The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Tata Ruang Pertanian Kota ini adalah buku kolaborasi Menulis yang membahas tentang Tata Ruang, Potensi Tata guna Lahan dll yang dibahas secara menarik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wisnujatinugrahini, 2021-08-07 02:12:43

Book Tata Ruang Pertanian Kota

Buku Tata Ruang Pertanian Kota ini adalah buku kolaborasi Menulis yang membahas tentang Tata Ruang, Potensi Tata guna Lahan dll yang dibahas secara menarik

Keywords: Tata ruang,pertanian,kesejahteraan

134 Tata Ruang Pertanian Kota

Tahapan dalam menyediakan data informasi terkait driving dan constraint factor
ini sangat membutuhkan SIG, selain itu juga untuk melakukan pengolahan
datanya sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan prediksi.

Berikut merupakan beberapa penelitian yang telah memanfaatkan SIG dan
Cellular Automata untuk melakukan prediksi perubahan lahan pertanian sebagai
upaya mengontrol konversi lahan:

Tabel 8.6: Penelitian-Penelitian terkait Prediksi Lahan Pertanian

No. Peneliti, Tujuan Variabel Hasil Penelitian
Tahun dan Penelitian
Judul

1. Dyan Syafitri Permodelan Driving factor: Pertumbuhan

and Susetyo, spasial Jalan utama lahan terbangun
dari 2007 hingga
2019, perubahan

Permodelan lahan berbasis Permukiman 2017 paling

Pertumbuhan prediksi, Jalan signifikan
Lahan dengan tujuan lingkungan mengonversi lahan
Terbangun untuk pertanian
sebagai meminimalisir Industri
Upaya intervensi Hasil prediksi
Prediksi dampak Jalan tol lahan terbangun
Perubahan pertumbuhan pada tahun 2038
Lahan lahan terhadap Jaringan listrik terjadi perubahan
Pertanian di lahan lahan pertanian
Kabupaten pertanian Perdagangan seluas 2.369,69
Karanganyar jasa Ha, hal tersebut
dikarenakan
Pariwisata pertumbuhan lahan
terbangun
Fasilitas
umum

Constraint mengarah ke
factor Kawasan
perkotaan
Sempadan

mata air dan

waduk

Sungai

Bab 8 Sistem Informasi Geografis dalam Perencanaan Pertanian Kota 135

Hutan lindung,
produksi,
Kawasan
suaka
alam/Kawasan
pelestarian
alam

Jalan tol

Jalan arteri

Jalan kereta
api

Jaringan listrik

Kawasan
rawan bencana

2. Gharbia et Mengukur Driving factor: Terjadi perluasan

al., 2016, ekspansi Jarak ke jalan lahan terbangun
Land use perkotaan utama perkotaan yaitu
scenarios and masa depan di 1,59% pada tahun

projections Wilayah Jarak ke jalan 2012 menjadi

simulation Sungai kecil 2,92% pada tahun

using an Shannon Jarak ke kota 2080, yang di
integrated Basin dan mana sebesar
GIS cellular menyelidiki Kepadatan 244,05 km2 lahan
automata efek dinamika penduduk akan dikonversi

algorithms spasial Jarak ke menjadi lahan
temporal dari wilayah terbangun
faktor-faktor perkotaan perkotaan
pertumbuhan eksisting
perkotaan Lahan terbangun
untuk Constraint perkotaan secara
memberikan factor keseluruhan dari
wawasan 2012 hingga 2080
tentang Kelerengan menjadi
bagaimana 83,37%. Mayoritas
faktor Kawasan lahan terbangun
lindung, akan berasal dari

136 Tata Ruang Pertanian Kota

pendorong konservasi dan konversi dari lahan
berkontribusi cagar budaya pertanian ke lahan
terhadap terbangun dan juga
pertumbuhan sebagian kecil
perkotaan akan berasal dari
konversi lahan
basah dan hutan

3. Gomes et al., Membangun Driving factor: Penelitian ini

2020, Future dan menilai Jarak ke menghasilkan di
land use skenario sumber daya mana, kapan,
changes in a perubahan buatan mengapa, dan
peri-urban lahan di masa konversi lahan

context: depan dengan Jarak ke jalan seperti apa yang

Local melibatkan raya mungkin terjadi di

stakeholder pemangku Lahan tidak masa depan
views kepentingan terbangun
(dari dengan
perencanaan Constraint
penggunaan factor memperhatikan

sudut pandang

pemangku

lahan, Jarak ke jalan kepentingan. Hasil
pertanian, dan pertanian ini dapat
sektor hutan) memungkinkan
Kelerengan para pembuat

keputusan untuk

melakukan

penggunaan lahan

dengan lebih baik,

merencanakan

dengan lebih

efisien dan

mengembangkan

langkah-langkah

untuk mencegah

masa depan yang

tidak diinginkan,

terutama dalam

fenomena krusial

seperti ketahanan

Bab 8 Sistem Informasi Geografis dalam Perencanaan Pertanian Kota 137

pangan yang sulit,
perubahan iklim,
dan/atau pertanian
di bawah tekanan
pertumbuhan
perkotaan.

Penelitian-penelitian di atas mengindikasikan bahwa dengan adanya prediksi
lahan perkotaan, pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah dapat
memiliki gambaran tentang bagaimana bentuk perkotaan di masa depan,
konversi lahan sebesar apa yang akan terjadi, kemudian dengan hal ini
pemerintah akan mudah untuk menentukan langkah perencanaan dan
mengantisipasi berbagai hal yang akan terjadi di masa depan. Prediksi konversi
lahan pertanian kota yang akan terjadi di masa depan, dapat pula digunakan
pemerintah untuk membandingkan ketersediaan lahan pertanian di masa depan
dengan hasil proyeksi kebutuhan pangan (konversikan ke lahan pertanian)
masyarakat perkotaan di masa depan pula. Sehingga akan dihasilkan seberapa
besar gap antara kebutuhan lahan pertanian di masa depan dengan ketersediaan
lahan pertanian berdasarkan hasil prediksi. Pemerintah tetap dapat
merencanakan polar uang kota nya sesuai hasil prediksi dengan adanya gap
tersebut, namun juga dapat membuat sebuah simulasi prediksi lain untuk
memperkecil gap yang akan terjadi.

138 Tata Ruang Pertanian Kota

Bab 9

Praktik Kepemimpinan

9.1 Pendahuluan

Kepemimpinan pendidikan adalah praktik memengaruhi orang lain untuk
mencapai sejumlah tujuan dalam sebuah konteks pendidikan yang dapat
dipandang sebagai sebuah sistem, memiliki sebuah misi/alasan, membutuhkan
input/sumber daya, memiliki proses, mencapai berbagai hasil serta menempati
sebuah lingkungan/konteks tertentu (Connolly et al., 2019). Pendidikan sebagai
sebuah sistem mengisyaratkan kerjasama antarlembaga, yaitu pemerintah
sebagai regulator, sekolah sebagai lembaga pendidikan, masyarakat sebagai
pengguna layanan pendidikan, serta organisasi profesi guru. Oleh karena itu,
kepemimpinan pendidikan punya lingkup jejaring kerja sama yang relatif luas
sehingga membutuhkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang
memadai.
Kepemimpinan pendidikan memiliki misi besar, yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa. Misi tersebut sejatinya merupakan mandat budaya. Mandat budaya
tersebut bahkan merupakan menjadi tujuan bernegara yang diatur dalam
pembukaan konstitusi tertulis—UUD 1945. Pendidikan merupakan bagian
integral dari kebudayaan. Kemajuan atau transformasi kebudayaan hanya dapat
dicapai melalui proses pendidikan yang terstruktur, sistematis dan masif.

140 Tata Ruang Pertanian Kota

Praktik kepemimpinan pendidikan yang akan dibahas pada bab ini adalah
praktik kepemimpinan di tingkat mikro atau tingkat satuan pendidikan. Kajian
praktik kepemimpinan pendidikan akan menguraikan dua praktik model
kepemimpinan, yaitu kepemimpinan transformasional, kepemimpinan pelayan
(servant leadership). Dua praktik kepemimpinan ini menurut penulis tergolong
memiliki cakupan yang relatif luas dibandingkan model kepemimpinan lainnya.
Beberapa kasus atau kejadian yang dinilai relatif penting yang terjadi di sekolah
tertentu akan diuraikan untuk memperjelas tindakan dan kebijakan yang
dieksekusi oleh seorang kepala sekolah. Nama sekolah tentu tidak akan
dituliskan demi tujuan pertimbangan etis dan sebuah misi menjaga keluhuran
institusi pendidikan.

9.2 Praktik Kepemimpinan Transformatif

Kepemimpinan pendidikan transformasional menurut Leithwood terdiri dari
delapan hal pokok. Pertama, membangun visi sekolah. Kedua, menetapkan
sejumlah tujuan sekolah. Ketiga, menyediakan stimulasi intelektual. Keempat,
menawarkan dukungan individual. Kelima, mencontohkan berbagai praktik
terbaik dan nilai-nilai organisasional penting. Keenam, mendemonstrasikan
ekpektasi kinerja terbaik. Ketujuh, menciptakan sebuah budaya sekolah yang
produktif. Kedelapan, mengembangkan struktur yang mendorong partisipasi
dalam keputusan sekolah (Bush & Sargsyan, 2020).

Membangun visi sekolah merupakan langkah awal yang strategis dalam rangka
menegakkan nilai demokrasi dan kesetaraan. Idealnya seluruh komponen atau
insan pendidikan di lingkungan sekolah harus dilibatkan. Pekerjaan ini
seharusnya tidak dimonopoli oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
pengurus yayasan pendidikan beserta jajaran struktural sekolah dan yayasan
pendidikan. Para guru dan para siswa yang diwakili oleh pengurus OSIS
(Organisasi Siswa Intra Sekolah) perlu dilibatkan. Walaupun visi-misi sekolah
telah dirumuskan puluhan tahun lalu ketika pendirian sekolah, visi-misi ini perlu
senantiasa disosialisasi dan dimaknai dalam konteks dinamika perubahan sosial.

Tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang sekolah
seharusnya perlu dirumuskan bersama baik oleh para pejabat struktural tingkat
sekolah/yayasan pendidikan maupun para guru. Jika tujuan ini dirumuskan
dalam kerangka keadilan dan emansipasi, rasa memiliki atau sense of belonging
akan tumbuh dalam diri setiap pelaku pendidikan di sekolah/yayasan

Bab 9 Praktik Kepemimpinan 141

pendidikan. Perumusan tujuan sekolah tersebut memang akan membutuhkan
waktu relatif panjang. Namun, tiap konsepsi ideal yang dimiliki bersama akan
dikerjakan secara optimal oleh para perumusnya/para pelaku pendidikan jika
mereka terlibat aktif dalam perumusan tujuan sekolah ataupun dalam dialog
mengenai aktualisasi tujuan sekolah tersebut.

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang ketiga adalah
menyediakan stimulasi intelektual. Stimulasi intelektual penting agar organisasi
dapat terus tumbuh. Organisasi sekolah tidak akan tumbuh jika para guru tidak
merespon positif setiap stimulasi intelektual yang diberikan kepala sekolah
selaku pemimpin organisasi. Kepemimpinan transformatif yang menyediakan
stimulasi intelektual selaras dengan nilai kunci, yaitu pembebasan dan keadilan.
Kepemimpinan transformatif itu memiliki nilai-nilai kunci pembebasan,
emansipasi, demokrasi, kesetaraan, dan keadilan (Grant & Grigsby, 2017).
Menyediakan stimulasi intelektual sesungguhnya memberi ruang bagi para guru
dan pelaku pendidikan untuk bebas belajar dan berekspresi.

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang keempat adalah
menawarkan dukungan individual. Dukungan individual itu merupakan strategi
yang ampuh untuk meningkatkan komitmen para guru dan pelaku pendidikan.
Dukungan institusi memang merupakan modal dasar atau prasyarat dalam
menjamin jalannya organisasi sekolah yang sehat. Namun, dukungan individual
yang dirasakan oleh para guru sebagai garda terdepan dalam menciptakan
layanan pendidikan bermutu akan menjadi sumber energi besar. Tujuan jangka
panjang sekolah yang didukung sumber energi besar akan mampu bertahan
dalam jangka waktu panjang.

