The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Library Digital SK. Kabogan, 2020-12-05 21:44:19

Sakti

Sakti

Keywords: None

SAKTI

Kisah tentang perjuangan, pemgorbanan, dan penghianatan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan
sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

SAKTI

Kisah tentang perjuangan, pemgorbanan, dan penghianatan

WIRA AJI

✓ Willy Alamsyah
✓ Rahma Laili
✓ Ariq Marsa
✓ M. Ariq Ibrahim
✓ Jihan Hasna

SAKTI
Copyright @2020 WIRA AJI ( Willy Alamsyah, Rahma Laili, Ariq
Marsa, M. Ariq Ibrahim, dan Jihan Hasna)

Cetakan pertama, Maret 2020

Editor : Rahma Laili
Penata sampul : Giovani
Ilustrasi isi : Jihan Hasna
Pemeriksa aksara : Wira Aji
Penata letak : Ariq Marsa, M.Ariq, dan Willy Alamsyah

Diterbitkan oleh Rumah Temen Penerbit
Jln. Taman Gajah Mada
Cimahi Tengah, Kota Cimahi
Telp. 0815 6395 0934

Mereka yang ingin berjuang,
tak bisa ditahan

Kami persembahkan untuk pemuda -pemudi bangsa,
pejuang yang akan terus berjuang
di masa kini dan masa yang akan datang

PERSEMBAHAN

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena
dengan rahmat dan karunianya kami dapat
menyelesaikan pembuatan novel yang berjudul “SAKTI”.
Tidak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada guru
bahasa Indonesia, Ibu Yuyun Sri Idaningsih M.Pd yang
telah membimbing kami selama proses pembuatan novel
ini.

Adapun tujuan pembuatan novel ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas bahasa Indonesia. Selain itu,
novel ini merupakan novel perdana kami : Willy
Almsyah, Rahma Laili, Ariq Marsa, Ariq Ibrahim, dan
Jihan Hasna (Wira Aji). Diharapkan novel ini dapat
menjadi sarana dalam rangka meningkatkan minat
berliterasi.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam novel
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
kami nantikan agar tercipta karya yang lebih baik lagi
kedepannya

Daftar Isi

Desa Suniraja ……………………….…………1
Sakti Prakasa ………………………………….6
Menjadi Awal ………………………………...10
Kekuasaan yang Tersingkirkan ……………...20
Volkschool ……………………………………22
Garis Keturunan atau Garis Kutukan? ……...32
Mencoba Dunia Baru ………………………..48
Beruntung atau Merugi? …………………….57
Prioritas ……………………………………...72
Konsekuensi ………………………………….83
Kenyataannya ………………………………..95
Tiga Menjadi Dua …………………………..107
Bulan apenuh Emosi ………………………...118
Kembali Menjadi Dua ……………………...121

Segalanya Semakin Buruk ………………….127
Penghasutan …………………………….…...131
Berani Bicara ……………………………….137
Merancang Strategi ………………………….145
Akhir dari Segalanya ………………………..153

Desa Suniaraja

Setelah hujan selepas subuh, matahari mulai

berani memunculkan wajahnya ke permukaan, walaupun
sedikit malu-malu. Sinarnya yang sedikit-sedikit
menggantikan gelapnya mendung pun mengundang ayam
untuk keluar dari kamarnya. Seperti biasa, mereka mulai
melakukan pekerjaannya. Mengeluarkan suara senyaring
mungkin untuk membangunkan para tuannya yang masih
terlelap dalam bunga tidurnya. Maklum, musim hujan
selalu berhasil membawa hawa kemalasan kepada
masing-masing individu.

Begitulah kondisi setiap pagi di Desa Suniaraja.
Desa kecil yang terletak di pinggiran Kota Bandung.
Desa yang benar-benar menjelaskan makna dari
sejahtera. Bukan dilihat dari segi ekonominya, sebab jika
dilihat dari segi ekonomi, mau ditengok ke daerah
manapun di Indonesia, tidak ada yang namanya desa
dengan tingkat kesejahteraan ekonomi yang tinggi.
Namun, sejahtera dilihat dari interaksi antar manusianya.

1

Seperti biasanya, pagi itu terdengar bermacam-
macam suara dengan cukup jelas selain suara ayam
berkokok. Misalnya saja, suara kodok yang sepertinya
mulai protes karena hujan sudah reda. Tes, tes, tes ada
pula suara sisa-sisa tetesan air hujan dari genting
masing-masing rumah. Tidak hanya suara alam, tapi juga
suara para manusianya. Para ibu yang sepertinya
mengalami kesulitan ketika membangunkan anak-anaknya,
sehingga harus berteriak dengan lantang dari dapur
rumahnya karena sedang memasak. Suara para kepala
rumah tangga yang mulai sibuk menyiapkan peralatan
yang biasa dipakai untuk mencari rezeki. Dan suara-
suara lain yang menggambarkan masalah masing-masing
keluarga, yang sebenarnya hanyalah intrik kecil jika
dibandingkan dengan masalah yang lain.

Jika para ibu sudah beres menyiapkan sarapan,
biasanya masalah baru akan datang di meja makan.
Pasti setiap anak akan berebutan mendapatkan bagian
makanan terbanyak walaupun sebenarnya sudah dibagi
rata juga, tak jarang pula ayah selalu ikut nimbrung.
Namun, namanya ibu selalu bisa mengatasi masalah

2

apapun itu. Ini juga merupakan sedikit penjelasan
mengenai makna sejahtera di Desa Suniaraja.

Selepas sarapan, masing-masng anggota keluarga
akan langsung melaksanakan tugasnya masing-masing.
Tentu saja para kepala rumah tangga sudah pergi
mengais rezeki. Kebanyakan dari mereka adalah petani,
baik bertani di lahan sendiri maupun lahan orang lain
bahkan lahan penjajah, atau kalau tidak, ya guru.
Beberapa ada yang ditemani oleh anaknya. Jika keluarga
yang menghendaki anaknya untuk sekolah, pasti sudah
melepas anaknya untuk pergi menimba ilmu. Hanya
dibekali sebuah papan dan kapur, juga tambahan doa
tertulus dari orang tua.

