Bedug Zuhur berbunyi. Para santri segera kembali berkegiatan di
masjid. Salat berjamah. Tapi lain dengan Yuandra. Dia dipersilahkan ke
dalam dalem (sebutan untuk tempat kyai di dalam pondok).
“Silahkan masuk mbak Yuandra,” setelah mejawab salam yang
dilontarkan Yuandra.
Yuandra pun sangat hati-hati melangkah. Dengan santun dia duduk
di samping pak Carlos sesuai arahan pak Kyai.
“Kenalkan mbak Yuandra, saya Muawar. Saya kenal betul dengan
keluarga nak Carlos. Dia sudah banyak cerita. Intinya. Nak Carlos
ini benar-benar berniat baik. Sebaiknya kalian menikah. Coba nak
Yuandra pikirkan betul akibatnya. Apakah benar suami nak Yuandra
nanti menerima keadaan sebenarnya. Apalagi nak Carlos sudah
benjanji sama saya untuk merubah semua perilaku yang tidak
baik,”jelas Haji Muawar.
Tak hanya serangkaian kata sepanjang itu. Tapi ada juga wejangan
ala jawa dan tutunan akidah yang disampaikan. Haji Muawar meyakinkan
kepada Yuandra kalau pak Carlos benar-benar ingin menjadikan Yuandra
sebagai istri.
Setelah hampir satu jam Yuandra dan Carlos pulang. Sepanjang
perjalanan mereka tak banyak bicara. Saling instrospeksi diri dalam kelana
pikirannya masing-masing. Banyak wejangan (nasehat) dari yang memang
harus dipikirkan. Apalagi buat Yuandra. Dia yang jelas harus menjawab
pinangan pak Carlos.
“Yuan, kau merasa tertekan?” tanya pak Carlos pelan.
51
“Hems, eee,” kata terbata yang terucap.
Wajahnya kelihatan kusam. Kebimbangan terpancar dari rautnya.
Kini mobil berbelok ke halaman rumah pak Carlos. Terliat tante
Lindri sedang berbicara dengan seorang wanita muda. Wanita cantik dengan
penampilan fashionable. Barang yang melekat ditubuhnya semua branded.
Tapi cara bicaranya kelihatan janggal. Berdiri dihadapan tante Lindri yang
sedang duduk di kursi teras. Wanita itu bernama Marlina. Mahasiswa
seangkatan Yuandra. Bagi Angkatan Yuandra, Marlina tak asing lagi.
Mahasiswa paling menor dengan membanggakan kekayaannya. Mengejar-
ngejar pak Carlos sampai terkenal di penjuru kampus.
Marlina melihat mobil pak Carlos datang, wanita itu segera berjalan
dengan genit.
“Hai sayang,” ucapnya dengan nada manja.
Pak Carlos mengucapkan salam kepada mamanya. Tanpa
memperdulikan wanita itu.
“Hai, Yuandra. Ternyata kamu jadi pembantu di sini ya?” bicaranya
sinis.
“Dia istriku,” jawab pak Carlos.
“Iya. Kami baru pulang bulan madu. Marlina,” sahut Yuandra.
“Gimana sih beb kamu? Ninggalin aku. Bencih ah,” katanya sambil
cemberut. Lalu berlalu begitu saja tanpa kata pamit.
Tante Lindri, pak Carlos dan Yuandra tertawa bersamaan. Sejenak
mereka bertiga diam.
“Yuan. Apakah perkataan kamu tadi, jawaban dari lamaran saya?”
52
“Apakah bapak pernah melamar saya?” tanya Yuandra sinis.
Pak Carlos pun salah tingkah. Dia tak tahu jalan pikiran Yuandra.
Lalu dia melihat mamanya yang diam di teras. Mamanya juga hanya
memandangi pak Carlos.
“Yuan, apa kamu masih belum percaya denganku?”
Yuandra diam. Matanya tajam melihat ke arah pak Carlos. Sebentar
memandang kepada tante Lindri. Ketiganya berwajah tegang. Bagaimana
tidak. Dia mengaku baru bulan madu dengan pak Carlos, tapi sekarang
menanyakan lamaran.
“Benar bapak melamar saya?” takya Yuandra tegas.
“Iya,” jawab pak Carlos tak kalah tegas.
“Sekarang bapak pejamkan mata,” perintah Yuandra masik dengan
kata-kata tegas.
Lalu Yuandra memberi kode kepada tante Lindri untuk mencium
pipi pak Carlos sebelah kiri. Bersamaan Yuandra mencium pipi pak Carlos
sebelah kanan. Pak Carlospun membuka mata. Mereka bertiga tertawa
gembira.
53
54
RASA LEBIH DARI KATA
Tung Widut
"Sudah. Sudah sampai," suara Zuria sambil duduk di sebuah cafe.
Cafe itu yang menjadi kenangan bersama kekasihnya. Kekasih saat dia
masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas negeri. Univesitas negeri
satu-satunya di Tulungagung.
Semasa dulu mereka sering mengunjungi tempat romantis itu.
Menikmati kopi hangat dan tahu goreng. Di bawah rindangnya sebuah
pohon. Di bangku potongan pohon kelapa. Terlihat di kejauhan air waduk
gemerlap bagai butiran permata yang berserak.
55
Lamunan Zuria terputus oleh dentuman pintu mobil. Dia segera
menoleh ke arah depan gazebo. Sebuah mobil Fortuner yang masih
mengkilap telah terparkir. Lelaki tegap berwibawa menyapanya.
"Zui. Sudah lama menunggu?"
Zuria hanya tersenyum tipis diikuti anggukan kepala. Kemudian dia
berdiri menyambut lelaki itu. Mereka berjabatan tangan.
"Sori Zui. Aku mengganggu kerjamu. Bagaiman kabarmu? Kau
sekarang bagaimana? Sori, sori aku terlalu gembira kau bersedia
menemuiku."
Zuriapun masih membisu. Hanya senyumnya yang selalu di
kembangkan.
Seorang pelayan tiba-tiba datang ke gazebo. Membawa nampan
berisi nasi goreng kecap, semangkok bakso, kopi mega mendung, sepiring
tahu goreng dan sebuah es kelapa muda.
"Ini aku pesankan makanan kesukaanmu. Masihkah kau ingat menu
setiap kali kita kemari?"
Ganti lelaki itu yang menjawab dengan senyuman sambil
melangkah ke meja.
"Heeem, harumnya masih sama."
Kini keduanya duduk berhadapan menikmati menu
kenangan. Sesekali mereka berpandangan dan melempar senyum. Senyum
yang berpuluh tahun hilang ditelan jalan hidup.
Hamparan pepohonan hijau sejauh memandang. Membalut bukit
56
yang menjulang. Awan putih menari di angkasa biru. Bercekerama dengan
burung-burung kecil yang mengepakkan sayap. Meluncur gembira
menikmati alam. Dikejauhan terlihat air waduk. Mengkilap memantulkan
cahaya mentari. Bercerita tentang sepasang kekasih yang sering
menemaninya berpuluh tahun lalu. Kala pepohonan belum mampu
merindanginya. Angin berhembus kencang bersama sinar terik mentari
setiap siang.
"Zui. Lihatlah pemandangan itu. Indah. Masih sama seperti saat
kita ke sini dulu. Bahkan sekarang pepohonan itu lebih rimbun," kata
lelaki itu.
Zuria berdiri. Dia sekaramg persis di samping laki-laki itu. Dia
ikut menikmati pemandangan. Tak banyak pembicaraan mereka. Keduanya
kini diam menghadap ke belakang gazebo. Sesekali lelaki itu menghela
nafas panjang. Pandangnya menerawang jauh ke alam tak terbatas.
Zuria melirik ke arah lelaki tegap yang berada
disampingnya. Lelaki yang tiga puluh tahun lalu pernah mengisi hatinya.
Masih saja gagah seperti dahulu. Kulitnya makin bersih. Hanya terlihat
guratan di beberapa bagian wajah.
"Ardiansyah," Ucapnya dalam hati. Tiba-tiba hatinya berdebar.
"Mas" suaranya berhenti. Seakan tenggorokannya
tercekik menyebut kata itu. Kata itu merupakan panggilan sayangnya
kepada Ardiansyah. Masih adakah hak untuk memanggilnya mas? Setelah
mereka sama-sama berkeluarga. Tapi terlanjur dia mengucapkan itu agak
57
keras. Kembali keduanya berpandangan agak lama. Mata Ardiansyah
memandang wajah Zuria dalam-dalam. Perasaan mereka saling
berkecamuk. Mengembara di dunia lamunan. Akhirnya Zuria menunduk.
