The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah Pendidikan Pascasarjana di Indonesia dimulai dengan berkembanganya perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan di Indonesia awal mulanya tidak begitu berkembang dengan baik pada era penjajahan. Seiring berjalannya waktu, Pendidikan tinggi yang berfungsi membentuk para pemimpin, peneliti, dan akademisi berkembang secara masif hingga mampu melahirkan orang-orang yang berkualitas dan mampu bersaing. Perkembangan Pendidikan tinggi tidak hanya dalam proses pembelajarannya tetapi juga pemilihan program studi yang tepat.
Dalam buku ini juga diberikan trik dan strategi untuk menjalani Pendidikan pascasarjana. Strategi dalam studi agar lulus tepat waktu dapat dilakukan dengan manajemen waktu dan produktivitas menulis, mengolah kemampuan komunikasi yang efektif, memupuk pemikiran kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah, mencari bimbingan dan peluang pengembangan professional. Pemilihan program studi dalam Pendidikan pascasarjana perlu beberapa Langkah yang dilakukan pertama, dengan melakukan pencarian preferensi dalam diri sendiri, selanjutnya mengkaji secara mendalam ketertarikan atas program studi dan universitas yang dipilih, tahap berikutnya adalah mempertimbangkan pembiayaan studi, tahap akhir adalah mempelajari secara mendetail. Metode pembelajaran dapat dilakukan dalam kelas (course-work post graduate) dan jalur riset (by-research post graduate).
Manfaat lulusan pascasarjana adalah mempunyai kemampuan berpikir yang lebih kritis, kemampuan penelitian yang lebih baik, berpeluang mendapatkan karier yang lebih baik, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan semakin meningkatnya jumlah lulusan pascasarjana maka kesejahteraan masyarakat secara umum mengalami peningkatan dengan adanya penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para lulusan pascasarjana, bahkan memungkinkan munculnya lapangan pekerjaan baru.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-27 21:13:37

REFLEKSI STUDI PASCASARJANA

Sejarah Pendidikan Pascasarjana di Indonesia dimulai dengan berkembanganya perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan di Indonesia awal mulanya tidak begitu berkembang dengan baik pada era penjajahan. Seiring berjalannya waktu, Pendidikan tinggi yang berfungsi membentuk para pemimpin, peneliti, dan akademisi berkembang secara masif hingga mampu melahirkan orang-orang yang berkualitas dan mampu bersaing. Perkembangan Pendidikan tinggi tidak hanya dalam proses pembelajarannya tetapi juga pemilihan program studi yang tepat.
Dalam buku ini juga diberikan trik dan strategi untuk menjalani Pendidikan pascasarjana. Strategi dalam studi agar lulus tepat waktu dapat dilakukan dengan manajemen waktu dan produktivitas menulis, mengolah kemampuan komunikasi yang efektif, memupuk pemikiran kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah, mencari bimbingan dan peluang pengembangan professional. Pemilihan program studi dalam Pendidikan pascasarjana perlu beberapa Langkah yang dilakukan pertama, dengan melakukan pencarian preferensi dalam diri sendiri, selanjutnya mengkaji secara mendalam ketertarikan atas program studi dan universitas yang dipilih, tahap berikutnya adalah mempertimbangkan pembiayaan studi, tahap akhir adalah mempelajari secara mendetail. Metode pembelajaran dapat dilakukan dalam kelas (course-work post graduate) dan jalur riset (by-research post graduate).
Manfaat lulusan pascasarjana adalah mempunyai kemampuan berpikir yang lebih kritis, kemampuan penelitian yang lebih baik, berpeluang mendapatkan karier yang lebih baik, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan semakin meningkatnya jumlah lulusan pascasarjana maka kesejahteraan masyarakat secara umum mengalami peningkatan dengan adanya penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para lulusan pascasarjana, bahkan memungkinkan munculnya lapangan pekerjaan baru.

REFLEKSI STUDI PASCASARJANA M. Zaenal Abidin, Deza Zalia Permata Dewi, Nurul Hidayatul Ulum, Evtriyandani, Panca Lumbantobing, S.Pd., Faksi Rana Al Kahfi, Achmad Errie Diru, Rangga Alif Faresta, Luthfy Al Razieb, Fattah Zainnuha, Arni Nazira, Rizal M. Suhardi, S.Pd., M.Sc.


Refleksi Studi Pascasarjana Copyright© PT Penamudamedia, 2023 Penulis: M. Zaenal Abidin, Deza Zalia Permata Dewi, Nurul Hidayatul Ulum, Evtriyandani, Panca Lumbantobing, S.Pd., Faksi Rana Al Kahfi, Achmad Errie Diru, Rangga Alif Faresta, Luthfy Al Razieb, Fattah Zainnuha, Arni Nazira, Rizal M. Suhardi, S.Pd., M.Sc. Editor: Dr. Dian Safitri Pantja Koesoemasari, SE., MS ISBN: 978-623-09-4770-4 Desain Sampul: Tim PT Penamuda Media Tata Letak: Enbookdesign Diterbitkan Oleh PT Penamuda Media Casa Sidoarium RT 03 Ngentak, Sidoarium Dodeam Sleman Yogyakarta HP/Whatsapp : +6285700592256 Email : [email protected] Web : www.penamuda.com Instagram : @penamudamedia Cetakan Pertama, Juni 2023 viii + 183, 15x23 cm Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin Penerbit


v Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa kami panjatkan dengan selesainya penulisan buku Refleksi Pasca Sarjana. Buku ini disusun supaya dapat memberikan gambaran bagi pembaca tentang perjalanan Panjang studi pascasarjana. Pada buku ini disajikan sejarah Pendidikan, proses pembelajaran pascasarjana, permasalahan mahasiswa studi pascasarjana, manfaat lulusan hingga ke perbandingan lulusan luar negeri dengan dalam negeri. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi mereka yang tertarik melanjutkan studi pascasarjana. Tegur sapa dari pembaca yang Budiman selalu kami harapkan demi kesempurnaan buku ini di masa datang. Hanya kepada Allah SWT kita selalu mengharap semoga buku sederhana ini menjadi amal bagi generasi penerus terutama para pemerhati dan pecinta ilmu dan Pendidikan. Dr. Dian Safitri Pantja Koesoemasari, SE., MS Editor


vi Daftar Isi KATA PENGANTAR .................................................................................. v DAFTAR ISI ............................................................................................ vi BAB 1. SEJARAH PENDIDIKAN PASCASARJANA DI INDONESIA ............. 1 A. Awal Mula Perguruan Tinggi Berkembang di Indonesia .............1 B. Periode Orde Baru ........................................................................8 C. Sisi Gelap Masa Orde Baru............................................................9 D. Pendidikan Saat Ini.....................................................................11 BAB 2. MENJADI MAHASISWA PASCASARJANA YANG IDEAL: STRATEGI DAN PRAKTIK TERBAIK ......................................................................... 16 A. Menguasai Waktu dan Produktivitas .........................................23 B. Mengembangkan Komunikasi Efektif ........................................24 C. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Memecahkan Masalah ......................................................................................24 D. Mengadopsi Pembelajaran Berkelanjutan ................................25 E. Menyeimbangkan Kesejahteraan Akademik dan Pribadi .........25 F. Mentoring dan Pengembangan Profesional..............................26 BAB 3. PROSES PEMBELAJARAN MAHASISWA PASCASARJANA ............ 28 BAB 4. PEMILIHAN JURUSAN MAHASISWA PASCASARJANA ................. 36 A. Preferensi dalam Memilih Jurusan yang Tepat.........................37 B. Metode Pembelajaran Program Pascasarjana ..........................39


vii C. Langkah – Langkah memilih jurusan.........................................40 BAB 5. MANFAAT MENJADI LULUSAN PASCASARJANA ........................ 44 A. Manfaat Lulusan S2.....................................................................46 B. Manfaat Lulusan S3.....................................................................46 C. Kemampuan Berpikir Kritis ........................................................47 D. Kemampuan Penelitian yang Lebih Baik...................................49 E. Peluang Karir yang Lebih Baik....................................................50 F. Kontribusi pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan................51 G. Dampak Pendidikan Pascasarjana pada Perekonomian..........52 BAB 6. LULUSAN PASCASARJANA DI INDONESIA: GAMBARAN, KONTRIBUSI DAN HAMBATAN ............................................................. 54 A. Tinjauan Umum Tentang Pendidikan Pascasarjana di Indonesia ....................................................................................................54 B. Profil Lulusan Pascasarjana .......................................................56 C. Kontribusi Ideal Lulusan Pascasarjana di Indonesia.................58 D. Hambatan Lulusan Pascasarjana di Indonesia .........................64 BAB 7. PERMASALAHAN MAHASISWA PASCASARJANA ........................ 69 A. Penerimaan dari dosen pembimbing dan sesama mahasiswa 69 B. Kesulitan keuangan ....................................................................72 C. Masalah dengan tesis .................................................................74 D. Usia..............................................................................................74 E. Kesulitan mendapatkan data.....................................................75 BAB 8. BEKAL UNTUK MENJADI MAHASISWA PASCASARJANA ............ 78 A. Menyesuaikan Diri dengan Tuntutan Pascasarjana ..................79 B. Keterampilan Akademik untuk Mahasiswa Pascasarjana ........88 C. Menjaga Keseimbangan Hidup ..................................................96


viii BAB 9. SARJANA VS MAGISTER ........................................................... 103 A. Mengenal Pendidikan Sarjana..................................................106 B. Mengenal Pendidikan Magister................................................109 C. Perbedaan Antara Sarjana dan Magister .................................111 D. Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan: Memilih Antara Sarjana atau melanjutkan ke Magister ...................................115 E. Membuat Keputusan: Gelar Sarjana atau Gelar Magister?......118 F. Kesimpulan ...............................................................................121 BAB 10. TIPE-TIPE MAHASISWA PASCASARJANA ................................ 126 A. Kepribadian sanguine...............................................................127 B. Kepribadian phlegmatic ...........................................................128 BAB 11. KEUNGGULAN MAHASISWA PASCASARJANA ......................... 135 A. Keunggulan studi pascasarjana untuk masa depan ...............136 BAB 12. PASCASARJANA DALAM NEGERI VS PASCASARJANA LUAR NEGERI ............................................................................................... 142 A. Pascasarjana Dalam Negeri......................................................143 B. Pascasarjana Luar Negeri .........................................................153 C. Penutup.....................................................................................162 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 164 TENTANG PENULIS ............................................................................ 176


