Tidak harus sekolah sebenarnya, apapun kegiatan yang
mendatangkan suasana tersendiri akan sangat
menyenangkan sebenarnya.
Setelah mendengar pengumuman itu, mulai
terbesit pemikiran untuk bergabung dengan pelatihan
militer yang diadakan bangsa Jepang. Di sepanjang
perjalanan menuju rumah Sakti benar-benar
mempertimbangkan pemikirannya itu. Hingga akhirnya
mendekati rumah, ia mulai mantap dengan pilihannya.
***
“Bah, sigana Sakti bade miluan pelatihan militer
anu diayakeun ku Jepang.” Sakti membuka obrolan
ketika sedang makan malam.
“Hah pelatihan naon deui?” Abah merespon berita
Sakti dengan bertanya.
“Duka Sakti oge Bah. Pokona mah tadi teh Sakti
ngaliwatan lapangan warga nu deket sawah. Teras di
ditu aya jelema anu teuing saha ngumumkeun yen
bangsa Jepang teh keur ngayakeun palatihan militer
kanggo bangsa urang.” Sakti mencoba menjelaskan.
42
“Lamun latihan militer, Aa bakal maen tetewakan
atuh” Laras tiba-tiba merespon penjelasan kakaknya.
“Nya teu langsung tetewakan oge atuh Ras”
Sakti menjawab.
“Teras, Sakti teh tos yakin bakalan milu palatihan
eta? Sakti teh tos bosen mantuan abah?” Abah
mencoba bertanya meyakinkan Sakti.
“Teu kitu bah, Sakti teh pan ngora keneh.
Lamun lain Sakti anu milu palatihan militer, bade saha
deui. Ieu oge itung-itung usaha leutik Sakti kanggo
merdekakeun Bangsa urang.” Sakti mengeluarkan alasan
mencoba meyakinkan ayahnya untuk mengikuti pelatihan
militer.
“Enya atuh abah oge ngartos lamun kitu mah.
Soal nyawah mah Abah ngan heureuy atuh.”
“Tapi Sak, maneh teh yakin lamun eta palatihan
teh lain keur kapentingan si bangsa Jepang. Maneh
yakin lamun di ditu maneh moal dijajah siga Abah di
sawah?” Abah kembali bertanya. Kali ini bertanya yang
betul-betul mempertanyakan keyakinan Sakti.
43
Sakti mulai ragu setelah mendengar pertanyaan
abah. Ia mulai berpikir apakah pelatihan militer ini akan
benar-benar menjadi jalan bangsa Indonesia untuk bebas
dari penjajahan. Selama ini memang bangsa Jepang
tidak terlihat semenindas bangsa Belanda. Atau mungkin
belum. Namun, tidak ada yang bisa menjamin keadaan
mereka beberapa tahun ke depan. Bahkan mungkin
besok, keadaan mereka yang sedikit mulai damai ini
akan diobrak-abrik pula. Tapi Sakti tetap yakin dengan
apa yang dia mau.
“Sakti yakin bah.” Setelah sedikit berpikir, Sakti
menjawab pertanyaan ayahnya.
“Laras anu teu yakin.” Saat semuanya terdiam
suara Laras muncul lagi tanpa diminta.
“Memangna kunaon Ras. Da maneh oge pasti
teu ngarti latihan militer pan?” Sakti membalas jawaban
adiknya.
“Ah pasti Aa teh di ditu moal hidup tenang.
Makan oge da moal tangtu dibere. Lainna dilatih engke
44
teh kalahka ditindas.” Suara Laras terdengar
menunjukkan kekhawatiran.
Sangat maklum jika Laras khawatir dengan
keputusan kakaknya. Laras yang tidak pernah merasakan
kasih saying seorang ibu, hanya merasakan kasih saying
dari ayah dan kakaknya selama 15 tahun. Ia memang
tidak pernah meras kurang dengan kasih sayang yang
ia dapat, tapi justru itu, dia sangat tiddak ingin jika
kakaknya harus pergi melakukan sesuatu yang belum
jelas.
“Tos atuh Laras.” Abah berusaha menenangkan
anak gadisnya.
“Sakti, lamun maneh tos yakin sareng kaputusan
nu maneh jieun sorangan, sok weh laksanakeun. Abah
jeung Laras pasti ngaduakeun Sakti.” Abah pun memberi
restu. Di saat seperti inilah, abah memainkan peran
ganda. Ketika dimintai saran atau restu, jawaban abah
akan selalu terdengar seperti jawaban seorang ibu.
Selalu terdengar sangat bijaksana dan lembut. Itulah
mengapa Sakti dan Laras tidak pernah benar-benar
kehilangan sosok seorang ibu.
45
Malam itu, makan malam berakhir dengan sangat
canggung. Restu yang diberikan abah disertai dengan
kekhawatiran sang adik pun menjadi awal perjalanan
bagi Sakti. Lekas setelah membereskan peralatan makan,
ia pun berusaha untuk tidur. Ia tidak sabar menunggu
hari esok. Rasanya kurang lebih sama dengan pertama
kali ia akan sekolah. Hanya mungkin, kali ini, lebih
banyak hal yang ia pikirkan dan khawatirkan.
***
“Abah angkat heula nya.” Abah berteriak dari
ambang pintu berpamitan kepada kedua anaknya. Yang
merasa terpanggil dengan teriakan abah pun mendatangi
asal suara.
“Ras, dagoan imah. Jagaan imah. Tong hilap
dikonci pantona.” Seperti kebiasaan abah setiap pagi,
menyampaikan pesan yang sama kepada Laras. Laras
pun mengiyakan pesan abah sembari menarik tangannya
untuk menyalaminya.
“Sakti, hati-hati. Ieu jalan anu ku maneh pilih
sorangan, lakukeun sing baleg, maneh kudu sanggup
46
nanggung sagala resiko nu bakal kajadian.” Setelah
pamit dengan Laras, abah ganti menasihati putra
sulungnya.
47
Mencoba Dunia Baru
Biasanya ketika abah pergi ke sawah, Sakti
ikut menemaninya, tapi tidak hari ini. Ini hari pertama
Sakti akan mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan
militer. Setelah menimbang-nimbang beberapa kali,
akhirnya ia memutuskan untuk ikut. Ia pun diberi
sepatah dua kata oleh ayahnya. Sebagai penutup,
ayahnya memeluk erat dirinya. Ini kedua kalinya ia
dipeluk abah setelah yang pertama kali saat ia memulai
hari pertama sekolahnya sekitar 10 atau 11 tahun yang
lalu.
Setelah kegiatan berpamitan antara anak dan
ayah, abah pun melangkah meninggalkan rumah. Laras
dan Sakti kembali masuk rumah. Laras melanjutkan
membersihkan rumah, sedangkan Sakti bersiap-siap untuk
berangkat latihan militer. Setelah yakin semua yang
dipersiapkan telah siap, Sakti pun pamit kepada Laras.
