oleh Kaesha kemarin. Kak vian memasuki kamar Kaesha dan melihat-lihat isi laci yang ada di samping kasur Kaesha, Ada banyak bungkus obat yang terkumpul dan ada beberapa inhaler disana. Ia juga melihat sekumpulan tisu terdapat bercak darah di setiap lembarnya “kamu ternyata sekuat ini buat nahan semuanya, supaya mereka menganggapmu selalu baik-baik saja. Kakak bangga sama kamu..” “Dunia memang tak serba sempurna, tapi mengapa mama dan papa selalu menuntutku menjadi manusia paling sempurna di dunia ini?” - Kaesha Asthecia -End-
Khanza Syafiya Putri Arya Cerita ini berkisah tentang mereka. Mereka? Iya mereka, 4 sahabat yang mempunyai banyak mimpi sejak kecil bagai Sembagi Arutula. Namun kisah mereka tidak sebagus nama dari judul cerita ini. Di mana ke 4 sahabat ini mempunyai berbagai mimpi namun terhalang berbagai masalah yang harus mereka hadapi sejak kecil, mulai dari masalah tempat tinggal, ekonomi, kehidupan, serta pendidikan yang belum merata di daerah mereka tinggal. Bukankah itu masalah yang sulit untuk kehidupan 4 anak berumur 10 tahun? *** Kisah mereka mungkin tidak seberuntug kita, tetapi mungkin mereka tetap bisa seberuntung kita ketika mereka dewasa. Kisah ini berawal pada pagi hari setelah hujan turun, terasa sejuk dan menyenangkan bagi kita karena suasana yang dingin dan sangat menyejukkan hati. Tetapi pagi hari setelah hujan tidaklah pagi yang baik untuk Kala. Ia merupakan seorang anak yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Mungkin bagi kalian hidup kala terdengar tidak ada masalah. Tetapi tidak bagi Kala karena dia hidup di sebuah rumah yang Pemukiman nya lumayan kumuh sehingga membuat keadaan dipagi hari setelah hujan menjadi lembab, sampah berserakan, dan tentu air yang naik dari sungai yang berada di dekat rumahya.
Di lain sisi, lima teman Kala lainnya yang bernama Bumi, Raib, dan Biru. Juga mengalami hal yang sama karena hujan semalam memang lebat. “Kala jangan berangkat sekolah dulu, bantu Ibu mu untuk membereskan rumah, toh kamu sekolah juga tidak tentu akan menjadi orang yang sukses”. Perkataan itu keluar dari mulut sang Ayah, ya Ayah kala memang seperti itu orangnya, karena ia merasakan hal yang sama pada saat kala kecil dan beranggapan bahwa kala akan menjadi sepertinya, “omongan macam apa itu?, bukan kah seharusnya orang tua mendukung anaknya” kata Kala dalam hati. Tetapi Kala tetap membantu ibunya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekola. Sebenarnya itu sudah rutinitas yang biasa kala lakukan ketika pagi tetapi karena hujan mengguyur tempat tinggalnya semalam itu membuat kala repot dan hampir telat berangkat ke sekolah., ya ayah kala memang menyuruh kala membantu ibu nya pada saat kala hendak berangkat sekolah. Waktu menunjukkan pukul 6.30 pagi sehabis kala membantu keluarganya yang sedang sibuk untuk membereskan rumahnya yang terkena dampak hujan ia segera pergi ke warung dekat rumahnya. Bukan kah kalian akan bertanya mengapa kala tidak pergi ke sekolah melainkan pergi ke warung?. Ya kala memang pergi ke warung karena sudah rutinitas mereka sejak kecil selalu pergi ke warung terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, warung yang belum berdiri lama ini bernama warungku. Warung ini berdiri sejak 5 bulan lalu tepatnya ketika bapak raib kehilangan pekerjaanya
Warung ini berdiri karena Raib bukan orang yang berkecukupan sehingga ketika bapak kehilangan pekerjaan ia harus ikut membantu untuk mencari mata pencaharian karena adiknya yang masih kecil dan juga keluarganya yang memang tidak berkecukupan, warungku memang bukan tipe warung yang lengkap dan mewah seperti warung- warung lainnya, tetapi kalau untuk kebutuhan sehari hari tentu ada di warung ini. Warung ini dulunya hanya sebuah gubug yang berada di depan rumahnya dan sangat lusuh, namun untuk memenuhi kehidupan raib dan keluarga nya tentu semua cara dapat dilakukan salah satu nya mengubah gubug ini menjadi warung yang sederhana. Pastinya untuk membangun warung ini membutuhkan modal yang lumayan sehingga untuk membangun warung ini Raib memiliki ide untuk mengajak temannya berpartisipasi dalam membangun toko ini. Karena ibu Raib tidak dapat menjaga warung sendirian ia memutuskan untuk sekalian meminta temanteman Raib membantunya menjaga toko ketika sudah pulang sekolah.memang menjaga toko keluarga raib tidak dibayar dengan uang tetapi setidaknya teman-teman Raib dibayar dengan beberapa sembako yang akan diberikan oleh ibu Raib ketika mereka telah menyelesaikan tugasnya menjaga toko, kehidupan mereka disekolah pun cukup baik bahkan 4 anak itu selalu mendapatkan rangking nilai yang berurutan dalam satu Angkatan, Pendidikan di daerah Raib bisa dibilang belum sebagus Pendidikan di kota sehingga jam sekolah di daerah Raib pun tidak terlalu lama yaitu jam 11.30, “Biru, Raib, Bumi” sapa Kala yang baru saja menghampiri temannya yang terlihat sangat murung, raib berpikir mungkin teman-temannya
memang sedang capek. “ada apa ini, bukan kah harusnya kalian senang karena sudah bisa bekerja di warung keluarga Raib?”. “Memangnya dengan bekerja di warung keluarga raib saja kitab isa memenuhi kebutuhan hidup kita?”, Memang bekerja diwarung Raib tidak menguntungkan hasil yang seberapa tetapi setidaknya dengan bekerja diwarung milik keluarga Raib dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. “setidaknya kita sudah memiliki pekerjaan, dariapada kau setiap hari hanya menjadi beban bagi keluargamu, ahahaha”. Ya candaan seperti itu sudah hal yang biasa bagi mereka. Setelah pulang sekolah mereka pun sampai ditoko rumah Raib Namun mereka semua hanya bisa berdiri diam dan membeku “apa yang terjadi dengan rumah ku?”, “dimana semua keluargaku?”. Semua pertanyaan itu keluar dari mulut Raib, kini semua warga telah berbondong-bondong datang ke rumah Raib “tolong jelaskan apa yang terjadi”. “ada orang yang tidak dikenal merampok rumah mu, semua keluargamu terbunuh, dan sekarang jenazah keluargamu telah dibawa ke Rumah Sakit”, kata seorang tetangga yang sedari tadi telah menyimak kejadian tersebut. “APA!!!... TIDAKK!!1 ITU TIDAK MUNGKIN…”, “yang sabar itu sudah takdir… mau bagaimanapun kamu bertindak itu pasti sudah akan terjadi…” kata Bu Nanik seorang paruh baya yang hidup sebatang kara. “sekarang bergegaslah untuk ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi jenazah keluargamu”, “tenang saja di sini masih ada saya yang akan menemani mu”, setelah mengetahui berita tersebut Raib pun segera berangkat ke Rumah Sakit
Bersama dengan Bu Nanik, Bumi, dan Kala. “kau boleh tinggal dirumah ku sampai kau menemukan pekerjaan yang layak, dan sudah cukup memenuhi kebutuhanmu sehari-hari”. “terimkasih atas tawaran mu, tetapi mungkin aku akan Kembali pulang ke kampung dan hidup Bersama nenek ku disana setelah semua keliarag ku di kebumikan dengan layak”. “kau yakin akan pulang ke rumah nenek mu itu? Bukan kah kau berkata bahwa dia adalah orang yang tidak peduli dengan mu?, bahkan sekarang saja aku tidak yakin dia mengerti jika semua keluargamu telah meninggal akibat perampokan”, “Setidak nya aku memiliki tempat tinggal, dan masih ada yang merawat ku, nenek ku sudah dalam perjalanan kesini, ku dengar Bu Nanik memberitahunya”. “Yang ku bingungkan bagaimana sekarang aku bisa hidup dalam kesepian? Tanpa orang tua ,tanpa saudara. Dan apakah setelah ini mereka akan mendapatkan keadilan?”, “tenang saja mereka pasti akan mendapatkan keadilan, Aku, Bu Nanik, Bumi, bisa membantumu jangan khawatir, skerang tenangkan saja pikiran mu”. *** 7 hari sudah masalah itu terlewati, kalian pasti bertanya-tanya bagaiama keadaan Raib? Apakah mereka semua mendapatkan keadilan? Dan apakah kini Raib sudah bisa mejalani hari-hari nya seperti biasa?. Tentu anak berumur 10 tahun yang bercita-cita menjadi seorang hakim itu tidak sekuat yang dibayangkan, namun setidaknya ia masih bisa melanjutkan hidupnya Bersama sang nenek. Keseharian Raib kii diisi dengan bersekeloh dan membantu neneknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari
dengan bekerja sebagai tour guide bagi para wisatawan yang ingin berwisata ke Gunung di daerah rumah Neneknya. Apakah dia bisa mewujudkan mimpinya? Dan akankah mereka semua akan berkumpul Kembali suatu hari nanti dengan mimpi nya yang sudah terwujud? -End-
Daniar Anggarista Huda Pagi? Siang? Malam? Adalah waktu di mana kita melakukan ataupun menyelelesaikan suatu hal, termasuk masalah yang kita miliki. Semua orang pasti memiliki berbagai masalah dalam hidupnya, termasuk aku. Sepi? Kata yang cocok untukku, dimana aku melakukan segala urusan ku dengan sendiri, tanpa keluarga ataupun teman. Tapi menurutku itu sudah biasa. Karena dari dulu aku sudah biasa dengan kata itu, ya… kata ‘sepi’. Walaupun sebenarnya aku masih memiliki keluarga… tapi, aku seperti tidak memiliki itu. Di rumah aku sering kali tidak ada gunanya, kata-kata yang sering kali keluar dari mulut merekapun pasti tentang perbandinganku dengan saudaraku. Aku slalu berpikir apa salah nya jadi aku. Oh iya…Sebelum cerita ku dimulai perkenalkan namaku Kiara atau kalian bisa panggil aku Ara, bisa dibilang aku adalah anak introvert yang muncul karna kedaan. Aku juga suka bermain piano. Bermain piano adalah salah satu hobiku dan sumber ketenangan dalam hidup ku. Aku heran kenapa orang tuaku bilang kalau saudara kembaku meinggal gara-gara aku, apa salahku sampai mereka bilang kalau aku yang membunuhnya. Apa itu salah satu alasan mereka membenci ku? “Kring….kring….kring…”. “ARA...ARA…MATIKAN ALARAMNYA SUDAH PAGI, SEKOLAH SANA, DASAR ANAK MALAS”. Ya... Itu adalah suara marah dari mamahku
dan itu adalah kata yang selalu kudengar dipagi hari. “Iya mah…” jawabku sambil keluar dari kamar. Lalu aku turun dari kamar dan bersiap untuk sekolah. Salah satu kegiatan di pagi hari yang paling aku benci adalah saat sarapan. “Kiara kamu itu anak perempuan jangan malas-malas dong, lihat tu kakak kamu Jesi atau adik kamu Lina, mereka berdua bangunnya pada pagi, terus mereka belajar buat pelajaran hari ini, gak kaya kamu yang malas bangun pagi” kata mamah sambil mengoleskan selai ke roti adik dan kakakku, dan aku pun cuma bisa menjawab “Iya mah…”. Lalu aku berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah aku pun langsung menuju kelasku dan duduk dibangku. Di sekolah pun aku cuman mendengarkan dan mencatat pelajaran dari guruku, setelah itu aku istirahat, jam istirahatku pun juga ku pakai buat tidur, Setelah itu pelajaran lagi dan jam pulang. Di sekolah aku paling suka jam pulang, karena aku bisa mengambil jam tambahan buat bermain piano di sekolah. Setelah aku main piano sampai sore dan aku pulang. Sesampainya di rumah aku slalu dikamar dan mengunci pintu kamarku, “Klek” suara kunci kamar. “Lihat tu kakak kamu Lin, jam segini baru pulang habis nongkrong di mana tuh…”Kata kakakku Jesi. “Ya… Kan dia juga adikmu kak, tau tuh dia habis dari mana aja jam segini baru pulang, aku aja yang masih SMP pulang sekolah langsung belajar” jawab adikku Lina. Walaupun mereka ngobrolnya bisik-bisik aku dengar semua pembicaraan mereka dan aku cuman diam, karna aku menganggap omongan mereka seperti angin yang cuman lewat.
Setelah ku kunci kamarku aku langsung ngambil peralatan ku untuk main piano. Saat main piano aku selalu pakai hadset karena kalau aku main piano gak pakai hadset mereka mungkin akan terganggu dan memarahiku lagi. Saat aku main piano, aku selalu mempelajari kunci piano baru dan juga mempelajari lagu-lagu klasik yang baru. Tanpa sadar saat aku bermain piano, tiba-tiba sudah jam empat pagi dan ya… aku tidak tidur semalaman. Lalu aku menjalankan keseharian ku dipagi hari. Sesampainya di sekolah aku menjalankan kegiatan ku sperti biasa, tetapi saat pelajaran tiba-tiba aku ngerasa tubuhku cape dan aku mikirnya kalau muingkin aku cape karea semalam aku tidak tidur. Lalu tanpa sadar aku ketiduran di kelas, apa lagi itu bukan jam istirahat, lalu aku bangun dan melaksanakan kegiatanku disekolah. Sesampainya dirumah tiba-tiba mamahku memarahiku habis-habisan karena aku ketiduran dikelas, ternyata kakak ku dibilangin teman sekelasku kalau aku tidur dikelas saat jam pelajaran, dan aku cuman bisa meminta maaf sama mamahku kalau aku kecapean hari ini. tapi mamahku tidak menerima maafku dan tetap memarahiku habishabisan, tiba-tiba mamahku bilang “Cuman kamu satusatunya anak yang bikin mamah malu, coba aja yang lahir cuman saudaramu pasti papah kamu gak akan meninggal” langsung papah tiriku menghentikan omongan mamah ku dan aku cuman bisa terdiam, lalu aku bilang kemamahku “Apa maksud mamah bilang kayak gitu, dan kalau aku yang membunuh papah dan saudaraku, jelaskan mah apa yang aku lakukan sampai mamah bilang seperti itu barusan” dan akhirnya mamah menjelaskan, “Dulu saat masih bayi, kamu,
mamah, papah, dan saudara kembarmu pergi menjemput kakak kamu dan tiba-tiba saat diperjalanan, mobil kita menabrak lampu jalan lalu mamah dan papah berhasil keluar dari mobil, sedangkan kamu dan saudaramu terjabak didalam mobil dan papah kamu menyelamatkan kamu duluan, sedangkan saudaramu masih terjebak didalam mobil.” Lalu aku menyelak pembicaraan dari mamahku. “Lalu apa salahku mah…” “Coba aja kamu gak lahir pasti papah kamu bisa nyelamatin saudaramu saja dan papahmu sama saudaramu gak akan tertimpa lampu jalan yang sangat besar itu.” Jawab mamah sambil marah dan nagis “Kan… aku dan saudaraku sama mah kita kan kembar.” Jawabku “ENGGAK kalian berbeda, saudaramu itu laki-laki dan mamah sama papah sangat menginginkan anak laki-laki sedangkan kamu perempuan.” Jawab mamah sambil marah. Dan sekarang aku tahu apa alasan mamah bisa sebegitu membenciku. “Kalau gitu maafkan aku mah…” jawabku “Enggak mamah sudah cape sama kamu.” Kata mamah. Tiba-tiba mamah pergi untuk mengambil sesuatu, setelah itu mamah kembali ke hadapanku sambil mengasihkan kartu ATM dan sebuah kunci lalu mamah bilang “Ini ATM dan kunci apartemen dari mamah, sekarang kamu kemasin barang-barang kamu dan pergi dari rumah ini, mamah sudah muak lihat muka kamu.” Dan mau gak mau aku harus nurutin peintah mamah lagian aku juga sudah cape disalahin melulu. Setelah itu aku mulai mengemasi barang-barang ku termasuk pianoku, setelah itu aku turun dan aku diantar papah tiriku ke apartemen yang dikasih mamah untuk ku tinggal. Setelah sampai di apartemen, papah mengantarkanku
sampai didepan pintu aparteman dan dia bilang hati-hati kepada ku dan meminta maaf atas kesalahan nya dan mamah, lalu dia pergi. Setelah dia pergi aku langsung menutup pintu aparteman dan disitu aku menangis sekencang-kencangnya sambil bilang “Papah mafkan aku karena aku lahir di bumi ini pah, tapi aku juga bingung apakah itu semua salahku? Iya kah pah itu salahku? Aku ngin tau pah apakah itu salahku? Aku juga tidak berharap untuk dilahirkan di bumi ini pah dan sekarang aku merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.” Dan disitulah aku mengangis dan mengeluarkan semua isi yang ada di pikiranku. Setelah aku menangis cukup lama aku pergi mengambil pianoku dan pergi menaruhnya dikamar setelah itu aku memainkanya semalaman sampa jam menunjukkan pukul enam pagi aku masih memainanya sampai jari-jemariku merasa sudah kaku semua dan aku memutuskan untuk tidak pergi kesekolah. Sudah hampir sebulan aku tidak berangkat kesekolah, kerjaanku di apartemen cuman makan, minum, madi main piano dan itu berlangsung selama hampir sebulan. Tiba-tiba papah tiriku dating ke aprtemen dan bilang kalau sekolahku dipindahkan dan aku cuman menjawab “Ya…” Lalu aku mulai untuk menjalankan kehidupanku yang baru serta sekolahku yang baru. waktu awal masuk sekolah aku memperkenalkan diriku ke teman sekelasku dan guruku yang baru memperkenalkan teman-temanku satu-satu kepada ku, salah satunya ketua kelas yang ada dikelas itu. Lalu aku duduk dibangku yang paling belakang dikelas ini dan ternyata teman depan bangkuku adaah ketua dari kelas ku namanya adalah Iren. “Iren tolong nanti pada jam istirahat antarkan
