Kurikulum dan Pendidikan 141 kelas, waktu digunakan untuk mengkaji lebih dalam konsep yang telah dipelajari siswa, mengerjakan tugas-tugas terapan, atau berpartisipasi dalam diskusi. Model ini membalik urutan tradisional dari pemaparan materi di kelas dan tugas di rumah. Artinya, metode ini digunakan agar pemahaman yang didapati oleh siswa lebih mendalam. Materi dipelajari terlebih dahulu di rumah secara mandiri. Selanjutnya, di dalam kelas, guru berperan sebagai instruktur dalam merespons pembelajaran yang telah dipelajari disisipi dengan pengetahuan baru yang belum sepenuhnya diketahui oleh siswa. I. Model Pembelajaran Diferensiasi Model ini menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan individu siswa. Guru memahami perbedaan siswa dalam hal gaya belajar, tingkat pemahaman, dan kebutuhan khusus, lalu menyesuaikan pendekatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Model ini dapat melibatkan penggunaan materi dan strategi yang berbeda untuk setiap siswa, serta penggunaan pengajaran individual atau kelompok kecil. Perlu dicatat bahwa model-model pembelajaran ini bukanlah pilihan yang eksklusif dan dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran di kelas. Sehingga dalam upaya menciptakan pengalaman pembelajaran yang efektif dan interaktif di dalam kelas, penggunaan berbagai metode pembelajaran memiliki peran yang penting dan sangat disarankan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap metode memiliki keunikan dan
Kurikulum dan Pendidikan 142 kelebihan yang dapat memberikan pengalaman belajar yang beragam dan menyeluruh bagi siswa. Dalam mengaplikasikan metode-metode pembelajaran ini, guru diharpkan dapat mengkombinasikan atau memilih metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi yang dipelajari, dan kebutuhan siswa. Selain itu, saat ini teknologi telah memperluas kemungkinan pembelajaran di dalam kelas dengan memanfaatkan perangkat dan sumber daya digital atau biasa kita sebut dengan istilah e-learning. Sebanarnya ada banyak jenisnya. Ringkasnya, metode pembelajaran berbasis teknologi memberikan akses lebih luas ke informasi, simulasi, dan kolaborasi secara online, yang dapat memperkaya proses pembelajaran sehingga tidak bisa dinafikkan kemungkinan pembelajaran khusus di dalam kelas menjadi sangat tua dan tidak terkini. Sebagai kesimpulan, metode-metode pembelajaran di dalam kelas merupakan alat yang beragam dan fleksibel untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan memadukan metode-metode tersebut, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
Kurikulum dan Pendidikan 143 BAB 13 PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA Kurikulum merupakan salah satu aspek penting di dalam dunia Pendidikan, karena kurikulum adalah pedoman atau acuan bagi setiap instansi Pendidikan terutama para pendidik dalam menerapkan kegiatan belajar dan mengajar di semua jenjang satuan Pendidikan baik itu dari tingkat Sekolah Dasar (SD), sekolah Menengah dan juga sampai tingkatan Pendidikan tinggi. Kemajuan Pendidikan suatu negara bisa dilihat dari kualitas pendidikannya dalam hal ini kurikulum yang diterapkan menjadi fondasi atau dasar dalam menjalankan Pendidikan itu sendiri. Di Indonesia sendiri, perubahan dan perkembangan kurikulum acapkali silih berganti sejak Indonesia menjadi sebuah negara yang berdaulat dan merdeka semenjak tahun 1947 hingga sampai dengan tahun 2022. Perubahan dan perkembangan kurikulum di Indonesia tentu berdasarkan perkembangan yang matang mengikut perubahan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyelarasan terhadap aspek-aspek lainnya seperti budaya, dan karakter bangsa dan masyarakat Indonesia. Alhamuddin, 2014, menguatkan bahwa perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan serta teknologi
Kurikulum dan Pendidikan 144 masyarakat berbangsa dan bernegara. Memang kurikulum sebagai perangkat rencana pendidikan harus fleksibel dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Senada dengan pandangan di atas, Nasution, (2006, p.251) juga menuturkan bahwa kurikulum Pendidikan akan selalu mengalami perubahan dan penyempurnaan karena berbagai faktor. Tujuan pendidikan dapat sepenuhnya berubah ketika sebuah negara berubah menjadi negara merdeka. Menurut beberapa sumber, Indonesia sendiri tercatat telah merubah, mengganti dan atau mengembangkan kurikulum nasional pendidikannya sebanyak 11 kali (lihat Alhamuddin, 2014, Sari, 2022). Kurikulum-kurikulum tersebut yakni kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013. Akan tetapi, semenjak pandemi covid-19, Indonesia juga tercatat pernah menggunakan kebijakan kurikulum darurat sebagai respon terhadap belajar dalam jaringan sebagai akibat dari pandemi covid-19. Kemudian, pada tahun 2022, Kemendikbudristek juga mengeluarkan perubahan kurikulum nasional sebagai penyempurnaan dari kurikulum 2013 yang disebut sebagai kurikulum merdeka. Jadi, total perubahan kurikulum Pendidikan nasional secara keseluruhan adalah 12 kali, namun di pembahasan bab ini penulis hanya akan menguraikan 11 kurikulum yang pernah diterapkan seperti yang dijelaskan sebelumnya karena keterbatasan penulis. Tulisan sederhana dan ringkas ini diharapkan mampu memberikan khazanah pengetahuan serta informasi bagi para pembaca dimanapun berada.
Kurikulum dan Pendidikan 145 A. Kurikulum Pada Masa Orde Lama 1. Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran 1947) Semenjak Indonesia memperoleh kemerdekaannya dari kependudukan Jepang pada tahun 1945, Indonesia kemudian menyiapkan kurikulum pendidikannya sebagai landasan bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar. Akan tetapi kurikulum Pendidikan yang pertama dibentuk atau tersusun pada tahun 1947 yang diberi nama dengan kurikulum 1947 (rencana pelajaran). Salah satu karakteristik kurikulum 1947 adalah bersifat politis, karena pendidikan belanda secara historis didasarkan pada perubahan untuk kepentingan nasional. Sistem pendidikan kolonial dikenal sangat diskriminatif. Sekolah dibangun dengan membedakan layanan pendidikan untuk anak-anak Belanda, anak-anak dari negara lain, dan anak-anak pribumi. Pribumi terbagi menjadi strata sosial pria dan Wanita (Alhamuddin, [n.d.], p.46). Kurikulum ini juga menitikberatkan pada konsep penguatan rasa nasionalisme bagi peserta didik karena seperti yang kita ketahui bangsa Indonesia dikala itu masih bisa dikatakan seumur jagung. Insani (2019) menambahkan bahwa Kurikulum 1947 hanya menekankan pendidikan karakter, seperti menumbuhkan rasa nasionalisme, daripada aspek kognitif. Kemudian, kurikulum 1947 ini memiliki beberapa karakteristik atau ciri tersendiri. Menurut Wirianto (2014), terdapat tiga ciri-ciri kurikulum 1947 yakni:
Kurikulum dan Pendidikan 146 a. Sifat kurikulum mata pelajarannya terpisah, b. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah, b. Jumlah mata pelajaran cenderung berbeda di tingkat satuan Pendidikan seperti di Sekolah Rakyat terdapat 16 bidang studi, di SMP terdiri dari 17 bidang studi, dan SMA terdapat 19 bidang studi. 2. Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai) Kurikulum yang pernah berlaku selanjutnya di Indonesia yakni kurikulum 1952. Tepat 5 tahun setelah kurikulum 1947. Kurikulum 1952 ini juga merupakan pembaharuan dan juga penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Akan tetapi kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian dikenal sebagai "Rentjana Pelajaran Terurai 1952". Kurikulum ini juga relatif serupa dengan kurikulum 1947. Namun, tujuan kurikulum ini sudah menjadi tujuan sistem pendidikan nasional. Kurikulum tahun 1952 ini dibuat karena UU No. 4 tahun 1950 tentang dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah (Alhamuddin, [n.d.], p.48). Kemudian, untuk mencapai tujuan perbaikan kurikulum, cara hidup yang baik harus dihubungkan dengan karakter. Jadi, fokus utama dari kurikulum 1952 ini adalah kehidupan masyarakat nyata (tematik). 3. Kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan 1964) Kurikulum Pendidikan nasional di Indonesia Kembali mengalami perubahan dan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Salah satu ciri atau karakteristik dari kurikulum ini yaitu bahwa
Kurikulum dan Pendidikan 147 pemerintah ingin rakyat memiliki pengetahuan akademik untuk pembekalan di jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional dan artistik, keprigelan, dan jasmani. ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral (Alhamuddin, 2014). Ini membuktikan bahwa masyarakat atau rakyat Indonesia pada saat itu masih perlu dikuatkan pada aspek-aspek kecerdasan emosional, mental dan spiritual karena pada saat itu rakyat Indonesia mungkin dinilai lebih membutuhkan kecerdasan-kecerdasan yang tergolong di luar kecerdasan intelektual karena masih disesuaikan dengan situasi politik dan budaya pada tahun tersebut. Selain itu, pemerintah menetapkan hari krida pada hari Sabtu. Ini berarti bahwa peserta didik diberi kebebasan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sesuai dengan minat dan bakat mereka. seperti aktivitas budaya, seni, olahraga, dan permainan (Insani, 2019). Kemudian, kurikulum 1964 juga dimaksudkan untuk mendidik rakyat Indonesia sebagai masyarakat Pancasilais dan sosialis dengan kualitas yang tercantum dalam Tap MPRS No. II tahun 1960 (ibid., p. 48). B. Kurikulum Pada Masa Orde Baru 1. Kurikulum 1968 Kurikulum 1968 lahir semenjak Ir. Soekarno lengser menjadi presiden Indonesia. Periode ini tentu sekaligus mengakhiri periode masa orde lama dan
