SENI ARSITEKTUR TIMUR 151 mengisi kekosongan waktu, tetapi sebagai bentuk ungkapan dan ekspresi pengalaman keindahan atau kesenangan melalui media seni rupa. Dalam konteks ini, Dick Hartoko menyatakan pandangannya bahwa “Setiap karya seni tidak berasal dari kehampaan yang suci, tetapi tumbuh dalam aliran sejarah dan dalam kerangka sosial budaya. Sebuah karya seni berfungsi sebagai sarana komunikasi antara seniman dan penonton, pendengar” (Hartoko, 1984). Seni-seni Papua Seni Tari a. Tari Buyakha Gambar 1. Tari buyakha/isolo ( sumber: https://travel. kompas.com/) Tari Buyakha adalah sebuah tari kreasi baru yang terinspirasi oleh tari Isosolo dari budaya Sentani, yang termasuk ke dalam wilayah adat Tabi. Isosolo adalah sebuah budaya menari di atas perahu di danau Sentani yang dilakukan oleh suku Sentani. Isosolo ini dilaksanakan terkait dengan kegiatan adat suku Sentani misalnya adanya acara kunjungan dari satu suku ke suku yang lain dalam konteks adat. Misalnya darisuku Sentani barat ke Sentani timur. Dalam hubngan ini mereka naik perahu di danau Setani dengan membawa hasil panen. Dalam perjalanandari kampung asal ke kampung tujuan inilah mereka tak hentihentinya menari dan menyanyi di atas perahu yang disebut Isosolo. b. T a r i Pangkur Sagu
152 SENI ARSITEKTUR TIMUR Tari Pangkur sagu ( sumber:https://www. antaranews.com/) Tari pangkur Sagu merupakan tarian tradisional khas Papua yang sering kali dipertunjukkan dalam rangkaian acara perayaan. Setiap Kabupaten di Papua memiliki variasi tarian pangkur sagu yang unik. Sebagai contoh, di Merauke, tarian pangkur Sagu secara rutin dipersembahkan dalam berbagai perayaan seperti pentas Rakyat saat hari jadi kota Merauke atau dalam acara seni di sekolah-sekolah di kota tersebut. Keberadaan sanggar tari tradisional Papua memainkan peran yang sangat signifikan dalam usaha pelestarian tarian tradisional semacam ini. Salah satu contoh sanggar tari yang kerap menampilkan tarian pangkur Sagu adalah sanggar tari Dahuke’he Papua yang berlokasi di jalan Garuda Spadem Merauke. Penampilan tarian ini tidak hanya terbatas pada perayaan lokal seperti di Merauke, melainkan juga merambah hingga panggung i n t e r n a s i o n a l , termasuk penampilan mahasiswa Indonesia di Manchester dan berbagai pertunjukan dalam acara perayaan di kota Merauke. Hal ini menunjukkan bahwa tarian tradisional, termasuk tari pangkur Sagu, tetap dikenal dan diwariskan oleh generasi masa kini. Meskipun demikian, penting untuk terus menjalankan upaya pelestarian guna mencegah kehilangan warisan budaya ini. Seni Musik a. Musik Tifa
SENI ARSITEKTUR TIMUR 153 Seni Musik Tifa (sumber: devondrea07adrinkwater.blogspot.com) Masyarakat Papua menunjukkan sifat ekspresif melalui ungkapan seni, seperti alat musik tradisional, ukiran, dan tarian. Mereka merayakan setiap momen penting dengan kegiatan ini, seringkali diiringi oleh musik-musik tradisional, salah satunya adalah alat musik Tifa. Tifa, yang menjadi simbol dari Papua, merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kayu dan memiliki keunikannya sendiri. Suku-suku di Papua memiliki Tifa dengan ciri khas yang berbeda-beda. Penggunaan Tifa umumnya terkait dengan pelaksanaan r i t u a l - r i t u a l tradisional (Kaswari et al, 2012) b. Musik Kelambut Satu alat musik tradisional yang menarik untuk dianalisis di dalam budaya masyarakat Sentani, Papua, adalah musik kelambut. Kelambut dimainkan oleh seorang pemain yang menggunakan dua obhoi, di mana “o” merujuk pada kayu dan “bhoi” merujuk pada alat pukul atau toki. Terdapat dua ukuran obhoi, yang panjang berfungsi untuk mengatur ritme sementara yang pendek digunakan untuk mengisi ritme. Bahan pembuatan kelambut berasal dari kayu matoa, kayu linggua, dan pohon kelapa yang sudah tua. Kelambut ini berfungsi sebagai mas kawain dan memiliki bentuk mirip dengan hote atau tempat untuk menyajikan sagu seperti piring. Motif
154 SENI ARSITEKTUR TIMUR pada bagian ujung kiri dan kanan kelambut menyerupai kura-kura, dan di bagian tengah terdapat kaki yang berfungsi untuk m e n y a n g g a a g a r makanan tidak tumpah. Seni Lukis Dalam pandangan Soedarso S.P (1990:11), seni lukis adalah suatu cara untuk mengungkapkan pengalaman artistik yang dinyatakan dalam dimensi bidang dengan menggunakan garis dan warna. Jika dalam suatu lukisan, unsur garis sangat menonjol seperti pada karya-karya yang dibuat dengan pena atau pensil, maka karya tersebut lebih dikenal sebagai gambar. Sementara itu, lukisan yang memiliki kekuatan terutama pada unsur warnanya. Mikke Susanto (2002:71) menyatakan bahwa seni lukis merupakan bahasa ungkap dari pengalaman artistik dan ideologi yang menggunakan warna dan garis untuk menyampaikan perasaan, mengekspresikan emosi dari keadaan subyektif seseorang. Seni lukis, sebagai hasil ekspresi dari pengalaman batin manusia, diekspresikan melalui gambar yang menggunakan garis, warna, tekstur, volum, dan ruang, serta membawa visi-visi tentang keindahan. Secara umum, penciptaan seni lukis melibatkan tema, bentuk, dan isinya. a. Lukisan Karwar di Gua Yenukem, Desa Makmakerbo – Biak Lukisan Karwar di gua yenukem (Sumber: jurnalarkeologipapua. kemendikbud.co.id) Salah satu artefak arkeologi yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah sisa-sisa budaya fisik, seperti lukisan Karwar di Gua Yenukem, Desa Makmakerbo, Biak. Temuan arkeologis ini
SENI ARSITEKTUR TIMUR 155 merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai signifikan sebagai data untuk merekonstruksi sejarah dan memahami proses perubahan masa lalu. Salah satu bukti arkeologis yang penting dalam konteks seni ditemukan di gua-gua dan cerukceruk alam prasejarah. Penelitian arkeologi di situs Gua Yenukem Desa Makmakerbo menghasilkan temuan berupa lukisan karwar pada batuan yang terdapat di mulut gua (Maryoane, 2014). a. Lukisan Panglima Perang Suku Lukisan ini terinspirasi dari perangperang suku dipegunungan jayawijaya. Atribut yang digunakan oleh panglima perang dalam lukisan ini yaitu: 1. Mahkota yang terbuat dari bulu burung nuri, bulu burung cendrawasih dan taring babi yang memiliki simbol kekuatan. 2. Tombak yang dipakai semacam lembing berukuran sekitar 2 meter lebih dan diujungnya ada racun yang diramu secara tradisional dan dari hewan yang diambil dan dikeringkan. Apabila racun terkena sasaran seluruh tubuh akan membiru dan mati. 3. Bulu kasuasi digunakan sebagai simbol aba-aba atau komando kepada anggota sekutunya 4. Dasi terbuat dari kerang laut 5. Koteka. Desain Arsitektur Papua Menurut Faisal (2008), bangunan tradisional merujuk pada bentuk arsitektur yang didirikan berdasarkan warisan turun-temurun dari budaya suatu masyarakat. Bentuk arsitektur tradisional dapat dianggap
156 SENI ARSITEKTUR TIMUR sebagai perwujudan dari budaya, yaitu kumpulan pengalaman yang dipelajari (Flassy, 2007). Dengan demikian, arsitektur tradisional suatu kelompok masyarakat tidak dapat dipisahkan dari konsep, nilai, dan norma yang diwariskan, sehingga apa yang dapat dilihat pada saat ini dianggap sejalan dengan apa yang diciptakan pada masa lampau. D a h u l u , masyarakat Sentani mendirikan rumah di tepi-tepi danau untuk mendekatkan dengan sumber makanan, air dan alasan kemudahan transportasi, meskipun sekarang banyak pemukiman yang berkembang jauh dari danau. Masyarakat Sentani mengenal tiga jenis bangunan rumah, yaitu: kombo, obee dan rumah tinggal (khogo). Ketiga jenis rumah tradisional itu dibangun menu rut fungsi dan aturan kebiasaan masyarakat Sentani a. Rumah Kombo Rumah Kombo ( Sumber: https:// borobudurwriters.id/) Rumah kombo, yang dikenal juga dengan sebutan walofomau atau mau, adalah bagian dari warisan budaya yang semakin sulit ditemui seiring berjalannya waktu. Kombo berfungsi sebagai asrama yang digunakan untuk memberikan pengajaran unsur religius dan pendidikan kepada remaja laki-laki Sentani. Fungsi utama kombo melibatkan pengajaran tentang dewa-dewa yang perlu dihormati, keberadaan roh (walofo), dan arwah nenek moyang. Selain itu, kombo juga berperan dalam mendidik keterampilan hidup.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 157 Seperti, cara berburu, mengenali dan menggunakan peralatan berburu, berkebun, menokok sagu, memancing, berperang, kedisiplinan, sikap hormat-menghormati, tolong-menolong, serta pemahaman mengenai hubungan antara hak dan kewajiban. Penting untuk dicatat bahwa di dalam rumah kombo, pendidikan hanya diberikan kepada anak laki-laki yang berusia remaja, sedangkan anak perempuan tinggal bersama orang tua. b. Obee ( Balai Adat) Rumah obee ( Balai Adat) Bagi masyarakat Sentani, Obee memiliki makna yang melambangkan harga diri adat atau jati diri. Obee umumnya dibangun di sekitar rumah Ondoaft/ Ondofolo, baik berada di depan maupun di samping rumah individu yang memiliki status sosial tertinggi dalam konteks adat. Obee berfungsi sebagai balai adat dengan cakupan fungsi sosial-budaya yang cukup luas. Dahulu, Obee berperan sebagai tempat untuk menyelesaikan berbagai kesepakatan atau perjanjian, pembayaran mas kawin, pembayaran kepala, dan menyelesaikan konflik. Saat ini, peran Obee tidak hanya terbatas pada upacara adat, melainkan juga melibatkan kegiatan seperti upacara kematian, pernikahan, dan berbagai kegiatan sosialkeagamaan. Beberapa kampung bahkan menggunakan Obee secara rutin sebagai tempat untuk rapat warga.