Kiara jalan-jalan kesekolah ini ya…sambil kasih tau tempattempat yang ada di sekolah ini.” kata guruku. “Siap bu…” jawab Iren. Bel istirahat akhirnya berbunyi dan aku mulai keliling-keliling sekolah bersama si ketua kelas ya…Iren, di sekolah aku dijelasain ada ruang apa aja yang ada di sekolah, selama perjalanan Si Iren slalu bertanya kepadaku soal makanan kesukanaan, tinggal dimana dan lain lain sampai aku bingung mau menjawabnya apa, lalu dia menanyakan hobiku “Ra mau tanya lagi boleh gak?” “Ya…tanya aja sepuasmu” jawabku “Aku mau tau apa hobikamu? barang kali hobi kita sama” Tanya Iren “Hobiku main musik sih…” jawabku “Yakan…bener hobikita sama” kata Iren, lalu aku bertanya “Emang apa hobi kamu Ren?” “yakan aku baru bilang kalau hobi kita sama, aku juga suka main music, tapi aku lebih suka main biolasih…” jawabnya “Oh…oke, kalau aku lebih suka main piano sih…” kata ku. Tiba-tiba Iren menarikku dan dia menunjukan satu ruangan kelas. Setelah ku lihat ternyata ruangan itu adalah ruangan music. “Ya…jadi ini kelas ekstra music, kelas yang paling keren di sekolah ini. Tapi aku heran kenapa anak-anak lain gak suka dengan ekstra yang ada di kelas ini. Jadi ya…ruangan ini sering kosong, kadang cuman aku yang ada di kelas ini. Aku membawamu ke kelas ini bukan hanya untuk memperkenalkan kelas ini saja, tapi aku membawamu kesini juga untuk gabung denganku, untuk mengisi kelas ini supaya tidak kosong lagi, kamu maukan? Kan kamu juga suka bermain music.” Kata Iren, lalu aku menjawab “oke lah aku akan menuruti apa yang kamu mau. Sebagai tanda terima kasih ku, karna kamu sudah mau
nemenin aku keliling-keliling di sekolah ini”. “Siip kamumemang keren Ra, kalau gitu besok sepulang sekolah aku tunggu dikelas ini bisakan?” ajak nya “Ya…besok aku akan ke kelas ini sepulang sekolah” jawabku. lalu Iren bilang “Mulai sekarang kamu jadi temanku.” Lalu aku cuman bisa terdiam. Karena aku sebelum pernah mempunyai teman. Setelah itu kita kembali ke kelas dan bel pulang berbunyi. Di apartemen aku memutuskan untuk membersihkan barang-barangku dan menaruh sesuai tempatnya. Setelah semuanya selesai, aku memikirkan sesuatu “Mungkin asik ya punya teman kaya Iren. Huss… mikir apasih kamu Ra, kan Iren sekarang sudah jadi temanku, tunggu jadi ingat sesuatu soal teman, apaya?” pikirku. Lalu aku membersihkan badanku dan aku istirahat. Tiba-tiba aku ketiduran. Setelah beberapa menit aku terbangun, setelah itu aku memutuskan untuk bermain piano. Setelah bermain piano aku keluar untuk mencari makan malam. Baru kali ini aku merakana keluar malam untuk mencari makan. Dijalan, aku melihat banyak sekali tempat makan di pinggir jalan. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan itu semua, dan aku bingung malam ini aku harus makan apa. Sampai-sampai aku mikir kalau malam ini tidak usah makan. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggilku “Ara…” lalu aku menoleh dan ya…itu Iren. Ternyata Iren bersama ibunya. Lalu mereka menghampiriku dan bertanya,”Mau kemana Ra?”. Aku menjawab “Mau cari makan, tapi aku bingng harus makan apa” kemudian ibu nya bilang “ kalau gitu ikut kita aja, kebetulan kita juga mau cari makan”. Setelah itu kita menemukan tempat makan dan kita memutuskan untuk
makan disana. Kita mulai memesan makanan kita dan kita mengibrol bersama. Makanan datang dan kita mulai memaknnya. Kita makan sambil melanjutkan obrolan kita. Saking serunya obrolan kita, kita makan sambil tertawa-tawa. Disitulah aku merasakan hal yang tidak biasa, baru kali ini aku merasakan suasana yang seperti ini Tetapi aku mendengar suara bisikbisik dari meja sebelah. Saat aku lihat, ternyata itu keluarga ku. Kita makan di tempat yang sama, tetapi aku tidak menyadari mereka. Karena aku asyik dengan Iren dan ibunya. “Lihat deh kak… Ara sekarang beda ya setelah diusir sama mamah” kata lina dan kakaku cuman tertawa, lalu mereka meninggalkan tempat makan itu. Aku cuman diam dan melihat mereka. Setelah mereka pergi, ibunya Iren bilang padaku “Kamu kenal sama mereka nak?” lalu aku menjawab “Ya tante, mereka adalah keluargaku”. “Tapi kenapa mereka sama sekali tidak menyapamu, malah membicarakanmu” ucap ibu Iren, dan aku memberi tahu mereka kalau aku ada masalah sama mereka. Sampai-sampai aku diusir dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen. Tiba-tiba ibunya Iren memelukku, dan tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Seteah itu kita melanjutkan makan. Di kasir aku bilang sama mereka kalau biar aku saja yang membayar. Ibu dan Iren sempat menolak dan aku bilang kalau ini tanda terima kasihku yang sudah mau menemaniku makan. Akhirnya kita berpisah dijalan dan Iren mengingatkanku kalau jangan lupa besok kita ketemuan di kelas music. Dan aku mengangguk.
Keesokan harinya aku melaksanakan kegiatanku di sekolah seperti biasa. Akhirnya bel pulang berbunyi. Lalu Iren menghampiruku dan mengajakku untuk keruang music sesuai janji kita kemarin. Tetapi aku bilang “Kamu kesana dulu aja, karena hari ini jadwal piketku” lalu dia bilang “Okelah”. Setelah selesai piket, aku langsung membawa tasku dan bergegas menuju ruangan music. Saat aku di depan pintu kelas music, aku mendengarkan suara biola yang Iren mainkan dan aku mendengarkannya didepan pint. Setelah Iren berenti bermain biola lal aku masuk dan aku bilang padanya “Wah… keren banget kamu, gimana kalau kita duet bersama kamu main biola aku amin piano?”, “Oke siapa takut” jawabnya, setelah itu kita memilih lagu dan setelah kita ketemu lagu yang pas kita mulai memainkannya //suara music piano dan biola. Kita memainkan lagu ini seolah-olah kita berada di atas panggung, setelah beberapa menit kemudian lagu yang kita mainkan slasai, dan kepala sekolah masuk keruangan musik sambil menepuk tangannya, ternyata pintu ruangan tersebut lupa belum ditutup rapat sehingga apa yang kita lakukan tadi terdengan dari luar dan pas kebetulan kepala sekolas serta pengrurus lainnya sedang melakukan pengecekkan kelas “Wah…itu kalian berdua yang memainkannya” ucap kepala sekolah dan kami menjawab “Iya pak” “ ternyata di sekolah ini ada juga anak yang berbakat seperti kalian, padahalkan kelas music ini sempat mau saya tutup gara-gara sering kosong. Eee… kalau kalian minat kalian mau gak saya ikutkan lomba music klasik?” Tanya kepala sekolah, lalu kita menjawab “Beneran pak?”, “Iyalah, masa
saya bercanda.” Ucap kepala sekolah, lalu kami memikir kannya dan menjawab “Iya, Kita mau”, setelah itu kita mlai berbincag-bincang dengan kepala sekolah dan kepala seolah bilang kalau kita akan dilatih oleh pemusik dari luar, setelah itu kita benar benar didaftarkan lomba music klasik internasiona dan kami mulai berlatih dengan giat. Setelah beberapa hari dari pembicaraan itu guru musik kami datang ke sekolah dan mulai mengajarkan kita berdua. Kita berlatih hampir setiap hari sampai-sampai kita jarang mengikuti pelajaran di kelas hampir dua bulan kita berlatih, sampai-sampai guru kita bilang kalau kita ahli dalam bidang music dan dia percaya kalau kita pasti menang. Seminggu kemudian kita di berangkatkan ke Swis untuk mengukuti lomba disana. Setelah kita sampai di sana kita langsung menuju ke penginpan dan setelah kita beristirahat ke esokan harinya kita berlatih di gedung music yang akan kita buat lomba nanti, disana banyak sekali ruangan jadi kita para peserta diberi ruangan sendiri-sendiri untk berlatih dan disana banyak sekali anak yang ahli dalam bidang music. Setelah kita sampai di ruangan kita kita langsung memainkan music yang akan kita tampilkan dan setelah selesai guru kita bilang “Kalian memang berbakat di bidang musik, saya sangat bangga dengan kalian”, kita terharu dengan ucapan guru music kita dan kita saling memberikan semangat untuk bisa memenangkan lomba ini. Seminggu setelahnya perlombaan ini dimulai dan kita memainkan music yang kita pilih dan babak pertama kita lolos, disitu kita sangat senag dan berlatih lagi untuk babak selanjutnya. Dibabak ke dua dan ke tiga kita lolos lagi dan
