Kaulah orang yang menancapkan belati tepat di
dadaku. Kaulah pelaku utama di mana luka-luka
itu tetap menganga. Akan tetapi, serasa
dirimulah yang paling terluka di sini. Meminta
keadilan sebagai korban yang telah dipatahkan.
Hey, sadarlah!
Kau mau aku seperti apa?
Apakah kau ingin aku terus tertimbun
reruntuhan bersama kenanganmu? Atau
bersembunyi di kegelapan malam hingga ku
cabik-cabik tubuhku bertuliskan namamu, untuk
bisa membuatmu seperti sediakala?
Haruskah kita seperti ini?
Haruskah kita menyemai sepi?
Haruskah kita mengalun sunyi?
Atau haruskah kita saling mencaci?
Kau tahu? Aku muak dengan semua ini!
Aku jengah dengan sifatmu yang tak bisa ku
mengerti!
Aku lelah!
Sekarang, terserah dengan apa yang ingin kau
lakukan
Aku menyerah.
Exchange
Jika diizinkan; sehari saja kau menjadi diriku. Kita
bertukar posisi. Biar kamu tahu bagaimana
perasaanku sekarang.
"Aku menjadi orang yang mengabaikan. Kamu
yang berjuang memberikan semua perhatian.
Aku yang bersikeras melupakan. Kamu yang
berusaha mempertahankan. Aku yang rela
meninggalkan. Kamu dengan susah payah,
menahan sebuah kehilangan."
Biar kamu tahu, bagaimana perasaanku yang
diabaikan olehmu. Agar kamu tahu, seindah apa
dirimu di mataku.
Katakan padaku; apakah aku harus bertahan,
atau harus merelakanmu?.
Menunggu Kuasa Tuhan
Boleh aku bertanya?
"Sebenarnya, hubungan kita itu seperti apa, apakah
hanya lawan bicara saat di keheningan, atau teman setia
saat dirundung kesedihan?"
Kita sama-sama sadar; aku atau pun kamu, datang di
saat kita saling membutuhkan. Tidak lebih dan tidak
kurang. Sebagaimana mentari akan datang saat pagi, lalu
rembulan yang akan menemani saat gelap menghampiri;
begitulah kita.
Singkat saja, kita adalah dua hati yang menunggu di
persatukan Tuhan. Karena kita sama-sama tahu, kisah
kita ialah kiasan antara langit dan bumi. Karena kita
sama-sama merasakan, hanya insan yang hanya bisa
merasakan cinta, tanpa bisa memaksakan kenyataan
yang ada.
Tetaplah menjadi matahari yang memberikan semangat
untukku, jadilah rembulan yang selalu menerangi dan
menemani di saat sepiku.
Kita ...
Selamanya
Sampai menunggu waktunya tiba.
Kata dan Rasa (Benci)
Sedetik lalu, teringat aku pada tangkai-tangkai patah
waktu dulu
Serta daun-daun rasa yang gugur dan memudar ditelan
waktu
Pada cumbuan purnama elok yang dirindukan sang
malam
Serta buaian rintih suara hujan yang terus berjatuhan
Aku kabarkan, sepenggal kisah pilu di tempat ketinggian
kekecewaan
Meneriakkan sesal pada repihan kenangan yang
menyakitkan
Melemparkan harap yang pupus diterjang badai kata
Mematikan kasih dari kisah tak menyemai rasa
Karena telah kudapati rindu pada selasar hati di
penghujung hari
Menyibakkan rasa pada sudut netra intipati
Pada musim kemarau yang basah dengan sengaja
Pada perihnya sesak menunggu waktu di penghujung
masa
Karena kau adalah penyebab air mata ini mulai
mengering
Karena kau alasan mengapa aku masih dalam ruang tak
bergeming
Memekikkan amarah hingga serak tenggorokanku
Mengeluarkan belati lalu menghunjam di inti jantungku
Hingga dalam harap berujung pilu
Mengais sesak dalam ratapan jejak kian sembilu
Aku, masih disni bersama bayangmu
Mencaci maki namamu di antara perdebatan rasa dan
logika, di altar kekecewan perasaanku.
