The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by reenmnor, 2021-01-19 11:27:23

101 Kisah Tabi'in

By : Hepi Andi Bastoni

Keywords: Kisah Tabi'in

87

-o€l&re-

Ummu Ashim binti Ashim

Putri Pemerah Susu

qUATU malam di Madinah pada masa pemedntahan lJmar bin Khaththab.

LJMalam yang tenang menyelimati mereka yang sudah pulang ke peraduan,
mengharap kehangatan dari dinginnya malam yang merasuk tulang. Hanya ada
seorang laki-laki yang disulitkan oleh beban tanggung-jawabnya. Ia singkirkan
selimutnya dan bangkit berjalan menyusuri lorong-lorong Madinah yang sepi,
tak menyisakan kecuali malam gulita, dan hembusan angin yang dingin.

Laki-laki itu keluar seorang diri menyatu dengan malam.

Ia khawatir kalau ada musafir tedantar yang tak menemukan tempat

menginap, orang sakit yang tetjag , orang kelaparan yang tidak menemukan
makanan pengganjal perut, atau ada urusan rakyatnnya yang tedewatkan.
Bahkan, ia juga merasa bertanggung jawab terhada seekor kambing yang
terpeleset jalarrnya di tepi sungai Eufrat dan Allah akan bertanya kepadanya
dan mengevaluasinya.

Laki-laki iru adalah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab!
Lama sekali Umar menghabiskan waktu untuk berkeliling di malam yang
gelap-gulita itu. Hampir saja keletihan menguasai badannya. Ia bersandar pada
tembok rumah kecil di ufung Madinah. Sejenak ia berhenti untuk beristirahat

guna melanjutkan lagkahnya sedikit lagi sampai di masjid, sementara fajar sudah

hampir menyingsing. Kegelapan malam bersiap meninggalkan tempatnya
menyambut datangnya pagi.

Sayup-sayup terdengar olehnya suara dua wanita dalam tumah yang kecil.
Pembicaraan itu berlangsung antara ibu dan putrinya. Sang anak berdebat dengan
ibunya karena menolak mencampurkan susu perahan dengan ait. Sang ibu
berkata, "Campurkanlah susu itu dengan air!"

101&isahTabi'in 61 9

Gadis itu menolak, "Sesungguhnya Amirul Mukminin melarang susu
campuran. Apakah engkau tidak mendengar penyerunya kemarin yang

melarang perbuatan tersebut?"

Sang ibu berkata kepada anak gadisnya itu, "Umar tidak melihat kita. Ia
tidak mengetahui kita di waktu-waktu terakhir dari malam ini!"

Seketika anak gadisnya itu meniawab, "Wahai ibuku, seandainya Umar

tidak melihat kita, akan tetapi Tuhan Umar melihat kita. Sungguh demi Allah,
saya tak akan melakukannya. Dia luga melarang perbuatan itu!"

Pernyataan gadis ini menyejukkan hati Umar yang terkagum dengan

iawabannya terhadap ibunya. Sebuah jawaban yang memadukan kejujuran
dengan keimanan, ketakutan kepada Allah dan perasaan diawasi oleh-Nya,
ketika sendirian ataupun teraflg-terangan.

Umar mempercepat langkahnya menuju Masiid Nabawi untuk menunaikan
shalat bersama para shahabatnya. Kemudian ia pulang ke rumahnya. Sementara
kata-katajujur gadis tadi terngiang-ngiang dalam pendengar^nny^,"Seandainya
Umar tidak melihat kita, tapi Tuhan Umar melihat kita."

Umar memanggil Ashim, putranya yang sudah ingin menikah. Lalu ia
sarankan untuk mengun,ungi rumah gadis tersebut dan menceritakan kepadanya

dengar. Umar berucap, "!7ahai anakku, pergilah dan nikahilah dia.
^payangia
Saya tidak melihatnya kecuali mendapatkan keberkahan. Semoga ia melahirkan
anak yang memimpin Arab."

Ashim menikahi gadis miskin yang yara'tersebut. Namanya Ummu
Ammarah binti Sufran bin Abdullah bin Rabi'ah ats-Tsaqafi. Dari pernikahan
ini lahirlah putri yang mereka namakan Hafshah dan Laila dengan nama
panggilan Ummu Ashim. Dialah wanita yang kita kupas sefarah hidupnya

sekarang.63U

Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khaththab al-Qurasyryyah al-
Adawiyah, tumbuh dalam suasana ketakwaan yang suci. Ia berkembang di masa
mudanya pada kecintaan terhadap kebaikan dan ilmu. Ia berguru kepadaayahnya
Ashim dan meriwayatkan hadits darinya.

Ayahnya termasuk orang yang lahir semasa hidup Rasuldlah Sballallabt
Alaibi ua Sallan, meniadi orang yang terbaik dan fasih. Ummu Ashim mewarisi
sifat dan karakter yang baik ini dari aythnya. Ashim wafatpada tahun 73 H.

@t NuabQtroiyblm.36ldxSirultUuarbhAkfulA(zrlbnuAbdil-Hakamhlm.22-23;ToiAbDbayq,blm.537;Wa/Eat
al.AJan,Yl / 302 dn Manaqih U uar, lbnu al-Jauzi, hlm. 84

620 101 "Kisah%abi'in

UmmuAshim termasuk orangyang paling sempurna akhlaknya di masanya
dan paling mulia perilakunya. Ibunya, Ummu Ammarah, dijadikan menantu
oleh Umar untuk anaknya Ashim. Tak ada kebanggaan tentang nasab dan
kehormatan keluarga yang keluar dari mulutnya kecuali kate-katanya yang
memberi nasihat kepada ibunya. Tidak ada nasab yang baik kecuali agama dan

keislamannya.
Ayahku adalah Islarn, ti.dak oda ayah selainnya
Saat orang-orang berbangga dengan Qays atau Tamim

Ummu Ashim632l memancarkan sifat dan karakter yang mulia dari kedua
orangtuanya dan dari kakeknya Umar sehingga menjadikannyaberadadi barisan
terdepan wanita-wani ta tabi' in pilihan.

Dari Ummu Ashim, znaknya bernama Umar meriw^y^tk^rL hadits. Di

antara hadits yang diriwayatkannya adalah hadits dari Ummu Ashim, daiayahnya
Ashim, dari kakeknya Umar bin Khaththab berlata,"Rasulullah SballalkbaAlaibi
wa Sallam,bersabda, "Sebaik-baik lauk adahh selai (cuka dari buah-buahan)."6$;

Nabi menyebutkan bahwa manusia Iaksana bahan tambang. Ada perbedaan
tingkatan dalam hal kebaikan dan keburukan, kemuliaan dan kecemerlangan.
Betau bersabda:

'Manasia laksana baban tambargdalam kebaikan dan kebtrukan. Maka sebaik-
baik mereka dijabiljlah adalab sebaik-baik nereka di rnasa Islaru apabila mereka
beilna dan menaharni.'sral

Karenanya, Nabi menganjurkan kepada orang yang ingin menikah agar
memilih wanita didasarkan pada akhlak yang lurus nan mulia, keshalihan dan
kemurnian nasabnya, serta mempunyai pendidikan yang baik. Rasulullah
S hallallabu Alaibi wa S allant, bersabda:

"Cai-cailahlang terbaik untakpersemaian benih kalian dan nikabilab aanita-

wanitalang kaifu'.sts

Dari dasar pemikiran yang jernih ini, kita mendapati arahan Rasulullah
Shallallaha Alaihi wa Sallarz pada orang-orang yang berkeinginan menikah agar
memilih istri dari lingkungan baik yang bersumber dari sifat dan karakter terpuii
yang mempunyai nasab yang bersih pula agar secara genetik menghasilkan

62 MenurutlmmNmwi,UmmuAshimbintiAshimbernmalaila.IatinggaldiDamaskus(Iald{bal-Awawal-Itglat,

6r lul18) 2052 danJaui' al-U ilu[W\ / 469
6v HR. Muslim, N o. dalm kitab Mzr nad-nya,tlm.324.
HR ath-Thayahsiy
6rs Makna'kufu" di sni adalah memiliki kompetensi reliiius, aklllalg pendidikm, nasab dan kedudukm lang seimbug ftlR
Ibru Majab,No.l968). Maksudnla:Jangmlah kalim mele takkm benih kdim kecuali pada asal-usul ymg suci.

101 "Xisahfiabi'in 621

keturunan yang memiiiki adat kebiasaan asli dan akhlak terpuii. Seorang anak
mengikuti sifat-sifat genetik dari ibunya dan lingkungan alamiyah ibunya. Inilah
yang menjadikan Abdul Azizbin Marwan melihat dengan jeli terhadap gadis-

gadis di sekelilingnya, y^ng memilki sifat-sifat terpuji untuk mendampingi

hidupnya.

Abdul AzizbhMarwan adalah seorang pemimpin dari keluarga Marwan.

Ia menjadi calon pengganti kekuasaan saudaranya Abdul Malik bin Marwan.

Saat ingin menikah, ia meminta penjaga hartanya untuk memilihkan harta
terbaiknya untuk dijadikan sebagai maskwain pernikahannya. "Kumpulkan
sebanyak 400 dinar dari hana terbaikku. Sebab saya ingin menikah dengan
keluarga yang memiliki keshalihan."636l

Abdul Aziz idak memberikan kriteria seperti yang diinginkan oleh para
pejabat dan pembesar, seperti kecantikan atau status sosial. Tapi sifat genetik
yang baik di tempat persemaian yang baik. Akhirnya, ia dibesankan dengan
keluarga Khaththab. Ia memilih Laila Ummu Ashim binti Ashim bin Umar.
Seperti biasa, orangyang meniadi menafltu keluarga Khaththab tidak melakukan
pendekatan atas dasar kedudukan mereka. Keluarga Khaththab tidak mencari
nama besar. Tapi keluarga Umar mengarahkan pada ilmu dan sifat zuhud. Orang
yang berbesanan dengan keluarga Khaththab hanya mengharapkan anak-
anzknya dapat hidup seperti kehidupan mereka. Sebab anak tumbuh dalam
pengaruh genetik keluarga ibunya.

Kita sedikit melewatkan paparan tentang nasab keluarga Khaththab, nalnun
kita tidak melewatkan pertalian mereka dalam periwayatan hadits. Ummu Ashim
adalah seorangwanita yang berperilaku baik, mewarisi sifat ketakwaan dari ibu
dan aya,hrrya.Ia iuga seorang yang jernih jiwanya, suci hatinya dan beriman
kepada Allah atas dasar yang benar. Karenanya, Ailah mengatahkannya untuk
mendapatkan kumpulan harta yang baik dan halal untuk menjadi maskawin
dalam pernikahannya. Kelak, dari buah pernikahannya ini dengan Abdul Aziz
bin Marwan melahirkan Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang zuhud,
bertakwa dan wara'.

Madinah adalah tempat kelahiran Umar bin Abdul Aziz. Madinah menjadi
sumber ilmunya yang dapat ia reguk semau dan semampunya. Ibunya mendasari
kepribadiannya atas dasar ketakwaan sefak ia mampu membedakan hal yang
baik dan buruk. Ia taflamkan hikmah di fiwanya yang senantiasa menyertainya

616 AthThabaqat,Y /331 denTabd{b al-Atta ru ol-ltgbat,ll/79

622 1o1 .Kisah'labi'in

hingga ajal meniemput dalam sikap zuhud, ketakwaan dan keiernihan.
Sebagaimana ia tumbuhkan kecintaan pada ilmu dan meniadikannya hiasan di
hatinya, sehingga ia tumbuh layaknya ulama di Madinah.

Madinah saat itu menjadi mercusuar bagi ilmu dan keshalihan. Tempat
mukim para ulama, para ahli fiqh, orang-orang yang gemar beribadah dan orang-
orang yang shalih. Dengan bimbingan ibunya, ia tekun menghapal al-Qur'an
hingga menghapalnya dalam waktu yang singkat dan dalam usia belia.

Pengaruh al-Qur'an dalam dirinya yang masih kecii, telah memenuhi hatinya
yang ernih dengan rasa takut kepada Allah, berpegang teguh pada ketakwaan

f

sehingga ia menapaki t^ngga kemuliaan. Kedua m t^nya senantiasa meluapkan
air-mata karena takut pada Allah, sehingga ia sering menangis karenanya.

Ummu Ashim kagum kepada sifat wara anaknya yang masih kecil. Rasa
takutnya pada Allah juga menggerakkan hatinya, sehingga ikut menangis. Ibnu
Asakir menuturkan bahwa Umar bin Abdul Aziz menaneis, masih kecil dan
telah mampu menghapal al-Qur'an, maka sang ibu bertanya kepadanya, 'Apa
yang membuatmu menangis?"

Ia menjawab,'1W'ahai ibu. Tidak ad^a9a-aPa. Hanya mengingat mati. Hanya

mengingat m^til" Ibunya iuga menangis.637l

Ummu Ashim telah menuai tanaman ketakwaan pada diri anaknya lebih
awal. Buah itu menggelayut pada diri anaknya, Umar bin Abdul Aziz, yang
telah mampu menarik simpati gurunya dan syaikhnya Shalih b'n Kisan638l yang
pernah mengomentari tentang masa kecil L)mar, "Demi Allah, saya belum
menemukan seseorang dengan potensi fiwa lebih besar sebagumana dimiliki
anak kecil ini."

Semua keutamaan ini adalah buah dari jerih payah sifat wara dan ketakwaan
Ummu Ashim. Alangkah baiknya orang yang mengatakan:

Nikmat-nikmat Tuhanpada hamba sangat banyak
Dan yong paling sentpunu, adalah kecemerlangan sang arwk.

Ibu dari anak cerdas dan bahagia ini senantiasa memberinya perhatian

semaksimal. Meski demikian ia pernah terlepas dari pengawasannya, ketika
anaknya masuk ke kandang kuda. Ibunya tidak menyadarinya. Maka seekor
kuda menyerangnya, sehingga meninggalkan luka di keningnya. Ummu Ashim
dengan cepat meraih anaknya dan memeluknya, lalu menyeka darah dari

(n7 Tarikh Diuag,q,hlm 539
d8 Shalih bin Kism al-Madmi at-Tabi'iy-bergelr Abu I\{uhammad-adalah guu Umar bm Abdul Aziz di masa kecilnya

Ia adalah seormglaogtiqabdnahlttrqh Madinah ymg mampu memadukan mtam hadits den fiqh. Ibnu Nashiruddin
mengatalrm, "la hidup lebih dari 100 ahun." lawafat pada tahun 140 H (Ta4db arTahlTlh,l/362dan al-Alan,lll/19O)

101 "KisahTabi'in 623

waiahnya. Lalu ayahnya menemui dirinya saat itu juga. Ummu Ashim

menemuinya dan merajuk kepadanya: "Engkau telah menelantarkan anakku
dan tidak engkau berikan pelayan atau perawat yang menjaganya dari peristiwa
seperti ini."

Sebentar kemudian ia berlalu s ^tterb^yang di benaknya sebuah ingatan

yang memberikan senyuman keridhaan menyunggingkan senyrman sebagai

pertanda keb ahzgzan.Ia berkata kepada Ummu Ashim: "Diamlah wahai Ummu

Ashim! Berbahagialah seandainya anakmu ini menjadi satu dari Bani Umayyah

yang mempunyai bekas luka di kepalanya."63el

Dalam sebuah versi riwayat dikatakan, 'Apabila engkau orang yang

mempunyai luka di kepala diantarakeluarga Bani Umayyah, semestinya engkau
orang yang berbahagia."

Kemudian apa gerangan ingatan yang berpengaruh besar dalam peristiwa
ini di hati Abdul AzizbinMarwan? Ia adalah mimpi Umarbin Khaththab yang

cerdas dan mendapatkan ilham bahwa di suatu malam ia bermimpi yang

membuatnya tertegun dan mengatakan:

"Siapa gerangan orang yang terluka kepalanya dari Bani Umayyah dari
keturunan Umar dengan nama'Umar'pula mengarungi kehidupan seperti
Umar dan memenuhi bumi dengan keadilannya?"

Umarwafatdan mimpinya ini senantiasa menjadi ingatan dan pembicaraan
bagi keluatg nye- dan kerabatnya yang membuat mereka mereka meneliti
tanda-tanda yang dimaksud di wajah anak-anak mereka. Sampai terjadinya

peristiwa yang diangankan oleh Abdul Aziz pada diri anaknya. Ternyata

firasatnya ini tidak salah.

Umar bin Abdul Aziz adelah orang yang memiliki luka di kepdanya itu
telah mengubah kesengsalaan oraig-orang tertindas menjadi senyuman yang
terkembang, berbahagia dalam naungan keadilan dan sikap baiknya. Semua
pendidikan yang mengarahkannya ini terpulang pada ibunya,I-Jmmu Ashim.

Ummu Ashim bertolak dari Madinah al-Munawwarah untuk menyrrsul
suaminya Abdul Azizbin Marwan di Mesir yang saat itu menjadi gubernur di
sana. Ia ikut tinggal di sana.

Ummu Ashim terkenal demawan dan murah hati, kasih sayangnya dan
kebaikannya pada golongan lemah. Di Mesir ada seorang miskin. Suatu ketika,

Ge 'faikb ath-Tbaban,IY / 68 dtn Taikh Diuaqq,blm 534

624 to1 "Kisah'[abi'in

Ummu Ashim bertemu dengannya lalu ia mencegatnya. Maka Ummu Ashim
memberikan sesuatu kepadanya dan bersikap baik kepadanya. Ia selalu berbuat
baik padanya setiap bertemu. Ummu Ashim wafat meninggalkan Abdul Aziz
bin Marwan.6a01 Ia meniadi menantu keluarga Khaththab untuk kedua kalinya
ketika menikahi Hafshah binti Ashim, adik perempuan Ummu Ashim. Ia oun
membawanya ke Mesir.