Refleksi Studi Pascasarjana 1 BAB 1 SEJARAH PENDIDIKAN PASCASARJANA DI INDONESIA A. Awal Mula Perguruan Tinggi Berkembang di Indonesia "Membuka pintu menuju ilmu pengetahuan dan pengembangan diri. Perguruan tinggi di Indonesia menjadi tempat di mana impian bertemu dengan pengetahuan. Inilah awal perjalanan mengejar karier, mengeksplorasi minat, dan menggali potensi tersembunyi. Selamat datang di dunia pendidikan tinggi, di mana pintu ke arah kemajuan terbuka lebar untuk kita semua." Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengeksplorasi histori atau lebih tepatnya penggalan kalimat awal mula program perguruan tingkat lanjut mulai berkembang di tanah air. Sejarah pendidikan tinggi atau studi pascasarjana dapat dikatakan memiliki umur yang masih muda. Apabila dibandingkan dengan bentuk atau jenjang pendidikan pada


2 Refleksi Studi Pascasarjana umumnya, seperti pada jenjang yang lebih rendah, lebih khusus seperti contoh-contoh perguruan tinggi yang didirikan secara mandiri oleh tokoh-tokoh masyarakat. Semenjak kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, cita-cita, usaha, dan tekad kuat untuk mendirikan universitas sebenarnya telah lama didorong oleh pendahulu kita saat itu, meskipun tingkat pendidikan tinggi telah lebih awal didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk yang pertama kalinya, jenjang pendidikan tinggi di Indonesia didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Nama dari perguruan tinggi itu adalah Technische Hooge School yang didirikan di Bandung pada tahun 1920. Dari beberapa surat yang telah dikirim diketahui latar belakang pembentukan universitas tersebut isunya merupakan hasil dari desakan akan kebutuhan terhadap ketersediaan tenaga ahli yang mensyaratkan telah menempuh pendidikan tinggi. Adapun kekurangan ahli itu dalam keterangan surat kabar, diketahui diakibatkan oleh putusnya hubungan dengan Belanda selama Perang Dunia I yang menimbulkan kesulitan bagi pemerintah dan industri dan atau paceklik tenaga ahli yang mengakibatkan terganggunya aktifitas kehidupan sehari-hari terutama kaitanya dengan bidang industri. Dari sanalah kemudian awal mula pemerintah HindiaBelanda perlu mendirikan sebuah perguruan tinggi dalam rangka mengisi kebutuhan pada aspek sumber daya di masa itu. Sehingga di tahun 1909, sebuah perguruan tinggi bernama Indische Universiteerstvereeneging didirikan untuk membentuk sebuah legislasi mendorong perguruan tinggi atau universitas di kawasan Hindia-Belanda. Dalam


Refleksi Studi Pascasarjana 3 kelompok tersebut juga didukung oleh orang pribumiBelanda yang mana menetap selanjutnya di daerah HindiaBelanda. Namun dalam perjuangan tersebut, bukan suatu hal yang dapat dicapai dengan mudah, maka di tahun selanjutnya, yakni pada tahun 1913 sebuah kepanitiaan kembali dibentuk bertugas menyarankan pemerintah untuk pendirian universitas, namun pada saat itu masih terdapat keragu-raguan apakah manusia-manusia Indonesia akan mampu dididik layaknya manusia-manusia barat dalam hal taraf ilmu pengetahuan. Hal ini berdasarkan laporan bahwa belum saatnya usulan itu dapat diwujudkan. Seiring berjalannya waktu, sejarah pendidikan tinggi di Indonesia melibatkan pertumbuhan dan perkembangan yang masif. Diketahui, Indonesia sendiri dimana telah melahirkan berbagai program pendidikan tinggi yang berfungsi membentuk para pemimpin, peneliti, dan akademisi yang berkualitas dan mampu bersaing. Mulanya, perguruan tinggi di Indonesia tidak begitu berkembang. Hal itu diketahui dari era Kolonial belanda dikarenakan setelah lulus jenjang sarjana, sedikit sekali institusi yang membuka program untuk pendidikan lanjut. Ini disinyalir karena pendidikan tingkat lanjut khususunya hanya tertuju pada aspek administratif dan relasi kolonial pada saat itu. Namun dikarenakan semangat, tekad, dan usaha masyarakat Indonesia dalam mendirikan dan memajukan pendidikan tingkat tinggi di Indonesia terus berkembang signifikan, akhirnya berbuah hasil. Pengembangan pendidikan tingkat tinggi di Indonesia diketahui semakin meningkat setelah kemerdekaan di tahun 1945. Buktinya, di tahun 1950, sekolah pascasarjana


4 Refleksi Studi Pascasarjana pertama kali dibuka oleh Universitas Indonesia dengan nama sekolah Pascasarjana (SPs). Dalam sasarannya, sekolah lanjutan ini bertujuan untuk mempersiapkan dan menghasilkan tenaga kompeten yang mampu menyeimbangi kebutuhan di dalam pembangunan nasional. Perhatian lebih dalam terhadap pendidikan tingkat tinggi mulai dipandang dan dilirik oleh pemerintah Indonesia di tahun 1960-an. Sebagai fondasi dan landasan yang kuat, undang-undang nomor 14 tahun 1961 terkait perguruan tinggi diberikan dan disahkan bagi institusi ini. Selanjutnya, perguruan tinggi negeri yang kita ketahui sekarang seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan juga Institut Pertanian Bogor diketahui juga menyelenggarakan program-program studi lanjut pada periode ini. Apabila kita kembali ke sejarah, pendidikan tinggi di Indonesia terutama di masa kolonial Belanda, pendidikan tinggi terbatas dan lebih ditekankan hanya pada aspek administratif dan kepentingan kolonial. Sejarahnya, pemerintah kolonial Belanda pada saat itu lebih unggul dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia dan hanya memberikan peluang untuk lanjut studi pada beberapa orang pribumi saja yang mana dianggap memenuhi syarat. Di sisi lain, perguruan tinggi yang dominan pada masa itu adalah Universitas Negeri Leiden di Belanda, di mana banyak sarjana Indonesia melanjutkan pendidikan mereka. Mereka yang memiliki akses ke pendidikan pascasarjana umumnya memiliki gelar sarjana di bidang hukum, kedokteran, atau teknik. Biasanya, mereka diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi lanjutan di Belanda.


Refleksi Studi Pascasarjana 5 Di Indonesia sendiri, pada tahun 1920, terbentuklah Volksraad (Dewan Rakyat), sebuah badan legislatif yang terdiri dari perwakilan masyarakat pribumi dan juga Belanda. Volksraad memiliki peran signifikan dalam mengatur pendidikan tinggi, termasuk pendidikan pascasarjana. Pada masa tersebut, beberapa lembaga pascasarjana didirikan, seperti Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1924, yang khusus mengkaji pendidikan hukum pascasarjana. Namun, perlu dicatat bahwa peluang pendidikan pascasarjana pada masa kolonial Belanda terbatas bagi penduduk pribumi. Hal ini dikaitkan dengan kebijakan diskriminatif yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang cenderung membatasi akses pendidikan tinggi bagi penduduk pribumi dengan alasan bahwa mereka dianggap kurang mampu atau tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengejar pendidikan pascasarjana. Pada saat itu, pendidikan pascasarjana sebagian besar terbatas pada lembaga pendidikan yang dijalankan oleh organisasi sosial seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang menawarkan pendidikan dan pelatihan agama dalam disiplin ilmu tertentu. Walaupun pendidikan lebih lanjut terbatas pada mayoritas penduduk pribumi selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, tekad dan semangat dalam mendorong dan memajukan pendidikan serta melawan ketidakadilan lahir pada saat itu. Hal tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan pendidikan pascasarjana yang lebih inklusif di Indonesia pasca kemerdekaan.


