"Maafkan saya. Suatu saat saya akan bercerita, tapi tidak sekarang.
Apapun keputusannya akan saya terima," jawaban itu yang selalu
terucap di bibirnya beberapa kali dia didesak untuk bicara.
Seminggu sudah Nila tak kesekolah. Keseharian diisi dengan
mengambil borongan membordil dari perusahaan rumahan. Memang itu
yang setiap hari dilakukan di sore dan malam hari. Dari hasil itu pula dia
mendapat uang. Kalau hanya mengandalkan gaji mengajar TK dua ratus ribu
tiap bulan, pastilah tak cukup untuk hidup.
"Nila. Ibu lihat sudah seminggu tak ke sekolah. Ada masalah apa?"
Ibunya bertanya. Hanya dijawab dengan gelengan kepala. Dada Nila
berdegup kencang. Inilah hal yang paling ditakuti. Dia tidak mau ibunya
susah.
"Apa benar kamu tidak boleh mengajar lagi karena kamu berbuat..."
Nila segera menyahut.
"Bu, ibu orang yang melahirkanku. Dari kecil hingga
sekarang ibulah yang paling tahu yang terjadi denganku. Bu, hanya
ibulah harapanku orang masih mempercayaiku. Aku tidak akan
berbuat sehina itu. Selama hampir sepuluh tahun tanpa kepastian dari mas
Hardi, tak ada sedikitpun berpikiran untuk berpaling dari mas Hardi. Dan
itu sampai sekarang bu. Mohon kali inipun ibu percaya padaku. Suatu
saat nanti Tuhan akan mengizinkanku membuktikan itu."
Kali ini kata-kata Nila benar disertai dengan derai air mata.
101
Sang ibupun sudah tak bisa berkata- kata. Rasa hatinya seperti teriris
sembilu. Perih melihat anak semata wayangnya yang hidup sendirian. Suami
yang memberikan satu anak meninggalkannya merantau tanpa
kabar. Dipeluknya Nila yang sedang sesenggukan. Memang selama ini tak
pernah ada niat yang terlihat dari anaknya itu melakukan hal yang tak baik.
Kehidupannya setiap hari hanya itu dan itu. Mengajar di TK dan siangnya
menjahit. Sore hari mengajari anak-anak ngaji di madrasah. Semua itu
dilakukan sambil mengurus satu anaknya yang sekarang sudah SMA.
Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor di halaman rumah.
"Asalamualaikum. Mbak Nila. Mbak Nila." Terdengar suara
sesorang memanggil namanya.
Nila segera menyeka air matanya.
"Waalaikumsalam. Ya siapa," Ibunya Nila menyambut salam dari
dalam rumah. Kemudian menyambutnya ke pintu ruang tamu. Nila
menyusul di belakang ibunya.
"Mbak Nila disuruh ke rumah pak lurah. Ditunggu sekarang, " Kata
Joni sang tamu lalu berpamitan.
Nila segera ganti baju dan berangkat menuju rumah pak lurah.
Sesampai di rumah pak Lurah kembali hatinya dak dik duk. Halaman depan
rumah pak lurah yang cukup luas terparkir sekitar sepuluh sepeda motor dan
beberapa mobil berplat L. Hati Nila semakin gemetar tatkala dia membaca
sebuah mobil mitsubishi Xspender Cross. Mobil yang seminggu lalu dia
naiki bersama Pras. Badannya seakan lemas tak berdaya. Keringat
102
dinginnya membasahi tubuhnya. Antara takut, malu, gelisah berkecamuk di
hatinya.
"Ya Allah ." Hanya kata itu yang mampu di ucapkan lirih.
"Mbak Nila. Sudah di tunggu di dalam. Silahkan langsung masuk,"
Joni mempersilahkan.
Kakinya terasa tak menapaki tanah. Badannya seakan ringan tak berberat.
Dia mencoba melangkah menuju pintu rumah. Begitu masuk mata
Nila menangkap wajah-wajah serius. Pak Lurah duduk di tengah deretan
tamu lain. Disampingnya terlihat mbak Uma, bu Nyai pak RT, pak RW
dan beberapa perangkat desa lain. Di sebelah kiri tepat pak lurah terlihat
Pras tersenyum menyambut kedatangannya. Hati Nila semakin berdebar.
"Silakan duduk mbak Nila," Suara sahaja pak Lurah memersilahkan
Nila duduk. Selajutnya pak Lurah menjelaskan kepada Nila tujuan mereka
berkumpul. Semua itu atas jerih payah Pras. Pras berhasil membawa
Uma. Umalah yang harus bertanggung jawab atas semua masalah. Uma
dan keluarganya bersedia menyelesaikan masalah itu kepada Nila maupun
kepada warga anggota arisan yang lain.
"Saya atas nama pribadi dan masyarakat minta maaf atas kesalah
pahaman ini. Saya juga berterimakasih kepada mas Pras sehingga
masalah ini dapat terselesaikan." Ucap pak lurah di akhir penjelasan.
Setelah itu semuapun berpamitan, tinggal Pras dan Nila.
103
"Mbak Nila. Mas Pras ini sudah cerita ke saya tentang semuanya.
Sekarang terserah kalian. Keputusannya terserah kalian berdua. Akan
dibawa kemana hubungan kalian. Bapak tahu suamimu sejak pergi
tak pernah ada kabar. Sedang mas Pras ini sudah banyak cerita tentang
dirinya yang belum kunjung di eri jodoh," tutur pak Lurah.
Selain itu pak lurah masih bercerita panjang lebar. Sampai tak terasa
jam menunjukkan angka tiga. Akhirnya pak lurah mempersilahkan Nila dan
Pras kelar dari rumah besarnya itu.
Di sebuah jalan menuju rumah Nila. Pras menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Nila setelah memutar kembali sepeda motornya.
Pras hanya tersenyum sembari ke luar dari mobilnya. Dia melangkah
ke sebuah gubuk yang kebetulan di pinggir jalan. Dari gubuk itu terlihat
pemandangan sawah yang menghijau. Dari kejauhan terlihat sederetan
gunung Wilis menghiasi birunya langit. Awan tipis bak kapas di atas sana.
Semilir angin bertiup lirih. Membisikkan lagu asmara yang merasuk jiwa
Pras. Laki-laki tegap seorang polisi itu kini luruh lunglai memandangi wajah
Nila.
"Pak lurah sudah banyak bercerita tentangmu."
Nila menghela nafas.
"Aku berterimakasih. Kamu sudah membantuku menyelesaikan
masalah ini."
"Lihatlah pemandangan itu. Indah sekali. Birunya langit dihiasi
gunung menghijau. Tapi sebentar lagi malam kan tiba, dan aku...."
104
Dia memandangi wajah Nila dalam-dalam. Wajah yang tiba-tiba saja
membuatnya bersemangat menggapai cinta.
"Aku ingin jadi rembulan yang setia menerangi disetiap malammu."
"Maaf. Masih ada rembulan yang aku tunggu. Tak mungkin ada dua
rembulan di satu malam."
Dari kejauhan sebuah ambulance meraung makin mendekat.
Melewati jalan di depan gubuk. Menyisihkan pengguna jalan yang sama
melintas. Lampu gemerlapnya menyayat hati telinga yang mendengar.
Menyebar kabar duka bagi mereka. Nila dan Pras terdiam
sejenak. Pandangan mereka mengikuti laju ambulance sampai jauh tak
terlihat.
"Nila jangan kau sia-siakan hidupmu dalam
ketidakpastian. Sekarang pandang mataku. Apa kau ragu dengan
kesungguhanku," Pinta Pras sambil memegang pundak Nila.
"Pandanglah mataku." Lanjutnya.
Nila hanya diam menunduk. Tak berani sebersitpun melawan tatapan
mata Pras. Tangan Pras diturunkan pelan. Lalu dia berkata lirih.
"Maaf. Aku masih bersuami. Dulu, waktu akan berangkat mas Hardi
berpamitan baik-baik untuk mencari uang buat kami. Kami yang kawin
muda ingin sekali memperbaiki ekonomi saat itu. Walaupun sejak
kepergiannya tak ada kabar, saya akan berdosa kalau ternyata mas Hardi
benar-benar berjuang untuk kami,” jelas Nila.
105
Dia terima beberapa waktu. Lalu terdengar helaan nafas panjangnya.
“Soal cinta aku memang sedang dicoba oleh Allah. Tapi, aku
masih bersyukur diberi rezeki dan kesehatan. Kau lihat ambulance
tadi. Dia sudah tidak diberi kesempatan lagi untuk hidup. Tak bisa
menikmati lagi keindahan alam yang sekarang kita nikmati. Tak
bisa lagi merasakan kebahagian yang kita rasakan saat ini."
Mata Nila mulai berkaca-kaca. Sebenarnya perasaan Nila hancur
berkeping. Tapi dia sadar ada lautan yang dalam memisahkan hati mereka.
