The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by candraprimadian01, 2021-11-03 02:37:35

Naskah Akademik-1

Naskah Akademik-1

ISBN 978-623-93387-1-8

NASKAH AKADEMIK

MODEL PEMBELAJARAN
INKUIRI TERINTEGRASI ETNO-STEM

UNTUK BAHAN KAJIAN SENYAWA BIOAKTIF
METABOLIT SEKUNDER PADA TANAMAN
TAXUS SUMATRANA

Tim Penulis :
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si
Dr. Woro Sumarni, M.Si
Dr. Skunda Diliarosta, M.Pd

NASKAH AKADEMIK
MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERINTEGRASI

ETNO-STEM UNTUK BAHAN KAJIAN SENYAWA
BIOAKTIF METABOLIT SEKUNDER PADA TANAMAN

TAXUS SUMATRANA

Tim Penulis :
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si
Dr. Woro Sumarni, M.Si
Dr. Skunda Diliarosta, M.Pd

MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERINTEGRASI ETNO-STEM
UNTUK BAHAN KAJIAN SENYAWA BIOAKTIF METABOLIT
SEKUNDER PADA TANAMAN TAXUS SUMATRANA

Oleh :
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si
Dr. Woro Sumarni, M.Si
Dr. Skunda Diliarosta, M.Pd

Penyunting :
Ariyatun, S.Pd, M.Pd
Qorry Adilla Fikrina

Reviuwer :
Dr. Sri Mursiti, M.Si Harjono,
S.Pd, M.Si

Diterbitkan dan dicetak oleh :
CV. Swadaya Manunggal
Cetakan 1, Oktober 2021
x + 169 halaman, 18,2 x 25,7 cm
ISBN 978-623-93387-1-8

Copyright © 2021

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Dicetak oleh Swadaya Manunggal
Jl. Kelud Raya No. 78 Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Kota Semarang 50237
Telp. (024) 8411006

ii | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

PRAKATA

Pada saat ini suatu naskah akademik mengenai penguatan karakter
konservasi mahasiswa UNNES dengan penerapan pendekatan saintifik
terintegrasi Etno-STEM perlu didesain dan dikembangkan. Pada riset ini akan
mendesaian pembelajaran inkuiri terintegrasi Etnosains dan STEM (Etno-
STEM) pada mata kuliah Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) akan
dikembangkan. Semampang dengan hal tersebut, maka tim riset akan
melaksanakan Riset Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDU-PT) yang didanai
Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi tahun 2021- 2023 akan
menghasilkan naskah akademik mengenai pengembangan desain model
pembelajaran inkuiri terintegrasi etno-STEM untuk bahan kajian uji bioaktivitas
metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis untuk akselerasi karakter
konservasi mahasiswa.

Dengan demikian tujuan riset PDU-PT ini adalah untuk mendesain,
menerapkan, dan mengembangkan suatu desain model pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM untuk bahan kajian uji bioaktivitas metabolit sekunder
dari tanaman hutan tropis untuk akselerasi karakter konservasi mahasiswa.
Luaran capaian riset untuk meningkatkan kompetensi lulusan mahasiswa
UNNES dengan fokus pada pengembangan dan pembekalan karakter
konservasi, penguasaan keterampilan kinerja ilmiah (inkuiri) dan penguatan
pengetahuan konten dan konteks bahan kajian KOBA. Model Pembelajaran
inkuiri yang dikembangkan pada riset ini merujuk pada Dr. Carl Wenning (2017)
dengan karakteristik enam tingkatan, yaitu 1) Discovery, 2) Interactive
demonstrations, Inquiry lessons, 4) Inquiry laboratory, 5) Real-world
applications, dan 6) Hypothetical inquiry.

Pada bagian awal buku ini disajikan mengenai kerangka konseptual
mengenai bahan kajian yang relevan baik dalam aspek analisis kebutuhan abab
21, yaitu keterampilan berpikir abad 21, karakter konservasi, mengulas mengenai
pendekatan saintifik dan inkuiri, metabolit sekunder dan ruang lingkup tanaman
taxus sumatrana. Pada pembahasan berikutnya mengulas secara mendalam
landasan konseptual model pembelajaran inkuiri, level level inkuiri,
keberagaman model keterpaduan inkuiri dengan Etno-STEM; serta implikasinya
pada desain pelaksanaan pembelajaran. Pembahasan berikutnya dibahas model
pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM dengan sintak Sudarmin, teh
herbal dari tanaman hutan tropis dan manaatnya beserta kajian ilmiahnya. Pada
bagian akhir dari buku naskah akademik ini dibahas suatu panduan mengenai

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | iii

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

data-data hasil percobaan bioaktivitas metabolit sekunder sebagai antibakteri,
antioksidan, dan antikanker beserta pembahasannya.

Pada akhirnya pada kesempatan ini, kami ucapan terima kasih kepada
reviuwer dari naskah buku ini yaitu saudara Dr. Sri Mursiti, M.Si, Dr. Skunda
Diliarosta, M.Pd, Dr. Woro Sumarni, M.Si, dan Harjono, S.Pd. M.Si, beserta para
kolega dosen KOBA di UNNES dan UNP yang telah memberikan saran juga
sebelum naskah ini diterbitkan. Kami sampaikan apresiasi besar kepada
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa, Riset dan Teknologi yang mendanai
riset ini. Ucapan terima kasih disampaikan juga pada mahasiswa, para mitra dan
pimpinan UNNES dan UNP yang di masa pandemi Covid 19 ini membantu dan
memfasilitasi pengambilan data riset ini. Ucapan terima kasih disampaikan pada
istri tercinta Dr. Rr Sri Endang Pujiastuti, SKM, MNs; dan anak anak saya yaitu
mas Gama, mbak dr. Hanun, dan dik Icho. Akhirnya semoga kehadiran buku
naskah akademik ini bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.

Semarang, Oktober 2021
Ketua Tim Riset PDU PT

Prof. Dr. Sudarmin, M.Si
NIP. 196601231992031003

iv | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

DAFTAR ISI

JUDUL ................................................................................................................. i
PRAKATA........................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL................................................................................................ ix
BAB I PEMBELAJARAN ABAD 21, PENDIDIKAN STEM, PENDEKATAN

SAINTIFIK, DAN REKONSTRUKSI SAINS ILMIAH ....................... 1
1.1 Diskripsi dan Penjelasan Umum ...................................................... 1
1.2 Pembelajaran Untuk Keterampilan Berpikir Abad 21 ..................... 1
1.3. Konsep Pendidikan Science Technology Engineering and

Matheamtics (STEM) ....................................................................... 8
1.4 Rekonstruksi Sains Ilmiah Berbasis Sains Masyarakat...................15
BAB II SENYAWA BIOAKTIF, HABITAT TANAMAN TAXUS
SUMATARANA, MODEL INKUIRI, DAN LEVELNYA ......................19
2.1 Diskripsi Pembelajaran.....................................................................19
2.2 Memahani Senyawa Bioaktif ...........................................................19
2.3. Memahami Habitat Taxus Sumatrana .............................................22
2.4 Model Inkuiri, Sintak, dan Levelnya ................................................... 25
2.5 Karakter Konservasi dan Komponennya.........................................32
BAB III PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL,

ETNOSAINS DAN ETNOMEDISIN DAN EKOLOGINYA..............37
3.1 Diskripsi Pembelajaran ..................................................................37
3.2 Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal...............................37
3.3 Etnosains dan Bahan Kajiannya.....................................................40
3.4 Etnomedisin dan Ekologinya .........................................................43

1. Etnomedisin dan kajiannya .......................................................44
2. Mengulas Etnobotani dan bahan kajiannya...............................50

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | v

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

3. Etnofarmasi dan Etnofarmakologi ............................................53
4. Etnoteknologi dan Etnometodologi...........................................54
BAB IV TUMBUHAN SEBAGAI OBAT, TEH HERBAL TANAMAN
LOKAL HUTAN TROPIS DAN MANFAATNYA BAGI
KEHIDUPAN .....................................................................................57
4.1 Diskripsi Pembelajaran................................................................57
4.2 Tumbuhan Bermanfaat Etnomedisin dan Pengolahannya ...........57
4.3 Keberagaman Metabolit Sekunder dan Konservasinya ...............59
4.4 Keberagaman Teh Herbal dan Manfaatnya .................................62
4.5 Keberagaman Teh Herbal Hutan Tropis dan Manfaatnya ...........65

1. Teh Bajakah ............................................................................66
2. Teh Taxus Sumatrana .............................................................66
3. Teh Akar kuning .....................................................................67
4. Teh Sarang semut....................................................................68
5. Teh Daun Mangrove ...............................................................70
BAB V BERKREASI MENDESAIN MODEL KETERPADUAN
PEMBELAJARAN INKUIRI TERINTEGRASI ETNO-STEM..........72
5.1 Diskripsi Pembelajaran ..................................................................72
5.2 Pengembangangan Model Pembelajaran dan Tahapannya ..........72
5.3 Desain Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno- STEM
dengan Sintaks Sudarmin...............................................................74
5.4 Model Keterpaduan “Integrated” Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM .......81
5.5 Keterpaduan “Share” Untuk Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM.....84
5.6 Mengulas Antara Pengetahuan Masyarakat dan Pakar Mengenai
Taxus Sumatrana ...........................................................................89

vi | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB VI HASIL ANALISIS DAN REKONTRUKSI RENCANA PROGRAM
SEMESTER, SERTA HASIL PERCOBAAN INKUIRI
BIOAKTIVITAS EKSTRAK METABOLIT SEKUNDER
TANAMAN TAXUS SUMATRANA ………………………….……….. 91
6.1 Diskripsi Pembelajaran ................................................................. 91

6.2 Pengembangan Desain Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi
Etno- STEM untuk Bahan Kajian Uji Biokativitas Metabolit
Sekunder ........................................................................................91

6.2.1 Hasil Analisis Rencana Program Semester (RPS) Mata
Kuliah KOBA Pada UNNES dan Universitas Mitra ............91

6.3 Desain dan Rekontruksi Capain Pembelajaran Bahan Kajian
Metabolit Sekunder dan Bioaktivitas Tanaman Huatan Tropis.....99

6.4 Hasil Temuan dan Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri
Terintegrasi Etno-STEM..............................................................106
6.4.1 Temuan Bagaimana Prosedur Kerja Riset Etnomedisin.....106
6.4.2 Hasil Pengembangan dan Implementasi Pembelajaran
Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Pada Bahan Kajian
Bioaktivitas Metabolit Sekunder Tanaman hutan Tropis
.................................................................................... ....... 109

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................130
GLOSSARIUM ................................................................................................. 157
KATA KUNCI ......................................................................................................... 163
Profil Penulis I...................................................................................................166
Profil Penulis II .................................................................................................167
Profil Penulis III ................................................................................................168
Sinopsis Isi Buku .......................................................................................169

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | vii

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

DAFTAR GAMBAR

No Gambar Halaman

1.1 Pengetahuan, Keterampilan dan Pengetahuan Abad 21 ..................................... 6

1.2 Pendekatan Terpisah “SILO” Pendidikan STEM .............................................. 11

1.3 Pendekatan Tertanam Pendidikan STEM .......................................................... 12

1.4 Pendekatan Terpadu Pendidikan STEM ............................................................ 12

1.5 Integrasi Pembelajaran Berpendekatan STEM .................................................. 13

1.6 Rekontruksi Sains Ilmiah berbasis Sains Masyarakat ........................................ 16

2.1 Pohon, batang, dan daun Cemara sumatra. Henti, 200 ....................................... 23

2.2 Penyebaran Cemara sumatra di Indonesia .......................................................... 24

4.1 Seduhan produk teh etnomedisin dari cemara sumatra
(https://kabaralam.com/inovasi/taxus-teh-herbal-antikanker-dari- aek-nauli) ... 65

