The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Library Digital SK. Kabogan, 2020-12-05 21:44:19

Sakti

Sakti

Keywords: None

abah tertawa kecil, sementara Toha hanya menimpali
sedikit-sedikit omongan temannya yang cukup komedi.
Memang keputusan yang tepat membawa kedua
temannya ke rumah menjenguk abah, paling tidak
Ramdan jadi bisa membuat abah tertawa.

***

Setelah merasa cukup menjenguk ayah Sakti,
Toha dan Ramdan hendak berpamitan tepat ketika
adzan maghrib berkumandang. Sebelum pulang, mereka
menyempatkan salat maghrib berjamaah di surau dekat
rumah Sakti. Selesai salat, Toha dan Ramdan ingin
langsung pulang sebelum jalanan semakin gelap.
Sebelum benar-benar pulang, Toha menyampaikan
sesuatu pada Sakti.

“Sak, tadi si Laras ngomong bosen ceunah
cicing wae di imah.” Toha mulai menyampaikan
maksudnya.

Sakti yang hanya terdiam membuat Toha
melanjutkan ucapannya.

92

“Tadi isuk, pas upacara, basa maneh can
datang, Komandan Hamdan ngomong yen salain latihan
militer di ditu oge bakalan diayakeun palatihan keur jadi
parawat. Lain parawat beneran, palingan ngan diajarkeun
nulungan batur nu geuring saayana. Bisi si Laras
hayang, titah daftar weh” Toha menjelaskan teramat jelas
maksud ujarannya.

“Engke urang coba obrolkeun jeung si Laras
sareng abah. Nuhun infona” Sakti berterima kasih.

Tepat setelah keduanya selesai berbincang,
Ramdan keluar dari kamar kecil di belakang surau.
Panggilan alam sepertinya. Tidak banyak bertanya, ia
langsung menarik tangan Toha untuk segera pulang. Tak
bicara apapun, Sakti lari masuk ke dalam rumahnya,
lalu sesaat kemudian keluar membawa lampu petromax.
Lampu itu ia berikan pada temannya untuk menjadi
teman tambahan di jalan pulang.

Toha dan Ramdan pun mengambil jalan pulang,
sementara Sakti kembali masuk ke rumahnya, yang
pintunya masih terbuka. Ia pun menyampaikan suatu hal
kepada Laras. Tepat persis seperti yang disampaikan

93

Toha padanya saat di depan surau. Tidak ditambah
tidak dikurang. Laras pun hanya mengangguk-angguk
tidak berkata. Mungkin artinya iya.

94

Kenyataannya

Pagi-pagi sekali Sakti sudah hadir di tempat

latihan. Kelewat pagi sepertinya. Setelah salat subuh di
surau, ia langsung berpamitan kepada abah dan Laras.
Ia sangat tidak ingin datang terlambat kali ini. Ia tidak
ingin terkena hukuman lagi. Karena, benar saja kata
Ramdan bahwa pagi-pagi setelah bangun tidur, badan
akan terasa pegal terlebih bagian paha. Sangat tidak
mungkin baginya melaksanakan hukuman dengan kondisi
badan yang baru terhukum. Perjalanan ke sini saja Sakti
perlu perjuangan menyeret kaki setengah mati.

Masih lama dari jam latihan dimulai, Sakti
memutuskan untuk tidak masuk ke dalam. Ia memilih
untuk duduk santai dulu di warung nasi depan tempat
latihan. Ibu-ibu yang berjualan sudah cukup tua, sudah
layak disebut nenek-nenek. Namun, raut semangat di
wajahnya membuatnya masih cocok dipanggil ibu.

Ia tidak memesan apapun, hanya ikut duduk
saja. Sesekali ia mengajak bicara sang ibu penjual yang

95

sedang menyiapkan jualannya. Hingga akhirnya seorang
pelanggan datang. Rupanya Satya yang datang. Ia
memesan nasi untuk dijadikannya sarapan. Sambil
menunggu, ia duduk di samping Sakti.

Raut wajah Sakti menjadi tegang. Sudah berapa
kali ia dibentak sejak pertama kali ia datang ke tempat
ini. Ada kemungkinan juga kali ini ia akan dibentak
walaupun ia merasa belum melakukan kesalahan.

“Sakti” orang di sebelah Sakti menyebutkan
namanya.

“Iya?” Sakti menjawab dengan tenang. Mencoba
untuk tenang lebih tepatnya.

“Kemarin kenapa terlambat?” intonasi Satya jauh
lebih ringan dibandingkan kemarin. Ini tandanya dia
hanya ingin mengajak ngobrol biasa.

“Abah saya sakit. Saya harus membuat minuman
ramuan dulu untuknya dan memastikan dia baik-baik
saja jika saya tinggal” Sakti menjawab yang sebenarnya
terjadi.

96

“Oh. Kamu anak tunggal? Ibumu?” lagi-lagi Satya
melempar pertanyaan.

“Tidak. Saya punya adik perempuan satu. Ibu
saya sudah meninggal saat melahirkan adik saya.” Sakti
menjawab sesuai pertanyaan

“Kegiatan adikmu sekarang?”

“Dia hanya di rumah. Sama seperti saya, dulu
dia sempat ikut sekolah rakyat, hanya saja ketika
sekolahnya ditutup, adik saya jadi tidak memiliki aktivitas
di luar rumah lagi.”

“Kalau begitu ajak dia bergabung dengan tim
kesehatan seinendan”

“Kemarin teman saya juga menyarankan hal yang
sama. Mungkin besok saya akan ajak dia datang. Hari
ini dia masih harus menjaga abah di rumah.”

“Hmmm, cepat sembuh untuk ayah kamu”

Setelah percakapan singkat tersebut, makanan
pesanan Satya datang. Ia sempat menawari Sakti untuk
makan juga, tetapi Sakti menolak. Ia sudah sarapan di

97

rumah. Satya menjadi satu-satunya yang makan di
warung itu. Sakti hanya terdiam canggung dengan situasi
saat itu. Apakah dengan obrolan yang baru saja terjadi
menandakan mereka sudah dekat?

Sakti mengisi waktu kosongnya di warung itu
dengan melihat-lihat kanan kiri. Satu per satu orang-
orang selevel Satya mulai berdatangan. Semuanya
berjalan kaki. Tidak ada yang mengendarai kendaraan,
sepeda sekalipun. Sampai akhirnya beberapa rombongan
mobil berplat nomor B berdatangan. Artinya mereka
datang dari Jakarta. Artinya lagi mereka pasti orang-
orang penting.

