The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by reenmnor, 2021-01-19 11:27:23

101 Kisah Tabi'in

By : Hepi Andi Bastoni

Keywords: Kisah Tabi'in

kota kebanggaan di seluruh daratanEropa. Sebab, di sana terdapat gereiayang
sangat megah dan luas serta menyimpan kekayaan yang berharga.

I(aum muslim mengepung kota itu dengan hebat. Untuk menaklukan kota
itu mereka mengorbankan iiwa dan darah mereka. Tak lama kemudian, kota itu
jatuh ke tangan mereka.

Pada se puluh hari terakhir bulan Sya'ban tahun 140 Hiiriyah, Abdurrahman

al-Ghafiqi dan tentaranya bergerak ke kota Poitiers. Di kota itulah ia bertemu
dengan pasukan jalan kaki tentara Eropa yang dipimpin oleh l(arel Martel.
Peperangan hebat pun tak terhindarkan. Pertempuran ini dikenal dengan nama

Balathu asy-Syrhada.

Pada hari itu tentara Islam meraih kemenangal yang membanggakan.

Sayang, puflggung tentara Islam sarat dengan harta-harta rampasan yang terus

mengalir bagaikan air hujan. Di tangan mereka harta itu tettumpuk bagai

tumpukan awan tebal. Abdurrahman al-Ghafiqi memandang harta kekayaan

yang sangat banyak ini dengan penuh kegelisahan dan kekhawatian. Dia

khawatir kaum muslimin tedena dengan harta tersebut. Hatinya bimbang. Dia
tidak yakin bahwa hati tentaranya akan konsentrasi selama'pertempuran. Sebab
hati mereka telah dipenuhi dengan pikiran akartharta rampasan itu. Perhatian
mereka teqpecah pada usaha mengalahkan musuh dan bagaimanamenjagahana
rampasan yang telah berada dalam genggamannya.

Sebenarnya, al-Ghafiqi berniat memerintahkan tentaranya untuk
melepaskan harta rampasan yang sangat banyak dan melelahkan itu. Tapi ia

khawatir, keputusannya itu tidak mereka sukai. Ia tidak memperoleh jalan terbaik
kecuali memerintah kan u ntuk mengump ulkan harta-harta rampasan itu dalam
kemah-kemah khusus. Kemah itu didirikan di belakang kamp tentara sebelum
perang berkecamuk.

Selama beberapa hari bala tentara kedua belah pihak tidak bergerak.
Masing-masing saling memperhatikan dengan diam, saling mengintai dengan
tegang. Kedua kubu iru berdiri tegak bagaikan deretan gunung. Satu sama lain
siap menverang. Kedua belah pihak dengan cemas memperhatikan keberanian
musuhnya dan berhitung seribu kali sebelum mulai menyerung.

Setelah keadaan tegang itu berlangsung cukup lama, Abdurrahman al-
Ghafiqi membuka serangan malu dengan kudanya ke tengah-tengah barisan

Prancis bagaikan singa kelapa:o;nyangmengamuk. Bala tentara kaum muslimin
menyerang bagaikangunung terial yang tumbang. Pertempuran di hari pertama
berlalu, dimana kekuatan kedua belah pihak masih seimbang.

101 .KisahTabi'in 19

Hari-hari berikutnya, PertemPuran bedangsung makin seru. Kaum
muslimin menggempur tentara Prancis dengan ganas dan berani. Perang
bedangsung selama tuiuh hari dengan dahsyat dan seru. Pada hari kedelapan
kaum muslimin melancarkan serangan mendadak sehingga mereka dapat
menaklukan barisan tengah. lWaktu itu, kaum muslimin melihat cahaya
kemenangan seperti cahaya subuh yang nampak di kegelapan.

Namun waktu itulah, sekelompok pasukan Prancis menyerang gudang
penyimpanan harta rampasafl kaum muslimin. Ketika kaum muslimin melihat
hafi^ rump^sanflya hampir berada di tangan musuh, banyak dari mereka yang
kembali. Barisan kaum muslimin menjadi kalang-kabut dan kacau-balau.
Iranglima al-Ghafiqi memompa semangat pasukannya untuk terus menyerang
d,an menutup celah-celah yang dapat ditembus musuh.

Pelana kuda al-Ghafiqi yang tadinya benyarna putih kini menjadi hitam
karena banyaknya serangan yangialancarkan. Ketika sedang bertempur itulah,
sebatang anak panah menancap ke tubuhnya sehingga al-Ghafiqi jatuh dari
punggung kudanya, bagaikan iatuhnya burung rajawa\ dari puncak gunung,
diam tak bergerak, menjadi syahid di medan laga.

Melihat keiadian itu, ketakutan mulai merasuki iiwa pasukan muslim.
Kegelisahan menf alar dalam tubuh mereka. Mengetahui hal ini, tefltara musuh

berubah makin ganas dan bertambah keberanian.

Ketika hari Shubuh, pasukan Islam telah menarik diri dari Poitiers. Karel
Martel tidak berani mengejar teltarakaum muslimin yang mundur itu. Padahal,
seandainya ia terus melakukan pengejaran pasukan muslim terancam kalah.
Namun dia tidak melakukan hal itu, karena khawatir bahwa penarikan pasukan
itu merupakan jebakan untuk menyerang lagi.

Hali Balatbu ag-Sluhada menjadi hariyangsangat berharga dalam sejarah.

Hari itu kaum muslimin telah menghapus salah satu cita-cita luhur dan

kehilangan salah satu seorangpahlawan besar. Duka di hari perangUhud terulang
kembali. Pasukan Islam kalah karena lebih mementingkan harta rampasan.

Berita kekalahan itu mengecutkan hati kaum muslimin. Duka dan kesedihan

akibat kekalahan itu menjalar ke setiap kota, desa dan rumah. Luka akibat

keiadian itu masih menyakitkan, meneteskan sedih di hati kaum muslimh sampai
hari ini.

Bukan hanya kaum muslimin yang kecewa dengan kekalahan ini. Sebagian
cendekiawan Prancis pun turut merasakan duka. Sebab, mereka melihat bahwa

20 101 "Kisah"labi'in

kemenangan nenek-moyang mereka atas tentaramuslim di Poitiers merupakan
bencana yang menghancurkan kemanusiaan, mendatangkan kerugian besar bagi

Eropa dalam membangun cita-citanya. Berikut ini pernyataan Henry de

Syamboun, seorang cendekiawan Prancis, tentang pertempurart Ba/ath ath-
slubada

"l(alau tidak karena kemenangan I(arel Martel yang biadab atas orang
Islam Arab di Prancis, niscaya neg ra kita tidak mengalami kegelapan selama
delapan abad. Negara kita tak akan mengalami nasib buruk dan tidak banyak
menelan korban yang mendorong tumbuhnya rasa fanatik terhadap agama darr

alkan.
Kalau tidak karena kemenangan ganas itu atas kaum muslimin di Poitiers,

niscaya Spanyol sudah dapat menikmati toleransi Islam dan selamat dari
genggaman penguasa diktator. Perkembangan kebudayaan ftita) tidak terlambat
selama delapan abad, meski terdapat perbedaan perasaan dan pendapat di sekitar
kemenangan kita itu. Sebab kita memperoleh kebudayaardanperadaban yang
terpuji dari kaum muslimin, baik dari segi ilmu, kesenian maupun industri.
Sebenarnya, mereka mengaiak kita untuk mengakui bahwa mereka itu
mempunyai kemanusiaan yang sempurna saat mana kita memiliki sifat-sifat
biadab. Mereka membuat kita untuk mengakui pada hari ini bahwa masa lalu
kita telah berulang kembali. Sedangkan kaum muslimin telah sampai pada masa
ini, sementara kita masih berada pada Abad Pertengahan."3al

G9

I DisarikandariSbruwninHEabat-Tabi'inkarngtnAbdurahmanRa'fatBasya389-420dcnganpcnyesuaianbahasa

scpcrlunya.

101 "Kisah%abi'in 21

-#€t4&G-

Abu Abdurrahman as-Sulami

Pembaca Terbaih Warga Kufah

"Dia mengajarkan al-Qur'an dan menasihati kami: Janganlah

halian duduk bersama dengan orang-orang pendongeng."

-Ashim bin Bahdalah-

A BU Abdurrahman as-Sulami adalah salah satu murid cemerlang Utsman
L \Ui., Aff, n.Parusejarawan meniulukinya sebagai seorang pembaca terbaik

di Kufah. Ayahnya adalah seorang shahabat Rasul Sballallaha Alaibi wa Sallam.
IalahirpadamasaRasulullah SballallahuAlaihiaaSallammasihhidup.Hidupdi

lingkungan para shahabat Rasul, tak heran jika memblattya tumbuh

mencintai al-Qur'an dan mambacanya dengan tajwid, sehingga ia mendapatkan
kebaikan dan keberkahan.

Sebagai gambaran akan cintanya pada al-Qur'an, as-Sulami pernah
mengatakan, "Kami belajar al-Qur'an dari kaum yang telah memberitahukan

kepada kami bahwa mereka telah mempelajari 10 mereka tidakpindah
^y^t.D^t
dari 10 ayat itu ke 10 ayat lainnya, hingga mereka mengetahui y^ng
^p^
terkandung di dalamnya. Kami mempelafari al-Qur'an dan mengamal-

kannya. Setelah kami, sesungguhnya al-Qur'an ini akan diwarisi oleh kaum

yang meminumnya laksana air, tidak memenuhi tulang iga bagian atas mereka,

dan bahkan tidak melebihi di sini (ia meletakkan tangannya pada

tenggorokannya)."

Tahukah engkau, siapa gerangan pahlawan ini? Ia adalah pahlawan al-
Qur'an yang telah memenuhi Kufah dengan keindahan suaranya dan
keluasan ilmu Qira-at @acaan al-Qur'an)-nya. Tahukan engkau, siapa gerangan
yang telah mengaiar al-Qur'an di Masjid Abdullah bin Mas'ud Kufah sebanyal

lima ayat-Iim^^yat?

22 lot "Kisah'fabi'in

Ia adalah Abu Abdurrahman as-Sulami, pembaca terbaik Kufah, yang

mempunyai nama asli Abdullah bin Habib bin Rabi'ah.

Di beranda Masf id Kufah, Abu Abdurrahman as-sulami duduk membaca-
kan hadits yangiadengar dari Utsman bin Affan berkata, "sesungguhnya Nabi
Sltallallaha Alaihi wa Sallan bersabda, "Sebaik-baik kahan adalah orang yang
mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya," (ITRBukbai dalant Fadhail al-

9ur'an).
Lalu ia memandangi murid-muridnya sambil tersen)'um dan melanjutkan

pembicaraannya, "Hal itulah yang membuat diriku duduk di tempat duduk
ini."

Ia pernah menceritakan kenangannya bersama Amirul Mukminin Utsman
bin Affan, shahabat dimana dia menamatkan bacaan al-Qur'an padanya. Suatu
ketika, iabenanyakepada Utsman bin Affan. Saat itu ia telah memangku jabatan
Khalifah, sibuk dengan urusan umat dan pemerintahan. Hal itu tentu saia
merepotkannya. Maka Khalifah Utsman pun berkata, "Sesungguhnya engkau
telah menyibukkan diriku dari urusan umat manusia. Sebaiknya engkau menemui
Zaidbin Tsabit. Dia duduk untuk umat manusia dan mempunyai kesempatan
luang untuk mereka. Saya tak pernah berbeda pendapat dengannya dalam
sesuatu apapun tentang al-Qur'an."

Ia pun bertemu dengan Ali bin Abu Thaiib dan bertanya kepadanya tentang

ilmu Qira-at. Ali pun berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, temuilah Zaidbin
Tsabit." Ia pun bergegas menuju keZaid bin Tsabit lalu membacakan d-Qur'an

kepadanya selama 13 tahun.3sl

Setelah selama 13 tahun membaca al-Qur'an di Madinah padaZaidbin
Tsabit, as-Sulami pun pindah ke Kufah. Ia mengajxkan bacaan secara tartil

idan sesuai dengan kaidah tajwid (membagusk^nb^ca al-Qur'an). Banyak

muridnya yang menuturkan bahwa mereka belajar al-Qur'an dartnya dan belaiar
mengamalkannya.

Al- Qur'an mengenakan' pakaian' takwa p adanya. Ia menghabiskan hari-
harinya untuk membaca al-Qur'an secara tartil dan tajwid. Ketika duduk untuk
mengaj ar al- Qur'an kepada murid-murid nya, ia bersikap tawadhu.

Ashim bin Bahdalah, salah seorang murid Abu Abdurrahman as-Sulami
yang cerdas, mengisahkan kenangannya bersama gurunya. Ia mengatakan, "Dulu
kami mendatanginya, saat kami adalah anak-anak kecil yang beranjak dewasa.

'5 Ma'r{abalptrra,l/56

101 "Xisah{abi'in 23

Dia mengajarkan al-Qur'an kepada kami dan dia mengatakan,Jangznlah kalian
duduk bersama dengan para pendongeng."36l

Sebagian orang mungkin menduga, dengan popularitas begitu luas di
Kufah, tentulah iakaya-raya,hidup dalam gelimang upah besar yang ia dapatkan
dari ilmunya yang diberkahi. Tak perlu menyanggah dugaan ini. Cukuplah sebuah
kisah kecil berikut ini.

Amr bin Harits adalah orang terkaya di Kufah kala itu. Ia ingin anaknya
dtaiari al-Qur'an dan pemahaman yang luas. Ia pun menitipkan pendidikan

anaknya pada Abu Abdurrahman as-Sulami. Si murid ini pun menjadi pintar,
sepintar gurunya setelah Amr menugaskannya untuk kepentingan ini.

Amr membawakan hadiah berupa unta dan harta-benda dalam jumlah
banyak ke rumah Abu Abdurrahman as-Sulami. Ketika sampai di rumahnya,
Amr tak bertemu dengannya. Ia pun menitipkan berbagai hadiah itu pada
istrinya, "Ini adalah imbalan atas pengajaran al-Qur'an pada anakku."

Shalat dan pembacaan al-Qur'an hari itu telah usai di masjid Kufah, seperti
kebiasaan Abu Abdurrahman as-Sulami setiap harinya. Akhirnya, ia tiba di rumah
setelah berkali-kali dihentikan oleh para muridnya di tengah ialan untuk bertanya
kepadanya tentang ai-Qur'an. Ia pun berhenti untuk berbicara dengan mereka
Ialu melanjutkan jalannya.

Ketika tiba di rumahnya dan melihat berbagai hadiah, ia pun bertanya
tentang asal-usulnya. Dijawab,'Amr bin Huraits rnembawakan ini untukmu,
karena telah mengajarkan al-Qur'an pada anaknya."

Dengan marah Abdurrahman berkata, "Kembalikan ini semua!

Kembalikan ini semua! Kami tidak mengambil upah atas Kitab Allah."
Pernyataannya segera dibantah, "Wahai Abdullah bin Hubaib, wahai Abu

Abdurrahman as-Sulami, wahai Syaikh Kufah! Tak tahukah engkau bahwa
sekarang, sebagian dari mereka membaca al-Qur'an untuk mencari pahala
dunia, menganggap tiliwah (bacaan) sebagai dagangan yang menj adi daya tarik
kuat bagi para pengumpul harta, dan menganggap imbalan untuk itu hanyalah
dunia. Apakah mereka mengira akan dibiarkan begitu saja. Allah akan
mengembalikan mereka sekali lagi. Dan Dia Maha Mengetahui benih-benih
setiap dari mereka saat Hari Kebangkitan."

x Ma'rilabal-prm,I/S5

24 101 "Kisahclabi'in

Banyak ulama yang betguru pada Abu Abdurrahman as-Sulami, seperti
Ibrahim al-Nakha'iy, Said binJubair, Alqamah bin Martsad dan Atha'bin as-

Saib.

Pada masa pemerintahan Bisyr bin Marwan, tepatnya pada tahun 73 H,
qari kota Kufah ini wafat menemui Tuhannya. Pendapat lain menyebutkan, ia
wzfatpada74H.37l

Semoga Allah merahmati qari terbaik kota Kufah yang telah memenuhi
dunia dengan qira'at dan tartil. Dapatkah kita meneladani Pembaca Kufah ini
dan menjadikan al-Qur'an sebagai tama'n musim semi yang mekar di hati kita
semua? Mengapa kita menggantikan bacaan al-Qur'an dengan suara keburukan
dan kerusakan?

