The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-20 22:21:32

Jelajah Nusantara 3 Catatan Perjalanan Enam Belas Orang Peneliti Kesehatan

Agung Dwi Laksono (editor)

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?

beberapa lubang-lubang dan aspal yang amblas di sana-sini,
bahkan ada beberapa titik yang jalannya terputus
membentuk jurang kecil yang hanya dihubungkan dengan
beberapa bilah kayu.

Perjalanan ini semakin menantang ketika kami mulai
memasuki daerah pegunungan. Menyusuri jalanan bertebing,
berlembah, naik-turun, dan bertikungan tajam menjadi
pemandangan yang biasa disini. Tak banyak angkutan travel
yang menyusuri rute Nias Barat ini. Konon, kondisi jalan
seperti ini lah yang membuat mobil travel sekelas Avanza
sering terperosok ke dalam lubang, sehingga jarang ada supir
travel yang bersedia ke sini untuk mengambil risiko kerusakan
pada mobil mereka.

Sesekali saya membayangkan bagaimanakah jika
dalam keadaan darurat melalui jalan begini dengan sepeda
motor di malam hari? tentunya sangat berbahaya. Ya....
beginilah kondisi geografis Kabupaten Nias Barat, kontur
tanah yang labil membuat jalanan sering amblas disini.
Bagaimana mau diperbaiki kalau setiap harinya keadaan jalan
dapat berubah-ubah, apalagi jika tempat ini sering disinggahi
gempa bumi. Sehingga perbaikan jalan dirasakan sesuatu
yang cukup menguras dana dan energi.

Kabupaten Nias Barat bisa dibilang kabupaten yang
masih muda. Belum genap satu dekade setelah mengalami
pemekaran di tahun 2008. Kabupaten ini diibaratkan seperti
sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk cinta. Yah,
setidaknya itulah yang dikatakan oleh seorang pejabat Dinas
Kesehatan Kabupaten yang saya temui.

192

Jelajah Nusantara #3

Gambar 2. Akses Jalan Nias Barat
Sumber: Dokumentasi Peneliti

193

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?
“Nias Barat ini ibarat pengantin baru yang asik
kasmaran. Kan kalau kita bicara ilmu orang baru
menikah, seharusnya sebuah rumah tangga baru itu
harus punya kompor dan kuali biar bisa masak, baru
lama-lama beli piring, sendok. Kan kalau beras bisa
saja diberi raskin, lauk bisa dicari di kebun. Nah ini
Kabupaten ibarat gitu, bukan kompor dan kuali yang
dibeli tapi yang pertama sendok. Punya sendok tapi
gak bisa masak, kan percuma. Gini loh, kalau disini
pemerintah berlomba-lomba bikin bangunan kantor
besar, tapi gak ada tenaga SDM yang handal,
bagaimana bisa jalan??. SDM kita masih belum
‘diolah’ maksimal biar kompeten dan siap pakai...”
(Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Barat)

Gambar 3. Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Nias Barat
Sumber: Dokumentasi Peneliti

194

Jelajah Nusantara #3

Satu hal yang saya tangkap dari analogi ‘pengantin
baru’ tersebut, bahwa untuk membangun kesehatan di Nias
Barat ini masih terkendala SDM yang berkualitas. Hal senada
juga dibenarkan beliau dalam kesempatan lain,

“Saya ini sebenarnya asli Nias Barat, tapi baru 10
bulan ada disini. Selama kurang lebih 30 tahun saya
tugas di Jambi. Jadi kemarin pertama kali ditugaskan
di Dinkes sini, saya cuma bisa mengelus dada, jadi
selama 30 tahun ini tidak ada perubahan. Awalnya
saya semangat membangun kesehatan di sini, tapi
setelah menjalani 10 bulan ini, yah... apa yah dibilang
putus asa yah masih belum lah, tapi… yah orang-orang
disini masih belum sadar untuk membangun, cuma
beberapa orang yang saya cocok itu kalau diajak
bicara soal membangun kesehatan disini...”
(Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Barat)

Setelah selesai mengurus perizinan di Dinas Kesehatan
dan Kesbangpol Kabupaten, saya pun diajak oleh orang Dinas
Kesehatan untuk ‘menjenguk’ salah satu desa sebagai salah
satu gambaran riil kondisi disini. Awalnya saya mengira Dinas
Kesehatan menawarkan tumpangan berupa mobil dinas, tapi
perkiraan itu meleset, bukan mobil tapi sebuah motor kelas
150 cc untuk menuju desa sekaligus kembali ke Kota Gunung
Sitoli.

Bersama kawalan petugas Dinas Kesehatan, saya
melakukan “extreme touring” menuju Kota Gunung Sitoli. Ya
bagi saya ini ekstrim! Bukan hanya melewati jalanan yang
berliku tajam dengan lubang dan aspal yang amblas, tapi juga
karena saya tak memakai satupun perlengkapan “safety

195

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?

riding”. Terlebih lagi, sempat-sempatnya malam tadi saya
membaca status salah satu senior saya (Mas ADL) yang
mengisahkan tewasnya pengendara motor dalam perjalanan
beliau menuju Kabupaten Bangka. Tentunya hal ini membuat
pressure tersendiri dalam mental saya.