Melihat Sakti kebingungan saat mobil-mobil
berdatangan membuat Satya berhenti mengunyah dan
mengeluarkan suara.

“Itu orang-orang Jepang” Satya berbicara tanpa
diminta. Sakti hanya membalas dengan anggukan.

“Mereka ke sini untuk mengecek sudah seberapa
siap kalian” Satya melanjutkan

98

“Hah? Seberapa siap? Untuk apa?” Sakti tertegun
mendengar kata-kata Satya.

Satya berusaha menghabiskan makanannya
terlebih dahulu sebelum kembali menjawab pertanyaan
dari Sakti. Ia pun meneguk satu gelas air putih sampai
sebelum akhirnya ia menjawab lagi.

“Dibentuknya seinendan ini sebenarnya hanya
bagian dari strategi mereka. Beberapa tahun belakangan
ini, Jepang teribat perang besar dengan sekutu. Kalau
kamu sering mendengarkan radio mungkin kamu sempat
dengar soal itu” Sakti mengangguk-angguk. Karena ia
memang benar pernah mendengar soal perang ini saat
melewati tongkrongan bapak-bapak di depan kios.

“Nah, tujuannya mereka mendirikan seinendan
adalah untuk mempersiapkan pemuda Indonesia untuk
membantu militer Jepang untuk menghadapi pasukan
Sekutu.” Satya selesai dengan penjelasannya.

“Kalian orang-orang atas sudah tahu mengenai
hal ini tapi tetap diam saja? Kenapa tidak
menyampaikan yang sebenarnya? Kalian pikir kami anak-

99

anak muda mau ikut beginian karena apa? Jelas karena
kami kira semua ini demi mempersiapkan kami agar
dapat mempertahankan bahkan memerdekaka tanah air
ini.” Nada bicara Sakti mulai terdengar tidak santai.

Tentu saja Sakti marah. Bagaimana tidak.
Ternyata kecurigaan yang dulu pernah ia takutkan bahan
pernah terpikirkan oleh ayahnya benar-benar terjadi. Jujur
saja Sakti merasa kecewa sudah ikut pelatihan ini.
Bangsa asing memang tidak pernah ada yang bisa
dipercaya. Raut wajahnya di pagi hari sudah tidak enak
dipandang.

“Kau tahu, para pejuang bangsa ini sudah
menyusun rencana lebih dari yang kita kira. Kamu pikir
aku tidak kesal dengan semua siasat ini? Aku sudah
lebih dulu kesal. Tapi aku yakin sesuatu yang baik
sedang dipersiapkan juga oleh pejuang-pejuang kita. Ikuti
saja permainannya.” Nada bicara Satya kali ini juga
tidak kalah kencang dengan Sakti. Hanya bedanya suara
Satya terdengar lebih bijak.

Suasana di antara mereka pun kembali hening.
Canggung lebih tepatnya. Satya kembali meneguk

100

minumannya, sementara Sakti terlihat sedang berpikir
keras. Entah tentang apa.

***

Berlatih ala-ala militer ini memang selalu terasa
melelahkan. Mereka dilatih fisik dan mental. Berlatih
baris berbaris, memegang senapan, bahkan cara
menembak. Terlebih lagi bagi Sakti yang daari pagi
sudah tidak semangat latihan. Mendengar kenyataan
tentang semuanya, semakin membuatnya cepat lelah
dengan latihan ini.

Walupun Sakti tidak menunjukkannya, ia tetap
punya teman. Salah satu temannya itu walau bodoh
dalam hal-hal yang melibatkan otak, tapi cukup lihai
mengerti keadaan. Ramdan tahu sekali jika Sakti banyak
pikiran saat itu. Namun, yang Ramdan tidak tahu adalah
apa alasan di balik itu. Mungkinkah soal abahnya? Atau
malah lebih besar dari itu?

Toha yang cukup bodoh dalam perihal menyadari
keadaan yang sedang terjadi malah mengangkat topik
yang berbeda saat ketiganya sedang berbincang pelan-

101

pelan saat sedang berbaris hendak melaksanakan
upacara penutupan latihan.

“Si Laras jadina teu milu Sak?”

“Isuk palingan. Tadi mah kudu nungguan abah
heula di imah.”

“Abah can sehat?”

“Tos rada mendingan sih paling isuk geus jagjag
deui”

Obrolan mereka terhenti ketika perintah untuk
siap sudah terdengar. Upacara penutupan pun dimulai.
Sampai pada bagian amanat, seorang berwajah bukan
pribumi naik ke mimbar tempat biasa Komandan
Hamdan memberikan petuah-petuah. Sakti menebak
orang itu adalah salah satu dari bangsa Jepang yang
tadi pagi ia lihat mobilnya.

Sakti menjadi semakin kesal ketika melihat muka
orang di depannya. Ia memang tidak kenal, dan tidak
baik rasanya langsung menilai orang padahal belum tahu
satu sama lain. Namun, penjelasan Satya di warung tadi

102

pagi sudah cukup membuatnya yakin untuk menjadikan
mereka musuhnya.

Orang Jepang yang sedang berdiri di depan itu
berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan cukup
fasih. Hal ini tentu saja semakin meyakinkan para
pemuda akan janji-janji yang diberikan oleh bangsa
Jepang. Kalimat yang terlontar dari mulut orang Jepang
itu terdengar sangat manis, tetapi malah sebaliknya bagi
Sakti. Sakti malah berpikir untuk segera menyudahi
semua yang ia lakukan saat ini.

***

Keesokan harinya benar saja Sakti membawa
Laras bersamanya. Sebelumnya mereka sudah terlebih
dulu membicrakan soal keikutsertaan Laras menjadi
bagian dari tim kesehatan seinendan dengan abah. Abah
pun menyetujuinya. Pagi-pagi sekali Sakti dan Laras
berangkat. Kali ini mereka berangkat bersama abah. Hari
ini abah sudah cukup sehat untuk bisa bekerja di
sawah. Laras terlihat sangat bersemangat untuk memulai
hari barunya ini. Ia berdoa semoga harinya bisa
menyenangkan.

103

Sesampainya di tempat latihan, Sakti menggiring
Laras ke suatu ruangan yang di pintunya bertuliskan
“TIM KESEHATAN”. Rasanya sama seperti ketika Sakti
membawa Laras saat pertama kali ke sekolah rakyat.
Hanya bedanya, Sakti tidak lagi menunggu Laras sampai
menemukan teman. Hanya cukup mengantar sampai
depan pintu, lalu Sakti beralih ke tempat seharusnya ia
latihan.