48
“Aa tong aneh-aneh ah di ditu. Tong loba
ngalawan, bisi ditewak” kali ini kekhawatiran Laras
terdengar sedikit lucu.
“Heeh. Maneh ge di imah tong aneh-aneh. Tong
khawatir wae, da Aa mah pasti moal nanaon lah.” Sakti
tetap berusaha meyakinkan adiknya bahwa jalan yang ia
pilih ini pasti baik.
“Nya sok lah geura angkat, bisi telat” Laras
terdengar sedikit mengusir.
“Nya tos atuh. Assalamualaikum.” Sakti
mengacak-acak puncak kepala adik perempuannya itu.
“Ishh. Waalaikumsalam” balas Laras. Keduanya
pun saling melambaikan tangan.
***
Kondisi pagi hari itu sedikit lebih ramai
ketimbang hari-hari sebelumnya. Mungkin, karena banyak
pemuda yang juga memutuskan untuk mengikuti
pelatihan militer yang diadakan oleh bangsa Jepang jadi
jalanan dipenuhi mayoritas laki-laki. Kebanyakan pergi
49
bergerombol, tetapi tidak dengan Sakti. Ia tidak janjian
dengan satupun temannya untuk turut mmengikuti
pelatihan ini. Sakti bisa dibilang cukup mandiri dan
memeliki inisiatif tinggi akan satu hal.
Sepanjang perjalanan, jika dilihat-lihat, tembok-
tembok kios banyak dipenuhi dengan pampflet mengenai
pelatihan semi militer ini. Sepertinya orang-orang Jepang
memang sudah mempersiapkan dengan matang untuk
mengadakan pelatihan ini. Sejak awal kedatangannya ke
Indonesia sekitar empat tahun lalu, Jepang memang
mengawali semuanya dengan sangat baik. Omongannya
bisa mengambil hati masyarakat sekitar. Hal ini
mengakibatkan tidak sedikit masyarakat kembali berani
memberikan kepercayaa kepada orang asing, setelah
sempat kecewa dengan orang-orang Eropa yang dulu
juga sempat datang.
Pelatihan semi militer ini diadakan di sebuah
bangunan besar di ujung batas Desa Suniaraja dengan
desa tetangga yang dahulu sempat dijadikan sebagai
markas besar bangsa Belanda. Saat zaman
kependudukan Belanda dulu, bangunan itu sering dipakai
50
sebagai tempat pertemuan para bangsawan. Sangat
susah bagi orang biasa untuk bisa masuk ke lingkungan
itu. Kini, untuk pertama kali masyarakat bisa
menapakkan kaki di wilayah itu dan melihat bangunan
“sakral” itu dengan jelas. Ketika Sakti sampai depan
gerbang, ia mellihat begitu banyak manusia bergerumul
di lapangannya. Tepat di atas gerbang masuk terpasang
tulisan besar SEINENDAN. “Bahasa apa itu?” gumam
Sakti dalam hati.
“Bagi para pemuda yang berminat untuk
mendaftarkan diri, boleh langsung baris di sebelah kiri
saya, di depan meja yang sudah disiapkan.” Seseorang
berbicara menggunakan pengeras suara.
Caranya orang itu berbicara mengguakan Bahasa
Indonesia terdengar sangat aneh. Pasalnya, masyarakat
Desa Suniaraja lebih sering berbicara dengan Bahasa
Sunda dalam kegiatan sehari-harinya. Agar lebih akrab
dan terasa persaudaraannya. Mendengar orang itu
berbicara Bahasa Indonesia, bisa ditebak bahwa mereka
datang dari kota besar.
51
Semua pemuda yang memenuhi lapangan depan
pun bergerak merapikan barisan. Di sana terdapat tiga
meja yang disiapkan, berarti mereka juga membuat 3
barisan untuk mengantre mendaftarkan diri. Sakti datang
sedikit telat, makanya dia mendapatkan barisan sedikit di
belakang. Butuh waktu cukup lama untuk menunggu
giliran.
“Nama? Usia? Alamat?” terdengar samar-samar
dari tempat Sakti berdiri beberapa pertanyaan yang
diajukan petugas penerimaan. Lagi-lagi menggunakan
Bahasa Indonesia yang terdengar sangat baku.
Beberapa dari mereka pulang kembali karena
ternyata tidak memenuhi persyaratan. Orang yang bisa
mengikuti pelatihan ini hanyalah para pemuda dengan
usia minimal 14 tahun. Usia paling tua yang bisa
mereka terima adalah 22 tahun. Kebanyakan dari
mereka yang pulang sudah berusia 25 bahkan 27 tahun.
Sampai hingga akhirnya bagian Sakti mendaftar.
Orang yang sedang berhadapan dengannya berbadan
cukup tegap. Walaupun sedang duduk, Sakti bisa tahu
52
dengan pasti bahwa orang itu jauh lebih tinggi darinya.
Garis mukanya keras sekali. Sepertinya dia cukup tegas.
“Nama?” benar saja suaranya sangat tegas.
Tanpa basa-basi ia langsung bertanya.
“Sakti”
“Hanya Sakti?” orang itu bertanya untuk
memastikan.
“Oh, nama saya Sakti Prakasa” Sakti agak
sedikit aneh harus menggunakan Bahasa Indonesia.
Orang itu menuliskan nama Sakti Prakasa di
buku tulis bergaris.
“Kamu kelahiran tahun berapa?” setelah selesai
menulis orang itu kembali bertanya.
“Saya lahir tahun 1925. Bulan Juli” tanpa ditanya
Sakti juga menyertakan bulan kelahirannya dalam
jawabannya. Orang yang bertanya kembali menulisakn
informasi yang diberi Sakti di buku yang sama, persis di
sebelah tulisan sakti prakasa.
53
“Kamu warga asli sini?”
“Iya. Saya dari lahir sudah di Desa Suniaraja
sini. Rumah saya dekat balai perkumpulan warga.” Sakti
berusaha menjelaskan sejelas mungkin dengan suara
sedikit goyang karena rasanya ia seperti sedang
diinterogasi akan sesuatu.
“Ok” lagi-lagi si petugas menulis nama sakti,
hanya kali ini menggunakan spidol hitam di selemabar
kertas putih.
“Pasang di bajumu!” perintah si petugas cukup
keras sembari memberikan kertas kepada Sakti.
Sakti hanya menerimanya sembari memasangkan
kertas yang diberi si petugas. Si petugas pun
mengisyaratkan dirinya untuk bergabung dengan peserta
latihan yang lain di lapangan terbuka. Semua orang
terlihat sama, memakai pakaian yang serupa tapi tak
sama, ditambah dengan aksesoris selembar kertas putih
bertuliskan nama mereka masing-masing.
