The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah Pendidikan Pascasarjana di Indonesia dimulai dengan berkembanganya perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan di Indonesia awal mulanya tidak begitu berkembang dengan baik pada era penjajahan. Seiring berjalannya waktu, Pendidikan tinggi yang berfungsi membentuk para pemimpin, peneliti, dan akademisi berkembang secara masif hingga mampu melahirkan orang-orang yang berkualitas dan mampu bersaing. Perkembangan Pendidikan tinggi tidak hanya dalam proses pembelajarannya tetapi juga pemilihan program studi yang tepat.
Dalam buku ini juga diberikan trik dan strategi untuk menjalani Pendidikan pascasarjana. Strategi dalam studi agar lulus tepat waktu dapat dilakukan dengan manajemen waktu dan produktivitas menulis, mengolah kemampuan komunikasi yang efektif, memupuk pemikiran kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah, mencari bimbingan dan peluang pengembangan professional. Pemilihan program studi dalam Pendidikan pascasarjana perlu beberapa Langkah yang dilakukan pertama, dengan melakukan pencarian preferensi dalam diri sendiri, selanjutnya mengkaji secara mendalam ketertarikan atas program studi dan universitas yang dipilih, tahap berikutnya adalah mempertimbangkan pembiayaan studi, tahap akhir adalah mempelajari secara mendetail. Metode pembelajaran dapat dilakukan dalam kelas (course-work post graduate) dan jalur riset (by-research post graduate).
Manfaat lulusan pascasarjana adalah mempunyai kemampuan berpikir yang lebih kritis, kemampuan penelitian yang lebih baik, berpeluang mendapatkan karier yang lebih baik, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan semakin meningkatnya jumlah lulusan pascasarjana maka kesejahteraan masyarakat secara umum mengalami peningkatan dengan adanya penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para lulusan pascasarjana, bahkan memungkinkan munculnya lapangan pekerjaan baru.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-27 21:13:37

REFLEKSI STUDI PASCASARJANA

Sejarah Pendidikan Pascasarjana di Indonesia dimulai dengan berkembanganya perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan di Indonesia awal mulanya tidak begitu berkembang dengan baik pada era penjajahan. Seiring berjalannya waktu, Pendidikan tinggi yang berfungsi membentuk para pemimpin, peneliti, dan akademisi berkembang secara masif hingga mampu melahirkan orang-orang yang berkualitas dan mampu bersaing. Perkembangan Pendidikan tinggi tidak hanya dalam proses pembelajarannya tetapi juga pemilihan program studi yang tepat.
Dalam buku ini juga diberikan trik dan strategi untuk menjalani Pendidikan pascasarjana. Strategi dalam studi agar lulus tepat waktu dapat dilakukan dengan manajemen waktu dan produktivitas menulis, mengolah kemampuan komunikasi yang efektif, memupuk pemikiran kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah, mencari bimbingan dan peluang pengembangan professional. Pemilihan program studi dalam Pendidikan pascasarjana perlu beberapa Langkah yang dilakukan pertama, dengan melakukan pencarian preferensi dalam diri sendiri, selanjutnya mengkaji secara mendalam ketertarikan atas program studi dan universitas yang dipilih, tahap berikutnya adalah mempertimbangkan pembiayaan studi, tahap akhir adalah mempelajari secara mendetail. Metode pembelajaran dapat dilakukan dalam kelas (course-work post graduate) dan jalur riset (by-research post graduate).
Manfaat lulusan pascasarjana adalah mempunyai kemampuan berpikir yang lebih kritis, kemampuan penelitian yang lebih baik, berpeluang mendapatkan karier yang lebih baik, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan semakin meningkatnya jumlah lulusan pascasarjana maka kesejahteraan masyarakat secara umum mengalami peningkatan dengan adanya penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para lulusan pascasarjana, bahkan memungkinkan munculnya lapangan pekerjaan baru.

Refleksi Studi Pascasarjana 43 4. Penentuan lokasi tempat tujuan studi Dalam mempertimbangkan jurusan ternyata tidak hanya meliputi seputar disiplin ilmu dan tujuan karir. Pertimbangan lain yang tak kalah penting lokasi dimana kampus tersebut berada. Phillpott menyampaikan bahwa pemilihan lokasi menjadi hal yang sangat serius dan bergantung pada kondisi setiap individu. Penting mempelajari lokasi untuk mempersiapkan fisik dan mental. Terutama mahasiswa yang berminat belajar di negara lain. Perbedaan budaya, kondisi geografis dan iklim akan mempengaruhi keseluruhan kondisi belajar. 5. Mempelajari secara detail Terakhir dan tak kalah penting adalah mencari tahu detail terkait kampus tujuan seperti kondisi perpusatakaan misalkan apakah buka diakhir pekan, fasilitas fisik dan bimbingan yang akan diberikan, total jam pelajaran yang harus ditempuh, perbandingan jumlah tenaga pengajar dan siswa yang akan diterima, serta seluruh peraturan akademik dan administrasi. Menurut Phillott sekalipun menempuh pascasarja pada kampus yang bereputasi tinggi, pelayanan yang kurang baik akan berpengaruh kepada seluruh waktu, pengalaman dan kepuasan dalam menempuh studi pascasarjana.


44 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 5 Manfaat Menjadi Lulusan Pascasarjana endidikan pascasarjana merupakan pendidikan yang memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memberikan gelar akademik kepada mahasiswa. Program ini bertujuan untuk membentuk lulusan yang siap berkontribusi dalam bidang ilmu yang mereka tekuni. Menurut (Seftiawan, 2019) Pendidikan berkualitas memainkan peran krusial dalam kemajuan peradaban global. Meskipun negara-negara maju sedang berfokus pada pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas hidup, masih ada negara-negara berkembang seperti di Afrika dan Asia yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar. Di negara-negara maju, pendidikan dianggap sebagai hak dasar yang didukung oleh subsidi pemerintah. Amerika Serikat memiliki jumlah lulusan Ph.D. dua kali lipat lebih banyak daripada Jerman, sementara India juga memiliki jumlah lulusan Ph.D. yang signifikan sejalan dengan total jumlah penduduknya. Namun, di Indonesia, jumlah doktor P


Refleksi Studi Pascasarjana 45 masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia. Menurut (Julistian, 2022) Rasio doktor per satu juta penduduk di Indonesia rendah, sementara negara seperti Malaysia, India, dan Jepang memiliki rasio yang lebih tinggi. Dalam hal ini, menjadi lulusan pascasarjana memiliki manfaat yang signifikan karena dapat berkontribusi dalam peningkatan jumlah doktor di Indonesia sesuai dengan target pemerintah. Dengan meningkatkan jumlah doktor, manfaatnya adalah dapat meningkatkan kualitas pendidikan, pengajaran, serta riset dan penelitian di berbagai bidang. Mahasiswa dan lulusan pascasarjana memiliki kesempatan untuk menjadi agen perubahan dan berkontribusi dalam mengisi kekurangan jumlah doktor di Indonesia. Dengan gelar doktor, mereka dapat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di negara ini. Tujuan dalam penulisan topik ini memang bukan hanya membahas tentang tujuan Pendidikan doktor namun juga membahas kebermanfaatan menjadi lulusan Pascasarjana secara umum. Maka tujuan penulisan ini adalah untuk menyampaikan informasi dan pemahaman yang komprehensif tentang manfaat dan nilai dari lulusan pendidikan pascasarjana. Manfaat yang dimaksud adalah tentang pengembangan pengetahuan yang mendalam, keterampilan khusus, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diperoleh melalui program pascasarjana. Pendidikan pascasarjana adalah program pendidikan yang diberikan setelah lulus dari program sarjana. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam dan keterampilan yang lebih spesifik dalam


46 Refleksi Studi Pascasarjana bidang tertentu. Pendidikan pascasarjana terdiri dari program magister (S2) dan doktor (S3). A. Manfaat Lulusan S2 Lulusan program S2 memiliki manfaat yang signifikan dalam karir bagi lulusannya. Lulusan S2 memiliki pengetahuan yang lebih mendalam dalam bidang tertentu dan keterampilan yang lebih spesifik. Hal ini memungkinkan lulusan S2 untuk memenuhi persyaratan pekerjaan yang lebih tinggi dan memperoleh gaji yang lebih tinggi. Selain itu, lulusan S2 juga memiliki kemampuan analisis yang lebih baik, yang dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan yang lebih baik dalam pekerjaan mereka. B. Manfaat Lulusan S3 Lulusan program S3 memiliki manfaat yang lebih besar daripada lulusan S2. Lulusan S3 memiliki kesamaan dengan S2 namun memiliki pengetahuan yang lebih mendalam dan keterampilan yang lebih spesifik dalam bidang tertentu. Selain itu, lulusan S3 juga memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian dan analisis yang lebih baik. Hal ini memungkinkan mereka untuk memenuhi persyaratan pekerjaan yang lebih tinggi dan memperoleh gaji yang lebih tinggi. Lulusan S3 juga memiliki kemampuan untuk mengajar di perguruan tinggi dan universitas, yang dapat membantu mereka dalam karir, mendapatkan gaji yang lebih tinggi serta pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih spesifik sesuai dengan bidang yang di geluti.