Dia seorang perempuan desa dengan keluarga sederhana. Masih bersuami
dan mempunyai anak. Lahir dari keluarga petani. Rasanya tak pantas
mendampingi Pras. Sedang Pras jauh di seberang lautan. Dengan seragam
polisi kelihatan berkacak pinggang dengan gagah. Memakai seragam polisi
berjajar dengan keluarganya. Semua berpakaian mewah. Para laki-laki
memakai jas hitam lengkap dengan dasi. Selalu mengendarai mobil kemana
dia suka. Hidup di kota. Sangat berlawanan dengan keluarga Nila.
"Kau tidak harus memutuskan sekarang. Aku akan menunggumu.
Pikirkan Nila!"
Nila hanya mampu menunduk. Hatinya berperang dengan
perasaannya. Dia merasa nyaman bersama Pras. Terbersit takut kehilangan.
"Mbak....mbak Nila.....mbak Nila"
Sebuah suara datang dari kejauhan. Dua orang pemuda berboncengan
sepeda motor. Tergopoh berhenti.
106
"Mbak Nila harus pulang sekarang. " Nada suaranya terdengar
gemetar.
Sontak Nila setengah berteriak " Ada apa dengan Andre anakku?"
Tergopoh Nila mendekati dua pemuda itu. Pras mengikuti di belakang.
"Katakan. Katakan. Ada apa dengan Andre?".
Dua pemuda itu sebentar saling berpandangan. Mereka hanya
menjelaskan kalau disuruh memberi kabar untuk pulang karena ada suaru
kepentingan.
Dengan tangan gemetar Nila mencoba berjalan menuju sepeda
motornya. Dinaiki sepeda matic keluaran pertama itu. Segera Pras menyahut
tangannya.
"Aku antar."
Mereka berempat meninggalkan gubuk tua. Pras dan Nila
mengendarai mobil, sedang sepeda motornya di kendarai pemuda yang tadi
memberi kabar. Perjalanan melaju mengikuti jalan sampai unjung desa.
Kemudian berbelok sedikit. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan.
Sesekali Pras melirik wajah pucat Nila. Sesampai di depan sebuah rumah
sederhana Nila berkata
"Ini rumahku."
Terlihat sebuah ambulan yang tadi lewat terparkir. Ada beberapa
tetangga yang berkerumun di dalam rumah. Pras segera membukakan pintu
mobil buat Nila. Perlahan Nila pun turun dengan rasa heran. Tiba-tiba anak
semata wayangnya, Andre berteriak.
107
"Ibuk......bapak buk. Bapak....." Suara histeris dari teras rumah. Dia
berlari menuju ke arah Nila.
Badan Nila seakan tidak bertenaga. Mendengar jeritan sang anak, dia
berjuang untuk melangkahkan kakinya. Tiba-tiba wajah Andre anak semata
wayangnya hilang. Semua menjadi hitam. Gelap. Tiada. Nila pingsan.
Pras segera membopong Nila ke dalam rumah. Semua tergopoh.
Sampai menjelang pemakam Pras berbaur dengan warga. Menata persiapan
pemakaman. Ketika akan dikafani para sanak keluarga meminta untuk
melihat jasad Hardi untuk yang terakhir. Pak Modin membuka kain penutup.
Perasaan Pras seakan disambar petir melihat wajah suami Nila.
"Ya Allah dia lelaki bangsat itu." Katanya dalam hati. Badan
seketika terasa bergetar menahan emosi. Kedua tangannya mengepal.
Wajahnya serasa panas memerah. Rasanya dia ingin berteriak sekuat tenaga.
"Nak Pras. Semoga ini jawaban dari Allah." Tiba-tiba suara pak
Lurah terdengar di dekat telinganya. Pras berusaha mengendalikan diri.
Diambilnya nafas panjang berulang-ulang. Dipejamkan matanya sambil
menelan ludah.
Upacara pemberangkatan jenazah dimulai. Pras tak berani berada di
depan. Matanya kini mencari-cari keberadaan Nila. Sesaat terlihat di
kerumunan para wanita terlihat perempuan yang tadi menjadi matahari
108
baginya. Kini terlihat terpuruk dengan derai air mata. Wajah polosnya yang
cantik makin kelihatan.
"Nila. Kita telah dihancurkan oleh orang yang sama," Katanya jauh
di dalam hati. Kembali Nila kelihatan jatuh pingsan. Rasa hati Pras semakin
teriris. Sinar matahari yang tadi memancarkan sinar dirasa lenyap begitu
saja. Dia tak tahu apakah esok akan ada sinar mentari lagi.
Malam itu Pras memecah kesunyian malam. Dia kembali ke
Surabaya. Disepanjang jalan pikirannya semakin kalut. Bahkan disempatkan
berhenti sejenak untuk sekadar menjerit sekuat tenaga. Melepaskan sesak di
dada.
Di sebuah rest area dia berhenti. Mencoba menghilangkan
kegalauan. Di pesannya segelas kopi pahit. Dia berharap kepulan kopi dan
asap Marlboro bisa membantunya menjadi rilex. Tak semudah itu.
Kejadian lima tahun lalu semakin tergambar jelas. Saat dia mencium hal
yang tak beres terhadap tunangannya, Marcela. Dia membuntuti dan sampai
di sebuah rumah makan mewah. Memergoki Marsela dengan Jordi. Laki-
laki yang diperkenalkan pengusaha bidang pelayaran. Bermesraan di
depan matanya. Ketika di sapa, justru Marcela memutuskan pernikahannya
yang kurang sebulan. Semua persiapan sudah matang. Semua tes seorang
istri polisi sudah dijalankan, persiapan akad nikah dan pesta sudah di
tentukan. Sebuah weeding organizer ternama dengan menu istimewa sudah
beberapa kali menyatakan siap. Undangan pun sudah disebar. Tinggal
menunggu hari H. Hanya digagalkan di sebuah restoran. Mulai saat itu,
Marcela benar- benar memutuskan pertunangan. Sulit dihubungi. Ya hanya
109
sampai malam itu sebuah perkelatan yang akan menjadikan sejarah hidup
di hentikan. Pras menghela nafas panjang.
"Aku pikir Allah menghentikan kepedihanku sampai itu saja.
Ternyata tidak,” desah Pras.
Pagi-pagi Pras sudah berangkat lagi. Mencari berita tentang
Jordi. Sesampai di depan kantor Jordi tak ada karangan bunga bela
sungkawa satupun. Seakan kematiannya tak begitu jadi perhatian.
Tapi benar, Jordi sama dengan Hardi jawab satpam di kantor Jordi. Sang
satpam banyak bercerita tentang pemakaman yang dikembalikan kepada
istri lamanya di kampung. Semua kekayaan jatuh pada Marcela. Selain itu
masih banyak cerita, tapi Pras tak butuh itu. Dia berlalu begitu saja.
Sudah tiga hari lamanya. Dia hanya memegangi hpnya. Ditulisnya
pesan kepada Nila. Tapi ditutup kembali. Hampir setiap saat dia melihat
profil Nila. Hanya aktif ketika bangun tidur dan akan tidur.
"Nila maafkan aku." Itu yang selalu terucap tiga hari ini dari
bibirnya.
Hatinya makin berkecamuk. Setiap kali melihat foto Nila, dia
kembali ingat Marcela. Orang yang benar-benar membuatnya terpuruk. Dia
sudah berjanji pada dirinya sendiri tak mau mengingat lagi tentang Marcela.
Tapi di lubuk hatinya dia juga tak mau membuat Nila mengkhawatirkan
keadannya.
"Nil. Kuharap kamu baik-baik saja. Maaf, hari-hari ini aku
sibuk." Itu alasan Pras pada Nila. Sebenarnya dia berusaha menata batinnya
110
yang kembali hancur. Hancur melihat sebuah kenyataan bahwa Jordi adalah
suami Nila.
"Terimakasih mas, sudah menyempatkan memberi kabar. Saya
baik-baik saja," jawab Nila. Jawaban itu hampir dibacanya setiap
menit. Lalu menghela nafas panjang.
Pras menghitung dengan jemarinya. Sepuluh jemari sudah
diluruskan. Artinya sepuluh hari pula Pras dalam kegalauan. Malam pun
dilaluinya dengan diam dan hembusan nafas galau. Keterpurukan tak
mampu ditepis. Ingat dan ingat lagi kepedihan lima tahun lalu. Mengurung
diri di kamar. Malas saat bekerja. Sesekali keluar rumah mencari kepul asap
kopi yang tak pernah bisa mengobati dukanya.
"Nila. Maukah kau datang ke Surabaya?" Klik. Jemarinya tak
disadari menuliskan dan mengirimkanya. pesan itu langsung juga dibaca
Nila.
"Ya Allah mengapa aku menuliskan kalimat konyol itu.?" Pras
merasa dirinya dibatas kegalauan. Sehingga dia mengirimkan pesan yang tak
mungkin dijawab Nila
Nila bukan wanita agresif serendah itu. Bukan. Diseruputnya kopi
hangatnya untuk menghilangkan kepanikan. Dipandangi pesannya kembali.
Centang dua hijau. Hati Pras semakin galau. Dia sudah berbuat salah
dan jahat kepada Nila.
111
"Maksudku aku ingin ketemu kamu. Ada yang ingin aku bicarakan."