Akhirnya, kita ucapkan, "Berbahagialah dengan bacaan al-Qur'anmu,
wahai Abu Abdurrahman as-Sulami."38l

Gza6\)

s Ma riJab alptm,hkn.S1
Disinkandari Arbrat-Tabi'in,kerngm Abdul Mun'im al-Hasyim, hlrn. 517-521 dmgan smtingan sepedunya

101 "Kisah{abi'in 25

-€fe5 e-

Abu Amr bin AI-AIa

Ilmuwan yang Zuhud

"Saya selalu membuka dnn rnenutup pintu (kiasan dalam mencari
ilmu-peny), hingga saya mendatangi Abu Amr bin'Amnar.'

-AI-Farazdaq-
TMAM asy-Syathibi menielaskan sosok tabi'in yang satu ini,'Abu Amr dan
Ial-Bashri adalah dua sosok ulama yang tegas. Anak dari aI-AIa. Berguru pada

Yahya al-Yazidt, sehingga menjadi air segar yang memupus dahaga."
Tentang murid-muridnya, Syathibi menjelaskan,'Abu Amr ad-Dauri adalah

murid terbaiknya. Abu Syu'aib adalah murid terdekatnya."
Pada cincin Abu Amr bin Al-Ala terpahat tulisan, 'Jika perhatian terbesar

seseorang adalah dunia, maka ia terikat dalam tali yang menipu."
Ia adalah imam bagi para ulama Qira'at di Bashrah, syaikh bangsa Arab

pada zamannya. P ara ulama mengistimewakannya sehingga menj adikannya
sebagai salah seorang dari tujuh ahli ilmu Qira'at.

Muhammad bin Salam menjelaskan tentang ras Arab Abu Amr bin al-
Ala, "Suatu ketika Abu Amr bin al-Ala melewati suatu kaum, ketika tengah

menunggangi keledainya. Se seorang dari kaum itu berkata, Alangkah celakanya
hari ini. Siapakah gerangan orang ini? Apakah ia seorang Badui atau dari kalangan
budak?"

Abu Amr menjawab, "Nasab itu ada pada suku Mazin. Sedangkan afiliasi
berada pada Bal'anbar." Mazinadalah salah satu kabilah Tamim yang merupakan
asal-usul Abu Amr. Salah satu suku yang tergabung dengan mereka adalah

suku Bal'anbar.3el

e ArSabbb j alQjra<t,Ibnu Mujahid, penelitim oleh Dr Syauqi Dhd penobit Du d-Ma'uif, Mesir, hlm. 81, cetakm

kctiga

26 1ol "Kisahclabi'in

Untuk menguatkan asal-usul Arabnya, Abu Amr bin al-Ala pernah

memberi abz-aba untuk memacu kudanya dengan kata"adas." Kata itu biasa
dipergunakan oleh bangsa Arab asli untuk memacu kuda. Sebuah bukti bahwa
Abu Amr bin al-Ala adalah seorang ahli ilmu Nahwu yang fasih, mengenali
rahasia dan kandungan bahasa Arab. Di saat yang sama, ia juga menguzsai al-
Qur'an dan ilmu Qira'at.

Untuk menggambarkan keluasan ilmunya dalam bidang Qira'at, Ibnu
Mufahid mengutip perkataan Abu Bakar,'Abu Amr bin al-Ala adalah tokoh
terdepan di masanya. Ia sangat mengetahui ilmu dan segi Qira'at, teladan dalam
pengetahuan bahasa, pemimpin manusia dalam bahasa Arab... Ia juga berpegang
padaatsar-atsar yang hampir tak berbeda dengan ulama sebelumnya. Ia seorang
yang tawadhu' dalam ilmu, membaca dan berguru ilmu Qira'at pada ulama

Hiiaz dan mengikuti metode qira'at mereka. Para ulama mengenali

kepemimpinan dan mengakui keutamaanny a pada z^maflnya,. Mereka mengikuti
madzhabnya ilmu Qira'at-nya."aol

Tokoh ini meraih kedudukan terbaik dalam ilmu Qira'at dan meraih simpati

dari para muridnya. Sufyan bin Uyainah pernah berkata, "Saya melihat
Rasulullah Sballallaha Alaibi aa Sallam dalam mimpi. Saya berkata, '\Wahai

Rasulullah, telah banyak perbedaan dalam ilmu Qira'at. Metode qira'at siapakah
yang engkau perintahkan padaku untuk membaca al-Qur'an?" Rasulullah

Shallallaha Alaihi wa Sallam menjawab, "Bacalah (al-Qur'an) sesuai dengan
metode Qira'at Abu Amr bin al-Ala."

Hal serupa pernah dialami oleh Syuja' bin Abu Nashr. "Saya melihat
Rasulullah Sballallaha Alaibi va Sallan dalam mimpi. Saya uraikan pada beliau
tentang sdah satu metode bacaanAbu Amr. Ia tidak menolak bacaan saya itu
kecuali pada dua huruf. Dua huruf itu adalah:

Pertarua,'IVa arina manasikana,' (QS. al-Baqarah: 128) dengan membaca
sukun padahuruf ra'.

Kedua, firman Allah'au flansa'ba'dengan hamzah pada ayat 106 surah al-
Baqarah yang berbunyi:'ma nansakb min Etatin au nunsiba, na'ti bikhaiiba au
,t itiliba."

Syu'bah memprediksikan masa depan keilmuan Abu Amr bin al-Ala.
Karenanya, ia pernah menasihati Wahb bin Jarir, "Pegang teguhlah metode
bacaanAbu Amr bin al-Ala. Sebab, iaakanmenjadi sebuah isnad (yang baku)."arl

a As-Sab'abf alplra-ar, Ibnu Mujahid, hlm. 81
a ArSab'abf al-pizar, Ibnu Mujahid, hlm. 81.

1O1 .Kisah'labi'in 27

Ternyata, bukan hanya Wahb binJarir yang dinasihati oleh Syrr'bah. Nashr

bin Ali juga pernah dinasihati, "Perhatikan apayangdibaca oleh Abu Amr bin

al-Ala dariyangia.pilih sendiri. Tulislah, sebab ia akan menjadi sanad bagi umat
manusia."

Nashr bin Ali pernah beranya pada ayahnya,"Bagaimana engkau membaca
(al-Qur'an)?" Ayahnya menjawab, "Saya membaca mengikuti bacaan Abu Amr
bin al-Ala."

Nashr bin Ati juga bertanyapadaal-Ashma'iy tentang metode bacaannya.
Ia menjawab, "Saya membaca sesuai dengan bacaanAbu Amr bin al-Ala."

Ibnu al-Jazri memberikan catatan pada dua riwayat di atas dalam
pemaparannya tentang biografi Abu Amr bin al-Ala. 'Apa yang dikatakan

tentang Abu Amr bin al-Ala adalah benar. Sebab, metode bacaan yang diikuti
banyak orang saat ini di Syam, Hiiaz,Yaman dan Mesir adalah metode bacaan
Abu Amr. Padahal sebelumnya penduduk Syam membaca sesuai metode Ibnu
Amir hingga batas 500-an huruf. Lalu mereka meninggalkannya dan beralih
pada metode Abu Amr."

Ini terjadi pada zaman Ibnu al-Jazri. Adapun di Mesir, mereka membaca
sesuai dengan metode bacaan Imam Hafsh dari Imam Ashim.

Namanya lengkap tabi'in ini adalah Zabban bin al-Ala bin Ammar bin
Abdullah bin al-Husain bin al-Harits binJalhamah, dengan nasab terakhirnya
sampai pada Adnan. Ia dari berasal dari kabilah Tamim dengan nasab yang
tergabung dalam keluarga besar Mazini yang tinggal di Bashrah.a2l

Imam Adz-Dzahabi menjelaskan profil tokoh ini: "Ibnu Ammar bin al-
'Iryan al-Tamimi, al-Maziru al-Bashri adalah syaikh bag1para qari dan bangsa
Arab. Ibunya berasal dari Bani Hanifah."a3l

Salah satu qan yang tujuh ini lahir di Makkah pada 70 H. Riwayat lain

menyebutkan ia lahir pada 68 H.4+l

Abu Amr bin al-Ala tumbuh di Bashrah. Karena diperlakukan keiam oleh

gubernur al-Haijai bin Yusuf al-Tsaqafi, ia pindah ke Makkah dan Madinah. Di
kalangan ulama qira'at, tak ada yang lebih kompeten darinya. Sebab, ia

mendengar langsung dari Anas bin Malik danpara shahabat lainnya. Ahli hadits
menilainya tsiqah (terpercaya) dan sangat iuiur. Ia hidup semasa dengan al-Hasan
bin Abu al-Hasan al-Bashri dan membacakan al-Qur'anpadanya.

'2 Tbabaqat an-Nabr$iail-Zubxdi, hlrn. 35, biografi No. 9
'a3 Siyt Ahnt ot-Nubah', VI/,t07, biografr No. 1 67
Taikb al-Qtna ol-Ayrab ru Nwlanltzar, Syaikh Abdul Fatah al-Qadhi

28 101 J{isah<[abi'in

Ia juga menjadi orang yang paling banyak mengetahui tentang al-Qur'an,
bahasa Arab, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bangsa Arab dan syair, selain
memlliki sifat jujur, amanah, zuhud dan taat.

Dalam l<ttab al-Bidayb wa al-Niba1ab, Ibnu Katsir berkata,'Abu Amr
adalah seorang yang sangat alm di zamannya dalam bidang ilmu Qira'at, Nahwu
dan fiqh. Di samping itu juga terhitung sebagai ulama tabi'in senior."

Di antara kebiasaannya, ketika datang bulan Ramadhan, ia tak

merampungkan satu bait syair pun hingga selesainya bulan mulia itu. Ia

mempergunakan seluruhnya untuk membaca al-Qur'an.

Ia termasuk orang zuhud. Setiap hai ia hanya punya dua keping uang.
Salah satunya ia pergunakan untuk membeli tempat minum air, dan
memberikannya untuk keluarganya. Sisanya iapakai unruk membeli tan m rl

wangi sebagai parfum pada hari itu. Jika waktu sore atau waktu pagi,iaberkata
kepada pelayannya, "Keringkanlah dan taruhlah di tempat yang teduh."

Suatu hari, Abu Amr bin al-Ala datang menemui Sulaiman bin Ali, paman
al-Haliai bin Yusuf. Ia bertanya tentang segala sesuatu , maka ia memenuhinya.
Ia tak heran dengan yarrg telah ia katakan. Abu Amr pun merasa gundah

^pa
dan sedih, sehingga membuatnya bersyair:

"Aku lakukon henistaan d.i lnd.apan para rojo
meski mereka dekat dan baik padaku
apobila aku ti.dah membenorkan mzreka
maka saya takut pada mcreka
bohkan mereha rela pad.aku apabiln merehodi.dustai.$l

Al-Ashma'iy pernah menasihatinya, "Berhati-hatilah terhadap orang yang
dermawan ketika engkau menghinanya, terhadap orang yang hina ketika engkau
menghormatinya, terhadap orang pandai yang engkau persulit, orang bodoh
ketika engkau bergurau padanya,dan terhadap orangjahat ketika engkau bergaul
dengannya. Bukanlah termasuk etika yang baik jika engkau memberikan jawaban
pada orang yang tidak bertanya padamu, atau bertanya kepada orang yang tidak
(dapat) memberikan jawaban padamu, atau berbicara dengan orang yang tidak
mau diam terhadap dirimu."a6l

Abu Amr bin al-Ala menghindari al-Haliai bin Yusuf ats-Tsaqafi untuk
jangka waktu Lama. Pada suatu hari yang cerah, ia keluar rumah. Ia pun

mendengar seseorang yang mendendangkan syairnya:

a5 ll/alay t a l-Aj a4 III / 4 69
SforAhu ar-Nfiahl VI/409

lOI "Kisah<hbi'in 29

Jangonlah eng hau m.entperserlpit masalah
Sekarang telah terkuat tirani tanpa pertentangan
Saya senantiaso membuko dan menutup pintu
hingga sarya sampai pada Abu Amr bin Ammar.

Saat itu Abu Amr berkata, "Dan saya juga mendengar seorangwanita tua
mengatakan, ".Prl-Hajjaj telah mati. Saya tidak mengetahui yang manakah
penyebab saya bergembira; karena perkataan penyair ini ataukah berita dari
wanita tua ini?"471

Abu Amr sangat menguasai ilmu Nahwu, di samping ilmu Qira'at. Ia sangat
memuliakan sunnah Rasulullah S hallallabu Alaihi wa S allaru.

Bacaan al-Qur'annyaiapelaiari dari Mujahid dan Said binJubair. Masing-
masing mempunyai kelebihan. Mujahid belajar dari para ahli fiqh Makkah.

Sedang Said binJuburbelaix daripan ulama Kufah.

Selain itu, Abu Amr belajar ilmu Qira'at dari Ikrimah dan Ibnu Katsir.
Ketika di Bashrah, ia membaca al-Qur'an pada Abu al-Aliyah ar-Rayahi. \U7ajar
fika ia menguasai berbagai macam segi ilmu Qira'at.

Tak ayal, Abu Amr tampil sebagai pakar dalam ilmu Qira'at pada masa
Hasan al-Bashri, selain menguasai bahasa Arab, syair dan pengetahuan tentang
sejarah bangsa Arab.

Abu Amr pernah menceritakan sebuah pengalaman yang membentuk

sosoknya sebagai seorang alim. "Said binJubair pernah melihatku ketika sedang
duduk bersama anak-anak muda. Ia bertanya, Apa yang membuatmu duduk
bersama anak- anak muda? D uduklah b ersama dengan orang-orang tua! "a81

Ibnu Mujahid menjelaskan sosoknya ,"la adalah seorang yang terdepan di

masanya. Seorang yang alim dalam bidang Qira'at dan berbagai seginya, sebagai
teladan dalam pengetahuan tentang ilmu bahasa Arab."4sl

Prinsip Abu Amr dalam hal ilmu diielaskan oleh Ibnu Mufahid, mengutip
Abu Bakar: "Selain menguasai bahasa dan ilmu Arab, Abu Amr bin al-Ala
komitmen pada atsar (riwayat) dimana hampir tak ada perbedaan dengan apa
yang dibawa para ulama sebelumnya."

Pernyataan ini menolak tuduhan plag1atyang disematkan pada Abu Amr,
dan menampilkan sosoknya sebagai alim yang mujtahid. Ia pernah berkata
kepada al-Ashma'i: "Saya hapal beberapa ilmu al-Qur'an, yang seandainya
diruliskan maka al-lt'masy tak akan mampu memikulnya. Seandainya saya tidak

'41 Tbabaqat an-Naln iylin w al-ltgbat'iyin, zz-Zubudi,tlm. 35
s A*Sab'ahf al-Qiraat,Ibnu Mulahid, hlm. 8l

ldent

30 lol "Kisah'labi'in

mempunyai kewajiban membaca al-Qur'an sebagaimana mestinya, maka saya

membaca satu huruf seperti ini (ia menyebutkan beberapa huruQ."

Ini adalah bukti bahwa ilmu Qira'at harus didasarkan pada sunnah. Seorang
muslim tak berhak keluar dari batasan iru fika tak ada contoh dari Rasulullah
SballalkhuAlaihi wa Sallan. Kesimpulan ini dikuatkan oleh sebuah hadits shahih:

'Al-pur'an ditarunkanpada tujuh huraf."Maksudnya, tujuh Qira'at yang berbeda-
beda. Manusia harus menerima dan membacanya sesuai dengan yang Allah

turunkan.

Seseorang bernama Amr bin Ubaid menjelaskan pengertian "arrcamarn"

selama setahun lamanya. Abu Amr pun berkata padanya, "engkau lemah dalam

pemahaman, ketika menjadikan'ancamafl' yang semestinya adalah sesuatu yang

besar menjadi sesuatu yang kecil. Ketahuilah, larangan tentang sesuatu yang

kecil dan besar tidaklah sama. Allah melarang keduany^ ^g^r orisinalitas-Nya

sempurna pada makhluk-Nya, dan agar tidak ditinggalkan dari akar masalahnya.

