The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2021-11-04 10:17:35

SPORASA

Di Musim Kemarau

Keywords: Prosa

SPORASA

di musim kemarau

Garis Hitam

Sporasa

Setelah tidak lagi denganmu
Tak ada lagi percakapan memuji atau sekadar
pengingat untuk saling mengabari
Setelah tidak lagi denganmu
Tak kudapatkan lagi kenangan hati, saling
bercakap mata hingga terbenamnya matahari

Akulah sayap yang pernah patah, hingga tak
dapat lagi terbang tinggi sediakala
Akulah daun yang dipaksa lepas dari tangkainya,
hingga terjatuh ke bumi dan terluka
Hidup seakan hampa dari sayatan luka yang
menggrogoti palung jiwa
Hingga kehilanganmu adalah hal yang
menyesakkan yang pernah kuterima

Aku terlalu meremehkan rasa
Hingga aku berpikir, melupakanmu adalah
sesuatu hal yang paling mudah
Tapi, dari apa yang aku bayangkan sebelumnya

Kenyataannya, sangat sulit hingga membuatku
jengah

Aku tidak sekuat yang mereka kira
Aku masih tetap manusia biasa
Aku butuh pundak untuk bersandar
Dan aku butuh telinga sekadar mendengarkan
harapan yang kian pudar

Sekarang, aku sedang tidak baik-baik saja
Memaksakan untuk tetap tersenyum meski
penuh dengan kebohongan rasa
Dari balik air mata yang berlinang aku mencoba
kuat untuk tetap bahagia
Di sudut rapuhku yang tak pernah ada
seorangpun yang tahu, jika kini aku sedang
memapah luka.

Riuh Kehilangan

Kita kembali bertemu di seberang jalan baris jembatan,
simpang perdebatan masa depan
Merenggut tawa dari lekuk rupa yang biasa kuhadirkan
Hingga aku merasakan bagaimana sebenar-benarnya
penyesalan
Merenung penuh resah dalam ketidakmampuan
memperjuangkan

Setelah selamat tinggal dan melupakan
Kau ubah cara pandangku mengenai kehilangan
Meski bersembunyi di balik senyum luka hati
Patahnya harapan ini enggan pergi meneriaki sumpah
serapah penuh benci

Hingga harap janji terbiaskan tak kembali
Memeluk diri hingga menggandeng tangan bayang ilusi
Berkecamuk manja di setiap lafalan caci maki menarik
janji
Ingin rasanya aku membunuh waktu untuk kita lanjutkan

kembali mimpi-mimpi

Agar aku mengetahui sebenar-benarnya rasa apa adanya
Rekontruksi masa di mana patahan rasa kian
mengantara
Merajut asa dimana kehilangan bukan sekadar
penyesalan saling menyapa
Kebumikan rasa lalu bangkitkan kembali karsa mengasah
asa.

Aku masih tetap seperti ini, sendirian meski dalam
keramaian
Aku yang masih belajar melepaskan hingga tulus
mengikhlaskan
Memapah luka duri kenangan yang menusuk perasaan
Hingga aku lupa, cara tersenyum dengan benar di balik
topeng kebohongan yang teramat sangat menyakitkan.

Pernah

Saat semua orang, terlalu mendengarkan aksara
kematian rasa

Saat semua orang, berlaku kuat padahal hatinya
berdarah dan memapah
Saat semua orang, mengucapkan kalimat
pembangkit tapi dalam hatinya masih menjerit
Karena terlalu banyak patahan rasa yang tak
dapat menari kembali sediakala

Ketika kehilangan, kita rayakan dengan sepi dan
air mata
Ketika sayatan, kita jadikan sebagai tanda penuh
lara
Setiap goresan yang mengoyak, kita balut
dengan kebohongan
Setiap retakan hati yang terluka, kita
sembunyikan dengan senyuman

Kita pernah menyalahi diri sendiri, karena
mendekap hati yang salah
Kita pernah bergumam emosi, karena sering kali
dikhianati
Kita pernah merasakan sepi, karena terlalu
sering ditinggal pergi

Dan kita pernah mati meski jantung masih
berdetak sampai kini

Kita seakan menyiksa diri
Perlahan memudar dan mati
Kita hanya perlu ditemani
Bukan hanya berteman sepi

Saat dirimu pergi meninggalkanku sendirian dan
perasaan kita sudah tak lagi berdampingan
Baru kita merasakan, kehilangan yang
sebenar-benarnya kehilangan
Hingga penyesalan, hanya bahasa klasik yang
terlontarkan
Tanpa bisa melakukan lagi dan tak dapat
kembali lagi, selain mengikhlaskan.

Kini Aku Tahu

Seharusnya aku tahu, rasa sebenarnya perasaan
Ada padamu ...