Kurikulum dan Pendidikan 148 diganti dengan masa orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto sehingga kurikulum ini serat akan bermuatan politis. Kurikulum 1968 lebih menekankan tujuan untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, kekuatan dan kesehatan fisik, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama (ibid., p. 51). Kurikulum 1968 juga mengubah fokus dari pancawardana ke pembinaan jiwa pancasila. UUD 1945 berfungsi sebagai landasan untuk menerapkan kurikulum ini secara penuh dan konsekuen. Kurikulum 1968 mencakup sembilan mata pelajaran total. Pelajaran yang diajarkan dalam kurikulum ini bersifat teoretis dan tidak berhubungan dengan masalah nyata di lapangan (ibid., p. 52). Abdullah (2007) mengungkapkan bahwa kurikulum 1968 ditandai dengan pengorganisasian dari mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya yaitu yang dilakukan dengan korelasional dengan cara setiap mata pelajaran memiliki hubungan satu sama lain, meskipun batasbatas antara mereka belum jelas. Muatan materi masing-masing mata pelajaran juga masih bersifat teoritis dan tidak terkait dengan situasi dunia nyata. 2. Kurikulum 1975 Setelah kurikulum 1968 berjalan beberapa tahun, pemerintah Indonesia Kembali merevisi atau mengubah kurikulum Pendidikan nasionalnya mengikuti kebutuhan rakyat Indonesia di masa kepemimpinan Soeharto dimana fokus programprogram pemerintah pada saat itu adalah pembangunan nasional. Kurikulum 1975 adalah
Kurikulum dan Pendidikan 149 kurikulum sentralistik yang dibuat dan diterapkan oleh pemerintah pusat, dan sekolah hanya menjalankannya (Nurhalim, 2011). Kurikulum 1975 mencantumkan tujuan kurikulum untuk setiap bidang studi. Di sisi lain, setiap pokok bahasan memiliki tujuan instruksional umum yang diuraikan lebih lanjut dalam satuan bahasan yang memiliki tujuan instruksional khusus (Abdullah, 2007). Dalam kegiatan atau proses belajar mengajar di dalam kelas, para guru harus berupaya agar tujuan instruksional khusus ini dapat tercapai oleh para peserta didik setelah penyampaian materi pokok pembelajaran oleh guru. Berkenaan dengan sistem evaluasi atau penelaian, Dalam kurikulum 1975, sistem penilaian dilakukan pada akhir setiap pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran, yang membedakan sistem penilaian dari kurikulum sebelumnya. Pendekatan pembelajaran yang digunkaan dipengaruhi oleh sistem penilaian kurikulum ini. Pada akhir setiap satuan pembelajaran, guru diwajibkan untuk melakukan penilaian sendiri (ibid., p. 57). 3. Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 disebut juga sebagai kurikulum penyempurnaan dari kurikulum 1975. Teori di balik penyempurnaan kurikulum tahun 1975 adalah bahwa kurikulum harus digunakan sebagai platform untuk proses belajar mengajar yang dinamis dan harus dievaluasi dan dikembangkan secara kontinu sesuai dengan perkembangan dan keadaan masyarakat (Abdullah, 2007). Model ini juga disebut sebagai cara
Kurikulum dan Pendidikan 150 belajar siswa aktif CBSA karena posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar, mulai dari mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan (Alhamuddin, 2014). Akan tetapi, dalam implementasinya, kurikulum ini hanya sukses di sekolah-sekolah tempat kurikulum ini diujicobakan. Secara nasional, banyak para pendidik salah menafsirkan konsep dari CBSA ini karena banyak murid-murid yang hanya mengobrol dan main-main ketika diminta untuk berdiskusi dengan teman sejawat mereka. Alhasil, kurikulum 1984 ini memicu pro dan kontra untuk diganti. 4. Kurikulum 1994 Kurikulum 1994 merupakan perpaduan antara kurikulum 1975 dan juga kurikulum 1984. Kurikulum 1994 juga sering disebut sebagai separate subject curriculum yaitu kurikulum yang menerapkan pemisahan mata pelajaran. Wirianto (2014) mengungkapkan bahwa kurikulum 1994 diterapkan sesuai dengan Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ini mempengaruhi bagaimana waktu pelajaran dibagi. Pergeseran dari sistem semester ke sistem caturwulan, yang membagi waktu dalam satu tahun menjadi tiga tahap, diharapkan dapat memberi siswa cukup waktu untuk mempelajari banyak materi. Dalam pelaksanaannya, kurikulum 1994 ini tidak berjalan begitu mulus dikarenakan bahwa target dari kurikulum ini terlalu tinggi yang mengakibatkan beban guru terlalu banyak sehingga menyebabkan banyak
Kurikulum dan Pendidikan 151 kritik dari para pemerhati Pendidikan di Indonesia. Kurikulum 1994 yang padat dan rumit telah menghambat pelaksanaan paradigma baru pendidikan dari siswa kepada guru, yang membutuhkan banyak waktu untuk menyampaikan perspektif mereka tentang pengelolaan pendidikan. Selain itu, kurikulum ini melanjutkan konsep pengajaran satu arah, dari guru ke murid, karena memberi murid kebebasan untuk menyuarakan pendapat mereka membutuhkan banyak waktu. Akibatnya, target kurikulum sulit dicapai (longsani, 2013). C. Kurikulum Pada Masa Reformasi 1. Kurikulum 2004 (Kurikulum berbasis kompetensi) Setelah runtuhnya masa orde baru dibawah kepemimpinan presiden Soeharto, lahirlah kemudian kurikulum 2004 atau yang sering disebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi di masa era reformasi. Arifin (2011) mengatakan bahwa kurikulum ini menitikberatkan pada pendekatan penguasaan berbagai kompetensi. Para peserta didik dituntut untuk tidak hanya menguasai pengetahuan dan juga kepemahaman akan subjek pelajaran, tetapi mereka juga harus menguasai aspek keterampilan, sikap, minat, motivasi dan nilai-nilai supaya bisa menjadi pribadi yang dapat melakukan sesuatu dengan penuh tanggung jawab. Beberapa karakteristik atau ciri-ciri dari kurikulum 2004 adalah sebagai berikut:
Kurikulum dan Pendidikan 152 a. Memperhatikan apa yang sah diberikan kepada siswa selama KBM b. Hasilnya adalah siswa memperoleh agama dan keterampilan c. Berbagai metode pembelajaran d. Sumber belajar tidak hanya bergantung pada guru tetapi juga dari segala sesuatu yang mengandung pendidikan e. Penilaian didasarkan pada proses yang dilalui siswa dan hasilnya. Berkaitan dengan sistem penilaiannya, kurikulum 2004 menekankan atau melihat dari beberapa komponen aspek, kelas, dan semester. Keterampilan dan pengetahu-an dalam setiap mata pelajaran disusun dan dibagi menurut aspeknya. Penilaian menekankan proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan dan pencapaian kompetensi(Alhamuddin, 2014). Jadi, pada kurikulum ini, para peserta didik diukur dari beragam aspek tidak hanya dari segi pengetahuan dan juga pemahaman semata. 2. Kurikulum 2006 (KTSP) Selama kurang lebih dari 2 tahun pelaksanaan dari kurikulum sebelumnya, pemerintah melalui kemendikbud Kembali memperbaharui ataupun merevisi kurikulum nasionalnya di tahun 2006. Pada dasarnya, kurikulum KTSP ini sama dengan kurikulum 2004 hanya saja terdapat adanya kebijakan pada kewenangan masing-masing instansi atau sekolah di seluruh Indonesia untuk menyesuaikan silabusnya
Kurikulum dan Pendidikan 153 berdasarkan kebutuhan para peserta didik di masingmasing sekolah. Pemerintah pusat menetapkan kompetensi dan kompetensi dasar untuk kurikulum 2006, dan guru harus mampu membuat silabus dan menilainya sesuai dengan kondisi sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sistem yang menggabungkan hasil dari pengembangan semua mata pelajaran. Sekolah di bawah binaan dan pengawasan dinas pendidikan daerah setempat bertanggung jawab untuk menyelesaikannya (Alhamuddin, 2014). 3. Kurikulum 2013 (K-13) Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru sebelum konsep merdeka belajar atau kurikulum merdeka yang dicetuskas oleh Kemendikbud diterapakan sebagai upaya alternatif bagi para pendidik dan juga sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia supaya mereka bisa menyesuaikan kondisi sekolah, lingkungan dan juga kemampuan peserta didik. Tujuan dari penerapan K-13 adalah untuk mendidik orang Indonesia untuk menjadi warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Mereka harus dapat berkontribusi pada kehidupan masyarakat, bangsa, negara, dan dunia secara keseluruhan (Kemendikbud, [n.d.], ) Kegiatan pembelajaran harus dirancang untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan
Kurikulum dan Pendidikan 154 mempertimbangkan konsep pengembangan bakat dan belajar tuntas. Setiap siswa harus diberi kesempatan untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar mereka (Mulyasa, 2013). Berkenaan dengan karakteristik K-13, Kurikulum 2013 pemerintah memiliki ciri-ciri berikut: a. Mengembangkan secara seimbang kognitif, afektif, dan psikomotorik; b. Memungkinkan siswa menerapkan pengetahuan yang diajarkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari; dan c. Menerapkan perkembangan afektif, kognitif, dan psikomotorik dalam berbagai situasi di sekolah dan di luar sekolah mengembangkan aspek afekti, kognitif, dan psikomotorik; d. Kompetensi inti dibagi menjadi kompetensi dasar; e. Kompetensi dasar yang diturunkan dari kompetensi inti harus sesuai dan sinkron; f. Pengembangan kompetensi dasar didasarkan pada prinsip akumulatif, yang saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran dan jenjang Pendidikan (Shobirin,2016) Dari ulasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum Pendidikan nasional kita acap kali berubah karena pada dasarnya kurikulum itu bersifat dinamis. Ia akan selalu mengalami perubahan dan pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman,
Kurikulum dan Pendidikan 155 ilmu pengetahuan dan teknogi. Kemudian dalam sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia, kita telah mengetahui bahwa sebanyak 11 kali perubahan dan pembaharuan kurikulum Pendidikan nasional semenjak tahun 1947 sampai dengan tahun ini diluar dari konsep kurikulum merdeka. Masing-masing kurikulum tersebut tentu memiliki kelebihan, kekurangan dan ciri khas tersendiri.
