The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Secara garis besar, buku ini memuat tiga materi pokok, yaitu apresiasi prosa fiksi, kajian prosa fiksi, dan pembelajaran prosa fiksi. Apresiasi prosa fiksi dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum kepada para pembaca tentang pentingnya membaca dan memahami esensi dari sebuah karya prosa fiksi. Kajian prosa fiksi bertujuan memberikan wawasan teoretis kepada mahasiswa sehingga menjadi bekal untuk melakukan kajian atau penelitian prosa fiksi. Sementara pembelajaran prosa fiksi dimaksudkan untuk membekali mahasiswa calon guru tentang pengetahuan dasar pembelajaran prosa fiksi dalam kerangka Kurikulum 2013.
Secara spesifik, buku ini memuat materi-materi sebagai berikut.
1. Konsep dan Jenis Prosa Fiksi
2. Unsur Intrinsik Prosa Fiksi
3. Unsur Ekstrinsik Prosa Fiksi
4. Apresiasi Prosa Fiksi
5. Kajian Prosa Fiksi
6. Pembelajaran Prosa Fiksi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd, 2023-09-04 09:49:05

Buku Prosa Fiksi

Secara garis besar, buku ini memuat tiga materi pokok, yaitu apresiasi prosa fiksi, kajian prosa fiksi, dan pembelajaran prosa fiksi. Apresiasi prosa fiksi dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum kepada para pembaca tentang pentingnya membaca dan memahami esensi dari sebuah karya prosa fiksi. Kajian prosa fiksi bertujuan memberikan wawasan teoretis kepada mahasiswa sehingga menjadi bekal untuk melakukan kajian atau penelitian prosa fiksi. Sementara pembelajaran prosa fiksi dimaksudkan untuk membekali mahasiswa calon guru tentang pengetahuan dasar pembelajaran prosa fiksi dalam kerangka Kurikulum 2013.
Secara spesifik, buku ini memuat materi-materi sebagai berikut.
1. Konsep dan Jenis Prosa Fiksi
2. Unsur Intrinsik Prosa Fiksi
3. Unsur Ekstrinsik Prosa Fiksi
4. Apresiasi Prosa Fiksi
5. Kajian Prosa Fiksi
6. Pembelajaran Prosa Fiksi

Keywords: 01122008

i Dr. Herman Didipu, M.Pd. DASAR-DASAR APRESIASI, KAJIAN, DAN PEMBELAJARAN PROSA FIKSI CV. ATHRA SAMUDRA GORONTALO 2018


ii DASAR-DASAR APRESIASI, KAJIAN, DAN PEMBELAJARAN PROSA FIKSI Penulis: Dr. Herman Didipu, M.Pd. Penyunting: Zc Fachrussyah, M.Si. Desain Sampul: Syahrul Ramadhan, S.Kom. Penata Letak: Rizka Aprilia Khairunnisa, S.E. Penerbit CV. ATHRA SAMUDRA Jln. Khalid Hasiru, Desa Huntu Barat Bone Bolango – Gorontalo Hotline: 0811431908 Website: www.athrasamudra.wixsite/penerbit Email: [email protected] Cetakan ke-1, Januari 2018 Hak cipta dilindungi undang-undang pada penulis ISBN : 978-602-511-732-9


iii SAMBUTAN Dr. H. Harto Malik, M.Hum. (Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, UNG) Prosa fiksi merupakan materi yang dipelajar oleh mahasiswa di perguruan tinggi khususnya mereka yang telah memilih Program Studi Sastra atau program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra. Selain itu, prosa fiksi juga merupakan bahan bacaan bagi pencinta sastra maupun guru pengajar sastra. Pada umumnya pembahasan prosa fiksi tidak terlepas dari: (1) konsep dan jenis prosa fiksi; (2) unsur instrinsik dan ekstrinsik; serta (3) apresiasi prosa fiksi. Namun, di sisi lain banyak pembaca sastra yang berharap bisa menemukan penjelasan lebih rinci tentang implementasi kajian prosa fiksi beserta pendekatannya. Buku yang membahas konsep prosa fiksi sudah cukup banyak diterbitkan. Sementara mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi keguruan dan guru merindukan buku yang mengulas topik tentang metodologi pembelajaran prosa fiksi di sekolah. Dengan diterbitkannya buku Prosa Fiksi yang ditulis oleh Dr. Herman Didipu, M.Pd. akan membantu para pembaca menemukan dan memahami lebih dalam konsep prosa fiksi. Pembahasan buku ini dilengkapi dengan penjelasan tentang pendekatan pengkajian prosa fiksi untuk membantu para peneliti sastra. Buku ini juga dapat digunakan oleh dosen LPTK khususnya dalam pengajaran bahasa dan sastra sebab di dalamnya dibahas ikhwal metodologi pembelajaran prosa fiksi. Begitu pula para guru bahasa di sekolah dapat memanfaatkan buku ini sebagai acuan dalam pembelajaran prosa fiksi karena di dalamnya diulas orientasi materi prosa fiksi dalam kurikulum 2013, baik pada tahapan perencanaan, strategi, media dan hingga penilaian pembelajaran prosa fiksi. Pada kesempatan ini, saya selaku Dekan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, sekaligus Ketua Himpunan Sastra Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Gorontalo, ikut bangga dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dr. Herman Didipu, M.Pd. atas upayanya menghasilkan buku ini untuk menambah wawasan para pembaca dalam memahami lebih dalam mengenai prosa fiksi itu sendiri dan implementasi pembelajaran prosa fiksi di sekolah. Syukur Alhamdulillah buku ini juga telah ikut menambah kekayaan intlektual Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo.


iv Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan bidang sastra dan pembelajaran sastra. Gorontalo, Januari 2018 Dekan FSB UNG


v KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Robbi karena telah memberikan keringanan berpikir serta keluasan waktu sehingga penulis dapat merampungkan naskah buku ini. Penyusunan buku Dasa-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi ini sudah penulis rencanakan sejak beberapa tahun terakhir. Namun karena terbentur dengan kesibukan penyelesaian studi S-3, seluruh naskah buku ini baru dapat diselesaikan. Secara garis besar, buku ini memuat tiga materi pokok, yaitu apresiasi prosa fiksi, kajian prosa fiksi, dan pembelajaran prosa fiksi. Apresiasi prosa fiksi dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum kepada para pembaca tentang pentingnya membaca dan memahami esensi dari sebuah karya prosa fiksi. Kajian prosa fiksi bertujuan memberikan wawasan teoretis kepada mahasiswa sehingga menjadi bekal untuk melakukan kajian atau penelitian prosa fiksi. Sementara pembelajaran prosa fiksi dimaksudkan untuk membekali mahasiswa calon guru tentang pengetahuan dasar pembelajaran prosa fiksi dalam kerangka Kurikulum 2013. Seperti yang tertulis di dalam judul, buku ini masih memuat hal-hal yang sifatnya mendasar dan umum. Itulah sebabnya, penulis menyarankan para pembaca, khususnya mahasiswa, untuk menunjang pemahaman melalui buku atau refensi lain yang sifatnya mendalam dan spesifik. Beberapa referensi dimaksud seperti dicantumkan di dalam daftar pustaka. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga buku ini dapat diselesaikan. Teristimewa kepada Dr. H. Harto Malik, M.Hum., Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, UNG, yang sekaligus sebagai Ketua HISKI Komisariat Gorontalo, yang berkenan memberikan sambutan pada penerbitan buku ini. Kepada kedua guru penulis, Prof. Dr. H. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Universitas Negeri Surabaya), dan Prof. Dr. H. Moh. Karmin Baruadi, M.Hum. (Universitas Negeri Gorontalo), serta rekan penulis Tryanti Abdurrahman, S.Pd., M.A. (Universitas Islam AsSyafi’iyah, Jakarta) yang berkesempatan membaca dan memberikan dukungan (endorsement) terhadap buku ini. Semoga buku yang sederhana ini dapat memberikan kontribusi nyata demi pengembangan khasanah kesastraan Indonesia. Yang lebih penting lagi, semoga buku ini dapat memberikan kontribusi pemikiran demi peningkatan kompetensi


vi keilmuan sastra bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya. Wassalam. Gorontalo, 11 Januari 2018 Penulis,


vii DAFTAR ISI Sambutan Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, UNG.................. iii Kata Pengantar ........................................................................... v Daftar Isi ..................................................................................... vii Bab I KONSEP DAN JENIS PROSA FIKSI A. Pengertian Prosa Fiksi ............................................. 1 B. Karakteristik Prosa Fiksi ......................................... 2 C. Unsur-Unsur Prosa Fiksi ......................................... 2 D. Jenis-Jenis Prosa Fiksi ............................................. 3 BAB II UNSUR INTRINSIK PROSA FIKSI A. Tema ........................................................................ 10 B. Amanat .................................................................... 13 C. Tokoh ....................................................................... 15 D. Penokohan ............................................................... 18 E. Latar (Setting) .......................................................... 20 F. Alur (Plot) ............................................................... 23 G. Sudut Pandang (Point of View) ................................ 25 H. Gaya (Style) ............................................................. 28 BAB III UNSUR EKSTRINSIK PROSA FIKSI A. Aspek Sosial ............................................................ 32 B. Aspek Budaya .......................................................... 34 C. Aspek Politik ........................................................... 36 D. Aspek Pendidikan .................................................... 38 E. Aspek Religius ......................................................... 41 F. Aspek Psikologi ....................................................... 42 G. Aspek Ekologi ......................................................... 44 H. Aspek Feminis ......................................................... 47 BAB IV APRESIASI PROSA FIKSI A. Hakikat Apresiasi Sastra .......................................... 51 B. Tujuan Apresiasi Sastra ........................................... 53 C. Manfaat Apresiasi Sastra ......................................... 54 D. Bekal Awal Apresiator Sastra ................................. 55 E. Bentuk-Bentuk Apresiasi Sastra .............................. 56 F. Pendekatan dalam Apresiasi Sastra ......................... 57 1. Pendekatan Parafrastis ...................................... 57 2. Pendekatan Emotif ........................................... 59 3. Pendekatan Analitis .......................................... 62 4. Pendekatan Historis .......................................... 64 5. Pendekatan Sosiopsikologis ............................. 66 6. Pendekatan Didaktis ......................................... 67


viii BAB V KAJIAN PROSA FIKSI A. Hakikat Kajian Sastra .............................................. 73 B. Kedudukan Teori dalam Pengkajian Sastra ............. 75 C. Ragam Teori dalam Pengkajian Sastra .................... 77 1. Kajian Struktural .............................................. 77 2. Kajian Naratologi ............................................. 79 3. Kajian Semiotika .............................................. 83 4. Kajian Hermeneutika ........................................ 87 5. Kajian Stilistika ................................................ 91 6. Kajian Sosiologi Sastra .................................... 94 7. Kajian Psikologi Sastra .................................... 97 8. Kajian Antropologi Sastra ................................ 100 9. Kajian Ekologi Sastra ....................................... 103 10. Kajian Feminisme Sastra .................................. 105 11. Kajian Resepsi Sastra ....................................... 108 12. Kajian Intertekstual .......................................... 112 BAB VI PEMBELAJARAN PROSA FIKSI A. Wawasan Umum Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ............................................ 117 B. Karakteristik Pembelajaran Sastra dalam Kurikulum 2013 ............................................ 119 C. Orientasi Materi Prosa Fiksi .................................... 123 D. Perencanaan Pembelajaran ...................................... 130 E. Model dan Strategi Pembelajaran ............................ 133 F. Media Pembelajaran ................................................ 152 G. Penilaian Pembelajaran ............................................ 155 DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 183 BIOBATA PENULIS ................................................................. 193


