The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku “Kurikulum dan Pendidikan” di hadapan pembaca merupakan buku yang disusun dengan cermat oleh akademisi dan praktisi sebagai bagian dari tanggung jawab dan tugas dalam mengembangkan bahan ajar perkuliahan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat global serta kebutuhan dunia pendidikan.
Tentu saja pengetahuan “Kurikulum dan Pendidikan” adalah keterampilan yang perlu dipersiapkan oleh banyak kalangan, mahasiswa LPTK/FITK yang disiapkan menjadi calon guru profesional, guru, dan praktisi pendidikan masa depan.
Istilah “kurikulum” sendiri masih menjadi topik perdebatan yang menarik, tidak hanya secara teoritis tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru
sekolah, tetapi lebih karena kesadaran masyarakat dan pemerintah (sebagai otoritas dalam mengembangkan program) terus dibenahi. untuk aplikasi
lapangan. Pengembangan program tersebut tentunya berdampak pada empat hal, yaitu perubahan standar kompetensi, standar isi, standar proses, dan standar penilaian lulusan. Suka tidak suka, mata pelajaran kurikulum
dan pendidikan selalu menjadi fenomena menarik yang terus dikaji dan
diteliti.
Sajian buku ini disusun berdasarkan pada kebutuhan perkuliahan, meliputi Konsep/teori kurikulum, Komponen-komponen kurikulum, Evaluasi kurikulum, Konsep dasar pembelajaran, Model-model pembelajaran, Inovasi kurikulum dan pembelajaran, Metode pembelajaran dalam kelas, serta Perkembangan kurikulum di Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-17 04:03:01

KURIKULUM DAN PENDIDIKAN

Buku “Kurikulum dan Pendidikan” di hadapan pembaca merupakan buku yang disusun dengan cermat oleh akademisi dan praktisi sebagai bagian dari tanggung jawab dan tugas dalam mengembangkan bahan ajar perkuliahan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat global serta kebutuhan dunia pendidikan.
Tentu saja pengetahuan “Kurikulum dan Pendidikan” adalah keterampilan yang perlu dipersiapkan oleh banyak kalangan, mahasiswa LPTK/FITK yang disiapkan menjadi calon guru profesional, guru, dan praktisi pendidikan masa depan.
Istilah “kurikulum” sendiri masih menjadi topik perdebatan yang menarik, tidak hanya secara teoritis tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru
sekolah, tetapi lebih karena kesadaran masyarakat dan pemerintah (sebagai otoritas dalam mengembangkan program) terus dibenahi. untuk aplikasi
lapangan. Pengembangan program tersebut tentunya berdampak pada empat hal, yaitu perubahan standar kompetensi, standar isi, standar proses, dan standar penilaian lulusan. Suka tidak suka, mata pelajaran kurikulum
dan pendidikan selalu menjadi fenomena menarik yang terus dikaji dan
diteliti.
Sajian buku ini disusun berdasarkan pada kebutuhan perkuliahan, meliputi Konsep/teori kurikulum, Komponen-komponen kurikulum, Evaluasi kurikulum, Konsep dasar pembelajaran, Model-model pembelajaran, Inovasi kurikulum dan pembelajaran, Metode pembelajaran dalam kelas, serta Perkembangan kurikulum di Indonesia.

Kurikulum dan Pendidikan 41 yang berbeda-beda, oleh karena itu dibutuhkan budaya yang kuat dalam sistem suatu organisasi. 2) Menimbulkan rasa memiliki identitas bagi para anggota organisasi. Dengan budaya organisasi yang kuat, anggota organisasi akan merasa memiliki identitas karena memiliki ciri khas tersendiri dari organisasi tersebut. 3) Mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan individu. 4) Menjaga stabilitas organisasi. Kesatuan komponen-komponen organisasi yang direkatkan oleh pemahaman budaya yang sama akan membuat kondisi organisasi relatif stabil. Keempat fungsi tersebut diatas menunjukkan bahwa budaya organisasi dapat membentuk perilaku dan tindakan karyawan dalam menjalankan aktivitasnya di dalam organisasi, sehingga nilai-nilai ataupun ciri khas organisasi perlu ditanamkan sedini mungkin kepada setiap individu dalam organisasi. b. Fungsi budaya organisasi Dilihat dari segi fungsi, budaya organisasi memiliki empat fungsi yaitu, pertama, budaya memiliki peran sebagai pembeda. Artinya adalah budaya kerja menciptakan perbedaan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Kedua, budaya organisasi memiliki ciri khas atau identitas tersendiri untuk anggota organisasinya. Ketiga, budaya organisasi dapat mempermudah munculnya komitmen yang kuat terhadap kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi /


Kurikulum dan Pendidikan 42 individu. Keempat, budaya organisasi meningkatkan kekuatan social. Gordon (1991) mengemukakan dalam hubungannya dengan segi social, budaya berfungsi sebagai perekat social yang dapat menyatukan suatu organisasi serta memberikan standar yang tepat tentang apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan. Dengan demikian dapat menjadi pemandu dan pembentuk sikap dan perilaku para karyawan. Dengan demikian, fungsi budaya organisasi adalah sebagai perekat social dalam mempersatukan anggota-anggota dalam mencapai tujuan organisasi berupa ketentuan-ketentuan atau nilainilai yang berlaku untuk anggota organisasi. Hal ini berfungsi sebagai kontrol atas perilaku para anggota.


Kurikulum dan Pendidikan 43 BAB 5 EVALUASI KURIKULUM Evaluasi kurikulum di Indonesia merupakan proses yang sistematis untuk menentukan efektivitas dan efektivitas kurikulum yang digunakan dalam sistem pendidikan negara. Tujuan evaluasi ini adalah untuk menilai apakah kurikulum memenuhi tujuan dan sasarannya serta untuk mengidentifikasi titik lemah dan kekurangan dalam materi. Bustamam, (2022) mengatakan bahwa mengevaluasi kurikulum melibatkan analisis komprehensif dari semua aspeknya, termasuk tujuan dan hasil, struktur dan prinsip, metode dan bahan untuk mengajar, evaluasi dan penilaian, dan peran guru dalam mempraktikkannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kurikulum memberi siswa pengalaman belajar yang efektif dan relevan serta dapat memenuhi kebutuhan mereka saat mereka mengarungi dunia modern. Berbagai instansi pemerintah, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, guru, siswa, orang tua, dan pakar pendidikan, terlibat dalam proses evaluasi kurikulum. Data dan informasi yang dikumpulkan melalui observasi, penelitian, survei, dan metode lainnya digunakan untuk melakukan analisis mendalam dan penulisan kurikulum. Hasil evaluasi kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi kekurangan terkait kurikulum dan masalah yang perlu diperbaiki, serta untuk membuat rekomendasi perbaikan yang efektif.


Kurikulum dan Pendidikan 44 Di Indonesia, evaluasi kurikulum sangat penting untuk memastikan bahwa kurikulum yang digunakan dapat menghasilkan hasil pembelajaran yang berkualitas, mengikuti perubahan dunia, dan mencapai tujuan pendidikan nasional. Evaluasi ini juga membuahkan hasil dalam hal mengikuti kurikulum, sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, dan melayani kebutuhan masyarakat umum dan pasar tenaga kerja. A. Tujuan Kurikulum Laksono & Izzulka (2022) mengatakan bahwa Evaluasi tujuan kurikulum Indonesia mencakup analisis rinci tentang bagaimana tujuan kurikulum telah memenuhi tujuan pendidikan nasional. Penting untuk menilai apakah tujuan tersebut sejalan dengan arah dan prioritas pendidikan yang telah ditetapkan. Selain itu, evaluasi juga menekankan pentingnya kemampuan kognitif, afektif, dan psikologis seseorang. Tujuan kurikulum harus dapat mengembangkan pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan siswa secara sistematis. Fokus evaluasi juga bergeser ke hubungan antara tujuan kurikulum dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Evaluasi ini mengidentifikasi bagaimana tujuan kurikulum untuk mengakomodasi tumbuhnya pemahaman dan kesiapan yang dibutuhkan di dunia saat ini. Selain itu, evaluasi juga mempertimbangkan bagaimana tujuan kurikulum mempersiapkan siswa untuk kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Tujuan kurikulum harus mendorong pengembangan keterampilan sosial, pemikiran etis, kerja sama tim, dan kepemimpinan di tempat kerja.