Kurikulum dan Pendidikan 156 BAB 14 MODEL-MODEL KURIKULUM PEMBELAJARAN Pada bab sebelumnya sudah dibahas mengenai perkembangan kurikulum di Indonesia, mulai dari Kurikulum Rentjana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka Belajar yang mulai berlaku pada tahun 2024. Setiap kurikulum memiliki modelmodel pembelajaran yang menjadi ciri khas dalam pelaksanaan pembelajarannya. Secara umum, model kurikulum merupakan hal yang sangat krusial dalam menunjang tercapainya tujuan Pendidikan karena model kurikulum merupakan pedoman dan alat dalam mencapai tujuan tersebut. Sama halnya dengan Undang-Undang Dasar yang melakukan amandemen beberapa kali untuk mencapai sempurna, hal ini juga berlaku untuk kurikulum. Setiap beberapa tahun sekali kurikulum di Indonesia berganti, pergantian ini bertujuan untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi kurikulum mengingat seiring berkembangnya zaman pola pikir manusia juga semakin berkembang. Dari sekian banyaknya model kurikulum, terdapat 4 jenis model kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Keempat model kurikulum tersebut mempunyai isi yang berbeda namun memiliki nilai yang sama
Kurikulum dan Pendidikan 157 penting dalam menunjang pelaksanaan Pendidikan di Indonesia. Berikut model-model kurikulum tersebut: A. Model Kurikulum Subjek Akademis Model kurikulum ini adalah salah satu model kurikulum paling tua dan sudah banyak digunakan di berbagai negara. Model ini sangat mengutamakan isi pembelajaran yang merupakan kumpulan dari bahan ajar atau rencana pembelajaran. Isi tersebut merupakan prioritas guru dalam mengajar yaitu bagaimana siswa dapat menguasai materi sebanyak-banyaknya dalam kegiatan pembelajaran. Jika dikaitkan dengan jenis dan struktur kurikulum yang pernah dipakai di Indonesia, model kurikulum ini dipakai pada kurikulum tahun 1994 dan 2004. Menurut Nur (2013 : 3) dalam model kurikulum subjek akademis, terdapat 4 macam pola organisasi kurikulum yang harus dipenuhi, antara lain: 1. Correlated curriculum Kurikulum ini menekankan pentingnya korelasi atau hubungan konsep antara materi yang dipelajari dari suatu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Pada dasarnya, mata pelajaran dibuat terpisah namun untuk mata pelajaran yang masih memiliki ikatan dengan pelajaran lainnya digabungkan dalam satu bidang studi yang sama. Kurikulum ini didesain berdasarkan konsep pedagogis dan psikologis yang dipelopori oleh Hebart dengan teori asosiasi yang menekankan pada dua hal yaitu konsentrasi dan korelasi (Ahmad, 1998 : 131).
Kurikulum dan Pendidikan 158 2. Unified atau Concentrated curriculum Sesuai Namanya, kurikulum ini sangat erat kaitannya dengan disiplin ilmu atau bahan pelajaran. Bahan pelajaran ini disusun berdasarkan tema-tema tertentu yang terdiri atas berbagai materi pelajaran yang dijadikan satu. Salah satu aplikasi kurikulum jenis ini terdapat pada pembelajaran yang sifatnya tematik dan berlaku hingga saat ini untuk pembelajaran jenjang Sekolah Dasar. 3. Integrated curriculum Berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, kurikulum ini sudah tidak terdapat warna dari disiplin ilmu. Hal ini dikarenakan bahan ajar diintegrasikan menjadi satu kesatuan unit pembelajaran. Dalam satu unit terdapat hubungan antara pembelajaran serta berbagai kegiatan siswa, dengan harapan siswa mampu memahami suatu materi secara utuh. Oleh karena itu, inti pembelajaran yang disampaikan harus memenuhi kebutuhan hidup bermasyarakat (Ahmad, 1998 : 39). 4. Problem solving curriculum Kurikulum ini terdiri atas berbagai cara pemecahan masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Pada kurikulum ini, guru cenderung lebih banyak dimaknai sebagai seorang yang ‚^caoao‛ ^[h ‚^cnclo‛. Secara umum, karakteristik kurikulum ini adalah (1) Kurikulum ini menekankan isi/materi pembelajaran;
Kurikulum dan Pendidikan 159 (2) Isi kurikulum bersumber pada disiplin ilmu yang dibuat terstruktur/sistematis; (3) Guru harus menguasai materi ajaran dengan baik; (4) Guru sebagai penyampai ilmu-teknologi-nilai, sedangkan siswa sebagai penerima harus bekerja keras; (5) Proses belajar menggunakan metode ekspositori. B. Model Kurikulum Humanistik Model kurikulum ini lebih berpusat pada peserta didik dengan mengedepankan sifat humanisme dalam pembelajaran. Tenaga pendidik bertugas menciptakan kondisi belajar yang dinamis dan kondusif untuk mendorong peserta didik agar dapat memecahkan permasalahan yang diberikan. Tujuan Pendidikan menurut kurikulum humanistik adalah membentuk proses kepribadian yang berkaitan dengan kondisi ideal pertumbuhan kepribadian, integritas dan otonomi. Kurikulum ini banyak dipengaruhi oleh Psikologi Angkatan ketiga yang banyak mendorong adanya aktualisasi diri, dimana pembelajar dibiarkan berekspresi, bertindak, bereksperimen, bahkan membuat kesalahan , kemudian dilihat dan mendapatkan umpan balik dari semuanya untuk menemukan jati diri siswa. Sederhananya, siswa akan belajar mengenali tantangan, menyelesaikan sendiri permasalahan yang ada dan mempercayai kemampuan diri. Fungsi guru terpenting bagi siswa dalam kurikulum ini adalah (1) mendengarkan secara keseluruhan pandangan siswa terkait realita; (2) menghargai siswa; (3) berbuat apa adanya, tidak dibuat-buat (Setiyadi, 2016).
