Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 92 stilistika dipandang sebagai penggunaan linguistik atau ilmu bahasa untuk mendekati teks sastra (Mcrae dan Clark, 2006:328). Atau dengan kalimat lain, analisis stilistika berfungsi untuk memahami teks sastra dengan dasar wawasan struktur linguistik (Simpson, 2004:3). Itulah sebabnya, modal utama dalam menerapkan teori stilistika adalah dasar pengetahuan seorang peneliti terhadap ilmu bahasa atau linguistik. Hubungan dua disiplin ilmu, yaitu linguistik dan sastra menyebabkan terjadinya dikotomi arah kajian atau penelitian stilistika. Teori stilistika dapat diterapkan dalam kerangka penelitian bahasa (linguistik), dan dapat pula diterapkan dalam penelitian sastra. Oleh sebab itu, secara umum, dibedakan dua jenis stilistika yaitu stilistika linguistik atau linguistics stylistics dan stilistika sastra atau literary (poetic) stylistics (Missikova, 2003:15). Persamaan antara stilistika linguistik maupun stilistik sastra terletak pada objek kajian yaitu bahasa dalam karya sastra, karena stilistika menurut Wynne (2005:1) dan Crystal (2000:99) adalah kajian terhadap bahasa sastra. Dengan kalimat lain, baik stilistika linguistik maupun stilistika sastra, yang menjadi objek materialnya sama yaitu teks sastra. Perbedaan keduanya terletak pada tujuan akhir kajian atau penelitian tersebut. Pertama, orientasi akhir kajian stilistika linguistik (linguistics stylistics) hanya untuk mendeskripsikan berbagai fenomena kebahasaan dalam karya sastra, tanpa memperhatikan efek estetika dari penggunaan bahasa tersebut. Dalam hal ini, teks sastra hanya dijadikan objek material penelitian linguistik seperti halnya teks-teks pada umumnya, seperti teks surat kabar, pidato, maupun percakapan umum. Teks sastra dapat diteliti dari aspek fonologis, morfologis, sintaksis, wacana, sosiolinguistik, pragmatik, dan sebagainya, tanpa harus mempertimbangkan efek estetis dari aspek-aspek kebahasaan tersebut. Stilistika linguistik tidak lain hanyalah berupa penerapan teori linguistik untuk mengungkap berbagai unsur kebahasaan dalam teks sastra. Penerapan teori linguistik pada sastra ini, menurut Fabb (2003:446)
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 93 lazim dikenal dengan istilah “linguistik sastra” atau “literary linguistics”. Kedua, stilistika sastra (literary stylistics) selain mengungkap atau mendeskripsikan berbagai aspek linguistik, yang lebih utama lagi adalah deskripsi efek estetika dan kandungan makna di balik berbagai aspek linguistik tersebut. Dalam stilistika sastra, teks sastra diasumsikan sebagai teks kebahasaan yang memiliki ciri unik dan khas, berbeda dengan teks-teks pada umumnya. Tujuan utamanya adalah mengungkap hakikat yang terselubung di balik berbagai fenomena kebahasaan tersebut. Hakikat yang menjadi tujuan utama dari sastra, yaitu dulce et utile (menghibur dan bermanfaat), atau dalam istilah Bressler (1999:12) disebut to teach (mengajar) dan to entertain (menghibur). Dengan demikian, selain mendeskripsikan aspek-aspek linguistik, kajian stilistika sastra harus sampai pada efek estetika serta mampu mengungkap makna di balik bahasa yang estetis tersebut. Objek kajian stilistika adalah gaya bahasa (style). Dalam pengertian umum, gaya atau style merujuk pada cara melakukan sesuatu (Coupland, 2007:1). Dalam konteks kesastraan, style atau gaya bahasa dapat diartikan sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Studer, 2008:1). Dengan menggunakan gaya bahasa, imajinasi yang diciptakan oleh pengarang dapat dideskripsikan dengan cara yang lebih segar (Reaske, 1966:33). Kajian stilistika melingkupi unsur-unsur gaya bahasa dalan karya sastra. Adapun jenis unsur gaya bahasa tersebut dapat mengikuti dua pendapat ahli berikut ini. Pertama, pandangan Abrams (1971:165-166) yang menyatakan bahwa gaya sebuah karya sastra atau penulis dapat dianalisis dari aspek diksi (diction) atau pilihan kata, struktur kalimat (sentence structure) dan sintaksis (syntax), kepadatan dan tipe-tipe bahasa figureatifnya (figureative language), pola-pola ritme (rhythm)dan komponen bunyi-bunyi (sounds), ciri-ciri formal lain, dan tujuan serta sarana retorisnya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 94 Pendapat Abrams ini lebih cocok diterapkan pada analisis gaya bahasa genre puisi. Kedua, pandangan yang dikemukakan oleh Luxemburg dkk, (1989:59). Menurut mereka bahwa pengamatan mengenai gaya dibagi dalam 3 bidang, yaitu (1) pilihan kata, (2) pola kalimat dan bentuk sintaksis, (3) bentuk semantik. Pandangan Luxemburg, dkk ini lebih tepat digunakan untuk menganalisis gaya bahasa genre prosa fiksi. Kaitannya dengan prosedur penerapan teori stilistika dalam penelitian/kajian sastra, Wellek dan Warren (1989:226) menyebutkan dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika. Pertama, dimulai dengan analisis sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, dan dilanjutkan dengan interpretasi tentang ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya tersebut sebagai “makna total”. Dalam hal ini, gaya akan muncul sebagai sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya. Kedua, mempelajari sejumlah ciri khas membedakan sistem satu dengan sistem-sistem lain. Dalam hal ini, metodenya adalah pengkontrasan. 6. Kajian Sosiologi Sastra Sosiologi sastra merupakan salah satu teori dalam sastra yang bersifat interdisiplin. Sosiologi sastra merupakan perpaduan dari dua disiplin ilmu yang berbeda, yaitu sosiologi dan sastra. Secara singkat, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan sosial (Soekanto, 2005:57), sedangkan sastra adalah karya rekaan yang merupakan lukisan-lukisan kehidupan atau pencerminan dari kehidupan nyata manusia sehari-hari (Arafah, 2011:5). Dari dua pengertian singkat tersebut, jelas bahwa sosiologi dan sastra mempunyai hubungan yang erat karena keduanya berurusan dengan masyarakat. Bedanya adalah, objek sosiologi adalah masyarakat dalam interaksi kehidupan manusia di dunia nyata, sedangkan objek sosiologi sastra adalah masyarakat yang terefleksi, tercermin, atau terepresentasi lewat karya sastra, yaitu dunia dalam kata-kata.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 95 Dengan demikian, jika kajian sosiologi lebih bersifat objektiffaktual, maka sosiologi sastra lebih bersifat subjektif-imajinatif. Fakta sosial dalam sastra tidak dapat dinafikan lagi, karena kapan dan di mana pun sastra diciptakan, selalu merefleksikan situasi sosial masyarakatnya. Baik pengarang sebagai penciptanya, karya sebagai ciptaan, bahasa sebagai medium, hingga pembaca sebagai penikmat karya sastra, tidak dapat dilepaskan dari konteks realitas sosial. Hubungan antara keempat komponen tersebut dengan konteks sosial tampak jelas pada pandangan Damono (2002:1) berikut ini. Sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat; ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya; bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sosiologi sastra berangkat dari prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi/cerminan masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis. Sebagai anggota masyarakat, penulis tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial budaya, politik, keamanan, ekonomi dan alam yang melingkupinya. Selain merupakan suatu eksperimen moral dituangkan oleh pengarang melalui bahasa, menurut Damono (1978:1) sastra dalam kenyataannya menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial. Model kajian sosiologi sastra cukup beragam, bergantung dari perspektif teoretis yang digunakan. Beberapa di antaranya seperti diuraikan berikut ini. Wellek dan Warren (1989:111) mengemukakan tiga sasaran pendekatan sosiologi sastra. Pertama, sosiologi pengarang yang membicarakan latar belakang status sosial pengarang, ideologi sosial pengarang, dan faktor lain tentang pengarang sebagai penghasil
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 96 karya sastra. Kedua, sosiologi karya sastra, yaitu isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri yang yang berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga, sosiologi pembaca sastra, yang mengkaji masalah pembaca dan pengaruh sosial karya sastra iru bagi pembaca. Laurenson dan Swingwood (dalam Endraswara, 2011:79) mengemukakan tiga perspektif sosiologi sastra. Pertama, penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra itu diciptakan. Kedua, penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya. Ketiga, penelitian yang menangkap sastra sebagai manifesitasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya. Watt (dalam Damono, 2002:4-6) membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Pertama, konteks sosial pengarang. Teori pertama ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Selain itu, termasuk juga faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Teori ini melihat sampai sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hal ini kita terlibat dalam pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial?” dan “sampai berapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial?”. Perspektif baru dalam kajian sosiologi sastra seperti dikemukakan oleh Robert Escarpit (2005). Escarpit lebih menitikberatkan perhatian pada masalah produksi sebuah karya sastra. Dalam pandangan Escarpit (2005:74), mempunyai tiga peranan dalam produksi sebuah karya sastra, yaitu (1) memilih, (2) membuat, dan (3) mendistribusikan buku. Ketiga kegiatan tersebut saling berkait dan sifatnya berkelanjutan. Dengan berdasarkan pada pandangan Escarpit, Wiyatmi (80) menguraikan beberapa masalah yang dapat dikaji dalam kaitannya dengan sosiologi penerbitan dan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 97 distribusi karya sastra. di antaranya, (1) bagaimana sebuah naskah dipilih untuk diterbitkan?, (2) faktor-faktor sosiologis apa sajakah yang mendasarinya?, (3) bagaimanakah sebuah buku dicetak dan diterbitkan?, (4) faktor-faktor sosiologis apa sajakah yang mendasarinya?, (5) bagaimanakah sebuah buku didistribusikan?, (6) faktor-faktor sosiologis apa sajakah yang mendasarinya?, (7) bagaimana hubungan antara penerbit dengan penulis?, (8) bagaimanakah pembayaran (royalti) diberikan pada para penulis? 