The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Winda Dwi Hudhana, 2023-12-22 05:14:04

BAHAN AJAR PENELITIAN SASTRA

BAHAN AJAR PENELITIAN SASTRA

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut burni bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang. Segenap warga desa mengepung hutan itu dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri. Satu demi satu yang maju tersadap darahnya penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka. - Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal! Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa. Majulah Djoko Pandan! Di mana ia?


Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa Anak panah empat arah dan musuh tiga silang Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang. - Joko Pandan! Di mana ia! Hanya padanya seorang kukandung dosa. Bedah perutnya tapi masih setan ia menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala. - Joko Pandan! Di mana ia! Hanya padanya seorang kukandung dosa. Berberita ringkik kuda muncullah Djoko Pandan segala menyibak bagi derapnya kuda hitam ridla dada bagi derunya dendam yang tiba. Pada langkah pertama keduanya sama baja pada langkah ke tiga rubuhlah Atmo Karpo


panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah. Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang la telah membunuh bapanya. d. Unsur Pembangun Puisi Sebuah puisi tidak mampu berdiri sendiri, melainkan terdapat unsur-unsur yang membangun puisi tersebut. Unsurunsur yang dibentuk sendiri oleh puisi membentuk sebuah struktur puisi yang kokoh. Maka, puisi akan terasa indah dan bermakna. Unsur pembangun puisi dibedakan menjadi dua yaitu struktur fisik puisi dan struktur batin puisi. Struktur fisik puisi yaitu baris-baris yang mengisi puisi menjadi suatu susunan yang indah, sedangkan struktur batin puisi yaitu struktur puisi yang membangun dari dalam puisi sehingga membantuk makna puisi secara utuh. Struktur batin puisi antara lain: tema, nada, perasaan, dan amanat. Sedangkan struktur fisik puisi antara lain: diksi, pengimajian (citraan), kata konkret, majas, versifikasi, dan tipografi puisi. Majas terdiri


atas lambing dan kata kias, sedangkan versifikasi terdiri atas rima, dan ritma (Waluyo, 2010:32). 1) Diksi Pemilihan kata atau yang dikenal dengan diksi dalam menulis puisi merupakan upaya pengarang untuk memberikan nuansa estetika dalam puisi. Jalinan makna yang terbentuk melalui estetika bahasa merupakan jiwa dari puisi. Apabila memilih kata-kata dalam penulisan puisi, pengarang harus memadukan antara kata dalam bait sehingga tidak merusak makna yang akan disampaikan. Unsur estetika yang bangun dalam puisi tidak boleh sampai merusak makna sehingga membutuhkan pemilihan kata yang jeli. Oleh karena mengedepankan unsur estetika, maka puisi harus memilih kata-kata konotatif. Seorang pengarang harus mempunyai perbedaharaan kata yang luas sehingga pengarang mampu mengekspresikan sesuatu melalui kata yang diungkapkan. Selain itu pengarang harus mampu mengurutkan kata dengan tepat untuk membentuk suatu makna yang tepat. pengarang juga harus mampu memaksimalkan daya sugesti kata sehingga kata-kata dalam puisi menjadi kesatuan yang harmonis dan mampu memunculkan makna. 2) Pengimajian (Citraan)


Pengimajian yaitu susunan kalimat yang mampu menimbulkan perasaan yang dapat dirasakan oleh panca indera. Pengimajian yang baik dihasilkan oleh pemilihan kata yang padu dan dapat membangkitkan perasaan melalui alat indera yaitu indera perasa, indera penglihatan, indera peraba, indera pendengaran dan indera penciuman. Pengimajian dihasilkan oleh pemilihan kata yang tepat sehingga pembaca seolah-olah mampu merasakan melalui alat indera. …………………. Bedah perutnya tapi masih setan ia menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala. ………………………. (Balada Terbunuhmya Atmo Karpo karya W.S Rendra) Cuplikan puisi Balada Terbunuhmya Atmo Karpo karya W.S Rendra terdapat pengimajian dalam kata Bedah perutnya yang membangkitkan indera peraba. Pembaca solah-olah melakukan tindak bedah. Pada kata menggertak merupakan pengimajian indera pendengar, pembaca seolah-olah mendengar gertakan pengarang. 3) Kata Konkret Pemilihan kata dalam membuat sebuah puisi harus mampu menimbulkan kata konkret. Pembaca mampu memaknai puisi secara menyeluruh dan seolah-olah terhanyut


dalam puisi dengan susunan kata konkret. Apabila imaji pembaca diakibatkan dari pengimajian, maka kata konkret merupakan sebab terjadinya imaji, sehingga pembaca dapat denga jelas membayangkan apa yang dilukiskan oleh pengarang (Waluyo, 2010:94). Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat dan di langit, dua tiga cukong mengankang, berak di atas kepala mereka, ……………………… (Sajak Sebatang Lisong karya W.S Rendra) Pemilihan kata konkret cuplikan puisi di atas, menggambarkan keprihatinan mengenai kehidupan di Indonesia yang semakin carut marut, penyair W.S Rendra. Pengungkapan bait dua tiga cukong mengankang, berak di atas kepala mereka merupakan kata konkret yang menggambarkan beberapa orang yang menindas jutaan rakyat Indonesia. 4) Bahasa Figuratif (Majas) Para penyair menyusun kata-kata yang bersusun atau berpigura disebut dengan bahasa figuratif (Waluyo, 2010:98). Penggunaan bahas figurafi memberikan kesan indah pada puisi. Selain itu, pemakaian bahasa figuratif dengan maksud menyembunyikan makna maka penikmat sastra harus mampu


mentafsirkan makna yang tersembunyi dalam puisi. Bahasa figuratif yang biasa dipakai antara lain: a) Gaya Bahasa Gaya bahasa atau majas telah banyak dikenal oleh para penikmat sastra dan pengarang. Gaya bahasa di dalamnya membandingkan suatu dengan hal lain. Pada puisi, Para penyair lebih banyak menggunakan gaya bahasa atau majas daripada prosa. …………… Mamma, Burung dara jantan yang nakal Yang sejak dulu kaupiara Kini telah terbang dan menemui jodohnya Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan Dan tiadaakan pulang Buat selama-lamanya ……………… (Surat Kepada Bunda tentang Calon Menantunya karya W.S Rendra) Cuplikan puisi karya W.S Rendra di atas memberikan gambaran mengenai seorang anak yang akan menikah, ia meminta izin kepada ibundanya untuk menikah. Bait yang berbunyi burung dara jantan yang nakal, yang sejak dulu kaupiara merupakan majas metafora yaitu melukiskan seorang anak laki-laki yang tumbuh dewasa yang disimbolkan dengan


