Dari balik jendela terlihat samar Adhyaksa dan Alsava bergegas menuju
pintu.
Begitu pintu dibuka, kerah Adhyaksa dipegang dengan kedua
tangan Toto.
“Bangsat kamu, sudah mempermainkan adikku!” kata Toto dengan
nada emosi.
Bug…, suara pukulan Toto mendarat di rahang Adhyaksa. Lalu
diikuti tendangan di perut. Seketika Adhyaksa terpental ke belakang.
Menimpa Alsava yang sedang berdiri di belakangnya. Keduanya jatuh.
“Hai, ada apa ini ribut-ribut. Saya laporkan pak RT!”suara seorang
ibu-ibu tiba-tiba muncul.
“Laporkan sekarang, biar semua orang tahu anak ibu serumah
**
Hari-hari Denta dirundung duka. Kadang tak terasa dia menangis
tersedu-sedu. Mencari kesalahan pada dirinya sampai Adhyaksa tega
melupakan kedua anaknya. Disatu titik dia menemukan jawaban harus kuat
demi kedua anaknya.
151
“Mbak Siti. Maafkan kalau selama ini terlalu merepotkan Mbak
Siti,” kata Denta suatu waktu.
“Nggak usah dipikirkan Mbak Denta. Mbak Denta sudah ngasih
uang pada saya. Cukup untuk makan sehari-hari. Mas Narto kadang
kan enggak kerja.”
” Tapi enggak selamanya aku punya uang mbak.”
“Sudah. Pokoknya anak-anak sehat kita harus bersyukur.”
Kebaikan mbak Siti semakin membuat Denta yakin bisa menjalani
kehidupan sehari-hari. Selama ini memang ikhlas membantu. Tidak pernah
berbicara apapun ketika Denta memberi uang seberapa pun.
Tiba-tiba hp Denta berdering. Mas Kama kakak Denta yang pertama
menelepon. Meminta Denta datang ke rumah Abah sekarang juga.
Setelah berpamitan dengan Mbak Siti, Denta melaju ke rumah abah.
Dia agak terburu-buru, khawatir kalau abah sakit. Sesampai di rumah, abah
ternyata sehat. Duduk di kursi rodanya. Tapi, yang membuat Denta heran
semua kakaknya berkumpul. Ada Mas Kama kakak pertama, mas Sindu
kakak ke-duanya, dan mas Patra kaka ke-tiganya. Lengkap, mereka bersama
istri masing-masing. Saat Denta memasuki ruang tamu semuanya diam.
Semua mata tertuju padanya. Hanya jawaban salam dari Denta yang dijawab
152
serentak. Kemudian istri kakak-kakaknya menunduk. Tak ada yang
berbicara termasuk Abah. Saat mereka saling diam, tiba-tiba Toto datang.
“Aku tidak terima adikku dipermainkan. Janganlah kamu diam.
Kakak-kakakmu akan mendukungmu. Bicaralah pada kami.
Bicaralah!”
Pecahlah tangis Denta, juga semua yang ada di situ. Saat mas Toto
memaksa Denta untuk bercerita, justru dia pingsan.
Hari demi hari hati Denta semakin terang. Dukungan dan bantuan
kakak-kakaknya selalu didapatkan. Hampir setiap sore ada kakaknya yang
mendatangi rumahnya. Hanya sekedar bercengkrama. Denta tidak terlalu
memikirkan pilu dihatinya.
Denta sudah mulai mengumpulkan berkas-berkas untuk mengajukan
perceraian. Beberapa kali dipanggil oleh atasan untuk diyakinkan. Latar
belakang pengambilan keputusan semua orang memakluminya.
Sementara keadaan Adhyaksa semakin hari semakin diselimuti oleh
kabut tebal. Audit keuangan menyatakan penyelewengan dana yang tidak
bisa dipertanggungjawabkan. Semua mengarah pada Adhyaksa. Temannya
satu persatu mulai menjauh. Bawahannya pun sudah tak lagi menghargainya
seperti dahulu.
