1 Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta
uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang
telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya
dengan berbagai-bagai duka.
Lalu, dalam surat yang kedua kepada Timotius, Paulus
juga mengingatkan bahwa di jaman akhir ini manusia menjadi
hamba uang (2 Timotius 3: 2). Uang bukanlah dosa, tetapi
cinta uang, apalagi menjadi hambanya uang, itulah yang dosa.
2 Timotius 3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri
dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan
menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah,
mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu
berterima kasih, tidak mempedulikan agama.
Pilih Tuhan atau mamon? (Matius 6:24) Pilihan ini tidak
berarti mamon itu salah, karena mamon yang kita miliki adalah
berkat Tuhan juga. Tetapi memilih mencintai mamon, apalagi
menghambakan diri pada mamon, bukan Tuhan, itulah yang
salah. Seperti Yesus juga memperingatkan: “Di mana hartamu
berada, di situ juga hatimu berada”. Jadi, kepada siapa Anda
jatuh cinta dan menaklukkan diri.
Pertanyaan pilihan ini menunjukkan betapa dahsyatnya
akibat yang ditimbulkan mamon. Mengapa mamon, bukan
Baal? Karena, dalam konteks jaman PB, Baal dianggap simbol
kesesatan dan bernilai rendah di mata umat Israel, khususnya
di lingkungan orang Farisi. Orang Farisi yang selalu merasa
suci, ogah dengan Baal, mencibir Baal. Namun, di sisi lain
meraka sangat mencintai uang. Para imam Israel banyak
mengumpulkan uang atas nama ibadah dan persembahan
untuk rumah Tuhan, padahal dipakai diri sendiri, mirip zaman
sekarang bukan?
201
Mereka juga memakai uang untuk mempengaruhi
khalayak ramai agar sepakat menyalibkan Yesus. Mereka
menjadi kekasih uang, sekalipun mereka membenci Baal. Di
sisi lain, Baal ternyata semakin hari semakin terpinggirkan.
Baal terlau mencolok untuk sebuah kesesatan, sementara
mamon sangat halus dan mudah disembunyikan.
Seperti Yudas murid Yesus, dekat Yesus, bersama
Yesus, yang selalu tampak mencintai orang miskin dan rindu
membagikan uang, ternyata sangat mencintai uang dengan
memakai topeng kemiskinan. Atau para imam PB yang selalu
mengkhotbahkan kebenaran dan mengajak umat memberi
persembahan, namun “menjarahnya” untuk kepentingan
pribadi dan keluarganya.
Sekarang ini, berhala semodel Baal tidak lagi punya
tempat. Dia terasa sangat kuno, kurang terhormat. Sementara
Tuan Uang, semakin hebat pengaruhnya, bahkan bisa
membuat pengikutnya menjadi orang terhormat dengan cara
membeli kehormatan. Wow, hebat sekali si Tuan Mamon.
Kasak-kusuk pemilihan ketua sebuah sinode gerejapun tidak
luput dari gossip kekuatan uang. Tukar mimbar antar pendeta
terjadi di sesama ‘gereja besar’ sehingga dana masuk kantong
pribadi (persembahan kasih) juga besar dan aneka perilaku
yang dasar pertimbangannya adalah uang, si Tuan Mamon.
Sudah terlalu banyak orang yang diantar ke singgasana
kekuasaan oleh Tuan Mamon. Pengusaha yang tidak tahu
Firman, tidak bisa kotbah dengan cepat menjadi wakil gembala
karena persembahannya banyak. Mereka duduk dengan
pongah atas jaminan kekuatan uang, dan setiap orang yang
berbeda dengan mereka akan menghadapi kehancuran karena
jangkauan Tuan Uang tak mengenal belas kasihan.
202
Jadi, tidaklah heran jika Yesus membuat pilihan antara
Tuhan dan mamon. Kenyataan ini menggugat kita sebagai
orang percaya untuk membuat pilihan tepat, agar tidak tersesat
di buaian maut Tuan Uang ataupun pendeta pemuja mamon.
Di sisi lain, semakin panjang pula barisan gereja yang
cinta uang. Orang ber-uang selalu diperebutkan, sementara
yang miskin ekonomi terus terabaikan. Tanpa sadar theologia
ala zaman Ayub, yang diajarkan Elifas dan kawan-kawan,
bahwa ukuran kerohanian adalah berkat, semakin banyak
uang, berarti diberkati Tuhan, dekat dengan Tuhan dan layak
jadi pelayan.
Pemilihan untuk penatua-penatua gereja, dimenangkan
oleh pengusaha-pengusaha kaya dan akhirnya, seiring
pertumbuhan gereja induk, mereka menjadi gembala-gembala
cabang tanpa belajar Alkitab dan mengelola gereja persis
seperti perusahaan. Lengkap sudah, hatinya cinta uang
sistemnyapun sistem menagemen perusahaan. Maka
sebenarnya apakah iini sebuah gereja atau hanya komunitas
sosial dan perusahaan entertainment beraroma agama?
Jemaat modern dengan kerinduan sukses, diberkati
mencari figur yang juga sukses dan diberkati, maka pendeta-
pendeta miskin terpinggirkan, tidak diminati walaupun
pelajaran Firmannya bagus dan menguduskan kehidupan.
Jemaat lebih tertarik pendeta kaya, yang semakin kaya dengan
persembahan mereka. Pendeta semakin terasa aroma artis
yang harus menjaga penampilan daripada menggali Firman,
aroma pilitik yang harus menjaga hubungan dengan ketua
partai (eh ketua gereja) dengan upeti yang mirip franchisee fee
daripada hubungan pribadi dengan Tuhan. Ini memang sudah
zaman edan
203
b. Amoral atau berhala?
Roma 1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Tuhan,
mereka tidak memuliakan Dia, sebagai Tuhan atau
mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran
mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh
menjadi gelap,
1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat,
tetapi mereka telah menjadi bodoh.
1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Tuhan yang tidak
fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang
fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki
empat atau binatang-binatang yang menjalar.
1:24 Karena itu Tuhan menyerahkan mereka kepada
keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga
mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Tuhan
dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk
dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji
selama-lamanya, amin.
1:26 Karena itu Tuhan menyerahkan mereka kepada
hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka
menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak
wajar.
1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan
persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan
menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap
yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-
laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima
dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk
kesesatan mereka.
1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk
mengakui Tuhan, maka Tuhan menyerahkan mereka
kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka
melakukan apa yang tidak pantas:
Jika seseorang, pendeta sekalipun, namun mulai
menggantikan Tuhan yang disembah (Roma 1:21-23), dengan
yang lain (ingat bahasan diatas, Baal sudah tidak populer
tetapi mamon) maka Tuhan bisa menyerahkan hati dan pikiran
204
mereka, pada pikiran-pikiran terkutuk, sehingga mereka
mencemarkan tubuh dengan seks yang menyimpang (Roma
1:24-28). Karena itu hatihati-lah dengan uang. Jaga hati saat
bisnis diberkati, pelayanan diberkati, uang mulai banyak,
kolekte berlimpah. Hati bisa serong sedikit demi sedikit, hingga
hati nurani mati, perilaku menyimpang, seksnya menyimpang
namun kegiatan rutin beribadah tetap berjalan karena
jabatannya seorang pendeta, majelis atau pengerja, namun
hatinya kosong, jauh dari hal-hal rohani, sebaliknya penuh
kemesuman dan pornografi.
Hati tidak terlihat, yang terlihat adalah gaya hidup. Jika
mulai menyukai barang mewah, hidup gaya mewah yang
skarang sering disebut hedon, hati-hati. Jika orang lain menilai
Anda hedon dan Anda tidak merasa hedon, hati-hati. Jangan-
jangan hati nurani Anda sudah mati. Saya tidak menghakimi,
saya hanya mengingatkan "hati-hati". Ingat akar segala
kejahatan adalah cinta uang (1 Timotius 6:10)
Jika orang-orang terkejut pdt-A selingkuh, si-B homo,
si-C lesbi, pdt-D phedo dan seterunya, saya tidak terkejut, jika
melihat gaya hidup mereka hedon. Kekayaan, uang telah
membunuh hati nurani. Hati nurani yang mati membuat
seseorang melakukan perilaku yang menyimpang.
Jaga hati tetap tulus, murni, takut dan cinta akan Tuhan
dan tidak cinta uang. Bagaimana supaya tidak cinta uang?
Jujurlah dengan pasangan Anda. Jika Anda pendeta, jujurlah
dengan team kepemimpinan gereja dalam hal keuangan dan
kelolah uang gereja oleh team dan bukan oleh Anda sendiri.
Keterbukaan akan menjagai hati Anda. Di dalam
pemerintahaan sekuler, pemimpin yang absolutlah yang
cenderung korup, demikian juga di gereja.
205
c. Yudas di gereja
Yohanes 13:29 Karena Yudas memegang kas ada yang
menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-
apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-
apa kepada orang miskin.
Yudas adalah bendahara Tuhan Yesus (Yohanes
13:29), karena itu hati-hati para bendahara, Anda memegang
uang jangan sampai cinta uang seperti Yudas, sampai
Yesuspun dijual. Baik bendahara gereja, yayasan, partai atau
bendahara perusahaan, Anda ada godaan untuk korupsi,
bahkan "menjual Yesus" dan hidup dalam dosa. Mari menjadi
bendahara yang melayani Tuhan seperti Lukas 8:3
Lukas 8:3 Yohana istri Khuza bendahara Herodes,
Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-
perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan
mereka.
Yudas 1
Suatu ketika anaknya sakit (atau kebutuhan penting
lainnya), maka diam-diam ia memakai uang kas. Namun
setelah sekian bulan ia tidak mengembalikan kok ketua (atasan
yayasan, boss-perusahaan, pendeta-gereja) tidak tahu,
akhirnya ia berkata didalam hati: "Tuhan tahu kok saya
mengabdi dan ini kebutuhan saya harus dipenuhi dari tempat
saya mengabdi" Awalnya pembenaran diri terhadap yang
sudah dilakukan, lalu menjadi kebiasaan mengambil uang lagi
dan mulai korupsi yang lebih besar lagi. Apalagi jika bendahara
ini orang lama yang setia, ikut merintis dari awal atau ada
hubungan saudara, maka ketua/ atasan tidak menduga atau
“membiarkan”/ menutup mata sebelah.
206
Yudas 2
Suatu ketika gembala dimana saya kotbah WhatsApp
saya; "Maaf pak Jarot, bapak terima PK (Persembahan Kasih)
berapa?" "Lho kok nanya?" "Cross check aja pak" lalu
terbongkarlah, jika selama ini uang PK pembicara dicatut oleh
bendahara gereja.
Pikir bendaharanya pasti aman. Karena nggak
mungkinkan, kita para pembicara tanya-tanya gembala; “PK
saya kok segini?” Rupanya bendahara melihat peluang.
Apalagi kita sebagai pembicara merasa, sudah cukup besar,
misal 7.5 juta ehh rupanya harusnya 10 juta. Lhaa dapat 7.5
saja sudah senang banget, mosok nanya-nanya.
Waktu saya terima PK ada kwitansi, saya liat tertulis 7.5
juta klop dengan jumlah yang saya terima khan?. Rupanya
bendaha buat kwitansi lagi, 10 juta dia palsukan tanda tangan
pembicara. Bahkan dengan sistem transferpun bendahara
masih bisa punya modus-nya.
Yudas 3
Ia bendahara cabang Besar. Kolekte dihitung katakan
785.850.500,-/ minggu dan membuat laporan. Semua
pengurus tanda tangan, pasang di papan cabang, semua
donatur besar melihat angka darinya ada. Ia membuat laporan
dan menyetor ke pusat dengan angka mirip (katakan
755.850.500). Pusat cabangnya banyak, ia tidak tahu bahwa
laporan di cabang dan yang dikirim ke pusat angkanya beda.
Bendaharanya baik sama gembala pusat, nyumbang ke pusat
ratusan juta, jadi pusat sangat percaya. Saat ketahuan yang
dikorupsi sudah milyaran karena sudah beberapa tahun.
207
Yudas 4
Gereja ada 3 bendahara per jam ibadah dan hari
minggu 3-5 x ibadah. Untuk ibadah malam karena jemaat
ribuan, maka kolekte dihitung hari senin. Brangkas dikunci
dengan 3 gembok yang hanya bisa dibuka 3 orang. Aman?
Tidak rupanya bendahara yang membawa kolekte pulang, saat
mengunci brangkas di depan team, dengan 3 gembok yang
serupa milik dia sendiri. Malam dia lembur memilih yang mau
diambil, termasuk check tanpa nama penerima karena
donaturnya percaya 100% dengan gereja dan digembok
dengan 3 yang seharusnya. Semuanya aman, sampai ada
donatur yang curiga dan melakukan croscheck dengan bagian
keuangan yang kebetulan temannya.
Yudas 5
Suatu ketika, saya pelayanan di sebuah gereja, dan
diajak keliling gereja menunjukan ruang demi ruang. Ada ruang
penghitung kolekte dan dipasang CCTV. Gembala cerita,
pernah kejadian penghitung justru mengambil yang ratusan
ribu, pakai lengan panjang, jadi dimasukkan ke lengan (kayak
tukang sukap, cukup cekatan). Maka skarang dipasang CCTV.
Ada lagi, amplop berisi uang banyak, hanya diambil
uangnya beberapa lembar, trus amplop yang masih ada isinya
dibuang ke tempat sampah. Lalu dia yang akan membuang
sampahnya. Hal ini berjalan sudah bertahun-tahun sampai
“kebetulan” ada yang melihat, kok kantong plastik isi
sampahnya dibawa pulang dan terbongkarlah kasusnya.
208
Yudas
Kembali ke Yudas. Setelah Yudas menerima 30 uang
perak dari imam-imam kepala (Matius 26:15) ia mencari
KESEMPATAN menyerahkan Yesus (Matius 26:16).
Kesempatan memang selalu ada, dibidang apa saja, baik
kesempatan untuk berbuat baik, maupun untuk mencuri dan
berbuat jahat lainnya. Bagi orang yang memang punya niat
mencari uang, maka yang harampun ada, termasuk dalam
pelayanan. Berikut ini saya berikan beberapa contoh kasus.
Yudas 6
Pdt A (gembala), kotbah ke kota C, invoice tiket ditagih
ke greja yang mengundang dan invoice yang sama dimasukan
kas gereja-nya. Siapa yang berani protes dan siapa yang tahu?
Saya menjadi tahu, saat bagian keuangan tidak tahan, pindah
gereja dan dalam konseling ia curhat. Curhatnya karena ia
sedih, kalau bercerita, tidak ada yang percaya, malah
menasehati; “Jangan memfitnah” “Pindah gereja tidak apa-apa
tetapi jangan karena kepahitan lalu memfitnah”.
Kenapa saya percaya dan menulis dalam buku ini?
Karena bukan hanya satu kali saya mendengar kisah serupa.
Saya pribadi pernah menjumpai di sebuah organisasi gereja,
seorang pendeta di sebuah cabang harus dimutasi karena hal
seperti ini. Hal ini terbongkar karena gereja pendeta tersebut
dan gereja yang mengundang kotbah, walau berbeda kota,
tetapi dalam satu induk organisasi. Bukan hanya antar pendeta
saja yang bersahabat dan berkomunitas, tetapi antar pendoa
syafaat, antar WL, antar pengerja dan juga antar bendahara
dan sering saling curhat, nah jadi ketahuan dan dilaporkan ke
pusat.
209
Yudas 7
Pdt B (Pembicara) , Jumat diundang gereja D, sabtu
pagi diantar ke airport. Sabtu siang gereja E menjemput di
airport di kota yang sama. Tiket PP dicharge ke Gereja D & E.
Kebetulan Pdt D & E ketemu, & geleng-geleng kepala waktu
crita ke saya. Niat-niatnya minta diantar ke airport seolah-olah
balik Jakarta supaya semua gereja di charge tiket PP.
Jika uang tiket aja dikemplang, apakah Anda yakin dia
jujur dalam keuangan lainnya yang dia kelola? Sekalipun ia
seorang pendeta, pengkotbah tetapi apakah mengabdi kepada
Tuhan? Kalau menurut Lukas 16:10-13 pasti tidak, karena
kalau mengabdi kepada mamon orang tidak bisa mengabdi
kepada Tuhan. Itulah kenapa Alkitab jauh-jauh sudah
mengingatkan dengan istilah-istilah: nabi palsu, serigala
berbulu domba, dan seorang ‘upahan’ yang bukan gembala.
Bagi kita pribadi, mari kita mencintai Tuhan melebihi apapun di
dunia ini, termasuk berkat pemberian Tuhan, baik berkat yang
melekat dengan diri kita seperti bakat, talenta maupun yang
kita hasilkan seperti uang, perusahaan dan karya-karya.
Jangan cinta dunia
1 Yohanes 2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan
apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi
dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang
itu. 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu
keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan
hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya,
tetapi orang yang melakukan kehendak Tuhan tetap
hidup selama-lamanya.
210
d. Penyamun di gereja
Jika diatas adalah kasus pribadi, maka saya sebut
kasus Yudas yang karena kesempatan melakukan “penipuan”,
namun jika dilakukan beberapa orang, atau bahkan gereja
yang melakukan inilah “sarang penyamun”.
Lukas 19:46 kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis:
Rumah-Ku adalah rumah doa, Tetapi kamu
menjadikannya sarang penyamun.
Penyamun, dari bahasa Yunani; lhsthv dilafalkan lace-
tace, lalu menjadi kata leizomai yang artinya perampok,
penyamun atau pemberontak.
Yeremia 7:11 Sudahkah menjadi sarang penyamun di
matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?
Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah
firman TUHAN.
Penyamun, dari akar kata bahasa Ibrani p@riyts
dilafalkan per-eets, yang berarti lalim, buas, orang yang
melakukan kekerasan, perampok dan penyamun.
Kenapa Tuhan Yesus menyebut sarang penyamun?
Saat Yesus menjadi manusia di muka bumi, ia pernah
marah, bahkan begitu marahnya Ia menusir orang berjualan, Ia
membalikkan meja penukar uang. Hal ini dilakukannya
sebanyak dua kali, yaitu pada awal pelayanan (Yohanes 2:13-
16), dan menjelang akhir pelayanan (Matius 21:12-17, Lukas
19:45) Ia meluruskan tujuan rohani yang benar dari Bait Suci.
Kenapa Ia melakukan hal itu, bahkan hingga dua kali?
211
Pada zaman itu, mempersembahkan korban ke Bait
Suci itu harus sesuai aturan Taurat yang rumit, misalnya anak
domba harus jantan, usia satu tahun, kakinya tidak boleh cacat
dan sebagainya.
Karena para musafir tidak mungkin membawa serta
hewan-hewan yang akan mereka persembahkan atau mata
uang logam yang cocok untuk membayar iuran Bait Suci, para
imam telah menyediakan beberapa kesempatan di mana
semuanya itu bila dibeli. Usaha tersebut ternyata menjadi
sumber penyuapan ataupun kerjasama ekonomi antara imam
yang memberi hak berjualan dengan para penjual dan
membawa suasana komersial ke dalam ibadah di Bait Suci.12
Yesus melihat itu sebagai ketidak-murnian pelayanan,
ketidak tulusan melayani umat yang mau memberikan korban,
justru mencari keuntungan melalui tukar menukar tersebut dan
mengusir semua pedagang itu. Harusnya Bait Suci adalah
tempat doa, ibadah dan jika pihak Bait Suci atau imam hendak
mempermudah jemaat, musafir yang akan beribadah, maka
sungguh-sungguh membantu menjalankan ibadah dan bukan
menarik keuntungan.
Dengan demikian Yesus Kristus menegaskan, bahwa Ia
juga akan marah dan menghukum semua orang yang
menggunakan gereja, Injil atau Kerajaan-Nya demi
keuntungan, kemuliaan atau kemajuan diri pribadi, karena
tindakan-tindakan seperti itu (mencari keuntungan) akan
merendahkan Kerajaan Sorga (1 Petrus 5:2)
12 Kyle M. Yates, Sr. TH.D., Ph.D.; Philip C. Johnson, Th.D.; dll. Tafsiran Alkitab Wycliffe
212
Kondisi saat ini?
Misalnya saja, kasus sebuah gereja, dengan
managemen yang sebenarnya sudah cukup modern, namun
manusia yang didalamnya memang cinta uang, akhirnya
memasang adik, ipar, anak, mantu dan barisan keluarganya di
dalam pengurus gereja yang mengurus kolekte dan keuangan,
sehingga kasus bendahara 1-6 semua dilakukan oleh
“keluarga” menjadi sebuah mafia di dalam gereja. Kenapa
dibiarkan? Karena justru keluarga oknum gembalalah yang
melakukan, karena dia bukan gereja kharismatik tradisional
yang sejak awal gereja berdiri memang gembala memiliki hal
mutlak atas keuangan, dan itu diketahui dan disetujui oleh
jemaatnya, tentu menjadi kondisi yang berbeda.
Pengurus gereja yang masih anggota keluarga dengan
gembala membuka percetakan, penjualan dan penyewaan
soundsistem dan berbagai suplier atau pemasok aneka
kebutuhan gereja dan memasang harga yang perlipat. Karena
gereja memang uang kasnya banyak dan tidak tahu mau
diapakan, tidak ada beban membuat sekolah, rumah sakit,
panti asuhan, ataupun misi sosial pendidikan, maka seolah-
olah “dihambur-hamburkan” untuk aneka biaya yang harganya
jauh di atas harga pasar, dengan alasan “memberkati” orang
lain yang adalah “kroni”, apalagi jika mereka hidup dalam
kemewahan yang dipamerkan atau sekarang sering disebut
gaya hedon.
Bukan hanya hanya soal kasus Yudas di gereja poin di
atas atau kasus perorangan, tetapi jika ini dilakukan oleh
banyak orang bersama-sama, ini sudah mafia atau tepat kata
Tuhan Yesus “sarang” penyamun.
213
INTEGRITAS
Kadang saya marah, jengkel, sedih bahkan dituduh
sebagai orang yang “kepahitan” dengan gereja, jika saya
mengungkapkan hal-hal demikian (kasus-kasus diatas).
Kadang saya berbicara dengan oknum pendeta dan ia berkata:
“Apakah perbuatan tersebut salah?” Masih banyak yang bisa
membela diri dengan berbagai alasan dan jalur pemikirannya.
Maka jika bukan soal salah benar, adalah soal integritas dan
kepantasan.
Pantaskah harga yang diberikan oleh kerabat atau kroni
gembala terhadap aneka kebutuan gereja? Pantaskah hidup
mewah-mewah yang dipamerkan? Pantaskan menyimpan
uang hingga saldo milyaran (hidup tidak pamer) tetapi tidak
ada dana untuk pelayanan, penginjilan, menolong orang
susah? Pantaskah terus mengajarkan jemaat korban, memberi
dan memberi, sementara ia sendiri terus mengambil dan
menyimpan?
Hanya hati nurani saat bertemu dengan pribadi Tuhan
yang bisa menjawabnya dan hanya Tuhan saat bertemu
dengan pribadi orang tersebut akan menjawabnya. Hanya saya
kuatir dan semoga jawaban Tuhan bukan “Enyahlah kamu
hamba yang jahat”.
Karena itu, jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan,
kita ingin hidup kita ini semakin sempurna dihadapan Tuhan,
dan seluruh kehidupan kita, motivasi kita itulah pelayanan kita
(Roma 12:1-2) dan bukan kegiatan berkotbah, kegiatan
menyanyi tetapi apa yang dihati kita. Tuhan melihat hati
manusia (1 Samuel 16:7)
214
Orang yang menjaga hatinya bersih, motivasinya tulus,
maka perilakunya akan benar. Perkataannya perbuatannya
selaras dengan yang diajarkan, karena ia hidup takut akan
Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan INTEGRITAS. Orang
yang memiliki integritas perkataannya bisa dipegang, ia tidak
berbohong, tidak menipu, “Ya adalah Ya dan Tidak adalah
Tidak”. Integritas karena hidup sesuai nilai-nilai Firman, cinta
dan takut Tuhan, akan membuat seseorang hidup benar.
Ada yang berkomentar ke saya, wah pak, ini nggak
bohong atau imaginasi bapak khan? Ngeri sekali! Saya sudah
terjun didalam pelayanan sejak tahun 1982an sehingga saya
berjumpa dengan aneka kisah ngeri diatas. Tentu sedikit sekali
oknum-oknum seperti diatas, tetapi itu ada dan nyata, maka
Anda harus hati-hati, supaya Anda tidak jatuh atau Anda kena
tipu dan mengikuti orang yang ternyata berdosa.
Jika Anda adalah pelayan yang seperti diatas, hati-
hatilah jangan sampai dihajar Tuhan dan baru bertobat atau
tidak sempat dihajar/ dididik Tuhan dan baru kaget saat
penghakiman setelah kematian. Bertobatlah saat Anda
membaca buku ini, dan renungkan kekekalan seperti apa yang
akan menjadi masa depan Anda.
Saya hanya mengingatkan bahwa Tuhan Yesus begitu
marah dengan roh cinta uang, ia menantang orang “pilih Tuhan
atau mamon”. Mamon itulah saingan Tuhan di akhir zaman ini.
Bukan berhala, bukan dukun, bukan Baal, tetapi mamon.
Imam-iman di Bait Suci (skarang bisa di gereja) tidak sadar
dengan kelakuan mereka, tetapi Tuhan Yesus dengan jelas
bisa melihat ketidak-benaran yang sedang dan sudah
berlangsung lama. Saking lamanya tidak terasa sebagai
sebuah kesalahan!
215
9. Bisa berikan kekami, gambaran besar Kitab Ayub,
supaya kami lebih mudah memahami?
Selain dalam Pendahuluan yang sudah saya jelaskan,
berikut ini saya tambahkan catatan oleh YLSA (Yayasan
Lembaga SABDA).
Kitab Ayub menggumuli pertanyaan abadi, "Jikalau
TUHAN itu adil dan penuh kasih, mengapa diizinkan-Nya orang
yang sungguh-sungguh benar seperti Ayub (Ayub 1:1,18)
menderita demikian hebat?" Ketika menggumuli soal ini,
penulis mengemukakan kebenaran-kebenaran berikut.
1. Selaku musuh TUHAN, Iblis menerima izin untuk menguji
kesejatian iman seorang benar dengan menyiksa dia; tetapi
kasih karunia TUHAN menang atas penderitaan karena
oleh iman.
2. TUHAN digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan yang
terlalu luas sehingga tak dapat dipahami oleh pikiran
manusia (Ayub 37:5); karena kita tidak melihat dengan
kelapangan hati dan visi Yang Mahakuasa, maka kita
memerlukan TUHAN menyatakan diri-Nya kepada kita.
3. Landasan iman yang sesungguhnya tidak terletak dalam
berkat-berkat TUHAN, dalam situasi-situasi pribadi atau
jawaban-jawaban yang cerdik pandai, tetapi dalam
penyataan TUHAN sendiri.
4. TUHAN kadang-kadang mengizinkan Iblis menguji orang
benar dengan kesengsaraan agar memurnikan iman dan
kehidupan mereka, sebagaimana emas dimurnikan oleh
api (Ayub 23:10; bd. 1Petrus 1:6-7); ujian semacam itu
mengakibatkan peningkatan integritas rohani dan
kerendahan hati umat-Nya (Ayub 42:1-10).
216
5. Sekalipun cara-cara TUHAN menghadapi kita kadang-
kadang tampak suram dan kejam (sebagaimana dikira oleh
Ayub sendiri), akhirnya TUHAN tampak dalam belas
kasihan dan kemurahan yang penuh. (Ayub 42:7-17;
bd. Yak 5:11).
Terdapat lima bagian tertentu di dalam struktur kitab
Ayub:
1. Prolog (pasal 1-2; Ayub 1:1--2:13) yang melukiskan
musibah Ayub dan penyebabnya;
2. Tiga rangkaian dialog di antara Ayub dan ketiga orang
temannya, ketika mereka mencari jawaban-jawaban yang
masuk akal untuk penderitaan Ayub (pasal 3-31; Ayub 3:1-
31:40);
3. Empat monolog oleh Elihu, seorang yang lebih muda
daripada Ayub dan ketiga temannya, yang berisi sekilas
pengertian mengenai makna (sekalipun belum mengenai
penyebab) penderitaan Ayub (pasal 32-37; Ayub 32:1--
37:24);
4. TUHAN sendiri, yang menegur ketidaktahuan dan keluhan
Ayub serta mendengarkan tanggapan Ayub atas
penyataan-Nya (pasal 38, 1-42, 6; Ayub 38:1-38; Ayub 1:1-
-42:17; Ayub 6:1-30);
5. Epilog (Ayub 42:7-17) yang mencatat pemulihan Ayub.
Kitab Ayub seluruhnya ditulis dalam bentuk syair, kecuali tiga
bagian:
(a) prolog,
(b) Ayub 32:1-6, dan
(c) epilog.
217
Dalam pasal 1 (Ayub 1:1-22) Ayub diperkenalkan
sebagai seorang benar yang takut akan TUHAN (Ayub 1:1,8)
dan terkaya dari semua orang di sebelah Timur (Ayub 1:3).
Keadaan hidupnya mendadak berubah oleh serangkaian
musibah besar yang memusnahkan harta milik, anak-anak,
dan kesehatannya (Ayub 1:13-22; Ayub 2:7-10).
Ayub bingung sama sekali, karena tidak menyadari
bahwa dirinya terlibat dalam pertentangan di antara TUHAN
dan Iblis (Ayub 1:6-12; Ayub 2:1-6). Ketiga teman Ayub - Elifas,
Bildad, dan Zofar - datang untuk menghibur Ayub, tetapi
akhirnya berdebat dengannya mengenai penyebab terjadinya
penderitaan itu.
Mereka bersikeras bahwa karena TUHAN itu adil,
penderitaan Ayub pasti merupakan hukuman atas dosa-dosa
tersembunyi dan satu-satunya jalan keluar baginya adalah
bertobat. Ayub menolak jawaban mereka, menegaskan
ketidakbersalahannya dan mengaku ketidakmampuannya
untuk memahami (pasal 3-31; Ayub 3:1--31:40). Elihu
mengemukakan sudut pandang yang lain, yaitu penderitaan
Ayub menyangkut maksud penebusan TUHAN untuk lebih
memurnikan Ayub (pasal 32-37; Ayub 32:1--37:24).
Pada akhirnya semua terdiam, termasuk Ayub, ketika
TUHAN sendiri berbicara kepada Ayub mengenai hikmat dan
kuasa-Nya selaku Pencipta. Ayub mengakui ketidaktahuan dan
ketidakberartian dirinya dengan penuh penyesalan dan rendah
hati (pasal 38-41; Ayub 38:1--41:25).
Ketika Ayub bertobat dari berbantah dengan Yang
Mahakuasa (Ayub 40:1-4,8); Ayub 42:5-6) dan berdoa bagi
teman-temannya yang telah sangat melukai hatinya (Ayub
218
42:8,10), ia dibebaskan dari pencobaan berat itu dan
dipulihkan dua kali lipat (Ayub 42:10); Ayub juga dibenarkan
ketika TUHAN berkata bahwa Ayub telah "berkata benar
tentang Aku" (Ayub 42:7).
Kehidupan Ayub kemudian hari lebih diberkati daripada
sebelum penderitaan itu (Ayub 42:12-17). Sekalipun TUHAN
tidak pernah memberikan pemahaman filosofis kepada Ayub
mengenai penyebab penderitaannya, pembaca memperoleh
perspektif yang penting ini dari keseluruhan kitab ini.
219
Daftar Pustaka
Bigman Sirait, Reformata.com, 29 September 2009.
C Brown, NIDNTT 2, hlm 836-840; J. D. M Derrett, Law in the NT, 1970. EEE/MHS/HAO
Jarot Wijanarko, Hati yang Indah, Andy Offset, Jogyakarta, 2015.
Jarot Wijanarko, Kuat seperti Rajawali, Andy Offset, Jogyakarta, 2014.
Kyle M. Yates, Sr. TH.D., Ph.D.; Philip C. Johnson, Th.D.; dll. Tafsiran Alkitab Wycliffe
http://berpikiralkitabiah.blogspot.co.id/2015/04/iblis-dan-roh-roh-jahat-menurut-alkitab.html
akses 3 Janurari 2018
https://www.gotquestions.org/Indonesia/setan-setan.html akses 3 Janurari 2018
http://berpikiralkitabiah.blogspot.co.id/2015/04/iblis-dan-roh-roh-jahat-menurut-alkitab.html
akses 3 Janurari 2018
http://www.in-christ.net
YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
220
Biografi Penulis
Saya bertobat tahun 1982, lalu telibat di persekutuan
Kampus IPB Bogor, yang dibina oleh lembaga OMF dan LPMI.
Tahun 1985 hingga 1990 bersama teman-teman pelayanan di
Kampus, mendirikan PUKB (Persekutuan Umat Kristen Bogor)
dengan salah satu kegiatannya ‘Bogor Praise Centre’, yang
merupakan wadah kegiatan berbagai aktivis pemuda berbagai
gereja di Kota Bogor. Sekitar 1600 orang berkumpul sebulan
sekali untuk kegiatan ini. Tahun-tahun itu saya juga aktif di
persekutuan Kampus IPB di Darmaga.
Delapan tahun pertama pelayanan saya setelah lahir
baru, berkecimpung di pelayanan bersama, pelayanan
oikumene, pelayanan antar gereja hingga tahun 1990. Ada
dasar, wawasan, visi yang Tuhan mulai taruh dalam hati saya
pada masa-masa itu tentang ‘Gereja’. Tuhan menyiapkan
saya untuk pelayanan ini, pelayanan oikumene.
Tahun 1990-1997 saya melayani hanya di satu gereja
lokal saja, yaitu di GBI Bethany Jakarta. Untuk sementara
Tuhan menanam dan membentuk saya disini dengan berbagai
kesempatan dan pengalaman berharga sebagai; Ketua
Departemen Anak (1990-1998), Pengkotbah (1993-sekarang),
Ketua Departemen Pemuda (1996-1998), Deputy Misi Dalam
Negri (1996-1998) dan Deputy Pendidikan Dasar (PG dan TK)
di YPKB, Yayasan Pendidikan Kristen Bethany (1995-1998).
Pertengahan tahun 1998 melalui pergumulan yang panjang,
saya akhirnya melepaskan semua jabatan tersebut kecuali
sebagai ‘pengkotbah’ ibadah raya dan mengikuti hati nurani
untuk kembali melayani Tubuh Kristus, melalui Yayasan
Pulihkan Indonesia (YPI).
221
Play Group dan TK “Happy Holy Kids Bethany” (di kota
besar) dan TK Pemulihan (di pedalaman), dibawah YPI terus
berkembang hingga saat ini. Sudah ada 60 lebih Happy Holy
Kids dan 23 TK Pemulihan di seluruh Indonesia.
Pelayanan terakhirnya, 2017 yang lalu adalah
menginisiasi pendirian komunitas KELUARGA INDONESIA
BAHAGIA, dengan kegiatan menulis buku, seminar, talkshow,
membuat program TV, Youtube, streaming facebook dan
jaringan pelayanan lintas denominasi, termasuk untuk
komunitas warga Indonesia di USA, Eropa, Australia dan Asia
dan komunitas ini terus aktif sampai saat ini.
Di dunia sekuler: Saya lulus sarjana IPB th 1987,
Jurusan Tekniologi Industri Pangan, bekerja tiga tahun di
Pt.Sugizindo, Industri makanan bayi sesuai bidang ilmu yang
saya pelajari, kemudian tahun 1990 pindah ke Jakarta dan
bekerja di Astra Export Company. Tahun 1992 bersama Bp.
Tanu Sutomo dan mendirikan perusahaan sendiri; PT. Ifaria
Gemilang, holding dari MLM IFA Dahsyat. Tahun 2004, saya
mendirikan Pt.Happy Holy Kids, perusahaan yang
memfokuskan pada anak anak. 2016 ini saya tergabung dalam
ASPIRASI, asosiasi penulis dan coach, serta sempat menjadi
Coach dalam Acara I’M Possible di Metro TV.
Tahun 2009 mendirikan sekolah HHK Animation
Academy dibawah Pt. Indonesia Animasi Teknologi dan sejak
2018 hingga sekarang menjadi direktur Pt. Sertifikasi Animasi
dan Kreatif Indonesia atau disingkat LSP Ainaki.
222