Refleksi Studi Pascasarjana 47 Lulusan pascasarjana memiliki keunggulan dibandingkan dengan lulusan sarjana karena mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan keterampilan yang lebih khusus di bidang tertentu. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan yang lebih baik dan lebih maju dalam melakukan penelitian. Berikut adalah beberapa manfaat lulusan pascasarjana. C. Kemampuan Berpikir Kritis Lulusan Pascasarjana memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan lulusan sarjana. Mereka mampu menganalisis masalah dengan lebih baik dan memberikan solusi yang lebih efektif. Menurut artikel di website (Universitas Medan Area, 2023) Spesifiknya jenjang Magister atau S2 lebih fokus dibandingkan dengan S1. Lulusan S2 disebut "Master" atau ‘Ahli‛ karena mereka sangat menguasai bidang studi yang mereka pelajari. Lulusan S2 tidak lagi mempelajari konsep dasar, tetapi mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki tujuan yang jelas dan fokus untuk mendapatkan S2. Ini adalah alasan yang masuk akal karena sebagian besar mahasiswa yang sedang menempuh S2 adalah orang-orang yang serius dalam keinginan mereka untuk menjadi ahli di bidang yang diminatinya. Mahasiswa magister atau S2 biasanya sudah bekerja dan ingin lebih ahli dalam bidang yang mereka geluti, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman perkuliahan. Program-program pascasarjana tingkat S2 lebih fokus pada aspek strategis, sedangkan program S1 lebih


48 Refleksi Studi Pascasarjana berurusan dengan masalah taktis. Pola pikir lulusan S2 berbeda dari lulusan S1. Lulusan S2 mempertimbangkan elemen-elemen strategis dengan dampak jangka panjang, yang seringkali mengarah pada posisi pekerjaan tingkat atas. Lulusan S1 lebih berfokus pada masalah taktis dan terlibat langsung dalam tugas-tugas lapangan yang bersifat taktis. Mahasiwa program magister sering diberi banyak studi kasus atau masalah yang berkaitan dengan bidang studi mereka selama perkuliahan atau pembelajaran di pascasarjana.Hal ini membantu mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah di tempat kerja. Masalah yang mereka hadapi seringkali belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak ada panduan yang dapat diikuti untuk memecahkannya. Doktor (PhD) memiliki kelebihan sebagai pendidik dan peneliti yang fokus pada jalur akademis atau riset. Mereka mampu menemukan hal-hal baru melalui penelitian yang mereka lakukan. Keberhasilan seorang doktor sering diukur melalui publikasi makalah (tulisan Artikel) mereka di jurnal ilmiah yang sesuai dengan bidang studi mereka. Mereka memiliki motivasi yang kuat untuk merenung, memahami, meneliti, dan berinovasi terhadap suatu objek atau topik. Tanpa motivasi ini, pendidikan doktoral tidak akan efektif. Lulusan doktor dan orang-orang dengan pola pikir layaknya lulusan doktor memiliki cara yang berbeda untuk melihat masalah atau kesulitan yang tidak terlihat oleh orang lain. Mereka sering terlibat dalam penelitian dan upaya yang intensif untuk menemukan solusi. Sebagai contoh, orang-orang seperti Steve Jobs, Bill Gates, Einstein,


Refleksi Studi Pascasarjana 49 Newton, dan Thomas Alva Edison berpikir seperti doktor dan telah melakukan inovasi dan penelitian dalam bidang yang mereka kuasai. Pada awalnya, ide-ide mereka mungkin dianggap aneh atau "gila" oleh orang-orang di sekitar mereka karena melampaui standar pemikiran masa itu atau jauh lebih maju. Namun, pada akhirnya, gagasan tersebut menjadi populer dan dianggap sebagai bentuk kejeniusan. D. Kemampuan Penelitian yang Lebih Baik Lulusan pascasarjana memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang lebih baik dan lebih canggih. Mereka mampu mengembangkan metodologi penelitian yang lebih baik dan mampu menghasilkan penelitian yang lebih berkualitas. Lulusan pascasarjana memiliki keahlian yang lebih baik dan lebih maju dalam melakukan penelitian. Mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan metode penelitian yang lebih canggih, menghasilkan penelitian yang bagus, dan menganalisis data yang rumit. Selain itu, mereka juga memahami dan menguasai dasar-dasar filosofi, teori, metode penelitian, dan evaluasi penelitian. Lulusan pascasarjana memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian dalam berbagai disiplin ilmu yang diakui secara nasional dan internasional, memiliki kemampuan untuk merancang penelitian yang sesuai dengan bidang keahlian mereka, dan mampu mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan hubungan kerja dengan kolega dan sesama peneliti dalam komunitas dan institusi penelitian yang lebih luas. Hal ini sesuai dengan harapan yang dari perguruan tinggi termasuk dalam artikel


50 Refleksi Studi Pascasarjana website (Universitas Negeri Jakarta, 2022) bahwa Lulusan pascasarjana memperoleh kemampuan ini melalui pendidikan yang lebih mendalam dan komprehensif di mana mereka belajar metode penelitian terbaru dan teoriteori relevan serta memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan peneliti dan akademisi lain dalam komunitas penelitian mereka. Akibatnya, lulusan pascasarjana dapat melakukan penelitian berkualitas tinggi dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang keahlian mereka. E. Peluang Karir yang Lebih Baik Lulusan pascasarjana memiliki peluang karir yang lebih baik dibandingkan dengan lulusan sarjana. Mereka memiliki keunggulan dalam bidang tertentu dan memiliki kemampuan untuk bersaing dengan lulusan sarjana lainnya. Dalam sebuah penelitian berjudul "Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pengembangan Karir terhadap Kinerja Pegawai pada PT. Bank Pembangunan Daerah Bali Cabang Seririt" oleh Wiryawan, Komang Andre, disebutkan bahwa terdapat beberapa teori yang relevan terkait pengaruh tingkat pendidikan terhadap kinerja karyawan di PT. Bank Pembangunan Daerah Bali Cabang Seririt. Hasil temuan penelitian menyatakan bahwa terdapat beberapa teori yang relevan terkait pengaruh tingkat pendidikan terhadap kinerja karyawan di PT. Bank Pembangunan Daerah Bali Cabang Seririt. Beberapa teori yang relevan antara lain pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengembangan karir terhadap kinerja


Refleksi Studi Pascasarjana 51 karyawan, pengaruh pengembangan karir terhadap kinerja karyawan, pengaruh tingkat pendidikan terhadap pengembangan karir, dan pengaruh tingkat pendidikan terhadap kinerja karyawan melalui pengembangan karir. Selain itu, terdapat pula teori yang menyatakan bahwa pengembangan karir lewat pendidikan efektif dapat meningkatkan kinerja karyawan, menurunkan tingkat pergantian karyawan, dan meningkatkan kesempatan promosi bagi karyawan Selanjutnya, tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi pengembangan karir karyawan, dimana penempatan kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dapat membantu perusahaan meningkatkan profitabilitas dengan cepat Selain itu, tingkat pendidikan juga dapat berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan melalui pengembangan karir, dimana karyawan yang bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka dan menerima pengembangan karir di dalam perusahaan akan memberikan kontribusi yang lebih efektif dalam meningkatkan kinerja perusahaan (Wiryawan and Rahmawati, 2020). F. Kontribusi pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan Lulusan pascasarjana dapat meningkatkan wawasan, keterampilan, dan kualitas penelitian mereka, yang dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka juga dapat menghasilkan penelitian yang dapat memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.


52 Refleksi Studi Pascasarjana Pada tingkat pascasarjana, mahasiswa dididik untuk menerapkan metodologi penelitian yang tepat, melakukan penelitian yang lebih mendalam, menganalisis data dengan lebih hati-hati, dan menghasilkan penelitian yang inovatif dan unik. Ini memungkinkan mereka untuk menemukan hal-hal baru, memperluas pengetahuan yang sudah mereka ketahui, dan menciptakan terobosan dalam bidang yang mereka kuasai. Kontribusi ini sangat penting untuk kemajuan disiplin ilmu tertentu dan pemahaman manusia tentang dunia kita. Mengingat pentingnya pendidikan pascasarjana dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas dan kontribusi ilmiah, banyak lulusan S1 memilih untuk melanjutkan studi ke tingkat pascasarjana. Selain peningkatan kapasitas diri, banyak profesi juga mengharuskan gelar pascasarjana sebagai syarat penerimaan karyawan. Dengan demikian, lulusan pascasarjana memiliki peran yang signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. G. Dampak Pendidikan Pascasarjana pada Perekonomian Ekonomi dipengaruhi secara signifikan oleh pendidikan pascasarjana. Lulusan S2 dan S3 memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memenuhi persyaratan pekerjaan yang lebih tinggi dan memperoleh gaji yang lebih tinggi, yang dapat membantu meningkatkan pendapatan dan daya beli mereka. Selain itu, lulusan S3 memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian yang lebih canggih, yang dapat membantu dalam pengembangan inovasi dan teknologi


Refleksi Studi Pascasarjana 53 baru, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pendidikan pascasarjana memberikan manfaat yang signifikan bagi lulusannya, termasuk pengetahuan mendalam dan keterampilan khusus dalam bidang tertentu yang diberikan oleh program S2 dan S3. Ini juga membuka lebih banyak peluang karir dan kompensasi yang lebih baik. Pendidikan pascasarjana juga membantu orang menjadi lebih baik dalam menyelesaikan masalah sulit, menjadi ahli di bidang tertentu, dan memimpin lembaga pemerintah. Lulusan juga belajar "soft skills" seperti komunikasi, menulis akademis, bekerja sama, mengatur waktu, dan mengelola proyek penelitian. Pendidikan pascasarjana baik untuk ekonomi dan individu. Pendidikan pascasarjana adalah pilihan yang harus dipertimbangkan jika Anda ingin mengembangkan diri secara akademis dan profesional, serta meraih keuntungan besar dalam karir Anda. Pendidikan pascasarjana memberikan pengetahuan yang mendalam dan keterampilan khusus dalam bidang tertentu, membuka peluang karir yang lebih baik, dan mengakui Anda sebagai ahli dalam bidang tersebut dalam dunia yang terus berkembang dan kompetitif. Selain itu, Anda akan mempelajari "soft skills" yang penting, seperti cara berkomunikasi dan menulis dengan Segera mulai perjalanan pendidikan pascasarjana Anda, dan bukalah pintu menuju kesuksesan yang tak terbatas, baik mengatur waktu, dan bekerja sama dengan baik.