7. Kajian Psikologi Sastra Seperti halnya teori sosiologi sastra, teori psikologi sastra pun bersifat interdisipliner karena dibangun dari dua disiplin ilmu, yaitu psikologi (ilmu jiwa) dan sastra. Jika dilihat secara terpisah, maka antara psikologi dan sastra jelas berbeda. Psikologi merujuk pada kajian ilmiah tentang berbagai aktivitas mental manusia, yang dapat diamati secara nyata. Sementara sastra lebih bersifat abstrak, fiktif dan imajinatif baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama. Walaupun demikian, psikologi dan sastra menurut Siswantoro (2005:29) memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Psikologi sastra mengamati berbagai gejala psikologi pengarang dan tokoh yang tercermin dalam karya sastra, serta pengaruh psikologi karya sastra terhadap pembacanya. Endraswara (2008:96-97) menyebutkan beberapa asumsi dasar yang menjadi landasan pijak kajian psikologi sastra. Pertama, adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi tengah sadar atau subconscious setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar (conscious). Antara sadar dan tak sadar selalu mewarnai dalam proses imajinasi pengarang. Kekuatan karya sastra dapat dilihat seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu kedalam sebuah cipta sastra. Kedua, kajian psikologi sastra disamping meneliti perwatakan tokoh secara psikologis juga aspek-aspek pemikiran dan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 98 perasaan pengarang ketika menciptakan karya tersebut. Seberapa jauh pengarang mampu menggambarkan perwatakan tokoh sehingga karya menjadi semakin hidup. Sentuhan-sentuhan emosi melalui dialog atau pun pemilihan kata, sebenarnya merupakan gambaran kekalutan dan kejernihan batin pencipta. Kejujuran batin itulah yang akan menyebabkan orisinalitas karya. Dasar pemikiran psikologi sastra berangkat dari pandangan Sigmund Freud yang terkenal dengan teori psikoanalisis. Psikoanalisis itu sendiri bukanlah merupakan ilmu yang baru, karena sebelum psikoanalisis dikenal dan diterapkan dalam usaha pengkajian sastra, psikoanalisis merupakan nama yang dikaitkan dengan sebuah metode perawatan medis terhadap pasien-pasien yang menderita gangguan saraf (Freud, 2009:2). Freud (dalam Ryan, 2011:131) membagi pikiran menjadi alam sadar dan bawah sadar. Untuk selanjutnya, Freud mengajukan topografi ego (atau pikiran sadar), superego (atau nurani), dan id (atau pikarn bawah sadar). Wellek dan Warren (1989:90) berpendapat bahwa psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan penelitian. Pertama, penelitian terhadap psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Studi ini cenderung ke arah psikologi seni. Peneliti berusaha menangkap kondisi kejiwaan seorang pengarang pada saat menelorkan karya sastra. Kedua, penelitian proses kreatif dalam kaitannya dengan kejiwaan. Studi ini berhubungan pula dengan psikologi proses kreatif. Bagaimana langkah-langkah psikologis ketika mengekspresikan karya sastra menjadi fokus. Ketiga, penelitian hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dalam kaitan ini, studi dapat diarahkan pada teori-teori psikologi, misalnya psikoanalisis ke dalam sebuah teks sastra. Asumsi dari kajian ini bahwa pengarang sering menggunakan teori psikologi tertentu dalam penciptaan. Studi ini yang benar-benar mengangkat teks sastra sebagai wilayah kajian. Keempat, penelitian dampak psikologis teks sastra kepada pembaca. Studi ini lebih cenderung ke arah aspek-aspek pragmatik psikologis teks sastra terhadap pembacanya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 99 Pendapat lain dikemukakan oleh Endraswara dalam bukunya Metode Penelitian Psikologi Sastra (2008). Menurut Endraswara bahwa kajian yang lebih spesifik tentang psikologi sastra, mencakup: (1) psikologi pengarang, (2) psikologi pembaca, (3) psikologi penokohan, (4) psikoanalisis sastra, (5) psikologi kreativitas cipta sastra, (6) psikologi kreativitas baca sastra, dan (7) psikologi sastra anak. Melakukan kajian terhadap aspek psikologi dalam karya sastra bukanlah suatu pekerjaan mudah. Perlu ketelitian dan kehatihatian dalam usaha kajiannya. Hal ini jelas karena tidak semua karya sastra tepat untuk dikaji dengan psikologi sastra, walaupun semua karya sastra berisi ekspresi kejiwaan pengarangnya. Sebuah karya sastra yang dikaji dengan psikologi sastra harus benar-benar menampakkan gejala psikologi yang signifikan. Jika tidak, maka peneliti akan mengalami kesulitan pada saat tahap analisisnya. Setelah menemukan karya sastra yang tepat, seorang peneliti harus mampu melihat sasaran penelitiannya, apakah mengarah kepada pengarang, pembaca, karya, atau ke proses penciptaannya. Endraswara (2008:104) memberikan bimbingan langkah-langkah kajian psikologi sastra sebagai berikut. a. Pendekatan psikologi sastra menekankan kajian keseluruhan baik berupa unsur intrinsik maupun ekstrinsik. Namun, tekanan pada unsur intrinsik, yaitu tentang penokohan dan perwatakannya. b. Di samping tokoh dan watak, perlu dikaji pula masalah tema karya. Analisis tokoh seharusnya ditekankan pada nalar perilaku tokoh. Tokoh yang disoroti tak hanya terfokus pada tokoh utama, baik protagonis maupun antagonis. Tokoh-tokoh bawahan yang dianggap tak penting pun harus diungkap. Yang lebih penting, peneliti harus memiliki alasan yang masuk akal tentang watak tokoh, mengapa oleh pengarang diberi perwatakan demikian. c. Konflik perwatakan tokoh perlu dikaitkan dengan alur cerita. Misalkan saja, ada tokoh yang hobi, neurosis, halusinasi, gila,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 100 dan sebagainya, struktur karya harus tetap menjadi pegangan dari awal sampai akhir penelitian. Hal ini untuk menghindari agar peneliti tidak terjebak hanya pada penggunan teori psikologi. Jika yang terakhir ini sampai terjadi, berarti ini menjadi wilayah penelitian psikologi, bukan penelitian psikologi sastra. 8. Kajian Antropologi Sastra Antropologi sastra merupakan pendekatan interdisipliner dalam studi sastra, seperti halnya sosiologi sastra dan psikologi sastra. Antropologi sastra memadukan ilmu antropologi dan ilmu sastra. Baik antropologi maupun sastra, keduanya membahas manusia sebagai objek pengamatan utama. Secara etimologis, kata “antropologi” (anthropology) berasal dari bahasa Yunani, anthropos yang berarti ‘manusia’ dan logos yang berarti ‘studi’, sehingga secara harfiah “antropologi” berarti suatu disiplin yang berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada henti-hentinya tentang umat manusia (Ember dan Ember, 2006). Antropologi sastra merupakan disiplin ilmu sastra yang secara khusus mengkaji atau menganalisis berbagai aspek kebudayaan manusia di dalam karya sastra. Tujuan utamanya adalah untuk mengungkap dan memahami berbagai fenomena kebudayaan manusia/masyarakat yang terepresentasi lewat karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra diasumsikan sebagai representasi dari berbagai fenomena kebudayaan yang mengitari proses penciptaan karya sastra. Menurut Markowski (2012:88), karakteristik antropologi sastra berangkat dari fakta bahwa sastra merupakan ruang di mana sifat manusia itu sendiri terungkap, atau dengan kata lain, melalui sastra manusia menemukan esensinya. Pandangan Marskowski ini menekankan arti penting sastra bagi manusia itu sendiri. Sastra lahir dari tangan manusia, berisi tentang berbagai fenomena kehidupan manusia, dan ditujukan untuk dibaca oleh manusia. Itulah sebabnya ketika membaca sastra, kita seperti membaca diri kita sendiri dan orang lain. Dengan demikian, dalam perspektif antropologi sastra,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 101 karya sastra dianggap sebagai dokumen antropologi yang memberitahukan kita tentang eksistensi manusia (Maryl, 2012). Antropologi sastra pada hakikatnya lahir berdasarkan fenomena keterjalinan antara sastra dan budaya. Keduanya berhubungan dengan manusia sebagai penghasil sekaligus sebagai penggunanya. Sastra dihasilkan oleh manusia sebagai bentuk ekspresi terhadap berbagai fenomena kehidupan, sedangkan budaya dihasilkan oleh manusia sebagai manivestasi pengetahuan untuk menjawab setiap tantangan dan kebutuhan hidup dalam kelompoknya. Sastra digunakan oleh manusia untuk memenuhi hasratnya terhadap keindahan sekaligus memberikan penanaman budi pekerti kepada manusia. Sementara budaya digunakan oleh manusia untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya sekaligus menjadikannya sebagai pedoman dalam bertingkah laku dalam kelompoknya. Dalam kaitannya dengan fungsi sastra sebagai refleksi kebudayaan suatu kelompok masyarakat, kajian antropologi sastra pun dapat difokuskan pada tiga aspek kebudayaan yang dapat terefleksi lewat karya sastra, yaitu (1) wujud kebudayaan, (2) unsurunsur kebudayaan, dan (3) kearifan lokal suatu masyarakat. Menurut Sudikan, (2007:3), penelitian antropologi sastra dapat memahami ’karya sastra’ dari pandangan antropologis atau sebaliknya ’karya etnografis’ dipahami dari penggunaan sarana sastra. Sementara menurut Endraswara (2015:109-110), kajian atau analisis antropologi sastra perlu mengungkap enam hal berikut. Pertama, kebiasaan-kebiasaan masa lampau yang berulang-ulang masih dilakukan dalam sebuah karya sastra. Kedua, peneliti akan mengungkap akar tradisi atau subkultur serta kepercayaan seorang penulis yang terpantul dalam karya sastra. Ketiga, kajian dapat juga diarahkan pada penikmat sastra etnografis, mengapa mereka sangat taat menjalankan pesan-pesan yang ada dalam karya sastra. Keempat, peneliti juga perlu memperhatikan bagaimana proses pewarisan sastra tradisional dari waktu ke waktu. Keenam, perlu
