The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku “Kurikulum dan Pendidikan” di hadapan pembaca merupakan buku yang disusun dengan cermat oleh akademisi dan praktisi sebagai bagian dari tanggung jawab dan tugas dalam mengembangkan bahan ajar perkuliahan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat global serta kebutuhan dunia pendidikan.
Tentu saja pengetahuan “Kurikulum dan Pendidikan” adalah keterampilan yang perlu dipersiapkan oleh banyak kalangan, mahasiswa LPTK/FITK yang disiapkan menjadi calon guru profesional, guru, dan praktisi pendidikan masa depan.
Istilah “kurikulum” sendiri masih menjadi topik perdebatan yang menarik, tidak hanya secara teoritis tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru
sekolah, tetapi lebih karena kesadaran masyarakat dan pemerintah (sebagai otoritas dalam mengembangkan program) terus dibenahi. untuk aplikasi
lapangan. Pengembangan program tersebut tentunya berdampak pada empat hal, yaitu perubahan standar kompetensi, standar isi, standar proses, dan standar penilaian lulusan. Suka tidak suka, mata pelajaran kurikulum
dan pendidikan selalu menjadi fenomena menarik yang terus dikaji dan
diteliti.
Sajian buku ini disusun berdasarkan pada kebutuhan perkuliahan, meliputi Konsep/teori kurikulum, Komponen-komponen kurikulum, Evaluasi kurikulum, Konsep dasar pembelajaran, Model-model pembelajaran, Inovasi kurikulum dan pembelajaran, Metode pembelajaran dalam kelas, serta Perkembangan kurikulum di Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-17 04:03:01

KURIKULUM DAN PENDIDIKAN

Buku “Kurikulum dan Pendidikan” di hadapan pembaca merupakan buku yang disusun dengan cermat oleh akademisi dan praktisi sebagai bagian dari tanggung jawab dan tugas dalam mengembangkan bahan ajar perkuliahan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat global serta kebutuhan dunia pendidikan.
Tentu saja pengetahuan “Kurikulum dan Pendidikan” adalah keterampilan yang perlu dipersiapkan oleh banyak kalangan, mahasiswa LPTK/FITK yang disiapkan menjadi calon guru profesional, guru, dan praktisi pendidikan masa depan.
Istilah “kurikulum” sendiri masih menjadi topik perdebatan yang menarik, tidak hanya secara teoritis tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru
sekolah, tetapi lebih karena kesadaran masyarakat dan pemerintah (sebagai otoritas dalam mengembangkan program) terus dibenahi. untuk aplikasi
lapangan. Pengembangan program tersebut tentunya berdampak pada empat hal, yaitu perubahan standar kompetensi, standar isi, standar proses, dan standar penilaian lulusan. Suka tidak suka, mata pelajaran kurikulum
dan pendidikan selalu menjadi fenomena menarik yang terus dikaji dan
diteliti.
Sajian buku ini disusun berdasarkan pada kebutuhan perkuliahan, meliputi Konsep/teori kurikulum, Komponen-komponen kurikulum, Evaluasi kurikulum, Konsep dasar pembelajaran, Model-model pembelajaran, Inovasi kurikulum dan pembelajaran, Metode pembelajaran dalam kelas, serta Perkembangan kurikulum di Indonesia.

Ir. Hendar Ahmad Wibisono, S.Pd., M.Pd.Gr., M.Sc.Ed., Al Munip, S.Pd, M.Pd., Haerudin, S.Pd., M.Pd., Arni Nazira , M. Zainul Ridho, Purnomo Romdhoni, S.Pd., M.E., Siti Maryam Ulfa , Rangga Alif Faresta, Malisa, Hendra, M.Pd., Roi Boy Jon, M. Zaenal Abidin, Muhammad Azhar Kholidi, S.Pd., ME.d., Siti Nurul Yaqutu Burhani


Kurikulum dan Pendidikan Copyright© PT Penamudamedia, 2023 Penulis: Ir. Hendar Ahmad Wibisono, S.Pd., M.Pd.Gr., M.Sc.Ed., Al Munip, S.Pd, M.Pd., Haerudin, S.Pd., M.Pd., Arni Nazira , M. Zainul Ridho, Purnomo Romdhoni, S.Pd., M.E.,Siti Maryam Ulfa , Rangga Alif Faresta, Malisa, Hendra, M.Pd., Roi Boy Jon , M. Zaenal Abidin, Muhammad Azhar Kholidi, S.Pd., ME.d., Siti Nurul Yaqutu Burhani Editor: Nofrizal, S.Pd., M.M ISBN: 978-623-09-4625-7 Desain Sampul: Tim PT Penamuda Media Tata Letak: Enbookdesign Diterbitkan Oleh PT Penamuda Media Casa Sidoarium RT 03 Ngentak, Sidoarium Dodeam Sleman Yogyakarta HP/Whatsapp : +6285700592256 Email : [email protected] Web : www.penamuda.com Instagram : @penamudamedia Cetakan Pertama, Juli 2023 x + 190, 15x23 cm Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin Penerbit


v Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan, ketekunan, kesabaran dan karunia-Nya, sehingga buku ini dapat diselesaikan. Buku Kurikulum dan Pendidikan ini menyajikan konsep, kurikulum dan praktik pendidikan secara sederhana, lugas, dan mudah dipahami. Buku ini terdiri dari 14 BAB materi yang sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis oleh akademisi dan praktisi dari berbagai Institusi dan Universitas di Indonesia. Kami yakin dengan membaca buku ini, pembaca akan terbantu mendapatkan landasan dan inspirasi yang kokoh dalam memahami segala hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan kurikulum dan pendidikan. Diharapkan dengan hadirnya buku ini, dapat menambah wawasan, dan meningkatkan pemahaman peserta didik dalam mengembangkan usaha yang sesuai dengan kebutuhan saat ini. Pada kesempatan ini, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penulisan buku ini, terutama para penulis dan penerbit, yang telah memungkinkan terwujudnya buku ini. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang diberikan, amin.


vi Kami menyadari bahwa buku ini jauh dari kata sempurna, masih terdapat kekurangan dalam penulisan, penyajian, dan penyusunannya. Semoga kekurangan tersebut tidak mengurangi esensi kehadiran dan kebermanfaatan buku ini. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca yang ingin mempelajari dan mendalami konsep dan atau praktik kurikulum dan pendidikan. Nofrizal, S.Pd., M.M. Editor


vii Daftar Isi KATA PENGANTAR .................................................................................. v DAFTAR ISI ........................................................................................... vii BAB 1 PENGERTIAN DAN KONSEP KURIKULUM ..................................... 1 A. Landasan Kurikulum 4 BAB 2 LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM ................................. 13 A. Pembahasan 14 B. Penutup 19 BAB 3 KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM ....................................... 20 A. Komponen Tujuan 20 B. Komponen Isi/Materi 23 C. Komponen Kegiatan 27 D. Komponen Strategi 30 E. Komponen Evaluasi 31 BAB 4 MODEL DAN ORGANISASI KURIKULUM ....................................... 33 A. Pengertian Budaya Organisasi 33 BAB 5 EVALUASI KURIKULUM ............................................................... 43 A. Tujuan Kurikulum 44 B. Struktur dan Isi Kurikulum 45


