2. Menjelaskan dan mendeskripsikan hedonisme yang ditemukan dalan novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq. 3. Menjelaskan dan mendeskripsikan relasi hedonisme yang ditemukan dalan novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq dengan realitas sosial yang terdapat dalam masyarakat. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu: 1. Menjadikan bahan pertimbangan dalam pengajaran sastra. 2. Memberikan kontribusi terhadap perkembangan keilmuan sastra khususnya pada sosiologi sastra.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, PENELITIAN RELEVAN, DAN KERANGKA BERFIKIR A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Novel Kata novel dari bahasa Latin yaitu novellus yang berarti “baru” (Tarigan, 2015:167). Pemakaian kata baru dalam novel karena novel merupakan jenis sastra baru pada zamannya. Pada waktu itu, pengarang lebih mengenal sastra tradisional seperti dongeng, hikayat, dan sebagainya. Sastra tradisional tersebut cenderung alur pendek, tokoh sedikit dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam bercerita. namum berbeda dengan novel yang alur panjang, tokoh yang ditampilkan banyak, dan membutuhkan waktu lama dalam penceritaan. Menurut The American Collage Dictionary bahwa novel merupakan cerita prosa fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan tokoh, gerak dan adegan kehidupan nyata yang representatif dalam sebuah alur yang kacau dan kusut (Tarigan, 2015:167). Novel diciptakan dengan alur dan konflik yang panjang, tokoh yang banyak, dan kata-kata yang dirangkai dalam 100 halaman. Jadi dapat diseumpulkan bahwa novel merupakan jenis prosa fiktif yang memiliki panjang sekitar 100
halaman, dengan konflik yang panjang dan tokoh yang dilukiskan dengan gerak serta dibalut dalam alur yang kacau. 2. Hedonisme Hedonisme merupakan sebuah filsuf yang menyatakan bahwa tujuan kehidupan hanya untuk kesenangan (Sugono, 2008:531). Gaya hidup bersenang-senang merupakan pengaruh dari budaya barat yang menyukai keglamouran dan kemewahan. Sehingga muncul aliran yang dinamakan dengan hedonisme. Menurut Mangunhardja (2004:90) bahwa kata hedonisme berasal dari kata hedone yang berarti kenikmatan. Maka, simpulan pengertian dari hedonisme yaitu suatu aliran yang memiliki tujuan hidup yaitu hanyak untuk kesenangan dan kenikmatan diri. Gaya hidup hedonis tidak hanya terbentuk karena strata sosial tinggi yaitu kaum borjuis namun pada saat ini telah merambah kaum-kaum proletar. Selain itu, gaya hidup hedonis juga sangat digandrungi para remaja. gaya hidup hedonis merupakan budaya populer merupakan dinamika kehidupan remaja. menurut Dominic Strinati bahwa budaya populer lahira karena budaya konsumen yang didukung dengan perkembangan teknologi (Dewojati, 2010:17). Kondisi masyarakat merupakan salah satu penyebab bangkitnya modernisasi. Oleh karena, kemajuan pengetahuan dan
teknologi yang membuat manusia menjadi manusia yang hanya menginginkan kemudahan (instan). Maka, terciptalah teknologi yang memudahkan manusia. Namun sifat manusia yang berlebihan dan tidak mudah puas yang membuat manusia menjadi konsumtif sehingga menimbulkan gaya hidup hedonis. 3. Sosiologi Sastra Kata Sosiologi merupakan gabungan dari kata sosio dan logos. Kata sosio berarti masyarakat dan logos berarti ilmu. Sastra merupakan gabungan dari kata sas- dan tra- yaitu mengarahkan dan alat (Ratna, 2011:1). Jadi sosiologi sastra yaitu ilmu yang mempelajari mengenai sastra dan masyarakat. Sosiologi sastra mengkaitkan penciptaan karya sastra dengan keberadaan sastra serta peranan sastra dengan realitas sosial (Winarni, 2013:185). Maka dapat dikatakan bahwa sastra merupakan cerminan bagi masyarakat pada saat itu. Pengarang dapat secermat munkin menghadirkan realitas sosial dalam karya sastra. B. Penelitian Relevan Penelitian yang dilakukan oleh Fatma pada tahun 2008 yang berjudul “Refleksi Gaya Hidup dan Sikap Hidup Remaja dalam Tiga Novel Remaja Seperti Bintang (Regina Feby, 2005), Impian Moira (Dewie Sekar, 2005), dan Cowok Nyebelin Banget! (Tryanee, 2006)”. Tujuan dari penelitian