158 SENI ARSITEKTUR TIMUR Seni Dayak Kalimantan (Salamah Dafa Maulida) Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk yang memiliki beragam kebudayaan dan kesenian. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya suku bangsa dan etnis yang mendiami wilayahnya. Masing-masing etnis dan suku memiliki kebudayaan dan kesenian, dengan ciri khasnya sendiri-sendiri Salah satu suku yang memiliki beragam jenis budaya kesenian adalah Suku Dayak. Dayak adalah salah satu dari lima suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Banjar, Kutai dan Paser. Istilah Dayak mengacu pada asal kata ‘Daya’ yang berarti hulu, dengan merujuk kebiasaan masyarakat tersebut bermukim di wilayah hulu sungai daerah pedalaman. Dayak merupakan sebutan kolektif dari ratusan sub etnis yang ada. Perbedaan adat istiadat, daerah tinggal, bahasa dan kebiasaan menjadi beberapa acuan pemberian nama pada setiap sub. Suku Dayak Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_
SENI ARSITEKTUR TIMUR 159 dikelompokkan menjadi tujuh kelompok yakni Ngaju, Apukayan, Iban, Klemantan (Dayak darat), Murut, Punan dan Danun. Seni dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi. Kesenian ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas seperti, seni tari, seni musik, seni memahat, dan sebagainya. Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia yang terkenal kaya akan seni dan budaya yang dimilikinya. Dalam suku dayak, ada banyak sekali kesenian yang dapat kita jumpai. Yang sangat terkenal adalah pada seni tari dan seni musik yang sangat khas. Seni Tari Suku Dayak Suku Dayak memilik jenis kesenian tari yang beragam. Selain itu, setiap tarian memiliki makna tersendiri. Beberapa contoh tarian tradisonal dari suku Dayak dan maknanya sebagai berikut: 1) Tari Kancet Papatai atau Tarian Perang Suku Dayak Kenyah Laki-laki suku dayak umumnya digambarkan sebagai pria yang bijaksana, kuat, dan pemberani. Hal ini pun tercermin pada salah satu tari dayak bernama tari kancet papatai. Tarian ini mengisahkan tentang seorang pahlawan di suku Dayak Kenyah melawan musuh-musuhnya. Jadi tarian ini termasuk jenis tari perang. Selain itu, menurut buku Kekayaan dan Kearifan Budaya Dayak Kenyah karya Marthin Billa, Tari Kancet Papatai juga menjadi representasi tentang keperkasaan kaum laki-laki Dayak Kenyah. Pesan keberanian juga disampaikan pada tarian ini. Yaitu dengan menggambarkan tentang keberanian para pria atau ajai suku Dayak Kenyah dalam berperang. Tarian ini menggambarkan mulai dari perang sampai dengan upacara pemberian gelar bagi pria atau ajai yang sudah berhasil mengenyahkan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan para penari. Kancet Papatai diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik tradisional Sampe. 2) Tari Hudoq Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_
160 SENI ARSITEKTUR TIMUR Hudoq adalah sejenis festival yang berupa tarian ungkapan syukur sebagai doa dan harapan untuk mendapat hasil panen melimpah serta agar tanaman mereka terhindar dari serangan hama yang digelar oleh sub-etnis Dayak di provinsi Kalimantan Timur. Hudoq sendiri artinya menjelma dan tarian ini masih kental akan nuansa mistis, tetapi bisa menjadi sarana hiburan. Hudoq adalah kesenian tarian yang menggunakan topeng dan kostum, oleh sebab itu Hudoq termasuk golongan kesenian barongan. Uniknya, penggunaan topeng dan kostum para penari Hudoq ini menyerupai binatang buas dan terbuat dari kayu. 3) Tari Giring-Giring Tari Giring-Giring adalah salah satu tarian tradisional Suku Dayak Ma’anyan di Provinsi Kalimantan Tengah, yang merupakan tari pergaulan muda-mudi Suku Dayak sebagai simbol pemersatu antara satu dengan yang lainnya, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Tarian ini biasanya ada disaat acara yang bersifat kegembiraan, seperti pesta panen,ataupun hajatan atau buntang/tiwah. 4) Tari Gantar Tari Gantar adalah tarian tradisional pergaulan muda mudi yang berasal dari suku Dayak benuaq dan Dayak Tanjung di Kalimantan Timur. Tarian ini sering di fungsikan untuk penyambutan para tamu atau wisatawan yang hadir dalam acara adat Kalimantan timur. Tari ini biasanya dilakukan bergantian oleh anggota masyarakat Suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Versi lain juga beredar dalam Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_ Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_ Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_
SENI ARSITEKTUR TIMUR 161 masyarakat bahwa dahulunya Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan.masyarakat bahwa dahulunya Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan. 5) Tari Mandau Tari Mandau merupakan tari tradisional yang berasal dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Seperti namanya, tari ini menggunakan Mandau sebagai properti utama. Selain itu, para penari juga membawa Talawang (perisai khas Suku Dayak) di tangan lain. Tari ini sering dipentaskan dalam berbagai upacara adat dan upacara penyambutan tamu agung. Tari mandau dianggap merefleksikan tentang prajurit suku dayak yang penuh semangat juang. Ada pula yang menyebut bahwa tarian ini menggambarkan kekuatan dari laki-laki suku dayak. Seni Musik Suku Dayak Selain seni tari, di lingkungan masyarakat Suku Dayak berkembang pula seni suara atau seni musik. Berbicara tentang musik tradisional suku Dayak di Kalimantan tentu saja tidak mudah, karena banyak jenis musik yang memberikan ciri masing-masing suku sehingga muncul perbedaan, kemiripan, dan kesamaan, yang sangat sulit diprediksi sebelumnya. • Jenis Musik Jenis-jenis musik yang dimainkan oleh Orang Dayak yang tiap jenis musik yang dimainkan memiliki fungsi, tujuan dan nilai tertentu; ada jenis musik untuk ritual, untuk hiburan, untuk kematian. 1. Gamal /Gaduk; Adalah jenis musik tua dan “asli” milik orang Dayak Jalai. Musik gamal terutama dimainkan dalam ritual-ritual rutin perladangan dan menjadi musik wajib sebagai pembuka dalam ritual lainnya. 2. Kanjan/ Ayah; Kanjan adalah musik yang “dibeli” dari Dayak Delang dan Candi Padas Gunung Kawi Bali (Kemdikbud) SEQ Candi_Pada_Gunung_Kawi_Bali_
162 SENI ARSITEKTUR TIMUR tipaq adalah satu-satunya musik yang tidak pernah dimainkan di luar kasus kematian, karena dapat mendatangkan malapetaka. 4. Mengetabung; Adalah musik yang dimainkan dalam ritual berayah. Sama seperti tipaq, ketabung jarang dimainkan tanpa alasan yang jelas. Seorang balin yang ingin membunyikan ketabung sambil berayah di luar kegiatan ritual berayah, akan melakukan ritual sederhana untuk menjelaskan alasannya membunyikan ketabung tersebut. 5. B e s e n g g a y u n g ; Besenggayung adalah musik yang dimainkan khusus untuk menyambut datangnya musim buah-buahan. Senggayung juga tidak dimainkan di sembarang tempat di luar musim buahbuahan, meskipun untuk tujuan-tujuan pelestarian dan dokumentasi, biasanya kebiasaan tersebut dapat mendapat dispensasi dengan terlebih dahulu melakukan ritual pemberitahuan secara sederhana. • Alat Musik Seperti halnya dalam seni tari, pada seni musik pun mereka memiliki beberapa bentuk ritme, serta lagu-lagu tertentu untuk mengiringi suatu tarian dan upacara-upacara adat tertentu. Masing-masing suku memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Berikut adalah alat-alat musik yang biasa digunakan masyarakat Dayak: a) Gendang Ada beberapa jenis Gendang yang dikenal olehsuku Dayak Tunjung: - Prahi - Gimar - Tuukng Tuat - Pampong b) Genikng Sebuah gong besar yang juga digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan) seperti halnya gong di Jawa. c) Gong Sama seperti gong di Jawa, dengan diameter sekitar 50 hingga 60 cm d) Glunikng Sejenis alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat dari kayu ulin. Mirip alat musik saron di Jawa. e) Jatung Tutup Gendang besar dengan ukuran panjang 3 m dandiameter 50 cm f) Jatung Utang Sejenis alat musik pukul dari kayu yang berbentuk gambang. Memiliki 12 kunci, tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan dengan kedua belah tangan. g) Kadire Alat musik tiup yang terbuat dari pelepahbatang pisang dan memiliki 5 buah pipa bambu yang dibunyikan dengan mempermainkan udara pada rongga mulut untuk menghasilkan suara dengung.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 163 h) Klentangan Alat musik pukul yang terdiri dari enam buah gong kecil tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat dudukan berbentuk semacam kotakpersegi panjang (rancak). Bentuk alat musik ini mirip dengan bonang di Jawa. Gong-gongkecil terbuat dari logam sedangkan tempat dudukannya terbuat dari kayu. i) Sampe Sejenis gitar atau alat musik petik dengandawal berjumlah 3 atau 4. Blasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak. j) Suliikng Alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis suliikng: - Bangsi/Seruna - Suliikng Dewa - Kelaii - Tompong k) Taraai Sebuah gong kecil yang digantungkan padasebuah standar (tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu yang agak lunak.
