Baram Tewang Rangkang
banyaknya jumlah pendatang yang dikabarkan tinggal di sana,
sehingga tidak tampak lagi ciri budaya yang khas. Kami
khawatir proses etnografi akan jadi lebih kompleks di tengah
masyarakat majemuk seperti itu, apalagi kehidupan di sana
kabarnya sudah maju seperti perkotaan dan tidak sesuai lagi
dengan target penelitian kami. Setelah mendengar beberapa
keterangan langsung dari seorang kepala Puskesmas di
daerah hilir, kami cukup yakin bahwa pilihan lokasi tersebut
dapat kami singkirkan.
Alternatif pilihan yang semakin sedikit serta waktu
yang makin sempit akhirnya membawa kami ke Puskesmas
Pendahara di Kecamatan Tewang Sangalang Garing.
Keputusan ini kami ambil semata hanya karena Puskesmas ini
terletak tidak terlalu jauh dari ibukota kabupaten, dan kami
rasa tidak ada salahnya melihat kondisi di sana ketimbang
diam di penginapan sambil meratapi pilihan lokasi yang gugur
satu persatu.
Tiba di Tewang Sangalang Garing
Kecamatan Tewang Sangalang Garing beribukota di
Pendahara. Kecamatan ini memiliki luas 568 km2 dengan
jumlah penduduk 12.114 orang yang tersebar di sepuluh
desa/kelurahan. Kecamatan ini memang pernah disebut oleh
kepala dinas karena terdapat kasus kematian ibu yang terjadi
di tengah akses pelayanan kesehatan yang sudah baik
(meskipun sesungguhnya, data di Profil Kesehatan Kabupaten
Katingan tahun 2014 tidak menunjukkan adanya kematian ibu
maupun bayi di Kecamatan Tewang Sangalang Garing.
92
Jelajah Nusantara #3
Indikator kesehatan lain pun tidak lebih buruk dibanding
kecamatan-kecamatan lain).
Anehnya, setelah kami berkunjung ke Puskesmas
Pendahara di Tewang Sangalang Garing, entah mengapa hati
kami langsung berkata ‘ya’. Padahal, keyakinan itu tidak
muncul ketika sebelumnya kami mampir ke sebuah
Puskesmas lain dalam perjalanan menuju Puskesmas
Pendahara. Mungkin alasan utamanya adalah petugas-
petugas Puskesmas yang berwawasan, kooperatif, ramah, dan
antusias. Hal tersebut sepenuhnya saya sadari sebagai
penentu utama keberhasilan penelitian ini. Seorang peneliti
bisa saja menemukan lokasi penelitian dengan masalah
kesehatan yang sangat besar untuk dipelajari, namun bila
masyarakatnya tertutup dan tidak ada pihak yang bisa diajak
peneliti bekerja sama untuk dapat masuk ke masyarakat dan
menggali sebanyak mungkin informasi, usaha peneliti akan
jadi sia-sia.
Ketika kami tiba di Pendahara pada hari jumat sekitar
tengah hari, hanya Ibu S dan dua bidan lain yang masih tinggal
di Puskesmas. Ibu S, seorang perempuan berkulit putih yang
tampak manis kira-kira di awal usia tiga puluhan, adalah
kepala bagian keuangan Puskesmas Pendahara. Seharusnya
beliau sudah pulang ke rumah karena pelayanan di
Puskesmas sudah selesai, namun beliau menyambut kami
dengan antusias dan mengajak kami berbincang. Ibu S segera
dapat memahami tujuan penelitian kami karena ternyata
beliau pernah terlibat dalam penelitian serupa bersama
seorang profesor di Universitas Indonesia.
93
Baram Tewang Rangkang
Gambar 4. Majalah Dinding yang Memuat Berbagai Masalah Kesehatan
yang Disoroti oleh Petugas Puskesmas Pendaraha. Masalah yang Diangkat
Tak Hanya Melulu Seputar Kematian Ibu dan Anak.
Sumber: Dokumentasi Peneliti
94
Jelajah Nusantara #3
Ibu S, ditemani seorang bidan dan perawat yang juga
masih ada di Puskesmas kala itu, lantas bercerita mengenai
budaya dan tradisi masyarakat setempat yang terkait dengan
kesehatan. Ia kemudian mengajak kami mengunjungi Bidan L
yang tinggal di Poskesdes Desa Tewang Rangkang, kira-kira
lima belas menit berkendara jauhnya. Ibu S memilih untuk
mengendarai motor bebeknya sementara kami mengikuti dari
belakang dengan mobil sewaan kami.
Gambar 5. Puskesmas Pendahara
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Bidan L menyambut kami dengan hangat dan
mempersilakan kami masuk ke bangunan yang juga
merupakan tempat tinggalnya tersebut. Anak Bidan L sedang
tidur siang di atas matras yang diletakkan di atas lantai
menghadap ke televisi yang sedang mati. Kami semua
95
Baram Tewang Rangkang
memilih lesehan di dekat pintu karena memang di ruangan
tersebut tidak ada kursi maupun meja.
Informasi yang kami dapatkan dari perbincangan
dengan Ibu S, Bidan L, dan para petugas di Puskesmas hari itu
jauh lebih banyak dan mencerahkan ketimbang semua
percakapan dengan para pejabat di tingkat provinsi dan
kabupaten dijadikan satu. Kami bisa maklum dengan hal itu,
karena memang tidak semua pejabat tersebut lahir dan besar
di Katingan. Masyarakat Katingan sendiri sangat heterogen,
apalagi yang tinggal di ibukota Kasongan. Tak perlu waktu
lama bagi siapapun untuk menyadari bahwa hampir seluruh
rumah makan yang ada di kota Kasongan adalah rumah
makan Jawa, Padang, atau Banjar, yang dijalankan oleh
pendatang. Mungkin mereka adalah bekas transmigran di era
orde baru, atau mungkin juga perantau yang mencoba
mencari peruntungan di tanah lain.
Keberagaman yang sama juga bisa dirasakan jika kita
berkunjung ke kantor-kantor pemerintahan. Beberapa orang
bahkan masih berbicara dengan aksen Jawa yang kental. Saya
tidak tahu apakah mereka pernah merasakan hidup bersama
masyarakat pedesaan yang mendominasi kabupaten ini. Yang
jelas, berbeda dengan Ibu S dan rekan-rekannya, saya tidak
yakin mereka bisa bicara dalam bahasa Dayak Katingan,
apalagi menguasai dialek yang berbeda-beda di tiap desa.
Dari Ibu S dan Bidan L, kami mengetahui bahwa
praktik persalinan tradisional yang dilakukan oleh suku Dayak
Ngaju Kapuas (dimuat dalam buku “Tetesan Danum Tawar di
Dusun Seribu Akar” REK 2014) juga dilakukan di Desa Tewang
Rangkang, meski kini hal tersebut makin jarang ditemui atau
96
Jelajah Nusantara #3
dilakukan bersamaan dengan metode persalinan modern oleh
bidan desa. Praktik pemberian air minum yang sudah
didoakan untuk melancarkan proses persalinan, menabur
beras ketika terjadi masalah atau komplikasi, atau memijat
ibu yang bersalin disebut-sebut masih dilakukan oleh dukun
bayi. Sebagian besar masyarakat juga masih memilih bersalin
di rumah meskipun fasilitas kesehatan sangat dekat dan
kondisi jalan sudah sebagian besar beraspal.
Berdasarkan informasi dari Biro Pusat Statistik,
mayoritas penduduk di Kecamatan Tewang Sangalang Garing
masih merupakan suku Dayak asli. Sebagian besar memeluk
kepercayaan Kaharingan, yang oleh pemerintah
diklasifikasikan ke dalam agama Hindu meskipun ajarannya
memiliki banyak perbedaan. Karenanya, dari beberapa
narasumber yang kami temui di Desa Tewang Rangkang,
berbagai ritual yang terkait dengan kepercayaan Kaharingan
masih dapat ditemukan. Upacara tiwah untuk mendoakan
arwah orang mati, misalnya, masih dilakukan oleh keluarga
yang mampu. Di desa-desa lain yang lebih sulit aksesnya dari
ibukota kecamatan, upacara sangiang untuk mengobati
penyakit dengan memanggil arwah leluhur juga masih
sesekali dilakukan.