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 102 dilakukan kajian terhadap simbol-simbol mitologi dan pola pikir masyarakat pendukungnya. Jika dibandingkan dengan sosiologi sastra dan psikologi sastra, antropologi sastra tidak berkembang terlalu pesat. Ratna (2012:63) mengakui bahwa antropologi sastra pada dasarnya belum memiliki teori dan metode tersendiri. Dalam praktiknya, penelitian antropologi sastra masih harus membutuhkan teori dan metode lain untuk dijadikan sebagai pisau bedah permasalahan penelitian. Hal ini wajar karena salah satu karakteristik model penelitian interdisipliner adalah keterlibatan teori dan metode lain dalam satu penelitian. Teori dan metode dimaksud tidak hanya dari dalam ilmu sastra itu sendiri, misalnya teori struktural, semiotik, dan sosiologi sastra, namun dapat pula memanfaatkan paradigma teori dalam bidang ilmu antropologi, misalnya antropologi struktural, antropologi interpretatif, dinamika budaya, dan fungsionalisme budaya. Metode penelitian antropologi sastra dapat mengikuti teori yang dijadikan dasar dalam penelitian. Walaupun demikian, secara operasional penelitian antropologi sastra dapat mengikuti langkahlangkah sebagai berikut. a. Memilih novel kemudian membacanya secara mendalam. Novel yang dipilih sebaiknya novel yang secara signifikan merefleksikan atau merepresentasikan kebudayaan suatu masyarakat. Pembacaan novel harus intens, tuntas, dan jika perlu diulang untuk memperdalam pengamatan terhadap aspekaspek kebudayaannya. b. Mengidentifikasi aspek-aspek kebudayaan yang menjadi fokus penelitian. Identifikasi dapat dilakukan dengan cara menandai bagian-bagian cerita yang menunjukkan aspek kebudayaan. Aspek-aspek kebudayaan dimaksud harus didasarkan pada teori yang telah ditetapkan sebelumnya. c. Menyalin data aspek kebudayaan ke dalam korpus data. Korpus data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti saat melakukan klasifikasi dan analisis data.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 103 d. Analisis data perlu didasarkan pada teori yang digunakan. Hal ini dimaksudkan agar kajian menjadi lebih mendalam dan ilmiah. Teori dimaksud misalnya teori interpretatif simbolik Clifford Geertz dengan metode deskripsi mendalam (thick decription) atau teori etnografi James Spradley dengan metode D.R.S. (Development Research Sequence. 9. Kajian Ekologi Sastra Ekologi sastra merupakan pendekatan baru dalam kajian sastra yang memadukan “ekologi” dan “sastra”. Secara sederhana, ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang lingkungan (“eko” berarti lingkungan, dan “logi” berarti ilmu). Dalam konteks kajian sastra, ekologi sastra dipandang sebagai pendekatan interdisipliner yang melihat hubungan timbal balik antara sastra dan lingkungan hidup. Ekologi sastra merupakan pendekatan interdisipliner sastra yang secara khusus mengkaji berbagai persoalan lingkungan yang tercermin lewat karya sastra. Ekologi sastra disebut sebagai pendekatan kritis terhadap lingkungan yang terepresentasi dalam karya sastra. Itulah sebabnya, ekologi sastra disebut juga dengan istilah ekokritik (ecocriticsm), walaupun keduanya mempunyai aspek kajian yang berbeda (lihat Endraswara, 2016:5). Menurut Glotfelty dan Fromm (1996:xviii), ekokritik (ecocriticsm) merupakan kajian sastra dalam kaitannya dengan lingkungan fisik. Sementara Buel (2005:138) memandang ekokritik sebagai istilah umum yang digunakan untuk mengacu pada studi atau kajian sastra yang berorientasi pada lingkungan. Sebagai disiplin ilmu baru dalam sastra, ekologi sastra atau ekokritik dapat dipandang dari sisi filosofis. Hal tersebut seperti dikemukakan oleh Endraswara (2016:22) berikut ini. Dari sisi ontologi, ekokritik sastra adalah perspektif pemahaman sastra yang mengaitkan fakta estetis dengan lingkungannya. Sastra berada pada titik hubungan lingkungan dan sastra. Dari sisi epistemologis, dilandasai konsep bahwa sastra hadir dari tuntutan lingkungannya. Sastrawan ingin mengabadikan lingkungannya. Adapun
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 104 aspek aksiologi, ekokritik sastra berguna untuk mengungkap hubungan simbiosis antara lingkungan dan sastra. Ekologi sastra atau ekokritik berangkat dari asumsi bahwa sastra dan lingkungan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sastra membutuhkan lingkungan, demikian pula sebaliknya, lingkungan membutuhkan sastra. Sastra membutuhkan lingkungan, dalam pengertian bahwa proses penciptaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan alam. Lingkungan alam merupakan salah satu sumber inspirasi pengarang dalam melahirkan ide-idenya dalam sebuah karya sastra. Di sisi lain, lingkungan alam membutuhkan sastra dalam pengertian bahwa sastra merupakan salah satu media untuk menggambarkan kondisi lingkungan alam kapan dan di mana karya sastra itu diciptakan. Kondisi lingkungan alam cenderung berubah seiring perubahan waktu. Pada waktu dan tempat tertentu, ada lingkungan alam yang menjadi lebih baik karena dijaga, dilestarikan, dan ditata oleh manusia, namun ada pula yang menjadi rusak karena kurangnya kepedulian masyarakatnya. Semuanya dapat ditemukan dalam karya sastra karena sastra merupakan wahana yang digunakan oleh sastrawan untuk melukiskan kondisi lingkungan alam. Hubungan antara sastra dan alam/lingkungan memunculkan beberapa pertanyaan mendasar yang dapat dijadikan masalah dalam kajian ekologi sastra. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti didaftarkan oleh Sudikan (2016:7) berikut ini. Pertama, bagaimana alam direpresentasikan dalam karya sastra (puisi, novel, atau drama)? Kedua, peranan apa yang dapat dimainkan oleh latar fisik (lingkungan) dalam alur sebuah novel? Ketiga, apakah nilai-nilai yang diungkapkan dalam karya sastra itu konsisten dengan kearifan ekologis? Keempat, bagaimanakah metafor-metafor tentang daratan (bumi) mempengaruhi cara kita memperlakukannya? Kelima, bagaimana kita dapat mengkarakterisasikan tulisan tentang alam sebagai genre sastra? Keenam, dalam kaitan dengan ras, kelas, dan gender selayaknya berposisi menjadi kategori kritik baru? Ketujuh,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 105 dengan cara apa dan pada efek apa kritik lingkungan memasuki sastra kontemporer dan sastra populer? Kedelapan, pertanyaanpertanyaan yang mempertimbangkan hubungan antara alam dan sastra. Pandangan lain dikemukakan oleh Endraswara. Menurut Endraswara (2016:38), kajian ekokritik harus berfokus pada: (1) mengkaji seluk beluk lingkungan apa saja yang dapat membentuk atau mempengaruhi cita sastra, ini menjadi bagian ekologi sastra; (2) mengkaji nafas lingkungan yang tergambar dalam karya sastra, lalu disebut sastra ekologis; dan (3) mengkaji resepsi lingkungan terhadap karya-karya yang berbasis ekologis, lalu dinamakan resepsi sastra ekologis. Sudikan (2016:279) memberikan panduan analisis data penelitian ekokritik sebagai berikut. a. Mengkaji tema dan pesan kelestarian atau kritik terhadap kerusakan lingkungan ekosistem yang terkandung dalam novel. b. Mengkaji tokoh utama dalam cerita pendek atau novel yang memiliki kepedulian pada kelestarian lingkungan, dan/atau simbol-simbol yang ditampilkan pengarang. c. Mengkaji tokoh antagonis dalam cerita pendek atau novel yang melakukan perusakan terhadap lingkungan, dan/atau simbolsimbol yang ditampilkan oleh pengarang. d. Mengkaji sikap pengarang terhadap pemertahanan kelestarian dan pengembangan lingkungan, dan/atau bagaimana ekologi berpengaruh terhadap diri pengarang. 10. Kajian Feminisme Sastra Teori feminisme sastra atau disebut juga kritik sastra feminis berhubungan dengan eksistensi perempuan dalam karya sastra. Dalam pengertian yang lebih luas, teori sastra feminis merupakan reaksi kesadaran tentang peran para perempuan dalam semua aspek produksi sastra, baik sebagai penulis, sebagai karakter dalam sastra, sebagai pembaca, dan sebagainya (Carter, 2006:91). Dengan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 106 demikian, fokus utama penelitian feminisme sastra adalah melihat kedudukan perempuan di dalam karya sastra. Menurut Sofia (2009:19) bahwa ide-ide feminis berangkat dari kenyataan bahwa konstruksi sosial jender yang ada mendorong citra perempuan masih belum dapat memenuhi cita-cita persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Teori atau kritik sastra feminis hadir akibat masih tingginya pandangan terhadap dikotomi antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam hal persamaan hak dan kewajiban. Oleh sebab itu, menurut Sugihastuti dan Suharto (2010:6) bahwa kritik sastra feminis menawarkan pandangan bahwa para pembaca perempuan dan kritikus perempuan membawa persepsi, pengertian, dan dugaan yang berbeda pada pengalaman membaca karya sastra apabila dibandingkan dengan laki-laki. Ryan (2011:179) memandang kritik sastra feminis mengkaji karya sastra perempuan karena sastra hasil karya perempuan memiliki kekhususan dalam mengekspresikan kehidupan perempuan. Selain itu, feminisme mengkaji kanon para penulis lakilaki tentang bagaimana perempuan direpresentasikan dalam tulisan karya penulis laki-laki ini. Dalam konteks ini, teori feminisme sastra digunakan untuk mengungkap eksistensi atau kedudukan perempuan di dalam karya sastra, baik dari perspektif pengarang perempuan maupun dari perspektif pengarang laki-laki. Menurut Sugihastuti dan Suharto (2010:15) bahwa dasar penelitian feminisme sastra adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra. Khususnya di Indonesia, kajian feminisme sastra, menurut Sugihatuti dan Suharto (2010:15-16), hadir atas dasar berikut ini. a. Kedudukan dan peran para tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia menunjukkan masih didominasi oleh laki-laki. Dengan demikian, upaya pemahamannya merupakan keharusan untuk mengetahui ketimpangan gender dalam karya sastra, seperti terlihat dalam realitas sehari-hari masyarakat. b. Dari resepsi pembaca karya sastra Indonesia, secara sepintas terlihat bahwa para tokoh perempuan dalam karya sastra