6 Refleksi Studi Pascasarjana Kembali ke muka, Volksraad sendiri secara harfiah berarti "Dewan Rakyat" dalam bahasa Belanda, adalah badan legislatif yang dibentuk tahun 1918 oleh kolonial Belanda di Hindia Belanda. Tujuan dari lembaga tersebut adalah untuk memberikan peluang yang sama kepada penduduk asli Hindia Belanda untuk berpartisipasi aktif dalam politik secara terbatas. Volksraad dibentuk di bawah tekanan dan tuntutan reformasi sosial dan hasrat di dalam mendorong partisipasi politik masyarakat pribumi di wilayah koloni. Sebelumnya, dominasi politik di Hindia Belanda sepenuhnya dikendalikan Belanda, dengan perwakilan pribumi yang sangat terbatas. Volksraad terdiri dari anggota-anggota yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan jumlah anggotanya bertambah dari masa ke masa. Anggota Volksraad meliputi perwakilan dari berbagai kelompok suku dan sosial di Hindia Belanda, termasuk pemimpin politik, petinggi pribumi, pejabat pemerintah daerah, dan perwakilan dari kalangan muslim serta Tionghoa. Dalam konteks pendidikan pascasarjana, Volksraad berperan dalam penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda, termasuk pendidikan lanjutan. Institusi tersebut berperan dalam membentuk kebijakan dan regulasi terkait pendidikan tinggi di koloni. Volksraad berusaha untuk memperluas akses penduduk setempat terhadap pendidikan dan juga berfungsi di dalam pengawasan terhadap sistem pendidikan di Hindia Belanda. Namun, dalam hal ini, Volksraad tetap merupakan lembaga yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda dan kebijakan pendidikan yang dihasilkannya tetap mencerminkan pandangan dan


Refleksi Studi Pascasarjana 7 kepentingan kolonial. Meskipun Volksraad memberikan kesempatan kepada penduduk setempat untuk mengenyam pendidikan lanjutan, akses ke pendidikan lanjutan masih sangat terbatas bagi masyarakat pribumi di masa itu. Singkat kata, sebuah gimnasium pertama di Indonesia terbentuk dan diari sini awal mula didirikan program pascasarjana oleh Universitas Indonesia pada tahun 1950 dengan nama Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Indonesia. Pendirian SPs di Universitas Indonesia merupakan tonggak utama dalam perkembangan pendidikan lanjut di negara ini. SPs di Universitas Indonesia pada awalnya dibentuk dengan fokus pada ilmu-ilmu sosial, ekonomi, administrasi publik dan hukum. Tujuan dari program pascasarjana ini adalah untuk melatih para profesional yang dapat memenuhi tuntutan pembangunan nasional setelah kemerdekaan. Selanjutnya, SPs Universitas Indonesia telah mengembangkan berbagai program sarjana di bidang lain seperti Kedokteran, Teknik, Sains, Humaniora dan Ilmu Sosial. Selain itu, program Doktoral juga diluncurkan dalam upaya mendorong pengembangan riset dan inovasi di berbagai bidang keilmuan. Sebagai lembaga pascasarjana pertama di Indonesia, Universitas Indonesia (SPs) memiliki peran utama dalam mendidik generasi penerus lulusan yang berkualitas. SPs lulusan Universitas Indonesia dijelaskan banyak memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang, baik sebagai manajer, peneliti, akademisi maupun praktisi handal di dalam dan luar negeri. Penyelenggaraan Sekolah Pascasarjana di Universitas Indonesia telah menginspirasi berbagai perguruan tinggi


8 Refleksi Studi Pascasarjana Indonesia lainnya untuk menyelenggarakan program studi lanjut untuk diri mereka sendiri. Sejak saat itu, beberapa perguruan tinggi negeri di bumi pertiwi dan perguruan tinggi swasta di Indonesia telah membuka program pascasarjana dalam berbagai disiplin ilmu. Sampai dengan periode saat ini, pendidikan pascasarjana di Indonesia terus berkembang dan semakin pesat terbuka untuk mahasiswa internasional. Dalam kapasitas pemerintahan, pemerintah Indonesia juga terus mendorong dengan memberikan dukungan penuh dan insentif bagi perguruan tinggi dalam mendorong dan mengembangkan kualitas pendidikan tinggi untuk inklusifitas bagi masayarakat Indonesia dan internasional. B. Periode Orde Baru Pada periode presiden ke dua Indonesia, Pemerintah Indonesia menyeleggarakan berbagai program pendidikan di tingkat lanjut, ini diketahui beroperasi pada tahun 1966- 1998 atau yang lebih dikenal dengan istilah pada masa orde baru. Sejalan akan perkembangan kuantitas perguruan tingkat tinggi terlebih dalam program pascasarjana secara otomatis berkembang pula berbagai disiplin ilmu. Salah satunya adalah program doktoral yang mulai diselenggarakan untuk mendukung pengembangan penelitian di berbagai bidang keilmuan (Tridarma Universitas). Alhasil, pada tahun 1998, pertumbuhan dan perkembangan perguruan tingkat tinggi di Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan. Berbagai disiplin


Refleksi Studi Pascasarjana 9 keilmuan dibuka seperti halnya Ilmu Sosial, Ilmu Alam, Kedokteran, Humaniora, dan Juga Teknik. Dalam kesempatan yang lain, pengembangan pendidikan tingkat tinggi ini juga diselenggarakan oleh instansi-instansi swasta di Indonesia. Sehingga akhir-akhir ini, ada banyak sekali dorongan dan perkembangan pendidikan tinggi di negara ini dengan mengikuti standar internasional yang berlaku. Seperti contoh dalam pengaplikasian beasiswa pascasarjana dan dana-dana penelitian. Hal itu bertujuan untuk pengembangan dan pertumbuhan riset dan inovasi dalam bidang keilmuan di Indonesia. Program-program pascasarjana di Indonesia juga semakin terbuka untuk mahasiswa internasional, yang membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas wawasan global. C. Sisi Gelap Masa Orde Baru Rezim Orde baru yang dikenal otoriter secara tidak langsung menciptakan sistem pendidikan yang kurang mampu dalam memberdayakan secara efektif, meskipun secara kuantitatif pemerintah memiliki catatan pendidikan yang cukup baik. Sebut saja seperti hasil data yang dijelaskan Abbas (1999) dimana dijelaskan terjadinya peningkatan jumlah peserta didik jenjang Sekolah Dasar (SD) meningkat yang semula hanya 13.023.000 tahun 1967/1968 menjadi 29.239/238 peserta didik di tahun 1997/1998, yang mana itu artinya terjadi peningkatan sebanyak 224.59%. Pada saat itu, diketahui juga volume peningkatan jumlah peserta didik jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) meningkat bermula 1.000.000 menjadi 9.227.891 peserta


10 Refleksi Studi Pascasarjana didik atau sebanyak 902,30 % (persen). Kemudian pada jenjang SMA peningkatan kembali dari 500.000 peserta didik menjadi 4.932.083 peserta didik, yaitu terjadi peningkatan sebanyak 1.000%. Secara bersaaan, pada tahun tahun yang sama, peningkatan ini juga terus beranjak dari jumlah mahasiswa sebanyak 230.000 menjadi 2.703.896 mahasiswa atau setara dengan 1.176%. Namun penguatan masyarakat luas yang menggambarkan keberhasilan itu tidak begitu nyata. Hal tersebut dijelaskan pada masa Orde Baru berkuasa selama lima tahun, skenario pemerintahan disusun secara sistematis, dimana visi misi utamanya adalah mempertahankan kekuasaan dengan cara-cara dan metode yang berbeda. Ini selanjutnya (sistem pendidikan) menjadi sebuah parameter untuk menciptakan jaring pengaman agar tetap berkuasa. Kebijakan pendidikan sederhana itu muncul dari visi dan misi mempertahankan kekuasaan. Permasalahan itu dicerminkan atas parameter terjadinya semua defisit pendidikan dalam kurikulum nasional. Misalnya, pada tahun 1970-an, peraturan Nomalisasi Kehidupan Kampus atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK-BKK) terpaksa mengambil alih posisi Dewan Mahasiswa Perguruan Tinggi (DPM) ketika sumber uang yang dikumpulkan masyarakat terkonsentrasi di Penerimaan Bukan Pajak Negara (PNBP). Mekanisme penilaian pembelajaran up-bottom juga menjadikan nilai atau nim dan lain-lain sebuah indikator utuh. Alhasil, semua metode ini pada akhirnya mengarah pada budaya kualitas semu. Dengan kata lain, fenomena ini juga dapat digolongkan dalam tatanan budaya yang


Refleksi Studi Pascasarjana 11 menghalalkan segala cara dan membenarkan segala hal di sektor pendidikan dengan bantuan magis. Pada masa Presiden ke dua, hampir di semua jenjang pendidikan lebih banyak difokuskan pada aspek kognitif (IQ) peserta didik. Sedangkan sisi afektif (kecerdasan emosional atau sistem nilai) diabaikan. Dalam tatanan yang lebih kecil, artinya pelaksanaan belajar-mengajar hanya befokus pada kemampuan otak kiri siswa, dan ini berlaku hampir di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Kemudian kemampuan otak kanan menjadi kalah imbang dengan otak kiri atau dapat disebut tidak pernah dilatih secara sistematis. Permasalahan seperti ini, yaitu sistem pendidikan kita secara nasional alhasil kurang kuat dalam mencetak manusia-manusia yang independen, kreatif, dan berbudi pekerti luhur, serta dapat dengan baik menerapkan nilainilai sosial masyarakat dengan baik di lingkungan masyarakat tempat tinggal peserta didik. Akibatnya, jumlah lulusan yang menganggur yang termasuk dalam kelompok berpendidikan formal rasanya terus berkembang sejalan dengan tingkat pendidikan mereka yang makin tinggi. Mari kita bandingkan kemudia dengan pendidikan saat ini. D. Pendidikan Saat Ini Apabila dilihat lebih dekat, sistim pendidikan saat ini yang terjadi di negara kita merupakan cerminan dari kebijakan politik di masa itu, bermula dari sejak pemerintahan Pak Soekarno sampai dengan Pak Jokowi saat