Ardiansyah mencoba meraih tangan Zuria. Tapi Zuria berhasil
menghindar. Dia segera kembali ke kursi dan menikmati air kelapa muda.
"Zui," ucapan Ardiansyah pun terpenggal.
"Mas. Tentu ada hal penting yang ingin mas sampaikan?"
"Terimakasih kamu masih menghargaiku."
Kali ini Zuria betul-betul tak bisa menghindar. Kedua tangannya
didekap Ardiansyah. Dengan pelan ditariknya, tapi pegangan Ardiansyah
lebih kuat.
"Istri dan anak-anakku sudah menganggapku mesin. Aku bekerja
dari pagi sampai malam. Tak pernah tahu matahari menyinari rumah
kami atau tidak. Pulang sudah gelap lagi. Semua gajiku kuserahkan
padanya. Semuanya. Semuanya. Hidupku hanya untuk mereka. Tapi
mereka tak pernah menganggapku manusia. Aku tak pernah diajak
berunding. Membeli apapun tak pernah diajak bicara. Membeli
tanah, perabot, renovasi rumah bahkan membeli mobil tak pernah
bicara dulu denganku. Aku kepala keluarga Zui. Aku yang berhak
menentukan," Ceritanya terhenti sebentar. Helaan nafas panjang dengan
mata berkaca-kaca.
58
"Istriku terlalu memanjakan anak-anak. Akibatnya, sampai dia
menikahpun masih merepotkan orang tua. Kerja sengsara sedikit tak
betah. Keluar begitu saja. Tak bisa berpikir dewasa sedikitpun, apalagi
mandiri. Jauh. Jauh Zui," Suaranya makin meninggi.
"Mas. Coba mas berpikir positif. Belum tentu istri dan anak-anak
mas mempunyai tujuan seperti itu. Semua kebutuhan mas disiapkan.
Mereka bersikap seperti itu karena ingin membantu. Agar pikiran
mas bisa ringan. Bisa konsentrasi kerja," Suara Zuria tak kalah tinggi.
Kebetulan seorang pelayan lewat. Zuria segera memesan lagi segelas
kopi panas.
"Mbak kopi lagi satu." Lalu dia kembali berbicara dengan
Ardiansyah.
"Mas sudah mencoba bicara baik-baik dengan mereka?" Suaranya
lembut. Tangan kanannya kini justru menepuk-nepuk
tangan Ardiasyah.
Ardiansyah menjadi diam. Zuria pun melajutkan
pembicaraan. Ardiansyah disarankan untuk bicara baik- baik dengan anak
istrinya. Berbicara dengan tenang, kepala dingin, untuk menyelesaikan
setiap permasalahan. Cara itu sebenarnya cara yang diberikan Ardyansyah
kepada Zuria. Diterapkan dalam keluarganya, sehingga sekarang. Rumah
tangga Zuria menjadi keluarga bahagia. Walaupun hasil perjodohan.
Pembicaraannya kembali terhenti. Sang pelayan mengantarkan secangkir
kopi panas.
"Kopinya ku ganti dengan yang panas. Minumlah biar enakan
59
dibadan." Ardiansyah hanya diam. "Ayolah keburu dingin lagi." Rayu
Zuria sambil menyodorkan.
"Mas, Ardiansyah yang kukenal adalah laki-laki lembut. Laki-laki
yang tegar, semangat dan selalu membicarakan setiap masalah. Bukan
laki-laki rapuh. Apa yang salah pada diri mas?"
Ardiansyah menggelengkan kepala dengan mata terpejam.
Wajahnya diusap dengan kedua telapaknya. Zuria melanjutkan bicaranya.
"Dulu waktu aku akan menikah dengan orang yang dijodohkan
orang tuaku, di sini, di tempat ini kita bicara. Mencari solusi yang
terbaik. Saat itu keputusan kita, kita berpisah. Kita menempuh
jalan masing-masing. Jujur. Saat itu aku ingin ada elang perkasa yang
menyambar ikan di telaga keruh. Dengan cakarnya mencekeram kuat
tanpa ampun. Membawanya terbang jauh ke hutan di atas bukit
hijau yang indah. Menikmati segarnya gemericik air di sungai kecil.
Ternyata itu hanya sebuah harapan bagiku. Keputusan
kita tidak seperti itu. Kita berpisah. Perpisahan kita baik- baik. Tak ada
dendam. Kita masih saling hubungan tetap dalam batas. Saling
menghargai karena itu sudah keputusan kita. Aku tahu
kamu yang paling sakit saat itu. Sehingga kamu menikah
dengan gadis yang kamu kenal hanya waktu dua minggu. Itu sebuah
keputusasaan. Itu saja kamu tak sepuruk ini," kata-katanya terhenti
sejenak.
60
Dipandanginya laki-laki di hadapannya yang hanya menunduk diam.
"Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Lihat. Dua ponselmu
selalu berbunyi bergantian. Ambilah cuti. Gunakan hari-harimu
untuk santai bersama keluarga. Berbicaralah tentang keluarga,"
Sebentar Zuria menghela nafas.
" Kamu adalah laki-laki terbaik yang aku kenal. Jangan pudarkan
itu dari anganku," katanya lirih hampir tak terdengar.
"Zui, begitu istimewanya aku di hatimu?" Ardiansyah menyela.
"Seberat apapun itu sudah keputusan kita. Kita harus mampu
menyimpan demi kebahagiaan keluarga. Kita tidak muda lagi. Anggap
hari ini tak pernah berjumpa," kata Zuria pelan.
"Tidak. Tidak. Aku akan simpan mimpi ini disisa hidupku."
Ardiansyah mengeleng-gelengkan kepala.
Sebenarnya dalam hatinya dia berkata, "Saat itu si elang tak punya
cakar yang cukup kuat untuk mencengkeram hatimu. Dia
menggantikan induknya yang sudah renta. Mencarikan makan tiga
adiknya yang harus juga sekolah. Maafkan Zui." memegang cangkir dan
menyeruput nikmat terakhir kopi hangatnya.
Dedaunan di samping gazebo basah. Tersiram gerimis setengah jam
Lalu. Kini bergoyang gemulai diterpa angin gunung. Kala mentari
bercahaya. Kemilau memantulkan sinar mengkilap. Kemudian makin
61
redup kala air kembali kering.
# lakilakijugaingindimengerti.
62
63
KABUT DALAM BADAI
Tung Widut
“Tok tok tok tok tok tok tok. Pak Indu buka pintunya,”suara yang
terdengar.
Suara ketukan pintu dan panggilan nama Indu. Indu yang baru saja
merebahkan badannya menjadi terperanjat. Dia bangun dengan tergesa.
Dibukanya pintu rumah yang baru saja dikunci.
Ketika pintu dibuka terlihat seorang laki-laki memakai topi biru
berkaos hitam. Disampinya dua orang yang tinggi besar berjaket hitam.
Satu lelaki berambut gondrong. Rambut di ikat pada bagian belakang.
Gelang mutiara hitam menghiasi kedua tanganya. Lelaki yang satunya lagi
lengan penuh tato. Kedua jarinya dipenuhi dengan cincin akik berwarna-
warni. Matanya memandang tajam ke arah Indu yang sedang keheranan
memandangi ketiga lelaki itu.
“Kamu Indu,” tanyanya galak.
64
“Ya,” jawab Indu pendek.
“Kamu sudah mengganggu keluargaku. Kamu harus
mempertanggungjawabkan kata-kata kamu dua bulan lalu. Kita bersama-
sama ke luarganya Arera,” kata Bandra.
“Aku masih capek. Baru ngantar tamu dari Bali. Baru saja pulang.
Besok aku datang. Kasih saja alamatnya,” jawab Indu tak kalah ketus.
“Awas kalau ingkar janji. Aku bakar rumahmu ini,” kata seorang
yang berambut godrong.
Lalu ketiganya pergi tanpa pamit.
Indu dengan kasar menutup pintu rumahnya.
“Mertamu bengi-bengi sepatune nggak dicopot,” (bertamu malam-
malam sepatunya nggak mau lepas). Komentar Riza, istri Indu.
Tanpa memperdulikan kata istrinya, Indu segera pergi ke kamar dan
menelentangkan badannya di kasur. Dipandanginya langit-langit rumah
yang sudah mulai buram warnanya. Maklum puluhan tahun belum lagi
dicat. Sejak rumah itu jadi.