Kurikulum dan Pendidikan 45 Evaluasi tujuan kurikulum juga menimbulkan pertanyaan tentang apakah mereka memenuhi standar nasional yang baru ditetapkan untuk pendidikan. Evaluasi ini menguji kemampuan siswa dalam pengetahuan, keterampilan, dan keterampilan yang diharapkan oleh kurikulum nasional. Dengan cara ini, evaluasi kurikulum membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan untuk memenuhi standar yang ditetapkan untuk pendidikan. Dengan menggunakan evaluasi ini, perbaikan dan pemurnian kurikulum dapat dilakukan agar tetap relevan dan efektif. Evaluasi memberikan petunjuk tentang keefektifan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Oleh karena itu, evaluasi kurikulum sangat penting untuk memastikan bahwa pendidikan Indonesia dapat menghasilkan hasil pembelajaran yang berkualitas, beradaptasi dengan perubahan, dan memenuhi kebutuhan dunia yang terus berubah. B. Struktur dan Isi Kurikulum Di Indonesia, evaluasi struktur dan isi kurikulum berfokus pada bagaimana mereka digunakan di kelas dan bagaimana mereka digunakan secara keseluruhan Bustamam (2022). Tujuan evaluasi ini adalah untuk memastikan struktur dan isi kurikulum mendukung tujuan pendidikan nasional, memenuhi kebutuhan peserta didik, dan relevan dengan pertumbuhan pengetahuan dalam pengetahuan umum dan tuntutan dunia kerja. Pertama, tinjauan struktur organisasi kurikulum meliputi pertimbangan organisasi kurikulum dan tata letak. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai isi bahan


Kurikulum dan Pendidikan 46 ajar, pedoman pembelajaran, dan jumlah waktu yang dialokasikan untuk setiap bahan ajar. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa struktur kurikulum memberikan kesempatan yang konsisten kepada siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Langkah terakhir dalam evaluasi kurikulum adalah menilai pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Evaluasi ini memberikan pertimbangan khusus terhadap validitas, penerapan, dan relevansi bahan kajian. Kurikulum isi harus menekankan pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan yang berkaitan dengan pertumbuhan pengetahuan berbasis pemahaman dan kebutuhan dunia nyata. Evaluasi juga mempertimbangkan bagaimana kurikulum memasukkan isu-isu kontemporer, perspektif multikultural, serta pengetahuan dan keterampilan yang mendukung kemajuan teknologi. Sangat penting untuk mempertimbangkan hubungan antara materi pelajaran dan integrasi lintas materi pelajaran sambil mengevaluasi struktur dan isi kurikulum. Evaluasi dalam hal ini menunjukkan bagaimana kurikulum dapat menghubungkan teori dan kesamaan antar mata pelajaran yang berbeda sehingga siswa dapat melihat hubungan yang lebih holistik antara berbagai bidang studi. Selain itu, evaluasi juga mempertimbangkan panjang dan fleksibilitas kurikulum. Evaluasi ini mengkaji apakah kurikulum dapat mengakomodir perubahan kebutuhan dan tuntutan siswa serta perubahan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Evaluasi juga mempertimbangkan seberapa baik kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa,


Kurikulum dan Pendidikan 47 termasuk pertimbangan keragaman kemampuan, minat, dan kebutuhan mereka. Kelebihan, kelemahan, dan tantangan dalam kurikulum yang sedang digunakan dapat diketahui melalui evaluasi struktur dan unsur-unsur kurikulum. Evaluasi ini memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang efektivitas dan relevansi kurikulum serta peta jalan untuk perbaikan dan mengejar keunggulan dengan tujuan meningkatkan standar pendidikan yang diberikan kepada siswa Indonesia. C. Materi Pembelajaran Asrul et al (2022) menyatakan bahwa evaluasi materi pendidikan dalam kurikulum Indonesia meliputi pertimbangan isi, kebaruan, relevansi, dan kebutuhan peserta didik selama proses pembelajaran. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa isi kurikulum sejalan dengan tujuan pendidikan, memajukan pengetahuan dan informasi terkait, serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa. Pertama, evaluasi materi pendidikan meliputi pertimbangan teori berbasis pengetahuan kebaruan dan perkembangan. Kurikulum perlu diperbarui terus menerus untuk mencerminkan pertumbuhan pengetahuan dan keahlian di berbagai bidang. Evaluasi ini membantu untuk memastikan bahwa materi kelas secara konsisten relevan dengan kemajuan dalam pengetahuan dan teknologi.


Kurikulum dan Pendidikan 48 Sebagai langkah terakhir, evaluasi materi pelajaran mempertimbangkan bagaimana kaitannya dengan kebutuhan siswa dan kehidupan mereka sehari-hari. Agar siswa dapat melihat relevansi dan aplikasi praktis dari apa yang mereka pelajari, bahan ajar harus dapat dihubungkan dengan konteks kehidupan siswa. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa materi pendidikan memberikan pengetahuan yang berharga dan dapat diterapkan pada kehidupan siswa sehari-hari. Evaluasi juga mencakup pembahasan tentang kelebihan dan kekurangan bahan ajar. Agar siswa dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif dan mengenali hubungan antara banyak bidang pengetahuan, materi pendidikan harus mencakup berbagai disiplin ilmu, topik, dan perspektif. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa materi pendidikan memberikan landasan yang kuat bagi siswa dalam berbagai bidang konseptual dan praktis. Selain itu, evaluasi bahan ajar mencakup pertimbangan inklusivitas dan integritas. Kurikulum pendidikan harus menekankan pada siswa, latar belakang, dan keragaman budaya. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa materi pendidikan mendukung pertumbuhan siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi semua siswa. Kelebihan dan kelemahan dalam penilaian bahan ajar, kebaruan, dan relevansi kurikulum dapat diketahui. Evaluasi ini menawarkan wawasan yang lebih baik tentang keefektifan materi pendidikan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ini juga memberikan panduan untuk


Kurikulum dan Pendidikan 49 mengembangkan dan menyempurnakan materi yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan pertumbuhan belajar. D. Assessment Sugiri & Priatmoko (2020) berpendapat bahwa evaluasi kurikulum Indonesia terhadap pengukuran atau penilaian hasil mencakup tinjauan terhadap teknik dan alat yang digunakan untuk mengukur kemajuan akademik siswa. Penilaian ini berupaya menjamin bahwa hasil pengukuran atau penilaian dilakukan sesuai dengan tujuan kurikulum, adil, tidak memihak, dan memberikan informasi yang akurat tentang perkembangan dan prestasi siswa. Penilaian kesesuaian dan penerapan alat penilaian dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan didahulukan dalam evaluasi ukuran hasil. Untuk mengukur seberapa baik siswa telah mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, alat penilaian harus dibuat dengan cara tertentu. Asesmen ini membantu memastikan bahwa alat asesmen memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai. Sebagai langkah terakhir, evaluasi hasil juga mencakup kesimpulan mengenai variabilitas dan reliabilitas instrumen penilaian yang digunakan. Instrumen untuk menulis harus dalam berbagai format, termasuk tes, proyek, presentasi, dan menulis berdasarkan pengalaman kerja. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa alat pengajaran mempertimbangkan gaya dan kemampuan belajar siswa, serta memberi mereka kesempatan untuk menyajikan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Evaluasi juga menimbulkan kekhawatiran tentang cara kompilasi hasil atau penilaian yang dibuat. Hal ini