Informasi mengenai kemungkinan bahwa kami akan
dapat menyaksikan langsung praktik pengobatan tradisional
di Desa Tewang Rangkang cukup membuat kami
bersemangat. Namun, bagi saya pribadi, hal lain yang justru
lebih menarik adalah karakteristik Desa Tewang Rangkang
yang mewakili kelompok masyarakat Indonesia yang berjuang
97
Baram Tewang Rangkang
hidup dengan kearifan lokalnya di tengah dunia yang semakin
modern.
Seperti banyak desa lain di Kalimantan maupun di
Indonesia, penduduk Desa Tewang Rangkang membangun
rumahnya di tepi aliran sungai yang merupakan sumber air
untuk hidup sehari-hari. Bahkan, Desa Tewang Rangkang tidak
berbentuk lingkaran dengan balai desa di pusatnya,
melainkan memanjang mengikuti aliran sungai. Akan tetapi,
menurut salah satu aparatur desa, seiring waktu, telah terjadi
pergeseran cara hidup masyarakat desa yang tergambar dari
pola pemukimannya. Kini rumah-rumah yang baru dibangun
agak menjauhi sungai. Selain menghindari kemungkinan
luapan air, sumber air juga tidak lagi didapat dari sungai yang
sudah dikotori limbah dari hulu. Masyarakat mulai membuat
sumur atau memasang pompa untuk mengambil air bersih
dari dalam tanah. Jamban sehat di dalam rumah juga bukan
lagi temuan langka.
Selain itu, masyarakat pun tampaknya sudah sadar
akan pentingnya pendidikan. Di Desa Tewang Rangkang,
terdapat dua sekolah dasar dan satu sekolah menengah
pertama dengan total siswa lebih dari 250 murid. Kepala
desanya sendiri merupakan seorang sarjana kehutanan yang
baru menginjak usia tigapuluhan, sedangkan menurut bidan
desa, dukun yang biasa memimpin upacara adat berusia lebih
muda lagi dan sedang menempuh kuliah ilmu agama di
Sekolah Tinggi Agama Hindu-Kaharingan di Palangkaraya.
Terkait dengan yang kedua itu, saya sungguh dibuat tak sabar
untuk berdiskusi dengan beliau, karena inilah kali pertama
saya mendengar agama Kaharingan disebutkan dalam
98
Jelajah Nusantara #3
konteks akademis dan bingkai institusi, bukan lagi mistis atau
dianggap sebagai mitos belaka hanya karena pemujaan arwah
leluhur tidak sesuai dengan konsep masyarakat di ibukota.
Gambar 7. Anak-anak bermain bola di halaman sekolahnya di wilayah
Pendahara.
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Kehidupan masyarakat di Desa Tewang Rangkang juga
mencerminkan kerukunan beragama yang diidam-idamkan
Indonesia dalam semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Di desa
ini, Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan Balai Kaharingan
terletak berdekatan, namun di antara umatnya tidak pernah
terjadi baku hantam. Menurut bidan desa, adalah hal yang
wajar menemukan anggota keluarga dengan agama berbeda
di satu rumah, karena agama dan kepercayaan memang
seharusnya dipandang sebagai pilihan dan hak pribadi.
Kemudian, mengenai akses telekomunikasi dan
transportasi, Desa Tewang Rangkang tidak bisa lagi dikatakan
99
Baram Tewang Rangkang
sebagai desa yang terisolasi. Jalan dari ibukota kecamatan ke
balai desa sudah dapat dilalui oleh kendaraan roda empat
meskipun sarana transportasi umum tidak tersedia. Sinyal
ponsel pun telah tersedia di beberapa titik, dan beberapa
rumah memiliki parabola di halamannya untuk menangkap
siaran televisi. Paparan informasi dari luar desa serta
kemudahan akses menuju ibukota kecamatan maupun
kabupaten itu saya yakini akan menjadi pemicu utama
pembangunan desa dan peningkatan status kesehatan
masyarakat. Namun di sisi lain, hal itu juga berpotensi
membawa dampak negatif bagi warga desa.
Gambar 8. Contoh rumah panggung dari kayu di Desa Tewang Rangkang,
yang tidak lagi dibangun tepat di tepi sungai. Beberapa juga sudah
memiliki parabola, seperti terlihat pada gambar.
Sumber: Dokumentasi Peneliti
100
Jelajah Nusantara #3
Seorang petugas Puskesmas bercerita mengenai adanya
beberapa remaja di wilayah Kecamatan Tewang Sangalang
Garing yang belakangan ini dikabarkan mengkonsumsi
minuman keras serta obat-obat warung yang diracik sendiri.
Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, apalagi karena data
dari Biro Pusat Statistik juga menunjukkan peningkatan kasus
konsumsi minuman keras dan obat terlarang yang terungkap
dari tahun 2010 hingga 2014 di Kabupaten Katingan. Menurut
petugas Puskesmas, minum minuman keras memang sudah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, karena minuman
tradisional yang beralkohol (baram) sudah lazim ditemui
dalam pesta-pesta adat sejak dulu. Namun yang
dikhawatirkan adalah, konsumsi alkohol tersebut kemudian
meluas ke kalangan remaja dan anak-anak, hingga di luar
acara-acara adat dan perayaan. Masalah yang sungguh
menarik minat kami ini rencananya akan kami amati lebih
jauh ketika kami datang kembali ke desa ini, dan menjadi
alternatif topik bagi penelitian kami.
Tewang Rangkang, Akhirnya!
Mobil kami melaju menyusuri jalan utama Desa
Tewang Rangkang, kembali ke kota Kasongan. Di kanan-kiri
jalan berjejer rumah-rumah panggung dari kayu. Aliran Sungai
Katingan yang berwarna cokelat keruh bagai kopi susu
tergambar dari balik semak-semak dan pepohonan yang
begitu hijau. Saya menurunkan kaca jendela mobil,
mencondongkan kepala keluar seraya menghirup udara segar
101
Baram Tewang Rangkang
dalam-dalam. Selesai sudah tugas kami untuk mencari lokasi
bagi penelitian kami, setidaknya untuk sementara.
Kali berikut saya datang, saya tidak hanya akan tinggal
selama sehari. Lingkungan ini akan menjadi tempat tinggal
saya selama dua bulan. Saya akan meresapi setiap momen
hidup saya di sini untuk memahami betapa peliknya
membenahi masalah kesehatan di sudut-sudut republik ini.
Dan dari sinilah saya akan belajar mengenal bangsa saya
sendiri, mencari makna, dan juga terus bertanya dalam proses
menjadi Indonesia yang sebenarnya.
102
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Melawi
Deni Frayoga
Nanga Pinoh, 20 April 2016
11 April 2016, Selamat Datang di Bumi Khatulistiwa
Perjalanan kali ini saya berangkat ke Pontianak
bersama rekan-rekan peneliti yang tergabung dalam tim
Peneliti Riset Etnografi Kesehatan 2016. Tim terdiri dari 3
orang yaitu Mbak Choirum Latifah, SKM, M.Kes (Ketua
Peneliti), saya sendiri Deni Frayoga, SKM (Peneliti Kesehatan)
dan Putri Antika, S.Sos (Antropolog). Perjalanan kami ke tanah
Kalimantan ini adalah dalam rangka persiapan lapangan untuk
sebuah penelitian. Pontianak ini adalah gerbang awal yang
harus dilalui untuk menuju ke lokasi penelitian.
