The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurullkholifah.nk, 2023-07-18 05:48:49

GORESAN PENA SANG CENDEKIA_NAWASENA_NARASI

Kehidupan sangat unik, perbedaan bukan pertentangan yang harus dimenangkan, melainkan pengalaman terbaik untuk dibagikan.

Keywords: Nawasena,Goresan Pena Sang Cendekia

kakakku untuk melihat senja.” kata Jingga senang. Tak hanya itu, Jingga pun bertanya, “Kamu sering liat senja juga ya? Pasti di galeri handphone mu penuh dengan foto senja” tanya Jingga juga menebak. Mendengar itu, Zelda cukup terkejut, karena selama ini ketika melihat senja Zelda tidak pernah mengambil gambar. Karena tidak pernah ada di pikiran Zelda untuk mengambil gambar, juga dia sudah cukup dengan melihatnya karena senja dapat dilihat setiap hari. “Ah maaf Jingga, tapi aku tidak pernah mengambil gambar senja karena tak pernah ada di pikiran ku untuk mengambil gambar.” jawab Zelda. Jingga cukup terkejut mendengarnya, “Ah tidak, rupanya kamu benar-benar menikmati senjanya” kata Jingga. Setelah itu mereka pun bercakap-cakap hingga waktu istirahat habis. Selama percakapan, mereka pun merencanakan di hari minggu yang akan datang, mereka akan melihat senja sore di pantai bersama. Jingga yang mengajaknya. Hari ini hari minggu juga, pikir Zelda. Zelda cukup bersemangat untuk minggu kali ini, karena nanti sore dia akan melihat senja dengan ditemani oleh temannya, Jingga. Ini pertama kali nya Zelda melihat senja di sore hari dan ditemani oleh seseorang. Tentu ini harapan lama Zelda yang akhirnya akan tercapai. “Hufft benar-benar aku tidak sabar menunggu sore.” kata Zelda dalam hati. Sore hari pukul 16.00... Sudah sore, Zelda juga sudah bersiap-siap akan berangkat. Zelda menunggu Jingga datang ke rumahnya, Jingga memang ingin menjemput Zelda, sekalian katanya.


Karena Jingga sendiri berangkat naik mobil bersama kakaknya, mas Biru kalau biasanya Jingga panggil. Tintiiiinn... Suara klakson mobil terdengar di depan rumah Zelda, Zelda yang tadi duduk diam di teras segera bersiap-siap dan keluar rumah, Zelda yakin itu Jingga. Benar saja, baru beberapa langkah berjalan dari teras, Jingga membuka jendela mobil dan menyapa Zelda. Melihat Jingga menyapa, Zelda pun cepat-cepat dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Mereka berdua bersebelahan di kursi tengah. “Ayoo mas Biruuu! Nanti telat!!!” kata Jingga bersemangat dan mas Biru pun menancapkan gas nya dan menuju ke pantai. Mereka memang sengaja datang lebih awal agar tidak melewatkan saat-saat matahari terbenam juga senja yang indah tentunya. Sembari menunggu, mereka menggelar alas untuk santai bersama, lalu mengeluarkan makanan yang dibawa. Inilah saat-saat yang ditunggu Zelda, sebelum matahari terbenam bisa makan-makan bersama dan bercakap-cakap bersama. Tentu itu hal yang sangat asyik. “Hmmm sandwich ini enak sekali” kata Jingga yang sedang memakan sandwich buatan mas Biru. “Yaa siapa dulu dong yang buat” jawab mas Biru dengan sedikit menyombongkan diri. Zelda hanya tersenyum mendengarnya, sebagai anak tunggal ia tidak pernah merasakan seperti itu. Tanpa sadar ketika asyik makan, Zelda mengarah ke arah langit dan ternyata, matahari sudah mulai terbenam. “Heyy lihat itu, matahari sudah mulai terbenam! Sangat indah, bahkan hari ini langit cerah” Zelda berteriak, Jingga


dan mas Biru yang tadi sibuk berdebat antara adik dan kakak pun langsung mengarah ke matahari yang sedang terbenam. “Benar-benar indah, langit senja memang tidak pernah gagal.” puji Jingga ketika melihat langit senja dan matahari terbenam itu, tak hanya itu, di depan mereka bertiga pun terdapat laut dengan ombak yang tenang. Itu membuatnya semakin indah. Zelda, begitu senang dan tenang melihatnya. Karena hari ini, cuaca cerah lalu sore disuguhi dengan langit senja dan ombak yang tenang. Ditambah, kali ini Zelda ditemani dengan teman baru, Jingga. Harapan nya untuk memiliki teman yang senang dengan senja pun tercapai kan, dan sekarang harapan Zelda adalah, ia ingin Jingga bisa menemaninya untuk melihat senja kapan pun ia ingin. “Minggu depan dan minggu berikutnya, ayo kita ke sini Zelda! Atau kita juga bisa saling mengirim kan foto senja atau langit dengan berkirim pesan” seru Jingga, Zelda pun mengiyakan, keduanya sama-sama bahagia saat itu. Setelah hari itu juga, mereka benar-benar dekat dan selalu membahas indahnya langit yang diciptakan oleh yang maha kuasa. *** Entah lah, sudah berapa hari yang dijalani oleh Zelda dan Jingga, dimana setiap minggu nya diisi dengan melihat indahnya langit senja. Bisa dibilang juga, mereka sudah cukup lama berteman, ya meski belum sampai 1 tahun. Kalau tidak salah sekitar 8 bulan. Tapi tetap saja, bagi Zelda yang tidak punya teman yang tetap, ini sudah cukup lama. Namun yang namanya berteman itu juga banyak cobaan. Contohnya kondisi Zelda dan Jingga saat ini. Entah kenapa sejak 3


minggu yang lalu, Zelda merasa sudah tak sedekat dulu lagi bersama Jingga. Bahkan Jingga yang biasanya mengirim foto langit pun sekarang tidak lagi. “Jingga kenapa ya?” di kelas pun Jingga tidak mengajak untuk mengobrol. Sekarang pun Zelda dan Jingga tidak satu bangku lagi. Akhirnya, Zelda memutuskan untuk berbicara baik-baik dengan Jingga nantinya saat istirahat. “Jinggaaa!! ada yang ingin aku bicarakan padamu” panggil Zelda ketika sudah masuk istirahat. Jingga menoleh dengan muka malas, mau bagaimana lagi, akhirnya Jingga menghampiri Zelda. “ya ada apa?” “Eeemm kenapa kamu sekarang nampak menjauh dariku?” Zelda berusaha bertanya sebaik mungkin, meski tau jika Jingga tidak senang, entah apa yang membuat diri nya seperti ini. “ya menurut kamu aja gimana, aku bosan jika kita hanya membahas seputar langit senja, ketika aku berusaha mengalihkan topik tentang senja, tetapi kamu malah mengalihkan topik lagi dengan tetap membahas senja. Aku tidak suka itu Zelda. Aku ingin berbicara kepadamu, namun menurut ku percuma saja jadi lebih baik aku pergi darimu karena kamu lebih suka senja dari pada apa pun. Sudah ya terima kasih” jawab Jingga cukup panjang lebar agar Zelda tidak banyak bertanya. Selesai menjawab pun Jingga segera pergi dari Zelda, seakan ia tidak mau berbicara dengan Zelda. Ini juga akan menjadi yang terakhir kali nya percakapan antara Jingga dan Zelda. Mendengar jawaban dari Jingga, membuatnya benarbenar terkejut dan sadar. Selama ini dia salah karena tidak mau mengalihkan topik langit senja. Kata-kata dari Jingga


pun terus berada di pikiran Zelda. Ketika dia sudah pulang dari sekolah pun masih ada di pikiran. “ternyata salah ku banyak ya.” ucap Zelda kepada dirinya sendiri. Zelda pulang dengan raut muka lesu, dan terlihat sangat tidak bersemangat, tidak seperti biasanya. Orangtua Zelda yang melihatnya pun merasa tidak beres. Sebenarnya orangtua Zelda sudah sangat curiga dengan pertemanan Zelda dan Jingga, karena akhir-akhir ini Zelda tidak pergi keluar untuk melihat senja di pantai bersama. Menjelang matahari terbenam, Zelda naik ke rooftop yang ada di rumahnya. Dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu dan mencari kembali kesalahan yang telah ia lakukan. Dia berdiri terpaku sembari melihat langit yang sebentar lagi akan gelap. Perasaan Zelda hari ini sungguh kacau. Ia tak tau harus bagaimana. “Kau kenapa? Ada masalah dengan temanmu yang bernama Jingga itu?” tanya ayah Zelda yang tiba-tiba datang, tak hanya ayahnya, ibunya pun ada disampingnya. Zelda terkejut dan menoleh ke belakang. “Bagaimana ayah bisa tau?”. “Ya itu sih mudah di tebak, akhir-akhir ini kamu tidak keluar ke pantai, lalu tidak bercerita tentang Jingga dan langit senja yang kau sukai itu, kamu dan dia sudah tidak berteman lagi? Apa karena dia bosan denganmu?” tanya ayah Zelda yang cukup spontan. Membuat Zelda semakin terkejut, lagi-lagi pertanyaan ayah nya sangat benar dengan apa yang terjadi dengan keadaannya sekarang. “Bagaimana ayah bisa tau lagi?” “Sudah ayah bilang mudah ditebak. Dengar ya, jika dia menjauhi kamu karena kamu lebih menyukai langit senja,


jangan bersedih. Lebih baik kamu dan dia tidak berteman lagi. Agar dia lebih senang karena rasa bosannya hilang, dan kamu juga bisa belajar kalau tidak selamanya selalu tentang senja. Tapi bukan berarti karena Jingga pergi, kamu akan membenci senja. Karena senja tidak bersalah. Juga lupakan saja antara pertemanan kamu dan Jingga. Mau bagaimana lagi, namanya juga pertemanan, pasti ada yang seperti ini dan lebih baik yang seperti ini lupakan saja. Lupakan buruknya namun ingat kebaikan yang dia lakukan” ayah begitu panjang lebar menasihati Zelda. Zelda pun mendengar kan dengan baik, ia renungkan kata-kata ayah tadi. “Tapi ayah, jika aku melihat senja maka aku akan teringat Jingga, karena senja itu Jingga. Lalu bagaimana aku akan melupakannya?” tanya Zelda yang sepertinya sulit untuk melupakan Jingga, apalagi di pikiran Zelda sejak kecil, senja itu jingga. Sebenarnya Zelda tidak ingin melupakan. Namun jika diingat rasanya sakit. “Kamu ingat saja kalau Jingga itu bukan senja.” Zelda terdiam mendengarnya. Dia pun menatap langit kembali dan berkata kepada dirinya, bahwa Jingga bukan senja, jadi lupakan saja. Pada akhirnya, Zelda meratapi dirinya yang sekarang. Kini ia sudah kehilangan teman senjanya itu. Dari pertemanan inilah Zelda belajar, bahwa kita tidak bisa memaksakan keinginan kita kepada orang lain. -End-


