The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-20 22:21:32

Jelajah Nusantara 3 Catatan Perjalanan Enam Belas Orang Peneliti Kesehatan

Agung Dwi Laksono (editor)

Antara Buaya, Yai Aya dan Jatuh Cinta

kemana. Padahal yang saya tahu, hampir semua penduduk di
Kabau telah melengkapi rumahnya dengan jamban/wc,
termasuk rumah anak-anak yang pagi itu merusak selera saya
untuk melanjutkan jalan-jalan di bibir pantai. Mungkin alasan
kepraktisan agar setelah selesai bisa langsung cuci bokong ke
laut atau kurangnya penyuluhan akan pentingnya membuang
air besar di jamban, hingga mereka berperilaku demikian.
Entahlah, nanti jawabannya akan saya cari tahu lagi melalui
wawancara mendalam.

Masalah kesehatan masyarakat lainnya yang saya
temukan adalah kebiasaan merokok yang dilakukan oleh
hampir sebagian besar laki-laki Kabau. Mulai dari remaja
hingga yang telah lanjut usia, para lelaki Kabau seakan
menjadikan rokok sebagai teman pergi kemana saja dan
dalam aktivitas apapun. Dalam beberapa kesempatan saya
berinteraksi dengan informan-informan penelitian, mau tidak
mau, suka tidak suka, tawaran merokok dan paparan asap
rokok terpaksa saya rasakan. Demikian pula halnya dalam
beberapa jamuan seperti acara peringatan hari kematian dan
pesta perkawinan, suguhan rokok harus disediakan bersama
sajian lainnya yang kedudukannya setara dengan nasi dan
lauk pauk yang wajib ada. Kondisi ini menjadi bukti nyata hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang
menempatkan Maluku Utara sebagai provinsi dengan
proporsi penduduk usia ≥ 15 tahun yang mengkonsumsi
tembakau hisap dan kunyah terbanyak ke-dua di Indonesia.

Poligami, pernikahan di bawah umur dan pergaulan
bebas juga menjadi fenomena sosial tersendiri di Kabau. Di
beberapa kesempatan melakukan wawancara mendalam

42

Jelajah Nusantara #3

dengan ibu hamil, ibu bersalin dan nifas serta remaja terkait
kesehatan reproduksi, fakta mengejutkan terkuak. Usia
perkawinan mereka rata-rata di bawah 17 tahun dan banyak
di antaranya terjadi karena kehamilan di luar nikah.
Bertebaran lah ibu-ibu muda usia 20 tahun ke bawah yang
telah memiliki anak 1 orang, dan bahkan lebih. Kondisi ini
diperkuat lagi dengan pengakuan informan dari kalangan
remaja putra dan para pemuda yang dengan bangga
menceritakan pengalaman-pengalaman seks di luar nikah
mereka. Yang tak kalah membuat tercengang ketika
mayoritas para lelaki dewasa Kabau yang menjadi informan
riset kami, rata-rata ternyata telah menikah lebih dari 1 kali.
Sebagian karena dengan sengaja berpoligami, dan sebagian
lainnya akibat cerai atau ditinggal mati isteri.

Filariasis (penyakit kaki gajah) yang menjadi alasan
utama kami memilih Kabau sebagai lokasi melakukan REK pun
pelan-pelan menemukan jawabannya. Enam desa di wilayah
kerja Puskesmas Kabau tuntas kami kunjungi di minggu
pertama masa pengumpulan data. Selain mengunjungi kasus
Filariasis positif yang telah kami kantongi datanya, kasus-
kasus suspek (tersangka) yang memiliki gejala klinis pun
berhasil kami temukan. Hasil rekapitulasi data sementara
kami menyimpulkan bahwa tidak ada satupun desa di wilayah
kerja Puskesmas Kabau yang bebas dari kasus positif maupun
kasus tersangka klinis Filariasis. Gejala klinis yang tampak
berupa pembesaran kaki atau kaki gajah yang disebut
penduduk setempat Yai Aya dan pembesaran skrotum (buah
zakar) pada pria yang dalam bahasa daerah mereka sebut
sebagai Fattel Aya. Kasus-kasus suspek ini masih tersebar di

43

Antara Buaya, Yai Aya dan Jatuh Cinta

beberapa desa dan sepertinya belum tersentuh pemeriksaan
lebih lanjut oleh petugas kesehatan. Terbukti penuturan
Pengelola Program Filariasis Dinkes Kabupaten yang
menceritakan bahwa ada salah seorang penderita Filariasis di
wilayah Puskesmas lain menolak pengobatan. Semata-mata
karena keyakinan bahwa penyakitnya akibat pengaruh mistis
telaga saat dia pernah tinggal di Desa Kabau laut.

Persepsi bahwa filariasis disebabkan terkena tulah
penuntutan akibat sewaktu hamil orang tua berburu binatang
dengan cara menjeratnya di kaki, juga diyakini sebagian
keluarga penderita. Ramuan tradisional dari akar, batang atau
daun yang kemudian ditambah dengan bacaan doa yang
mereka sebut tiup-tiup, menjadi pilihan pengobatan penyakit
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini. Program
pengobatan massal Filariasis telah digagas Dinkes Kabupaten
Kepulauan Sula sebagai daerah dengan mikrofilaria rate ≥ 1%
sejak tahun 2015 (tahun pertama) hingga 4 tahun ke depan.
Pengobatan bertujuan memutus mata rantai penularan demi
terwujudnya eliminasi Filariasis tahun 2020. Namun evaluasi
sederhana yang sempat kami lakukan melalui beberapa
informan, menunjukkan hasil yang tidak menggembirakan.
Banyak informan tidak mengetahui pernah ada pengobatan
massal atau pembagian obat untuk Filariasis. Sebagian besar
yang mendapat pembagian obat massal, tidak mendapat
penjelasan dan pemahaman atau sosialisasi yang cukup
tentang Filariasis. Hingga kemudian beberapa informan
mengaku tidak perlu meminum paket obat tersebut karena
merasa tidak memiliki keluhan atau gejala yang mengarah
pada penyakit Filariasis. Mendapati hal ini, saya sempatkan

44

Jelajah Nusantara #3

berbagi informasi akan pentingnya pengobatan massal
Filariasis bagi daerah endemis seperti wilayah mereka. Selain
agar kegiatan tersebut dapat efektif memberantas Filariasis,
juga supaya biaya sangat mahal yang dikeluarkan pemerintah
untuk mendanainya tidak berakhir sia-sia hanya karena
kurangnya kepatuhan dengan angka keberhasilan pengobatan
yang rendah.

Gambar 10. Penderita dan suspek Filariasis yang tersebar di semua desa
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Permasalahan kesehatan klasik lainnya seperti
banyak terjadi di pelosok sangat terpencil negeri ini, adalah
keterbatasan sarana dan tenaga di fasilitas pelayanan
kesehatan. Puskesmas Kabau menjadi perpanjangan tangan
dan ujung tombak pemerataan pelayanan kesehatan ke 6
desa sangat terpencil di luas wilayah 246 km2 yang sebagian

45

Antara Buaya, Yai Aya dan Jatuh Cinta

besar hanya bisa ditempuh melalui jalur laut. Puskesmas yang
melayani 4.821 penduduk ini, hanya di motori oleh 4 orang
petugas kesehatan PNS (termasuk kepala Puskesmas yang
berpendidikan perawat), bidan desa pegawai tidak tetap (PTT)
yang tersebar di 6 desa serta 3 orang honorer sukarela.
Bagaimana bicara soal kualitas pelayanan yang diberikan, jika
secara kuantitas saja kondisi fasilitas dan sarana kesehatan di
belahan negeri berpantai indah ini, ibarat pepatah “jauh
panggang dari api”.

Gambar 11. Pelayanan Imunisasi BCG dan Bayi-Bayi Posyandu di Kabau
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sebagai contoh kecil, saya yang diminta membantu
pemberian imunisasi di Posyandu “terpaksa” melewatkan
tindakan pembersihan area penyuntikan, karena ketiadaan
46

Jelajah Nusantara #3

alkohol swab atau yang minimal sekalipun, kapas air hangat.
Injeksi vaksinasi BCG pun “terpaksa” menggunakan jarum dan
spuit ukuran yang lebih besar dari seharusnya, juga karena
ketiadaan spuit Auto Destructible Syringe (ADS) 1 cc atau 0,05
cc. Semua terjadi atas alasan “keterbatasan”. Hati saya miris
dan merasa ikut bersalah hanya mampu memberikan yang
demikian ke bayi-bayi negeri Timur yang lucu. Binar cahaya
mata-mata mereka seolah berkata, “...berikan kami cinta
kasih dan hak sehat yang sama, seperti teman-teman di kota
sana...,” membuat saya harus berbesar hati. Jikapun
pemberian imunisasi dengan beberapa protap yang
terabaikan itu belum mampu menjadi efektif untuk
melindungi mereka dari peyakit, semoga doa dan ingin saya
sesudahnya diijabah oleh Penguasa Semesta. Saya berharap
mereka terus tumbuh berkembang menjadi sehat, menggapai
cita-cita yang akan ada diantaranya menjadi pejuang
kesehatan selanjutnya. Pejuang kesehatan yang akan terus
memberikan dharma bakti terbaiknya untuk wilayah Timur
Indonesia, untuk Maluku Utara dan untuk Kepulauan Sula.
Hingga jika umur panjang dan takdir rejeki untuk datang lagi
ke Sula masih ada, saya masih bisa jatuh cinta tanpa perlu
menitikkan air mata...!