Kini ingatannya kembali pada setahun lalu. Saat dia pertama kali
bertemu dengan Arera. Saat itu Arera baru saja berbelanja di sebuah Mall
bersama teman-temannya. Dia menaiki taksi online yang kebetulan
65
drivernya Indu. Arera lah yang turun paling belakang. Sebelumnya
mengantarkan dua teman Arera dengan jarak rumah yang berjauh.
“Ra…..langsung pulang lo…jangan ikut drivernya,” kata teman
Arera yang belakangan di kenal mempunyai nama Yandri. Sedari tadi sejak
baru naik, Yandri yang menyindir-nyindir Indu. Driver yang sangat keren
kayak bintang sinetron lah, menariklah, segar , apalah. Kadang berbisik
lalu tertawa kecil penuh arti.
Rumah Arera sendiri cukup jauh. Memerlukan waktu satu jam
perjalanan. Waktu satu jam itulah mereka saling berkenalan. Mulai saling
menanyakan nama, pekerjaan alamat rumah dan beberapa basa-basi yang
lainnya. Sepanjang perjalanan Indu sering melirik kaca spion. Setiap kali
di lirik ternyata Arera sedang melihat pada Indu. Itulah yang menjadi Indu
salah tingkah.
“Nomor Mas yang tadi ya?” tanya Arera.
“Ya,” jawab Indu
“Kalau mau pesan offline bisa?” tanya Arera lagi.
“Bisa, sangat bisa. Asalkan tidak mendadak,” jawab Indu.
Tak seperti pengguna taxi on line lainya. Turun langsung memasuki
rumah. Arera berdiri memberi salam dan melambaikan tangan layaknya
diantarkan teman dekatnya.
66
Temaram lampu halaman membuat Arera kelihatan sangat cantik.
Memakai baju pink dengan bawahan hitam dan sepatu pink pula. Sangat
serasi. Lipstick pink di bibirnya yang sejak tadi terlihat kaca spion menjadi
satu itu menambah kecantikan. Tak tahu apa sebabnya Indu pun terbayang
dengan wajah cantik Arera. Padahal banyak sekali penumpangnya yang
lebih cantik dari Arera. Indu menjadi tersenyum-senyum sendiri.
“Mas, langsung pulang apa masih on line,” tulisan dari Arera.
“On line,” jawab Indu singkat.
“Oke, hati-hati loh ya banyak kuntilanak jadi-jadian. Jadi cantik
loh,” pesan Arera lagi.
“Terima kasih Mbak,” jawab Indu lagi.
Indu sebenarnya merasa heran dengan tingkah Arera. Nggak
biasanya orang setelah order langsung menyapanya begitu akrab, seakan
sudah lama kenal. Sejak itulah sering mengorder jasa taxi on line pada Indu.
Sendiri atau bersama teman-temannya. Sejak malam itu pula setiap hari
mengirim pesan wa walaupun hanya mengabarkan keadaan dan bertanya
sudah makan atau belum. Kadang mereka berdua telepon sampai larut
malam. Saat Indu menanyakan tentang suaminya, Arera menjawab artinya
tidak punyai suami. Maka bebaslah sewaktu-waktu bagi Indu untuk telepon.
Indu yang saat itu mempunyai masalah dengan istrinya seakan-akan
bagaikan mendapat hujan musim kemarau. Istri Indu yang hobi trevelling
67
sering jalan-jalan bersama teman-temannya. Tak jarang pula sampai ke luar
kota dan menginap. Sebagian besar temannya banyak yang laki-laki.
Perempuan dapat dihitung dengan jari tangan. Apabila diperingatkan
marah-marah.
“Mas aku hanya jalan-jalan saja. Jangan nuduh macem-macem.
Saksinya Wena anak kita. Dia lo sering ku ajak,” kata Risa
sewaktu diperingatkan untuk tidak travelling.
Itulah yang tak sukai Indu. Indu merasa cemburu kalau istrinya
bersama laki-laki. Tapi dia tak mau lagi bertengkar. Pupus sudah harapan
kepada istrinya. Rumah tangganya menjadi garing, jalan sendiri-sendiri.
Hanya waktu resmi-resmi saja antara Indu dan Risa persamaan. Tak banyak
yang tahu. Semua menganggap keluarganya baik-baik saja.
Sekitar dua bulan lalu, di tengah malam Indu dan Arera bertelepuon.
Bercerita kesana-kemari. Bercerita tentang masa kecil mereka yang lucu. Di
saat mereka berdua bercerita tiba-tiba di hp Indu ada suara laki-laki yang
membentak-bentak.
“Kamu siapa?” tanya suara lelaki.
“Nama saya Indu. Ada apa ini,” tanya Indu balik keheranan.
“Saya Badra, suami Arera. Kamu jangan macam-macam dengan istri
saya,” bentak orang yang memperkenalkan diri sebagai suami Arera.
“Sebentar Mas,” jawab Indu agak gemetar.
68
Indu mulai menceritakan asal mulanya dia kenal dengan Arera.
Arera yang selalu mengirim pesan lebih dulu padanya. Mengaku tidak
mempunyai suami. Tinggal sendirian. Hubungannya dengan Arera selama
ini hanya makan bersama teman-temannya. Tak ada kejadian khusus.
Malam ini baru dia tahu. Indu minta maaf karena ini kesalahpahaman.
“Maaf-maaf wae, enak temen omonganmu(maaf-maaf aja, enak
betul bicaramu, jawa),” kata Badra sangat emosi. Mulai saat itu berjanji
tidak lagi terhubungan dengan Arera. Semuanya sudah selesai.
Hari-hari berikutnya rasanya sepi bagi Indu. Biasanya selalu saja
ada pesan yang masuk yang menanyakan kabarnya. Bukan hal mudah untuk
melupakan ibu muda yang cantik, sayang, perhatian, manja. Tapi mau
apalagi, ternyata Arera masih mempunyai suami.
Siang yang sangat panas. Matahari menyengat bagai peluru yang
sedang perang. Memerangi penghuni bumi. Semua ingin mencari tempat
teduh. Tak semudah itu. Pekerjaan tak mungkin di tinggal hanya demi kata
dingin. Termasuk Indu dan teman-temannya. Mereka sedang berada di
warung kopi warung yang biasanya dia mangkal. Sekitar lima kilo meter
dari rumahnya. Mereka mencegah hawa panas yang menyerang saat itu
dengan secangkir kopi. Dibumbui tertawa bersama teman sejawatnya.
Tiba-tiba Arera menelpon. Indu membiarkan saja hp-nya yang
berbunyi berkali-kali.
“Terima! Siapa tahu sangat penting,” kata Marsudi sahabatnya.
69
“ Malas ah,” jawan Indu.
“Jangan gitu bunyi terus tu. Siapa tahu darurat.” katanya Wikyo.
Teman ngopi satunya lagi. Dengan malas tangan Indu memencet tanda
terima.
“Aku ngopi sama teman-temanku,” suara Indu.
Setelah itu HP ditutup dan jemari tangannya mengirimkan lokasi dia
berada saat itu. Tak berapa lama Arera datang menaiki sepeda motornya.
“ Mas antarkan aku ke Jombang,”ajak Arera.
“Bukan aku tak mau, tapi nanti suamimu salah paham.”
“Aku bilang. Aku mau carai,” tegas Arera dengan nada tinggi.
“Aku juga punya istri, kamu enggak boleh begitu,” tandas Indu.
“Pokoknya sekarang antarkan aku,”
“Biar diantar Wikyo atau Marsudi,”
“Kalau mas tidak mau, akan ku tabrakan sepeda motor ini ke truk
kontainer yang lewat itu,” ancam Arera.
Semuanya yang ada di tempat itu tercengang. Melihat tingkah laku
Arera yang tiba-tiba datang dan berbicara keras. Dia membuka helm yang
dikenakan. Dilemparkan begitu saja. Kembali menghidupkan mesin motor
70
dan mengegasnya keras-keras. Spontan Wikyo, Marsudi dan Indu berteriak.
Indu segera menghalangi di depan sepeda motor.
“Sudahlah Ndu kamu antarkan dulu ke Jombang,” saran Wikyo.
“Kalau kamu nggak berani aku temani,” dukung Marsudi.
