The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurullkholifah.nk, 2023-07-18 05:48:49

GORESAN PENA SANG CENDEKIA_NAWASENA_NARASI

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Keywords: Nawasena,Goresan Pena Sang Cendekia

Ilya melihat pohon besar itu, dan benar saja, itu seperti alam dongeng, di sekitar pohon tersebut, ada sungai yang mengalir, terdapat gubuk kecil di sebelahnya dengan Domovoi menatap keluar jendela, Harpy membangun sarangnya di atas pohon, Alkonost itu menuntun Ilya ke dekat pohon besar tersebut, saat Ilya mendekatinya, ia dikejutkan oleh Leshy yang mendorongnya langsung ke cabang pohon tersebut, ia kehilangan kesadaran karena tekanan udara pada cabang tersebut. Suasana sudah sangat siang, Ilya terbangun di lembah yang kosong, ia mendengar suara kicauan pelikan dan ombak terdengar sangatlah jelas di telinga kirinya, Ilya berlari mengikuti suara tersebut, ia berhenti ketika ia sampai di ujung, ia sedang berada di tebing, disebelah tebing langsung terdapat pantai, ia keheranan lantaran Arkhipsky adalah kota ditengah Siberia, dan tidak memiliki laut sama sekali, suasana juga sangat panas, tidak terdapat salju sama sekali walaupun itu adalah masa musim dingin, tetapi untungnya ia menemukan sungai, ia mengikuti sungai tersebut, ia melihat 2 anak kecil bermain ditepi sungai ditemani oleh seorang remaja yang duduk di batu-batu, mereka mengenakan pakaian yang sangat aneh, 2 anak tersebut melihat Ilya dan langsung berlari menjauh, kakak dari 2 anak tersebut langsung menggenggam kapaknya di tangan kirinya dan berdiri sambil menatap Ilya, tidak mau bermain-main dengan remaja tersebut,


“Aku tidak mau melawanmu” kata Ilya sambil mengangkat kedua tangannya dan berjalan mundur. “Siapa kau?” Tanya remaja tersebut sambil memerhatikan penampilan Ilya yang terlihat sangat aneh. “Namaku Ilya Oleksandrovich, kau bisa memercayaiku” kata Ilya dengan nada ketakutan “Aristos Athenesson-Halfdansson dan iya.. nama yang aneh” kata Aristos sambil menjabat tangannya dengan Ilya. “Jadi… kenapa kau memakai baju seperti itu?” tanya Aristos kepada Ilya. “Uhm... ini? Saya suka berbeda…” jawab Ilya dengan gugup, ia tidak mau membeberkan bahwa ia datang dari masa depan. Aristos memandang Ilya, mereka memiliki bentuk hidung ‘Romawi’, dan mata yang sama, hanya saja, mata Aristos hanya berwarna biru. “Apakah kita saudara?” tanya Aristos “Huh? Maksudnya?” tanya Ilya balik dengan keheranan “Ayahku memiliki mata yang sama, tapi warna matanya seperti darah yang masih segar” jawab Aristos. “Tidak, sepertinya hanyalah sebuah ketidaksengajaan” jawab Ilya dengan perasaan aneh, “Aku tidak pernah melihatmu, kau berasal dari mana?” tanya Aristos “Tidak tahu, aku sedang tersesat sekarang” jawab Ilya. “Ayo sini, ikut aku! Mungkin ayahku bisa membantu!” ajak Aristos, Ilya pun mengikuti Aristos menuju sebuah


bangunan besar dalam benteng. Di dalam bangunan tersebut, terlihat banyak wanita yang berhenti dan melakukan ‘curtsy’ pada saat Aristos berjalan, mereka berhenti didepan pintu besar dan memasukinya. Di balik pintu tersebut adalah ruang tahta, terdapat Raja dan permaisurinya duduk di 2 kursi besar menghadap langsung ke pintu, dan kerumunan berisik disekitar ruangan tersebut. Ketika Aristos dan Ilya memasuki ruangan itu, seketika kerumunan menjadi hening sejenak, lalu diikuti oleh bisikan sambil menatap Ilya, sang permaisuri menatap Ilya dengan serius dan segera memindahkan tatapannya ke sang raja. Aristos merupakan pewaris tahta sang raja, ia lahir dari hubungan politik Raja Halfdan dari Kargopol dan Ratu Athena dari Heves yang ingin menyatukan kedua kerajaannya, walaupun mereka sudah cerai saat sang pewaris tahta masih berusia 7 tahun, Aristos masih pewaris tahta yang sah karena ia adalah anak tertua dari kedua pihak. Kehadiran Ilya yang memiliki wajah yang sama dengan Aristos dan terlihat sedikit lebih tua menjadi berita heboh bagi orang-orang, seakan-akan keinginan mereka untuk melihat kesatuan dari Kargopol dan Heves menjadi kekaisaran terkuat di Eropa hancur. Haldan berdiri dari tahtanya didepan kerumunan yang sangat berisik dengan wajah kebingungan “Siapakah namamu, nak?” tanya Halfdan dengan lantang “Ilya… yang mulia…” jawab Ilya


“Siapakah nama ibumu?” tanya Halfdan dengan keheranan “Ehm... Ruslanaww, yang mulia?” jawab Ilya dengan kegugupan yang jelas terlihat oleh orang sekitar “Aku tidak pernah mengingatnya, ia berasal dari mana?” lanjut Halfdan “Yang mulia… Saya bukan anak anda, saya hanya orang Siberia yang tersesat” jawab Ilya “Siberia?” tanya Halfdan dengan paras kebingungan, “Tunjuk Siberia!” perintah Haldan sambil membuka peta yang berada disebelahnya. Ilya kebingungan dalam menunjuknya, peta tersebut hanya menampilkan Eropa, merasa kesal dengan lamanya Ilya berpikir, Halfdan menatap ke valetnya, Borg. “Semuanya keluar, ini adalah perintah Raja!” teriak Borg setelah menerima singal dari Halfdan. Semua orang keluar, kecuali Aristos, ia masih berdiri di tengah, Halfdan menatapnya, berharap ia akan keluar. “Yang mulia?” tanya Aristos “Kau juga, nak…” jawab Halfdan, Aristos meninggalkan ruangan tersebut dengan ekspresi kesal, sebagai pewaris tahta, ia seharusnya berhak melakukan apapun yang ia mau. Suasana sangatlah sunyi dalam ruangan tersebut, sekarang hanya ada sang raja, permaisuri, valet dan Ilya. “Dari mana kau berasal?” tanya Halfdan kembali. “Dibalik pegunungan ini” kata Ilya sambil menunjuk peta tersebut.


“Kita berada di Murom, di ujung dunia!” tegas Halfdan. “Tidak yang mulia.. Masih ada daratan lagi di balik gunung itu” ucap Ilya, meyakinkan si raja ‘brakk’ terdapat suara dobrakan pintu dibuka, dibalik pintu tersebut adalah prajurit yang sedang dicegat oleh pengawal raja, namun ia tetap berusaha untuk masuk, “Yang mulia..” teriak prajurit tersebut sambil menatap Halfdan “Biarkan ia berbicara” perintah Halfdan “Saya diperintahkan oleh Knyaz Vladimir untuk mengantarkan berita ini” ucapnya “Svyatogor sedang berada di perjalanannya menuju Valhalla, saat ini ia sedang berada di rumahnya, darah kembing sudah dipercikkan ke mukanya, 5 prajurit sudah dikborbankan atas namanya, tetapi ia masih berbaring tidak berdaya” tambah prajurit tersebut berita tersebut dibalas oleh wajah kaget dari Halfdan. “Siapkan 4 kuda!” perintah Halfdan dengan wajah yang tidak tenang, Borg berlari menuju kandang kuda, “Kau juga ikut nak” ucap Halfdan sambil bergegas berjalan, “Aristos!” teriak Halfdan, ia menyuruhnya untuk mengikutinya keluar istana. Di luar istana sudah terdapat 4 kuda, Borg membantu Halfdan menunggangi kuda terkuat dari 4 tersebut, “Tunggu apa? Ayo semuanya, kematiannya tidak menunggu kehadiranmu!” tegas Halfdan, dengan tidak ada pengalaman


sama sekali, Ilya menunggangi kuda tersebut, mengikuti sang raja dengan kuda perangnya yang sangat cepat. “Kita mau kemana? Siapa yang berada di ambang kematian?” tanya Aristos dengan lantang, berusaha melawan suara kaki kuda yang berisik. “Kyiv, maaf nak… Saat itu aku bilang Svyatogor akan menjadi panglimamu, tetapi Odin berpendapat lain, ia diundang ke jamuan makan malam di Valhalla” jawab Halfdan dengan perasaan bersalah, Aristos terdiam mendengar itu Waktu perjalanan 2 jam tersebut tidak terasa, mereka sudah mencapai Kyiv, mereka disambut oleh penduduk desa melihat raja mereka datang tanpa ada pemberitahuan, “Tunjukkan jalannya” perintah Halfdan ke Borg, mereka bertiga mengikuti dibelakang Borg menuju rumah Svyatogor, mereka turun dari kuda didepan rumah Svyatogor yang dijaga ketat oleh pengawal sang Knyaz dan memasukinya, didalam rumah tersebut terdapat Knyaz Vladimir duduk di samping, Svyatogor yang berbaring tidak berdaya. “Ilya…” rintih Svyatogor sambil membuka matanya, seisi ruangan tersebut kebingungan, tidak ada pengenalan, tetapi Svyatogor mengenalnya, Halfdan mendorong Ilya kedekat Svyatogor, ia berlutut di sebelah tempat tidur itu, dengan kekuatan terakhir yang Svyatogor miliki, ia mengangkat tanganya, menyenderkannya ke pipi Ilya “Dobrynya, Alyosha, dan Ilya…” ucapnya dengan lemah sambil tersenyum, dengan perlahan ia menutup matanya ‘jdarrr’