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 1 Bab I KONSEP DAN JENIS PROSA FIKSI A. Pengertian Prosa Fiksi Istilah “prosa” dan “fiksi” sering digunakan secara terpisah (genre prosa atau genre fiksi), dan sering pula digunakan secara bersamaan (genre prosa fiksi). Baik genre prosa, genre fiksi, maupun genre prosa fiksi, pada hakikatnya mengacu pada pengertian yang sama yaitu genre sastra yang hadir dalam bentuk cerita rekaan. Dalam tulisan ini, digunakan istilah genre prosa fiksi yang maknanya juga mencakup genre prosa dan genre fiksi. Itulah sebabnya, ketiga istilah tersebut digunakan secara bergantian dalam pengertian yang sama. David Mikics dalam A New Handbook of Literary Term (2007:120) menyatakan bahwa kata “fiksi” dalam bahasa Inggris fiction berasal dari bahasa Latin fingere, yang berarti ‘mencetak atau membentuk’ (to mold), atau ‘membentuk sebuah pola’ (to shape to a design), tetapi dapat pula berarti ‘berpura-pura’ (to fake). Pada akhir abad ke-14, Williams mencatat sebuah kata kunci dari fiksi (fiction) sebagai ‘sebuah karya imajinatif’. Dalam dunia kesastraan,


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 2 istilah fiksi merujuk pada genre sastra yang hadir dalam bentuk cerita rekaan yang di dalamnya bukan merupakan kebenaran sejati. Atau dalam pandangan Rochani Adi (2011:24) bahwa fiksi merupakan cerita yang tidak berdasarkan pada kenyataan sebenarnya. Substansi cerita dalam prosa fiksi diangkat dari realitas kehidupan pengarang, yang telah dikolaborasikan dengan daya imajinasi dan kreativitas pengarang, sehingga berbagai aspek cerita – tokoh, tempat, kronologis, dan konflik – yang terjadi dalam fiksi seolah-seolah hanyalah sebuah ciptaan belaka dari seorang pengarang. Dengan demikian, prosa fiksi adalah genre sastra yang berbentuk cerita atau narasi yang diangkat berdasarkan realitas kehidupan nyata dan dihadirkan dalam bentuk fiktif atau rekaan melalui penampilan tokoh, latar, kronologis, dan konflik. B. Karakteristik Prosa Fiksi Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasi beberapa karakteristik prosa fiksi berikut ini. 1. Berbentuk cerita atau narasi 2. Substansinya berupa masalah kehidupan manusia 3. Bersifat imajinatif dan fiktif 4. Ditandai dengan hadirnya unsur-unsur cerita berupa tokoh, alur, latar, dan konflik. C. Unsur-Unsur Prosa Fiksi Sebagai sebuah karya seni, prosa fiksi dibangun oleh seperangkat unsur yang saling menunjang satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur tersebut ada yang berada di dalam teks dan ada pula yang berada di luar teks. Unsur di dalam teks lazim disebut unsur intrinsik, sedangkan unsur di luar teks lazim disebut unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik atau disebut unsur dalam merupakan seperangkat komponen yang secara langsung mengonstruksi sebuah teks prosa fiksi. Unsur-unsur intrinsik prosa fiksi mencakup tema, amanat, tokoh, penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 3 Unsur ekstrinsik atau unsur luar merupakan berbagai aspek atau faktor luar teks yang secara tidak langsung mempengaruhi proses penciptaan sebuah karya prosa fiksi. Faktor-faktor luar teks tersebut adalah faktor sosial, budaya, psikologi, agama, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Bahasan selengkapnya tentang unsurunsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsik prosa fiksi akan diuraikan pada bab-bab selanjutnya. D. Jenis-Jenis Prosa Fiksi Berdasarkan periodisasinya, prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Keduanya pada prinsipnya mengacu pada masa penciptaan karya sastra, yang populer dikenal dengan istilah kesusastraan lama dan kesusastraan baru (Hasanuddin, dkk, 2014:491). Menurut Hasanuddin, dkk bahwa kesusastraan lama merujuk pada semua hasil sastra yang dijumpai sebelum masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sedangkan kesusastraan baru merujuk pada semua hasil sastra yang dijumpai sesudah masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi hingga zaman Balai Pustaka. Kesusastraan lama (termasuk prosa lama) dikenal juga dengan istilah sastra klasik, sedangkan kesusastraan baru dikenal juga dengan istilah sastra modern. 1. Prosa Lama Prosa lama merupakan ragam cerita atau kisah yang berisi peristiwa pada masa kerajaan maupun kisah kepahlawanan zaman dahulu yang kesemuanya itu bersumber dari khayalan pengarangnya. Prosa lama mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. a. Gaya bahasanya masih bergaya Melayu. Tidak sedikit pula terdapat kosakata Arab sebagai pengaruh masuknya bangsa Arab dan Persia ke Melayu pada masa itu. b. Ceritanya berisi hal-hal yang fantasi atau khayalan. Bahkan, ada cerita yang terkesan tidak masuk akal. c. Berkisah tentang kerajaan-kerajaan, baik itu tentang raja, permaisuri, pangeran, hingga rakyatnya di suatu kerajaan.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 4 d. Gaya penceritaannya statis. Artinya, gaya penceritaannya terkesan monoton dan seragam. e. Umumnya cerita diawali dengan kalimat: “Tersebutlah sebuah kerajaan....”, “Pada zaman dahulu....”, “Dahulu ada seorang bernama....”, “Di sebuah hutan hiduplah....”, dan sebagainya. f. Bersifat anonim. Artinya, tidak dapat ditelusuri siapa pengarang cerita dan kapan diciptakan. Adapun jenis-jenis prosa lama dibicarakan berikut ini. a. Hikayat Hikayat adalah cerita yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. Adalahnya dipakai dengan makna cerita sejarahan atau riwayat hidup (Sudjiman, 2006:34). Contoh: Hikayat Hang Tuah Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda. Maka Laksamana pun menjunjung duli. Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar. b. Epik atau epos Epik atau epos adalah jenis prosa lama yang bercerita perihal kepahlawanan (kewiraan) seorang tokoh (Didipu, 2013:37). Contoh: Gugurnya Pahlawan Panipi (dari Gorontalo) Antula memeluk kakaknya, darah terus mengalir dari dadanya. Pada bibirnya tersungging senyum. Pandangannya semakin sayu dan akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir. Dia telah pergi. Seorang tokoh pimpinan rakyat yang semasa hidupnya berjuang melawan kekuasaan penjajah. Tidak saja penjajah, tetapi penghianatan bangsanya sendiri menjadi musuh yang dihadapinya dengan jantan. Kekebalannya yang tidak mempan dengan peluru, membuat raja Panipi itu tidak takut perang, dan tidak takut menghadapi senjata apapun.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 5 (Daulima, 2006:118) c. Dongeng Dongeng adalah jenis prosa lama yang diciptakan hanya atas dasar khayalan belaka. Dongeng bukanlah merupakan cerita yang benar-benar terjadi. Walaupun demikian, di daerah-daerah tertentu dongeng dipercayai oleh masyarakatanya karena dihubungkan dengan berbagai fenomena di daerah tersebut. Dongeng dapat dibagi menjadi beberapa jenis berikut ini. 1) Legenda Menurut Nursisto (2000:45), legenda adalah dongeng berdasarkan sejarah yang sifatnya mencari-cari dan dihubungkan dengan keanehan atau kejadian alam. Contoh: Asal-Usul Danau Toba (dari Sumatera) …. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba awan hitam bergelayut di atas lembah itu. Tak lama kemudian hujan dari langit bagaikan ditumpahkan. Kilat menyambar-nyambar dan guntur bersahut-sahutan. Air hujan merendam lembah sehingga menjadi seperti lautan. Sementara itu Toba sendiri tewas ditelan air bah. Sedangkan Samosir, meskipun berada di puncak pohon namun tetap saja terkena banjir. Ia pun tewas dan mayatnya terapung-apung. Lalu berubah menjadi sebuah pulau kecil yang sampai sekarang disebut Pulau Samosir. Sedangkan lembah tersebut berubah menjadi danau yang sangat besar. (Dwiloka, 2006:77) 2) Mite atau mitos Zaidan, dkk (2000:131) menyatakan bahwa mite adalah cerita asal-usul dan cerita dewa-dewa yang dapat diyakini sebagai benar oleh pemiliknya. Contoh: Hercules Manusia Perkasa Dari Ratu Alcmena yang cantik bersama Yupiter, lahirlah seorang bayi laki-laki di Kota Thebes yang diberi nama Hercules. Anak itu amat dicintai oleh Yupiter, maka ia menetapkan untuk menjadikannya seorang mahluk yang sempurna. Dewi Juno yang bengis sangat iri kepada bayi itu, sehingga ketika bayi itu masih


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 6 berada dalam buaian, ia mengutus dua ekor ular raksasa agar membelitnya sampai mati. (Ikranegara, 2006:66) 3) Fabel Fabel adalah jenis dongeng yang tokoh-tokoh di dalamnya adalah hewan atau binatang. Tokoh-tokoh binatang di dalam fable dianggap sebagai representasi tokoh manusia secara nyata. Contoh: Kancil Menipu para Buaya “Hug-hug-huuu…! Kau bilang mau dijadikan menantu padahal Pak Tani mau menyembelihmu untuk dijadikan sate. Kancil memang bertubuh kecil, tetapi otaknya cerdas, kalau adu lari pasti dia kalah, maka Kancil bersembunyi di balik rerumputan belukar, anjing tidak mengetahuinya dan terus mengejar. (Ikranegara, tt:115) 2. Prosa Baru Prosa baru merupakan ragam cerita atau kisah yang berisi peristiwa atau kejadian yang didasarkan pada realitas kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Prosa baru mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. a. Gaya bahasanya lebih fleksibel dan menggunakan bahasa populer. Bahkan, terdapat campur kode (bahasa) dengan bahasa asing (Inggris, Arab, Perancis, dll) sebagai pengaruh latar belakang pengalaman, profesi, dan pendidikan pengarangnya. b. Lebih bersifat dinamis. Artinya, substansi cerita lebih beragam dan gaya penceritaannya pun lebih variatif. c. Isi cerita lebih kontekstual dengan kehidupan masyarakat masa kini, misalnya masalah cinta dan dunia remaja, pendidikan, dan agama. d. Latar cerita didominasi di wilayah perkotaan, serta beberapa di antaranya mengambil latar cerita kota-kota besar di dunia, seperti Prancis, Jepang, dan Mesir. e. Dapat ditelusuri pengarangnya karena dituliskan secara jelas.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 7 Jenis prosa baru cukup beragam. Menurut Hasanuddin, dkk (2014), prosa baru mencakup roman, novel, kisah, biografi, cerpen, kritik dan esai. Roman merupakan cerita imajinatif yang berisi kisah suka dan duka kehidupan seorang tokoh, biasnya sejak lahir, anakanak, masa muda, hingga akhir hayatnya. Kisah atau dikenal juga dengan istilah narasi yaitu cerita tentang suatu Umumnya pembicaraan jenis prosa fiksi dititikberatkan pada novel dan cerita pendek (Abrams, 1971:59). Perbedaan utama antara novel dan cerpen terletak pada panjang-pendeknya cerita yang ditandai dengan jumlah kata yang digunakan. Menurut Kenney (1966:103), cerita pendek biasanya berkisar antara seribu sampai lima belas ribu kata, sedangkan novel relatif panjang antara empat puluh lima ribu kata atau lebih. a. Novel Novel (novel) berasal dari bahasa Itali Novello, yang berati ‘sebuah benda baru yang kecil’ (a small new thing). Menurut Aziez dan Hasim (2010:7), novel adalah sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa, dengan panjang yang kurang lebih bisa untuk mengisi satu atau dua volume kecil, yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup kompleks. Selain istilah “novel”, ada pula istilah “novelet atau novela” dalam bahasa Inggris novella. Novela atau novelet merupakan bentuk cerita (layaknya novel), namun tidak sepanjang novel, dan juga tidak sependek cerita pendek (short story). Panjang novela atau novelet berada di antara novel dan cerpen, berkisar antara tujuh puluh sampai seratus halaman (Mikics, 2007:209). b. Cerpen Suroso, dkk (1999:51) berpendapat bahwa cerita pendek adalah cerita tentang kehidupan seseorang yang diceritakan secara ringkas. Lebih lanjut Suroso, dkk mengatakan bahwa yang diceritakan dalam cerpen hanya sebagian kecil dari kehidupan. Oleh karena cerpen singkat dalam penceritaannya, maka ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 8 selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca (Sayuti, 2000:9). Sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden tunggal atau peristiwa tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikansi besar bagi tokohnya (Sayuti, 2000:9). Secara rinci, Badrun (1983: 101-102) menyebutkan 10 ciri cerpen sebagai berikut. 1) Cerita pendek mengandung interpretasi pengarang tentang kehidupan, baik secara langsung, atau tidak langsung. 2) Dalam cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca dan harus juga menarik perhatian. 3) Cerita pendek mengandung detail dan insiden yang dipilih dengan sebagai dan dapat menimbulkan pertanyaan dalam pikiran pembaca. 4) Jalan cerita cerpen dikuasai oleh sebuah insiden. 5) Dalam cerita pendek harus ada seorang pelaku utama. 6) Cerpen menciptakan satu kesan tunggal. 7) Cerpen menyajikan satu emosi saja. 8) Cerpen tergantung pada situasi dan hanya satu situasi. 9) Jumlah kata cerpen di bawah 10.000 dan tidak lebih dari 33 halaman kuarto spasi rangkap. 10) Bahasa cerpen lebih tajam, sugestif, dan padat. Dalam penampilannya, cerpen atau cerita pendek dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu cerita pendek yang pendek atau cerpen (short-short story), cerita pendek yang sedang dan certa pendek yang panjang atau cerpan (long short story). Nurgiyantoro (2013:12) menyebutkan bahwa cerpen yang pendek (short-short story), bahkan mungkin pendek sekali: berkisar 500-an kata; cerpen yang panjangnya cukupan (midle short story); serta ada cerpen yang panjang (long short story), yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata. -oo0oo-