5.1 Model Keterpaduan Integrated Etno – STEM................................................ 83

5.2 Keterpaduan Share [antar bagian] dari model inkuiri Terintegrasi Etno-STEM
..................................................................................................................... 86

6.1 Foto kegiatan Foto Riset Etnomedisine Tanaman Taxus Sumatrana di Kawasan
Hutan Sumatra .............................................................................................. 107

6.2 Hasil Spektrum Ekstrak Daun Taxus sumatrana dengan Pelarut Etanol.......... 111
6.3 Hasil Spektra Ekstrak Kayu Taxus sumatrana dengan Pelarut Etanol dan

Heksana........................................................................................................ 113
6.4 Hasil Spektra Ekstrak Kayu Taxus sumatrana dengan Pelarut Etanol + Benzena

.................................................................................................................... 113
6.5 Alat untuk Uji Antikanker degan Metode MTT ........................................... 120
6.6 Struktur radikal DPPH (Irianti, 2017).......................................................... 124

6.7 Mekanisme reaksi DPPH dengan antioksidan (Irianti, 2017)......................... 125

viii | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

DAFTAR TABEL

No Tabel Halaman

1.1 Hasil wawancara dan rekontruksinya menjadi pengetahuan sains
ilmiah berbasis sains masyarakat.................................................................... 17

2.1 Aktivitas Level Inkuiri pada Bahan Kjian Uji Bioaktivitas Metabolit Sekunder
dari Tanaman Taxus Sumatrana ...................................................................... 30

4.1 Syarat Mutu Teh Kering dalam Kemasan Menurut SNI (2013)....................... 63

5.1 Langkah Pengembangan dan Ketercapaian Indikator dari Desain
Model Pembelajaran Inkuari Terintegrasi Etbo-STEM ................................... 71

5.2 Aktivitas Pembelajaran Inkuiri dan capaian kompetensi yang dikembangkan
bagi mahasiswa ............................................................................................. 74

5.3 Konten dan konteks Etno-STEM mengenai etnomedisin dan teh
herbal bagi kesehatan dan imunitas tubuh ...................................................... 86

6.1 Instrumen Lembar Wawancara Pengumpul Data Riset Etnomedisin .. 105

6.2 Hasil Uji Fitokimia dari Ekstrak BagianTanaman Taxus
Sumatrana ................................................................................................... 109

6.3 Penyerapan Gugus Fungsi dari Sampel Ekstrak Taxus sumatrana................. 114

6.4 Hasilujidaya hambat bakteridengansampel Taxus Sumatran, akar
kuning, bajakah, dan sarang semut yang terektrak dalam pelarut

etanol (Sudarmin et al, 2021) ....................................................................... 118

6.5 Hasil uji bioaktivitas antikanker dari tanaman hutan tropis Indonesia (Sudarmin
et al, 2021) .................................................................................................. 121

6.6 Uji Bioaktivitas antikanker dari kombinasi Taxus sumatrana dengan Bajakah,
Taxus dengan akar kuning, dan taxus dengan sarang semut .......................... 122

6.7 Kemampuan Antioksidan dari Teh Herbal dari berbagai tanaman hutan Tropis
Indonesia (Sudarmin dkk, 2021) .................................................................. 129

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | ix

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Motto :
Hakekat hidup sebenarnya terletak pada“Mensyukuri”segalaapayang Allah
SWT berikan pada kita. Oleh karena itu mari kita amalkan segala
pengetahuan yang Allah SWT berikan pada kita dengan niat ibadah dan
berbagi kebaikan sesama Umat, serta mengkonservasinya (Sudarmin,
2021)

Karya buku ini kupersembahkan untuk
Istriku tercinta Dr. Rr. Sri Endang Pujiastuti, S.KM. M.Ns

Anakku mas Ikhsan Wisnuadji Gamadarenda, S.Kom,
Mbak dr. Aurima Hanun Kusuma,
dan Mas M. Ethico Sigmadarenda

x | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB I

PEMBELAJARAN ABAD 21, PENDIDIKAN STEM,
PENDEKATAN SAINTIFIK, DAN REKONSTRUKSI

SAINS ILMIAH

1.1 Diskripsi dan Penjelasan Umum

Pada saat ini sedang dilakukan riset PDU PT mengenai pengembangan
desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno- STEM untuk bahan kajian
uji bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis Indonesia untuk
akselerasi karakter konservasi mahasiswa. Pada bagian awal buku ini akan
dibahas salah satu bahan kajian mengenai riset yaitu Pembelajaran untuk
membekali keterampilan berpikir abad 21 dan STEM, pendekatan saintifik,
Etnosains dan kearifan lokal, serta rekontruksi sains ilmiah.

1.2 Pembelajaran Untuk Keterampilan Berpikir Abad 21

Pada Abad 21 ini penuh dengan tantangan, hal ini sebagaimana dikatakan
Thomas Friedman dalam buku 21st Century Skills bahwa abad 21 tidak hanya
penuh tantangan tapi akan merubah atau mengalami masa ketidaktentuan atau
“discruption” hal dasar dengan cara baru, kuat dan menghawatirkan (Trilling dan
Fadel, 2009, ). Salah satu peran utama pendidikan adalah mempersiapkan
generasi masa depan dalam menghadapi tantangan zaman. Pengetahuan
mengenai dunia kerja seperti jenis pekerjaan yang akan dibutuhkan dalam dekade
mendatang bisa dilakukan di mana saja oleh siapa saja yang memiliki keahlian,
ponsel, laptop, dan koneksi internet. Tetapi untuk mendapatkan pengetahuan
mengenai pekerja ahli, setiap negara membutuhkan sistem pendidikan yang
menghasilkan generasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan menjadi
kunci untuk kelangsungan hidup di abad ke-21 (Trilling and Fadel, 2009).

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan |1
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Keterampilan berpikir abad 21 umumnya digunakan sebagai acuan pada
kompetensi tertentu seperti kolaborasi, kemahiran teknologi, pemikiran kritis,
dan pemecahan masalah yang perlu dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan,
baiak formal dan non formal untuk membantu generasi saat ini dalam
menghadapi perkembang dunia di abad 21.

Keterampilan abad 21 muncul dari sebuah asumsi bahwa saat ini individu
hidup dan tinggal dalam lingkungan yang sarat akan teknologi, dimana terdapat
berlimpah informasi, percepatan kemajuan teknologi yang sangat tinggi dan pola
pola komunikasi dan kolaborasi yang baru. Kesuksesan dalam dunia digital ini
sangat tergantung pada keterampilan yang penting untuk dimiliki dalam era
digital, antara lain keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah,
berkomunikasi dan berkolaborasi. Dengan demikian di era abad 21 ini, proses
pembelajaran deangn pendekatan STEM perlu diterapkembangkan. Kompoen
keterampilan yang perlu dikembangkan untuk pembelajaran abad 21 adalah : (1)
Keterampilan belajar dan berinovasi, yang meliputi cara berpikir dan cara
bekerja; (2) Keterampilan peguasaan Informasi, Media, dan Teknologi, yang
meliputi alat-alat yang digunakan dalam bekerja; dan (3) Keterampilan hidup dan
berkarir, yang meliputi keterampilan untuk hidup di dunia. Keterampilan berpikir
yang harus dikuasai mahasiswa untuk menghadapi abad 21, adalah kemampuan
berpikir kreatif, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Sedangkan kemampuan bekerja yang perlu dibekalkan adalah bekerja di
dunia global dan digital, disamping kemampuan berkomunikasi, bekerjasama,
berkolaborasi dengan komunitas dan jaringan. Keterampilan menguasai
Informasi, media, dan teknologi, berarti seseorang harus memiliki dan menguasai
alat untuk bekerja, seperti penguasaan Information and communications
technology (ICT) dan information literacy. Pada saat ini tanpa ICT dan sumber
informasi yang berbasis interernet dan digital, maka sulit seseorang
mengembangkan pekerjaannya. (3) Keterampilan hidup dan berkarir yaitu
2 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Kemampuan untuk menjalani kehidupan di abad 21, Pada saat ini sebagai seorang
dosen dituntut dapat mengatur dan mendesain pembelajarannya, agar mahasiswa
memiliki keterampilan berpikir abad 21.

Dengan demikian para dosen saat ini harus mengubah paradigma
pembelajaranya, yaitu (1). Dosen sebagai fasilitator, pembimbing dan konsultan
(2). Dosen sebagai sumber pengetahuan menjadi sebagai kawan pembelajaran
diarahkan berpusat pada mahasiswa, (3). Belajar terjadwal secara ketat dengan
waktu terbatas menjadi belajar secara terbuka, ketat dengan waktu fleksibel
sesuai keperluan (4). Belajar berdasarkan fakta menjadi berdasarkan projek dan
survei, (5). Bersifat teoritik, prinsip dan atauran menjadi dunia nyata, refleksi,
dan survei, (6). Pengulangan dan latihan menjadi penyelidikan dan perancangan,
(7). Aturan dan prosedur menjadi penemuan dan penciptaan, (8). Kompetitif
menjadi kolaboratif, (9), Mengikuti norma menjadi keanekaragaman yang
kreatif, dan (10). Komputer sebagai subjek belajar menjadi peralatan semua jenis
belajar.

Model pembelajaran abad 21 berpusat pada mahasiswa. Dengan model
pembelajaran abad 21, mahasiswa dikondisikan dalam suasana pembelajaran
yang dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi, keterampilan berpikir kritis
dan pemecahan masalah, kolaborasi, dan komunikasi. Keempatnya merupakan
keterampilan abad ke-21 yang juga dikenal sebagai “The 4 Cs” (Critical
Thinking, Creative, Colaborative and Communicative). Keterampilan berpikir
kritis bersama dengan kemampuan memecahkan masalah serta transfer
knowledge merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selain keempat
keterampilan tersebut, mahasiswa juga perlu menguasai pengetahuan dan
keterampilan akan konten dan sikap ilmiah, memiliki literasi informasi, media,
serta literasi teknologi informasi dan komunikasi. Melalui pembelajaran dengan

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan |3
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

pendekatan saintifik diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi
dengan perubahan, inisiatif dan pengarahan diri dalam menghadapi era abad 21
di era global ini.