disitulah kita percaya kalau kita bisa memenangkan pelombaan ini dan sisa pesertanya tinggal beberapa saja, tetapi setelah kita memenangkan babak ke tiga, tiba-tiba kesehatan tubuhku menurun drastis sampai sampai aku harus menginap di rumah sakit. Disitulah aku merasa kalau aku akan menjadi beban buat Iren, tetapi Iren dan guruku memberi semangat kepada ku “Gak papa Ra, kamu gak beba kok, kita sudah berhasil melewati beberapa babak dan itu sudah sangat bagus, sudah jangan dipikirkan lagi sekarang kamu fokus untuk kesehatanmu dan setelah kamu sembuh kita main musik bersama lagi.” Dan disitu aku berusaha untuk sembuh. Akhirnya aku berhasil sembuh, dan berlatih sambil menjaga tubuhku. Babak terakhir akhirnya datang dan kita berdua berdiri di perlombaan yang sesungguhnya dating yang dilihat banyak orang dari beberapa Negara. Diatas panggung kita benar-benar mengeluarkan keahlian kita dan setelah kita mengyelesaikan lagu ini semua penonton berdiri dan memberi tepuk tangan kepada kita, sampai sampai aku dan Iren melihat kalau ada penonton yang menangis mendengarkan lagu kita. setelah selesai di belakang panggung kita berdua langsung berpelukan dan menangis. Setealah semua peserta tampil. Akhirnya pengumuman juara dating dan banyak sekali kategori juaranya. Setelah itu kita berdoa agar nama kita dipanggil diatas panggung, beberapa juara sudah di umumkan dan kita masih menunggu untuk nama kita dipanggil, beberapa menit kemudian akhirnya nama kita di panggil dan kita sangat senag sampai kita menagis di atas panggung sana kita menang juara
satu lomba tersebut dengan kategori music cally duet. setelah itu kita menerima hadiahnya dan foto bersama. Setah semuanya selesai di belakang panggung atau lebih tepatnya di ruangan kita kita menagis bersama dan kita bangga kepada dirikita dan guru kita pun memberikan selamat kepada kita. Akhirnya setelah perlombaaan kita ditraktir guru kita makan-makan dan liburan di Swis. Setelah sebulan kita pulang di Indonesia. Dari situlah nama kami dikenal, sejak itu kita sering diikkut kanlmba music dan diundang di acaraacara tertentu. Nama kami tidak hanya dikenal di Indnesia tetapi juga di kenal di luar Negara kita. sejak itu kita kemana-mana selau berdua sampai-sampai Iren sudah aku anggap seperti saudara ku. Aku sempat menghubungi keluargaku bahkan ku sempat kerumah lamaku untuk menemui keluargaku tapi mereka sama sekali tidak ada kabar dan kata teangga mereka sudah pindah keluar negri. Walaupun aku kecewa dengan mereka aku akan berusaha untuk memaafkan mereka. Ya… ini adalah ceritaku sekian dari ceritaku aku Kiara dan aku ucapkan terima kasih. -End-
Fachri Dwi S.H Di sebuah kota besar hiduplah seorang anak yang bernama Agusian winjaya Roni, orang-orang biasa memanggil dia Roni. Roni merupakan anak ke 5 dari 20 bersaudara. Saat ini Roni merupakan mahasiswa yang menjalani kuliahnya di sebuah univesitas ternama di Indoneisa yaitu Universitas Gadjah Mada. Sejak kelas 3 SMP, Roni sudah ditinggalkan oleh sosok ayahnya. Saat ayahnya pergi, Roni hidup bersama ibu dan 19 saudaranya tersebut. Selain itu, Roni juga mempunyai kakek dan nenek dari ayah maupun ibu. Kakek dari ayah berprofesi sebagai buruh tani sedangkan kakek dari ibu berprofesi sebagai militer Rusia. Ada juga nenek dari ayah berprofesi sebagai PNS dan nenek dari ibu berprofesi sebagai guru. Roni merupakan anak yang bisa dianggap malas, tetapi dia mempunyai sifat yang sangat baik hati. Jika ada orang mau meminta pertolongan ke Roni, biasanya Roni selalu dengan senang hati menolongnya. Di kampus, Roni selalu mendapatkan nilai terjelek di kelasnya samapai-sampai pihak kampus memanggil orangtuanya menghadap bapak kepala kampus tersebut. Setelah 8 semester ia jalani kuliahnya, akhirnya Roni mendapatkan gelarnya S1 berupa sarjana hukum. Setelah roni mendapatkan S1 tersebut roni berpikiran bahwa dia mau mengikuti tes akpol di daerahnya, tetapi si Roni sadar bahwa dia anak yang malas. Setelah selang waktu beberapa jam, Roni berpikir bahwa tidak akan sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keesokan harinya dia ingin meminta restu
kepada kedua orangtuanya bahwa mau mengikuti tes akademi kepolisian di daerahnya. Tak berpikir lama, sang kedua orang tua Roni merestui permintaan anaknya tersebut. Setelah mendapat restu Roni menyiapkan berkas-berkas dan menyiapkan fisik maupun mental untuk tes akademi kepolisian tersebut. Setelah menjalani tes beberapa bulan di polda, Roni mempunyai kendala yaitu di test non akademi terutama di lari. Roni menangis bahwa nilai lari Roni sangat di tengah nilai rata-rata. Beberapa menit setelah pengumuman kalau Roni gugur menjadi akpol, Roni menelfon kedua orang tuanya yang berkata “bunda, kali ini saya gagal mengikuti tes akpol karena nilai dari tes lari saya kurang”. Lalu ibu menjawab dengan hati semringahnya nak tidak apa-apa mungkin ini belum rejeki kamu. Jangan putus asa, kamu bisa mendirikan usaha kecilkecilan di rumah”. Setelah dia pulang Roni berpikir bahwa dia mau mendirikan olshop, dengan budget 5 juta. Beberapa bulan kemudian, Roni sukses menjalankan olshop tersebut. Sampai-sampai Roni kebanjiran orderan dari konsumen di berbagai daerah maupun Negara. Setelah menjalani karirnya roni mendapatkan panggilan dari berbagai stasiun tv karena dia merupakan pemuda yang awalnya malas menjadi sukses di daerahnya. Lalu dia inisiatif akan membangun pondok pesantren, dan beberapa gedung untuk dia bekerja serta stafnya bekerja, dan memberangkatkan haji untuk kedua orangtuanya. Yang akhirnya Roni tahu bahwa tidak semua orang malas dan mempunyai nilai jelek akan menjadi anak yang tidak bisa membanggakan orang tua serta daerahnya.
M. Vicky Masulana F Disuatu hari ada seorang anak laki-laki yang dulunya masih berfikir kanak-kanak menjadi berubah lebih dewasa lagi di umur 15 tahun ia bernama Vicky yang ingin menjadi pengusaha muda yang sukses, kenapa harus muda karena ingin membuktikan ke semua yang ia kenal bahwa dia bisa menjadi sukses dan membangggakan orang tua. Yang ia lakukan yaitu mempelajari ilmu investasi leher ke atas yaitu ilmu ilmu bagai mana cara kita untuk bisa menjadi sukses seperti pak Tung Desem Waringin ia ingin bisa berbisnis online terlebih dahulu menabung untuk masa depan lalu ia ingin kuliah mengambil jurusan ekonomi setelah ia lulus kuliah dengan uang yang di tabung dari bisnis onlinenya yang ia kumpulkan lalu ia bisa membangun pabrik batu kapur seperti usaha ayahnya Kenapa harus membangun pabrik batu kapur? Karena ia tau ilmu ilmu yang ada di dalam pabrik tersebut yang telah ia pelajari saat ia libur sekolah ia berkunjuung ke pabrik batu kapur milik ayahnya tersebut.dan setelah lulus kuliah ia membangun pabrik dan truck, truck tersebut di buat untuk mengirim batu kapur yang telah matang untuk di giling lebih halus lagi, Untuk membangun pabrik dan membeli truck pada suatu hari saat pengiriman batu kapur di tengah perjalanan truck tersebut mengalami kerusakan dan supir tersebut tidak tau bagaimana mengatasinya,Vicky pun bergegas di
lokasi tersebut lalu mengajari cara mengatasi kerusakan truck tersebut. Di sini kita tau bahwa ilmu atau investasi leher ke atas bisa membantu kita dalam mencapai kesuksesan bukan hanya ilmu investasi saja yang penting banyak ilmu yang harus kita pelajari agar bisa membuat diri kita menjadi lebih baik lagi. -End-
