta kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan mulai dari awal sampai akhir. Dengan melihat hasil seperti ini maka peneliti berdiskusi dengan teman sejawat untuk melakukan perbaikan pembelajaran. 2. Siklus I Berdasarkan kondisi pada saat prasiklus, peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menerapkan metode pembelajaran bermain peran (role playing) pada mata pelajaran IPA kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi. Pemilihan metode pembelajaran bermain peran (role playing) disebabkan karena keunggulan yang dimilikinya. Metode pembelajaran role playing merupakan suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa (Hamdani, 2011: 87). Penggunaan metode bermain peran (role playing) merupakan salah satu pemacu meningkatnya motivasi ekstrinsik siswa karena dapat menarik minat siswa.dalam mengikuti proses pembelajaran Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku sebagai hasil interaksinya dengan lingkungannya (Surya,2013.). Pada model ini, pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh matahari dan bumi. Dengan menggunakan skenario, microfon, senter dan nametag gambar matahari dan bumi, pengembangan imajinasi dan penghayatan menjadikan siswa dapat lebih memahami materi atau konsep yang dipelajari. Penggunaan metode pembelajaran bermain peran (role playing) pada mata pelajaran IPA tepat karena ciri khas pembelajaran pendidikan IPA adalah menekankan pada aspek pendidikan, yaitu siswa diharapkan memperoleh pemahaman konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya (Etin Solihatin, 2008: 14). Penggunaan metode bermain peran (role playing) mengunggulkan keuntungan menggunakan metode itu sendiri, yaitu siswa lebih tertarik perhatianya pada pelajarannya; melalui bermain peran sendiri, mereka mudah memahami akibat dari rotasi dan
45 revolusi bumi; melalui bermain peran sebagai matahari dan bumi, siswa dapat menempatkan diri seperti matahari dan bumi. Setelah semua kelompok melakoni skenario dan berdiskusi, guru mulai memberikan pertanyaan kepada masing-masing kelompok secara merata. Belum semua kelompok aktif menjawab. Begitupun pada saat guru menginginkan semua kelompok bertanya, beberapa kelompok antusias dan ada beberapa kelompok lainnya masih terlihat malu-malu. Didalam siklus I ini sudah mulai terlihat keaktifan siswa dalam bertanya jawab Menurut istilah didaktik, pujian atau penghargaan merupakan "fungsi reinforcement" atau fungsi penguatan yang lebih mendorong pada anak untuk semakin meningkatkan prestasi yang pernah diraihnya (Zainudin, 1991:86). Oleh karena itu agar siswa semakin termotivasi dalam aktivitas pembelajaran, guru memberikan penghargaan berupa lisan dan gerakan untuk siswa yang antusias dalam melakoni skenario, siswa yang berani menjawab maupun siswa yang berani bertanya. Pembelajaran pun mulai terlihat hidup dan menyenangkan. Dengan strategi penguasaan kelas menggunakan metode bermain peran (role playing) peneliti memilih pola pengorganisasian bermain peran jamak, dimana setiap kelompok bermain peran di depan kelas dan diamati oleh kelompok yang lain. Pada langkah kegiatan pembelajaran inti di gunakanlah prosedur pelaksanaan kegiatan metode bermain peran yang melalui beberapa tahap dalam pelaksanaannya. Proses bermain peran terdiri dari 3 tahap berupa tahap instruksi, tahap bermain peran, tahap diskusi dan evaluasi. Siswa belum terbiasa dengan kegiatan bermain peran, Sehingga pada siklus I dengan jumlah siswa 43 orang butuh waktu yang lama untuk menunggu giliran sehingga siswa yang tidak maju masih terlihat berbincang-bincang kepada teman yang lainnya atau siswa berjalan-jalan ketempat kelompok lainnya. Pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar peserta didik sudah mencapai diatas KKM yaitu 79 . Tetapi masih ada peserta didik yang belum tuntas yaitu 13 anak sedangkan yang tuntas ada 30 anak. Persentase