Pada saat ini pembelajaran diarahkan untuk membekali mahasiswa akan
keterampilan berpikir yang dibutuhkan pada abad 21 tersebut. Keterampilan
berpikir abad 21 diterjemahkan secara sederhana, merupakan keterampilan yang
diperlukan untuk menghadapi segala tantangan yang ada di masyarakat global
abad ke 21. Secara spesifik keterampilan abad 21 diartikan oleh Bernie Triling
dan Charles Fadel (2009), sebagai berikut : keterampilan abad 21 merupakan
keterampilan yang dibutuhkan untuk survive dalam menghadapi kehidupan
global yang teramat kompleks, keterampilan ini berimplikasi pada proses
pendidikan yang tidak hanya memfokuskan diri pada kegiatan pembelajaran
konvensional yang bersifat kognitif seperti membaca, berhitung dan menulis,
akan tetapi pendidikan diarahkan pada isu-isu kontemporer seperti kesadaran
global, ekonomi atau keuangan, kesehatan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pembelajaran yang mengarah pada keterampilan abad 21 ini diharapkan
mahasiswa mampu mempraktekan pengetahuannya untuk memahami dan
memberikan solusi pada tantangan di dunia nyata. Lebih lanjut Trilling dan Fadel
(2009; 48) menjelaskan bahwa, keterampilan abad 21 adalah keterampilan
belajar dan berinovasi. Keterampilan ini berkenaan dengan kemampuan berpikir
kreatif dan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi,
berkolaborasi dan kemampuan untuk berkreativitas dan berinovasi. Ketiga
keterampilan ini, diyakini merupakan keterampilan utama, yang dapat menjawab
berbagai tantangan hidup baik dari dimensi ekonomi, sosial, politik maupun
dimensi pendidikan.

Lebih jauh Trilling dan Fadel (2008) merinci keterampilan abad 21 yang
di adaptasi dari 21st Century Skill Education & Competitiveness; a resource and
Policy Guide, 2008. Bahwa kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan
4 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

memecahkan masalah, sebagai salah satu orientasi pembelajaran modern secara lebih
luas akan membekali mahasiswa dengan keterampilan lain yang lebih kecil yang
melingkupinya. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan menggunakan
berbagai alasan secara efektif, keterampilan berpikir secara sistematik, keterampilan
mempertimbangkan dan membuat keputusan, dan keterampilan memecahkan masalah.

Keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi dimaksudkan untuk
membekali mahasiswa agar mampu berkomunikasi, untuk berbagai tujuan secara
jelas dan efektif. Baik dalam hal berbicara, menulis, membaca maupun
menyimak dan membekali mahasiswa agar mampu berkolaborasi dengan orang
lain sehingga mahasiswa akan mampu bekerja secara efektif dalam kelompok,
melakukan negoisasi secara efektif dan mampu menghargai peran orang lain
dalam kelompoknya. Kemampuan berkreativitas dan berinovasi dimaksudkan
untuk membekali mahasiswa berpikir kreatif, bekerja kreatif dengan orang lain
dan mampu menghasilkan.

Kemampuan kedua yang menjadi fokus kompetensi pembelajaran abad
ke 21 adalah keterampilan menguasai media, informasi dan tekhnologi.
Berkenaan dengan keterampilan ini, Trilling and Fadel (20095) menjelaskan
bahwa, keterampilan ini menghendaki mahasiswa di masa mendatang ‘melek’
informasi, ‘melek’ media dan TIK. Kemampuan ‘melek’ informasi mencakup
keterampilan mengakses informasi secara efektif dan efisien. Kompeten menilai
dan mengkritisi informasi dan kemampuan menggunakan informasi secara akurat
dan kreatif. Kemampuan ‘melek’ media mencakup kemampuan untuk
menggunakan media sebagai sumber belajar dan menggunakan media sebagai
alat komunikasi, berkarya dan berkreativitas.

Keterampilan ‘melek’ TIK, mencakup kemampuan menggunakan TIK
secara efektif baik sebagai alat riset, alat berkomunikasi dan alat evaluasi serta
memahami benar kode etik penggunaan TIK. Keterampilan ketiga, yang harus
menjadi tujuan bagi pembelajaran abad 21 adalah keterampilan berkehidupan dan

berkarier. keterampilan ini mencakup keterampilan hidup dan berkarier secara

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan |5
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

fleksibel dan adaptif, berinisiatif dan mandiri, mampu berinteraksi sosial dan
lintas budaya, produktif dan akuntabel, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan
tanggung jawab, sebagaimana diisajikan pada Gambar 1.1

Gambar 1.1 Pengetahuan, Keterampilan dan Pengetahuan Abad 21
Senada dengan hal tersebut. Griffin, dkk (2012) menjelaskan bahwa,
pendidikan menghadapi tantangan baru untuk membekali keterampilan yang
diperlukan oleh masyarakat. Pendidikan harus membekali mahasiswa dengan
keterampilan mengolah informasi dan menggunakan teknologi yang berkembang
di era global. Pembelajaran abad 21 ke depan harus berorientasi keaktifan
mahasiswa, serta pengembangan kompetensi soft skill dan hard skill. Selain itu
pembelajaran abad 21 dituntut pencapaian sejumlah kompetensi dan
keterampilan, diantaranya adalah:
1. Dimensi Pengetahuan. Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman
terhadap sejumlah informasi dan ide-ide. Tujuan pengetahuan ini membantu
mahasiswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisiknya dan dunia
sosial. Dimensi yang menyangkut pengetahuan sosial mencakup: (1) fakta;
(2) konsep; dan (3) generalisasi yang dipahami mahasiswa.
2. Dimensi Keterampilan. Keterampilan adalah pengembangan kemampuan-
kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya.
6 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Keterampilan ini dalam kegiatan pembelajaran, terwujud dalam bentuk
kecakapan mengolah dan menerapkan informasi yang penting, untuk
mempersiapkan mahasiswa menjadi warga negara yang mampu
berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Adapun sejumlah
keterampilan yang penting adalah:
a. Keterampilan berpikir: Keterampilan berpikir adalah kemampuan untuk
mendiskripsikan, mendefinisikan, mengklasifikasi, membuat hipotesis,
membuat generalisasi, memprediksi, membandingkan dan mengkontras-
kan, dan melahirkan ide-ide baru.
b. Keterampilan akademik yaitu kemampuan membaca, menelaah, menulis,
berbicara, mendengarkan, membaca dan menginterpretasi peta, membuat
garis besar, membuat grafik dan membuat catatan.
c. Keterampilan riset yaitu mendefinisikan masalah, merumuskan suatu
hipotesis, menemukan dan mengambil data yang berhubungan dengan
masalah, menganalisis data, mengevaluasi hipotesis dan menarik
kesimpulan, menerima, menolak, memodifikasi hipotesis dengan tepat.
d. Keterampilan sosial yaitu kemampuan bekerjasama, memberikan kontribusi
dalam tugas dan diskusi kelompok, mengerti tanda-tanda non-verbal yang
disampaikan oleh orang lain, merespon dalam cara-cara menolong masalah
yang lain, memberikan penguatan terhadap kelebihan orang lain, dan
mempertunjukkan kepemimpinan yang tepat.
3. Dimensi nilai dan sikap. Merupakan seperangkat keyakinan atau prinsip
perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok
masyarakat tertentu yang terungkap ketika berpikir dan bertindak. Nilai
adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam,
mendukung ketika sesuatu dianggap penting dengan tindakan yang tepat.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan |7
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Sedangkan sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima
keyakinan, interes, pandangan, dan kecenderungan tertentu.
4. Dimensi tindakan. Tindakan sosial ini merupakan dimensi pembelajaran
yang penting, karena tindakan sosial dapat memungkinkan mahasiswa
menjadi aktif melalui cara berlatih secara kongkret dan praktik.

1.3. Konsep Pendidikan Science Technology Engineering and Matheamtics
(STEM)

STEM adalah akronim dari Science, Technology, Engineering, dan
Mathematic dan merupakan tema gerakan reformasi pendidikan dalam keempat
bidang disiplin, sekaligus untuk menumbuhkan angkatan kerja. Pendidikan
STEM berupaya mengembangkan warga negara yang melek STEM, serta
meningkatkan daya saing global dalam inovasi IPTEK. Gerakan reformasi
pendidikan STEM ini didorong juga oleh laporan riset yang menunjukkan terjadi
kekurangan calon untuk mengisi lapangan kerja dalam keempat bidang STEM
dan tingkat literasi masyarakat tentang isu STEM rendah, serta posisi capaian
TIMSS dan PISA masih kurang baik (Roberts, 2012).

Dewasa ini, gerakan pendidikan STEM telah bergema di berbagai negara,
baik negara maju dan berkembang, yang memandang pendidikan STEM sebagai
jalan keluar bagi masalah kualitas SDM dan daya saing setiap negara. Oleh sebab
suatu riset dan pengembangan dalam pendidikan STEM menjadi tema yang
semakin mendominasi dalam konferensi dan publikasi ilmiah internasional dalam
bidang pendidikan. Pada saat ini, pentingnya pendidikan STEM telah mulai
muncul di kalangan pakar pendidikan di Indonesia, sehingga banyak kelompok
studi di perguruan tinggi melakukan riset dan pengembangan pendidikan dengan
pendekatan STEM. Untuk UNNES, berbagai Riset mulai skripsi, tesis dan
disertasi dalam bingkai pendidikan STEM pun kini telah mulai bermunculan.

8 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Adapun pembahasan dari komponen STEM sebagai berikut, Komponen
Sains adalah kajian tentang fenomena alam yang melibatkan observasi dan
pengukuran, sebagai wahana untuk menjelaskan secara obyektif alam yang selalu
berubah. Terdapat beberapa domain utama dari sains pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah, yakni fisika, biologi, kimia, serta ilmu pengetahuan
kebumian dan antariksa. Teknologi adalah tentang inovasi-inovasi manusia yang
digunakan untuk memodifikasi alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan
manusia, sehingga membuat kehidupan lebih baik dan lebih aman. Teknologi
membuat manusia dapat melakukan perjalanan secara cepat, berkomunikasi
langsung dengan orang di tempat yang berjauhan, mendapati makanan sehat,
serta alat-alat keselamatan.

Komponen Enjiniring adalah pengetahuan dan keterampilan untuk
memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan ilmiah, ekonomi, sosial, serta
praktis untuk mendesain dan mengkonstruksi mesin, peralatan, sistem, material,
dan proses yang bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah
lingkungan. Selanjutnya, Matematika adalah ilmu tentang pola-pola dan
hubungan-hubungan, dan menyediakan bahasa bagi teknologi, sains, dan
enjiniring. Pendidikan STEM bertujuan membekali peserta didik dan mahasiswa
agar melek STEM (Bybee, 2013), yang mempunyai:

1. Pengetahuan, sikap, dan keterampilanuntuk mengidentifikasi pertanyaan dan
masalah dalam situasi kehidupannya, menjelaskan fenomena alam,
mendesain, serta menarik kesimpulan berdasar bukti mengenai isu-isu terkait
STEM;

2. Memahami karakteristik fitur-fitur disiplin STEM sebagai bentuk-bentuk
pengetahuan, penyelidikan, serta desain yang digagas manusia;

3. Kesadaran bagaimana disiplin-disiplin STEM membentuk lingkungan
material, intelektual dan kultural,

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan |9
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

4. Kemauan untuk terlibat dalam kajian isu-isu terkait STEM (misalnya efisiensi
energi, kualitas lingkungan, keterbatasan sumberdaya alam) sebagai warga
negara yang konstruktif, peduli, serta reflektif dengan menggunakan gagasan-
gagasan sains, teknologi, enjiniring dan matematika.
Pendidikan STEM memberikan peluang kepada guru dan STEM untuk

memperlihatkan kepada peserta didik dan mahasiswa betapa konsep, prinsip, dan
teknik dari sains, teknologi, enjiniring, dan matematika digunakan secara
terintegrasi dalam pengembangan produk, proses, dan sistem yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, Reeve (2013) mengadopsi definisi
pendidikan STEM sebagai pendekatan interdisiplin pada pembelajaran, yang di
dalamnya peserta didik menggunakan sains, teknologi, enginiringn (rekayasa),
dan matematika dalam konteks nyata yang mengkoneksikan antara sekolah,
dunia kerja, dan dunia global, sehingga mengembangkan literasi STEM bagi
peserta didik dan mahasiswa bersaing dalam era ekonomi baru yang berbasis
pengetahuan.

