The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2021-11-04 10:17:35

SPORASA

Di Musim Kemarau

Keywords: Prosa

Pagi kali ini membuatku malu, arunika membendungkan
awan dikala hati ini sedang kesepian. Padahal dahulu,
aku selalu menunggu esok hari dengan kisah-kisahnya
yang menarik. Sekarang, rasanya aku hanya ingin tidur
menutup mata meski dengan susah payah kumencoba.

Aku sampai lupa hari ini tanggal berapa?, yang selalu
kuingat hanya hari, tanggal dan bulan saat kita berlalu.
Hari-hari menjadi haru, sedih yang telah sudah, dan
perasaan hanya menjadi prasasti kepergian. Lagu yang
sering aku putar, selalu saja menjadi potret ingatan
menuju pusaran rindu kala itu. Masa lalu yang tidak
ingin aku ingat, tapi anganku yang selalu melekat.

Kepergianmu ... ialah satu-satunya alasan mengapa aku
kini berteman dengan kesunyian. Kau mengenalkanku
pada tepian sepi yang menyelimuti kekecewaan.
Suara-suara yang terngiang di kepala, wajah-wajah yang
tak kunjung meniada, hingga irama jantung yang terlalu
berlari mengejarnya. Kisah yang kalah tidak menjadi
juara di hatinya.

Jika saja pertemuan lalu bukan denganmu, apakah
paru-paru ini akan memompa dengan benar?
Jika saja namamu bukan puan yang kupuja, apakah sepi
ini mampu melepas kenang dalam nalar? Selalu saja aku
merasa sakit padahal tidak ada goresan sedikit pun dari
tubuhku. Namun luka yang di timbulkan berada tepat di
antara harapan dan perasaan. Di dasar paling nyaman
yang kusebut dengan "cinta".

Tuhan, Bantu Aku
Sejak awal harusnya kau tak mendekatiku
Seharunya kau tidak bertemu denganku

Jikalau akhirnya seperti ini, mengapa kau membuatku
cinta
Jika sudah begini bagaimana cara menyembuhkan luka

Meskipun kau sudah jujur akan rahasiamu dan cinta
yang kau miliki
Harusnya kau tak membuat cinta yang seolah terbagi
Aku sudah masuk dalam jurang yang kau buat sendiri
Hingga aku tak bisa beranjak dan terbelenggu relung hati

Kamu sedikitnya tak salah
Aku yang harusnya mengalah
Harusnya aku tahu diri karena sejatinya aku tak bisa
miliki
Tapi rasa ini datang tiba-tiba hingga rasaku berubah
menjadi luka

Melupakanmu tak mudah seperti membalikan tangan
Apa lagi rasaku padamu yang terlalu dalam aku rasakan
Aku coba menutup diri dan membuka hati pada yang
lain
Nyatanya, bayangmu masih melekat dan menjadikan

perbandingan batin

Tuhan, bantu aku membunuh rasaku padanya
Kesedihan ini terlalu berat untuk menanggungnya
Tuhan, tolong bantu aku tuk mengubah cara pandangku
padanya
Hingga rasa ini menghilang dan aku bisa bahagia tanpa
ingatan dia untuk selamanya

Egois Rasa

Dimanakah cinta, bila tidak ada ketidakadilan?
Siapakah kamu yang sejatinya aku pertahankan?
Mengapa harus ada batasan diri untuk dikekang?
Kenapa kita, masih belum bisa merasakan?

Di setiap perjalanan kisah, aku balut dengan
kepercayaanku padamu
Dalam kebersamaan rasa, tak ada sedikitpun rahasia

kepadamu
Kejujuranku dalam untaian kalimatku sama halnya
dengan isi hatiku
Tapi entah kenapa? kau memberi batasan padaku
sementara kau tak acuhkan inginku

Egois diri
Miliki sendiri
Nikmati emosi
Lupa berbagi

Untuk apa ada kata saling, bila salah satu mau menang
sendiri
Kemana kalimat "aku akan mengabulkan semua
permintaan" nyatanya seucap janji
Pahamilah aku yang ingin juga seperti yang lain
Beri pengertianmu, jangan membuatku terluka dan
meninggalkanmu

Karena keegoisanmu membuatku jemu
Sebab tingkahmu melunturkan cintaku
Jangan ada kata menyesal dikemudian hari

Jikalau aku menghilang tak ada kabar dan tak kembali.

