Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 142 menghendaki peserta didik melibatkan banyak mata pelajaran. Misalnya, masalah polusi yang ditimbulkan oleh lumpur Lapindo melibatkan beberapa bidang ilmu murni dan terapan biologi, fisika, geologi, kimia, teknik sipil, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan. c) Penyelidikan otentik PBM mengehendaki para peserta didik menggeluti penyelidikan otentik dan berusaha memperoleh pemecahanpemecahan nyata terhadap masalah-masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah itu, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bila diperlukan), membuat inferensi, dan membuat simpulan. Selain itu mereka dapat menggunakan metode-metode penyelidikan khusus, bergantung pada sifat masalah yang sedang diselidiki. d) Menghasilkan karya nyata dan memamerkan. PBM menghendaki peserta didik menghasilkan produk dalam bentuk karya nyata dan memamerkannya. Produk ini mewakili solusi-solusi mereka. Produk ini dapat merupakan skrip sebuah sinetron, sebuah laporan, model fisik, rekaman video, atau program komputer. Karya nyata dan pameran itu, yang akan dibahas kemudian, dirancang peserta didik untuk mengomunikasikan kepada pihak-pihak terkait apa yang telah mereka pelajari. Karya nyata dan pameran ini merupakan salah satu ciri inovatif model PBM. e) Kolaborasi. Seperti pembelajaran kooperatif, PBM juga ditandai oleh peserta didik yang bekerja sama dengan peserta didik lain, sering kali dalam pasangan-pasangan atau kelompok-kelompok kecil. Bekerja sama mendatangkan motivasi untuk keterlibatan berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan memperkaya kesempatan-kesempatan berbagi inkuiri dan dialog, dan untuk perkembangan keterampilan-keterampilan sosial. Yazdani (dalam Nur, 2011:14) mengidentifikasi outcome atau hasil pembelajaran berdasarkan masalah seperti berikut ini.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 143 1) Keterampilan-keterampilan pemecahan masalah. 2) Keterampilan-keterampilan belajar yang diarahkan oleh diri sendiri. 3) Kemampuan menemukan dan menggunakan sumber daya yang sesuai. 4) Berpikir kritis. 5) Dasar pengetahuan yang dapat diukur. 6) Kemampuan kinerja. 7) Keterampilan-keterampilan sosial dan etika. 8) Memenuhi kebutuhan diri sendiri dan memotivasi diri sendiri. 9) Terampil menggunakan komputer. 10) Keterampilan-keterampilan kepemimpinan. 11) Kemampuan bekerja dalam tim. 12) Keterampilan-keterampilan komunikasi. 13) Berpikir proaktif. 14) Kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Fase dari PBM umumnya dimulai dengan guru memberi orientasi situasi masalah kepada peserta didik dan diakhiri dengan prensentasi dan analisis pekerjaan dan karya peserta didik. Dewasa ini, buku teks sering ditinggalkan. Hal ini dikarenakan pedagogi kurikulum baru yang mencakup pembelajaran berdasarkan kegiatan yang memberi kesempatan kepada peserta didik menggunakan pengalaman-pengalaman dan pengamatanpengamatan langsung mereka untuk mendapatkan informasi dan untuk memecahkan masalah-masalah ilmiah. Guru didorong lebih menjadi fasilitator dan penanya daripada penyaji dan pendemo informasi. Trianto (2012:97) menjelaskan bahwa sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam suatu kegiatan. Pada pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 (lima) langkah utama yang
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 144 dimulai dengan guru memperkenalkan peserta didik dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja peserta didik. Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah pada tabel berikut ini. Tabel Sintaks Pengajaran Berdasarkan masalah Tahap Tingkah Laku Guru Tahap-1 Orientasi peserta didik pada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau mendemonstrasikan cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih. Tahap-2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar Guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-prose yang mereka gunakan. 4. Model Pembelajaran Inkuiri Salah satu model pembelajaran yang sangat dianjurkan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran inkuri (inquiry) atau penemuan. Model pembelajaran ini menjadi sangat penting karena dalam pembelajaran peserta didik tidak hanya dibiasakan untuk menerima konsep pengetahuan yang sudah ada atau sudah jadi. Namun lebih dari itu, yang diutamakan adalah
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 145 bagaimana peserta didik merekonstruksi sebuah pemahaman kritis terhadap pengetahuan baru melalui kegiatan-kegiatan analisis dan penemuan. Menurut Ahmadi, dkk (2011:25) bahwa pembelajaran inkuiri adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran inkuiri memiliki beberapa ciri khusus (Sanjaya, 2008:197). Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi ini menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan menumbuhkan sikap percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi ini adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Adapun tugas guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut. a) Menciptakan suasana kelas yang lebih menyenangkan sehingga peserta didik menjadi lebih nyaman dan berkonsentrasi saat belajar. Guru perlu melakukan pengelolaan kelas sehingga memungkinkan peserta didik belajar dan bekerja dengan baik. Dapat pula guru mengajak peserta didik ke laboratoium. b) Menyiapkan segala fasilitas penunjang pembelajaran. Dalam hal ini guru tidak harus repot dengan mengadakan bahan, media, atau peralatan, namun guru lebih berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Jika fasilitas telah siap di laboratorium, maka guru cukup mengarahkan peserta didik. Namun apabila tidak tersedia di laboratorium, guru dapat menyiapkan contoh-contoh bacaan atau dapat pula memesan kepada masing-masing peserta didik untuk menyiapkannya dari rumah.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 146 c) Mengarahkan atau menjelaskan tujuan kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik paham benar sasaran pembelajaran mereka. Selain itu, guru mengarahkan mekanisme pembelajaran sehingga peserta didik tahu langkah-langkah pembelajaran yang harus mereka kerjakan. d) Mengontrol, membimbing dan memediasi proses pembelajaran. Guru harus senantiasa melakukan pengecekan terhadap setiap aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran baik secara individual maupun kelompok. Guru harus tetap aktif di dalam kelas untuk memberikan bimbingan jika ada kesulitan yang dihadapi peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri, terdapat beberapa siklus yang harus dilakukan. Menurut Sanjaya (2008:201), terhadap enam langkah pembelajaran inkuiri, yaitu orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan. Berikut contoh tahapan siklus pembelajaran inkuiri yang dikontekskan dengan pembelajaran sastra di SMA Kelas X. Kompetensi Inti (KI): a) Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya b) Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. c) Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 147 spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah d) Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. Kompetensi Dasar: 3.8 Menganalisis karakteristik, jenis-jenis, dan perkembangan drama dan teater. 3.9 Membandingkan perbedaan drama dengan teater serta mengapresiasinya. 4.8 Mengevaluasi hasil analisis karakteristik, jenis-jenis, dan perkembangan drama dan teater. Contoh Kegiatan Pembelajaran: 1) Orientasi a. Guru menjelaskan topik dan tujuan pembelajaran tentang karakteristik, jenis, dan perkembangan drama dan teater. b. Guru menjelaskan pokok-pokok kegiatan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini guru menjelaskan setiap tahapan yang harus dilakukan peserta didik untuk menemukan karakteristik, jenis, dan perkembangan drama dan teater, mulai dari perumusan masalah hingga pengambilan keputusan. c. Menjelaskan arti penting memahami karakteristik, jenis, dan perkembangan drama dan teater. d. Guru menyiapkan dan membagikan naskah drama yang berbeda zaman, dan menyiapkan rekaman video teater untuk ditonton oleh peserta didik. 2) Merumuskan masalah Perumusan masalah dilakukan oleh peserta didik dan dibimbing oleh guru. Rumusan masalah sebaiknya dalam bentuk pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu peserta didik untuk mencari jawaban melalui tahapan pengumpulan data. Contoh beberapa rumusan masalah pada KD di atas adalah:
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 148 a. Apakah sama antara drama dan teater? b. Jika sama, apa persamaannya? Dan jika berbeda, apa perbedaannya? c. dll. 3) Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah dugaan sementara yang berisi jawabanjawaban sementara dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan. Dugaan sementara ini hanya atas didasarkan pada pengamatan awal. Untuk membuktikannya perlu pengujian hipotesis melalui pengamatan mendalam dan pengumpulan data. Contoh beberapa hipotesis dari masalah di atas: a. Drama dan teater memiliki karakteristik yang sama. b. Persamaannya terletak pada hadirnya tokoh dan dialog antartokoh. c. dll. 4) Mengumpulkan data Pengumpulan data merupakan tahapan yang sangat penting karena ketersediaan data akan sangat menentukan hasil pengujian hipotesis. Oleh sebab itu, guru harus membimbing setiap aktivitas peserta didik sehingga mereka menjadi lebih terarah untuk melakukan pengumpulan data. Pada contoh KD di atas, data yang dikumpulkan oleh peserta didik dapat berupa penggalan cerita, karakteristik yang mendasar antara drama dan teater, setiap perubahan isi dalam setiap jenis drama, dll. 5) Menguji hipotesis Pengujian hipotesis tidak lain merupakan kegiatan mengolah data yang terkumpul untuk memastikan jawaban yang telah disusun sebelumnya. Pengujian hipotesis harus difokuskan pada berbagai masalah dan hipotesis yang telah dirumuskan. Hasil pengujian hipotesis dapat saja menolak hipotesis yang telah dirumuskan, atau dapat pula membenarkan hipotesis tersebut dengan dukungan data yang lebih valid. Jika pada rumusan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 149 hipotesis, jawaban masih bersifat dugaan sementara, hanya mengira-ngira, atau hanya atas dasar argumentasi, maka pada pengujian hipotesis semua jawaban harus realistis dan valid yang didukung dengan data. Dengan demikian, hasil pengujian hipotesis merupakan dasar yang kuat dan ilmiah untuk menarik sebuah kesimpulan yang tepat. 6) Merumuskan kesimpulan Perumusan kesimpulan merupakan tahapan untuk menyarikan hasil temuan. Rumusan kesimpulan diarahkan pada rumusan masalah yang telah melalui pengujian hipotesis. Berikut contoh kesimpulan dari masalah di atas: a. Terdapat persamaan dan perbedaan antara drama dan teater. b. Persamaannya terletak pada isinya yang berkisah tentang kehidupan manusia yang ditampilkan melalui tokoh, dialog, dan akting. Perbedaannya terletak pada teknik penyajiannya. Drama disajikan dalam bentuk naskah, sedangkan teater lebih konkret dalam wujud penampilan (performansi) di atas pentas. c. dll. 5. Alternatif Metode Pembelajaran Sastra Lainnya Metode merupakan cara untuk mengerjakan sesuatu sehingga bisa mencapai target yang direncanakan. Metode pembelajaran tidak lain adalah cara untuk membelajarkan peserta didik sehingga peserta didik bisa mencapai ketuntasan belajar sebagaimana ditargetkan dalam rencana pembelajaran. Oleh karena metode merupakan cara membelajarakan peserta didik, maka penetapan metode harus dipilih secara cermat sehingga bisa mencapai hasil yang maksimal. Untuk memilih metode pembelajaran yang tepat, guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini. a) Relevansi kompetensi atau materi yang diajarkan. b) Karakteristik peserta didik. c) Kesiapan dan kemampuan guru dalam menerapkannya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 150 d) Ketersediaan waktu pembelajaran. e) Ketersediaan fasilitas belajar. f) Kelemahan dan keunggulan metode pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran sastra, pemilihan atau penetapan metode pembelajaran harus senantiasa direlevansikan dengan hakikat pembelajaran sastra yaitu apresiatif. Metode pembelajaran yang dipilih harus mampu menumbukembangkan jiwa apresiasi peserta didik terhadap karya sastra. Dalam hal ini, metode yang dipilih harus mampu melibatkan kepekaan emosi dan kekritisan pikiran peserta didik terhadap karya sastra sehingga tumbuh kecintaan dan pemahaman terhadap karya sastra yang dipelajari. Guru pengajar sastra dapat saja menggunakan metodemetode yang secara khusus digunakan dalam pembelajaran sastra, maupun metode-metode mutakhir yang digunakan dalam pembelajaran pada umumnya. Yang harus diingat adalah penentuan metode pembelajaran yang umum harus direlevansikan dengan karakteristik pembelajaran sastra yang apresiatif. Metode-metode khusus pembelajaran sastra misalnya metode/model Stratta, metode/model Rodrigues-Badaczewski, metode/model Sinektik, metode/model Taba, maupun metode/model Moody (Endraswara, 2005). Sementara mentode-metode pembelajaran pada umumnya seperti, diskusi, ekspositori, demonstrasi, pemodelan, latihan, simulasi, bermain peran, dan seminar. Berikut adalah ulasan singkat metode-metode tersebut dengan melihat relevansinya dengan karakteristik pembelajaran sastra, khususnya pembelajaran prosa fiksi dan drama. a) Metode Stratta Metode Stratta cocok digunakan untuk pembelajaran sastra yang bersifat transformasi atau alih wahana dari satu bentuk karya sastra ke bentuk karya sastra lainnya, misalnya mengubah cerpen menjadi naskah drama. b) Metode Sinektik Metode ini cocok untuk materi-materi yang di dalamnya membahas isi atau kandungan makna karya sastra. Metode ini
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 151 mengajak peserta didik untuk lebih kritis dalam menyampaikan pemikiran bersama. c) Metode Taba Metode Taba cocok digunakan pada materi-materi tentang identifikasi unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik prosa fiksi, drama, maupun puisi. d) Metode diskusi Metode diskusi merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran. Khusus dalam pembelajaran sastra, metode ini cocok digunakan untuk membahas hasil pekerjaan setiap kelompok tentang unsur intrinsik maupun hasil interpretasi makna dalam karya sastra. e) Metode demonstrasi Metode ini cocok digunakan untuk materi-materi praktik. Peserta didik diajak langsung melakukan sesuatu. Yang diharapkan dengan metode ini adalah, guru dapat melihat dan mengukur langsung kemampuan peserta didik. f) Metode latihan Metode latihan sangat cocok digunakan untuk materi-materi praktik yang dirasa sangat sulit dilakukan atau membutuhkan waktu untuk melakukannya dengan baik. Sebagai contoh, menulis cerpen, menulis naskah drama, menulis puisi yang perlu dilakukan secara berkala melalui bimbingan guru dan latihan mandiri oleh peserta didik. g) Metode tugas dan resitasi Metode ini cocok digunakan untuk materi-materi menulis yang membutuhkan proses secara bertahap dalam kurun waktu tertentu. Sebagai contoh, kompetensi menulis cerpen, naskah drama, atau puisi, guru tidak harus menuntut peserta didik menyelesaikannya dalam 1 kali pertemuan. Namun, guru dapat menugasi peserta didik menulis atau melanjutkan tulisannya di rumah. Sebelum dikumpulkan, guru perlu membimbing tugas peserta didik tersebut.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 152 h) Metode karya wisata Metode ini digunakan dengan cara mengajak peserta didik mengunjungi suatu tempat yang dapat membangkitkan inspirasi. Tempat-tempat tersebut dapat berupa pantai, museum, atau tempat-tempat bersejarah lainnya. Materi-materi yang cocok menggunakan metode ini adalah kompetensi-kompetensi menciptakan karya sastra. F. Media Pembelajaran Secara teoretis, istilah media pembelajaran dibedakan dari istilah sumber pembelajaran. Menurut Mulyasa (2007:206) bahwa sumber belajar adalah rujukan, objek, dan bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sementara media pembelajaran menurut Musfiqon (2012:28) adalah alat bantu berupa fisik maupun nonfisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara guru dan siswa dalam memahami materi pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. Sumber belajar mempunyai cakupan yang lebih luas daripada media pembelajaran. Dengan kalimat lain, media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar. Sumber belajar dapat mencakup pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan lingkungan/latar (Komalasari, 2011:108). Walaupun demikian, secara praktis sumber belajar dan media belajar merupakan satu kesatuan yang utuh untuk menunjang aktivitas pembelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu, untuk kebutuhan praktis, kedua istilah ini digunakan dalam pengertian yang sama. Pemanfaatan sumber atau media pembelajaran dapat memaksimalkan hasil pembelajaran, termasuk pembelajaran sastra. Pemanfaatan media dalam pembelajaran tidak saja membantu pengajar (guru/dosen) dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran (Uno, 2008:116). Dalam pembelajaran, media dapat dijadikan perantara materi yang disampaikan oleh pengajar (guru/dosen) kepada peserta didik (siswa/mahasiswa).