Hari itu latihan berjalan seperti biasanya. Orang-
orang Jepang yang berpakaian mirip mereka pun ada di
sana memperhatikan dari pinggiran lapangan. Sakti
benar-benar tidak suka dengan keberadaan mereka di
sana. Berdiri tegak, melipatkan kedua tangannya di
depan dada sambil melihat dengan tatapan yang kadang
terlihat baik kadang sangat sinis.

Sakti tidak pernah berbicara dengan orang-orang
itu. Tentu saja, bahkan Sakti tidak mengerti Bahasa
Jepang, bagaimana bisa bicara. Akan tetapi, tetap saja
ia selalu menempatkan dirinya sebagai orang yang
menentang keberadaan bangsa Jepang di negerinya ini.

104

Persetan dengan semua janji-janji yang mereka berikan.
Sakti sudah tahu kebenarannya.

Proses latihan hari ini terasa sangat lama bagi
Sakti. Mungkin karena hatinya dipenuhi rasa jengkel.
Sampai akhirnya tiba waktu pulang, ia pun pulang tidak
lupa membawa adiknya. Rupanya Laras sudah punya
teman di tim kesehatan. Kirana namanya. Anak tetangga
yang dulu sempat menjadi teman bermain Laras saat
masih kecil. Sementara LAras berjalan bersama Kirana,
Sakti berjalan beriringan dengan lagi-lagi Toha dan
Ramdan.

“Ha, urang nyaho maneh resep ka Laras.” Sakti
tiba-tiba berbicara hal yang tidak pernah sekalipun ia
bahas. Suaranya kecil agar tidak terdengar yang lain.

Toha yang diajak bicara sempat kaget dengan
ketiba-tibaan yang diciptakan Sakti, tapi lagi-lagi Toha
tidak mengelak. “kunaon kitu?”

“engke lamun misalna urang teu tiasa latihan,
urang nitip si Laras heeh. Teu kudu dianter jemput. Da
si Laras geus boga batur. Ngan pang jagaan hungkul,

105

bisi pas keur latihan aya nanaon.” Sakti menyampaikan
maksudnya.

“Heeh lah gampang. Maneh mah ngomongna teh
siga nu rek indit Kaman wae” Toha mengiyakan
permintaan Sakti.

Setelah mengajukan maksudnya, Sakti tidak lagi
berbicara. Ia hanya berjalan penuh dengan kesunyian.
Namun, otaknya seperti bekerja keras. Seperti sedang
memikirkan sesuatu yang berat dan akan membuat suatu
keputusan besar dalam hidupnya. Tanpa sadar, ia yang
tadinya berjalan beriringan dengan dua temannya, kini
menjadi yang paling di depan. Terlihat seperti yang
memimpin jalan teman-temannya.

106

Tiga Menjadi Dua

Setelah hari di mana Laras masuk tim

kesehatan seinendan dan Sakti menyampaikan pesan
penting pada Toha, ia tidak lagi terlihat di tempat
latihan. Tentu saja hal ini menimbulkan banyak
pertanyaan dari Toha dan Ramdan. Laras hanya
menjawab bahwa kakaknya itu memutuskan untuk tidak
lagi ikut latihan karena dia harus membantu abah
menyawah.

Toha dan Ramdan tentu saja tidak cepat
percaya, karena mereka tahu Sakti sudah bosan dengan
kegiatan di sawah. Sakti juga lah yang paling
bersemangat saat karantina. Sakti bilang dia ingin jadi
bagian dari orang-orang yang memerdekakan tanah
airnya ini. Mengetahui bahwa pada akhirnya ia memilih
untuk kembali bekerja di sawah tentu saja mengejutkan
Toha dan Ramdan.

Bukan hanya Toha dan Ramdan, tetapi juga
Satya merasakan keterkejutan yang sama. Satya sangat

107

tahu seperti apa semangat yang dimiliki Sakti begitu
juga keinginannya. Ia sangat tidak menyangka Sakti
benar-benar berhenti. Mungkin kepergian Sakti ini
berkaitan dengan obrolan mereka saat di warung makan
beberapa hari lalu.

Jangankan Toha, Ramdan, Satya, Laras saja
jelas tidak percaya dengan keputusan yang kakaknya
buat. Ia ingat betul malam hari saat abah dan Sakti
berdebat hebat tentang keputusannya ikut pelatihan
militer ini hingga akhirnya abah menyetujuinya. Ia
teringat ketika pada malam hari setelah kepulangan Sakti
dari karantina, Sakti bercerita panjang lebar tentang
pengalamn barunya itu dengan rasa senang dan
semangat yang memenuhi tatapan matanya.

***

Sakti membantu abah membawakan barang-
barangnya agar abah tidak keberatan. Sakti semakin
peduli dengan abah setelah beberapa hari yang lalu
sempat sakit dan membuatnya cukup khawatir. Sakti
benar-benar memutuskan untuk kembali bekerja di
sawah. Bukan untuk meneruskan garis hidup keluarganya

108

yang selalu jadi petani, tapi karena Sakti memang tidak
ingin terlibat dengan orang-orang Jepang.

Dulu saat pertama kali bergabung dengan
seinendan, Sakti sangat bersemangat karena dia sudah
membayangkan akan berjuang mati-matian memerdekakan
negaranya ini. Namun, semuanya luntur seketika ia
mendengar penjelasan Satya bahwa semua ini hanyalah
siasat Jepang.

Hari berganti minggu dan berganti bulan, kegiatan
Sakti ke sawah yang selama ini ia lakukan hanya untuk
membantu abah beralih menjadi pekerjaan tetapnya.
Kondisi abah belakangan semakin mengkhawatirkan
menjadikan Sakti semakin tahu diri untuk tidak
membiarkan abahnya terus bekerja. Akhirnya ia
menyuruh abah atau memaksa abah lebih tepatnya
untuk diam di rumah. Sehari-hari ia yang selalu pergi
ke sawah.

Ia sudah benar-benar melupakan seinendan dan
segala mimpinya untuk menjadi bagian dari kemerdekaan
Indonesia. Karena, kelihatannya, sudah hampir setahun
sejak pendirian seinendan, masih belum terlihat gerak-

109

gerik yang menunjukkan usaha memerdekakan Indonesia.
Bukan, bukan karena ia passrah dengan keadaan yang
ada. Rasa cintanya terhadap negeri ini masih besar.
Hanya dia tak habis pikir, mengapa para petinggi-
petinggi di negara ini harus menunggu bangsa lain yang
memberikan kemerdekaan. Orang-orang di negara ini
terlalu baik terhadap orang asing.

