The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Secara garis besar, buku ini memuat tiga materi pokok, yaitu apresiasi prosa fiksi, kajian prosa fiksi, dan pembelajaran prosa fiksi. Apresiasi prosa fiksi dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum kepada para pembaca tentang pentingnya membaca dan memahami esensi dari sebuah karya prosa fiksi. Kajian prosa fiksi bertujuan memberikan wawasan teoretis kepada mahasiswa sehingga menjadi bekal untuk melakukan kajian atau penelitian prosa fiksi. Sementara pembelajaran prosa fiksi dimaksudkan untuk membekali mahasiswa calon guru tentang pengetahuan dasar pembelajaran prosa fiksi dalam kerangka Kurikulum 2013.
Secara spesifik, buku ini memuat materi-materi sebagai berikut.
1. Konsep dan Jenis Prosa Fiksi
2. Unsur Intrinsik Prosa Fiksi
3. Unsur Ekstrinsik Prosa Fiksi
4. Apresiasi Prosa Fiksi
5. Kajian Prosa Fiksi
6. Pembelajaran Prosa Fiksi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dr. Herman Didipu, S.Pd., M.Pd, 2023-09-04 09:49:05

Buku Prosa Fiksi

Secara garis besar, buku ini memuat tiga materi pokok, yaitu apresiasi prosa fiksi, kajian prosa fiksi, dan pembelajaran prosa fiksi. Apresiasi prosa fiksi dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum kepada para pembaca tentang pentingnya membaca dan memahami esensi dari sebuah karya prosa fiksi. Kajian prosa fiksi bertujuan memberikan wawasan teoretis kepada mahasiswa sehingga menjadi bekal untuk melakukan kajian atau penelitian prosa fiksi. Sementara pembelajaran prosa fiksi dimaksudkan untuk membekali mahasiswa calon guru tentang pengetahuan dasar pembelajaran prosa fiksi dalam kerangka Kurikulum 2013.
Secara spesifik, buku ini memuat materi-materi sebagai berikut.
1. Konsep dan Jenis Prosa Fiksi
2. Unsur Intrinsik Prosa Fiksi
3. Unsur Ekstrinsik Prosa Fiksi
4. Apresiasi Prosa Fiksi
5. Kajian Prosa Fiksi
6. Pembelajaran Prosa Fiksi

Keywords: 01122008

Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 42 cerita novel ini pula ditemukan banyak kata atau diksi dalam bahasa Arab yang menjadi ciri khas seorang muslim, misalnya “Masya Allah”, “Insya Allah”, “Assalamualikum”, “Astaghfirullah”, “Alhamdulillah”. Tidak hanya itu, di dalam novel ini banyak ditemukan kutipan doa, dzikir, wirid, hadits, dan ayat-ayat AlQuran, yang kesemuanya memperkuat nuasa keislaman di dalam novel tersebut. Malam itu Fahri melawan lelah untuk ibadah. Wirid bacaan AlQur’an-nya hari itu masih kurang satu juz. Betapa berat untuk istiqamah. Murid Syaikh Utsman itu berdiri tegap me-muraja’ah ahafalan Al-Qur’an-nya dalam shalat malam. Hampir satu jam ia rukuk dan sujud sebelas rakaat. Setelah berdoa memohonkan ampun untuk diri sendiri dan kedua orang tuanya, Fahri menutupnya dengan doa istikharah. Ia ulang tiga kali doa itu. Pada bacaan yang terakhir, kedua matanya basah. Lalu ia rebah. Tak lama kemudian, ia terlelap dalam dzikirnya, “Allah, Allah, Allah…” (El Shirazy, 2015:341) Melalui karakter tokoh Fahri, pengarang sebenarnya ingin mengajak kepada pembaca untuk tetap konsisten dalam menjalankan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Sesibuk apa pun, selelah apa pun, setiap muslim jangan pernah putus beribadah. Salat lima waktu, salat sunnah tahajjud, membaca Al Quran, berdzikir, dan berdoa, jangan pernah ditinggalkan. Sekuat-kuatnya manusia, pasti membutuhkan Allah SWT sebagai pemilik segalanya yang ada di langit dan di bumi. Itulah sebabnya, setiap muslim harus senantiasa berserah diri di hadapan Allah. Seperti di dalam kutipan novel di atas, pengarang merepresentasikan figur muslim sejati melalui tokoh Fahri yang selalu istiqomah salat malam, membaca Al Quran, berdoa, bahkan berdzikir hingga terlelap tidur. Inilah sebagian kecil dari nilai religius yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. F. Aspek Psikologi Aspek psikologi berkaitan dengan gejala kejiwaan yang tercermin lewat karya sastra. Setiap karya sastra yang dihasilkan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 43 tidak dapat dilepaskan dari pengaruh psikologi pengarangnya. Aspek psikologi tersebut dapat diidentifikasi sebagai gejolak jiwa pengarang itu sendiri, dapat pula direpresentasikan lewat gejolak psikologi tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Tidak dapat dielakkan, gejolak psikologi tersebut dapat pula mempengaruhi pembaca. Pada kutipan novel Cahaya di Atas Cahaya di bawah ini, tampak gejolak kejiwaan pengarang yaitu Oki Setiana Dewi ketika ia sedang berada di depan Ka’bah. Ya Allah aku tak ingin pergi, hatiku ingin terus di sini…. Selesai Thawaf, rasanya aku tak bisa melangkahkan kaki untuk menjauh dari Ka’bah. Sedikitpun aku tak sanggup mengalihkan pandanganku. Entahlah, sudah berapa lama berdiri di sini memandangi Ka’bah yang suci, tepat di hadapannya. Perpisahan memang selalu meninggalkan duka mendalam. Dan berpisah dengan Ka’bah tanpa tahu pasti kapan bisa mengunjunginya lagi adalah hal yang begitu membuatku sedih. Senantiasa akan ada ruang rindu tersendiri di sini, di lubuk hati, rindu pada Ka’bah, rindu mengendap, yang setiap saat meledakmeledak. (Dewi, 2012:332) Pada kutipan novel di atas, sangat tampak gejolak psikologi tokoh aku yang dapat diiterpretasi sebagai pengarangnya, yaitu Oki Setiana Dewi. Gejolak jiwa si aku antara senang, sedih, dan rindu yang menjadi satu. Si aku senang dan bangga karena bisa berdiri di hadapan Ka’bah, kiblat umat Islam. Semua umat Islam pasti ingin memandangnya secara langsung. Ada getaran spiritual yang dirasakan oleh si aku ketika beribadah di depan Ka’bah. Di sisi lain, si aku menjadi sangat sedih karen harus meninggalkan Ka’bah sebagai akhir dari rutinitas ibadah. Hampir setiap orang yang pernah berkunjung ke Ka’bah untuk menunaikan ibadah haji maupun umroh merasakan hal yang sama. Terasa kaki tidak sanggup untuk melangkahkan kaki meninggalkan Ka’bah. Pandangan rasanya tidak bisa dipalingkan dari keindahan pancaran kesucian Ka’bah. Tibatiba muncul kerinduan dalam hati si aku karena harus meninggalkan Ka’bah. Belumlah ia meninggalkan Ka’bah, telah terbesit dalam pikiran dan hatinya untuk bisa kembali mengunjungi Ka’bah. Inilah


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 44 puncak psikologi yang dirasakan oleh si aku. Rasa rindunya sekan mengendap, bahkan terasa akan meledak-ledak. Contoh lain dapat dilihat pada kutipan novel Sunset Terakhir di Teheran karya Zhaenal Fanani. Dalam novel tersebut dikisahkan tokoh Shana yang mengalami tekanan batin yaitu stres akibat masalah yang dia hadapi tentang kematian orang tuanya dan pekerjaan yang tekuninya. Pekerjaan yang selalu di awasi dan di kontrol. Namun, pekerjaan itulah yang pada akhirnya dapat menungkap siapa sebenarnya pembunuh dari kedua orang tuannya. Dia sendiri tidak menduga akan bersingungan dengan sesuatu yang tak pernah dibayangkannya. Sesuatu yang setahap demi setahap justru membuatnya merasa bangga dalam sepinya malam. Disinilah ia menemukan jawaban-jawaban yang selama ini dicari tentang tewasnya kedua orang tua dan ibu angkatnya. Namun di sini pula ia mulai merasa didera kegelisahan-kegelisahan baru yang justru membuatnya seperti terpenjara dan terbebani. Setiap gerakannya selalu dikontrol, setiap tindakannya diawasi. (Fanani, 2012:174). Dari kutipan di atas pembaca dapat mengetahui sendiri bagaimana tekanan batin yang dialami oleh tokoh Shana. Bagaimana perasaan yang ia alami ketika ia harus melakukan suatu pekerjaan yang selalu dikontrol dan ia harus melakukan hal-hal yang tidak bisa ditolaknya. Namun di sisi lain, berkat pekerjaannya tersebut Shana secara perlahan-lahan mulai dapat mengungkap misteri kematian kedua orang tuanya. G. Aspek Ekologi Aspek ekologi berkaitan dengan gambaran keadaan lingkungan atau alam kapan dan di mana karya sastra diciptakan. Seperti tampak pada novel Anak Bakumpai Terakhir, pengarang menggambarkan kondisi lingkungan alam di pedalaman Kalimantan yang didiami oleh kelompok suku Dayak. Letak geografis wilayah komunitas suku Dayak dikelilingi hutan dan sungai. Hasil hutan dan sungai itulah yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat setempat. Berbagai kebutuhan hidup mereka sangat bergantung pada


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 45 ketersediaan hasil hutan dan sungainya. Bagi masyarakat Dayak, “Alam dan sungai adalah napas bagi orang-orang suku di Barito, air adalah darah dan tanah adalah asal muasal manusia.” Itulah sebabnya, masyarakat setempat selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam dan lingkungan mereka. Tidak hanya mengambil dan memanfaatkan hasilnya, masyarakat setempat pun wajib menjaga kelangsungan dan kelestarian alam di sekitar mereka. Bahkan, secara tegas kewajiban memanfaatkan dan menjaga kelestarian alam diatur di dalam tata peradatan masyarakat suku Dayak, termasuk Dayak Bakumpai. Apa menjelaskan bahwa maraknya eksploitasi dan konversi hutan pulau kami menjadi pertambangan dan perkebunan membuat seorang pemuka adat seperti Kai, yang memegang teguh aturan adat, menolak tawaran investor untuk mengksploitasi hutan adatnya. Penolakan untuk mengambil kayu secara besar-besaran ini didasarkan pada keyakinan bahwa adat telah mengatur bagaimana memanfaatkan kayu di hutan. Hal itu tidak terlepas dari peran Rumah Panjang sebagai identitas dan pengikat solidaritas warga antar suku. (Nurmalia, 2013:72) Apa mengutarakan pada kami bahwa Kai pernah mengatakan kepadanya, nenek moyangnya sejak dulu telah menjaga hutannya dengan baik sesuai dengan aturan adat yang mereka pegang. Tentulah masyarakat kami mengharapkan hutan utuh dan normal tempat mengambil kebutuhan sehari-hari. Sumber makanan seperti sayur dan ikan selalu ada tersedia. Aturan bermasyarakat juga memiliki batas-batas daerah sesuai kesepakatan suku. (Nurmalia, 2013:73). Aturan adat untuk memanfaatkan dan menjaga kelestarian alam telah ditetapkan sejak zaman dahulu dan sudah dilaksanakan oleh nenek moyang suku Dayak. Ketentuan adat tersebut merupakan ramuan pemikiran dari para pemimpin adat suku Dayak pada waktu itu melalui musyawarah adat yang dilaksanakan di Rumah Panjang atau rumah adat suku Dayak. Dalam ketentuan adat tersebut telah ditetapkan jenis hasil hutan dan hasil sungai yang boleh diambil dan yang tidak boleh diambil. Hal itu dimaksudkan agar kelangsungan hidup jenis hasil hutan yang lain tetap terus terjaga. Dengan begitu,