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 153 Eksistensi media dalam pembelajaran mampu memberikan pengaruh positif terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Sanjaya (2008:171) menyatakan bahwa media pembelajaran memiliki beberapa nilai praktis berikut. 1. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa. 2. Media dapat mengatasi batas ruang kelas. 3. Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan. 4. Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan. 5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata dan tepat. 6. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik. 7. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru. 8. Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa. 9. Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak. Untuk kepentingan pembelajaran prosa fiksi, banyak media yang dapat digunakan. Beberapa di antaranya disebutkan di bawah ini. 1. Film Media film termasuk media pembelajaran yang audio-visual. Media ini sangat cocok digunakan untuk menarik perhatian peserta didik sebelum mempelajari karya sastra, seperti novel atau cerpen. Film yang dimaksud dalam hal ini adalah bentuk alih wahana novel ke dalam bentuk film atau ekranisasi. Sebelum menyodorkan cerpen atau novel, guru dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menonton filmnya. Nanti setelah menonton, guru kembali mengkontekskan pembelajaran dalam cerpen atau novel. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan apresiasi peserta didik terhadap karya sastra, khususnya novel, cerpen dan drama. 2. Televisi
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 154 Televisi merupakan media pembelajaran yang banyak digunakan untuk memvisualisasikan sesuatu secara konkret. Televisi dapat digunakan untuk memutar film yang telah disiapkan oleh guru. Penggunaan media ini dapat dilakukan di dalam kelas dengan cara membawa televisi ke kelas, atau dapat pula peserta didik diajak ke ruangan khusus yang di dalamnya telah disiapkan televisi. Media ini cocok untuk mempertontonkan film maupun rekaman pementasan drama. 3. LCD Proyektor LCD proyektor merupakan media pembelajaran mutakhir dan serba guna. Dengan LCD proyektor, pengajar dapat menampilkan materi ajarnya dalam bentuk slide dan dapat pula digunakan untuk menampilkan film, contoh pementasan drama, atau contoh pembacaan puisi. Dalam penggunaannya, LCD proyektor harus dihubungkan dengan perangkat lain yaitu komputer atau laptop/notebook. Media ini sangat cocok digunakan oleh guru untuk memperlihatkan film atau contoh pementasan drama sehingga peserta didik menjadi lebih jelas tentang materi-materi yang diajarkan. 4. Gambar Media gambar dimaksudkan untuk membangkitkan imajinasi peserta didik tentang suatu hal. Dengan melihat gambar, maka peserta didik dapat mengkontekskan imajinasinya dengan kenyataan. Oleh sebab itu, media ini cocok digunakan dalam pembelajaran sastra, khususnya pada tahapan penciptaan. Media ini cocok digunakan pada peserta didik usia sekolah dasar. Pada usia sekolah dasar, daya imajinasi peserta didik masih terbatas. Media gambar dapat menjadi salah satu sarana untuk membangkitkan imajinasi mereka. 5. Buku antologi cerpen Buku antologi atau buku kumpulan cerpen sangat penting disiapkan oleh guru maupun pihak sekolah. Buku antologi dapat membantu guru untuk mengajarkan berbagai jenis karya sastra. Selain itu, dengan buku antologi peserta didik dapat lebih
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 155 leluasa memilih karya yang mereka minati. Namun, perlu diingat bahwa guru harus cukup selektif memilih buku antologi, mengingat buku antologi dewasa ini sudah sangat banyak. Guru harus lebih selektif memilih buku antologi yang benar-benar bernilai sastra (indah dan bermanfaat). 6. Buku novel Salah satu genre sastra yang diajarkan di sekolah adalah novel. Kebutuhan akan pembelajaran novel menuntut guru dan pihak sekolah untuk menyiapkannya di perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik mudah mempelajari berbagai hal tentang novel. Sama halnya dengan buku antologi, guru pun harus selektif dalam memilih buku-buku novel mengingat karya-karya novel sekarang ini sangat banyak beredar. Guru harus jeli melihat novel-novel yang di dalamnya terkandung banyak manfaat bagi peserta didik. Sebaiknya novel dipilih dari para sastrawan besar sehingga substansinya jelas dan banyak digunakan dalam soal Ujian Nasional. G. Penilaian Pembelajaran 1. Hakikat Penilaian Pembelajaran Selain istilah penilaian (assessment), terdapat dua istilah lain yang saling berhubungan, yaitu pengukuran (measurement), dan evaluasi (evaluation). Secara sederhana, perbedaan keempat istilah tersebut dapat dilihat pada definisi yang dikemukakan oleh Arikunto (2003:3). Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Sementara evaluasi meliputi kedua langkah tersebut, yaitu mengukur dan menilai. Tahap penilaian merupakan satu dari tiga rangkaian kegiatan utama dalam pembelajaran, selain perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Paradigma pembelajaran lama menempatkan penilaian pada akhir proses pembelajaran. Artinya, penilaian dijadikan sebagai tahapan penutup pembelajaran untuk mengetahui
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 156 tingkat ketercapaian pengetahuan peserta didik setelah melalui proses pembelajaran. Dalam paradigma pembelajaran baru, penilaian tidak hanya dilaksanakan pada akhir pembelajaran, namun penilaian dilaksanakan secara terintegrasi selama proses pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan pada penilaian hasil belajar, namun diarahkan pula pada penilaian proses pembelajaran, sehingga aspek penilaian pembelajarannya pun lebih komprehensif. Berdasarkan hal di atas, penilaian pembelajaran mempunyai manfaat yang besar dalam rangkaian proses pembelajaran. Adapun manfaat penilaian dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. a) Sebagai bahan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran. b) Sebagai umpan balik untuk penyempurnaan pembelajaran. c) Mengukuran ketercapaian ketuntasan belajar peserta didik, baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. d) Sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tindak lanjut terhadap hasil belajar peserta didik. Sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, penilaian hasil belajar harus memenuhi prinsip sebagai berikut. a) Sahih, artinya penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. b) Objektif, artinya penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. c) Adil, artinya penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. d) Terpadu, artinya penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. e) Terbuka, artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 157 f) Menyeluruh dan berkesinambungan, artinya penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik. g) Sistematis, artinya penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. h) Mengacu pada kriteria, artinya penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. i) Akuntabel, artinya penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya. 2. Mekanisme dan Prosedur Penilaian Lingkup penilaian pendidikan sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 mencakup: (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (3) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Namun, dalam buku ini hanya akan dibahas berbagai aspek penilaian hasil belajar oleh pendidik. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan melalui mekanisme sebagai berikut. a) Rancangan penilaian dilakukan pada saat penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang didasarkan pada silabus. b) Penilaian sikap dilaksanakan melalui observasi atau pengamatan maupun teknik penilaian lain yang relevan. Pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru kelas. c) Penilaian pengetahuan dilaksanakan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan disesuaikan dengan kompetensi yang dinilai. d) Penilaian keterampilan dilaksanakan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain yang disesuaikan dengan kompetensi yang dinilai; e) Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 158 f) Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi. Adapun prosedur penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan mengacu pada urutan sebagai berikut. a) Menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun. b) Menyusun kisi-kisi penilaian. c) Membuat instrumen penilaian beserta pedoman penilaian. d) Melakukan analisis kualitas instrument. e) Melakukan penilaian. f) Mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian. g) Melaporkan hasil penilaian. h) Memanfaatkan laporan hasil penilaian. 