54 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 6 Lulusan Pascasarjana di Indonesia: Gambaran, Kontribusi dan Hambatan ada bab ini saya akan mencoba memberikan pemahaman secara umum terkait lulusan pascasarjana di Indonesia, mulai dari definisi, profil dan kontribusi mereka pada sisi perkembangan akademik dan professional. Selain itu, bab ini juga akan menganalisis hambatan yang dihadapi oleh lulusan pascasarjana serta potensi yang dapat dimanfaatkan dalam memberikan kontribusi bagi Indonesia. A. Tinjauan Umum Tentang Pendidikan Pascasarjana di Indonesia Secara umum istilah Pascasarjana dapat dikategorikan bagi para mahasiswa yang menempuh pendidikan Magister (Master) dan Doktor (Ph.D) setelah menyelesaikan program pendidikan sarjana atau yang setara (Aditia, 2023). Pada pendapat yang lain mengatakan bahwa ; Pascasarjana adalah program pendidikan tingkat lanjutan yang ditujukan P


Refleksi Studi Pascasarjana 55 bagi mahasiswa atau lulusan sarjana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada umumnya pascasarjana menjadi pilihan untuk mereka yang bertujuan untuk menambah pemahaman secara mendalam ,pengetahuan yang lebih luas dan keahlian di bidang tertentu, seperti sains, pendidikan atau kajian sosial humaniora. Program pascasarjana umumnya dapat dijalankan dengan berbagai macam bentuk, seperti magister atau doktor (Anugrah, 2023). Dari definisi di atas telah diperjelas bahwa program magister dan doktoral merupakan program yang berada dalam satu wadah yaitu pascasarjana sehingga tidak perlu lagi ada kebingungan mengenai definisi pascasarjana ini. Program pascasarjana di Indonesia menawarkan ribuan program studi yang tersebar dalam skala nasional. Menurut data yang dilansir oleh Direktorat Pendidikan Tinggi tahun 2020, secara nasional terdapat 3.252 tawaran program studi untuk jenjang Magister dan 774 jumlah tawaran program Doktor (Tinggi, 2020). Ini menegaskan bahwa terdapat banyak wadah di Indonesia untuk bisa digunakan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini juga diperjelas dengan saran dan rekomendasi dari para ahli untuk meminta masyarakat Indonesia secara bersama meningkatkan kualitas diri dengan melanjutkan pendidikan setinggi – tingginya. Nadiem Makariem, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2019 – sekarang, mengatakan bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi memiliki banyak manfaat seperti mampu meningkatkan wawasan dan kompetensi, memenuhi kebutuhan berbagai sektor , memenuhi persyaratan di beberapa profesi tertentu dan


56 Refleksi Studi Pascasarjana memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan (Kristina, 2022). Pascasarjana merupakan pintu awal untuk seseorang yang ingin berproses dalam mewujudkan cita – citanya menjadi seorang ilmuan, praktisi bahkan naik pangkat profesi. Sungguh begitu banyak manfaat yang bisa didapatkan sebagai lulusan pascasarjana. Dengan begitu banyak lulusan pascasarjana di Indonesia maka besar harapannya untuk mampu melihat mereka memberikan banyak kontribusi bagi negara dalam mengembangkan segala bidang seperti sosial, ekonomi, pendidikan dan lain – lain. B. Profil Lulusan Pascasarjana Berbicara tentang profil lulusan pascasarjana di Indonesia membuat saya menjadi lebih berfikir bagaimana juga profil orang yang akan membaca tulisan ini. Boleh jadi anda, yang membaca tulisan ini, merupakan seseorang yang tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi pascasarjana baik itu program magister ataupun doktor, bisa jadi juga anda adalah orang yang sedang menghitung hari untuk menunggu prosesi wisuda pascasarjana, atau mungkin anda juga adalah merupakan mahasiswa pascasarjana yang tengah dalam proses perkuliahan. Bagaimanapun latar belakang dari pembaca tulisan ini bukanlah sebuah masalah yang besar, hal terpenting yang perlu difokuskan adalah ‚What Should we do after graduation from Pascasarjana?‛. Hal ini merupakan sebuah kewajaran untuk ditanyakan karena masa menajdi mahasiswa pascasarjana tidaklah selamanya, minimal


Refleksi Studi Pascasarjana 57 dalam waktu 1.5 tahun sudah harus dituntut secara moral dan moril untuk mempraktikkan ilmu yang sudah didapat pada saat menempuh pendidikan. Berdasarkan data dari Dirjen Pendidikan Tinggi terdapat 1.535.074 lulusan perguruan tinggi pada tahun 2020 dengan 95.217 orang merupakan jumlah lulusan Magister dan 7.383 orang adalah lulusan doktor (Tinggi, 2020). Kesimpulannya adalah terdapat lebih dari 100. 000 lulusan pascasarjana di Indonesia pada tahun 2019/2020, ini juga menunjukkan ada ratusan ribu desertasi dan tesis yang menjadi kewajiban para lulusan untuk diimplementasikan di kehidupan nyata sebagai bentuk kontribusi untuk negara. Melihat fenomena tersebut, dalam menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan di atas maka terdapat beberapa jawaban yang tersedia mulai dari yang pragmatis murni seperti bekerja dengan gaji dua sampai tiga digit lalu digunakan untuk bersenang – senang sampai jawaban yang sifatnya normatif yang dalam hal ini ditujukan pada jawaban – jawaban yang memiliki tujuan lebih mulia. Mungkin jawaban yg bersifat pragmatis murni lebih baik dihapuskan dari opsi karena sudah seharusnya manusia yang telah menempuh pendidikan tinggi harus hidup berorientasi lebih pada nilai (value) bukan terjebak dalam kebutuhan (need) apalagi sampai larut dalam kerakusan (greed). Setelah mendengar begitu banyak alternatif jawaban dari pertanyaan di atas maka sudah sewajarnya seorang lulusan pascasarjana harus mengandung nilai dalam segala kontribusi yang dilakukannya. Ada yang memiliki anggapan dan persepsi bahwa sekolah pascasarjana merupakan


58 Refleksi Studi Pascasarjana tempat untuk mempertajam kualitas diri dari segi riset sehingga setelah lulus ilmunya bisa digunakan di bidang ilmu pengetahuan dengan berkontribusi melalui penelitian – penelitian yang mutakhir. Ada juga yang memilih membangun bisnis dimana hal tersebut dijadikan tempat untuk memberdayakan masyarakat bahkan membuat produk yang bermanfaat bagi banyak orang. Ada yang memilih untuk meniti karir di sector industri sebagai pengewajantahan dari ilmu yang telah didapat. Ada yang memilih untuk membangun dan mengembangkan daerahnya sebagai wujud saing dengan daerah lain. Dan ada pula yang memilih karir untuk menjadi tenaga pendidik sebagai wujud kontribusi mencerdaskan anak bangsa. Begitu banyak bentuk kontribusi yang telah dilakukan oleh para lulusan pascasarjana di Indonesia, tentunya kontribusi yang bernilai mulia. Hal inilah yang perlu digarisbawahi yaitu sosok lulusan pascasarjana harus memiliki profil yang lebih dari sekedar gelar yang digunakan untuk mendapatkan pekerjaan melainkan mampu menjadi sosok yang memiliki nilai mulia yang mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat di Indonesia. C. Kontribusi Ideal Lulusan Pascasarjana di Indonesia Adapun setelah melihat begitu banyak lulusan pascasarjana memberikan kontribusi untuk Indonesia, dari yang menjadi pendidik hingga pengusaha, kita masih akan memberikan pertanyaan yang lebih menantang pada para lulusan pascsarjana ini yaitu ‚apa kontribusi lulusan pascasarjana yg ideal?‛.


