The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Widwi Ast, 2021-08-19 23:12:40

3. Serpihan Cermin Retak

3. Serpihan Cermin Retak

1

YPTD 173

Serpihan Cermin Retak
Antologi Cerpen
Penulis
Tung Widut
Maret 2021

Penerbit

Serpihan Cermin Retak
Penulis : Tung Widut

2

ISBN : 978-623-6196-22-9

Editor : Atmasari Nurhayati
Layout isi : Atmasari Nurhayati
Desain Sampul dan Tata Letak : Ajinatha

Penerbit :

Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) didirikan berdasarkan Akte Notaris PPAT Titin Etikawati,
SH, M. Kn dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-
0013926.AH.01.12. Tahun 2019 Tanggal 29 Juli 2019. AktaNotaris

Alamat Redaksi :

Perumahan Bumi Harapan Permai (BHP), Jl. Bumi Pratama VIII Blok A 23
Kelurahan Dukuh RT 05 RW 06 – Kecamatan Kramat jati Jakarta Timur 13550
Telp. : (021) 87799665 Hp : 08159932527
NPWP : 954979498009000
Rekening Bank An. Bendahara YPTD Enida Busri SKM, S,Kep , Bank Rakyat Indonesia (BRI) No.
Rek : 093201040485532

Email : [email protected]
Website YPTD : terbitkanbukugratis.id

BukuYPTD ke 173

Isi Buku diluar tanggung jawab Penerbit

Hak Cipta dilindungi oleh undang- undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari penulis.

3

Kata Pengantar Penerbit

Pertama diucapkan selamat kepada Ibu Tung Widut atas terbitnya buku berjudul Serpihan Cermin Retak .
Lisensi Barcode ISBN 978-623-6196-22-9
Buku ke 1 Penulis merupakan Buku ke – 173 diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).
Sesungguhnya muara tulisan adalah buku dan sejatinya Buku adalah Mahkota seorang penulis. Menerbitkan
buku ibarat mengumpulkan tulisan nan terserak. YPTD Komitment menerbitkan buku ber ISBN Gratis
Penerbit berharap buku ini menjadi salah satu referensi bagi pembaca berminat mengetahui tentang kisah kisah
kehidupan sehingga terbitlah Buku Serpihan Cermin Retak . YPTD merasa beruntung kehadiran
keberagaman profesi yang pada gilirannya menyumbang kekayaan Literasi Indonesia bahwa setiap karya selalu
memiliki nilai manfaat .
Ungkapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada Hj. Kamsiah Binti Sutan Mahmud
(Almarhumah) atas donasi berupa wakaf sehingga buku ini terbit. Sekali lagi diucapkan selamat kepada Ibu
Tung Widut . YPTD menunggu karya selanjutnya dan tentunya tetap aktif menulis di website
terbitkanbukugratis.id

Jakarta, 8 Maret 2021

Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan
H. Thamrin Dahlan, SKM, M.Si

Ketua Umum YPTD

4

TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah
memperkenalkan dengan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan. Terima kasih
buat bapak Thamrin Dahlan atas motivasinya dan memfasilitasi untuk
mencetak antologi cerpen berjudul Serpihan Cermin Retak

Terima kasih kepada Omjay yang memantik semangat menulis
melalui lomba blog pada bulan Februari tanggal 1 sampai tanggal 28.
Adanya lomba blog bisa semangat menulis setiap hari.

Ide cerpen bersumber dari kehidupan nyata dikemas dalam bentuk
cerpen. Dibumbui dengan kata-kata yang bisa menggugah perasaan. Ada
juga cerpen yang benar-benar dari hasil imajinasi. Tidak ada dalam
kehidupan nyata tapi mempunyai makna yang dalam bagi kehidupan.
Dibukukannya antologi cerpen ini diharapkan pembaca bisa terhibur,
mengambil amanat dari cerpen tersebut dan menambah wawasan. Salam
literasi.

Dariku
Tung Widut

5

PROLOG
Matahari bersinar mesra di pagi hari
Perlahan datang menemani bercerita

Langkah kehidupan dalam terang
Berjuta rasa berjuta warna

Dari orang-orang yang tak puas dengan kehidupan mereka
Berteriak lantang kemenangan

Menangis tersedu kala duka yang orang lain tak bisa
merasakan

Terbahak kalah dirinya menang dalam kehidupan
Jalan gelap dijalaninya dengan rasa pekat
Kadang tidak sadar
Jangan menghakimi
Kalau boleh memilih
Dia akan tetap berada di jalan Allah

6

DAFTAR ISI

HALAMAN PENERBITAN........................................................i
KATA PENGANTAR PENERBITAN ..............................................
UCAPAN TERIMAKASIH .......................................................iv
PROLOG .......................................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................vi
SINOPSIS................................................................................ viii
SERPIHAN CERMIN RETAK.....................................................
RASA LEBIH DARI KATA ....................................................55
KABUT DALAM BADAI ........................................................65
TENTANG PERSELINGKUHAN ITU ...................................88
REMBULAN TERTUTUP AWAN........................................119
EPILOG ..................................................................................160
PROFIL PENULIS .................................................................161

7

SINOPSIS

Antologi cerpen yang berjudul Serpihan Cermin Retak di ambil dari
salah satu judul cerpen yang ada di dalam buku ini. Ini merupakan antologi
cerpen pertama yang isinya tentang kehidupan rumah tangga suami istri.
Pada kenyataan beberapa kejadian memang benar-benar terjadi dalam
kehidupan nyata kita. Cerpen dikemas dalam bentuk dan kata-kata yang
sangat menyejukkan hati. Berisi tentang jawaban-jawaban dan solusi yang
banyak diambil orang.

Cerita yang romantis dalam kehidupan rumah tangga yang patut
dibaca oleh kalangan remaja maupun orang yang sudah berumah tangga.
Nila yang dituduh berselingkuh dan bersikukuh dengan kesetiaannya.
Yuandra anak seorang mantan bos. Jatuh karena ditinggal meninggal orang
tuanya sampai dia ngak punya apa-apa. Mengambil jalan yang salah untuk
mempertahankan hidupnya. Ardiansyah yang bertemu dengan Zuria mantan
kekasihnya. Sebuah kekilafan yang di bayar dengar sebuah traged. Ini
dialami Indu dan Arera dalam judul Kabut dalam Badai.

8

9

SERPIHAN CERMIN RETAK
Tung Widut

"Maaf, saya harus segera pergi. Mau kerja," kata Yuandra.

Dia sibak selimut tebal yang yang berbau harum bermotif harimau.

"Oh....," katanya lirih. Dia merasakan sakit yang amat sangat di

bawah perutnya. Perih seperti terluka silet. Dia berusaha tak peduli. Harus

segera pergi. Sejam lagi harus kerja.

Tangan kanannya meraih satu persatu baju yang ia tanggalkan tadi.

Dilekatkan kembali pada tubuhnya. Belum juga sempurna memakai baju,

dia tertatih berjalan menuju pintu kamar mandi. Diambang pintu berhenti

sejenak. Membungkukkan badan meringis menahan perih.

Suara pintu tertutup lirih. Menenggelamkan tubuh mungilnya

menghilang di balik tembok. Terdengar gemericik air dari kran kamar

mandi. Menggambarkan perasaannya sekarang. Menderu dan menggebu tak

karuan. Kini rasa pedih makin terasa. Tak dia hiraukan pula. Dilihatnya

wajahnya di cermin. Tak lagi ada cahaya yang berbinar lagi. Itu untuk

selamanya. Selama sisa hidupnya.

Yuandra meninggalkan kamar mandi dengan terseok-seok menahan

pedih. Bibir manisnya meringis menahan.

10

"Mengapa kamu Yuan?"
Tak sebuah kata ke luar dari bibirnya untuk menjawab. Dia bergegas
membuka tasnya dan menyodorkan sebuah kertas. Kertas daftar hadir kuliah
yang banyak bolongnya kepada lelaki yang masih terbaring di bawah
selimut bermotif harimau.

"Kenapa kau terburu-buru?"
"Aku sudah melakukan sesuai perjanjian kita."
Kembali Yuandra menyodorkan sebuah kertas. Mendesak lelaki
yang masih malasan di ranjang untuk menuliskan sesuatu dan
membubuhkan tandatangan.
"Itu gampang nantilah?"
Dia bergeming. Memandangi dengan bola tajam pada lelaki itu.
"Okelah," jawabnya sambil duduk dan menyibakkan selimut.
Terlihat tubuh kekarnya tak dibalut sehelai benang pun.
"Oh," Yuandra membuang muka.
Tak mau melihat tubuh itu. Tubuh yang memburamkan sisa hidupnya.
"Kenapa kamu? Bukankah…"
"Tetap dalam selimut!"

Yuandra menyodorkan kertas itu sampai mendekati wajah lelaki
itu.

“Pulpennya?” Wajah kecewa sangat terlihat di muka coolnya.
Matanya dengan sorot tajam melirih setiap gerik Yuandra.