Kurikulum dan Pendidikan 50 memerlukan pertimbangan penjelasan petunjuk dan kriteria pertimbangan, pelaksanaan yang konsisten, dan umpan balik yang diberikan siswa. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa proses penilaian hasil dilakukan secara jujur dan transparan, memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar dari contoh-contoh yang diberikan. Selain itu, evaluasi hasil memunculkan kekhawatiran tentang penggunaan hasil penilaian dalam menentukan sudut pandang siswa. Evaluasi ini mengkaji bagaimana hasil penilaian digunakan untuk menginformasikan pengajaran, pengembangan kurikulum, dan perluasan program pendidikan. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa hasil penilaian digunakan secara efektif untuk meningkatkan pembelajaran dan mencapai tujuan kurikulum. Kelebihan dan kelemahan dalam instrumen, proses, dan penerapan hasil penilaian dapat diketahui melalui evaluasi hasil yang disebut juga penilaian. Evaluasi ini menawarkan wawasan yang lebih baik tentang kemanjuran hashing hasil dengan memberikan informasi yang akurat tentang status siswa, serta menawarkan panduan untuk memperbaiki dan meningkatkan metode dan instrumen penilaian yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran. E. Kesiapan Guru Penilaian seorang guru merupakan proses yang mempertimbangkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan karakternya selama menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memastikan bahwa guru memiliki motivasi yang diperlukan


Kurikulum dan Pendidikan 51 untuk memberikan pengajaran yang secara efektif mengembangkan keterampilan siswa (Ardiawan,2020). Pertama, evaluasi kinerja guru mencakup pertimbangan basis pengetahuan akademis dan profesional guru. Dalam evaluasi ini, guru diberikan umpan balik mengenai materi pelajaran yang diajarkannya, efektifitas metode pengajaran yang digunakannya, dan perkembangan terkini dalam bidang pendidikan. Guru harus memiliki pemahaman yang kuat tentang materi pelajaran yang mereka ajarkan serta motivasi yang diperlukan untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang mudah dipahami dan menarik. Sebagai langkah terakhir, evaluasi kinerja guru mengkaji dampak pengelolaan kelas dan kinerja guru terhadap siswa. Evaluasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan instruksi yang memenuhi kebutuhan siswa, memfasilitasi diskusi dan interaksi yang bermanfaat, dan berhasil menilai kelas. Guru juga harus mampu menggunakan berbagai teknik dan strategi mengajar yang sesuai bagi siswa belajar. Evaluasi juga mempertimbangkan pengetahuan siswa dan komitmen guru terhadap profesinya. Guru harus memiliki motivasi yang kuat, dedikasi untuk mengajar siswa perempuan, dan teknik mengajar yang efektif. Evaluasi ini menunjukkan bagaimana seorang guru dapat menumbuhkan lingkungan yang inklusif, menciptakan hubungan kerja yang positif dengan siswa, dan mendorong partisipasi aktif siswa di kelas. Selain itu, penilaian kinerja guru juga mempertimbangkan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi


Kurikulum dan Pendidikan 52 pendidikan. Evaluasi ini menunjukkan bagaimana seorang guru dapat secara efektif memasukkan teknologi ke dalam pengajaran, menggunakan perangkat digital dan materi kelas, dan memfasilitasi penggunaan teknologi sebagai alat untuk belajar siswa. Kekuatan dan kelemahan dalam kompetensi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru dapat diidentifikasi melalui evaluasi kesiapan guru. Untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, evaluasi ini memberikan informasi tentang perlunya pendampingan guru profesional serta pedoman untuk memberikan bimbingan belajar, pendampingan, dan sistem pendukung yang sesuai. F. Pengaruh Kurikulum Terhadap Siswa (Aulia dan Sukiman (2022) berpendapat bahwa evaluasi keefektifan kurikulum sehubungan dengan siswa memperhitungkan keefektifan kurikulum dalam hal mempengaruhi perilaku siswa di berbagai dimensi. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat dievaluasi dalam hal tinjauan kurikulum terkait siswa: Penilaian terhadap kemajuan akademik seperti peningkatan pengetahuan siswa, pemahaman konsep, dan keterampilan dalam bidang studi yang diajarkan dalam kurikulum, disampaikan melalui evaluasi kinerja akademik ini. Evaluasi juga memberikan kemampuan untuk mengamati tingkat keberhasilan siswa dalam memenuhi tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.


Kurikulum dan Pendidikan 53 Penilaian Terhadap Perkembangan Keterampilan Siswa, Meliputi Keterampilan Berbasis Kritik, Keterampilan Berbasis Komunikasi, Keterampilan Kolaboratif, Keterampilan Pemecahan Masalah, dan Keterampilan Berbasis Kreativitas. Evaluasi juga dapat melihat seberapa baik perempuan dapat mengungkapkan hal tersebut dalam konteks kehidupan sehari-harinya. Perkembangan Sikap dan Nilai: Evaluasi ini mengkaji bagaimana perubahan sikap dan nilai siswa sebagai akibat penerapan kurikulum. Toleransi, integritas, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, dan rasa hormat terhadap keragaman adalah beberapa sifat positif yang dapat dievaluasi. Evaluasi juga dapat digunakan untuk melihat seberapa baik guru mampu menyampaikan pelajaran dan tugas yang sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam kurikulum. Motivasi dan penolakan Siswa: Evaluasi ini mengkaji bagaimana motivasi dan keterlibatan siswa mempengaruhi proses pembelajaran karena dipengaruhi oleh kurikulum. Evaluasi dapat mengungkap sikap siswa terhadap materi pembelajaran, tingkat partisipasi di kelas, dan perasaan khawatir terhadap pembelajaran. Evaluasi juga dapat menentukan apakah kurikulum mendorong siswa untuk mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar. Kesiapan untuk Masa Depan: Evaluasi ini mengkaji bagaimana kurikulum mempersiapkan siswa menghadapi tantangan dan kebutuhan dasar di masa kini. Setelah menyelesaikan kurikulum, evaluasi dapat menentukan apakah siswa memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan atau sekolah lanjutan. Evaluasi juga dapat mengungkapkan apakah


Kurikulum dan Pendidikan 54 kurikulum menawarkan tempat tinggal siswa yang sesuai untuk pertumbuhan profesional dan pribadi mereka. Kekuatan dan kelemahan kurikulum ini dapat diidentifikasi dalam mempengaruhi perkembangan siswa. Evaluasi ini membantu dalam meningkatkan kualitas kurikulum, memastikan memenuhi kebutuhan siswa, dan mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. G. Pelaksanaan Kurikulum Nurohmi dan Rosdiana (2021) menyatakan bahwa implementasi kurikulum dan pendistribusian materi kurikulum kepada peserta didik di lingkungan belajar merupakan keseluruhan dari proses implementasi kurikulum. Berikut adalah beberapa kriteria penting yang harus dievaluasi selama pelaksanaan kurikulum: Perencanaan Pembelajaran: Evaluasi mempertimbangkan umpan balik siswa mengenai proses perencanaan pembelajaran guru. Evaluasi ini menekankan pentingnya kualitas dan isi hasil belajar, termasuk penggunaan metode pembelajaran yang tepat, jumlah siswa yang tepat, dan strategi evaluasi yang akan digunakan untuk menentukan kinerja siswa. Evaluasi juga melihat bagaimana kegiatan kelas mengurangi tujuan, keterampilan, dan informasi spesifik yang tercatat dalam kurikulum. Implementasi kurikulum: Evaluasi implementasi kurikulum sekolah mencakup komentar dari siswa. Evaluasi ini menekankan pada gaya mengajar guru, penggunaan metode dan strategi mengajar yang tepat, dan penggunaan bahan pelajaran yang tepat. Evaluasi juga melihat