164 SENI ARSITEKTUR TIMUR Seni Modern Nusantara (Salamah Dafa Maulida) Foto: S.Sudjonono, “Kawan-kawan Revolusi” (1947) | IVAA Pengertian Seni rupa modern Indonesia merupakan negara dengan banyak tradisi dan seni seni tradisionalnya. Mulai dari seni theater hingga seni rupa terapan. Seiring perkembangan zaman Indonesia turut melakukan perkembangan di dunia kesenian atau yang biasa di sebut dengan seni modern. Seni modern adalah seni yang tidak terbatas pada aturan, tradisi, atau kebudayaan suatu daerah, namun tetap berdasarkan pada filosofi dan prinsip seni rupa yang ada. Filosofi dalam seni adalah keindahan yang dapat di hadirkan melalui prinsip prinsipnya. Sedangkan prinsip seni ialah cara penyusuan, pengaturan unsur-unsur rupa sehingga membentuk suatu karya seni yang menekankan prinsip desain seperti: kesatuan, keseimbangan, irama, penekanan, proporsi dan keselarasan. periode seni rupa modern Indonesia adalah suatu masa berkembangnya karya seni rupa yang merupakan hasil kreativitas untuk menciptakan karya yang merupakan pembaruan. Kreativitas dalamseni rupa di dalamnya terdapat estetika, karakter, inovasi, dan orisinalitas. Periode perintis (1826-1880) P e r k e m b a n g a n n y a diawali oleh pelukis Raden Saleh. Berkat pengalamannya belajar menggambar dan melukis di luar negeri seperti di Belanda, Jerman, Prancis, dia dapat merintis kemunculan seni rupa modern di Indonesia. Corak lukisannya
SENI ARSITEKTUR TIMUR 165 beraliran romantis dan naturalis. Aliran romantisnya menampilkan karya-karya yang berceritera dahsyat, penuh kegetiran seperti tentang perkelahian dengan binatang buas. Gaya naturalisnya sangat jelas tampak dalam melukis potret. Disebut sebagai zaman perintis karena merupakan awal dari perkembangan Seni Lukis modern di Indonesia Penangkapan Pangeran Diponegoro (Belanda: Gevangenname van Prins Diponegoro) adalah sebuah lukisan 1857 karya Raden Saleh Lukisan itu menjadi antitesis dari lukisan seorang pelukis Belanda bernama Nicolaas Pieneman. Penangkapan Diponegoro menggambarkan adegan yang berlawanan dengan yang dilukis Belanda. Dalam Lukisan Raden Saleh, Pangeran Diponegoro Tampak Berdiri Dengan Sikap Menantang Tangannya terkepal dengan kepala mendongak. Wajahnya tak sedikit pun menunjukkan rasa takut. Sementara orang-orang Belanda yang culas digambarkan dengan kepala besar dan wajah tanpa ekspresi. Periode Hindia Molek Masa ini merupakan kelanjutan dari masa perintisan setelah vakum beberapa saat karena meninggalnya Raden Saleh. Kemudian munculah seniman Abdullah Surio Subroto dan diikuti oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah, dan Trijoto Abdullah. Pelukis-pelukis Indonesia yang lain seperti Pirngadie, Henk Ngantung, Suyono, Suharyo, dan Wakidi. Masa ini disebut dengan masa Indonesia jelita karena pelukisnya melukiskan tentang kemolekan/ keindahan objek alam. Pelukis hanya mengandalkan teknik dan bahan saja. Karya Abdullah SR.
166 SENI ARSITEKTUR TIMUR Lukisan pemandangan Priangan oleh Abdullah Suriosubroto (tahun 1935) Abdullah dipandang sebagai pelukis Indonesia yang pertama pada abad ke-20. Benda lukisan kesukaannya adalah pemandangan. Dia dimasukkan dalam aliran yang dijuluki “Mooi Indie” (“Hindia Indah”). Periode PERSAGI Pada masa ini di Indonesia sedang terjadi pergolakan. Bangsa Indonesia berjuang untuk mendapatkan hak yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, terutama hak untuk merdeka dari penjajahan asing. Pergolakan di segala bidang pun terjadi, seperti dalam bidang kesenian yang berusaha mencari ciri khas Indonesia. Pelopor masa ini yang dikenal memilki semangat tinggi adalah S. Sdjojono. Dia tidak puas dengan kehidupan seni rupa jelita yang serba indah, karena dianggap bertolak belakang dengan kejadian yang melanda bangsa Indonesia. Sebagai langkah perjuangannya, S. Sudjojono dan Agus Jayasuminta bersama kawan-kawannya mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan mencari corak Indonesia asli. Konsep persagi itu sendiri adalah semangat dan keberanian, bukan sekadar kecakapan melukis melainkan melukis dengan tumpahan jiwa. Karya-karya S. Sudjojono. Periode pendudukan Jepang Kegiatan melukis pada masa ini dilakukan dalam kelompok Keimin Bunka Shidoso. Tujuannya adalah untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan diawasi oleh seniman Indonesia, Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung, dll. Untuk kelompok asli Indonesia
SENI ARSITEKTUR TIMUR 167 berdiri kelompok PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur. Khusus yang menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam Putra diantaranya Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll. Pada masa ini para seniman memiliki kesempatan untuk berpameran, seperti pameran karya dari Basuki Abdullah, Affandi, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Otto Jaya, dan lain-lain. Periode pasca-kemerdekaan Setelah Indonesia merdeka bermunculanlah kelompok-kelompok seniman lukis Indonesia, diantaranya: • Sanggar Masyarakat (1946) dipimpin Affandi, kemudian diganti nama menjadi SIM (Seniman Indonesia Muda) yang dipimpin oleh S. Sudjojono; • Pelukis Rakyat (1947), Affandi dan Hendra Gunawan keluar dari SIM dan mendirikan Pelukis Rakyat dipimpin oleh Affandi; • Perkumpulan Prabangkara (1948); • ASRI (Akademiseni rupa (1948), tokoh-tokoh pendirinya RJ. Katamsi, S.Sudjojono,Hendra Gunawan, Jayengasmoro, Kusnadi dan Sindusisworo; • Tahun 1950 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarya, Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sujoko, Edi Karta Subarna; • Tahun1955, berdiri Yin Hua oleh Lee Man Fong (perkumpulan pelukis Indonesia keturunan Tionghoa); • Tahun 1958, berdiri Yayasan seni dan desain Indonesia oleh Gaos Harjasumantri. • Tahun 1959, berdiri Organisasi Seniman Indonesia oleh Nashar.
168 SENI ARSITEKTUR TIMUR Periode akademi (1950) Pengembangan seni rupa melalui pendidikan formal. Lembaga pendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru gambar. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian dibuka pula jurusan seni rupa di semua Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) diseluruh Indonesia. Periode seni rupa baru Pada sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam seni lukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskan diri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada. Seniman muda yang mempelopori kelompok ini adalah Jim Supangkat, S. Prinka, Dee Eri Supria. Konsep kelompok ini adalah: • Tidak membedakan disiplin seni; • Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan penciptaan seni; • Mendambakan kreativitas baru; • Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan; • Bersifat eksperimental. Seniman Seni modern Nusantara 1. Affandi Koesoema (18 Mei 1907 – 23 Mei 1990) a d a l a h seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia. Affandi merupakan pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionis dan romantismenya yang khas. Beberapa karya terkenalnya mencakup “Eruption Mount Merapi” dan “Self-Portrait.”