burung dara jantan. Anak laki-laki tersebut awalnya anak nakal yang dirawat oleh ibunya. b) Perlambangan Perlambangan dalam puisi untuk mempertegas makna dan penikmat sastra mampu mengimajinasikan. Penggunaan lambang dapat melukiskan sesuatu secara menyeluruh karena terkadang penggunaan bahasa asli belum tentu melukiskan makna yang dimaksud oleh penyair secara keseluruhan. Lambang yang dapat digunakan berkaitan dengan benda, dan warna. Penggunaan lambang benda misalnya sepasang merpati berarti suami istri, lambang warna misalnya hatiku merah merekah berarti hati yang sedang berbahagia. 5) Versifikasi (Rima, dan Ritma Rima merupakan pengulangan suku kata dalam puisi yang menghasilkan harmoni. Rima memiliki cakupan yang lebih luas daripada ritma, karena rima lebih dari pengulangan bunyi. Menurut Waluyo (2010:105-109) bahwa rima dikelompokkan menjadi 3 antara lain: (a) Onomatope yaitu peniruan bunyi misalnya tralala, oy, aduhai, huss, ah, o, i, dan sebagainya. (b) Bentuk intern pola dan bunyi yaitu bentuk dari majas aliterasi, asonansi, persamaan akhir dan awal, repetisi, sajak berselang, sajak berpruh dan sajak


penuh (Waluyo, 2010:107). Contoh puisi karya Hartojo Andangdjaja. Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya Apakah yang kupunya, anak-anakku selain buku-buku dan sedikit ilmu sumber pengabdian kepadamu. Kalau di hari Minggu enggau datang ke rumahku aku takut, anak-anakku kursi-kursi tua yang di sana dan meja tulis sederhana dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya semua padamu aku bercerita tentang hidupku dirumah tangga. Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja -horison yang selalu biru bagiku karena kutahu; anak-anakku enkau terlalu muda


engkau terlalu bersih dari dosa untuk mengenal ini semua. (c) Pengulangan kata/ungkapan yaitu pengulangan kata yang terdapat pada puisi. Contoh pengulangan kata dan ungkapan terdapat pada puisi karya Sutardji Calzoum Bachri. Hilang (ketemu) batu kehilangan diam jam kehilangan waktu pisau kehilangan tikam mulut kehilangan lagu langit kehilangan jarak tanah kehilangan tunggu santo kehilangan berak Kau kehilangan aku batu kehilangan diam jam kehilangan waktu pisau kehilangan tikam mulut kehilangan lagu langit kehilangan jarak


tanah kehilangan tunggu santo kehilangan berak Kamu ketemu aku Sedangkan ritma berkaitan dengan irama dalam puisi yang menghasilkan keindahan. Ritma juga mengandung pengulangan. Sedangkan metrum berkaitan dengan irama dalam mantra yang merupakan penekan bunyi yang bersifat tetap (Waluyo, 2010: 105-113). Contoh ritma yaitu puisi karya Chairil Anwar. Aku Kalau sampai waktuku/ „Ku mau tak seorang „kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu/ Aku ini binatang jalang/


Dari kumpulannya terbuang/ Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan akan akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi/ Sedangkan contoh mentrum dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri. Girisa Ya maraja jaramaya Ya marani niramaya Ya silapa aplasia Ya mirodo rodomiya


Ya midosa sadomiya Ya dayuda dayudaya Ya siyasa cayasia Ya sihana mahawia 2. Prosa a. Definisi Prosa Prosa merupakan jenis karangan yang diciptakan berdasarkan imajinasi dan kreatifitas pengarang yang mengandung tokoh, alur dan setting. Kata prosa diambil dari bahasa Latin yaitu prosa yang berarti terus terang. Penciptaan prosa berdasarkan gagasan kreatif pengarang yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk karangan. Karangan prosa ini mengungkapkan permasalahan mengenai kehidupan yang dikemas dengan bahasa yang indah. Di dalam dunia sastra, prosa dibagi menjadi dua yaitu prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Prosa fiksi diciptakan berdasarkan imajinasi atau khayalan pengarang yang realitas. Sedangkan prosa nonfiksi dibuat secara aktualitas. Pengarang fiksi diharuskan mampu menciptakan karangan yang imajinatif namun mampu memberikan suasana yang real atau nyata. Sedangkan pada karangan nonfiksi, pengarang harus mampu menghadirkan cerita-cerita faktual dan aktualitas. Contoh prosa


fiksi yaitu dongeng, novel, cerpen, dan sebagainya. Contoh prosa nonfiksi yaitu artikel, essay, berita dan sebagainya. b. Jenis Prosa 1) Novel Novel berasal dari bahasa latin yaitu novellus yang berakar dari kata novies yang mengandung arti “baru”. Penggunaan kata tersebut karena novel merupakan jenis sastra baru dibandingkan dengan puisi, drama dan karya sastra lain (Tarigan, 2015:167). Novel adalah suatu karya sastra berbentuk prosa fiksi yang diciptakan pengarang untuk menceritakan tokoh-tokoh dengan karakter yang dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan cerita. Novel merupakan cerita panjang yang mengandung berbagai konflik dan berbagai tokoh. Pembacaan novel tidak seperti cerpen yang hanya sekali duduk, novel membutuhkan waktu yang panjang. Novel juga mampu menghadirkan perkembangan karakter tokoh misalnya tokoh antagonis yang mampu berubah menjadi protagonist dan sebaliknya. Novel diciptakan untuk menceritakan suatu peristiwa panjang atau perjalanan seorang tokoh dalam lika-liku kehidupan. Di dalam penulisan novel terdapat beberapa bab atau yang disebut dengan episode. Penciptaan bab dalam novel melambangkan setiap konflik yang dilalui oleh tokoh. Bab


dalam novel tersebut memiliki keterkaitan antara satu bab dengan bab yang lainnya. Oleh karena setiap bab dapat dirangkai menjadi sebuah cerita yang utuh. Dalam setiap bab memiliki judul yang menggambarkan inti sari cerita dalam bab tersebut. Ciri-ciri novel antara lain: (a) Novel diciptakan lebih dari 35.000 kata. (b) Jumlah halaman dalam novel lebih dari 100 halaman. (c) Tokoh yang diceritakan dalam novel lebih banyak dan beragam daripada cerpen. (d) Novel mengandung beberapa konflik yang menceritakan perjalanan hidup tokoh. (e) Waktu pembacaan novel minimal 2 jam. 2) Novelet Kata novelet dikembangkan dari kata novel yang ditambahkan dengan akhiran –ette yang bermakna “kecil” (Tarigan, 2015:178). Maka, novelet merupakan bentuk novel yang dibuat lebih kecil atau lebih pendek daripada novel. Unsur pembangun novelet sama persis dengan unsur yang terdapat dalam novel. Namun terdapat beberapa perbedaan dalam novel dan novellet yaitu: (a) Novelet terdiri atas lebih dari 35.000 kata, sedangkan novelet terdiri antara 10.000-35.000 kata.