Kurikulum dan Pendidikan 55 bagaimana bahan ajar disajikan kepada siswa secara jelas dan efektif. Dukungan dan Sumber Daya: Evaluasi membahas segala keprihatinan tentang perlunya dukungan dan sumber daya selama pelaksanaan kurikulum. Evaluasi ini meliputi pertimbangan ketersediaan buku, materi pendidikan, peralatan teknologi, laboratorium, dan fasilitas pendukung lainnya. Evaluasi juga melihat bagaimana guru mendapat dukungan dalam menjalankan kurikulum, seperti pelatihan profesional yang relevan dan perekrutan. Siswa Terlibatan: Evaluasi mempertimbangkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Evaluasi ini menekankan pentingnya status peserta aktif di kalangan perempuan, kualitas interaksi mereka dengan pembimbing dan sesama perempuan, serta tingkat pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Evaluasi juga melihat bagaimana kurikulum mendorong siswa untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Monitoring dan Evaluasi: Mengevaluasi proses monitoring dan evaluasi seberapa baik kurikulum diimplementasikan. Evaluasi ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa baik evaluasi formatif dan komprehensif digunakan untuk menurunkan tingkat prestasi siswa. Evaluasi juga melihat bagaimana hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan melakukan penulisan ulang kurikulum bila diperlukan. Keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan kurikulum dapat diketahui melalui evaluasi pelaksanaan kurikulum. Evaluasi ini membantu


Kurikulum dan Pendidikan 56 dalam meningkatkan dan memperbarui kurikulum dan memberikan nasihat berharga bagi guru dan siswa. H. Keberlanjutan dan Perbaikan Ayudia et al (2023) dalam bukunya menyatakan bahwa keberlanjutan dan perbaikan kurikulum merupakan faktor krusial dalam peningkatan kualitas sistem pendidikan. Evaluasi yang dilakukan dalam rangka perencanaan jangka panjang dan penyempurnaan kurikulum mencakup rincian sebagai berikut: Analisis Data: Evaluasi dimulai dengan analisis data yang berkaitan dengan hasil belajar siswa, tingkat partisipasi siswa, tingkat kelulusan, dan luapan emosi dari berbagai pemangku kepentingan utama, termasuk guru, siswa, siswa, otoritas, dan masyarakat umum. Informasi yang diberikan di sini memberikan informasi tentang keberhasilan dan tantangan implementasi kurikulum serta bidang-bidang yang memerlukan perbaikan. Identifikasi Kelemahan dan Kelemahan: Evaluasi yang mengidentifikasi Kelemahan dan Kelemahan kurikulum saat ini. Kekuatan dapat mencakup beberapa pertimbangan seperti relevansi konten kelas modern, metode pengajaran inovatif, dan integrasi konsep abad ke-21. Selain itu, kelemahan dapat mencakup hal-hal seperti masalah isi kurikulum, masalah jumlah hari, atau kegagalan memenuhi kebutuhan rekan kerja dan tempat kerja. Evaluasi Melibatkan Pemangku Kepentingan Seperti Guru, Siswa, Orang Tua, Pengawas Sekolah, dan Ahli Pendidikan, Melibatkan Pemangku Kepentingan. Melalui wawancara, survei, atau diskusi kelompok, sikap dan


Kurikulum dan Pendidikan 57 pengetahuan mereka tentang implementasi kurikulum dibangkitkan. Ini memberikan perspektif luas yang dapat membantu dalam menentukan jangka waktu yang diperlukan dan tingkat perbaikan. Pemantauan dan Penilaian Berkelanjutan: Evaluasi kurikulum harus dilakukan secara berkelanjutan. Untuk memastikan bahwa kurikulum secara konsisten relevan, terkini, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan siswa, masyarakat umum, dan tempat kerja, pemeliharaan dan pemutakhiran harus dilakukan. Evaluasi ini juga membantu mengidentifikasi tren dan perubahan di kelas yang dapat mengganggu perbaikan kurikulum. Rencana Tindak Lanjut: Evaluasi menghasilkan rencana tindak lanjut yang jelas untuk perbaikan kurikulum. Tindakan perbaikan dapat mencakup memperbarui materi kursus, meningkatkan teknik bimbingan belajar, mengubah tenggat waktu kursus, atau memberikan pekerjaan rumah yang lebih bermanfaat. Tugas ini perlu diselesaikan dengan koordinasi yang baik antara semua pihak terkait, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas belajar. Kumulus dapat terus berkembang dan meningkatkan efektivitasnya dalam mencapai tuan pendidikan dengan melakukan evaluasi berkelanjutan dan perbaikan tindakan implementasi. Ini membantu memastikan bahwa siswa menerima pendidikan yang saat ini, berkualitas tinggi, dan sesuai untuk masa kini dan masa depan. Kesimpulannya, evaluasi kurikulum di Indonesia, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain struktur dan isi kurikulum, materi pelajaran, penilaian atau hasil evaluasi, umpan balik guru, dan dampak kurikulum terhadap siswa. Tujuan evaluasi ini adalah untuk


Kurikulum dan Pendidikan 58 meningkatkan kualitas kurikulum, memastikan relevansi dengan kebutuhan pekerja dan tempat kerja, serta mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Evaluasi kurikulum yang dilaksanakan meliputi monitoring dan evaluasi selain perencanaan pembelajaran, implementasi kelas, dukungan dan sumber daya, dan keterlibatan siswa. Evaluasi ini membantu dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan utama dalam penerapan kurikulum dan memberikan umpan balik yang berharga untuk memperbaiki kurikulum dan proses pengajaran. Selain itu, evaluasi juga melibatkan analisis data, mengidentifikasi pola dan masalah yang bermasalah, mengevaluasi faktor individu seperti kepentingan dan pemangku kepentingan, serta prakiraan jangka panjang. Evaluasi ini berfungsi untuk memantau kemajuan kurikulum, mengidentifikasi koreksi yang diperlukan, dan memastikannya tetap relevan, responsif, dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum di Indonesia dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya, sehingga siswa dapat memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya dan siap menghadapi tantangan masa depan. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan evaluasi yang komprehensif dan berjangka panjang serta menerapkan langkah-langkah perbaikan yang tepat.


Kurikulum dan Pendidikan 59 BAB 6 KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN erubahan paradigma penyelenggaraan Pendidikan dan Sentralisasi ke Desentralisasi mendorong terjadinya perubahan dan pembaruan pada beberapa aspek pendidikan, termasuk kurikulum. Pada paradigma sentralisasi pembaruan kurikulum ditentukan sepenuhnya oleh pusat, sedangkan daerah atau madrasah menerima dan melaksanakan sepenuhnya kurikulum dari pusat. Pada paradigma desentralisasi, daerah dan madrasah mempunyai kewenangan untuk membuat kurikulum (dalam hal ini silabus), sedangkan pusat memberikan beberapa acuan dan ketentuan yang sifatnya esensial. Ini dimaksudkan agar semua daerah dalam wilayah NKRI dalam menyusun kurikulum tidak keluar atau menyimpang dari sistem pendidikan nasional. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam hal ini adalah tujuan pendidikan di Madrasah. Berdasarkan UndangP