Namun, tidak semua keluarga di Desa Suniaraja
memiliki formasi yang lengkap seperti itu. Ada ayah, ibu,
dan anak. Ada pula sepasang suami istri yang sudah
bertahun-tahun berumah tangga, tapi tak kunjung jua
diberi pemanis kehidupan. Ada pula, yang saat sudah
memiliki anak, salah satu atau bahkan keduanya harus
pergi untuk selamanya. Ada yang hingga berumur kepala
4 tidak juga memiliki pendamping hidup. Bahkan ada

3

juga yang benar-benar tinggal hanya sebatang kara. Tak
punya sanak saudara.

Contoh dari keluarga yang formasinya tidak
lengkap adalah penghuni rumah di dekat balai
pertemuan warga, di sebelah lapangan yang biasa
dipakai anak-anak bermain sepak bola. Hanya ada
bapak yang ditemani dua orang anaknya. Sepasang.
Laki-laki dan perempuan. Sang istri telah pergi ke alam
yang lain saat berusaha melahirkan si bungsu. Sang
ayah memilih untuk menyekolahkan anaknya ketimbang
menjadikannya asisten dalam melakukan pekerjaannya,
walaupun ia tidak tahu pasti apa yang akan didapatkan
dari sekolah. Karena, tentu saja seperti pemikiran warga
desa yang lain, sekolah setinggi apapun pastilah akan
kembali bekerja di lahan. Namun, jika kemungkinan
terpahit nanti negara ini tidak bisa merdeka paling tidak
ia sudah cukup berpendidikan untuk tidak dibodohi dan
ditindas oleh orang asing.

Terlepas dari pemikiran oran tuanya yang seperti
itu, sang anak laki-laki yang sudah merasakan bangku
pendidikan selama 2 tahun diam-diam punya mimpi

4

besar yang tak pernah ia sampaikan kepada orang
tuanya. Bukan apa-apa, alasannya sederhana. Terlalu
malu dan terlalu takut. Malu karena pasti orang-orang
hanya akan menyepelekan mimpinya yang muluk-muluk
itu. Takut karena ia merasa sangat kecil kemungkinan
baginya untuk mewujudkan mimpinya itu.

5

Sakti Prakasa

Sakti Prakasa. Nama yang sangat kuat. Sakti

artinya mampu melakukan sesuatu di luar kodrat alam
dan Prakasa artinya kuat, hebat. Bayangkan betapa luar
biasanya anak itu. Sudah kuat dan hebat, mampu pula
melakukan hal di luar kodrat alam. Nama yang
sebenarnya tidak terlalu dipikirkan artinya saat dibuat.
Hanya terlintas di pikiran ibu dan bapak, lalu terdengar
indah, dan langsung disahkan menjadi nama anak
sulung dari keluarga kecil itu.

Kelahiran Sakti saat itu benar-benar menjadi
sumber kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tuanya.
Pasalnya, sang orang tua telah menunggu 7 tahun
lamanya untuk mendapatkan buah hati. Kelahiran Sakti
pun membawa rezeki tersendiri untuk keluarga kecil itu.
Sang ibu yang saat itu bekerja sebagai penjahit di
rumah, mendadak mendapatkan banyak pesanan jahit
terutama untuk pakaian anak. Memang benar, anak
selalu membawa rezekinya masing-masing.

6

Sakti tumbuh menjadi anak yang bebrbakti
kepada kedua orang tua. Di rumah ia tidak jarang
membantu ibunya membersihkan rumah, kadang juga ia
ikut ayahnya ke sawah milik orang untuk bertani. Sakti
bukan tipe anak laki-laki yang banyak tingkah dan
banyak bicara. Ia merupakan anak yang cukup pendiam
jika dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Orang-
orang bilang Sakti adalah anak yang pemikir. Mungkin,
nanti dewasa dia akan menjadi seseorang yang luar
biasa.

Dua tahun setelah kelahiran Sakti, sang ibu pun
diberi hadiah baru di perutnya oleh sang Maha Pemberi.
Sakti kecil belum tahu apa-apa tentang perut besar
ibunya. Ia hanya bisa melihat bahwa setiap hari, setiap
minggu, dan setiap bulannya perut perempuan yang
selalu memandikannya, menggendongnya, dan
menyusuinya itu semakin membesar. Ia bahkan mungkin
tidak akan menyangka di dalam sana ada makhluk kecil
yang akan lahir sebagai adiknya. Akan tetapi, Sakti
dengan sendirinya jadi tidak terlalu menyusahkan ibunya
itu. Yang awalnya ia sering menangis dan merengek
akan hal-hal kecil berubah menjadi Sakti yang sedikit

7

bisa mengerti keadaan. Mungkin naluri ke-kakak-annya
sudah mulai muncul.

Di hari kelahiran sang adik, Sakti masih belum
mengerti apa-apa juga. Hingga saat malam hari, ketika
ia sudah tertidur lelap, ayah dan ibunya masih terjaga
karena sang ibu yang merasa kesakitan dengan
perutnya. Pukul 10 malam ayah Sakti keluar rumah
menuju rumah dukun anak untuk menjemputnya
membantu sang istri melahirkan. Setelah kedatangan si
dukun anak, ibu Sakti belum juga lekas melahirkan.
Hingga lewat jam 12 malam, dan hari telah berganti,
pembukaannya lama sekali. Hingga kira-kira pukul 1
malam kondisi ibu Sakti sudah memungkinkan untuk
melahirkan, mulailah proses kelahiran.

Proses melahirkan dilakukan di ruang keluarga,
karena di kamar Sakti masih tertidur lelap, sehingga
tidak mungkin untuk melahirkan di sana. Suara gaduh
mulai terdengar . Suara ibu yang beberapa kali berteriak
karena kesakitan, diiringi dengan beberapa doa yang
dibacakan ayah. Ibu mengejan secara teratur sesuai
arahan sang dukun. HIngga akhirnya tepat pukul 1 lewat

8

20 menit, terdengar suara tangisan bayi perempuan yang
mendatangkan rasa haru di ruangan kecil tersebut.
Namun, sayang bukan hanya tangisan sang bayi yang
terdengar, tapi juga tangisan ayah Sakti karena sang
istri yang kehilangan tenaga pun meninggal 1 menit
setelah sang bayi keluar dari perutnya.