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 9 Bab II UNSUR INTRINSIK PROSA FIKSI Unsur intrinsik atau disebut unsur dalam merupakan seperangkat komponen yang secara langsung mengonstruksi sebuah teks prosa fiksi. Unsur intrinsik prosa fiksi terdiri atas susunan komponen yang kait-mengait satu dengan yang lain sehingga menjadi satu keutuhan dalam membentuk sebuah karya. Ibarat sebuah bangunan yang dapat berdiri kokoh karena adanya bahan atau material (batu, pasir, air, besi, semen, dll) yang menjadi satu di dalamnya, karya sastra pun demikian. Sebuah karya sastra yang dihasilkan oleh seorang pengarang juga dibentuk oleh seperangkat unsur di dalamnya sehingga karya tersebut dapat dinikmati oleh para pembaca. Adapun unsur-unsur intrinsik prosa fiksi mencakup tema, amanat, tokoh, penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 10 A. Tema Seperti halnya tema dalam puisi, tema dalam prosa fiksi pun berisi pokok atau intisari dari sebuah cerita. Tema menjadi gagasan dasar yang digunakan oleh pengarang untuk mengembangkan ceritanya. Olehnya itu, kehadiran tema dapat memberikan kontribusi bagi elemen struktural lain seperti plot, tokoh, latar. Tema pun dapat memberikan warna terhadap hadirnya unsur-unsur tersebut. Walaupun demikian, fungsi terpenting dari tema adalah menjadi elemen penyatu terakhir bagi keseluruhan fiksi. Di samping itu, tema juga berfungsi melayani visi yaitu responsi total sang pengarang terhadap pengalaman dan hubungan totalnya dengan jagad raya (Sayuti, 2000:192). Untuk menafsirkan tema dalam cerita fiksi, dapat dilakukan tiga tahapan berikut ini. 1. Membaca cerita secara utuh Membaca menjadi satu kegiatan awal yang wajib dilakukan oleh setiap apresiator sastra, termasuk dalam prosa fiksi. Membaca karya sastra menjadi aktivitas mutlak karena melalui pembacaan karya sastra, pembaca dapat melihat berbagai hal dalam karya tersebut. Untuk dapat menentukan tema cerita, perlulah cerita tersebut dibaca dari awal hingga akhir. Hal ini penting, mengingat eksistensi tema dalam cerita tidak secara eksplisit dihadirkan hanya pada satu bagian cerita, namun tersebar secara implisit pada semua bagian cerita. Oleh sebab itu, penentuan tema cerita yang hanya didasarkan pada pembacaan sebagian cerita, atau pembacaan pada penggalan-penggalan cerita, atau bahkan hanya membaca sinopsis cerita, terkesan spekulatif. 2. Menentukan kesan utama dari cerita Pada pembacaan pertama sebuah cerita, terutama novel, terkadang kita masih kebingungan untuk menentukan tema cerita tersebut. Apa sebenarnya isi cerita tersebut? Masalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh pengarang dalam ceritanya? Jika demikian, maka perlu dilakukan pembacaan karya untuk kedua kalinya. Artinya, penentuan tema dalam cerita fiksi, tidak selamanya


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 11 dapat ditentukan hanya dengan sekali membaca. Pembacaan yang berulang-ulang akan sangat membantu pembaca dalam mengingat dan menafsirkan kesan utama dalam cerita yang dibacanya. Kesan utama dari cerita itulah yang menjadi tema dalam cerita yang kita baca. Oleh karena kesan setiap pembaca terhadap karya yang dibacanya bisa berbeda-beda, maka penentuan tema dalam sebuah cerita fiksi pun dimungkinkan berbeda satu dengan yang lain. 3. Mencari pembuktian dari unsur-unsur cerita lainnya Kemungkinan perbedaan antara tafsiran tema seorang pembaca dengan pembaca yang lain mengharuskan pembuktian secara empiris tema-tema tersebut. Setiap orang bisa saja menetapkan tema sesuai interpretasinya sendiri, namun apakah tema tersebut dapat dibuktikan atau tidak, inilah yang sangat menentukan. Tema cerita tidak dapat ditafsirkan hanya berdasarkan perkiraan, sesuatu yang dibayangkan ada di dalam cerita, atau informasi lain yang kurang dipercaya (Sayuti, 2000:196). Untuk mencari pembuktian, tema harus dihubungkan dengan unsur atau eleman lain dalam cerita tersebut. Tema yang dapat dihubungkan dengan unsur atau elemen lain dalam cerita merupakan tema utama cerita tersebut. Hal ini jelas, karena menurut Stanton (2012:37), tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita. Sebagai ilustrasi, seorang pengarang cerita (cerpenis atau novelis) yang ingin menulis cerita bertemakan religius atau keagamaan, akan menciptakan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan keagamaan, misalnya ustadz, santri, ulama. Latar cerita yang dipilih pun besar kemungkinan berhubungan dengan pesantren, di surau, maupun di mesjid. Demikian pula misalnya cerita yang mengusung tema pendidikan, paling banyak berlatar cerita di sekolah atau di kampus. Tokoh-tokohnya pun masih bertalian dengan pendidikan, misalnya siswa, mahasiswa, guru, atau dosen. Ini hanya merupakan ilustrasi sederhana untuk melihat keterkaitan antara tema dengan beberapa unsur cerita fiksi.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 12 Berikut disajikan beberapa hasil apresiasi tema novel Indonesia populer. 1. Novel Bidadari Krimizi karya Suyatna Pamungkas Novel ini mengangkat masalah tentang seseorang yang menunggu lama untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang dicintainya. Jadi, tema yang diangkat dalam novel ini yaitu ”penantian cinta”. Tema penantian cinta dalam novel ini dapat dilihat dari tokoh Nayla yang setia kepada kekasihnya yang bernama Arkan. Tetapi disisi lain seorang pria yang bernama Fido menyukai Nayla yang sudah memiliki kekasih. Karena rasa cinta Fido kepada Nayla yang begitu besar, Fido pun rela menunggu cinta Nayla hingga pada suatu ketika Nayla menikah dengan Arkan. Saat menjadi istri Arkan, Nayla tiba-tiba jatuh sakit. Sebagai suami Nayla, Arkan tidak bertanggung jawab atas istrinya. Dia meninggalkan Nayla yang sedang sakit dan pergi ke Amerika hanya untuk menuruti kemauan orang tuanya. Sesampainya di Amerika Arkan menceraikan istrinya melalui telepon seluler. Fido yang benar-benar mencintai Nayla mengambil keputusan untuk menikahi Nayla. Mereka berdua pun hidup bahagia dan akhirnya penantian Fido selama ini terbalaskan. Berbagai karakter tokoh dalam cerita ini mendukung hadirnya tema penantian dalam novel ini. 2. Novel Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia Sesuai dengan judulnya, novel Cinta di Ujung Sajadah mengangkat masalah percintaan. Selain itu, novel ini bercerita tentang kerinduan belaian kasih ibu sebagai masalah utama yang ingin dikemukakan oleh Asma Nadia. Oleh sebab itu, tema utama dalam novel ini adalah “Kerinduan Belaian Kasih Ibu”. Tema “kerinduan belaian kasih ibu” dalam novel ini dapat dibuktikan dengan hadirnya tokoh Cinta yang begitu merindukan hangatnya pelukan kasih seorang ibu. Walaupun ayahnya telah menikah lagi, tapi ibu tiri tidak akan sama dengan ibu kandung. Akibatnya Cinta merasa dilema, sedih, dan takut