Di belakang ancaman-Ny^ terdapat adalah ampunan dan kemuliaan-Nya." Ia

Ialu melantunkan sebuah syair:

Sau.daraku tak gentar pa.da gertakanku
Dan saya tak takut poda gertokan yong mengantam.
Dan sesungguhnya saya; seand.ainya saya mengoncannya atau

M enj anj ikanny a----adalnh seorong y ong me ni nggalkon ancamanku

dan me lnksanakan j anj iku.ill

Abu Amr mempunyai sejumlah prinsip dalam bacaan al-Qur'an,

^nta;r^
Iain:

.1 Pada se tiap dua surah terdap at basrualab, saktah dan washal selain antara surah

al-Anfal daoal-Bara'ah (at-Taubah). Antara keduanya, telputus dengansaktab

atau wasbal. Keduanya dibaca tanpa basrualab.

2. Menurut ritayatas-Suwsiy, dibaca dengan idgban-Mutanatsilain;seperipada

penggalan ayat "ar-Rahim" dan "Malik (pada surah al-Fatihah) dan dengan

Idgban-Mataqaibain (wa yabida yahidun) serta dengan Idgban MutEanisain

(ra nb b u k u a'la m u bi ka ru) dengan sy arat- sy arzl tertentu.
3. Bacaan Madd yang Muttashil adalah dengan panjang bacaan yang sedang,

menurut dua riwayatnya. Adapun dalam Madd Manfashil dengan bacaan

pendek atau sedang, menurut iwayat ad-Dauri. Dibaca pendek menurut

riwayat as-Suwsiy.

4. Membac a dengan cara tasbilhamzah yang kedua dari dua hamzah yang berada

pada satu kata; bersamaan dengan memasukkan aiif di ^ntara keduanya.

s Bait-bait hi adalah gubahan Amir bin ath-Thufad

lot Jtisahfiabi'in 31

5. Menggugurkan hamzah pertama dari dua hamzah yang berada pada dua
kata yang cocok dalam harakat, dan membedakan hamzah kedua yang

berbeda hartlatnya. Hal ini juga dilakukan oleh Ibnu Katsir.

6. Menggantikan hamzah yang disukunkan dalam riwayat as-Suwsiy seperti

pada kata (al-Mukninan), (ad4D7j'ba) selain yang dikecualikan oleh para
ahli qira'at.s1l

Dalam sanadnya, Abu Amr membacakan pada Abu Ja'far Yazid bin al-
Qr'qr, Yazid bin Ruman, Syaibah bin Nashshah, Abdullah bin Katsir, Mujahid
binJubair, al-Hasan al-Bashri, Abu al-Ala Rafi'bin Mihran al-Rayahi, Humaid
bin Qays al-Nrai al-Makki, Abdullah bin Ishaq al-Hadhrami, Atha' bin Abi
Rabah, Ikrimah bin Khalid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Muhammad bin
Abdurrahman bin Muhaishin, Ashim bin Abu an-Najud, Nashr bin Ashim dan
Yahya binYa'mur.

Al-Hasan membacakan al-Qur'an pada Haththan binAbdullah ar-Riqasyi
dan Abu Aliyah ar-Rayahi. Sedang Haththan membacakannya pada Abu Musa
al-Asy'ari.

Abu Aliyah membacakan pada Umar bin Khaththab, Ubay bin Ka'ab,
Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas. Sedang Humaid membacakan al-Qur'an pada
Mujahid.

Abdullah bin Abu Ishaq membacakan al-Qur'an pada Yahya bin Ya'mur
dan Nashr bin Ashim. Sedang Atha' membacakan pada Abu Hurairah. Ikrimah
maula Ibnu Abbas membacakannya pada mafikznrrya Ibnu Abbas. Ibnu
Muhaishin membacakannyapada Muf ahid dan Dirbas. Sedang Nashr bin Ashim
dan Yahya bin Ya'mur membacakan al-Qur'an pada Abu al-Aswad.

Abu al-Aswad membacakan al-Qur'an pada Utsman dan Ali bin Abu
Thalib. Sedang Abu Musa al-Asy'ari, Umar bin Khaththab, Ubay bin Ka'ab,

Zaid bin Tsabit, Utsman dan Ali radbjallahu anbam. Mereka semua

membacakannya pada Rasulullah Shalkllaba Alaihi wa Sallam.szl

LaluAbu Amr membacakan al-Qur'an pada Mujahid, Said binJubair, Yahya
bin Ya'mur dan Ibnu Katsir. Rangkaian sanad atas bacaan Abu Amr ini berasal
dari Ibnu Mujahid, sampai pada Ibnu Abbas,Ialu Ubay bin Ka'ab sampai pada
Rasulullah Sballallahu Alaihi wa Sallan.

5r Ada beberapa prinsip lain ymg luga digunakm oleh Abu Amr lrbih lengkapnya, silakm baca: Ailrat-Tabi'in, Abdd
Mun'im al-Hasyim, llm. 621 -622
An-Nayrf al-Qiraat,Ibnul Juri, I/1 33-1 34

32 1o1 "Kisah'labi'in

Said binJubair yang mendengarkan bacaan Abu Amr berkata, "I(omitrnen-
lah pada bacaanmu seperti ini!" Ungkapan ini menuniukkan ketelitian tokoh
ini, selain terdapat dorongan dari sang guru, Said binJubair.

Abu Amr bin al-Ala tak berhenti mencari para guru Qira'at di Bashrah
semata. Ia menempuh perjalanan jauh ke luar Bashrah untuk ulama Qira'at. Ia
sendiri mengatakan,"Saya mengambil metode bacaanku dari ulama Hijaz."s3l

Suatu ketika Abu Amr memerintahkan kepada saudara kandungnya
yang bernama Abu Sufyan bin al-Ala yangakan melaksanakan ibadah haji ke
Makkah untuk bertemu Ikrimah bin Khdid al-Makhzumi untuk menanyakan

beberapa huruf.

Sebelumnya ia sudah menampilkan bacaan d-Qur'an-nyapada Ikrimah.
Sedang Ikrimah meriwayatkan qira'at-nya dengan menampilkan bacaannya
secara langsung dari para murid Ibnu Abbas. Ikrimah adalah orang yang
terbukti iujur dan tsiqab.Ia wafat pada tahun 1 15 H.

Hari-hari berlalu. Alunan Qira'at Abu Amr bin al-Ala tidak pernah tethenti,
ibarat gerit suara pohon kurma. Ia mendatangi Kufah dan bertemu dengan
gubernurnya, Muhammad bin Sulaiman al-Abbasi. Ia diangkat oleh Khalifah
al-Manshur dari Daulah Abbasiyah. Abu Amr bin al-Ala meninggal dunia di
rumah Muhammad bin Sulaiman al-'Abbasi pada254H.

Semoga Allah merahmati Amr yang telah memenuhi Kufah dengan ilmu.
Hasan al-Bashri pernah melewati pengajiannyay^tg penuh sesak di masjid.
Para jamaah terfokus dalam pelaiannnya. Hasan bertanya, "Siapakah ini?"

Mereka menjawab, 'Abu Amt bin al-Ala."

Hasan berkata, "L,aa ilaaha illa Allah. Hampir saiapar.a ulama itu menjadi
para pendeta (gambaran tentang khusyuk datam belaiar)." Hasan kembali berkata
dan mengulang-ulangnya, "Setiap kemuliaan yang tidak dikukuhkan dengan
ilmu, maka pada kehinaanlah ia akan menuiu."

Ketika iawafat, Yunus bin Habib datang menemui anak-anaknya untuk
bertakziyah. Yunus berkata, "Karni datang untuk menyampaikan bela sungkawa
pada kalian atas kematian orang yang kami tidak melihat orang lain semisalnya
dizamaniri. Sungguh demi Allah, seandainya ilmu dan sifat zuhudnya dibagikan
pada 100 orang, pastilah mereka meniadi ulama. Sungguh, demi Allah seandainya
Rasulullah SballallahuAlaihi ya Sallam melihatnya, ia akan bahagSa dengan apa
yang ada padanya."sal

i! Arsab'ab,lbnu Muiahid, hlm. 84 pcrbaikan scpcrlunp,
a Disrikm dari Athrot-Tah'in,kemrgan Abdul Mun'im d-Hasyam,607-624dcngm

1O1 "Kisahfiabi'in 33

€€|@6 -

Abu Bahar bin
Abdurrahman bin Harits

Ahli lbadah dari suhu Quraisy

"Demi Allah! Sesungguhnya aku ingin melnkukan sesu.atutcrhadap
penduduk Madinah karena buruknya sikap mere,ka pada kami.
Namun aku ingat, di sana terdapat Abu Bakar bin Abdurrahman.
Aku malu padanya. Lalu aku tak mewujudkan niat tersebut."

-Inralifah Abdul Malik bin Marwan-

',;;t i';J'e V [l err,bi1#31r-r; lt;ii'ot,
3i+'r$:fi '#,t 6f eqtLJL {l31 A S*

g*p te i(#til fli)r:-;Li ,yi2Yi Uq.
rA t ,.'rt5-/\-a:-Aa
11
;iti'&.qt:;i eq\--l
l/z';';r- lU-.1',.,.,>)
J

[rr -r. :-;a<tt]

"Sesungahnla merekalang beriman dan beramal shalih, tennlab Kami tak akan
run1ia-ryiakan p aba la 0 railg-orang )attg mergerj akan analan (ryQ dergan baik.
Mereka italah (orang-oranglang) bagi mereka sarga Adn, mengalir sangai-sangai

di bawabrya; dalam swrga itu nereka dibiasi dengangelangemas dan mereka memakai

pakaian h/au dari sulera tebal, sedarg rzereka duduk sanbil bersandar di atas
dipan-dipanyng indah. ltalab pahakyng nbaik-baikn1a, dan tenpat istirahat
largindah," (QS. al-Kahfi: 30-31).
Usai merenungkan kedua ayat dt atas, mari kita mulai memaparkan sisi-
sisi kehidupan sosok Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits secara rinci. Ia

34 101 "KisahTabi'in

dikenal ahli dalam bidang fiqh yang sangat teliti, gemar beribadah dan selalu
cermat. Ia dikenal sebagai ahli agama dad Quraisy karena banyaknya ibadah

shalat yzng ia lakukan. Ia termasuk di antara orang-orang yang selalu

menegakkan shalat siang dan malam, baik untuk shalat yang fardhu maupun
sunnah. LzyzHeh ia diiuluki sebagai "Rahib dad Quraisy.".

Dia adalah menjadi contoh orang yang menyambut seruan Allah SWT:

;';:t:- e#Ji 'ot,',Fi a':i )qi irb eiei -1j:

U*E''iVi'*- Y fli'o9'ytiW

[r r o-r r r:re] @'e*3i';l

'Dan diikanlab senbahlang ita pada fudaa tepi siang (pagi dan petang) dan pada

bagian pern u laan daipada m alam. S esangt hryu pcrbaatan-perbs atan yng bai k

ita nengbapuskan (dosa) perbaatan-perbuatanlang bunrk. halab peingatan bagi

lrang-orang)ang ingat. D an bersabarhb, karena sesang*hrya Alkb tiada menlia-
ryiakan pabalo nrang-lrdrrgyttg berbuat kebaikan, " (QS. Huud: 11 4-115).
dan kIaemadualialaahns, osseookrapnrigbatdoikyoahngQmuraamispyuymanegngtgaakbduinsgahn^gnka^lnkte;imr uillmiaua,nadmaanl

kedudukannya. Tak heran jika ia dan saudara-saudaranya meniadiperumpamaan
banyak orang dalam hal kedudukan dan kemuliaan, sebagai sdah satu pemimpin

kaum muslimin pasca masa shahabat Muhaiirin dan Anshaf, seorang tabitn

yang terperc ey a (tst4 a h).

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abdutrahman bin Harits bin

Hisyam bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Seorang imam

salah satu dari tuiuh orang ahli fiqh di Madinah al-Munawwarah. Berasd dari

keluarga besar Bani Makhzum, ia menikah dan memperolch banyak kehrrunan

yang shalih, ^nt^r^ lain: Abdullah, Sdamah, Abdul-Malik, Umar, Abdullah,

Ikrimah, Muhammad, Mughirah, dan Yahya. Sedangkan putrinya bernama

Aisyah dan Umm al-Haris.

Kebuataannya sec ra fisik, tak menghalanginya meniti jalan panjang guna

mencari ilmu. Ia lebih mementingkan ketzzamart mata hatinya daripada indra

penglihaannya, sebagaimana yang diinginkan Allah unnrknya. Terbuktilah, Allah

menggantik^n yang telah hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik.
^p^

Ia iuga dikenal ahli hadits yang memiliki banyak riwayat. Ia meriwayatkan

hadits dari banyak shahabat generasi pertama, ^ntara lain Ammar bin Yasir,

101 ,Kisaltfiabi'in 35

Abdullah bin Mas'ud, Ummul Mukminin Aisyah, Ummu Salamah, Abu

Hurairah, Asma binti Umais dan lainnya.

Adapun para ulama yang meriwayatkan hadits darinya, ^nta;r^ lain: Umar

bin Abdul Aziz dan anak-anaknya, Ibnu Syihab az-Zuhri dan lainnya.

Selain juiur dalam meriwayatkan hadits, ia juga dikenal sebagai rawi yang

sangat teliti. Ia mengeluarkan urutan sanad dan berfatrva berdasarkan
pendapatnya. Karenanya, ia dikenal sebagai pakar (syaikh) fiqh Madinah. Ia
mempunyai pedoman sendiri, sebagaimana ulama fiqh semasanya yang

menyandarkan kesimpulanny^pada pengkajian dan riwayat hadits. Ia memberi
fatwa pada kaum muslimin, layaknya farva seorang alim. Tak ayal lagl yka
ilmunya menyebar luas, majelis-majelis ilmunya penuh sesak, kajian fiqhnya
disusun dalam buku, dan para muridnya menjadikan riv,tayat dan fatwanya
sebagai acuan dalam beriitihad.

Sebagai gambaran tentang sosok keilmuannya, marilah kita simak prinsip
dan visinya dalam hal ilmu. Ia berkata:

"llms itu mtuk salah satu dari tiga golongan orang bagi yng menpunlai nasab
tingi kirarya dengan ilnu itu ia semakin mergbiasi nasabrya. Bagiyngberagama,

maka dengan ilma ita ia nengbiasi agaruarrya. Ataa bagipengaasa, maka dengamla
ia dapat nelakakan perbaikan."

Jika kita cermati pernyataannya itu, pada syarat pertama kita dapati saflgat
sesuai dengan sosok Abu Bakar. Seperti digambarkan dalam buku-buku sirah

dan sejarah, iaadalah seorang tokoh di kalangan kaumnya, bahkan dari kalangan

Quraisy. Sebab ayahnyaadalah Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dari kabilah
Makhzum yang berasal dari suku Quraisy. Ibunya juga berasal dari bani
Makhzum, bernama Sarah binti Hisyam bin Walid bin Mughirah bin Abdullah

bin Umar bin Makhzum.

Syarat kedua yang tertuang dalam pernyataannya, "BagT yang beragama
dan dengannya dapat menghiasi agamanya", dapat kita temukan pada julukan
terkenal yang disematkan pada namanya.Ia dijuluki sebagai Rahib Quraisy
karena banyaknya shalat dan keutamaan ibadah yangia lakukan.

Dalam bidang hadits, ia dikenal sebagai ulama Madinah yang paling banyak
menghapal hadits, selain sebagai orang yang paling banyak mengamalkan
tunhman al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya. Karenanya, banyak orang yang
mengomentari mengenai dirinya, sebagai orang yang tsiqah, ahh dalam bidang
fiqh, banyak perbendaharaan haditsnya, alim, cedas dan dermawan.

36 1ot &.isah?Iabi'in

S ebagai ulama, ia berfatrva berdas arkan pada pengam atzn y ang ia lakukan
sendiri. I(etika ia tak menemukan nash dalam al-Qur'an dan Hadits dan fatrva
shahabat, maka ia pun berifitihad.

