pengolahan ini, warna yang dihasilkan dari daun taxus lebih menarik dan rasanya
tidak terlalu kelat atau pahit. Dany menjelaskan, untuk membuat teh taxus, daun
segar dan ranting yang telah dipetik, dikeringkan selama 5 hari sampai kadar
airnya turun menjadi 10%. Setelah itu, bahan dihancurkan menggunakan blender,
kemudian ditimbang 1,5 gram kemudian dikemas dalam kantong teh. Kantong
teh taxus tersebut dapat langsung diseduh menggunakan air panas seperti teh
celup umumnya. Pada saat ini produksi teh taxus masih dalam proses inovasi
dalam pembuatan kemasan yang bagus dan menarik untuk dipromosikan,
sehingga teh tersebut masih dipromosikan terbatas pegawai dan tamu yang
berkunjung ke BP2LHK kata Dany.
Menurut Dany, Taxus atau cemara Sumatra merupakan salah satu
tumbuhan berdaun jarum (conifer) yang telah terbukti berkhasiat sebagai obat
kanker. Tumbuhan yang termasuk ke dalam family Taxaceae ini pertama kali
diteliti sebagai anti kanker pada tahun 1967 di Amerika Serikat dan
dipublikasikan pertama kali tahun 1971. Hasil Risetnya menyebutkan, ekstrak
dari tumbuhan taxus yaitu paclitaxel dimanfaatkan untuk menghambat
pertumbuhan sel kanker khususnya kanker ovarium dan kanker payudara dan
juga telah dicobakan untuk pengobatan beberapa jenis kanker lainnya. Khasiat
dari taxus ternyata tidak hanya sebagai anti kanker namun berkhasiat sebagai
pereda nyeri (anticonvulsant), penahan sakit (analgesic), dan penurun suhu tubuh
(antipyretic).
Senyawa paclitaxel dari taxus juga mempunyai manfaat sebagai anti bakteri dan
anti jamur yang secara tradisional di Pakistan tanaman ini telah dimanfaatkan sebagai
obat infeksi microbial. Berbagai jenis taxus ditemukan di berbagai belahan dunia.
Khusus di Indonesia, Taxus sumatrana (syn. Taxus wallichiana) hanya ditemukan di lima
lokasi di Sumatera, yaitu Gunung Sibuaton (Sumatera Utara), Kerinci, Labu dan Tujuh
(Jambi) serta Gunung Dempo (Sumatera Selatan). Secara global, penyebaran alaminya
mulai dari Himalaya, India, Pakistan, Taiwan hingga ke Sumatera.
90 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
BAB VI
HASIL ANALISIS DAN REKONTRUKSI RENCANA
PROGRAM SEMESTER, SERTA HASIL PERCOBAAN
INKUIRI BIOAKTIVITAS EKSTRAK METABOLIT
SEKUNDER TANAMAN TAXUS SUMATRANA
6.1 Diskripsi Pembelajaran
Pada bab ini dibahas mengenai hasil analisis kurikulum dan Rencana
Pembelajaran Semester (RPS) Mata kuliah KOBA, dilanjutkan analisis dan
rekontruksi capaian pembelajaran dan komptensi yang akan dicapai pada mata
kuliah KOBA untuk bahan kajian senyawa metabolit sekunder dari tanaman Taxus
Sumatrana dan tanaman hutan tropis yang lain. Pada bab ini dibahas desain
pembelajarannya yaitu alokasi waktu dan pertemuan, media dan perangkat
pembelajaran. Pada bagian akhir disajikan hasil. Percobaan inkuiri berbasis
laboratorium yang disajikan pada bab ini adalah uji fitokimia, uji struktur,
bioaktivitas antibakteri, antikanker, dan antioksidan dari metabolit sekunder pada
tanaman taxus sumatrana dan tanaman hutan tropis lainnya. Data data yang
diperoleh pada buku ini semuanya hasil data riset PDU PT tahun 2021 (Sudarmin
dkk, 2021).
6.2 Pengembangan Desain Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-
STEM untuk Bahan Kajian Uji Biokativitas Metabolit Sekunder
6.2.1 Hasil Analisis Rencana Program Semester (RPS) Mata Kuliah
KOBA Pada UNNES dan Universitas Mitra
Riset PDU PT ini untuk mengembangkan desain Model Pembelajaran
Kimia teintegrasi Etno-STEM untuk akselerasu karakter konservasi
mahasiswa.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 91
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Pada riset ini pengembangan Desain Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi
Etno-STEM meliputi lima tahap yaitu: (1) Analisis, 2) Desain, 3) Development,
3) Implementasi, dan 5) Evaluasi. Pada bagian buku ini hanya diuraikan dua
tahap yanga pertama untuk target tahun 2021 yaitu tahapan Analisis dan desain
yang hasilnya diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap analisis (analysis)
Tahap ini berupa analisis kebutuhan untuk mengumpulkan berbagai
informasi yang berkaitan dengan pengembangan suatu Model Pembelajaran
Inkuiri terintegrasi Etno-STEM untuk bahan kajian bioaktivitas metabolit
sekunder dari tanaman hutan tropis Indonesia sebagai upaya akselerasi
konservasi mahasiswa. Pada tahap ini dilakukan refeleksi pembelajaran KOBA
yang berlangsung selama ini, dilanjutkan studi literatur mulai dari RPS, bahan
ajar, capaian pembelajaranm output dan out come, beserta studi lapangan yang
hasilnya digunakan untuk merancang dan merumuskan suatu desain model
pembelajaran yang dikembangkan pada riset ini. Hasil kegiatan studi literatur
mengenai hakekat inkuiri dan analisi RPS, bahan ajar, capaian pembelajaranm
output dan out come diperoleh temuan berikut:
1. Hasil analisis landasan paedagogik, dan konseptual model pembelajaran
inkuiri, pembelajaran di kelas dan praktikum KOBA yang selama ini
berlangsung, belum terlihat sintaknya; sehingga pada riset ini akan diperjelas
dengan MPI terintegrasi Etno-STEM dengan tahapan Sudarmin (Sajikan
masalah, Unjuk Kerja, Diskusikan, Analisis dan Ajukan percobaan, Rancang
jadwal percobaan, Mantapkan persiapan alat dan bahan; serta prosedur kerja,
Implementasikan, dan Nyimpulkan hasil persobaan). Pada kegiatan analisis
model inkuiri, maka pada perkuliahan ini akan diterapkan model Inkuiri dari
Carl Wenning (2007). Pada analisis kegiatan perkuliahan di RPS sebenarnya
sudah terlihat, hanya levelnya masih terbatas pada level diskoveri, demontrasi
92 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
interaktif, dan sedikit yang masuk pada level inkuiri berbasis Laboratorium.
2. Hasil analisis Rencana Program Semester (RPS) mata kuliah KOBA baiak
RPS mata kuliah KOBA di UNNES dan diluar UNNES. Kegiatan ini untuk
mengetahui, mengidentifikasikan, dan memahami mengenai Konten dan
bahan kajian essensial, Input, Proses dan Produk (CIPP) dari Pembelajaran
KOBA. Hasil telaah dari tim riset PDU PT dari Conten, maka terdapat
kemiripan mengenai pengetahuan esensial dalam KOBA yang diajarkan pada
mahasiswa; yaitu hakekat metabolit primer dan sekunder, klasifikasi,
biosintesis, dan manfaatnya dalam kehidupan. Bahan kajian berikutnya
mengenai konsep, teori, dan prosedur analisis fitokimia dari metabolit
sekunder, serta proses isolasi, ekstraksi, identifikasi, dan uji struktur. Pada
RPS di Universitas Andalas Padang, Universitas Negeri Paang, Universitas
Jambi, dan UNNES sudah dibahas secara teoritis mengenai bioaktivitas
metabolit sekunder.
3. Hasil analisis pada bagian diskripsi mata kuliah KOBA dan capain
pembelajaran mata kuliah, keterampilan, sikap dari proses dan hasil
pembelajaran KOBA. Pada riset ini, tim telah melakukan analisis diskripsi
pada RPS KOBA mengenai capaian pembelajaran mata kuliah, dan hasilnya
(a) belum semua RPS mengikuti standar “template” yang disampaikan oleh
KKNI, (b) terdapat “keberagaman” dan persepsi yang variatif mengenai
Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) baik dalam kompetensi
pengetahuan, kompetensi umum, kompetensi khusus, dan sikap, (c) pada
beberapa perguruan tinggi sudah menyajikan bahan kajian berbasis kearifan
lokal sebagai bentuk pewujudan konservasi kearifan lokal, pewujudan
pembelajaran yang kontekstual, pembelajaran berbasis case study, dan
pembelajaran proyek.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 93
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
4. Hasil analisis terhadap bahan kajian konten dan konteks mengenai
keberagaman dan hakekat dari metabolit sekunder serta ruang lingkupnya.
Hasil telaah dari tim riset ditemukan bahwa untuk RPS dari UNNES,
UNNAND dan UNP sudah “tersirat” mengenai potensi dan peluang
pemanfaatan tanaman lokal di Indonesia sebagai etnomedisin, sumber
pembelajaran KOBA. Pada RPS UNNES, UNP, dan UNJA perlu dimasukkan
dan diintegrasikan secara jelas mengenai bahan kajiannya bioaktivitas
tanaman hutan tropis Indonesia untuk akselerasi karakter konservasi dan
manfaatnya bagi masyarakat, dibahas bagaimana cara mengolahnya; uji
bioaktivitas secar laboratoriu, serta karakter konservasi yang dapat
dikembangkan dalam pembelajaran serta memahami beberapa karakter
konservasi dari masyarakat untuk tanaman hutan tropis Indonesia.
Kegiatan yang dilakukan pada studi dokumen pada beberapa RPS di
UNNES dan Perguruan tinggi mitra ini bertujuan untuk mengumpulkan data, dan
aktivitasnya sebagai berikut.
1. Menganalisis silabus mata kuliah Kimia Organik Bahan Alam dari beberapa
universitas di UNNES dan luar UNNES dengan penelusuran melalui
berbagai sumber di Internet, kontak langsung dengan pengampu mata kuliah
KOBA. Pada kegiatan ini juga dilakukan kegiatn FGD, diskusi dan
wawancara dengan dosen pengampu mata kuliah KOBA.
2. Melakukan diskusi (FGD) dan wawancara dengan dosen dan mahasiswa
mengenai pembelajaran mata kuliah KOBA. Kegiatan ini untuk mengetahui
bagaimana model pembelajaran KOBA yang biasa dilakukan dan
mengetahui persepsi dosen dan mahasiswa tentang desain Model
Pembelajaran Inkuiri (MPI) terintegrasi Etno-STEM, khusunya bahan kajian
uji bioaktivitas senyawa metabolit sekunder dari tanaman lokal hutan tropis
di Indonesia dan penerapannya pembelajaran di luar kelas, pembelajaran
kelas; dan percobaan di Laboratorium.
94 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
3. Melakukan diskusi (FGD) dan wawancara terkait evaluasi pembelajaran
yang selama ini dilakukan dan pendapat dosen dan mahasiswa tentang
evaluasi berbasis proses da hasil kinerja. Pada tahapan ini akan dirancang suatu
proses evaluasi pembelajaran berbasis IT.
4. Eksplorasi konten dan konteks senyawa bioaktivitas metabolit sekunder dari
tanaman lokal hutan tropis di Indonesia dalam konteks Etno-STEM,
khususnya jika dikaitkan Etnobotani, manfaat, dan cara mengekstrak
senyawa bioaktif tersebut.