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 13 untuk bertemu dan mencari ibunya, karena tidak ingin melihat ayahnya marah. Mbok Nah yang sudah lama tinggal di rumah mereka, sudah dianggap seperti Ibu kandung sendiri oleh Cinta. Akhirnya tepat ulang tahun Cinta yang ke-17 Mbok Nah memberanikan diri untuk menceritakan figur Ayuningsih yang merupakan ibu kandung Cinta. Cinta pun memutuskan untuk mencari ibunya dengan dibantu oleh teman-teman dekatnya dan juga Makky laki-laki yang diam-diam menyukai Cinta. 3. Cerpen “Ambe Masih Sakit” karya Emil Amir Cerpen “Ambe Masih Sakit” karya Emil Amir mengusung tuntutan adat di Tanah Toraja. Cerpen tersebut bercerita tentang upacara Rambu Solo’ yakni upacara kematian yang merupakan salah satu upacar adat di Tana Toraja. Cerpen ini mengangkat isu sensitif mengenai upacara kematian yang memerlukan biaya cukup besar. Ada beban moral, gengsi sosial, dan aturan adat yang dibungkus dengan cita rasa sastrawi. Ritual adat yang pada dasarnya digunakan untuk ajang kumpul dan pelepas rindu dengan sanak saudara beralih fungsi menjadi sebuah gengsi sosial. Yang kemudian diukur adalah seberapa mewah pesta yang diadakan, berapa ekor sapi atau babi yang dipotong. B. Amanat Amanat merupakan salah satu unsur dalam cerita yang sangat penting. Pentingnya amanat dalam cerita berhubungan dengan mutu atau kualitas sebuah karya tersebut. Semakin banyak amanat yang dikandung sebuah karya (khususnya fiksi), semakin tinggi pula kualitas karya tersebut. Sebaik apa pun bahasa yang digunakan pengarang dalam ceritanya, namun tidak banyak atau bahkan tidak ada sama sekali amanat yang dikandung dalam cerita, maka cerita tersebut belum dapat dikatakan berkualitas. Oleh sebab itu, salah satu unsur intrinsik yang perlu mendapat perhatian dari pengarang fiksi adalah unsur amanat.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 14 Amanat berisi pesan atau nasihat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya. Pesan atau nasihat tersebut dapat berupa ajaran-ajaran moral, tuntunan hidup manusia untuk selalu berbuat baik, dan berbagai hal positif lainnya. Seperti halnya tema, amanat dalam cerita fiksi tidak ditampilkan secara lugas atau secara eksplisit. Amanat dituangkan dalam cerita secara implisit melalui alur, maupun melalui tokoh-tokoh dan perwatakannya. Untuk itu, dibutuhkan kejelian dan ketelitian dari pembaca untuk dapat memetik hikmah dan pelajaran di balik cerita. Amanat dalam cerita pun tidak selamanya disajikan melalui tingkah laku tokoh yang baik. Namun, tabiat tokoh yang negatif pun sebenarnya merupakan amanat atau nasihat pengarang agar kita pembaca tidak mengikuti tabiat negatif tersebut. Sekali lagi, dibutuhkan ketelitian dari pembaca untuk memilih dan memilah hal-hal baik dan buruk dalam cerita, untuk selanjutnya diambil hikmah di balik itu semua. Bagian-bagian cerita yang banyak memuat amanat atau nasihat pengarang untuk pembaca adalah alur dan tokoh (dengan perwatakannya). 1. Amanat yang diangkat dari unsur alur atau plot Amanat cerita fiksi yang terdapat dalam unsur alur atau plot dapat dilihat dari contoh novel Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam cerita tersebut, tokoh Medasing yang awalnya adalah seorang pemimpin gerombolan penyamun atau perampok yang telah banyak membunuh, orangnya kasar dan sangat jahat, lambat laun menjadi orang baik karena kelembutan hati tokoh Sayu. Hingga pada akhir cerita, tokoh Medasing telah bertobat dan menjadi orang alim dan dermawan. 2. Amanat yang diangkat dari unsur tokoh dan perwatakannya Amanat yang diangkat dari unsur tokoh dan perwatakannya misalnya dapat dilihat dari novel Bidadari Krimizi karya Suyatna Pamungkas. Dalam cerita tersebut, tokoh utama Nayla memiliki sifat baik dan penyabar, dan tokoh Fido adalah sosok yang penyabar, penyayang, dan penuh perhatian. Amanat yang


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 15 dapat diambil dari cerita tersebut berdasarkan tokoh dan wataknya antara lain adalah jangan pernah putus asa utuk melakukan sesuatu yang memang benar-benar kita inginkan. Jangan pernah menyerah jika Tuhan memberikan cobaan kepada kita. Selain itu, jangan pernah menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, karena belum tentu penampilanya yang menarik sesuai dengan prilakunya. C. Tokoh Dalam sebuah cerita, kita pasti menemukan pelaku-pelaku sebagai pendukung cerita tersebut. Pelaku yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Yang dimaksud tokoh dalam prosa fiksi tidak selamanya dalam wujud manusia atau orang. Tokoh dalam prosa fiksi bisa dalam wujud binatang atau hewan misalnya dalam dongeng Kancil dan Buaya, maupun benda-benda mati yang diimajinasikan dapat berbuat seperti manusia seperti kisah Batu Badaung. Tokoh dalam sebuah fiksi dapat diklasifikasi menjadi beberapa jenis. Penjenisan tokoh dapat dilihat berdasarkan beberapa kriteria berikut ini. 1. Berdasarkan peran dan kedudukannya dalam cerita, tokoh diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Kehadiran tokoh utama dan tokoh bawahan dalam cerita dapat dilihat dari dua indikator, yaitu (1) intensitas kemunculannya dalam cerita, dan (2) pengaruhnya terhadap cerita. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi pusat pengisahan cerita. Intensitas kemunculan tokoh utama lebih banyak dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap alur cerita. Tokoh utama tidak harus hanya pada tokoh yang baik, namun tokoh yang jahat pun dapat menjadi tokoh utama. Tokoh Bawang Putih dan tokoh Bawang Merah misalnya merupakan wujud tokoh utama cerita.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 16 Tokoh bawahan adalah tokoh yang berperan sebagai pelengkap cerita. Intensitas kemunculannya lebih sedikit dan pengaruhnya terhadap cerita tidak signifikan. Ada dan tidaknya tokoh bawahan tidak mempengaruhi alur cerita, namun tetap memberikan kontribusi dalam pengembangan cerita. Tokoh bawahan biasanya hanya berperan sebagai penunjang cerita. Misalnya, tokoh Mbak Sowi dan tokoh Warimin dalam novel Kembang Turi karya Budi Sardjono. 2. Berdasarkan karakter atau sifatnya, tokoh dibagi menjadi dua jenis, yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Untuk melihat tokoh protagonis dan antagonis dalam cerita, dapat digunakan dua indokator, yaitu (1) sifat dan tabiatnya, dan (2) efek psikologis terhadap pembaca. Tokoh protagonis adalah tokoh yang memiliki sifat atau tabiat yang baik. Karena sifatnya yang baik menjadikan tokoh ini disukai dan menjadi tokoh idaman pembaca. Tokoh Fahri, Aisha, dan Maria dalam novel Ayat-Ayat Cinta merupakan contoh tokoh protagonis. Berbeda dengan tokoh protagonis, tokoh antagonis mempunyai sifat atau tabiat yang tidak baik atau jahat. Karenanya, pembaca kurang menyukai bahkan membenci tokoh ini. Tokoh antagonis dianggap sebagai tokoh pengacau atau perusak keharmonisan tokoh-tokoh protagonis. Walaupun demikian, eksistensi tokoh antagonis sangat penting dalam sebuah cerita fiksi karena tokoh ini mampu menciptakan konflik sehingga sebuah cerita menjadi lebih seru dan menarik. Tokoh Emily dalam novel Fleur karya Fenny Wong merupakan contoh tokoh antagonis karena tokoh Emily memiliki watak yang keras, tegas, serta jahat. Tokoh ini menjadi tokoh yang selalu bertentangan dan tidak mendukung tokoh Florence sebagai tokoh protagonis. 3. Berdasarkan fleksibilitas dan kompleksitas karakternya, tokoh dapat diklasifikasikan menjadi tokoh statis dan tokoh dinamis. Indikator utama yang membedakan tokoh statis dan tokoh dinamis adalah keluwesan karakter atau sifatnya. Jika tokoh


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 17 dalam cerita cenderung mempunyai karakter yang tetap, maka tokoh tersebut dapat dikatakan tokoh statis. Artinya, sejak awal cerita, tengah cerita, hingga akhir cerita, tokoh tersebut cenderung konsisten dengan karakternya. Tokoh yang sejak awal baik hingga akhirnya tetap baik, atau sebaliknya, tokoh yang sejak awal jahat hingga akhir cerita tetap jahat, merupakan ciri tokoh statis. Beberapa istilah lain untuk menyebutkan tokoh statis adalah tokoh datar (Sudjiman, 1988:20), tokoh sederhana (Sayuti, 2000:76), tokoh pipih (Tuloli, 2000:33), atau simple or flat character (Kenney, 1966:28). Tokoh Cinta, Makky, dan Mbok Nah dalam novel Cinta di Ujung Sajadah karya Asma Nadia merupakan contoh tokoh statis karena sejak awal hingga akhir cerita, ketiganya mempunyai sifat atau karakter yang tetap (tidak berubah), yaitu baik, sabar, dan penyayang. Tokoh dinamis adalah tokoh yang memiliki karakter yang lebih fleksibel. Jenis tokoh ini memiliki karakter yang lebih dari satu dan cenderung berubah (-ubah) seiring berjalannya alur. Oleh karena tokoh ini lebih dinamis, maka sedikit rumit untuk ditentukan karakter utamanya. Secara sederhana, tokoh dinamis dapat dilihat misalnya pada awal cerita baik dan pada akhir cerita menjadi buruk karakternya, atau sebaliknya, awalnya buruk kemudian menjadi baik karakternya di akhir cerita. Tokoh dinamis pun bisa tampak pada tokoh yang karakternya pada awal baik, tengah menjadi buruk, dan akhirnya menjadi baik kembali, atau sebaliknya, pada awal cerita karakternya buruk, di tengah menjadi baik, dan hingga akhirnya kembali menjadi buruk. Jenis tokoh dinamis ini oleh beberapa pakar disebut juga tokoh berkembang (Nurgiyantoro, 2007:188), tokoh kompleks (Sayuti, 2000:76), tokoh bulat (Sudjiman, 1988:20), atau complex (round) character (Kenney, 1966:29). Contoh tokoh dinamis dapat dilihat pada karakter Rosarynn dalam novel Angel karya Ashara. Pada awal cerita, tokoh Rosarynn digambarkan sebagai orang yang psikopat, bengis, kejam, dan tanpa rasa perikemanusiaan kepada tokoh Elle. Namun akhirnya berubah


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 18 menjadi tokoh yang sangat prihatin terhadap keselamatan nyawa Elle. D. Penokohan Penokohan berbeda dengan tokoh dan watak. Tokoh merujuk pada figur secara lahiriah, watak merujuk pada sifat atau tabiat tokoh secara batiniah, sedangkan penokohan merujuk pada cara pengarang menggambarkan tokoh dan watak tokoh tersebut. Singkatnya, jika tokoh lebih bersifat fisik dan konkret, watak lebih bersifat abstrak, maka penokohan lebih bersifat teknis. Penokohan merupakan cara pengarang menampilkan tokoh serta menggambarkan watak-watak tokoh dalam karyanya. Unsur penokohan ini menjadi sangat penting dalam prosa fiksi karena kepiawaian seorang pengarang dalam menghidupkan tokoh (beserta wataknya) akan sangat menentukan keterlibatan imajinasi pembaca dalam dunia cerita yang diciptakannya. Oleh Aziez dan Hasim (2010:10) dinyatakan bahwa penciptaan tokoh-tokoh imajinatif merupakan basis dari semua fiksi yang berhasil, dan barangkali merupakan salah satu tujuan tertinggi seni sastra. Untuk menampilkan tokoh cerita, pengarang dapat menggunakan berbagai metode penokohan yang disebut juga metode karakterisasi. Setiap cara memiliki kelebihan, bergantung dari gaya penceritaan. Hanya saja, pemilihan teknik penokohan akan sangat menentukan imajinasi pembaca yang seolah-olah merasakan kehadiran tokoh-tokoh dalam dunia rekaan layaknya tokoh-tokoh dalam dunia nyata. Contohnya, kecantikan tokoh Layla dalam roman Layla Majnun pasti tidak akan terpatri dalam imajinasi pembaca seandainya Nizami sebagai pengarangnya tidak mampu memerikan kecantikan Layla tersebut. Seperti apa kecantikan Layla? Dengan kepiawaiannya, Nizami menghidupkan Layla sebagai gadis yang cantik rupawan dalam imajinasi pembaca melalui ceritanya. Berikut salah satu contoh kutipan ceritanya. Suatu hari Layla sedang berada di taman dekat rumpun bunga lili diiringi beberapa puteri. Perawan Arab itu terlihat mekar berseri,