46 ketuntasan peserta didik sudah mencapai 70 %. Sedangkan persentase peserta didik belum tuntas 30 %. Pada siklus ke I ini perbaikan pembelajaran membuat meningkatnya nilai keberhasilan. Sehingga semakin menurun nilai peserta didik yang belum tuntas. Dengan melihat hasil seperti ini maka peneliti berdiskusi dengan teman sejawat untuk melakukan perbaikan pembelajaran ke siklus selanjutnya, yaitu siklus II. 3. Siklus II Berdasarkan kondisi pada saat Siklus I, peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat untuk melanjutkan kembali metode pembelajaran bermain peran (role playing) pada siklus II. Pada siklus II ini semua siswa sudah dapat menghafal dan melakoni skenario lebih baik dari pada siklus I. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bermain peran (role playing) dapat meningkatkan penguasaan konsep IPA siswa. Pembelajaran dengan menerapkan metode bermain peran (role playing) membuat siswa lebih mudah mengingat dan memahami konsep IPA. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syaiful Bahri Djamarah (2013: 89) yang menyatakan bahwa dengan menerapkan metode bermain peran dalam pembelajaran, siswa melatih dirinya untuk memahami, melatih dan mengingat isi bahan/materi yang didramakan. Maka dari itu, penguasaan konsep IPA siswa menjadi lebih baik. Pada pembelajaran siklus II guru mengubah media yang akan dipakai saat siswa melakoni skenario. Media yang sebelumnya berupa nametag gambar matahari dan bumi diubah dengan topi bergambar matahari dan bumi. Serta dilengkapi dengan globe untuk membantu siswa dalam bermain peran, agar siswa yang menonton temannya yang maju dengan mudah memahami bentuk bumi secara utuh. Nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II karena metode bermain peran (role playing) merupakan salah satu metode yang dapat menarik siswa menjadi penuh antusias sehingga kelas menjadi dinamis serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Uno
47 Hamzah (2009:26), bahwa metode bermain peran (role playing) dapat menjadi sarana bagi siswa untuk mendalami materi dalam mata pelajaran dengan berbagai cara. Siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa berebut untuk menjawab pertanyaan guru pada saat kegiatan diskusi secara klasikal. Pembelajaran IPA menggunakan metode bermain peran (role playing) dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abdul Majid (2013:208) yang menyatakan bahwa bermain peran dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran. Guru pun memberikan penghargaan berupa reward 5 bintang yang akan ditempel pada papan prestasi yang berada didepan kelas kepada salah satu kelompok yang terbaik dalam melakoni skenario. Sehingga siswa menjadi termotivasi dan berusaha melakoni skenario dengan lebih maksimal untuk berlomba mendapatkan penghargaan tersebut. penghargaan adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan penghargaan kepada seseorang karena sudah mengerjakan suatu hal yang benar, sehingga orang yang menerima penghargaan lebih bersemangat dalam melakukan hal yang benar. Dalam kaitannya dengan peserta didik, pengharagaan juga berarti suatu keterampilan dalam memberikan respon positif terhadap tingkah laku peserta didik sebagai penguatan agar tingkah laku positif dapat terulang kembali. Dengan menggunakan metode bermain peran (role playing), guru sudah membagikan kelompok dimana siswa yang lebih pintar disebar kepada kelompok-kelompok lain. Sehingga siswa lebih bergairah dan berani dalam menghayati dalam memainkan skenario. Oleh sebab itu pada siklus II ini siswa yang maju sudah bisa menjadi pusat perhatian kelompok yang belum maju, walaupun masih ada yang berbincang- bincang saat belum mendapatkan giliran. Penelitian pada siklus II dinyatakan berhasil karena sudah memenuhi kriteria keberhasilan yaitu nilai penguasaan konsep IPA dan peningkatan nilai rata-rata dan jumlah siswa, sebanyak 91% dari jumlah
48 siswa kelas VI.A SDN Kemirimuka 2 telah mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 80%. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti bersama kolaborator memutuskan untuk menghentikan tindakan kelas sampai pada siklus II. Sehingga peneliti sudah tidak melanjutkan kesiklus selanjutnya. Bagi siswa yang memperoleh nilai belum tuntas, guru perlu melakukan bimbingan tambahan di luar kelas.