Butuh waktu sekitar dua jam sesi pendaftaran,
setelahnya seluruh peserta dibariskan dengan rapi. Kira-
54
kira jam 9 semuanya sudah berkumpul. Butuh waktu
lama lagi untuk merapikan barisan para pemuda ini.
Maklum masyarakat Desa Suniaraja tidak pernah
sekalipun melaksanakan baris berbaris. Jangankan baris
berbaris ikut acara formal saja tidak pernah.
“Selamat pagi semuanya!” suara lantang seorang
laki-laki tiba-tiba terdengar setelah barisan mulai rapi. Ia
menaiki sebuah undakan. Ia berdiri dengan sangat
tegap. Badannya bidang. Benar-benar bukan bentukan
orang Desa Suniaraja.
“Pagi!” suara jawaban terdengar serentak
membalas salam yang di depan.
“Baik. Selamat datang kepada seluruh pemuda
harapan bangsa ini. Terima kasih saya ucapkan kepada
kalian yang sudah mau ikut serta mengikuti pelatihan
militer. Pelatihan militer ini bukan hanya semata-mata
pelatihan cuma-cuma. Bangsa Jepang datang bukan
dengan kalimat basa-basi akan memberikan
kemerdekaan. Mereka memberikan bukti nyata dengan
mengadakan pelatihan militer ini.”
55
Mendengar penjelasan dari orang di depan, di
barisan pun mulai terdengar desas-desus. Ada yang
mengecewakan bahwa acara ini ternyata diadakan oleh
bangsa asing. Ada juga yang ternyata sedikit berlega
hati bahwa ternyata janji Jepang bukan hanyalah bualan
semata. Sakti tentu saja menjadi bagian dari yang tidak
berlega hati akan penjelasan ini.
“Oh iya, saking bersemangat saya belum
memperkenalkan diri. Nama saya Hamdan. Saya akan
jadi salah satu yang mengawasi proses pelatihan ini.
Baik, dengan ini saya nyatakan kalian sah menjadi
bagian dari seinendan.”
Semua orang bertepuk tangan setelah si Hamdan
selesai berkata. Sakti tidak sudi mempertemukan telapak
tangannya. Ia bahkan rishi dengan kata seinendan.
Mengapa harus Bahasa Jepang? Kalau memang
mengadakan ini untuk Indonesia, kenapa tidak pakai
Bahasa Indoneisa saja? Semuanya hanya terlihat sebagai
penindasan seri dua setelah bangsa Eropa
melakukannya.
56
Beruntung atau Merugi?
“Bagaimana dengan anggota-anggota baru
itu?”
Setelah memberikan sambutan di acara
pembukaan tadi pagi Hamdan langsung masuk ke
ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Dia memang
baru dipindah tugaskan dari Jakarta untuk mengawasi
kegiatan di sini.
“Bagaimana apanya Ndan?” yang ditanya balik
bertanya. Ternyata yang menjawab adalah orang yang
sama dengan yang menanyakan identitas Sakti saat di
meja pendaftaran.
“Apakah mereka terlihat cukup berpendidikan?”
Hamdan bertanya seolah-olah memastikan sesuatu.
“Saya kurang tahu Ndan. Tapi yang saya dengar,
beberapa tahun yang lalu di desa ini sekolah rakyat
banyak peminatnya. Walupun tidak pintar, mereka tidak
57
sebodoh itu untuk hanya sekadar membaca, menulis,
bahkan berhitung.”
“Satya, kamu harus pastikan bahwa pemuda-
pemuda ini tidak tahu apapun akan apa yang terjadi di
balik adanya seinendan ini.”
“Memangnya kenapa? Mereka bagian dari bangsa
ini. Mereka pantas tahu yang sebenarnya.” Nada bicara
Satya mulai tidak santai. Sedikit tidak sopan ketika
berbicara dengan atasannya.
“Sudahlah Satya, ini perjanjian antara kami dan
Jepang. Orang-orang di atas tahu mana yang terbaik
untuk kebebasan bangsa ini.” Hamdan membungkam
bawahannya. Satya jelas terbungkam oleh kata-kata
atasannya.
***
Waktu berjalan cukup cepat, berlari bahkan.
Matahari sudah berada di atas kepala. Perlahan-lahan
mulai berjalan ke arah barat. Para anggota seinendan
sudah melewati beberapa tahap latihan. Mereka sudah
dilatih ilmu dasar baris berbaris. Mereka bahkan
58
diajarkan kebiasaan upacara. Mereka juga dibiasakan
dengan salam ala militer. Benar-benar seperti tentara
sungguhan. Kali ini waktunya mereka beristirahat.
Istirahat kali ini Sakti memutuskan untuk tidak
bersama dengan teman-temn satu regunya. Ia pun
berjalan ke pojokan lapangan, niatnya sih menyendiri
hingga akhirnya ia bertemu dengan orang yang sudah
tidak asing.
“Heh Sakti!” salah satu dari dua orang yang
Sakti kenal meneriaki namanya. Ia pun semakin yakin
dengan siapa orang-orang itu. Ia berjalan ke arah
mereka.
“Heh Dan, Ha! Maraneh milu ieu oge?”
“Heeh. Urang bosen ka sawah wae. Jeung oge
si bapa teh nitah urang gabung ieu palatihan.” Seperti
biasa, Ramdan selalu menjawab dengan nada bicaranya
yang selalu menambahkan sensasi lucu tersendiri.
“Ari maneh Ha? Kunaon milu?” Sakti beralih
kepada Toha.
59
“Nya sarua lah” Toha menjawab sangat
seadanya, tetapi Sakti tahu Toha punya alasan yang
jauh lebih beralasan ketimbang alasan Ramdan.
“Hmmmm, teras, maraneh satu regu?” Sakti
bertanya
“Heeh. Hebat pan? Ieu teh namina sobat sahidup
samati. Ngarti teu?” jawab Ramdan, “Ah, hese lah
ngomong soal sobat jeung jelema nu sorangan wae
mah” tambahnya.
Sakti tidak melawan jika dibilang ia suka sendiri.
Kenyataannya, dia memang tidak pernah punya sahabat
seperti Toha memiliki Ramdan ataupun seperti Ramdan
memiliki Toha. Sedari kecil Sakti jarang sekali bermain
di luar, bukan karena dilarang, tetapi karena ia harus
menjaga adiknya dan bermain bersamanya. Makanya,
suatu keajaiban sekali saat Laras memperkenalkan dua
teman duduknya itu padanya.
Sakti cukup bersyukur bahwa di tempat yang
penuh orang asing baginya ini ia bisa bertemu dengan
dua temannya. Iya baru sebatas teman. Sakti tidak
60
yakin bahwa kedekatannya dengan Toha dan Ramdan
layak disebut sahabat. Mereka bahkan tidak pernah
benar-benar cerita tentang kehidupan satu sama lain.
