pasti akan menilai tindakan Sakti sangat tidak sopan.
Karena memang begitu adanya.
Hamdan terdiam di posisinya. Tangannya mulai
mengepal tanda mulai geram dengan apa yang terjadi.
Ia masih memikirkan beribu cara untuk mendapatkan
atensi Sakti. Karena sepertinya memang benar, Sakti
adalah orang yang cukup berharga di TRI sini.
***
“Tadi urang ningali maneh ngobrol jeung
Komandan Hamdan. Ngomongkeun naon?” Ramdan yang
sempat melihat Sakti berbicara serius dengan Hamdan
pun bertanya.
“Aya lah” Sakti ogah menjawab.
“Ih maneh mah meuni teu hoyong pisan carita
ka urang. Urang teh batur maneh ti leutik kitu. Masa
sih teu carita” nada bicara Ramdan mulai terdengar
cukup menyebalkan.
“Aya lah masalah abah,” belum sempat Sakti
menjelaskan, sang komandan, Toha, keburu datang.
142
“Oke semuanya fokus.” Toha meminta perhatian
teman-temannya.
“Saya sudah memutuskan untuk mengadakan
musyawarah mengenai tanah Priangan ini. Hal ini akan
berkaitan dengan ultimatum yang berkali-kali dilancarkan
oleh tentara Sekutu.” Toha berbicara di depan ruangan.
Ketika Toha menyebutkan tentara Sekutu, tentu
saja Sakti sedikit gelisah. Melintas di bayangan
kepalanya soal obrolannya yang baru saja terjadi
antaranya dengan Komandan Hamdan. Sempat terlintas
di pikirannya untuk mengiyakan tawaran komandan
pusatnya itu. Namun, ia tahu di balik tawaran ini pasti
ada resiko yang harus ia tanggung. Ia bahkan belum
tahu harus dibayar oleh apa tawaran menarik ini.
Di sela-sela penjelasannya, Toha juga
menjelaskan rencana cadangan yang akan mereka
lakukan jika tentara Sekutu sudah mulai berani
melakukan sesuatu yang berlebihan. Berbagai rencana
sudah disiapkan dengan matang. Toha memang jauh
lebih luar biasa ketika sudah menjadi pemimpin. Ia yang
dulunya tidak banyak bicara, kini selalu mengeluarkan
143
ide-ide cemerlangnya untuk tetap bisa mempertahankan
kemerdekaan negeri tercintanya ini.
144
Merancang Strategi
Malam hari, selalu menjadi bagian dari hari
yang berharga bagi keluarga kecil Sakti. Satu-satunya
harta yang bisa ia pertahankan. Uang berlebih sudah
tidak mungkin ia dapatkan, tetapi keluarga yang
membawakan kedamiaan tersendiri jauh lebih bermakna.
Namun, kali ini ada yang kurang ketika biasanya ia
akan makan malam bersama dengan sang adik dan
abah. Malam ini, dimulai sejak beberapa malam yang
lalu, ia hanya makan malam bersama adiknya. Abahnya
selalu menolak jika diajak makan bersama. Alasannya
selalu saja ingin tidur.
“Ras, Laras teh pernah bilang ke Aa pan lamun
panyakit abah teh ngan tiasa ditanganan di luar negeri”
Sakti berbicara di sela-sela kegiatan makannya.
“Enya. Kunaon kitu?”
“Kamari-kamri teh aya nu nawaran Aa keur
mawa si abah ka luar negeri kanggo diobatan.” Laras
145
yang mendengar peryataan kakaknya itu menghentikan
gerakan mulutnya. Entah senang atau kaget.
“Naha tiasa? Saha nu nawaran?”
“Nu nawaran mah komandan Aa nu baheula,
ngan sigana mah bakal miinta tulungna ka tentara
Sekutu” Sakti berbicara seterbuka mungkin dengan adik
perempuannya itu.