Seharusnya aku paham, kejelasan ejaan kata sebuah
cinta
Ada pada bibirmu ...

Setelah yang kukejar nyatanya menanggalkan keinginan
Balutan sepi hanya berbuah sesal penuh angan
Hari-hari ku, kini tak seindah dongeng malam hari
Mimpi-mimpi ku, nyatanya kini tak berpelangi

Padamu rindu ... yang pernah sempat aku abaikan
Aku hanya ingin menyapa, lewat ke kata rasa sebuah
tulisan
Nyatanya memang benar; Aku menyesal mengenalnya
Lebih menyesal lagi; aku tak memilihmu dengan cinta
yang kau punya

Setelah jabat ucap tak lagi bergandengan
Setelah rangkaian kata kini pupus di tengah jalan
Baru aku sadari, jika dalam mencintai seseorang
Aku harus siap menjalani sakit berkepanjangan.

Aku Selalu Bertanya

Aku selalu bertanya;

Mengapa ditinggalkanmu begitu sangat menyakitkan?
Padahal aku sudah terbiasa dengan kata pergi.

Mengapa melupakanmu begitu sangat menyusahkan?
Padahal, sangat banyak cara untuk aku bisa
melupakanmu.

Dan mengapa dirimu sangat sulit tergantikan?
Padahal di sekitar ku, banyak sekali seseorang yang
mampu menggantikan namamu.

Aku selalu bertanya;

Bagaimana bisa kau lakukan ini terhadapku?
Sangat melelahkan setiap hari memikirkanmu.

Aku terlihat bodoh sekarang!
Selalu saja berpikir; Apakah hari ini kau sedang

mengingatku juga?
Apakah kau sedang tersenyum, tertawa, bersedih atau
mungkin sedang menangis?
Ah! Kalau pun benar, bahuku sekarang tak lagi
dibutuhkan.
Kalau pun tidak, aku sudah tidak berhak lagi
menanyakan perihal keadaanmu.

Aku hanya bisa menundukkan kepala dan
menghembuskan napas panjang.
Semoga keadaan yang menyebalkan ini tak
berkepanjangan hingga berakhir dan terlupakan.

Jadikan Aku

Sepanjang jalan telah kutempuh
Menapak terjal membuat kurapuh
Pembuktian karsa rasa enggan jumpa
Hanya sebelah mata, hampa tak tersisa

Aku terlalu berharap pada manusia
Hingga darah yang mengalir seakan canda
Sampai patah memapah arah hanya cerita
Ya, aku lupa.. aku bukan siapa-siapa!

Terlalu mengakuisisimu
Seakan hadir hanya benalu
Terlalu aku menganggapmu
Sampai sesak menyebut namamu

Ajarkan aku sepertimu
Ada tapi tiada
Jadikan aku sepertimu
Manusia yang t'lah mati rasa.

Kusapa Nanti

Jika aku Sang luka
Bila aku Sang duka
'Pabila aku Sang kecewa
Mungkin aku adalah derita

Maafku sembari mendekap
Tulus ku 'tuk mengucap
Bila aku Sang patah
Biarkan aku yang mengalah

Pergi secara perlahan
Meninggalkan berjuta kenangan
Berhenti tuk berharap
Pada hati perlahan senyap

Selaksa senja yang terbenam
Kukubur semua harap kian memendam
Hingga nanti kusapa sekali lagi
Menjadi pertemuan asing pertama kali.

Siapa?

Pernah, membuat kesalahan
Menyimpulkan harap mengabaikan perasaan
Pernah, merasakan penyesalan
Menikmati luka sendirian

Kini hujan tak lagi sama
Kini Langit terasa berbeda
Terlihat mengecewakan
Terlihat menyedihkan

Perkelahian waktu terabaikan
Rerisa rasa terlalu berlebihan
Lupa cara 'tuk pulang
Meramu kembali 'tuk mengulang

Tak bisa bicara
Tak mendengar seperti biasa
Sorak ramai dikeheningan
Membutakan hati dan perasaan

Tak perlu menguji
Tak perlu mencaci
Tak perlu dimengerti
Sisi lain dari hati

Terombang-ambing mata angin
Mengawang-awang rasa ingin
Tak perlu seperti itu!
Kau tak tahu siapa aku.

Kala

Kini, kusimpan kenangan kelam di meja harapan
Karena telah kujadikan hiasan pudar kegelapan
Sesampainya jemari ini menanggalkan pertikaian
Perdebatan emosi antara logika dan perasaan

Setelah ucap pergi merelakan
Berbalik arah tak lagi bersahutan
Unggah diri mengasingkan
Seraya berucap perpisahan

Jikalau mata memeluk rindu
Biaskanlah fana yang menganggu
Ketika candu tak lagi bertemu
Tenggelamkan aku pada gelapmu

Kuhantarkan di pelupuk senja
Padamkan kenang di penghujung masa
Padamu kasih, kita hanya sebatas pernah
Dalam rangkaian kata sebuah kisah.