Menurutnya, fat.rira berdasarkan pendapat, biasanya terkait dengan
kemaslahatan umat secara umum. Fatwa seperti ini hanya ada pada masalah
yang benar-benar telah terjadi, bukan untuk sesuatu yang diperkirakan akan

terjadi.

Abu Bakar termasuk pakar fiqh yang berpiiak pada hadits dan sunnah,
selain ahli fiqh yang menyandarkan kesimpulannya pada pengkajiannya sendiri.
Karenanya, pembelaiaran fiqh di Madinah mempunyai karakteristik khusus.
Dalam waktu sama, di Irak iuga terdapat ma&asah fiqh dengan karakteristik
khasnya. Sama halnya dengan di Makkah, Bashrah, Kufah danwilayah-wilayah

Islam lainnya.

N7arga Irak dan para tokohnya menganggap Abdullah bin Mas'ud adalah
imam mereka. Karenanya, banyak riwavat hadits mereka berasal darinya, selain
dari AIi bin Abi Thalib dan para shahabat lain yang pernah lama tinggal di Irak.

Salah seorang ulama memberikan tanggapannya tentang perbedaan versi

pengkajian fiqh dan pengaruh ahli fiqh Madinah, "Setiap ulama tabi'in

mempunyai ma&hab sendiri. Ddam setiap wilayah diangkadah seorang imam
seperti Said bin Musayyib dan Salim bin Abdullah bin Umar di Madinah. Setelah
keduanya, terdapat az-Z''thri, Qadhi Yahya bin Said dan Rabi'ah bin Abu
Abdurrahmarn y^ng meniadi imam di Madinah. Lalu Atha' bin Abi Rabah di

Makkah, Ibrahim an-Nakha'i dan asy-Sya'bi di Kufah, Hasan al-Bashri di

Bashrah, dan Thawus bin Kaisan di Yaman."
Abu Bakar bin Abdullah adalah seorang tabi'in. Ia termasuk tokoh dan

guru bagi panpelaiar fiqh di Madinah. Mereka menghormatinya meski ia buta.
Ia mempunyai maf elis ilmu yang besar di Madinah. Majelisnya meniadi tujuan
para pecinta ilmu. Mereka mengkaji hadits dan fat'wa para shahabat.

'Abu Bakar dan tujuh ahli fiqh Madinah berpendapat bahwa orang-orang
yang berasal dari dua kota suci, Makkah dan Madinah adalah, orang yang pding
mantap kajian fiqhnya. Pokok-pokok ma&hab mereka berasal dari faura-fa*va
Abdullah bin Umar, Aisyah, Ibnu Abbas dan keputusan-keputusanparaQrdhi

Madinah. Mereka memadukan semua yang mereka dapatkan, lalu mengkajinya
secara cermat dan memeriksanya secara mendetail."ssl

55 HEjanllab al-Balgbah, Waliyullah ad-Dahlawi, hlm. 143

101 &isah<hbt'in 37

Semua ini menjadikan kita merasa bahwa sebutan mereka betuiuh sebagai
ahli fiqh Madinah-Abu Bakar salah satunya-bukanlah isapan jempol semata.
Banyak energi yang tercurahkan. Banyak riwayat yang tersaring dalam jumlah
b.grto besar dalam memori hapdan mereka. Ingatan itu lahir prinsip dasar
dalam fiqh dan menjadi pintu bagi kesaksian seorang dim yang dibanggakan
ilmunya oleh kaum muslimin di setiap iengkal bumi. Ia adalah seorang alim

yang dermawan dalam memberikan ilmunya kep ada paramuddnya agar mereka

bisa mengkaii dan menyebar-luaskannya tanpa henti.

Abu Bakar mempunyai perbendaharaan hadits yanghanyamengandalkan

kekuatan hapalartnya. Para muridnydah yang membukukannya, sehingga karya

itu tersebar luas ke dalam majelis para ahli fiqh di masa itu. Rumahnya meniadi

tujuan bag1paru pencari ilmu, terutamabzgp orang-orang yang suka meminta

fat'wa tentang persoalan ^gam^ dan solusi masalah duniawi yang senantiasa

berkembang dan mesti mendapatkan penielasan. Beragam masdah itu menjadi

nyata dalam fanva Abu Bakar.

Ia dikend iuga sebagai ahli ibadah yang khusyuk dalam shalatnya dan
memperbanyak perbuatan yang sunnah, sebagai implemenasi dari firman Allah

SYIT: 'Diikarkh sbalat dari sesudab matabai tergelncir [email protected] [email protected] malam dan

@inkanhhptk sbaht sbabuh), nsmgubn-ya sbakt stbah ita disaksikan (ohb nalaikat).
Dan pada nbagian malam bai bernmbalyang tabajiud-kb engkaa sebagai srutu ibadab

tdmbaban baginu; nudah-madabanTtban-mt mengangkat engkaa ke tenparyangtcrPul.

Dan katakanlab: Ya Trban-ku, masukkanlab aku secara masrk lang benar dan
kcharkdnhh (pila) aka ncara keluar.yangbcndrdan berikdnkh kepadaka di siiEngkau
ke kaasaan 1 ang men o lo ng" (QS. al-I sra': 78-80).

Ia iuga dikend sering berpuasa. Tak pernah ada suatu kewaiiban yang
terlewatkan kecuali ia mengikutkannya dengan amal sunnah.

Salah seotang sahabatnya pernah bertutur, 'Abu Bakar seldu berpuasa

dan tak mau berbuka (meninggalkannya). Suanr ketika salah seorang anaknya
menemuinya dalam keadaan tak berpuasa. Ia berkaa, 'lApayangmembuatmu
tidak berpuasa pada hari ini?"

Sang anak meniawab, "Saya sedang menanggung iunub. Saya belum mandi
hinggapagi menyrngsing. Abu Huairah pernah memberikan saranpadaku untuk

tidak berpuasa. Ldu beberapa orang datang menemui Aisyah untuk bertanya.
Aisyah menjawab, "Rasulullah SballallabtAlaibi wa Salkn pernah junub. Ia mandi
sesudah datang waktu Shubuh. Rasululullah Sballallaba Alaibi aa Sallam

38 101 "Kicahftabi'in

menjulurkan kepalanya untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian beliau shalat
dan berpuasapada hari itu."s6l

Tak ada cacat dan penyakit yang menghalanglnya mendirikan shalat. Ia
menganggap kecil setiap penyakit yang menjangkitinya sekaligus penghalang

yang menghadang pelaks anaanlbadah kepada Tuhannya. Suatu ketika, ia pernah

mengalami sakit di t^ig^nny^. Saat suiud, luka itu sangat menyakitkan. Ia
meminta keluarganya untuk menyediakan wadah berisi air lalu meletakkan
tangaffly^ saat suiud. Begitulah gambaran ia mengatasi kesulitan yang

menghalangi ibadahnya.

Abu Bakar juga dikenal sebagai seorang ahli hadits yang fasih dan rawi
yang berpengaruh besar. Apalagi ia seorang tabi'in senior dan terhormat dari
kaumnya. Sdah satu nwayat hadits yang diceritakan Ibnu Syrhab az-Zuhrt,
darinya, dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallanmelarang
harga (dari uansaksi penjualan) aniing, upah bagi pelacur dan oleh-oleh untuk

kahin (dukun).s7l

Pengertian "oleh-oleh untuk dukun" ini adalah uang atau barang yang
dihasilkan oleh seorang dukun sebagai upah atas praktik perdukunan yangia

lakukan. Termasukdi dalamnya segalamacam pengertian sejenis seperti ramalan

bintang, undian dengan batu dan lainnya yang menjadi ladang transaksi
paranormal dan orang-oruigy^rLg meny'ukai mistik dan ghaib. Perbuatan ini

haram. Tak pernah dibenarkan siapa pun untuk mendaangi orang-orang seperti
itu lalu menanyakan sesuatu pada mereka atau membenarkan ucapannya.

Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Ibnu Syihab dari Abu Bakar dengan
lafadz yang ditambah di permulaaniy^ berbunyi: dari Ibnu Sfihab, dari Abu
Bakar, bahwa Abu Mas'ud Uqbah bin Amr menceritakan bahwa Rasulullah
Sbalkllaha Alaibi wa Sallam betsabda:

'Ada tiga balyngseriluanJa rilenjadi sebab kemurkaanAllah: harga daipenjaalan
anjing, apabpelacur dan oleh-oleb untuk dakan."

Selain riwayat di atas, ada iuga rivrayat Abu Bakar lainnya yang sangat

terkenal. Dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari Abu Hurairah

berkata, "Saya mendengar Rasulullah Sballallahu Alaihi aa Sallan bersabda:

"Sesangabnla aku selalu merninta arnP,lt an (beristigbfar) kcpada Allab dan

bertaabat kepada-l{1a dalam sehai lebih dai 70 kali.'nl

% 'foikh Ibru Aukir, hlrn. 88, poin a dm b Muslim, No. 1567; Imam Mdtk dalm ol-Mnvtbtba,Il/656; Ibnu Majah,
jr
I lR Buk]rari dal am Shahil>nya.lY / 426; Imam

s No. 2159 dan Imam an-Nasai, No. ,1670
Al-Hilab,lbnuNuam,hlm188

101 J(isahllabi'in 39

Dalam berbagai kitab Musnad dan hadits yang tetkend, terdapat banyak
sekali riwayat dali Abu Bakar bin Abdurrahman. Sebagiannya besar berasal
dari Aisyah dan Abu Hurairah.

Semasa hidupnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan sangat menyukai
dan menghormatinya lantaran ilmu dan keakwaannya. Penyebabnya, karena
Abu Bakar adalah seorang tokoh muta bagi kaumnya, seorang "rahib Quraisy"
seperti disematkan para ahli fiqh maupun para tabi'in yang terPercaya.

Dalam masyarakat Madinah saat itu, banyak yang tak menyukai keturunan
Bani Umayyah. Mereka adalah rakyat Madinah yang hidup pada masa meletusnya
fitnah yang mulai muncul di masa Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi
Thalib.

Rasa kebencian itu menyebar di masyarakat. Khalifah Abdul Malik bin
Manrzan berniat menghukum para penent^ngnya. Namun karena Madinah
addah tempat tinggal Rasulullah Sballalldha Alaibi wa Sallan, para ulama dan
ahli fiqh Madinah, niat itu terhalang. Sebagai seorang ulama dan pakar fiqh
Madinah, Abu Bakar mempunyai pengaruh besar dalam diri Khalifah Abdul
Matik bin M^ri$^rr. Sehingga, sang Khalifah berwasiat pada anak-anaknya untuk
selalu menghormati Abu Bakar.

Bukti kedudukan Abu Bakar di mata Khdifah Abdul Malik, pernah ia
mengaakan, 'Demi Allah! Sesungguhnya aku ingin melakukan sesuatu terhadap
penduduk Madinah katena buruknya sikap mereka pada kami. Namun aku
ingat, di sana tetdapat Abu Bakar bin Abdurrahman. Aku malu padanya. Lalu
aku tak mewuiudkan niat tersebut."sel

Demikianlah. Seorang pemimpin kaum Mukminin yang malu dengan guru
dan ahli fiqhnya, membuatnya meninggalkan niatnya karena penghormaan

kepada seorang alim, ahli hadits dan ahli fiqh. Di sisi lain, Abu Bakar memang
layak untuk mendapatkan pethormatan seperti itu. Ia tak pernah rela kota
Rasulullah Shallallaha Alaibi wa Sallam terkoyak, sebab di dalamnya ada jasad
yang suci. Bagaimana mungkin penduduknya akan mendapatkan perlakuan
buruh sementara di antara penduduknya terdapat Abu Bakar bin Abdurahman
yang merupakan satu dari tujuh ahli fiqh Madinah.

Suatu hari, di tahun 64 H, yang dikenal dengan tahun para ahli fiqh karena

banyaknya dari merek^ y^ng meninggal. Hari itu muadzin telah

mengumandangkan a&an untuk shalat Ashar. Abu Bakar bin Abdurrahman

te Tbabaqat lbtt Sahd,Hlr.mT

40 101 "Kisahfiabi'in

beru,udhu, beristighfar, bertakbir dan menunaikan shalat Ashar bersama dengan
banyak orang di Masiid Rasulullah SbalklkbuAlaibi wa Salkm di Madinah. Setelah
shalat, ia berkata kepada teman-teman dan murid-muridnya, "Sungguh demi
Allah! Aku tidak membuat-buat sesuatu sepanf ang hariku ini."60l

Ia mengulangr pernyataannya tersebug lalu pulang ke rumahnya dan masuk
ke tempat mandinya. Saat irulah ia jatuh pingsan. Orang-orang mengangkatnya
ke tempat tidurnya. Sebelum adzanMaghrib di Masjid Rasulullah Shallallahu
A lai hi wa S a Ila n berkumandang, terdengar suara penduduk Madinah b er - isti rj a

dengan membaca Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Abu Bakar bin

Abdurrahman bin Harits wafat.
Semoga ruhnya terangkat naik menyusul ke tempat orang-orang yang iuiur,

dalam naungan para penghuni surga yang penuh kenikm atan, dalam kehangatan
pertemanan dengan para shahabat Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
selalu mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

@ +/ -*ri g$,11, e7 @ r:#5i Fi Li$Y.

[r. -rv:,*rr] @,# r]*;ti @ ay e *";C

'I7ai jiwalang tefidtg, kerubalilah kepada Tuhanmu dengan halyngpuar lagi
diidhai-N1a. Masuklah ke dalan janaab hamba-banba-Ka, dan nasuklah ke
dalam rarga-Ku, " (QS. al-Fair:27-30).
Semoga Allah merahmati "Rahib Quraisy" sekaligus ahli fiqh Madinah

yang selalu berpuasa dan menegakkan shalat ini.611

G,AN2

@ S!;arAhnan-Ntbah',lY/419
61 Disarikm dari Ailr at-Tabiln,kawgm Abdul Mun'im d-Hasyim dcngm penruntingan sepedunya

101 "KisahTabi'in 41

7

-a€[email protected]

Abu Hanifah an-Nu'man

Cerdas dan Wara'

"Siapa logrJ*g kbih bersih dai Abu Hanfah dakrn bidap dan matirrya."
I0ralifah al-Manshur

\\|IAJAHNYA tampan dan ceria. Bicaranya fasih dan santun tutur-katanya.
W Por*rnya tidak terlalu tirrgg,tapi tidak juga terlalu pendek, sehingga

enak dipandang mata. Di samping itu, ia suka berpenampilan rapi. Ketika muncul
di tengah khalayak, mereka bisa menebak kedatangannya dari aromawanginya

sebelum melihat orangnya. Ini mengingatkan kita pada sosok Mush'ab bin

Umair, seorang shahabat Rasulullah ShalkllahuAkihi wa Sallan yang juga dikenal
tampan dan rupawan.62l

Itulah dia Nu'man bin Tsabit bin al-Marzuban yang dikenal dengan Abu
Hanifah, ulama peletak dasar-dasar fiqh dan mengaiarkan hikmah-hikmahyang
baik. Ia pernah hidup di dua masa keraiaan besar Islam: Bani Umayah dan Bani
Abbasiyah. Ia hidup di masa sebelum berakhirnya khilafah Bani Umayah dan
awal kekuasaan Bani Abasiyah. Ia hidup di suatu masa di manap^r^ khatfah
dan para gubernur memaniakan para ilmuwan dan ulama, sehingga rezeki datang
dari segala arah, tanpa mereka sadari.

Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat dan
ilmunya dari semua itu. Ia berusaha konsisten untuk memakan dari hasil

karyanyasendiri dan menjadikan tangannya selalu di atas, kiasan untuk kebiasaan
memberi.

Suatu ketika, Amirul Mukminin AbuJa'far al-Manshur mengundangnya
ke istana. Sesampainya di istana, ia disambut dengan ramah dan penuh hormat

d kbihjclaslagitentangsosokMush'abbinUmair,silakanbacal0lSahabatNabi,katyapcnulisyangditerbitkanolch

Pustaka Al-Kautsar

42 101 &isahclabi'in

serta dipersilakan duduk di samping khalifah al-Manshur. I{halifah bertanya
tentang banyak persoalan yangmery^ngkut agama dan dunia.