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 107 Indonesia tertinggal dari laki-laki, misalnya dalam hal latar sosial pendidikannya, pekerjaannya, perannya dalam masyarakat, dan – pendeknya – derajat mereka sebagai bagian integral dan susunan masyarakat. c. Masih adanya resepsi pembaca karya sastra Indonesia yang menunjukkan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan hanyalah merupakan hubungan yang didasarkan pada pertimbangan biologis dan sosio-ekonomis semata-semata. d. Penelitian sastra Indonesia telah melahirkan banyak perubahan analitis dan metodologinya, salah satunya adalah penelitian sastra yang berperspektif feminis. Tampak adanya kesesuaian dalam realitas penelitian sosial yang juga berorientasi feminisme. e. Lebih dari itu, banyak pembaca yang menganggap bahwa peran dan kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki seperti nyata di resepsi dari karya sastra Indonesia. Menurut Endraswara (2011:146) bahwa sasaran penting dalam analisis feminisme sastra sedapat mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut. a. Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citra wanita yang merasa ditekan oleh tradisi. Dominasi budaya patriarkal harus terungkap secara jelas dalam analisis. b. Mengungkap berbagai tekanan pada tokoh wanita dalam karya yang ditulis oleh pengarang pria. c. Mengungkap ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupan nyata. d. Mengkaji dari aspek ginokritik yakni memahami bagaimana proses kreatif kaum feminis. Apakah penulis wanita memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak. e. Mengungkap aspek psikoanalisis feminis yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun pengarang, lebih suka pada hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang, dan sebagainya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 108 Dalam penerapannya, kajian feminisme sastra perlu dikolaborasikan dengan kajian struktural, lebih khusus lagi pada aspek tokoh wanita dalam cerita. Teknik kajian feminisme sastra dapat mengikuti langkah-langkah analisis feminisme sastra yang dilakukan oleh Sugihastuti dan Suharto (2010:74-75) berikut ini. a. Menentukan teks yang dipakai sebagai objek. b. Mengarahkan fokus analisis, yang mencakup struktur teks, eksistensi dan peran tokoh perempuan sebagai individu, anggota keluarga, dan anggota masyarakat, serta pandangan dan perlakuan dunia di sekitar tokoh perempuan mengenai tokoh perempuan dalam teks. c. Mengumpulkan data-data dari sumber kepustakaan yang ada kaitannya dengan objek analisis. Data tersebut dapat berupa karya fiksi maupun nonfiksi. d. Menganalisis novel yang menjadi objek dengan analisis struktural dan kritik sastra feminis. Caranya adalah sebagai berikut: 1) mula-mula dianalisis struktur novel yang mengungkapkan tema dan masalah, latar, alur, penokohan, serta hubungan antarunsur. 2) setelah itu, struktur novel dianalisis dengan kritik sastra feminis (membaca sebagai perempuan) untuk mengungkapkan eksistensi dan peran tokoh perempuan sebagai pribadi, anggota keluarga, dan anggota masyarakat, tanggapan dan perlakuan dunia di sekitar tokoh perempuan terhadap tokoh perempuan, serta korelasinya dengan ideide yang dikemukakan oleh feminisme. 3) Ditarik kesimpulan yang menunjukan bobot feminisme dalam novel, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 11. Kajian Resepsi Sastra Teori resepsi sastra merupakan teori yang berhubungan dengan eksistensi pembaca sebagai penikmat karya sastra. Teori ini berawal dari anggapan bahwa sastra diciptakan untuk dibaca,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 109 dinikmati, dipahami, dan dimaknai. Karya sastra tanpa pemaknaan tidaklah berarti. Untuk memaknai karya sastra, dibutuhkan peran pembaca. Peran pembaca dalam sastra inilah yang menjadi fokus teori resepsi (Eagleton, 1996:64). Dalam konteks estetika resepsi, Segers (2001:47-49) membedakan tiga tipe pembaca, yaitu pembaca ideal, pembaca implisit, dan pembaca riil. a. Pembaca ideal (ideal reader), yaitu konstruksi hipotesis dari seorang ahli dalam proses interpretasi. Tipe pembaca ideal ini identic dengan konsep supper reader yang dikemukakan oleh Riffaterre. b. Pembaca implisit (implied reader), yaitu jangkauan menyeluruh dari indikasi tekstual yang mengarahkan pembaca sebenarnya (real reader, actual reader), tokoh pembaca dalam tataran tekstual. c. Pembaca riil (real reader atau actual reader), yaitu pembaca dalam arti fisik, manusia yang melaksanakan tindak pembacaan. Menurut Junus (1985:51) ada empat asumsi dasar resepsi sastra sebagai berikut. a. Sebuah karya sastra dilihat dalam hubungannya dengan reaksi pembaca. Reaksi ini juga mungkin ditentukan oleh fenomena yang ada dalam karya itu sendiri. Karya itu akan memberikan suatu skema atau rangka yang memberikan arah kepada pembaca. b. Sebuah karya menjadi konkret melalui suatu penerimaan pembacanya, sehingga meninggalkan kesan pada mereka. Pembaca meski mengkonkretkan dan merekontruksikanya. Tapi ini tak mungkin dilakukan tanpa imajinasi pembaca, karena pembaca tak akan menemukan rangka itu. Tanpa imajinasi, pembaca tidak akan mungkin melihat karya itu dalam suatu hubungan yang lebih luas. c. Imajinasi pada pembaca dimungkinkan oleh (i) keakraban dengan tradisi (sastra), dan (ii) kesanggupan dengan masanya, juga mungkin mengenai masa sebelumnya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 110 d. Melalui kesan, pembaca dapat menyatakan penerimaannya terhadap suatu karya. Ia dapat menyatakanya dalam bentuk komentar, tapi juga mungkin dalam bentuk suatu karya lain, yang berhubungan dengan karya tadi dengan cara tertentu, mungkin bertentangan. Yang akhir ini menyebabkan perkembangan sastra. Dalam praktiknya, kajian resepsi sastra mempunyai lingkup kajian yang cukup luas. Menurut Teeuw (1984:171-179) dan Soeratno (dalam Jabrohim, 2001:162-163) bahwa kajian resepsi sastra melingkupi (1) penelitian ekspresimental, (2) penelitian didasarkan pada kritik yang ada, (3) penelitian intertekstualitas, penyalinan, penyaduran, dan penerjemahan. a. Penelitian Eksperimental Menurut Segers (2000) penelitian ini pertama-tama menetapkan objek estetik yang bermacam-macam, kedua menetapkan perbedaan dan persamaaan antra objek-objek estetik tersebut, dan ketiga menetapkan relasi antara objek-objek estetik yang ditemukan dengan artefak. Pendekatan eksperimental hanya berlaku untuk teks-teks sastra masa kini. Hal ini karena penerimaan teks pada masanya tidak terekam. Dengan demikian untuk teks masa lampau tidak dapat diterapkan penelitian eksperimental. b. Penelitian Didasarkan pada Kritik yang Ada Dalam hal kritik ini, perlu diingat bahwa resepsi kritikus tidak didasarkan pada tanggapan individual, melainkan tanggapan yang mewakili norma yang terikat pada masa tertentu dan waktu tertentu. Dari sini akan diketahui pertentangan dan ketegangan yang muncul antara pemakaian suatu konvensi yang telah mapan dalam suatu masyarakat dengan inovasi yang dilakukan oleh pengarang. c. Penelitian Resepsi Dilihat dari Fisik Teks 1) Intertekstual 2) Penyalinan 3) Penyaduran 4) Penerjemahan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 111 Secara garis besar, kajian resepsi sastra dapat diterapkan dengan mengikuti panduan yang dikemukakan oleh Endraswara (2011:126) melalui dua langkah berikut ini. a. Kepada pembaca baik perorangan maupun kelompok disajikan karya sastra. Mereka lalu diberi pertanyaan baik lisan maupun tertulis kesan penerimaan. Jawaban pertanyaan secara tertulis dapat ditabulasikan, jika menggunakan angket. Jika menggunakan metode wawancara, maka hasilnya dapat dianalisis secara kualitatif. b. Pembaca juga diminta menginterpretasikan karya sastra. Interpretasi tersebut dianalisis secara kualitatif. Dari dua langkah itu, yang penting diperhatikan adalah pelaksanaan penelitian bersifat eksperimental. Penelitian resepsi semacam ini bersifat sinkronis, sedangkan penelitian diakronis, untuk melihat penerimaan sejarah resepsi, digunakan strategi dokumenter melalui kupasan media massa. Hasil kupasan itu dikaji oleh peneliti. Walaupun demikian, untuk lebih detilnya penerapan kajian resepsi sastra dapat mengikuti pandangan Groeben seperti dikuti oleh Segers (2000) berikut ini. a. Parafrase Ini merupakan suatu konkretisasi yang paling spontan dan kurang dikontrol, meskipun ini mempunyai kelemahan tertentu, yaitu kurang memperhatikan penguasaan bahasa oleh pembaca. Parafrase dapat dianggap sebagai pintu kepada pembacaan oleh beberapa pembaca, yang menghasilkan pengenalan situasi dan tipe teks. b. Analisis isi Ini adalah lanjutan dari parafrase. Melalui analisis isi ini kita dapat melanjutkan parafrase dengan perbandingan yang sistematis da intersubjektif antara beberapa pembacaan, yang memungkinkan pengkategorian. c. Penentuan bagian teks yang relevan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 112 Dengan mengetahui bagian teks yang relevan bagi seorang pembaca dalam pembacaannya maka dapat diketahui metode yang digunakannya, dan dapat disusun pertanyaan yang eksplisit terutama untuk penelitian eksperimenter. d. Asosiasi Bebas Dengan asosiasi bebas juga terlihat penerimaan yang spontan oleh seorang pembaca sehingga unsur ini juga penting untuk penelitian. 1) Perbedaan Semantik Ini juga semacam asosiasi, tapi kurang bebas.Disini diperlihatkan asosiasi antara beberapa bagian teks.Dapat dilihat misalnya perbedaan yang standar, yaitu berdasarkan beberapa pertanyaan misalnya:yang tak disebut – yang disebut;sering – jarang;buruk lemah. 2) Cloze Procedure Ini bekerja sebagai suatu cara tertentu.Misalnya saja setiap kata kelima dari suatu teks digugurkan dan pembaca diminta untuk mengisinya atau mengembalikannya. 3) Free card sorting Semua pembaca yang memberikan pengertian yang berbeda tentang suatu teks dikonfrontasikan. Ini dilakukan dengan menggunakan sistem kartu, yang masingmasingmengandung satu arti.Pembaca mengelompokkan kata-kata yang punya arti bersamaan. 12. Kajian Intertekstual Teori intertekstual merupakan teori sastra yang melihat hubungan antara teks sastra yang satu dengan teks sastra lainnya. Hubungan antarteks tersebut dapat berupa hubungan persamaan, perbedaan atau penyimpangan. Dalam hal ini, teori intertekstual melihat hubungan antara teks sastra yang lahir terlebih dahulu dengan teks sastra yang lahir selanjutnya. Fokus utamanya menurut Culler (dalam Jabrohim, 2012:153) mencakup dua hal, yaitu (1) meminta perhatian kita tentang pentingnya teks yang terdahulu
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 113 (prior text); dan (2) lebih jauh fokus arti, intertekstualitas membimbing kita untuk mempertimbangkan teks terdahulu sebagai penyumbang kode yang memungkinkan lahirnya berbagai efek signifikansi. Teori intertekstual pertama kali dikembangkan oleh Julia Kristeva. Dalam perkembangannya, teori intertekstual didasari beberapa prinsip, yaitu (1) setiap teks sastra dibaca dan harus dengan latar belakang teks-teks lain; (2) tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka; (3) tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting (Teeuw, 1984:120). Tiga prinsip dasar tadi menjelaskan bahwa teori intertekstual mendasarkan asumsi bahwa sebuah karya sastra yang diciptakan tidak dapat dilepaskan dari eksistensi karya-karya sastra yang diciptakan sebelumnya. Menurut Frow (dalam Endraswara, 2013:131), studi interteks didasarkan pada beberapa asumsi kritis sebagai berikut. Pertama, konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks tak hanya sebagai isi, melainkan juga aspek perbedaan dan sejarah teks. Kedua, tak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu, sehingga terjadi perulangan atau transformasi teks. Ketiga, ketidakhadiran struktur teks dalam rentang teks yang lain namun hadir juga pada teks tertentu merupakan proses waktu yang menentukan. Keempat, bentuk kehadiran struktur teks merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai implisit. Teks boleh saja diciptakan ke bentuk lain: di luar norma dan idiologi dan budaya, di luar genre, di luar gaya dan idiom, dan di luar hubungan teks-teks lain. Kelima, hubungan teks satu dengan yang lain boleh dalam rentang waktu yang lama, hubungan tersebut bisa secara abstrak, hubungan interteks juga sering terjadi penghilangan-penghilangan bagian tertentu. Keenam, pengaruh mediasi dalam interteks sering