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang kelima adalah
mencontohkan berbagai praktik terbaik dan nilai-nilai organisasional penting.
Kepala sekolah selaku pemimpin transformatif harus menjadi model terbaik
bagi para guru yang dipimpinnya. Oleh karena itu, gagasan mengenai tugas
kepala sekolah sebagai tugas tambahan yang dilekatkan kepada seorang guru
perlu dipelihara. Peraturan terbaru melalui sebuah Permendikbud yang
dikeluarkan pada tahun 2017 yang tidak mewajibkan kepada sekolah untuk
mengajar justru akan memperlemah dimensi kepemimpinan transformatif
kepala sekolah sebagai role model. Dalam praktik lancung yang umum terjadi
dijumpai di banyak sekolah, yaitu kepala sekolah lebih banyak mengerjakan
tugas manajerial dan supervisor.

142 Tata Ruang Pertanian Kota

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang keenam adalah
mendemonstrasikan ekspektasi kinerja terbaik. Kajian praktik kepemimpinan di
negara Finlandia mengemukakan bahwa guru akan lebih mendengarkan kepala
sekolah yang sukarela melaksanakan tugas mengajar di kelas secara rutin sama
seperti para guru yang dipimpinnya. Tidak dapat dipungkiri guru umumnya
tergolong merupakan profesi yang memiliki beban kerja dan tuntutan hidup
yang besar, tetapi masih belum mendapatkan kesejahteraan yang layak atau
underpaid. Kepala sekolah di sekolah negeri yang memimpin guru honorer dan
kepala sekolah di sejumlah sekolah swasta kecil di berbagai pelosok daerah di
Indonesia tentu sangat memahami beban kerja dan beban kehidupan yang
ditanggung para guru tersebut. Ekspektasi kinerja terbaik tersebut dalam kondisi
khusus tertentu perlu dikompromikan untuk mencari solusi terbaik. Kompromi
tersebut tetap menjunjung tinggi etika profesi guru.

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang ketujuh adalah
menciptakan sebuah budaya sekolah yang produktif. Budaya sekolah yang
produktif ditandai dengan adanya pembiasaan sikap kritis dan reflektif para guru
dalam memahami pedagogi dalam konteks perubahan sosial. Ilmu pedagogi itu
bersifat lintas keilmuan dan sangat dinamis. Pembenahan praktik pendidikan di
SD (Sekolah Dasar) dan sekolah menengah perlu terus diupayakan oleh kepala
sekolah selaku pemimpin sekolah. Pemaksaan dini aneka jenis hafalan dan
kemampuan literasi-numerik pada jenjang SD perlu dihindari atau
diminimalisir. Kemudian, penjurusan/spesialisasi terlalu dini di jenjang SMA
(Sekolah Mengenah Atas) perlu diantipiasi dengan bijak (Latif, 2020).
Kebijakan penjurusan di tingkat SMA tersebut memang sesuatu yang sudah
given, tetapi sekolah sebagai satuan pendidikan diberikan ruang untuk
mengaktualisasikannya dalam lingkup terbatas.

Kepemimpinan transformatif dalam dimensinya yang kedelapan adalah
mengembangkan struktur yang mendorong partisipasi dalam keputusan
sekolah. Kepemimpinan transformatif dapat memajukan komunitas yang
berorientasi kepada perubahan (Gal-Arieli et al., 2020). Komunitas yang
berorientasi kepada perubahan memiliki sebuah prasyarat mutlak, yaitu
terjaminnya struktur yang mendorong partisipasi dalam keputusan sekolah.
Sekolah akan responsif terhadap setiap perubahan bila kepala sekolah sebagai
pemimpin memberdayakan setiap warga sekolah untuk berpartisipasi aktif
dalam setiap keputusan sekolah. Baik guru maupun siswa sebagai warga
sekolah punya porsinya masing-masing terkait tugas dan wewenangnya.

Bab 9 Praktik Kepemimpinan 143

9.3 Praktik Kepemimpinan Pelayan

Kepemimpinan pelayan dapat didefinisikan dalam berbagai cara, tetapi Larry
Spears yang telah mempelajari tulisan-tulisan Greenleaf pada tahun 1995
akhirnya menyimpulkan sepuluh atribut dalam kepemimpinan pelayan. Lima
atribut pertama meliputi: mendengarkan, empati, penyembuhan, kesadaran,
persuasi. Lima atribut kedua berikutnya meliputi: konseptualisasi, orientasi
kepada masa depan, penatalayanan, komitmen terhadap pertumbuhan orang,
membangun komunitas (Powles IV, 2016). Sepuluh atribut kepemimpinan
pelayan ini sangat fokus kepada manusia. Kepemimpinan transformatif yang
dibahas sebelumnya lebih fokus membangun iklim sekolah sebagai institusi.
Oleh karena itu, kepemimpinan pelayan dapat disimpulkan sebagai model
kepemimpinan yang berupaya memanusiakan para pelaku pendidikan.

Atribut kepemimpinan pelayan yang pertama adalah mendengarkan. Pemimpin
pelayan itu selalu mendengar setiap pandangan, usulan, dan bahkan kritik pedas
sekalipun. Setiap suara tersebut sama pentingnya. Sekolah swasta yang sangat
berorientasi kepada “kepuasan konsumen” dalam praktik lancungnya selalu
cenderung lebih mendengarkan orang tua serta siswa selaku konsumennya.
Tipologi sekolah swasta memang sangat beragam dibandingkan sekolah negeri.
Namun, sekolah swasta yang belum punya rekam jejak tradisi dan prestasi yang
panjang cenderung untuk bersikap pragmatis dengan berperilaku demikian.
Posisi tawar guru terutama pada sekolah swasta yang bertipe demikian tersebut
tergolong relatif lemah.

Atribut kepemimpinan pelayan yang kedua adalah empati. Atribut empati ini
sangat berkaitan erat dengan atribut mendengarkan. Powers dan rekannya
Moore mengatakan bahwa ketika seorang pemimpin sangat mahir dalam seni
mendengarkan, maka ia akan belajar mengembangkan perasaan empati
terhadap orang-orang yang dipimpinnya (2004). Spears (2010) mengutarakan
bahwa seorang pemimpin harus belajar melihat kemanusiaan dalam diri setiap
orang, termasuk dalam diri individu yang paling tidak diinginkan sekalipun.
Seorang pemimpin pelayan harus menyediakan waktu khusus untuk
berkomunikasi dengan orang yang dipimpinnya secara personal. Jack Welch
sebagai pemimpin perusahaan besar GE (General Electric) yang sangat sibuk
selalu menyediakan waktu bercakap-cakap dan turun ke lapangan. Empati yang
dilakukannya secara konsisten merupakan satu kunci sukses yang mendukung
tranformasi GE. Ketika Welch mengambil alih GE pada 1980, GE bernilai 40
milyar dolar. Dalam dua puluh tahun kemudian dijumpai valuasi GE menjadi

144 Tata Ruang Pertanian Kota

490 milyar dolar (Dweck, 2017). Oleh karena itu, hal ini pun berlaku bagi para
pemimpin pendidikan.

Atribut kepemimpinan pelayan yang ketiga adalah penyembuhan. Seorang
pemimpin pelayan bersedia ambil risiko menjadi bagian untuk membantu
proses pemulihan institusi pada situasi tersulit. Pemimpin pelayan tersebut
dalam kapasitas wewenang dan kapabilitasnya turut berkontribusi menjadi
solusi bagi tiap persoalan kehidupan orang-orang yang dipimpinnya Persoalan
kehidupan tersebut tidak terbatas masalah dalam tugas rutin di sekolah, tapi juga
semua aspek kehidupan (politik, ekonomi, sosial-budaya) yang langsung atau
tidak langsung memengaruhi kinerja orang-orang yang dipimpinnya. Persoalan
yang menyangkut semua aspek kehidupan yang dimaksud juga sangat terkait
dengan reputasi atau nama baik sekolah di hadapan masyarakat. Karya utama
Greenleaf yang dipublikasi pada tahun 1977 menunjukkan bahwa pemimpin
pelayan memiliki karakteristik berupaya demonstrasi kepedulian dan
akuntabilitas untuk orang lain dan berbagai tugas pekerjaan (Prince, 2020).
Berikut ini sebuah kasus yang terjadi di sebuah sekolah swasta yang menjadi
contoh tentang upaya “penyembuhan” yang dilakukan seorang kepala sekolah
disajikan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 9.1: Kasus Pertama Terkait Aspek Penyembuhan dalam Praktik
Kepemimpinan Pelayan

Kategori Rincian Kasus Masalah Solusi Kepala Sekolah
Konflik dan Hasil

Orangtua Guru Orang tua Solusi:
dan guru siswa
melakukan menuntut agar - Menjelaskan kronologi
yayasan yang
tindak membawahi masalah tersebut secara
sekolah proporsional/berimbang
kekerasan tersebut
menindak dalam internal sekolah
kepada seorang guru yang
bersangkutan - Membangun argumentasi
siswa sekolah dan berencana
membawa yang objektif (melokalisir
swasta lain.
masalah)
Siswa tersebut
- Mengupayakan dan
memfitnah dan
mendukung mediasi
memburukkan
antara guru dan orang tua
nama sekolah
siswa tersebut melalui
guru tersebut.
struktur yayasan
Guru dan
pendidikan

Bab 9 Praktik Kepemimpinan 145

sejumlah kasus tersebut Hasil:
rekannya ke kepolisian.
menyaksikan - Kedua belah pihak
tindakan yang menerima hasil mediasi.
tidak terpuji
siswa tersebut
secara langsung.

Atribut kepemimpinan pelayan yang keempat adalah kesadaran. Seorang
pemimpin pelayan harus memiliki kesadaran diri terutama ketika menghadapi
dilema moral. Setiap kenakalan siswa yang harus dibina dalam konteks
pendidikan. Sanksi yang diberikan harus terukur dan tidak bias baik kepentingan
institusional yang tidak realistis maupun kepentingan personal yang mencari
keuntungan (material atau non-material). Sebuah kasus penyimpangan berupa
kenakalan remaja yang berpotensi menjadi tindak pidana dan kasus hukum
perdata (delik aduan) perlu disikapi dengan bijaksana. Tindakan yang dilakukan
oleh sekolah terhadap kasus yang berpotensi melanggar hukum harus
mengedepankan keadilan restoratif (restorative justice) dan menegakkan
martabat serta reputasi sekolah. Keadilan restoratif tidak hanya sekedar
menjatuhkan hukuman atau sanksi. Mekanisme penyelesaian masalah atau
konflik seharusnya dapat memulihkan hubungan atau kondisi yang telah rusak
sebelumnya oleh sutau pelanggaran tertentu. Namun, sekolah seharusnya
memiliki tata tertib tertulis untuk segala tindakan tindak terpuji. Kejahatan
narkotika dan tindakan asusila harus diberi sanksi paling tegas.

Atribut kepemimpinan pelayan yang kelima adalah persuasi. Greenleaf pada
tahun 1991 menyampaikan bahwa pemimpin pelayan yang umumnya terlihat
menggunakan persuasi daripada otoritasnya memiliki keunggulan transformatif.
Persuasi memang bagi sebagian orang terkesan lemah. Otoritas jauh lebih
mengikat karena berlindung di dalam struktur yang subordinatif. Persuasi ini
berupaya memanusiakan para pekerja/pegawai. Kepala sekolah selaku
pemimpin harus terampil berkomunikasi agar dapat melakukan persuasi secara
efektif. Namun, kepemimpinan pelayan perlu mengakui pentingnya menjadi
otentik dan benar dalam interaksi dengan orang lain (Eva et al., 2019).

Atribut kepemimpinan pelayan yang keenam adalah konseptualisasi. Seorang
pemimpin pelayan mampu berpikir dalam perspektif jangka panjang. Menurut
Greenleaf pada tahun 2002 menyatakan bahwa pemimpin pelayan yang efektif
dalam konseptualisasi berada pada akar individu praktis. Greenleaf

146 Tata Ruang Pertanian Kota

menyarankan agar pemimpin berhasil dalam konseptualisasi, pemimpin juga
harus berhasil membujuk dan membangun hubungan dengan orang lain.

Atribut kepemimpinan pelayan yang ketujuh adalah berorientasi kepada masa
depan. Berorientasi kepada masa depan menurut Greenleaf (2002) adalah
kemampuan untuk memahami saat ini dan membandingkan dengan
pengalaman masa lalu. Pemimpin pelayan diharapkan mampu memprediksi
hasil selanjutnya pada masa depan.

Atribut kepemimpinan pelayan yang kedelapan adalah penatalayanan.
Pemimpin pelayan menurut Spears (2010) sejatinya merupakan seorang yang
mendedikasikan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Menurut Keith (2008),
penatalayanan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk menekankan kerja
sama dan bukan penggunaan otoritas. Keith menambahkan bahwa
penatalayanan melibatkan sikap untuk memercayakan orang lain.

