The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by candraprimadian01, 2021-11-03 02:37:35

Naskah Akademik-1

Naskah Akademik-1

maka pendidikan karakter konservasi lingkungan dan sumberdaya alam tanaman
hutan tropis perlu diintegrasikan dalam pembelajaran Ilmu lingkungan, atau
pembelajaran sains. Kecintaan mahasiswa pada daerahnya yang kaya akan
tanaman hutan tropis sebagai sumber metabolit sekunder penting menjadi bagian
pada bahan kajian mata kuliah KOBA. Adapun komponen nilai karakter
konservasi yang dikembangkan di UNNES, diantaranya adalah (1) Religius, (2)
Inovatif, (3) Kreatif, (4) Adil, (5) Peduli sosial, (6) humanis, (7) Inspratif, (8)
Demokratis, (9) Cinta Tanah Air, dan (10) Sportif (Renstra UNNES, 2020).

3.3 Etnosains dan Bahan Kajiannya
Pada kajian filsafat ilmu pengetahuan, istilah ‘sains‘ atau ilmu

pengetahuan dibedakan dengan pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan
pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode tertentu serta
mengikuti tata-urut dan tahapan tertentu dalam mendapatkannya atau
menemukannya. Setelah diperoleh, pengetahuan ini harus dapat diuji
kebenarannya oleh orang-orang lain, sehingga secara epistemologi ‘kebenaran‘
pengetahuan ini tidak lagi akan bersifat subyektif, tetapi obyektif (universal).
Proses menemukan kebenaran secara ilmiah dengan suatu metode dan kinerja
ilmiah tersebut, sering disebut sebagai kegiatan kerja ilmiah atau inkuiri ilmiah.
Sedangkan aktivitas kerja ilmu hakekatnya cara menemukan suatu ilmu
pengetahuan , serangkain konsep, hukum, teori sebagai hasil percobaan kinerja
ilmiah, dan produknya dapat untuk percobaan lebih lanjut. Mengacu dari
pengertian ilmu pengetahuan tersebut, maka etnosains dapat kita definisikan
sebagai perangkat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat/suku
bangsa yang diperoleh dengan menggunakan metode tertentu serta mengikuti
prosedur tertentu yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat, dan
‘kebenarannya‘ dapat diuji dan dieksplanasi secara empiris (Sudarmin, 2014)

40 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Etnosaain saat ini menjadi terkenal dalam pembelajaran sains, termasuk
pada pembelajaran kimia. Secara bahasa, maka istilah ethnoscience berasal dari
kata ethnos dari bahasa Yunani yang berarti ‘bangsa‘ dan kata scientia dari
bahasa Latin yang berarti ‘pengetahuan. Etnosains secara ontologi, berarti
pengetahuan yang dimiliki oleh suatu bangsa atau lebih tepat lagi suatu suku
bangsa atau kelompok sosial tertentu yang mengandung konsep atau pengetahuan
sains (Sudarmin, 2020). Menuru sejarah ilmu, maka etnosains telah dikenal lama,
misalnya Sturtevant dalam Ahimsa (1998) menyatakan Etnosains sebagai

system of knowledge and cognition typical of a given culture atau sistem
pengetahuan dan kognisi atau gagasan dan pikiran khas untuk suatu budaya
tertentu. Penekanan etnosains pada sistem atau perangkat pengetahuan, yang
khas dari suatu masyarakat sebagai kearifan lokal.

Pengetahuan suatu masyarakat akan berbeda antar masyarakat. Pengetahuan
masyarakat akan manfaat suatu tanaman lokal hutan tropis di Indonesia berbeda.
Dengan demikian etnosains erat dengan budaya, adapun makna kebudyaan
adalah salah satu buah pikiran baik berupa benda maupun tindakan, yang mana
perlu dikonservasi dalam upaya menjaga sejarah dan peradapanya (Goodenough,
1964). Pada saat ini trend riset etnosains paling banyak berkembang dan periset
dan penulis untuk riset etnosains dan penulis topik etnosains terbanyak dari tahun
2011-2020 adalah di UNNES (Suprapto et al, N, 2021)

Pada bagian ini akan dibahas bidang kajian pembelajaran dan riset, maka
bidang kajian untuk riset etnosains meliputi pertama riset etnosains yang
memusatkan perhatian pada kebudayaan yang didefinisikan sebagai the forms of
things that people have in mind, their models for perceiving. Pada riset ini
etnosains ditafsirkan sebagai model untuk mengklasifikasi lingkungan atau
situasi sosial yang dihadapi. Pada riset etnosains ini bertujuan untuk mengetahui
gejala-gejala dan bahan kajian budaya mana yang dianggap penting sebagai

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 41

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

bahan kajian etnosains, serta bagaimana mereka mengorganisir berbagai budaya
dan pengetahuan masyarakat tersebut dalam riset etnosainnya. Pengetahuan
masyarakat yang dimiliki oleh suatu suku bangsa tertentu dikenal sebagai
pengetahuan asli masyarakat (Indigenous Science Knowledge). Pada riset ini,
periset berusaha untuk mengetahui dan kategorisasi berbagai macam gejala
fenomena lingkungan dan budaya di Masyarakat untuk direkontruksi menjadi
pengetahuan ilmiah melalui proses kognisi dan rekontruksi peta kognitif
pengetahuan asli masyarakat tersebut.