47

Antara Buaya, Yai Aya dan Jatuh Cinta
48

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

Catatan Perjalanan ke Sumba Barat Daya

Marselinus Laga Nur

Kodi, April 2016

“Tidak usah ke sana pak, daerahnya rawan.”
Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut mendengar pernyataan
tersebut. Daerah Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya dari
dahulu memang telah terkenal sebagai daerah yang rawan
konflik. Pencurian (terutama hewan ternak) sampai dengan
masalah yang sepele dapat berujung pada konflik berdarah.
Yang membuat saya terkejut dan bercampur agak marah
karena pernyataan tersebut diucapkan salah seorang
mahasiswa. Ya. Saat itu kami sedang mendiskusikan tentang
rencana praktek ‘Survei Konsumsi Makanan dan Kesehatan’

49

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

yang menjadi bagian dari mata kuliah Dasar Ilmu Gizi dan
Kesehatan Masyarakat. Untungnya sebagian besar mahasiswa
yang lainnya sepakat dan menyanggupi, maka kami pun
menetapkan untuk pergi ke Kampung Adat Ratenggalo.

Sejak masih kecil dan mulai belajar membaca, kira-kira
tahun 1988, saya sering membaca Surat Kabar Mingguan
DIAN, sebuah surat kabar lokal Nusa Tenggara Timur. Dari
surat kabar tersebut beberapa kali saya membaca tentang
pencurian dengan kekerasan yang terjadi di Kodi. Bahkan
seringkali terjadi pembunuhan menyertainya. Gambaran
tentang daerah ini mulai menyeramkan.

Selanjutnya saya semakin terpapar informasi serupa.
Di tahun 1998 TVRI memberitakan tentang pembunuhan dan
pembakaran kampung karena dugaan kecurangan tes CPNS.
Dan setelah itu informasi lisan saat membicarakan tentang
Pulau Sumba selalu dipenuhi cerita tentang pencurian dan
aksi kekerasan. Konflik pasca pilkada terakhir tahun 2013 di
Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) juga berlangsung
berkepanjangan dengan memakan korban jiwa dan rumah
terbakar yang tak terhitung.

Namun semua hal tersebut malah membuat saya
merasa tertantang untuk dapat mengetahui gambaran Kodi
secara langsung. Dugaan saya adalah, jika semua informasi
tersebut benar, tidak mungkin masih ada masyarakat yang
mau tinggal di sana. Malah setelah Kabupaten SBD mekar dari
Kabupaten Sumba Barat, Kecamatan Kodi pun bisa
dimekarkan menjadi tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Kodi
sendiri, Kodi Bangedo dan Kodi Utara. Pertanyaan lain yang
muncul dalam benak saya adalah gambaran pariwisata yang

50

Jelajah Nusantara #3

semakin maju serta beberapa destinasi wisata yang semakin
terkenal ke dalam dan luar negeri.

Lama saya menatap peta wisata di dinding lobi Hotel
Sumba Sejahtera yang saya tinggali sebanyak empat kali
selama mengajar di Kampus Universitas Nusa Cendana III. Dan
memang butuh waktu yang lama untuk membaca satu
persatu destinasi wisata di Kabupaten SBD yang sangat
banyak dan sebagian besar berada di wilayah Kodi. Jenis
destinasi wisata yang ada di daerah Kodi berupa pantai,
danau dan kampung adat yang memiliki keunikan berupa atap
menjulang beserta pekuburan megalitiknya.

Kabupaten SBD awalnya terkenal saat pesawat Adam
Air mendarat secara darurat di Bandara Tambolaka (saat itu
masih tergabung dengan Kabupaten Sumba Barat).
Selanjutnya Kabupaten SBD lebih dikenal lagi dengan
sengketa Pilkada yang memakan banyak korban jiwa dan
harta benda.

Dalam beberapa kali kesempatan dari atas pesawat
yang saya tumpangi untuk pergi ke Kabupaten Sumba Barat
dapat saya saksikan lahan hijau yang terhampar luas. Agak
sedikit berbeda dengan Sumba Timur dan Sumba Tengah.
Topografi yang datar tanpa bukit-bukit terjal tentunya
merupakan lahan yang ideal untuk pemukiman, pertanian dan
peternakan. Namun kebanyakan masih berupa lahan kosong
yang belum dihuni dan dikelola. Potensi lahan, selain
pariwisata, seharusnya dapat memberikan kemakmuran bagi
masyarakat Kodi dan Kabupaten SBD pada umumnya. Namun
hal itu tidak sesuai kenyataan. Masih banyak masyarakat
Kabupaten SBD termasuk Kodi yang berkategori miskin.

51

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

Kemiskinan di Kabupaten SBD turut berpengaruh pada
gambaran kesehatan secara kuantitatif. Skor Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2013,
Kabupaten SBD berada pada urutan 488 dari 497
kabupaten/kota, dan berada pada urutan kedua dari bawah di
Propinsi NTT, di atas Kabupaten Manggarai Timur. Skor ini
lebih menonjol pada indikator-indikator yang berkaitan
dengan kesehatan lingkungan yaitu 0,0691 berada pada
urutan empat dari bawah di atas Kabupaten Sumba Tengah,
Sumba Barat dan Sabu Raijua.

Cakupan akses ke air bersih SBD 31,01 terendah
nomor dua di atas Kabupaten Sumba tengah. Prevalensi diare
18,28 tertinggi kedua di bawah Kabupaten Manggarai Timur,
proporsi mencuci tangan dengan benar 19,34, terendah
nomor dua di atas Kabupaten Alor, cakupan akses sanitasi
hanya 1,45 terendah kedua di atas Sabu raijua.

Transportasi ke Kabupaten SBD dan ke wilayah Kodi
sebenarnya tidak begitu sulit. Wilayah Kabupaten SBD dapat
dijangkau dari darat laut dan udara. Melalui darat dapat
ditempuh dari Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat.
Transportasi melalui laut tersedia melalui Pelabuhan Waikelo
dimana kapal barang banyak berlabuh, serta pelabuhan feri
yang secara regular melayari rute Waikelo-Bima di Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Melalui udara, ada bandara Tambolaka
yang didarati maskapai Garuda, Wings air dan Transnusa
setiap hari.

Selanjutnya perjalanan ke Kodi tidak terlalu sukar.
Prasarana jalan tersedia cukup memadai dan dapat ditempuh
dari tiga jalur yaitu dari Weetebula (ibukota kabupaten SBD),

52

Jelajah Nusantara #3

dan dua jalur dari Waimangura. Topografi yang relatif datar
juga membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Untuk sarana transportasi regular, tersedia bis dari
Weetebula dan dari Waikabubak (ibukota Kabupaten Sumba
Barat) dengan tarif 45 ribu. Selanjutnya untuk sampai ke
sejumlah tempat wisata, contohnya kampung adat dan pantai
ratenggaro yang kami datangi dapat dilanjutkan dengan ojek
sepeda motor seharga sepuluh ribu rupiah (dapat berubah
bila tukang ojek melihat penumpangnya adalah wisatawan
yang belum terlalu paham wilayah).

Gambar 1. Bis rute Weetebula-Kodi
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pada kesempatan kali ini saya mengunjungi Kodi
bersama para mahasiswa Prodi S1 Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Perjalanan kami tempuh bersama dengan
sepeda motor. Sepanjang perjalanan banyak terhampar padi
ladang, jagung dan jambu mete. Sebelum sampai ke

53

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

ratenggaro kami banyak melihat kampung-kampung adat
lainnya dengan atap rumah berupa menara yang menjulang.
Sesekali kami melihat di pinggir jalan warga yang membawa
kerbau untk mencari makan. Kami singgah ke Puskesmas
untuk menjemput Bidan Imelda yang pernah cukup lama
mengabdi di Desa Waiha di mana Kampung Adat Ratenggaro
berlokasi.