tersebut yaitu (1). Mengungkap gambaran gaya hidup remaja, yang tercermin dalam tiga novel remaja. (2). Mengungkap gambaran sikap hidup remaja dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari, yang tercermin dalam tiga novel remaja. Adapun unsur yang dteliti adalah dari segi tokoh akan ditemukan ciri dan karakter, serta penggambaran watak tokoh baik dari segi fisik maupun kejiwaan/mental. Dari segi alur ditemukan serangkaian peristiwa/kejadian yang diketahui dari beberapa masalah yang berhubungan dengan remaja. Sedangkan dari latar dapat diketahui berbagai macam tempat yang menjadi kebiasaan atau tempat yang melatari terjadinya berbagai masalah/kejadian. Persamaan dengan penelitian ini yaitu mengenai gaya hidup dan penggunaan novel. Sedangkan perbedaan terletak pada penggunaan teori, penelitian ini menggunakan hedonisme sedangkan penelitian Fatma menggunakan sikap hidup. Penelitian yang berjudul “Gaya Hidup Hedonis dalam Novel Dan Hujan Pun Berhenti Karya Farida Susanti” oleh Winda Dwi Hudhana pada tahun 2012 bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan gaya hidup hedonis yang terdapat pada novel Dan Hujan pun Berhenti karya Farida Susanty, 2) mendiskripsikan relasi gaya hidup yang terdapat pada novel Dan Hujan pun Berhenti karya Farida Susanty dengan
masyarakat sekarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-interpretatif. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis tokoh yang melakukan tindakan hedonis terlebih dahulu, kemudian menganalisis bentuk-bentuk hedonisnya, kemudian menghubungkannya dengan realitas yang ada dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra yaitu dengan mendeskripsikan relasi karya sastra dengan masyarakat dan mendeskripsikan fakta-fakta sosial dalam masyarakat dalam hal gaya hidup hedonis. Hasil penelitian ini ditemukan bentuk-bentuk gaya hidup hedonis pada remaja yaitu 1) Agresifitas dan Anarkis, 2) Vandalisme dan Grafiti, 3) Gaya hidup konsumtif, 4) Geng. Bentuk-bentuk hedonis tersebut terdapat pada novel Dan Hujan Pun Berhenti karya Farida Susanti. Persamaan dengan penelitian ini yaitu penggunaan teori hedonis, sedangkan perbedaan terletak pada novel yaitu penelitian ini menggunakan novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq, penelitian oleh Winda menggunakan novel Dan Hujan Pun Berhenti karya Farida Susanti. C. Kerangka Berpikir Penelitian ini dirancang dengan menentukan permasalahan yang muncul dalan novel yaitu permasalahan mengenai kehidupan remaja yang galmor dan terjadi
kenakalan remaja. Setelah permasalahan diketahui kemudian peneliti menentukan pendekatan penelitian yaitu menggunakan sosiologi sastra yang mengarah pada kehidupan hedonis remaja. Pendekatan sosiologi sastra ditetapkan dengan alasan bahwa pendekatan ini cocok untuk novel Dan Hujan Pun Berhenti Karya Farida Susanti karena menggambarkan kehidupan remaja yang hedonis. Peneliti membedah novel menggunakan teori sosiologi sastra dan ditemukan beberapa tindak gaya hidup hedonis remaja yang digambarkan pada kerangka berikut: Novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq Sosiologi Sastra Bentuk Hedonisme: 1. Gaya hidup konsumtif 2. Anak band dan anak nongkrong 3. Bandel 4. Vandalis dan grafiti 5. Geng Motor dan tawuran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra karya yang menganalisis manusia dalam masyarakat karena pendekatan ini menganggap karya sastra sebagai cerminan masyarakat. Pemilihan pendekatan sosiologi sastra karena novel merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq menggambarkan kehidupan remaja yang hedonis. B. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-ianalitik yaitu dengan mendekripsikan gejalan sosial yakni gejala hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq. Kemudian menganalisis gejalan tersebut dengan menggunakan teori sosiologi sastra. C. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sehingga tidak terbatas pada tempat. Sedangkan waktu pelaksanaan pada penelitian ini yaitu tergambar pada jawdal berikut: N o Kegiatan Penelitian Bulan (2018) Jan Feb Mar April Mei Juni Juli 1 Perumusan masalah 2 Penyusunan Proposal Penelitian 3 Pengumpulan Data 4 Analisis Data 5 Penyusunan Laporan Penelitian Tabel 3.1 Jadwal Penelitian D. Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini yaitu kutipan novel yang terdapat fenomena hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq. Sumber data pada penelitian ini yaitu naskah novel Dilan:Dia Adalah Dilanku
Tahun 1990 Karya Pidi Baiq terbitan DAR! Mizan pada tahun 2014 dengan tebal 333 halaman. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik baca dan catat. Teknik baca yaitu dengan membaca novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq secara berulang-ulang sehingga mendapatkan data mengenai hedonisme. Kemudian menggunakan teknik catat yaitu dengan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan hedonisme. F. Teknik Analisis Data Pada penelitian ini, teknik analisis data yaitu: a. Reduksi data yaitu dengan merampingkan data-data yang telah ditemukan. Data ini berkaitan dengan hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq. b. Penyajian data yaitu dengan menyajikan hasil analisis data yang berkaitan dengan hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq dalma bnetuk deskripsi c. Verifikasi dan menarik simpulan yaitu dengan mengecek kembali data hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq
dan melakukan penarikan kesimpulan berkaitan dengan hedonisme dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq.
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. TEMUAN PENELITIAN No Aspek Hedonisme Kutipan 1. Gaya hidup konsumtif Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang. Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan jakarta Pusat, di rumah yang aku tempati bersama suamiku sejak tahun 1997 (Baiq, 2014:19) Aku jalan sendirian. Dari arah belakang, kudengar suara motor. Suaranya agak berisik dan yang bisa kuingat di masa itu, belum begitu banyak siswa yang pergi sekolah dengan memakai motor. Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku, jalannya melambat. Seperti sedang ingin menyamai kecepatanku berjalan. Pengendaranya menggunakan seragam SMA (Baiq, 2014:20) Dia bilang, kalau aku mau mionum, gampang, biar dia saja yang beli. Makasih kataku, dan memang dia lalu pergi ke kantin. Tak lama kembali, membawa beberapa teh kotak (Baiq,
2014:23) Aku baca surat undangan darinya sambil selonjoran di atas kasur. Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin ketik di atas kerta HVS (Baiq, 2014:28) Tepat pada pukul 00:00, Beni mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku sikat rangkaian bunga yang indah. Warna-warni dan harum baunya (Baiq, 2014:68) Band dan Nongkrong Sebelum dinikahi dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya (Baiq, 2014:13) Kata Rani, Susi suka main ke Studio East di Cihampelas, atau ke Lipstick Roller Disco bersama teman-temannya di Palaguna Plaza (daerah alun-alun Bandung). Itu semua tempat nongkrong remaja gaul zaman dulu, sekarang entah masih ada atau tidak. Rani malah pernah diajak Susi, lupa ke mana itu, pokoknya daerah Ganesha, sekalian ngeceng anak ITB yang lagi pada posma atau ospek (Baiq, 2014:141) Melanggar peraturan Sekolah Sang peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru
BP, setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera (Baiq, 2014:32) Hari senin, pada saat upacara bendera, Dilan ikut upacara bendera, tapi dia masuk di barisanku. Berdiri sej ajar denganku. Tentu saja itu melanggar peraturan. Harusnya dia berada di barisan kawan-kawan kelasnya (Baiq, 2014:166) Vandalis dan grafiti Oh, ya, ya aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Oh, ternyata dia orangnya! (Baiq, 2014:32) Genk motor dan tawuran “Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” Kata Nandan. (Baiq, 2014:39) Tidak sama sekali. Aku juga tahu Dilan suka berantem. Aku juga tahu, sebelum aku pindah ke Bandung, Dilan pernah diskors karena terlibat tawuran besar di daerah Karapita (Bandung) tahun 1989 (Baiq, 2014:85) B. PEMBAHASAN 1. Sosiologi Pengarang Pengarang novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 yaitu Pidi Baiq. Ia lahir di Bandung pada 8 Juli 1972. Ia adalah seorang seniman, penulis novel, penulis buku, dosen, ilustrator,