Refleksi Studi Pascasarjana 59 Berbicara tentang idealisme seorang lulusan magister dan doktoral, sudah banyak tulisan yang membahas hal tersebut, tidak sedikit pula yang telah memberikan aksi nyata tanpa harus kita ketahui dari tulisan – tulisan terlebih dahulu. Oleh karena itu, melalui tulisan ini akan dijelaskan terkait kontribusi ideal yang bisa dikatakan harus lebih diprioritaskan untuk segera dilaksanakan atau lebih tepatnya sesuatu yang harus diwajibkan bagi para lulusan pascsarjana untuk terjun memberikan kontribusi guna membantu Indonesia menjadi lebih maju. Adapun garis – garis besar dari kontribusi lulusan pascasarjana yang akan saya bahas adalah berkaitan dengan kebutuhan Indonesia untuk menjadi negara maju yang kemudian akan disesuaikan dengan potensi yang ada dan tentunya disesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas dari lulusan pascasarjana yang dalam hal ini pada sektor Penelitian dan Inovasi, Ekonomi dan Pendidikan. 1. Kontribusi di bidang Penelitian dan Inovasi Pada tahun 1970 ada beberapa negara ASEAN yang datang belajar riset di Indonesia seperti Malaysia dan Thailand. Akan tetapi, di era sekarang terjadi hal yang sebaliknya yaitu orang Indonesia berbondong – bondong pergi menuntut ilmu ke negri jiran tersebut, jangankan yang dari lulusan kampus – kampus kecil, para dosen dari kampus besar seperti ITB dan UI bahkan tidak sedikit mengambil S2 dan S3 nya di Malaysia(Puspita, 2022). Kemampun riset di Indonesia sangat perlu dibenahi yang secara langsung ini merupakan lahan basah bagi para lulusan pascasarjana. Kelemahan riset di Indonesia dibuktikan dengan adanya disparitas yang


60 Refleksi Studi Pascasarjana cukup jauh antara mahasiswa dan dosen dengan jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan. Hingga tahun 2019, dari 4.607 perguruan tinggi serta 177.000 dosen dan peneliti yang terdaftar di Science and Technology Index (Sinta), Indonesia hanya menghasilkan 34.007 jurnal yang terindeks Scopus. Rendahnya publikasi ilmiah para peneliti Indonesia salah satunya disebabkan minimnya pemahaman dan minat riset, terutama di kalangan mahasiswa (Handini, 2021). Hal ini dipertegas lagi dengan bukti bagaimana Indonesia tidak siap dalam penanganan mitigasi bencana pada saat covid-19, tidak ada satupun tim periset yang memiliki pengalaman dalam penagnagan wabah tersebut. Lebih jauh lagi, peneliti yang berasal dari pemerintah dan non pemerintah pada saat ini berbanding 80 : 20 padahal di sisi lain tidak boleh terjadi peneliti dari pemerintah lebih banyak dari peneliti non – pemerintah (Puspita, 2022). Melihat begitu banyak masalah yang dihadapi di sector riset dan inovasi harusnya menjadi pemecut semangat dan kesadaran bagi para lulusan pascasarjana untuk bisa berkontribusi di negeri ini guna mendukung Indonesia menjadi bangsa yang maju di bidang riset dan inovasi. 2. Kontribusi di bidang Ekonomi Salah satu bentuk kontribusi ideal dari seorang lulusan pascasarjana adalah kemampuan mereka membantu negara dalam memberantas pengangguran dan kemiskinan yaitu dengan perannya dalam berwirausaha (Pangesti, 2022). Hal krusial yang mampu diberikan oleh para pengusaha adalah


Refleksi Studi Pascasarjana 61 terciptanya lapangan kerja yang luas yang berkesinambungan dengan salah satu cara untuk memberantas kemiskinan. Negara – negara yang dikatakan maju tentu diwakilkan juga dengan jumlah wirausahawan di negara tersebut, pada data tahun 2020 menunjukkan bahwa Amerika Serikat berada di tingkatan teratas dengan skor 48.20 point, indicator dari penilaian tersebut dihimpun melalui 6 kategori utama berdasarkan majalah CEOWORLD, yakni inovasi, daya saing, keterampilan tenaga kerja, infrastruktur, akses modal, dan keterbukaan bisnis (Rizaty, 2022). Adapun Berdasarkan Global Entrepreneurship Index (GEI), Indonesia masih bertengger pada urutan ke-75 dari 137 negara dengan skor 26. Indeks ini mengukur kemampuan suatu negara menghasilkan wirausahawan. Posisi GEI Indonesia juga masih tertinggal dibanding beberapa negara tetangga di ASEAN dengan berada dalam 5 besar penghasil wirausahawan dibawah Thailand pada urutan ke empat dan Singapura pada urutan pertama (Dihni, 2023). Melihat permasalahan di bidang ekonomi ini terkhusus pada pertumbuhan wirausahawan di Indonesia akan lebih baik jika para lulusan pascasarjana mampu turun tangan dalam menurunkan ilmunya terlebih lulusan sarjana – pascasarjana termasuk didominasi oleh lulusan Ekonomi (Tinggi, 2020). Sehingga ini akan menjadi lahan ideal bagi lulusan pascasarjana untuk berkarya menciptakan banyak lapangan pekerjaan guna memberikan


62 Refleksi Studi Pascasarjana kesempatan kerja dan memberantas kemiskinan di Indonesia. 3. Kontribusi di sektor Pendidikan Sektor pendidikan merupakan sisi yang tidak kalah penting untuk diperhitungkan sebagai negara maju. Bangsa – bangsa yang memiliki peradaban modern dan maju terbukti menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembenahan dan pengembangan sistem, bagaimana tidak, pendidikan merupakan satu – satunya wadah yang bisa digunakan untuk megembangkan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia diperlukan untuk mengelola sumber daya lain yang sudah ada di Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan perlu diberikan secara merata, tidak harus melalui pendidikan formal saja, akan tetapi pendidikan non formal juga berpengaruh dalam proses pembentukan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang. Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik (Susanti, 2014). Dengan penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa pendidikan non formal berperan dalam pengembangan sumber daya manusia di banyak kalangan dari anak – anak hingga dewasa. Umumnya pendidikan non formal ini


Refleksi Studi Pascasarjana 63 berupa pelatihan, kursus atau bahkan dalam bentuk belajar kelompok di sebuah komunitas. Melihat minat dan kecenderungan masyarakat yang begitu tinggi untuk ikut serta sebagai warga belajar dari sekolah non formal, lulusan pascasarjana sangant dianjurkan untuk menjadi praktisi pendidikan yang mampu mengakomodir segala kebutuhan masyarakat di bidang keilmuan. Hal – hal yang bisa dilakukan antara lain membentuk komunitas belajar dengan sasaran ke orang – orang yang membutuhkan baik dari anak – anak hingga kalangan dewasa. Jika hal tersebut masih susah dilakukan, ad acara lain yakni memberikan pelatihan dan wawasan bagi para praktisi pendidikan non formal tersebut dalam mengelola komunitas dan institusinya lebih baik. Tenaga pendidik dan kependidikan dari pendidikan non formal pada dasarnya memiliki sikap aktif dan peka terhadap kondisi masyarakat sekitar sehingga mereka perlu diberikan akses luas untuk mengembangkan diri. Hal ini pun yang menyebabkan para praktisi tersebut sangat membutuhkan penambahan wawasan dalam Menyusun konsep pengajaran yang baik , menentukan sasaran yang kontekstual dan membekali mereka dengan ilmu manajemen pendidikan non formal yang berbasis kontinuitas (Susanti, 2014).


64 Refleksi Studi Pascasarjana D. Hambatan Lulusan Pascasarjana di Indonesia Dalam proses pengaplikasian ilmu yang telah didapatkan semasa kuliah, lulusan pascasarjana tentu tidak akan lepas dari hambatan yang akan menghadang mereka dalam mewujudkan cita – cita membangun bangsa sebagai negara maju. Adapun hambatan lulusan pascasarjana yang akan dibahas dibuku ini akan berfokus pada apa saja kendala yang memungkinkan dihadapi dalam pelaksanaan kontribusi di tiga sector di atas yaitu riset dan inovasi, ekonomi dan pendidikan. 1. Sektor Riset Menurut kepala BRIN, Dr. Laksana Tri Handoko, Ada tida hambatan utama yang dihadapi pada sector riset di indoensia, yaitu critical mass (SDM) yang masih rendah, anggaran dan infrastruktur (Ekaptiningrum, 2021). Sebagaimana disebutkan di awal bahwa peneliti dari sector swasta sangat diperlukan dan dianjurkan untuk lebih banyak dalam segi kuantitas daripada peneliti dibawah pemerintah. Hal ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan kualitas penelitian. Adapun solusi yang ditawarkan adalah membangun relasi dengan berbagai platform riset yang berada baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menunjang keberlangsungan riset di Indonesia. (Ekaptiningrum, 2021). Hal ini tentu cukup mudah dilakukan oleh