(b) Novelet dapat dibaca antara 30 menit-2 jam. (c) Novelet terdiri antara 30-100 halaman 3) Cerita Pendek Cerpen merupakan bentuk singkatan dari cerita pendek yang sering kita jumpai. Cerita pendek merupakan bentuk karya sastra yang sangat diminati, karena bentuk sastra ini lebih pendek daripada novel. Sehingga, para penikmat sastra tidak merasa bosan dalam membaca karya sastra bentuk prosa. Nugroho Notosusanto mengatakan bahwa cerita pendek merupakan cerita yang panjangnya hanya 5000 kata yaitu sekitar 17 halaman kuarto spasi rangkap yang berpusat dan lengkap pada diri sendiri (Tarigan, 2015:180). Ciri-ciri cerita pendek antara lain: (a) Isi cerita pendek bersifat singkat, padu dan intensif, (b) Unsur dalam cerita pendek yaitu adegan, tokoh dan gerak, (c) Bahasa dalam cerita pendek yaitu tajam, sugestif dan menarik (Morris dalam tarigan, 2015:18), (d) Interpretasi pengarang mengenai kehidupan secara langsung dan tidak langsung merupakan kadungan cerpen, (e) Cerpen harus menimbulkan sebuah efek bagi pemikiran penikmat sastra,


(f) Cerpen harus menimbulkan perasaan menarik hati dan pemikiran penikmat sastra, (g) Cerpen mengandung detail dan insiden yang dengaja dibuat dan menimbulkan pertanyaan bagi penikmat sastra, (h) Cerpen memiliki pelaku utama, (i) Cerpen mempunyai efek yang menarik (Lubis dalam Tarigan, 2015:181), (j) Cerpen tergantung pada satu situasi, (k) Cerpen membrikan impresi tunggal, (l) Cerpen mengandung kebulatan efek, (m)Cerpen disajikan dalam sebuah emosi (Brooks dalam Tarigan, 2015:181), (n) Jumlah kata dalam cerpen dibawah 10.000 kata (Notosusanto dalam Tarigan, 2015:181) c. Unsur Prosa Pada prosa terdapat unsur pembangun prosa. Unsur tersebut dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Unsur Intrinsik Unsur Intrinsik merupakan unsur/ yang membangun prosa terdapat di dalam prosa. Unsur intrinsik dibagi menjadi tujuh, antara lain: a) Tema


Pada prosa, tema merupakan inti permasalahan dari cerita. Pengarang dalam menentukan suatu cerita harus menentukan terlebih dahulu tema yang akan digunakan. Tema dibagi menjadi dua yaitu tema tradisional dan tema modern (Tarigan, 2015:125). Tema tradisional merupakan tema yang mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan cerita tradisional atau cerita zaman dahulu. Sedangkan tema modern yaitu tema yang mengungkapkan kejadian-kejadian yang dialami di zaman modern. “Siapa yang mencuri kalung emasku?” air matanya tak henti menetes, membasahi kaos putihnya. “Itu.. satu-satunya warisan ibuku!” Aku hanya terdiam, menatap matanya pun tak sanggup. “Siska? Yuli? Atau Elisa? Siapa? Katakan padaku, Ros?” “A..a..aku.. tidak tahu.” Aku terus tertunduk. “Rosa.. tolong, tolonglah aku! Cari siapa pelakunya!” Otakku terus berpikir, bagaimana cara mengetahui siapa pencuri kalung emas Diva? “Ros, aku mohon, Ros! Kalung itu warisan dari ibuku, aku akan menjualnya untuk biaya wisuda pekan depan.” Air matanya semakin membanjiri pipi gemuknya. “Baiklah! Sebelum pencuri sial itu ketemu, kau pakai saja dahulu uang tabunganku!” Cerita tersebut menggambarkan tokoh “Dia” yang kehilangan kalung emas peninggalan ibunya. Tokoh “Dia” berniat untuk menjual kalung emas tersebut untuk membiayai wisudanya pekan depan. Tokoh “Rosa” berusaha untuk


menolong tokoh “Dia” dengan meminjamkan uang tabungannya untuk keperluan wisuda tokoh “Dia”. Maka, tema pada cuplikan cerita tersebut yaitu tolong menolong. b) Alur/plot Pada prosa, alur merupakan jalannya sebuah cerita. Alur adalah rangkaian peristiwa dalam sebuah cerita (Stanton, 2012:26). Proses jalannya suatu cerita dapat ditentukan melalui alur. Pada umumnya, alur dibedakan menjadi dua yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. alur maju merupakan alur yang menceritakan suatu kejadian dari awal peristiwa hingga akhir. Alur mundur yaitu alur yang menceritakan akhir kejadian kemudian kembali ke awal kejadian. Sedangkan alur campuran yaitu alur yang mencampurkan alur maju dan alur mundur. Berikut ini bagian-bagian dari alur: (1) Eksposisi yaitu adegan pengenalan suatu cerita berkaitan dengan pengenalan tokoh, dan pengenalan permasalahan. (2) Komplikasi yaitu bagian tengah suatu konflik. Pada bagian ini, tokoh mengalami hal-hal yang berkaitan dengan pertengahan konflik. (3) Klimaks yaitu puncak dari suatu masalah. Pada bagian ini, tokoh mengalami puncak dari permasalahan. (4) Resolusi yaitu akhir permasalahan. Bagian resolusi, tokoh mengalami akhir dari masalah yang ditandai


dengan solusi-solusi permasalahan dan permasalahan menjadi reda. Cuaca cukup panas, keringatku menetes dari pelipis. “Selamat siang? Apakah kamu tahu jalan Diponegoro 1 Pasar Minggu?” Aku menoleh, sepertinya ada yang bertanya padaku.”Aduh maaf, saya baru satu bulan tinggal di sini.” “Begitu? Kalau begitu, terima kasih” Pria itu berjalan meninggalkanku. Aku memperhatikannya dari belakang. Sepertinya aku pernah lihat orang itu. Oh tidak! Dia itu kan kakek yang aku temui tempo hari di pinggir jalan. Kala itu ia duduk kepanasan. Bajunya terlihat lusuh, topi yang ia kenakan sangat kumal. Tapi kenapa hari ini ia beda jauh sekali? Ia tampak rapi dengan kemeja kotak-kotak. Kira-kira ia mau kemana? Pada cuplikan cerita di atas, digambarkan tokoh “aku” yang bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu pada awal pertemuan dengan tokoh “aku” beberapa hari lalu menggunakan baju lusuh dan sangat berbeda ketika ia bertemu dengan tokoh “aku” saat ini. Penggambaran alur tersebut merupakan alur mundur, karena tokoh “aku” menceritakan apa yang lalu telah dialaminya. c) Tokoh dan Perwatakan Tokoh merupakan pemain dalam melakukan adegan dalam suatu cerita. Suatu cerita tanpa adanya tokoh, maka suatu cerita tidak mampu berjalan. Pada umumnya, tokoh menjadi tokoh protagonist, tokoh antagonis, tokoh figuran.