Kurikulum dan Pendidikan 60 undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 36 ayat (2) ditegaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan penyusunannya diserahkan di tingkat satuan pendidikan dalam bentuk Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah menjelaskan bahwa satuan pendidikan dapat melakukan inovasi dan pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai kebutuhan peserta didik, akademik, sosial budaya dan kebutuhan madrasah. Inovasi dan pengembangan KTSP meliputi struktur kurikulum, beban belajar, desain pembelajaran, muatan lokal dan ekstrkurikuler. Dengan demikian bagi satuan pendidikan yang ingin melakukan terobosan-terobosan dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasahnya, dapat melakukan inovasi dalam pengembangan KTSPmadrasahnya. Atas dasar ini dikembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Madrasah. Setiap madrasah memiliki karakter dan kekhasan masingmasing untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya. Untuk itu madrasah dapat melakukan inovasi dalam pengembangan implementasi kurikulum untuk mewujudkan keunggulan sesuai dengan kekhasannya. Inovasi tersebut perlu secara eksplisit dituangkan dalam dokumen kurikulum tingkat madrasah sesuai dengan peraturan perundangan dan ketentuan yang berlaku. Pengembangan tersebut hendaknya dilakukan dengan memperhatikan tujuan pendidikan nasional, tujuan madrasah,


Kurikulum dan Pendidikan 61 perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan zaman. Khususnya dalam menghadapi revolusi industri 4.0, madrasah harus dapat menyiapkan kompetensi peserta didik di era milenial untuk dapat melaksanakan pembelajaran abad 21 yakni memiliki kemampuan 4 C (critical thinking, creativity, communication and collaboration). Sebagai lembaga pendidikan umum berciri khas Islam, maka kurikulum madrasah harus dirancang dalam rangka penguatan moderasi beragama, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), pendidikan anti korupsi, literasi dan pembentukan akhlak mulia peserta didik. A. Tujuan Pengembangan Kurikulum Secara umum tujuan diterapkan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada satuan pendidikan dan mendorong untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Sedangkan secara khusus tujuannya adalah: 1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif madrasah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia; (b) meningkatkan kepedulian warga madrasah dalam mengembangkan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama untuk mewujudkan keunggulan madrasah; dan (c) meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan. Pengembangan KTSP diserahkan kepada satuan pendidikan dengan pertimbangan sebagai berikut:


Kurikulum dan Pendidikan 62 2. Madrasah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan lembaganya; 3. Madrasah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik; (c) pengambilan keputusan yang dilakukan oleh madrasah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan madrasah karena pihak madrasahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi madrasahnya; 4. Keterlibatan semua warga madrasah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien dan efektifbilamana dikontrol oleh masyarakat setempat; 5. Madrasah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing- masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pada umumnya, oleh karena itu madrasah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP; 6. Madrasah dapat melakukan persaingan sehat dengan satuan pendidikan lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah setempat;


Kurikulum dan Pendidikan 63 Madrasah dapat secara cepat merespon perkembangan zaman, aspirasi masyarakat dan lingkungannya yang berubah dengan cepat dan sulit diduga pada saat sekarang dan yang akan datang. B. Prinsip dan Acuan Operasional Pengembangan Kurikulum 1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan madrasah ditentukan oleh madrasah dan komite madrasah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut. a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.


Kurikulum dan Pendidikan 64 b. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilanpribadi,keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. e. Menyeluruh dan berkesinambungan


Kurikulum dan Pendidikan 65 Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan. f. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminka keterkaitan antara unsurunsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum KTSP dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan dan komite madrasah di bawah koordinasi Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan/atau Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi dalam


Kurikulum dan Pendidikan 66 mewujudkan relevansi atau kesesuaian atas perkembangan kebutuhan kehidupan peserta didik di masa depan. KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, kepentingan peserta didik dan tuntutan lingkungan. b. Belajar Sepanjang Hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur- unsur pendidikan formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang, serta arah pengembangan manusia seutuhnya. c. Menyeluruh dan berkesinambungan


Kurikulum dan Pendidikan 67 Subtansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan. 3. Adapun acuan Operasional penyusunan kurikulum antara lain: KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun untuk memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia. b. Penguatan pendidikan karakter Penguatan Pendidikan Karakter merupakan upaya membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia dan merevitalisasi serta memperkuat potensi dan kompetensi pada lingkungan pendidikan. c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan


Kurikulum dan Pendidikan 68 peserta didik. Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor ) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan kinestetik peserta didik. d. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan dan keragaman karasteritik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional Dalam era otonomi dan desentralisasi untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan mendrong partisipasi masyrakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, keduanya harus di tampung secara berimbang dan saling mengisi.


Kurikulum dan Pendidikan 69 f. Tuntutan dunia kerja Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEK sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEK sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. h. Moderasi Beragama Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata


Kurikulum dan Pendidikan 70 pelajaran harus ikut mendukung perilaku kehidupan beragama yang moderat. i. Dinamika perkembangan global Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain. j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya pemeliharaan persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, kurikulum harus mendorong perkembangan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI. k. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat Pendidikan diharapkan menjadi penguat budaya antikorupsi. Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.


Kurikulum dan Pendidikan 71 l. Kesetaraan Gender Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. m. Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan n. Pendidikan Anti Korupsi Kurikulum diarahkan pada pembentukan karakter termasuk mengembangkan kejujuran dan nilai integritas sedini mungkin agar anak menjadikannya sebagai kebiasaan dan pandangan hidup termasuk di dalamnya pendidikan anti korupsi. o. Pendidikan Anti Narkoba Dalam upaya mencegah permasalahan sosial global saat ini kurikulum harus menjamin terwujudnya karakter peserta didik yang tangguh dan tidak mudah terbawa pada perilaku menyimpang termasuk penggunaan narkoba. Pada akhirnya kurikulum ini tetap sebagai sebuah dokumen, yang akan menjadi kenyataan apabila terlaksana di lapangan dalam proses pembelajaran yang baik. Pembelajaran dilaksanakan di kelas atau di luar kelas dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dalam strategi


Kurikulum dan Pendidikan 72 pembelajaran ini diharapkan siswa akan mengikuti proses pembelajaran dengan senanghati, menumbuh kembangkan daya keatifitas mereka sekaligus harus efektif dalam menuju ketercapaian tujuan pembelajaran. C. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Membangun Pembelajaran Berbasis Komprehensif dan Kontekstual Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah menjadi landasan utama dalam menyusun rencana pembelajaran di setiap sekolah. KTSP merupakan pendekatan kurikulum yang menekankan pada pengembangan kurikulum yang berbasis lokal, komprehensif, dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa di setiap sekolah. KTSP berbeda dengan pendekatan kurikulum nasional yang bersifat sentralistik dan lebih bersifat universal. Dalam KTSP, setiap sekolah memiliki otonomi dalam merancang kurikulum yang sesuai dengan keadaan dan kondisi setempat. Hal ini memungkinkan sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Salah satu keunggulan KTSP adalah adanya fleksibilitas dalam menyusun kurikulum. Setiap sekolah memiliki kebebasan untuk menentukan tujuan pembelajaran, memilih materi pembelajaran, dan menyesuaikan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan


Kurikulum dan Pendidikan 73 demikian, kurikulum dapat dirancang agar relevan, menarik, dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. KTSP juga mendorong pembelajaran yang komprehensif, yaitu melibatkan berbagai aspek perkembangan siswa, termasuk aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, sikap, dan nilainilai positif. Dalam KTSP, sekolah memiliki kebebasan untuk mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan kegiatan nyata dalam komunitas. Selain itu, KTSP juga mengedepankan pembelajaran yang kontekstual. Artinya, materi pembelajaran disesuaikan dengan konteks kehidupan siswa, lingkungan sekitar, dan perkembangan zaman. Guru diharapkan mampu menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa dapat memahami relevansi dan manfaat dari apa yang dipelajari. Namun, meskipun memiliki keunggulan-keunggulan tersebut, KTSP juga memiliki tantangan. Tantangan utamanya adalah memastikan bahwa sekolah memiliki sumber daya yang memadai, baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, maupun sarana dan prasarana, untuk melaksanakan KTSP secara efektif. Selain itu, koordinasi antara sekolah juga perlu diperhatikan agar kurikulum yang dihasilkan konsisten dan mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Secara keseluruhan, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah membawa perubahan positif dalam


Kurikulum dan Pendidikan 74 pendidikan di Indonesia. Dengan pendekatan yang berbasis lokal komprehensif, dan kontekstual, KTSP mendorong pembelajaran yang relevan, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa di setiap sekolah. Meskipun masih perlu peningkatan dalam hal implementasi dan koordinasi, KTSP menjadi langkah awal dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif dan berkualitas.