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 46 sumber makanan yang selalu dimanfaatkan oleh masyarakat setempat akan selalu tersedia di alam. Contoh lain aspek ekologi dalam karya prosa fiksi dapat dilihat dalam kumpulan cerpen Kayu Naga (2007) karya Korrie Layun Rampan. Dalam kumpulan cerpen tersebut sangat terasa nuansa ekologis yang disajikan oleh pengarangnya, khususnya kondisi lingkungan yang ada di Kalimantan. Di dalamnya dikisahkan kehidupan masyarakat suku Dayak yang menggantungkan hidup mereka dari hasil alam, flora dan fauna yang hidup di hutan, eksplorasi hasil hutan, hingga kondisi kerusakan lingkungan akibat penebangan liar maupun penebangan legal perusahaan pemegang HPH. Perhatikan kutipan cerpen berikut ini. Sebagai pohon yang tumbuh di dataran tinggi, kayu naga cukup liat. Namun jarang warga kampung mau mengambilnya sebagai material rumah tinggal. Ada juga yang menggunakannya, khusus untuk bangunan-bangunan darurat, bivak-bivak, kandang sapi atau kandang ayam. Tidak seperti kayu ayau yang sering digayat untuk dijadikan kasau, reng, atau gelagar, kayu naga lebih banyak dijadikan bahan bakar pengusir nyamuk, lalat, dan segala serangga yang mengganggu di dalam rumah. (Rampan, 2007:3) Kutipan merupakan penggalan cerpen “Kayu Naga” yang di dalamnya menggambarkan kekayaan alam khususnya hutan di Kalimantan. Berbagai jenis pohon tumbuh subur dengan berbagai jenis binatang liar hidup di dalamnya. Masyarakat setempat banyak memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup mereka. Batang-batang pohon dijadikan bahan bangunan, ada pula yang dijadikan kandang, serta bahan bakar untuk mengusir serangga. Binatang-binatang di hutan diburu untuk dijadikan bahan makanan. Namun, ada pula oknum masyarakat setempat yang membabat hutan untuk kepentingan berladang dan berkebun. Hal tersebut lebih diperparah lagi dengan masuknya pengusaha-pengusaha yang memegang HPH untuk menebang pohon secara legal.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 47 H. Aspek Feminis Aspek feminis berkaitan dengan representasi perempuan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang menggambarkan posisi perempuan dalam realitas kehidupan sosial. Aspek feminis seperti tampak pada novel Geni Jora karya Abidah El Khalieqy yang berkisah tentang seorang gadis bernama Kejora yang hidupnya di pesantren. Ayah dan nenek Jora sangat menjunjung tinggi budaya patriarki yakni seorang laki-laki selalu dianggap sebagai the first class sedangkan perempuan selalu menjadi the second class. Ketidakadilan gender yang dialaminya sejak kecil sehingga membuat Jora memberontak dan menginginkan adanya kesetaraan gender atau emansipasi wanita. Tokoh Jora selalu mendapat perlakuan yang tidak adil hanya karena ia seorang perempuan. Berbanding terbalik dengan Prahara, adiknya. Prahara lebih dapat bergerak bebas semaunya. Tanpa harus khawatir dengan larangan-larangan yang diberlakukan dalam keluarga itu. Tidak seperti Jora. Kadang aku merasa, kami seakan hidup dalam komunitas harem, seperti kisah para harem yang diceritakan oleh ibu tiriku Fatmah. Sebab, sekalipun kami menempati rumah yang besar dan pekarangan yang luas, tetapi ayah menutupi seluruh pekarangan dengan tembok setinggi tiga meter kecuali pagar depan rumah. Dengan pagar setinggi itu, aku tidak dapat menyaksikan komedi monyet yang suka lewat di jalan atau membeli tahu solet sendiri tanpa mengandalkan Yu Blakinah. Sehari-harinya, teman bermainku juga terbatas. Aku hanya dapat bermain bersama anak paman atau saudara dekatku yang dibolehkan masuk ke dalam pekarangan kami. Tidak seperti Prahara, ia boleh membuka pintu besar sesukanya dan mengikuti komedi monyet hingga ujung kampung. Ia boleh main sepak bola di lapangan umum atau melihat reog di dekat pasar. (Khalieqy, 2009:74-75) Dari sinilah tumbuh jiwa pemberontak tokoh Jora yang ingin bebas dari budaya patriarki. Jora ingin keluar dan melawan ketertindasan dan ketidakadilan gender. Semangat memperjuangkan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 48 emansipasi dilakukan Kejora dengan cara belajar giat sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa ke Maroko. Dia ingin membuktikan kepada sang nenek bahwa perempuan juga bisa mendapatkan hak yang sama seperti hak laki-laki. Bahkan, lebih dari yang dibayangkan sebelumnya, Jora berhasil menjatuhkan mitos sang nenek yang memandang perempuan hanya sebagai tong sampah serta sederet kata-kata yang dari kecil hingga dewasa dibenci Jora. Tidak hanya kesetaraan dalam hidup sehari-hari maupun dalam pendidikan, melalui novel Geni Jora ini pengarang ingin mengajarkan kepada para wanita agar jangan pernah tunduk pada lelaki apalagi lelaki yang mengharapkan cinta mereka. Perempuan harus selektif dalam memilih kekasih berdasarkan bibit, bebet, dan bobotnya yang baik. Jika memang sudah digariskan untuk mencintai seorang laki-laki, maka perempuan harus mampu membuat laki-laki itu sadar bahwa perempuan juga bisa berbuat seperti apa yang dilakukan para lelaki, karena perempuan mempunyai hak, berakal cerdas dan cerdik. Aspek feminis lain dapat dilihat pada novel Merpati Biru karya Achmad Munif. Salah satu yang digambarkan dalam novel tersebut adalah diskriminasi terhadap perempuan yang diperdagangan menjadi pelacur, mengalami tindakan perkosaan dan pelecehan seksual, pornoaksi, serta kekerasan di dalam rumah tangga. Lalu apa, Dik Tin? Tidak ada sebutan yang paling pantas buat kita selain pelacur. Seorang perempuan yang memberikan tubuhnya untuk kaum lelaki tanpa nikah, adakah sebutan lain yang lebih pantas? Apalagi kita melakukannya dengan bayaran. Memang, kata itu bisa juga dihaluskan, misalnya kita ini disebut “wanita penghibur” atau “pramunikmat” atau pemuas nafsu”, tapi hakekatnya sama saja, kan? (Munif, 2002:94) Kutipan di atas hanyalah satu contoh diskriminasi perempuan yang dieksploitasi menjadi pelacur atau wanita penghibur. Bahkan, pelajar dan mahasiswa pun menjadi sasaran para mucikari untuk dijajakan kepada laki-laki hidung belang. Gadis-gadis belia


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 49 diberikan kepada para lelaki berduit untuk menemani mereka untuk tidur di hotel dengan imbalan uang yang besar. Para gadis itu pun tidak punya alasan untuk menolak karena terdesak untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Keterdesakan ekonomi ini menjadi kesempatan para penjaja perempuan untuk meraup keuntungan yang besar. -oo0oo-


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 50


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 51 Bab IV APRESIASI PROSA FIKSI A. Hakikat Apresiasi Sastra Secara etimologis, kata “apresiasi” berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti ‘mengindahkan’ atau ‘menghargai’ (Aminuddin, 2009:34). Istilah apreciatio dalam bahasa Latin mengandung makna yang sama dengan kata appreciation (bahasa Inggris) dan appréciation (bahasa Prancis) yang berarti penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman (Sudjiman, 2006:9). Dalam pengertian umum, kata apresiasi digunakan untuk menyatakan sebuah penghargaan dan pujian untuk mendukung sebuah hasil kreativitas atau pekerjaan seseorang. Definisi apresiasi sastra telah banyak dikemukakan oleh pakar sastra. Berikut dikutipkan beberapa definisi apresiasi sastra menurut para pakar. Pandangan sederhana tentang apresiasi sastra seperti dikemukakan oleh Hartoko dan Rahmanto (1986:17). Menurut


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 52 Hartoko dan Rahmanto bahwa apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Sudjiman (2006:9) menyatakan bahwa apresiasi sastra sebagai penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman. Hayati dan Muslich (1995:5) berpendapat bahwa apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berbentuk puisi maupun prosa. Saliman (1996:3) menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra sehingga tertanam sikap positif terhadap karya sastra itu. Sikap positif itu, lanjut Saliman, tercermin dalam cara memandang (visi) terhadap karya sastra, dan tingkat pengenalan serta cara menilai karya sastra. Dalam istilah sastra, Zaidan, dkk (2000:35) mengartikan apresiasi sastra sebagai penghargaan atas karya sastra sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin, terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu. Pandangan yang cukup kompleks tentang apresiasi sastra seperti dikemukakan oleh Saryono (2009:34). Menurut Saryono, apresiasi sastra adalah proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentum, subjektif dan eksistensial, rohaniah dan budiah, khusus dan kafah, dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Pendapat yang dianggap lebih komprehensif tentang pengertian apresiasi sastra telah dikemukakan oleh Effendi (2002:17). Menurut Effendi, ”Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.”


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 53 Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik beberapa intisari hakikat apresiasi sastra. Apresiasi sastra tidak lain adalah sebuah aktivitas emosional dan intelektual yang evaluatif terhadap sebuah karya sastra. Artinya, seseorang yang telah melibatkan perasaan atau emosinya dengan karya sastra, baik suka membaca, menggemari karya sastra, ataupun senang dengan karya sastra, hakikatnya dia telah melakukan aktivitas apresiasi. Demikian pula seseorang yang telah mampu menyelami karya sastra lebih dalam melalui aktivitas penghayatan, penelaahan, maupun penafsiran makna yang terkandung di dalam karya sastra, dia pun telah melakukan apresiasi terhadap karya sastra. Tidak terkecuali pula seseorang yang telah mencoba memberikan penilaiannya terhadap karya sastra serta mampu menghasilkan karya sastra, dapat dikatakan sebagai bentuk aktivitas apresiasi sastra. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah aktivitas menghargai karya sastra melalui keterlibatan emosi, intelektual, dan evaluatif sehingga mampu memberikan pemahaman terhadap karya sastra. B. Tujuan Apresiasi Sastra Berdasarkan beberapa pengertian apresiasi sastra di atas, jelas bahwa tujuan utama apresiasi sastra adalah tumbuhnya pemahaman terhadap karya sastra itu sendiri. Pemahaman dalam hal ini adalah kesadaran terhadap hakikat sastra sebagai karya seni yang dihasilkan oleh manusia, berisi berbagai hal tentang manusia, yang nantinya bermanfaat bagi manusia. Karya sastra ditulis oleh seorang pengarang yang merupakan kolaborasi antara realitas dan imajinasi. Realitas itulah yang menjadi bahan dasar yang dituangkan dalam karya sastra. Oleh sebab itu, ketika kita membaca sebuah karya sastra, sama halnya kita melihat realitas hidup dan kehidupan yang berada di sekeliling kita. Dalam pandangan Saryono (2009:52), apresiasi sastra mempunyai tujuan untuk memberikan pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan hiburan kepada pengapresiasinya. Pertama, apresiasi