Akhirnya keempat orang itu berangkat menuju Jombang. Bertamu
kepada seorang sesepuh. Di situ Arera menangis sejadi-jadinya. Dia minta
tolong agar dapat cerai dengan suaminya dan bersedia menjadi istri ke dua
Indu. Sungguh kaget semua orang yang ada disitu. Mereka tak mengira,
jalinan sudah lama terputus. Tanpa saling kontak sama sekali masih
menyisakan harapan bagi Arera.
Mulai sejak itu hubungan yang sudah jeda terjalin kembali. Setiap
hari mengirimkan wa kepada Indu. Sebenarnya Indu sudah tak menjawab
seperti dulu. Bila Indu lama tak menjawab, Arera memberondong dengan
pesan yang banyak sekali.
Pernah juga pernah juga suatu malam Arera menelponnya. Keadanya
mabuk berat dia tak mampu mampu berbicara jelas dan berdiri tegak.
Pelayan cafelah yang melankutkan penbicaraan pada Indu karena café sudah
akan tutup. Etika esoknya sudah sadar di mengutarakan alasannya.
“Beb, aku butuh orang yang bisa aku ajak bicara,” katanya kepada
Indu.
“Kamu selalu selalu bilang sibuk,” lanjutnya.
71
Selanjutnya, bila Indu berlasan untuk menghidar Arera selalu
melakukan hal yang aneh-aneh. Pergi dari rumah sampai beberapa hari pun
pernah. Sampai perusahaan dia tempat kerja akan mengeluarkanya.
Indu semakim tak bisa menolak. Dia mulai merasa ada getar lain
karena selalu dimanja oleh Arera. Apapun keinginan Indu selalu di penhi.
Asalkan bersama Arera.
Akhirnya malam itu. Bandra mendatangi rumah Indu. Indu menghela nafas
mengingat perjalanan jalinan kisahnya bersama Arera.
Pagi mulai tiba. Indu tak sadar. Apakah dia benar sudah tidur atau
tak sempat. Kalau pun tidur mungkin hanya beberapa menit saja.
Pikirannya kalut membayangkan apa yang terjadi nanti. Ketika benar-benar
dia mendatangi keluarga Arera anntinya.
Dirasakan saat itu badannya masih terasa berat, pegal-pegal, dan
matanya lengket. Capek yang kemarin belum juga hilang. Dia pun teringat
dengan kata-katanya semalam. Menemui keluarga Arera hari itu juga.
Matahari sudah meninggi. Embun tak ada lagi. Dedaun hijau di
depan rumah sudah kering. Pertanda hari sudah beranjak siang. Seperti hari-
hari biasa, saat dia akan berangkat bekerja. Perlahan di keluarkan mobilnya.
Mobil yang setiap hari digunakan untuk bekerja sebagai taksi online. Ada
yang beda berangkat kali, ini wajah istrinya yang cemberut.
72
“Aku berangkat dulu,” pamitnya. Istrinya tak menjawab. Dia juga
tidak tak peduli dengan wajah cemberut yang dipasang istrinya.
Mobil melaju diantara deru jalanan Kota Surabaya. Menyibak kota
terbesar di provinsi itu. Bagi Indu memang bukan hal yang menarik. Setiap
hari pekerjaannya menyusuri jalan kota Surabaya. Mobil sengaja dilanjutkan
dengan kecepatan sedang. Dia menyadari hari itu tidak bisa berkonsentrasi
melihat jalanan. Selain badannya, capek dia juga sangat gelisah.
Hampir keluar kota Surabaya, Indu menyalakan maps di hpnya. Dia
tekan bagian gambar microfon untuk mencari arah kota Batu melalui
Cangar. Maps menyala. Arhan dari Google Maps selangkah demi selangkah
ditaatinya.
Sengaja dia tidak menyalakan musik dalam perjalanan itu. Dia
benar-benar ingin mengenang semasa melewati jalan itu bersama Arera.
Masih seminggu lalu, jalanan itu sebagai saksi kemanjaan Arera. Arera
duduk di sampingnya dengan senyum manis. Dia membukakan air minum
untuk Indu, menyuapi makanan kecil. Dia memperlakukan Indu layaknya
seorang raja, semua keinginannya dituruti.
“Arera,” tak sengaja Indu menyebut nama itu sambil tersenyum
simpul. Lalu dia menghela nafas panjang. Nafas yang menyiksanya hari itu.
Nafaz yang seharusnya dipersembahkan saat bercinta. Kini nafas itu itu
dihembuskan sendirian dalam perjalanan.
Kini HP Indu berkedip. Dibukanya pesan wa.
73
“Mas sudah sampai di mana?” tulisan dari nomor Arera.
“Mojokerto,” jawab Indu singkat.
Indu tak berani menjawab panjang. Dia takut kalau tulisan itu
sebenarnya tulisan suami Arera.
Mulai memasuki hutan mobil Indu dipelankan. Pemandangan
samping kiri dan kanan yang sangat indah membuatnya kembali teringat saat
bersama Arera. Harum parfum Arera kembali tercium semerbak. Harum
parfum yang menenggelamkan keduanya dalam sebuah selimut hotel yang
hangat. Serasa surga bagi kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Kini
dedaunan di samping kiri dan kanan jalan menyapanya dalam keadaan
sendirian. Membisu seakan tak mau jadi saksi kisah cinta diantara belokan
tajam jalanan menuju Cangar.
Setelah setengah perjalanan Indu sengaja memberhentikan mobilnya
di pinggir jalan. Pintu dikunci rapat-rapat. Dia menuju sebuah warung yang
berada di pinggir jalan. Sebuah warung makan dengan menu ayam bakar.
Warung itu termasuk warung istimewa. Warung yang pernah disinggahi
bersama Arera. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan sebelah
depan warung. Bukit hijau menjulang tinggi. Sedangkan di belakang warung
terlihat sungai yang jernih dengan bebatuan yang besar Gemericik air yang
terdengar membawa kedamaian di hatinya.
“Ayam bakar satu dan teh anget satu,” pinta Indu pada pemilik
warung.
74
Sambil menunggu sajian, Indu membuka hp-nya. Sudah ada pesan
dari nomor Arera.
“Naanti langsung saja ke alamat yang saya berikan,” bunyi tulisan
dari nomor Arera.
“Ya,” jawaban Indu singkat.
Setelah itu hp-nya diletakkan. Kini sarapan pagi yang tadi tak
sempat. Menu ayam bakar. Menu kesukaan Arera. Rasa ayan bakar di
warung itu lumayan enak. Itupun pendapat Arera yang juga disetujuai Indu.
“Enak, walaupun warung di pinggir jalan bersih dan enak,” kata
Arera saat itu. Sambil mengacungkan kedua jempol tangan manisnya. Indu
masih ingat itu. Jempol dengan cat kuku warna ungu. Sangat cocok dengan
jemari mungil Arera.
Kali ini lidah Indu tak merasakan kenikmatan apapun. Hambar
rasanya. Sambal yang disajikan pun tak membuat dia merasa kepedesan.
Kembali mobil dilajukan dengan pelan. Tanjakan dan belokan tajam
membuat Indu berhati-hati. Musim hujan seperti sekarang ini membuat
jalanan lebih licin. Berbahaya bagi mobil Indu yang hanya dinaiki seorang
saja.
“Ciiiiiiiit,” terdengar decit ban agak keras. Perlahan rem ditekan nya
kuat kuat. Mobil yang dinaiki Indu tetap saja mundur. Hatinya mulai
berdebar. Dia mulai bingung, tak mungkin dia turun dan mengajal mobil
75
dengan batu. Sementara di sebelah kanan jurang yang sangat dalam. Hati
Indu semakin berdebar kala di sekitar tempat itu kelihatan sepi. Tak ada
satupun orang atau kendaraan lain yang lewat. Setir mobilnya di belokan
tajam ke kanan . Berharap bisa menabrak tebing daripada harus masuk
jurang.
Satu, dua, tiga, mata Indu di pejamkan rapat-rapat. Siap terbentur
saat mobil benar-benar menabrak.
“Duk,” suara lirih terdengar. Bersamaan dengan berhentinya mobil
yang dikendarai. Karena merasa aneh, Indu segera membuka mata.
Mobilnya tidak jadi menabrak. Dia menoleh ke kiri .Tak ada satupun orang.
“Tok tok,” Indu terjingkat kaget mendengar ketokan kaca di dekat
telinganya. Seorang anak laki-laki berdiri di situ.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanyanya.