103
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
Ada beberapa agenda yang kami lakukan di Kota
Pontianak ini, pertama kami harus menuju Kantor Badan
Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi
Kalimantan Barat. Hal ini adalah yang pertama karena pintu
masuk perizinan ada di Bakesbangpol. Kantor Bakesbangpol
Provinsi Kalimantan Barat terletak di komplek perkantoran
Gubernur di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di belakang kantor
Gubernur Kalimantan Barat. Kami berfikir bahwa akan lama
proses perijinan ini, yah menaruh target 2 hari selesai. Tapi
ternyata selesai pada hari itu juga, kami baru datang ke
kantor Bakesbangpol pada pukul 11.00 WIB dan selesai pada
pukul 15.30 WIB.
Selanjutnya kami harus menuju ke lokasi penelitian di
Kabupaten Melawi. Perjalanan ke Kabupaten Melawi
memakan waktu 10 jam perjalanan melalui darat dengan
menggunakan Bis DAMRI.
Pada awalnya kami akan melakukan perjalanan ke
Melawi pada malam hari, namun nampaknya Tuhan
menyuruh kami untuk beristirahat terlebih dahulu di Kota
Khatulistiwa ini. Tiket bis ke Melawi sudah habis untuk malam
ini, dan kami baru bisa berangkat besok pagi jam 08.00 WIB.
Akhirnya kami harus menginap di salah satu penginapan yang
ada di Kota Pontianak, dan menikmati makan malam dengan
sajian kuliner Pontianak.
12 April 2016, Jalan Berliku Menuju Melawi
Pagi yang cerah di Kota Pontianak membangunkanku
untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan ke Kabupaten
104
Jelajah Nusantara #3
Melawi. Jarak Pontianak ke Nanga Pinoh ibukota Kabupaten
Melawi adalah 500 KM dengan waktu tempuh 10 jam jika
siang hari sedangkan jika malam hari 9 jam. Kami memulai
perjalanan pada jam 08.00 WIB dari Kota Pontianak.
Gambar 1. Jalan Menuju Melawi Sebelum (atas)
dan Sesudah Diaspal (bawah)
Sumber: Pontianak Tribunnews
105
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
Beberapa tahun lalu untuk menempuh Melawi harus
melalui jalanan tanah di tengah-tengah hutan, bisa
dibayangkan jika dalam kondisi hujan akan sangat kerepotan.
Banyak mobil seperti bis dan truk yang kesulitan karena ban
ambles pada tanah yang sudah basah. Namun sekarang untuk
menempuh Melawi jalan sudah diaspal, meskipun jalanan
masih banyak yang rusak dan berdebu.
Pemandangan sepanjang perjalanan sangat hijau,
kami hanya melihat pemandangan hutan-hutan tropis. Ada
juga dedaunan yang sudah kotor oleh debu jalan, memang
jalan ini dahulunya adalah hutan tropis yang dibuka lahannya
menjadi jalan penghubung antar kabupaten. Selain
pemandangan hutan, disajikan pula dengan pemandangan
sungai. Tidak dipungkiri bahwa Kalimantan adalah pulau
seribu sungai memang benar kenyataannya. Setelah melalui
perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya kami tiba
di Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi pada pukul 18.00
WIB.
13-14 April 2016, Selamat Datang di Melawi
Pagi yang cerah mengawali semangat kami untuk
segera memulai aksi persiapan lapangan di Kabupaten
Melawi. Disajikan sarapan pagi dengan secangkir teh Melawi
yang hangat nan manis, semanis senyuman orang Melawi dan
kuliner yang sangat lezat. Kabupaten Melawi yang dahulu
dikenal dengan sebutan Melawei memiliki luas daerah
10.640,80 km2, dan terdiri dari 11 kecamatan, diantaranya
Nanga pinoh, Pinoh Selatan, Sokan, Belimbing Hulu,
106
Jelajah Nusantara #3
Belimbing,Tanah Pinoh Barat, Tanah Pinoh, Sayan, Ella hilir,
Menukung, dan Pinoh Utara. Kabupaten Melawi secara
geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten
Kotawaringin Timur-Kalimantan Tengah (batas Selatan),
Kabupaten Sintang (batas Utara dan Timur), dan Kabupaten
Ketapang (batas Barat).
Gambar 3. Nanga Pinoh ibukota Kabupaten Melawi
Sumber: melawikab.go.id
Etnis penduduk asli Kabupaten Melawi adalah suku
Dayak, Melayu dan Tionghoa Hakka. Suku Dayak di Kabupaten
Melawi terdiri dari 20 jenis suku dayak, yaitu Dayak Kepuas,
Dayak Senganan, Dayak Limbai, Dayak Barai, Dayak Linoh,
Dayak Kebahan, Dayak Ingar Silat, Dayak Silath Muntok,
Dayak Sane, Dayak Randu, Dayak Batu Entawa, Dayak
Lamantawa, Dayak Keluas, Dayak Keninjal, Dayak Kubitn,
Dayak Pangin, Dayak Nyadupm, Dayak Ella, Dayak Kenyilu,
dan Dayak Ransa
107
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
Keramah tamahan Sejawat Tenaga Kesehatan
Pada hari ini kami langsung menemui Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Melawi, namun beliau saat ini sedang
melaksanakan pertemuan di Dinas Kesehatan Provinsi
Kalimantan Barat. Kemudian dipertemukanlah kami dengan
Sekretaris Dinas yaitu Bapak Paulus. Beliau sangat baik dan
kooperatif dalam menyambut kami.
Setelah kami menjelaskan maksud dan tujuan
kedatangan kami ke Kabupaten Melawi ini dan menjelaskan
mengenai Riset Etnografi Kesehatan (REK) maka kami
dipertemukan dengan pejuang-pejuang tangguh di Dinas
Kesehatan Melawi. Pertama kami dikenalkan dengan dr.
Gunardi, beliau seorang Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan
di Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi. Perkenalan dengan
beliau mengantarkan pada pengenalan masalah kesehatan
yang ada di Kabupaten Melawi. Beliau menjelaskan masalah-
masalah kesehatan di Puskesmas wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kabupaten Melawi. Berdasarkan penjelasan
tersebut maka pihak Dinas Kesehatan merekomendasikan
lokasi penelitian kami di wilayah Puskesmas Sokan. Ada
permasalahan kesehatan yang perlu diteliti dan juga
dipecahkan dengan solusi untuk perbaikan derajat kesehatan
masyarakat di wilayah Puskesmas Sokan.
Tidak lama kemudian kami dikenalkan dengan Pak
Arif, beliau seorang staf P2L di Dinas Kesehatan Kabupaten
Melawi. Beliau menjelaskan tentang masalah utama di
Puskesmas Sokan yaitu kasus Lusung. Lusung atau dalam
bahasa ilmiahnya Tinea Imbricata merupakan penyakit kulit
108
Jelajah Nusantara #3
yang bersumber jamur Trichophyton Concentricum, penyakit
kulit ini bersifat tropikal, yaitu terjadi di daerah tropis dan
lembab. Beliau juga menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan
Melawi sudah melakukan intervensi untuk pemecahan
masalah tersebut melalui pembagian handuk, sabun,
pengobatan masal dan edukasi kesehatan kepada
masyarakat.
Perjuangan mereka untuk memberantas penyakit
Lusung begitu berat, dan banyak tantangan. Mulai kesulitan
akses jalan menuju desa-desa dengan kasus Lusung yang sulit,
harus melewati jalan setapak yang terjal dan berbukit,
melewati sungai yang arus airnya curam. Namun mereka
tetap semangat berjuang untuk memberantas penyakit
Lusung, demi memperbaiki derajat kesehatan masyarakat.
Itulah mengapa penulis menyimpulkan bahwa mereka adalah
pejuang-pejuang tangguh.
Misteri di Teluk Pongkal
Setelah penjelasan yang cukup panjang mengenai
kasus Lusung di Sokan, Pak Arif memberikan rekomendasi
desa untuk penelitian adalah di Desa Teluk Pongkan. Desa ini
termasuk desa dengan kategori pelosok. Menempuh
perjalanan darat ke Desa Teluk Pongkan memerlukan waktu
sampai 6 jam dan hanya bisa menggunakan sepeda motor
jenis trail. Medan jalannya sangat ekstrim, hanya ada jalan
setapak melewati hutan tropis, bukit dan lembah. Alternatif
jalan lain adalah menyusuri sungai denga melawan arus
sungai yang cukup curam dengan menggunakan speed boat.