Nadhifa Naura Pasti teman teman taukan seorang anak yang bernama lauren sintia putri. Biasa nya dia di panggil Lauren. Dia anak yang biasanya pendiam tapi kalo sama teman dekat nya cerewet. Dia anak tunggal dari pasangan Angkasa dan Salsa.lauren bersekolah di SMP Galaxy lauren kelas 11 jurusan Ipa. dia di sekolah memiliki sahabat dekat yang bernama Melly Bella dan Amelia. Di pagi yang cerah ini “Lauren cepat bangun ini sudah pagi lo“ ucap sang Salsa mama Lauren tersebut Lauren pun menjawab”iya mama” dan Lauren pun bergegas menuju ke kamar mandi. Setelah Lauren mandi Lauren menuju ke ruang makan untuk makan Bersama.”sini Lauren mama sama papa sudah nunggu kamu turun’’. Lauren cuman menjawab dengan senyum. Setelah itu Lauren bertanya pada sang mama nya tersebut “mama nanti aku di anterin siapa?’’ Salsa pun menjawab pertanyaan sang anak nya tersebut “nanti kamu di anter sama pak Jojo ya soal nya papa kamu mau ke kantor ada rapat” Lauren menjawab “iya mama” setelah dari ruang makan dia menuju ke pak Jojo untuk mengantar kan nya ke sekolah. Sesampai nya Lauren di sekolah Lauren menuju ke kelas. Untuk menaruh tas nya di bangku. Setelah naruh tas nya Lauren keluar kelas karena ada kesepatan untuk main karena ke kelas nya Bella dan Amelia “ Bella Amelia” Lauren memanggil dua sahabat nya tersebut.sahabat dan Bella ama
Amelia pun menoleh ke arah sahabat nya tersebut “aaa Lauren” Bella dan Amelia pun memeluk Lauren “lama gak bareng Ren’’ Lauren pun menjawab “iya kita lama ga bareng bareng Cuma gara gara gak sekelas” -End-
Alya Nasya 7 pemuda bernama Heesa, Jayendra, Zelio, Sendra, Seno, Juwen, dan Riki yang tengah menjalani studi awal semester sebagai mahasiswa baru di suatu universitas yang lumayan jauh dari kota asal mereka. Jauh sebelum mereka menjadi seorang mahasiswa di kampus, mereka sepakat untuk kuliah di universitas yang sama dan tinggal bersama di suatu rumah yang nantinya akan mereka beli, mereka mengumpulkan uang atau istilah lain nya adalah patungan untuk membeli rumah untuk mereka tinggali ketika mereka kuliah. — 'Kehidupan sebagai mahasiswa baru dimulai' Jauh hari sebelum mereka mulai aktif kuliah mereka langsung menuju kota yang dimana mereka akan mencari rumah/dorm yang akan mereka beli. Tak mudah mencari rumah yang sesuai dengan kriteria mereka. Sambil terus mencari akhirnya Jayendra menghentikan mobil nya didepan rumah yang tertulis "DIJUAL" Jayendra: Ok sekarang turun dulu, liat liat dulu kalian cocok ga sama rumahnya, kalo ga kita cari yang lain. Zelio: Ga meyakinkan, but it's big enough, halaman nya lebar ta—
Sendra: Lo bisa diem dulu ga, kita masih di dalem mobil lo review nya waktu masuk rumahnya aja. Zelio: GUE CUMA MENYUARAKAN PENDAPAT??? WHAT'S WRONG?? Heesa: Shhuutt, udah buruan turun, belum tentu kita cocok dan kita harus cari yang lain lagi itu butuh waktu yang lama, sebelum malem kita harus udah nemu rumah yang pas, time is money don't waste ur time for unnecessary thing's. Juwen membisiki sesuatu di telinga Seno, mereka berbicara dengan nada irih tentunya seperti pembicaraan khusus satu sama lain. Juwen: Seno, u know what ur job. Seno: Iya gue tau, tapi gue ga bakal speak up kalo gue liat sesuatu ke temen temen, except lo, karna selain bikin mereka takut suasana juga bisa berubah. Juwen: Ok ok sip. Jayendra dkk pun turun tak lama ada seorang bapak bapak yang menghampiri mereka dan bertanya... Bapak²: Assalam'mualaikum 7/7: Waalaikum'salam pak Sendra dengan irih menanyai heesa, zelio, & riki Sendra: Kalian kok jawab salam? Riki: Emang kalo kristen gaboleh jawab salam? Sendra: Yaaa gapapa sih Riki: Ngajak berantem banget lagaknya
Jayendra: Maaf pak, bapak nya ini yang bertanggung jawab atas rumah ini ya? Bapak²: Iya nak betul sekali, kenalkan nama saya budiman saya bertanggung jawab atas rumah ini jika kalian tertarik coba untuk lihat bagian dalam nya, saya siap membantu. Heesa: Boleh pak budiman, terimakasih, kebetulan kita mahasiswa baru yang sedang mencari rumah untuk kita tinggali bersama. Pak Budiman: Kalian tepat sekali rumah ini sangat cocok untuk kalian, rumah ini kosong hampir 5 tahun tapi tenang rumah ini selalu ada yang rawat kok termasuk saya juga Seno: Buset lama banget kosong nya (batin nya) Singkat cerita setelah mereka room tour di rumah tersebut akhirnya 7/7 dari mereka setuju untuk membeli rumah itu. Terdapat 5 kamar, 4 kamar mandi, ruang keluarga, di lantai atas dan bawah, beruntungnya didalam rumah tersebut sudah terdapat furniture yang lengkap jadi mereka tidak perlu belanja di ikea untuk kebutuhan furniture rumah. Juwen: Bacain ayat kursi dulu yuk Jayendra: Oh iya yang muslim kita baca ayat kursi dulu Zelio: JAYENDRA... Jayendra: Ngagetin lo ah, apaan? Zelio: Gue boleh ikut baca ayat kursi? Jayendra: Lo lupa lo kristen? Lagian apa lo hafal zel?? Zelio: Gue hafal kok! Rumah gue deket sama musholla dan toa nya arah kerumah gue sering baca ayat kursi jadi gue hafal
6/7 dari mereka terheran heran mendengar pernyataan zelio Sendra: terus kenapa lo ga mualaf zel? Zelio: Ga sen gue masih setia sama bunda maria Jam menunjukan 07:00 PM mereka semua terlihat lelah dengan perjalanan yang jauh untung nya mereka membawa banyak bahan pokok untuk stock mereka. Room Mate: Heesa & Zelio Sendra & Jayendra Seno & Juwen Riki hanya sendirian 4 kamar telah terpakai, dan ada 1 kamar yang kosong, room mate & kamar dipilih oleh mereka sendiri, Riki memilih sendirian karna dia tau ketika tidur dia tidak bisa diam dan takut mengganggu teman nya. 'POV Seno & Juwen' Juwen: Gimana gimana, tadi lo liat sesuatu ga no??? Seno: So far masih aman Ju, karna kita baca ayat kursi tadi kayanya, ya bagus dong at least malem ini gue tidur nyenyak dan ga liat mereka mereka (Makhluk halus) gue cape tiap tidur kadang di ganggu
Juwen: Hah gimana? Kobisa diganggu? Seno: Gue tiap tidur dirumah gue ataupun di rumah siapapun itu pasti ada aja yang ganggu waktu gue tidur, kadang dia duduk di kasur tapi arah belakang jadi gue cuma liat punggung, tapi kadang dia liat nya ke arah gue, gue kaget banget demi serasa kena serangan jantung tau ga masalahnya gue cape gue ngantuk dia malah nampakin mukanya yang ancur depan gue kan kesel banget yak, terus kadang tepat di pintu gitu atau ga gaduh banget di kamar gue, no wonder deh kalo gue suka telat dateng sekolah Ju... Juwen: udah biasa ya lo no?? Seno: Iya lah, tapi cape, BANGET Ditengah obrolan mereka tiba-tiba... /tok tok tok (suara ketukan pintu) Juwen: Seno.... (dengan nada khawatir dan ketakutan Juwen memegang tangan Seno erat Seno: Tenang Ju, bentar gue cek lo tunggu disini Juwen: no...takut... Seno: It'll be ok Dengan keberanian Seno membuka pintu kamar tersebut. Setelah dibuka Seno tidak melihat siapapun di depan kamar. Seno: SIAPAPUN LO TOLONG JANGAN ISENG, RIKI ITU BUKAN LO KAN??? Tidak ada sahutan apapun, semuanya terasa sunyi, mungkin mereka sudah terlelap tidur karna kelelahan.
Seno menelan ludah nya dengan perasaan cemas dan khawatir seno menutup pintu kamar dan kembali masuk Juwen: Gimana no?? Is there someone else or not??? Seno: no one. Lo gaperlu takut, kaya gini biasa terjadi kok sekarang lo tidur aja besok kita mungkin bakal sibuk cari perlengkapan lain buat kebutuhan kita. Juwen: Okey... tok tok tok (suara ketukan pintu itu terdengar lagi) Tak pikir lama Seno langsung membuka pintu kamar nya Lega nya ternyata yang mengetuk pintu adalah Jayendra Seno: JAYENDRA hufftt (Seno membuang nafas nya lega karna kali ini yang ada di depan kamar nya adalah Jayendra) Jayendra: Gue belum sempet ngetuk pintu udah lo buka aja, tumben peka banget lo wkwkwkwk Seno: ??? Jayendra: Apasih?? Btw gue kesini mau cek Lo sama Juwen, ternyata kalian belum tidur, udah malem nih tidur gih Juwen: Jay...tadi lo ga ngetuk pintu?? Jayendra: ...no? i haven't knocked Juwen: TAPI TADI— Seno: Aduhh gue udah ngantuk nih gue tidur duluan ya, byeeee Jayendra: Eh tapi itu Juwen— Seno mengalihkan perhatian Jayendra dan menutup pintu kamar dengan segera. Seno: Ini belum saatnya ngasi tau mereka, mereka pasti kecapean biarin mereka tenang dulu...