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 54 sastra dapat memperkaya pengalaman rohaniah-batiniah manusia. Kedua, apresiasi sastra menghidangkan pengetahuan-pengetahuan sebagai daya penangkapan kognitif, konseptual, dan penyimpulan atas fenomena-fenomena karya sastra yang diapresiasi. Ketiga, apresiasi sastra bisa memberikan kesadaran tentang berbagai hal : tentang keindahan, kekejaman, ketidakmanusiawian, kebermaknaan hidup, hakikat hidup manusia, hakikat hidup bersama, kebobrokan dan kelicikan permainan kekuasaan, ketidakmampuan manusia berkelit dari belenggu tradisi budayanya, dan sebagainya. Keempat, apresiasi sastra menyuguhkan hiburan, karena semua genre sastra selalu mengibur; memancarkan sinyal-sinyal permainan yang menyenangkan dan menghibur. C. Manfaat Apresiasi Sastra Apresiasi sastra mempunyai manfaat yang besar bagi setiap apresiatornya. Aminuddin (2009:61) mengelompokkan manfaat mengapresiasi sastra (termasuk membaca sastra) ke dalam dua ragam, yaitu manfaat secara umum dan manfaat secara khusus. Secara umum, apresiasi sastra bermanfaat untuk (1) mendapatkan hiburan, dan (2) pengisi waktu luang. Secara khusus, apresiasi sastra bermanfaat (1) memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan, (2) memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri. Selain manfaat yang dikemukakan oleh Aminuddin di atas, kegiatan apresiasi sastra dapat bermanfaat untuk hal-hal berikut ini. 1. Menumbuhkan kepekaan emosi seseorang terhadap karya sastra. 2. Menciptakan kesan estetis dalam diri pembaca sehingga pembaca menjadi lebih senang dengan karya sastra. 3. Meningkatkan pemahaman pembaca sastra terhadap kandungan makna dan nilai dalam karya sastra.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 55 4. Dapat membimbing pembaca sastra untuk selalu meneladani nilai-nilai positif yang ada di dalam karya sastra. 5. Melahirkan insan-insan yang kritis terhadap berbagai fenomena kehidupan sehingga dapat menyalurkannya terhadap penciptaan karya sastra. D. Bekal Awal Apresiator Sastra Uraian-uraian pada bagian sebelumnya mengisyaratkan kepada kita bahwa kegiatan apresiasi sastra merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Orang yang telah membaca karya sastra telah dapat dikatakan berapresiasi, namun apresiasi sastra tidak hanya sampai pada kegiatan membaca. Kegiatan membaca tidak sepenuhnya dapat memberikan pemahaman terhadap makna sebuah karya sastra. Untuk dapat mengapresiasi sastra secara utuh, yaitu memahami karya sastra, seorang apresiator sastra minimalnya mempunyai dua bekal utama, yaitu kepekaan emosional dan kekritisan pikiran. Pertama, kepekaan emosional membantu apresiator sastra untuk lebih menyelami suasana dalam karya sastra. Sastra pada hakikatnya diciptakan sebagai bentuk luapan perasaan/emosi pengarangnya. Ketika seseorang ingin mengapresiasi karya sastra, berarti dia akan menyelami perasaan pengarangnya. Untuk dapat memahami emosional pengarang dalam karya sastra, maka dibutuhkan pula kepekaan emosional apresiatornya. Kedua, kekritisan pikiran akan sangat membantu apresiator untuk lebih jeli melihat setiap unsur kebahasaan dalam karya sastra, baik yang berupa unsur bentuk (bunyi, kata, kalimat, maupun wacana) dan unsur makna (denotatif, konotatif, maupun simbolik). Dalam pandangan Aminuddin (2009:38), untuk melakukan kegiatan apresiasi terhadap karya sastra, apresiator sastra dipersayaratkan memiliki bekal-bekal tertentu. Pertama, kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam cipta sastra. Kedua, pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 56 dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan, baik lewat penghayatan kehidupan ini secara intensif-kontemplatif maupun dengan membaca buku-buku yang yang berhubungan dengan masalah humanitas. Ketiga, pemahaman terhadap aspek kebahasaan. Keempat, pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra. E. Bentuk-Bentuk Apresiasi Sastra Secara garis besar, apresiasi sastra dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu apresiasi reseptif, apresiasi aplikatif, dan apresiasi produktif. 1. Apresiasi Reseptif Apresiasi reseptif adalah bentuk apresiasi sastra yang lebih menekankan sikap positif terhadap karya sastra. Bentuk apresiasi reseptif ini dapat dilihat dari kecintaan dan kegemaran seseorang dalam membaca karya sastra. Semakin sering dan semakin banyak seseorang membaca karya sastra, maka hakikatnya semakin tinggi apresiasinya terhadap cipta karya sastra. Bekal awal apresiasi reseptif hanyalah pengalaman dan hobi dalam membaca karya sastra. 2. Apresiasi Aplikatif Apresiasi aplikatif adalah bentuk apresiasi sastra yang menekankan pemahaman pembaca terhadap makna yang terkandung dalam karya sastra melalui penerapan berbagai pendekatan atau teori untuk mengungkap makna tersebut. Bentuk apresiasi aplikatif ini sangat dekat dengan kegiatan kajian atau kritik sastra karena di dalamnya membutuhkan dasar pendekatan atau teori sastra yang cukup memadai. Bekal awal apresiasi aplikatif adalah pengatahuan dasar pembaca terhadap berbagai pendekatan atau teori sastra. 3. Apresiasi produktif Apresiasi produktif adalah bentuk apresiasi sastra yang menekankan produktivitas pembaca karya sastra untuk bisa menghasilkan atau menciptakan karya sastra, baik puisi, prosa fiksi, maupun drama. Bentuk apresiasi produktif ini dimaksudkan untuk


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 57 lebih menggiatkan aktivitas cipta sastra, sehingga pembaca karya sastra tidak hanya menjadi konsumen karya, namun lebih dari itu mampu menjadi produsen karya sastra yang nantinya dapat dibaca oleh orang lain. Bekal awal apresiasi produktif ini adalah bakat dan ketekunan untuk terus berlatih menulis karya sastra. F. Pendekatan dalam Apresiasi Prosa Fiksi Kegiatan apresiasi sastra dapat dilakukan oleh siapa saja dengan berbagai pendekatan. Aminuddin (2009:40) membagi enam pendekatan dalam apresiasi sastra, (1) pendekatan parafrastis, (2) pendekatan emotif, (3) pendekatan analitis, (4) pendekatan historis, (5) pendekatan sosiopsikologis, (6) pendekatan didaktis. Berikut uraian singkat tentang enam pendekatan seperti dikemukakan Aminuddin tersebut, serta contoh aplikasinya pada genre sastra prosa fiksi dan genre sastra drama. 1. Pendekatan Parafrastis Pendekatan parafrastis adalah strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya (Aminuddin, 2009:41). Prinsip dasar dari penerapan pendekatan ini, menurut Aminuddin (2009:41) adalah (1) gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, (2) simbol-simbol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna, (3) kalimat-kalimat atau baris dalam suatu cipta sastra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi kepada bentuk dasarnya, (4) pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolik dan eliptis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan, (5) pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 58 menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri. Lebih lanjut Aminuddin menyatakan bahwa tujuan akhir penggunaan pendekatan parafrastis adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Contoh aplikasi pendekatan parafrastis dalam apresiasi prosa fiksi: Disalin dari Abdul Rani dan Sugiarti (1996:22-23). Sinopsis Novel Azab dan Sengsara Karya Merari Siregar Di kota Sipirok, ada seorang bangsawan yang kaya raya. Keluarga bangsawan kaya raya ini mempunyai dua orang anak, yang satu laki-laki dan yang satu perempuan (yang perempuan tidak diceritakan oleh pengarangnya, baik itu kenyataan kehidupannya dan bahkan namanya tidak disebutkan). Anak yang laki-laki itu bernama Sutan Baringin. Sutan Bringin itu begitu dimanjakan oleh ibunya, segala kehendaknya dituruti dan selalu dibela bila ia melakukan kesalahan. Akibatnya perlakuan yang demikian, kemudian menjadikan Sutan Baringin seorang laki-laki yang manja, malas, keras kepala, angkuh, serta berperangai jelek. Sutan Baringin kemudian dikawinkan dengan Nuria, seorang perawan pilihan ibunya. Nuria, perempuan berhati mutiara itu, sebenarnya tidak mencintai Sutan Baringin, namun karena terpaksa dan untuk menyenangkan hati orang tua, maka dia pun dengan sabar selalu menemani Sutan Baringin dengan setiap sampai mereka punya anak, yang satunya laki-laki dan satunya lagi perempuan. Anak perempuan bernama Mariamin, sedangkan yang laki-laki oleh pengarangnya tidak diceritakan. Mariamin termasuk perempuan yang berbudi luhur, taat terhadap agama maupun orang tua, budi bahasanya halus, serta sopan santun. Setelah merangkak remaja, Mariamin jatuh cinta dengan pemuda yang bernama Aminuddin, yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri, yaitu anak adik perempuan dari Sutan Baringin. Namun percintaan mereka tidak kesampaian karena dihalangi oleh ayah Aminuddin sendiri, dengan alas an Mariamin adalah orang miskin. Sebenarnya ibu Aminuddin setuju, tapi karena suaminya tidak


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 59 setuju, maka terpaksa dia mengalah pada suaminya. Aminuddin sendiri kemudian kawin dengan perawan pilihan orang tuanya. Setelah menikah, Aminuddin pindah ke Medan. Sedangkan Mariamin sendiri, kemudian jatuh sakit karena cintanya yang tidak kesampaian itu. Oleh orang tuanya, Mariamin dikawinkan dengan Kasibun, seorang laki-laki hidung belang dan berperangai jelek, sekaligus Kasibun mempunyai penyakit kronis. Perilaku Kasibun kepada Mariamin begitu buruk dan sudah sangat keterlaluan, akhirnya Mariamin minta cerai. Di pengadilan agama, gugatan cerai Mariamin dikabulkan oleh hakim agama, dan Mariamin pun cerai dengan Kasibun. Dengan hati hancur, Mariamin kembali ke Sipirok, dan di sanalah dia menetap dengan penuh kesengsaraan sampai akhir hayatnya. Seberanya tidak hanya Mariamin yang jatuh sengsara harta, jiwa, fisiknya, tapi sekaligus kedua orang tuanya juga jatuh sengsara yang luar biasa. 2. Pendekatan Emotif Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca (Aminuddin, 2009:42). Fokus utama apresiasi sastra dengan pendekatan emotif adalah pengungkapan berbagai aspek keindahan yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Keindahankeindahan tersebut dapat ditampilkan melalui permainan bunyi, pemilihan kata-kata yang estetis, maupun penggunaan berbagai majas yang kesemuanya itu memberikan suasana keceriaan dalam sebuah karya sastra. Pertanyaan mendasar untuk menerapkan pendekatan ini adalah: menurut Anda, indah atau tidak karya sastra yang Anda baca? Jika indah, pada bagian apa saja aspek keindahan tersebut ditampilkan? Terakhir, bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan dalam karaynya? Pendekatan emotif merupakan jalan untuk menunjukkan eksistensi karya sastra sebagai karya seni yang mampu memberikan hiburan (to entertain atau dulce) kepada para pembacanya.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 60 Contoh pendekatan emotif dalam apresiasi prosa fiksi: Layla Majnun Karya Nizami Ganjawi: Manisnya Cinta di Balik Indahnya Bahasa Roman Layla Majnun (LM) karya Nizami Ganjawi merupakan salah satu novel legendaris yang berasal dari tanah Arab. Sama halnya dengan novel Romeo dan Juliet (RJ) karya William Shakespeare, roman LM telah menjadi salah satu karya sastra dunia karena sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Keduanya sama-sama mengangkat masalah cinta abadi antartokoh utamanya. Walaupun demikian, jika dibandingkan dengan RJ, roman LM merupakan roman yang tidak hanya menyuguhkan manisnya cinta, namun lebih dari itu roman ini mampu menyuguhkan indahnya rangkaian kata yang mampu memesonakan pembacanya. Manisnya cinta dirasakan oleh dua tokoh utamanya, yaitu Qays bin al Mulawwah yang sangat tergila-gila dengan cintanya kepada Layia. Sebab itulah Qays disebut sebagai “Majnun” yang berarti ‘si gila’. Kuatnya cinta Majnun membuat dia lupa daratan dan rela melakukan apa saja. Inilah manisnya cinta yang dapat membuat orang lupa akan segalanya. Hal ini dapat dilihat dari penggalan cerita berikut ini. Namun jalan untuk berjumpa dengan Layla semakin sulit dan terjal. Ia seperti nelayan kehilangan arah, tak tahu kapan biduk akan sampai pada tujuan, pun tidak tahu bagaimana harus kembali. Ia diombangambingkan oleh gelombang kerinduan dan terseret semakin jauh dalam pusaran cinta. ... Atau: Majnun kembali berlari meninggalkan rumah. Ia merasa di alam raya dapat lebih tenang dan bahagia, ia dapat menyebut nama Layla sepuas hati, tanpa ada yang melarang atau menghina. ... Manisnya kisah cinta antara Majnun dan Layla dibungkus dengan rangkaian kata yang indah. Keindahan bahasa tersebut dapat dilihat dari dua hal, yaitu narasi atau aspek penceritaan, dan hadirnya syair-syair indah yang berisi ungkapan perasaan. Berikut adalah penggalan cerita LM yang di dalam narasinya terkandung keindahan bahasanya.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 61 Suatu hari Layla sedang berada di taman dekat rumpun bunga lili diiringi beberapa puteri. Perawan Arab itu terlihat mekar berseri, bibirnya terlihat lebut kemerahan, gigi berkilap laksana mutiara dan rambutnya terlihat ikal bergelombang. Atau: Sikap sang ayah yang tidak bisa memahami penderitaan jiwanya semakin membuat hati Majnunterluka parah. Kekecewaan itu terpampang jelas di pipinya yang selalu basah oleh air mata. Di wajahnya tergambar jelas badai kemarahan yang lebih hebat dari letusan gunung berapi. Dua penggalan cerita di atas memperlihatkan betapa pengarang mampu menggunakan bahasa sebaik mungkin sehingga terkesan sangat estetis. Penggunaan majas atau bahasa kias dalam narasi membuat kisah LM menjadi lebih menarik dan memukau pikiran dan perasaan pembaca. Selain dari aspek narasi, keindahan bahasa dalam LM ditampilkan lewat syair-syair yang puitis. Berikut contoh penggalan syair-syair tersebut. Jiwa orang yang dimabuk cinta Akan merasa sakit Karen rindu Sebab pecinta selalu ingin bersama Tapi halangan tiada ada henti-henti Pecinta seperti dua ekor kijang di bukit tandus Walau tiada makanan, tetapi mereka tetap bersama Aku seperti burung merpati Walaupun terbang bebas di angkasa luas Tetap saja kembali pada kekasihnya Aku laksana ikan tuna Tetap tabah walau dipermainkan ombak Timbul-tenggelam di laut Penggalan syair di atas diucapkan oleh Majnun sebagai ungkapan rasa rindu dan cintanya kepada Layla. Dengan hadirnya syair-syair dalam LM, terasa sempurnalah estetika bahasa Nizami dalam romannya ini. Kecenderungan estetika