Gambar 2. Hamparan jagung sepanjang perjalanan masuk menuju
Kampung Adat Ratenggaro

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sesampainya di Kampung Adat Ratenggaro kami
langsung berhadapan dengan rumah dan kuburan yang unik.
Rumah beratap alang-alang dengan atap berbentuk menara
tinggi menjulang. Tiang dibuat dari kayu kadimbul yang
merupakan tanaman endemik di Kodi dan Wewewa,
sementara lantai dan dinding dibuat dari bambu yang dibelah.
Batang kelapa digunakan untuk gelagar tempat alang-alang
diikat. Tiang kayu terdiri dari tiga jenis. Paling tengah terdiri
54

Jelajah Nusantara #3

dari empat buah dan berukuran sangat besar. Tiang tengah ini
menyangga bagian tengah atap yang berbentuk menara.
Selanjutnya terdapat dua belas tiang berukuran lebih kecil
yang menyangga ujung atap terletak sejajar dan membentuk
dinding rumah. Kemudian empat belas tiang lagi yang lebih
kecil yang menyangga terusan atap yang membentuk
serambi.

Pada seluruh tiang terdapat bermacam-macam ukiran.
Saya masuk ke salah satu rumah yaitu rumah bapak RK. Dia
menceritakan bahwa perkampungan adat ini pernah terbakar
pada tahun 1964 namun segera dibangun lagi.

Di setiap generasi harus ada yang tinggal menjaga
rumah adat. Karena rumah adat yang tidak ditinggali akan
mudah rusak dimakan rayap. Bapak RK menunjukkan salah
satu tiang utama di mana terukir nama silsilah dari generasi
ke generasi. Anggota keluarga yang tidak tinggal di kampung
adat kini tingal di sekitarnya, di Weetebula ataupun kota-kota
lainnya tergantung pekerjaannya, namun dalam setiap acara
adat baik perkawinan maupun kematian akan kembali untuk
melaksanakan ritual adat di kampung asalnya sebelum
melanjutkan di lembaga gereja dan negara.

Sehari-hari warga kampung bekerja sebagai petani
sekaligus peternak. Pertanian diperlukan untuk memberikan
suplai makanan. Sedangkan peternakan untuk menghasilkan
hewan yang diperlukan untuk urusan adat. “Hampir setiap
tahun kami membutuhkan hewan untuk urusan adat. Setiap
ada keluarga yang meninggal kami harus membawa hewan,
apalagi kalau dulu dia membawa hewan untuk kami.”

55

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

Pertanian warga kampung Retenggaro kebanyakan
berupa padi ladang, jagung, umbi-umbian dan sayur mayur.
Sebagian besar hasil pertanian digunakan untuk konsumsi
keluarga dan pakan ternak. Pakan ternak orang Sumba boleh
dibilang cukup mewah. Selain makanan yang umumnya sama
dengan daerah lain, kerbau dan babi juga diberi makan sayur
yang direbus beserta batang dan daun talas. Hal ini karena
hewan memiliki nilai adat dan nilai sosial yang tinggi saat
dihadirkan ke acara adat. Kerbau dinilai dari ukuran
tanduknya, sedangkan babi dinilai dari tinggi badan, panjang
taring, dan tidak bercacat.

Gambar 3. Batang Talas yang Akan Direbus untuk Pakan Kerbau dan Babi
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Saya sempat masuk ke salah satu rumah adat dan
melihat ukiran-ukiran beserta keadaan rumah. Kamar anak
laki-laki berada di sebelah kanan sedangkan perempuan di
sebelah kiri. Saya tertarik melihat tungku di tengah-tengah

56

Jelajah Nusantara #3

rumah beserta daging iris yang diletakkan di atasnya. Rupanya
bagian tengah rumah yang berada tepat di bawah atap
menara digunakan sebagai dapur. Api ataupun bara dibiarkan
tetap meyala sehingga asap tetap keluar. Rupanya selain
daging, ada juga jagung yang diletakkan sebagai persediaan.

“Daging itu kami dapatkan dari saudara kami yang
barusan ini melakasanakan ritual adatnya. Anggota
keluarganya baru saja meninggal dan kami melayat
bawa hewan. Kalau pulang pasti bawa daging. Tidak
habis dimakan sehari. Kalau ditaruh di situ bisa
berbulan-bulan tidak rusak”. (Istri pak RK)

Demikian istri bapak RK bercerita tentang dapur dan
daging di tengah rumah mereka. Melihat itu saya sempat
terpikirkan manfaat kesehatan dari atap yang tinggi
menjulang. Tekanan udara di bagian tengah rumah akan lebih
rendah karena ruang yang lebih tinggi, dengan demikian asap
akan mudah naik ke atas dan diteruskan ke seluruh bagian
atap yang terbuat dari alang-alang. Atap terhindar dari
kerusakan namun sekaligus menjaga sirkulasi udara sehingga
penghuni rumah tidak terganggu oleh asap dari dapur.

Cadangan makanan pun akan tetap terjaga karena
profesi mereka sebagai petani ditambah keterbatasan
ekonomi tidak memungkinkan untuk membeli makanan yang
banyak tetapi lebih besar menggantungkan ketahanan
pangannya dari lahan pertanian mereka. Sirkulasi udara yang
terjaga serta tungku yang tetap menyala mengurangi
kemungkinan hidupnya vektor dan mikroba penyebab
penyakit seperti bakteri MTB dan nyamuk yang menyebarkan
malaria dan demam berdarah.

57

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

Namun demikian tidak seluruh kondisi kampung
berpengaruh baik pada kesehatan. Data IPKM tentang
indikator-indikator kesehatan lingkungan yang rendah
tercermin juga pada keadaan di Kampung adat ini. Desain
rumah adat tidak disertai dengan Kamar mandi dan toilet.
Bapak RK menunjukkan sebuah bangunan di sudut kampung.

Gambar 4. Irisan Daging di
Atas Tungku

Sumber: Dokumentasi
Peneliti

“Pemerintah pariwisata bangun itu wc dan kamar
mandi dan buat sumur di luar kampung. Sumur
untuk tiga kampung adat ini tapi wc itu untuk
seluruh warga kampung adat ini pakai.” (pak RK)
Selanjutnya nona M anak bapak RK menceritakan
bahwa banyak orang mandi dan mencuci di sumur saja. Air
dibawa ke rumah untuk masak dan minum walaupun rasanya

58

Jelajah Nusantara #3

agak payau. Jumlah air cukup untuk di pakai tiga kampung
adat di sekitar sumur tersebut.

Gambaran tentang orang Kodi yang dekil telah saya
dapatkan dari televisi dan cerita orang-orang yang pernah ke
Kodi. Bahkan sebelum kami ke sini ketua kelas telah
menjelaskan ke seluruh mahasiswa untuk jangan
menunjukkan sikap jijik pada anak-anak yang kotor. Di pantai
saya bertemu dengan empat orang anak yang sesuai dengan
gambaran tadi. Dengan baju yang kotor mereka tetap
kelihatan ceria berlarian dari satu kubur batu ke kubur batu
yang lain. Walaupun mereka datang saat saya panggil namun
saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka karena
ternyata mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.

Rupanya masalah di Kodi bukan hanya ekonomi,
kemiskinan dan kesehatan. Ternyata pendidikan juga masih
menjadi masalah. Bidan Imelda bercerita bahwa sebagian
besar warga terlebih anak-anak tidak bisa berbahasa
Indonesia. Guru-guru terpaksa mengajar dengan Bahasa Kodi.
Jika dipaksa menggunakan Bahasa Indonesia maka mereka
tidak bisa paham.

Sebenarnya Pulau Sumba memiliki banyak orang
cerdas. Profesor Frans Umbu Datta pernah menjadi Rektor
saya di Universitas Nusa cendana, sedang Profesor Kebamoto
adalah professor matematika yang terkenal di Amerika, yang
berasal dari pulau ini. Di luar nama-nama terkenal itu banyak
teman-teman kerja saya dengan kecerdasan luar biasa.
Namun itu semua seolah hanya menjadi puncak gunung es di
mana mereka muncul di permukaan sedangkan yang lainnya
tenggelam di bawah air. Bahasa menjadi salah satu kendala

59

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

untuk bisa menangkap perkembangan ilmu pengetahuan di
Kodi.