— Keesokan harinya 06:00 AM Mereka semua tengah bersiap untuk pergi bersama. Heesa terlihat sangat buru-buru hingga ia tak sengaja menginjak sesuatu. Heesa tidak sengaja menginjak polaroid yang terdapat foto keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan 3 anak perempuan nya, foto polaroid itu terlihat kuno seperti pemotretan pada tahun 80 an. Heesa mengambil foto polaroid tersebut lalu ia simpan dalam saku jeans nya, Heesa tidak mengenal orang yang terdapat di foto tersebut tapi karna terlihat mencurigakan dan membuat Heesa penasaran ia memutuskan untuk menyimpan nya saja. Zelio: HEESA, BURUANNN (Zelio meneriaki Heesa yang masih didalam rumah dan tak kunjung keluar sedangkan semua sudah berada dalam mobil) Heesa: I-IYA ZEL — Karna tujuan awal mereka adalah mencari perlengkapan & kebutuhan mereka kini mereka langsung menuju Mall Sendra: Sambil refreshing dulu lah ya Seno: Refreshing refreshing kaya lo punya duit aja Riki: Bukan berarti di mall mau belanja seenak nya ya, tolong banget nih uang saku gue ga sebanyak itu Sendra: Gimanasih lo pada, kan ada Jayendra & Zelio yang siap keluar duit Jayendra: Kan kan...mulai
Zelio: Ya sesiap siap nya gue keluar duit bukan berarti tiap lo makan bareng gue di resto lo nya gamau split bills Juwen: UDAH UDAH STOP DEBAT, Langsung aja sekarang mau cari apa. Riki: Gue laper... Seno: Gue juga, tadi kita ga sempet sarapan — Karna mereka belum sempat sarapan tadi pagi mereka memutuskan untuk makan di salah satu resto yang ada di mall Juwen: Langsung pesen menu masing-masing aja ya... Juwen: Heesa, Heesa (Juwen melambaikan tangan nya di wajah Heesa) Heesa: OH YA JU, Sorry sorry gue lagi ga fokus Juwen: Lo kenapa? Dari tadi lo diem aja loh, ada apa? Lo gapapa? Heesa: Juwen, gue mau kasih tau sesuatu Juwen: Apa?? Heesa: Tentang ini (Heesa menunjukkan foto polaroid yang tadi ia temukan kepada Juwen) Juwen: mereka siapa?? Heesa: Entah lah gue juga gatau, tapi gue nemu ini tadi dirumah Juwen: Kayanya kita harus diskusi soal ini, termasuk Seno, dia bisa bantu kita. Heesa: Iya lo bener, Seno pasti bisa bantu, ah yaudah kita bicarain lagi tentang ini waktu dirumah
— Singkat cerita mereka telah sampai dirumah. Juwen: Guys, kita ngumpul bentar di living room, ada yang mau kita diskusiin. Jayendra: Suddenly?? You're too serious Juwen: Iya gue serius, langsung ke living room aja. — In Living Room Juwen: Ok, jadi Heesa nemuin foto ini di rumah waktu kita mau berangkat tadi. Foto keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan 3 Anak perempuan nya, foto ini keliatan banget kaya foto kuno Seno: Wait, apa mereka keluarga yang sempet tinggal di rumah ini? Atau bahkan mereka adalah keluarga pertama yang menghuni rumah ini sebelum ada pemilik baru yang dimana mereka yang ninggalin rumah ini sekitar hampir 5 tahun, seperti yang dikatakan pak Budiman. Zelio: Briliant, make sense. Heesa: Sebentar, gue mau nyari sesuatu gue yakin masih ada barang lain, gue rasa ada yang disembunyiin Heesa mencoba menemukan sesuatu yang berhubungan dengan polaroid itu, berharap ia dapat petunjuk yang jelas tentang siapa keluarga itu sebenarnya. Heesa: ADA DVD! Heesa menemukan dvd yang berada di bawah lemari Sendra: Cepetan lo puter DVD nya! Dengan sigap Heesa langsung memutar dvd tersebut dan semua menyaksikan apa isi dvd itu sebenarnya.
— Isi dari DVD yang ditemukan oleh Heesa Sebuah kompilasi rekaman keluarga yang hidup pada tahun 1987 terlihat sangat bahagia di rumah tersebut, ketiga putri nya sangat cantik. Layak nya keluarga harmonis yang tidak akan mengira akan terjadi sebuah masalah besar di dalam keluarga nya. Rekaman keluarga bahagia itu tibatiba berhenti sejenak hanya ada layar hitam. Tak lama kemudian muncul sebuah video yang terlihat sangat mengerikan terlihat banyak sekali bercak darah di video tersebut dan lokasi berada di rumah yang 7 pemuda itu tinggali sekarang, 3 putri terbunuh di rumah tersebut dengan keadaan yang tragis, tangan mereka diikat lalu ditembak dengan seseorang, terlihat juga ibu dari mereka ditemukan gantung diri tepat di pohon belakang rumah mereka dengan keadaan kepala yang hampir terputus, terdapat banyak sekali warga disana yang menyaksikan peristiwa sadis tersebut. Di akhir video diperlihatkan Ayah dari 3 putri tersebut di tangkap oleh polisi karna tindakan pembunuhan terhadap 1 keluarga setelah ditelusuri pelaku memiliki gangguan jiwa. Diketahui pelaku mengalami gangguan jiwa karna telah membuat perjanjian dengan iblis untuk mengsukseskan karir nya, setiap perjanjian pada iblis pasti membutuhkan tumbal atau nyawa taruhan nya. Setiap hari mereka selalu diganggu dan dimanipulasi oleh setan sehingga terjadi pembunuhan berantai di keluarga yang harmonis tersebut. Pelaku di vonis seumur hidup namun kurang dari setahun pelaku mendekam dipenjara pelaku melakukan bunuh
diri dengan memenggal kepala nya dengan besi di dalam penjara. — POV 7 pemuda Suasana hening setelah dvd itu selesai diputar, hawanya sangat mencekam dan mengerikan, mereka semua ketakutan dan mematung bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Seano: Kita harus pergi dari sini, ini ga aman. Riki: Bener, sebelum kita jadi target selanjutnya Jayendra: Riki, watch ur mouth, beresin barang-barang kalian kita pergi dari sini. — Setelah membereskan semua barang mereka langsung menuju mobil namun pak budiman menghalangi mereka. Pak budiman: kalian mau kemana? Jayendra: bukan urusan bapak. Pak budiman: kalian tidak bisa kabur dari sini, kalian sudah membeli rumah ini wahai anak muda... Heesa: biarkan kami pergi bapak minggir atau kita tabrak! Pak budiman: tabrak saja! Hesaa: Jay, lewat pinggir aja lo langsung tancap gas gapeduli dia keserempet. Jayendra: Ok. — Mereka berhasil pergi dari rumah terkutuk tersebut namun ditengah perjalanan... Jayendra: Heesa...Zelio...dibelakang itu siapa Heesa dan Zelio menengok ke belakang dan melihat 3 perempuan korban pembunuhan di rumah tersebut yang ternyata mengikuti mereka.
Juwen: JAYENDRA AWAS!!! Mobil mereka menabrak sebuah batu besar dan terjadi kecelakaan. Mereka tidak tewas, mereka semua pingsan dalam mobil. Namun ketika bangun tiba-tiba mereka sudah berada di tempat yang asing dan banyak orang berjubah hitam. Perjalanan mereka berhenti disini, tak diketahui apa yang terjadi selanjutnya pada mereka. -End-
Fakhri Isnani Aziz Di suatu hari, terdapat seorang anak berusia 15 tahun yang berstatus pelajar. Ia selalu mendengarkan penejelasan guru agar paham pelajaranya. Ia ingin membuat kedua orang tuanya menjadi bangga. Ia bernama Roni. Roni menjadi murid terpintar dan terbaik di sekolah. Roni selalu mengikuti lomba dan selalu mendapatkan juara. Sepulang sekolah, Roni tidak seperti anak lainya yang langsung bermain. Roni sepulang sekolah membantu orang tuanya berjualan di pasar. Setelah membantu orang tuanya, Roni duduk di depan rumah dan melamun. Ia membayangkan bagaimana mencari nafkah di umur 15 tahun agar tidak menjadi beban orang tuanya. Pada saat sepulang sekolah, Roni mencari kerja. Mencari kerja tidak segampang yang di pikirkan Roni. Kemudian ada seseorang yang mencari karyawan di sebuah toko. Pada saat itu juga, Roni langsung tanya-tanya kepada orang tersebut, tetapi tidak disetujui karena belum cukup umur. Setelah itu akhirnya Roni pun pulang ke rumah. Keesokan harinya, Roni pergi mencari kerja lagi. Ronipun mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan tersebut bukan lagi di toko, tetapi menjadi tukang bangunan. Ronipun langsung mengikuti pekerjaan tersebut. Tidak lama kemudian, Roni kecapean karena belum terbiasa bekerja seperti itu. Kemudian roni pulang ke rumah karena merasa badan nya tidak enak.