Esok Hari

Benar, memang benar!
Lucu, sangat lucu bukan?
Hebat, kau sangat hebat!
Terjerembap pada ruang yang salah
Sekali lagi memapah hati yang patah
Terkadang semuanya tak salah
Terkadang semuanya tak benar
Siapa yang bisa menyalahkan?
Siapa yang bisa membenarkan?

Mari, kita kembali ke awal!
Sepertinya babak dulu lebih seru
Skenario ini terlalu diambang batas
Sampai lupa diri kita
Sampai cermin ikut malu dibuatnya

Kini mentari sedang malu-malu terhadapku
Bersembunyi di balik awan kelabu
Entah hujan akan turun atau tidak
Sepertinya kemarau masih terjaga

Jangan tunggu pelangi
Ia takkan datang!.

Luruh

Kalimatmu merontokkan tiap helai harapanku
Mengoyak seisi jiwaku, melarungkan laju rinduku
Logika mati tak berpresisi lagi
Suramnya intipati hanya sebatas mimpi-mimpi

Terkadang aku lupa
Untuk siapa kuberdoa
Jika amin yang kulangitkan
Tak pernah sampai terlabuhkan

Seperti badik menancap jantungku
Hingga sesak deru napasku
Bagai hujan tak diinginkan
Bersembunyi dari balik ruang angan

Dari sekian dan setelah
Laju harap kian terbelah
Kata kita tak berarah
Kini berdarah dan bernanah

Dari bilik sekat penuh khayalan
Kau berguling-guling dalam pelukan
Meratapi sibuk penghabisanku
Sampai keringnya kornea mataku.

Aku dan Kegagalanku

Kegagalanku bukan karena kau tak mempunyai rasa
terhadapku
Kegagalanku bukan tak bisa memberikan warna dalam
hidupmu
Kegagalanku bukan dari perhatian yang kuberikan
teruntukmu
Bukan pula dari kekhawatiran setiap aku mengingatmu,
saat langkah kaki ini berjalan mengarah mu
Ataupun di saat kesendirian, dirimu masih saja berlarian
dalam otakku
Bukan pula ketika aku selalu menunggu notifikasi
namamu di ponselku

Kegagalanku ialah tak bisa mempertahankan mu untuk
selalu ada untukku
Kegagalanku masih saja tak bisa mengenali siapa dirimu
Aku tarik ucapan ku, jika aku sangat mengerti dirimu
Ketika kau pergi tanpa memberikan sinyal pergi
Ketika kau mengucapkan "Aku tidak apa-apa"
Atau ketika kau mengucapkan "Aku sedang ingin sendiri"

Aku tak mampu menebak keadaanmu
Aku tak bisa merasakan, apa yang telah kau lalui saat tak
bersamaku

Tanpa adanya aba-aba, kau pergi begitu saja
meninggalkan ku tanpa pesan
Hingga kudapati dirimu, kini bersama seseorang yang
kukenali
Aku seakan dihunus pedang dari belakang
Seakan jantung ini seketika berhenti
Hingga paru-paruku mulai melambat memompakan
udara untuk nafasku

Secara paksa, aku harus melupakanmu dengan segera
Karena sesaknya hati ini membuatku enggan untuk
bangkit dari keterpurukan yang menyelimuti palung
jiwaku

Di atas perapian harap yang kian memudar
Aku bersikeras untuk tidak memikirkanmu
Tapi selalu saja aku kalah
Kalah dari Kegagalanku yang memaksaku untuk terus

mengingatmu
Aku kalah pada diriku sendiri, masih tak bisa berdamai
dengan ego dan kebencian hati

Kekasih ... aku masih memeluk kenangan saat
bersamamu
Di antara pergantian senja menjelang malam
Di tiap hari-hari yang selalu membayang
Di setiap petikkan gitar serta melodi yang selalu
kumainkan

Kehilanganmu membuatku sadar, jika kepedihan yang
teramat sangat adalah ketika aku harus merelakan mu
Mencoba tetap biasa saat berpapasan
Atau tetap bercengkrama ketika seseorang disebelah mu
sedang memagang erat tanganmu
Meski aku tahu dirimu hanya sebatas kenangan di masa
lalu

Semoga dan setelah kita berpisah, aku harap tak ada lagi
kata kita yang mampu menggantikan posisi mu dalam
benakku

Karena dapat dipastikan akan lebih sakit dari derita yang
pernah kualami sekarang
Selamat dan pamit pesan dariku
Seseorang yang pernah hinggap dalam benakmu
Seseorang yang pernah sama-sama berjuang dalam
tujuan sebuah perasaan
Seseorang yang hanya sekadar sementara, menjaga
hari-harimu sebelum kau dipinang oleh takdir
Hingga menggenapkan rasa bersama kekasihmu.