“Hah?! Sekutu?” Laras sedikit berteriak, “Lamun
sekutu nu nawaran mah teu kedah lah. Abah oge pasti
moal satuju. Pan Aa the teu resep pisan sareng urang-
urang eta, naha ayeuna tiba-tiba ngomongan eta
sekutu?”
“Teuing Ras, Aa teh tos teu ngarti deui atuh
kedah nganaonkeun si abah. Si abah teh siga nu nyeuri
pisan. Aa sok teu tega.”
“Heeh A, tapi lamun carana kieu mah, pasti da
Aa oge moal tega atuh.”
146
“A, lamun Allah ngizinkeun abah hirup keneh,
sehat keneh, Abah pasti waras A. Percaya sareng
Laras” Laras berusaha menguatkan Sakti.
***
23 Maret 1946, Sakti memulai harinya dengan
pergi ke kantor tempat ia biasa bekerja. Seperti biasa
pula, ia bertemu dengan Ramdan. Ia juga bertemu
dengan Toha, tapi kali ini Toha sudah menjadi
atasannya jadi tetap harus ada keistimewaan tersendiri
dalam memperlakukan temannya yang satu itu. Ketika
Sakti masuk ke ruangan yang biasa digunakan untuk
berkumpul dan berdiskusi, suasana terasa tegang.
“Teman-teman seperjuangan, tadi pagi-pagi seklai
ultimatum besar kedua telah dikeluarkan oleh pihak
sekutu” terdengar suara Toha cukup keras dalam
menyampaikan emberitahuan penting itu.
Sakti berjalan duduk di dekat kawan-kawannya.
Ikut mendengarkan yang disampaikan sang komandan.
147
“Kita harus cepat bergerak atau kalau tidak
warga Bandung yang akan terkena imbasnya” lagi-lagi
Toha terdengar menggebu-gebu.
Berdasarkan penjelasan yang disampaikan Toha,
ultimatum kedua ini tidak main-main. Jika ultimatum yang
pertama hanya meminta TRI untuk menyerahkan seluruh
persenjataannya, kali ini TRI benar-benar diperintahkan
sesegera mungkin meninggalkan kota Bandung. Kalau
dipikir-pikir sebenarnya siapa mereka sampai bisa-bisanya
mengusir penduduk asli sini, sementara mereka hanyalah
pendatang.
“Saya sudah berunding dengan beberapa pihak
begitupun dengan petinggi-petinggi di Jakarta. Lalu,
sesuai dengan perintah dari komandan divisi III, A.H.
Nasution, kita akan mulai melancarkan perlawanan besok
jika sekutu benar-benar tidak mau mundur.” Ucapan
Toha kali itu benar-benar meningkatkan semangat teman-
temannya.
Setelah perbincangan itu, mereka pun merancang
strategi perlawanan untuk besok. Segala kemungkinan
terburuk sudah mereka persiapkan. Namun, tetap saja
148
mereka menharapkan yang terbaik yang akan datang. Di
tengah-tengah diskusi, Sakti izin ke luar untuk ke kamar
kecil. Saat ia berjalan kea rah depan seseorang
memanggilnya, dan siapa lagi kalau bukan Hamdan.
“Bagaimana Sakti, kamu sudah memutuskan apa
yang akan kamu lakukan untuk kepulihan ayahmu?” lagi-
lagi Hamdan menanyakan hal itu pada Sakti.
“Saya akan pikirkan dulu” tidak seperti kemarin
yang hanya diam bahkan menghindar, kini Sakti
menjawab walaupun tetap belum pasti.
“Jangan terlalu lama, ada orang yang tidak bisa
menunggu terlalu lama.” Seraya Hamdan mengucapkan
kalimatnya, mata Sakti seperti diarahkan untuk melihat
ke arah mobil hijau lumut milik Hamdan.