komikus, musisi dan pencipta lagu. Ia memiliki sebuah band yang bernama The Panas Dalam. Novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 berlatar belakang di Bandung yang mana merupakan tempat lahir pengarang sehingga terdapat sinkronisasi setting. Pengarang dalam proses kreatifnya banyak menggambarkan kehidupan remaja pada zaman itu yaitu tahun 1990 yang kental dengan tawuran remaja. Pada masa itu masa orde baru yang mengungkapkan gejolak muda yang harus diluapkan. Para remaja juga telah mengenal hal-hal yang berkaitan dengan dunia barat akibat munculnya majalahmajalah remaja yang banyak menanpilkan kehidupan remaja Barat (Eropa dan Amerika). Kehidupan remaja di Barat menampilkan kehidupan yang glamor dan hedonis sehingga membangkitkan keinginan para remaja pada masa itu untuk meniru gaya hidup remaja Barat. 2. Sosiologi Karya sastra Sosiologi karya sastra mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat yang terdapat dalam karya sastra. Pada penelitian ini, diungkapkan sosiologi sastra pada karya sastra yang berkaitan dengan hedonisme. Berikut ini bentukbentuk hedonisme: a) Gaya Hidup Konsumtif
Hedonisme merupakan gaya hidup yang bertujuan untuk kesenangan diri. Hedonisme sangat erat kaitannya dengan gaya hidup konsumtif karena gaya hidup ini merupakan simbol utama hedonisme. Berikut ini kutipan yang menunjukkan hedonisme: Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang. Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan jakarta Pusat, di rumah yang aku tempati bersama suamiku sejak tahun 1997 (Baiq, 2014:19) Kutipan di atas mengungkapkan bahwa tokoh “Lia” sedang meminum Hot lemon tea yang merupakan simbol konsumtif. Minuman Hot lemon tea diartikan menjadi teh lemon panas. Minuman ini merupakan minuman modern campuran antara teh panas dengan buah lemon yang digemari oleh masyarakat modern. Aku jalan sendirian. Dari arah belakang, kudengar suara motor. Suaranya agak berisik dan yang bisa kuingat di masa itu, belum begitu banyak siswa yang pergi sekolah dengan memakai motor. Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku, jalannya melambat. Seperti sedang ingin menyamai kecepatanku berjalan. Pengendaranya menggunakan seragam SMA (Baiq, 2014:20) Pada kutipan novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 terdapat kata motor. Tokoh “Dilan” diceritakan sedang
mengendarai motor, ia berjalan mendekati tokoh “Lia”. Saat itu motor menjadi barang mewah karena belum banyak yang memakai motor ke sekolah. Maka, pada saat itu tokoh “Dilan” dianggap sebagai kaum borjuis. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar dia saja yang beli. Makasih kataku, dan memang dia lalu pergi ke kantin. Tak lama kembali, membawa beberapa teh kotak (Baiq, 2014:23) Terdapat kata teh kotak pada kutipan di atas, teh kotak merupakan minuman kemasan dengan bentuk kotak. Tokoh “Nandan” menawarkan minuman kepada tokoh “Lia”, namun tokoh “Lia” tidak menolak atau menerima. Ia hanya berkata “terima kasih”. Tokoh “Nandan” akhirnya membeli minuman teh kotak. Aku baca surat undangan darinya sambil selonjoran di atas kasur. Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin ketik di atas kertas HVS (Baiq, 2014:28) Kutipan tersebut menunjukkan penggunaan mesin ketik dan kertas HVS. Penggunaan kedua benda tersebut biasanya digunakan oleh para pekerja kantoran maupun mahasiswa dalam mengerjakan pekerjaan. Namun, tokoh “Dilan” telah menggunakan benda tersebut untuk membuat undangan kepada tokoh “Lia”.