Atribut kepemimpinan pelayan yang kesembilan adalah komitmen terhadap
pertumbuhan orang. Pemimpin pelayan menurut Spears (2010) memerlukan
kemampuan untuk melihat melampaui nilai intrinsik dari kontribusi individu
sebagai karyawan dan melihat potensi individu dan pertumbuhan karier yang
mereka tawarkan. Berikut ini merupakan contoh kasus yang menjelaskan
komitmen seorang kepala sekolah terhadap pertumbuhan seseorang:

Tabel 9.2: Kasus Kedua Terkait Komitmen terhadap Pertumbuhan Orang

Kategori Kelemahan/Kekuranga Posisi/Hal yang Hasil
Guru n Ditawarkan

Guru 2 orang kurang tertib - Wali kelas - 7 orang
muda administrasi pendidikan - Membuka promosi
(berjumla guru tetap
h 8 orang) dialog dengan yayasan
guru muda
- Memberdayaka - 2 orang
n guru muda menjadi
untuk berbagai asisten
tugas wakil
kepanitiaan kurikulu
tingkat m
sekolah/yayasan

Bab 9 Praktik Kepemimpinan 147

Pemimpin pelayan memberikan peta jalan yang nyaman bagi para guru muda
karena ia meyakini perannya untuk “membantu pengikut tumbuh dan sukses”
(Gašková, 2020).

Atribut kepemimpinan pelayan yang kesepuluh adalah membangun komunitas.
Seorang pemimpin pelayan itu membangun komunitas dengan cara
memberdayakan dan mengasuh tiap individu yang ia layani. Pemimpin
bertanggung jawab untuk merekrut dan mempertahankan guru yang efektif.
Selain itu, pemimpin yang membangun komunitas senantiasa berupaya
menciptakan lingkungan yang membuat setiap orang berkomitmen untuk
kesuksesan dan kesejahteraan semua siswa (Gordon, 2018).

Akhirnya, seorang kepala sekolah ataupun pemimpin pendidikan harus fleksibel
atau bersikap dan berperilaku luwes. Kedua praktik kepemimpinan baik
transformatif maupun kepemimpinan pelayan dapat diterapkan dalam situasi
tertentu dan konteks yang tepat. Tentunya masih banyak praktik kepemimpinan
yang didasarkan pada model kepemimpinan lainnya. Dalam konteks Indonesia
memiliki latar sosial-budaya yang beragam diperlukan sebuah kepekaan baru
menyikapi perbedaan. Seorang pemimpin harus hospitable yang mencintai
orang asing yang berbeda dengannya. Latar identitas agama, suku, ras, dan
golongan politik tertentu sering memengaruhi sikap dan perilaku para pemimpin
pendidikan. Bias identitas atau ikatan primordial tersebut memang sadar atau
tidak disadarinya memengaruhi dalam interaksi dan berbagai keputusan dalam
konteks lingkungan pendidikan.

Praktik kepemimpinan pendidikan sangat mendesak untuk didiskusikan dalam
forum ilmiah yang memadai dan seminar atau pelatihan tingkat sekolah. Praktik
kepemimpinan bukan hanya domain para pemimpin struktural tingkat sekolah
ataupun yayasan pendidikan. Segenap warga sekolah sejatinya diharapkan
memahami kepemimpinan pendidikan dalam kapasitas dan kapabilitas mereka.
Tujuannya agar praktik hospitalitas—mencintai dan memberi ruang seluas-
luasnya kepada “orang asing” yang dianggap berbeda, dapat menghindarkan
generasi Indonesia dari praktik hostilitas/kehidupan yang tidak bersahabat.

148 Tata Ruang Pertanian Kota

Bab 10

Sistem Pertanian Terintegrasi
(Integrated Farming System)

10.1 Pendahuluan

Sistem pertanian terintegrasi menjadi tantangan baru di Indonesia. Indonesia
sebagai negara agraris, di mana sektor pertanian masih menjadi andalan
perekonomian di Indonesia, merupakan salah satu sektor unggulan dalam
pembangunan nasional (Isbah and Iyan, 2016), namun kenyataannya,
kepemilikan lahan rata-rata petani di Indonesia semakin menyempit. Jumlah
keluarga memiliki lahan kurang dari 0.5 ha meningkat jumlahnya akibat
fragmentasi lahan. Menurut BPS (2014) pada sensus pertanian 2013, rata-rata
kepemilikan lahan per rumah tangga petani antara 0.3-0.4 ha (Suwarto, Aryanto
and Effendi, 2015) , salah satu contoh pertanian di wilayah Bali Indonesia
didominasi oleh sejumlah besar petani kecil, tersebar dan kepemilikan lahan
terfragmentasi. Luas lahan garapan petani rata-rata 0,34 ha (Budiasa, 2011).
Permasalahan pada pertanian di Indonesia adalah maraknya penggunaan bahan
kimia disinyalir telah menimbulkan kerusakan lingkungan, baik terhadap tanah,
satwa, maupun fauna. Ketergantungan petani pada pupuk kimia, terdapat
anggapan bahwa tanaman tidak mampu berproduksi bila tidak diberi pupuk
kimia, terutama pada saat dilaksanakannya revolusi hijau di Indonesia.

150 Tata Ruang Pertanian Kota

Pelaksanaan revolusi hijau di Indonesia, memberikan dampak positif tetapi juga
dampak negatif yakni: meningkatnya penggunaan pupuk kimia, pestisida kimia,
kerusakan lingkungan dan terganggunya kesehatan manusia.(Ekowati, 2012),
kelestarian sumber daya (lahan dan lingkungan), kearifan dan sumber daya lokal
kurang mendapat perhatian (Las, 2008), kekhawatiran terjadinya kemunduran
mutu lingkungan, kelestarian keragaman hayati dan keberlanjutan sistem
produk(Litbang, 2007)

Di negara seperti Chezchnya telah diteliti dampak negatif dari penerapan pupuk
dan pestisida di bidang pertanian sejak pertengahan abad ke-20, atau mulai
tahun 1900-an, hasilnya menunjukkan ketika penggunaan pupuk dan pestisida
meningkat pesat, akan menyebabkan penurunan jumlah spesies yang yang ada
yakni jenis tumbuhan herbal dan spesies burung (Štefanová and Šálek, 2014)
Dari uraian sebelumnya, maka perlu untuk dipahami system pertanian
terintegrasi, hal ini karena pertanian adalah aktivitas manusia yang
memanfaatkan ekosistem, dan aktivitas ini akan berpengaruh pada ekosistem
global. Hal ini menjadi tantangan bagi sistem agroekologi, maka perlu
mendorong kegiatan dari dan untuk pertanian. Pertanian tidak hanya membahas
tentang tanah, tetapi juga potensi biotik keseluruhan untuk pertanian
multiservice. Pertanian yang dapat memberikan berbagai keuntungan apabila
dikelola dengan benar. Pelaksanaan pertanian organik mampu meningkatkan
kesehatan tanaman, terlindungi dari terkait penyakit tetapi hasil produksi
menurun secara signifikan. Maka diperlukan kegiatan konservasi untuk
mengatasi anomaly produktivitas dan kinerja lingkungan (Chabert and Sarthou,
2020).

10.2 Sistem Pertanian Terintegrasi

Sektor pertanian menawarkan potensi sebagai solusi menjaga dampak
perubahan iklim. Sistem pertanian terintegrasi mempunyai beragam nama,
untuk mencegah perubahan perubahan iklim dapat diadaptasi dengan penerapan
sistem pertanian terpadu biocyclofarming (BCF). Biocyclofarming (BCF)
adalah sistem yang memadukan tanaman dan ternak, Tanaman dan ternak
bersinergi sehingga terjadi siklus biologis (Munandar et al., 2014) begitu juga
terdapat sistem pertanian terpadu hedgerow mampu meningkatkan pendapatan
petani lahan kering di Kabupaten Gowa. Sistem ini menanam tanaman pagar
dalam upaya peningkatan produktivitas dan peningkatan pendapatan ekonomi

Bab 10 Sistem Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) 151

lahan kering yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan (Risal, 2018), ada juga
yang menggunakan istilah manajemen pertanian terpadu atau Integrated Farm
Management (IFM) adalah pendekatan bisnis pertanian secara keseluruhan
yang menghasilkan pertanian berkelanjutan. IFM menggunakan teknologi
modern dan metode tradisional terbaik untuk mewujudkan pertanian yang
sejahtera yang memperkaya lingkungan dan melibatkan komunitas lokal.

Konsep dari sistem pertanian terintegrasi diartikan sebagai sistem pertanian
yang memadukan kegiatan sub sektor pertanian, dengan ikan, tanaman, ternak,
yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya
baik lahan, factor manusia, dan faktor lainnya, adapun tujuannya meningkatkan
kemandirian dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Dapat juga diartikan
sebagai sistem pengelolaan tanaman, ikan, hewan ternak dengan lingkungannya
untuk menghasilkan produk yang optimal. Sistem ini mempunyai ciri cenderung
tertutup terhadap masukan luar (Arimbawa, 2016), lebih mengedepankan
ekonomi berbasis teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi semua sumber
energi yang dihasilkan (Hastuty, 2013) sistem pertanian terpadu berbasis bahan
organik dikembangkan dengan berbasis potensi lokal. Tujuan penerapan sistem
untuk menekan seminimal mungkin input dari luar (input/masukan rendah)
sehingga dampak negatif, dapat diminimalisir dan dapat berkelanjutan
(Nurcholis et al., 2011)

Gambar 10.1: Model Umum SPT , M. Nurcholis1 dan G. Supangkat2

Model umum Sistem Pertanian Terpadu pada Preston tahun 2000, dapat
dijelaskan sebagai berikut: Penerapan Sistem Pertanian terpadu dengan cara
menentukan kombinasi tanaman, hewan dan input yang mengarah pada

152 Tata Ruang Pertanian Kota

produktivitas yang tinggi, Pertanian yang dipilih bisa dari jenis padi padian,
ketela pohon, pohon jenis palem atau jenis tebu. Penanaman jenis tumbuhan
tersebut dapat dikombinasikan dengan memelihara bebek, babi, lembu, kerbau
dengan harapan limbah dari ternak dapat menjadi pupuk tanaman. Hasil
pertanian yang dimanfaatkan oleh keluarga menjadi limbah yang kemudian
dapat diolah menjadi energi. Pengolahan limbah rumah tangga dan dari pasar
dengan biodigester memberikan keuntungan yang besar. Selain dapat
menyelesaikan masalah persampahan, sampah yang diolah akan dikonversi
menjadi energi terbarukan yaitu biogas dan digestate yang dihasilkan akan
menjadi pupuk organik. Pengolahan dengan biodigester akan mengurangi
volume sampah yang ditimbun di tempat pemrosesan akhir dan juga berperan
dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (Wibisono, 2019)

Tujuan dari sistem Pertanian Terintegrasi akan menciptakan keamanan produksi
serta konservasi sumberdaya yang sesuai dengan keterbatasan lahan, tenaga
kerja dan modal. Agroekosistem dengan keanekaragam tinggi, akan memberi
jaminan keberhasilan usaha tani yang lebih tinggi. Pengertian agroekosistem
adalah istilah yang digunakan untuk pertanian yang bersifat hubungan timbal
balik antara sekelompok manusia dan lingkungan lingkungan hidupnya guna
menjaga kelangsungan hidup kelompok manusia tersebut. (Damayanti, 2013)

Pada sistem pertanian terpadu bisa dikombinasikan spesies tanaman dan hewan
yang memiliki sifat saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi
sinergetik dan positif, keanekaragaman fungsional, mampu menstabilkan juga
meningkatkan produktivitas sistem pertanian dengan input yang lebih rendah.
Kelebihan sistem adalah input dari luar lingkungan menjadi minim atau bahkan
tidak diperlukan karena adanya daur limbah di antara organisme penyusunnya,
biodiversitas meningkat apalagi dengan penggunaan sumberdaya lokal,
peningkatan fiksasi nitrogen, resistensi tanaman terhadap jasad pengganggu
lebih tinggi dan hasil samping bahan bakar biogas untuk rumah tangga.
(Suryantini and Novra, 2015)

