BAB I IHWAL KESUSASTRAAN DAN PENELITIAN SASTRA A. INDIKATOR 1. Mahasiswa dapat memahami hakikat sastra 2. Mahasiswa dapat memahami estetika bahasa dalam karya sastra 3. Mahasiswa dapat memahami peranan sastra dalam kehidupan B. MATERI 1. Hakikat Sastra Karya sastra telah mengalami perkembangan pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Secara langsung maupun tidak langsung, perkembangan teknologi telah memengaruhi perkembangan karya sastra. Banyak karya sastra yang tercipta dengan ragam tema yang lebih bervariasi misalnya sosial budaya, ekonomi, politik, teknologi, kasih sayang dan sebagainya. Selain itu, genre sastra telah
mengalami perkembangan yakni puisi, pantun, drama, cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, komik, drama, sandiwara, dan sebagainya. Sebelum lebih jauh mengenal sastra, kita pahami dahulu hakikat karya sastra. Karya sastra telah didefinisikan oleh para ahli dengan berbagai pengertian dengan berbagai bahasa. Menurut Teeuw (dalam Winarni, 2013:1) bahwa kata sastra berasal dari kata sas- dan –tra. Kata sas- yang mengandung arti memberikan petunjuk atau mengarahkan, dan kata –tra yag mengandung arti sarana. Kata sas- dan –tra merupakan diambil dari bahasa Sansekerta. Pengertian sastra menurut Teeuw mengandung makna bahwa sastra merupakan sarana untuk mengarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan. Untuk itu, sastra mengandung pengalaman dan pengajaran mengenai kehidupan. Sedangkan menurut Wellek dan Warren (2014:3) bahwa sastra adalah sebuah kegiatan kreatif yang menghasilkan karya seni. Definisi tersebut bermakna bahwa sastra merupakan seni. Oleh karena, seni dan sastra merupakan dua karya yang mengandung estetika. Perbedaannya terdapat pada media publikasi, apabila seni menggunakan media benda sedangkan sastra menggunakan media bahasa. Unsur estetika ini yang melatarbelakangi sastra masuk menjadi bagian dari seni. Selain
itu, media bahasa juga melatarbelakangi sastra menjadi bagian dari kebahasaan. Sastra tidak sekedar berorientasi pada estetika bahasa, lebih jauh dari estetika bahasa. Sastra juga banyak mengungkapkan mengenai rasa, ekspresi, pengalaman dan pembelajaran. Sastra lebih banyak bersinggungan dengan kehidupan bermasyarakat. Sehingga sastra menjadi suatu karya yang menarik yang karena mampu mengungkapkan ekspresi, gagasan dan perasaan melalui karya dengan imajinasi dan kreatifitas diri. Sisi lain dari karya sastra yang menarik karena karya sastra sangat erat kaitannya dengan pembelajaran dan pengalaman hidup. 2. Estetika Bahasa dalam Karya Sastra Pembelajaran dan pengalaman hidup dalam karya sastra terbungkus oleh bahasa sastra yang mengandung estetika. Pemakaian bahasa yang estetik ini menarik minat penikmat sastra sehingga para penikmat sastra mampu mengembangkan imajinasi ketika bercengkraman dengan karya sastra. Di dalam karya sastra, gramatika bahasa, kohesi dan koherensi bahasa terkadang diabaikan demi memenuhi perasaan dan ekspresi dalam membungkus bahasa agar mengandung unsur estetika. Pemakaian unsur estetika dalam menciptakan karya sastra
setiap pengarang berbeda yang dapat mewujudkan ciri khas dan gaya bahasa tertentu. Pemakaian estetika bahasa dalam karya sastra merupakan kebebasan pengarang dalam mengolah bahasa yang sering disebut dengan licentia poetarum. Kebebasan ini mengesampingkan gramatika bahasa dam cenderung menyimpang dari kaidah kebahasaan untuk mendapatkan nuansa estetika. Selain itu, ada yang menyebutnya licentia poetica yaitu kebebasan yang dapat dilakukan oleh seminam untuk melanggar aturan tata bahasa atau kaidah berbahasa (Ratna, 2011:145). Namun, penyimpangan bahasa ini mengandung makna yang memerlukan interpretasi yang mendalam agar penikmat sastra mampu mengetahui isi dari karya sastra dan mampu menikmati karya sastra secara keseluruhan. Sudjiman mengungkapkan bahwa bahasa sastra memiliki 6 fungsi sebagai ciri karya sastra antara lain: a. Fungsi emotif yaitu fungsi yang berkaitan dengan sikap pengarang terhadap karya yang dihasilkan. b. Fungsi konatif yaitu fungsi yang berkaitan dengan perasaan penikmat sastra terhadap karya sastra.