Tepat pada pukul 00:00, Beni mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku sikat rangkaian bunga yang indah. Warna-warni dan harum baunya (Baiq, 2014:68) Perayaan ulang tahun merupakan merayaan yang asal mulanya dilakukan oleh bangsa Barat. Dalam kutipan tersebut, tokoh “Beni” merayakan ulang tahun tokoh “Lia” tepat pukul 00.00 WIB yaitu pukul 12 malam. Sebagai hadiah, tokoh “Beni” memberikan bunga yang indah yang biasanya hanya dilakukan oleh bangsa-bangsa barat yang mana memberikan hadiah ketika perayaan ulang tahun b) Band dan Nongkrong Band berasal dari bahasa Inggris yaitu orkes. Band sering dikaitkan dengan gaya hidup hedonis karena hanya kaum borjuis yang melakukan kegiatan band. Selain itu, band juga dikatkan dengan kegiatan nongkrong karena band biasanya juga dilakukan anak-anak muda hedonis yang suka dengan kegiatan nongkrong. Berikut ini contoh kutipan yang menunjukkan kegiatan band dan nongkrong: Sebelum dinikahi dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya (Baiq, 2014:13) Vocalist band adalah pengisi vokal dalam suatu band. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ibu tokoh “Lia”
merupakan salah satu pelaku hedonisme dengan menjadi seorang vokalis band. Oleh karena, band merupakan kumpulan alat musik yang dijadikan simbol masyarakat hedonisme sebagai alat kesenangan diri yang disebut dengan hobi. Kata Rani, Susi suka main ke Studio East di Cihampelas, atau ke Lipstick Roller Disco bersama teman-temannya di Palaguna Plaza (daerah alun-alun Bandung). Itu semua tempat nongkrong remaja gaul zaman dulu, sekarang entah masih ada atau tidak. Rani malah pernah diajak Susi, lupa ke mana itu, pokoknya daerah Ganesha, sekalian ngeceng anak ITB yang lagi pada posma atau ospek (Baiq, 2014:141) Kebiasaan nongkrong merupakan simbol masyarakat hedonisme, karena kegiatan nongkrong merupakan kegiatan yang hanya duduk dan mengobrol. Di dalam kegiatan tersebut tidak terdapat manfaat apa-apa. Pada kutipan tersebut, tokoh “Rani” merupakan pelaku hedonisme yang suka menongkrong di tempat-tempat mewah misalnya Studio East di Cihampelas, atau ke Lipstick Roller Disco. c) Melanggar peraturan Sekolah Kaum hedonis yang hanya memeikirkan kesenangan diri cenderung suka berbuat onar. Para remaja yang masih bersekolah pada umumnya suka melanggar peraturan sekolah. Oleh karena, terdapat kepuasan tersendiri apabila mampu menjadi pusat perhatian dengan cara berbuat pelanggaran
terhadap peraturan. Berikut ini kutipan yang menunjukkan pelanggaran peraturan sekolah: Sang peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP, setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera (Baiq, 2014:32) Tokoh “Dilan” merupakan pelaku hedonisme karena ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan peraturan demi kesenangan diri. Ia membolos upacara demi menarik perhatian para guru dan siswa. Sehingga ia mendapatkan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang ia lakukan. Hari senin, pada saat upacara bendera, Dilan ikut upacara bendera, tapi dia masuk di barisanku. Berdiri sej ajar denganku. Tentu saja itu melanggar peraturan. Harusnya dia berada di barisan kawan-kawan kelasnya (Baiq, 2014:166) Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh “Dilan” berperilaku hedonisme karena ia berani untuk masuk barisan tokoh “Lia” hanya untuk mendekatinya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya tokoh “Dilan” dalam memuaskan keinginan demi kesenangan dirinya sendiri. d) Vandalis dan grafiti Perilaku vandal dan grafiti sangat erat dengan perilaku kaum hedonisme. Oleh karena, para kaum hedonisme merasa
puas dan senang apabila melakukan kegiatan vandal dan grafiti. Perilaku tersebut sangatlah buruk karena tembok menjadi kotor dan jorok. Oh, ya, ya aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Oh, ternyata dia orangnya! (Baiq, 2014:32) Penggunaan pilox pada kutipan tersebut yaitu untuk menulis nama tokoh “Dilan”. Pada kutipan, tokoh “Dilan” merupakan seorang pemimpin genk motor yang sangat terkenal sehingga namanya diabadikan dalam sebuat tulisan. Para kaum hedonisme melakukan aksi vandal dan grafiti demi kesenangan dan agar mendapatkan perhatian masyarakat. e) Genk motor dan tawuran Perilaku genk dan tawuran telah menjadi satu kesatuan terutama untuk kaum hedonisme. Para kaum ini menunjukkan kesenangan dan agar mendapatkan perhatian dengan melakukan kegiatan tawuran. “Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” Kata Nandan. (Baiq, 2014:39) Kutipan tersebut terdapat kata basecame yang berarti tempat untuk berkumpul. Tokoh “Piyan” dan tokoh “Dilan” sepakat untuk menjadikan kantin tokoh “Bi Eem” sebagai tempat untuk perkumpulan genk motor.