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 19 bibirnya terlihat lembut kemerahan, gigi berkilap laksana mutiara dan rambutnya terlihat ikal bergelombang. Kecantikan Layla merupakan perwujudan fisik tokoh, sedangkan teknik Nizami menggambarkan kecantikan fisik itulah yang disebut penokohan atau karakterisasi. Albertine Minderop dalam bukunya Metode Karakterisasi Telaah Fiksi (2005) mengelompokkan metode karakterisasi menjadi dua kelompok besar, yaitu metode langsung atau metode telling, dan metode tidak langsung atau metode showing. Metode langsung (telling) digunakan ketika pengarang menampilkan watak atau karakter secara langsung. Metode langsung (telling) mencakup karakterisasi (1) melalui penggunaan nama tokoh (characterization through the use of names), (2) melalui penampilan tokoh (characterization through appearance), (3) dan karakterisasi melalui tuturan pengarang (characterization by the author). Pandangan lain dikemukakan oleh Suminto A. Sayuti dalam bukunya Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000). Menurutnya bahwa cara penggambaran tokoh meliputi empat cara yaitu metode diskursif, dramatik, kontekstual, dan campuran. Metode diskursif sama artinya dengan metode analitik, metode telling atau metode langsung yaitu pengarang menyebutkan secara langsung masingmasing kualitas tokoh-tokohnya. Metode dramatik mengandung pengertian bahwa pengarang membiarkan tokoh-tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri melalui kata-kata, tindakantindakan, atau perbuatan mereka. Metode dramatis dapat dilakukan melalui (1) teknik naming (pemberian nama tertentu), (2) teknik cakapan, (3) teknik penggambaran pikiran tokoh atau apa yang melintas dalam pikirannya, (4) teknik strem of consciousness (arus kesadaran), (5) teknik pelukisan perasaan tokoh, (6) teknik perbuatan tokoh, (7) teknik sikap tokoh, (8) teknik pandangan seorang atau banyak tokoh terhadap tokoh tertentu, (9) teknik pelukisan fisik, (10) teknik pelukisan latar. Metode kontekstual ialah cara menyatakan karakter tokoh melalui konteks verbal yang


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 20 mengelilinginya. Terakhir adalah metode campuran yaitu metode karakterisasi melalui kombinasi beberapa metode pada sebuah cerita. Untuk dapat mengidentifikasi penokohan dalam sebuah cerita, pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi tokohtokoh dalam cerita. Kedua, mengidentifikasi ciri fisik tokoh beserta sifat atau karakter tokoh-tokoh tersebut. Ketiga, membuat pertanyaan panduan, “Bagaimana cara pengarang menggambarkan ciri fisik tokoh? Bagaimana cara pengarang mendeskripsikan sifat atau karakter masing-masing tokoh dalam cerita?” Contoh tokoh dan penokohan: Banyak orang yang pandai melatih merpati pos, tapi tak ada yang selihai Detektif M.Nur. ia bertangan dingin. Jika ini bisa disebut bakat, itulah bakat terbesarnya – dan satu-satunya. Dulu kakek Detektif M.Nur bertugas sebagai sopir mobil dinas seorang Belanda petinggi di maskapai timah. Kompeni itu penghobi burung merpati dan membawa berpasang-pasang merpati untuk menemaninya menunaikan tugas mulia penjajahan di Indonesia. Usai melaksanakan darma bhaktinya – harus ada h pada kata terakhir itu, demi menghormati agungnya tugas penjajahan – diwariskannya sepasang merpati ras Delbar asli Belgia pada kakek Detektif M.Nur. Delbar adalah ras burung dara yang amat cerdas, elegan, langka, dan mahal. Tak heran Jose Rizal tampan begitu rupa, ia berdarah Eropa. (Andrea Hirata, Padang Bulan, 2010:91) Wati ngikik. “eh An, gimana kalau kamu pilih si Iwan aja?” “Iwan?” “Iya. Cowok macho itu kayaknya keren banget deh. Kan cowok model gitu yang diidolain kita-kita. Bisa dijadiin tempat berlindung kalau ada yang mau jahil. (N.A. Huda, Selamat Datang Cinta, 2009:44) E. Latar (Setting) Kenney (1966:38) menyatakan bahwa latar merupakan elemen fiksi yang menyaran kepada tempat dan waktu kejadian dalam cerita. Dalam hal ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat dan waktu kejadian cerita merupakan bagian dari latar atau setting sebuah cerita. Pandangan lain dikemukakan oleh


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 21 Nurgiyantoro (2007:219). Menurut Nurgiyantoro bahwa latar dalam karya fiksi tidak terbatas pada penempatan lokasi-lokasi tertentu, atau sesuatu yang bersifat fisik saja, melainkan juga yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Latar waktu berkaitan dengan penempatan waktu di dalam cerita, latar tempat berkaitan dengan masalah geografis, menunjuk suatu tempat terjadinya peristiwa dalam cerita, dan latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan dalam cerita (Darmawan, 2003:20). Contoh latar tempat: Di lereng gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk Garut yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung itu sendiri dari kurang lebih dua ratus rumah besar kecil. Yang kecil yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin, dan yang besar ialah milik petani-petani ”kaya” (artinya yang mempunyai tanah kurang lebih sepuluh hektar) yang di samping bertani, bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk dan hasil bumi lainnya.... (Achdiat K. Mihardja, Atheis, 1992:16) Contoh latar waktu: Sore ini, setelah hujan lebat sepanjang hari, terbentuk pelangi sempurna, setengah lingkaran penuh, terang benderang dengan enam lapis warna. Ujung kanannya berangkat dari Muara Genting seperti pantulan permadani cermin sedangkan ujung kirinya tertanam di kerimbunan hutan pinus di lereng Gunung Selumar. Pelangi yang menghujam di daratan ini melengkung laksana jutaan bidadari berkebaya warna-warni terjun menukik ke sebuah danau terpencil, bersembunyi malu karena kecantikannya. (Andrea Hirata, Laskar Pelangi, 2007:160) Contoh latar sosial budaya: .... Kucopoti topi yang menutupi kopiah putihku. Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca mata hitamku. ”Ya jama’ah, shalli ’alan nabi, shalli ’alan nabi!” ucapku pada mereka sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan mengajak membaca shalawat. Entah riwayatnya


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 22 dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh Mesir, jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan meredamnya pertamatama adalah dengan mengajak membaca shalawat. Shalli ’alan nabi, artinya bacalah shalawat ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur. (Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, 2007:44) Selain tiga jenis latar di atas, terdapat jenis latar lain seperti dikemukakan oleh Tuloli (2000:56-57), yaitu latar netral dan latar tipikal. 1. Latar Netral Latar netral adalah gambaran latar yang bersifat umum. Latar ini tidak menunjuk sesuatu yang khusus, tetapi bisa saja terdapat di mana-mana dan kapan saja. Kurang jelas dan kurang pasti, tempat dan waktu yang ditunjuk. Tidak terlalu penting dimana dan kapan peristiwa itu terjadi. Latar tepat misalnya hanya diungkapkan “di suatu kota” atau “di suatu tempat”. Demikian pula latar waktu hanya disebut “pada suatu hari”, atau “pada suatu pagi”, dan hari atau pagi yang mana tidak diutamakan. 2. Latar Tipikal Latar tipikal adalah latar yang menunjukkan tempat dan waktu yang khusus. Pengarang ingin menonjolkan gambaran dan warna suasana yang ada pada suatu tempat, atau suatu saat (waktu) tertentu. Misalnya digambarkan kota Jakarta, pada masa revolusi atau zaman pendudukan Jepang. Dalam novel Pengakuan Pariyem, dan Sri Sumarah, tergambarkan latar khusus dari Yogyakarta. Dalam Siti Nurbaya juga tergambarkan latar sosial di masyarakat Sumatera Barat pada waktu cerita itu diciptakan. Kesan yang diberikan oleh latar tipikal lebih menyentuh perasaan pembaca dibandingkan dengan latar netral. Kehadiran latar dalam sebuah cerita mempunyai beberapa fungsi, yaitu latar sebagai metafora, latar sebagai atmosfer, dan latar sebagai pengedepanan (Sayuti, 2000:132). Fungsi metafora artinya, latar berfungsi sebagai proyeksi atau objektifikasi keadaan internal tokoh-tokohnya atau kondisi spiritual tertentu. Fungsi atmosfer artinya, latar berfungsi memberikan kesan atau gambaran


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 23 keadaan/suasana emosional tertentu yang dirasakan oleh pembaca. Fungsi pengendapan artinya, latar berfungsi menonjolkan waktu dan tempat sehingga dapat menjadi sama pentingnya dengan unsur prosa fiksi lainnya, seperti tokoh dan alur. F. Alur (Plot) Alur adalah rangkaian peristiwa yang dijalin berdasarkan urutan waktu maupun hubungan sebab-akibat sehingga membentuk satu kesatuan yang padu, bulat, dan utuh dalam suatu prosa fiksi (Darmawan, 2003:12). Secara umum, terdapat tiga susunan alur atau plot, yaitu peristiwa pertama (awal) sebagai yang memulai peristiwa, peristiwa kedua (tengah) yang menjadi puncak-puncak kejadian, dan peristiwa ketiga (akhir) yang menuju pada penyelesaian (Tuloli, 2000:20). Untuk jelasnya rincian alur tersebut, seperti tergambar pada struktur alur berikut ini. Struktur Plot/Alur 1. Peristiwa pertama (awal), meliputi: a. Eksposisi (paparan) : perkenalan tempat kejadian, waktu, topik, dan tokoh-tokoh. b. Inciting moment (rangsangan) : pengembangan problemaproblema dalam peristiwa. c. Rising action (gawatan) : problema itu mulai meningkat sehingga terjadi konflik. Pada bagian awal cerita, biasanya berisi perkenalan tokoh utama cerita, deskripsi keadaan latar tempat/alam, waktu dan suasana. Rumitan Gawatan Rangsangan Paparan Akhir Klimaks Selesaian Awal Tengah Akhir


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 24 Contoh peristiwa yang diawali perkenalan tokoh utama cerita seperti pada novel Lain yang Kudapat karya A. Totabuan Syukur berikut ini. Seperti namanya, Nur adalah cahaya. Dia bintang sekolah! Bukan sekadar bintang di pelajaran tapi juga dikecantikan, kebijaksanaan dan kesederhanaan. Sebagai bintang, banyak yang menyukainya. Anak pejabat dan kaya mendekatinya. Namun, entah mengapa, dia malah memilih dekat denganku yang tak punya apa-apa. Memang aku kedua setelah dia. Tapi umumnya perempuan yang akan lebih memilih mendekati lelaki yang punya kelebihan dibandingkan dengannya. Ya, mungkin juga Nur bukan perempuan yang umum! Pada penggalan awal cerita di atas, pengarang memperkenalkan tokoh utama ceritanya yaitu Nur. Tokoh Nur diperkenalkan sebagai seorang pelajar yang tidak hanya pintar, namun cantik, bijaksana, dan sederhana. Bagian awal cerita yang mendeskripsikan tempat/alam sebegaimana tampak pada penggalan novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere-Liye di bawah ini. Apalagi yang hendak diucap, kota ini elok nian di pelupuk mata. Begitu indah ketika semburat matahari muncul di kejauhan horizon cakrawala. Membuat jingga hamparan laut yang beriak tenang. Burung camar melengking mengisi senyapnya udara pagi. Ombak pelan menggulung bibir pantai. Buih membasuh butiran pasir yang halus bagai es krim saat diinjak. Latar alam yang digambarkan dalam penggalan novel dia atas adalah keelokan tepian pantai dengan suasana alamnya yang sejuk. Bagian awal cerita dengan deskripsi latar waktu dan suasana seperti dalam penggalan cerpen ” Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin” karya Helvy Tiana Rosa berikut ini. Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul dari bangunan yang telah menjadi arang.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 25 Deskripsi latar waktu malam dalam penggalan cerita di atas sangat jelas. Ditambah dengan gambaran suasana yang sunyi dan mencekam. 2. Pristiwa kedua (tengah), meliputi: a. Complication (rumitan) : konflik semakin ruwet dan makin tinggi. b. Climax (klimaks) : kerumitan mencapai puncak. Contoh tahap plot tengah: Anak-anak SMA 2 pada geger. Berita hari itu memang benar-benar mencengangkan. Liza beserta grup bandnya mengalami kecelakaan yang parah. Dua dari mereka telah meninggal dunia karena kecelakaan itu, sementara Liza dan empat temannya yang lain menderita luka-luka berat. Mobil mereka pun ringsek dicium minibus yang telah menggagalkan acara pentas mereka itu. (N.A. Huda, Pelangi Masih Bernyanyi, 2009:106) 3. Peristiwa ketiga (akhir), meliputi: a. Falling action (akhir) : konflik menurun, emosi yang memuncak berkurang. b. Denouement (selesaian) : penyelesaian problema. Contoh tahap plot akhir: Kedua insan itu kembali bertasbih menyempurnakan ibadah mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan rasul yang mulia. Pagi begitu indah. Sang surya mengintip malu di balik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan bersembahyang. Pagi itu Azzam dan Anna kembali merasa menjadi hamba yang sangat disayangi Tuhan. Fa biayyi aalai Rabbikuma tukadzibaan! (El Shirazy Ketika Cinta Bertasbih 2, 2008:406) G. Sudut Pandang (Point of View) Klarer (2004) menyebut istilah”sudut pandang” atau poin of view dengan istilah narrative perspective. Sudut pandang (ponit of view atau narrative perspective) merujuk pada cara seorang pengarang menyampaikan atau menyajikan sebuah cerita. Pada saat menyampaikan atau menyajikan cerita, seorang pengarang pasti