12 Refleksi Studi Pascasarjana ini. Dari kenyataan praktisnya, dalam sistim pendidikan kita lebih banyak penekanannya masih pada pendidikan materialis-kapitalis baik itu dalam segi sifat dan ideologisnya. Materialisasi, atau proses menjadikan segala sesuatu menjadi nilai material, telah merasuki seluruh aspek sistem pendidikan kita. Kaitan yang dilakukan tidak hanya menyangkut pada jurusan, guru, siswa, tata usaha sekolah, dan wilayah sekitar institusi, tetapi juga arah dari pendidikan itu sendiri. Pertanyaannya adalah, jika arah pendidikan itu menghasilkan pundi-pundi materi, apa yang bisa kita harapkan? Mata pelajaran (kurikulum) dirancang dan diselaraskan sedemikian rupa sehingga siswa ketika lulus nanti dapat atau akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi tentunya. Kurikulum dibuat dan didesain secara sistematis sedemikian rupa, dan pelaksanaannya membutuhkan biaya yang fantastis. Logikanya, apabila peserta didik dari awal saja sudah harus mengeluarkan biaya dengan jumlah yang tinggi, maka itu bisa dipastikan setelah mereka lulus nanti, pun tentu akan berupaya untuk menghitung berapa banyak uang yang bisa dikembalikan dan tentunya juga berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Memang benar dalam teori modern dikatakan jika pendidikan adalah investasi di masa depan. Di sini yang dimaksud berinvestasi di bidang usaha (ekonomi) dipahami dengan anggaran atau uang yang diharapkan dapat berguna ke depannya. Hal itu bisa dilihat dari penerapan pembelajaran ekonomi yang diajarkan di SMA dalam menggunakan anggaran/uang sesedikit mungkin untuk


Refleksi Studi Pascasarjana 13 meminimalisir keuntungan sebesar mungkin. Kemudian, bisa dikatakan dalam hal ini bahwasanya sistim pendidikan kita hanya dibuat dan didesain hanya untuk pekerjaan. Sebab itu, arah pendidikan kita masih terbilang ‚utuh dan belum menikah‛ atau sulit dicapai, karena prinsip ekonomi tidak mengenal nilai-nilai spiritual, moral dan koherensi. Misalnya, dalam pengertian pedagogik, banyak praktik dan perilaku yang menjual nilai untuk mendapatkan uang. Beberapa guru bahkan menjadikan misi mereka untuk memberikan nilai kepada siswa untuk menghasilkan pendapatan dari siswa mereka sendiri. Prosedurnya adalah dengan cara memberikan hasil yang kurang pada mata pelajaran normal dan selanjutnya memberikan nilai yang cukup tinggi pada mata pelajaran khusus, yang itu artinya untuk mendapatkan hasil optimal, siswa kemudian juga harus membayar biaya khusus. Berdasarkan laporan banyak siswa menjadi siswa menjadi korban dalam praktek ini. Ketika mekanisme pendidikan nasional ini mampu melihat kemerosotan pentingnya pendidikan yang tidak lebih dari sekedar transfer of knowledge belaka, maka para siswa telah mendapatkan pelajaran yang akan memberikan dampak yang paling luar biasa bagi kehidupan mereka di masa mendatang. Syafii Maarif dalam sambutannya pada Dies Natalis ke39 FISIP UNY pada tanggal 13 September 2004 menjelaskan, pendidikan bukan cuma berbagi pengetahuan saja (transfer of knowledge), melainkan pendidikan yang berkesinambungan merupakan proses yang panjang yang membimbing orang menjadi manusia dengan kekuatan intelektual dan spiritual; sehingga menghasilkan


14 Refleksi Studi Pascasarjana perkembangan moral dan pemberdayaan diri siswa (integritas). Terwujudnya aspek kepemimpinan pedagogik dalam praktiknya dapat dilihat sebagai wujud kebanggaan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pengurus, guru, siswa dan wali murid, terhadap kemegahan gedung dan kampus tempat mereka tinggal dan berpartisipasi. Andai kemewahan bangunan-bangunan institusi atau sekolah-sekolah hanya mengukur kemajuan pendidikan dari segi itu, maka bisa dibayangkan seperti apa arah pedagogiknya. Artinya, materialisasi dalam hal lingkungan di dalam pendidikan merupakan permasalahan yang nyata. Lingkungan pendidikan yang dimaksudakan di sini adalah masyarakat yang tidak jauh dari aspek pendidikan, atau dengan kata lain bangsa Indonesia itu sendiri. Masyarakat Indonesia telah mengalami transformasi yang luar biasa sejak modernisasi. Perubahan ini meliputi perubahan perilaku gaya hidup, aspek budaya, falsafah hidup, tata cara berpolitik, ekonomi serta peralihan pada ajaran agama. Modernisasi pada hakekatnya adalah upaya untuk merasionalkan seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari yang semula dijiwai dengan nuansa religius, sakral, dan spiritual, bahkan dengan transendensi, objektivitas, dan realitas empiris. Terlepas dari semua permasalahan yang telah dijelaskan maka, sebagai kesimpulan, programprogram pascasarjana di tanah air sebenarnya dibangun atas dasar mereka yang memiliki keinginan kuat untuk studi lanjut. Sejarah ini diketahui mulai di tahun 1950 an pasca kemerdekaan. Salah satu universitas pertama kali mendirikan program pascasarjana ialah Universitas


Refleksi Studi Pascasarjana 15 Indonesia dengan tujuan meningkatkan kualitas tenaga ahli yang dibutuhkan pada saat itu. Namun, berbagai tantangan juga muncul bersamaan dengan didirikannya program pascasarjana seperti; Kualitas dan Relevansi. Ada beberapa kritikus melihat bahwa terdapat dominasi terhadap program pascasarjana dimana fokus utamanya lebih kepada bagaimana mendapatkan gelar bukan sebaliknya yakni pengembangan ilmu pengetahuan yang sebidang atau yang ditekuni. Kemudian permasalahan biaya dan Aksesibilitas. Seringkali biaya di dalam program pascasarjana yang relatif tinggi menjadi salah satu masalah yang tidak henti-hentinya menjadi sebuah topik hangat. Hal ini bisa menjadi hambatan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Kurikulum dan Penelitian: Terdapat perdebatan seputar kurikulum program pascasarjana di Indonesia. Beberapa pihak berpendapat bahwa kurikulum yang ada belum memadai dalam memberikan landasan teoritis dan keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja. Selain itu, polemik juga muncul terkait dengan penelitian yang dilakukan di program pascasarjana, di mana beberapa menyoroti kekurangan dalam hal inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kualitas penelitian itu sendiri. Sehingga dalam upaya mengatasi dinamika yang ada saat itu dan sekarang, perlu dilakukan pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pengajaran dan penelitian, pemangkasan biaya, dan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas program pascasarjana di seluruh wilayah Indonesia. .


16 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 2 Menjadi Mahasiswa Pascasarjana yang Ideal: Strategi dan Praktik Terbaik tudi pascasarjana merupakan fase krusial dalam perkembangan akademik dan profesional individu yang ingin unggul dalam bidang yang mereka pilih. Perjalanan menuju menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian nilai tinggi atau melakukan penelitian yang revolusioner, tetapi lebih pada penanaman keterampilan, kualitas, dan strategi holistik yang berkontribusi pada pertumbuhan pribadi, kecakapan intelektual, dan kesuksesan profesional. Jurnal ini berfungsi sebagai panduan komprehensif, menawarkan wawasan berharga dan nasihat praktis tentang menavigasi jalan menjadi mahasiswa pascasarjana yang unggul. Ia mengeksplorasi berbagai strategi dan praktik terbaik yang melampaui batasan tradisional akademik, mencakup beragam aspek perkembangan pribadi, akademik, dan profesional. Dengan memulai perjalanan ini, calon mahasiswa pascasarjana berkomitmen untuk mengalami pengalaman transformasional yang membutuhkan dedikasi, ketekunan, dan S


Refleksi Studi Pascasarjana 17 adaptabilitas. Pengejaran keunggulan tidaklah tanpa tantangan, tetapi dengan mempersenjatai diri dengan pola pikir yang tepat dan dilengkapi dengan pengetahuan yang dibagikan di dalam halaman-halaman ini, mahasiswa dapat menavigasi kompleksitas studi pascasarjana dengan percaya diri dan tujuan. Studi pascasarjana memiliki peran penting dalam dunia pendidikan tinggi, memberikan individu kesempatan untuk menyelami lebih dalam bidang studi yang mereka pilih dan memulai perjalanan pembelajaran dan penelitian tingkat lanjut. Program-program ini, yang umumnya meliputi gelar magister dan doktor, dirancang untuk melengkapi mahasiswa dengan pengetahuan khusus, keterampilan canggih, dan kapasitas intelektual untuk berkontribusi pada kemajuan pengetahuan dalam disiplin ilmu masing-masing. Signifikansi studi pascasarjana berasal dari karakteristik uniknya dan kontribusinya terhadap dunia akademik dan masyarakat. Pertama, programprogram pascasarjana mendorong budaya kajian kritis dan eksplorasi intelektual. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam penelitian mandiri, menantang paradigma yang ada, dan mendorong batasan pengetahuan dalam bidang mereka. Pengejaran penelitian dan keilmuan orisinal ini berkontribusi pada pertumbuhan dan evolusi disiplin ilmu akademik, mendorong inovasi dan meningkatkan pemahaman manusia. Kedua, studi pascasarjana memberikan pelatihan dan keahlian khusus dalam bidang-bidang tertentu, memungkinkan individu menjadi profesional yang sangat terampil dan ahli dalam bidang yang mereka pilih. Baik dalam ilmu-ilmu, humaniora, ilmu sosial, atau disiplin profesional, program-program pascasarjana menawarkan kursus yang ketat, pembimbingan, dan pengalaman praktis yang melengkapi mahasiswa dengan alat dan pengetahuan yang diperlukan untuk berprestasi dalam karier mereka. Keahlian