Tidak sama sekali. Aku juga tahu Dilan suka berantem. Aku juga tahu, sebelum aku pindah ke Bandung, Dilan pernah diskors karena terlibat tawuran besar di daerah Karapita (Bandung) tahun 1989 (Baiq, 2014:85) Kegiatan tawuran pada kutipan tersebut ditunjukkan oleh tokoh “Dilan” yang suka melalukan tawuran. Maka,ia sangat dikenal sebagai sesorang yang suka tawuran dan ia melakukan tawuran besar di daerah Bandung. 3. Sosiologi Karya sastra dan Realitas Sosial Karya sastra tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial karena realitas sosial merupakan hal yang melatarbelakangi terciptanya karya sastra. Hal tersebut merupakan asumsi dari teori sosiologi sastra. Berikut ini relasi antara gaya hidup hedonis dan realitas sosial dalam novel novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq: a) Gaya Hidup Konsumtif Gaya hidup konsumtif merupakan gaya hidup yang telah lama digandrungi remaja pada zaman tahun 1990 pada saat novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq terjadi. Pada saat itu, gaya hidup hedonis mulai digandrungi karena pengaruhi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kutipan-kutipan berikut merupakan contoh gaya hidup hedonis:
Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang. Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan jakarta Pusat, di rumah yang aku tempati bersama suamiku sejak tahun 1997 (Baiq, 2014:19) Pengaruh bangsa Barat terlihat pada kutipan tersebut yaitu pada minuman hot lemon tea dan lagu Rolling Stone yang saat itu sedang tenar. Minuman tersebut merupakan minuman modern yang menggabungkan teh dengan buah lemon. Perpaduan rasa teh dan lemon yang asam memberikan citra modern dan konsumtif. Minuman tersebut banyak dijual di restaurant ataupun di cafe-cafe tempat remaja melakukan kegiatan nongkrong yang menunjukkan kehidupan hedonisme. Aku jalan sendirian. Dari arah belakang, kudengar suara motor. Suaranya agak berisik dan yang bisa kuingat di masa itu, belum begitu banyak siswa yang pergi sekolah dengan memakai motor. Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku, jalannya melambat. Seperti sedang ingin menyamai kecepatanku berjalan. Pengendaranya menggunakan seragam SMA (Baiq, 2014:20) Penggunaan motor pada zaman itu yaitu tahun 1990 masih sangat jarang dan hanya kalangan borjuis yang telah memiliki kendaraan bermotor. Kutipan tersebut menunjukkan adanya gaya hidup konsumtif karena penggunaan motor yang dilakukan oleh tokoh “Dilan”. Oleh karena tokoh “Dilan”
merupakan remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang belum mampu membeli sepeda motor sendiri. Motor merupakan mesin modern yang diproduksi setelah adanya revolusi industri di Eropa. Motor digunakan sebagai kendaraan pengangkut yang dirancang seperti sepeda namun memiliki mesin. Motor biasanya digunakan tidak lebih dari dua orang. Motor merupakan barang mewah karena dimiliki perseorangan dan bukan alat transportasi massal. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar dia saja yang beli. Makasih kataku, dan memang dia lalu pergi ke kantin. Tak lama kembali, membawa beberapa teh kotak (Baiq, 2014:23) Minuman teh kotak yang terdapat pada kutipan di atas merupakan salah satu gaya hidup konsumtif. Pada zaman itu,minuman teh kotak masih jarang ditemukan dan masih menjadi sesuatu yang mewah. Maka minuman teh kotak menjadi suatu simbol gaya hidup konsumtif. Aku baca surat undangan darinya sambil selonjoran di atas kasur. Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin ketik di atas kertas HVS (Baiq, 2014:28) Pada kutipan tersebut terdapat dua benda yaitu kertas HVS dan mesin ketik. Benda tersebut merupakan barang mewah pada sekitar tahun 1990 karena belum banyak orang