Sepanjang perjalanan naik-turun gunung yang licin
pasca hujan, hati saya terus ber-komat-kamit. Hampir satu
jam setengah, akhirnya kami berhenti sejenak di rumah salah
satu warga untuk meninjau sebuah kasus kesehatan disini.

Setelah turun dari motor, sekujur tubuh saya langsung
gemetar. Jujur saja, mulai kemarin siang sampai sore ini perut
saya hanya diisi sepotong roti, air, dan sebungkus mie instan.
Yah, karena mencari makanan yang halal disini sulit. Tak
dapat dielakkan konsentrasi saya pun buyar, mental saya pun
mulai tak stabil akibat fisik yang terforsir.

Sebuah Keterenyuhan...

Sebuah rumah beton setengah jadi berdiri tegar di
depan saya. Sekilas rumah berlantai dua ini memang terlihat
lebih ‘mewah’ daripada kebanyakan tetangganya yang hanya
berdindingkan papan. Sesekali terlihat beberapa ekor anak
ayam menyerobot keluar masuk ke dalam rumah, hingga tak
jarang juga ditemunkan sisa-sisa kotoran ayam yang masih
menempel ‘segar’ di lantai semennya.

Tak perlu menunggu lama, kami pun segera
dipersilakan masuk oleh sang tuan rumah. Terlihat beberapa
kursi plastik masih bertumpang tindih di salah satu sudut
ruang 3 kali 4 meter ini. Sambil mempersilakan kami duduk,

196

Jelajah Nusantara #3

sang tuan rumah pun menanyakan maksud kedatangan kami.
“Pak kami datang kesini mau melihat anak bapak Niki, apakah
dia sekarang ada di rumah?” Jawab petugas Dinas Kesehatan
yang mengawal kami. Bak gayung bersambut, tanpa
keberatan, sang tuan rumah pun langsung menyuruh istrinya
untuk membawa anaknya Niki ke ruang tamu.

Dari balik tirai lusuh, terlihat sang istri sedang
menggendong seorang anak seukuran balita mungil sekitar 2
tahunan. Dalam dekapan sang ibu, Niki terlihat pasif
dibandingkan dengan balita kebanyakan. Terlebih lagi, dapat
terlihat dengan jelas guratan tulang berbalut kulit di
pergelangan tangannya. Dari sekilas pandang saja saya sudah
bisa menerka bahwa Niki sedang mengidap gizi buruk.

Kecurigaan ini pun terungkap ketika kami menanyakan
umur Niki sekarang. Dengan tubuh mungilnya ini seharusnya
Niki sudah berusia 7 tahun. Ya 7 tahun dengan tubuh
semungil balita 2 tahun. Tumbuh kembang Niki terganggu
sejak dia berusia 5 bulan, tapi hanya satu setengah tahun
terakhir ini keberadaan Niki disadari oleh petugas kesehatan
setempat. Artinya setelah menginjak umur 5 tahunan, Niki
baru saja diberikan penanganan.

Tak banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh Niki
selain menggeliat dengan tatapan kosong di pangkuan ibunya.
Jangankan untuk bicara layaknya anak seumurannya, untuk
menangis saja sepertinya butuh tenaga ekstra untuk
mengekspresikannya. Sesekali terdengar suara batuk-batuk
diserta nafas yang pendek dari rongga dadanya. Pada awalnya
saya curiga bahwa Niki juga mengidap pneumonia. Tapi
kecurigaan itu terbantahkan ketika sang ibu dengan santainya

197

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?

mengatakan bahwa Niki sekarang sedang terserang TBC di
usianya yang masih belia.

Tak dapat dielakan, rasa iba muncul begitu saja dalam
benak saya, mengalahkan rasa lelah yang sedang
mengerogoti tubuh yang terforsir ini. Ditambah lagi, saya
mendengar bahwa Niki sekarang tidak mendapatkan
penanganan medis lagi. Penanganan Niki hanya bertahan
sekitar 5 bulan, kemudian putus tanpa jejak dan usaha dari
keluarga maupun tenaga kesehatan yang ada. Bermacam
alasan pembelaan diri baik dari keluarga maupun tenaga
kesehatan yang ada. Toh apapun itu, apakah sebuah nyawa
tak berdosa lebih murah daripada sekedar harga diri orang
dewasa?

Kasus Niki hanyalah satu dari kasus-kasus lain yang
masih tersembunyi dari pengamatan Dinas Kesehatan
setempat. Masih ada Niki-Niki lain yang sekarang ini hidup
dalam kungkungan gizi buruk. Setidaknya dari data IPKM
tahun 2013, sebanyak 37,42% balita di Nias Barat menderita
gizi buruk dan gizi kurang. Jumlah ini tentunya bukan hal yang
membanggakan untuk pulau secantik Nias.

Dalam perjalanan pulang ke Kota Gunung Sitoli saya
pun termenung, mengingat-ingat perjuangan saya
menjejakan kaki disini. Perjalanan “extreme touring tanpa
safety riding” dan keterbatasan fasilitas hidup tak ada apa-
apanya jika dibandingkan dengan permasalahan kesehatan
yang tengah dihadapi masyarakat sini. Setidaknya harus ada
mau dan berkeras untuk menyibak tabir kemelut si
Kabupaten peringkat 486 ini dari berbagai sisi. Masih terlalu
dini untuk saya merasa “cengeng” meratapi kondisi lokasi

198

Jelajah Nusantara #3

pengumpulan data penelitian untuk 2 bulan ke depan.
Dengan ditemani indahnya Pantai Nias di Kota Gunung Sitoli,
saya pun hanya bisa berujar, aah… Nias ku Sayang, Nias Barat
ku... Malang?