Rindu
Pada selaksa jingga yang terkuras oleh kenangan
Terduduk 'ku termangu menanti kekasih dalam buaian
Aku masih menantimu di dermaga harap dalam jeda
pertemuan kita
Menahan kerinduan yang begitu sangat menyesakkan
dada
Aku bisa mengira, kau mungkin tidak bisa merasakan
Betapa menyebalkan di permainkan kerinduan
Bagaimana hujan dan lagu menjadi alasan untuk
mengingatmu
Bagaimana hati ini berteriak mengatasnamakan
namamu
Pada jeda waktu ini
Pada ruang dimensi sepi ini
Aku merindukanmu
Dan masih tetap mencintaimu.
Cukup, Aku Bukan Pilihan
Kata maaf memang kata yang sempurna untuk
merangkum semua kekecewaan. Tapi semua itu tidak
dapat mengubah kepingan hati, kembali sediakala.
Sengaja aku lupakan; nama dan kenangan bersamamu
dalam benakku. Karena tanpa memperdulikan
perasaanku, kau pergi, dan memberikan kesan sendu.
Jangan katakan; jadilah seperti biasa. Jikalau kau pergi
dengan sopan, seperti senja yang berpamitan. Aku akan
merelakanmu dengan sungguh.
Ucapanmu ... sempat membuatku melayang. Buaian
malam hingga pagi menjelang. Tapi satu yang kutahu; itu
hanya ilusi.
Jangan kecewa ... jika aku melupakan siapa dirimu.
Karena kamu adalah hati yang sengaja ku kosongkan,
agar tidak menyakitiku dengan linangan air mata yang
telah mengering.
Bagian hati mana yang belum kau lukai? Bagian luka
mana lagi yang belum aku obati? Semuanya mempunyai
kisah tersendiri. Engkau adalah temu yang
kuperjuangkan. Namun nyatanya, aku bukan pilihanmu
sejak awal, jikalau memang aku ... seharusnya kau tidak
akan meninggalkanku sendirian.
Kepada Musim Kemarau yang Kurindukan
Kita pernah saling diam
Bertemu seakan ragu untuk saling pandang
Kita pernah saling berjanji;
Mengucap kata menggapai mimpi
Dulu, kita pernah saling menyalahkan
Merasa keduanya adalah korban
Lalu, aku ataupun kamu
Pernah saling tak mengenali
Karena kita hanyalah hati yang dipaksa lepas
Karena jalan yang kita tempuh dan rasa yang kita jalani
Terhalang oleh keadaan yang tak dapat kita raih
Kamu yang dengan sekuat-kuatnya merelakan
Aku yang dengan paksa melepaskan
Mencaci maki rasa yang terhenti
Hingga kita ...
Hanya kenangan yang tertimbun reruntuhan harapan.
Malam yang Dingin di Bulan Juli
Kala itu, awan gelap sedang menangis menurunkan
rintik luka. Teringat kembali, pada kenangan kelam yang
pernah terjadi di masa lalu. Tubuh yang kedinginan di
sapa angin penyesalan. Di pelataran harapan yang
dikhianati perasaan.
Di tengah derasnya hujan dan ringkihan jiwaku. Kau
datang menghampiriku. Mengulurkan tanganmu; seakan
mengajakku berlari menembus tetesan hujan yang
berjatuhan. Seakan mengajakku melupakan sesuatu
yang menyesakkan.
Kata-kata, perhatian, dan kekhawatiran. Seakan
memberikan kehangatan rasa, di bibir pintu perjuangan
luka. Kamu ingin aku bangkit, lalu berlari meninggalkan
kesakitan duka di masa lalu.
Aku tidak akan melupakan kenangan kita yang pertama
saat itu. Kita yang sama-sama pernah dikhianati rasa,
akhirnya saling menguatkan dan membangun kembali
suatu kepercayaan.
Denganmu; kita pernah.
Tidak perlu menghitung berapa banyak buku cerita yang
kita tuliskan. Berapakali saling menyapa pagi, di saat
sayup mata sedang berjuang melihat terang. Berapa
banyak puisi-puisi yang pernah aku buatkan untukmu.
Membicarakan musim kemarau dan hujan di malam
hari.
Karenamu; kita pernah.
Kau sempat pergi dan menepi di sebuah pura tua penuh
bahagia. Tapi tak lama; kau kembali. Sepertinya singgah
hanya untuk sementara. Sebelum kamu pergi lagi atau
mungkin aku yang akan menghilang. Aku ingin kamu
membacakan satu tulisanku; untuk yang terakhir kalinya.
Mendengarkan sekali lagi, kidung malam penentram hati.
Merasakan kembali; nostalgia rasa, untuk kita tinggalkan
menjadi prasasti hati di penghujung masa.