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 62 bahasa yang hadir dalam roman LM inilah yang menjadikan roman ini sebagai roman legendaries sepanjang masa. Dikenal tidak hanya manisnya kisah cinta remaja, namun lebih dari itu indahnya bahasa dalam narasi dan syair-syairnya. 3. Pendekatan Analitis Pendekatan analitis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya (Aminuddin, 2009:44). Prinsip dasar penerapan pendekatan analitis ini identik dengan prinsip dasar penerapan teori struktural yang melihat karya sastra sebagai karya yang otonom. Teeuw (1984:112) menyatakan bahwa analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang sama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Dalam hal ini, penerapan teori struktural lebih diarahkan pada unsur-unsur intrinsik karya sastra (Wiyatmi, 2006:89). Contoh penerapan pendekatan analitis dapat dilihat pada penggalan analisis cerpen ”Selamat Datang Cinta” karya N.H. Huda berikut ini. Unsur metode karakterisasi cerpen ”Selamat Datang Cinta” karya N.A. Huda berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik lainnya. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, hakikatnya unsur metode karakterisasi tidak dapat dipisahkan dengan unsur intrinsik lainnya. Keterkaitan antarunsur inilah yang menciptakan kepaduan makna cerita dalam cerpen ini. Untuk jelasnya, berikut adalah keterkaitan atau hubungan antara unsur metode karakterisasi cerpen ”Selamat Datang Cinta” karya N.A. Huda dengan beberapa unsur intrinsik lainnya.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 63 1) Hubungan Metode Karakterisasi dengan Tema Sesuai dengan judul cerpen yaitu ”Selamat Datang Cinta”, cerpen ini mengangkat masalah percintaan di kalangan para remaja. Isu percintaan merupakan masalah utama yang ingin dikemukakan oleh N.A. Huda dalam cerpennya ini. Oleh sebab itu, tema utama dalam cerpen ini adalah tema percintaan. Tema percintaan dalam cerpen ini dapat dibuktikan dengan hadirnya tokoh-tokoh muda-mudi yang berusis remaja, tepat dengan masa-masa mengenal cinta. Dalam cerita ini dihadirkan tokoh-tokoh cewek dan cowok yang saling mengenal dan jatuh cinta. Ada cowok yang mencintai dan ada pula cewek yang dicintai oleh cowok. Semuanya berbaur menjadi sebuah kumpulan karakter remaja yang mampu membangun suasana cerita yang romantis, identik dengan masa-masa remaja yang penuh dengan cerita cinta. Tema ”percintaan” sangat kental dalam cerita ini dengan dihadirknanya tokoh Anne yang berperan sebagai cewek yang cantik dan dicintai oleh tiga orang cowok keren. Tiga tokoh cowok itu, Arik, Raka, dan Iwan, yang ketiga-tiganya mengungkapkan cinta kepada Anne. Ungkapan cinta ketiga cowok tersebut membuat konflik batin dalam diri Anne. Anne diperhadapkan dengan pilihan yang berat. Akibatnya dia menjadi dilema, bimbang, dan bingung untuk menentukan pilahannya. Akhirnya Anne berpikir untuk bercerita kepada Rere, adiknya, Wati, temannya, dan mamanya sendiri. Sebagai tempat dimintai pertimbangan, Rere, Wati, dan Mama Anne sering mengalami kebingungan karena harus memberikan saran kepada orang sedang jatuh cinta. Berbagai karakter tokoh dalam cerita mendukung hadirnya tema percintaan dalam cerpen ini. 2) Hubungan Metode Karakterisasi dengan Sudut Pandang Unsur sudut pandang (point of vieuw) merupakan unsur intrinsik cerpen ”Selamat Datang Cinta” karya N.A. Huda yang sangat dekat dengan unsur metode karakterisasi. Bahkan, sebagian besar metode karakterisasi dikemukakan melalui penggunaan sudut pandang. Sudut pandang digunakan pengarang untuk menyampaikan atau mengisahkan ceritanya.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 64 Salah satu aspek yang ingin dikisahkan oleh pengarang itu adalah tokoh, karakter tokoh, dan tentunya metode karakterisasi masing-masing tokoh tersebut. Untuk itu, apa pun jenis sudut pandang yang dipilih oleh pengarang, pasti bersentuhan langsung dengan metode karakterisasi tokoh dalam cerita. Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerpen ini adalah sudut pandang ”orang ketiga serba tahu” atau ”diaan tidak terbatas”. Artinya, pengarang mengetahui dengan pasti semua watak tokoh dalam ceritanya. Jika diperhatikan metode karakterisasi yang dominan digunakan oleh pengarang dalam cerpen ini adalah metode diskursif atau metode langsung. Pengarang sendiri yang secara langsung menggambarkan hampir setiap watak tokoh-tokohnya. Walaupun secara umum metode karakterisasi yang digunakan adalah metode diskursif, pengarangpun tetap menggambarkan karakter tokoh-tokohnya dengan metode lain, yaitu metode cakapan, sikap tokoh, tanggapan tokoh lain, yang kesemuanya itu didukung oleh penggunaan sudut pandang pengarang. Sudut pandang yang dipilih oleh pengarang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan gambaran yang semakin jelas teknik atau metode karakterisasi cerpen ”Selamat Datang Cinta”. 3) Hubungan Metode Karakterisasi dengan Gaya Bahasa Selain menggunakan sudut pandang, karakter tokoh dalam cerita digambarkan dengan gaya bahasa. Gaya bahasa yang digunakan pun bervariasi. Setiap gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang mampu memberikan gambaran langsung atau tidak langsung setiap watak tokoh yang digambarkan. Beberapa gaya bahasa yang muncul dalam cerpen ”Selamat Datang Cinta” karya N.A. Huda adalah personifikasi, hiperbola, metafora, eufemisme, dan asosiasi. Untuk jelasnya, berikut diuraikan beserta contoh gaya bahasa dan cerpen ini. 4. Pendekatan Historis Pendekatan historis adalah pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca, serta tentang bagaimana


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 65 perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman (Aminuddin, 2009:46). Oleh karena pendekatan historis berhubungan dengan latar belakang kesejarahan lahirnya sebuah karya sastra dan biografi pengarangnya, maka seorang apresiator perlu membekali diri dengan pengetahuan biografi pengarang tersebut. Dalam hal ini, apresiator dapat memanfaatkan beberapa tulisan yang memuat riwayat hidup para sastrawan, misalnya Ensiklopedia Tokoh Sastra Indonesia karya Laelasari dan Nurlailah (2007), Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia karya Ajib Rosidi (1986), Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern dengan editor Pamusuk Eneste (1981), Pengantar Sejarah Sastra Indonesia karya Yudiono K.S. (2010), atau dapat pula memanfaatkan informasi-informasi tambahan tentang pengarang melalui internet. Contoh aplikasi pendekatan histori dapat dilihat pada novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata dan terbit untuk pertama kalinya pada September 2005 oleh Penerbit Bentang di Yogyakarta. Isi cerita yang dikisahkan dalam novel Laskar Pelangi sangat realistis dengan masa kecil penulisnya yaitu Andrea Hirata. Dalam catatan sejarah biografinya, Andrea Hirata lahir di Belitong, 24 Oktober 1967. Realitas latar tempat kelahiran penulis tampak pada penggalan cerita berikut. “... Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampong yang paling miskin di Belitong. ....” Relevansi antara realitas yang tergambar dalam cerita dengan biografi penulisnya menjadikan novel ini sebagai salah salah satu novel sejarah. Oleh sebab itu, ada pandangan yang menganggap novel ini merupakan novel biografi karena di dalamnya didominasi kisah perjalanan pengarangnya sejak kecil dalam menempuh pendidikan. Terlepas dari semua itu, novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel beraliran realisme yang mampu merefleksikan realitas kehidupan masyarakat kecil dalam menempuh pendidikan. Selain itu, novel ini juga dianggap sebagai salah satu novel yang mampu menggambarkan realitas bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 66 merata. Di tempat atau di wilayah lain, fasilitas pendidikan sudah sangat memadai, namun di tempat atau di wilayah lain, layanan prasarana dan saranyan masih sangat memperihatinkan. Oleh sebab itu, novel ini telah mampu memberikan kontribusi pemikiran kritis terhadap kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah khususnya dalam bidang pendidikan. 5. Pendekatan Sosiopsikologis Menurut Aminuddin (2009:46), pendekatan sosiopsikologis adalah pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosio-budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan. Pendekatan sosiopsikologis lebih memfokuskan pengamatan pada berbagai refleksi kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa karya sastra diciptakan. Selain itu, pendekatan ini pun melihat aspek psikologis pengarang pada saat menciptakan karyanya. Contoh pendekatan sosiopsikologis dalam apresiasi prosa fiksi dan drama: Disadur dari analisis yang dilakukan oleh Drs. Akhmad Saliman (1996:54-69) terhadap naskah drama yang berjudul “Opera Kecoa” karya N. Riantiarno. Drama “Opera Kecoa” mengisahkan kehidupan homo seksual antara Roima dan Djulini di Kota Metropolitan. Cerita inilah yang merupakan hal istimewa yang mungkin perlu dicatat sebagai awal mula perkembangan sastra Indonesia mutakhir, yaitu menggali cerita dari dalam kenyataan hidup masyarakat. Jika dibandingkan dengan naskah-naskah Rendra dan Arifin C. Noer yang juga membicarakan kehidupan kumuh, maka naskah Nano (panggilan akrab Riantiarno) lebih hidup, lebih realistis dan lebih problematis. Berikut contoh penggalan naskah drama “Opera Kecoa”. Roima dan Djulini semakin hari menemui berbagai masalah dengan kehidupannya ditambah kehidupan di kompleks pelacuran yang turut membuat ia pusing kepala.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 67 Tumirah : Bukan kumis yang terbunuh tapi tidak, Kumis banyak anak buah, kita harus mencegahnya. Roiman : Jangan kuatir aku akan selalu di dekatmu, melindungi kamu selamanya. Djulini : Melindungi kamu, melindungi kamu, aduh-aduhaduh. Roima : Tum tunggu (pada Tumirah) pergilah ke Mba Tarsih, kita bertemu di sana, aku bereskan dulu dengan Djulini (lari mengejar Djulini). Djulini : Tega kamu ya, Tumirah. Tega kamu jadi musuh dalam selimut. Tega nonjok dari pantat, kiamat, kiamat, kiamat. Tidak kusangka, tidak kuduga,. Pacarku direbut sahabat sendiri. Tinjauan sosiopsikologis terhadap naskah drama di atas adalah sebagai berikut. 1) Pengarang N. Riantiarno (dramawan terbesar dalam decade 80-an) adalah pemimpin teater Koma. Selain ia seorang penulis naskah drama yang kuat dan sutradara yang potensial, ia juga menulis lakon sendiri dan menerjemahkan lakon dari luar negeri. Drama-dramanya berkisar tentang kehidupan rakyat jelata. Drama yang pernah dipentaskan antara lain : Bianglala, Kontes 1980, Opera Ikan Asin, Opera Kecoa, Langit Kelabu, dan Wanita-Wanita Parlemen. 2) Sejarah Opera Kecoa dibuat tahun 1985. Keadaan waktu itu di kota metropolitan sedang pesatnya program pembangunan. Cerita Opera Kecoa sudah sesuai dengan keadaan yang terjadi waktu itu. 3) Sosiologi Mengenai keadaan masyarakat yang terjadi yaitu tentang perang konflik batin antara orang kecil dengan orangorang berwenang. Rakyat kecil harus merelakan tempat tinggalnya untuk pembangunan sedangkan nasibnya sendiri tak terurus. 6. Pendekatan Didaktis Pendekatan didaktis, menurut Aminuddin (2009:47), adalah pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 68 Inti dari penerapan pendekatan ini adalah apresiator dapat mengungkap berbagai pesan, amanat, pelajaran, atau berbagai nilai pendidikan yang dapat diteladani dari sebuah karya sastra. Pendekatan ini dimaksudkan untuk melihat eksistensi karya sebagai media pendidikan/pengajaran (utile atau to teach). Untuk dapat mengungkap semua itu, dituntut daya kemampuan intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mapan dari pembacanya (Aminuddin, 2009:47). Contoh pendekatan didaktis dalam prosa fiksi dan drama: Dikutip dari makalah yang ditulis oleh Fathiya A.K. Nasib, dkk (2013) dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Kembang Turi karya budi sardjono. Ada beberapa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada novel Kembang Turi karya Budi Sardjono. 1. Nilai Religius Dalam novel ini, salah satu nilai yang digambarkan penulis yaitu nilai Religius. Hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh penggalan cerita berikut ini. “ Duh Gusti Allah! Pekik marni dalam hati. Gusti Allah benarbenar Maha Pemurah. Seperti yang sering dikatakana bu guru di sekolah. Semua ciptaan ini adalah karusia Gusti Allah. Dia sangat menyayangi umat manusia. Dia mengasihi anak-anak yang tak berdosa, yang menurut kemauan orang tua, yang menurut dan perintah petunjuk para guru di sekolah. Pak Kai Arifin juga pernah berkata begitu. Kalau menghadapi kesulitan, sebut saja nama Gusti Allah. Beliau yang Maha Rahim pasti akan member pertolongan. Dan kini, pertolongan itu dating juga. Padahal ia belum menyebut nama Gusti Allah. Mungkin Dia sudah tau bahwa ia dan adiknya benar-benar dalam kkesulitan. Gusti Allah pasti mengutus malaikat agar turun ke bumi dan masuk ke dalam jiwa ibu itu. malaikat itulah yang membisiki hati ibu itu mau menolong dirinya. Malaikat baik, malaikat suci. Tugasnya memang mempengaruhi agar orangorang berbuat baik terhadap sesama. Pasti berbeda dengan malaikat-malaikat jahat yang sudah menjelma menjadi setan di neraka. Yang terakhir itu menjadikan manusia celaka. Menjadikan manusia jahat seperti hewan buas”. (Halaman 67)