49 BAB V SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT A. Simpulan Berdasarkan dari hasil perbaikan yang dilakukan oleh peneliti maka dapat disimpulkan : 1. Metode pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas VI SDN Kemirimuka 2 Depok pada kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi. 2. Hasil belajar IPA kelas VI SDN Kemirimuka 2 Depok pada kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi pada saat Prasiklus jumlah siswa yang belum tuntas ada 34 siswa (79%) sedangkan yang tuntas hanya 9 siswa (21%). Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian pada siklus I dan siklus II. Dimana pada siklus I ini terdapat 30 siswa (70%) yang tuntas. Sedangkan terdapat 13 siswa (30%) yang masih belum tuntas. Dilanjutkan pada Siklus II hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus I, dimana siswa yang tuntas mencapai 39 siswa (91%). Dan siswa yang tidak tuntas sebesar 4 siswa (9%). Dengan nilai rata-rata sebesar 87. B. Saran 1. Bagi peneliti lain yang akan menggunakan metode bermain peran (role playing) diperlukan waktu yang cukup untuk siswa memahami skenario yang dibuat oleh guru dan melakukan latihan sesuai dengan perannya. Skenario tidak harus dibuat oleh guru melainkan memberikan kesempatan siswa untuk ikut membuatnya sehingga dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi. Jika skenario dibuat oleh siswa sebaiknya ada waktu untuk siswa berkonsultasi dengan guru mengenai skenario yang mereka buat. 2. Bagi siswa dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan kreatifitas siswa dalam belajar serta meningkatkan interaksi antar siswa dan kerja
50 sama siswa dalam kelompok. 3. Bagi Guru, metode bermain peran (role playing) dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk meningkatkan motivasi serta hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA sehingga siswa dapat lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, terlibat aktif dan menjadi lebih mudah memahami materi yang diberikan. C. Tindak Lanjut Sebagai pendidik yang telah melaksanakan penelitian perbaikan pembelajaran. peneliti mempunyai banyak manfaat terutama dalam meningkatkan profesionalitas guru. Penulis berkewajiban membagi pengalaman dan membantu sesama teman seprofesi yang mengalami masalah dikelasnya. Untuk tujuan ini menjadi masukan bagi sekolah agar lebih berkualitas dalam proses belajar dan mengajar dikelas. Hendaknya para pelaku pendidikan dapat menerapkan metode Bermain Peran (Role Playing) pada materi-materi pembelajaran IPA yang sesuai. Penelitian, pelatihan, seminar dan belajar terus dengan giat harus terus dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas dan kualitas guru-guru Sekolah Dasar yang ada di Indonesia.
51 DAFTAR PUSTAKA Abdul Majid. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Abdullah Ali. (2003). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara. Ahmadi, Abu dan Supriyono, Widodo. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Akbar, Usman. (2006). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara. Al-Tabany, Trianto Ibnu Badar. (2017). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, Dan Kontekstual. Jakarta: Kencana. Aqib, Zainal. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yarma Widya. Arief S. Sadiman. (2003). Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Asyari, Muslichah. (2006). Penerapan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan. BSNP. (2006) Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA SD/MI. Jakarta: Dirjen Departemen Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19. (2005). Standar Nasional pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Depdiknas. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. (2013). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia Hamzah B. Uno dan Masri Kudrat Umar. (2009). Mengelola Keserdasan dalam . (2006). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Depdiknas. Solihatin, Etin dan Raharjo. (2008). Cooperative Learning Analisis Model