Bukan perihal janji atau mimpi-mimpi. Karena sampai
nanti waktunya tiba, kita akan sama-sama bercerita di
masa depan. Bahwa kita; pernah sedekat nadi.
Rangkuman Kisah Luka
Persis malam ini, di antara rembulan dan
bintang yang menyapa di keheningan. Kita
pernah menceritakan masa lalu kita
masing-masing. Diiringi lagu-lagu roman picisan,
saling bertanya mengenai kenangan dan
membacakan prosa ataupun puisi yang
meninabobokan kita berdua.
Waktu itu, kita bagai sepasang merpati yang
memadu kasih. Bersemayam di pekatnya malam
dan saling memberikan kehangatan. Serasa
berada di hamparan ilalang. Berlarian,
bergandengan tangan hingga tertawa lepas
tanpa sedikitpun penyesalan; mengapa kita
pernah dipertemukan?.
Hingga suatu saat, kita saling berdebat, saling
menyalahkan, saling diam, saling menjauhi satu
sama lain, hingga berpisah adalah solusi yang
tepat, dengan alasan; kita tidak lagi sepaham.
Hingga akhir cerita; kita bukan lakon utama dari
dongeng yang selalu bahagia. Bukan pula,
novel-novel romansa yang menunggu keajaiban
Tuhan hingga kita dipersatukan. Kita; sementara.
Sekarang, kita sama-sama tahu, dalam hal
mencintai. Kita harus menerima risiko,
bagaimana rasa sakit, penyesalan, kehilangan,
keraguan akan sulit menghilang dalam batin
dan pikiran. Meski waktu terus berputar,
bekasnya akan selalu ada. Menunggu waktu;
kapan luka-luka itu kembali menganga, oleh
hujan atau lagu sebagai pelakunya.
Kembali Sepi
Hai, masa lalu ...
Pada putih bola matamu; aku pernah tenggelam.
Pada lekuk senyummu; merona aku tak karuan.
Bagai rembulan yang selalu menyapaku
dihening malam. Kerlip bintang seakan bercerita
kerinduan.
Canda-tawamu, selalu saja membuatku tenang.
Tapi temaramnya jalan yang kutempuh.
Pudarnya jejak yang kutinggalkan. Beserta
linangan penyesalan akan suatu anggapan.
Hanya berujung luka; sia-sia memperjuangkan.
Ya, aku kira, akulah satu-satunya orang yang
bisa membuatmu tersenyum. Akulah orang
yang bisa memberikan harapan. Akulah orang
yang bisa meredakan permasalahan.
Ternyata, dengan perginya kamu. Akhirnya aku
tahu satu hal; aku tidak cukup mampu
membuatmu bahagia.
Lagi-lagi, aku ditinggal pergi sendirian.
Memapah angan dibalik luka pengharapan.
Secara paksa merelakan, meski hati tak
menerima kenyataan.
Lagi dan lagi, aku kesepian. Meratapi rasa yang
gugur di persimpangan. Meski aku di
tengah-tengah keramaian. Masih saja terasa
sepi. Sampai aku lupa, siapa aku di depan
cermin?.
Aku Telah Tepati Janji
Setiap garis hitam yang selalu kutuliskan, dari
ribuan kata sebagai perumpamaan. Namamu
adalah inspirasi dari imajinasiku. Tentang
perasaan samar antara aku dan kamu.
Ini adalah tulisan terakhir yang kubuatkan
untukmu. Sebagai janji yang pernah kukatakan
malam itu. Saat kita pernah saling kenal, saling
berbagi perhatian juga kekhawatiran. Kita
pernah saling menguatkan, ketika semesta
sedang menguji perasaan.
Tapi langit tak selamanya cerah. Pelangi tak
selamanya indah. Embun tak selamanya
menyejukkan. Ia bisa saja dirundung kesedihan.
Buram oleh cahaya yang temaram. Sama halnya
dengan kita; tiada kisah yang sama.
Semoga kau bahagia dan selalu dilindungi oleh
Semesta. Karena aku, tak dapat lagi berada di
sampingmu. Karena kini, kita sudah terlanjur
asing untuk kembali bersama.
Aku ataupun kamu, sudah memiliki hidup
masing-masing. Semoga di kemudian hari, kita
bisa bercengkrama tentang masa lalu. Masa lalu
yang pernah saling menyakiti diri sendiri.
Kini telah kuselesaikan janjiku padamu.