c. Fungsi puitik yaitu fungsi yang berkaitan dengan kebahasaan yang mengandung nilai estetika dan berkaitan dengan diksi dan gaya bahasa. d. Fungsi patik yaitu fungsi yang berkaitan sastra sebagai alat berkomunikai anatara pengarang dengan penikmat sastra. e. Fungsi metalingual yaitu fungsi yang berkaitan dengan penggunaan bahasa sebagai kode bahasa. f. Fungsi referensial yaitu fungsi yang berkaitan dengan hubungan antara pengarang dengan penikmat karya sastra (Winarni, 2013:9). Bahasa dalam sastra yang mengedepankan unsur estetika memberikan kebebasan pengarang untuk mencipatkan gaya bersastra. Tiap pengarang memiliki gaya bersastra tersendiri. Gaya ini dipengaruhi oleh beberapa hal yakni: a. Diksi atau pemilihan kosa kata yang berbeda dalam menciptakan karya sastra, b. Pola penulisan karya sastra yang memengaruhi panjang pendeknya kalimat dalam suatu karya sastra, c. Di dalam puisi, tipografi atau bentuk puisi memengaruhi gaya bersastra pengarang misalnya puisi-puisi karya Soetarjo yang sebagia besar merupakan puisi kontemporer,
d. Penggunaan bahasa kias dalam karya sastra. 3. Peranan Sastra dalam Kehidupan Sastra tumbuh dan berkembang sejak zaman dahulu ketika manusia belum mengenal tulisan. Pada zaman itu sastra berkembang secara turun temurun melalui lisan. Sedangkan ketika manusia telah mengenal tulisan, karya sastra diturunkan dan diabadikan melalui tulisan. Penciptaan karya sastra ditujukan sebagai penyampaian pesan dan gagasan melalui estetika bahasa. Pesan dan gagasan yang disebarkan melalui karya sastra banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Maka, melalui karya sastra seseorang mampu mempelajari makna dan tujuan kehidupan. Sering kali kita mendengar istilah sastra merupakan cerminan realitas kehidupan. Istilah tersebut menggambarkan bahwa karya sastra mengandung pembelajaran dan pengalaman mengenai kehidupan. Hal ini merupakan upaya pengarang dalam menyampaikan pesan-pesan mengenai kehidupan. Sastra sebagai cerminan kehidupan merupakan refleksi pengarang mengenai problematika kehidupan masyarakat. Di dalam mengajarkan mengenai pembelajaran dan pengalaman dalam kehidupan diperlukan penggambaran kehidupan yang dikemas dalam karya sastra.
Damono (dalam Sangidu, 2004:44) berpendapat bahwa istilah karya sastra merupakan cerminan kehidupan masih kabur karena masih disalahtafsirkan. Beberapa hal yang menjadi perhatian Damono yaitu: a. Fenomena yang diungkapkan dalam suatu karya sastra pada saat karya sastra tersebut diciptakan belum tentu berlaku dalam kaitannya mencerminkan kehidupan masyarakat tersebut karena terjadinya fenomena dan penciptaan karya sastra memiliki waktu yang berbeda. b. Kecenderungan dan sifat khusus yang dimiliki oleh pengarang dapat memengaruhi fakta sosial antara realitas dan karya sastra. c. Genre kesusastraan terkadang hanya mencerminkan kelompok sosial tertentu, bukan cerminan sosial masyarakat secara keseluruhan. d. Karya sastra yang mencerminkan suatu fenomena sosial masyarakat secara detail belum tentu dapat dipercaya sebagai cerminan masyarakat karena pengarang mengolahnya dengan cara mencampukan imajinasi pengarang dan realitas sosial masyarakat. Akan tetapi peranan sastra dalam kehidupan sangat penting, mengingat sastra sebagai cerminan kehidupan yang mampu memberikan pembelajaran mengenai kehidupan.
Terlebih pada zaman globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian lebih. Karya sastra mampu memberikan pengetahuan yang terbungkus dalam imajinasi. Maka, karya sastra harus mampu membentuk pribadi penikmat sastra menjadi pribadi yang positif, berwawasan luas dan mampu mengatasi problematika kehidupan. Berkaitan dengan hal tersebut, sastra harus mampu menghadirkan segala sisi kehidupan. Segala aspek kehidupan dapat tergambarkan misalnya politik, sosial, perekonomian, moral, budaya, lingkungan, sejarah dan sebagainya.