viii C. Materi Pembelajaran 47 D. Assessment 49 E. Kesiapan Guru 50 F. Pengaruh Kurikulum Terhadap Siswa 52 G. Pelaksanaan Kurikulum 54 H. Keberlanjutan dan Perbaikan 56 BAB 6 KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN ............................. 59 A. Tujuan Pengembangan Kurikulum 61 B. Prinsip danAcuan Operasional Pengembangan Kurikulum 63 C. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Membangun Pembelajaran Berbasis Komprehensif dan Kontekstual 72 BAB 7 KONSEP DASAR PEMBELAJARAN ............................................... 75 A. Hakikat Belajar 75 B. Hakikat Pembelajaran 78 C. Ciri-Ciri Pembelajaran 80 D. Proses Pembelajaran 81 BAB 8 PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN ............................................. 83 A. Pengertian Belajar menurut Beberapa Ahli 84 B. Pengertian Prinsip Pembelajaran 86 C. Prinsip dalam Pembelajaran 88 BAB 9 KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN................................. 95 A. Tujuan Pembelajaran 95 B. Interaksi antara Pendidik dan Peserta didik 97 C. Materi Pembelajaran 98


ix D. Metode Pembelajaran 99 E. Media Pembelajaran 100 F. Evaluasi Pembelajaran 101 G. Motivasi Belajar 102 H. Kesimpulan 103 BAB 10 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ............................................ 104 A. Konsep Model Pembelajaran 105 B. Macam-Macam Model Pembelajaran 108 BAB 11 INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN ........................... 113 A. Urgensi Inovasi Kurikulum.................................................... 113 B. Langkah-Langkah Inovasi Kurikulum................................... 114 C. Urgensi Inovasi Pembelajaran.............................................. 122 D. Peran Guru Dalam Inovasi Pembelajaran ............................ 123 BAB 12 METODE-METODE PEMBELAJARAN DALAM KELAS ................. 126 A. Metode Pembelajaran Langsung.......................................... 130 B. Metode Kolaboratif ............................................................... 132 C. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL)........................................................................ 135 D. Model Pembelajaran Berbasis Proyek.................................. 138 E. Contoh model pembelajaran berbasis proyek .................... 139 F. Model Pembelajaran Berbasis Masalah................................ 140 G. Model Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah ........... 140 H. Model Pembelajaran Terbalik (Flip Classroom)................... 140 I. Model Pembelajaran Diferensiasi......................................... 141


x BAB 13 PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA ........................ 143 A. Kurikulum Pada Masa Orde Lama 145 B. Kurikulum Pada Masa Orde Baru 147 C. Kurikulum Pada Masa Reformasi 151 BAB 14 MODEL-MODEL KURIKULUM PEMBELAJARAN ....................... 156 A. Model Kurikulum Subjek Akademis...................................... 157 B. Model Kurikulum Humanistik ............................................... 159 C. Model Kurikulum Teknologis ................................................ 160 D. Model Kurikulum Rekonstruksi Sosial.................................. 163 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 166 TENTANG PENULIS ............................................................................ 180


Kurikulum dan Pendidikan 1 BAB 1 PENGERTIAN DAN KONSEP KURIKULUM stilah kurikulum sering ditafsirkan bagi sebagian masyarakat dena[h ‛j_g\_f[d[l[h‛ if_b e[l_h[ cno e_nce[ g_h[`mcle[h kurikulum yang terlintas adalah tentang dokumen struktur kurikulum lembaga pendidikan, ulangan harian, kegiatan belajar di kelas, dan yang lainnya. Tentu saja istilah ini sangatlah sempit, padahal istilah kurikulum adalah istilah yang luas yang berasal ^[lc B[b[m[ L[nch ‚curir‛ y[ha [lnchy[ m_m_il[ha y[ha \_lf[lc dan ‛curere‛ y[cno n_gj[n ^cg[h[ m_m_il[ha n_lm_\on g_f[eoe[h aktivitas lari. Jika diartikan secara istilah kurikulum adalah seperang-kat rencana dan pedoman yang mengatur materi pem-belajaran, metode pengajaran, dan penilaian dalam suatu sistem pendidikan. Kurikulum merujuk pada apa yang harus diajarkan, bagaimana itu diajarkan, dan bagaimana kemajuan peserta didik dinilai dalam proses pembelajaran (Wibisono, et al. 2023). Kurikulum dalam prespektif Agama Islam disebut juga ^_ha[h ‚manhaj‛ [n[o g_ni^_, y[cno m_\o[b cmncf[b ^[f[g \[b[m[ Arab yang merujuk pada metodologi atau pendekatan yang I


Kurikulum dan Pendidikan 2 digunakan dalam berbagai bidang, terutama dalam konteks agama. Istilah ini sering digunakan dalam konteks Islam untuk menggambarkan pendekatan atau metodologi yang diikuti oleh seseorang atau sebuah kelompok dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama (Jawaz, 2008). Jadi kesimpulannya kurikulum adalah sebuah penge-tahuan yang dibagi dalam beberapa kegiatan pembelajaran demi tercapainya tujuan instruksional sesuai yang telah ditetapkan. Adapun ketika peserta didik telah menuntaskan seluruh kegiatan pembelajaran yang telah ditetapkan maka akan mendapatkan dokumen fisik baik berupa sertifikat atau ijazah. Munir (2008) mendefinisikan kurikulum dalam tiga definisi, yaitu (1) kurikulum sebagai rencana kegiatan belajar bagi peserta didik, (2) kurikulum sebagai bentuk fisik dari rencana pembelajaran, (3) kurikulum sebagai bentuk pengalaman belajar yang nantinya akan didapatkan oleh peserta didik. Adapun menurut pakar Pendidikan dan kurikulum Hilda Taba kurikulum harus dirancang dengan mempertimbang-kan kebutuhan dan kepentingan peserta didik. Dia ber-pendapat bahwa kurikulum harus lebih dari sekadar daftar topik atau materi yang harus diajarkan. Berikut penjabaran dari konsep kurikulum menurut Hilda Taba (1993): 1. Pendekatan Berpusat pada Peserta Didik Taba menekankan pentingnya melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran. Kurikulum harus dirancang untuk memfasilitasi pemahaman, berpikir kritis, dan pengembangan keterampilan peserta didik. Peserta didik harus terlibat dalam eksplorasi, penemuan, dan pemecahan masalah. 2. Memiliki Relevansi


Kurikulum dan Pendidikan 3 Kurikulum harus relevan dengan kehidupan peserta didik, konteks sosial, budaya, dan pengalaman mereka. Taba berpendapat bahwa pengajaran harus berkaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan menghubungkannya dengan dunia nyata. 3. Adanya Proses Pembelajaran Kurikulum harus menekankan pada proses pembelajaran, bukan hanya hasil atau hasil akhir. Peserta didik harus didorong untuk berpikir secara kritis, menganalisis informasi, dan mengembangkan pemahaman yang mendalam. 4. Informasi yang Terorganisir Pentingnya mengorganisir informasi dalam kurikulum. Taba mengusulkan penggunaan struktur yang jelas dan sistematis dalam menyusun urutan pembelajaran. Ini membantu peserta didik membangun pemahaman yang berarti dan terkait antara topik-topik yang dipelajari. 5. Fleksibilitas Pentingnya fleksibilitas dalam kurikulum. Kurikulum harus dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta perkembangan konteks sosial dan budaya. Hilda Taba adalah seorang pendidik dan kurikulumis yang terkenal dengan kontribusinya dalam bidang perencanaan kurikulum. Dia lahir pada tahun 1902 dan wafat pada tahun 1967. Salah satu konsep utama yang dikembangkan oleh Hilda Taba adalah model siklus perencanaan kurikulum.