Pamit-pergi, untuk aku bisa mengejar semua
mimpi-mimpiku. Kita; kini telah bebas.
Terbanglah ... karena tiada lagi rasa diantara kita.
Perasaan itu, telah kutinggalkan dan kukubur
dengan ikhlas, saat kau pergi meninggalkanku
dan memilih seseorang yang kau anggap paling
berharga ketimbang aku.
Salam perpisahan, dariku ... yang pernah berbagi
kenangan luka bersamamu.
Aku pergi.
Kita Hanya Sebatas Kata Pernah
Awal dimana tangan ini menggoreskan cerita
luka
Pada kertas usang yang terselip dari tumpukan
buku kenangan
Dari tiap lekuk guratan pena yang kian menari
Mempersembahkan diksi cerita pada relung hati
Melewati malam dan siang kian berganti
Melukiskan simpul senyum penuh arti
Hingga kembali, saling menyakiti
Kita pernah berbagi kisah, saling memberi
perhatian juga kekhawatiran
Berbagi tawa, sendu, tangis, dan air mata
Mengadu rindu, membuat raga kita resah akan
jarak
Mengobati luka yang sama-sama dipatahkan
asa
Berbagi sandaran saat semesta sedang menguji
perasaan
Kita pernah saling menunggu pesan atau hanya
sebatas kabar
Begitu pula dengan nada dering panggilan,
seakan semuanya adalah perihal kamu yang aku
pikirkan
Kita pernah senyum sendiri saat membaca
kolom chat yang sangat berkesan
Sampai lupa waktu hingga enggan pergi
meninggalkan
Dan kita pernah saling cemburu pada angin,
hujan, sekalipun tanah yang sering kau injak
saat berjalan
Hingga tersadar, sekarang hanya sebatas kita di
masa lampau
Tak lagi kisah yang berkasih, mencatatatkan
nama pada tiap ranting rasa
Hingga salah satu dari kita, tak kuat bertahan
dan menyerah
Merenggut cinta menanggalkan rasa yang
membelah
Hingga akhirnya...
Kita hanya sebatas kata pernah.
Kemarau Merindukan Hujan
Di perjalanan langkahku, di setiap tawa-candaku,
di setiap kata beribu rasa, dan pada buku
semesta di setiap lembar rahasia; aku
merindukanmu.
Kini, bunga-bunga mulai gugur; mengering.
Menunggu mati di ujung jalan tak bertepi. Layu
di rajam terik matahari yang enggan teduh,
memberikan kesejukan di altar singgasana
kerinduan.
Engkau bagai rintikan hujan yang turun ke bumi,
memberikan seduhan kenangan, di tempat
ternyaman yang biasa kurasakan. Engkau
bagaikan inspirasi dalam pelukan,
mendinginkan suasana hati yang hening di
makan perasaan. Dirimu, selaksa rintik pemberi
harapan, menunggu waktu untuk bertahan agar
mendapatkan kebahagiaan.
Tapi, cerita hari ini tanpa kau di sisi. Entah kau
baik-baik saja; kudoakan kau bahagia. Entah kau
sedang terluka; datang padaku dengan segera!.
Aku memang tak berani mengatakan; jika aku
rindu. Tapi; semoga. Kau memahami
kegelisahanku sekarang.
Aku rindu celotehanmu, aku rindu kejahilanmu,
aku rindu suaramu, aku rindu rintik tangismu,
aku rindu amarahmu, aku benar-benar rindu
senyum-tawamu, aku rindu semua tentangmu,
aku rindu, aku rindu, dan aku; sangat merindu.
Selalu ingin kukatakan, sesuatu yang paling
dalam kurasakan. Lalu kutuliskan bentuk
kerinduanku padamu dan kan kujadikan
pesawat kertas hingga terbang ke arahmu. Di
dalamnya, bertuliskan namamu dan harapanku.
Semoga, kau bisa kembali dan mulai mengerti.
Karena selalu dan percaya; kemarau akan tetap
merindukan hujan.
Hujan ... kemarau rindu.
Virtual Suara
Garis Hitam
Waktu seakan berhenti ketika kujajaki peraduan
rasa yang jengah oleh realita. Hiruk pikuk
kehidupan yang membuatku kalang kabut,
hingga terkadang membuatku muak dengan
persolaan. Persinggahan sementara di altar imaji
yang membuat kita terpana.