153
Hubungan dengan Alsava pun mulai goyah. Keinginan Alsava
masih seperti dulu. Padahal keadaan mulai berubah. Apalagi setelah mobil
barunya Honda BR-VE MT dijual untuk menutup keuangan yang
dituduhkan pada Adhyaksa. Adhyaksa tak ada harganya lagi di depan
Alsava.
“Kalau Mas menjadi beban hidupku, pulang sana,” kata Alsava
dalam sebuah pertengkaran. Bagi Adhyaksa tak mungkin kembali. Dia
sudah mendengar kalau Denta mulai mengumpulkan berkas perceraian.
Tidak dengan sore ini. Suasana hujan seharian. Matahari tak mau
menjenguk bumi walaupun hanya sekejap. Hawa sejuk khas musim hujan
membawa perut Adhyaksa ingin selalu terisi. Tak ada secuil pun makanan
di rumah. perutnya hanya terisi tadi pagi. Nasi goreng sepiring. Setelah itu
Alsava dijemput teman-temannya untuk pergi. Sampai sore belum kembali.
Adhyaksa yang sudah di non aktifkan karena penyelewengan yang
dituduhkan hanya di rumah saja. Menjaga anak balitanya dengan Alsava.
Ketika ditelepon, Alsava tak ada reaksi sedikitpun. Sedangkan di
Story hp-nya, dia bersama teman-teman menikmati berpuluh hidangan di
sebuah Resto mahal. “Kenapa kita tidak Bahagia? Salah sendiri.” Itu
tulisan di Story. Berpuluh foto dirinya bersama teman-teman juga
dipampang nya di akun fb-nya. Mereka terlihat sangat bergembira.
154
Berdandan ala selebriti dengan gaya-gaya lebay yang menggelitik para mata
laki-laki.
Cemburu Adhyaksa muncul ketika beberapa foto Alsava bersama
Zaha. Anak seorang pengusaha tranportasi sukses di kota nya. Menurut
cerita, Zaha dulu merupakan teman dekat Alsava saat SMP.
“Aku lapar,” kata Adhyaksa saat Alsava memasuki rumah.
“lapar ya makan,’ jawab Alsava singkat.
“Tidak ada makanan di rumah!” debat Adhyaksa.
“Kan kamu bisa masak sambil goreng telur. Masih ada satu tuh
telurnya.”
“Keluyuran aja nggak mikir yang di rumah.”
“Kamu bagian jaga anak walaupun bukan anakmu.”
Kecemburuan Adhyaksa bertambah dengan kata-kata terakhir
Alsava. Bagian jaga anak walaupun bukan anakmu selalu terngiang.
Adhyaksa menjadi berpikir apakah benar anak itu bukan darah dagingnya.
Cekcok mulut pun berlanjut. Sampai Alsava mengucap kata kalau
Adhyaksa sekarang sudah tak ada apa-apanya. Tak mampu menghidupinya.
Hanya menjadi beban saja. Kalau sudah tidak mau menjaga anak, boleh
pergi dari rumah itu.
155
**
Arjuna saat itu tiduran di kasur depan TV. Sejak semalaman
badannya panas. Apalagi tadi malam, sangat panas. Sampai dia mengigau
memanggil papanya.
“Ma, mengapa ya ma papa kok enggak pulang-pulang?” tanya
Arjuna.
Dada Denta seakan dipukul dengan kepalan, tapi apa daya ini suatu
keadaan yang harus dijalaninya.
“Papa sekarang sibuk. Nggak bisa pulang. Tidur di kantor.”
“Kapan ya Papa nggak sibuk.” rengeknya.
“Ya, nanti papa pasti ada waktu nggak sibuk.”
“Kak, mama memandikan adik dulu ya,” kata Denta kepada Arjuna.
Denta segera menyiapkan air hangat untuk Damar, anak keduanya.
Lalu mereka masuk ke kamar mandi. Saat memakaikan baju pada Damar
terdengar suara salam dari luar. Diikuti oleh jeritan Arjuna.
“ Papaaaa. Papa kok tidur kantor terus. Nggak pulang. Kasihan
mama sama adik pa!”
156
Rupanya Adyaksa pulang ke rumah.