Di sela-sela kegiatannya menyawah, beberapa
kali ia beralih ke pinggiran di mana ada gubuk yang di
sana terdapat radio. Jika ia sedikit lelah, ia akan
beristirahat sambil mendengar berita yang berseliweran di
radio. Belakangan ini radio dipenuhi dengan berita soal
perjuangan memerdekakan negeri ini. Kebanyakan
beritanya kurang lebih soal pejuang pejuang di pusat
yang sedang berjuang. Kadang ketika mendengar berita-
berita perjuangan itu, Sakti sering merasa gagal menjadi
bagian dari pemuda di negara ini. Ia bahkan tidak
pernah melakukan sedikit pun hal berharga untuk negara
ini.

***

110

“Ras ai si Sakti sahari-hari keneh ka sawah?”
Sudah kesekian kalinya Ramdan menanyakan hal ini
pada Laras. Mungkin ia rindu dengan teman rasa
kakaknya itu.

“Heeh Dan. Si Aa ayeuna ngagantian abah gawe
di sawah.” Laras juga sudah sangat bosan menjawab
pertanyaan Ramdan.

Percakapan seperti ini selalu terjadi saat
perjalanan pulang selama dua tahun terakhir ini. Sudah
dua tahun Toha dan Ramdan tidak pernah melihat
sosok Sakti. Bahkan ketika mereka pulang dan melewati
lahan sawah yang dikerjakan olehnya, sekalipun tidak
pernah mereka berpapasan. Sebenarnya ada keinginan
untuk menemui Sakti di rumah, tapi apa mau dikata
kesibukan mereka masing-masing selalu jadi
penghalangnya.

Setelah keputusan Sakti untuk tidak lagi terlibat
dengan kegiatan seinendan, tidak menjadikan teman-
temannya itu juga mengundurkan diri. Mereka malah
semakin semangat mengikuti latihan. Mereka mungkin
belum tahu apa tujuan diadakannya seinendan ini,

111

sehingga semangatnya tetap menggebu-gebu. Namun,
beberapa hari yang lalu, yang mana artinya baru saja
terjadi, Toha secara tidak sengaja mengetahui bahwa
seinendan hanyalah akal-akalan Jepang. Ia akhirnya bisa
membayangkan mengapa sakti berhenti.

“Sakti!” Ramdan yang sedari tadi berjalan di
samping Toha tanpa berbicara tiba-tiba menyembutkan
nama 5 huruf yang tak pernah muncul dalam dua tahun
ini ketika melintas di depan sawah biasa Sakti mengolah
lahan.

Sontak semua orang terhenti langkahnya ketika
mendengar Ramdan berteriak. Termasuk yang merasa
terpanggil. Si pemillik nama Sakti pun menoleh dan
menemukan bahwa yang memanggilnya adalah orang
yang sudah lama tak ia jumpai.

Sakti tidak menjawab, ia hanya langsung
meletakkan barang bawaannya di jalan begitu saja dan
berjalan kea rah yang memanggilnya lalu memberikannya
pelukan yang sangat erat. Tanda bahwa ada rasa rindu
yang teramat. Ramdan membalas dengan sama eratnya
yang berarti ia juga merasakan apa yang dirasakan

112

Sakti. Setelahnya ia beralih kepada Toha. Orang yang
tidak pernah bicara soal rindu, tapi sebenarnya juga
erasakan yang sama.

Perjalanan pulang kali ini terasa sedikit berbeda.
Sudah cukup lama tiga orang yang baru bertemu ini
tidak pernah berjalan beriringan seperti sore ini. Laras
dan temannya yang juga berada di situ membiarkan
ketiganya melepas rindu dengan berjalan lebih dulu jauh
di depan mereka.

“Sakti, maneh teh kamana wae sih?” Ramdan
memulai pertanyaannya.

“Aya we lah” Sakti tidak mau banyak bicara
karena ia yakin adiknya, Laras sudah cukup banyak
bercerita.

Ada jeda di antara mereka sampai akhirnya
Toha yang ganti berbicara.

“Maneh kaluar lantaran si orang Jepangnya?”

“Hah? Kumaha?”

113

“Urang geus nyaho Sak. Pasti maneh geus
ternag ti dua tahun lau pan, yen seinendan the
didirikeun ngan kusabab siasat bangsa Jepang hungkul.
Maneh pasti tos terang pan yen arurang teh bakalan
dijadikeun pasukan cadangan keur maranehna perang.”
Suara Toha meninggi. Toha adalah tipikal orang yang
kalau bicara tidak pernah panjang. Kalau ia bicara
panjang tandanya ada ekspresi yang ia lebih tekankan.

“Maneh terang ti mana?” Sakti cukup kaget
dengan penuturan dari Toha. Ramdan yang menjadi
satu-satunya di sini yang tidak mengerti apa-apa hanya
diam mencoba mencerna tiap kata yang dikeluarkan
teman-temannya itu.

“Urang ngadenge ti urang Jepang” jawaban Toha
berhasil membuat Sakti melempar tatapn kaget dan tidak
mengerti. Bagaimana bisa?

“Beberapa bulan kamari urang dittitah gawe di
bengkel milikna salah satu pamimpin Jepang. Diditu
urang diajarkeun lumayan Bahasa Jepang. Walaupun teu
tiasa pisan ngomong alus, urang keneh ngerti maksud
pembahasan basa poe Minggu kamari urang-urang

114

Jepang nu sejen kempel di bengkel.” Toha kembali
menjelaskan tanpa ditanya.

Ramdan yang sepertinya mulai sedikit mengerti
tentang apa yang menjadi bahan obrolan dua temannya
itu tetap memilih untuk diam. Dia tidak sepintar itu
untuk bisa menanggapi hal seserius ini. Ramdan yang
biasanya akan memecah suasana tegang dengan
lawakannya pun tidak berani mengeluarkan jurus
anadalannya itu saat ini. Waktunya benar-benar tidak
tepat.

“Tapi, abdi moal kaluar” Toha ternyata belum
selesai dengan omongannya dan tentu saja kalimat itu
semakin membuat Sakti tidak mengerti.

“Ha, maneh sadar teu. Arurang teh ngan
diperbudak. Sarua siga baheula” Sakti semakin keras.
Laras yang sudah berjalan jauh di depan tidak sadar
akan apa yang sedang terjadi. Ramdan yang ada di
antara mereka pun bahkan tidak mencoba untuk
menenangkan.