BAB II KESUSASTRAAN A. INDIKATOR 1. Mahasiswa dapat memahami puisi 2. Mahasiswa dapat memahami prosa 3. Mahasiswa dapat memahami drama B. MATERI 1. Puisi a. Ihwal Puisi Karya sastra yang memiliki bahasa paling khas yaitu puisi. Bahasa dalam puisi mengandung unsur estetika yang tinggi dan membutuhkan penafsiran yang mendalam. Selain itu, puisi menggunakan bahasa yang padat, terikat dan penuh makna sehingga diperlukan penfasiran mendalam agar pesan dalam puisi dapat tersampaikan kepada penikmat sastra. Penentuan makna puisi tidak hanya sebatas pemaknaan kata-
kata yang terbaca dalam puisi, namun harus mendalami puisi secara genetika. Puisi merupakan karya sastra yang diisajikan dengan memadatkan bahasa, mempersingkat bahasa dan pemberian irama dengan memadukan bunyi serta pemilihan kata yang imajinatif (Waluyo, 2003:1). Kata-kata dalam puisi yang dipadatkan mempunyai kekuatan makna yang mendalam. Selain itu, kata yang padat memberikan estetika bahasa tersendiri yang mampu memberikan magnet pada penikmat sastra. Estetika bahasa dalam puisi berbeda dengan karya sastra yang lain, karena pengarang memiliki kebebasan dalam memadatkan bahasa yang berbeda dengan karya sastra lain yang lebih terurai penggunaan bahasanya. Pemahaman makna terhadap puisi harus berdasarkan pada ciri khas yang muncul dalam suatu puisi dan beberapa unsur yang membedakan puisi yang satu dengan yang lainnya. Secara fisik yang terlihat, puisi berbeda dengan karya sastra lain misalnya prosa, drama dan sebagainya. Pemikiran dan perasaan tertentu dapat diungkapkan melalui prosa dan drama, namun pemikiran dan perasaan yang lain hanya dapat diungkapkan melalui puisi (Waluyo, 2010:3). Apabila membedakan puisi, prosa dan drama secara tipografi sangat menonjol. Ciri khas puisi secara tipografi yaitu
disusun secara berbaris dengan memadatkan kalimat sehingga kalimat yang disajikan terkesan pendek-pendek. Namun, kalimat yang dapat tersebut apabila disajikan maka membentuk makna yang panjang. Berbeda dengan prosa yang disajikan dengan kata-kata yang panjang dan drama yang disajikan dengan menggunakan dialog-dialog. b. Genre Puisi Puisi dari zaman dahulu telah berkembang cukup pesat seiring dengan perkembangan zaman. Genre puisi menurut Waluyo (2010:156-166) dibagi menjadi sepuluh, antara lain: 1) Puisi Naratif, Lirik dan Deskriptif Puisi naratif, lirik dan deskriptif dikelompokkan berdasarkan cara pengungkapan puisi. Definisi puisi naratif yaitu puisi yang berisi mengenai cerita. Puisi naratif yang banyak dikenal yaitu romansa, balada dan syair. Romansa yaitu puisi yang menggunakan bahasa romantic, sedangkan balada yaitu puisi yang bercerita mengenai keperkasaan tokoh, atau orang yang menjadi perhatian masyarakat. Puisi-puisi karya Rendra banyak yang bergenre balada dan romansa. Puisi lirik merupakan puisi yang mengungkapan gagasan. Puisi lirik dibagi menjadi tiga yaitu elegi, ode dan serenada. Elegi yaitu puisi yang mengungkapkan kesedihan. Ode yaitu puisi yang berisi mengenai pujian. Sedangkan
serenada yaitu puisi yang berisikan percintaan yang dapat dinyanyikan. Puisi deskriptif yaitu puisi mengenai penggambaran kesan mengenai keadaan dan perbendaan yang mampu menarik perhatian. Puisi deskriptif dibedakan menjadi tiga yaitu puisi satire, kritik sosial dan puisi impresionistik. Puisi satire yaitu puisi yang mengungkapkan ketidakpuasan mengenai sesuatu yang diungkapkan melalui sindiran yang tidak sesuai dengan keadaan. Kritik sosial yaitu puisi yang diungkapkan dengan pengungkapan ketidaksukaan terhadap sesuatu yang diungkapkan dengan cara kritikan. Puisi impresionistik yaitu puisi yang mengungkapkan kesan terhadap penyair. 2) Puisi Kamar dan Puisi Auditorium Puisi kamar yaitu puisi yang diperuntukkan kepada diri sendiri. Puisi auditorium yaitu puisi yang dibacakan pada auditorium. Contoh puisi auditorium yaitu puisi-puisi karya W.S Rendra. 3) Puisi Fisikal, Platonik dan Metafisikal Puisi fisikal merupakan jenis puisi yang menonjolkan sisi fisik puisi yang bersifat realitas. Puisi platonik yaitu puisi yang berisikan mengenai kejiwaan tokoh. Puisi metafisikal yaitu puisi yang mengajak penikmat sastra untuk merenungi arti