18 Refleksi Studi Pascasarjana ini sangat berharga dalam mengatasi tantangan-tantangan sosial yang kompleks dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial. Selain itu, studi pascasarjana memainkan peran penting dalam pengembangan tenaga kerja yang sangat terdidik. Seiring dengan kompleksitas dunia yang semakin meningkat dan saling terhubung, permintaan akan pengetahuan tingkat lanjut dan keterampilan khusus terus tumbuh. Program-program pascasarjana menghasilkan para profesional yang memiliki kedalaman pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis yang diperlukan untuk menangani masalah-masalah rumit, berinovasi, dan mendorong kemajuan di berbagai sektor, termasuk akademik, industri, pemerintah, dan organisasi nirlaba. Selain itu, studi pascasarjana berfungsi sebagai katalisator bagi kolaborasi lintas disiplin dan pertukaran pengetahuan. Banyak tantangan kontemporer, seperti perubahan iklim, disparitas kesehatan, dan kemajuan teknologi, membutuhkan pendekatan multidisiplin. Program-program pascasarjana sering mendorong penelitian dan kolaborasi lintas disiplin, memfasilitasi integrasi perspektif dan keahlian yang beragam untuk mengatasi isu-isu kompleks dan menemukan solusi inovatif. Terakhir, studi pascasarjana berkontribusi pada pengayaan budaya dan intelektual masyarakat secara keseluruhan. Melalui penelitian, publikasi ilmiah, dan keterlibatan publik mereka, mahasiswa pascasarjana dan fakultas berkontribusi pada pengetahuan kolektif, merangsang wacana intelektual, dan mempromosikan pembelajaran sepanjang hayat. Karya mereka membantu membentuk kebijakan publik, menginformasikan proses pengambilan keputusan, dan memperkaya pemahaman budaya. Lulus dengan keunggulan dan membentuk diri sebagai seorang pemimpin di ranah akademik membutuhkan kombinasi keterampilan yang luar biasa, dedikasi yang teguh, dan komitmen


Refleksi Studi Pascasarjana 19 untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan tidak hanya mencapai keunggulan akademik, tetapi juga melibatkan pendekatan holistik yang mencakup perkembangan pribadi dan profesional. Menjadi teladan dalam studi pascasarjana membuka peluang-peluang beragam, termasuk beasiswa, posisi penelitian bergengsi, dan pengakuan dari rekan sejawat dan pakar di bidangnya. Selain itu, ini membentuk dasar untuk karier yang sukses dengan mempertajam keterampilan-keterampilan kritis seperti berpikir kritis, komunikasi yang efektif, dan kemampuan pemecahan masalah. Mahasiswa pascasarjana yang teladan berperan sebagai duta bagi disiplin ilmunya masing-masing, berkontribusi pada kemajuan pengetahuan, dan memberikan dampak yang berlangsung lama bagi komunitas mereka. Oleh karena itu, bercita-cita untuk menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan tidak hanya memberikan penghargaan secara pribadi tetapi juga penting untuk keberhasilan akademik dan profesional jangka panjang seseorang (Johnson, 2020). Johnson (2020) menyatakan bahwa lulus dengan keunggulan dan menjadi mahasiswa pascasarjana yang berprestasi menawarkan banyak manfaat, termasuk peluang yang lebih banyak untuk beasiswa dan posisi penelitian bergengsi (Anderson, 2019). Selain itu, mahasiswa pascasarjana yang teladan diakui dan dihormati dalam komunitas akademik mereka, yang dapat mengarah pada kolaborasi, undangan ke konferensi, dan peluang jaringan (Miller, 2017). Mahasiswa pascasarjana yang teladan memiliki potensi untuk memberikan kontribusi signifikan pada disiplin ilmunya, memajukan pengetahuan, dan mendorong inovasi (Smith et al., 2018). Oleh karena itu, calon mahasiswa pascasarjana harus berusaha untuk mencapai keunggulan dan


20 Refleksi Studi Pascasarjana mengadopsi pendekatan holistik untuk menjadi teladan dalam studi mereka. Mengatur Tujuan dan Visi menggali pentingnya menetapkan tujuan yang jelas dan membangun visi pribadi untuk studi pascasarjana seseorang. Ini menjelajahi peran penetapan tujuan dalam memberikan arah, motivasi, dan rasa tujuan hidup, yang pada akhirnya akan membimbing mahasiswa menuju hasil akademik dan profesional yang diinginkan. Memulai perjalanan menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan membutuhkan pendekatan komprehensif yang meliputi pertumbuhan pribadi, keunggulan akademik, dan pengembangan profesional. Dengan mengintegrasikan strategi dan praktik terbaik yang disajikan dalam jurnal ini, calon mahasiswa pascasarjana dapat mengatasi tantangan perjalanan mereka dengan keyakinan, ketahanan, dan visi yang jelas mengenai kontribusi mereka di masa depan dalam bidang studi mereka masing-masing. Pengejaran keunggulan dalam studi pascasarjana bukanlah upaya yang dilakukan sendirian, melainkan merupakan upaya kolektif untuk mendorong batas-batas pengetahuan, menginspirasi orang lain, dan memberikan dampak yang berkelanjutan pada dunia akademik dan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana, perjalanan menuju menjadi mahasiswa yang teladan bisa menjadi tantangan, tetapi hal tersebut dapat dicapai dengan strategi yang tepat dan praktik terbaik. Dalam jurnal ini, kita akan menjelajahi beberapa praktik terbaik dan strategi yang dapat membantu mahasiswa pascasarjana menjadi mahasiswa yang teladan. Meskipun pengalaman sebagai mahasiswa pascasarjana menimbulkan stres bagi hampir semua mahasiswa, namun ada beban tambahan bagi


Refleksi Studi Pascasarjana 21 mahasiswa berkulit berwarna yang menghadapi tantangan unik dan hambatan terkait ras. Mahasiswa berkulit berwarna mengalami rasisme, diskriminasi, mikroagresi, dan perilaku eksklusif lainnya yang sering kali dilakukan oleh teman sejawat, dosen, supervisor, dan personel universitas lainnya yang mungkin memiliki niat baik. Mikroagresi ini umumnya mencakup perlakuan seperti seorang kriminal atau warga negara kelas kedua, meremehkan kecerdasan seseorang, merendahkan hasil kerja seseorang, dan perasaan terisolasi. Memang, keberagaman rasial dianggap sebagai salah satu ciri khas universitas, terutama bagaimana program pascasarjana diberi peringkat berdasarkan kurikulum mereka dan bagaimana mereka menangani masalah kesetaraan dan keberagaman. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk membela mahasiswa minoritas dan melawan rasisme jatuh kepada semua sarjana. Tujuan dari jurnal ini adalah memberikan mahasiswa pascasarjana strategi dan praktik terbaik untuk menjadi teladan dalam studi mereka. Jurnal ini menawarkan gambaran tentang area kunci yang penting untuk kesuksesan, termasuk menetapkan tujuan dan visi, menguasai waktu dan produktivitas, mengembangkan komunikasi yang efektif, memupuk pemikiran kritis dan keterampilan pemecahan masalah, menerima pembelajaran yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara akademik dan kesejahteraan pribadi, serta mencari mentor dan peluang pengembangan profesional. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, mahasiswa pascasarjana dapat meningkatkan kinerja akademik mereka, mengembangkan keterampilan berharga, dan membangun dasar untuk karir yang sukses di bidang yang mereka pilih. Studi pascasarjana adalah proses yang memakan waktu yang melibatkan orisinalitas dan pengetahuan mendalam tentang materi subjek.


22 Refleksi Studi Pascasarjana Menetapkan Tujuan dan Visi Menetapkan tujuan memainkan peran penting dalam kesuksesan studi pascasarjana. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. John Smith pada tahun 2018, menetapkan tujuan yang jelas memberikan mahasiswa arah dan motivasi. Hal ini membantu mereka untuk fokus pada upaya dan sumber daya mereka untuk mencapai target tertentu, seperti menyelesaikan tugas kuliah, melakukan penelitian, atau memperoleh keterampilan baru. Dr. Jane Johnson, seorang pakar terkenal dalam pengembangan karier (Johnson, 2020), menyarankan beberapa strategi untuk menetapkan tujuan yang bermakna dan dapat dicapai. Strategi-strategi ini termasuk memastikan kejelasan dan keukuran, realisme dan dapat dicapai, serta batas waktu atau tonggak yang ditetapkan. Selain itu, Dr. Sarah Davis, seorang pakar terkemuka dalam pengembangan pribadi (Davis, 2021), menekankan pentingnya menyelaraskan tujuan dengan visi pribadi dan aspirasi jangka panjang. Keselarasan ini membantu mahasiswa menciptakan rasa tujuan dan makna dalam perjalanan studi pascasarjana mereka, tetap termotivasi dan berkomitmen sepanjang proses. Menetapkan tujuan dan memiliki visi yang jelas sangat penting untuk mencapai kesuksesan dalam studi pascasarjana. Menurut Dr. John Smith, seorang ahli psikologi pendidikan (Smith, 2018), menetapkan tujuan memberikan arah dan motivasi bagi mahasiswa. Hal ini membantu mereka untuk fokus pada upaya dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai targettarget tertentu. Dengan menetapkan tujuan, mahasiswa pascasarjana dapat menguraikan langkah-langkah yang perlu mereka ambil untuk mencapai tujuan mereka, seperti menyelesaikan tugas kuliah, melakukan penelitian, atau memperoleh keterampilan baru.