Ucapan terima kasih mengiringi kaki Yuandra meninggalkan lelaki
itu. Tapi sungguh yang dirasakan di bawah perutnya sangat sakit. Jalannya

11

perlahan menuju pintu ke luar. Matanya kini mulai berkunang-kunang. Dia
sekarang memegangi pintu memejamkan mata. Tubuhnya mulai goyang.
Tak seimbang. Seakan diterpa gempa.

"Ada apa kau Yuan?"
Yuan tak menjawab sepatah kata pun. Hanya diam. Lelaki itu
terburu mengenakan bajunya. Bergegas meninggalkan tempat tidurnya
menghampiri Yuandra. Dia memegangi pundak belakang dan
membalikkan.
“Ya Allah, wajah kamu pucat sekali.”
Dibimbingnya gadis itu ke sebuah kursi yang berada di samping pintu.
Sebentar lelaki itu berjalan ke pojok ruangan. Penghangat air dan gelas
disatukan dalam sajian.
“Ini air hangat, minum dulu!” sambil menyodorkan sebuah gelas.
Lalu dia berbalik untuk mengambil air pojok ruangan lagi. Dituangkannya
segelas air untuk dirinya. Seteguk dinikmatinya sambil melihat
pemandangan dari jendela. Hari sudah mulai sore. Jingga di langit terlihat
indah. Warna merah semu semburat membuatnya memandang lama. Tak
terasa. Kembali dia meneguk air di dalam gelas.
“Bagaimana? Sudah mendingan?” katanya sambil membalikkan
badan.
Tapi Yuandra tak ada lagi di tempat. Dia sudah menghilang.
Lelaki itu mehembuskan nafas panjangnya. Diletakkan gelas yang
berada ditangan kanannya. Kembali merebahkan badannya di kasur.
Menghilangkan lemas yang masih ada. Ditariknya selimut tebal yang tadi

12

berserakan. Tiba-tiba jemari kirinya memegang sesuatu yang dirasa basah.
Dia duduk dan berusaha menyingkap selimutnya. “Astaga,” teriaknya.

Lelaki itu melihat warna merah menodai sprei putihnya. Merah darah

segar. Dia meloncat menuju teras lantai dua rumahnya. Terlihat Yuandra

menutup pintu gerbang “Yuandra. Yuandra,” teriaknya sekuat tenaga.

Merasa panggilannya tak didengarkan, kaki-kakinya segera berlari

menuju pintu gerbang rumah. Kembali teriakan memanggil Yuandra, tapi

hanya deru sepeda motor yang kemudian menghilang ditelan belokan gang

di perumahan.

Lelaki itu menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada

kejadian beberapa jam lalu. Saat bersama gadis manis yang baru saja pergi.

Gadis yang berbeda dengan gadis lainnya. Para gadis biasanya kerasan

bersamanya. Kadang untuk membuat gadis mau pulang harus membuat

seribu alasan, bahkan harus mengusirnya dengan cara agak kasar. Tapi

Yuandra tidak. Dia datang secepat kilat dan begitu saja pergi.

Siang itu udara sangat panas. Matahari seakan-akan berada sejengkal

di atas ubun-ubun. Bau debu khas berhamburan di antara lorong-lorong

ruang perkuliahan. Carlos terlihat bolak-balik ke luar masuk ruang dosen.

Wajahnya terlihat resah. Seakan-akan ada sesuatu yang diharap. Kini Carlos

duduk di kursinya. Tangannya memainkan HP yang selalu dipegangnya.

Sebentar diletakkan lalu dipegangnya lagi. Status WA teman-temannya

dilihatnya satu persatu. Dia sangat berharap ada status dari Yuandra di layar

HPnya.

13

Wajah Yuandra terlintas di matanya. Wajah manis yang selalu

tersenyum Berpenampilan cuek, sangat percaya diri. Seakan-akan dunia

miliknya. Selintas kalau orang belum kenal akan membencinya karena

terkesan sombong.

Sebenarnya perhatiannya kepada Yuandra sejak semester lalu. Saat

pertama kali Yuandra mengikuti kelasnya. Kala itu dia terlambat tiga puluh

menit. Dengan cueknya duduk begitu saja saat pak Carlos menjelaskan

materi yang disampaikan. Gadis itu tanpa perasaan duduk di deretan paling

depan paling dekat meja dosen. Hari-hari selanjutnya Yuandra seperti

mahasiswa lain. Masuk seperti biasa, tak ada yang istimewa. Hanya

sikapnya yang cuek yang selalu melekat pada dirinya. Itu menjadi khasnya

yang membuat perhatian pak Carlos. Akhir-akhir ini, dia jarang masuk.

Kalaupun masuk dia terlambat atau tiba-tiba dengan terburu-buru

menghilang.
“Yuandra,” teriaknya ketika melihat sosok Yuandra berjalan di

depan ruang dosen. Pak Carlos segera ke luar dan mengejarnya.
“Yuan. Yuan. Aku ingin bicara,” teriak pak Carlos setelah berhasil

mengejar Yuandra. Sebenarnya Yuandra sendiri sudah mempercepat

jalannya. Dia sampai setengah berlari agar pak Carlos tak bisa mengejarnya.

Tiba-tiba Yuandra berhenti. Badannya dibalikkan. Sekarang dia

menghadap pada pak Carlos.
“Apalagi yang dibicarakan pak? Saya sudah melakukan sesuai

perjanjian. Saya sudah melaksanakan kewajiban dan juga sudah
14
menerima hak. Sekarang bapak bicara saja.”

“Tak mungkin bicara di sini.”
Dari arah belakang Pak Carlos terlihat Shenitra dan Hana berjalan
mendekati mereka berdua. Kesempatan ini digunakan oleh Yuandra untuk
pergi dari Pak Carlos. Setelah temannya dirasa dekat, segera meraih tangan
pak Carlos untuk berjabat tangan. Punggung tangan diciumi bak murid
teladan sambil berkata,
“ Terima kasih Pak. Terima kasih sudah diberi nilai. Saya pamit
dulu.” Dengan sopan Yuandra meninggalkan pak Carlos. Hanya beberapa
detik ketiganya hilang begitu saja dari pandangan. Tapi sebelum berbelok,
Yuandra sempat menoleh ke arah pak Carlos yang masih mematung
memandanginya pergi. Pak Carlos melempar senyum tipis.
Pak Carlos kembali ke ruang dosen. Dia duduk di kursinya.
Memejamkan mata sambil tersenyum mengingat saat Yuandra mencium
punggung tangannya.
“Andaikan itu terjadi saat Yuandra jadi istriku, betapa bahagianya,”
katanya dalam hati.
Semakin hari rasa penasaran kepada Yuandra semakin dalam.
Meninggalkan rasa playboynya kepada gadis-gadis lain. Selera makan pun
menjadi menurun. Pikirannya selalu dipenuhi Yuandra, Yuandra dan
Yuandra. Ingin mendekati Yuandra walau harus perjuangan yang tak mudah.

Hari demi hari Pak Carlos semakin menyendiri. Nomor-nomor
teman wanitanya banyak yang dihapus. Sudah tak lagi ingin chat seperti
biasanya. Sekarang dia suka melihat status temannya. Berharap di antara

15

status itu Yuandra menuliskan sesuatu di dindingnya. Melihat status teman-
temannya dia semakin iri dengan kebahagiaan yang dipamerkan. Teman-
temannya tertawa bersama keluarga. Menjadikan dia sering menelepon ibu
dan kakaknya.

Malam yang sangat menyenangkan. Suasana penuh bintang di langit.
Membuat penghuni bumi berpesta pora menikmatinya. Senyum riang
mengiringi langkah mereka. Merayakan kegembiraan dengan berjalan-
jalan di Mall walau tanpa belanja yang berarti. Sekarang pak Carlos
mengajak ibunya berjalan-jalan di sebuah Mall.

“Selamat malam ibu, silakan mencoba produk kami yang baru,”
terdengar suara SPG (Sales Promotion Girl) menawarkan dagangannya.

Pak Carlos tiba-tiba berhenti. Dipandanginya dengan jeli wajah SPG
yang sekarang berada di hadapannya.

“Yuandra?”
Wajah yang tertutup make up membuatnya seperti putri kerajaan.
Cantik nian SPG yang berada di hadapannya itu. Kelopak mata berwarna
coklat keemasan dan semburat warnanya biru. Garis mata yang tebal, bagian
pipi merah tipis dan bibir seksi terbalut lipstik berwarna pink serasi dengan
seragamnya.
Yuandra membalas pandangannya dari ujung rambut sampai ujung
kakinya. Sangat keren. Memakai kaos ketat berwarna hitam Hugo B0ss pres
body dan celana lois jeans yang sangat serasi.

16

“Yuandra ya?” pak Carlos kembali menyebut nama Yuandra untuk
meyakinkan. Yuandra sendiri juga terperanjat melihat penampilan pak
Carlos yang sangat keren. Dia juga meyakinkan kalau itu Pak Carlos.

“Pak Carlos? Oh maaf. Silahkan ibu mencoba produk kami yang
baru,” dia menawari produk kepada wanita di samping pak Carlos.

“Ini Yuandra, Ma,” pak Carlos memperkenalkan Yuandra kepada
ibunya.