Hasil dari kegiatan analisis data dan informasi pada kegiatan analisis
kebutuhan pada riset ini akan dijadikan bahan untuk merancang dan
mengembangkan suatu Desain Model Pembelajaran Inkuiri (MPI) terintegrasi
Etno-STEM dan akan memberikan gambaran tentang daya dukung dosen mata
kuliah KOBA dan kelayakan model yang dikembangkan jika diterapkan dalam
pembelajaran di kelas dan Laboratorium. Tujuan riset ini dengan mengacu
tahapan awal untuk model ADDIE (Rothwell et al, 2013) dan hasil analisis RPS
terkiatan Konten dan Konteks Mata Kuliah KOBA dari enam perguruan tinggi
yaitu Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI), Universitas Negeri Jambi (UNJA), Universitas Negeri Surabaya
(UNESA), Universitas Andalas (UNAND), dan Universitas Negeri Yogyakarta
(UNY) dan hasilnya secara umum dari kegiatan ini bagai berikut:
1. Analisis CIPP untuk RRPS mata kuliah KOBA di UNNES :
Hasil analisis bahan kajian esensial mengacu pada RPS dan diskripsi
mata kuliah, serta model perkuliahan di ditemukan informasi sebagai berikut:
Bahan kajian dan Diskripsinya : Mata kuliah membahas senyawa metabolit
primer dan sekunder, Isolasi dan identifikasi, dan karakterstiknya metabolit
sekunder. Dilanjutkan biosintesis, klasifikasi, reaksi tranformasi, dan manfaat
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 95
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
metabolit sekunder. Mahasiswa diharapkan memahami dan menganalisis tentang
minyak atsiri dan jamu, uji fitokimia metabolit sekunder [terpenoid, Steroid,
Poliketida, Fenil propanoid, Flavonoid, Saponin dan Alkaloid]. Mata kuliah ini
memberikan bekal pengetahuan, keterampilan kerja ilmiah; serta karakter
konservasi dengan memahami, menganalisis, dan mengkomunikasikan mengenai
senyawa metabolit sekunder, manfaat, dan analisis riset melalui kegiatan inkuri
berbasis lisson dan Etno-STEM terkait topik dan bahan kajian KOBA yang
relevan. Adapun model perkuliahan: Tidak ada praktikum, telaah artikel hasil
Riset di jurnal atau buku sebagai bentuk model pembelajaran Inkuiri berbasis
Lesson, Pembelajaran mengedepankan kearifan lokal, etno-STEM, konservasi.
2. Analisis CIPP pada RPS Mata Kuliah KOBA di UPI
Bahan kajian dan diskripsinya : Mata kuliah ini ,membahas mengenai
struktur, jalur biosintesis, reaksi, penentuan struktur, dan kegunaan dari
terpenoid, steroid, fenilpropanoid, poliketida, flavonoid, dan alkaloid. Mata
kuliah ini adalah mata kuliah dasar dan wajib pada, program S1 Kimia. Selesai
mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan struktur,
jalur biosintesis, reaksi, penentuan struktur, dan kegunaan berbagai, senyawa
metabolit sekunder [terpenoid, steroid, fenilpropanoid, poliketida, flavonoid,
saponin dan alkaloid]. Adapun model perkuliahannya adalah pembelajarannya
menggunakan pendekatan ekspositori berbasis inkuiri, penguasaan konsep
dengan menggunakan metoda ceramah, diskusi, dan pemecahan masalah, dan
analisis artikel.
3. Analisis CIPP untuk Mata Kuliah KOBA di UNJA.
Bahan Kajian dan Diskripsinya: Mata kuliah ini untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmiah mengenai prosedur dan tahap bio
essay, Metabolit primer dan sekunder, Terpenoid, Flavonoid, Fenolat Tanin,
Alkaloid, serta pengetahuan dan keterampilan mengenai isolasi dan identifikasi
senyawa bahan alam, Steroid, Poliketida dan Polifenol. Adapun odel
96 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Perkuliahannya adalah model pembelajaran berbasis aktivitas mahasiswa dengan
kegiatan ceramah, diskusi, tanya jawab, analisis artikel, dan presentasi
4. Analiss CIPP Mata kuliah KOBA di UNESA.
Bahan Kajian dan Diskripsi : mata kuliah ini membahas mengenai
senyawa bioaktif tumbuhan, tumbuhan obat indonesia, Pengertian klasifikasi dan
manfaat senyawa metabolit sekunder serta menyebutkan berbagai jenis ekstrak
yang dapat dimanfaatkan oleh industri, tradisional dan moderen. Mata kuliah ini
juga membahas berbagai metabolit sekunder [terpenoid, steroid, fenil propanoid,
poliketida, flavonoid, Saponin, dan alkaloid], serta klasifikasi, biosintesis, dan
penyebarannya. Dilnjutkan pembahasan isolasi dan metode/ teknik isolasi,
mengidentifikasi senyawa hasil isolasi melalui uji kimia fitokimia. Kajian tentang
manfaat metabolit sekunder sebagai senyawa bioaktif dalam bidang farmakologi
dan industri farmasi, obat, teknik skrining, isolasi dan uji bioaktivitas dan
peranannya dalam pengembangan industri farmasi.
Diskripsi capaian pembelajaran dari mata kuliah KOBA ini adalah
Mahasiswa mampu menggunakan konsep senyawa metabolit sekunder untuk
melakukan skrining, isolasi, dan uji bioaktivitas senyawa metabolit sekunder.
Menguasai konsep dasar senyawa metabolit sekunder dan manfaatnya bagi
manusia, Membuat keputusan berdasarkan analisis skrining, isolasi, dan uji
bioaktivitas metabolit sekunder, Memiliki sikap bertanggung jawab dalam
mengembangkan ekstrak atau isolat sebagai bahan obat herbal. Model
Perkuliahan yang dilaksanakan adalah metode diskusi, presentasi, kunjungan
industri, dan telaah jurnal. Telaah jurnal kimia bahan alam difokuskan tentang
senyawa bioaktif tumbuhan, kunjungan kerja dari sebuah industri obat
tradisional, bahan alam, dan/atau industri farmasi secara kelompok. Pada mata
kuliah terdapat kegiatan Praktikum Isolasi dan Identifikasi metabolit sekunder
dari tanaman lokal.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 97
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
5. Analisis CIPP Mata Kuliah KOBA di UNAND
Bahan Kajian dan Diskripsi dari mata kuliah ini membahas etnobotani,
etnofarmakologi serta obat herbal Indonesia, Bahan kajian berikutnya adalah
penapisan fitokimia dan fitofarmakologi, senyawa metabolit primer dan
sekunder, biosintesa senyawa golongan fenolik, flavonoid kumarin, kuinon,
lignin dan tannin beserta contohnya. Pada mata kuliah ini mahasiswa belajar
mengenai konsep dasar ilmu KOBA yang meliputi biosintesa senyawa metabolit
primer dan metabolit sekunder, penapisan fitokimia dan fitofarmakologi. Serta
dibahas senyawa golongan fenolik, flavonoid, kumarin, kuinon, lignin dan tanin.
Pada mata kuliah ini mahasiswa juga diharapkan mampu menjelaskan
ruang lingkup dan manfaat ilmu Kimia Bahan Alam, membedakan metabolit
primer dengan sekunder, menjelaskan reaksi biosintesis dan penggolongan,
sumber dan contoh senyawa bioaktif alami fenolik, flavonoid, kumarin, kuinon,
lignin dan tanin. Adapun model perkuliahan berbasis aktivitas mahasiswa,
menerapkan inkuiri berbasis lesson dan laboratorium, dan pendekatan etnobotani,
etnofarmasi, etnofarmakologi dari herbal Indonesia.
6. Analisis CIPP dari RPS Mata Kuliah KOBA di UNY
Bahan Kajian dan Diskripsi : Mata kuliah ini membahas definisi dan
klasifikasi senyawa bahan alam, Cara isolasi dan identifikasi senyawa bahan
alam, terpenoid, fenil propanoid, flavonoid, poliketida, polifenol, alkaloid,
steroid, Diskripsi dan capaian pembelajaranya: Mahasiswa mampu memahami
aspek-aspek senyawa bahan alam, meliputi pengertian senyawa bahan alam,
klasifikasi, struktur, sifat, asal-usul biogenesis, biosintesis, cara isolasi, dan
identifikasi yang meliputi golongan senyawa terpenoid, flavonoid, poliketida,
polifenol, alkaloid, steroid, serta beberapa contoh senyawa bahan alam yang
berguna, yang ditemukan pada famili tumbuhan tertentu. Model perkuliahan
yang dikembangkan adalah model pembelajaran berbasis aktivitas mahasiswa
dengan kegiatan ceramah, diskusi, tanya jawab, analisis artikel, dan presentasi
98 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Hasil analisis terhadap dokumen silabus dan RPS mata kuliah KOBA
pada enam perguruan tinggi tersebut ditemukan : (1) Mata kuliah KOBA sebagai
mata kuliah wajib, (2) Untuk bahan kajian pada umumnya relatif sama, (3)
Terdapat dua prodi yang menerapkan perkuliahan berbasis etnosains yaitu
UNNES dan UNAND (etnobotani dan etnofarmakologi), (3) Hanya UNNES dan
UNESA yang menekankan pembekalan nilai karakter, dan (4) satu prodi yang
mengajak kunjungan ke industri jamu, farmasi. Pada pelaksanaan perkuliahan
dari enam prodi hanya satu prodi yang melaksanakan praktikum yaitu UNJA.
Pada pelaksanaan pembelajaran terdapat tiga prodi yang menerapkan kegiatan
analisis dan telaah artikel dari jurnal terkait senyawa metabolit sekunder, yaitu
UNY, UNNES, dan UNES; serta hanya UNNES yang menerapkan etno-STEM
dan karakter konservasi
6.3 Desain dan Rekontruksi Capain Pembelajaran Bahan Kajian Metabolit
Sekunder dan Bioaktivitas Tanaman Huatan Tropis
Pada bagian ini akan dibahas hasil riset PDU PT terkait kegiatan desain
dan rekontruksi capaian pembelajaran dari Mata Kuliah KOBA ini, dan hasilnya
sebagai berikut yaitu:
1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah dan Pertemuan.
Pada pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM pada bahan kajian
bioaktivitas metabolit sekunder Taxus Sumatrana dan tanaman hutan tropis lain
yang dibahas dalam buku ini, hakekatnya bertujuan untuk melakukan kegiatan
merekontruksi dan ekplanasi ilmiah dari suatu hasil observasi dan wawancara
dengan narasumber sebagai pengetahuan masyarakat, diikuti percobaan inkuiri
Laboratorium untuk mensahkan kebenaran ilmiah dari pengetahuan masyarakat
tersebut. Adapun capaian pembelajarann Mata Kuliah KOBA untuk pertemuan
ini adalah mahasiswa secara mandiri, kolboratif, dan tanggung jawab mampu
memahami, menerapkan dan menganalisis suatu hasil percobaan inkuiri
terintegrasi Etno-STEM untuk uji bioaktivitas dari metabolit sekunder dari
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 99
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
tanaman Taxus dan tanaman hutan tropis lainnya berdasarkan pengetahuan
teoritik (Science), artikel relevan.
Capaian pembelajaran mata kuliah ini untuk bidang pengetahuan adalah
Mahasiswa secara mandiri mampu memahami akan keberagaman metabolit
primer dan sekunder, berbagai jalur biosintess metabolit sekunder, klasifikasi dan
contoh dari berbagai metabolit sekunder, keberagman pengetahuan masyarakat
dan sains ilmiah mengenai manfaat dan bioaktivitas metabolit sekunder dari
tanaman taxus. Pada perkuliahan ini capaian pembelajaran adalah mahasiswa
memahami keberagaman preparasi isolasai dan ekstraksi, uji struktur, uji
fitokimia, uji bioaktivitas antibakteri, antioksidan, dan antikanker. Capain
pembelajaran pertemuan berikutnya diarahkan untuk membekali mahasiswa
berupa keterampilan dalam kinerja ilmiah atau inkuiri ilmiah berbasis
laboratorium yaitu membekali mahasiswa terampil dalam percobaan dan kerja
laboratrium dalam melakukan tehnik isolasi, ekstraksi, identifikasi uji fitokimia,
uji struktur, uji bioaktivitas, serta terampil menghasilkan produk teh taxus yang
berkhasiat obat. Capaian pembelajaran pada kegiatan pertemuan ini adalah
mahasiswa mampu untuk mengkomunikasikan ide untuk cara merekayasa
produk teh taxus agar lebih efektif; serta menghiting pengaruh takaran dan pola
minum teh taxus terhadap penyembuhan kanker.
