The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurullkholifah.nk, 2023-07-18 05:48:49

GORESAN PENA SANG CENDEKIA_NAWASENA_NARASI

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Keywords: Nawasena,Goresan Pena Sang Cendekia

lurus kiblat supaya tahu kalau sholat harus hadap mana. Di masjid pernah seperti itu. Selain itu saya pernah melihat film kartun kepala besar leher pendek dan badan kurus yaitu film kartun Mr Bean memang tidak masuk akal sih tapi nama juga film kartun tapi tetap saja tidak masuk akal. Diselain itu dunia pun bertanya-tanya bumi itu berbentuk apa? Bumi itu bundar sejak kapan bumi itu budar? Bumi itu bulat bukan bundar kalau budar sungguh masa yang tidak masuk akal Bumi itu bulat karena memiliki putar yang untuk ke pagi siang dan malam sedangkan bulat pagi terus ya sangat tidak masuk akal. Dan bulan kan bulat bukan bundar coba banyangkan kalau bulan bundar kan sangat aneh bukan? Makan belajar lebih baik lagi kalau bumi itu bulat bukan bundar. Setelah masa ke masa yang tidak masuk akal ada lagi, dimasa itu ingin naik montor katanya mau naik-naik montor minimal 2 penumpang nah dimasa saya menemukan naik montor itu 4 penumpang itu sangat banyak, sangat masuk akal tapi montor tidak takut rusak? Dan bukan hanya 4 lagi malah lebih dari itu tidak takut pelangaran begitu? Dan tidak takut rusak kalau keberatan untuk naik montor, dan di berita masa itu sangat lama. Setelah masa itu saya kenapa bola voli dan bola basket itu sama tapi bola basket buat lempar itu sakit ya namanya juga bola yang sanga berat sekali tapi mematul nya itu sama coba banyakan bola basket di jadi kan bola voli, ya sakit lah aneh bukan bola voli di jadikan main bola basket


sangat masuk akal tapi bola sepak yang mematul juga termaksud bukanya tendah malah buat lepar sangat tidak masuk akal. Besok hari eh ternyata hanya imajinasiku saya pun bingun apa yang terjadi saat itu di masanya dan lihat jam eh ternyata sudah jam 13.00 saya pun kaget, setelah itu saya pun whudu dan sholat selesai sholat saya kehilang di pikirsaya umm entahlah dan akhir selesai cerita imajinasiku yang sangat tidak masuk akal. -End-


Miftaqurromah Dwi Salsabila Hidup tidak selamanya berjalan sesuai apa yang diinginkan. Segala hal yang terjadi, terkadang bertolak belakang dengan apa yang diinginkan. Namun, apa yang harus dilakukan? Sedangkan takdirku, tak selamanya sesuai harapanku dan berakhir kehilangan. Apapun yang menjadi impian, sering menjadi penyesalan. Lantas, apa maksud dari takdir dikehidupanku? Yang tak selamanya membawa kebahagian dan berakhir tangisan. Baiklah, akan kuajak kalian masuk ke kehidupanku, ke dalam kisahku, dan kedalam tangis kesedihanku. Inilah aku, kisahku, dan takdirku yang tidak melulu berwarna sepertimu yang selalu menjadi pensil warna yang memberi goresan indah dihidupku. Mari, kubawa kalian kedalam kisah ini, dan inilah aku Keisha Alisya Putri Dipta dalam cerita yang bertajuk “Kenyataan”. Hari – hari yang kulalui terasa sangat hampa seperti biasanya. Tak sedikitpun aku merasa bahagia di hidupku. Terlalu lelah dan penat rasanya, merasakan betapa tidak beruntungnya aku lahir di dunia ini. Meskipun jika kalian tahu siapa aku, kalian pasti akan mengatakan betapa beruntungnya aku. Padahal, kalian tidak pernah tahu bagaimana hidupku sesungguhnya. Ya, aku adalah Keisha Alisya Putri Dipta, putri tunggal dari orang yang sangat terkenal dengan nama belakangku “Dipta” yang selama ini dikenal sebagai pengusaha, businessman, orang terpandang, dan lain – lain.


Ya, dia adalah papaku, orang yang sangat aku kagumi dan cinta pertama dalam hidupku, bukan berarti aku ingin merebutnya dari mama. Hanya saja, ada bukan kata – kata seperti itu? Yang mengatakan bahwa seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Dan ya, itu yang saat ini kurasakan. Meskipun dengan umurku yang belum genap 18 tahun, aku merasa seolah – olah aku tidak bahagia di dunia ini. Memang, terkesan egois tapi wanita yang melahirkanku, bahkan tak menghargai dan menganggapku sebagai putrinya. Seperti dugaan kalian, dia adalah mamaku, putri dari keluarga yang sama terpandangnya yang memiliki marga “Bagas”. Sangat serasi bukan?! Ketika nama ‘Bagas’ dan ‘Dipta’ disatukan, bagai satu kesatuan yang sangat pas. Memang, aku adalah cucu kesayangan di kedua keluarga. Tapi apa artinya disayang ketika mamaku sendiri sangat tidak menginginkan aku di dalam hidupnya. *** Aku selalu berpikir positif, dikala hati dan perasaanku sedang sakit, “mungkin mama bukan ngga pingin aku lahir, tapi mungkin mama kehilangan hal yang paling berharga setelah kelahiranku, dan hal itu yang bikin mama benci sama aku. Bukan benci tapi kesel. Semoga aja emang bener. Ya Allah,,, tolong buat hal ini hanya mimpi, bahwa kenyataan jika mama benci sama aku cuma khayalanku belaka. Tolong berikan hidayah untukku jika memang aku memiliki sebuah kesalahan dimata mama.” Begitulah singkat permintaanku kepada Tuhan disetiap sujudku ketika aku sedang lelah. ***


Sakit rasanya ketika hari itu aku mendengar sebuah kalimat yang diucapkan mama setelah aku tidak sengaja memeluknya dan menangis, karena sedang lelah, sepele bukan? Saat itu usia ku masih 12 tahun, dan dengan teganya mama mengatakan hal ini tepat setelah papa membelaku. “Aku ga suka ya pah, kalo kamu manjain dia. Asal kamu tau ya, aku ga pernah berharap kalo Kisha itu lahir, kamu tau kan kalo aku pingin anak laki – laki dan bukan perempuan? Ga seharusnya dia lahir, dia itu anak yang ga aku inginkan. Buat apa sih kamu belain dia?”. Tak sekali dua kali mama mengucapkan kata ‘tak diinginkan, tak diharapkan’ dan kata – kata lain yang mengoyak hatiku, melainkan berkali - kali. Bahkan papaku sudah lelah dengan segala hal yang dilakukan mama. Saat itu, sesaat setelah mama mengucapkan hal yang menurut papa tidak bisa diterima akal sehatnya, ia membawaku pergi untuk menginap serta menenangkan aku, dan quality time ‘katanya’, papa mengajak aku ke villa keluarga yang ada di Malang. Di sana papa berusaha menghibur dan ngelakuin apapun biar suasana hatiku yang buruk bisa kembali ceria seperti biasanya. Saat itu aku berusaha untuk tersenyum seperti biasanya agar papa mengira kalau aku sudah baik – baik saja dan kembali seperti biasanya. Setelah 2 hari di sana, kami memutuskan untuk kembali ke rumah, FYI, aku home schooling ya, makanya aku bisa bebas keluar kemana aja, itupun bukan karena keinginanku, tapi papa yang mutusin untuk aku selalu dalam pengawasan mereka 24 jam. Sesampainya di rumah, opa dan oma ku yang sedang berada di rumah menunggu kembalinya aku dan papa.


“Kalian dari mana aja sih? Kita nungguin kalian loh, kamu habis darimana sih Kei, Dip? Bikin khawatir aja” kata oma, “Kita habis quality time ma, iya kan sayang?” Tanya papa. Lalu kubalas dengan anggukan dan segera meminta izin untuk pergi ke kamar dengan alasan ingin bersih diri. Begitu aku masuk kekamar, aku menjatuhkan diriku ke kasur dan menangis sekencang – kencangnya “Ya Allah, kenapa harus aku? Kenapa aku yang selalu tersiksa? Apa salahku dihidupku yang lalu, kok dikehidupan sekarang aku selalu menderita. Tolong aku Ya Allah, aku ga kuat” disaat – saat seperti itu lah aku selalu memikirkan hal – hal yang buruk. *** Saat ini, aku sudah terbiasa dengan segala tingkah laku mama yang makin semena – mena ke aku. Tapi aku tetep sayang kok, soalnya yaa… balik lagi, dia itu mamaku, orang yang ngelahirin aku, jadi ya gimanapun sikap dan sifatnya dan baik buruknya mama, mama tetep mama yang selalu aku sayang. Aku mulai berpikir kalau mama kayak gini karena 5 tahun orang tuaku berharap punya momongan, dan mungkin mama kecewa karena ga bisa punya anak cowo. Dan malah berakhir pengen aku hilang dari dunia ini. Sering, aku melamun di halaman belakang sambil menangisi takdir yang Allah gariskan untukku. Tak sedikit pula kata – kata umpatan yang keluar dari mulutku tentang kecewanya aku karena harus lahir dengan kondisi keluarga yang seperti ini. Lelah, adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan aku saat ini. Ingin rasanya aku menjadi orang lain dan bersikap egois agar aku tau bagaimana rasanya bahagia. Ga pernah ada kata bahagia yang pernah terucap


dari mulutku. Karena, kebahagiaan yang aku dambakan, yaitu mama bisa berubah, tidak pernah terjadi selama aku hidup di dunia ini. Kenang – kenangan yang selalu ingin kuukir bersama mama tidak pernah sekalipun terlaksana. Senyum bahagianya hanya ditampilkan ketika sedang foto keluarga, kumpul bersama rekan bisnis papa, dan ketika sedang bersama banyak orang. Setelahnya, tak pernah ada senyuman bahagia yang terukir di mulutnya. Entahlah, aku hanya merasa mama tidak bahagia memiliki aku disampingya, namun aku tidak tahu dikenyataan, entah dia bahagia atau merasa sengsara. Sekali lagi kuucapkan “Ingin rasanya aku egois, agar aku tahu rasanya bahagia” malam itu, kutumpahkan kembali tangisanku disujud terkahir saat sholat malam. *** Setelah hari itu, aku berkata pada langit dan bintang dimalam hari dengan harapan bisa menyampaikan keinginanku kepada sang maha kuasa. Lucu memang, tapi, disaat – saat seperti ini tak jarang bukan, orang mengutarakan harapannya pada hal apapun. Saat itu aku berucap, “Ya Allah, ambillah nyawaku detik ini juga, tidak tahukah engkau betapa sakit dan lelahnya aku? Mengapa Engkau berikan segalanya kepadaku ya allah. Aku lelah, satu harapanku, mama berubah dan aku bisa bahagia meskipun sejenak, egois memang, tapi itu lah harapanku sebagai anak yang mengharapkan kasih sayang dari ibunya. Ambil aku ya allah, ambil!!” Tak kusadari tangisku mulai pecah seiring dengan ucapanku, dan tiba – tiba saja tangan kekar memelukku dengan erat dan mengucap “sabar ya sayang, semua ini butuh