Refleksi Studi Pascasarjana 65 lulusan pascasarjana karena telah menempuh proses penelitian dan memiliki relasi yang memadai dalam pengembangan penelitian. Lulusan pascasarjan harus bisa membangun kolaborasi tersebut karena akan memberikan manfaat pada jenjang karir, kontribusi dan kualitas penelitian itu sendiri. 2. Sektor Ekonomi Lulusan pascasarjana diharapkan dapat membantu negara memangkas angka pengangguran yang cukup tinggi di Indonesia melalui trobosan dan ide yang bisa dilaksanakan dalam bentuk berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Hambatan interlan yang kiranya akan dihadapi oleh para lulusan pascasarjana dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang adalah ketidakpercayaan diri, sulita menemukan bisnis dan yang tak kalah penting yatu lulusan pascasarjana lebih banyak memilih untuk menjadi pekerja daripada membangun usaha sendiri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat 129.137 unit usaha perdagangan menengah dan besar di Indonesia pada 2020. Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau sekitar 39% pemilik usaha merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun lulusan pascasarjana bertengger di urutan terbawah dengan 4.7% dari total data yang terkumpul. Ini merupakan fakta yang cukup ironi mengingat lulusan pascasarjana lebih memiliki akses yang memadai dalam membangun relasi, memiliki kedewasaan dalam berfikir dan


66 Refleksi Studi Pascasarjana diharapkan lebih mampu mengambil keputusan yang bijak dengan kematangan emosional yang dimiliki dalam menentukan langkah dalam berwirusaha. Alangkah baiknya jika lulusan pascasarjana yang jurusan bidang ekonomi yang menjadi salah jurusan yang mendominasi jumlah lulusannya di Indonesia mampu bergerak sebagai praktisi usaha yang baik demi mengurangi angka pengangguran yang ada di Indonesia. 3. Sektor Pendidikan Permasalahan yang kerap muncul dalam proses pelaksanaan pendidikan non formal yaitu terdapatnya konsep yang masih bersifat proyek. Hal ini disebabkan oleh banyaknya program pendidikan non formal berdiri ketika hanya ada dana atau subsidi dari pemerinth. Disamping itu juga karena faktor sumber daya manusia dan apresiasi yang diberikan terhadap tenaga pendidik dan kependidikan yang melaksanakan program pendidikan non formal masih relatif rendah. Sehingga selaras dengan kinerja dari pendidik dan tenaga kependidikan non formal yang juga relatif rendah. Adapun kendala yang lain dalam proses pelaksanaan program pendidikan non formal juga terkait perlakuan yang diberikan masih kurang proporsional. Pendidikan non formal masih sering dipandang dengan status inferior dibandingkan dengan pendidikan formal, hal ini dapat dilihat dari lulusan dari jalur pendidikan non formal masih dianggap sebagai nomer dua, tidak sedikit lembaga penyelenggara pendidikan formal yang belum mau menerima lulusan dari jalur pendidikan non formal


Refleksi Studi Pascasarjana 67 untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, disamping itu masih banyak yang tidak menerima lulusan dari jalur pendidikan non formal ketika mereka melamar pekerjaan di instansi pemerintah maupun swasta atau bahkan suatu perusahaan. Padahal sejatinya berdasarkan dengan amanah yang tertera dalam undang-undang sistem pendidikan nasional sudah sangat jelas dikatakan bahwa keberadaan pendidikan non formal setara dengan pendidikan yang diselenggarakan melalui pendidikan formal. Oleh karena itu diharapkan kepada para lulusan pascasarjana sebagai sosok yang ideal diharapkan mampu merekonstruksi paradigma bahwa pendidikan non formal bukanlah pendidikan kelas dua tetapi sama dengan pendidikan formal. Mengingat bahwa masyarakat saat ini lebih cenderung untuk memilih pendidikan yang lebih aplikatif. Pendidikan non formal, khususnya melalui pendidikan kecakapan hidup atau biasa dikenal dengan pendidikan life skill dan lembaga kursus akan menjadi pilihan utama bagi mereka yang menginginkan pekerjaan atau usaha mandiri maupun usaha kelompok.(Susanti, 2014). Lulusan pascasarjana merupakan orang – orang yang bisa dikatakan telah terverifikasi sebagai sosok yang sudah matang secara pikiran dan emosional sehingga tidak ada alasan lain lagi bagi mereka untuk tidak memberikan kontribusi bagi Indonesia. Ada begitu banyak lahan dan sector yang bisa dijadikan tempat berkontribusi sebagai contoh yaitu di bidang riset dan inovasi, ekonomi dan pendidikan. Sehingga besar harapannya bagi para lulusan pascasarjana di Indonesia mampu secara


68 Refleksi Studi Pascasarjana maksimal mengaplikasikan ilmu dan memanfaatkan relasi yang keduanya telah didapat dari proses mereka menempuh gelar pascasarjana (Master/Doctor) yang dimana hal tersebut digunakan dalam menghadapi segala bentuk hambatan dalam penyelenggaran berbagai macam kontribusi bagi Indonesia.


Refleksi Studi Pascasarjana 69 BAB 7 Permasalahan Mahasiswa Pascasarjana elanjutkan studi pada tingkat pascasarjana merupakan hal yang bermanfaat sekaligus menantang bagi sebagian orang. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa masalah yang harus dihadapi yaitu mereka dihadapkan pada kenyataan yang akan membuat mereka berkorban dalam hal membagi waktu, mereka juga akan dihadapkan pada situasi keuangan dan masalah terkait tugas akhir (appel & dahlgren, 2003; jairam & h. Kahl jr., 2012; s. Spaulding & rockinson-szapkiw, 2012). Mahasiswa pascasarjana menghadapi berbagai tantangan selama masa studi mereka. Berikut adalah beberapa masalah yang mungkin mereka hadapi: A. Penerimaan dari dosen pembimbing dan sesama mahasiswa Penerimaan dari dosen pembimbing dan sesama mahasiswa merujuk pada hubungan yang baik dan produktif antara mahasiswa dan dosen pembimbing dalam M


70 Refleksi Studi Pascasarjana lingkungan akademik. Beberapa hasil dari penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kegagalan mahasiswa lebih sering disebabkan oleh masalah penerimaan dari dosen pembimbing dan sesama mahasiswa. 1. Dalam hal pengaturan akademis, baik siswa maupun pembimbing harus mengikuti panduan tertentu untuk memastikan hubungan yang produktif dan profesional. Berikut adalah beberapa poin terkait hal tersebut, yaitu: a. Dosen Pembimbing Ini mengacu pada dosen pembimbing akademik yang membimbing dan membantu mahasiswa dalam pekerjaan akademik mereka, seperti tesis atau proyek penelitian. Dosen pembimbing harus dipilih dengan hati-hati, dan mahasiswa harus berusaha untuk membangun hubungan yang baik. b. Etika Mahasiswa harus berkomunikasi dengan dosen pembimbing secara profesional dan penuh hormat. Hal ini termasuk tepat waktu, tidak mengganggu mereka saat makan atau pertemuan lainnya, dan memperhatikan waktu ketika akan menemui dosen pembimbing (STIA Alazka: 2022). c. Umpan balik Dosen pembimbing harus memberikan umpan balik yang konstruktif kepada mahasiswa, dan mahasiswa harus terbuka untuk menerimanya. Hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas pekerjaan dan memastikan bahwa pekerjaan tersebut memenuhi standar akademik (Sidik: 2015).


Refleksi Studi Pascasarjana 71 d. Motivasi Dosen pembimbing harus membantu memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan akademis. Hal ini dapat mencakup penetapan tenggat waktu, memberikan bimbingan, dan menawarkan dukungan saat dibutuhkan (Sidik: 2015). e. Kolaborasi Mahasiswa juga harus berusaha untuk berkolaborasi dengan teman sebaya dan rekan sejawat lain. Hal ini dapat melibatkan berbagi ide, memberikan umpan balik, dan bekerja sama dalam proyek-proyek. Secara keseluruhan, dosen pembimbing maupun mahasiswa harus bertujuan untuk membangun hubungan yang produktif dan profesional yang menguntungkan kedua belah pihak. Dosen pembimbing harus memberikan bimbingan dan umpan balik, sementara mahasiswa harus menghormati dan terbuka terhadap umpan balik. Kolaborasi dengan rekan-rekan sejawat juga dapat bermanfaat. 2. Untuk memperoleh penerimaan dari sesama mahasiswa, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain: a. Berkomunikasi dengan sesama mahasiswa secara terbuka dan ramah. Hal ini dapat membantu membangun hubungan yang baik dan saling mendukung antara sesama mahasiswa (Sidik: 2015). b. Berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan nonakademik di kampus. Ini dapat membantu memperluas jejaring pertemanan dan


72 Refleksi Studi Pascasarjana meningkatkan keterlibatan dalam kehidupan kampus c. Menjadi relawan atau anggota organisasi kampus. Ini dapat membantu memperoleh pengalaman baru dan membangun hubungan dengan sesama mahasiswa yang memiliki minat dan tujuan yang sama d. Membentuk kelompok belajar atau kelompok diskusi dengan sesama mahasiswa. Ini dapat membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan akademik, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama mahasiswa e. Mengikuti program pertukaran mahasiswa atau program lain yang diselenggarakan oleh kampus. Ini dapat membantu memperluas wawasan dan pengalaman, serta membangun hubungan dengan mahasiswa dari kampus lain Dalam keseluruhan, memperoleh penerimaan dari sesama mahasiswa dapat membantu menciptakan lingkungan kampus yang positif dan mendukung, serta membantu mahasiswa mencapai tujuan akademik dan non-akademik mereka. B. Kesulitan keuangan Sebuah survei yang dilakukan oleh Nature menemukan bahwa krisis keuangan telah menyebabkan mahasiswa S2- S3 di berbagai negara mengalami kesulitan untuk membeli makanan dan menyelesaikan studi mereka. Hal ini dikarenakan biaya hidup yang tinggi, sehingga ada