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 114 mempengaruhi juga pada penghilangan gaya maupun norma-norma sastra. Ketujuh, dalam melakukan identifikasi interteks diperlukan proses interpretasi. Kedelapan, analisis interteks berbeda dengan melakukan kritik melainkan lebih terfokus pada konsep pengaruh. Dalam penulisan karya sastra yang baru, seorang sastrawan dapat mengikuti pola penulisan karya sastra terdahulu, namun dapat pula menciptakan pola penulisan yang baru, atau bahkan mungkin dapat memadukan satu pola dengan pola penulisan yang lain. Semutakhir apapun penulisan karya sastra, tentunya turut diwarnai oleh penulisan karya-karya sastra yang lahir sebelumnya. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami makna sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan karya-karya sastra terdahulu. Hal ini seperti dikemukakan Pradopo (2007:229) bahwa untuk dapat memberikan makna penuh sebuah teks, maka teks harus dibicarakan dalam kaitannya dengan teks yang menjadi hipogramnya (karya sebelumnya). Penerapan teori intertekstual dalam kajian sastra akan sampai pada penentuan karya sastra yang merupakan hipogram dan transformasinya. Hipogram adalah karya sastra yang menjadi latar kelahiran karya berikutnya, sedangkan karya berikutnya disebut transformasi (Endraswara, 2011:132). Hubungan antara hipogram dan transformasi dapat berupa hubungan konvensi penulisan, substansi karya, gaya bahasa, dan lain-lain. Hal itu wajar karena penciptaan sebuah karya sastra tidak lain merupakan reaksi, respon atau tanggapan terhadap karya sastra sebelumnya. Sekecil apapun kontribusi karya sebelumnya tetap akan turut mewarnai penulisan karya selanjutnya. Berdasarkan realitasnya, sifat hipogram dapat digolongkan menjadi tiga macam, yakni: (1) negasi, artinya karya satra yang tercipta kemudian melawan hipogram; (2) afirmasi, yakni sekedar mengukuhkan, hampir sama dengan hipogram; dan (3) inovasi, artinya karya satra yang kemudian memperbarui apa yang ada dalam hipogram (Al-Ma’ruf, 2005:80). Menurut Endraswara (2013:132) hipogram karya sastra mencakup ekspansi, konversi, modifikasi, dan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 115 eksperp. Pertama, ekspansi, yaitu perluasan atau pengembangan karya. Ekspansi tidak sekedar repetisi atau perulangan kata atau kalimat yang sama tetapi juga perubahan secara gramatikal dan perubahan jenis kata. Kedua, konversi, pemutarbalikan hipogram atau matriknya. Penulis karya yang baru akan memodifikasi kalimatnya hingga tidak persis sama dengan hipogramnya. Ketiga, modifikasi, yaitu perubahan tataran linguistik, manipulasi urutan kata dan kalimat. Dalam modifikasi ini pengarang bisa saja hanya mengganti nama tokoh, latar tempat dan waktunya, namun jalan ceritanya sama saja. Keempat, eksperp merupakan semacam intisari dari unsur atau episode dalam hipogram yang disadap oleh pengarang. -oo0oo-
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 116
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 117 Bab VI PEMBELAJARAN PROSA FIKSI A. Wawasan Umum Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Kurikulum 2013, sering disingkat K13 atau KURTILAS, mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 2013-2014 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 sebagai perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang diterbitkan pada tanggal 7 Mei 2013. Sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No. 67 Tahun 2013: “Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.” Dalam pelaksanaannya, Kurikulum 2013 telah mengalami revisi yang lebih bersifat penyempuranaan pada tahun 2016, sehingga dikenal dengan istilah Kurikulum 2013 Revisi 2016. Revisi
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 118 pelaksanaan K13 tersebut dapat dilihat pada terbitnya beberapa Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggantikan beberapa peraturan sebelumnya, yaitu: (1) Permendikbud No. 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah yang merupakan revisi terhadap Permendikbud No. 54 tahun 2013; (2) Permendikbud No. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, yang merevisi Permendikbud No. 64 tahun 2013; (3) Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, merevisi Permendikbud No. 65 tahun 2013; (4) Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan sebagai revisi Permendikbud No. 66 tahun 2013; dan (5) Permendikbud No. 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai revisi terhadap ketentuan yang mengatur tentang Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Muatan Pembelajaran dalam Struktur Kurikulum, Silabus, Pedoman Mata Pelajaran, dan Pembelajaran Tematik Terpadu sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 57 Tahun 2014, Permendikbud No. 58 Tahun 2014, Permendikbud No. 59 Tahun 2014,dan Permendikbud No. 60 Tahun 2014. Sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Bab I Pendahuluan, pembelajaran dilaksanakan dengan berpegang pada prinsip sebagai berikut. 1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu. 2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. 3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. 4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi. 5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 119 6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi. 7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif. 8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills). 9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat. 10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani). 11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat. 12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas. 13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. 14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik. B. Karakteristik Pembelajaran Sastra dalam Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 pada hakikatnya merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi (competency and character based curriculum). Kurikulum berbasis karakter dan kompetensi, menurut Mulyasa (2013:6), diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, sehingga dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Jika pada kurikulum sebelumnya aspek karakter tidak secara eksplisit menjadi satu tuntutan kompetensi yang dipelajari peserta didik, maka pada Kurikulum 2013 aspek pendidikan karakter sangat ditonjolkan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 120 secara eksplisit. Hal ini dapat dilihat dari penekanan KI-1 (sikap spiritual) dan KI-2 (sikap sosial). Dengan demikian, Kurikulum 2013 tidak hanya mewujudkan manusia Indonesia yang pintar dan terampil, namun mampu menciptakan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan berkepribadian baik. Orientasi pembelajaran sebagaimana tertuang dalam Standar Proses (Permendikbud No. 22 tahun 2016, Bab II) memiliki sasaran pada pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ranah sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Ranah pengetahuan dapat diperoleh melalui kegiatan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sementara ranah keterampilan dapat diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Tiga ranah tersebut dikembangkan secara utuh/holistik, dan terintegrasi. Dengan begitu, setiap proses pembelajaran secara utuh dapat melahirkan kualitas peserta didik yang unggul dari aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Eksistensi pembelajaran sastra menjadi salah satu sarana untuk mencapai sasaran pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Pembelajaran sastra menjadi sangat penting dalam rangka menciptakan dan mengembangkan generasi muda Indonesia yang berkompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 1. Kompetensi Sikap Pembelajaran sastra menjadi salah satu wahana pembentukan karakter manusia Indonesia karena di dalam sastra banyak terkandung ajaran dan keteladanan hidup. Ajaran dan keteladanan hidup dalam sastra tidak hanya menumbuhkan kepekaan emosi, bersimpati, dan berempati terhadap orang lain, namun lebih dari itu, sastra dapat memberikan pencerahan moral untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sang pencipta alam semesta.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 121 2. Kompetensi Pengetahuan Untuk sampai pada pemahaman terhadap isi dan kandungan nilai sastra, perlulah sastra itu dianalisis, dikaji, atau diapresiasi. Untuk bisa menganalisis, mengkaji, atau mengapresiasi karya sastra dibutuhkan dua hal utama, yaitu kepekaan emosional dan kekritisan pikiran (Didipu, 2013:6). Seseorang yang terbiasa mengapresiasi sastra dapat melatih kejelian atau ketelitian berpikir, misalnya melalui kegiatan pembelajaran memahami, menganalisis, mengidentifikasi, membandingkan, atau mengevaluasi sebuah cipta karya sastra. 3. Kompetensi Keterampilan Sebagai salah satu karya seni, sastra merupakan wahana untuk mengekspresikan diri. Pembelajaran sastra tidak hanya memberikan muatan nilai positif dan melatih kekritisan pikiran, namun lebih dari itu, pembelajaran sastra melatih peserta didik untuk lebih kreatif dalam hal penciptaan karya sastra. Hal itu dapat dilihat dari beberapa KD kesastraan yang menuntut kreativitas peserta didik dalam hal menyusun, merevisi, meringkas, hingga memproduksi karya sastra. Kebiasaan mencipta dan berkreasi dalam pembelajaran sastra mampu melatih peserta didik menjadi orang-orang yang terampil, kreatif, dan inovatif. Untuk mengoptimalkan capaian tiga kompetensi di atas dalam pembelajaran sastra, guru harus mampu mengarahkan peserta didik pada integrasi batinnya terhadap sebuah karya sastra yang sedang dipelajari. Hal tersebut jelas karena hakikat pembelajaran sastra adalah menjadikan peserta didik mampu menemukan hubungan antara pengalaman batinnya dengan esensi cipta sastra yang dipelajarinya (Gani, 1988:12). Jika hal ini dapat terealisasi, maka baik secara langsung maupun tidak langsung peserta didik akan mampu menemukan makna yang terkandung dalam sebuah karya satra. Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran sastra terintegrasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, seperti halnya dalam