kehidupan. Contoh puisi metafisikal yaitu puisi karya Hamzah Fansuri. 4) Puisi Objektif dan Subjektif Puisi objektif yaitu puisi yang mengungkapkan diri penyair secara personal. Sedangkan puisi subjektif merupakan puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar personal penyair. 5) Puisi Konkret Puisi konkret yaitu secara fisik memberikan kesan indah yang dilihat secara fisik puisi. Puisi konkret disajikan oleh Sutardji Calzoum Bachri melalu bentuk tipografi yang unik. Contoh puisi karya Sutardji yaitu Tragedi Winka dan Sihka. 6) Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis Puisi diafan yaitu puisi yang lebih banyak menggunakan bahasa keseharian dan minim bahasa khias. Puisi diafan dicontohkan oleh puisi anak-anak yang masih pada tahap pembelajaran. Sebaliknya, puisi gelap yaitu puisi yang terlalu banyak menggunakan bahasa khias sehingga puisi sulit untuk dimaknai. Puisi Prismatis yaitu puisi yang menyeimbangkan antara puisi diafan dan gelap sehingga penikmat sastra tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit dalam memaknai puisi. 7) Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif Puisi parnasian merupakan puisi yang dihasilkan berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan dihasilkan berdasarkan
ekspresi perasaan. Puisi-puisi yang bertemakan sosial, lingkungan dan ekonomi umumnya merupakan puisi parnasian. Berbeda dengan puisi inspiratif yaitu puisi yang diciptakan berdasarkan ekspresi perasaan. Oleh karena, tujuan puisi diciptakan yaitu untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan pengarang. 8) Stansa dan Oktaf Stansa merupakan puisi yang memiliki aturan tersendiri, puisi stanza hanya terdapat 8 baris. Sedangkan puisi oktaf yaitu puisi yang dapat berisi 16 atau berisi 24 baris dengan masingmasing bait berisi 8 baris. 9) Puisi Demonstrasi dan Pamflet Puisi demonstrasi dan pamflet memiliki kesamaan yaitu keduanya berisi mengenai kritik sosial, aksi protes, dan pembelaan terhadap penindasan. Namun, perbedaannya apabila puisi demonstrasi merupakan puisi yang melukiskan emosi dan perasaan dalam suatu kelompok dengan menggunakan katakata ironi. Sedangkan puisi pamflet merupakan puisi yang menggambarkan protes suatu kelompok menggunakan bahasa sarkasme. 10) Alegori Puisi alegori sudah dapat ditebak bahwa puisi ini merupakan puisi yang menggunakan bahasa dengan majas
alegori. Puisi alegori berisi mengenai nasihat-nasihat mengenai kehidupan. c. Aliran-Aliran Sastra dalam Puisi Aliran-aliran dalam sastra telah banyak dikenal sejak dahulu sesuai dengan perkembangan zaman kala itu. Suatu aliran dalam puisi dapat muncul dalam suatu masa karena menjadi sentral para pengarang dalam menciptakan puisi. Waluyo (2010:36-53) membagi aliran-aliran sastra yang menjadi sentral pengarang dalam menciptakan puisi antara lain: 1) Romantik Aliran sastra romantik menggambarkan kehidupan dalam sisi perasaan yang dalam dan mengesampingkan sisi rasional. Apabila kehidupan yang digambarkan adalam kebahagiaan, maka sastra diciptakan dengan sisi kebahagiaan dengan bahasa metaphor dan hiperbolis. Misalnya, puisi yang bertemakan kecintaan terhadap lawan jenis, maka penyair melukiskan keindahan yang luar biasa terhadap sosok yang dicintai. Sedangkan, penyair aliran romantik menciptakan puisi bertema kesedihan maka kesedihan yang digambarkan menggunakan kata-kata yang dapat membuat air mata bercucuran. Penyair yang menciptakan puisi dengan aliran romantic antara lain Muhammad Yamin, Amir Hamzah, J.E
Tatengkeng, Ramadhan K.H Kirdjomuljo, dan W.S Rendra (Waluyo, 2010:37). Puisi karya-karya para penyair tersebut dilukiskan menggunakan bahasa yang dapat menguras emosional dan perasaan apabila dibaca dengan penuh penghayatan. Buah Rindu 2 (Karya Amir Hamzah) Datanglah engkau wahai maut lepaskan aku dari nestapa engkau lagi tempatku berpaut di waktu ini gelap gulita. Kicau murai tiada merdu pada beta bujang Melayu himbau pungguk tiada merindu dalam telingaku seperti dahulu. Tuan aduhai mega berarak yang meliputi dewangga raya berhentilah tuan di atas teratak anak langkat musafir lata.