Kafiya Hana Razita Memiliki orang terdekat tidak menjadi jaminan ia tahu segalanya tentangmu. Meski tak pernah lepas dari pandangan atau jauh dari jangkauan, sejatinya yang tahu akan isi hati mu hanyalah kamu. Sebab dikala sepi dan tidak ada yang dapat dijadikan tumpang-tindih, kepada siapa bebanmu akan tercurahkan? Seringkali kita hanya berkata dalam hati, bertukar pikiran untuk diri sendiri. Pun kita menganggap bahwa renungan itu hanya kita yang tahu, tanpa ada yang menerka keluh kesah barang satu individu. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Aloka. Ayudia Pitaloka, gadis yang memiliki kepekaan tinggi hingga dapat mendengar suara hati seseorang. Aloka bisa tahu apa yang seharusnya tidak ia ketahui. Bisa mendengar desau peluh hanya dengan menatap manik matanya. Segalanya seperti buku terbuka baginya, bisa dibaca dan ditelaah dengan mata telanjang. Dirinya bisa tersenyum dan menangis dalam satu waktu karena apa yang didengar begitu menyentuh dan mengharu biru. Sekilas didengar, ini adalah sebuah keberuntungan yang akan dipinta oleh orang-orang jika masing-masing diberi kuasa dan kesempatan, tapi kalau bisa memilih, Aloka ingin menyingkirkan kutukan ini jauh-jauh. Bukan suatu hal yang membanggakan dari mengetahui rahasia orang lain secara gamblang dan tanpa izin. Ia seperti penjahat yang belum diketahui kelakuan busuknya. Blessing is a curse, kalimat itu


selalu dibordir tebal menandakan penegasan bagi dirinya. Ayah dan ibunya juga menganggap ia hanya pembual dan tak mengindahkan perkataannya saat Aloka mencoba berterus terang. Aloka tidak menyalahkan prespektif orang tuanya sama sekali, karena ia juga menganggap dirinya udik, dan belum pantas diterima. Dia berbeda, terpisah dari golongan lainnya. Kemampuannya tak bertuan, tidak pula membubuhkan keuntungan, tapi hadirnya begitu abadi bahkan hingga kini. Pahit rasanya menjadi orang yang tidak diterima. Tak ada yang meminta seperti ini "Halo kak? Ini pesanannya," Sibuk berkelana dengan pikirannya, Aloka tersentak dan tersadar bahwa ada seseorang yang sedang menantinya untuk menerima minuman yang tadi dipesannya. "Eh— iya, maaf. Terima kasih, mbak," "Sama-sama." pegawai kafe itu tersenyum manis, dan berlalu dari hadapannya. "Tipikal sekali, pelanggan yang menyusahkan. Menunda waktu pulang ku saja." Lagi, walaupun senyuman itu tampak begitu tulus, nyatanya dalam hati sang pegawai ia hanya disumpah serapahi karena memperlambat alur kerjanya dan sekarang sudah lewat pukul 11, pegawai tersebut harus membereskan dapur belakang. Aloka mulai mencicipi minuman ditangannya sembari menelisik tempat yang saat ini ia pijaki. Kafe ini terkesan lawas, seperti sudah lama batu-batu itu tersusun menjadi sebuah bangunan, tapi keindahannya tak luntur dimakan umur. Tetap berdiri megah dan pongah. Bahkan sampai minumannya tersisa setengah, ia masih sibuk menatap kagum


ke arah bangunan ini, dari mulai langit-langit hingga ke lantainya. Begitu indah dan memiliki kesan artistiknya sendiri. Tidak heran jika pengunjungnya begitu padat dan ramai. Dirasa cukup dalam memandangi karya ciptaan manusia itu, Aloka keluar dari kafe tersebut dan berjalan pelan sembari menyeruput minumannya. Ia merekatkan jaket dibadannya guna menetralisir hawa dingin. Jogja dimalam hari memang mengesankan, dinginnya membuat pikirannya tak lagi berisik. Walaupun sudah menyentuh jam 10 ke atas dan sedikit orang berlalu-lalang, entah kenapa ada yang bergejolak di hatinya. Tapakan kakinya memijak lurus di trotoar, semakin dibuat pelan agar ia bisa berlama-lama di luar. Hari ini Aloka butuh hening. Tidak ingin diusik atau disadarkan untuk segera pulang. Tapi jejaknya mulai berhenti saat dirinya mendapati seseorang yang sedang mencoret-coret tembok dengan pilox berwarna hitam. "HEI, ITU FASILITAS UMUM," Aloka berlari mendekat ke arah gadis itu. Gadis yang ia teriaki hanya memandang datar dan melempar piloxnya ke sembarang arah. Menepuk tangannya untuk mengusir debu lalu beranjak pergi. Karyanya sudah tuntas. Aloka yang melihat itu hanya bergemul dalam hati. Tembok itu awalnya sangat bersih, tapi sekarang sudah tercoreng dengan tulisan hitam yang amat besar. Namun, setelah ia tersadar, tulisan itu bukan sekedar tulisan biasa, atau gambar tak senonoh yang ada dipikirannya. Aloka mulai menatap lain ke arah gadis tadi. Tulisan itu berbunyi, "Indonesia belum merdeka! Hukumnya masih cacat, dan keadilannya tidak pernah objektif."


Aloka terdiam dan terpaku di tempat. Sebagai seorang jurnalis, ia juga tahu sangat bahwa negerinya ini masih krisis bersuara. Banyak orang fakir kesadaran yang duduk di kursi pemerintah. Apa gadis tadi merupakan korbannya? Dirinya segera mengejar orang ber-hoodie hitam tadi, sebelum jauh dari pandangan dan menghilang. "KAMU YANG BER-HOODIE HITAM, TOLONG BERHENTI!" teriakannya membuahkan hasil, gadis itu berhenti tapi tanpa membalikkan badannya. Setelah jarak keduanya dekat, Aloka berusaha mengatur napasnya lalu berdiri di hadapan sang gadis, "Bisa kita bicara sebentar?" Di titik ini, Aloka dapat dengan jelas melihat wajah orang itu yang tadinya terhalau tudung hoodie, "Ada urusan apa?" "Kenapa kamu mencoret-coret fasilitas umum seperti itu?" Gadis itu mendengus keras lalu menyibak tudung hoodienya kasar, "Menurut mu?" Ia yang ditanya balik justru mengernyitkan dahi, "Aku tahu kamu kecewa. Tapi, merusak fasilitas umum bukan pilihan yang tepat." "Jangan sok menggurui. Aku tidak akan menulis di sana kalau aku mendapatkan hak bersuara ku dari lama." Gadis ber-hoodie ini hendak pergi namun Aloka menghalangnya. "Aku tidak bermaksud menggurui, jika itu yang kamu pikirkan. Kalau kamu memang butuh bantuan, aku bisa membantu mu. Tidak harus menulis di tembok seperti tadi." "Kamu membuat ku muak, pergi." "Aku butuh pertolongan..." Aloka menangkap suara hati sang gadis saat dirinya menatap dua keping obsidian itu. Kenapa bisa berbanding terbalik? Aloka menjadi bimbang, apakah ia harus melanjutkan maksudnya atau membiarkannya saja.


Karena saat ini Aloka merasa tak cukup pantas mengingat ia hanya seonggok manusia udik. Tapi keputusannya telah jatuh dalam sekejap, "Aku benar-benar bisa menolong mu," Gadis itu berkacak pinggang sambil menatapnya malas, "Maaf, Nona. Tapi kamu sangat membuang waktu ku, tidak bisa kah kamu pergi dan urus dirimu sendiri?" Mendapat usiran tidak membuat Aloka berpindah sejengkal pun dari pijakannya, ia justru mengeluarkan kartu nama dan menyodorkannya pada gadis di depannya, "Aku tidak berbohong saat aku bilang bahwa aku bisa membantu mu," "Aku seorang jurnalis dari fakultas sastra. Aku tergabung pada UKM pers kampus, dan aku bersedia menyalurkan suara untuk mereka yang dibungkam." Tapi tangannya justru di tepis, "Berniat pamer? Tidak butuh." "Apa orang ini bisa aku andalkan?" Setelah mendengar tergeraknya hati sang gadis, Aloka pun tersenyum, "Kamu bisa yakin pada ku." "Aneh," Aloka hanya dapat mendesah pelan. Gengsi orang ini terlalu tinggi, padahal ia tahu bahwa dirinya butuh. Sekarang gadis itu malah berjalan melewatinya. Harus dengan apa lagi Aloka dapat membujuknya? Negosiasinya sedari tadi ditolak mentah-mentah. Padahal Aloka tulus membantunya karena itu sudah tugasnya sebagai makhluk sosial. Jika sudah begini, tidak ada cara yang dapat ia gunakan selain, "Aku bisa membaca pikiranmu. Kamu pikir aku tidak tahu bahwa sedari-tadi kamu meminta pertolongan?" ucapannya membuat langkah gadis tadi terhenti. Aloka pun membalikkan badannya, "Gengsi yang tinggi akan membuat mu tersesat. Selagi ada bantuan kenapa tidak kau terima? Sadar diri, kamu tidak akan sanggup sendiri."


