The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-20 22:21:32

Jelajah Nusantara 3 Catatan Perjalanan Enam Belas Orang Peneliti Kesehatan

Agung Dwi Laksono (editor)

Selamat Datang di Negeri Junjung Besaoh

Perjalanan mencapai Kota Toboali relatif mulus,
sangat mulus. Jalanan aspal hotmix secara keseluruhan yang
memakan waktu 2,5-3 jam dari Pangkal Pinang sebagai
ibukota Provinsi Bangka Belitung, meski pada beberapa titik
harus sedikit berhati-hati karena beberapa jembatan terputus
sebagai akibat hujan lebat yang tak juga bosan menerpa
wilayah ini, meski kalender sudah menunjuk awal bulan April.

Gambar 1. Peta Posisi Kabupaten Bangka Selatan
Sumber: Peta Wikipedia

Ada dua insiden yang sedikit menodai mulusnya
perjalanan kami. Belum setengah jam meninggalkan Kota
Pangkal Pinang, saat Avanza yang kami tumpangi hampir
menyerempet sebuah truk besar bermuatan ubi kayu. Kami
berhasil lolos, tetapi truk besar itu banting setir ke kiri untuk
menghindari setidaknya dua motor. Truk terguling karena dua

142

Jelajah Nusantara #3

ban sebelah kiri terperosok dalam got. Dua motor terlihat
tergeletak di tengah jalan dan satu lagi masuk ke dalam got.
Dua orang pemotor saya lihat langsung bisa berdiri. Spontan
saya ikut membantu menarik motor yang terperosok di got.
Terdengar jerit tangis dari salah satu pemotor yang menarik-
narik rekannya sambil menjerit-jerit, teman yang ditarik tetap
saja terdiam tak bergerak, dengan tubuh bagian atas yang
separuh utuh. Saya lunglai, limbung. Duh Gusti…

Jalanan yang terlalu mulus memang membuat sesiapa
saja merasa bisa menjadi seorang pembalap. Terbukti
setengah jam kemudian dari saat kejadian pertama, terlihat
kerumunan orang dengan beberapa mobil yang berhenti.
Terlihat mobil polisi dan sebuah mobil derek, yang berusaha
menarik sebuah Kijang LGX yang nyungsep ke selokan sebelah
kiri jalan. Gusti… semoga semua penumpangnya selamat.

Kolong di Kolong Langit Bangka

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di
Provinsi Bangka Belitung, setelah sebelumnya selalu berkutat
di bagian Timur Indonesia, kali ini saya ingin menjelajah di
bagian Barat Indonesia. Kesan pertama menempuh
perjalanan di wilayah ini adalah banyaknya lubang besar
seperti danau-danau kecil, yang menganga berisi air keruh,
meski ada beberapa yang airnya terlihat biru, yang di
sekelilingnya terlihat tumpukan tanah putih kekuningan.

“Itu namanya kolong pak,” sebut salah seorang warga.
Kolong adalah merupakan bekas galian tambang timah yang
ditinggalkan oleh para petambang, setelah timah yang dicari

143

Selamat Datang di Negeri Junjung Besaoh

mulai jarang ditemukan, habis. Ratusan kolong seperti ini
memenuhi hampir di seluruh wilayah di Pulau Bangka, yang
menurut Ferdi, sopir asli Suku Melayu Toboali yang
menjemput kami, juga terjadi di beberapa pulau kecil lain di
sekitar Pulau Bangka. Kerusakan alam yang sangat massif.

Gambar 2. Kolong, Kubangan Besar Bekas Galian Tambang Timah
Sumber: Fadli Fajrin

“Masih bisa ditanami pak… itu di samping-
sampingnya… kelapa sawit, karet, …tapi kalau ditanami lada
tidak bisa,” lanjut Ferdi saat saya bertanya tentang
pemanfaatan tanah-tanah di sekitar kolong ini. Pemanfaatan
lainnya?

“Yaa… kolong itu dibiarkan saja pak. Tidak bisa
dimanfaatkan untuk apapun, kita tidak tau juga mau
dimanfaatkan untuk apa. Mau ditanami ikan tidak
cocok pak, selain terlalu dalam (puluhan meter),

144

Jelajah Nusantara #3
juga pH-nya tidak cocok… terlalu asam. Jadi ya kita
biarkan saja seperti itu…”
(Al, Dinkes Bangka Selatan)

Meski secara umum pemandangan kolong yang
terkesan jorok dan semrawut, namun di beberapa bagian
pulau masih terselip satu-dua kolong yang menyajikan
pemandangan yang eksotik, sangat cantik, bak lanskap laut di
Benua Eropa saat musim dingin, lengkap dengan view salju di
setiap sisinya. Kecanatikan yang sungguh menipu. Sangat
menipu.

Gambar 3. Kolong Biru di Perbatasan antara Kabupaten
Bangka Selatan dengan Bangka Tengah
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sampai dengan saat ini, saya dan tim masih berpikir
dengan sangat keras, bagaimana bisa memanfaatkan kolong
yang demikian massif ada di Pulau Bangka ini? Bagaimana bila
dimanfaatkan untuk WC umum? Waaahh… tentu akan

145

Selamat Datang di Negeri Junjung Besaoh

puluhan tahun baru bisa penuh. Eh tapi… bagaimana bila
terperosok saat nongkrong di atas WC itu? Waah… bisa
berabe dengan kedalaman puluhan meter seperti itu.

Pembangunan Kesehatan Masyarakat

Pemilihan Bangka Selatan sebagai salah satu wilayah
Riset Etnografi Kesehatan tahun 2016 sesungguhnya dimulai
dengan peringkat Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat (IPKM) Kabupaten Bangka Selatan yang berada
pada ranking 7 dari 7 kabupaten/kota yang ada di Provinsi
Bangka Belitung. Sedang secara nasional berada pada
peringkat 376 dari 497 kabupaten/kota yang dilakukan survey
pada tahun 2013.

Beberapa indikator pembangunan kesehatan
masyarakat di wilayah ini memang menunjukkan capaian
yang rendah. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013
indikator kesehatan yang berhubungan dengan masalah
kesehatan lingkungan dan perilaku kesehatan tercatat kurang
begitu menggembirakan. Cakupan akses dan air bersih di
masyarakat hanya mencapai 9,38% dari keseluruhan
masyarakat di Bangka Selatan. Cakupan perilaku sikat gigi
juga menunjukkan angka yang cukup rendah, hanya 1,14%
masyarakat saja yang melakukannya dengan benar.

Sedang untuk perilaku buang air besar dengan benar,
di Kabupaten Bangka Selatan hanya mencapai angka 76,88%.
Angka ini masih di bawah rata-rata Provinsi Bangka Belitung
yang berada pada kisaran 87,04%, dan juga rata-rata di
Indonesia yang mencapai angka 82,59%. Pengertian perilaku

146

Jelajah Nusantara #3

buang air besar dengan benar adalah buang air besar pada
WC dengan kloset berbentuk leher angsa, dan dengan
pembuangan akhir pada tangki septictank. Rendahnya
capaian perilaku buang air besar inilah yang membuat saya
kepikiran untuk memanfaatkan kolong bekas galian timah
sebagai septictank raksasa.

Potensi Ekonomi Bahari

Pasca meredupnya pertambangan timah, Kabupaten
Bangka Selatan mulai menata diri pada sektor pertanian dan
perkebunan. Pemerintah Kabupaten dalam lima tahun
terakhir berusaha untuk dapat berswasembada beras, selain
juga mengupayakan pemanfaatan lahan perkebunan untuk
lada, karet dan kelapa sawit.

Sesungguhnya potensi ekonomi wilayah Bangka
Selatan cukup besar, terutama di bidang wisata bahari.
Apalagi setelah booming novel dan film “Laskar Pelangi” yang
melanda wilayah tetangganya, Belitung. Sebagai wilayah
kepulauan, potensi pantai yang khas dengan batu-batu
raksasa dan pasirnya yang putih halus sungguh sangat
mengundang wisatawan untuk betah berlama-lama
menikmati terbit atau tenggelamnya matahari di wilayah ini.