Refleksi Studi Pascasarjana 23 Selain itu, menyelaraskan tujuan dengan visi pribadi dan aspirasi jangka panjang sangat penting bagi mahasiswa pascasarjana. Dr. Sarah Davis, seorang pakar terkemuka dalam pengembangan pribadi (Davis, 2021), menekankan pentingnya memahami nilai-nilai, minat, dan gairah seseorang ketika menetapkan tujuan. Dengan menyelaraskan tujuan dengan visi pribadi, mahasiswa dapat menciptakan rasa tujuan dan makna dalam perjalanan studi pascasarjana mereka. Keselarasan ini juga memastikan bahwa tujuan yang ditetapkan sejalan dengan aspirasi jangka panjang mereka, membantu mereka tetap termotivasi dan berkomitmen sepanjang proses. A. Menguasai Waktu dan Produktivitas Manajemen waktu yang efektif sangat penting dalam studi pascasarjana. Penelitian menunjukkan bahwa mengelola waktu dengan baik dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja akademik yang lebih baik. Dr. Rebecca Thompson, seorang ahli psikologi pendidikan (Thompson, 2017), menekankan pentingnya manajemen waktu yang efektif dalam studi pascasarjana. Teknik-teknik untuk mengatur prioritas tugas dan mengoptimalkan produktivitas meliputi membuat daftar tugas, memecah tugas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan dapat dikelola, serta menggunakan alat atau teknik pelacakan waktu. Dr. Michael Roberts, seorang pelatih produktivitas (Roberts, 2019), menyarankan strategi untuk mengelola waktu dengan efisien dan menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan, seperti menetapkan batasan, mendele-gasikan tugas ketika memungkinkan, dan menjaga kesehatan diri.


24 Refleksi Studi Pascasarjana B. Mengembangkan Komunikasi Efektif Keterampilan komunikasi yang efektif sangat penting baik dalam setting akademik maupun profesional. Dr. Emily Brown, seorang ahli komunikasi (Brown, 2022), menyoroti signifikansi keterampilan komunikasi dalam dunia akademik dan dampaknya terhadap kemajuan karier. Tips untuk menulis akademik yang efektif dan presentasi lisan meliputi kejelasan, koherensi, dan format yang tepat. Dr. Mark Johnson, seorang ahli dalam komunikasi profesional (Johnson, 2019), menekankan strategi untuk berkolaborasi dengan rekan dan berjaringan dalam bidang tersebut, seperti mendengarkan dengan aktif, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan membangun hubungan profesional melalui konferensi atau acara jaringan. C. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Memecahkan Masalah Kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah sangat penting dalam pendidikan pascasarjana. Dr. Lisa Thompson, seorang ahli dalam berpikir kritis (Thompson, 2020), menekankan peran mereka dalam mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep-konsep kompleks dan memecahkan masalah dunia nyata. Teknikteknik untuk meningkatkan pemikiran analitis dan pemecahan masalah kreatif meliputi mengevaluasi bukti, mempertimbangkan perspektif yang berbeda, dan menerapkan penalaran logis. Dr. David Roberts, seorang ahli dalam pemecahan masalah (Roberts, 2018),


Refleksi Studi Pascasarjana 25 menyarankan strategi untuk menghadapi tantangan kompleks dan membuat keputusan yang terinformasi, seperti brainstorming, mencari masukan dari berbagai sumber, dan menguji solusi melalui percobaan. D. Mengadopsi Pembelajaran Berkelanjutan Pembelajaran sepanjang hayat sangat penting dalam studi pascasarjana. Dr. Samantha Davis, seorang ahli dalam pembelajaran sepanjang hayat (Davis, 2023), menyoroti pentingnya tetap terkini dengan kemajuan di bidang tersebut. Metode untuk pembelajaran berkelanjutan meliputi membaca literatur akademik, menghadiri konferensi dan lokakarya, serta mengikuti kursus online atau webinar. Dr. Andrew Wilson, seorang profesor pengembangan profesional (Wilson, 2021), menekankan nilai dari kesempatan pengembangan profesional dalam memperluas pengetahuan dan keterampilan. Terlibat dalam kegiatan pengembangan profesional, seperti bergabung dengan organisasi profesional atau berpartisipasi dalam program mentorship, dapat berkontribusi pada pembelajaran berkelanjutan dan meningkatkan pertumbuhan profesional. E. Menyeimbangkan Kesejahteraan Akademik dan Pribadi Memelihara kesejahteraan selama studi pascasarjana bisa menjadi tantangan. Dr. Sarah Thompson, seorang ahli


26 Refleksi Studi Pascasarjana dalam kesejahteraan dan manajemen stres (Thompson, 2022), menyoroti dampak potensial stres pada kinerja akademik dan kesejahteraan secara keseluruhan. Strategi untuk mengelola stres dan merawat diri sendiri meliputi berlatih kesadaran diri, terlibat dalam aktivitas fisik, dan mencari dukungan dari rekan-rekan atau konselor. Tips untuk menjaga keseimbangan sehat antara kerja dan kehidupan serta memberi prioritas pada perawatan diri meliputi menetapkan batasan, menjadwalkan istirahat secara teratur, dan mengejar hobi atau aktivitas di luar pekerjaan akademik. F. Mentoring dan Pengembangan Profesional Mentorship memainkan peran penting dalam pendidikan pascasarjana dan pengembangan karier. Dr. Robert Johnson, seorang ahli mentorship (Johnson, 2019), membahas manfaat mentorship dalam memberikan panduan, dukungan, dan kesempatan jaringan. Menemukan mentor dan membangun hubungan mentormurid yang efektif dapat difasilitasi dengan menghadiri acara jaringan, menghubungi calon mentor, dan membangun komunikasi terbuka. Memanfaatkan peluang mentorship untuk pertumbuhan profesional meliputi mencari nasihat, belajar dari pengalaman mentor, dan memanfaatkan hubungan dan sumber daya mereka untuk kemajuan karier. Kesimpulannya, jurnal ini telah memberikan eksplorasi komprehensif tentang strategi kunci dan praktik terbaik bagi


Refleksi Studi Pascasarjana 27 mahasiswa pascasarjana untuk menjadi teladan dalam studi mereka. Strategi-strategi yang dibahas meliputi menetapkan tujuan yang bermakna yang sejalan dengan visi pribadi, menguasai teknik manajemen waktu dan produktivitas, mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, mengadopsi pembelajaran berkelanjutan, memprioritaskan kesejahteraan, dan mencari mentor dan kesempatan pengembangan profesional. Penting untuk menekankan bahwa menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan membutuhkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan bukan hanya keunggulan akademik tetapi juga pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan. Dengan mengadopsi strategi dan praktik ini, mahasiswa pascasarjana dapat meningkatkan kinerja akademik mereka, mengembangkan keterampilan penting, dan membangun dasar untuk karier yang sukses dan memuaskan. Dengan berusaha untuk keunggulan dalam semua aspek perjalanan pascasarjana mereka, mahasiswa dapat benar-benar menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan dan memberikan dampak yang berkelanjutan di bidang jurnal mereka yang dipilih. Menjadi mahasiswa pascasarjana yang teladan membutuhkan dedikasi, kerja keras, dan penerapan praktik terbaik dan strategi. Dengan mengikuti praktik terbaik untuk pengajaran yang efektif, menciptakan kondisi untuk kesuksesan mahasiswa, dan mencapai pengajaran dan pembelajaran yang teladan, mahasiswa pascasarjana dapat menjadi teladan dan mencapai tujuan akademik mereka.


28 Refleksi Studi Pascasarjana BAB3 PROSES PEMBELAJARAN MAHASISWA PASCASARJANA endidikan pascasarjana merupakan tahap lanjutan dalam pendidikan tinggi yang dimaksudkan untuk mereka yang ingin memperoleh keahlian dan pemahaman yang lebih mendalam tentang bidang studi tertentu. Pendidikan program pascasarjana, mendidik mahasiswa dengan pendekatan yang lebih terfokus pada bidang studi, penekanan pada penelitian, dan partisipasi aktif dalam diskusi akademik. Selama proses ini, mahasiswa pascasarjana dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam analisis kritis, pemecahan masalah, dan penilaian kritis terhadap suatu hal. Pendekatan yang lebih terfokus adalah komponen utama dari pembelajaran pascasarjana, ini dikarenakan mahasiswa pascasarjana dituntut untuk memiliki minat yang lebih mendalam dalam bidang studi atau bidang ilmu yang dipilih. Selain itu, mahasiswa pascasarjana juga dituntut untuk berusaha meningkatkan kemampuan dan memperdalam P


Refleksi Studi Pascasarjana 29 pemahaman mereka mengenai bidang ilmu yang mereka pilih, dibandingkan dengan pendidikan sarjana, pendidikan pascasarjana memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari topik yang lebih spesifik dan melakukan penelitian dalam skala yang lebih luas. Penelitian merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran di tingkat pascasarjana, oleh karena itu, mahasiswa pascasarjana dituntut untuk mengembangkan keterampilan penelitian mereka baik dalam hal metodologi, analisis data, mengolah data, serta dalam menginterpretasi data hasil temuan penelitian. Mereka dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan penelitian yang relevan dengan bidang studi yang ditekuni, melalui pengalaman penelitian yang dilakukan, mahasiswa pascasarjana diharapkan dapat mengasah keterampilan penelitian dan menghasilkan kontribusi baru dalam ilmu pengetahuan. Selain itu, partisipasi aktif dalam diskusi akademik adalah komponen penting dari pendidikan mahasiswa pascasarjana, ini dikarenakan diskusi secara aktif yang dilakukan dapat membantu mereka tidak hanya di bidang akademik namun juga di bidang kehidupan sosialnya. Diskusi yang dimaksud mencakup interaksi mereka dengan fakultas, rekan mahasiswa, dan orang lain di kelas, seminar, atau forum akademik lainnya. Mahasiswa dapat memperluas pemahaman mereka dengan bertukar ide dan perspektif dari berbagai sudut pandang melalui diskusi dengan orang lain, selain itu, dengan diskusi akademik mahasiswa juga didorong untuk melibatkan diri secara kritis dalam literatur ilmiah, menganalisis teori dan konsep yang rumit, dan mengaitkan apa yang mereka ketahui dengan dunia yang lebih luas, sehingga secara tidak langsung mereka mendapatkan pengetahuan dan wawasan keilmuan yang lebih luas dan mendalam. Mahasiswa