SENI ARSITEKTUR TIMUR 169 1. 2. Hendra Gunawan (11 Juni 1918 – 17 Juli 1983) a d a l a h seorang pelukis dan pematung yang terlahir dari pasangan bernama Raden Prawiranegara dan ibunya bernama Raden Odah Tejaningsih. Lukisan Hendra Gunawan “Menguliti Petai” merupakan potret yang ekspresif tentang kehidupan rakyat. Sosoksosok wanita yang sedang menguliti petai dan mengamati boneka diungkapkan dengan cara yang naif, sehingga nuansa keseharian dunia mereka tampak bersahaja. Warna-warna dalam karya ini seperti dibiarkan menjalin bentuk-bentuk dengan sendirinya secara intuitif. Akan tetapi, seperti karya Hendra yang lain, dalam suasana kehidupan rakyat yang berat maupun bersahaja, warna dan goresannya (mampu) memberikan irama yang hidup. 3. Lee Man Fong (Indonesia, 1913–1988): Gaya Seni Lee Man Fong adalah pelukis Tionghoa - Indonesia terkenal dengan gaya lukisannya yang mencampur unsur-unsur Tiongkok dan Indonesia. Karya Tercatat:
170 SENI ARSITEKTUR TIMUR Lukisan-lukisan klasiknya mencakup “Bali Life” dan “Mother and Child. Bali Life’ (1974) by Lee Man Fong exudes a calming allure that invites the viewer to reflect upon age-old philosophies that guide human beings’ relationship with nature. (JP/Richard Horstman) Setiap seniman memiliki ciri khasnya sendiri, dan karya mereka mencerminkan pandangan unik mereka terhadap dunia. Ini hanyalah beberapa contoh seni modern Nusantara, dan masih banyak seniman lainnya yang juga berkontribusi pada perkembangan seni rupa. Menurut Irayati dan Dewi dalam Buku Panduan Guru Seni Rupa (2021), seni rupa modern adalah seni rupa yang sudah meninggalkan pakem-pakem suatu tradisi. Seni rupa modern cenderung mengutamakan kebebasan berekspresi demi kemajuan seni. Seni rupa modern bisa berwujud seni lukis, seni grafis, arsitektur, patung, video seni, dan sebagainya. Contoh seni rupa modern di Indonesia antara lain: • Monumen patung raksasa Garuda Wisnu Kencana karya I Nyoman Nuarta di Kuta Selatan, Badung. (Foto: Rachman_Haryanto) Nyoman Nuarta menjadi sosok penting di balik pembangunan
SENI ARSITEKTUR TIMUR 171 patung GWK Bali. Ide Nyoman tidak langsung diterima oleh masyarakat. N y o m a n membutuhkan waktu delapan tahun untuk memperkenalkan ide pembangunan patung GWK Bali. Awalnya, sebagian masyarakat menganggap proyek besar Nyoman Nuarta itu hanya akan menghamburhamburkan uang tanpa tujuan. Padahal, menurut Nyoman Nuarta, latar belakang didirikannya patung GWK adalah untuk mewujudkan sebuah kawasan sebagai tujuan wisata baru di Bali. Bagi Nyoman, sebuah tempat harus menunjukkan nilai budaya bangsa. • Lukisan “Berburu Celeng: karya Djoko Pekik. Detakbanten.com, JAKARTA - Siapa tak kenal sosok Djoko Pekik, seniman senior seni rupa Tanah Air yang terkenal lewat lukisannya berjudul Berburu Celeng. Djoko Pekik adalah pelukis Indonesia yang dikenal sebagai pencipta karya seni lukis yang berjudul “Berburu Celeng”. Lukisan yang dibuat pada 1998 ini dianggap sebagai gambaran keadaan pemimpin Indonesia pada era Orde Baru. Selama berkarier sebagai seniman lukis, Djoko Pekik pernah ditangkap dan dipenjara tanpa diadili oleh aparat pada 1965 karena dianggap berhubungan dengan Lekra, organisasi
172 SENI ARSITEKTUR TIMUR kebudayaan sayap kiri. Setelah bebas, ia sempat vakum dan baru kembali menggelar pameran pada sekitar 1990-an. • Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar di Bandung yang dirancang oleh Ridwan Kamil. https://aljabbar.jabarprov.go.id/ sejarah Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa. Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang, ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Pada malam hari, kerlip tata cahaya menambah keindahan masjid. Selain keindahan, danau memiliki fungsi penting lain; sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air. Semua hal tersebut memang direncanakan dengan sangat seksama oleh sang arsitek, Mochamad Ridwan Kamil. • Animasi Battle of Surabaya karya MSV Pictures
SENI ARSITEKTUR TIMUR 173 “BATTLE OF SURABAYA”. Youtube. Sabtu, 6 Juli 2013. Battle of Surabaya adalah film animasi 2D, drama, aksi dan sejarah Indonesia produksi MSV Pictures. Karya perdana sutradara muda Aryanto Yuniawan ini menampilkan tokoh dan cerita fiktif, tetapi berlatar belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada saat perang Surabaya 1945.
174 SENI ARSITEKTUR TIMUR Seni Islam Indonesia Modern (Naila Fayyaza) A. Sejarah Seni Islam Modern Sejarah seni rupa adalah berbagai Upaya pencarian dan pengetahuan mengenai peristiwa, artefak, hingga kebudayaan seni rupa yang terjadi dan berkembang di masa lalu dalam kurun waktu tertentu. Dalam perkembangannya, sejarah kini banyak menggunakan disiplin ilmu bandingan untuk memastikan akurasi sumber yang diperoleh. Ilmu bandingan ini disebut sangat efektif dan efisien untuk memastikan kebenaran suatu hal hingga disiplin ilmu lainnya seperti seni dan sastra kini banyak menggunakannya pula karena terpengaruhi oleh ilmu sejarah. Mengapa harus menggunakan bandingan? Karena seperti pada kebiasaan peradaban manusia pada umumnya, dokumentasi sumber sejarah biasanya ditulis oleh pihak yang unggul di masanya. Sehingga sumber sejarah menjadi tidak objektif dan berpihak terhadap yang unggul atau menang. Membandingkan antar sumber menjadi hal yang krusial untuk mendapatkan kebenaran yang sejati. M a s y a r a k a t Nusantara tidak memiliki tradisi pencatatan sejarah yang amat kuat.apalagi catatan teks hidtoris mengenai sejarah seni
SENI ARSITEKTUR TIMUR 175 rupa. Bahkan Sebagian besar sumber teks sejarah Indonesia harus digali dari dokumentasi pemerintahan colonial Belanda. Karena alasan itu pula, artefak-artefak sejarah seni rupa Indonesia sendiri merupakan material yang sangat penting sebagai sumber sejarah. Para arkeolog memegang peranan sangat penting untuk menguank sejarah seni rupa Indonesia. Selain itu, para antropolog (peneliti kebudayaan) juga menjadi sumber utama dalam pengetahuan sejarah seni rupa Indonesia. Periodisasi Sejarah Seni Rupa Indonesia b e r d a s a r k a n Pertumbuhannya B e r d a s a r k a n pertumbuhan atau perkembangan zamannya, periodisasi sejarah seni rupa Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa zaman berikut ini : 1) Z a m a n prasejarah Sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kirakira abad ke-5 Masehi. Zaman ini dapat dibagi menjadi beberapa zaman yaitu, zaman batu tua (Paleotikum), zaman batu Tengah (Mesolitikum) dan zaman batu muda (Neolitikum). 2) Z a m a n logam Meliputi : zaman perunggu dan zaman besi. Zaman tembaga tidak ditemukan di Asia, termasuk di Indonesia. 3) Z a m a n purba Sejak datangnya pengaruh India, yakni pada
176 SENI ARSITEKTUR TIMUR abad-abad pertama Tarikh Masehi sampai lenyapnya Kerajaan Majapahit (sekitar 1500 M). 4) Zaman madya Sejak datangnya pengaruh islam di Indonesia, yakni menjelang akhir zaman Majaapahit sampai akhir abad ke-19. 5) Zaman baru Sejak masuknya anasiranasir barat dan teknologi modern Indonesia, yakni kira-kira tahun 1900 Masehi sampai saat ini. Periodisasi Sejarah Seni Rupa Indonesia Berdasarkan Ciri Peninggalannya Sementara itu, berdasarkan peninggalan artefaknya, periodisasi sejarah seni rupa Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periodisasi di bawah ini. 1) Seni rupa Prasejarah 2) Seni rupa Hindu-Budha 3) Seni rupa Islam 4) Seni rupa Modern Dari perbedaan kedua periodisasi di atas dapat dilihat dengan jelas bagaimana beberapa istilah sejarah dalam sejarah seni rupa akan saling berkaitan atau berkontradiksi satu sama lain antara periodisasi berdasarkan peninggalan dan pertumbuhan zaman. Disini akan dibahas sejarah seni rupa Indonesia berdasarkan urutan ciri peninggalannya, namun tidak akan mengabaikan konteks zamannya juga.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 177 abad-abad pertama Tarikh Masehi sampai lenyapnya Sejarah Seni Rupa Prasejarah P e m b a g i a n seni rupa prasejarah di Indonesia dibedakan atas dua periode, yaitu zaman batu dan zaman perunggu. Pembabakan tersebut didasarkan atas kemampuan Teknik dan teknologi Masyarakat prasejarah tersebut. Terutama dalam menciptakan alat-alat yang diperlukan dalam mendukung kelangsungan hidupnya. Hal ini ditunjukkan dengan bukti artefakartefak yang mereka tinggalkan. Zaman batu atau disebut juga zaman Megalitik yang terdiri dari : Zaman batu tua (Paleolitik) 1) Zaman batu T e n g a h (Mesolitik) 2) Zaman batu muda (Neolitik) Karya Seni Rupa Prasejarah Salah satu peninggalan yang paling kuno dari kesenian Indonesia adalah lukisan pada dinding-dinding gua-gua, seperti yang ditemukan di Papua, di Kepulauan Kei dan Seram hingga Sulawesi Selatan. Lukisan-lukisan tersebut antara lain berupa cap telapak tangan dan telapak kaki, gambar-gambar manusia yang sederhana, gambar-gambar Binatang seperti babi hutan, cecak, kadal, kura-kura, kerbau dan lain sebagainya. Di beberapa gua di Indonesia yang telah disebutkan diatas terdapat bahkan terdapat gambar telapak tangan dengan