Kata dan Rasa

Dengan meluapkan semua perasaanku dalam tulisan,
mungkin setidaknya akan meredakan sebuah amarah
yang memendam

Dahulu, aku pernah merasakan saat dimana posisiku
tergantikan
Aku pernah merasakan, sakitnya dikhianati tanpa adanya
alasan dan sebab yang pasti
Aku pernah merasakan, rasanya menjadi orang asing
akan dirinya yang kucintai
Dan aku pernah merasakan bagaimana sakitnya patahan
harap yang menjerat hingga ku mati

Mati akan rasa
Mati akan asa
Mati akan pengakuan diri yang di acuhkan oleh cinta

Meski aku percaya akan takdir semesta yang ku jaga
Tetap saja sakitnya hati ini menjadi mimpi buruk yang
menghantui malamku
Tetap saja meski kenanganmu telah berlalu rasa dan
amarah ini hanya menjadikan sebuah candu

Candu akan luka
Candu akan jiwa yang telah pecah
Candu akan hati yang telah patah dalam palung intipati

tak berarah

Kata ke kata mengatakan perkataan yang tertata dalam
aksara
Hingga rasa pada masa merasakan asa kini telah hampa
Kini kata dan rasa menjadi perlambanganku akan jiwa
Jiwa yang memapah karena asa yang tercabik luka
Melarungkan rasa dalam kata hingga mati tanpa kata.

Kata dan Rasa (3)

Spora rasa tumbuh saat luka yang menganga, kau balut
dengan kata kata indah penuh makna
Cerita malam yang membuatku lupa, siapa aku dihatimu
yang terlalu berharap kepadamu
Kau mengobati luka yang salah sehingga aku larut dalam
cinta yang dahulu pernah patah
Kepingan masa lalu yang terabaikan rasa, setelah jatuh
bangun memperjuangkan karsa yang dianggap biasa

Ialah kau, obat penyembuh di saat hatiku terjatuh
Keinginan yang tak sejalan dan tak sampai hati ini
berlabuh
Ketika perjalananku terhentikan oleh waktu...
Waktu yang tak tepat dimana karsa dan rasa dalam sekat
Secara tak sadar kau menciptakan luka baru dalam
hatiku

Kata dan rasa hanya sebatas perwakilan asa
Memecahkan patahan rasa yang menyayat palung jiwa
kian perih, tertuju padu, meronta-ronta dalam kelukaan
rongga dada
Menusuk sakit kian menjangkit hingga tak ada lagi temu
rindu yang kutunggu
Hingga batas nalarku menenggelamkan dalam fana...
Fana yang tak nyata

Aku tahu, tapi aku tetap saja kepadamu
Padamu Sang pembuncah hatiku.
Dan aku adalah hati yang terlalu berharap
Padamu hati yang selalu ingin kudekap

Saat percakapan empat mata dan saling membongkar
rahasia
Perasaanku mulai tergoda...
Tergoda pada kata dan rasa hingga terbuai suasana

Kau membuat hatiku berada...
Berada dalam jiwa rasa di luar batas kewajaran
Sehingga aku mengharapkan sebuah keinginan
Padahal aku tahu engkau hanyalah rumah singgah
sementara yang tak bisa kugenapkan.
Tapi justru aku malah terbawa perasaan
Hingga ku terjatuh kembali dalam lubang kedukaan

Stigma rasa yang terbelah, merobek perih hingga pedih
Saat luka lama, baru saja mengering.. dengan cepatnya
kembali terbuka
Menyayatkan luka paling dasar palung jiwa..
Jiwa yang telah sembuh kembali patah
Saat diriku singgah dalam pelukan hati yang salah.

Spektrum Hujan

Musim hujan jatuh bersamaan di balik pelangi yang
membias
Seolah mengintip dari celah awan yang bergerak
Rintik ikut menggoda, seraya mengajak mata bercerita

Aku terhanyut, hingga ikut menikmati rasa yang
membalut
Cinta itu sangat lucu, aku yang terluka namun masih saja
tetap tinggal
Atau mungkin aku yang terlalu lugu, memahami dan
memaknai perihal rasa
Kasih sayang yang berlebih hingga memupuk duri perih

Padahal aku tahu, dirimu masih manusia biasa sepertiku

Sejatinya hujan pun tahu, saat musim kemarau ia
malu-malu menampakan mendung dan rinainya
Apalagi kita, sepatutnya memahami dimana seharusnya
menyimpan rasa dan untuk siapa labuhkan hati pada
cinta yang sebenarnya