Seorang dosen dalam membahas bagian Etnosains, maka melalui video
atau etno vlog dapat memberikan beberapa contoh budaya yang ada di
masyarakat terkait pengetahun masyarakat mengenai metabolit sekunder, cara
isolasi atau mengekstrak bahan metabolit sekunder dengan alat teknologi
sederhana menggunakan maserasi. Ekstraksi. Pada kegiatan ini capaian
pembelajaran yang diharapkan adalah mahasiswa mampu memahami cara dan
tehnik untuk menghasilkan produk metabolit sekunder yang baik atau bagus yang
dilakukan masyarakat, serta mahasiswa mampu memahmi pengetahuan jual beli
suatu produk teh taxus. Pada pertemuan ketiga dan keempat, maka capain
100 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
pembelajaran yang dibekalkan adalah keterampilan kerja ilmiah melalui
percobaan isolasi, ekstraksi, pemisahan, uji struktur, dan uji bioaktivitas dari
ekstrak simplisia taxus sumatrana. Pada kerja ilmiah di Laboratorium, mahasiswa
dapat mengembangkan sikap dan karakter kerja ilmiah serta karakter konservasi.
Pada buku naskah akademik ini, maka capaian pembelajaran berkaitan dengan
pengetahuan yang harus dikuasai mahasiswa dalam bahan kajian bioaktivitas
metabolit sekunder taxus sumatrana adalah:
1. Pengetahuan Faktual: Pada tanaman taxus sumatrana terkandung senyawa
metabolit sekunder yang digunakan oleh masyarakat untuk berbagai obat
tradisional atau etnomedisin berkhasiat imunitas tubuh, antikanker, dan secara
Laboratorium terbukti secara faktual juga mampu memiliki bioaktivitas
terhadap bakteri, antioksidan dan sel kanker.
2. Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan prosedural dari pembahasan buku ini, agar mahasiswa
menguasai dan memhami dan terampil mengenai:
1. Prosedur kerja isolasi, identiikasi, uji fitokimia dari senyawa metabolit
sekunder dari ekstrak tanaman hutan tropis taxus sumatrana menggunakan
pelarut organik, dan reagen kimia tertentu.
2. Penentuan bioaktivitas dari metabolit sekunder sebagai antibakteri,
antikanker, dan antioksidan dari taxus sumatrana menerapkan prosedur kerja
ilmiah inkuiri dan terstandarkan secara ilmiah,
3. Penentuan jenis struktur kimia berdasarkan serapan gugus fungsi dari suatu
metabolit sekunder menggunakan alat Spektroskopi FTIR.
4. Penentuan daya hambat dari ekstrak metabolit sekunder dari ekstrak taxus
sumatrana terhadap bakteri Bacillus Subtili dan Escherichia Coli.
5. Penentuan daya antir oksidan dari ekstrak metabolit sekunder taxus
sumatrana
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 101
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
6. Penentuan daya hambat pertumbuhan sel kanker dari ekstrak metabolit
sekunder taxus sumatrana
3. Alokasi Waktu
Pada riset ini waktu yang digunakan untuk pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM untuk bahan kajian uji bioaktivitas metabolis sekunder
dari tanaman hutan tropis, sub topik Taxus Sumatrana terdiri atas empat
pertemuan dengan bahan kjian pembelajaran hakekat pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM, keragaman metabolit sekunder dan primer, klasifikasi
dan manfaatnya bagi kehidupan. Pada bahan kajian ini juga disampaikan
demontrasi menggunakan video yang telah disiapkan mengenai model
pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM, uji bioaktivitas metabolit sekunder
sebagai antibakteri, antioksidan dan antikanker. Pada kegiatan pembelajaran
bahan kajian ini telah dibahas antara bana kajian dengan level discovery melalui
kegiatan FGD dan dihasilkan kesepakatan untuk kegiatan riset PDUPT ini adalah:
1. Pertemuan pertama ini menekankan penguasaan dan menahani pada level
discovery learning dan interactive demonstrations,
2. Pertemuan kedua untuk penyajian pembelajaran Inquiry lesson melalui
kegiatan diskusi dan presentasi berkaitan kegiatan praktek laboratorium
mengenai isolasi, identitifikasi fitokimia, uji antibakteri, dan uji antikanker
dari ekstrak taxus sumatrana, serta mengantarkan mahasiswa untuk
menyiapkan alat dan bahan untuk kegiatan Inkuiri berbasis laboratorium
3. Pertemuan ketiga dan keempat ini, mahasiswa melakukan pembelajaran
inquiri laboratory dan real-world applications sebagai kegiatan eksplanasi
sains ilmiah, yangmana pada kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa secara
kelompok melakukan percobaan inkuiri berbasis laboratorium mulai
kegiatan isolasi, identifikasi, uji fitokimia, uji struktur, serta uji bioaktivitas
antibakteri, antiokasidan dan antikanker dari tanaman hutan tropis dan
tanaman hutan tropis lainnya.
102 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
4. Praktik Kerja Ilmiah dan Keterampilan Intelektual
Keterampilan praktik kinerja ilmiah inkuiri dan keterampilan intelektual
pada pembelajaran topik uji bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman taxus
sumatrana dab tanaman hutan tropis lainnya adalah
a. Level discovery learning: pada level ini mahasiswa secara mandiri atau
kelompok untuk dapat membangun konsep, mengkontekstualkan,
menyimpulkan dan menggeneralisasikan hasil diskoveri atau observasi suatu
permasalahan dalam kehidupan nyata atau etnis budaya tertentu yang
disajikan dosen. Pada kegiatan riset ini desain pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM, maka mahasiswa secara mandiri atau kelompok
melakukan diskoveri melalui observasi dan wawancara kepada narasumber
mengenai tanaman hutan tropis yang oleh masyarakat sebagai obat obat
tradisional.
b. Level interactive demonstration pada level ini mahasiswa dituntut untuk
unjuk kerja menjelaskan dan memprediksi rumusan masalah dan solusinya,
setelah ditayangkan video atau pengamatan suatu fenomena dan etnis budaya
tertentu. Pada riset ini, dosen menyampaikan demontrasi interaktif mengenai
apa hakekat dari desain pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM untuk
bahan kajian bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis
Indonesia, dan bagaimana implementasi dan penerapan suatu pembelajaran
inkuiri terintegrasi Etno-STEM untuk bahan kajian bioaktivitas metabolit
sekunder dari tanaman hutan tropis Indonesia
c. Level inquiry lesson: Pada level ini aktivitas mahasiswa ditekankan
menerapkan informasi, menganalisis, menjelaskan memaknai data
kuantitatif untuk mencari hubungan matematis dari berbagai sumber
referensi yang ditemukan. Pada level ini mahasiswa dapat mengajukan
rumusan hipotesis, yang kemudian akan dibuktikan melalui inquiry
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 103
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
laboratory. Pada riset ini kegiatan Inkuiri berbasis Lessan dapat
dikembangkan melalui pemberian case study mengenai mengapa taxus
sumatrana dan tanaman hutan tropis lainnya oleh masyarakat dapat
dimanfaatkan sebagai imunitas, antikanker, atau khasiat lainnya. Mahasiswa
secara mandiri atau kelompok untuk unjuk kerja untuk merumuskan
hipotesis dan ekplanasi ilmiah dari mengapa tanaman hutan taxus dan
tanaman hutan tropis sebagai antikanker atau imunitas tubuh.
d. Level inquiry laboratory: Pada level ini mahasiswa untuk merancang dan
melakukan penyelidikan ilmiah yang terkontrol dan Menggunakan data,analisis
grafis, dan matematika dalam pemecahan masalah ilmiah Pada level ini mahasiswa
disiapkan untuk melakukan kegiatan kerja ilmiah berbasis laboratorium untuk
membuktikan dan mensahkan kebenaran dari pengetahuan masyarakat terkait taxus
sumatrana dan tanaman hutan tropis sebagai imunitas tubuh atau sebagai
antikanker.
e. Level real-world applications: Pada level ini mahasiswa diharapkan mampu
menggunakan data dan matematik dalam pemecahan masalah dunia nyata,
merangkum secara logis membenarkan sebuah kesimpulan berdasarkan
bukti empiris, dan menggunakan penalaran yang tepat untuk membuat
prediksi. Pada level ini mahasiswa secara mandiri atau kelompok untuk
menggunakan data dari percobaan Labotarium dalam menyusun suatu
kesimpulan atau memecahkan masalah terkait eksplanasi ilmiah mengenai
tanaman taxus dan tanaman hutan tropis sebagai imunitas tubuh atau
antikanker.
Pada bagian ini akan dibahas tiga level inkuiri utama dan pertanyaan
pengarahnya, hal ini penting disajikan karena riset PDU PT ini adalah riset
dasar, sehingga level inkuiri yang ditetapkan hanya pada level ketiga;
sedangkan level yang lebih tinggi akan dilaksanakan pada riset tahun berikutnya
yaitu riset PDU PT untuk tahun kedua dan ketiga yaitu tahun 2022 dan 2023.
Pembahasan untuk setiap level inkuiri tersebut dijelaskan sebagai berikut.
104 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
1). Discovery Inquiry
Langkah tersebut sebagai bagian discoveri inkuiri. Pertanyaan arahan
dalam dikoveri ini, misalnya (a) Apakah tanaman taxus sumatrana dan habitat
hidupnya, dan karakteristiknya, (b) Apakah manfaat tanaman taxus sumatrana
dan tanaman hutan tropis lainnya?, (c) mengapa tanaman Taxus dan tanaman
hutan tropis berkhasiat obat?, (d) Bagaiaman cara pengolahan untuk pembuatn
teh cemara sumatra, teh bajakah, teh akar kuning, dan teh sarang semut dapat
bersifat antikanker, antibakteri, atau antioksidan?
2). Interactive Demonstration
Mahasiswa mengamati secara langsung atau pemanfaatn video demonstrsi
dalam melakukan kerja laboratorium meliputi isolasi, identifikasi, uji struktur
metabolit sekunder dari tanaman taxus sumatrana. Mahasiswa diharapkan
mengajukan pertanyaan terkait prosedur kerja laboratorium meliputi isolasi,
identifikasi, uji struktur metabolit sekunder dari tanaman taxus sumatrana.
Mahasiswa berdiskusi mengenai beberapa prosedur kerja laboratorium meliputi
isolasi, identifikasi, uji struktur metabolit, dan uji bioaktivitas antibakteri,
antioksidan dan antikanker dari metabolit sekunder dari tanaman taxus
sumatrana dan tanaman hutan tropis lainnya. Pertanyaan arahan pada diskoveri
level ini, misalnya untuk kajian etnosains adalah (a) Bagaimana cara isolasi
tanaman taxus sumatrana?, (b) Bagaimana cara identifikasi kandungan metabolit
sekunder taxus sumatrana?, dan (c) Bagaimana cara uji struktur, uji bioaktivitas
antivbakteri, antioksidan dan antikanker pada metabolit sekunder taxus
sumatrana?
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 105
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
3) Inquiry Laboratory
Mahasiswa pada kegiatan inkuiri ini melakukan serangkaian kegiatan
kerja ilmiah baik kegiatan inkuiri berbasis budaya dan kearifan lokal dalam upaya
merekontruksi sains ilmiah berbasis pengetahuan sains masyarakat diikuti
eksplanasi ilmiah melalui inkuiri berbasis Laboratorium. Pada kegiatan ini,
dilakukan kerja inkuiri ilmiah untuk ekplanasi ilmiah dengan pengarah
pertanyaan mengapa tanaman hutan tropis Taxus sumatrana dan tanaman hutan
tropis lain mampu berkhasiat sebagai antikanker, antioksidan, dan antibakteri.
6.4 Hasil Temuan dan Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri
Terintegrasi Etno-STEM
Pada bagian ini dibahas mengenai hasil temuan prosedur riset ini ,
rancangan implementasi desain model pembelajaran yang dikembangkan dan
pembahasan yang mana hasilnya secara ringkas disajikan sebagai berikut.