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 69 “Marni merangkul adiknya. Berkali-kali, ia menyebut nama Gusti Allah dalam hati. Hanya karena kemurahan-Nya ada seorang yang begitu baik dan mau menolong mereka berdua”. (Halaman 76) “Manaf tertawa, meski agak hambar. “Ilmu apa? Ya ilmu cari makan. Gusti Allah itu kalau akan memberi rezeki itu pada hamba-Nya, jalan macam-macam,” lorohnya kamudian.” Dari kutipan cerita di atas, penulis menggambarkan bahwa betapa Maha Perkasanya Allah yang mampu mengendalikan seluruh kehidupan ini. Bahkan, hingga yang terkecil pun bisa diperhatikan. Allah maha pembolak balik hati manusia, yang awalnya jahat bisa berubah menjadi baik, dan yang baik bisa saja akan menjadi jahat. Karena penguasa hati yang sesungguhnya adalah Sang Pencipta kerajaan dunia dan akhirat. Secara tidak langsung penulis mengajak pembaca untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah SWT. 2. Nilai Kepedulian Sosial dan Tolong Menolong Perhatikan kutipan cerita berikut ini. “ya, kalian berdua ikut aku kesana, kerumahku. Kelihatannya, kalian berdua lagi sedih. Jadi, kalau ada apa-apa nanti, aku yang menanggung. Sekarang, aku harus ngampiri dagangan dulu. Nanti ketemu di pasar. Begitu toh?” Halaman 60 “Aku selalu bersimpati para orang-orang yang selalu ingin keluar dari gencetan kemiskinan. Aku suka dengan mereka, Tin. Kalau aku bisa, aku akan membantu. Aku pernah merasakan bagai mana rasanya orang menderita. Lapar, dahaga, terlunta-lunta, dan tak seorangpun mengabaikan kita. Harga kita menjadi sangat murah. Jauh lebih mahal seekor anjing atau burung piaraan. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Tapi, nyatanya terjadi. Orang boleh tidak percaya, tapi kalau nyatanya begitu?”. (Halaman 94) Dari kutipan cerita di atas, penulis menggambarkan kepekaan manusia yang memiliki rasa simpati kepada orang yang mengalami kesulitan. Entah itu masalah keluarga, ekonomi dan lain sebagainya. Disini digambarkan ketika kita tidak mampu memberikan bantuan berupa material maka yang kita berikan adalah bantuan moral yang dapat membangkitkan semangat bekerja yang membutuhkan uluran tangan kita. 3. Disiplin/Patuh


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 70 Perhatikan kutipan cerita di bawah ini. “Anak itu akhirnya menurut saja ketika di tarik oleh kakaknya. Juga ketika di luar, tangannya di seret terus agar berjalan cepat, ia menurut. Tapi, hatinya tidak mau menurut. Hati ini memberontak. Kenapa semua itu harus terjadi? Kenapa harus meninggalkan rumah dan pekarangan itu menjadi milik pak lurah? Dan nanti mau ke mana bersama kakaknya? Bukankah besok harus sekolah?”. (Halaman 56) Dari kutipan cerita di atas, sedikit di sentil masalah kedisiplinan atau biasa juga di sebut dengan kepatuhan. Dimana dapat kita lihat bagaimana sikap tokoh Dirman yang patuh kepada kakaknya Marni. Dan sikap Marni yang patuh kepada Pak Luruh. Meski hatinya tidak sepakat dengan perintah itu. Tetapi mereka tetap patuh. Meski terkadang perintah itu belum tentu akan mendapatkan dampak positif baginya. Nah, disinilah penulis menggambarkan realitas yang ada di kalangan masyarakat. Yang kadang kepatuhan masyarakat itu dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai tujuan tersendiri. 4. Tanggung Jawab Perhatikan kutipan cerita berikut ini. “Ingin Rasanya Marni menangis. Tapi, begitu melihat wajah adiknya, tangis itu diurungkannya. Ia tidak ingin adiknya ikut menangis. Bukankah emaknya sudah berpesan agar ia bisa menjaga adik satu-satunya itu? menjaga berarti melindungi adiknya. Menghibur, memberi harapan, sekaligus mencarikan makan! ”. (Halaman 73) Dari kutipan cerita di atas, penulis menggambarkan keteguhan hati yang dimiliki oleh sosok Marni yang selalu mengurungkan kesedihannya. Padahal dia pun masih usia dini yang masih membutuhkan perhatian dari orang yang lebih dewasa darinya. Disinilah muncul sifat kedewasaan dan rasa tanggung jawab itu. 5. Toleransi Perhatikan kutipan cerita berikut ini. “Saya berterima kasih bisa bertemu orang seperti Mas. Tak pernah saya diajak omong seperti ini. tak pernah saya dianggap sebagai manusia lumrah. Manusia yang juga punya telinga, hati, dan perasaan. Biasanya, saya ini Cuma dianggap


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 71 boneka permainan. Kalau tidak memuaskan, mereka tersenyum senang. Namun sampai mengecewakan, mereka akan cemberut. Mungkin siapa tahu, dalam hati, mereka ingin meludahi saya. Benar kata mas tadi, terkadang harga saya jauh lebih murah dari seekor anjing atau binatang kalengenan lain. Terimakasih, Mas. Rasanya, saya lahir kembali.” (Halaman 95) Dari penggalan cerita di atas, penulis berusaha memunculkan sikap toleransi antr sesama. Dimana dalam kutipan itu, sosok Titin yang merasa tidak di hargai akhirnya bisa merasakan bagaimana dihargai. Meski yang menghargainya hanyalah Dirman. Namun dia benar-benar merasakan sesuatu yang baru. Dari sikap inilah bisa mengajarkan kita tentang bagaimana mengahargai orang lain. 6. Saling Menghormati Perhatikan penggalan cerita berikut ini. “Kulo nuwun….” Laki-laki tadi member salam. Perempuan itu menyingkap kain lurik di jemuran. Ia melangkah pelan mendekati tamunya. Kulo nuwun, Mbakyu. Laki-laki tadi menoleh, lalu membungkuk Hormat”. (Halaman 110) Dari kutipan cerita di atas, penulis menggambarkan nilai salling menghormati antar sesama. Dimana ketika kita bertemu dengan siapa saja, atau bahkan lebih tua maka kita patut menghormatinya. -oo0oo-


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 72


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 73 Bab V KAJIAN PROSA FIKSI A. Hakikat Kajian Sastra Selain istilah “kajian (sastra)”, terdapat tiga istilah lain yang maknanya berhubungan, yaitu “telaah (sastra)”, “kritik (sastra)”, dan “penelitian (sastra)”. Keempat istilah ini sering digunakan terpisah dalam pengertian yang berbeda, namun ada pula yang menggunakannya secara bergantian dalam pengertian yang sama dan saling berhubungan. Hal tersebut dapat dipahami karena pada hakikatnya, baik kajian, telaah, kritik, maupun penelitian sastra mempunyai tujuan utama yang sama yaitu untuk mengungkap atau membongkar makna dalam sebuah karya sastra. Walaupun demikian, keempat istilah tersebut mempunyai perbedaan baik dari lingkup kerja dan tujuan akhirnya. Untuk jelasnya, berikut pengertian-pengertian dasar dari keempat istilah tersebut. Secara leksikal, kata “kajian” diturunkan dari kata “kaji” yang berarti (1) pelajaran, dan (2) penyelidikan’ (KBBI, 2005:491). Selanjutnya dilekatkan konfiks peng-/-an sehingga menjadi