Kurikulum dan Pendidikan 160 Secara umum, karakteristik kurikulum humanistik adalah (1) Pembelajaran berpusat pada siswa sebagai subjek belajar; (2) Bahan ajar sesuai dengan minat, kebutuhan dan e_g[gjo[h mcmq[; (3) Scmq[ ‘nolon’ genyusun kurikulum; (4) Tidak ada kurikulum standar, hanya kurikulum minimal; (5) Proses pembelajaran inkuiri dan pemecahan masalah seperti yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013. C. Model Kurikulum Teknologis Seperti namanya kurikulum ini merupakan kurikulum yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Memasuki abad ke-21 ini, perkembangan teknologi sudah semakin pesat hingga mempengaruhi setiap aspek kehidupan, begitu juga dengan Pendidikan. Jika teknologi Pendidikan zaman dahulu masih menggunakan papan tulis, kapur, spidol, tinta dan sejenisnya. Teknologi Pendidikan zaman sekarang ini mulai menggunakan audio, video cassette, projector, computer, hingga teknologi AI dan AR. Penerapan teknologi dalam bidang Pendidikan khususnya kurikulum dibagi dalam dua bentuk, yaitu perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi system (system technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat keras dikenal sebagai teknologi alat (tools technology).
Kurikulum dan Pendidikan 161 Menurut Sukmadinata (2000 : 97) berikut ciri-ciri kurikulum teknologis yang dapat ditemukan: 1. Tujuan Tujuan ini masih bersifat umum, yaitu penjabaran tujuan umum ke tujuan khusus yang di dalamnya terdapat aspek kognitif, afektif dan psikomotor. 2. Metode Metode pengajaran biasanya bersifat individual, dimana setiap siswa menghadapi tugas dengan kecepatan masing-masing. Setiap siswa dengan tingkat pemahaman berbeda-beda (cepat, sedang, lambat) mendapat perhatian yang sama. Selain tugas individu juga diiringi tugas kelompok untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi siswa. Kegiatan awal pembelajaran biasanya diisi dengan penegasan mengenai pentingnya topik pengajaran bagi siswa, kemudian siswa dapat belajar mandiri melalui akses buku, media elektronik, atau media pendukung lainnya. Siswa menjadi lebih mandiri dengan kemajuan belajar siswa dapat diketahui langsung oleh siswa sendiri, siswa mengetahui apa saja yang telah dikuasai dan perlu dikerjakan selanjutnya. 3. Bahan ajar Bahan aja kurikulum ini diambil dari berbagai disiplin ilmu, namun telah diramu dengan sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi. Bahan ajar disusun dengan memperhatikan urutan penyajian materi untuk mempermudah mencapai tujuan. Sesuai dengan
Kurikulum dan Pendidikan 162 landasannya, model pengajaran kurikulum teknologis ini lebih menekankan pada sifat ilmiah dari Pendidikan. 4. Evaluasi Evaluasi dapat dilakukan kapan saja setelah siswa selesai mempelajari suatu topik/subtopik. Fungsi evaluasi ini sebagai umpan balik bagi siswa dalam penyempurnaan penguasaan suatu satuan pelajaran (formatif), bagi program semester (sumatif), serta bagi guru dan pengembang kurikulum. Bentuk evaluasi umumnya berupa objektif tes. Program pembelajaran yang memanfaatkan teknologi membuat model kurikulum ini terkesan up to date dan menyenangkan saat diaplikasikan sehingga pembelajaran lebih efisien dan efektif. Namun, model kurikulum ini tetap memiliki keterbatasan. Umumnya model kurikulum ini kurang bisa membantu siswa dengan bakat dan karakter yang berbeda dikarenakan model ini cenderung menganggap kemampuan semua siswa itu sama dengan menggunakan teknologi yang ada. Sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa mencapai tujuan tergantung bagaimana mereka menyikapi hal tersebut. Model kurikulum teknologis dikembangkan berdasarkan pemikiran teknologi pendidikan. Model ini sangat mengutamakan pembentukan dan penguasaan kompetensi, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya dan ilmu seperti pada pendidikan klasik. Model kurikulum teknologi berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang,
Kurikulum dan Pendidikan 163 sedangkan pendidikan klasik berorientasi pada pada masa lalu. D. Model Kurikulum Rekonstruksi Sosial Pandangan rekonstruksi sosial dalam kurikulum sudah dimulai kira-kira tahun 1920. Model kurikulum ini dikembangkan oleh aliran interaksional sehingga isinya memusatkan perhatian pada masalah yang ada di lingkungan masyarakat. Menurut Sukmadinata (2000 : 91) Kurikulum Rekonstruksi Sosial lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang sedang dihadapi masyarakat. Ahli di bidang ini juga berpendapat bahwa Pendidikan bukanlah usaha yang dilakukan sendiri tetapi usaha yang dilakukan Bersama dari berbagai pihak untuk menumbuhkan adanya interaksi dan Kerjasama. Adanya interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan masyarakat atau antar siswa ini nantinya akan memudahkan peserta didik untuk bekerjasama memecahkan masalah dalam bermasyarakat. Tujuan utama kurikulum ini adalah untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan, ancaman dan hambatan dalam mempelajari sebuah disiplin ilmu. Dalam praktiknya, guru berperan dalam membantu siswa untuk menemukan minat, bakat dan kebutuhannya, serta membantu siswa dalam memecahkan masalahmasalah sosial. Kerjasama antar individu atau kelompok merupakan kegiatan yang sangat dominan dalam pelaksanaan kurikulum ini, sehingga persaingan antar individu atau kelompok bukan merupakan hal yang diprioritaskan. Tujuan dan isi kurikulum ini setiap tahun
Kurikulum dan Pendidikan 164 juga bisa berubah, tergantung dari perubahan yang terjadi dalam ruang lingkup masyarakat. Dalam pemilihan metode, guru berusaha membantu para siswa menemukan minat dan kebutuhannya. Dalam kegiatan evaluasi juga siswa dilibatkan, terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan. Ada beberapa ciri khusus yang dimiliki dalam desain kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu: 1. Asumsi Seperti ulasan mengenai tujuan utama kurikulum sebelumnya, tantangan yang dimaksud adalah tantangan dalam bidang universal seperti ekonomi, psikologi, sosiologi, estetika, hingga pengetahuan alam. Masalah-masalah yang bersifat universal ini nantinya dapat dikaji dalam pemberlakuan kurikulum tersebut. 2. Masalah-masalah sosial yang mendesak Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak dalam kalangan masyarakat yang kemudian dijadikan pertanyaan untuk didiskusikan di dal[g e_f[m. Cihnibhy[, ‚D[j[ne[b e_bc^oj[h m_j_lnc sekarang ini memberikan kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang akan mengganggu yang akan g_haa[haao chn_alcn[m e_g[homc[[h?‛. 3. Pola-pola organisasi Sebagai contoh pada tingkatan sekolah menengah, pola organisasi kurikulum disusun seperti roda yang porosnya dipilih suatu masalah menjadi tema utama untuk dibahas dalam forum. Dari tema utama kemudian dijabarkan sejuklah topik bahasan,
Kurikulum dan Pendidikan 165 kemudian dilakukan diskusi, Latihan, hingga tukar pendapat. Semua kegiatan ini teratur dilakukan hingga menjadi satu kesatuan pengetahuan. Karakteristik kurikulum rekonstruksi sosial ini adalah (1) Menekankan pemecahan masalah sosial saat ini; (2) Kurikulum berfokus pada isi dan proses disusun melibatkan siswa; (3) Isi kurikulum adalah masalah yang masih hangat diperbincangkan dalam masyarakat dan penting bagi keadaan sosial masyarakat di masa mendatang; (4) Proses pembelajaran kooperatif dalam kelompok.
Kurikulum dan Pendidikan 166 Daftar Pustaka A\^off[b, A. (2007) ‘Kolceofog P_h^c^ce[h Dc Ih^ih_sia S_j[hd[ha S_d[l[b (So[no Tchd[o[h Klcncm Fcfimi`cm)’, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 13(66), pp. 340–361. doi: 10.24832/jpnk.v13i66.354. Adisel., Aprilia, Z. U., Putra, R., & Prastiyo, T. (2022). Komponenkomponen pembelajaran dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPS, Journal of Education and Instruction, 5 (1), 289-304. https://doi.org/10.31539/joeai.v5i1.3646 Aaomnc[h, N. [h^ S[fm[\cf[, U.H. (2021) ‘P_l[h T_ehifiac Pendidikan dalam Pembel[d[l[h’, Imf[gce[, 3(1), jj. 123– 133. Available at: https://doi.org/10.36088/islamika.v3i1.1047. Ahmad, M 1998, Pengembangan Kurikulum, Pustaka Setia, Bandung. Alipandie, I. (1984). Didaktik metodik pendidikan umum. Surabaya: Usaha Nasional. Afb[go^^ch (2014) ‘S_d[l[b Kolceofog ^c Ih^ih_mc[’, Nur ElIslam, 1(2), pp. 48–58. Alhamuddin, Politik Kebijakan Pengembangan Kurikulum di Indonesia Sejak Zaman Kemerdekaan Hingga Arends, R. T. (1997). Strategi-strategi belajar.