terpejamnya matanya diikuti oleh suara petir, pertanda bahwa prajurit pemberani tersebut. Pada waktu itu juga tubuh Ilya terasa aneh, bukan dari kaget, rasa aneh itu berasal dari pipinya yang tadi disentuh oleh Svyatogor, lalu merambat keseluruh tubuhnya. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menyingkirkan rasa aneh tersebut, terutama karena ruangan itu sedang dalam duka cita mengenang pahlawan perang suci tersebut yang baru saja meninggalkan bumi ini. “Apa yang dimaksud dari kata terakhirnya? Siapa Ilya?” tanya Dobrynya merusak suasana duka cita mereka. “Ini Ilya!” jawab Halfdan sambil mendorong kasar Ilya kearah Dobrynya, wajar saja, emosi Halfdan masih belum terkendali, Svyatogor adalah sahabat dekatnya. “Dari mana kau? Mengapa ia memilihmu?” tanya Dobrynya dengan serius diikuti dengan tatapan tajam dari Alyosha “Aku tidak tahu! Mengapa ia juga memilihmu?” tanya Ilya balik, perkataan ini langsung membuatnya menjadi pusat perhatian dalam ruangan tersebut, seorang rakyat jelata baru saja meremehkan pahlawan penakluk naga. “Jaga nada bicaramu! Kau berbicara kepada pahlawan penakluk naga, bukan rakyat jelata!” bentak Alyosha, tidak terima dengan nada bicara Ilya. “Hey, Svyatogor mempercayainya, ia akan berbaris bersama kalian!” sela Aristos dalam perdebatan tersebut.


“Begini tuan, kau tidak bisa mengelompokkan pahlawan perang berpengalaman dengan rakyat jelata yang tidak pernah-” pernyataan Dobrynya disela oleh Halfdan “Kau ingin menyalahkan Svyatogor dan membantah sang putra mahkota?!” ujar Halfdan dengan tegas berusaha membela putranya “Ini perintah pertama saya untuk kalian bertiga, lewati pegunungan disebelah sana dan kembali kesini!” perintah Halfdan kepada mereka bertiga. Dengan tidak ada pengalaman atau latihan sama sekali, Ilya berjalan bersama Dobrynya dan Alyosha, mereka diikuti oleh Halfdan, Aristos dan prajuritnya dibelakangnya, sesampainya di ujung desa, Halfdan berhenti mengikuti mereka, Aristos melambaikan tangannya ketiga orang tersebut berjalan menuju hutan ‘Ujung dunia’ tersebut. Setelah mereka mulai menjauh, Aristos memanggil ayahnya “Yang mulia?”, Halfdan menundukkan kepalanya, mengarahkan telinganya ke Aristos, “Bagaimana jika mereka tidak kembali?” tanya Aristos “Aku percaya dengan semua perkataan Svyatogor, bahkan jika ia meminta kamu mati, aku sendiri yang akan membunnuhmu di tidur kecilmu, nak…” jawab Halfdan dengan nada tidak mengenakkan ke anaknya sendiri, jawaban tega dari ayahnya sendiri membuat Aristos bungkam. “Apakah kau sudah mendengar berita tentang seseorang yang akan menjadi istrimu, nak? pernikahanmu besok lusa” tanya Halfdan ke putranya.


“Hah? Ingrid?” tebak Aristos, Ingrid adalah teman masa kecilnya yang kebetulan juga merupakan satusatunya anak dari Knyaz terkaya di Kargopol “Olga, anak tertua Raja Varazdat dari Ryazan” jawab Halfdan dengan nada suara yang jelas bahwa ia bangga. “Aku bahkan tidak kenal dengan dia?!” protes Aristos, “Aku tidak pernah kenal dengan ibumu sebelum pernikahan kami, tapi nak, bayangkan kekuatan yang akan dimiliki oleh anak kalian!” tegas Halfdan, tidak mau mengubah pikirannya, ia segera meninggalkan Aristos. lyosha, Dobrynya & Ilya memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah mulai gelap, Ilya menggosokan 2 batu, berusaha untuk menyalakan api unggun. “Kau bodoh, kamu melakukannya selambat bayi!” ejek Alyosha sambil merebut kedua batu tersebut dari tangan Ilya, dan benar saja, dalam percobaan pertama, api langsung menyala. Alyosha dan Dobrynya tahu jika Ilya akan menuruti semua omongan mereka, jadi mereka menyuruh Ilya untuk menjaga sedangkan mereka akan tidur. 2 jam memasuki tugas menjaganya, Ilya ditemukan sekali lagi dengan Alkonost yang membawanya dalam alur waktu yang sangat aneh ini. Ia mengejar Alkonost yang terbang dengan cepat, tiba-tiba, Alkonost itu menghilang begitu saja, tetapi, Ilya dihadapkan dengan kumpulan senjata-senjata yang secara misterius bisa berada didalam hutan, tanpa pikir panjang, ia segera mengambil pedang, kapak dan tameng yang tergeletak di tanah dan segara


kembali ke Alyosha & Dobrynya. Saat sedang kembali, Ilya mendapati adanya tamu tak diundang, bertubuh besar, berbulu lebat dan bercakar panjang sedang bersiap menerkam Alyosha & Dobrynya yang sedang tidur pulas berbaring di sekitar api unggun tersebut, sebagai reflek, Ilya langsung melempar pedangnya dari belakang beruang tersebut, dan itu langsung mengenai kepala belakangnya, ‘brukk’ beruang itu jatuh tewas. Alyosha dan Dobrynya yang semulanya tidur pulas, bangun karena suara yang sangat keras tersebut, mereka bangun mendapati cipratan darah di baju mereka dan beruang tengkurap dengan pedang yang tertancap dikepalanya, mereka mengalihkan pandangannya, terdapat Ilya dengan cipratan darah memenuhi mukanya, kapak di tangan kirinya dan tameng dipunggungnya “Aku sangat lelah, bolehkah aku tidur sekarang?” tanya Ilya, “Tentu saja, sekarang bagian kami” jawab Dobrynya dengan nada ketakutan. Bukan salahnya ia ketakutan, siapa yang tidak ketakutan bangun dari tidur, melihat orang yang baru kau kenal dipenuhi oleh cipratan darah sambil membawa persenjataan? Setelah Ilya tertidur dengan pulas, “Lyosha…” panggil Dobrynya, Alyosha memindahkan pandangannya ke sumber suara yang memanggilnya, “Apakah kita bisa mempermainkannya?” tanya Dobrynya, “Kita memang sudah menaklukan naga, tapi kita tidak bisa menganggap remeh orang yang membunuh beruang hanya dengan 1 lemparan, ia mungkin juga akan melakukannya ke kita.” Mereka mengerti jelas bahwa Ilya itu bukanlah seorang prajurit, tetapi Ilya juga bukanlah orang yang mereka ingin permainkan.


Pagipun segera menggantikan malam, Ilya bangun tanpa gangguan dari kedua ‘rekannya’, seperti biasa, ia mengusap matanya, “Kita akan kemana, Lyosha?” tanya Ilya, “Berjalan lurus, seperti perintah raja.” jawab Alyosha, Ilya sedang menarik pedangnya yang tertancap di kepala beruang tadi malam, ia menggenggam pedang berlumur darah itu di tangan kanannya, “Eh, itu kamu dapet senjatanya darimana?” tanya Dobrynya, “Bukan urusanmu…” jawab Ilya dengan nada pelan dan tatapan mematikan, tidak mau mencari masalah, Dobrynya segera mengalihkan pandangannya dari Ilya. Mereka bertiga berjalan lurus ke arah pegunungan di depan dipimpin oleh Alyosha, mendaki gunung adalah perjalanan yang berat, mereka banyak beristirahat di goagoa yang terdapat di atas gunung tersebut. Setelah mencapai puncak, tidak banyak yang bisa dilihat karena kabut-kabut yang menutupinya, tetapi terdapat bangunan yang lebih tinggi dari kabut tersebut. Itu adalah berita besar bagi Alyosha & Dobrynya yang percaya bahwa pegunungan itu adalah batas dunia, tetapi bagi Ilya yang bertahun-tahun hidup disitu, ia merasa seperti profesor dalam kelas anak TK. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa ia bukan orang aneh, “Liat itu? Ada bangunan, itu adalah daratan, aku tinggal disitu” ucapnya ke Alyosha dan Dobrynya, “Lalu, bagaimana kau bisa berakhir di Kargopol?” tanya Alyosha, “Aku tidak tahu, lagipula, itu juga bukan urusanmu” tegas Ilya. Setelah beristirahat lumayan lama, mereka memutuskan untuk mengunjungi daratan itu dari