115

“Sakti. Maneh ngadenge berita teu sih? Posisi
Jepang ayeuna geus teu siga pertama kali datang
kadieu. Ayeuna maranehna teh tos teu boga kakuasaan
di luar. Maranehna teh bakalan kalah perang jeung
nagara batur nu sejen. Urang-urang Jeoang eta moal
boga kakuasaan deui.” Kali ini nada bicara Toha
berusaha meyakinkan Sakti.

“Teu boga kakuasaan? Teras eta seinendan
masih aya geuning.” Sakti mengeluarkan pertanyaan.

“Ieu moal lama deui Sak, keudeung deui urang
bakal merdeka. Seinendan bakal bubar, arurang bakal
bebas ti bangsa asing.” Raut wajah Toha terihat sangat
bersemangat ketika mengatakan ia akan terbebas dari
bangsa asing.

Semakin melebar obrolan ini, semakin Ramdan
terdiam tidka bisa berkomentar. Semua kata yang keluar
baik dari mulut Toha maupun Sakti ssemakin
membuatnya bingung. Ia bahkan semakin yakin bahwa
dia memang tidak sepintar teman-teannya ini yang bisa
membahas hal yang bahkan untuk dicerna saja sangat
sulit bagi Ramdan.

116

Sakti terdiam mendengar penjelasan terkahir Toha
yang juga menjadi kalimat terakhir yang keluar dari
mulutnya. Semua kembali hening. Bahkan Ramdan
sekalipun tak berani mengeluarkan celetukan andalannya
karena sepertinya situasinya sangat tidak tepat.
Sejujurnya Ramdan kecewa dengan pertemuannya
dengan Sakti hari itu. Seharusnya di hari mereka
akhirnya menjadi bertiga lagi hanya hal-hal
menyenangkan yang dibicarakan. Tapi apaan ini? Bahkan
nafas pun terdengar keluar dengan sangat hati-hati.

117

Bulan apenuh Emosi

Bulan Agustus 1945 benar-benar menjadi

bulan yang penuh dengan berbagai macam perasaan
bagi Sakti. Bulan ini adalah bulan kelahiran sang adik
yang artinya bulan saat ibunya meninggal. Ia merasa
senang bahwa ia telah menjalani hidup bersama sang
adik selama 22 tahun. Namun, ia juga sedih ketika
ingat bahwa ia juga sudah 22 tahun hidup tanpa ibu
dan hanya memiliki ayah sebagai orang tua.

Bulan itu masuk satu hal lagi yang menjadi
alasan Sakti sedih. Kondisi kesehatan sang ayah mulai
memburuk lagi. Lebih buruk dari pada saat pertama kali
ia pulang dari karantina. Kali ini ayahnya hanya terkujur
lemah di atas kasur. Padahal ia sudah menyuruh
ayahnya banyak istirahat, bahkan ia sampai
menggantikan peran ayahnya bekerja di sawah. Orang-
orang bilang ini masalah umur.

Siang itu seperti biasa Sakti masih bekerja di
sawah. Ia sedang beristirahat sejenak di gubuk kecil

118

ketika ia mendengar berita di radio. Dengan sangat jelas
ia mendengar bahwa salah satu kota di Jepang berhasil
dibom oleh sekutu. Ia tidak tahu siapa itu sekutu,
mungkin mereka adalah lawan Jepang yang pernah
dibicarakan Toha. Akan tetapi suatu rasa senang
menambah daftar perasaan di hatinya bulan Agustus ini.
Sudah jelas senang karena sesuai perkataan Toha
tempo lalu, bahwa Jepang akan kalah. Jepang akan
kehilangan kekuasaannya.

Beberapa hari setelah ia mendengar kabar itu,
Sakti kembali mendengar kabar yang sama hanya saja
mengambil lokasi kejadian yang berbeda. Masih di gubuk
yang sama, Sakti mendengar berita bahwa satu kota
lagi di Jepang berhasil dihancurkan sekutu. Siapapun itu
sekutu, mungkin saat ini Sakti harus berterima kasih
banyak padanya.

Kabar menyenangkan lain hadir mengisi daftar
perasaan Sakti di bulan Agustus tahun ini. Hari Jumat
tanggal 17, Sakti bersama dengan masyarakat Desa
Suniaraja lainnya berkumpul di lapangan besar tempat
biasa pengumuman diumumkan. Hari itu semua orang

119

libur dari pekerjaannya hanya untuk datang ke lapangan.
Mendengarkan bersama-sama sebuah deklarasi yang
sangat berharga. Tepat pukul 10 siang, semua orang
bersorak senang bahwa pemimpin bangsa mereka
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Euforia sesaat dirasakan oleh semua orang yang
ada di sana. Semua, tidak terkecuali, Sakti, Toha,
Ramdan, dan Laras. Ada juga banyak anak muda
lainnya. Kesenangan yang tidak bisa digambarkan. Ada
beberapa bahkan sampai meneteskan air mata. Jelas
saja, butuh waktu yang lama hingga akhirnya mereka
bisa mendengar kata merdeka mengudara di radio.
Mengingat semua lelahnya hidup dalam penindasan
semakin menambah suasana haru kala itu. Ya, suasana
haru menjadi daftar terakhir dalam perasaan Sakti di
bulan Agustus. Perasaan yang cukup tepat untuk
dijadikan sebagai penutup dari banyaknya perasaan yang
lain.

120

Kembali Menjadi Dua

Selepas proklamasi, Desa Suniaraja terasa

biasa saja. Aktivitas mereka tetap sama saja. Yang
membuat berbeda hanyalah kondisi mereka yang bukan
lagi menjadi budak. Bukan lagi menjadi seseorang yang
ditindas. Mereka semua lebih bebas. Senyuman lebar
selalu terpasang di muka masing-masing dari mereka.
Senyuman yang menandakan kelegaan.

Setelah merdeka, Sakti tetap bekerja di sawah,
sementara Laras juga meneruskan kesehariannya di tim
kesehatan yang sekarang namanya menjadi Palang
Merah Indonesia. Keadaan abah masih sama seperti
sebelumnya, hanya bisa tidur di kasur. Abah hanya tidak
cukup kuat untuk banyak gerak, tapi dia masih bisa
diajak bicara bahkan bercanda.

Toha meneruskan karirnya di dunia militer dan
Ramdan mengikuti jejak Toha. Setelah Indonesia
merdeka, Toha dan Ramdan terpanggil untuk bergabung
dengan badan pejuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI)

121

yang dipimpin oleh paman Toha. Tak lama setelahnya,
BRI digabungkan dengan barisan pelopr yang dipimpin
oleh seseorang bernama Anwar Sultan Pamuncak
menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BRRI).
Melihat sifat Toha dan catatan-catatan pencapaiannya
saat tergabung di seinendan dulu, Toha dijadikan
sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur.

