The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KTSP 2013 SMA 1 SULANG 2022-2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kangwarson, 2023-02-08 17:13:10

KTSP 2023

KTSP 2013 SMA 1 SULANG 2022-2023

94 Menjadikan SMA sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengolah pengetahuan. Melaksanakan literasi dalam pembelajaran. Menjaga keberlanjutan literasi di sekolah dengan menghadirkan beragam program kegiatan, sarana dan prasarana, ataupun pendukung pembentukan budaya. 3. Kompetensi Literasi Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut. a) Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. b) Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah. c) Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. d) Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya,


95 juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat. e) Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benarbenar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan. 4. Model Program Literasi Berberapa model yang ditawarkan Kemendikbud sebagai berikut: Tabel 25 Model Literasi No Komponen Contoh Kegiatan Tahap pembiasaan Tahap Pengembangan Tahap Pembelajaran 1. Literasi Dasar Membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar setiap hari Mendiskusikan bacaan Menuliskan analisis hasil bacaan 2. Literasi Perpustakaan Mencari bahan pustaka yang diminati untuk kegiatan membaca 15 menit Menggunakan perpustakaan sebagai sumber informasi dalam diskusi tentang bacaan Mencantumkan daftar pustaka dalam laporan tugas/praktik setiap mata pelajaran 3. Literasi Media Membaca berita dari media cetak/daring dalam kegiatan membaca 15 menit Mendiskusikan berita dari media cetak/daring Membuat komunitas pembelajaran untuk diskusi dan berbagi informasi terkait pemahaman mata pelajaran antar teman, guru dan


96 antar sekolah 4. Literasi Teknologi Membaca buku elektronik Memberikan komentar terhadap buku elektronik Setiap mata pelajaran memanfaatkan teknologi (komputasi, searching dan share dalam mengolah, menyaji, melaporkan hasil kegiatan 5. Literasi Visual Membaca filem atau iklan pendek Mendiskusikan filem atau iklan pendek Menggunakan aplikasi video/film dalam menyaji dan melaporkan kegiatan hasil praktik/diskusi/observasi melalui website sekolah, youtube, dll 5. Pentahapan Kegiatan Kegiatan pengembangan literasi yang dilaksanakan berdasarkan panduan, merupakan gerakan berkelanjutan yang dikelompokan dalam tiga tahap, yaitu: a) Kegiatan Meningkatkan Pembiasaan Melalui kegiatan yang difasilitasi guru dan diintegrasikan dalam pembelajaran. Contoh: guru memberikan peluang membaca di awal pembelajaran guru memberi tugas siswa belajar di perpustakaan. siswa mencari bahan bacaan sendiri guru menugaskan siswa menganalisis dan merumuskan resume meningkatkan daya baca siswa dengan dukungan buku, e-book, dan teknologi digital b) Kegiatan Pengembangan Tahap pengembangan merupakan kelanjutan dari tahap pembiasaan, di mana sekolah mengagendakan berbagai kegiatan seperti pada contoh berikut: Mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan dalam diskusi


97 Membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dalam agenda khusus presentasi buku. Mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif; seperti lomba menulis risensi atau menyajikan kritik buku. Mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku dalam kegiatan pengenalan alam sekitarnya. Lomba menyajikan jurnal membaca buku. c) Kegiatan Pembelajaran Kegiatan literasi pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan pengalaman belajar siswa, baik yang dilakukan dalam proses pembelajaran maupun kegiatan mandiri. Kegiatan pembelajaran ini bertujuan: Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat; Mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan Mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran. Contoh kegiatan literasi yang diintegrasikan dalam pembelajaran: Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik. Kegiatan literasi dalam pembelajaran dengan tagihan akademik. Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers). Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi, di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran. Penulisan biografi siswa-siswa dalam satu Kelas sebagai proyek Kelas. Aplikasi teknologi dalam pembelajaran. Pemanfaatan jejaring dalam kegiatan kolaborasi antar siswa dalam satuan pendidikan dan antarsatuan pendidikan


98 6. Struktur Program Beberapa program kegiatan yang menunjang pembelajaran maupun penjaminan mutu sekolah dapat terlaksana dengan baik bila terencana, terlaksana dan terkontrol dengan rutin dan evaluative. Untuk itu maka perlu didukung struktur program dan proses evaluasi serta tindakan follow up. Missal untuk program literasi : 2) MODEL PROGRAM LITERASI a. Tahap Perencanaan NO KOMPONEN URAIAN 1. Program Gerakan Literasi Sekolah 2. Deskripsi Kondisi Nyata 3. Masalah Utama 4. Kegiatan (Solusi) 5. Tujuan 6. Indicator Pencapaian 7 Strategi pelaksanaan 8 Tim Pelaksana/ Uraian Tugas b. Tahap Pelaksanaan NO KOMPONEN Pelaksanaan Tanggal 1. Pelaksana Kegiatan dan Jadwal 1. Rapat pembahasan Program tgl. 2. Implementasi Kegiatan Pembiasaan tgl. 3. Implementasi Pembelajaran 4. Evaluasi kegiatan 2. Jurnal Kegiatan Uraian Diisi dengan catatan dan bukti fisik


99 c. Evaluasi Kegiatan NO KOMPONEN URAIAN 1. Evaluasi pelaksanaan Pelaksanaan Evaluasi dilakukan secara berkala dan disampaikan ke forum dewan guru dalam rapat evaluasi program 2. Evaluasi Pencapaian Terlampir 7. Instrumen Evaluasi Evaluasi kegiatan literasi mencakup keterlaksanaan program dan keberhasilan program. Indikator pencapaian tujuan yang terukur menjadi dasar perumusan instrumen. Target program pada tiap satuan pendidikan mencerminkan karakteristik keunggulan satuan pendidikan. Ketercapaian program dapat dilihat dari hasil evaluasi. Maka perlu disusun alat evaluasi yang tepat dan representative. Contoh Instrumen: NO KOMPONEN KETERLAKSANA AN /PENCAPAIAN YA TIDAK 1) Evaluasi Keterlaksanaan a. Sekolah membaharui bacaan siswa secara berkala b. Sekolah menyediakan akses internet pendukung pembelajaran c. Sekolah menyediakan e-book d. Guru melaksanakan pembiasaan membaca e. Guru memberikan peluang membaca di awal pembelajaran 7. Mencapai target seluruh siswa membiasakan membaca 8. Guru meningkatkan potensi siswa menggunakan TIK dalam pembelajaran 2) Evaluasi Pencapaian Hasil h. Siswa merumuskan resume materi yang dibaca di