kejauhan, saat perjalanan turun, mereka terlibat masalah dengan tentara bermata sipit, beruntung persenjataan yang dibawa Ilya berhasil mengatasinya, tidak mau terlibat masalah lagi, mereka kembali ke Kyiv. Saat sesampainya di Kyiv, kedatangan mereka mengundang perhatian banyak orang, saat itu juga kebetulan Halfdan sedang berkunjung, prajuritnya membelah kerumunan itu, memberikan jalan kepada sang raja dan putranya, “Kami pikir kau sudah berada di Valhalla, apakah kamu tahu itu sudah 2 tahun?” tanya Halfdan, “Apa? 2 tahun? Bukannya itu hanyalah 3 hari?” tanya Dobrynya dengan keheranan, “Tidak, ayo ikut bersamaku ke istana!” ajak Halfdan, mereka tentunya lelah, tetapi mereka tidak bisa menolak ajakan raja begitu saja. Sesampainya di depan istana, seorang wanita berlari kearah Aristos, Aristos berlari mengikuti wanita itu, semuanya juga ikut bergegas mengikuti Aristos, mereka memasuki suatu ruangan, di dalam ruangan tersebut, terdapat wanita yang merupakan istri dari Aristos sedang berbaring kelelahan diatas tempat tidur, disebelahnya terdapat wanita sedang membawa bungkusan yang tidak lelah bergerak, “Selamat yang mulia,ia adalah pangeran kecil!” ujar wanita tersebut, ruangan sangatlah berisik oleh tangisan sang pangeran. “Kau ingin menamainya siapa” tanya Olga, istri dari Aristos, tanpa mengalihkan pandangannya kepada bungkusan ditangan wanita disebelahnya, “Oleg Varazdat Aristovich”


jawab Aristos tanpa ragu, itu semua membuat Ilya menjadi bungkam, mereka adalah leluhur Ilya, inikah tujuannya ia dikirim kembali dalam waktu? Untuk memperingati leluhurnya akan prajurit Mongolia?” “Oh iya… Kalian bertiga melihat apa di pegunungan tersebut?” tanya Halfdan, “Dibalik pegunungan, ada kerajaan yang sangat kuat, mereka memiliki wajah seperti Viking, namun berkuda” jawab Dobrynya, “Menarik, ceritakan pengalamanmu saat makan siang nanti, sekarang kalian keluar dulu dari sini!” ujar Halfdan, “Baik, yang mulia.” jawab Alyosha, mereka keluar dari ruangan tersebut, mereka berjalan menuju ruang makan, Alyosha mengeluarkan pisaunya dan mengarahkannya ke belakang Ilya yang berjalan kedepan, ia bisa melihat bayangannya dan langsung membalikkan badan, saat itu juga pisau itu menancap tepat di dadanya. Suasana sangatlah aneh, yang Ilya lihat hanyalah Alkonost, sisanya hanyalah warna hitam, seakan-akan dunia sudah berakhir, semakin lama, Alkonosost itu mulai pudar, saat itu juga ia terbangun di hutan pinggir kota, tempat dimana ia kembali ke masa lalu, saat pagi, sangat sepi, tidak ada makhluk sama sekali, ia segera berlari pulang ke apartemennya, karena 30 menit lagi, kampusnya akan dimulai. Ia melanjutkan harinya seakan-akan tidak terjadi apapun, ia berusaha untuk melupakkan semuanya itu. -End-


Nasya Azura Irsyada, IX Al Farabi Angin malam yang menusuk seolah menyambut kedatangan seorang gadis bersurai blonde yang tentu akan pergi entah ke mana tujuannya. Di tengah-tengah awan hitam pekat yang menghiasi sunyinya langit malam, sesekali kilat petir terlihat, seolah mengisyaratkan hujan lebat akan segera mengguyur kota. Di tengah malam ini, tentu semua orang sedang mencari tempat untuk berteduh agar tidak terkena hujan. Tidak ada yang menyadari, bahwa ada seorang gadis yang sedang kesulitan mencari tempat untuk berteduh serta menenangkan dirinya. Chasyen berjalan seorang diri di tengah-tengah gerimisnya air hujan. Ia mengusap seluruh badannya yang terasa begitu dingin akibat terkena tetesan air hujan. Jika di tanya, ke mana gadis itu akan pergi?? Tidak ada yang tahu ke mana dia akan pergi. Dia hanya berpikir bisa bertemu dengan kembarannya lagi. Chasyen butuh dia, dan mungkin dia juga membutuhkan Chasyen. Tidak terasa ini sudah dini hari. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah lagi dan berharap ia bisa di pertemukan dengan kembarannya. Sudah beberapa kali gadis itu memesan gojek menggunakan aplikasi online. Tetapi, tidak ada satu pun yang menerima permintaannya karena sudah larut malam dan hujan yang semakin lama semakin deras. Chasyen mulai mencoba menghubungi teman temannya untuk menjemputnya, tetapi tidak ada satu pun yang bisa menjemputnya. Chasyen menyerah, akhirnya ia berjalan seorang diri agar bisa sampai rumah dan beristirahat.


Chasyen dan Covyen, mereka saudara kembar yang dulu tidak bisa di pisahkan. Mereka selalu bersama di mana pun mereka berada. Hingga ada suatu masalah yang membuat mereka harus berpisah dan tidak bertemu sampai saat ini. “Jika aku tahu akan berakhir seperti ini, akan ku pastikan aku ikut dengan mu Covyen “. – Chasyen. Pagi yang cerah di hari Senin, tentu semua siswa sangat malas di hari senin. Karena mereka harus berangkat lebih pagi agar tidak ketinggalan untuk upacara. “Chasyen, wake up! Wake up! “ Ucap Ellie mama Chasyen sambil mengetuk pintu kamar sang anak. “YEAAA MA, CHASYEN SUDAH BANGUN “teriak Chasyen.dari dalam kamar. “Cepat mandi dan bersiaplah! Lalu turun ke bawah untuk sarapan“ ucap mama Chasyen. 20 menit berlalu, Chasyen sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia hanya memakai bedak bayi dan menggunakan sedikit parfum yang menjadi ciri khas nya. Chasyen menyisir rambutnya dan memakaikan jepit berwarna maroon sesuai dengan almameter sekolahnya. Hingga menambahkan kesan imut pada dirinya. Setelah selesai dengan persiapannya. Chasyen langsung turun untuk sarapan bersama orang tuanya. “Morning pa, ma!!“ sapa Chasyen pada kedua orang tua nya. “Morning sayang“ jawab kedua orang tua Chasyen dengan kompak. Ellie memberikan sepiring nasi untuk Chasyen. Chasyen menerima dengan senang hati dan langsung menyantap nya hingga habis. “Mau berangkat sekarang? “ tanya Jesco papa Chasyen pada anaknya. “Yeahh, sudah jam segini pa “ jawab Chasyen.


“ Mau berangkat sama siapa emangnya? “ Tanya mama Chasyen. “ Bareng Thion ma, itu dia sudah tunggu di depan “ jawab Chasyen. “ Suruh Thion nya jangan ngebut ngebut ya Chasyen “ Ujar papa Chasyen. “ Iya pa, nanti Chasyen bilang ke Thion yaa “ jawab Chasyen. “ Yaudah, hati hati ya berangkat nya “ ucap mama Chasyen. “ Pasti “ jawab Chasyen. “ Bye pa, ma! “ *** SMA CT-EN adalah sekolah favorit. Dimana sekolah ini isinya di penuhi oleh orang-orang berprestasi dan di penuhi oleh kalangan kelas atas. Chasyen berjalan santai di koridor sekolahnya yang tentu masih sangat sepi. Gadis itu menuju ke kelas nya dan segera menaruh tas di bangkunya. Setelah ia menaruh tas nya, ia pergi keluar untuk melakukan upacara di lapangan utama SMA CT-EN. “CHAA!! “ teriak seorang gadis dengan kencang. Chasyen terlonjak kaget dan segera mencari siapa yang memanggil nya. Ia menatap temannya dan berkata “ Alahhh, bikin kaget saja “ ketus Chasyen. Griel sahabat Chasyen terkekeh mendengar nada bicara Chasyen yang ketus. “ Tumben banget berangkat pagi pagi gini, biasanya setengah 8 baru datang “ ucap Griel penuh tanya. “ Terpaksa ini, males di ceramahin “ jawab Chasyen. “ Lo pasti kangen gua si, uda beberapa minggu ga ketemu, lo kangen kan? pasti lahhh “ ujar Griel dengan pd. “ Pd lo tinggi banget, yakali kangen sama lo“ ucap Chasyen.