178 SENI ARSITEKTUR TIMUR jari terpotong (tidak utuh). Adapula gambar seekor Binatang yang tampak sedang diburu dengan menggunakan tombak. Van Heekeren, seorang arkeolog yang meneliti gua-gua di dekat Maros, Sulawesi Selatan menyetakan bahwa lukisan babi hutan tertombak panah maupun ratusan gambar tangan yang terdapat disana diduga telah ada sejak tahun 2000 sebelum Masehi, bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan Toala. Sedangkan pakar lain seperti Dr. Josef Roder yang melakukan oenelitian di daerah Papua menemukan lukisan-lukisan disana telah ada dari sejak 1000 tahun sebelum Masehi. Beberapa diantaranya bahkan baru dibuat 3-4 abad yang lalu. B e b e r a p a peninggalan artefak terpenting dari seni rupa prasejarah Indonesia antara lain adalah sebagi beriku : 1) Kriya batu : kapak genggam 2) Kriya tanah l i at /g e ra b a h (MesolitikNeolitik) 3) Lukisan dinding gua (MesolitikMegalitik) 4) B a n g u n a n megalitik 5) Ragam hias p r a s e j a r a h yang menyatu dengan benda kriya
SENI ARSITEKTUR TIMUR 179 Contoh Karya Seni Zaman Perunggu G e l o m b a n g perpindahan kedua dari daratan Asia ke Nusantara pada 500 tahun sebelum Masehi membawa serta kebudayaan perunggunya ke tempat tinggal mereka yang baru. Hal ini meninggalkan banyak peninggalan sejarah seni rupa baru di Indonesia. Peninggalan artefaknya antara lain sebagai berikut: 1) Kria perunggu/ seni dongson (gendering perunggu) 2) Kapak perunggu 3) Patung perunggu 4) Ragam hias prasejarah/tradisi pada karya perunggu Falsafah Seni Islam Dunia timur Islam, bukan merupakan persemaian subur bagi pertumbuhan pemikiran seni sebagaimana hanya di dunia Barat. Dalam pandangan sharif, hal itu dapat ditelusuri sejak awal periode islam Ketika umat islam mengambil sikap bermusuhan (hostile attitude) terhadap seni atas dasar pertimbangan hadits Nabi yang tidak mengakomodir seni tertentu seperti seni rupa dan seni musik . Fenomena ini, bisa dimaklumi karena seni pada waktu itu masih terikat erat dengan tradisi penyembahan berhala orang arab yang dikhawatirkan akan menimbulkan Kembali kepercayaan pra-islam. Pemikiran seni dalam islam menemukan rintisannya untuk pertama kali Ketika filsafat mengalami perkembangan pesat pada masa antara abad
180 SENI ARSITEKTUR TIMUR 3H/9M dan 6H/12M. para failasuf semisal Al-Kidi, Al-Farabi, Ibn Sina dan ArRazi adalah cendekiawancendekiawan muslim yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang penciptaan teori-teori music yang digunakan terutama untuk tujuan pengobatan. Namun demikian, prestasi intelektual mereka di bidang ini belum dapat dikatakan memadai, oleh karena tidak diperoleh adanya pembahasan khusus dan intensif, kecuali hanya terlintas di selasela pembicaraan mereka mengenai metafisika. D i a n t a r a para filosof yang paling berkompeten dikemukakan untuk memahami keberadaan seni dalam kurun waktu ini, adalah pandangan Ibn Sina (w. 1036). Kecendekiaan Ibn Sina dalam bidang seni, khususnya music, dapat dijumpai dalam karangannya ass-syifa dan an-Najat. Lebih jauh pandangan Ibn Sina dijelaskan oleh muridnya. Sosial-Budaya Seni Islam Dalam seni budaya Islam, keindahan dan kesempurnaan bisa ditemukan dalam kaligrafi, ukiran, seni rupa, arsitektur, tarian, music, berbagai kisah dalam cerpen dan novel. Seni Islami juga bisa ditemukan dalam berbagai bentuk interaksi dengan AlQur’an, seperti tartil dan tilawah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Masyarakat melalui peran para qari dan terus dirawat melalui Musabaqah Tilawati Al-Qur’an (MTQ) di berbagai jenjang. Beberapa bukti penurunan seni dan budaya islam ditandai dengan berkurangnya pengakuan public, perubahan budaya
SENI ARSITEKTUR TIMUR 181 yang memengaruhi keberlangsungan seni dan budaya islam, serta terbatasnya pengembangan karena keterbatasan dana dan dukungan berbagai komponen yang seharusnya terlibat dan peduli. Seni dan budaya islam Indonesia dalam konteks ini merujuk pada keseluruhan warisan kebudayaan dan nilai-nilai Islam yang telah berpengaruh dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik di Indonesia. Seni islam Indonesia bisa ditemukan dalam berbagai karya seni rupa, seni music, seni tari, seni teater dan sastra. Seni islam juga bisa dinikmati dalam berbagai karya arsitektur b a n g u n a n - b a n g u n a n seperti, masjid, pesantren, istana dan Kerajaan islam yang hamper bisa ditemukan di setiap provinsi di Indonesia. contoh gambar sosial budaya dalamseni is 1 Gambar diatas merupakan contoh sosial budaya dalam seni Islam di Indonesia, lebih tepatnya di Kota Bali. Estetika Dalam Bentuk Seni Islam Abad 16 hingga abad 19 adalah puncak kejayaan seni ‘divan literature’ atau lebih dikenal dengan puisi kekaisaran Ottoman. Puisi Ottoman Divan ini berisi pemikiran sang penyair, kritiknya pada stereotip sosial atau prosodi Arab. Materi yang konsisten ini memberikan penyar kemampuan untuk mengekspresikan diri dan
182 SENI ARSITEKTUR TIMUR sensasi atau persepsi. Kata estetika secara non-konseptual dimulai dari era filsuf Althena Plato pada abad ke18. Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762), seorang mahasiswa filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz, adalah rang yang mengubah estetika menjadi disiplin dalam karyanya “Aesthetica”, diterjemahkan ke dalam Bahasa turki dalam proses westernisasi kekaisaran Ottoman pada akhir abad ke-19. Dalam estetika islam, seni adalah mengeksplorasi dan mengekspresikan kualitas dan keindahan yang sudah ada. Artinya, seniman bukanlah orang yang menciptakan keindahan, tetapi orang yang menemukannya. Bagaimanapun, seluruh makhlu dilukis dengan pewarna Allah. https://estetik-muda.blogspot. com/2022/0 1 Pada akhirnya, tujuan dalam seni Islam adalah untuk mencapai yang tak terlihat di balik yang terlihat dan tujuan luarnya adalah untuk mempercantik dunia. Terlepas dari semua latar belakang metafisiknya, seni islam selalu ada dalam kehidupan. Dari perspektif seni ini, yang penting bukanlah melihat tapi merasakan.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 183 Seni Rupa Mooi Indie (Ilhham Kharismatullah) Sejarah Seni Rupa Mooi Indie Mooi Indie atau Mooi Indië (bahasa Indonesia:Hindia Elok, Hindia Jelita, Hindia Molek) adalah aliran seni lukis yang berkembang di Hindia Belanda pada abad ke-19. Seniman Belanda dan Eropa saat itu hanya melukis lukisan-lukisan yang menggambarkan keindahan alam Hindia Belanda dengan tujuan menggencarkan daya tarik pariwisata. Oleh pemerintah Hindia Belanda gaya naturalistik ini diteruskan hingga awal abad 20. Pemerintah menaja para pelukis Belanda-seperti Du Chattel–maupun bumiputera untuk membuat lukisan Mooi Indie. Mereka “diminta” melukis suasana alam Indonesia yang molek. Lukisan tersebut kemudian dipamerkan di Eropa. Dengan menggambarkan Hindia yang cantik jelita, pemerintah Hindia Belanda bertujuan menarik para wisatawan Eropa datang ke Indonesia. Pada mulanya istilah Mooi Indie dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portofolio di Amsterdam tahun 1930. S. Sudjojono lantas memopulerkan istilah Mooi Indie pada 1939 untuk menyebut karya lukis yang menggambarkan pemandangan-pemandangan di Hindia atau Indonesia yang serba indah, damai, romantis, surgawi dan tenteram, yang sesungguhnya berbeda sekali dengan keadaan rakyat negeri jajahan. Beberapa contoh karya lukisan Mooi indie : COLLECTIVE TROPENMUSEUM/ id.m.wikipedia.com