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 26 memosisikan dirinya baik sebagai bagian dari cerita maupun berada di luar cerita. Dalam hal ini, pengarang dapat terlibat langsung dalam pengisahan tokoh cerita, namun dapat pula menjadi pengamat atau pelapor dari kisah tokoh cerita. Keterlibatan pengarang langsung dalam pengisahan tokoh cerita biasa ditandai dengan penggunaan pronomina ”aku”, ”saya”, maupun ”kami”. Sementara posisi pengarang sebagai pengamat atau pelapor kisah tokoh cerita biasanya ditandai dengan penggunaan pronomina ”dia”, atau ”mereka”. Oleh sebab itu, secara garis besar sudut pandang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu sudut pandang orang pertama atau ”akuan” dan sudut pandang orang ketiga atau ”diaan”. Lebih detail lagi, Stanton (2012:53) membagi empat tipe sudut pandang, yaitu orang pertama-utama, orang pertamasampingan, orang ketiga-terbatas, dan orang ketiga-tidak terbatas. 1. Sudut pandang orang pertama-utama Sudut pandang orang pertama-utama adalah teknik penyajian cerita dengan cara pengarang langsung menceritakan kisah dari tokoh cerita. Sudut pandang ini ditandai dengan penggunaan pronomina ”aku”. Si ”aku” sendiri yang menceritakan semua hal tentang dirinya, baik yang berupa fisik, mental, pikiran, perasaan, maupun peristiwa yang dialaminya. Keterlibatan langsung pengarang dalam cerita inilah yang menyebabkan pembaca menganggap kisah dan tokoh si ”aku” dalam cerita tersebut adalah si pengarang dengan kisahnya yang sebenarnya. Sudut pandang orang pertama-utama disebut juga sudut pandang akuan-sertaan (Sayuti, 2000:159) atau sudut pandang ”aku” tokoh utama (Nurgiyantoro, 2007:263). Contoh: Aku berlarian ke sana-ke mari, dari rumah ke kebun, seperti mencari sesuatu, walau sebenarnya tidak ada yang kucari selain dari jiwaku yang telah hilang. Setelah lelah berlarian, aku berteduh untuk sejenak beristirahat di bawah rindangnya dedaunan pohon tilia. Kulihat sekuntum bunga yang indah, yang membuatku seperti terbang menuju alam khayal yang mengagumkan. Bagai burung


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 27 yang terbang di angkasa, kuarungi alam khayal. Dan aku tenggelam di laut khayal lama sekali. (Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, Magdalena, 2004:3) 2. Sudut pandang orang pertama-sampingan Sudut pandang orang pertama-sampingan masih ditandai oleh penggunaan pronomina ”aku”. Akan tetapi, si ”aku” hanya mengantarkan cerita kepada tokoh lain yang sebenarnya menjadi fokus cerita. Tokoh lain tersebut yang nantinya menjadi tokoh utama cerita. Setelah cerita tiba pada tokoh utama, si ”aku” membiarkan tokoh utama menceritakan sendiri kisahnya, dan si ”aku” akan kembali pada akhir cerita. Sudut pandang orang pertama sampingan disebut juga sudut pandang akuantaksertaan (Sayuti, 2000:160) atau sudut pandang ”aku” tokoh tambahan (Nurgiyantoro, 2007:264). Contoh: Pada suatu malam, ia sedang duduk seorang diri di atas sebuah bangku yang berhamparkan daun kurma berjalin, memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit. Saya beranikan hati mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi kedukaan hatinya. (Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah) 3. Sudut pandang orang ketiga-terbatas Sudut pandang orang ketiga-terbatas ditandai dengan penggunaan pronomina ”dia” atau dengan menyebut nama tokoh tersebut. Dalam sudut pandang orang ketiga, pengarang berada di luar cerita. Pengarang hanya berperan untuk melaporkan berbagai hal yang didengar, dilihat, dirasakan, dipikirkan, dan yang dialami tokoh, namun terbatas hanya pada satu orang tokoh (Stanton, 2012:54). Dari sekian banyak tokoh dalam cerita, namun yang menjadi fokus pengisahan cerita hanya satu atau beberapa tokoh saja. Contoh: Satu persatu mereka datang. Orang yang terawal sekali datang ialah Along. Memandangkan dia seorang pegawai eksekutif dari Pejabat Kementerian Pendidikan, maka tidak heranlah jika dia


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 28 datang sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditetapkan. Apabila dia sadar, dialah orang yang pertama tiba di situ, dia mulai mondar-mandir sambil asyik melihat jam Rolexnya. Mukanya kelihatan serius. (Djohan bin Abdul Rahman, Sesi Senda, 2005:86) 4. Sudut pandang orang ketiga-tidak terbatas Dalam sudut pandang orang ketiga-tidak terbatas, pengarang berada pada posisi yang serba tahu terhadap berbagai hal tentang tokoh-tokohnya. Pengarang tidak hanya mampu mendeskripsikan hal-hal fisik yang dapat diamati, namun mampu memasuki pikiran dan perasaan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Tidak hanya satu tokoh, pengarang pun dapat mendeskripsikan fisik, pikiran, dan perasaan lebih dari satu tokoh yang diciptakannya dalam cerita. Oleh sebab itu, sudut pandang ini sering disebut sudut pandang diaan serba tahu (Tuloli, 2000:39) atau ”Dia” Mahatahu (Nurgiyantoro, 2010:257). Contoh: Setengah jam kemudian, wanita itu telah melakukan hal yang sama terhadap Sukro, hampir saja wanita itu terbahak-bahak karena begitu gembiranya sudah hampir berhasil menuntaskan tuntutan hatinya. Ilung curiga dengan suara tawa wanita dari arah di mana Sukro sedang tidur sendirian. Belum sempat Ilung menengok ke dalam, kepalanya dihajar sepotong kayu sebesar betis, meleset. Ilung mengambil posisi, lagi-lagi wanita itu menghujamkan pisaunya ke arah leher, wajah, dan dada. Ilung sigap, tapi tak urung lehernya tergores dan pergelangan tangannya terluka parah. Menghadapi wanita yang ternyata Tini penjual nasi bungkusan langganannya yang sedang kalap itu, Ilung menghindar, lari dan berteriak minta tolong. Wanita itu mengejar sambil mendesis menakutkan. (Safari Nurzaman, Yang Terjajah Iblis, 1997:155) H. Gaya (Style) Dalam pengertian umum, gaya atau style merujuk pada cara melakukan sesuatu (Coupland, 2007:1). Setiap orang pasti mempunyai gaya sendiri dalam melakukan sesuatu yang


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 29 membedakannya dengan orang lain. Sebagai contoh konkret, dua orang guru yang mengajarkan materi yang sama, pasti mempunyai gaya yang berbeda dalam penyajiannya. Dalam konteks kesastraan, Abrams (1971:165) mendefinisikan gaya sebagai cara pengungkapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu kepada orang lain (pembaca). Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy merupakan contoh pengarang novel-novel best seller. Karya-karya mereka merupakan karya yang sezaman, namun mereka mempunyai gaya masingmasing dalam menyampaikan cerita. Demikian pula novel-novel karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Walaupun karya keduanya dapat digolongkan sebagai karya-karya beraliran naturalisme, gaya penceritaan mereka berbeda satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, perbedaan gaya bahasa setiap pengarang sastra sangat dipengaruhi oleh (1) asal daerah kelahiran, (2) aktivitas atau rutinitasnya, (3) tingkat pendidikan, (4) masa atau zaman ketika karya sastra tersebut diciptakan (Didipu, 2012:186). Pengamatan gaya bahasa dalam prosa fiksi dapat merujuk pada pendapat Luxemburg dkk, (1991:59) yang membagi gaya ke dalam 3 bidang, yaitu (1) pilihan kata, (2) pola kalimat dan bentuk sintaksis, (3) bentuk semantik. Gaya pilihan kata mencakup penggunaan kata-kata khusus atau umum, kata-kata abstrak atau konkret, penggunaan campur kode (bahasa asing maupun daerah), dialek serta kolokial. Gaya kalimat berhubungan dengan kompleksitas kalimat yang digunakan, sifat kalimat, maupun konstruksi kalimat. Sementara gaya semantis berhubungan dengan penggunaan ragam majas. Contoh gaya kata dapat dilihat dari penggunaan gaya bahasa (dialek) santai oleh N.A. Huda dalam kumpulan cerpen remaja Selamat Datang Cinta berikut ini. .... Nggak sengaja (bener-bener nggak sengaja) seorang cowok jangkung yang juga lagi buru-buru, menabraknya. Map Garfield di tangan Vonni pun terlepas. Bukunya jatuh berceceran. ”Mata kamu dikemanain sih? Main tabrak aja!” bentak Vonni sewot.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 30 ”Maaf deh, nggak sengaja,” jawab cowok itu sembari ngebantuin Vonni ngeberesin buku-bukunya yang berceceran. ”Maaf sih maaf. Tapi map Garfieldku jadi peot tau!” Vonni masih sewot. .... (Cowok Tetangga) Contoh gaya kalimat dengan konstruksi kalimat yang panjang dapat dilihat dari kutipan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berikut ini. Selama seminggu menunggu kedatangan Kemis Pahing tak ada sesuatu yang berkesan tercatat di Dukuh Paruk. Atau, katakanlah, Srintil menjadi lebih ketat mendekap Goder karena Tampi bunting lagi. Sementara Dukuh Paruk yang tua kelihatan makin renta oleh udara yang lebih dingin. Kemarau datang lagi ke Dukuh Paruk buat kesekian juta kali. Dan Dukuh Paruk selalu menyambutnya dengan ramah. Kepiting membuat lubang lebih dalam di tepi pematang agar dirinya masih bisa mendapat air tanah. Siput mengunci diri dalam rumah kapurnya, pintunya dilak dengan lendir beku agar tidak setitik uap air pun bis masuk. Siput dan binatang-binatang lunak sejenisnya akan beristirahat panjang hingga musim penghujan mendatang. (Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, 2011:204) Berikut contoh gaya semantis berupa bahasa figuratif atau majas dalam novel Merajut Pelangi Duka karya Mira Karmila. Suara Ayu parau. Matanya berkaca-kaca. Keindahan itu memang sudah tercabik-cabik. Keindahan itu memang sudah buram. Dan Ayu merasa sudah terhempas di lembah berbatu karang yang lancip, melukai dadanya, menghancurkan hatinya, dan mencabikcabik perasaannya. Hancur sudah impian itu! (Halaman: 209) -oo0oo-


