Refleksi Studi Pascasarjana 93 3. Keterampilan Presentasi dan Diskusi Kemampuan untuk berbicara didepan umum memang menjadi tantangan bagi kita yang belum terbiasa. Namun bukan berarti kemampuan berbicara didepan umum tidak dapat dilatih. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana, kita dituntut untuk dapat berkomunikasi baik secara tulisan maupun lisan. Misalnya, dalam sebuah konferensi yang kita ikuti. Kita tidak hanya sekedar mengirimkan tulisan kita untuk tujuan publiasi, tetapi kita diminta untuk memaparkan hasil penelitian kita secara lisan di depan orang banyak. Hal ini bertujuan untuk medapatkan feedback berupa saran dan masukan dari peserta konferensi lainnya. Tentu hal ini memberikan dampak positif, sebab akan menjadi bahan evaluasi kita untuk penelitian berikutnya. Walupun kita belum terbiasa untuk berbicara didepan umum, kemampuan presentasi adalah hal yang perlu di asah bagi seorang mahasiswa pascasarjana. Selain itu, kemampuan berdiskusi juga penting untuk dikembangkan, sebab pada kondisi tertentu kita diminta untuk bersama dengan para akademisi lainnya atau komunitas dari berbagai latar belakang membicarakan topik-topik tertentu. Sehingga kemampuan komunikasi secara lisan dan tulisan sangatlah penting. Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengasah kemampuan presentasi dan diskusi yang baik bagi pemula: a. Kenali Tujuan dan Audiens: Menurut Nancy Duarte (2014), seorang ahli presentasi, penting untuk memahami tujuan presentasi kita dan
94 Refleksi Studi Pascasarjana siapa audiensnya. Menyesuaikan pesan dan gaya presentasi dengan kebutuhan dan minat audiens akan membantu menarik perhatian mereka. b. Gunakan Cerita dan Contoh: Menurut Carmine Gallo (2014), ahli komunikasi, penggunaan cerita dan contoh dapat membuat presentasi kita lebih menarik dan memudahkan audiens untuk memahami konsep yang kita sampaikan. Cerita dan contoh dapat membantu membangun ikatan emosional dengan audiens dan memperkuat pesan yang ingin kita sampaikan. c. Latihan yang Cukup: Menurut Chris Anderson (2016), kepala TED Talks, latihan yang cukup adalah kunci keberhasilan dalam presentasi. Latih presentasi kita secara menyeluruh, baik secara lisan maupun dengan menggunakan slide atau media yang akan kita gunakan. Latihan akan membantu kita merasa lebih percaya diri, mengatasi kecemasan, dan menguasai materi yang akan disampaikan. d. Fokus pada Pesan Inti: Nancy Duarte (2014) menyarankan untuk fokus pada pesan inti yang ingin kita sampaikan. Identifikasi pesan utama yang ingin disampaikan kepada audiens dan pastikan setiap elemen presentasi atau diskusi mendukung pesan tersebut. Hindari kelebihan informasi atau terlalu banyak detail yang dapat mengaburkan pesan utama. e. Berinteraksi dengan Audiens: Menurut Julian Treasure (2014), ahli komunikasi, interaksi
Refleksi Studi Pascasarjana 95 dengan audiens sangat penting dalam menciptakan keterlibatan dan meningkatkan pemahaman. Ajukan pertanyaan kepada audiens, minta tanggapan mereka, dan berikan waktu untuk diskusi. Ini akan membantu menciptakan suasana yang lebih dinamis dan melibatkan audiens dalam proses presentasi atau diskusi. f. Gunakan Bahasa Tubuh yang Efektif: Ahli komunikasi Amy Cuddy (2012) menekankan pentingnya bahasa tubuh yang efektif dalam presentasi. Jaga postur tubuh yang tegap dan percaya diri, gunakan gerakan tangan yang alami, dan jangan lupakan senyuman. Bahasa tubuh yang positif dan terbuka akan membantu kita membangun koneksi dengan audiens dan meningkatkan daya tarik presentasi. g. Dengarkan dengan Aktif: Saat berada dalam sesi diskusi, ahli komunikasi Deborah Tannen (1998) menyarankan untuk mendengarkan dengan aktif. Berikan perhatian penuh kepada pembicara, jangan mengganggu, dan jangan langsung merespons atau mengkritik. Tunggu giliran kita dengan sabar dan kemudian sampaikan tanggapan kita dengan hormat. h. Terbuka terhadap Masukan: Terakhir, ahli presentasi Bert Decker (2010) menekankan pentingnya untuk terbuka terhadap masukan dan umpan balik dari audiens atau peserta diskusi. Terima masukan dengan rendah hati,
96 Refleksi Studi Pascasarjana jangan terlalu defensif, dan gunakan masukan tersebut untuk meningkatkan keterampilan presentasi atau kemampuan diskusi Anda di masa depan. C. Menjaga Keseimbangan Hidup Pada bagian sebelumnya, kita telah banyak membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan ranah profesional dari seorang mahasiswa pascasarjana. Mulai dari kegiatan akademik sampai dengan kemampuan yang perlu dikembangkan untuk menunjang kegiatan akademik tersebut. Pada bagian ini, kita akan lebih banyak membahas ranah personal yang berkaitan dengan aktivitas diluar kampus. 1. Kesehatan Fisik dan Mental Menjaga Kesehatan fisik dan mental adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh mahasiswa pascasarjana. Padatnya kegiatan akademik, penelitian, projek kolaborasi dan lain sebagainya, seringkali membuat kita lupa untuk menjaga kondisi fisik agar tetap sehat. Ditambah lagi dengan banyaknya dealine yang harus diselesaikan terkadang membuat kita menjadi burn out. Tentu ini akan membuat mental kita terkadang tidak dalam kondisi baik. Jika fisik dan mental tidak dalam performa terbaiknya, maka akan berdampak pada kegiatan akademik kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan mental dan fisik adalah hal utama yang harus diberikan perhatian lebih. Berikut adalah cara sederhana untuk dapat menjaga kondisi fisik dan mental dalam kondisi terbaiknya.
Refleksi Studi Pascasarjana 97 Untuk menjaga kesehatan fisik, kita dapat melakukan beberapa hal berikut: a. Tetap Aktif secara Fisik: Ahli kesehatan merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik aerobik sedang hingga intens setiap minggu. Temukan kegiatan fisik yang kita sukai, seperti berjalan kaki, berlari, berenang, atau bersepeda, dan jadwalkan waktu khusus untuk berolahraga secara teratur. b. Perhatikan Pola Makan yang Seimbang: Ahli gizi menyarankan untuk mengonsumsi makanan seimbang yang kaya nutrisi, termasuk buahbuahan, sayuran, protein, biji-bijian, dan makanan rendah lemak. Hindari makanan cepat saji dan makanan olahan yang tinggi gula dan lemak jenuh. c. Cukupi Kebutuhan Istirahat: Pastikan kita mendapatkan tidur yang cukup setiap malamnya. Ahli tidur merekomendasikan 7-9 jam tidur berkualitas setiap malam agar tubuh dan pikiran kita dapat pulih dengan baik. Atur jadwal tidur yang teratur dan hindari gangguan tidur, seperti gadget atau kafein sebelum tidur. d. Atur Waktu Istirahat dan Rekreasi: Selain tidur yang cukup, penting juga untuk mengatur waktu istirahat dan rekreasi dalam rutinitas harian kita. Sediakan waktu untuk melakukan kegiatan yang kita sukai, seperti membaca, mendengarkan musik, menonton film, atau
98 Refleksi Studi Pascasarjana menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Sedangkan untuk menjaga kondisi mental, kita dapat melakukan beberapa hal berikut ini: a. Kelola Stres dengan Baik: Tingkat stres yang tinggi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Carilah strategi pengelolaan stres yang efektif, seperti meditasi, yoga, olahraga, atau kegiatan relaksasi lainnya. Atur waktu untuk diri sendiri, praktikkan teknik pernapasan yang dalam, dan cari dukungan sosial jika diperlukan. b. Tetap Terhubung dengan Orang Lain: Jaga hubungan sosial dengan teman, keluarga, dan rekan mahasiswa. Saling mendukung dan berbagi pengalaman dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan memberikan dukungan emosional. c. Jaga Keseimbangan Antara Akademik dan Kehidupan Pribadi: Penting untuk menciptakan keseimbangan antara tuntutan akademik dan kehidupan pribadi. Tetapkan batasan waktu untuk bekerja dan belajar, dan pastikan kita menyisihkan waktu untuk melakukan kegiatan di luar lingkungan akademik, seperti hobi, kegiatan sosial, atau berlibur. d. Carilah Bantuan Jika Diperlukan: Jika kita merasa kesulitan atau menghadapi masalah kesehatan mental yang serius, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Konsultasikan dengan konselor atau psikolog