Kurikulum dan Pendidikan 75 BAB 7 KONSEP DASAR PEMBELAJARAN Pada hakikatnya dalam memaknai konsep akan berhubungan dengan teori, sedangkan teori akan berhubungan pada suatu hal yang di pandang secara ilmiah. Jika konsep berhubungan dengan teori. Maka, dalam pembahasan terkait konsep dasar pembelajaran ini tentu akan erat kaitannya dengan landasan ilmiah pembelajaran. Sub bab ini akan membahas terkait hakikat belajar, konsep pembelajaran, ciri-ciri pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan proses pembelajaran. A. Hakikat Belajar Belajar sebenarnya merupakan suatu aktivitas/kegiatan yang sering dilakukan oleh individu secara sadar dimanapun dan kapanpun, sebagai upaya untuk merubah diri menjadi lebih baik, baik perubahan pola pikir dan tingkah laku seorang individu. Belajar adalah proses yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Ada banyak pandangan ahli yang mengungkapkan pendapatnya terkait definisi belajar. Beberapa pendapat ini dirangkum agar bisa memaknai lebih mendapat tentang hakikat belajar.


Kurikulum dan Pendidikan 76 Menurut Slavin dalam Faturrohman bahwa Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen atau perilaku potensial sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. Belajar dihasilkan dari interaksi antara stimulus dan respon. Sehingga seseorang dapat dikatakan telah belajar ketika terjadi perubahan tingkah laku atau individu tersebut menerima stimulus dan respon. Suardi (2018: 11) mengatakan bahwa belajar sebagai proses perubahan dalam diri seseorang yang dapat dinyatakan dengan adanya penguasaan pola sambutan yang baru berupa pengalaman, keterampilan dan sikap sebagai hasil proses pengalaman yang di alami. Afi Parnawi (2019: 2), belajar adalah rangkaian aktivitas fisik dan mental yang ditujukan untuk mengubah tingkah laku yang dihasilkan dari pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya, yang menyangkut aktivitas kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan Taksonomi Bloom, yang menyatakan bahwa hasil belajar di kategorikan pada tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Adapun penjelasan ketiga aspek tersebut sebagai berikut George J. Mouly dalam Trianto (2010: 9) mendefinisikan belajar sebagai proses perubahan perilaku individu berkat adanya pengalaman. Sementara Kimble dan Garmezi dalam Trianto (2010: 9) berpendapat bahwa belajar berarti perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan belajar adalah proses aktivitas mental yang dilakukan manusia dengan harapan akan terjadi perubahan baik pemikiran maupun perilaku dalam jangka waktu yang


Kurikulum dan Pendidikan 77 cukup lama. Perubahan ini menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan. Belajar menciptakan perubahan sebagai bagian dari perilaku aktif setiap individu, dan perubahan ini bersifat positif. Dengan demikian, tidak semua perubahan yang terjadi disebut proses belajar. Dari pengertian belajar tersebut, maka ada 3 unsur pokok dalam belajar: 1. Proses Belajar sebagai proses perubahan yang dilaksanakan secara sadar, terus menerus, positif dan diarahkan untuk mencapai tujuan. Perubahan ini merupakan hasil belajar yang ditandai dengan perubahan pola pikir dan perilalaku yang relatif permanen. 2. Perubahan pola pikir dan perilaku Perubahan berkaitan semua aspek kepribadian, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif merupakan perilaku yang menekankan pada kemampuan intelektual individu, seperti pengetahuan dan kemampuan berpikir. Aspek psikomotorik berkaitan dengan keterampilan-keterampilan motorik individu. Afektif menekankan pada aspek perasaan, seperti minat dan sikap peserta didik. Ketiga komponen ini dapat diamati dan dinilai oleh guru dalam proses pembelajaran. 3. Pengalaman Belajar itu mengalami, yaitu terjadi melalui interaksi guru dengan peserta didik dan lingkungan belajar. Lingkungan belajar yang baik adalah yang membantu terciptanya motivasi dan semangat belajar dalam diri siswa peserta didik. Dalam hal ini, ada peran guru untuk menerapkan model, metode dan strategi


Kurikulum dan Pendidikan 78 yang tepat sehingga peserta didik lebih antusias untuk belajar, dapat memberikan pemahaman dari materi yang diajarkan, guna tercapainya tujuan pembelajaran. Sebagai contoh, guru yang mengajar dengan alat peraga atau praktikum tentu akan lebih menarik dan menimbulkan antusias belajar peserta didik. Baik antusiasnya dalam melihat, mengamati dan memahami hal tesebut. Sehingga, lingkungan yang dapat membantu peserta didik dalam belajar dapat menjadi sumber belajar peserta didik. B. Hakikat Pembelajaran Pembelajaran merupakan aktivitas utama dalam pendidikan, yang erat kaitannya dengan proses belajar dan mengajar. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan \[bq[ ‚j_g\_f[d[l[h [^[f[b jlim_m chn_l[emc j_m_ln[ ^c^ce dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan \_f[d[l‛. Menurut Komalasari (2010:3) pembelajaran merupakan sistem atau proses peserta didik sebagai pembelajar direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis supaya peserta didik dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Pembelajaran di pandang sebagai suatu sistim dan proses. Pembelajaran sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan, seperti tujuan pembelajaran, media pembelajaran, pengorganisasian kelas dan penilaian (evaluasi). Sementara itu, pembelajaran dikatakan sebagai suatu proses, yaitu kegiatan guru yang


Kurikulum dan Pendidikan 79 melakukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pembelajaran dan program tindak lanjut yang berlangsung secara sistematis dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakan sebelumnya (Subroto, 1997). Trianto (2010: 17) mengatakan bahwa pembelajaran merupakan bagian kompleks dari aktivitas manusia yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya. Pembelajaran dapat diartikan sebagai hasil interaksi yang terus menerus antara perkembangan dan pengalaman hidup. Pembelajaran dalam makna kompleks adalah usaha sadar dan terencana guru dalam memberikan pengajaran kepada peserta didik guna mencapai tujuan pembelajaran. Biggs dalam Sugihartono (2007: 56) menjelaskan konsep pembelajaran menjadi tiga pengertian yaitu: 1. Pengertian secara Kuantitatif Pembelajaran kuantitatif berarti transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Guru dituntut untuk kompeten dan menguasai pengetahuan yang dimilikinya agar dapat menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada peserta didik. 2. Pengertian secara Institusional Secara institusional, pembelajaran diartikan sebagai penataan semua keterampilan mengajar agar dapat berfungsi secara efektif. Guru harus selalu mengadaptasi teknik mengajar yang berbeda agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 3. Pengertian secara Kualitatif Secara kualitatif, pembelajaran dimaknai sebagai upaya guru untuk memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik. Peran guru dalam pembelajaran tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik,