Tokoh Protagonis yaitu tokoh yang menggambarkan tokoh baik. Tokoh antagonis merupakan tokoh yang menggambarkan tokoh jahat. Tokoh figuran yaitu tokoh yang menjadi pendukung cerita. Setiap tokoh memiliki wataknya masing-masing. Watak merupakan karakter tokoh yang menggambarkan sifat tokoh. Watak dalam cerita digambarkan baik secara langsung melalui dialog, maupun tidak langsung melalui penjabaran cerita. “Kenapa kamu hari ini terlambat masuk?” “S..sa..sa..ya…” mulut Sintia susah digerakkan, badannya bergetar hebat, jantungnya berdetak sangat kencang. “Kenapa? JAWAB!” “Ma..ma..m aaf, Pak!” “Kalau tidak kau jawab, KAU KUPECAT! SUDAH SEMINGGU INI KAU SELALU TERLAMBAT! KAU PIKIR KANTOR INI PUNYA NENEK MOYANG KAU!” “Maaf.. maafkan saya, Pak…” Sintia tertunduk lemas. “SUDAH HABIS SABAR SAYA, SEKALI LAGI KAU TERLAMBAT! LEBIH BAIK KAU TIDAK USAH LAGI KERJA DENGAN SAYA, MASIH BANYAK ORANG YANG MEMBUTUHKAN PEKERJAAN INI! Kutipan tersebut menggambarkan tokoh “Sintia” yang mendapatkan teguran dari atasannya karena terlambat. Tokoh “atasan Sintia” sangat marah dan mengancam akan memecat tokoh “Sintia” apabila tokoh “Sintia” terlambat lagi. Tokoh dalam cuplikan tersebut yaitu tokoh “Sintia” dan “atasan


Sintia”. Watak dalam cuplikan cerita tersebut tokoh “Sintia” penakut, sedangkan tokoh “atasan Sintia” berwatak keras, pemarah, dan tidak mau mendengarkan alasan orang lain. d) Latar/setting Peranan latar dalam prosa yaitu sebagai tempat kejadian perkara. Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung (Stanton, 2012:35). Tanpa adanya latar, suatu cerita tidak akan terjadi dan penikmat sastra tidak mampu mengimajinasikan latar yang terjadi dalam cerita. Maka, cerita akan terasa hampa tanpa adanya latar. Latar dikenal juga dengan setting. Latar dalam prosa dibagi menjadi tiga antara lain: 1) latar lempat yaitu tempat terjadinya peristiwa, 2) latar waktu yaitu waktu terjadinya peristiwa, dan 3) latar suasana yaitu suasana yang dirasakan ketika terjadinya suatu peristiwa. Dari balik dinding, aku melihat seseorang mengendapendap di antara kursi dan meja kelas. Anak-anak baru saja bubar dan kelas sudah kosong. Tetapi sosok itu tidak asing bagiku. Kreeek… terdengar suara kursi diseret. Brukk.. Mataku terpaku. Bergegas aku masuk kelas dan mendekatinya. “Bagas! Kenapa kau belum pulang? Ini apa yang kau bawa?”


“A.. anu, Bu. Ini.. anu..” mulut Bagas tergagap, dadanya menderu, jantungnya berdetak sangat kencang. Cuplikan cerita tersebut tergambar secara jelas latar tempat, waktu dan suasana. Kata kelas menujukkan latar tempat yaitu di kelas. Kalimat Anak-anak baru saja bubar dan kelas sudah kosong menandakan latar waktu siang hari ketika kelas sudah kosong karena anak telah pulang sekolah. Kalimat “A.. anu, Bu. Ini.. anu..” mulut Bagas tergagap, dadanya menderu, jantungnya berdetak sangat kencang menunjukkan suasana resah dan menakutkan. e) Gaya Bahasa Gaya Bahasa merupakan gaya bercerita pengarang dalam membuat karya sastra. Gaya bahasa bagi penikmat sastra dapat membedakan pengarang yang satu dengan yang lain. gaya bahasa sering disebut dengan majas. Pemakaian majas oleh pengarang dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pengalaman, tempramen (emosi), keterampilan dan kecakapan para pelaku (Tarigan, 2015:156). Selain itu, penggunaan majas juga disesuaikan dengan situasi dan isi cerita. Menurut Ratna (2013:437-447) bahwa majas dibagi menjadi empat antara lain: Majas Penegasan


1) Aferesis yaitu majas penegasan dengan menghilangkan huruf atau suku kata awal. 2) Aforisme yaitu pernyataan sebagai kebenaran umum atau kata-kata arif. 3) Alonim yaitu majas dengan menggunakan varian nama 4) Anagram yaitu majas dengan pertukaran huruf dalam kata sehingga menimbulkan makna baru. 5) Antiklimaks yaitu pernyataan menurun secara berturutturut. 6) Apofasis/Preterisio yaitu majas yang seolah-olah mengingkari apa yang sudah dijelaskan. 7) Aposiopesis yaitu majas yang digambarkan dengan penghentian di tengah-tengah kalimat. 8) Arkhaisme yaitu majas yang menggunakan kata-kata yang sudah usang. 9) Bombastis yaitu majas yang penggunaan keterangan secara berlebihan. 10) Elipsis yaitu majas yang kalimat tidak lengkap. 11) Enumerasio/Akumulasio yaitu majas yang beberapa peristiwa saling berhubungan, disebut satu demi satu. 12) Esklamasio yaitu majas yang menggunakan kata seru: wah, aduh,amboi, astaga, awas, dan sebagainya.


13) Interupsi yaitu majas yang menyisipkan kelompok kata tertentu. 14) Inversi/Anastrof yaitu majas yang susunan kalimat terbalik. 15) Invokasi yaitu majas yang penggunaan kata seru untuk memohon kepada adi kodrati. 16) Klimaks yaitu majas yang menyatakan urutan pernyataan menuju puncak. 17) Kolokasi yaitu majas yang mengasosiasikan secara permanen satu kata dengan kata yang lain. 18) Koreksio/Epanortosis yaitu majas yang memperbaiki pernyataan sebelumnya yang dianggap salah. 19) Paralelisme yaitu majas yang mensejajarakan kata-kata atau frasa, dengan fungsi yang sama. 20) Pararima yaitu perulangan konsonan awal dan akhir dalam kata-kata tertentu. 21) Pleonasme yaitu majas yang memberikan keterangan secara berlebihan. 22) Praterio yaitu majas yang menyembunyikan maksud yang sesungguhnya. 23) Repetisi yaitu majas yang mengulang kata atau kelompok kata. Repetisi dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain:


24) Aliterasi yaitu majas yang mengulang konsonan awal. 25) Anadiplosis/Epanadiplosis/Epanastof/Anastrof yaitu kata atau kelompok kata terakhir diulang pada kalimat berikut, seperti pantun berkait. 26) Anafora yaitu kata atau kelompok kata pertama diulang pada baris berikut. 27) Antanaklasis yaitu perulangan dengan makna berlainan. 28) Asonansi yaitu perulangan bunyi vocal. 29) Epanalepsis yaitu majas yang kata pertamanya diulang pada akhir kalimat. 30) Epifora/Epistrofa yaitu majas yang diungkapkan sebagai pengulangan akhir kalimat secara berurutan. 31) Epizeuksis yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan langsung 32) Katafora yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan melalui pronominal disusul oleh anteseden. 33) Kiasmus yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan dengan skema a-b-b-a. 34) Mesodiplosis yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan di tengah baris 35) Simploke yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan pada awal dan akhir baris, dalam beberapa baris.