3. Bentuk dan Lingkup Penilaian Penilaian proses pembelajaran, termasuk proses pembelajaran sastra, sebagaimana tuntutan K13 menggunakan pendekatan penilaian autentik (authentic assesment). Penilaian autentik menilai kesiapan, proses, dan hasil belajar peserta didik secara utuh. Penilaian autentik, menurut Kunandar (2013:35), adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Penilaian autentik mempunyai karakteristik sebagai berikut. a) Penilaian terintegrasi selama proses pembelajaran. b) Bentuk penilaian lebih variatif sehingga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada guru untuk memilih bentuk penilaian yang tepat dan cocok dengan kompetensi yang diajarkan.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 159 c) Aspek penilaian lebih komprehensif, mencakup aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Adapun ranah kompetensi dengan masing-masing level dan indikator kompetensi sebagaimana didaftarkan oleh Moore (dalam Majid, 2007:54-55) berikut ini. No. RANAH LEVEL KECAKAPAN INDIKATOR KECAKAPAN 1. Kognitif (Pengetahuan) Knowledge (Mengetahui dan Mengingat Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisiskan, mencocokkan, menamai, melabeli, menggambarkan Comprehension (Pemahaman) Menerjemah, mengubah, menggeneralisasi, menguraikan, menulis ulang, meringkas, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, berpendapat, dan menjelaskan. Application (Penerapan) Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah, mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung. Analysis (Analisis) Menguraikan satuan menjadi unit-unit yang terpisah, membagi satuan menjadi sub-sub atau bagian-bagian,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 160 membedakan antara dua yang sama, memilih, dan mengenali perbedaan (di antara beberapa yang dalam satu kesatuan) Synthesis (Sintesis) Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, mengompilasikan, mengomposisikan, membuat hipotesis, dan merencanakan. Evaluation (Menilai) Mengkritisi, menginterpretasi, menjastifikasi, dan memberikan penilaian. 2. Afektif (Sikap) Receiving (Penerimaan) Mempercayai (sesuatu atau seseorang untuk diikuti), memilih (seseorang atau sesuatu untuk diikuti), mengikuti, bertanya (untuk diikuti), dan mengalokasikan. Responding (Penerimaan) Mengonfirmasi, memberi jawaban, membaca (pesanpesan), membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan. Valuing (Penanaman Nilai) Menginisiasi, mengundang (orang untuk terlibat), terlibat, mengusulkan, dan melakukan. Organization Memverifikasi nilainilai, menetapkan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 161 (Pengorganisasian Nilai-Nilai) beberapa pilihan nilai, mengsintesiskan (antarnilai), mengintegrasikan (antarnilai), menghubungkan (antarnilai), mempengaruhi (kehidupan dengan nilai-nilai). Characterization (Karakterisasi Kehidupan) Menggunakan nilainilai sebagai pandangan hidup (worldview), mempertahankan nilainilai yang sudah diyakini. 3. Psikomotor (Keterampilan) Observing (Memperhatikan) Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada sebuah artikulasi. Imitation (Peniruan) Melatih, mengubah sebuah bentuk, membongkar sebuah struktur, membangun kembali sebuah struktur, dan menggunakan sebuah konstruk, atau model. Practicing (Pembiasaan) Membiasakan sebuah model atau perilaku yang sudah dibentuknya. Mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten. Adapting (Penyesuaian) Menyesuaikan model, membenarkan sebuah model untuk
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 162 dikembangkan, dan menyekutukan model pada kenyataan. 4. Penilaian Kompetensi Sikap Menurut Kunandar (2013:100), penilaian kompetensi sikap adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi sikap dari peserta didik yang meliputi aspek menerima atau memperhatikan (receiving dan attending), merespons atau menanggapi (responding), menilai atau menghargai (valuing), mengorganisasi atau mengelola (organization), dan berkarakter (characterization). Penilaian kompetensi sikap dalam Kurikulum 2013 mencakup sikap spiritual yang tertuang dalam kompetensi inti 1 (KI-1) dan sikap sosial yang tertuang dalam kompetensi inti 2 (KI2). Lebih lanjut Kunandar (2013:112) membuatkan daftar kata operasional sebagai indikator pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam aspek sikap. No. Kata Operasional 1. Menghargai pendapat orang lain 2. Sopan santun dalam berbicara dan bertindak 3. Beriman dan bertakwa 4. Jujur dan empati 5. Sikap ingin tahu 6. Kerja keras 7. Berpikir kritis 8. Berani mengambil risiko 9. Aktif, kreatif, dan percaya diri 10. Memiliki ide/karya/karsa 11. Disiplin dan loyal 12. Toleransi 13. Bekerja sama dan suka bertanya Adapun objek penilaian kompetensi sikap adalah sebagai berikut (Komalasari, 2011:156). a) Sikap terhadap materi pelajaran. b) Sikap terhadap guru/pengajar.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 163 c) Sikap terhadap peserta didik (teman) lain di kelas. d) Sikap terhadap proses pembelajaran. e) Sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan mata pelajaran. Instrumen penilaian kompetensi sikap melingkupi observasi, penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal. Berikut contoh penerapan penilaian kompetensi sikap dalam pembelajaran apresiasi sastra. a) Observasi Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Contoh lembar observasi penilaian sikap pada materi apresiasi sastra. Nama Peserta didik : Siska Kelas/Semester : X / 1 Sekolah : SMA ......... Kompetensi Dasar : 2.4. Mengembangkan sikap apresiatif dalam menghayati karya sastra Kompetensi Sosial Yang diobservasi : Sikap sosial dalam berdiskusi kelompok Waktu Pengamatan : Kamis, 13 Maret 2014 Tema Diskusi : Menyusun sinopsis novel dan meresensi novel Format Pengamatan : No Aspek yang Diamati Keterangan Ketera ngan Skor B C K 1. Kepatuhan terhadap aturan dalam diskusi √ B = 3 C = 2 K = 1 2. Memberikan ide, usul, dan saran dalam kelompok √ 3. Mengikuti diskusi dengan semangat dan antusias √
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 164 4. Menyimak dan memerhatikan ketika teman lain sedang menyampaikan presentasi atau pendapat √ 5. Menghargai pendapat atau usul yang disampaikan teman lain atau kelompok lain √ 6. Tanggung jawab dalam kelompok √ 7. Kerja sama dalam kelompok √ 8. Kesantunan dalam menyampaikan pendapat √ 9. Cara menyanggah atau menanggapi pendapat teman lain √ 10. Penerimaan terhadap hasil diskusi √ Skor Perolehan Skor Maksimal 27 30 = 90 Keterangan penilaian: - Sangat Baik (SB) dengan rentangan nilai 91 – 100. - Baik (B) dengan rentangan nilai 75 – 90. - Cukuk (C) dengan rentangan nilai 60 – 74. - Kurang (K) dengan rentangan nilai 0 – 59. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi peserta didik berada pada kategori baik (B). b) Penilaian Diri Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Khusus untuk pembelajaran sastra, format penilaian diri dapat digabungkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara umum, atau dapat pula dipisahkan berdasarkan beberapa urutan KD Kesastraan (khusus Nilai Akhir = x 100 % Nilai Akhir = x 100 %
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 165 untuk Mapel peminatan di SMA/MA). Berikut dicontohkan format penilaian diri untuk beberapa kompetensi kesastraan. FORMAT PENILAIAN DIRI PESERTA DIDIK Sekolah : ……………………….. Mata pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Peserta didik : ……………………….. Kelas/SMT : X / 1 (SMA/MA) No. Kompetensi Dasar Kompetensi Prediksi Capaian (%) Hambata n yang dihadapi Kompe Ket ten Tidak Kompe ten 1. 3.8 Menganalisis karakteristik, jenis-jenis, dan perkembangan drama dan teater. 2. 3.9 Membandingkan perbedaan drama dengan teater serta mengapresiasinya. … ... … … … … … Dengan format penilaian diri seperti di atas, guru bisa mendapatkan informasi secara autentik tingkat ketercapaian kompetensi peserta didik dari satu atau beberapa KD kesastraan. Dengan begitu, guru dapat melakukan pemilahan kompetensi yang perlu mendapat penekanan atau mungkin remedial sehingga guru bisa melakukan tindak lanjut terhadap hasil penilaian tersebut. c) Penilaian Antarpeserta Didik Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik. Lembar penilaian antarpeserta