184 SENI ARSITEKTUR TIMUR “Ah! Apaan sih! Lukisan mooi indie gitu-gitu aja, cuman gunung dan sawah.” Barangkali kita sering mendengar penilaian semacam itu ketika berhadapan dengan lukisan-lukisan masa modern awal di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, kita pun pernah melakukan hal serupa, menganggap mooi indie hanya lukisan murahan minim konsep. Penilain seperti itu sering berangkat sebatas dari sifat lukisan mooi indie yang template, atau acap kali disebut dengan tridharma: gunung, sawah, dan pohon. Berkaitan dengan sejarah Mooi Indie, di Banyumas juga memiliki sejarah senirupa kaitannya tentang mooi indie tepatnya di Sokaraja. Dahulu konon terkenaldengan galeri lukisan terpanjang se Asia Tenggara namun cerita itu masih belumbisa terbukti secara kongkrit pasalnya pada zaman kita tidak memiliki arsip-arsipyang lengkap dan bukti fisiknya masih belum kuat, hanya mendengar cerita daripelaku sejarah yang menjelaskan bahwasannya lukisan sokaraja memiliki unsuryang kuat dengan sejarah Mooi Indie di Indonesia. Contoh karya lukisan Sokaraja: dictio.id liputan6.com
SENI ARSITEKTUR TIMUR 185 permintaan Kerajaan Belanda. Kecenderungan lukisan Sokaraja yang lebih sederhana tak lepas dari lingkungan geografis tempat para pelukis Sokaraja tinggal yakni di wilayah datar. Keunikan yang lain, mereka punya gaya pemasaran yang kompleks. Mengenal sistem ngider, ada penjual berjualan keliling lukisan diangkut dalam gerobak dari satu kampung kekampung lain di wilayah Purbalingga, Banyumas sampai Cilacap. Selain itu, para pelukis membuka kios-kios atau galeri di pinggiran jalan utama Sokaraja. Sayangnya, semakin tumbuh berkembang, para pelukis Sokaraja, pada akhirnya terjebak lebih mengejar kuantitas dibanding kualitas. Mereka dianggap termakan pasar saat mulai mengenal pemborong. Ada satu masa, para pelukis Sokaraja asyik melukis repro karya para maestro. Lukisan paling digemari ‘Kebakaran Hutan’ karyaRaden Saleh dan ‘Pertarungan Hidup’ karya Basoeki Abdullah yang disebut wargaSokaraja sebagai lukisan Alas Obong.”Mereka punya talenta kuat tapi tak menempa diri. Ketika selera pembeli berubah kelukisan kontemporer, pelukis Sokaraja lamban merespon. Lukisan mooi indie seperti tidak memiliki spesialitas secara estetis dan seakan tidak mampu menjadi objek estetis yang menggairahkan. Terlebih di masa kini, di mana perkembangan seni rupa telah mencapai kompleksitas yang dapat menawarkan beragam kebaruan, menjadikan lukisan ini seakan barang usang. Tak spesial lagi, rasa-rasanya, kehadiran mooi indie di mata kontemporer. Memiliki pengetahuan seni masa kini, tak jarang, membuat kita jumawa ketika harus dihadapkan kembali dan enggan untuk menapakinya kembali. Berkurangnya niatan apresiasi terhadap mooi indie itulah yang merdeka.com
186 SENI ARSITEKTUR TIMUR menjadi salah satu penyebab kemandekan pemaknaan terhadapnya. Muaranya adalah kebosanan bahkan dogma. Sehingga, kacamata baru dibutuhkan guna membaca mooi indie di masa ini untuk mendapatkan hal baru darinya. Ciri khas lukisan Mooi Indie Ciri khas lukisan ini dapat diketahui dari objek-objek lukisannya, antara lain: 1. Pemandangan alam, seperti sungai, gunung, hutan, suasana pedesaan, sawah yang indah di Hindia Belanda. 2. Menggambarkan wanitawanita di Hindia Belanda yang juga eksotik. Umumnya wanita Timur ini digambarkan sedang menari atau melakukan kegiatan sehari-hari, ataupun dalam keadaan setengah berbusana. 3. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai objek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan. 4. Menggunakan pilihan warna yang teduh, terang, dan damai. Asal Usul Seni Rupa Mooi Indie di Indonesia Kemunculan mooi indie merupakan imbas kolonialisme di Hindia-Belanda ketika itu. Pihak kolonial membawa pelukis-pelukis Eropa untuk ditugaskan melukis kehidupan bumi putra. Bentang alam serta kegiatan masyarakat sehari-hari adalah idiom favorit mereka. Kebiasaan memilih subjek lukisan sedemikian rupa itu kemudian mendapatkan fungsinya untuk membantu penelitian pihak kolonial guna mengetahui lebih dalam kehidupan sebuah bangsa yang tengah dijajahnya saat ini penelitian semacam itu kita kenal dengan antropologi.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 187 Ekonomi liberal yang dijalankan oleh kolonialisme turut mendorong popularitas mooi indie. Kebijakan ekonomi liberal masa itu adalah mengganti pola sistem cuulturstelsel karena tidak menguntungkan bumi putra. Lantas, kaum liberal menuntut pemerintahan kolonial menyerahkan kuasa ekonomi ke tangan-tangan swasta dan diberlakukan lah sistem sewa tanah. Supaya menarik minat para pemodal Eropa untuk menanam saham, maupun sekadar rekreasi di bentang alam Hindia-Belanda, maka pihak swasta pun membutuhkan media promosi. Dalam kepentingan seperti itulah mooi indie turut bekerja sebagai media propaganda. Lukisan mooi indie di masa itu, selain sebagai kepentingan estetika, menjadi media promosi paling mutakhir. Sebab lukisan mooi indie yang mengusung naturalisme dengan gaya realistik memudahkan muatan pesan eksotis di dalamnya terbaca masyarakat Eropa. Hal itu kemudian merayu mereka bertandang di alam mooi indie maupun sekadar mengoleksi karya lukis mooi indie. Kondisi sosial-ekonomi di Hindia-Belanda seperti itulah yang mengakibatkan lukisan mooi indie mendapatkan banyak peminatnya. Gaya lukisan ini juga menandai kelahiran modernitas di Indonesia muda. Namun di masa berikutnya, kehadiran mooi indie berusaha di-absen-kan oleh daun-daun baru seniman Indonesia dari kancah pergolakan revolusi. Mereka menilai bahwa mooi indie tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang berusaha mencabut panji kolonialisme. Perang dan kelaparan sebagai realitas masyarakat Indonesia begitu kontras dengan mooi indie yang penuh keindahan alam tanpa bopeng. Kemunculan kredo “Realisme Djiwa Ketok” pada 1930- an yang dicetuskan oleh Sindoedarsono Soedjojono memperkuat
188 SENI ARSITEKTUR TIMUR pengecaman terhadap mooi indie beserta para seniman yang masih menggunakan gaya melukis tersebut. Kredo itu menekankan realisme sejati adalah kebenaran yang dilandasi dengan jiwa. Sebab tanpa itu, realisme hanya material tanpa kebatinan atau sonder jiwa belaka. Maka, mooi indie yang berperan sebagai katalis ekonomi liberal kolonialisme dan gaya lukisannya yang tanpa jiwa realitas kehidupan konkret masyarakat Indonesia, berusaha ditiadakan oleh angkatan seniman revolusi Indonesia. Di tahun 1970-an, walaupun tidak sekencang dulu, polemik mooi indie hadir kembali. Pada tahun-tahun ini muncul kelompok bernama Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI). Seniman-seniman muda yang terhimpun dalam kelompok ini berusaha merelevankan seni dengan kondisi sosial-politik saat itu (baca: orba). Serta mencari kemungkinan-kemungkinan baru kesenian pada aspek artistik juga konsep. Dalam perjuanganya, mereka menolak kesenian yang stagnan, terlebih tidak relevan dengan tantangan zaman. Imbas dari “seni rupa baru” itu adalah mooi indie mendapatkan penolakan kembali. Bahkan menurut Yangni (2019: 19-20), di tengah gerakan “seni rupa baru” seniman muda ASRI menilai Sudjojono ketinggalan zaman dan ia dianggap kembali pada mooi indie. Golongan seniman tua yang dirasa kembali ke mooi indie, kemudian dinilai oleh kalangan gerakan “seni rupa baru” sebagai ancaman baru setelah zaman revolusi. Kedua generasi tersebut telah menilai mooi indie memberikan sumbangsih terhadap definisi serta paradigma mooi indie yang kita pahami saat ini. Hal ini dibuktikan dengan definisi mooi indie saat ini yang masih tampak memiliki sikap untuk merendahkan pihak lain. Adanya sikap tersebut dikarenakan definisi mooi indie diwariskan dengan menggunakan perspektif generasi sebelumnya—Sudjojono, PERSAGI, GSRBI. Hal ini
SENI ARSITEKTUR TIMUR 189 terlihat dalam tulisan Sudarmaji (1991: 73), yang mengatakan bahwa mooi indie hanya memiliki wawasan turistis. Penggunaan kata “hanya” mengindikasikan adanya tendensi untuk merendahkan aspek lain. Sayangnya, sampai hari ini hal tersebut masih ditanamkan dalam tengkorak masyarakat Indonesia. Sebenarnya tidak salah mendefinisikan mooi indie dengan memakai nada merendahkan. Perlu diakui lahirnya kata mooi indie memang dari Sudjojono untuk mengkategorikan sekaligus mengejek karya seni yang banyak menampilkan keindahan alam di abad ke-19 dan hanya bermuara pada kepentingan kolonialis. Maka tidak salah juga jika pengertian mooi indie saat ini masih mengandung emosi dari para pendahulunya. Namun, akan kurang baik jika definisi tersebut dipakai sebagai pemahaman yang general atas semua karya seni mooi indie. Masyarakat Indonesia sekarang, yang telah bebas dari panji kolonialisme Eropa serta belum adanya urgensi seperti pada masa lampau, perlu mendapatkan perspektif baru dari mooi indie di luar perspektif masa silam. Sebab dalam perspektif baru itulah makna baru dari mooi indie dapat muncul kembali. “Gunung Merapi dan Kali Opak” karya Basuki Abdullah Banyaknya narasi bentang alam yang terekam dalam sajian visual mooi indie masa lampau memberikan hal baru untuk saat ini. Gambaran riil atas kondisi alam Indonesia di masa silam dalam lukisan mooi indie mampu memberikan perbandingan dengan keadaan alam Indonesia saat ini. Berfungsinya lukisan mooi indiedalam hal tersebut disebabkan sifatnya seperti fotografi. Pada masa silam, sebelum penggunaan fotografi seperti sekarang,