Tulisan itu dikirim dengan helaan nafas panjang. Kembali di seruputnya
kopi pahit di hadapannya.
Suatu pagi yang cerah. Matahari tersenyum pada penghuni bumi.
Menyapa setiap nyawa yang berkelana di jalanan. Memberi semangat para
pedamba kebahagian. Menemani menggapai impian abadi. Dalam kefanaan
yang terasa. Namun semua itu dusta bagi Pras. Mendung selalu menggelayut
mengikuti kepergiannya. Kadang jalanan terasa gelap. Gulana sepuluh hari
membuatnya lemas. Dan sampai kini dia belum bisa memutuskan apa yang
dikatakan nanti, kepada yang kemarin menjadi pujaan hati.
Lagu-lagu Didi Kempot yang biasa mengalun bergantian, Cidro,
Kalung Emas, Pamer Bojo, Kangen Nikeri yang biasa menemani setiap
perjalanan didiamkan. Duka nestapa yang ada.
Setelah melewati jalur cepat tol Surabaya Kertosono, arah mobil
menuju rumah pak Lurah. Sekedar berbicara sedikit sambil menunggu
pesan jawaban dari Nila. Sejam sudah. Cerita tak berujung dengan pak
lurah. Hati Pras belum juga mengambil keputusan. Apa yang harus
dikatakan nanti.
Sebenarnya maksud hati ingin minta pendapat dari pak lurah, andai
dia memutuskan untuk tidak melanjutkan niatnya. Tapi lagi-lagi kelu bibir
dan lidahnya. Sampai pak lurah berkata.
"Nak Pras, silahkan ke rumah Nila. Nak Pras sudah lama di sini."
Kata pak Lurah mengakhiri pembicaraan.
112
Mau tak mau Pras pun berpamitan. Semakin dekat dengan rumah
Nila kegalauan makin menjadi. Sampai suatu saat dia ingat. Diremnya mobil
yang di lajunya pelan. Kemudian kembali mundur. Pras melihat Nila sedang
duduk di gubuk yang kemarin. Posisi masih sama. Menghadap ke sebuah
bukit yang menghijau. Dihiasi ribuanya pepohonan hijau. Di jauh sana, di
atas langit biru awan kumulus berdiam seribu bahasa. Hanya menampakkan
bersoleknya. Burung-burung liar lalulalang mengepakkan sayap. Tak saling
menyapa.
"Kamu ingin melanjutkan pembicaraan tempo hari kan? Maaf aku
tunggu kamu di sini," Ucapan Nila sambil membalikkan badan menyambut
Pras yang sudah makin mendekat. Tanpa sepatah kata pun Pras ikut
memandangi birunya langit. Keduanya diam.
" Aku akan cerita sesuatu Nila.”
“ Tentang mas Jordi dengan Marcela." Pras terperanjat mendengar
kata itu. Dipandanginya wanita cantik disampingnya.
"Mas kaukah tunangan Marcela itu? Jawab mas. Jawab?" Tanya Nila
sambil mengoyang-goyangkan tubuh Pras. Suaranya sangat keras. Dia
berharap dengan lantang Pras menjawabnya. Tapi sayang, harapan itu tak
keluar dari bibir Pras. Pras hanya diam mematung. Kedua bibirnya terasa
kelu. Hanya mampu memejamkan mata dan menarik nafas panjang.
Keduanya lama diam. Masing- masing menata emosinya.
113
"Jadi. Suamikulah yang membuatmu terpuruk seperti sekarang? Mas
maafkan...." Suara Nila terpenggal. Jemari Pras ditempelkan pada bibir Nila
sambil berucap
"Hus," Pras menggelengkan kepalanya.
"Mas Hardi, Marcela dan kamu. Semua orang-orang yang ada di
hidupku. Aku tidak pernah membayangkan seperti ini. Ternyata memang
benar adanya, dunia hanya selebar daun kelor." Nila diam sejenak.
“Adik mas Hardi cerita banyak tentang kisah mas Hardi yang
disembunyikan dariku. Termasuk dengan Marcela. Mas Hardi cinta
pertamaku. Cinta yang membuatku buta dan tuli selama ini."
"Nila maafkan aku." Kata Pras.
"Mas. Lihatlah aku." Nila menghiba menyampaikan senyum
termanisnya. Matanya yang berkaca-kaca di paksa untuk gembira.
"Pergilah dariku. Kamu akan mengalami banyak kesulitan." Nila
menengadahkan tangan. Pandangan matanya mengisyaratkan meminta hp
Pras. Dia menghapus nomernya. Memblokir FBnya. Kembali diserahkan
kepada Pras.
"Pergilah, kamu akan menemukan kebahagiaan tanpa bayang
Marcela," Lanjut Nila.
Kemudian Nila membalikkan badannya. Dia kembali memandangi
mendung yang sudah mulai berarak dari balik gunung. Menutup sayup
birunya langit.
Pras dengan perlahan memasuki mobilnya. Dengan mata berkaca-
kaca. Kedatanganya ingin menarik semua perkataanya sepuluh hari lalu.
114
Dia tak sanggup sudah. Setiap melihat wajah Nila luka lima tahun lalu
kembali teringat. Dilajunya mobilnya dengan kencang. Sampai jauh dari
Nila. Tiba- tiba menghentikan begitu saja.
"Bangsat kau Jordi. Kau menghancurkan hidupku kedua kalinya."
Umpatnya sekuat tenaga sambil memukul-mukul dasbor mobil.
"Ya Allah." Kali ini di memejamkan matanya. Nafasnya menderu
dengan emosi tinggi.
"Tet....tet....tet...." Suara klason sebuah truk menyadarkannya.
Benar, dia berhenti di tengah jalan. Digesernya mobilnya
kepinggir. Diambilnya sebotol aqua di pintu samping. Diguyurkan di atas
kepalanya. Digosoknya rambut cepaknya.
"Aku hampir gila." Kembali dia berkata. Lalu dengan
kasar melajukan mobil ke arah Surabaya.
Disepanjang perjalanan Pras pun masih berpikir. Mengapa Nila
begitu mau mengorbankan hatinya. Padahal yakin, dari sorot matanya ada
cinta. Dia terlalu memikirkan masa depan yang lebih baik buat orang yang
dicintai.
Seperginya Pras dari dekatnya, Nila melajukan sepeda
motornya. Memerangi jalan terjal. Menuju bukit kecil di ujung desa. Bukit
itu adalah tempat dia mengadu desah. Dari bukit itu cukuplah melihat
seluruh desa. Pemandangan padi yang menghijau. Di jauh sana terlihat
115
pohon kelapa berbaur dengan pohon rindang lainnya. Kini memorinya
kembali ketika pertama kali dia ke bukit itu bersama mas Hardi. Pemuda
desa cinta pertamanya.
Surau di bawah sana mengumandangkan suara azan. Disusul oleh
surau-surau lain. Seketika dia sadar, sudah lama berada di tempat itu. Lalu
dia menghela nafas dan perlahan menuruni bukit untuk pulang.
Sesampai di halaman rumah terlihat mobil Pras terparkir. Badannya
kembali gemetar. Lelaki yang ditolaknya dan nyata pergi darinya ternyata
berada di rumahnya. Setelah memarkirkan sepeda motor, matanya kini
berusaha mencari di mana dia berada. Di teras tak ada. Ruang tamu, tak ada.
Lalu dia masuk kamar ingin berganti pakaian, mandi lalu salat Asar. Dalam
doa selesai salat dia ucapkan.
“Allahummahdinii wa sadidnii. “Ya Allah berilah aku hidayah dan
keteguhan dalam kebenaran. Hidayhamu adalah jalan. Dan
keteguhanmu adalah lurusnya (sasaran) anak panah,”
Setelah semua benar terucap Nila melipat mukena dan ke luar dari
kamar tempat salat. Bersamaan anaknya, Andre berjalan memasuki
halaman dengan Pras. Mereka berdua memakai sarung lengkap dengan
pecinya.
“Asalamualaikum, dari mushola sama pak Pras bu,” kata Andre.
“Benar Nila. Aku pikir kita harus melupakan semua masa lalu,
sepahit apapun itu. Kita coba hidup bersama,” Ucap Pras.
Ketiganya tersenyum.
116
117
REMBULAN TERTUTUP AWAN
Tung Widut
“Ini akibatnya kalau mengambil kekasih orang. Rasakan. Ojo nyeluk
jenengku yen ora iso ngobrak ngabrik keluargamu!” (jangan panggil
namaku kalau tidak bisa menggegerkan keluargamu) kata seorang
perempuan yang mendatangi Denta saat itu.
Denta yang saat itu sedang berbaring di rumah sakit. Bukan karena
sakit, tapi karena bawaan kehamilannya. Dia selalu merasa lemas dan mual.
Sulit makan. Hanya beberapa sendok nasi itu saja tidak setiap hari. Ketika
118
hidungnya menghirup aroma nasi, langsung muntah-muntah. Perutnya
hanya terisi buah-buahan tertentu saja. Buah kesukaannya, pisang ataupun
pepaya.