Griel mengerucutkan bibir nya “ Ah lo mahh begitu bangettt “ kesal Griel. “ Bercanda elah sudah pasti kangen lah, ayo ke lapangan nanti telat “ ucap Chasyen. 15 menit selesai upacara, semua siswa berhamburan menuju kelas masing masing untuk memulai jam pelajaran pertama. Chasyen dan Griel berjalan menuju ke kelas nya. “ Hahh, panas banget jujur ini “ ucap Griel. “ Banget plis, mesti kalau senin panas banget “ jawab Chasyen. “ Ayo deh cepet, panas banget ini jadi haus gua Cha “ ujar Griel sambil kepanasan. “ Ya lo saja jalannya lama Ri “ jawab malas Chasyen Kringgg... kringg... Bel sudah berbunyi tetapi kelas Chasyen dan Griel masih saja melanjutkan pelajarannya. “ Oh ayolah, ini sudah bel “ keluh Cyara. “ Ibu, ini sudah bel mengapa masih di lanjutkan? “ tanya Jepyan dengan lesu. “ Selesaikan soal ini, setelah itu kalian boleh keluar “ jawab bu Ilca. “ Okeyy bu “ jawab mereka serempak. 10 menit kemudian mereka semua sudah menyelesaikan soal di papan dengan cepat dan hasil yang memuaskan. “ Baiklah, kalian sudah boleh istirahat sekarang “ ucap bu Ilca. “ Okey bu “ Setelah itu, Chasyen dan Griel keluar kelas dengan rasa gembira. “ Huahhh, akhirnya selesai juga tu pelajaran “ ucap Griel. “ Iya nih, pegel punggung gua “ Jawab Chasyen. “ Aduhh, gua duluan ya Cha sudah laper banget ini “ ucap Griel


“ Eala gas abaran amat sih lo, yaudah sana gih “ jawab Chasyen dengan kesal. Chasyen berjalan di koridor yang sangat ramai karena masih jam istirahat. Tanpa Chasyen sadari ada laki-laki sedang buru buru dan tidak sengaja mengenai bahu Chasyen. Brukkk “ Eh maaf maaf, gua ga sengaja lagi buru buru soalnya. Lo gapapa kan? “ ucap laki laki itu sambil menyodorkan tangannya berniat membantu Chasyen berdiri. “ Iya gapapa, btw lo murid baru ya? kelas mana? “ tanya Chasyen sambil menerima bantuan dari laki laki itu “ Iya, gua kelas nya paling pojok sana“ jawab laki laki tersebut “ Kita sekelas dong berarti? “ tanya Chasyen “ Oh ya? kebetulan banget “ ujar Covyen “ mirip seseorang “ batin Chasyen “ Nama lo siapa? Wajah lo ga asing “ tanya Chasyen dengan rasa kepo. “ Gua Covyen, lo? “ jawab Covyen “ Covyen??? Opyen?? “ batin Chasyen. “ Nama lo bikin gua keinget sama kembaran gua, gua Chasyen salam kenal ya Covyen “ jawab Chasyen dengan sedikit canggung. “ Wkwkwk, nama lo juga ga asing. Semoga kembaran lo itu cepet ketemu ya syen “ ucap Covyen kepada Chasyen. “ Syen? “Pikir Chasyen. “ Yaudah gua duluan ya syen, ada pr ini gua jadi buru-buru. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya “ kata Covyen “ Iya “ *** Seorang gadis mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Kedua matanya terpejam sejenak sementara otaknya terus berputar putar. Firasatnya mengatakan jika


laki-laki tadi adalah kembarannya, tapi dia tetap tidak yakin dengan firasatnya itu. Sudah beberapa menit otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Gadis itu menggigit bibirnya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ia merasa cemas dan bingung, ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Chasyen mencoba untuk fokus mengerjakan buku LKS nya. Sebelum akhirnya berhenti di tengah tengah soal. Chasyen lupa rumus selanjutnya. Hal itu di karena kan ia teringet oleh kata kata kembarannya dulu. “ Asyen, Opyen janji apapun masalahnya opyen bakalan sama asyen teruss “ “ Inget nama ku Opyen bukan Covyen ya Asyen “ “ Nanti kita bertemu lagi ya Asyen, jangan lupain Opyen “ “ Opyen janji akan selalu ingat sama Asyen “ Ketukan jemari Chasyen semakin cepat. Sebenarnya apakah benar dia kembaranku? Atau bukan? Jika buka dimana dia sekarang? Chasyen selalu berharap bisa dengan cepat bertemu dengan kembarannya. Ia sangat rindu berdua dengan kembarannya, ia sangat ingin bilang jika ia sangat merindukan kembarannya. Perlahan Chasyen menghentikkan ketukannya di meja. Apapun yang terjadi pasti kita akan bertemu bukan? Aku berharap iya. “Chasyen! “ Suara panggilan dari guru Fisika menyadarkannya. Bu Lilac seakan bertanya pada Chasyen, apa yang terjadi dengan mu? Chasyen seketika tersadar dengan lamunannya, lalu ia menatap sekelilingnya yang ternyata mereka semua telah memperhatikannya. “ Apa yang terjadi padamu Chasyen? Apa ada masalah? “ tanya bu Lilac selaku guru di kelas itu. Chasyen langsung menggeleng dan berkata “ Tidak ada bu “ ucapnya.


Bu Lilac mengangguk. “ Paham dengan yang saya jelaskan, Chasyen? “ Chasyen mengerjap kan matanya, menatap buku binder nya. “ Paham bu “. “ Di tugas kali ini kalian akan berkelompok, dan kau Chasyen kamu sekolompok Covyen “ ujar bu Lilac. “ Baik bu “ “ Fokuslah saat pelajaran Chasyen, habis ini kita pulang “ ucap bu Lilac. “ Okey bu, saya minta maaf karna tidak fokus tadi “ ucap Chasyen pada guru tersebut “ Baik, silahkan di tulis sampai selesai. Setelah itu kalian boleh pulang “ ucap bu Lilac pada anak anak. “ Siap bu “ Kringg.. kringg.... Saat nya jam pulang!! “ Okey, karena bel pulang sudah berbunyi. Saya akhiri sampai disini “ ucap bu Lilac mengakhiri jam pembelajaran. “ Okey bu “ “ Jangan lupa tugasnya di kumpulkan di ketua kelas, dan ketua kelas tolong minggu depan di antarkan ke meja saya ya “ ucap bu Lilac pada Jepyan “ Siap bu “ jawab Jepyan. Chasyen dan Griel pun bergegas merapikan tas nya dan langsung menuju ke parkiran sekolah. “ Gua duluan yaa yel, Thion sudah nunggu di depan “ ujar Chasyen kepada Griel “ Yow, hati hati “ jawab Griel. *** Malam-malam begini, seorang gadis sedang fokus dengan tugas nya. Meskipun, sudah tengah malam gadis ini masih saja tetap mengerjakan tugas nya dengan sangat khusyuk. Ting


Ting “ Haduh, siapa si ganggu banget “ kesal Chasyen 080***** Chasyen? Ini Covyen, svb dong Ouh okey, gua save ya Btw, ada keperluan apa ini? Tudep banget Syen wkwk Mumpung besok sekolah kita di liburkan, kita kerja kelompok bisa untuk tugas tadi siang?? Bisa, tapi di rumah gua ya? Gua males keluar keluar Okey. Chasyen menghela nafas panjang. Chasyen melirik jam dinding, “ Sudah jam segini saja “. Setelah berkata seperti itu Chasyen bergegas membereskan semua buku-buku nyadan segera untuk tidur. *** Pagi ini Chasyen sudah bangun dari tidur cantiknya. “ Wih tumben tumbenan ini gua bangun pagi begini “ ujar Chasyen pada dirinya sendiri. “ Dari pada bosan, gua mau baca novel deh sambil tunggu Covyen “ Beberapa jam kemudian.. Tok... Tok... Mendengar ketukan pintu tersebut, Chasyen bergegas ke bawah untuk melohat siapa yang datang. “ Ouh, hai Covyen “ sapa Chasyen “ Hai “ sapa Covyen “ Duduk dulu, gua ambil in cemilan sama minuman dulu “ ucap Chasyen. “ Okey “ jawabnya. “ Nah, mau ngerjain yang mana dulu? “ tanya Chasyen.


“ Yang mind mapping dulu saja gimana? Habis itu kita baru buat proyek nya “ ujar Covyen. “ Sipp lahh “ Hanya butuh waktu 25 menit untuk mereka membuat mind mapping. “ Oh ya, gua pinjam kamar mandi dong boleh ga? “ tanya Covyen. “ Boleh, lo tinggal lurus terus nanti belok nanti ada itu tulisan kamar mandi “ jawab Chasyen. Selesai dari kamar mandi, Covyen tidak sengaja melihat foto foto yang tertempel di setiap dinding rumah Chasyen. Covyen tidak sengaja melihat salah satu foto yang di dalam foto itu terdapat 2 anak kecil yang sedang tertawa bersama. “ foto itu? Kaya ga asing “ Dengan rasa kepo yang sangat besar, Covyen membalik pigura itu dan melihat terdapat nama Chasyen san Covyen. “ Chasyen? Ternyata dia adikku? “ Setelah melihat pigura pigura itu, Covyen bergegas menghampiri Chasyen dan memeluk nya. Chasyen yang sedang membuat proyek untuk tugas mereka kaget dengan apa yang dilakukan dengan Covyen. “ Heh?? Kenapa Covyen? Tiba tiba banget “ tanya Chasyen “ Lo adik gua yang selama ini gua cari? Chasyen? Syen?? “ ujar Covyen dengan menatap Chasyen “ Covyen... “ “ Ini kakak??? Kangenn, kemana ajaa? “ ucap Chasyen sambil membalas pelukkan Covyen. “ Kakak kangenn, sekarang kita janji ya? harus bareng bareng terus, jangan hilang hilang an lagi okey? Kakak bakalan sama Chasyen terus mulai sekarang.“ ujar Covyen kepada Chasyen “ Promisee??? “ ucap Chasyen sambil mengulurkan kelingking nya ke Covyen.