190 SENI ARSITEKTUR TIMUR L u k i s a n — t e r m a s u k lukisan mooi indie—menjadi salah satu media paling mutakhir untuk merekam peristiwa dalam suatu masa, seperti dalam lukisan Basuki Abdullah berjudul “Gunung Merapi dan Kali Opak” 1935-1993. Lukisan tersebut menampilkan citra kondisi bentang Gunung Merapi sekaligus alam sekitarnya di masa lampau, yang jika dibandingkan dengan kondisi sekarang sudah pasti mendapatkan perbedaan. Kedekatan mooi indiedengan kehidupan masyarakat Indonesia, membuatnya sangat kuat berakar di dalam masyarakat dan masih dihidupi hingga saat ini. Lukisan-lukisan mooi indie yang diproduksi hari ini pun barangkali memiliki perbedaan dengan mooi indie masa lampau. Perbedaan kondisi alam sebagai objek estetis dari lahirnya karyakarya mooi indie memberikan pesan baru. Salah satunya adalah mooi indie sekarang hadir bukan untuk memuja keindahan alam Indonesia, melainkan untuk “mengenang” atau bahkan “bernostalgia” bahwa Indonesia pernah memiliki jazirah hijau. Dan boleh jadi tridharma mooi indie hari ini adalah gedung, aspal dan hamparan sawah beton. Hal tersebut dibuktikan oleh para pedagang lukisan yang senantiasa berjalan kaki di antara himpitan rumah susun dan raung jalanan. Pundak yang meminggul beratnya lukisan bergambar pemandangan gunung, sawah dan sungai seakan tengah menyebarkan sebuah pesan “ironi” di tengah infrastruktur modern yang berdiri dibekas hamparan alam raya.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 191 Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (Muhammad Fadlan Awwabi) Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) Lahir dimasa kekuasaan Orde Baru pada tahun 1975 merupakan salah satu bagian perkembangan Seni Rupa kontemporer. Lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu Peristiwa Malari, Desember Hitam dan kebij akan depolitisasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Peristiwa Malari pada tahun 1974 memberikan dampak diberlakukannya sejumlah tindakan represif terhadap organisasi dan kegiatan mahasiswa. Pernyataan Desember Hitam, merupakan sebuah reaksi atas kekecewaan seniman muda/ junior pada keputusan karya yang dijadikan pemenang dalam Pameran Besar Bienalle Seni Lukis Indonesia. Munculnya Gerakan Seni Rupa Baru {GSRB) memberikan warna terhadap perkembangan sejarah seni rupa modern Indonesia saat ini, walaupun gerakan ini dimulai dengan kecurigaan dan menjadi obyek cemoohan, yang mengawali dari pengakuan dan eksistensi keberadaannya. Tapi gerakan tersebut juga ikut mempelopori bangkitnya semangat pluralisme dalam seni rupa Indonesia. Perkembangan itu dominan mempengaruhi perjalanannya seni rupa era setelahnya. Karya-karya seni rupa kontemporer yang berkembang sejak era kelahiran GSRB sebagian mengandung kritik sosial, politik, dan ekonomi, menjadi karya tersebut sulit mendapatkan tempat dalam pameran-pameran bergengsi. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) dibentuk dari sekelompok akademisi seni rupa.
192 SENI ARSITEKTUR TIMUR di kampus, yang dalam beberapa hal mengekang kemungkinan akan bentuk – bentuk baru dari kesenian itu sendiri. Tujuan lain dari dibentuknya GSBR ini yaitu sebagai keinginan untuk bereksperimen di dunia senirupa dengan lebih bebas tanpa ikatan baku. Pendukung gerakan ini menyelenggarakan pameran perdana pada 2-7 Agustus 1975 di ruang pameran Jakarta Bienael di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini menampilkan keanekaragaman karya yang tidak pernah ada di Indonesia sebelumnya. Meskipun pameran ini sulit diterima oleh banyak orang dan dicemooh oleh sejumlah kritikus, pengaruhnya terhadap seniman-seniman muda dan mahasiswa seni rupa tidak pernah pudar. Pameran tersebut diselenggarakan karena keinginan berkomunikasi. Tokoh-Tokoh Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia: 1. Ris Purnomo, 2. S. Prinka, 3. Anyool Soebroto, 4. Satyagraha, 5. Nyoman Nuarta, 6. Pandu Sudewo, 7. Dede Eri Supriya, 8. Jim Supangkat, 9. Siti Adiyati Subangun, 10. F.X Harsono, 11. Nanik Mirna, 12. Hardi, 13. Wagiono. 14. S, Agus Tjahjono, 15. B. Munni Ardhi 16. Bachtiar Zainoe Berikut adalah beberapa tokoh yang menonjol pada gerakan seni rupa baru di Indonesia
SENI ARSITEKTUR TIMUR 193 • Jim Supangkat https://www.google.com/ url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww. indonesiana.id%2Fprofil%2F1805%2FJim--Su pangkat&psig=AOvVaw1zJND4LCLO9GDGr& ust=1702051828467000&source=images&cd =vfe&opi=89978449&ved=0CA8QjRxqFwoTCI ifhqjb_YIDFQAAAAAdAAAAABAD Jim Supangkat merupakan tokoh penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Ia memiliki peran yang konsisten dalam dunia seni rupa Indonesia sejak dekade 1970. Pada dekade 1970 ia menjadi mahasiswa di Bagian Seni Rupa ITB dan membuat karya-karya radikal yang mengadakan pemberontakan terhadap seni rupa akademis. Pemberontakan ini berlanjut dalam keaktifannya di Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) sebagai seniman & konseptor sejak tahun 1975. Pada tahun 1989 ia terlibat dalam kegiatan Australia and Region’s Artist Exchange (ARX) di Australia. Keterlibatan ini membuatnya menjadi terpapar kepada jejaring seni rupa internasional dunia dan mempengaruhi keputusannya untuk menjadi kurator seni rupa. Sejak awal kiprahnya dalam bidang seni rupa, ia memiliki alur perkembangan pemikiran tersendiri dalam mempertimbangkan seni rupa Indonesia. Pada dekade 1990, sebagai kurator Supangkat memiliki gagasan-gagasan yang khas dalam menyikapi seni rupa kontemporer Indonesia. Hal ini tercermin dalam tulisan-tulisan yang dibuatnya bagi sejumlah pameran. Dengan mengamati perkembangan biografis yang unik sebagai wilayah pelataran dari terbentuknya gagasangagasan Supangkat inilah penulis
194 SENI ARSITEKTUR TIMUR melakukan penjabaran dalam bentuk deskripsi terhadap gagasan kuratorialnya mengenai seni rupa kontemporer Indonesia pada dekade 1990. • Jim Supangkat url?sa=i&url=https%3A%2F%2Filhamkhoiri. wordpress.com%2F2016%2F09%2F06%2Fhardiseni-untuk-merayakan-kehidupan%2F&psig= AOvVaw3dQQDRzMExfFoK2Da1rxdY&ust=17 02051534389000&source=images&cd=vfe&o pi=89978449&ved=0CA8QjRxqFwoTCJirlq3a_ YIDFQAAAAAdAAAAABAD Tahun 1979, dalam pameran Seni Rupa Baru, sebuah lukisan bertuliskan “Presiden RI th 2001 Suhardi”, sebuah potret dirinya berseragam tentara yang menantang hegemoni Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, memancing perhatian publik. Tahun 1980, Karya tersebut kembali ditampilkan dalam pameran seni Forum Pelukis Muda Indonesia di Taman Ismail Marzuki; Hardi ditangkap Laksusda Jaya, dengan tuduhan makar. Hardi dibebaskan atas permintaan Wakil Presiden Adam Malik. LIMA JURUS GEBRAKAN SENI RUPA BARU INDONESIA 1. Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji “seni rupa” yang diakui hingga kini, (gerakan menganggapnya sebagai “seni rupa lama”) yaitu seni rupa yang dibatasi hanya di sekitar : seni lukis, seni patung dan seni gambar (seni grafis). Dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, penetrasi di antara bentuk-bentuk seni rupa di atas, yang bisa melahirkan karyakarya seni rupa yang tak dapat dikategorikan pada bentuk-bentuk