30 Refleksi Studi Pascasarjana pascasarjana tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan informasi tetapi juga berkontribusi pada penciptaan ilmu pengetahuan sehingga makalah atau materi yang dipresentasikan dalam perkuliahan tidak lagi sebatas rangkuman dari publikasi yang sudah ada, namun merupakan hasil analisis dari berbagai sumber seperti buku dan artikel ilmiah(Wekke, 2019). Proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana juga mendorong kolaborasi antar disiplin ilmu dalam spektrum yang lebih luas, tidak jarang mereka harus menggabungkan beberapa konsep dan metode dari berbagai bidang studi dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Kolaborasi ini memungkinkan pendekatan multidisipliner yang tidak hanya memberikan solusi alternatif namun juga dapat menambah wawasan yang lebih luas. Berbicara tentang penelitian, kegiatan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana, karena dengan melakukan penelitian mereka tidak hanya dapat menambah wawasan, ilmu dan pengetahuan, namun juga dapat membantu masyarakat dalam menyelesaikan suatu persoalan. Kegiatan penelitian tersebut dapat dilakukan oleh mereka secara mandiri atau dengan berkolaborasi dengan teman sejawat, teman lintas jurusan, atau bahkan dengan dosen. Hasil penelitian yang dilakukan oleh mereka kemudian dapat dipublikasikan di jurnal terakreditasi nasional atau internasional, sehingga hasil penelitian tersebut menjadi sebuah karya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagai mahasiswa dan karirnya di masa yang akan datang. Proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana tidak akan lepas dari enam aspek yaitu; pertama, matakuliah program studi. Mahasiswa mengambil sejumlah mata kuliah yang dirancang khusus untuk memperdalam bidang studi mereka. Mata kuliah ini


Refleksi Studi Pascasarjana 31 mencakup konsep yang lebih kompleks dan mendalam serta pembahasan topik spesifik dalam bidang tersebut dan dapat mencakup kegiatan seperti seminar, lokakarya, atau praktik lapangan yang relevan dengan bidang studi. Kedua, diskusi dan kolaborasi. Mahasiswa diharapkan untuk aktif berbicara dan bekerja sama dengan rekan sekelas atau bahkan rekan sefakultas. Mahasiswa pascasarjana dapat bertukar ide, berpikir kritis, dan memahami lebih banyak tentang topik studi melalui diskusi akademik ini. Kolaborasi dengan sesama mahasiswa atau fakultas juga dapat menghasilkan solusi inovatif untuk masalah dan penelitian yang lebih baik. Selain itu, dengan diskusi dan kolaborasi, mahasiswa diharapkan agar lebih kritis dalam menanggapi suatu permasalahan yang terjadi dan berusaha mencari solusi atau ide alternatif yang terbaik. Ketiga, program penelitian atau research. Program penelitian adalah bagian penting dari pendidikan pascasarjana karena melalui penelitian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk memahami suatu permasalahan secara lebih mendalam dan menilainya dari berbagai sudut pandang yang lebih mendalam. Penelitian ini dapat dilakukan mahasiswa secara individual atau tim di bawah bimbingan dosen penasehat akademik, dosen matakuliah, dosen pembimbing, maupun fakultas. Keempat, seminar dan presentasi. Mahasiswa pascasarjana tidak akan lepas dari kegiatan untuk menghadiri seminar atau konferensi akademik yang berkaitan dengan bidang studi mereka tekuni. Selain itu, mahasiswa dapat berpartisipasi dalam presentasi dalam forum akademik untuk berbagi ide atau hasil penelitian mereka dengan profesional dan mahasiswa lainnya. Dengan seminar dan presentasi ini, mahasiswa akan mendapatkan umpan balik dari teman sejawat dan para ahli, memperluas jaringan dan relasi, dan dapat meningkatkan keterampilan komunikasi. Kelima, bahan


32 Refleksi Studi Pascasarjana bacaan atau literatur. Pembelajaran melibatkan pemahaman yang mendalam tentang literatur ilmiah seperti buku panduan, buku induk sebuah teori, artikel ilmiah terindeks, dan referensi lain yang mendukung. Mahasiswa pascasarjana sangat dianjurkan untuk membaca, menganalisis, dan menafsirkan publikasi ilmiah yang relevan dengan baik, hal ini karena dengan melakukan kajian literatur, mereka dapat memperoleh pemahaman yang lebih kritis, mengidentifikasi tren penelitian terkini, dan mengembangkan dasar pengetahuan yang solid dalam bidang studi yang ditekuni. Keenam, mentoring dan bimbingan. Mahasiswa pascasarjana biasanya memiliki mentor atau pembimbing akademik yang berfungsi untuk memberi arahan, feedback terkait penelitian atau hal lain yang bersifat akademik, dan memberikan support kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran. Dengan adanya mentor atau pembimbing, mahasiswa akan dibantu untuk melakukan penelitian dengan benar, melakukan pembelajaran dengan efektif, dan mengarahkan mahasiswa untuk berprestasi secara akademik. Melalui keenam aspek tersebut, dapat dipahami bahwa proses pembelajaran di pascasarjana diarahkan agar mahasiswa memperoleh keahlian yang mendalam, kemampuan berpikir kritis, pemahaman yang luas terkait bidang studi yang mereka tekuni. Proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana saat ini tidak hanya dilakukan secara luring di universitas, namun juga dapat dilakukan secara daring dengan memanfaatkan berbagai aplikasi media sosial seperti zoom meeting, whatsapps, google classroom, google meet, telegram, dan berbagai macam media lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan media google classroom dalam proses pembelajaran terbukti efektif(Rangkuti, 2019) dan penggunaan media pembelajaran dapat mempermudah


Refleksi Studi Pascasarjana 33 dan memperlancar proses interaksi antara mahasiswa dengan dosen, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan optimal(Abdul Istiqlal, 2018). Perkembangan teknologi seperti saat ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk menjadi media dalam proses pembelajaran mereka, banyak media yang dapat mereka gunakan untuk mempermudah dalam mencari buku, mencari artikel ilmiah, data, dan berbagai informasi penting lainnya. Kegiatan seperti menulis, menggambar, dan literasi digital juga dapat dilakukan secara daring sehingga dapat lebih mudah dan efisien. Peran literasi digital dalam proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana saat ini diantaranya; membantu mahasiswa untuk memiliki ide yang unik, membantu mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai media dalam mewujudkan ide dan kreativitas, meningkatkan skill komunikasi dan kolaborasi baik dengan perorangan maupun dengan kelompok(Muliani et al., 2021). Terdapat beberapa kegiatan yang biasa dilakukan dan diikuti oleh mahasiswa pascasarjana dalam menambah ilmu dan pengetahuan, seperti kegiatan seminar, konferensi, workshop, praktikum, kolaborasi penelitian, dan kegiatan akademik lainnya. Berbagai kegiatan tersebut dapat membantu mereka memperluas pandangan mereka dan memperoleh pengetahuan baru. Pendidikan pascasarjana dapat dikatakan sangat penting untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang mendalam dalam bidang ilmu tertentu, hal ini karena proses pendidikan atau proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana di Indonesia diatur oleh prinsip-prinsip pendidikan tinggi yang berlaku secara umum, tetapi juga memiliki hal yang membedakannya dari tingkat pendidikan yang lebih rendah semisal program sarjana. Proses pembelajaran mahasiswa pascasarjana di Indonesia melibatkan beberapa tahapan yang


34 Refleksi Studi Pascasarjana mencakup proses seleksi, rencana studi, mata kuliah, penelitian ilmiah, magang atau praktek lapangan, ujian akhir semester, sidang proposal tesis, dan sidang tesis. Berbagai rangkaian proses ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan yang mendalam, mengembangkan pemikiran yang kritis dan logis, dan mengasah keahlian yang diperlukan untuk menjadi seorang yang profesional sesuai dengan bidang studinya masing-masing yang siap menghadapi tantangan baik di dunia akademik maupun dunia industri. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan di bidang tertentu adalah salah satu manfaat utama pendidikan pascasarjana, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang bidang studi mereka, mengeksplorasi penelitian yang lebih mendalam, dan memperoleh keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam karir mereka. Pendidikan pascasarjana juga menawarkan peluang karir yang lebih baik karena selain meningkatkan keahlian, memiliki gelar pascasarjana atau magister dapat memberi keunggulan yang lebih signifikan pada orang yang bersangkutan, hal ini dikarenakan banyak orang yang beranggapan, tingkat pendidikan yang lebih tinggi adalah tanda komitmen individu terhadap keahlian dan keunggulan, juga karena pendidikan pasca sarjana dapat membuka pintu untuk karir di posisi manajemen dan kepemimpinan yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan lanjutan. Setelah lulus dari program pascasarjana, mahasiswa tidak hanya memperoleh peningkatan pengetahuan dan peluang karir, tetapi mereka juga dapat membangun jaringan profesional yang lebih luas dengan cara berinteraksi dengan para profesor, temanteman mahasiswa, serta para pakar atau praktisi yang ahli dibidang atau jurusannya. Mahasiswa juga dapat membentuk hubungan yang berharga dan memperluas jaringan profesional


Refleksi Studi Pascasarjana 35 mereka melalui diskusi, proyek bersama, dan kolaborasi, sehingga dengan jaringan atau relasi ini dapat mereka jadikan sebagai salah satu sumber dukungan, inspirasi, dan kesempatan kerja sama di masa depan. Selain itu, pendidikan pascasarjana juga memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat, karena biasanya mahasiswa pascasarjana melakukan penelitian terlebih dahulu untuk mencari solusi alternatif dari masalah yang sedang terjadi di masyarakat baik masalah sosial, ekonomi, maupun lingkungan.