“Sekarang papa kan sudah pulang,” jawab Adhyaksa.
“Papa. Papa. Jangan cerai ya. Kata mbak Siti kalau cerai itu enggak
pulang terus pergi. Kan kasihan adik nggak punya papa. Punyanya
cuma mama.”
Hati Denta terasa hancur. Sakit hati yang dirasakan belum begitu
reda. Dia sudah bertekat bulat menyiapkan perceraian dengan Adhyaksa.
Tapi anaknya membuat hatinya hancur. Kata-kata yang tulus penuh
pengharapan.
Denta berusaha menetralkan diri berhadapan dengan Adhyaksa.
Seakan-akan tidak ada apa-apa di hadapan Arjuna. Tapi tak tanya sepatah
kata pun kepada Adhyaksa.
Anehnya Arjuna sembuh seketika. Panas di badannya hilang begitu
saja. Mereka berdua melepas kerinduan dengan canda dan tawa. Baru pukul
sebelas Arjuna minta ditemani tidur di kamarnya.
“Mas sudah jam duabelas. Mas pulang saja. Nanti dicari Alsava.
Saya sudah nggak mau urusan sama dia lagi,”
“Kau berani mengusir ku!” kata Adhyaksa setengah membentak.
157
“Kenapa tidak. ini sudah menjadi rumahku. Mas lupa atau pura-pura
lupa. Bukankah rumah ini sudah di sita bank. Aku yang menebus
rumah ini. Sekarang menjadi milikku.”
Adhyaksa segera terdiam, Sedang Denta segera memasuki kamar
untuk menahan emosi.
Malam itu malam yang terburuk bagi Adhyaksa. Malam yang
mengubahnya dari seorang manajer perusahaan menjadi suami rumahan.
Ketika istri dan anaknya bangun sudah menyiapkan makanan, mencuci
baju, menata rumah, dan menjaga Arjuna dan Damar. Malam itu juga
mengubahnya dari perilaku suami yang keras kepada istrinya menjadi orang
yang benar-benar melayani istrinya. Malam yang mengubahnya menjadi
orang yang sangat berkuasa, dan kini menjadi laki-laki yang tak berdaya.
Dulu menjadi laki-laki gagah yang bisa mencukupi semua kebutuhan anak
istrinya. Sekarang hanya tergantung pada gaji istrinya.
158
EPILOG
Berusaha lapang menerima tudingan
Tuduhan membuat tersengal di dalam leher
Pudarkan rasa dan pikiran hambarkan ketulusan
Keindahan kata hanya sebuah morgana
Tertiup angin terbang melupakan surga
Tak terpikir sakit hati yang dalam dada
Orang-orang yang benar berjuang
Kala Tuhan menguji dengan jalan
Tak kuat masuk dalam kubangan hitam
Dosa sudah tak terpikirkan
Kembali di jalan Allah
Menjawab semua gundah
Menyucikan hati yang sempat gelap
Walau terhimpit dalam duka
159
PROFIL PENULIS
Widwi Astuti lahir di Blitar, 4 Mei 1972. Dalam kepenulisan biasa
memakai nama pena Tung Widut. Lahir dari pasangan Ibu Waginah dan
Bapak Soenarjo yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar di desa tempat ia
tinggal.
Sejak kelas lima SD, ia mengikuti sanggar tari tradisional Abdi
Budaya pimpinan Bapak Suwarno. Saat SMP pernah menulis di EHA EHO
dan SAHABAT PENA pada majalah KUNCUP. Lulus dari SMPN 1 Srengat
Blitar tahun 1988 melanjutkan ke SMKI (Sekolah Menengah Karawitan
Indonesia) Surabaya mengambil jurusan Tari. S1 Bahasa dan Sastra
160
Indonesia diperolah dari IKIP PGRI Kediri tahun 1997. Selama kuliah aktif
di kegiatan seni tari sebagai pelatih di sanggar maupun melatih tari di TK
dan SD.