“ Promisee!!! “ jawab Covyen sambil mengikat kelingking nya dengan kelingking sang adik. -End-


M.Shaikul Azmy Tampak seorang anak paki selimut di pagi hari. Hujan tak kunjung reda semalam, menyisakan udara yang sangat dingin. Anak itu terus tertidur pulas karena udaranya sangat dingin. Anak itu terlelap tidur, suara alarm berbunyi dan ternyata sudah jam setengah tujuh. Seketika Azmy bangun tidur dan siap-siap untuk berangkat sekolah dengan mengayuh sepedanya. Grimis masih mengguyur, Azmy berangkat sekolah sambil hujan-hujanan. Di jalan, Azmy terkena genangan air yang di lalui oleh mobil. Seketika Azmy teriak kesal karena bajunya basah kuyup. Sesampainya Azmy di sekolah, Azmy telat dan ditegur sama ustadznya karena bajunya basah kuyup dan kotor, dan Azmy di hukum untuk membersikan toilet. Azmy sangat sedih dengan keadaanya begini dan dia berdoa agar diberi ketabahan, untung ada temanya Azmy yang membawa dua seragam. Terus Azmy dipinjamin seragam sama temanya, Azmy sangat berterimakasi dengan temanya. Jam masih menunjukkan 10.20, nampak ustadzah menjelaskan dengan detail pada hari itu. Tidak mendengarkan dengan baik, justru Azmy merangkai mimpinya. Ya, pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, Azmy ketiduran, dan Azmy dimarahin ustazah Nurul Azmy sangat muak dengan keadaan saat ini. Ia terus tidak masuk sekolah selama satu bulan, di rumah Azmy cuma ngegame, rebahan, dll. Hari terus berlalu, nampaknya Azmy sudah mulai jenuh


akan kehidupanya saat ini, teryata bersenang-senang dengan game tidak selamanya menjadikan ia senang. Ia sangat merindukan sekolah, merindukan teman-temannya, bahkan ia pun merindukan amarah dari ustadz dan ustadzahnya. Tak lama, Azmy memutuskan kembali ke sekolah. Ia kembali merasakan riuhnya kelas oleh teman-temannya. Kali ini, ia tidak terlambat, tidak juga dengan seragam yang kotor dan lusuh akibat genangan air hujan. Ia berangkat ke sekolah dengan hati gembira, dengan semangat membara, dan pastinya dengan seribu perubahan yang sudah ia tanamkan dalam dirinya. Sesampainya di kelas, ia di dekati dengan teman yang meminjami ia seragam, ia nampak senang melihat Azmy kembali bersekolah. Ia meminjami beberapa catatan dan tugas untuk Azmy kejar, agar tidak tertinggal pelajaran. Lalu, teman Azmy berkata “Setiap masalah yang datang kepada kita, harus kita hadapi. Belari tidak akan menyelesaikan masalahmu, justru akan memperburuk kita. Jadi, selesaikan masalahmu dengan menghadapinya ya, jangan lari!”. Terus Azmy sadar dan bersemagat untuk sekolah menutut ilimu. Tak lupa, Azmy menjumpai ustadz dan ustadzah yang telah disakitinya kala itu. Ia menjumpai untuk meminta maaf. Dengan begitu, hati Azmy akan merasa tenang, dan bisa menimba ilmu dengan keberkahan yang melimpah. -End-


Alifia Reza Aneisha, adalah sebuah nama yang memiliki arti murni atau suci, Aneisha terlahir dari keluarga yang penyanyang dan orang tua Aneisha sangat menjaga Aneisha, karena mereka menyanyangi Aneisha. Aneisha memiliki paras yang cantik, baik hati, seorang hafidz qur’an, pandai public speaking, ramah, sopan hampir sempurna, namun Aneisha memiliki satu sifat yang memang buruk, yaitu iri, sifat yang semestinya tak ada di hati setiap orang. Arkana adalah sebuah nama yang tidak sembarangan. Dalam bahasa Sanskerta, Arkana artinya adalah suci dan berhati terang. Sedangkan arti nama Arkana di dalam bahasa Arab adalah pemimpin terhormat. Namun dalam bentuk lain Arkan, Arkana dalam bahasa Arab dapat memiliki arti sebagai lajur, atau kolom. Arkana terlahir dari sebuah keluarga yang sangat kaya, namun kedua orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaan masing – masing, sehingga Arkana dan 2 saudaranya terbiasa di asuh oleh seorang pembantu yang sering di panggil ibuk oleh mereka. Arkana adalah anak yang sangat pandai dan tentunya juga tampan. Rafardhan adalah sebuah nama yang sangat indah, nama yang tidak terlalu ramai penggunanya, nama yang memiliki cahaya. Hari Senin...... “ Aneishaa, ayo bangun nak, hari ini hari pertama kamu sekolah lho, masa’ kamu telat sih? “ ucap Bunda dari lantai bawah


“ Iya bunn, Aneisha nda akan telat kokkk, masi hjam setengah lima ini bunn, kan Aneisha lagi nda sholatttt “ balas Aneisha “ Oh iya ya, Bunda lupa, yauda siap siap sanaa “ balas Bunda “ Yauda deh nyiapin tas dulu, terus mandi deh “ ucap Aneisha. 1 jam pun berlalu, Aneisha pun bersiap – siap untuk turun ke bawah dan sarapan bersama keluarganya, “ Gimana ness, uda siap belum buat sekolah baru, teman baru, guru baru, semua baru? “ tanya ayah dengan antusias kepada Aneisha, “ Siap yahh, kok Ayah yang semangat sih kan Aneisha yang mau sekolah -_- “ balas Aneisha, “ Nih sarapannya, kita sarapan nasi goreng seafood buatan Bundaa “ ucap Bunda memotong pembicaraan Ayah dan Aneisha sambil meletakkan nasi goreng ke atas meja. Saat makanan datang di meja makan, Bi Inah pembantu di rumah keluarga Aneisha segera memberikan nasi goreng kepada seluruh anggota keluarga Aneisha, namun hanya Ayah yang tidak menerima jika Bi Inah yang memberikan makanan, Ayah hanya akan menerima jika makanan itu Bunda yang memberikan, akhirnya Bundapun memberikan 2 sendok penuh nasi goreng tak lupa udangnya dan meletakkannya di piring Ayah. Keluarga Aneishapun memulai sarapan dengan sangat damai, tanpa ada yang berbicara sedikitpun, Bi Inah pun juga ikut sarapan bersama maskipun Bi Inah adalah pembantu tetapi keluarga Aneisha telah menganggap Bi Inah sebagai salah satu anggota keluarga.


Sarapan pagipun berakhir, Aneisha dan adiknya yang bernama Risya segera mengambil tas mereka dan bergegas berangkat ke sekolah masing – masing bersama. Selama perjalanan, Aneisha sangat gugup bahkan ia menyiapkan sebuah kertas kecil berisi teks perkenalan dirinya, 15 menit berlalu. Akhirnya Aneisha sampai di sekolahnya yang baru, dengan gugup Aneisha melangkah masuk ke dalam SMP Harapan Bangsa, dan segera masuk ke kelas. Setelah sampai di kelas, Aneisha tidak ikut melaksanakan sholat dhuha. “ Hari ini kita mendapatkan keluarga baru di kelas kita, ayo kak silahkan perkenalkan diri di depan teman teman, dan jangan lupa maskernya di buka nggih “ suruh ustadz Ridwan yang beliau menjabat sebagai wali kelas Aneisha, kemudian Aneisha membuka maskernya meskipun sedikit ragu. saat Aneisha membuka maskernya, semua matapun kini tertuju pada kecantikan wajah Aneisha. “ Perkenalkan, nama saya Aneisha Guntur Asy Syaiqona Wicaksono, biasa di panggil Aneisha, saya pindahan dari pondok salaf Gontor, pripun tadz? “ tanya Aneisha pada ustadznya “ Lanjut hobi kamu apa, lahir tanggal berapa, semua tentang kamu agar teman – teman yang lain bisa kenal kamu lebih dekat “ suruh Ustadz Ridwan, “ Baik tadz, jadi hobi saya membaca dan jika ada waktu luang saya juga sering membuat tulisan tulisan, seperti cerpen ataupun novel, saya lahir pada tanggal 29 july 2008, saya lahir di Tuban “ ucap Aneisha melanjutkan perkenalannya.


“ Baik Aneisha, kamu bisa duduk di samping Naisya “ ucap Usztadz Ridwan sambil menunjuk bangku kosong di samping seorang anak perempuan yang nampaknya sangat pendiam. Setelah perkenalan, Aneisha pun akhirnya duduk di samping Naisya, kemudian Aneisha mencoba untuk menjadi lebih akrab dengan Naisya, dengan cara mengajaknya berkenalan lagi. “Teman baru lagiiiii “ Setelah hampir 4 hingga 5 bulan Aneisha di SMP Harapan Bangsa, kini akhirnya Anesiha dapat akrab dengan teman temannya yang lain. Hari ini saat sedang berolahraga, ada yang berbeda dengan suasana kelas Aneisha, satu anak yang di kelas Aneisha sangat berbeda tingkah lakunya jika di bandingkan dengan biasanya. Rendra, seorang anak perempuan yang tak pernah dekat dengan Aneisha dan juga Naisya, entah kenapa kini menjadi sangat dekat dengan mereka berdua. Akhirnya Rendra pun menceritakan semuanya pada Anesiha dan juga Naisya. Setelah mereka bertiga bercerita, Rendra meminta pada Aneisha dan Naisya agar menjadi teman Rendra. Aneisha dan Naisya adalah anak yang tak pernah memilih milih teman, semuanya mereka jadikan teman mereka. Rendra juga becerita pada Aneisha dan juga Naisya bahwa ia memiliki pacar yang bernama Arkana. Aneisha dan Naisya hanya mengiyakan. Hubungan mereka bertiga semakin dekat, namun berbeda dengan hubungan Rendra dan juga Arkana, dimana hubungan mereka berdua semakin renggang.