Terlihat dari reaksinya, gadis itu terkejut. Ia langsung membalikkan badannya menghadap Aloka dengan raut wajah tak biasa, "Jangan mengarang," tatapannya seperti skeptis namun juga berada di ambang kepercayaan. "Untuk apa? Sebutkan saja nama mu dalam hati, aku bisa mendengarnya dengan jelas dan lantang." Tadinya Aloka begitu kesal atas penolakan yang diterimanya, tapi melihat raut heran yang menggelikan di depannya membuatnya terkekeh. Meski begitu gadis ini mengikuti perkataannya dan menyebutkan siapa namanya dalam hati, "Hai Lointara Prameswari, perkenalkan aku Ayudia Pitaloka." bukan hanya terkekeh, Aloka bahkan tertawa puas setelah ucapannya yang lugas mengejutkan Tara—iya gadis di depannya sekarang ia panggil Tara. "Bagaimana..." tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan letupan di dadanya. Tara tampak masih mencerna skenario yang diciptakan orang di depannya. Aloka bukan orang biasa, Tara sadar akan itu sekarang. "Jangan terlalu banyak berpikir, aku masih menunggu jawaban mu, Tara," Jogja dimalam itu adalah hal tersunyi yang pernah seorang Lointara Prameswari temui. Kota pelajar ini seakan mati dikala jarum jam telah menyentuh pukul 1 dini hari. Aktivitas terhenti, lautan manusia yang sebelumnya memeriahkan jalanan pusat, kini telah beristirahat di kediamannya masing-masing. Bumi mulai bernafas dengan teratur, dan keduanya mulai menjalin suatu perjanjian yang mengikat mereka dikemudian hari.


- Penerimaan Diri - Setelah bertukar nomor, baik Aloka dan Tara saling menghubungi satu sama lain. Keduanya tidak lupa akan janji, dan berniat untuk bertemu disuatu tempat yang sudah disepakati. Aloka datang 10 menit lebih telat dari jam perjanjian, dikarenakan ia memang baru selesai kelas dan perjalanan ke tempat ini membutuhkan beberapa waktu. Tapi ia sudah memberi kabar pada Tara, dan gadis itu tidak keberatan. Justru meminta maaf karena merasa bahwa Aloka menjadi repot karenanya. Hingga tiba lah di bangunan yang didominasi warna hitam ini. Aloka bertemu dengan Tara yang duduk di kursi pengunjung, seperti sudah menanti kedatangan nya. Aloka juga tidak ingin berlama-lama untuk diam, karena mengingat tempat ini adalah sebuah penjara tempat para penjahat menebus kesalahannya. Tapi Aloka tidak akan bertemu dengan orang jahat, justru tujuannya ingin bertemu dengan orang yang Tara katakan tidak pantas berada di sini. "Tara," panggil Aloka setibanya ia di tempat pengunjung. "Oh, Aloka. Ayo ikut aku." Aloka hanya menurut saja dan ikut kemana kaki Tara melangkah. Keduanya berdiri disebuah pasal yang berisikan beberapa narapidana. Ada satu orang yang langsung menyorot perhatian Aloka, seorang narapidana yang sedang sholat dengan khusyu'. "Itu ayah ku. Orang yang beberapa


hari lalu ku ceritakan lewat chat." Tara tepat menunjuk orang yang sedang menunaikan ibadah itu. Teja Manaika, namanya. Tara menceritakan banyak hal tentang orang tersebut. Tara menyebutnya sebagai prajurit tanpa tameng. Karena sang ayah selalu mengutamakan Tara selaku anaknya, menggunakan pedangnya untuk menumpas semua orang yang membuat Tara menangis bahkan merengek sekalipun, tapi lupa caranya melindungi diri sendiri dari orang-orang jahat di luar sana. Ayah Tara dulunya bekerja sebagai pegawai perusahaan. Menjadi orang yang loyal tidak menjamin semua orang akan berpihak padamu. Beliau dijadikan kambing hitam untuk menutupi kasus internal perusahaan. Ayah Tara tidak bisa melakukan apapun untuk melawan yang berkuasa, rekan kerja beliau juga mendapat tekanan untuk tidak buka mulut, dan ada semacam hirarki, di mana semua bawahan akan takut pada atasan. Ayah Tara selalu berkata bahwa dirinya tidak apaapa, tapi mau sekeras apapun mulut berkata, suara hati tidak pernah berbohong. Aloka merasakan gejolak kesedihan yang mendalam dari hati beliau. "Ayah selalu menyuruh ku untuk tidak ikut campur. Tapi apa wajar jika aku diam saja? Di saat ayah yang selalu memprioritaskan anaknya diperlakukan begitu hina oleh orang lain," Ia bisa merasakan seterpuruk apa Tara selama ini. Tara menjadi orang yang paling terpukul saat sang ayah harus diadili untuk sebuah dakwaan yang tidak dilakukannya. Ayah Tara harus mengatakan kebohongan pahit yang membuat dirinya terjerumus di tempat yang tak seharusnya.


"Aku makhluk Tuhan yang juga bisa merindu, Aloka. Setiap aku terbangun di pagi hari, tidak ada orang yang ku lihat satu pun. Tidak ada yang menyiapkan aku sarapan sebelum berangkat. Dan tidak ada lagi yang menyambutku sepulang kuliah di ambang pintu rumah," Kata-kata itu... Seperti sudah lama tertahan, dan tidak pernah tersampaikan. Tara terbiasa menahannya sendiri, bahkan di titik ini Aloka tidak melihat setetes pun air mata yang turun. Ia yakin, sakit di dada lebih membunuhnya secara perlahan. Lointara Prameswari nyaris mati rasa. "Aku ingat jelas nama orang-orang yang ikut campur dalam masalah ini, sampai sekarang aku tida bisa memaafkan mereka walaupun mereka memberi ku uang tutup mulut." Tahu, Aloka tahu siapa saja yang dimaksud Tara. Gadis itu menyebutkannya berurut dalam hatinya dengan segala sumpah amarah. "Aku sudah berjanji untuk membantu mu. Tapi kamu harus bersabar, karena ini tidak memakan waktu yang sebentar." Aloka meletakkan tangannya dikedua bahu Tara, merangkul gadis itu dan menyiratkan arti bahwa ia akan selalu ada untuk membantunya. Tara hanya butuh orang untuk dia percayai, Aloka tidak ingin mematahkan kepercayaan yang telah diberikan Tara padanya. "Aku dan rekan ku akan membicarakannya. Tenang, di dunia ini masih banyak orang baik. Aku akan mem-blow up kasus ayah mu ke sosial media dan menaikkan tagar," "I can't, but we can." kalimat itu adalah penutup dari pertemuan keduanya hari ini.


Hari-hari berikutnya, Aloka disibukkan oleh tugasnya guna membantu Tara dan juga kewajibannya di dunia perkuliahan. Tara juga dengan rajin mengunjungi sang ayah, untuk memberi kalimat penenang dan berjanji akan menjunjung tinggi keadilan. Membutuhkan waktu selama 2 Bulan setengah untuk mematangkan isu yang akan Aloka upload di sosial media. Memang lama, karena ia harus memastikan jika dirinya diserang dari segala arah, ia mampu untuk melawan dan mematahkannya. Sejatinya walaupun banyak orang berkelakuan buruk dan merugikan, tapi Indonesia tetaplah bhineka tunggal ika. Aloka merasakannya setelah ia mengupload artikelnya di forum twitter, dan dalam 3 hari tagar yang ia, rekannya dan Tara buat sudah menduduki peringkat satu. Menjadi trending topik hingga ke platform lain dan dijadikan bahan diskusi oleh para aktivis di luaran sana. Terdengar sangat mudah, tapi percayalah, Aloka dan Tara harus mencari orang dengan pengikut banyak untuk mendorong keberhasilan ini. Keduanya sampai tidak tidur selama dua hari untuk mengamati perkembangan thread yang sudah mereka upload. Tidak menyangka bahwa beberapa hari setelah tagar nya viral, isu itu muncul di berita TV. Dan seminggu setelahnya, thread dari akun Aloka terdengar hingga ke telinga para pegawai pengadilan. Beberapa butki yang sebelumnya tidak dihadirkan karena dapat menguatkan Teja Manaika tak bersalah mulai digali lebih dalam. Dari pihak Ayah Tara juga mengajukan banding. Semuanya tidak berjalan semulus itu, Tara paham karena mereka berhadapan dengan hukum dan politik. Tapi


setelan pergelutan alot selama beberapa bulan lamanya, Pengadilan Negeri membebaskan Teja Manaika dari dakwaan. Sebelum itu, jaksa sempat mengajukan nota kasasi. Mahkamah Agung menjawab kasasi jaksa. Berakhir, Teja manaika dinyatakan bebas dan dikeluarkan dari jeruji besi. Keluarga dari Teja Manaika mendapat kompensasi atau uang ganti rugi oleh negara. Memang tidak banyak, tapi dapat membuat Tara serta ayahnya bersyukur. Satu hal yang Tara ketahui, terpaan ketidak adilan membuatnya bertemu orang semenakjubkan Aloka. Dan Aloka menyadari bahwa proses penerimaan dirinya telah usai. Tidak ada kata "udik" di kamusnya. Kalimat blessing is a curse juga sudah tidak berlaku lagi di hidupnya. Jika ia mengabaikan suara hati Tara dimalam itu, mungkin hingga hari ini Lointara Prameswari tetap tidur meringkuk setiap malam dengan rasa pedih yang merayap dan menyiksanya ditiap jengkal. Memang, kebahagiaan adalah milik mereka yang menyadari bahwa keputusan Tuhan merupakan yang terbaik. -End-


Berliana Dewi Primadianti Di sebuah kota, hiduplah keluarga yang sangat kaya raya. Keluarga itu beranggota 4 orang, yaitu Papa, Mama, Zero dan Ziela. Zero dan Ziela sudah memasuki Sekolah Menengah Atas, atau yang biasa disebut SMA. Zero berada di kelas 12E, sedangkan Ziela masih berada di kelas 12F. Ziela sangat famous di sekolah karena kecantikannya dan kepintarannya. Ziela selalu menyapa dan senyum kepada siswa-siswi di sekolahnya. Tidak seperti Zero yang sangat nakal dan cuek. Cuaca yang panas membuat Zero merasa gerah dan risih. Dijam pelajaran Zero meminjam kipas angin kecil milik cewek cewek di kelasnya. Sedangkan Ziela hanya merasa sedikit gerah, sehingga dia tidak perlu kipas angin kecil. Selama jam pelajaran Zero kesal karena ia masih merasa gerah, ia menggenggam kuat bolpoin yang dibuat menulis agar meredakan kesal. Disaat jam istirahat tiba, Zero langsung menuju ke kantin untuk membeli dua es teh untuk menyegarkan dirinya sendiri. Ketika Zero minum dia di datangi oleh Ziela. "Widih... Banyak amat tuh minuman, bagi satu dong," Ucap Ziela yang duduk di samping Zero. Mendengar hal itu Zero hanya bisa menatap malas dan menyuruh Ziela buat beli minuman juga.