“Iya, saya mahasiswa pak Carlos,” jawab Yuandra.
Selanjutnya dengan lihai Yuandra menawarkan produk-produk
unggulan dagangannya. Senyum manis dan bertutur kata halus.
Menjelaskan keunggulan-keunggulan produk yang cocok dengan usia
mamanya pak Carlos. Mamanya pun terlihatan tertarik dengan cara Yuandra
menawarkan barang dan cara bicara menjelaskan. Keterangannya sangat
jelas dan tidak berkesan memaksa sang pembeli.
Pak Carlos yang sejak tadi berdiri di samping mamanya sangat
terpesona melihat Yuandra menawarkan barang. Dipandanginya wajah
Yuandra dan semua gerak-geriknya. Tak terlewatkan sedetikpun.
“Sudah, mama pilih yang mana? Ambil aja!” kata-kata pak Carlos
sambil memandang genit kepada Yuandra.
Yuandra yang sejak tadi merasa diperhatikan gerak-geriknya pun
berusaha mencuri pandang wajah pak Carlos. Ketika pandangan mereka
beradu pak Carlos melemparkan senyum yang termanis.

17

“Nah kalau cari cewek itu seperti mahasiswa yang jual bedak tadi.

Tutur katanya halus, anaknya cantik lagi, Kamu itu cari cewek aja nggak
bisa.”

“Memang mama suka sama dia. Mama itu seakan-akan tahu apa

yang dipikirkan anaknya. Kalau begitu, Carlos akan semangat

berjuang,”canda pak Carlos membalas.

Itu pembicaraan Carlos dan mamanya saat berada di mobil dalam

perjalanan menuju pulang. Selain pujian itu masih banyak pujian-pujian lain

yang keluar dari bibir mamanya dan juga cela kepada cewek-cewek yang

pernah diperkenalkan kepadanya.

Beberapa hari berikutnya pak Carlos berusaha menemui Yuandra di

tempat kerjanya.
“Yuandra aku ingin bicara sama kamu.”
“Maaf saya bekerja.”
“Oke aku akan membeli semua produk ini dan kita bicara.”
“ Maaf tidak boleh produksi di sini dibeli oleh satu orang.”
“Oke.”
“Bapak pilih saja nanti kami akan menghitungnya,” jawab Yuandra

ketus.
“Win tolong bantu saya, layani bapak ini,” pinta Yuandra kepada

temannya.

18

Lalu dia berjalan meninggalkan Pak Carlos dan temannya dengan
alasan ke kamar kecil. Baru beberapa langkah Pak Carlos sudah
menyusulnya.

“Yuan aku ingin bicara sama kamu.”
“Maaf, saya ada keperluan lain.”
“Yuan. Aku serius.”
Yuandra berusaha menolak. Dia terus berjalan meninggalkan pak
Carlos. Sedang pak Carlos berusaha menahan Yuandra dengan memegang
tangannya, tapi Yuandra berhasil menghindar.
Tak putus asa sampai di situ. Pak Carlos tetap mengikutinya berjalan
sambil berkata. Agak keras. Spontan menjadi perhatian seluruh pengunjung
mall.
“Yuan aku hanya ingin bicara. Aku tunggu kamu sampai pulang
nanti,” ucap pak Carlos lirih. Wajahnya menandakan dia sangat berharap
bisa berbicara dengan Yuandra. Sekarang keduanya diam. Mata pak Carlos
memandang dalam-dalam wajah Yuandra. Wajahnya menandakan kalau dia
benar-benar ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting baginya.
Perlahan dia pun meninggalkan Yuandra yang berdiri mematung di
antara ramainya pengunjung mall.

Jam sembilan tepat. Para pengunjung satu persatu meninggalkan
mall. Para karyawan mulai menyetorkan laporannya hari itu kepada
atasannya. Saat Yuandra menyodorkannya dibalas dengan sebuah surat

19

panggilan malam itu juga. Suasana hatinya yang sedang galau kini semakin

terasa.
“Silakan masuk,” balasan dari ketukan pintu direkturnya.
“Silakan duduk.”

Yuandra pun segera dudu di kursi yang beradapan dengan wanita

sangar berumur lima puluhan itu.
“Kamu pasti tahu kan, mengapa kamu dipanggil? Saya dapat laporan

sejam lalu. Kamu melakukan kesalahan besar. Telah

mencoreng nama besar mall ini. Berbuat gaduh yang membuat

pengunjung tak nyaman. Tidak professional. Maaf dengan terpaksa
saya menghentikan saudara.”

Kata-kata itu hanya bisa dijawab dengan pandangan kosong oleh Yuandra.

Perasaan campur aduk mengiringi langkah lunglainya. Sesekali dia

menghela nafas panjang untuk menghilangkan beban sesak yang ada di

dadanya. Ini sudah jalan yang harus dilalui dengan rasa ikhlas atau tidak.

Semuanya sama.

Di luasnya parkiran belakang mall ada satu mobil yang setia

menunggu. Mobil Jazz RS Twotone MT warna merah. Mobil yang membisu

sejak sore. Hanya mampu memandangi pintu belakang mall tempat ke luar

karyawan. Pak Carlos mulai khawatir kalau Yuandra tak menepati janjinya.

Melarikan diri. Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lebih tiga puluh menit. Karyawan lain sudah tak terlihat ke luar dari pintu

itu. Pintu masih terbuka. Itulah harapan satu-satunya bagi Pak Carlos.

“Apa mungkin Yuandra menghindar dariku?” katanya dalam hati.
20

Kembali Pak Carlos menghela nafas panjang. Dia pejamkan
matanya lalu berpikir bagaimana cara agar bisa berbicara dengan Yuandra.
Saat hampir putus asa ada sebuah bayangan yang keluar dari pintu mall
bagian belakang. Yuandra dengan lunglai berjalan ke luar pintu.
Pandangannya lurus ke depan. Kelihatan kosong.

Pak Carlos segera membunyikan mobilnya. Mengarahkan tepat
pada depan pintu mall.

“Ayo,” katanya sambil membuka kaca mobil kiri.
Yuandra berwajah datar. Pandangannya kosong. Jauh ke depan.
Sebelum melajukan mobilnya pak Carlos memandangi dalam-dalam wajah
Yuandra.
“Ada apa? Kok cemberut banget?”
Yuandra diam tanpa menjawab sepatah katapun. Bahkan
pandangannya kosong masih menghiasi mata cantiknya.
Pak Carlos memandangi amplop putih yang berada di tangan
Yuandra.
“Amplop apa ini?” sambil bertanya pak Carlos mengambil amplop
putih dari tangan Yuandra. Dibuka amplop itu. Terlihat beberapa uang
seratusan cukup banyak. Tak tahu pasti berapa jumlahnya. Lalu dia kembali
memandangi wajah Yuandra.
“Aku di pecat,” ucap Yuandra dengan suara serak.
Kalimat singkat itu membuat pak Carlos serasa disambar petir.
“Ok.”

21

Pak Carlos melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan tak ada

sepatah kata pun dari keduanya. Yuandra tetap punya pandangan kosong ke

depan. Entah apa yang ada dipikiran dia. Sedangkan Pak Carlos setiap ada

kesempatan selalu melirik wajah Cantik Yuandra.

Beberapa menit saja mereka sudah duduk di sebuah Café. Cafe yang

sedang trend ala anak muda kelas atas. Berada di sebuah puncak gunung

dengan pemandangan alam yang sangat indah. Terlihat jauh di sana. Beribu

bintang menghiasi malam yang gelap. Berkelip membanggakan dirinya,

merasa dialah yang paling indah diantara bintang-bintang lain. Menyapa

kembaran mereka, lampu rumahan di lereng pegunungan. Lampu gemerlip

yang menghubungkan langit dengan alam. Bila melihat ke bawah lagi,

hamparan hujan cahaya dari sebuah kota dengan beraneka ragam ukuran

cahaya malam. Disisi lain rembulan tersenyum manis menyapa para

penghuni bumi. Terlihat sempurna malam itu.
“Isi perut dulu yuk, biar bisa berpikir fress,” kata pak Carlos.

Terlihat dua cup Boba , gourmet burger dan masih ada beberapa

makanan lainnya yang dipesan oleh Pak Carlos. Yuandra hanya

menganggukkan kepala. Dia mulai memotong burger dan menyuapi

Yuandra.
“Ayolah Yuan paling tidak minum dulu,” rayu pak Carlos

Yuandra hanya diam. Sementara Pak Carlos bingung harus berkata

mulai dari mana. Kini dia menghela nafas panjang.
“Bapak ingin berkata apa?”
“Yuan aku minta maaf. Semua ini karena aku….”