Refleksi Studi Pascasarjana 99 kampus, atau temui tenaga medis yang dapat memberikan dukungan dan bimbingan yang kita butuhkan. Selalu ingat bahwa kesehatan fisik dan mental saling terkait dan saling memengaruhi. Dengan menjaga keduanya, kita akan dapat menghadapi tantangan akademik dengan lebih baik dan meraih kesuksesan secara holistik 2. Aktivitas Ekstrakurikuler Selanjutnya adalah memilih kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bidang minat kita. Bergabung dengan ekstrakurikuler kampus tidak hanya akan menambah relasi kita sebagai seorang mahasiswa, tetapi sebagai media untuk mengembangkan bakat. Aktivitas ekstrakurikuler memberikan kesempatan untuk berinteraksi dan berhubungan dengan mahasiswa dan staf dari berbagai latar belakang. Ini dapat membantu memperluas jaringan sosial dan membangun hubungan yang berharga di masa depan, baik dalam lingkup akademik maupun profesional. Selain itu, bergabung dengan komunitas atau organisasi tertentu baik dalam bidang akademik maupun non akademik akan mengasah softskills kita. Misalnya, bergabung dengan klub debat atau public speaking dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sedangkan bergabung dengan tim olahraga dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan kerja tim. Adanya aktivitas ekstrakurikuler akan membantu kita untuk melepaskan penat setelah begitu banyak kegiatan akademik yang kita lakukan. Bertemu dengan teman dengan hobi yang sama tentu menjadi stress
100 Refleksi Studi Pascasarjana released yang baik bagi kita. Aktivitas ekstrakurikuler dapat menjadi pelarian dari tekanan akademik dan membantu mengurangi tingkat stres. Terlibat dalam kegiatan yang disukai dan berinteraksi dengan sesama anggota kelompok dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional. Terlibat dalam aktivitas ekstrakurikuler membangun kemandirian dan meningkatkan kepercayaan diri. Melalui pengalaman baru, tantangan, dan prestasi dalam aktivitas tersebut, kita dapat merasa lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi di masa depan. 3. Merencanakan Masa Depan Hal yang tidak kalah penting ketika menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa pascasarjana adalah merencanakan masa depan. Menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentu adalah sebuah kesempatan yang mungkin tidak semua orang memilikinya. Sehingga manfaatkanlah kesempatan tersebut untuk merencanakan masa depan yang sesuai dengan bidang minat kita. Sebagai mahasiswa pascasarjana, kita telah memiliki bidang spesialisasi yang kita tekuni, sehingga dapat dikatakan kita adalah salah satu dari sekian banyak orang diluar sana yang menguasai bidang tersebut. Tetapi untuk merencanakan masa depan seperti yang kita inginkan, kita bisa memulainya dengan menentukan tujuan terlebih dahulu. Tentukanlah tujuan jangka panjang kita setelah menyelesaikan studi nantinya. Apakah kita ingin mengejar karier akademik, masuk ke industri tertentu, atau memulai usaha sendiri?. Memiliki visi yang jelas tentang tujuan kita akan sangat membantu
Refleksi Studi Pascasarjana 101 kita mengarahkan langkah-langkah kita selama menempuh sekolah pascasarjana. Selanjutnya adalah, menentukan mata kuliah dan topik riset apa yang akan kita ambil. Pilihlah mata kuliah dan fokus penelitian yang relevan dengan minat dan tujuan karier kita. Diskusikan dengan dosen pembimbing atau penasihat akademik untuk mendapatkan panduan dalam merencanakan program studi yang sesuai dengan tujuan kita. Hal yang tidak kalah penting adalah selama masa studi, bangunlah hubungan sosial yang baik dengan sesama mahasiswa dan dosen. Membangun hubungan yang baik dengan dosen dan rekan studi dapat memberikan manfaat besar di masa depan. Dosen dapat memberikan arahan, saran, dan peluang penelitian atau kolaborasi, sedangkan rekan studi dapat menjadi jaringan dan dukungan yang berharga dalam perjalanan kita. Kemudian, terlibat aktif dalam berbagai proyek peneltian akan membantu kita untuk menentukan karier seperti apa yang akan kita ambil. Manfaatkan kesempatan untuk terlibat dalam penelitian atau proyek yang relevan dengan minat kita. Ini akan membantu memperluas pengetahuan dan keterampilan, serta memperkuat portfolio akademik kita. Selain itu, itu juga dapat meningkatkan peluang kita untuk beasiswa, publikasi, atau kesempatan kerja di masa depan. Selanjutnya adalah pertimbangkan pilihan karier dan rencanakan langkah-langkah selanjutnya. Selama masa studi, luangkan waktu untuk mempertimbangkan pilihan karir yang ingin kita kejar. Pelajari persyaratan, peluang, dan tren dalam industri yang kita minati. Rencanakan langkah-langkah
102 Refleksi Studi Pascasarjana selanjutnya yang perlu kita ambil setelah menyelesaikan program pascasarjana, seperti melamar pekerjaan atau memulai bisnis sendiri. Terus perbarui pengetahuan dan keterampilan kita. Pendidikan tidak berakhir setelah kita menyelesaikan program pascasarjana. Pertahankan minat kita dalam pembelajaran seumur hidup dan terus tingkatkan pengetahuan dan keterampilan kita. Ikuti kursus, baca literatur terbaru, ikuti webinar, atau ikuti program pengembangan profesional untuk menjaga keberlanjutan dan relevansi kompetensi kita. Selalu ingat bahwa rencana masa depan adalah dinamis, dan bisa berubah seiring waktu dan pengalaman kita. Fleksibilitas dan kesiapan untuk beradaptasi akan menjadi kunci kesuksesan dalam merencanakan dan mencapai tujuan masa depan kita sebagai mahasiswa pascasarjana.
Refleksi Studi Pascasarjana 103 BAB 9 Sarjana Vs Magister endidikan adalah perjalanan transformasi yang memberdayakan individu, memperluas pengetahuan, dan membentuk masa depan. Ini adalah aset yang tak ternilai yang melengkapi individu dengan keterampilan dan kemampuan berfikir kritis yang diperlukan untuk berkembang di dunia yang semakin kompetitif dan dinamis. Baik Anda adalah calon mahasiswa yang memulai perjalanan pendidikan tinggi atau individu yang mempertimbangkan pencapaian akademik lebih lanjut, memahami perbedaan antara gelar sarjana dan magister sangat penting untuk membuat keputusan yang berdasar dan memaksimalkan perjalanan pendidikan Anda. Tujuan dari bab ini adalah menjadi panduan komprehensif yang menjelajahi perbedaan antara gelar sarjana dan gelar magister, memberikan pembaca wawasan berharga tentang keuntungan, tantangan, dan prospek karier yang terkait dengan masing-masing gelar. Dengan menelusuri keakraban akademik, persyaratan penerimaan, durasi, dan struktur kurikulum, kami bertujuan untuk melengkapi pembaca dengan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang terinformasi tentang pencapaian akademik mereka. P
104 Refleksi Studi Pascasarjana Selain itu, dalam pembahasan kali ini penulis juga bertujuan untuk membantu pembaca dalam mengevaluasi aspirasi dan tujuan pribadi sehubungan dengan pendidikan penulis. Bab ini memberikan panduan dalam mempertimbangkan pro dan kontra dari mengenyam gelar sarjana atau gelar magister, dengan memperhitungkan faktor seperti persyaratan bidang atau industri, pertimbangan waktu dan keuangan, kemajuan karier masa depan, dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Dengan menawarkan analisis yang komprehensif, kami bertujuan memberdayakan pembaca untuk membuat keputusan yang terinformasi sesuai dengan keadaan pribadi dan aspirasi pembaca. Pentingnya pendidikan dalam perkembangan pribadi dan profesional tidak dapat diabaikan. Pendidikan berperan sebagai katalisator pertumbuhan, membuka pintu ke peluang baru dan memperluas wawasan. Selain menyampaikan pengetahuan, pendidikan juga membangun keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah. Menurut John Dewey, seorang filsuf dan pendidik terkenal dari Amerika, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri." Pendidikan adalah perjalanan seumur hidup yang memperkaya individu dan memberdayakan mereka dengan alat yang diperlukan untuk menavigasi kompleksitas dunia. Penelitian secara konsisten telah menyoroti korelasi positif antara pendidikan dan berbagai aspek kehidupan. Studi yang dilakukan oleh Smith (2020) menekankan pentingnya pendidikan dalam masyarakat, menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya meningkatkan produktivitas ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada kohesi sosial dan kesejahteraan individu. Pendidikan mempersiapkan individu dengan keterampilan dan pengetahuan