Menari-nari di taman mimpi yang dahulu
sempat terencana oleh angan-angan sebuah
harapan. Suara yang mendayu, _romantic_ -nya
perlakuan pengakuan. Bernyanyi-nyanyi di
singgasana menuju tepi.
Kala itu, kita bertemu lalu bertukar pemikiran,
saling menjaga perasaan, saling memberi
perhatian dan juga kekhawatiran. Ya, kita
layaknya raga saling bertemu, menenun cerita
yang semakin menarik kita catatkan; di buku
tentang kenangan.
Ada hati yang sedang berusaha mendapatkan
tambatan perasaannya, ada hati yang sedang
mencari cara agar di perhatikan, ada hati yang
sedang bertahan untuk tidak patah di tengah
jalan, dan banyak hati yang benar-benar
merasakan arti sebuah kehilangan.
Beginilah dunia fana, meski hanya virtual suara,
rasa sakitnya sangat begitu nyata. Meski telah
hilangkan secara paksa, tetap saja masih
terpendam dalam dada.
Tidak beda jauh dengan dunia nyata, dinamika
kehidupannya persisi dengan apa yang pernah
kita rasakan. Diabaikan, pengkhianatan,
kesalahpahaman, tekanan, cacian, kepercayaan,
pertemanan yang hanya sebatas teman.
Tapi, kita masih bisa ambil hikmahnya. Kita bisa
ambil pelajaran meski hanya di dunia virtual
suara. Karena kita sama-sama pernah terjebak di
dalam ruang dimensi tak kasat mata hingga kita
lupa, untuk apa kita pernah di pertemukan, di
dunia yang penuh drama dan cerita.
Kita, sama-sama pernah tersesat tanpa arah.
Bunga
Karya : Garis Hitam
Aku kira, aku telah jauh melupakanmu.
Merelakan kenangan masa lalu yang direnggut
oleh waktu.
Aku kira, sudah tidak lagi kurasakan.
Menghilangkan gejolak rindu dari sepoi angin
yang menyentuhku.
Aku kira, takkan lagi aku mengingat senyum
merona di wajahmu. Tetesan hujan yang
bertahan, untuk tidak jatuh di ujung dedaunan.
Seumpama musim kemarau menjadikan
harapan gugur di padang penyesalan.
Bunga-bunga, kini layu di hamparan perasaan
dan tiada lagi kelopak indah yang merekah di
pelataran persinggahan. Bahkan pelangi pun
kini enggan menampakan keindahan warnanya.
Hanya langit yang mengabu, sebagai tanda
kehilangan.
Kala hujan menyapaku, kembali
datang-kenangan bersamamu. Merindukan
bulir bayang yang dulu pernah kita lakukan.
Menyemai rasa pada bagian terdalam perasaan.
Bersamamu; yang kini tinggal sebuah cerita.
Bandung, 07 Juli 2020
Partikel Hujan dan Serpihan Hati
Karya : Garis Hitam
Hujan, apa kamu tidak merasa sakit?
Setelah kemarin terjatuh. Hari ini, kau kembali
merintik. Mendung sudah tak kuasa menahan
rinaimu, menahanmu untuk tidak lagi merasa
tersiksa.
Kau tetap merelakan hadirmu ke bumi, meski
dengan cara rasa sakit, meski sering dijumpai
luka, kau selalu berusaha untuk terbang lagi ke
langit. Lalu esok atau lusa; kau dengan ikhlas
kembali segera.
Burung-burung sedang menari dengan riang,
kepakan sayap nan indah, teman pendamping
pelangi setelah hujan. Meski sayap-sayapnya
telah gugur, akan kembali tumbuh dan utuh. Tak
pernah takut meski goresan ranting
menyayatnya. Tak pernah ragu untuk
mengangkasa kembali. Aku percaya; hati ini,
akan tetap hidup, meski dahulu pernah
dipatahkan, hingga hampa kurasakan.
Segeralah bangkit! Lalu terbang meninggalkan
kenangan. Karena tempat paling menentramkan,
tempat menenduhkan akan kau temukan
kembali pada rumah paling nyaman.
Bangkitlah!
Terbanglah!
Percayalah!; Hati.