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 166 didik dapat menggunakan format penilaian observasi yang sudah ada, dan dapat pula membuat format baru. Hal ini sangat bergantung dari kesiapan guru dan kebutuhan penilaian terhadap setiap peserta didik. Jika guru ingin menggunakan format penilaian antarpeserta didik berdasarkan format observasi yang sudah ada sebelumnya, guru cukup menambahkan nama peserta didik yang dinilai dan nama peserta didik yang menilai. Menurut penulis, format ini lebih praktis karena: (1) tidak terlalu menyita waktu guru untuk menyusun lembar penilaian baru, dan (2) membantu guru untuk melakukan pemeriksaan kembali (cross check) terhadap penilaian observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, aspek subjektivitas penilaian dapat diminimalisasi karena penilaiannya tidak hanya dilakukan oleh satu pihak (guru atau peserta didik), namun merupakan kombinasi dari keduanya (guru dan peserta didik). d) Jurnal Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Penilaian sikap melalui jurnal ini lebih cocok digunakan untuk menilai sikap dan perilaku peserta didik secara komprehensif pada satu mata pelajaran tertentu. Jika dihubungkan dengan penilaian sikap dalam pembelajaran sastra, maka penilaiannya pun terintegrasi dengan pembelajaran Bahasa (dan Sastra) Indonesia. Untuk jelasnya, berikut contoh instrumen jurnal untuk menilai sikap peserta didik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip dari Kunandar (2013:152). BUKU CATATAN HARIAN TENTANG SIKAP DAN PERILAKU PESERTA DIDIK (SMP N. 254 JAKARTA) Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : VII Tahun Pelajaran : 2013/2014 Nama Guru : Sri Aisah, S.Pd.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 167 Contoh isi buku catatan harian melalui hasil pengamatan guru: No. Hari, Tanggal Nama Peserta Didik Kejadian (Positif atau Negatif) Tindak Lanjut 1. Kamis, 19/08/2013 Ani Purwati Mengumpulkan tugas membuat cerpen tepat waktu Diberikan apresiasi 2. Senin, 26/08/2013 Yuli Apsari Membaca puisi dengan penuh penghayatan Diberikan apresiasi 3. Rabu, 28/08/2013 Indah Irma Aktif dalam diskusi dengan memberikan tanggapan dan pertanyaan Diberikan apresiasi 4. Senin, 2/09/2013 Maulana Terlambat dua hari mengumpulkan tugas Diberikan pembinaan 5. Kamis, 5/09/2013 Abdulah Mengerjakan PR di sekolah Diberikan pembinaan 5. Penilaian Kompetensi Pengetahuan Penilaian kompetensi pengetahuan atau kognitif adalah penilaian yang dilakukan oleh guru untuk mengukur tingkat pencapaian atau penguasaan peserta didik dalam aspek pengetahuan yang meliputi ingatan atau hapalan, pemahaman, penerapan atau aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi (Kunandar, 2013:159). Adapun kata-kata operasional sebagai indikator pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam aspek kompetensi pengetahuan menurut Kunandar (2013:167) adalah sebagai berikut. No. Kata Operasional 1. Menjelaskan 2. Menyebutkan 3. Membedakan 4. Menemukan hubungan antara dua variable 5. Menerapkan konsep 6. Menganalisis data 7. Menarik kesimpulan 8. Menghitung nilai suatu besaran
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 168 9. Menemukan rumus berdasarkan suatu data 10. Menghitung nilai suatu konsep 11. Membaca diagram 12. Menganalisis kegiatan 13. Mendefinisikan suatu konsep Sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian, terdapat tiga instrumen penilaian kompetensi pengetahuan, yaitu instrumen tes tulis, instrumen tes lisan, instrumen penugasan. a) Tes Tertulis Penilaian tertulis merupakan bentuk penilaian yang banyak digunakan oleh guru selama ini. Setiap mata pelajaran, termasuk pelajaran sastra, banyak dievaluasi dengan menggunakan jenis tes ini. Dalam proses pembelajaran sastra, penggunaan penilaian atau tes tertulis sebaiknya jangan terlalu dominan. Artinya, penilaian pembelajaran sastra harus lebih mengutamakan penilaian proses karena dalam proses itulah apresiasi peserta didik terhadap karya sastra lebih tampak. Penilaian tertulis lebih banyak digunakan pada akhir pembelajaran (formatif atau sumatif), sehingga tidak mampu mengukur kompetensi peserta didik selama proses pembelajaran. Menurut Didipu (2011:169-170), penilaian tertulis perlu diterapkan dalam pembelajaran sastra, namun harus mempertimbangkan tiga hal utama berikut ini. 1) Karakteristik jenis KD yang diajarkan Penilaian tertulis perlu mempertimbangkan jenis KD sastra apa yang diajarkan. Secara garis besar KD kesastraan dalam Kurikulum 2013 dapat dikategorikan menjadi dua sifat, yaitu yang bersifat konseptual dan apresiatif. Kompetensi yang cocok dinilai dengan tes tertulis adalah KD yang bersifat konseptual/teoretis. Sementara KD yang bersifat apresiatif (praktik) sebaiknya jangan diuji dengan tes tertulis, tetapi peserta didik diminta langsung mempraktikannya.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 169 2) Tingkat kognitif tes (ingatan sampai evaluasi) Penggunaan penilaian tertulis untuk pembelajaran sastra sebaiknya berada pada tingkat penerapan (C3), tingkat analisis (C4), tingkat sintesis (C5), dan tingkat evaluasi (C6). Hal ini penting karena tingkat ingatan (C1) dan tingkat pemahaman (C2) tidak dapat mengukur tingkat apresiasi sastra peserta didik. Jenis tes tingkat kognitif ingatan (C1) dan pemahaman (C2) cocok untuk mengukur KD kesastraan yang lebih bersifat konseptual. Sementara KD apresiatif (praktik) cocok diukur dengan tes tingkat kognitif C3, C4, C5, dan C6. 3) Relevansi jenis tes dengan KD yang diajarkan. Pemilihan jenis tes tertulis perlu mempertimbangkan relevansinya dengan KD yang diajarkan. Kompetensi dasar yang menuntut daya analisis, interpretasi, maupun resepsi peserta didik terhadap karya sastra sebaiknya menggunakan jenis tes subjektif (esai). Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat lebih leluasa mengungkapkan tingkat kemampuan apresiasinya terhadap karya sastra yang diapresiasinya. Jenis tes tertulis mencakup bentuk tes soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Berikut contoh penggunaan masing-masing tes pada pembelajaran sastra. 1) Tes pilihan ganda Satuan Pendidikan : SMA Kelas : IX Kompetensi Dasar : 3.5 Mengidentifikasi unsur pembangun karya sastra dalam teks cerita pendek yang dibaca atau didengar. Contoh soal: 2. Berikut ini yang tidak termasuk unsur cerpen adalah .... a. Latar c. Sudut pandang b. Imajinasi* d. Alur 3. Unsur intrinsik cerpen yang berisi teknik atau metode penggambaran watak tokoh disebut ....
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 170 a. Tema c. Tokoh b. Sudut pandang d. Penokohan* 2) Tes isian atau melengkapi Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VII Kompetensi Dasar : 3.3 Mengidentifikasi struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi) yang dibaca dan didengar Contoh soal: 1. Unsur cerpen yang berhubungan dengan tempat dan waktu cerita disebut .... 2. Salah satu perbedaan antara novel dan cerpen terletak pada kompleksitas alurnya. Cerpen menggunakan alur.... 3) Tes jawaban singkat Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VIII Kompetensi Dasar : 3.2 Membedakan teks cerita moral/fabel, ulasan, diskusi, cerita prosedur, dan cerita biografi baik melalui lisan maupun tulisan Contoh soal: 1. Apa perbedaan yang mendasar antara biografi dan otobiografi? 2. Fabel termasuk ragam sastra lama, karena .... 4) Tes benar-salah Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VII Kompetensi Dasar : 3.2 Mengidentifikasi informasi tentang fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar Contoh soal: 1. B – S Febel berisi cerita tentang binatang, legenda berisi kejadian suatu tempat. 2. B – S Fabel dan legenda termasuk dalam prosa baru.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 171 5) Tes menjodohkan Satuan Pendidikan : SMA Kelas : XI Kompetensi Dasar : 3.9 Menganalisis unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam buku kumpulan cerita pendek yang dibaca Contoh soal: Bagian A Bagian B 1. Cara pengarang menyampaikan cerita 2. Metode penggambaran watak tokoh 3. Intisari cerita 4. Rangkaian peristiwa dalam cerita 5. Waktu dan tempat peristiwa dalam cerita ….. ….. ….. ….. ….. i. Tema ii. Latar iii. Alur iv. Sudut pandang v. Penokohan vi. Gaya 6) Tes uraian Satuan Pendidikan : SMA Kelas : XII Kompetensi Dasar : 3.8 Menafsirkan pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca Contoh soal: Perhatikan penggalan novel berikut ini. Kadang aku merasa, kami seakan hidup dalam komunitas harem, seperti kisah para harem yang diceritakan oleh ibu tiriku Fatmah. Sebab, sekalipun kami menempati rumah yang besar dan pekarangan yang luas, tetapi ayah menutupi seluruh pekarangan dengan tembok setinggi tiga meter kecuali pagar depan rumah. Dengan pagar setinggi itu, aku tidak dapat menyaksikan komedi monyet yang suka lewat di jalan atau membeli tahu solet sendiri tanpa mengandalkan Yu Blakinah. Sehari-harinya, teman bermainku juga terbatas. Aku hanya dapat bermain bersama anak paman atau saudara dekatku yang dibolehkan masuk ke dalam pekarangan kami. (Khalieqy, Geni Jora, 2009:74-75) Bagaimana pandangan pengarang tentang kehidupan dalam kutipan novel di atas? Jelaskan pendapat Anda!