Suaru hari, Hafshah binti Ashim bertemu dengan orang miskin yang
meminta-minta itu. Namun ia tidak menoleh ke arahnya. Orang itu berkata,
"Hafshah tidak seperti Ummu Ashim dalam hal kemuliaan, kebaikan dan

kedemawan aniy a." Kata-katanya itu meni adi kias an p eribaha sa. 6a 1l

Semoga Allah merahmati Ummu Ashim binti Ashim dan menerangi

kuburnya serta meniaga kita dari kesesatan. Sesungguhnya Dia Maha Menjawab
doa.

G9

m Tak ada kepastian tentang tahun wafatnya Ummu Ashim. Dugaan tcrkuat menyebutkan, iawfat tahu 80 H.
ut Nasab al-Qrrais1, hlm. 361 dtn al-Ma biJ lbou Qutaibah, hlm. 1 88

101 "KisahTabi'in 625

-s€8!Bee-

Ummu Darda ash-Shughra

Ahli Fiqh yang Bijahsana

"Pemimpin wanita tabi'in od,alah Hafshah binti Sirin, Amrah binti

Abdurrahman dan Ummu ad-Darda'."

-IbnuAbi Dawud-

T TMMU ad-Darda yang tengah kita bicarakan bernama Huiaimah binti
\J Huyay al-Washshabiyah. Kadang disebut al-Aushabilyr6e+21, istri seorang

shahabat besar Abu ad-Darda, Uwaimir binZaid.

Abu ad-Darda mempunyai dua istri. Masing-masing dinamakan Ummu
ad-Darda. Ummu ad-Darda senior merupakan wanita shahabiyah, sementara
yanglainnya adalah Ummu ad-Darda yrnior yan€J merupakan seorang wanita
tabi'in.

Ummu ad-Dardayang dari generasi tabi'in ini dinikahi oleh Abu ad-Darda,
setelah istrinya pefia;ma yang shahabiyah itu meninggal dunia. Nama asli dari

istrinya yang shahabiyah itu adalah Khairah binti Abi Hadrad al-Aslamiyah.
Ia sempat hidup semasa Rasulullah Shallallaba Alaihi ara Sallaru dan juga
meriwayatkan dari beliau. Ia meninggal di Syam pada masa pemerintahan

Khalifah Utsman.6a3l

Sedangkan Ummu ad-Darda lmnior tidakmempunyai kesempatan bertemu
Rasulullah SballallahaAlaibi wa Sallam dan tidak pula mendengar langsung hadits
dari Rasulullah Sballallaba Alaihi wa Sallam.Ia seorang wanita tabi'in dari masa
tabi'in dari komunitas penduduk Damaskus di Syam.

Ummu ad-Darda rumbuh sebagar anak yatim dalam asuhan Abu ad-Darda.
Ia merawatnya pada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, mendidiknya

uz TarikbDintayq,hlm.4lS;Tahd{hal-Atttaraal-ltgbat,ll/360dtnSlarAlauat-Ntbala',lY/277
ar
Abu ad-Darda sendiri meninggal dunia pada tahun 31 II

626 lo1.Xisah'fabi'itt

dengan sebaik-baiknya karcna keyakinannya akan pahalabesar dari Allah, bagi
peniamin kehidupan anak yatim.

Saat masih kecil, ia sering ikut shalat bersama Abu ad-Darda di Masfid
hanya dengan mengenakanBurnif&-ldalam barisan laki-laki. Ia ikut duduk dalam
forum kajian para ahli-Qira'at (al-Qur'an), pata penghapal al-Qur'an dan
mempelajari ayat-ayat al-Qur'an beserta ilmunya. Akhirnya, ia menjadi oraflg
yang mahir membaca al-Quran saat masih kecil di bawah bimbingan Abu ad-
Darda'. Abu ad-Darda sendiri kagum dengan hapalannya dan ketelitian

bacaantya,sehingga ia menghorm atiflya.

Saat Ummu ad-Darda semakin besar, ia mulai menyingkir dari forum laki-
laki dan bergabung dengan para wanita berkat saran dari Abu ad-Darda. Ia
berkata kepadanya, "Bergabunglah engkau dalam barisan parawanita."

Selanjutnya Huf aimah-Ummu ad-Darda-tumbuh dalam kecintaan kepada

ilmu, gemar sekali beribadah dan menempuh zuhud. Di samping itu, Allah

memberikannya nikmat ke s empurna an akal, kecantikan dan keanggunan.

Setelah dewasa, Abu ad-Darda menikahinya.la dipanggil dengan nama
Ummu ad-Darda, hingga ia terkenal dengan nama itu. Bahkan nyaris menutupi
nama seben arny a yaitu Huj aimah.

Ummu ad-Darda belafar kepada suaminya. Ia mendapatkan ilmu yang
sangat banyak, yang mengangkat derafatnya dalam barisan wanita alim dan
ahli fiqh di masa tabi'in.

Dalam akhlak mulia dan sopan santun terpuji Ummu ad-Darda tumbuh
sehingga menjadi cermin istri shalihah dan menjadi teladan bagi wanita. Ia
senantiasa memperhatikan perkataan suaminya, mendengar nasihat-nasihatnya
yang melanggengkan cinta kasih keduanya.

Berikut iru salah satu flasihat Abu Darda kepada sang istri: 'T?'ahai Ummu
ad-DardalApabila engkau marah, saya yang meredakanmu. Dan apabila saya
marah, maka redakanlah. Sebab sesungguhnyajlka engkau tidak melaksanakan-
nya. maka alangkah cepatnya kita berpisah."

Kata-kataini memenuhi pendengarannya, sehingga ia selalu berbuat baik
kepada Abu ad-Darda semampunya. la sangat mengerti kedudukan suaminya
pada Rasulullah S hallalhhu Alaihi wa Sallant Seperti halnya ia tahu kedudukannya
yang tinggi di antan para shahabat Rasulullah Sbalkllaba Alaihi wa Sallam.

s Seierus pakaian wanita vang dikenakan di awal [slm, berupa kerudung yang memanlang ke belakmg. Belakangan,

Rasulullah melarang pmakaiannya (a/-U ilxu. hs\-Sy^fi'i, ll / 126).

101 J(isah'fabi'in 627

Ummu ad-Darda belaiar tentang sifat qana'ah (menerima) dan

kemandirian. Ini tersirat dalam salah satu nasihatnya kepada Ummu ad-Darda,
sebagaimana dikisahkan: Abu ad-Darda berkata kepadaku, "Jangan engkau
meminta sesuatu kepada siapapun!" Lalu saya berkata, "Bagatmanaapabilasaya

membutuhkannya?"

Abu ad-Darda berkata, "Ikuti dan perhatikanlah orang-orangyang sedang

memanen gandumnya. Lihatlah ^p^ y^ng iatuh dari mereka lalu ambillah,
kemudian sosohlah lalu tumbuh dan jadikan adonan. Kemudian buatlah roti

untukmu makan. Dan janganlah engkau meminta pada siapappnl"645l

Ummu ad-Darda juga mengisahkan bahwa Abu ad-Darda datang setelah
pagi. Ia bertanya, 'Apakah engkau mempunyai bahan makanan untuk santap
siang?" Apabila ia tidak menemukannya, maka ia berkata, "Kalau begitu, saya

berpuasa."6a6l

Ummu ad-Darda meflgagungkan sifat mulia suaminya. ia senantiasa
berdoa agar Allah menjadikannya bersama suaminya di surga. Ummu ad-Darda
berkata: "Ya Allah, sesungguhnya Abu ad-Darda telah meminang diriku lalu
menikahiku di dunia. Ya Allah, sekarang saya meminangnya kepada-Mu maka
saya meminta-Mu agar Engkau sudi menikahkanku dengannya di Akhirat."

Abu ad-Darda berkata kepadanya, 'Jika engkau menginginkan hal ini,
maka sesungguhnya sayalah yang pertama. saya mati lebih dahulu sebelum

dirimu. Maka ianganlah engkau menikah sesudahku!"
Ketika Abu ad-Darda meninggal dunia, Muawiyah datang meminangnya.

Maka ia berkata, "Demi Allah, tidak. Saya tidak menikah dengan siapapun di

dunia hingga saya menikah dengan Abu ad-Darda di surga, jika Allah

Menghendaki. Sebab saya mendengarAbu Ad-Darda berkata: "Saya mendengar
Rasulullah ShallallahaAlaihiwaSallanbersabda,'lWanitaitumilikorangterakhir
dari suami-suaminya.' Dan saya tidak menginginkan pengganti bagi Abu ad-
Darda. Saya telah memohon kepada Abu ad-Darda agariaberdoa kepada Allah
agar menjadikan diriku sebagai istrinya di surga."

Muawiyah mengirimkan pesan kepadanya agar berpuasa guna
menggugurkan sumpahnya. Namun Ummu ad-Darda tetap dengan janji itu

hingga ia sendiri menghadap Aliah.

us Tai kh Diuayq, hlm. 426 dn Sjar Ah u an- N c bah', lY / 27 8
tu Al-Ma'ifah w arTaikh, al-Baswiy,ll / 66

628 101 Jfisahc[abi'itt

Tidak mengherankan iika kita menemukan wanita seperti Ummu ad-Darda
yang telah sampai pada kedudukan tinggi dalam bidang fiqh, tafsir dan ilmu

pengetahuan. Apabila kita mengetahui bahwa ia menggantungkan

pengetahuannya pada para shahabat senior dengan tokoh sentralnya adalah
suaminya sendiri sebagai pemimpin teladan, hakim kota Damaskus dan
shahabat Rasulullah Sballallahu Alaihi wa Sallam. Abu ad-Darda adalah salah
seorang bijak dan tokoh bagi para Qurra di Damaskus. Ia iuga anggota tim
pengumpul al-Qur'an pada masa kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Sa/krz.6a1l

Abu ad-Darda meriwayatkan sebanyak 179 haCits dari Rasulullah Shalkllaba

Alaibi wa Sallau. Tentang dirinya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
meflgomentari, "Orangterbijak dad umarku adalah lJwaimir."

Dalam rangka pencarian ilmu, Urnmu ad-Darda tidak hanya berguru
kepada suaminya. Ia juga meriwayatkan dari Salman al-Farisi, Abu Malik al-
Asy'ari Abu Hurairah, Fadhalah bin Ubaid dan Ummul Mukminin Aisyah.

Dari perguruan Ummu ad-Darda banyak ulama besar dan tokoh tabi'in
yang berguru kepadanya, sepertiJubair bin Nufair, Abu Qilabah al-Jarmi, Raja'
bin Haiwah, Yunus bin Maisarah, Makhul asy-Syami,6a8l dan lainnya.

Para ulama besar dalam bidang hadits juga meriw^yatk^nny^ hadits-
haditsnya, seperti Imam Muslim, Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi dan Imam
Ibnu Majah.6ael Dalam Thabaqat-nya Ibnu Sumai' menyebutkannya dalam
tingkatan kedua dai pan tabi'in penduduk Syam.

Abu ad-Darda meriwayatkan, Rasulullah Sballallabu Alaihi wa Sallam

bersabda:

"[email protected] hairla sebat badannla, anan hidrpnla, merupunlai cadangan

makanan untuk bari ita, maka seakan ia mendapatkan dania seisiryta. IYahai lbna

Ju'yan! Cakap bagina dari makanan selumkblangnernenahi laparruu. Dan cukup
pula pakaianlang rnenutupi aaratmu, sekalipun sata belai pakaianlarg menatapi
arratrnu italab bakruu. Mukipun satr.t bewan turganganlangengkau naiki, maka

s' Anas berkata, "Rasd Sbalalhbu Alaibi pa Salhnt meninggal dunia dan tidak ada seorang pun ymg mengumpulkm al-

Qur'an kecuali empat orang: Abu ad-Darda, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid dan Ubay bin Ka'ab. Imam Bukhari
meriwlatkm dalm Sbabibny,dalmpembahmm tentmg keuamm a.l-Qur'an. Nma lmgkap Abu Zaid adalah Sa'ad

bin Ubaid bin an-Nu'man al-Anshari. Para pe nghafal al-Qur'an dari kalmgan shahabat Rasulullah Sbalallafu Ahihi ua

4 Salhu stngatbenyak. Imm Ibnu Hajar menuturkan nama-nma mcreka sccam logkap dalam Falh al-Bai,lX/47-53.
Makhulbin Abu Muslim Abu Abdullah ad-Dimasyq; seorang ahli 6qh dan hadits dari Sym. Ia berasd dari Pssia dan

melakukan perjalanan jauh demi ilmu ke Irak, Mesir, Madinah dan berbagai kota lainnya. Belakmgan, ia menetap di

Damaskus Ibnu Yunus mengaakm, "Ia seorang ahli fiqh yang alim." Pra ulama sepakat bahw ia addah scomS yang

taqab. l\buHaamberkata, "Saya tidak mengend seorang di Sym ymg lebih pandai daripada Makhul." Ia wfat pada

@ tahun 112 H. Menurut versi lain, ia wafat tahun 1i 8 H.
Al-Ahn,Y7l1/77

101&.isahTabi'in 629

cukap bagina sepotongroti dan setegak air.I-^ebih dai itu, terdapat hisab (perhiturgan

dan pertangu ngj awa b an)n1 a.' 4

'oi

Dari hadits riwayatnya yang menuniukkan ilmu dan pemahamaffrya tentang

Sunnah Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seperti dikeluarkan oleh Imam
Muslim dalam kitab Shabih-nya, saat Ummu ad-Darda masih dalam

bimbingannya, Abu Darda berkata: "Saya datang ke Syam lalu menemui Abu

ad-Darda di rumahnya namun saya tidak mendapatinya.Sayamendapati Ummu

ad-Darda lalu ia berkata, Apakah engkau ingin berhajipada tahun ini?'

Saya menjawab,aa.'

Ia berkata, 'Maka berdoalah kepada Allah dengan kebaikan untuk kami,
sebab Nabi Shallallahu Alaibi aa Sallam bersabda:

'Doa seorang naslinr untak saadararyta (rnuslin) tanpa sepengetabuanrrya adalah
doalang terkabal. Sebab di atas fupalanla ada malaikatlangdiwakilkan. Setiap
ia mendoakan saadaranla dengan kebaikan maka rualaikatlang diwakilkan itu
berkata, 'Amin dan untakma sepertiyngengkaa doakan."

Ia berkata, "Saya kembali ke pasar dan bertemu dengan Abu ad-Darda.

Lalu ia berkata padaku seperti itu. Ia meriwayatkannya dari Rasulullah Sballallahu
Alaihi wa Sa/lam."6s1l

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Ummu ad-Darda,
"Tuanku Abu ad-Darda memberikan hadits kepadaku bahwa ia mendengar
Rasulullah Shallallabu Alaihi wa Sallatn bersabda, "Siapa yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaika;t y^ngdiwakilkan untuknya
berkata, "Amin dan untukmu juga sepertinya."6s2l

Semua waktu yang dimiliki oleh Ummu ad-Darda penuh dengan ketaatan,
ilmu dan ibadah. Rumahnya menjadi tempat persinggahan bagi setiap orang
yanggemr beribadah dan bertaubat, setiap ahli fiqh dan mujtahid, dan semua
wanita yang raiin beribadah.Pan tokoh ibadah dan zuhud mendatanginya untuk
mendapatkan ilmu dan hadits serta berdzikir kepada Ailah.

Ibnu Katsir berkata, "Banyak tokoh berguru kepadanya dan melakukan
kajian ilmiah di dinding utara masiidJami Damaskus."6s3l

Salah satu ulama tabi'in yang tsiqat bernama Aun bin Abdullah berkata,
"Kami mendatangi Ummu ad-Dardalalu kami berdzikirpadaAllah di rumahnya."

6{ Joni'ol-Ufial,X/135
HR. Imam Muslim, \rIII/86-87
65r

652 HR.ImamMuslim,VIII/86
6s1 AlBidqah ra an-NibaS'ab,lX/ 50

630 Io1 .KisahTabi'in

Banyak wanita yang menghabiskan waktunya bersama Ummu ad-Darda
guna berdzikir dan shalat. Yunus bin Maisarah mengatakat,"Banyak wanita
yang beribadah bersama Ummu ad-Darda, menghidupkan malam semuanya
untuk shalat hingga kaki-kaki mereka bengkak karena \amanya berdiri."

Ummu ad-Darda melanjutkan ibadahnya dalam shalat dan dzikir. Ia tidak
terlihat, kecuali sedang bersuiud dengan khusJ'u. Tentang shalatnya yang panf ang,
Maimun bin Mihran berkata, "Saya tidak menemui Ummu ad-Darda dalam
waktu shalat kecuali saya mendapatinya sedang shalat."

Sedangkan Imam Makhul asy-Syami menggambarkan shalatnya dengan
mengatakan, "lJmmu ad-Darda duduk dalam shalatnya seperti duduknya
seorang laki-laki. la adalah seorang wanita ahli fiqh."

Makin bertambah ibadah dan sifat zuhud Ummu ad-Darda, bertambah
pula sikap tawadhu dan ketakwa^iny^.Ibrahim bin Abi Ablah berkata, "Saya
berkata pada Ummu ad-Darda: "Doakanlah kami!"

Ia menjawab, 'Apakah saya sampai pada tahap itu?" Maksudnya: Ia masih
merasa bukan orang yang tepat memenuhi permintaan itu.

lJmmu ad-Darda mempunyai pengalaman baik dan mengesankan bersama

al-Qur'an al-Karim. Pengalaman ini menunjukkan kedalaman penghayatan dan

pemahamannya pada Abu Imran al-Anshari berkata, "Saya
^y^t-^y^tny^.
menuntun unta Ummu ad-Darda menempuh jar^k ant^r.^ Baitul Maqdis

(Palestina) dan Damaskus. Ia berkata, "W'ahai Sulaiman! Perdengarkanlah

gunung-gunung ini dengan yang diianjikan Allah kepadanya." Ia berkata,
^p^

"Maka saya meninggikan suara dalam membaca ayat,'Dan (iflgatkh) akan bai

fiang futika itu) Kani perjalankan ganarg-gunang dan engkau akan ruelihat butni ita
datar... " (QS. al-Kahfl 47).