***

“Sakti. Kadieu” suara abah terdengar memanggil
Sakti yang sedang bersiap akan pergi ke sawah. Ia pun
segera mendatangi sang pemilik suara.

“Aya naon Bah?” ia datang lalu mengelus tangan
abahnya.

“Sakti masih resep gawe di sawah?” tiba-tiba
sebuah pertanyaan terlontar dari mulut abah.

“Kunaon kitu? Resep lah, da Sakti teh menang
duit lamun nyawah teh” Sakti menjawab pertanyaan
abah.

122

“Lamun Sakti tos ngarasa bosen nyawah, sok
weh tinggalkeun teu nananon”

“Ehhh, naha kitu? Lamun ditinggal eta sawah
kumaha? Lagian Sakti teu boga pagwean lain”

“Lainna maneh sempet ditawaran ku si Toha
keur gabung jeung naon eta teh?” abah mencoba
mengingat sautu nama, “BRRI” abah menuntaskan
pertanyaannya.

“Abah teh nyaho pisan, Sakti pasti lebih milih
gabung jeung BRRI pan dari pada jadi patani?” kini
berganti tangan abah yang mengelus tangan Sakti.

Tidak menjawab, Sakti terlihat bingung harus
jawab apa. Ia memang tidak sepenuhnya membenci
menjadi petani, tapi memang sepertinya jiwanya ada di
dunia militer.

“Sok tinggalkeun weh sawah, gabung jeung
babaturan Sakti nu lain”

Sakti tidak menjawab, hanya terseyum dan
mengangguk. Pagi itu ia tetap pergi ke sawah. Sakti

123

harus menuntaskan kewajibannya. Pulangnya, dia pamit
kepada teman-teman seper-petanian-nya. Ia akan benar-
benar meninggalkan sawah yang sudah menjadi rumah
keduanya selama dua tahun terakhir. Sakti menjadi lebih
semangat menghadapi hari esok.

***

Sakti benar-benar bergabung dengan BRRI yang
dikomandani oleh temannya sendiri, Toha. Ia tidak aneh
sih jika temannya satu itu terpilih sebagai pemimpin.
Sedari dulu jiwa kepemimpinan dalam diri Toha sangat
menonjol. Bahkan dari posisinya sebagai bawahan, ia
selalu melihat dengan tatapan bangga pada temannya
itu.

“Baik, jadi seperti yang kita semua tahu. Seteah
kemerdekaan beberapa bulan lalu, kita berhasil
mengambil senjata milik Jepang yang diserahkan pada
Sekutu.” Sakti berusaha dengan cepat mengerti yang
dimaksud sang komandan.

“Sekutu kembali datang untuk mengambil senjata-
senjata itu” Toha meneruskan penjelasannya.

124

Sakti dan Ramdan sedikit tersenyum-senyum tidak
jelas ketika mendengar Toha berbicara. Kalau masalah
bebicara serius, semua orang sudah terbiasa dengan
Toha yang seperti itu. Hal yang menjadikannya sedikit
aneh adalah ketika ia berbicara dengan Bahasa
Indonesia. Tidak salah memang, hanya Sakti dan
Ramdan terbiasa dengan Toha versi sunda.

“Kemarin tepat tanggal 21 November, Sekutu
datang dan mengeluarkan ultimatumnya” Toha berbicara
sambil mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Kertas
yang sudah terlipat.

“Mereka menyuruh kita beserta seluruh
masyarakat untuk mengosongkan wilayah Bandung di
bagian utara paling lambat sampai delapan hari ke
depan” Toha menyudahi perkataannya.

Sesudah pengumuman singkat Toha hari itu,
sebuah kesepakatan diambil. Mereka sepakat untuk tidak
menghiraukan ancaman sekutu. Mereka terus berusaha
sebisa mungkin menjaga wilayah Bandung sebaik
mungkin. Berjaga-jaga apabila suatu saat tentara Sekutu
benar-benar datang menghancurkan wilayah ini.

125

Benar saja, di hari terakhir batas pengosongan
Bandung bagian utara, tentara Sekutu datang dengan
segala persenjataannya. Terjadi bentrokan keraas antara
tantara RI dengan tantara Sekutu. Banyak juga korban
berjatuhan. Namun, untungnya ada orang-orang PMI
yang siap

126

Segalanya Semakin Buruk

Awal Bulan Januari 1946, kondisi keluarga

Sakti semakin tidak baik. Bukan secara ekonomi, tetapi
hal yang lain. Kondisi Abah semakin memburuk. Tidak
hanya tak bisa banyak gerak, tetapi abah mulai sering
muntah darah. Menurut Laras ini bukan penyakit biasa.
Laras sempat bertanya kepada pembimbing PMI soal
penyakit abahnya. Berdasarkan ciri-ciri yang Laras
sebutkan, katanya abah kemungkinan besar terkena TBC.

Mendegar penjelasaan Laras soal kemungkinan
penyakit yang diderita abah semakin membuat Sakti jauh
lebih khawatir dari hari-hari sebelumnya. Terlebih lagi,
Laras bilang bahwa Indonesia belum mempunyai
penanganan yang tepat untuk penyakit ini. Harus dibawa
ke luar negeri katanya.

Hal ini menjadi beban pikiran Sakti yang ia
bawa ke markas TKR. Seperti biasa, Ramdan menjadi
orang pertama yang menyadari hal ini. Ramdan
menunjukkan bentuk kepeduliannya dengan bertanya

127

pada Sakti, tetapi nihil. Kali ini Sakti tidak mau bercerita
banyak soal abahnya. Ramdan memakluminya. Mungkin
Sakti merasa kalupun dia bercerita tetap tidak akan ada
solusinya.

Suatu hari, ketika Sakti sedang berdiri termenung
dengan tatapan kosong, seseorang yang juga
berseragam persis sepertinya berjalan ke arahnya.
Ditepuknya pundak Sakti. Sakti pun menoleh. Orang itu
adalah Satya. Orang yang beberapa tahun lalu pernah
berbicara tentang suatu hal yang cukup penting dengan
Sakti. Beberapa tahun lalu ataupun sekarang Satya tetap
terlihat gagah. Tentu saja Satya juga tetap menjadi
atasan Sakti. Saat menoleh, Sakti dengan sigap memberi
hormat pada atasannya itu.