100 perpusatakaan i. Siswa membiasakan membaca sebelum belajar dilaksanakan j. Lima % siswa yang menunjukkan kompetensi yang berkeunggulan, sehingga dapat berkompetisi dengan siswa dari sekolah lain 8. Implementasi Literasi di SMA 1 Sulang Implementasi GLS di SMA dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. Tahap pembiasaan dapat dilakukan dengan kegiatan penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca. Tahap pengembangan merupakan tahap selanjutnya dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan. Tahap pembiasaan dan pengembangan merupakan pondasi ke tahap terakhir, yaitu tahap pembelajaran. Dalam tahap ini, strategi literasi digunakan dalam pembelajaran pada semua mata pelajaran. a. Pelaksanaan Literasi Pelaksanaan literasi di SMA Negeri 1 Sulang dalam tahap pembiasaan dan pengembangan. Tahap pembiasaan dikembangkan dikelas X dan tahap pengembangan dikembangkan dikelas XI dan XII. 1) Literasi Tahap Pembiasaan Kelas X Sesuai amanat Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015, kegiatan literasi di SMA Negeri 1 Sulang kelas X (tahap pembiasaan) yaitu berupa kegiatan membaca buku atau buku digital nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai pukul 07.00 s.d. 07.15. Hasil kegiatan membaca dituliskan ke dalam jurnal membaca, berupa ringkasan ataupun hal-hal penting bacaan berbasis kertas atau aplikasi digital. Untuk memastikan tahap ini berlangsung dengan baik, guru dan siswa harus menjalani peran sebagai berikut. a) Peran Guru pada Jam Pelajaran Pertama


101 Semua guru jam pelajaran pertama diwajibkan, sebelum memulai pembelajaran untuk melakukan hal-hal secara berurutan sebagai berikut. Pukul 07.00 masuk ke ruang Kelas dengan membawa lembar literasi siswa dan mengecek jaringan internet di kelas Mendampingi siswa berdoa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mendampingi siswa melaksanakan kegiatan membaca selama 15 menit. Ibu/Bapak Guru ikut membaca buku atau buku digital nonpelajaran selama 15 menit. Memastikan seksi literasi mengumpulkan lembar literasi dan buku bacaan untuk dikembalikan pada tempatnya masing. Lembar literasi pada jam istirahat pertama diletakkan kembali di ruang guru pada rak literasi. Selanjutnya lembar literasi akan diperiksa oleh wali Kelas masing-masing. Sedangkan buku bacaan dikembalikan di almari di masing-masing Kelas yang berfungsi sebagai perpustakaan kecil Kelas. b) Peran Siswa pada Jam Pelajaran Pertama Semua siswa sebelum memulai pembelajaran jam pertama melaksanakan hal-hal secara berturut-turut sebagai berikut. Melaksanakan kegiatan membaca buku atau buku digital nonpelajaran selama 15 menit. Menuliskan ringkasan/resume/hal-hal penting dari buku yang dibaca ke dalam buku jurnal atau aplikasi digital 2) Literasi Tahap Pengembangan Kelas XI dan XII Kegiatan literasi tahap pengembangan dikelas XI dan XII berupa pembuatan karya : puisi, cerpen, cerbung, cerita lucu, geguritan, gurindam, lukisan, dan lain-lain. Kegiatan literasi kelas XI dan XII juga dilaksanakan 15 menit sebelum pembelajaran dikelas. Alat dan bahan literasi disediakan sekolah dan peserta didik, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan. Hasil literasi dikoreksi dan dipilah Tim Literasi Sekolah yang terdiri unsur guru seni dan bahasa.


102 b. Pemberian reward Untuk memacu semangat peserta didik diterapkan system reward, sebagai berikut : 1) Literasi kelas X Setiap akhir bulan dipilih literator teraktif/terbaik I, II dan III setiap kelas dan diberikan reward berupa buku bacaan atau tali asih. 2) Literasi kelas XI dan XII Reward literasi kelas XI dan XII berupa : Karya terbaik akan dimuat dimajalah sekolah atau madding kelas Karya lainnya diarsip (poto folio) di perpustakaan sekolah G. PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP 1. Pengertian Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional) serta dalam upaya menciptakan masyarakat indonesia yang mampu bersaing dalam tantangan global, maka diperlukan suatu kebijakan dari pemerintah baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan suatu sistem dalam dunia pendidikan yang mampu menjawab permasalahan tentang kecakapan di abad 21 Pendidikan pada Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model kegiatan pembelajaran berbasis pada aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran. Selain dari pada itu, kecakapan yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan pada Abad 21 adalah keterampilan berpikir lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills (HOTS)) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan global, atau dengan kata lain pendidikan dapat menciptakan masyarakat terdidik yang di masa depan nanti dapat bersaing dengan negara lain.


103 2. Tujuan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk mengembangkan bakat, minat, dan potensi peserta didik agar berkarakter, kompeten dan literat. Untuk mencapai hasil tersebut diperlukan pengalaman belajar yang bervariasi mulai dari yang sederhana sampai pengalaman belajar yang bersifat kompleks. Dalam kegiatan tersebut guru harus melaksanakan pembelajaran dan penilaian yang relevan dengan karakteristik pembelajaran abad 21. Penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi literasi dan PPK dalam pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan) SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi 3. Kompetensi Kecakapan Hidup Abad 21 Kecakapan Abad 21 yang terintegrasi dalam Kecakapan Pengetahuan, Keterampilan dan sikap serta penguasaan TIK dapat dikembangkan melalui: 1) Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill; 2) Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills); 3) Kecakapan Kreatifitas dan Inovasi(Creativity and Innovation); dan 4) Kecakapan Kolaborasi (Collaboration). Keempat kecakapan tersebut telah dikemas dalam proses pembelajaran kurikulum 2013. 4. Pentahapan Kegiatan 1) Pengembangan kecakapan abad 21 di sekolah dapat dilakukan melalui tahapan berikut: 2) Pelatihan dan sosialisasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan tentang pengembangan kecakapan abad 21 dalam pembelajaran dan budaya sekolah 3) Penyusunan dan control rencana pembelajaran yang mengintegrasikan pengembangan kecakapan abad 21 4) Penyusunan program sekolah untuk menumbuhkan kecakapan abad 21 5) Pelaksanakan baik dalam pembelajaran, budaya karakter sekolah, pembiasaan, dan kegiatan-kegiatan sekolah baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler 6) Pengawasan keterlaksanaan dan evaluasi


104 5. Penilaian Kecakapan Hidup Abad 21 Penilaian dilakukan pada tingkat pendidik dan evaluasi dilakukan pada tingkat satuan pendidikan dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap. Keberhasilan pengembangan kecakapan hidup abad 21 pada diri peserta didik dapat dilihat pada proses dan hasil penilaian yang komprehensif, melibatkan guru maple dalam pembelajarannya, guru BK, maupun wali Kelas. a. Penilaian pengetahuan Penilaian pengetahuan dapat digunakan untuk mengukur : - Tingkat kemampuan peserta didik menjawab soal-soal HOTS - Kemampuan peserta didik memecahkan masalah - Kemampuan berfikir kreatif - Dan sebagainya b. Penilaian ketrampilan Penilaian ketrampilan dapat digunakan untuk mengukur : - Kemampuan peserta didik menguasai teknologi informasi - Ketrampilan mengaplikasikan konsep dalam kehidupan nyata - Ketrampilan berkomunikasi, membangun hubungan social - Ketrampilan literasi, dan sebagainya c. Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat digunakan untuk mengukur : - Sikap kerjasama/kolaborasi dalam kelompok - Sikap toleransi, disiplin, dan sebagainya