Sakti tahu di dalam mobil itu walaupun samar-
samar ada dua orang berwajah asing yang sangat ia
benci sebenarnya. Ya, sedari kecil Sakti sudah benar-
benar tidak suka dengan orang-orang berwajah asing
seperti dua orang itu. Sakti tidak habis mengerti kenapa
Komandan Hamdan bisa dengan mudah diperbudak oleh
149
orang-orang asing itu. Setelah sebelumnya ia diperbudak
oleh Jepang, sekarang ia diperbudak oleh para tentara
Sekutu. Konyol memang.
***
Malam harinya, Sakti dan teman-temannya tidak
pulang. Mereka semua harus mempersiapkan untuk hari
esok. Semua strategi perang sudah tergambar jelas di
kertas besar di atas meja ruangan mereka berkumpul.
Sangat jelas tergambar apa yang akan mereka jalankan
besok pagi.
“Sak, isukan urang bakal perang euy. Teu
nyangka pisan” Ramdan kini sedang menghirup udara
malam bersama Sakti.
“Enya nya. Parasaan kamari teh arurang keneh
gawe di sawah. Ayeuna geus rek nyerang-nyerang euy.
“Ngomong-ngomong, kumaha si abah?” seolah-
olah bisa membaca apa yang sebenarnya dipikirkan oleh
temannya, Ramdan akhirnya berani menanykan soal
abah Sakti.
150
“Abah geus parah Dan. Sigana bener-bener
antara hirup jeung mati pisan ieu mah. Urang teu yakin
bisa bikin abah jagjag deui” Susana mendadak jadi
penuh akan perasaan sedih. Sakti yang tiddak biasanya
berbagi kesedihan, kali ini benar-benar curhat pada
Ramdan. Ramdan hanya bisa menenangkan Sakti.
“Aya naon ieu euy, teu ngajak-ngajak urang”
Toha mendekati kedua temannya yang sedang berbicara.
“Duh, aya komandan euy” Ramdan langsung
memberikan hormat pada temannya yang sudah beda
level itu.
“Naon sih Dan biasa weh atuh. Urang mah
keneh babaturan maraneh” Toha merangkul kedua
temannya itu.
“Hey isukan arurang rek berjuang. Ngawujudkeun
mimpi urang kabeh. Mimpi maneh Sak. Merdekakeun
tanah air. Mulai isu arurang bakal bener-bener merdeka,
Sak, Dan” Toha berbicara di antar keduanya.
“Heeh pokokna mah Bismillah weh kanggo isuk”
151
Obrolan tiga sekawan itu berlanjut hingga hari
benar-benar malam. Ketiganya banyak melakukan
nostalgia beberapa tahun lalu. Mengulang cerita-cerita
konyol yang pernah terjadi. Malam itu Sakti juga benar-
benar menjelaskan keadaan abahnya. Semuanya benar-
benar terkuak malam itu kecuali satu hal.
152
Akhir dari Segalanya
24 Maret 1946. Pagi-pagi sekali para
tentara Indonesia sudah siap berjuang. Mereka mereview
strategi yang sudah dibahas tuntas semalaman.
Rencananya, mereka semua akan membumihanguskan
kota Bandung dan semua gedung yang berkaitan dengan
keperluan Sekutu. Rencana besarnya adalah Toha sang
komandan akan bergerak ke Desa Dayeuhkolot tepatnya
ia akan memasuki gedung amunisi dan meledakkannya.
Ramdan yang akan menjadi pembuka jalannya. Sakti
yang sedari dulu memiliki keahlian untuk mengawsi dari
jarak jauh bertugas untuk mengawasi kondisi sekitar
ketika Toha sedang melaksanakan tugasnya.
Keberangkatan mereka ke Dayeuhkolot dilepas
oleh Komandan Hamdan. Sebelum berangkat, Hamdan
menarik Sakti ke samping untuk benar-benar
mengingatkannya soal perjanjian di antara mereka.