22

“Tidak ada yang salah. Ini jalan hidup yang harus aku jalani. Tapi

mengapa semua terjadi saat aku benar-benar membutuhkan

pekerjaan itu. Pekerjaan tumpuan hidupku dan mama. Dulu

waktu papa masih ada, masih mempunyai perusahaan semua

keinginanku selalu dipenuhi. Makan pun ibarat disuapi oleh

pembantu. Dua tahun lalu semua berubah menjadi seperti sekarang

ini. Aku tak tahu pasti, apa penyebabnya. Setelah papa meninggal

banyak orang mendatangi mama. Satu persatu perusahaan tak lagi

di tangan keluarga kami. Tinggal satu rumah kecil yang kami

tempati sekarang ini. Hanya rumah dan Mama lah yang aku punya
saat ini. “

Keduanya diam beberapa saat. Pak Carlos tak tahu apa yang harus

dikatakan dengan cerita Yuandra.
“Aku pernah protes kepada Allah. Mengapa semua ini terjadi padaku

dan keluargaku. Bapak tahu apa yang dikatakan mama? Kata-kata

yang selalu diulang. Mama orang paling hebat yang aku kenal dalam

hidupku. Selalu berkata ini jalan hidup yang harus kita terima. Kata

itu selalu diulang-ulang setiap kali aku protes. Sekarangpun adalah

jalan hidup yang harus aku jalani. Aku sudah berusaha sekuat
tenaga.”

Pak Carlos benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hanya

diam. Dalam hatinya dia semakin memuji gadis cantik yang berada di

depannya sekarang ini.

23

“Oh ya, maaf. Aku jadi curhat. Terimakasih sudah mendengarkan
curhatan ku yang sangat tidak berguna,” kata Yuandra.

Setelah dia menyadari bahwa dia sudah banyak bercerita. Senyum
manis yang dipaksa dikembangkan untuk pak Carlos, dibalas senyuman
juga. Sambil menepuk-nepuk tangan Yuandra yang berada di atas meja.

“Kamu wanita hebat,” kata pak Carlos.
“Sudah malam,” kata Yuandra.
Pak Carlos mengernyitkan dahinya sambil melirik semua makanan
yang sudah dipesan. Akhirnya Yuandra dengan lahap menyantap semua
makanan.
“Semua sudah saya habiskan. Bapak pulang saja. Saya ingin
sendiri,”jelas Yuandra.
Kembali padangan Yuandra menembus kegelapan. Menghitung
bintang yang bertebaran di langit. Semua lampu bertebaran di kejauhan.
Kadang wajahnya tengadah ke angkasa. Helaan nafas beberapa kali
terdengar.
“Yuan, ” suara pak Carlos setengah berbisik.
“Aku ingin sendiri,” suara Yuandra lirih.
Hanya kata itulah yang terucap dari kata Yuandra. Dia memandang
dalam-dalam wajah Pak Carlos. Matanya tajam. Dia benar-benar ingin
sendiri.
Pak Carlos pun semakin salah tingkah. Pandangan tajam Yuandra
terasa menhempaskan dirinya ke tebing bercadas. Tidak seperti beberapa
menit yang lalu. Dia harus mendengarkan cerita. Pengambilan nafas panjang

24

mengakhiri duduk pak Carlos. Dia lalu meninggalkan tempat itu
dengan langkah perlahan. Helaan nafas panjang masih menghiasi nafas pak
Carlos. Di dalam mobilnya, kini dia memejamkan matanya. Diletakkan
kepalanya di atas stir mobil. Gadis cantik yang diajaknya ke tempat ini justru
menyuruhnya pulang. Rasanya tak tega meninggalkan dia sendiri di malam
yang semakin larut. Kembali dia menghela napas panjang.

Lamunan Pak Carlos mengembara sampai jauh. Mulai saat dia
pertama kali melihat wajah ayu. Wajah yang sekarang mengganggu
hidupnya. Mengganggu pikirannya, dan mengganggu pekerjaannya. Setiap
saat dan setiap waktu wajah itu hadir. Terbayang lekat di depan mata.

Lamunan Pak Carlos berhenti melihat Yuandra ke luar dari ruangan.
Maksud hati membunyikan mobil dan mendekati. Belum sampai mobil
berbunyi ojek on line sudah menghampiri dan membawanya pergi.

Laju kencang ojek on line menembus kegelapan malam. Bukit yang
tak terbilang dekat ditempuhnya 30 menit menuju pusat kota. Pak Carlos
yang membuntuti hatinya semakin berdesir. Melihat Yuandra tak
mengenakan jaket dibawa oleh sepeda motor. Baju nya tipis kelihatan
melambai. Rasanya sangat dingin, sedingin hati pak Carlos saat itu. Tapi
mau berbuat apa? Dia memang benar-benar ingin sendiri.

Sesampai memasuki kota sepeda motor ojek on line itupun terus
melaju. Menembus remang lampu jalanan yang sudah ditinggalkan para
pengguna. Sudah sepi. Belokan demi belokan dilaluinya. Sampai terakhir
dia terlihat berbelok ke arah kiri. Memasuki parkiran rumah sakit Dr. Iskak.

25

Dengan rasa heran pak Carlos menghentikan mobilnya. Dari
kejauhan diperhatikan Yuandra memasuki pintu utama Rumah Sakit. Lalu
menghilang.

Hampir seminggu pak Carlos tak berjumpa dengan Yuandra.
Rasanya hampa menyelimuti seluruh perjalanan hidupnya. Setiap pagi,
siang, dan malam dia hanya berharap bertemu lagi dengan Yuandra.
Beberapa kali ponsel di tangannya dilihat. Tertulis online di nomor wanita
penganggu pikirannya itu. Ketika dikirimi pesan sampai beribu kali, tak di
bukanya sama sekali. Dia coba menghubunginya, nggak diangkat juga.

“Bro ada waktu nggak,” tiba-tiba ucapnya lantang.
Ponsel digenggamannya sudah masuk kantong. Kakinya dengan cepat
menuju ke arah mobil merahnya. Kini mobil itu melaju kencang di jalanan
menuju ujung kota. Menyisihkan pengguna jalan yang dinyatakan tak
berkepentingan baginya. Berkali-kali klakson mobil dibunyikan. Tak mau
diganggu oleh orang-orang yang dianggapnya tak berguna itu.

“Ciiiiiiiiiiiiit.”
Suara ban mobil yang dihentikan mendadak. Beberapa orang di luar
sana menjerit-jerit histeris.
“Astaga. Mengapa tak konsentrasi. Hampir saja aku menabrak orang
tua itu,” katanya lirih.
Pak Carlos hampir menabrak orang tua yang sedang berbelok ke
kanan. Orang tua bersepeda motor itu sebenarnya sudah menyalakan lampu
sen sejak tadi, tapi semua tidak konsentrasi. Beberapa mobil yang berada di

26

belakangnya membunyikan klakson tanda peringatan. Sebagai tanda agar

Pak Carlos memajukan mobilnya.

Setengah jam sudah Pak Carlos membelah keramaian jalanan. Hiruk

pikuk ramainya kota ditinggalkan . Warna sejuta senyum para pengguna

jalan pun dilupakan. Kini tiba di ujung kota. Sebuah kafe dengan tema

tradisional di pinggir sawah dengan logo Cafe Marem. Dalam bahasa Jawa

berarti puas. Halaman parkir yang luas dengan beberapa gazebo di dalamnya

dan rumah-rumah tradisional menjadi ciri khas cafe itu.
“Pak Carlos?” kata seorang pelayan yang menyambutnya di depan

pintu.

Lalu keduanya kelihatan berjalan memasuki sebuah ruang kaca di sudut lobi.
“Halo bro. Pasti ada yang darurat lu datang kemari,” sapa lelaki

sebaya pak Carlos.

Sementara Pak Carlos hanya menjawab dengan senyum kecut.
“Dari dulu, waktu masih kuliah lu datang ke gue pasti ada masalah.
Oke. Oke. Oke. Gue siapin makan dulu baru bisa bicara,“ kata lelaki

yang tadi di telepon pak Carlos.

“Soni, memang lu sahabatku. Pinter nebak dari dulu. Apalagi soal

isi perut. Memang lu jagonya kuliner,” kata pak Carlos.

Tak lama kemudian mereka berdua menikmati menu ayam bakar

kecap dan lalapan. Sambil berbincang cerita masa lalu sampai cerita tentang

berdirinya Café Marem. Tiba-tiba mata Pak Carlos memandang seorang

gadis yang sedang memasuki Café. Gadis cantik yang mengenakan jilbab

sama persis seperti gadis yang kemarin diajaknya ke cafe Puncak. Yuandra,
27

ya Yuandra lah gadis itu. Matanya tak menjeda pandangannya kepada gadis

itu.

“Woi, woi. Hai kalau lihat yang cantik-cantik dari dulu mata lu

nggak bisa bohong. Ckckck,” kata Sony sambil menggelengkan

kepala.

Pak Carlos tak menhiraukan decak Soni sahabatnya.
“Dia karyawan baru. Dua, tiga harian kerja di sini,” Soni

menjelaskan.

Tanpa penjelasan apapun Pak Carlos beranjak dari tempat

duduknya. Dia berjalan menuju Yuandra yang ke luar ruangan sambil

menenteng beberapa bungkusan.
“Yuan, ku minta waktu untuk bicara,” kata Pak Carlos.

Yuandra terperanjat. Dia menghentikan kegiatannya menata

beberapa pesan makanan di box belakang sepeda motornya. Dilihatnya Pak

Carlos sudah berdiri di belakangnya. Setelah diam beberapa saat, dia

kembali mengangkat kotak-kotak makan. Tak menghiraukan lagi

pandangan dalam pak Carlos.
“Yuan, aku minta waktu sebentar,” tangan Pak Carlos memegangi

pergelangan tangan Yuandra, agar menghentikan kegiatannya. Tapi

Yuandra hanya memandangi saja. Tak menjawab sepatah katapun.
“Pesanku tak kamu baca. Telepon kau tolak,” tanya pak Carlos.