109
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
Gambar 4. Akses Transportasi Sungai menuju Desa Teluk Pongkal
Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi
Suatu kebetulan, hari ini ternyata Pak Wawan, Kepala
Puskesmas Sokan, ada di kantor Dinas Kesehatan Melawi.
Diskusilah kami dengan beliau, menanyakan kondisi Teluk
Pongkal dan permasalahan yang ada, terutama yang
berkaitan dengan kasus Lusung. Beliau menjelaskan kondisi
lain di Teluk Pongkal yang ternyata di desa ini tidak ada listrik,
apalagi sinyal untuk telepon seluler. Hal ini akan menjadi
tantangan tersendiri bagi kami tim peneliti.
Pak Wawan menjelaskan kasus penyakit Lusung di
Desa Teluk Pongkal itu merupakan kasus yang sangat unik.
Bagaimana tidak? Ada dalam 1 keluarga, ayah ibunya terkena
Lusung tetapi anaknya sehat-sehat saja, padahal setiap hari
kontak fisik. Tidur pun satu kasur, dan handuk pun digunakan
bersamaan, tetapi tidak tertular.
110
Jelajah Nusantara #3
Gambar 6. Kondisi Desa Teluk Pongka
Sumber: Dokumentasi Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi
Ada asumsi masyarakat bahwa Lusung ini adalah
penyakit sejenis yang berkaitan dengan ilmu supranatural
atau magic. Pak Wawan menjelaskan bahwa isu yang beredar
di masyarakat, Lusung tidak bisa disembuhkan di daerah lain,
misal dibawa ke luar Kalimantan, karena diyakini bahwa
sumbernya adalah dari Teluk Pongkal sendiri. Memang
terdengar cukup misterius dan sedikit menakutkan, namun
kami yakin setiap misteri pasti ada fakta ilmiahnya. Tugas
kami adalah mengeksplorasi untuk menemukan fakta-fakta
ilmiah di balik misteri di Teluk Pongkal. Desa Teluk Pongkal
memang merupakan desa dengan kasus Lusung tertinggi
dibandingkan dengan desa lainnya di wilayah Puskesmas
Sokan, dan bahkan desa lainnya yang ada di Melawi.
Berdasarkan data Bidang P2L Dinas Kesehatan Ka-bupaten
Melawi, di Desa Teluk Pongkal tercatat ada 89 pasien Tinea
111
Menemukan Misteri di Bumi Khatulistiwa
imbricata (Lusung). Data tersebut hanya akumulasi sampai
dengan bulan Mei 2015, untuk data terbaru sampai akhir
2015 masih belum terekap.
Desa Teluk Pongkal memang menjadi salah satu
kandidat lokasi penelitian kami. Namun lokasi masih bisa
berubah, masih ada ke-
mungkinan ditempatkan
di lokasi yang berbeda,
mengingat kasus Lusung
tidak hanya terjadi di
Desa Teluk Pongkal, ma-
sih ada desa lain di
Kecamatan yang berbe-
da, yang jumlah kasus-
nya tidak terpaut jauh
dengan Teluk Pongkal.
Gambar 7. Penyakit Lusung/Tinea
Imbricata yang Diderita Masyarakat
Teluk Pongkal
Sumber: Dokumentasi Dinas
Kesehatan Melawi
“Misteri bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diteliti agar dapat
mengungkap fakta ilmiah di balik misteri.”
112
Menyapa ‘Macan Dahan’ Borneo
Catatan Perjalanan di Kabupaten Kutai Barat
Titan Amaliani
Kutai Barat, 20 April 2016
Tergelitik melihat status sosial media seorang kawan
"Cinta Indonesia Sampai Kiamat". Iseng kutanyakan padanya.
Apa sih yang membuatnya begitu mencintai Indonesia, tak
juga ku peroleh jawaban yang memuaskan. Saya justru lebih
suka menyebutnya Nusantara. Lebih khas. Lebih Original,
seperti Sumpah Patih Gajah Mada dulu. Perjalanan ke tanah
Borneo kali ini membawa misi tersembunyi. Akhirnya saya
tanyakan pada diri sendiri. Apakah saya begitu mencintai
Nusantara?
Kabupaten Kutai Barat adalah tujuan pertamaku di
Pulau Kalimantan. Riset Ethnografi Kesehatan yang dilakukan
oleh Kementerian Kesehatan mengambil Kabupaten Kutai
113
Menyapa ‘Macan Dahan’ Borneo
Barat menjadi salah satu lokasi penelitian. Menjadi menarik,
provinsi yang terkenal karena merupakan salah satu provinsi
terkaya di pulau Kalimantan ini juga tidak lepas dari masalah
kesehatan. Tak hanya itu, Kabupaten Kutai Barat yang
termasuk dalam deretan Kabupaten terkaya di Indonesia,
justru menempati posisi 384 dari seluruh kabupaten di
Indonesia berdasarkan Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat tahun 2013. Miris memang.
Gambar 1. Bandara Sepinggan Balikpapan
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Perjalanan panjang dari tanah Sumatera menuju
Kabupaten Kutai Barat yang berada di Provinsi Kalimantan
Timur ini dimulai dari Kota Balikpapan. Tanah gersang penuh
dengan perkebunan sawit dan hutan serta kota yang baru
selesai dibangun, sepi, wajah wajah yang keras, dan berbagai
gambaran lainnya yang memenuhi benakku hilang saat
melangkahkan kaki keluar bandara. Tidak jauh dengan
114
Jelajah Nusantara #3
beberapa kota besar seperti Bandung dan Jogja, Kota ini
begitu tenang, teduh, dan ramah.
Perjalanan menuju Kabupaten Kutai Barat yang
merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai pada tahun
1999 ini cukup memakan waktu yang panjang. Saya dan dua
teman saya melewati sebelas jam melalui jalur darat dengan
dua kali pemberhentian.
Tak sulit menemukan angkutan menuju Kabupaten
Kutai Barat. Ada 2 alternatif yang bisa di gunakan. Jalur udara
dengan maskapai Kalstar. Serta Jalur darat menggunakan jasa
travel yang dapat dengan mudah ditemukan. Minibus Elf yang
digunakan rata-rata adalah bus baru dan masih bagus. Jalan
beraspal mulus memang pantas diacungi jempol. Namun
kontur tanah yang berbukit bukit mengharuskan kita untuk
siap ber 'Roller Coaster' sederhana. Turunan dan tanjakan
disertai tikungan mendampingi sepanjang perjalanan.
Mabok? Bagaimana bisa? sementara pemandangan
hamparan hutan di lembah lembah kanan kiri jalan
membuatku tertarik. Beberapa ladang buah Naga milik
penduduk juga kerap membuatku tak jadi memejamkan
mata.
Menjelang senja, langit terlihat begitu bersahaja,
matahari mengambang diatas hamparan hijau hutan tropis
berkolaborasi dengan semburat jingga romantis. "Zamrud-
Khatulistiwa" sebutannya.
Setelah berjam-jam hanya melihat beberapa rumah di
kanan dan kiri jalan, pada akhirnya mini bus yang kami
tumpangi memasuki wilayah 'perkotaan'. Lampu berkerlap-
kerlip di sepanjang jalan, serta tugu dengan Patung Macan
115
Menyapa ‘Macan Dahan’ Borneo
Dahan berdiri di atasnya, bertuliskan 'Sendawar', yang
akhirnya ku ketahui bukan nama tempat, melainkan sebutan
untuk 3 kecamatan yang berdekatan yaitu Melak, Barong
Tongkok, dan Sekola Darat. Macan Dahan sendiri merupakan
maskot Kabupaten Kutai Barat, yang termasuk hewan
dilindungi dan banyak dijumpai di daerah tersebut. Menjelang
dini hari kami tiba di Kutai Barat.