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 74 pengkajian yang berarti (1) proses, cara, perbuatan mengkaji, (2) penyelidikan, dan (3) penelaahan. Dalam konteks kesastraan, istilah kajian atau pengkajian sastra dapat diartikan sebagai proses penyelidikan atau penelaahan karya sastra dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan tujuan utama mengungkap makna karya sastra. Istilah “telaah” mempunyai hubungan arti yang dekat dengan istilah “kajian”. Dalam KBBI, kata “telaah” diartikan sebagai ‘penyelidikan; kajian; pemeriksaan; penelitian’. Fananie (2002:63) berpendapat bahwa telaah sastra merupakan kajian secara mendalam terhadap teks karya sastra dari berbagai unsur yang membentuknya, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Istilah “kritik sastra” atau literary criticsm sebenarnya merujuk pada salah satu lingkup ilmu sastra selain teori sastra (literary theory) dan sejarah sastra (literary history). Dalam Concepts of Criticsm, Wellek (1978:35) mendefinisikan kritik sastra sebagai studi atau kajian terhadap karya sastra secara nyata dengan penekanan pada evaluasi atau penilaian terhadap karya sastra tersebut. Sementara Wolfreys, dkk dalam Key Concepts in Literary Theory (2006:26) mendefinisikan kritik sebagai aktivitas menganalisis dan mengevaluasi teks sastra. Jadi, selain melakukan kajian atau telaah, penekanan utama dalam kritik sastra adalah evaluasi atau penilaian terhadap kualitas sebuah karya sastra. Kata “penelitian” berasal dari gabungan kata dasar “teliti” dengan konfiks peng-/-an, kata dasar “teliti” sendiri memiliki dua arti (1) cermat, saksama; (2) hati-hati; ingat-ingat. Kata “penelitian” memiliki arti (1) ‘pemeriksaan yang teliti, penyelidikan; (2) kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan untuk menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum (KBBI, 2005:1163). Pengertian ini mengisyaratkan bahwa penelitian sastra mempunyai lingkup kerja yang lebih luas dan detail, misalnya pemilihan metode penelitian, sumber data, penetapan populasi dan sampel, teknik pengumpulan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 75 data, hingga teknis analisis data. Selain itu, konsep penelitian dalam konteks sastra dapat mencakup kegiatan-kegiatan eksplorasi, inventarisasi, misalnya dalam karya sastra (daerah) lisan, hingga interpretasi maknanya. Berdasarkan beberapa pengertian dasar di atas, baik kajian, telaah, kritik, maupun penelitian sastra mempunyai orientasi arti yang sama yaitu kegiatan menganalisis karya sastra untuk mengungkap atau menginterpretasi makna karya sastra tersebut. Akan tetapi, dalam tulisan ini istilah kajian dan telaah digunakan secara bergantian dalam pengertian yang sama. Sementara istilah kritik dan penelitian sastra tidak digunakan mengingat bahasan lingkup kerja yang luas dan tujuan akhir yang lebih mendalam. Berangkat dari beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa kajian sastra adalah proses penelaahan atau penganalisisan karya sastra sebagai objeknya. Wiyatmi (2006:19) mendefinisikan kajian sastra sebagai proses atau perbuatan mengkaji, menyelidiki, dan menelaah objek material yang bernama sastra. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kajian sastra adalah usaha menyelidiki atau menelaah secara mendalam karya sastra dengan memanfaatkan berbagai teori pendekatan yang relevan dengan tujuan utama mengungkap atau membongkar makna dalam karya sastra tersebut. B. Kedudukan Teori dalam Pengkajian Sastra Secara umum, teori diartikan sebagai seperangkat pengetahuan tentang suatu disiplin ilmu tertentu yang telah melalui penelaahan yang mendalam dan ilmiah. Dalam bidang ilmu sastra, teori sastra diartikan sebagai studi prinsip, kategori, dan kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra (Taum, 1997:14). Teori sastra menjadi sebuah kebutuhan mutlak bagi seorang peneliti atau kritikus sastra dalam usaha meneliti atau mengkritik sastra. Atau dalam pandangan Bennet dan Royle, teori sastra menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam usaha meneliti atau mengkritik sastra (Wolfreys, 2001:1).


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 76 Teori dalam ilmu sastra dijadikan dasar atau landasan kerja dalam usaha kajian sastra secara ilmiah, objektif dan komprehensif. Menurut Fokkema dan Kunne-Ibsch (1977:1) bahwa teori sastra dibutuhkan dalam usaha menginterpretasi atau menafsirkan teks sastra. Semakin tepat teori yang digunakan oleh seseorang dalam menelaah atau menafsirkan karya sastra, semakin baik pula hasil telaah atau kajiannya. Untuk itu, pemilihan teori dalam penelitian sastra harus selalu relevan dengan permasalahan penelitian. Soeratno (2001:15) menegaskan bahwa bahwa dalam penelitian sastra, pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang dijawab oleh penelitian dan tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. Jadi, teori mengikuti masalah, bukan sebaliknya. Musthafa (2008:19) menyatakan bahwa paling tidak ada dua fungsi teori sastra. Pertama, teori sastra berfungsi sebagai pijakan atau landasan dalam melakukan kritik karya sastra. Penganalisisan sebuah karya sastra secara objektif harus berlandaskan pada teori sastra tertentu. Misalnya, penelitian sastra yang hendak menganalisis pengalaman hidup tertekan seorang penulis dalam sebuah novel, akan lebih tepat jika menggunakan teori psikoanalisis. Peneliti yang hendak mengungkap berbagai aspek sosial dalam karya sastra lebih tepat menggunakan teori sosiologi sastra. Kedua, teori sastra berfungsi sebagai prosedur kerja yang terpola. Dengan mengikuti prosedur kerja ini, pembaca akan mampu menganalisis dan menginterpretasi sebuah karya sastra dengan lebih mudah dan menghasilkan interpretasi yang objektif dan komprehensif. Berbicara tentang teori sastra, tentu cukup banyak jenisnya. Walaupun demikian, pembicaraan jenis teori sastra tersebut dapat dikelompokkan pada empat orientasi pendekatan menurut Abrams (1976:3-29), yaitu pendekatan mimetik, pragmatik, ekspresif, dan objektif. Keempat pendekatan tersebut menitikberatkan perhatian pada empat elemen dalam sebuah cipta sastra, yaitu work (karya), universe (realitas), artist (pengarang), dan audience (pembaca). Hubungan empat elemen tadi seperti digambarkan oleh Abrams berikut ini.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 77 UNIVERSE WORK ARTIST AUDIENCE Pendekatan mimetik menitikberatkan perhatian pada realitas (universe), pendekatan pragmatik menitikberatkan perhatian pada pembaca (audience), pendekatan ekspresif menitikberatkan pada pengarang (artist), sedangkan pendekatan objektif memfokuskan perhatian pada karya sastra (work). Berdasarkan orientasi pendekatan tersebut, pada bab ini akan dibahas beberapa teori sasra yang secara kuantitas banyak digunakan dalam konteks kritik atau pengkajian sastra. Teori-teori tersebut adalah teori struktural, naratologi, semiotika, hermeneutika, stilistika, sosiologi sastra, psikologi sastra, antropologi sastra, ekologi sastra, feminisme sastra, resepsi sastra, dan intertekstual. C. Ragam Teori dalam Kajian Prosa Fiksi 1. Kajian Struktural Kajian struktural berangkat dari pendekatan obyektif yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang bersifat otonom. Dalam kajian struktural, karya sastra dipandang dari dalam diri karya itu sendiri tanpa menghiraukan aspek dari luar dirinya. Fokus analisisnya adalah unsur-unsur intrinsik dan keterhubungan antarsetiap unsur tersebut sehingga membentuk satu kesatuan makna yang utuh dalam sebuah karya sastra. Makna satu unsur tidak akan diperoleh secara tepat jika tidak dihubungkan dengan unsur yang lainnya. Tujuan utama kajian struktural menurut Teeuw (1984:112) adalah untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang sama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Karya sastra ibarat sebuah bangunan yang dikonstruk oleh banyak komponen di dalamnya yang saling berkaitan satu dengan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 78 yang lain. Satu komponen dengan komponen lain saling membutuhkan dan saling menunjang untuk bisa menghasilkan sebuah konstruksi yang kokoh. Demikian pula dengan karya sastra, yang setiap unsur di dalamnya terpadu satu dengan yang lain untuk membentuk makna yang utuh. Itulah sebabnya, kajian sastra yang menggunakan teori struktural, namun dalam implementasinya hanya mengkaji unsur-unsur dalam karya sastra secara parsial, merupakan sebuah kekeliruan. Dengan kalimat lain, optimalisasi penerapan teori struktural dalam pengkajian sastra tidak lain adalah mencari makna suatu karya sastra di balik keterkaitan unsur-unsur di dalamnya. Menurut Peaget (Hawkes, 1978:16) strukturalisme mengandung tiga hal pokok. Pertama, gagasan keseluruhan (wholeness), dalam arti bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (transformation), struktur ini menyanggupi prosedur transformasi yang terus menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan hal-hal diluar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain. Semua jenis karya sastra dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan atau teori struktural. Pengamatannya terfokus pada struktur karya sastra, yaitu unsur-unsur intrinsik atau unsur di dalam karya sastra. Yang harus diingat adalah bahwa kajian struktural tidak hanya mendeskripsikan unsur-unsur tersebut secara parsial, namun harus sampai pada keterkaitan atau keterjalinan setiap unsur dalam membangun makna karya sastra secara total dan utuh. Khusus untuk genre prosa fiksi, kajian struktural diarahkan pada keterjalinan unsur-unsur intrinsik yang mencakup tema, amanat, tokoh, penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa. Dalam praktiknya, terdapat dua model kajian struktural. Pertama, model kajian yang menganalisis unsur intrinsik secara


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 79 keseluruhan, kemudian dilihat keterjalinan antarunsur tersebut. Pada model ini, semua unsur dianalisis tanpa terkecuali. Biasanya unsur tema menjadi pembuka analisis kemudian disusul oleh unsur lain. Pada saat penyajian hasil analisis, satu unsur langsung dikait-kaitkan dengan unsur-unsur lain sehingga ditemukan makna totalnya. Kedua, model kajian yang berfokus pada satu atau beberapa unsur saja, kemudian dilihat kaitannya dengan unsur-unsur lain. Model ini sering dipilih karena peneliti ingin memfokuskan perhatiannya pada satu atau beberapa unsur yang lebih “dipentingkan” sehingga unsur-unsur lain lebih bersifat menunjang atau mendukung kehadiran unsur tersebut. Sebagai contoh, peneliti yang ingin menganalisis teknik penokohan atau metode karakterisasi dalam sebuah cerpen atau novel. Penekanan utamanya pada unsur tokoh dan penokohan. Setelah menganalisis unsur tokoh dan penokohan, peneliti harus melihat hubungan antara unsur tokoh dan penokohan dengan unsur-unsur lain, seperti tema, latar, atau gaya bahasa. 2. Kajian Naratologi Naratologi (narratology) merupakan istilah lain untuk menyebutkan teori naratif (narrative theory). Jannidis (2003:38) menyatakan bahwa naratologi merupakan studi tentang bagaimana berbicara dan berpikir direproduksi dalam teks-teks naratif, sedangkan Bortolussi dan Dixon (2003:10) memandang naratologi sebagai studi yang pada dasarnya berkaitan dengan identifikasi dan deskripsi teoretis karakteristik formal teks naratif. Naratif sebagai objek kajian naratologi mempunyai beberapa karakteristik. Didipu (2017:46) menyarikan karakteristik naratif berdasarkan pandangan para pakar naratologi sebagai berikut. Pertama, naratif merupakan representasi peristiwa fakta atau fiktif dalam bentuk cerita. Kedua, peristiwa itu harus dibangun dalam urutan waktu. Ketiga, naratif harus menampakkan perubahan baik secara implisit maupun eksplisit. Keempat, naratif merupakan sarana komunikasi. Kelima, naratif memerlukan kehadiran tindakan/aksi dan karakter. Dengan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 80 demikian, dapat disimpulkan bahwa naratif (narrative) adalah representasi peristiwa nyata atau fiktif yang di dalamnya terdapat perubahan keadaan atau situasi yang dibangun berdasarkan urutan waktu melalui tindakan dan karakter sebagai sarana komunikasi cerita seseorang kepada orang lain. Konsep teori naratologi cukup beragam sesuai sudut pandang setiap pakar. Namun pada bagian ini hanya akan dibahas konsep teori naratologi yang dikemukakan Gérard Genette. Gérard Genette merupakan tokoh penting dalam pengembangan teori naratologi, khususnya yang telah digagas oleh para tokoh Formalisme Rusia seperti Vladimir Propp, serta pakar naratologi asal Prancis yaitu Tzvetan Todorov. Genette memberikan kontribusi yang brilian terhadap teori naratologi, demikian dinyatakan oleh Bertens (2014:60). Perbedaan mendasar antara Genette dengan Propp maupun Todorov adalah pada pengamatan mereka terhadap konstruksi sebuah naratif. Propp dan Todorov membagi atas dua bagian besar naratif, yaitu ‘cerita’ dan ‘plot’. Propp menyebut istilah ‘cerita’ dan ‘plot’ dengan fabula dan sjužet (bahasa Rusia), sedangkan Todorov menyebutnya dengan histoire dan discours (bahasa Prancis). Berbeda dengan Genette yang melihat konstruksi naratif (dalam bahasa Prancis disebut récit) atas tiga makna. Genette (1980:27) mengusulkan untuk menggunakan tiga istilah yang berbeda. Pertama, kata story ‘cerita’ yang menjadi signified ‘petanda’ atau konten narasi. Istilah story ini sepadan dengan kata histoire (Prancis) dan geschichte (Jerman). Kedua, kata narrative ‘naratif atau penceritaan’ sebagai signifier atau penanda, pernyataan, wacana atau sebagai teks naratif itu sendiri. Istilah narrative sejajar dengan kata récit (Prancis) dan discourse (Inggris). Ketiga, istilah narrating ‘menceritakan‘sebagai aksi atau tindakan memproduksi naratif, atau dalam pengertian yang lebih luas, sebagai keseluruhan situasi nyata atau fiksi di mana aksi terjadi. Dari ketiga makna naratif tersebut, yang menjadi pokok kajian Genette adalah pada makna kedua, yaitu pada tingkat wacana naratif (narrative discourse). Tingkat wacana naratif menjadi pokok kajian Genette karena