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 31 Bab III UNSUR EKSTRINSIK PROSA FIKSI Unsur ekstrinsik merupakan unsur luar karya sastra. Yang dimaksud dengan unsur luar adalah berbagai aspek atau faktor luar teks yang secara tidak langsung mempengaruhi proses penciptaan sebuah karya sastra. Sebagai sebuah karya seni, kehadiran karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengaruh luar teks sastra itu sendiri. Sastra lahir dari tangan seorang pengarang yang tentu tidak dapat lepas dari kontaminasi luar dirinya yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi cara berpikir dan cara merasa dia terhadap segala sesuatu. Pengaruh tersebut ada yang langsung dialami atau dirasakan oleh pengarang, namun ada pula yang secara tidak langsung dialami misalnya melalui pengalaman dan pengamatannya terhadap realitas sosial. Unsur-unsur ekstrinsik dimaksud meliputi: aspek sosial, budaya, politik, pendidikan, religius, psikologi, ekologi, dan feminis.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 32 A. Aspek Sosial Aspek sosial atau aspek kemasyarakatan berkaitan dengan pola hubungan atau interaksi antarmanusia, masalah-masalah sosial, kedudukan sosial, serta berbagai dampak sosial dalam suatu kelompok masyarakat. Sebagai contoh, dalam novel Manusia Langit digambarkan tingginya kedudukan seorang guru di mata masyarakat Nias. Kata-kata seorang guru sangat dihargai dan dihormati. Dalam novel tersebut dikisahkan Tokoh Amőli menuntut denda 10 ekor babi kepada tokoh Mahendra dan Sayani karena dianggap telah berbuat kesalahan. Namun ketika tokoh Ama Firma mengusulkan agar Mahendra dan Sayani cukup membayar denda 4 ekor babi, Amőli maupun para tokoh adat lain tidak bisa berbuat apa-apa.. Ama Firma merupakan guru senior di Banuaha. Posisinya sebagai guru sangat dihormati dan disegani karena setiap pemikirannya dianggap sangat berwibawa dan bijak sehingga apa pun yang diusulkan selalu didengarkan. Tantangan dari Ama Firma tampaknya membuat Amőli tak berkutik. Posisi guru sangat dihormati di kampung itu, apalagi Amőli bekas murid Ama Firma. Semua yang sekolah dikampung itu pasti pernah brhadapan dengan Ama Firma karena ia guru senior. (Sonjaya, 2010:78) Guru menjadi sosok yang sangat dihormati dan disegani dalam konteks sosial masyarakat Nias di Banuaha. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, guru juga dianggap sebagai figur yang dapat diteladani perbuatan dan kata-katanya. Sosok guru menjadi sangat langka karena untuk menjadi seorang guru tentu harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang tinggi sehingga ia mampu mendidik anak-anaknya. Selain itu, tugas seorang guru yang memberikan pencerahan dan pendidikan kepada orang lain menjadikannya sebagai figur yang sangat disegani. Kasus lain terjadi pada tokoh Mahendra yang telah mendapat sanksi denda karena dianggap telah melanggar aturan adat di Banuaha. Selanjutnya ia disarankan menjadi guru relawan di Banuaha. Usulan tersebut langsung diterimanya dengan harapan status sosialnya akan kembali


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 33 baik setelah menjadi guru. Dengan menjadi guru, status sosial seseorang akan meningkat karena profesi guru merupakan profesi yang sangat dihormati di Banuaha. Contoh aspek sosial lainnya dapat ditemukan dalam novel Osakat Anak Asmat karya Ani Sekarningsih. Salah satu aspek sosial yang terdapat di dalam novel tersebut adalah pola hidup bergotong royong masyarakat suku Asmat di Papua. Hidup dalam satu komunitas mengharuskan masyarakat Asmat hidup secara bergotong-royong. Itulah dasar hidup orang Asmat. Seberat apapun suatu pekerjaan, jika dilakukan bersama-sama pasti akan terasa ringan. Semangat gotong royong ini ditanamkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya sejak dini dimulai dari kelompok kecil yaitu dari lingkungan keluarga. Anak-anak diajarkan untuk hidup bersama dalam keluarga sehingga dewasa nanti, mereka terbiasa dengan pola hidup seperti itu dalam lingkungan kelompok yang lebih besar. “Tak ada aturan begitu. Dasar hidup kita bergotong-royong. Kalau sekarang kamu tidak mampu megasuh, menjaga adikmu sendiri, bagaimana dewasa kelak? Bagaimana kamu memimpin kelompok kerjamu yang banyak adat? Semua perlu latihan dari lingkungan yang kecil. Mengasuh berarti juga mengawasi, yakni mengamati keselamatan adikmu, keamanan rumah, maupun kepentingan orang-orang dalam keluarga. Pada suatu ketika, latihan tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan rasa tanggung jawab terhadap keamanan lingkungan desa dan hutan kita.” Enakap mengisap rokoknya dalam-dalam. (Sekarningsih, 2002:43) Dalam lingkup yang lebih besar, aktivitas gotong-royong pada masyarakat Asmat menjadi lebih terasa. Hampir setiap aktivitas kelompok dilakukan secara bersama-sama. Ambil salah satu contoh prosesi upacara adat mbis atau upacara adat tonggak leluhur. Selama prosesi upacara tersebut, semua orang berkumpul di rumah adat jew, tidak ada yang terkecuali. Kelompok pemangku adat bermusyawarah dan memimpin proses upacara dari dalam rumah adat. Kelompok laki-laki bersama-sama pergi ke hutan untuk menebang pohon tou, bahu-membahu menggotong batang pohon tou, dan mengukirnya bersama-sama di rumah adat. Sementara


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 34 kelompok perempuan menabuh tifa dan mendendangkan lagu-lagu suci daiso. Semuanya dilaksanakan bersama-sama. Tidak ada sedikitpun keluh dalam diri mereka. Semuanya dilaksanakan dengan penuh suka cita karena kebersamaan yang dibangun mampu menghadirkan suasana yang kharmonis di antara mereka. Gotong royong hakikatnya dapat menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, seperti yang dicontohkan oleh masyarakat Asmat dalam berbagai aktivitas. Dengan kebersamaan, keselarasan cara hidup dan keharmonisan dalam lingkungan sosial akan terjalin dengan baik. Masyarakat Asmat telah membuktikan bahwa nilai kebersamaan yang menjadi prinsip dasar hidup mereka mampu menyatukan mereka. Satu dalam kebersamaan. Itulah makna gotong-royong yang sejak dulu hingga sekarang terus dijunjung tinggi oleh masyarakat Asmat. Kebersamaanlah yang menjadikan masyarakat suku Asmat sebagai salah satu suku di dunia yang masih eksis dan tetap komitmen dengan berbagai karakteristik budayanya. Kapan dan di mana pun orang Asmat berada, pola pikir dan pola tingkah laku yang sama pasti akan selalu tampak dari mereka karena buah dari nilai kebersamaan yang selalu dijaga. B. Aspek Budaya Aspek budaya berkaitan dengan kebiasaan, nilai-nilai, rutinitas, dan pola pikir suatu kelompok masyarakat yang dijadikan sebagai milik bersama dan dijadikan pedoman tertinggi dalam bertingkah laku. Contoh aspek budaya dalam karya prosa fiksi seperti tampak pada penggalan novel Upacara karya Korrie Layun Rampan dan novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry El Han berikut ini. Suku Dayak Benuaq sebagaimana digambarkan di dalam novel Upacara masih merupakan kelompok budaya yang hidup terpencil di pedalaman Kalimantan. Pola hidup mereka masih sangat tradisional. Masih memanfaatkan alam untuk kebutuhan hidup, masih meyakini kekuatan-kekuatan gaib dalam berbagai keperluan, termasuk untuk mengobati orang yang sedang sakit. Belum ada


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 35 dokter, belum ada obat-obatan produk pabrik farmasi. Semuanya masih tradisional dengan memanfaatkan balian atau dukun dan ritual-ritual serta ramuan-ramuan sebagai obatnya. Orang-orang Dayak Benuaq hidup dengan alam, sehingga setiap penyakit yang mewabah dianggap sebagai bagian dari gejala alam. Untuk itu, pengobatannya pun harus memanfaatkan kekuatankekuatan alam. Ketika ada orang sakit, satu-satunya orang yang dipercaya mampu mengobati adalah balian atau dukun. Balian ibarat dokter tradisional pada masyarakat setempat. Selain memahami seluk-beluk peradatan suku Dayak, balian juga dipercaya memiliki kekuatan atau ilmu ajaib yang mampu menyembuhkan penyakit. Dokter? Balian inilah dokternya. Tak ada dokter di sini, daerah terpencil. Peranan balian sangat menentukan dalam pengobatan dan upacara-upacara keagamaan. Tak bisa menolak, aku sendiri! Walau tak iman, tapi kenyataan berbicara sendiri atas diriku! Mulai sembuh sungguh-sungguh tak masuk akal! Bahkan Tuan Smith, guru besar itu pernah garuk-garuk kepala. Mengusap mata tak percaya. Seorang pasien, seorang gadis dengan bisul di punggung. Bisul bernanah, besar! Dan seorang balian, masih muda, lelaki. Dengan upacara, membedah, membuang nanah busuk, dan sembuh. Seketika sembuh! Tak ada bekas, tak ada. Tak sedikit pun ada bekas luka. Memang ajaib. Tak masuk akal. Tapi Tuan Smith menyaksikannya, orang barat itu. (Rampan, 2014:47) Kutipan di atas memperlihatkan salah satu contoh pengobatan tradisional yang dilakukan oleh seorang balian kepada seorang gadis yang menderita bisul di punggungnya. Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya, balian berhasil membedah dan membuang nanah busuk dari punggungnya. Seketika itu pula bisul itu sembuh. Aneh, tapi nyata. Namun itulah kepecayaan yang terus hidup pada masyarakat suku Dayak Benuaq. Bahkan, kekuatan gaib yang dimiliki oleh balian dipercaya mampu mengobati orang yang sedang sakit karena jiwanya disembunyikan oleh roh-roh jahat. Ini dilakukan dalam sebuah ritual upacara adat yang disebut balian. Contoh aspek kebudayaan lain dalam karya prosa fiksi dapat dilihat dalam novel Cinta Putih di Bumi Papua karya Dzikry El Han.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 36 Salah satu aspek kebudayaan orang Papua sebagaimana digambarkan dalam novel tersebut adalah artifak atau benda budaya yang disebut Gim. Gim merupakan sebuah benda berukuran kecil, seukuran cincin laki-laki dewasa, yang bentuknya menyerupai huruf U. Gim merupakan salah satu benda budaya masyarakat Patipi yang memiliki nilai adat tinggi. Benda ini bukan merupakan benda budaya yang disakralkan. Namun, nilai adatnya sangat tinggi sesuai dengan nilai sejarahnya. Tingginya nilai adat benda ini, menjadikannya sebagai salah satu benda langka yang sangat dihargai oleh masyarakat di Patipi. “Gim ini punya riwayat panjang, Atar. Jika Werfra sudah ajari kau tentang gim, kau pasti paham kalau harga sebuah gim ditentukan dengan dia punya sejarah. Semakin banyak gadis dari kalangan bangsawan yang dipinang dengan gim ini maka dia semakin berharga di mata adat”. (El Han, 2014:38). Tingginya nilai adat gim menjadikannya sebagai salah satu benda budaya yang dijadikan sebagai mahar atau mas kawin untuk melamar seorang gadis, selain gelang yana, gong mamoga meriam cadi. Jika benda lainnya dijadikan mas kawin untuk gadis-gadis pada umumnya, gim dikhususkan untuk melamar putri-putri raja Patipi. Semakin banyak putri bangsawan yang dilamar dengan menggunakan sebuah gim, berarti semakin tinggi pula nilai adat benda tersebut. Inilah yang menjadikan gim sebagai benda budaya yang memiliki nilai adat yang tinggi. C. Aspek Politik Aspek politik berkaitan dengan pandangan politik pengarang atau tokoh-tokoh dalam cerita serta potret kondisi pemerintahan di suatu daerah atau negara. Seperti tampak pada novel Negeri di Ujung Tanduk, Tere Liye sebagai pengarang memberikan pandangan politiknya. Salah satunya adalah pandangannya terhadap praktik perpolitikan di Indonesia. Dalam hal ini, pengarang melalui tokoh di dalam cerita mengkritik para petinggi partai yang tidak