Sesaat sekejap mata beta berpesan padamu tuan aduhai awan arah menatah tuan berjalan di negeri manatah tuan bertahan? Sampaikan rinduku pada adinda bisikkan rayuku pada juita liputi lututnya muda kencana serupa beta memeluk dia. Ibu, konon jauh tanah Selindung tempat gadis duduk berjuntai bonda hajat hati memeluk gunung apatah daya tangan tak sampai. Elang, Rajawali burung angkasa turunlah tuan barang sementara beta bertanya sepatah kata adakah tuan melihat adinda? mega telahku sapa mergastua telahku tanya
maut telahku puja tetapi adinda manatah dia! Puisi karya Amir Hamzah dengan judul Buah Rindu 2 merupakan puisi yang diambil dari kumpulan puisi Amir Hamzah dengan judul Buah Rindu. Puisi ini berisi mengenai kerinduan seseorang kepada gadis pujaannya, namun ia tidak mampu untuk bertemu dengan gadis pujaannya tersebut. Puisi tersebut digambarkan dengan kata-kata yang menyayat hati dan menguras emosi. Puisi romantic lain yang menunjukkan aliran romatik yaitu puisi karya W.S Rendra berjudul Sajak Seorang Tua untuk Istrinya menggambarkan keindahan saat usia muda yang dikenang pada saat orang tersebut telah menjadi tua. Berikut ini puisi karya Rendra: Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya (Karya W.S Rendra) Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu. Sementara kaukenangkan encokmu kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang. Dan juga masa depan kita yang hampir rampung dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita. Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan. Suka duka kita bukanlah istimewa kerna setiap orang mengalaminya. Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh. Hidup adalah untuk mengolah hidup, bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samodra, serta mencipta dan mengukir dunia. Kita menyandang tugas, kerna tugas adalah tugas. Bukannya demi sorga atau neraka. Tetapi demi kehormatan seorang manusia. Kerna sesungguhnya kita bukan debu meski kita telah reyot, tuarenta, dan kelabu. Kita adalah kepribadian dan harga kita adalah kehormatan kita. Tolehlah lagi ke belakang ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya. Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna. Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita. Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda. Dan kenangkanlah pula bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita. Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara. Bukan kerna tersenyum adalah suatu kedok.
Tetapi kerna tersenyum adalah suatu sikap. Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan. Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna! Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma. Kita menjadi goyah dan bongkok kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita tapi bukan kerna kita telah terkalahkan. Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara kaukenangkan encokmu kenangkanlah pula bahwa kita ditantang seratus dewa. 2) Realisme Aliran realisme berasal dari kata real yang berarti nyata. Aliran ini dilukiskan sastra secara nyata oleh pengarang. Di dalam aliran ini, pengarang menggambarkan sesuatu dengan bahasa yang sopan dan halus. Kata-kata hiperbolis dan metafor sangat dihindari karena dapat memberikan kesan berlebihan pada karya sastra. Puisi aliran realism ini menggambarkan objek sesungguhnya dan sejelas-jelasnya tanpa memberikan rasa berlebihan. Penyair yang menciptakan puisi realism yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin,