36) Tautotes yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan dalam sebuah konstruksi. 37) Retoris/Erotesis yaitu majas yang diungkapkan sebagai kalimat tanya tanpa memerlukan jawaban. 38) Sigmatisme yaitu majas yang diungkapkan sebagai perulangan bunyi „s‟ untuk menimbulkan efek tertentu. 39) Silepsis yaitu majas yang penggunaan satu kata dengan banyak makna dalam konstruksi sintaksis yang berbeda. 40) Sindeton yaitu majas yang penjelasan kata-kata setara secara berturut-turut. Sindeton dibagi menjadi dua jenis antara lain: 41) Asindeton yaitu majas yang tanpa menggunakan kata penghubung. 42) Polisindeton yaitu majas yang dengan menggunakan kata penghubung. 43) Sinkope/Kontraksi yaitu majas yang menghilangkan suatu suku kata di tengah kata. 44) Tautologi yaitu majas yang perulangan kata, kelompok kata atau sinonimnya, yang kadang-kadang tidak perlu. 45) Zeugma yaitu majas yang seolah-olah tidak logis dan tidak gramatikal, rancu. Majas Perbandingan


1) Alegori yaitu majas perbandingan dengan alam secara utuh. 2) Alusio yaitu majas dengan ungkapan, peribahasa, atau sampiran pantun. 3) Antonomasia yaitu majas dengan sebutan untuk menggantikan nama orang. 4) Disfemisme yaitu majas yang menonjolkan kekurangan tokoh. 5) Epitet yaitu majas sebagai acuan untuk menunjukkan sifat khusus seseorang atau hal lain. 6) Eponim yaitu majas dengan nama yang menunjukkan ciri-ciri tertentu. 7) Eufemisme yaitu majas yang menghaluskan hati. 8) Hipalase/Enalase yaitu majas yang keterangan seolaholah ditempatkan pada tempat yang salah. 9) Hiperbola yaitu majas yang melebihi sifat dan kenyataan yang sesungguhnya. 10) Litotes yaitu majas dengan cara merendahkan diri. 11) Metafora yaitu majas yang membandingkan suatu benda dengan benda lainnya. 12) Metonimia yaitu majas yang menggunakan suatu nama tetapi yang dimaksud benda lain.


13) Onomatope yaitu majas dengan menggunakan tiruan bunyi. 14) Paronomasia yaitu majas yang penggunaan kata sama tetapi menampilkan makna yang berbeda. 15) Periphrasis yaitu majas yang suatu kata diperluas dengan ungkapan. 16) Personifikasi yaitu majas yang penggunaan benda mati dianggap benda hidup. 17) Simbolik yaitu majas yang membandingkan dengan simbol. 18) Simile yaitu majas yang menggunakan kata-kata perbandingan: seperti, laksana, umpama. 19) Sinekdoke yaitu majas yang sebagian untuk keseluruhan dan sebaliknya. Sinekdoke dibagi menjadi dua jenis antara lain: 20) Pars Prototo yaitu majas yang menggunakan kata bermakna sebagian untuk menyatakan makna seluruhnya. 21) Totem Proparte yaitu majas yang menggunakan kata bermakna keseluruhan untuk menyatakan makna sebagian. 22) Sinestesia yaitu majas yang menggunakan beberapa indera. 23) Tropen yaitu istilah lain dengan makna sejajar.


Majas Pertentangan 1) Anakronisme yaitu majas yang tidak sesuai dengan peristiwa. 2) Antithesis yaitu majas yang berlawanan. 3) Kontradiksio yaitu majas yang berlawanan secara situasional. 4) Oksimoro yaitu majas yang berlawanan dalam kelompok kata yang sama. 5) Okupasi yaitu majas yang bertentangan dengan penjelasan. 6) Paradoks yaitu majas yang bertentangan tetapi benar 7) Prolepsis/Antipasi yaitu majas yang kata-kata seolah-olah mendahului peristiwannya. Majas Sindiran 1) Anifrasis yaitu majas yang menyatakan sindiran dengan makna berlawanan. 2) Innuendo yaitu majas yang mengecilkan keadaan yang sesungguhnya. 3) Ironi yaitu majas yang menyatakan sindiran halus. 4) Permainan kata yaitu majas yang menyatakan sindiran disertai humor dengan cara mengubah urutan kata. 5) Sarkasme yaitu majas yang menyatakan sindiran kasar.


6) Sinisme yaitu majas yang menyatakan sindiran agak kasar. Berikut ini kutipan yang mengandung majas: Tak masalah bagiku, bila aku harus membanting tulang hingga tulangku terasa mau lepas. Itu semua demi ibuku karena dari rahimnya, aku lahir. Semua pekerjaan aku lakukan, mulai dari bisnis, berdagang hingga menjadi karyawan restaurant pun aku lakukan. Terkadang aku tak mengerti, mengapa saat ini banyak anak yang berani membangkang kepada orang tua? Tak sadarkah kalian? Bagaimana susahnya bapak mencari nafkah? Bagaimana susahnya ibu mengandung dan melahirkan kita? Cuplikan prosa di atas menggunakan beberapa majas. Majas tersebut digambarkan pada kalimat tak masalah bagiku, bila aku harus membanting tulang hingga tulangku terasa mau lepas yaitu terdapat majas hipebola karena tokoh “aku” menggambarkan usahanya dalam bekerja secara berlebihan yaitu dengan membanting tulang hingga tulangku terasa mau lepas. f) Amanat Amanat merupakan pesan yang terkandung dalam karya sastra. Suatu karya sastra pada umumnya mengandung suatu amanat. Oleh karena, melalui karya sastra, pengarang berusaha untuk berkomunikasi dengan penikmat sastra. Melalui karya sastra juga, pengarang dapat berbagi gagasan, pengalaman


maupun pesan mengenai kehidupan. Maka, penikmat sastra mampu mendapatkan pembelajaran dan pengalaman berharga melalui amanat yang terkadung dalam karya sastra. Rumahku tak jauh dari sebuah jembatan. Di sana terdapat sebuah rumah kecil dengan dinding setengah bamboo. Rumah tersebut dihuni oleh sepasang suami istri dengan seorang anak yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar dan seorang yang masih berusia 5 bulan. Pekerjaan sehari-hari ayahnya sebagai tukang sol sepatu, dari subuh ia sudah mulai berkeliling menjajakan jasanya mengesol sepatu. Sedangkan ibunya tinggal di rumah untuk merawat sang adik. Kehidupan sederhana tidak menjadikan anak itu berkecil hati dan minder. Ia juga bisa berprestasi di Sekolahnya. Amanat yang dapat diambil dari cuplikan cerita tersebut yakni kemiskinan jangan menjadi menghalangi seseorang untuk berprestasi. Selain itu, mencari nafkah merupakan kewajiban seorang bapak. Apapun pekerjaan harus dilakukan walaupun pekerjaan tersebut hanya menghasilkan materi yang sedikit namun yang terpenting adalah pekerjaan yang halal. 2) Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun suatu prosa yang terdapat di luar prosa. Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang melatarbelakangi pengarang untuk membuat karya sastra. Pada unsur ekstrinsik dikelompokkan sesuai dengan latar belakang sosial di sekitar pengarang, dan latar belakang


sosial-budaya pengarang. Maka, unsur ekstrinsik karya sastra tidak bisa dikesampingkan karena unsur ini juga menentukan baik tidaknya karya sastra. Pengelompokkan unsur ekstrinsik yaitu 1) latar belakang sosial budaya pengarang yang meliputi ideologi pengarang, kondisi politik, status sosial, kondisi lingkungan sekitar pengarang, dan sebagainya; 2) latar belakang pengarang meliputi status sosial pengarang, pendidikan pengarang, psikologis pengarang, hobi dan kegemaran pengarang, pergaulan pengarang, dan sebagainya. 3. Drama a. Definisi Drama Drama menurut Morris (dalam Tarigan, 2015:69) bahwa drama berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata dran bermakna “melakukan”. Sedangkan beberapa definisi mengenai drama dikemukakan oleh Tarigan (2015:72) bahwa: 1) Drama adalah salah satu cabang seni sastra, 2) Drama dapat terbentuk oleh prosa maupun puisi, 3) Drama lebih mementingkan dialog, gerakan dan perbuatan, 4) Drama adalah lakon yang dapat dipentaskan di atas panggung, 5) Drama membutuhkan ruang, waktu, dan audien,