Mengenalmu adalah kesedihan
Seakan memaksakan sesuatu yang tak kunjung usai
Meniadakan senyum di balik luka-luka berujung duka
Hanya sebatas harapan yang tak dapat kuraih, riuh
menahan sebuah kehilangan
Nyatanya, kita adalah dua insan dalam pertemuan yang
tidak di takdirkan semesta untuk saling mengikat rasa

Aku lelah memikirkanmu...
Yang sudah jelas hatimu tak mungkin memilihku
Seharusnya aku tahu, kamu bukan satu-satunya hati
yang dapat melengkapi
Tapi tetap saja, seisi kepala melukis namamu
Engkau yang datang tapi malah aku yang berjuang

Miris, memaksakan untuk tetap kuat padahal di dalam
hatiku masih saja memendam luka
Dan pada akhirnya, aku terkunci dalam labirin cinta
sia-sia di singgasana harap menanti mati.

(2019)
Garis Hitam & Kemarau

Hujan

Mengapa jatuh cinta kepadamu tidak seperti bulan yang
menerangi malam? Mengapa perasaan ini enggan pergi
meninggalkan seperti rasa terdahulu yang pernah
terkubur bersama kenangannya?.

Waktu;

Tunggu aku untuk mencabut benih perasaaan yang dulu
pernah kuramu secara lugas beserta kehangatan yang
kuselimuti cinta kasih kesempurnaan. Tak perlu
mengajarkanku untuk bertahan dengan sepi yang
memelukku sekarang, karena tanpa dan adanya dirimu
telah kudapati kehilangan seperti sahabat lama sejak
dulu. Musim hujan sangat berat ketika ditemani dengan
alunan lagu yang kerap kali kembali pada kenangan masa
lalu bersamamu.

Kekasih ... bentuk maaf yang kau utarakan hanya akan
membuatku kembali menanyakan perihal; kesalahan apa
telah kuperbuat?. Jangan menyalahkan hati yang sering
dibolak-balikkan oleh keadaan; kita manusia.

Karena dalam buaian mimpi malam serta denting merdu
suara kemarau panjang adalah sesuatu yang harus aku
kalahkan sekarang. Dengan paksa, aku merelakan rasa
yang pernah tertimbun di antara putik bunga abadi
diketinggian himarasa. Meski telah tercabut dari inang
tanah yang menggeliat, ia akan tetap hidup bersemayam
di antara persembunyian para ilalang.

Aku dan para kunang-kunang malam sedang asik
bercengkrama menimang kesunyian setelah menanti
kabar hilang sang petang. Hingga nanti setelah
meredakan harap yang tak kunjung berhasil
mempersatukan riuh endapan hati. Bahagiamu akan
selalu tersemai di antara jemari yang menengadah pada
surga ke tujuh dalam ujung langit pucuk doa.

Sinopsis Rasa

Entah mengapa merelakanmu terasa berat bagiku,
logikaku terasa mati ulah perasaan kejam yang kini
mencekikku.
Jangan tanyakan apa yang aku rasakan, tapi tanyakan
mengapa kau bisa setega itu kepada orang yang sangat
menyayangimu.
Aku hanya tak siap terluka saat kau pergi tanpa
memberikan persiapan untukku, padahal beberapa kali
telah kutanyakan perihal perbedaan tentangmu
kepadaku.
Sedangkan kau hanya bungkam terbata kata merias diri
penuh rahasia.

Di saat seseorang yang selalu ada dan terbuka mengenai
apa-apa yang ia punya, tergantikan oleh seseorang yang
hanya bertemu hitungan jari.
Bila aku kesalahan, lantas apakah yang kau perjuangkan
sekarang adalah pembenaran?
Tentang caramu merajam luka tanpa aba-aba mengoyak
rasa, hingga pertemuan kini pupus dihantam lara.

Aku masih menunggu alasan apa yang akan keluar dari
bibir tipismu yang dahulu menenangkanku.
Tapi yang kudengar hanyalah kesunyian di antara
keheningan malam yang merenggutku.
Yang kubutuhkan darimu ialah berbicara mengenai suatu
hal yang tak kuketahui.
Yang kuinginkan adalah untuk dirimu menghargai
perasaan yang dulu kujalani.

Sampai detik perpisahan itu terjadi, hingga lelah mencari
makna yang menutupi
Aku mencoba menjadi orang biasa didepanmu secara
paksa
Meski terluka dan memapah kekecewaan, meski lubang
terus menganga tak berharapan, meski dirajam beribu
belati penuh sayatan.
Aku akan tetap mengenangmu di sela luka masa lalu
yang menyakitkan.

Penantian Usang

Pagi terdiam pada meja lamunan yang ditinggalkan
harapan secara percuma, seakan semua telah berlalu
dalam pengandaian angan-angan masa lalu. Masih dan
sama seperti kemarin ketika tilas tapak hanya bekas
yang tertoreh pada buku kenangan, menanggalkan
pertemuan selanjutnya dari penantian harap yang kian
meniada.