Bab 10 Sistem Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) 153

10.3 Praktek Sistem Pertanian
Terintegrasi di Seluruh Dunia

Negara lain di seluruh dunia juga melaksanakan pertanian berkelanjutan, hal ini
karena tuntutan Sustainable Development Goals (SDGs), tujuan Pembangunan
Milenium/SDG’s menekankan pada 5P yaitu: People (manusia), Planet (bumi),
Peace (perdamaian), Prosperity (kesejahteraan), dan Partnerships (kemiteraan).
Tujuan akhir dari SDGS akan di capai pada tahun 2030, yakni mencapai tiga
tujuan mulia berupa: mengakhiri kemiskinan, mencapaikesetaraan, dan
mengatasi perubahan iklim (Sofianto, 2019) Perubahan iklim salah satunya
karena akibat praktek penggunaan input pada pertanian.Terdapat beberapa
praktek pertanian yang lebih mampu menjaga lingkungan yakni:

Penerapan pertanian terintegrasi di India dilaksanakan negara bagian Andhra
Pradesh, di India padi adalah tanaman serealia penting, lebih dari 70% orang
India adalah petani memiliki lahan kurang dari satu hektar. Untuk memenuhi
kebutuhan pertanian yang berkelanjutan petani kecil dan marjinal, diterapkan
model pertanian terintegrasi dengan biaya rendah. Model tersebut menekankan
pentingnya empat hal penting sektor pertanian, Perikanan, Hortikultura dan
Peternakan, diharapkan hasil produksi lebih baik bagi petani (Rani et al., 2019)
, di wilayah India bagian timur berada pada rawan risiko lingkungan yang
mengarah ke produktivitas padi yang rendah, hal ini karena kurangnya
pemahaman yang tepat tentang interaksi dan keterkaitan antar komponen dalam
sistem pertanian padi tradisional, tenaga kerja kurang dimanfaatkan untuk
pekerjaan, (Poonam et al., 2012), untuk mencapai keberlanjutan sistem sereal di
Indo-Gangetic Plains (IGP) di India dalam kondisi iklim yang tidak stabil dan
variabilitas yang tinggi memerlukan adopsi praktik dan teknologi untuk
meningkatkan produksi pangan, adaptasi dan mitigasi secara berkelanjutan.
Pertanian konservasi (CA) merupakan strategi pembangunan pertanian ke
depan untuk mengatasi keamanan pangan, adaptasi perubahan iklim dan
tantangan mitigasi yang dihadapi oleh pertanian saat ini.(Sapkota et al., 2015)

Selain di India, penerapan pertanian terintegrasi juga diterapkan di China,
budidaya ikan di sawah dimulai di Asia Tenggara dari 6000 tahun yang lalu,
Pertanian terintegrasi (budaya stereoskopik) di sawah, mengacu pada model
tradisional seperti padi-ikan, kepiting padi, simbiosis padi-lobster, atau
simbiosis beras-ikan-kepiting dan simbiosis padi-fish- lobster, dan beberapa
mode unik seperti padi-bebek, katak beras, kura-kura padi. Sistem budidaya

154 Tata Ruang Pertanian Kota

lobster air tawar yang terintegrasi, salah satu pertanian terintegrasi yang baru
dikembangkan di sawah, merupakan sistem pertanian yang penting dan telah
berjalan dengan baik dipraktikkan di China. Budidaya lobster air tawar
(procambarus clarkii) dapat dikembangkan di tambak, sawah dan ladang akar
teratai. Lima provinsi teratas dalam perkembangan budidaya lobster air tawar
adalah Hubei, Hunan, Anhui, Jiangsu, dan Jiangxi, di Hubei menghasilkan
812,4 ribu ton lobster air tawar dan itu menyumbang sekitar 50% dari total
output di Cina pada tahun 2018, (Jianqiang, 2020).

Di Camargue, Prancis Selatan. dikembangankan sistem organik, yang
mempunyai dampak positif di tingkat petani, Melibatkan petani dan pemangku
kepentingan sejak Awal pengembangan model diperlukan kredibilitas data dan
model untuk desain skenario yang lebih efisien dan analisis(Delmotte et al.,
2016)

Di Afrika perubahan iklim serta percepatan degradasi tanah di bagian selatan
telah meningkatkan kebutuhan akan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Penerapan pertanian berkelanjutan mendapatkan hasil jagung lebih besar
dibandingkan dengan pengolahan tanah konvensional. Sistem konservasi
pertanian terutama pembenihan langsung di Malawi, Manica dan Sofala,
menunjukkan keuntungan finansial yang lebih besar untuk investasi dan
produktivitas tenaga kerja karena pengurangan biaya tenaga kerja dan hasil yang
lebih tinggi. Penghematan tenaga kerja hingga 43 hari kerja per hektar dapat
dicapai dengan perawatan benih langsung di Malawi (Thierfelder et al., 2016).
Pertanian konservasi (CA) meningkatkan pH, C organik, P total tanah
(Arenosols) dan hasil gabah (Nyamangara et al., 2013).

Pertanian terintegrasi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan
dan untuk menstabilkan jumlah tumbuhan dan tumbuhan pada pertanian
modern di Eropa. Dampak positif dari praktik tersebut terutama terlihat pada
tumbuhan dan invertebrata di Italia, Austria, Jerman dan Inggris, sebagai contoh.
Hanya ada sedikit data dari Central dan Eropa Timur, bagaimanapun, bahkan
sebagai wilayahnya memiliki kondisi lingkungan tertentu yang terutama
disebabkan oleh dampak pertanian yang lebih moderat di sana selama paruh
kedua abad ke-20. Komunitas herbal secara signifikan lebih kaya spesies di
lahan dengan integrasi pertanian dan hasil serupa diperoleh di kasus burung,
Selain itu, kekayaan spesiesnya jumlah tanaman berkurang seiring
bertambahnya ukuran bidang tanah. Komunitas herbal dan burung terbukti
mendapatkan keuntungan yang lebih dari pertanian terpadu di Eropa Tengah,
penggunaan pestisida dan pupuk lebih rendah (Štefanová and Šálek, 2014).

Bab 10 Sistem Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) 155

Pengembangan sistem tanaman-ternak terintegrasi di Eropa merupakan
tantangan utama bagi modernisasi ekologi pertanian, (Moraine et al., 2014)

10.4 Permasalahan dan Keuntungan
Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Walaupun pemanfaatan system pertanian terintegrasi memiliki banyak manfaat,
tetapi pada pengembangan sistem pertanian terpadu masih lamban dan belum
memenuhi aturan keterpaduan sistemnya. Petani pada umumnya masih
menerapkan sistem pertanian ini bersifat parsial atau linear, atau pengelolaan
dari masing-masing komponen sistem masih terpisah atau sendiri-sendiri, yakni
ternak saja atau tanaman saja atau ikan saja. Padahal dalam pengelolaan sistem
pertanian terpadu terdiri atas beberapa subsistem pengelolaan, yaitu pengelolaan
tanaman terpadu (Integrated Crop Management), pengelolaan nutrien terpadu
(Integrated Nutrient Management), pengelolaan organisme pengganggu
tanaman terpadu (Integated Pest Management), pengelolaan air terpadu
(Integrated Moisture Management), pengelolaan ternak terpadu (Integrated
Livestock Management) (Nurcholis et al., 2011).

Pemanfaatan konservasi pertanian Di sub-Sahara Afrika, mengalami kendala.
Kebijakan pertanian nasional Malawi, dan implikasinya terhadap adopsi CA di
antara petani kecil. kurangnya koherensi kebijakan pertanian memancarkan
pesan penyuluhan pertanian yang saling bertentangan dan membingungkan
kepada petani kecil. Kami berpendapat bahwa integrasi CA yang tidak memadai
dan kebijakan yang tidak koheren merupakan kendala kelembagaan yang
mencegah adopsi berkelanjutan petani (Chinseu, Stringer and Dougill, 2018)

Salah satu keuntungan yang diperoleh dalam penerapan sistem pertanian
terpadu (termasuk sistem agroforestry) adalah terjadinya peningkatan keluaran
hasil (output) yang lebih bervariasi yaitu berupa pangan, pakan, serat, kayu,
bahan bakar, pupuk hijau dan atau pupuk kandang. Selain itu secara ekonomi
sistem pertanian terpadu dalam bentuk sistem agroforestry memiliki keuntungan
lainnya yaitu memperkecil risiko kegagalan panen (Rauf and Rahmawaty,
2013), di Bali Pemerintah Daerah membuat untuk meningkatkan sektor
pertanian di Bali 2009 melalui program Simantri (Sistem Pertanian Terpadu)
yang diadopsi dari model Prima Tani. Program Simantri mendanai sekitar 200

156 Tata Ruang Pertanian Kota

juta rupiah dalam bentuk bantuan sosial kepada setiap kelompok Simantri.
Keunggulan sistem pertanian terintegrasi (IFS) termasuk mengumpulkan dan
berbagi sumber daya, efisien dalam menggunakan tenaga kerja keluarga,
konservasi, pengawetan dan pemanfaatan biomassa pertanian termasuk pakan
nonkonvensional dan pakan ternak sumber daya, penggunaan kotoran secara
efektif (kotoran hewan)(Maha et al., 2007) Di Indonesia pemberian pakan cut
and carry, pemanfaatan kotoran kambing dan domba untuk produktivitas
tanaman di areal perkebunan kelapa sawit. Jumlah induk, pakan dari kelapa
sawit dan tanaman sela, jenis ternak dan lokasi berpengaruh sangat nyata
terhadap produktivitas ternak (Kusumastuti, Sarim and Masyhuri, 2015)
Integrasi antara padi dan ikan di sistem budidaya padi-ikan terintegrasi yang
dikenal sebagai Minapadi, produksi beras memiliki nilai rata-rata tertinggi pada
sistem tanam tapin legowo (5,05 ton / ha). Sistem minapadi terdiri dari 27
populasi ikan. Ada interaksi antara penanaman padi sistem dan populasi ikan
mujair terhadap jumlah anakan produktif padi.(Yassi, Kaimuddin and Ekawati,
2020)

10.5 Optimalkah Sistem Pertanian
Terintegrasi (Integrated Farming
System) di Indonesia?

Salah satu kajian tentang pelaksanaan system pertanian terintegrasi di Indonesia,
menghasilkan beberapa temuan yakni 1. bahwa Petani dan fasilitator belum
memahami konsep sistem pertanian terpadu secara benar; 2. Petani belum yakin
tentang hasil dan produktivitas sistem pertanian; 3. Pengembangan model
sistem pertanian terpadu belum sesuai dengan kondisi ekosistem; 4. Potensi
lokal belum disesuaikan berdasarkan pada integrasi vertikal dan horisontal; 5.
Keberadaan integrator dalam sistem pertanian terpadu masih belum
diperhatikan; 6. Sistem Pertanian terpadu belum dikaji secara komprehensif dan
integralistik; 7. Pengembangan sistem pertanian terpadu belum didukung oleh
kebijakan pembangunan pertanian; 8. Kurangnya teknologi pendukung sistem
pertanian terpadu, walaupun pada kenyataannya memberikan pendapatan yang
lebih (Hidayati et al., 2020), penelitian lain menemukan bahwa Teknologi
budidaya yang diterapkan dalam kegiatan usaha tani masih bersifat
konvensional dan tradisional, kurang menerima adopsi teknologi, kurangnya

Bab 10 Sistem Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) 157

tenaga pendamping yang mengarahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas
usaha tani (Sri Anjar Lasmini1, Tarsono, 2018).

Kajian yang dilakukan lainnya menghasilkan bahwa petani pada umumnya
masih menerapkan sistem pertanian ini bersifat parsial atau linear, atau
pengelolaan dari masing-masing komponen sistem masih terpisah atau sendiri-
sendiri, yakni ternak saja atau tanaman saja atau ikan saja. Padahal dalam
pengelolaan sistem pertanian terpadu terdiri atas beberapa subsistem
pengelolaan, yaitu pengelolaan tanaman terpadu (Integrated Crop
Management), pengelolaan nutrien terpadu (Integrated Nutrient Management),
pengelolaan organisme pengganggu tanaman terpadu (Integated Pest
Management), pengelolaan air terpadu (Integrated Moisture Management),
pengelolaan ternak terpadu (Integrated Livestock Management) (Nurcholis et
al., 2011) Kajian tentang peran pemerintah dianggap masih belum berhasil
ditandai dengan ketergantungan petani pada bantuan pemerintah masih besar.
Sedangkan peran penyuluh masih relative sedikit,sehingga masih belum mampu
secara optimal membantu petani(Fredika, 1377)

Penelitian yang membahas sistem pertanian terpadu di China memberikan
keuntungan jangka panjang, pada penelitian ini menjelaskan beberapa hal yang
perlu diperhatikan, petani harus menyesuaikan rencana berdasarkan kondisi
lokal dan jangan mengembangan Integrated Rice Crawfish Farming System
(IRFS) tanpa perencanaan yang tepat.