9

Menjadi Awal

Sakti dan adiknya tumbuh sebagai anak piatu

tapi tetap merasakan kasih sayang orang tua yang
lengkap. Karena, sang ayah selalu bisa memerankan
peran ganda baik menjadi ibu ataupun ayah. Sakti
menjadi semakin dekat dan sayang dengan ayahnya,
melihat ayahnya selalu banting tulang mencari uang, tapi
di rumah juga tetap bisa menemani dan mengobrol
banyak dengan Sakti dan adik.

Sakti sangat sayang dengan adik perempuannya
yang hanya berjarak 2 tahun itu. Ia tidak ingat seperti
apa muka ibunya, jadi ia hanya bisa membayangkan
bahwa wajah ibunya kurang lebih sama seperti dengan
adiknya. Ia memperlakukan adiknya dengan sebaik
mungkin, karena ia sering kali melihat sosok ibunya
dalam diri adiknya tu.

Di umurnya yang sudah menginjak 9 tahun, Sakti
sudah menginjakkan kakinya di bangku kelas 2 sd. Ia
sudah bisa berhitung, membaca dengan jelas. Ia bahkan

10

sedikit banyak mengajari adiknya membaca dan menulis.
Hingga akhirnya adik perempuannya itu sudah bisa
masuk ke sekolah dasar.

***

Pada bulan Juni tahun 1934, dibukalah
pendaftaran siswa baru di sekolah dasar, dan ayah
Sakti mendaftarkan anak perempuannya di sana. Di hari
pertama Laras, adik Sakti, sekolah bukan ayahnya yang
mengantarkan, melainkan kakaknya. Ayah harus pergi ke
lading sepagi mungkin untuk bekerja agar upahnya tidak
terpotong.

Sakti bersama Laras pergi dengan berjalan kaki.
Keduanya mengenakan pakaian terapi dan tersopan yang
mereka punya. Rambut Sakti disisir seklimis mungkin
olehnya sendiri, sedangkan rambut Laras disisir oleh
ayahnya dan dibiarkan tergerai begitu saja. Keduanya
terlihat sangat semangat ketika menyusuri jalan utama
yang juga dilalui banyak orang ke berbagai tujuan.
Salah satunya Volkschool (sekolah rakyat).

11

Volkschool (sekolah rakyat) hanyalah satu dari
banyaknya macam sekolah di Hindia Belanda. Selain
Volkschool, ada Hollandsche Inlandsche School (HIS)
dan Europesche Lager School (ELS). Biasanya, bangsa
pribumi hanya bersekolah sampai tingkat sekolah rakyat.
Sebenarnya bisa saja mereka melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi, tapi tingkat lanjutan itu hanya
diperuntukkan bagi kalangan bangsawan yang memiliki
relasi dengan orang-orang Belanda. Selain itu,
kebanyakan mereka hanya membutuhkan kemampuan
membaca dan menulis dari sekolah, setelah itu mereka
akan berhenti dan mulai membantu keluarga mencari
nafkah.

Sesampai di sekolah, Sakti mengantarkan Laras
menuju ruang kelasnya. Volkschool terdiri dari 6 tingkat.
Masing-masing tingkat hanya terdiri dari satu kelas. Di
tahun ajaran baru ini, sekolah rakyat menerima 20 murid
baru dengan berbagai rentang usia. Normalnya mereka
seusia dengan Laras. Jumlah murid baru ini 7 lebih
banyak dibandingkan 2 tahun lalu saat Sakti masuk.
Kebanyakannya laki-laki, sedangkan anak perempuan

12

biasanya ditahan di rumah untuk membantu ibu
menyelesaikan pekerjaan rumah.

Sakti hanya mengantarkan adiknya sampai depan
kelas. Selanjutnya, ia hanya memantau adiknya yang
sedang mencari bangku kosong. Namun, karena mereka
berdua datang sedikit terlambat Laras kehabisan kursi
kosong untuk ditempati sesama perempuan. Untungnya
masih ada bangku yang baru diduduki dua orang.
Sekolah rakyat memang menggunakan bangku yang diisi
tiga orang. Akhirnya Laras duduk bersama dua orang
laki-laki yang belum pernah ia jumpai.

“Abdi tiasa calik di dieu teu?” Laras meminta
izin untuk duduk kepada kedua laki-laki yang sudah
terlebih dulu duduk di kursi itu.

“Sok weh atuh calik mah calik” Salah satunya
membalas pertanyaan Laras sembari sedikit bergeser
untuk memberi ruang duduk bagi Laras.

Laras pun duduk di ruang yang telah diberikan
dua anak laki-laki itu. Laras duduk di antara mereka.

13

Tidak ingin merasa canggung, salah satu dari anak laki-
laki itu memmulai perkenalan.

“Urang Toha” ucap salah satu laki-laki yang
berbadan kurus.

“Urang Ramdan. Ameh apet mah panggil Dadan
weh” anak laki-laki yang berbadan agak berisi juga ikut
menyahuti.

“Abdi Laras” Laras juga ikut memperkenalkan
dirinya karena merasa perlu untuk saling mengenal satu
sama lain.

Sakti yang melihat bahwa adiknya sudah
mendapatkan teman duduk dan sudah memulai sedikit
percakapan pun akhirnya memutuskan untuk
meninggalkan Laras. Ia pun berjaln ke kelasnya.

***

Toha dan Ramdan adalah salah dua dari banyak
anak di Desa Suniaraja. Mereka terbilang bersyukur
terlahir di keluarga yang cukup memperhatikan
pentingnya pendidikan di tengah-tengah banyaknya

14

keluarga yang masih pesimis dengan fungsi pendidikan
bagi kehidupan. Terlebih lagi, sebagian malah berpikir
bahwa mereka akan terus menjadi budak orang-orang
Eropa dan tidak akan pernah terbebas dari kekangan
penjajahan. Bagi sebagian mereka itu, penjajahan adalah
takdir hidup mereka.