Refleksi Studi Pascasarjana 105 yang diperlukan untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat dan memberikan kontribusi yang bermakna pada komunitas mereka. Gelar sarjana dan gelar magister mewakili dua tingkatan pendidikan yang berbeda, masing-masing menawarkan keuntungan dan peluang unik. Gelar sarjana umumnya merupakan gelar sarjana pertama yang dikejar oleh mahasiswa dan memberikan pemahaman menyeluruh tentang bidang studi tertentu. Ini memberikan dasar untuk pencapaian akademik lebih lanjut atau memasuki dunia profesional. Di sisi lain, gelar magister mewakili tingkat studi yang lebih tinggi yang memungkinkan individu untuk mengkhususkan diri dalam bidang tertentu dan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tingkat lanjut. Menurut Johnson (2018), seorang peneliti di bidang pendidikan tinggi, gelar sarjana menawarkan pendidikan yang luas dan komprehensif yang mengembangkan berbagai keterampilan. Di sisi lain, gelar magister memberikan tingkat spesialisasi dan keahlian yang lebih tinggi dalam disiplin tertentu, memberikan individu kesempatan untuk mempelajari lebih dalam bidang studi yang dipilih. Kedalaman pengetahuan ini sering menjadi faktor perbedaan yang signifikan antara kedua gelar, yang menekankan bahwa gelar magister memberikan individu keterampilan dan kompetensi tingkat lanjut yang dapat meningkatkan prospek karier dan potensi penghasilan mereka. Sepanjang pembahasan kali ini, kita akan menjelajahi karakteristik khas, keuntungan, dan jalur karier potensial yang terkait dengan gelar sarjana dan gelar magister. Dengan memeriksa keakraban akademik, persyaratan penerimaan, durasi, dan struktur kurikulum, kami bertujuan untuk
106 Refleksi Studi Pascasarjana memberikan pemahaman komprehensif kepada pembaca tentang kedua gelar ini. Selain itu, kami akan mempertimbangkan perbedaan antara kedua gelar tersebut, termasuk tingkat kedalaman dan spesialisasi, komponen penelitian, prospek karier, dan pengembangan pribadi dan profesional. A. Mengenal Pendidikan Sarjana 1. Definisi dan Karakteristik Gelar sarjana adalah gelar akademik tingkat sarjana yang diberikan oleh universitas dan perguruan tinggi setelah menyelesaikan program studi tertentu. Biasanya, ini adalah tingkat pendidikan tinggi pertama yang dikejar oleh mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan sekunder. Gelar sarjana ditandai dengan cakupannya yang luas, memberikan mahasiswa dasar pengetahuan yang mendalam dalam bidang studi tertentu. Menurut Johnson (2017), seorang akademisi dalam bidang pendidikan tinggi, gelar sarjana menawarkan pendekatan multidisiplin, mencakup berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan beragam keterampilan. Paparan antardisiplin ini memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh pemahaman holistik tentang bidang studi yang dipilih, mempersiapkan mereka untuk berbagai peluang karier dan pertumbuhan profesional. 2. Keuntungan Gelar Sarjana Mendapatkan gelar sarjana memiliki beberapa keuntungan yang berkontribusi pada perkembangan
Refleksi Studi Pascasarjana 107 pribadi dan profesional. Pertama, gelar sarjana memberikan individu landasan pendidikan yang kokoh. Ini membekali mahasiswa dengan pengetahuan penting, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan menganalisis masalah kompleks. Dasar pengetahuan ini memungkinkan lulusan untuk beradaptasi dengan berbagai industri dan mengejar berbagai jalur karier. Selain itu, gelar sarjana telah dikaitkan dengan potensi penghasilan yang lebih tinggi. Menurut studi yang dilakukan oleh Smith (2019), individu dengan gelar sarjana cenderung mendapatkan gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki ijazah sekolah menengah. Selain itu, gelar sarjana sering menjadi persyaratan masuk ke banyak bidang profesional, memberikan individu lebih banyak peluang kerja dan prospek kemajuan karier. 3. Durasi Tipe dan Struktur Mata Kuliah Lama pendidikan dalam program gelar sarjana bervariasi tergantung pada negara, institusi, dan persyaratan program spesifik. Secara umum, gelar sarjana membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun studi penuh waktu untuk diselesaikan. Namun, beberapa program, seperti yang ada di bidang profesional seperti teknik atau arsitektur, mungkin membutuhkan tahun-tahun tambahan studi karena kurikulum yang spesialis. Program gelar sarjana umumnya terdiri dari kombinasi mata kuliah inti, ma kuliah khusus jurusan, dan mata kuliah pilihan. Mata kuliah inti memberikan dasar dalam mata pelajaran pendidikan umum,
108 Refleksi Studi Pascasarjana sedangkan mata kuliah khusus jurusan fokus pada pengetahuan dan keterampilan spesialis dalam bidang studi yang dipilih. Mata kuliah pilihan memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi mata pelajaran tambahan menyesuaikan pendidikan mereka berdasarkan minat pribadi. 4. Prospek Karier dengan Gelar Sarjana Gelar sarjana membuka peluang karier yang luas di berbagai industri. Lulusan dengan gelar sarjana sering mendapatkan pekerjaan di bidang-bidang seperti bisnis, kesehatan, teknologi, pendidikan, komunikasi, pemerintahan, dan seni. Individu dengan gelar sarjana cenderung memiliki tingkat keterampilan yang tinggi dan tingkat pengangguran yang rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Studi tersebut juga menekankan bahwa gelar sarjana memberikan lulusan keterampilan dan kualifikasi yang diperlukan untuk berhasil di pasar kerja yang kompetitif. Prospek karier spesifik dengan gelar sarjana tergantung pada bidang studi yang dipilih. Beberapa contoh jalur karier yang sering membutuhkan gelar sarjana meliputi manajer pemasaran, analis keuangan, guru, perawat, jurnalis, dan desainer grafis. Namun, penting untuk dicatat bahwa sertifikasi tambahan, magang, dan pengalaman kerja yang relevan dapat meningkatkan prospek karier dan meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Refleksi Studi Pascasarjana 109 B. Mengenal Pendidikan Magister 1. Definisi dan Karakteristik Gelar magister adalah gelar akademik tingkat lanjutan yang diberikan oleh universitas dan perguruan tinggi setelah menyelesaikan program studi pascasarjana. Gelar ini ditujukan untuk mahasiswa yang ingin mendalami bidang studi tertentu setelah mendapatkan gelar sarjana. Gelar magister ditandai dengan penekanan pada pemahaman yang lebih mendalam, penelitian mandiri, dan pengembangan keahlian khusus dalam bidang studi yang dipilih. Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2018), gelar magister adalah pengakuan atas prestasi akademik yang lebih tinggi dan kemampuan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam dalam bidang spesialisasi. Hal ini memungkinkan lulusan untuk menjadi ahli di bidangnya dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 2. Keuntungan Gelar Magister Mendapatkan gelar magister membawa sejumlah keuntungan yang signifikan dalam pengembangan karier dan peningkatan kualifikasi profesional. Beberapa keuntungan gelar magister antara lain: Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan: Gelar magister memberikan kesempatan untuk mendalami bidang studi yang spesifik, memperluas pemahaman
110 Refleksi Studi Pascasarjana dan pengetahuan yang telah diperoleh selama pendidikan sarjana. Mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang teori, metode penelitian, dan praktik terkini dalam bidang studi. Keunggulan Kompetitif: Gelar magister memberikan keunggulan kompetitif di pasar kerja yang semakin ketat. Lulusan dengan gelar magister cenderung lebih dihargai dan lebih diminati oleh perusahaan dan organisasi yang mencari kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang mendalam dalam bidang tertentu. Kesempatan Jaringan dan Kolaborasi: Program gelar magister sering kali memberikan kesempatan untuk terhubung dengan para profesional dan ahli di bidang studi yang sama. Mahasiswa dapat memperluas jaringan profesional mereka dan terlibat dalam kolaborasi akademik yang berharga, yang dapat membuka pintu bagi peluang kerja dan proyek-proyek yang menarik. 3. Durasi Tipe dan Struktur Kursus Lama pendidikan dalam program gelar magister bervariasi tergantung pada jenis program dan persyaratan institusi. Secara umum, program gelar magister membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun untuk diselesaikan. Beberapa program yang lebih intensif, seperti program doktoral terpadu, dapat memakan waktu lebih lama. Struktur kursus dalam program gelar magister dapat bervariasi, tetapi umumnya melibatkan