SItor Situmorang, Subagio Sastrowardojo dan sebagainya (Waluyo, 2010:41). Surat dari Ibu (Karya Asrul Sani) Pergi ke dunia luas, anakku sayang pergi ke hidup bebas! Selama angin masih angin buritan dan matahari pagi menyinar daun-daunan dalam rimba dan padang hijau. Pergi ke laut lepas, anakku sayang pergi ke alam bebas! Selama hari belum petang dan warna senja belum kemerah-merahan menutup pintu waktu lampau. Jika bayang telah pudar dan elang laut pulang ke sarang angin bertiup ke benua Tiang-tiang akan kering sendiri dan nakhoda sudah tak pedoman, boleh engkau datang padaku Kembali pulang, anakku sayang kembali ke balik malam! Jika kapalmu telah rapat ke tepi Kita akan bercerita “Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.” Doa
kepada pemeluk teguh (Karya Chairil Anwar) Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling 3) Realisme sosial Aliran realisme sosial sejatinya berlatarbelakang sama dengan aliran realisme. Namun, aliran ini lebih mengerucut pada fenomena sosial rakyat kalangan bawah misalnya petani dan buruh. Puisi realisme sosial diciptakan untuk membela dan
memprotes berbagai tindakan kalangan atas yang cenderung semena-mena dengan kalangan petani dan buruh. Aliran ini sempat berkembang di Indonesia yaitu pada tahun 1965 ketika LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) berkuasa. Beberapa penyair LEKRA melakukan kritik sosial yang melukiskan penderitaan petani dan buruh (Waluyo, 2010:44). Berikut ini contoh puisi realisme sosial karya Rendra. Kecoa Pembangunan (Karya W.S Rendra) Kecoa pembangunan Salah dagang banyak hutang Tata bukunya ditulis di awan Tata ekonominya ilmu bintang Kecoa..kecoa…ke…co…a….. Dengan senjata monopoli Menjadi pencuri Kecoa…kecoa..ke…co…a… Dilindungi kekuasaan Merampok negeri ini Kecoa, kecoa pembangunan Ngimpi ngelindur disangka pertumbuhan Hutang pribadi dianggap hutang bagsa Suara dibungkam agar dosa berkuasa Kecoa..kecoa..ke..co…a…. Stabilitas, stabilitas katanya Gangsir Bank
Gangsir Bank, kenyataannya Kecoa..kecoa…ke..co….a… Keamanan, ketenangan katanya Marsinah terbunuh, petani digusur, kenyataannya Kecoa pembangunan Kecoa bangsa dan Negara Lebih berbahaya ketimbang raja singa Lebih berbahaya ketimbgan pelacuran Kabut gelap masa depan Kemarau panjang bagi harapan Kecoa…kecoa…ke…co….a.. Ngakunya konglomerat Nyatanya macan kandang Ngakunya bisa dagang Nyatanya banyak hutang Kecoa…kecoa…ke…co..a… Paspornya empat Kata buku dua versi Katanya pemerataan Nyatanya monopoli Kecoa…kecoa…ke…co..a… Lagu Orang Usiran Misalkan, kota ini punya penduduk sepuluh juta ada yang tinggal dalam gedung, ada yang tinggal dalam gua tapi tidak ada tempat buat kita, sayangku, tapi tidak ada tempat buat kita.
Pernah kita punya negri, dan terkenang rayu lihat dalam peta,akan kau ketemu di situ sekarang kita tidak bisa ke situ, sayangku, sekarang kita tidak bisa ke situ. Di taman kuburan ada sebatang pohon berdiri tumbuh segar saban kali musim semi pasjalan lama tidak bisa tiru, sayangku, pasjalan lama tidak bisa tiru. Tuan Konsol hantam meja dan berkata: “Kalau tidak punya pasjalan, kau resmi tidak ada.” Tapi kita masih hidup saja, sayangku, tapi kita masih hidup saja. Datang pada satu panitia, aku ditawarkan korsi dengan hormat aku diminta supaya datang setahun lagi tapi ke mana kita pergi ini hari, sayangku, ke mana kita pergi ini hari. Tiba di satu rapat umum; pembicara berdiri dan kata: “Jika mereka boleh masuk, mereka colong beras kita.” Dia bicarakan kau dan aku, sayangku, dia bicarakan kau dan aku. Kukira kudengar halilintar di langit membelah adalah Hitler di Eropah yang bilang: “Mereka mesti punah.” ah, kitalah yang dimaksudnya, sayangku, ah kitalah yang dimaksudnya. Kulihat anjing kecil dalam baju panas terjaga