Bandung, 11 Juli 2020
Tentang Rasa
Karya : Garis Hitam
Aku selalu terlihat rapuh, seperti bunga tanpa
siraman-harapan dan kehangatan yang
membuatku tumbuh. Entah mengapa, jika
mengingat lagi nama yang selalu ingin aku
lupakan, seakan dada ini terhimpit oleh sesuatu
yang menekanku hingga terasa sesak
dibuatnya?. Paru-paruku seperti enggan
memberikan udara kehidupan ke seluruh
tubuhku. Jantungku tiada lagi berdetak
berirama kembali. Seakan dua sayap yang patah
hingga tidak dapat lagi terbang tinggi
mengangkasa.
Ruang gelap dan sunyi; seakan menjadi tempat
ternyaman. Hanya di sana ... aku dapat terbang
tinggi dalam khayalan. Mencapai titik pusat
kerinduan pada patahan harap yang kian pudar
sampai aku tertidur lelap. Di sana; kita dapat
bersua kembali.
Aku tak ingin terbangun dari mimpiku, karena di
sana ... aku bisa memilikimu. Membicarakan
perihal ruang dimensi yang dulu pernah kita
arungi. Pada dermaga sukma, menyemai rasa
dari setiap kata. Pada setiap bait aksara,
terbukukan rapi di rak-rak puisi purba.
Tapi aku sadar, masa lalu memang harus kita
tinggalkan, untuk bisa berjalan kembali seperti
semula. Tanpa perlu berjalan mundur atau
malah kembali ke belakang. Karena mencintai
adalah tentang sebuah rasa, bukan tentang
ambisi untuk bisa memiliki; apalagi melukai.
Di penghujung kerelaan, aku masih belajar
melupakanmu. Melepaskan tanpa ragu tentang
sebuah kehilangan dan mengikhlaskan dengan
sungguh, tanpa ada kata penyesalan.
Terima kasih masa lalu, karenamu ... aku akan
menjadi orang yang lebih dewasa mengenai
perasaan.
Terima kasih kepadamu yang dulu pernah
menorehkan kenangan bersamaku.
Semoga kau bahagia, meski bukan aku yang
dengan setia berada di sisimu.
Bandung, 21 Juli 2020
Surat Cinta Kepergian
Garis Hitam
Lelah; dari tiap pucuk harap tak jua bersua
dari jejak-jejak kaki di pinggir pantai
tersapu ombak, tertelan; hilang
hamparan langit yang mengguyurkan cerita
tiap tetesnya memberikan seduhan kopi arabika
lalu membakar hutan hingga kepulan asap pada
ujung bibirku
meredakan badai dalam pikiranku
entahlah!
sampai kapan aku bermimpi
meski parau menggelegar, sampai sakitnya
paru-paruku
lentera itu tetap padam di kegelapan malam
kuberikan kau!
surat cinta kepergian
semoga, gugurlah semua hama kenang yang
merambat di kepala
terjatuh; di setiap ujung bola mata.
Bandung, 16 Juli 2020
Luka-liku
Karya : Garis Hitam
Pertemuan kita, bukan tanpa sengaja. Tuhan
memberikan kesempatan untuk bisa merasakan,
perasaan di lain hati meski berakhir penyesalan.
Agar kita memahami, hati mana yang tulus dan
hati mana yang hanya sebuah lelucon
permainan kata?
Ketika perpisahan berlalu, terkadang baru kita
mengetahui, siapa yang sebenar-benarnya
menyakiti? ... dan waktu tidak dapat bisa
kembali.
Penyesalan adalah bekal di masa depan, agar
tidak terjatuh untuk kedua kalinya. Tapi
begitulah manusia dengan kekonyolan
perasaannya, dibutakan oleh janji-janji dan
kata-kata manis yang bisa membuat kita
terbang ke awang-awang. Di titik ketinggian,
barulah kita dijatuhkan dengan begitu
teramat-sangat menyakitkan.
Mengenal dirimu ialah alasan; jika aku pernah
singgah di hati yang salah. Jika aku adalah orang
yang terlalu naif dalam perasaan. Jika aku orang
terlalu mempercayai sesuatu yang tak
seharusnya aku pertahankan.
Entahlah! Kau membuatku benar-benar
memperkenalkanku dengan kesepian. Serta rinai
hujan sendu yang terjatuh di pelataran harapan.
Oleh sikapmu yang tak berperasaan
mempermainkan suatu kejujuran. Oleh dirimu
yang selalu menutupi kebohongan dan oleh
tindakanmu yang seolah memanfaatkanku, di
saat aku dengan sungguh mencintaimu.