52 Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara. Suharjo. (2006). Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar Teori dan Praktek. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan. Jakarta. Supranata, Sumarna Surapranata. (2004). Panduan Penulisan Tes Tertulis Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Santi Dewiki dan Sri Yuniati Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Usman Samatowa. (2006). Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas. Yusuf gunawan. (2001). Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Prenhallindo. Zainudin. (1991). Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara. Zainuddin. (1991). Materi Pokok Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Lampiran 1 57 Kesediaan sebagai Supervisor dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kepada Kepala UPTD SDN KEMIRIMUKA 2 Di Depok Yang bertanda tang an dibawah ini : Nama : INAYAH, S. Pd. SD. NIP : 197502172006042012 Tempa Alamat Mengajar Sekolah : SDN KEMIRIMUKA 2 :Jl. Nyiur Rt. 002/017 Telepon : 088211299063 Menyatakan bersedia sebagai Supervisor untuk kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Nama : LINLIN NURYATI, S.Pd NUPTK : 8343763666300003 Tempat Mengajar Alamat Sekolah : SDN KEMIRIMUKA 2 : :Jl. Nyiur Rt. 002/017 Telepon : 085659866723 'Demikian agar surat pemyataan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya. Depok, 10 Februarui 2020 Mengetahui, Kepala UPTD SDN Kemirimuka 2 Rusnadi, S.Pd Nip. 196112101994021001 Supervisor, Inayah, S.Pd, SD Nip. 197502172006042012
Lam 58 piran 2 PERENCANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) Fakta dan data Pembelajaran dikelas Peneliti melakukan penelitian tentang pemahaman siswa kelas VI SDN Kemirimuka 2 Depok terhadap kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi pembelajaran IPA. Berdasarkan hasil observasi pada tes belajar yang telah dilaksanakan, ternyata hasilnya masih sangat rendah. Identifikasi Masalah 1. Metode mengajar kurang menarik, hanya ceramah. 2. Media yang digunakan kurang menarik. 3. Siswa terlihat kurang perhatian pada saat pembelajaran. 4. Siswa kurang aktif dalam tanya jawab. 5. Guru kurang memberi motivasi pada siswa dalam pembelajaran. 6. Guru kurang menguasai strategi penguasaan kelas. Analisis Masalah 1. Guru menggunakan metode yang kurang variasi. 2. Guru kurang tepat memilih media dalam pembelajaran. 3. Proses pembelajaran masih terlalu berorientasi terhadap penguasaan teori dan hafalan. 4. Siswa masih malu untuk bertanya jawab. 5. Guru kurang memberikan penghargaan kepada siswa yang berhasil menjawab secara lisan maupun
59 perbuatan. 6. Jumlah siswa yang terlalu banyak, yaitu 43 siswa dalam sekelas. Alternatif Pemecahan Masalah 1. Guru menggunakan metode yang bervariasi yaitu metode bermain peran (Role Playing) untuk menarik minat siswa. 2. Guru menggunakan media yang kreatif. 3. Guru mempunyai inspirasi baru untuk menarik perhatian dalam pembelajaran. 4. Guru mempelajari tehknik bertanya agar seluruh siswa mendapat kesempatan untuk bertanya jawab. 5. Memberikan penghargaan kepada siswa yang berhasil menjawab secara lisan maupun perbuatan. 6. Guru menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa Rumusan Masalah 1. Apakah metode pembelajaran bermain peran (role playing) dapat meningkatan hasil belajar IPA kelas VI SDN Kemirimuka 2 Depok pada kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi ? 2. Seberapa besarkah pencapaian metode pembelajaran bermain peran (role playing) dapat meningkatan hasil belajar IPA kelas VI SDN Kemirimuka 2 Depok pada kompetensi dasar rotasi dan revolusi bumi?