Keesokan harinya... Hari ini Aneisha sengaja berangkat menuju sekolahnya lebih awal, karena di hari ini Aneisha terjadwal untuk piket kelas. “Assalamu’alaikum guysss, good morninggg “ sapa Aneisha ketika memasuki kelas, namun ternyata kelas Aneisha masih sepi dan tidak berpenghuni. Setelah melangkah masuk ke dalam kelas, Aneisha mulai membersihkan kelasnya. Sambil menunggu teman – teman Aneisha yang lain, Aneisha memainkan handphone nya. “ Assalamu’alaikum guyss, eh uda ada Anesss, good morning ness “ sapa Rendra pada Aneisha dan memeluknya “ Ih jangan peluk pluk ihhhh, geliii tauuu, jangan panggil Aness juga dong “ pinta Aneisha “ Iya deh Aneisha cantikkkkk “ balas Rendra “ Eh Rendra, dulu kamu di kasih nama panggilan ya dari Arkana ? “ tanya Aneisha “ Iya, kenapa ? “ balas Rendra “ Oh, gapapa ko “ balas Aneisha “ Kamu lagi deket ya sama Arkana, aku uda putus sama dia “ ucap Rendra “ WHATTT, tunggu aku gak salah denger kan ? “ balas Aneisha dengan sangat terkejut “ Nggak ko, yauda siap siap sana buat pelajaran hari ini “ balas Rendra. Setelah beberapa hari, Aneisha dan Arkana semakin dekat, karena obrolan dari Ig. Namun ternyata Rendra masih menyimpan rasa suka kepada Arkana, dan sayangnya Aneisha tidak mengetahui hal itu, hal yang kedepannya akan membuat persahabatan mereka bertiga hancur.


“ Ness, aku mau bicara bentar dong “ ajak Rendra pada Aneisha “ Mau bicara apa ? “ tanya Aneisha “ Tentang Arkana, bentar doang ko “ rayu Rendra pada Aneisha “ Jadi gini, bukannya aku ngelarang kamu ataupun aku iri ya sama kamu gara – gara kamu deket sama Arkana, tapi aku ngingetin kamu sekali aja, jangan deket – deket lagi sama Arkana “ suruh Rendra “ Iya Ren, aku usahain “ balas Aneisha. Namun Aneisha tetap menjalin hubungan dengan Arkana, bahkan saat ini hubungan mereka persis seperti hubungan kakak beradik. Akan tetapi hubungan persahabatan antara Aneisha, Rendra dan juga Naisya kini telah kandas. “Anak baru yang nyebelinn “ Hari ini hari kamis, seperti biasanya Aneisha bangun tepat waktu, tetapi hari ini Aneisha terlambat, karena setelah Aneisha sholat shubuh, Aneisha melanjutkan tidurnya. Saat sampai di sekolahnya, Aneisha menebarkan salamnya dan juga senyumnya yang sangat manis kepada seluruh warga sekolah. Tetapi ada satu warga sekolah yang membuat mata Aneisha tertuju padanya. Ia nampaknya adalah murid baru, Aneisha mencoba untuk akrab dengan murid baru itu, namun tak di sangka, salam dari seorang Aneisha Guntur Asy Syaiqona Wicaksono yang biasanya selalu di balas oleh seluruh warga sekolah SMP Harapan Bangsa, namun salamnya kali ini tak terbalaskan sedikitpun, bahkan sang murid baru ini tak menoleh


sedikitpun untuk melihat wajah seorang Aneisha yang sangat cantik bagaikan bidadari. Di sana Aneisha pun jengkel, karena sang murid tak menjawab salamnya. Setelah memasuki kelas, Aneisha bercerita kepada Elza tentang semua itu. Tak lama kemudian waktu untuk mengaji pun tiba, Aneisha bergegas pergi ke kelas tempatnya mengaji dan juga Elza. Semua muridpun memulai jam pelajaran mengaji dengan baik. Saat di pertengahan kelompok mengaji Aneisha sedang murojaah, tiba tiba saja ustadz Habib menyuruh Radit untuk memanggail seseorang. Kemudian Radit menuruti perintah uastadz Habib dan segera memanggil seseorang yang di perintahkan Ustadz Habib. Saat wajah seseorang itu mulai masuk ke dalam kelas mengaji Aneisha, Aneisha sangat terkejut karena wajah itu yang membuatnya jengkel di pagi hari, “ Za, itu si anak baru itu kan, sapa sih namanya, kepo banget aku “ tanya Aneisha pada Elza “ Yo ndak tau toh mbaknyaaa, eh tapi kamu jangan terlalu membenci orang, entar suka terus jodoh lo yaaaa “ ucap Elza menjahili Aneisha “ Ndak akan za, halahh pasti anak itu ngaji ya di jilid, nda kayak kita udah tahfidz “ ucap Aneisha sambil menyombongkan dirinya “ Heh, Astaughfirullah ness, nda baik sombong gitu, liat aja nanti “ balas Elza Setelah anak baru itu di uji ngajinya, ia pun duduk di samping Radit, di sana Aneisha merasa malu karena telah menghina dan merendahkan anak baru itu. Kemudian setelah


jam mengaji mereka kembali ke kelas, dan mulai mencari tau tentang anak baru itu. Elza yang melihat tingkah temannya ini, hanya tertawa kecil dan duduk di samping Aneisha. “ Ngapain sih kamu, nyari tau tentang anak itu?, naksir ya? “ tanya Elza menjahili Aneisha “ Ishh, apaan sih, nda dulu kaks suka sama anak ituuu “ balas Aneisha “ Afa iyaa kidzzz “ ucap Elza yang kembali menjahili Aneisha “ Eh Elza, jujur ya sekarang aku bingung bangettt “ ucap Aneisha “ Bingung kenapa ? “ tanya Elza “ Gimana ya cara baikan sama Rendra, padahal sekarang aku uda gak deket lagi sama Arkana “ tanya Aneisha “ Aku juga bingung ness, emang bener kata orang orang, pertemanan bisa hancur hanya karena seorang lelaki “ balas Elza sambil menunduk “ Azekkk, quotes hari ini kakss “ ucap Aneisha sambil menyodorkan handphone nya ke depan mulut Elza tampak seperti reporter. Akhirnya, kisah persahabatan Aneisha hanya berakhir sampai di sini, meskipun masalah kecil itu hanya kesalah pahaman biasa dari satu pihak saja. Namun akhirnya semuanya berakhir hanya karena satu lelaki saja...... -End-


Den Isyana Putri Nirwana “Selamat pagi semua” suara nyaring perempuan berambut Panjang dengan pipi chubby itu berhasil menggemparkan seluruh penghuni kelas 3IPA1. Saking nyaringnya, suara anin terdengar jelas di kelas 3IPA1. “perkenalkan nama saya Anindya Siregar, panggil saja anin saya pindahan dari kelas 3PA4” Nama Anin memang sudah terkenal di sekolah, bahkan Sebagian anak 3PA1 sudah mengenalnya, anak mana sih yag ngga kenal Anin? Anggota osis, wakil dewan, dan selalu menjuarai tari. “Kenapa harus anin sih yang lolos untuk masuk di kelas kita?” “Kalau anin pindah sini, mending gue pindah 3PA2” “Males banget ada si anin” Sayup-sayup bisikan itu terdengar di kelas3PA1. Bukannya bergosip Bersama teman nya, mereka malah memilih menggerutu sendiri. Kebisingan itu memang sampai di telinga anin, tetapi anin memilih untuk tidak menggubris nya. SMA Garuda Nusantara, sebuah sekolah unggulan dan favorit dengan pembagian kelas yang unik. Untuk anak-anak yang cerdas, akan ditempatkan dikelas 1 sedangkan untuk kelas yang lainnya diberi maple khusus untuk menyusul prestasi-prestasi siswa kelas 1. Setiap semester, beberapa siswa berprestasi yang berada di kelas 2,3,4,5 akan


mengikuti seleksi untuk masuk ke kelas 1 atau pertukaran murid antar kelas. 3PA1 apa sihh?? 3PA1 artinya kelas 12 ipa 1, merupakan kelas unggulan di SMA garuda nusantara. Yang dimana muridnya cerdas, berbakat dan good looking. “Baik anak-anak, pelajaran hari ini saya tutup” ucap bu yuli Anin menutup laptop dan membereskan beberapa buku dan alat tulisnya. Bu yuli berjalan meninggalkan ruangan kelas. “Ko kayak sekelas sama hantuu plis” batin anin. Entah keberuntungan atau sial, anin si anak hiperaktif harus ditempatkan di kelas yang sunyi dan sepi seperti ini. Bahkan semua nya focus ke laptop dan buku nya masing-masing. Gadis itu menghela nafas berat. Matanya menyapu seluruh ruangan 3PA1 dengan dinding berwarna cream. Namun, pandangannya terhenti di pigura yang isi nya struktur organisasi “Tunggu, ni kelas kok ngga ada wakil ketua ya?” Cowok dengan rambut coklat pisah tengah. Menolah ke anin dan melambaikan tangan. Anin tersenyum ramah “Alhamdulillah, ternyata di kelas ini masih ada populasi orang baik” “Aku radhitya, panggil aja radhit” ucap sang cowok sembari mengulurkan tangan Lagi-lagi anin tersenyum ramah, dengan semangat gadis itu segera menerima uluran tangan nya radhit “Aku anin”