Akan tetapi, dia tidak pernah menyesal dipertemukan
dengan dua orang yang sangat berbeda dengannya.
***
Perlahan-lahan pagi berganti menjadi siang lalu
sore lalu malam. Setiap hari begitu, hingga hari berganti
hari. Minggu berganti minggu, dan akhirnya satu bulan
sudah para pemuda ini melewati masa karantina militer.
Mereka mendapat didikan yang belum pernah mereka
dapatkan sebelumnya bahkan ketika di sekolah rakyat
sekalipun.
Entah mereka harus beruntung atau merasa
dirugikan dengan pelatihan ini. Memang mereka
mendapatkan sesuatu yang sangat berguna. Akan tetapi,
mereka tidak pernah tahu tujuan asli mengapa seinendan
ini diadakan. Benarkah semua ini untuk memenuhi
semua janji yang sempat disampaikan Jepang di awal
kedatangannya? Apakah mereka tidak menjadikan ini
sebagai suatu strategi untuk menindas masyarakat
61
seperti yang dilakukan bangsa kulit putih yang datang
ratusan tahun lalu. Tidak satupun yakin apa yang akan
terjadi.
***
9 April 1943 merupakan hari di mana para
pemuda selesai akan tugasnya di karantina. Para
pemuda pun diizinkan untuk kembali ke rumah dan
melanjutkan proses pelatihan militer ini secara harian.
Artinya mereka bisa pulang pergi, tidak perlu menginap.
Sebelum mereka dipulangkan, diadakan upacara
penutupan terlebih dahulu pagi harinya.
“Saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya
kepada kalian pemuda harapan bangsa yang sudah
dengan ikhlas mendedikasikan waktu selama sebulannya
berlatih di sini. Ini semua adalah awal kita semua untuk
berjuang memerdekakan bangsa kita. Kehidupan gelap
yang beratus-ratus tahun kita alami akan segera
berakhir, dan itu berkat perjuangan kalian yang dimulai
sejak sebulan kemarin.” Hamdan, si komandan yang
selama ini mengawasi proses karantina bicara di depan
62
dengan sangat menggebu-gebu mengundang semangat
ratusan pemuda di depannya.
“Sekarang kalian boleh kembali ke rumah
masing-masing. Bertemu dengan keluarga kalian dan
mengumpulkan tenaga kembali. Besok pelatihan harian
kalian akan dimulai. Terimakasih.” Hamdan mengakhiri
amanatnya.
Upacara dilanjutkan hingga selesai, setelahnya
para pemuda barisan seinendan ini benaar-benar
diizinkan untuk pulang. Keadaan mereka saat pulang
kurag lebih sama dengan keadaan mereka saat
berangkta datang pertama kali ke tempat pelatihan ini.
Mereka pun bergegas untuk pulang. Rasanya ingin
cepat-cepat istirahat di rumah. Karena, walaupun saat
karantina mereka diberi waktu istrahat, tetapi istirahatnya
bukan benar-benar istirahat.
Para pemuda itu bergerombol keluar gerbang
dengan berbagai macam raut muka. Ada yang lelah,
ada yang beraut muka senang entah kenapa, banyak
juga yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Mereka
semua keluar gerbang dan mengambil arah ke rumahnya
63
masing-masing. Mereka melangkah kembali kepada
keluarganya. Membawa segudang cerita tentang
kesehariannya selama sebulan ke belakang.
Sakti menjadi salah satu dari mereka yang tidak
memasang ekspresi apapun di mukanya. Mungkin karena
apa yang ia rasakan tidak bisa tergambarkan dengan
ekspresi apapun. Ia memilih berjalan pulang sendirian
walupun sebenarnya dia punya pilihan untuk pulang
bersama kedua temannya sampai jalan besar. Tapi
sepertinya kali ini Sakti hanya ingin sendirian. Sepertinya
sedang banyak pikiran.
Sakti berjalan menyusuri jalan pulang. Ia
menggeret kakinya sejauh 4 km. Ia menggeret lebih
cepat dari biasanya. Sakti sangat rindu dengan suasana
rumah. Ia rindu dengan bagaiman rasa nyaman yang
selalu berhasil diberikan ayahnya dalam setiap keadaan.
Ia rindu bagaimana ia biasanya bercanda bersama
Laras. Rasanya ia ingin cepat-cepat sampai rumah.
“Assalamualaikum!” Sakti mengucapkan salam
sedikit berteriak.
64
“Waalaikumsalam” tanpa butuh waktu lama
terdengar suara jawaban dari dalam rumah, dan pintu
pun terbuka. Seorang gadis yang sudah lama tidak Sakti
lihat tetap sama seperti biasanya.
“Aaa! Ya Allah Aa, Alhamdulillah balik oge ka
imah. Laras kira teh Aa dinanaonkeun di ditu.
Alhamdulillah keneh sehat.” Laras mengucapkan syukur
berkali-kali ketika menyambut kakaknya. Ia membantu
membawakan barang-barang milik kakaknya.
“Abah tos angkat ka sawah nya?” Sakti bertanya
sambil meregangkan badannya di kursi.
“Nya heeh atuh. Tos ti isuk-isuk pisan abah
mah” jawab Laras, “lamun si Abah nyaho Aa bade
pulang dinten ieu mah, meureun rek ditungguan.”
Sakti tidak lagi membalas perkataan adiknya. Ia
sudah terlalu lelah untuk banyak bicara. Setidaknya
rindunya melihat wajah adiknya ini sudah terbayar. Ia
pun memutuskan untuk masuk ke kamar melanjutkan
istirahatnya yang tidak pernah tuntas.
***
65
“Abah hayu makan heula” Laras memanggil
ayahnya untuk makan malam.
Abah keluar dari kamarnya dan ikut bergabung
dengan kedua anaknya yang Sudha lebih dulu duduk di
tempat biasa mereka makan bersama.
“Uhuk, uhuk, uhuk” tiba-tiba abah batuk.
Batuknya terdengar sangat keras dan tidak berhenti-henti.
“Abah kunaon?” Sakti bertanya dengan
intonasinya penuh kekhawatiran.
“Uhuk, uhuk, uhuk” belum sempat menjawab
abah kembali batuk. Kali ini terdengar lebih parah.
“Si abah tos kitu ti kamari-kamari A” Laras
menggantikan ayahnya untuk menjawab pertanyaan sang
kakak.
“Tos dibawa ka dokter?” Sakti semakin panik.
“Jauh A, si Abah oge da teu hoyong dibawa ka
ditu.” Laras menjawab lagi, sementara abah hanya
meneruskan kegiatan makannya, membiarkan kedua
anaknya berdebat.
66
Mungkin adegan Sakti dan Laras ini akan terlihat
tidak kompak, tapi sejujurnya abah sudah lama rindu
dengan obrolan kecil seperti ini antara kedua anaknya
itu. Itu juga menunjukkan seberaa dekat kedua anaknya.