147

Selamat Datang di Negeri Junjung Besaoh

Gambar 4. Pantai yang Khas dengan Batu Raksasa dan Pasirnya yang Putih
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 5. Sunset di Pantai Batu Kodok, Toboali, Bangka Selatan
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Potensi bahari lain yang belum terjamah adalah
potensi bawah lautnya, taman laut dengan terumbu karang
148

Jelajah Nusantara #3

yang cantik. Potensi ini tersimpan di bagian Timur Bangka
Selatan, yaitu di sekitar wilayah Pulau Pongok dan Lepar yang
merupakan wilayah Kecamatan Tanjung Labu. Bila potensi ini
bisa betul-betul dimanfaatkan, saya percaya kebangkitan
Bangka Selatan hanya tinggal menunggu waktu saja. Semoga.
@dl.

Gambar 5. Terumbu Karang di Sekitar Pulau Pongok
Sumber: Tim Terumbu Karang UBB

149

Selamat Datang di Negeri Junjung Besaoh
150

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali

Roland Alberto Nggeolima

Toboali, April 2016

Perjalanan dengan pesawat udara pukul 05.00 WITA
dari wilayah Timur ke Barat dalam rangka persiapan daerah
Riset Etnografi 2016 terbersit di pikiran akan kejadian
tergelincirnya pesawat “cap macan” tahun 2007 di Bandara
Djalaludin Gorontalo, dan tabrakan dua pesawat di landasan
pacu Juanda Surabaya seminggu sebelum keberangkatan,
membuat perasaan tidak nyaman dalam melakukan
perjalanan jauh menggunakan transportasi udara. Mencari
tahu beberapa informasi mengenai kecelakaan lalu-lintas
udara, laut dan darat melalui media internet sudah menjadi
metode awal dalam melaksanakan tugas.

151

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali

Saya tiba di bandara Depati Amir Pangkal Pinang pukul
18.45 WIB. Lamanya perjalanan lebih disebabkan transit di
dua bandara, kesalahan petugas internal dalam memasukan
daftar nama penumpang di nomor flight, serta harus ganti
pesawat dengan selisih 2 jam, namun masih menggunakan
meskapai yang sama. Pikiran mulai tenang saat menginjakan
kaki di bumi “Serumpun Sebalai”.

Setelah komunikasi dengan Peneliti Inti (PI) yang
sudah terlebih berada di kota Kabupaten Bangka Selatan. Bak
“anak emas” saya pun dititipkan ke salah satu orang penting
dari Dinas Kesehatan yang kebetulan akan tiba pukul 20.30
WIB.

Menuju Toboali, lalu-lintas sepi karena daerah
tersebut baru saja diguyur hujan lebat sehingga memutuskan
15 jembatan kecil sepanjang perjalanan. Kondisi jalan
beraspal hotmix sepanjang ± 130 KM, hampir tidak ada
tanjakan dan belokan yang tajam membuat sopir memacu
kendaraan tanpa mengindahkan perasaan orang baru dalam
mobil tersebut. “Ayo Jon, lama nanti sampainya,
speedometer-nya belum lewat angka 100,” seru 3 orang yang
ikut serta dalam mobil ambulance yang kami tumpangi.
Mengantisipasi semangat tersebut, sayapun membuka
pembicaraan dengan harapan selamat sampai daerah
penelitian.

Kabupaten Bangka Selatan lahir tanggal 27 Januari
2003, merupakan salah satu tanah kelahiran orang Melayu.
Latar belakang nama Toboali sebagai ibu kota pun dipilih.
Berdasar informasi dari Kepala Sub Bagian Perencanaan Dinas
Kesehatan Kabupaten Bangka Selatan, Pak AL yang bercerita,

152

Jelajah Nusantara #3

“Kabupaten Bangka Selatan sekarang, sudah ada
penambahan 1 kecamatan baru tahun 2012 yaitu
Kecamatan Pongok yang dikenal sebagai pulau
pemilu karena saat Pilkada 2015 jumlah pemilih
aktif mencapai 99,3% dari total daftar pemilih tetap.
Jadi sekarang totalnya ada 8 Kecamatan yaitu
Kecamatan Toboali, Simpang Rimba, Air Gegas, Batu
Batupang, Lepar Pongok, Payung dan Tukak Sadai.
Kalau kecamatan Pulau ada dua, Pak. Itu kecamatan
Lepar Pongok dan Pongok. Harus naik kapal feri
selama 3 jam perjalanan. Kampung Serdang yang
masuk dalam Kelurahan Teladan, Toboali Kota
wilayah Tanjung Katapang, terkenal dengan tempat
‘wisata kawin masal’. Psangan yang dinikahkan
setiap tahunnya 5-10 pasangan seiring dengan masa
panen sahang (lada). Tahun 2014 sampai 2015
pemerintah setempat telah menikahkan ratusan
pasangan pengantin… Pak di sini harap-harap
maklum bahasa melayu yang kami gunakan selalu
ganti huruf ‘S’ menjadi ‘H’. Contohnya sabun,
diucapkan habun, kadang huruf ‘E’ dilafalkan
menjadi ‘I’… Toboali berasal dari kata ‘tubuh Ali’.
Ali adalah penjahat yang pada zamannya jago ilmu
hitam, di Bangka Belitung. Untuk mengatasi
kejahatan yang dilakukannya, Ali harus dibunuh.
Kemudian dipotong-potong tubuhnya dan dibuang
secara terpisah ke bagian Selatan… Daerah Selatan
tempat membuang bagian tubuh Ali inilah yang
sekarang dikenal sebagai Toboali. Toboali yang

153

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali

dikenal dengan slogan ‘Junjung Basaoh’ artinya
maju bersama-sama…”.

Cerita sambil lalu yang diobrolkan membuat laju
kendaraan sedikit diperlambat. Iseng saya menanyakan
pengalaman mengemudi si sopir yang duduk di sebelah,
dengan ragu-ragu dia menjawab, “Baru 1 tahun pak
mendapatkan SIM A tanpa melalui tes… alias SIM ‘tembak’
dari calo. Bayarnya 1 juta…”. Suasana hati saya menjadi lebih
tenang saat melihat gapura bertuliskan selamat datang di
Kecamatan Toboali.

Grand Marina Hotel dipilih sebagai tempat
peristirahatan untuk melepas lelah. Jarum jam menunjuk
Pukul 23.43 WIB. Jauhnya perjalanan membuat tubuh yang
penat ingin segera bertemu peraduan, sampai lupa untuk
sekedar membasuh badan.

Faktor potensi bahari yang menjadi ikon utama
Kabupaten Bangka Selatan memicu pengunjung wisatawan
luar maupun lokal sering ramai dalam berlalu-lintas di jalan.
Selama perjalanan 4 hari mengintari Kota Toboali sampai
desa, para pengendara sepeda motor hampir tidak terlihat
menggunakan alat pengaman kepala (helm).

Lebar sisi jalan ± 6 meter dengan jalur satu arah. Tidak
ada lahan parkir di setiap bahu jalan Provinsi yang kian
dipenuhi toko dan usaha kecil bertema kuliner.

Ada beberapa pembicaraan menarik dengan Pak Bayu,
yang menemani kami menikmati Kota Toboali. Beliau sudah
setahun tinggal dan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil
(PNS) di Toboali. Salah satu topik perbincangan menarik
adalah tentang banyaknya monumen kecelakaan lalu lintas

154

Jelajah Nusantara #3

sebagai tugu peringatan. Monumen ini dibangun sebagai
akibat seringnya kejadian kecelakaan sebagai efek jalanan
yang mulus dengan trek lurus.