“Aku tak mau kehilangan pekerjaan lagi,” kata Yuandra.

Mobil Soni kelihatan melaju mendekati mereka berdua, sambil

membuka kaca bagian depan dia melambaikan tangan sambil berkata.
28

“Cabut dulu bro.”

Pak Carlos menjawab dengan lambaian tangan juga.
“Nah, tak mungkin dia mengehentikanmu,” kata pak Carlos.

Alis tebalnya terangkat membuktikan kalau dia mempunyai kuasa

atas nasib Yuandra di café itu.

Pak Carlos mengangkat kotak nasi dari motor Yuandra ke dalam

mobilnya. Sambil terus nerocos berbicara. Menjelaskan lebih baik

menggunakan mobil agar bisa sambil bicara dengan Yuandra.

Lagi-lagi Yuandra tak kuasa menolak.

Setelah mengantarkan semua barang, Yuandralah yang meminta Pak

Carlos untuk berbicara. Dia berharap semua cepat selesai. Dia tak lagi

dikejar-kejar Pak Carlos yang kepala batu, egois.
“Pak, permasalahan kita sudah selesai, saya sudah melaksanakan

kewajiban saya. Bapak sudah mendapatkan hak sesuai kesepakatan.

Apalagi yang mau dibicarakan?”

“Mengapa kamu lakukan itu,” tanya Pak Carlos.

“Melakukan apa?”

“Kau berikan kehormatan mu di luar pernikahan?”

“Bapak tidak usah mengurusi saya,” Nada bicara Yuandra sangat

tinggi. Wajahnya merah padam. Tanda dia sangat marah. Tak peduli tempat

itu sebenarnya tempat romantis. Sebuah taman bukit Tunggulmanik

namanya. Pemandanganya sangat indah. Angin dingin meniup tipis puncak

hijau. Di jauh bawah sana terlihat pemandangan kota kecilnya. Tapi

29

perasaan mereka sangat berlawanan. Mereka berdua sama-sama dibakar api

emosi.
“Oh… Hanya karena nilai A. Ternyata saya salah menilai kamu

selama ini,”
“Pak dosen yang terhormat, seharusnya Bapak bisa berkaca. Hati

bapak itu terbuat dari batu. Egois. Killer. Bapak tidak pernah

menghargai usaha mahasiswa yang semalaman nggak tidur

mengerjakan tugas. Bapak hanya berikan nilai B untuk mahasiswa

istimewa. Itu saja hanya beberapa mahasiswa dalam sejarah

perkuliahan bapak. Sampai-sampai mereka mengadakan sayembara
dua puluh lima juta untuk nilai A dari Bapak.”

Kali ini amarah Yuandra sudah tak terkendali. Wajahnya didekatkan

ke wajah Pak Carlos. Matanya yang melotot bagai harimau yang akan

menerkam mangsanya. Apalagi telunjuk tangan menunjuk ke wajah Pak

Carlos. Suaranya melengking sekuat tenaga.
“Diri kamu hanya seharga dua puluh lima juta. Oh betapa rendah,”

kata pak Carlos dengan wajah sinis.

“Bapak boleh menghina saya apa saja, tapi dua puluh lima juta

sangat berharga bagi nyawa mama saya,” jawab Yuandra tegas.

Kini keduanya terdiam sangat lama. Keduanya mengembara dalam

pikiran masing-masing. Yuandra mulai melangkahkan kakinya menuju

mobil. Dihempaskan pintu mobil keras-keras sampai mendentum.

Sepanjang perjalanan pulang tak ada pembicaraan. Mobil berjalan seiring

gemuruh di dada masing-masing. Yuandra melihat ke depan dengan
30

pandangan kosong. Sedangkan Pak Carlos sesekali melirik ke arah Yuandra.

Tak tahu apa yang dipikirkan tentang gadis cantik yang ada di sebelahnya

itu.

Setelah sampai di tempat parkir Yuandra membuka pintu. Dia

berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Terpaksa Pak Carlos berlarian

mengejar agar dia tak ketinggalan arah. Sesampai di sebuah pintu Yuandra

membalikkan badan. Kini berhadapan dengan badan tegap Pak Carlos.

Pandangannya dalam, seakan tak mengizinkan pak Carlos masuk.
“Mbak Yuan. Mama sudah sadar,” kata seorang perawat yang ke luar

dari kamar.

Yuandra bergegas memasuki ruangan. Di atas ranjang pasien terlihat

mamanya memandanginya saat masuk. Diidekapnya tubuh mamanya.

Diciumi kedua pipinya.
“Alkhamdulilah ya Allah. Mama sudah sadar,” katanya sambil

meneteskan air mata. Air mata bahagia. Sang mama pun sama. Terlihat air

mengalir dari dari celah kedua matanya. Lalu pandangan mamanya tertuju

pada wajah lelaki yang berdiri di samping Yuandra. Mamanya tersenyum

tipis.
“Ini Pak Carlos ma.”
“Iya. Saya Carlos. Saya temannya Yuandra,”

Mama Yuandra tersenyum tipis.

“Semoga tante cepat sembuh. Biar kita bisa segera

meresmikan hubungan ,” lanjut pak Carlos dengan percaya diri. Diliriknya

dengan manja gadis mungil yang berada di sampingnya.

31

Mendengar perkataan itu wajahnya Yuandra memerah. Malu.
Tangan kanannya mencubit pergelangan tangan Pak Carlos. Memberikan
peringatan agar tidak mengada-ngada. Justru Pak Carlos membalasnya
dengan genggaman tangan. Sambil melirik manja menunjukkan kemesraan
di depan mamanya Yuandra. Mamanya kelihatan senang melihat mereka
berdua. Bahkan dengan kata terbata yang sangat tak begitu jelas beliau
menitipkan Yuandra pada pak Carlos.

“Bapak nggak usah memberi harapan palsu buat mamaku,” kata
Yuandra setelah menggelandang pak Carlos ke luar ruangan.

“Yuan. Kebahagiaan hal yang sangat penting bagi orang sakit.
Please…kabulkanlah permintaanku kali ini. Demi mamamu,” pinta
Pak Carlos sambil menyatukan kedua belah tangannya tanda
permohonan.
Yuandra berpendapat. Jangan pernah memberi harapan kosong pada
ibunya. Apalagi cerita yang sebenarnya tentang kejadian yang mereka alami.
Sedang Pak Carlos mempunyai pendapat lain. Ingin membahagiakan
mamanya Yuandra sete;ah mengetahui keadaan sebenarnya. Ingin memberi
dukungan moral. Bagi orang sakit perasaan senang dan gembira sangat
penting. Memang apa salahnya kalau betul dirinya harus menikah dengan
Yuandra, toh dia sudah memberikan keperawanan padanya. Perdebatan
mereka takkan bisa berakhir. Mereka mempunyai pandangan yang berbeda.
Hanya rintihan mamanya Yuandra yang berhasil menghentikan.
Pagi yang sendu. Di langit abu-abu membenamkan matahari dalam
peraduan. Tak tahu sampai kapan. Ataukah memang tak diberi kesempatan

32

untuk menunjukan pesonanya. Titik-titik air yang jatuh beberapa kali

berangsur. Membuat orang bermalasan. Tidak dengan Yuandra. Terlihat

pagi-pagi benar dia menerima order. Order yang dia lakukan sesaat setelah

mengantarkan mamanya ke ruang operasi. Dokter mengatakan mengatakan

kalau butuh waktu lima jam untuk mengoperasi mamanya. Artinya ada

beberapa waktu yang bisa digunakan untuk menerima order. Lumayan lah

untuk menambah biaya operasi mamanya. Belum sampai juga mengantar

makanan pada pemesan, gerimis sudah datang. Terpaksa Yuandra berhenti

di pinggir jalan untuk mengenakan jas hujan.
“Ciiiit,” terdengar decit ban mobil yang sedang direm. Kini mobil

itu terlihat mundur. Dua lampu bagian belakang menyala merah. Pintu mobil

terbuka. Terlihat seorang lelaki ke luar dari mobil. Di tangan kanannya

membawa payung warna biru. Sementara hujan semakin deras disertai

sedikit angin.
“Yuan, kamu masih saja bekerja. Hari ini kamu harus menemani

mamamu operasi,” suara lelaki itu memecah derasnya hujan.

Yuandra yang mendengarkan suara yang hanya sayup itu tak

mempedulikan. Motornya berusaha di stater. Dia tahu kalau suara itu suara

pak Carlos. Tapi pak Carlos justru menghadangnya.

“Apapun alasannya, kamu harus selalu menemani. Sekarang kamu

balik ke rumah sakit. Aku yang mengantarkan orderan,” tangan Pak

Carlos mencabut kunci sepeda motor yang dinaiki Yuandra.