105 BAB IV PERENCANAAN, PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN A. PERENCANAAN PEMBELAJARAN Fokus utama pengelolaan kurikulum adalah menjamin siswa belajar dan guru mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Penjaminan utama adalah terwujudnya proses belajar yang didukung dengan suasana belajar yang kondusif. Pengelolaan pembelajaran merupakan serangkaian tindakan perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan evaluasi pembelajaran dalam menjamin terwujudnya keunggulan mutu lulusan pada tingkat satuan pendidikan sesuai dengan target yang sekolah tetapkan. Dalam sistem pengelolaan pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran. Tugas pemimpin pembelajaran adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, dan yang mungkin dapat disediakan untuk menunjang terwujudnya keberlangsungan proses belajar sebagaimana yang direncanakan demi terealisasinya keunggulan kompetensi mutu lulusan. Untuk mewujudkan hal tersebut, pimpinan pembelajaran perlu memperhatikan tindakan: Memimpin musyawarah dewan pendidik untuk menentukan indikator pencapaian kompetensi tingkat satuan pendidikan. Merumuskan target atau kriteria keberhasilan pada setiap indikator mutu keunggulan lulusan tingkat satuan pendidikan. Mengembangkan suasana sekolah sebagai lingkungan belajar yang kondusif. Meningkatkan penjaminan keterlaksanaan dan keberhasilan proses pembelajaran. Mensupervisi ketercapaian target mutu hasil belajar siswa. Memimpin rapat dewan pendidik mengevaluasi keberhasil pelaksanaan kurikulum. Arah pengelolaan implementasi kurikulum di dalam pembelajaran diharapkan berdampak terhadap penguatan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang menjadi target kinerja sekolah. Pengembangan ketiga ranah itu memiliki jalur pengembangan yang berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan strategi yang berbeda dalam mengembangkannya. Sikap siswatidak dijamin mengalami peningkatan sejalan dengan berkembangnya aspek pengetahuan siswa. Begitu juga pada aspek keterampilan siswa tidak serta merta bertumbuh saat pengetahuan siswa berkembang. Hal ini menegaskan bahwa dalam proses pembelajaran, efektifitas pembelajaran benar-benar dipengaruhi oleh penerapan strategi pembelajaran yang tepat pada masing-masing dari ketiga ranah dimaksud.


106 Berdasarkan deskripsi di atas, tim pengembang kurikulum di sekolah dituntut untuk mampu memenuhi kriteria sesuai dengan prinsip pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum 2013 pada tingkat satuan pendidikan sebagai berikut: Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu; Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar; Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah; Pembelajaran berbasis kompetensi; Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi; Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif; Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills; Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat; Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik; dan suasana belajar menyenangkan dan menantang 1. SILABUS a. Pengertian Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok / pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber / bahan / alat belajar Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan


107 skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pada Kurikulum 2013, penyusunan Silabus merupakan kewenangan pemerintah kecuali untuk mata pelajaran tertentu tetap dikembangkan oleh Satuan Pendidikan yang bersangkutan. Dengan diambil alihnya pembuatan Silabus tentu pekerjaan guru akan menjadi lebih ringan. Namun walaupun begitu, guru tetap dituntut untuk menelaah kandungan dari isi Silabus baik itu oleh sesama guru maupun dalam forum MGMP. b. Pengembangan Silabus 1) Pengembangan silabus pada tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan. 2) Pengembangan silabus muatan lokal pada tingkat daerah dilakukan oleh: a) Tim Pengembangan Kurikulum provinsi untuk wilayah provinsi. b) Tim Pengembangan Kurikulum kabupaten/kota untuk wilayah kabupaten/kota. 3) Pengembangan silabus muatan lokal pada tingkat satuan pendidikan dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). c. Muatan Silabus Silabus paling sedikit memuat: 1) Identitas mata pelajaran 2) Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan Kelas; 3) Kompetensi Inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, Kelas dan mata pelajaran; 4) Kompetensi Dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;


108 5) Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi; 6) Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan; 7) Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik; 8) Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan 9) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan. d. Prosedur Perumusan Silabus Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus dapat dikembangkan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Dibuktikan dengan kelengkapan komponen dan isi silabus yang dimiliki sekolah/madrasah untuk semua mata pelajaran. Guru wajib menjelaskan silabus pada tiap awal semeter yang dibuktikan dengan adanya jurnal kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan tugas ini bertujuan agar siswa memahami cukupan kompetensi yang harus mereka kuasai dan memahami materi belajar yang akan mereka dapatkan dalam tiap semester. e. Langkah langkah pengembangan silabus : 1) Mengkaji Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI; keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;


109 keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. 2) Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan: potensi peserta didik; relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; kebermanfaatan bagi peserta didik; struktur keilmuan; aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan alokasi waktu. 3) Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.


110 Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi. 4) Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. 5) Penentuan Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik . 6) Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. 7) Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar


111 serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Format Silabus SMA : ………………………………………………… Mata Pelajaran : …………………………………… Kelas : ………… Kompetensi Inti KI 1: ........................................................................................................... KI 2 : ........................................................................................................... KI 3: ........................................................................................................... KI 4: ......................................................................................................... Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi Materi Pokok Pembelajaran Penilaian Alokasi Waktu Sumber f. Ketentuan Perumusan Silabus 1) Silabus disusun/dikembangkan oleh mata pelajaran pada awal tahun pelajaran sebelum kegiatan pembelajaran dimulai agar guru memiliki persiapan yang matang. Untuk keperluan penyusunan E-KTSP tahun pelajaran 2022/2023, silabus disusun pada bulan Januari s.d. Mei 2022 2) Silabus yang telah disusun/dikembangkan oleh guru mapel selanjutnya disetor/dikumpulkan ke Waka Kurikulum untuk diperiksa bersama Tim PKG SMA Negeri 1 Sulang. Setelah diperiksa oleh Waka Kurikulum dan Tim PKG, silabus selanjutnya diperiksa ulang dan disahkan penggunaannya oleh Kepala Sekolah


112 3) Silabus yang telah diperiksan dan disahkan oleh sekolah selanjutnya diverifikasi oleh Pengawas Sekolah di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III. 1. RPP a. Pengertian RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan wajib menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. b. Komponen RPP RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan 1 kali pertemuan atau lebih. Komponen RPP terdiri atas: 1) Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; 2) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema; 3) Kelas/semester; 4) Materi pokok; 5) Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai; 6) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan; 7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; Kompetensi Dasar dirumuskan untuk mencapai Kompetensi Inti. Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didik, dan kekhasan masing-masing mata pelajaran.


113 Kompetensi Dasar meliputi empat kelompok sesuai dengan pengelompokan Kompetensi Inti sebagai berikut: kelompok 1: kelompok Kompetensi Dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1; kelompok 2: kelompok Kompetensi Dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2; kelompok 3: kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan kelompok 4: kelompok Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4. 8) Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi; 9) Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai; 10) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran; 11) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan; 12) Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan m. penilaian hasil pembelajaran. c. Prinsip Penyusunan RPP Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. 2) Partisipasi aktif peserta didik. 3) Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.