I(etika ia bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan
sebuah kantong berisi uang 30 ribu dirham. Padahal al-Manshur dikenal kikir
dibandingkan yanglain. Abu Hanifah berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Saya

orang asing di kota Baghdad ini, dan tak punya tempat untuk menyimpannya.
Aku titipkan saja uang ini di Baitul Maal. Kelak iika memerlukannya, saya akan
memintanya lagp pada engkau."

Al-Manshur mengabulkan permohonannya. Hanya saia, masa hidup Abu
Hanifah tak begitu lama setelah peristiwa itu. Ketika ia wafat, ternyata di
rumahnya ditemukan harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada
pemberian Amirul Mukminin.

Tatkala al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, "Semoga Allah
merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabui kita. Dia tak ingin mengambil
sesuatu pun dari kita. Dia menolak pemberianku dengan car;^y^nghalus."

Ini tidaklah aneh. Karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa tak ada
yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil

t^nganny^ sendiri. Karena itu, ia menyediakan waktu khusus untuk berdagang.

Ia berdagang kain dan pakaian. Kadang pulang pergi antarkota di Irak. Di

samping itu, ia iuga memiliki toko pakaian yang terkenal dan banyak dikuniungi
orang. Mereka mendapatkan keiujuran dalam bermuamalah dan amanah
dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi, mereka merasakan
kesenangan tersendiri dari caru muamalah Abu Hanifah. Perniagaannya maju
berkat karunia Allah, sehingga beroleh banyak keuntungan.

Ia mendapatkan hara deng an carahd,aL Telah meniadi kebiasaannya, setiap
genap tahun, ia menghitung laba yang ia dapat. Lalu menyisihkan sekadarnya
untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Sisanya, ia belikan berbagai barang untuk
diberikan kepada para penghapal al-Qur'an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-
muridnya, baik berupa makanan maupun pakaian. Ia memberikan hal itu sembari

berkata, "Ini adalah labadan hasil perniagaanku dengan kalian. Allah melancar-
kannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian dengan hartaku
sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang diberikan-Nya melaluiku.
Pada setiap rezeki, tak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah."

Berita tentang kedermarvanan dan kebiiaksanaan Abu Hanifah masyhur
di belahan negeri timur dan barat. Terutama di kalangan para shahabat dan
orang-orang yang biasa bertemu dengannya.

101 "Kisahc[abi'in 43

Seorang pelanggannya pernah datang ke tokonya seraya berkata, "Saya
membutuhkan baju kbaq$eierus pakaian dari wol), wahai Abu Hanifah." Ia
menjawab, 'Apa warna yang engkau kehendaki?" Dia meniawab, 'Yang berwarna
ini dan ini." Ia berkata, "Bersabadah sampai saya menemukannya dan akan aku
berikan pada engkau."

Sepekan setelahnya ia berhasil mendapatkan kain sesuai Pesanan. Ketika

pemesan tersebut lewat, Abu Hanifah berkata, "Saya sudah mendapatkan
pesanan engkau." Lalu ia menyodorkan pakaian tersebut pada pemesan dan
takiublah pemesan akan kebagusannya. Ia bertanya, "Berapa harganya?" la

menjawab, "Satu dirham saja."

Pemesan itu dengan heran bertanya, "Satu dirham?"

Abu Hanifah menjawab, "Benar."

Orang itu berkata penasaran, "Saya tasa engkau mengolok-olok saya, wahai
Abu Hanifah."

Ia berkata, "Saya tidak mengolok-olok engkau. Saya membeli baiu ini
bersamaan dengan baju lain seharga 20 dinar,lebih satu dirham. Satu baju
sudah saya iual seharga dua puluh dinar, iadi kurangnya hanya satu dirham.
Saya tak mau mengambil laba darimu."

Pada kesempatan lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju kbaq
juga. Ia pun menunjukan barang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkatz,"Saya
adalah wanita nra yang lemah, tidak tahu-menahu soal harga. Sedang ini h anyalah
titipan. Maka juallah bafu itu kepadaku dengan hargayangsama ketika engkau
membelinya, lalu ambillah sedikit unung darinya. Karena saya wanita lemah."

Abu Hanifah berkata, "Saya membeli baiu ini dua potong dalam satu harga.
Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saia dari modal
saya. Belilah baiu ini seharga empat dirham, karena saya tak ingin mendapatkan
laba darimu."

Suatu hari ia melihat pakaian usang dan lusuh dikenakan seorang iamaah
yang menghadiri pengaiiaflnya. Ketika iamaah telah bubar, dan tak ada seorang
pun selain dia dan laki-laki iru, ia berkata, "Angkadah alas shalat itu lalu ambillah
sesuatu di bawahnya."

Orang tersebut mengangkat alas yang dimaksud. Ternyata ada uang seribu
dirham. Abu Hanifah berkata,'Ambillah dan perbaiki penampilan engkau."

Orang itu menjawab, "Saya orang yang mampu. Allah SWT telah

melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya."

44 101 "Kisaltc[abi'in

Abu Hanifah berkata, 'Jika Allah telah memberikan nikmat-Nya atas
engkau, lantas manakah bekas nikmat y^ng engkau tampakkan? Belum

sampaikah kepadamu sabda Rasulullah:

'Allah suka melihat bekas-bekas nikruat-N1a atas para haruba-l'[1a."

Sepantasnya engkau memperbagus penampilan agat tak menprsahkan
teman engkau."

Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain
mencapai puncaknya, ketika ia memberikan belanja pada keluarganva, ia juga
menginfakkan iumlah yang sama kepada orang-orang 1,ang membutuhkan.
Setiap kali ia memakai baiu baru, ia juga membelikan pakaian untuk orang-
orang miskin sebesar harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya,ia
sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir miskin.

Diriwayatkan pula, bahwa ia telah bertekad seuap kali bersumpah kepada
Allah di tengah pembicaraanrya,iaakan bersedekah dengan satu dirham perak.
Berikutnya ditingkatkan lag1,iaberianji untuk bersedekah satu dinar emas setiap
kali bersumpah di tengah pembicaraannya. Namun jika sumpahnya menjadi
kenvataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.

Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafsh bin Abdurrahman.
Abu Hanifah biasa menitipkan kain kepadanya untuk dijual ke beberapa kota
di Irak. Suatu kali, Abu Hanifah memberikan dagangan yang banyak kepada
Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada cacatnya.la
berkata, 'Jika engkau bermaksud menjualnya, beritahukanlah cacat barang
kepada orang yang hendak membelinya."

Akhirnya, Hafsh berhasil menfual seluruh barang. Namun dia lupa
memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia telah berusaha

mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnyairu, namun

hasilnya nihil. Ketika Abu Hanifah mengetahui masalah itu, tapi tak
memungkinkan diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada c catnya

tersebut. Ia merasa tidak tenang hingga akhirnya ia sedekahkan seluruh hasil
penjualan yang dibawa Hafsh. Inilah bukti wara' Abu Hanifah, semangatnva
untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan dan syrbhat (meragukan).

Di samping itu, Abu l{anifah iuga pandai bergaul. Maiehsnya dipenuhi

otang. Dia metasa bersusah hati jika adayangtidak hadir, meski dia o:angyaflg

memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, 'Aku mendengar

Abdullah bin Mubarakberkata kepada Sufyan ats-Tsauri, lWahai Abu Abdillah!

101 ,Xisahc[abi'in 45

Alangkah iauhnya Abu Hanifah dari ghibab. Aku tak petnah mendengarnya
menyebutkan satu keburukan Pun tentang musuhnya." Sufyan ats-Tsauri
meniawab, 'Abu Hanifah cukup berakal, hingga tak akan membiarkan

kebaikannya lenyap karena gbi b a h."

Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang

untuk menarik simpatinya. Sering ada orang lewat, ikut duduk di majelisnya
tanpa sengaia. Ketika dia hendak beranjak pergi, ia segera menghampirinya
dan bertanya tentang kebutuhannya. Jika dia punya kebutuhan, maka Abu
Hanifah akan memberinya. Kalau sakit, maka akan ia antarkan. Jika memiliki
utang: maka ia akan membayarkannya sehingga teridinlah hubungan bukantzra

keduanya.

Dengan segala keutamaan yang disandang Abu Hanifah tersebut, iaiuga
termasuk orang yang rajin berpuasa di siang hari dan shalat tahaijud di malam
hainya.la al<rab dengan al-Qur'an dan istighfar di waktu malam. Ketekunannya
dalam beribadah dilatarbelakangi oleh peristiwa di mana ia mendatangi suatu
kaum lalu mendengar mereka berkomentar tentangAbu Hanifah, "Orang yang
kalian lihat itu tak pernah tidur malam."

Begitu mendengar kata-kata itu, Abu Hanifah betkata, "Dugaan orang
terhadap diriku tetny^t^ berbeda dengan ^p^y^ngaku kerjakan di sisi AIIah.
Demi Allah, iangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku
lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan
Allah."

Sejak itu, Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat.
Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ketika lambung
merebahkan diri, ia bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan jenggot
dan memakai wewangian. Kemudian ia berdiri di mihrabnya, mengisi mal^mfiy^
untuk ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz dan al-Qur'an. Setelah

itu, ia mengangkat kedua tangan dengan penuh harap disertai kerendahan hati.
Terkadang ia mengkhatamkan al-Qur'an penuh dalam satu rakaat, terkadang
pula ia menghabiskan shalat semalam dengan satu ayat saia.

Sebuah riwayat menyebutkan, dalam suatu shalat malam, secara berulang-
ulang Abu Hanifah membaca firman Allah:

[tr:;]rl €g)y\i ;r"'rii;At lL;-^LJi J:

"sebenarnla hai Kiamat itulab haiyng dianjikan kepada mereka do, klo*ot
ita lebib dahslat dan lebih pahit," (QS. d-Qamar 46)

46 101 "Kisah[abi'in

Ia menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat
hati. Banyak orang mengetahui bahwa selama lebih dari 40 tahun ia mendirikan
shalat faiar dengan wudhu shalat Isya'. Ia telah mengkhatamkan al-Qur'an
sebanyak 7000 kali selama hidupnya.

Setiap kali ia membaca surah al-Zelzalah,gemetarlah iasadnya, bergetarlah

hatinya. Dengan memegang jenggotnya, iaberkatz, "Wahai yang membalas
sebesar dqarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dqarrah keburukan
dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu ini, Nu'man dari api neraka.

Jauhkanlah ia dari apa-apa ),anB bisa mendekatkan dengan netaka. Masukkanlah
ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, yaArham ar-Rabiruin."

Imam Abu Hanifah juga dikenal dengan kecerdasannya. Suatu ketika ia
meniumpai Imam Malik yang tengah duduk bersama beberapa sahabatnya.
Setelah Abu Hanifah keluar, Imam N4alik menoleh kepada mereka dan berkata,
"Tahukah kalian, siapa dia?"

Mereka menjawab, "Tidak."

Ia berkata, "Dialah Nu'man bin Tsabit. Seandainya ia berkata bahwa tiang
masiid itu emas, niscaya perkataannya dipakai orang sebagai argumen."

Tidak berlebihan apayangdikatakan Imam Malik dalam menggambarkan
diri Abu Hanifah. Sebab, ia memang memiliki kekuatan dalam berargumen,
daya tangkap yang cepat, cerdas dan tajam wawasannya.

Buku seiarah banyak menggambarkan kekuatan argumennya dalam

menghadapi lawan bicaranya, ketika beradu argumen.Juga ketika ia menghadapi
penentang akidah. Semuanya membuktikan kebenaran komentar Imam Malik,
"Seandainya ia mengatakan bahwa tanah di tanganmu iru emas, maka engkau

akan membenarkannya karena alasannya yang tepat dan mengikuti

pernyataannya.Bagaimana pula jika yang dipertahankan adalah kebenaran, dan
adu argumentasi untuk membela kebenaran?"

Sebagci bukti dari pernyataan Imam Malik di atas, ada seorang laki-laki
dari Kufah yang disesatkan oleh Allah. Dia termasuk orang terpandang dan
didengar omongannya. Laki-laki itu menuduh di depan orang-orang bahwa
Utsman bin Affan adalah Yahudi, lalu menganut Yahudi lagi setelah Islam-

nya.

Ketika mendengar berita itu, Abu Hanifah bergegas menjumpainya dan

berkata, 'Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama

fulanah untuk seorang sahabatku."

101 "KisahTabt'in 47

Dia berkata, "selamat atas kedatanganmu. Orang seperti engkau tidak
layak ditolak keperluannya, wahai Abu Hanifah. Tapi, siapakah peminang itu?"

Ia meniawab, "Seorang yaflg terkemuka dan terhitung kaya di tengah

kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hapal al-Qur'an, menghabiskan malam

dengan satu ruku dan sering menangis karena takwa dan takutnya kepada

Allah."
Laki-laki itu berkata, "Wah. . .wah, cukup Abu Hanifah! Sebagian dari yang

engkau sebutkan sudah cukup untuk meminang seorang putri Amirul

Mukminin."
Abu Hanifah berkata, "Hanva saia ada satu hal yang pedu engkau

pertimbangkan."
Dia bertanya, 'Apakah itu?"
Abu Hanifah berkata, "Dia seorang Yahudi."
Mendengar hal itu, otang iru terperaniat dan bertany^-tanya,'Yahudi?

Apakah engkau ingin saya menikahkan putri saya dengan seorangYahudi? Demi
Allah, aku tak akan menikahkan putriku dengannya walaupun dia memiliki
segalanya dari yang awal sampai yang akhir."

Lalu Abu Hanifah berkata, "Engkau menolak pernikahan putrimu dengan
seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan keras, tapi kau sebarkan
berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah menikahkan kedua puterinya
dengan Yahudi (yrkri Utsman)?"

Seketika orang itu, gemetaranlah tubuhnya lalu berkata, 'Astaghfirullah...
aku mohon ampun kepada Allah atas kata-kata buruk yang aku ucapkan. Aku
bertaubat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan."

Contoh lain, petnah seorang Khawarii bernama adh-Dhahk asy-Syari
datang menemui Abu Hani fah dan berkata,' lWahai Abu Hanifah, bertaubadah."

Abu Hanifah bertanya, "Bertaubat dari apa?"
"Dari pendapat engkau yang membenarkan diadakannya tahkim

^ntara
Ali dan Mu'awiyah."

"Maukah engkau berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini?"
"Baiklah, saya bersedia."

"Bila nanti kita berselisih paham, siapa yang akan menjadi hakim diantzr:^
kita?" tanya Abu Hanifah.

"Pilihlah sesuka engkau."

48 101 "Kisahfiab|it

Abu Hanifah menoleh kepada seorang I(hawarii lain yang menyertai orang
itu lalu berkata, "engkau meniadi hakim di antara kami." Kepada orang pertama,
ia bertanya, "Saya rela kawanmu menjadi hakim, apakah engkau juga rela?"

'Ya, saya rela."

Abu Hanifah bertanya, "Bagaimana ini? engkau menerima tahkim atas
apa yang terjadi di antara saya dan engkau, tapi menolak dua shahabat Rasulullah
yang bertahkim?"

Orang itu pun mati kutu dan tak sanggup berbicara sepatah kata pun.
Contoh lain lagi, Jahm bin Shafivan, pentolan kelompokJahmiyah yang
sesat dan penyebar bidah mendatangi Abu Hanifah seraya berkata,"Sayadatang
untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya persiapkan."
"Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau
bicarakan berarti neraka yang menyala-nyala," jawab Abu Flanifah.

Jahm berkata, "Bagaimana bisa engkau memvonis saya demikian, padahal
engkau belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum mendengar
pendapat-pendapat saya?"

"Telah sampai pada saya berita-berita tentangmu yang berpendapat dengan

pendapat yang tidak layak keluar dari mulut ahli kiblat (muslim)," uiar Abu

Hanifah.
"Engkau menghakimi saya secara sepihak?"

"Siapa pun sudah mengetahui perihal engkau, sehingga boleh bagiku

menghukurru dengan sesuatu yang telah ruatawatirteotang engkau."
"Saya tak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa kecuali tefltang

keimanan," ujarJahm.

'Apakah hingga saat ini engkau belum tahu juga tentang masalah itu hingga
pedu menanvakannya?"