"Nih pakai duit gue aja, sana sana ga usah ganggu." Kata Zero sambil memberikan uang kepada Ziela. Ziela pun tersenyum ketika saat menerima uang dari Zero. "Makasih Zer, btw kok lo sensi amat sih ahaha." Ucap Ziela sambil mengejek Zero. Ziela menuju ke ibu kantin dan membeli es milo kesukaan nya. Di sana Ziela di sapa oleh banyak orang. Zero yang melihatnya dari jauh pun iri dan kesal. Zero selalu berpikir kenapa Ziela bisa se-famous itu, sedangkan Zero nakal. Pantas Zero selalu direndahkan orang orang. Di sekolah Zero selalu di pandang buruk oleh siswa siswi di sekolahnya karena kenakalannya. Zero sangat kesal karena ia direndahkan orangorang. Ia selalu emosi kalau ada yang merendahkannya dan mengejeknya. Itu yang membuat Zero menjadi gampang emosi. Meski Zero diejek oleh banyak orang, Zero selalu dimanjakan oleh orang tuanya di rumah. Pulang sekolah pun tiba, Zero menaiki sepeda motor yang baru dibelikan oleh orang tuanya kemarin. Zero menunggu Ziela keluar kelas, karena Zero selalu membonceng Ziela. Mereka lebih baik naik sepeda motor dibanding naik mobil. Diperjalanan Zero mengendarai sepedanya dengan secepat mungkin. Tiba-tiba... Brakkk!!!! Zero dan Ziela pun terjatuh dari sepeda motornya. Ziela terluka parah, Zero pun kaget dengan apa yang dia lihat. Zero melihat Ziela yang penuh dengan luka dan darah dimana-


mana. Zero panik dan bergegas menelepon kedua orang tuanya dan menceritakan kejadian yang mereka alami. Tanpa pikir panjang kedua orang tua mereka pun langsung ke tempat kejadian. Mama melihat Ziela yang penuh luka dan darah pun jatuh pingsan. Papa secepat mungkin menangkap badan Mama yang jatuh, Papapun menyuruh Zero untuk membawa Ziela ke mobil. Di dalam mobil Papa dan Zero panik melihat Ziela dan Mama tidak sadarkan diri. Papa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di rumah sakit, Ziela langsung dirawat oleh banyak dokter dan suster. Sedangkan mama hanya diistirahatkan di sebuah ruangan. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan nya dan memberi tau kepada papa dan Zero bahwa Ziela telah tiada. Zero pun langsung lemas dan nangis secara perlahan, sedangkan si papa menangis dan marah sejadi-jadinya. Beberapa hari setelah Ziela di makam kan, Zero iseng masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan kamarnya. Zero melihat foto Ziela di meja, dia tersenyum lalu meneteskan air matanya. Di samping foto nya Zero melihat sebuah kertas yang sepertinya seperti surat, isi nya yaitu Buat Zero ngeselin Woi, lo napa ngeselin banget sih? Gua jd ingin mukul lo dah. Btw gua nulis surat ini buat lo. Gua Cuma mau bilang makasii udah nemenin gua dari lahir, meskipun gua kesel sama lo tapi gua sayang banget, Cuma kehalang gengsi si hehe. Kalo gua sudah ga ada lo


jangan lupa fokus sama pelajaran, biar pinter. Mau jadi famous kayak gua kan? Jangan jadi nakal lagi ya Zer. Ziela Shaveena Zero yang melihat surat itu pun langsung menyadari dan yakin bahwa dia mau fokus dengan pelajarannya dan tidak nakal lagi. Berbulan-bulan kemudian, Zero menjadi siswa yang pintar dan mempunyaia banyak fans yang banyak -End-


Selgio Perkenalkan Namaku selgio nova andhika, usiaku saat ini adalah 15 tahun. Sejak kecil aku memiliki cita-cita ingin jadi seorang pemain sepak bola yang hebat dan bisa berguna bagi nusa bangsa Aku juga sangat ingin membanggakan kedua orang tuaku yang telah merawatku dari kecil hingga dewasa, teman teman. Saat usiaku menginjak 7 tahun, bapak membelikanku sebauah bola sebagai hadiah karena aku ulangtahun Kakak ku sangat mahir bermain sepak bola. Bahkan Kakak selalu mengajari bagaimana cara bermain sepak bola yang baik.dan kakaku selalu menemaniku bermain sepak bola setiap libur sekolah tiba. Meskipun sering terjatuh aku tetap semangat bermain sepak bola. Ketika usiaku 11 tahun, namaku terpilih sebagai wakil dari sekolahku SD ALAM EL-YAMIEN dalam lomba sepak bola antar sekolah dasar se-kecamatan semanding. Itu adalah pengalaman pertama kali aku mengikuti kejuaraan resmi. Yang tak kusangka adalah aku berhasil masuk ke babak final. Meski pada saat final, aku hanya berhasil menyabet juara 2. Namun tetap saja itu adalah sebuah pengalaman luar biasa yang tidak bisa aku lupakan Saat ini aku bergabung dengan salah satu sekolah sepakbola berawijaya yang ada di kota tempatku tinggal.


Aku berharap kemampuan bermain sepak bolaku semakin meningkat agar aku dapat mewujudkan mimpi yang aku miliki. Terima kasih tenam teman telah membaca cerita singkatku ini dan aku harap kalian semua selalu semangat dan tidak pernah menyerah dalam mengejar/mengapai impian yang kalian inginkan. -End-


Intan Dwinovikano Putri Suatu hari, hiduplah kakak-beradik yang mana mereka bernama Airis dan Airos, Airis dan Airos bersekolah di SMP Alam Semesta. Mereka duduk di kelas 9 SMP atau bisa dikenal dengan kelas 3 SMP. Sekolah mereka dikenal dengan sekolah ramah anak dan juga ber-adiwiyata. Airis di Sekolah dikenal dengan murid yang berprestasi dan juga pintar disemua mata pelajaran, tidak seperti kakaknya yang bernama Airos. Airos dikenal dengan murid yang sangat nakal, selalu meninggal pelajaran, dan tidur di kelas. Airos kalo dibilang pintar sih, emang iya pintar. Tetapi tidak sepintar adiknya, yakni Airis. Mereka hidup dikeluarga yang sangat harmonis dan tanpa masalah apapun. Hingga suatu hari, Airos mendapatkan masalah yang mana masalah tersebut sampai memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah. -Di ruang kepala sekolah- “Assalamualaikum, bapak dan ibu terimakasih telah datang di sekolah anak anda” ucap kepala sekolah. Orang tua Airos pun menjawab “Waalaikumsalam, iya pak sama-sama. Emang anak saya Airos memiliki masalah apa ya pak??”. Bapak kepala sekolahpun mulai menjawab dan menjelaskan apa yang telah terjadi pada Airos “Oke, jadi


bapak dan ibu ananda Airos tadi habis berkelahi dengan temannya” “Memangnya berkelahi tentang apa pak?” Jawab orang tua Airos “Airos berkelahi dengan temannya gara-gara kalah pada saat bermain basket” Ucap bapak kepala sekolah. “Oalah berkelahi tentang basket. Yasudah pak kami minta maaf dan kami nanti beritahu ke anaknya. Selagi kami minta maaf ya pak” Jawab orang tua Airos Orang tua Airos berbisik kepada Airos “AIROS!! Sekarang kamu minta maaf sama temanmu” “Iya pa ma, saya akan minta maaf kepada teman saya nanti sepulang sekolah” Jawab Airos kepada orang tuanya dengan masih ada rasa marah. Bel pulangpun berbunyi Kringggg,” waktu telah menunjukkan jam pulang” Sepulang sekolah Airospun menumui temannya yang ia ajak berkelahi bernama Putra. Airos menyapa Putra “Put Putra” Putra menjawab “Iya Ros, ada apa??” “Eee ini aku mau minta maaf soal tadi” Airos menjawab “Ohh yang tadi, iya tidak apa-apa Ros. Aku sudah memaafkanmu” Putra menjawab, Airos berkata “Yasudah jika begitu terimakasih sudah memaafkanku dan aku pulang dulu ya” Putra menjawab “Iya sama-sama Ros dan hati-hati yaa di jalan”. Akhirnya, si Airos pulang dari sekolah dan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Airos langsung ditanyai oleh orang tuanya. “Airos! Apakah kamu sudah meminta maaf kepada temanmu tadi?” Orang tua Airos bertanya lalu, Airos menjawab dengan rasa lelah “Iya pa ma, saya sudah minta