Entah aku rindu atau masih tak terima dengan
perlakuanmu?. Kau selalu muncul secara
tiba-tiba dalam pikiranku. Seakan denyut
jantung ini begitu menyakitkan di setiap
degupnya. Seakan nafas ini terasa menyesakkan
di kala aku ingin menhirup suatu kebebasan.
Karenamu: aku pernah terluka untuk kedua
kalinya. Balasan cinta yang mengoyak seluruh
raga. Hancur lebur berkeping-keping. Hingga
hanya ada satu kata yang terngiang-ngiang di
kepalaku.
Luka.
Dariku; alumni hati yang pernah kau sakiti.
Bandung, 24 Juli 2020
Asa Karsa
Karya : Garis Hitam
Di pagi yang cerah ini, ada sekeping hati yang sedang
mengumpulkan kembali harapan yang telah pecah
karena ketidakmampuan mempertahankan keinginan
menjadi nyata. Ada pula rimbunan hati, sedang
berusaha mendapatkan pengakuan perasaan. Ada juga
beberapa hati yang bersusah payah untuk tidak
melepaskan genggamannya, agar tidak ditinggal pergi;
merasakan sepi sendiri dan banyak pula hati yang telah
dikhianati, disakiti oleh seseorang yang ia cintai.
Melepaskan bukan berarti kalah. Dengan kita merasa
nyaman, ikhlas, dan bahagia adalah solusi terbaik, dari
pada mempertahankan sesuatu yang tak seharusnya kita
jaga. Kita manusia; masih memiliki akal dan perasaan.
Jangan pernah takut melepas genggaman yang dulu
pernah sekuat-kuatnya bertahan. Tanpa kita sadari;
sejatinya, kita sedang menyakiti diri sendiri. Berlogikalah!
Jangan mau dimanfaatkan dan dipermainankan
perasaan. Karena kita adalah hati yang diwajibkan untuk
bahagia.
Teruntuk yang sedang bertahan; adakah kata saling di
antara kalian? Untuk yang sedang mencari rumah
kenyamanan. Bersabarlah, Tuhan sedang merencanakan
hal indah di gerbang harapan dan untuk hati yang
sama-sama mencintai, jagalah tali kepercayaan dan
perasaan yang kalian percayai. Jangan sampai kesalahan
kecil berakhir menjadi penyesalan.
Di pagi hari yang berseri, beserta ikatan-ikatan sumbu
harapan. Semoga, Tuhan selalu menguatkan dan
melapangkan dada kita. Hingga nanti, akhir bahagia yang
kita dapatkan; kita rasakan.
Bandung, 25 Juli 2020
Sakit yang Kukenang
Karya : Garis Hitam
Terbata kata, lalu diam membisu. Terduduk, lalu
mendudukan kepala. Entah atau mungkin, tindakan ku
atau untaian dari bibirku; mungkin pernah menyayat
hatinya? Seketika aku terbungkam seribu bahasa, di
depan mataku; aku melihat mereka.
Aku prediksi; sebentar lagi akan turun hujan dan badai
kecewa di kantong air mataku. Bagaimana tidak?
Sekarang, genggaman ternyaman bukan milikku lagi.
Dekapan hangat bukan dari pelukku lagi. Ucapan manis,
merayu, nan menggoda; sudah bukan dariku lagi.
Kecewa?
Iya.
Sakit?
Sangat, terasa sakit.
Sebegitu tak berharganya aku untukmu, sampai-sampai
meninggalkanku lalu beralih ke lain hati dengan cepat
adalah sesuatu yang mudah bagimu. Tanpa pernah
berpikir; apakah aku akan sangat terluka dengan cara
yang kau lakukan saat ini?
Apakah aku bisa memaafkan rasa sakit yang kau beri?
Apakah aku bisa merelakanmu dengan cara seperti ini?
Tidak, aku benar-benar merasa sakit, entah di mana
letak rasa sakit itu berada, yang jelas; aku terluka.
Sepertinya, aku akan terus mengenangmu, dari rasa
sakit yang menyakiti. Luka yang kurindukan. Dari rasa
sakit yang kukenang.
Bandung, 25 Juli 2020
Luminair
Karya : Garis Hitam
Malam-aurora; sunyi paling senyap di kedalaman atma.
Kemudian hadir setitik cahaya dari kejauhan mata sang
hamba. Perlahan tapi pasti, mebias jelaga-menyinari dan
mengitari seluruh raga. Ia datang seumpama tak kenal,
lewat kidung pujian jelmaan puisi yang memabukkan.