Kurikulum dan Pendidikan 167 Aunurrahman (2014) Belajar dan Pembelajaran, Bandung, Alfabeta. Ayudia, I., Bhoke, W., Oktari, R., Carmelita, M., Salem, V., Khairani, M., Mamontho, F., & Setiawati, M. (n.d.). Pengembangan Kurikulum PT. MIFANDI MANDIRI DIGITAL. Bandura, A. L. B. E. R. T., & Doll, E. B. (2005). Teori Belajar Sosial. Buku Perkuliahan, 101. Bustamam, M. (2022). Evaluasi Kurikulum Dalam Penerapan Kebijakan Pendidikan. Jurnal Ikhtibar Nusantara, 1(2), 173. Bloom BS, Engelhart MD, Furst E J, Hil WH and Krathwohl D R (1956) Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Handbook I, Cognitive Domain. Brady, L. & Kennedy, K. (1999) Curriculum Instruction, NSW, Australia: Prentice Hall Australia Pty Ltd. Bohn[n, Y. [h^ Ab[g[^, L. (2004) ‘Ihip[mc P_ha[d[l[h D[h Pembelajaran Dalam Kalangan Guru-Guru Teknikal Di S_eif[b M_h_ha[b T_ehce D[lc P_lmj_enc` Golo’, Jiolh[f of Technical, Vocational & Engineering Education, 6, pp. 44–58. Available at: https://doi.org/10.1097/00006223- 200411000-00003. Cox, E 1994, The Fuzzy Systems Handbook, A Practioners Guide ti Building, Using, and maintaining Fuzzy Systems, AP Profesional, Cambridge. Dewey J (1938) Experience and Education.
Kurikulum dan Pendidikan 168 Dimyati and Mudjiono (1996) Belajar dan pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta. Dimyati and Mudjiono (1999) Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta. Depdiknas. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Djalal, F. (2017). Optimalisasi pembelajaran melalui pendekatan, strategi, dan model pembelajaran. SABILARRASYAD: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kependidikan, 2 (1). 2548-2203. Darminto (2014) Guru Sebagai Evaluator dalam Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Hasil Belajar Peserta Didik. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palopo. Farid, Fuad. Abdul Hamid, Cara Mudah Belajar Filsafat, Yogtakarta: IRCiSoD, 2012. Fautanu, Idzam. Filsafat Ilmu, Jakarta: Referensi, 2012. Faturrohman, M. (2017). Belajar dan Pembelajaran Modern. Yogyakarta: Garudhawaca. F[dlc, K.N. (2019) ‘Plim_m P_ha_g\[ha[h Kolceofog’, Imf[gce[, 1(2), pp. 35–48. Available at: https://doi.org/10.36088/islamika.v1i2.193. Firdus, Muhammad, Sri Kadarsih, Et.al, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Timggi, Aceh: Penerbit Muhammad Zaini, 2021. Falahudin, I. (2014). Pemanfaatan media dalam pembelajaran. Jurnal Lingkar Widyaiswara, 1 (4), 104-117.
Kurikulum dan Pendidikan 169 Frandsen, A. N. (1961). Educational psychology: The principles of learning in teaching. McGraw-Hill Book Company. https://doi.org/10.1037/13152-000 Gagné RM (1977) The Conditions of Learning, New York, Holt, Rinehart and Winston. Gagné R.M (1985) The Conditions of Learning and Theory of Instruction. Gihn[, I. [h^ Tlcjih, C. (2020) ‘Ah Ah[fymcm i` Collc]of[l Innovation in Higher Education: Challenges and A Pimmc\f_ Sifoncih’, Jiolh[f i` E^o][ncih[f S]c_h]_m, 42(2), pp. 87–100. Available at: https://doi.org/10.35923/jes.2020.2.06. Hilgard ER and Marquis DG (1940) Conditioning and learning, Appleton-Century. Helmiati. 2012. Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Hendracita, Nana. 2021. Buku Ajar Model Model Pembelajaran SD. Bandung: Multikreasi Press. Hilabi, A. (2019) Evaluasi Kurikulum. 1st edn. Jakarta: Pustaka Amanah. Img[cf, K. _n [f. (2019) ‘Kigohcnc P_g\_f[d[l[h Pli`_mcih[f Sebagai Budaya Kolaborasi Profesional Sekolah: Teori ^[h Ag[f[h’, M[f[ymc[h Jiolh[f i` Si]c_ny [h^ Sj[]_, 15(4), pp. 261–273. Available at: https://doi.org/10.17576/geo-2019-1504-19. Ihm[hc, F. D. (2019) ‘S_d[l[b P_le_g\[ha[h Kolceofog Dc Ih^ih_mc[ S_d[e Aq[f K_g_l^_e[[h Hchaa[ S[[n Ihc’, AsSalam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan, 8(1), pp.
Kurikulum dan Pendidikan 170 43–64. doi: 10.51226/assalam.v8i1.132. Jawas, Y. A. Q. (2008). Mulia dengan Manhaj Salaf. Pustaka atTaqwa. Jersild AT (1963) The psychology of adolescence – second edition, New York, The McMillan Company. Jof[_b[, S., H[^c[h[, E. [h^ Z[kc[b, Q.Y. (2021) ‘M[h[d_g_h Inovasi Kurikulum: Karakteristik dan Prosedur P_ha_g\[ha[h B_\_l[j[ Ihip[mc Kolceofog’, Jolh[f Manajemen Pendidikan Islam, 02(1), pp. 1–26. Juanda, Anda. Landasan Kurikulum, Bandung: Convident, 2014. Kamaroellah, A 2014, Pengantar Budaya Organisasi, Pustaka Radja, Surabaya. Kreitner, R & Kinicki, A 2005, Perilaku Organisasi (organizational behaviour), Salemba empat, Jakarta. Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual. Bandung: Alfabeta. Komsiyah I (2012) Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Teras. Kemendikbud. diakses pada Jum'at 23 Juni 2024/https://kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum2013/ K_gK_m RI (2021) ‘P_^ig[h Mihcnilcha ^[h Ep[fo[mc’. Kb[eccg, U. (2017) ‘Golo S_\[a[c Rif_ Mi^_f Ih^cpc^o B_le[l[en_l Bagi Peserta Didik untuk Mendukung Keberhasilan P_f[em[h[[h P_h^c^ce[h K[l[en_l’, K[ly[ Ifgc[b Dim_h, 3 No. 2, pp. 227–228. Available at: https://journal.stkippgritrenggalek.ac.id/index.php/kid/a rticle/view/104.
Kurikulum dan Pendidikan 171 Kristiawan, M. (2019) Analisis Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. 1st edn, UPP FKIP Univ. Bengkulu. 1st edn. Bengkulu: Unit Penerbitan dan Publikasi FKIP Univ. Bengkulu. Keputusan Menteri Agama No 184 tahun 2019 tentang Implementasi Kurilukum padaMadrasah. Keputusan Dirjen Pendis Nomor 5164 Tahun 2018 tentang Juknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada Madrasah Laksono, T. A., & Izzulka, I. F. (2022). Evaluasi Pengembangan Kurikulum Pendidikan. EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 4(3), 4082–4092. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i3.2776 Linkcona, Thomas. Educating for Character, Bandung: Bumi Aksara, 2015. Maas Shobirin, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar, Yogyakarta: Deepublish, 2016. Munir. (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Morgan CT and King R.A (1966) Introduction to psychology, New York, McGraw-Hill. Muis AA (2013) Prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran. ISTIQRA, vol. 1, no. 1, pp. 29-38. Mursell JL (1937) What about music tests? Music Educators Journal, vol. 24, no. 2,pp. 16-18. Munandar, A. S 2008, Psikologi Industri dan Organisasi, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Kurikulum dan Pendidikan 172 McKernan, J. (2008) Curriculum and Imagination, Park Square, USA & Canada: Routledge. Mo\[lie[b, L. _n [f. (2021) ‘P_hnchahy[ Ihip[mc P_h^c^ce ohnoe M_hchae[ne[h Ko[fcn[m P_h^c^ce[h’, JIRA: Jolh[f Ihip[mc dan Riset Akademik, 2(9), pp. 1349–1358. Available at: https://doi.org/10.47387/jira.v2i9.224. Mohnb_, M. (2020) ‘F[enil-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Kurikulum Ditinjau Dari Sudun M[h[d_lc[f’, 14(2), pp. 1–11. Nurrohmi, T. A., & Rosdiana, W. (n.d.). EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DI KELAS IV B UPT SD NEGERI 144 GRESIK KECAMATAN DRIYOREJO KABUPATEN GRESIK. http://en.hukumonline.com, Nasution, W. N (2017). Perencanaan Pembelajaran: Pengertian, tujuam dan prosedur. Ittihad: Jurnal Pendidikan, 1 (2), 185 – 195. Nasution, M. K. (2017). Penggunaan metode pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar siswa. STUDIA DIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan, 11(01), 9-16. Nol Abc^ (2006) ‘Kihm_j D[h T_ilc Kolceofog D[f[g Dohc[ P_h^c^ce[h’, Imf[gc][, 1(1), j. 13. Nolb[fcg, M. (2011) ‘Ah[fcmcm P_le_g\[ha[h Kolceofog ^c Ih^ih_mc[ (S_\o[b Tchd[o[h D_m[ch D[h P_h^_e[n[h)’, INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 16(3), pp. 339–356. doi: 10.24090/insania.v16i3.1597. Nold[hh[b (2018) ‘Ah[fcm[ K_\onob[h S_\[a[c Kihm_j D[m[l’, Arabiyatuna : Jurnal Bahasa Arab, 2(1), p. 49.