Pada uraian sebelumnya telah diuraikan suatu pendidikan STEM, yang
mana kata STEM diluncurkan oleh National Science Foundation dari Ameria
Serikat (AS) pada tahun 1990-an sebagai tema gerakan reformasi pendidikan.
Dugger (2015) menyatakan bahwa pendekatan STEM dari keempat aspek
merupakan pasangan yang serasi berdasarkan konteks dunia nyata dan
pembelajaran berbasis masalah. Hakekat dan makna pendidikan STEM adalah
pendidikan yang menekankan suatu penggunaan ilmu pengetahuan, teknologi,
rekaya, dan matematika untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpusat
kepada peserta didik dan mahasiswa, dengan kegiatan menyelidiki, merancang
solusi dari suatu masalah, dan membangun penjelasan berbasis bukti dari
fenomena dunia nyata. Pada pendekatan STEM terdapat beragam cara digunakan
dalam praktik untuk mengintegrasikan disiplin ilmu atau aspek komponen dalam

10 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

STEM. Pola dan derajad keterpaduannya bergantung pada banyak faktor, dan
berikut ini disajikan beberapa cara mengintegrasikan STEM (Roberts, 2012):
1. Model STEM Terpisah

Jika mata pelajaran berpendekatan STEM diajarkan sebagai empat mata
pelajaran yang terpisah satu sama lain dan tidak terintegrasi (disebut sebagai
“SILO”). Penekanan pembelajaran STEM ini adalah pada perolehan
pengetahuan dibandingkan dengan kemampuan teknis. Pendekatan silo lebih
tepat digambarkan sebagai S-T-E-M daripada STEM, dengan integrasi
pendekatan SILO disajikan pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Pendekatan Terpisah “SILO” Pendidikan STEM

2. Model STEM Tertanam
Pembelajaran STEM secara tertanam secara luas dapat didefinisikan sebagai
pendekatan pendidikan dominan pengetahuan yang diperoleh melalui
penekanan pada situasi dunia nyata. Pada pendekatan tertanam, salah satu
materi dan bidang kajiannya lebih diutamakan sehingga mempertahankan
integrasi dari subjek materinya. Tetapi bidang yang tidak diutamakan
tersebut dirancang untuk tidak dievaluasi atau dinilai. Integrasi pendekatan
STEM Tertanam disajikan pada Gambar 1.3.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 11

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Gambar 1.3 Pendekatan Tertanam Pendidikan STEM

3. Pendekatan STEM Terpadu
Pendekatan terpadu mengintegrasikan satu aspek ke dalam tiga disiplin STEM
yang lain, misalnya konten sains dipadukan pada teknologi, engineering, dan
matematika. Pendekatan terpadu menghubungkan materi dari berbagai bidang
kajian dalam STEM yang diajarkan di kelas berbeda, waktu berbeda dan
menggabungkan konten lintas kurikuler dengan kemampuan keterampilan
berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan pengetahuan untuk
mencapai suatu kesimpulan. Integrasi pendekatan STEM Terpadu disajikan
pada Gambar 1.3.

Gambar 1.4 Pendekatan Terpadu Pendidikan STEM

12 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

4. Pendekatan STEM Terintegrasi
Pada pendekatan STEM terintegrasi, maka karakteristik dari Pendekatan
STEM ini adalah mengintegrasikan antara sains, teknonogi, engineering, dan
matematika dalam memecahkan masalah nyata. Adapun bentuk integrasi
pembelajaran dengan pendekatan STEM terintegrasi dapat dilihat pada
Gambar 1.5.

Gambar 1.5 Integrasi Pembelajaran Berpendekatan STEM
Pendekatan STEM ini akan mampu menciptakan sebuah sistem
pembelajaran secara kohesif dan pembelajaran aktif karena keempat aspek
dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan masalah.

1.3. Pendekatan Saintifik, Karakteristik, dan Prinsipnya
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai kumpulan metode dan

cara yangdigunakan seorang dosen dalam melakukan pembelajaran. Sedangkan
pada strategipembelajaran terdapat sejumlah pendekatan, dalam pendekatan
terdapat sejumlah metode, dalam metode terdapat sejumlah teknik, dalam teknik
terdapat sejumlah taktik pembelajaran. Pada aspek pedagogis, maka penerapan
semua pembelajaran pasti akan memunculkan suatu model atau pendekatan
pembelajaran. Salah satu pendekatan saintifik yang digunakan dalam
pembelajaran Kimia Organik Bahan Alam adalah pendekatan saintifik, yaitu
pendekatan yang menggunakan sejumlah langkah serta kaidah ilmiah dalam
pembelajarannya. Sejumlah karakteristik langkah yang diterapkan dalam

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 13

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

pendekatan saintifik meliputi menemukan dan merumuskan masalah,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik
simpulan. Sejumlah langkah ilmiah yang diterapkan dalam pembelajaran tersebut
dinamakan kerja inkuiri ilmiah.

Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada
Mahasiswa untuk mengetahui, memahami, mempraktikkan apa yang sedang
dipelajari secara ilmiah. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran diajarkan
agar mahasiswa ditekankan untuk pencari tahu atau menemukan (inkuiri) dari
berbagai pengetahuan melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata kuliah. Pada
pendekatan saintifik memberikan pemahaman kepada mahasiswa dalam
mengenal, memahami berbagai bahan kajian dalam suatu mata kuliah, dalam
Kimia Organik Bahan Alam (KOBA) menggunakan pendekatan saintifik. Pada
pendekatan saintifik, maka informasi dapat berasal dari mana saja, kapan saja,
tidak tergantung pada informasi searah dari seorang dosen, apalagi pada era
global seperti saat ini.

Oleh karena itu, kondisi pembelajaran dan perkuliahan yang diharapkan
tercipta diarahkan untuk mendorong mahasiswa mencari tahu atau menemukan
dari berbagai sumber melalui pengamatan di lingkungan masyarakat dan
Lingkungan sekitarnya, pengamatan kerja ilmiah melakui pembelajaran inkuiri
berbasis Laboratorium, pengamatan fenomena dunia nyata, atau sumber big data
yang tersedia di Internet.

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakteristik berpusat
padamahasiswa, melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi
pengetahuan, konsep, hukum atau prinsip, kemudian melibatkan proses-proses
kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek atau berpikir,
khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggimahasiswa. Keterampilan berpikir
tingkat tinggi yang dikembangkan dalam pembelajaran dengan pendekatan
saintifik yaitu keterampilan berpikir kritis, kreatif, pemecahan masalah, dan
14 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

mengambil keputusan dan di era revolusi industri 4,0, maka pembelajaran juga
keterampilan kolaboratif, komunikasif; serta adaptif. Tujuan pembelajaran
dengan pendekatan saintifik yaitu meningkatkan kompetensi dan kemampuan
intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti yang dituntut
pada era abad 21 ini dan membentuk kemampuan dalam menyelesaikan suatu
permasalahan secara sistematik. Pendekatan saintifik juga bertujuan melatih
mahasiswa dalam mengomunikasikan gagasan dan ide kreatif dan inovatif,
khususnya dalam menulis dan mempublikasikan hasil riset laboratorium pada
kegiatan seminar atau pertemuan ilmiah..

Prinsip penting dalam pendekatan saintifik adalah pembelajarannya
berpusat mahasiswa dan diarahkan kemampuan merekontruksi pengetahuan
secara mandiri, terhindar dari verbalisme, memberikan ruang dan kesempatan
untuk mengasimilasi dan mengakomodasi pengetahuannya. Prinsip lain adalah
harus mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir dan motivasi
belajar mahasiswa, dan dosen memberikan kesempatan untuk berltaih dalam
berkomunikasi, dan terjadinya proses validasi terhadap pengetahuan faktual,
prosedural, atau metakognisi mahasiswa. Pada pendekatan saintifik, maka tugas
dan kewajiban dosen adalah (a) menyajikan pembelajaran yang menarik dan
mampu meningkatkan rasa ingin tahu, termasuk keterampilan berpikir yang
dituntur dalam abad 21, (b) mampu meningkatkan keterampilan mengamati,
menanya, mencoba atau menerapkan, menganalisis, dan berkomunikasi baik
secara lisan maupun tertulis.

1.4 Rekonstruksi Sains Ilmiah Berbasis Sains Masyarakat

Pada pendekatan saintifik maka pengetahuan pada mahasiswa dapat
direkontruksi dari proses pengamatan pada fenomena yang terdapat di
Lingkungannya. Sedangkan pada saat ini pandangan filsafat ilmu, tentang

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 15

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

bagaimana pengetahuan diperoleh, maka dikenal dua pandangan. Pandangan
pertama yaitu pandangan empirisme yang memandang semua pengetahuan
berasal dari pengalaman visual dan sensoris, dan mengganggap dunia eksternal
sebagai sumber pengetahuan. Pandangan kedua adalah nativisme dan
fenomenalogis yang memandang sumber pengetahuan berasal dari alam dan
budaya masyarakat yang mengandung pengetahuan sains ilmiah.

Proses transformasi dan rekontruksi pengetahuan sains masyarakat
menjadi pengetahuan sains ilmiah, maka perlunya menerapkan kedua landasan
filsafat tersebut, yaitu landasan emperisme yang mengacu pada pengalaman
dilanjutkan pengolahan informasi melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Pengolahan asimilasi berarti pengetahuan sains masyarakat yang terdapat di
lingkungan budayanya diolah dan diakomodasikan dengan pengetahuan yang
terdapat pada kognisinya, sehingga terekplanasi menjadi pengetahuan sains
ilmiah. Sudarmin (2015) mendiskripsikan langkah rekonstruksi pengetahuan
sains ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat disajikan pada Gambar 1.6.

Knowledge
Persepsi, kebiasaan, fakta, konsep dan prinsip.

Transformasi Konseptualisasi

Diskripsi: Prediksi dan Persepsi:
Validasi dan standarisasi istilah ilmiah, Aktion, Identifikasi, verifikasi, reduksi
(sorting), konseptualisai dan dokumentasi.
deskriptif, dan deklaratif.

Gambar 1.6 Rekontruksi Sains Ilmiah berbasis Sains Masyarakat

16 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Pada bagan tersebut terlihat bahwa diskripsi rekonstruksi pengetahuan
ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat secara konseptual dimulai dengan
kegiatan identifikasi, verifikasi, formulasi, konseptualisasi dari pengetahuan
masyarakat menjadi pengetahuan ilmia. Pada proses rekontruksi tersebut, maka
terjadi proses kognisi akomodasi, asilimilasi, dan interpretasi. Pada proses
berikutnya, jika telah dihasilkan pengetahun ilmiah dilanjutkan proses integrasi
dan dokumentasi pada bahan kajian yang relevan. Misalnya pada pembelajaran
mata kuliah KOBA terdapat bahan kajian keberagaman metabolit sekunder dan
manfaatnya bagi kehidupan. Pada perkuliahan tersebut dapat disisipkan
pengetahuan masyarakat mengenai, etnomedisin (obat tradisional) dari tanaman
hutan tropis Taxus Sumatrana. Pada perkuliahan yng menyisipkan terkait
etnomedisin dalam KOBA, maka dosen tersebut telah menerapkan pendekatan
etnosains.