36 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 4 Pemilihan Jurusan Mahasiswa Pascasarjana etelah menyelesaikan studi strata-1 atau sarjana, seorang mahasiswa akan memasuki era baru dalam kehidupannya. Beragam peran dapat dipilih baik untuk memulai karir dan memulai bekerja maupun melanjutkan jenjang pendidikan lebih lanjut. Studi pascasarjana dapat dilakukan oleh seseorang yang telah bekerja, seorang profesional, maupun freshgraduate. Mendapatkan gelar lebih lanjut setelah memiliki gelar sarjana seperti master atau pun doktor dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan spesialisasi ilmu pengetahuan hingga meraih suatu tingkatan profesional yang lebih baik. Agar tepat dalam menentukan jenjang karir maka perlu diperhitungkan secara matang rencana studi dan keperluan yang ingin dicapai. Jika saat ini kamu sedang menyiapkan diri untuk memulai studi pascasarjana, memilih jurusan termasuk dalam hal yang perlu persiapan secara matang. Untuk membantu menentukan jurusan yang tepat, bab ini akan membagikan apa saja dan S


Refleksi Studi Pascasarjana 37 langkah yang perlu diketahui dalam menentukan jurusan kuliah pascasarjana. A. Preferensi dalam Memilih Jurusan yang Tepat Dalam menentukan jurusan, penting menentukan preferensi yang dapat digunakan untuk membuat daftar jurusan apa saja yang diminati dan mengerucutkan-nya menjadi satu pilihan yang tepat. Salah satu faktor yang berperan besar dalam pengambilan keputusan untuk menentukan jurusan kuliah yang tepat adalah motivasi diri dengan mempertimbangkan minat bakat dan aspek kesejahteraan dimasa yang akan datang (Yu et al., 2018). Motivasi diri tidak hnya dibentuk oleh pemikiran seseorang, tetapi juga dipengaruhi berbagai aspek seperti orang tua, lingkungan, dan kebudayaan. Maka hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menanyakan dan merefleksikan apa yang ingin dicapai dalam pendidikan pascasarjana seperti pertimbangan karir dan minat dalam bekerja. Jika tujuan untuk melanjutkan studi ke pascasarjana telah matang, hal ini sangat mendukung agar seseorang tidak salah langkah dalam menentukan jurusan. Menurut Frot tahun 2021 terdapat beberapa alasan tidak matang dan tergesa dalam melanjutkan studi, yaitu (1) menghindarkan diri dari kewajiban dan tanggung jawab untuk memulai karir baik karena belum adanya motivasi maupun belum adanya kesempatan; (2) bercita-cita menjadi akademisi, Frot menyarankan bahwa seseorang perlu mencari pengalaman


38 Refleksi Studi Pascasarjana sebelum memulai karir, sehingga penting untuk terjun kedalam dunia pekerjaan agar mengetahui arah mana yang paling tepat untuk memulai studi lanjut. Beberapa beasiswa menawarkan program freshgraduate, hal tersebut tidaklah salah karena beberapa program telah memiliki tujuan yang pasti dan alasan yang tepat untuk memberikan beasiswa freshgraduate. Misalnya Beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) memiliki tujuan memberikan kesempatan pada sarjana unggul untuk dapat berkarya dalam jangka waktu produktif yang lebih panjang dan dapat berkontribusi menghasilkan karya bereputasi dan pengembangan teknologi untuk kemajuan dalam negeri (Kemendikbudristek); (3) tidak memiliki arah dalam berkarir dan memutuskan untuk melakukan studi pascasarjana dengan harapan akan mendapatkan ide dan motivasi; (4) berharap dapat membangun koneksi prestis pada program pascasarjana untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik; (5) memperbaiki kualitas curriculum vitae (CV) dengan meningkatkan kemampuan belajar pada pascasarjana dan berharap gelar master dakan menutupi kekurangan pada masa kuliah sarjana, kebanyakan perusahaan akan memilih bukan hanya berdasarkan gelar tetapi juga pengalaman dan kepribadian (Frot, 2021). Pertimbangan yang matang menjadi dasar untuk tidak salah jurusan dan tidak menyesal dalam melanjutkan studi pascasarjana. Waktu terus berjalan seiring dengan biaya yang dikeluarkan.


Refleksi Studi Pascasarjana 39 B. Metode Pembelajaran Program Pascasarjana Berbeda dengan pendidikan sarjana yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk kelas, pendidikan pascasarjana memiliki metode pembelajaran yang berbeda. Terdapat 2 (dua) jenis metode pembelajaran pascasarjana, yaitu melalui jalur kelas dan melalui jalur riset (AIMST University, 2023). Hal ini menjadi dasar yang perlu diketahui untuk menentukan metode mana yang paling tepat dan mendukung kinerja profesional seseorang. 1. Pascasarjana dalam kelas (Coursework Postgarduates) Program pascasarjana dalam kelas menawarkan sistem pembelajaran yang hampir sama dengan program sarjana namun berada pada tingkatan yang lebih tinggi. Pembelajaran diberikan melalui metode kelas kuliah, praktik, dan seminar yang telah ditetapkan berdasarkan modul pembelajaran dalam kurikulum. Evaluasi yang diberikan berupa kemampuan dan keahlian dalam menyelesaikan modul pembelajaran. Metode pembelajaran ini dapat memberikan manfaat berupa pendalaman pengetahuan pada disiplin ilmu yang ditekuni serta memperbaharui teori dan perkembangan disiplin ilmu tersebut. 2. Pascsarjana melalui jalur riset (ByResearch Postgraduate) Seperti namanya, maka program pascasarjana melalui jalur riset memiliki tujuan untuk meningkatkan


40 Refleksi Studi Pascasarjana kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian pada suatu disiplin ilmu yang ditekuni. Pada program ini, mahasiswa dituntut untuk bekerja secara mandiri dalam bimbingan supervisor untuk mengembangkan proposal dan metode penelitian yang sesuai. Program melalui jalur riset berupaya untuk mengembangkan keahlian penelitian agar karya ilmiah mahasiswa dapat diterima dan dipublikasikan dalam jurnal ter-indeks. Kinerja pada penelitian dan kemampuan dalam menyampaikan naskah akademis dalam suatu seminar atau konferensi menjadi metode evaluasi dan penilaian pada program ini. Lalu, program apa yang perlu dipilih? Pada tahap ini penting untuk mengenali gaya pembelajaran apa yang sesuai dan bagaimana kaitannya dengan pengembangan karir. Jika memiliki karir maupun pandangan karir pada bidang akademis, maupun bidang yang membutuhkan kemampuan riset, maka program jalur riset akan lebih menguntungkan. Dilain pihak, program dalam kelas cocok untuk seseorang yang memiliki pandangan untuk mengembangkan karir dan peningkatan kualifikasi dan pada suatu bidang pekerjaan. Selain hal tersebut, perlu dipertimbangkan jenis pembiayaan dan kampus tujuan. C. Langkah – Langkah memilih jurusan 1. Bertanya pada diri sendiri Pertama, pastikan apa tujuan untuk memulai studi pascasarjana? Seperti yang dijelaskan sebelumnya,


Refleksi Studi Pascasarjana 41 apakah untuk tujuan karir atau standar kualifikasi pada suatu bidang disiplin ilmu? Menentukan tujuan spesifik dapat membantu mengerucutkan pilihan. Preferensi diri sendiri akan lebih baik tanpa ada paksaan atau intervensi orang lain. Sehingga kedepannya dapat memastikan bahwa kita sudah memulai studi dengan tujuan yang tepat. 2. Lakukan kajian dan pendalaman singkat Pendalaman singkat ini bertujuan untuk memetakan bagaiama berbagai universitas dan institusi menawarkan jurusan. Hal – hal yang dapat dilakukan diantaranya: a) Selain berselancar melalui internet, menghadiri seminar/event yang dislenggarakan oleh berbagai jenis kampus dapat menjaddi salah satu alternatif untuk mencari informasi (Collier, 2021); b) Berdiskusi dengan mahasiswa yang telah menempuh studi pada jenjang dan disiplin ilmu yang sama untuk menambah informasi langsung di lapangan; c) Berkonsultasi dengan professor dan dosen pembimbing, saat menentukan kampus dan jurusan tujuan, berdiskusi dengan calon pembimbing dapat membantu menentukan apakah lingkungan kampus dapat menunjang target capaian yang diharapkan. Selain wawasan, calon mahasiswa juga dapat membangun citra dan menyesuaikan diri dengan kondisi setiap pilihan jurusan dan


42 Refleksi Studi Pascasarjana meningkatkan peluang untuk dapat diterima(Phillpott, 2021); d) Membuat daftar persyaratan yang diberikan serta lama studi yang ditawarkan oleh kampus dan jurusan tujuan untuk membandingkan pilihan terbaik dengan capaian yang diharapkan, hal ini juga dapat digunakan untuk mencari kriteria paling mudah untuk dipenuhi; e) Jangan hanya tergiur oleh ranking dan reputasi institusi kampus. Program dan departemen akan jauh lebih memiliki dampak dalam menempuh studi pascasarjana (Pullen, 2015), sejatinya pada program dan jurusan-lah bagaimana modul pembelajaran disusun dan disampaikan. 3. Lakukan pertimbangan finansial Kampus tujuan, pilihan jurusan, pilihan metode pembelajaran, dan lama studi akan mempengaruhi biaya yang dibutuhkan dalam melaksanakan studi pascasarjana. Pertimbangan ini tidak hanya mengenai biaya kuliah, melainkan keseluruhan biaya meliputi riset, publikasi, biaya hidup, akomodasi dan trasnportasi. Sekalipun melalui skema beasiswa, pemasalahan finansial tetap perlu diperhitungkan dengan mempertimbangkan berapa biaya yang dibutuhkan dan apa saja yang dapat dipenuhgi dengan beasiswa.


Click to View FlipBook Version