Kita bagaikan buih kenangan yang melayang,
terombang-ambing mata angin menunggu pecah dengan
perlahan.
Rerisa rasa yang telah usang digerus waktu dan
kenangan, karena kita pernah berjuang
mempertahankan rasa yang dulu ada.
Hingga terhujani masalah dan tak sedikit orang memilih
untuk berpisah.

Aku dan sebagian hati lainnya ialah satu di antara hati
yang patah ketika ditinggalkan pergi tanpa alasan yang
pasti. Memeluk rahasia, hingga terus menerka;
Kesalahan terbesar apa yang pernah aku lakukan?
Perasaan apa yang kurang dipertahankan?

Perhatian dan kekhawatiran apa yang tidak aku
tunjukkan?
Membungkam ..., mungkin ialah solusi terbaik untukmu,
tapi tidak untukku yang mencari letak keberadaan
retakkan itu bermula.

Menunggu itu melelahkan dan teramat sangat
menyebalkan! Apalagi jika sebuah perasaan hanya
dibuat bercanda dari semua kejujuran yang kita
suguhkan. Teruntukmu yang kini masih singgah dalam
benakku, aku masih melihat punggungmu dari kejauhan.
Menanti pudarnya rasa hingga pupus terhilang masa.

Dan sekarang aku menyadari; dalam hal mencintai
seseorang, kita harus menerima tiap sela luka yang
teramat sangat menyakitkan.

Menunggu Pagi

Kini kita kembali mengarungi muara senja yang dulu
sempat menepi di tepian dermaga tua, mencoba

merehatkan pada pinggiran puri dalam tapak tilas
perdebatan prasangka. Dayung perahu mulai bergerak
dengan perlahan, mengayuh pada tujuan utama yang
dulu sempat kita arahkan. Sempat menjadi orang asing
di awal perjumpaan daun mengering, hingga hanya
sedikit pembicaraan perihal mengenai kata KITA.

Lambat laun seakan terhanyut oleh derasnya aliran
fatamorasa, hingga terbawa suasana menjadikan kita
pada titik masa yang dulu sempat terjeda. Permasalahan
yang sepakat untuk dilupakan, kembali menjadi topik
perbincangan di antara kerumunan bintang beserta
pekatnya malam, ditemani kopi dan coklat kesukaanmu
di meja bundar saling pandang.

Sekilas, kau tampak murung ..., ketika sesekali
kulayangkan pertanyaan perihal alasan; mengapa dahulu
kau pergi?. Entah dan bagaimana terjadinya huru-hara
batin terkoyak seketika itu. Tertegun kumemandang
pelangi yang mengabu, langitnya cukup mendung untuk
mendatangkan hujan malam sabtu. Orang-orang
bermesraan dengan malamnya, aku terdiam sepi

menunggu ketidakpastian akan kemana kuberlari.
Sampai pertemuan itu terjadi, kau bergumam
memintaku memafkan, sesuatu yang tak diketahui
penyebab karamnya kapal pelabuhan rasa yang
ditinggalkan begitu saja beserta awaknya.

Kini, kita seakan merangkai kembali rajutan kusut yang
ditimbulkan sang pujangga yang terlalu mengotak-atik
kata, hingga lupa kesederhanaan klausa. Pada titik di
mana kata dan rasa tak lagi meramu sediakala, hingga
berlomba menjadi tetap biasa dengan adanya kita yang
berbeda.

Masa lalu memang mempunyai kisah-kisah tersendiri,
hingga mempunyai banyak kenangan yang sering
terlintas saat kita diselimuti sepi. Untukmu masa lalu,
biarkanlah kami berjalan kembali seperti biasa tanpa
adanya sendu, terimakasih juga atas semua pelajaran
yang pernah kita terima dan pernah kita rasakan
bersama.

Percayalah ..., kita akan kembali melangkah, meski

dikemudian hari kita tidak dapat lagi searah.

Penghujung Doa
Perpisahan ini, terjadi karena ketidakmampuanku
mengucap rindu di daun telingamu. Mengecup tipis di
pipi sebelah kiri atau di keningmu sebagai bentuk kasih
perlambangan cinta bahkan memegang erat di tiap sela
jemarimu saja seakan khayal tak berkesudahan di ujung

masa.

Kepergianmu tak luput dari karsaku yang hampa karena
keadaan yang merajam asa, hingga kehilanganmu ialah
resiko nyata dari apa yang pernah kita geluti bersama
beserta linangan air mata penuh luka.

Kita adalah hati yang sama-sama dipatahkan oleh
keadaan dan perasaan. Dan kita hanya bisa menyikapi
sesuatu yang telah terjadi dengan lapang dada, karena
disetiap penghujung doa yang sering kita langitkan
hanya sampai pada singgasana semesta. Hingga harapan
terjeda dan terbiaskan oleh buku langit Sang Kuasa.