Abah sangat bersyukur bahwa ia diberi keturunan yang
cukup menggantikan kepergian istrinya.
“Abah beneran teu nanaon?” Sakti kembali
bertanya untuk kesekian kalinya kepada ayahnya. Ia
benar-benar mengharapkan ayahnya menjawab.
“Heeh. Abah teu nanaon. Ieu mah panyakit
taunan atuh Sak. Engke ge sembuh sorangan.” Kali ini
abah menjawab.
Walaupun abah menjawab tidak apa-apa Sakti
tetap tidak percaya. Ia memperhatikan wajah ayahnya itu
semakin lelah. Abah memang sudah semakin tua dan
sangat memungkinkan akan terserang penyakit-penyakit
yang aneh. Jadi sangat wajar jika Sakti merasa khawatir
dengan kondisi ayahnya.
“Abah teu kedah ka sawah deui atuh. Istirahat
heula sahari atawa dua hari mah. Sigana abah
67
kacapean.” Sakti menyuruh abahnya untuk melakukan
yang dia minta.
“Moal mungkin atuh, engke abah teu dapet duit”
jawab abah
“Sakti nu ngagantian gawe Abah” Sakti terdengar
sedikit memaksa.
“Tong atuh, pan isuk maneh kudu latihan lain?”
abah berusaha menolak perintah Sakti.
“Abah” Sakti sedikit meninggikan suaranya, tapi
masih terdengar sopan.
“Tos atuh A. Lamun abah bilang teu nanaon nya
enggeus atuh.” Kali ini Laras angkat bicara, merasa
bahwa kakaknya itu terlalu berlebihan. Suasana menjadi
canggung. Mereka melanjutkan makan dengan penuh
diam.
“Abah teh lainna teu hoyong istirahat. Abah oge
ges cape. Tapi, maraneh moal ngarti naon akibatna
lamun abah teu gawe. Lain soal duit hungkul. Sanajan
pamilik sawah tos gentos, di dieu teh abah keneh gawe
68
salaku bawahan. Sanajan bangsa Jepang datang baik-
baik, keur abah mah da kitu-kitu deui. Euweuh bedana
sareng si kulit putin belanda.” Abah berusaha
menerangkan di selal-sela kegiatan makannya.
“Matakna Sakti, abah teh lainna teu seneng
lamun maneh ngabantu abah. Abah malah bersyukur
lamun budakna hoyong ngabantuan Abah. Tandana
budak Abah bener sayang ka Abah.” Abah terhenti
sebentar untuk minum.
“Abah teh hoyong pisan budak-budak abah teu
kedah hirup siga Abah. Jadi pekerja teh teu ngeunah.
Komo deui ngagawekeun lahan batur. Sagalana teh
dititah. Arurang teh kedah nurut deui. Matakna Abah
ngaasupkeun maraneh ka sakola rakyat. Sanajan teu
tiasa jadi jelema besar, paling heunteu maraneh teh teu
jadi bawahan. Lamun maneh tiasa maca, nulis, ngitung,
paling heunteu maraneh tiasa jadi leuwih ti abah. Teu
gampang ditutah-titah ku batur.” Abah melanjutkan
omongannya.
“Tah, ayeuna lamun Sakti tos mutuskeun milu
palatihan militer kanggo merjuangkeun kamerdekaan
69
bangsa, nya sok atuh teraskeun. Paling heunteu maneh
tiasa jadi prajurit anu berguna kanggo hirupna loba
jelema. Abah bakal bangga pisan lamun boga budak
anu tiasa merjuangkeun kamerdekaan kanggo jelema
sejen.” Kali ini abah mengarahkan ucapannya untuk
Sakti.
“Ari Laras tiasa naon Bah? Sahari-hari Laras
ngan cicing di imah teu nanaon.” Laras tiba-tiba
menyahut omongan ayahnya.
“Larass cicing di imah ge lainna teu mangpaat.
Laras pan di imah nyiapkeun makan kanggo abah
sareng Aa Sakti. Laras pan nu sahari-hari ngurus imah.
Lamun euweuh Laras, meureun imah tos acak-acakan.”
Abah berusaha menjawab jujur dan membuat gadis
kecilnya itu merasa senang.
Malam itu terus berlanjut dengan obrolan penuh
makna. Namun, Sakti tetap tidak bisa percaya bahwa
abah baik-baik saja. Batuknya abah sangat tidak wajar.
Otaknya kini dipenuhi banyak pikiran. Belum lagi setelah
ayahnya berkata bahwa setelah kedatangan bangsa
Jepang dan bergantinya kepemilkan lahan tidak
70
mengubah apapun, menyadarkan bahwa bangsa Jepang
tidak sedikitpun menyejahterakan masyarakat. Apakah ini
suatu pertanda? Pertanda apakah ini?
71
Prioritas
Matahari memunculkan wajahnya dengan
berani. Dedaunan depan rumah dipenuhi dengan embun
pagi yang ingin singgah sejenak. Suara sahut-menyahut
dari ayam-ayam berbeda kepemilikan mulai terdeteksi
oleh indera pendengar. Samar-samar terdengar suara
cuitan burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon
lainnya untuk bertengger di batangnya. Manusia-manusia
mulai keluar dari rumah. Tanda kehidupan sudah
dimulai.
Pagi itu adalah hari pertama Sakti dinyatakan
sah menjadi anggota seinendan dan tugasnya sementara
ini hanyalah latihan harian. Ia harus sudah di tempat
latihan tepat pukul 7 pagi, tetapi sepertinya ia akan
telat. Abah yang semalaman batuk tak henti-henti hingga
pagi. Abah biasanya pergi solat subuh ke surau, tetapi
tadi saat diajak berangkat bersama oleh Sakti tidak kuat
berdiri katanya. Abah bilang kepalanya sakit sekali.
Sudah jelas batuk-batuknya semalam bukanlah penyakit
tahunan. Kali ini lebih parah. Sebelum pergi, Sakti harus
72
memastikan kondisi abahnya baik-baik saja untuk
ditinggal.
“Ras, eta pastikeun buburna bener-bener
hampang ditelen. Karunya abah tenggorokan na nyeri
ceunah.” Sakti dan Laras sedang berada di dapur. Laras
memasak bubur untuk dimakan ayahnya, sedangkan
Sakti sedang membuat ramuan yang dulu pernah
diajarkan abah kepadanya ketika Laras demam.
“Siap A” Laras menyempatkan menjawab perintah
kakaknya.
Sakti masih larut dalam kesibukannya membuat
ramuan. Ia mencoba mengingat-ingat apa saja yang
harus ia masukkan agar tidak salah. Satu per satu
bahan alam ia masukkan. Jahe, daun kayu manis, daun
cengkeh kering, daun pala kering, beberapa cengkeh,
serutan kayu secang kering, lalu dilarutkan dengan air
hangat. Dari wanginya saja tidak karuan. Apalagi
rasanya. Sakti terlihat sangat menahan kegiatan
bernapasnya agar sebisa mungkin tidak mencium aroma
aneh dari minuman yang sedang ia buat.