Pada aktivitas kegiatnnya, mahasiswa diberikan tugas untuk observasi dan
wawancara kepada nara sumber lokal yang paham dan memiliki pengetahuan
yang diturnkan dari nenek moyangnya mengenai Taxus Sumatrana. Pola yang
sama dapat diterapkan untuk bahan-bahan kajian yangrelevan atau sesuai antara
konten dan konteknya. Untuk memahami lebih jauh mengenai rekontruksi sains
ilmiah, maka pada sajian berikut ini diberikan contoh hasil wawancara saudara
Rehani Ramadhani dan Atiqah Ulya H (2021) sebagai pengambil data dari riset
PDU PT ini. Hasil wawancara dari mahasiswa tersebut dilakukan di Lokasi
Pandai Sikek Kecamatan Limapuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar Sumatera
Barat, dengan narasumber Refi Agustinur H (53 tahun) dan hasil wawancaranya
disajikan pada Tabel 1.1.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 17

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Tabel 1.1 Hasil wawancara dan rekontruksinya menjadi pengetahuan sains
ilmiah berbasis sains masyarakat.

No Fokus Pegetahuan masyarkat (Narasumber) Pengetahuan ilmiah dari literatur
Pertanyaan Hidayat, A (2017)

01. Nama Cemara Sumatra Taxus sumatrana

02. Karakteristik Tanaman Taxus sumatrana Habitus dari tanaman ini berbentuk semak

tanaman memiliki karakteristik sampai pohon dengan tinggi bisa mencapai 30

(morfologi) berdaun kecil, pohonnya m. Daun berbentuk

besar, mirip dengan cemara, eliplanset, berwarna hijau zaitun dengan
daging batangnya bewarna ukuran panjang 1,8 – 3,0 cm
merah, daun bewarna hijau lebar 2.0 – 2.5 mm, dan tebal 200 –275
dan memiliki akar tunggang. μm. Warna kulit batang merah keabu- abuan ,
tebal kulit 0,5 – 0,8 cm. Bunga kerucut (jantan

tidak terlihat), bunga kerucut betina berbentuk

subsilindris dengan panjang 2 mm, lebar 1 mm.

Buah berbentuk kerucut kaku dengan

panjang 4 mm dan lebar 3 mm, mengerucut

dari tengah ke puncak.

03. Teknik Teknik budidaya yang Budi daya dengan diper-banyak secara
budidaya generatif (dengan biji) dan vegetatif
dilakukan oleh secara (umumnya stek). Stek merupakan salah satu
cara untuk menghasilkan bibit dengan
konvensional dengan melakukan pemotongan pada bagian induk
seperti pucuk, batang, akar, daun, sehingga
memperbanyak batang dihasilkan tanaman baru. Metode stek,
salah satunya adalah stek pucuk.
dengan cara stek ranting yang

ditancapkan ke tanah.

04. Manfaat Untuk mengobati penyakit Taxus sudah dikenal di dunia sebagai
obat anti kanker sejak tahun 1970 an khususnya
kanker, tumor, jantung. untuk kanker rahim dan kanker payudara, karean
ada metabolit sekunder paclitaxel (Taxol)
Masyarakat sekitar dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan
sel kanker Taxus juga sebagai anticonsulvant
mengkonsumsi sebagai obat daya dan antipyretic, serta analgesic.

tahan tubuh dalam bentuh teh

taxus.

05. Cara Daun dan atau kulit Taxus Pada kegiatan cara pembuatan teh

pembuatan yang sudah dikeringkan, di rebus taxus sumatrana terkandung konsep dan

teh taxus dengan air sehingga mendidih, pengetahuan ilmiah mengenai proses isolasi,

atau di seduh menggunakan air ekstraksi, dan maserasi (Achmad, S.A, 1994)

panas.

06. Usaha untuk Dimasak pada tempayan tanah serta Cara memasak dengan tempayan tanah

menghasilka n penambahan bahan penambah cita bermaksud agar tidak terkontaminasi logam.

teh taxus yang rasa, misal madu, gula, atau yang Sedangkan penambahan madu atau pemanis

baik lain sebagai ciata rasa dan lebih nikmat.

Pada riset PDU PT ini, selain taxus sumatrana sebagai objek dan fokus
dari riset etnosains, juga dilakukan untuk tanaman hutan tropis yang lain yaitu
Bajakah dari Kalimantan, Akar Kuning dari Sumatera, dan Sarang Semut dari
Merauke.

18 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB II

SENYAWA BIOAKTIF, HABITAT TANAMAN TAXUS
SUMATARANA, MODEL INKUIRI, DAN LEVELNYA

2.1 Diskripsi Pembelajaran

Pada bab ini akan dibahas mengenai Senyawa Bioaktif, Memahami
habitat Tanaman Taxus Sumatarana, Model pembelajaran Inkuiri, sintaks dan
levelnya. Pembahasan ini penting sebagai dasar untuk memahami pengetahuan
terkait tanaman hutan tropis tanaman taxus sumatrana dan pengetahuan mengenai
pengetahuan mengenai inkuiri, sintaks dan level-level inkuiri.

2.2 Memahani Senyawa Bioaktif

Senyawa bioaktif merupakan senyawa yang terkandung dalam tubuh
hewan maupun tumbuhan. Senyawa ini memiliki berbagai manfaat bagi
kehidupan manusia, diantaranya dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan,
antibakteri, antikanker, antiinflmasi, dan antikanker. Prabowo et al. (2014)
menyatakan bahwa pada berbagai riset tentang senyawa bioaktif telah dilakukan
untuk tujuan kesehatan manusia mulai dari dijadikan suplemen sampai obat bagi
manusia. Achmad, S.A (2007) menyatakan berbagai tanaman hutan tropis
mengandung senyawa bioaktif dengan berbagai berfungsi sebagai antibakteri,
antikanker, antiinflmasi dan antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat
menunda, memperlambat dan mencegah terjadinya proses oksidasi. Senyawa
antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan berperan penting untuk bagi
kesehatan dan kecantikan, mencegah penyakit kanker dan tumor, penyempitan
pembuluh darah, penuaan dini, dan lain-lain.

Senyawa antioksidan dapat berupa senyawa alami maupun senyawa
sintetik, pada saat ini senyawa antioksidan sintetis sudah mulai ditinggalkan

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 19

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

karena memiliki sifat karsinogenik dan antioksidan yang berasal dari alam mulai
memegang peranan penting. Senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan alam
banyak ditemukan di dalam kulit buah pada tumbuhan (Lisdawati dan Broto
2006). Bakteri maupun virus merupakan mikroorganisme yang
membahayakan serta mampu menginfeksi baik manusia atau hewan hingga
dapat menimbulkan infeksi ringan sampai kematian (Pelczar dan Chan,
1986). Bakteri yang umum dan sering di jumpai menginfeksi manusia di
antaranya yaitu Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. James et al.
(2002) menyatakan bahwasannya S. aureus merupakan bakteri kokus Gram
positif dan patogen utama bagi manusia, mulai keracunan makanan atau
infeksi kulit ringan sampai infeksi berat.

Bakteri E. coli umumnya merupakan jenis bakteri flora normal saluran
pencernaan manusia dan hewan termasuk dalam kelompok fakultatif Gram
negatif yang dapat menyebabkan diare pada bayi dan orang dewasa, infeksi
saluran kemih dan diare (Harti, 2015). Umumnya jika terinfeksi bakteri
orang menggunakan obat-obat kimia atau antibiotik. Upaya pencarian obat
yang berasal dari alam untuk mengurangi tingkat konsumsi obat kimia
semangkin gencar dilakukan, karena penggunaan obat kimia yang
berlebihan dikhawatirkan dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap
obat maupun antibiotik dan dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri lain
yang lebih tahan terhadap obat obatan atau disebut juga ‘super bug’(James
et al. 2002). Pada saat ini telah banyak dilakukan riset yang memanfaatkan
tanaman lokal sebagai antibakteri, misalnya tanaman Mangrove, tanaman
dari berbagai rumput laut, tanaman dari berbagai alga, dan juga berbagai
tanaman dari hutan tropis. Senyawa bioaktif sebagai antibakterii tersebut
adalah dari berbagai flavonoid, sterol, dan metabolit lain.

20 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Kanker merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan banyak
membunuh manusia. Baik di Negara industry ataupun Negara berkembang
mengalami hal ini yang menyebabkan kanker penyebab kematian yang paling
banyak di dunia. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2013, kasus
pasien kanker pada tahun 2008 sampai 2012 meningkat dari 12,7 juta kasus

menjadi 14,2 juta kasus (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI,
2015). Banyak upaya-upaya pencegahan yang dilakukan mulai dari memberikan
pengetahuan masyarakat sampai upaya rehabilitasi yang dilakukan untuk pasien
kanker (Depkes RI, 2009). Faktor yang dapat menyebabkan kanker dapat
disebabkan dari luar yaitu sinar ultraviolet, radiasi, virus, radikal bebas, infeksi,
rokok, dan bahan kimia dari kehidupan sehari-hari. Namun kanker juga bisa
disebabkan faktor genetik, hormonal, kejiwaan, dan antibodi (Utari, et al., 2013).

Pada saat sekarang ini telah banyak pengobatan yang dilakukan untuk
pasien penderita kanker. Pemakaian radioaktif dan pembedahan merupakan salah
satu cara pengobatan penyakit kanker. Selain pemakaian radioaktif dan
pembedahan, juga bisa dilakukan metode kemoterapi. Perbedaan pengobatan
pada pasien kanker tersebut berdasarkan jenis kanker yaitu kanker non metastatis
dan metastatis. Untuk kanker non metastatis lebih efektif digunakan radioaktif
dan pembedahan. Berbeda dengan kanker metastatis yang menyerang banyak
organ tubuh, pemakaian kemoterapi lebih efektif dibanding pembedahan dan
radioaktif (Chabner dan Roberts Jr, 2006).