59 Kompetensi Dasar (KD) Indikator Pencapaian Kompetensi 3.8 Menjelaskan peristiwa rotasi dan revolusi Bumi serta terjadinya gerhana bulan dan gerhana Matahari. 3.8.1 menjelaskan tentang peristiwa rotasi bumi dan akibatnya 3.8.2 mengetahui dan memahami konsep perbedaan waktu siang dan malam. 3.8.3 mengetahui tentang perbedaan waktu di bumi dan pengaruhnya pada kegiatan sehari-hari. 3.8.4 menjelaskan tentang peristiwa revolusi bumi dan dampaknya pada perubahan musim di bumi. 3.8.5 memahami hal-hal yang menyebabkan perbedaan musim sebagai akibat dari revolusi bumi. Lampiran 3 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SD Negeri KEMIRIMUKA 2 Kelas / Semester : VI (Enam) / 2 Tema 8 : Bumiku Fokus Pembelajaran : IPA Alokasi Waktu : 1 ( 2 x 35 menit) A. KOMPETENSI INTI (KI) KI 3 : Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, serta benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain. KI 4 : Menunjukkan keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya. B. KOMPETENSI DASAR (KD) & INDIKATOR IPA Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Teliti Percaya diri Kerja sama Tekun mandiri
60 C. TUJUAN PEMBELAJARAN Melalui penjelasan guru siswa mampu memahami tentang rotasi Bumi dan akibatnya. Melalui penjelasan guru tentang perputaran Bumi, siswa mampu mengetahui dan memahami konsep perbedaan waktu siang dan malam. Melalui penjelasan guru siswa akan mengetahui tentang perbedaan waktu di bumi dan pengaruhnya pada kegiatan sehari-hari. Melalui penjelasan guru siswa mampu mengetahui tentang peristiwa revolusi bumi dan dampaknya pada perubahan musim di bumi. Melalui penjelasan guru, siswa memahami hal-hal yang menyebabkan perbedaan musim sebagai akibat dari revolusi bumi. D. MATERI PEMBELAJARAN Pengertian, Akibat Rotasi dan Revolusi Bumi Rotasi Bumi a. Pengertian Rotasi Bumi Perputaran Bumi pada porosnya disebut rotasi Bumi. Untuk satu kali rotasi, Bumi memerlukan waktu sehari (24 jam). Gerak rotasi Bumi menyebabkan berbagai peristiwa. Sebenarnya bukan matahari yang mengelilingi bumi, melainkan bumi berputar pada sumbunya dari arah barat ke arah timur. Perputaran bumi pada sumbunya disebut rotasi. Waktu yang diperlukan untuk satu kali rotasi disebut kala rotasi. Kala rotasi untuk bumi ialah 24 jam. Pada saat bagian bumi menghadap matahari, bumi dalam keadaan siang, sedangkan bagian bumi yang tidak mendapat cahaya matahari berada dalam keadaan malam hari. Jadi, terjadinya siang dan malam disebabkan oleh terjadinya rotasi bumi, juga karena bentuk bumi yang bulat. Jika perputaran bumi pada porosnya disebut rotasi, perputaran bumi mengelilingi matahari disebut revolusi. Waktu revolusi bumi adalah 365,25 hari atau 1 tahun. Pada saat mengelilingi matahari, bumi tetap berputar pada porosnya. b. Pengaruh Rotasi Bumi antara lain: (1) Pergantian siang dan malam. Saat berotasi semua bagian bumi mendapatkan sinar mataharisecara bersamasama, bagian bumi mendapatkan sinar matahari secara bergantian. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami siang, sementara bagian yang tidak mendapatkan sinar matahari mengalami malam. (2) Gerak Semu Harian Matahari
61 Matahari selalu terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Gerakan seperti ini disebut gerak semu harian Matahari. Gerakan ini terjadi karena adanya rotasi Bumi. Bumi berotasi dengan arah gerakan dari barat ke timur. Akibatnya, Matahari seolah-olah bergerak dari timur ke barat. (3) Perbedaan Waktu di Berbagai Tempat di Dunia Rotasi Bumi menyebabkan adanya perbedaan waktu di berbagai tempat di dunia. Dalam satu kali rotasi, Bumi membutuhkan waktu 24 jam (satu hari) dan sudut tempuh sejauh 360°. Berdasarkan hal tersebut, setiap tempat di Bumi dengan jarak 15° memiliki perbedaan waktu satu jam. Jika jaraknya 30°, maka perbedaan waktunya dua jam, dan seterusnya. Angka ini berasal dari pembagian sudut tempuh dengan waktu tempuh (360° : 24 = 15°). Karena setiap jarak 15° selisih waktunya satu jam, maka Indonesia memiliki tiga daerah waktu. Tiga daerah waktu tersebut yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur). (4) Perbedaan Percepatan Gravitasi di Permukaan Bumi Rotasi Bumi menyebabkan Bumi berbentuk