“Sakti ingat perkataan saya. Ingat ayahmu yang
ada di rumah. Tugasmu hayalah harus menggiring Toha
153
ke perangkap Sekutu, selepas itu kamu bisa langsung
membawa ayahmu pergi dari sini beserta adikmu”
Perkataan Hamdan terdengar seperti ancaman bagi Sakti.
Pertahanan diri Sakti mulai goyah oleh gertakan
Hamdan. Seluruh hidup Sakti ia dedikasikan untuk
keluarganya. Abah adalah orang nomor satu dalam
hidupnya, tidak bisa ia bayangkan bagaimana hidupnya
jika abah sudah tidak lagi di sisinya. Namun, di satu
sisi negara ini butuh untuk benar-benar hidup. Lebih dari
sekadar proklamasi, rakyat butuh makna sebenarnya dari
kata merdeka.
Perjalanan menuju Dayeuhkolot dipenuhi dengan
berbagai emosi. Semangat tentunya untuk mengusir para
Sekutu. Sedih karena harus berpisah dengan keluarga.
Takut, karena mereka tidak pernah tahu hasil apa yang
akan mereka dapatkan setelah ini. Tapi yang jelas
semuanya yakin bahwa usaha tidak akan mengkhianati
hasil. Mereka akan terus maju apapun itu nanti hasilnya.
Sampai di Dayeuhkolot, Sakti mulai memikirkan
apa yang harus ia lakukan. Berada di pihak temannya
atau ayahnya. Membiarkan teman-temannya terus
154
menerobos gedung amunisi atau menggiringnya ke
tempat yang sudah dipersiapkan Sekutu. Pemikiran
panjang Sakti menjadikan Toha dan Ramdan sudah
keburu memasuki gedung amunisi. Ia sudah jelas gagal
melakukan perintah Hamdan.
Sementara Toha dan Ramdan berusaha
memasuki gedung amunisi yang juga dikawal oleh
beberapa tentara lainnya, Sakti tetap terdiam di luar. Ia
tidak berani masuk. Ia terlalu banyak berpikir sehingga
sudah kehilangan langkah. Alhasil ia hanya berdiri di
luar berkomat-kamit seolah-olah memberi dukungan
dengan berdoa.
Gedung amunisi itu selalu dijaga ketat oleh
tentara Sekutu. Dengan cepat mereka bisa mendapati
bahwa ternyata Toha dan Ramdan berhasil memasuki
gerbang utama gedung amunisi. Tentara Sekutu sadar
bahwa berarti Sakti gagal menjalankan tugasnya. Ingin
rasnya menghajar Sakti, tetapi yang harus lebih dulu
dilakukan adalah mengahncurkan kelompok yang
menerobos gedung amunisi.
155
Ramdan yang berjalan di depan Toha
membukakan jalan bagi Toha. Toha berhasil masuk,
sementara Ramdan berjaga di depan. Belum sempat
Toha meledakkan gedung amunisi itu, di luar rupanya
Ramdan sudah terkena tembakan terlebih dahulu oleh
tentara Sekutu, begitu juga tentara Indonesia yang lain.
Tentara Sekutu yang berjaga-jaga di sekeliling
gudang amunisi tidak ada yang sadar bahwa sudah ada
satu pemuda yang berhasil memasuki gudang amunisi.
Beberapa menit setelah Ramdan dan teman-temannya
ditembak mati ditempat oleh tentara Sekutu, Toha
meledakkan dinamit di dalam gedung amunisi. Ramdan
yang seharusnya masuk dan ikut mengeluarkan Toha
dari dalam tak kunjung juga masuk, menjadikan Toha
tidak bisa keluar dari dalam gedung amunisi.
Hari itu juga tepat pukul sebelas siang, gedung
amunisi tentara Sekutu terbakar hebat beserta di
dalamnya ada Toha, Ramdan, dan pejuang lainnya.