Seperti keluarga lainnya di Desa Suniaraja,
kondisi ekonomi keluarga Toha dan Ramdan terbilang
biasa-biasa saja. Bahkan kondisi keluarga Toha cukup
rumit.

Tidak seperti Ramdan yang sedari lahir hingga
umurnya 7 tahun masih memiliki keluaraga lengkap,
Toha sudah kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.
Begitupun dengan ibunya. Ceritanya cukup panjang untuk
disampaikan, tapi yang jelas kini ia bisa dibilang hidup
dengan cukup nyaman bersama nenek dan kakeknya.

Toha hanya hidup bertiga di rumah tua renta
peninggalan leluhurnya. Mungkin keluarganya sudah
terbiasa dan berusaha untuk bisa menerima kehidupan
yang cukup melelahkan ini. Namun, tidak dengan Toha.

15

Ia cukup merasa sedikit resah dengan kehidupannya
yang boleh dikata sebenarnya tidak hidup.

Sejak umur 5 tahun, Toha sudah diajak
kakeknya ke sawah. Bukan untuk membantu bekerja,
melainkan hanya sedikit diperkenalkan dengan pekerjaan
yang mungkin akan ia lakukan sekitar 5 atau 7 tahun
lagi. Bukan tanpa alasan, sang kakek yang merupakan
petani veteran sudah paham betul bahwa garis
keturunan keluarga mereka hanya mewariskan pekerjaan
Bertani. Itupun di lahan orang lain. Laha para penjajah.
Tidak ada yang bisa dilakukan sang kakek selain sedikit
memperlihatkan ilmu-ilmu bertani ala kadarnya kepada
Toha kecil.

Keseharian membawa Toha kecil ke sawah pun
terhenti ketika akhirnya Toha sudah cukup umur untuk
masuk Volkschool. Kakek dan nenek memutuskan untuk
mendaftarkan Toha sekolah. Hal ini bukan tanpa alasan,
tapi mengingat tak satupun dari kakek dan nenek yang
bisa membaca apalagi menulis, ada rasa malu apabila
sang cucu harus mengalami kegagalan yang sama pula
dengan mereka. Walupun tidak bisa menjadi lebih dari

16

seorang petani, paling tidak Toha bisa menjadi petani
yang bisa membaca dan menulis.

Di hari pertama sekolah dimulai, Toha pun
berangkat ke sekolahnya bersama dengan sobatnya.
Kakeknya harus segera pergi Bertani karena tempatnya
yang cukup memakan waktu untuk digapai, sedangkan
sang nenek sudah terlalu tua dan Lelah untuk
mengiringi Toha yang kala itu sangat bersemangat
menyambut hari barunya itu. Akhirnya, kakek Toha
menitipkannya kepada tetangga untuk diantar pergi
bersama.

Sesampai di sekolah, Toha bersama Ramdan
lekas memasuki kelas yang di depan pintu masuknya
ditutupi oleh para orang tua. Sementara Toha langsung
masuk kelas setelah memberi salam kepada ibu
temannya dan mencari tempat duduk, Ramdan masih
melakukan salam perpisahan dengan sang ibu. Bila
dilihat dari kejauhan, sepertinya Ramdan sedang diberi
beberapa nasihat penting oleh sang ibu di hari
pertamanya sekolah dan diakhiri dengan kecupan hangat

17

penuh kasih sayang dan juga doa dari seorang ibu
pada anaknya yang seolah-olah akan berperang.

Toha dan Ramdan duduk di bangku paling
belakang. Spot yang menurut Toha paling strategis.
Mereka bisa melihat papan tulis dengan jelas dan
mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas yang tidak
seberapa luas itu. Sebelum akhirnya kegaiatan belajar
secara formal untuk pertama kalinya dimulai, seorang
gadis berambut sebahu yang dibiarkan terjatuh pun
memsuki kelas. Terlihat dari jauh, sebelumnya ia
berjalan berdampingan dengan anak laki-laki yang
sepertinya dua tahun lebih tua darinya dengan telapak
tangan sang anak laki-laki menggenggam erat tangan
gadis itu.

Di depan pintu kelas, keduanya saling
melambaikan tangan menandakan perpisahan dengan
senyuman penuh semangat yang diberikan si anak laki-
laki tersebut. Gadis itu pun masuk kelas dan terlihat
kebingungan ketika melihat semua bangku perempuan
telah terisi. Pandangan matanya yang sedari tadi beredar
pun akhirnya terhenti ketka melihat dua anak laki-laki

18

dengan postur tubuh yang cukup kontras. Yang satu
berbadan kurus, yang satunya berisi, seolah-olah jatah
makan yang satu dimakan oleh si badan berisi. Tanpa
ragu, gadis itu berjalan mendekati bangku Toha dan
Ramdan.

Ketiganya pun akhirnya duduk bersama dan
memulai percakapan satu sama lain dengan awalan
saling memperkenalkan diri. Sejak hari itu, jam itu, menit
itu, dan detik itu juga, tanpa harus diproklamasikan,
ketiganya sudah seperti 3 serangkai yang kemana-mana
selalu bersama. Kebersamaan itu berlanjut hingga waktu
yang tidak ditentukan.

19

Kekuasaan yang Tersingkirkan

Sudah 3,5 abad kira-kira Indonesia dijajah.

Selama 3,5 abad itu pula rakyat tidak pernah bisa
benar-benar merasakan apa yang seharusnya menjadi
milik mereka. Tanah yang seharusnya bisa mereka ambil
hasil buminya dan mereka olah lalu mereka nikmati,
malah seolah-olah menjadi alat yang digunakan para
orang berkulit putih yang tiba-tiba dating untuk
memperalat rakyat. Tiga setengah abad bukan waktu
yang singkat untuk menahan rasa kesal dan rasa
tersiksa bagi rakyat Indonesia.

Selama 3,5 abad itu bukan berarti tidak pernah
ada sedikit pun pergerakan dari rakyat, tapi memang
rakyat perlu waktu untuk mengumpulkan kesatuan dan
kekuatan untuk melawan penjajah. Walaupun memang
beberapa kali ada rasa pesimis dalam diri masyarakat
bahwa mereka akan terlepas dari kesengsaraan hidup
yang sudah bagaikan kutukan seumur hidup itu.
Perasaan seperti ini utamanya dirasakan oleh rakyat di

20

daerah yang kebanyakan dipekerjakan dalam program
kerja paksa mereka.