Pertama, sebagai mode pertanian ramah lingkungan, Integrated Rice Crawfish
Farming System (IRFS) membutuhkan beberapa kepastian kondisi sebagai
berikut:

1. Terdapat Dataran rendah.
2. Tanahnya jenis tanah liat.
3. PH tanah dengan netral atau sedikit basa.
4. Keberadaan air tanah tinggi.
5. Kondisi irigasi dan drainase yang baik.
6. Lokasi yang cocok dekat dengan sumber air.
7. Iklim yang hangat dan basah dengan melimpah curah hujan atau

sumber air.

Kedua, Penerapan IRFS, membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah,
hal ini karena pembangunan metode ini membutuhkan banyak sumber daya air,

158 Tata Ruang Pertanian Kota

dan menimbulkan risiko masalah lingkungan dan ekologi, diperlukan studi
kelayakan iklim lingkungan Hidup.

Ketiga, Pada pengelolaan produksi, maka model IRFS perlu dioptimalkan
dengan cara:

1. membangun lahan pertanian yang tepat untuk sirkulasi pemurnian air
2. Mengurangi umpan untuk lobster air tawar di musim gugur dan musim

dingin dengan cara mengembalikan semua jerami ke ladang.
3. Menanam rumput di awal musim semi, memberi pakan yang sesuai di

musim semi dan musim panas, mengurangi penggunaan pupuk.
4. Memilih varietas padi yang cocok dan budidaya Teknik adaptif untuk

meningkatkan pemanfaatan cahaya dan suhu sumber daya.
5. Pengaturan penggunaan input pupuk, pakan ternak, pestisida dan

sebagainya sehingga dapat menurunkan potensi keamanan dan risiko
lingkungan yang lebih rendah.

Keempat, pengelolaan air dan pupuk di Integrated Rice Farming berbeda dari
pertanian padi monokultur, diperlukan mengatur air dan pupuk, terutama untuk
pupuk khusus dan teknik pemupukan.

Kelima, perlu pelatihan teknis pada petani produsen, pertanian dengan
mengintegrasikan sumber daya sektor pertanian, meteorologi dan produk
akuatik, sehingga kemampuan teknis petani meningkat. Selain itu, disarankan
untuk mempopulerkan asuransi agrometeorologi agar efektif mentransfer risiko
budidaya lobster air tawar yang disebabkan oleh meteorologi bencana
(Jianqiang, 2020)

Sistem Pertanian Terintegrasi telah dilaksanakan mulai tahun 1970 (Hidayati et
al., 2020), artinya sudah berjalan 51 tahun yang lalu, tetapi pada pelaksanaanya
masih menemui kendala, seperti yang diuraikan di atas, di mana petani belum
menggunakan teknologi, padahal sekarang sudah memasuki era 4.0. Menurut
(Surahman, 2009) penentuan lokasi untuk kelayakan keberlanjutan sistem
pertanian terintegrasi perlu dilaksanakan. Maka Peran Pemerintah sangat
diperlukan. Sistem Pertanian terintegrasi masih perlu dioptimalkan, hal ini
karena Sistem Pertanian terintegrasi mampu memberikan keuntungan ekonomi
dan ekologi. Hanya saja pelaksanaannya membutuhkan perhatian yang cukup
besar dari Pemerintah, peran pemerintah dalam menyusun grand design wilayah
yang memamg cocok dan juga kombinasi produk yang diterapkan diwilayah

Bab 10 Sistem Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) 159

tersebut dan diperlukan pengawasan dalam pelaksanaannya tidak kalah
pentingnya monitoring hasil. Tenaga pendamping yakni penyuluh pertanian
perlu ditingkatkan jumlah dan intervensi pada petani, ironisnya penyuluh
pertanian malah dikurangi perannya dengan tidak memiliki lembaga sendiri.
Penggunaan Teknologi perlu ditingkatkan karena teknologi akan lebih
mengefisienkan pelaksanaan sistem pertanian terintegrasi.

160 Tata Ruang Pertanian Kota

Bab 11

Identifikasi dan Pengembangan
Komoditas Pertanian Kota

11.1 Pendahuluan

Pertanian Perkotaan adalah kegiatan budidaya, pengolahan, pemasaran,
distribusi produk dari bahan pangan, kehutanan yang berlangsung di suatu
perkotaan. Aktivitas pertanian kota selain berdampak terhadap bidang ekonomi,
lingkungan, juga bahan pangan di mana secara langsung dan tidak langsung
berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan pertumbuhan
masyarakat perkotaan, jarak antara produsen dan konsumen, iklim global,
peningkatan kesadaran terhadap lingkungan, gaya hidup dan tingginya arus
urbanisasi dari desa ke kota akan mendukung pengembangan pertanian di
perkotaan. Untuk pengembangan pertanian perkotaan terdapat berbagai
tantangan yang terdiri atas status hukum, luasan lahan, pasokan sinar matahari,
sirkulasi udara, cemaran logam berat, keterbatasan pengetahuan, dan
berkembangnya penyakit menular dari hewan (Smith et al., 1996; FAO, 1999;
Sastro, 2013). Dilihat dari bidang ekonomi, pertanian perkotaan sangat berperan
dan memberi banyak keuntungan yaitu memberi stimulus penguatan ekonomi
lokal berupa pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan penghasilan
masyarakat serta mengurangi kemiskinan. Pada beberapa tahun terakhir, dalam
situasi krisis ekonomi yang tengah dialami oleh beberapa negara termasuk

162 Tata Ruang Pertanian Kota

Indonesia, pengembangan pertanian perkotaan secara terpadu mempunyai
manfaat yang sangat besar, yaitu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan
pendapatan masyarakat kota (Fauzi et al., 2016). Menurut Wahdah dan
Maryono (2018) dengan meningkatnya jumlah penduduk dan angka urbanisasi
tersebut, hal ini akan menyebabkan tingkat perubahan fungsi lahan dari ruang
terbuka menjadi ruang terbangun juga semakin meningkat. Perubahan fungsi
lahan ini rata-rata mengubah lahan pertanian menjadi lahan industri, komersial,
maupun permukiman. Hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya wilayah
pertanian yang secara tidak langsung menyebabkan ketersediaan pangan di
kawasan perkotaan akan terus menurun, yang mengakibatkan kawasan
perkotaan terancam mengalami persoalan ketahanan pangan. Jika mengacu
pada Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2002 tentang ketahanan pangan yang
menyebutkan bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya
kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan
secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.

Pada dasarnya pertanian perkotaan adalah bagian dari sistem pangan lokal, yaitu
makanan dibudidayakan dan diproduksi di daerah perkotaan dan dipasarkan
kepada konsumen di daerah perkotaan itu. Pertanian perkotaan meliputi juga
peternakan yaitu pemuliaan dan pemeliharaan ternak, pemeliharaan lebah,
budidaya ikan, aquaponik yaitu mengintegrasikan peternakan ikan dan
pertanian, serta produk non-makanan seperti memproduksi benih,
membudidayakan bibit, dan menumbuhkan bunga. Kegiatan ini dicirikan
kedekatan geografis produsen untuk konsumen, praktik produksi dan distribusi
yang berkelanjutan (US Environmental Protection Agency, 2011). Kegiatan
pertanian perkotaan dapat dilakukan di lahan privat dan lahan publik milik
pemerintah. Pada tahapan praktik, membutuhkan rencana pertanian perkotaan
yang terpadu dengan Rencana Tata Ruang Kota. Sebaiknya Rencana Pertanian
Perkotaan juga terlihat sampai pada Rencana Detail Tata Ruang Kota, terutama
kegiatan pertanian perkotaan yang direncanakan di lahan publik atau lahan milik
pemerintah ( Hamzens dan Moestopo, 2018).

Pertanian perkotaan merupakan sarana untuk mengoptimalkan pemanfaatan
lahan dan sumberdaya alam yang ada di kota dengan menggunakan teknologi
tepat guna. Selain itu, masyarakat kota yang umumnya sibuk karena bekerja,
pertanian perkotaan dapat menjadi media untuk memanfaatkan waktu luang.
Dengan mengoptimalkan penggunaan lahan serta memanfaatkan waktu luang
untuk beraktivitas dalam pertanian perkotaan akan mendekatkan masyarakat
terhadap akses pangan serta menjaga keberlanjutan lingkungan dengan adanya
ruang terbuka hijau. Pertanian kota adalah salah satu komponen kunci

Bab 11 Identifikasi dan Pengembangan Komoditas Pertanian Kota 163

pembangunan sistem pangan masyarakat yang berkelanjutan dan jika dirancang
secara tepat akan dapat mengentaskan permasalahan kerawanan pangan
(Haletky dan Taylor, 2006). Ditinjau dari aspek ekonomi, peranan pertanian
perkotaan yaitu sebagai stimulus penguatan ekonomi lokal berupa pembukaan
lapangan kerja baru, peningkatan penghasilan masyarakat serta mengurangi
kemiskinan. Apabila masyarakat kota mampu memenuhi kebutuhan pangannya
sendiri, akan lebih banyak uang masyarakat kota digunakan untuk kepentingan
lain seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan (Setiawan dan Rahmi, 2004)

Menurut Abadi et al. (2019) sektor usaha pertanian merupakan sektor ekonomi
penting sebagai penopang perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia.
Oleh sebab itu usaha ekonomi masyarakat yang bergerak dalam sektor pertanian
mampu bertahan dalam menghadapi krisis moneter yang melanda struktur
ekonomi Indonesia. Pada era globalisasi, sektor usaha pertanian diharapkan
dapat melakukan pembenahan dan perubahan, sehingga dapat meningkatkan
produktivitasnya.

Pertanian perkotaan merupakan salah satu bentuk solusi bagi pemenuhan
kebutuhan pangan di kawasan perkotaan. Umumnya kehidupan perkotaan
merupakan penyebab menurunnya kualitas lingkungan, padahal kawasan
perkotaan merupakan solusi permasalahan lingkungan yang ada. Bila
dibandingkan dengan kawasan pedesaan ternyata kawasan perkotaan
mempunyai beberapa keunggulan yaitu keuangan, manusia, dan sosial yang
dapat menciptakan banyak perbaikan atau bahkan dapat mendorong pemerintah
maupun pihak swasta untuk melakukan perbaikan dan aksi preventif lainnya,
termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Jika kesepakatan dan komitmen
telah terwujud maka akan menghasilkan kawasan perkotaan berkelanjutan,
yaitu kawasan perkotaan yang memungkinkan semua warganya memenuhi
kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya, tanpa menurunkan kondisi
lingkungan alam atau kehidupan orang lain, baik di masa kini dan di masa
depan. (Leitmann, 1999; Rusida, 2016).

Jika lahan pertanian ketersediaannya tidak sebanding dengan kebutuhan pangan
di suatu kota maka kota tersebut akan tergantung dengan daerah lain. Oleh sebab
itu suatu daerah akan bersifat sebagai nutrient sink. Jika suatu kota lebih banyak
mengambil sumberdaya daripada memberi, hal ini disebabkan oleh kota-kota
banyak mengkonsumsi sumber daya seperti tanah, pangan dan energi dari
berbagai tempat namun tidak mampu mengembalikannya. Kota yang stabil jika
lingkungan kota bisa menyediakan sumber daya bagi kebutuhan kota tersebut
dengan melakukan kegiatan pertanian perkotaan (Mougeot, 2006).

164 Tata Ruang Pertanian Kota

11.2 Identifikasi Komoditas Pertanian
Kota

Oksatriandhi dan Santoso (2014) menyatakan bahwa tahapan yang perlu
dilakukan untuk mengembangkan agropolitan adalah dengan identifikasi
komoditas unggulan. Salah satu langkahnya yaitu dengan menganalisis
Location Quotien (LQ) dan Dinamic Location Quotient (DLQ). Metoda LQ
untuk menentukan rangking komoditas pertanian unggulan daerah. LQ
diinterpretasi dengan menggunakan kriteria sebagai yaitu, jika LQ > 1
menunjukkan terdapat konsentrasi relatif disuatu wilayah dibandingkan dengan
keseluruhan wilayah. Hal ini berarti komoditas i disuatu wilayah merupakan
sektor basis yang berarti komoditas i di wilayah itu memiliki keunggulan
komparatif. LQ = 1, merupakan sektor non basis, artinya komoditas i disuatu
wilayah tidak memiliki keunggulan komparatif, produksi komoditas yang
dihasilkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam wilayah itu.
LQ < 1, merupakan sektor non basis, artinya komoditas i disuatu wilayah tidak
memiliki keunggulan komparatif, produksi komoditas i di wilayah itu tidak
dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan harus mendapat pasokan dari luar
wilayah. Menentukan komoditas unggulan di suatu wilayah maka nilai LQ dari
komoditas tersebut harus lebih besar daripada 1. Nilai LQ yang lebih tinggi
menunjukkan keunggulan komparatif yang lebih tinggi pula dibandingkan
dengan nilai LQ yang lebih rendah (Izhar et al., 2015).