Gambar 2. Tugu Macan Dahan Sendawar
Sumber: John Tawi Center
Dayak, begitulah yang terlintas di benakku dan
beberapa teman lainnya ketika mendengar nama Kalimantan.
“Disini ada suku Kutai, seperti saya. Dayak Benuaq, Dayak
Tunjung, Banjar sama Bugis juga banyak. Kalo bupati kita itu
Dayak Benuaq, kalo wakilnya orang kita Kutai,” cerita supir
116
Jelajah Nusantara #3
yang mengantarkan kami hari itu. Ah… ternyata seperti
namanya, daerah ini ditempati juga oleh suku Kutai.
Gambar 2. Islamic Center Kutai Barat
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Suku Kutai, ternyata merupakan satu rumpun dengan
Dayak. Mayoritas suku Kutai beragama Islam, sedangkan
Dayak Benuaq mayoritas kristen sehingga tak heran bila Kutai
Barat memiliki dua tempat ibadah yang cukup megah di
Sendawar yang tak boleh dilewatkan, sebuah gereja dan
Islamic Center.
Melanggar Batas
Pertemuan pertamaku dengan Etnis Dayak Benuaq
terjadi di Dinas Kesehatan, seorang Kepala Dinas Kesehatan.
Sambil tersenyum, beliau mempersilahkan kami masuk. Tawa
yang selalu terselip dalam cerita cerita tentang daerahnya.
117
Menyapa ‘Macan Dahan’ Borneo
"Ya budaya memang sedikit banyak itu
mempengaruhi kesehatan. Adat orang Benuaq itu
ndak boleh nyebut nama mertua, manggilnya
misalnya kakeknya atau ayahnya Dimar. Tapi saya
bingung kalau bawa mertua ke Rumah Sakit masak
ngisi data seperti itu. Hahaha… ya tetep kita langgar
adat itu." (Kepala Dinas Kesehatan)
Sambil tertawa ramah Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Kutai Barat melanjutkan ceritanya, "Orang sakit itu
di Beliant. Beliant itu acaranya pakai mantra-mantra… itu
pakai nari-nari. Pengobatan orang sakit."
"Pada acara Beliant itu lah kita kasi penyuluhan. Kita
datang ke masyarakat. Kalo nggak gitu sulit ngumpulkan
masyarakat kan," sahut Kepala Bidang Kesehatan Keluarga
ketika kami menyampaikan maksud kedatangan kami. “Kalian
lihat nanti Beliant, masih banyak di sana,” sebuah kalimat
yang menyejukkan rasa penasaran kami pada praktik Beliant.
Eksotisme pengobatan tradisional ternyata bukan masalah
utama di wilayah tersebut. Tingginya kematian ibu dan
kematian neonatus turut andil menjadi salah satu
penyumbang Kutai Barat menempati posisi IPKM terendah di
Provinsi Kalimantan Timur.
Di luar dugaan, Kepala Bidang Kesegatan Keluarga
menjelaskan penyebab kematian neonatus tidak hanya
dikarenakan persalinan yang ditolong oleh dukun, namun juga
didukung tingginya angka nikah muda di kabupaten tersebut,
"Banyak kehamilan usia sekolah. Kita mencegah
kematian bayi ini seperti menyelesaikan masalah
yang satu muncul masalah lainnya. Kalau tidak dari
118
Jelajah Nusantara #3
akar masalahnya dicegah akan terus muncul."
(Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan
Kutai Barat)
Tanah si Macan Dahan Borneo ini masih menyimpan
banyak kejutan untuk membuat siapa saja jatuh cinta. “Kita
pikir, Kalimantan masih berupa hutan rimba, orang-orangnya
masih primitif dan menakutkan. Padahal, semua sudah jauh
berubah. Justru lebih nyaman dibanding hiruk pikuk
perkotaan,” celetuk seorang pria perantauan asal Sumatera
yang duduk di sebelahku dalam perjalanan pulang.
"Kalimantan ternyata diluar ekspektasi kita," lanjutnya
menyimpulkan. Saya mengangguk pasti, meng-iya-kan.
119
Menyapa ‘Macan Dahan’ Borneo
120
Selayang Pandang Pulau Garam
Catatan Perjalanan ke Kabupaten Pamekasan
Lailatul Maghfiroh
Sidoarjo, 20 April 2016
Madura memang sudah dikenal Publik dengan
sebutan ‘Pulau Garam’ di tanah Jawa. Meski sebenarnya tidak
semua pesisir pantai di Pulau Madura digunakan untuk
produksi garam.
Melekat di benak saya ketika akan berkunjung ke
Madura adalah tentang logat bahasa Madura yang cukup
kental dan tidak bisa di pahami oleh masyarakat tanah Jawa
secara keseluruhan. Bahkan juga bagi masyarakat yang tinggal
di kota yang bersebelahan dengan Madura, yaitu Surabaya
dan sekitarnya.
121
Selayang Pandang Pulau Garam
Rabu, 06 April 2016 pukul 06.00 WIB kami bertiga,
saya. Lailatul Maghfiroh, selaku peneliti kesehatan, bersama
dengan ibu Turniani selaku koordinator dari Litbangkes, dan
Ishartono selaku peneliti sosial dalam satu Tim Riset Etnografi
Kesehatan 2016, berkunjung ke Kabupaten Pamekasan.
Tujuan kami adalah untuk melakukan persiapan lapangan dan
mengurus perijinan Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2016.
Perjalanan kami menuju Pamekasan, Madura
menggunakan jalur darat dan memakan waktu ±4 jam dari
Surabaya. Sepanjang perjalanan, kami melewati Jembatan
Suramadu yang sangat elok dengan pemandangan bentangan
pulau yang sangat luas dan indah.
Gambar 1. Jembatan Suramadu
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Tidak hanya itu, sesampai di Pulau Madura kami di
suguhkan kembali oleh keindahan ciptaan-Nya, yakni air yang
terbentang luas dengan warna biru yang sangat cantik dan
122
Jelajah Nusantara #3
berpadu dengan birunya cerahnya langit. Keindahan tersebut
dipersembahkan dalam bingkai Pantai Camplong yang
terletak di pesisir jalan Kota Sampang Madura.
Gambar 2. Pantai Camplong, Sampang
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Kami sampai di Pamekasan sekitar pukul 10.00 WIB.
Perjalanan kami berhenti di Terminal Pamekasan. Logat
Madura yang sangat khas sudah memenuhi pendengaran
kami. Angkutan umum untuk menuju semua rute di
sepanjang wilayah Pamekasan sangat jarang. Sehingga kami
harus menyewa ‘bemo’ menuju Dinas Kesehatan Kabupaten
Pamekasan.
Kedatangan kami disambut dengan baik oleh pihak
Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan. Dikarenakan Bapak
Kepala Dinas sedang bertugas di Jakarta, kami dipertemukan
dengan bapak Ali Maksum, selaku Sekretaris Dinas Kesehatan
Kabupaten Pamekasan.
123
Selayang Pandang Pulau Garam
Layaknya sudah saling kenal dalam jangka waktu yang
lama, obrolan kami dengan Sekretaris Dinkes Kabupaten
Pamekasan menghasilkan gambaran sekilas terkait profil
masalah kesehatan dan budaya masyarakat Pamekasan.
Budaya-budaya yang diceritakan masih berlaku di desa-desa
tertentu di wilayah Pamekasan sampai dengan saat ini.
Data Indekas Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) tahun 2013 menunjukan bahwa secara nasional
Kabupaten Pamekasan menempati peringkat ke-454. Sedang
pada tingkat Provinsi Kabupaten Pamekasan menempati
peringkat ke-38 dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa
Timur. Data detail indeks Indikator kesehatan Kabupaten
Pamekasan apabila dibandingkan dengan ketercapaian
Provinsi Jawa Timur dilihat dari sisi pelayanan kesehatan
(0,4078/0,4931), perilaku (0,3392/0,3637), penyakit menular
(0,5889/0,7287), kesehatan lingkungan (0,1663/0,5425).