“Sudah, tidak perlu hormat” ucap Satya santai.
Sakti pun menurunkan tangannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Abah”

“Masih tentang penyakit yang dulu pernah kau
ceritakan?”

128

“Iya. Kali ini tambah parah”

“Sudah tahu sakit apa?”

“Adikku bilang kemungkinan besar abah kena
TBC”

“TBC? Setahuku itu bukan penyakit main-main”

“Iya aku tahu. Adikku bilang harus dibawa
berobat ke luar negeri”

Satya tidak menyahut. Mungkin untuk masalah ini
ia kurang tahu banyak. Ia hanya mengelus-elus pundak
Sakti. Sebisa mungkin Satya mentransferkan semangat
bagi bawahannya itu.

“Menjadi anak sulung memang sulit bukan?”
Satya berkata sambil tetap mengelus-elus pundak Sakti.
Kali ini sambil tersenyum, tidak tahu apa maksudnya.

“Walaupun tidak ada yang memberikan beban,
kita anak sulung selalu merasa bertanggung jawab akan
beban hidup itu.” Satya meneruskan ucapannya. Sakti
memberikan tatapan seolah-olah setuju tapi tetap terlihat
bingung.

129

“Aku juga anak pertama, Sakti. Dua adikku
perempuan. Sama sepertimu, keduanya bekerja di bidang
kesehatan. Ibuku sudah meninggal. Secara tiba-tiba saat
adikku yang terakhir baru berusia 3 tahun. Ayahku
sudah tidak ada. Mungkin meninggal, mungkin juga
menghilang. Yang jelas, saat hari di mana ia bekerja
seperti biasa, ia tidak kembali ke rumah. Sampai
sekarang.” Satya bercerita panjang tanpa diminta.

“Aku bisa mengerti perasaanmu yang
menanggung banyak urusan di pundakmu itu. Urusan
tentang dirimu sendiri, keluarga, bahkan negara pun
harus kau urusi.” Lagi-lagi Sakti hanya mendengarkan.

“Nanti kalau bisa dan kalau ada waktu, aku
akan bantu kamu menyelesaikan masalah abahmu itu.”
Satya mengakhiri perkatannya dengan menepukkan
tangannya ke pundak Sakti sebanyak dua kali. Setelah
itu, ia berlalu begitu saja. Ceritanya itu berhasil
menngetarkan hati Sakti.

130

Penghasutan

“I think we need more than just an ultimatum

to make Indonesian people want to give all their
weapons” sebuah diskusi sedang terjadi di salah satu
ruangan kedap suara di salah satu kantor yang sedang
diduduki oleh tantara Sekutu.

“How?” seseorang menyahutii perkataan orang
yang sebelumnya berbicaara.

“Well, I think we have to bring some of the
military into a conflict. We can trap one of the military
to make our plan easier to realized.”

“But, we can’t choose just any person. We have
to choose the person that very valuable for the military
so that we can get what we want faster.”

“Hamdan, what do you think? Do you have any
recommendation of person that we can trap?”

Ya, Hamdan, orang yang sekitar dua tahun lalu
mengawasi pelatihan semi milliter di Desa Suniaraja dan

131

bisa dibilang cukup dekat dengan Jepang, kini sedang
terlibat obrolan bersama para tentara Sekutu.

“Yeah?” Hamdan seterlihat tidak focus kala itu.

“Do you have any recommendation of people
that we can trap?” orang yang sedari tadi memimpin
pembicaraan mengulang pertanyaannya.

“I don’t really know about the person that very
valuable. Maybe later I can ask my junior about this”
Hamdan berusaha membuat janji.

“Ok. Give me the answer as son as you get
the answer” perintah salah satu tentara Sekutu yang
kelihatannya merupakan sang pemimpin. Hamdan hanya
menganggukkan kepalanya tanpa bicara.

***

Pagi-pagi di Bulan Februari Hamdan mengunjungi
markas anak buahnya, Satya, di Desa Suniaraja. Ia
mengendarai mobil dinasnya. Sendirian. Tak mau
berjalan jauh, Hamdan menyuruh penjaga gerbang untuk

132

memanggil Satya. Tak lama si penjaga gerbang kembali
dengan diikuti sosok yang diinginkan Hamdan.

“Naik ke mobilku”

“Iya?”

“Naik ke mobilku. Ada yang harus aku bicarakan,
tapi tidak di sini. Kita bicarakan sambil keliling desa.”
Hamdan memaksa Satya. Satya tidak bisa menolak, ia
segera masuk ke mobil atasannya itu.

Mobil hijau lumut itu melewati sawah, pemukiman
warga, sawah lagi, pemukiman warga lagi, begitu saja
pemandangan yang mereka lihat. Mereka sudah berjarak
cukup jauh dengan tempat awal mereka pergi. Tak
satupun kata keluar dari mulut masing-masing hingga
akhirnya Hamdan berusaha menyampaikan maksud dan
tujuannya.

“Satya, aku masih ingat dulu kamu pernah bilang
ada pemuda anggota seinendan yang punya semangat
membara berjuang tapi saat itu ia harus berhenti karena
ayahnya yang sakit.” Hamdan menyampaikan maksudnya.
Satya hanya diam, tidak tahu harus apa.

133

“Bagaimana keadaannya sekarang? Saya dengar-
dengar dia bergabung dengan TRI?”

“Iya. Selepas kemerdekaan kemarin, dia
bergabung dengan tim kami. Keadaannya baik hanyaa…..”
ucapan Satya sedikit tertahan.

“Kenapa? Apa dia sedang ada masalah?”

“Ayahnya. Ayah Sakti sedang sakit. Cukup parah
sepertinya. Belakangan ini Sakti jadi sedikit tidak fokus
dalam bertugas karena memikirkan ayahnya.”

“Kamu tahu apa penyakitnya? Barangkali saya
bisa bantu”

“TBC kalau tidak salah” Jawaban Satya membuat
suasana di dalam mobil kembali menjadi hening.

“Tadi Komandan bilang ada yang harus
dibicarakan. Apa ini yang komandan maksud tadi?”

“Mmm, yaa, iya. Tiba-tiba saja kemarin saya
kepikiran dengan anak itu. Tidak tahu kenapa?” Hamdan
menjawab pertanyaan anak buahnya sedikit terbata-bata.