Kurikulum dan Pendidikan 173 Nolj_h^[b, R., Rcz[f, F. [h^ Soe[l^c, S. (2020) ‘Kontribusi P_f[ncb[h Golo T_lb[^[j Igjf_g_hn[mc Kolceofog 2013’, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 4(1), p. 149. Available at: https://doi.org/10.23887/jppp.v4i1.24779. Nol, J 2013, ‘Pli\f_g[nce Kolceofog j[^[ M[n[ P_f[d[l[h Matematika Sekolah Menengah Pertama Berbasis Kigj_n_hmc’, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 1, no. 2, hh. 1-18. Nurdyansyah dan Fahyuni, Eni Fariyatul. 2016. Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013. Sidoarjo: Nizamia Learning Center. Pane, A., & Dasopang, M.D. (2017). Belajar dan pembelajaran. Fitrah: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman, 3(2), 333 – 352. Parnawi, A. (2019). Psikologi Belajar. Yogyakarta: Deepublish. Prainsa, Donni Juni. Rismi Somad, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung: Alfabeta , 2014. Prasojo, Lantip Dias. Sudiyono, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: GAVA Media. 2015. Pengantar Teknologi Pendidikan. (2023). (n.p.): Pradina Pustaka. Putra, H. E. J., & Wibisono, H. A. (2021). PENGARUH MODEL INSTRUKSIONAL KOOPERATIF TIPE CORE TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA. Akademika: Jurnal Teknologi Pendidikan, 10(01), 179- 195.
Kurikulum dan Pendidikan 174 Pendidikan, P., Anak, I., Dini, U., Sunan, U., & Yogyakarta, K. (n.d.). STRATEGI EVALUASI KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Aknes Aulia, Sukiman. Prenadamedia, 2019 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2022 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 60 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan PendidikanMenengah. Permendikbud No 37 Tahun 2018 perubahan Permendikbud No 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Permendikbud Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar Oleh Satuan Pendidikan. Ornstein, A.C. & Hunkins, F.P. (1988) Curriculum, USA: Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey. R[g^[hc, Z., Agloff[b, S. [h^ T[_, L.F. (2019) ‘P_hnchahy[ Kolaborasi dalam Menciptakan Sistem Pendidikan yang B_leo[fcn[m’, M_^c[jmc, 5(1), jj. 40–48. Available at: https://doi.org/10.21776/ub.mps.2019.005.01.4.
Kurikulum dan Pendidikan 175 Rothwell AB (1968) Learning Principles dalam Clark LH, Strategies and Tactics in secondary School Teaching: A Book of Readings,Toronto, the MacMillan, Co. Robbins, S. P & Aschraft , J T 2007, Organizational Behavior, Twelfth Edition, Pearson Education, New Jersey. Robbins, S. P. 1996, Perilaku Organisasi, PT. Prenhallindo, Jakarta. Reformasi (1947-2013), Jakarta: Rukajat, A. (2018). Teknik Evaluasi Pembelajaran. Deepublish SUAIDINMATH, ‚D[f[g Mi^_f-Model Pembelajaran Dan L[hae[bhy[‛, (2015). Dc[em_m j[^[ 3, Johc 2023; https://suaidinmath.wordpress.com/2015/01/22/modelmodel-pembelajaran-dan-langkah-langkahnya/ Surakhmad, W. (1990). Pengantar penelitian ilmiah: dasar, metode dan teknik. Bandung: Tarsito. Suryosubroto, B. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah: Wawasan baru, beberapa metode pendukung, dan beberapa komponen layanan khusus. Setiyadi, D 2016, ‘Kolceofog Hog[hcmnce ^[h P_h^c^ce[h Karakter: Sebuah Gagasan Pengembangan Kurikulum M[m[ D_j[h’, Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran, vol. 1, no. 1, hh. 26-39. Sukmadinata, NS 2000, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Remaja Rosdakarya, Bandung. Sauqy, A. (2019) Inovasi Belajar & Pembelajaran PAI (Teori dan Aplikatif).
Kurikulum dan Pendidikan 176 Sofcmnlc[hc, S., S[hnimi, J. [h^ Oen[pc[hc, S. (2021) ‘P_l[h Golo Sebagai Fasilitator Dalam Pembelajaran Ipa Di Sekolah D[m[l’, Jiolh[f O` Ef_g_hn[ly S]biif E^o][ncih (JOuESE), 1(2), pp. 57–68. Available at: https://doi.org/10.52657/jouese.v1i2.1517. Sondcjni, S. (2016) ‘P_hnchahy[ P_f[ncb[h Kolceofog 2013 B[ac Golo’, Jolh[f P_h^c^ce[h ^[h K_\o^[y[[h, 1(2), jj. 235– 260. Available at: https://doi.org/10.24832/jpnk.v1i2.771. Surya M (1981) Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. Bandung, PT. Remaja Rosda Karya. Suryabrata S (1984) Psikologi Pendidikan. Jakarta,Rajawali. Suardi, M. (2018). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish. Subroto, S (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Sugihartono, Kartika, N. F., Farida, A. S., Farida, H., Siti, R. N. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press. Sugiri, W. A., & Priatmoko, S. (n.d.). PERSPREKTIF ASESMEN AUTENTIK SEBAGAI ALAT EVALUASI DALAM MERDEKA BELAJAR. Sari, A. P. 2013, Hubungan antara budaya organisasi dengan komitmen organisasi di PT. Bank BRI Syariah Malang Raya, Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Sobirin, A 2007, Budaya Organisasi, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Ykpn, Yogyakarta. Sutrisno, E 2019, Budaya Organisasi, Prenada Media, Jakarta.
Kurikulum dan Pendidikan 177 Sagala, Saiful. Supervisi Pendidikan dalam Profesi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2012. Salinan undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Sukirman, D. (2007). Landasan Pengembangan Kurikulum. Bandung: UPI. Edu. Sukirman, D. dan Nugraha, A. (2010). Modul 01 Hakekat Kurikulum PGTK 2403. https://pustaka.ut.ac.id/lib/wpcontent/uploads/pdfmk/PGTK240302-M1.pdf Taba, H. (1993). Elaboración del curriculum. Toenlioe, A.JE. (2017). PENGEMBANGAN KURIKULUM. Teori, Catatan Kritis, dan Panduan. Bandung: Refika Aditama. Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Trategi dan Implementasinya dalam KTPS. Jakarta: Bumi Aksara. Tarmudji, T. (1994). Metode dan Media Penyajian Materi. Yogyakarta: Liberty. Trianto, M. P. (2010). Mendesain model pembelajaran inovatifprogresif: Konsep, landasan dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, 376. Tc\[b[ly, A.R. [h^ Mofc[h[ (2018) ‘Mi^_f-Model Pembelajaran Ihip[nc`’, S]if[_: Jiolh[f i` P_^[aiay, 1(03), jj. 54–64. Un[gc, A.F.N. (2020) ‘Ah[fcmcm K_m_mo[c[h Vcmc, Mcmc, Todo[h ^[h Kurikulum Prodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN Lbiem_og[q_ ^[h IAIN Coloj’, Af-Mudarris (Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam), 3(2), pp. 125–148. Available at: https://doi.org/10.23971/mdr.v3i2.1732.