Banyak ditemukan obat-obat yang digunakan untuk mengobati kanker.
Biasanya kanker diobati dengan metode kemoterapi. Metode kemoterapi banyak
memakai obat-obat sintetis. Namun efek samping dan harga untuk kemoterapi
sangat berbahaya dan mahal dengan hasil yang bagus. Dengan kekurangan
metode kemoterapi yang memiliki efek samping yang berbahaya, telah banyak
dilakukan penelitian untuk menemukan obat antikanker yang bersumber dari
tumbuhan. Berikut tumbuhan-tumbuhan yang mempunyai senyawa antikanker:

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 21

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

1. Daun dan Kulit batang tumbuhan Erythrina variegate (Dadap Ayam) yang
mengandung senyawa alkaloid dan terpenoid, dan senyawa isoflavonoid

2. Tanaman genus Clerodendrum yang mengandung golongan steroid, terpenoid,
flavonoid, konstituen volatil, glikosida cianogenik, fenolik, karbohidrat,

Ribosome inactivating protein, pheophorbide sitotoksik (Shrivastava dan Patel,
2007).
3. Tanaman lengkuas (Alpinia galangal) yang mengadung senyawa flavonoi
4. Biji tanaman Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl (mahkota dewa) dengan
senyawa estradiol
5. Kayu batang tumbuhan Taxus Sumatrna dengan mengandung senyawa
biokatif dari Taxol.
6. Tanaman bawang putih (Allium sativum)

2.3. Memahami Habitat Taxus Sumatrana

Taxus sumatrana termasuk ke dalam genus Taxus, famili Taxaceae dan
sub-divisi Gymnospermae. Di dunia internasional Taxus sumatrana dikenal
dengan nama Sumatran yews atau Cemara sumatra. Habitus dari tanaman ini
berbentuk semak sampai pohon dengan tinggi bisa mencapai 30 m. Daun
berbentuk eliplanset, berwarna hijau zaitun dengan ukuran panjang 1,8 – 3,0 cm,
lebar 2.0 – 2.5 mm, dan tebal 200 – 275 µm. Warna kulit batang merah keabu-
abuan dengan tebal kulit 0,5-0,8 cm. Bunga kerucut jantan biasanya tidak terlihat,
sedangkan bunga kerucut betina berbentuk subsilindris dengan panjang 2 mm,
lebar 1 mm. Buah berbentuk kerucut kaku dengan panjang 4 mm dan lebar 3 mm,
mengerucut dari tengah ke puncak. Seluruh genus Taxus dikenal sebagai jenis
yang berumur panjang bahkan pohon tertua di daratan Eropa dengan umur
diperkirakan 3.000 – 4.000 dan berdiameter lebih dari 4 meter adalah Taxus
baccata (Spjut 2003).

Hampir semua jenis Taxus berumah dua (dioceous) hanya Taxus
canadensis merupakan tumbuhan berumah satu (monoceous). Bunga berukuran
22 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

kecil dan soliter dan tumbuh dari tunas aksilar. Kuncup bunga betina terdiri atas
ovul tunggal yang dikelilingi oleh 5 kelopak bunga. Antesis diindikasikan dengan
terdapatnya mikropolar pada oval yang terbuka dan selanjutnya akan
berkembang menjadi benih. Kuncup bunga jantan biasanya mengelompok di
sepanjang bagian bawah percabangan. Bunga jantan memiliki 14 stamen.
Polinasi terutama dilakukan oleh angin. Pada Gambar 2.1 disajikan pohon,
batang dan daun Cemara sumatra yang ditanam di Kebun Raya Cibodas.

Gambar 2.1 Pohon, batang, dan daun Cemara sumatra. (Henti,2008).
Habitat dari Cemara sumatra adalah tumbuh di hutan sub tropis lembab dan
hutan hujan pegunungan. Penyebaran alami jenis ini mencakup wilayah
Afganistan, Tibet, Nepal, Bhutan, Burma, Vietnam, Taiwan dan Cina. Di
Indonesia, Cemara sumatra tumbuh secara alami sebagai sub kanopi di hutan
pegunungan ataupun punggung pegunungan di Pulau Sumatera dan Sulawesi
pada ketinggian 1.400 – 2.300 mdpl (Spjut 2003). Di Taiwan, jenis ini dikenal
sebagai jenis konifer yang terancam punah dengan pola penyebaran yang
terpencar mengelompok (Huang et al. 2008). Untuk Cemara sumatra yang
tumbuh di Indonesia sampai dengan saat ini belum dilaporkan adanya publikasi
ilmiah aspek ekologi yang komprehensif. Penyebaran jenis Taxus di Indonesia
disajikan pada Gambar 2.2.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 23

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Gambar 2.2 Penyebaran Cemara sumatra di Indonesia.
Keterangan : Titik merah mengindikasikan wilayah penyebaran Cemara

Sumatra (Sumber: http://www.conifer.org)
Pada berbagai literatur menyebutkan manfaat Taxus sumatrana adalah
sebagai pabrik metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai senyawa awal
di bidang farmasi. Menurut Iskulo et al. (2013), T. sumatrana mengandung taxol
yang mampu melawan sel kanker. Sebanyak 1 kg taxol membutuhkan bahan
sebanyak 7.270-10.000 kg (Hidayat et al. 2014). Untuk pengobatan kanker
dibutuhkan sekitar 2-2,5 g taxol. Kebutuhan 2-2,5 gram taxol tersebut setara
dengan 6-8 pohon Taxus (Malik et al. 2011) dengan randemen taxol sekitar
0,006% (Kitagawa et al. 1995). Terdapat beberapa jenis senyawa yang
terkandung di dalam tanaman T. sumatrana, diantaranya taxumairol Q, 13-O-
acetyl wallifoliol 13-0 asetil wallifoliol (Shen et al. 2002), dan tasumatrols E, F,
dan G (Shen et al. 2005), serta 10 deacetylbaccatin III dan baccatin III (Hidayat
dan Tachibana 2013). Untuk memenuhi kebutuhan taxol yang sangat tinggi,
eksploitasi Taxus sp., termasuk T. sumatrana, mengakibatkan populasi tumbuhan
di dunia menurun drastis (Li et al. 2006; Huang et al. 2008).

24 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

2.4 Model Inkuiri, Sintak, dan Levelnya

Pada pendekatan saintifik, maka salah satu model pembelajaran yang
terkenal dan dikembangkan pada riset ini, yaitu suatu model pembelajaran
inkuiri. Model Pembelajaran Inkuiri didefinisikan sebagai pembelajaran yang
mempersiapkan situasi bagi mahasiswa untuk melakukan percobaan kerja ilmiah
sendiri (Sund dan Trowbridge, 1973). Sedangkan makna arti luasnya adalah
pembelajarn yang mendorong siswa atau mahasiswa untuk melihat apa yang
terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari
jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan
penemuan lain, serta membandingkan apa yang ditemukan dengan yang
ditemukan orang lain (Dahar, R.W, 1991). Dengan demikian model pembelajaran
inkuiri sebagai pembelajaran di mana dosen dan mahasiswa mempelajari
peristiwa dan gejala ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para Saintifis (Sudarmin,
2017). Pembelajaran inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada mahasiswa
di mana kelompok-kelompok mahasiswa dihadapkan pada suatu persoalan,
permaslahan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan di dalam suatu prosedur
kerja ilmiah yang jelas.

Makna pembelajaran inkuiri berarti juga suatu cara mengajar mahasiswa
bagaimana belajar dengan menggunakan keterampilan, proses, sikap, dan
pengetahuan berpikir rasional (Bruce & Bruce, 1992). Senada dengan pendapat
Bruce & Bruce, Cleaf (1991) menyatakan bahwa inkuiri adalah salah satu strategi
yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses Proses tersebut sama
dengan prosedur yang digunakan oleh saintis yang menyelidiki permasalahan dan
menemukan informasi. Trowbridge (1990) menjelaskan model pembelajaran
inkuiri sebagai proses mendefinisikan dan menyelidiki permasalahan,
merumuskan sutau hipotesis, merancang percobaan, menemukan data, dan
merumuskan simpulan, Trowbridge selanjutnya juga mengatakan bahwa esensi
dari model inkuiri adalah menata lingkungan dan suasana pembelajaran yang

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 25

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

berfokus pada mahasiswa dengan memberikan bimbingan secukupnya dalam
menemukan pengetahuan ilmiah.

Pada model pembelajaran inkuiri, maka mengandung proses mental yang
lebih tinggi tingkatannya dibandingkan diskoveri, misalnya mahasiswa dituntut
untuk merumuskan masalah, merancang percobaan, melakukan percobaan,
mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan. Pada pembelajaran
inkuiri juga berupaya menumbuhkan sikap ilmiah seperti objektif, hasrat ingin
tahu, disiplin, demokratis, terbuka dan sebagainya. Hasil analisis dari berbagai
informasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa inkuiri merupakan serangkain
proses yang ditempuh mahasiswa untuk memecahkan masalah dengan cara
mendesain atau merencanakan percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan
dan menganalisis data hasil percobaan, dan menarik suatu kesimpulan; serta
mengkomunikasikannya

Pada model pembelajaran inkuiri ini mahasiswa terlibat secara mental
maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan dosen.
Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, yaitu
teliti, tekun, ulet, objektif, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain.
Pembelajaran inkuiri, maka pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
mahasiswa diharapkan bukan hasil mengingat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Dosen harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada
kegiatan menemukan, apapun bahan kajiannya. Pemahaman pengetahuan dan
konsep materi dan bahan kajian mata kuliah, sudah seharusnya ditemukan sendiri
oleh mahasiswa melalui kegiatan inkuiri. Sintak kegiatan pembelajaran dengan
pendekatan inkuiri adalah sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah, (2)
Mengamati atau observasi, (3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk
sajian tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4)
Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya hasil inkuiri kepada pembaca,
teman sekelas, dosen, atau audien lain

26 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Carl J. Wenning (2004) dalam tulisannya yang berjudul Level of inquiry:
Hierarchies of pedagogical practices and inquiry process menyatakan bahwa
tahapan inkuiri terdiri atas delapan macam yaitu discovery learning, interactive
demonstration, inquiry lesson, guided inquiry lab, bounded inquiry lab, free
inquiry lab, pure hypothetical inquiry, dan applied hypothetical inquiry.
Penjelasan singkat dari kedelapan level of inquiry tersebut adalah.
1. Discovery Learning

Discovery learning merupakan bentuk paling fundamental dalam
pembelajaran inkuiri yang didasarkan pada pendekatan ”Eureka! I have found
it!”. Pada tahap ini, pembelajaran inkuiri tidak berfokus dalam menemukan
penerapan pengetahuan, tetapi membangun konsep dan pengetahuan dari
pengalaman menemukan dari suatu fenomena alam atau aktivitas budaya
tertentu.
2. Interactive Demonstration

Interactive Demonstration berarti dosen menyajikan pembelajaran sains
melalui kegiatan demonstrasi yang melibatkan mahasiswa untuk berperan aktif
selama proses pembelajaran berlangsung. Dosen memberikan pertanyaan
arahan atau stimulus kepada mahasiswa yang bertujuan untuk menghadirkan
respon seperti prediksi, penjelasan lebih lanjut, dan menarik kesimpulan. Pada
level ini sebagai pematik respon dapat didemontrasikan langsung di depan kelas
atau memanfaatkan media pembelajaran video, youtube, atau etno_vlog.
3. Inquiry Lesson

Inquiry lesson merupakan tahap lanjutan dari demonstrasi interaktif
menuju tahap laboratory experience. Inquiry lesson hampir mirip dengan
demonstrasi interaktif, namun sebenarnya terdapat perbedaan penting. Pada
tahap ini terdapat kegiatan percobaan sains di Laboratorium dengan metode
ilmiah yang lebih kompleks daripada demonstrasi interaktif. Selain itu, dalam
tahapan ini bimbingan dosen lebih banyak diberikan secara langsung

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 27

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

menggunakan strategi pertanyaan. Dosen membantu mahasiswa selama proses
percobaan berlangsung dimana mahasiswa belajar mengidentifikasi jenis
variabel, dan mengontrol variabelnya.
4. Guided Inquiry Laboratory