134

Menyaksikan sikap atasannya itu, Satya cukup
heran. Tidak biasanya atasannya seperti ini. Biasanya ia
cukup tegas dalam berbicara dan selalu langsung pada
intinya. Kali ini setiap kata yang keluar dari mulut
Hamdan terdengar sebagai suatu alasan dan terkesan
bertele-tele. Seperti sedang menyembunyikan dan
merencanakan sesuatu.

“Komandan ingin bertemu dengan Sakti?” Satya
bertanya

“Hah?” Hamdan yang sedang fokus menyetir
berusaha meminta Satya mengulang pertanyaannya.

“Komandan mau saya pertemukan dengan Sakti?”
Satya benar-benar mengulang pertanyaannya.

“Kalau bisa, boleh” Hamdan secara tidak
langsung mengiyakan tawaran Satya.

Perjalanan Hamdan dan Satya hanya berkeliling
Desa Suniaraja yang tidak seberapa luas ini, tapi
sungguh terasa memakan waktu yang cukup lama.
Mungkin karena perjalanan hanya didominasi oleh saling

135

diam. Percakapan benar-benar terhenti sampai mereka
kembali ke markas TRI Desa Suniaraja

136

Berani Bicara

Keseharian Sakti belakangan ini menjadi

sedikit lebih produktif ketimbang sebelum bergabung
dengan TRI. Tidak hanya berlatih fisik dan mental, tetapi
juga ia menjadi lebih sering berlatih otak. Sadar bahwa
kemerdekaan yang mereka dapatkan tahun lalu masih
harus menghadapi banyak masalah soal ketahanan
negara, mengakibatkan salah satu kegiatan rutin para
anggota TRI ini yaitu merancang strategi perang
melawan musuh yang baru datang.

Ancaman terdekat mereka kali ini adalah tentara
Sekutu yang mulai berani menduduki pemerintahan pusat
Bandung. Ultimatum yang sempat diberikan oleh tentara
Sekutu sebenarnya tidak seberapa mengusik pendirian
tentara Indonesia. Apalagi Toha, sang komandan, yang
sangat berjiwa nasionalis dan selalu mengedepankan
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadinya,
selalu berhasil membangkitkan semangat tentara-tentara
yang lain untuk memperjuangkan Indonesia benar-benar
menggapai kemerdekaan yang sebenarnya.

137

Namun, sesibuk apapun kegiatan Sakti, pikirannya
tetap tidak pernah lepas dari sang ayah yang masih
terbaring lemas di rumah. Ia semakin merasa serba
salah bahwa setiap harinya ia harus meninggalkan
abahnya sendirian di rumah. Terlebih lagi, belakangan ini
Laras mulai rutin pergi ke tempat perkumpulan PMI.
Walau tidak serutin Sakti dan masih sering meluangkan
waktu di rumah, tetap saja abahnya itu sering di rumah
sendirian. Sakti mulai ragu lagi untuk meneruskan
karirnya ini.

“Sakti” suara orang yang sudah mulai tidak asing
memanggil Sakti.

Sakti yang sedang sibuk dengan berkas-berkas
yang ada di tangannya menoleh dan tetap
menyempatkan diri untuk memberi hormat. Bukan hanya
Satya, orang yang memanggil Sakti, yang
mendatanginya, tetapi juga diikuti seseorang yang
mukanya juga tidak asing.

“Sakti, kau sedang sibuk?” Satya bertanya.

138

“Tidak seberapa. Ada apa?” Sakti menjawab. Ia
sedikit menggerakkan netranya pada orang yang ada di
sebelah Satya.

“Kamu ingat dia?” Satya menunjuk orang yang
ada di sebelahnya, “Komandan Hamdan. Dulu yang
sering mengawasi kamu dan teman-temanmu saat
sedang latihan.”

Sakti mencoba sedikit mengingat-ingat hingga
akhirnya ia bisa menganggukkan kepalanya. Tanda ia
ingat siapa itu Hamdan. Sakti pun mengulurkan
tangannya untuk bersalaman. Tangannya langsung
dibalas oleh Hamdan.

“Ada yang ingin dia sampaikan pada kamu”
Satya seperti menjadi perantara berbicara antara Sakti
dan Hamdan.

“Aku tinggal ya. Komandan, saya pergi dulu”
Satya berpamitan pada Sakti dan memberikan hormatnya
pada sang komandan.

Kali ini di ruangan itu hanya tersisa Sakti dan
Hamdan. Hanya dua orang. Sekitar tiga menit, Hamdan

139

baru bisa mengutarakan maksud dan tujuan bertemu
dengan Sakti.

“Sakti. Saya sudah dengar banyak tentang kau
dan kehidupanmu dari Satya.” Hamdan berterus terang.

“saya tahu apa yang tengah terjadi dengan
keluargamu. Saya tahu tentang kondisi ayahmu.” Lanjut
Hamdan.

Sakti cukup terkejut. Bagaimana bisa hal
sepersonal ini Satya sampaikan pada orang lain yang
bahkan Sakti tidak terlalu kenal. Dua teman dekatnya
saja bahkan tidak ia beri tahu. Sakti mulai merasa ada
yang aneh dengan pembicaraan ini.

“Saya bisa bantu kamu mendapatkan jalan keluar
dari masalah kesehatan ayahmu.” Hamdan berusaha
meyakinkan Sakti.

Sakti bergeming tidak memberikan respon yang
berarti. Sepertinya Sakti sudah mulai bisa membaca
akan dibawa ke mana arah pembicaraan ini. Sakti mulai
tidak suka dengan keberadaan Hamdan.

140

“TBC bukan hal yang bisa kamu anggap remeh.
Indonesia belum mampu untuk menangani penyakit
sekelas TBC. Ayahmu harus dibawa ke luar negeri.”

“Saya bisa membantumu mengurus ayahmu untuk
segera ditangani secara serius.”

“Secara serius bagaimana? Anda akan membawa
ayah saya ke luar negeri dengan meminta bantuan dari
kelompok Sekutu itu?” Sakti mulai berani untuk sedikit
meninggikan suaranya.

Raut wajah Hamdan mulai terlihat terkejut
mengetahui Sakti bisa menebak-nebak kea rah sana.
“Serius Sakti. Kamu akan membiarkan ayahmu kesakitan
di desa ini. Tidak ditangani secara serius? Kamu tidak
kasihankah sama adikmu yang harus merawat ayahmu
tanpa ada titik terang sampai kapan?” Hamdan terus
mencoba mendapatkan perhatian Sakti.

“Maaf saya harus segera menyerahkan berkas
ini. Maaf saya pergi duluan.” Sakti melangkah
meninggalkan Hamdan. Jika ada orang yang melihat,

141


Click to View FlipBook Version