Refleksi Studi Pascasarjana 111 kombinasi pembelajaran teoritis, seminar, penelitian independen, dan disertasi atau proyek penelitian. Pada pembelajaran teoritis memperkenalkan mahasiswa pada teori dan metode penelitian yang relevan dalam bidang studi mereka, sementara seminar memfasilitasi diskusi dan kolaborasi antara mahasiswa dan dosen. 4. Prospek Karier dengan Gelar Magister Gelar magister membuka pintu untuk peluang karier yang lebih tinggi dan perkembangan profesional yang lebih lanjut. Lulusan dengan gelar magister sering memiliki akses ke posisi manajerial yang lebih tinggi, tanggung jawab yang lebih besar, dan peluang kenaikan gaji yang lebih baik. Menurut Riset Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, lulusan magister memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah dan tingkat upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan sarjana. Gelar magister juga dapat membuka pintu untuk peluang karier di sektor akademik, penelitian, konsultasi, dan posisi profesional tingkat lanjutan di berbagai industri. C. Perbedaan Antara Sarjana dan Magister 1. Ketelitian Akademik dan Kedalaman Pengetahuan Salah satu perbedaan utama antara gelar sarjana dan gelar magister adalah tingkat ketelitian akademik dan kedalaman pengetahuan yang dicapai dalam masing-masing program. Gelar sarjana cenderung
112 Refleksi Studi Pascasarjana memberikan pemahaman yang lebih umum dan luas tentang bidang studi tertentu. Mahasiswa sarjana belajar tentang dasar-dasar subjek dan memperoleh pemahaman yang baik tentang konsep-konsep dasar. Di sisi lain, gelar magister menawarkan pendalaman yang lebih mendalam dan khusus dalam bidang studi tertentu. Mahasiswa magister terlibat dalam pembelajaran yang lebih canggih, analisis yang lebih mendalam, dan penelitian yang lebih mandiri. Mereka mengembangkan pemahaman yang lebih kompleks dan mendalam tentang teori, metode penelitian, dan aplikasi praktis dalam disiplin studi mereka. Gelar magister mengharuskan mahasiswa untuk memiliki pemahaman yang lebih kritis, analitis, dan mendalam tentang bidang studi mereka. Mereka juga diharapkan untuk dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi kehidupan nyata dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 2. Persyaratan Penerimaan dan Prasyarat Persyaratan penerimaan dan prasyarat untuk gelar sarjana dan gelar magister juga berbeda. Untuk memasuki program gelar sarjana, mahasiswa biasanya harus lulus dari sekolah menengah atas atau mendapatkan kualifikasi yang setara. Beberapa program sarjana mungkin memiliki persyaratan khusus, seperti hasil tes standar atau portofolio. Namun, untuk memasuki program gelar magister, mahasiswa harus memiliki gelar sarjana yang relevan
Refleksi Studi Pascasarjana 113 dalam bidang studi yang sama atau terkait. Beberapa program magister juga mengharuskan mahasiswa untuk memiliki pengalaman kerja atau pengetahuan yang relevan dalam bidang yang berkaitan. 3. Komponen Penelitian Komponen penelitian dan tesis merupakan perbedaan yang signifikan antara gelar sarjana dan gelar magister. Gelar sarjana umumnya tidak memerlukan penelitian yang mendalam atau penulisan tesis. Sebaliknya, gelar sarjana lebih fokus pada pemahaman dasar, pengetahuan umum, dan aplikasi praktis dalam bidang studi yang dipilih. Di sisi lain, gelar magister sering melibatkan penelitian yang mendalam dan penulisan tesis yang memerlukan kontribusi orisinal ke dalam bidang studi yang dipilih. Mahasiswa magister harus mampu merancang dan melaksanakan penelitian independen, menganalisis data, dan menyajikan temuan mereka secara akademik. Komponen penelitian ini membantu mahasiswa magister mengembangkan keterampilan penelitian yang kuat dan menjadi kontributor yang berharga dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tesis dalam program gelar magister membantu mahasiswa memperdalam pemahaman mereka tentang suatu masalah, mengembangkan pemikiran kritis, dan menguji kecakapan penelitian mereka. 4. Peluang Karier dan Potensi Pendapatan Gelar sarjana dan gelar magister juga memiliki perbedaan dalam hal peluang karier dan potensi pendapatan. Gelar sarjana memberikan akses ke
114 Refleksi Studi Pascasarjana berbagai kesempatan karier dan memungkinkan lulusan untuk masuk ke bidang pekerjaan yang relevan dengan bidang studi mereka. Namun, gelar magister seringkali memberikan lulusan keunggulan kompetitif di pasar kerja dan membuka pintu untuk posisi yang lebih tinggi, tanggung jawab yang lebih besar, dan peluang pendapatan yang lebih baik. Hal ini karena gelar magister memperluas pengetahuan dan keterampilan yang spesifik dalam bidang studi yang diminati oleh perusahaan dan organisasi. 5. Pengembangan Pribadi dan Profesional Selain manfaat akademik dan karier, gelar sarjana dan gelar magister juga memberikan pengembangan pribadi dan profesional yang berbeda. Gelar sarjana membantu mahasiswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidang studi mereka, sementara gelar magister memberikan kesempatan untuk pengembangan yang lebih mendalam dan khusus dalam bidang studi yang dipilih. Gelar magister juga melibatkan interaksi dengan profesor dan rekan-rekan sejawat yang memiliki minat yang sama. Hal ini menciptakan kesempatan untuk membangun jaringan profesional yang kuat, berbagi pengetahuan, dan terlibat dalam kolaborasi akademik yang berharga.
Refleksi Studi Pascasarjana 115 D. Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan: Memilih Antara Sarjana atau melanjutkan ke Magister 1. Tujuan dan Aspirasi Individu Ketika mempertimbangkan antara pendidikan sarjana atau melanjutkan pendidikan magister, penting untuk memperhatikan tujuan dan aspirasi individu. Setiap orang memiliki tujuan dan ambisi yang berbeda dalam pendidikan dan karier mereka. Gelar sarjana seringkali menjadi langkah pertama dalam pendidikan tinggi dan dapat memberikan landasan yang solid untuk memasuki dunia kerja. Namun, jika seseorang memiliki tujuan yang lebih tinggi, seperti mengejar posisi manajerial yang lebih tinggi, menjadi ahli di bidang tertentu, atau terlibat dalam penelitian dan pengembangan, maka gelar magister mungkin menjadi pilihan yang lebih sesuai. Penting bagi individu untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan mereka dalam jangka pendek dan jangka panjang, dan memilih gelar yang sejalan dengan tujuan tersebut. 2. Persyaratan Bidang atau Industri Persyaratan dalam bidang atau industri tertentu juga harus dipertimbangkan dalam memilih antara pendidikan sarjana dan pendidikan magister. Beberapa bidang, seperti kedokteran, hukum, dan arsitektur, memerlukan gelar magister sebagai persyaratan minimum untuk memasuki praktik profesional. Dalam
116 Refleksi Studi Pascasarjana beberapa industri, memiliki gelar magister dapat memberikan keunggulan kompetitif dan membuka pintu untuk kesempatan karier yang lebih baik. Namun, ada juga bidang di mana gelar sarjana sudah cukup untuk memasuki pekerjaan yang diinginkan. Misalnya, dalam bidang teknik atau bisnis, gelar sarjana dapat memberikan landasan yang kuat untuk memulai karier dan dapat dikombinasikan dengan pengalaman kerja yang relevan untuk mencapai kemajuan profesional. Juga menjadi hal yang penting bagi individu untuk melakukan analisa tentang persyaratan dan tren di bidang studi atau industri yang diminati, dan mempertimbangkan apakah gelar sarjana atau gelar magister lebih sesuai dengan kebutuhan dan harapan dari suatu instansi atau pekerjaan yang dituju. 3. Pertimbangan Waktu dan Keuangan Waktu dan keuangan juga menjadi faktor penting dalam memilih antara cukup sampai pendidikan sarjana saja atau meraih gelar magister. Walaupun memiliki durasi yang lebih pendek daripada Pendidikan sarjana. Memperoleh gelar magister membutuhkan komitmen waktu dan sumber daya finansial yang lebih besar dibandingkan dengann Pendidikan sarjana. Durasi program gelar magister bervariasi tergantung pada jenis program dan institusi. Biasanya, program gelar magister memakan waktu antara satu hingga tiga tahun untuk diselesaikan. Selain itu, biaya pendidikan magister cenderung lebih tinggi daripada pendidikan sarjana.