“Sayuran hijau juga tinggi vitamin K, yang berperan penting dalam
proses pembekuan darah. Penyerapan zat-zat ini lebih baik bila dikonsumsi
secara alami dibandingkan melalui suplemen,” kata dr. Fiona.
Kata dokter Fiona itupun tak digubrisnya. Selera makan tak
semudah itu diubah. Itulah sebabnya Denta sekarang yang terbaring di
rumah sakit agar lebih terawat dan terjaga makanannya. Selain itu ada yang
secara langsung mengawasinya.
Wanita yang datang tadi bernama Alsava. Wanita yang umurnya tiga
tahun lebih muda dari Denta. Wanita yang memperkenalkan diri sebagai
kekasih suaminya suami Denta yang bernama Adhyaksa. Alsava mengaku
sebenarnya sudah menjalin kasih sudah lama, sejak Denta dan Adhiyaksa
belum menikah. Pernikahan mereka tentu tanpa sepengetahuan Alsava.
Karena merasa dipermainkan oleh Adhyaksa itu akhirnya dia balas dendam
pada Denta.
Denta sebenarnya sangat bingung saat itu. Suaminya yang rajin
bekerja dan selalu memberikan semua kebutuhan rasanya tak percaya.
Setiap pulang kerja suaminya selalu menemaninya. Tidur di rumah sakit.
Pekerjaan suaminya yang seorang manager di sebuah perusahaan asuransi
119
cukup menyita waktu. Berangkat kerja pukul 7.30 dan kadang sampai pukul
sembilan malam. Itu diketahuinya sejak dulu. Sejak sebelum menikah.
Karena perkenalan mereka dari tempat kerja. Dahulu Denta bekerja di
sebuah dealer sepeda motor yang bersebelahan dengan kantor Adhyaksa.
Setiap hari mereka bertemu. Kadang makan siang di warung soto
seberang kantor bersamaan. Bertahun-tahun perkenalan mereka biasa saja.
Tapi, tidak dengan sore itu. Di malam minggu dengan cakrawala yang sangat
indah. Warna jingga menghiasi langit di ufuk barat.
“Den kamu mau pulang kan?” tanya Adhyaksa.
“Ya, ada apa?” Denta ganti bertanya.
“Nggak sih. Aku ikut kamu pulang.“
“Kurang kerjaan. Ngapain?” kata Denta sambil terbahak.
“Bener aku kurang kerjaan. Keluargaku lagi ke luar kota semua. Aku
di rumah sendirian. Enggak ada temennya. Malas di rumah,” kata
Adhiyaksa.
Denta menyalakan motornya dan melaju dengan kencang. Ketika
dia melihat spion terlihat Adhyaksa berada di belakangnya. Lalu dia
mengerem motornya. Motor melaju pelan. Saat berada di sebuah
perempatan kebetulan lampu merah menyala. Adhyaksa berhenti di
samping Denta.
120
“Kamu beneran mau ke rumahku?” tanya Delta.
“Kan sudah kubilang tadi,” jawab Adhyaksa.
“Kukira kamu main-main,” kata Denta.
Sepuluh kilometer mereka berdua menyusuri jalanan di sore hari.
Lalu lalang para pengguna yang beraneka ragam pun ditemui. Mulai
pedagang keliling sampai bos yang sedang berangkat malam Minggu.
Semakin dekat dengan rumah Denta, perasaan tak menentu
bersarang di dada Adyaksa. Padahal itu sudah direncanakan sejak lama.
Baru kali ini Adhyaksa mengutarakannya. Perasaan tak menentu
membuatnya kurang konsentrasi. Lampu sen yang dinyalakan Denta tak
dilihatnya. Dia terus saja melajukan sepeda motor NMaxnya mengikuti
jalan. Baru disadari setelah dia jauh sampai memasuki kota kecil
kebanggaannya.
**
Denta memasuki halaman rumah. Ditolehnya ke belakang Adhyaksa
tak ada. Dengan tenangnya dia memarkir sepeda motornya.
Seperti biasa, setelah menyalami abahnya dia pergi ke kamar mandi.
Membersihkan badan. Baru saja memasuki kamar mandi hp-nya berdering.
Tanda panggilan. Terpaksa Denta kembali dan membuka hp-nya. Panggilan
dari Adhyaksa. “Assalamualaikum,” jawab Denta.
121
“Rumahmu mana? Kirim lokasi ya!” pinta Adhyaksa.
“Kamu jadi ke sini?”
“Oke kirim lokasi aja,” suara Adhyaksa lalu menutup telepon.
Denta melanjutkan membersihkan diri. Mandi dan keramas. Ketika
Adhyaksa. tiba di rumahnya. Abah yang menerima.
Adhyaksa sangat grogi ketika yang menerima ayah Denta. Orang
berperawakan tinggi besar dan sangat berwibawa. Dari cara bicaranya
menandakan bila beliau pensiunan pejabat. Memang benar, abah Denta
mantan kepala perhutani.
“Siapa namamu tadi?” tanya pak Burhan setelah beberapa kali ada
pembicaraan dengan Adhyaksa.
“Adhyaksa Kusuma Weda,” jawabnya.
“Satu kantor sama Denta?”
“Tidak pak. Saya di kantor asuransi bersebelahan dengan kantor
Denta.”
Ternyata pak Burhan banyak kenal dengan senior-senior Adhyaksa.
Beliau pun banyak cerita mulai dari awal kerja di Perhutani sampai dia
menjabat kepala. Munculnya Denta lah yang bisa menghentikan cerita Pak
Burhan. Lalu membiarkan mereka berdua.
122
Tak banyak yang mereka bicarakan. Jemari mereka selalu
memainkan HP masing-masing. Sebenarnya malam itu malam bersejarah
bagi mereka berdua.
Nak Adi salat Maghrib di sini atau di langgar,” suara Pak Burhan
memecah keheningan.
“Salat di rumah saja, Bah,” jawab Denta. Sebenarnya yang ditanya
adalah Adhyaksa. Tapi ketika melihat Ady, dia hanya tercengang. Tak
tahulah apa yang dipikirkan.
“Kalau gitu abah nggak usah ke masjid. Kita jamaah di rumah,” kata
abah tegas.
Perasaan galau ada di hati Adhyaksa. Bagaimana tidak, dia masih
bertamu pertama langsung diajak berjamaah. Dia terpaksa ikut jamaah pak
Burhan. Peristiwa seperti ini tak ada dalam keluarganya. Keluarganya semua
sibuk dengan dirinya sendiri, kalaupun salat sendiri-sendiri tak pernah ada
yang ke masjid. Ini pengalaman yang paling mengesankan tapi adiknya bisa
saat berkunjung ke rumah keluarga lain.
Dua bulan sudah sejak pertama berkunjung ke rumah Denta ,
akhirnya Adhyaksa menyatakan cintanya pada Denta dan berniat ingin
membangun sebuah keluarga.
123
**
“Kamu benar, akan secara resmi melamar adekku?” tanya seorang
laki-laki yang tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Adhyaksa dan Alsava.
Adhyaksa dan Alsava saat itu sedang menikmati makan malam di
sebuah rumah makan bergengsi di kota kecilnya. Tempat yang sangat
romantis. Di bawah temaram lampu yang ditata cantik. Ornamen rumah alat
(maksutnya ala ya) zaman Belanda sebagai bentuk karakter khas rumah
makan itu. Makanan modern dengan berbagai nama semeja penuh di
hadapan mereka berdua. Ada sebuah lilin yang tertancap di kue tart tertulis
Alsava sayang.
“Bagaimana?” kata lelaki sangar itu.
Adhyaksa dan Alsava hanya diam tercegang.
“Oh, ya perkenalkan nama saya Toto. Saya kemarin dapat cerita
kalau kamu akan melamar adik saya Denta!”kata lelaki sangar itu.
“Mas maaf, nanti kita bicarakan,” jawab Adhyaksa.
Alsava segera memegang erat lengan kekar Adhyaksa, seakan dia
tidak mau ditinggalkan.
“Saya tidak akan mencampuri urusan kamu, tapi pikirkan yang satu
itu!” katanya tegas.
124
Lalu Toto berjalan meninggalkan mereka berdua. Dengan
menderukan Toyota FJ40 Land Cruiser. Cocok dengan penampilan Toto.
Badannya yang tinggi besar, brewokan, memakai setelan Jean dengan
Tshirt hitam. Rompi yang dikenakan menambah keren lelaki yang
usianya sudah menjelang pensiun itu. Semua barang yang dikenakan
kelihatan branded. Termasuk sepatu. Adhyaksa tahu betul sepatu Borsa
itu berlabel empat juta.
“Gimana sih kamu ini. Kamu mau meninggalkan aku? Mau
menikah. Apa arti semua ini?” tanya Alsava dengan wajah sangat
kecewa.
“ Al, apa maksudmu? Kita satu kantor sudah lama. Kamu sudah
paham aku kan?” jawab Adhyaksa.
“Aku tuh suka sama kamu!”