Ronipun istirahat di rumah karena badannya sakit. Ia pun tidak masuk sekolah dan tidak mengikuti kerja. 3 hari kemudian, Roni pun memasuki sekolah. Setelah pulang sekolah, Roni pun lanjut bekerja di tempat biasanya. Tetapi ada suatu masalah yaitu Roni pun dipecat karena beberapa hari ini tidak mengikuti pekerjaanya. Roni pun memohonmohon agar bekerja lagi, tetapi tidak bisa karena sudah terlanjur. Roni pun emosi dan kemudian pulang ke rumah. Pada saat di rumah, Roni pun membayangkan betapa enaknya jika ia bisa membantu orang tuaya diusia muda. Tetapi mencari kerja itu terlalu sulit bagi Roni yang berumur 15 tahun. Roni pun bercerita kepada ibunya tentang pekerjaanya. Ibunya pun melarang Roni untuk bekerja karena masih belum cukup umur. Ibunya pun menyuruh untuk fokus sekolah terlebih dahulu. Di sini kita tau, bahwa jangan terlalu terburu-buru untuk mencari kerja saat masih usia terlalu muda. Fokuslah untuk sekolah terlebih dahulu dan menyelesaikanya. Setelah selesai sekolah, barulah mencari kerja. -End-
Carissa Rihhadatul A. Sepulang sekolah, Amelia memasuki rumahnya dan mengucap salam “Asalamualaikum!” sahutnya. Tapi anehnya, tidak ada yang menjawab salamnya. Amelia pun mengulangi salamnya lagi “Asalamualikum!! Yang nggak Jawab dosaa!!” teriak Amelia emosi. Dan lagi-lagi, tidak ada jawaban. Amelia pun memutuskan untuk mencari keluarganya di seluruh rumah dan sekitarnya. Dan akhirnya, ia menemukan adiknya, Bima yang sedang bersembuyi dibalik pagar kayu yang ada di halaman belakang rumahnya. Bima juga menyadari kedatangan kakaknya, ia langsung mengisyaratkan Amelia untuk diam lalu menujuk kearah belakangnya, di balik pagar. Amelia mendekati pagar dan sedikit berjinjit untuk melihat apa yang ditunjuk oleh bima. Di sana terlihat ibunya sedang mengobrol di rumah sebelah bersama ibu-ibu yang lain. Amelia mengalihkan pandangan ke adiknya lalu tersenyum seperti setan. “IBUK!!” teriak Amelia memanggil ibunya. Bima langung kaget dan langsung memaki Kakaknya “kakak gila! Bodoh!” umpat Bima sambil bisik-bisik. Tidak lama kemudian ibu yang mendengar suara Amelia menyapanya balik, “Oh, mell! Sudah pulang kau rupanya. Ibu belum masak makan siang lahh”. “Eh, Amelia!! Sini nak! Tante ada brownies!”. Mendengar tawaran itu Amelia tentu saja senang dan langsung lari ke rumah sebelah lewat jalan yang ada di halaman belakang. Ketika tangan Amelia akan mencapai brownies yang hangat dan wangi tiba-tiba ibu menampar
tangan Amelia. Namun, ketika Amelia ingin protes, ibu langsung berbisik ke telinga Amelia “Nanti jam 6 sore ayah akan pulang, Kita harus masak semeriah mungkin. Lalu bantu ibu cari Bima!! Dia telah menghilangkan kalung emas ibu ketika bermain di kolam kampung sebelah!!, Amelia tidak peduli dengan Bima maupun kalung emas ibu. Tetapi, ayahnya yang bekerja di Singapura akan pulang setelah sekian lama dan hal itu membuat Amelia sangat senang. “Mari kita pulang!!” suruh ibu kepada Amelia dan Amelia dengan semangat juga pergi menuju rumahnya. Tak lupa juga mereka mengucap salam untuk pamit pada para ibu-ibu yang berkumpul. Ketika sampai di dapur, Amelia heran melihat ibu planga-plongo seperti orang bingung. Lalu tiba-tiba Amelia teringat bahwa ibunya tidak pandai memasak. Kemampuan memasak ibu hanya sebatas goreng kornet atau makanan goreng lainnya yang dituang kecap dan irisan bawang saja, jika lebih rumit dari itu pasti antara masakannya atau dapurlah yang hancur. Karena Amelia punya kemampuan masak yang cukup baik, Amelia jadi punya ide. ‘Kenapa tidak membuat pasta saja? Cara memasaknya mudah dan bahannya juga punya semua, ibuk pasti bisa’ itulah yang dipikirkan Amelia. Amelia langsung mendatangi ibunya lalu mengutarakan idenya tersebut. Tapi ibu menolak ide Amelia, lalu ibu menjelaskan bahwa dia tidak bingung soal masakan, ibu bingung soal bima dan kalung emasnya yang harganya jutaan rupiah. Bima saat ini sedang berada di rumah Tono, teman seumuranya yang satu sekolah juga. Mereka sedang sibuk
bermain. Tetapi, bima terlihat tidak senang ketika bermain. Ia tetap saja merasa bersalah dan takut dengan ibunya. Tono sebagai teman yang baik dan peka menanyakan keadaan temannya. “Apalahh! Nggak Seru kalau kau begini! Ada masalah apa kau ini?!” walau caranya kasar tapi ini adalah salah satu bentuk kepedulian Tono kepada Bima. “Hah…aku sedang jadi buronan lah sekarang ini. Takut kali aku kalau ketemu makku” keluh Bima. Tono yang mendengar keluhan Bima pun ikut sedih juga “Sabar Bim, ibukku juga seram sekali lah kalau marah. beberapa minggu lalu aku menghilangkan kartu klinik kecantikannya, Ibu langsung tak sudi liat wajahku lah selama satu minggu akhirnya aku tak bisa masuk rumah secara leluasa karena dilempari Ibuku” ucapan Tono tersebut malah membuat Bima emosi karena merasa diajak adu nasib. “Halahh…begitu doang sudah takut! Ibukku kalau marah sudah mengejar-ngejar ku sambil bawa golok!” balas Bima ngarang. Lalu Tono ikut ngarang cerita “Kemarin malah, aku Cuma ambil 2000 di dompet ibukku lalu dilaporkan polisi karena mencuri dan ibuku menyuruh polisinya memenjara aku seumur hidup!!” balas Tono yang malah makin tidak masuk akal. Dan adu nasib terus berlanjut di antara mereka berdua. Di saat yang sama, di dapur rumah Amelia dan ibu, mereka memutuskan untuk lanjut memasak. “jadi, ibuk rencana mau bikin apa? Gausah ribet-ribet ya buk, Amel capek” ucap Amelia yang masih males karena baru pulang sekolah. “ini, tadi dirumah bu Tina ibuk sudah latihan bikin brownies. Kamu coba dulu enak apa nggak”. Melihat browniesnya, Amelia langsung kagum karena tampilan
browniesnya meyakinkan. Tanpa mengatakan apapun Amelia langsung mengambil sepotong dan mulai ragu lagi ketika melihat tekstur yang ada di dalam browniesnya. Di dalamnya terlihat masih lembek, Amelia pun langsung bertanya pada ibunya perihal kematangan browniesnya “buk, ini kayaknya kurang mateng, tadi ibuk panggangnya gimana memang?”. “iya kah? tadi saat browniesnya di panggang di oven, browniesnya semakin mengembang, ibuk jadi takut kalau brownies dan ovennya meledak karena ovennya bukan punya ibu, hehe”. Amelia pun pusing sekaligus kesal bisa-bisanya ibu yang malah berpikir seperti itu. “Astaga!! Semakin adonannya mengembang semakin matang berarti buuuk!!”, cara bicara Amelia membuat ibu kesal dan ibu mulai mengancam Amelia “Berani kamu menyalahkan ibumu!!”. Jdeeeerrr. Suara sambaran petir ditambahkan untuk pelengkap. “A-amel tidak bermaksud menyalahkan kok, hehe. Amelia berniat memberi tau ibu saja” jawab Amelia sambil ketakutan. Di saat yang sama Amelia mulai kepikiran Bima, ia berencana ikut kabur bareng Bima kalau ibu beneran mengamuk. Tapi ternyata tidak, ibu masih membutuhkan Amelia, Makanya Amelia tidak di amuk dan ibu lebih memilih untuk memasukan brownies ke oven lagi. Sembari menunggu brownies matang, mereka memutuskan untuk mencari resep makanan sederhana lainnya lewat buku resep makanan yang tadi diberi bu Tina, orang yang tinggal di rumah sebelah. Tapi Amelia juga mengusulkan ibu untuk membuat pasta saja. Dan ibu menyetujuinya setelah Amelia menjelaskan cara membuatnya.