199

Nias Ku Sayang, Nias Barat Ku... Malang?
200

Menilik Surga di Pulau Simeulue,
Kabupaten Terluar Provinsi Aceh

Putra Apriadi Siregar

Sang Saksi Bisu Tsunami

Gempa tanggal 26 Desember tahun 2004 telah
meluluhlantakan berbagai fasilitas yang ada di Kabupaten
Simeulue, tetapi bersyukurnya tidak menimbulkan korban
jiwa yang banyak. Masyarakat Kabupaten Simeulue sudah
mengenal secara turun temurun peristiwa gempa dan
tsunami yang dikalangan mereka disebut sebagai smong.
Untuk masyarakat Simeulue, smong berarti ombak besar yang
datang bergulung-gulung yang didahului oleh gempa yang
sangat besar. Fenomena yang dikenal masyarakat dunia
dengan istilah tsunami. Pemahaman tentang smong ini

201

Menilik Surga di Pulau Simeulue

tertanam kuat dalam memori masyarakat Simeulue dari anak-
anak sampai orang tua.

Gambar 1. Perbukitan Menjadi Tempat Pelarian Jika Ada Tsunami
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Masyarakat di Kabupaten Simeulue menyatakan
bahwa mereka pernah merasakan peristiwa serupa yakni
tsunami pada tahun 1907 sehingga apabila terjadi gempa
besar diikuti oleh surutnya air laut dari bibir pantai secara
drastis dan mendadak, maka otomatis tanpa disuruh seluruh
penduduk, tua muda, besar kecil laki-laki dan perempuan
beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat-tempat
ketinggian atau perbukitan guna menghindar dari terjangan
smong atau tsunami tersebut. Salah satu remaja menyatakan
bahwa,

202

Jelajah Nusantara #3

“Kami tahu ketika air mulai surut di laut dan ikan
mulai mati di pinggir perairan maka akan berpotensi
terjadinya smong sehingga kita otomatis disuruh
oleh keluarga kami untuk cepat-cepat naik ke bukit
ataupun tempat yang tinggi jadi air nanti tidak akan
sampai kesini.”

Handy Talk (HT)… Alat Komunikasi untuk Kami

Gempa menjadi suatu hal yang biasa dirasakan oleh
masyarakat di Pulau Simeulue. Pada tahun 2012 telah terjadi
14 kali gempa, dan pada tahun 2013 sudah terjadi 9 kali
gempa bumi. Masyarakat Pulau Simeulue tidak merasa gusar
dan panik dengan terjadinya gempa bumi, hal ini disebabkan
dari jaman kakek nenek mereka sudah merasakan hal
tersebut. Gempa bumi yang terjadi cenderung akan membuat
gangguan pada jaringan komunikasi di Pulau Simeulue,
namun hal ini tidak menjadi suatu permasalahan karena
mereka sudah ditempa dengan keadaan seperti itu.
Masyarakat Pulau Simeulue memiliki alat komunikasi
tersendiri untuk setiap Dinas, yaitu Handy Talk (HT).

Kendala terkait infrastruktur telekomunikasi di
Kabupaten Simeulue yang sangat terbatas membuat
mobilisasi massa pada saat genting dan mendesak menjadi
sebuah peristiwa yang luar biasa. Handy Talky, Radio Rig, dan
Repeater menjadi salah satu alat komunikasi yang paling
efektif digunakan oleh berbagai Dinas untuk memberikan
informasi dan mobilisasi masa kepada masyarakat.

Penggunaan alat telekomuniasi ini terbukti efektif
ketika memberikan informasi tentang tsunami ke masyarakat.

203

Menilik Surga di Pulau Simeulue

Alat komunikasi ini juga menjadi alat wajib dimiliki di setiap
instansi di Kabupaten Simeulue. Salah satu petugas kesehatan
yang menyatakan bahwa,

“Kalau ada informasi atau berita yang penting dan
sifatnya mendesak maka kami biasa pakai Handy
Talky agar pesannya langsung sampai ke berbagai
tempat dan lapisan masyarakat karena biasanya
sinyal hilang kalo ada bencana disini… HT ini paling
terasa perannya pas Gempa dan Tsunami makanya
kami bisa cepat cegah terjadinya korban saat
bencana Gempa dan Tsunami.“

Perjalanan Menuju Pulau Simeulue

Perjalanan menuju Kabupaten Simeulue dapat
ditempuh dengan dua jalur. Jalur pertama bisa ditempuh
dengan perjalanan darat yang ditambah dengan transportasi
laut. Sedang jalur ke-dua dapat dilakukan dengan transportasi
udara.

Jika kita ingin melakukan perjalanan darat dari Kota
Medan maka kita bisa menaiki bus tujuan ke Labuhan Haji
dengan biaya Rp. 150.00,00-, kemudian dilanjut dengan kapal.
Dari Medan, bisa juga menaiki bus tujuan Kabupaten Singkil,
lalu menyeberang via laut ke Sinabang selama 10 jam dengan
kapal feri lambat dengan biaya Rp. 43.000,- – Rp. 66.000,-.