114 4) Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 5) Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. 6) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. 7) Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. 8) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. 9) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. d. Panduan Pengembangan RPP Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. Table 43 Panduan Pengembangan RPP No Komponen RPP Penjelasan 1 Identitas Sekolah :(Diisinamasekolah/satuanpendidikan) Mata Pelajaran : (Diisinamamatapelajaran) Kelas/Semester :(DiisidenganjenjangKelasdan semester) MateriPokok : (DiambildariKompetensiDasar/KD) AlokasiWaktu:sesuaidengankeperluanuntukpencapaian KDdanbebanbelajardenganmempertimbangkanjumlah jam pelajaran yang tersediadalamsilabusdan KD yang harusdicapai. 2 KompetensiInti/KI a. KI dikutibdari Permendikbud 21 Tahun 2016 b.KI mencakup: sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang berfungsi sebagai pengintegrasi muatan pembelajaran, mata pelajaran atau program dalam mencapai SKL. c. Rumusan KI yang dikutip dari Permendikbud 21 Tahun


115 No Komponen RPP Penjelasan 2016 sebagai berikut. 1) Mata Pelajaran PABP danPPKn, dituliskansebagaiberikut. KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggungjawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional. KI 3: Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah KI 4: Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangandari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan. 2) Mata Pelajaran selain PABP dan PPKn, dituliskan sebagai berikut. KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong,


116 No Komponen RPP Penjelasan kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional”. KI 3: Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah KI 4: Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangandari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan. 3 KD dan IPK 1) KD dikutip dari Permendikbud No 24 Tahun 2016 2) KD merupakan kemampuan minimal dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan yang mengacu pada KI. 3) IPK dikembangkan dari KD, merupakan kemampuan minimal yang dapat diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan KD pada KI 1 dan KI 2, dan kemampuan yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk disimpulkan sebagai pemenuhan KD pada KI 3 dan KI 4. 4) IPK disusun menggunakan kata kerja opresional yang dapat diukur/dilakukan penilaian sesuai dengan


117 No Komponen RPP Penjelasan karakteristik mata pelajaran. 5) IPK dari KD pengetahuan menggambarkan dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan meliputi faktual, konseptual, prosedural, dan/atau metakognitif 6) IPK dari KD keterampilan memuat keterampilan abstrak dan/atau ketrampilan konkret 7) Peserta didik boleh memiliki kemampuan di atas yang telah ditetapkan dalam IPK dan dapat dikembangkan dari LOTS menuju HOTS) 4 TujuanPembelajara n 1) dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan 2) Dituangkan dalam bentuk deskripsi, memuat kompetensi yang hendak dicapai olehpeserta didik 3) Memberikan gambaran proses pembelajaran 4) Memberikan gambaran pencapaian hasil pembelajaran 5 MateriPembelajara n 1) memuat fakta, konsep/prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi/IPK 2) Ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan cakupan materi yang termuat pada IPK atau KD pengetahuan 3) Cakupan materi sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan 4) Mengakomodasi muatan lokal dapat berupa keunggulan lokal, kearifan lokal, kekinian dll yang sesuai dengan cakupan materi pada KD pengetahuan 6 MetodePembelajara n 1) Harus mampu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai 2) Menerapkan pembelajaran aktif (peserta didik yang aktif) yang bermuara pada pengembangan HOTS 3) Menggambarkan sintaks/tahapan yang jelas (apabila menggunakan model pembelajaran tertentu). 4) Sesuai dengan tujuan pembelajaran 5) Menggambarkan proses pencapaian kompetensi 7 Media Pembelajaran 1) berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran


118 No Komponen RPP Penjelasan 2) Mendukung pencapaian kompetensi dan pembelajaran aktif dengan pendekatan ilmiah 3) Sesuai dengan karakterisitik peserta didik 4) Memanfaatan teknologi pembelajaran sesuai dengan konsep dan prinsip tekno-pedagogis 8 SumberBelajar Dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan 9 LangkahlangkahPembelajar an 1) Diintegrasi: a) 4C (kemampuan berkomunikasi, kemampuan berinteraksi, kemampuan berpikir/lebih luas dari HOTS): CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK): PROSES KONSEPTUALISASI, MENERAPKAN, MENGANALISIS, DAN MENGEVALUASI MELALUI PROSES BERPIKIR DEDUKTIF DAN INDUKTIF (sintesis dari Scrivendan Paul, 1984; Facione, dkk., 1995; Scheffer dan Rubenfield, 2000). CREATIVITY (KREATIVITAS): KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN SOLUSI, IDE, KONSEP, TEORI, PROSEDUR, PRODUK. INOVASI ADALAH BENTUK KREATIVITAS (sintesis antara Fullan, 2013 dan OECD, 2014) COLLABORATION (KERJASAMA): KEMAMPUAN KERJASAMA DALAM KELOMPOK BAIK TATAP MUKA ATAU MELALUI KOMUNIKASI DUNIA MAYA UNTUK MEMECAHKAN MASALAH, MENYELESAIKAN KONFLIK, MEMBUAT KEPUTUSAN, DAN NEGOSIASI UNTUK MENCAPAI TUJUAN TERTENTU (sintesis antara Lai, 2011 dan Dede, 2010) COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI): KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PIKIRANATAU PANDANGAN DAN HASIL LAIN DALAM BENTUK LISAN, TULISAN, MENGGUNAKAN IT, DAN KEMAMPUAN MENDENGAR, KEMAMPUAN MEMAHAMI PESAN (revisidariFullan, 2013, Canada, 2014) a) HOTS (kemampuan berpikir tingkat tinggi)


119 No Komponen RPP Penjelasan b) Literasi antara lain pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan, dll c) Karakter (PPK) 2) Pembelajaran dirancang: interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pesertadidik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik 3) Dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup a) KegiatanPendahuluan: menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik dan jenjang peserta didik; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. b) Kegiatan Inti: menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatanlain yang relevan dengan karakteristik materi dan mata pelajaran. Mengembangkan sikap melalui proses afeksi


120 No Komponen RPP Penjelasan mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan (seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas tersebut) Mengembangkan pengetahuan melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Mengembangkan keterampilan melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi materi mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong peserta didik untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. c) Kegiatan Penutup Guru bersama peserta didik baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi hal-hal berikut. seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung; memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok; dan menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan 10 PenilaianHasilBelaj ar 1) Sesuai dengan kompetensi (IPK dan atau KD) 2) Sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran 3) Sesuai materi pembelajaran 4) Memuat soal HOTS dan soal-soal keterampilan khusus mata pelajaran (misalnya Agama, SeniBudaya, Bahasa, dll)