73
“Aa duluan ka kamar abah” Sakti memutar
badannya menuju kamar abah. Ramuan buatannya ia
tempatkan di gelas yang biasa abah pakai untuk minum.
“Abah” Sakti memanggil abahnya dengan suara
pelan untuk memastikan bahwa abahnya masih dalam
keadaan sadar. Abah membuka matanya. Ia tidak tidur,
hanya memjamkan mata berusaha menghilangkan sakit
kepalanya yang teramat.
“Yeuh minum heula ameh enakan awakna!” Sakti
menyodorkan gelas ke abahnya. Abah tidak menolak dan
berusaha bangun dari posisi tidurnya walau sedikit
kesusahan.
“Tiasa teu Bah” Sakti memastikan abahnya bisa
duduk dengan benar. Abah tidak menjawab, tetap
berusaha untuk duduk. Setelah terduduk, abah
menyenderkan badannya ke dinding di belakangnya.
Sakti kembali menyodorkan gelas milik abahnya.
Ia juga membantu abahnya untuk sekadar menyeruput
minuman yang ia buat. Sakti membantu memegangi
gelasnya. Abah pelan-pelan meminum sambil sedikit
74
menahan rasa aneh yang dihasilkan dari campuran
bahan-bahan alam yang tadi ia masukkan.
“Aa teu angkat latihan?” Setelah minum abah
mencoba bertanya pada Sakti.
“Engke weh Bah saatos Abah tuang. Sakti moal
tenang latihanna lamun Abah can tuang.” Sakti
menjawab pertanyaan abah.
“Angkat ayeuna weh atuh A, eta dua puluh
menit deui tos tabuh tujuh.” Abah menyarankan anak
sulungnya untuk segera berangkat melaksanakan
kewajibannya.
“Gampang Bah eta mah. Sok ayeuna Abah
habiskeun ieu cai.” Sakti mengalihkan obrolan soal
berangkat latihan dengan kembali menyuruh abahnya
meminum ramuan yang telah dibuatnya.
Minuman yang Sakti buat sudah hampir habis
diminum abah ketika akhirnya Laras masuk kamar Abah
membawa piring berisi bubur yang tadi ia masak. Laras
mengambil posisi duduk di atas kasur di sebelah
abahnya yang sedang terduduk berseberangan dengan
75
posisi duduk kakaknya. Laras mulai mengaduk-aduk
bubur buatannya.
“Yu Bah tuang heula” Laras menyendokkan
sesendok bubur ke arah mulut abahnya. Sebelumnya ia
meniup dulu bubur itu agar tidak terlalu panas.
Abah membuka mulutnya sebagai jawaban atas
tindakan putrinya itu. Sendok per sendok berisi bubur
telah ditelan abah. Beberapa kali diselangi dengan
meminum minuman yang dibuat Sakti.
“Aa teu geura angkat? Tingali eta sakeudik deui
tabuh tujuh” Laras bertanya hal yang sama seperti abah,
“moal dihukum kitu lamun telat?”
Sakti langsung menggerakkan matanya ke arah
jam dinding terpajang dan benar saja jarum jam sudah
menandakan sebentar lagi jam tujuh. Ia pun mulai
terlihat sedikit gelisah. Masalahnya latihan militer ini
sangat menitik beratkan kedisiplinan. Kemarin saja saat
masih karantina, setiap ada yang telat sampai di
lapangan untuk upacara barang sedetik pun langsung
dikenai hukuman fisik yang cukup menghasilkan keringat.
76
“Sok atuh geura angkat Sakti” kali ini abahnya
benar-benar meyakinkan Sakti untuk segera pergi.
“Abah teu nanaon Sakti tinggal?’ Sakti bertanya
dengan raut wajahnya yang ragu meninggalkan sang
ayah.
“Enya sok weh angkat, da di imah aya Laras
atuh” lagi-lagi abah meyakinkan Sakti bahwa ia akan
baik-baik saja walaupun ditinggal olehnya.
“Nya tos atuh Sakti angkat nya” Sakti beranjak
dari duduknya “Ras jagaan Abah. Tong ditinggal
kamana-mana” Sakti meninggalkan pesan pada adiknya.
Ia pun mencium tangan abahnya dan setelahnya telapak
tangannya digapai oleh sang adik. Laras melakukan hal
yang sama seperti yang Sakti lakukan pada abah
beberapa detik yang lalu.
Setelah pamit, Sakti melangkahkan kaki ke luar
kamar abah. Ia mengambil beberapa barang yang harus
ia bawa. Setelahnya ia melangkah menuju pintu depan.
Langkahnya itu diikuti oleh Laras. Setelah Sakti keluar
77
dan melambaikan tangan pada Laras, segera ditutupnya
pintu dan dikunci. Laras pun kembali ke kamar abah.
***
“Kamu tahu waktu tidak?” Orang yang memakai
seragam bertuliskan Satya di bagian dadanya membentak
Sakti ketika ia baru saja sampai dengan napas
terengah-engah. Iya, Sakti berlari sejauh 4 km agar
tidak terlalu telat. Sakti menjadi satu-satunya yang telat
di hari pertama latihan harian.
Sakti tidak berani menjawab ketika dibentak
dengan suara sekeras itu. Dia pertama kali bertemu
dengan orang yang ia tebak namanya Satya itu saat ia
melakukan pendaftaran satu bulan yang lalu. Saat itu
suaranya cukup membuatnya bergetar ketika harus
memberi tahu identitasnya. Kali ini ia juga dibuat
bergetar untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya
memang dibuat untuk tidak dijawab.
“Kamu pikir pelatihan ini main-main? Kamu pikir
kamu bisa seenakanya datang dan pulang semaumu?
Kalau pemuda-pemuda bangsa ini seperti kamu, mana
78
bisa kita merdeka?” Untuk kesekian kalinya Sakti
dibungkam dengan pertanyaan dari orang yang
membentaknya.
Sesi latihan sudah berjalan sekitar satu jam. Ya,
sungguh wajar ia dimarahi habis-habisan oleh orang ini.
Sakti pasti sudah tertinggal banyak hal dibandingkan
dengan teman-temannya. Ia tidak bisa membela dirinya
karena hari ini ia benar-benar salah. Mungkin harusnya
saat abah mengingatkannya untuk segera berangkat ia
langsung berangkat.
Seolah-olah tidak mau mendengar alasan apapun
dari Sakti, Satya langsung saja memberi hukuman
padanya. Dibuatnya Sakti push up sebanyak seratus kali
lalu dilanjut berlari mengitari lapangan utama sebanyak
enam putaran. Ia berlarian ketika teman-temannya
sedang berlatih baris berbaris. Selain lelah, tentu saja
Sakti merasa malu.