proses, papa yakin kamu kuat, papa yakin kamu bisa buat mama berubah. Kita sama – sama berusaha dan berjuang ya demi mama, jangan patah semangat juga. Inget sayang, Allah ga akan pernah menguji hambanya diluar kemampuan yang dimiliki, itu artinya kamu anak yang kuat. Lagian anak papa ga boleh cengeng, udah ya cup cup…. Sini dipeluk.” Malam itu menjadi malam yang tenang dan menenangkan bagi Keisha, karena kehadiran papanya yang memberikan kekuatan untuk tidak patah semangat. Hingga tak berselang lama, sang papa berucap “kamu mau tahu satu hal ga?” aku pun menyipitkan mataku, sebagai tanda bahwa aku heran dan ingin mengetahui hal itu. “penantian papa sama mama buat punya momongan ga sesingkat yang kamu bayangin. Papa nungguin kamu selama 5 tahun dan akhirnya kamu lahir. Asal kamu tau ya, waktu kamu lahir mama nangis lho dan bilang kalo anak kita cantik dan janji buat njaga kamu bareng – bareng. Tapi karena omongan orang – orang, mama jadi berubah. Jadi… kamu sabar aja ya. Papa yakin, mama bakal berubah tapi ga sekarang, sabar ya” ucap papa yang semakin membuatku menangis tak henti. Kembali kuucapkan sebuah kata – kata yang membuat papa sedih dan ikut menangis “iya pah, makasih ya udah selalu semangatin aku, tapi aku ga kuat pa! sakit banget rasanya. Meskipun Kei bisa berharap kalau ini mimpi, tapi Allah ga akan ngizinin ini semua buat jadi mimpi.” Akhirnya malam ini, kami habiskan dengan besedih, mengingat masa lalu, dan bergurau seperti biasanya. Namum ternyata tanpa sepengetahuan kami, ada sepasang mata yang tengah melihat kami dari kejauhan dengan tatapan sendu,


dan didalam hati ia berucap “maafin mama sayang, karena selama ini harus berpura – pura jahat didepan kamu. Ingin rasanya mama meluk kamu Kei, tapi mama ga bisa dan mama janji, suatu saat mama akan cerita didepan kamu dan papa diwaktu yang tepat” ucap mama seraya menangis terisak dalam kesenyapan malam yang syahdu. *** Waktu mulai berjalan seperti biasanya dan tidak ada hal – hal yang spesial. Hingga tanpa aku sadari, malam ini adalah malam pergantian tahun. Malam ini, oma dan opa akan datang kerumah untuk mengadakan acara keluarga yang memang sudah umum dilaksanakan setiap akhir tahun. Yapp… itu adalah barbeque an…… terlihat menyenangkan bukan? Hari ini aku sangaatt bahagia sampai aku lupa terhadap segala kesedihanku. Akhirnya, malam pun tiba, semua anggota keluarga berkumpul dan melakukan bagiannya masing – masing. Mama dan oma memanggang, papa menyiapkan meja, sedangkan aku dan opa? Mungkin kalian sudah bisa menebak, yap kita hanya menyumbangkan vocal kita. Saat itu, kulihat mama tampak bahagia dan tidak terlihat seperti sedang membenciku. Malah sebaliknya, mama terlihat tersenyum hangat ketika aku tengah bernyanyi. Tak berselang lama, mungkin mama tahu kalau aku diam – diam memperhatikannya dengan tatapan dan senyum bahagia ku. Dia pun kembali menjadi dingin, seolah – olah hal yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi. Hancur lah harapan yang sudah kupupuk bahwa kata – kata papa akan menjadi kenyataan dimalam itu. Tenyata, mama kembali menjadi mama yang seperti biasanya, dingin, cuek, dan


menganggap seolah – olah aku tak pernah ada dihadapannya. Sakit? memang sakit, bagaikan pisau menancap tepat di jantung, namun apa boleh buat? Aku sudah terlanjur sayang dan enggan mengambil pusing untuk yang kesekian kalinya. Lagi – lagi papa mengucap kalimat kesayangannya “sabar ya sayang, belum waktunya.” Huhhh sungguh lelah mendengarkannya, tapi hal itu memang ada benarnya, dan itulah ujian yang kuhadapi dengan baik dan sempurna agar hasil yang kudapat membawa kebahagiaan. Akhirnya, kami melanjutkan kegiatan kami untuk bersenang – senang sembari menanti waktu pergantian tahun. Bahagia rasanya malam ini, melihat mama bisa tersenyum lepas saat ada aku didekatnya. Mungkin itu hanya topengnya karena opa dan oma sedang bersama kami, jadi mama harus berpura – pura untuk peduli dan tampil bahagia didepan mereka. Meskipun aku tahu bahwa itu hanyalah sementara, aku tetap bersyukur akan hari ini, dan tak henti nya aku mengucap ‘Alhamdulillah’ didalam hati. Akhirnya, waktu yang kami tunggu tiba, tepat pukul 12 malam kami saling mengucapkan kata “Happy new year” satu sama lain. Dan tanpa mama sadari mama mengucapkan kata itu ke aku, dan memelukku dengan hangatnya. Malam itu aku sangat bahagia, sampai ingin rasanya aku melayang saat itu juga. Dalam hati aku berkata “Alhamdulillah,, masyaallahh,,, terimaksih Ya Allah atas hari ini. Terimakasih engkau mau membuat mama melakukan hal ini, dan maafkan aku yang terlalu banyak mengeluh.” Hahhh… senang rasanya sampai aku bisa menyimpulkan bahwa aku tidak akan peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kedepannya, hari yang aku


tunggu sudah datang meskipun hanya sejenak. Air mataku berlinang, bagai air terjun yang tiada hentinya mengucur ke dasar. Papa yang melihat kejadian itu langsung ikut merayakannya dan memeluk kami dengan erat. Mungkin mama sadar dengan apa yang sudah dilakukan, dia langsung bergegas melepas pelukan dan berbisik ditelingaku “ga usah seneng dulu, ini cuma acting didepan oma sama opa, ga usah geer.” Entah ada angin apa, aku malah tersenyum mendengar kata – kata yang dilontarkan mama ditelingaku. Rasanya sudah sangat lama mama tidak melakukan ini, mungkin hanya setelah aku lahir beliau memperlakukanku seperti itu. Tidak terlalu lama setelah kami berpelukan, aku memejamkan mata dan berdoa “Ya Allah, tolong jangan ambil kebahagiaanku lagi, pertahankan hal yang baru saja terjadi Ya Allah. Buat mama berubah, hamba sangat merindukan hal – hal seperti itu Ya Allah. Jangan ambil nyawaku dulu sebelum aku mendapat kebahagiaanku Ya Allah. Hamba mohon” dengan sekuat hati aku berdoa dan menahan tangisku, ku selesaikan doaku dan tersenyum kearah papa. Beliau juga mengarahkan senyum manisnya dan memeluk aku sambil mengucapkan “Alhamdulillah.” *** Malam ini, tak ingin rasanya segera berganti pagi. Mungkin kalian akan bosan dengan kata kata ini, karena memang aku sangat bersyukur detik ini. Meskipun entah ini hanya sementara atau khayalan belaka, yang aku tau hanya satu. Mama memelukku dengan hangat malam ini. Hingga akhirnya acara selesai, semua orang memutuskan untuk pergi


ke kamar masing – masing dan segera pergi ke alam mimpi. Aku yang tengah bahagia tak ingin untuk segera pergi ke kamar karena takut ini semua hanya mimpi dan aku malah terbangun dari mimpi indahku. Seketika kutatap lagit dan kupejamkan mata sembari menghirup udara malam dan dinginnya malam yang menusuk tulang. Dalam gelap nya pejaman mataku, aku melihat hal yang sangat aneh. Seolah ada seorang gadis yang ditarik paksa oleh seseorang dari genggaman pria dan wanita separuh baya. Kedua orang itu kuanggap orang tuanya, tapi siapa gadis itu? Apakah itu aku? Dan kedua orang paruh baya itu papa dan mama? Lalu, siapa orang yang menarik paksa gadis itu? Entahlah, dengan segera kubuka paksa mataku agar tidak lagi memikirkan hal – hal yang terlintas dibenakku tadi. Saat kunyalakan hpku, terlihat degan jelas pukul berapa saat ini, sudah jam 3 pagi ternyata, dengan bergegas aku masuk, bersih – bersih dan tidur. Tak lupa, sebelum tidur aku membaca doa, dan terus – menerus mengucap rasa syukur dan berterimakasih. Akhirnya ku pejamkan mataku hingga aku tertidur dengan pulas. *** Pagi ini seperti pagi – pagi biasanya, aku terbangun dan segera berwudhu untuk melaksanakan kewajibanku. Selesai sholat aku bergegas untuk mandi dan menyiapkan sarapan, rasanya sisa – sisa kebahagian tadi malam masih melekat dibenakku dan membuatku bersemangat pagi ini. Dengan segera aku turun kebawah dan melesat kedapur, menu yang akan kumasak untuk sarapan kali ini adalah udang pedas manis, ayam goreng dan tumis kangkung. Yapp.. ini