Setelah lulus dari IKIP Kediri mengabdi sebagai guru honorer di SMP
N 1 Ngantru Tulungagung. Setelah 10 tahun honorer diangkat menjadi
pegawai negeri pada tahun 2008. Pada tahun 2015, ia pindah tugas ke
SMKN 2 Tulungagung. Selama menjadi guru diberi tugas tambahan sebagai
pelatih ektrakurikuler Reog Kendang. Tari Reog Kendang merupakan tarian
khas Tulungagung. Dari pengalamannya sebagai pelatih reog, tersusunlah
buku REOG KENDANG TULUNGAGUNG UNTUK GENERASIKU.
Pada tahun 2018 ia menjadi finalis Inovasi Pembelajaran yang
diadakan oleh Kesharlindung Dikmen. Satu novelnya yang berjudul
MENJAGA DUA MALAM juga lolos pendampingan. Sayangnya pada saat
itu terbentur peraturan hanya boleh menjadi di satu kegiatan Kesharlindung
Dikmen, sehingga hanya sampai pada pendampingan saja.
Karya antologi yang pernah tercetak:
1. 2018, Cinta Sejati, Kumpulan Cerpen , Kediri Fam Publishing. (Cinta
di Bawah Bantal)
2. 2017, Menyandi Sepi, Antologi Puisi, Sewon, Bantul, Yogyakarta,
Tonggak Pustaka.
3. 2017, Perempuan yang Tak Layu Merindu Tunas Baru, Kumpulan
Puisi, Kediri Fam Publishing, (Petuah Renta).
161
4. 2018, Pesan Cinta untuk Sahabat, Kumpulan Puisi, Kediri Fam
Publishing (Melangkah dalam Asa, Malamku Tanpa Bintang)
5. 2018. Rembulan Malam, Kumpulan Puisi, Kediri Fam Publishing,
(Tanah Perindu, Purnama Hampir Penuh)
6. 2018, Tanah Bandungan, Kumpulan Puisi, Kediri Fam Publishing
(Birunya Langit Hijaukan Mata)
7. 2018, Rembulan Bermata Intan, Antologi Puisi Kediri Fam Publishing,
(Kusisipkan Rinduku).
8. 2018, Segenggam Cinta di Balik Coretan Pena, Kumpulan Puisi, Kediri
Fam Publishing (Ruas Majalah, Setumpuk Surat Biru).
9. 2018, Kubaca, Antologi Puisi, Mujahid Press,Bojongkunci Bandung,
(Kau Masih Ada, Membuka Layar Mimpi, Cari Rinduku, Raut
Mempesona, Rembulan Lapik).
10. 2019, Sisi Lain Dunia Pendidikan, Kumpulan Pengalaman Mengajar,
Penerbit MM, Bali (Bandar Permainan, Warna yang Tertukar, Kasir
Sayang Menghantarkan Masa Depan).
11. 2019, Balada Ban Luar, Kumpulan Puisi Mei, Sleman, Yedyija Nusa,
(Kunanti Cahayamu, Malam, Kelabu, Sebelum Hujan Reda, Secangkir
Kopi).
12. 2019, Catatan Perjalanan 31 Penulis Indonesia, Kediri Fam
Publishing.
162
13. 2019, Rumput Kering, Kumpulan Puisi Mei, Sleman, Yedyija Nusa
(Menjaga Cinta, Lentera Kepiluan, Seakan Kutelan, Menguarai
Kebencian, Air Mata Pertama).
14. 2019, Misteri Hutan Bambu, Antologi Cerita Anak, Kediri Fam
Publishing.
15. 2019, Celoteh Mungil Dari Desa Sebelah, Antologi Cerita Masa Kecil,
Mujahid Press.
16. 2020, Leak Cinta, Kumpulan Puisi, Sleman Yogyakarta, Yedyija Nusa
(Cemburu, Cantik Kecilku, Kesunyian Malam, Leak, Seteguk Air,
Senandung Kebencian, Gerimis di Awal Senja, Cincin di Jari Manis,
Penari Kecilku, Tanpa Ayah).
17. 2020,Dongeng tentang Hutan dan Negeri Hijau, Kitap Cerpen Tiga
Paragraf , Sidoarjo Jawa Timur, Tankali, (Ianda Aku Pernah ke Sini).