Dari ujung lapangan, Satya memperhatikan Sakti
lekat-lekat. Bukan tatpan penuh amarah, melainkan
tatpan penuh tanda tanya. Mungkin dia penasaran
mengapa anak yang sedang berlari mengelilingi lapangan
79
bisa sampai datang telat. Telat yang benar-benar telat.
Sesekali juga raut wajah Satya menunjukkan kekaguman
ketika melihat Sakti. Entah karena apa.
***
Jam 12 siang menandakan waktunya istirahat.
Setelah melaksanakan salat di ruangan yang memang
dijadikan semacam mushola darurat, orang-orang mulai
memenuhi ruangan makan bersama. Salah tiganya, Sakti,
Toha, dan Ramdan. Sakti bertemu dengan Toha dan
Ramdan saat berjalan dari tempat salat menuju ruang
makan.
Sebenarnya Sakti sudah sempat melihat dua
temannya itu ketika sedang latihan baris berbaris.
Namun, tidak mungkin baginya saat itu untuk saling
menyapa apalagi berbicara. Apalagi ia baru saja
melaksanakan hukuman. Konyol sekali kalau ia sampai
terkena dua kali hukuman di hari yang sama.
Kedisiplinan sangat ketat di sini. Menguap sedikit saja
bisa kena tampar.
80
“Ari maneh kunaon bisa telat kitu Sak? Hilap?”
Ramdan bertanya dengan mulutnya yang penuh nasi.
“Telen heula atuh eta sangu. Karek nanya.” Toha
memberi saran kepada temannya itu tanpa melihatnya.
Mungkin merasa jijik kalau harus melihat mulut temannya
yang bergerak sedangkan di dalamnya masih ada
makanan yang belum terproses.
Ramdan terlihat tidak peduli dengan saran dari
sobatnya itu. Ia lebih penasaran dan menunggu-nunggu
jawaban akan pertanyaannya dari teman yang satunya.
Sudah tiga sendok makan masuk ke mulutnya sejak ia
melemparkan pertanyaan pada Sakti.
“Si Abah teh keur geuring. Isuk-isuk tadi teh
abdi ngurusan si Abah heula” Sakti memberikan jawaban
setelah meminum air yang ia teguk untuk membersihkan
tenggorokannya dari sisa-sisa makanan agar tidak
mengahmambatnya mengeluarkan suara.
“Alah, geuring naon?” Ramdan sempat
memberhentikan kegiatan makannya hanya untuk
menyempatakan diri menunjukkan ekspresi kaget dengan
81
jawaban Sakti. Setelahnya ia meneruskan menghabiskan
makanannya.
“Teuing. Malam kamari mah ngan batuk-batuk
hungkul. Eh, jol weh isuk-isuk teh kapalana sakit
ceunah. Nepikeun teu tiasa ka langgar” Sakti berusaha
menjelaskan secara singkat. Lalu meneruskan makan.
“Urang nengok abahna si Sakti atuh yu Dan!”
tiba-tiba Toha megeluarkan inisiatif dengan suara yang
cukup semangat.
“Ah naonlah. Maneh mah lain rek nengok
abahna Sakti. Maneh mah pasti rek panggih jeung si
Laras pan?” Ramdan menanggapi omongan Toha jauh
lebih keras hingga mengundang perhatian orang.
“Sssstttt” penjaga ruangan makan yang tadinya
tidak menghiraukan mereka yang mengobrol jadi
memberhentikan kegiatan bercerita mereka. Peraturannya
memang jangan banyak bicara ketika sedang makan.
Katanya akan menghabiskan terlalu banyak waktu.
82
Konsekuensi
“Saya dengar tadi ada yang datang telat?”
Seperti biasa, setelah prosesia latihan usai, Hamdan
memanggil bawahan-bawahannya ke ruangannya untuk
evaluasi.
Pertanyaan itu diajukan untuk Satya yang
menjadi satu-satunya orang di ruangan itu selain
Hamdan. Bawahan Hamdan yang lain sudah dipersilakan
keluar duluan. Hamdan memang selalu menahan Satya
di ruangannya untuk menanyakan hal-hal yang hanya
inginia sampaikan padanya saja. Satya memang tangan
kanan Hamdan sedari dulu.
“Iya. Sakti namanya. Saya sudah menghukumnya
untuk push up seratus kali dan lari mengitari lapangan
utama enam putaran.” Satya menjawab lebih lengkap
dari yang ditanyakan.
“Hhhhh, memang mental bangsa kita. Tidak
pernah disiplin,” Hamdan berkomentar sedikit, “kenapa
dia telat?”
83
“Saya tidak tahu Ndan. Tadi saya lupa
menanyakan alasannya karena saya pikir itu hanya akan
membuang waktu.” Jawab Satya seadanya.
“Memang benar, tapi akan jauh lebih baik kamu
bertanya alasannya”
“Maaf Ndan saya salah” Satya mengakui
kesalahannya, “tapi Ndan, sepertinya dia punya semangat
yang cukup luar biasa”
“Datang telat kamu bilang punya semangat?”
Hamdan sedikit menaikkan intonasinya ketika mendengar
perkataan Satya.
“Iya Ndan. Mungkin Komandan tidak percaya,
tetapi jika Komandan melihatnya sendiri Komandan akan
mengerti apa yang saya maksud. Semagatnya itu sangat
tergambarkan di wajahnya.” Satya berusaha menguatkan
perkataannya.
Mendengar perkataan Satya yang berusaha
meyakinkannya tentang Sakti membuat Hamdan sedikit
berpikir. Bagaimana bisa orang yang datang telat di hari
pertama latihan harian disebut memiliki semangat.
84
Hamdan menjadi sedikit penasaran dengan sosok yang
bernama Sakti ini.
***
Sesuai dengan kesepakatan di ruang makan saat
istirahat siang, Toha dan Ramdan ikut Sakti sampai ke
rumahnya. Mereka tidak lagi berpisah di pertigaaan jalan
bessar seperti biasanya. Tidak seperti biasanya juga
yang perjalanan pulang selalu hening, kali ini mereka
banyak bicara. Mungkin karena bergabung dengan
seinendan menghasilkan lebih banyak cerita dibandingkan
dengan bekerja di sawah. Waluapun kegiatan mereka
sekarang jauh lebih melelahkan, paling tidak mereka bisa
punya bahan obrolan di sepanjang jalan pulang. Jujur
saja sangat garing rasanya berjalan 4 km dengan
suasana sunyi padahal ada orang.
“Maneh teu nanaon Sak?” Toha tiba-tiba
bertanya.
“Memangna kunaon kitu?” sakti malah balik
bertanya.