Indu membuka pintu. melanjutkan dengan
“Sudah saya ganjal. silahan bapak
konsentrasi,” kata itu melanjutkan bicara.
Indu segera merogoh dompet di saku celananya. Diberinya
selembar uang lima puluhan ribu. Tapi anak itu tidak mau menerima.
‘’Yoooooook terus. Terus, terus……,” teriaknya lantang sambil
menjauh dari mobil.
76
Indu segera menjalankan mobil sesuai aba-aba anak laki-laki itu.
Penuh konsentrasi.
Hanya beberapa menit saja Indu bisa berkonsentrasi. Di sebuah
belokan dia berhenti. Ditariknya nafas dalam-dalam. Kembali teringat saat
di tempat itu. Menikmati indahnya kota Batu dari ketinggian. Arera dengan
manja menyandarkan kepala di bahunya. Bahuyang membuat Arera
terbang ke langit dalam buaian asmaranya.
Hp-nya berbunyi. Nomor Arera yang memanggil beberapa kali. Tak
dijawab, tapi Indu sadar harus mengajukan kembali mobilnya.
Map di HP menunjukkan sampai tempat tujuan. Rumah cat hijau
dengan halaman yang luas. Terlihat sebuah mobil terparkir di sana. Lima
sepeda motor yang yang salah satunya milik Arera.
matiin dulu mereka kata karena dingin semuanya keluar hurufnya rasa
pahit lidah membayangkan kan kalau kedatangannya sudah disambut oleh
keluarga besarnya ternyata itu akan diselesaikan oleh orang tua dan
suaminya.
Tubuh Indu mulai bergetar keringat dingin membasahi tubuhnya.
Mulutnya terasa pahit dia sudah tidak bisa berpikir. Kedatangannya sudah
disambut oleh keluarga besar Arera. Indu mengira masalah akan
diselesaikan oleh orang tua dan suami Arera saja.
77
“Assalamualaikum,” ucapan salam Indu sambil masuk rumah orang
tuwa Arera.
Terdengar jawaban salam yang bersamaan dari dalam rumah. Ada
satu suara yang membuat Indu semakin bergetar.
“Iki ta wonge. Lek gae adikku macem-macem, tak tugel gulune,”
suara dari salah seorang. (Ini ta orangnya. Kalau adikku dibuat macam-
macam, saya penggal lehernya). Wajah Indu seketika puca. Tangannya
bergetar. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Dengan hati-hati Indu
menceritakan pertemuannya pertama kali dengan Arera. Arera terlebih
dahulu menawarkan untuk menjadi teman dekatnya. Mengaku kalau tidak
bersuami. Itulah yang menyebabkan Indu berani mengajak Arera jalan-jalan
dan beberapa kali menginap di hotel.
Sedangkan Arera menunduk mengiyakan semua cerita yang
disampaikan Indu.
“Aku tetap cerai,” kata Arera ketika keluarga besarnya menanyakan
keputusan Arera.
“Ra. Aku masih beristri. Tak mungkin istriku mau menerima kamu.
Kembalilah pada suamimu. Marilah kita perbaiki kesalahan kita, “ ucap Indu
di saksikan keluarga besar Arera.
“Enak kon ngomong, keluargane adikku wis kok orat aret (Enak sekali
kamu bicara, keluarga adikku sudah kamu rusak),” kata salah satu kakak
78
Arera. Bicaranya sangat keras sambil berdiri dan memegang kerah baju
Indu. Tangannya sudah mengepal akan memukul Indu. Sebuah kepalan dari
tangan kekar yang tentu tak sebanding dengan badan Indu. Tangis Arera pun
pecah. Menangis sesenggukan. Tak sampai tiga kali Arera terjungkal jatuh
ke lantai. Pingsan.
Semua diam. Terpaku. Hanya memandang keadaan Arera yang
terjatuh. Tangan kanan Indu segera menepis dengan kasar pegangan di
kerahnya. Lalu mengangkat dan menidurkan di sofa. Dipegangnya tangan
kanan Arera dengan kedua tangannya. Dielusnya kening Arera sambil
berkata pelan.
“Ar, kamu harus kuat menghadapi ini,” kata Indu.
Kembali tangan kanan Arera dipegang dengan kedua tangan Indu dan
ditempelkan di dadanya. Perlahan mata Arera mulai terbuka, di sudut jatuh
buliran air bening yang mengalir.
“Ar, kamu harus kuat. Kita jalani dengan iklas. Kamu tidak sendiri,”
kata Indu menyemangati.
Badan Arera semakin pulih. Dia sudah bisa duduk dan meneguk
beberapa sendok teh hangat yang dibuatkan kakaknya.
Ketika semua sudah kembali normal kakaknya kembali bertanya.
“Terus bagamana ini Ra, kamu akan balikan sama suamimu?”
79
Arera menggelengkan kepala, tanda dia tetap bersikukuh pada suara
hatinya. Cerai.
Setelah dirasa sudah selesai permasalahan, Indu minta diri. Pamit
kembali ke keluarganya. Dia berjabat tangan kepada semua yang ada di situ
termasuk suami Arera. Bandra. Saai Indu mebalikan badan menuju pintu
terdengar suara lirih Arera.
“Mas Indu……..,” suara Arera terhenti. Seakan dia tak mau ditinggal
oleh Indu.
“Maafkan,” jawab Indu.
Saat Indu berjalan pulang, Arera mengantarkannya sampai dia
memasuki mobil. Sungguh. Hati Indu kembali bangga. Dia sangat bangga
bisa membuktikan kepada Bandra, kalau bisa memiliki Arera seutuhnya.
Sedangkan Bandara hanya diam. Tak sepatah kata pun ke luar dari
bibirnya. Wajah pasi dan keringatnya mengucur membasahi baju yang
dikenakan. Bagaimana tidak, di depan mata kepala sendiri istrinya memilih
pria lain. Menginjak-injak harga diri sebagai suami. Membuangnya tak
berarti bak sampah.
Arera sangat terpukul. Lelaki yang selama ini diharapkan
membawanya terbang ke surga ternyata mempunyai perasaan lain. Tak
seperti yang diharapkan. Disaksikan keluarga besar semua harapan
80
disirnakan dengan kata maaf. Ketulusan hati, perhatian dan pengorbanan
selama ini hanya persinggahan sementara. Kini hanya bisa memandangi
mobil Indu yang semakin jauh meninggalkan dirinya.
Kembali mobil Avanza silver Indu melaju di jalanan. Menyatu dengan
pepohonan rindang yang masih alami di sisi kanan jalan . Tak terlewatkan
dia melirik nun jauh di di bawah sana. Terlihat sebuah taman yang
melegenda di Kota Batu. Di situlah Indu dan Arera melewatkan malam
pengantin semu yang terjadi kesekian kalinya. Udara dingin yang dinikmati
diubah menjadi kehangatan dalam ruang persegi. Mereka mengarungi
keindahan surga yang semu pula. Nafas melaju melambungkan kenikmatan
di atas langit tingkat tujuh. Mengurai kasih sedetail deru tiap hentakan hati.
Menyatu dalam bara kehangatan yang tang mungkin dijelaskan. Mereka
mengambil mimpi di siang hari. Menyeret nafsu tanpa sebuah ikatan. Semua
berjalan begitu saja. Tanpa ada kata jadian atau tembak-menembak layaknya
anak muda. Kenyamanan itu yang membuat mereka lupa segalanya.
Suatu waktu Indu berbohong kepada istrinya. Bekerja mengantarkan
tamu ke luar kota. Tempat yang hanya ada pada pikiran Indu dan Arera.
Mereka bersekongkol membuat tempat yang hanya ada halusinasi bagi
mereka. Sebenarnya mereka hanya menikmati malam di sebuah ruangan.
Berdua melihat bintang bertebaran di atas lampu kerlip kota Surabaya.
Bintang yang mewarnai kebersamaan mereka. Kebersamaan tak berujung.
Kehangatan sirna. Hanya tinggal sprei putih yang bercerita tentang
81
percintaan semalam. Bulan pun hilang begitu saja pergi meninggalkan mata
mereka yang terlelap.
Pagi telah datang. Matahari membangunkan mata mereka. Mata
mereka tak begitu saja menyerah. Mimpi di siang bolong pun di rajutnya
kembali. Nafas mereka telah berdusta. Hanya datang sebentar dan
kemudian menghilang.