Kecewa
Entah kenapa, apa yang aku lakukan terlihat tak ada
artinya
Setelah apa yang telah aku lakukan teruntuk dia yang ku
anggap segalanya
Akuisisi relung hati memiliki
Padahal keyakinan hati akan janji-janji
Karsaku tak membuat dirimu memberikan setengah
hatimu

Hingga apa yang ku inginkan untuk berbagi hati hanya
sebuah ilusi
Delusi merambat dalam pikiranku
Tentang asa yang ternyata tak sejalan dengan harapanku

Kecewa, itulah kata yang terlontar lewat nadir yang
tertulis lewat aksara
Tentang kekecewaan akan komitmen yang ternyata tak
sejalan
Kau bilang aku adalah yang pertama
Tapi nyatanya aku bukan yang utama

Terimakasih atas luka yang kau berikan
Telah membuat dada sesak penuh derita
Semoga aku tak membencimu
Meskipun hati ini sebetulnya tak terima untuk
maafkanmu.

Ruang Galaksi

Ruang itu menyakitkan
Tapi terkadang ku rindukan
Dan kenangan yang terlintas
Hanya meninggalkan jejak yang tak bisa aku lepas

Bersua diri duduk bersama berdampingan tapi tak
berhadapan
Suara mesra kata-kata pujian yang terlontarkan
Kepedulian karsa saling menjaga diri kita bersama
Pelabuhan rasa akan pengharapan asa yang terkadang

semu akan cerita

Kesenjangan hari akan hirup pikuk dimensi nyata
Masuk dalam galaksi bima, dimensi yang berbeda
Dan kini sudah tak lagi sama
Posisiku tergantikan dengan orang yang disana

Mungkin adegan dan peran ku telah usai
Babak dulu yang telah kita jalani telah ku tuai
Sekarang menunggu episode baru dan hari baru
Tetap saja aku dibuat bingung, menunggunya atau
membuka hati dengan yang baru

Aku yang masih terpenjara akan harapan
Dan belum bisa memastikan
Untuk maju melangkah, sungguh aku tak bisa
Cukup aku berdoa, semoga esok lusa kau kan bahagia

Meski yang bersamamu bukan diriku, tak mengapa
Tak usah kau hiraukan ku
Sekarang, aku sedang berteman
Dengan kegelapan dan kesunyian.

Sebatas Mimpi

Dalam lorong gelap
Melukis pendar dalam senyap
Sinar cahaya yang menjauh
Menuju tempat tak bersauh

Sebatas angan yang mustahil
Mengejar mimpi yang terkecil
Sadarkan raga tuk beranjak
Lepas asa yang dahulu memapak

Nalar rindu kini terhanyut
Terombang-ambing tak berlanjut
Merakar diri di sudut ruang yang sepi
Menangisi hati menginkari janji-janji

Bisakah kita kembali?
Agar aku bisa melaju
Dapatkah kita ulangi?
Lepaskan rindu membelenggu

Harusnya pertemuan tak terjadi
Hingga kita tak saling menyapa sunyi
Mengingat waktu untuk apa kita bertemu
Jika akhirnya kita tak bisa menyatu.

Pura-Pura Bahagia

Kau sedang melihat senyumku
Laju langkahku sembari menatap padamu
Kau sedang melihat lekuk tawaku
Terbahak bersama canda tawa bersamamu

Jauh... dari relung hati yang terdalam
Tentang suatu perasaan yang memendam
Kekalutan yang terpenjara tak keluar
Ambisi rasa yang hilang tak berakar

Simfoni rindu antara sunyi dan malam

Memandang keluar pada jendela yang temaram
Kau tak harus tahu akan diriku
Pura-pura bahagiaku hanya untuk dirimu

Senang tapi menyakitkan untuk dikenang
Nyatanya aku bukan menjadi sang pemenang.