semua makanan favorite mama sama ayah yang dimasak pake bumbu special yaitu cinta… azzeekkk….. ngelawak dikit lah yaa biar ga sakit – sakit banget kalo nginget- nginget masalah hidup. Jadi, disini aku masak sarapan bukan karena ada alasan sih, tapi ya cuma pengen berbagi kebahagiaan aja. Selama ini aku juga sering masak buat mama sama papa, tapi sengaja aku tutupin dan bilang ke bibi biar bilang ke mama kalo bibi yang masak, biar mama taunya bukan aku yang masak dan mau makan masakan yang aku buat. Emang sih kita kalo makan selalu bareng – bareng, tapi kayak ga ada kehidupan aja, sunyi banget. Mungkin suara tawa di rumah ini cuma aku sama papa atau engga papa sama mama doang. Jadi, kesannya emang suram. Tapi yaa.. gapapalah buat ngelatih mental aja. Oke, lanjut ya, setelah aku selesai masak, aku hidangin deh diatas meja makan. Dan ternyata mama sama papa turun duluan, waktu aku tanya oma sama opa mana, papa bilang kalau udah pulang. ‘hah? Kapan? Kok ga keliatan? Yaudah lah biarin, yang penting sampe tujuan dengan selamat’ begitulah kurang lebihnya gumaman ku dipagi ini. Akhirnya aku ngajakin papa dan mama buat makan bareng – bareng. Dan aku siapin semuanya, satu persatu, bahkan papa sampe heran kok aku bisa tau semua makanan kesukaan mereka berdua. Tibalah saat dimana aku nyiapin makanan ke mama, dan ternyata mama bilang gini “siapa yang masak, kamu? Tau dari mana kamu kalo saya suka makanan ini?” dengan gembira aku menjawab “tau lah mah, kan aku anaknya mama, kita terikat satu ama lain. Udah, masalah bisa darimana masaknya ga


penting, sekarang coba aja. Semoga suka ya!!” jawabku dengan excited. Samar – samar aku melihat secuil senyuman merekah dipipi mama ketika mencicipi masakanku, entah nyata atau tidak, tapi aku sangat bahagia melihatnya. Soal papa? Sudah jelas dia menghabiskan makanan itu dengan lahap dan nambah nasi berkali – kali. Mama memang tidak menunjukkannya dengan terang – terangan, tapi aku tau kalau mama menyukainya. Saat itu juga senyumku semakin mengembang. Dan aku baru sadar, bahwa pertanyaan mama tadi lumayan panjang, itu artinya aku baru saja berbicara panjang dengan mama. Aaaaaaaaaaaaaa!!!!! Gembira rasanyaa, sampi ingin terbaangggg!!!! Kekanak – kanakan memang, tapi inilah aku jika sedang bahagia. Hari itu, kulalui seperti biasa, aku belajar di rumah, nonton drakor dan ya, berusaha menyibukkan diri disaat papa sedang di kantor dan mama yang sedang bersosialisasi dengan bunga – bunga kesayangannya. Sunyi rasanya karna tidak pernah diizinkan untuk keluar rumah tanpa alasan yang logis. Hingga malam yang sunyi dan tenang datang menghampiri rumah keluarga kami. Hari itu terasa lebih baik dari hari – hari sebelumnya. Udara yang sejuk dan aku bisa menikmati malam itu dengan tenang, seperti hal yang kusukai ‘keheningan’. Dan malam itu berlalu begitu cepat. *** Esoknya, aku melakukan aktivitas seperti biasa, namun yang berbeda mama tampak tengah gelisah dan memikirkn satu hal. Dan tak terasa, mama kembali seperti biasanya dan kali ini lebih parah, dia menyumpahiku agar


segera mati. Aku bahkan tidak tahu alasannya, tapi mama langsung menyumpahiku untuk segera mati. Lantas hal itu membuatku kembali di datangi pikiran kotor dan pendek tentang ‘kematian’ lelah, kembali kurasakan. Kata – kata yang sangat aku benci. Hari itu, awan mendung kembali mendatangi rumahku dan linangan air mata kembali membasahi mataku untuk kesekian kalinya. Saat itu, papa tidak ada di rumah karena urusan pekerjaan, biasanya papa mengerjakan pekerjaannya di rumah sambil mengawasku dan mama. Namun, anehnya saat itu papa meninggalkan kami dengan santai. Apa itu sebuah pertanda? Karena apa yang akan terjadi padaku setelah ini tidak akan bisa diterima. Apa kalian siap menerima kenyataan ini? Apa papa akan ikhlas? Entahlah, kurasa demikian. Hari itu, kuambil keputusan sepihak tentang akhir hidupku, yang entah akan kemana setelahnya. Kuambil seutas tali tambang yang memang ada di kamarku untuk jaga – jaga jika suatu saat aku ingin kabur dari rumah. Namun kali ini, kuambil tali tersebut untuk menentukkan nasib hidupku setelah ini. Kuikat tali itu ke langit – langitu kamar dan kunaiki sebuah kursi dan kuikatkan ke leherku dengan kencang. Sebelumnya kutuliskan sepucuk surat yang berisi “dear papa and mama. Ini Keisha, maaf yaa… kalau kalian lihat surat ini dengan keadaan Keisha yang ya…. nanti kalian tahu sendiri. Makasih ya pa, ma udah mau ngerawat Kei sampai detik ini, maaf kalau Kei emang punya banyak salah sama kalian. Apalagi sama mama, jujur Ira ga tau alasan mama apa, dan Kei udah lamaaa banget nungguin mama tapi mama ga terus terang sama Kei, Kei cape ma, Kei cape bertahan dan


udah ga kuat lagi. Sekali lagi maaf pa, ma, Kei sayang banget sama kalian berdua. Makasih dan maaf untuk kesekian kalinya. Semoga kita bisa ketemu lagi” itulah kurang lebihnya pesanku untuk mereka berdua. Orang yang sudah berbaik hati menerimaku dengan segala kekuranganku. Kalimat terakhir yang kuucapkan hari itu adalah “Maaf Ya Allah atas tindakanku yang salah ini, semoga engkau memberi ampunan. Tolong lindungi kedua orang tuaku, buat mereka bahagia dengan hilangnya diriku dalam hidup mereka. Terimakasih atas segala hal yang kau berikan Ya Allah. Hamba pamit” kututup mataku erat – erat dan kudorong kursi yang kunaiki hingga menimbulkan suara yang keras dan posisi ku yang melayang. Kalian pasti tau apa yang kulakuan. Yaa ‘gantung diri’ Di bawah sana, mama tengah menangis dan karena suara kursi itu, mama bergegas naik ke kamarku dan membuka paksa kamarku. Saat itu, aku merasakan rasa sakit luar biasa dari arah leherku, namun tidak berlangsung lama. Karena setelah itu rasa sakit yang kurasakan semuanya menghilang dalam sekejap. Namun, yang kulihat adalah diriku yang tengah menggantung dengan mirisnya dan darah yang menetes akibat sayatan yang kubuat sedikit dileher dan tanganku. Yang tanpa kusadari sudah mulai megalir dengan derasnya dilantai rumahku. Setelah pintu terbuka, kulihat wajah mama yang suram semakin suram setelah melihatku menggantung di langit – lagit rumah. Dengan segera mama menarik ku dari tali itu dan memeluk tubuhku yang tak bernyawa itu dengan erat. Dengan mengucap istighfar mama berusaha membangunkanku dan menutup semua luka sayatan


ditubuhku dengan tangannya. Kulihat tangisnya yang mengalir dengan deras bagai air terjun, setelah menemukan dan membaca surat yang kutulis. Diucapnya kata – kata penyesalan dan maaf dari mulutnya, “sayang,,, maafin mama, bangun nak… sayang bangun maafin mama, please mama bakal berubah buat kamu. Mama bakal jujur ke kamu, maaf selama ini pura – pura jahat sama kamu. Itu karena mama gamau kehilangan kamu, seseorang ada yang mau ngambil kamu dari mama sama papa. Waktu kamu umur 6 tahun, kamu inget? Ayo bangun sayang, Kei bangun nak. Mama mohon” kalimat itu tidak berhenti namun berlanjut “Orang itu mau kita pisah, dia selalu ngintai kita nak. Kalau mama berusaha ngedeketin kamu, dia bakal nge chat mama, sekalipun mama ganti hp dan nomer, dia selalu nge chat mama. Makanya mama memilih untuk pura – pura jahat sama kamu, supaya kamu ga diambil.” Detik itu, aku teringat bayangan yang pernah melintas dipikiranku ketika aku memejamkan mataku. Setelah kata – kata mama yang terselesaikan, dia segera menelpon papa dengan tergesa, dan teriaknya. Ketika ponsel mama ditutup, mama masih melanjutkan kalimat maaf dan penyesalannya, disela – sela kalimatnya, ia bercerita tentang betapa bahagianya mereka berdua ketika aku lahir kedunia ini setelah penantian panjang mereka. Namun, mama kembali menangis ketika menceritakan bahwa setelah aku lahir, ada orang yang mengancam akan membunuhku jika mama menyayangiku. Tangisnya semakin menjadi – jadi ketika dia tahu orang yang ingin memisahkan kita adalah adik mamaku yang ternyata iri terhadap kebahagiaan mama karena bisa


memiliki seorang anak, apalagi anak perempuan, sedangkan tanteku tidak bisa. Pantas saja, saat aku sedang didekatnya, dia berusaha untuk membuatku memanggilnya dengan panggilan mama. Dan selalu menjelek – jelekan mama didepanku. Hari itu, penyesalanku semakin melambung, sesak rasanya dadaku menghadapi keadaan ini meskipun aku telah pergi dari dunia ini dan hanya bisa melihat apa yang terjadi kepada mama dan papa kedepannya. Berulang kali aku berkata ingin memutar waktu dan berusaha lebih sabar terhadap semuanya, tapi itu semua hanya keinginanku yang tidak mungkin. 15 menit kemudian, kulihat papa dan ambulans datang bersamaan, setelahnya petugas kesehatan hanya bisa melihat papa dan mama yang memelukku dengan tatapan iba. Kupeluk mereka, namun yang kudapat hanya hembusan angin. Karna tenyata, aku tidak bisa lagi memeluk mereka karena nyawaku sudah tidak di tubuhku lagi. Kurasakan ciuman terakhir dari mama dan papa sebelum tubuhku dimasukkan kedalam kantung jenazah dan dibawa untuk diotopsi. Nyawaku memang sudah tidak di tubuhku, tapi bisa kurasakan hangatnya ciuman dari orang yang selalu kutunggu, dia adalah mamaku. Hari tu ada penyesalan tentang kematiaku dan rasa bahagia karena mama telah berterus terang tentang keadaan yang ada kepada papa dan aku. Hari itu juga, adik mamaku ditangkap atas kesaksian mama dan menjadi salah satu penyebab kematianku. Setelah otopsi selesai dilaksankan aku dibawa kerumah, lalu dimandikan, dikafani, disholati dan akan segera di kebumikan.