Cerita dari Kodi lainnya yang juga saya rasakan dalam
kunjungan kali ini adalah tentang kekerasan yang telah
melegenda. Saat masuk ke kampung adat dan baru saja
duduk di dalam salah satu rumah, ternyata kami disusul oleh
seorang pemuda dengan sepeda motornya. Tubuh pemuda
tersebut tidak terlalu besar dibanding keberaniannya. Namun
dia langsung berbicara dengan cukup kasar pada sejumlah
mahasiswa dengan bahasa Kodi. Karena tidak semua
mahasiswa bisa berbahasa Kodi, Bidan Imelda bersama tuan
rumah langsung ke luar untuk melerai dan akhirnya dia
langsung pergi. Ternyata dia tersinggung karena hampir
disenggol mahasiswa.

Terlepas insiden yang terjadi di jalan namun tersirat
keberaniannya. Jumlah kami dua puluh delapan orang dengan
sebagian besar pria dengan badan lebih besar darinya namun
keberaniannya sungguh luar biasa. Tidak mengherankan kalau
di sini pertikaian sering terjadi yang berujung pada kekerasan
fisik.

Momen lain yang dapat mendukung kesan ini adalah
saat seorang mahasiswa hendak pergi sendiri usai makan
siang bersama di pantai namun dilarang oleh bapak RK. Dia
kuatir dia dicegat dan dirampok oleh warga lain di kampung
sebelah. Walaupun di siang hari namun ketakutan itu tetap
ada.

Telah diceritakan sebelumnya bahwa kebutuhan
pangan warga sebagian besar disuplai dari pertanian sendiri.
Dalam survei konsumsi makanan yang dilakukan mahasiswa

60

Jelajah Nusantara #3

menemukan bahwa seluruh warga kampung memiliki pola
konsumsi yang hampir seragam yaitu nasi jagung sebagai
makanan pokoknya, kemudian daun labu, daun singkong dan
daun pepaya sebagai sayurnya. Selain itu daging yang
didapatkan dari ‘jatah’ mereka pada ritual adat.

Secara kualitatif warga bercerita bahwa pola itu
bertahan hampir sepanjang tahun. Selain itu mereka tidak
mengawali makan pagi dengan makanan berat yaitu nasi dan
lauk-pauknya namun dengan minum kopi serta makanan
ringan seperti singkong, ubi jalar atau ubi talas rebus dan
kacang goreng. Walaupun menurut versi mereka itu adalah
makanan ringan namun dari perhitungan komposisi gizi oleh
mahasiswa, nilai kalorinya cukup besar mencapai sepertiga
dari AKG. Selanjutnya makan berat baru dilakukan di jam 10
pagi setelah berkerja di ladang.

Pola konsumsi tersebut memiliki dampak baik dan
buruk bagi kesehatan. Dampak baik berasal dari makanan
pokok berupa nasi jagung. Nasi dimasak dengan
mencampurkan beras dengan jagung tumbuk. Tentunya ini
menambah komposisi nutrisi dari nasi. Jenis karbohidrat
menjadi lebih beragam dan memiliki indeks glikemik yang
lebih rendah. Walaupun memerlukan penelitian lebih lanjut
namun hipotesisnya adalah pola konsumsi seperti ini dapat
mencegah sindrom metabolik sebagai penyebab diabetes dan
penyakit degeneratif lainnya.

Dampak buruk dari pola konsumsi mereka adalah
tingginya purin yang didapat dari kopi, kacang goreng, serta
sayuran seperti daun pepaya, daun singkong dan daun labu

61

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

waluh. Kadar purin lebih tinggi pada pucuk daun tersebut
yang sering dikonsumsi.

Bapak RK menceritakan bahwa dia sedang menderita
sakit asam urat. Penyakit tersebut dia ketahui saat
memeriksakan diri ke Puskesmas bulan lalu. Di Puskesmas,
selain diberi obat, dia juga diberi penjelasan tentang makanan
yang harus dia hindari. Saat ditanya mengapa tidak
melakuakn check up lagi dia hanya tertunduk diam. Rupanya
ongkos ojek 20 ribu setiap ke Puskesmas terasa
memberatkan, walaupun untuk biaya pengobatan sudah
digratiskan dari Jamkesda.

Pola pencarian pelayanan kesehatan warga kampung
masih mengutamakan pengobatatan non konvensional.
Untuk persalinan, mereka lebih memilih toptundra atau
dukun yang membantu persalinan. Bila kasusnya berat baru
mereka akan memilih pelayanan konvensional dari bidan atau
Puskesmas. Tak jarang ibu harus segera dilarikan ke Rumah
Sakit di Weetebula.

Untuk penyakit umum sebenarnya mereka memilih
pelayanan kesehatan konvensional sebagai pilihan pertama.
Namun jika terasa penyembuhannya lama maka mereka
menganggap penyakit tersebut termasuk berat sehingga
mereka akan mencari tootuli untuk berobat. Mereka
mengatakan penyebabnya adalah angin jahat atau ganpring
yang dikirimkan orang yang merasa iri. Rasa iri bisa timbul
karena keluarga memiliki anak yang sehat atau cantik, ternak
yang banyak, ataupun kelebihan-kelebihan lainnya. Kegiatan
Posyandu yang berfungsi untuk growth monitoring juga
jarang diikuti.

62

Jelajah Nusantara #3

Sebagai perbandingan, saya mengunjungi kampung
adat tarung di Kabupaten Sumba Barat. Kampung ini berada
di tengah Kota Waikabubak yang merupakan ibukota
Kabupaten Sumba barat. Sekalipun berada di tengah kota
namun pola kehidupannya masih kental dengan suasana adat
yang mistis. Kuburan batu besar di tengah kampung, atap
yang tinggi menjulang, rumah dengan ukiran-ukiran dan
tengkorak kerbau lengkap dengan tanduknya menghiasi
seluruh rumah. Pola konsumsi juga masih mengandalkan hasil
pertanian dari produksi sendiri. Itulah sebabnya jika kita
berkunjung ke Kota Waikabubak, sawah-sawah terhampar
luas di tengah kota.

Sekalipun masih ada kepercayaan adanya angin jahat
sebagai penyabab penyakit namun pilihan pengobatan
mereka sudah diutamakan ke pelayanan kesehatan
konvensional yang dekat dari kampung. Namun masalah
ekonomi masih berhubungan dengan kesehatan di Kampung
ini. Nona WLP seorang warga kampung yang tahun lalu
memperoleh gelar sarjana Kebidanan di salah satu perguruan
tinggi di pulau jawa dalam skripsinya meneliti adanya
hubungan antara pendapatan orang tua serta status gizi
orang tua (IMT) terhadap kejadian stunting pada balita di
kampung adat ini.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kekayaan berupa alam yang indah dan subur
sebenarnya dapat meningkatkan kemampuan ekonomi
masyarakat yang dapat berpengaruh pada pola health seeking

63

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

behavior masyarakat. Namun sampai saat ini hal tersebut
belum terwujud. Potensi wisata tersebut harus disadari agar
dapat ditangkap manfaatnya oleh masyarakat. Saat saya
berada di Kampung Adat Retanggaro di Kodi maupun
Kampung Adat Tarung di Kota Waikabubak, saya melihat
beberapa wisatawan lokal yang datang hanya untuk
mengabadikan kedatangannya dalam gambar kemudian buru-
buru pergi. Sejumlah warga berusaha menawarkan kain dan
dunga alat musik tradisional Kodi kepada mereka. Namun
tidak dibeli. Bapak RK di Kodi maupun bapak L di Tarung
menceritakan bahwa sedikit wisatawan yang berminat pada
kain mereka. Lain halnya dengan wisatawan asing. Bapak RK
mengisahkan bahwa sering wisatawan asing minta untuk
menginap di rumahnya.

Gambar 5. Dunga, Alat Musik
Tradisional Orang Kodi
Sumber: Dokumentasi Peneliti

64

Jelajah Nusantara #3

Tentunya harus diupayakan agar wisatawan bisa lebih
betah tinggal di kampung adat dan bukan hanya datang
sebentar, berfoto dan buru-buru pergi. Masalah keamanan,
kebersihan, dan kemampuan komunikasi masyarakat harus
ditingkatkan. Masyarakat harus disadarkan tentang kekayaan
mereka yang tidak ternilai. Keramahtamahan harus dibangun
dan menjadi budaya. Kebersihan lingkungan dan higyene
perorangan juga harus diperbaiki. Selanjutnya kemampuan
berkomunikasi. Tentunya harus bertahap dari kemampuan
berbahasa Indonesia kemudian berlanjut ke bahasa asing.

Tidak perlu dibayangkan bahwa kemajuan pariwisata
dinilai dari banyaknya hotel dan restoran mewah sebagai
indikatornya. Malah hal tersebut dapat merusak rona
lingkungan dan tatanan hidup kampung adat sebagai daya
tarik utama. Hotel Nihiwatu di Pantai Wanukaka yang tidak
terlalu jauh dari Kodi tidak terduga telah menjadi hotel
terbaik di Asia dengan bangunan yang menyerupai
perkampungan adat Sumba. Hotel tersebut dimiliki Warga
Negara asing dengan tarif menginap paling rendah 500 dolar
semalam.