Marilah kita tunaikan sholat, sehari semalam 5 waktu (tanda istirahat) Bel berbunyi, kelas lain berhamburan keluar dari kelas, pasti mereka semua akan berdesakan untuk antri di kantin. Sedangkan kelas 3PA1, mereka masih focus dengan tumpukan buku dan jarinya yang lincah mengetik di laptop, kecuali radhit, Keenan dan Iqbal yang mulai membuka hp nya “Kelas ini nggak dikasih kesempatan untuk istirahat ya?” bisik Anin kepada Radhit “Tunggu aja beberapa menit lagi, kamu pasti akan tau jawabannya” Anin mengerutkan alis nya dan berusaha mencerna apa yang radhit ucapkan “Maksud?” ucap anin, “Tunggu ben-“ ucapan radhit terpotong lantaran “Kelas ini kenapa masih belajar? Otak juga butuh istirahat” kata seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri di ambang pintu, pak budi. Siswa-siswi kelas3PA1 segera menutup buku nya. Akan tetapi, mereka semua bukan ke kantin melainkan membuka tas nya lalu mengeluarkan sekotak bekal dan segera menyantap nya. Tak lupa dengan matanya yang tetap fokus pada laptop masing-masing. Anin mengangguk-angguk paham, kelas ini harus di beri perintah terlebih dahulu untuk istirahat.


“Pak ketu saya piket hari apa nichh” tanya anin kepada sang ketua kelas “Aku?” “Iyalah, masa bapak mu. Kamu ketu kelas kan di kelas ini?” Lawan bicara anin menoleh dengan tatapan sinis dan datar “iya, tapi gue bukan bapak mu” “Oh nggih pangapunten panduka raja” “Aku gak gila hormat” ucap ketua kelas yang super duper dingin seperti kulkas 10 pintu Anin menghela nafas berat harus berurusan dengan mahkluk satu ini, anin sudah mulai frustasi dan mengacakacak rambutnya dengan brutal. “Apes banget hari ini, udah masuk kelas 3PA1, beradaptasi dengan mahkluk-mahkluk aneh di kelas ini” “Sagara, saya piket hari apa ya?” Anin menghaluskan suaranya dengan lembut dan halus walaupun di hatinya ia sudah muak dan eneg. “Ngomong sama mahkluk aneh ini bikin buang-buang waktu saja” batin anin. “Terserah!” ucap sagara singkat dan mata masih fokus ke buku di meja nya. “Duh, ga bijaksana banget dah kalo ngambil keputusan” ucap anin dengan amarah nya yang sudah emosi dengan jawaban sagara (Anin berdecak kesal dan segera Kembali ketempatnya)


“Kamu banyak-banyak sabar ya di kelas ini” ucap gadis cantik yang rupawan Anin mendongak ke arah sumber suara tersebut, “Ngomong sama aku?” “Iya dong, oh ya kenalin aku shani” ucap gadis cantik tersebut “Aku anin” Aku merasa senang bertemu dengan orang baik dan masih waras di kelas ini. Namanya radhit dan shani. Radhit emang sedikit gesrek, dikelas pun sudah mencoba untuk melawak tpi hasil nya nihil mereka semua tidak peduli, dan shani ini terlihat seperti bidadari, cantik, baik, lembut dan pastinya pintar sih. “Shani, emang di kelas ini begini ya?” tanya anin “Begini gimana?” “Yaa hening,sepi,sunyi bak kuburan” Shani hanya bisa tertawa “Kelas ini memang begitu, kamunya aja yang belum terbiasa. Tapi lama kelamaan kamu bakal nyamn kok sama kelas ini” “Nyaman? Apa itu?” Sama sekali tidak ada tandatanda kenyamanan disini, mending aku menetap di kelas 3PA4. (rumah anin) Anin melemparkan tubuhnya ke kasur dengan baju seragam lengkapnya. Bisa jadi gila jika gadis itu satu tahun berada di kelas itu 17.00


Whatsapp Zee Alo guys, pakabss di kelas unggulan nich? Dosa ye lu kalo sampe ngelupain gua A n i n WOII BISA GILA CUII BERADA DI KELAS 3PA1 DEPRESII BERATT PLISS Zee Jadi,kmu gila apa mati muda? Semangat ya sayang kuhh di kelas unggulan A n i n O a j a t s a y


----------------- Terik Mentari pagi ini benar-benar menusuk tubuh siswasiswi yang tengah berbaris di lapangan. Sesekali mereka menyeka keringat yang membasahi dahi nya “Oke anak-anak jadi minggu depan akan diadakan semarak agustusan untuk masing-masing kelas bisa di siapkan, untuk lombanya ada balap karung, estafet air, gobak sodor dan basket” Ucap pak agus selau kepala sekolah SMA garuda nusantara ----------------- Saga : “Ada yang mau mengajukan diri untuk mengikuti lomba minggu depan” Radhit : “Gue, keenan, nathan, arga, ivan siap mengikuti lomba basket” Anin : “Aku ikut lomba gobak sodor” Shani : “Aku juga” Eve : “Aku juga deh” Zee, Gracia : “Aku jugaa” Saga : “Oke gobak sodor sama basket sudah full tinggal estafet air sama balap karung” Christy : “Aku ikut estafet air” Ariel, Marsha, Olla, Muthe : “Aku juga” Farhan, Fajri, Fiki : “Kita balap karung deh” Zweitson : “Ikut deh, aku kan juara lomba balap karung se RT” Saga : “Oke guys udah full semua, saling kerja sama dan jangan mentingin ego masing-masing”


----------------- Salah satu anak 3PA1 : “semangat pa satu kalian pasti menanggg” Keenan : “Dhit radhit oper ke aku” Radhit : “oke” ----------------- Hasil keputusan pihak sekolah PA1 memenangkan lomba gobak sodor dan basket “Terima kasih atas Kerjasama dan semangat kalian atas lomba semarak agustus kemarin kalian hebat. Tumbentumben an kelas ini bisa bekerja sama dan tidak mementingkan ego nya sendiri, kalian hebatt anak-anak ku” Saga : “Makasih nin, berkat kamu kelas kita jadi kompak gini. Tahun lalu mana ada ikut kaya gini haha” Anin : “Gaperlu makasih ke akuu, ini juga berkat semua temen-temen yang udah berhasil ngehilangin ego masing-masing” -End-


Rizqi Aziz Yudhista “Tok tok tok” suara pintu, aku terbangun dari tidurku aku langsung menghampiri pintu ternyata itu temanku yang mengajak aku bermain layangan, lalu aku mengambil layanganku ke belakang rumah ku, dan saat aku mengambil layanganku dan bergegas ke tanah lapang tempatku dan temanku bermain layang laying. Di saat itu aku memanggil temanku untuk memegangi layang layang ku dan aku yang menariknya, di saat layanganku sudah terbang aku ke rumah sebentar, tiba tiba teman ku berteriak hei “Ini loh layang layang mu putus” lalu aku mengejar layang layang ku aku bergegas ke rumah mengambil sepedah, dan langsung mengejar layang layang ku memakai sepedah di salah satu pertigaan jalan ada sepeda dari arah utara aku menyebrangi jalan tanpa melihat penjuru jalan saat itu dan aku di tabrak dari belakang aku di saat itu masih kelas dua SD dan aku menangis saat itu. Aku dibawa kerumah dengan keadaan kepala aku bersimpah darah, disaat aku di rumah aku diobati ibuku sendiri setelah diobati aku tertidur pulas dan malamnya aku bermimpi bermain layang layang sendirian dimalam hari tanpa rasa takut. Tiba-tiba di depanku ada setan dengan 10 meteran, disaat itu aku lari kaya berat banget sampai aku kebangun sampai memanggil ibuku dan ibuku menghampiri aku di kamar ku dan aku di antarkan ke dapur untuk minum. Aku


melihat jam menunjukkan jam 2 dini hari, dan masih ada ayam goreng kesukaan ku aku lalu makan ditemani ibuku sesudah makan aku tidur. Keesokan harinya aku bangun dan aku langsung mandi dan berangkat sekolah setelah di sekolah aku melihat kakak kelas sedang main bola dan aku melihat bersama teman di depan kelas dan tiba tiba bola mengarah ke aku dan terkena kepalaku yang di perban dan setelah itu aku sedikit mengeluarkan air mata. Setelah pulang sekolah aku tidur jam dua dan bangun jam setengan empat lalu aku mengayuh sepedah aku menuju sekolah melihat teman teman bermain kasti aku melihat kejauhan dan saat itu aku bisa tertawa karena teman aku terkena lemparan teman aku yang lainya karena pukulan nya kurang akurat. Saat itu datanglah kakak kelas aku tapi bukan yang yang menendang bola yang terkena kepala aku dan kakak kelas aku yang memukul bola tiba tiba bola kasti mengarah aku dan aku sudah menghindari bola kasti itu malahan bolanya mengarah mata kiri aku . dan aku menagis lagi dan aku ditemani kakak kelas itu Di rumah aku langsung mandi dan lalu melihat tv untuk menunggu waktu azan magrib tiba dan aku berangakat ke musola setelah shalat aku ke kamar lihat tv tiba tiba aku ketiduran. -End-