SENI ARSITEKTUR TIMUR 195 di atas, dianggap “sah” (“Seni Rupa Baru”). Dalam berkarya, membuang sejauh mungkin imaji adanya elemen-elemen khusus dalam seni rupa, seperti elemen-elemen lukisan, elemenelemen gambar, dan sebagainya. Keseluruhannya berada dalam satu kategori, elemen-elemen rupa yang bisa berkaitan dengan elemenelemen ruang, gerak, waktu, dan sebagainya. Dengan begitu, semua kegiatan yang dapat dikategorikan ke dalam seni rupa di Indonesia, kendati didasari “estetika” yang berbeda, umpamanya yang berasal dari kesenian tradisional, secara masuk akal dianggap sah sebagai seni rupa yang hidup. 2. Membuang sejauh mungkin sikap “spesialis” dalam seni rupa yang cenderung membangun “bahasa elitis” yang didasari sikap “avand-gardisme” yang dibangun oleh imaji: seniman seharusnya menyuruk ke dalam mencari halhal subtil (agar tidak dimengerti masyarakat, karena seniman adalah bagian dari misteri hidup?). Sebagai gantinya, percaya pada segi “kemasan” yang ada pada manusia dikarenakan lingkungan kehidupan yang sama. Percaya pada masalahmasalah sosial yang aktual sebagai masalah yang lebih penting untuk dibicarakan daripada sentimensentimen pribadi. Dalam hal ini, kekayaan ide atau gagasan lebih utama daripada ketrampilan “master” dalam menggarap elemen-elemen bentuk. 3. Mendambakan “kemungkinan berkarya”, dalam arti mengharapkan keragaman gaya dalam seni rupa Indonesia. Menghujani seni rupa Indonesia dengan kemungkinankemungkinan baru, mengakui semua kemungkinan tanpa batasan, sebagai pencerminan sikap “mencari”. Dari sini, menentang semua penyusutan kemungkinan, antara lain sikap pengajaran “cantrikisme” di
196 SENI ARSITEKTUR TIMUR mana gaya seorang guru diikuti murid-muridnya, yang sebenarnya dapat berbuat lain, memperkaya kemungkinan “gaya” seni rupa Indonesia. 4. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang “Indonesia” dengan jalan mengutamakan pengetahuan tentang Sejarah Seni Rupa Indonesia Baru yang berawal dari Raden Saleh. Mempelajari periodisasinya, melihat dengan kritis dan tajam caranya berkembang, menimbang dan menumpukkan perkembangan selanjutnya ke situ. Percaya bahwa dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia Baru ini terdapat masalah-masalah yang sejajar bahkan tidak dimiliki buku-buku impor, dan mampu mengisi seni rupa Indonesia dengan masalah yang bisa menghasilkan perkembangan yang bermutu. Mencita-citakan perkembangan seni rupa yang didasari tulisantulisan dan teori-teori orangorang Indonesia, baik kritikus, sejarawan ataupun pemikir. Menentang habis-habisan pendapat yang mengatakan perkembangan seni rupa Indonesia adalah bagian dari sejarah seni rupa Dunia, yang mengatakan seni adalah universal, yang menggantungkan masalah seni rupa Indonesia pada masalah seni rupa di Mancanegara. 5. Mencita-citakan seni rupa yang lebih hidup, dalam arti tidak diragukan kehadirannya, wajar, berguna, dan hidup meluas di kalangan masyarakat.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 197 Seni Kontemporer Indonesia (Nur Yusril Muhammad Isnain) Pengunjung mengamati salah satu karya seni yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (26/7). Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar pameran seni rupa kontemporer “Manifesto”, sebagai gelaran ke-8 dengan mengangkat tajuk Transposisi. (sumber: MUHAMMAD ZAENUDDIN|KATADATA) Kesenian memiliki hubungan erat dengan kebudayaan. Hal tersebut pun ikut membuat kesenian mengikuti perkembangan kebudayaan. Saat ini, paradigma yang sering dibicarakan adalah perkembangan seni rupa kontemporer. Pergeseran modernisme ke postmodernisme, pencampuran modernisme, postmodern, menjadi wajah seni rupa Indonesia di masa Kontemporer hari ini. Kata kontemporer dalam seni ini memiliki makna sebagai suatu yang sedang berlangsung dan tidak memiliki aturan yang mengikat. Apabila melihat seni rupa kontemporer Indonesia saat ini, baik berupa dua dimensi maupun
198 SENI ARSITEKTUR TIMUR tiga dimensi, mayoritas masih mengadopsi pengetahuan barat dan kurang memiliki karakteristik seni rupa Nusantara. Hal ini pun sangat disayangkan, karena kecenderungan mengeksplorasi seni rupa kontemporer Indonesia yang banyak diadopsi dari kesenian global, dimana saat ini masih merujuk pada seni rupa barat. Padahal, apabila seni dan keberagaman budaya Nusantara dengan kontemporer akan menghasilkan kekayaan yang tidak dimiliki bansa lain. Seperti yang diutarakan oleh J. Hopman (1946) “memainkan peranannya dalam melestarikan tradisi atau menggunakan kekayaan tradisi, seni itu akan mati. Tetapi apabila hal yang tradisional digunakan dalam struktur kebudayaan (dalam hal ini seni) akan membentuk kualitas sejati masyarakat, dan akan lahir bentuk seni yang mempunyai nilai yang besar sekali”. Dilihat dari sejarahnya, Sejarah seni rupa Indonesia bertumpu pada seni rupa Barat, pergeseran modernisme ke postmodernisme, pencampuran modernisme, postmodern, seni tradisi dan gaya seni lainnya yang bertumpuk dengan perpaduan karakteristik Bandung, Jakarta, Jogja, Bali dan daerah lainnya, menjadi wajah seni rupa Indonesia di masa Kontemporer hari ini. Mengenai definisi seni rupa kontemporer, Irianto (2009) menyatakan, “Istilah kontemporer tentu saja mengandung pengertian temporal, yaitu semasa dengan kita, atau singkatnya saat ini. Kecenderungan eksperimental pada seni rupa kontemporel Indonesia yang mengadaptasi dari kesenian global atau tiruan seni global pun menjadi karakteristik seni kontemporel di Indonesia dan menyerapnya menjadi seni kontemporel Indonesia. Apabila seni di Indonesia menggabungkan idiom-idiom kesenirupaan budaya tradisi dengan idiom-idiom seni rupa kontemporer, tentunya hal tersebut masih sejalan dengan karakteristik seni saat ini (kontemporer) seperti yang dinyatakan oleh Irianto (2009) yaitu “seni rupa yang plural dan membolehkan apa pun sebagai seni.
SENI ARSITEKTUR TIMUR 199 Dalam tulisannya J.Hopman merinci ciri-ciri perupaan yang ada pada benda budaya yang dapat dikatakan karakteristik Indonesia, ciri-ciri tersebut seperti pada wayang terdapat banyak detail”. J. Hopman menuliskan “Indonesia dapat saja mengadaptasi Barat namun dengan ekspresi identitas Indonesia”. Contoh perupaan karya seni lukis yang memiliki karakteristik seni rupa Nusantara salah satunya terdapat pada karya Haryadi Suadi judul karya Pengantin. Pada karya lukis tersebut menggunakan unsur perupaan tradisi dari wayang kulit, huruf arab yang terdapat pada rajah, perupaan pengantin Jawa, dan penyusunan objekobjek tersebut pada bidang mengikuti kecenderungan perupaan pada artefak budaya nusantara seperti misalnya perupaan pada lukisan kaca Cirebon. Pengantin¥, Haryadi Suadi, Acrylic on Canvas 70 cm x 80 cm, 2002. Dalam perkembangan kebudayaan salah satunya banyak hal yang mulai berubah, mulai dari pola interaksi lingkungan, sistem politik, ekonomi hinga kesenian yang terus ikut berkembang. dalam hal ini tentunya membawa fenomena baru tersendiri, teruntuk “Manekin Juljul” Radi Arwinda, Acrylic on canvas, 170 X 120 cm, 2010 https://www.artnet.com/ artists/radi-arwinda/manekin-juljulPm8_fgpqvB1mQ96fFDEUhg2
200 SENI ARSITEKTUR TIMUR Teruntuk perkembangan seni rupa yang sangat terlihat jelas, perubahan era yang membawa kecirikhasan sebuah karya seni itu terbentuk. Tentunya semua hal itu tak lepas dari masyarakat, dimana masyarakat yang memiliki keterikatan terhadap kebudayaan di Indonesia. Salah satunya dengan mencari sumber data yang tepat dan akurat tentunya, yang nantinya akan di representasikan kedalam kajian seni rupa pada khususnya. Mengulas dan mempresentasikan sebuah kebudayaan yang ada saat ini khususnya di Indonesia, dalam era seni rupa kontemporer ini masih adakah sebuah nilai etis dan estetis yang terus diangkat dan dibawa dalam sebuah karya seni. Mencari tahu budaya visual Nusantara yang masih menjadi acuan para seniman untuk menciptakan sebuah karya seni. Maka perlu adanya reinvensi nilai-nilai baru pada perkembangan budaya visual dinusantara ini, untuk terus melestarikan budaya-budaya yang masih erat terhadap masyarkat dan lingkungan sekitarnya. Banyak perubahan yang terjadi tanpa sepengetahuan masyarakat sendiri, oleh karna itu perlunya refleksi untuk menunjukkan kembali apa yang menjadi identitas sebuah daerah. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kesenian memiliki hubungan erat dengan polah interaksi manusia, dari polah interaksi manusia tersebutlaha menciptakan lingkungan hidup, dimana lingkungan hidup memiliki hubungan erat dengan masyarakat, dan dari masyarakat tersebutlah melahirkan kebudayan-kebudayan yang menjadi identitas diri bagi sebuah daerah. Budaya yang diwariskan dari generasikegenerasi, Terbentuknya sebuah kebudayaan tersebut akhirnya melahirkan sebuah wujud peninggalan yang berupa, nilai budaya, sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik. Terutama, peninggalan kebudayaan fisik yang merupakan wujud peninggalan budaya secara material atau berupa visual yang berbentuk fisik, yang sifatnya nyata dan konkret.