Selama beberapa hari menginap di hotel Sumba
Sejahtera di Weetebula, banyak saya temui warga Negara
asing baik dari Eropa, Cina atau India yang dari percakapan
mereka saya ketahui tujuan mereka untuk membeli tanah.
Menurut informasi dari mahasiswa asal Kodi, telah banyak
tanah dibeli oleh warga Negara asing dengan menggunakan
nama warga Negara Indonesia entah itu warga lokal, Bima
atau Bali. Jangan sampai Kabupaten SBD menjadi seperti
Pulau Bali di mana sebagian property dimiliki oleh asing. Bali

65

Ironi di Tengah Kekayaan Potensi Wisata

masih bertahan karena masih menjaga budaya dan
masyarakatnya cepat beradaptasi dengan mengembangkan
kemampuan SDM di bidang pariwisata. Bagaimanakah
dengan Kodi?

66

Coto yang Menggoyang Lidah

Catatan Perjalanan ke Kota Makassar

Aprizal Satria Hanafi

Makassar, 6 April 2016
Perjalanan ini merupakan pengalaman perdana saya

sebagai peneliti dalam rangka kegiatan persiapan lapangan
Riset Ethnografi Kesehatan Tahun 2016. Tempat yang saya
tuju adalah kota asal pahlawan dengan julukan “Sang Ayam
Jantan dari Timur”.

Tantangan yang cukup berat mulai tergambar di benak
saya, mengingat penduduk perkotaan yang sangat majemuk
dan heterogen. Perkotaan memang tempat yang nyaman jika
dilihat dari sisi fasilitas, semua serba ada, tidak seperti di
pedesaan. Sebagian orang berpendapat, bahwa kesulitan

67

Coto yang Menggoyang Lidah

justru dirasa lebih besar di perkotaan, mengingat masyarakat
yang heterogen dan sudah moderen, belum lagi biasanya
penduduk perkotaan memiliki moblitas cukup tinggi dan
cenderung bersikap acuh, sangat berbeda dengan masyarakat
desa yang biasanya ramah.

Kota Makassar sebagai ibukota Propinsi Sulawesi
Selatan juga merupakan pintu gerbang dan pusat
perdagangan Kawasan Timur Indonesia. Secara geografis Kota
Makassar terletak di Pesisir Pantai Barat bagian Selatan
Sulawesi Selatan, pada titik koordinat 119°24’17’38” Bujur
Timur dan 5°8’6’19” Lintang Selatan. Secara administratif
Kota Makassar mempunyai batas-batas wilayah yaitu sebelah
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa, sebelah Utara
berbatasan dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur
berbatasan dengan Kabupaten Maros dan sebelah Barat
berbatasan dengan Selat Makassar. Topografi pada umumnya
berupa daerah pantai. Letak ketinggian Kota Makassar
berkisar 0,5-10 meter dari permukaan laut.

Kota Makassar memiliki luas wilayah 175,77 km2 yang
terbagi ke dalam 14 Kecamatan, 143 Kelurahan, 994 RW dan
4.966 RT. Selain memiliki wilayah daratan, Kota Makassar juga
memiliki wilayah kepulauan yang dapat dilihat sepanjang garis
pantai Kota Makassar. Adapun pulau-pulau di wilayahnya
merupakan bagian dari dua Kecamatan yaitu Kecamatan
Ujung Pandang dan Ujung Tanah. Pulau-pulau ini merupakan
gugusan pulau-pulau karang sebanyak 12 pulau, bagian dari
gugusan pulau-pulau Sangkarang atau disebut juga Pulau-
pulau Pabbiring atau lebih dikenal dengan nama Kepulauan
Spermonde. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Lanjukang

68

Jelajah Nusantara #3

(terjauh), Pulau Langkai, Pulau Lumu-lumu, Pulau Bone
Tambung, Pulau Kodingareng, Pulau Barrang Lompo, Pulau
Barrang Caddi, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona,
Pulau Lae-Lae, Pulau Gusung dan Pulau Kayangan (terdekat)
(Profil Kota Makassar Tahun 2014).

Gambar 1. Peta Wilayah Kota Makassar
Sumber: Pemerintah Kota Makassar

Kota Makassar merupakan salah satu dari 25
Kabupaten/Kota yang dipilih menjadi lokasi penelitian Riset
Ethnografi Kesehatan Tahun 2016. Informasi lain
menunjukkan bahwa Kota Makassar merupakan peringkat 73
dari 497 kabupaten/kota dalam Indeks Pembangunan
Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang dirilis Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
pada tahun 2013, yang artinya secara peringkat mengalami

69

Coto yang Menggoyang Lidah

penurunan dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 yang
berada pada peringkat 27.

IPKM terdiri dari 30 indikator pembangunan. Jika
dilihat dari peringkat memang Kota Makassar tidak begitu
rendah jika dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain,
meski tetap saja tidak lantas menjadikan Kota Makassar
‘hambar’ untuk dijadikan lokasi penelitian. Data IPKM yang
tidak begitu bermasalah justru menjadi tantangan untuk
menilik keadaan di lapangan apakah data tersebut adalah
benar adanya.

Saya yang merupakan seorang Peneliti kesehatan
mendapat tugas bersama rekan satu tim seorang antropolog
dan seorang neliti utama dari Pusat Penelitian dan
Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. Kami akan menetap disana sekitar
60 hari untuk mencari tahu pola budaya yang memiliki
korelasi dengan masalah kesehatan masyarakat.

Perjalanan menuju Kota Makassar saya tempuh tanpa
ada tantangan yang berarti. Tidak seperti rekan-rekan peneliti
Riset Ethnografi Kesehatan lain di wilayah yang harus
menggunakan beberapa kali ganti alat transportasi.

Makassar memiliki penduduk yang sangat majemuk,
keinginan kami untuk mengangkat permasalahan kesehatan
disini memang kami rasa akan cukup sulit. Pada saat
melakukan perizinan ke Dinas Kesehatan Kota Makassar, kami
bertemu dengan para Kepala Bidang, dan benar saja pada
awalnya mereka hanya menceritakan mengenai keunggulan
dan prestasi Dinas Kesehatan Kota Makassar. Pada saat itu
kami hanya diam dan mendengarkan paparan dari mereka.

70

Jelajah Nusantara #3

Memang prestasi dari Dinas Kesehatan Kota Makassar bisa
dikatakan bagus. Dinas Kesehatan Kota Makassar
mendapatkan penghargaan Top 99 Inovasi dengan program
pelayanan “Home Care” nya.

Pelayanan ini diberikan kepada masyarakat, dimana
petugas kesehatan mendatangi rumah pasien dengan
menggunakan fasilitas mobil yang disebut “Dottoro’ta”.

Gambar 2. Mobil Dottoro’ta
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Mobil ini digunakan untuk mendatangi pasien yang
tidak bisa datang langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Mobil ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk
melakukan tindakan medis dasar. Pasien yang ingin
mendapatkan pelayanan ini dapat mengaksesnya dengan
menggunakan kartu yang disebut “Smart Card”.

71

Coto yang Menggoyang Lidah

Kartu ini hanya perlu ditempelkan ke Handphone
Android dan akan terhubung langsung dengan nomor call
center. Setelah itu akan langsung dihubungkan dengan
petugas yang siap mendatangi rumah pasien. Hasil
pemeriksaan sendiri akan langsung sampai kepada para
dokter untuk diberikan arahan, baik itu berupa rujukan, hanya
rawat jalan, dan sebagainya. Melihat dari penjelasan tersebut
tentu saja kami belum mendapatkan titik terang tentang
permasalahan kesehatan yang akan kami agkat di Kota
Makassar.

Gambar 3. Kartu Smart Card
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hari kedua persiapan lapangan, kami bertemu dengan
seorang dosen antropologi dari salah satu Universitas di
Sulawesi Selatan. Dari pertemuan tersebut kami mendapat
cerita mengenai masalah kesehatan yang ada di Kota
Makassar yang berkaitan dengan budaya masyarakat
72

Jelajah Nusantara #3

setempat. Dari perbincangan tersebut dapat disimpulkan,
bahwa budaya makan dan jenis makanan pada masyarakat
disinyalir berkontribusi terhadap masalah kesehatan
masyarakat, terutama penyakit hipertensi dan diabetes
mellitus.