Pada Level inkuiri bentuk ini, maka dosen membimbing mahasiswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada
suatu diskusi. Dosen mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan
dan tahap-tahap pemecahannya. Dengan pendekatan ini, mahasiswa belajar lebih
beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dosen hingga mahasiswa dapat
memahami bahan kajiannya. Tahapan berikutnya, mahasiswa akan dihadapkan
pada tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok atau
individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan
secara mandiri. Pada riset ini tahapan ini dimanfaatkan untuk eksplanasi ilmiah
mengenai mengapa tanaman taxus berkhasiat sebagai antikanker, antioksidan,
dan antibakteri.
5. Bounded Inquiry Laboratory

Pada tahap inkuiri selanjutnya yaitu bounded inquiry laboratory, dimana
mahasiswa merancang dan mengadakan percobaan tanpa banyaknya panduan
dari dosen, tidak sebanyak pada tahap guided inquiry laboratory. Pada tahap ini
mahasiswa dilatih menyelesaikan permasalahan secara mandiri meskipun masih
mendapat panduan dari dosen atau asisten dosen.
6. Free Inquiry Laboratory

Pada level ini menempatkan mahasiswa seolah-olah bekerja seperti
seorang saintis (ilmuwan). Mahasiswa diberi kebebasan menentukan
permasalahan untuk diselidiki, menemukan, menyelesaikan masalah secara
mandiri, dan merancang prosedur kerja ilmiahnya. Selama proses ini, bimbingan
dari dosen sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Ada
kemungkinan mahasiswa mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari

28 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

satu cara, karena tergantung bagaimana cara mahasiswa mengkonstruksi dan
merekontruksi jawabannya sendiri. Pada kenyataannya, pendekatan inikiuri ini
jarang diterapkan karena membutuhkan kemampuan yang lebih dari mahasiswa.
7. Pure Hypothetical Inquiry

Pendekatan inkuiri ini maksudnya adalah riset yang dilakukan secara
empiris untuk menjelaskan hipotesis berbasis hukum-hukum dan menggunkan
hipotesis tersebut untuk menjelaskan berbagai fenomena atau budaya etnis
tertentu. Hasil yang akan diperoleh pada tahap inkuiri ini yaitu pembuktian dari
hukum sebelumnya atau pembuktian dari kesalahan hukum tersebut sehingga
memunculkan teori-teoribaru.
8. Applied Hypothetical Inquiry

Pada tahap ini menempatkan mahasiswa untuk berperan aktif dalam
memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata. Mahasiswa harus
membangun dan menganalisis sebuah masalah untuk memformulasikan
hipotesis dari fakta-fakta, kemudian memberikan argumen yang logis untuk
mendukung hipotesis. Pada riset ini akan diterapakan suatu hipotesis yang
menyatakan senyawa metabolit sekunder dari taxus sumatarana dapat mencegah
penyakit kanker.

Pada bagian ini diberikan keunggulan pembelajaran inkuiri adalah :
1. Membantu mahasiswa untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan

keterampilan pada proseskognitif.
2. Mahasiswa memperoleh pengetahuan secara mandiri, sehingga mampu

mema-hami dan menyimpan pengetahuan yang diperolehnya dalam memori
jangka panjangnya.
3. Dapat membangkitkan motivasi belajar, rasa ingin tahu, dan kerja ilmiah
dari mahasiswa akan lebih meningkat lagi.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 29

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

4. Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan
kemampuan dan minat masing-masing mahasiswa.

5. Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses
menemukan atau berinkuiri ilmiah secara mandiri, karena pembelajaran
inkuiri ini berpusat mahasiswa dengan peran dosen yang terbatas.
Pada bagain berikut ini akan diuraikan mengenai aktivitas kegiatan pada

setiap inkuiri yang digunakan dalam pembelajaran inkuiri terintegrasi etno-
STEM. Pada setiap level inkuiri dapat diterapkembangkan untuk bahan kajian uji
bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman taxus sumatrana, yang mana secara
ringkas setiap level dan learning sequence disajikan pada Tabel 2.2

30 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Tabel 2.1 Aktivitas Level Inkuiri pada Bahan Kjian Uji Bioaktivitas
Metabolit Sekunder dari Tanaman Taxus Sumatrana

1. Discovery Learning 2. Interactive Demonstration

1. Mahasiswa melakukan aktivitas mencari 1. Mahasiswa mengamati video Etno-Vlog

informasi naama asal daerah tanaman atau video berisi demonstrasi dalam

Taxus sumatrana kandungan, melakukan kerja laboratorium, misalnya

pemanfaatnya dan bagaimana proses percobaan isolasi, identifikasi fitokimia,

pemanfatan teh taxus. Dari observasi dan uji struktur, uji bioaktivitas metabolit

wawancara pada narasumber, dan sekunder tanaman Taxus sumatrana

2. dilanjutkan rekontruksi dan eksplansi 2. Mahasiswa diharapkan menga-jukan
3. sains ilmihnya dengan mengacu pertanyaan prosedur kerja laboratorium
referensi dan pendapat pakar, serta meliputi isolasi, identifikasi, uji fitokimia,
referensi artikel ilmiah berbasis digital struktur, uji bioaktivitas metabolit
atau internet. sekunder taxus sumatrana.
Mahasiswa mengamati reaksi pada uji
fitokimia, uji anti bakteri, uji antibakteri 2. Mahasiswa berdiskusi mengenai beberapa
prosedur kerja laboratorium meliputi isolasi,
dan uji bioaktivtas lain pada sampel
ekstrak simplisia tanaman Taxus identifikasi, uji fitokimia, uji struktur, uji
sumatrana biokativita dari metabolit sekunder i
Mahasiswa pada aktivitas ini, diharap- tanaman Taxus sumatrana.

kan mengajukan suata pertanyaan,

misalnya mengapa masyarakat

memanfatkan teh Taxus sumatrana

sebagai obat kanker, tumor, atau sebagai
antibakteri dan antioksidan ?”

3. Inquiry Lesson 4. Inquiry Laboratory

1. Mahasiswa beraktivitas melakukan 1. Mahasiswa beraktivitas secara mandiri

penemuan artikel, referensi, teks book dan kelompok terlibat dalam merancang dan

mengenai uji bioaktivitas metabolit menerapkan percobaan mulai isolasi

sekunder sebagai antibakteri, anti oksidan, dan ekstraksi sampai, uji fitokimi, struktur,

antikanker, dan bioaktivtas lain pada serta berbagai uji bioaktivitas dari

tanaman Taxus sumatrana beserta metabolit sekunder Taxus Suumatrna

analisisnya terhadap artikel yang 2. Mahasiswa beraktivitas perr-cobaan untuk

relevannya. analisis struktur, rendemen, sifat fisik, data

2. Pada Kegiatan inkuiri ini mengharapkan grafik; serta data uji bioaktivitas

mahasiswa untuk berpikir kritis, kreatif, 3. Mahasiswa membuktikan dan

pemecahan masalah, kolaboratif, dan mengeksplanasikan teh taxus atau ekstrak

komunikatif atas semua hasil inkuiri tersebut simplisianya dapat sebagai antibakteri,

dalam bentuk laporan tertulis dan antioksidan, dan ant-ikanker dalam bentuk

presentasi. laporan tertulis.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 31

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

5. Real Word Aplication 6. Hypothetical Inquiry

1. Mahasiswa beraktivitas menggunakan ilmu 1. Mahasiswa dengan menggunakan ilmu

pengetahuan dan kemampuannya dalam pengetahuan dan kemampuan kerja ilmiah

menyelesaikan masalah nyata di Masyarakat seperti isolasi, identifikasi, uji struktur, uji

mengenai kemampuan teh taxus sebagai bioaktivitas dari metabolit sekunder

antikanker, antibakteri, antioksidan, atau tanaman taxus dalam upaya membuktikan

aktivitas lain ber-dasarkan data kinerja inkuiri hipotesisnya

berbasis laboratorium 2. Mahasiswa dapat mengembangkan sikap kerja

2. Mahasiswa mengembangkan keteram-pilan ilmiah, karakter konservasi dan

berpikir tinngi dan karakter konservasinya kewirausahaan dengan memanfaatkan bahan

dalam memanfaatkan bahan alami seperti alami taxus sebagai obat herbal tradisional.

taxus untuk dijadikan usaha obat herbal

tradisional.

2.5 Karakter Konservasi dan Komponennya

Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con
(together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya
memelihara apa yang kita punya, namun secara bijaksana (wise use). Konservasi
sering diartikan sebagai pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana.
Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana
konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam
untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi
sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Konservasi juga
didefinisikan bermakna berikut: (1) Konservasi adalah menggunakan
sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar
dalam waktu yang lama, (2) Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar
waktu (generasi) yang optimal secara sosial, (3) Konservasi merupakan
manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup, termasuk manusia
sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat; termasuk
pengelolan lingkungannya dan pemanfaatanya secara bijaksana.

Universitas Negeri Semarang (UNNES) dikenal sebagai Universitas
konservasi, dan telah merumuskan Sebelas nilai karakter berbasis konservasi.

32 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Kesebelas nilai konservasi tersebut adalah: religius, jujur, peduli, toleran,
demokratis, santun, cerdas, tangguh, nasionalis, cinta tanah air dan
bertanggungjawab. Pentingnya nilai karakter konservasi untuk pembelajaran
sains dan non sains, karena pada 50 tahun mendatang terdapat sepuluh masalah
besar yang dihadapi manusia yaitu masalah 1) energi, 2) air, 3) makanan, 4)
lingkungan, 5) kemiskinan, 6) teroris dan perang, 7) penyakit, 8) pendidikan, 9)
demokrasi, dan 10) populasi. Dari sepuluh permasalahan itu, ada lima yaitu
energi, air, makanan, lingkungan dan penyakit yang mempunyai kaitan erat
dengan kimia (Hjeresen, 2000). Mengacu hal tersebut, maka karakter konservasi
perlu ditanamkan pada mahasiswa UNNES sejak awal, dan salah satunya melalui
kegiatan riset ini.

Pentingnya riset terkait akselerasi penanman karakter konservasi, karena
pada era global ini, telah terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan ledakan
teknologi dan komunikasi. Implikasi dari kondisi era digital tersebut telah
mondorong perkembangan pendidikan di Indonesia mengalami pergeseran dalam
proses dan kompetensi pembelajaran sains dan non sains. Pada saat ini dalam
pembelajaran KOBA, maka sumber pembelajaran tidak hanya berasal dari dosen
saja, namun juga dari berbagai sumber belajar berbasis digital. Sementara itu di
lingkungan masyarakat tradisional terbangun pengetahuan sains asli masyarkat
berbentuk pesan simbol, budaya dan adat istiadat, upacara keagamaan, dan sosial
yang kesemuanya itu terkadang terkandung pengetahuan sains ilmiah yang belum
terformalkan (Duit, 2007, Sudarmin, 2015). Pengetahuan masyarakat ini
sebenarnya dapat sebagai sumber pembelajaran menarik dalam pembelajaran
KOBA seakaligus sebagai upaya konservasi budaya dan kearifan lokal.