yang menggunakan barang tersebut. Penggunaan kedua benda tersebut lebih banyak di perkantoran dan lingkungan universitas. Di dalam lingkungan universitas juga tidak seluruhnya memiliki, hanya beberapa usaha rental mesin ketik yang memiliki benda tersebut. Tepat pada pukul 00:00, Beni mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku sikat rangkaian bunga yang indah. Warna-warni dan harum baunya (Baiq, 2014:68) Bunga merupakan simbol kemewahan karena keindahan dan perawatannya yang menjadikan bunga sesuatu yang mahal dan mewah. Di beberapa rumah mewah terdapat rangkaian bunga yang diletakkan di dalam vas bunga. Selain itu, perayaan ulang tahu merupakan hasil dari budaya Barat yang sudah semakin berkembang di Indonesia. Pada zaman itu, masih jarang masyarakat yang melakukan perayaan ulang tahun sehingga perayaan tersebut dianggap mewah. Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh “Beni” merupakan pelaku konsumtif yang memberikan rangkaian bungan kepada tokoh “Lia” b) Band dan Nongkrong Gaya hidup hedonis juga tercermin pada kegiatan band dan nongkrong. Kedua aktivitas tersebut saling berkaitan dan telah menjadi gaya hidup yang digandrungi remaja. Kegiatan
nongkrong merupakan kegiatan berkumpul antara beberapa orang dengan tidak melakukan kegiatan apapun selain mengobrol. Maka, kegiatan menongkrong sering diidentikkan dengan band. Sebelum dinikahi dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya (Baiq, 2014:13) Kutipan tersebut terdapat kata vocalist band yang merupakan pengisi suara dalam suatu band. Para kaum hedonis selalu melakukan kegiatan yang menjadi pemuas hawa nafsu dan kesenangan salah satunya band. Kegiatan band telah menjadi hobi remaja hedonis pada sejak zaman dahulu dengan ditandai munculnya group band di Indonesia pada masa itu misalnya Dewa 19, Stinky dan sebagainya. Kata Rani, Susi suka main ke Studio East di Cihampelas, atau ke Lipstick Roller Disco bersama teman-temannya di Palaguna Plaza (daerah alun-alun Bandung). Itu semua tempat nongkrong remaja gaul zaman dulu, sekarang entah masih ada atau tidak. Rani malah pernah diajak Susi, lupa ke mana itu, pokoknya daerah Ganesha, sekalian ngeceng anak ITB yang lagi pada posma atau ospek (Baiq, 2014:141) Kebiasaan nongkrong pun terjadi tidaknya untuk group band tapi juga pada remaja yang suka pergi ke mall dan diskotik. Mall merupakan tempat perbelanjaan modern yang
sangat menggiurkan bagi masyarakat konsumtif, di sana juga banyak orang yang hanya sekedar nongkrong. Diskotik juga merupakan simbol hedonisme karena tempat tersebut banyak remaja yang melakukan kegiatan nongkrong dengan berjoged demi kesenangan diri. Banyak juga remaja yang melepaskan stres di tempat tersebut dengan mabuk atau mengkonsumsi barang terlarang. c) Melanggar peraturan Sekolah Kaum hedonisme melakukan segala kegiatan demi kesenangan diri. Kaum hedonisme juga melakukan hal tersebut tanpa memperdulikan orang lain sehingga cenderung melanggar peraturan. Berikut ini merupakan contoh kegiatan kaum hedonis yang melanggar peraturan sekolah: Sang peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP, setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera (Baiq, 2014:32) Pada kutipan di atas tokoh “Dilan” melakukan pelanggaran peraturan sekolah dengan tidak mengikuti upacara. Perilaku tersebut merupakan perilaku remaja hedonis yang mementingkan kesenangan diri dan mengabaikan peraturan. Padahal upacara di sekolah dapat memupuk rasa disiplin dan rasa hormat terhadap para pahlawan yang telah
memperjuangkan kemerdekaan. Selain itu, berikut ini kutipan yang menunjukkan pelanggaran yang sama: Hari senin, pada saat upacara bendera, Dilan ikut upacara bendera, tapi dia masuk di barisanku. Berdiri sejajar denganku. Tentu saja itu melanggar peraturan. Harusnya dia berada di barisan kawan-kawan kelasnya (Baiq, 2014:166) d) Vandalis dan grafiti Remaja hedonis juga sering melakukan kegiatan vandalis dan grafiti. Kegiatan ini yaitu kegiatan anak-anak jalanan yang suka merusak fasilitas umum dengan mencorat-coret fasilitas umum. Oh, ya, ya aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Oh, ternyata dia orangnya! (Baiq, 2014:32) Pilox merupakan sebuah cat semprot yang praktis digunakan. Penggunaan pilox banyak dilakukan oleh remaja jalanan yang suka merusak fasilitas umum dengan aksi coratcoret. Pilox juga digunakan oleh para preman sebagai alat komunikasi dikalangan preman. e) Genk motor dan tawuran Genk motor dan tawuran sangat berkaitan erat karena banyak aksi tawuran remaja yang diprakarsai oleh genk motor.