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 122 kurikulum sebelumnya. Salah satu perbedaan dalam Kurikulum 2013 adalah, jika pada Kurikulum 2006 mata pelajaran Sastra Indonesia terpisah dari mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas XI dan XII SMA Program Bahasa, maka pada Kurikulum 2013 mata pelajaran Sastra Indonesia sudah dihilangkan dan digabungkan dengan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas X, XI, dan XII SMA program Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya. Walaupun pada umumnya pembelajaran sastra terintegrasi dengan pembelajaran bahasa Indonesia, pembelajaran sastra tetap mempunyai hakikat dan karakteristik khusus yang membedakannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Hakikat pembelajaran sastra adalah apresiasi. Sastra adalah salah satu bentuk sistem tanda karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra hadir untuk dibaca, dinikmati, dan dipahami, serta selanjutnya dimanfaatkan, yang antara lain untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Artinya, sastra harus mampu menggugah pemahaman pembacanya terhadap kehidupan. Jadi, pembelajaran sastra harus ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, pembelajaran sastra haruslah apresiatif. Sebagai konsekuensinya, pengembangan materi pembelajaran, teknik, tujuan, dan arah pembelajaran haruslah lebih menekankan kegiatan pembelajaran yang bersifat apresiatif. Menurut Didipu (2011:167), pembelajaran sastra yang apresiatif dapat diukur dari dua indikator, yaitu indikator pada proses pembelajaran, dan indikator pada hasil pembelajaran. Proses pembelajaran sastra yang apresiatif mempunyai indikator sebagai berikut. 1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik (student center) dan bukan monoton pada aktivitas guru. Peserta didiklah yang lebih aktif di dalam kelas, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator maupun mediator. 2. Pembelajaran diarahkan pada capaian kompetensi peserta didik dalam mengapresiasi karya sastra, dan bukan kemampuan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 123 menghapal atau mengingat jenis karya sastra, unsur-unsur intrinsik sastra serta seperangkat pengetahuan teoretis sastra lainnya. Adapun indikator hasil pembelajaran sastra yang apresiatif adalah sebagai berikut. 1. Peserta didik menjadi senang dan gemar membaca karya sastra. 2. Tumbuh kecintaan dan penghayatan peserta didik terhadap karya sastra. 3. Peserta didik tidak hanya gemar membaca, namun lebih dari itu, peserta didik mampu mengungkap kandungan makna dalam karya sastra. 4. Peserta didik dapat menilai kualitas penciptaan karya sastra, baik secara langsung (lisan) maupun secara tertulis (resensi, kritik, dan esai). 5. Peserta didik dapat mengimplementasikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam karya sastra dalam realitas kehidupannya. 6. Peserta didik mampu merefleksikan pikiran dan perasaannya ke dalam bentuk penciptaan karya sastra (puisi, prosa, dan drama). C. Orientasi Materi Prosa Fiksi pada Pembelajaran Kurikulum 2013 Prosa fiksi merupakan salah satu materi yang potensial diajarkan dalam pembelajaran kurikulum 2013. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya Kompetensi Dasar prosa fiksi yang dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sejak tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA/MAK. 1. Objek Materi Prosa Fiksi Objek materi pembelajaran prosa fiksi dalam kurikulum 2013 mencakup hal-hal sebagai berikut. a) Cerita rakyat b) Dongeng c) Hikayat d) Fabel
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 124 e) Legenda f) Anekdot g) Cerita ulang h) Narasi sejarah i) Cerpen j) Novel k) Teks biografi/otobiografi 2. Konten Materi Prosa Fiksi Berikut didaftarkan konten materi pembelajaran prosa fiksi berdasarkan kata-kata operasionalnya yang mengacu pada Permendikbud No. 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. SD/MI Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) Kompetensi Inti 4 (Keterampilan) Kelas II 3.8 Menggali informasi dari dongeng binatang (fabel) tentang sikap hidup rukun dari teks lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan 4.8 Menceritakan kembali teks dongeng binatang (fabel) yang menggambarkan sikap hidup rukun yang telah dibaca secara nyaring sebagai bentuk ungkapan diri 3.9 Menentukan kata sapaan dalam dongeng secara lisan dan tulis 4.9 Menirukan kata sapaan dalam dongeng secara lisan dan tulis Kelas III 3.8 Menguraikan pesan dalam dongeng yang disajikan secara lisan, tulis, dan visual dengan tujuan untuk kesenangan 4.8 Memeragakan pesan dalam dongeng sebagai bentuk ungkapan diri menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif Kelas IV 3.5 Menguraikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra (cerita, dongeng, dan sebagainya) 4.5 Mengomunikasikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra yang dipilih dan dibaca sendiri secara lisan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 125 dan tulis yang didukung oleh alas an 3.9 Mencermati tokoh-tokoh yang terdapat pada teks fiksi 4.9 Menyampaikan hasil identifikasi tokoh-tokoh yang terdapat pada teks fiksi secara lisan, tulis, dan visual 3.10 Membanding-kan watak setiap tokoh pada teks fiksi 4.10 Menyajikan hasil membandingkan watak setiap tokoh pada teks fiksi secara lisan, tulis, dan visual Kelas V 3.5 Menggali informasi penting dari teks narasi sejarah yang disajikan secara lisan dan tulis menggunakan aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana 4.5 Memaparkan informasi penting dari teks narasi sejarah menggunakan aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana serta kosakata baku dan kalimat efektif Kelas VI 3.4 Menggali informasi penting dari buku sejarah menggunakan aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana 4.4 Memaparkan informasi penting dari buku sejarah secara lisan, tulis, dan visual dengan menggunakan aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana serta memperhatikan penggunaan kosakata baku dan kalimat efektif 3.5 Membandingkan karakteristik teks puisi dan teks prosa 4.5 Mengubah teks puisi ke dalam teks prosa dengan tetap memperhatikan makna isi teks puisi 3.9 Menelusuri tuturan dan tindakan tokoh serta penceritaan penulis dalam teks fiksi 4.9 Menyampaikan penjelasan tentang tuturan dan tindakan tokoh serta penceritaan penulis dalam teks fiksi secara lisan, tulis, dan visual 3.10 Mengaitkan peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita 4.10 Menyajikan hasil pengaitan peristiwa yang
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 126 fiksi dengan pengalaman pribadi dialami tokoh dalam cerita fiksi dengan pengalaman pribadi secara lisan, tulis, dan visual SMP/MTs Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) Kompetensi Inti 4 (Keterampilan) Kelas VII 3.3 Mengidentifikasi unsurunsur teks narasi (cerita imajinasi) yang dibaca dan didengar 4.3 Menceritakan kembali isi teks narasi (cerita imajinasi) yang didengar dan dibaca secara lisan, tulis, dan visual 3.4 Menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi) yang dibaca dan didengar 4.4 Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita imajinasi secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, penggunaan bahasa, atau aspek lisan 3.9 Menemukan unsur-unsur dari buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 4.9 Membuat peta pikiran/synopsis tentang isi buku nonfiksi/buku fiksi yang dibaca 3.10 Menelaah hubungan unsurunsur dalam buku fiksi dan nonfiksi 4.10 Menyajikan tanggapan secaralisan, tulis, dan visualterhadap isi buku fiksi/nonfiksi yang dibaca 3.15 Mengidentifikasi informasi tentang fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar 4.15 Menceritakan kembali isi cerita fabel/legenda daerah setempat yang dibaca/didengar 3.16 Menelaah struktur dan kebahasaan fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar 4.16 Memerankan isi fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar Kelas VIII 3.12 Menelaah struktur dan kebahasaan teks ulasan (film, cerpen, puisi, novel, dan karya seni daerah) 4.12 Menyajikan tanggapan tentang kualitas karya (film, cerpen, puisi, novel, karya seni daerah, dll.) dalam bentuk teks ulasan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 127 yang diperdengarkan dan dibaca secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, unsur kebahasaan, atau aspek lisan 3.17 Menggali dan menemukan informasi dari buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 4.17 Membuat peta konsep/garis alur dari buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 3.18 Menelaah unsur buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 4.18 Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca secara lisan/tertulis Kelas IX 3.5 Mengidentifikasi unsur pembangun karya sastra dalam teks cerita pendek yang dibaca atau didengar 4.5 Menyimpulkan unsur-unsur pembangun karya sastra dengan bukti yang mendukung dari cerita pendek yang dibaca atau didengar 3.6 Menelaah struktur dan aspek kebahasaan cerita pendek yang dibaca atau didengar 4.6 Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan 3.13 Menggali informasi unsurunsur buku fiksi dan nonfiksi 4.13 Membuat peta konsep/garis alur dari buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 3.14 Menelaah hubungan antara unsur-unsur buku fiksi/nonfiksi yang dibaca 4.14 Menyajikan tanggapan terhadap buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 3.15 Menemukan unsur-unsur dari buku fiksi dan nonfiksi yang dibaca 4.15 Membuat peta pikiran/ rangkuman alur tentang isi buku nonfiksi/ buku fiksi yang dibaca 3.16 Menelaah hubungan unsurunsur dalam buku fiksi dan nonfiksi 4.16 Menyajikan tanggapan terhadap isi buku fiksi nonfiksi yang dibaca SMA/SMK/MA/MAK Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) Kompetensi Inti 4 (Keterampilan)