Ketika proses pemakamanku berlangsung, kulihat betapa terpukulnya mama dan papa yang berusaha saling menguatkan dengan adanya kejadian yang buruk ini. Kulihat papa yang bergegas turun ke liang lahat untuk mengadzani jenazahku. Dengan tangisannya, perlahan ia mengucap kata “papa ikhlas Kei, yang tenang ya di sana. Tunggu papa dan mama, maaf juga atas semuanya” aku yang melihat dan mendengar itu menangis. Bukan sebagai manusia, melainkan apa yang kalian sebut dengan ‘Hantu’. Selama bertahun – tahun aku selalu berada disamping kedua orang tuaku, bukan sebagai Keisha yang hidup, namun sebagai ‘hantu’. Yang bahkan mereka tidak bisa melihatku. Aku tidak peduli mereka melihatku atau tidak, tapi aku akan selalu disamping mereka untuk menemani dan menjaga mereka dari segala kejahatan yang ada. Di tahun kelima kematianku, mereka sudah mulai menerima keadaan dan mulai kembali ceria. Mereka juga sering mengunjungi makamku, hanya untuk sekedar bercerita dan tertawa bersama. Bahagia rasanya melihat mereka tertawa setelah kematianku. Itu artinya papa dan mama sudah mulai bangkit dari keterpurukannya. Pernah suatu hari mereka berjanji untuk selalu mengunjungi makamku, dan janji itu ditepati sampai akhirnya papa dan mama menyusulku lewat garis takdir yang Allah berikan. Saat Allah mengambil nyawaku diusia 20 tahun, Allah mengambil papa diusia ke 67 tahun, sedangkan mama? Diusia ke 65 tahun mama pergi menyusulku karena sakit jantung yang diderita, papa sama hancurnya seperti saat aku meninggal, hingga dua tahun setelahnya ikut


menyusul kami karena kesehatan mental dan fisiknya yang tidak stabil. Akhirnya, kami punya waktu untuk kembali berbahagia setelah kurang lebihnya 12 tahun kematianku, Allah mengirimkan papa dan mamaku untuk mengajakku pulang kerumah yang sesungguhnya. Kita dipertemukan di rumah kita, kemudian papa dan mama menggandengku dan menuntunku untuk mengingat Allah dan berjalan bersama menuju sebuah gerbang dengan cahaya yang sangat indah. Dihari itulah kami bertemu dan kembali bahagia dalam keabadian. Itulah kisahku, kisah seorang Keisha Alisya Putri Dipta yang memiliki kenyataan pahit dalam hidupnya. Diawali dengan tangisan, dan diakhiri dengan senyuman. Satu hal yang dia yakini, bahwa setiap manusia berhak bahagia dalam hidupnya. Kebahagiaan tidak melulu menjadi patokan dan berada diawal kehidupan, melainkan perjalanan yang dilakukan serta kenyataan pahit yang ditelan. Itulah makna kehidupan yang diyakini dalam hidup sang gadis. Bersyukur? Apa artinya sebuah kata sederhana itu dimata sang gadis? Banyak, gadis itu menjawab banyak! Mau tau apa? Itu adalah sebuah kata yang mangartikan beribu kalimat. Yang dia sendiri selalu mengatakannya, ‘aku bersyukur’ kata – kata itu yang banyak terucap dari mulutnya, karena kata itulah yang mengartikan kehidupannya. Kepada siapa? Tentu saja kepada sang pencipta, yang telah menitipkannya kepada kedua orang tuanya. Dan juga atas garis takdir dan jalan kehidupan yang diberikan.


“Kukira akhir hidupku hanya menjadi setan tidak beguna yang tidak tau arah pulang. Tapi ternyata Allah tau perjuangan ku yang kulalui dengan kepedihan dan luka yang mebekas. Hingga akhirnya kami dipertemukan kembali di kehidupan yang sebenarnya. Ya,,, kehidupan itu adalah kehidupan abadi, setelah kehidupan kami” Ternyata, apa yang kupirkan diawal kisahku tidak menemui kebenaran. Dan ternyata bisa berakhir manis meski banyak tangis. Bukannya kehilangan, aku malah menemui titik kebahagiaan. Terimakasih semua, telah membaca kisahku yang tak melulu jadi rindu. Segala kepedihan yang tak banyak tangisan, serta senyuman yang tak selalu jadi kebahagiaan. Inilah akhir ceritaku, akhir dari kisah yang bertajuk KENYATAAN. -End-


Rofiatul Ilmi Aku tidak mengerti kenapa banyak orang yang tidak percaya adanya mahluk supernatural di dunia? Padahal di manapun mereka berada di tempat itu ada penunggunya. Mungkin kalian tidak bisa melihat ‘mereka’ yang disebut hantu tapi percayalah ‘mereka’ itu ada dan nyata. Mungkin ada beberapa orang terkadang menganggap hantu sebagai imajinasi semata atau dibuat buat. Sering sekali aku melihat orang yang berani untuk menantang mahluk supernatural itu. Kalian harus ingat ini, jika kalian ke tempat yang ingin kalian masuki apalagi untuk tempat yang mungkin sering kita bilang angker berusahalah untuk selalu berfikiran positif dan kalian memasuki ruang itu untuk tujuan yang baik karena bisa saja ‘mereka’ tau maksud kalian buruk dan datang ketempat itu lalu membuat ‘mereka’ tidak nyaman mungkin kalian akan menerima konsekuensinya. Hai aku Keisha Anessta kerap dipanggil Keisha atau Keke aku anak kelahiran 2005 memiliki keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu adik yang bernama Lyla. Yap! benar sekali aku anak pertama dari keluarga ini. Kedua orang tuaku ini sangat pekerja keras dan tegas walaupun tegas mereka tetap sayang sama aku dan adikku, mereka juga tidak suka menuntut aku dan adikku untuk melalukan sesuatu, dan karena mereka sangat pekerja keras mereka sering pulang larut malam untuk lembur kerja. Adikku Lyla ini baru saja masuk ke jenjang SMP di kotaku, dia benar-benar menyukai


lagu dia juga jarang menjailiku. Oke sekarang aku yang akan memperkenalkan diriku. Seperti yang kalian tau nama aku Keisha, oke mungkin aku agak berbeda dengan keluargaku yang lain, mungkin bisa disebut kelebihan atau bisa saja kekurangan? Aku masih belum tau ini kelebihan atau kekuranganku bagiku. Mungkin orang menyebut indigo buat anak yang bisa lihat hantu dan aku bisa dibilang anak yang seperti itu, anak indigo yang bisa melihat hal yang lebih dari orang normal. Di sekolah mulai dari SD, SMP, SMA aku sudah mulai terbiasa dengan kata menyendiri aku tidak tau mengapa orang-orang menjauhiku apa mungkin mereka takut dengaku? Atau ini memang salahku yang tidak suka bergaul? Tapi memang aku lebih suka mengisi waktuku sendiri karena jujur bersosialisasi membuat energiku terkuras banyak. Walau begitu aku juga memiliki teman bernama Ella, baru-baru ini sih aku mulai dekat dengan Ella, mungkin karena dia anak pindahan beberapa bulan yang lalu jadi agak pendiam sama sepertiku tapi kita jadi dekat karena memiliki kesukaan yang sama dan kebetulan kita satu bangku, ternyata orangnya asik, dia juga mungkin sama denganku dikucilkan, karena di dulu anak pindahan dari sekolah yang dicap buruk. Aku juga memiliki teman hantu dan kadang aku menganggap dia sebagai adikku yang kedua, yang bernama Viola umur 10 tahun dia cantik sekali. Dia selalu mengikutiku tapi aku juga tidak merasa terganggu. Tapi setiap aku menanyakan masa lalunya dia selalu marah dan mulai menunjukan wujudnya yang jelek, aku masih bisa memakluminya karena dia bisa saja belum siap untuk


menceritakan masa lalu itu atau teringat kembali kenangan waktu Viola meninggal. Dia suka sekali dengan kucing, sama sepertiku jadi kami memutuskan untuk memelihara dua kucing, kata Viola “Kasihan jika hanya satu kucing tidak memiliki teman, tambah lagi ya, tambah satu saja, ayolah Keisha”. Dan akhirnya aku mengalah dan aku membeli kucing lagi. Kucing itu bernama Leo dan Chiki. Ada juga beberapa hal yang tidak disukai Viola yaitu pocong tapi memang benar akupun juga tidak suka pocong karena mukanya yang hitam dan bau tidak sedap, lalu Viola juga tidak suka pada hantu yang berisik. Dan ada satu hal yang aneh dari Viola dia tidak begitu menyukai Ella aku tidak tau seperti apa detailnya mengapa dia tidak begitu menyukai Ella. *** Sekarang jam menunjukan pukul 04:45 WIB, aku memang sengaja bangun pagi karena tempat sekolahku lumayan jauh dari rumahku seperti biasa aku melakukan rutinitas sehari-hari di pagi hari, dimulai memberesakan kamar tidurku lalu lanjut dengan kegiatan lainnya. Pada pukul 05:00 WIB aku mulai membuat sarapan yang sederhana dan dilanjut dengan menonton hiburan di hp sambil tiduran dikasur sembari menunggu pukul 06:00 WIB. Sekarang sudah pukul 05:45 WIB aku mulai beranjak dari kasur dan menuju kamar orang tuaku untuk memebangunkan ayahku mengantar ke sekolah. Kali ini aku tidak berangkat bersama Lyla karena dia jadwal masuk siang tetapi aku berangkat bersama Viola. “Haaah…Hari-hari yang melelahkan bagiku akan segera dimulai” keluhku yang sudah berada di depan pintu gerbang sekolah. Akupun reflek melihat bangunan sekolahku


yang lumayan tinggi dari atas kebawah. Oh iya sekolahku ini sangat ternama aku memang setuju akan hal itu disini banyak murid yang memang berprestasi dan di didik dengan sangat baik. Setelah itu aku mulai melewati kelas-kelas lain untuk menuju ke kelasku disaat perjalanan menuju kelas Viola bertanya. “Apa yang ingin kau lakukan hari ini di sekolah Keisha?” Lalu aku tersenyum dan berkata “Aku juga tidak tau Viola, kita lihat saja nanti aku bakal ngapain aja” Viola sering kali menanyakan hal yang serupa seperti itu dan aku kadang menjawab“ Aku juga tidak tau Viola, kita lihat saja nanti” atau “Kedamaian” . Sesampai di kelas, pertama yang aku lihat adalah mbak Rita penunggu di kelas ini karena aku pertama yang datang ke kelas jadi aku hanya melihat mbak Rita, mbak Rita ini memang sudah lama menetap disini untungnya dia tidak mengganggu belajar murid-murid di kelas ini. Ah benar dia pernah sekali merasuki anak di kelas ini lalu marah-marah kepada anak-anak yang membuat dia tidak nyaman, wah kejadian itu benar-benar ricuh sekali dan beberapa minggu jadi topik pembicaraan. Aku juga tidak merasa terganggu dengan kehadiran dirinya karena mbak Rita ini tidak memiliki aura yang negatif pada dirinya dan hal yang aku suka dia suka bermain dengan Viola jadi aku tidak usah repot-repot mendengarka kisah dia tentang kucing atau hal sepele itu pada saat jam pelajaran terutama matematika dan fisika. Tapi akhir-akhir ini mbak Rita sering membawa teman seumuran dengan Viola pada jam pelajaran tetapi dia sangat berisik. Dan hari-hariku juga akan kembali disaat Viola menceritakan semua hal yang sudah dia lalui.