Aku tak mau tangismu menjadi mutiara hitam yang
kelam atas kesalahpahaman rasa. Sesalku, biarkan aku
tanggung bersama kicauan burung menanti sirna, karena
aku ialah kesalahan dari ketidak mampuanku
melingkarkan mutiara putih dilingkar jemarimu.
Memang, aku turut serta dalam tangismu meradang,
hingga kau tak kuasa terbuka perihal rasa dari
ketidakmampuanmu untuk bicara.

Bukan siapa yang lama bertahan dan siapa yang
memperjuangkan. Tapi jika keadaan tak searah dengan
perasaan; kita bisa apa?, yang kita lakukan hanya bisa
menerima dengan apa yang telah digariskan Tuhan.
Teruntuk engkau ... kekasih hati yang terjegal oleh takdir,
tersenyumlah meski harapan tak sesuai dengan apa yang
kita rencanakan dan berbahagialah bersama
penggenapanmu di akhir masa dalam pencapaian di
ujung doa.

Lelah Melangkah

Aku pernah memilih hati yang bukan milikku, keadaan
serba salah di balik rasa yang merekah. Selalu dan terus
kudapati keresahan di balik tanda tanya besar, perihal;
siapakah aku di antara mereka?

Aku tak menduga, jika mencintaimu sangat melelahkan
kornea mataku, kerap kali musim penghujan datang
meski kemarau panjang berada tepat di penghujung

bulan.

Aku memang tak memintamu untuk merindukanku di
setiap hari-harimu. Tapi kilas balik raut wajah serta
guyonan mesra tentangmu selalu saja mengisi waktuku
secara tiba-tiba. Seakan seisi memoriku hanya dipenuhi
dengan kenangan bersamamu. Seperti enggan hilang
dalam benakku, meski telah kutimbun oleh kenangan
baru yang sengaja kupaksa untuk datang.

Aku telah melangkah cukup jauh untuk melupakanmu,
tapi tetap saja aku selalu terseret kembali oleh kenangan
masa lalu bersamamu.
Siapa yang bisa mengajariku untuk melupakan seseorang
yang mengabaikan perasaan yang kini telah hadir?
Bagian mana lagi yang bisa kau lukai dari balik perhatian
yang tidak kutahu?

Kau seakan meminta kejelasan dalam suatu hubungan
yang kita hadapi sekarang, tapi di lain sisi dirimu sedang
dalam keadaan tak sadar dengan apa yang kau lakukan.
Kau seakan menyuruhku singgah ketika kejenuhan

datang bersama rasa bosan kerap datang menghampiri,
tanpa memintaku untuk tetap menetap di antara kedua
sisi atma. Dan aku sadar, aku hanya tamu yang datang
sementara di saat sela-sela rutinitasmu.

Sungguh, aku ingin melupakanmu, menghilangkan jejak
diantara malam dan cerita, menimbun luka di tiap titik
jeda yang dahulunya sempat meramu rasa. Tapi dengan
segera, aku selalu ingin membuka aplikasi di beranda
ponselku. Menunggumu hadir hanya untuk menyapa
kerinduanku.

Sangat menyebalkan jika hanya merindu sendirian,
karena aku tak tahu; sedang apa yang kau lakukan
sekarang? Haruskah aku jatuh untuk kesekian kalinya
dalam pertemuan sebuah perasaan? Haruskah kuterus
bertahan memapah luka sendirian?

Jika cinta sangat menyakitkan, untuk apa aku dan dia
pernah dipertemukan? Jika yang kudapati sekarang
lagi-lagi menyesakkan perasaan.

Pelangi di Matamu

Kau tahu? Dirimu benar-benar menjadi orang asing di
kehidupanku, renungi saja caramu bertemu dengan
orang di sekitarku. Apa sekarang kau masih tetap
bahagia? Apakah tidurmu nyenyak? Apa rinai matamu
sekarang sedang berjatuhan pada kedua pelipis matamu?
Hingga jatuh ke tanah dan membuatmu sangat terluka?

Kau seakan mengasingkan diri dari keramaian, tawamu
tak semerakah bunga mawar yang ada di pelataran
rumahku sekarang. Tanpa dan adanya aku kau seperti
diselimuti awan kelabu yang menanti hujan untuk

tenggelam dikantong air matamu. Entah disadari atau
tidak, kau bukan kamu yang dulu saat kita pernah
menamai rasa bersama saat malam mulai berjelaga.

Aku tahu ini sulit, tapi jangan terlarut dari sesuatu yang
telah kau hilangkan demi seseorang yang kini harus kau
jaga hatinya untuk tak berpaling kembali dari
sebenarnya rumah persinggahan sesungguhnya.