121 No Komponen RPP Penjelasan 5) Memuat: a) Lingkup penilaian: sikap, pengetahuan, keterampilan b) Teknik penilaian Sikap: observasi, jurnal Pengetahuan: testulis, tes lisan, penugasan Keterampilan: praktik, proyek, portofolio c) Bentuk instrumen Lembar observasi Soal pilihan ganda, soal esai, isian singkat, dll (mengembangkan soal HOTS/ tingkat berpikir tinggi dari suatu kemampuan kognitif) Rubrik praktik/unjuk kerja, rubric proyek, rubric portofolio 11 Lampiran Hal-hal yang mendukung, misalnya a) uraian materi yang memang diperlukan b) instrumen penilaian dilengkapi dengan pedoman penskoran, dll e. Ketentuan Peyusunan RPP 1) Seperti halnya silabus, RPP disusun oleh mata pelajaran pada awal tahun pelajaran sebelum kegiatan pembelajaran dimulai agar guru memiliki persiapan yang matang. Untuk keperluan penyusunan E-KTSP tahun pelajaran 2022/2023, RPP disusun pada bulan Januari s.d. Mei 2022 2) RPP yang telah disusun oleh guru mapel selanjutnya disetor/dikumpulkan ke Waka Kurikulum untuk diperiksa bersama Tim PKG SMA Negeri 1 Sulang. Setelah diperiksa oleh Waka Kurikulum dan Tim PKG, RPP selanjutnya diperiksa ulang dan disahkan penggunaannya oleh Kepala Sekolah 3) RPP yang telah diperiksan dan disahkan oleh sekolah selanjutnya diverifikasi oleh Pengawas Sekolah di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III.


122 B. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Pelaksanaan pembelajaran pada dasarnya untuk mendorong siswa aktif memenuhi kebutuhan mewujudkan kompetensinya yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Rincian gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut Untuk mendukung pembelajaran yang efektif diperlukan suasana belajar yang mendukung sesuai dengan Permendikbud 22 Tahun 2016, yaitu : 4) Alokasi Waktu Jam Tatap Muka Pembelajaran (1) SD/MI : 35 menit (2) SMP/MTs : 40 menit (3) SMA/MA : 45 menit (4) SMK/MAK : 45 menit . 5) Jumlah rombongan belajar per satuan pendidikan dan jumlah maksimum peserta didik dalam setiap rombongan belajar dinyatakan dalam tabel berikut:


123 Pelaksanaan pembelajaran semestinya berlandaskan RPP yang mencakup kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. 1. Kegiatan Pendahuluan Adapun urutan kegiatan pendahuluan sebagai berikut: a. menyiapkan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran; b. memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional. c. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; d. menyajikan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan e. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Langkah kegiatan ini sebaiknya dituangkan catatan pelaksanaan kegiatan mengajar untuk membuktikan bahwa guru melakukan 5 langkah kegiatan dalam pendahuluan. 2. Kegiatan Inti Kegiatan inti menggunakan penekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang sesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan /atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan


124 jenjang pendidikan. Karakteristik proses pembelajaran hendaknya diarahkan untuk mewujudkan kompetensi berikut: a. Dalam mewujudkan kompetensi sikap siswa, guru hendaknya memilih perilaku; menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang menambah pengalaman peserta didik untuk melakuan aktivitas yang sesuai. b. Dalam mengembangkan kompetensi pengetahuan guru hendaknya memilih aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk memperkuat pendekatan saintifik, tematik terpadu, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). c. Dalam mengembangan keterampilan guru hedaknya memilih aktivias mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Jika diperhatikan secara seksama keterampilan yang dikembangkan merpkan bertuk softskill Seluruh isi materi (topik dan sub topik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus siswa kuasai. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). 3. Kegiatan Penutup Dalam kegiatan penutup guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk mengevaluasi dengan melakukan beberapa langkah kegiatan berikut: a. Mengevaluasi rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat pembelajaran yang telah berlangsung; b. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; c. melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas, baik tugas individual atau maupun kelompok; d. menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.


125 C. PENILAIAN 1. Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) a. Pengertian Ketuntasan Belajar adalah tingkat minimal pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan meliputi ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar. Ketuntasan Belajar terdiri atas ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar. Ketuntasan penguasaan substansi yaitu ketuntasan belajar KD yang merupakan tingkat penguasaan peserta didik atas KD tertentu pada tingkat penguasaan minimal atau di atasnya, sedangkan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar terdiri atas ketuntasan dalam setiap semester, setiap tahun ajaran, dan tingkat satuan pendidikan. Ketuntasan Belajar dalam satu semester adalah keberhasilan peserta didik menguasai kompetensi dari sejumlah mata pelajaran yang diikutinya dalam satu semester. Ketuntasan Belajar dalam setiap tahun ajaran adalah keberhasilan peserta didik pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran. Ketuntasan dalam tingkat satuan pendidikan adalah keberhasilan peserta didik menguasai kompetensi seluruh mata pelajaran dalam suatu satuan pendidikan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. KBM ditentukan oleh satuan pendidikan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan. KBM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek, yaitu kompleksitas materi/kompetensi, intake (kualitas peserta didik), serta guru dan daya dukung satuan pendidikan. 1) Aspek karakteristik materi/kompetensi yaitu memperhatikan kompleksitas KD dengan mencermati kata kerja yang terdapat pada KD tersebut dan berdasarkan data empiris dari pengalaman guru dalam membelajarkan KD tersebut pada waktu sebelumnya. Semakin tinggi aspek kompleksitas materi/kompetensi, semakin menantang guru untuk meningkatkan kompetensinya. 2) Aspek intake yaitu memperhatikan kualitas peserta didik yang dapat diidentifikasi antara lain berdasarkan hasil ujian nasional pada jenjang pendidikan sebelumnya, hasil tes awal yang dilakukan oleh sekolah, atau


126 nilai rapor sebelumnya. Semakin tinggi aspek intake, semakin tinggi pula nilai KBMnya. 3) Aspek guru dan daya dukung antara lain memperhatikan ketersediaan guru, kesesuaian latar belakang pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diampu, kompetensi guru (misalnya hasil Uji Kompetensi Guru), rasio jumlah peserta didik dalam satu Kelas, sarana prasarana pembelajaran, dukungan dana, dan kebijakan sekolah. Semakin tinggi aspek guru dan daya dukung, semakin tinggi pula nilai KBM-nya. b. Penetapan KBM KBM sebaiknya dibuat sama untuk semua mata pelajaran pada semua tingkat Kelas, artinya nilai KBM sama untuk semua mata pelajaran pada suatu sekolah. Nilai KBM ditulis dalam dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah. Secara teknis prosedur penentuan KBM mata pelajaran pada Satuan Pendidikan dapat digambarkan pada alur sebagai berikut: Gambar 2.2. Alur penentuan KBM 1) Menetapkan KBM setiap kompetensi dasar (KD), yang menggunakan kriteria analisis dengan mempertimbangkan aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), serta guru dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung); 2) Menetapkan KBM mata pelajaran yang merupakan rata-rata dari semua KBM kompetensi dasar yang terdapat dalam satu mata pelajaran; 3) Menetapkan KBM pada tingkatan Kelas yang merupakan rata-rata dari semua KBM mata pelajaran pada setiap tingkatan Kelas; dan 4) Menetapkan KBM satuan pendidikan yang merupakan rata-rata dari semua KBM pada setiap tingkatan Kelas XI, dan XII dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran. c. Contoh kriteria dan skala penilaian penetapan KBM.