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan juga
telah menyadari kondisi status kesehatan masyarakat
tersebut. Dinas Kesehatan memandang masih diperlukan
upaya peningkatan dan kesadaran masyarakat setempat agar
IPKM Pamekasan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Cerita tentang Kecamatan Palengaan
Keesokan harinya, kami berkunjung ke Puskesmas
Palengaan ditemani oleh Ibu Alfira selaku pegawai bagian
Perizinan Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan. Jalur
menuju Puskesmas Palengaan cukup mudah karena kondisi
jalan sudah cukup bagus. Jarak antara pusat Kabupaten
124
Jelajah Nusantara #3
Pamekasan dengan Puskesmas Palengaan sekitar ±1,5 jam
perjalanan.
Sesampai di Puskesmas, kami bertemu dengan kepala
Puskesmas Palengaan, dr. Saifuddin. Beliau menceritakan
bahwa masalah yang sering ditemukan di wilayah Puskesmas
Palengaan masih terkait dengan kesehatan lingkungan dan
kesehatan ibu dan anak.
Salah satu masalah yang berhubungan dengan
kesehatan lingkungan yang masih ditemui adalah penyakit
kusta. Perlu diketahui bahwa terdapat ±15 Puskesmas dari 20
Puskesmas yang tersebar di 13 kecamatan wilayah
Pamekasan yang memiliki ‘kantong kusta’. Salah satunya
adalah di wilayah Puskesmas Palengaan, di Desa Banyupelle.
Selanjutnya Kepala Puskesmas Palengaan juga menjelaskan
bahwa terkait masalah kesehatan, masyarakat setempat
masih mengedepankan kyai tokoh masyarakat, dibandingkan
dengan tenaga kesehatan.
Fakta kondisi lain, selama dua bulan terakhir hanya
terdapat 1 bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Palengaan.
Berdasarkan informasi yang kami dapat dari petugas
Puskesmas Palengaan, kosongnya posisi bidan desa
dikarenakan bidan desa sudah berpindah ke wilayah kerja
Puskesmas lainnya.
Dari sisi keagamaan, terdapat 60 (enam puluh) Pondok
Pesantren di Kecamatan Palengaan. Kondisi inilah yang
menempatkan kyai menjadi penting dan orang yang sangat
berpengaruh di Palengaan. Setiap perkataan dan pernyataan
yang diberikan oleh sang kyai selalu diikuti oleh masyarakat.
Hampir semua masalah kehidupan, baik kesehatan maupun
125
Selayang Pandang Pulau Garam
non kesehatan, diadukan kepada sang kyai. Hal inilah yang
menyebabkan kepercayaan di masyarakat Palengaan sangat
kuat bergantung terhadap perkataan sang kyai. Di sisi lain,
sebuah pemandangan yang wajar bila di seluruh wilayah
Palengaan seperti desa santri, karena banyaknya para remaja
yang berkeliaran dengan menggunakan sarung dan kopyah.
Sebagai calon daerah wilayah penelitian, dr. Saifuddin
merekomendasikan Desa Banyupelle. Kepala Puskesmas
Palengaan tersebut merekomendasikan desa tersebut dengan
alasan adanya kantong kusta di wilayah desa ini. Kusta sendiri
dikenal sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium leprae yang terutama menyerang
saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain, kecuali susunan saraf
pusat.
Gambar 3. Penderita Kusta di Desa Banyupelle
Sumber : Dokumentasi Dinkes Pamekasan
Stigma masyarakat terkait kusta di wilayah Palengaan
masih sangat sensitif. Masyarakat beranggapan bahwa
126
Jelajah Nusantara #3
penyakit kusta merupakan penyakit ‘kutukan’, dan tidak
boleh bergaul terlalu dekat dengan warga lain.
Informasi lain diceritakan oleh bidan di Puskesmas
induk dan perawat yang bertugas di Puskesmas Pembantu
(Pustu) bahwa penderita kusta seringkali berobat ke
pelayanan kesehatan hanya dengan 1-2 kali berobat saja, lalu
pasien berharap bisa langsung sembuh. Petugas Puskesmas
sudah mengingatkan berulang kali bahwa proses pengobatan
kusta membutuhkan waktu paling sedikit sekitar 1 tahun.
Ketidaksabaran pasien tersebut, membuat pasien
berupaya alternatif lain, yaitu berobat kepada kyai. Pasien
berharap bahwa bantuan doa dari kyai bisa diandalkan dan
dapat menyebuhkan penyakit kusta yang diderita.
‘Oleh-oleh’ yang dibawa pulang dari kyai yang paling
banyak ditemukan adalah jamu dan air. Fenomena ini cukup
menarik bagi tim peneliti, bahwa sudah menjadi budaya yang
terpupuk bagi masyarakat Desa Banyupelle untuk mencari
pengobatan alternatif bagi penyakit kusta yang diderita.
Kusta memang menjadi salah satu tematik yang akan
diangkat pada pada Riset Etnografi Kesehatan di Kabupaten
Pamekasan. Meski tidak menutup kemungkinan ditemukan-
nya tematik lain saat tim peneliti sudah melakukan
pengumpulan data. Mengingat banyaknya masalah yang
terkait dengan kesehatan lingkungan, serta kesehatan ibu dan
anak yang cukup kompleks di wilayah ini.
127
Selayang Pandang Pulau Garam
Masyarakat Madura, termasuk Pamekasan, sekilas
terlihat high mobility. Kita bisa menemui mereka hampir di
setiap sudut kota negeri ini, dan bahkan di luar negeri, orang
Madura dengan profesi tertentu yang khas. Di sisi lain kita
juga masih menemui kuatnya kepercayaan mereka terhadap
kyai.
128
Wedang Uwuh,
diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
Khoirul Faizin
Jogjakarta, Medio Maret 2014
Yogyakarta, ketika nama itu disebut, sudah terbayang
di dalam angan kita akan kota wisata yang memiliki kekayaan
budaya beragam dan luar biasa. Banyak peninggalan sejarah
yang dengan mudah dapat kita temui di kota gudeg ini.1 Salah
satu daerah yang menjadi bagian daerah istimewa ini adalah
Imogiri, sebuah kota kecamatan yang terletak di sebelah
1 Gudeg merupakan nama dari makanan khas bagi masyarakat
Yogyakarta. Meskipun demikian, makanan khas Yogyakarta ini, saat ini,
tidak hanya dapat dijumpai di Yogyakarta saja sebab dapat juga kita
jumpai di berbagai daerah lainnya di Indonesia.
129
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
selatan pusat Kota Yogyakarta. Dibutuhkan waktu tempuh
sekitar 50 menit menggunakan bus untuk mencapai wilayah
tujuan wisata yang memiliki tiga makam terkenal ini; makam
Kesultanan Surakarta, Kesultanan Cirebon, dan Pemakaman
Seniman.
Jalanan beraspal akan menemani perjalanan kita
menuju daerah yang berjarak sekitar 35 km dan terletak di
sebelah Selatan pusat Kota Yogyakarta ini. Apabila perjalanan
kita lanjutkan ke arah Selatan, maka langkah kaki kita akan
sampai di sebuah desa yang bernama Wukirsari. Jalanan
beraspal sempit dan hutan pohon jati yang berada di sebalah
kanan-kiri jalan akan menemani perjalanan kita dari Kota
Imogiri menuju desa yang terletak di lereng Pegunungan
Giriloyo ini. Suasana sejuk langsung kita rasakan saat
menjejak desa ini.
Secara administratif, Wukirsari merupakan salah satu
desa yang berada di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul.
Wukirsari sendiri memiliki beberapa pedukuhan, antara lain
Dukuh Karang Kulon, Giriloyo, Cengkehan, Pundung, Kedung
Gumeng, Singosaren, Tilaman, dan Sindet. Apabila saat ini kita
menyebut Wukirsari, maka yang akan kita temui adalah
kerajinan batik tulis, kerajinan keris, kerajinan kulit sebagai
bahan dasar untuk membuat wayang kulit, dan kerajinan
rotan (meubelair).