Kurikulum dan Pendidikan 80 tetapi guru juga harus melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran agar proses tersebut dapat berjalan efektif dan efisien. Pembelajaran atau learning berasal dari kata to learn yang berarti belajar. Konsep dasar pembelajaran mempunyai kaitan yang erat dengan proses belajar dan mengajar, yang ditandai dengan adanya interaksi guru dan peserta didik. Sehingga tujuan dari kegiatan pembelajaran yaitu adanya perubahan pola pikir dan perilaku dari peserta didik. Dapat disimpukan bahwa pembelajaran dimaknai sebagai proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar. Sehingga, efektivitas proses pembelajaran ditentukan oleh interaksi tiga komponen tersebut. Tetapi, dalam pelaksanaan pembelajaran, guru memiliki peranan penting dalam melakukan perancangan, pelaksanaan dan evaluasi. Guru berperan penting dalam pelakukan perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran kepada peserta didik di kelas dan melakukan kegiatan evaluasi pasca pelaksanaan pembelajaran guna mengukur ketercapaian proses pembelajaran. C. Ciri-Ciri Pembelajaran Konsep pembelajaran pada hakikatnya adalah kegiatan mendidik dalam pembelajaran peserta didik. Adapun ciriciri pembelajaran yaitu: 1. Adanya interaksi yang dilakukan guru dengan peserta didik secara sadar guna mengubah pola pikir dan perilaku.


Kurikulum dan Pendidikan 81 2. Adanya perencanaan yang sistematis yang dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran. 3. Tujuan pembelajaran ditetapkan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan kegiatan pembelajaran. 4. Kegiatan di kelas yang semula teacher-centered (guru yang lebih banyak berperan, yang berorientasi pada kegiatan mengajar) telah berpindah kepada konsep pembelajaran (kegiatan yang berorientasi pada proses belajar peserta didik atau learner centered) sehingga peserta didik lebih aktif di kelas. 5. Pelaksanaannya terkendali oleh guru dan keberhasilan kegiatan pembelajaran dapat diukur menggunakan instrumen penilaian, guna melakukan evaluasi lebih lanjut terkait ketercapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, pembelajaran sebenarnya erat kaitannya dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan guru. Selain itu, pembelajaran merupakan aktivitas guru untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, sehingga terbangun pemahaman yang kompleks, yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku peserta didik. D. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan yang secara sadar dilakukan secara terus-menerus guna mewujudkan perubahan tingkah laku peserta didik. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan


Kurikulum dan Pendidikan 82 bahwa ‚j_h^c^ce[h [^[f[b om[b[ m[^[l ^[h n_l_h][h[ ohnoe mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang ^cj_lfoe[h ^clchy[, g[my[l[e[n, \[ham[ ^[h h_a[l[‛. Proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan oleh guru dapat meliputi 3 tahap berikut: 1. Tahap persiapan, yaitu proses merencanakan kegiatan pembelajaran dan penyusunan tujuan pembelajaran. 2. Melaksanaan pembelajaran berdasarkan rencana, strategi dan metode yang sudah dirancang sebelumnya. 3. Mengevaluasi pembelajaran menggunakan instrumen penilaian yang sudah di buat guru. Hal ini dilakukan guna mengetahui ketercapaian kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang baik yaitu proses pembelajaran yang mempunyai tujuan yang jelas dan terarah serta berjalan efektif dan mempunyai output yang dapat diukur ketercapainnya. Tujuan pembelajaran mengarah pada kondisi pembelajaran yang ideal. Sehingga guru yang mengambil peran penting dalam memaksimalkan pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, harus menciptakan kondisi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga proses transformasi pengetahuan dari guru kepada peserta didik berjalan efektif dan efisien, peserta didik diharapkan dapat termotivasi untuk belajar dan memahami materi yang diajarkan guru di kelas.


Kurikulum dan Pendidikan 83 BAB 8 PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN Pembelajaran adalah suatu konsep dalam pendidikan yang berkaitan dengan tujuan dan acuan yang eksplisit dan implisit (tersembunyi) dalam sebuah interaksi timbal balik antara guru dan peserta didik. Proses mental dan fisik terhubung satu sama lain untuk membentuk aktivitas atau perilaku belajar yang kohesif. Belajar dipahami dalam konteks ini sebagai usaha atau latihan untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu. Pembelajaran biasanya dilihat sebagai suatu perubahan perilaku, dan cara pandang ini dengan jelas membedakannya dari aktivitas hafalan. Peserta didik menggunakan keterampilan dari berbagai ranah selama proses pembelajaran, termasuk ranah kognitif (pikiran) ranah afektif (emosional) dan ranah psikomotorik (kemampuan fisik). Hasil belajar ketiga ranah ini akan meningkat seiring dengan proses pembelajaran yang berlangsung. Jersild (1963) mendefinisikan belajar sebagai ‚gi^c`ce[mc nchae[b f[eo g_f[foc j_ha[f[g[h ^[h f[ncb[h‛, y[ha mengacu pada perubahan tingkah laku atau efek dari perubahan tingkah laku yang dibawa oleh pendidikan. Dimana hal tersebut merupakan dipandang sebagai hasil dari pengalaman dan latihan.


Kurikulum dan Pendidikan 84 Pendidikan tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya proses belajar yang sebenarnya, oleh karena itu belajar merupakan unsur yang paling penting dalam segala upaya penyelenggaraan pendidikan. Belajar, menurut Morgan dan King (1966) adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif stabil dan dihasilkan dari latihan atau pengalaman. Sehingga, hanya peserta didik sendirilah yang dapat memahami kompleksitas dari sebuah proses pembelajaran (Dimiyanti & Mudjiono 1996:7). A. Pengertian Belajar menurut Beberapa Ahli Pendefinisian dari arti belajar memiliki interpretasi yang berbeda-beda menurut para ahli. Misalnya, Hilgard dan Marquis (1940) mendefinisikan belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan yang terjadi dalam diri seseorang melalui pelatihan, pendidikan, dan pengalaman lain dan mengarah pada perubahan pada orang tersebut. Sedangkan menurut Mursell (1937), belajar adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengalami sendiri, mengeksplorasi, meneliti, dan memperoleh pengetahuan sendiri. Pengertian lain dari belajar menurut Winkel adalah belajar meliputi semua kegiatan mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi langsung dengan lingkungan. Interaksi tersebut menghasilkan perubahan pemahaman yang mampu dikelola oleh individu. Sifat perubahan yang terjadi cukup permanen, dan tidak akan kembali seperti semula. Tentu perubahan ini tidak berlaku untuk hal yang disebabkan oleh keadaan sementara, seperti kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya (Winkel 1989: 7).


Kurikulum dan Pendidikan 85 Dalam buku yang dikutip oleh Sumardi Suryabrata (1984: 252), Ernest R. Hilgard menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses tindakan sengaja yang dilakukan oleh manusia, yang menghasilkan perubahan yang berbeda dengan perubahan yang disebabkan oleh faktor lain. Perubahan ini bersifat permanen, dan tidak akan kembali seperti semula. M_holon G[ah_ (1977) ^[f[g \oeohy[ ‚Tb_ Cih^cncihm i` L_[lhcha‛ g_hy[n[e[h \[bq[ \_f[d[l [^[f[b mo[no d_hcm perubahan tingkah laku yang berbeda dari perilaku individu baik sebelum maupun sesudah melakukan tindakan serupa. Perubahan ini berbeda dari perubahan spontan yang terjadi secara tidak sadar atau perilaku naluriah karena merupakan hasil dari pengalaman atau praktik. Menurut Surya (1981: 32), belajar adalah proses dimana orang bekerja untuk mengubah perilaku mereka secara keseluruhan sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan. Selain itu, proses pembelajaran merupakan proses yang tidak cepat atau tidak terukur (Aunurrahman 2014: 113). Menurut John Dewey (1938), belajar terdiri dari pengalaman aktif dan refleksi. Dewey menekankan pentingnya belajar dari pengalaman hidup dan mengembangkan pemahaman melalui refleksi atas pengalaman itu. Berdasarkan pendapat para ahli tentang definisi belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar berpengaruh pada perubahan perilaku yang terjadi pada seseorang sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Agar efektif, kegiatan mengajar harus dilaksanakan dengan memperhatikan dasar-dasar pembelajaran. Oleh karena itu,