Di saat istirahat atau disaat hantu berisik itu tidak ada dia sering bilang ke mbak Rita “Jangan bawa dia lagi kesini ya, dia sangat berisik aku tidak suka” sepertinya mbak Rita tidak mendengarkan Viola dia tetap membawa anak itu, tetapi memang dia mulai mengurangi waktu bermain di saat jam tertentu. Oke saat semua sudah di absen oleh wali kelasku pak Andrian dimulai pelajaran pertama yaitu fisika, pelajaran ini benar-benar pelajaran yang aku tidak suka, bagiku matematika lebih baik daripada pelajaran fisika. Di tengah-tengah mata pelajaran yang fisika yang diajar oleh Bu Nadya aku hanya bisa melamun, melihat seisi ruang kelas ini, dan melihat keluar jendela. Saat melihat keluar jendela aku melihat seperti akan ada guru baru yang keluar dari mobil dan berpakaian seragam seperti guruku yang lain. Sekarang sudah waktunya jam istirahat pertama. Pelajaran fisika belum berakhir hanya saja terpotong oleh jam istirahat. Dengan malasnya aku berjalan menuju kantin bersama dengan Viola, aku tidak bersama Ella karena dia ingin ke toilet tapi entah mengapa dia belum kembali, sepertinya dia akan lama di toilet jadi aku langsung berinisiatif untuk membelikan makanan yang biasa dia beli. Setelah membeli makanan aku pun langung menuju ke kelas di tengah perjalanan Viola memberitahuku. “Bukankah itu Ella?” sambil menunjuk ke arah Ella Dan benar itu adalah Ella tetapi sepertinya dia juga habis ke belakang sekolah yang dimana itu tempat yang benar benar sepi. Tanpa berfikir lama aku langsung memanggil Ella. “Ella!!” teriakku. Ella langsung berlari setelah aku memanggilnya.


“Dih sudah duluan aja ke kantinnya, kamu balik aja aku mau beli jajan dulu” kata Ella “Gausah, aku sudah beli jajan yang sering kamu makan, taraaa” sambil mengeluarkan jajan yang sudah aku beli “Wiih perhatian nih ya, btw Viola ikut?” Tanya Ella “Ada nih disampingku” jawabku Setelah banyak berbincang dengan Ella tidak terasa sudah sampai di kelas. Akhirnya jam kedua Fisika dimulai. Dan benar rumor yang beredar bahwa bu Nadya ingin pensiun, buktinya sekarang guru fisika digantikan oleh guru yang tadi aku lihat di jendela yaitu pak Wisnu. Selama pelajaran pertama dengan pak Wisnu suasana dikelas bagiku tidak enak akhirnya selama pelajaran aku tidur di bangku. *** 3 minggu berlalu Serius akhir-akhir ini aku benar-benar tidak tahan dengan susana di kelas waktu jam Fisika dan Viola pun juga tidak sanggup untuk masuk di aku tidak tau mengapa hanya pelajaran Fisika. Dan akhir-akhir ini juga banyak kejadian yang benar tidak masuk akal setelah kedatangan pak Wisnu, aku tidak ingin menyangkal bahwa memang setelah kedatangan pak Wisnu banyak sekali kejadian yang tidak terduga. Mulai dari anak-anak yang tiba-tiba jatuh sakit hingga meninggal, murid yang hilang, dan kecelakaan di sekolah hingga menewaskan murid itu dll. Sekarang hari Senin dan sudah waktunya makan siang, akupun mengajak Ella untuk ke katin bersama dan tentunya bersama Viola karena dia ingin bermain bersama


Cherry, kucing yang ada di sekolah. Kali ini aku membawa bekal dari rumah. ”Ayo cepat Keisha aku ingin bertemu dan bermain dengan Cherry” kata Viola “Iyaa sabar aku ingin mengambil bekal dulu, tapi kamukan sudah bermain sama Leo dan Chiki tadi pagi??” tanyaku sambil mengambil mengambil bekal sambil menunggu Ella mengambil uang sakunya didompet “Itukan dua kucing yang berbeda, dari namanya saja sudah berbeda” kesal Viola “Hahahah aku hanya bercanda Viola” tawaku “Sudaaah, ayo Keisha” ajak Ella Merekapun langsung berjalan menuju kantin sambil berbincang-bincang tentang hal yang sedang banyak dibicarakan dan lainnya. “Btw habis ini pelajaran apa?” tanyaku “Mungkin Fisika??” jawab Ella “Weh beneran?? Jujur aja aku gak bisa fokus sejak pertama kali pak Wisnu ngajar di kelas kita” “Hahahaha tapi bukannya kamu memang gak suka Fisika kaya musuh besar??” canda Ella “Tapi gak separah itu juga sihh, apa aku harus ubah pikiranku tentang Fisika bahwa Fisika ilmu yang menyenangkan? Supaya bisa fokus pelajarannya, pokoknya detik ini menit ini aku cinta Fisika” candaku “Hahahahaha ada-ada aja kamu Keisha” tawa Ella Akhirnya sudah mendekati kantin Viola langsung menghampiri Cherry yang sedang duduk di depan kantin.


“Keisya aku duluan ya ke Cherry” kata Viola “Iyaa, kalau ingin kembali bil-“ Sebelum aku menyelesaikan kalimatku aku sudah melihat hal yang sangat mengerikan dan banyak juga teriakan. Aku benar-benar melihat siswa-siswi yang keluar dari kantin sangat ramai hingga dorong-dorongan agar cepat keluar dari sana sampai Cherry ikut lari ketika mereka berteriak. Aku dan Ella kebingungan lalu menghampiri dan bertanya kepada salah satu siswi yang ada di gerombolan itu. Ternyata ada salah satu siswa yang sedang makan tiba-tiba pingsan lalu mengeluarkan busa yang ada dimulutnya. Setelah mendengar itu hal yang tidak terduga ternyata terjadi lagi tepat saat aku di depan kantin aku merasakan hal yang sama seperti pelajaran Fisika benar-benar persaan tidak enak bikin pusing. Selang beberapa menit ada ambulan yang mengangkat siswa menuju mobil ambulan dan langsung ke rumah sakit. Murid-murid tadi masih bergerombol tidak menyangka kejadian itu terjadi tepat dimata mereka, aku yang tidak melihat langsung pun juga terkejut terkejut. Di segerombolan para siswa-siswi itu aku mencari Viola karena sejak tadi aku belum melihat Viola aku pun dengan panik mencarinya, akhirnya aku menemukan Viola yang sedang bermain dengan Cherry. Diantara pandanganku yang melihat Viola bermain dengan Cherry aku juga melihat bayangan hitam dengan aura negatif yang baru saja belok dari lorong ruang musik. Aku yang penasaran pun mengikuti bayangan itu.


Setelah cukup lama mengikuti bayangan itu tiba-tiba ada yang memengang pundakku, aku kaget lalu memukul tangan itu dan berbalik, ternyata itu Ella “Loh Ella kamu bikin kaget aja” “Kamu ngapain disini?” tanya Ella dengan muka datar “Tadi aku melihat sepertinya hantu seperti bayangan dengan aura yang negatif” kataku sambil melihat bayangan lagi dan ternyata sudah hilang “Apa jangan-jangan dia masuk ke dalam ruang kepala sekolah? Atau lab? Atau ruang guru?” tanya ku penasaran Memang aku berhenti di dekat arah bayangan itu hilang dan ada tiga ruangan yang bisa bayangan itu masuki antara ruang lab, ruang kepala sekolah atau ruang guru aku yang sangat penasaran pun aku pertama langsung ingin memasuki ruang guru, tapi ella langsung menarikku dengan muka panik ke ruang lab. “Dengerin dulu aku ingin cerita” kata Ella dengan muka yang panik Akhirnya aku mendengarkan cerita Ella. Setelah mendengar cerita Ella aku sangat sangat terkejut sampai aku pun terdiam sejenak memikirkan cerita itu semua, aku juga merasa kesal dengan Ella. Ternyata semua kejadian yang tak terduga ini dilakukan oleh ayah Ella yaitu pak Wisnu aku benar-benar tak menduga ini, karena memang tidak ada halhal yang mencurigakan kepada dua orang ini. Jadi dulu Ayah Ella alias pak Wisnu ini sebagai pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah, dan Ella dulu sekolah ditempat itu. Sekolah itu terkenal buruk hingga ingin


ditutup. Setelah dilihat sekolahnya benar-benar tidak ada kemajuan pak Wisnu mulai tidak kuat dan gampang marah kepada keluarganya akhirnya Ella dimsukkan ke sekolahku untuk menelusuri kenapa sekolah ini bisa jadi sekolah unggulan tetapi kata Ella hal tidak diduga ayahnya pun ikut menjadi guru di sekolah ini dan melakukan yang tak diduga, ayahnya bersekutu dengan jin dengan menumbalkan muridmurid yang berprestasi. Sambil Ella bercerita Ella tadi menegaskan bahwa rencana awalnya hanya ingin mengetahui mengapa sekolah ini menjadi sekolah unggulan tidak sampai melakukan ini semua dan ayahnya orang yang baik. Saat Ella bilang ayahnya orang yang baik aku benarbenar marah kepada Ella karena sudah banyak yang sudah jadi korban dan itu murid-murid yang berprestasi. Ternyata ayahya hanya ingin sekolah ini ini buruk seperti apa yang dirasakan pak Wisnu. Setelah selesai bercerita Ella pun langsung meminta tolong kepadaku. “Ella aku benar-benar ingin menyelesaikan ini semua, tolong lepaskan mereka semua sebelum bayangan itu memakan mereka semua” tangis Ella “Apa maksudmu mereka semua?” tanyaku “Murid-murid yang sudah meninggal, arwahnya masih terkurung di ruang kepala sekolah sebagai makanan jin itu” jawab Ella dengan tangisnya yang menjadijadi dan panik Setelah mendengar itu mataku langsung membelalak tidak menyangka. Setelah selesai bercerita akupun langsung menenangkan diriku dan Ella walau aku masih kesal


dengannya. Setelah tenang akupun menyusun rencana untuk membebaskan mereka yang terkurung. 2 hari berlalu Sudah dua hari berlalu aku sudah menyiapkan diri untuk melepaskan murid yang terkurung. Hari ini sudah waktunya membebaskan mereka. Jam bel sekolah berbunyi sekarang sudah jam 16:45 WIB dan para guru pulang sekolah pada jam 17:00 WIB. Aku dan Ella menunggu para guru pulang di gudang sekolah yang pintunya sudah rusak. Setelah para guru pulang Ella sendiri mengecek ke ruang guru apakah sudah sepi dan masih ada bu Kia yang sedang lembur terpaksa aku dan Ella menunggu sampai jam 19:00 WIB. Setelah pengecekkan dan sudah pulang semua aku pun langsung keluar menuju ruang kepala sekolah sebelum itu aku juga menyuruh Viola untuk main diluar saja bersama Cherry setelah itu aku langsung ke ruang kepala sekolah. Sampai aku masuk ke ruang kepala sekolah dengan membobol pintunya masih aman tapi ketika ada suara sepatu yang menuju ke ruangan kepala sekolah aku dan Ella panik, yang awalnya Ella menjaga pintu lalu dia masuk dan menarikku untuk bersembunyi di bawah meja yang besar. “Keisha gimana ini? Kayanya ini suara langkah ayahku, persis sekali” tanya Ella dengan berbisik dan panik “Kita tunggu saja sampai ayahmu pergi” jawabku Tidak berlangsung lama aku dan Ella mendengar suara pak Wisnu berbincang dengan sesorang sambil membentak.