Desa Suniaraja merupakan salah satu dari sekian
banyak desa yang rakyatnya dipekerjakan secara tidak
manusiawi. Banyak kenikmatan hidup yang direnggut dari
mereka. Baru belakangan saja penindasan itu sedikit
berkurang. Bukan karena mereka yang mungkin menjadi
lebih manusiawi, tetapi mungkin karena kekuasaan
mereka yang mulai tersingkirkan. Mungkin bukan
disingkirkan oleh rakyat Indonesia. Mungkin mereka
tersingkirkan oleh bangsa lain yang mungkin sebenarnya
akan lebih menyiksa rakyat. Semuanya tidak pernah ada
yang tahu akan nasib mereka selanjutnya.

21

Volkschool

Empat tahun bersekolah di Volkschool bukan

tidak berarti apa-apa bagi para murid. Memang materi
utama di sekolah adalah membaca dan menulis, tapi tak
jarang juga dalam proses pembelajaran itu diselipkan
semangat-semangat motivasi dari guru pada murid.
Motivasi yang bukan hanya penting bagi diri sendiri tapi
utamanya bagi kemerdekaan yang sedang diperjuangkan
Indonesia. Kemerdekaan yang diharapkan bisa
menghilangkan semua kesengsaraan yang ratusan tahun
mereka rasakan.

“Barudak…. Bapa mah bade naros ka maraneh.
Maraneh teh resep teu hirup siga kieu? Hirup nu teu
jelas keur saha. Hirup anu saumur hirup na teh ngan
ukur dipigawe keur batur. Batur na oge lain batur
arurang.” Kalimat ini sekali waktu terucap lancing dari
mulut salah seorang guru pria berperawakan kurus
kering namun raut wajahnya keras sekali.

22

“Abdi mah Pa bener bener euweuh karesep-
respena hirup siga kieu teh” suara nyaring anak laki-laki
terdengar menyahuti pertanyaan bapak guru.

“Hirup siga kieu teh da euweuh ngeunah-ngeunah
na acan. Bapa abdi unggal poe dipigawe ti isuk-isuk
pisan nepi ka sonten, tapi da hasilna mah asa teu
sapadan. Abdi sakulawargi oge emamna mah kitu-kitu
hungkul. Sigana mah lamun rek perang ngalawan eta si
kulit bodas oge da moal bisa ai badan euwueh gizi
kieu mah” anak laki-laki itu meneruskan jawabannya
sementara teman-temannya yang lain terdiam
menyaksikan pidato tak terencana ini. Beberapa bahkan
mengangguk-angguk seolah-olah mengiyakan apa yang
dikatakan anak laki-laki itu.

“Tah lamun kitu mah Sakti, maneh jeung
babaturan teh kedah wani boga mimpi nu ageng. Mimpi
naon weh. Anu penting mimpi na teh kedah ngabawa
kabagjaan kanggo manusa nu sejen. Mimpi anu tiasa
ngarobah gelap jadi terang.” Guru tua itu kembali
menyampaikan kalimat dengan sangat menggebu yang

23

tentunya berhasil mendatangakan gairah semangat pada
diri para muridnya.

Murid-murid itu sudah berada di tingkat akhir.
Bertahun-tahun mereka diberi siraman semangat oleh
guru. Mereka memang belum remaja, tapi mereka
bahkan juga tidak sebodoh itu untuk merasa nyaman
dengan situasi yang jauh dari kata sejahtera. Mungkin
orang tua hanya mengharapkan mereka bisa membaca
dan menulis, tapi mereka sendiri punya mimpi lebih dari
itu. Mereka akan berusaha apapun caranya untuk
membebaskan perasaan terjajah yang sudah ada sejak
3,5 abad lalu.

Murid-murid di sekolah rakyat ini memang bukan
siapa-siapa. Bahkan takdir tidak mengizinkan mereka
lahir dari keluarga yang berada. Garis keturunan mereka
sedari dulu sudah dijajah oleh para penjajah. Mereka
bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memilih mau
jadi apa mereka. Seolah-olah memang mereka harus
menjadi budak. Bisa dibilang mereka-mereka ini
merupakan generasi pertama dari keluarganya yang
diberi kesempatan untuk yang namanya mengenal huruf

24

dan angka. Mereka sedikit lebih beruntung terlahir di
generasi ini.

***

Mendekati awal bulan pertengahan tahun 1934,
seperti biasa Sakti selalu semangat pergi sekolah
dengan doa semoga dengan ia semangat sekolah,
setidaknya ini bisa menjadi awal dari keikutsertaannya
untuk memerdekakan Indonesia. Ia sudah cukup muak
dengan kesehariannya yang selalu melihat ayahnya
setiap pagi pergi ke sawah untuk bertani dan baru
kembali sore hari. Walau ayahnya tidak pernah bercerita,
Sakti selalu tahu ayahnya tidak pernah tidak Lelah
ketika sampai rumah. Di umur ayahnya yang semakin
tua, badannya semakin memprihatinkan. Sakti selalu
bertekad untuk terbebas dari semua ini.

Seperti pagi-pagi sebelumnya sejak 4 tahun lalu,
pagi itu pun Sakti berangkat sekolah bersama adiknya,
Laras. Mereka pun sudah hafal dengan keadaan
sepanjang jalan yang mereka lalui menuju sekolah
rakyat. Misalnya saja, jarak dua rumah dari rumah
mereka, mereka akan disapa oleh sepasang suami istri,

25

nenek-nenek dan kakek-kakek, yang setiap paginya
duduk di depan rumah mereka. Lalu setelah belokan
pertama, mereka akan melewati sebuah kios kecil, yang
selalu saja setiap mereka lewat depannya, sang pemilik
kios pasti sedang membuka pintu kiosnya. Lalu, sang
pemilik kios itu akan berkata

“Ehhh Sakti sareng Laras. Bade angkat ka
sakola nya? Cing baleng nya diajarna, ameh arurang
gancang merdeka”. Lalu setelah itu Sakti dan Laras
hanya akan membalas dengan senyuman lucu mereka
khas anak-anak.