6.4.1 Temuan Bagaimana Prosedur Kerja Riset Etnomedisin
Riset ini termasuk etnomedisin, yang mana pengumpulan data pada masa
pandemi ini, maka perangkat instrumen dikirim melalui email dan jasa post ke
mahasiswa yang lokasinya dekat dengan narasumber dan mahasiwa dijelaskan
secara daring. Pada riset ini pertanyaan difokuskan pada (1) nama lokal tanaman
hutan tropis, (2) Ciri dan karakteristik tanaman hutan tropis, (3) bagian tanaman
hutan tropis yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, (4) cara meracik ekstrak
tanaman hutan tropis, (5) bahan tambahan untuk ekstrak tanaman hutan tropis, (6)
komponen apa yang berkhasiat obat, (7) cara konservasi masyarakat terhadap
hutan tropis di Indonesia, (8) pola pembibitan atau mempertahankan tanaman
hutan tropis Indonesia. Pada riset ini hasil wawancara dengan nara sumber,
selanjutnya datanya dilakukan proses rekontruksi menjadi pengetahuan ilmiah.
Prosedur untuk rekontruksi sains masyarkat menjadi sains ilmiah melalui aktivitas (a)
pengumpulan data, (b) verifikasi dan reduksi data, (c) konseptualisasi dan validasi
pengetahuan ilmiah berbasis pengetahuan sais masyarakat, serta (d) dokumentasi
pengetahuan imiah dalam perangkat pembelajarannya.
106 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Pada kegiatan riset etnosains, maka semau aktivitas baik bukti
wawancara, rekaman hasil wawancara, serta foto kegiatan harus dapat dibuktikan
dan dilaporkan dengan kualitas sangat baik dan dibuktikan secara autentik. Pada
buku untuk memberikan gambaran mengenai instrumen riseti etnomedisin dan contoh
instrumen pengumpul data riset melalui kegiatn observasi dan tanya jawab kepada
narasumber mengenai “Etnomedisine” tanaman hutan tropis sebagai obat
tradisional disajikan pada Tabel 6.1.
Nama Narasumber : ....
Alamat : ....
Pendidikan Terakhir : ....
Usia : ....
Tempat Observasi :
Tabel 6.1 Instrumen Lembar Wawancara Pengumpul Data Riset Etnomedisin
No Fokus Pertanyaan Jawaban
narasumber
01. Nama Tanaman Daerah
02. Ciri tanaman (Daun, Batang, Akar, Bunga, Biji, Warna
Daun, dll)
03. Kegunaan Tanaman Taxus Bagi Masyarakat
04. Bagian yang bermanfaat bagi kesehtan untuk
tanaman taxus sebagai etnomedisin
05. Cara pembuatan ekstrak atau produk jamu (the taxus)
06. Cara pemakaian ekstrak jamu the taxus
07. Pola perilaku masyarakat dalam mengkonservasi atau
melindungi tanaman taxus
08. Bagaimana cara memperbanyak tanaman taxus
09. Mengapatanamantaxusbisa berkhasiat
Link Taxus Sumatrana
1. Link : http://klikpositif.com/baca/65794/tanaman-langka-
ditemukan-di-gunung-singgalang
2. Link: https://www.youtube.com/watch?v=XVVhTL1GMXM
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 107
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Pada bagian berikut ini disajika hasil hasil analisis data dari hasil
wawancara dengan narasumber yang diperoleh pada saat wawancara di lokasi
riset, terkait tanaman hutan tropis dari Taxus Sumatrna Indonesia (Rehani R dkk,
2021). Berdasrkan hasil wawancara kepada dua narasumber, diketahui bahwa
kedua nara sumber menyampaikan kesamaan pengetahuan yaitu nama lokal
Taxus dan cara masyarakat mengkonsumsinya. Proses perebusan kulit
batang/daun Taxus dalam konteks ilmu pengetahuan disebut dengan proses
isolasi dan ekstraksi melalui maserasi (Sudarmin et al, 2020). Perubahan warna
air Taxus menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder yang terlarut dalam
air. Pada Gambar 6.1 disajikan aktivitas proses pengambilan data observasi
tanaman taxus sumatrana.
Gambar 6.1 Foto kegiatan Foto Riset Etnomedisine Tanaman Taxus Sumatrana
di Kawasan Hutan Sumatra
108 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
6.4.2 Hasil Pengembangan dan Implementasi Pembelajaran Inkuiri
Terintegrasi Etno-STEM Pada Bahan Kajian Bioaktivitas
Metabolit Sekunder Tanaman hutan Tropis
Pada bagian ini akan disajikan hasil diskusi dan FGD mengenai desain
Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Pada Bahan Kajian Bioaktivitas
Metabolit Sekunder Tanaman hutan Tropis, yang mana hasilnya secara ringkas
disajikan sebagai berikut:
1. Perumusan Tujuan Pembelajaran Isolasi dan Uji Fitokima Metabolit
Sekunder.
Perumusan capaian kompetensi dari pembelajaran inkuiri Terintegrasi Etno-
STEM Pada Bahan Kajian Bioaktivitas Metabolit Sekunder Tanaman hutan
Tropis sebagai berikut:
a. Pengetahuan :
Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan pengetahuan konseptual,
prosedural mengenai tehnik atau cara isolasi, identifikasi uji fitokimia pada
sampel ekstrak isolat dari tanaman taxus sumatrana yang berkahsiat obart setelah
dijelaskan dosen, diskusi, tanya jawab, dan presentasi.
b. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan untuk isolasi dan membuktikan
adanya kandungan senyawa metabolit sekunder [alkaloid, steroid, terpenoid,
flavonoid, fenolik, dan atau saponin] dengan reagen pereaksi kimia untuk
berbagai ekstrak tanaman hutan tropis di Indonesia.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan uji fitokimia dalam
bentuk tulisan ilmiah atau presentasi pada kegiatan ilmiah.
c. Sikap :
a) Mengembangkan sikap konservasi terhadap keanekaragaman hayati dari
tanaman hutan tropis dan memanfaatkan metabolit sekunder sebagi obat
tradisional untuk berbagai penyakit secara bijaksana.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 109
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
b) Mengembangkan sikap kinerja ilmiah seperti menggunakan ilmu pengetahuan
prosedural pada kinerja ilmiah untuk isolasi dan identifikasi senyawa metabolit
sekunder dari sampel ekstrak tanaman hutan tropis Indonesia.
d. Alat dan Bahan Percobaan Isolasi Metabolit Sekunder dari Tanaman
Taxus Sumatrana atau tanaman hutan tropis
Alat dan Bahan Percobaan Isolasi Metabolit Sekunder dari tanaman
hutan tropis adalah :
a) Uji fitokimia alkaloid, alat yang digunakan adalah lumpang dan alu, tabung
reaksi, pipet tetes, rak tabung reaksi, kertas
b) Saring dan spatula. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel serbuk
atau ekstrak dari tanaman hutan tropis, kloroform-amoniak, asam sulfat,
reagen Mayer, dan reagen Dragendorff.
c) Uji fitokimia steroid dan terpenoid, alat yang digunakan adalah tabung
reaksi, pemanas, kertas saring, pipet tetes, pelat tetes. Sedangkan bahan yang
digunakan adalah sampel serbuk dari sampel tanaman hutan tropis Indonesa,
etanol, kloroform, aquades, norit, anhidrida asetat, dan asam sulfat pekat.
d) Uji fitokimia flavonoid, alat yang digunakanadalah tabung reaksi, dan pipet
tetes. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel ekstrak dari “berbagai
tanaman hutan tropis”, dan serbuk logam Mgdan HCl.
e) Uji fitokimia fenolik, alat yang digunakan adalah tabung reaksi dan pipet.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel tanaman hutan tropis
Indonesia dan FeCl3.
f) Uji fitokimiasaponin, alat yangdigunakantabungreaksi danpipet tetes.
110 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
e. Hasil Kerja Isolasi dan Uji Fitokimia Senyawa Metabolit sekunder
dari Bagiian Tanaman Taxus Sumatrna.
Serbuk kering dan daun Taxus sumatrana (25 gram) dimaserasi dengan
metanol atau pelarut organik laiinya selama 2 x 24 jam lalu disaring ekstraktnya
dan dimaserasi ulang sebanyak dua kali sesuai dengan cara maserasi awal. Ekstrak
metanol dipekatkan dalam alat evaporator pada tekanan rendah sehingga
diperoleh cairan kental. Sebanyak kurang 50 mL larutan pekat ini dievaporasi
hingga kering atau pekat. Untuk memberikan gambaran yang jelas, maka pada
Tabel 6.3 disajikan hasil analisis uji fitokimia dari senyawa metabolit sekunder dari
ekstrak tanaman Taxus Sumatrana (Sudarmin dkk, 2021).
Tabel 6.2 Hasil Uji Fitokimia dari Ekstrak BagianTanaman Taxus Sumatrana
No Sample Pelarut Alkaloids
extract Mayer Dragen- Stero Terpe- Fenolik Saponin
Air
1 Kulit Etanol dorft - id noids
2 Kulit Etanol
3 Kulit dan - - - + ++ ++
keksana
4 Kulit Etanol + + - + +++ +++
dan
5 Daun Benzene -- + ++ -
Etanol
- - +- + -
- - +- + -
Hasil uji fitokimia mengungkapkan bahwa baik pada kulit kayu maupun
daun ekstrak Taxus sumatrana mengandung fenolat. Alkaloid hanya ditemukan
dalam campuran kulit kayu-etanol. Hasil uji fitokimia diketahu dalam taxus
sumatrana Hasil percobaan dari riset ini ditemukan bahwa hasil Uji Fitokimia
Ekstrak Kulit dan Daun Taxus sumatrana terkandun metabolit steroid, terpenoid,
dan saponin. Adanya metabolit tersebut yang menjelaskan secara ilmiah
mengapa ekstrak Taxus dapat menjadi agen antikanker, hal ini mengikuti temuan
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 111
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Shen Y-C et al (2005) dan Khosroushahi et al (2011). Berdasarkan data yang
ditampilkan, kandungan utama dalam Taxus Sumatrana sebagai senyawa
antikanker adalah terpen dan fenolat. Matsjeh, S (2009), dan tim medis
Universitas Lambung Mangkurat (2018) menyatakan bahwa senyawa fenolik
sangat potensial sebagai anti kanker. Alat dan Bahan, serta Prosedur Kerja Uji
Struktur Metabolit Sekunder Taxus Sumatrana
2. Perumusan Tujuan Pembelajaran Uji Struktur Metabolit
Sekunder.
Tujuan dan capaian pembelajaran pada kegiatan pembelajaran Uji Struktur
pada Metabolit Sekunder dari tanaman hutan tropis Indonesia adalah.
a. Pengetahuan :
Mahasiswa memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural
mengenai analisis jumlah komponen, renemen dan struktur dari sampel dari
ekstrak Bajakah, Akar Kuning, Taxus Sumatrana, dan Mangrove sebagai tanaman
hutan tropis Indonesia menggunakan alat Kromatografi Gas- Spektrokopi Massa
(KG-SM) dan FTIR.
b. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan inkuiri berbasis laboratorium
untuk membuktikan adanya jumlah komponen, kadar; serta kandungan
serapan gugus fungsional dari metabolit sekunder tertentu dari sampel ekstrak
tanaman hutan tropis di Indonesia, yaitu Bajakah, Taxus Sumatrana,
Mangrove, dan Akar Kuning.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan jumlah komponen,
kadar dan uji struktur pada kegiatan ilmiah melalui presentasi di depan kelas,
seminar atau publikasi ilmiah Jurnal.
c. Sikap : Mengembangkan sikap kerja ilmiah, konservasi keanekaragaman hayati,
berpikir secara matematis, berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah
112 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
d. Alat, Bahan, Prosedur Kerja dan Hasil Analisis FTIR
Alat utama dalam percobaan ini adalah alat Spektrofotometer FT-IR
Nicolet Avatar 360 IR, yang ada di Laboratorium di Kimia UNNES. Bahanyang
digunakan adalah sampel ekstrak hasil isolasi dan ekstraksi Taxus Sumatrana.