Refleksi Studi Pascasarjana 73 beberapa mahasiswa yang mencari pekerjaan sampingan agar dapat membiayai hidup sehari-hari (Trisna: 2022). Mahasiswa pascasarjana seringkali mengalami kesulitan keuangan dalam menyelesaikan studi mereka. Berikut adalah beberapa kesulitan keuangan yang sering dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana dan beberapa tips untuk mengatasi masalah tersebut: 1. Biaya Studi yang Tinggi: Biaya studi pada jenjang pascasarjana biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang sarjana. Mahasiswa pascasarjana perlu mempersiapkan diri dengan baik dan mencari sumber dana yang cukup untuk menyelesaikan studi mereka. 2. Keterbatasan Sumber Penghasilan: Mahasiswa pascasarjana seringkali mengalami keterbatasan sumber penghasilan. Oleh karena itu, mereka perlu mencari sumber penghasilan tambahan seperti bekerja paruh waktu atau mencari beasiswa. 3. Kurangnya Pemahaman dalam Mengelola Keuangan: Mahasiswa pascasarjana perlu memahami cara mengelola keuangan mereka dengan baik. Mereka perlu membuat rencana anggaran dan memprioritaskan kebutuhan pokok mereka. 4. Keterbatasan Waktu: Mahasiswa pascasarjana seringkali memiliki keterbatasan waktu karena harus menyelesaikan tugas kuliah dan menyelesaikan pekerjaan. Oleh karena itu, mereka perlu mengatur waktu mereka dengan baik agar dapat menyelesaikan tugas kuliah dan pekerjaan mereka dengan efektif.


74 Refleksi Studi Pascasarjana Untuk mengatasi kesulitan keuangan, mahasiswa pascasarjana dapat melakukan beberapa hal seperti mencari sumber penghasilan tambahan, mengatur keuangan dengan baik, dan mencari beasiswa. Selain itu, mahasiswa pascasarjana juga dapat mengatur waktu mereka dengan baik agar dapat menyelesaikan tugas kuliah dan pekerjaan mereka dengan efektif. C. Masalah dengan tesis Banyak mahasiswa menghadapi masalah dengan tesis, yang dapat menyebabkan mahasiswa harus menambah semester tambahan untuk studinya. D. Usia Mahasiswa pascasarjana seringkali menghadapi permasalahan terkait usia. Berikut adalah beberapa permasalahan yang mungkin dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana terkait usia: 1. Keterlambatan Menyelesaikan Studi: Mahasiswa pascasarjana yang lebih tua mungkin memiliki tanggungan keluarga atau pekerjaan yang membuat mereka kesulitan untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Hal ini dapat memperpanjang masa studi mereka dan menimbulkan beban finansial yang lebih besar. 2. Kesulitan Beradaptasi: Mahasiswa pascasarjana yang lebih tua mungkin kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik yang baru. Mahasiswa


Refleksi Studi Pascasarjana 75 mungkin merasa canggung atau tidak nyaman dengan mahasiswa lain yang lebih muda. 3. Kurangnya Kesempatan Karier: Mahasiswa pascasarjana yang lebih tua mungkin menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan setelah menyelesaikan studi. Hal ini dapat disebabkan oleh persaingan yang lebih ketat di pasar kerja atau kurangnya pengalaman kerja. 4. Kurangnya Motivasi: Mahasiswa pascasarjana yang lebih tua mungkin mengalami kurangnya motivasi untuk menyelesaikan studi. Hal ini dapat disebabkan oleh beban finansial atau tanggungan keluarga yang membuat mereka merasa sulit untuk fokus pada studi. Untuk mengatasi permasalahan terkait usia, mahasiswa pascasarjana dapat melakukan beberapa hal seperti mencari dukungan dari keluarga dan teman, mencari bantuan finansial, dan mencari sumber motivasi. Selain itu, mahasiswa pascasarjana juga dapat memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki untuk memperkaya diskusi di kelas dan meningkatkan kualitas penelitian mereka. E. Kesulitan mendapatkan data Kesulitan dalam mendapatkan data merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana dalam menyelesaikan tesis mereka. Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi masalah tersebut: 1. Mencari Sumber Data yang Tepat: Mahasiswa pascasarjana perlu mencari sumber data yang tepat


76 Refleksi Studi Pascasarjana dan relevan dengan topik penelitian. Mahasiswa dapat mencari data dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dan situs web resmi. 2. Menggunakan Metode Penelitian yang Tepat: Mahasiswa pascasarjana perlu menggunakan metode penelitian yang tepat untuk mengumpulkan data. Mahasiswa perlu memilih metode penelitian yang sesuai dengan topik penelitian dan memastikan bahwa metode tersebut dapat menghasilkan data yang akurat. 3. Mengumpulkan Data dengan Teliti: Mahasiswa pascasarjana perlu mengumpulkan data dengan teliti dan hati-hati. Mahasiswa perlu memastikan bahwa data yang mereka kumpulkan akurat dan dapat dipercaya. 4. Menggunakan Teknologi: Mahasiswa pascasarjana dapat menggunakan teknologi untuk membantu mereka mengumpulkan data. Mahasiswa dapat menggunakan aplikasi atau perangkat lunak yang dapat membantu mereka mengumpulkan dan menganalisis data. 5. Menghubungi Ahli: Jika mahasiswa pascasarjana mengalami kesulitan dalam mendapatkan data, mahasiswa dapat menghubungi ahli atau pakar di bidang yang relevan. Ahli atau pakar dapat membantu mereka dalam mengumpulkan data yang tepat dan relevan. Dalam mengatasi kesulitan mendapatkan data, mahasiswa pascasarjana perlu mencari sumber data yang tepat, menggunakan metode penelitian yang tepat,


Refleksi Studi Pascasarjana 77 mengumpulkan data dengan teliti, menggunakan teknologi, dan menghubungi ahli jika diperlukan. Untuk mengatasi tantangan ini, siswa dapat menggunakan keterampilan pemecahan masalah untuk menemukan solusi atas masalah mereka. Penting bagi mahasiswa untuk tetap termotivasi dan terus mengerjakan tesis mereka, meskipun mereka menghadapi kesulitan di sepanjang jalan.


78 Refleksi Studi Pascasarjana BAB 8 Bekal untuk menjadi Mahasiswa Pascasarjana enjalani aktivitas dan keseharian sebagai seorang mahasiswa pascasarjana memiliki kesan yang cukup berbeda jika dibandingkan pada saat kita masih berstatus mahasiswa sarjana (S-1). Salah satu hal yang membedakannya adalah metode belajar yang perlu diperhatikan dan dilakukan dengan baik. Mahasiswa pascasarjana dituntut untuk memiliki kemampuan manajemen diri dan waktu yang baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa pascasarjana perlu membiasakan diri untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru seperti menulis artikel ilmiah, melakukan riset, mengikuti konferensi dan lain sebagainya. Sehingga metode belajar yang tepat perlu digunakan agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kehidupan mahasiswa pascasarjana tersebut. Selain itu, mahasiswa pascasarjana perlu mengasah kemampuan berpikir kritisnya dengan baik. Kemampuan ini akan berguna ketika dalam penyusunan tesis, pemecahan masalah, isu terkait bidang keilmuan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam BAB ini, kita akan membahas tentang hal-hal apa saja yang perlu M


Refleksi Studi Pascasarjana 79 dipersiapkan oleh calon mahasiswa pascasarjana agar dapat beradaptasi dengan baik dan berhasil dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang mahasiswa pascasarjana. A. Menyesuaikan Diri dengan Tuntutan Pascasarjana Hal utama yang perlu diperhatikan bagi calon mahasiswa pascasarjana adalah kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang baru. Berbeda dengan S1, mahasiswa pascasarjana dituntut untuk lebih terbiasa dengan apa yang akan dan sedang dikerjakannya lebih mendalam sesuai dengan bidang keilmuannya. Penyesuaian diri yang perlu dilakukan adalah mencakup gaya belajar, pembiasaan untuk membaca, terlibat aktif di komunitas ilmiah dan lain sebagainya. 1. Pengaturan Waktu dan Manajemen Tugas Kemampuan mengatur waktu dan mengatur skala prioritas adalah hal esensial bagi seorang mahasiswa pascasarjana. Dengan melakukan hal ini dengan baik, kita dapat mengelola waktu dan tugas secara efektif. Dampaknya adalah secara tidak langsung kita dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas pekerjaan dengan mengatur waktu dengan bijaksana dan mengelola tugas-tugas yang ada. Setiap orang tentu memiliki aktivitas yang berbedabeda, tentu hal ini pula berpengaruh pada caran setiap orang dalam mengatur waktunya. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana, pengaturan waktu melibatkan kegiatan mengidentifikasi, mengatur, dan mengelola