“HAHAHA YANG BENAR SAJA KAMU BELUM MENYELESAIKAN TUGAS TETAPI SUDAH LAPAR??” bentak pak Wisnu Dan juga disaat yang bersaman aku mulai merasakan pusing lagi, itu pasti bayangan. “Sha Keisha kamu gapapa? Pusing banget? Itu bayangankan?” tanya Ella “Iya, aku ingin mendengarkan mereka berbincang tentang apa, aku ingin ke depan pintu” kataku “Kamu disini aja biar aku saja yang mendengarkan nanti aku kasih tau” kata Ella sambil berdiri dan menuju pintu “Iya, makasih hati-hati” jawabku pelan Selang beberapa menit aku mendengar suara langkah pak Wisnu menjauh dan pusingku mulai menghilang. Saat Ella hendak kembali ke bawah meja dia menjatuhkan gelas kaca yang ada di meja saat ia meraba meja itu. Memang ruangan itu gelap dan langit pun sudah gelap. Akhirnya aku mendengar suara langkah pak Wisnu kembali dan Ella ketahuan aku tidak tau apa yang akan terjadi pada Ella setelah ketahuan dan dipaksa untuk pulang dengan nada yang sedang marah. Jujur aku khawatir dengan Ella tapi disaat keluar dia mengisyaratkan kata-kata ‘teruskan! Teruskan!’ Sekarang hanya aku yang melanjutkan ini setelah Ella sudah ketahuan, aku terpaku dalam beberapa menit untuk berfikir ‘Apa yang harus aku lalukan sekarang?’ tak lama setelah berfikir seperti itu tiba-tiba aku merasa makin lama makin pusing ternyata bayangan itu ada di dekatku dan tepat berada disampingku aku langsung menutup mulutku sekuat


tenaga sampai ada bunyi sesuatu yang terbuka dan bayangan itu berbicara. “Haha kamu kira aku tidak tau dimana letak makananku yang lezat?” kata bayangan sambil mengambil sebuah kantong kecil Setelah tempat itu berbunyi aku langsung menyadari bahwa tempat itu tepat disampingku tempat dimana arwah itu dikunci dipikiranku sekarang hanya ‘Bagaimana cara ku mengambil kantong itu’ dan disaat itu juga bayangan itu bicara “Dibawah juga ada makanan baru” sambil menatapku dengan matanya yang merah Aku langsung terdiam dan sangat ketakutan. Diwaktu yang tepat ada suara anak kecil itu seperti menarik bayangan itu dengan sekuat tenaga, tapi sepertinya aku mengenal suara itu beberapa saat aku sadar itu suara Viola. “EERGH KEISHA SADARLAH!! AMBIL KANTONG ITU” teriak Viola Tanpa berpikir lama aku langsung mengambil kantong itu dan membukanya dengan cepat lalu berlari keluar untuk melihat Viola tapi nihil Viola dan bayangan itu aku tidak melihatnya. “VIOLA! VIOLA! VIOLAAA!” teriakku sembari mencari Viola sambil menangis Sudah tiga menit berlalu aku belum melihat kehadiran Viola akupun menangis menjadi-jadi aku benar-benar tidak ingin kehilangan Viola. Tak lama ada security yang datang dan memaksaku untuk pulang, dengan berat hati aku pun pulang, aku masih


bisa berpikir besok mungkin Viola akan datang mungkin sekarang dia sedang bermain bersama kucing liar diluar sana. 2 bulan berlalu Sudah dua bulan sejak aku ditinggalkan oleh Viola dan Ella dunia sekolahku menjadi sangat gelap saku tidak tau harus ngapain selain belajar di kelas, untuk berjalan ke kantin juga susah sekali, biasanya ditemani oleh Viola dan Ella. Semenjak kejadian itu saat sampai di rumah aku langsung menghubungi Ella dan sejak saat itu juga aku tidak bisa menghubungi Ella. Walaupun Ella dan pak Wisnu sudah dikeluarkan dari sekolah setidaknya mereka akan mengambil barang-barang bukan?. Ella ketahuan oleh cctv saat security ingin melihat siapa yang menaruh racun di murid yang ada di kantin lalu saat itu aku dipanggil untuk menceritakan semuanya ke kepala sekolah. Besoknya aku benar-benar berdoa semoga aku bisa menemui Viola dan Ella. Sejak kejadian itu juga aku mulai berangkat lebih awal dari biasanya sekolah saat semua orang belum datang karena berharap bisa menemui Viola ataupun Ella. Dan benar kelas yang sunyi dan sepi ada seseoran yang memanggilku yaitu Ella disitu aku langsung berlari ke arah dia. Ella bercerita banyak tentang kejadian itu. Viola tau bahwa aku sedang dalam bahaya karena Ella memberitahu Viola, Ella berteriak ‘VIOLA MOBIL! VIOLA MOBIL!’ mungkin karena itu dia terisyarat


dia menuju mobil dan Ella berbisik pelan tentang kronologi di dalam mobil. Dan tidak lama akupun bercerita kejadian Viola menolongku sampai saat ini aku belum melihat Viola. “Keisha mungkin Viola sebentar lagi akan datang, oiya ini nomorku yang baru soalnya aku akan pindah kota” senyum Ella sambil memberi kertas yang berisi nomor telpon “Iya Ellaa, makasih untuk semuanya” senyumku. Ella sudah tidak ada sekrang aku di sekolah hanya seorang diri lalu melanjutkan belajar. Besoknya aku terbangun karena ada yang membangunkanku dengan suara yang tidak asing aku langsung bangun dan itu Viola akhirnya Viola kembali akhirnya!! “Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama, tenang aku sudah membuang dia di tempat yang sangat jauh hehehe” senyum Viola Akhirnya hari sekolahku mulai cerah kembali. Hari ini hari senin hari dimana beberapa orang akan merasa lelah karena jiwanya yang masih tertinggal dihari Minggu tapi sepertinya tidak bagiku karena sudah ada Viola disampingku itu sudah cukup. “Keisha apa yang kau inginkan untuk hari ini” tanya Viola. “Serius aku hanya ingin kedamaian” jawabku tersenyum. -End-


Nurylia Aisha Rahmadina KEKERASAN, KATA TIDAK PANTAS, DLL. Kamu mungkin belum pernah mengenalku sebelumnya. Hai, aku Kaesha Asthecia dan kalian bisa memanggilku Kaesha. Kemampuanku? Aku bisa bermain gitar listrik, bermain drum, dan piano pun aku sangat menguasainya. Keinginanku juga ingin menjadi Atlet Olahraga, namun Mamaku tidak mengijinkanku untuk mewujudkannya. Aku hanya remaja 14 tahun yang sedari kecil selalu dituntut menjadi ‘sempurna’ oleh keluargaku. Ya, karena aku anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakakku sudah sukses semua, bahkan kakak pertamaku sudah sukses duluan. sedangkan aku? Menjadi harapan terakhir orangtua setelah kakak keduaku mendapatkan kerja. Oh iya, pasti kalian ingin tahu tentang kakakku. Yang pertama namanya Kevin Avecteriye atau Kevin. Umurnya tahun ini sudah menginjak 25 tahun. Dia bisa bermain piano, gitar listrik maupun akustik, dan hampir semua alat musik dia kuasai dengan sempurna. Dia juga mantan kapten basket dimasa SMA nya. Untuk kakak kedua, namanya Kalevian Altharevan dipanggil Vian. Dia baru saja lulus SMA tahun lalu, dan dia menjadi kapten futsal, sesuai dengan impian yang dia inginkan. Usianya sudah 18 tahun, 4 tahun lebih tua dariku. Mama dan Papaku juga orang sibuk, saking sibuknya sampai menuntut anaknya untuk aktif dalam


bakat, supaya bisa membuat orang lain terkagum. Hahaha, hidup berjalan sangat pahit bagiku. *** Hari yang cerah, yap! Itu adalah hari Senin. Kaesha sangat membenci hari itu. Saat sepulang sekolah tak ada waktu jeda untuk beristirahat sejenak. Memang seharunya ia tak ingin sekolah, tapi mama dan papa memaksanya untuk sekolah. Ia selalu merasa terbebani dijam terakhir pembelajaran. Tak lama kemudian, pembelajaran telah berakhir dan sudah waktunya untuk pulang dan beristirahat untuk menyiapkan semangat hari esok. jam tangan telah menunjukkan pukul 13:00 WIB, Kaesha membereskan bukubuku yang ia gunakan saat pembelajaran. Saat mengecek notifikasi hp, ada salah satu notif yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Notif itu berisikan sebuah pesan dari mamanya bertuliskan “Jangan lupa les, uang sdh mama siapkan di meja kamarmu”. Lalu Kaesha mematikan hpnya dan segera berpamitan kepada guru beserta teman kelasnya yang masi tersisa di kelas. Disaat perjalanan pulang, ia dijemput oleh supir pribadinya. Perasaan Kaesha semakin lama, semakin mengesalkan. Hatinya merasa lelah karena tertimpa banyak tugas sekolah dan waktu pengumpulan hanya diberi 3 hari oleh gurunya. “Apasih mama, dikit-dikit bimbel, dikit-dikit ngancem. Situ emangnya ga mikir kalo anaknya cape apa gimana ya?” ucapnya dengan kesal. “Sabar neng, emang sudah dari sananya kalo beliau kaya gitu” balasnya dengan halus. “Neng kalo ngga nurut sama mama, nanti saya yang kena imbas. Kalo ada waktu luang, saya ajak neng keluar rumah