Untuk perjalanan dari Banda Aceh, bisa dengan L300,
mini bus (travel), mobil rental, atau sepeda motor, dengan
waktu tempuh sekitar 8 jam untuk tiba di Pelabuhan Labuhan
Haji, Aceh Selatan. Selanjutnya menyeberang ke Pelabuhan

204

Jelajah Nusantara #3

Sinabang, Simeulue, antara 8-10 jam dengan kapal feri lambat
atau 3 jam dengan kapal cepat.

Kita juga dapat mengakses perjalanan dengan
transportasi udara dengan pesawat Wings Air dari Bandara
Kualanamu Internasional (Kota Medan) atau perjalanan dari
Bandara Sultan Iskandar Muda (Kota Banda Aceh) menuju
Bandara Lasikin (Kabupaten Simeulue).

Lingkaran dari Pulau Simeulue

Kabupaten Simeulue berada 105 mil laut dari
Kabupaten Aceh Barat (Meulaboh) dan 85 mil laut dari
Kabupaten Aceh Selatan (Tapak Tuan). Kabupaten Simeulue
merupakan gugus kepulauan yang terdiri 147 pulau besar dan
kecil. Luas keseluruhan Kabupaten Simeulue adalah 1.838,09
Km2 atau 183.809 Ha. Kabupaten Simeulue memiliki ibu kota
Sinabang. Pulau Simeulue secara umum memiliki iklim tropik
basah, menurut data BPS bahwa Pulau Simeulue memiliki
curah hujan 3.170 mm/tahun dan 234 hari hujan (BPS
Kabupaten Simeulue, 2015).

Menurut masyarakat di Pulau Simeulue bahwa
tingginya curah hujan di Pulau Simeulue tidak terlepas dari
letak pulau mereka yang dikelilingi samudera sehingga akan
membuat hujan akan semakin tinggi. Masyarakat meyakini
bahwa kebutuhan mereka akan hujan yang cukup tinggi
membuat Allah SWT memberikan mereka hujan lebih banyak.

Bahasa yang dipakai di Kabupaten Simeulue juga
sangat berbeda dengan bahasa yang pada umumnya
digunakan di kabupaten lainnya di Provinsi Aceh. Kabupaten

205

Menilik Surga di Pulau Simeulue

Simeulue menggunakan bahasa Simeulue untuk
berkomunikasi dan berinteraksi, bahkan banyak diantara
masyarakat di Pulau Simeulue yang tidak mengerti Bahasa
Aceh .

Secangkir Kopi Untuk Semua Kalangan

“Kopi Sao (Kopi satu)… Kopi Sao...,” sebuah suara
sumbang yang tidak asing terdengar di Pulau Simeulue.
“Kedai kopi akan sangat mudah anda temui di Pulau
Simeulue,” itulah kata-kata yang diutarakan salah satu tokoh
masyarakat yang ada di Pulau Simeulue ketika berbicara
tentang kopi. Siang-malam… menjadi suatu waktu yang tidak
ada habisnya kita akan melihat orang-orang menyeruput
secangkir kopi di Pulau Simeulue.

Tidak terbatas dari orang tua, anak muda, baik laki-laki
maupun wanita, miskin maupun kaya, semuanya akan
berbaur menjadi satu tanpa sekat apapun sebagai pembatas
ketika sedang menikmati secangkir kopi hitam. Kopi seperti
sebuah tarikan nafas bagi masyarakat di Pulau Simeulue.,
sangat sulit untuk dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan
dalam berbagai aktifitas yang dilakukan masyarakat.
Pernyataan seorang bapak yang hendak ke sawah saat kami
temui menyebutkan bahwa, “Kopi itu penting… kalo pagi itu
harus minum kopi… kalo ga da kopi macam ada yang hilang…
bahkan lebih bagus minum kopi dulu daripada makan pagi…”.

Kopi menjadi sebuah bahasa pergaulan dalam
berbagai kalangan di Simeulue. Kebiasaan mengkonsumsi
kopi baik di pagi hari, siang maupun malam hari menjadi

206

Jelajah Nusantara #3

suatu aktifitas yang tidak tergantikan. Jika kita ingin
mendapatkan informasi di masyarakat ataupun menjalin
komunikasi maka ngopi menjadi salah satu cara yang sangat
dianjurkan.

Masyarakat di Pulau Simeulue sangat menggemari
kopi hitam Simeulue, meski ada juga beberapa kalangan yang
menyatakan lidah mereka sudah melekat dengan kopi hitam
Sidikalang dan kopi hitam Gayo. Lidah penggila kopi di
Simeulue juga sudah mulai merasakan nikmatnya kopi susu
dan sanger sebagai variasi dari penyajian kopi.

Pada awalnya ngopi hanya dilakukan di rumah, meski
untuk beberapa orang melakukannya di warung kopi. Ngopi
di warung kopi hanya sebuah bentuk kegiatan mengisi waktu
luang, tempat istirahat dari kepenatan pekerjaan dan aktifitas
yang dilakukan seharian. Ngopi di warung kopi juga menjadi
sebuah pilihan untuk mereka membangun kebersamaan
dengan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain
yang berada di sekitar mereka. Ada sebuah anekdot di
Simeulue, bahwa kalau ingin mencari laki-laki jika tak ada di
rumah atau di tempat kerja, kalian hanya perlu mencari di
dua tempat lain, yaitu kalau tidak di kedai kopi maka mereka
di laut (memancing).