Kurikulum dan Pendidikan 178 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Unigi, S.T. [h^ I`[^[b, L. (2020) ‘Ihip[mc Kolceofog D[f[g Dimensi Tahapan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Aa[g[ Imf[g’, Jiolh[f i` R_m_[l]b [h^ Tbioabn ih Islamic Education (JRTIE), 3(1), pp. 19–38. Available at: https://doi.org/10.24260/jrtie.v3i1.1570. Vygotsky LS (1978) Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Wc\iqi, I.S. [h^ F[lhcm[, R. (2018) ‘Ho\oha[h P_l[h Golo D[f[g Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Scmq[’, Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 3(2), pp. 181–202. Winkel GH (1989) Book Reviews. Environment and Behavior, vol. 21, no. 2, pp. 229–231. Walgito, Bimo. Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 1994. WIBISONO, H. A. (2020). PENGEMBANGAN VIDEO ANIMASI TUTORIAL UJIAN TKK WAJIB PRAMUKA PENGGALANG SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU IBNU HAJAR MANDIRI (Studi pada Pasukan Regu Pramuka Penggalang Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Ibnu Hajar Mandiri Bekasi) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA). Wibisono, H. A., Situmorang, R., & Solihatin, E. (2020). Pengembangan Video Animasi Tutorial Ujian Tanda Kecakapan Khusus Pramuka Sekolah Dasar. Perspektif Ilmu Pendidikan, 34(2), 125-136. Wibisono, H. A., Putra, H. E. J., & Muslim, S. (2021). PENGARUH TEORI BELAJAR SKINNER MELALUI MODEL PICTURE
Kurikulum dan Pendidikan 179 AND PICTURE TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS. Akademika: Jurnal Teknologi Pendidikan, 10(02), 261-275. Y_mnc[hc, D.K. [h^ Z[bq[, N. (2020) ‘P_l[h Golo ^[f[g P_g\_f[d[l[h j[^[ Scmq[ S_eif[b D[m[l’, Fih^[nc[, 4(1), pp. 41–47. Available at: https://doi.org/10.36088/fondatia.v4i1.515. Zainiyati, Husniyatus Salamah. 2010. Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori Dan Praktek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam). Surabaya: CV Putra Media Nusantara. Zain, A. (2010). Strategi Belajar Mengajar Jakarta: Rineka Cipta. Kemampuan Spasial.
Kurikulum dan Pendidikan 180 Tentang Penulis Ir. Hendar Ahmad Wibisono, S.Pd., M.Pd.Gr., M.Sc.Ed.. Menempuh dua konsentrasi pendidikan S1 Program Studi Ilmu Komputer dan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan predikat cumlaude. Menyelesaikan studi S2 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan studi S2 Master of Education and Teaching, Universidad Tecnológica Latinoamericana Mexico yang dilaksanakan secara jarak jauh. Kemudian melanjutkan studi S3 Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta tahun 2021. Tahun 2020 telah menyelesaikan studi Profesi Insinyur bidang TIK dengan predikat cumlaude dan mendapatkan kualifikasi Insinyur Profesional Pratama (IPP) dari Persatuan Insinyur Indonesia. Pada tahun 2022 mendapat undangan dalam program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG DALJAB) oleh KEMENDIKBUD bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Aktif mengajar sebagai dosen PGSD pada beberapa universitas, juga pernah mengajar dan menjadi penasihat pada beberapa sekolah Islam di Kota Bekasi selama lebih dari 10 tahun.
Kurikulum dan Pendidikan 181 Turut serta berkontribusi pada kegiatan Gerakan Pramuka dengan kualifikasi Pelatih Pembina (KPD). Pernah mengikuti konferensi internasional pendidikan di beberapa negara ASEAN, Jepang, Korea, dan beberapa negara Eropa. Telah menerbitkan beberapa karya tulis ilmiah, buku, dan jurnal nasional terindeks. Al Munip, S.Pd, M.Pd. lahir di Muara Pangi, 01 Januari 1989. Telah menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Universitas Merangin 2014 dan Strata Dua pada tahun 2019 di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi Program Studi Menajemen Pendidikan Islam. Saat ini aktif sebagai pendidik di beberapa lembaga pendidikan formal yang ada di Tanjung Jabung Timur, Jambi. Aktivitas aktifnya sebagai ^im_h ^c S_eif[b Tchaac Ifgo Eeihigc Sy[lc’[b Af- Mujaddid Tanjung Jabung Timur dengan identitas yang tercatat sebagi Dosen Tetap bernomor NIDN 2101018906. Penulis juga aktif dalam mengikuti penulisan lainnya salah satunya bergabung bersama Yayasan Literasi Kita Indonesia dan literasi lainnya seperti Jurnal Literasiologi. Salah satu karya yang sudah terbit berjudul ‚Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Teknologi Informasi‛. CP/WA y[ha \cm[ ^c hubungi 082182888577. Terimakasih, semoga bermanfaat. Salam literasi.
Kurikulum dan Pendidikan 182 Haerudin, S.Pd., M.Pd. Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Singaperbangsa Karawang. Penulis lahir di Karawang tanggal 29 April 1972. Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyelesaikan pendidikan S1 pada Jurusan Pendidikan Matematika dan menyelesaikan S2 pada Jurusan Pendidikan Matematika. Penulis mulai menekuni bidang menulis sejak 2020. Buku yang sudah terbit adalah Buku Monograf berjudul Pentingnya Memahami Bimbingan dan Konseling bagi Guru Mata Pelajaran yang diterbitkan oleh Deepublish Publisher pada Juli 2022 ber-ISBN 978-623-02-4962-4; Buku referensi berjudul Penerapan Aplikasi Pembelajaran Matematika Berbasis Daring oleh Penerbit PT Mitra Ilmu yang diterbitkan pada Oktober 2022 ber-ISBN 978-623-8022- 24-3; dan buku chapter LOGIKA INFORMATIKA ber-ISBN_978- 623-198-177-6 oleh PT Get Press Indonesia pada Maret 2023. Arni Nazira lahir pada tanggal 15 Juni 1999, di Mt. Teker Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penulis merupakan anak ke satu dari tiga bersaudara. Penulis pertama kali masuk pendidikan di SDN 3 Padamara pada tahun 2005 dan tamat 2011, pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke MTS Nurul Iman Dasan Makam tamat pada tahun 2014, setelah tamat di MTS penulis melanjutkan ke MA Nurul Iman Dasan
Kurikulum dan Pendidikan 183 Makam dan tamat pada tahun 2017. Dan pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Universitas Islam Negri Mataram Fakultas fakultas Tarbiyah dan Keguruan prodi Tadris Bahasa Inggris dan tamat pada tahun 2021. M. Zainul Ridho lahir di Teruwai pada 15 Maret 1995 dan meneteap di desa Teruwai, kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Teruwai pada tahun 2008, dan melanjutkan pendidikan di SMP plus dan SMA Plus Munirul Arifin atau yang lebih di kenal YANMU (Yayasan Munirul Arifin ) NW, Praya, Lombok Tengah pada tahun 2011 dan 2014. Kemudian menyelesaikan pendididakan Sarjannya di FKIP Universitas Mataram dengan berkonsentrasi pada Pendidikan Bahasa inggris. Setelah menyelsaikan pendidikannya, ia mengabdi ke di SMA Negeri 2 Pujut yang merupakan tempat lahirnya. Sekarang, tengah menempuh studi Magister semester dua di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia pada Faculti Pengurusan Hotel dan Pelancongan (FPHP), dan mengambil konsentrasi pada bidang Management Parawisata. Adapun pengalaman berorganisasi selama menepuh Strata satu pernah menjadi sekertaris ILMU (Ikatan Alumni Yanmu) cabang Mataram, kemudian menjadi Ketua pada periode selanjutnya, dan pernah menjadi salah satu Coordinator di UKM argument Universitas Mataram.
Kurikulum dan Pendidikan 184 Purnomo Romdhoni, S.Pd., M.E. dilahirkan di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada 2 Mei 1988. Menyelesaikan Pendidikan Dasar dan Menengah di SDN 011 Samboja, MTs Negeri Samboja, SMAN 1 Samboja. Menyelesaikan S1 Kepelatihan Olahraga di Kampus IKIP PGRI Kalimantan Timur. Kemudian Menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana di IAIN Samarinda Prodi Ekonomi Syariah. Ketertarikan Penulis terhadap bidang Literasi sejak tahun 2003 saat duduk dibangku SMA. Saat ini Penulis Juga aktif dalam Kegiatan Madrasah Reform Kemenag RI & Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendibud RI, sebagai Fasilitator Daerah Literasi dan Instruktur Implementasi AKMI (Assesment Kompetensi Madrasah Indonesia). Penulis saat ini bekerja sebagai PNS Kementerian Agama RI yang bertugas di MTs Negeri 1 Balikpapan, dan Juga sebagai Pengurus Yayasan Merdeka Pratama Samboja Barat yang bergerak di bidang Pendidikan, Sosial dan Keagamaan. Siti Maryam Ulfa lahir di desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima pada 6 Januari 2000 dan merupakan alumni program studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram. Sejak kuliah, Ulfa aktif di beberapa organisasi yang menjadi wadah pengembangan dirinya. Ulfa
Kurikulum dan Pendidikan 185 menyukai dunia literasi dan aktif menulis blog, essay, KTI, Artikel dan buku. Ia juga pernah mendapatkan pendanaan kegiatan pengabdian masyarakat dari kemendikbudristek tahun 2020 berkaitan dengan pengembangan eksperimen fisika di sekolah, pemenang lomba essay dalam Festival Bidikmisi Nasional di UIN Makassar tahun 2019 dan best paper lomba KTI Tingkat Nasional di Universitas Negeri Semarang Tahun 2019. Saat ini Ulfa akan melanjutkan studi magister Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Yogyakarta dengan sponsor Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Rangga Alif Faresta lahir di Alas Kabupaten Sumbawa pada tanggal 21 Desember 1997. Dia menyelesaikan studi S1 nya di Universitas Mataram dengan mengambil jurusan Pendidikan Fisika. Selama menjadi mahapeserta didik, Rangga banyak mengikuti berbagi kegiatan organisasi khususnya di bidang riset dan keilmiahan. Rangga juga aktif mengikuti perlombaan karya ilmiah mahapeserta didik tingkat nasional dan beberapa kali menjadi juara dalam ajang tersebut. Rangga menyelesaikan kuliah S1 nya pada tahun 2020 dengan predikat memuaskan. Mahapeserta didik berprestasi Pendidikan Fisika ini juga aktif mengikuti kegiatan kemahapeserta didikan dan kegiatan sosial serta aktif memberikan pelatihan dan seminar kepenulisan kepada mahapeserta didik di Universitas-universitas yang ada di NTB.