Setelah melewati kios, Sakti dan Laras akan
melewati hamparan sawah yang sangat luas. Biasanya di
sana sudah ramai pekerja, salah satunya ayah mereka
sendiri. Namun, mereka tidak pernah bertemu dengan
ayahnya yang berangkatnya lebih awal dari mereka.
Mungkin karena lahan yang digarap oleh ayah mereka
letaknya ada di paling belakang. Lahan milik salah satu
bangsawan Belanda di sana.

Seetelah berjalan sekitar …. Km, Sakti dan Laras
tiba di sekolah. Namun, pemandangan di depan mata

26

mereka tidak seperti pemandangan setiap pagi yang
biasa mereka lihat. Di halaman depan sekolah yang
lausnya sangat apa adanya itu, tertancap papan
bertuliskan “SEKOLAH DITUTUP”. Ditulis dengan kapur
dan bertuliskan huruf kapital, seolah-olah merupakan
peringatan penting.

Anak-anak berkerumun di depan tulisan itu.
Selain anak-anak, ada pula orang tua yang
mengantarkan anaknya sekolah juga ikut berkerumun.
Semuanya tampak bingung. Anak-anak pasti bingung
dengan makna dari tulisan di papan itu, sedangkan
orang tua yang ikut berkerumun kebanyakan bingung
karena jangankan mengerti makna dari tulisan itu,
membacanya saja setengah mati bagi mereka.

Setelah salah satu guru veteran di sekolah
rakyat menyampaikan maksud mengenai tulisan besar di
papan di halaman depan sekolah itu, para murid pun
kembali ke rumah masing-masing. Mereka kembali ke
rumah dengan guratan rasa kecewa di wajahnya.
Mungkin bagi sebagian dari mereka sekolah hanya
formalitas, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang

27

merasa sekolah sudah menjadi bagian dari keseharian
mereka.

Rasa kecewa yang sama sudah pasti terukir
jelas di wajah Sakti. Sakti yang sudah menyiapakan
segudang mimpi untuk masa depannya selepas dari
sekolah rakyat ini pun harus dengan siap mengubur
dalam-dalam impiannya. Ia yang bukan siapa-siapa,
bukan bangsawan pula ini semakin jauhlah dari
impiannya untuk meneruskan sekolah. Semakin kecil pula
peluang dia untuk bisa mengubah nasib buruk
keluarganya.

***

“Ayeuna urang kumaha atuh Ha? Maeunya urang
milu gawe di sawah siga kolot urang? Geus ngeunah
hirup teh ngan ukur sakola. Sarapan tos pasti, da
lamun teu sarapan moal matak sakola. Geus kitu the
balik sakola urang teh sare weh” Ramdan terdengar
menggerutu ketika bapak guru selesai memberikan
penjelasan mengenai pemberhentian sekolah rakyat ini.

28

Sahabat dekat Ramdan, Toha, hanya mendengar
gerutu Ramdan tanpa memberi respon sedikit pun. Toha
masih terdiam berusaha mencerna apa yang baru saja
disampaikan gurunya. Tentu saja dengan kemampuan
berpikir anak tingkat empat sekolah rakyat. Ia tidak
mengerti kenapa sekolah rakyat ini, satu-satunya sekolah
yang bisa ia datangi, harus ditutup.

Lebih dari sekadar bersekolah, Toha punya cita-
cita yang besar sedari awal dia masuk sekolah rakyat.
Sama seperti kebanyakan masyarakat di sekitarnya, Toha
juga sama tidak sukanya dengan para orang berkulit
putih. Ia punya dendam pribadi dengan mereka. Akan
panjang jika harus diceritakan. Intinya, cita-citanya
berkaitan dengan dendam terbesarnya.

“Dadan! Toha!” Kediaman di antara Toha dan
Ramdan terpecah ketika terdengar suara seorang gadis
memanggilnya. Terdengar sangat familiar.

“Naon atuh Ras, meni gogorowokan?” Ramdan
yang menjawab panggilan itu.

29

Laras berjalan mendekati Toha dan Ramdan. Di
belakangnya, mengekorlah kakak kesayangannya.

“Ehhh ieu teh lanceuk maneh nya? Asa sok
ningali maraneh indit sakola duaan” Ramdan berusaha
mengakrabkan diri dengan laki-laki yang belum ia kenal
itu.

“Maneh teh meuni bas-basi pisan Dan” Toha
menimpali pertanyaan yang sangat basa-basi dari
sobatnya itu.

“Yeuhhh maneh mah meuni teu ngarti pisan Ha.
Ayeuna teh kudu mastikeun loba hal. Sok maneh mikir
teu, lamun tilu ratus taun baheula teh arurang teu
langsung narima eta si manusa kulit bodas, ayeuna
urang teh da moal sangsara. Eta teh kusabab naon?
Kusabab teu wani nanya. Ngarti teu?” Ramdan denngan
sok-sok-an nya menjelaskan panjang lebar.

Memang terdengar sedikit sok tahu, tapi kalau
dipikir-pikir kembali, apa yang diomongkan Ramdan benar
adanya. Walaupun omongan Ramdan sering kali
terdengar konyol, tapi tidak jarang juga omongannya itu

30

cukup masuk di akal. Salah satunya omongannya yang
satu ini.

“Heeh. Ieu teh Aa Sakti. Aa na Laras. Beda na
2 taun jeung arurang” Laras sedikit memperkenalkan
kakaknya kepada dua teman dekatnya itu.

Setelah diperkenalkan oleh adiknya, Sakti pun
melanjutkan perkenalan itu dengan salam ala anak-anak
Desa Suniaraja. Tidak semua anak, hanya di lingkup
pertemanan laki-laki. Sakti dan Ramdan pun
mempertemukan kedua telapak tangannya hingga sedikit
menghasilkan suara “tos” yang samar-samar terdengar.
Lalu tepat setelahnya bersalaman dan mempertemukan
bagian depan dari genggaman tangannya. Hal yang
sama pun dilakukan Sakti dan Toha. Sepertinya mereka
akan berteman akrab.