Kurikulum dan Pendidikan 4 Pendekatan Hilda Taba terhadap kurikulum menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada siswa, relevan, dan memperhatikan proses pembelajaran. Prinsip-prinsip ini masih menjadi acuan penting dalam desain kurikulum modern yang berfokus pada pengembangan keterampilan siswa, pemahaman yang mendalam, dan keterkaitan dengan dunia nyata. A. Landasan Kurikulum Landasan kurikulum merupakan dasar atau pijakan yang digunakan dalam merumuskan kurikulum suatu pendidikan atau program pembelajaran. Landasan kurikulum mencakup berbagai elemen yang membentuk dasar pemikiran, tujuan, prinsip, dan komponen-komponen kurikulum. Sukirman (2007) mendefinisikan empat jenis landasan kurikulum, yaitu; landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan IPTEK. Selain itu juga masih terdapat beberapa landasan kurikulum yang umum digunakan, berikut adalah penjabarannya: 1. Landasan Filosofis Landasan ini mengacu pada nilai-nilai, prinsip, dan pandangan filosofis yang mendasari pendidikan. Contohnya, pendekatan pendidikan berdasarkan filsafat progresivisme, essentialisme, atau konstruktivisme (Wibisono, H.A., 2021). Landasan filosofis dalam kurikulum merujuk pada prinsip-prinsip filosofis yang menjadi dasar bagi pengembangan, implementasi, dan evaluasi kurikulum. Landasan ini memberikan arah dan panduan bagi pembangunan kurikulum yang mempengaruhi tujuan


Kurikulum dan Pendidikan 5 pendidikan, pemilihan isi, metode pengajaran, dan evaluasi hasil belajar. Terdapat beberapa landasan filosofis yang umum digunakan dalam pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut: a. Idealisme Landasan filosofis ini berpendapat bahwa pendidikan harus mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh, baik dalam hal intelektual, moral, maupun spiritual. Kurikulum yang didasarkan pada idealisme menekankan nilainilai dan peningkatan kualitas hidup. b. Realisme Landasan filosofis realisme menekankan pentingnya pengetahuan objektif dan pengalaman nyata dalam proses pendidikan. Kurikulum realis mengarah pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Pragmatisme Landasan filosofis pragmatisme menekankan pentingnya relevansi dan kegunaan praktis dari pendidikan. Kurikulum pragmatis lebih fokus pada pengembangan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan nyata dan pekerjaan. d. Konstruktivisme Landasan filosofis konstruktivisme berpendapat bahwa pendidikan harus mendorong siswa untuk aktif dalam membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri melalui interaksi sosial dan refleksi pribadi. Kurikulum konstruktivis


Kurikulum dan Pendidikan 6 berfokus pada pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan eksplorasi mandiri. e. Humanisme Landasan filosofis humanisme menekankan pentingnya pengembangan pribadi, kebebasan individual, dan kepedulian terhadap kesejah-teraan siswa. Kurikulum humanistik menekankan pada pertumbuhan pribadi, kegiatan kreatif, dan pemenuhan kebutuhan individu. Penggunaan landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum bervariasi tergantung pada kebijakan pendidikan, nilai-nilai masyarakat, dan tujuan pendidikan yang diinginkan. Kurikulum yang baik harus mencerminkan nilai-nilai filosofis ini dengan seimbang, mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan siswa, serta menghasilkan hasil belajar yang bermanfaat. 2. Landasan Psikologis Landasan psikologis dalam kurikulum merujuk pada pendekatan dan prinsip-prinsip psikologi yang digunakan dalam merancang dan mengembangkan kurikulum pendidikan. Pemahaman tentang prinsipprinsip psikologis ini membantu pendidik dan perancang kurikulum untuk memahami bagaimana peserta didik belajar dan berkembang secara psikologis. Penerapan landasan psikologis dalam merancang kurikulum membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan psikologis peserta didik dan mendukung per-kembangan mereka secara holistik. Beberapa landasan psikologis yang


Kurikulum dan Pendidikan 7 memiliki relevansi dan menjadi acuan dalam mengembangkan kurikulum, diantaranya: a. Teori Pembelajaran Kurikulum didasarkan pada teori-teori pembelajaran yang mengungkapkan bagaimana peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Misalnya, teori behaviorisme menekankan penggunaan penguatan dan hukuman untuk mengarahkan perilaku belajar, sedangkan teori kognitif memfokuskan pada pemahaman konsep-konsep dan pemrosesan informasi oleh peserta didik. b. Perkembangan Kognitif Kurikulum harus mempertimbangkan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget, misalnya, menggambarkan bagaimana anak-anak mengalami tahapan-tahapan pemikiran dan bagaimana ini memengaruhi pembelajaran. Kurikulum dapat disesuaikan agar sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik dalam hal kompleksitas materi dan strategi pengajaran yang digunakan. c. Motivasi dan Kebutuhan Kurikulum harus mempertimbangkan faktor motivasi dan kebutuhan peserta didik. Teori motivasi seperti teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow dan teori harapan Victor Vroom menyatakan bahwa peserta didik akan lebih termotivasi jika kebutuhan psikologis dasar terpenuhi dan mereka percaya bahwa usaha


Kurikulum dan Pendidikan 8 mereka akan menghasilkan hasil yang diinginkan. Dalam merancang kurikulum, penting untuk mempertimbangkan cara untuk memotivasi peserta didik dan mengaitkannya dengan tujuan dan nilai-nilai yang relevan bagi mereka (Putra, H. E. J., & Wibisono, H. A., 2021). d. Pembelajaran Sosial Psikologi sosial berperan penting dalam merancang kurikulum. Teori pembelajaran sosial Albert Bandura menekankan pentingnya model peran dalam proses belajar. Kurikulum dapat mencakup kesempatan untuk kolaborasi dan interaksi sosial, serta memperkenalkan model peran yang positif bagi peserta didik (Bandura, 2005). e. Keanekaragaman Individual Kurikulum perlu mengakui keanekaragaman individu dalam hal gaya belajar, minat, dan kemampuan. Teori multiple intelligences Howard Gardner menyoroti beragam cara di mana peserta didik dapat memiliki kecerdasan yang berbeda (Gardner, 2012). Dalam kurikulum, strategi pembelajaran yang beragam dapat digunakan untuk mengakomodasi keberagaman individu dan memungkinkan setiap peserta didik untuk mengembangkan potensinya. 3. Landasan Sosio-Antopologis Landasan ini mempertimbangkan faktor-faktor sosial dalam pendidikan, seperti struktur sosial, budaya, nilai-nilai masyarakat, dan peran pendidikan dalam membentuk individu yang berfungsi dalam


Kurikulum dan Pendidikan 9 masyarakat. Landasan sosiologis memungkinkan pengembangan kurikulum yang memperhatikan kebutuhan dan konteks sosial peserta didik. Landasan sosiologis kurikulum merujuk pada prinsip-prinsip dan teori-teori sosiologi yang digunakan dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi kurikulum pendidikan. Sosiologi sebagai disiplin ilmu sosial mempelajari interaksi sosial, struktur sosial, dan proses sosial dalam masyarakat. Dalam konteks kurikulum, landasan sosiologis membantu dalam memahami bagaimana faktor-faktor sosial dan konteks sosial mempengaruhi pembelajaran dan pengajaran. 4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Landasan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dalam kurikulum mencakup prinsip-prinsip dan pemahaman tentang pentingnya pendidikan ilmiah dan teknologi dalam pengembangan individu, masyarakat, dan bangsa (Wibisono, H.A., 2020). Landasan IPTEK dalam kurikulum bertujuan untuk menghasilkan individu yang memiliki pemahaman dan keterampilan yang kuat dalam IPTEK, serta mampu menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks dalam masyarakat yang semakin terhubung dan berubah dengan cepat. Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran dan pengajaran menjadi hal yang harus diperhatikan. Dalam era digital saat ini, landasan ini menjadi semakin penting untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam kurikulum. Diantara landasan yang mendukung intergasi IPTEK dalam kurikulum adalah:


Kurikulum dan Pendidikan 10 a. Sains dan Metode Ilmiah Kurikulum yang kuat dalam IPTEK menekankan pengembangan pemahaman tentang sains dan metode ilmiah. Siswa diajarkan untuk memahami konsep-konsep sains, memperoleh pengetahuan melalui observasi, eksperimen, dan penalaran logis. b. Teknologi dan Inovasi Kurikulum harus mencakup pengenalan dan pemahaman tentang teknologi modern, perkembangan teknologi terkini, dan penerapannya dalam berbagai bidang. Siswa juga harus diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan teknologi dan kreativitas untuk memecahkan masalah. c. Literasi Digital Dalam era digital, literasi digital menjadi penting. Kurikulum harus memasukkan aspek literasi digital, termasuk kemampuan mencari, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ditemukan secara online, serta pemahaman tentang etika dan keamanan digital. d. Interdisipliner dan Kolaborasi Landasan IPTEK dalam kurikulum juga mencakup pendekatan interdisipliner, yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti sains, teknologi, matematika, dan seni. Kolaborasi antar siswa juga ditekankan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kolaboratif (Wibisono, et al., 2020). e. Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif


Kurikulum dan Pendidikan 11 Kurikulum harus memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, yang melibatkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan merumuskan solusi baru untuk masalah kompleks. f. Penerapan dalam Konteks Nyata Landasan IPTEK dalam kurikulum juga mencakup penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam konteks nyata. Siswa harus diberi kesempatan untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari, serta memahami dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. g. Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Etika Kurikulum yang mengintegrasikan IPTEK juga harus memperhatikan kearifan lokal dan nilai-nilai etika. Pendidikan harus mempromosikan pemahaman tentang kebudayaan dan tradisi lokal, serta mengajarkan etika dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 5. Landasan Ekonomi Landasan ekonomi mencakup pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan ekonomi. Kurikulum yang didasarkan pada landasan ini akan menekankan pengembangan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja dan ekonomi global. Penting untuk dicatat bahwa landasan kurikulum dapat bervariasi di setiap negara, wilayah, atau sistem pendidikan. Landasan kurikulum yang digunakan juga dapat berubah seiring


Kurikulum dan Pendidikan 12 waktu sejalan dengan perubahan dalam kebutuhan masyarakat dan perkembangan pengetahuan.


Kurikulum dan Pendidikan 13 BAB 2 LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM urikulum merupakan proses perencanaan belajar, pembelajaran dan pengalaman yang akan diberikan kepada peserta didik. Efektifitas pelaksanaan kurikulum akan sangat tergantung pada mutu pendidikan yang diberikan. Mutu pendidikan akan tercipta apabila penyelenggara pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dalam kerangka kerja yang konseptual.1 Kerangka kerja yang efektif salah satunya yaitu persiapan dalam pembuatan kurikulum pembelajaran yang nantinya akan diaplikasikan dalam program kerja yang telah terencana dan tersusun dengan baik. Efektivitas penyelenggaraan pendidikan akan menghasilkan mutu pendidikan yang diharapkan sesuai dengan visi dan misi serta tujuan dari sistem pembelajaran yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber belajar telah membawa konsekuensi perubahan 1 Donni Juni Prainsa, Rismi Somad, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung: Alfabeta, 2014. hlm 18 K


Kurikulum dan Pendidikan 14 kurikulum. Kurikulum sebaiknya selalu dilakukan perbaikan setiap beberapa tahun sekali, bahkan untuk perguruan tinggi perubahan kurikulum dapat dilakukan selama lima tahun sekali. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat, sehingga tidak mungkin diperguruan tinggi melakukan pembaharuan kurikulum lebih dari lima tahun.2 Perubahan kurikulum dapat dilandasi berdasarkan flleksibilitas, efensiensi, efektivitas, yang berkesinambungan, serta berorientasi pada proses dan hasil. Proses yang bersungguh-sungguh dalam mengutamakan kualitas, kuantitas dan potensi yang mendukung akan menghasilkan buah yang efektif pula. Meskipun perubahan kurikulum mengalami perubahan dan pergantian namun tetaplah memiliki tujuan yang sama yakni tercapainya target dengan baik. Perencanaan yang telah disusun dalam kurikulum pembelajaran dapat diaplikasikan sesuai dengan jadwal. A. Pembahasan Kurikulum merupakan proses pembelajaran yang dikelompokan menjadi tiga bagian yakni kurikulum sebagai rencana belajar peserta didik, kurikulum sebagai rencana pembelajaran, dan kurikulum sebagai pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik. Kurikulum tidak hanya sebatas pembelajaran berupa materi yang diberikan di bangku sekolah, namun kurikulum juga dapat mencakup karakter maupun moral terhadap peserta didik. 2 Lantip Dias Prasojo, Sudiyono, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: GAVA Media. 2015, hlm. 36


Kurikulum dan Pendidikan 15 Thomas Lickona menyebutkan bahwa kurikulum juga sebagai pendidikan moral, mengajarkan penghargaan, dan tanggung jawab.3 Dalam model ini peran guru sebagai teladan dan pembimbing dan dalam pertemuan kelas menciptakan sikap saling menghargai dan bertanggung jawab. Namun jika berbicara tentang kurikulum akademisi maka yang menjadi fokus pentingnya adalah sekolah dan peserta didik. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 19 : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.4 Kurikulum merupakan perangkat penting yang telah terencana dan berisikan tentang tujuan pendidikan. Dalam penyusunan kurikulum pendidikan berlandaskan atas beberapa landasan diantaranya yakni: 1. Landasan Filosofi Kata filosofi berasal dari bahasa yunani philo yang bermakna cinta dan shopia memiliki makna bijaksana, jadi filosofi memiliki makna cinta kepada kebijaksanaan.5 Keterkaitan antara filsafat dan kurikulum bahwasannya filsafat maupun kurikulum keduanya pada hakikatnya untuk menjawab sekitar pertanyaan 3 Thomas Linkcona, Educating for Character, Bandung: Bumi Aksara, 2015, hlm 244 4 Salinan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hlm. 3 5 Fuad Farid, Abdul Hamid, Cara Mudah Belajar Filsafat, Yogtakarta: IRCiSoD, 2012. Hlm 18


Kurikulum dan Pendidikan 16 y[ha g_hd[^c n[la_n g[m[ [e[h ^[n[ha ‚[e[h ^c\_hnoe m_j_lnc [j[ j_m_ln[ ^c^ce h[hnchy[‛ [lnchy[ g_h[hy[e[h pembentukan peserta didik setelah mempelajari kurikulum di suatu lembaga pendidikan tertentu. Apakah anak-anak bisa menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, dan cerdas, cakap, dan kreatif atau menjadi pengangguran intelektual. Peranan filsafat bagi para pelaksana kurikulum membuka cakrawala berpikir tentang hakikat hidup yang baik (good life), kebijaksanaan (wisdom), nilainilai (values), pembentukan karakter, penguasaan ilmuilmu sains, dan sebagainya. Salah satu tugas pengembang kurikulum mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam filsafat kepada peserta didik.6 Hakikat manusia sebagai individu pada dasarnya memandang bahwa setiap individu atau manusia memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda satu sama lainnya. Dalam konsep pendidikan bahwa peserta didik yang dijadikan sebagai subjek dan objek adalah manusia yang memiliki kemampuan maupun potensi.7 Peserta didik menjadi sasaran utama dalam pengembangan kurikulum. Tujuan perencanaan perangkat pembelajaran untuk perkemabangan pendidikan. 2. Landasan Psikologi Psikologi ditinjau dari segi bahasa merupakan ilmu jiwa. Jiwa diartikan sebagai kekuatan yang menjadi penggerak manusia. Jika jiwa tidak ada maka manusia 6 Anda Juanda, Landasan Kurikulum, Bandung: Convident, 2014, hlm 40 7 Saiful Sagala, Supervisi Pendidikan dalam Profesi Pendidikan, Alfabeta: Bandung, 2012, hlm. 139