Tenang saja ... kau tak menghilangkan sepenunya,
karena kenangan beserta namaku akan selalu
terpendam dalam lubuk hatimu yang takkan terjamah
oleh siapapun. Hanya dirimu dan semesta yang tahu, jika
dahulunya kita pernah saling berbagi kasih serta
mengucap rindu di frekuensi yang sama.

Setelah dan semoga doa dilangitkan beserta hujan yang
mengguyur air mata di sepertiga malammu akan datang
pelangi bahagia yang pasti kautemui dari dekapan
seseorang yang kini berada disampingmu.

Sebenarnya Kita

Aku sedang merapihkan benang kusut di antara riuhnya
perdebatan penyesalan. Kesalahan sepele tapi semakin
menggunung hingga sulit meredam kekalutan untuk
sekadar berjeda dalam menepi. Seakan memasukkan
benang pada lubang jarum, terasa sederhana tapi sulit
dilakukan. Baik lelaki atau perempuan keduanya
memiliki logika dan perasaan. Baik rapuh dan tidaknya
sepotong hati manusia, keduanya dapat menyikapi
masalah sesuai karakteristiknya. Hanya saja banyak yang
berspekulasi bahwa masalah yang mereka hadapi paling
berat tanpa menimbang masalah seseorang yang lebih
awal merangkas itu semua.

Kita terlalu melihat derajat kehidupan dunia tanpa

melihat sisi lain dari kebersyukuran manusia. Banyak di
antara mereka lebih terpuruk hingga merajuk. Curam,
terjal hingga beberapa kali bergelut dengan keadaan,
tapi tetap kokoh dan teguh melangkah bergerak tegak
tanpa memperdulikan goresan-goresan luka kehidupan.
Tapi beberapa di antaranya harus merelakan jiwa serta
raga karena ingin mengakhiri realita yang ada.

Jika hidup kita di sini hanya untuk bersenang-senang,
tanpa tahu hakikat tujuan hidup di muka bumi. Lantas
untuk apa kita ada dan diciptakan?

Ketahuilah hakikat keikhlasan dipertujukan untuk siapa,
agar kita tidak terjerembap pada labirin dunia yang
sering mempermainkan kita dalam melangkah, pada
arah dari yang sebenarnya rumah.

Pura-pura

Pada jejak langkah kerap kali terlintas dalam benak.
Wajahmu lagi-lagi muncul berupa kenangan. Memuncak
pada ujung harap yang telah pupus tinggal percuma.
Meski turut patuh pada semesta, nyatanya kehilangan
membuatku sadar akan nyata.

Kali ini hari-hari seakan membosankan. Perbincangan
kerinduan tidak dapat lagi aku sentuh. Seumpama
cahaya tak lagi ada. Perapian lentera padam dirundung
kecewa.

Sekali lagi aku kehilangan dengan segera. Kesiapan yang
terjegal ruang rasa memberikan kesan pelik; selasar jiwa
memekik.

Ingin aku bunuh rindu, setelah lelah hentikan ruang
cumbu. Yang kulakukan saat ini bukan lagi sebatas canda.

Meski dengan sesak; melakukan cara pura-pura lupa.

Beranda Kalbu

Di persembunyian rahasia; hanya aku dan Tuhan yang
tahu. Menyelam lebih dalam mengenai perasaan yang
dulu tertinggal. Mencari letak kesalahan di mana benih
luka itu terjadi dan terus berpikir mengapa
memikirkanmu adalah keharusan?.

Helaan nafas yang kerap kali terhembus menyisakkan
tanya. Hingga konsentrasi terbuyarkan oleh peliknya
realita; karena kamu, sekarang aku seperti ini.

Aku telah mencoba mengarungi luasnya samudera untuk
menjauhimu. Lalu tenggelam dan mengikhlaskan ialah
keharusanku untuk tetap melangkah maju meski tidak
bersamamu. Tapi lagi-lagi aku gagal, padahal segala
upaya telah kulakukan hingga telah kubunuh secara
paksa untuk menjadi seperti biasa.

Lagu-lagu kadang menjadi penyebab kenangan itu

kembali atau saat turun hujan yang membuat diri kita
mematung, seolah menarik ke dalam dimensi nalar tak
berujung.

Tapi aku sadar, aku harus menjadi air. Meski membentur
bebatuan keras bumi. Pada akhirnya akan mencapai
pusaran lelah di penghujung setelah.

Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Karena aku
yakin Tuhan lebih tahu, hikmah apa yang kudapati
setelah akhirnya berpisah denganmu.

Pernah mencintaimu dengan sungguh, bukan menjadi
sebuah kesalahan penuh keluh. Karena rasa ini memilih,
kepadamu ... hati ini labuhkan kasih.

Pusaran Rindu


Click to View FlipBook Version