“ Alsa. Alsa. Aku dari tadi memang rasain kamu tuh aneh. Nggak
seperti biasanya. Kamu itu setiap hari di antar jemput oleh Rudi, pacarmu.
Sekarang kamu bilang suka sama aku? Ckckckckc.”
Adhyaksa memang merasakan keanehan Alsava. Dia diundang
merayakan ulang tahun Alsava. Tapi, sampai di tempat tak ada seorangpun
teman yang datang. Walaupun tiga puluh menit sudah terlewati. Mana
mungkin Adhyaksa menerima cinta Alsava. Dia tahu setiap hari diantar
jemput pacarnya. Adyaksa tahu karena memang mereka sekantor.
125
Kebetulan Rudi terlihat berjalan dari jauh. Seakan dia curiga
dengan acara ulang tahun pacarnya itu.
“Hoe! Assalamualaikum, ini yang buat acara malah datangnya
belakangan,” kata Adhyaksa menyapa dulu kepada Rudi yang sedang
memasuki ruangan. Rudi pun menjawab dengan senyum yang dipaksakan.
“Maaf saya tidak bisa lama. Akan ada acara penting. Aku ke sini
tadi hanya mengucapkan selamat ulang tahun buat Alsava. Semoga
segera menikah. Kapan nikahan?” kata Adyaksa.
Adhyaksa segera berpamitan lalu pergi meninggalkan mereka
berdua.
**
Hari berganti hari tahun berulang dengan indahnya. Setiap matahari
muncul di langit timur, dengan ceria mereka berdua menyambutnya.
Membaurkan cinta yang telah terjalin di antara mereka. Bila siang datang
tangan pun terkait. Menyambut panasnya mentari dengan rasa hati yang
dingin. Kala surya tenggelam. Mereka pun memejamkan mata berdua.
Mengurai mimpi yang indah. Mimpi yang dibangun menjadi sebuah
kenyataan.
Canda tawa di antara mereka seakan surga yang membuat hatinya
berbunga-bunga setiap saat. Sepuluh tahun sudah riasan pengantin
126
dihapusnya. Tapi wangi melati masih ada di setiap ruang hati mereka.
Wangi melati yang menghadirkan Arjuna sebagai anak laki-laki. Anak laki-
laki yang gagah perkasa. Kini sudah mulai memakai seragam putih merah.
Karir Adhyaksa pun sudah bisa dibilang gemilang. Kini dia menjadi
seorang manajer. Manager di perusahaan dia bekerja. Memang Adhyaksa
Orangnya rajin dan teliti.
Rezekinya tak hanya dari Adhyaksa. Denta pun mendapatkan
angkatan sebagai pegawai negeri. Dia bertugas di kantor kecamatan.
Keadaan ekonomi yang semakin mapan, akhirnya Denta dan
Adyaksa memutuskan untuk mempunyai anak yang ke-dua. Kehamilan
Denta yang kedua kalinya ini agak sulit. Kehamilannya yang masih tiga
bulan sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit. Gara-gara nggak suka
makan.
Apalagi setelah didatangi Alsava di rumah sakit. Sering merasa
lemas seluruh badannya. Nafsu makannya pun semakin sulit. Kala sang
suami, Adhyaksa pulang malam kecurigaannya pun kadang membuat
kepalanya pusing dengan tiba-tiba. Tak tahu apa penyebabnya.
Pada suatu malam saat Adhyaksa pulang terlambat. Dengan kata
pelan Denta pun menanyakan.
“Aku kerja,” jawab Adhyaksa singkat.
127
Jawaban itu pun membuat Denta tak berdaya. Dia tak punya bukti
akan menudung suaminya. Semua itu dipendamnya dalam-dalam. Makin
hari sikap Adhyaksa semakin aneh. Dia sering pulang malam dan berangkat
pagi sekali. Bila di singgung sedikit saja sudah marah-marah.
Pada suatu malam Denta tidak bisa tidur. Angannya melayang pada
kecurigaan. Hanya bisa menarik nafas panjang ingin tahu sebenarnya apa
yang dilakukan suaminya. Untuk menyelidiki datang ke kantor suaminya
diurungkan. Dia harus berpikir ulang. Tidak mau reputasi suami jatuh gara-
gara kecurigaannya. Apalagi perutnya yang membesar tak mendukung untuk
berlari secepat kilat.
Tiba-tiba terlihat layar HP suaminya menyala. Dia diam tak
bereaksi. Denta melirik suaminya. Sudah tertidur pulas. Tangan Denta
segera meraih hp dan perlahan di bawanya ke luar kamar. Panggilan dari
Alsava. Ketika akan terima sudah berakhir.
Badan Denta tiba-tiba lemas. Detak jantungnya berdegup keras.
Wajahnya terasa panas. Napasnya serasa sesak. Kini hatinya menyuruh
jemari untuk membuka pesan. Serentetan pesan Alsava dengan kata-kata
yang manja. Pesan sehari ternyata masih belum dihapus . Denta menarik
nafas panjang. Tak tahu lagi yang harus diperbuat.
**
“Mas sudah mau berangkat lagi?” tanya Denta
128
“Ya, ada apa?” Tanyanya balik.
“ Sebenarnya ada apa kamu dan Alsava?”
Adhyaksa membalikkan badannya. Dia memandangi wajah Denta
dalam-dalam.
“Kamu akan mempermalukan aku di hadapan orang tuamu? Oke siap-
siap kita. Kita pindah rumah!”
“Mas maksudku bukan begitu tapi…,”
Adhyaksa keburu pergi meninggalkan Denta. Denta hanya bisa
memejamkan mata. Hatinya sangat teriris. Air matanya mulai berlinang.
“Ma, kenapa mama menangis!” Arjuna berteriak ketika melihat
mamanya menangis. Dia langsung meloncat dan minta tolong pada
kekeknya.
“Kek… Kek… kakek-kakek. Mama menangis perutnya sakit!”
teriak Arjuna.
Pak Burhan segera mendekati anaknya. Sebelum ditanya Denta
segera bercerita tentang ajakan suaminya untuk pindah rumah. Tangan
kanannya sambil mengusap air mata.
“Enggak apa-apa kok bah, cuma mas Adhyaksa mau mengajak
pindah rumah,” kata Denta.
129
“Baguslah. Berarti dia laki-laki yang bertanggung jawab,” kata pak
Burhan.
“Kok abah malah berkata seperti itu?” tanya Denta.
“ Adhyaksa itu suamimu, kalau mau mengajak rumah sendiri kan
bagus.”
“Abah kan jadi sendirian di sini.”
“Kan ada yu Minah. Dari ibumu masih ada sampai sekarang yu
Minah kan yang membersihkan rumah ini. Yu Minah juga
yang memasakkan. Jadi kamu nggak usah khawatir.
Keluarga kamu yang utama. Abah sudah tua . Tinggal melihat
anak cucu saja. Kalau masa depan kamu masih panjang. Kamu harus
membesarkan anak. Mengantarkan menjadi orang yang sukses.
Jalan kamu masih panjang. Hem.”
Denta pun sangat terharu mendengar petuah Abah. Memang Abah
orangnya sangat menghargai pendapat anak-anaknya. Memilih sekolah,
memilih pekerjaan, juga memilih jodoh. Dari ke-lima anak abah semua
menikah dengan pacarnya. Tidak pernah menolak walaupun ada kakak
Denta yang menikah dengan anak orang yang tidak punya. Menikah dengan
orang yang punya pekerjaan jual rujak cingur. Benar kata abah kalau
sekarang tinggal melihat anak-anaknya. Semua telah mempunyai rumah,
130
mobil, semua punya pekerjaan tetap walaupun satu kakak Denta bukan
seorang pegawai negeri. Hanya Dentalah yang belum mempunyai rumah.
**
Seminggu kemudian Denta, Adhyaksa dan Arjuna benar-benar
pindah ke rumah baru. Denta merasa berat meninggalkan Abahnya
sendirian. Tapi dia juga ingin rumah tangganya mesra seperti dahulu.
Suaminya betah tinggal di rumah dan bisa bercengkerama bersama Arjuna
setiap saat.
Kini mereka resmi tinggal di sebuah perumahan lumayan besar di
pinggiran kota. Tipe 45 cukuplah bagi mereka bertiga. Sebuah rumah
harapan untuk mencapai ke bahagiaan di masa sekarang dan mendatang.
“Ma, papa sekarang kok hanya pagi di rumah?”tanya Arjuna.
Pertanyaan Arjuna suatu siang. Pertanyaan yang sangat sulit
dijawab. Denta diam. Pikirannya melayang pada setiap malam yang ia
jalani. Adhyaksa selalu pulang sampai tengah malam. Saat Arjuna sudah
tidur. Arjuna bertemu papanya hanya di pagi hari saja.
“Ma, papa sekarang kok hanya pagi di rumah. Kenapa Ma?” Arjuna
mengulangi pertanyaannya sambil menggoyang-goyangkan bahu mamanya.
131
Hati Denta sangat resah. Kepindahannya ke rumah baru berharap
suaminya akan betah di rumah. Tapi setelah satu bulan pindah tetap saja
dia pulang malam. Berangkat pagi. Tak peduli lagi dengan anak dan istrinya.