Kurikulum dan Pendidikan 17 tidak hidup. Jiwa juga diartikan sebagai kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia, serta menyebabkan manusia dapat berfikir, berperasaan dan berprilaku. 8 Landasan psikologi memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kurikulum karena psikis atau jiwa manusia yang mampu berfikir dan berpotensi akan mengaplikasikan hasil kurikulum yang telah di rencanakan. Rencana pengembangan kurikulum juga sangat membutuhkan manusia yang mampu berfikir aktif dalam penyusunannya. Jadi tidak dapat dipungkiri jika psikologi manusia sebagai landasan utama dalam pengembangan kurikulum. 3. Landasan Sosiologi Sosiologi berasal dari kata dasar sosial yang memiliki maksud saling berhubungan satu sama lain atau manusia satu berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia hidup sudah selayaknya memiliki sifat sosial, karena sifat sosial mencerminkan manusia tidak mampu untuk hidup secara individu. Sosial juga sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Lingkungan sosial merupakan lingkungan masyarakat yang didalamnya terdapat interaksi individu dengan individu lainnya.9 Manusia sangat membutuhkan manusia lain dalam kehidupan seharihari dalam hal apapun. Landasan sosiologi memiliki keterkaitan dengan pengembangan kurikulum guna mencari dan 8 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Andi Offset: Yogyakarta, 1994. Hlm 2 9 Bimo Walgito, Psikologi Sosial,.... Hlm 27


Kurikulum dan Pendidikan 18 mendeteksi ide-ide baru yang saling bermunculan dan saling melengkapi satu sama lainnya. 4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ilmu pengetahuan merupakan bagaian esensial pada manusia, karena pengetahuan adalah buah dari berfikir. Berfikir adalah perbedaan yang memisahkan manusia dari sesama jenisnya. Kemajuan manusia tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.10 Pengetahuan adalah keseluruhan gagasan, pemikiran, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.11 Manusia yang memiliki ilmu dan pengetahuan adalah manusia yang mampu berfikir. Perkembangan kurikulum berpacu pada pengetahuan dan teknologi yang berkembang pada saat ini. Contoh kecil yang telah diterapkan di dunia pendidikan yakni adanya penerapan kurikulum merdeka yang serba menggunakan teknologi canggih. Kurikulum merdeka sudah menuntut kita untuk mampu mengoperasikan teknologi canggih sesuai dengan perkembangannya. Bahkan penilaian hasil belajar akhir juga menggunakan teknologi internet. Baik itu secara administrasi langsung maupun tertulis. 10 Idzam Fautanu, Filsafat Ilmu, Jakarta: Referensi:, 2012. Hlm 51 11 Muhammad Firdus, Sri Kadarsih, Et.al, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Timggi, Aceh: Penerbit Muhammad Zaini, 2021. Hlm 71


Kurikulum dan Pendidikan 19 B. Penutup Kurikulum akan terus berubah disesuaikan dengan perubahan yang terjadi di lembaga pendidikan yang juga merupakan dampak dari kurikulum itu sendiri. Landasan perkembangan kurikulum meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, maupun landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Beberapa landasan yang disebutkan diatas menjadi pijakan dalam pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan. Kurikulum pendidikan berisikan tentang perencanaan bahan pembelejaran dan pengajaran. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi penompang utama dalam pengembangan kurikulum karena efektifitas keberhasilan lembaga pendidikan di tentukan oleh sarana dan potensi pendidik yang sangat baik dan berkualitas. Pendidik yang berpotensi dan berkualitas akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas pula.


Kurikulum dan Pendidikan 20 BAB 3 KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM Komponen-komponen kurikulum merupakan hal penting yang harus ada pada kurikulum itu sendiri. Beberapa komponen kurikulum tersebut yaitu: A. Komponen Tujuan Setiap kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan pasti, karena tujuan merupakan rumusan dari setiap program pendidikan yang diberikan dan kegiatan siswa harus mencapai tujuan yang telah dirumuskan tersebut. Tujuan pada kurikulum harus mencerminkan nilai-nilai luhur dan merupakan penjabaran dari Tujuan Pendidikan Nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tujuan Pendidikan Nasional seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2023 pada Pasal 3 ^cd_f[me[h \[bq[ ,‛P_h^c^ce[h N[mcih[f \_l`ohamc mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk


Kurikulum dan Pendidikan 21 berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta \_ln[haaoha d[q[\‛. Dari rumusan tujuan Pendidikan Nasional tersebut memiliki bahwa pendidikan harus dapat memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya potensi manusia agar menjadi manusia yang beriman, memiliki kepribadian, cerdas, sehat, terampil, mandiri, dan bertanggung jawab (dewasa) yang diharapkan dan harus dihasilkan melalui penyelenggaraan setiap program pendidikan. Pendidikan harus dapat menghasilkan manusia yang beriman, bermoral, memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, mandiri, serta memiliki kepribadian sebagai warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut harus dipahami, dihayati, dan dijiwai serta dijadikan sumber inspirasi bagi setiap penyelenggara, praktisi, dan pengelola pendidikan dalam merumuskan tujuan. Gambaran umum mengenai tujuan pendidikan dari berbagai tingkat level: 1. Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003, seperti telah dikemukakan sebelumnya. 2. Tujuan Institusional, yaitu tujuan yang harus dicapai siswa setelah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan (lembaga) tertentu, misalnya SD, SMP, SMU/SMK, baik lembaga yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta.


Kurikulum dan Pendidikan 22 3. Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan setiap mata pelajaran atau bidang studi. Secara operasional tujuan kurikuler adalah rumusan kemampuan (kompetensi) yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan atau menempuh suatu mata pelajaran atau bidang studi. 4. Tujuan Pembelajaran, yaitu tujuan (kompetensi) yang harus dicapai siswa setiap setelah berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Istilah tujuan dan kompetensi merupakan dua istilah yang memiliki makna hamper sama, meskipun titik berangkat pengembangan keduanya berbeda. Bila pendekatan tujuan yang ingin dicapai maka yan ditetapkan terlebih dahulu adalah tujuan umum yang akan dicapai melalui pendidikan. Sedangkan bila tujuan kompetensi maka yang ditetapkan terlebih dahulu adalah kemampuan umum yang akan dikembangkan pada diri siswa. Selanjtnya tujuan atau kompetensi umum tersebut dielaborasi menjadi rinci sehingga menjadi operasional dan siap digunakan dalam pembelajaran (Toenlioe. A.JE, 2017) Dalam melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran sebagai salah satu bentuk aktualisasi kurikulum, para guru terlebih dahulu harus memahami, menghayati, dan menjiwai tujuan pendidikan lembaganya masing-masing. Hal ini penting agar setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dan menyokong pada upaya pencapaian tujuan lembaga. Rumusan tujuan kurikulum atau kompetensi yang diharapkan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum menetapkan komponen lain, seperti materi, metode, dan