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 37 mempedulikan para pendukungnya setelah partai mereka menang. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini. “Maka hadirin sekalian, rapatkan barisan kalian. Mari kita bersumpah satu sama lain untuk tetap setia. Setahun lalu kita berhasil memaksakan konvensi partai diadakan. Tidak boleh lagi calon presiden hanya ditentukan mereka, elite politik. Setahun lalu kita berhasil membuat ini nyata, satu-satunya partai dengan proses pemilihan kandidat presiden melalui konvensi yang melibatkan anggota partai. Saat semua ini sudah dekat sekali, tidak peduli dengan intrik politik yang mereka lakukan, fitnah kejam atas calon presiden kita, tidak peduli itu semua, kita harus terus maju. Tidak ada yang boleh mendiskualifikasi calon presiden kita. Tidak ada yang boleh membatalkannya. Penangkapan itu dusta, intrik politik untuk membunuh karakter. Kita semua pemilik partai ini, kitalah pemilik suaranya, maka kita sendiri yang akan menentukan nasib partai ini, bukan mereka.” (Liye, 2013:237) Dalam kutipan di atas, pengarang ingin menyampaikan kritiknya terdapat sistem kepartaian yang dijalankan selama ini di Indonesia. Sebuah partai yang besar hakikatnya dibangun dan disokong oleh eksistensi kadernya yang berada di bawah. Merekalah sebenarnya yang bekerja sekuat tenaga, bahkan nyawa terkadang menjadi taruhan. Sebaliknya, para petinggi atau elite partai hanya duduk manis di singgasana partai, menerima hasil dan jerih payah kadernya. Saat mencari suara dalam pertarungan pemilu, pilpres, maupun pilkada, kader dieluh-eluhkan. Namun, ketika partai menang dan menjadi besar, para elitelah yang berpesta pora. Terkadang calon presiden yang diinginkan oleh kader justru dibatalkan oleh para elite karena mungkin tidak mampu menjanjikan lebih kepada mereka. Mereka justru menjagokan figur yang sesuai dengan keinginan para elite. Mereka seolah melupakan kader di bawahnya yang menjadi pejuang nyata dari partainya. Inilah sekelumit kritik pengarang terhadap politik di Indonesia.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 38 D. Aspek Pendidikan Aspek pendidikan dalam karya sastra berkaitan dengan potret kondisi pelaksanaan pendidikan di suatu tempat atau suatu wilayah. Aspek pendidikan juga berkaitan dengan kandungan nilai moral atau nilai karakter yang bertujuan mengarahkan pembaca menjadi manusia yang beretika dan berjiwa luhur. Contoh aspek pendidikan dapat dilihat pada kutipan novel Mahligai di Ufuk Timur karya Suparto Brata dan novel Tanah Baru, Tanah Air Kedua karya Nh. Dini. Aspek pendidikan yang ada dalam novel Mahligai di Ufuk Timur karya Suparto Brata antara lain ditunjukkan oleh tokoh Ndara Mas Kus Bandarkum dan tokoh Den Rara Teyi. Dalam novel tersebut digambarkan masih banyaknya masyarakat Jawa yang belum mampu membaca dan menulis. Berangkat dari masalah tersebut, tokoh Ndara Mas Kus Bandarkum berencana untuk membangun sekolah agar masyarakat Jawa bisa membaca dan menulis. Ya, marilah kita dirikan sekolah untuk anak-anak Jawa semua saja. Untuk yang miskin dan untuk anak perempuan juga. Sekolah gampang-gampangan saja, agar anak-anak Jawa bisa baca-tulis. Tidak hanya bisa, tapi berbudaya baca-tulis. Dibiasakan gemar membaca buku cerita sejak anak-anak sampai gemar membaca buku selama hidupnya. Jangan putus menjadi penghayat budaya baca-tulis. Sampai menjadi Daidancho atau bercucu sepuluh orang masih gemar membaca buku cerita. Aku kira itu tidak terlalu sulit. Kutipan di atas menunjukan tingginya semangat seorang bangsawan Jawa yaitu Ndara Mas Kus Bandarkum dalam memberantas buta huruf di lingkungan masyarakatnya. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi masyarakat di sekitarnya yang tidak bisa membaca maupun menulis. Baca-tulis perlu diajarkan demi masa depan masyarakat Jawa. Tidak hanya sekadar mengajarkan baca-tulis, tokoh Ndara Mas Kus Bandarkum mempunyai kemitmen yang kuat untuk menjadikan aktivitas baca-tulis sebagai kegemaran dan menjadi sebuah kebudayaan atau rutinitas. Jika aktivitas


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 39 membaca dan menulis sudah membudaya, maka akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Jawa pada masa mendatang. Pada bagian lain novel Mahligai di Ufuk Timur dikisahkan tokoh Den Rara Teyi yang mempunyai semangat besar untuk terus belajar dan bekerja keras demi memerangi kebodohan dan kemiskinan. Dia belajar membaca dan menulis dari putri Parasi sehingga ia bisa membaca buku apa saja. Untuk bergaul sampai pada kedudukannya, Teyi bersusah-payah belajar, bergulat bertahun-tahun mengubah dirinya, anganangannya, cita-citanya, semangatnya, kejiwaannya. Teyi mendapatkannya dengan berlatih terus menerus sepanjang bergaul dengan putri Parasi. Teyi menghargai Putri Parasi sebagai sumber semanagatnya, kejiwaannya, kepandaiannya. … Sejak kecil Teyi dididik, untuk memerangi kemiskinan. Kemiskinan bukanlah takdir. Kehidupan bisa diubah dengan kerja keras. Bekerja, bekerja, bekerja, kata simbol. Lalu ia bertemu Putri Parasi. Dari putri Parasi ia mendapat tambahan. Kemiskinan dilindas dengan keinginan, dengan cita-cita, belajar, serta berlatih. Cita-cita dan belajar untuk tidak menjadi miskin, untuk menjadi bangsa Jawa yang berperadaban tinggi. Cita-cita dan belajar, artinya pendidikan. Oleh Putri Parasi, Teyi dididik, dibiasakan menjadi manusia pembelajar. Dalam kutipan novel tersebut tokoh Teyi mendapat motivasi dari seseorang yang memiliki pengetahuan luas. Dengan giat belajar yang dilakukan terus menerus telah merubah hidupnya menjadi seorang putri dari kerajaannya. Karena semasa kecilnya ia hidup dari keluarga yang serba kekurangan. Namun, atas dorongan dari orang tuanya untuk memerangi kemalasan dan kebodohan, dia terus dituntut untuk menjadi gadis yang cerdas agar nantinya hidup mengalami perubahan yang lebih baik. Semangatnya untuk menjadi bangsawan Jawa yang memiliki peradaban tinggi sehingga dapat membedakan dirinya dengan orang Jawa lainya. Dengan bekal pengetahuan yang diperolehnya selama bertahun-tahun telah melepaskannya dari kesengsaran hidup dan meraih cita-cita yang diinginkan. Banyak masyarakat Jawa yang bermasalah dengan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 40 kehidupan dan pendidikan. Jika malas bekerja keras dan belajar, maka hidup mereka akan bertahan pada kebodohan dan kemiskinan, Hal ini akan terus tumbuh jika tidak ada perubahan dari diri sendiri untuk menuju masa depan yang indah. Aspek pendidikan dalam karya prosa fiksi juga dapat ditemukan dalam novel Tanah Baru, Tanah Air Kedua karya Nh. Dini. Novel tersebut banyak menggambarkan kondisi pendidikan yang ada di wilayah pedalaman Kalimantan. Melalui karyanya, pengarang mencoba menyoroti potret pendidikan pada masyarakat pedalaman Kalimantan terutama masalah pemerataan pendidikan, baik dari segi fasilitas maupun ketersediaan tenaga pengajar atau guru. Hal tersebut seperti tampak pada kutipan novel berikut ini. Bagaimanapun juga, Samirin merasa diremehkan. Pembukaan sekolah di peolosok dengan murid permulaan dua puluh satu orang memang dapat dianggap tidak berarti. Kebalikannya, bisa pula dipandang sebagai lambang gemilangnya masa depan pelosok itu. Sepantasnyalah jika pemerintah daerah memperhatikanya. Status dari pusat, Sebamban termasuk wilayah kota baru. Sedangkan menurut masyarakat daerah Sebamban masuk kabupaten Tanah Laut. Sering kali terjadi kekisruhan dalam urusan adminstrasi karena perubahan status yang belum juga dihafal ataupun diketahui semua aparat pemerintah. Pada kutipan di atas digambarkan kondisi pendidikan di pedalaman Kalimantan yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Hal tersebut berdampak pada rendahnya minat dan semangat belajar masyarakat setempat. Perhatian pemerintah pusat lebih terfokus pada daerah-daerah perkotaan, dan rendahnya kepedulian mpemerintah daerah menyebabkan masalah pemerataan pendidikan. Minimnya fasilitas seperti bangunan sekolah maupun sarana pembelajaran, serta kurangnya tenaga pengajar yang ditugaskan di daerah pedalaman, mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan di pedalaman Kalimantan.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 41 E. Aspek Religius Aspek religius atau keagamaan berhubungan dengan keesaan tuhan serta bagaimana hubungan antarmanusia sesuai dengan tuntunan agama. Sebagai contoh, aspek religius tampak pada kutipan novel Mencari Cinta yang Hilang karya Abdulkarim Khiaratullah berikut ini. Bagaimana kalau kita lihat dari segi agama. Apakah pertunangan mereka melanggar aturan agama? tanya Ayah. Tentu! Mengapa? Karena dalam Islam, pernikahan satu saudara di larang dalam syariat. Menurut agama, hukumnya haram. Apa dalil yang Mamak pegang dalam pasal ini? Surat an-Nissa’ ayat dua puluh tiga. Di sana, Allah menegaskan bahwa tidak dibolehkan menikah dengan saudara permpuan. Ternyata, Mak Pakiah lebih bijaksana di banding Mak Katik walaupun usianya lebih muda. Barangkali, beliau di gelari pakiah yang bahasa arabnya faqih (Orang yang mengetahui ilmu agama) karena pemahaman beliau yang imbang antara hukum agama dan hukum adat. (Khiaratullah, 2012:327) Negeri Minang adalah negeri yang sangat kental dengan adat istiadatnya. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa masyarakat setempat meninggalkan hukum Islam. Sejak dulu negeri Minang dikenal sebagai negeri orang alim yang sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Salah satunya dalam tata perkawinan. Dalam Islam, Surat an-Nissa’ ayat dua puluh tiga, menikah dengan saudara sendiri hukumnya haram. Pernikahan satu saudara di larang dalam syariat, sehingga menurut agama Islam, hukumnya haram. Yang dimaksud saudara kandung adalah saudara kandung dalam artian sedarah atau sepersusuan. Contoh lain dapat dilihat pada novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El Shirazy. Sama halnya dengan novel Ayat-Ayat Cinta 1, novel terbaru ini juga kental dengan nuansa keagamaannya. Hampir setiap perilaku tokoh khususnya tokoh utama dalam cerita yaitu Fahri selalu dikaitkan dengan tuntunan syariat Islam. Di dalam


Click to View FlipBook Version