"Saya memang sudah paham. Namun saya meragukan salah satu

bagiannya," uiatJahm.
Abu Hanifah berkata, "Keraguan dalam keimanan adalah kufur."
"Engkau tak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar apa y^ng

menyebabkan saya kufur," iawab Jahm.
"Silakan bertanya!" ujar Abu Hanifah.

"Telah sampai kepadaku tentang seseorangyangmengenal dan mengakui
Allah dalam hatinya bahwa Dia tak punya sekutu, tak ada yang menyamai-Nya

101 ,Kisahfiabi'itt 49

dan mengetahui sifat-sifat-Nya, lalu orang itu mati tanpa menyatakan dengan
lisannya. Orang ini dihukumi Mukmin ataukah kafn?" tanyaJahm.

Abu Hanifah menjawab, "Dia mati dalam keadaan kafir dan meniadi
penghuni neraka jika tidak menyatakan dengan lidahnya apa yar.g diketahui

oleh hatinya, selagi tak ada penghalang baginya untuk mengatakannya."

"Mengapa tidak dianggap sebagai Mukmin, padahal dia mengenal Allah
dengan sebenar-ben arnya?" tanya Jahm.

Abu Hanifah menjawab, "Bila engkau beriman kepada al-Qur'an dan mau
meniadikannya sebagai hujiah, maka saya akan meneruskan bicara. Tapi jika
engkau tidak beriman kepada al-Qur'an dan tidak memakainya sebagai huijah,
maka berarti saya sedang berbicara dengan orang yang menentang Islam."

Jahm meniawab, "Bahkan, sayamengimani al-Qur'an dan meniadikannya
sebagai hujjah."

Abu Hanifah berkata, "Sesungguhnya Allah menjadikan iman atas dua
sendi, yaitu dengan hati dan lisan. Bukan dengan salah satu saja darinya.

I(itabullah dan hadits Rasulullah jelas-jelas meflyatakan hal itu:

*:ri 3,4 N:ei !; $')i dt,Jilu lrLr; 6rs
* ;; q-'u:"*tlril.i- .,
e. - t---*^tb^^ tLt; Ui'oS bri'e |
G

a.,t j'&i#ri:rc;+u; *i* s6 uj @

Lslt *1;6 iq';rt:i:$3,o co*r.r-i i :?i t-':
:;.rurl @ |t'*-IiiT;d,,t W|,j*'fr::iw c

[lo-rrr
"Dan apabila mereka mendengarkan apa lang dittrunkan kepada Rasul

lfuIubanmad), engkau melibat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (al-Qur'an)langtelab nereka kttahai (dai kitab-kitab ruereka sendii);
wrala berkata, 'YaTuhan kani, karui telah beriman, maka catatlah kami bersama

lrang-lrang)afigmeSadi saksi (atas kebenaran al-pur'an dan kmabian Muhanmad).

Mengapa kani tak akan beiman kepadaAllah dan kebenaranlangdatangkepada
kani, padahal kani ungat ingin agarTuban kami memasukkan kedalam golongan
nra ng- zrang) ang s b a li b ? " M a ka A lla b n en b ei m e re ka p a h ala terb a dap p erka ta an

langmereka ucapkan, (1aitu) srffgaJangmengakrsungai-sungai di dalamrya, sedang

50 1o1 .Kisah{abi'in

mereka kekal di dalamnla. Dan itulah balasan (bagi) orang-orangJang berbuat
ke b ai ka n (1ang i kb las kei rn an ann n1 a), " (QS. al-Maidah: 83-85).

Karena mereka mengetahui kebenaran dalam hati lalu menyertakannya
dengan lisan, maka Allah memasukkannya ke dalam surga yang di dalamnya
terdapat sungai-sungai yang mengalir karena p ernyat^an keimanannya itu. Allah
iuga berfirman:

'kr r,V 4]\,Ut,Jii q qt lii6i K sE V;
'dri w i;--) A;'; ;.ti w yc"$: ;frr',Ft)
@ i;Ji Ar*i'i:'; t 1-e3: Yt A.'6"ft S a4:) u

1''r'',,r;,1
'Katakanlalt (bai orang-orang Mak'min), 'Kani beinan kepada Allah dan apa
lang ditarmkan kepada kami, dan apalang ditsrunkan kepada lbrabin, Ismail,

Ishaq, Ya'qub dan anak cacurua, dan apa-yang diberikan kepada Musa dan Isa

rerta apaJang dibeikan kepada nabi-nabi dai Tuhanryta. Karui tidak ruenbeda-
bedakan selrang pilr, di antara mereka dan kami banla tanduk patuh kepada-

NJo." (QS. al-Baqarah: 136). Allah menyuruh mereka untuk

mengucapkannya dengan lisan, tidak hanya cukup dengan pengetahuan
dan ilmu saja. Begitu pula dengan hadits Rasulullah, "Ucapkanlah 'l--aa
ilaaba illalkb', niscaya kalian akan beruntung."

Belumlah dikatakan beruntung bila hanya sekadar mengenal dan tidak
dikukuhkan dengan kata-kata. Rasulullah bersabda, 'Akan dikeluarkan dari
neraka barangsiapa mengucapkan l-.aa ilaaba ilkllab." Nabi tidak mengatakan,
'Akan dikeluarkan dari api neraka barangsiapa yang mengenal Allah."

Kalau saia pernyataan lisan tidak diperlukan dan cukup hanya dengan
sekadar pengetahuan, niscaya iblis juga termasuk Mukmin. Sebab dia mengenal
Rabbnya, ia tahu bahwa Allah-lah yang menciptakan dirinya. Dia pula yang
menghidupkan dan mematikannya, iuga yang akan membangkitkannya, tahu
bahwa Ailah yang menyesatkannya. Allah berfirman menirukan perkataannya:

*[r r:;r7!r] @ 0,,Lfu) rr( C &4y+Ut

"Sa1a lebih baik darinla, Engkau ciptakan sala dai api sedang dia dai Engkaa
ciptakan dai tanab," (QS. al-Araf:12).

101 XisahTabi'in 51

4[r.r:,rJr] @6Fi1 p.AyGJi iS

'Berkatalah iblis, 'Ya Tubanku, (katau begitu) *nko brr; tanguhlah *rpraon,
sampai hari (ruanasia) dibangkitkan," (QS. al-Hijr: 36).

'Iblis ruerujawab, "Karena Engkaa telah menghakwm sala tersesat, sala benar-
benar akan (mengbalangi-balangi) ruereka daijalanEngkaalanglurus,"(QS. al-
Arat-: 16).
Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, niscaya banyaklah orang-
orang kafir yang dianggap bedman karena mengetahui Rabbnya walaupun
mereka ingkar dengan lisannya.
Firrnan Allah:

tk,r5 H:6 f;Irt aa fi*i-q#;6 Vl,';{)

[rt,.prq [email protected]'$;li$

'Dan mereka mengingkainla karena keqalinan dan kesombongan (nereka)padahal
hati ruereka melakini (kebenaran) n1a," (QS. an-Nami: 14).
Padahal mereka tidak disebut Mukmin meski meyakininya. Justru dianggap
kafir karena kepalsuan lisan mereka."
Abu Hanifah terus menyerangJahm bin Shafivan dengan berbagai hujiah
yang kuat, baik dari al-Qur'an maupun hadits. Jahm kewalahan. Tampaklah
raut kehinaan di waf ahnya. Dia pergi dari hadapan Abu Hanifah sambil berkata,
"engkau telah mengingatkan sesuatu yang saya lupakan, saya akan kembali
kepadamu ." Lalu dia pergi dan tak pernah kembali.
Abu Hanifah pernah berjumpa dengan orang-orang ateis yang mengingkari
eksistensi al-Khaiiq. Maka ia pun berkata pada mereka,"Bagitmana pendapat
kalian, ytkaada sebuah kapal memuat penuh barang. Lalu kapal itu mengarungi
samudera. Gelombangpya kecil dan angrnnya tenang. Tapi, setelah kapal sampai
di tengah-tengah, tiba-tiba teriadi badai besar. Anehnya, kapal itu terus betlayar

dengan tenang, sehingga tiba di tujuan sesuai reflcana tanpa guncangan dan

berbelok arah. Padahal tak ada nahkoda yang mengemudikan dan mengendalikan
kapal. Masuk akalkah cerita ini?"

Mereka berkata, "Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa

diterima oleh akal, bahkan oleh khalayak sekalipun, wahai syaikh."

52 101 .Xisah{abi'in

Abu Hani fah pun berka ta, " S a b h a n a Ila ht. Kaltan mengingkari adanya kap al
1'ang berlal,ar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam
semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang-
gemintang dan benda-benda langit, burung yang berterbangan tanpa adanva
Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya, dan mengaturnya dengan cermat?
Celakalah kalian! Lantas apa yang membuat kalian ingkar pada Allah?"

Begitulah. Abu Hanifah menghabiskan seluruh hidupnya untuk

menyebarkan ag ma Allah dengan kekuatan argumen yang dianugrahkan

padanya.

Ketika aial datang menf emputnya, ditemukan wasiatnya agar di kebumikan
di tanah yang baik, jauh dari segala tempat yang berstatus syubhat (tidak lelas)
atau hastl gb a s b a b (rampasan).

Keuka wasiat itu terdengar oleh Amrrul Mukminin al-Manshur iaberkata,
"Siapa lagi yang lebih bersih dari Abu Hanifah dalam hidup cian matinya."

Selain itu, ia iuga berpesan agar ienazahnya kelak dimandikan oleh al-
Hasan bin Amarah. Setelah melaksanakan pesannya, Ibnu Amarah berkata,
"Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Hanifah. SemogaAllah mengampuni

dosa-dosa engkau karena jasa-jasayang telah engkau kerjakan. Sungguh engkau
tidak pernah putus shaum selama 30 tahun, tidak berbantal ketika tidur selama
40 tahun dan kepergian engkau akan membuat lesu para fuqaha setelah engkau."63l

Abu Hanifah lahir pada tahun 80 Hijriyah di I(ufah. Iawafat pada bulan
Rajab, tahun 150 Hiiriyah.fll Ia tidak meninggalkan keturunan selain seorang
anak laki-laki bernama Hammad. Jenazahnya dimakamkan di Baghdad. Pada
tahun itu iuga, lahirlah Imam asy-Syafii.6sl

Abu Hanifah hidup di masa dua khilafah: Daulah Bani Umayyah dan
Daulah Bani Abbasiyah. Tak adakengoan bahwa Abu Hanifah adalah tabi'in.
Ia sempat bertemu dengan tujuh shahabat Nabi dan mendengarkan hadits dari
mereka, sebagaimana pernah ia tuturkan sendiri.66l

GA2

6r DisarikandriS'butarninHalabaL'[abi'inkaq,aAbdurahmmRa'fatBas.t'adaoSjarAhuat-Tabi'in,karyaShabibin

g Sdmah Syatun. bin AMullah binAhmad bin Sulaiman,I/356, penerbitDaual-'Ashimah,
MaildaUlanawlWalEotabau,Muhammad

Riyadh, cetakan pertama, 1410 H

65 Biqraf EntpatSmrgkai Iuau Maqbob,K}lMcnaw Chalil, trlm.22, penerbit Bulm Bintang, cetakan ke-9,J2kar41994
6 Idmt. Penuhs buku ini menyebutkan ketuiuh sahabat Nabi itu. Mereka adalah Anas bin Malik, Abdullah bin Hadts,

Abdullah bin Abi Aufa, \Vasilah bin Abi al-Asqa, Ma'qil bin Yasar, Abdullah bin Anis dan Abu Thufail (Amir bin

Watsilah).

101 "Kisah"[ahi'in 53

*€f8k-

Abu Muslim al-Khaulani

Teladan dalam Menyuarahan Kebenaran

"Semoga Allah memberikan balasan kepadarnu, wahai Abu

Muslim. Karena engh.au telah menasihati kepada kami dan rakyat
hami dengan sebaih-baik balasan."

Inralifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan

LJf-lIJazirah Arab tersebar luas berita bahwa sakit Rasulullah ShallallabuAlaibi

wa Sallan bertambah berat. Syetan mengambil kesempatan itu dengan
membuiuk Aswad al-Ansi untuk kembali murtad. Dia memimpin kaumnya di
Yaman dan menyatakan bahwa dia adalah "nabi" yang diutus dari sisi Allah.

Aswad al-Ansi adalah seorang lelaki yang sangat gigih, kuat secara fisik,
tapi busuk iiwanya dan selaiu berbuat iahat.la sangat meyakini pengatuh tenung

dan pandai bermain sulap. Lebih dari itu, ia fasih berbicara, menarik bila
menerangkan, cerdik otaknya, mampu bermain licik, dan jika berkawan dan

berbuat baik selalu mengharapkan imbalan.Iaselalu menutup mukanya dengan
kain hitam, bila tampil di hadapan umum untuk menutupi dirinya dari keiahatan
dan kekeiiian.

Seruan Aswad al-Ansi telah tersebar di Yaman bagaikan menialarnya api
di kayu kering. Pengikutnya dari Bani Madzhai juga membantu menyebarkan
aiakannya. Yang paling banyak jadi pengikutnya adalah dari suku-suku Yaman.
Merekalah yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kekuatannya dalam
membantu al-Ansi menciptakan kebohongan dan penipuan.

Ia mengaku dirinya rajayang turun dari langit dan membawa wahyu. Dia
mengaku juga mampu mengabarkan hal ghaib. Bermacam caraiatempuh untuk
meyakinkan masyarakat. Di antaranya dengan menyebarkan mata-mata di setiap
tempat untuk memberitahukan berbagai persoalan yang menimpa masyarakat.

54 lol "KisahTabi'itt

Lalu mata-mata itu mencoba membuka rahasia-rahasia mereka dan memberi

kabar pada mereka. Mata-matan y a iuga menyampaikan masalah mereka, b erupa
harapan-harapanatau cita-cita maupun berupa keluhan-keluhan penyakit. Pada
waktu itulah ,mata-ma;tanya menipu orang-orang dan merayunya agar bedindung
dan meminta pertolongan kepada Antara lain-Ansi.

Jika salah seorang warg a daaflg, al-Ansi memberitahukan padanya bahwa
dia mengetahui apa yang tersembunyi dari permasalahan yang mereka rasakan.
Bahkan dia mengetahui yang terbeuk dalam jiwa mereka. Lalu dia menampakkan

di hadapan mereka hal-hal aneh dan aialb yang dapat menyedot perhatian
mereka. Ia pun semakin populer. Pengikutnya bertambah banyak. Akhirnya,
dia pun pindah ke Shan'a. Dari Shan'a, ia pindah ke daerah lain. Ia berhasil

menguasai daerah yang letaknyadi antara Hadramaut dan Thaif, juga daerah di
ant^r^ Bahrain dan'And.

I(etika Aswad al-Ansi makin kuat kedudukannya, tampillah para Mukmin.
Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Islam, dan benar-benar
yakin pada Nabi-Nya, betul-betul tunduk pada Allah dan Rasul-Nya. Pengikut

al-Ansi mengambil tindakan kejam terhadap mereka. Di antara orang-orang
yang menentang itu, yang paling menoniol adalah Abdullah bin Tsuwab yang
kemudian lebih dikenal dengan Abu Muslim al-Khaulani.

Ada juga yang mengatakan namanya Abdullah bin Abdullah. Ia masuk
Islam ketika Nabi masih hidup. Tapi baru sempat datang ke Madinah pada
masa pemerintahan KhalifahAbu Bakar ash-Shiddiq.67l

Ia sangat kokoh berpegang teguh pada agamanya, kuat dalam

keyakinannya, berani bersuara lantang menegakkan kebenaran, mengikhlaskan
dirinya padaAllah, menjauhi dunia, zuhud terhadap kekayaan dan kesenangan
hidup. Iabernadzar bahwa hidupnya akan diisi untuk taat kepada Allah dan
berdakwah demi kepentingan agama-Nya semata. Dia merelakan dunia yang
fana ini dengan kepentingan akhirat yang kekal, sehingga dia mempunyai tempat
yang tinggi dan kedudukan mulia dalam iiwa masyarakat. Mereka melihatnya
sebagai seorangyang suci jiwanya dan bersih ruhnya. Doanya selalu dikabulkan
oleh Allah.