maaf , teman saya pun juga sudah memaafkan saya dan saya juga minta maaf kepada Papa dan Mama karena telah membuat Papa dan Mama sampai ke datang ke sekolah” “Yasudah jika kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan, Papa sama Mama juga telah memaafkanmu. Tetapi, jangan kamu ulangi lagi ulahmu yang seperti itu. Kamu itu harus meniru adikmu, Airis dia adalah murid yang sangat pintar, berprestasi, dan tak pernah memiliki masalah.” Orang tua Airos menjawab, Airos menjawab dengan amarah “Pa Ma, Mohonlah jangan mulai membahas Airis di Airos. SAYA CAPEK PA MA, SETIAP HARI DIBANDINGBANGDINGKAN DENGAN AIRIS” “Sudahlah Airos tidak usah banyak omong! Kamu belajar sana seperti adikmu” Orang tua Airos menjawab. Akhirnya Airos masuk ke kamar tanpa menjawab perkataan orang tuanya. Airos pun mulai menaruh tasnya, mandi, mengganti pakaian. Setelah mandi ia langsung pergi ke meja belajar, membuka buku, dan mulai belajar. Tak lama kemudian, Airos masih belajar hingga pukul 01.00 malam “Haduhh, sudah jam berapa ini?” lalu, Airos melihat jam yang ada dihpnya “Hah? Sudah jam 01.00. Ternyata dari aku belajar, sampai lupa waktu. Yasudahlah aku lanjut besok saja belajarnya, ini sudah waktunya aku tidur”. Lalu, Airos pun mulai membereskan belajarnya, dan merapikannya. Setelah ia merapikannya, Airos mulai menuju ke tempat tidur dan memejamkan mata. Keesokkan paginya, Airos mulai berangkat sekolah bersama adiknya Airis. Sesampainya di sekolah Airos dan Airis mulai masuk kelas bersama dan Bu guru pun mulai


memasukki kelas. Tak lama Bu guru memberitahukan bahwa akan ada lomba Olimpiade Matematika, “Oke anak-anak sebelum memasukki jam pembelajaran Ibu akan memberitahu kepada kalian bahwa minggu depan, akan ada lomba Olimpiade Matematika yang mana lomba tersebut diadakan oleh sekolah. Jadi mulai hari ini kalian bisa mempelajari materi pembelajaran Matematika. Sekian, terimakasih. Ada yang ditanyakan anak-anak? Tentang perlombaan Olimpiade Matematika tersebut?” semua murid pun menjawab “Tidak ada pertanyaan bu, dan kami terimakasih telah Ibu beritahukan tentang perlombaan tersebut” “Oke jika tidak pertanyaan, sekian” Ucap Bu guru dengan wajah ceria. Waktu telah berlalu dan tak terasa sudah waktunya untuk pulang. Airos dan Airis pun pulang bersama tanpa ada pembicaraan apapun dikarenakan mereka telah fokus dengan perlombaan mereka. Sesampainya di rumah mereka langsung menuju ke kamar mereka masing-masing untuk belajar mempelajari materi yang akan keluar diperlombaan Olimpiade Matematika. “Aku harus menang diperlombaan ini, agar Papa dan Mama bangga denganku. SEMOGA AKU MENANG, Aamiiinnn. Semangat-semangat pasti aku akan bisa”. 1 minggu kemudian-Di dalam kelas “Wahhh, tak terasa yaa sekarang adalah hari di mana perlombaan Olimpiade itu akan dimulai” Ucap Airos dalam hati. Tak lama terdengar suara seorang guru yang mana mulai memanggilkan para murid yang mengikuti perlombaan


tersebut “Halo anak-anak, maaf menggangu waktunya. Untuk siswa siswi yang mengikuti perlombaan segera menuju ke gedung Aula, terimakasih”. Akhirnya Airos dan Airis pun menuju ke gedung Aula di sekolah mereka, sesampainya di Aula mereka pun duduk dikuris yang telah disediakan. Lalu, panitia dari perlombaan tersebut juga sudah mulai untuk menjelaskan peratutarannya. “Hah? 25 soal? Dan hanya diberi waktu 1 jam 5 menit? Berarti 1 soal aku mengerjakan dengan waktu 2 menit 6 detik? Sumpah? Ini perlombaan tidak bercandaan kan? Jika perlombaan ini tidak bercandaan, maka aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mengerjakan 25 soal tersebut” Ucap Airos dalam hati dengan rasa kebingungan. Kemudian, waktu perlombaan pun telah dimulai. Waktu berlalu begitu cepat, tak kerasa waktu tinggal 30 menit “Teman-teman waktu kalian tinggal 30 menit” Ucap sang panitia dari perlombaan tersebut. Tetapi, untuk si Airis 25 soal itu terlalu sedikit. Pada akhirnya, Airis telah selesai terlebih dahulu. Sedangkan, kalo si Airos ia tetap kebingungan dengan 25 soal tersebut “Hah? Ini apa coba? Tentukan faktorisasi dari 3x² + 8x + 4 = 0 itu apa coba? Emm apa iya ini?” Ucap Airos dalam hati dengan isi pikiran yang berusaha mengingat sesuatu. Dan pada akhirnya “Ohh iyaa aku baru inget kalo faktorisasi itu, kan materi yang aku pelajari minggu kemarin. Okelah dicoba dulu”. “Oke temanteman waktu kalian tinggal 2 menit lagi” Ucap sang panitia, “Apa? Waktunya tinggal 2 menit lagi? Yahhh padahal aku baru sampai nomor 20. Tapi tidak apa-apa mari kita kerjakan dengan pikiran yang tenang dan mengikuti alurnya”.


Kemudian, Airos pun berusaha untuk menyelesaikann lomba tersebut. “Ayo teman-teman waktu kalian tinggal 10, 9, 8” Ucap sang panitia “Aaa sudah 8 detik, oke oke saatnya aku mengasal-asalkan jawabanku. Agar terisi semuanya karena jika tidak terisi nilainya 0” Ucap Airos dalam hati dengan rasa gugup dan tegang. “Teman-teman waktu kalian tinggal 7,6,5,4,3,2,1. Oke segera diletakkan alat tulisnya dan tidak ada yang mengerjakan”. Dan akhirnya Airos pun telah selesai dengan tepat waktu “Alhamdulillahh, ya Allah terimakasih ya Allah. Dan semoga saya bisa menang ya Allah, Aamiiinn”. Pantia dari lomba tersebut memberitahukan tentang sesuatu sebelum keluar dari gedung Aula tersebut “Jadi, temanteman untuk pengumuman lomba tersebut Insha Allah akan diumumkan besok atau besoknya lagi. Terimakasih dan tetap semangat untuk kalian semua yang telah mengikuti perlombaan Olimpiade Matematika, sekian”. -Beberapa hari kemudianHari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Airos, yakni hari pengumuman perlombaan Olimpiade Matematika. “Widihhh, hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu. Aku sudah tidak sabar melihat hasil pemenangnya di Mading” Ucap Airos dalam hati yang begitu senang dan bahagia. Kringggg, waktu sudah menunjukkan waktu istiharat Tak lama kemudian, Airos berlari menuju ke arah Mading. Sesampainya di depan Mading Airos berkata “Emm apakah namaku ada?” setelah melihat Mading dengan cukup lama, akhirnya... “Alhamdulillahhhh, akhirnya aku menang juara 1 lagi. Behhh hoki kali tanganku, tapi ya alhamdulillah


aku masih bisa membanggakan Papa dan Mama” Kata Airos dengan bangga. Sepulang sekolah, Airos dan Airis pulang bersama dan Airos pun pulang dengan membawa piala yang sangat berkilau. “Pa Ma, saya menang perlombaan!!” Seru Airos ke Papa dan Mamanya “Alhamdulillah memangnya kamu menang lomba apa?” Jawab orang tua Airos dengan penuh rasa bangga dan senang “Saya menang lomba Olimpiade Matematika” Jawab Airos “Apa? Matematika? Wahhh selamat yaa anak Papa Mama. Papa dan Mama juga minta maaf kepada kamu karena telah membandingkan kamu dengan adikmu, seharusnya Papa dan Mama tahu jika Papa dan Mama memiliki anak yang hebat dan pintar seperti kamu ini” Orang tua Airos menjawab dengan rasa bersalah “Iya Pa Ma, tidak apa-apa saya sudah memaafkan Papa dan Mama” Airos pun memaafkan kedua orang tuanya. Akhirnya konflik dari keluarga telah usai dan keluarga tersebut kembali bahagia dan harmonis. Airos berkata “Janganlah saudaramu itu menjadi musuhmu, karena ketika kita dimasa sulit saudaralah yang akan menemani kita”. -End-


Naura Zahrah R Prolog Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tetapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu, dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi apapun. Bertahun tahun telah kita lewati bersama, dari pahit hingga manisnya kehidupan ini. Di dalam dunia persahabatan bukan jarak yang membuatmu jauh, tapi sikap yang menciptakan jarak. Bukan suatu keajaiban jika kamu memiliki sejuta teman, tapi sebuah keajaiban itu ketika kamu mempunyai seorang teman yang selalu ada dan sampingmu ketika berjuta juta orang menjauhimu. Ini adalah cerita kita, aku dan kamu yang terikat oleh status persahabatan. Sahabat yang takkan terpisahkan (?), apakah kata-kata seperti itu akan selalu terjadi dalam hubungan persahabatan? Mungkin tidak? Terkadang masalah akan muncul di dunia persahabatan, dari masalah sepele maupun masalah besar, bukan kah hal itu wajar? wajar bukan jika kita merasa cemburu ketika sahabat kita begitu dekat dengan orang lain? Mungkin itu yang aku rasakan. ~ Cerita ini bermula ketika kita masuk bangku sekolah dasar, di mana kita belum saling kenal, bahkan kita tidak menyangka akan menjadi sahabat.