Budaya makan memang merupakan budaya yang
cukup kental di masyarakat Makassar. Kemudian saya teringat
ketika saya berkunjung ke Dinas Kesehatan pun saya disuguhi
kue-kue yang cukup banyak jenisnya. Bagi sebagian besar
orang disana makanan merupakan media untuk mempererat
tali kekerabatan, sehingga seseorang dapat dikatakan tidak
sopan, jika tidak mau mencicipi makanan yang sudah
disuguhkan. Hal tersebut baru saya ketahui, saya merasa
tidak enak hati karena pada hari sebelumnya saya tidak
mencicipi kue yang disajikan karena sedang berpuasa.

Selain itu budaya makan yang cukup khas adalah
menyantap coto Makassar. Masyarakat biasanya makan coto
ketika pagi sampai malam, bahkan bagi sebagian orang coto
itu hanya sebgai cemilan.

Pola makan mereka sendiri tidak memiliki pola yang
menetap, misalnya saja orang itu sudah makan pagi di rumah,
kemudian mereka keluar rumah untuk bekerja atau aktivitas
lainnya, kemudian jam 9 atau 10 pagi biasanya mereka makan
coto, kemudian pada siang hari mereka makan lagi dengan
menu yang lain, kemudian pada sore hari diselingi dengan
minum kopi atau makanan ringan lainnya, kemudian pada
malam hari mereka akan makan lagi di rumah, dan terakhir
tidak menutup kemungkinan mereka akan mengisi perut
kembali.

73

Coto yang Menggoyang Lidah

Kebiasaan ini juga didukung dengan adanya Warung
coto yang buka sampai 24 namanya Coto Bagadang. Pola ini
mulai berkembang di masyarakat Kota Makassar, biasanya
semakin malam, akan semakin banyak pelanggan yang datang
untuk menyantap hidangan yang berbahan dasar daging dan
isi perut sapi ini.

Makanan yang berbahan dasar daging dan isi perut
sapi menurut banyak hasil penelitian dirasa kurang tepat jika
dikonsumsi pada waktu malam hari. Malam hari adalah waktu
bagi sistem pencernaan manusia untuk diistirahatkan. Coto
yang menggoyang lidah, tak selalu akan berakhir indah.

Pada saat kami melakukan observasi langsung dengan
ikut mencoba merasakan makan coto di tempatnya langsung,
ternyata pelanggan yang datang sangat bervariasi, tidak
seperti apa yang ada dalam bayangan saya, bahwa yang
datang hanya orang dewasa dan orang tua saja, namun
ternyata banyak juga kalangan muda-mudi yang datang
secara berkelompok dan terdapat pula anak kecil yang ikut
menyantap hidangan coto di malam hari tersebut.

Jika dilihat dari pelanggan yang datang, disini makanan
bahkan bisa jadi media untuk mempererat kekerabatan. Hal
ini dapat dilihat karena kebanyakan pelanggan datang secara
berkelompok. Hal ini ternyata memiliki korelasi bahwa orang
Makassar sangat senang menjamu teman atau tamu yang
berkunjung ke rumahnya, hal ini sudah mengakar kuat
sebagai budaya bagi mereka untuk menjamu tamu baik itu
makan di rumah atau makan diluar rumah. Mereka akan
menjamu tamu atau kerabatnya dengan semua makanan
yang mereka miliki. Bahkan ada yang menyebutkan jika

74

Jelajah Nusantara #3

sampai 3 hari saja kita dirumah orang Makassar, bisa habis
makanan yang mereka miliki untuk tamu. Belum lagi disini
kalo kita mengajak orang lain untuk makan, kemudian kita
bayarkan (misalnya teman atau kerabat kita) mereka akan
dengan mudah dekat dengan kita. Orang tersebut akan dekat
dan cenderung patuh dan mengikuti apa saja yang orang
tersebut katakan. Posisi ini sering disebut dengan ‘patron’.

Patron memiliki artian sebagai seseorang yang
memiliki peran sebagai ketua dalam kelompoknya. Dalam hal
ini seorang patron biasanya akan mempengaruhi kebiasaan
anggota patronnya, termasuk dalam budaya makan, dan
terlebih khusus pada makanan khas Makassar yaitu coto.

Setiap orang biasanya memiliki tempat makan
langganan. Apabila sudah makan di suatu tempat biasanya
tidak akan beralih. Ada rasa yang jadi kenikmatan tersendiri
bagi orang Makassar. Ada yang mengaku senang dengan coto
di suatu tempat karena katanya resepnya masih asli dari
keturunan terdahulu (nenek moyang), sehingga tidak mau
beralih ke lain tempat. Katanya kalo yang masih asli itu
kuahnya dari air cucian beras.

Tampak ironis, dengan penghargaan yang didapat oleh
Dinas Kesehatan Kota Makassar namun ternyata hipertensi
(darah tinggi) dan diabetes mellitus (kencing manis) masih
cukup tinggi jumlahnya. Kali ini saya sendiri mulai dapat
membaca kenapa penelitian ini perlu dilakukan. Sebaik
apapun pencapaian dan prestasi Dinas Kesehatan, hal
tersebut akan terlihat seperti melukis di atas air karena belum
bisa menyelesaikan permasalahan endemis yang tidak terlihat
secara kasat mata, namun berdampak secara tiba-tiba (silent

75

Coto yang Menggoyang Lidah

killer).
Inovasi pelayanan home care yang diberikan Dinas

Kesehatan akan tepat sasaran jika dapat diakses dengan
mudah oleh masyarakat, sayangnya masih belum semua
masyarakat dapat mengakses pelayanan tersebut, walaupun
di zaman modern seperti sekarang, tidak semua orang
memiliki handphone Android, terutama orang tua. Meski para
orang tua dapat mengakses denganbantuan orang lain, baik
itu anak atau kerabatnya, tetap saja ada kecenderungan pada
seseorang malas untuk mengakses sesuatu yang tidak begitu
dipahaminya.

76

Surga Kecil Tojo Una-Una
dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

Lafi Munira

Banjarmasin, 20 April 2016

Kabupaten Tojo Una-Una, terdengar asing bagi saya
ketika membaca pengumuman peneliti yang lolos Riset
Etnografi Kesehatan Tahun 2016 sekaligus penempatannya.
Sejak pengumuman hasil tersebut saya mulai bertanya-tanya
kepada mbah Google tentang si Tojo Una-Una ini, dan
taraaa… yang saya dapatkan justru petunjuk rute perjalanan
destinasi wisata para turis asing serta gambar-gambar pantai
nan sangat indah. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya

77

Surga Kecil Tojo Una-Una dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

tentang “destinasi wisata dan ranking 480 IPKM”. Saya yakin
akan menemukan jawabannya ketika saya sudah sampai sana.
Saya dan tim memulai perjalanan pada 10 April 2016
berangkat dari domisili masing-masing. Sampai di Palu kami
mengurus perizinan dan melakukan diskusi dengan beberapa
pihak.

Gambar 1. Senja di Pantai Marina, Tojo Una-Una
Sumber: Dokumentasi Peneliti

“Kalau jalan malam, janganlah melewati Poso, banyak
orang mabuk turun ke jalan saat malam hari, apalagi
ada pernah itu kasus perempuan diperkosa,
janganlah malam, apalagi 10-12 jam jalan darat, lelah
sekali pasti sudah… apalagi jalannya berkelok-kelok”
(Informan 1 dan 2)
“Di sana ada suku Taa Wana, di dataran bulan, tidak
ada sinyal telfon, tidak ada listrik, tidak ada akses air
bersih... yaa paling juga mata air pegunungan, dan

78

Jelajah Nusantara #3

naik mobil dulu 5 jam ke atas, ditambah 2 jam naik
ojek, dan sisanya jalan kaki menuju hutan... ya asal
sanggup aja jalan kaki sih.. hati-hati dengan nyamuk
hutan sulawesi, malaria...” (Informan 1 dan 2)

Manusiawi bukan kalau saya merasa ngeri karena saya
perempuan? Tapi tidak sepenuhnya saya masukkan ke fikiran
dan perasaan saya karena saya belum membuktikannya.

Akhirnya kami memutuskan untuk naik pesawat ATR
dari Palu ke Luwuk. Setibanya di Bandara Luwuk kami
dijemput oleh mobil L300 yang sudah kami pesan
sebelumnya. Perjalanan dari Luwuk ke Ibukota Kabupaten
Tojo Una-Una yang dikenal dengan sebutan Ampana tersebut
konon katanya dekat saja sekitar 7-8 jam. Tapi seingat saya,
waktu itu kami berangkat jam 15.30 wita sore dan sampai di
Ampana pukul 23.00 wita. Ya, memang kami sempat mampir
sebentar untuk makan-makan.