Lebih teriris lagi hati Denta. Ketika Arjuna selalu menanyakan sang
papa. Denta selalu berusaha untuk menghibur, mengalihkan pembicaraan.
Agar hati Arjuna merasa senang.
“Nanti papa pulang sore. Arjuna Nggak boleh nakal. Pulang ngaji
papa sudah di rumah,” jawabnya menghibur anaknya.
Denta berusaha menelepon Adhyaksa. Dia akan meminta Adhyaksa
pulang sore agar dia bisa memenuhi janjinya kepada Arjuna.
Telepon masuk ada. Nada dering di seberang sana. Lama sekali tak
diangkat. Dia mengulangi teleponnya sampai tiga kali.
“Ada apa telepon,” jawabnya dari seberang sana.
“Pa, Arjuna ingin ketemu. Segera pulang,” pinta Denta
“Ya,” jawab Adhyaksa singkat.
Sore itu tak seperti biasanya. Arjuna pulang dari mengaji
meletakkan sandalnya dengan rapi. Tasnya dimasukkan ke dalam kamar lalu
dia ganti baju. Memakai kaos dan celana panjang. Dia berharap papanya
segera datang. Akan diajaknya main ke playground yang berada di taman
132
perumahan. Azan Maghrib telah berkumandang. Arjuna anak semata
wayang Adhyaksa menantikan kedatangannya. Dia mondar-mandir ke
dalam rumah. Melihat ke jalan kembali lagi ke dalam rumah .
“Kita jamaah masjid aja,” Ajak Denta kepada anaknya.
Ajakan itu agar anaknya merasa terhibur. Sebenarnya Denta sudah
sangat malas. Perutnya sudah membesar. Sudah mendekati melahirkan,
sering capek. Beberapa kali Denta membujuk anaknya. Akhirnya Arjuna
mau juga pergi ke masjid.
Setelah pulang dari masjid sang papa belum juga ada di rumah.
Arjuna mulai merengek.
“Ma, papa kok belum pulang sih,” rengek Arjuna.
“Mungkin masih di perjalanan, Coba telepon,”
Beberapa kali jemari Arjuna menekan telepon. Telepon selalu tidak
aktif. Arjuna kembali merengek. Denta berusaha meraih tangisnya dengan
mengajak berjalan keliling kota. Arjuna menolak dengan alasan nanti kalau
papanya datang dia tidak akan tahu.
Malam semakin larut. Rengek Arjuna pun terhenti karena tertidur di
depan pesawat televisi. Derai air mata mulai mengalir di pipi melihat sang
anak yang rindu papanya.
133
“Aku capek, mau tidur,” itu kalimat singkat yang diucapkan
Adhyaksa ketika masuki rumah. Lalu dia masuk ke kamar dan tidur
terlentang atas kasur. Tak memedulikan lagi anaknya yang tertidur di depan
televisi. Denta hanya bisa menarik napas panjang. Matanya dipejamkan
seakan ada sesuatu yang memenuhi dadanya.
Denta mengintip Adhyaksa yang sedang tidur. terlihat terlalu pulas.
Dipegangnya hp suaminya lalu dibawanya ke lantai dua. Layar HP dikunci.
Dia berusaha mengingat-ingat. Dua kali mencoba membuka kuncinya
“Nah bisa,” katanya lirih.
Di hp itu terdapat berpuluh poto Adhyaksa bersama Alsava. Mereka
sedang berjalan-jalan di sebuah tempat wisata. terlihat sangat gembira.
Seluruh badan Denta tiba-tiba terasa panas. Apalagi wajahnya.
Rasanya seperti terbakar. Tangannya gemetar. Dadanya seakan sesak. Dia
pejamkan matanya lalu beberapa kali mengambil nafas panjang. Dia ingin
menjerit semampunya. Tapi bagaimana dengan Arjuna? Dia hanya bisa
menguras air matanya. Menangis sejadi-jadinya. Ketika membuka mata,
sebuah rembulan di atas sana. Dikerumuni bintang-bintang berkedip
dengan indahnya. Tak ada satupun yang bergerak.
Derai air mata yang dicurahkan. Rasa sakit yang menyesakkan hati,
jerit emosi yang sudah tak terkendali. Tak membuat bulan dan bintang
bergerak sedikitpun. Sangat tenang. Mungkin itulah Adhyaksa sekarang ini.
134
**
“Pa, kemarin pergi ke mana? Mama kan sudah minta pulang cepat.
Lihatlah Arjuna menanti sampai tertidur di depan TV.”
“Mama jangan terlalu curiga. Jangan terlalu cemburu. Aku kan sudah
bilang kalau kerja. Cicilan rumah ini banyak.”
“Papa pergi dengan siapa?” ujarnya tak bisa lagi menahan dorongan
curiga.
“Sudah ku bilang aku bekerja,” jawab Adhyaksa dengan melotot.
“Nanti Arjuna ulang tahun. Papa pulang lebih cepat,”pinta Denta.
“Ini uang lima juta, ajak dia ke mana saja, atau buat acara.
Terserah!”
“Bukan ini yang dibutuhkan Arjuna, Pa!” ujar Denta tak kalah tegas.
Tiba-tiba Arjuna terbangun dan memeluk papanya. sambil
menceritakan bahwa kemarin Arjuna beberapa kali menelepon papa. Tapi
HP Papa tidak aktif. Dia juga bercerita kalau menanti papanya pulang
sampai larut malam. Ingin diajaknya bermain di playground. Sudah lama
tidak bermain dengan papanya.
Adhyaksa seakan tak merasakan kerinduan Arjuna anaknya. Dia
terus saja memakai baju untuk bersiap berangkat kerja.
135
“Nanti kalau mau hadiah minta sama Mama,” katanya kepada Arjuna
sambil ke luar dari pintu rumah.
Lagi-lagi Denta hanya bisa menghela nafas panjang. Adhyaksa
benar-benar sudah tak memedulikan perasaan anaknya. Denta hanya mampu
diam tak membicarakan tentang ulang tahun sedikitpun kepada Arjuna.
Biarlah hari ini berlalu begitu saja. Daripada sakit semakin dalam di hatinya.
**
Melahirkan merupakan insiden yang penting bagi seorang ibu dan
seorang anak. Disambut sukacita oleh semua anggota keluarga. Tapi ada
yang janggal hari itu. Saat Denta melahirkan anak keduanya. Dia berangkat
sendiri ke rumah sakit. Tujuannya untuk memeriksa diri. Sampai di rumah
sakit ternyata dokter menyarankan untuk tetap tinggal karena kondisinya
sangat lemah.
Denta segera menghubungi Adhyaksa. Telepon berdering beberapa
kali, lama tak ada jawaban. Denta beralih menghubungi kakak-kakaknya.
Hampir semua kakaknya terperanjat dibuatnya. Saat genting seperti itu
suaminya tidak bisa dihubungi.
Saat tengah malam Adhyaksa tiba di rumah sakit. Tak ada satu orang
pun dari kakak Denta yang bertanya. Mereka hanya diam. Mengira-ngira
saja apa yang dilakukan Adhyaksa. Merasa kasihan sama Denta. Mereka
juga tidak menanyakan dari mana Adhyaksa tahu kalau istrinya berada di
136
rumah sakit. Malah mereka hanya menjawab dengan singkat apa yang
tanyakan.
Begitu juga saat pagi tiba.
“Saya berangkat dulu Ma, Mbak,” pamit Adhyaksa sambil
bersalaman.
Denta dan kedua kakak iparnya hanya bisa berpandangan. Tak
mampu yang mengatakan sesuatu walaupun mereka tahu apa yang dilakukan
Adhyaksa suatu kejanggalan. Tidak selayaknya seorang suami yang
meninggalkan istrinya begitu saja melahirkan di rumah sakit.
“Den, kalau kamu perlu apa-apa bilang, jangan sungkan sama saya,”
kata Mbak Yuniati untuk menutupi kesedihan yang terlihat di wajah Denta.
“Ya mbak, sudah kok. Pokoknya si kecil sudah beres aku nggak
apa-apa,” jawab Denta dengan senyum yang dipaksakan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Jam istirahat bagi orang
kantoran. Jam yang membuat hati Denta berbunga-bunga. Seakan menepis
semua cemburu dan prasangka selama ini. Adhyaksa menelpon
menanyakan keadaannya dan bayinya. Dia juga menanyakan kapan pulang.
Tak cukup waktu satu atau dua hari untuk memulihkan kesehatan dan
kondisinya yang masih lemas. Dokter memutuskan paling tidak dua hari lagi
berada di rumah sakit. Tak tahu apa yang ada di benak Adhyaksa saat itu.
137
Justru malamnya dia tak muncul. Pikiran negatif Denta tentang Adhyaksa
pun kembali memenuhi otaknya. Kekhawatiran dan kecemburuan semakin
menderu di dadanya. Lebih sulit lagi ketika ke-empat kakak laki-lakinya
berkunjung ke rumah sakit. Dia sulit menjawabnya.