Yuandra tak menjawab. Debat dengan Pak Carlos sudah tak ada

gunanya. Dia akan kalah . Memang kalau dirasa, benar juga kata Pak
33

Carlos. Yuandra harus menunggu ibunya di saat ibunya sakit. Mungkin

karena ibunya terlalu lama sakit, kebutuhan biaya yang besar dan tak mau

dipecat lagi. Itu asalan Yuandra tetap bekerja di saat pentingpun. Setelah

alamat order diberikan Pak Carlos, Yuandra membalikkan sepeda motor

menuju rumah sakit.
“Mbak Yuandra,” seorang dokter yang berada di pintu ruang operasi

memanggilnya dia kembali berdiri walaupun belum genap lima menit dia

duduk di kursi tunggu. Dia hafal betul, suara itu dokter Bima yang selama

ini merawat mamanya. Dengan rasa percaya diri Yuandra pun mendekati

dokter Bima.
“ Maaf Mbak Yuan, kami selaku tim sudah berusaha, tapi justru

mama langsung memburuk sebelum kami melakukan Tindakan.

Semoga mama diterima disisi Allah. Mbak Yuan yang sabar ya.”

Tiba-tiba badan Yuandra terasa lemas. Pandangannya kosong. Air

matanya pun tak kuasa untuk ke luar. Tak menyangka kalau mamanya

secepat itu pergi. Selama ini dia sangat percaya kalau mamanya akan

sembuh seperti sedia kala.

Ketika mamanya dibawa ke luar ruangan, Yuandra hanya bisa

menyadarkan badannya di tembok dekat pintu. Waktu yang bersamaan Pak

Carlos datang. Dia berhenti di samping Yuandra dengan pandangan

bingung. Antara wajah murung Yuandra dengan pasien yang baru saja ke

luar ruangan.
“Yuan,” pak Carlos minta kejelasan pada Yuandra. Tapi dijawab

dengan tangisan dan meletakkan kepalanya di dada lelaki gagah itu. Pak
34

Carlos tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memeluk erat tubuh cantik

Yuandra. Mengelus-ngelus kepala gadis itu agar merasa lebih tenang.
“Sekarang aku benar-benar sendiri, sudah tak punya siapa-siapa

lagi,” katanya terbata disela tangis sesenggukan.
“Kamu masih punya aku,” katanya lirih.

Hari itu mendung benar-benar menyelimuti langit abu-abu. Daun

hijau diselimuti duka yang sangat mendalam. Bunga-bunga yang ada di

taman rumah tak mau bermekaran. Seakan juga merasakan duka yang sangat

mendalam. Semua upacara pemakaman telah usai. Yuandra dengan pakaian

serba hitam menangis di pusara mamanya. Keempat sahabatnya tetap

memegangi tangannya. Merayunya untuk diajak pulang. Bergeming. Tetap

bersimpuh sambil menguraikan air mata.

Pak Carlos perlahan-lahan mendekati Yuandra. Dengan kode

pandangan keempat temannya bergeser ke samping Yuandra. Sambil

berjongkok Pak Carlos berbisik.

“Ikhlaskan mama. Jangan menangis. Biar mama bisa terang

jalannya menuju surga. Kita pulang.”

Pak Carlos membimbing Yuandra untuk berdiri. Perlahan diajaknya

kaki-kaki munggil Yuandra pulang.

Dihadapan temannya, Pak Carlos menawarkan untuk mengajak

Yuandra tinggal di rumahnya. Rasanya tak tega kalau harus meninggalkan

Yuandra dalam keadaan sedih sendirian. Ajakan itu justru membuat empat

temannya melongo. Bagaimana tidak, Pak Carlos yang terkenal Playboy itu

35

memberi tawaran kepada Yuandra untuk tinggal di rumahnya. Semua orang
pasti berpikir negatif.

Pak Carlos seorang dosen yang tajir, ganteng. Bagi gadis yang
disapa saja pastilah suka, bahkan hampir semua mahasiswa merebut
perhatian. Maka itulah pak Carlos di cap Playboy.

“Saya tahu kalian pasti ragu dengan tawaran saya, tapi kali ini kamu
jangan berpikiran negatif. Ada ibu saya di rumah. Kebetulan beliau
nggak ada temannya. Kalau kalian masih ragu. Ok…., saya nanti
tidak tidur di rumah.”
Mereka berempat saling berpandangan kembali.
“Beri aku kesempatan membuktikan. Kalian bisa kapan saja
penghubungi Yuandra.”
Helaan nafas panjang mengghiasi keraguan. Empat sahabat
menghantarkan ke rumah pak Carlos dengan rasa was-was. Sahabatnya
memang sangat perhatian, tapi tak mungkin menemani Yuandra yang
sedang terpuruk dalam seharian. Berat rasanya hati mereka tapi ini lebih
baik.
Kala di depan pintu. Mama pak Carlos sudah menyambutnya dengan
ramah. Empat sahabatnya pun semakin heran dibuatnya. Selama menjadi
mahasiswa tak ada tanda setitikpun mengarah pada hubungan akrab.
Ceritapun tak pernah terdengar. Kini hubungan antara Yuandra, pak Carlos,
dan mama pak Carlos seakan sudah menjadi keluarga.

36

“Senang rasanya kalau nak Yuandra bersedia tinggal di sini. Bisa

menemani tante di rumah saat Carlos bekerja,” ucapnya dengan

senyum mengembang penuh harap.

Yuandra dan sahabatnya pun hanya bisa saling pandang keheranan.
“Carlos sudah bercerita banyak,” lanjutnya.

Tiba-tiba Yuandra gemetar. Seluruh tubuhnya menggigil, mukanya

pucat pasi, keringat dingin ke luar.
“Maaf, tan….te. Tante sudah tahu semuanya?” tanya Yuandra

terbata.

Mama Yuandra pun mulai bercerita. Berawal dari pertemuannya di

mall saat itu. Perjumpaan yang merasa tertarik dengan kehalusan dan cara

bicara Yuandra. Sampai cerita tentang keadaan mama Yuandra sampai

akhirnya meninggal.

Kini Yuandra sedikit lega. Ternyata rahasia kesalahan besar yang

terjadi dengan pak Carlos masih tersimpan. Tersimpan dalam bilik kenangan

pahit yang tak pernah terlupakan.

Tiga hari sudah Yuandra berada di rumah mewah itu. Setiap hari

menemani tante Lindri. Lindri, itulah nama mama pak Carlos. Aktifitas tante

Lindri tidaklah banyak. Di usia yang cukup matang untuk ukuran seorang

ibu 62 tahun. Dia hanya olah raga pagi, masak, dan menikmati hari-harinya

dengan menonton televisi. Tak ada kepentingan lain yang mengikatnya.

Semua bisnisnya sudah ditangani anak-anaknya.

37

“Akhir-akhir ini Carlos sibuk. Berangkat pagi pulang malam. Tak
tahu lah apa yang dikerjakan di kampus semalam itu. Kalau ada kamu,
ada temannya ngobrol.” tante Lindri berjalan menuju ruang tengah.

HP Yuandra berbunyi, terdengar ucapan salam sebagai pembuka.
Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan singkat. Kini kaki Yuandra
jalan ke lantai dua. Dia berdiri sambil melihat ke bawah. Sesuai petunjuk
yang disarankan oleh pak Carlos. Agar tak ketahuan tante Lindri.

“Aku terlanjur pamit sama mama ke luar kota selama seminggu.
Tapi …,” katanya terputus lama. Dia memandangi Yuandra dari balik pagar
rumahnya. Cewek cantik itu bagaikan putri di atas istana. Yuandra sendiri
tak begitu jelas melihat pak Carlos. Tanaman hias telah menutupi
pandangannya.

“Yuan….aku pingin pulang. Aku kangen…..”
“Yuan….telepon dari Carlos ya. Pasti dia sudah kangen. Kapan dia
pulang?” tanya tante Lindri yang tiba-tiba muncul dari belakang Yuandra.
“Dalam perjalanan tante,” jawabnya sambil terbata.

Sebenarnya pak Carlos sudah janjinya akan berada di luar rumah
saat Yuandra berada di rumahnya, tapi keadaan tak bisa membohong. Pak

38

Carlos kangen dengan mamanya, kangen dengan rumahnya. Demikian juga

sang mama.

Pak Carlos mendengar kejanggalan dari jawaban Yuandra yang dari

telepon hp-nya. Dia pun melihat tubuh ibunya yang menghampiri Yuandra.

Dia segera bersembunyi di balik tiang pagar. Kini mulai berpikir cara masuk

rumah agar mamanya tak curiga.

Setelah memasuki rumah mengucapkan salam pada ibunya. Pak

Carlos berjabatan tangan dan memeluk ibunya, seperti biasanya saatnya

pulang bekerja.
“Kamu masih seperti dulu saja, pulang nggak tentu, nggak dikasih

kabar sampai tiga hari. Untung ada Yuandra. Kalau tidak, mama kayak
orang bisu. Diam saja,” kata tante Lindri.

Yuandra menyambut dengan senyuman di belakang tante Lindri.

Dengan wajah merah malu. Senyuman itu pun membuat rasa hati pak

Carlos berbunga-bunga.
“Hai apa kabar,” sapa pak Carlos.”
“Baik Pak,” jawab Yuabdra sambil menunduk rasa hormat.