Kurikulum dan Pendidikan 23 evaluasi. Hal ini penting mengingat tujuan berfungsi sebagai: 1. penentu bagi penetapan komponen-komponen berikutnya (materi, metode, media, sumber, dan evaluasi); 2. penentu arah dan corak kegiatan pendidikan yang akan dilaksanakan; 3. indikator keberhasilan pelaksanaan pendidikan; serta 4. pegangan dalam setiap usaha dan tindakan dari para pengelola dan pelaksana pendidikan. B. Komponen Isi/Materi Isi kurikulum pada dasarnya adalah bahan atau materi yang disusun untuk diberikan kepada siswa, agar dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Isi atau materi sebagai bahan kegiatan belajar bagi siswa, berkenaan dengan pengetahuan ilmiah dan bentuk pengalaman belajar lain yang disusun dengan memperhatikan tingkat kesesuaian dengan berbagai aspek, seperti jenis dan jenjang pendidikan, tingkat perkembangan dan kebutuhan anak, perkembangan dan tuntutan masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa hal yang berkaitan dengan penentuan bahan kurikulum harus dilakukan secara selektif, dengan mempertimbangkan berbagai hal. Pertama, bahan kurikulum tersebut hendaknya merupakan materi dasar yang dianggap mewakili dan membekali kemampuan bagi siswa untuk secara berkelanjutan dapat melakukan kegiatan


Kurikulum dan Pendidikan 24 belajar. Kedua, bahan kurikulum tersebut merespons dan membantu memecahkan berbagai persoalan baik yang dihadapi dalam kehidupan masa kini maupun antisipasi kebutuhan di masa yang akan datang. Ketiga, bahan kurikulum membantu dalam pengembangan keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Ilmu pengetahuan ilmiah dan bentuk pengalaman belajar lain yang disajikan sebagai bahan untuk dipelajari siswa, pada umumnya memuat atau terdiri dari beberapa aspek pokok sebagai berikut. 1. Teori, yaitu seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antar variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. 2. Konsep, yaitu suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dan kekhususan-kekhususan. Konsep merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala. 3. Generalisasi, yaitu suatu kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat, atau pembuktian dalam penelitian. 4. Prinsip, yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.


Kurikulum dan Pendidikan 25 5. Fakta, yaitu sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat, serta kejadian. 6. Istilah, yaitu kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi. 7. Contoh atau ilustrasi, yaitu hal informasi, atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat. 8. Definisi, yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata secara garis besar. Beberapa kriteria atau persyaratan penentuan isi kurikulum yang diharapkan tersebut berlaku untuk setiap jenjang pendidikan termasuk program kurikulum di TK. Namun demikian, dalam pengembangan selanjutnya isi kurikulum harus disesuaikan dengan karakteristik rata-rata usia anak pada setiap jenjang pendidikan masing-masing. Bisa dibayangkan jika penentuan materi kurikulum tidak dilakukan melalui pengkajian yang selektif, dan tidak teruji kebenarannya. Hasilnya tentu mungkin banyak konsep, teori, prinsip, fakta, definisi, ilustrasi atau aspekaspek materi lain yang dipelajari siswa, tetapi semua itu tidak memfasilitasi tercapainya tujuan. Atas dasar itu, Sudjana (1989) memberikan beberapa kriteria yang harus diindahkan dalam setiap memilih dan menentukan materi kurikulum, yaitu sebagai berikut. 1. Isi kurikulum harus sesuai, tepat, dan bermakna bagi perkembangan siswa. 2. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata.


Kurikulum dan Pendidikan 26 3. Isi kurikulum mendukung pencapaian tujuan yang komprehensif, artinya mengandung aspek intelektual, moral, dan sosial secara seimbang. 4. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang telah teruji kebenarannya sehingga tidak menyesatkan siswa. 5. Isi kurikulum harus mengandung bahan yang jelas, artinya teori, prinsip, dan konsep yang terdapat di dalamnya bukan hanya informasi faktual. Keberadaan materi atau isi dari subsistem kurikulum memiliki fungsi dan peran yang sangat menentukan untuk dimiliki siswa melalui pengalaman belajar yang bermutu. Materi dapat diibaratkan makanan pokok yang akan menentukan tingkat kualitas manusia dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan. Manakala makanan pokok yang disajikan memenuhi kriteria yang ditentukan, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pusat Kurikulum (Puskur) Depdiknas menetapkan sejumlah kriteria dalam memilih dan menentukan bahan atau isi suatu kurikulum, sebagai berikut. 1. Sahih (valid); artinya bahwa materi yang diberikan harus benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya serta materi harus memenuhi unsur aktualitas, sehingga tidak mudah ketinggalan zaman. 2. Tingkat kepentingan; yaitu bahwa isi yang diberikan memang betul-betul dirasakan pentingnya dipelajari terutama oleh siswa dalam rangka membekali


Kurikulum dan Pendidikan 27 kemampuan (kompetensi) untuk diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. 3. Kebermaknaan; yaitu bahwa materi yang dipelajari siswa memiliki makna yang luas mencakup untuk kepentingan kemampuan akademis dan nonakademis. 4. Layak dipelajari; artinya dilihat dari tingkat kesulitan, materi tersebut memiliki kelayakan yang tinggi sebagai bahan untuk dipelajari siswa. 5. Menarik minat; yaitu bahwa materi tersebut harus menarik minat, sehingga siswa termotivasi untuk mempelajarinya baik secara individual, kelompok, maupun klasikal. C. Komponen Kegiatan Komponen kegiatan memberi petunjuk bagaimana kurikulum dilaksanakan. Kegiatan sebagai bentuk realisasi kurikulum yang dilakukan setiap sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya program pendidikan, serta bermutu tidaknya proses dan hasil pendidikan. Kenyataan yang dijumpai di lapangan tersebut mengindikasikan bahwa kualitas sekolah ditentukan oleh tingkat kegiatan yang dilakukan pihak sekolah dalam menjabarkan program kurikulum ke dalam kegiatan seharihari. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa peran sekolah sebagai pelaksana kurikulum sangat menentukan mutu pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah tersebut. Sebaik apapun kurikulum disusun dan dipersiapkan dengan memperhatikan berbagai aspek, tidak mungkin membawa


Kurikulum dan Pendidikan 28 hasil yang maksimal terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pendidikan, bila tidak disertai pelaksanaan atau kegiatan yang baik. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam setiap melaksanakan kegiatan kurikulum agar membawa hasil yang maksimal sesuai dengan program kurikulum yang direncanakan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut. 1. Jenjang Pendidikan Dalam UU No. 20 tahun 2003, jenjang pendidikan formal dikelompokkan ke dalam tiga jenjang: pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Termasuk dalam jenjang pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibitidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. Adapun jenjang Pendidikan Menengah sebagai kelanjutan dari pendidikan dasar, terdiri dari pendidikan menengah umum dan kejuruan. Jenjang pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan Tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah, mencakup pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Sementara itu, pendidikan Taman Kanak-kanak tidak termasuk ke dalam jenjang pendidikan formal, akan tetapi merupakan pendidikan usia dini yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk


Kurikulum dan Pendidikan 29 membantu partum-buhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 2. Proses Kegiatan Pembelajaran Inti kegiatan kurikulum adalah proses pembelajaran, yaitu suatu proses interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu perubahan tingkah laku. Pembelajaran sebagai suatu sistem memiliki empat komponen pokok, yaitu tujuan, isi/materi, metode dan alat bantu, serta penilaian atau evaluasi. Pengembangan setiap komponen pembelajar-an (perumusan tujuan, penetapan isi/materi, penggunaan metode dan alat bantu, serta pemilihan bentuk dan jenis penilaian yang digunakan) harus disesuaikan dengan jenjang, jenis sekolah, dan tingkatannya masing-masing. Misalnya penggunaan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran untuk siswa SD, walaupun jenis metode yang digunakan sama yaitu Pemecahan Masalah (Problem Solving), tentu dalam teknik penerapannya berbeda jika metode tersebut digunakan untuk siswa SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Setiap anak telah dikaruniai berbagai alat indera yang sangat lengkap. Mata digunakan dalam belajar melalui kegiatan melihat (visual) warna, benda, bentuk, dan lain sebagainya. Telinga untuk belajar melalui kegiatan mendengar (auditif) cerita, suara, dan lain sebagainya. Demikian pula tangan dan kulit sebagai alat perasa yang bisa dijadikan alat untuk belajar melalui