Masyarakat di Pulau Simeulue mengkonsumsi kopi
hitam rata-rata 4-7 gelas dalam sehari. Konsumsi kopi dengan
frekuensi cukup banyak ini akan membuat jantung memompa
darah lebih cepat, yang akan membuat resiko terjadinya
hipertensi. Kebiasaan ini biasanya berpasangan dengan
perilaku menghisap rokok, sedang bagi beberapa orang yang
tidak merokok akan menyandingkan kopi hitam dengan

207

Menilik Surga di Pulau Simeulue

makanan dan jajanan yang ada. Beberapa orang bahkan
menyatakan bahwa kalau kopi dan rokok itu ibarat pasangan,
yang jika salah satu hilang, akan membuat yang satu lagi akan
mencari-cari pasangannya. Kebiasaan konsumsi kopi yang
berlebihan dan juga disertai dengan perilaku merokok ini
akan semakin memperbesar resiko terkena hipertensi, stroke,
gangguan jantung dan penyakit degeneratif lainnya.

Tawa Lepas dan Senyuman Indah Itu Semakin
Memudar

Remaja yang tersenyum dan tertawa yang lepas itu
berubah ketika mereka menutup mulut dengan kedua
tangannya, ketika mulai tampak gigi-gigi mereka. Hal ini
membuat saya menduga-duga mengamati tingkah laku
mereka, dan ternyata dugaan saya benar… senyuman indah
dan tawa lepas itu menyembunyikan sebuah misteri di
dalamnya. Senyuman indah dan tawa lepas itu sedikit
memudar karena permasalahan yang berkaitan dengan
kesehatan gigi dan mulut sehingga mengurangi senyum dan
tawa lepas itu.

Para remaja seringkali mengalami permasalahan
kesehatan gigi dan mulut yang berkaitan dengan terjadinya
gigi yang mudah tanggal dan gigi yang kerap patah. Remaja
putra dan putri itu menyatakan masalah yang mereka alami
tersebut suatu hal yang sudah umum terjadi di lingkungan
mereka, dan bahkan sudah dialami oleh kakek dan nenek
mereka sebelumnya.

208

Jelajah Nusantara #3

Mudah patah dan keropos gigi masyarakat di Pulau
Simeulue tidak terlepas dari kebiasaan seringnya
mengkonsumsi air hujan sebagai air minum. Masyarakat di
Pulau Simeulue tidak jarang menampung air hujan hingga 5-
10 drum untuk bekal minum dan air bersih untuk beberapa
hari ke depan. Berdasarkan data IPKM tahun 2013
menunjukkan bahwa untuk cakupan akses dan sumber air
bersih di Kabupaten Simeulue hanya sebesar 43,75.

Menampung air hujan menjadi pilihan yang paling
realistis bagi masyarakat di Kabupaten Simeulue untuk
memenuhi kebutuhan air minum. Ketersediaan air bersih
yang kurang membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan,
hal ini tidak terlepas dari Pulau Simeulue yang kesulitan untuk
mendapatkan air tanah dan mahalnya air isi ulang, sedang
untuk curah hujan di Pulau Simeulue cenderung tergolong
tinggi dengan curah hujan 3.170 mm/tahun dengan 234 hari
hujan pada tahun 2014. Hal ini akan semakin memudahkan
masyarakat untuk mendapatkan air hujan sebagai sumber air
minum dibandingkan air tanah atau PDAM. Seorang informan
mahasiswa yang kami temui di Pulau Simeulue menyatakan,

“Gigi saya sudah lama rusak begini, kayak gimana
lah bang… kami sekeluarga minum air hujan yang
kami tampung di bak atau drum… air isi ulang mahal
sekali hingga sampai 30 ribu per gallon sedangkan
untuk air tanah sulit didapat disini bang.”

Salah satu warga yang kami temui menyatakan bahwa
hingga saat ini masih terdapat keluarga yang mengkonsumsi

209

Menilik Surga di Pulau Simeulue

air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Hal
ini karena mahalnya air tanah dan air isi ulang di Simeulue.

Kebiasaan meminum air hujan yang lama akan
merusak gigi. Kondisi ini tidak terlepas dari kandungan air
hujan yang memiliki mineral tidak sesuai standar air minum.
PH air hujan cenderung lebih asam, hingga dapat
mengganggu kondisi kesehatan gigi.

Masyarakat di Pulau Simeulue menganggap bahwa air
hujan tidak berbahaya. Air hujan diberikan Allah kepada kita
sebagai berkah sehingga tidak perlu dikhawatirkan jika
dikonsumsi.

Masyarakat yang mengalami gangguan pada gigi pada
umumnya akan menambalkan giginya. Sementara yang lain
memilih menempah gigi palsu agar senyuman dan tawa lepas
mereka tidak terhalang.

Antara Memancing dan Malaria

Masyarakat Pulau Simeulue pada umumnya memiliki
kebiasaan memiliki aktifitas di luar rumah ketika sore dan
malam hari, khususnya kepala keluarga atau remaja laki-laki.
Kebiasaan memancing atau menangkap ikan di rawa-rawa
dan laut menjadi sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan bagi
lelaki di Pulau Simeulue. Kebiasaan ini diduga dapat
meningkatkan resiko masyarakat Simeulue terjangkit malaria.