Di hari terakhir Denta berada di rumah sakit Adhyaksa muncul
bersama Arjuna. Seharian menemani Denta. Bercengkerama bersama
sambil mencari adiknya yang baru lahir. Keriangan Arjuna terpancar di
wajahnya. Tawanya yang polos menjahili papanya. Papanya pun membalas
dengan rasa kasih sayang. Suasana bahagia seperti saat setahun lalu. Tak
hentinya Denta mengucapkan rasa syukur di bibir pasinya. Dia pun
memohon kepada Tuhan agar semua ini tetap ada selamanya dalam
keluarganya.
Matahari bersinar sempurna. Menembus jendela kaca rumah
keluarga Adhyaksa. Semua sanak saudara berkumpul merayakan syukuran
anak yang ke-dua. Anak laki-laki yang diberi nama Damar Arsenio Bastian.
Anak laki-laki yang sangat lucu. Kulitnya putih seperti mamanya dan
hidungnya mancung seperti papanya. Hampir semua tamu yang datang
menyanjung bak putra raja. Kebahagiaan sempurna.
Paling bahagia saat itu adalah abah. Punya cucu laki-laki yang bisa
membawa papanya kembali ke rumah untuk merajut kebahagiaan. Bangga
dengan menantunya itu, bisa membuatkan rumah bagi anaknya
membahagiakan cucu-cucunya.
138
“Terima kasih ya Le, saya titip cucu dan anak saya untuk kamu
bahagiakan,” ucap Abah kepada Adhyaksa.
“ Iya Bah, anak-anak dan Denta pasti saya bahagiakan,” kata
Adhyaksa dengan sopan.
“Saya akan memegang janji kamu,” kata abah selanjutnya.
Seminggu kehidupan Adhyaksa dan Denta berjalan normal. Normal
layaknya setahun lalu sebelum Adhyaksa mempunyai gelagat yang aneh
dalam keluarganya. Rasanya sangat bahagia. Siang malam mereka berempat
bercanda tawa. Apalagi Arjuna sangat sayang kepada Damar adik bayinya.
Selalu ditungguinya. Dia tidak mau bermain dengan teman-temannya
bahkan tidur pun minta di samping adiknya.
Pada hari ke-tujuh masa cuti Adhyaksa sudah habis. Mulai bekerja
seperti biasa. Berangkat pagi pulang malam. Sebenarnya Denta sangat
curiga dengan kepulangan suaminya yang selalu malam. Sepengetahuan
dia, saat masih bekerja di dealer samping tempat kerjanya tak ada karyawan
pulang se-malam itu. Paling malam pukul tujuh. Itu pun hanya di waktu
urgen saja.
Malam itu hujan gerimis rintik-rintik. Hawa dingin masuk dari celah
jendela. Tak tahu apa yang terjadi. Damar sejak sore merengek. Denta
memeriksa kening Damar dengan telapak tangannya. Badannya panas.
139
Denta mulai menghubungi Adhyaksa. Tak diangkat sampai tiga kali.
Saat hampir ditutup ada suara dari seberang sana.
”Kalau sudah di sini itu suamiku, enggak usah sok sayang nelpon-
nelpon lah,” suara perempuan yang menjawab hp Adhyaksa.
Seketika badannya lemas. Wajahnya terasa, bibirnya kaku, lehernya
bak di cekik. Tangannya gemetar sampai HP yang dipegangnya hampir
terjatuh. Dadanya kini benar-benar sesak. Apalagi melihat Arjuna yang
pulas di kamar dan rengekan Damar yang semakin sering.
“Ya Tuhan beri aku kekuatan membesarkan anakku dengan rasa
sayangku,” suara itu yang akhir terucap dari bibir Denta.
Hati Denta benar-benar kalut. Arjuna sedang tertidur pulas tak
mungkin dia tinggalkan sendirian membawa ke rumah sakit. Akhirnya Toto
lah yang membantu mengantarkan Denta pergi ke rumah sakit. Mbak
Yuniati istri Toto menemani Arjuna di rumah.
Saat Toto dan Denta pulang ternyata Adhyaksa sudah berada di
rumah. Wajahnya merah padam seakan dia memendam emosi yang sangat
berat. Matanya merah. Melotot setiap memandang Denta. Yuniati yang
mengerti kemarahan Adhyaksa segala mencolek suaminya untuk diajaknya
pulang.
140
“Kamu memalukan aku saja seperti aku tak tanggung jawab. Tunggu
sebentar kenapa sih!”
“Pa, badan Damar panas, Arjuna sudah tidur. Siapa menemani
Arjuna,” bela Denta.
“Kan ada mbak Siti. Setiap kamu kerja juga diasuh mbak Siti.
Kenapa sih suka sulit!” ujar adhyaksa sengit meledakkan
kemarahan.
“Pa, siapa perempuan yang menjawab telepon saya?” tanya denta
tak kalah marah.
“Aku capek,”kata Adhyaksa sambil memasuki kamar lalu
menguncinya dari dalam.
“Pa, pa, jawab dulu pertanyaanku!” pinta Denta sambil mengetuk
pintu kamar.
Setelah beberapa kali diketuk dan tak ada jawaban, kini tinggal
deraian air mata yang mengalir di kedua pipinya. Hanya rengekan tangis
Damar yang menghentikan derai air mata Denta.
Sejak kejadian malam itu hubungan Denta dan Adhyaksa semakin
jauh. Kadang Adhyaksa tidak pulang sama sekali, bahkan sampai dua
malam. Denta tak lagi mau meneleponnya. Dia tidak mau hatinya sakit
seperti malam itu. Hanya sebuah pertengkaran yang tak berujung.
141
“Halo adik damar dan Mas Arjuna. Ayo jalan-jalan sama mbak Siti.
lihat pasar malam. Kan sudah pada mandi sama mama,” ajak mbak Siti.
Mbak Siti tentangganya sebelah rumah yang mengasuh Arjuna dan
Damar saat ditinggal Denta bekerja. Setelah Denta pulang kerja kedua
anaknya dijemput. Mbak Siti orangnya baik. Sejak Denta pindah ke rumah
itu mengasuh Arjuna. Tak pernah mengeluh berapa pun uang yang
diberikan. Bahkan kadang Arjuna dibelikan mainan dengan uang mbak Siti
sendiri. Sejak pertengkaran malam itu mbak Siti lebih banyak mengajak
Arjuna dan Denta, atau sekadar bermain di rumah Denta. Seakan-akan tahu
tahu permasalahannya.
“Mbak Siti, sekalian nanti aku mau menyelesaikan urusan penting.
Titip Arjuna dan Damar.”
“Sudahlah mbak Denta, kalau mau ada urusan selesaikan dulu.
Anak-anak itu enak, sama mas Narto aja sudah bisa tidur,” kata Mbak Siti.
Seketika Denta mengirim pesan WA kepada suami .
“Pa, aku ingin bicara.”
“Kapan?”
“Terserah.”
“Di café Sultan jam sepuluh.”
142
“Ok.”
Adhyaksa berjanji bertemu pukul sepuluh. Artinya Denta punya
waktu tiga jam lagi untuk menemuinya. Ketika mendengar azan Isya Denta
salat lalu membaca beberapa doa agar malam bisa menyelesaikan
permasalahan keluarganya.
“Hasbiyallahu lidiini hasbiyallahu lidun-yaaya, hasbiyallahu limaa
ahammanii, hasbiyallahu limam baghaa 'alayy, hasbi-yallahu liman
kaadanii bisuu', walaa haula walaa quwwata illaa billaah."
Doa ini lah yang ucapkan Denta kurang lebih selama satu jam yang
artinya Cukuplah Allah (sebagai penolongku) dalam (urusan) agamaku,
cukuplah Allah (sebagai penolongku) dalam (urusan) duniaku, cukuplah
Allah (sebagai penolongku) dalam kesusahanku, cukuplah Allah (sebagai
penolongku) dalam menghadapi orang yang berbuat aniaya kepadaku,
cukuplah Allah (sebagai penolongku) dalam (menghadapi) orang yang
melakukan tipu daya jahat kepadaku. Tiada daya upaya dan kekuatan
melainkan dengan pertolongan Allah."
Denta sangat yakin yang dilakukan selama ini berada di jalan Allah.
Hanya Allah yang bisa menolong disaat Denta benar-benar jatuh.
Pukul sembilan empat puluh lima, Denta baru saja tiba di cafe Sultan.
Sebuah cafe yang berada di pinggiran kota. Konsep cafe alam bebas dengan
lampu berwarna-warni memungkinkan Denta dan Adhyaksa untuk bicara
143
bebas. Meja satu dengan meja lain berjarak agak jauh. Tidak khawatir akan
terdengar bila membicarakan hal yang rahasia.
“Hot Milk Coklat satu,” pinta Denta ketika seorang pelayan
mendekatinya.
Angannya kini menerawang jauh tentang hubungan dirinya dengan
Adhyaksa. Mulai dari perkenalan pertemanan yang biasa saja, lalu tiba-tiba
begitu saja menikah. Denta sendiri sebenarnya tidak tahu apakah dia
mencintai Adhyaksa atau….