“Kerasankan di sini?” tanya pak Carlos berlanjut.
“ Insya Allah pak, saya terima kasih,”

“Oooooo, tidak, tidak, yang harus terimakasih saya. Kamu sudah
temani mama,” elak pak Carlos.

Mamanya pun segera mengajak mereka makan malam. Saat makan

tante Lindri menyampaikan beberapa jadwal jalan-jalan. Agar mereka tidak

jenuh. Kebetulan malam itu malam Minggu.

39

Matahari mulai menampakkan diri dengan elegan. Cahayanya

bercanda dengan awan putih yang kelihatan berjajar rapi. Angin perlahan

menyibak alam yang sangat indah. Tak mungkin bisa diingkari, hari yang

menyenangkan bagi mereka bertiga. Menghilangkan jenuh menuju

keindahan pantai.

Di sebuah Gazebo di bawah pohon cemara, mereka bertiga

menikmati es kelapa muda dan ikan bakar. Keindahan pantai dengan angin

semilir menghilangkan kejenuhan yang ada. Debur ombak yang berkejaran

menghapus sebentar duka yang dialami Yuandra. Nyanyian ombak laut

menghantar mereka tentang senyum lepas.

Mereka bercengkrama. Tante Lindri banyak cerita, tentang

anaknya yang bernama Carlos. Carlos memang berbeda dengan kakak-

kakaknya. Dia lebih aktif atau orang bilang nakal, tapi tidak demikian

sekarang, sejak kuliah dan terjun di dunia Pendidikan. Semua berubah total.

Itu menurut tante Lindri. Cerita itu justru membuat Yuandra melamun.

Pandangannya jauh ke tengah laut. Wajahnya datar. Seakan dia mengingat

sesuatu. Ataukah dia ingat saat itu? Saat di berbuat sebuah keslahan abadi.

Kesalahan yang membuat luka menganga yang tak pernah kembali

kesuciannya. Helaan nafas panjang pak Carlos menghentikan cerita

Mamanya. Keduanya berpandangan. Saling memberi kode melihat

kesedihan Yuandra.
“Yuan, Yuan,” panggil tante Lindri.

Yuandra pun tak mendengar panggilan tante Lindri. Pandangannya

tetap. Memandang laut di jauh sana. Pandangan kosong yang tanpa batas.
40

“Yuan,” panggil pak Carlos.

Spontan Yuandra terperanjat. Dia sangat terkejut. Lalu memandangi

tante Lindri dengan senyum di paksakan.
“Maaf saya izin turun dulu,” kata Yuandra sambil melangkah kaki

menuju pantai. Dia berjalan menyusuri pantai ke arah timur. Kaki-kakinya

menginjak pasir putih yang membekas di sepanjang pantai. Kadang kakinya

terendam ombak yang datang. Angin dingin yang mengibarkan hijabnya

sungguh memberi kedamaian baginya. Tak terasa jalannya sudah jauh,

hampir di ujung pantai.
“Tet, tet, tet…,” suara klason yang tiba-tiba saja terdengar

disampingnya.
“Yuan, ayo kembali. Udah jauh tuh kamu jalannya,” suara pak Carlos

berteiak padanya.
“Bapak duluan saja, aku jalan kaki,”

Pak Carlos pun tetap mengikuti jalan Yuandra dari belakang. ATV

yang dikendalikan dijalankannya perlahan
“Ayolah naik sini asyik loh.”
“Byur,” sebuah ombak besar menghantam mereka. Pak Carlos segera

memeluk Yuandra. Hampir saja mereka terseret ombak yang kembali ke

laut, tapi syukurlah berkat Pak Carlos. Walaupun mereka berdua harus rela

basah kuyup. Keduanya berpandangan. Saling tertawa bersamaan. Rasanya

pak Carlos sangat gembira kalau melihat Yuandra sedang tertawa lepas tak

ada beban.

41

Rembulan malam itu yang dipuja semua orang. Cahaya indah samar

memberi kesan sendiri bagi yang menikmati. Apalagi bila bintang

bertaburan menemaninya. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Kini

Yuandra menikmatinya di lobi ruang atas. Dengan melipat tangan di

dadanya, memandang jauh ke awang-awang. Seakan dia menari di antara

bintang. Sambil mencurahkan isi hatinya kepada mereka yang selalu

menemani setiap langkah. Kini kedua matanya mulai basah. Bulir bening

jatuh satu demi satu. Saat dia mengingat keluarganya dulu bergelimang

harta. Hanya dalam waktu satu tahun semuanya sirna. Ayahnya meninggal,

satu persatu perusahaan berpindah tangan. Dua tahun kemudian mamanya

dipanggil Allah.
“Aku harus ikhlas menjalani hidup ini. Aku harus tegar,” katanya

lirih. Dipejamkan matanya, dihelanya nafas panjang mengusir untuk

mengusir semua yang ada pada benaknya.
“Kau belum tidur?” suara itu sangat mengagetkan Yuandra. Dia

segera membalikkan badan. Seorang laki-laki sudah berada berdiri di

belakangnya. Segera dia mengusap air matanya.
“Kau sedih,” tanyanya lagi.

Yuandra hanya menjawab dengan langkah mundur. Seakan dia takut

kalau lelaki itu mendekatinya.

“Boleh saya mendekat? Tidak apa-apa kalau kamu masih curiga.

Saya bisa berdiri di sini.”

“Ini rumah pak Carlos,” jawab Yuandra.

42

Pak Carlos mengulang pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang belum

dijawab tadi. Dia juga mengajukan beberapa pertanyaan tentang Kesehatan

Yuandra hari itu.
“Lihatlah rembulan. Dia kelihatan sangat indah. Setiap malam

banyak orang menungguinya. Semua orang memuja keindahannya.

Para penyair menggunakan menggunakan lambang kecantikan,

kedamaian, keindahan dan sejuta kebaikan untuk

rembulan. Kenyataannya kita tahu, dia tak mempunyai sinar
sendiri seperti yang mereka lihat.“

Yuandra hanya diam dan menunduk. Dia tak tahu harus

berkata apa. Ya, hanya bisa diam dan mendengarkan ocehan pak

Carlos.

“Begitu juga orang menilai aku. Aku seorang play boy. Orang
yang tidak berperasaan. Memacari semua mahasiswa yang
cantik. Yang perlu diketahui, merekalah yang datang padaku,
merekalah yang mengajakku diskusi di luar dengan segala dalih.
Aku hanya menuruti mereka diskusi secara santai. Aku hanya
melayani mereka, tapi menganggapnya itu yang romantik.
Kelemahanku, aku tidak bisa menolak wanita walau hati kecilku
tak suka. Satu kesalahanku yang tak bisa aku maafkan,” dia
berhenti berbicara. Dan memandangi wajah Yuandra dalam
dalam.

43

Sedang Yuandra sendiri melihat wajah sendu pak Carlos. Wajah

yang begitu terlihat sedih. Lalu dia menunduk. Menanti ucapan lanjutan

kata-kata pak Carlos.
“Kesalahan kita,” lanjutnya singkat.

Tubuh Yuandra terasa bergetar. Keringat dinginnya mrmbasahi

seluruh tubuh. Lidah rasanya pahit , wajahnya terasa panas.
“Orang lain boleh berkata apapun. Tapi kebenaran yang aku

rasakan selama ini. Akan aku tunjukkan

buktinya,” pak Carlos berjalan memasuki ruangan. Yuandra mengikuti dari

belakang. Dia menuju ke sebuah kamar yang memang tak pernah dibuka

selama Yuandra tinggal. Ya kamar itu kamar saat mereka berdua berbuat

salah. Di bukanya pintu lalu keduanya dengan berjalan pelan masuk kamar.

Yuandra yang kelihatan ragu hanya sampai depan pintu saja.
“Lihatlah semuanya masih seperti saat kamu tinggalkan dulu,

tak ada yang berubah. Aku tak pernah masuk lagi. Apalagi

membersihkannya,” kata pak Carlos sambil

memegang debu di atas meja.
“Lihatlah tali rambut kamu yang masih tertinggal, masih di

tempat semula. Aku sengaja tidak merubah tempat

bersejarah bagi kita ini. Tak tahulah. Aku sangat yakin kau

akan kembali ke sini. Sebenarnya aku sangat terpukul tanda
di atas bed cover itu.”

Pak Carlos membuka sprei yang menutupi springbed. Terlihat

sebuah noda merah kecoklatan. Darah yang sudah mengering. Tiba-tiba
44

Yuandra gemetar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Bibirnya

kelihatan pasi. Kini tangisnya pecah. Pak Carlos memengangi

pundak Yuandra dari depan. Mereka berhadapan.
“Kamu wanita istimewa di hatiku. Apakah kamu masih tidak

percaya?” Yuandra tak bisa menjawab. Dia hanya bisa menggelengkan

kepala sambil menangis sesegukan.

“Kita perbaiki kesalahan kita. Bukalah hatimu. Marilah kita

hapus dosa ini berdua,” lanjur pak Carlos.

Sesenggukan Yuandra semakin lama semakin menjadi.