*Hari pertama masuk sekolah* Situasi kelas terasa sangat hening karena kita belum saling kenal, maka dari itu diadakan perkenalan di depan kelas (?), mungkin yang saya maksud di depan teman - teman. Aku sangat nervous, aku berbicara dengan suara yang sangat amat kecil dan semua orang mungkin tidak bisa mendengarkanya walaupun kelas sangat hening. Lagi pula jika mereka bisa mendengarkan suaraku mungkin orang itu mempunyai pendengaran yang spesial. -Waktunya aku maju untuk perkenalan- “Namaku Dina…. ” Ya sangat singkat “Bisa lebih keras suaranya “ kata guruku Aku jadi diam dan tidak berani untuk berkata kata. Di posisi ini sangat tidak enak, rasanya ingin menangis, tapi…… tiba tiba ada benda yang bercahaya, sangat bercahaya lalu muncul lah seorang perempuan yang mungkin seumuran dengan ibuku, dan dia berkata “Tenang kamu pasti bias.“ Lalu tiba tiba seseorang itu menghilang entah kemana. Setelah itu aku merasa tidak begitu takut seperti awal tadi lalu aku mulai memperkenalkan diriku lagi “Hai namaku Dina” dengan suara yang jauh lebih baik dibandingkan saat pertama aku melakukanya. “Baik dina silahkan kembali ke tempatmu” kata guruku. Aku sedikit merenung di mejaku, “Siapa orang tadi?” Singkat cerita aku dan Salsa (sahabatku) mulai kenal dan dekat, persahabatan kita di mulai pada kelas 3 SD. Saat di kelas kita selalu bermain, bercerita, dan melakukan hal-hal random, yaa seperti persahabatan –


persahabatan lain. Aku adalah anak tunggal dari orang tua yang tegas dan sttt bisa dibilang galak, jadi ketika aku melanggar atau tidak menuruti kemauan mereka maka aku bisa terkena hukuman atau bisa juga diceramahi panjang lebar, sedikit menyiksa sih tapi ya sudahlah aku sudah terbiasa dengan itu. Aku sering sekali merasa kesepian karena aku sering sendiri di rumah bahkan aku sering kali tidak diperbolehkan keluar rumah. Sedangkan orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaanya. Sudah lama sekali sejak seseorang itu muncul pertama kali, ia tidak pernah muncul kembali. Tapi setelah aku kelas 5 secara tiba - tiba seseorang itu. Iya, orang yang sama yang muncul saat aku sedang perkenalan di kelas waktu itu muncul lagi. Terkadang muncul ketika aku sedang makan, ingin tidur atau pun saat aku melamun sendirian, itupun ia hanya diam dan hanya memperhatikanku saja. Aku sering sekali diajak Salsa untuk pergi tetapi aku selalu tidak diperbolehkan oleh orang tuaku untuk pergi, mungkin pernah hanya sekali duakali saja. Aku ingin sekali memiliki hewan peliharaan, agar bisa menemaniku saat aku sedang kesepian. Mungkin itu akan sangat menyenangkan. Lalu aku memberanikan diri untuk meminta hewan peliharaan kepada orang tuaku. Dan ya orang tuaku menyetujuinya jadi aku memiliki seekor kucing yang sangat lucu, namanya Nana. Setiap kali aku merasa kesepin pasti aku selalu bermain denganya, belum ada kejanggalan saat awal-awal aku membeli Nana. ~


Singkat cerita, bertahun-tahun sudah berlalu sekarang kita sudah menginjak bangku SMP, kebetulan kita satu sekolah dan kelas. Di kelas kita selalu mengobrol berdua, dengan banyaknya tugas tugas yang diberikan sekolah, kita selalu mengerjakan tugas yang susah susah berdua, dengan kondisi mengerjakannya ya di rumahku, aku sangat kasihan dengan orang tua Salsa karena harus pergi ke rumahku untuk mengantarkan Salsa. kita (?) mungkin hanya aku yang merasa bergantung pada Salsa. ~ Saat kelas 2 SMP dikelas kita ada seorang murid baru namanya Lili. Dia pindahan dari salah satu smp di kotaku. First impression aku ke dia itu orangnya cantik terus humble sama asik sih, waktu aku dan Salsa ajak kenalan kita ngobrol sedikit tentang dia pindahan dari mana dan banyak lagi. Tapi lama kelamaan Salsa jadi selalu deket sama Lili, dia kayak cuek sama aku terus sekarang apa apa sama Lili, ya aku merasa terlupakan, jadi aku dikelas selalu merasa sendiri, sampai sampai temanku heran kenapa kita tidak dekat lagi. Dikondisi ini aku merasa sangat butuh teman. Saat di rumah tiba tiba seseorang itu muncul lagi dan berkata “Setidaknya bukan kita yang menghianati” dengan tiba tiba Aku sangat kaget dan berucap “Siapa kamu” aku berbicara dengan wajah kaget Dan dia menjawab “Kamu tidak perlu tau siapa aku, hanya saja kamu bisa memanggilku dengan nama Lusi “


“Tapi kenapa kamu selalu datang secara tiba tiba?” kataku penasaran “Karena tugasku untuk menemui anak-anak yang sedang sedih“ “Apakah kamu selalu datang ke anak anak yang sedang bersedih sepertiku?” “Sebenarnya di duniaku ada banyak sekali pekerja yang melakukan hal itu jadi bukan hanya aku “ “Ooo jadi begitu?“ “Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk bisa membantumu?“ “Emm aku hanya butuh teman untuk saat ini “ “Kalau begitu… “ Cling, aku tidak tau apa yang berubah tapi, dia mengarahkan tongkatnya ke arah Nana. “Dia akan menjadi temanmu” “Hah? seekor kucing? mana bias” ucapku sambil menatap lusi “Hai dina “ “HAH? siapa yang berbicara?” ucapku sangat kaget karena lusi sedang diam dan tidak sedang berbicara “Dia yang berbicara” ucap lusi sambil menunjuk Nana Jangan ditanya seberapa kagetnya aku. Mana mungkin bukan? tapi, itulah yang terjadi. Dan setelah lusi mengatakan itu dia langsung pergi entah kemana. “Mungkin suatu saat Salsa akan menyesal dengan perbuatanya, kamu tenang saja” kata Nana


“Hmm aku tidak yakin dengan hal itu, karena kurasa dia sangat bersenang senang bersama lili”. “Bahkan mereka sangat sering jalan jalan dan bermain bersama, sedangkan jika bersamaku sangat jarang” lanjutku. “Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan” kata Nana. “Yasudah aku ingin tidur” kataku. “Baiklah”. ~ Beberapa minggu telah berlalu, aku lebih sering menyendiri di kelas atau pun pergi ke perpustakaan. Bukan aku tidak ingin berteman, hanya saja aku masih ingin sendiri saja. Sejak Nana bisa berbicara aku sering sekali bercerita bagaimana aku di sekolah dan hal hal lain, aku jadi merasa memiliki teman bercerita lagi, setelah Salsa. ~~ Epilog Sahabat… kita pasti mempunyai kenangan. Kenangan sedih maupun bahagia, terkadang masih terus membayang. Banyak kenangan bahagia yang terkadang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, namun kenangan tersebut masih membekas di hati. Ada kenangan-kenangan sedih yang terkadang mungkin tidak berani untuk kita pikirkan atau bahkan untuk sekedar mengingatnya saja. Namun, kita harus tetap berjalan dan menjalani kehidupan yang tidak akan pernah lepas dari kedua kenangan tersebut. -End-


Dwiki Priambodo Disebuah kampung terdapat tiga remaja yang bersahabat sejak kecil. Rumah mereka saling berdekatan sehingga sering keluar bersama. Saat di SD mereka berangkat bersama-sama. Jika ada satu teman belum siap, yang lainnya akan bersabar untuk menunggu. Setelah mereka siap, langsung berangkat bersama-sama. Ketiga remaja itu bernama Ray, Andika dan Naufal. Tetapi Naufal lebih tua 1 tahun dari Ray dan Andika. Saat Naufal kelas 6 SD. Ray dan Andika masih di kelas 5 SD. Walaupun berbeda kelas mereka tetap menjaga persahabatannya di antara mereka. Setelah pulang sekolahpun mereka tetap bermain di lapangan. Mereka sangat suka bermain sepak bola setiap hari. Mereka kumpul di lapangan pada sore hari. Ray, Andika dan Naufal mengumpulkan uang untuk bisa membeli bola plastik sendiri. Saat sudah mempunyai bola, merekapun mulai bermain bola dengan semangatnya hingga menjelang maghrib. Mereka pulang kerumah masingmasing untuk mandi dan mempersiapkan untuk ke masjid di dekat rumahnya. Saat azan tiba, mereka berangkat bersamasama hingga pulangpun tetap bersama-sama. Sebelum pulang mereka menyempatkan mengobrol dan mengerjakan PR dari sekolah. Hampir setiap hari mereka berkumpul bersama. Apalagi saat hari libur. Mereka bisa bermain sampai lupa waktu dan larut malam. Sampai-sampai Ray dimarahin ibunya


gara-gara pulang ke rumah terlalu malam. Hari demi hari mereka lalui bersama dengan penuh canda dan tawa. Ketika Naufal sudah SMP, Ray dan Andika berada di kelas 6 SD. Mulai sejak itu mereka bertiga jarang main dan keluar bersama. Naufal jadi jarang keluar karena ia mulai serius dengan pelajarannya. Tetapi Ray dan Andika menyadari bagaimana kesibukan yang dialami Naufal. “Aduh, bosen nih karena tidak ada Naufal” kata Ray. “Iya nih...” “tetapi ya begitu, kan Naufal terlalu sibuk dengan PR dari sekolah, dan juga dia pulang sekolah sore hari” ujar Ray “iya juga ya” kata Andika. Di kelas 6 SD ini, Ray dan Andika masih bermain bersama. Tetapi mereka merasa kurang puas karena tidak ada Naufal. Pada saat Ray dan Andika sudah SMP, Mereka pisah sekolah. Sehingga mereka tidak bisa berkumpul bersama lagi. Ketiga sahabat ini memiliki sekolah yang berbeda, dan mereka sudah tidak bermain bersama lagi karena pulang sekolah sore hari. Mereka sudah lelah seharian di sekolah, jadi lebih memilih istirahat rumah daripada bermain di lapangan. Dengan belajar giat dan rajin mereka berharap mendapatkan nilai yang sangat baik. Jadi mereka tidak memiliki waktu luang untuk bermain bersama. mereka lebih bermain bersama teman-temanya disekolahnya. Saat keluarga Naufal mempunyai ide untuk pindah Rumah keluar kota di Surabaya. Naufal langsung memanggil sahabat sejatinya di rumahnya ke rumah Naufal untuk bertemu terakhir kalinya. Saat di rumah Naufal, Ray dan Andika pun mengobrol bersama dan bermain bersama. “Eh fal, emang kamu kalo pindah ke Surabaya mau di SMP mana?”