Refleksi Studi Pascasarjana 117 Namun, penting untuk mempertimbangkan investasi jangka panjang dalam pendidikan. Memperoleh gelar magister dapat membuka pintu bagi peluang karier yang lebih baik dan potensi pendapatan yang lebih tinggi di masa depan. Oleh karena itu, individu perlu mempertimbangkan kesiapan mereka dalam hal waktu dan keuangan untuk melanjutkan studi pascasarjana. Namun jika bisa menempuh studi dengan beasiswa pilihan untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana merupakan pilihan yang tepat. 4. Kemajuan Karier di Masa Depan Salah satu pertimbangan utama dalam memilih antara pendidikan sarjana dan pendidikan magister adalah kemajuan karier di masa depan. Gelar magister sering dianggap sebagai aset yang berharga dalam dunia kerja, terutama di bidang yang membutuhkan pemahaman yang lebih dalam dan keterampilan yang lebih spesifik. Gelar magister dapat membuka pintu untuk posisi manajerial yang lebih tinggi, tanggung jawab yang lebih besar, dan peluang pengembangan karier yang lebih luas. Gelar magister dapat memberikan lulusan keunggulan kompetitif dalam persaingan kerja yang semakin ketat dan memberikan kesempatan untuk mencapai posisi yang lebih tinggi dalam organisasi. Namun, penting untuk dicatat bahwa ada juga banyak lulusan sarjana yang mencapai kesuksesan dalam karier mereka tanpa memiliki gelar magister. Faktor-faktor lain, seperti pengalaman kerja,
118 Refleksi Studi Pascasarjana keterampilan, dan dedikasi, juga berperan penting dalam kemajuan karier. 5. Keseimbangan Kerja dan Kehidupan serta Fleksibilitas Aspek keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi juga perlu dipertimbangkan saat memilih antara sarjana saja atau mengejar gelar magister. Gelar sarjana cenderung lebih fleksibel dalam hal waktu dan keterlibatan, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk menjaga keseimbangan antara studi dan komitmen lain, seperti pekerjaan, keluarga, dan kegiatan sosial. Di sisi lain, gelar magister sering kali lebih menuntut dalam hal waktu dan komitmen. Programprogram magister seringkali melibatkan penelitian dan tugas yang intensif, serta persyaratan kehadiran yang lebih tinggi. Oleh karena itu, individu perlu mempertimbangkan ketersediaan waktu dan fleksibilitas yang dapat mereka dedikasikan untuk mengejar gelar magister. E. Membuat Keputusan: Gelar Sarjana atau Gelar Magister? 1. Evaluasi Diri dan Refleksi Sebelum mengambil keputusan antara gelar sarjana atau mengejar gelar magister, langkah pertama yang penting adalah melakukan evaluasi diri dan refleksi. Individu perlu mempertimbangkan minat, bakat, kekuatan, dan kelemahan mereka dalam konteks
Refleksi Studi Pascasarjana 119 pendidikan dan karier. Melakukan evaluasi diri ini dapat membantu memahami dengan lebih baik apa yang kita inginkan dan apa yang paling sesuai dengan tujuan dan kebutuhan kita kedepannya. Karena dengan mempertimbangkan minat dan bakat pribadi, individu dapat lebih memahami apakah siap untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. 2. Mencari Bimbingan dan Saran Mencari bimbingan dan saran dari orang-orang yang berpengalaman dapat menjadi langkah berikutnya dalam membuat keputusan antara gelar sarjana atau gelar magister. Berkonsultasi dengan guru, dosen, konselor, atau profesional di bidang studi yang diminati dapat memberikan wawasan berharga dan perspektif yang lebih luas dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. Karena mereka dapat membantu individu memahami persyaratan, manfaat, dan peluang dalam kedua pilihan gelar, serta memberikan saran berdasarkan kebutuhan dan tujuan individu. 3. Menimbang Pro dan Kontra Dalam membuat keputusan antara gelar sarjana atau gelar magister, penting untuk menimbang pro dan kontra dari masing-masing pilihan. Menganalisis manfaat, tantangan, dan konsekuensi dari kedua pilihan dapat membantu individu memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang apa yang diharapkan dari setiap gelar. Misalnya, dalam hal manfaat, gelar sarjana dapat memberikan landasan pendidikan yang kuat, akses ke peluang karier awal, dan lebih banyak fleksibilitas
120 Refleksi Studi Pascasarjana dalam hal waktu dan keuangan. Di sisi lain, gelar magister dapat membuka pintu untuk kesempatan karier yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi, dan kemajuan profesional yang lebih cepat, tetapi juga memerlukan komitmen waktu dan biaya yang lebih besar. Dengan mengevaluasi faktor-faktor ini, individu dapat membuat keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kita. 4. Mengevaluasi Kondisi Pribadi Selain mempertimbangkan pro dan kontra, penting untuk mengevaluasi kondisi pribadi saat membuat keputusan antara gelar sarjana atau gelar magister. Faktor-faktor seperti situasi finansial, tanggung jawab keluarga, dan ketersediaan waktu harus diperhatikan. Misalnya, jika seseorang memiliki keterbatasan keuangan atau tanggung jawab keluarga yang memerlukan perhatian, memulai dengan gelar sarjana dan memasuki dunia kerja mungkin menjadi pilihan yang lebih realistis. Sebaliknya, jika seseorang memiliki sumber daya finansial yang memadai, dukungan keluarga, dan fleksibilitas waktu, mereka mungkin dapat mempertimbangkan melanjutkan ke gelar magister untuk mencapai tujuan karier yang lebih tinggi. Karena keputusan yang kita ambil haruslah realistis dan sesuai dengan situasi pribadi kita. 5. Menetapkan Tujuan dan Membuat Rencana Terakhir, dalam membuat keputusan antara sarjana atau magister, penting untuk menetapkan tujuan yang jelas dan membuat rencana yang terarah.
Refleksi Studi Pascasarjana 121 Menyusun tujuan pendidikan jangka pendek dan jangka panjang, serta merencanakan langkah-langkah konkret untuk mencapainya, dapat membantu individu memfokuskan upaya dan mengambil langkah yang sesuai. Dengan menetapkan tujuan dan merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, individu dapat memiliki panduan yang jelas dalam mengejar gelar yang tepat untuk dirinya. F. Kesimpulan 1. Ringkasan Poin-Poin Utama Sejauh pembahasan kita dalam memahami perbedaan antara pendidikan sarjana dan pendidikan magister, kita telah menjelajahi berbagai aspek yang meliputi definisi, karakteristik, manfaat, program, durasi, struktur mata kuliah, prospek karier, dan faktorfaktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih gelar yang tepat. Secara umum, gelar sarjana adalah gelar pendidikan tinggi yang diperoleh setelah menyelesaikan program studi sarjana selama sekitar empat tahun. pendidikan ini memberikan dasar pengetahuan yang luas dalam bidang studi tertentu dan mempersiapkan individu untuk memasuki dunia kerja. Di sisi lain, magister adalah tingkat pendidikan yang lebih tinggi yang diperoleh setelah menyelesaikan gelar sarjana dan melibatkan studi yang lebih mendalam dan spesialisasi dalam bidang tertentu. Pendidikan tingkat magister memberikan pemahaman yang lebih
122 Refleksi Studi Pascasarjana mendalam, pengetahuan yang lebih maju, dan membuka pintu untuk peluang karier yang lebih tinggi. Dalam membahas perbedaan antara sarjana dan magister, kita telah melihat beberapa faktor kunci yang membedakan keduanya. Pertama, Pendidikan magister menawarkan tingkat akademik dan kedalaman pengetahuan yang lebih tinggi daripada pendidikan sarjana. Program magister menekankan riset, analisis, dan pemecahan masalah yang lebih mendalam, sementara program sarjana lebih fokus pada pemahaman dasar dalam bidang studi. Kedua, persyaratan masuk dan prasyarat untuk pendidikan magister biasanya lebih ketat daripada pendidikan sarjana. pendidikan magister sering kali membutuhkan transkrip nilai yang baik, rekomendasi, dan kemampuan bahasa Inggris yang kuat. Di sisi lain, pendidikan sarjana memiliki persyaratan masuk yang lebih fleksibel, meskipun beberapa program pilihan atau jurusan spesifik mungkin memiliki persyaratan khusus. Ketiga, program magister sering melibatkan komponen riset dan tesis yang lebih signifikan daripada program sarjana. Mahasiswa magister sering dituntut untuk melakukan penelitian orisinal, menghasilkan tesis, atau proyek penelitian yang komprehensif. mahasiswa sarjana, di sisi lain, mungkin memiliki proyek penelitian kecil atau tugas akhir, tetapi tidak sekomprehensif dan mendalam sepertipada program magister.