Di antara pengalaman terbaiknya dengan al-Qur'an adalah seperti

diriwayatkan oleh Said bin Abdul Aziz,"Ummu ad-Darda hampir sampai pada

lembahJahannam (nama tempat). Ia ditemani oleh Ismail bin Ubaidillah. Maka

ia berkata, "Wahai Ismail, bacalah!" Makaia membaca, 'Maka apakah engkaa

mengira, bahwa suangubrya Kani rnenciptakan engkau secara nain-nain (saja), dan

bahwa engkau tak akan dikenbalikan kepada kani?" (QS. al-Mu'minun: 115). Ummu

ad-Darda menangis, demikian halnya dengan Ismail. Keduanya tidak

mengangkat waiah hingga urmata mereka tumpah di bawah wajah mereka.

Dalam hal kesabaran dan ketaatan serta penyerahan diri pada Allah, Ummu
ad-Darda termasuk dalam golongan orang-orang sabar. Ini dibuktikan dengan

101 "Kisahflabi'in 631

rivtayat dari Yahya bin Ma'in yang mengatakan, "Abu ad-Darda meninggal
sebelum Ummu ad-Darda. Ketika ikut menguburkannya, ia berkata, "Pergilah

engkau kepada Tuhanmu. Dan pergilah engkau kepada Tuhanmu." Lalu ia masuk
ke masjid."

Di artara kesan baik dari Ummu ad-Darda adalah kecintaanny^ y^ng

mendalam kepada tempat-tempat pengajian ilmu dan ajakannya untuk
menghadiri forum-forum ulama. Aun bin Abdullah berkata, "Kami sedang

berada di mafelis Ummu ad-Darda. Lalu kami berkata padanya,'Apakah kami
telah membuatmu bosan?"

Ia meniawab, "Kalian membuatku bosan! Padahal saya mengharapkan nilai

ibadah pada setiap sesuatu. Maka tak ada sesuatu yang berkenaan denganku

Iebih membuatku tenang daripada kehadiranku di forum ulama." Kemudian ia

menunjuk seseorang untuk membacakafl ^yati 'Dan sesungabrya nlab Karui

turunkan berturut-turatperkataan ini (al-pur'an) kepada nereka agar mereka nendapat

pelajaran," (QS. al-Qashash: 51).

Ia selalu menganjurkan murid-muridnya untuk bekerja, menerima

pembedan dan membimbing mereka pada kebaikan perbuatan dan mengarahkan

mereka dengan lembut dalam naungan sunnah Nabi yang suci. Kenyataan ini
disaksikan oleh Utsman bin Hayyan, "Saya mendengar Ummu ad-Darda berkata,
'Salah satu dari kalian berdoa, Ya Allah! Berilah rezeki kepadaku,' padahal ia
tahu bahwa Allah tidak menurunkan hujan emas atau uang dirham.Tapi sebagian
kalian memberikan rczekJ kepada sebagian lainnya. Maka siapapun yang diberi
sesuatu, maka hendaknya ia menerimanya. Apabila ia seorang yangkaya maka
hendaknya ia memberikannya kepada yang membutuhkan. Dan apabila ia
seorang yang fakir, maka pemberian itu bisa digunakannya unruk memenuhi
kebutuhannya. Dan tidaklah dikembalikan kepada Allah rezeki-Nya yang telah
Dia berikan."6sal

Ummu ad-Darda berpendapat, bertasbih kepadaAllah adalah ibadah yang
terbaik. Karenanya ia sangat menganfurkan untuk memperbanyak mengingat

Allah, baik dalam shalat, puasa maupun amal shalih lainnya.laiagamengarahkan
pada pemahaman dzikir dengan kata-katayang menyimpan hikmah dan pesan.

Ia mengatakan:
"Sungguh, dzikir hepada Allah adalah perkara paling besar.
Seondainya enghou shalat, maha itujuga dzihir kepadaAllah.
Jika enghau berpuasa, maha itujuga dzihir hepada Allah,

6{ Tarikb DiuaEq,hlm.43O dm SlarAhu an-Nilah',lY /278-279

632 lot Xisah<labi'in

Semua kebaikonyang enghau kerjahan itu adnlah dzikir kepa.da Nlah
Sernua keburuhan yang enghau jauhi adalah dzikir kepoda ALlah
Yang terbaik dari semua itu adalah bertosbih kepado Alloh.ffil

Ummu ad-Darda tidak kikir untuk menasihati siapapun, baik dalam
perialanan maupun di rumahnya. Ia telah membenamkan sifat wara' padahati

pendengarnya dengan cara menyerukan pada ilmu dan amal dalam meniaga al-
Qur'an. Tentang sifat yang mulia ini, AbuZakariya al-Khuzai menceritakan:

Kami sedang melakukan perf alanan. Lalu ada seseoraflg menyertai kami.
Maka Ummu ad-Darda berkata padanya, 'Apa yang menghalangimu untuk
membaca atau berdzikir kepada Allah sebagarmasa dilakukan oleh teman-
temanmu lainnya?"

Ia menjawab, "Kami hanya mempunyai hapalan satu surah saja. Saya telah
membolak-balikkannya-kenyang menghapalnya."

Ummu ad-Darda berkata, ",tl-Qur'an dibolak-balikkan! Apa gerangan yang
membuatku bersama denganmu.Jika engkau mau, maka pergilah lebih dahulu.
Atau iika mau, engkau tinggalkanlah kami." Maka ia memukul punggung
tunggangannya hingga melesat pergi.

Kemudian adaoranglainnya yang menyertai kami. Ia adalah Abu Zakanya
al-Khuzai yang berkata, "Wahai Ummu ad-Darda, ada doa yang dibaca oleh
seseorang: Ya Allah ladikanlah aku lrafig)ang selalu mengbarap rabtnat-Mu, dan
takut akan siksa-Mu; saat Engkau dirasakan aman akan siksa-Mu oleb oranglang
tidak nengbarap rabmat-Ma dan tidak takat akan siksa-Mu, dan sala metnohon
kepadaMu keselatnatan di bari diruana mereka semaa ketakutan."

Ummu ad-Darda berkata, "Tulislah!" Maka saya pun menulisnya.

Di antara kesehariannya adalah mengajar dan mengingatkan orang-orang
tentang keutamaan perbuatan. Seperti diceritakan oleh Utsman bin Hayyan,
"Kami makan bersama Ummu ad-Darda. Lalu kami lupa membaca albandabllah.
Ummu ad-Darda berkata, "Wahai anak-anakku! Janganlah kalian menyantap

makanan dan meninggalkan dzikir kepada Allah, makan dan membaca bamdalab
iru lebih baik daripada makan dan diam."

Tidak mengherankan lika kata-kata biiak meluncur dari mulut Ummu ad-
Darda dengan lembut dan sejuk. Sebab, ia adalah hasil pendidikan dari orang
terbijak dai umat ini: Abu ad-Darda. Banyak sekali peninggalannya tentang

kata-kata mengagumkan dan mendalam. Di antaruny4 "Sebaik-baik ilmu adalah

pengetahuan."

6'5 'fabtl1/h al-Asrn au al-ltghat,ll/367

loI "KisahTabi'in 633

Ia pernah menulis di papan tulis untuk para muridnya:
'[email protected] hiknah pada nat kalian masih kecil dan @arkanlab saat bewr ataa
ajarkanlah kepada orang-orang taa. S ebab, setiap orangyang meranam, pasti menaai
ap a1 ang di tafta rilrA a, b ai k ke b ai kan ataup u n ke b uru kan.' 6 5 6l

Di antara kata bijaknya tentang kehidupan sosial seperti diceritakan, ia

pernah disidang tentang sesuatu hal. Lalu ditanyakan kepadanya, "Mengapa ini
dan mengapa ini?"

Ia berkata, "Orang-orang nilainya telah berkurang dan saya iuga berkurang
seperti halnya mereka berkurang."

Imam az-Zamakhsyari6sTl menceritakan, [Jmmu ad-Darda berkata:

"Siapapun yang memberikan peringatan kepada saudaranya secara rahasia
makaia telah memberikan hiasan cantik kepadanya. Siapapun yang mengingat-
kannya secara terang-terangan maka ia telah menjadikannya jelek."

Syahr bin Hausyab meriwayatkan, Ummu ad-Darda berkata,

"Sesungguhnya ketakutan dalam hati anak manusia seperti terbakarnya lilin.
Maka apakah engkau merasakan gemetar?"

Syahr menjawab,'\a."
Ummu ad-Darda melanjutkan, "Maka berdoalah kepada Allah ketika
engkau mendapati hal itu. Sebab saat seperti itu doa dikabulkan."
Dalam hal hikmah, ia mempunyai pandangan cemerlang. Ada seseorang
yang berkatapadanya,"Sungguh, saya mendapati penyakit hati yang tidak saya
temukan obatnya. Saya merasakan kekerasan (hati) yang sangat dan angan-
arrg n yang auh." Ummu ad-Darda mengatakan, "Lihadah di kuburan dan

f

saksikan orang-orang yang mati."
Ia pernah didatangi oleh Hisyam bin Ismail al-Makhzumi dan berkata

kepadanya, 'Apa sifat yang paling melekat dalam jiwamu?"
Ia menjawab, " Cirrta karena A ll 26."4s41
Ummu ad-Darda mendapatkan kesaksian juiur dan pujian dari para ulama

karena kepemimpinannya dalam bidang pengetahuan, ilmu, ibadah dan

kemuliaan.

Makhul mengatakan, "IJmmu ad-Darda adalah seorangwanita ahli fiqh."

6$'fabdib al-A:nta' z,a al-Itghat,ll / 360-361
651 Rahi' ol-Abrar,Y /312
6tB 'faikh Dinagq, trlm. 108

634 101 ,Xisah'fabi'in

Ibnu Asakir berkata, "Ia seorangwarutayangzuhud dan fasih berbahasa."

Sementara itu, Imam an-Nawawi mengomentari,"la seorangwanita yang
zuhud dan ahli fiqh." Dalam pernyataannyayanglain tentang Ummu ad-Darda,
ia mengatakafl,"Ia seorang wanita ahli fiqh dan wanita bijaksana."

Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, "Ia seorang wanita tabi'in, gemar
beribadah, pandai dan ahli fiqh."

Imam adz-Dzahabi menggambarkan, "Tokoh wanita yang pandai dan ahli
fiqh. Ia terkenal karena iimu, perbuatan dan sifat zuhud."

Adapun Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kategori perawi yangtsiqah
dengan mengatakan, "Ia termasuk tokoh wanita yang gemar beribadah."

Para ulama dan seiarawan sepakat menyematkan gelar "ahli fiqh"

kepadanya. Sifat ini termasuk sifat terbesar y^rtgberpadu pada diri seseorang.
Sebab siapapun yang Allah Menghendaki kebaikan kepadanya. maka Dia
memberikan fiqh (pemah am^i yar.g mendalam) pada agama.

Ummu ad-Darda menjadi wani ta yaflgdimuliakan oleh Dinasti Umayyah.

Ia memperoleh penghormatafl dari para khalifahnya. Kita telah melihat

bagaimana Muawiyah sangat mengagungkan dan menghormatinya. Khalifah
Abdul Malik bin Marwan biasa duduk dalam forum pengajian Ummu ad-
Darda bersama murid-muridnya yang menyibukkan diri dengan ilmu padahal
ia sudah menjadi khalifah.6sel Ia sering sekali duduk di pengujung masjid di
Damaskus untuk mendengarkan pengajian Ummu ad-Darda.

Ummu ad-Darda mempunyai banyak kisah bersama Abdul Malik bin
Marwan, yang menuniukkan ftasat dan kecerdasannya. Suatu hari, ia berkata
pada Abdul Malik, "Saya masih membayangkan dirimu tentang masalah ini
sejak saya melihatmu."

Ia menj awab, "Bzgaimana itu teri adi?"
Ummu ad-Darda berkata, "Saya tidak melihat seorang yang lebih baik
darimu sebagai ahli hadits dan lebih mengetahui dari dirimu sebagai pendengar
hadits."

Saat itu, Abdul Malik telah menjadi khalifah kaum Muslimin. Ia

mendapatkan matfaat dari hadits-hadits Ummu ad-Darda. Setiap kali khilaf,
Ummu ad-Darda yang selalu mengoreksi dengan argumentasi bijaksana dan
nasihat yang baik.

65e Al-Bida-yab w an-Nibayb,lX/50

101 XisahTabi'in 635

Zaid bin Aslam mengisahkan, suatu ketika Abdul Malik bin Manvan
meminta kedatangan Ummu ad-Darda kepadanya. Laluia datang kepadanya.
Suatu malam Abdul Malik terbangun malam untuk shalat. Lalu ia memanggii

pelayannya. Sang pelayan seperti tedambat memenuhi panggilannya, maka ia
pun memarahi dan melaknatnya. Keesokan harinya Ummu ad-Darda berkata
kepadanya, "Saya mendengar engkau tadi malam telah melaknat pelayanmu!"

Ia menjawab, "la lama sekali menyambut panggilanku."

Ummu ad-Darda berkata, "Saya mendengarAbu ad-Darda berkaa bahwa
Rasulullah Sballallabu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidaklah orang-orang yang
suka melaknat itu mempunyai penolong atau saksi di hari Kiamat kelak."660l

Ummu ad-Darda-sepeninggal suaminya-seperti mempunyai kebiasaan
rutin dalam hidupnya. Ia tinggal selama enam bulan di Baitul Maqdis untuk
mengajar dan beribadah di Masjid al-Aqsha yang telah Allah berkati dan juga
sekelilingnya. Enam bulan lainnya ia tinggal di Damaskus sebagai tempat tinggal

aslinya.

Ketika bermukim di Bairul Maqdis, ia senang pada penghormatanAbdul
Malik kepadanya.66lt Pada tahun 81 Hiiriyah, Ummu ad-Darda'melaksanakan
ibadah haji. Ketika usai, ia kembali ke Damaskus. Pada tahun 82 Hiiriyah,662l
Ummu ad-Darda'wafat di Damaskus. Ia dimakamkan di dekat makam suaminya
Abu Darda'yang dikenal dengan Pintu Kecil.

Imam Nawawi menyebutkan, "Kubur Abu Darda' dan Ummu Darda'
ash-Sughra yang terletak di Pintu Kecil, Damaskus, sangat terkenal."663l

G,45x9

u(/'nt''ffaaikikblDt iDuiaugaqE,qh,lhmlm.4.3453,5dduaSnlJaarnAi haul-Uantlt-uNl,albbnaulaL',l1-tY\ts/2ir,7X9/d7a5n7alAhu,Ylll/77

62 Al-Bidayh ru an-Nibayb,lX/50
'fabdTib alAvaa' w al-1tgbat,11/228
6\

636 101 Xisah"labi'in

89

-offit&c-
Ummu Kultsum binti AIi

Istri Umar bin Khaththab

"Nikahkanlah ia untukku w ahai Ali! Sungguh, de mi Allah, tidak

ada seseorang di muka bumi menyimpan seperti yang aku siapkan

har ena keb aikan p e r sahab atan. "

L]mar bin lCraththab

T TMMU Kultsum binti Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib al-
\J Ia lahir semasa
Hasyimiyyah, saudara kandung al-Hasan dan al-Husain.

hidup kakeknya Rasulullah Shallallabu Alaibi wa Sallan, pada tahun 6 H.664t

Rasulullah Sballallabu Alaibi wa Sallam memberinya nama Ummu Kultsum. Ia

melihat Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallan namun tidak meriwayatkanhadits

dari beliau. Karena alasan ini, maka Ahmad KhalilJum'ah dalam karyatya Nisa'

Min Ashit Tabi'in memasukkannya dalam katagori tabi'in.66sl

Dalam keluarga yang telah Allah jauhkan dari noda dan sucikan sebenar-
benarnya, Ummu Kultsum tumbuh dan beruntung memiliki ibu terbaik dunia.

Ibunya adalah Fathimah binu Rasulullah Sballallabu Akihi wa Sallam, junjungan
wanita dunia. Ummu Kultsum terbentuk karakternya di bawah bimbingan

langsung kedua orangtuanya. Kakeknya, Rasulullah ShallallabuAlaibi wa Sallan,
selalu melingkupinya dengan bimbingan dan cintanya.

Ketika Ummu Kultsum beranjak dewasa, ia menjadi putri Quraisy yang

paling fasih bahasanya. la mendapatkan pendidikan seni berbahasa dalam

keluarga Nabi Shallallabu Alaibi wa Sallam? Alangkah mulianya rumah iru!

Umar bin Khaththab sangat ingin memiliki pertalian nasab dan

kekeluargaan dengan Rasulullah Sballallahu Alaihi wa Sallan dengan pernikahan

@ Atb:fbahaqat,Ylll/463;S!,arA'huat-Nshak',lll/500;'fahd{bal-Avra'wal-Itgbat,ll/365danal-Ithahah,lY/468.

Krena itu, ada perbedam pendapat apakah ia termasuk shahabil,ah atau tabi'iyah. Ahmad KhalilJum'ah dalm bukuya

6t Nfua' nin Ailn at-Talr iz menggabungkannya dalam kelompok tabi'in. l999,hlm. 101-115
Nita'uinAilrat-Tabi'in,Ahmadl(halilJum'ah,DarlbnuKatsr,cetakankedu4

tol Xisah"[abi'in 637

dirinya pada Ummu Kultsum, putri Ali dan Fathimah. LaIu ia menemui AIi

untuk meminang putrinya Ummu Kultsum. Padahal saat itu ia masih kecil dan
belum baligh.

Lalu AIi berkata, "Tadinya sayatahzn putriputriku untuk anak keturunan

J a' far (anak- anak s auda rany a)."
Umar berkata, "Nikahkanlah ia untukku wahai Ali! Sungguh, demi Allah,

tidak ada seseorang di muka bumi menyimpan seperti yang aku siapkan karena
kebaikan persahabatan."