Kurikulum dan Pendidikan 186 Setelah lulus dan mendapatkan gelar Sarjana, Rangga melanjutkan karirnya sebagai staf di Ruangguru dan Cakap, sebuah startup Pendidikan berbasis teknologi selama kurang lebih 2 tahun. Banyak pengalaman yang didapatkan Rangga selama berkarir di Startup tersebut dan salah satunya adalah literasi digital dan akses pemerataan Pendidikan. Rangga kemudian mendapatkan kesempatan mengambil S2 di Monash University dengan jurusan digital learning dengan beapeserta didik LPDP. Malisa lahir di Rarang pada tanggal 12 Oktober 1997, merupakan seorang guru Bahasa Inggris yang saat ini sedang menempuh Pendidikan Master of TESOL di Monash University Australia dengan beasiswa LPDP. Selama berkuliah S1 bahasa Inggris di Universitas Negeri Mataram (UIN Mataram), Malisa pernah mengabdi sebagai tutor TOEFL, penerjemah dan penulis di Pusat Pengembangan Bahasa (P2B) UIN Mataram (2019-2022) Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai organisasi yang berkaitan dengan Pendidikan maupun aktivitas relawan. Antara lain meliputi: Morning English Talks (METs) (2017-2020), menjadi tutor di lembaga kursus Saggaf Language Center (2020 ), menjadi bagian dari divisi pendidikan dan tutor di English Student Association (2018-2019), Koordinator tim di Sahabat Muda Mataram (2018- 2019), nonil ^c Ikl[’ Ciggohcny (2017-2018), English Study Club (ESC) (2017-2018), Forensic English Society (2017). Ia juga pernah menjadi juara 1 lomba Karya tulis ilmiah dalam Bahasa Inggris yang diselengarakan oleh P2B UIN Mataram (2020) dan juara 1
Kurikulum dan Pendidikan 187 Lomba debat Bahasa Inggris tingkat fakultas UIN Mataram (2018 dan 2019). Hendra, M.Pd. Lulus S1 di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang pada tahun 2015. Kemudian lulus S2 di pada program studi dan universitas yang sama. Saat ini adalah dosen PNS di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi. Berawal dari hobi sepak bola, tidak mahir bermain, sekadar membaca berita bola dan berkeinginan menulis sendiri artikel tentang sepak bola. Saat ini sedang getol belajar menulis artikel-artikel dengan topik berbagai bidang, terutama pendidikan. Penulis bisa dihubungi di [email protected]. Roi Boy Jon adalah seorang anak petani yang lahir di desa yang cukup terpencil dimana pekerjaan dari mayoritas masyarakatnya adalah di bidang pertanian. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) penulis sudah tertarik di dunia pengajaran. Salah satunya adalah ketika dia ditugaskan menjadi salah satu j_ha[d[l [fkol’[h ^c g[mdc^ qcf[y[b tempat tinggalnya.
Kurikulum dan Pendidikan 188 Selanjutnya, penulis adalah seorang yang sangat suka terlibat dalam aktifitas pengajaran Bahasa Inggris. Untuk mengasah kemampuan mengajarnya, dia sudah mengikuti beberapa kegiatan seperti; relawan mengajar di beberapa instansi baik formal maupun non-formal; tutor Bahasa inggris di organisasi; dan membuka kursus Bahasa Inggris secara privat yang berkenaan dengan TOEFL dan Bahasa Inggris umum. Selain aktif dalam kegiatan pengajaran, penulis juga aktif dalam kegiatan sosial seperti menggalakkan fundraising serta memberikan semangat untuk korban bencana alam seperti banjir dan gempa bumi. Hal itu dilakukan karena kepeduliannya terhadap sesam, karena dia percaya bahwa ketika kita melakukan kebaikan, Allah mo\b[h[bo q[n[’[f[ j[mnc [e[h g_g\[f[mhy[ dengan yang lebih baik. M. Zaenal Abidin adalah fasilitator pendidikan di Straya Language Institute, lembaga yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Zaenal aktif mengajar bahasa Inggris untuk young learner. Ia Memiliki pengalaman mengajar hampir tiga tahun, dan aktif secara professional dua tahun. Zaenal Lahir di desa Batujai, Lombok Tengah, 29 Maret 1999 dan merupakan mahasiswa angkatan 2017 jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah UIN Mataram. Sekarang, Zaenal sedang menempuh pendidikan Magister di bidang ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Diketahui, selain menjadi mahasiswa S2, Ia aktif menulis buku, essai, opini, dan menjadi penulis di kanal Duta Damai NTB 2019-2021, Pernah menjadi
Kurikulum dan Pendidikan 189 narasumber dalam Program Holistik Pengembangan dan Pembinaan Desa (PHP2D) Bastrindo Universitas Mataram 2020, pemenang opini tingkat nasional FKIP Universitas Mataram 2021, juara pertama artikel MPR-RI NTB Hajjah Wartiah 2020, Juara ke tiga Artikel terbaik dari Fianosa.com, dan pemenang ke dua dan ketiga dalam kanal NineVibe.com periode September-Desember 2022. Sekarang Ia merupakan penerima beasiswa bergengsi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk studinya. Muhammad Azhar Kholidi, S.Pd., ME.d adalah seorang pendidik yang lahir dan besar di desa kecil Bernama Selebung Rembiga, Kec. Janapria, Lombok Tengah pada tanggal 1 Juli 1996. Ia Meraih gelar Serjana Pendidikan di Universitas Mataram di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di tahun 2018. Kemudian Ia melanjutkan studinya di jenjang Master di Universiti Teknologi MARA Malaysia dengan beasiswa dari Pemprov NTB. Saat ini ia sedang aktif menjadi Instruktur Bahasa Inggris di beberapa instansi swasta dan negeri. Ia juga aktif menjadi penerjemah Bahasa inggris ke Bahasa Indonesia sembari menjadi pengajar Bahasa Inggris, TOEFL dan Speaking secara daring. Ditengah-tengah kesibukannya mengajar Azhar juga merupakan seorang penulis dan juga peneliti di bidang pengajaran Bahasa Inggris karena Ia juga merupakan seorang akademisi. Kini ia sedang merintis platform untuk belajar TOEFL, IELTS dan juga layanan penerjemahan baik secara tersumpah dan non-tersumpah secara online yang diberi nama English mate bersama tim.
Kurikulum dan Pendidikan 190 Siti Nurul Yaqutu Burhani adalah seorang aktivis baru di bidang pendidikan anak-anak di daerah pelosok. Sebelumnya memiliki pengalaman sebagai pengajar privat bidang Kimia, Matematika, Fisika hingga Tematik selama satu tahun terakhir. Penulis yang kerap dipanggil Yaqut ini lahir di Pringgabaya, 27 Juli 1999 dan telah menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Mataram Jurusan Pendidikan Kimia. Saat ini, Yaqut mengisi waktunya dengan mengajar dan mengikuti kegiatan-kegiatan pengembangan diri seperti pelatihan Bahasa Asing, hard skill, hingga mengikuti kegiatan volunteer mengajar ke daerah pelosok Lombok. Selama menjadi mahasiswa S1 Yaqut cukup aktif berkegiatan organisasi di dalam kampus dan luar kampus. Pada tahun 2019-2020 Yaqut berkesempatan mendapatkan Beasiswa yakni Djarum Beasiswa Plus dan Beasiswa PPA dari FKIP Universitas Mataram. Di tahun 2020 juga, Yaqut dapat lolos pendanaan PKM-K dan Juara 3 Lomba Micro-Teaching tingkat Provinsi oleh LPTK NTB. Selain menorehkan prestasi, selama masa perkuliahan Yaqut juga aktif sebagai volunteer yang turut membantu secara langsung korban bencana alam yang ada di Lombok dan luar NTB. Saat ini, Yaqut juga tengah mempersiapkan keberangkatannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister di Universitas Negeri Yogyakarta sebagai awardee Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).