6) Drama adalah seni yang menggarap lakon-lakon mulai sejak penulisan hingga pementasan, 7) Drama adalah hidup yang disajikan dalam gerak, 8) Drama adalah sejumlah kejadian yang memikat dan menarik hati. Kedua definisi drama tersebut dapat ditarik simpulan bahwa drama merupakan cabang sastra yang berupa dialog dan diperankan oleh tokoh-tokoh di atas panggung yang disajikan dalam gerak menceritakan mengenai suatu peristiwa menarik hati. b. Unsur Drama 1) Alur Selain prosa, drama juga memiliki alur karena drama menceritakan urutan kejadian. Menurut Tarigan (2015:75) bahwa dalam drama, alur memiliki 3 komposisi yaitu eksposisi, komplikasi dan resolusi. Eksposisi yaitu perkenalan tokoh dan berkenaan dengan indikasi resolusi. Komplikasi yaitu pengembangan konflik. Di dalam komplikasi, pengembangan alur cerita berkaitan dengan alur maju dan alur mundur. Resolusi yaitu akhir dari suatu cerita. Resolusi haruslah sesuai dengan komplikasi dan dapat ditangkap secara akal sehat. 2) Penokohan


Penokohan dalam drama berbeda dengan prosa. Apabila di dalam prosa, pengarang mampu mengekspresikan karakter tokoh, tetapi dalam drama pengarang tidak sebebas mengekspresikan karakter tokoh seperti dalam prosa. Maka, penokohan dilakukan dalam beberapa jenis: a) The foil yaitu tokoh yang kontras dengan tokoh lain, tokoh ini membantu menjelaskan tokoh lain. b) The type character yaitu tokoh yang berperan dengan cepat dan tangkas. Yokoh ini biasanya menjadi tokoh penting dalam suatu daerah. c) The static character yaitu tokoh yang keadaannya tetap dari awal hingga akhir. d) The character who develops in the course of the play yaitu tokoh yang mengalami perkembangan (Tarigan, 2015:76-77) 3) Dialog Menurut Tarigan (2013:78) bahwa dialog dalam drama harus memenuhi syarat antara lain: a) Dialog harus mampu mempertinggi nilai gerak. Dalam suatu drama, penulis drama harus mampu memberikan nilai yang baik dalam drama yang tidak sekedar pada dialog saja. Nilai dan makna drama merupakan hal yang penting dalam sebuah drama.


b) Dialog harus baik dan bernilai tinggi. Dalam dialog drama, diperlukan dialog yang baik dan bermutu sehingga drama dapat membawa nilai baik dalam drama. 4) Kedramaan Di dalam drama, unsur penting dalam kedramaan meliputi: a) Perulangan:kontras dan paralel. Perulangan kata atau ungkapan dalam drama merupakan hal yang penting dan menjadi kontras. b) Gaya dan atmosfer. Ketika akan menggambarkan suasana, penulis drama harus mampu merangkai gaya bahasa dan kosakata sehingga menghasilkan drama yang harmoni. c) Simbolisme. Simbol-simbol dalam drama dapat memberikan dampak keindahan dalam drama. d) Empati dan jarak estetik. Sikap empatik dalam drama dan estetik perlu ditonjolkan dalam drama sehingga para audien mampu terhanyut dalam drama (Tarigan, 2015:78-79). c. Jenis Drama Jenis drama dibagi menjadi empat antara lain: 1. Tragedi


Di dalam drama, tragedi merupakan cerita drama yang melambangkan peristiwa yang menimbulkan kesedihan mendalam. Drama tragedi dapat menguras emosi para audien karena peristiwa di dalam drama yang digambarkan sangat tragis. 2. Komedi Drama komedi merupakan drama yang paling disukai oleh audien. Oleh karena drama ini sangat ringan dan menyegarkan. Drama komedi mampu memberikan suasana yang ceria dan gembira. 3. Melodrama Pada melodrama, emosi para audien dikuras oleh rasa kasihan yang mendalam terhadap tokoh drama. Drama ini digambarkan dengan kesedihan sepanjang cerita yang dialami oleh tokoh drama. 4. Farce Farce yaitu jenis drama yang berisi mirip dengan dagelan. Pada farce pembungkusan cerita dilakukan dengan pengungkapan hal serius namun diselingi dengan humorhumor.


BAB III PENDEKATAN DALAM PENELITIAN SASTRA A. INDIKATOR 1. Mahasiswa dapat memahami pendekatan struktural 2. Mahasiswa dapat memahami pendekatan struktural genetik 3. Mahasiswa dapat memahami pendekatan semiotik 4. Mahasiswa dapat memahami pendekatan resepsi sastra 5. Mahasiswa dapat memahami pendekatan stilistika 6. Mahasiswa dapat memahami pendekatan sosiologi sastra 7. Mahasiswa dapat memahami pendekatan psikologi sastra 8. Mahasiswa dapat memahami pendekatan antropologi sastra 9. Mahasiswa dapat memahami pendekatan feminis 10. Mahasiswa dapat memahami pendekatan intertesktual B. MATERI 1. Pendekatan Struktural


Pendekatan strukturalisme pertama kali dikemukakan oleh Saussure. Pada sekitar tahun 60-an, teori ini menjadi perbincangan masyarakat. Oleh karena pendekatan ini tidak hanya mempengaruhi kesastraan namun berpengaruh pada ilmu filsafat. Maka, pendekatan ini menjadi mode pada para filsuf di Perancis sekitar tahun 60-an. (Bertens dalam Sangidu, 2004:15). Pada pendekatan ini unsur-unsur pembangun karya sastra merupakan hal terpenting dalam penyajian makna. Kesatuan karya sastra mampu mengungkapkan makna secara menyeluruh. Teori strukural digunakan sebagai penelitian sastra yang bertujuan untuk meneliti secara cermat dan mendalam makna yang terkandung dalam karya sastra. Hal tersebut disampaikan juga oleh Winarni (2013:101) bahwa kajian strukturalisme bertujuan dalam memaparkan secermat dan sedetail mungkin keterkaitan dan keterjalninan semua unsur dan sapek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan manka secara utuh Terdapat enam prinsip dasar dalam menerapkan pendekatan strukturalisme antara lain: a) Kajian strukturalisme bukan membedah, memisahkan, menjumlahkan unsur struktural tetapi mencari keterkaitan antara unsur sehingga membentuk kesatuan makna,