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 172 b) Tes Lisan Tes lisan merupakan salah satu bentuk penilaian yang menekankan aspek pengetahuan peserta didik dengan cara guru memberikan pertanyaan langsung (secara lisan) dan peserta didik pun memberikan jawaban secara langsung (lisan). Tes lisan mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Arifin (2009:149) menyebutkan kelebihan tes lisan antara lain: (1) dapat mengetahui langsung kemampuan peserta didik dalam mengemukakan pendapatnya secara lisan, (2) tidak perlu menyusun soal-soal secara terurai, tetapi cukup mencatat pokok-pokok permasalahannya saja, (3) kemungkinan peserta didik akan menerka-nerka jawaban dan berspekulasi dapat dihindari. Kelemahannya adalah: (1) memakan waktu yang cukup banyak, apalagi jika jumlah peserta didiknya banyak, (2) sering muncul unsur subjektivitas bilamana dalam suasana ujian itu hanya ada seorang guru dan seorang peserta didik. Tes lisan dapat dilaksanakan dengan mengikuti beberapa tahapan operasional berikut ini. 1) Menyiapkan daftar pertanyaan/soal untuk diajukan kepada peserta didik, dengan disertai bobot skor. 2) Merencanakan alokasi waktu untuk setiap peserta didik sehingga dapat diprediksi total waktu untuk melaksanakan tes. 3) Mengundang atau memanggil peserta didik (perorangan atau berpasangan/kelompok) sesuai urutan di dalam daftar hadir atau diacak. 4) Mengajukan pertanyaan kepada peserta didik. Saat memberikan pertanyaan, guru dapat memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik untuk mengingat atau memikirkan jawaban. 5) Setiap jawaban peserta didik langsung diberikan skor sesuai nomor soal/pertanyaan yang diajukan. Hal ini dimaksudkan agar guru tidak lupa penguasaan peserta didik di setiap pertanyaan/soal yang diajukan. 6) Setelah semua peserta didik diuji/dites, guru langsung melakukan perekapan atau penghitungan jumlah skor setiap peserta didik.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 173 c) Tes Penugasan Tes penugasan adalah bentuk tes yang dilakukan dengan cara memberikan instruksi atau panduan aktivitas yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk mencari, mengidentifikasi, atau mengerjakan sesuatu dalam jangka waktu yang ditentukan. Penilaian ini bertujuan untuk mengukur kedalaman penguasaan kompetensi pengetahuan yang telah dipelajari atau dikuasai di kelas melalui proses pembelajaran (Kunandar, 2013:225). Itulah sebabnya, penugasan pada umumnya diberikan pada akhir pembelajaran dan dikerjakan oleh peserta didik di rumah (PR) untuk memperkaya pemahaman dari data atau informasi yang lebih komprehensif. Walaupun demikian, pemberian tugas perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut (Surapranata dan Hatta, 2006:19). 1) Banyaknya tugas satu mata pelajaran diusahakan agar tidak memberatkan peserta didik, karena peserta didik memerlukan waktu untuk bermain, belajar mata pelajaran lain, bersosialisasi dengan teman, dan lingkungan sosial lainnya. 2) Jenis dan materi pemberian tugas harus didasarkan kepada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih peserta didik menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. 3) Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian. Contoh format penilaian penugasan dalam pembelajaran apresiasi sastra. Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VII Kompetensi Dasar : 4.3 Menelaah dan merevisi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 174 Nama Peserta didik : Siti H.M. Tugas : 1) Tukarkan cerpen yang telah Anda tulis dengan cerpen yang telah ditulis oleh teman Anda yang lain! 2) Identifikasi dan catatlah kekurangan cerpen teman Anda ditinjau dari strukturnya! 3) Susunlah revisi teks cerpen teman Anda sesuai dengan struktur cerpen yang baik! 6. Penilaian Kompetensi Keterampilan Penilaian kompetensi keterampilan merupakan penilaian pembelajaran yang ditujukan untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran melalui aktivitas atau perbuatan secara nyata. Penilaian kompetensi keterampilan atau psikomotor diarahkan pada penilaian kemampuan peserta didik dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu, memikirkan dan menyampaikan sesuatu, hingga menghasilkan sesuatu, sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar yang sedang dipelajari. Dalam Kurikulum 2013, penilaian keterampilan mengacu pada Kompetensi Inti 4 atau KI-4, yakni keterampilan. Kunandar (2013:256) mendaftarkan beberapa kata operasional sebagai indikator pencapaian kompetensi keterampilan peserta didik. No. Kata Operasional 1. Membaca dan menulis 2. Mengukur suatu nilai 3. Menganalisis 4. Menerapkan suatu konsep 5. Mengukur berat ringannya masalah 6. Berkomunikasi dengan berbagai bahasa 7. Terampil mengolah data 8. Terampil menyajikan data 9. Berpikir positif 10. Keterampilan mendengar 11. Keterampilan membaca grafik dan diagram
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 175 12. Membuat grafik dan diagram 13. Mengidentifikasi masalah Dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian disebutkan tiga jenis penilaian keterampilan, yaitu (1) tes praktik, (2) proyek, (3) penilaian portofolio. a) Penilaian Praktik Penilaian praktik disebut juga penilaian kinerja atau ujuk kerja (performance). Teknik penilaian unjuk kerja merupakan proses penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan suatu hal. Teknik penilaian ini sangat baik digunakan dalam pembelajaran sastra, khususnya pada kompetensi praktik. Penilaian praktik termasuk penilaian dalam proses pembelajaran karena pengamatan diarahkan pada setiap aktivitas peserta didik saat proses pembelajaran berlangsung. Menurut Suwandi (2011:84), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian unjuk kerja. 1) Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. 2) Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. 3) Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. 4) Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati. 5) Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati. Penilaian unjuk kerja umumnya menggunakan dua model instrumen penilaian, yaitu (1) daftar cek, dan (2) skala penilaian. Daftar cek dilakukan dengan cara membuat tabel yang di dalamnya berisi pengamatan aktivitas peserta didik yang dinilai secara kualitatif, misalnya baik atau tidak baik, ya atau tidak, selalu-seringjarang. Penilaian unjuk kerja dengan skala penilaian pun dibuatkan
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 176 tabel, namun dengan menggunakan rentang nilai secara kuantitatif, misalnya angka 1 = sangat baik, 2 = baik, 3 = cukup, dan 4 = kurang. Berikut contoh format penilaian unjuk kerja dalam pembelajaran apresiasi sastra di kelas XI SMA KD 4.2. “Memproduksi teks pantun, yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan mupun tulisan” pada tahapan mengomunikasikan, dengan indikator peserta didik membacakan teks pantun dengan intonasi dan ekspresi yang tepat Nama peserta didik : Salman A. No. Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang 1. Ekspresi √ 2. Intonasi √ 3. Pelafalan √ 4. Penghayatan √ Skor perolehan 10 Skor maksimal 14 Keterangan: Sangat baik = skor 4 Baik = skor 3 Cukup = skor 2 Kurang = skor 1 Penskoran: Skor Perolehan Skor Maksimal 10 14 = 71,42 (dibulatkan 71) Keterangan penilaian: - Sangat Baik (SB) dengan rentangan nilai 91 – 100. - Baik (B) dengan rentangan nilai 75 – 90. - Cukuk (C) dengan rentangan nilai 60 – 74. - Kurang (K) dengan rentangan nilai 0 – 59. Nilai = x 100 Nilai = x 100
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 177 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi peserta didik berada pada kategori cukup (C). b) Penilaian Proyek Penugasan merupakan teknik penilaian terhadap suatu tugas yang mengandung penyelidikan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Dalam pembelajaran sastra, teknik proyek ini cocok untuk kompetensi yang mengharuskan peserta didik menemukan, mengidentifikasi, atau menganalisis suatu hal dalam kurun waktu tertentu. Dalam Permendikbud No. 81A disebutkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian proyek. 1) Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. 2) Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. 3) Keaslian Projek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Berikut dicontohkan penilaian proyek pada pembelajaran sastra dengan mengikuti format dalam Permendikbud No. 81A Tahun 2013. Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Nama Proyek : Membandingkan Karakteristik Prosa Lama dan Prosa Baru Alokasi Waktu : 4 kali pertemuan Guru Pembimbing : Dewy T., S.Pd. Nama Peserta didik : Ismail T. NIS : 210574 Kelas : X (SMA)