kata Ray. “Kata mamaku, aku pindah ke SMPN 5 Surabaya” Ujar Naufal. “Ohhh, begitu, suasana di SMPN 5 Surabaya seperti apa?” kata Andika. “Yo ndak tau, kan aku belum pernah kesana, tapi mamaku pernah sih” k ata Naufal. “Fal, ayo bersiap, kita sudah mau berangkat nih” kata mamanya. “oh ya ma” “eh Ray dan Andika, aku pamit ya, terima kasih sudah menemani bersama sejak kecil” kata Naufal. “iya fal sama-sama, jangan lupa jaga kesehatan”, “iya, sama-sama, nih kalo ada apa-apa atau kangen bisa WA ke saya atau Ray.” Kata Andika dan Ray. “oke deh, nomor kamu berapa Ray, Dik?”. “nih nomor aku 0821-2222-***, dan nomor Ray 0821- 6731-***.” Kata Andika. “oke, makasih ya, sampai jumpa semua Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam sampai jumpa fal”. Saat Naufal berangkat untuk pindah. Naufal pun sedih karena berpisah sama sahabatnya. Hari pertama berpisah dengan sahabatnya, Naufal pun bingung ingin mencari teman di sekolah Surabaya. “Duh, bingung nih mau dapet temen baru di sekolah baru ini” kata Naufal. Saat di SMP Surabaya Naufal sudah kelas 9. Saat pertama kali masuk sekolah, Naufal pun gugup untuk masuk kelas. “Duh gugup nih pas masuk kelas, mesti pas masuk kelas harus maju ke depan lagi buat perkenalan anak baru” ujar Naufal. Saat Naufal masuk kelas Diapun terdiam. Saat kelas dimulai, Naufal pun disuruh maju kedepan untuk perkenalan. “Halo semua, nama saya Naufal Widayono bisa dipanggil Naufal atau Nopal, saya pindahan dari SMPN 1 Tuban, dan hobi saya yaitu bermain sepak bola.” Saat Naufal berkenalan, ternyata ada teman yang sudah lama ia jumpai saat masih SD. Temannya yaitu namannya Alfachri atau bisa di panggil


Fachri. “Bentar-bentar, kok kayak kenal ya yang bernama Naufal.” Kata Alfachri. Saat bel istirahat, Alfachri pun langsung berjalan ke meja Naufal. “eh fal, kamu yang di SD parakacuk Tuban ya?” “iya nih, wait, kayaknya suaranya kenal, kamu Alfachri ya?” “iya aku Alfachri pernah sekelas bersama kamu saat kelas 6” “Wah, gak nyangka ternyata masih punya teman lama waktu SD. “akhirnya aku gak sendiri lagi di sekolah ini” kata Naufal di dalam hati. Saat hari kedua di sekolah Naufal pun memiliki teman di sekolahnya. Alfachri mengajak Naufal untuk Memperkenalkan ke Teman-temannya. “fal, ayo keluar, kamu bisa memperkenalkan diri sama teman aku” Kata Fachri. “wah gak usah Al, ngerepotin aja” kata Naufal. “Sudahlah fal, agar kamu bisa kenal namanya satu-satu di angkatan ini” kata Fachri. “Hmm… Yaudah deh..”. Saat Naufal dan Alfachri keluar dari kelas. Mereka pun pergi ke lapangan untuk memperkenalkan diri. “Halo man-teman, ini ada teman baru namanya Naufal” “Hai” “Wah, hai Naufal, nama saya Rio, nama saya Rizal, salam kenal ya” kata temannya Fachri. Ketika sudah kenal sama Naufal, ia pun di ajak bermain sepak bola bersama. Saat ia pulang sekolah iapun curhat ke orang tuanya saat di sekolah.”Bagaimana nak saat kamu di sekolah? Seru?” kata mamah. “Wah, seru banget, saya disana sudah mendapatkan teman lho”, kok cepet banget kamu bisa mendapatkan teman? Padahal baru dua hari kamu disekolah?” Tanya mamah. “jadi gini, aku pas di sekolah ada satu teman yang ternyata alumni dari sekolah SDN Latsari Tuban” kata Naufal. “wah, lumayan juga ketemu teman alumni, emang


nama dia siapa?” kata mamah. “Nama dia Alfachri ma, dia pernah sekelas sama aku” kata Naufal. “wah, btw katanya kamu punya banyak teman? Kok cuman satu aja?” “Aku dikenalkan sama Fachri ke teman-temannya di sekolah, namanya kalo gak salah Rio dam Rizal” “Yaudah, kalau disekolah jangan rewel ya! Inget, ikuti kata guru” “Iya mah,” kata Naufal. Curhat pun selesai, dan Naufalpun senang karena memiliki teman baru dia. -End-


Naufal Fuad Prolog Hari itu adalah hari terakhir kita bertemu sebelum kita berpisah,dan juga hari itu kita membuat janji kita, janji yang kita nantikan untuk terkabul suatu hari nanti, yang pasti kita akan dapat bertemu, di tempat itu, di negara sakura berhembusan angin dingin itu, suatu hari nanti kuyakin kita dapat bertemu disana, sebagai bukti janji kita yang terpenuhi pada saat itu, saat-saat aku dan kalian berdua berjanji akan dapat bertemu disana bersama-sama. Hal ini mengingatkan momen saat kita pertama kali bertemu, saat itu di suatu pondok jawa timur, kita bertiga bertemu walalupun awalnya kita tak saling mengenal tapi sekarang kita seakan saudara, kuingat hari itu hari dimana kalian sahabat sejatiku dan aku bertemu, kita mengenal satu sama lain, kita selalu menghibur salah satu dari kita ketika sedih, kita selalu bercanda tawa setiap hari. Tapi hari itu pun tiba, hari dimana kita berpisah dan membuat janji ini janji yang pasti kita akan tepati, semenjak hari itu aku terus-terus berusaha untuk mencapai janji itu, aku selalu mencari cara agar dapat mengabulkan janji itu, yang pasti aku selalu berusaha menepati janji itu. Diriku yang sekarang berbeda dengan yang dulu, dulunya aku pemalas sekarang aku selalu rajin melakukan apapun, karena semua ini kulakukan demi kalian sahabatku,


Kuharap kalian pula terus berjuang tuk menepati janji itu, janji persahabatan kita, janji abadi kita. Sudah 3 tahun lamanya kita berpisah, bahkan sampai hari ini pun aku tetap memikirkan kalian, hari ini merupakan hari dimana jalan menuju janji abadi itu kan bisa terbuka, aku Nawfal Akmal Andrea yang sekarang berada dibangku Sma kelas 12 selalu memikirkan apakah aku dapat bertemu dengan mereka (sahabatku). Semenjak kepergianku dari situ (pondok) aku selalu berusaha dan giat belajar keras agar dapat berkuliah disana, di negeri sakura tersebut, sekarang aku sedang berusaha untuk mendapati jalur prestasi untuk dapat kuliah dan bertemu bersama kalian disana. Sekarang aku bersekolah salah satu Sma di jawa tengah lebih tepatnya di kota solo, keseharianku tetap sama saja, makan lalu mandi dan siap-siap sekolah lalu berangkat sekolah dan kemudian pulang lagi, yah bisa dibilang dalam 3 tahun ini semua hari terasa selalu membosankan bagiku, terkecuali jika aku sedang berlibur, dan juga sekarang aku sedang tinggal bersama nenek dan kakekku disini sementara ayah, kemudian ibu, dan adikku di jawa timur, hah bagiku sekarang adalah hari yang membosankan jika kuingat lagi besok adalah hari sekolah masuk lagi, “Hah......”aku yang menghembuskan nafas kebosananku. Hari minggu satu hari sebelum memasuki sekolah lagi, ini adalah semester 2 akhir sebelum menuju uajian akhir Sma, aku setelah mandi langsung keluar dari kamar mandi menuju jendela, akupun melihat keluar jendela, hujan mengeluarkan airnya yang berintik- rintik, aku mendengarkan


suara rintik itu sambil perpikir ”Kapan kita kan bertemu lagi wahai sahabatku”, suara hujan yang semula pelan dan lembut tiba-tiba berubah menjadi cepat dan keras, hujan diluar nampak sangatlah deras aku yang berniat untuk melihat-lihat hujan dulu langsung cepat-cepat ke kamar karena kedinginan. Besoknya aku pun masuk sekolah seperti biasa dan saat itu pula aku mendengar dari kawanku disekolah bahwa ada sebuah universitas jepang yang mengadakan beasiswa untuk mereka yang mau masuk universitas itu, tapi yah....... yang namanya beasiswa itu tidak gratis karena bagi mereka yang ingin masuk universitas itu harus mengerjakan ujian yang sangat susah, mengapa aku mengatakan ujian itu sangat susah?, ya karena menurut kawanku yang memiliki sepupu ini, sepupunya mencoba mendaftar dan mengerjakan ujian tersebut tapi berakhir tidak lulus, saat itu pikiranku bertanya-tanya mengatakan “Sepupunya ini merupakan orang cerdas yang berkali-kali ikut lomba tapi mengapa ia tak lulus?” itu adalah pertanyaan terbesarku saat mengetahui itu, sebab itulah aku menyimpulkan bahwa ujian itu sangatlah susah. Sekarang aku berada di rumah setelah pulang sekolah, aku pun langsung terbaring jatuh ke kasurku aku menatap atap sambil menghelaskan nafas berkata ”Hah!!!” teriakanku dikamar “Tinggal 1 minggu lagi menuju ujian akhir, ah!!! sudahlah lebih baik aku istrihat tidur dulu saja” aku pun langsung memejamkan mataku dan langsung tertidur.