31

Garis Keturunan atau Garis
Kutukan?

Sudah hampir 5 tahun sekolah rakyat

diberhentikan. Lima tahun kegiatan anak-anak di Desa
Suniaraja berkurang. Biasanya anak-anak baru akan
terlihat ramai berkeliaran di jalanan ketika siang hari.
Sekarang bahkan sejak pagi anak-anak sudah terlihat di
sawah. Sebagian hanya menemani orang tuanya bekerja,
sebagian lagi ikut bekerja bersama orang tuanya.

Hal seperti ini yang terjadi di keluarga Sakti.
Semenjak pengumuman sekolah rakyat ditutup beberapa
bulan sebelum ia lulus dari sekolah rakyat, Sakti
memutuskan untuk membantu ayahnya bekerja di sawah.
Ayah Sakti tidak pernah meminta secara langsung
kepada Sakti, tetapi Sakti tahu diri saja. Dengan kondisi
keluarga yang serba pas-pas-an, tidak mungkin bagi
Sakti hanya menganggur di rumah semnetara ayahnya
banting tulang di luar sana.

32

Kegiatan Sakti sedari pagi biasanya ia membantu
adiknya memasak untuk sarapan. Sakti harus bangun
sepagi mungkin, karena ia harus membantu adiknya itu
sebelum pergi ke sawah. Bukan pemasak yang handal,
Sakti hanya bisa membantu sebisanya. Seperti memasak
air, menyiapkan bumbu, merebus yang harus direbus,
dan hal ringan lainnya. Selepas itu, ia dan ayahnya
akan berangkat ke sawah. Kegiatan itu berulang dengan
rutin setiap harinya.

Sakti benar-benar merasa bosan dengan
rutinitasnya ini. Ia heran mengapa ayahnya bisa dengan
sabar melakukan hal-hal semcam ini. Ohhh ya tentu
saja karena mereka masih butuh makanan untuk hidup.
Memangnya apa lagi keahliannya selain mengolah
sawah. Untungnya ayah Sakti tidak pernah mengeluh di
rumah. Walaupun tidak sempat mengenyam pendidikan
seperti anaknya, ayah Sakti tetap saja mengajarkan hal
penting bagi anak-anaknya. Bukan hanya diberi tahu tapi
juga ia lakukan setiap hari. Pelajaran itu adalah
semangat.

33

Suatu hari saat sedang duduk-duduk bersama di
rumah, ayah Sakti menyeletuskan suatu kalimat,

“Sakti, Laras, arurang teh emang teu lahir ti
kaluwargi anu boga sagala. Uyut abah teh lain
bangsawan anu tiasa ngalakukeun sagala hal
sakahayangna. Kusabab eta pge, hirup arurang teh geus
pasti leuwih keras ti batur. Atawa meureunan hirup
urang malah leuwih beruntung ti sejen. Abah mah teu
berharap naon-naon ti maraneh, sing penting mah
maraneh teh kedah sumanget. Keun bae hirup teu boga
nanaon, nu penting keneh boga sumanget. Ngartos?”
Ayah Sakti dan Laras memastikan kedua anaknya itu
paham apa yang ia maksud.

“Lamun maraneh boga sumanget, rek hirup
sasusah naon oge, pasti tiasa dilewatan. Komoh barudak
abah mah geus ngarasaan anu namina diajar. Kudu
leuwih hebat ti abah. Bae lah keneh jadi patani oge,
anu penting mah jadi patani nu boga sumanget anu
luar biasa.”

Ayah Sakti dan Laras bukanlah tipe orang tua
yang banyak bicara. Mungkin bahkan ia sudah terlalu

34

lelah bekerja untuk mengeluarkan suara dari mulutnya
itu. Tapi, sekalinya ia bersuara, pastilah berisikan
petuah-petuah berharga bagi anak-anaknya. Hal ini lah
yang menjadikan kedua anaknya itu terutama Sakti
sangat mengidolakan ayahnya. Walaupun ayahnya
hanyalah orang biasa bagi orang lain, tapi bagi Sakti
dan Laras, abah adalah ayah nomor satu sedunia.

***

Sebenarnya bekerja di sawah tidaklah
sepenuhnya membosankan. Setidaknya, di sawah orang-
orang bisa saling berinteraksi. Mereka bisa saling
berbicara, membicarakan bermacam-macam hal. Yaaaa
walaupun akhirnya lingkup pertemanannya hanya segitu-
gitu saja. Ini pula yang terjadi dengan Sakti.

Semenjak ia diperkenalkan oleh Laras dengan
kedua temannya, Toha dan Ramdan, entah mengapa
semesta seperti dengan sengaja menjadikan mereka
kawan dekat. Selepas kembali ke rumah masing-masing
pada hari terakhir mereka ke sekolah rakyat, masing-
masing dari mereka tidak pernah janjian untuk bertemu
lagi. Rumah mereka bahkan cukup jauh. Akan tetapi,

35

siapa sangka beberapa hari setelahnya, mereka bertemu
di sawah. Mereka sama-sama bekerja membantu orang
tuanya. Ternyata lahan yang diolah oleh orang tua
mereka berdekatan.

Setiap matanari sudah bertengger di atas kepala,
para pekerja tani akan dengan sendirinya berhenti.
Mereka mengaso di pinggiran sawah. Sakti, Toha, dan
Ramdan akan berkumpul sendiri, memisahkan diri dari
kumpulan bapak-bapak. Mereka kadang suka tidak
mengerti dengan hal yang dibahas orang tua. Dari
berkumpul itulah mereka bisa semakin dekat.

Awalnya masing-masing dari mereka menahan diri
untuk bercerita. Namun, seiring berjalannya waktu, bosan
juga jika tidak banyak bicara. Akhirnya, perlahan-lahan
mulailah keluar kata demi kata, kalimat demi kalimat,
hingga menjadi suatu cerita yang utuh. Tidak jarang
pula ceritanya bersambung.