Fana Tak Nyata

Aku adalah dirimu dari serpihan kenangan yang kau
lupakan
Aku adalah kuatmu sebuah karang yang sering kau
hempaskan
Aku adalah senyummu dari setengah lingkar
kebahagiaan
Dan aku adalah senjamu cakrawala yang bersahutan

Antara aku dan kamu
Tentang dua insan bertemu
Tapi tidak untuk hati kita

Tapi tidak untuk arti cinta

Meski aku korbankan seluruhnya jiwa ini
Percuma saja jika hanya aku yang berlari
Meski aku mencoba bertahan untukmu
Sia-sia saja jika langkahmu bukan untukku

Sekarang aku berbalik arah
Mencari tujuan yang seharusnya
Jika kau mencariku hanya untuk membasuh lukamu
Kiranya aku tak lagi dapat seperti itu

Hadirku sementara
Bukan selamanya
Dirimu yang fana
Dan aku tak nyata.

Dengan Penuh Kerinduan

Aku tak tahu dengan perasaanku
Terkadang aku sangat membencimu
Tapi terkadang aku sangat merindukanmu
Namun, kau tak pernah tahu rasanya itu
Terkadang aku berpikir meragu
Apakah perasaanmu sama dengan apa yang kurasakan

Aku berharap kata-kata indah terucap dari bibirmu
Hanya saja kau tak pernah mengatakannya padaku
Lagi-lagi aku meragu

Aku tak paham lagi dengan kisah menjenuhkan ini

Hanya sedikit kisah yang menari-nari
Hingga pilu yang selalu mengisi hari-hari

Memang, aku pernah jatuh dalam palung cintamu
Jatuh, jatuh teramat keras
Hingga tergores luka membekas
Lalu aku menangis di balik beberapa cerita suka yang
membias
Hanyut dalam renungan
Memikirkan, apakah kau juga merasakan rasaku?

Pada akhirnya aku harus berdiri seorang diri
Dan tersadar bahwa kita sejatinya memang sudah
berjalan sendiri-sendiri.

Temu luka

Masih banyak rahasia yang kau miliki
Masih banyak temu rindu yang kau dekati
Masih banyak kata janji tak di tepati
Masihkah banyak lagi, sakit hati yang kau beri?

Ucap manis berdinamis
Layaknya sajak yang romantis
Bak bunga mekar di pelataran
Suguhkan cinta dan kasih sayang

Harus seperti apa lagi aku padamu?
Harus bagaimana lagi tingkahku untukmu?
Jarak sudah bukan penghalang dalam temu

Tapi balasan luka khianat rasa mengoyakku

Aku dalam jeruji bisu tak berkata
Cerita kita berujung duka penuh lara
Hidangkan kata seutas janji pengkhianatan
Duduk bergeming meratapi kenyataan

Patahan demi patahan kau berikan
Singgasanamu seakan neraka berkelanjutan
Aku menyerah atas semua tentangmu
Inginku pergi tinggalkan luka darimu

Ketakutanku bukanlah tak lagi bersamamu
Tapi kenangan kelam yang selalu mengikutiku
Keterlukaanku sudah kebal rasa hinggaku tak merasa
Bodohku dan cintaku tetap akan seperti ini, seperti yang
pernah kau katakan :
"Hanya rencana Tuhan dengan segala skenarionya yang
akan akhiri semua".

Hati yang Pernah Terluka

Biarlah biru membiru pada serat-serat kulit yang kusam
Biarlah para rinai membanjiri kantong mata hingga
kornea tak dapat melihat cahaya
Biarlah nadi-nadi berhenti selaksa rasa yang telah
hambar di makan masa
Tapi aku tetap berdiri melihatmu dari jauh
Hingga aku tetap berdoa untuk bahagiamu berbalut
tawa setiap waktu

Meski ku dapati hati yang terluka
Seakan memotong jantung hati sendiri dengan sebelah
pisau yang berkarat
Masih saja aku terjerumus pada rasa yang menakutkan

Meski ku panjat tebing kesakitan dengan kata berjuang
Tetap saja aku terjatuh pada lembah kenestapaan

Hingga ia datang, tak tahu dari mana asal usulnya
Menjadikannya obat pesakit rindu penawar hati ini
meradang sendu
Bisikkanmu perihal kata, laksana sihir mengubah sesuatu
yang mustahil
Dirimu jauh tapi dekat, kau dekat tapi tak terlihat
Begitupun angin yang menyentuh kulitku
Ku cari dikau tapi ada
Katakan tidak tapi merasa

Ah! Berdosakah aku mencintaimu
Tak bisakah aku bersamamu
Aku membutuhkanmu 'tuk obati hatiku yang pernah
terluka
Karena denganmu, aku merasa hidup ini terasa nyata
Tahu kemana arah tujuanku sekarang
Menuju akhir kenyamanan raga serta jiwa-jiwa
terlabuhkan
Kau menghampiri lewat nada-nada suara penghapus lara,

di antah-berantah nun jauh di sana
Jangan pergi, datanglah kembali dan tetaplah di sana
Seraya berucap hati merasa meski berbohong pada raga.