Adapun prosedur kerjanya adalah sampel kristal hasil isolasi yang telah murni
dianalisis menggunakan spektrofotometer inframerah. Kristal yang telah murni
dibebaskan dari air kemudian digerus bersama-sama dengan halida anorganik,
KBr. Gerusan kristal murnidengan KBr dibentuk menjadi lempengtipis ataupelet
dengan bantuan alat penekan berkekuatan 8-10 ton per satuan luas kemudian
pelet tersebut diukur puncak serapannya Untuk memperkuat hasil uji fitokimia,
dilakukan uji struktur menggunakan Spektroskopi FTIR Perkin Eileen 100 dan
menunjukkan adanya serapan gugus hidroksil dan karbonil, cincin aromatik,
serta gugus metil dan metilen. Hasil spektrum FTIR disajikan pada Gambar 6.2
hingga pada Gambar 6.4.
%T 102
100
1216.34cm-1
98 1372.45cm-1
96
94 3500 3000 2500 2000 1500 1048.12cm-1
92
90 1000 650
88
86
84
82
4000
cm-1
Gambar 6.2 Hasil Spektrum Ekstrak Daun Taxus sumatrana dengan Pelarut
Etanol
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 113
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
%T 102
100
%T
98
96
94
92
90 880.88cm-1
88 1216.99cm-1
86
1372.48cm-1
84
82 1739.60cm-1
80
2500
Gambar 6.3 Hasil Spektra Ekstrak Kayu Taxus sumatrana dengan Pelarut
Etanol dan Heksana
102 3356.43cm-1
100
880.55cm-1
98
1217.16cm-1
96 1739.75cm-1371.90cm-1
94 1047.64cm-1
92 3500 3000 2500 2000 1500 1000 650
90
88
86
84
82
82
4000
cm-1
Gambar 6.4 Hasil Spektra Ekstrak Kayu Taxus sumatrana dengan Pelarut
Etanol + Benzena.
114 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Berdasarkan data Spektra FTIR dari Gambar 6.2 sampai 6.4 serapan dari
gugus fungsi pada Taxus sumatrana dapat diringkas pada Tabel 6.4 .
Tabel 6.3 Penyerapan Gugus Fungsi dari Sampel Ekstrak Taxus sumatrana
No Bilangan Tipe absorbsi gugus Fungsi
gelombang
Absorsi (Cm-1) Absorbansi gugus hidroksil (-OH)
Absorbansi gugus vibrasi alkana dan alkena dari
1. 3354 - 3500 gugus -CH3 , -CH2 - dari alkana atau aromatik
2. 2972-2975 Absorbsi dari gugus karbonil (C = O)
Vibrasi dari keberadaan dari gugus karbonil (=
3. 1734 - 1740 CO) dari ester, carboksil, dan asam anhidrat.
4. 1217 - 1225 Vibrasi munculnya ikatan rangkap dari C = C –
H, dan aromatik - H-H dari senyawa fenolik.
5. 1000 - 1040
Temuan data uji FTIR telah memperkuat hasil Riset ini dan
kepercayaan masyarakat adat tentang Taxus sebagai antikanker. Senyawa
metabolit sekunder berperan sebagai antikanker karena adanya gugus fungsi
teroksigenasi sebagai gugus bioaktif yang menghambat pertumbuhan sel kanker
(Artanti, N et al, 2002, Tim Peneliti Medis Universitas Lambung Mangkurat,
2018).
Pada pembelajaran ini, mahasiswa diberikan tugas untuk melakukan
diskusi kelompok untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri
terintegrasi etno- STEM. Setiap kelompok berdiskusi mengenai tanaman hutan
tropis kemudian mahasiswa diberikan tugas untuk (1) rumusan masalah dari
kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2) menuliskan rumusan hipotesis
yang dapat diajukan dari percobaan tersebut; (3) menuliskan secara singkat
mengenai rancangan percobaan untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4)
menuliskan secara singkat jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan
hipotesis, (5) mendiskripsikan hasil Riset dan pembahasan; serta analisis data dari
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 115
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
percobaan secara singkat dan jelas, (6) menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi
mengenai percobaaan yang dilakukan.
Alat dan Bahan, dan Prosedur Kerja Bioaktivitsa Antibakteri
1. Alat dan Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan: Ekstrak dan isolat dari berbagai tanaman
hutan tropis (Bajakah, Akar Kuning, Taxus Sumatrana, dan Mangrove), nutrient
agar (Merck), agar bakteriologikal (Hi-Media), Akuades, n-heksan (Merck), etil
asetat (Merck), etanol (Merck), DMSO (Merck), kloramfenikol, ampisilin (Generik),
isolat bakteri Escherichia coli, Bacilus Subtili, dan Staphylococcus aureus dari
Laboratorium Biologi Fakultas MIPA UNNES.
2. Cara Kerja Uji Bioaktivitas Antibakteri
Tahapan persiapan meliputi peremajaan bakteri, pembuatan suspensi
bakteri, pembuatan cakram kertas, persiapan kontrol negatif, persiapan kontrol
positif, dan pembuatan seri konsentrasi yaitu konsentrasi 300; 400; dan 500
mg/mL. Uji aktivitas antibakteri menggunakan adalah metode Disc Diffusion
(Tes Kirby-Bauer). Suspensi bakteri uji sebanyak 20 μL di masukkan pada media
dalam petri kemudian goreskan dengan kapas ulas steril diatas media uji
(Difco,1977). Kapas ulas steril diputar beberapa kali. Prosedur ini diulangi
sebanyak dua kali. Cakram kertas dengan diameter berukuran 6 mm. Kontrol
positif berupa Siprofloksasin 50 μg, kontrol negatif DMSO 20%, ekstrak etanol
dari isolat Bajakah dengan setiap kosentrasi 300mg/mL, 400mg/mL dan 500
mg/mL. Kemudian cakram ditempatkan diatas permukaan media sesuai dengan
posisiyang diinginkan. Media selanjutnya diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24
jam, kemudian dilakukan pengukuran diameter zona hambat dengan jangka
sorong yang dinyatakan dalam satuan milimeter.
116 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
3. Hasil Uji Bioaktivitas Antibakteri dari Ekstrak Taxus Sumatrana
Pada riset ini telah dilakukan percobaan untuk uji bioaktivitas
antibakteri dari berbagai bagian tanaman dari Taxus Sumatraba dan hasilnya
disajikan pada Tabel 6.5
Tabel 6.4 Hasil uji daya hambat bakteri dengan sampel Taxus Sumatran, akar
kuning, bajakah, dan sarang semut yang terektrak dalam pelarut
etanol (Sudarmin et al, 2021)
Sampel Diameter Zone Penghambatan
Daun Taxus
Kuliat Batang Taxus Bacillus subtilis Escherichia colli
Akar Kuning
Bajakah Percobaan 1 : 12,95 Percobaan 1 : 7,93
Sarang semut
Percobaan 2 : 12,10 Percobaan 2 : 7,78
Percobaan 3 : 11,55 Percobaan 3 : 9,36
Rerata : 12,20 Rerata :8,36
Percobaan 1 : 8,35, Percobaan 1 : 8,62,
Percobaan 2 : 8,01 Percobaan 2 : 6,64
Percobaan 3 : 8,42 Percobaan 3 : 7,75
Rerata : 8,26 Rerata : 7,67
Percobaan 1 : 13,195, Percobaan 1 : 9,21
Percobaan 2 : 13, 52 Percobaan 2 : 8,27
Percobaan 3 : 13, 56 Percobaan 3 : 8,67
Rerata : 13,43 Rerata : 8,72
Percobaan 1 : 8,42, Percobaan 1 : 8,46,
Percobaan 2 : 8,39 Percobaan 2 8,42
Percobaan 3 : 8,35 Percobaan 3 : 7,25
Rerata : 8,39 Rerata : 8,04
Percobaan 1 : 12,86, Percobaan 1 : 15,93,
Percobaan 2 : 12,46, Percobaan 2 : 10,39,
Percobaan 3 : 11,57 Percobaan 3 : 14,65
Rerata : 12,29 Rerata : 13,66
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 117
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Tabel 6.4 diketahui bahwa tanus sumatrana memiliki daya hambat untuk
bakteri Bacillus subtilis dan bakteri Eschericia Colli yang berbeda beda untuk
ekstrak bagian tanaman dari taxus sumatrna, bajakah, akar kuning, dan sarang
semut. Pada riset ini diketahui bahwa ekstrak dari daun dan kulit batang Taxus
lebih kuat daya hambatnya untuk bakteri Bacillus subtilis dibandingkan
Eschericia Coll..
4. Percobaan Inkuiri Uji bioaktivitas Antikanker dari Tanaman Hutan
Tropis
1. Tujuan Pembelajaran
Pada kegiatan ini tujuan pembelajaran dan capain pembelajaran yang
akan dicapai untuk kompetensi
1.1 Pengetahuan :
Mahasiswa secara kritis, kreatif dan komunikatif mampu memahami mengenai
pengetahuan prosedural mengenai uji bioaktivitas antikanker dariekstrakisolat dari
tanaman hutan tropis, yaitu, Taxus sumatrana, bajakah, akar kuning, dan sarang
semut sebagai eksplanasi ilmiah dari pengetahuan masyarakat bahwa bagian
tanman tanaman hutan tropis dari taxus sumatrana berkhasiat sebagai anti kanker.
1.2 Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan dan analisis kritis, serta mampu
membuktikan adanya daya hambat pertumbuhan sel dari kandungan
senyawa metabolit sekunder dari berbagai tanaman hutan tropis Taxus
Sumatrana dan tanaman hutan tropis lainnya Indonesia.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan dari uji
biokativitas antikanker dari ekstrak tanaman Taxus Sumatrana dan tanaman
hutan tropis lainnya di Indonesia.
118 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
1.3 Sikap :
a). Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayatai, cinta tanah air,
dan peduli lingkungan.
b). Mengembangkansikapkinerjailmiah, sikap jujur, disiplin, rasa ingin tahu, dan
tanggung jawab.
2. Alat Dan bahan Percobaan
Alat dan bahan untuk percobaan inkuiri uji bioaktivitas antikanker
adalah ekstrak isolat dari tanaman hutan tropis (teh Taxus sumatrana, teh
bajakah, teh akar kuning, dan teh sarang semut). Alat untuk uji anikanker
(Sitotoksis) dengan metode MTT berada di Laboratorium. Farmasi UNDIP
Semarang, yangma alatnya disajikan pada Gambar 6.5.
Gambar 6.5 Alat untuk Uji Antikanker degan Metode MTT
3. Cara Kerja Uji sitotoksik dengan metode MTT
a) Suspensi sel dalam media lengkap sebanyak 100 µL (kepadatan
10.000 sel/sumuran) dimasukkan ke dalam plate 96 dan plate diinkubasi
selama 24 jam dalam inkubator CO2 5%.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 119
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
b) Di akhir inkubasi, media pada masing-masing sumuran dibuang,
kemudian ditambahkan media baru dan sampel 100 µL dalam tiap
sumuran yang berbeda sehingga diperoleh kadar akhir sampel dengan
variasi kadar tertentu (sampel: 250, 150, 100, 50, 25 µg/mL).
c) Selanjutnya plate diinkubasi dalam inkubator CO2 5% selama 24 jam
pada suhu 37°C.
d) Pada akhir inkubasi, medium pada masing-masing sumuran dibuang,
dicuci dengan PBS sebanyak 100 µL, kemudian ditambahkan 100 µL
MTT 5 mg/ mL dalam PBS. Plate diinkubasi lagi selama 4 jam pada
suhu37°C.Selhidupakanbereaksidengan MTT (3-(4,5-dimetil thiazol
-2il)-2,5-difeniltetrazoliumbromid) membentuk formazan yang berwarna
ungu.
e) Reaksi pembentukan formazan dihentikan dengan menambahkan
larutan SDS (Sodium Dodecyl Sulphate) 10% dalam HCl 0,01N, lalu
diinkubasi selama semalam pada suhu kamar.
f) Pada akhir masa inkubasi serapan dibaca dengan ELISA reader pada
panjang gelombang 550 nm. Persentase sel hidup dihitung melalui
data absorbansi sel kemudian dibuat kurva hubungan log konsentrasi
versus nilai % sel hidup dan dihitung harga IC50-nya.