Biaya hidup di Sulawesi Tengah bisa dibilang cukup
tinggi, 1 kali makan bisa menghabiskan 50 ribu rupiah dengan
menu ikan bakar, dan yang paling murah itu sekitar 30 ribuan
sekali makan. Saya berfikir, mungkin karena destinasi wisata
yang banyak diminati turis asing jadi harganya meroket untuk
ukuran orang Indonesia.

Saya sempat menikmati sejenak pemandangan sekitar
Luwuk, ada pantai-pantai indah yang mengiringi di sebelah
kiri jalan, dan lalu malam pun tiba. Di sepanjang jalan trans
sulawesi tersebut tak ada lampu penerangan sedikitpun,
sebelah kiri tebing rawan longsor, sebelah kanan jurang yang
ke laut, saya hanya mampu menyerahkan segenap jiwa raga
saya kepada Tuhan. Perjalanan kadang mulus kadang juga

79

Surga Kecil Tojo Una-Una dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

tidak, setiap kali ada belokan misal belok ke kiri ya tubuh saya
ikut ke kiri, lalu ada belokan ke kanan, tubuh saya pun miring
ke kanan. Semacam lagi bermain wahana ekstrim di Dunia
Fantasi! Dalam hati kecil saya berkata, “Tuhan, jika saya
disuruh pergi sendiri melewati pegunungan dan hutan rimba
ini malam-malam, mungkin nyali saya tidak cukup, syukurnya
masih ada 2 orang teman saya, jadi ketar-ketirnya tidak
terlalu meluap.”

Ampana, kota kecil ini cukup mendamaikan hati,
walau teriknya panas matahari cukup membuat kulit menjadi
kering, namun suasana hening dan damainya kota ini
membuat saya merasa bersyukur karena telah melewati
perjalanan panjang yang ekstrim, dan tiba dengan selamat.
Kau tahu, terkadang saya merasa malu pada diri sendiri, saya
yang sejak kecil tinggal di kota dengan semua fasilitas
tersedia, namun masyarakat di sisi lain Indonesia ini mungkin
tidak seberuntung saya.

Destinasi Wisata dan Ranking 480 IPKM?

Kabupaten Tojo Una-Una memang merupakan salah
satu destinasi wisata yang terkenal di kalangan turis asing.
Tak heran jika saya melihat beberapa turis asing di ruang
makan penginapan saya. Para turis tersebut sedang
menunggu kapal untuk pergi ke Wakai maupun ke Taman
Nasional Kepulauan Togean.

Terdapat beberapa suku yang menetap di Kabupaten
Tojo Una-Una. Di Daratan ada Suku Taa dan Bare’e, sedang di
Kepulauan Togean ada Suku Togian, Babongko, dan Saluan.

80

Jelajah Nusantara #3

Gambar 2. Taman Nasional Kepulauan Togean
Sumber: travel.kompas.com

Kami mengumpulkan beberapa literatur, dan
berdiskusi dengan beberapa pihak untuk mengenal lebih
dekat Tojo Una-Una.

“Ada itu mamago, ritual penyembuhan secara massal
suku Taa, jadi orang sakit dikumpulkan dan dilakukan
ritual itu dari pagi sampai malam ada itu sando
(dukun) yang akan mengadakan itu... dan juga itu
kenapa saya juga tidak tahu banyak sekali anak-anak
meninggal disana? tidak ada Puskesmas juga
bagaimana mau berobat..?” (Informan 1 dan 2)
“Saya fikir dari kebijakan yang telah dibuat oleh Dinas
Kesehatan Provinsi sudah baik, namun di level
operasionalnya yang belum berjalan dengan baik,
apalagi setelah saya baca buku IPKM kualitatif Tojo

81

Surga Kecil Tojo Una-Una dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

Una-Una, saya tidak menyangka hasilnya seperti
itu...” (Informan 3)

Dalam temuan para peneliti IPKM Kualitatif, terdapat
beberapa penyakit yang ngehitz di Tojo Una-Una. Pada tulisan
ini dibatasi hanya sedikit saja dari sekelumit permasalahan
kesehatan di Tojo Una-Una. yang paling banyak disoroti
adalah tingginya angka kejadian penyakit di poli jiwa baik di
RSUD Ampana maupun RS Wakai. Kami melakukan
penelusuran sekilas ketika berada di Dinkes Kabupaten
maupun Poli Jiwa RSUD Ampana.

“Iya itu juga saya heran kenapa banyak kasus
kesehatan jiwa di Tojo Una-Una ini, ada itu teman
saya sudah lama mengeluhkan sakit perut, sudah
dibawa ke Poli Penyakit Dalam namun tak kunjung
membaik, lalu di rujuk internal ke Poli Jiwa, dan dia
bilang kondisinya membaik, sampai dia bilang kalau
lebih baik berobat ke Poli Jiwa, keluhannya hilang
semua.” (Informan 4).

“Iya memang betul bu, disini paling banyak tiap hari
itu poli jiwa dan penyakit dalam.” (Petugas
Pendaftaran RSUD Ampana)

“Ya banyak memang yang mengeluhkan cephalgia,
lalu dirujuk ke poli jiwa, dan kondisinya membaik,
disini itu yang kasusnya banyak anxietas dan depresi,
ada yang cemas kalau harus ke laut nanti tenggelam
karena sering kapalnya karam, ada yang KDRT,
macam-macam lah”. (dokter poli jiwa RSUD Ampana)

82

Jelajah Nusantara #3

Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan yang Minim:
Harapan Itu Masih Ada!

Sebelum pulang menuju Luwuk, kami singgah
sebentar ke Desa Mire, Desa Mire adalah perkampungan
muslim suku Taa. Kami menyewa sebuah mobil carter dengan
biaya 350 ribu.

Awalnya kami fikir Desa Mire itu dekat dengan
Puskesmas Marowo, Kecamatan Ulubongka, tapi nyatanya
tidak. Perjalanan dari Ampana menuju Marowo
membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Kami mendatangi
Puskesmas Marowo, dan mencari nomor kontak kepala
Puskesmas dan bidan desa.

Kalulu, nama bidan desa yang bertugas di Polindes
Desa Mire, petugas Puskesmas pun menunjukkan rumah
orang tua bidan Kalulu. Seorang nenek berkata kepada kami
bahwa anaknya ada di Desa Mire sekarang.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Desa Mire,
di kanan kiri jalan kami disuguhi pemandangan pegunungan
yang sangat indah. Semakin ke atas dan sinyal telefon pun
mulai tiada. Dari Marowo menuju Desa Mire membutuhkan
waktu selama 1 jam. Sesampainya kami di Desa Mire kami
disapa dengan hangat oleh seorang bapak tua, sambil
bertanya dimana rumah bidan Kalulu.

Suku Taa yang bermukim di Desa Mire telah mengenal
personal hygiene, mereka telah mau mandi. Bidan Kalulu
bercerita bahwa beliau mulai ditugaskan disana sejak 1998,
beliau juga bercerita bahwa dulu masyarakat di desa tersebut
masih primitif sekali.

83

Surga Kecil Tojo Una-Una dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

Saya kemudian tertarik untuk mengetahui bagaimana
beliau bisa bertahan selama itu dan bagaimana proses
“perubahan” budaya masyarakat disana? Namun saya belum
sempat menanyakannya. Belasan tahun beliau mengabdi di
desa tersebut, setidaknya saya melihat adanya ketulusan dan
kemauan untuk berbuat baik.

Di sepanjang jalan pulang saya berfikir bahwa
permasalahan Tojo Una-Una sebenarnya jatuh pada akses
menuju fasilitas pelayanan kesehatan. Mereka yang di
kepulauan dan daratan menderita banyak penyakit hingga
sampai pada level parah karena untuk menuju fasilitas
pelayanan kesehatan saja mereka harus menempuh jarak
yang jauh dan membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk
menuju fasilitas pelayanan kesehatan. Namun hal tersebut
bisa diminimalisasi jika ada Bidan Desa seperti Bidan Kalulu
atau petugas kesehatan yang lain yang mau bekerja secara
totalitas. Harapan itu masih ada, ya masih ada. Selalu ada
alasan mengapa Tuhan menempatkanmu di suatu tempat,
mungkin untuk belajar banyak hal, mungkin untuk berbuat
baik.
Like
Love

84

Baram Tewang Rangkang

Catatan Perjalanan ke Kabupaten Katingan

Samuel Josafat Olam

Salam kenal, Katingan!