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 81 mempunyai cakupan yang lebih luas sebagai analisis tekstual (textual analysis) sehingga tepat dijadikan sebagai alat untuk mengkaji naratif sastra, khususnya naratif fiksi. Berdasarkan tiga tingkatan naratif tersebut, Genette (1980) mengemukakan tiga kategori struktur naratif sebagai dasar pemikirannya, yaitu tense, mood, dan voice. Dalam pembahasan bukunya, selanjutnya Genette membagi unsur tense menjadi tiga bagian, yaitu order, duration, dan frequency). Dengan demikian, pokok bahasan struktur naratif/penceritaan Gerard Genette (1980) terdiri atas lima kategori utama, yaitu (1) urutan naratif (order), (2) durasi naratif (duration), (3) frekuensi naratif (frequency), (4) modus naratif (mood), dan (5) suara naratif (voice). Urutan naratif (order) mengacu pada hubungan antara urutan kejadian dalam cerita dan pengaturannya dalam cerita. Durasi naratif (duration) menggambarkan perbedaan antara waktu yang sebenarnya dari suatu peristiwa (story time) dan waktu yang dibutuhkan narator untuk menceritakan peristiwa tersebut (narrative time). Frekuensi naratif (frequency) berhubungan dengan keseringan sebuah peristiwa terjadi dalam cerita dan seberapa sering peristiwa tersebut disebutkan dalam cerita. Modus naratif (mood) yang memfokuskan pada konsep ‘jarak’ (distance) dan ‘perspektif’ (perspective) atau fokalisasi (focalization). Sementara suara naratif (voice) berhubungan dengan siapa yang bercerita, dan dari mana ia bercerita. Suara naratif menurut Nemoianu (2014) dapat memberikan batasan yang jelas antara penulis dan pembaca. Masing-masing struktur tersebut memiliki bagian-bagian yang menjadi bahan analisis dalam sebuah wacana naratif. Struktur Naratif Gerard Genette 1. Urutan Naratif (Order) a. Akroni b. Anakroni - prolepsis - analepsis 2. Durasi Naratif (Duration) a. jeda b. adegan c. ringkasan d. elipsis


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 82 3. Frekuensi Naratif (Frequency) a. tunggal b. anaforis c. pengulangan d. iteratif 4. Modus Naratif (Mood) Fokalisasi a. fokalisasi nol b. fokalisasi internal c. fokalisasi eksternal 5. Suara Naratif (Voice) a. waktu menceritakan - masa lampau - prediktif - masa kini - gabungan b. person - heterodiegetik - homodiegetik c. tingkatan naratif - intradiegetik - extradiegetik - hipodiegetik/ metadiegetik Pada prinsipnya, semua karya sastra yang berbentuk naratif dapat dikaji atau dianalisis dengan menggunakan teori naratologi. Setelah menetapkan karya yang menjadi objek material, membacanya secara utuh, selanjutnya dianalisis. Untuk kepentingan analisis data, Didipu (2017:87) menyarankan dua tahap analisis data dengan teori Ganette, yaitu analisis parsial dan analisis integral. Analisis parsial dilakukan dengan mengidentifikasi setiap unsur naratif secara terpisah yang terdiri atas urutan naratif (order), durasi naratif (duration), frekuensi naratif (frequency), modus naratif (mood), dan suara naratif (voice). Setelah analisis parsial pada masing-masing unsur, analisis diarahkan pada keterjalinan unsurunsur naratif tersebut secara integral. Analisis integral ini


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 83 dimaksudkan untuk mendapatkan makna keseluruhan dari struktur naratif novel etnografis. 3. Kajian Semiotika Secara etimologis, kata ”semiotika” (semiotics) berasal dari bahasa Yunani sémeion yang berarti ’tanda’ (sign). Secara sederhana, semiotika diartikan sebagai studi tentang tanda. LeedsHurwitz (1993:6) mendefinisikan semiotika sebagai ilmu tentang tanda dan sistem tanda. Tanda digunakan dalam tindak komunikasi, termasuk komunikasi antara pengarang dan pembaca karya sastra. Namun, bentuk komunikasi dalam sastra mempunyai karakteristik sendiri. Itulah sebabnya, untuk memahami bentuk komunikasi dalam sastra, harus didasarkan pada konvensi sastra itu sendiri. Selain istilah ’semiotika’ (semiotics) dikenal juga istilah ’semiologi (semiology)’, ’sematologi (sematology)’, ’semeologi (semeology)’, dan ’semelogi (semelogy). Dari sekian banyak penyebutan istilah tersebut, yang paling dominan digunakan adalah ’semiotika’ dan ’semiologi’. ’Semiologi’ (semiology) merupakan istilah yang digunakan oleh seorang ahli linguistik berkebangsaan Prancis yaitu Ferdinand de Sausure, sedangkan ’semiotika’ (semiotics) digunakan oleh seorang ahli filsafat berkebangsaan Amerika yaitu Charles Sander Peirce. Keduanya dianggap sebagai pelopor lahirnya teori semiotika. Untuk selanjutnya, teori semiotika dikembangkan oleh beberapa tokoh, di antaranya Roman Jakobson, Umberto Eco, Louis Hjemslev, Roland Barthes, Tzetan Todorov, dan Yury Lotman. Semi (2012:108) menyatakan bahwa pendekatan semiotika berasumsi bahwa karya sastra memiliki sistem sendiri, yang memiliki dunianya sendiri, sebagai suatu realitas yang hadir atau dihadirkan di hadapan pembaca yang didalamnya terkandung potensi komunikatif yang ditandai dengan adanya lambang-lambang kebahasaan yang khas yang memiliki nilai artistik dan dramatik. Dalam kajian semiotika, penelitian dilakukan dengan menghubung-


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 84 hubungkan aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda. Tanda sekecil apapun dalam semiotika tetap diperhatikan. Saussure (dalam Selden, 1989:52) membagi tanda sebagai objek semiotika ke dalam dua model, yaitu tanda yang disebut signifier ‘petanda’, dan konsep yang disebut signified ‘penanda’. Sebagai contoh, lampu merah (lalu lintas) merupakan penanda (signifier), sedangkan makna ‘berhenti’ merupakan petandanya (signified). Berbeda dengan Saussure, Peirce membagi tiga elemen utama yang saling berhubungan untuk membentuk sebuah tanda. Tiga elemen tersebut yang lebih dikenal dengan istilah triadic theory of sign (teori triadik tanda). Ketiga elemen tersebut adalah representamen (tanda itu sendiri), object (yang ditandai atau yang direpresentasikan), dan interpretant (penafsiran terhadap tanda) (Hawkes, 1977:126-127). Berdasarkan hubungan antara sistem triadik tanda (representamen, object, dan interpretant) tersebut, Peirce mengembangkan tipe tanda ke dalam tiga trikotomi tanda (Noth, 1990:44-45). Trikotomi pertama (first trichotomy) berangkat dari sudut pandang representamen (tanda) yang terdiri atas qualisign, sinsign, dan legisign. Trikotomi kedua (second trichotomy) yang didasarkan pada hubungan representamen dan object, yang meliputi icon, index, dan symbol. Sementara trikotomi ketiga (third trichotomy) didasarkan pada sifat interpretasi yang terdiri atas a rheme, a dicent, atau an argument. Cobley dan Jansz (1998:32-34) memberikan penjelasan singkat tentang jenis-jenis tanda tersebut sebagai berikut. Qualisign adalah tanda yang didasarkan pada sebuah kualitas atau sifat, misalnya warna hijau. Sinsign adalah tanda yang didasarkan pada hubungan wujud fisiknya secara nyata, misalnya tanda jalan dengan suatu jalan tertentu. Legisign adalah tanda yang dibuat berdasarkan hukum atau aturan yang telah berlaku umum, misalnya bunyi peluit wasit pada pertandingan sepak bola. Sebuah tanda dikatakan icon jika antara tanda dan objeknya mempunyai hubungan kemiripan, misalnya foto. Dikatakan index jika antara tanda dan objeknya mempunyai hubungan sebab-akibat, misalnya penunjuk arah angin.


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 85 Tanda dikatakan symbol apabila hubungan antara tanda dengan makna objeknya hanya didasarkan atas konvensi, misalnya kata, dan bendera. A rheme adalah tanda yang diinterpretasi sebagai sebuah kemungkinan, contohnya sebuah konsep. A dicent adalah tanda yang diinterpretasi sebagai sebuah fakta atau kenyataan, contohnya adalah pernyataan deskriptif. Terakhir adalah an argument yaitu tanda yang diinterpretasi sebagai sebuah sebab atau alasan, contohnya adalah usul atau saran. Menurut Aart van Zoest (dalam Kutha Ratna, 2008: 103), jika dikaitkan dengan bidang-bidang yang dikaji, pada umumnya semiotika dapat dibedakan paling sedikit menjadi tiga aliran, sebagai berikut. a. Aliran semiotika komunikasi, dengan intensitas kualitas tanda dalam kaitannya dengan pengirim dan penerima, tanda yag disertai dengan maksud, yang digunakan secara sadar, sebagai signal, seperti rambu-rambu lalu lintas, dipelopori oleh Buyssens, Prieto, dan Mounin. b. Aliran semiotika konotatif, atas dasar ciri-ciri denotasi kemudian diperoleh makna konotasinya, arti pada bahasa sebagai sistem model kedua, tanda-tanda tanpa maksud langsung, sebagai symtom, di samping sastra juga diterapkan dalam berbagai bidang kemasyarakatan, dipelopori oleh Roland Barthes. c. Aliran semiotika ekspansif, diperluas dengan bidang psikologi (Freud) dan sosiologi (Marxis) termasuk filsafat dipelopori oleh Julia Kristeva. Menurut Fokkema dan Kunne-Ibsch (1977:166), penelitian semiotika minimalnya perlu memperhatikan tiga aspek utama, yaitu (1) the construction of abstract scientific models; (2) explanatory models; (3) schematic simplication. Pandangan lain dikemukakan oleh Riffaterre (1978:1-2). Menurutnya, penelitian semiotika perlu memperhatikan tiga hal juga, yaitu (1) displacing of meaning (penggantian makna); (2) distorting of meaning (penyimpangan


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 86 makna); dan (3) creating of meaning (penciptaan makna). Penggantian makna (displacing of meaning) dalam karya sastra, biasanya disebabkan oleh pemakaian kata-kata simbolis yang bermakna konotatif atau dengan penggunaan majas seperti metafora, personifikasi, alegori, dan metonimi. Dengan menggunakan bahasa seperti itu, pengarang sastra dapat membungkus makna sebenarnya yang ingin disampaikannya. Artinya, pengarang dapat menggantikan makna dalam karyanya dengan menggunakan kata atau bahasa yang lain. Penyimpangan makna (distorting of meaning), bisa muncul karena tiga hal yaitu, ambiguitas, kontradiksi, dan nonsence. Sementara penciptaan makna (creating of meaning), biasanya tampak sekali pada permainan tipografi dalam puisi. Penerapan teori semiotika dalam pengkajian sastra dapat memanfaatkan dua teknik pembacaan yang dikemukakan oleh Riffaterre (1978:5-6), yaitu pembacaan heuristik (heuristic reading) dan pembacaan hermeneutika (hermeneutic reading) atau pembacaan retroaktif (retroactive reading). Pertama, pembacaan heuristik adalah pembacaan tingkat pertama yang didasarkan pada struktur bahasa sebenarnya. Pada tahapa ini, pengkaji sastra mengembalikan karya sastra ke dalam bentuk dasarnya dengan cara menambah-nambahkan huruf, afiks, atau kata(dalam puisi), dan membuat sinopsis cerita (dalam prosa fiksi). Kedua, pembacaan hermeneutika atau retroaktif adalah pembacaan tingkat kedua berupa interpretasi atau penafsiran makna dibalik arti bahasa sebenarnya. Pada tahap ini, pengkaji sastra harus menghubungkan makna bahasa berdasarkan konteks dan konvensi sastra. Untuk lebih operasional, berikut ditawarkan beberapa teknik atau langkah penerapan teori semiotika dalam pengkajian sastra. a. Membaca ketat atau membaca cermat. Pada tahapan ini pengkaji sastra harus membaca setiap bagian karya sastra dengan saksama. Pembacaan ini dimaksudkan agar pengkaji dapat melihat setiap bagian karya sastra yang mengandung tanda (sign).