80 Refleksi Studi Pascasarjana waktu yang tersedia agar dapat digunakan dengan efektif. Ini melibatkan kemampuan untuk menentukan prioritas, menghindari penundaan, mengelola gangguan, dan mengoptimalkan penggunaan waktu yang ada. Beberapa konsep terkait dengan pengaturan waktu termasuk manajemen kalender, perencanaan jangka panjang dan jangka pendek, penetapan tujuan, dan memecah tugas menjadi tugas yang lebih kecil. Sedangkan untuk manajemen tugas berkaitan erat dengan pengaturan waktu dan melibatkan kemampuan untuk mengelola tugas-tugas yang perlu diselesaikan. Ini mencakup mengidentifikasi tugas, menentukan prioritas, mengalokasikan sumber daya, menjadwalkan, dan mengawasi tugas yang sedang dikerjakan. Manajemen tugas juga melibatkan kemampuan untuk mengorganisir tugas yang kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih terkelola, memberikan prioritas pada tugas yang paling penting, dan mengelola proyek secara keseluruhan. Skala prioritas dapat dibagi menjadi empat kuadran menurut Steven R. Covey, yaitu mendesak dan penting (kuadran 1), tidak mendesak namun penting (kuadran 2), mendesak namun tidak penting (kuadran 3), dan tidak mendesak & tidak penting (kuadran 4). Beberapa prinsip penting yang dapat kita lakukan dalam mengatur waktu dan manajamen tugas adalah sebagai berikut: a. Identifikasi dan prioritas tugas: Mengidentifikasi tugas-tugas yang perlu diselesaikan dan


Refleksi Studi Pascasarjana 81 menentukan prioritas berdasarkan urgensi dan pentingnya. b. Penetapan tujuan: Menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART goals). c. Perencanaan waktu: Mengalokasikan waktu yang cukup untuk setiap tugas dengan mempertimbangkan kompleksitas dan kepentingannya. d. Penjadwalan: Membuat jadwal teratur dengan mengatur waktu yang tepat untuk tugas-tugas dan mempertimbangkan hubungan antara tugas yang berbeda. e. Pengelolaan gangguan: Mengatasi dan mengelola gangguan yang mungkin terjadi, seperti panggilan telepon, email, atau pertemuan mendadak. f. Delegasi tugas: Mengidentifikasi tugas yang dapat diberikan kepada orang lain untuk membebaskan waktu dan sumber daya pribadi. g. Pemecahan tugas: Membagi tugas yang kompleks menjadi tugas yang lebih kecil dan lebih terkelola untuk mengurangi rasa kewalahan dan meningkatkan pencapaian. h. Pengawasan progress: Memantau dan mengevaluasi kemajuan dalam menyelesaikan tugas-tugas untuk memastikan pencapaian tujuan dan mengidentifikasi perubahan yang mungkin diperlukan.


82 Refleksi Studi Pascasarjana i. Manajemen waktu pribadi: Menggunakan teknik dan alat pengaturan waktu yang efektif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pribadi. 2. Pembiasaan Pembacaan dan Penelitian Setelah mengetahui dan menetapkan skala prioritas, hal yang perlu ditingkatkan oleh seorang mahasiswa pascasarjana adalah membiasakan diri untuk membaca. Sebab, akan ada banyak isu dan permasalahan yang terkait dengan bidang keilmuan kita yang perlu dicarikan solusinya. Inilah salah satu hal yang membedakan antara mahasiswa sarjana dengan mahasiswa pascasarjana. Dimana, kajian yang akan kita lakukan terhadap suatu topik akan jauh lebih dalam dan spesifik. Sehingga kemampuan membaca yang baik sangat diperlukan. Dalam setiap bahan bacaan, seseorang akan menemukan perspektif baru dan dapat menggunakan pengetahuan awalnya sebagai pondasi untuk membangun pengetahuan baru. Tentu melalui informasi terbaru yang telah diperoleh dari bacaan tersebut. Membangun kebiasaan membaca akan memberikan dampak positif bagi seorang mahasiswa pascasarjana. Sebab, bahan tulisan yang dibaca akan selalu berkaitan dengan hasil penelitian terdahulu yang telah dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah. Karena tidak semua orang menyukai halhal yang berkaitan dengan ilmiah dan sains, dengan adanya kebiasaan tersebut, maka bahan bacaan yang bersumber darimanapun tidak akan sulit untuk dimengerti. Artikel ilmiah berisi tentang hasil penelitian para peneliti pada bidang tertentu. Dengan


Refleksi Studi Pascasarjana 83 membaca hasil penelitian orang lain akan membuat kita mengetahui hal-hal apa saja yang telah dilaporkan dan ditemukan dalam penelitian tersebut. Ini akan membantu kita untuk menyusun rencana topik riset kita. Ketika kita sudah dapat membangun kebiasaan membaca terutama yang bersumber dari artikel ilmiah. Maka selanjutnya adalah kita perlu terbiasa untuk melakukan sebuah penelitian dan menyusun sebuah laporan penelitian. Inilah letak perbedaan lainnya antara mahasiswa sarjana dengan mahasiswa pascasarjana. Dimana penelitian yang dilakukan akan jauh lebih dalam baik teori maupun kajian yang dilakukan. Tentu dalam menyusun laporan penelitian, dibutuhkan kemampuan menulis yang baik. Oleh sebab itu, penulis yang handal adalah pembaca yang hebat. Dua hal ini sudah pasti saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Membangun kebiasaan untuk meneliti memang tidak mudah, namun ini merupakan tuntutan bagi seorang mahasiswa pascasarjana. Kita bisa memulainya dengan memilih topik riset sesuai dengan ketertarikan kita. Dari hal ini kita dapat menentukan metode penelitian yang dilakukan dan desain risetnya. 3. Membangun Jaringan Akademik Salah satu tuntutan bagi seorang mahasiswa pascasarjana adalah mampu melakukan sebuah penelitian baik kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu menemukan topik riset yang menarik sebagai awalan untuk memulai sebuah penelitian adalah hal yang cukup penting untuk diperhatikan. Sebab kita bukanlah


84 Refleksi Studi Pascasarjana satu-satunya orang yang akan melakukan penelitian dari topik yang sudah kita pilih. Sehingga perlu adanya pembaharuan ide dan topik. Hal lain adalah tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan sebuah penelitian, sehingga perlu adanya arahan dan bimbingan dari ahlinya. Berdasarkan hal tersebut, membangun jaringan akademik adalah hal penting bagi seorang mahasiswa pascasarjana. Dengan memperluas jaringan akademik, kita dapat menambah wawasan dan saling bertukar informasi terkait dengan kegiatan akademik dan non-akademik. Berikut adalah hal positif yang dapat diperoleh ketika membangun jaringan akademik. a. Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan: Jaringan akademik memungkinkan kolaborasi antara individu-individu dengan minat dan keahlian yang serupa. Melalui jaringan ini, kita dapat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penemuan terbaru dengan rekan-rekan sejawat. Kolaborasi semacam ini dapat menghasilkan pemikiran inovatif, penelitian yang lebih baik, dan keunggulan akademik. b. Peluang Riset dan Proyek Bersama: Jaringan akademik memungkinkan kita untuk terlibat dalam proyek riset bersama dengan para ahli dibidang yang relevan. Ini dapat meningkatkan akses kita terhadap sumber daya, pembiayaan, dan fasilitas yang diperlukan untuk penelitian yang lebih besar dan berdampak. Melalui jaringan ini, kita juga dapat menemukan mitra


Refleksi Studi Pascasarjana 85 riset potensial yang dapat membantu memperluas jangkauan penelitian kita. c. Mendapatkan Informasi dan Wawasan Terkini: Jaringan akademik memungkinkan kita untuk tetap up-to-date dengan perkembangan terbaru dalam bidang akademik kita. Kita dapat mendapatkan informasi tentang konferensi, seminar, dan publikasi terbaru melalui komunikasi dengan anggota jaringan yang kita miliki. Ini membantu kita tetap relevan dan terhubung dengan isu-isu terkini yang berkaitan dengan disiplin ilmu kita. d. Membangun Karier: Jaringan akademik dapat membantu membangun karier kita. Kita dapat memperluas jaringan profesional, menjalin hubungan dengan kolega di universitas atau lembaga riset lainnya, dan memperoleh rekomendasi yang kuat untuk pekerjaan atau promosi. Jaringan akademik juga dapat membuka pintu bagi peluang pendidikan lanjutan, pengajaran, atau kolaborasi internasional. e. Dukungan dan Mentoring: Jaringan akademik sering kali menyediakan dukungan sosial dan mentoring bagi para anggotanya. Kita dapat memperoleh wawasan berharga dari orangorang yang telah melewati pengalaman yang serupa atau dapat memberikan saran tentang pengembangan karier dan tantangan akademik. Membangun hubungan saling mendukung ini