Abidin (2018) telah melakukan penelitian tentang identifikasi komoditas
unggulan wilayah dalam perspektif pertanian berkelanjutan di Sulawesi
Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas tanaman pangan
yang menjadi basis di beberapa wilayah adalah jagung, kacang tanah dan ubi
kayu, sementara padi dan kedelai hanya menjadi basis saat ini, akan tetapi secara
berkelanjutan akan mengalami pergeseran. Komoditas peternakan yang dapat
menjadi basis adalah sapi, kambing, ayam kampung dan ayam petelur.
Sementara itu komoditas perkebunan yang dapat menjadi basis adalah cengkeh,
jambu mete, kelapa, lada dan kakao, meskipun masing-masing wilayah
memiliki karakteristik tersendiri. Komoditas hortikultura yang dapat menjadi
basis secara berkelanjutan adalah cabe besar, cabe rawit, jahe dan jeruk.
Pengembangan komoditas pertanian ke depan perlu dioptimalkan dan didukung
dengan penerapan teknologi yang adaptif dan dapat diterima oleh masyarakat
yang secara sosial dan ekonomi dapat bersaing.

Bab 11 Identifikasi dan Pengembangan Komoditas Pertanian Kota 165

Novitasari dan Ayuningtyas (2018) telah melakukan penelitian tentang
identifikasi komoditas unggulan pertanian dalam mendukung Kawasan
agropolitan yaitu sebuah studi kasus di Kecamatan Pasaleman, Kabupaten
Cirebon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi komoditas
unggulan pertanian di Kecamatan Pasaleman dalam mendukung peran
Kecamatan Pasaleman sebagai kawasan agropolitan. Untuk mencapai tujuan
tersebut adalah mempelajari konsep kawasan agropolitan, mengidentifikasi
metode penentuan komoditas unggulan wilayah, mengidentifikasi komoditas
unggulan di Kecamatan Pasaleman, dan menentukan peran Kecamatan
Pasaleman terhadap sistem Kawasan Agropolitan Ciledug. Ada empat metode
analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi yaitu perhitungan Location
Quetient (LQ), produktivitas pertanian, produksi pertanian, dan laba atau profit
tiap komoditas. Berdasarkan segi produksi dan produktivitas, maka sektor
unggul pertanian di Kecamatan Pasaleman adalah tebu. Jika dari hasil
perhitungan LQ, untuk sektor yang menempati urutan pertama di Kecamatan
Pasaleman adalah pepaya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan
bagi pemerintah daerah untuk menyusun strategi di Kecamatan Pasaleman
dalam upaya mengembangkan komoditas unggulan di wilayah tersebut.

Telah dilakukan penelitian terkait identifikasi komoditas unggulan di kawasan
agropolitan di Kabupaten Pasaman, yang memiliki potensi pertanian yang
cukup besar. Untuk mengidentifikasi komoditas unggulan tersebut dilakukan
dengan langkah analisa LQ dan DLQ. Tujuannya adalah agar pengembangan
komoditas tepat sasaran berpotensi untuk dikembangkan. Data berupa nilai
produksi tiap komoditas pada masing-masing kecamatan dan nilai produksi
komoditas total. Komoditas unggulan dipilih berdasarkan hasil perhitungan LQ
dan DLQ yang bernilai >1, yang menunjukkan komoditas yang dengan laju
pertumbuhan besar dan memiliki potensi pengembangan lebih cepat. Hasil
komoditas unggulan kawasan agropolitan Kabupaten Pasaman meliputi padi
sawah, padi ladang, kacang tanah, pisang, mangga, cabe, bayam, karet, coklat
dan kelapa sawit (Oksatriandhi dan Santoso, 2014).

Martadona et al. (2016) telah melakukan analisis komoditas unggulan tanaman
pangan dalam rangka perencanaan kawasan agropolitan di kota Padang. Kota
Padang memiliki luas lahan 23.158 hektar atau 69,30 persen dari total tanah
pertanian. Kota Padang mempunyai sumber daya alam dan lahan untuk
mengembangan komoditas pertanian. Beberapa jenis tanaman yang
dibudidayakan yaitu padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk

166 Tata Ruang Pertanian Kota

menganalisis komoditas unggulan tanaman dalam rangka pengembangan
agropolitan di Padang. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan
adalah Location Quotient (LQ). Berdasarkan hasil analisis LQ menunjukkan
bahwa tanaman yang menjadi komoditas unggulan di Padang adalah padi.

Vaulina dan Khairizal (2016) mengidentifikasi komoditas unggulan pada sektor
pertanian di kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Dengan adanya otonomi
maka masing-masing daerah memiliki kebebasan dalam menentukan
komoditas yang diprioritaskan dalam pembangunannya, seperti yang terjadi di
kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, di mana pertanian merupakan salah
satu potensi yang layak untuk dikembangkan. Untuk mengidentifikasi
komoditas pertanian utama adalah dengan analisis LQ regional, spesialisasi
quotient dan lokalisasi quotient. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa
komoditas di Kabupaten Indragiri Hilir adalah padi kering, kacang tanah, ubi
kayu, pepaya, durian, mangga, kelapa, pinang, kelapa, sagu, domba, sapi dan
perikanan umum.

Balirante et al. (2020) melakukan identifikasi komoditas pertanian pangan,
palawija, hortikultura unggulan di kecamatan Tompaso Barat, kabupaten
Minahasa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif dan
deskriptif. Data dianalisis dengan LQ. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan
bahwa komoditas pertanian tanaman pangan di Kabupaten Tompaso Barat
adalah ubi jalar, kacang tanah dan kacang merah, sedangkan untuk tanaman
hortikultura adalah bawang merah dan tomat.

Muhammad et al. (2021) melakukan identifikasi terkait komoditas unggulan
pada sektor pertanian di kabupaten Gayo Lues, provinsi Aceh. Untuk
identifikasi tersebut, analisis yang digunakan adalah Location Quotient (LQ),
analisis Shift Share (SS) dan analisis prioritas pengembangan komoditas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa komoditas pertanian unggul meliputi kacang
tanah, jagung, beras, nanas, bawang merah, cabai rawit, cabai rawit,tomat, jeruk
siam, tembakau, kemiri, serai, jahe, aren, nilam, gula perikanan tebu, kerbau,
domba, kambing, sapi dan sawah. Komoditas unggul dengan pertumbuhan yang
cepat adalah padi, cabai rawit, cabai besar, tomat, nanas, sereh wangi,
tembakau,jahe, nilam, sapi, kambing dan domba. Komoditas yang mempunyai
daya saing yang bagus adalah jagung, kacang tanah, cabai besar, bawang merah,
tomat, cabai rawit,kemiri, tembakau, aren, sapi, kerbau, kambing dan domba.
Komoditas unggulan dengan prioritas pertama adalah tembakau, cabai rawit,
cabai besar, tomat,domba, kambing dan sapi. Prioritas kedua adalah nanas, sereh
wangi, jahe, nilam, nasi,kemiri, bawang merah, aren, kacang tanah, jagung dan

Bab 11 Identifikasi dan Pengembangan Komoditas Pertanian Kota 167

kerbau, serta prioritas ketiga atau alternatif adalah perikanan beras, tebu dan
jeruk siam.

Paramartha et al. (2017) melakukan identifikasi terhadap komoditas unggulan
pertanian di kabupaten Buleleng. Telah diketahui bahwa sektor pertanian
berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto di kabupaten Buleleng.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis komoditas yang termasuk
unggulan. Metode analisis yang digunakan adalah Location Quotient dan
Typolegi Klassen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas unggulan
tanaman pangan adalah jagung. Komoditas tanaman sayuran unggulan bawang
putih dan cabe, karena merupakan komoditas unggulan. Komoditas potensial
adalah kubis. Untuk komoditas durian berpotensi dikembangkan di kecamatan
Seririt, Busungbiu, Banjar, Sukasada, Buleleng, Sawan, Kubutambahan, dan
Tejakula, sedangkan komoditas sawo dapat dikembangkan di semua wilayah
Kabupaten Buleleng, karena di setiap kecamatan memiliki produksi sawo.
Komoditas jambu biji berpotensi dikembangkan di tujuh kecamatan yaitu
Grokgak, Seririt, Busunbiu, Banjar, Sukasada, Buleleng, dan Sawan. Komoditas
pepaya bisa dikembangkan di semua wilayah kabupaten Buleleng.

Baladina et al. (2013) telah mengidentifikasi potensi komoditas pertanian
unggulan dalam penerapan konsep agropolitan di kecamatan Poncokusumo,
kabupaten Malang. Tujuannya adalah supaya potensi di sektor pertanian dapat
dikembangkan. Metode analisis yang digunakan adalah Location Quation (LQ).
Berdasarkan hasil analisis ini komoditias unggulan tanaman pangan dan
palawija adalah ubi kayu dan jagung. Tanaman buah-buahan meliputi apel,
belimbing, dan kelengkeng.Tanaman sayuran meliputi kentang, tomat, kubis,
dan cabe besar. Tanaman perkebunan terdiri kopi arabika dan kelapa. Tanaman
bunga terdiri atas bunga krisan. Tanaman rempah dan obat terdiri atas jahe.

Izhar et al. (2015) mengidentifikasi potensi pengembangan sektor pertanian di
provinsi kepulauan Riau. Telah diketahui bahwa salah satu sektor unggulan
pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) adalah pertanian. Tujuan dari
penelitian ini adalah menentukan komoditas unggulan yang bersifat kompetitif
untuk menunjang keberhasilan sektor pertanian. Metode analisis yang
digunakan adalah LQ. Hasil penelitian menetapkan bahwa terdapat komoditas
unggulan daerah yang bersifat spesifik di kepulauan Riau yaitu sayuran daun,
cabai, kelapa, karet, cengkeh, ternak sapi, ternak babi, ketela pohon/ubi kayu,
kelapa sawit, unggas dan buah-buahan. Untuk inovasi teknologi meliputi
teknologi pembibitan, dan pemeliharaan sampai dengan pasca panen.

168 Tata Ruang Pertanian Kota

11.3 Strategi Pengembangan
Komoditas Pertanian Kota

Abadi et al. (2018) telah melakukan kajian pemetaan komoditas unggulan
pertanian yang berbasis karakteristik kewilayahan di kota Baubau. Strategi
pengembangan komoditas unggulan pertanian Kota Baubau terdiri atas empat
strategi yaitu Strategi peningkatan hasil produksi; strategi pengembangan
industri hilir berbasis komoditas unggulan Pertanian; strategi peningkatan
kapasitas pembiayaan usaha; dan strategi peningkatan ketersediaan pasar
produk industri hilir. Strategi peningkatan kapasitas produksi komoditas
unggulan pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil-hasil produksi
komoditas unggulan pertanian. Strategi pengembangan industri hilir berbasis
komoditas unggulan pertanian, bertujuan untuk pengembangan industri hilir
berbasis komoditas unggulan pertanian sebagai upaya penciptaan nilai tambah
ekonomi bagi masyarakat dan daerah. Strategi peningkatan kapasitas
pembiayaan usaha, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan
bagi para pelaku usaha komoditas unggulan pertanian beserta industri hilirnya.
Strategi peningkatan ketersediaan pasar produk industri hilir. Strategi ini
bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akses pasar bagi komoditas unggulan
pertanian khususnya industri hilir berbasis komoditas unggulan pertanian.