Kurikulum dan Pendidikan 30 kegiatan meraba, menyentuh, melakukan tugas pekerjaan, menirukan gerakan (kinestetik), dan kegiatan lain yang sesuai. D. Komponen Strategi Komponen strategi kurikulum merupakan komponen yang berisi pernyataan tentang penataan dan pemanfaatan berbagai hal untuk pencapaian tujuan pembnelajaran dan pengembangan kompetensi dalam diri siswa secara efektif dan efisien seperti menata karakteristik guru, karakteristik siswa, tujuan da nisi pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran, metoda dan teknik pembelajaran, lingkungan tempat pembelajaran, dan lingkungan social pembelajaran. Menurut Bruner (Saputro dan Abidin, 2024) bahwa pada pokoknya komponen strategi kurikulum dapat dipilah menjadi dua bagian yaitu strategi ekspositori dan strategi heuristik. Pada strategi ekspositori, posisi guru menjadi sumber utama dalam belajar yang mengekspos pelajaran kepada para siswa dan siswa menerima apa saja yang disampaikan oleh guru. Semua pelajaran dirancang oleh guru dengan metode dan media pembelajaran yang bisa memudahkan guru mengajar dan menyampaikan materi pelajaran. Pada strategi heuristik, siswa diposisika sebagai makhluk unik dengan potensi yang memungkinkan bisa berkembang dalam pembelajarannya dan memproses sendiri secara mandiri untuk mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman dan penelaahannya.


Kurikulum dan Pendidikan 31 E. Komponen Evaluasi Evaluasi kurikulum merupakan alat untuk mengukur dan menilai program pendidikan dilakukan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai efisiensi, efektivitas, dan relevansi serta produktivitas program dalam mencapai tujuan pendidikan. Penilaian kurikulum sebagai suatu sistem yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, efisiensi, efektivitas, relevansi, dan produktivitasnya dapat diidentifikasi dari segi masukan, proses, hasil, dan dampak yang ditimbulkan. Berikut penjelasannya: 1. Evaluasi masukan (input), yaitu menilai semua sumber daya seperti dana, tenaga, sarana dan fasilitas, serta siswa sebelum menempuh program; 2. Evaluasi proses pelaksanaan, yaitu menilai strategi pelaksanaan seperti kegiatan pembelajaran, administrasi dan supervisi, penilaian hasil belajar, kegiatan bimbingan, pembinaan kegiatan ekstrakurikuler dan bentuk kegiatan lain dalam merealisasikan program; 3. Evaluasi hasil (output), yaitu menilai hasil lulusan baik dari segi kualitas maupun kuantitas; dan 4. Evaluasi dampak yang ditimbulkan, yaitu menilai kualitas kemampuan lulusan berkenaan dengan kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan nyata sehari-hari baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas (life skills).


Kurikulum dan Pendidikan 32 Dari keempat komponen yang menjadi sasaran atau fokus evaluasi (masukan, kegiatan, produk, dan dampak) secara umum telah mencerminkan kegiatan evaluasi yang menyeluruh. Dengan demikian kegiatan evaluasi tidak hanya dilakukan pada hasil belajar siswa untuk mengukur prestasi akademik saja, akan tetapi bagaimana program kurikulum secara keseluruhan telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau belum. Evaluasi untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran disebut evaluasi proses. Sedangkan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran disebut evaluasi hasil. Toenlioe (2017), pada pokoknya terdapat dua acuan komponen evaluasi hasil yaitu adanya acuan patokan yaitu keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh pencapaian standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu dan pada acuan norma, keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh posisi siswa dalam nilai rata-rata kelas.


Kurikulum dan Pendidikan 33 BAB 4 MODEL DAN ORGANISASI KURIKULUM A. Pengertian Budaya Organisasi Budaya organisasi memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah organisasi, karena fungsinya yaitu sebagai perekat warga organisasi. Dalam bukunya Robbins perilaku organisasi menyatakan bahwa budaya organisasi adalah system makna bersama yang dianut oleh anggotaanggota yang membedakan organisasi itu dengan organisasi lainnya. Definisi lain datang dari Kreitner dan Kinicki budaya organisasi adalah suatu wujud anggapan yang dimiliki, diterima secara implisit oleh kelompok dan menentukan bagaimana kelompok tersebut rasakan, pikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungannya yang beraneka ragam. Definisi lain oleh Ogbonna dan Harris (dalam Sobirin) mengartikan bahwa budaya organisasi adalah keyakinan, tata nilai, makna, dan asumsi- asumsi yang secara kolektif di-shared oleh sebuah kelompok social guna membantu mempertegas cara mereka saling berinteraksi dan mempertegas mereka dalam merespon lingkungan.


Kurikulum dan Pendidikan 34 Berbeda dengan Ogbonna dan Harris, menurut Tosi, Rizzo, Carrol (dalam Munandar) budaya organisasi adalah cara berfikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola- pola tertentu yang ada dalam organisasi atau pada bagian- bagian organisasi. Dari beberapa definisi diatas kita bias menarik kesimpulan bahwa budaya organisasi merupakan suatu system atau pola baik itu berupa sikap, norma, nilai, perilaku maupun keyakinan, ritual yang dibentuk dan dikembangkan kemudian di turunkan kepada para anggota organisasi sebagai ciri khas organisasi tersebut sehingga bisa berbeda dengan organisasi yang lain sekaligus sebagai penentu bagaimana kelompok tersebut berfikir dan bereaksi terhadap lingkungan yang beragam sekaligus berfungsi mengatasi masalah adaptasi inernal dan eksternal. 1. Konsep Budaya Organisasi Budaya organisasi merupakan suatu konsep yang sangat bervariasi dilihat dari banyaknya definisi yang berbeda yang ditemukan dalam kepustakaan. Hal ini dikarenakan banyak macam pandangan, pendekatan, minat masing - masing kalangan akademisi maupun praktisi memiliki kepentingan tersendiri. Disamping itu, juga disebabkan oleh sumbernya, yaitu disiplin antropologi yang sampai sekarang belum menghasilkan suatu definisi yang dapat diterima oleh pakar dan para peminat dalam bidang ini. Para akademisi dan praktisi sebagian besar setuju terhadap pentingnya penerapan budaya dalam organisasi. Seckman menyebutkan ada lima kelompok