Gambar 1. Monumen Laka Lantas
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sedikit menelisik lebih jauh tentang perkembangan
transportasi menyebabkan proses interaksi manusia dengan
lingkungannya semakin dibayangi dengan berbagai macam
resiko, baik resiko fisik maupun psikis. Salah satu resiko fisik
adalah terjadinya cedera akibat kecelakaan. Kecelakaan dapat
terjadi setiap saat dan dimana saja, namun kecelakaan itu
lebih sering terjadi pada manusia yang bergerak dan atau
berlalu-lintas. Kecelakaaan lalu-lintas terjadi karena banyak
faktor yang saling berkaitan satu sama lain.

Sejak tahun 2014 Kementerian Kesehatan menaruh
perhatian terhadap masalah Penyakit Tidak Menular (PTM).
Kecelakaan lalu-lintas dengan akibat cedera termasuk dalam
studi kasus epidemiologi penyakit tidak menular yang jarang
mendapatkan perhatian serius. Cedera dalam bahasa
kedokteran disebut vulnus yang diakibatkan oleh kecelakaan

155

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali

termasuk kecelakaan lalu-lintas dengan resiko terburuk bisa
membunuh manusia. Cedera akibat kecelakaan pada
umumnya tidak terdapat masa inkubasi dan manusia sebagai
peran utama dalam kejadian. Kecelakaan lalu-lintas
disamakan dengan penyakit, yaitu dapat menimbulkan
pandemik dengan angka kematian yang cukup tinggi.

Peristiwa kecelakaan lalu-lintas mengalami fluktuasi
naik turun, antara jumlah kecelakaan, korban, cedera maupun
kerugian materi akibat kecelakaan lalu-lintas darat.
Berdasarkan data Ditlantas Polri Provinsi Bangka Belitung
tahun 2014 sebanyak 304 korban meninggal dunia akibat
berkendara di jalan raya. Tahun 2015 terjadi 264 kasus
Kecelakaan Lalu-lintas yang menelan 209 korban jiwa. Data
yang dirilis per januari 2016 juga menunjukan kerugian
material Rp. 2.206.300.000,- di tahun 2014 dan tahun 2015
sebesar Rp. 1.437.200.000,-.

Tabel 1.1. Jumlah Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Provinsi
Bangka Belitung Tahun 2015

Kota/Kabupaten Jumlah Kasus Korban yang
dan cedera meninggal
27 orang
Pangkal Pinang 49 kasus 54 orang
43 orang
Bangka 64 kasus 29 orang
17 orang
Bangka Barat 47 kasus 16 orang
23 orang
Bangka Tengah 34 kasus

Bangka Selatan 18 kasus

Belitung 29 kasus

Belitung Timur 23 kasus

Sumber: Ditlantas Polri Provinsi Bangka Belitung

156

Jelajah Nusantara #3

Menurut Koordinator Organisasi Kendaraan Bermotor
Dalam Kota (ORGANDA) Bangka Belitung, Ari Ambon, yang
telah menjadi sopir bus antar kota-kabupaten selama 12
tahun,

“Jumlah bus dalam Kota Toboali tercatat 54 bus
umum antar kota-kabupaten, mobil rental dalam
kota yang sudah masuk dalam perusahaan ada 2.
Tidak ada ojek dalam kota, karena semua punya
kendaraan sendiri… yah motor itu, untuk angkutan
ke desa ada 1 trayek yaitu ke Kecamatan Tukak
Sadai”.

Laju pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan
sektor pertanian. Mata pencarian utama masyarakat Toboali
adalah pertanian ‘sahang’ (lada putih). Meningkatnya harga
lada putih tahun 2015 yang mencai Rp. 180.000,- per Kilo
Gram berdampak pada pendapatan ekonomi keluarga. Hal
tersebut membuat keluarga berbondong-bondong untuk
membeli kendraan bermotor sebagai sarana utama dalam
mobilisasi dengan tujuan mengurangi beban orang tua untuk
antar-jemput anak karena sibuk berladang.

Saat berada di jalan-jalan utama kota terlihat anak
usia sekolah dasar mempunyai kebiasaan membawa sepeda,
sehingga ada sedikit antrian panjang kendaraan lain saat jam
berangkat dan pulang sekolah. Remaja putri rata-rata dibekali
dengan motor matic.

Anak laki-laki yang sudah lincah dalam berkendara
mempunyai kebiasaan tersendiri soal berkendara motor.
Mereka mempunyai istilah lokal “minta’ alo”, yaitu kebut-
kebutan melintasi jalan raya tanpa helm, sambil

157

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali

membunyikan bedil motornya yang mengganggu indra
pendengaran orang lain. Menurut Firman (anak community
motor Toboali, 26 tahun), “…minta’alo artinya trek-trekan
motor, bunyi motor ribut supaya minta perhatian cewek,
karena mayoritas cewek-cewek Toboali menyukai pria yang
punya motor yang gaul”.

Gambar 2. Kegiatan Antar-Jemput Sekolah (kiri);
dan Rambu Himbauan Lalu Lintas (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kita cermati lebih jauh, bisa jadi perilaku para muda
pengendara motor di Toboali juga dipengaruhi oleh sinetron
‘anak jalanan’ yang sering memunculkan image pengendara
tampan dengan motor besar dan ngebut? Ketika ditanyakan
lebih lanjut, rata-rata anak community motor Toboali
menjawab menyukai sinetron tersebut.

Fakta yang terjadi di Toboali didukung oleh rendahnya
dua indikator Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat
tahun 2013 yaitu faktor lingkungan dan perilaku. Faktor
lingkungan termasuk cuaca, penerangan, keadaan jalan dan
human error. Berdasarkan konsep trias epidemiologi bila
terdapat ketidakseimbangan antara manusia, agent dan

158

Jelajah Nusantara #3

lingkungan maka terjadilah kecelakaan atau cedera. Sangat
diperlukan rekayasa lalu-lintas dalam penanggulangan
fenomena kecelakaan lalu-lintas di Toboali. Jika tidak, maka
suatu saat mungkin akan ada yang namanya ‘Wisata Laka
Lantas’ di Toboali.

159

Paket ‘Wisata Laka Lantas’ Toboali
160

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

Catatan Perjalanan ke Bengkulu Selatan

Sutamin Hamzah

Manna, 9 April 2016
Dering alarm yang berbunyi tepat pukul 01.30 WITA,

di bumi Gorontalo mengawali aktifitas saya untuk segera
mempersiapkan perjalanan panjang memenuhi tugas di
Provinsi Bengkulu. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke
Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu, kurang lebih sepuluh
jam sesuai rute perjalanan. Secara ringkas saya dapat
ilustrasikan seperti ini, Pukul 02.00 WITA dari Desa Dulupi,
Boalemo (tempat saya tinggal). Tiba di Bandara Djalaludin
Gorontalo pukul 04.00 WITA. Perjalanan ini dilalui dengan 2
kali transit pesawat. Di Bandara Hassanudin Makassar pukul

161

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

08.30 WITA (tiba) dan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta
pukul 10.15 WITA (tiba). Hingga akhirnya sampai di Bandara
Fatmawati Soekarno Bengkulu pada pukul 14.20 WIB.
Sungguh, ini bagian dari perjalanan di atas awan.

Selamat Datang di Provinsi Bengkulu

Setibanya di Bengkulu, kedatangan kami disambut
dengan baliho yang bertuliskan “Selamat Datang di Provinsi
Bengkulu Bumi Raflessia”. Baliho cukup besar yang juga
menampilkan foro Presiden RI pertama, Soekarno.

Gambar 1. Papan Promosi di areal Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sebagai sebuah provinsi, Bengkulu beribukota di Kota
Bengkulu. Provinsi ini terletak di bagian Barat Daya Pulau
Sumatera. Dengan jumlah penduduk 1,828 juta pada tahun

162

Jelajah Nusantara #3

2014, menempati daratan seluas 19.919 km². Sedikit lebih
banyak penduduknya dibanding kampung halaman saya di
Gorontalo yang kurang lebih 1,1 juta jiwa.

Dalam perjalanan menuju tempat tinggal kami
sementara, sopir rental yang bernama Dedi menceritakan
bahwa Bengkulu terbagi atas 2 wilayah yaitu tengah kota dan
pusat kota, yang menjadi pusat keramaian dan daerah
perkotaan. Jaraknya 20-60 km atau sekitar 30-90 menit dari
Bandara Fatmawati.

Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa
digunakan, diantaranya rental bandara, travel, ojek motor
dan angkot/angkutan umum. Biayanya pula beragam. Kata
pak sopir sambil melanjutkan ceritanya, “Nanti mas dan mbak
bisa jalan-jalan di Bengkulu.” Kami hanya bisa tersenyum dan
mengatakan, “Iya pak. Semoga kami bisa melihat indahnya
Bengkulu dengan pesona wisatanya. Semoga saja…”

Belajar dari Museum Negeri Bengkulu

Tugas pertama kami diawali dengan mengurus
perizinan di Bakesbangpol Provinsi. Selanjutnya ke KP2T
(Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu) yang lokasinya masih di
areal Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu.

Sembari menunggu, kami memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan ke sebuah gedung yang menjulang
tinggi dengan anak tangganya. Terdapat papan informasi di
samping kanan yang bertuliskan ‘Dilarang Merokok’, dan
tepat di depan pintu masuk yang bertuliskan “Selamat Datang
di Museum Negeri Bengkulu”.

163

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

Gambar 2. Museum Negeri Bengkulu Tampak Depan
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Mengisi buku tamu, menitipkan tas, dan di pandu oleh
2 orang siswa magang yang langsung mengarahkan kami
untuk melihat dan mempelajari setiap sudut/koleksi warisan
budaya yang ada di sini. Dalam buku Katalog Museum Negeri
Bengkulu tertulis bahwa jumlah koleksi etnografinya hampir
mencapai 3.000 koleksi. Wow… saya pun langsung terkesima
membacanya. Betul saja, pengunjung pertama akan
disuguhkan dengan gambar Peta Provinsi Bengkulu beserta
wilayah-wilayahnya, Lintas sejarah Bengkulu, ragam budaya,
metode pengobatan tradisional, perekonomian tradisional,
upacara tradisi, senjata tradisional, anyaman, alat musik dan
kesenian tradisional, pakaian adat, rumah adat hingga ke
mesin cetak dan mata uang terdahulu ada di sini. Menariknya
terdapat replika Bunga Raflessia di Museum ini, dan juga
hewan liar yang diawetkan. Ini hanya sebahagian, masih
banyak lagi yang belum sempat saya eksplore. Rekomendasi

164

Jelajah Nusantara #3

saya, bagi sesiapa saja yang datang ke Bengkulu jangan lupa
mampir di Museum Bengkulu.

Sedikit informasi awal, bahwa museum ini didirikan
per tanggal 1 April 1978, kemudian difungsikan sebagai
museum pada tanggal 3 Mei 1980. Menempati lokasi
sementara di belakang Benteng Marlborought, yang pada
tanggal 3 Januari 1983 pindah ke lokasi baru di Jalan
Pembangunan nomor 08 Padang Harapan Bengkulu. Tanggal
31 maret 1988 diresmikan menjadi Museum Negeri Provinsi
Bengkulu oleh Dirjen Kebudayaan Drs. G.B.P.H Poeger atas
nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berdasarkan SK
Mendikbud nomor 0754/0/1987 tanggal 2 desember 1987
(Buku Katalog, 2016).

Gambar 3. Replika Bunga Raflesia di Museum Negeri Bengkulu
Sumber: Dokumentasi Peneliti

165

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

Satu kalimat yang menginspirasi tertulis di leaflet
Museum Negeri Bengkulu, “Kenali Budayamu Temukan Jati
Dirimu”, menyadarkan saya, bahwa sebagai generasi muda
wajib dan perlu untuk melestarikan, mempelajari, dan
menjaga budaya di negeri ini. Jangan sampai budaya nenek
moyang terdahulu akan using termakan oleh modernisasi.
Semoga kita semua kembali sadar bahwa negeri ini sangat
kaya akan keanekaragaman budaya.

Menuju Kabupaten Bengkulu Selatan

Tugas sebagai bagian dari peneliti Riset Etnografi
Kesehatan tahun 2016 yang menghantarkan saya ke
Kabupaten Bengkulu Selatan, yang dalam rangking Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2013
berada pada urutan 10, dari 10 kabupaten/kota di Provinsi
Bengkulu. Secara nasional, Kabupaten Bengkulu Selatan
berada pada peringkat 380, terpaut 9 peringkat dari
Kabupaten Musi Rawas di Provinsi Sumatera Selatan
(peringkat 389). Kedua Provinsi ini bertetangga, dan keduanya
terpilih menjadi lokasi Riset Etnografi Kesehatan tahun 2016
dari deretan 25 Kabupaten Lainnya.

Selama kurang lebih 2 bulan saya akan menjalankan
tugas untuk melihat karakter budaya kesehatan di wilayah ini,
tinggal di desa bersama masyarakat, ikut merasakan apa yang
mereka rasakan, dengan metode wawancara langsung dan
observasi partisipasi. Akan saya jalankan dengan kerelaan dan
penuh tanggung jawab. Bekerja dan melihat negeri dari
pinggiran hingga ke pelosok dan perbatasan dengan negara

166

Jelajah Nusantara #3

lain sama dirasakan oleh sahabat seperjuangan yang di
tempatkan di 25 Kabupaten terpilih seluruh Indonesia. Dari
Sabang sampai Merauke, memotivasi diri sendiri akan luasnya
negeri ini. Seluas hati yang semakin cinta dengan tugas yang
saya emban.

Pada umumnya Jalan yang dilewati menuju Kabupaten
Bengkulu Selatan beraspal dan hanya pada tempat-tempat
tertentu berlubang dan belum diaspal. Melewati Kabupaten
Seluma yang merupakan salah satu kabupaten pemekaran
(Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2003,
Kabupaten Bengkulu Selatan dimekarkan menjadi 3
kabupaten yaitu Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten
Seluma dan Kabupaten Kaur). Selama di perjalanan tim
peneliti berdiskusi sekilas tentang Informasi awal Kabupaten
Bengkulu Selatan (akses transportasi, keamanan, akses
kesehatan hingga budaya/kearifan lokal yang masih kental di
masyarakat yang mayoritas muslim dengan etnis Serawai).

Dengan keadaan gelap gulita (Pukul 20.00 WIB) dan
hanya lampu mobil yang menerangi jalan menuju lokasi
bersama cahaya bulan, tim peneliti di suguhi dengan tebaran
pohon sawit yang menjulang tinggi dan pohon pisang dengan
daunnya yang rindang. Menjadi spot pertama yang berkesan
di hati ketika menuju kabupaten ini. Keramaian dan Pusat
perekonomian yang dijumpai dalam perjalanan, kurang lebih
3 kali dan sisanya berasa ada dalam ”Hutan Beraspal di
Bengkulu Selatan”. Terlihat pula asap pabrik sawit dan rumah
produksinya. Keterangan yang didapat dari sopir bahwa
limbah sawit yang ada langsung di aliri ke lautan. Pertanyaan
kami pun berlanjut tentang pencemaran lingkungan, pak sopir

167

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

pun hanya tertawa sambil mengatakan mungkin saja
tercemar sebab kalau melewati tempat ini hidung pun
langsung peka mencium aroma busuk hasil buangan limbah
(terletak hanya beberapa KM dari Pusat Kabupaten Bengkulu
Selatan).

Memasuki Pusat keramaian Kabupaten Bengkulu
Selatan di Kota Manna, tim peneliti memutusan untuk
mencari makanan sebagai pengisi ”Kampung Tenga” dan
tanpa disadari kejadian yang membuat adrenalin meningkat
dibawa rasa gemetar dialami karena ada razia terpadu oleh
anggota berseragam coklat, dan ada pula yang menggunakan
T-Shirt Turn Back Crime lebih dari 50 orang berdiri dan
memeriksa kami hingga perlengkapan yang dibawa.
Keterangan dari sopir yang mengantar kami mengatakan
bahwa razia ini dilakukan untuk pemeriksaan Narkoba, sebab
jalan yang kami lewati sudah memasuki Lintas Barat (menuju
Lampung dan Padang) dan Timur Sumatera (menuju
Palembang), dan beliau pun sudah terbiasa dengan hal ini.