Demam tinggi dan menggigil yang merupakan salah
dua gejala malaria, menjadi salah satu peristiwa yang sudah
biasa bagi anak-anak dan remaja di Pulau Simeulue. Jumlah
penderita Malaria tanpa pemeriksaan sediaan darah di

210

Jelajah Nusantara #3

Kabupaten Simeulue tahun 2012 sebanyak 759 orang, dan
penderita Malaria dengan pemeriksaan sediaan darah
sebanyak 5 orang. Malaria secara medis disebabkan oleh
gigitan nyamuk Anopheles spp kepada manusia, yang
biasanya terjadi pada rentang waktu sore hingga malam hari.

Gambar 3. Memancing dan menangkap ikan di Tengah laut Pulau Siumat
(atas); Remaja yang memancing di Tepi laut Batu Alafan (bawah)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Banyaknya penderita Malaria di Pulau Simeulue tidak
terlepas dari kebiasaan masyarakat yang ada di Pulau
Simeulue yang sering beraktifitas di luar rumah pada sore

211

Menilik Surga di Pulau Simeulue

hingga malam hari. Selain aktifitas memancing atau mencari
ikan bagi kaum lelaki, seringkali kebiasaan mereka untuk pergi
ngopi juga dilakukan pada sore hingga malam hari. Sementara
seringkali mereka tanpa melengkapi dirinya untuk
pencegahan terhadap gigitan nyamuk. Seringkali mereka
hanya membakar kertas atau sampah saja, agar dapat
menghasilkan asap yang dipercaya dapat mengusir nyamuk.

Tidak berbeda dengan kaum lelaki, kaum wanita di
Pulau Simeulue juga tidak kalah beresiko untuk terkena
malaria. Kaum Hawa ini seringkali memilliki kebiasaan untuk
mengobrol di serambi depan rumah, sehingga mereka juga
rentan untuk terkena gigitan nyamuk Anopheles spp.

Ketika malam hari nyamuk Anopheles spp cenderung
bersifar eksofagik, mencari darah di luar rumah. Nyamuk akan
mencari darah di luar rumah, namun jika tidak mendapatkan
darah di luar rumah, maka baru nyamuk Anopheles spp akan
masuk kedalam rumah.

Mayoritas masyarakat di Pulau Simeulue memiliki
rumah tanpa perlindungan kawat kassa pada ventilasi.
Mereka menganggap pemasangan kassa sebagai upaya
pencegahan nyamuk masuk rumah bukanlah hal yang
penting. Pemakaian kelambu juga jarag dilakukan orang
Simeulue, mereka beralasan merasa panas jika menggunakan
kelambu saat tidur.

Salah Satu Nikmat Tuhan di Pulau Simeulue

Berbagai keindahan alam yang eksotik bisa kita
dapatkan di Pulau Simeulue, terutama keindahan alam bawah
lautnya. Kegiatan seperti diving dan snorkelling menjadikan

212

Jelajah Nusantara #3

Pulau Simeulue sebuah destinasi populer di kalangan
wisatawan asing, meski kurang populer bagi wisatawan
domestik. Ombak yang deras dan bergemuruh menjadi
sebuah tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin
berselancar.

Bagi yang memiliki hobi memancing, Pulau Simeulue
adalah surga. Pulau Simeulue menyimpan banyak ikan yang
beraneka ragam, dengan ukuran mulai dari yang kecil hingga
besar. “Maka nikmat Tuhan manalagi yang akan kamu
dustakan…”.

Pada kesempatan lain kami dapat menikmati
keindahan Pulau Simeulue Cut yang tidak jauh dari Pulau
Simeulue. Di bawah laut Simeulue Cut kami bisa menelusuri
alam bawah lautnya yang indah, sementara di atas laut, pada
sore hari, kita disuguhi sunset yang tak kalah eksotis.

Gambar 4. Sore hari tepi pantai di Pulau Simeulue Cut
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain Pulau Simeulue Cut, ada lagi Pulau Mincau,
yang juga menjadi salah satu destinasi yang populer di
kalangan turis mancanegara. Kembali lagi hal ini tidak terlepas
dari keindahan alam bawah laut yang sangat indah dan aneka
ragam biota bawah laut yang menakjubkan.

213

Menilik Surga di Pulau Simeulue

Gambar 5. Sore hari tepi pantai di Pulau Mincau ( Kiri)
Dan Pulau Simeulue Cut ( Kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Masih banyak tempat yang tidak sempat terjelajahi.
Suatu saat nanti kami harus datang kembali ke Pulau
Simeulue dengan durasi yang lebih lama untuk dapat
mengeksplorasi keindahan lain dari Pulau Simeulue. Sampai
jumpa kembali Simeulue, InsyaAllah…
Membaca ini, apakah anda hanya akan berdiam diri di
rumah?