kulihat pintu terbuka dan kucing masuk begitu saja tapi bukan Yahudi Jerman, sayangku, tapi bukan Yahudi Jerman. Turun ke pelabuhan dan aku pergi berdiri ke tepi kelihatan ikan-ikan berenang merdeka sekali cuma sepuluh kaki dari aku, sayangku, cuma sepuluh kaki dari aku. Jalan lalu hutan, terlihat burung-burung di pohon tidak punya ahli-politik bernyanyi ria mereka konon mereka bukanlah para manusia, sayangku, mereka bukanlah para manusia. Kumimpi melihat gedung yang bertingkat seribu berjendela seribu dan berpintu seribu tidak ada satupun kita punya, sayangku, tidak ada satupun kita punya. Berdiri di alun-alun besar ditimpa salju sepuluh ribu serdadu berbaris datang dan lalu mereka mencari kau dan aku, sayangku, mereka mencari kau dan aku. (diterjemahkan dari puisi W.H. Auden, Song XXVIII dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45) * ada dua versi terjemahan Song XXVIII dengan redaksi yang sedikit berbeda di buku ini. 4) Ekspresionisme Puisi ekspresionisme yaitu aliran sastra dalam penciptaan karya sastra, penyair mengungkapan ekspresi diri secara apa
adanya dan tidak berlebihan. Penyair tidak banyak menggunakan kata khias sehingga puisi yang dihasilkan terasa natural dan pembaca dapat memahami makna puisi dengan mudah. Banyak pengarang yang beraliran ekspresionisme karena aliran ini mudah untuk diterapkan. Hujan Bulan Juni (Karya Sapardi Djoko Damono) tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Aku (Karya Chairil Anwar) Kalau sampai waktuku „Ku mau tak seorang „kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi 5) Impresionisme Puisi impresionisme merupakan kebalikan dari puisi ekspresionisme. Puisi ini mengungkapkan perasaan dan gagasan penyair secara objektif dan menimbulkan kesan mendalam bagi penikmat sastra. Aliran impresionisme dianut oleh penyair Sanusi Pane, Abdul Hadi, Mahatmanto, dan Hartoyo Andangjoyo (Waluyo, 2010:49). Berikut ini contoh puisi aliran impresionisme: Syiwa-Nataraja Kepada R. Soeratmaka (Karya Sanusi Pane) Pada perjalananku melalui Langka purbakala, Mengunjungi tempat keramat, dengan harapan bernyala Di dalam hati, di bumi India yang mulia, Yang dari dulu sampai ke akhir zaman dalam dunia Tinggal kuat dan sakti dan termasyhur, aku melihat Di Sailan, tempat zaman telah silam berkilat-kilat. Astana Rawana sebagai bulan purnama raya.
Dan di negara Godawari dan Krisjna, Nataraja, Mahadewa sebagai Penari, Sungai Mahanadi, Dengan meninggalkan India Selatan, kuseberangi, Dan mataku termenung memandang Pataliputra, Tanah daratan, tempat Ayodia dan Hastinapura. Mediadesa, kulalui dan aku berdiri, terkenang, Penuh rindu dendam akan waktu yang silam, dipandang Kuruksetra. Aku berada di Sarnath Negara, Tempat Buda pertama kali mengeluarkan sabda. Di Agra dan Fatehpur Sikri, di tepi Jamna, Aku mengherani gedung marmar yang indah tidak terkata. Dalam taman dan astana Taj Mahal, Mutiara Timur, Tempat Syah Jahan dan Mumtaz-i-Mahal bersanding berkubur, Aku bermimpi mengenang cinta. O, jiwa India Kupandag gilang-gemilang, kurasa mahamulia. Tetapi, yang kuingat seperti yang paling utama, Ialah, ketika aku, setelah aku sejurus lama, Memandang naiknya Surya Dewa ke cakrawala,
Dengan mulia raya, cerlang-cemerlang, bernyalanyala. Di tepi Gangga yang sakti, melutut dalam Samadi, Dalam candi Kencana, yang berdiri di jantung hati Tanah Hindustan. Aku terkenang akan Nataraja, Yang kuherani denga mata yang bercaya-cahaya Di Ratnadwipa dan India Daksina: Syiwa menari Dalam lingkungan api bernyala-nyala, yang tahadi Belum pernah aku dapat, biarpun aku sudah Memandang hampir segala yang indah, yang belum punah Oleh zaman dan tangan yang ganas, saksi bercaya Dari abad kemegahan, abad yang kaya raya. Di Indonesia, tanah airku, Natesa berdiri Di atas buta, tangan kanan memegang gendang, kiri Memegang api bernyala-nyala. Sikap badan, tangan