Efek luminositas jagad raya, bumbung pengembun dari
tarian cahaya berkilauan. Esensi dari ketidakpercayaan
masa lalu yang takkan mungkin didapatkan.
Barangkali yang tidur adalah Ia, desas-desus meratapi,
terdengar dari telinga sebelah kiri. Terngiang-ngiang,
carut marut dari kebisingan bisik mematikan. Oasis
padang kecewa, keharuan diperdaya asa. Partikel tanya
tak ubah menjadi acuan pendalaman diri. Melepas paksa
yang sempat menyemai sepi.
Kini daun-daun kerinduan mulai tumbuh. Bersama
batang harap yang kokoh di terjang badai. Kini langit
tersenyum, setiba hujan tangis yang menderai air mata.
Bandung, 28 Juli 2020
Setiba Hujan Reda
Karya : Garis Hitam
Ketika, tidak ada lagi kisah di antara kita. Aku kira,
perasaan itu akan pupus di hantam lara, harapan itu
akan hilang di rajam masa. Perlahan memudar ditelan
ruang dan waktu. Sedikit demi sedikit, seharusnya aku
bisa melupakanmu.
Selepas, tali penghubung rasa kini putus di tengah jalan.
Tidak ada lagi sisa harapan yang dahulu sempat
kupercaya. Jurang pemisah antara kita adalah bukti, jika
kita tidak dapat lagi seirama.
Setelah daun-daun hati, kini gugur bersama sunyi. Entah
mengapa, bayanganmu masih bersemayam di bola
mataku?. Seakan tak pernah sampai pada pusaran sesal
di lembah kecewa. Inginku terbawa arus, lalu
menghilang begitu saja.
Hingga saat luka-luka itu telah mengering bersama
malam. Rinai-rinai senja, tidak dapat lagi menampakkan
keindahan. Tetap saja, duka itu masih berbekas dalam
ingatan. Tetap saja, patahnya hati ini belum bisa
disembuhkan.
Karenamu; aku bisa sebodoh ini. Masih saja
mengharapkanmu meski sakit yang kau beri.
Menjadikanku orang paling gila meski mati dengan
percuma. Harapan yang telah gugur di persimpangan
jalananan luka.
Karenamu; aku berusaha. Benar-benar melupakanmu
dan tak lagi mengenalmu.
Karenamu; aku mencoba. Membunuh secara paksa,
meski sakit yang kurasa. Sampai nanti-akhir nanti, tidak
akan ada lagi namamu, pada pintu rahasia yang dahulu
sempat aku jaga.
Karenamu; aku pernah sesakit itu.
Bandung, 29 Juli 2020
Tanpamu; aku bisa
Karya : Garis Hitam
Akhirnya, aku melepaskanmu ....
Meninggalkan jejak kenangan yang dulu sempat terurai.
Menghilangkan rasa pada titik jenuh yang pernah kau
berikan.
Ingatlah satu hal, jika aku meninggalkanmu bukan tanpa
alasan; cintamu terlalu egois untuk kita pertahankan.
Setiba badai cemburu merenggut kebebasanku. Ketika
langkahku, terhentikan oleh semua ucapanmu dan saat
batin ini tersiksa akan perlakuanmu. Aku seakan dalam
jeruji kecewa tanpa celah harapan. Aku seakan dirajam
benci tanpa cahaya kepercayaan.
Inikah cinta yang kau rindukan? Inikah pengorbanan
yang kau suguhkan? Inikah bentuk rasa yang kau
labuhkan? Membuatku tak menjadi diriku yang dulu.
Memakai topeng kebohongan di depan matamu. Seakan,
hanya menjadi perhiasan penjagamu.
Kau ubah cara pandang ku mengenai perasaan. Kau
jajalkan penderitaan ku mengatasnamakan keihklasan.
Hingga aku jengah dengan apa yang selalu kau pinta.
Hingga aku jenuh dengan rutinitas tanpa batas yang
selalu kau inginkan. Cukup! Tanpamu, aku bisa bahagia.
Tanpamu, aku bisa mendapatkan jalanku.
Maafkanlah akhir kisah ini. Karena kita, sudah tidak
dapat melaju kembali. Karena tanpamu; aku bisa.
Bahagia, meski bukan denganmu.
Bandung, 29 Juli 2020
Kita Pernah Punya Cerita
Karya : Garis Hitam
Dulu pernah ada cerita di ujung senja menunggu malam.