Para genk motor melakukan aksi tawuran atas dasar balas dendam demi memuaskan kesenangan batin mereka. “Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” Kata Nandan. (Baiq, 2014:39) Tokoh “Piyan” dan tokoh “Dilan” menyepakati adanya basecamp genk motor. Basecamp merupakan tempat berkumpulnya genk motor. Di tempat tersebut kegiatan genk motor yang dilakukan hanya nongkrong dan mengobrol. Tidak sama sekali. Aku juga tahu Dilan suka berantem. Aku juga tahu, sebelum aku pindah ke Bandung, Dilan pernah diskors karena terlibat tawuran besar di daerah Karapita (Bandung) tahun 1989 (Baiq, 2014:85) Genk motor juga suka melakukan tawuran antar genk motor. Tawuran tersebut membuat genk motor menjadi kelompok yang ditakuti dan banyak yang melakukan hal tersebut sebagai kesenangan diri. Menjadi seseorang yang ditakuti merupakan hal yang sangat membanggakan bagi kaum hedonis.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN Hedonisme ditemukan dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq yang menggambarkan polemik kehidupan remaja pada masa itu. Bentuk-bentuk hedonisme yang ditemukan dalam novel Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Karya Pidi Baiq yaitu 1) gaya hidup konsumtif terdapat 5 data; 2) band dan nongkrong terdapat 2 data; 3) melanggar peraturan sekolah terdapat 2 data; 4) vandalis dan grafiti terdapat 1 data; dan 5) genk dan tawuran terdapat 2 data. B. SARAN Saran dalam penelitian ini yaitu: 1. Novel dan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pengajaran sastra. 2. Penelitian selanjutnya agar lebih menyempurnakan dan menjadi kontribusi keilmuan.
DAFTAR PUSTAKA Baiq, Pidi. 2014. Dilan:Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Bandung: DAR! Mizan Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Wacana Hedonisme dalam Sastra Populer Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hudhana, Winda Dwi. 2013. Gaya Hidup Hedonis dalam Novel Dan Hujan Pun Berhenti Karya Farida Susanti. Skripsi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Mangunhardjana, A. 2004. Isme-isme dalam Etika dari A Sampai Z. Yogyakarta: Kanisius. Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. __________________. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ritzer, George. 2008. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Juxtapose Research and Publication Study Club dan Kreasi Wacana Sugono, Dendy. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa: Jakarta.
Tarigan, Henry Guntur. 2015. Prinsip Dasar Sastra. Bandung:Penerbit Angkasa Winarni, Retno. 2013. Kajian Sastra. Salatiga: Widya Sari Press
BIODATA PENULIS Winda Dwi Hudhana lahir kota kecil di Wonosobo pada 20 Juni 1989. Winda merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, ibu bernama Sulasih dan Bapak bernama Daryanto. Pendidikan Sekolah Dasar di SD 6 Wonosobo, Sekolah Menengah Pertama di SMP 2 Wonosobo, Sekolah Menengah Atas di SMA 2 Wonosobo. Ia melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Purwokerto di Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, lulus tahun 2012. Kemudian melanjutkan pendidikan Magister di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret, lulus pada tahun 2014. Mulai tahun 2015 bekerja sebagai dosen tetap di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Tangerang. Beberapa mata kuliah telah diajar antara lain: Teori Sastra, Bahasa Indonesia, Pembelajaran Sastra SD dan Metode Penelitian Sastra. Karya yang telah terbit yaitu jurnal-jurnal penelitian, Kabut Asap (Kumpulan Cerpen: 2016), dan buku Pembelajaran Sastra untuk Sekolah Dasar (Tangerang: Mahara Publishing, 2018). Alamat kantor: Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Jalan Perintis kemerdekaan I/33 Cikokol Kota Tangerang Banten. Telp. 085728565000/085326777733. Email: [email protected]