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 178 No. Aspek Skor 1 2 3 4 5 1. Perencanaan: a. Persiapan b. Judul √ √ 2. Pelaksanaan: b. Sistematika penulisan c. Keakuratan sumber data/informasi d. Kuantitas sumber data e. Analisis data f. Penarikan kesimpulan √ √ √ √ √ 3. Laporan proyek a. Performans b. Presentasi/penguasaan √ √ Penskoran: Skor Perolehan Skor Maksimal 39 45 = 86,66 (dibulatkan 87) Keterangan penilaian: - Sangat Baik (SB) dengan rentangan nilai 91 – 100. - Baik (B) dengan rentangan nilai 75 – 90. - Cukuk (C) dengan rentangan nilai 60 – 74. - Kurang (K) dengan rentangan nilai 0 – 59. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi peserta didik Membandingkan Karakteristik Prosa Lama dan Prosa Baru berada pada kategori baik (B). c) Penilaian Portofolio Penilaian portofolio adalah bentuk penilaian dengan cara mengumpulkan hasil kerja/tugas peserta didik untuk satu atau beberapa kompetensi yang relevan dalam jangka waktu tertentu. Bentuk penilaian portofolio ini penting diterapkan untuk mengukur Nilai = x 100 Nilai = x 100
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 179 tingkat perkembangan dan penguasaan materi oleh peserta didik dalam rentang waktu tertentu. Selain itu, Surapranata dan Hatta (2006:73) menyebutkan fungsi portofolio sebagai alat untuk: (1) melihat perkembangan tanggung jawab peserta didik dalam belajar, (2) perluasan dimensi belajar, (3) pembaharuan kembali proses belajar-mengajar, (4) penekanan pada pengembangan pandangan peserta didik dalam belajar. Penilaian portofolio lebih diarahkan pada hasil belajar peserta didik dalam bentuk yang produktif (tertulis atau lisan). Untuk itu, dalam penilaian atau penskoran hasil kerja peserta didik tersebut, guru perlu memperhatikan hal-hal berikut. 1) Relevansi hasil kerja peserta didik dengan kompetensi dasar. 2) Orijinalitas hasil kerja peserta didik. 3) Ketepatan indikator atau kriteria dalam rubrik penilaian. Sehubungan dengan rubrik penilaian portofolio, Kunandar (2013:296) menyebutkan lima kriteria yang harus dipenuhi dalam rubrik penilaian portofolio. 1) Rubrik memuat indikator kunci dan kompetensi dasar yang akan dinilai pencapaiannya dengan portofolio. 2) Rubrik memuat aspek-aspek penilaian yang macamnya relevan dengan isi tugas portofolio. 3) Rubrik memuat kriteria kesempurnaan (tingkat, level) hasil tugas. 4) Rubrik mudah untuk digunakan oleh guru dan peserta didik. 5) Rubrik menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Berikut contoh penilaian portofolio dalam pembelajaran sastra mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X (SMA) peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya, khusus KD 4.4 Mencipta Puisi Lama dan Baru dalam Bentuk Lisan dan Tulisan. Sekolah : SMA Bakti Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Nama Peserta Didik : Tri M. Kelas/SMT : X / 1
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 180 No. KD Indikator Nilai Jumlah Nilai 1. Mencipta Puisi Lama Penataan bait dan baris 4 19 Rima (persajakan) 2 Majas 3 Diksi 3 Amanat 4 Pengimajian 3 2. Mencipta Puisi Baru Kesesuaian tema dengan isi 5 23 Amanat 4 Diksi 4 Pengimajian 3 Majas 4 Tipografi 3 Skor Perolehan 42 Skor Maksimal 60 Keterangan: Skor 5 = Sangat Baik Skor 4 = Baik Skor 3 = Cukup Skor 2 = Kurang Skor 1 = Sangat Kurang Penskoran: Skor Perolehan Skor Maksimal 42 60 = 70 Keterangan penilaian: - Sangat Baik (SB) dengan rentangan nilai 91 – 100. - Baik (B) dengan rentangan nilai 75 – 90. - Cukuk (C) dengan rentangan nilai 60 – 74. - Kurang (K) dengan rentangan nilai 0 – 59. Nilai = x 100 Nilai = x 100
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 181 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi peserta didik menulis puisi lama dan baru berada pada kategori cukup (C). -oo0oo-
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 182
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 183 DAFTAR PUSTAKA Abrams, M.H. 1971. A Glossary of Literary Term. New York: Holt, Rinehart and Winston. Ahmadi, Iif Khoiru, dkk. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP. Jakarta: Prestasi Pustakaraya. Ahmala. 2012. “Hermeneutikaa: Mengurai Kebuntuan Metode Ilmu-Ilmu Sosial”. Dalam Edi Mulyono, dkk, Belajar Hermeneutikaa. Jogjakarta: IRCISoD. Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2005. “Intertekstualitas Puisi ‘Padamu Jua’ Amir Hamzah dan Puisi ‘Doa’ Chairil Anwar”. Dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 17, No. 32, 2005:75-87. Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Arafah, Burhanuddin. 2011. “Sastra sebagai Refleksi Kemanusiaan dan Perekat Kesatuan Bangsa”. Makalah. Gorontalo. Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, dan Prosedur. Bandung: Rosda. Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Armstrong, Paul B. 2011. “Hermeneutics”. Dalam Michael Ryan The Encyclopedia of Literary and Cultural Theory. Oxford: Wiley-Blackwell. (hal. 236). Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim. 2010. Menganalisis Fiksi: Sebuah Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia. Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra (Teori Sastra). Surabaya: Usaha Nasional. Bertens, Hans. 2014. Literary Theory: The Basics. London dan New York: Routledge. Bortolussi, Marisa dan Peter Dixon. 2003. Psychonarratology: Foundations for the empirical study of literary response. Cambridge: Cambridge University Press.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 184 Bressler, Charles E. 1999. Literary Criticism : An Introduction to Theory and Practice. Second Edition. New Jersey: Prentice Hall, Upper Saddle River. Buell, Lawrence. 2005. The Future of Environmental Criticism: Environmental Crisis and Literary Imagination. Australia: Blackwell Publishing. Carter, David. 2006. Literary Theory. Harpenden, Herts: Pocket Essential. Cobley, Paul and Litza Jansz. 2000. Introducing Semiotics. USA: Totem Books. Coupland, Nikolas. 2007. Style : Language Variation and Identity. New York: Cambridge University Press. Crystal, David. 2000. New Perspectives of Language Study 1: Stylistics. University of Reading: Department of Linguistics Science. Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. . 2002. Pedoman Penelitian Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa. Darmawan, Taufik. 2003. Apresiasi Prosa Fiksi. Modul : IND A.13. Jakarta: Depdiknas. Didipu, Herman. 2011. “Implementasi Classroom Based Assesment sebagai Manifestasi Pembelajaran Sastra yang Apresiatif.” Dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Volume 1, Nomor 1 – Mei 2011. . 2012. “Perbandingan Gaya Bahasa dalam Puisi-Puisi Indonesia Bertajuk ‘Tanah Air’”. Tesis tidak diterbitkan. Gorontalo: PPs UNG. . 2013a. Teori Sastra. Yogyakarta: Deepublish. . 2013b. “Optimalisasi Pembelajaran Sastra Anak sebagai Pembentukan Karakter Manusia Indonesia”. Dalam Heddy Shri Ahimsa-Putra dan Suminto Sayuti (Ed) Sastra dan Pembangunan Karakter Manusia. Yogyakarta: Gama Media.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 185 . 2017. Struktur dan Simbol Narasi Budaya dalam Novel Etnografis. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: UNESA. Ditjen Dikdasmen. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas. Dwiloka, Firzatullah. 2006. Koleksi Cerita Rakyat Nusantara. Surabaya: Pustaka Media. Eagleton, Terry. 1996. Literary Theory: An Introduction. Second Edition. Australia: Blackwell Publishing. Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya. Ember, Carol R. dan Melvin Ember. 2006. Perkenalan dengan Antropologi. Dalam T.O. Ihromi (Ed), Pokok-pokok antropologi budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Endraswara, Suwardi. 2005. Metode dan Teori Pengajaran Sastra Berwawasan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Buana Pustaka. . 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra: Teori, Langkah dan Penerapannya. Yogyakarta: Media Pressindo. . 2011. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS. . 2015. Metodologi Penelitian Antropologi Sastra. Yogyakarta: Ombak. . 2016a. Metodologi Penelitian Ekologi Sastra: Konsep, Langkah, dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS. . 2016b. Ekokritik Sastra: Konsep, Teori, dan Terapan. Yogyakarta: Morfalingua. Eneste, Pamusuk (Ed). 1981. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia. Fabb, Nigel. 2003. “Linguistics and Literature”. In Mark Arnoff and Janie Rees-Miller (Ed), The Handbook of Linguistics. USA: Blackwell Publisher. Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Fokema, D.W. dan Elrud Kunne-Ibsch. 1977. Theories of Literature in the Twentieth Century: Structuralism, Marxism,