Matikan Rasaku

Ketika bibir merah merona melontarkan kata-kata
Tertegun tak berkata saat dikau mematahkan hati dan
rasa
Harap tak tergarap melahap hina sampai musnah
Kau berikan sekat antara perasaku padamu ketika
membuncah

Tatkala janji palsumu menusuk batinku
Ku coba berjalan tak menoleh padamu
Semoga perasaan ini mati rasa kepadamu
Hingga tak ada lagi pandangan ini mengarahkanmu

Terimakasih kasih padamu kekasih hati tak tergenapi
Menumbangkan harap diri hingga terbiaskan dan pergi
Kau adalah kenangan masa lalu pembuat luka
Tak bisa ku membenci kiranya engkau dahulu pernah
ada

Aku pergi dan membawa harapku
Semoga kau bahagia tanpa adaku

Berbalik arah dan ikhlaskanmu
Pasrah diri pada Tuhan pembuat skenario indah yang
diberikan padaku
Tutup mata..
Tutu telinga..
Kini kau telah pergi
Matikan rasaku, kini hingga nanti.

Penggenggam Rindu

Entah mengapa meski aku berlari sejauh mungkin
Melupakan dengan cara menyibukkan diri pada yang lain
Masih saja nama serta raut wajahmu mengendap dalam
palung jiwaku
Tetap saja kenangan serta harapan terdahulu selalu
terlintas dalam benakku

Aku mungkin salah satu di antara hati yang pernah patah
Hingga enggan meramu pada satu temu dalam kisah
Hanya bisa merindu pada satu titik kian bertaut
Memeluk rahasia dalam rasa semakin berpaut

Barangkali kiasan diriku seperti matahari
Saat pagi hingga senja akan menerangimu
Barangkali sesudah itu aku menjadi rembulan
Setelah senja hingga pagi buta menemanimu dalam
lamunan

Selaksa bintang yang menemani malam berjelaga
Tiap titik putih yang kau lihat dari kejauhan mempunyai
makna dan cerita
Atau mungkin aku seperti pelangi setelah hujan saat

rinainya membasahi bumi
Bisa jadi akulah sang hujan pemberi kebahagiaan yang
tak banyak orang sukai

Biarlah saja aku seperti ini pada bunga indah yang ingin
ku petik
Biarlah saja aku sirami sendiri rasa yang kian pelik
Perisa rasa yang takkan tumbuh berbunga karena hanya
salah satu yang merindu
Cerita perjalanan dalam takdir yang terhenti karena
hanya sebagian atma yang mencandu

Untuk kesekian kalinya aku larut dalam sebuah kata
perasaan
Tak dapat memaksakan kehendak yang terkadang hanya
mencintai sendirian
Karena kau adalah penggenggam rindu dalam labirin
rasa yang mengikatku
Karena kau adalah kunci utama jiwa ini terlepas tak
dapat lagi mengurungku

Semoga aku bisa bertahan dengan sebuah

ketidakpastian
Menunggu mati hingga tak ada lagi namamu dalam
ingatan
Karena aku hanya penggagum dari kejauhan
Yang tak cukup mampu menggenapkan asa untuk suatu
rasa terlabuhkan.

Arah Berbeda
Tentang kita yang memilih jalan masing masing
Lupakan kata kita menjadikannya orang asing
Arah yang tak sama, hingga lepas genggaman tinggal lah

lara
Setiap pandangan merasa dirinyalah yang terluka

Saling beradu kata, saling menuduh siapakah yang
bersalah
Perihal perasaan, hati siapa yang teramat patah
Merasa menjadi korban, tentang rasa akulah yang paling
benar
Sikap tak acuh dan mau menang sendiri keegoisan di
luar nalar

Entah aku atau kau, memang kita tak dapat lagi
tumbuhkan cinta
Memanglah kita tak dapat lagi saling merasa
Tak dapat lagi berdampingan karena terlalu banyak
pemahaman yang bertolak belakang
Layaknya siang dan malam serupa warna putih dan
hitam

Kita ikhlaskan perisa rasa ini berakhir
Mungkin saja semesta tak menyetujui dalam takdir
Biarlah kenangan itu sebagai pelajaran

Biarlah kita pergi dan tak saling berpandangan.