Hamzens dan Moestopo (2018) menyatakan bahwa upaya yang dilakukan untuk
mengembangkan potensi kawasan sungai Palu sebagai suatu kawasan pertanian
perkotaan yang terintegrasi, yaitu dengan konsolidasi tanah, penetapan jenis
aktivitas, perekrutan pelaksana dan pembinaan sumber daya manusia,
penyiapan prasarana dan sarana, dan manajemen berkelanjutan. Upaya ini
merupakan upaya pengembangan kota-kota pertanian dengan menjadikan
kawasan sungai sebagai salah satu pusat aktivitas pertanian bagi masyarakat
kota, sehingga dapat mendorong kota-kota lain yang memiliki sungai untuk
mengembangan kawasan sungainya sebagai suatu area hijau yang produktif.
Pengembangan kawasan sungai sebagai area pertanian akan menambah dari
luasan ruang terbuka hijau yang produktif bagi kota, dan juga menghasilkan
‘wajah kota’ yang hijau dengan lingkungan yang tertata rapi dan asri.

Menurut Rusida (2016) terdapat prinsip - prinsip pengembangan pertanian
perkotaan di Belopa yaitu pertanian perkotaan dapat dilakukan dengan
pengendalian lahan pertanian melalui strategi pemanfaatan lahan sisa, lahan
pekarangan/atap bangunan, lahan lingkungan milik bersama; dan/atau lahan

Bab 11 Identifikasi dan Pengembangan Komoditas Pertanian Kota 169

kosong dengan sistem penanaman yang tidak memerlukan tanah banyak,
pengendalian lahan pertanian dilakukan untuk tanaman pangan dan hortikultura
dengan pemanfaatan lahan sawah dan bukan sawah, pertanian perkotaan
meliputi kecukupan pangan, pemasaran yang dekat, sumber penghasilan, serta
meningkatkan kualitas ruang kota, pertanian perkotaan dengan pemanfaatan
lahan yang tidak terlalu luas dan tersebar dinilai tidak banyak membuat
pencemaran, irigasi partisipatif bagi pengairan pertanian perkotaan. Pemerintah
selain berperan sebagai regulator, juga sebagai mitra kelompok petani, serta
motivator masyarakat dalam mempromosikan sistem penanaman baru,
kerjasama antar pelaku pembangunan, memiliki peran penting bagi
keberlanjutan dari kegiatan pertanian perkotaan.

Menurut Wahdah dan Maryono (2018) menyatakan bahwa untuk mendukung
pembangunan berkelanjutan, diperlukan kebijakan yang komprehensif untuk
pengembangan pertanian perkotaan. Di kota Semarang, kebijakan tersebut
dilakukan dengan pendekatan integratif dengan mempertimbangkan beberapa
hal, yaitu luas pekarangan yang bertujuan untuk memperluas ruang terbuka
hijau produktif yang berisi komoditas pertanian. Untuk perluasan pekarangan
ini dapat diupayakan dengan konsep pertanian vertical hal ini disebabkan lahan
pekarangan warga yang terlalu sempit sehingga tidak bisa menambah lahan
pertaniannya. Pengembangan komoditas dan teknologi ramah lingkungan.
Untuk menghasilkan komoditas pertanian yang unggul dan meningkatkan daya
hasil lahan atau pekarangan yang lebih spesifik, perlu kebijakan penanaman
yang lebih selektif dan sesuai dengan kondisi lahan/lingkungan. Salah satu
teknologi yang digunakan dalam pertanian perkotaan yang ramah lingkungan
adalah dengan menerapkan konsep akuaponik.

Konsep ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain multiple product, karena
menghasilkan tanaman dan ikan secara bersamaan dalam satu siklus, hemat
penggunaan air karena teknik ini menggunakan sistem resirkulasi, yaitu dalam
penerapan teknologi akuaponik memungkinkan untuk mendaur ulang limbah
pakan di perairan menjadi nutrisi bagi tanaman, menghasilkan produk yang
sehat dan organik, meningkatkan estetika lingkungan, tata niaga atau
pemasaran. Tujuan utama pertanian perkotaan adalah untuk memenuhi
kebutuhan pangan keluarga. Warga kota yang melakukan kegiatan pertanian
perkotaan di rumahnya tidak dibebani oleh target produksi yang harus dicapai,
karena memang orientasinya bukanlah untuk mendapatkan keuntungan secara
finansial. Meskipun tujuan utamanya untuk memenuhi kebutuhan pangan
keluarga, tidak menutup kemungkinan hasil pertaniannya dijual kepada pihak

170 Tata Ruang Pertanian Kota

luar. Tataniaga dan pemasaran dalam pengembangan pertanian di perkotaan
dapat dilakukan dengan cara mengadakan hubungan kerjasama antara penggiat
pertanian perkotaan dengan industri atau perusahaan lainnya. Dengan adanya
kerjasama tersebut maka dapat meningkatkan pendapatan penggiat melalui
komoditas yang di jual atau di pasarkan kepada pihak industri atau perusahaan
lainnya sekaligus berbasis sumber daya lokal yang dapat memperkuat ketahanan
pangan dalam waktu jangka panjang. Selanjutnya melakukan kerjasama antar
stakeholders yaitu meningkatkan koordinasi dan kerjasama di dalam
implementasi program kegiatan sesuai dengan tupoksi instansi masing-masing,
akan meningkat perannya apabila ada aturan pertanian perkotaan sebagai dasar
pedoman kegiatan bagi stakeholder dalam upaya pengembangan pertanian
perkotaan berkelanjutan.

Fadlina et al. (2013) Strategi rencana pengembangan pertanian organik yang
dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu adalah
memasyarakatkan penerapan cara bertani yang mengarah pada penerapan
pertanian organik serta menginisiasi pembentukan kawasan organik sebagai
pilot project. Pemilihan strategi tersebut bertujuan untuk merubah cara berpikir
masyarakat petani di Kota Batu dari pertanian konvensional (anorganik) menuju
ke pertanian organik. Dengan memasyarakatkan pertanian organik kepada
petani diharapkan secara bertahap dapat membantu mengembalikan kualitas
lahan pertanian sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik,
meningkatkan nilai jual produk, memberikan keuntungan kepada petani karena
biaya usaha tani rendah. Selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani
yaitu meningkatkan pendapatan petani, serta menarik wisatawan untuk
mendukung arah pembangunan Kota Batu sebagai kota wisata berbasis
pertanian.

Pembentukan kawasan pertanian organik di Kota Batu disusun dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yaitu:

1. Pembentukan kawasan yang dilakukan pada lokasi yang memiliki
potensi sebagai penghasil sayur, dengan jenis komoditas sayuran yang
banyak dibudidayakan oleh masyarakat setempat dan memiliki nilai
ekonomis tinggi (unggulan).

2. Dalam hal ini pelaksana adalah petani, yaitu petani dapat belajar dan
memahami dengan baik teknologi pertanian organik karena
menerapkan secara langsung.

Bab 11 Identifikasi dan Pengembangan Komoditas Pertanian Kota 171

3. Perubahan pola pikir menuju organik dilakukan melalui pelaksanaan
penyuluhan, pendampingan, dan sekolah lapang petani selama
pelaksanaan kegiatan.

4. Konversi pertanian dari konvensional menuju dengan memperbanyak
penggunaan bahan organik dan pengenalan teknologi organik
(penggunaan dan pembuatan secara mandiri oleh petani).

5. Meningkatkan nilai jual produk melalui perbaikan penanganan pasca
panen dan strategi pemasaran.

172 Tata Ruang Pertanian Kota

Bab 12

Perencanaan Tapak dalam Tata
Ruang Guna Lahan Perkotaan

12.1 Urban Agriculture: Definisi dan
Konsep Dasar

Pertanian perkotaan (Urban Agriculture) mengacu pada praktik pertanian di
daerah perkotaan dan sekitarnya (pinggiran kota), dan merupakan kegiatan
terpusat yang melibatkan hortikultura, peternakan, akuakultur, dan praktik lain
untuk menghasilkan makanan segar atau produk pertanian lainnya. Dalam
praktiknya banyak metode yang berbeda untuk pertanian perkotaan, seperti
pertanian di atas tanah, pertanian di atas atap, hidroponik, rumah kaca, dan
teknologi baru lainnya disebabkan adanya keterbatasan lahan di perkotaan.
Konsep pertanian perkotaan ini juga sedang menjadi tren di berbagai macam
belahan dunia sebagai solusi dari ketahanan pangan di perkotaan, terutama bagi
masyarakat menengah ke bawah di area perkotaan (Buxton et al., 2016; Kozai
et al., 2016; Van Tuijl et al., 2018).
Pertanian perkotaan berpotensi menghasilkan sumber pangan untuk konsumsi
lokal, terutama untuk jenis pangan yang mudah rusak dan tanaman hortikultura
bernilai tinggi. Pertanian perkotaan memainkan peran kunci dalam ketahanan

174 Tata Ruang Pertanian Kota

pangan dan menjadi hal yang penting dan terintegrasi dengan kegiatan ekonomi,
budaya, sains, dan teknologi perkotaan. Pertanian perkotaan juga memiliki
banyak dampak positif bagi perkotaan seperti yang dapat dilihat pada Gambar
12.1 pada halaman selanjutnya. Mengelola pertanian perkotaan merupakan
sebuah kegiatan yang rumit sehingga, kegiatan ini dapat menjadi salah satu
indikator kemajuan ekonomi sebuah kota. Apabila dibandingkan dengan praktik
pertanian di pedesaan, pertanian perkotaan menggunakan modal, fasilitas,
teknologi, dan tenaga kerja yang lebih banyak. Namun, di sisi yang lain juga
memiliki peluang yang besar karena kedekatannya dengan pasar, serta adanya
kemajuan fasilitas informasi dan juga jaringan transportasi mulai skala lokal
hingga internasional (Kozai et al., 2016).

Gambar 12.1: Kompilasi Dampak Urban Agriculture, designtrust.org

12.1.1 Konsep Pengembangan Urban Agriculture Dalam
Perkotaan

Selama sepuluh tahun terakhir, pertanian perkotaan yang berkelanjutan dan
sistem pangan perkotaan dengan cepat berubah dari 'kepentingan yang
terpinggirkan' menjadi perhatian pembuat kebijakan dan perencana di banyak
kota, baik di negara berkembang maupun negara maju. “feeding urban” telah
menjadi keharusan, terutama dalam kondisi perubahan iklim seperti yang terjadi
saat ini sehingga stakeholder perkotaan semakin serius menanggapi tantangan
tersebut. Pengenalan (kembali) lanskap lahan produktif ke dalam desain kota
dan perencanaan pembangunan telah diterima secara luas, sejalan dengan
konsep-konsep seperti pertanian perkotaan dan pinggiran kota, hubungan
pedesaan-perkotaan dan pengembangan lanskap, sistem pangan perkotaan, dan
sistem pangan wilayah kota.

Bab 12 Perencanaan Tapak dalam Tata Ruang Guna Lahan Perkotaan 175

Berikut ini merupakan konsep kunci dalam pengembangan pertanian perkotaan
yang patut diperhatikan dalam pengembangan pertanian perkotaan mencakupi:

1. Food system dan resiliensinya: didefinisikan sebagai “seluruh
rangkaian kegiatan, mulai dari distribusi input melalui produksi di
pertanian hingga pemasaran dan pemrosesan, yang terlibat dalam
memproduksi dan mendistribusikan makanan ke konsumen di
perkotaan dan pedesaan. Sistem pangan daerah perkotaan mencakup
semua proses yang dilalui makanan, mulai dari produksi melalui
pemrosesan, transportasi, eceran, konsumsi hingga pembuangan
limbah dapur dan meja (termasuk limbah makanan) serta semua pelaku
dan lembaga yang memengaruhi proses ini;(Dubbeling, 2013; Marat-
Mendes et al., 2021; Mougeot, 2000)

2. actors involved: merupakan stakeholder yang terlibat dan turut
berpartisipasi dalam pengembangan pertanian perkotaan (Dubbeling et
al., 2009; Ferreira et al., 2018; Martin & Vold, 2018; Mougeot, 2000);

3. lokasi (intra-urban atau peri-urban; pada atau di luar plot; privat atau
publik, dst.) (Ling et al., 2018; Mougeot, 2000; Van Tuijl et al., 2018);

4. tipe produk yang dikembangkan baik dari pertanian ataupun
peternakan maupun untuk tipe bukan makanan (Manikas et al., 2020;
Opitz et al., 2016);

5. jenis dari aktivitas ekonomi (produksi, pemrosesan dan pemasaran,
serta distribusi dan layanan) (Krikser et al., 2016b; Opitz et al., 2016)”

6. tujuan produk/derajat orientasi pasar (konsumsi sendiri atau pertanian
perkotaan berorientasi pasar) (Krikser et al., 2016b, 2016a):

7. skala produksi dan teknologi yang digunakan mencakupi desain yang
digunakan dalam pengembangan ini(Ling et al., 2018; Vijoen et al.,
2015).