Jalan Cangar yang mulai sepi mengikat angan Indu untuk lebih
berkonsentrasi. Tak mau tanya mundur lagi seperti saat berangkat. Benar-
benar ditepisnya kenangan indah bersama Arera. Kenangan yang selalu
datang di pelupuk matanya saat terpejam maupun terjaga. Terlalu Indah.
Sekelebat ada sebuah cahaya. Tiba-tiba mata Indu melihat benda yang
sangat dekat dengan pupil matanya.
“Duuuuuar.”
**
Indu berjalan di sebuah jalur tak berujung. Sempit tak ada warnanya.
Hitam putih. Kedua kakinya terasa capek, juga seluruh tubuhnya lemas. Dia
berusaha terus berjalan. Naas, jalan tak ada lagi. Buntu. Ditumbuhi
pepohonan yang sangat rapat.
82
Di sisi lain sebuah sinar begitu terang tiba-tiba muncul. Semakin lama
semakin besar. Bersamaan itu telinganya mendenging. Semakin lama
semakin jelas pula. Suara orang yang sedang bercakap-cakap. Indu
membuka mata. Sosok wanita samar terlihat.
“Arera. Arera. Arera,’’ sebutnya makin keras.
“Ma. Yok moleh. Papa malah nyeluki selingkuhane(Ma. Pulang. Papa
memanggil nama selingkuhanya),” kata Wena ketus.
“Wen. Papa kenek musibah (Wen. Papa terkena musibah).
Kecelakaan,” kata Riza pelan.
“Udah diselingkuhi mama nggak sakit hati?” kata Wena.
“Wen. Papa kecelakaan, lagi sakit. Nanti biar di jelaskan,” jelas Riza.
“Kalau mama nggak mau, Wena pulang sendiri, rawat pengkianat
itu,” kata-kata Weni semakin tak terkendali.
“Wen, tolong, tolong jangan buat susah mama. Nanti biar papamu
yang menjelaskan . Setelah semua membaik,” jelas Riza.
Indu yang malai kebingungan di mana dia berada. Kedua bola matanya
mulai berkelana dari pojok langit-langit ruangan yang serba putih. Kedua
bola matanya mulai berkelana dari pojok langit-langit kamar yang serba
putih. Belum pernah mengenal ruangan itu. Kini pandangannya mulai ke
bawah. Sebuah dua kursi, satu almari kecil. Begitu kagetnya ketika dia
83
melihat baotol infus. Ditelusuri selang ke arah bawah, menancap pada
lengan kanan.
Sambil memahami pembicaraan antara anak perempuan satu-satunya
dengan Risa istrinya. Kini wajahnya terasa sangat perih. Kakinya sangat
berat di gerakan.
“Ouh,’ suara lenguhan Indu.
“Pa,” pangil Riza.
” Maafkan papa Wena,” kata Indu terbata. Lekik bibinya terasa sakit
sampai ke kepala bagian belakang.
”Sudah pa, dipakai istirahat saja biar cepat sembuh,” saran Riza.
Mendengar pembicaraan antara papa dan mamanya, Wena
memalingkan muka. Wajahnya menunjukkan kalau dia sangat tidak suka
dengan sikap mamamnya kepada papanya dianggapnya terlalu baik.
Indu hanya bisa memandangi raut ajah anaknya itu. Dipejamkan
matanya. Dirasakan apa yang terjadi mulai dari ujung rambut sampai ujung
kakinya. Seluruhnya semakin sakit. Perih.
Kini kembali dia mengingatkan kata-kata anaknya. Kata kunci yang
menjadi titik balik ingatannya sekarang ini. Selingkuh. Sebuah keindahan
yang tiada duanya. Tapi semua itu hanya sekejap. Tak fana. Kini dia
menerima akibatnya. Lebih dari sakit. Sakit raganya sakit hatinya karena
84
anaknya memandang sebelah mata menganggapnya sebuah kesalahan yang
fatal dari hidupnya. Seberapapun keindahan dunia yang dinimati bersama
Arera, disaat sakit anak dan istrinya yang menemani.
“Pa, jangan diambil hati kata-kata Wena. Perlahan kita beri pengertian.
Hidup ini tak selurus keinginan. Pasti ada jalan berliku. Tapi Tuhan selalu
memberikan kebaikan bila kita dekat dengan Nya,” kata Riza.
85
86
TENTANG PERSELINGKUHAN ITU
Tung Widut
"Besok jadikan?"
Pesan pembuka yang dikirim kepada Nila. Nila pun menjawab
dengan penuh kepastian. "Ya." Malam itu hampir semalaman dia
memegangi hpnya. Tangannya tak henti memencet deretan huruf dan angka
itu. Beberapa saat berhenti dan kembali lagi. Dengan guyonan ala orang
berkeluarga. Tentang sesuatunya yang di bumbui omongan gombal yang
sedikit memabukkan.
Perkenalan keduanya awalnya melalui media sosial facebook sekitar empat
tahun lalu. Mereka saling tukar nomer whatsapp, masih sekitar tiga bulan
lalu. Sebelumnya hanya saling klik like setiap postingan. Tanpa ada
komentar.
Seperempat jam Nila menunggu di halte, setelah penjalananya dari
Tulungagung ke Surabaya. Sekarang terminal Bungurasih telah
menyapanya. Sapaan beku dengan beribu orang lalu lalang. Tak satupun
dia kenal.
87
Hpnya berbunyi. Seorang teman yang semalaman berjanji telah
menghubunginya. Tak seberapa lama sebuah mobil berhenti di depanya.
"Tet. Tet. Tet."
Klakson yang dibunyikan sebuah kode buat Nila. Kacanya mulai terbuka.
Terlihat seorang laki- laki yang tersenyum. Tak asing baginya.
"Nila," sebut laki-laki itu.
Nila segera masuk ke dalam mobil.
"Kita kemana?" Tanya laki-laki di sampingnya. Nila segera
memberikan sebuah alamat yang ingin dia tuju.
"Ok," jawab lelaki itu dengan hati berbunga-bunga.
Lelaki di samping Nila mengarahkan empat ban mobilnya menuju
arah jl. Ahmad Yani. Senyum simpul di antara keduanya menghiasi
pertemuan pertama itu. Rasanya sedikit canggung. Setiap hari bercanda tapi
masih sekali ini betemu muka. Nila perempuan tengah baya yang sangat
manis. Memang tak semulus di foto. Tapi senyum manisnya membuat laki-
laki di sampingnya sempat salah tingkah. Laki-laki seumuran Nila dengan
berperawakan gagah. Kulit sawo matang menambah kematangan
pribadinya.
"Berangkat jam berapa?" Tanya Pras. Keduanya saling
berpandangan dan melempar senyum. Dengan malu-malu Nila pun
menjawab.
"Jam enam," Lagi-lagi mereka beradu pandang. Tersenyum
kemudian diam. Pikiran mengembara pada alamnya masing-masing.
"Akan menemui siapa ke alamat itu?"
88
"Akan menemui mbak Uma. Dia seorang tetangga yang pindah ke
Surabaya," jawab Nila. Mereka kembali lama terdiam.
Menikmati kemacetan kota nomer satu di Jawa Timur itu.
"Mas Pras...," suara Nila terhenti. Laki-laki di sampingnya tiba-tiba
memandang wajahnya dalam-dalam. Sebutan mas membuat dadanya tiba-
tiba berdebar.
"Maafkan," pinta Nila setelah melihat raut wajah laki-laki di
sampingnya itu kelihatan masam.
"Maksudku, aku nanti minta tolong. Mas temani masuk ke rumah
mbak Uma," pinta Nila dengan suara lirih.
Walaupun dia yakin laki-laki itu tak mau menemani. Betul juga.
Ketika Nila memandangi wajah laki-laki itu dia kelihatan lebih masam.
"Nggak apalah. Memang masih kenal sekali. Dia mungkin merasa
tidak percaya dengan yang aku lakukan." pikir Nila dalam hati.
Sampai di depan rumah mewah di sebuah gang . Laki-laki yang di
panggilnya dengan sebutan Pras memberi kode kepada Nila. Kode bahwa
alamat yang dituju Nila sudah sampai. Tanpa sepatah katapun membiarkan
Nila berjalan menuju pintu rumah. Beberapa kali ucapan salam dilontarkan.
Bel rumah ditekan-tekan. Masih saja sepi. Rumah dua lantai dengan teras
berpilar megah. Lantai abu-abu mengkilap dengan merk Durafloor Granit
Glazed itu kelihatan bersih. Mengkilap bagai kaca.