Aku Hanya
Aku mungkin orang yang terlalu membawa perasaanku
terhadapmu
Aku mungkin orang yang terlalu bodoh mencintaimu

dengan lugu
Aku mungkin orang yang sekian hari memikirkanmu saat
ini
Aku mungkin orang yang terkadang lupa jika hati ini tak
bisa melengkapi

Hati terikat erat menjerat hingga denyut jantungku terus
menggebu
Delusi yang menjangkit merakit sesuatu yang mustahil
aku dapatkan padamu
Sesederhana mungkin aku hanya bisa mengagumimu
dari sini
Selama mungkin aku merasakan candu rindu pada dikau
yang tak bisa kuakui

Tawa serta senandungmu yang terngiang dalam ingatan
Memecah belah pikiran dan khayalan mematikan
sebuah perasaan
Aku rindu padamu!
Tapi tak bisa dengan lantang aku mengatakan itu

Hanya sunyi senyap menyerap raga yang tak bisa

kudekap
Meski dari kejauhan perasaan ini bukan sebatas cinta
yang sesaat
Mencintaimu dan menyayangimu
Ialah rasa yang terbelenggu garis waktu.

Pudar
Aku pernah, cemburu pada hati yang bukan milikku
Aku pernah, gelisah pada satu nama wanita di dalam
pikiranku
Aku pernah, mengakuisisi hatinya sedangkan ia di lain

sisi
Dan aku pernah, ingin meluapkan amarah dan emosiku
yang memendam, ya.. seperti saat ini.

Aku yang masih menjadi orang asing di hatimu
Belum cukup untuk diriku ada di dalam intipati atmamu
Meski kisah kita telah banyak dibukukkan kenangan
Belum dapat kugenggam tanganmu sembari melihat
senja dan membicarakan masa depan

Di antara jarak dan kenangan
Menjadikannya luka penuh sayatan
Di antara derasnya rinai hujan yang berjatuhan
Di sana kularungkan harap yang tak dapat kugenapkan

Selaksa langit dan bumi dikedua jarak dan rasa
Hati tak terisi dalam langkah kaki yang terpana
Takdir semesta seakan enggan meramu kita
Hingga banyak lika liku perjalanan yang membuat ku
sadar...
Kita tak sama.

Hierarki Patah Hati

Dulu, kita pernah berjuang bersama
Merakit harap meski badai menerpa
Torehkan rasa dimana kita meramu asa
Saling melabuhkan rindu pada tiap rintik hujan senja

Saat aku menahan tentang sebuah kehilangan

Kita sama sama tahu, rasa ini hanya sementara dalam
perasaan
Kita sama sama mengerti, rasa ini memang salah untuk
saling melengkapi
Hingga kita sadar, aku dan kamu sedang menjalani
harapan yang tak pasti

Selaksa bayang dan binar cahaya kian mengantara
Selepas sinar mengedipkan mata, kegelapan datang
penuh lara
Hingga di waktu bersamaan, kita berjuang seraya
melupakan
Seucap pamit-ungkap selamat tinggal merelakan, kita
sama sama berusaha untuk saling mengikhlaskan

Terimakasih, telah mau membuang waktumu untukku
Juga berpura pura atau tidaknya kamu
mengkhawatirkanku
Hingga kau seakan memperdulikan hati yang patah
Padahal dirimu sedang memapah hati yang pecah

Sekarang, aku dan kamu lagi lagi menjadi orang asing

Berlawanan arah memilih jalan masing masing
Dimana saat awal bertemu denganmu kita tak saling
menyapa
Hingga takkan ada lagi buku cerita yang kita tuliskan
bersama

Salam masa lalu
Salam kenangan tempo dulu
Semiang kalam bersamamu
Sepi datang menjemputku.