127 Untuk memudahkan analisis setiap KD, perlu dibuat skala penilaian yang disepakati oleh guru mata pelajaran. Tabel 26 Kriteria dan Skala Penilaian Penetapan KBM Aspek yang dianalisis Kriteria dan Skala Penilaian Kompleksitas Tinggi < 65 Sedang 65-79 Rendah 80-100 Guru dan Daya Dukung Tinggi 80-100 Sedang 65-79 Rendah < 65 Intake peserta didik Tinggi 80-100 Sedang 65-79 Rendah < 65 1) Menentukan KBM setiap KD dengan rumus berikut Jumlah skor setiap aspek KBM per KD = Jumlah aspek Misalkan aspek daya dukung mendapat skor 90 aspek kompleksitas mendapat skor 70 aspek intake mendapat skor 65 Jika bobot setiap aspek sama, nilai KBM untuk KD tersebut KKM-KD = = 75 Dalam menetapkan nilai KBM-KD, pendidik/satuan pendidikan dapat juga memberikan bobot berbeda untuk masing-masing aspek. Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan. Tabel 27 Kriteria Penskoran Aspek yang dianalisis Kriteria penskoran Kompleksitas Tinggi 1 Sedang 2 Rendah 3


128 Guru dan Daya Dukung Tinggi 3 Sedang 2 Rendah 1 Intake peserta didik Tinggi 3 Sedang 2 Rendah 1 Jika KD memiliki kriteria kompleksitas tinggi, guru dan daya dukung tinggi, serta intake peserta didik sedang, maka nilai KBM-nya adalah: KBM-KD = x100 = 66,7 Nilai KBM merupakan angka bulat, maka nilai KBM-nya adalah 67. 2) Menentukan KBM setiap mata pelajaran dengan rumus: Jumlah KBM perKD KBM mata pelajaran = Jumlah KD 3) Menentukan KBM setiap tingkatan Kelas dengan rumus: Jumlah KBM per MP KBM tingkatan Kelas = Jumlah MP pada tiap Kelas 4) Menentukan KBM satuan pendidikan dengan rumus: Jumlah KBM pertingkat Kelas KBM satuan pendidikan = 3 d. KBM dan Interval Predikat Setelah satuan pendidikan menentukan KBM selanjutnya satuan pendidikan membuat interval predikat untuk menggambarkan kategori kualitas sekolah. Kategori kualitas sekolah dalam bentuk predikat D, C, B dan A. Nilai KBM


129 merupakan nilai minimal untuk predikat C dan secara bertahap satuan pendidikan meningkatkan kategorinya sesuai dengan peningkatan mutu satuan pendidikan. Predikat untuk pengetahuan dan keterampilan ditentukan berdasarkan interval angka pada skala 0-100 yang disusun dan ditetapkan oleh satuan pendidikan. Penetapan tabel interval predikat untuk KBM dibuat seperti contoh pada tabel berikut. Misalnya KBM satuan pendidikan = N (besar nilai N adalah bilangan asli < 100) Tabel 46 Penetapan Interval Predikat KBM Predikat D C B A N < N N ≤ …… …… ……≤ 100 Satuan pendidikan menentukan satu KBM untuk semua mata pelajaran baik pada satu tingkat Kelas maupun tingkat sekolah. Setelah KBM setiap mata pelajaran ditentukan, satuan pendidikan dapat menetapkan satu KBM yang sama dengan mempertimbangkan nilai terendah, rata-rata, atau modus dari seluruh KBM mata pelajaran. Misalnya, SMA Negeri 1 Sulang memiliki KBM mata pelajaran terendah= 63 dan tertinggi= 65. Jika ditentukan reratanya maka diperoleh 64. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka SMA “Indonesia Cerdas” dapat menentukan satu KBM yang berlaku untuk semua mata pelajaran berdasarkan rata-rata yaitu 64, atau berdasarkan nilai terendah yaitu 63, atau bisa juga nilai diantara 63 dan 65 sesuai kesepakatan bersama melalui rapat Dewan Guru. Model interval nilai dan predikat menggunakan satu ukuran. Pada contoh di atas SMA “Indonesia Cerdas” memiliki satu KBM yaitu 65, maka interval nilai dan predikat untuk semua mata pelajaran menggunakan tabel yang sama, sebagaimana ditunjukkan di bawah ini. Tabel 28. Interval predikat untuk KBM= 65 Interval Predikat 88 –100 A


130 76 – 87 B 65 – 75 C < 65 D Ketuntasan belajar ditentukan dengan Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) tiap mata pelajaran berdasarkan : intak siswa, kompleksitas, dan daya dukung. KBM ditentukan oleh masing-masing guru mata pelajaran dengan berpedoman kepada nilai input atau rata-rata nilai terakhir yang diperoleh peserta didik pada setiap jenjang Kelas. Setiap guru mata pelajaran di SMA Negeri 1 Sulang meningkatkan kriteria ketuntasan minimal secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Penetapan KBM berdasarkan SKL dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan sumber daya pendidikan di SMA Negeri 1 Sulang. Berdasarkan Permendikbud 53 tahun 2015, Penentapan KBM di SMA Negeri 1 Sulang sama untuk semua mata pelajaran. Tabel 29 KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL Mata Pelajaran : Kelas : KBM : Tahun Pelajaran : Standar Kompetensi : Kompetensi Dasar / Indikator Ketuntasan Belajar Mengajar Kriteria Penentuan Ketuntasan Kompleksitas Daya Dukung Intak Siswa


131 Tabel 30 REKAPITULASI KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL (KBM) Mata Pelajaran : Kelas : Semester : Tahun Pelajaran : No KBM KD SK MAPEL PENETAPAN KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL ( KBM ) MATA PELAJARAN SMA NEGERI 1 SULANG TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Tabel 31 KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL ( KBM ) XI dan XII MIPA MATA PELAJARAN Pengetahu Ketrampil Sikap Kelompok A (Wajib) 1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 65 65 B 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 65 65 B 3. Bahasa Indonesia 65 65 B 4. Matematika 65 65 B 5. Sejarah Indonesia 65 65 B 6. Bahasa Inggris 65 65 B Kelompok B (Wajib) 7. Seni Budaya 65 65 B 8. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 65 65 B 9. Prakarya dan Kewirausahaan 65 65 B