89
Tiba-tiba dari arah pintu gerbang masuk sebuah sedan Toyota
Sedan All New Camry. Nila mematung di teras rumah sambil
memandangi mobil itu. Sesaat setelah mobil berhenti seorang wanita ke
luar. Wanita cantik dengan hijab merah maron. Baju yang dikenakan cukup
sederhana. Gaun bergaris dengan warna senada. Kacamata hitam yang
dipakai sungguh pantas. Pastilah mahal harganya.
"Kamu Nila?" tanya orang yang baru datang.
"Iya," jawab Nila sambil mengikuti wanita itu menuju ruang tamu.
"Sebentar," kata wanita itu sembari ngeloyor masuk ke sebuah
kamar.
Nila duduk menunggu di ruang tamu. Matanya berkelana mulai
dari atap ruang tamu yang dimodif dengan berbagai ornamen. Hiasan
dinding dan barang-barang lain yang super mewah.
"Nila. Kamu akan meminta uangku? Kamu itu salah Nil. Aku tak
pernah membawa uang sepersenpun dari arisan hari raya di PKK itu.
Kenapa sih semua orang bingung menelepon aku. WA lah, SMS lah.
Orang desa kalau mau lihat duit seratus aja kayak satu milyar," Uma
nerocos tanpa haluan.
"Mbak…. Tapi saya butuh uang itu. Anakku sudah mulai kuliah,"
kata Nila denga nada halus.
90
"Aku kan sudah bilang. Aku nggak bawa," suara Uma mulai
meninggi. Tanpa sebab ucapan Nila yang perlahan seakan petir
baginya.
"Tapi kata bu Carik arisan itu kamu yang bawa. Lalu kau pindah ke
sini secara tiba-tiba,"jelas Nila.
"Justru aku pindah ke sini karena aku nggak pakai uang itu."
"Mbak Uma kita teman dari kecil."
"Clar!"
Tiba-tiba perempuan yang dipanggilnya Uma melempar gelas.
Lemparan tepat di lantai depan Nila. Dia sambil berteriak-teriak mencaci
Nila.
"Hai ....bagaimana Nil. Kamu bagaimana," Tanya Prasojo kepada
Nila. Dia sangat mengkawatirkan temannya itu.
"Mbak bicara baik-baik jangan seperti ini. Dirundingkan," kata
Prasojo kepada yang punya rumah.
"Oh ternyata kamu bawa pacar. Ku kira kau orang lugu, jujur, baik.
Ngaku teman kecil. Ternyata ke sini hanya menuduh tanpa bukti. Bawa
selingkuhan lagi. Nggak tahu malu," suara Uma makin meninggi.
"Prak."
Kembali Uma melempar arah depan Nila dan Pras.
91
"Hati-hati kau denganku. Jangan kau sampai urusan dengan
hukum," kata Pras sambil menunjukan sesuatu dari dalam dompetnya.
Segera dibimbingnya Nila ke luar rumah. Selama berjalan ke
mobil masih terdengar teriakan Uma mencaci maki Nila. Dia
berteriak-teriak.
Mobil kini telah melaju beberapa menit. Menyibak keramaian kota
Surabaya. Terik mentari serasa menyengat mata. Sinarnya yang kemilau
membuat kota seakan terbakar.
Pras memberikan sebuah botol air minum.
"Aku sudah bawa," jawab Nila. Melemparkan pandangan selidik.
Dia harus selektif betul dengan pemberian minum atau makan dari orang
yang baru dikenalnya. Dia tak perduli wajah Pras yang kelihatan kecewa.
"Sori. Aku angkat telepon dulu," kata Pras . Sebentar kemudian
melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Kita mampir dulu ke hotel," ajak Pras.
Hati Nila mulai bertanya-tanya.
"Aku ada urusan penting," katanya singkat.
Nila hanya bisa diam dan bertanya dalam hati.
"Apakah Pras betul orang baik-baik."
Tiba-tiba dadanya gemetar ketakutan. Tadi Pras hanya diam
menelan kecurigaan pada Nila. Sekarang ganti Nila yang curiga dengan arah
tujuan mereka. Yaitu hotel Yasmin. Hotel yang belum pernah Nila dengar.
92
Mobil berbelok ke gang sempit. Gang searah yang hanya cukup satu mobil.
Keadaan gang sangat sepi. Kelihatannya gang sebuah perumahan kecil tapi
dengan bangunan mewah.
"Kita turun," kata Pras sambil membuka kunci mobil.
"Aku tunggu di sini saja,"
"Tidak. Di dalam ada kafe dan wifinya. Kamu bisa minum sembari
menungguku," Kata Pras setengah memaksa.
Dengan ragu Nila pun turun dari mobil. Dia berjalan mengikuti Pras
dari belakang. Setelah mengambil minuman dari dalam almari pendingin,
Pras duduk sebentar sambil minum seteguk birdbrand.
"Sudah saatnya. Kamu tunggu di sini. Saya masuk dulu," Pras
beranjak dan menaiki tangga yang ada di lobi hotel sebelah kiri.
Hati Nila mulai gelisah setelah tigapuluh menit Pras tak muncul juga.
Ketakutannya semakin bertambah. Takut jikalau Pras mengatur rencana
jahat kepada dirinya dengan komplotannya. Hp yang di pegangnya seakan
tak bisa menghilangkan deru jantungnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima," Nila menghitung lima laki -laki tegap
yang bersamaan melintas di balik kaca. Arah yang di tuju sama dengan arah
Pras. Nila semakin bingung. Sementara penjaga kafe hotel berbisik kepada
temannya lalu masuk ke sebuah ruangan.
Mata Nila mencoba berkelana menyusuri ruang kafe yang tak begitu
lebar. Ornamen dan hiasan dinding berupa sebuah lukisan perempuan
bali. Dengan dua patung ala bali juga berkesan elegan.
93
Selang beberapa menit segerombolan laki-laki berseragam polisi
berlari ke arah pintu yang dimasuki Pras. Dada Nila semakin berdegup
kencang. Dia kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu kafe.
Melongok ke kanan ke kiri. Tak nampak seorangpun. Hanya dua orang
satpam berada di luar pintu lobi. Dia lalu membalikkan badan. Menuju
tempat duduk yang yang tadi. Diambilnya tas dan Hpnya. Lalu mengambil
duduk di pojok ruang meja nomor dua. Memang dari tempat itu bisa melihat
ke segala penjuru.
Tiba-tiba terdengar teriakan diikuti sebuah tembakan.
"Ya Allah." Hati Nila yang sudah mulai reda kini kembari berdebar,
bahkan tanganya pun gemetar. Segera dia menyambar tas, hp dan
minumannya. Dia kali ini benar-benar duduk di pojok ruang. Sengaja
kursinya sedikit digeser di pojok.
"Kalau benar ada tembakan, aku tinggal jongkok dan berlindung
disamping patung," katanya dalam hati.
Belum lagi gemetarnya hilang, terdengar suara gaduh dari jauh.
Lama kelamaan mendekat. Nila segera mendekap tasnya. Dia siap-siap
tiarap. Dilihatnya serombongan orang turun dari tangga. Paling depan
seorang laki-laki berbaju hitam-hitam. Kemudian seorang laki-laki memakai
kaos dalam dan celana pendek. Di samping laki-laki tersebut seorang
perempuan cantik memakai kaos merah. Baru di belakangnya berbondong
polisi dan beberapa orang yang tadi masuk.
Nila masih dalam keadaan bingung. Sementara para pegawai hotel
berhamburan ke luar. Seakan ada yang membuatnya penasaran.
94
Tiba-tiba Pras masuk ruangan.
"Ehem."
Nila masih diam. Wajahnya masih kelihatan tegang. Dia antara sadar
dan tidak sadar. Kejadian yang dialami seperti dalam film-film action yang
dilihatnya di televisi.
"Sori sedikit ada masalah. Agak melawan," kata Pas.
Nila masih saja tak merespon.
"Wajah kamu pucat sekali," lanjutnya Pras. Pras mendekatkan
wajahnya ke wajah Nila. Dilihatnya betul wajah perempuan yang sedang
ketakutan itu. Lalu mengernyitkan dahinya. Diambilnya minuman yang
berada di meja.
"Minum dulu biar agak rilex," pintanya agak memaksa.
"Aku terimakasih padamu. Karena aku datang bersama kamu, target
tidak curiga. “Sebenarnya targetnya tiga orang lelaki yang duduk di kursi
lobi sebelah itu," tangannya Pras menunjuk sebuah kursi.