86 Refleksi Studi Pascasarjana dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membantu kita mengatasi hambatan dalam karier dan penelitian. Dalam era digital, membangun jaringan akademik juga dapat melibatkan partisipasi dalam komunitas online, forum diskusi, grup riset, dan media sosial yang relevan dengan bidang akademik kita saat ini. Penting untuk aktif dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta memanfaatkan peluang yang ada untuk mengembangkan jaringan akademik yang luas dan berkelanjutan. 4. Beradaptasi dengan Kehidupan Kampus Selanjutnya adalah membangun jejaring di lingkungan kampus. Kehidupan mahasiswa pascasarjana, bagi sebagian orang mungkin akan terlihat begitu kompleks serta beban kerja (workload) yang dimilikinya jauh lebih besar. Mulai dari kegiatan akademik di kelas sampai diluar kelas seperti projek supervisor, projek penelitian, kolaborasi riset dan lain sebagainya. Mahasiswa pascasarjana memiliki kendali penuh terhadap aktivitas apa yang akan dilakukan selama menemupuh studi. Itu artinya, setiap mahasiswa pascasarjana memiliki kebutuhan, aktivitas harian dan kegiatan prioritas yang berbeda-beda. Namun hal tersebut akan banyak berkaitan dengan kehidupan dan lingkungan kampus baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, untuk dapat berhasil menjalani kehidupan kampus sebagai seorang mahasiswa pascasarjana, maka perlu untuk dapat beradapatsi dengan lingkungan kampus. Hal


Refleksi Studi Pascasarjana 87 yang dapat dilakukan untuk dapat beradaptasi dengan mudah adalah: a. Kenali Lingkungan Kampus: Jelajahi kampus kita dengan baik. Temukan lokasi penting seperti gedung perkuliahan, perpustakaan, kantin, pusat kegiatan mahasiswa, dan fasilitas lainnya. Menjadi akrab dengan lingkungan kampus akan membantu kita merasa lebih nyaman dan mengurangi rasa keterasingan. b. Terlibat dalam Kegiatan Kampus: Ikuti kegiatan kampus dan organisasi yang sesuai dengan minat kita. Bergabung dengan klub atau organisasi mahasiswa akan memungkinkan kita bertemu dengan teman sejawat yang memiliki minat yang sama dan memperluas jaringan sosial kita. Terlibat dalam kegiatan kampus juga dapat meningkatkan keterlibatan kita dalam komunitas kampus. c. Jalin Hubungan Sosial: Berusaha menjalin hubungan sosial dengan teman sekelas, tetangga asrama, atau anggota organisasi mahasiswa. Cobalah untuk berteman dengan orang-orang yang memiliki minat dan nilai-nilai yang sama dengan kita. Menghadiri acara sosial atau pertemuan mahasiswa juga dapat menjadi kesempatan untuk berinteraksi dan memperluas jaringan sosial kita. d. Gunakan Sumber Daya Kampus: Manfaatkan sumber daya yang tersedia di kampus, seperti layanan bimbingan akademik, perpustakaan,


88 Refleksi Studi Pascasarjana fasilitas olahraga, dan pusat karier. Ini akan membantu kita dalam mencapai kesuksesan akademik dan memberikan dukungan dalam pengembangan karier kita e. Tetap Terbuka untuk Pengalaman Baru: Kehidupan kampus adalah kesempatan untuk mengeksplorasi minat baru dan menghadapi tantangan baru. Jadilah terbuka terhadap pengalaman baru, seperti mengambil mata kuliah di luar bidang studi kita, terlibat dalam proyek penelitian, atau mengikuti program pertukaran mahasiswa. Ini akan memperkaya pengalaman kampus kita dan membantu kita tumbuh secara pribadi. Beradaptasi dengan kehidupan kampus membutuhkan waktu, tetapi dengan sikap terbuka, kerja keras, dan kemauan akan membuat kita terbiasa. B. Keterampilan Akademik untuk Mahasiswa Pascasarjana Selanjutnya hal yang tidak kalah penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa pascasarjana adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik yang terbilang kompleks dan dinamis. Seorang mahasiswa pascasarjana harus memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik untuk mendukung kegiatan akademiknya. Kemampuan berpikir ini tentu akan berguna, salah satunya adalah ketika dalam penyusunan karya ilmiah yang menuntut kemampuan menulis. Ketika kemampuan


Refleksi Studi Pascasarjana 89 berpikir telah diasah, maka secara tidak langsung akan memudahkan seseorang untuk menuangkan segala bentuk gagasan dan idenya ke dalam bentuk tulisan. Selain itu, kemampuan presentasi juga tidak kalah penting, sebab seringkali mahasiswa pascasarjana akan diminta oleh supervisornya untuk mengikuti konferensi nasional dan internasional. Dimana mereka akan memaparkan hasil penelitian mereka dihadapan khalayak banyak. 1. Keterampilan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan seseorang untuk memahami atau merfleksikan berbagai permasalahan secara mendalam, terbuka terhadap berbagai pandangan, dan tidak mudah percaya dengan sumber informasi yang belum valid (Sofiah et al., 2016). Pendapat lain dari Siswono (2018) mengatakan jika berpikir kritis adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan kemampuan berpikirnya secara efektif untuk menciptakan sesuatu, mengevaluasi dan membuat keputusan terhadap hal yang sedang dikerjakan. Sedangkan menurut Ennis (2011), berpikir kritis adalah kemampuan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan akademik, karena berpikir kritis adalah kemampuan kognitif yang sangat penting. Berdasarkan penertian tersebut dapat disimpulkan jika berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis sesuatu secara mendalam dan mampu menyaring informasi yang benar. Karena seorang mahasiswa pascasarjana akan dihadapkan dengan berbagai sumber informasi dari berbagai sumber, maka kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan.


90 Refleksi Studi Pascasarjana Selain itu, kemampuan berpikir kritis akan membantu kita untuk lebih dalam membuat sebuah kajian sebagai bahan atau topik penelitian yang akan kita kerjakan. Dimana salah satu unsur yang perlu diperhatikan ketika melakukan sebuah riset adalah unsur kebaruannya. Dengan adanya kemampuan analisa yang baik, maka mencari kebaruan dari topik riset yang sedang kita kerjakan dapat lebih terarah. 2. Keterampilan Menulis Ilmiah Dibeberapa kampus, mahasiswa pascasarjana diminta untuk menerbitkan hasil penelitiannya ke sebuah jurnal, baik nasional maupun internasional untuk tujuan publikasi sebagai salah satu persyaratan untuk lulus. Agar dapat terpublikasi, maka seorang mahasiswa pascasarjana harus memiliki kemampuan menulis dibidang karya ilmiah. Sebab hasil riset untuk dapat dipublikasikan haruslah ditulis kedalam format paper. Oleh sebab itu, seorang mahasiswa pascasarjana harus membiasakan diri untuk menulis hasil risetnya. Berikut adalah tips menulis artikel ilmiah secara umum a. Tentukan Tujuan Penulisan: Mulailah dengan menentukan tujuan penulisan artikel ilmiah kita. Apakah kita ingin melaporkan hasil penelitian, menguraikan sebuah konsep baru, atau menyajikan tinjauan literatur? Memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan penulisan akan membantu kita menjaga fokus dan struktur tulisan. b. Pilih Topik yang Relevan: Pilih topik penelitian yang relevan dan menarik bagi bidang studi kita.


Refleksi Studi Pascasarjana 91 Pastikan topik tersebut memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman dan perkembangan pengetahuan di bidang tersebut. c. Riset dan Tinjauan Literatur: Lakukan riset yang komprehensif dan kumpulkan referensi literatur yang relevan dengan topik kita. Bacalah artikel ilmiah terkini, buku, jurnal, dan sumber-sumber terpercaya lainnya. Tinjauan literatur yang baik akan membantu kita memahami konteks penelitian yang sudah ada dan mengidentifikasi celah pengetahuan yang dapat kita isi dengan penelitian kita. d. Buat Rencana Penulisan: Buat rencana penulisan yang terstruktur untuk artikel ilmiah kita. Tentukan bagaimana kita akan menyusun pendahuluan, kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan analisis, serta kesimpulan. Rencana ini akan menjadi panduan yang baik selama proses penulisan. e. Tuliskan Pendahuluan yang Menarik: Pendahuluan artikel ilmiah kita harus menarik perhatian pembaca sekaligus menguraikan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, dan pertanyaan penelitian yang ingin kita jawab. Sajikan sebuah argumen yang kuat untuk menggugah minat pembaca. f. Kerangka Teori dan Metodologi: Jelaskan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian kita. Sertakan penjelasan yang jelas tentang konsep-konsep yang relevan dan hubungannya


92 Refleksi Studi Pascasarjana dengan penelitian kita. Kemudian, jelaskan metodologi penelitian yang digunakan, termasuk desain penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan prosedur analisis data. g. Sajikan Hasil dan Analisis: Jelaskan hasil penelitian Anda secara objektif dan rinci. Gunakan grafik, tabel, dan ilustrasi lainnya untuk memperjelas data kita. Lakukan analisis data yang relevan dan berikan interpretasi yang mendalam terhadap temuan kita. h. Diskusikan Temuan kita: Di bagian ini, diskusikan temuan kita dalam konteks literatur yang ada. Tinjau kembali tujuan penelitian kita dan diskusikan implikasi, keterbatasan, dan saran untuk penelitian masa depan. Jangan lupa untuk mengaitkan temuan kita dengan kontribusi terhadap pemahaman pengetahuan di bidang studi kita. i. Kesimpulan yang kuat: Ingatlah untuk menjaga kesimpulan kita tetap terkait dengan konten artikel ilmiah kita dan menghindari generalisasi yang tidak didukung oleh temuan kita. Sebagai penutup, pastikan kesimpulan kita memberikan pemahaman yang jelas dan kuat tentang kontribusi dan implikasi temuan penelitian kita.


Click to View FlipBook Version