214

Menembus Batas Tirai Hitam

Catatan Perjalanan ke Aceh Barat Daya

Siti Rahmawati

Abdya, April 2016

Siapa yang tak kenal dengan Aceh? Sebuah provinsi yang
terletak di bagian paling barat Indonesia. Dengan ikon barunya
yaitu Tugu Kilometer 0 Indonesia yang kerap kali muncul saat adzan
berkumandang di salah satu stasiun televisi swasta. Ikon lain yang
paling terkenal adalah Masjid Baiturrahman yang masih berdiri
megah meski telah tersapu tsunami sebelas tahun silam.

Sebelum saya menginjakkan kaki saya di Aceh, terdengar
kabar bahwa Pulau Mentawai mengalami gempa bumi berkekuatan
8,2 SR. Gempa ini dirasakan juga di beberapa kota di Pulau
Sumatera, dan salah satunya adalah Aceh. Sempat ada rasa
khawatir akan adanya peristiwa yang pernah terjadi sebelas tahun
silam. Karena informasi awal menyebutkan bahwa berpotensi

215

Menembus Batas Tirai Hitam
tsunami. Namun tidak lama kemudian dari pihak BMKG Indonesia
segera meralat informasi tersebut, bahwasanya tidak berpotensi
terjadi tsunami.

Gambar 1. Peta dan Posisi Kabupaten Aceh Barat Daya pada Provinsi Aceh
Sumber: Peta Wikipedia

Aceh memiliki luas 61.237 Km2 dengan pembagian wilayah
menjadi 18 Kabupaten dan 5 kota yang terdiri dari 289 kecamatan
dan 6.552 desa/gampong. Sebelah Utara dan Timur berbatasan
dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera
Utara, dan sebelah Barat dengan Samudera Indonesia. Provinsi
Aceh memiliki kepadatan penduduk belum merata. Ada tiga kota
yang memiliki penduduk terpadat, yaitu Banda Aceh, Lhokseumawe
dan Kota Langsar.

Selasa, 5 April 2016, saya dan dua rekan saya memutuskan
untuk berangkat ke Aceh. Saya mengenakan pakaian yang
dipersyaratkan untuk masuk kota ini. Perjalanan tidak semulus yang
diperkirakan. Saat pesawat menuju Batam, terdapat guncangan

216

Jelajah Nusantara #3

cukup keras, terasa layaknya naik roller coaster di ketinggian lebih
dari 4000 mdpl. Para penumpang sempat kaget, syok, orang yang
duduk di sebelah saya berpegang pada sandaran kepala kursi
penumpang di depannya. Kala itu cuaca memang sedang berawan
dan kurang bersahabat.

Setiba di bandara, mata saya mencoba mengenali seorang
yang saya tunggu sebelum sampai di Aceh, sopir penginapan yang
akan mengantar ke penginapan. Setelah menunggu beberapa
menit, muncul pak sopir dan bergegaslah kami meninggalkan
bandara. Tidak jauh dari bandara, kurang lebih satu kilometer
terdapat Tugu Doa Musafir yang apik menjulang sekitar tiga meter
di persimpangan jalan.

Gambar 2. Tugu Doa
Musafir
Sumber: Erwin Agency

Sepanjang perjalanan saya melihat berbagai aktifitas yang
dilakukan oleh masyarakat dan bangunan-bangunan yang berdiri
kokoh di sisi kiri maupun kanan. Saya menyimpan rasa kagum pada
mereka yang telah bangkit dari peristiwa bersejarah yang terjadi
dalam delapan puluh tahun terakhir (re: tsunami). Seolah ‘lupa
sejenak’ akan peristiwa tersebut. Decak kagum saya bertambah
ketika melihat langsung Masjid Baiturrahman masih berdiri megah
tanpa ada kerusakan, di antara bangunan-bangunan hasil renovasi.
Hanya halaman masjid saja dalam tahap renovasi sekarang.

217

Menembus Batas Tirai Hitam

Gambar 2. Masjid Baiturrahman
Sumber: Agung Dwi Laksono

Rehat sejenak dari aktifitas, saya pergi ke Pantai Lampuuk
sambil menunggu sunset. Letaknya cukup jauh dari pusat kota.
Lama perjalanan yang ditempuh sekitar satu jam, namun keindahan
pantainya cukup membayar lelahnya perjalanan.

Gambar 3. Pantai Lampuuk
Sumber: Dokumentasi Peneliti
218

Jelajah Nusantara #3

Hamparan pasir putih bak tepung roti dengan perpaduan
air laut yang berwarna toska dan biru tua, dengan dikelilingi
perbukitan hijau sungguh sempurna ciptaan-Nya. Namun lagi-lagi
teringat akan ‘tirai hitam’ (tsunami) yang tiba menyapu daratan
Banda Aceh, Meulaboh dan daerah sekitarnya. Terbayang seberapa
tinggi ombak saat itu yang dalam waktu sekejap naik dan menyapu
daratan.

Abdya Si Tanah “Racun”

Perjalanan dari Banda Aceh, saya lanjutkan ke Kabupaten
Aceh Barat Daya atau dikenal dengan nama Abdya. Jalur udara saya
pilih menuju tempat ini. Pesawat berkapasitas 11 penumpang
mengantarkan saya menuju lokasi. Hanya dengan waktu tempuh
satu jam, sudah tiba di Bandara Kuala Batu. Sebelum mendarat,
saya disuguhi pemandangan yang luar biasa. Kompilasi antara hijau
pepohonan (sawit) dengan hamparan pasir putih dan air laut yang
membentang luas seolah berbisik, “Selamat Datang di Abdya”.