Dan kaki, wajah muka amat permainya: anganangan Keindahan. Genta candi, merdu, bersahut-sahutan Dan aku merasa sebagai berada dalam lautan Kedamaian, tiba-tiba „ku memandang dengan jiwa, Menari dalam api dunia terang benderang, Syiwa. Dalam dirinya bergerak dan beredar, tidak terperi Berapa banyaknya, bersinar-sinar, berseri-seri, Matahari, bulan dan bintang, semua mengikut bunyi Gendang yang mahamerdu dan nyaring, yang tiada sunyi Dari memenuhi seantero dunia, Alam yang muram Melayang ke dalam hati teratai api dan suram Diganti sinar caya yang terang benderang dan alam Kembali beredar dalam dunia, menari dalam Pesta cahaya dan suara. Tiap alam berhati
Sendiri, emas yang bersinar-sinar, teratai api Yang kembang, makhluk yang indah permai, yang gilang-gemilang Masuk ke dalam, keluar kembali sebagai bintang, Terbang bernyanyi, antara alam yang silang bersilang. Beradu kebagusan, banyaknya tiada terbilang. “Pandang kebagusan dunia, o putera Duka Nestapa,” Kedengaran satu suara yang halus-merdu berkata, “Tujuan sekalian ada dalam diri sendiri, Tidak ada asal tujuan, pangkal ujung, yang diberi Dari luar, apa yang kau pandang terjadi sekarang, Tidak ada waktu dulu dan nanti, semua barang Sudah ada, ada dan akan ada dalam sebentar Itu jua. Supaya segala makhluk tahu benar, Bahwa ia harus turut menari dalam pesta caya. Agar berbahagia, ia harus dalam api bernyala Membakar segala ikatan buta yang dikarangnya. Dibikinnya sendiri. Api memusnakan kebatannya. Dan jiwa merasa siksa, tetapi, lihat, ia terbang Sebagai dewa, indah permai ke dalam cuara terang,
Tetapi belum ia merdeka, berkali-kali lagi. Ia msuk untuk membersihkan diri ke dalam api, Sehingga akhirnya ia sadar, bahwa Nataraja Ia sendiri, bahwa dunia semata tidak ada Di luar dirinya. Jalan ringkas, putra Nestapa. Mencapai kemerdekaan ini, pandanglah dengan nyata.” Seorang orang duduk termenung seorang diri, Matanya muram, seperti dukacita dunia ini Sekaliannya dirasanya. Pandangannya menyayat Hatiku, membakar jiwaku, membuat „ku teringat Akan sengsara kemanusiaan dan malapetaka. Diri sendiri. O, „ku sudah pernah memandang mata Yang demikian rupanya itu di alam jasmani, Mata, yang menyuruh daku merdeheka atau mati, Api bernyala-nyala datang mengelilingi dia, Bertambah tinggi, bertambah besar, dan antero dunia Tercengang, karena ia tinggal samadi, diam semata. Akhirnya dalam kalbu hati dunia ia bertakhta. Sekalian alam berhenti beredar memberi hormat.
Jiwanya makin lama makin lebar dan pada saat Ia berdiri dari kalbu hati dunia, segala alam Segala matahari, bulan dan bintang ada dalam dirinya: Ia satu dengan Nataraja, Mahadewa, Ialah dia: seseorang yang mencari sudah merdeka! “O, putra Duka Nestapa, yang berjalan dari candi Ke candi, dari negeri ke negeri, mencari Kelupaan dan penglipur buat hatimu, yang dibelah Oleh malapetaka dan keinginan, yang belum pernah Bisa diobati,barang suatu, ketahuilah, Bahwa Bah‟gia berada dalam hatimu. Satuilah. Tari segala alam, masukilah Api bernyala, Sehingga engkau akhirnya jadi Syiwa-Nataraja.” Teratai Kepada Ki Adjar Dewantara (Karya Sanusi Pane) Dalam kebun di tanah airku Tumbuh sekuntum bunga teratai:
Tersembunyi kembang indah permai, Tidak terlihat orang yang lalu. Akarnya tumbuh di hati dunia, Daun berseri Laksmi mengarang: Biarpun ia diabaikan orang, Seroja kembang gemilang mulia. Teruslah, o Teratai Bahagia, Berseri di kebun Indonesia, Biar sedikit penjaga taman. Biarpun engkau tidak dilihat Biarpun engkau tidak diminat, Engkaupun turut menjaga Zaman. 6) Imajisme Puisi aliran imajisme merupakan puisi yang diungkapkan menggunakan bahasa yang jelas dan bahasa keseharian. Puisi ini digambarkan seperti prosa karena menggunakan bahasa keseharian. Puisi diungkapkan secara sederhana sehingga penikmat sastra mampu memahami dengan mudah. Perahu Kertas
(Karya Sapardi Djoko Damono Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. “Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalaukalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.” Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo (Karya W.S Rendra)