Setelah mengetahui bahwa Abu Muslim menentangnya, Aswad al-Ansi
ingin bertindak kejam pada Abu Muslim. Al-Ansi berharap tindakannya itu

dapat menimbulkan rasa takut dan gelisah dalam jiwa para penentangaiarannya,

61 SjmAhn at-TaDr't , Shabribin Salamah Syahin, hlm.278

101 "Kisahc(abi'in 55

baik yang secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Dengan begitu, ia
berharap mereka berhenti menentangnya.

Dia meny'uruh para pengikutnya untuk menumpuk kayu bakar di depan
mas1ra12[^1 Shan'a lalu menyalakannya. Lalu dia mengundang orang-orang untuk
menvaksikan dialog antara ahli fiqh Yaman dengan Abu Muslim al-Khaulani.
Ini dilakukan ag^r dia dapat mengukuhkan kenabiannya.

Pada waktu yang telah ditentukan, al-Ansi datang di halaman yang telah
dipenuhi warga. Dia didampingi oleh para algojo dan pengikutnya dengan diapit
oleh ajudan dan komandan pasukannya. Lalu dia duduk di kursi kebesarannya
yang menghadap ke api. Waktu itulah, Abu Muslim di seret ke hadapannya,
agar dapat dilihat orang banyak. Setelah Abu Muslim berada di hadapannya,

para pengikut al-Ansi yang pembohong dan sombong melihat padanya. Al-
Ansi melihat api yang berkobar-kobar di hadapan Abu Muslim, lalu menoleh
padanya seraya bertanya, 'Apakah engkau masih bersaksi bahwa Muhammad

adalah utusafl Allah?"

"Benarl' jawab Abu Muslim, "Aku masih tetap bersaksi bahwa Muhammad
adalah hambaAllah dan utusan-Nya.Dan dia juga adalah penghulu para utusan
Allah dan penutup para Nabi."

Waiah Aswad al-Ansi mengerut, merah panuh dengan kemarahan. Dia
bertanya, "Dan apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?"

"Sesungguhnya telingaku tuli sehingga aku tidak mendeng r ap^ yang

kau katakan," iawab Abu Muslim.
"Kalau begitu aku akan melemparkanmu ke dalam api itu," kata al-Ansi.
"Kalau engkau melakukannya, maka sebenarnya yang paling kutakuti

adalah api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu-batuafl, yang
para penjaganya adalah para malaik^t yang keras dan menakutl<an. Ia tidak
pernah berbuat durhaka kepada Allah terhadap perintah-perintah-Nya; bukan
kepada api yang bahan bakarnya dari kayu bakar," kata Abu Muslim.

Al-Aswad b erkata, 'Aku tak akan terburu-buru melemparkanmu ke dalam
api itu. Aku masih memberikan kesempatan untuk memikirkan dan menarik
kembali pemikiranmu itu."

AI-Ansi kembali mengulangi pertanyaanflya, 'Apakah engkau masih
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?"

Abu Muslim tetap pada pendiriannya.

56 101 "Kisahclabi'in

Hd itr-r membuat kemarahan al-Ansi bertambah. Dia beranya lagi, 'Apakah
engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?"

"Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu bahwa telingaku ini tuli
sehingga tidak mendengar perkataanmu?" jawab Abu Muslim.

Meledaklah kemarahan Aswad al-Ansi karena pedasnya iawaban, tenangnya
jiwa dan tegarnya Abu Muslim. Ia pun memerintahkan agar Abu Muslim segera
dilemparkan ke dalam api yang sedang berkobar-kobar itu. Pada waktu itulah
kepala pengawalnya datang kepada al-Ansi dan berbisik-bisik di dekat telinga-
nya.

"Orang ini, sebagaiman y^flg engkau ketahui adalah orang yang suci
iiwanya dan dikabulkan doanya. Sesungguhnya Allah sekali-kali tak akan
memberikan pertolongan kepadamu atas seorangMukmin. Dia betul-betul tak
akan membiarkan hamba-Nya dalam kekejaman dan penyiksaan walau, hanya
satu detik. Jika engkau telah melemparkannya ke dalam api, kemudian Allah

menyelamatkan, berarti engkau telah menghancurkan apa yang telah kau bangun

dalam sekejap saja.Juga berarti engkau mendorong orang untuk mengingkari
kenabianmu dengan cepat. Tapi kalau api itu dapat membakarnya,maka orang

bertambah kagum kepadanya dan tambah memuliakan dan mengagungkannya."

Al-Ansi mulai bermusayawarah dengan p^r^ pengikutnya. Hasil

musyawarah itu memutuskan untuk mengeluarkan dan mengusir Abu Muslim
al-Khaulani dari daerah itu selama-lamany^.

Abu Muslim al-Khaulani perg ke Madinah dengan harapan dapat bertemu
langsung dengan Rasulullah Sbalkllaba Alaibi wa Sallam. Dia sangat gembira
menjadi shahabat Rasulullah Shallallahu Alaibi aa Sallam. Tapi ketika hampir
sampai di ujung Madinah, berita duka atas wafatnya Rasulullah Sballallahu Alaihi
va Sallam sampai padanya. Sampai pula berita kepadanya bahwa Abu Bakar
ash-Shiddiq telah terpilih sebagai khalifah kaum muslimin setelah wafatnya
Rasulullah S halkllaha Alaibi ua S alkn.

Berita itu membuat Abu Muslim sangat sedih. Dia merasakan kerinduan

kepada Rasulullah Sballallaha Akibi wa Sallan y^ng^mat dalam di hatinya.

Setelah Abu Muslim sampai ke Madinah, ia langsung menuju ke Masiid

Rasulullah Shallallafu Alaihi wa Sallam. Sesampainya di sana, dia pun

menambatkan untenya lalu masuk ke masiid Nabi dan mengucapkan salam

kepada Rasulullah Sballallahu Alaihi aa Sallarn. Dia terus berdiri di sdah satu

tiang masjid dan mulai shalat.

101 .Xisah'labi'in 57

Setelah selesai shalat, Umar bin Khaththab menghampirinya dan bertanya
kepadanya, "Dari manakah engkau?"

"DariYaman," jawab Abu Muslim
"Bagaimana pertolongan Allah kepada shahabat kita yang dilemparkan
ke dalam api oleh musuhAllah, apakah Allah menyelamatkannya?" tanyaUmar

lagt.

"Itu adalah berkat kebaikan dan nikmat Allah yang paling baik," jawab

AbuMuslim.
"Demi Allah, Andakah orang itu?" tanya Umar.
"Benar," jawab Abu Muslim.

Umar langsungmencium dahi Abu Muslim, dan berkata,'Apakah engkau
mengetahui balasan Allah terhadap musuh-Nya dan musuhmu itu?"

"Tidak," jawab Abu Muslim. "Karena berita-berita tentang orang itu telah
lama putus dariku sejak aku meninggalkan Yaman."

Umar menerangkan, "Allah telah membunuhnya melalui tangan sisa-sisa

orang Mukmin yang benar dan Dia telah merampas kekuasaannya dan

mengembalikan para pengikutnya pada agama Allah,"
Abu Muslim berkata, "Segala puii bagi Allah yang tidak mengeluarkan

aku dari dunia sampai aku merasakan bahagia karenapar penipu dari penduduk
Yaman kembali pada Islam."

"Aku memuji Allah yang telah mempertemukanku dengan salah satu umat
Muhammad yang telah mengalami siksaan seperti Khalil ar-Rahnan, bapak kita
Ibtahim," kata Umar.

Umar memegang tangan Abu Muslim dan membimbingnya untuk

menemuiAbu Bakar. Setelah masuk, Abu Muslim mengucapkan salam kepada
sang khalifah dan membuatnya.

Abu Bakar mempersilakan Abu Muslim untuk duduk di antara dia dengan
Umar dan memintanya untuk menceritakan kejadian yang menimp^nyl, akibat
perbuatan Aswad al-Ansi.

Begitulah. Abu Muslim tinggal di Madinah al-Munawwarah selama

beberapa waktu. Selama di sana, ia mengisi waktu dengan mendatangi masjid
Rasulullah ShallallabuAkihi wa Sallam. Shalatnya selalu dilakukan di Raudbah al-
Mutbtbaharab dengan kekhusyukan yang mengagumkan. Dia banyak belajar dad
keluasan pengalaman para shahaba;ty^ngmulia, seperti Abu Ubaidah bin al-

58 lol "Kisahclabi'in

Jarah,Abu Dzar al-Ghifari, Ubadah bin Shamit, Mu'adz binJabal dan Auf bin

Malik al-Asyf a'i.

Selaniutnya, Abu Muslim berangkat ke daerah Syam dan tinggal di sana.
Tuiuannya, agar ia dekat dengan Tsuwur (daerah perbatasan antara daerah kaum
muslimin dengan daerah musuh mereka), untuk membantu tentairz-tefltara.
kaum muslimin dalam memerangi Romawi dan mendapatkan pahala beriuang
melawan musuh di jalan Allah.

Ketika kekhdifahan berada di tangan Mu'awiyah bin Abu Su$ran, Abu
Muslim sering menolak pendapat-pendapatnya. Abu Muslim mempunyai sikap
dan pendirian yeng sangat terkenal.

Ini terbukti ketika Abu Muslim datang menjumpai Mu'awiyah. Ia langsung
duduk di tengah maielis Mu'awiyah yang dihadiri oleh banyak orang. Padahal
orang-orang bawahan, kepala-kepala pasukan tent^r , dan para pemuka kaum
Mu'awiyah duduk mengelilinginya. Abu Muslim tahu bahwa mereka sangat
menghormati dan memuliakan Mu'awiyah. Ketika melihat suasana seperti itu,
Abu Muslim berkata, "Salamu'alaikala ajiral nukruinin" (semoga keselamatan
bagimu wahai buruh kaum Mukmin).

Serentak, orang-orang yang ada di situ menoleh padanya dan berkata,
"Bukan ajiral rukninin,tetapi Amirul Mukminin, wahai Abu Muslim!"

Abu Muslim tidak memperdulikan mereka. Dia malah mengulangi lagi
salamnya. Orang-orang pun memperbaiki ucapannya itu. Peristiwa itu berulang
sampai tiga kali, hingga akhirnya Mu'awiyah berkata: "Biarkanlah Abu Muslim.
Karena dia lebih mengetahui y dikatakannya."

^pa ^ng
Lalu Abu Muslim menoleh pada Mu'awiyah dan berkata, "Sesungguhnya

perumpamaanmu setelah Allah meniadikanmu wali (penguasa) terhadap
persoalan orang banyak seperti orang yang membayar seorang buruh dan

masalah kambingnya yang diwakilkan padanya. Maka upahnya tergantung pada
sejauh manaia bertindak baik dalam menggembalakan kambingnya, meniaga
badannya, memperbanyak kulit ternaknya dan susunya. Kalau buruh itu dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik sampai menggemukkan kambing yang

kurus, meniadikan yang sakit sehat, maka buruh itu akan diberi upah oleh

majikannya. Sebaliknya, kalau buruh itu tidak dapat melaksanakan pemeliharaan
kambingnya dengan baik dan melalaikannya sampai badannya yang kurus
menjadi rusak dan yang gemuk menjadi kurus, ternak-ternaknya hilang dan

susunya semakin berkurang, maka majikan itu tak akan memberikan upah

101 "Kisah<labi'in 59

kepada buruh itu. Ia akan memarahi dan menyiksanya. Sekarang engkau tinggd
pilih, mana yang lebih baik bagi engkau? Balasan apay^ngengkau kehendaki?"

Mu'awiyah, yar,g ketika itu sedang menundukkan kepala, segera

mengangkat kepalanya dan berkata, "Semoga Allah memberikan balasan
kepadamu,'wahai Abu Muslim. Karena engkau telah menasihati kepada kami
dan rakyat kami dengan sebaik-baik balasan. Kami menyadari bahwa engkau
hanya menasihati hanya semata karena Allah dan Rasul-Nya. Demi kebaikan

kaum muslimin secara umum."

Suatu ketika, Abu Muslim mendatangi masiid Damaskus. Khatibnya kala
itu adalah Amirul Mukminin Mu'awiyah. Amirul Mukminin memerintahkan
untuk menggali dan memperdalam sungai Barada sampai keluar air yang bersih
untuk kepentingan mereka sendiri agar dapatmeminumnya.

Ketika itulah Abu Muslim berteriak dan memanggil Mu'awiyah dari tengah-
tengah jamaah. "Ingadah wahai Mu'awiyah! engkau akan mati hari ini atau besok
pagi. Rumahmu nanti adalah kuburanmu. Kalau engkau mau membawa sesuatu

ke kuburmu itu, bawalah sesuatu yang baik dan berguna bagimu nanti di

kuburmu.

Aku berlindung kepada Allah wahai Mu'awiyah, dari prasangkamu bahwa
kedudukan kekhalifahan adalah memperdalam sungai dan mengumpulkan

harta. Karena kekhalifahan itu mempunyai tugas untuk melakukan dan

menegakkan kebenaran, berkata benar dan iuiur dan membebani manusia
dengan sesuatu yang diridhai Allah.

\7ahai Mu'awiyah! Sesungguhnya l<tta tidak pernah memperhatikan
keruhnya air sungai, jika mata kepala kita sudah jernih. engkau adalah mata
kepala kami. Karena itu, bersungguh-sungguhlah untuk menjadi seorang yang
jernih dan bersih.

!7ahai Mu'awiyah! Kalau engkau betbuatzahmpada satu orang saja, maka
kezalimanmu akan menghilangkan keadilanmu. Karena itu, sekali lagi, iauhilah
kezaliman, karena perbuatan zalim itu merupakan kegelapan dan akan diberi
balasan keiam di hari Kiamat nanti."

Setelah Abu Muslim selesai berbicara, Mu'awiyah turun dari mimbar dan

menghampirinya. "Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Muslim dan

memberikan balasan yang sebaik-baiknya karena telah manasihati kami."

Di lain kesempatan, Mu'awiyah naik mimbar dan berkhutbah. Pada waktu
itu Mu'awiyah telah menahan hak harta rukyat selama dua bulan. Abu Muslim

60 1o1 Jftsahfiabi'in

pun memanggilnya, "Wahai Mu'awiyah! Sesungguhnya hata itu bukanlah
milikmu, bukan pula harta ayah dan ibumu. Maka atas dasar apa engkau

menahan hak-hak warga?"

Raut wajah Mu'awiyah sangat marah sehingga orang-orang y^ng
menyaksikan itu menunggu dan memperhatikan apa yang akan diperbuat oleh
Mu'wiyah.

Mu'awiyah tidak melakukan apa-apa kecuali memberikan isyarat kepada
yang ada di situ agar berdiam di tempat dan tidak meninggalkan tempatnya.
Lalu Mu'awiyah turun dari mimbar dan langsung berwudhu dan membasahi
dirinya dengan air. I(emudian dia naik lagi ke atas mimbar dan mengucapkan
alhamdulillah dengan kehadiran Abu Muslim. Lalu ia berkata, "Sesungguhnya
Abu Muslim telah menjelaskan bahwahafta itu bukanlah hartaku, bukan pula
harta ayahku dan bukan pula harta ibuku. Apa yang dikatakan Abu Muslim itu
benar, karena aku pernah mendengar Rasulullah Sballallahu Alaibi wa Sallant
bersabda,

'Marah itu adalah syetan dan syetan adalah api. Sedangkan air dapat

memadamkan api. Maka apabila salah seoarang darimu marah, maka mandilah.
Vahai saudara sekalian, pergilah dan ambillah hak-hak kdian semua atas berkah
Allah."

Ia wafat pada tahun 62Hiinyah. Ketika mendengar tentang meninggalnya
Abu Muslim, Muawiyah berkata, "Sesungguhnya musibah di atas musibah adalah
kematian Abu Muslim al-Khaulani."68l

Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik pada Abu Muslim al-
Khaulani, karena dia telah menjadi teladan dalam menyuarakan kebenaran.6el

G,^2

@ 2lsbrat-Tahi'in, Abdul Mun'im al-Hasyimi, hlm. 289
@ Disarikan dari berbagai sumber

101 "KisahTabi'in 61

9

-#€[email protected]

Abu Salamah bin
Abdurrahman bin Auf

Hahim Adil dari Madinah

"Engkau telah meninggalkan d,ua orang laki-laki dari kauntmu
yang sepengetahuanku ti.dak ada yang lebih tahu tentang hadits
daripada keduanya: Urwah dan Abu Salamah."