Untuk mencapai Abdya, kita dapat menggunakan
perjalanan darat yang memakan waktu 8 jam dari Banda Aceh dan
10 jam menuju Medan. Biasanya jasa transportasi yang digunakan
masyarakat adalah travel. Jika ingin menuju Medan bisa
menggunakan jasa travel atau bus dengan biaya pada kisaran Rp.
120.000,-. Sedang bila menggunakan jalur udara hanya memakan
waktu sekitar 45 menit. Angkutan umum di Abdya hanya dapat
ditemui pada lokasi-lokasi tertentu saja, dan biasa ngetem di mana
saja tapi tidak jauh dari terminal.

219

Menembus Batas Tirai Hitam

Gambar 4. Suasana
pagi hari di Abdya
Sumber:
Dokumentasi Peneliti
Berdasarkan Data Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat (IPKM) yang dilansir Badan Penelitian dan
Pengembangan Kementerian Kesehatan, Abdya menempati urutan
412 dari 497 kabupaten/kota se-Indonesia. Beberapa indikator
yang perlu diperhatikan adalah kesehatan reproduksi (0,364),
perilaku kesehatan (0,277), penyakit menular (0,794), dan
kesehatan lingkungan (0,240). Indikator-indikator ini memang
belum menunjukkan apa penyebabnya? Apakah faktor budaya atau
memang ada faktor lain yang turut berkontribusi?
Informasi tentang beberapa masalah kesehatan kami coba
dapatkan dari Dinas Kesehatan setempat. Kematian neonatus dan
bayi yang tinggi, ritual paska nifas, dan beberapa kasus penyakit

220

Jelajah Nusantara #3

kami dapatkan sebagai informasi awal yang cukup berharga untuk
riset kami kali ini, tentang etnorafi kesehatan.

Kehadiran si ‘malaikat’ (bayi) adalah momen yang paling
ditunggu oleh sepasang suami istri di Abdya. Seiring perjalanan si
‘malaikat’ ke dunia juga tidak selalu lancar. Kenyataan ini
ditemukan pada kematian neonatus dengan jumlah yang cukup
besar, 26 bayi yang dinyatakan lahir mati menyusul kematian bayi
yang lahir hidup sebesar 43 bayi. Berbagai faktor tentunya turut
berpengaruh pada kejadian tersebut yang perlu ditelusuri lebih
lanjut.

Di sisi lain kami mendapatkan informasi mengenai masih
adanya tradisi perlakuan pada ibu nifas yang masih eksis di
masyarakat. Perlakuan ini menggunakan batu yang dipanaskan
dengan api, lalu batu itu ditempelkan pada perut bagian bawah dan
bagian punggung pada ibu nifas. Perlakuan ini bertujuan untuk
mempercepat proses pengeringan darah nifas, dan masih dipake
hingga saat ini.

Informasi lain adalah isu mengenai penyebab suatu
penyakit versi masyarakat (emik), misal penyakit TBC dan kusta.
Menurut masyarakat, penyakit tersebut disebabkan oleh tanah
mereka, karena tanah adalah tanah ‘racun’, akibatnya (menurut
masyarakat setempat) menjadikan mereka mudah sakit. Sehingga
apabila ada orang yang sakit, maka dianggapnya sebagai penyakit
kutukan, juga penyakit keturunan. Informasi tidak berhenti sampai
di sini, isu santet dan penyakit kiriman pun masih dipercayai oleh
masyarakat setempat. Tak jarang dalam proses pengobatannya pun
masih menggunakan orang pintar (dukun).

Kasus lain yang pernah terjadi adalah ketika seorang tenaga
kesehatan melempar spidol yang sebelumnya dipegang oleh
seorang penderita kusta yang dinyatakan sembuh ketika sedang
melakukan penyuluhan di suatu tempat. Sikap salah kaprah yang

221

Menembus Batas Tirai Hitam

ditunjukkan oleh tenaga kesehatan, karena berfikir akan tertular.
Sebuah sikap yang tidak menunjukkan latar belakang
pendidikannya yang seharusnya bisa menjadi contoh bagi
masyarakat awam.

“Mulai dari pemeriksaan kehamilan sampai persalinan si
bumil dilarang menggunakan jasa dokter laki-laki.” Saya sempat
terhentak mendengar kalimat tersebut dikeluarkan oleh staf Dinas
Kesehatan Abdya. Yaa… wacana tersebut sedang hangat-hangatnya
didiskusikan oleh pemerintah daerah, dan rencananya akan
dibuatkan Perda untuk mengesahkan wacana tersebut. Namun
pelaksanaannya belum dapat dipastikan karena masih digodog dan
ibu hamil masih bisa periksa ke dokter manapun.

Masih dalam suasana pagi, kopi khas Aceh mengiringi
potret Abdya versi para staf Kesbangpollinmas Abdya. Berbagai
informasi saya dapatkan dan tentunya tidak terasa kami mulai
akrab dan canda tawa pun tak terelakan. Sebuah rumah sakit
berdiri kokoh tidak jauh dari Kesbangpollinmas yang jaraknya
sekitar satu kilometer. Rumah sakit ini merupakan bantuan dari
Pemerintah Korea Selatan yang dibangun pasca tsunami.

222


Click to View FlipBook Version