b) Kajian strukturalisme merupakan penentuan fungsi unsur dalam struktur secara keseluruhan, c) Skeseluruhan unsur dalam karya sastra merupakan hal penting sehingga tidak dapat dihilangkan salah satu dalam unsur tersebut, d) Kajian strukturalisme pada dilakukan dengan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik, e) Kajian struktur menyangkut pada relasi unsur dalam mikroteks, satu keseluruhan wacana dan relasi intertekstual, f) Membaca karya sastra tidak hanya melalui ringkasan (Winarni, 2013:103). 2. Pendekatan Strukturalisme Genetik Teroi mengenai strukturalisme genetik adalah pendekatan penelitian sastra yang muncul sebagai reaksi terhadap teori strukturalisme yang anti- hisoris dan kausal (Winarni, 2013:111). Konsep teori strukturalisme yaitu meneliti karya sastra dengan membedah unsur-unsur yang ada di dalam karya sastra. Sedangkan teori strukturalisme genetik menolak adanya konsep tersebut karena konsep tersebut diangga lepas dari konteks sosial. Teori strukturalisme genetik berasumsi bahwa karya sastra tidak hanya berorientasi pada struktur karya sastra,


namun lebih pada masyarakat dan sejarah yang melatarbelakangi terciptanya karya sastra. Juhl merupakan orang pertama yang berpendapat bahwa penafsiran karya sastra yang mengabaikan peranan pengarang sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya karna dapat mengorbankan ciri khas karya sastra, kepribadian karya sastra, cita-cita karya sastra, dan norma dalam karya sastra yang dipegang teguh oleh pengarang (Teeuw dalam Winarni, 2013:121). Hal tersebut berarti bahwa peranan pengarang tidak dapat dilepaskan dalam penafsiran makna dalam karya sastra. Pengarang harus dilibatkan untuk memahami isi karya sastra. Oleh karena, karya sastra dapat ditafsirkan secara maksimal melalui unsur-unsur yang terdapat di luar karya sastra. Hal ini diperkuat dengan pendapat para kritikus sastra bahwa ketidakpuasan para kritikus sastra terhadap teori strukturalisme, para kritikus sastra mencoba mensintesiskan pendekatan strukturalisme dengan pendekatan sosiologi sastra sehingga muncul pendekatan baru yaitu strukturalisme genetik (Winarni, 2013:112). Pada analisis karya sastra menggunakan teori strukturalisme genetik menggunakan prinsip bahwa (1) analisis struktur karya sastra dengan menganalisis unsur yang membangun teks sastra yang dipahami sebagai satu kesatuan,


(2) analisis struktur sosial-budaya dan historis konkret (fakta sosial) yang melatar belakangi tercipanya karya sastra (Sangidu, 2004:29). Beberapa hal berikut merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam penelitian strukturalisme genetik: a) Penelitian dilakukan terhadap novel yang dilihat sebagai satu kesatuan, b) Novel yang dianalisis hanya yang mempunyai nilai sastra serius, c) konsep dalam penelitian struktural genetik, yaitu: (a) terdapat hipotesis menyeluruh mengenai hubungan antara unsur dan keseluruhan novel, (b) hipotesis dibuktikan kebenarannya berdasarkan keadaan dalam novel yang diteliti, d) setalah diketahui kesatuan novel, maka dibuat hubungan antara latar belakang sosial budaya dengan novel. Sifat hubungan tersebut: (a) hubungan antara novel dengan latar belakang sosial merupakan kesatuan, (b) latar belakang merupakan pandangan dunia suatu kelompok sosial, bukan padangan pribadi penulis (Winarni, 2013:120). 3. Pendekatan Semiotik


Semiotik berarti ilmu yang mempelajari mengenai sistem tanda yang dimaksudkan memiliki makna. Ilmu semiotik pada awalnya ditemukan oleh Ferdinand de Saussure (ahli lingustik) dan Charles Sander Peirce (ahli filsafat). Saussure mengatakan bahwa ilmu tanda merupakan semiologi, dan Peirce mengatakan bahwa ilmu tanda yaitu semiotik. Di dalam pendekatan semiotik terdapat dua aspek yaitu penanda dan petanda. Penanda yaitu bentuk formal yang menandai sesuatu, sedangkan petanda yaitu sesuatu yang ditandai oleh penanda. Contoh, “ibu” sebagai penanda dan “orang yang melahirkan” sebagai petanda (Winarni, 2013:121). Pengungkapan tanda dalam pendekatan semiotik yaitu dengan dua cara: a) Pembacaan Heuristik Metode pembacaan heuristik merupakan cara kerja pembaca dalam menafsirkan teks karya sastra secara referensial melalui tanda dalam lingustik (Riffaterre dalam Sangidu, 2004:19). Pembacaan heuristik dilakukan berdasakan struktur kebahasaan. Oleh karena pengarang karya sastra memiliki hak dalam penyimpangan bahasa, maka melalui pembacaan heuristik ini penikmat sastra mampu mengetahui makna dengan menyesuaikan dengan tata bahasa baku. b) Pembacaan Hermeneutik


Pada pembacaan hermeneutik merupakan cara kerja pembaca dengan menafsirkan teks karya sastra secara pembacaan berulang-ulang untuk mendapatkan makna mendalam. Pembacaan hermeneutik dapat dilakuakn dengan menafsirkan makna dalam suatu karya sastra secara menyeluruh sehingga penikmat sastra mengetahui isi karya sastra secara mendalam. 4. Pendekatan Resepsi Sastra Teori resepsi sastra dikemukakan oleh Abrams, teori ini termasuk dalam orientasi pragmatik. Pendekatan resepsi sastra menganggap bahwa karya sastra sangat dekat dengan masyarakat karena karya sastra diciptakan untuk masyarakat (Winarni, 2013:161). Teori ini memperlakukan penikmat sastra dengan istimewa karena objek utama teori ini yaitu para penikmat sastra atau pembaca. Terjadi hubungan timbal balik antara penikmat sastra dengan karya sastra dalam pendekatan ini. Konsep inti dalam pendekatan resepsi sastra yaitu mengetahui tanggapan pembaca mengenai sebuah karya sastra. Tanggapan tersebut dapat berupa tanggapan positif atau negatif, karena banyak faktor yang mempengaruhi pembaca. Menurut Riffaterre (Winarni, 2013:166-173) konsep dasar pada pendekatan resepsi sastra berkaitan dengan beberapa hal yaitu:


a) Horizon Harapan yaitu harapan yang diberikan penikmat sastra terhadap karya sastra yang dibaca. Setiap pembaca memiliki harapan yang berbeda terhadap karya sastra yang dibaca, hal tersebut disebabkan oleh: 1) Norma teks sastra yang dibaca, 2) Pengetahuan dan pengalaman dalam karya sastra yang dibaca, 3) Pertentangan antara fiksi dengan karya sastra yang dibaca berkaitan dengan pemahaman penikmat sastra terhadap karya sastra dengan kehidupan sehari-hari (Pradopo, 2013:167). b) Tempat Kosong (Open Plek). Setiap karya sastra memiliki tempat kosong yang dapat diisi oleh pembaca. Tempat kosong dapat diisi oleh pembaca dengan tujuan untuk memberikan kemungkinan bagi pembaca secara kreatif dan imajinasi untuk mengisi struktur karya sastra untuk mendapatkan makna secara keseluruhan. Tempat kosong terdapat pada beberapa celah tambahan yang diberikan pengarang. c) Pembaca. Pada hal ini pembaca dibagi menjadi dua yaitu pembaca biasa dan pembaca ideal. Pembaca biasa yaitu pembaca yang hanya sebagai penikmat