-Ibrahim bin Qarizh-

A BU Salamah adalah putra Abdurrahman bin Auf, seorang shahabat
L \Rasulullah yang kaya. Nasabnya secaralengkap adalah Abu Salamah bin

Abdurrahman bin Auf bin Abdi Auf bin Abdi bin Harits bin Zuhrah bin

Kilab bin Murrah bin Ka'ab al-Qurasyi az-Zvhial-Hafrzh.Imam adz-Dzahabi
dalam S jarAlaruin Nubala'-nya menempatkannya pada tingkatan kedua dalam
iaiaran era tabi'in. Dia merupakan ulama Madinah. Ada yang mengatakan nama
aslinya Abdullah atau Ismail. Dia dilahirkan pada sekitar tahun 20-an Hiiriyah.
Ia hanya meriwayatkan sedikit hadits dari ayahnya,karena sang ayah terlebih
dulu meninggal dunia. Saat itu, Abu Salamah masih kecil.

Namun demikian, ia sempat meriwayat-kan hadits dari beberapa shahabat
Rasulullah SballalkhuAlaihiwaSalkn,antaralatndariUsamahbinZaid,Abdullah
bin Salam, AbuAylmb,Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim,Abu Hurairah,
dan beberapa shahabat Nabt Sballallabu Alaibi wa Sallam lainnya.

Menurut Umar bin Abdul Aziz, Abu Salamah adalah seorang penuntut
ilmu yang faqih dan muitahid yang punya kemampuan berhujiah. Beberapa
ulama meriwayatkan dari Abu Salamah, antara lain: anaknya,Umar bin Abu
Salamah, keponakannya Sa'ad bin Ibrahim, Abdul Majid bin Suhail, Arak bin
Malik, asy-Sya'bi, Said al-Maqbari, Amr bin Dinar, az-Ztthn,Salamah bin Khalil,

dan lainnya.

62 101 &isahc(abi'in

Ibnu Sa'ad dd,arn Thabaqat-nya menyebutkan, Abu Salamah termasuk orang

yang tsiqab dan faqih. Abu Zur'ah menyebutnya sebagai seorang imam yang

tsiqah.lmam Malik berkata, "Di ^ntar^ kami ada yang dikenal sebagai ahli ilmu.

Nama atau kanlah salah seoarang di antaranya adalah Abu Salamah."

Muhammad bin Abdullah bin Abi Ya'kub adh-Dhibby berkata, 'Abu

Salamah pernah datang ke Bashrah di kediaman Bisyr bin Marwan. Abu Salamah
merupakan seorang laki-lakr yangceria. Wajahnya seperti mata uang dinar."

Az-Zuhri berkata,'Ada empat orang Quraisy yang kutemui seperti laut
(riasan banyaknya ilmu mereka). Yaitu, Urwah, Ibnu al-Musayyab, Abu Salamah
dan Ubaidillah bin Abdullah. Namun Abu Salamah sering berbeda pendapat
dengan Ibnu Abbas. Dengan demikian, ia terhalang untuk mendapatkan ilmu
yang banyak (dari Ibnu Abbas)."

Ibnu Syihab az-Zuhi berkata,'Aku datang ke Mesir untuk bertemu Abdul
Aziz,gabernur daerah itu. Aku berbicara tentang Said bin al-Musayyab. Ibrahim
bin Qarizh berkata, Aku tidak mendengarmu berbicara kecuali tentang Said
bin al-Musayltab?' Ibnu Syihab menjawab, Ya.' Ibrahim mengatakan,'engkau
telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaummu yang sepengetahuanku
tidak ada yang lebih tahu tentang hadits daripada keduanya: Urwah dan Abu
Salamah." Az-Zuhri kembali mengatakan, "Ketika aku kembali ke Madinah
aku mendapatkan Urwah laksana laut yang tak dikotori oleh sesuatu."

Semasa hidupnya, Abu Salamah biasa mengunjungi berbagai kota. Selain
ke Mesir dan Bashrah,iaiuga pernah ke Kufah. Dipaparkan oleh asy-Sya'bi,
"Ketika ke Kufah, ia berialan di antaraku dan seorang pria. Lalu ia dttanya
tentang orang yang paling berilmu. Ia diam seienak, lalu menjawab, 'Seorang
pria di antara kalian berdua.'

Di antara hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah adalah hadits dari

Abu Hurair ah yangberbunyi:

(t,,Jt rtuJt) ti^ qy Lta y jy'vt jelr t)ari \

.;;\t rtu*;itj

'Janganlah rnemperkuat (tekad) untuk rnelakukan pejalanoo *rooA poda tiga
nayid: nasjidku ini (Mayid Nabawi di Madinab-pen), Mayidil Haran (di

M a kka h-pen) da n M a yi di I Aq sb a (di Yra sa le n-pen) "

Hadits lain yang bersumber dari Abu Salamah dari jalur Qatadah bahwa
Rasulullah S halkllahu Alaibi wa Salkn bersabda:

101 "KisahTabi'in 63

'i11 h:;:. W g'*f 6i, rsr; )u":ill q'F,, i,,tsr gllt

.iU'J tl:Vtt|'u. $\\:Ar e$ i>3 ot;-"*

'Melihat itu daiAllab dan berninpi ita dari yetan. Ketika salah satu dari kalian

kiibernimpi buruk, ruaka bendaklah ia meladah ke sebanlak tiga kali dan

berta'awaadq-lah (berlindunglah) pada Allah dari keburakannla. Maka bal itu
"ta k a kan m uz b a h a,y a kan rgta.
Seiarawan Khalifah bin Khayyath mengatakan, "Marwan bin Hakam
meninggalkan Madinah pada 48 Hijriyah. Lalu Madinah dipimpin oleh Sa'id
bin Ash. Dan Abu Salamah bin Abdurrahman diminta sebagai hakim."
Abu Salamah tetap menjabat sebagai qadhi Madinah hingga Sa'id taklagi
menjabat gubernur kota itu pada tahun 54 Hijriyah.

Abu Sa'ad berkata,'Abu Salamah meninggal dunia di Madinah pada tahun
94 Hijriyah pada masa pemerintahan al-Walid dalam usia72 tahun."7olAda iuga
yang menyebutlan, iawafat pada tahun 104 Hiiriyah.?l!

G,^2

'o SlarAhu n Ntbala',lY /281 -292
't MagabirUhtta' alAtrbaql/ 164

64 lol ,Xisahflabi'in

-eqf1*0e€-

Abu Wail Syaqiq bin Salamah

Perpanduan IImu dan Amal

"Aku tidak pernah melihat Abu Wail berpaling d.alam shalatnya,
begitu juga di selain shalat."

-Ashim-

l\ IARI kita mulai kisah kehidupan imam ini. Kisah tentang hidayah untuk
IYl..or"ng tokoh. Kita persilakan Sulaiman bin Mihran memulainya. Syaqiq

berkata, "\W'ahai Sulaiman! Bayangkan kita melarikan diri dari Khalid binWalid,
dan aku terjatuh dari hewan tungganganku yang bisa menginjak leherku. Kalau
aku mati saat itu, maka nerakalah bagiku." Peristiwa itu teriadi ketika kaum
muslimin memerangi orang-orang murtad di masa pemerintahan Abu Bakar
ash-Shiddiq. Lalu, Ailah memberikannya hidayah untuk masuk Islam.

Dialah Abu Wail Syaqiq bin Salamah al-Asadi al-Kufi, imam besar dan
syaikh kota Kufah. Dia lahir di masa Rasulullah Sbalkllaba Akihi wa Sallam,
tapi tak sempat bertemu dengan beliau, Menurut Ibnu Hibban dalam l<ttab ats-
Tsiqat,Abu Wail lahir pada tahun pertama Hiiriyah.

Namun demikian Abu lWail sempat meraih kemuliaan para shahabat Nabi.
Tercatat, ia sempat bertemu dengan Umat bin Khaththab, Utsman, Ali, Amr,
Ibnu Mas'ud, Abu Musa al-Asy'ari, Abu Hurairah, Aisyah, Ummu Salamah,
dan lainnya.

Abu Wail mencapai denjat orang-orang shath. Dialah murid Abdullah
bin Mas'ud. Setiap kali melihat Abu Wail, Abdullah bin Mas'ud selalu berseru,
"Wahai orang yang bertaubat!"

Beginilah murid Ibnu Mas'ud menjadi pemimpin ahli ilmu dan amal.
Kenapa tidak? Dia mengambil langsung ilmu dan amal dari otang yang lulus
dari madrasah Rasulullah Sbalkllaba Alaibi aa Salkn. Merekalah orang-orang

101&.isah{abi'in 65

yang selalu menyertai Ibnu Mas'ud, baik di malam hari, siang, di rumah, dalam
perjalanan, di masjid dan di mana saia.

Perhatikanlah bagaimana Ibnu Mas'ud mendidik murid-muridnya. Suatu
ketika, ia berpapasan dengan Abu Wail yang sedang membawa mushaf berhias
emas. Ibnu Mas'ud berkata, "Sungguh yang paling baik untuk menghias al-
Qur'an adalah membacanya dengan benar,"

Dalam tempaan iniiah Abu Wail tumbuh. Ibrahim an-Nakha'i pernah
menasihati al-lt'masy untuk selalu menyertai oraflg-orang shalih. "Sertailah
Syaqiq. Sungguh aku mendapatkan murid Ibnu Mas'ud sebagai orang yang
kaya ilmu. Mereka tergolong orang-orang pilihan," uiar Ibrahim an-Nakha'i.

Betapa indahnya mendapatkan kesaksian dari seorang ahli fiqh Kufah
seperti Ibrahim an-Nakha'i. Perhatikanlah kesaksian Ibrahim an-Nakha'i pada
kesempatan lain. "Tidak ada sebuah desa kecuali di dalamnya terdapat orang
yang membela penduduknya. Aku berharap Abu Wail termasuk di antara

mereka."

Posisi ini tidak didapat kecuali dengan usaha maksimal yang panjang
melawan godaan hawa nafsu dan syetan serta berusaha untuk taat. Ashim
menggambarkan shalat dan keshalihan Abu Wail dalam ungkapannya, 'Aku

tidak pernah melihat Abu Wail berpaling dalam shalatnya, begitu juga di selain
shalat."

Ashim pernah mendengar Abu \Wail berdoa saat sujud. Di antara doanya
adalah, "Tuhan, ampunilah aku! Tuhan maafkanlah aku! Jika engkau

memaafkanku, maka paniangkanlah keutamaanmu. Jika engkau mengazabku,
bukan oleh orang yangzabm padaku."

Ashim berkata, "Kemudian dia menangis hingga kedengaran dari luar masjid."

Abu Wail tetmasuk orang yang menyucikan hati dan iiwanya. Ashim ketika
berkata,'Aku tidak pernah mendengarAbu \Wail mencaci manusia atau binatang
sama sekali."

Az-Zabxqand menceritakan, "Suatu ketika aku bersama Abu S7ail. Lalu
aku mencaci il,-Haiiaj dan menyebut-nyebut keburukannya. Abu Wail berkata,
Jangan mencacinya. Siapa tahu dia berdoa, Ya Allah ampunilah aku..Maka,
Allah mengampuninya."

Ini keutama^n yan1 diberikan Allah untuk meniaga lisan seseorang dari
kalimat sia-sia. Barangsiapa yang meniadi lisannya dari kata-kata y^iE sia-sia,

makaia akan bisa menjaga jiwanya.

66 101 .KisahTabi'in

Abu Wail juga dikenal sangat wara'dan berhati-hati menerima pemberian.

Hal ini tercermin dalam ungkapannyapada seorang budaknya, "Kalau Yahya-
anaknya-datang memba\pa sesuatu, ianganlah diterima. Kalau para sahabatku

datang, maka terimalah."
Abu lWail juga sangat menlaga didnya untuk tidak terlibat pada pekerjaan

pemerintah. Ini nampak ketika seorang pria datang dan berkata, 'Anakmu

dipekerjakan di pasar." Abu Wail berkata, "Demi Allah! Seandainya engkau
datang membawa berita kematiannya itu lebih kusukai. Sungguh aku sangat
membenci masuknya hasil pekerjaan mereka ke rumahku."

Namun demikian, tetap saia ia mendapat ujian sebagaimana ulama dan
ahli ilmu lainnya. Suatu ketika ia diminta datang untuk menemui al-Hajjaj bin
Yusuf. Ketika bertemu, al-Haijai segera bertanya, "Siapa namamu?"

"Tidak mungkin seorang amir memanggtlk" kalau tidak tahu namaku,"
iawab Abu Wail.

"Kapan engkau tinggal di negeri ini?"
"Pada malam-malam penduduknya menetap."
'Apa yang engkau baca dari al-Qur'an?"
'Aku membaca dari al-Qur'an yang kalau kuikuti, akan mencukupiku."
"Kami ingin menugaskanmu pada sebagian pekeriaan kami."
"Pekerjaan apa?"
"Silsilah!"
"Silsilah tidak pantas kecuali bagi merek^ yang melakukannya. Kalau
engkau minta bantuanku, maka engkau minta tolong pada seorang syaikh yang
lemah. Kalau amir memaafkanku, itu yang lebih kucintai." Abu Waii berhasil
menghindar dari taw arun pemerintah
Ia meninggal pada tahun 82Hij:iyah72l

G,N)

n Sebagim nr.lisan inidimgkum dri buku Sbtwrwin S!1tat-Tabi'in,lwyaAzhari Ahmad Mahm,sddn SbarAhn at-

Tali'i n, karyz Shzbri bin Salamah Syahin

101 "Xisahc[abi'in 67

-*[email protected]

Abu al-Aswad

Pelopor IImu Nahwu dan Harahat al-Qur'an

!'"Ala ngha h b aikny a N ahw u y ang enghau conto hkan

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib

fA dikenal dengan ad-Duali atau ad-Daily. Seorang alim dan mulia yang pernah

Imenjabat sebagai hakim wilayah Bashrah. Menurut cerita yang paling

masyhur, nama aslinyaZahm bin Amr. Ia lahir pada masa kenabian.
Ia mendapatkan hadits dari generasi shahabat seperti Umar, Ali, Ubay bin

Ka'ab, Abu Dzar, Abdullah bin Mas'ud, Zubur bin Arvwam dan beberapa

shahabat lainnya.
Menurut Abu Umar ad-Daniy, iabelajar al-Qur'an pada Utsman bin Affan

dan Ali bin Abi Thalib. Selaniutnya ia mengziarkannya kepada anaknya Abu
Harb dan Nashr bin Ashim al-Laitsi, Humran bin lfyun dan Yahya bin Ya'mur.
Lalu Humran berguru al-Qur'an pada Abu Harb bin Abu al-Aswad.

Dalam bidang hadits, banyak ulama besar meriwayatkan hadits darinya,
seperti anaknya sendiri, Yahya bin Ya'mur; Ibnu Buraidah, Umar budak Ghufran
dan lainnya.

Ahmad al-Ajli berkomentar tentang Abu al-Aswad, "Ia seorang yang tsiqah
dan dikenal sebagai orang pertama yang mengkaii ilmu Nahwu."

Menurut seiarawan al-Waqidi, ia masuk Islam ketika Rasulullah Shallallaha
Alaihi wa Sallam masih hidup. Sejarawan lain mencatat, ia ikut dalam Perang
Jamal dalam barisan Ali bin Abi Thalib.

Ali memberikan mandat kepadanya untuk meletakkan dasar-dasar ilmu

Nahwu karena ia mendengar banyak kasus l-abn (resalahan pengucapan bahasa
Arab karena pengaruh dialek asing). Abu al-Aswad memperlihatkan teori dan

dasar yang dituangkannya, hingga A[ berkata, "Alangkah baiknya contoh (=

68 lot "Kisahfiabi'in


Click to View FlipBook Version
Previous Book
##Download Onirodinamica La vida como sueño (Spanish Edition)
Next Book
Menu Waroeng Kopi Alam