Meskipun demikian, namun masing-masing
pedukuhan tersebut memiliki ciri khas yang membedakan
satu pedukuhan dengan pedukuhan lainnya. Sebut saja
misalnya dalam hal kerajinan tangan yang dihasilkan dari
masing-masing pedukuhan tersebut. Artinya, satu produksi
130
Jelajah Nusantara #3
kebudayaan tertentu tidak akan kita temui dan diproduksi
oleh warga pedukuhan yang berbeda.2
Seolah-olah sudah terjadi kesepakatan yang tidak
tertulis dari para leluhur Desa Wukirsari ini tentang produk
kebudayaan apa yang menjadi pembeda antara masing-
masing pedukuhan itu. Meski justifikasi ini masih
membutuhkan kajian lebih lanjut, namun fenomena yang kita
dapatkan demikian adanya. Sekali lagi, rasanya merupakan
sebuah ketergesa-gesaan dan simplifikatif bila kita justifikasi
bahwa di wilayah ini berlaku aturan one village one product.
Sebab faktanya mengatakan, bahwa bukan berarti satu
pedukuhan tertentu warganya sama sekali tidak ada yang
memproduksi kerajinan-kerajinan yang juga diproduksi oleh
warga pedukuhan yang lain.
Di samping itu, di desa ini kita akan dengan mudah
pula menemui praktek pengobatan (kesehatan) alternatif
berupa gurah dan bekam. Oleh sebab itu, selain dinamakan
desa batik tulis, desa wisata ini juga disebut desa gurah dan
bekam. Namun dari beragam persamaan dan perbedaan
antar pedukuhan yang ada di desa ini, terdapat satu budaya
atau tradisi yang akan kita jumpai di seluruh pedukuhan.
Budaya atau tradisi yang sama tersebut adalah menyuguhkan
minuman wedang uwuh kepada tamu yang berkunjung di
desa ini.
2 Hal ini mengingatkan kita akan semboyan “one village one product” yang
pernah dicanangkan oleh Basofi Soedirman ketika menjabat sebagai
Gubernur Jawa Timur.
131
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
Wedang Uwuh; Asal Usul dan Keberadaannya Kini
Seperti disinggung di atas, Giriloyo merupakan salah
satu pedukuhan dari desa Wukirsari. Pedukuhan Giriloyo
terletak di lereng Gunung Giriloyo. “Di sebelah sana tidak ada
lagi pedukuhan atau desa yang akan kita temui karena
Giriloyo ini pedukuhan terakhir. Apabila kita naik ke atas, ya
langsung menemui jalan buntu karena langsung gunung”,
demikian penjelasan Amar Ma’ruf Nahi Munkar kepada
peneliti.3
Memang benar apa yang diceritakan oleh Amar.
Sejauh mata memandang ke arah ujung pedukuhan ini yang
nampak hanyalah hutan Gunung Giriloyo. Seolah jalan buntu.
Pedukuhan ini benar-benar berbatasan langsung dengan
Gunung Giriloyo.4 Oleh karena, kesegaran hawa dan
kesejukannya langsung menyergap tubuh kita. Sejauh mata
memandang nampak hutan jati yang menghijau menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari pedukuhan ini.
Sebagai daerah yang terletak di lereng pegunungan,
maka kondisi topografi pedukuhan ini tidaklah rata. Jalan
menanjak dan naik menjadi ciri khas jalan pedukuhan ini.
Demikian juga halnya ketika peneliti menuju rumah Ibu
Martini. Jalanan atau tepatnya gang sempit menanjak
langsung menghadang peneliti. Terlebih semalam hujan lebat
3 Wawancara dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (35 tahun) warga
Pedukuhan Giriloyo di rumahnya, 15 April 2014, pukul 09.45 WIB.
4 Secara etimologi, Giriloyo berasal dari Bahasa Jawa, yakni Giri dan Loyo.
Giri artinya gunung, sedangkan Loyo artinya mati. Jadi secara sederhana,
Giriloyo artinya gunung mati.
132
Jelajah Nusantara #3
mengguyur pedukuhan ini. Kondisi ini menyebabkan jalanan
berbatu ini nan menanjak ini manjadi licin. Setelah melewati
beberapa tanjakan dan turunan tajam nan berliku, akhirnya
peneliti sampai di rumah ibu Martini.
Ibu Nurrohmah, Kader kesehatan yang menjadi
penunjuk jalan mengatakan kepada kami bahwa apabila ingin
mengeksplorasi lebih jauh mengenai wedang uwuh, Ibu
Martini-lah orang yang tepat karena ia memiliki pengetahuan
lebih mengenai minuman khas ini. Itulah alasan mengapa
kami menuju rumah dan menemui ibu Martini yang kami
tetapkan sebagai informan kami.
“Assalamualaikum”, ucap kami ketika sampai di depan
pintu rumah ibu Martini. “Walaikumsalaam. Monggo-
monggo (mari-mari, silakan, pen)”, jawab seorang ibu yang
keluar dari rumah
dan meng-hampiri
kami. Se-orang ibu
setengah baya itu
tidak lain adalah
ibu Martini sendiri.
Setelah
masuk dan diper-
silakan duduk, ka-
mi menjelaskan Gambar 1.
maksud dan tuju- Wawancara dengan Ibu Martini
an kami. Dengan Sumber: Dokumentasi Peneliti
penuh keakraban,
ibu Martini menyatakan senang hati dan bersedia ngobrol
dengan kami. Rumah ibu Martini nampak lebih besar di
133
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
antara rumah para tetangganya. Di depan rumah, atau
tepatnya bale,5 nampak seperangkat alat untuk membatik.
Dua sangkar burung perkutut nampak digantung di atas kain
yang masih belum selesai dibatik. Rupanya, sebelum
menerima kami, ibu Martini sedang membatik.
Sementara di ruang tengah nampak berjejer rapi kain
batik yang sudah selesai pengerjaannya. Kain-kain batik itu
sudah siap dijual kepada pembeli. “Monggo, kalau mau
membeli batik produksi kami. Harga yang paling murah
adalah 300 ribu,” katanya menawarkan.6 Burung perkutut
terdengar selalu manggung (berkicau) sesaat ketika ibu
Martini menyuguhkan minuman air mineral kemasan kepada
kami. Ibu Martini tidak menyuguhkan kepada kami secangkir
wedang uwuh. Mainuman yang konon menjadi kekhasan
daerah ini.
Ibu Martini mengiyakan ketika kami sampaikan bahwa
menurut petugas Puskesmas Imogiri I dia merupakan salah
satu orang di Pedukuhan Giriloyo ini yang masih sering
mengkonsumsi bahan-bahan (ramuan) wedang uwuh.
“Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat wedang
uwuh adalah gula batu, daun manis jangan, kayu secang, jahe,
dan cengkeh”, katanya menjelaskan dan menunjukkan
ramuan yang disebutkan itu kepada kami.
5 Dalam struktur adat budaya rumah di Jawa, bale (serambi) rumah
merupakan salah unsur yang terdapat dalam struktur rumah adat
tersebut. Bale atau serambi ini terletak di bagian depan rumah dan
biasanya dipergunakan untuk menerima tamu.
6 Wawancara dengan ibu Martini di rumahnya, Dukuh Giriloyo, 15 April
2014.
134
Jelajah Nusantara #3
Menurut sejarahnya, asal-muasal wedang uwuh ini
adalah ketika seorang Kanjeng Ratu dari Kesultanan Cirebon
berziarah ke pemakaman Cirebon yang terletak di Pedukuhan
ini memetik daun secang dan meminta kepada seorang warga
di pedukuhan ini untuk membuatkannya minuman hangat.
Ibu Martini mengatakan,
“Menurut mbah (kakek) saya, ketika Kanjeng Ratu
masuk ke pemakaman memetik daun secang dan
menyuruh mbah Pawiro Grumbul untuk
membuatkannya minuman hangat. Oleh mbah
Pawiro Grumbul, daun secang tersebut kemudian
dicampur dengan gula batu dan jahe. Lalu direbus.