Sinopsis Rasa

Entah mengapa merelakanmu terasa berat bagiku,
logikaku terasa mati ulah perasaan kejam yang kini
mencekikku.
Jangan tanyakan apa yang aku rasakan, tapi tanyakan
mengapa kau bisa setega itu kepada orang yang sangat
menyayangimu.
Aku hanya tak siap terluka saat kau pergi tanpa
memberikan persiapan untukku, padahal beberapa kali
telah kutanyakan perihal perbedaan tentangmu

kepadaku.
Sedangkan kau hanya bungkam terbata kata merias diri
penuh rahasia.

Di saat seseorang yang selalu ada dan terbuka mengenai
apa-apa yang ia punya, tergantikan oleh seseorang yang
hanya bertemu hitungan jari.
Bila aku kesalahan, lantas apakah yang kau perjuangkan
sekarang adalah pembenaran?
Tentang caramu merajam luka tanpa aba-aba mengoyak
rasa, hingga pertemuan kini pupus dihantam lara.

Aku masih menunggu alasan apa yang akan keluar dari
bibir tipismu yang dahulu menenangkanku.
Tapi yang kudengar hanyalah kesunyian di antara
keheningan malam yang merenggutku.
Yang kubutuhkan darimu ialah berbicara mengenai suatu
hal yang tak kuketahui.
Yang kuinginkan adalah untuk dirimu menghargai
perasaan yang dulu kujalani.

Sampai detik perpisahan itu terjadi, hingga lelah mencari

makna yang menutupi
Aku mencoba menjadi orang biasa didepanmu secara
paksa
Meski terluka dan memapah kekecewaan, meski lubang
terus menganga tak berharapan, meski dirajam beribu
belati penuh sayatan.
Aku akan tetap mengenangmu di sela luka masa lalu
yang menyakitkan.

Aku yang Kau Sebut Orang Asing

Teruntuk kamu ... yang kusapa dan sekarang tak lagi
mengenali aku, semoga dendam yang kau canangkan itu
berakhir, dan tidak memenjarakanmu. Secara tak
sengaja, pernah aku sakiti oleh duri cemburu yang
membuatmu geram dibuatnya. Hingga di matamu aku
adalah sosok yang tak kau kenal lagi.

Kamu berhak melakukan apapun yang kau mau, seperti
langit yang menjatuhkan rinainya, seperti mentari
membagi sinarnya, dan seperti malam memberikan
kesunyiannya.

Kamu berhak melupakanku, atas segala apa yang pernah
aku perbuat kepadamu, atas segala upaya yang telah kau
lakukan teruntukku, tapi selalu saja aku hiraukan semua
pengorbananmu.

Aku sedang bermain dengan waktu, menghabiskan
malam penghabisanku, meratapi semua tingkah laku
pribadiku, untuk semampu aku tak mengingatmu.

Zona keterasingan dalam perapian pilu, terbakar api
kenangan masa lalu yang menorehkan jejak sesak
berakhir sesal di ujung rindu.

Kini, aku sedang berpura-pura kuat untuk terlihat
bahagia di depanmu, agar kau tak perlu khawatir jika
suatu saat kau benar-benar pergi melepaskanku.

Di sudut rapuhku, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku
berbincang dan meminta kepadaNya, agar kamu
diberikan rahmat bahagia dalam lekuk senyum merekah
tiap harinya, hingga aku benar-benar tak ada lagi dalam

benakmu dan tak pernah ada lagi namaku dalam kisah
hidupmu; tergantikan menjadi orang asing di matamu.

Masih

Malam tadi, kau menjemput ku di pekatnya malam yang
berjelaga
Masuk ke dalam mimpi-mimpiku
Bermain mata di kala sayup kantuk saat bermula

Aku tahu, perasaan ini seharusnya telah terkubur
bersama malam perpisahan itu terjadi
Melupakan segala kenangan indah bersamamu
Meninggalkan harapan yang sempat kita janjikan
Dan mengikhlaskan segala bentuk kepergian

Aku yang mula-mula tegar di dalam senyumku
Malah menangis begitu sesak dalam batinku
Seolah bayangmu tetap mengiringi hari-hariku

Seolah kehadiranmu begitu sangat berarti dalam
kehidupanku

Aku yang bersusah payah melupakanmu
Secara paksa menghilangkan kerinduanku
Tapi, selalu saja aku gagal
Masih saja, ilusi tentangmu tetap membayangiku

Aku tahu, kita bukan lagi siapa-siapa di antara hati dan
rasa
Kita yang memilih jalan masing-masing
Karena keadaan yang membuat kita tak berdaya

Ya... semesta memang lihai mempermainkan rasa
Seolah, kita hanya sebatas sementara di antara kata
Kita hanya sebatas pernah dalam kisah yang telah sudah

Aku seakan mencintai dalam diam
Menikmati rindu sendirian
Menimang diri kesepian
Dan kau yang tak tahu keadaanku sekarang
Akan tetap tersenyum beriringan

Bersama pagi dan mentari
Malam dan rembulan

Ingin sekali kubunuh perasaan ini
Menghilangkan jejak kenangan dan cerita
Menjauhi pikiranku yang selalu saja perihal kamu

Ketika tidak lagi bersamamu
Baru aku merasakan, kehilangan yang sebenar-benarnya
perasaan
Baru aku merasakan, menahan kerinduan itu adalah
sesuatu yang menyakitkan, melebam hingga tersayat
penuh luka, di tempat ternyaman terdalamku; cinta.

Haluan Rasa

Aku tak mengira, pernah bertemu denganmu, seperti
berada pada jurang luka di ujung nestapa
Seakan memberikan cahaya pada ruang gelap penuh
derita
Tapi secara nyata, hanya terbias oleh harapan
fatamorgana

Aku kira, aku segalanya untukmu
Hingga kuberikan segala rasa kepadamu
Dari pucuk doa yang selalu kulangitkan,
pada untaian aksara yang selalu kutuliskan,
dan pada untaian sajak yang selalu kubacakan

Aku masih tak mengerti, mengapa ditinggalkanmu terasa
sangat menyakitkan
Padahal aku tahu, kamu adalah orang yang sengaja

meninggalkan luka
Kamu adalah hati di antara rasa yang telah mati
Hingga menyakitiku, seakan terlihat biasa di matamu
Seakan hati dan rasaku hanya menjadi tempat
sementara di saat-saat rutinitasmu

Mungkin, aku yang terlalu bodoh mencintaimu
Memberikan segenap rasa di ujung bunga cinta
Terbuai pada pelangi indah di bola matamu
Pada senyum merekah yang selalu saja menggodaku
Ya... aku terlalu menggilaimu
Aku terlalu memujamu
Hingga aku lupa, jika kamu tetap manusia bukan dewa

Kini, aku tenggelam pada jejak cerita dan kenangan
Pada rintik hujan menunggu rasa melupakan
Oleh dirimu yang menghilang dan meninggalkan luka
Oleh seseorang tak memiliki hati dan rasa
Karena kamu adalah alasan mengapa air mataku telah
mengering
Karena dirimu adalah bentuk ruang dari cerita masa lalu
tak bergeming

Hingga aku sadar,
Jika selama ini, aku mendekap rasa yang patah
Jika selama ini, aku mencintai hati yang salah.

Aku Menyesal

Pada malam yang telah berlalu, aku pernah menyimpan
hati pada tempat yang salah. Aku pernah percaya pada
cinta yang kuyakini tulus apa adanya. Nyatanya, sama
seperti kenangan rasa terdahulu sebelumnya; sebelum
bertemu dengannya.

Ditikam dari belakang, disalahkan tanpa alasan, dan
ditinggal pergi tanpa sebab yang pasti. Ya, aku pernah
memuja orang yang salah; meramu kisah-luka yang
sudah, mendekap pada hati yang patah.

Aku tak mengira, ternyata nyaman yang kurasa saat itu,
tak sesuai ekspektasi harapan yang kupercayai. Ternyata
doa yang selalu kuaminkan, tak pernah sampai pada
semesta. Aku tak mengira, pernah bertemu denganmu
adalah langkah baru di mana luka-luka itu datang
menghampiri.

Aku yakin, jika selama ini rasa yang pernah

kuperjuangkan dengan sungguh, hanya sebatas guyonan
canda buatmu. Karena akhir dari cerita kita hanya rasa
yang telah hampa di ujung senja, karena setia yang ku
jaga selama ini, kini mati di ujung nestapa.

Aku pernah bertanya pada langit saat itu, haruskah ia
menangis, saat hati ini sedang tidak baik-baik saja?
Ternyata dia tau ... sengaja; untuk membiaskan air
mataku yang merintik. Mencoba mendinginkan bara
hatiku yang kalap akan nafsu tak terucap.

Ya, aku menyesal, bukan karena pernah bertemu
denganmu. Tapi aku menyesal, pernah membuka,
mempersilahkan masuk hingga kau menetap di inti
jiwaku dengan tak sungguh.

Pertemuan yang singkat, tapi berakhir sesak oleh
kenangan masa lalu yang melekat. Oleh dirimu, sosok
yang dahulu pernah tenggelam di dalam benakku.

Semu Berlalu

Pada mulanya, aku khawatir akan satu hal; ketika tiada
lagi kisah pada jejak harapan yang telah pupus oleh
waktu dan kenangan. Aku tak menyangka, ternyata
dedaun kenangan, kini telah gugur dengan tenang.
Nyatanya, kau baik-baik saja tanpaku.

Akhirnya, kau bisa tersenyum dengan lepas dengan lekuk
bibir merona penuh lugas. Atap-atap langit yang dahulu
mendung, kini telah bersinar kembali padamu.

Akhirnya, setelah terombang-ambing oleh keresahan
akan dirimu. Kini aku lega, karena pelangi indah kini
mendarat di pelipis matamu, menaburkan binarnya,
diredam oleh warnanya.

Selamat: kataku sungguh
Kau bisa dengan mudah melupakanku
Melangkah tanpa henti meski masa lalu merajammu,
tetap tatap kedepan dan mengakhiri cerita luka masa
lalu.

Lupakanlah, jika dahulu aku pernah singgah, berbagi

kisah, dan rasa yang telah patah oleh keadaan yang tak
bisa kita lewati, pada suakarsa; altar semesta.
Kini, kita kembali asing pada dua hati mengharapkan
kata saling.
Kita-melupa.

Menahan Rindu di Balik Pilu
Lalu, begitulah hukum kehidupan; sebab-akibat,
keterkaitan, perubahan dan bijak dalam menangani

persoalan. Sama halnya denganku, yang pernah
tenggelam bersama kenanganmu di kornea mataku.

Delusi yang membayang, selaksa jingga terlihat samar.
Meneduhkan tapi hanya singgah yang terbelah
kenyataan.

Aku tak menyangka, hanya untuk mengetahui
keadaanmu saja, kini begitu sangat sulit. Berbagi cuitan
di aplikasipun, kini tak lagi bersahutan.

Aku tahu, kita bukan lagi--
di antara hati dan rasa saling membagi, kita hanya
sepenggal cerita masa lalu yang berkahir tragis, hanya
akhir sebuah drama yang tak berujung manis.

Meski terkadang, sering kujumpai rasa rindu yang
menghadang, suara detak jam dinding yang kedinginan
saat waktu terlanjur malam. Hanya harapan yang terbias
masa, kini memudar ditelan renjana.

Dedaun rasa yang telah mengering di musim kemarau.

Menjadikan duniaku teramat isak pada keinginan
sebatas angan, yang semakin memudar di tangkai
sumbu kerinduan.

Menyerah
Karya : Garis Hitam
Malam ini, aku sangat kecewa
Janjimu tidak sesuai dengan apa yang kau

utaran dulu. Kau benar-benar menjadi orang
asing bagiku. Kau seakan tak mengenalku. Kau
seakan menjauhiku dengan topeng yang kau
kenakan. menjadi orang yang berbeda; bukan
dirimu yang aku kenal. Katamu; kembali kita
berteman.

Entah, aku harus bagaimana?
Sebenarnya siapa yang mendatangkan rinai
senja?
Siapa yang dengan sengaja memilih pergi dan
mengakhiri semuanya?

Dari rangkaian beribu maaf yang kau ucapkan,
dari tiap pucuk penyesalan yang canangkan.
Hanya sebatas untaian kata-kata yang gugur
bersama musim kemarau yang selalu kau
banggakan.

Mungkin kamu masih tak mengerti dengan
keadaan dan situasi ini. Kaulah sebab musabab
mengapa aku selalu mengadu pada semesta.


Click to View FlipBook Version