132 10. Bahasa Jawa 65 65 B Kelompok C (Peminatan) Mata Pelajaran Peminatan MIPA I 1 Matematika 65 65 B 2 Biologi 65 65 B 3 Fisika 65 65 B 4 Kimia 65 65 B Mata Pelajaran Lintas Minat MIPA II 1 Sosiologi 65 65 B 2 Bahasa dan Sastra Inggris 65 65 B Table 32 KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL ( KBM ) XI dan XII IPS MATA PELAJARAN Pengetah Ketrampil Sikap Kelompok A (Wajib) 1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 65 65 B 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 65 65 B 3. Bahasa Indonesia 65 65 B 4. Matematika 65 65 B 5. Sejarah Indonesia 65 65 B 6. Bahasa Inggris 65 65 B Kelompok B (Wajib) 7. Seni Budaya 65 65 B 8. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 65 65 B 9. Prakarya dan Kewirausahaan 65 65 B 10. Bahasa Jawa 65 65 B Kelompok C (Peminatan) Mata Pelajaran Peminatan MIPA I 1 Sejarah 65 65 B 2 Geografi 65 65 B


133 3 Ekonomi 65 65 B 4 Sosiologi 65 65 B Mata Pelajaran Lintas Minat MIPA II 1 Biologi 65 65 B 2 Bahasa dan Sastra Inggris 65 65 B 2. Mekanisme Penilaian Pelaksanaan penilaian diawali dengan kegiatan pendidik melakukan analisis kompetensi pada aspek pengetahuan dan keterampilan yang diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ke dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) kemudian dirumuskan menjadi indikator. pencapaian kompetensi (IPK) pada setiap mata pelajaran. IPK untuk KD pada KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan PPKn termasuk perumusan indikator sikap dari KD-KD pada KI-1 dan KI-2. IPK dikembangkan menjadi indikator soal yang diperlukan untuk penyusunan instrumen penilaian. Indikator soal merupakan rambu-rambu dalam penyusunan butir soal atau tugas. a. Jenis Penilaian Jenis penilaian ada 2 yaitu : 1) Penilaian Proses Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment) yang menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar peserta didik yang mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) pada aspek pengetahuan dan dampak pengiring (nurturant effect) pada aspek sikap. Hasil penilaian otentik digunakan guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial) pembelajaran, pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Hasil penilaian otentik digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan.


134 Evaluasi proses pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dengan menggunakan alat: lembar pengamatan, angket sebaya, rekaman, catatan anekdot, dan refleksi. Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dan di akhir satuan pelajaran dengan menggunakan metode dan alat: tes lisan/perbuatan, dan tes tulis. Hasil evaluasi akhir diperoleh dari gabungan evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran. 2) Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar kurikulum 2013 mengacu pada Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 yang telah diperbarui dengan Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 dan direvisi Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 serta Panduan Penilaian SMA dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah/Direktorat Pembinaan SMA tahun 2017. Penilaian hasil belajar meliputi ranah pengetahuan, ketrampilan dan sikap : c) Penilaian ranah pengetahuan Penilaian ranah pengetahuan dilakukan dalam bentuk : (1) Penilaian Harian (2) Penilaian Tengah Semester / Akhir Semester (3) Penilaian Akhir Tahun d) Penilaian ranah ketrampilan Penilaian ranah ketrampilan dilakukan dalam bentuk : (1) Penilaian praktik (2) Penilaian produk (3) Penilaian proyek (4) Penilaian portofolio e) Penilaian ranah sikap (1) Penilaian sikap spiritual (2) Penilaian sikap sosial b. Teknik Penilaian Teknik yang digunakan untuk penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap adalah sebagai berikut: 1) Penilaian kompetensi pengetahuan (a) Tes tulis (b) Tes lisan


135 (c) Penugasan 2) Penilaian kompetensi keterampilan (a) Tes praktik (b) Produk (c) Projek (d) Portofolio 3) Penilaian kompetensi sikap (a) observasi, (b) Jurnal. Keterangan : Instrumen yang digunakan untuk observasi adalah lembar pengamatan berupa daftar cek (checklist) atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik. Nilai sikap dikualifikasikan menjadi predikat sebagai berikut: SB = Sangat Baik = 85 - 100 B = Baik = 75 - 84 C = Cukup = 69 - 74 K = Kurang = < 69 KI 1 dan KI 2 Observasi guru dalam jurnal yang ditulis yang KURANG dan yang AMAT BAIK Sikap dikatakan Tuntas, jika predikat minimal B (baik) Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan skala 100, sedangkan kompetensi sikap menggunakan skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K), yang dapat dikonversi ke dalam Predikat A - D seperti pada Tabel di bawah ini. Pengetahuan dan Keterampilan, dikatakan Tuntas jika predikat Minimal C. K-13: Sebuah mapel dikatakan Tuntas , jika Pengetahuan dan keterampilan Tuntas. Predikat untuk Pengetahuan dan Keterampilan, didasarkan pada KBM/KKM masing2 sekolah. Contoh: Jika KBM/KKM 65, maka - < 65. = D (tidak tuntas) - 65 – 75. = C (tuntas dg cukup)


136 - 76 – 85. = B (tuntas dg baik) - 86-100. = A (tuntas dengan sangat baik) Tabel 3 3 Konversi Kompetensi Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap Predikat Nilai Kompetensi Pengetahuan Pengetahuan Ketrampilan Keterampilan Sikap A 86 – 100 86 – 100 Sikap SB B 76 – 85 76 – 85 B C 65 – 75 65 – 75 C C D 55 – 64 55 – 64 K E 0 – 54 0 – 54 (Permendikbud 53 Tahun 2015) Ketuntasan minimal untuk seluruh kompetensi dasar pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yaitu 65 (C) Pencapaian minimal untuk kompetensi sikap adalah B. Untuk kompetensi yang belum tuntas, kompetensi tersebut dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum melanjutkan pada kompetensi berikutnya. Untuk mata pelajaran yang belum tuntas pada semester berjalan, dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum memasuki semester berikutnya. c. Instrumen Penilaian 1) Instrumen Penilaian Pengetahuan Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada gambar berikut.


137 Gambar 4.3. Skema Penilaian Pengetahuan Berikut penjelasan Gambar 4.3. Tes Tertulis Tes tertulis adalah tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta tes. Tes tertulis menuntut respons dari peserta tes yang dapat dijadikan sebagai representasi dari kemampuan yang dimiliki. Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benarsalah, menjodohkan, dan uraian. Pengembangan instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah sebagai berikut. Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan, diagnostik, formatif, atau sumatif. Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai acuan menulis soal. Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang kriteria soal yang akan ditulis, meliputi KD yang akan diukur, materi, indikator soal, level kognitif, bentuk soal, dan nomor soal. Dengan adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarah sesuai dengan tujuan tes dan proporsi soal per KDatau materi yang hendak diukur lebih tepat. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan butir soal. Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan. Pada soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan jawaban singkat disediakan kunci jawaban karena jawaban dapat diskor dengan objektif. Sedangkan untuk soal uraian disediakan pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban, kata-kata kunci (key words), dan rubrik dengan skornya. Melakukan analisis kualitatif (telaah soal) sebelum soal diujikan, yaitu analisis tentang validitas meliputi substansi (materi), konstruksi, dan bahasa. Contoh Kisi-Kisi Nama Satuan Pendidikan : SMA N 1 Sulang Tahun pelajaran : ………………….. Kelas/Semester : ….. / …………….