"Untung kamu tadi nggak ketembak," Pras melanjutkan.
Spontan Nila membelalakan mata.
"Hahahaha," Pras terbahak melihat raut wajah Nila.
"Oh tidak, tidak. Bukan seperti itu. Polisi itu penuh perhitungan.
Nggak akan terjadi seperti itu."
Setelah kelakarnya membuat Nila tersenyum, Pras pun mengajak Nila ke
luar dari dalam kafe.
95
Setelah tiga puluh menit menyibak kembali kemacetan kota
Surabaya, tiba saatnya duduk berdua di restaurant Botanica. Sebuah restoran
mewah dengan menu lezat. Dari sekian menu nasi goreng buah naga
merupakan menu unggulan.
"Kamu pesan apa?" tanya pras setelah memilih menu.
"Sama,” jawab Nila.
Sengaja Nila memesan menu yang sama, dia sebenarnya takut kalau
tidak tahu cara makannya. Maklum di desa tak pernah ada warung yang
menunya aneh. Sambil menunggu menu tersaji, mata Nila lagi-lagi
mengembara ke seluruh ruangan. Ruangan yang mengusung konsep batu
dan kayu itu sungguh menawan.
Nasi goreng yang dipesanpun datang. Dua porsi nasi goreng buah
naga berwarna merah. Perpaduan antara gurih nasi goreng dengan taburan
bawang merah di atasnya. Sebuah telor ceplok setengah matang. Warna
kuning dan putihnya sangat menggoda perut. Segarnya acar mentimun
campur wortel memberi kesegaran bersama merahnya buah naga. Yang tak
kalah gurih adalah ayam goreng cincang dengan lumuran tepung krispi.
"Nila. Kau terlalu berani pergi dengan orang yang belum pernah kau
kenal. Bagaimana kalau aku orang jahat?"
" Aku nggak bawa uang. Nggak cantik. Apa yang mau dijahati. Hp
juga jadul. "
96
"Kamu menarik."
Spontan senyum sinis Nila ke luar.
"Tujuanku jelas dan baik. Lagi pula aku mengikuti jejak medsosmu
sudah lama. Benar namamu samaran. Tapi teman-teman kamu tidak. Aku
bisalah tanya sama temanmu itu. Kalau kau berbuat jahat, aku laporkan.
Paling tidak kamu sudah kehilangan pekerjaan."
"Kau janda? Sehingga kau sendirian," tanya Pras penuh harap.
"Mbak Uma anak orang kaya yang terpandang di desa kami. Aku
nggak mau masalah ini keluarganya tersangkut. Ya begitu dapatkan
nomer dari adiknya, aku berusaha menghubungi. Dia sejak kecil
sahabatku. Aku tak menyangka begini. Tapi ya sudahlah."
"Banyak uang kamu di dia," tanya Pras.
"Nggak juga sih. Dua jutaan, tapi bagi warga lain ada yang sepuluh
juta. Bagi kami uang segitu sangat banyak. Kita bermaksud menabung
untuk hari raya. Ya jadinya malah begini."
"Bagaimana tanggapan suamimu?" Ini pertanyaan yang kedua
kalinya tentang keluarga Nila.
Nila hanya mengangkat kedua bahunya.
"Maksudku dia teman kecilku. Jangan sampai ada keributan.
Diselesaikan dengan baik-baik. Agar nama baik keluarga besarnya tetap
terjaga."
"Kenapa kamu menghindar kalau ku tanya tentang keluargamu?"
Pertanyaan ketiga dilontarkan oleh Pras.
97
"Aku berdua dengan istri orang Nila. Ini pertanyaan ketiga kalinya.
Tapi kau selalu mengalihkan permasalahan," lanjutnya Prasojo.
Nila baru menceritakan tentang suaminya setelah merasa terdesak.
Suaminya pergi ke luar negeri dan tak ada kabar lagi. Tapi dia meyakini
kalau suaminya masih hidup dan dia masih setia menunggu.
Keesokan harinya di grup WA desa ramai perbincangan. Tentang
seorang warganya yang selingkuh di sebuah hotel di Surabaya. Sontak hati
Nila seakan di iris setelah membaca. Berita itu berupa tangkap layar
pembicaraan Siti Munawaroh dengan Uma. Nila hanya memejamkan mata
merasakan keperihan hatinya. Sepagi ini. Uma dan Siti Munawaroh
menyebar isu. Tak terasa sakit di dadanya telah mengeluarkan air matanya
yang bening.
"Ya Tuhan. Maafkan lah dia dan buat hatiku kuat menghadapinya,"
kata Nila lirih.
Doa-doa lainpun terucap dari bibir Nila. Dia segera mengambil
wudu dan salat shubuh. Setelah itu dia aktifitas seperti biasanya. Siap
memakai seragam khas TK Aminah tempat dia kerja. Seragam yang sudah
samar warnanya. Maklum dua tahun sudah seragam itu di pakainya. Belum
lagi membeli karena masih ada kebutuhan lain yang lebih penting. Tas
bututnya diambilnya dari atas meja. Berderinglah Hp yang ada di dalamnya.
Oh ternyata hanya pesan WA.
" Mbak Nila di tunggu ibu di rumah. Mbak sebelum ke TK ke rumah
dulu," bunyi sebuah pesan dari Salma putri bu Nyai.
98
Hati Nila pun gusar. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Semua
itu diabaikan. Motor bututnya langsung menuju ke rumah bu Nyai.
"Nila. Apa kamu hendak bersuami lagi?" Tutur kata bu Nyai. Beliau
yang mempunyai Yayasan TK Aminah. Pertanyaan halus itu dibalas dengan
gelengan kepala pelan.
"Kamu kemarin ke Surabaya?" tanya bu Nyai.
Lagi-lagi hanya di jawab anggukan.
"Menemui seseorang?"
Lagi-lagi hanya sebuah anggukan.
"Kalau kau ingin menikah lagi bukan caranya seperti itu. Kau tak
harus mendatangi lelaki. Apalagi dia beristri. Tabu nak. Dosa itu.
Mengganggu suami orang."
"Maksud ibu?" tanya Nila.
"Maksudku, kau wanita baik-baik. Kalau kau pingin suami. Kami
para orang tua carikan. Yang agamanya bagus, sopan, dan bukan suami
orang. Kasihan nama baik keluargamu tercoreng kalau sudah begini."
Nila hanya diam. Dia sangat bingung dengan arah pembicaraan bu
nyainya itu. Dan dia tak mau gegabah menghadapi masalah yang dihadapi.
Apalagi yang berbicara bu Nyai. Jangan sampai terkesan menentang.
"Begini, tadi malam beberapa wali murid TK datang ke sini.
Menyatakan kalau anak-anaknya tidak boleh diajar oleh orang yang
menjalin hubungan dengan suami orang....."
"Maksud ibu saya tidak boleh mengajar lagi ?"
99
"Maafkan ibu, saya cuma tidak mau sekolah kita yang mulai maju
terganggu lagi."
Maksud hati Nila akan menjelaskan kesalah pahaman. Tapi keburu
bu Nyai segera menutup pembicaraan.
Siangnya setelah semua murid TK pulang. Nila dipanggil kepala
sekolah. Di sebuah ruang kelas sederhana. Tempat yang setiap hari dia
gunakan untuk bernyanyi dengan anak-anak. Yang duduk di ruang itu
berlima dengan guru lain. Suasana tegang telihat di antara mereka.
"Asalammualaikum." Ucap pembuka dari sang kepala sekolah.
Seperti bu Nyai tadi. Dia harus memjawab beberapa pertanyaan. Kali ini
naluri wanitanya mulai terlihat. Nila menjawab semua pertanyaan dengan
mata berkaca-kaca.
"Maaf. Maafkan saya," kata Nila saat membuka jawaban dengan
suara terbata. Dia berhenti berkata sejenak. Ditelannya ludah yang seakan
mengucur sederas aliran darahnya saat itu. Dia merasa nafasnya yang mulai
tersengal.
"Saya tidak mempunyai saksi dan bukti tentang kebenaran. Tapi
saya tidak merasa melakukan hal yang hina."
"Nil, ceritalah yang sebenarnya," desak Hanifah sahabatnya.
Nila hanya menggeleng. Dia tidak mau menceritakan kejelekan
orang lain saat ini. Apalagi Uma adalah keponakan langsung bu Nyai. Akan
memperkeruh masalah.
100