18. 2020, Resolusi Literasi, Kumpulan Resolusi untuk tahun 2020,
Surabaya Jawa Timur, Kanaka (Kugapai Bintang)
19. 2020, Sepersejuta Milimeter Dari Corona edisi khusus, Kitab Cerpen
Tiga Paragraf, Sidoarjo Jawa Timur, Tankali,
20. 2020, Menyukat Kesemenjanaan Kita, Kumpulan Cerpen, Sleman
Yogyakarta, Yedyija Nusa (Menerobos Lockdown, Menembus Covid
dalam Malam).
21. 2020, Hari Hari Huru Hara, Kitab Puisi Tiga Bait Tentang Corona,
Teras Putiba Indonesia 2020 Sidoarjo Jawa Timur, Tankali.
163
22. 2020, Taziah Bulan Tujuh, Kitab Puisi Tiga Bait, Untuk Mengenang
Sapardi Djoko Danomo, Sidoarjo Jawa Timur, Tankali,
23. 2020, Taruntum, Kitab Cerita Tiga Kalimat, Desa Tatika Indonesia
2020, Sidoarjo Jawa Timur, Tankali.
24. 2020, Geliat Literasi dalam Mengikat Jejak Covid-19, Surabaya Jawa
Timur, Kanaka.
25. 2020
26. 2020, Pesona Nusantara, Antologi Khazanah Wisata Alam dan Sejarah
Indonesia, Palus Wetan Mojolaban Sukoharjo, CV Oase Pustaka.
27. 2021, Hanya Nol Koma Satu, Kitab Cerpen Tiga Paragraf, Sidoarjo
Jawa Timur, Tankali.
28. 2021, Selamat Tinggal Hari yang Lalu Selamat Datang Kisah Terbaru,
Komunitas Penulis Sastra Indonesia, Rangkasbitung Banten, Arashi
Group.
Karya tunggal buku berjudul:
1. 2017, Reog Kendang Tulungagung untuk Generasiku, merupakan upaya
mendiskripsikan gerak dasar tari reog Kendang sebagai ciri khas
kesenian di Tulungagung. Terbit 2017, Kediri Fam Publishing.
2. 2020, Pelangi Bergambar Rasa, Antologi Puisi, Surabaya Jawa Timur,
Kanaka
3. 2020, Cikar Mbah Bakri, Novel, Surabaya, CV Pustaka Mediaguru.
164
4. 2021, Seikat Bunga Taman, Antologi Puisi, Surabaya Jawa Timur,
Kanaka
165
SERPIHAN
CERMIN RETAK
Antologi cerpen yang berjudul Serpihan Cermin Retak di ambil dari
salah satu judul cerpen yang ada di dalam buku ini. Ini merupakan antologi
cerpen pertama yang isinya tentang kehidupan rumah tangga suami istri.
Pada kenyataan beberapa kejadian memang benar-benar terjadi dalam
kehidupan nyata kita. Cerpen dikemas dalam bentuk dan kata-kata yang
sangat menyejukkan hati. Berisi tentang jawaban-jawaban dan solusi yang
banyak diambil orang.
Cerita yang romantis dalam kehidupan rumah tangga yang patut
dibaca oleh kalangan remaja maupun orang yang sudah berumah tangga.
Nila yang dituduh berselingkuh dan bersikukuh dengan kesetiaannya.
Yuandra anak seorang mantan bos. Jatuh karena ditinggal meninggal orang
tuanya sampai dia ngak punya apa-apa. Mengambil jalan yang salah untuk
mempertahankan hidupnya. Ardiansyah yang bertemu dengan Zuria mantan
kekasihnya. Sebuah kekilafan yang di bayar dengar sebuah traged. Ini
dialami Indu dan Arera dalam judul Kabut dalam Badai.
Bagaimana jalan hidup Nila? Apa yang dilakukan Ardiansyah ketika
bertemu dengan Zuria? Kecewakah Arera kepada Indu? Mau tahu? Baca
antologi Cerpen ini!
166
167
168