138 Mata Pelajaran : ………………….. Tabel 34 Model Kisi-Kisi Tes Tertulis Bentuk Pilihan Ganda No. Kompetensi Dasar Materi Indikator Soal Level kognitif No Soal Bentuk Soal 1 3.8 Menganalisis sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya. Sifat larutan Disajikan tabel hasil percobaan uji larutan, peserta didik dapat menentukan senyawa yang merupakan larutan elektrolit dan non elektrolit. Penalaran (C4) 1 PG Setelah menyusun kisi–kisi, selanjutnya mengembangkan butir soal dengan memperhatikan kaidah penulisan butir soal yang meliputi substansi/materi, konstruksi, dan bahasa. a) Tes tulis bentuk pilihan ganda Butir soal pilihan ganda terdiri atas pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Untuk tingkat SMA biasanya digunakan 5 (lima) pilihan jawaban. Dari kelima pilihan jawaban tersebut, salah satu adalah kunci (key) yaitu jawaban yang benar atau paling tepat, dan lainnya disebut pengecoh (distractor). Kaidah penulisan soal bentuk pilihan ganda sebagai berikut. (1) Substansi/Materi Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk PG). Tidak bersifat SARA dan PPPK (suku/agama/ras/ antargolongan / pornografi/politik/propaganda/kekerasan) Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi (UKRK: urgensi, keberlanjutan, relevansi, dan keterpakaian). Pilihan jawaban homogen dan logis.


139 Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat. (2) Konstruksi Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban. Pokok soal tidak menggunakan pernyataan negatif ganda. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sebagainya jelas dan berfungsi. Panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama. Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua pilihan jawaban benar” atau “semua pilihan jawaban salah”. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan besar kecilnya angka atau kronologis kejadian. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya. (3) Bahasa Menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, kecuali untuk mata pelajaran bahasa Asing dan/atau bahasa daerah. Menggunakan bahasa yang komunikatif. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian. Contoh butir soal pilihan ganda mata pelajaran kimia berdasarkan contoh kisi-kisi di atas. Rumusan butir soal: Perhatikan data percobaan uji larutan berikut! Larutan No Pengamatan pada Elektroda Lampu (1) Tidak ada gelembung Padam (2) Sedikit gelembung Padam (3) Sedikit gelembung Redup


140 (4) Banyak gelembung Redup (5) Banyak gelembung Menyala Pasangan senyawa yang merupakan larutan elektrolit dan non elektrolit berturutturut ditunjukkan oleh larutan nomor …. A. (1) dan (2) B. (1) dan (3) C. (3) dan (4) D. (2) dan (5) E. (5) dan (1) Kunci: E b) Tes tulis bentuk uraian Tes tulis bentuk uraian atau esai menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan dan menuliskan jawaban dengan kalimatnya sendiri. Penilaian untuk SMA sebaiknya lebih banyak menilai keterampilan berpikir tingkat tinggi/high order thinking skills (HOTS) yaitu bentuk soal yang memiliki tingkatan berpikir menganalisis, mengevaluasi, sampai ke mencipta. Untuk melatih HOTS sebaiknya penilaian lebih banyak diberikan dalam bentuk uraian. Kaidah penulisan soal bentuk uraian sebagai berikut. (1) Substansi/materi Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk uraian). Tidakbersifat SARA dan PPPK (Suku/Agama/Ras/Antar golongan/ Pornografi/ Politik/Propaganda/Kekerasan). Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sesuai. Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan tingkat Kelas (X, XI, atau XII). (2) Konstruksi Ada petunjuk yang jelas mengenai cara mengerjakan soal. Rumusan kalimat soal/pertanyaan menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya harus jelas dan berfungsi. Ada pedoman penskoran atau rubrik.


141 (3) Bahasa Rumusan kalimat soal/pertanyaan komunikatif. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku, kecuali untuk mata pelajaran bahasa asing dan/atau bahasa daerah. Tidak mengandung kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. Tidak mengandung kata yang menyinggung perasaan. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat. Contoh Kisi-Kisi Soal Uraian Nama Satuan Pendidikan : SMA N 1 Sulang Tahun pelajaran : ………………….. Kelas/Semester : ….. / ……………. Mata Pelajaran : ………………….. Tabel 35 Model Kisi-Kisi Tes Tertulis Bentuk Uraian No. Kompetensi Dasar Materi Indikator Soal Level kognitif No Soal Bentuk Soal 1 3.3 Menjelaskan matriks dan kesamaan matriks dengan menggunakan masalah kontekstual dan melakukan operasi pada matriks yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian skalar, dan perkalian, serta transpose Matriks Diberikan permasalah an nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dapat menganalis isnya dalam bentuk matriks. Penalaran (C4) 1 Uraian Contoh Rumusan butir soal uraian berdasarkan contoh kisi-kisi di atas. Perhatikan informasi berikut : Agen perjalanan menawarkan paket perjalanan ke Bali. Paket I terdiri atas 4 malam menginap, 3 tempat wisata dan 5 kali makan. Paket II


142 dengan 3 malam menginap, 4 tempat wisata dan 7 kali makan. Paket III dengan 5 malam menginap, 4 tempat wisata dan tidak ada makan. Sewa hotel Rp 400.000,00 per malam, transportasi ke setiap tempat wisata Rp 80.000,00, dan makan di restoran yang ditunjuk Rp 90.000,00. Setiap kali makan. a. Nyatakan dalam matriks harga sewa hotel, transportasi, dan makan. Nyatakan dalam matriks paket yang ditawarkan. b. Dengan menggunakan perkalian matriks, tentukan matriks biaya untuk setiap paket. c. Paket mana yang menawarkan biaya termurah? Tabel 36 Pedoman penskoran No Jawaban Skor a Matriks bentuk tabel: Biaya Sewa hotel per malam 400.000 Transportasi ke setiap tempat wisata 80.000 Makan setiap kali 90.000 Menginap Tempat wisata Makan Paket I 4 3 5 Paket II 3 4 7 Paket III 5 4 0 1 1 1 1


143 Skor perolehan Nilai siswa = x100 14 Tes lisan Tes lisan merupakan pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. Jawaban peserta didik dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf. Tes lisan menumbuhkan sikap peserta didik untuk berani berpendapat. Rambu-rambu pelaksanaan tes lisan sebagai berikut. a) Tes lisan dapat digunakan untuk mengambil nilai (assessment of learning) dan dapat juga digunakan sebagai fungsi diagnostik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap kompetensi dan materi pembelajaran (assessment for learning). b) Pertanyaan harus sesuai dengan tingkat kompetensi dan lingkup materi pada kompetensi dasar yang dinilai. c) Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mengonstruksi jawaban sendiri. d) Pertanyaan disusun dari yang sederhana ke yang lebih komplek. Contoh pertanyaan untuk tes lisan dalam pembelajaran. Nama Satuan Pendidikan : SMA N 1 Sulang Tahun pelajaran : ………………….. Kelas/Semester : ….. / …………….


Click to View FlipBook Version