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 128 Kelas X 3.5 Mengevaluasi teks anekdot dari aspek makna tersirat 4.5 Mengonstruksi makna tersirat dalam sebuah teks anekdot baik lisan maupun tulis 3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot. 4.6 Menciptakan kembali teks anekdot dengan memerhatikan struktur, dan kebahasaan baik lisan maupun tulis 3.7 Mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat (hikayat) baik lisan maupun tulis 4.7 Menceritakan kembali isi cerita rakyat (hikayat) yang didengar dan dibaca 3.8 Membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dan cerpen 4.8 Mengembangkan cerita rakyat (hikayat) ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilainilai. 3.9 Mengidentifikasi butir-butir penting dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan satu novel yang dibaca.gkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dan cerpen 4.9 Menyusun ikhtisar dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan ringkasan dari satu novel yang dibaca 3.14 Menilai hal yang dapat diteladani dari teks biografi 4.14 Mengungkapkan kembali hal-hal yang dapat diteladani dari tokoh yang terdapat dalam teks biografi yang dibaca secara tertulis 3.15 Menganalisis aspek makna dan kebahasaan dalam teks biografi 4.15 Menceritakan kembali isi teks biografi baik lisan maupun tulis 3.18 Menganalisis isi dari minimal satu buku fiksi dan satu buku nonfiksi yang sudah dibaca 4.18 Mempresentasikan replikasi isi buku ilmiah yang dibaca dalam bentuk resensi Kelas XI
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 129 3.8 Mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek yang dibaca 4.8 Mendemonstrasikan salah satu nilai kehidupan yang dipelajari dalam cerita pendek 3.9 Menganalisis unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam buku kumpulan cerita pendek 4.9 Mengkonstruksi sebuah cerita pendek dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun cerpen. 3.11 Menganalisis pesan dari satu buku fiksi yang dibaca 4.11 Menyusun ulasan terhadap pesan dari satu buku fiksi yang dibaca 3.20 Menganalisis pesan dari dua buku fiksi (novel dan buku kumpulan puisi) yang dibaca 4.20 Menyusun ulasan terhadap pesan dari dua buku kumpulan puisi yang dikaitkan dengan situasi kekinian Kelas XII 3.3 Mengidentifikasi informasi, yang mencakup orientasi, rangkaian kejadian yang saling berkaitan, komplikasi dan resolusi, dalam cerita sejarah lisan atau tulis 4.3 Mengonstruksi nilai-nilai dari informasi cerita sejarah dalam sebuah teks eksplanasi 3.4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah 4.4 Menulis cerita sejarah pribadi dengan memerhatikan kebahasaan 3.7 Menilai isi dua buku fiksi (kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi) dan satu buku pengayaan (nonfiksi) yang dibaca 4.7 Menyusun laporan hasil diskusi buku tentang satu topik baik secara lisan maupun tulis 3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca 4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang baik secara lisan maupun tulis 3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel 4.9 Merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 130 kebahasaan baik secara lisan maupun tulis Kelas X (Peminatan) 3.2 Menerangkan informasi teks naratif objektif tentang riwayat tokoh (sastra dan bahasa) dengan memperhatikan hal-hal yang menarik dan perlu diteladani 4.2 Menyusun teks naratif objektif tentang riwayat tokoh (sastra dan bahasa) dengan memperhatikan halhal yang menarik dan patut diteladani secara tertulis Kelas XI (Peminatan) 3.4 Mengidentifikasi berbagai jenis kalimat (aktif dan pasif, transitif dan intransitif, verbal dan nominal, tunggal dan majemuk, mayor dan minor, langsung dan tidak langsung, versi dan inversi) dalam novel 4.4 Meringkas isi novel dengan menggunakan berbagai jenis kalimat (aktif dan pasif, transitif dan intransitif, verbal dan nominal, tunggal dan majemuk, mayor dan minor, langsung dan tidak langsung, versi dan inversi) 3.6 Menganalisis nilai-nilai (budaya, sosial, moral, agama, dan pendidikan) dalam dua atau lebih cerita pendek 4.6 Menyajikan hasil analisis perbandingan nilai-nilai (budaya, sosial, moral, agama, dan pendidikan) dalam dua atau lebih cerita pendek secara lisan dan tertulis 3.7 Menganalisis nilai-nilai (budaya, sosial, moral, agama, dan pendidikan) dalam novel 4.7 Mengungkapkan nilai-nilai (budaya, sosial, moral, agama, dan pendidikan) dalam novel secara lisan dan tertulis Kelas XII (Peminatan) 3.4 Mengulas isi dan unsur kebahasaan sebuah novel 4.4 Menyajikan ulasan isi dan unsur kebahasaan sebuah novel dalam kegiatan bedah buku secara lisan dan tertulis D. Perencanaan Pembelajaran Dalam Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Bab III disebutkan bahwa
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 131 perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. 1. Silabus Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Silabus disusun sesuai dengan kelompok Kompetensi Inti dan Standar Kompetensi setiap mata pelajaran dalam satu tahun pelajaran dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Silabus masih berisi panduan pembelajaran yang masih umum. Itulah sebabnya, silabus masih perlu dikembangkan lagi ke dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran yang lebih operasional yang disebut RPP. Silabus mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 sedikitnya memuat komponen-komponen berikut ini. a) Identitas mata pelajaran (khusus SMP/MTs/SMPLB/Paket B dan SMA/MA/ SMALB/SMK/MAK/Paket C/ Paket C Kejuruan). b) Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas. c) Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. d) Kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran. e) Tema (khusus SD/MI/SDLB/Paket A). f) Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. g) Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 132 h) Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. i) Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun. j) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan. 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Komponen RPP mencakup hal-hal sebagai berikut. a) Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan. b) Identitas mata pelajaran atau tema/subtema. c) Kelas/semester. d) Materi pokok. e) Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai. f) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. g) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi h) Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi. i) Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 133 j) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran. k) Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. l) Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup. m) Penilaian hasil pembelajaran. E. Model dan Strategi Pembelajaran Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 bertitik fokus pada pendekatan ilmiah atau scientific dengan lima tahapan utama di atas, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Walaupun demikian, bukan berarti guru tidak dapat memanfaatkan model dan strategi pembelajaran lain di dalam kelas. Berbagai model dan strategi pembelajaran mutakhir dan variatif tetap dapat digunakan, bahkan harus digunakan oleh guru, agar pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif, dan tidak monoton. Model dan strategi pembelajaran yang dipilih guru dapat diterapkan pada setiap tahapan pendekatan ilmiah atau scientific. Yang harus diingat bahwa, pemilihan dan penetapan model atau strategi pembelajaran harus menggunakan prinsip yang : (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreativitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna (Permendikbud Nomor 81A tahun 2013). Berikut adalah beberapa model dan strategi pembelajaran yang dapat digunakan sebagai implementasi pembelajaran berbasis Kurikulum 2013. Model dan strategi pembelajaran ini dapat pula diterapkan dalam pembelajaran sastra.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 134 1. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Model pembelajaran kontekstual atau yang lebih dikenal dengan istilah CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang diunggulkan saat ini. Hal ini tentu cukup beralasan, karena pembelajaran kontekstual mampu memberikan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari dalam kaitannya dengan kehidupan nyata. Hal ini seperti dikemukakan oleh Johnson (2011:35) bahwa pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) melibatkan para peserta didik dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Dengan model pembelajaran kontekstual, peserta didik semakin paham arti pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah karena semuanya berorientasi pada kehidupan nyata yang selalu mereka hadapi. Pembelajaran kontekstual menjadi sebuah model pembelajaran yang berbeda dengan model-model pembelajaran lainnya karena beberapa karakteristik berikut ini (Komalasari, 2011:13-14). a) Keterkaitan (relating) Pembelajaran yang menerapkan konsep keterkaitan adalah proses pembelajaran yang memiliki keterkaitan (relevansi) dengan bekal pengetahuan yang telah ada dalam diri peserta didik dan dengan konteks pengalaman dalam kehidupan dunia nyata peserta didik. b) Pengalaman langsung (experiencing) Pembelajaran yang menerapkan konsep pengalaman pembelajaran langsung adalah proses pembelajaran yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengonstruksi pengetahuan dengan cara menemukan dan mengalami sendiri secara langsung.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 135 c) Aplikasi (applying) Proses pembelajaran yang menerapkan konsep aplikasi adalah proses pembelajaran yang menekankan pada penerapan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang dipelajari, dalam situasi dan konteks lain yang berbeda sehingga bermanfaat bagi kehidupan peserta didik. d) Kerja sama (cooperating) Pembelajaran yang menerapkan konsep kerja sama adalah pembelajaran yang mendorong kerja sama di antara peserta didik, antara peserta didik dengan guru dan sumber belajar. e) Pengaturan diri (self-regulating) Pembelajaran yang menerapkan konsep pengaturan diri adalah pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengatur diri dalam pembelajarannya secara mandiri. f) Asesmen autentik (authentic assessment) Pembelajaran yang menerapkan konsep asesmen autentik adalah pembelajaran yang mengukur, memonitor, dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas. Ditjen Dikdasmen (2003:10-19) menyebutkan tujuh asas atau komponen utama pembelajaran kontekstual. Ketujuh komponen tersebut seperti disarikan berikut ini. a) Konstruktivisme (constructivism) Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman (Sanjaya, 2008:264). Pembelajaran konstruktivisme menantang model pembelajaran yang bersumber dari hapalan dan bertujuan untuk menghapal pengetahuan. Pembelajaran konstruktivisme lebih mengutamakan konstruksi pengetahuan yang bersumber dari