Ali meniawab, "Saya akan laksanakan."

Kemudian Ali berlalu dari rumahnyadan meminta sehelai kain kemudian
melipatnya, lalu berkata pada Ummu Kultsum, "Pergilah dengan membawa ini
kepada Amirul Mukminin. Katakan kepadanya, Ayahku mengutusku dan ia
mengirim salam untukmu dan berpesan, apabila engkau rela dengan kain ini
maka ambillah. Dan iika tidak suka maka kembalikanlah."

Ketika Ummu Kultsum sampai pada Umar, ia berkata, "Semoga Allah
memberkatimu dan ayahmu. Kami telah menerimanya." Ummu Kultsum pulang
menemui ayahnya lalu berkata, "Ia tidak membentangkan kain dan juga tidak
melihat kecuali kepadaku." Maka Ali pun menikahkannya unruk Umar.

Umar berbahagia dengan perbesanannya pada keluarga Rasulullah
Sballallabu Alaihi wa Sallaru.Ia lalu mendatangi Masjid Nabawi menuju tempat
berkumpulny^para shahabat Muhajirin di antaramakam Rasul dan mimbarnya.
Dalam forum itu banyak shahabat Muhaiirin senior seperti Ali, lJtsman, az-
Zubur, Thalhah dan Abdurrahman bin Auf. Seperti kebiasaan Umar bin
Khaththab apablla menghadapi sesuatu ia mendatangi mereka untuk
memberitahukan tentang hal itu dan meminta pendapat mereka.

Umar berkata, "Ucapkan selamat kepadaku." Lalu mereka mengucapkan
selamat, dan berkata, "Dengan siapakah wahai Amirul Mukminin?"

Ia menjawab, "Dengan putri AIi bin Abi Thalib." I(emudian ia bertutur
pada mereka, "SesungguhnyaNabiSbalklkhuAlaihi wa Sallan,bersabda, "Setiap
ikatan darah dan kekeluargaan akan terputus di Hari Kiamat kecuali ikatan dan

kekeluargaanku."666l

Umar menambahkan, "Saya telah menyertai Rasulullah Shallallaha Alaihi
wa Sallam. Saya sangat ingin pertalian keluarga ini makin mengukuhkan diriku

pada utamanya kebersamaan."

(/4 Ath-Thabaqat,Ylll/463-464denganringkasmsederhana.Lihatpulakisahlengkapnyadalmal-bi'ah,lY/468;Asad
al-Gbabah,Y /6'14-615; al-kbabab,lY /369 u-Santh a{[sauiz,hlm.192-193;Tonkh al-lslant,lY /138-139, dm lainnla.

638 1o1J(isah"labi'irt

Imam ath-Thabari, Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi menuturkan bahwa

pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum teriadi pada bulan Dzul Qa'dah
tahun 17 H. Umar memberikan maskawin sebanyak 40.000 dirham.

Dari pernikahan ini Umar dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi
tamaZa:,d dan seorang putri yang diberi nama Ruqalyah.

Ummu Kultsum hidup bersama Umar dan menjadi istri dan ibu terbaik

dan memiliki sifat-sifat yang mulia menjadikannya hidup dalam kamus wanita-

wanita yang dikenang sepanjang masa.

Ia bersama Umar mempunyai cerita-cerita mengesankan tentang

kecerdasan akal dan keberkahan ^malrryz, serta kebaikan perilakunya sebagai

seorang istri dan ibu. Ia sangat cocok dengan Umar dalam perbuatan-perbuatan

baik dan terpuii.Umar memberikan perhatian besar pada persoalan kaum

muslimin, memahami kapasitas dan kedudukan setiap orang di hadapan

Rasulullah .fltallallahu Alaihi wa Sallan. Apalagl kalangan wanita shahabat banyak

memberikan pengabdian kepada Islam dan kaum muslimin. Ini tidak

dimaksudkan untuk lebih mengedepankan Ummu Kultsum dari sekian banyak

wanita Muslimah. Sebab setiap wanita memiliki kedudukan yang tidak dizalimi

oleh yang lainnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Tsa'labah bin Abi Malik, bahwa Umar
bin Khaththab membagi kain sarung di artara wanita-wanita Madinah. Yang
tersisa hanyalah satu kain sarung yang bagus. Salah satu dari orang dekatnya
mengatakan, '1W'ahai Amirul Mukminin, berikanlah ini kepada cucu Rasulullah
S ballallabu Alai bi wa S allam, yang ada padamu: Ummu Kultsum binti Ali."

Umar menjawab, "lJmmu Sulaith lebih berhak." IJmmu Sulaith adalah

salah saru dad wanita Madinah yang berbaiat pada Rasulullah SballallahaAlaibi

wa Sallam. Umar menambahkan lagi, "la adalah orang yang menjahit kain tirai
untuk kami pada perang Uhud."

Dengan sikap mulia ini, Umar mengenal betul kapasitas seorang wanita
shahabat mulia seperti Ummu Sulaith. Ia berbuat baik kepadanya karena lebih
dahulunya ia menjadi shahabat Rasulullah Sballallabu Alaihi ya Sallan dan
keikutsertaannya dalam perang Uhud dan peperangan lainnya.

Sebagaimana masyhuq Umar hidup lay aknya kehidupan orang-orang fakir.
Ia menuntun dirinya dengan kehidupan seperti ini. Ia tidak segan pada orang
lain yang menentaflg pendiriannyaint.Ia menolak gaya hidup yang lebih baik
dari kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallan dan Khalifah Abu Bakar

101 .Kisah'fabi'in 639

ash-Shiddiq. Sering kalt para pembantuny^ meflyara;r,kan kepadanya untuk
bersikap lembut pada dirinya sendiri dan fleksibel dalam gaya hidup agar
menjadikannya lebih kuat berdiri pada kebenatan.la pun berkata pada mereka,
"Saya tahu saran kalian. Tapi saya meninggalkan dua sahabatku atas keseriusan.
Lalu apablla saya tinggalkan keseriusan keduanya, maka saya tidak mendapati
mereka berdua dalam tempat tinggalku."

Tampaknya Ummu Kultsum pada permulaan kehidupan rumah tangganya
bersama Umar seakan-akan menginginkan suaminya agak menoleh sedikit pada
kesejahteraan dan kehidupan menyenangkan. Agar suaminya memberikan
pakaran,layaknya pakaian yang diberik^r,pa;r^ shahabat kepada istri-istri mereka.
Namun Umar menolaknya dengan bijaksana dan lebih memilih kehidupan
akhirat daripada dunia. Saat itu pula Ummu Kultsum menerima.

Suatu hari, seorang tamu datang menemui Umar. Ia lalu mempersilakannya
masuk ke dalam rumahnya dan ia memanggil istrinya, "!7ahai Ummu Kultsum!
Berikan makan siang untuk kami!"

Ia menyuguhkan roti bersama minyak dengan garum yang masih kasar.
Lalu Umar berkata,'lVahai Ummu Kultsum, maukah engkau keluar ke sini
unruk makan bersama kami?"

Ia berkata, "Saya mendengar ada suara laki-laki."

Umarmenjawab, "Ya."
Ia berkata, 'Apabila engkau menginginkanku keluar menemui laki-laki,
maka engkau mesti memberikan pakaian seperti Ja'far memberikan pakaian
kepada istrinya, seperti az-Zubair memberikan pakaian kepada istrinya, dan
seperti Thalhah!"

Umar berkata, 'Apakah engkau tidak cukup menerima untuk dikatakan
Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, istri Amrul Mukminin!

Umar berkaa kepada tamunya, "Mari, mendekadah lalu makanlah. Seandai-
nya ia ridha, maka aku pasti meniamu dirimu lebih baik dari makanan ini."

Umar tidak mengajak gaya hidup sederhana pada istrinya saja. Namun ia
berinteraksi dengan seluruh anggota keluarganya secara adil. Suatu hari. ia
berkunjung ke rumah anaknyaAbdullah. Ia mendapatinya sedang makan daging
Iezat.Umar marah dan betkata kepadanya,'Apakah engkau merasa beruntung
sebagai anak Amirul Mukminin? Engkau makan daging sementara banyak orang

kelaparan? Tidakkah engkau cukup dengan makan roti dan g ram. Tidakkah

cukup dengan roti dan minyak?"

640 101 .Kisahfiabi'in

Meja makan Umar kosong dari makanan yang bagus dan lezat. Namun

kepribadiannya penuh dengan kebaikan wibawa, keluhuran ilmu dan
kesempurnaan hasil didikan Muhammad Sballallabu Alaihi wa Sallam. Umar

tumbuh dalam bimbingan pendidikan Muhammad Shallallaha Alaihi wa Sallan,
dengan kondite yang istimewa. Imam Thabari menuturkan dalam Taikh-nya
bahwa Ummu Kultsum binti AIi mengirimkan hadiah kepada permaisuri raia
Romawi berupa minyak wang, minuman dan kotak tempat kosmetika dan
perhiasan wanita. Ia kirimkan melalui petugas pos yang menyampaikan kiriman
tersebut.

Permaisuri Heraklius datang dan mengumpulkan wanita-wanita dan
berkata, "Ini adalah hadiah dari permaisuri raf a di Arab dan iuga putri dari nabi
mereka." Lalu ia mendata, menimbangnya dan balas memberikan hadiah
kepadanya. I(epada Ummu I(ultsum ia memberikan satu kalung emas mewah."

Tatkala petugas pos kembali kepada lJmar, ia memerintahkan untuk tetap
memeganginya dan menyeru, "Shalat Jarna'ah!'Sebagai seruan untuk segera
berkumpul menunaikan shalat.

Mereka berkumpul, lalu Umar shalat dua takaat bersama mereka, Ialu
berkata, "Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada masalah besar tanpa
musyawarah. I(atakan saran-saran kalian terhadap hadiah yang diberikan oleh
Ummu Kultsum kepada permaisuri raia Romawi, lalu permaisuri romawi itu

membalas dengan memberikan hadiah padanya."

Orang-orangmeniawab, "Hadiah itu untukUmmu Kultsum karena ia yang
memberikan hadiah. Permaisuri raia Romawi iuga tidak mempunyai tuntutan
apapun. lJmmu I{ultsum berhak mengambilnya dan iuga tidak ada apapun
yang Iayak membuatmu khawatir."

Yang lain mengatakan, "Kami dulu memberikan hadiah pakaian demi
berharap balasan pemberian pakaian. i(ami mengirimkan agar dapat diiual. Maka

ia berhak untuk mengambil uangnya."

IJmar berkata, 'Akan tetapi utusan yang mengirimkannya adalah utusan
milik kaum muslimin dan pos itu adalah pos yang dibanggakan kaum muslimin."

Umar memerintahkan untuk mengembalikannya ke Baitul Mal dan senilai
pembiayaan hadiah dikembahkan kepada Ummu Kultsum. Sebagai suami, ia
tidak selalu menuruti kemauan istrinya.

Jika Umar selalu menunaikan kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin
dengan dirinya sendiri, maka istrinya Ummu Kultsum binti Ali tidak kecil

l01 Xisah'fttbi'irt 641

andilnya dalam hal ini. Ia selalu bersiap-siaga dalam kebaikan, menyertainya
dalam meringankan beban umat. Ia seorangwanita mulia dari keturunan Nabi
yang suci! Seorang istri lelaki yang bertakwa.

Suatu malam, IJmar sedang berkeliling memeriksa kondisi Madinah ketika

warga telah tidur. Hal ini ia lakukan untuk memberikan ketentraman pada
nkyatnya, meneliti kondisi mereka dan memberikan hak-hak kepeduannya.

Umar berjalan di tengah Madinah. Ketika mendapati rumah kecil menyendiri
di kegelapan malam, ia mendekat dan mendengar suara rintihan seorangwanita
terpancar dari dalam tenda tersebut. IJmar melihat seorang lelaki sedang duduk.
Ia mendekatinya dan mengucapkan salam seraya bertanya, "Siapa gerangan
engkau wahai pemuda?"

Ia menjawab, "Saya seorang Badui. Saya ingin mendatangi Amirul

Mukminin untuk mendapatkan pemberiannya."
Umar berkata, "Suara apakah yang saya dengar dari dalam tenda ini?"

Ia meniawab, "Pergilah engkau untuk menuaikan kepeduanmu sendiri."
Umar berkata, "Saya harus tahu apa itu?"
Orang tersebut meniawab, "Istri saya akan melahirkafl..."
Umar bertanya, 'Apakah ia ditemani oleh seseorang?"
"Tidak ada. Sebab kami hanya berdua dan terasing."
Umar bergegas menuju rumahnya dan berkata pada istrinya Ummu
I(ultsum, 'Apakah engkau mau pahala yang Allah berikan kepadamu wahai
Ummu Kultsum?"
Ia menjawab,'Aa. Apagerangan pahala itu?"
Umat menjawab, 'Ada seorang wanita asing yang akan melahirkan. Ia tak
mempunyai siapa pun di sini."
Ummu Kultsum menjawab, "Ya, jika engkau inginkan wahai Amirul
Mukminin."

Umar berkata, "Bawalah semua yang dibutuhkan wanita untuk

kelahirannya mulai dari pakaian dan obat-obatan. Berikanlah kepadanya panci
berikut lemak, tepung dan gandum."

Ia memberikan semua kebutuhan itu kepada lJmar, lalu Umar berkata
padanya, "Mari pergi dan ikutilah aku."

Di punggung Umar tergelayut panci besar berikut tepung dan minyak

samin. Sementara Ummu I(ultsum membawa kepeduannya dan berjalan di

642 tol .Xisahfiabi'in

belakang suaminya hingga ia sampai di tenda perkemahan tersebut, lalu berkata
pada istrinya, "Masuklah dan temui wanita tersebut!"

Umar menghampiri suami wanita yang akan melahirkan itu lalu menyiap-
kan tungku perapian. Ia berkata kepada orang tersebut, "Nyalakanlah api."
Laki-laki itu melaksanakan permintaanUmar itu. Ia menyalakanapi dan Umar
memasak makanan sendiri hingga matang.

Tak lama kemudian, wanita tersebut melahirkan. Terdengarlah tangisan
bayi dari dalam tenda. Ummu Kultsum keluar sambil berkata, "Wahai Amirul
Mukminin! Beritakan kabar gembira kepada temanmu dengan kelahiran anak
laki-1aki."

Ketika lelaki tersebut mendengarkata 'Amirul Mukminin" ia terkejut dan
heran. Ia merundukkan badannya karena malu seraya memintzmaaf kepada Umar.

Umar berkata, "Tetaplah di tempatmu."

Kemudian ia membawa panci tersebut dan meletakkannya di depan pintu
tenda. Lalu ia memanggil Ummu Kultsum seraya berkata, 'Ambillah panci ini
dan berilah makan pada temanmu."

Setelah selesai menyantap makanannya, ia meletakkan panci itu di depan
pintu tenda. Umar bangkit dan mengambilnya, lalu meletakkannya di depan
lelaki tersebut seraya berkata padanya, "Makanlah wahai saudaraku! Sebab
engkau telah begadang semalaman dan lelah." Lelaki itu pun memakannya.

Setelah Ummu I(ultsum keluar, IJmar menoleh ke arah lelaki tersebut
dan berkata, "Besok, datanglah kepada kami. Kami akan berikan kepadamu
apa yangdapat memperbaiki keadaanmu, insya Allah."

Orang itu melaksanakan perintah Umar. LJmar memenuhi kebutuhannr a
keluarganya, hingga lelaki itu pulang pada keluarganya dengan bahagia.661l

Kebahagiaan Ummu Kultsum terhadap pahala kebaikan ini sangat besar.
Ia meniadi penyebab masuknya kebahagiaan di hati wanita asing yang akan
melahirkan, ketika tak seorang pun mengetahui keada?nnya kecuali Allah.
Ummu Kultsum meneruskan kehidupannya y^ng gemar memberi bersama
Umar. I(eduanya melakukan semua hal yangAllah ridhai hingga Umar menemui

syahidnya.

Setelah selesai masa'iddab Ummu Kultsum, ia dipinang oleh Said bin al-
Ash. Ummu I(ultsum menjawab, "Orang sepertiku tidak menikahkan dirinya

sendiri. Temuilah keluargaku "!

(6' ManaqihUuar kn lhaththab,lbnual-Jauzi, hlm. 84-85 den al-Bidayh nv an-Nibayb,Yll/14{)

101 "KisahTabi'in 643

Said mendatangi saudara lakiJakinya al-Hasan bin Ali lalu meminangrlya.
Said memberikan 100.000 dirham sebagai maskawin kepada Ummu I(ultsum.
Al-Hasan membicarakan hal ini kepada saudaranya al-Husain dan ia menolak.
al-Husain sendiri yang menemui saudarinya dan berkata, "Jangan engkau

menikah dengannya."
Padahal al-Hasan telah memberikan semacam janlipada Said. Maka Said

mendatanginya dan berkata, "Di manakah Abu Abdullah (al-Husain)?"

Al-Hasan menjawab, "Ia belum datang."

Said betkata,"Barangkah Abu Abdullah tidak suka dengan hal ini?"
Al-Hasan meniawab, "Ya."

Said berkata, "Sesungguhnya saya tidak ingin membedkan sesuatu yang
kalian tidak menyrrkainya." Ia pulang dan tidak meminta kembali harta yang
telah ia berikan sama-sekali.668l

Hasan bin al-Hasan bin Ali, keponakannya, menceritakan bahwa ia menikah
dengan Aun bin Ja'far bin Abi Thalib. Ia mengisahkan pernikahan bibinya Ummu
Ku-ltsum, sebagai berikut:

Al-Hasan dan al-Husain sebagaidua saudara mendatanginya dan berkata
padanya, "IJmmu Kultsum berasal dari orang yang engkau kenal, iunjungan
wanita semesta alam, putri dari junjungan mereka. Sesungguhnyailka engkau
sandarkan masalahmu pada ayahmu maka ia akan menikahkanmu dengananak-
anak yatimnya. Jika engkau menginginkan harta yang banyak, maka engkau
pasti akan mendapatkannya."