Danah Noor Sharifah Lorong sekolah nampak sepi dan sunyi, minimalnya cahaya yang masuk, menjadikan suasana terasa mencekam. Geby perlahan berjalan menyusuri lorong, tak lama ia menjumpai beberapa teman sebayanya, hingga tepat di depan kelasnya, ia nampak ragu untuk memasukinnya. Saat Gebby memasuki ruangan kelas dia disambut dengan perlakuan tidak enak seperti sinis kepada dia, dilemparkan sampah kearahnya, dan menjenggal dia. Gebby cukup sabar dengan itu dan dia yakin mereka akan mengetahui apa yang sebenernya. Arkana, Bagas, Ziel, Aeri bersahabat sejak dari lahir hingga sekarang, mereka adalah sekumpulan remaja yang sering membuat orang-orang iri dengan kehidupan mereka yang jauh dari kata baik. Orang-orang banyak bertanya “Bagaimanna bisa mereka selalu bahagia setiap harinya?” pertanyaan itu sering muncul ketika empat sahabat ini melewati lorong sekolah. *** Datanglah empat sahabat kesekolah kesayangan mereka, saat mereka berjalan berbarengan, murid yang sedang di sanapun heboh dan senang sambil menyambut mereka dengan cahaya-cahaya yang berada dibalik Smartphone. Setelah melewati murid-murid yang heboh akhirnya empat sahabat ini sampai di kelasnya dan terkejut karena ada satu murid yang sangat asing, setelahnya mereka


mendekati murid itu dan bertanya “Haii! Kamu anak baru ya?” kata Ziel yang menyodorkan tangannya kepada anak baru itu “Ah iya, aku anak baru di sini” jawabnya dan menjabat balik tangan Ziel dengan canggung “Salam kenal anak baru, aku Z,iel dan ini Arkana, ini Aeri dan ini Bagas” sambil menunjuk teman-temannya yang berada disampingnya “Iyaa, salam kenal Ziel, Bagas, Aeri dan Arkana, aku Gebby.” Setelah hari berkenalan dengan anak baru yang ada di kelasnya mereka jadi selalu berbarengan sampai muridmurid di sana iri dengan Gebby yang notabenya murid baru tetapi dia bisa langsung dekat dengan empat sahabat ini, banyak juga yang nyinyir kepada Gebby dan heran kepadanya “Dia tidak cantik mengapa dia bisa dekat dengan empat sahabat itu?” “Dia sangat jelek kok bisa ya bergabung dengan mereka?” kata-kata murid lain. Keesokannya mereka kembali berangkat bersama tapi mereka ketambahan satu yaitu Gebby, tapi mereka harus berpisah dengan Gebby karena dia dipanggil satu murid yang ada di sana. Sebenarnya mereka tidak memperbolehkan Gebby bertemu dengan murid lain sendiri karena takut kenapa-kenapa, tapi Gebby memaksa dan meyakinkan mereka. Akhirnya Gebby mengikuti orang tersebut hingga mereka sampai di depan Gudang sekolah, baru saja Gebby ingin bertanya murid tersebut tiba-tiba mendorongnya dan murid itu berteriak sambil memukul dirinya sendiri. Gebby sangat kebingungan dan mencoba membangunkan murid tersebut tetapi murid-murid yang mendengar teriakan murid itu langsung mendatangi gudang dan salah paham dengan Gebby.


Murid-murid mengira Gebby lah yang melakukannya hingga murid itu pingsan. Setelah kejadian tersebut rumor atau berita tentang Gebby trending dan meledak disekolah sampai-sampai berita itu masuk ketelinga Ziel, Aeri, Bagas dan Arkana, mereka yang mendengarnya langsung menghampiri gebby dan bertanya kepadanya. “Gebby, apakah benar kamu yang membuat pingsan murid itu? Aku yang mendengarnya sangat kecewa.” kata Aeri “E-ee engga! Aku tidak-.” kata Gebby dengan gemetar “Mengapa kamu menjawabnya dengan gugup? Kamu membuat kami tambah curiga.” Arkana menyelak perkataan Gebby “Sudahlah untuk saat ini kami jauhi kamu, aku takut persahabatan kami dianggap tidak benar” ucap Bagas *** Mereka meninggalkan Gebby yang sedang menunduk sedih, sekarang mereka sedang Makan di kantin bersama dan mereka melihat Gebby yang Makan sendirian dan Gebby dilempari sampah-sampah oleh murid. Sebenernya mereka ingin sekali membantu Gebby tetapi mereka tidak bisa karena mereka sedang menjaga nama baik, karena mereka tidak tahan akhirnya mereka meninggalkan kantin dan kembali ke kelas mereka sambil berbicara satu sama lain. Sudah berminggu-minggu Gebby dijauhi temanteman sekolah ada salah satu anak yang menyebarkan keaslian dari berita tentang Gebby saat kejadian di gudang tersebut, empat sahabat ini sangat senang mendengarnya dan langsung menghampiri Gebby yang sedang berdiam di perpus. “Gebby...”


“Eh? Halo Ziel” mengatakannya dengan penuh senyum “Kami ingin meminta maaf atas perlakuan kami pada saat itu.” kata Aeri “Tidak apa-apa, aku tau perasaan kalian pada saat mendengan berita buruk pada teman dan jugaa kalian tidak menyakitiku kok!” “Apakah kita bisa berteman lagi?” kata Ziel dengan penuh kecemasan “Tentu!!! Aku sangat menunggu untuk berteman dengan kalian lagi hihii” kata Gebby sambil memeluk mereka “Terimakasih Gebby” mereka mengucapkan secara bersamaan Setelah kejadian itu mereka akhirnya berkumpul bersama lagi, mereka mulai percaya satu sama lain agar kejadian seperti itu terjadi lagi. -End-


Sandy Langit Pada saat aku kelas 7 umur 13 tahun aku sangat suka melihat film, seperti film kartun di Netflix. Biasanya aku nonton sepulang sekolah, menonton dengan santai penuh makanan membuat aku sangat puas. Namun menonton film terus di rumah membuatku asing dengan teman-teman bermainku di perumahan, yang tadinya aku sering bermain di luar rumah menjadi malas untuk keluar rumah, karena aku sudah terlanjur nyaman dengan menonton film. Lalu keesokan hari aku sekolah. Aku belajar dan bermain dengan teman sekolah, pada saat bermain teman temanku pada bercerita tentang film anime. Dan sepertinya aku tertarik dengan film anime yang diceritakan teman aku yang bernama Rama, judul film tersebut Haikyu. Seperti yang diceritakan film ini menceritakan tentang seorang anak yang awal mulanya tidak bisa volly dan terus berusaha hingga anak tersebut menjadi juara dunia. Sepulang sekolah aku menonton film tersebut, aku menuntaskan melihat film tersebut sampai selesai episode akhir hingga 2 sampai 3 harian. Jujur aku menonton film haikyu sangat tertarik sampai sampai aku bercita-cita ingin menjadi pemain volly. Berhubung lompatan aku tinggi seperti seorang yang di film haikyu, aku memiliki semangat yang sangat tinggi untuk menjadi pemain volly.


Namun saat aku mencoba bermain volly, aku tidak begitu menyukai, Dan aku merasa seperti volly itu tidak seru. Lalu datanglah teman aku bernama Naufal Ardel Aulia Wibowo mengajak aku buat bermain basket dan aku berpikir “kayaknya seru “. Keesokanya pun aku bermain basket dengan Naufal dan aku pun search tentang permainan bola basket aku pun mulai menyukai basket karena seru dan keren. Aku terus mempelajari tentang basket dan terus berlatih. Sampai aku ikut club basket yaitu SIBC di situ aku memulai menekuni basket. Bermain basket itu seru, dan memiliki banyak teman. Aku bermain basket sampai mengikuti lomba. Meskipun masi kalah aku tidak frustasi, Aku tetap terus semangat berlatih dan belajar dari kekalahan. -End-


TauFiqi Kamal Aushofi Perkenalkan Nama saya TauFiqi Kamal Aushofi kelas Al Farabi, saya akan menceritakan tentang masa kecil sampai sekarang yang sangat tidak masuk akal. Dulu umur SD saya pernah melihat badut doraemon yang berbentuk manusia, itu sangat aneh dan tidak masuk akal. Dulu masa kecil saya pergi di Jogja untuk liburan, tapi saat saya liburan saya menemukan fonumen cuaca hujan dan cerah di tengah perjalan kok bisa? Kenapa tidak sekalian satu pulau hujan kan tidak masuk akal kan? Namanya juga masih anak-anak tidak tahu apa-apa. Pada suatu hari di masa itu ada berita media tentang seseorang ingin membunuh diri karena tidak ingin hari senin, sungguh berita yang sangat tidak masuk akal, saya saja hanya hari senin cuma biasa saja, tetapi tidak semua orang. Selain itu saya pernah menemukan yang sangat tidak masuk akal adalah film super hero hulk saat mau suntik tubuhnya makin besar tapi kenapa tubuhnya warna hijau? Masuk akal sih tapi mungkin karena cairan suntikan, ya kenapa tidak sisan warna kulit putih atau coklat kan bisa? Suatu hari lagi saat saya ke hotel waktu sholat ada tanda panah yang mengarah kiblat di atas itu bagaimana ceritanya kiblat di atas sangat tidak masuk akal tapi saya mengerti sholat hadap di mana, seharus handap kiblat ke


Click to View FlipBook Version