4. Hasil Percobaan Uji Bioaktivitas Antikanker
Pada bagian ini akan disajikan hasil uji bioaktivitas dari ekstrak tanaman
hutan tropis menggunakan metode MTT.
120 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Tabel 6.5 Hasil uji bioaktivitas antikanker dari tanaman hutan tropis
Indonesia (Sudarmin et al, 2021)
Sampel IC50 (ug/mL) Metode Test
Kulit batang taxus 400,17 Elisa
Sarang semut 661,02 Elisa
Akar kuning 330,79 Elisa
Teh bajakah 310,12 Elisa
Daun Taxus 60,11 Elisa
Pada Tabel 6.6 dapat disimpulkan bahwa Daun Taxus memiliki
sitotoksik atau antikanker paling kuat aktivitasnya. Menurut teori bahwa senyawa
herbal dinyatakan memiliki aktivitas sitotoksik yang kuat dari IC50 nilainya
kurang dari 100 g/mL. Pada riset ini juga dilakukan uji antikanker dari variasai
antara Taxus dan Bajakah, Taxus dan akar kunig, dan Taxus dan Sarang semut
dan hasinya disajikan pada Tabel 6.6.
Tabel 6.6 Uji Bioaktivitas antikanker dari kombinasi Taxus sumatrana dengan
Bajakah, Taxus dengan akar kuning, dan taxus dengan sarang semut
Sampel Efek Kombinasi Metode Tes
Taxus -Bajakah Elisa
Taxus –Akar kuning Semua dosis kombinasi (16 dosis) Elisa
memiliki efek sinergis
Taxus - Sarang Elisa
Semut 2 dosis kombinasi memiliki
efek sinergis 14 dosis kombinasi
memiliki efek antagonis
Semua dosis kombinasi (16 dosis)
memiliki efek antagonis
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 121
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Pada riset ini, kombinasi obat adalah metode umum untuk pengobatan
penyakit klinis. Apakah kombinasi obat masuk akal sering mempengaruhi hasil
dari pengobatan penyakit (Tun et al. 2019). Banyak metode telah digunakan
untuk mengevaluasi interaksi antar obat sampai saat ini. Analisis isobologram
telah secara matematis terbukti dan banyak digunakan untuk mengevaluasi
interaksi obat (Huang et al. 2019). Di dalam Riset, interaksi obat kombinasi
ditentukan dalam indeks kombinasi (CI). CI digunakan untuk menentukan tingkat
interaksi obat, dan rumusnya adalah jumlah rasio dosis setiap obat dalam senyawa
dengan dosis ketika digunakan sendiri ketika kombinasi dan senyawa
menghasilkan kemanjuran 50% (Hermansyah dkk. 2021).
Analisis isobologram yang berasal dari isobologram diusulkan oleh
Loewe pada tahun 1953; Namun, itu tidak menarik perhatian saat itu. Hasil dari
Gesner dkk. (1970) tentang kombinasi etanol dan kloral hidrat juga tidak menarik
perhatian orang sampai tahun 1970-an. Dari aplikasi Loewe model aditif pada
tahun 1992 dengan penyesuaian ED50, tambahkan dan kepercayaan 95% mereka
interval dan varians oleh peneliti dan kontur yang paling umum digunakan
metode analisis grafis saat ini menunjukkan bahwa metode tersebut sekarang
banyak digunakan di eksperimen farmakologi dan praktik klinis. Secara umum,
khasiat menggabungkan dua obat. Sumbu x dan y mewakili dosis obat X dan Y,
masing-masing, dan a dan b mewakili dosis kemanjuran yang sama ketika dua
obat digunakan sendiri, yang umumnya dinyatakan sebagai setengah dosis efektif
(yaitu, ED50). Bidang yang dilingkupi oleh sistem koordinat adalah bidang
ekuivalen, di mana semua titik ekivalen terdiri dari berbagai dosis obat X dan Y.
5. Percobaan Inkuiri Uji Bioakvifitas Antioksidan Dengan Metode DPPH
1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dan capain pembelajaran yang akan dicapai untuk
percobaan uji bioaktivitas Antioksidan dengan metode DPPH ini adalah :
122 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
1.1 Pengetahuan :
Mahasiswa secara kritis, kreatif dan komunikatif mampu memahami mengenai
pengetahuan prosedural mengenai uji bioaktivitas antioksidan dari ekstrak isolat
dari tanaman hutan tropis, yaitu, Taxus sumatrana, bajakah, akar kuning, dan
sarang semut sebagai eksplanasi ilmiah dari pengetahuan masyarakat bahwa
bagian tanman tanaman hutan tropis dari taxus sumatrana berkhasiat sebagai anti
kanker.
1.2 Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan dan analisis kritis, serta mampu
membuktikan adanya daya hambat sebagai antiokasidan dari senyawa
metabolit sekunder dari berbagai tanaman hutan tropis Taxus Sumatrana dan
tanaman hutan tropis lainnya Indonesia.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan dari uji
biokativitas antioksidan dari ekstrak tanaman Taxus Sumatrana dan tanaman
hutan tropis lainnya di Indonesia.
1.3 Sikap :
a). Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayatai, cinta tanah air,
dan peduli lingkungan.
b). Mengembangkansikapkinerjailmiah, sikap jujur, disiplin, rasa ingin tahu, dan
tanggung jawab.
1.4 Kerangkan teoritis
Pengujian aktivitas antioksidan suatu bahan alam dengan menggunakan
beberapa metode, salah satu metode yang digunakan adalah metode DPPH (1,1-
diphenyl-2-picrylhydrazil). DPPH merupakan radikal nitrogen organik berwarna
ungu tua yang bersifat stabil pada suhu kamar, sedangakan DPPH tidak setabil
pada panjang gelombang 517 nm dan warna yang dihasilkan ungu gelap. DPPH
merupakan metode sederhana karena reagen yang dibutuhkan haya sedikit tidak
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 123
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
seperti metode lain. Struktur DPPH ditunjukkan pada gambar 6.6.
Gambar 6.6 Struktur radikal DPPH (Irianti, 2017)
Reaksi yang terjadi antara DPPH dengan senyawa antioksidan yang
bertindak sebagai donor atom, mampu mengubah DPPH menjadi warna kuning.
Berikut adalah reaksi antara DPPH dengan antioksidan (Irianti, 2017).
Gambar 6.7 Mekanisme reaksi DPPH dengan antioksidan (Irianti, 2017)
Perubahan warna dapat diukur dengan menggunakan spektrofotometer
Uv-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Penentuan aktivitas antioksidan
dengan menggunakan metode DPPH, dapat member informasi senyawa kimia
yang diuji dengan radikal stabil. Aktivitas antioksidan ditunjukkan pada
konsentrasi inhibisi (IC50). IC50 adalah konsentrasi antioksidan yang dapat
menghilangakan karakter radikal sebesar 50% DPPH. Semakin rendahnya nilai
IC50 maka aktivitas antioksoidan akan semakin membaik (Irianti, 2017 ;
Windono, et al. 2001)
124 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
1.5 Prosedur Kerja
1. Alat dan Bahan
Sampel dari berbagai ekstrak teh tanaman hutan tropis Indonesia dari
Taxus Sumatrna, Bajakah, Akar Kuning, Sarang Semut. Pelarut etanol, metanol,
etil asetat, heksan, kuersetin, pereaksi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil, kertas saring,
aquades, aluminium foil, kapas bebas lemak dan tissue. Peralatan yang
digunakan adalah satu set alatalat gelas, alat ekstraksi maserasi, oven, rotary
evavorator, blender, neraca analitik, desikator, refrigerator. Larutan yang
digunakan adalah metanol. Pembuatan larutan blanko dilakukan dengan cara
memipet 800 µL metanol, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
ditambah 200 µL larutan DPPH lalu dikocok sampai homogen, inkubasi pada
suhu ruang selama 30 menit
2. Prosedur Kerja
Sampel dari Taxus Sumatrana (atau tanaman hutan tropis yang lain) yang
bersih dari kotoran dihaluskan dan dikeringkan pada suhu kamar dimaserasi
dengan heksana sampai bebas lemak ditandai dengan larutan yang telah jernih.
Ekstrak taxus yang dihasilkan disaring, kemudian filtratnya di pekatkan dengan
menggunakan gas nitrogen cair sehingga diperoleh ekstrak kasar.
Ampasnya Taxus dikeringkan lagi dengan dianginkan lalu setelah kering,
dimaserasi kembali selama 1 minggu dengan berturut-turut menggunakan etil
asetat, etanol, metanol 80% dan terakhir dengan air dengan cara yang sama
seperti heksana. Filtrat yang dihasilkan lalu dipekatkan dan didapatkan ekstrak
kasar kemudian uji antioksidan terhadap ekstrak heksana, etil asetat, metanol
80% dan air yang dihasilkan menggunakan metode DPPH free radical
scavenging effect.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 125
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
3. Uji Antioksidan
3.1. Pembuatan Larutan Kuersetin
a. Pembuatan larutan induk 1000 µg/mL, sebanyak 1.0 mg kuersetin ditimbang
dan dilarutkan dalam 1 mL metanol, kemudian dikocok hingga homogen.
b. Pembuatan larutan seri 10, 50, 100 dan 200 ppm, Inkubasi pada suhu kamar
selama 30 menit, setelah itu ditambahkan 1 mL metanol dan dikocok
kembali hingga homogen. Setelah itu diukur absorbansinya dengan
menggunakan
spektrofoto meter UV-VIS pada λ : 515 nm.
3.2. Persiapan Larutan Bahan Uji
a. Pembuatan larutan induk bahan uji 1000 µg/mL Sebanyak 1.0 mg ekstrak
ditimbang dan dilarutkan dalam 1 mL metanol, kemudian dikocok hingga
homogen
b. Pembuatan larutan seri 10, 50, 100 dan 200 ppm, Inkubasi pada suhu kamar
selama 30 menit, setelah itu ditambahkan 1 mL metanol dan dikocok
kembali hingga homogen. Setelah itu diukur absorbansinya dengan
menggunakan spektrofotometer UV-VIS pada λ : 515 nm
3.3. Perhitungan
a. Pengukuran aktivitas antioksidan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Inhibisi adalah besar aktivitas yang dihasilkan oleh sampel
126 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
b. Perhitungan IC50 dengan menggunakan regresi linier Y = a + bX
Keterangan :
Yi : Inhibisi
Xi : Konsentrasi larutan uji
a : Harga intersep yang menunjukkan faktor kesalahan sistematis
b : Harga slope yang menunjukkan hubungan antara perubahan absis dan
ordinat
r : Koefisien korelasi Nilai IC50 dicari dengan menggunakan regresi linier
Y = a + bX
Keterangan :
Y : 50
X : IC50
a : Harga intersep yang menunjukkan faktor kesalahan sistematis
b : Harga slope yang menunjukkan hubungan antara perubahan absis dan
ordinat
IC50 pada uji antioksidan artinya adalah konsentrasi larutan uji yang
dapat menghambat 50% radikal bebas DPPH.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 127
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
4. Hasil Percobaan
Sampel yang digunakan pada riset ini merupakan bahan yang berasal dari
tumbuh tumbuhan, sehingga sampel Taxus mengandung air dalam jumlah relatif
tinggi. Oleh karena itu, dalam tahap persiapan sampel harus dilakukan penentuan
kadar air yang terkandung dalam sampel, karena akan mempengaruhi daya tahan
bahan pangan terhadap serangan atau aktivitas mikroorganisme, sehingga
sampel harus bersih dan kering atau dipekatkan.
Ekstrak kasar pada riset ini diperoleh dengan cara perendaman (maserasi)
sampel. Mekanisme metode maserasi adalah proses difusi pelarut ke dalam
dinding sel tumbuhan untuk mengekstrak senyawa bioaktif dari ekstrak taxus
tersebut. Metode maserasi digunakan untuk mengekstrak senyawa yang kurang
tahan terhadap panas, biasanya digunakn untuk sampel yang belum diketahui
karakterisasi senyawanya. Pelarut yang digunakan adalah heksana, etil asetat,
etanol, metanol dan terakhir menggunakan air. Pemisahan pertama terhadap
sampel digunakan pelarut heksana dengan tujuan untuk memisahkan senyawa
non polar termasuk lemak yang terkandung pada sampel. Kemudian larutan yang
dihasilkan di kentalkan menggunakan vakum evaporator untuk mendapatkan
ekstrak kental.