Al-Hasan bin al-Hasan mengatakan, "I(eduanya tidak bangkit pergi hingga

muncul Ali yang berjalan dengan bersandar pada tongkatnya.Ia duduk lalu

memanjatkan puji sl,ukur padaAllah dan menyebutkan kedudukan mereka di
sisi Rasulullah Sballallabu Alaibi wa Sallam.Ia berkata, "Kalian telah mengerti
kedudukan kalian padaku wahai anak-anak Fathimah. Maka aku lebih
mendahulukan kalian daripada anak-anakku lainnya karena kedudukan kalian
di sisi Rasulull ah S hallallaha Alaibi wa S allam dan kedekatan kalian pada beliau."

Mereka meniawab, "Engkau benar. Semoga Allah merahmatimu dan

membalasmu dengan lebih baik."
Ali meneruskan pembicar^ nnya,"Sesungguhnya Allah telah meniadikan

persoalanmu ada pada dirimu sendiri. I{ami ingin agar engkau sandatkan
persoalanmu itu kepadaku."

68 Nat'adiral-Makbthrthatb,l/60danTaikbal-klau,lmamadz-Dzthabi,lV/22Tdengmrhgkas

644 1o1 "KLsah{abi'in

Tidak lama kemudian Ali menikahkannya dengan keponakannya Aun bin
Ja'far. Ummu Kultsum mencintainya namun suaminya lebih dahulu meninggal
dunia. I(emudian Ali menikahkannya dengan saudara Aun, Muhammad bin
Ja'far. Namun iaiuga meninggal dunia. Kemudian Ali menikahkannya dengan
Abdullah binJa'far hingga Ummu I(ultsum meninggal dunia di sisi Abdullah.66e1

Pada malam hari saat Ali bin Abi Thalib menemui syahidnya, ia didatangi

oleh muadzinnya Amir bin an-Nabbah. Saat faiar menyingsing, ia

mengumandangkan adzan Shubuh. Ali bangkit berjalan. Ketika sampai di pintu
kecil, Abdurrahman bin Muljam menariknya lalu memukulnya dengan pedang.
Ummu I(ultsum keluar dan sontak berteriak, 'Apa yang menimpaku dengan

shalat Shubuh. Suamiku Umar terbunuh saat shalat Shubuh dan sekarang ayahku
terbunuh saat shalat Shubuh."

Ibnu Muljam dimasukkan ke dalam rumah Ali. Lalu Ummu Kultsum
bertanya kepadanya, 'Apakah engkau membunuh Amirul Mukminin, wahai

musuh Allah?"

Ia meniawab,"Saya hanya membunuh ayahmu."

Ia berkata, "Sungguh, demi Allah, saya mengharap tidak ada kesengsaraan
bagi Amirul Mukminin."

Ia menjawab, "I(alau begitu, mengapa engkau menangis. Demi Allah, saya
telah mengasah pedang ini selama sebulan. Sekiranya Allah membuatku tidak
jadi membunuhnya dan Allah menjauhkannya dariku. Seandainya sabetan
pedangku ini pada seluruh penduduk Mesir, maka tak akan tersisa seorang

Pun."
Abu Ali ul-Quli dalam l<ttab al-Arualf1ol menuturkan bahwa saat memenggal

ALi, Ibnu Muljam berkata, "Kalau saya sungguh telah menajamkan pedang,
mengusit ketakutan, merajut harapan, mengenyahkan rasa malu, dan saya
memenggalnya dengan satu pukulan seandainya menimpa seluruh penduduk
Ukazh maka dapat membunuh mereka."

Berkenaan dengan keiadian ini, Qays bin Amr bin Malik mengatakan:6711

('e Atadal-Gbabah,Y/615danS4,arAlaatan-Nubald',lll/501-502dengansedikitringkasan.

670 Penulisnl'2 262lah Ismail bin al-Qasim. Ia banyak menghafal bahasa, syair dan sastra Arab pada zmannya. Ia belajar
dan tinggal selama 25 tahun dr Baghdad, lalu pindah ke Maroko, kemudian Cordova pada masa pemerintahan Abdur
Rahmm an-Nashir. Ia disayangi oleh gubcrnur al-Mustanshir bin an-Nashir. Di anara karyanya adalah al-Aonl, al-Bai,
dan lainnva. Ia wafat pada tahun 356 I l.

"?r Qays bin Amr bin Matk adalah salah seorang ke turunan al-llarits bin Kmb. Ia termasuk omng terhormat dari bangsa
Arab. Flanl,a saia ia seomng yang fasiq. Dialah yang didatangi oleh Ali di bulan Ramadhan saat sedangmabuk. Ia pun
dihukumqmbukS0 kalidmditambahdengmduapuluh.Iaberkat4'ApagumganhukumminiwhaiAbual-Hasm?"
AIi menjawab, "Karena keberanianmu pada Allah dan minuman kerasmu di bulan Ramadhan, juga karena anak-anak
kecil kita berpuasa semenam engkau berbuka." AIi memperlihatkannla kepada omg-omngdi sebuah gudukm tanah.
Karenanya, saat Ali terbmuh, ia melmtunkan syair ini.

101 XisahTabi'in 645

Apabilo seekor ular mernbuot para dukunlelah mengobati gigitannya
Maka kami kirimkan lbnu Muljamdi kegelapan malam.

Amirul Mukminin wafat karena bekas tusukan pedang yang beracun itu.
Putrinya, Ummu Kultsum menangisinya dengan sedih. Demikian halnya dengan
istrinya Umamah binti Abi al-Ash. Kedua wanita ini adalah orang yang paling
bers edih. Ummu al-Haitsam binti al-A swad an-Nakh a' iyy ah melantunkan syair
duka cita untukAli, menggambarkan kesedihan Umamah dan Ummu Kultsum:

Wahai mata kesedihan, bergembirakah
Tidakkah enghau menangisi Amirul Muktninin?
Kegetiranku menge ras, kedukaanku bertambah ponjang,
Wahai Umamah saat berpisoh denganteman hidupnya
Eng hau berkeliling demi keb utulwnnyo,
Saat putus asa kematiantelah menganghatnyo
Dan Umrnu Kultsum mznemaninya, dnn in telah melihat kenyataan sebenarnya.

Ummu Kultsum juga memiliki cerita yang mengisyaratkan bahwa ia adalah
wanita Quraisy terfasih dan paling pembicaraannya, paling pandai berorasi saat
terjadi keiadian atauadanyamusibah. Ia mampu membungkam lawan bicaranya
dengan argumentasi dan bukti, seakan kefasihan bergelayut padanya laksana
bergelay-utnya anak kecil pada ibunya. Ia mampu memilih kata-kata yang indah
hingga seakan-akan iaberbicara dan memilih kata-kata indah dengan mudahnya,
tanpa kesuli tan dibuat-buat.

^tau
Contoh nyatany^ adalah orasinya yang terkenal kepada penduduk Kufah,
ketika saudara laki-lakinya al-Husain bin AIi, terbunuh.

Zaid bin Umar termasuk pemimpin dan orang terhormat Quraisy. Ia
seorang pemuda yang tampan dan pandai, pemberani dan tidak takut pada

siapapun. Salah seorang sebayanya menuturkannya:

Kami berialan bersama dalam rombongan bersama Zaid untukmenghadap
Muawiyah bin Abu SuSran. Ia mengaiaknya duduk bersamanya. Zald adalah
orang yang paling tampan. Lalu Busr bin Artha'ah672l berkata-kata tentang dirinya
dan iuga menyrnggung kakeknya Ali. Zaid turun menghampirinya,menghalarnya
dan meraih lehernya sehingga membuatnya tersungkur. Ia lalu berkata kepada
Muawiyah, "Sesungguhnya saya hanya mengetahui bahwa pernyataannya berasal
dari pendapatmu, padahalsaya anak dari dua khalifah."

572 Busr bin Artha'ah al-Amiri al-Qumq.i yang bergdr Abu AMurahmm adalah salah seorang pangtima tangguh. Ia lahir
di Makkah sebelum Hijrah Rasul dan masuk Islam ketika masih kecil. Ia meriwayatkan dua hadits dari Rasulullah
Shalallafu Ahibi pu Sallan,sebagaimzmterdapatdalamMtsnodlmam Ahmad.Ia pernah meniadi omgkeperel'an
Muauyah bin Abu SuSan dan ikut dalm penaklukan Mesir. Muruiyah mengangkamya sebagai gubemur di Bashrah
setelah Ali wfat dan setelah perjanlim dmai dengan al-Hasan. Ia pemah memimpin serbw ke Romawi pada tahun
50 H. Ia wafat pada tahun 86 H.

646 lot "Kisah'[abi'in

Muawiyah berkata, "Semoga Allah menjauhkan Busr. Semoga Allah
menjauhkan Busr. Apakah ia tidak tahu bahwa Zud adalah cucu Ali dan juga

putra Umar. Sementara ibu dari Zildini zdalah puffi Ali dari Fathimah binti

Rasulullah Shalkllahu Alaihi wa Sallan?"
Kemudian Busr keluar dari forum dengan rambut dan surban acak-acakan.

Seketika itu Muawiyah meminta maaf kepada Zud dan memberikan uang

100.000 dirham iuga kepada sepuluh orang yang rreflyertainya."673l
Zatdmerunggal dalam usia yang masih muda. Sebab kematiannya adalah

terjadinya fimah di tengah-tengah Bani Adiy. Di suatu malam Zudkeluar untuk
mendamaik^n ant^ra mereka. Lalu dalam kegelapan malam itu ada seseorang
yang memukulnya, melukai kepalanya dan menghajanya. Kemudian ibunya
keluar dan berkata, 'Aduh, betapa sengsaranya, saya tidak mendapati shalat
Shubuh." Pernyataan ini karena ayahnya, suaminya dan anaknya semuanya
terbunuh saat waktu Shubuh. Kemudian ia teriatuh dan meninggal dunia

bersama dengan anaknya dalam saat yang bersamaan.
Pemakaman ienazahnya dihadiri oleh al-Hasan, al-Husain dan Abdullah

bin Umar. Ibnu Umar berkata kepada al-Hasan, "Maiulah engkau untuk

menshalati saudara perempuanmu dan iuga anak dari saudara perempuanmu!"
AI-Hasan balik berkata pada Ibnu Umar, "Sebaliknya, maiulah engkau

untuk menshalati ibumu dan iuga saudaramu."
Ibnu Umar maju dan meniadikan Z^td dt hadapannya, disusul iasad Ummu

Kultsum. Ia menshalati keduanya dengan bertakbir sebanyak empat kali,

sementara di belakangnyaadalah al-Hasan dan al-Husain. Menurut penuturan

Imam adz-Dzahabi, Ummu Kultsum binti AIi wafat di masa pemerintahan

Khalifah Muawiyah.6Tal
Semoga Allah merahmati Ummu Kultsum yang senantiasa menjadi teladan

bagi wanita-wanita mulia sepani angz m n. Seorang wanita mulia yang kakeknya
adalah Rasulullah ShalklkhuAlaihi wa Sallan,ayahnyaadalah Ali bin Abu Thalib

dan suaminya adalah Umar bin Khaththab.

GA9

611 Rabi al-Abar, az-Zamakhsyan,Y / 304 dm Sjar Alatt an-Nilala,lll / 502
674 SlarAhntan-Nrbala',111/502sebagaimanadikemukakmolehbanyaklitenturbahwapemimp.inymgmenshalatkan

Ztd danibwyradalah gubernur Madinah sat iru, Said bin d-Ash. Pm sahabat lain lmgikut menshalatkmnya adalah

Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Said al-Khudri, Abu Qatadah, dan lainnya. Lihtt: al-Ma'rilahf at-Tankb,l/214

101 .Xisah(abi'in 647

90

-#@{ee-

Ummu Muslim al-Khaulaniyyah

Yang Taat pada Suaminya

"Wahai Ummu Muslim, pelankan perjalananmu. Sesungguhnya
tidak ada penyeberangan di atas jernbatan Jahannam."

,i;;H::rT,,.,rDrrpAN ibadah, zuhud o^, ilotrT# adarah

I\.r-olaan Ummu Muslim menialani hidup bersama suaminya. Siapapun

yang cemedang permulaannya maka cemedang pula akhirannya. Kisah hidup

IJmmu Musl,im ini contohnya.

Ummu Muslim al-I{haulani6Tsl adalah seorang wanita dari kalangan wanita
tabi'in. Ummu Muslim adalah seorangwanita tabi'in yang terhorma! mempunyai
pengaruh besar, dan memiliki kapasitas keilmuan dan pengetahuan yang
memadai, selain sifat zuhud dan ketakwaan.

Suaminya adalah Abu Muslim al-I(haulani ad-Darani, seorang tokoh tabi'in
yangzuhud sepanjangmasa, sebagaimanadikatakan olehAbdullah binTsaub.676l
Ia masuk Islam pada masa hidup Rasulullah ShallallahuAlaihi aa Salkm, namun
ia tidak sempat bertemu dengan beliau. Ia datang ke Madinah saat pemerintahan
Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu Muslim meriwayatkan hadits dari Umar, Muadz binJabal, Abu Dzar

al-Ghifari, Abu Ubaidah dan Ubadah bin ash-Shamit. Banyak tokoh besar tabi'in

di masanya meriwayatkan hadits darinya. Ia meniadi orang biiak bagi umat.

Allah memberikan padanya kemuliaan dan keilmuan. Ia mendatangi ke Syam

lalu tinggal di Daruya.611l

66i"\''fIaaikadhalaDh iusaalaqhq,shaktund. a5ri5d0elapan abi'in yang terkenal zuhud. Mereka adalah ar-Rubai' bin Khutsaim, Amir bin Abdrllah

at-Tamimi, Aus bin Amir al-Qarni, Haram bin l{a1r,an, Masru<1bin al'Aida', al-Aswad bin Yzid, al-Ilasan al-Bashn

67' dan Abu Muslim al-Khaulani.

SbicnbuRaahbadehs,amtuearkdeznianlPl.eansgd.tlberalehtlalakfusekAitharihtiigarumSiladllaarui,ppuesrantakhottainDggaaml adsikusasn. aB. aSnuymakbetor:k'ofahhdsTalialtfaul-n,4gtguaal di sana. Bilal
ta al-b4bat,

rrrl1 08.

648 1o1 ..Kisah{abi'in

Ummu Muslim al-Khaulaniyyah terkenal dengan nama panggilan ini.
Kepopulerannya mendapatkan tambahan dari suaminya Abu Muslim al-

I(haulani. Di samping itu, ia sendiri seorang yang gemar ibadah dan shalih.

Waktunya penuh dengan berbagai macam ketaatan. Ia selalu mengingat Allah
dalam keadaan berdiri dan duduk baik, di waktu sore maupun pagi. Karenanya,
ia menempati kedudukan tinggi di antarawanita-wanita tabi'in. Nama baiknya
berkumandang di dunia dan menjadi teladan baik bagr siapapun yang ingin
seperti dirinya.

Ummu Muslim bukan termasuk wanita yang terfokus secara penuh dengan
kewajiban-kewaiiban agama semata dengan meninggalkan kewajiban duniawi.
Ia adalah seorang wanita produktif dan mandiri. Ia sangat pandai menprlam
dan hal-hal yang berkait dengan pekeriaart tangart. Dengan ini semua, ia termasuk
wanita yar,graiin beribadah dan bekerja dengan mandiri.

Ummu Muslim menjual hasil sulamannya dan memberikannya kepada
suaminya untuk dibelikan keperluannya. Suatu ketika, ia memberikan kepada

suaminya uang satu dirham guna membeli tepung. Lalu sang suami
menyedekahkannya. Namun Allah memuliakannya karena kejernihan

sanubarinya.

Atha' al-Khurasani mengisahkannya, istri Abu Muslim al-Khaulani berkata
kepada suaminya, "rWahai Abu Muslim, kita tidak punyai tepung lagi."

Abu Muslim berkata, 'Apakah engkau mempunyai sesuatu (uang)?"

Ia menjawab, "Satu dirham. Kita mendapatkannya dari meniual sulaman."
Abu Muslim berkata, "Berikanlah kepadaku dan berikan iuga kantong
wadah tepung!"

Abu Muslim pergi ke pasar dan berdiri di depan seorang penjual bahan
makanan. Tiba-tiba ia didatangi oleh pengemis dan berkata, 'lWahai Abu Muslim!
Berilah sedekah padaku." Si pengemis itu terus-menerus meminta. Akhirnya
ia menyerahkan satu-satunya uang dirham itu. Ia meraih kantongnya lalu
mengisinya dengan serbuk kayu bersama debu. Lalu ia menuiu rumahnya.
Kemudian ia meletakkan kantong itu di balik pintu kemudian pergi menuiu

tempat ibadahnya.

Ummu Muslim membuka kantong itu dan terny^t^ isinya tepung putih
bersih. Ia pun membuat adonan untuk diiadikan roti. Saat Abu Muslim datang
di malam hari, Ummu Muslim telah meletakkan kue dan roti di hadapannya. Ia
berkata, "Dari manakah engkau mendapatkan ini, wahai Ummu Muslim?"

101 Jiisah"fabi'itt 649

Ia meniawab, "Dari tepung yang engkau bawa siang tadi." Maka ia pun

memakannya sambil menangis.

Ummu Muslim termasuk wanita yang paling berbakti pada suaminya. Ia

memberikan pelayanan dan menjadi teman terbaik yang menyertai suami. Tapi

ada wanita tetangganya yang menjadikan hubungan Ummu Muslim rusak

dengan suaminya. Abu Muslim mendoakan atas wanita itu hingga meniadi buta.