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 87 b. Membaca sambil mengidentifikasi. Pada tahapan ini pengkaji sastra mulai memfokuskan perhatian pada bagian-bagian, kata atau kalimat dalam karya sastra yang dapat diidentifikasi sebagai tanda (sign). Identifikasi dapat dilakukan dengan cara menandai kata atau kalimat tertentu, atau menuliskan kata atau kalimat tersebut dalam kartu data yang siap untuk dianalisis. c. Menganalisis arti (meaning) sebenarnya dari kata atau kalimat yang diidentifikasi. Pada tahapan ini, kata-kata dianalisis secara leksikal (makna kamus) dan kalimat-kalimat dianalisis secara gramatikal sesuai dengan arti tekstualnya. Dapat pula dipadankan dengan kata atau kalimat lain yang bersinonim. Hal ini dimaksudkan untuk melihat hubungan arti kata atau kalimat tersebut. d. Menafsirkan makna (meaning of meaning) dari kata atau kalimat yang diidentifikasi. Pada tahapan ini, kajian diarahkan pada interpretasi makna kata atau kalimat yang telah diartikan sebelumnya. Dengan demikian, dapat ditafsirkan makna di balik bahasa tersebut. e. Menyimpulkan makna keseluruhan dari karya sastra yang dikaji. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh makna total dari sebuah karya sastra. 4. Kajian Hermeneutika Pembicaraan hermeneutika dapat ditemukan dalam beberapa bidang, di antaranya bidang teologi, filsafat, dan sastra. Dalam bidang sastra, hermeneutika dijadikan sebagai salah satu teori dan metode untuk menafsirkan atau menginterpretasi makna yang terkandung dalam sebuah teks sastra. Secara etimologis, akar kata “hermeneutika” berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein, yang berarti ‘menafsirkan’, dan kata benda hermēneia atau ‘interpretasi’ (Palmer, 2005:14). Secara teoretis, hermeneutika (dalam bahasa Inggris hermeneutics) didefinisikan sebagai teori tentang interpretasi atau penafsiran (Szondi, 1995:1; dan Armstrong, 2011:236). Yang menjadi inti dari hermeneutika adalah bagaimana


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 88 menginterpretasi atau menafsirkan suatu teks sehingga akan tumbuh pemamahan yang lebih baik terhadap teks tersebut. Dalam bidang kesastraan, hermeneutika atau teori interpretasi berhubungan dengan usaha pengungkapan makna eksplisit maupun makna implisit dalam sebuah teks sastra. Dua filsuf kenamaan yang menulis hermeneutika dalam bidang kesastraan adalah Paul Ricoure dan Jasques Derrida. Walaupun demikian, ada pula para filsuf yang menulis hermeneutika dalam bidang lain, namun konsep teori mereka sering diterapkan dalam kajian sastra, seperti Hans-George Gadamer dan Wilhelm Dilthey. Dalam sebuah antitesisnya, Gadamer sebagaimana dikutip oleh Mulyono (2012:146), menyatakan bahwa upaya objektivistik murni hanya akan menjadi kemustahilan, sehingga kemudian yang bisa dilakukan penafsir (pembaca) adalah memproduksi makna yang dikandung teks sehingga teks itu sendiri menjadi lebih kaya makna. Lebih lanjut Gadamer menyatakan bahwa hermeneutika yang bisa dihidupkan dengan baik ialah subjektivisme interpretasi yang relevan dengan praandaian-praandaian yang dibangun oleh historisitasnya di masa kini. Tugas utama hermeneutika adalah memahami teks (Ricoeur, 2012:226). Dalam bidang sastra, hermeneutika berhubungan dengan usaha memahami teks sastra melalui kegiatan interpretasi atau penafsiran. Dalam praktiknya, hermeneutika dapat menjadi sebuah dasar teoretis dalam mengkaji karya sastra, namun dapat pula menjadi sebuah metode kajian yang bertugas untuk melengkapi teori lain dalam pengkajian sastra, misalnya teori semiotika dan stilistika. Baik sebagai teori maupun metode, hermeneutika tetap dibutuhkan untuk mengungkapkan makna hakiki dalam sebuah teks sastra. Pentingnya hermeneutika dalam sastra menurut Endraswara (2011:42) dapat dilihat dari tiga hal. Pertama, hermeneutika menginkorporasikan suatu pengertian eksplisit mengenai “totalitas” kultural, keseluruhan yang dasar dan terpadu dari suatu kebudayaan atau masyarakat pada level ideologi fundamental atau pandangan dunia. Kedua, sifat sastra dalam kehidupan sosial sudah


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 89 terdefinisikan karena analisisnya dimulai dengan hubungan antara ilmu pengetahuan kultural dengan keseluruhan pengalaman kehidupan dalam suatu pengujian terhadap hubungan yang spesifik antara sastra dan pengalaman estetik dengan eksistensi sosial manusia. Ketiga, hermeneutika membuka kemungkinan pemahaman trans-historis dengan konsep fungsi antara masa lalu dengan masa kininya. Menurut Ahmala (2012:19), sebagai ilmu interpretasi, hermeneutika merupakan proses yang bersifat triadik, yaitu: (1) tanda (sign), pesan (message), teks; (2) perantara atau penafsir; dan (3) penyampaian kepada audiens. Jika dikaitkan dengan ilmu sastra, proses triadik tersebut mencakup: (1) bahasa atau kata-kata, (2) karya sastra, dan (3) pembaca. Karya sastra menggunakan bahasa – baik lisan maupun tulisan – sebagai medianya. Makna bahasa dalam karya sastra (puisi, prosa, maupun drama) tidak selamanya lugas atau eksplisit, namun dapat saja secara kiasan atau implisit dan simbolik. Untuk itu, setiap pembaca karya sastra harus mampu menafsirkan makna dalam karya sastra secara cermat dan teliti. Pembacaan dan pemahaman yang cermat terhadap karya sastra akan sangat membantu pembaca karya sastra menemukan makna dibalik bahasanya. Kajian hermeneutika sastra berorientasi pada dasar pemikiran pencetusnya masing-masing. Artinya, setiap pakar hermeneutika mempunyai orientasi kajian yang berbeda sesuai dengan dasar pemikirannya. Langkah analisisnya pun berbeda antara satu pakar dengan pakar yang lainnya. Tiga pakar hermeneutika yang dasar teorinya dapat digunakan dalam kajian sastra adalah Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, dan Paul Ricoeur. Pokokpokok pikiran pakar tersebut diuraikan singkat berikut ini. a. Wilhelm Dilthey Wilhelm Dilthey (1983-1911) merupakan seorang filsuf asal Jerman. Walaupun keahliannya dalam bidang hermeneutika filosofis, Dilthey lebih dikenal dengan karya-karya riset historinya. Atas dasar itulah, pemikiran hermeneutika Dilthey


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 90 dikenal dengan konsep hermenutika historis. Tugas hermeneutika menurut Dilthey sebagaimana dikutip oleh Poespoprodjo (2004:50) adalah melengkapi teori pembuktian validitas universal interpretasi agar mutu sejarah aman dari penyeludupan-penyeludupan pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pandangan Dilthey, sifat kesejarahan (historikalitas) hidup senantiasa ditekankan. Dunia historikalitas senantiasa merupakan kenyataan dan seorang individu tidak hanya memandangnya dari luar, tetapi terjalin di dalamnya. Dilthey melihat bahwa sejarah sebagai suatu sarana menangkap manusia sebagai mahluk berpikir, merasa, berkehendak, dan mencipta yang hidup di dalam arus ejarah kehidupan. Dilthey (dalam Rafiek, 2010:30-31) menguraikan dua langkah kerja hermeneutika, yaitu interpretasi data dan riset sejarah. b. Hans-Georg Gadamer Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dikenal sebagai filosof besar asal Jerman. Pokok pemikiran hermeneutika Gadamer terletak pada eksistensi bahasa sebagai media dan fokus dari hermenutika. Gadamer (dalam Mulyono, 2012:151) mensyaratkan praandaian-praandaian bagi seseorang yang ingin melakukan suatu pemahaman atau interpretasi sehingga kemudian terbangun dialog/dialektika tanya jawab antara penafsir dengan teks yang ditafsirkannya. Oleh karena itu, hermeneutika Gadamer lebih dikenal dengan konsep hermeneutika linguistik-dialektis. Gadamer menolak konsep hermeneutika sebagai metode. Ia ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode melainkan melalui dialektika. Dalam pandangan Gadamer (dalam Muzir, 2012:197), hermeneutika adalah contoh paradigmatis dari pemahaman, sedangkan pengalaman hermeneutis adalah eksemplar kehidupan di dalam dunia sebagaimana yang disingkapkan bahasa. c. Paul Ricoeur


Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 91 Menurut Paul Ricoeur (dalam Permata, 2012:256) bahwa tugas utama hermeneutika adalah untuk memahami teks. Makna sebuah teks tidak hanya diambil menurut pandangan hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup pembacanya. Oleh sebab itu, tidak ada kebenaran mutlak dalam soal penafsiran atas wacana atau teks (Saidi, 2008:377). Dalam kajian sastra, konsep hermeneutika Ricoeur dapat diarahkan pada pemaknaan metafora dan simbol yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Untuk sampai pada pemahaman simbolsimbol, Ricoeur (dalam Sumaryono, 1999:111) menyampaikan tiga langkah analisis. Pertama, langkah simbolik, atau pemahaman dari simbol ke simbol. Kedua, pemberian makna oleh simbol serta ”penggalian” yang cermat atas makna. Ketiga, langkah yang benar-benar filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. 5. Kajian Stilistika Istilah “stilistika” diserap dari bahasa Inggris stylistics yang diturunkan dari kata style atau ‘gaya’, yang berarti studi tentang gaya. Sebagai studi tentang gaya, stilistika menganalisis ekspresi yang khas dalam bahasa untuk mendeskripsikan tujuan dan efek tertentu (Verdonk, 2002:4). Secara umum, Teeuw (1984:61) memandang stilistika atau ilmu gaya bahasa sebagai pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis, aliran sastra, atau pula penyimpangan dari bahasa seharihari atau dari bahasa yang normal atau baku, dan sebagainya. Secara khusus, stilistika menurut Mills (1995:3) adalah teori yang menganalisis bahasa teks sastra. Pembicaraan tentang stilistika tidak dapat dilepaskan dari linguistik atau ilmu bahasa. Starcke (2010:2) secara tegas menyatakan bahwa stilistika merupakan salah satu disiplin linguistik. Namun, karena sastra merupakan sebuah karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya, maka penting untuk memahami sastra ditinjau dari aspek kebahasaan. Dalam hal ini,


Click to View FlipBook Version