Ketujuh faktor ini adalah faktor – faktor penentu dalam pengembangan konsep
pertanian perkotaan yang memengaruhi terhadap kriteria dan juga bobot dalam
penentuan lokasi tapak dan juga bentuk desain yang direkomendasikan. Sebagai
contoh adalah penentuan lokasi untuk hortikultura sayuran selada hidroponik,
faktor matahari akan menjadi penentu di mana dapat dikembangkan.

176 Tata Ruang Pertanian Kota

12.1.2 Stakeholder dalam Pengembangan Urban
Agriculture (UA) dan Kaitannya dengan Desain
Pengembangan

Stakeholder yang dimaksud adalah pihak yang terkait dalam pengembangan
kota sebagai produsen makanan, yang meliputi rantai terendah petani hingga
pemasar dan juga pengambil keputusan. Pengaruh stakeholder yang terlibat
dalam pengembangan UA akan menentukan tipe tapak, lokasi dan desain dari
pengembangan UA. Berikut merupakan tabel ilustrasi kaitan stakeholder dan
pengembangan tapak UA.

Tabel 12.1: Kaitan antara stakeholder dan UA yang akan dikembangkan

Stakeholder Skala Lahan Rekomendasi
Pemerintah Pengembangan Pengembangan Pengembangan
UA UA UA
Private Skala Kota Rumah Kaca
Skala Lahan milik Urban farms
Neighborhood pemerintah (vertical –
Skala Rumah Kerja sama horizontal)
Tangga Pemerintah - Taman komunitas
Swasta Indoor farming
Skala Skala Rumah
Neighborhood Tangga Kampung binaan
Taman komunitas
Lahan milik Indoor farming
swasta Rooftop garden
Vertical farming
Masyarakat Skala Lahan milik Rooftop garden
Neighborhood pribadi Indoor farming
Skala Rumah Vertical farming
Tangga Backyard
farming

Pada tabel 12.1 dapat dilihat apabila pengembangan UA dilakukan oleh
pemerintah, tapak yang akan dikembangkan dapat memiliki banyak variansi
mulai besar hingga skala rumah tangga, sehingga memungkinkan untuk
dilakukan analisis terlebih dahulu terhadap lahan – lahan aset pemerintah yang
potensial dan jenis hortikultura yang akan dibudidayakan. Pengembangan yang
dilakukan oleh pihak swasta atas inisiasi sendiri, mempunyai opsi yang lumayan

Bab 12 Perencanaan Tapak dalam Tata Ruang Guna Lahan Perkotaan 177

sempit sehingga akan banyak UA yang memiliki konsep vertical farming yang
biasanya juga dapat bekerjasama dengan kampung binaan di wilayah
kepentingan swasta. Selain itu pada bangunan utama, juga data dilakukan UA
berbentuk rooftop. Apabila UA itu diinisiasi oleh masyarakat maka lebih banyak
berskala kecil dan berorientasi vertical seperti budidaya hidroponik.

12.1.3 Keraguan dan Risiko dalam Pengembangan Tapak
Urban Agriculture

Pengembangan lahan dengan aktivitas manusia yang dilakukan akan tetap
menimbulkan konsekuensi yang perlu dimitigasi, terutama terkait
pengembangan tapak terkait dengan UA ini, termasuk di dalamnya adalah
elemen keruangan yang terkait. Berikut merupakan beberapa list mengenai
keraguan, risiko dan juga mitigasi yang perlu diperhatikan berdasarkan
pembelajaran multi kasus di Kota besar dunia (Mougeot, 2000):

Tabel 12.2: Keraguan, Risiko dan Mitigasi Tapak Pengembangan UA

Keraguan Risiko Mitigasi

UA menghambat Terjadi hambatan UA diadakan dalam skala kecil
perkembangan aktivitas
perkotaan? perekonomian Penempatan UA pada lokasi –
kota dengan lokasi yang tidak terlalu strategis
lahan digunakan
untuk UA, seperti Kombinasi UA dengan aktivitas
misal pada kasus guna lahan lainnya, semisal RTH/
inisiator UA tempat rekreasi
adalah
pemerintah Manfaatkan UA sebagai buffer
area kegiatan industri

UA mengancam Pengelolaan yang Melakukan pemantauan secara
Kesehatan tidak tepat pada berkala pada outlet air limbah
masyarakat? limbah pertanian kegiatan pertanian pada skala
dan peternakan kegiatan tertentu

Pencemaran
limbah pada

178 Tata Ruang Pertanian Kota

drainase Menentukan ambang batas
perkotaan penggunaan bahan kimia yang
diperbolehkan
Penggunaan
pupuk dan bahan Melakukan edukasi pada
kimia yang tidak masyarakat mengenai risiko pada
tepat Kesehatan masyarakat dan
bagaimana menghindarinya.

UA berbahaya bagi Risiko terhadap Melakukan edukasi pada
lingkungan? erosi tanah masyarakat mengenai risiko pada
Kesehatan masyarakat dan
Risiko terhadap bagaimana menghindarinya

pencemaran air Pengolahan limbah secara
komunal dan terpusat
bersih oleh
Perencanaan tapak secara holistik
limbah agro

kimia

Risiko terhadap
bahaya pes

UA tidak terlalu Risiko benefit Penetapan lokasi UA oleh
profitable? yang diterima pemerintah berdasar kajian
petani tidak akademis (contoh: analisis
sebanding overlay kesesuaian lahan)
dengan usaha
yang dijalankan Rekomendasi komoditas pada
petani kota

Kapasitas Negara Penciptaan kelompok komunitas
pengelola
cukupkah? UA berkembang UA

memiliki risiko Pelatihan, kursus singkat, studi
yang paling tinggi banding pada kasus2 UA yang
terhadap telah berhasil
kapasitas

pengelola UA

Sumber: Diadaptasi dari Mougeot, 2000

Bab 12 Perencanaan Tapak dalam Tata Ruang Guna Lahan Perkotaan 179

Tabel 12.2 telah secara holistik memberikan gambaran terhadap pengelolaan
risiko yang dihadapi oleh pemerintah yang menginisiasi gerakan UA di
perkotaannya. Termasuk di dalamnya adalah faktor – faktor yang menyebabkan
adanya keraguan mengembangkan UA, bagaimana risiko yang dihadapi hingga
bagaimana cara memitigasinya.

Setidaknya ada beberapa topik yang menjadi perhatian tertentu dalam
pengembangan UA. Topik yang pertama adalah mengenai hal – hal yang harus
diperhatikan dalam pengembangan site plan atau tapak UA yang setidaknya
harus memperhatikan dan mengakomodasi aspek lainnya sehingga UA tidak
menjadi suatu yang kontraproduktif di perkotaan. Kedua, adalah penekanan
terhadap aspek edukasi dan regulasi yang harus dibangun sedemikian rupa
dalam menjaga keberlanjutan UA. Ketiga, terakhir adalah bagaimana UA harus
menjadi kegiatan komunitas yang menguntungkan bagi semua pihak.

12.2 Prinsip – Prinsip Perencanaan
Tapak Pengembangan Pertanian
Perkotaan

Mougeot (2000) telah memberi sebuah perspektif bahwa mendesain
pengembangan tapak UA adalah salah satu unsur keberhasilan dari UA di
perkotaan. Sejalan dengan Mougeot, banyak peneliti – peneliti lain yang telah
melakukan kajian mengenai prinsip perencanaan tapak baik spasial, non spasial
maupun yang bersifat inovasi pengembangan desain dari pengembangan
pertanian perkotaan yang lebih lanjut akan dijelaskan dalam sub – sub bab
berikut ini.

12.2.1 Pertimbangan – Pertimbangan Spasial Dalam
Pengembangan Pertanian Perkotaan

Aspek – aspek spasial/ ruang yang perlu diperhatikan dalam merencanakan
tapak UA dari berbagai macam literatur dapat dilihat pada Gambar 12 2
sebagaimana berikut ini:

180 Tata Ruang Pertanian Kota

Gambar 12.2: Aspek spasial yang menjadi pertimbangan pemilihan tapak UA

Adapun parameter – parameter terhadap aspek tersebut dapat dilihat pada Tabel
12.3 sebagaimana berikut ini:

Tabel 12.3: Parameter Aspek Spasial Pada Pemilihan Tapak Perkotaan

Aspek Parameter

Aksesibilitas Penempatan UA pada lokasi – lokasi yang tidak terlalu
strategis, kecuali jika berpotensi untuk meningkatkan nilai
ekonomi suatu wilayah

Aksesibilitas terhadap tapak yang bersangkutan, meliputi
keterjangkauan dari aktivitas masyarakat dan juga
konektivitas dengan simpul – simpul kegiatan yang lain;

Tapak yang dipilih merupakan tapak yang lebih mudah
diakses oleh banyak orang sebagai kegiatan rekreasi

Mixed use Tapak yang dipilih merupakan tapak yang memiliki
potential kemungkinan untuk dikombinasikan dengan aktivitas
lainnya

Tapak yang dipilih dapat meningkatkan nilai ekonomi
keseluruhan ruang

Tapak yang dipilih serasi dengan kegiatan masyarakat dan
tidak ada konflik keruangan dengan masyarakat

Basic Ketersediaan infrastruktur listrik
Infrastructures Ketersediaan infrastruktur air bersih atau penggantinya
Kedekatan dengan jalan

Bab 12 Perencanaan Tapak dalam Tata Ruang Guna Lahan Perkotaan 181

Site Suitability Jika tapak yang dikembangkan mempunyai tujuan
komoditas tertentu dan menggunakan media lahan, tapak
yang sesuai adalah tapak yang memiliki Analisa fisik
dasar yang sesuai untuk komoditas tersebut

Tapak memiliki kesesuaian dan mampu mengangkat
kondisi eksisting dan rencana di masa mendatang dengan
rencana spasial dan sektoral yang ada.

Design Tapak yang dipilih memiliki kemungkinan
potentiality pengembangan inovasi desain tertentu.

Sumber: (Mougeot, 2000; Project & Spaces, 2016; Whyte, 2009)

Dalam penetapan lokasi tapak pengembangan pertanian setiap daerah akan
memiliki bobot pertimbangan yang berbeda – beda dari aspek – aspek yang ada.
Berikut ini merupakan tahapan bagaimana penilaian dilakukan pada lokasi
perkotaan (skala makro/meso) pada sebuah wilayah:

1. Pendataan dan pemetaan lahan potensial untuk digunakan sebagai UA;
2. Melakukan analisis SWOT, fisik dasar dan sosial ekonomi pada

masing – masing lahan dan kesesuaiannya dengan tujuan
pengembangan ke depan;
3. Melakukan FGD bersama pakar dalam penentuan bobot pertimbangan
penetapan tapak UA;
4. Melakukan FGD bersama pakar dan masyarakat dalam penentuan nilai
pertimbangan penetapan tapak UA;
5. Memilih tapak UA yang akan digunakan dan melakukan analisis detail
tapak;
6. Memilih model UA yang sesuai untuk tapak yang digunakan;
7. Penentuan site plan UA.

182 Tata Ruang Pertanian Kota

Gambar 12.3: Studi UA
Berikut ini merupakan studi kasus yang dapat digunakan sebagai ilustrasi
memilih tapak UA berdasarkan aspek dan parameter yang ada

12.2.2 Prinsip Desain dan Konsep Dalam Pengembangan
Tapak Pertanian Perkotaan

Prinsip desain tapak yang digunakan dalam mengembangkan UA di masa
mendatang, harus mencakupi beberapa hal penting meliputi prinsip – prinsip
yang ada pada analisis tapak, analisis pengguna, analisis program dan kebijakan
yang ada dan juga prinsip pada place making untuk memaksimalkan benefit
UA. Prinsip – prinsip tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 sebagaimana berikut
ini:

Bab 12 Perencanaan Tapak dalam Tata Ruang Guna Lahan Perkotaan 183

Tabel 12.4 Prinsip Desain Tapak UA Ditinjau Dari 4 Aspek

Sumber: Diadaptasi dari Napawan, 2016

12.2.3 Site Assesement: Menganalisis Tapak Untuk Lahan
Pertanian

Analisis tapak meliputi tahapan yakni: analisis lingkungan sekitar tapak, analisis
fisik tapak, analisis sirkulasi dan aksesibilitas tapak serta analisis visibilitas
tapak. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada pembahasan sebagaimana berikut

1. Analisis Lingkungan Sekitar


Click to View FlipBook Version