sambil curhat-curhat tentang isi hati neng” lanjutnya. “Makasih pak, tapi aku takut dimarahin mama kalo keluar dari kamar.” Ucapnya, “Ngga mungkin mama marah, kamu juga capek kan dituntut jadi keinginan mereka? Yaa kamu kalo lagi sedih, saya ajak jalan-jalan deh biar mood belajarnya kembali. Kamu bawa aja buku-buku novel atau apalah, biasanya abg2 suka baca buku novel.” Nasihat supirnya. “Karena bapak, aku ga jadi kesal. Terimakasih sekali lagi.” Ucapnya sambil tersenyum. Sesampainya di rumah, Kaesha segera mempersiapkan perlengkapan bimbel dan tak lupa juga dengan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Matematika. Setelah mandi, Kaesha memilih baju sepanjang paha dengan lengan sesiku berwarna biru muda bertulisan sepatah lirik lagu favoritnya berjudulkan Consume – Chase Atlantic serta gambar album lagu di bagian punggung nya, sepasang dengan celana kulot kotak-kotak berwarna hitam putih. Ia segera beranjak dari kamar dengan membawa totebag khusus les untuk turun ke bawah dan berpamitan ke Bi Siti, “Bi, Kaesha mau bimbel dulu ya” sembari menyium tangan Bi Siti. “Iya neng, hati-hati” ucap Bi siti sambil tersenyum. Kaesha menghampiri mobil Alphard milik papa beserta supir pribadi di dalamnya dan segera masuk karena 10 menit lagi kelas bimbel akan dimulai. Di perjalanan, Kaesha membuka buku catatan bimbelnya untuk membaca materi pekan lalu sembari mendengarkan musik dari Sportify. Sesampainya di tempat bimbel, Kaesha terlambat 5 menit karena kemacetan di jalan dan gurunya sudah berada di kelas


beberapa menit yang lalu setelah Kaesha berhasil lolos dari kemacetan. Perjalanan menuju kelas, Kaesha merasa malu dan gugup karena ini baru pertama kalinya ia terlambat datang ke tempat bimbel. Biasanya Kaesha berangkat 10 menit lebih awal dari jam bimbel. Setelah sesi Matematika selesai, teman dekatnya menanyakan tentang raut muka Kaesha disaat bimbel tadi. “KAEE, mukamu kok kaya kesal gitu? Ada masalah apa toh sama harimu?” ucap Silvya, “Alah, biasa aja Vy. Lagian juga first time baru kaya gini.” Balasnya, “Ntar kalo ada apa-apa ngomong loh, jangan dipendem sendiri” sambil mengelus punggung Kaesha, ia membalasnya dngan menggengam tangan Silvya, “Ya Syl, makasih ya? Udah perhatian ke aku..” saat Sylvia mendengar kata-kata yang Kaesha ucapkan, secara tiba-tiba Sylvia memeluk Kaesha dengan erat, “Udah Syl, habis ini Fisika kan? capek banget hari ini. Full angka, ha..ha..ha.” Kaesha tertawa secara terbata-bata lalu menunjukkan senyuman tipis seperti orang putus asa. Tak lama, mapel Fisika pun dimulai dan berakhir pada jam 18:00 WIB. Setelah Kaesha membereskan keperluannya, ia bergegas keluar dan menuju mobil kesayangan papanya untuk bersiap-siap ke cafe favoritnya. Sesampainya di Cafe, Kaesha turun dari mobil dan memasuki cafe untuk memesan menu andalannya, yaitu Chocolate Ice dan Oreo Toast. Setelah Kaesha memesan, ia bertemu dengan teman bimbelnya, Nathael si paling ambis namun gayanya seperti preman sekolah. Kaesha sedang tak ingin menyapa si ambisius itu, ia membiarkan Nathael pulang tanpa menyadari


kehadiran Kaesha di cafe itu. Saat namanya disebut, dengan sigap Kaesha segera mengambil pesanan miliknya dan berburu-buru ke mobil dan menikmatinya di mobil. Sambil membaca novel serta menikmati alunan musik akustik dari mobil. Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, dan akhirnya Kaesha sudah berada di kamar sebelum orang tuanya pulang. Ia menaruh sisa minuman dan toast di meja belajar. Tak lupa juga untuk mandi beserta makan malam, namun kali ini Kaesha tak ingin makan malam. Ia menghabiskan waktu di kamarnya untuk refreshing sejenak. Kaesha baru saja ingat jika nilai Matematika dan Fisikanya kali ini tidak seperi biasanya. “Duh gimana ini? Aku takut ngecewain mama, moga aja kali ini ga marahan sama aku.” 40 menit kemudian, mamanya datang dan menghampiri Kaesha. “Mana catatan bimbelmu? Mama mau liat.” Tanyanya sambil marah. “Gamau, aku takut” bisiknya sambil panik. Setiap seminggu sekali, mama Kaesha selalu mengecek buku catatan bimbel, binder sekolah dan buku paket milik Kaesha untuk memastikan nilai dan catatannya lengkap. Jika Kaesha mendapatkan nilai dibawah 90, Kaesha tidak akan diperbolehkan makan selama seminggu dan menyewakan penjaga untuk mengawasi Kaesha agar tidak keluar dari kamar sembarangan. Saat mamanya mengecek, ada beberapa tugas Fisika, Matematika, Biologi, dan Pkn mendapat nilai dibawah 90, melainkan 85 kebawah. “Apa ini?” mama menunjukkan nilai tugas ke Kaesha, “Mah, mama gatau capek atau gimana? Mama gatau kalo tugas sekolahku sekarang banyak yg berbasis project daripada


pengetahuan?” ucap Kaesha agak membantah. Setelah mereka debat tentang ‘nilai’ sekolah dan bimbel, mama memberi peringatan untuk Kaesha, “Kaesha, setelah keinginanku terwujudkan, kau boleh bebas kemana saja. Jika tidak, Kau akan tahu akibatnya” dan Kaesha membalas, “Terserah kau saja, aku tidak peduli dengan ancaman basi yang kau berikan itu” Mama membalas dengan tegas, “Anak sialan! Tunggu saja nanti pembalasanku” sambil meninggalkan kamar Kaesha. Setelah mamanya meninggalkan kamar, Kaesha membereskan buku-buku yang sudah dicek ke rak buku miliknya dan bergegas untuk tidur. Hari demi hari, nilai sekolah dan bimbel mulai menurun karena Kaesha selalu belajar tanpa henti, pagi hingga malam pun tetap ia lakukan. Di tengah malam, Kaesha merasakan pusing tak kunjung reda. Ia tetap memaksakan dirinya untuk belajar dan tak lama kemudian, hidungnya merasakan ada sesuatu yang mengalir tapi bukan cairan, melainkan mimisan. “Pusing b-banget..” sambil memegang kepala, “Moga aja gaada yang tau soal ini” sembari membersihkan darah yang tak kunjung berhenti dari hidungnya dan membereskan buku-bukunya supaya tidak terkena darah. Esok paginya, muka Kaesha tampak pucat dan tubuhnya lemas karena kejadian semalam. Kaesha memberitahu Silvya jika ia saat ini sedang sakit dan menitipkan salam untuk guru bimbel nanti. “Kak Vian, anterin Kaesha ke rumah sakit ya? Jangan bilang mama ataupun papa soal ini.” Ucapnya, “Kamu kenapa dek? Kok badanmu pucet gini? Kamu pasti ga istirahat semalem” Kak Vian memakaikan


hoodie miliknya ke Kaesha dan segera mengantarkannya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Kak Vian dibantu oleh beberapa suster dan salah satu dokter yang sedang berjaga di UGD. Badan Kaesha terbaring lemah di kasur rumah sakit. Kak Vian mengelus kening Kaesha dan batinnya berucap ‘Semoga cepat sembuh, Cantiknya kakak.’, Kaesha menatap lemas kepada kakaknya, “Kak, kapan ya aku bisa bebas dari kekangan mama sama papa? Aku capek kak setiap hari disuruh bimbel seharian, istirahat pun ga ada hitungan jam udah disuruh belajar lagi.” Kak Vian menatap Kaesha dengan perasaan sedih “Ternyata jadi kamu juga ga enak ya? Banyak kekangan yang bener-bener buat kamu ga nyaman. Kakak disini bakal nemenin kamu sampai sembuh, janji ya sama kakak? Ceritakan semua cerita yang kamu punya, kakak disini bisa menjadi pendengar ceritamu.” Sambil mengacungkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian. “Iya kak, aku janji bakal ceritain semua cerita yang aku punya ke kakak. Kakak jangan ingkar janji ya? Kan kakak yang buat janji ke aku.” Kaesha mengacungkan jari kelingking ke kakaknya. “Iya-iya, kakak janji.” Kak Vian mencium kening Kaesha. Setelah mereka membuat perjanjian, Kaesha pun diantarkan ke kamar khusus oleh suster-suster suruhan dokter. Sesampainya di kamar, Kak Vian berterimakasih kepada suster yang telah mengantarkan Kaesha ke kamarnya. Jam 12.00 WIB, pelayan keliling yang memberikan jatah makan dan minum khusus pasienpun menghampiri kamar Kaesha. Kak Vian yang menerima jatah makan dari pelayan keliling dan menaruhnya di lemari mini dekat kasurnya, lalu membangunkan Kaesha yang tertidur pulas setelah suster