Ampas dari ekstraksi lalu dikeringkan dan di lakukan ekstraksi kembali
menggunakan pelarut berturut-turut etil asetat, etanol, metanol dan terakhir
dengan air. Ekstrak kasar yang dihasilkan dari masingmasing pelarut kemudian
diuji aktivitas antioksidan. Pada riset ini bioaktivitas antioksidan diukur dengan
metode DPPH Free Radical Scavenger. DPPH merupakan senyawa radikal
bebas yang stabil. Uji bioaktivitas antioksidan dengan menggunakan DPPH,
prinsipnya adalah penangkapan hidrogen dari antioksidan oleh radikal bebas
DPPH (warna ungu) dan diubah menjadi 1,1- difenil-2- pikrilhidrazin (warna
kuning), kemudian sisa DPPH diukur intensitas warna ungunya pada panjang
gelombang 515 nm. Reaksi uji antioksidan disajikan pada Tabel 6.7.
128 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Tabel 6.7 Kemampuan Antioksidan dari Teh Herbal dari berbagai tanaman
hutan Tropis Indonesia (Sudarmin dkk, 2021)
No Sampel Nilai IC 50 Keterangan
(ug/mL)
01. Kuliat Batang Taxus 5 Sangat kuat
02. Sarang Semut 8 Sangat kuat
03. Teh Bajakah 22 Kuat
04. Daun Taxus 29 kuat
05 Akar Kuning 161 lemah
Keterangan jika diperoleh nilai IC 50 sebesar < 10 ug/mL sangat kuat, 10-
50 ug/mL kuat, 50 -100ug/mL sedang, dan jika 100-250 ug/mL lemag. Pada
Tabel 6.4 diketahui bahwa kulit batang Taxus Sumatrana dan Sarang Semut
memiliki aktivitas sebagai antioksidan sangat kuat, teh bajakah dan teh daun
taxus kategori kuat, sedangkan untuk teh ekstrak akar kuning memiliki aktivitas
lebih lemah.
6.8 Media Pembelajaran, Alat dan Bahan Percobaan
Media pembelajaran yang diperlukan dalam pembelajaran inkuria
terintegrasi Etno-STEM dengan bahan kajian uji bioaktivitas metabolit sekunder
dari tanaman taxus adalah diantaranya adalah (a) Lembar kerja atau panduan
praktikum inkuiri, (b) multimedia, misalnya LCD, PC/Laptop, aplikasi daring.
(c) software dan hardware terkait alat dan bahan percobaan uji fitokimia, uji
struktur, bioaktivitas antibakteri, antioksidan, antikanker, (d) pelarut organik
untuk isolasi, ekstraksi, dan maserasi seperti etanol, n-heksana, benzena,
aquades.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 129
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
DAFTAR PUSTAKA
Alcorn, J. B., Warren, D. M., Slikkerveer, L. J., & Brokensha, D. (1995).
Ethnobotanical knowledge systems a resource for meeting rural
development goals. The cultural dimension of development: indigenous
knowledge systems., 1-12
Auditya, M, Afghani J, Muamad A.W. (2019). Bioaktivitas Antirayap Ekstrak
Kayu Gaharu (Aetoxylon sympetalum) Terhadap Rayap Tanah
(Coptotermes sp). Jurnal kimia Khataulistiwa, 8(9): 11-16, tersedia:
http://jurnal .untan.ac.id/index.php/jkkmipa
Asmara, A.P. (2017). Uji Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder Dalam Ekstrak
Metanol Bunga Turi Merah (Sesbania grandiflora L. Pers). Al-Kimia. 5(1) :
48-59. Tersedia:
Balick, M. J. (1994). Ethnobotany, drug development and biodiversity
conservation: exploring the linkages. Ethnobotany and the search for new
drugs, 185, 4-24.
Bybee, R. W. (2010). Advancing STEM education: A 2020 vision. Technology
and Engineering Teacher, 70(1),30-35. Tersedia : https:// www.scirp.
org/(S (i43dyn45 teexjx455ql t3d2q))/ reference/
Bybee, R. W. (2013). The case for STEM education: Challenges and opportunity.
Arlington, VI: National Science Teachers Association (NSTA) Press.
Tersedia: https://www.nsta.org/ store/ product_detail. aspx?id.
Carlson, T. J., & Maffi, L. (2004). Ethnobotany and conservation of biocultural
diversity. New York Botanical Garden
Cragg, G.M. and D.J. Newman. (2005). Plants as a source of anticancer agents-
Perspective paper. Journal of Ethnopharmacology, 100: 72–79.
Crayton, Jane., Svihla, Vanessa. Designing for Immersive Technology:
Integrating Art and STEM Learning. The STEAM Journal, Vol. 2, 2015.
(diakses 22 September 2015).
Costenson, K. & Lawson, A.E. (1986). Why isn't inquiry used in more classrooms?
The American Biology Teacher, 48(3), 150-158
Dewey, J. (1910). Science as subject-matter and a method, in Experience and
Education, taken from John Dewey on Education: Selected Writings, Reginald
D. Archambault (ed.), New York: Random House
Dinas Kesehatan Provinsi Papua. (2016). Tumbuhan Obat Tradisional Papua:
Berdasarkan Kearifan Lokal Masyarakat. Dinkes Papua : Nulisbuku
Jendela Dunia.
130 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Gallagher, J.J. (2006). Teaching Science for Understanding. New York: Prentice-
Hall.
Grenier, L. (1998). Working with indigenous knowledge. International
Development Research Centre, Ottawa, Ontario, Canada.
Hakim, L. Et al. (2014). Etnobotani dan Manajemen Kebun-Pekarangan Rumah:
Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Agrowisata. Malang: Penerbit selaras
Hakim, E.H.; Sjamsul Arifin, A., Lukman, M.; Yang Maolana, S. dan Didi M.
(1999). “Zat Warna Alami : Retrospek dan Prospek. Disampaikan pada
Seminar Bangkitnya Warna-Warna Alam. Yogyakarta, 3 Maret
1999.Jurusan Kimia FMIP A. ITB, Bandung
Hanson, J.R. (2003). Natural Product, The Secondary Metabolites. The
Royal Society of Chemistry, Cambridge-UK.
Hariningtyas D.R, Aprilia, dan Kristanti P, (2017). Efektivitas Antibakteri
Ekstrak Daun Mangrove Acanthus ilicifolius Terhadap Biofilm
Enterococcus faecalis. Laporan Riset FKG. Universitas Hang Tuah
Surabaya.
Hartman, T. (1996). Diversity and variability of plant secondary metabolism: a
mechanistic view. Entomologia Experimentalis et Applicata, 80:177–188.
Hidayat, A, Henti Hendalastuti, R, dan Atok Subiakto. (2014). Taxus Sumatrana
: Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatra. Bogor : Forda Press.
Hisa, L, Agustinus Mahuze, dan I Wayan A. (2018). Etnobotani: Pengetahuan
Lokal Suku Marori di Taman Nasional Wasur Merauke. Merauke: Balai
Taman Nasional Wasur.
Hidayat, A. and S. Tachibana. (2013). Taxol and Its Related Compound from the
Bark of Taxus sumatrana. Makalah, dipresentasikan pada International
Seminar of Forest and Medicinal Plants for better human welfare, Bogor,
10–12 September 2013.
Jaziri, M., A. Shiri, Guo Y-M., Dupant J-P., K. Shimomura, H. Hamada, M.
Vanhaelen and J. Homes. (1996). Taxus sp. cell, tissue and organ cultures
as alternative source for toxoids production: a literature survei. Plant Cell,
Tissue and Organ Culture, 46: 59–75.
Joyce, B. & Weil, M. (1986). Models of Teaching. Englewood Cliffs, NJ:
Prentice-Hall
Jurusan Kimia. (2007). Dokumen Rencana Program Semester (RPS) Kimia
Organik Bahan Alam. FMIPA UNNES
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 131
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Malik, S., R.M. Cusidó, M.H. Mirjalili, E. Moyano, J. Palazón and M. Bonfill.
(2011). Production of the anticancer drug Taxol in Taxus baccata
suspension cultures: A review. Process Biochemistry, 46: 23–34
Matsjeh, S. (2009). Pemanfaatan Bahan Alam Nabati Yang Berpotensi Sebagai
Bahan Baku Senyawa Obat. Makalah pembicara tamu Seminar Nasional
di Fakultas Farmasi Universitas Tanjungpura, 16 Februari 2009.
Masyarakat Biodiversitas Indonesia (MBI). (2016). Tema Revitalisasi Produksi
Komoditas Pertanian : Upaya Menjamin Kedaulatan Pangan dan Menjaga
Ketersediaan Bahan Baku Industri. Prosiding Seminar Nasional MBI di
Padang, 23 April 2016.
Moh Khory A, (2019). Obat Kanker Bajakah, LIPI: Senyawa Aktif Antioksidan
Melimpah. Laporan Tempo. Co, tanggal 15 agustus 2019
National Research Council. (2011). Inquiry and the National Secience Education
Standards: A Guifor Teaching and Learning. Wahington, DC.:
NationalAcademy Press. Tersedia:http:// books.nap. edu/html/ inquiry_
addendum/ notice.html
Poppy K.D, Yayu S.R, Aritta M. (2018). Unit Pembelajaran Kimia Berbasis
Inkuiri: Termokimia, Bandung: P4TK Direktorat Pendidikan Guru dan
Tenaga Kependidikan.
Rencana Strategis 2015-2019. (2015). Lembaga Penelitin dan Pengabdian Kepada
Masyarakat Semarang: LP2M UNNES
Ryzal, P., Budiyana, Sajidan, dan Sukarmin. (2019). Model Pembelajaran ISC
(Inquiry Social Complexity) untuk Memberdayakan Critical dan Creative
Thinking (CCT) Skills. Solo : UNS Press.
Rothwell, W.J, and Kazanas, H.C. (2013). Mastering The Instructional Design
Process A Systematic Approach. Third Ed. Pfeiffer Wordwise : German
Septriyanto Dirgantara, Rosye, H.R, Tanjung, Hendra K. Maury, and Edy
Meiyanto. (2018). Cytotoxic Activity and Phytochemichal Analysis of
Breynia cernua from Papua. Indonesian Journal of Pharmacentical Science
and Technology, 1(1) : 31-36. Terseda: http://jurnal.unpad. ac. id/jipst/
Siregar, M., IMR. Pendit. DMS., Putri, NKE. Undaharta, SF, dan Hanum, HM.
(2007). Keanekaragaman Tumbuhan Usada dan konservasinya di Kebun
Raya Ekakarya Bali. Proseding Seminar “Konservasi Tumbuhan Usada
Bali dan Peranannya dalam Mendukung Ekowisata. UPT Balai Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya Ekakarya Bali-LIPI.
Silmi Q.A. (2018). Deteksi Gen Baccatin III 3-Amino 3-Phenylpropanoid
132 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
sebagai penghasil Taxol dari Kapang Endoft Kuliat Batang Sumatrana
Yew (Taxus sumatrana) . Skripsi. FPMIPA UPI Bandung
Sjamsul A.A. (2009). Ilmu Kimia Sumber Alam Hayati Indonesi : Penelitian
Untuk Pengembangan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Sumber Daya
Manusia. Orasi Guru Besar Emeritus ITB Bandung..
Sjamsul A.A. (2009). Perguruan Tinggi Berbasis Riset Dalam Pembangunan
Nasional Berbasis Ilmu Pengetahuan. Orasi Guru Besar Emeretus.
Bandung: ITB Bandung.
Sjamsul, A.A. (1986). Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Sri Atun. (2017). Kimia Bahan Alam. Jurusan Kimia UNY Yogyakarta
Sokoloff, D.R. & Thornton, R.K. (2004). Interactive Lecture Demonstrations:
Active Learning in Introductory Physics. Wiley. Stigler, J.W. & Hiebert, J.