Kurikulum dan Pendidikan 86 sangat penting bagi kita sebagai guru untuk mempelajari dasar-dasar pengajaran dan pembelajaran. Kita dapat menggunakan pengertian-pengertian tersebut untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik. Pendefinisian tentang belajar ini diharapkan dapat membantu guru memprioritaskan tindakan mereka dan memberi arahan di kelas. Guru juga harus memenuhi tujuan dalam lingkungan belajar agar dapat mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal. B. Pengertian Prinsip Pembelajaran Prinsip-prinsip pembelajaran dapat membantu guru dalam mengidentifikasi hal- hal apa saja yang menjadi keterbatasan dalam mengajar. Sehingga dapat digunakan saat dalam perencanaan pembelajaran. Selain itu, dengan menerapkan prinsip belajar dan pembelajaran, guru dapat memiliki dan menumbuhkan sikap yang diperlukan untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran peserta didiknya secara efektif dan efisien (Muis 2013). Pengembangan pembelajaran oleh guru harus dilakukan sesuai dengan prinsip yang benar dan berdasarkan kebutuhan peserta didik agar dapat meningkatkan potensi peserta didik secara maksimal dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai hasil yang terbaik, pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Menurut Robert M. Gagné (1985), langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran merupakan bagian dari prinsip pembelajaran. Beberapa


Kurikulum dan Pendidikan 87 prinsip tersebut antara lain memperhatikan, memahami tujuan pembelajaran, menggunakan pengetahuan sebelumnya, menyajikan materi dengan jelas, membimbing dan mendukung peserta didik, memberikan kesempatan untuk berlatih, memberikan umpan balik, melakukan tes pemahaman, dan mempraktikkan pembelajaran. Menurut Benjamin S. Bloom (1956), bahwa prinsipprinsip pembelajaran memerlukan proses seperti mengingat secara detail, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Untuk domain kognitif, Bloom memberikan tingkatan yang menunjukkan seberapa baik peserta didik dapat berpikir dan memproses informasi yang mereka terima. Sejalan dengan hal tersebut, Lev Vygotsky (1978) menegaskan bahwa interaksi sosial dan pendekatan berbasis zona aktual dan pengembangan potensi adalah komponen kunci dari prinsip-prinsip pembelajaran. Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam mengembangkan pengetahuan dan kemampuan. Pada intinya, prinsip-prinsip pembelajaran dapat dikatakan sebagai upaya aktif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dimana upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara memperhitungkan tingkat kognitif peserta didik, tingkat keterlibatan dan refleksi, tahap perkembangan, dan tingkat interaksi sosial. Guru dapat menggunakan acuan ini untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran secara efektif. Disatu sisi, menurut Muhaimin, yang dikutip Komsiyah (2012: 12), prinsip-prinsip tersebut tidak dapat diubah dan disebut sebagai "asas" daripada "hukum". Oleh karena itu, tidak


Kurikulum dan Pendidikan 88 heran jika para ahli memiliki pendapat yang berbeda mengenai prinsip-prinsip pembelajaran tersebut. Namun menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:42), ada prinsipprinsip umum dan universal yang dapat dijadikan pedoman dalam pendidikan. C. Prinsip dalam Pembelajaran Terdapat tujuh prinsip pembelajaran yang dikemukakan oleh Komsiyah (2012). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. Perhatian dan Motivasi Meskipun ada motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran yang berlangsung dari peserta didik, memberikan perhatian tetap menjadi hal yang penting. Sebab tanpa keduanya, pembelajaran tidak dapat berlangsung dengan baik (Dimyati & Mudjiono 1999:42). Motivasi merupakan dorongan yang timbul untuk melakukan kegiatan, mengatur jalannya kegiatan dan memelihara kesungguhan (Rothwell 1968). Sedangkan perhatian merupakan hal penting yang memegang peranan dalam pembelajaran. Tanpa adanya perhatian, maka tidak mungkin adanya kegiatan pembelajaran, baik dari peserta didik maupun dari pihak guru. Adanya perhatian yang diberikan guru kepada peserta didik sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, menjadikan suatu pembelajaran semakin bermakna. Dua komponen kunci dari motivasi adalah rasa ketertarikan dan kebutuhan terhadap subjek yang sedang dipelajari.


Kurikulum dan Pendidikan 89 2. Rasa ingin tahu Setiap peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan merupakan pembelajar yang selalu ingin tahu (Anurrahman 2014: 119). Anak-anak memiliki kemauan, keinginan, dan kemampuan mereka sendiri secara mandiri untuk bertindak. Sehingga, belajar hanya dapat berlangsung bila anak terlibat secara mandiri didalamnya (Dimyati & Mudjiono 1999:44). Selain itu, adanya rasa ingin tahu yang tinggi, mendorong peserta didik untuk berpartisipasi dalam pemrosesan informasi yang diperoleh dalam proses pembelajaran daripada hanya menyimpannya (Dimyati dan Mudjiono 1999:44-45). Dalam diri seorang anak, belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan, sesuai dengan kerangka konstruktivisme. 3. Keterlibatan Aktif dan Langsung Menurut Anurrahman (2014), anak adalah pembelajar mandiri yang memiliki rasa ingin tahu. Mereka termotivasi untuk mengambil tindakan dan memiliki kemauan dan keinginan yang kuat. Sehingga belajar hanya dapat berlangsung bila anak terlibat didalamnya secara mandiri (Dimyati & Mudjiono 1999:44). Hal ini sependapat dengan Muis (2013) yang mengungkapkan jika keterlibatan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan dan capaian belajar peserta didik. Selain itu, Dimyati dan Mudjiono (1999: 44-45) berpendapat bahwa jiwa manusia ikut serta dalam pengolahan informasi sebagai proses aktif bukan sekedar tempat penyimpanan.


Kurikulum dan Pendidikan 90 Sudut pandang konstruktivisme mengungkapkan bahwa belajar adalah proses internal konstruksi pengetahuan yang terjadi pada anak-anak. Prinsip keterlibatan aktif merupakan hal penting, sebab merupakan bagian dari aktivitas mengajar dan belajar. Dengan demikian guru harus terlibat secara langsung begitu juga dengan peserta didik. Tujuan dari prinsip ini adalah agar peserta didik memiliki perasaan bahwa mereka memiliki peranan yang sangat penting dan berharga dalam kelas, sehingga mereka bisa menikmati proses pembelajaran yang berlangsung dengan antusias. Edgar Dale dalam Dimyati (1999) mengungkapkan jika belajar yang baik adalah belajar melalui sebuah pengalaman. Dari pengertian ini, dapat dikatakan jika kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru adalah pengalaman belajar bagi peserta didik. 4. Pengulangan Pengulangan adalah kemampuan seseorang yang dapat menggunakan kembali hasil belajarnya (Muis 2013). Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:46-47), ada tiga teori psikologi yang sangat menekankan nilai pengulangan dalam proses pembelajaran. Pertama, menurut teori kekuatan psikologis, belajar memerlukan pengembangan potensi manusia dengan melatihnya berulang kali. Menurut psikologi asosiasi, juga dikenal sebagai koneksionisme, pembelajaran memerlukan penciptaan hubungan antara stimulus dan respon. Mengulangi pengalaman membuat asosiasi pada peserta didik jauh lebih kuat dan meningkatkan


Click to View FlipBook Version