***
156
Mendengar suara ledakan dan melihat percikan
api, Sakti lalu berbalik arah berjalan pulang. Sepanjang
perjalanan ia menyesali perbuatannya. Seharusnya jika
mengikuti strategi yang elah disusun, ia mengawasi
teman-temannya dan bisa masuk dalam keadaan yang
gening. Namun, kenyataannya ia hanya bisa
mendengarkan suara ledakkan tanpa berbuat apa-apa. Ia
tidak berhasil melakukan apapun hari itu.
Ia berjalan menyusuri jalanan menuju rumahnya.
Jalanan sangat sepi mengingat kemarin malam
semuanya sudah dievakuasi utntuk menjauh dari wilayah
Bandung. Ia sengaja tidak menyuruh ayahnya ikut
evakuais karena ia pikir ia akan berhasil membawa
abah dan Laras pergi bersamanya melakukan
pengobatan, tapi sepertinya itu benar-benar tidak akan
terjadi mengingat ia gagal melakukan misi yang
diberikan. Sakti tidak tahu hukuman macam apa yang
akan didapatnya dari pihak Sekutu.
Betapa terkejutnya Sakti begitu sampai di rumah.
Dua orang yang sama persisi dengan yang waktu itu
ada di mobil Komandan Hamdan sudah berdiri tegak di
157
depan rumahnya. Sakti benar-benar tidak tahu apa yang
akan terjadi. Sakti pun mengetuk pintu lalu dibukakan
oleh adiknya.
Sakti massuk diikuti oleh dua orang itu. Tentu
saja Laras kaget tidak percaya. Apa yang harus ia
lakukan? Dua tentara Sekutu itu menggiring Sakti untuk
menunjukkan ayahnya. Ketiganya pun masuk ke kamar
abah. Tanpa menunggu lama kedua tentara yang sama-
sama memegang senjata menembakkan pelurunya ke
ayah Sakti tepat di depan Sakti. Sakti tidak bisa
bergerak. Laras yang mendengar itu langsung
menghampiri kamar abah dan sama terkejutnya melihat
kepala abah yang sudah berlumuran darah. Tak tega
melihatnya. Dalam hitungan detikpun peluru dilepaskan
ke arah Laras.
Di hari yang sama dengan kematian dua
sahabanya, Sakti kehilangan keluarganya. Dua orang
tentara itu berlalu begitu saja tanpa berkata apapun.
Sakti hanya terduduk lemas di pojokan kamar abah
dengan pemandangan dua orang yang sangat ia kasihi
terkujur lemas tak bernyawa.
158
Tentang Penulis
Ariq Marsa Naufal Rabbani
Ariq Marsa Naufal Rabbani
atau nama akrabnya Arom adalah
seorang remaja yang lahir pada 2001
silam, tepatnya 21 Maret. Ia
merupakan anak bungsu dari empat
bersaudara. Ia pernah bersekolah 2
tahu di TK Nurul Istiqlal, 6 tahun di SDN Cimahi
Mandiri 1, dan 3 tahun di SMPN 1 Cimahi. Kini masih
bersekolah di SMAN 2 Cimahi.
Sedari kecil ia banyak melakukan hal konyol dan
berkelanjutan hingga sekarang. Saat ini ia tergabung
dalam group band GOD BLESS U. Ia ingin melanjtkan
pendidikan setinggi mungkin. Cita-citanya adalah kecil
disuka, muda dicinta, tua kaya raya, mati masuk surga.
Aamiin.
Jihan Hasna Puspita
Jihan Hasna Puspita atau
orang-orang biasa menyapanya
Jihan. Lahir di Bandung tanggal 26
buan September. Ia dilahirkan di
kota yang sangat menggambarkan
dirinya. Ia yang suka bunga
tumbuh dan besar di kota yang
berjulukan Kota Kembang.