“Kamu mau bicara apa?” suara Adhyaksa mengagetkan Denta.
“Pa, mau kamu bawa kemana rumah tangga kita?”
“Mau tidak mau kamu harus menerimanya seperti ini.”
“Kamu tidak ingat Arjuna dan Damar? Kamu nggak rindu sama
mereka?”
“ Aku juga punya anak seusia Damar. Kalau kamu nggak terima kita
pisah. Itu yang aku tunggu dari dulu.”
Serasa disambar petir disiang hari. Kata-kata Adhyaksa yang
diucapkan dengan tegas dan melotot sungguh menusuk perasaan Denta. Tak
tahu kekuatan apa yang membuat Denta juga mempunyai sikap yang sama.
Tanpa tangis dan air mata, Denta saat itu juga sama tegarnya.
144
“Arjuna dan Damar?” lanjut Denta.
“Itu urusanmu, kamu ibunya!”
“Kamu tidak rindu dengan mereka?”
“Aku juga punya anak seumuran Damar di sana!”
“Jadi kita pisah?”
“Kalau itu yang kamu mau!”
“Oke, sebagai seorang istri aku wajib mempertahankan kamu. Kalau
kamu tidak bisa kuingatkan, sudah gugur kewajibanku!” tegas Denta.
“Mau tanya apa lagi? Kalau tidak ada, aku cabut dulu. Banyak
urusan yang lebih penting,” dengan tenangnya Adhyaksa mengatakan
itu.
Denta hanya diam. Tak sepatah kata yang dikeluarkan. Akhirnya
Adhyaksa mengambil kunci mobilnya yang diletakkan di meja. Lalu
menghilang di keremangan café Sultan.
Tinggallah Denta sendirian. Punggungnya disandarkan pada
sandaran kursi. Badannya lemas. Pandangannya kosong. Jauh menerawang
ke atas langit yang sangat gelap. Dia tak menyangka jika pernikahannya
dengan dua anak berakhir begitu saja. Adhyaksa sudah lupa dengan
keluarganya. Kalau pun Denta yang salah, semua itu serba mungkin. Rasa
145
kecewa pasti ada. Denta perempuan biasa. Tapi kalau melupakan kedua
anaknya, bukan suatu kewajaran bagi orang tua.
Sudah tidak ada air mata lagi. Semuanya sudah jelas. Tak ada yang
diragukan lagi. Denta memejamkan kedua matanya. Hanya kedua anaknya,
Arjuna dan Damar lah yang ada di pelupuk matanya.
“Aku harus kuat!” itulah kalimat yang terucap sambil mengepalkan
kedua tangannya. Tanda dia masih punya semangat untuk membesarkan
anaknya tanpa Adhyaksa.
Denta tak lantas pergi meninggalkan café begitu saja. Dia masih
merenungi nasibnya. Pikirannya mulai merangkak peristiwa demi peristiwa.
Mulai dari Adhyaksa diangkat menjadi manajer di perusahaan itu. Perubah
demi perubahan terlihat jelas. Berangkat pagi dan pulang tengah malam.
Semula tidak sering. Hanya beberapa kali saja. Tapi semakin lama semakin
terlihat kejanggalan demi kejanggalan. Semakin terasa.
Termasuk saat Alsava mendatanginya di rumah sakit. Menuduh
Denta merebut kekasihnya. Mungkin ini pelajaran bagi dirinya. Sebelum
menikah dia tidak pernah menanyakan apakah Adhyaksa punya pacar.
Begitu Adhyaksa melamar, Denta percaya begitu saja.
“Mbak. Maaf sudah jam dua belas café mau tutup,” kata salah
seorang pelayan yang menghampirinya.
146
“Oh, maaf,” jawab Denta. Lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu
dan menyerahkan kepada sang pelayan.
“Minta tolong saya dibayarkan. Minumannya masih utuh bisa untuk
mbak.”
Setelah itu dia melangkah pergi.
“Mbak kembaliannya!”
Sebentar Denta membalikkan badan lalu menggelengkan kepala.
Setelah itu dia pergi.
**
Abah mendapat laporan dari mas Tomo. Orang kepercayaan abah.
Orang yang ditugasi untuk mengawasi Denta. Mas Tomo tidak bekerja
sendiri. Dia punya teman yang sebenarnya juga teman Denta. Rumahnya
pun berdekatan. Dia mas Narto suami Mbak Siti. Tapi semua itu
dirahasiakan tentunya.
“Tom, tolong antar aku ke kantor Adhyaksa,” perintah abah. Mas
Tomo pun tak berani menolak. Dia tahu kalau Abah sudah geram dengan
tingkah laku Adhyaksa. Dengan diantar mas Tomo memakai kursi roda nya,
abah memasuki ruang Adhyaksa. Ketika sang satpam menanyai abah
langsung berkata,
147
“Aku ayah Adhyaksa. Tak usah kamu protes.”
Abah memasuki ruangan sang manager tanpa mengetuk pintu.
“Adhyaksa. Apakah kamu laki-laki bertanggung jawab? Apa kamu
sudah betul memimpin keluargamu. Kalau belum bersimpuhlah
di kakiku. Ku ajari kamu jadi bajingan!”
Suara lantang Abah membuat seisi kantor melongo. Hanya kalimat-
kalimat itulah yang terucap. Setelah itu meminta Mas Tomo untuk
mendorong kembali kursi rodanya. Pulang ke rumah.
Adhyaksa yang terkaget karena ada orang masuk dengan tiba-tiba
hanya tercengang. Melihat tanpa berkata. Hanya diam mematung di tempat
duduknya.
Sampai seminggu kedepan kasak-kusuk antar karyawan
membumbui bisik-bisik. Setiap kali bertemu karyawan lain dari hal yang
tertutup hingga semuanya. Terpapar jelas sumber-sumber yang akurat dan
sumber yang hanya kabar angin pun menjadi bumbu-bumbu pembicaraan.
Mereka rela menjadi wartawan dadakan demi berita tentang atasannya yang
sudah mendua.
Keesok harinya Denta disuruh ke rumah Abah. Tanpa curiga Denta
mendatangi rumah Abahnya seperti biasanya. Membawa tahu goreng
kesukaan abah. Rumah Abah masih seperti dulu, seperti saat ditinggal
148
Denta. Bunga di dalam pot di teras rumah masih ditata rapi, hijau segar.
Beberapa bunga mulai mekar. Dengan tenang Denta memarkir sepeda
motor. Melangkahkan kaki melalui teras samping rumah. Tiba-tiba
terdengar suara abah menjerit histeris.
“Nduk, mulia nduk. Pisah a karo Adhyaksa. Mulia rene tak tompo
koyo jaman cilikanmu. Ojo kok siksa batinmu!” (Kamu pulang saja.
Pisahlah sama Adhyaksa. Pulanglah ke sini, saya terima seperti waktu
kamu masih kecil. Jangan kamu siksa batin karena Adhyaksa) jerit sang
abah sambil menangis.
Denta segera berlari memasuki ruangan dan memeluk abah.
Keduanya menangis sejadi-jadinya. Lama sekali. Denta memang sengaja tak
menceritakan soal Adhyaksa kepada siapa pun termasuk Abah. Menikah
dengan Adhyaksa adalah pilihanya sendiri. Bila ada masalah tentu akan
diatasinya sendiri. Kala semuanya agak reda. Denta sesenggukan di
pangkuan sang abah. Bersimpuh di lantai.
“Bah, aku kuat menjalani semua ini. Abah jangan khawatir.”
“Tidak. Kamu harus pisah dengan Adhyaksa. Tidak boleh
meneruskan rumah tanggamu seperti ini. Kamu harus bisa titik!”
kata Abah tegas.
149
Tangan kanan abah mengelus kepala Denta. Tanda beliau sangat
menyayangi Denta. Tidak rela kalau hati Denta disakiti Adhyaksa.
Diduakan dengan wanita lain. Tidak. Abah jelas menolaknya!
**
Di sebuah malam. Gelap menyelimuti langit. Sejak sore gerimis
datang tak henti mengisi kesunyian. Mengusir kerinduan tentang keramaian.
Genteng pun selalu meneteskan air bening. Menambah dingin malam itu.
Suasana sepi membumbui cuaca yang membuatnya orang bermalasan.
Sejak sore pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat. Para penghuni ingin
sebuah ketenangan menikmati hawa dingin.
Toto mengetuk pintu rumah baru yang berada di sebelah selatan
jalan. Rumah minimalis yang cukup besar. Warna abu-abu dan kuning
keemasan mendominasi tembok rumah. Lampu-lampu yang berjajar di
tiang teras menambah indahnya rumah itu. Rumah yang masih sembilan
puluh persen jadi itu merupakan rumah Alsava. Rumah yang dibangunkan
oleh Adhyaksa.
“Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok. Adhyaksa ke luar kamu!”
suara keras Toto.
Mengagetkan Adhyaksa dan Alsava yang sedang santai menonton
televisi. Belum lagi dibukakan suara Toto kembali memanggil Adhyaksa.
150