Belakangan, wanita itu datang padanya untuk mengakui kesalahannya dan

ber taub at. Maka Allah mengembalikan penglih ^tanny ^ kemb ali.

Abu Nuaim al-Ashbahani menuturkan rincian kisah ini:

Setiap kali Abu Muslim al-I(haulani pulang ke rumahnya dari masiid, ia
selalu mengucapkan takbir di depan pintu tempat tinggalnya. Lalu istrinya
menyahut dengan takbir pula. I(etika sampai di beranda rumahnya, ia bertakbir
Ialu isuinya pun menyahutinya dengan takbir. I(etika sampai di pintu rumahnya,
ia bertakbir dan diikuti jawaban takbir oleh istrinya.

Suatu malam ia pulang. Lalu ia bertakbir di depan pintu tempat tinggalnya.
Namun tak ada seoraflg pun yaflg menyahutnya. Ketika sampai di beranda
rumah, ia pun bertakbir, namun tak ada seorang pun yang menyahutinya. Tatkala
ia sampai di pintu rumahnya, ia bertakbir dan lagtJagt tidak ada seorang pun
yang meniawabnya.

Padahal biasanya ketika ia masuk ke rumah, istrinya meraih surban dan
kedua sandalnya lalu memberikannya makanan. Ketika masuk rumah, ternyata
tak ada lampu penerangan. Ketika diperiksa, ternyata istrinya sedang duduk di
rumah termenung mengorek-ngorek sebatang dahan di tangannya.

Abu Muslim bertanya kepadanya,'Ada apa denganmu?"

Ia menjawab, "Engkau mempunyai kedudukan tinggi di mata Muawiyah

bin Abu Sufran sedangkan kita tidak punya pembantu @udak). Seandainya
engkau meminta diberikan budak, ia pasti memberikannya kepadamu."

Abu Muslim sadar bahwa dalam masalah ini ada sesuatu yang tersembunyi.
Ia menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, 'Ya Allah, siapapun yang
merusak istriku maka butakanlah mata penglihatannya."

Abu Nuaim al-Ashbahani menceritakan, "Sebelumnya adaseorang wanita
datang menemui Ummu Muslim. Wanita itu berkata, 'Suamimu mempunyai
kedudukan penting di sisi Muawiyah. Seandainya engkau katakan padanyaagar
minta diberikan budak untuk melayanimu, pasti ia akan memberikannya hingga
kalian dapat hidup seiahtera."

650 101 .KisahTabi'irt

Ketika wanita itu sedang duduk di rumahnya malam hari, tiba-tiba

penglihatannya meniadi gelap. Ia berkata, "Ada apa gerangan dengan lentera-
lentera kalian? Apakah padam?"

Saat itu ia menyadari dosanya dan campur tang nnya dalam kehidupan
Ummu Musl.im. Maka, ia menghadap Abu Muslim seraya menangis dan
memintanya berdoa kepada Allah agar mengembalikan penglihatannya. Abu
Muslim merasa kasihan lalu memohon pada Allah dengan sepenuh hati agar
Allah mengembalikan penglihatannya. Selanjutnya Ummu Muslim kembali ke
kehidupan yang bersih bersama suaminya Abu Musl.im.678l

Abu Muslim al-Khaulani selalu menautkan hatinyapadaAllah atas dasar
yang benar. Ia pun membimbing isuinya dan mengajarkannya bahwa tidaklah
terhenti keperluan duniawi yang dimintakan seseorang kepada Allah kecuali ia
sendiri akan beruntung dengan kepastian Allah tentang hal itu. Allah berfirman,
'Barangsiapalang bertakwa kepada Alab niscala Dia akan nengadakan baginlalalan
ke laar Dan ruembeinla reqgki dai arablang tidak disangka-sangkan1a... " (QS. ath-
Thalaq:2-3).

Di antara tanda kemenangan dan keberhasilan, yaitu mengembalikan segala
sesuatu hanya kepada Allah. Bukan pada manusia. Sebab, manusia tak memiliki
apa-ap^. Mungkin Ummu Musl-im tidak mengetahui kenyataan ini kecuali setelah
beberapa lama. Seiak saat itu, terkuak sudah hakikat dari yang selama ini

^pa
diajarkan oleh suaminya.

Ini adalah peristiwa yang benar-benar teriadi. Suatu ketika, ia meminta

kepeduan dan meny,uruhnya untuk datang kepada Muawiyah. Namun, ia justru
datang ke masiid dan meminta pertolongan kepada Allah demi memenuhi

kebutuhannya. Allah memberikan kehormatan dan nikmat kepadanya.
Selanjutnya Abu Muslim mengucapkan syukur atas ^p^ yang telah Allah

kuasakan dan berikan kepadanya.

Dalam l<tab Taikh Diruayq, Ibnu Asakir menuturkan kisah Abu Muslim
bersama istrinya Ummu Muslim. Ummu Muslim berkata kepada suaminya,
"'Wahai Abu Muslim, sekarang musim dingin telah tiba. I(ita tak punya bahan
pakaian, makanan dan iuga cadangan lauk-pauk, sepatu dan juga ka),u."

Abu Muslim berkata, 'Apa yang engkau inginkan, wahai Ummu Muslim?"

Ia menjawab, "Engkau datang kepada Muawiyah dan dia orang yang paLing
mengerti dirimu. Engkau bisa memberitahukan kebutuhanmu dan kesulitan kita."

^\ Al-flifiahll/ 129-13O dan S bilat uh-.| haJrult,lY / 178-179

101 "Kisah'fabi'in 651

Abu Muslim berkata, "Saya malu meminta sesuatu pada selain Allah."

Namun, Ummu Muslim terus-menerus meminta. Ketika ia semakin banyak
berkata-kata, Abu Muslim berkata, "Mengapa engkau? Siapkanlah pedengkapan
untukku!"

Lalu Abu Muslim menuju masjid dan berdiam seharian penuh. Ketika

banyak orang menunaikan shalat Isya dan masjid menyisakan dirinya sendirian,

ia bersimpuh di atas kedua lututnya, lalu berkata, 'Ya Allah! Engkau Maha

Mengetahui keadaanku dalam hubungan antar^ diriku denganmu . Engkau telah
mendengar pernyataan Ummu Muslim. Ia memintaku menghadap Muawiyah
sedangkan seluruh simpanan kekayaan dunta ada pada-Mu. Muawiyah hanyalah
satu dari makhluk-makhluk-Mu. Sesungguhnya saya memohon kepada-Mu dari
kebaikan-Mu yang banyak dan mudah." Lalu ia menuturkan kebutuhan-
kebutuhannya.

Kemudian ia meneruskan, "Sesungguhnya simpanan kekayaan-Mu tak
akan pernah habis, dan kebaikan-Mu tak akan berkurang. Engkau Maha
Mengetahui diriku. Engkau telah Mengetahui bahwa Engkau paling saya cintai
dari selain-Mu. Apabila Engkau memberikannya padaku maka saya pasti banyak
memuji-Mu atas pemberian itu. Apabila Engkau menghalangiku maka bagi-
Mu segala puji yang banyak."

Sementara ada seorang dari keluarga Muawiyah masih berada di masjid,
mendengarkan semua perkataan Abu Muslim. Lalu ia keluar dari masiid menuju
tempat Muawiyah, serta memberitahukan kejadian dan perkataaLny^ngtelah ia
dengat.

Muawiyah berkata, "Tahukah engkau siapa gerangan dirinya? Dia adalah
Abu Muslim. Bukankah engkau telah mendata apayangia katakan?"

Orang itu meniawab, "Benaq wahai Amirul Mukminin."
Muawiyah berkata, "Maka lipat gandakan baginya setiap yang ia minta
dan cepat-cepadah memberikannya sekarang ke rumahnya.J^g sampai besok,
kecuali semua ini berada di rumahnya dengan setiap sesuatu digandakan."
Ia membawa semua yang ia katakan. I(etika semua barang itu tiba di
hadapan UmmuMuslim, ia memuji Muawiyah, "Saya masih mengumpat orang
tua itu agar mendatanginya, namun ia menolak permintaanku itu."

Ketika Abu Muslim selesai melaksanakan shalat Shubuh, ia pulang dengan
penuh keyakinan kepada Tuhannya. Ketika sampai di rumahnya, ia mendapati
barang-barang yang melimpah terlihat kehitam-hitaman dan keiauhan.

652 lor "KisahTabi'in

Ummu Muslim berkata kepadanya, "Wahai Abu Muslim,lihadah apayarng
telah dihadiahkan oleh Amirul Mukminin kepadamu?"

Dia meniawab, "Sungguh fauh sekali pikiranmu! Engkau mengkufuri

nikmat dan tjdak bersyrrkur kepada Dzat Yang Maha Pemberi rezeki. Sungguh
demi Allah, saya tidak datang ke rumah Muawiyah, iuga tidak berbicara pada

pengawalnya dan tidak pula menyampaikan keperluanku kepadanya. Ini tidak
lain adalah bagian dari Allah yang telah Dia hadiahkan kepada kita. Sungguh
segala puj i b agr Allah s ebanyak-b anyakn f a!" 67 o7

Sejak saat itu, IJmmu Muslim menyadari perhatian besar suaminya dalam
mendidiknyaakan hakikat tawakkal pada Allah. Sejak saat itu pula, ia tidak lagi
meminta sesuatu padanya. Ia sangat menjaga diri untuk selalu berada dalam
alan hidup yang telah diajarkan suaminya.

f

Penulis bukuTaikb Daralamenuurkan bahwa setelah kematian suaminya,
Ummu Muslim menikah dengan Amr bin Abd al-Khaulani. Ia seorang zuhud,
rajin ibadah, wara' dan bertakwa. Suatu ketika Ummu Muslim ditanya, "Manakah
yang terbaik di antara dua lelaki itu?"

Ia menjawab,'Abu Muslim. Sebab ia tidak meminta kepada Allah kecuali
Allah memberinya. Adapun Amr bin Abd, ia seorang yang diterangl cahaya
dalam mihrab (tempat shalatnya) hingga saya memenuhi keperluannya dengan
penerangan cahay any a, tanpa b antuan len tera."

Ummu Muslim al-Khaulaniyah termasuk wanita tabi'in terbaik yang
meniadi teladan dan anutan. Semoga Allah merahmati Ummu Muslim dan
menerangi kuburnya. Sungguh kisah hidupnya menjadi obat hati bagi yang

mendengarnya.

G9

o1e Taikh Diuayq, hlm. 550-551

101 Xisah'labi'in 653

-€[email protected] -

Ummu Sinan binti Khaitsamah

Banyah Berbicara tentang Kebenaran

D ANYAK di antara Muslimah pendukung Ali yang punya ide cemerlang
I-)drn kata-katategas. Mereka mempunyai andil besar dalam Perang Shiffin,

menjadi cerita yang menggetarkan hati para penentangnya. Di antara para wanita
yang menjadi pendukung Ali itu adalah Bakkarah al-Hilaliyyah, Saudah binti
Ammarah, U mmu al- Khair binti al-Huraisy al-B ariqilyah, az -Zarqa binti Adiy,
Ukrusyah binti al-Athasy, Ummu Sinan binti Khaitsamah bin Harsyah al-

Madzhaliyy ah,utol dan lainnya.

Saat waktu berganti dan suasana berubah, kekuasaan berada di tangan
Muawiyah, ia memanggil para wanita yang fasih ini untuk mendengarkan
ketinggian sastra mereka dan mengagumi keberanian dan ketegasan mereka di
hadapannya. Terlebih apabila mereka kadang meninggikan suara mereka
kepadanya. Muawiyah seorang yang tinggi harapannya dan paling luhur jiwanya,
sekalipun pedasnya kata-kata yang disampaikan kepadanya atau kritikan yang
diarahkan kepadanya. Muawiyah selalu bersikap baik. Mereka pulang dengan

baik dan mereka mendapatkan banyak hadiah dari Muawiyah.

Termasuk dalam kelompok wanita ini adalah Ummu Sinan binti

I(haitsamah. Ada potongan syairny^ y^ng dihapal oleh Muawiyah pada saat
Perang Shiffin.

Setelah berakhirnya Perang Shiffin, Ummu Sinan binti Khaitsamah pulang
ke Madinah al-Munawwarah.la pun tinggal di sana. Saat Muawiyah meniabat
khalifah, gubernur Madinah dipegang oleh Marwan bin al-Hakam sebanyak
dua kali pada 42-49 H dan selaniutnya diberi mandatlagi pada 56-57 H.

(n'[ai itk b D agt q, hlm. 530 dan a l-'I qd a l- Farid, ll / 1OB

654 1o1 "KisahTabi'in

I

Marwan bin al-Hakam mempunyai kisah bersama Ummu Sinan yang

memperdengarkan kata-kata pedas dan pernyataan yang keras pada Marwan.
I(emudian ia pergi ke Damaskus mengadu pada Muawiyah. Sebab Marwan

menahan cucunya. Ummu Sinan merangkai kata dan membuat Muawiyah

memenuhi tuntLltannya. Perbincang afl antara keduanya menguakkan tabir pada
kita betapa tingginya kefasihan, ilmu berbicara dan syairnya. Selanjutnya mari
kita arungi krsahnya mulai dari awal.

Sebagai gubernur Madinah, Marwan bin al-Hakam68rl telah menahan
seorang rcmaia dari Bani Laits atas sebuah pelanggaran di Madinah. Lalu ia

didatangi oleh nenek daitayahbocah itu. Dialah Ummu Sinan binti Khaitsamah

bin Harsyah al-Madzhaiiyyah. la berbicara tentang bocah yang ditahan dan

memintanya untuk mengampuni atau meringankannya dari hukuman peniara.

Namun Marwan bin al-Hakam bersikap keras, menghardik dan

mengusirnya. I(emudian Ummu Sinan berpikir untuk mendatangi pusat
pemerintahan di Damaskus dan menemui Muawiyah bin Abi Sufyan. Dialah
yang mungkin mampu mengenyahkan kezaliman. Maka ia bersiap-siap

mengendarai untanya menuju Damaskus, sementara dalam dirinya berkecamuk
sikap benci pada Ibnu al-Hakam akibat perlakuannya.

Ketika tiba di Damaskus, ia langsung menemui Muawiyah yang segera
mempersilak^nny^. Setelah duduk, Muawiyah berkata, "Selamat datang wahai
Bintu Khaitsamah. Apa yang meniadikanmu datang menginjakkan kaki di tanah
kami. Padahal dulu engkau sangat membenci kaumku dan mengajak musuhku

menyerangku?"

Ia meniawab, "rWahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Bani Abdi Manaf
mempunyai akhlak suci. Nama-nama tokoh yang mencuat dan kebiiaksanaan
yang melimpah. Mereka tidak bodoh setelah adanya ilmu. Mereka tidak idiot
setelah bif aksana. Mereka juga tidak menuntut setelah maaf. Orangyang paling
utama mengikuti tradisi nenek- moya ngrly adalah engkau."

^

Muawiyah berkata, "Engkau benar wahai Ummu Sinan. Kami iuga

demikian."

cr Maryan bin al-Hakam bin Abi al-Ash al-Quras1,i al-Umawi adalah seomng raia sekaligus ayah dari seorang raja. Ia lahir
di Nlakkah pada tahun 2 Il, dan padanya Bani }Iaruan dinisbahkan. Ia diangkat oleh Utsman meniadi pembantu

sekaligus sekretarisnya. Ia ikut dalm PermgJamal dan PerangShiffin bersma Muawiyab. I:Iu Alimemberikan jaminan
keamanan padau'a maka ia pun datang dan berbai'at. Ia tinggal di Madinah hingga Nluawiyah meniadi khalifah lalu
diangkat sebagai gubernur di sana. Pada tahun 64 H, ia sendiri meniadi Khalifah menggantikan Muawiyah bin Yazid.
laadalahraiaperamadariBanial-HakambinAbial-Ash. Iawafatpadatahun65H (-fuarAhuan-Nrhab',lll/476-
41 9 dat aLAh u,Yll / 207).

101 l(.,isat'r[abi'i.r 655

Kemudian kebekuan merasuk sebentar hingga Muawiyah memotong
pertanyaan kepada Ummu Sinan, mengingatk^nny^ pada syairnya dan
kritikannya padanya. Muawiyah berkata, "Bagarmana pernyataanmu:

Orang-orang pulas tertidur, sementara mataku tidak rnau terpejam
M alarn rne mancarkan kesedihnn,
Wahai keluarga Mo.dzhaj, tiada tempat bagi kali.on, mako bersiagalah
Musuh keluarga Muhamtnad dotang,
Inilah Ali lakrnsa bulan sabit yang terkepung di belantara langit
Dari bintong -gemintang yang bercahaya,
Masih ado sejak berperang dengan nxenang,
Dan hemznangan di atas bende ranya, takhan hilang.

Ummu Sinan tertegun mendengarkan syairnya sendiri yang saat itu
dilantunkan oleh Muawiyah. Setelah selesai, Ummu Sinan berkata, "Itu dulu
wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya kami dulu iuga berharap engkau

meniadi penggantinya setelahnya. Orang sepertimu sangat layak dengan amafl h
itu."

Sebelum Muawiyah mengeluarkan sepatah kata, salah satu peiabatnya
dalam forum itu berkata, "Bagaimana ini wahai Amirul Mukminin! Saya hapal
betul syairnya berbeda dengan apa y^ng dia katakan sekarang. Dialah orang
yang mengatakan:

Ataukah engh,au binasa wahaiAbu al-Husain
Maka tetap senantiasa diketahui Pemberi petunjuk dan orang yang diberi
petunjuk dcngan benar
Maka pergilah dorimu penyembahan kepada Tuhanmu,
Tidak tersisa lagi kbauan burung di atas dahan
Dan hari ini, ti-dok ada lagi pengganti dirimu diharapkan sesud.ahmu
Teramot jauh, kami memuji manusia sesudahmu.