Setelah jadi minuman hangat disuguhkanlah kepada
Kanjeng Ratu”.7
Ibu Martini tidak dapat menjelaskan siapa nama
Kanjeng Ratu yang dimaksudkan tersebut dan kapan
peristiwa itu terjadi. Hanya saja, menurut kakeknya sejak saat
itu wedang uwuh menjadi minuman khas daerah ini. Wedang
uwuh-lah minuman yang selalu disuguhkan kepada para tamu
yang berkunjung di daerah ini. Sebagai “teman” wedang
uwuh ini, biasanya disuguhkan pula makanan khas daerah ini,
yakni nasi pecel kembang turi, tahu bacem, dan tiwul ayu.8
Meskipun tidak dapat menjelaskan asal-usul wedang
uwuh itu, ibu Mariyah, seolah mengamini pendapat ibu
Martini, juga mengatakan hal yang sama, yakni zaman dulu
setiap tamu yang berkunjung ke daerah ini akan disuguhi
7 Ibid.
8 Ibid.
135
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
makanan berupa nasi pecel kembang turi, tahu bacem, tiwul
ayu, dan wedang uwuh. Ibu Mariyah mengatakan,
“Dulu kalau ada orang yang bertamu di desa ini pihak
rumah yang didatangi akan menyuguhkan minuman
wedang uwuh, nasi pecel kembang turi, tiwul ayu,
dan tahu bacem. Namun sekarang kebiasaan itu tidak
lagi dilakukan. Saya sendiri jarang minum wedang
uwuh karena membuatnya ribet. Saya lebih suka
membuat minuman teh. Cara membuatnya praktis”.9
Sebagaimana ibu Mariyah, Amar bahkan tidak lagi
pernah mempraktekkan hal itu. Meskipun Amar merupakan
penduduk asli Pedukuhan Giriloyo tetapi ia tidak pernah
menyuguhkan wedang uwuh dan makanan khas lainnya
tersebut kepada tamu yang berkunjung di rumahnya. Amar
yang berprofesi sebagai peternak ini mengatakan, “Aku ora
tau nyuguhne wedang iku kanggo tamu. Tamu-tamu yo tak
suguhi wedang, nanging wedang teh mergo luwih praktis
nggawene. (Saya tidak pernah menyuguhkan minuman
wedang uwuh kepada tamu. Tamu-tamu saya memang saya
beri minuman, tapi air teh karena lebih praktis
membuatnya)”.10
Apabila melihat fenomena tersebut dapat dijelaskan
bahwa meskipun minuman wedang uwuh merupakan
minuman khas daerah ini, namun saat ini tradisi yang
berkaitan dengan keberadaan wedang uwuh ini telah
9 Wawancara dengan Ibu Mariyah (67 tahun) bertempat di rumahnya,
Dukuh Giriloyo, 15 April 2014.
10 Wawancara dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
136
Jelajah Nusantara #3
mengalami pergeseran. Apabila di masa awal sejarah
kemunculannya, setiap tamu atau orang dari luar daerah yang
berkunjung ke daerah ini akan selalu disuguhi wedang uwuh,
namun fenomena itu tidaklah kita temukan sekarang. Artinya,
saat ini, tidak semua orang yang bertamu di daerah ini akan
mendapatkan suguhan berupa minuman wedang uwuh.
Apalagi apabila tamu tersebut berkunjung secara perseorang
dan bukan rombongan dalam jumlah besar.
Perubahan kebiasaan atau tradisi ini menimbulkan
kekhawatiran pada beberapa pihak warga desa ini.
Kekhawatiran akan hilangnya tradisi menyuguhkan wedang
uwuh kepada tamu ini, paling tidak dapat ditemui dari upaya
yang dilakukan oleh pemerintahan desa. Menurut Ibu Martini,
Lurah Desa Wukirsari pernah membuat sebuah imbauan
kepada semua warganya agar menyuguhkan minuman
wedang uwuh kepada tamu-tamu yang berkunjung ke desa
ini. Hal itu dilakukan oleh lurah karena ingin menjaga
eksistensi dan melestarikan keberadaan wedang uwuh
sebagai minuman khas desa ini.
Apabila memperhatikan ramuan (bahan) untuk
membuat wedang uwuh ini memang nampak seperti
kumpulan daun-daunan kering, kulit kayu kering, gula batu,
dan juga bunga cengkeh kering. Sekilas nampak seperti
sampah kering. Itulah yang menyebabkan mengapa minuman
hangat ini dinamakan wedang uwuh. Kata uwuh sendiri
apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah bermakna
sampah. Jadi wedang uwuh adalah wedang sampah. Jelas,
bahwa makna ini adalah makna konotatif dan bukan
denotatif.
137
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
Mengapa bukan sampah? Apabila melihat unsur atau
bahan untuk membuat minuman wedang uwuh ini memang
jelas bukan sampah. Paling tidak, berdasar bahan-bahan itu,
sebut saja jahe misalnya secara medis memiliki nilai positif
bagi kesehatan bila dikonsumsi. Di pihak lain, masyarakat
desa Wukirsari mempercayai bahwa apabila seseorang
meminum wedang uwuh maka akan membuatnya menjadi
awet muda. Itulah mengapa wedang uwuh tidak boleh
dikatakan sebagai wedang sampah dalam makna
denotatifnya.
Hanya saja kita perlu mencermati lebih detail tentang
kemasan ramuan wedang uwuh ini. Sebab saat ini, ramuan
tersebut tidak lagi dimiliki oleh setiap rumah tangga di daerah
ini. Artinya setiap rumah tangga tidak selalu dan pasti
memiliki ramuan ini. Oleh karena itu, apabila ingin membuat
wedang uwuh ini, maka harus membeli terlebih dahulu
bahan/ramuan wedang uwuh ini.
Gambar 5. Bahan Wedang uwuh
Sumber: Dokumentasi Peneliti
138
Jelajah Nusantara #3
Mengapa harus mencermati? Ketika ibu Martini
menunjukkan contoh kemasan ramuan atau bahan untuk
membuat wedang uwuh kepada peneliti terdapat hal-hal
yang menimbulkan pertanyaan peneliti. Kemasan ramuan
yang dijual seharga 3.000 rupiah ini tidak dikemas dengan
baik. Hal itu antara lain; (1) Tidak ada petunjuk yang dapat
dibaca dan menjelaskan komposisi dari kemasan ini, dan (2)
tidak ada penjelasan waktu kedaluwarsanya.
Dua kondisi ini jelas penting untuk dicermati. Terlebih
kemudian, berdasarkan pengamatan kami, di dalam kemasan
ramuan wedang uwuh tersebut nampak binatang-binatang
kecil yang ada di dalamnya. Hal ini bisa jadi disebabkan
karena terlalu lamanya ramuan tersebut dikemas dan tidak
segera digunakan. Apabila kita abaikan kondisi ini, bisa jadi
kehangatan dan khasiat yang diakibatkan karena meminum
minuman wedang uwuh —sebagaimana diyakini oleh
masyarakat desa ini, berubah berganti dengan penyakit yang
didapati. Apabila kenyataan ini terbukti, dapat dikatakan
bahwa wedang uwuh kini telah terlindas oleh kaki-kaki kokoh
modernisasi.
139
Wedang Uwuh, diantara Persimpangan Tradisi & Modernisasi
140
Selamat Datang
di Negeri Junjung Besaoh
Catatan Perjalanan Ke Kabupaten Bangka Selatan
Agung Dwi Laksono
Toboali, 10 April 2016.
Perjalanan kali ini saya bersama dua rekan lain,
seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dan seorang lagi
Antropolog, menuju ke Toboali, ibukota Kabupaten Bangka
Selatan. Kabupaten yang menjuluki dirinya dengan sebutan
“Negeri Junjung Besaoh”. Junjung Besaoh sejatinya adalah
semboyan masyarakat Bangka Selatan, yang artinya
merupakan cerminan kuatnya ikatan kekeluargaan dan
persaudaraan masyarakat Bangka Selatan.
141