Secara epistemologi, pengetahuan sains masyarakat yang terdapat di
masyarakat pola pengembangannya diturunkan secara terus menerus atau turun
temurun antara generasi, tidak terstruktur secara sistematik dalam suatu
kurikulum, bersifat lokal, tidak formal, dan umumnya merupakan pengetahuan

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 33

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

persepsi masyarakat dalam tataran peta kognisinya terhadap suatu fenomena
alam dan budaya lokal (Battiste, 2005; Suastra, 2006, dan Sudarmin, 2015).
Sedangkan pengetahuan sains ilmiah hanya dapat dipahami secara ilmiah dan
berbasis kinerja ilmiah, karena itu pengetahuan sains ilmiah berbasis kerja ilmiah
atau inkuiri ilmiah sehingga bersifat objektik, universal, dan bebas nilai dan dapat
dipertanggungjawabkan (Taylor et al, 2004). Pada tataran sejarah keilmuanyya,
maka pengetahuan sains masyarakat dikenal sebagai indegenous Science, folk
knowledge, traditional konwledge, western science atau traditional ecological
knowledge (Sudarmin, 2020). Mengacu pengetahuan sains masyarakat tersebut,
maka riset ini dikaji mengenai pengetahuan sains masyarakat mengenai
etnomedisin taxus sumatrana dan pemanfaatan sebagai antikanker, antioksidan,
dan antibakteri,

Riset bahan kajian etnosains dan etnomedisin sangat menarik, karena
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman tanaman
hutan tropis, serta berbagai budaya dalam memanfaatkan tanaman hutan tropis
tersebut dalam konteks untuk kepentingan obat bagi masyarakat sekitar hutan
tropis. Pada sisi lain, di Indonesia juga memiliki berbagai adat istiadat, tata nilai,
moral, dan budaya sebagai kearifan lokal yang akan mengatur beberapa aspek
kehidupan, seperti hubungan sosial kemasyarakatan, ritual peribadatan, dan
sangsi yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Keseluruhan nilai religius,
etika sosial, pengetahuan adat, dan pengetahuan lokal akan manfaat suatu
tanaman dan keterampilan membuat jamu atau ramuan etnomedisin disebut
sebagai kearifan lokal (Sudarmin, 2015).

Berdasarkan sisi epistemologinya, maka ada perbedaan antara sains ilmiah
yang berbasis kinerja ilmiah atau metode ilmiah dan pengetahuan sains asli
masyarkat. Karateristik dari pengetahuan masyarakat tradisional dalam hal ini
pengetahuan sains asli masyarakat (Indegenous Science) terletak pada belum

34 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

terformalkan sebagai sumber belajar, bersifat pengetahuan berdasarkan
pengalaman, dan pengetahuan tersebut belum permanan dan dikaji secara ilmiah
untuk menemukan hubungan fakta konkrit dengan penyebabnya (Ogawa, 2002,
Sudarmin, 2020). Rujukan rekonstruksi dari pengetahuan sains asli masyarakat
(Indegenous Science) adalah pengalaman konkrit suatu etnis masyarakat dalam
memperlakukan alam semesta menuju keseimbangan alam semestanya melalui
pendekatan budaya, antropologi, dan sosial (Duit, 2007; Lee, 2006). Pentingnya
riset rekonstruksi, transformasi, dan eksplanasi pengetahuan sains asli
masyarakat menjadi sains ilmiah adalah untuk mengubah citra dan persepsi
masyarakat terhadap sains asli yang terkesan sebagai pengetahuan mitos, tahayul,
dan berbagai persepsi negatif menjadi pengetahuan fruitful atau dapat dipercaya
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada riset ini akan melakukan
rekontruksi dan eksplanasi ekstrak tanaman hutan tropis taxus sumatrana (teh
taxus) sebagai antibakteri, antikanker, antioksidan, dan beberapa khasiat lain.

Riset ini didasarkan pemikiran Okebukola (1986) dan woro Sumarni dkk
(2019) yang menyatakan pembelajaran yang memadukan sains asli masyarakat
dan sains ilmiah mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kimia
dan literasi kimia pembelajaran lebih bermakna. Riset rekonstruksi, asimilasi,
dan eksplanasi pengetahuan sains asli masyarakat menuju pengetahuan sains
ilmiah sebagai riset menarik pada era abad 21 ini. Riset ini dapat untuk
mengembangkan grounded theory, kerangka konseptual, dan prosedural pola
rekontruksi pengetahuan sains ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat (Suastra,
I.W, 2007, dan Sudarmin et al, 2015). Produk riset yang dihasilkan dari riset ini
adalah pengetahuan ilmiah berupa fakta, konsep, prinsip, teori, aturan atau
hukum, atau suatu dokumen pengetahuan etnosains terintegrasi pengetahuan
ilmiah. Dengan demikian ini sebagai bentuk konservasi pengetahuan masyarakat.

Pada konteks konservasi, maka bentuk kontribusi suatu riset yang berkaitan
rekontruksi pengetahuan asli masyarakat dan kearifan lokal menjadi pengetahuan

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 35

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

ilmiah adalah terjadi inkulturasi dan pelestaran jati diri, serta budaya lokal di
Indonesia melalui pembelajaran sains. Karakter konservasi pada masyarakat di
Afrika Selatan dalam melestaikan keseimbangan ekosistem biosfernya dapat
dijadikan sebagai sumber pembelajaran dengan pendekatan etnosains (Unnesco,
2006). Kearifan lokal masyarakat Bali dalam melestraikan lingkungan alam
semesta makroskopis seperti pengandaian bayi dalam kandungannya atau ”sekadi
manik ring cacupu” juga dapat dijadikan sumber pembelajaran sains (Suastra,
2005).

Masyarakat etnis Jawa sebenarnya telah banyak pengetahuan dan konsep
sains dapat dikembangkan melalui pembelajaran sains kimia diintegrasikan
dengan budaya meracik jamu tradisional dan rempah, pembuatan gula aren,
membatik, pengasapan ikan, wedang uwuh, teh lokal; dan berbagai olahan
pangan dan minuman lokal (Sudarmin et al, 2015, dan Woro Sumarni et al, 2017).
Dengan demikianpada saat ini perlu pergeseran pembelajaran kimia yang
diintegrasikan budaya dan kearifan lokal yang relevan. Paradigma pembelajaran
berpendekatan budaya dan kearifan lokal dikenal pendekatan pembelajaran
berbasis etnosains. Pendekatan ini yang dikembangkan dan diterapkan pada riset
ini, karena pendekatan ini mampu membekali generasi muda tidak kehilangan
jati diri bangsa, menjaga dan mengkonservasi budaya yang diwariskan nenek
moyang bangsa Indonesia.

36 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB III

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL,
ETNOSAINS DAN ETNOMEDISIN DAN EKOLOGINYA

3.1 Diskripsi Pembelajaran
Pendidikan karakter konservasi berbasis kearifan lokal sebagai bagian

yang sangat penting pada pendekatan etnosains dan perlu dibekalkan pada
mahasiswa, terutama mahasiswa UNNES. Pada sisi lain tentang pengetahuan
etnosains dan ekologinya belum dipahami dengan baik oleh mahasiswa.
Semampang dengan hal tersebut, maka saat ini sedangdilakukan riset PDU PT
desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM untuk akselerasi
karakter konservasi mahasiswa. Pada bab ini akan dibahas mengenai Pendidikan
karakter berbasis kearifan local, etnosains, etnomedisin dan etnoekologinya yang
merupakan bagian penting dari riset PDU PT ini.

3.2 Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal
Pada bagian ini akan dibahas mengenai pendidikan karakter berbasis

kearifan lokal. Pendidikan Karakter secara terminologi berarti suatu usaha
lembaga pendidikam yang dilakukan secara bersama oleh pendidik dan pimpinan
melalui semua mata kuliah, bahan kajian dan kegiatan lain untuk
mengembangkan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian Mahasiswa. Pada saar
ini UNNES mengembangkan pendidikan karakter konservasi melalui mata kuliah
wajib yaitu mata kuliah Konservasi, disamping pendidikan karakter konservasi
melalui setipa mata kuliah; sedankan di program pendidikan IPA dan Kimia
melalui mata kuliah Etnosains dan Kearifan lokal, serta karakter konservasi

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 37

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

diintegrasikan pada beberapa mata kuliah yang lain.
Tujuan pendidikan karakter adalah:

1. Mengembangkan potensi kalbu, nurani, milai, dan afektif mahasiswa sebagai
manusia berakhlak mulia

2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku Mahasiswa yang terpuji dan sejalan
dengan nilai-nilai dan tradisi budaya bangsa yang religius..

3. Mengembangkan kemampuan Mahasiswa menjadi manusia yang mandiri,
kreatif, inovatif berwawasan kebangsaan; serta berjiwa Pancasila.

4. Mengembangkan lingkungan kehidupan kampus sebagai lingkungan belajar
yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa
kebangsaan yang tinggi.
Pada riset ini akan dikembangkan pendidikan karakter berbasis kearifan

lokal. Sedangkan makna kearifan lokal adalah sebagai kebijaksanaan atau nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-
petitih dan semboyan hidup. Kearifan Lokal dilihat etimologisnya berasal dari
dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local berarti setempat dan
wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka local wisdom dapat
dipahami sebagai gagasan, nilai-nilai, pandangan pada suatu lokal atau tempat,
yangmana dalam bentuk domain yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai
baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dengan demikian
membangun pendidikan karakter di kampus melalui kearifan lokal sangatlah
tepat. Hal ini dikarenakan suatu pendidikan berbasis kearifan lokal adalah
pendidikan yang mengajarkan pada mahasiswa untuk dekat dengan situasi
konkrit dan budaya yang dihadapnya.

Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sangat penting dilakukan,
karena model pendidikan berbasis kearifan lokal merupakan sebuah contoh
pendidikan yang mempunyai relevansi tinggi bagi kecakapan pengembangan

38 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

hidup. Kearifan lokal milik kita sangat banyak dan beraneka ragam karena
Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa, berbicara dalam aneka
bahasa daerah, serta menjalankan ritual adat istiadat yang berbeda-beda pula.
Kehadiran pendatang dari luar seperti etnis Tionghoa, Arab dan India semakin
memperkaya kemajemukan kearifan lokal. Pendidikan karakter berbasis kearifan
lokal dapat digunakan sebagai media untuk melestarikan potensi setiap daerah.
Pada riset ini potensi sumber daya alam yang akan dijadikan fokus dan sebagai
kearifan lokal adalah tanaman hutan tropis Taxus Sumatrana atau Cemara
Sumatra yang oleh masyarakat setempat sebagai antikanker dan imunitas tubuh.

Suatu pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang berupa nilai-nilai
moral sebagai penciri etnis dan suku tertentu pentingditerapkan, sehingga setiap
suku bangsa memiliki kearifan lokal sendiri yang perlu dikonservasi. Misalnya
saja, suku Batak kental dengan sikap keterbukaan, Orang Jawa nyaris identik
dengan kehalusan, kesantunan; suku Madura memiliki harga diri yang tinggi.
Suku dan etnis Cina terkenal dengan keuletan dan kegigihan dalam memperkaya
diri. Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang
sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupannya.
Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang
mentradisi, melekat kuat di kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu
ada nilai luhur perenial berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini.
Kearifan lokal terkait aspek perilaku dan sikap berbagai etnis ini dapat
dikembangkan pada pembelajaran Sains, yangmana bidang kajian tersebut
sebagai bagian dari bidang ilmu Etnopedagogis.

Persoalannya adalah bagaimana menerapkan pembelajaran sains berbasis
kearifan lokal untuk membangun pendidikan karakter di Kampus? Oleh karena
itu, perlu ada revitalisasi budaya lokal yang relevan untuk membangun
pendidikan karakter. Pada masyarakat dan mahasiswa di sekitar hutan tropis,

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 39

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana


Click to View FlipBook Version