Biasanya, di sela-sela mereka sedang berbincang,
Laras akan muncul membawakan sedikit makan siang,
biasanya sisa makan pagi, untuk abah dan kakaknya.
Jika ada sisa banyak, beberapa kali ia membawa porsi

36

lebih untuk dibagikan. Setelah memberikan makanan,
Laras akan ikut duduk bersama kakak dan teman-
temannya untuk ikut bercengkrama. Jika sudah begini,
waktu istrirahat anak-anak ini akan berkali-kali lipat jadi
lebih lama. Malahan tidak jarang juga saking
keasyikannya mengobrol mereka melupakan tujuan utama
pergi ke sawah.

“Ehh urang mah lila-lila kangen da kana sakola.
Kangen ka Pa Mahmud. Kangen diajar maca, nulis,
jeung ngitung. Lamun hirup kieu mah asa jadi bodo
deui urang teh.” Seperti biasa Ramdan tiba-tiba
mengeluarkan celetukan anehnya.

“Ah maneh mah lain ayeuna hungkul, basa
sakola oge bodo da asaan” Laras menimpali celetukan
temannya itu dengan cepat dan direspon dengan gelak
tawa Toha dan Sakti.

“Sebenerna teh, eta sakola ditutup lantaran naon
sih?” Toha membawa obrolan ini menjadi lebih serius.

“Lamun urang teu salah ngadenge mah nya,
ceunah teh eta si jelema kulit bodas teh keur boga

37

masalah jeung nagara lain. Ahirna mah aya perang weh
di luar teh. Tah kusabab ku perang eta teh sakola
urang ditutup.” Sakti berusaha menyampaikan informasi
yang ia pernah dengar dari kumpulan warga di salah
satu kios.

“Nanaonan sih eta si bangsa kulit bodas teh.
Meuni resep pisan hirup riweuh. Didieu ngajajah, di luar
perang. Meuni euweuh tentrem-tentremna eta hirup teh.
Bari jeung ngefekna teh ka hirup batur deui.” Ramdan
memulai kebiasaan menggerutunya yang terlihat sedikit
konyol.

Obrolan mereka soal bangsa kulit putih yang
sudah ratusan tahun menjajah mereka pun berlanjut.
Beberapa kali terdengar kata-kata umpatan baik dari
mulut Ramdan, Toha, maupun Sakti. Laras pun hanya
ikut berkomentar sesekali tanpa berani mengeluarkan
kata-kata umpatan dari mulutnya. Walaupun mereka
masih kecil, anak-anak ini sudah bisa menggunakan
otaknya untuk hanya sekadar berpikir sedikit kritis
mengenai kondisi bangsa mereka. Mungkin celetukan
anak-anak ini hanya sekadar obrolan peramai istirahat

38

siang, tapi kata orang omongan itu bisa dengan
sendirinya menjadi pemicu semangat hidup bahkan bisa
menjadi mimpi bagi yang mengucapkan. Siapa tahu
salah satu dari mereka inilah yang akan menjadi
pejuang bangsa ini untuk menggapai kebebasan.

***

Ketika pekerjaan orang tua sudah usai, anak-
anak pun menyudahi kegiatannya. Mereka pergi bersama
orang tua, pulang pun bersama orang tua. Kecuali si
tiga sobat. Mereka sedikit terpisah dengan orang tua
masing-masing. Para orang tua berjalan di depan,
sedangkan mereka melambat-lambatkan jalannya di paling
belakang sembari sedikit bercanda. Laras sudah pulang
duluan segera setelah makanan yang ia bawa habis.

“Eh eta naon meuni rame-rame?” Toha
menghentikan candaan yang sedang terjadi di antaranya
dengan Ramdan dan Sakti segera setelah ia melihat
orang ramai-ramai berkumpul di lapangan.

39

“Teuing. Urang sampeurkeun atuh yu” Sakti
menyahuti Toha dan mengajak kedua orang itu
mendekati kerumpulan orang di lapangan.

“Bapak, Ibu, adek-adek sadayana anu keur
ngempel, urang salaku jelema nu diutus ku manusa
manusa ti Jepang ditiah nepikeun amanat.” Orang-orang
yang berkumpul pun berusaha mendengar sebaik
mungkin.

“Ieu teh ngeunaan pelatihan militer. Kamari pisan
bangsa Jepang ngumumkeun yen di daerah ieu bakalan
diayakeun pelatihan militer kanggo budak lalaki. Tah,
maraneh, budak lalaki anu keneh jagjag sok manga
ngadaftarkeun diri. Kanggo Bapak Ibu anu gaduh budak
lalaki oge tiasa diarahan keur asup ka eta palatihan.”
Seorang laki-laki berpakaian cukup rapi dan
menggunakan sepatu yang berdiri di atas kotak tinggi
agar lebih terlihat pun mengakhiri pengumumannya.

Selepas pengumuman besar itu, semua orang
berbubaran kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya
sedang dilakukan. Termasuk Sakti, Toha, dan Ramdan.
Ketiganya memutar badan dan meneruskan perjalanannya

40

pulang. Ketiganya tidak banyak bicara hingga akhirnya
tiba di pertigaan jalan besar. Tempat Sakti berpisah
dengan Toha dan Ramdan.

“Sak, urang belok nya. Lalaunan leumpangna.
Tingali jalan. Maneh mah pan sok loba mikir lamun
keur jalan.” Seperti biasa, Ramdan selalu menjadi yang
pertama memecah situasi hening.

“Heeh. Maraneh ge hati-hati” Setelah bersalaman
khas anak laki-laki, mereka meneruskan jalannya masing-
masing.

Apa yang dikatakan oleh Ramdan memang tidak
salah. Setiap di perjalanan dari manapun dan mau
kemana pun, Sakti selalu memenuhi otaknya dengan
banyak pikiran. Hal apapun itu. Kali ini hal yang
memenuhi otaknya adalah perihal pengumuman yang
baru saja ia dengar.

Ia memikirkan apakah ia harus bergabung
dengan pelatihan militer itu. Ia sebenarnya sudah bosan
setiap hari harus pergi ke sawah mengolah lahan milik
orang lain. Ia mulai rindu dengan suasana sekolah.

41


Click to View FlipBook Version