Seketika itu, binar-binar ketegaran dan keiujuran tergambar di wajah Ummu
Sinan. Ia menyindir teman-teman dekat Muawiyah, "\Wahai Amirul Mukminin!
Lidah telah berucap,kata telah jujur dan seandainya telah terwuiud angan-
angan kami padamu maka sesungguhnya bagianmu sangat banyak. Sungguh,

demi Allah, Dia tidak memberikan kebencian pada hati kaum muslirrdn
kecuali mereka ini," ujarnya sambil menunbiuk beberapa teman-teman dekat

Muawiyah.

Ia melanjutkan, "Bungkamlah perkataan mereka. Jauhkanlah mereka dari

kedudukannya sekarang. Apabila engkau laksanakan itu maka semakin

bertambah kedekatanmu pada Allah dan kecintaaan dari kaum muslimin."

Muawiyah terkagum dengan pernyataannya. "Sungguh engkau
mengatakannya ini wahai Ummu Sinan?"

656 101 ,KisahTabi'in

Ia meniawab, "Mahasuci Allah. Wahai Amirul Mukminin! Sungguh orang
sepertimu tidak dipuii dengan kebatilan dan tidak dimintakan ampun dengan
kebohongan. Engkau tahu ini dari pandapat dan perasaan hati kami. Sungguh

dahulu Ali sangat kami cintai melebihi dirimu s at i^ masih hidup. Engkau

menjadi orang yang palng kami cintai selain dirinya, sebab engkau masih ada."
Muawiyah bertanya, "Dan dari siapakah saya menjadi lebih dicintai selama

saya masih hidup?"

Ia menjawab, "Wahai Amirul Mukminin! Engkau orang yang paling kami
cintai dari Marwan bin al-Hakam dan Said bin al-Ash."

Muawiyah berkata, "Dengan s^ya berhak mendapatkan cinta atas
^pa

keduanya?"

Ia meniawab, "Dengan kebaikan sifat bijakmu dan kemuliaan maafmu."

Muawiyah berkata, "Keduanya sangat mengharap itu padaku."

Ummu Sinan berkata, 'Ya, keduanya punya pendapag sebagaimana engkau
dengan Utsman bin Affan ra." Maksudnya, Marwan dan Said berharap meniadi
khalifah setelah Muawiyah, sebagaimana Muawiyah pernah mengharapk anny a
pada Utsman bin Affan.

Muawiyah berkata, "Engkau telah menjadi dekat (dengan kami)."

Dialog berakhir di sini. Muawiyah tak lagi bertanya kepada Ummu Sinan
tentang sesuatu aPaPun.

Suasana diam menyelimuti forum Muawiyah. Ummu Sinan iuga terdiam
setelah ia berbicara dengan mendudukkan Muawiyah sesuai kapasitasn),a dan
"meletakkan titik tepat pada hurufnya". Muawiyah ridha seluas-luasnya atzs
semua perkataan Ummu Sinan. Tapi di balik kedatangan Ummu Sinan ada
masalah yang belum sempat mengemuka. Muawiyah bertanya kepadanya,'Apa
kepeduanmu sekarang, wahai Ummu Sinan?"

Ummu Sinan berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya

gubernurmu Marwan bin al-Hakam tinggal di Madinah. Engkau menempatkan
orang yang tidak ingin bagian di sana. Ia tidak memerintah dengan adil, tidak
memutuskan perkara sesuai dengan sunnah. Ia mencari-cari kesalahan kaum
muslimin. Ia memeniarakan cucuku. Saya datang kepadanya namun ia berkata
begrni dan begitu. Saya tidak tinggal diam dan menamparnya dengan kata-
kata yang lebih keras dari batu, dengan sesuatu yang lebih pahit dari tuba.
Namun, saya pulang dengan terhina. Saya berkata dalam hati, 'Mengap^ say^
tidak pergi ke orang yang lebih mungkin memberikan maaf dari dirinya.'Maka

1oI "Kisah'fabi'in 657

sekaraflg saya datang kepadamu agar engkau melihat masalahku dan bisa
membantu."

Muawiyah berkata, "Engkau benar, wahai Ummu Sinan. Saya tak akan
bertanya tentang kesalahan cucumu dan udak memintamu untuk memberikan
argumentasi dan pembelaan terhadapnya."

Kemudian Muawiyah memerintahkan pada sekretarisnya, "Tuliskanlah
untuk Ummu Sinan dengan pembebasan cucunya daripenian."

IJmmu Sinan berterima kasih kepada Muawiyah atas kebaikannya, "'Wahai
Amirul Mukminin! Bagaimana saya dapat pulang kembali ke Madinah sementara
bekalku telah habis dan kendaraanku telah capek?"

Seketika itu, Muawiyah memberikan kendaraanr,ya yang gagah dan
membekalinya sebanyak 5.000 dirham. Ia dipulangkan ke Madinah al-

Munawwarah dengan kebutuhan yang telah terpenuhi. Lisannya terus-menerus
mendoakan Muawiyah.682l

Inilah Ummu Sinan al-Madzhaliyyah, salah seorang wanita pada masa

tabi'in. Di antara wanita yang tefi^tah iiwanya pada kesucian dan keterus-
terangan. Ia diberikan kelebihan dalam seni tutur-kata dan hikmah yang

menjadikannya dalam daftar cemedang dengan kisah keabadian.
SemogaAllah merahmati Ummu Sinan binti I(haitsamah. Ia adalah teladan

yang baik bagi wanita dalam keiujuran dan komitmen.

G:,G2

t82 Tai kh D i u a.yq hlm. 531 -532 dan .l1a i ra t a l-Ara It, hlm. 17 6 - 17 7

658 101 "Kisahfiabi'in

92

-e€t&e-

Ummu al-Banin binti Abdul Aziz

Istri dan Saudara Khalifah

oUrnmu al-Banin putri Abdul Aziz bin Marwan. Ibnu Abi Ablah
mer iw ay atkan hadits darinya.'

Abu Zur'ah
EORANGwanita dalam puncak keluhuran dan penghormatan dengan pilar-

S pilar kemuliaan terangkat di antara kelu arga dan kerabatnya dari para khalifah

dan pembesar khilafah. laadalah Ummu al-Banin binti Abdul AzizbinMarwan
al-Umawilyah al-QurasyiyS,ah, saudara perempuan Umar bin Abdul Aziz, juga
istri dari al-Walid bin Abdul Malik, sepupunya sendiri. Dari pernikahannya itu,
ia melahirkan anak-anaknya : Abdul Aziz, Muhamm ad dan Ais yah. 6831

Para seiaraw^n y^rrg menulis biografi Ummu al-Banin binti Abdul Aziz

sepakat bahwa ia termasuk salah seorang wanita terbaik di masanya. Ia termasuk

wanita yang menghabiskan waktunya untuk mengkaii ilmu dan fiqh dan

bedbadah kepada Allah. Ia berguru pada para ulama besar dan tokoh tabi'in.

Abu Zur'ah menys[ulli2nnya dalam Thabaqat-nya, tentang wanita yang
mengajarkan hadits di wilayah Syam. Ia bekata, "IJmmu al-Banin putri Abdul
AzizbirMarwan. Ibnu Abi Ablah meriwayatkan hadits darinya."68al

Dalam al-Ikrual,Abu Nasht bin Makula menyebutkannya termasuk orang
yang mengaiarkan hadits dan meriwayatkannya. Ia berkata "IJmmu al-Banin
binti Abdul AzizbinMarwan adalah saudara perempuan Umar bin Abdvl Aziz,
darinyalbrahim bin Abi Ablah meriwayatkan hadits."

6l Nasabptroiyhlm.165 dan [ankh Dirayqhlm 480
Ibrahim bin Abi Ablah. Nama lengkapnya adalah Abu Ablah adalah Syimr bin Yaqzhan asy-Syami vang bergelar Abu
Ismail. Ia adalah seorang tabi'in. Ia meriwavatkm hadits dari sejumlah shahabat dan tabi'in. Ia seorxgyzagtsiqah,iuiur,
fasih dan mulia. Ia mempunl,ai khazanah sastra dan pengetahuan 1,ang luas. Ibnu al-ivladrni mengatakan, "Ia salah
seoranghiqab." ll>nu Ma'in, Ya'gub bin Sufl'an dan Imam an-Nasai menilainl,a sebagai seorangyanghiqah.lmam ad-
Daruquthni,ImamBukharidanlainyalugamemulipnbadrnla. lawafatpadatahunl52Il ('tahlTjbat-'Iahd1jh,l/142-
1 43 d,zn Taqi b a t-Ta h dry lt, | / 39).

101 Xisah'labi'in 659

Ummu al-Banin mempunyai perhatian besar dalam kajian
^gama.

Sebagaimana ia termasuk salah seorang wanita yang identik dengan ibadah di
awal Islam, sering sekali ia menjalankan shalat dan larut dalam bermunafat
kepada Allah, hingga terkadang nyaris melupakan seketlingnya. Diceritakan,ia
pernah mengirim pesan kepada wanita-wanita dalam keluarganya, sehingga
mereka berkumpul dan berbicara dengannya. Kemudian ia menuju tempat
shalatnya hingga ia berdiri lama menghadap Allah. Sesudah shalat yang lama
itu ia kembali kepada merekaserayaberkata, "Saya senang dengan pembicaraan
kalian, akan tetapi apabila saya berdiri dalam shalatku maka saya larut dan lupa
dengan kalian."

la adalah wanita yang terus-menerus berdzikir kepada Allah,

menyambungkan hati dengan al-Qur'an-Nya, terbiasa dengan al-Qur'an setiap
pagi dan sore, sehingga hampir ia tidak terlihat kecuali sedang membaca al-
Qur'an dengan tertunduk kepada DzatYangMaha Pengasih.

Suaminya adalah al-Walid bin Abdul Malik-pendiriJami'Bani Umayyah.
Ia menyelesaikan bacaan al-Qur'an (30 iuz) setiap tiga hari sekali. Dalam bulan
Ramadhan, ia mengkhatamkan al-Qur'an sebanyak 17 kali.68fl Sedangkan istrinya
Ummu al-Banin bersaing dengannya dalam kebaikan dan keutamaanini.

Dalam hal sifat takutnya kepada Allah adalah sesuatu yang lain, berbeda
dengan kebanyakan wanita. Setiap disebut Asma Allah ia merasakan takut
kepada Allah dan sifat kagungan-Nya dalam hatinya. Ia berpendapat dengan

cahaya mata hatinya bahwa orang-orang yang berbahagla adalah mereka yang
selalu takut kepada Allah. "Orang yang berhias tidaklah mereka berhias dengan

sesuatu yang lebih baik daripada besarnya rasa takut kepada Allah di dada

mereka."

Ia selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah dengan semua yang

meniadikan Allah ridha serta mendekatkan dirinya dengan Allah. Di antan

contoh kehidupanny^ yang cemerlang adalah seperti diutarakan oleh Imam

Ibnu al-Jauzi bahwa pada setiap hariJum'at ia memerdekakan satu budak dan

ikut serta dalam pasukan perang di ialan Allah.

Wanita tabi'in ini sampai pada kedudukan dan tempatnya yang tinggr dalam

hal wara' dan rasa takut kepada Allah. Ia selalu menjaga semua masalahnya

dengan teliti dan cerdas. Ia hampir tidak menanggapi aset dan kekayaan yang

datang kepadanya kecuali atas dasar aturan ^garn^,dan menolak semua hadiah

6' SiarAhn an-Nthala',lY /347

660 lot "Kisah'labi'in

yang datang dari sumber yang tidak dibenarkan agama. Dalam l<ttab Tarikh al-

(Jruam wa al-MaluA, Imam ath-Thabari menuturkan suatu kisah yang

menunf ukkan kekuatan siFat waralnya.

Saat al-Walid bin Abdul Malik menunaikan haii, ikut serta Muhammad
bin Yusuf dari Yaman dalam haji. Ia membawakan banyak hadiah untuk al-
Walid. Maka Ummu al-Banin berkata kepada al suaminya, "!7ahai Amirul
Mukminin!Jadikan hadiah Muhammad bin Yusuf untukku." Maka al-Walid
memerintahkan untuk memberikan hadiah itu kepadanya. Lalu utusan Ummu
al-Banin datangkepada Muhammad bin Yusuf untuk menyampaikan pesannya
itu. Namun Muhammad bin yusuf menolak seraya berkata, "Tunggu pendapat
Amirul Mukminin supaya ia memberikan pendapatnya!' Sementara hadiah

yangada sangat banyak jumlahnya.

Ummu al-Banin berkata, "Wahai Amirul Mukminin, engkau tadi telah
meminta hadiah dari Muhammad bin Yusuf agar diserahkan kepadaku. Dan

sekarang saya tidak lagi memedukannya."

Ia bertanya, "Mengapa demikian?"

Ummu al-Banin meniawab, "Menurutberita yang sampai pada kami, bahwa
ia merampasnya dari masyarakat, memaksa mereka membuatny,a dan bersikap
zalim kepada mereka." Tak lama kemudian, Muhammad bin Yusuf membawa
hadiah-hadiah itu kepada al-Walid.

Al-Walid berkata kepadanya, "Berita yang sampai padaku bahwa engkau
mendapatkannya dengan cara merampas."

Ia menjawab, "Semoga Allah memberikan perlindungan kepadaku dari
perbuatan itu!"

Al-WaIid memerintahkan agar ia bersumpah di antara Rukun Yamani
(b"gm di depan I(a'bah) dan Maqam Ibrahim sebanyak 50 kah sumpah: Demi

Allah, bahwa ia tidak merampas hak orang pada sesuatu dalam hadiah-hadiah
itu dan iuga tidak berbuat zalim kepada siapapun dan hanya mendapatkannya
dari yang terbaik. Selaniutnya ia melakukan sumpah. Maka al-Walid menerimanya
dan menyerahkannya kepada Ummu al-Banin.686l

Dikatakan kepada Ummu al-Banin, "Hal terbaik apakah yang pernah

engkau lihat?"

Ia menjawab, "Nikmat-nikmat Allah yang datang kepadaku."687l

t& Tarikb atb-Thabari,l'll /30 I/ 119
6' Bobjot al-Ma1ahs, al-Qurthubi,

101 .Kisah{abi'in 661

Termasuk hal yang membahagiakan iiwa dalam kisah hidup Ummu al-
Barun adalah kemurahan hati yang tertatah padanya. Bersama dengan sifat murah
hau dan derma ini ia mempunyai banyak cerita menarik yang menuniukkan
keluhuran pribadinya, kebaikan wataknya, kesempurnaan adabnya, dan
pengakuannya akan nikmat-nikmat Allah serta rasa syrkur-nya kepada Allah
atas pemberian nikmat.

Sifat murah hati itu ia warisi dai ayahnya Abdul Aztzbin Marwan, yang
sangat dermawan, semasa hidupnya ia sangat mencela sifat kikir. Di antara

pernyataannya berkaitan dengan masalah ini adalah, "Seandainya yang masuk

dalam diri orang-orang kikir dalam sifat kikirnya itu hanyalah buruknya
persangkaan mereka kepada Allah maka hal itu adalah sesuatu yang sangat

besar (dosanya)."

Ummu al-Banin mendapat tempat di hati masyarakat dengan kasih sayang
yang besar sebab kesan baik, kemuliaan perbuaannya dan kebajikannya terhadap
mereka. Ia menganggap bahwa infak dan sikap dermawan iusuu menjadi faktor
penambah rezeli.

Diantarabentuk kedermawanan lJmmu al-Banin, ia mengundang banyak
wanita ke rumahnya. Ia memberikan pakaian yang baik kepada mereka dan
sejumlah dinar, seraya berkata, "Pakitan itu untuk kalian. Sedangkan uang-
uang dinar ini bagikanlah di antara orang-orang fakir kaiian." Perbuatan seperti

ini ia maksudkan untuk mengajarkan dan membiasakan mereka bersifat

dermawan.

Ummu al-Banin pun yabanyaksekali kata-kata biiak tentang kedemawanan

dan kemurahan hati. Di antaruungkapan terbaik yang ia kemukakan dalam hal

ini adalah seperti penuturan Ibrahim bin Abi Ablah: "Saya mendengar Ummu
al-Banin saudara perempuan Umar bin Abdul Aziz berkata, 'Enyahkan sifat

kikir. Sungguh seandainya ia pakuan, saya tak akan mengenakannya. Dan

seandainya iaialan maka saya tak akan melaluinya."688l

Ia iuga mengatakan, "Seburuk-buruk sifat kikir adalah orang yang kikir

pada dirinya sendiri terhadap surga."68el

Ia menganggap bahwa kedermawanan mengantarkan orang ke surga
bersama dengan baiknya perbuatan. Tampaknya lJmmu al-Banin suka
menyerahkan harta dan berinfak di jalan-jalan yang sesuai syariat agar ia
merasakan nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Diibaratkan, uang dirham

tAB Taikb Dirnslq,hlm. 487 dan Balyat al-Majaks, r/627
6e Al-Mabasin uo al-Mataui',lmamBaihaqi, hlm. '186

662 lot J{isahTabi'in

dan dinar tidak tahu jalan masuk rumahnya, kecuali dengan cepat ia

menginfakkannya. Alangkah baiknya ungkapan seorang penyair yang seakan-
akan bertutur tentang dirinya:

Sungguh aku seorang
Dengan keping uang yang tidok menetop ditelapak tanganhu
Kecuali h.anyalah jembatan untuk berlalu.

Ungkapannya yang lain tentzng sifat derma, "Dititahkan pada setiap kaum
kesukaan pada sesuatu, dan saya diutahkan kesukaanku pada sifat memberi
dan dermawan. Sungguh, demi Allah, hubungan baik dan sikap empati lebih
aku senangi daripada makanan dan parfum di atas kelaparan dan dari minuman
dingin yang menyegarkan kehausan."6e0l

Begitu besarnya perhatian Ummu al-Banin pada infak dan meletakkan
harta pada tempatnya, ia berkata, "Saya tidak dengki kepada siapapun atas
sesuatu kecuali ia mempunyai kebaikan. Sebab saya sangat ingin bersama
dengannya dalam kebaikan itu."