Ibu memanaskan mentega di panci dan meniapkan bahan-bahan lainnya seperti susu, garam, lada, dan tepung. Sedangkan Amelia memotong beberapa siung bawang putih. Sambil mengambil macaroni karena mereka tidak punya spageti. Setelah itu ibu memasukan bawang putih yang Sudah di cincang sambil menumisnya sebentar karena bawang putihnya tidak boleh berubah menjadi coklat. Lalu ibu memasukan setengah sendok tepung ke panci sambil mengaduknya dengan agak kaku. di saat yang sama, Amelia bertugas untuk merebus macaroni, dan memiliki ide jug untuk mengambil ayam cincang sisa yang tidak dimasak ibu tadi pagi. Ibu lanjut memasukan susu ke dalam panci. Dan Amelia hanya melihat sambil menawarkan ayam suwir. Setelah beberapa saat, pasta pun jadi. tenang saja, browniesnya juga sudah diambil. Setelah mencicipi, mereka berdua mengusulkan pendapat masing masing. “browniesnya tawar, tidak ada rasa.” Usul Amelia. “ayam suwir di pasta agak menggangu, kurang cocok” usul ibu. Mereka berdua menghela nafas lelah. Sekarang sudah jam empat sore, mereka bekerja sejak jam dua siang tadi. Mereka lama karena diskusi dan sempat mencari Bima juga bukan hanya memasak. Dua jam lagi ayah datang, Bima belum kembali ke rumah. Masakan juga kurang enak. “Sepertinya tidak apaapa, ayah pasti senang karena kita sudah mencoba berusaha untuk ayah” kata Amelia semangat kepada ibu. “Amel…kamu lupa? Ayah itu chef!! Jelas seleranya tinggi!!” kata ibu agak ngegas karena lelah juga. “jadi gimana?? Makanannya dikasih
ayah apa tidak?” kata Amelia sambil ikut ngegas karena lelah juga. “tidak, jangan Amel…kita akan membuatnya lagi. Brownies hanya kurang matang dan kurang manis, lalu pasta juga tidak perlu kita beri ayam suwir. Kita hanya tinggal buat lagi!!” ucap ibu penuh semangat. Tapi Amelia tidak semangat lagi, ia sudah kehilangan energi. Akhirnya karena kasihan juga dengan Amelia, ibu memasak ulang segalanya sendiri dan tentu saja, entah bagaimana gagal. Padahal ibu sudah melakukan semua sesuai dengan resep yang ada di HP. Dan itu juga tidak jauh berbeda dengan yang ibu dan Amelia buat tadi. Setelah mandi dan sholat Ashar, Amelia memandangi ibunya yang terlihat bingung dan keteteran. Sebentar lagi sudah saatnya maghrib, dan ibu masih sibuk dengan urusan dapur. Amelia merasa bersalah pada ibu, akhirnya Amelia ikut membantu ibu. Tak lama kemudian Amelia terkejut bahwa beberapa bahan makanan terlihat sudah berkurang cukup banyak. Tak lama di hpnya terdapat pesan dari ayahnya. Isinya cukup membuat Amelia kecewa berat “Ayah baru akan berangkat setelah Isya’ maaf ya”. “baru berangkat? Nanti? Kata ibuk ayah akan datang jam 6” balas Amelia kepada ayahnya di hp. Amelia kecewa sekali, dan tak terbayang juga betapa kecewanya ibu jika mengetahui bahwa ayah baru akan berangat nanti dari Singapura. Ayah hanya membaca pesan Amelia, tak lama di hp ibu ayah menelpon. Amelia membalas telepon ayahnya, dan ayah meminta untuk bicara dengan ibu. Amelia memberikan hp kepada ibunya yang sedang membereskan kerusuhan yang ada di dapur. Ibu buru-buru menerima telepon itu dan
meminta Amelia mencicipi lagi pasta buatannya dan menyuruhnya untuk mecuci piring-piring kotor juga. Sembari melakukan tugasnya, Amelia tetap serius memperhatikan ibu yang sedang bicara dengan ayah. Wajah ibu terlihat merah padam, ekspresinya tidak bisa dijelaskan denga kata-kata, intinya ibu saat ini sedang sangat marah. Lalu tidak lama, Bima pulang dengan kalung emas ibu yang di hilangkannya, Bima yang ikut-ikut Amelia memperhatikan ibu juga kaget. Walau Bima sangat sering dimarahi ibu, Bima tidak pernah melihat ekspresi semarah itu dari ibu. Wajah ibu merah, ekspresinya seperti topeng noh (salah satu jenis topeng tradisional jepang) bahkan Amelia dan Bima bisa membayangkan ada asap yang keluar dari telinga ibu dan tanduk di jidat ibu. Selama ayah bicara di telepon ibu hanya diam dengan wajah menyeramkannya. Dan akhirnya ibu angkat bicara setelah ocehan ayah yang tidak diketahui isinya, “Lebih baik tidak usah pulang!! Taakan kuterima kau di rumah ini!!!” teriak ibu dengan penuh emosi. Masakan-masakan ibu akhirnya dimakan oleh mereka bertiga sendiri, dan makanannya habis walau tidak enak karena mereka kelaparan belum makan seharian. Ibu terlihat lesu awalnya tapi setelah Bima memberikan kalung emas kepada ibu dan menceritakan bahwa ia hanya berniat pamer pada anak-anak kampung sebelah, ibu jadi cerah kembali. Walau tidak jelas dan aneh, itulah akhir dari cerita ini. Terimakasih sampai jumpa. -End-
Ashalina Azka Ardyansah “Ayah, langit itu indah ya! Warna nya jingga dan merah muda.” ucap gadis kecil yang berumur 4 tahun saat itu dan senang akan warna senja yang dilihatnya. Ia bernama Zelda. Kala itu Zelda sedang diajak ayahnya pergi ke pantai pada pagi hari untuk melihat matahari terbit dan senja. Sejak itulah Zelda menyukai langit senja. Ia selalu bangun pagi dan menyempatkan keluar rumah untuk melihat senja. Baginya, senja benar-benar indah dan tidak bisa dilewatkan, entah senja pagi maupun sore. Zelda berharap, suatu saat nanti dia akan memiliki teman yang sama-sama senang akan senja. Lebih indah juga jika ada yang menemani untuk melihat senja, kata Zelda. Meski Zelda memiliki ayah dan ibu yang sama-sama senang dengan senja, namun belum tentu ayah dan ibunya bisa menemani, karena pasti sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih ayah Zelda adalah seorang pengusaha juga dosen, begitu pula dengan ibu Zelda yang sama-sama pengusaha dan cukup sibuk. Maka dari itu lebih baik Zelda mencari teman, lagi pula semua orang juga pasti akan mencari teman masing-masing. Kini Zelda berumur 13 tahun, dan tahun ini dia akan naik di kelas 8. Harapan Zelda di kelas 8 ini, dia akan menemukan teman yang akrab dan sama-sama menyukai langit senja. Ya, itu adalah harapannya beberapa tahun lalu. Sampai saat ini, Zelda memang belum pernah bertemu dengan teman yang menyukai hal yang sama. Apalagi Zelda anak yang
pendiam, sulit untuk memulai percakapan terlebih dahulu. Itulah mengapa ia sangat berharap. Pelajaran pertama akan segera dimulai... Bel masuk kelas di sekolah Zelda telah berbunyi. Hari ini hari pertama masuk di kelas 8, Zelda masuk di kelas 8A dan berharap dia akan segera akrab dengan teman kelasnya. “Assalamualaikum anak-anak, perkenalkan nama saya Ustadzah Putri, saya adalah wali kelas kalian dan akan mendampingi kalian selama...” Toktoktok... Terdapat suara ketukan pintu, suara Ustadzah Putri saat memperkenalkan diri pun terhenti. “iya siapa ya? Bisa masuk?” tanya ustadzah Putri sembari membukakan pintu. “Maaf ustadzah, saya Jingga, saya datang terlambat karena bangun telat hehe” kata siswi yang datang terlambat. Jingga namanya. Ustadzah Putri pun menggelengkan kepalanya sambil berkata “Ya sudah, karena ini masih hari pertama sekolah, kamu boleh masuk dan tidak ada hukuman.” Jingga pun tersenyum dan senang mendengarnya, juga tak lupa Jingga mengucapkan terima kasih kepada Ustadzah Putri. Setelah itu Jingga segera mencari tempat duduk yang masih kosong, dan kebetulan bangku sebelah Zelda masih kosong. Jingga pun segera mengarah ke bangku sebelah Zelda. Saatnya istirahat.... Jam sudah menunjukkan 09.30, bel istirahat pun berbunyi. Zelda pun mengeluarkan bekalnya,
Zelda memang suka membawa bekal sendiri. Lebih hemat katanya, meski dia tetap diberikan uang saku oleh orangtuanya. “Haiii! Kamu Zelda dari kelas 7A ya? Salam kenal, sepertinya kita belum pernah bercakap-cakap sebelumnya” Jingga memulai percakapan terlebih dahulu. Zelda yang hampir membuka mulutnya untuk memakan bekalnya pun baru ingat jika ada Jingga di sebelahnya. Ia pun meletakkan makanan yang akan ia makan. “Eh iya hehe, kamu Jingga ya? Kamu ga pergi ke kantin? Mau bekal ku ga? Aku bawa banyak nih.” jawab Zelda sembari menawarkan Jingga, tak enak rasanya jika tidak berbagi, terlebih tadi lupa jika ada Jingga di sebelah. Jingga tertawa kecil, “Tidak perlu panik Zelda, kamu menawarkan makanan kayak kenapa aja. Iya aku mau kok hehe” Jingga pun menerima tawaran Zelda. Jingga pun memilih makanan yang ada di kotak bekal milik Zelda dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Mereka berdua pun makan bersama dengan bekal yang dibawa Zelda. Tak hanya makan bersama, mereka juga saling bertanya apa yang disuka, atau bisa dibilang mereka sama-sama saling mengenalkan diri mereka lebih spesifik. Zelda cukup terkejut dan senang dengan percakapan bersama Jingga. Ternyata Jingga juga suka melihat langit senja, malah tidak hanya langit senja. Jingga juga menyukai langit yang berwarna biru yang dihiasi oleh awan, juga terkadang menyukai langit mendung namun tidak hujan. “Tak kusangka, baru kali ini aku menemukan teman yang menyukai senja, bentar lagi aku ada temannya nih buat liat senja bareng hehe. Biasanya aku hanya di temani oleh