Awan mendung menggantung di atas jalan aspal yang
masih basah terguyur hujan tadi pagi. Mobil yang saya
tumpangi bersama seorang rekan peneliti menembus kabut
tipis yang membuat pemandangan alam di sekitar kami
terlihat samar. Di kiri kanan jalan tampak batang-batang
pohon yang telah mati akibat kebakaran hutan hampir
setahun yang lalu, namun rerumputan dan daun-daun muda
dari pohon-pohon yang selamat sudah kembali menghijau,
menyambut kembalinya kehidupan di atas muka bumi.

85

Baram Tewang Rangkang

Gambar 1. Area Hutan Bekas Terbakar dalam Perjalanan dari Kasongan ke
Pendahara.

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Perjalanan kami dari Kasongan, ibukota Kabupaten
Katingan, menuju Puskesmas Pendahara berlangsung tak
sampai satu jam. Tak lama setelah kami melewati area
pepohonan bekas kebakaran hutan, mulai terlihat kebun-
kebun yang ditanami sayur oleh penduduk setempat, sawah,
beberapa rumah walet, dan area hijau dengan semak dan
pepohonan entah milik siapa. Mobil kami kemudian melewati
sebuah mesjid, sebuah gereja, dan sebuah Balai Kaharingan
yang terletak berdampingan, sebelum akhirnya berbelok
mengambil jalan kecil menuju Puskesmas Pendahara.

Sepanjang perjalanan, hanya sesekali kami melewati
sepeda motor yang melaju pelan, atau berpapasan dengan
mobil yang datang dari arah berlawanan. Meski jalan yang
kami lalui tersebut sudah mulus, mobilitas penduduk antara

86

Jelajah Nusantara #3

ibukota kabupaten dan Kecamatan Tewang Sangalang Garing
yang menjadi tujuan kami tampaknya masih rendah. Hal itu
mungkin disebabkan oleh minimnya sarana transportasi
umum yang menghubungkan Kecamatan Tewang Sangalang
Garing dan Kota Kasongan. Menurut data dari Biro Pusat
Statistik, sarana transportasi umum tersedia hanya di
beberapa kelurahan/desa, itupun tanpa rute yang tetap.

Gambar 2. Jalan dari Kasongan ke Pendahara yang sepi kendaraan.
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kabupaten Katingan, dengan luas 17.800 km2 dan
157.654 orang penduduk yang menempati 154 desa dan 7
kelurahan, memang bukan merupakan kabupaten yang padat
penduduk. Berbentuk seperti huruf T yang langsing di tengah
peta Kalimantan, Kabupaten Katingan dibagi menjadi 13
kecamatan yang tersebar mengikuti aliran Sungai Katingan.
Dari 13 kecamatan itulah, kami harus memilih satu untuk

87

Baram Tewang Rangkang

menjadi tempat tinggal kami selama melakukan penelitian
etnografi dua bulan ke depan. Syaratnya, lokasi yang dipilih
harus memiliki masalah kesehatan berdaya ungkit besar yang
dipengaruhi oleh budaya masyarakat.

Gambar 3. Peta Kabupaten Katingan (dibatasi garis merah).
Sumber: Google Maps

Sulitnya Mencari Lokasi Penelitian

Misi kami terdengar sederhana. Sayangnya, waktu
yang kami miliki untuk mengambil keputusan tidak banyak.
Sudah tiga hari dari total lima hari kunjungan kami dihabiskan
88

Jelajah Nusantara #3

untuk mengurus izin penelitian dan berdiskusi dengan
berbagai pihak di ibukota provinsi maupun kabupaten demi
mendapatkan alternatif pilihan topik penelitian dan lokasi
yang tepat. Namun persis seperti dugaan saya sebelum tiba di
Bumi Kalimantan, mencari lokasi penelitian tidak akan
berlangsung mudah.

Pertama, yang tampaknya sudah menjadi penyakit
kronis di republik ini, adalah masalah data serta informasi
yang tidak akurat, saling bertentangan, atau sama sekali tidak
tersedia. Saya dan rekan ditugaskan ke Kabupaten Katingan
karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2013,
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)-nya
masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Salah satu
masalah kesehatan yang saya duga terkait dengan budaya
lokal serta memiliki daya ungkit bagi pembangunan kesehatan
masyarakat adalah rendahnya angka persalinan ditolong
tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Berdasarkan IPKM
2013, hanya 17,47% persalinan dilakukan di fasilitas
kesehatan, sedangkan persalinan yang ditolong tenaga
kesehatan adalah sebesar 66,5%. Namun, ketika saya datang
ke Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan dan membuka Profil
Kesehatan Katingan 2014 untuk mencari informasi yang lebih
rinci di tingkat kecamatan, kami dibuat terkejut dengan
besarnya diskrepansi data yang ada. Menurut data
kabupaten, angka cakupan persalinan ditolong tenaga
kesehatan sudah mencapai lebih dari 90%.

Kesulitan kedua yang kami alami adalah terbatasnya
informasi yang dapat digali dari para petugas di Dinas
Kesehatan mengenai daerahnya sendiri. Pimpinan yang kami

89

Baram Tewang Rangkang

harapkan dapat menjadi nara sumber kunci tampak tidak
menguasai data terkait kesehatan di wilayah yang
dipimpinnya. Beliau menerima kami untuk berbincang hanya
sekitar setengah jam, memberikan kami beberapa nama
lokasi yang dapat kami kunjungi karena sebelumnya pernah
menjadi lokasi pengumpulan data untuk penelitian lain,
sebelum akhirnya mengambil rokok, mengarahkan kami ke
salah seorang bawahannya, dan pamit untuk mengikuti acara
dangdutan yang sedang diadakan untuk merayakan promosi
jabatannya. Acara dangdutan tersebut memang sudah sejak
awal mengganggu diskusi kami, karena suara musik yang
keras terdengar sampai ke dalam ruangan, sehingga akhirnya
kami mempersilakan beliau pergi.

Perbincangan kami dengan beberapa petugas lain
tidak juga memberikan kepastian, meskipun memang ada
sedikit pencerahan. Saya mendapatkan kesan bahwa petugas-
petugas tersebut hanya memperhatikan masalah-masalah
kesehatan yang memang tengah jadi sorotan atau prioritas
program dari pusat. Meskipun sudah beberapa kali kami
mengajukan pertanyaan untuk menggali apakah ada masalah
kesehatan lain yang dapat kami amati serta bagaimana
burden-nya dibandingkan dengan masalah-masalah
kesehatan lain, kami selalu diarahkan kembali ke masalah
kesehatan ibu dan bayi. Memang, angka kematian ibu di
Kabupaten Katingan masih sangat tinggi. Angka hasil
perhitungan Dinas Kesehatan setempat mencapai 556
kematian per 100.000 kelahiran hidup, jauh di atas angka
nasional. Meskipun demikian, fakta tersebut tidak menjawab
misteri mengenai ada atau tidaknya masalah kesehatan

90

Jelajah Nusantara #3

penting yang lain di Kabupaten Katingan, terutama karena
beberapa tabel di profil kesehatan kabupaten hanya diisi
dengan ‘tad’ atau ‘tidak ada data’ untuk penyakit-penyakit
yang harusnya bisa dengan mudah dideteksi, misalnya
hipertensi.

Karena tidak ada narasumber lain yang dapat kami
mintai pendapat saat itu, kami pun terpaksa melanjutkan
proses persiapan penelitian kami untuk memastikan lokasi
penelitian, dengan mengambil topik kematian ibu dalam
kehamilan dan persalinan untuk sementara. Di benak kami,
masih ada keraguan, apakah angka kematian ibu yang tinggi
di Kabupaten Katingan murni terjadi karena kepercayaan dan
pilihan masyarakat untuk bersalin ditolong oleh dukun atau
hanya karena minimnya akses ke pelayanan kesehatan.

Perjuangan kami mencari lokasi penelitian pun terasa
sulit. Desa Tumbang Baraoi di daerah hulu adalah desa yang
direkomendasikan kepada kami oleh banyak pihak karena
angka kematian ibu yang tinggi dan budaya Dayak yang masih
kental, namun akses yang sulit tidak mengizinkan kami datang
ke lokasi tersebut dalam sisa waktu kunjungan kami. Kepala
Puskesmasnya tak dapat kami hubungi karena berdasarkan
informasi berbagai sumber, desa tersebut tidak memiliki
cakupan sinyal telepon seluler. Hal ini semakin menguatkan
dugaan kami bahwa kematian ibu yang terjadi hanyalah
masalah akses semata, sehingga pilihan lokasi tersebut serta
beberapa pilihan lokasi lain dengan karakteristik serupa kami
eksklusi.

Pilihan lokasi di daerah yang berada jauh di selatan,
yaitu di muara Sungai Katingan, juga kami eksklusi karena

91


Click to View FlipBook Version