Termasuk kata-katayang baik darinya adalah, 'Apakah kebaikan itu tidak
lain diperoleh dengan melaksanakannya?"

Di antara contah perbuatan baiknya, dikisahkan ats-Tsurayya binti Ali bin
Abdullah6ell setelah kematian suaminya, Suhail-menurut cerita lainnya:
menceraikannva-pergl menuiu rumah al-\X/alid bin Abdul Malik yang saat itu
menlabat gubernur Damaskus untuk membayar utangnya. Saat ia berada di
rumah Ummu al-Banin binti Abdul Aziz, luba-t:ba masuklah al-Walid. Lalu ia

bertanya, "Siapakah wanita yang ada bersamamu?" IJmmu al-Banin menjawab,

"Ats-Tsurayya binti AIi datang kepadaku. Saya mohon kepadamu untuk

membayarkan utangnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhanoya." Maka ia
pun pulang dengan berterima kasih kepada Ummu al-Banin dan suaminya al-

\Walid.6e2l

Ummu al-Banin dikenal sebagai wanita yang banyak iden, khazanah sastra
yangmelimpah serta sifatdanwatakyangterpuji. I{arenanl,a, pamanflya I(halifah
Abdul Malikbin Marwnn sangatmenghargai, menghormati dan selalu memenuhi
segala kebutuhannya. Sebab iaadalah keponakan dan menantunya.

llxt6'\' al-Jauzi, lY / 247
adalah ats-Tsurayya
6e'
5' h i/Z t a sb - -f b aJt a h, binti Ali. Suaminya bernama Suhail bin r\bdurrahman bin Auf az-Zuhri.

Ats-Tsura11'a di sini

ltntmg ats-Tsuralr'a dan suaminya, Urnar bin Abi Rabiah mengkiaskannva sebagai dua bintang:

\{hhai lelaki suami ats-Tsura11,a, tqnggulah scbentar

Bagaimana kalian bertemu

Ia adalah tanila S1art, vdangkan Sfiail orangYanrun.
@'z 7,ahr a l-Ada b, al-Hushari, I/258

1O1 &.isahTabi'irt 663

Ummu al-Banin adalah penyebab selamatnya Ubaidillah bin Qays ar-
Ruqayyat6e3l dari kekerasan Abdul Malik. Disebutkan, Ubaidillah bin Qays ar-
Ruqayyat selalu bersama Mush'ab bin Zubah dengan syair-syair puiiannya.

I(etika Mush'ab terbunuh, khalifah pun mengejarnya. Maka Ubaidillah meminta

perlindungan kepada Abdullah binJa'far ath-Thayyar.6ealAbdullah binJa'far

memberitahukan kepadanya tentang masalah seben arnya, " Sayatidak mendapati
mereka sedang mencarimu dan ingin menangkapmu. Tapi saya ingin menulis
surat kepada Ummu al-Banin binti Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Malik sangat
lembut kepadanya."

Abdullah bin Ja'far menulis surat kepada lJmmu al-Banin, memintanya
untuk meniadi mediator untuk Ubaidillah bin Qays ar-Ruqayyatdanpamannya
Abdul Malikbin Marwan.

Tatkala surat itu sampai padanya, Ummu al-Banin masuk menemui

pamannya dengan memberi salam. Seperti biasa Abdul Malik selalu menanyakan
kepadanya apakah ada suatu kepeduan?

Ummu al-Banin meniawab, "Ya, wahai pamanku! Saya punya suatu

kepeduan."

Abd ul Malik b erka ta, " S aya penuhi s emua keinginanmu, kecuali berkaitan
dengan Ibnu al-Qays ar-Ruqayyat!"

Ummu al-Banin berkata, "Janganmemberi pengecualian kepadaku, wahai
Amirul Mukminin."

Ia mengelus wajah Ummu al-Banin yang keiihatan sedih. Lalu Ummu al-
Banin meletakkan tarrganrtya ke pipinya, tersentuh dengan masalah yang
dihadapi, sembari menundukkan kepalanya.

Kemudian Abdul Mdik berkata kepadanya, 'Angkadah tanganmu wahai
Ummu al-Banin. Saya akan penuhi keinginanmu, meski dengan (pembebasan)
Ibnu Qays ar-Ruqayyat."

Maka Ummu al-Banin melepaskan tangannya pada pipinya dan berkata,
"Keperluanku adalah engkau memberikan perlindungan kepadanya, wahai

6e3 Ubaidillah bin Qays ar-Ruqa11,at adalah seorang penlair Quraisy pada masa Bani Uma11ah. Ia tinggal di Madinah dan
singgah di ar-Ruqqah. Ia pergi bersama Mush'ab bin az-Zubair menemui Abdul
Malik bin Maruan. hlu ia pulang ke

Kufah setelah terbunuhnla kedua anakaz-Zuabur @fush'ab dan Abdullah) hingga menetap di sana selama setahun.
Ia pergi ke Sym dan meminta lrerlindungan pada AMullah binJa'far dm Abu Thalib. Ia lalu bertanla pada AMul Malik
tentang persoalann),a. Ia pun menberikan iaminan keamanan padanya dan tinggal di sana tungga wfat pada tahun 85
H. Ia bany,ak menulis s1'air tentang wanita dan kenangan baik atas onng 1'ang sudah meninggal, selain syair pujian dan

kebanggaan.

6ea Abdullah bnJa'far bin Abu Thalib al-Haslim al-Qunsyi addah putrr seomng shahabat. la lahir di tanah Habaslah ftini
bernama Ethiopia) ketika kedua orangtuanya berhiirah ke sana. Dialah bal,i pertama yang lahir di sana dari kaum

muslimin. la seorang yang dermawan dan diiuluki sebagai "Samudera Kemurahan". Banyak penyair yang

menlaniungnl,a. la salah satu komandan dalam perang Shiffin. Ia wafat di Madinah pada tahun 80 H.

664 to1 Xisahc[abi'in

Amirul Mukminin. Ia telah menulis surat kepadaku memintaku untuk memohon
kepadamu berkaitan dengan hal ini."

Ia menjawab,"Dia aman sekarang."

Ubaidillah bin Qays ar-Ruqa11,at memperoleh iaminan keamanan dari
Abdul Malik. Ia berterima-kasih kepada Ummu al-Banin atas mediasinya. Ia
telah menyelamatkannya dari hukuman. la juga memuii Abdul Mal-ik dalam

bait-bait syair yang sangat terkenal.6esl

Dalam kehidupan wanita ini terdapat beberapa sisi kehidupan yang

cemerlang yang menjadikannya naik ke deraiat pertama dari kalangan wanita
dalam kenangan yang baik. Di samping krsah yang telah kita simak, ia seorang
wanita yang mempunyai unggul dalam tutur-kata, memberikan argumentasi
yang kuat kepada lawan bicaranya.

Di atas itu semua, ia diberikan hati yang tegar dan tekad yang kuat. Ia
berhasil "menaklukkan" al-Hailiaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dalam sebuah adu

argumentasi dan retorika.

Suatu hari, al-Haliai bin Yusuf ats-Tsaqafi datang kepada al-Wahd bin
Abdul Malik. Al-Walid mempersilakannya masuk dan ia-pun masuk. Ia
mengenakan sorban kepala berwarna hitam dengan gendewa dan sarung anak
panah. Maka Ummu al-Banin mengirimkan utusan kepada al-rValid untuk
menanyakan siapa gerangan orang Badui yang berseniata di hadapannya,
padahal suaminya paling kuat dan betkuasa saat itu.

Al-Walid menjawab pesan tersebut bahwa ia adalah al-Haliai bin Yusuf

ats-Tsaqafi.

Seketika ia tersentak kaget dan mulai muncul ketakutan dalam dirinya. Ia
berkata, "Sungguh, demi Allah, seandainya duduk menyendiri bersama malaikat
maut itu lebih saya senangi daripada duduk bersama al-Haliaj bin Yusuf ats-

Tsaqafi. Sebab ia telah sering membunuh banyak orang-orang ta tsecaraza,hm

dan penuh permusuhan."

Al-Haiiai mengerti pendapat Ummu al-Banin, makaia berkata kepada al-
Wa[d, "lWahai Amirul Mukmrnin. Tinggalkanlah celotehan wanita dengan silat
Iidah kata-k^t^fly^. Sesungguhnya wanita adalah bunga surga, bukan pemaksa.
Jangan engkau menoleh ke arah mereka dalam menyelesaikan urusanmu. Jangan
engkau inginkan mereka dalam rahasiamu. Jangan manfaatkan mereka lebih
dari fungsi hiasan mereka. Jauhilah bermusyawarah dengan mereka. Sebab

6et Al-Farh Baida ag.-f)i&lab,at-Tatnuklt, lY / 282-285

lOl.Xisah'labi'in 665

pendapatnya mengarah kepada kebinasaan. Keputusannya mengarah kepada
kelemahan. Satu dari mereka ianganmemiliki masalah yang melebihi kepentingan
mereka. Jangan biarkan ia memberikan mediasi pembelaan atas sesorang di
hadapanmu. Dan iangan bedama-lama duduk bersama mereka sebab hal itu
semua lebih menampilkan banyaknya akal pikiranmu dan lebih menunjukkan
keutamaanmu."

I(emudian al-Hajjai bangkit serta keluat dari forum al-lWalid.

Al-Walid datang menemui Ummu al-Banin, memberitahukan perkataan
dan ide yang disampaikan al-Hajiai kepada dirinya. Maka Ummu al-Banin
berkata, 'lW'ahai Amirul Mukminin, saya lebih senang engkau memerintahkannya
untuk memberikan salam kepadaku besok p^gl."

Al-Walid berkata, "Saya pasti akan lakukan."

Keesokan hainya al-Haliaj menemui al-Walid dan berkata, "Temuilah

Ummu al-Banin lalu berikan salam kepadanya!"

Ia menjawab, "Bebaskan saya dari masalah ini, wahai Amirul Mukminin."

Al-Walid berkata, "Engkau sungguh pasti melaksanakannya dan harus!"

ltl-Haliai tidak punya pilihan. Ia mengerti pendapat Ummu al-Banin
tentang dirinya dan tentang Muhammad bin Yusuf sebelumnya. Pertemuan

dengannya bukan berita yang menggembirakan. Tapi ia tidak punya alasan lagi.
Tak ada ialan keluar dari situasi sulit ini.

Ia berlalu dan pergi menuju tempat Ummu al-Banin. Lamaia dibiarkan.
Kemudian ia diizinkan masuk. Lag-lagUmmu al-Banin membiarkannya berdiri
dan tidak mempersilakannya duduk. Kemudian Ummu al-Banin berkata,
"Engkaulah pengikat terhadap Amirul Mukminin dengan membunuh Ibnu az-
Zubafu dan Ibnu al-Asy'ats?"

I(emudian Ummu al-Banin menuturkan cerita pembunuhan Abdullah bin
az-Zuabir kepadanya dan menghitung keielekannya. Tak lupa, ia membantah
pernyataannya sehari sebelumnya tentang wanita di hadapan suaminya al-\flalid,
serta menyebutkan keburukan pandangan dan akhlaknya. "Semoga Allah
membinasakan oralg yang berkata, sementara ujung pedang Ghazalah al-
Haruriyyah di hadapannya.6e6l

6e6 Ghazalah al-Hruri11'ah adalah istri Syabib dan Yazid asy-Syaibmi, seormg panglim dan pahlawm kaum Khawarii. Ia
lahir di Mosu.l dan termasuk wmita terkenal dalam haI kebemnim dm kepahlawanm. Ia termasuk panglima permg
termas;'hur dan ditakuti. Ia pernah keluar betsama suaminya menghadap Khalifah Abdul Malik bin Maryan tahm 87
H, pada masa kepemimpinm al-Hajjal di Irak.

666 101 "KisahTabi'in

Harimau podaku, namun mcnjadi ternak di peperangan
Kabur menyapu debu dari kicauan burung hecil.
Mari, enghau temui Ghazalah di medan perang
Atoukah nyalimu terbawa hedua sayap burung yang terbong,
Ghazalah meluluhkan h.atinya dengan pasukan, ia tinggalhan lawannya
pergi berlalu.

Kemudian ia memerintahkan pelayan wanitanya untuk mengusirnya keluar
dalam keadaan terhina, tercela dan nista. Tatkala al-Haijai datang menemui al-
!tralid, ia bertanya,'Apa yang teriadi padamu, wahai Abu Muhammad?"

Ia menjawab, "Sungguh demi Allah, wahai Amirul Mukminin. Ia tidak

diam, hingga seisi perut bumi lebih suka kepadaku daripada hamparannya."
Lalu al-Walid tertawa seraya berkata, "Wahai Haijaj,iaadalah putri Abdul

Malik bin Marwan!"6e71
Ummu al-Banin binti Abdul Aziz adalah salah satu wanita mulia di masa

tabi'in yang mempunyai keutamaan dan akal-pikiran yang cemerlang. Semoga
Allah merahmati Ummu al-Banin yang telah membangun singgasana kemuliaan.
Semoga Allah mengampuninya, melimpahkan pahala-Nya dan memasukkannya
dengan kemurahan dan ampunan-Nya ke dalam surga. Amin.

G,^2

Kebemian dan kebesum n1,alin1a mengmtarkanny,a unnrk besumpah bahwia akan shdat dua nkat di masjid Kufah.
Pada rakat pertama membaca surat al-Baqarah dan rakaat kedua membaca surah Ali Imran. Ketika itu aI-IIajjaj masih
berkuasa. Ghazalah benar-benar memenuhi sumpahnya. Ia memasuki masjid Kufah bersma suaminya, dan dengan

tenang melaksanakan shalat dua rakaat di tengah hari. Saat al-Halia; diberi-tahu tentang hal ini, ia bergidik ketakutan.
Ghzalah telah mengalahkm pasukannya hingga seluruh Irak menyebut namanya.
Ghazalah meninggal akibat tipu daya dalam sebuah peperangan di Kufah antan suaminya dan al-Hajjal bin Yusuf Ia
dibunuh oleh Khahd bin'Itab ar-Riyahi pada tahun 77 H.
Al-Akbbaral-Mnafftqiyyat,hlrn.476-479;lVafayt al-A1an,ll/4+45; Ulun al-Akhbar,l/169; al-'Iqd al-Fartul,Y /43;dan
Maruj adTDqabab,lll/167-'169. Imam adz-Dahabi pernah berkomentar tenung al-fIaiiai, "Ia mempunyai banyak

kebaikan yang melimpah di tengah dosa-dosanya. Semuanya terpulang pada Nlah," (SjarAktt an-Nubala'lY /343).
Imm Ibnu Haiar juga berkomentar tentangnya, "la seorang yang fasih dan ahl.i fiqh. Ia berkeyakinan bahw ketaatan
kepada khalifah adalah kewiibm asasibagimatmmusia aas setiap yang mereka lihat. Pendapamya ini bmyak ditmtang
olehVmdnta (TaMq-ib at-Tafulib,ll/210). Imm lbnu Katisr mengatakan, "Ia seomg ymg sanget menjaga semmgat

fihad dan banyak menaklukkan negeri. Ia juga memberikm perhatim besar pada al-Qur'an (al-Bidayh oa ar-NihEab,
tx/13e).
Kabamya, ia pemah menghadmg d-Hajiaj bin Yusuf ats-Tsaqa6 dalm sutu pepemngan. Al-Ilaiiaj pun mgu dm takug
lalu pergr melankan diri dan memasuki Kufah, sehingga ia dicela oleh Imran bin Haththan atas tindakannya itu.

101 "Kisah'tabi'in 667

93

[email protected]

Ummul Khair binti al-Huraisy

Pemilih Kata Indah yang Berani

Cahaya kenabian dan kemuliaan pada mereka,
Senantiasa menyala di kalangan tua dan muda.

Ummul Iftair binti al-Huraisy
ETELAH peristiwa Tahkim, disusul perianiian damai al-Hasan bin Ali

S dengan Muawiyah, banyak orang menaruh simpati pada Ahlul Bait fteluarga

besar Rasulullah Sballallaha Alaibi aa Sallam).
Karena dekatnya mereka dengan masa kenabian, mereka menempatkan

keluarga Nabt Shallallabu Alaihi wa .lallam di hati mereka dalam tempat yang
tertinggi dan paling suci. Bahkan, mereka meyakini kecintaan terhadap mereka

merupakan bagian dart agama dan keyakinan.

Dari kelompok mulia ini, datanglah seorang tabi'in wanita yang dikenal
dengan nama Ummu al-l(hair binti al-Huraisy bin Suraqah al-Bariqiyyah al-
Kufiyyah.6etl Ia pernah mendatangi Muawiyah dan berdialog, sehingga

menegaskan ketinggian seni bahasa dan intonasi mantap, kekuatan argumentasi
dan keberaniannyabersama kesempurnaan sastranya.

Ummu al-I(hair binti al-Huraisy terkenal sebagai negosiator ulung dari
wanita-wanitaorator di I{ufah. Ia memiliki idealisme politik yang terkenal bagi
pusat pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus. Ia mempunyai lisan yang
tidak ditandingi oleh taiamnya ujung pedang.

Ummu al-Khair adalah wanita yang mempunyai kedudukan yang tidak
diremehkan di tengah kaumnya. Ide-idenya dihormati para gubernur Kufah.
Mereka segan, sebab ia seorang wanita yang terkenal dengan komitmen dan
tidak ada basa-basi pada siapa pun. Ia juga terkenal dengan ketegasan yang

6e' Tai kb Dtua s1 q, blm 512; a l-'IEl al-Faid, ll / 1 1 5 dan Ah u a n-Nisa, 1 / 389

668 lot XisahTabi'itt


Click to View FlipBook Version
Previous Book
##Download Onirodinamica La vida como sueño (Spanish Edition)
Next Book
Menu Waroeng Kopi Alam