Refleksi Studi Pascasarjana 123 Keempat, peluang karier dan potensi penghasilan sering kali berbeda antara lulusan gelar sarjana dan gelar magister. Gelar magister sering kali membuka pintu ke posisi manajerial, konsultan, atau peran kepemimpinan lainnya yang lebih tinggi dan dengan gaji yang lebih tinggi. Namun, penting juga untuk mengakui bahwa peluang karier tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan kepribadian individu. Kelima, baik pendidikan sarjana maupun pendidikan magister dapat memberikan pengembangan pribadi dan profesional yang signifikan. Keduanya membantu mengasah keterampilan analitis, kritis, dan komunikasi, serta memperluas jaringan profesional. Pilihan antara pendidikan sarjana dan pendidikan magister harus dipertimbangkan dengan memperhatikan tujuan dan aspirasi individu. 2. Pemikiran Akhir dan Rekomendasi Dalam menentukan apakah cukup hanya dengan pendidikan tingkat sarjana atau melanjutkan ke tingkat pendidikan magister, penting untuk melakukan evaluasi diri yang reflektif tentang tujuan dan aspirasi pribadi. Pertimbangkan minat dan hasrat, serta bagaimana gelar yang diinginkan akan mendukung tujuan karier. Jangan ragu untuk mencari nasihat dari akademisi, profesional, dan konselor pendidikan yang dapat memberikan wawasan berharga dalam mengambil keputusan ini. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan persyaratan dan prasyarat masuk untuk program gelar
124 Refleksi Studi Pascasarjana magister yang ingin anda ikuti. Pastikan Anda memenuhi persyaratan akademik, keuangan, dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan gelar tersebut. Faktor-faktor seperti biaya pendidikan, fleksibilitas waktu, dan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi juga harus dipertimbangkan dengan seksama. Rekomendasi umum adalah untuk selalu merencanakan jangka panjang dan memiliki visi karier yang jelas. Memperoleh gelar sarjana dapat memberikan fondasi yang kuat, sementara gelar magister dapat membantu anda mengkhususkan diri dan mencapai tingkat lanjut dalam bidang tertentu. Namun, tidak ada satu ukuran cocok untuk semua, dan setiap individu harus mempertimbangkan situasi dan kebutuhan pribadi mereka dalam membuat keputusan ini. 3. Tren Masa Depan dalam Pendidikan Tinggi Tren dalam pendidikan tinggi terus berkembang seiring perubahan kebutuhan dan tuntutan di dunia kerja. Salah satu tren yang dapat diamati adalah peningkatan permintaan akan gelar magister sebagai syarat masuk untuk posisi yang lebih tinggi dalam banyak industri. Semakin banyak perusahaan yang menghargai keahlian dan pengetahuan yang lebih dalam yang diperoleh melalui pendidikan tingkat lanjut. Selain itu, pendidikan online dan pembelajaran jarak jauh semakin populer dalam pendidikan tinggi. Perkembangan teknologi telah memungkinkan akses
Refleksi Studi Pascasarjana 125 yang lebih mudah dan fleksibel dalam mengejar gelar magister secara online, yang memungkinkan individu untuk belajar sambil tetap bekerja atau menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Pada akhirnya, penting untuk selalu mengikuti tren dan perubahan dalam dunia pendidikan tinggi untuk memastikan kita tetap relevan dan kompetitif di pasar kerja yang terus berubah. Teruslah belajar dan meningkatkan keterampilan secara terus-menerus, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman kerja.
126 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 10 Tipe-Tipe Mahasiswa Pascasarjana otivasi belajar seseorang dipengaruhi adanya proses pembelajaran dan bersifat individual, sehingga menumbuhkan motivasi tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama setiap individu. Kepribadian juga akan mempengaruhi pola perilaku dari seseorang dalam menanggapi sesuatu. Kepribadian erat hubungannya dengan motivasi, pembelajaran, sikap, dan persepsi sehingga penting untuk mengenali tipe kepribadian seseorang (Sari dan Shabri, 2016). Tipe kepribadian setiap mahasiswa pascasarjana tentu berbeda-beda dan tidak dapat dinilai tipe kepribadian mana yang memiliki karakter terbaik. Masing-masing tipe kepribadian memiliki kekurangan dan kelebihan didalamnya. Hal ini juga bergantung pada metode pembelajaran yang dilakukan, apakah sesuai dengan tipe kepribadian tersebut atau justru sebaliknya. Apabila metode pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan kepribadian mahasiswa, maka hasil belajar yang diharapkan akan sulit tercapai dan dinilai kurang optimal. Penggolongan tipe kepribadian mahasiswa ini juga banyak dijelaskan dibeberapa penelitian dan masing-masing memiliki penggolongan yang berbeda satu sama lain. M
Refleksi Studi Pascasarjana 127 Rosdiana Siregar dan Julaga Situmorang (2014), meneliti dua kepribadian yaitu kepribadian sanguine dan phlegmatic untuk mengetahui metode pembelajaran yang tepat untuk keduanya. Penelitian tersebut menyatakan hasil sebagai berikut: A. Kepribadian sanguine Kepribadian ini sering disebut dengan ‚si populer‛. Hal ini dikarenakan kepribadian sanguinis ini selalu ingin menjadi populer dan disenangi oleh orang lain di sekitarnya. Kepribadian ini bisa menangis tersedu-sedu dan kemudian berteriak dengan girang sehingga gejolak emosinya sangat mudah dilihat. Pribadi ini banyak memiliki komentar tentang pemikiran yang baru, menyukai hal-hal yang bersifat tantangan, dan cepat merasa bosan dengan aktivitas yang bersifat repetisi (monoton). Kepribadian ini senang untuk mengerjakan tugas, melakukan kegiatan yang baru, senang untuk terlihat hebat didepan publik, kreatif dan inovatif, memiliki banyak energi dan memiliki antusiasme yang tinggi. Biasanya pribadi ini memulai sesuatu hal dengan cara yang menakjubkan dan membuat orang disekitarnya tertarik untuk ikut melakukan hal tersebut. Tipe ini mudah sekali untuk mencari teman, begitu pun mencintai orang, dan juga kegiatan yang bersifat spontan. Mahasiswa yang memiliki kepribadian tipe ini, baik diberikan pembelajaran dengan model belajar yang bersifat kolaboratif karena dengan model belajar tersebut mereka akan memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan pemahaman terhadap informasi materi belajar yang lebih baik dan memiliki kesan. Model
128 Refleksi Studi Pascasarjana pembelajaran ini juga akan membuat mahasiswa tipe sanguinis lebih memiliki gairah dalam belajar karena dapat menciptakan komunikasi dalam bentuk nyata sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah. Biasanya pada model pembelajaran ini banyak aktivitas yang dapat dilakukan dan banyak kesempatan untuk disorot oleh orang lain sehingga akan meningkatkan semangat belajar. Karena kepribadian ini cenderung cepat merasa bosan, sehingga cukup sulit untuk mempertahankan konsentrasinya apabila kegiatannya hanya mendengarkan penjelasan dari dosen. Hal ini akan memicu adanya aktivitas baru yang diciptakan oleh mahasiswa tipe ini dan memungkinkan aktivitas baru tersebut mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar juga tidak tersalurkan dalam pembelajaran metode ekspositori serta ide-ide nya juga tidak dapat dikembangkan melalui pembelajaran tersebut. B. Kepribadian phlegmatic Kepribadian phlegmatic merupakan pribadi yang memiliki semangat yang cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan sanguinis. Biasanya mereka yang memiliki kepribadian ini lebih senang menanggapi sesuatu dengan kendali emosi yang baik meskipun terkesan ‚biasa saja‛. Dalam sebuah pembelajaran, tipe ini cenderung tidak banyak bertanya karena pribadi ini tidak suka disorot. Mereka lebih senang menunggu dengan tenang dan kurang antusias. Kepribadian phlegmatic ini sering tidak percaya
Refleksi Studi Pascasarjana 129 diri sehingga meskipun memiliki ide atau gagasan baru, mereka kerap memilih untuk menyimpan idenya sendiri. Tipe mahasiswa phlematic sering dijuluki sebagai tipe yang pendiam karena mereka tidak banyak bicara, tenang, dan seringkali menghindari adanya konflik dalam sosial. Apabila dihadapkan dengan pembelajaran kolaboratif, tipe ini akan lebih pasif dan tidak menonjol karena sejatinya tipe ini lebih suka memperhatikan sekelilingnya dan lebih suka menunggu. Karakter ini jarang menjadi pemimpin karena kerap menolak apabila diberikan tanggungjawab untuk memimpin kelompok atau tanggungjawab yang lebih berat. Tipe ini sulit untuk mengambil keputusan dan cenderung sulit untuk menyampaikan pendapat. Mahasiswa dengan karakter ini lebih tepat diajar dengan metode pembelajaran ekspositori yang berfokus pada pembelajar (dosen). Pada metode ini, mereka akan lebih mudah menyerap dan memproses informasi dari dosen. Biasanya mereka akan menyerap informasi yang diberikan dalam bentuk apa adanya maupun memiliki pola yang sistematis sehingga akan memberikan hasil belajar yang lebih baik. Karena tipe ini tidak suka terlihat menonjol dan diperhatikan serta memiliki kepercayaan diri yang rendah sehingga akan lebih tepat dengan metode pembelajaran ekspositori yang tidak menuntut mahasiswa untuk tampil di depan kelas. Metode ini juga tidak mengharuskan mahasiswa untuk melakukan komunikasi dan diskusi dengan orang lain sehingga sesuai dengan mereka yang individualis. Karakter yang menghindari adanya konflik juga membuat mahasiswa tipe phlegmatic semakin tidak ingin berinteraksi dengan anggota lain.