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 136 pengalaman nyata peserta didik yang nantinya akan membentuk pengetahuan baru untuk memperkaya pengalamannya. b) Menemukan (inquiry) Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui siklus: (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, dan (4) pengumpulan dan penyimpulan. c) Bertanya (questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bagi guru bertanya dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Bagi peserta didik bertanya merupakan bagian penting dalam melakukan inkuiri, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. d) Masyarakat belajar (learning community) Masyarakat belajar merupakan upaya penciptaan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dari orang lain, baik itu dari teman di kelasnya, atau dengan orang lain di luar kelas yang memiliki pengetahuan atau pemahaman tentang hal yang sedang dipelajari. Setiap peserta didik yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberikan informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya (Trianto, 2012:117). Dengan demikian, konsep masyarakat belajar pada hakikatnya merupakan prinsip “saling belajar”. e) Pemodelan (modelling) Prinsip pembelajaran pemodelan adalah peserta didik belajar dari sesuatu yang dapat diikuti atau ditirunya. Dalam hal ini, dibutuhkan model sehingga peserta didik dapat melakukan sesuai dengan apa yang dimodelkan kepadanya. Siapa yang menjadi model dalam pembelajaran? Guru dapat menjadi model, namun guru bukanlah satu-satunya model. Guru dapat
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 137 menunjuk peserta didik lain untuk menjadi model, atau dapat pula guru memanfaatkan media audio-visual sehingga peserta didik dapat langsung mendengar dan melihat model dari orang lain di luar kelasnya. f) Refleksi (reflection) Pembelajaran merupakan sebuah proses untuk mencapai ketuntasan belajar peserta didik. Untuk dapat mengukur sejauh mana capaian ketuntasan belajar tersebut, perlulah guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Pada saat refleksi, peserta didik diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (Rusman, 2012:197). Refleksi sangat penting dilakukan karena selain dapat meninjau sejauh mana ketercapaian belajar peserta didik, khusus untuk guru, refleksi dapat dijadikan sebagai momen untuk melakukan umpan balik terhadap keunggulan dan kelemahan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. g) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) Penilaian yang sebenarnya atau penilaian autentik adalah bentuk penilaian yang didasarkan pada proses dan hasil pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai instrumen penilaian untuk mengukur tingkat kompetensi peserta didik, baik kognitif atau pengetahuan, afektif atau sikap, dan psikomotor atau keterampilan. Menurut Trianto (2012:118), karakteristik penilaian autentik adalah: (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan untuk formatif dan sumatif, (3) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, (4) berkesinambungan, (5) terintegrasi, dan (6) dapat digunakan sebagai feedback. 2. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat baik dikembangkan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Model pembelajaran
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 138 ini menjadi sangat penting karena di dalamnya terdapat banyak strategi pembelajaran yang mampu mengaktifkan kegiatan pembelajaran setiap peserta didik. Sesuai katanya, pembelajaran kooperatif berarti pembelajaran bekerja sama. Yang diutamakan dalam pembelajaran kooperatif adalah bagaimana setiap peserta didik mampu menguasai satu atau beberapa kompetensi dengan mudah melalui kerja sama dalam kegiatan kelompok. Walaupun demikian, pembelajaran kooperatif bukan sekadar kerja kelompoknya, melainkan pada penstrukturannya. Oleh sebab itu, system pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok terstruktur (Lie, 2010:18). Adapun karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif seperti dikemukakan oleh Rusman (2012:207) mencakup: (1) pembelajaran secara tim, (2) didasarkan pada manajemen kooperatif, (3) kemauan untuk bekerja sama, dan (4) keterampilan bekerja sama. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang menawarkan berbagai strategi atau metode pembelajaran yang aktif dan variatif. Beberapa strategi pembelajaran kooperatif seperti diuraikan berikut ini. a) Student Teams-Achievement Divisions (Pembagian Pencapaian Tim Peserta didik) Metode Student Teams-Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif (Slavin, 2008:143). Terdapat lima tahapan/komponen utama dalam metode STAD, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. b) Teams Games Tournament (Pertandingan Permainan Tim) Metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) hampir sama dengan metode STAD. Perbedaannya adalah, kuis dalam STAD digantikan dengan turnamen mingguan dalam TGT, di mana peserta didik memainkan game akademik dengan anggota
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 139 tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya (Slavin, 2008:13). Pokok pembelajaran metode TGT adalah (1) guru menyiapkan pelajaran, (2) peserta didik belajar di dalam timnya melalui turnamen permainan, (3) pemberian penghargaan melalui skor per timnya. c) Jigsaw Ciri utama strategi jigsaw adalah pembagian kelompok diskusi menjadi kelompok asal (home teams) dan kelompok ahli (expert teams). Pertama-tama guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, yang jumlah anggota kelompoknya terdiri atas beberapa orang yang membahas satu materi yang berbeda (kelompok asal). Setelah setiap anggota kelompok membahas satu materi, setiap anggota tersebut dipertemukan atau dipersatukan dengan anggota kelompok lain yang membahas materi yang sama, dan membentuk kelompok ahli. Kelompok ahli membahas setiap materi yang khusus menjadi bahasan mereka. Setelah itu, anggota kelompok ahli dikembalikan kepada kelompok asalnya masing-masing. Terakhir, setiap kelompok mempresentasikan hasil bahasan kelompoknya masing-masing. d) Think-Pair-Share (Berpikir-Berpasangan-Berbagi) Strategi ini menekankan kerja peserta didik secara berpasangan. Strategi ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Pertamapertama guru memberikan stimulus kepada peserta didik untuk berpikir dan mencari jawaban sendiri atas materi yang diberikan oleh guru. Kemudian guru meminta peserta didik untuk mencari pasangan dan mendiskusikan jawaban masing-masing. Terakhir, guru meminta setiap peserta didik berbagi ide atau gagasan masing-masing kepada teman-teman sekelasnya. e) Numbered Heads Together (Kepala Bernomor) Inti pembelajaran dengan strategi NHT adalah, (1) guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dan setiap anggota kelompok diberi nomor, (2) guru mengajukan beberapa
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 140 pertanyaan yang harus dijawab dan didisikusikan oleh setiap kelompok, (3) guru memanggil nomor tertentu, dan peserta didik yang mendapatkan nomor tersebut menjawab pertanyaan yang telah diberikan guru kepada peserta didik-peserta didik yang lain. f) Group Investigation (Investigasi Kelompok) Inti kegiatan pembelajaran investigasi kelompok adalah (1) guru membagi kelompok, (2) guru memilih topik utama dan peserta didik memilih subtopik untuk masing-masing kelompoknya, (3) setiap kelompok melakukan investigasi ilmiah, melalui pengumpulan data, analisis, sisntesis, dan penyimpulan, (4) presentasi hasil investigasi yang didiskusikan dengan kelompok lain. g) Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) Pokok kegiatan pembelajaran TSTS adalah: (1) guru membagi kelompok dan memberikan tugas berupa permasalahanpermasalahan yang harus disikusikan dalam kelompok, (2) setiap dua orang anggota kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu kepada kelompok lain, (3) dua anggota kelompok yang tinggal dalam kelompok masingmasing berkewajiban menjelaskan hasil diskusi kelompok mereka, (4) setiap anggota yang menjadi tamu pada kelompok lain kembali ke kelompok awal dan menyampaikan dan mencocokkan informasi dengan hasil diskusi kelompoknya. h) Make a Match (Mencari Pasangan) Ciri utama implementasi strategi ini adalah penggunaan kartukartu. Langkah-langkah utamanya adalah: (1) guru membagikan kartu-kartu yang berisi konsep atau informasi kepada setiap peserta didik, (2) peserta didik mencari pasangannya dengan cara mencocokkan konsep atau informasi dalam kartu yang telah dipegangnya, (3) setiap pasangan mempresentasikan hasil temuan dengan pasangannya masing-masing.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 141 i) Listening Team (Tim Pendengar) Strategi listening team atau tim pendengar dapat diterapkan dengan langkah-langkah utama : (1) guru memaparkan materi, (2) guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, (3) guru memberikan tugas yang berbeda untuk setiap kelompok, 1 kelompok sebagai kelompok penanya, 1 kelompok bertugas menyimpulkan, sedangkan kelompok lainnya sebagai penjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh kelompok penanya. 3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan model yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan dalam Trianto, 2012:92) Nur (2011:3) menyatakan sejumlah pengembang pembelajaran berbasis masalah telah mendeskripsikan model PBM dengan ciri-ciri atau fitur-fitur sebagai berikut. a) Mengajukan pertanyaan atau masalah PBM tidak mengorganisasikan pelajaran di sekitar prinsipprinsip akademi atau keterampilan-keterampilan tertentu, tetapi lebih menekankan pada mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara pribadi bagi peserta didik. Pelajaranpelajaran itu diarahkan pada situasi kehidupan nyata, menghindari jawaban sederhana, dan memperbolehkan adanya keragaman sosial yang kompetitif beserta argumentasinya. b) Berfokus pada interdisiplin Meskipun suatu pelajaran berdasarkan masalah dapat berpusat pada mata pelajaran tertentu (sains, matematika, IPS), masalah nyata sehari-hari dan otentik itulah yang diselidiki karena solusinya