Pada saat pemeriksaan rekan peneliti sosial di geledah
oleh Polwan. Kami pun tak luput diajukan beberapa
pertanyaan, yang diantaranya tentang asal muasal tim datang
ke Kabupaten Bengkulu Selatan. Dengan sikap tenang kami
menjawab setiap pertanyaan yang diajukan walaupun kami
’dikepung’ oleh beberapa orang anggota berseragam coklat.
Semua masih dalam kondisi aman terkendali, hanya saja kami
tidak sempat mengambil dokumentasi atas kejadian tersebut.
Sayang sekali...

Suasana malam di Bengkulu Selatan yang penuh
tantangan telah dilewati, dan akhirnya kami pun singgah

168

Jelajah Nusantara #3

sebentar untuk memenuhi kemauan perut yang terasa
menjerit untuk segera diisi. Kami menemukan warung sate
padang yang dipadukan dengan lontong dan saus kacang.
Enak, sungguh sangat enak bagi yang sudah terbiasa
mengkonsumsi makanan ini, tetapi belum tentu bagi saya
yang harus beradaptasi dengan makanan khas Sumatera yang
berasa pedas manis ketika dicicipi.

Tanpa kami sadari, ternyata kami duduk
bersampingan dengan anggota yang berseragam Turn Back
Crime yang berjumlah empat orang. Mereka sambil makan
ditemani HT. Pikiran saya pun langsung tentang hal yang
tidak-tidak, seakan kami dipantau, karena orang baru dan
baru saja kena razia. Malam yang berkesan dan penuh tanya
sudah kami alami, semoga semua baik-baik saja. Ya, tentu
semua masih dalam keadaan baik.

Mata saya langsung berbinar melihat Bengkulu Selatan
di pagi hari yang terasa sejuk dan damai. Pelajaran tentang
kedisiplinan seakan terlihat dari rapinya lapak para penjual
yang berjejeran di sepanjang jalan trans Bengkulu Selatan.
Jam menunjuk angka 07.30 WIB saat toko-toko sudah mulai
terbuka. Meninggalkan kesan yang makin lama makin
mendalam.

Kesempatan kali ini tim peneliti mengunjungi Dinas
Kesehatan untuk berdiskusi dengan Kepala Dinas Kesehatan
bersama staf. Menyampaikan maksud dan tujuan, hingga
akhirnya mengerucut pada tema dan lokasi penelitian yang
akan dipilih berdasarkan data dan informasi awal yang
diperoleh. Alhamdulillah… semua proses berjalan dengan

169

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

baik. Sebaik hati ini mengenal Bengkulu Selatan dari orang-
orangnya yang sangat baik membantu kami.

Berdasar Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) tahun 2013, di Kabupaten Bengkulu Selatan ada tiga
indikator kesehatan yang masih terlihat bermasalah. Ketiga
indikator tersebut adalah indikator pelayanan kesehatan
(0,335), perilaku kesehatan (0,270) dan kesehatan lingkungan
(6,355). Berdasarkan indikator kesehatan yang masih perlu
perbaikan tersebut, maka Dinas Kesehatan memberikan dua
alternatif wilayah Puskesmas yang berkaitan erat dengan
problem kesehatan yang dimaksud. Kedua Puskesmas ini ialah
Puskesmas Anggut dan Puskesmas Seginim. Jarak tempuh dan
akses menuju ke dua Puskesmas tersebut bisa dijangkau
kurang lebih 1-1,5 jam perjalanan darat menggunakan mobil
double gardan Strada yang di sewakan.

Secara umum ada dua desa yang sulit secara akses
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, yaitu Desa
Nganjuk Dalam (wilayah kerja Puskesmas Anggut) dan Desa
Muara Danau (wilayah kerja Puskesmas Seginim). Dikatakan
sulit karena kondisi medan menuju lokasi. Ada yang harus
mengarungi sungai dan ada yang harus melewati pegunungan
dengan kondisi jalan yang terjal.

Tepat pukul 10.45 WIB, Tim peneliti melakukan survei
awal di dua Puskesmas yang telah terpilih. Pertama,
mengunjungi Puskesmas Anggut dengan jarak tempuh kurang
lebih 1 jam. Bertemu dan berdiskusi dengan Staf Puskesmas
setempat dan dokter Puskesmas, yang akhirnya bermuara
pada terpilihnya Desa Nganjuk Dalam, yang jumlah rumah
tangganya kurang lebih 40 rumah tangga.

170

Jelajah Nusantara #3

Masalah kesehatan di Desa Nganjuk Dalam sangat
beragam, dan masih bisa tertangani walau akses kesana
sangat sulit. Walau termasuk desa terpencil, mereka sudah
beradaptasi dengan dunia luar, atau sudah tersentuh
modernisasi. Akses jalan menuju lokasi sangat menantang,
apalagi di kala hujan, akan sulit bagi kami untuk bisa sampai
kesana.

Perjalanan selanjutnya kami menuju wilayah
Puskesmas ke-dua, Puskesmas Seginim. Kali ini Desa Muara
Danau menjadi sasaran tujuan kami.

Tentang Wilayah Puskesmas Terpilih

Wilayah Puskesmas Seginim mempunyai tingkat
kepadatan penduduk yang tinggi, terdapat beberapa desa
yang akses ke pelayanan kesehatannya sulit di jangkau, salah
satu di antaranya Desa Muara Danau.

Wilayah ini juga merupakan basis penyakit menular
secara Nasional, Provinsi Bengkulu merupakan salah satu
wilayah endemis Malaria yang setiap tahun selalu ditetapkan
sebagai wilayah endemis. Sangat sulit untuk menekan
prevalensi peningkatan kasus yang ditemukan, salah satu
faktor penyebabnya adalah lingkungan yang tidak sehat,
seperti masih banyaknya masyarakat yang membuang
sampah pada tempatnya, kurangnya kebersihan lingkungan.
Selain itu juga wilayah ini sering dijumpai temuan kasus yang
tinggi seperti Penyakit menular Kusta, Filariasis, TB dan
Frambusia. Namun dengan upaya kesehatan masyarakat yang
dilakukan. Syukur Alhamdulillah prevalensi kasusnya sudah

171

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

mulai menurun. Walaupun terkadang masih saja fluktuatif
(Keterangan ini dilansir dari Kabid SDK dan Kasie Infokes
Dinkes Kab. BS).

Sekilas Cerita dari Desa Muara Danau

Langkah kami kembali berpijak di sebuah desa yang
terlihat asri dengan panorama alam dan persawahan di
samping kiri dan kanan. Air yang mengalir begitu deras
dengan kondisi cuaca yang mulai mendung mengisi
perjalanan kami menuju desa yang bernama Muara Danau.
Untuk menuju Desa Muara Danau terdapat dua alternatif
yaitu melewati derasnya air sungai dengan kedalaman kurang
lebih 2,5 meter atau melewati jembatan gantung yang
panjangnya kurang lebih 300 meter. Alat transportasi yang
bisa digunakan adalah mobil angkut pertanian/pick up, mobil
jeep semacam hartop, mobil X-Trada 4 D, dan ojek motor.
Medannya sulit, kendaraannya pun tersedia dengan
jangkauan harga yang lumayan merogoh kocek.

Pengalaman ke-dua yang dialami ketika harus
menyeberang derasnya air sungai yang akhirnya tidak jadi
oleh karena kekhawatiran dari ketua tim peneliti kami dan
staf Dinkes yang menemani kami. Padahal jaraknya lebih
dekat, sekitar 4 km melewati jalan ini ketimbang harus
melewati jembatan gantung dengan jarak menuju desa yang
kurang lebih 8 km. Sangat menantang, dengan pilihan akses
yang ada untuk menuju sebuah desa di ujung negeri ini.