130 Refleksi Studi Pascasarjana Berbeda dengan tipe sanguinis, mahasiswa dengan tipe phlegmatic apabila diberikan metode pembelajaran kolaboratif akan lebih sulit menangkap informasi yang diberikan karena ketiadaannya prosedur lengkap untuk menemukan konsep yang baru dalam pembelajaran. Tipe ini akan sulit untuk menghubungkan pengalaman belajar yang dialami dengan struktur kognitif. Dosen biasanya akan membantu tipe ini untuk memberikan petunjuk atau prosedur yang dibutuhkan karena tipe ini yang cenderung pasif dan lebih suka menunggu sehingga apabila diberikan pembelajaran dalam metode kolaboratif akan menurunkan hasil belajarnya. Berdasarkan penggolongan tersebut, tipe mahasiswa dapat menentukan metode pembelajaran yang dapat dilakukan agar informasi dapat diserap dengan maksimal dan meningkatkan hasil belajarnya. Dari penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa dengan tipe sanguinis lebih tepat diberikan pembelajaran metode kolaboratif sedangkan tipe phlegmatic lebih tepat diberikan pembelajaran metode ekspositori. Penggolongan tipe mahasiswa pascasarjana juga dijelaskan di beberapa penelitian lain yang saling melengkapi, penggolongan tersebut yaitu: 1. Tipe Akademik Tipe ini biasanya dikenal dengan tipe study oriented. Mahasiswa dengan tipe ini biasanya dimiliki oleh mahasiswa yang lebih memprioritaskan kuliah dan kurang berminat untuk mengikuti organisasi baik di dalam maupun di luar kampus (Amri, 2016). Munculnya tipe ini dipicu oleh adanya pandangan sosial dari zaman dahulu yaitu mahasiswa ideal yang
Refleksi Studi Pascasarjana 131 cerdas dinilai dari indeks prestasi lebih dari 3,00 dan memiliki karakter yang lebih pendiam, berpenampilan rapi dan berkacamata, menggunakan tas yang relatif besar dan diktat, serta cenderung menutup diri dari sosial baik masyarakat di luar atau di dalam kampus. Mahasiswa tipe ini lebih fokus untuk memperoleh IPK yang lebih tinggi dan lulus tepat waktu tanpa memperdulikan aktivitas diluar akademik tersebut sehingga dinamika kegiatan kampus tersebut tidak berpengaruh dalam rencana mahasiswa dengan tipe akademik. Mahasiswa dengan tipe akademis ini jarang sekali ditemukan dalam organisasi mahasiswa atau kegiatan lainnya yang tidak berkaitan dengan akademik (Putra, 2012). Pada penelitian Putra (2012) menyatakan bahwa mahasiswa dengan tipe aktivis memiliki IPK lebih dari 3,5 di mana nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa dengan karakter yang lain. Mahasiswa tipe ini lebih banyak mendengarkan dosen saat pembelajaran, kerap mereview materi powerpoint, dan memiliki buku acuan untuk membantu proses belajarnya. Mereka juga memiliki jadwal belajar dan biasanya belajar mandiri baik saat ada ujian maupun hari biasa. Meskipun mereka lebih suka belajar secara mandiri namun sebagian besar mahasiswa tipe akademis dapat terbuka dan mendiskusikan topik tugas dengan teman sekelompoknya. 2. Tipe Apatis dan Hedonis Tipe ini memiliki ciri untuk mementingkan kenikmatan dan kesenangan dirinya saja (Amri, 2016). Pendapat Juwita Anggraeni yang dikutip dalam
132 Refleksi Studi Pascasarjana penelitian Putra (2012) mengungkapkan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan akhir yang paling dikejar oleh tipe hedonisme. Beliau berpendapat bahwa kesedihan dan kesenangan bergantung kepada kemakmuran dan kebahagiaan pada umumnya dari seluruh masyarakat. Mahasiswa dengan tipe ini biasanya dapat belajar secara mandiri maupun kelompok dan cenderung memiliki waktu belajar yang tidak menentu. Mereka juga lebih santai dalam pembelajar meskipun dalam sesi tugas maupun ujian. Pada penelitian Putra (2012) juga menyatakan bahwa mahasiswa dengan tipe hedonisme lebih suka mengerjakan tugas secara berkelompok sehingga hal itu memungkinkan mereka untuk mengambil lebih banyak keuntungan misalnya dengan menyediakan alat, bahan, serta dana yang dibutuhkan kelompok tanpa harus mengerjakan apa yang ada didalamnya namun tetap dihitung dan dicantumkan namanya sebagai anggota kelompok. 3. Tipe Aktivis Tipe aktivis memiliki sifat yang idealis akan sebuah perubahan dan tipe ini biasanya memiliki kemauan untuk bergabung dalam suatu organisasi. Aktivis ini didefinisikan sebagai individu atau sekelompok orang yang memiliki pengaruh secara aktif pada kegiatan yang dilakukan di organisasinya. Hal ini berarti bahwa aktivis ini merupakan orang yang aktif melakukan perubahan dalam sebuah organisasi sehingga menghasilkan luaran yang lebih baik. Biasanya aktivis ini memiliki wadah sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Refleksi Studi Pascasarjana 133 Aktivis ini merupakan panggilan moral mahasiswa dimana mahasiswa juga dianggap sebagai agen perubahan dan agen pengontrol sosial sehingga diharapkan dapat sebagai wakil dari rakyat. Dengan adanya hal tersebut, mahasiswa tidak hanya memiliki kewajiban untuk tugas belajar tetapi juga harus dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Hal yang mendukung kewajiban tersebut yaitu adanya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengandung aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga menguatkan kewajiban mahasiswa untuk melakukan studi dan sosial masyarakat. Tipe mahasiswa aktivis biasanya lebih sering menghabiskan waktu di kampus untuk melakukan kegiatan organisasi dibandingkan dengan tipe mahasiswa akademis. Mahasiswa dengan tipe ini biasanya lebih suka belajar secara kelompok dengan waktu yang tidak menentu. Hal ini membuat mahasiswa tipe ini terkesan serabutan dan hanya belajar saat ada tugas atau ujian saja. Kesulitan yang dihadapi mahasiswa dengan tipe ini yaitu kemampuan manajemen waktu antara belajar dan aktivitas organisasi namun mahasiswa dengan tipe ini mampu mengembangkan soft skills yang lebih baik dari kegiatan di luar perkuliahan yang diikutinya. Melihat kondisi yang ada di lapangan saat ini dan berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa universitas di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa penggolongan tipe mahasiswa pascasarjana. Secara sederhana,
134 Refleksi Studi Pascasarjana tipe mahasiswa dibedakan menjadi dua yaitu tipe sanguinis dan phlegmatic di mana menghasilkan pernyataan bahwa tipe sanguinis lebih tepat diberikan pembelajaran dengan metode kolaboratif sedangkan tipe phlegmatic lebih tepat diberikan pembelajaran dengan metode ekspositori. Sedangkan beberapa penelitian lain menyatakan bahwa tipe mahasiswa pascasarjana dibagi menjadi tiga yaitu tipe akademis, tipe hedonis, dan tipe aktivis yang digolongkan berdasarkan pola belajar dan bermasyarakat. Perlu diketahui bahwa penggolongan tipe mahasiswa ini tidak untuk memetakan tipe mana yang terbaik dibandingkan tipe yang lain sehingga tidak diperlukan adanya penilaian yang sistematis satu sama lain. , 2022
Refleksi Studi Pascasarjana 135 BAB 11 KEUNGGULAN MAHASISWA PASCASARJANA erubahan sosial seringkali dimaknai sebagai pergesaran atau perubahan perilaku-perilaku dari faktor ekologis dan demografis yang mendatangkan perubahan kehidupan masyarakat yang dimana dari kondisi tradisional menuju kondisi yang lebih maju. Salah satu perubahan sosial pada masyarakat adalah pergeseran peran perempuan melalui faktor-faktor sosial dan budaya yang berorientasi gender. Pada keluarga konvensional, laki-laki bertugas mencari nafkah sedangkan perempuan bertugas dalam peran tradisional seperti masak, macak, manak (memasak, bersolek, melahirkan anak) (Fakih, 1996). Berdasarkan pandangan tradisional tersebut, perempuan memiliki peran berdasarkan kemampuannya sebagai pengurus rumah tangga dan sebagai istri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan-perubahan fundamental peran perempuan. Salah satu perubahan yang terjadi adalah pergeseran peran perempuan dari peran domestik di keluarga menuju sektor publik. Peran perempuan di sektor publik mencakup peran-perannya di berbagai bidang pembangunan. Hal tersebut P
136 Refleksi Studi Pascasarjana terakomodasi melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional (PUG), yang berisi kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program di berbagai bidang pembangunan. Namun pada saat ini dengan adanya perubahan sosial tersebut maka perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam semua aspek termasuk dalam aspek pendidikan. Perempuan bisa mengejar pendidikan mereka setinggi mungkin dan memiliki kesmpatan bekerja yang sama dengan laki-laki. Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas tentang beberapa keunggulan sebagai mahasiswa pascasarjana. Sejauh ini di Indonesia masih terdapat banyak sekali pelajar yang memilih untuk lansung bekerja setelah lulus dari program studi sarjana daripada melanjutkan studi pascasarjana. Padal dapat dibuktikan bahwa ada banyak sekali keunggulan sebagai seorang mahasiswa pascasarjana diantaranya adalah sebagai berikut: A. Keunggulan studi pascasarjana untuk masa depan 1. Memiliki pengetahuan mendalam Sebagai mahasiswa pascasarjana tentunya akan memiliki pengetahuan yang lebih luas atau lebih mendalam. Dengan melanjutkan studi pascasarjana dapat membantu pengetahuan akademik terus meningkat diiringi dengan bertambahnya pengalaman belajar sehingga wawasan yang dimiliki lebih luas.