Badannya pun semakin lemas. Hampir terjatuh. Untung saja Pak Carlos

mengetahui. Dia segera membopong memasuki ke kamar Yuandra yang

berada di pojok ruangan. Setelah di baringkan tangan pak Carlos memegang

dahi. Sangat panas.

Jam berdentang sekali. Tandanya malam sudah sangat larut. Pak

Carlos segera mencari handuk kecil dan menyeka dahi Yuandra.
“Istirahatlah Yuan,” katanya sambil menutupkan selimut tubuh

Yuandra.

**

Ketika azan subuh terdengar. Tante Lindri yang biasa paling

akhir bangun. Kini dia celingukan.Tak ada suara pak Carlos maupun

Yuandra yang terdengar. Sampai dia selesai salat subuh. Ketika melintas di

runga tengah terlihat kamar Yuandra terbuka. Perlahan dia menaiki tangga.
45

Tetap saja tak ada suara. Dilongokan kepalanya masuk ke kamar. Terlihat

Yuandra masih tertidur lelap. Dahinya terdapat handuk kecil sebagai

kompres. Tubunya diselimuti penuh. Sementara sofa di samping tempat

tidur terlihat pak Carlos juga masih pulas. Jaket hitam dan kaos kaki masih

melekat pada tubuhnya. Nafas teraturnya menandakan kalau dia capek

sekali.

“Carlos. Carlos. Calos,” sebut tante Lindri lirih. Tangannya

menggoyang-goyangkan badan anak kesayangannya itu.

Pak Carlos yang terbangun segera terperanjat. Tangan kanannya

diletakan di bibir. Memberi kode pada sang ibu untuk diam. Lalu keduanya

ke luar lamar.
“Semalam badannya panas, Ma,” kata pak Carlos.

Malam yang cukup dingin. Sedari sore hujan lebat tak terbendung.
Terdengar suara hujan terus menerus. Kadang hanya berhenti sebentar lalu
kembali lagi. Dedaunan basah di taman rumah Pak Carlos kelihatan
mengkilap memantulkan cahaya lampu. Teh buatan tante Lindri sudah
kering sejak sore. Lampu ruang depan sudah dimatikan sejam lalu.
Yuandra sudah masuk kamar terlebih dahulu. Tinggal tante Lindri yang tetap
di ruang tengah. Ruang tempat nonton televisi sambil santai di sofa panjang.

Kelihatannya tante Lindri menanti Pak Carlos pulang. Sedari sore
selalu menanyakan keadaan Pak Carlos. Menanyakan apa kabar pak Carlos
kepada Yuandra. Menanyakan apakah pak Carlos pesan kalau pulang

46

malam ini. Dia juga sering membuka pintu untuk melihat ke kanan dan ke

kiri, juga sering memandangi Hp walaupun tak berbunyi.

Yuandra ingin menikmati suasana hujan di bawah selimut hangat.

AC dimatikan. Dibukanya sedikit cendela kamar. Agar udara dingin bisa

dinikmati secara alami. Ternyata mata Yuan tetap tak mau terpejam.

Pikirannya selalu dihantui pada masa lalu , masa sekarang dan nantinya.

Malah justru rasa was-was muncul karena sikap aneh tante Lindri sejak sore.

Kini dia mulai mengucapkan doa-doa agar bisa terpejam.

Terdengar sayup suara tante Lindri berbicara dengan seseorang.

Semakin lama suaranya semakin keras. Bahkan nama Yuandra sempat

disebut. Segera bangkit dari tidur. Perlahan pintu kamar dibuka agar tante

Lindri tidak mengetahui kalau dia ke luar dari kamar. Kaki langsingnya

berjikat mendekati tangga turun. Kini poisinya benar aman tak terkihat dari

bawah. Tapi suara tante Lindri maupun pak Carlos sangat jelas terdengar.

Terlihat pak Carlos duduk di sofa berhadapan dengan tante Lindri.
“Aku semula sangat menyukai gadis itu, Gadis yang santun halus dan

cantik. Setelah kau mengajaknya ke rumah ini, aku jadi curiga.

Sebenarnya ada sesuatu antara kamu sama dia. Oke, kalau kau

tertarik padanya. Gadis itu memang lebih baik dari gadis- gadis mu yang
terdahulu,” kata tante Lindri dengan suara keras.

“Ma, jangan keras-keras. Kita bicarakan di kamar. Nggak enak kalau
dia mendengar,” ajak pak Carlos.

Tante Lindri tak mengindahkan ajakan pak Carlos. Kelihatannya dia

memang sangat emosi. Berbicara keras dan semakin keras. Dalam
47

pembicaraan itu dia menjelaskan sebenarnya yang tak disukai karena pak
Carlos ke luar dari mengajar di perguruan tinggi itu. Itu diketahui dari surat
resmi yang diterimanya tadi pagi. Dan menuduh Yuandralah penyebab
kehancuran karir pak Carlos.

“Maaf. kalau saya yang menjadi penyebab semua ini. Terima kasih
atas bantuannya. Saya pamit,” kata-kaya Yuandra mengehentikan
perdebatan mereka.

Dia berdiri di tangga paling bawah. Kedatanganya tak disadari
mereka berdua. Lalu dengan derai air mata dia berlari kembali ke kamarnya.
Semua bajunya yang berada di almari dikemasinya ke dalam koper.

Pak Carlos berusaha menenangkan mamanya dengan berbagai
alasan. Dia juga berjanji akan membicarakan masalah ini bersama-sama.
Setelah mamanya tenang dan mau memahami, pak Carlos menaiki tangga
menuju kamar Yuandra.

“Aku minta kamu sabar dulu. Kita jelaskan secara baik-baik ke
mama,” jelas pak Carlos.

“Kenapa bapak sampai dikeluarkan dari kampus itu. Bapak cerita
kita tentang kita? Mereka tidak tahukan kalau kita diam saja,” kata
Yuandra.

Yuandra menghentikan kemas-kemasnya dan berbicara dihadapan
Pak Carlos dekat sekali, dekat dengan wajah Pak Carlos. Dia benar-benar
serius berkata seperti itu. Pak Carlos menjelaskan. Sebenarnya dia tidak
dikeluarkan dari kampus. Tapi mengundurkan diri. Mengundurkan diri
karena merasa belum bisa mendidik pada mahasiswanya. Belum bisa

48

memberi contoh berperilaku yang baik. Ke luar karena merasa belum
pantas menjadi seorang pengajar kita berperilaku seperti itu. Dia juga tidak
bercerita kepada siapapun tentang kejadian itu.

Yuandra yang selesai mengemas barangnya. Berjalan membawa
kopernya turun. Memang hanya sebuah koper dan satu tas besar besar.
Sampai di ruang tengah pak Carlos mengajak berbicara. Dia akan
menjelaskan permasalahan yang sebetulnya.

“Mama, Yuan. Saya akan menjelaskan sekarang. Sebenarnya saya
mengundurkan diri dari kampus, bukan dikeluarkan. Alasannya nanti
mama akan saya beritahu. Bukan sekarang. Percayalah Ma, anakmu ini
akan mempertagungjawabkan semuanya,” pak Carlos bersujud di
bawah telapak kaki mamanya.

“Saya mohon ijin untuk mencintai Yuandra. Menjadikan dia istriku,”
lanjutnya.

Yuandra benar-benar terperanjat mendengarkan. Dia sangat gemetar.
Apalagi melihat wajah tante Lindri yang kelihatan masih tegang. Lalu dia
berdiri.

“Pak Carlos,” suara Yuandra terbata.
Pak Carlos segera bangkit dan menghadap kepada Yuandra.
“Aku mohon kau mau menerimanya. Belajarlah mencintaiku
Yuandra,”
Yuandra yang kebingungan hanya diam tak mengeluarkan sepatah
katapun.

49

“Ma, malam ini saya akan mengajak Yuandra ke pesantren.

Menemui haji Muawar. Agar segera dapat menjawab alasan saya

mengundurkan diri,” ijin pak Carlos.

Tante Lindri kali ini kelihatan pasrah. Dia sedikit tersemyum.

Memang selama ini haji Muawarlah orang yang paling dipercaya untuk

menyelesaikan masalah dalam keluarga besar tante Lindri. Kepada Haji

Muawar pula yayasan keluarga dipercayakan. Lalu pak Carlos berjabat

tangan dan menciumi mamanya.

Sorot lampu mobil pak Carlos dipadamkan. Saat tiba di area parkir
masjid pesantren. Pesantren Darul Hikmah milik keluarga besar suami tante
Lindri.

“Asalamualaikum pak Carlos,” sambut salah seorang santri.
Pak Carlos dan Yuandra pun turun. Sebentar pak Carlos berbaur
dengan para santri yang menuju ke masjid untuk berjamaah subuh. Sedang
Yuandra. Sudah ada juga santri yang menjemputnya.
“Akhir-akhir ini pak Caslos sering ke sini,” sepenggal kata yang
terucap dari santri yang memperkenalkan dirinya sebagai Umayah. Santri
keperayaan bu Nyai ini terlihat santun. Mendampingi tamu istimewa
kemana pun tamu inginkan. Termasuk menunjukan waktu dan tempat yang
bisa digunakan para tamu.

50


Click to View FlipBook Version