172

Jelajah Nusantara #3

Gambar 4. Jembatan Gantung dalam perjalanan menuju Desa Muara
Danau

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 5. Akses Jalan Melewati Sungai menuju Desa Muara Danau
Sumber: Dokumentasi Peneliti
173

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia

Setibanya di Desa Muara Danau kami di sambut oleh
Kepala Desa, bidan desa dan warga setempat, sambil disuguhi
dengan camilan dan teh hangat, sembari menikmati suasana
desa tim penelitipun menyampaikan maksud dan tujuan
kegiatan ini. Sebagai informasi awal yang diperoleh bahwa
Desa Muara Danau memiliki luas wilayah kurang lebih 1.168
h, memiliki fasilitas kesehatan berupa Pustu (Puskesmas
Pembantu) dengan pelayanan kesehatan/pengobatan 24 jam.

Kepala Desa Muara Danau menyatakan bahwa dalam
sebuah perselisihan peran tetua adat sangat berpengaruh
sebagai pengambil keputusan dan orang yang paling
dipercaya di desa. Kepala desa juga biasa dipercaya sebagai
kepala pada acara adat yang disebut sebagai lengguai.

Lengguai adalah salah satu prosesi adat/wadah yang
digunakan di setiap momentum acara mulai dari pernikahan
hingga kelahiran. Dengan media rokok menjadi suatu bahan
yang wajib yang disediakan dalam lengguai. Bahkan ada
istilah masyarakat setempat yang disebut dengan ‘asap
safari’, yaitu semua masyarakat berkumpul, merokok
bersama, sambil mengajak masyarakat lainnya. Masih
ditemukan pula masyarakat yang merokok dengan
menggunakan danum (daun) aren, tanpa menggunakan rokok
modern.

Lengguai merupakan suatu kewajiban yang harus ada
di Desa Muara Danau. Dalam pelaksanaannya, lengguai
memerlukan bahan sirih, kapur, dan tembakau/nipah, atau
rokok. Tetua adat akan memeriksa kelengkapan bahan
tersebut sebelum lengguai dilangsungkan.

174

Jelajah Nusantara #3

Dalam setiap acara adat/kegiatan masyarakat yang
dilaksanakan secara rutin seperti perkawinan dan kelahiran,
lengguai menjadi simbol kesakralan. Tradisi ini dirasa penting
sehingga dilaksanakan secara turun temurun di wilayah
kabupaten hingga kota di Provinsi Bengkulu.

Terdapat denda adat ketika lengguai tidak dijalankan.
Dahulu ada yang namanya ‘jambar’, yaitu denda adat yang
berupa tumpeng kecil berisi lengkap daengan satu ekor ayam.
Setiap daerah di Kabupaten/Kota di Bengkulu mempunyai
denda adat yang bervariasi, tapi masih dalam satu tradisi
yakni lengguai.

Informasi tentang lengguai ini cukup menarik. Saat ini
tim peneliti berpikir untuk menjadikannya sebagai salah satu
alternatif tematik yang akan diangkat nantinya dalam Riset
Etnografi Kesehatan Tahun 2016.

175

Pandangan Pertama di Bumi Raflessia
176

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

Hendra Dhermawan Sitanggang

Tanjungpinang, April 2016
Akhirnya sampai juga di tempat yang dari dulu ingin

saya jelajahi, Kepulauan Anambas. Kepulauan yang digadang-
gadang sebagai ‘Raja Ampat’-nya Indonesia di wilayah Barat.
Kepulauan yang pernah mendapat penghargaan sebagai
pulau tropis terbaik se-Asia versi CNN. Kepulauan ini juga
terkenal dengan gugusan pulau yang eksotis dengan surga
bawah lautnya. Jelas saja pecinta snorkelling dan diving akan
selalu ingin menceburkan dirinya di Laut Anambas.

Selain keindahan bawah laut, masih banyak hal
menarik lainnya yang dapat dinikmati, sebut saja keindahan
pantai yang bisa dibilang belum tersentuh. Melihat penyu
bertelur, sensasi memancing di laut Anambas, masakan

177

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

seafood khas melayu yang memanjakan lidah, dan masih
banyak lagi yang belum terungkap karena keterbatasan waktu
eksplorasi untuk mengetahui lebih dalam tentang Anambas.

Gambar 1. Sunset di Batu Ceper, Tarempa, Kabupaten Kepulauan
Anambas

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Perjalanan Menuju Anambas

Kedatangan saya ke Kepulauan Anambas dalam
rangka persiapan lapangan Riset Etnografi Kesehatan (REK)
tahun 2016. Saya datang bersama dua rekan, seorang
koordinator dan satu lagi adalah peneliti sosial. Saya sendiri
sebagai peneliti di bidang kesehatan.

Untuk dapat mencapai ke Kepulauan Anambas, kita
harus ke Tanjungpinang terlebih dahulu. Tanjungpinang loh,
bukan Pangkal Pinang… bukan Kota Pinang… plisss…jangan
salah lagi… Karena saya tinggal di Tanjungpinang, jadi saya
bisa langsung ke Anambas tanpa transit lagi. Tetapi ada
178

Jelajah Nusantara #3

baiknya saya jelaskan perjalanan menuju Anambas lebih
detail dengan arah dari luar Tanjungpinang.

Pertama, terlebih dahulu kita mesti ke Tanjungpinang,
yang merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Pelabuhan
Tanjungpinang merupakan satu-satunya pelabuhan yang
menyediakan penyeberangan ke Kepulauan Anambas.

Menuju Tanjungpinang bisa ditempuh dengan jalur
udara maupun jalur laut. Sementara transportasi menuju
anambas hanya dapat ditempuh melalui jalur laut. Ada kapal
PELNI, yang jadwalnya sekali dalam 2 minggu, dengan lama
perjalanan membutuhkan waktu kira-kira 17 Jam Perjalanan.
Selain itu, ada juga kapal ferry cepat. Ferry menuju Anambas
berangkat 3 kali seminggu, begitu juga untuk jadwal kembali
dari Anambas. Perjalanan dengan ferry memakan waktu lebih
kurang 10 Jam. Jika menggunakan ferry cepat, perlu
menginap 1 malam di Tanjungpinang, karena ferry yang ke
Anambas berangkat jam 7 pagi.

Pada saat ini, saya dan tim berangkat menggunakan
ferry, karena tidak ada jadwal kapal PELNI saat kami di lokasi.
Perjalanan kami tempuh selama 9,5 jam, berangkat jam 07.10
dan sampai sekitar pukul 16.35.

Tujuan akhir ferry ini adalah Tarempa, ibukota
Kabupaten Kepulauan Anambas. Dalam perjalanannya, ferry
ini akan transit terlebih dahulu di Pulau Letung, salah satu
pulau di kepulauan Anambas. Pelabuhan di Letung termasuk
kecil, dan hanya terbuat dari kayu. Panjangnya sekitar lebih
kurang 30 m. Jika kita menggunakan PELNI, maka kapal tidak
bisa sandar di Pelabuhan, sehingga penumpang turun di

179

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

tengah laut dan dilanjutkan menggunakan pompong (perahu
mesin) untuk sampai ke Letung.

Saat transit di Letung akan banyak pedagang kita
temui, baik yang masuk ke ferry maupun yang jualan di
pelabuhan, ada yang jualan minuman dan juga makanan.
Seperti kerupuk olahan seafood (ikan dan sotong/cumi) dan
masakan seafood (ikan, cumi, udang) yang rasanya cukup
lezat, sayang untuk dilewatkan.

Perjalanan selanjutnya menuju Tarempa, yang
memakan waktu tempuh selama 1,5-2 jam. Perjalanan
Tanjungpinang-Tarempa akan sangat membosankan, jika
selama perjalanan kita hanya di dalam kapal yang
berpenumpang sekitar 150-an orang ini. Kita bisa ke bagian
depan, dan atas ferry, untuk melihat-lihat pemandangan yang
tersedia selama perjalanan. Tentu ini karena cuaca lagi baik,
kalau tidak, jangankan ke bagian atas ferry, mau ke toilet saja
susah karena ombak yang menghempas kapal.