Kurikulum dan Pendidikan 35 pendekatan atau pandangan dalam mempelajari budaya yaitu: a. Pendekatan evolusi b. Pendekatan partikularisme c. Pendekatan fungsionalisme d. Pendekatan materialisme kultur, dan e. Pendekatan idealism kultur. Pendekatan idealisme kultur ini memiliki empat aliran yaitu: 1) antropologi psikologikal, 2) etnografi, 3) strukturalisme dan, 4) antropologi simbolik. Kemudian empat aliran inilah yang mempengaruhi kepustakaan manajemen dan perilaku organisasional, sehingga mendatangkan tiga pendekatan atau pandangan terhadap budaya organisasi yaitu: a. Pandangan Holistis Dalam pandangan ini mencakup semua fase budaya, dan menggabungkan perkembangan historical dengan sifat-sifat evolusioner yang dinamik. Yang mana mengikuti pikiran-pikiran yang dicetuskan oleh Benedict, Kroeber, dan Kluckhonhn, yang memadukan seluruh aspek kognitif, emosi, perilaku, dan benda-benda ke dalam satu kesatuan budaya sebagai suatu totalitas atau keseluruhan, yang mencakup perilaku, pikiran, atau nilai-nilai yang membedakan suatu organisasi dengan organisasi lainnya. b. Pandangan Variabel Pandangan ini sering disebut juga pandangan perilaku karena lebih memfokuskan pada ekspresi budaya yang dapat disimak dalam bentuk verbal


Kurikulum dan Pendidikan 36 dan perilaku fisikal atau praktik, yang merupakan manifestasi kultur yang tangible. c. Pandangan kognitif Pada pandangan kognitif ini memfokuskan pada ide-ide, konsep-konsep, rancanganrancangan, (blue-prins), keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, atau norma-norma, yang dilihat sebagai inti dari fenomena yang kompleks dan multifest yang disebut budaya. Menurut pandangan ini, yang dikatakan sebagai budaya organisasi dapat digambarkan sebagai suatu konstruksi aturanaturan social yang menuntun persepsi dan pikiran. 2. Karakteristik Budaya Organisasi Nilai budaya organisasi terkait dengan masalah pencapaian suatu organisasi, termasuk kedalam nilai adalah ideologi, cita-cita, dan keyakinan. Sebuah penelitian mengemukakan karakteristikkarakteristik utama yang secara bersama-sama menangkap esensi dari budaya organisasi, yaitu sebagai berikut: a. Inovasi dan pengambilan resiko. Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana para karyawan/anggota organisasi didorong untuk inovatif dan mengambil resiko. b. Perhatian ke rincian Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana para karyawan/anggota organisasi diharapkan memperlihatkan kecermatan, analisis, dan perhatian kepada rincian. c. Orientasi hasil Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana manajemen memusatkan perhatian


Kurikulum dan Pendidikan 37 pada hasil bukan pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut. d. Orientasi orang Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil kepada orangorang di dalam organisasi. e. Orientasi tim Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu-individu. f. Keagresifan Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana individu-individu dalam organisasi memiliki keagresifan dan sikap kompetitif. g. Kemantapan Karakteristik ini berkaitan dengan sejauh mana kegiatan organisasi yang melibatkan invidu-individu di dalamnya mempertahankan status quo dibandingkan dengan pertumbuhan. 3. Perbedaan Dimensi Nilai dalam Budaya Organisasi Sebagian besar para ahli memiliki pendapat yang sama mengenai pengertian budaya organisasi yaitu ‚mb[l_^ g_[hcha‛. Akan tetapi nilai-nilai yang ditetapkan oleh pakar atau ahli ternyata berbeda-beda. Menurut Cox, jr (1994) terdapat dua dimensi utama dalam budaya organisasi yang menjadi acuan atau perbandingan diantara organisasi-organisasi, yaitu kekuatan dan isi. Yang dimaksud dimensi kekuatan ialah sejauh mana norma, nilai yang ada dalam organisasi itu di jalankan. Sedangkan dimensi isi menetapkan norma, nilai, maupun gaya sebagai karakteristik dalam organisasi tersebut. Karena dimensi isi digunakan untuk menganalisa suatu organisasi yang sama, dan tentunya hasilnya tidak dapat dibandingkan.


Kurikulum dan Pendidikan 38 Terdapat beberapa dimensi-dimensi isi yang diterapkan oleh Quin (1988), Peters dan Waterman (1981), Hofstede(1980), yang menerapkan nilai yang berbeda dalam dimensi budaya, berdasarkan pilihan mereka masing-masing. Quinn menerapkan empat jenis nilai yaitu: a. Predictability-spontaneity b. Internal focus-ekternal focus c. Order-flexibility, dan d. Long term-short term. Peters dan Waterman (1981) mengaplikasikan delapan nilai-nilai budaya dama perusahaan yaitu sebagai berikut: a. A bias for action (preferensi untuk berbuat sesuatu) b. Staying close to the customer (dekat pada pelanggan) c. Autonomy and entrepreneurship (otonomi dan kewirausahaan) d. Productivity through people (produktivitas melalui orang) e. Hand-on, value driven (tuntutan terhadap eksekutif pada inti usaha perusahaannya) f. Stick to the knitting (tetap pada bisnis perusahaannya yang paling baik) g. Simple form, lean staff (sedikit lapisan administrative, sedikit orang dijenjang atas) h. Simultaneous loose-tight properties (memantau iklim dedikasi terhadap nilai-nilai sentral dan toleransi).


Kurikulum dan Pendidikan 39 Hofstede (1980) menggunakan tujuh macam nilai untuk membedakan antara budaya bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya: a. Jarak kekuasaan b. Individualism vs kolektivisme c. Maskulin vs feminism d. Penolakan terhadap ketidakpastian. Terdapat satu pendapat dari Miller (1984) yang terlihat lebih masuk akal, yaitu menetapkan nilai primer yang sama untuk semua organisasi bisnis, yang di sebut sebagai buadaya perusahaan, yaitu nilai-nilai primer operatif yang mendukung kegiatan operasi perusahaan dalam upaya mencapai tujuan yang berkaitan dengan era globalisasi yang kompetitif saat ini. Dengan demikian, dapat dibandingkan perusahaan yang satu dengan yang lainnya apabila kita ingin mengetahui sejauh mana budayanya dan efektivitasnya. 4. Faktor yang Menentukan Kekuatan Budaya Organisasi Menurut Luthnas factor utama yang menentukan kekuatan organisasi adalah kebersamaan dan intensitas. a. Kebersamaan Kebersamaan adalah sejauh mana anggota organisasi memiliki nilai inti yang dianut bersama. Kebersamaan dipengaruhi oleh unsur orientasi dan imbalan. Orientasi metupakaan pembinaan terhadap anggota organisasi terutama untuk anggota baru baik itu melalui bimbingan senior ataupun pelatihan. Sedangkan imbalan berupa kenaikan gaji, promosi, jabatan, hadiah, dan lainya


Kurikulum dan Pendidikan 40 yang mampu memperkuat komitmen nilai inti suatu budaya organisasi. b. Intensitas Intensitas merupakan komitmen anggota organisasi terhadap nilai organisasi. Intensitas merupakan keterkaitan antara hasil dan imbalan, contoh pegawai melaksanakan nilai budaya dan meningkatkan daya kerja mereka apabila diberi imbalan. Berdasarkan penjelasan mengenai faktor yang menentukan kekuatan budaya organisasi diatas dapat disimpulkan bahwa faktor kebersamaan terdiri dari orientasi / pembinaan dan imbalan yaitu gaji, hadiah, jabatan. Kedua faktor intensitas yaitu sejauh mana karyawan berkomitmen terhadap nilai inti budaya suatu organisasi. 5. Manfaat dan Fungsi Budaya Organisasi a. Manfaat budaya organisasi Budaya organisasi sangat penting peranannya dalam sebuah organisasi, dimana dapat dijadikan sebagai rantai pengikat untuk menyamakan persepsi atau arah sudut pandang anggota organisasi terhadap suatu permasalahan sehingga akan menjadi satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan. Adapun beberapa manfaat budaya organisasi yang dikemukakan oleh Robbins (1993) yaitu sebagai berikut: 1) Membatasi peran yang membedakan antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain. Karena setiap organisasi memiliki peranan


Click to View FlipBook Version