keluar dari kamarnya, “Dek, bangun dek. Makan dulu.” Kak Vian memangku jatah makan milik Kaesha, Kaesha terbangun dan segera membenarkan posisi duduknya untuk makan. “Oke kaak, nanti biar akuu sehat. Biar kaya ultramen gitu, hihihi”. Setelah makan, Kaesha meminum obat yang disarankan oleh dokter dan berdoa agar ia bisa pulang ke rumah. Sesaat, ia memikirkan sesuatu yang selalu terbayang-bayang di kepalanya, “Kalo aku gaada di sini? Kira-kira mama sama papa peduli ga ya sama aku? Kakak sama Temen-temen bakal sesedih apa kalo aku tinggalin ke atas? hmm, tapi enak juga kalo aku udah ga disini, ngga ngerasain kekangan mama sama papa.” Ucap batin nya sambil melamun. “Heh, ngapain ngelamun dek? Mikirin siapa kamu? Jangan-jangan punya pacar nih, eaa” Kak Vian tertawa sambil memukul pelan kasurnya, “Hih, Kak Vian ngganggu aja. Kan kakak tau reaksi mama sama papa kalo semisal aku jalan sama cowo, pas itu ada kerja kelompok bareng cowo aja besoknya langsung unguungu semua badannku.” Balas Kaesha, “Makanya jangan ngelunjak kamu, alhasil kena kan akibatnya?” Muka Kak Vian menunjukkan ekspresi jahil kepada adiknya,”Ya maaf lah kak, kan aku juga terpaksa. Daripada ngga dapet nilai? Lagian aja gurunya yang nyuruh kelompoknya kaya gitu, yauda deh, mau tidur. Kabarin kalo semisal udah dibolehin sama dokternya.” Sembari Kaesha membenarkan posisi badannya untuk bersiap tidur. Kak Vian pun ikut tidur di kursi samping kasur setelah Kaesha tertidur nyenyak. Esok harinya pada pagi pukul 09.00 WIB, dokter pun memperbolehkan Kaesha untuk pulang dan memberikan saran kepada Kaesha untuk istirahat teratur setelah melakukan


aktivitas berat. Sepulang dari rumah sakit, Kaesha melakukan saran dokter. Beberapa hari kemudian, Ia terus berolahraga, melakukan kesibukan lain sebagai pengganti jam belajar malam. Setelah Kaesha tertimpa banyak jam bimbel, terkadang Asma nya selalu kambuh dalam waktu yg lumayan lama dan bisa membuat Kaesha tak sadarkan diri dalam waktu sebentar. Sebelumnya, ia adalah perokok aktif, kadangkala ia merokok diam-diam di atap rumah ketika seluruh penghuni rumah tertidur pulas. Saat berolahraga di kamarnya, Kaesha tiba-tiba merasakan kelelahan dan sesak nafas hebat yang membuatnya tidak bisa mengatur nafasnya dengan baik. Setelah meraih Inhaler di meja kecilnya, ternyata isi Inhaler tersebut habis dan badan Kaesha tertidur di lantai. Tak lama kemudian, Kak Vian berkeliling untuk mengecek kondisi Kaesha ketika di kamar. Kak Vian terkaget karena adiknya tak bergerak sekalipun dan segera membawa Kaesha menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia dikerubungi oleh suster dan beberapa dokter yang masih melaksanakan shift nya. setelah para suster memasangkan infus dan mengecek darah Kaesha, mereka membawa Kaesha ke kamar, disusul oleh Kak Vian di belakangnya. Setelah sampai di kamar, Kak Vian mengecek kondisi Kaesha yang tak kunjung sadar sambil memegang tangannya, “Dek, Kakak takut kamu tiba-tiba ngungkapin selamat tinggal ke Kakak, semoga kamu cepet sadar ya? Kakak masih mau liat kamu disini” sembari Kak Vian menyium tangan Kaesha. Beberapa jam kemudian, Kaesha sadarkan diri dan badannya terbaring lemas di kasur itu. Ia menatap sekitar dan berharap ada mama dan papa


disampingnya. Ternyata, hanya Kak Vian yang ada. Kaesha membenarkan posisi tidurnya. “Kak, mama sama papa ga kesini ya? ade kira mereka kesini buat nemenin ade” ucapya sembari memegang tangan Kak Vian yang sedari tadi berubah menjadi dingin tak kunjung mereda. “Huh, Kakak ga pengen kamu tiba-tiba ga disini lagi. Kakak takut disini. Ade jangan cepet-cepet pergi ya? kalo kamu ada apa2 cerita ke kakak aja, jangan lampiasin semuanya ke rokok lah, tangan mu, dll. Kakak selalu ada buat kamu. Kakak juga gini demi kamu loh..” raut muka Kak Vian sangat sedih karena tak ingin kehilangan adek kesayangannya. “Iya kak, aku bakal berusaha buat bertahan di dunia yang kejam ini. Aku juga mau bahagia kaya yang lain, bahkan aku aja iri sama kakak, selalu diperhatiin sama mama papa, aku juga mau kak.” Ucapan Kaesha membuat ruangan itu menjadi sunyi, Kak Vian hanya bisa diam setelah adeknya mengeluarkan unek-unek yang masi menyangkut di pikirannya. Beberapa menit kemudian, mama dan papa Kaesha datang ke ruangan yang ditempati Kaesha sambil membawa tas berisi soal sekolah, bimbel, dan fotocopy rapot yang nilainya tidak sesuai yang diekspektasikan oleh mereka dan melemparkannya ke depan muka Kaesha. “Apa ini? Ha? Mama tidak suka kamu mendapatkan nilai segini, kamu mau jadi apa kedepannya? Kamu mau jadi gelandangan yang di pinggir jalan itu?!? Hahahaha” suara tawa mama membuat hati Kaesha tersayat. “Udah penyakitan, sok-sokan jadi Atlet Olahraga lagi. Nyesel gue ngelahirin anak kayak lo” Tiba-tiba papa menyaut, “Hadeh, kamu ini. Bikin papa kecewa aja wkwkw” papa pun ikut tertawa. “Ka-kalian..? sebenci itu sama aku?


Kukira kalian sayang sama aku, aku yang kebanyakan naruh ekspektasi ke kalian. Hahahaha..” Muka Kaesha tampak sedih dan berusaha menahan tangis untuk mengekspresikan bahwa ia baik-baik saja di hadapan mereka. Dengan sigap, Kak Vian membereskan kertas yang beterbangan di sekitar kasur Kaesha. “Kalian tega kayak gitu di depan Kaesha, Kaesha juga berusaha terbaik buat kalian. Kalian gausah pake marahmarah gitu bisa ga? Kalo ditekankan kaya gitu ya Kaesha capek. Coba kalian pikir, kira-kira kalo kalian jadi Kaesha, kalian juga capek kan?” cetus Kak Vian sambil menunjuk mereka, “Kalian, kalian bukan mama papa yang aku kenal. KLUAR KALIAN!? Aku gamau liat kalian disini, kalian pilih kasih. KALIAN ANGGAP KAESHA ROBOT?! KAESHA BUKAN ROBOT! Kalian memang sudah gila, memperlakukan anak sendiri seperti robot yang tak merasakan lelah sedikitpun. KALIAN SUDAH GILA! Daripada membuat keributan disini, PERGILAH KALIAN! Aku tak ingin melihat muka iblis yang sok baik ini. PERGI!!” Kak Vian menyuruh mereka untuk keluar dari ruangan itu. Seisi ruangan itu menjadi sunyi karena bentakan Kak Vian membuat mereka diam, “Baiklah jika itu maumu.” Seketika, mama dan papa meninggalkan ruangan tersebut. Muka Kaesha sedikit terkejut ketika Kak Vian membentak mereka, “Kak? Kakak ternyata sebaik itu ke Ade” tiba-tiba raut muka Kaesha yang awalnya terkejut menjadi sedih. “Kakak kaya gini juga ngebelain kamu, udah gausah sedih. Mukanya kaya nahan nangis gitu wkwk” Kak Vian mengelus rambut Kaesha dan berusaha membuat Kaesha lebih tenang. Beberapa menit


kemudian, Kaesha tertidur dengan pulas di pangkuannya setelah Kak Vian menenangkan Kaesha. Bulan yang nampak dari jendela ruangan itu tak pernah membuat langit malam menjadi gelap gulita, Kaesha menulis diary dan beberapa pesan pada buku kecil yang ada di samping tas milik Kak Vian. “Kak, ini nanti kasihkan ke Slyvia ya? setelah Kakak nganterin Ade ke rumah.” Senyum tipis sembari memberikan suratnya ke Kak Vian, “Terus, dibuku ini ada password hp Ade, jadii kalo mau buka-buka juga silahkan. Teruss Kakak juga bisa cerita ke Ade kalo ada apa-apa, hihihi” muka Kak Vian yang awalnya sedikit sedih menjadi bahagia. Tengah malam, Kak Vian sudah tertidur dengan nyenyak dan saat itu juga Kaesha berusaha melarikan diri dari ruangan itu. Setelah ia berhasil turun dari kasur, ia memeluk dan mencium kening Kak Vian dengan sepenuh hati, lalu menuliskan sesuatu untuknya. . Setelah Kaesha menuliskan itu, ia mencabut infus yang menusuk tangan kanannya dan meminum obat melebihi batas anjuran dokter. Tak lama kemudian, badannya menjadi lemas. Dengan segera, Kaesha menuju ke kamar mandi dan membantingkan kepalanya ke cermin dan membantingkannya ke tembok secara berkala. Beberapa menit kemudian, badan Kaesha tertidur di lantai kamar mandi. Paginya, pukul 05.00. Kak Vian melihat sekitar ruangan itu. Ia melihat seperti ada sesesorang yang tertidur di kamar mandi. Dengan rasa penuh penasaran, Kak Vian mendekatinya dan ternyata yang tertidur adalah Kaesha. Suasana yang awalnya senang menjadi sedih, Kak Vian


memanggil suster dengan perasaan panik. Setelah di cek, ternyata Kaesha sudah tidak bernyawa. “Dek, Kakak gagal ya jagain kamu?” menunduk dengan penuh kasih. Setelah itu, ia mendapat sebuah kertas dari Kaesha yang berisi : Kak, semoga kamu bisa menghadapi dunia yang kejam ini. Jiwaku saat ini sudah tidak ingin memulai lembaran baru denganmu, aku takut akan ekspektasi yang terlalu banyak yang ku pendam ini, maafkan adek kesayangan mu ini jika selalu merepotkanmu. Memang benar kata mereka, seharusnya aku tak lahir di dunia ini. Aku tidak pantas berada di dunia ini. Maaf jika aku mengingkari janjimu, selamat menjalankan lembaran baru tanpaku. Aku harap kamu bisa mengikhlaskanku, terimakasih sudah menemaniku hingga mengantarkanku ke rumah baru, rumah ternyaman selalu ada untukmu disini. Jika aku terlalu banyak salah kepadamu, maafkan malaikat kecilmu ini, aku akan selalu melihatmu dari atas sini, Pelukan hangat selalu ada untukmu, Kaesha Setelah mengurus pembayaran di rumah sakit, Kak Vian membereskan barang-barang milik Kaesha yang masih berada di ruangan itu dan tak lupa ia melakukan suruhan Kaesha. Yak, memberikan surat kepada Slyvia dan memberi tahu jika sahabatnya, Kaesha telah meninggal beberapa jam yang lalu, tepatnya di tengah malam. Beberapa jam kemudian setelah pemakaman selesai, Kak Vian kembali ke rumah dan membuka buku yang diberikan


Click to View FlipBook Version