Selama perjalanan terlihat keindahan lautan yang
berwarna biru, lautnya bersih, dan luas. Kadang tak terlihat
ujung laut yang biru itu, entah sampai mana ujungnya? Jika
sudah memasuki kepulauan Anambas, barulah pemandangan
bertambah dengan gugusan pulau yang tersusun cantik.
Sangat indah dan mempesona. Sungguh… Eksotis!

Di Balik Keeksotisan Kepulauan Anambas

Setelah melewati perjalanan yang cukup lama,
akhirnya saya dan tim tiba di Tarempa. Lelah pun terasa
hilang, saat sampai di Tarempa, melihat keindahan laut

180

Jelajah Nusantara #3

tarempa dan gugusan pulau di sekitarnya. Lautnya masih
bersih dan bening, terlihat dari atas sekumpulan ikan
berenang. Di pinggiran laut banyak tersusun bebatuan yang
menambah indahnya pemandangan.

Gambar 2. Bebatuan yang Tersusun di Tepi Laut Tarempa
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Membicarakan keindahan Kepulauan Anambas tentu
tidak akan ada habisnya, dan akan selalu menghadirkan decak
kagum akan keelokannya. Namun di balik keeksotisanya,
ternyata kondisi kesehatannya cukup memprihatinkan.
Berdasarkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) tahun 2013, Kepulauan Anambas berada diposisi ke-
386 secara nasional dan berada di posisi paling bawah untuk
tingkat Provinsi Kepulauan Riau, yaitu posisi ke-7 dari 7
kabupaten/kota. Hal inilah yang melatarbelakangi terpilihnya
Kepulauan Anambas menjadi salah satu kabupaten yang

181

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

menjadi destinasi REK 2016, selain sebagai salah satu Daerah
Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).

Sebelum menceritakan permasalahan kesehatan
masyarakat, ada baiknya saya menuliskan gambaran umum
Kabupaten Kepulauan Anambas. Kepulauan Anambas ini
merupakan kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau.
Terbentuk tahun 2008 yang merupakan hasil pemekaran dari
Kabupaten Natuna. Kepulauan Anambas ini terdiri dari 238
pulau, 26 pulau yang sudah dihuni dan 212 pulau yang belum
dihuni, dengan jumlah penduduk sebanyak 45.326 jiwa.

Kepulauan Anambas yang berbatasan langsung
dengan Laut Cina Selatan di bagian Utara-nya ini terdiri dari 7
kecamatan, 2 kelurahan dan 32 desa. Berdasarkan
kecamatan, luas Kepulauan Anambas ini adalah sebesar
634,37 Km2, dimana sebagian besarnya adalah lautan. Tidak
heran jika pekerjaan utama dari penduduknya adalah
nelayan, dimana hasil laut menjadi andalan.

Gambaran umum permasalahan kesehatan
masyarakat di Kepulauan Anambas diperoleh dari hasil diskusi
dengan pihak Dinas Kesehatan dan data sekunder dari profil
kesehatan Kepulauan Anambas tahun 2015. Permasalahan
kesehatan masyarakat hanya dilihat dari beberapa indikator
saja.

Pertama, dilihat dari Kesehatan Ibu dan Anak. Angka
Kematian Balita di Kepulauan Anambas mengalami
peningkatan pada tahun 2015 dibandingkan tahun
sebelumnya, yaitu dari 19/1000 kelahiran hidup menjadi 24
per 1.000 kelahiran hidup. Jika dilihat dari Angka Kematian
Bayi, Kepulauan Anambas masih di bawah target Kemenkes

182

Jelajah Nusantara #3

(24/1000 kelahiran hidup), yaitu 23/1000 kelahiran hidup.
Namun demikian, hal ini masih merupakan prioritas dari
Kabupaten Kepulauan Anambas. Sementara Angka Kematian
Ibu (AKI) di Kepulauan Anambas pada tahun 2015, yaitu 217
per 100.000 kelahiran hidup (ada 2 kematian ibu). Angka ini
juga terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu 96 per
100.000 kelahiran hidup atau terdapat 1 kematian ibu.

Menurut penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan,
permasalahan di atas terjadi karena belum tersedianya
Puskesmas mampu PONED dan RS mampu PONEK, dimana
tersedia spesialis kandungan. Dengan kata lain, di Kabupaten
Kepulauan Anambas belum memiliki dokter spesialis
kandungan. Oleh karena itu, jika ada kasus yang perlu
penanganan spesialis kandungan, maka ibu hamil harus
segera dirujuk ke Tanjungpinang. Selain itu, masih
berdasarkan penjelasan pihak Dinkes, akses dan kepercayaan
terhadap pengobatan dukun juga menjadi biang keladinya.

Berdasarkan persentase rumah tangga yang ber-
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hanya 18,6% RT dari
keseluruhan RT yang dipantau yang ber-PHBS. Dilihat dari sisi
Kesehatan Lingkungan, terlihat jelas banyak masyarakat yang
tidak memiliki jamban yang memenuhi standar. Berdasarkan
observasi, sebagian besar masyarakat masih menggunakan
jamban cemplung yang langsung ke laut. Hal ini sejalan
dengan banyaknya masyarakat yang tinggal di bagian pesisir
pantai.

Berdasarkan status Gizi, di Kepulauan Anambas
terdapat 0,3% balita yang berada di Bawah Garis Merah

183

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

(BGM), namun untuk gizi buruk tidak ditemukan adanya
kasus. Cakupan ASI Eksklusif sebesar 40,8%.

Untuk penyakit tidak menular, hipertensi sebagai yang
paling tinggi. Sedangkan untuk penyakit menular, yang paling
tinggi adalah malaria, dimana Kepulauan Anambas
merupakan Kabupaten tertinggi nomor 2 di Kepulauan Riau
dalam hal jumlah kasusnya. Selain malaria, terdapat kasus
baru Kusta sebanyak 7 kasus (kusta kering). Untuk HIV/AIDS,
terdapat 29 kasus dan yang sudah meninggal sebanyak 10
orang terhitung sejak tahun 2011sampai dengan sekarang.
Kasus umumnya didapat dari luar Kepulauan Anambas.

Peran si “Penguasa Pulau”

Pengobatan tradisional dan peran dukun sudah tidak
asing lagi di sini. Dan mungkin juga kita juga sudah tidak asing
lagi mendengar hal seperti ini di Indonesia. Di Anambas,
sebagian pulau mempunyai dukunnya masing-masing. Konon
katanya, “kekuatan ilmu” sang dukun sebatas pulau yang
dihuninya. Kekuatannya tak bereaksi jika dipisahkan oleh laut,
karena itu saya menyebutnya si “Penguasa Pulau”.

Dukun berperan tidak hanya untuk menyembuhkan
penyakit, tetapi juga untuk membantu persalinan.
Kepercayaan terhadap pengobatan ini jugalah diduga
penyebab tingginya angka kematian balita. Menurut salah
satu staf Dinkes disana saat kami berdiskusi, masyarakat
masih banyak yang berobat ke dukun. Jika sudah beberapa
hari tidak sembuh juga, barulah masyarakat mau

184

Jelajah Nusantara #3

membawanya ke Puskesmas atau ke RS, itupun tidak semua.
Jelas hal ini dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan.

Tidak hanya berobat, untuk bersalin juga masih
banyak yang ke bidan kampung (sebutan untuk dukun
beranak, karena mereka tidak mau disebut dukun beranak).
Bidan kampung ini memiliki pengaruh yang cukup kuat. Masih
menurut cerita staf Dinkes, jika di kening ibu hamil sudah
diolesi dengan kunyit, maka ibu hamil tersebut tidak bisa
dirujuk ke luar pulau, walaupun kondisinya harus segera
ditangani oleh tenaga kesehatan. Sekalipun saat sudah
diketahui bayi kembar yang akan dilahirkan. Ntah karna
sugesti, ataupun ada kekuatan gaib, ahh… entahlah…

Sebagian kasus lainnya, sudah ada dukun yang mau
membawa pasiennya ke Puskesmas atau rumah sakit jika
mereka tidak bisa menyembuhkannya. Walau demikian,
mereka juga tetap ikut ke pelayanan kesehatan dan ikut juga
dalam penanganan pasien tersebut. Kata warga setempat,
pasien yang dirujuk tersebut kadang “kemasukan”, jadi
tenaga kesehatan tidak bisa mengobati jika dalam kondisi
tersebut.