sastra, sedangkan pembaca ideal yaitu pembaca yang memiliki kemampuan dalam hal kekhusunan dan kompetensi pembaca (Selden dalam Winarni, 2013:171) d) Legetika dan Puitika. Legetika berkaitan dengan proses pembacaan seseorang yang diterangkan dan penerimaan sebagaimana mestinya suatu penerimaan dalam proses pembacaan. Sedangkan puitika yaitu cara suatu tekas dapat dilukiskan sesuai dengan perspektif estetika karya tersebut (Junus dalam Winarni, 2013:171) 5. Pendekatan Stilistika Bahasa sastra merupakan bahasa yang mengandung keindahan atau estetika. Keindahan bahasa sastra digunakan untuk menarik perhatian penikmat sastra sehingga dengan adanya karya sastrapara penikmat sastra menjadi terhibur. Estetika bahasa dalam studi sastra dipelajari oleh pendekatan stilistika. Stilistika merupakan ilmu tentang gaya (Ratna, 2013:3). Secara lebih meluas, stilistika merupakan ilmu yang mempelajari gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena bahasa sastra yang khas dan mengandung unsur estetika maka penelitian mengenai bahasa sastra menjadi hal yang penting. Pertimbangan yang menjadi penyebab


munculnya ilmu stilistika yaitu akibat pemakaian bahasa khas dan estetik dalam karya sastra yang membungkus maksud dan makna pesan yang ingin disampaikan pengarang terhadap penikmat sastra. Objek penelitian stilistika yaitu bahasa-bahasa sastra yang khas dan estetik yang terdapat dalam naskah karya sastra. Objek analisis bukan bahasa melainkan bahasa yang digunakan, bahasa dalam proses penafsiran (Ratna, 2013:16). Maka, segala bahasa yang digunakan pengarang dalam karya sastra yang mengandung kekhasan dan estetika baik secara tertulis dan lisan merupakan objek utama stilistika. Pembahasan mengenai stilistika yaitu berkenaan dengan gaya pengarang, majas. Gaya pengarang secara umum berkenaan dengan kekuatan bahasa, sikap bahasa, dan cara melakukan (Ratna, 2010:232). Sedangkan majas yaitu hubungan antara suatu hal dengan hal lain yang dapat menghasilkan citra berbeda dengan makna yang baru tetapi tidak berbeda jauh dengan makna semula. Majas (figure of speech) adalah pemilihan kata tertentu yang sesuai dengan maknsud penulis dalam memperoleh nilai keindahan (Ratna, 2013:165.) Gaya bahasa memiliki lingkup yang lebih luas daripada majas maka majas hanya sebagai pendukung gaya bahasa. Pembahasan mengenai gaya bahasa sangatlah banyak misalnya


mengenai panjang dan pendek kalimat, kata serapan, penggunaan kata konkret, pencitraan, pemakaian anekdot, pemakaian bahasa daerah dan sebagainya. Sedangkan majas hanya terbatas dalam empat majas yaitu majas penegasan, majas perbandingan, majas pertentangan dan majas sindiran. Pemakaian majas berkaitan erat dengan lambang dan simbol karena bahasa yang digunakan dalam majas bersifat sebagai lambang dan simbol untuk mewakili sesuatu dengan tujuan estetika. Simbol dan lambang merupakan dua hal yang berbeda. Simbol merupakan pencampuran, memasukkan dan perbandingan antara suatu hal dengan hal lain secara bersamaan. Sedangkan lambang adalah sesuatu hal yang dijadikan wujud sebagai perwakilan oleh sesuatu. Contoh simbol yaitu rambut panjang sebagai simbol wanita cantik, contoh lambang yaitu burung garuda sebagai lambang Negara. 6. Pendekatan Sosiologi Sastra Secara harfiah, sosiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu sosio yang berarti bersama-sama dan logos yang berarti perkataan. Namun seiring berjalannya waktu, sosiologi mengalami perubahan makna. Sosio berarti masyarakat dan logos berarti ilmu. Maka sosiologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sedangkan sastra yaitu berasal dari bahasa sansekerta yaitu sas- dan –tra. Kata sas-


berarti mengarahkan dan kata –tra berarti media. Maka, sastra berarti media untuk mengarahkan (Ratna, 2011:1). Sosiologi sastra merupakan ilmu sastra yang mengajarkan mengenai masyarakat. Pendekatan sosiologi sastra menjadi penting karena sastra berkaitan erat dengan masyarakat yaitu berlandaskan bahwa sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra merupakan hubungan dialektik dan bertangga yaitu mimetis yang tidak memungkinkan tanpa kreasi tetapi kreasi tidak memungkinkan tanpa mimetis (Teeuw, 2017:189). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Ratna (2011:18) teori dalam sosiologi berkaitan dengan fakta yang terdapat dalam kehidupan nyata masyarakat; karya sebagai suatu sistem komunikasi sosial misalnya kelompok sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial, isntitusi sosial, sistem sosial, interasi sosial, konfliks sosial, kesadaran sosial, mobilitas sosial dan sebagainya; dan perkembangan sosial pengarang. Ratna (2011:19-20) mengungkapkan bahwa teori sosiologi sastra berdasarkan tokoh penemunya antara lain: 1) Teori Auguste Comte dan Pitirim Sorokin mengungkapkan mengenai tingkatan budaya dan budaya dominan.


2) Teori Karl Marx (paradigma kelompok para-Marxis) mengungkapkan mengenai sosiokultural, misalnya analisis ideology, polarisasi superstruktur ideologis, dan infrastruktur material. 3) Teori Emile Durkheim mengungkapkan mengenai struktur sosial, solidaritas sosial. 4) Teori Max Weber mengungkapkan tentang kualitas rasionalitas dan otoritas birokrasi yaitu analisis ciri-ciri individualitas dalam struktur interaksi, peranan konvensi dan tradisi literer. 5) Teori George Simmel dan Ralf Dahrendorf mengungkapkan tentang interaksi sosial, konflik sosial, yaitu analisis konflik tokoh dan konflik kelas. 6) Teori Charles Darwin mengungkapkan mengenai sistem evolusi 7) Teori-teori G.H Mead dan Charles Horton Cooley mengungkapkan mengenai interaksi simbolik misalnya pengenalan diri dengan sudut pandang orang lain. 8) Teori Talcott Parsons mengungkapkan mengenai integrasi dan keteraturan sosial, pertukaran status peranan dan proses institusionalisasi. 9) Teori Peter L. Berger mengungkapkan sedimentasi pengetahuan manusia.


Click to View FlipBook Version