(1999). The Teaching Gap: Best Ideas from the World's Teachers for
Improving Education in the Classroom. New York: The Free Press.
Sudarmin. (2015). Pendidikan Karakter, Etnosains, dan Penerapannya dalam
Pendidikan dan Penelitian Sains. Semarang : Swadaya Manunggal.
Sudarmin (2015). Model Pembelajaran Inovatif (PAIKEM) dalam Pembelajaran
Sains untuk Mengembangkan Karakter. Semarang : Swadaya Manunggal.
Sudarmin, Woro S, dan Sri Susilogtai S. (2019). Model Pembelajaran Kimia
Organik Bahan Alam Berpendekatan Science Technology Engineering and
Mathematics (STEM) Terintegrasi Etnosains. UNNES Press: Semarang.
Sudarmin, Woro, S, dan Skunda, D. (2019). Model Pembelajaran Inkuiri
Terintegrasi Etno-STEM Bahan Kajian Bioaktivitas Senyawa Metabolit
Sekunder Dari Tanaman Hutan Tropis untuk Akselerasi Karakter
Konservasi Mahasiswa. Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi.
UNNES Semarang.
Wenning, C.J. (2008). Dealing more effectively with alternative conceptions in
science. Journal of Physics Teacher Education Online, 5(1), 11-19.
Wenning, C.J. (2010). Levels of inquiry: Using inquiry spectrum learning
sequences to teach science. Journal of Physics Teacher Education Online,
5(4), 11-19.
Wenning, C.J., Holbrook, T.W., & Stankevitz, J. (2006b). Engaging students in
conducting Socratic dialogues: Suggestions for science teachers. Journal of
Physics Teacher Education Online, 4(1), 10-13.
Wenning, C.J. & Khan, M.A. (2011). Sample learning sequences based on the
Levels of Inquiry Model of Science Teaching. Journal of Physics Teacher
Education Online, 6(2), 17-30.
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 133
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Wulan A, Nurhamidah, D.H. (2017). Skrining Fitokimia dan Aktivitas
Antioksidan Beberapa Fraksi dari Kulit Batang Jarak (Ricinus communis
L.). Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia.1(2) : 117-122, tersedia: https:
//ejournal.unib.ac.id/index.php/alotropjurnal/article/viewFile/3529/1880.
Tahwil, M., Liliasari. (2018). Teori dan Implementasi Pembelajaran IPA.
Makasar: Badan Penerbit UNM
Tascioglu C, Yalcin M, Troya T, Sivrikaya H. (2012.) Termiticidal properties of
some wood and bark extracts used as wood preservatives. Bioresources.
7(3): 2960-2969. Tersedia https:// bioresources.cnr.ncsu.edu/ resources/
termiticidal-properties-of-some-wood-and-bark-extracts-used-as-wood-
preservatives/
Tritiyatma, H., Yuli, R, , Achmad, R,., Arie, B, Elma, S, Annisa, N, Cinthia,
F, (2017). Keterampilan Abad 21 dan STEAM STEAM (Science, Technology,
Engineerin, Art, and Mathematics), Jakarta: UNJ
Trilling, Bernie and Fadel, Charles (2009) 21st Century Skills: Learning for Life
in Our Times, John Wiley & Sons, 978-0-47-055362-6
Zhao K., Ping W., Li Q., Hao S., Zhao L., Gao T. and Zhou D.P. (2009).
Aspergillus niger var. taxi, a new species variant of Taxol-producing
fungus isolated from Taxus cuspidata in China. Journal of Applied
Microbiology, 107: 1202–1207.
Zuraida. (2018). Analisis Toksisitas Beberapa Tumbuhan Hutan Dengan Metode
Brine Shrimp Lethality Test (BESLT). Jurnal Penelitian Hasil Hutan vol 36,
No 3 : 239-246: Doi 10.2080886/jphh.2018,36.3.239-246.
134 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Lampiran 1
InstrumenResponTerhadapa Percobaan Inkuiri Terintegrasi Etnosains dan STEM
Pertanyaan
1. Apakah kegiatan percobaan ini, memberikan bermanfaatdan menarik bagi
saudara dan berikan alasannya
Jawab :
2. Apakah kegiatan percobaan ini, memberikan tambahan pengetahuan anda
terhadap bahan kajian metabolit sekunder dan manfaatnya bagi kehidupan
(kesehatan) dan berikan alasannya
Jawab :
3. Apakah kegiatan percobaan ini mampu memberikan penjelasan ilmiah
mengenai pengetahuan masyarakat terkait tanaman hutan tropis yang
diyakini mampu sebagai obat penyakit tertentu
Jawab:
4. Apakah sajian yang terdapat buku Lembaran Kerja Mahasiswa ini mudah
dipahami bagi saudara, berikanalasannya.
Jawab :
5. Apakah waktu yang tersedia untuk percobaan ini memadai dan beri alasannya
Jawab :
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 135
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
6. Apakah kegiatan percobaan ini, ketersediaan alat dan bahan percobaan
memadai dan berikan alasannya
Jawab :
7. Berikan respon dari percobaan mampu mengembangkan karakter konservasi
cinta lingkungan dan budaya dan berialasannya
Jawab :
8. Apakah kegiatan percobaan yang saudara lakukan mampu meningkatkan
kinerja dan sikap ilmiah anda, berialasannya.
Jawab :
9. Apakah kegiatan percobaan yang telah dilkukan mampu mengembangkan
karakter kreatif, inovatif, dan tanggung jawab dan alasannya
Jawab :
10. Apakah hasil percobaan ini layak dibuat artikel dan dipublikasikan dalam seminar
atau dipublish di Jurnal imiah
Jawab :
11. Berikan saran dan Komentar untuk perbaikan berikutnya.
136 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Lampiran 2
Instrumen respon mahasiwa terhadap proses pembelajaran Model Inkuiri
Terintegrasi Etno-STEM
Pertanyaan
1. Berikan pendapat/respon dari percobaan ini, apakah menarik, cukup . atau
tidak menarik diikuti alasannya
Jawab :
1. Berikan pendapat/respon dari percobaan ini, apakah waktunya memadai,
cukup memadai, dan kurang memadai dan alasannya
Jawab :
2. Berikan pendapat/respon dari percobaan ini, apakah alat dan bahan
percobaan memadai, cukup memadai, dan kurang memadai dan alasannya
Jawab
3. Berikan pendapat/respon dari percobaan ini, apakah kegiatan ini mampu
mengembangkan karakter konservasi Ya atau Tidak danalasannya
Jawab
4. Berikan pendapat/respon dari percobaan ini, apakah kegiatan ini mampu
mengembangkan karakter kreatif, inovatif, dan tanggung
jawabdanalasannya
Jawab
5. Mohon berikan satu atau dua saran demi perbaikan pembelajaran kegiatan
praktikum tersebut ke depan
Jawab
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 137
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
Lampiran 3 : Luaran artikel bereputasi Internasional
Artikel hasil riset yang terpublikasikan di jurnal Internasional Terindeks
Scopus Q3 tahun 2021
THE DESIGN OF ETHNOSCIENCE-BASED INQUIRY LEARNING
FOR SCIENTIFIC EXPLANATION ABOUT TAXUS SUMATRANA
AS CANCER MEDICATION
Sudarmin1), Prasetya, A.T1), Diliarosta, S2), Pujiastuti, S.E, Rr3), Dewi, S.H4).
1,) Chemistry Department, Mathematics and Natural Sciences Faculty,
Universitas Negeri Semarang, Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
2) Science Education Program, Mathematics and Natural Sciences Faculty,
Universitas Negeri Padang, Sumatra Bara Indonesia
3) Lecturer at Health Polytechnic Semarang, Nursing Program, Ministry of
Health Indonesia
4) Student Postgraduate, Chemistry Postgraduate Universitas Negeri
Semarang, Indonesia
Abstract
Minang community has long made use of Sumatran yew (Taxus sumatrana)
to cure cancer, yet they could not explain its benefits conceptually based on
scientific inquiry with relevant references. This research aims at solving the
problem through (1) designing ethnoscience-based inquiry learning for studying
the bioactivity of Taxus sumatrana; and (2) explaining the scientific experiment
regarding the plant as a cancer drug. This study belongs to qualitative research to
reconstruct scientific explanations based on indigenous knowledge. Data were
obtained through observation in a research site concerning the people's indigenous
knowledge and laboratory activities including the isolation, phytochemical
identification, and chemical structure test using Perkin Elmer 100 FTIR
spectroscopy. All of the obtained data were analyzed and strengthened by
numerous relevant sources. The analysis concluded that (1) the proper design of
the learning is the integrated model; and (2) the secondary metabolite compounds
found in the bark and leaves of Taxus sumatrana tested using water, ethanol,
ethanol + n-hexane, and ethanol + benzene solvent included terpenoids, alkaloids,
terpenoids, steroids, phenolics, and saponins. Based on the chemical structure test,
the presence of secondary metabolite compounds is strengthened by absorption
bands of the hydroxyl group, carbonyl group, C-O stretches, and aromatic rings
on FTIR spectra. The results of this research indicated that Taxus sumatrana can
act as an anticancer as the lab exanimation noticed terpenoids as taxols, phenolics,
and other oxygenated metabolite compounds potential as anticancer.
Keyword: inquiry, explanation, ethnoscience, axus sumatrana
138 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana
1. INTRODUCTION
Cancer is an awful scourge for everyone. Generally, cancer defines as a
disease of the cell cycle that is characterized by an increased ability of cells to
grow out of control and attack nearby cell tissue, then migrate through the process
of metastasis (Hidayat, A. et al, 2014). Cancer mortality rates rank the second for
the world scale and third for the Indonesian scale (Dhama et al., 2013). As an
effort to treat cancer; The United States, through the National Cancer Institute
(NCI), formed a special institution called the Cancer Chemotherapy National
Service Center (CCNSC) in 1956. The institute is a research support institution
in the discovery of anticancer drugs from plants of the United States (Hidayat et
al, 2014). Through a long journey, in 1972, a group of plants belonging to the
Taxus genus was identified to contain anticancer bioactive known as paclitaxel
with the trademark of 'Taxol'. At that time, Taxol was extracted from a species of
Taxus brevifolia Nutt, which was found in the mountainous areas of North
Western, United States, and Western Canada (Farrar, 1995).
As for in Indonesia, several studies regarding Taxus as anticancer medicine
have been conducted and revealed that almost all parts of the Taxus contain
anticancer bioactive. In Asia, several countries have a natural distribution of
diversity of the Taxus genus involving Taxus cuspidata (Japan), Taxus chinensis
(China), and Taxus sumatrana (Indonesia, Taiwan, Vietnam, Nepal, and Tibet).
Nevertheless, the population of the Taxus is prone to extinction (Huang et al.,
2008). Rachmat, H.H (2008) explained that the Taxus' natural habitat in
Indonesia is currently in the Mount Kerinci region, Jambi, namely on the ridges,
steep slopes, and cliff edges. In addition to Jambi, the distribution of the T.
sumatrana population is also found in the Sibuaton Dolok Protected Forest, Pagar
Alam, Palembang (Earlie, 2013).
Indonesia is one of the countries that has the most extensive tropical forest
land in the world (Matsjeh, S, 2009). The existence of tropical forests implies
that Indonesia has a mega diversity for medicinal plants (Achmad, S.A, 2009).
Taxus sumatrana (local: Sumatran yew) is an essential plant for Minang society,
one of the ethnic groups native to West Sumatra. They have long believed that
some part of yew tree are effective cancer cure. Several studies have taken a look
at this case from ethnomedicine and ethnopharmacology point of view (Hakim
L, 2018, Mondaya, A.N, 2019). Ethnomedicine is the perception and conception
of local communities in understanding health or studies that discuss traditional
medical systems (Bhasin 2007; Daval 2009). Ethnomedicine studies are
conducted to understand health culture from the viewpoint of society to be
reconstructed into scientific knowledge. On the other hand, ethnopharmacology
is the study of the use of plants that have pharmacological effects that have a
Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 139
Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana