Orang orang yang hanya memiliki ‘agama’ dan hidup
dalam perbantahan dengan ‘kebenaran’, terus hidup dalam
pikiran perdebatan dan terus membantah dan mendebat, tidak
pernah mengalami ‘damai sejahtera’ yang sesungguhnya. Ada
kegelisahan di dalam kepandaian agamawinya.
Karena itu saudara, bahkan kalau engkau hanya tahu
bahwa Yesus itu Tuhan, bagus, tetapi itu tidak membawa
engkau masuk surga! Iblis juga tahu kalau Yesus Tuhan,
bahkan gemetar. Yang membuat engkau selamat dan masuk
sorga adalah kalau engkau MENERIMA Yesus sebagai Tuhan
dan juru selamat (Mesias) pribadi. Engkau perlu mengenal
secara pribadi!
Kalau engkau menjadi orang ‘beragama’ kristen, karena
orang tua, atau leluhur kristen, karena diajak pacar atau teman,
engkau hanya ‘mendengar dari kata orang saja’ dari pendeta
tau orang kristen lain, maka engkau perlu MENGALAMI
sendiri; ‘namun dengan mataku sendiri aku mengenal Engkau’
seperti yang dialami oleh Ayub. Segala peristiwa ‘yang
diijinkan’ terjadi membawa Ayub pada ‘pengenalan secara
pribadi’ dengan Tuhan, Yehova, Bapa kita.
Pengenalan akan Tuhan inilah yang Anda harus alami,
dan bukan ketahui. Jadi jika Anda seumur hidup belum pernah
mengaku dengan lidah bibir Anda dan berkata dalam hati
Anda; “Yesus, aku orang berdosa, aku perlu engkau
sebagai juru selamat, penebus dosaku, dan masuklah
dalam hatiku sebagai Tuhanku”, maka lakukanlah saat ini
juga. Maka ‘Damai Sejahtera’ itu akan mengalir dan
memerintah dalam hati Anda.
101
Alami sukacita dan damai sejahtera dari tempat yang
maha tinggi, damai sejahtera yang bukan dari dunia ini! Suka
cita karena DIDAMAIKAN dengan Yehoha, Bapa!
Pemulihan hati, akan membawa pemulihan kehidupan,
karena hati, adalah sumber kehidupan. Melalui hati terpancar
melalui wajah, gimik atau gerak tubuh (kinesthetik), perilaku,
pemikiran dan perbuatan.8
Pemulihan akan menjadi semakin sempurna, ketika
damai dengan Tuhan termasuk mengerti, menangkap
kehendak Tuhan, mengapa hal itu diijinkan terjadi, bahkan
mulai bisa merasakan berkat dan hikmat dibalik segala sesuatu
yang terjadi.9
8 Jarot Wijanarko, Hati yang Indah, Andy Offset, Jogyakarta, 2015.
9 Jarot Wijanarko, Kuat seperti Rajawali, Andy Offset, Jogyakarta, 2014.
102
B. Damai dengan Diri Sendiri
Orang datang kepada saya dan bertanya; “Pak saya
sudah damai dengan Tuhan, bertobat, terima Yesus sebagai
Tuhan, dibabtis, kok saya belum dipulihkan? Saya kok masih
sakit, usaha saya kok belum dipulihkan?”
Saya jawab secara sederhana demikian; “ Lihat kisah
Ayub, Ayub dipulihkan bukan setelah pasal 42 ayat 5. Ayub
tidak segera dipulihkan secara instant setelah dia memandang
Tuhan, bertemu Tuhan secara pribadi, masih ada ayat 6
sebelum masuk dalam perikop yang berjudul ‘Ayub Dipulihkan’.
Ayat 6 ini penting, inilah ayat terakhir sebelum pemulihan, kita
tidak bisa melewati begitu saja”.
Ayub 42:6 “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku
dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”
Bagaimana Ayub dipulihkan? Ayub dipulihkan setelah
Ayub mencabut perkataannya. Mencabut perkataan itu
penting, karena itulah salah satu cara membersihkan hati.
Mencabut perkataan atau pengakuan. Mulut itulah pintu
gerbang hati, yang keluar dari mulut meluapnya dari hati, cara
mengeluarkan isi hati, melalui mencabut perkataan.
Mencabut perkataan itu penting, karena perkataan yang
kita ucapkan itu tidak menggema dan hilang ditelan udara
begitu saja. Yang kita ucapkan dicatat oleh malaikat dalam
kitab kehidupan kita. Iblis dan roh-roh jahat (yang ada di-
udara; Efesus 6:12) ikut mendengar dan bisa menggunakan
sebagai bukti untuk menggugat kita. Dengan mencabut
perkataan atau mengaku, Tuhan mengampuni (1 Yohanes1:9)
103
bahkan menghapus (1 Yohanes 3:5). Mencabut perkataan,
itulah cara kita menghapus secara hukum, menghapus di alam
roh apa yang kita pernah ucapkan.
Apa saja yang dicabut oleh Ayub? Tentulah yang
pernah dia ucapkan. Apa saja yang pernah dia ucapkan? mari
kita perinci satu persatu;
1. Kutuk kepada diri sendiri
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kutuk
kepada diri sendiri.
Ayub 3:1,11; “Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan
mengutuki hari kelahirannya. Mengapa aku tidak mati
waktu aku lahir atau binasa waktu keluar dari
kandungan?”
Ada, bahkan kebanyakan orang yang setelah
mengalami peristiwa yang tidak enak, mulai mengutuk diri
sendiri. Mulai berkata lebih baik saya mati saja, ingin mati,
berkata mau bunuh diri, menyesal mengapa dilahirkan, lebih
baik saya tidak usah menikah, semua laki-laki gombal seperti
pacar saya yang memutus saya, dan sebagainya. Ada yang
karena kekecewaan, mengutuk pelayanannya sendiri,
mengutuk pekerjaannya, dan lain-lain.
104
Ini namanya memusuhi diri sendiri. Orang tidak
mungkin berdamai dengan orang lain, kalau ia tidak bisa damai
dengan diri sendiri, tetapi justru mengutuk diri sendiri.
Kalau engkau telah mengucapkan kata-kata kutuk
terhadap dirimu sendiri, engkau dalam posisi bahaya. Setan
yang memang berkeliling dan mengincar engkau, mendapat
bukti untuk menghadap Tuhan dan mengajukan proposal,
rancangan jahat terhadap engkau, sebab memang engkau
sendiri yang memintanya. Iblis mendakwa dan mengajukan
perkataanmu sebagai barang bukti dihadapan Tuhan. Tuhan
bisa mengijinkan engkau dibuat sakit oleh roh-roh jahat, sebab
engkau sendiri yang menginginkannya dengan berkata; “Lebih
baik saya mati saja” Bagaimana engkau bisa mati lebih cepat
dari usia yang Tuhan rencanakan? Diijinkan sakit!
Karena itu mencabut perkataan itu penting untuk
perkataan sia-sia, kata-kata kutuk yang pernah diucapkan.
Menjaga lidah itu penting bagi yang belum terlanjur
mengucapkannya. Cabut perkataan sekarang juga, kalau
engkau pernah mengucapkan kutuk kepada dirimu sendiri.
Ayub mencabut perkataannya dan setelah itu dipulihkan.
2. Kekecewaan
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kata-kata
kekecewaan.
105
Ayub 6:15; “Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya
seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang
mengalir lenyap”
Ayub kecewa terhadap sahabat-sahabatnya, itulah
judul perikop pasal 6 dan ayat 15 menjelaskan mengapa dia
kecewa juga terhadap saudara-saudaranya. Baik sahabat
maupun saudaranya sama-sama mengecewakan.
Ayub mengilustrasikan teman dan sahabatnya seperti
‘aliran sungai, yang mengalir lenyap’. Hal itu merupakan
kenyataan, bahwa dari pasal 3 sampai pasal 41 memang tidak
ada satu ayatpun yang menceritakan teman atau sahabat atau
saudara Ayub itu datang dan menolong, tidak ada. Semua
datang silih berganti, pasal demi pasal (mungnkin hari demi
hari, atau minggu bahkan bulan demi bulan), mereka tidak ada
yang berbuat nyata menolong, mereka datang hanya berbicara
saja!
Saudara bisa merasakan betapa Ayub kecewa? Kalau
misal saudara sendiri mengalami hal serupa, lalu teman datang
dan berkata; “Wah kamu sakit ya... ah.. kasihan...emm.. kamu
perlu obat? ... mau sembuh?...berdoa, ya berdoa!” “Wah
rumahmu roboh ya.... kasihan....” “ dombamu habis?... ehm...
kasihan” “ Kamu tidak diberkati ya... kasihan. Kamu mau
berkat...? Mau? Berdoa! ya...berdoa nanti kamu dapat berkat”
Mereka hanya kasihan, tetapi tidak menolong! Mereka
hanya mengeluarkan kata-kata hikmat, kata-kata rohani.
Orang lapar butuh makanan, orang sakit butuh obat, rumah
roboh butuh semen, tetapi semua datang hanya berbicara!
Mereka semua datang silih berganti dan hanya berbicara lalu
pergi lagi mengalir seperti air! Dan Ayub kecewa.
106
Ketika teman Ayub datang, Ayub mungkin saja mulai
berharap, wah ada penolong datang, namun hingga pasal 37
tidak ada seorangpun yang menolong.
Dalam pepatah Jawa ada orang berkata: “Ojo ngarep
arep endoke si blorok” atau dalam bahasa Indonesia “Jangan
berharap ayam blorok datang dan bertelor”. Maka kalau saya
umpamakan Ayub ini, saya bisa mengerti kalau Ayub kecewa,
karena “si-Blorok datang dan bukan bertelor, tetapi berak!”
Kalau saya teliti kisah Ayub, saya bisa mengerti kalau
dia kecewa, tetapi melalui tulisan ini saya mau katakan bahwa
kekecewaan itu tidak menyelesaikan masalah. Kekecewaan
tidak membawa kepada pemulihan. Ayub tidak dipulihkan dan
tidak ada satu ayatpun mengenai pemulihan atau janji
pemulihan sampai dia mencabut perkataannya, termasuk
tentunya kata-kata kekecewaan
Tidak ada seorangpun didunia ini yang belum pernah
kecewa. Kekecewaan muncul karena pengharapan,
kebutuhan yang tidak terpenuhi. Keinginan yang tidak didapat,
cita-cita yang tidak tercapai, sahabat dan saudara yang tidak
memperhatikan, tidak menolong, dan ribuan hal lain yang bisa
mengecewakan. Kecewa adalah hal yang biasa dan
manusiawi, yang harus diatasi dengan segera. Jangan biarkan
kekecewaan terus berdiam dalam hati saudara.
Kecewa, itulah panah awal yang biasa dan paling
mudah dilontarkan oleh iblis, untuk menghancurkan hidup kita.
Berawal dari kekecewaan, segala problem hati lainnya bisa
muncul seperti kepahitan, kebencian, dendam, iri hati,
mengutuk orang lain, mengutuk diri sendiri. Cabut panah si
iblis ini sejak dini, sejak masih berupa kekecewan. Jangan
sampai kekecewaan ini menjadi matang dan dibuahi dan
107
menghasilkan dosa. Kekecewaan hanya akan menambah
beban beratnya hidup. Beratnya hidup, itulah judul perikop
setelah kekecewaan. Ayub mencabut perkataannya dan
setelah itu dipulihkan.
Setelah Ayub mengucapkan kata-kata kecewa di pasal
6, maka pasal 7 adalah ‘Beratnya Hidup’. Ayub mencabut
perkataannya, termasuk kata-kata kecewa di Pasal 42:6, maka
perikop berikutnya judulnya “Keadaan Ayub dipulihkan”. Cabut
kekecewaanmu dan hiasi biografimu selanjutnya dengan kisah
pemulihan!
3. Beratnya hidup
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kata-kata
keluhan beratnya hidup.
Ayub 7:1; “Bukankah manusia harus bergumul di bumi
dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?
2; Seperti kepada seorang budak yang merindukan
naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-
nanti upahnya.
Hidup itu berat. Itulah isi ringkas dari seluruh pasal 7,
pasal yang berisi apa yang dirasakan oleh Ayub tentang
hidupnya. Beratnya hidup ini sebenarnya hasil dari
kekecewaan di pasal sebelumnya. Hidup terasa berat jika
orang mulai kecewa.
108
Pernah saudara merasa lelah, lelah dalam hidup ini?
Merasa tidak kuat, lelah melayani, lelah bekerja, lelah
berumah tangga, bahkan mungkin sempat berpikir, alangkah
baiknya kalau saya mati sekarang dan masuk sorga yang
bahagia? Kapan saudara merasa lelah? Saya yakin bukan
setelah bekerja berat yang secara fisik melelahkan. Kalau
orang lelah secara fisik, dia akan segera segar kembali setelah
istirahat atau tidur. Orang lelah dalam hidup ini saat
mengalami kekecewaan.
Misal dalam hidup berumah tangga. Berumah tangga,
menikah adalah hal yang ditunggu-tunggu ketika masih muda,
sedang berpacaran. Alangkah bahagianya nanti kalau kita
menikah, mencintai dan dicintai, menjalin asmara dan selalu
bertemu, membangun cita dan cinta. Tetapi sering berumah
tanggapun menjadi melelahkan. Kapan orang lelah berumah
tangga? Ketika salah satu pasangan mulai merasaan kecewa.
Kecewa karena ingkar janji, kecewa karena merasa tidak
dikasihi, tidak diperhatikan. Kecewa karena dikhianati, kecewa
karena pasangan mencintai pekerjaan lebih dari dirinya,
mencintai keluarga, orang tua lebih dari dirnya, karena
pasangan mencintai pelayanan lebih dari dirinya dan berbagai
suber kekecewaan lainnya. Kekecewaan membuat hidup
pernikahannya terasa berat.
Demikian juga hidup dalam pekerjaan, berkarier di
kantor. Bekerja adalah hal yang dinantikan, diidam-idamkan,
dicita-citakan ketika kita masih sekolah atau kuliah. Ketika
bercita-cita untuk meniti karier, mulai dari bawah sekalipun, kita
akan jalani, untuk masa depan kita. Betapa bahagianya ketika
akhirnya lamaran pekerjaan kita diterima. Betapa bahagianya
ketika kita menerima amplop pertama hasil pekerjaan kita
sendiri.
109
Dengan hati berbunga-bunga, kita banyak sekali ide,
untuk apa saja uang ini akan saya gunakan. Ada yang
mentraktir teman-temannya, ada yang mengirim ke orang
tuanya ada yang mengajak pacarnya makan malam, ada yang
menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk pelayanan
sebagai korban ‘ulu hasil’ (seperti yang saya lakukan).
Kapan bekerja terasa lelah? saat kita kecewa di kantor,
karena setelah enam bulan masa percobaan, dan kita
menerima amplop gaji kita, ternyata gaji kita tidak naik. Kita
kecewa ketika bukan kita yang dipromosikan tetapi orang lain
yang ada hubungan keluarga dengan atasan atau hubungan
suku dan hal lain yang tidak ada hubungannya dari segi
profesi. Kita kecewa dan saat itulah kita merasaan lelah dalam
bekerja.
Beberapa bahkan merasa badannya sakit, tidak enak
badan ketika besok pagi bangun pagi, dan ada rasa malas
untuk pergi ke kantor, yang sebelumnya adalah impiannya
untuk meniti karier. Kekecewaan membuat hidup menjadi
berat.
Hal yang sama juga terjadi dalam hidup di dunia
pelayanan. Pelayanan pertama, kasih mula-mula adalah hal
yang luar biasa. Hati kita dibakar oleh kasih Tuhan dan kita
melibatkan diri dalam pelayanan dengan semangat, dengan
roh yang menyala-nyala dengan korban, dengan suka cita.
Kita setia dalam perkara ‘kecil’ karena kita tahu Tuhan
menghargai semua jenis pelayanan. Kita melayani dengan
motivasi yang tulus karena mengasihi jiwa-jiwa. Kita melayani
sambil bersenandung lagu-lagu pujian dan ucapan syukur
kepada Tuhan.
110
Kapan pelayanan mulai melelahkan? rasanya kita tidak
kuat dan ingin mundur? kapan pelayanan menjadi semacam
Kuk? saya yakin bukan saat tantangan dari luar datang.
Bukan saat orang yang tidak seiman melempari batu atau
menghalangi. Masalah semacam itu justru sering membuat
doa kita berkobar-kobar, kita berpuasa dan semakin dekat
dengan Tuhan.
Kita mulai merasa lelah dalam pelayanan jika kita mulai
kecewa. Kita kecewa dengan gembala (atau ada yang
berkata; “ Om Gembala sih baik, tetapi tante.. itu lho pak”),
kecewa dengan ibu gembala, kecewa dengan gereja, kecewa
dengan kakak atau pembina rohani, kecewa dengan sinode
pusat, atau kalau engkau seorang gembala, kecewa dengan
diaken, dengan pengerja, dengan jemaat yang kaya namun
tidak menyumbang dan hanya berbicara dan usul yang
banyak, dll.
Ketika iblis berhasil memanahkan senjatanya yang
pertama yang bernama ‘senjata panah kekecewaan’, maka
panah itu akan menancap dan menimbulkan luka. Bahkan
cukup sakit untuk mencabut panah itu dari tubuh kita. Cukup
sakit ketika mengalami kekecewaan, bahkan cukup sulit untuk
mengampuni.
Tetapi bagaimanapun panah kekecewaan itu harus
dicabut, atau lukanya akan semakin membusuk, menjadi lebih
besar lagi, infeksi bahkan membawa kematian. Dari
kekecewaan, bisa membesar menjadi dingin rohani, berhenti
pelayanan, bahkan menyalahkan Tuhan. Dari akar
kekecewaan bisa tumbuh apatis, kepahitan, keluhan, tidak
menerima keadaan dan mulai mengutuk orang lain atau
lingkungan, pemerintah dll.
111
Kalau engkau mengalami kekecewaan, cabut
kekecewaan itu, dan rasakan ringannya dan indahnya hidup
ini. Cabut dan buang segala akar kekecewaan. Ayub mencabut
perkataannya dan setelah itu dipulihkan. Hidupnya tidak berat
lagi.
Buang segala kata kata keluhan bahwa ‘hidup itu berat’
karena perasaan kita akan mengikuti apa yang kita ucapkan,
pikiran dan bahkan tubuh kita akan mengikuti apa yang kita
ucapkan. Karena itu katakan hal hal yang baik, yang sedap
didengar, yang indah, ucapkan Firman Tuhan dan kata-kata
iman, maka kita akan dibangkitkan menjadi optimis, beriman
dan bahkan bersuka cita!
Hidupmu akan menjadi seperti apa engkau mengucapkannya!
4. Merasa benar
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, perkataan
membenarkan diri sendiri.
Ayub 9:15, 20b,21; Walaupun aku benar, aku tidak
mungkin membantah Dia. Sekalipun aku tidak bersalah,
Ia menyatakan aku bersalah. Aku tidak bersalah! Aku
tidak pedulikan diriku, aku tidak hiraukan hidupku!
Ayub 10:7 a; Padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak
bersalah
Ayub merasa benar
112
Roma 3:22,23; Semua orang telah berbuat dosa dan
kehilangan kemuliaan Allah. Tidak ada seorangpun yang
benar, tidak ada.
Yesaya berkata kesalehan kita, kebenaran kita itu
seperti kain kotor. Sering orang merasa dirinya benar dan
paling benar, tetapi kalau sudah bertemu Tuhan pribadi, seperti
ketika Petrus mendapat ikan atas perintah Tuhan Yesus,
Petrus berkata; “Tuan, tinggalkanlah saya ini, sebab saya
orang berdosa”. Ketika Ayub berjumpa dengan Allah pribadi,
tidak dari kata orang saja, maka Ayub mencabut perkataannya,
termasuk perkataan yang merasa dirinya benar.
Perjumpaan secara pribadi dengan pribadi Tuhan, kita
akan seperti bercermin dan bahkan ‘ditelanjangi’, untuk
maksud menguduskan dan menyempurnakan kita. Tuhanlah
kebenaran itu. Kadang saya juga merasa paling benar, paling
pintar, paling mengerti Firman, paling tajam dalam hal visi,
tetapi ketika saya mengalami perjumpaan pribadi dengan
Tuhan di dalam penyembahan ataqu saat teduh atau saat
perenungan, saya menyadari bahwa saya belum mengerti
semua kebenaran yang dimiliki Tuhan. Dalam perjumpaan
dengan Tuhan pribadi kita disucikan, dibersihkan, dibenarkan.
Kesombongan kita, kecongkakan kita, ‘sok tahu’ kita, ‘sok
benar’ kita semua akan ditelanjangi dihadapan Tuhan.
DihadapanNya, kita akan menyadari, bahwa kita ‘bukan apa
apa’.
Datang kepada Tuhan perlu kerendahan hati dan
kejujuran untuk mengaku siapa diri kita yang sebenarnya.
Tuhan pun juga sebenarnya sudah tahu siapa kita, tetapi
pengakuan itu berarti kejujuran, keterbukaan dihadapan
Tuhan.
113
Tuhan benci dosa, benci kebohongan, apalagi
membohongi Tuhan dengan mengatakan “Saya tidak
bersalah!” seperti yang pernah diucapkan Ayub, yang
kemudian dicabutnya.
Kalau kita merasa benar, dan berbagai masalah Tuhan
ijinkan terjadi, ini sering membuat justru semakin berat,
semakin kecewa. Lain dengan orang yang memang mengaku
kesalahannya, dia bisa menerima mengapa dia ditegor,
mengapa dia didisliplin, mengapa dia di skors. Tetapi orang
yang merasa benar, akan lama mengalami kepahitan, karena
merasa ini semua tidak adil.
Merasa benar sendiri tidak membawa pemulihan, ini
juga berlaku jika ada dua orang, dua pihak, dua gereja
bermasalah. Sebagai salah satu contoh misal dua orang atau
suami istri bertengkar dan ada masalah, maka saya yakin
sebenarnya pasti dua-duanya salah. Jika salah satu merasa
benar sendiri, maka tidak pernah akan ada pemulihan. Istri
Ayub menginginkan kematian Ayub, ini berarti juga antara
mereka ada masalah.
Tetapi Tuhan memulihkan Ayub, memulihkan keluarga
Ayub. Kata yang digunakan ‘pulih’ sehingga banyak hamba
Tuhan sepakat bahwa isteri di pasal 42 sama dengan isteri di
pasal 1 dan 2. Ayub dipulihkan setelah dia mencabut
perkataan, termasuk perkataan ‘merasa benar sendiri’. Misal
kalau suami istri ada masalah kalau kita menyadari ‘kesalahan’
kita, dan bukan ‘kebenaran kita’ kita akan berkata; “Maafkan
saya”. Ini yang membawa pemulihan. Menyadari
‘kesalahannya sendiri’ ini penting dalam proses rekonsiliasi,
proses pendamaian. Biasanya cukup mudah bagi orang untuk
menyadari, menemukan ‘kesalahan’ pasangannya, istrinya,
suaminya, pihak lawan lainya dengan siapa dia ada masalah.
114
Sebagai contoh saja, jika saya ada masalah dengan
istri saya, maka yang memulihkan adalah kalau saya merasa
‘salah’ untuk kesalahan saya. Kalau saya merasa salah untuk
salah saya, maka saya akan berkata kepada istri saya;
“Maafkan saya, saya salah” (titik, sampai disitu saja). Inilah
yang memulihkan kami.
Lain kalau saya merasa salah, ditambah dengan
kenyakinan dan perasaan saya pikir dia (istri saya) juga salah.
Kalau saya lebih banyak menyadari kesalahannya dan bukan
sikap merasa salah untuk salah saya, maka saya atau
kebanyakan orang akan berkata: “Maafkan saya, nanti kamu
juga saya maafkan!”. Ini tidak menyelesaikan masalah, karena
sering kalau kita berkata demikian, pasangan kita akan
berkata: “ Saya tidak perlu dimaafkan, saya tidak bersalah,
yang salah itu kamu!” Ironis bukan kalau kita bertengkar lagi,
selama kita sedang minta maaf, karena kita minta maaf sambil
menuduhnya bahwa dia juga salah.
Demikian juga, kalau minta maaf jangan berkata;
“Maafkan saya ya...., gitu aja marah” Ini juga tidak
menyelesaikan masalah, justru akan membawa pertengkaran
selanjutnya, karena tambahan “...gitu aja marah” ini tidak
menujukkan sikap menyesali, tidak menujukan ‘merasa salah’
tetapi justru ‘menghina’ dan meremehkan.
Demikian juga dengan pendahuluan; “Ia..deh... maaf”
Ini hal yang sama, minta maaf jangan pakai “..ia dehh... “
seolah olah sebenarnya kita tidak merasa salah, tetapi supaya
tidak bertengkar lebih lanjut kita minta maaf.mKarena itu cabut
rasa benarmu, kebenaranmu, dan sadari kesalahanmu sendiri,
bukan kesalahan orang lain. Minta maaf dan urusi
kesalahanmu dan bukan urusi kesalahan orang lain.
115
Kalau saya berkata kepada istri saya: “ Maafkan saya,
saya salah”. Maka biasanya istri saya juga berkata:”Maafkan
saya juga”. Hubungan pulih dimulai kalau orang menyadari
kesalahannya dan merendahkan diri untuk minta maaf.
Kadang kita terlalu sombong untuk minta maaf. Kita minta
maaf kalau dia juga minta maaf atau kita minta maaf dengan
kata-kata saya juga akan maafkan kamu, ini kesombongan, ini
sambil minta maaf menuduh dan menuntut, ini tidak efektif.
Ada yang bertanya kepada saya; “ Pak bagaimana
kalau kita sudah minta maaf nih, lalu pasangan kita tidak ganti
minta maaf, padahal semua juga tahu kalau dia salahnya lebih
banyak. Kalau kita hanya berkata maafkan saya. (titik) Cuma
berkata begitu, nanti dia khan besar kepala, nanti kita diinjak.
Bagaimana kalau kita minta maaf dan dia tidak berkata;
maafkan saya juga, tetapi dia hanya berkata; hemmm..OK
saya maafin”. (sambil manggut manggut)
Dengar saya jemaat Tuhan, dengar saya! Sesombong
-sombongnya orang sehingga dia tidak berkata; “Maafkan saya
juga”. Percaya saya, percaya saya dalam hati nuraninya, dia
berkata pelan; “...sebenarnya saya salah juga..”. Percaya saya
jemaat Tuhan! Dengan berkata: “Maafkan saya”, kita telah
merendahkan diri dan berbuat benar dan Tuhan membela dan
mengasihi orang benar.
Dengan berbuat demikian kita telah menabur kebaikan,
menabur roh, dan kita akan menuainya. Percaya saya jemaat
Tuhan, dengan berbuat demikian, kita telah memberikan
‘impact’ pengaruh yang kuat dalam hati pasangan kita kalau
kita ini baik, dan dalam hati kecilnya dia menyadari hal itu, ini
sudah cukup. Ini sudah cukup bagi sebuah langkah
rekonsiliasi, langkah pendamaian dan membawa damai!
116
Dengar saya jemaat Tuhan, kalau orang lain yang
dengannya kita ada masalah, terlalu sombong untuk mengakui
kesalahannya, sementara kita sudah mengakui kesalahan kita,
Tuhan yang akan bela kita. Orang sombong itu musuhnya
Tuhan. Tuhan dekat dan membela orang yang rendah hati.
Mazmur 25:9; Ia membimbing orang-orang yang rendah
hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya
kepada orang-orang yang rendah hati.
Mazmur 149:4; Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya,
Ia memahkotai orang-orang rendah hati dengan
keselamatan.
1 Petrus 5:5; Tuhan menentang orang yang congkak,
tetapi mengasihi orang yang rendah hati.
2 Korintus 7:6; Tetapi Tuhan, yang menghiburkan orang
yang rendah hati.
Yang keluar dari mulut, itu meluapnya dari hati, jadi
sebenarnya perkataan benar sendiri ini keluar dari sikap hati
merasa benar sendiri. Cabut perkataan saudara, kalau selama
ini hanya merasa diri yang paling benar. Ayub mencabut
perkataannya dan setelah itu dipulihkan.
5. Apatis
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya kata-kata
apatis.
117
Ayub 9:21; Aku tidak pedulikan diriku, aku tidak hiraukan
hidupku!
Apatis. Jika kekecewaan dibiarkan, tidak segera diatasi
dan dicabut, panah kekecewaan itu bisa menimbulkan luka hati
yang semakin parah, dari luka menjadi radang atau koreng,
dan akibat luka itu, dampak yang kelihatan, sikap yang muncul
adalah apatis.
Tidak memperhatikan diri sendiri, tidak memperhatikan
penampilan, tidak memperhatikan pelayanan, tidak
memperhatikan pekerjaan, semua hidupnya menjadi asal-
asalan. Mengasihi diri sendiri, memperhatikan diri sendiri itu
perlu, bukan berarti egois, tetapi karena sadar bahwa diri kita
adalah bait Tuhan yang harus dijaga dan dirawat. Sadar
bahwa kita adalah kasih karunia Tuhan.
Mengasihi diri sendiri perlu, karena dengan demikian
kita juga bisa mengasihi orang lain dengan kualitas yang lebih
baik sebagaimana kita mengasihi diri sendiri secara baik.
“Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau
mengasihi dirimu sendiri”
Melayani diri sendiri ini bukan sikap yang egoistis,
tetapi bentuk tanggung jawab! Kita melayani roh kita dalam
pujian, penyembahan, doa pribadi dan merenungkan Firman-
Nya. Kita melayani diri kita dengan berbahasa roh, karena
barang siapa berbahasa roh ia membangun dirinya (1 Korintus
14). Roh kita akan semakin dikuatkan untuk bisa menaklukkan
dan menguasai jiwa kita dan tubuh kita (Roma 8:14). Jika roh
kita tidak dikuatkan dengan Firman, pengajaran dan yang
sangat mengairahkan adalah dengan ‘hadirat Tuhan’, maka
bagaimana mungkin kita akan kuat melayani orang lain?
118
Kita juga melayani tubuh kita pribadi dengan makanan
yang sehat dan bergizi serta yang imbang. Kita beristirahat
yang cukup sehingga tubuh kita kuat dan bisa melayani
dengan baik. Kita juga perlu olah raga yang teratur dan dalam
porsi yang wajar, tidaklah terlalu perlu hingga membentuk
tubuh yang berotot, kecuali saudara memang binaragawan,
tetapi olahraga teratur dan sewajarnya.
Kecuali Tuhan memberi beban dan menggerakkan
untuk berpuasa, maka makanlah dengan teratur, sesuai
jadwal, makan untuk hidup, makan untuk sehat dan bukan
hidup untuk makan.
Sayang jika seorang yang diurapi Tuhan, dipakai
Tuhan, memiliki kepemimpinan, visi yang luar biasa dan
pengajaran yang istematis dan mudah dimengerti, harus cepat
mati karena penyakit.
Karena itu, perhatikan dirimu! Jangan Apatis! Tidak ada
orang apatis yang dipakai Tuhan, tidak ada orang apatis yang
dipulihkan, tidak ada orang apatis yang diberkati. Tidak ada
orang apatis yang menjadi pemimpin. Pemimpin optimis,
berpengharapan kuat. Apatis, ini sikap yang tidak benar,
apatis itu dosa. Malas adalah sikap apatis. Kemalasan hanya
akan mendatangkan kemiskinan (Amsal 6) Ayub mencabut
perkataannya, perkataan-perkataan apatis, perkataan yang
mewakili sikapnya dan setelah itu dipulihkan.
Beberapa sikap apatis dalam bidang-bidang ini
menandakan bahwa ada luka hati, dan perlu dipulihkan;
a. Apatis usaha / malas setelah kerusuhan. Apatis dengan
karier, dengan pekerjaan, pekerjaannya asal-asalan,
serabutan, tidak sungguh-sungguh.
119
b. Apatis dengan diri sendiri, tidak lagi memperhatikan diri
sendiri, tidak memperhatikan kesehatan, berat badan,
nggak mau makan atau makan berlebihan, setelah
bertengkar atau putus cinta dan kecewa.
c. Apatis terhadap kebersihan diri sendiri, jarang mandi,
penampilannya serabutan, setelah sakit hati.
d. Apatis terhadap masa depan. Apatis setelah kecewa dan
dikecewaan seseorang, baik teman hidup atau orang tua.
e. Apatis terhadap Tuhan, pelayanannya asal-asalan, tidak
sungguh-sungguh lagi, karena mulai kecewa dengan
gembala, kecewa dengan gereja, kecewa dengan sinode
atau yayasan. Kekecewaan membuahkan apatis, cuek,
tidak perhatian lagi.
Amsal 18:14; “Orang yang bersemangat dapat
menanggung penderitaannya, tetapi siapakah akan
memulihkan semangat yang patah (apatis)?”
KEMALASAN adalah buah sikap dari orang APATIS
Amsal 6: 9; Hai pemalas, berapa lama lagi engkau
berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?
10; “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi,
melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” --
11; maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti
seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang
bersenjata.
Amsal 12:24 Tangan orang rajin memegang kekuasaan,
tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. 21:25 Si
pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya
enggan bekerja. 26:14 Seperti pintu berputar pada
engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.
120
6. Kepahitan
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kata-kata
kepahitan.
Ayub 10:1; Aku telah bosan hidup, aku hendak
melampiaskan keluhanku. Aku hendak berbicara dalam
kepahitan jiwaku.
Diawali panah kekecewaan, berkembang menjadi
apatis, dan bisa membuahkan kepahitan. Kepahitan adalah
kekecewaan yang mendalam. Kepahitan sering menjadi akar
berbagai penyakit, dan juga penyakit yang dirasakan tetapi
dokter sulit menemukan penyebabnya, karena gejalanya juga
sering berubah-ubah. Sering hal semacam ini disebut sebagai
‘psikosomatik’. Sakit hati yang mendalam, atau kepahitan
harus diselesaikan.
Kalau saudara memiliki kepahitan hati, ingin mati,
merasa tidak sanggup hidup, lelah dan capek menjalani
kehidupan, karena dikecewakan terlalu mendalam, selesaikan
hal ini. Orang yang kepahitan selalu berbicara negatif, tidak
bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi hatinya dan
menjelekkan, menyerang orang lain, dan selalu meresponi
segala sesuatu dengan negatif.
Mazmur 64:2; (64-3) Sembunyikanlah aku terhadap
persepakatan orang jahat, terhadap kerusuhan orang-
orang yang melakukan kejahatan,
121
3; (64-4) yang menajamkan lidahnya seperti pedang,
yang membidikkan kata yang pahit seperti panah,
4; (64-5) untuk menembak orang yang tulus hati dari
tempat yang tersembunyi; sekonyong-konyong mereka
menembak dia dengan tidak takut-takut.
Daud melukiskan orang jahat akan mengeluarkan kata-
kata yang pahit, dan itu akan menjadi seperti panah yang
menyerang orang yang tulis hati. Kepahitan akan membawa
pada dosa menyerang orang lain yang tulus. Kepahitan akan
membawa iri hati kepada orang yang benar dan diberkati,
dengan memfitnah, meremehkan orang lain, mengecilkan
perbuatan orang lain, menghina keberhasilan orang lain.
Kepahitan akhirnya akan menghancurkan orang itu
sendiri, karena orang secara umum akan menilai, bahwa orang
itu tidak benar, jahat karena kepahitan. Kekecewaan dan
kepahitan membawa sakit penyakit.
Kesaksian sakit Pinggang
Tahun-tahun 1997, saya (Jarot) sakit pinggang luar
biasa. Kalau pagi hari bangun pagi, maka saya harus
menunggu beberapa menit dan baru bisa duduk, setelah itu
harus menunggu beberapa menit lagi dan baru bisa berdiri,
dan kalau jalanpun harus merambat berpegangan tangan.
Duduk dalam posisi tertentu sakit sekali pinggang saya. Saya
takut apakah saya kena stroke? Atau asam urat?
122
Maka sayapun periksa darah. Dan hasil test darah,
mengejutkan, semua parameter ada dalam batas ideal!! Maka
sayapun menjadi was was... kalau begitu sakit apa lagi? Maka
sayapun check up ke rumah sakit Pertamina, dan setelah
pemeriksaan dengan teliti, scaning, MRI, dll hasilnya sangat
jelas, ada saraf yang terjepit oleh tulang belakang di sekitar
pinggang. Itulah yang membuat pinggang seperti tertusuk
tusuk. Saran dokter hanya satu, jika mau sembuh tidak ada
jalan lain, operasi.
Bagi saya operasi adalah PENGHAKIMAN, vonis yang
menakutkan, karena jangankan operasi, saya tidak tahan
melihat darah, waktu saya diambil untuk test darah saja, saya
pingsan. Kalau saya ke rumah sakit, saya sudah keringat
dingin melihat jarum suntik dan waktu istri saya melahirkan
saya yang berkunang kunang dan hampir pingsan. Ruangan
terasa gelap, berputar dan akhirnya saya pucat dan bidan yang
membantu istri saya melahirkan meminta saya untuk duduk
saja di sebelah, supaya mereka tidak repot mengurus saya dan
bukan istri saya.
Maka saya menghindar dari operasi, saya pergi ke
rumah sakit Cacat di Veteran, Bintaro, dan minta dilakukan
terapi dengan sinar laser saja, sambil terapi renang, serta saya
menggunakan ‘korset’ serupa yang digunakan ibu setelah
melahirkan, hanya saya memilih yang ada magnetnya, supaya
darah mengalir lancar. Saya juga mencoba minum jamu-jamu
ginjal, siapa tahu sakit pinggang karena sakit ginjal. Pokoknya
segala saran dan nasehat dari teman-teman, semua saya
coba, siapa tahu sembuh dan tidak usah operasi. Bukan
karena biaya, saya ada uang banyak, tetapi saya tidak ada
keberanian untuk operasi.
123
Minggu berganti minggu dan sakit tetap saja sakit dan
sangat menyiksa, dan untuk kembali ke rumah sakit untuk
operasi, saya benar-benar ketakutan. Saya bergumul dan
berteriak, berseru kepada Tuhan; “Tuhan saya tahu, saya sakit
karena saraf terjepit, tetapi saya bertanya lebih jauh, kenapa
terjepit Tuhan?” Dalam pergumulan itu saya menemukan dua
ayat berikut ini:
Amsal 17:22; Hati yang gembira adalah obat yang
manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan
tulang.
Mazmur 73:21; Ketika hatiku merasa pahit dan buah
pinggangku menusuk-nusuk rasanya,
Pingang saya seperti ditusuk tusuk rasanya dan Firman
Tuhan mengatakan itu bisa terjadi jika hati ada kepahitan
(Mazmur 73:21). Pinggang terasa tertusuk, hasil lap di rumah
sakit melaporkan karena ada saraf yang terjepit. Saya
mengerti, mengapa saraf terjepit? Karena tulang mengering,
menyebabkan mengkerut dan ketika mengkerut, ada saraf
yang terjepit. Mengapa tulang mengering, Firman Tuhan
kembali menghubungkan dengan suasana hati yang patah
atau apatis (Amsal 17:22) Cukup logis.
Firman Tuhan itu membuat saya menemukan ‘akar’
masalah penyakit tubuh saya, saya harus mengakui dihadapan
Tuhan, bahwa saya memang sedang ‘patah semangat’. Saya
sedang giat giatnya dan tulus tulusnya (menurut saya, saya
tulus) melayani di GBI ‘Bethany’ di Jakarta, pada waktu itu,
dalam berbagai bidang pelayanan, dan saya tidak mendapat
dukungan dari gembala, bahkan disalah mengerti, bahkan
ditegor, bahkan ada fitnah yang beredar, bahkan sempat
124
di’skors dengan tidak boleh naik mimbar. Ini membuat saya
kecewa dengan gembala bahkan saya jadi apatis.
Saya terus bergumul dengan kesakitan saya, dan saya
menyerah. Saya tahu ini rhema yang Tuhan berikan. Saya
akhirnya mengambil keputusan untuk mencabut semua
kekecewaan dan kepahitan, saya minta ampun untuk salah
saya, dan saya melepaskan pengampunan untuk hal-hal yang
menurut saya pemimpin tidak adil dan terburu buru mengambil
keputusan tanpa mengadakan konseling, pemanggilan atau
mendengar dari saya.
Saya berdoa dan saya ucapkan semuanya, lalu saya
mulai memberkati tulang dan saraf, untuk semua kembali ke
tempatnya. Saya mengambil keputusan untuk tidak operasi,
dan meneruskan terapi Sinar Laser dan berenang serta
menggunakan ‘korset’ karena saya yakin, kalau masalah hati
saya beres, maka tulang saya akan sembuh, tidak lagi kering,
kembali ‘basah’ dan ‘melar’ sehingga dengan terapi diatas,
saraf akan ‘tertarik’ kembali ke jalurnya.
Saya menemukan ayat lainnya dalam Amsal 16:26,
selain Amsal 17:22 bahwa hati yang gembira, suka cita adalah
obat bagi tulang, bahkan obat yang manjur! Puji Tuhan,
sekarang sudah th 2018, ketika saya ‘edit’ buku ini, sudah
lebih 21 tahun, pinggang saya sembuh dan tidak kambuh lagi,
sehat normal, walaupun saya melakukan perjalanan ke
pelosok pelosok terpencil dengan jalan rusak berat dan
belasan jam, namun tetap sehat dan kuat. Puji Tuhan!!
Amsal 16:24 Perkataan yang menyenangkan adalah
seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi
tulang-tulang.
125
Tidak ada damai sejahtara dan kebahagiaan dalam
kepahitan. Yang ada hanya sakit penyakit yang meremukkan
tulang dan bisa merembet menjadi sakit penyakit lainnya! Ayub
mencabut perkataannya dan setelah itu dipulihkan. Saya
mencabut kekecewaan dan disembuhkan! Cabut dan buang
segala kepahitanmu dan rasakan kesehatan dari Tuhan!!
Dengar Firman Tuhan berikut ini:
EFESUS 4:31; Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan,
pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara
kamu, demikian pula segala kejahatan.
7. Kata sia-sia
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kata sia-
sia.
Ayub 16:1,2; Tetapi Ayub menjawab: “Hal seperti itu
telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!
Alkitab berkata, kata sia-sia, yang kosong, sembrono
(seperti; sialan, gile, busyet, jiantjuk) kata-kata kotor (anjing,
bangsat, bajingan!), cabul, cemar atau jorok disebutpun jangan
diantara kamu, tetapi sebaliknya ucapan syukur. Mulut kita
harus kita kuduskan, supaya ada kuasa dalam ucapan kita.
Matius 12:36; Tetapi AKU berkata kepadamu: Setiap kata
sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung
jawabkannya pada hari penghakiman.
126
Efesus 4:29; Janganlah ada perkataan kotor keluar dari
mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk
membangun, dimana perlu, supaya mereka yang
mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Efesus 5:4; Demikian juga perkataan yang kotor, yang
kosong atau yang sembrono … karena hal-hal ini tidak
pantas … tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
Alkitab mengatakan yang keluar dari mulut ini meluap
dari hati. Tidak mungkin kita memperbaiki perkataan kita kalau
tidak membersihkan hati kita. (Baca buku saya yang berjudul
‘Pemulihan Hati’ / HATI YANG INDAH, untuk mendapat
penjelasan ini secara lebih jelas).
Ayub mencabut perkataannya, termasuk kata sia-sia
yang pernah dia ucapkan dan setelah itu dipulihkan.
8. Kutuk kepada orang lain
Ayub mencabut perkataannya dan dipulihkan.
Perkataan apa yang dicabut oleh Ayub? tentunya apa yang dia
ucapkan, apa saja yang dia ucapkan? Diantaranya, kutuk
kepada orang lain.
Ayub 16; 3,4; Belum habiskah omong kosong itu ? Apa
yang merangsang engkau untuk menyanggah ? Akupun
dapat berbicara seperti kamu, sekiranya kamu pada
tempatku; aku akan menggubah kata-kata indah
terhadap kamu, dan menggeleng-gelengkan kepala atas
kamu.
127
Kepahitan yang telah dibuahi mendatangkan dosa, jika
mulai mengutuk orang lain, mengharapkan orang lain
mengalami malapetaka yang kita alami.
Mungkin kita tidak lagi mengutuk secara frontal
semacam itu, karena kita sudah dilahirkan kembali, kita sudah
aktif pelayanan, pendoa syafaat atau pengerja. Tetapi tanpa
sadar, kita masih mengutuk dan mengemas kutukan kita dalam
‘theologia kristianika’, yang tersamar, tetapi sebenarnya keluar
dari kepahitan dan keiinginan balas dendam.
Misal kita disakiti, dikhianati, ditipu, lalu kita berkata;
”Kita jangan membalas, pembalasan itu adalah haknya Tuhan.
Jadi mari kita berdoa saja, supaya Tuhan yang balas”. Ini
sama saja, ini namanya bukan berdoa, tetapi membalas lewat
jalur doa, berdoa dengan motivasi supaya Tuhan yang
membalas. Ini kepahitan yang dikemas dalam kemasan
‘kristen’
Atau hal yang sama terjadi dan kita berkata serupa
diatas demikian; “Jangan membalas, kita kan anak Tuhan,
tidak boleh membalas. Kita berdoa saja, sebab ada tertulis
kalau kita berdoa, kita tidak membalas, itu sama dengan
menaruh bara api diatas kepalanya”. Sama saja, ini juga
kepahitan, ini juga kutuk yang dikemas dalam doa, ini bukan
berdoa, tetapi melempari bara api, menaruh bara api.
Kalau toh mau berdoa, bukan untuk supaya Tuhan
membalas, bukan supaya Tuhan menaruh bara api, tetapi
supaya Tuhan menjamah, membuatnya bertobat, sehingga dia
selamat dan dia tidak berbuat hal itu lagi. Kalau toh berdoa,
berdoanya memberkati, seperti Yesus ajarkan berkati
musuhmu.
128
Kalau kita berdoa semacam itu, karena kita mengasihi,
bisa saja kenyataannya justru Tuhan menaruh bara api
diatasnya (diatasnya dan tidak mengena orang itu), sehingga
orang itu kepanasan, ada masalah dan melalui masalah itu
mereka mencari Tuhan, mengenal Tuhan dan berubah.
Soal pembalasan dan menaruh bara api tiu adalah HAK
Tuhan, artinya biar itu Tuhan yang putuskan sendiri, bukan
bagian kita mengarahkan Tuhan supaya Tuhan menggunakan
haknya melalui doa-doa kita, ini namanya ‘memprovokasi’
Tuhan. Ini bahkan namanya memerintah Tuhan untuk berbuat
jahat. Ini kurang ajar!
Tuhan bukan preman yang akan membalas bagi kita
karena kita membayar perpuluhan. Tuhan tidak melihat apa
bentuk perbuatan kita, wah doa, bukan tetapi apa motivasi dari
kegiatan yang dari luar sepertinya rohani, dari luar terlihat
‘berdoa’ tetapi sebenarnya sebuah ‘kutukan’ ini bentuk
kepahitan yang di kemas secara agamawi.
Kalau kita berdoa supaya Tuhan membalas dan
menaruh bara api, sekali lagi saya katakan itu adalah jenis
kutukan kepada orang lain, yang engkau harus mencabutnya
juga. Cabut kutuk kepada orang lain, karena hal itu bisa balik
justru engkau sendiri yang akan menerimanya.
Ayub mencabut perkataannya dan setelah itu
dipulihkan. Bersihkan hatimu, penuhi dengan ucapan syukur,
tinggalkan panas hati, penuhi belas kasihan dan
pengampunan, dan biarkan damai sejahtera Allah melimpah
limpah dan memerintah dalam hatimu.
129
C. Damai dengan Sesama
Ayub 42:10; “Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub,
setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan
Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari
segala kepunyaannya dahulu”
Setelah Ayub damai dengan Tuhan dan damai dengan
dirinya sendiri, mengalami pemulihan pribadi, inner healing,
maka Tuhan mulai menjanjikan akan memulihkan Ayub.
Tuhan mulai berkarya dan berfirman dalam kerangka
pemulihan. Tetapi kapan berkat-berkat pemulihan itu benar-
benar dicairan/ diberikan? Jawabannya setelah Ayub damai
dengan sahabat-sahabatnya. Sahabat-sahabat Ayub yang
dulu Ayub pernah kecewa (pasal 6), mengutukinya (pasal 16).
Sahabat-sahabat yang tidak menolong Ayub, yang kepada
mereka Ayub kecewa.
Tuhan adalah Tuhan yang hidup dan praktis. Tuhan
adalah Tuhan yang menghendaki bukti nyata, Tuhan yang
menghendaki buah pertobatan. Buah yang keluar kalau
seseorang damai dengan Tuhan, bertemu dengan Tuhan.
Kalau orang berkata saya merasakan hadirat Tuhan luar bisa,
saya mendapat penglihatan ini dan itu, bernubuat ini dan itu,
mendapat rhema dan mendengar suara Tuhan, visi misi dan
sebagainya dan orang sekitarnya tidak merasakan perubahan
sikap hidupnya. Itu semua omong kosong!
Bukti bahwa Ayub sudah pulih yang Tuhan minta
sangat praktis, sangat sederhana, tetapi jelas. Tuhan minta
Ayub berdoa untuk sahabat-sahabatnya yang mengecewakan
130
dia. Inipun sebenarnya bukan perintah yang mudah, karena
Ayub harus berdoa buat mereka yang pernah dia kutuki, buat
mereka yang Ayub tidak suka. Saudara akan dengan senang
hati berdoa buat seseorang yang saudara rindukan, saudara
kasihi, suku yang saudara adopsi, negara yang saudara cintai
dan ingin kunjungi, tetapi tidaklah mudah berdoa untuk orang
yang kita tidak sukai.
Memang tidak mudah, kalau justru Ayub yang harus
mendoakan sementara Ayub justru yang sakit, yang hancur,
yang miskin, sementara sahabatnya yang sehat, sahabatnya
yang kaya, sahabatnya yang dombanya banyak, sementara
Ayub habis-habisan. Ini doa yang tidak mudah.
Menyelesaikan masalah juga tidak hanya dengan doa
doa dan doa terus, hanya komunikasi dengan Tuhan terus, lalu
tidak ada kontak apa-apa dengan sesama, bukan, ini juga
bukan hal yang benar. Pemulihan juga harus dengan kontak
dan komunikasi dengan sesama, tetapi hal itu dilakukan
setelah secara pribadi pulih dan sudah damai dengan Tuhan.
Jika kita belum damai dengan Tuhan dan belum pulih
secara pribadi, maka komunikasi kita dengan sesama akan
diwarnai oleh kekecewaan, kepahitan, kutuk, dendam, iri hati,
berharap kepada manusia dan sikap-sikap lainnya. Bukan
sikap mendoakan, memberi dan memberkati.
Matius 5:23,24; Sebab itu, Jika engkau
mempersembahkan persembahanmu diatas mezbah dan
engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati
saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah
persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah
berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk
mempersembahkan persembahanmu itu.
131
Dari Firman Tuhan tersebut diatas sangat jelas sekali
bahwa pemulihan horisontal, dengan sesama juga ditekankan
oleh Firman Tuhan. Tuhan menghendaki kita hidup damai
dengan semua orang, setidak-tidaknya jika itu bergantung
kepada kita. Pemulihan hubungan dengan sesama itu penting!
Saya mengajak saudara untuk melakukan hal ini, kalau
perlu stop, jangan teruskan membaca buku ini ke bab
selanjutnya, tetapi mulai data, mulai ingat, siapa Elifas, Elihu,
Bildab dan Sofar dalam hidup anda. Siapa yang
mengecewakan engkau, siapa yang engkau benci, yang
pernah engkau kutuki? Tutup mata anda, ingat dia dan
doakan, berkati.
Mungkin suami anda, istri anda mengecewakan anda?
Doakan! Orang tua anda, anak anda mengecewakan anda?
Doakan! Mertua anda, menantu anda mengecewakan anda?
Doakan! Gembala anda, pengerja anda, jemaat anda, teman
anda, kongsi dagang anda, teman kantor anda? Doakakan!
Sahabat anda yang merebut pacar anda mengecewakan
anda? Doakan! Doakan!
Saya mengajak saudara untuk mengingat siapa orang-
orang Kasdim dan orang-orang Syeba dalam hidup anda yang
merampok kambing dombamu, yang menipu engkau, yang
membuat anda rugi, yang merampas hak anda, membunuh
anak anda, merobohkan rumah anda, membakar toko anda,
merampas harta benda anda, yang menyakiti anda? Tutup
mata anda dan doakan mereka, berkati mereka, lepaskan
pengampunan untuk mereka. Doakan!
Kalau itu terlalu sulit bagi anda, terlalu berat dan
engkau tidak sanggup. Berdoa, minta kekuatan Roh Kudus,
minta Kasih Yesus mengalir dalam hidup anda, yang akan
132
memampukan anda untuk melepaskan pengampunan, untuk
mendoakan mereka dan hidup dalam damai sejahtera.
Ingat, bahwa musuh kita bukan darah dan daging,
mereka melakukan karena dirasuk, dihinggapi atau
dipengaruhi oleh roh-roh dunia, roh agamawi, roh-roh jahat.
Doakan, lepaskan pengampunan, biarkan damai sejahtera dan
kasih mengalir dalam hati anda ketika engkau mulai
melepaskan pengampunan.
(Salah satu kata kunci dalam pendamaian adalah
melepaskan pengampunan. Melepaskan Pengampunan ini
saya telah bahas lebih details dalam buku yang berjudul
Pemulihan Hati dan juga dalam buku – buku saya lainnya)
Dalam seminar para pdt di daerah daerah, sering saya
pakai materi ini, dengan perenungan, ‘domba’ Ayub pindah
kandang, seumpama gereja yang jemaatnya (dombanya)
pindah gereja (kandang), dan saya tantang para pendeta untuk
berdoa seperti Ayub, setiap pendeta berdoa untuk sahabatnya,
untuk pendeta lain, gereja lain, yang tidak pernah menolong,
yang mengecewakan, yang ‘mencuri domba’, saya ajak setiap
peserta para hamba Tuhan untuk berdoa memberkati gereja
lainnya. Pelayanan saya melalui SUARA PEMULIHAN,
adalah mengadakan UPACARA PENDAMAIAN kesetiap kota
diseluruh Indonesia ini.
Kasih memampukan mengampuni, pengampunan
membawa pendamaian, pendamaian membawa
pemulihan, pemulihan mendatangkan berkat.
133
VI. Ini Waktunya Pemulihan
Jeremia 30:3; “Sebab sesungguhnya, waktunya akan
datang, demikianlah Firman Tuhan, bahwa AKU akan
memulihkan keadaan umat-KU ….
Setelah Ayub damai dengan Tuhan, damai dengan diri
sendiri yang membuahkan damai dengan sesama,
pendamaian (rekonsiliasi) yang holistik, yang menyeluruh,
inilah yang membawa Ayub masuk dalam pemulihan yang
mencengangkan.
Terlalu banyak cara bagi Tuhan untuk mendatangkan
pemulihan. Dalam kisah Ayub, Tuhan mendatangkan awal
pemulihan berkat bagi Ayub lewat kenalan lama (kadang
teman dekat malah mengecewakan), yang datang kepada
Ayub dengan memberikan uang dan emas dan kemudian
Tuhan memberkati dan melipatgandakan sehingga mencapai
dua kali lipat kekayaan Ayub sebelum malapetaka itu. (Ayub
42:11-17).
Pemulihan ini hanya terjadi setelah Ayub mengadakan
rekonsiliasi diatas, tidak ada kisah semacam ini di pasal-pasal
sebelumnya ketika Ayub berbantah dengan Tuhan, berbantah
dengan teman-temannya, bahkan berbantah dengan diri
sendiri.
Ayub 42: 11-17; Kemudian datanglah kepadanya semua
saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua
kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama
dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut
berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala
134
malapetaka yang telah ditimpakan (diijinkan) Tuhan
kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia
uang satu kesita dan sebuah cincin emas.
Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang
selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang
terdahulu …. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus
empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya
dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.
Sering teman-teman dekat justru menghakimi, ‘hanya
omong thok’, mencela, mencibir ketika kita jatuh. Tuhan bisa
menolong kita melalui orang-orang yang diluar perhitungan
kita, teman jauh atau teman lama, asal kita sudah damai
dengan Tuhan. Ini juga cara Tuhan menolong sehinga kita
tidak mengandalkan manusia, tetapi mengandalkan dan
berharap Tuhan.
Kalau kita lihat keseluruhan kisah Ayub, jelas sekali,
bahwa iblis yang merancangkan kejahatan, berbuat jahat, atas
seijin Tuhan. Iblis melakukan hal itu untuk menghancurkan,
tetapi Allah mengijinkan itu untuk mendatangkan kebaikan,
untuk membuat Ayub ‘mengenal’ Tuhan secara pribadi dan
dirubah karakternya, dan untuk memberkati Ayub kembali
secara luar biasa.
Ini saatnya pemulihan, karena itu bawa dirimu masuk
dalam pendamaian dan rasakan pemulihan yang Tuhan
sedang kerjakan diseluruh muka bumi, bagi anak-anaknya.
Kisah 3:21; “Yesus harus tinggal di sorga sampai waktu
pemulihan segala sesuatu”
135
Kalau kita percaya ini akhir zaman, dimana Tuhan akan
datang kembali, maka kita harus percaya inilah waktunya
pemulihan! Karena sebelum Yesus datang harus ada
pemulihan segala sesuatu. Segala sesuatu; pemulihan pribadi,
pemulihan hati, pemulihan keluarga, pemulihan ekonomi,
pemulihan kesehatan, pemulihan orang tua-anak (hati orang
tua kepada anak dan anak kepada orang tuanya), pemulihan
gereja, pemulihan pondok Daud, pemulihan Pujian
penyembahan, pemulihan Sistem Gereja, Gereja Cell, Segala
sesuatu harus dipulihkan, dan inilah saatnya!
Percaya ini waktunya pemulihan, libatkan dalam gerakan
pemulihan dan berikan dirimu untuk dipulihkan, cari
Tuhan dengan MERENDAHKAN DIRI !
2 Tawarikh 4:14; “dan umatKU, yang atasnya namu-KU
disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-
KU, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maku
AKU akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa
mereka, serta MEMULIHKAN negri mereka”
Ayub 8:6; “Kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia
akan bangkit demi engkau dan IA akan MEMULIHKAN
rumah yang adalah hakmu”
Zefanya 3:20; Pada waktu itu AKU akan membawa kamu
pulang, yakni pada waktu AKU mengumpulkan kamu,
sebab AKU mau membuat kamu menjadi kenamaan dan
kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan
MEMULIHKAN keadaanmu di depan mata mereka,
Firman Tuhan.
Amos 9:14; “AKU akan MEMULIHKAN kembali umat-KU
… mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas
dan mendiaminya, mereka akan menanami kebun-kebun
anggur dan minum anggurnya, mereka akan membuat
kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya.
136
Inilah waktunya pemulihan itu, jangan biarkan hidupmu
berlarut-larut dalam sakit penyakit, dalam belenggu iblis,
belenggu kemiskinan, belenggu kekecewaan, kepahitan.
Bebaskan dirimu dengan menjadi ‘anak Tuhan’ Yesus datang
untuk menebus dosa, memulihkan umat-Nya dan memberkati!
Bebaskan ikatan-ikatan iblis dalam hati anda, dengan
‘melepaskan pengampunan!
Inilah waktunya, sekaranglah waktunya! Hari ini Anda
membaca buku ini, hari ini pulalah proses pemulihan bisa
terjadi dan akan terjadi kalau anda meresponi dengan baik
pengajaran pemulihan ini dan Tuhanlah yang akan bekerja
meneguhkan pengajaran yang berasal dari Firmannya!
Ambil waktu untuk saat teduh dan berdoa, ambil waktu
untuk memasukkan pengajaran ini bukan hanya ke otakmu tapi
ke hatimu dan biarkan Roh Kudus berbicara dengan lembut
dan merubah hidupmu. Saya sebagai hamba Tuhan percaya,
bahwa engkau akan mengalami pemulihan yang luar biasa!
Di Bengkulu saya melihat orang tuli mendengar, buta
melihat, di Kutai orang Lumpuh berjalan dan di berbagai kota
lainnya orang dipulihkan setelah saya mengajar pelajaran ini,
walaupun saya tidak mendoakan dan tumpang tangan atas
mereka. Kekuatan kuasa Firman yang menjamah mereka.
Maka sekali lagi tutup dulu buku ini dan berdoalah!
137
VII. Hidup yang Dipulihkan
A. Kisah Dasyat Zaman Ini
Kisah pemulihan Ayub, bukan hanya dongeng, tetapi
Firman Tuhan, bedanya dongeng dengan Firman Tuhan,
adalah Firman Tuhan mengandung prinsip, ajaran bahkan
kehidupan. Ada kuasa di dalam Firman, sehingga kalau kita
mendengarnya, membaca (Kitab Ayub atau buku ini) atau
saudara melihat KKR Pendamaian melalui VCD kami, atau
hadir di kegiatan pelayanan kami dan menerima pengajaran
pendamaian ini, maka pemulihan juga menjadi hak saudara!
Saya mengkotbahkan pengajaran ini di beberapa kota
sejak 1998, dan saya melihat beberapa kisah kesaksian yang
nyata, baik pemulihan kesehatan seperti tuli sebelah
mendengar, rabun melihat, lumpuh berjalan dan terutama yang
sangat banyak, dimana mana orang orang mencucurkan air
mata, dan mengalami pemulihan hati dan pemulihan dari
beratnya kehidupan, menjadi kehidupan yang penuh suka cita!
Kerinduan dan doa saya, kisah ini juga menjadi kisah
saudara yang haus dan lapar dan dahaga akan realitas Tuhan
dan yang rindu merasakan kenyataan kuasa Tuhan, sebagai
bagian dari kenyataan hidup dan bukan hanya teori di otak.
Jika saudara memiliki kisah pemulihan, saudara bisa
menjadi berkat bagi banyak orang dizaman ini, dengan
mengirimkan kesaksian saudara ke saya melalui email;
138
[email protected]. Saya rencana menerbitkan kumpulan
kisah kesaksian di waktu-waktu mendatang.
Kisah ini juga menjadi kisah hidup saya (Jarot
Wijanarko), saya saya sendiri merasa seperti mimpi, seperti
kisah dari negeri dongeng, tetapi ini sebuah kisah nyata
kesaksian hidup saya!
B. Beratnya Hidup
Hidup itu berat. Ayub 7:1 Bukankah manusia harus bergumul
di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?
7:2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan
naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-
nantikan upahnya, 7:3 demikianlah dibagikan kepadaku
bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-
malam penuh kesusahan
Kalau Ayub, dulunya ia kaya, mengalami segala
malapetaka, lalu jatuh miskin, dan berkata hidup itu berat
(Ayub 7:1-3) Kalau kisah saya lain lagi, saya memang lahir
miskin. Saya lahir 12 September 1963 di sebuah desa
terpencil di desa JENAK, NGARGOYOSO, dekat
Karangpandan, wilayah sekitar Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Orang mungkin lebih mengenal Candi Ceto, Candi Sukuh dan
Tawangmangu sebagai obyek wisata. Di lingkungan yang
dingin dan lembab, kami mendiami rumah ‘gedhek’. Rumah
dari dinding bambu yang dianjam, lantai tanah (‘njogan’) dan
tempat tidur dengan ‘dipan’ (anyaman bambu) yang diberi alas
‘tikar’ (anyaman daun).
139
1. Lahir dalam penderitaan
Saya bersyukur, sebelum Ibu saya dipanggil Tuhan,
saya sempat berbincang-bincang mengenai masa-masa
kelahiran saya, menambahkan beberapa data kehidupan saya
waktu kecil.
Saya, lahir jam 10, di emperan (teras) rumah gedhek,
ibu mengalami pendaharan luar biasa, sedangkan bidan
Sukarti dan Bulik Suharsi (Tante/ adiknya ibu) datang jam
16.00. Maka saya sebenarnya lahir dengan pertolongan
seadanya orang-orang di rumah. Ibu saya berbakat; “Kamu
akan jadi anak yang kuat, sebab lahirpun kamu sudah susah,
kamu akan terbiasa mengatasi kesusahan. Ibu bersyukur, ibu
dan kamu selamat”
Waktu kecil saya banyak dititipkan Bude Dino merawat
masa-masa kecil, ketika ibu pergi mengajar Taman Kanak
Kanak. Ibu saya melanjutkan ceritanya, waktu saya usia 2
bulan ada ‘pagebluk’ atau pandemi atau wabah sakit misterius,
pagi sakit sore, orang mati dimana-mana.
Dengan lingkungan yang semacam itu, saya menjadi
penyakitan, menderita paru-paru basah selain sakit kulit,
karena darah kotor, sehingga koreng disekujur tubuh. (Setelah
besar juga jerawat memenuhi muka). Korengan karena ada
alergi kulit, alergi pinisilin, jika memakan ikan asin, masakan
dengan bumbu ‘meicin’, ebi/udang, kepiting sedikit saja, maka
kulit keluar luka, koreng dan menjadi berlendir.
Ketika saya usia 4 atau 5 tahun, maka keluarga pindah
ke pinggiran kota SOLO, untuk mencari udara yang lebih
kering dan panas, karena itu lebih baik untuk sakit saya dan
140
juga adik dan kakak yang terkena paru paru basah. Di Solo,
kami mendiami rumah dari saudara jauh ayah.
Kedua orang tua saya bekerja sebagai guru Sekolah
Dasar Negri, dan hidup lurus seperti ‘Oemar Bakrie’. Untuk
mencukupi kehidupan, ibu dan saudara sepupu ataupun famili
lain yang menumpang dirumah kami, bangun jam empat pagi,
mengoreng ubi dan membuat beberapa jenis makanan kecil
lainnya, dan saya yang bertugas mengantar ke warung-warung
sekolah di pagi hari, dan sore hari mengambil kembali sisa
makanan dan uang hasil penjualannya.
Kami hidup amat sangat sederhana, baik dalam hal
makanan maupun pakaian. Saya sangat senang jika di hari
Lebaran atau Tahun baru, mendapat pembagian pakaian
bekas dari gereja atau lembaga pelayanan sosial lainnya, atau
dari keluarga yang datang dari Jakarta.
Saya sering menikmati cerita semasa kecil yang
disampaikan orang tua saya, jika saya pulang ke Solo, ketika
saya mengadakan pelayanan ke Jawa Tengah, yang saya
lakukan sejak th 1998 hingga sekarang ini, setiap tahun saya
bisa 3 atau 4 kali pulang kampung, dan dalam pembicaraan
tanpa sadar mengumpulkan cerita cerita masa kecil, semuanya
menunjukkan betapa beratnya hidup kami pada masa itu,
tetapi sangat menguatkan, betapa karya pemulihan Tuhan itu
luar biasa dalam hidup saya.
Beberapa cerita ini, mungkin jorok atau menjijikkan
Anda, tetapi inilah kenyataan kisah masa kecil saya.
141
2. Makan bekicot
Masa-masa usia SD yang saya kenang adalah kesibukan
sepulanh sekolah, selain membantu orang tua bekerja, maka
kami mencari bekicot, jentrung, di olah dengan cara tertentu
dan dimakan. Namun ketika saya diberkati, sukses, keliling
Eropa dan ke Prancis, ternyata makanan eksotis nan mahal.
Ha ha ha.
3. Jilatin kecap
Semasa saya kecil, ibu mendidik kami, dengan
membagi tugas tugas pekerjaan dirumah, kepada anak-anak.
Tugas rutin seperti menyapu halaman, menyapu dalam rumah,
merapikan sepatu, membersihkan jendela, menyiapkan lampu-
lampu penerang (waktu itu dengan lampu minyak yang kami
sebut ‘teplok’) dibagi secara rata dan diberi nilai. Tugas tugas
tidak rutin, pekerjaan insindental, seperti beli sesuatu ke
warung, disuruh ibu dll, diberikan nilai tambahan kepada siapa
dengan senang hati mau melakukan tugas tersebut. Tiap
semester siapa diantara anak-anak pemenang pengumpul nilai
terbayak diberikan hadiah.
Kakak saya pendiam dan agak pemalu, saya yang lebih
banyak bicara, bergaul lebih luas dan suka pergi, maka tugas-
tugas keluar rumah, beli barang atau bumbu, misal kecap saya
lebih sering mengambil tugas tersebut.
142
Setiap kali saya diberi tugas membeli bumbu dan juga
kecap (saat itu beli yang murah, yaitu ditakar, dan membeli
dengan membawa wadah sendiri) saya senang sekali, dengan
cepat saya berlari ke warung dan pulang ke rumah sepelan
mungkin jalannya, karena sepanjang jalan pulang, saya
celupkan jari saya ke kecap dan saya jilatin jari saya. Itu saya
lakukan, karena semata mata memang kami anak-anak yang
kurang makan, kelaparan karena kemiskinan kami.
4. Cicak dan cindil
Karena kemiskinan keluarga kami, (dan juga ekonomi
bangsa secara keseluruhan waktu itu) maka berbagai
makanan darurat kami pernah ikut memakannya. Makan inti
batang pisang, bahkan sisa sisa kulit dari bekas potongan
‘wayang orang’ atau sisa kulit potongan pabrik sepatu, kami
makan sebagai ‘cecek’, sedangkan menu utama bukannya
nasi, tetapi ‘tiwul’, makanan utama dari tepung singkong. Ini
adalah umum di masyarakat ekonomi bawah waktu itu.
Bahkan sebagai anak-anak, kami sering berburu ‘cicak’
di dinding, dengan menembaknya dengan karet gelang, dan
jika menangkapnya, kami membakarnya dengan menusuknya
di sapu lidi, dan memakannya. Demikian juga jika kami
mendapatkan sarang tikus, dan menjumpai anak anak tikus
yang disebut ‘cindil’, maka itupun dibakar dan kami makan.
Selain memang lapar, maka itulah obat sakit kulit (karena kami
sakit kulit, alergi dan darah kotor) yang murah dan disarankan
di masyarakat
143
5. Gajah opo enak?
Kemiskinan dan kelaparan saat masa kanak kanak
yang saya alami memang sangat menggigit, dan cermin dari
jutaan anak bangsa lainnya yang mengalami hal yang serupa
waktu itu, bahkan sebenarnya juga hari-hari ini, masih banyak
yang mengalami seperti yang kami alami saat itu. Doa saya,
kisah hidup saya ini menginspirasi jutaan anak miskin lainya
untuk meraih kehidupan melalui ‘pemulihan’ yang terjadi
karena mengalami ‘pendamaian’.
Waktu saya kecil, demikian tutur ibu saya, kadang
orang tua mengajak saya pergi, sekedar jalan-jalan atau
melihat hiburan rakyat. Yang mengherankan ibu saya, adalah,
apapun ajakanya, maka jawaban saya; “apakah itu enak?”
Kalau ibu saya berkata; “Nak... yok kita liat gajah” Saya akan
menjawab; “Apa gajah itu enak..?” “Nak.. yo lihat akrobat”
“Apa akrobat itu enak...?” dan seterusnya apapun beritanya
pertanyaan saya adalah; “Apakah itu enak?”
Suadara terpikir kenapa saya bertanya demikian? Itulah
pertanyaan anak kecil yang perutnya lapar, dan yang
obsesinya bisa makan, apa saja namanya yang penting enak
dimakan. Kebutuhan utama kami bukan hiburan, bukan
atraksi, bukan mainan, tapi makanan. Kami anak anak yang
lapar.
Mazmur 33: 18 Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju
kepada mereka yang takut akan Dia , kepada mereka
yang berharap akan kasih setia-Nya, 33:19 untuk
melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan
memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
144
6. Nasi jlantah
Hal lain yang kami kenang, jika kami mendapat nasi,
maka itu sebuah suka cita, karena menu utama kami biasanya
bukan nasi tetapi ‘tiwul’ atau nasi jagung. Maka apapun
lauknya pasti kami santap dengan lahap, kadang kami makan
dengan lauk sambal bawang merah yang diulek dengan garam
saja, atau nasi kami campur begitu saja dengan ‘jlantah’ yaitu
sisa minyak goreng yang telah beberapa kali dipakai untuk
mengoreng berbagai lauk pauk, sehingga ada endapan atau
‘remukan’.
(Sekarang kami tahu, bahwa di dalam bekas minyak,
ada banyak racun, karena mengandung banyak ‘radikal bebas’
dari hasil minyak yang terurai karena pemanasan. Apa boleh
buat, sudah terlanjur kami makan selama belasan tahun di
usia kecil kami).
7. Ngluruk Bancakan.
Hal yang menyenangkan pada masa kanak- kanak di
kampung adalah jika ada ‘bancakan’ itulah istilah syukuran
untuk di Jawa. Jika ada anak lahir, ulang tahun ataupun ganti
nama (di kampung di Jawa ada kebiasaan jika anak sakit
sakitan, maka supaya beruntung nasibnya, namanya di ganti)
maka diadakan ‘bancakan’, dengan nasi tumpeng, dan lauk
pauknya. Setiap anak yang hadir akan mendapat satu ‘pincuk’
(tempat nasi dari daun). Kami kakak beradik, sangat rajin,
bahkan jika harus ‘ngluruk’ (pergi ke kampung sebrang),
karena disitulah kami bisa makan dengan menu lengkap dan
gratis lagi. Itu sangat berarti bagi kami orang miskin.
145
8. ‘River View’
Saya masih bisa meneruskan dengan puluhan cerita
lainnya di masa kanak-kanak, namun saya singkat, saja,
secara ekonomi, sebenarnya, kami masih ‘pas pasan’ hingga
saya kuliah di IPB Bogor. Saya bisa kuliah, karena mendapat
panggilan bebas test, karena saya meraih pretasi sebagai
‘Bintang Pelajar’ no 1 kota Solo tahun 1981-1982.
Dengan latar belakang ekonomi yang saya miliki, orang
tua saya mampu ‘hanya’ memberikan Rp.40.000,- sebulan dan
itu untuk semuanya, termasuk kost, jajan, fotocopy, makan,
transportasi dan semua keperluan lainya.
Ketika tiba di Bogor, saya pertama menumpang di
kakak kelas yang juga berasal dari Solo dan setelah itu mulai
mencari kost yang rata-rata waktu itu sudah mencapai
Rp.70.000,-/ bulan, lalu bagaimana dengan transport dan
lainnya? Akhirnya saya menemukan rumah liar di pinggiran
sungai Ciliwung yang cukup murah, hanya sekitar Rp.8.000,-
/bulan, dan makan di luar cari atau masak sendiri.
Untuk menghemat, biasanya saya makan ke warung
hanya memesan nasi, sayur dan rendang kuahnya saja, atau
opor kuahnya saja, sehingga praktis hanya membayar nasi dan
sayur. Selama kuliah saya hidup demikian dan hidup juga.
Kemana mana jalan kaki dan sambil berjalan menghafal ayat
(tugas dari ‘pemuridan’)yang saya tulis di sepotong kertas dan
saya masukkan saku atau menghafal pelajaran kuliah. Saya
melukis dan memberikan ‘less’ kepada anak SMP atau SMA
untuk mendapat tambahan pemasukan.
146
Tahun-tahun 1990 ketika saya memulai hidup di
Jakarta, banyak yang tanya saya; “Rot kamu dulu di Bogor
tinggal dimana?” “Di River View!” “Ah mana ada River View di
Bogor? Kalau “Bogor Lake Side’ saya tahu, Bogor Baru atau
Vila Duta ada, tapi kalau Bogor River View kok nggak pernah
dengar... yang sebelah mana sih?” “Yang di River Side!”
“Maksud saya pinggiran sungai, dengan pemandangan sungai,
nama juga rumah pinggir sungai, maksudku rumah liar!”
C. Awal Pemulihan
Semua kisah diatas hanya untuk menegaskan, bahwa
saya mengawali hidup ini dari bawah, dari dunia orang miskin
dan menjalaninya bertahun tahun. Kisah kisah yang bagi kami
hal yang biasa, namun bagi banyak orang kota dan generasi
sekarang mungkin hal yang ‘luar biasa’. Yang pasti , kisah
pemulihan kami dan kasih serta kuasa Tuhanlah yang luar
biasa.
Kami sekeluarga, bukan orang kristen, kami ber-KTP
Islam, namun sebenarnya, seperti kebanyakan orang Jawa
Tengah, kami adalah orang ‘kebatinan’ atau ‘kejawen’ (Lain
dengan kebanyakan orang Jawa Barat atau Jawa timur, yang
memang adalah Islam, mereka ke Mesjid dan melakukan
sholat).
Ditengah-tengah kemiskinan kami, kami bersyukur
bahwa ada Gereja Kristen Jawa (GKJ) yang memiliki
pelayanan Diakonia dengan menolong orang-orang miskin,
147
dan keluarga kami saat itu adalah salah satu ‘keluarga binaan’
yang mendapat santunan. Awalnya Ibu saya berkenalan
dengan salah satu aktivis gereja yang dengan setia dan tulus
menolong jika keluarga kami memerlukan pertolongan. Aktivis
tersebut menolong sebagai ‘pribadi’ dan bukan dari lembaga
gereja, dan dia menjadi ‘sahabat’ bagi ibu saya.
Perkenalan dan persahabatan dari tahun ke tahun
itulah yang membuka hati kami terhadap ‘kasih’ yang
disalurkan oleh seorang pribadi jemaat GKJ tersebut, sehingga
sekitar tahun 1970 (ketika saya klas 1 SD) keluarga kami
menjadi orang ‘kristen’. Kasih telah membuka mata hati kami,
sehingga ketika Firman Tuhan disampaikan, kami tidak
‘menolak’ tidak berbantah bantah, kami sekeluarga mengalami
pemulihan secara rohani, dari masyarakat yang ‘terbuang’
‘hina’ dan ‘miskin’ menjadi umat pilihan Tuhan. Kami tetap
miskin, namun kami punya pengharapan, kami tetap miskin
namun memiliki nilai hidup dan arti hidup, serta kebahagiaan
karena merasakan kasih Yesus, kasih persahabatan dari
orang-orang kristen. Saya mulai mengenal nama Yesus.
D. Pemulihan Terus Berlangsung
Setelah kami sekeluarga menjadi kristen, saya pribadi
sebenarnya belum menjadi kristen, saya ikut saja orang tua
yang menjadi kristen. Sebagai anak ya saya ikut saja, apalagi
di gereja senang, ada sekolah minggu, ada hadiah hadiah dan
banyak menyanyi serta permainan yang menarik.
148
Ketika saya lulus SMA, saya menghadiri KKR (yang
saya jarang ikut, jangankan KKR sewaktu SMA saya jarang ke
gereja, waktu kecil saya ikut Sekolah Minggu, tetapi ketika
SMA saya sempat kecewa dengan gereja dan jarang
beribadah) Tuhan menjamah saya, saya bergumul tentang
tujuan dan arti hidup saya, serta pergumulan mencari ‘jati diri’.
Saat itu saya bukan hanya beragama Kristen, tetapi saya
mengalami secara pribadi ‘menerima’ Yesus sebagai Tuhan,
Mesias dan penebus dosa saya secara pribadi. Saya
mengundang Yesus menjadi Tuhan dan Juru Selamat dalam
hati dan hidup saya. Saya ‘dilahirkan kembali’!
Setelah kuliah di IPB Bogor, saya ikut di Persekutuan di
kampus, saya seperti orang yang ‘kelaparan’ akan kebenaran
Firman Tuhan, sehingga saya lebih banyak ikut Pendalaman
Alkitab dan kebaktian di gereja daripada ke perpustakaan
kampus.
Saya tetap selesai kuliah tepat waktu, namun saya
mengisi waktu saya dengan pelayanan kampus, pelayanan
pemuda gereja serta pemuridan dan penginjilan serta
mengajar sekolah minggu. Bulan ke bulan saya banyak
mengalami pembaharuan bahkan mujizat kesembuhan ilahi,
sehingga saya terbebas dari alergi sakit kulit dan darah kotor.
Pengalaman pribadi dalam ‘karunia’ dan ‘kepenuhan’
Roh Kudus, membawa saya menjadi sangat antusias bahkan
‘gila’ pelayanan dan ibadah, membawa saya dalam
pengalaman pengalaman ‘bergaul’ dengan Tuhan dan melihat
serta menyaksikan ‘mujizat’ yang dulu hanya cerita, sekarang
terjadi dalam ibadah atau kegiatan yang saya ikuti, membawa
saya benar benar seperti ‘terseret arus’ dalam kasih dan
hadirat Tuhan. Arus Pemulihan.
149
‘Arus Pemulihan’ yang saya alami terjadi dalam segala
aspek kehidupan, sehingga mulai tahun 1998 saya mulai
menulis buku, dan saat ini telah menjadi 66 buku dengan
thema thema pemulihan, seperti; Pemulihan Hati, Pemulihan
Pribadi, Pemulihan Keluarga, Keuangan Kristen, Pemulihan
Gereja dll. Semua buku bersumber dari apa yang saya alami
secara pribadi, namun dikemas dalam pengajaran, dan saya
jadikan bahan Seminar Pemulihan, yang telah diSeminarkan
sejak th 1998 di banyak kota, pulau, negara dan bangsa.
Buku-buku saya ada di Gramedia dan berbagai Toko
Rohani Kristen, ada juga di TOKOPEDIA, namun juga ada E-
book di GooglePlay.
Pemulihan tubuh/ kesembuhan ilahi, terjadi sangat
cepat, pemulihan karakter, bagaikan proses yang panjang
tiada henti bahkan kadang proses itu menyakitkan. Pemulihan
ekonomi saya merasakan bahwa Tuhan sangat hati hati, dan
tidak ceroboh, Tuhan tidak tidak mau kita mati dalam berkat
dan karena berkat.
E. Pemulihan Itu Sempurna
Kisah pemulihan selanjutnya saya saksikan secara
singkat di dalam bab ini, termasuk pemulihan setelah bangkrut
dan era pandemi baru-baru ini.
150