85
“Maksud urang teh teu pegel kitu, tos push up
saratus kali, lumpat genep puteran, teras ayeuna
leumpang ka imah?” Toha memperjelas maksud
pertanyaannya.
“Ayeuna moal karasa atuh Ha, paling oge karasa
na teh engke isuk-isuk pas bangun tidur pisan. Pas
bangun teh pasti nyareri awak, komo pas keur salat,
pas ruku, eta paha teh meni nyeuri pisan.” Ramdan
menggantikan Sakti yang harusnya menjawab.
“Eta pisan sih Dan” Sakti mengacungkan
jempolnya ke arah Ramdan. Memang benar sih, kalau
sudah menyiksa fisik, rasa sakitnya baru akan muncul
ketika sudah ditidurkan.
Mereka melanjutkan perjalanan sembari
membahas hal-hal yang seharian ini terjadi di tempat
latihan. Mulai dari yang seru sampai yang biasa-biasa
saja. Seperti salah satu anggota yang bertubuh sedikit
berisi, kurang lebih seperti Ramdan, yang selama latihan
baris berbaris banyak melakukan kesalahan. Seorang
pemuda yang seumuran dengan mereka dengan
suaranya yang sangat nyaring dan terdengar lucu ketika
86
mengucapkan kata “siap”. Bahkan hal-hal setidak penting
melihat sepasang kucing kawin di pojokan lapangan pun
menjadi bahan obrolan mereka.
Kurang lebih satu jam mereka berjalan. Matahari
sudah mendekati singgasana malamnya. Ayam-ayam
yang biasanya berkeliarana bebas di jalanan sudah
memasuki kandangnya. Burung-burung berterbangan
kembali ke rumahnya setelah bermain ke sana ke mari.
Anak-anak manusia yang sedang bemain di luar juga
mulai dipanggil oleh ibunya untuk segera masuk rumah.
Tidak baik jika mendekati maghrib masih berkeliaran di
luar.
Akhirnya Sakti yang diikuti Toha dan Ramdan
sampai juga di rumahnya. Kedatangan mereka disambut
oleh Laras yang membukakan pintu. Ia cukup terkejut
dengan kedatangan dua orang yang dulu menjadi teman
sebangkunya itu. Sudah sangat lama sejak terkahir kali
mereka bertemu. Laras tidak menjadi satu-satunya yang
merasa senang, tapi Toha dan Ramdan juga tidak bisa
menahan ekspresi bahagianya ketika berjumpa lagi
dengan teman perempuannya itu.
87
“Euleuh euleuh si Laras teh meuni beuki geulis
kieu euy. Pangling” di pertemuan pertama kali setelah
lama ini Ramdan menyempatkan diri untuk memuji
kecantikan Laras.
“Nya heeh atuh Dan, emangna maneh meuni
kulehe kitu” Laras menjawab pujian Ramdan dengan
candaan, “heunteu atuh, Dadan mah pan baturan Laras
anu pang kasepna lah”
“Tos ah, asup heula, ngobrolna di dalem” Sakti
memotong obrolan kangen-kangenan di antara tiga
sekawan itu. Toha dan Ramdan mengikuti Sakti yang
masuk duluan. Laras bagian menutup pintu kembali.
Sakti menyuruh teman-temannya itu untuk duduk
dulu, sementara ia akan memeriksa apakah abahnya
mau ditemui oleh temannya atau tidak. Laras tanpa
diperintah langsung ke dapur untuk mebuatkan minuman
untuk teman-temannya.
“Biasa weh atuh Ha, meuni sumringah pisan
ningali si Laras” Ramdan menggoda Toha ketika mereka
duduk di ruang tamu.
88
Ramdan tahu betul kalau temannya yang satu itu
tertarik dengan Laras. Toha pintar menyembunyikan
perasaannya, tetapi Ramdan tidak kalah pintar untuk
membaca situasi di sekelilingnya. Mungkin itu satu
satunya keahlian Ramdan. Digoda oleh temannya, Toha
hanya terdiam tidak menyangkal juga tidak mengiyakan.
Tidak lama, Laras datang membawakan minuman.
Disajikannya di hadapan kedua temannya itu. Laras pun
membuka obrolan di antara mereka.
“Maraneh milu latihan siga A Sakti oge?”
Ramdan yang biasanya menyahuti pertanyaan
orang kini menyenggol tangan Toha memberi tanda
untuk menjawab pertanyaan Laras.
“Enya Ras” sejujurnya Ramdan geli sendiri
melihat temannya yang biasanya terlihat berani dan
tegas ini kini bersikap malu-malu.
“Ai Laras ayeuna sibuk naon?” Toha mencoba
melebarkan pembicaraan.
89
“Laras mah ayeuna cicing weh di imah. Masak,
meresan imah, nungguan imah. Kitu weh terus sahari
hari teh.” Laras bercerita oal kesehariannya, “rada bosen
sih sih kieu-kieu wae. Lamun Laras lalaki weh, geus
milu latihan oge da.”
Belum sempat Toha mersepon lagi, Ramdan tiba-
tiba mengangkat topik baru “Ras tadi si Sakti telat siah”
suaranya terdengar sangat antusias.
“Geus nyaho, pan tadi isuk teh nungguan abah
heula,” Laras tidak begitu tertarik, “kalem. Naha sih
maraneh teh nyebut na Sakti hungkul teu make A?”
Laras seakan-akan baru sadar akan sesuatu.
“Kan arurang jeung lanceuk maneh mah
babaturan lain adi lanceuk” Ramdan beralasan.
“Teras nya Ras, lanceuk maneh dihukum”
Ramdan meneruskan ceritanya.
“Dihukum naon?” kali ini Laras cukup tertarik
dengan obrolannya.
90
“Si Sakti the dititan push up saratus kali jeung
lumpat kaliling lapangan genep kali.” Toha ganti
menerangkannya pada Laras.
“Euleuh. Kalem. Ai push up teh naon?” Laras
tidak mengerti dengan satu kata yang disebutkan Toha.
Merasa sulit menjelaskan makna push up, Toha
berdiri dari posisi duduknya lalu mengambil posisi yang
tepat, dan mencontohkan apa yang ia maksud.
“IH. Kikituan saratus kali?” Laras tidak percaya,
“pegel pisan atuh”
“Pisan Ras, matakna engke pijetan Aa heeh?”
Sakti yang baru keluar dari kamar abahnya pun
menjawab keterkejutan adiknya. Ia pun langsung
mengambil posisi duduk di sebelah adiknya.
Adiknya tidak lagi menggubris omongan Sakti.
“Eta maraneh lamun rek ngobrol jeung abah, asup weh”
Sakti mempersilakan kedua temannya untuk masuk ke
kamar Abah. Hanya mereka berdua, tidak ditemani Sakti
ataupun Laras. Dari luar bisa terdengar suara Ramdan
yang paling keras dan samar-samar terdengar suara
91