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 186 Aesthethics of Reception, Semiotics. London: C Hurst & Company. Freud, Sigmund. 2009. Pengantar Umum Psikoanalisis. Diterjemahkan oleh Haris Setiowati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia : Respon dan Analisis. Jakarta: Dian Dinamika Press. Genette, Gerard. 1980. Narrative discourse: An essay in method. Translated by Jane E. Lewin. Ithaca: Cornell University Press. Glotfelty, Cheryll dan Harold Fromm (ed). 1996. The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. Georgia: University of Georgia Press. Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius. Hasanuddin WS. 2014. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. Hawkes, Terence. 1978. Structuralism and Semiotics. Berkeley and Los Angeles, California: University of California Press. Hayati, A. Dan Masnur Muslich. 1995. Latihan Apresiasi Sastra. Surabaya: Triana Media. Jannidis, Fotis. 2003. Narratology and the narrative. Dalam Tom Kindt and Hans-Harald Müller (Ed), What is narratology? Questions and answers regarding the status of a theory. Berlin: Walter de Gruyter. Jabrohim (Ed). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita. Johnson, Elaine B. 2011. CTL: Contextual Teaching and Learning. Bandung: Kaifa. Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia. Kenney, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 187 Klarer, Mario. 2004. An Introduction to Literary Studies. London and New York: Routledge. Komalasari, Kokom. 2011. Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama. Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013): Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rajawali Press. Kutha Ratna, Nyoman. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. . 2012. “Antropologi sastra: Penggunaan teori dan metode secara eklektik dan metodologi campuran.” Jurnal Pustaka Volume XII, No. 1, Februari 2012. Laelasari dan Nurlailah. 2007. Ensiklopedia Tokoh Sastra Indonesia. Bandung: Nuansa Aulia. Leeds-Hurwitz, Wendy. 1993. Semiotics and Communication: Signs, Codes, Cultures. New Jersey: Lawrence Erlbaum. Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo. Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Tentang Sastra. Diterjemahkan oleh Akhadiati Ikram. Jakarta: Intermasa. Luxemburg, Jan van, dkk. 1991. Tentang Sastra. Penerjemah Akhadiati Ikram. Jakarta: Intermasa. Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosda. Markowski, Michal Pawel. 2012. “Anthropology and literature”. Teksty Drugie: Anthropology in Literary Stuties, 2012 (2), 85-93. Maryl, Maciej. 2012. “The anthropology of literary reading – methodological issues”. Teksty Drugie: Anthropology in Literary Stuties, 2012 (2), 181-201. Mcrae, John and Urszula Clark. 2006. ”Stylistics”. Dalam Alan Davies and Catherine Elder (Ed) The Handbook of Applied Linguistics. Australia: Blackwell Publishing. Mikics, David. 2007. A New Handbook of Literary Terms. London: Yale University Press.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 188 Mills, Sara. 1995. Feminist Stylistics. London and New York: Routledge. Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Missikova, Gabriela. 2003. Linguistics Stylistics. Nitra: Filozoficka Fakulta Univerzita Konstantina Filozofa. Mulyasa, Enco. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Rosda. . 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Rosda. Mulyono, Edi. 2012. “Hermeneutikaa Linguistik-Dialektis HansGeorg Gadamer”. Dalam Edi Mulyono, dkk, Belajar Hermeneutikaa. Jogjakarta: IRCISoD. Musthafa, Bachrudin. 2008. Teori dan Praktik Sastra dalam Penelitian dan Pengajaran. Bandung: UPI. Musfiqon, H.M. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya. Muzir, Inyiak Ridwan. 2012. Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Noth, Winfried. 1990. Handbook of Semiotics. Bloomington and Indiana Polis: Indiana University Press. Nemoianu, Anca M. 2014. “Time, Tense, and Narrative Style: Linguistic Insights from Contemporary Narrative Discourse”. International Journal of Language and Literature, Vol. 2, No. 3, pp. 99-114. Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Edisi Revisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nasib, Fathiya A.K., dkk. 2013. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Kembang Turi karya Budi Sardjono”. Dalam Heddy Shri Ahimsa-Putra dan Suminto Sayuti (Ed) Sastra, Budaya, dan Karakter Manusia. Yogyakarta: Gama Media. Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutikaa: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 189 Permendikbud Nomor 81A tahun 2013 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum 2013. Permendikbud Nomor 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendikbud Nomor 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Poespoprodjo, W. 2004. Hermeneutika. Bandung: Pustaka Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rafiek, M. 2010. Teori Sastra: Kajian Teori dan Praktik. Bandung: Refika Aditama. Rani, Supratman Abdul dan Yani Maryani. 2004. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia. Reaske, Christopher Rusell. 1966. How to Analyze Poetry. New York: Monarch Press. Ricoeur, Paul. 2012. Teori Interpretasi: Memahami Teks, Penafsiran, dan Metodologinya. Jogjakarta: IRCiSoD. Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington & London: Indiana University Press. Ryan, Michael. 2011. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Praktis. Yogyakarta: Jalasutra. Rochani Adi, Ida. 2011. Fiksi Populer: Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rosidi, Ajip. 1986. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta. Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Press.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 190 Saidi, Acep Iwan. 2008. “Hermeneutika, Sebuah Cara untuk Memahami Teks”. Dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 Tahun 7, April 2008. Saliman, Akhmad. 1996. Teori dan Aplikasi Kajian Naskah Drama. Surakarta: Khazanah Ilmu. Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorirntasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Saryono, Djoko. 2009. Dasar Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Almatera Publishing. Satoto, Soediro. 2012. Analisis Drama dan Teater. Bagian 1. Yogyakarta: Ombak. Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media. Selden, Raman. 1989. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. New York: Harvester Wheatsheaf. Semi, M. Atar.2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Setia. Simpson, Paul. 2004. Stylistics: A Resource Book for Student. New York: Roudledge. Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra : Analisis Psikologis. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media. Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press. Soeratno, Siti Chamamah. 2001. ”Penelitian Resepsi Sastra dan Problematikanya”. Dalam Jabrohim (Ed) Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita. Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis : Perempuan dalam Karya-Karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Citra Pustaka. Stanton, Robert. 2012. Teori Fiksi Robert Stanton. Diterjemahkan oleh Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dasar-Dasar Apresiasi, Kajian, dan Pembelajaran Prosa Fiksi 191 Starcke, Bettina Fischer. 2010. Corpus Linguistics in Literary Analysis. New York: Continuum International Publishing Group. Studer, Patrick. 2008. Historical Corpus Stylistics. New York: Continuum. Sudikan, Setya Yuwana. 2007. Antropologi Sastra. Surabaya: UNESA Press. . 2016. Ekologi Sastra. Lamongan: Pustaka Ilalang. Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. . 2006. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: UI Press. Sugihastuti dan Suharto. 2010. Kritik Sastra Feminis : Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sumaryono, 1999. Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Surapranata, Sumarna dan Muhammad Hatta. 2006. Penilaian Portofolio : Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Rosda. Suwandi, Sarwiji. 2011. Model-Model Asesmen dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Szondi. Peter. 1995. Introduction to Literary Hermeneutics. Australia: Cambridge University Press. Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar Teori Sastra. Flores, Ende: Nusa Indah. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Yogyakarta: Pustaka Jaya. Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana. Tuloli, Nani. 2000. Teori Fiksi. Gorontalo: Nurul Jannah. Uno, Hamzah B. 2008. Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan. Gorontalo: Nurul Jannah. Verdonk, Peter. 2002. Stylistics. New York: Oxford University Press. Wellek, Rene. 1978. Concepts of Criticsm. New Haven and London: Yale University Press.