tidak bulat sempurna. Bumi pepat di bagian kutubnya. Bentuk ini mengakibatkan jari-jari Bumi di daerah kutub dan khatulistiwa berbeda. Perbedaan jari-jari Bumi menimbulkan perbedaan percepatan gravitasi di permukaan Bumi. Perbedaan tersebut terutama di daerah khatulistiwa dengan kutub. Revolusi Bumi a. Pengertian Revolusi Bumi Selain berputar pada porosnya, Bumi juga berputar mengelilingi Matahari. Gerakan Bumi mengelilingi Matahari disebut revolusi Bumi. Untuk satu kali revolusi, Bumi membutuhkan waktu satu tahun (365¼ hari). Revolusi Bumi membawa beberapa pengaruh terhadap Bumi. b. Pengaruh dari revolusi bumi antara lain. (1) Pergantian Musim Bumi mengelilingi Matahari dengan posisi miring sebesar 23½° ke arah timur laut dari sumbu Bumi. Posisi ini menyebabkan terjadinya pergantian musim. Ketika kutub selatan Bumi condong ke Matahari, belahan Bumi bagian selatan bertambah dekat dengan Matahari. Hal ini menyebabkan belahan Bumi selatan mengalami musim panas. Pada saat yang sama, belahan Bumi utara semakin jauh dari Mathari. Belahan Bumi utara mengalami musim dingin. Di antara pergantian musim
62 panas ke dingin, terjadi musim gugur. Diantara pergantian musim dingin ke panas, terjadi musim semi. Jadi, belahan Bumi selatan dan utara mengalami empat musim. (2) Gerak Semu Tahunan Matahari Matahari sebenarnya tidak mengalami perubahan posisi. Kenampakan ini terjadi akibat revolusi Bumi. Matahari seolah- olah bergerak atau berpindah tempat. Gerak inilah yang disebut gerak semu tahunan E. METODE PEMBELAJARAN Pendekatan : Tematik dan Saintifik Metode : Tanya jawab, penugasan dan ceramah F. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN Buku Guru & Buku Siswa Kelas VI Tema 8 : ”Bumi”, Fransiska Susilawati dkk, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta : 2018. G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu Pendahuluan Membuka proses pembelajaran dengan mengucapkan salam dan mengajak semua siswa untuk berdoa. Guru membuka pelajaran dengan memperkenalkan judul tema (Tema : Bumiku). Guru memberikan beberapa pertanyaan untuk menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang topik yang akan dibahas pada tema. - Apa yang dapat kamu lakukan dan lihat ketika siang hari? - Apa yang dapat kamu lakukan dan lihat ketika malam hari? - Pernahkah kamu berpergian ke suatu tempat yang memiliki waktu berbeda dengan kota asalmu? - Bagaimana dengan cuaca sekarang? - Kata apa yang muncul dipikiranmu ketika mendengar kata musim? Motivasi : Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami gerakan bumi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 10 menit
63 Inti Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang pengertian rotasi bumi. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang akibat dari rotasi bumi. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang revolusi bumi. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang akibat dari revolusi bumi. Siswa bersama guru melakukan Tanya jawab tentang rotasi dan revolusi bumi. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban – jawaban siswa. 50 Menit Penutup Siswa bersama guru menyimpulkan hasil pembelajaran tentang rotasi dan revolusi bumi. Siswa mengerjakan soal evaluasi. Guru mengakhiri pelajaran dengan doa dan salam. 10 menit
64 H. PENILAIAN PEMBELAJARAN A. Instrumen Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Instrumen/ Soal Siswa dapat menjelaskan tentang peristiwa rotasi bumi dan akibatnya Siswa dapat mengetahui dan memahami konsep perbedaan waktu siang dan malam. Siswa dapat mengetahui tentang perbedaan waktu di bumi dan pengaruhnya pada kegiatan sehari-hari. Siswa dapat menjelaskan tentang peristiwa revolusi bumi dan dampaknya pada perubahan musim di bumi. Siswa dapat memahami hal-hal yang menyebabkan perbedaan musim sebagai akibat dari revolusi bumi. Tugas Individu Tes Tertulis Terlampir Format Kriteria Penilaian Produk (Hasil Jawaban) Mengetahui, Kepala UPTD SDN Kemirimuka 2 Rusnadi, S.Pd Nip. 196112101994021001 Depok, 30 Januari 2020 Guru Kelas, Linlin Nuryati, S.Pd Nuptk. 8343763666300003 No Aspek Kriteria Skor 1 Konsep Pilihan Ganda Betul 1 = 1 Salah 1 = 0 Betul 10 x 10 100