-Terbukanya Jalan Menuju JanjiHari ini adalah hari dimana akan diumumkannya pengumuman siswa yang mendapat nilai tinggi, aku yang tidak sabar menunngu nilaiku, karena cara untuk mendaftarkan diriku ke universitas tersebut adalah dengan syarat mendapat nilai rata-rata nilai 92 keatas, karena hal tersebutlah aku sedikit gugup karena aku takut jika nilai rata-rataku akan dibawah nilai tersebut, “Baiklah para murid hari ini kalian akan mendapatkan raport kalian” kata pak budi (wali kelasku), “Tolong nanti serahkan raport ini kepada orang tua kalian” kata pak budi sambil marah-marah karena ada murid yang tidak mendengarkan, “Baik pak, siap pak” langsung serontak satu kelas mengatakan itu. 2 hari kemudian....Tanpa dirasa sudah dua hari sejak aku lulus dari Sma tersebut, sekarang aku sedang berpikir untuk mengikuti pendaftaran universitas jepang tersebut, serontak akupun langsung menelepon orang tuaku dan menanyakan apakah aku boleh mendaftar disana, tidak kuduga mereka langsung memperbolehkanku, akupun langsung semangat sekali bahkan aku sampai teriak keras sekali sehingga membuat nenek dan kakekku kaget, akupun langsung meminta maaf karena membuat merka kaget, aku pun langsung bersiap belajar lagi untuk ujian masuk universitas tersebut. Hari tes ujian masuk universitas pun telah dimualai, tes ujian ini dilakukan di kota surabaya jawa timur, aku yang baru bangun tidur langsung mandi ganti baju dan pergi berangkat ke solo untuk melakukan penerbangan pesawat ke suarbaya, hari ini akhirnya jalan menuju janji abadi ini akan


segera terbuka aku yang diantarkan oleh pakdhe dan budheku menuju bandara menggunakan mobil, setelah tiba di bandara aku buru-buru masuk ke bagian menunggu, setelah menunggu beberapa lama akhirnya penerbanganku akan dilakukan, akupun langsung masuk menuju pesawat, hatiku sangat tak sabaran untuk segera kesana, akupun menatap keadaan diluar jendela pesawat saat sudah lama melandas, aku terkagum-kagum oleh pemandangan kota-kota ini, aku memikirkan bagaimana suasana saat aku dapat berkumpul dengan mereka lagi, apakah suasana akan terasa mengharukan atau bahkan akan sangat menyenangkan, entahlah sepertinya aku terlalu banyak melihat anime sampai berpikiran suasana seperti itu. Akupun telah sampai ditempat tes ujian tersebut, aku mendapatkan ruangan tes nomor 13, aku langsung bergegas mencari ruangan hingga aku tak sengaja menabrak orang, “Aagghh...” teriakan orang itu, akupun langsung reflek dan minta maaf “Eh..maaf ya aku tak sengaja, aku sedang buruburu” akupun langsung meninggalkan orang itu dan masuk kedalam ruangan tes. Tes telah berakhir aku yang otomatis kepala pusing setelah mengerjakan soal itu, aku yang menunggu selama tiga hari untuk mendapatkan hasil dari ujian tersebut, tiba-tiba “Tring..” suara notifikasi handphone milikku berbunyi, aku langsung cepat-cepat mengambil handphone dan membaca notifikasi yang bertuliskan “Selamat Anda telah diterima masuk universitas kami, dan karena Anda mendapat nilai yang luar biasa kami juga memberikan Anda beasiswa sebesar 60%” aku yang terkejut setengah mati setelah membaca hal


tersebut girang sekali, “Akhirnya aku bisa membuka jalan menuju janji abadi ini”. -Pertemuan Dengan SeseorangJam 13.00 wilayah jepang, setelah keluar dari universitas menuju gedung apartemen, disebuah jalan gang kecil, aku berlari dan tak sengaja menabrak seseorang, seseorang yang tanpa kusadari adalah seseorang yang sangatku kenal, rambut yang bergelombang, mata yang terlihat seperti keren itu, dengan memakai sweater yang bergambarkan anime one piece, dan juga memakai cincin kecil dijari kelingkingnya yang bertuliskan “From my best friend andrea” aku yang jatuh karena tertabrak sangat kaget, “Sudah lama kita tak bertemu ya andre sudah berapa lama?..., 3 tahun mungkin ya, kamu sama sekali belum berubah sama-sama ceroboh”, aku yang tergeletak jatuh dan sangat kaget tak dapat mengucapkan sepatah katapun kepadanya, ialah salah satu dari orang yang kutunggu tuk bertemu disini, tak di sangka aku kan bertemu dengannya disini, disebuah jalanan gang kecil ini, dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya “Hey Fir.... lo cepet banget jalannya masa gua lo tinggalin, hatiku berdegup lagi tak kusangka akan bertemu dengannya juga, “Eh ternyata ada Endre, sudah lama nggak ketemu ya” katanya sambil menatapku tersenyum lebar, sama sekali tak kusangka mereka berduapun berhasil sampai kesini, akupun saat itu sangat terharu, hingga langsung memeluk mereka berdua “Tak kusangka kalian berhasil...., kalian berhasil kenegeri sakura ini”, akhirnya kubertemu


dengan orang yang sangatku rindukan, merekalah sahabat sejatiku Firman dan Ransyah. Keseharian Azzam -Fattan Zuka Ramadhan Nugroho- Saat di pagi hari pukul 04:00 WIB, Azzam sedang sholat subuh jama’ah di masjid dekat rumahnya. Sesudah sholat subuh dan sehabis dzikir, Dia pulang kerumah jalan kaki. Sesampai di rumah, si Azzam ngaji dikamar membaca surah Ar-Rahman. Sesudah ngaji si Azzam menata buku dan menyiapkan seragam. Jam menunjukan pukul 05:30 WIB, si Azzam segera mandi. Sesudah mandi dia memakai seragamnya dan mempersiapkan barang-barang untuk sekolah, lalu dia sarapan di meja makan, sesudah makan dia berangkat sekolah menggunakan sepeda ontel. Sesaat tiba di sekolah, habis parkir sepeda si Azzam langsung ke kelas dan duduk di tempatnya. Lalu teman sebangku Azzam sedang tidur di dalam kelas karena sering bergadang, jam menunjukan pukul 07:30 WIB jam pembelajaran dimulai, pembelajarannya yaitu IPA, bu guru menjelaskan dan suruh buka buku paketnya “yang tidak membawa buku paket bisa liat teman sampingnya”, Teman sebangku Azzam gabung dengan Azzam. Nama teman sebangku Azzam yang Bernama Royan. “oy zam gabung ya ??” Si Azzam menjawab “yaa”. Waktunya istirahat si Azzam dan Royan ke kantin untuk membeli jajan yang ada di kantin. Si Azzam membeli risol mayo pedas dan milo dan Royan membeli nasi pecel karena blom sarapan. Saat sudah membayar mereka langsung ke kelas dan memakannya di kelas, sesaat makan Royan meminta minum d Azzam “Zam,


minta minum Zam” Azzam mengasihi minumnya ke Royan, Royan menjawab “Terimakasih Zam” Azzam menjawab “sama-sama”. Sesudah makan mereka langsung membuang di tempat sampah, lalu cuci tangan. Jam pembelajaran pun dimulai lagi pembelajarannya yaitu BIN. BIN nya yaitu menulis yg ada di papan, Guru menjelaskan materinya, jam menunjukkan pukul 10:30 WIB pembelajaran sudah selesai. Pembelajarannya yaitu ngaji, semuanya ngaji di kelompoknya masing-masing, Azzam capaiannya udah di tajwid sedangkan Royan di ghorib, dan mereka mengaji sesuai capaiannya. Jam menunjukkan pukul 11:30 WIB mereka ke kelas untuk menaruh AL-Qur’an di lokernya maing-masing, lalu mereka ke masjid untuk muroja’ah di masjid dan melaksanakan sholat dzuhur. Sesudah sholat dzuhur dengan dzikir dan do’a, mereka langsung ke kantin makan, mereka duduk di lesehan yang dekat dengan makanan kelasnya masing-masing, lalu makan. Sesudah makan mereka kekantin untuk membeli minum, mereka membeli minum Fruitea botol kaca, lalu duduk dan meminumnya di depan kantin, sehabis minum botol kacanya di kembalikan di tempatnya, habis itu mereka ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran. Sekarang mapelnya B.arab, pembelajaran yang bisa di sukai karena gurunya asik, pembelajaran selesai lalu ganti maple pembelajaran SBDP. Saat pembelajaran SBDP ada yg di tinggal tidur ada yg ngga, saat pembelajaran selesai mereka dikasih PR, PR nya yaitu mengerjakan soal di buku paket. Jam menunjukkan pukul 16:00 WIB waktunya sholat Ashar, mereka menuju ke masjid untuk sholat ashar, sesudah sholat ashar dan dzikir


mereka sekalian closing bersama di masjid. Lalu mereka ke kelas merapikan buku memasukannya ke tas, dan pulang menggunakan sepeda ontel. Saat sampai dirumah, si Azzam menaruh tas di dekat Kasur, lalu membawa handuk dan ganti, ke-kamar mandi lalu mandi, saat sudah mandi handukan sama ganti, sehabis ganti kelluar kamar mandi lalu jemur handuknya dan kekamar, di kamar s Azzam langsung login ML lalu push rank’ sehabis push rank jam menunjukkan pukul 18:00 WIB adzan maghrib sudah berkumandang, lalu Azzam siap-siap kemasjid. Saat di masjid sholat berjama’ah, saat sudah dia ngaji di masjid sampai isya’. Pas isya’ sholat berjama’ah, saatt sudah sholat dan dzikir lalu pulang ke rumah, push rank sebentar dan belajar, lalu tidur. Itulah keseharian si Azzam. -End-


Click to View FlipBook Version