Refleksi Studi Pascasarjana 137 Studi lanjut ini juga bersifat kepakaran karena lebih mendalami ilmu pengetahuan yang diambil pada masa studi sarjana. Contohnya: jika kamu mengambil pendidikan S1 jurusan hukum dan melanjutkan S2 dengan mengambil jurusan yang lebih spesifik sehingga kamu juga akan lebih dinilai pada dunia kerja karena posisi yang kamu lamar juga sangat spesifik. 2. Kemampuan analisis dan riset yang tinggi Ketika melanjutkan studi pascasarjana terdapat program pembelajaran dengan durasi yang lebih singkat, yaitu hanya dua tahun. Program studi pascasarjana ketika studi lebih banyak melakukan analisis, riset, dan praktik lansung dilapangan. Maksudnya disini adalah mahasiswa pascasarjana sudah tentu memiliki pengetahuan atau skill yang lebih tinggi mengenai riset dan analisis ketika sudah selesai studi. Hal ini akan mempermudah mereka pada dunia kerja. Perusahaan akan lebih memperioritaskan orangorang yang memiliki skill tinggi untuk diterima menjadi bagian dari perusahaan tersebut, dan juga akan memiliki kesempatan yang lebih besar menjadi atasan. 3. Koneksi luas Setelah menyelesaikan studi sarjana mayoritas mahasiswa memilih untuk lansung terjun ke dunia kerja. Setelah itu mereka akan melanjutkan studi ke program pendidikan pascasarjana. Namun terdapat beberapa mahasiswa juga yang sudah bekerja pada perusahaan ternama tetapi masih tetap ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi (S2). Dari sini bisa disadari bahwa pendidikan pascasarjana
138 Refleksi Studi Pascasarjana memang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan sesorang. Studi pascasarjana meningkatkan kapasitas peluang kerja yang lebih baik, serta membangun koneksi yang lebih luas karena lingkungan pertemanan sudah mencakup berbagai lingkungan pendidikan maupun lingkungan pekerjaan. 4. Pola piker lebih matang Keunggulan studi pascasarjana yang sudah banyak sekali terlihat buktinya adalah memiliki pola piker yang lebih matang. Selain sebgai faktor pendewasaan, pola pikir berkembang lebih matang oleh faktor pendidikan juga. Terlebih ketika studi S2 para pendidik akan lebih mengasah skill berfikir mahasiswanya yang logis dan data terstruktur. Latar belakang dan usia mahasiswa pascasarjana juga lebih bervariasi dibandingkan dengan mahasiswa program sarjana. Sehingga kita dapat mempelajari banyak hal dari semua kalangan dari mereka yang lebih dewasa, karena mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak. Dengan adanya interaksi social yang bervariasi tersebut kita dapat belajar menghadapi banyak orang dan dapat meningkatkan pola pikir yang lebih matang serta lebih siap tempur dalam dunia kerja. 5. Menjanjikan karir lebih tinggi Ada sebuah ungkapan yang cukup unik, yang sering diungkapkan orang dalam menggambarkan peluang kerja dalam setiap tingkatan kuliah, ungkapan tersebut berbunyi seperti ini ‛ Lulusan S1 Cari Kerja, Lulusan S2 Pilih Kerja dan Lulusan S3 Dicari Oleh
Refleksi Studi Pascasarjana 139 Pekerjaan. sebuah ungkapan yang menggelitik namun cukup realistis, akan tetapi berbicara tentang peluang mendapat pekerjaan tidak selamanya dipengaruhi oleh faktor gelar yang dimiliki seseorang namun mendapat pekerjaan lebih kepada usaha dan keberuntungan yang menyertai orang tersebut. Berbicara melanjutkan kuliah pada jenjang S2 atau master memang membuka peluang lebih besar bagi seseorang dalam meningkatkan karirnya baik secara pribadi ataupun dalam suatu instansi. hal wajar jika kita mengatakan prospek kerja lulusan S2 akan semakin luas dan tak terlalu memiliki banyak kompetitor. Pada saat sekarang ini, rata-rata perusahaan menetapkan syarat pelemar kerja harus memiliki pendidikan terakhir S2 untuk posisi penting. Adapun alasannya karena lulusan pascasarjana sudah pasti memiliki kapasitas, wawasan yang lebih mendalam terhadap bidang-bidang tertentu. Mahasiswa lulusan studi pascasarjana dapat memperoleh posisi yang lebih tinggi dan tentunya dengan insentif yang lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa lulusan studi sarjana, karena kemampuan yang mereka peroleh selama studi S2 dapat mereka jadikan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan posisi tersebut. 6. Bertemu dengan orang-orang hebat Adapun tambahan keunggulan mahasiswa studi pascasarjana adalah bertemu dengan orang-orang hebat. Misalkan orang yang telah bekerja dan memiliki pekerjaan yang bagus serta jabatan yang tinggi yang kemudian melanjutkan pendidikannya atau bertemu
140 Refleksi Studi Pascasarjana dengan orang yang survive yang bisa membiayai kuliahnya sendiri. Namun hal yang sangat pasti ketika melanjutkan studi pascasarjana adalah memiliki banyak relasi atau teman dengan kualitas mumpuni. 7. Bergelar Master Sudah pasti mahasiswa yang menyelesaikan studi pasccasarjana akan mendaptkan gelar ‚master‛ sesuai dengan spesifikasi jurusan yang diambil. Jika kita mengkaji lebih dalam makna dari kata master tersebut memiliki arti yang merujuk pada orang sudah sangat ahli dan lihai dalam bidang keilmuan yang mereka geluti atau sering disebut sebagai pakar dalam bidang yang digelutinya. 8. Semakin dihargai dan disegani Adapun kelebihan lain studi pascasarjana adalah orang-orang disekitar kita akan menjadi lebih segan dan lebih menghargai keberadaan kita. Meskipun sebenarnya hal tersebut bukanlah tujuan seseorang untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa orang banyak akan menghargai seseorang berdasarkan kemampuan dan atitudnya, karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula atitude yang ia dapat contohkan. Dari beberapa ulasan tentang keunggulan mahasiswa pascasarjana diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa studi pascasarjan selain penting untuk diri sendiri namun penting juga untuk orang lain, karena dengan wawasan keilmuan dan koneksi yang lebih luas nisa memberikan pengajaran dan
Refleksi Studi Pascasarjana 141 kemudahan untuk orang-orang sebelum kita ketika ingin mengejar pendidikan yang lebih tinggi, dan sekaligus bisa menjadi contoh kepada orang lain.
142 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 12 Pascasarjana Dalam Negeri Vs Pascasarjana Luar Negeri nimo generasi emas Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setiap tahun semakin meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan minat individu untuk meningkatkan keahlian, memperdalam pengetahuan, dan memperluas peluang karir melalui studi lanjutan di tingkat pascasarjana. Faktor-faktor seperti adanya persaingan ketat di pasar kerja, spesialisasi dalam bidang studi tertentu, peluang penelitian dan pengembangan, kemajuan teknologi, serta dukungan keuangan dan beasiswa, menjadi pendorong utama bagi mereka untuk melangkah lebih jauh dalam pendidikan guna mencapai keunggulan kompetitif dan kesuksesan professional di masa yang akan datang. Namun, banyak calon mahasiswa pascasarjana yang masih bingung dalam menentukan apakah mereka harus melanjutkan studi dalam negeri atau di luar negeri. Mereka banyak mempertimbangkan perbedaan dan persamaan dalam sistem pendidikan, akses terhadap sumber daya, peluang penelitian, keahlian khusus, dan karir global yang ditawarkan oleh kedua pilihan tersebut. Adanya pilihan program studi yang beragam menjadi peluang karir di masa mendatang, namun para calon A