Selain kasus di atas, kali ini menurut staf salah satu
Puskesmas di Anambas, sudah ada juga dukun yang langsung
mau menghubungi bidan desa jika ada ibu yang akan bersalin.
Sebagian bidan hanya sebagai pendamping persalinan, namun
yang menolong persalinan tetap bidan kampung. Bidan hanya
mengurus bayi yang baru dilahirkan saja. Sebagian lagi, bidan
yang menangani persalinannya, sedangkan bidan kampung
menangani bayi yang baru dilahirkan.

185

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

Seni Kehidupan di Negeri Kepulauan

Gugusan pulau di Anambas yang terdiri dari ratusan
pulau itu, sudah tidak ragukan lagi menghadirkan banyak
pujian bagi dirinya. Keindahan dan keeksotisan jajaran pulau-
pulaunya memanjakan mata dan menenangkan jiwa. Namun
di balik semuanya itu, terungkap jelas kesulitan akan akses
pelayanan kesehatan. Bayangkan saja, jika ada pasien yang
perlu dirawat dan penanganan yang lebih serius maka harus
segera dirujuk ke luar pulau menuju rumah sakit terdekat dari
pulau. Sebagai informasi, di Kepulauan Anambas terdapat 2
rumah sakit, yaitu di Pulau Letung dan Pulau Palmatak.

Gambar 3. Pemandangan dari atas. @Temberun, Tarempa.
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Angkutan utama yang digunakan adalah pompong.
Jarak dan kesulitan ditentukan dari letak pulaunya. Makin
jauh pulau maka makin sulit menuju tempat rujukan, dan
tentunya makin mahal. Jika pasien kritis pada malam hari,
maka harus menunggu pagi hari untuk diberangkatkan,

186

Jelajah Nusantara #3

kecuali ada pompong yang mau berangkat pada malam hari.
Selain itu, jangan lupakan juga cuaca yang menjadi
pertimbangan utama dalam berlayar. Mungkin ini adalah seni
kehidupan di negeri kepulauan.

Sampah Laut

Kepulauan Anambas ini terdiri dari 96% lautan dan
hanya 4% daratan. Bisa dibayangkan bukan, dimana-mana
kita akan melihat laut, lihat ke kiri laut, ke kanan laut, ke
depan dan ke belakang pun laut. Lautnya memang bening dan
memukau, sesuatu yang menarik untuk dinikmati. Tapi sayang
beribu sayang. Bening bukan berarti tidak ada sampah, di
sebagian pinggiran lain terlihat sampah bertebaran yang
merusak pemandangan akan indahnya Laut Anambas.

Menurut Kadis Kesehatan Kabupaten Kepulauan
Anambas, kesadaran masyarakat masih rendah, masih suka
membuang sampah ke laut. Saat beliau menjabat sebagai
Kepala BLH di Anambas, beliau sudah mencanangkan
program pembersihan sampah di laut secara rutin dengan
menggunakan ferry. Program ini diikuti juga dengan
penyuluhan kepada masyarakat dengan maksud agar
masyarakat sadar dan tidak membuang sampah ke laut lagi.
Namun hal ini belum berhasil. Ferry untuk mengangkut
sampah dari laut ini pun sekarang sudah tidak berjalan lagi,
hal ini dikarenakan adanya permasalahan anggaran. Mungkin
saat ini belum menjadi masalah besar, tapi entah di waktu
yang akan datang. Perlu untuk direnungkan.

187

Cerita dari Negeri Kepulauan Anambas

Sekian dulu cerita singkat saya tentang sebuah negeri
kepulauan ini. Adapun beberapa cerita yang tertulis di atas
masih bersumber dari satu sisi pemberi informasi. Namun,
menurut hemat saya, itu sudah bisa menggambarkan secara
umum kondisi di Kepulauan Anambas.. Semoga tulisan ini
bermanfaat.

188

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?

Catatan Perjalanan ke Kabupaten Nias Barat

Ade Aryanti Fahriani

Nias Barat, April 2016
Syahdan, tersebut-lah sebuah pulau nan indah

rupawan. Bersembunyi di sudut Barat Provinsi Sumatera
Utara, yang konon katanya menyimpan kharisma surga dunia.
Keindahan pantai nan biru, butiran pasir putih, ombak yang
menggulung tinggi, beragam biota laut, hingga budaya lokal
yang mendunia, telah lama melekat dalam sebutan namanya,
si Pulau Nias. Meski demikian, ternyata dibalik kecantikannya,
pulau ini menyimpan kerapuhan akan bencana alam. Sebut
saja bencana tsunami dan gempa bumi yang datang silih
berganti mewarnai pembangunan di pulau ini.

189

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?

Pulau Nias setidaknya terdiri dari 5 Kabupaten/Kota,
yaitu Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat, dan Nias Selatan
dengan pusat keramaian di Kota Gunung Sitoli. Namun,
diantara 5 Kabupaten/Kota tersebut, Nias Barat-lah
Kabupaten yang dapat dibilang kabupaten “pesakitan”. Hal ini
setidaknya didasarkan pada data IPKM (Indeks Pembangunan
Kesehatan Masyarakat) Tahun 2013 yang menempatkan
Kabupaten Nias Barat di peringkat 486 dari 497 Kabupaten se-
Indonesia. Bahkan di bawah kabupaten di bagian Timur
Indonesia sana, seperti Kabupaten Merauke (210), Kabupaten
Pegunungan Bintang (405), Kabupaten Raja Ampat (448),
Kabupaten Puncak Jaya (459), dan Kabupaten Jayawijaya
(482). Saya jadi berpikir, apakah Nias Barat tak jauh lebih
“layak” daripada bagian Indonesia Timur sana? Padahal
secara fisik berada lebih dekat dengan pusat ibukota
Indonesia daripada pelosok perbatasan Timur negara.

Ada Apa dengan Nias Barat?

Sekelumit pertanyaan saya tentang Nias Barat mulai
terkuak ketika saya mulai menjejakan kaki di Bandara Binaka,
Kota Gunung Sitoli. Bak artis ibukota, kedatangan saya di
bandara langsung disambut oleh mas-mas travel. Namun,
ketika saya menyebutkan tujuan ke pusat pemerintahan Nias
Barat, mas travel sepertinya agak berat mengiyakan. Pun, jika
ada yang mau, mereka menawarkan harga yang lumayan
fantastik untuk sekedar melakukan perjalanan darat
sepanjang 80 Km. Alasan mereka simpel, “Nias Barat itu

190

Jelajah Nusantara #3

medannya susah kaka, perlu pikir-pikir ulang untuk bawa
kakak ke sana…”. “Hmm.. apakah se-ekstrim itu?” batin saya.

Gambar 1. Peta Nias Barat
Sumber: Peta Wikipedia

Setelah “ujuk-ujuk” mencari transportasi yang ramah
di kantong, akhirnya saya berjodoh dengan angkutan umum
Cold L300 yang adanya cuma sekali dalam sehari “mampir” ke
Nias Barat. Itu pun setelah ber-nego ria, sebab angkutan
umum ini tidak melalui pusat pemerintahan dikarenakan
akses jembatan yang terputus. Alternatif terakhir adalah
dengan memutar jalan lain yang tentunya memakan waktu
lebih lama dari rute biasanya dilewati oleh angkutan ini.

Sepertiga perjalanan awal memang terasa mulus,
nyaris tanpa hambatan yang berarti. Tapi, semenjak
menginjakan perbatasan Kabupaten Nias Barat, tampak

191


Click to View FlipBook Version