Ia pernah bersekolah di TK Kartika 22, SD
Kartika 4, dan SMPN 6 Cimahi. Sekarang ia sedang
mengenyam pendidikan di SMAN 2 Cimahi. Saat kelas 7
Jihan pernah ia pernah ikut seleksi lomba cipta puisi,
namun gagal menjadi perwakilan sekkolahnya. Tak
berhenti di situ, ia kembali mengikuti seleksi untuk
lomba yang sama di kelas 8. Namun, nasib berkata lain,
Jihan tetap tidak bisa lanjut.
Jihan pernah diberi tahu oleh orang tuanya bahwa
semasa ia masih kecil, ia memiliki kemampuan bisa
“melihat” dan mempunyai teman yang datang dari alam
yang berbeda dengannya.
M. Ariq Ibrahim
Namanya M.Ariq Ibrahim
Ardiyandi, biasa dipanggil Ariq. Ariq
lahir di Bandar Lampung, 24 April
2002. Saat ini ia menginjak kelas 12
yang sebentar agi akan lulus. Ariq
gemar bermain sepak bola. Klub bola
favoritnya sejak kecil adalah Manchester United.
Saat kecil, Ariq didiagnosa oleh dokter sudah
tidak bernyawa. Namun, orang tuanya yang tidak pecaya
dan mengharapkan anaknya basih bernafas, membawa
Ariq ke dokter yang lebih dipercaya. Alhasil nyawa Ariq
kecil bisa terselamatkan.
Ariq hidupnya nomaden. Saat PAUD, ia tinggal
di Kalimantan. Saat tk dan sd, ia di Bogor sampai kelas
2. Setelahnya, Ariq pindah ke Cianjur dan menjalani
kehidupan smp-nya di SMP Islam Kreatif dan
melanjutkan sma di SMAN 2 Cimahi.
Rahma Laili Azizah
Rahma Laili Azizah atau yang
biasa dipanggil Rahma merupakan
gadis kelahiran Cimahi, 26 November
2002. Ia merupakan anak bungsu dari
dua bersaudara. Semasa hidupnya ia
pernah mengenyam pendidikan dua
tahun di TK Al-Hikmah, enam tahun di SDN Cimahi
Mandiri 5, tiga tahun di SMPN 1 Cimahi. Kini dirinya
sedang berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya di
tahun ketiga di SMAN 2 Cimahi.
Saat sd, Rahma pernah melakukan hal konyol
dalam hidupnya yakni memasukkan jarinya ke dalam
putara treadmill yang sedang digunakan ayahnya.
Alhasil, ia mendapatkan luka seumur hidup di jari tengah
dan jari manisa tangan kanannya.
Rahma ingin meneruskan pendidikan setinggi
mungkin. Ia ingin paling tidak sekali dalam hidupnya
merasakan bersekolah di negara orang. Ia ingin menjadi
dsen, kalau bisa jadi Menteri pendidikan atau bahkan jadi
presiden.
Willy Alamsyah
Seorang siswa bernama Willu
Alamsyah lahir di Bandung, 22
Agustus 2002, saat iini ia menginjak
kelas 12 yang sebentar lagi akan luus.
Hobinya adalah bermain sepak bola
dan melakukan sesuatu hal yang baru.
Ketika kecil, Wiily terkena penyakit flek paru-paru yang
menyebabkannya harus rutin ke rumah sakit seminggu
dua kali.
Willy adalah anak kolong. Ia tinggal di Komplek
Block Komando selama delapan tahun lalu pindah ke Kp.
Hegarwangi hingga sekarang. Ia memulai sekolah di TK
Kartika IX selama setahun lalu meneruskan ke SD
Srifindani, sempat pindah ke SDN 1 Batujajar. Ia
meneruskan ke SMPN 1 Batujajar lalu berlanjut ke
SMAN 2 Cimahi.
Lengkapi Juga Koleksi Terbaik dari Rumah
Temen Penerbit !!!
…..