Pada Riset Etnosains yang kedua, periset berusaha mengungkap
struktur, kategorisasi, karakterustik, dan mengklasifikasi lingkungan dan suatu
tanaman atau biantang lokal, baik itu fisik maupun sosial budaya dan
antropologinya. Berdasarkan berbagai studi dan kajian etnosains yang telah
dilakukan, berbagai hasil riset etnosains ini, misalnya riset mengenai berbagai
etnobotani dan klasifikasi tumbuhan, berbagai klasifikasi dan spesies binatang,
pengetahuan masyarakat terkait jenis penyakit, berbagai tari dan musik, serta
berbagai ragam budaya di Masyarakat tertentu. Riset etnosains bidang ketiga
adalah pada perhatian utama mengenai cara-cara, aturan-aturan, norma-norma,
nilai-nilai, yang membolehkan atau dilarang, dan ini kelak akan berkembang
sebagai riset etnopedagogis. Bidang kajian riset etnosains keempat dan menarik
adalah bidang teknologi yang kelak menjadi bidang kajian Etnoteknologi. Riset
etnoteknologi, diantaranya pengetahuan teknologi masyarakat tertentu dalam
membuat rumah adat. Pada riser rumah adat, maka yang menjadi fokus riset dapat
terkait etnoteknologi membuat rumah yang baik menurut orang Asmat di Papua;
cara membuat rumah Gadang anti gempa bagi masyarakat Padang, cara membuat
rumah Joglo anti gempa bagi orang Jawa, Pada bidang etnoteknologi lain dapat
berupa cara bersawah yang baik dalam pandangan orang Jawa dan Bali, dan cara
membuat perahu yang benar menurut orang Bugis.

42 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Kajian Riset Etnosains yang kelima adalah riset yang memusatkan
perhatian pada kebudayaan sebagai a set of principles for creating dramas, for
writing scripts, and of course, for recruiting players and audiences atau
seperangkat prinsip-prinsip untuk menciptakan, membangun peristiwa, untuk
mengumpulkan individu atau orang banyak. Riset ini mengenai prinsip-prinsip
yang mendasari berbagai macam kegiatan dalam kehidupan sehari-hari dan ini
penting bagi upaya untuk memahami struktur yang tidak disadari, namun
mempengaruhi atau menentukan perwujudan perilaku kehidupan dan etika
sehari-hari. Pembahasan riset etnosains sangat menarik, karena hasil-hasil riset
etnosains tampaknya memang teoritis, meskipun demikian tidak sedikit di
antaranya yang kemudian sangat besar manfaat praktisnya. Pada saat ini sudah
dikembangkan riset etnosains dintegrasikan dengan riset kontekstual dan
diantaranya integrasi Etnosains dan STEM (Etno-STEM). Pada riset ini etnosains
dipadukan dengan unsur STEM dengan maksud meningkatkan kebermanfaatan
riset etnosains dalam riset-riset interdisipliner dan terkait dengan kehidupan
nyata dan praktis. Sudarmin dkk (2021) melakukan riset pengembangan model
pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM sebagai riset interdisipliner. Pada
riset bidang kajian etnosains, Sudarmin (2020) menyatakan keterbatasan riset
etnosains yang bersifat jenis riset kualitatif, biasanya terdapat tiga masalah
keterbatasn riset ini, yaitu (1) perbedaan data yang disebabkan karena perbedaan
minat, persepsi, pandangan dari masyarakat dan periset, (2) sifat data yang
bervariatif, dan (3) tentang klarifikasi data kurang terbakukan.

3.4 Etnomedisin dan Ekologinya

Pada bidang kajian Etnosains yang dekat dengan bidang kajian
bioaktivitas metabolit sekunder pada mata kuliah Kimia Organik Bahan Alam
adalah etnobotani, etnomedisin, dan etnofarmakologi. Pada riset ini ditekankan
pada ketiga bidang kajian tersebut, yaitu:

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 43

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

1. Etnomedisin dan kajiannya

Pengertian etnomedisin adalah cabang antropologi medis yang membahas
tentang asal mula penyakit, sebab-sebab, dan cara pengobatan menurut kelompok
masyarakat tertentu. Etnomedisin secara etimologi berasal dari kata Ethno (Etnis)
dan Medicine (Obat). Hal ini menunjukan bahwa Etnomedisin sedikitnya
berhubungan dengan dua hal yaitu etnis dan obat. Secara ilmiah dinyatakan
bahwa etnomedisin merupakan presepsi dan konsepsi masyarakat lokal dalam
memahami kesehatan atau studi yang mempelajari sistem medis etnis tradisional.
(Bhasin, 2017;Daval 2009) Etnomedisin merupakan salah satu bidang kajian
etnobotani yang mengungkapkan pengetahuan lokal berbagai etnis dalam
menjaga kesehatannya. Secara empirik terlihat bahwa dalam pengobatan
tradisional memanfaatkan tumbuhan maupun hewan, namun dilihat dari jumlah
maupun frekuensi pemanfaatannya tumbuhan lebih banyak dimanfaatkan
dibandingkan hewan. Haltersebut mengakibatkan pengobatan tradisional identik
dengan tumbuhan obat, oleh karena itu tulisan selanjutnya difokuskan pada
tumbuhan obat(Silalahi,2016). Etnomedisin berhubungan dengan kesehatan dan
pemeliharaan kesehatan. Etnomedisin merupakan praktek medis tradisional yang
tidak berasal dari medis modern. Etnomedisin tumbuh berkembang dari
pengetahuan setiap suku dalam memahami penyakit dan makna kesehatan.
Pemahaman akan penyakit ataupun teori tentang penyakit tentunya berbeda di
setiap suku. Hal ini dikarenakan latar belakang kebudayaan pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki setiap suku tersebut berbeda dalam memahami
penyakit, terutama dalam mengobati penyakit.

Studi etnomedisin dilakukan untuk memahami budaya kesehatan dari
sudut pandang masyarakat (emic), kemudian dibuktikan secara ilmiah (etic)
(Walujo, 2009). Pada awal perkembangan riset etnomedisin merupakanbagian
dari ilmu antropologi kesehatan (Bhasin, 2007) yang mulai berkembang pada

44 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

pertengahan tahun 1960-an (McElroy, 1996), namun pada perkembangan
selanjutnya merupakan disiplin ilmu yang banyak dikembangkan dalam ilmu
Biologi. Purwanto (2002) menyatakan bahwa penggunaan data tentang
tumbuhan obat tradisional yang berasal dari hasil penyelidikan etnomedisin
merupakan salah satu cara yang efektif dalam menemukan bahan-bahan kimia
baru yang berguna dalam pengobatan terutama dari segi waktu dan biaya.
Beberapa obat yang berasal dari tanaman lokal antara lain:

1. Kuinin diadaptasi dari pengetahuan suku asli Incas yang telah lama
menggunakan Chinchona sebagai obat malaria;

2. Reserpin yang berasal Rauwolfia serpentina telah lama digunakan penduduk
India sebagai obat untuk menurunkan tekanan darah. Pada saat ini riset
etnomedisin banyak ditujukan untuk menemukan senyawa kimia baru yang
berguna dalam pembuatan obat-obatan modern penyakit berbahaya, seperti obat
kanker, HIV, dan tumor.
Tujuan lain dari riset etnomedisin adalah untuk mencari senyawa baru

yang memiliki efek samping lebih kecil, timbulnya efek resisten dari obat yang
sudah ada, dan juga untuk antisipasi munculnya penyakit baru. Hal tersebut
mengakibatkan riset etnomedisin terus berkembang khusunya negara yang kaya
akan keanekaragaman hayati seperti Indonesia (Silalahi, 2016) Di Indonesia
secara resmi riset etnobotani termasuk didalamnya etnomedisin mulai
berkembang sejak tahun 1983 dengan diresmikannya Museum Etnobotani di
Bogor (Walujo,2009), dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini.

Riset etnomedisin banyak dilakukan, namun masih terkonsentrasi
daerah pulau Jawa khususnya Kasepuhan Surakarta, Baduy, dan Bali (Walujo,
2009). Riset etnomedisin di Bali dihubungkan dengan lontar husodo
(Suryadharma, 2005), dan loloh (Sujarwo et al., 2015), sedangkan etnis Jawa
dihubungkan dengan jamu. Baroto (2009) menyatakan bahwa riset etnomedisin

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 45

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

banyak dilakukan di Jawa dan Bali, namun berdasarkan berbagai literatur secara
online, riset etnomedisin di Pulau Sumatera lebih banyak. Riset etnomedisin dan
lokasi risenya banyak dilakukan di Minangkabau (Ardan et al., 1998), Rejang
(Darnaedi 1999), Melayu (Mahyar et al., 1991; Susiarti et al., 2008), Lahat
(Harmida et al., 2011), Serampas (Hariyadi & Ticktin, 2012), Batak (Silalahi, et
al. 2013; Silalahi, 2014; Silalahi, et al., 2015a). Pada saat ini mungkin sudah
ratusan, bahkan ribuan riset tumbuhan obat Indonesia. Riset Tumbuhan Obat dan
Jamu (2010) sudah mencoba mengumpulkan dan mendokumentasikan secara
menyeluruh, sehingga kelak ditemukan dokumentasi yang komprehensif tentang
pemanfaatan tumbuhan obat oleh berbagai etnis di Indonesia (Silalahi, 2016).
Riset ini, kami lakukan di Wilayah Sumatera, karena banyak lokasi hutan tropis
sebagai sumber metabolit sekunder dan banyak referensi pendukung kajian
eksplanasinya.

Periset juga sering melaporkan penemuan pemanfaatan jenis tumbuhan
obat yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Silalahi et al. (2015)
melaporkan bahwa Hoya sp. dan Dischidia sp. merupakan tanaman yang
dimanfaatkan oleh tumbuhan obat di pasar Kabanjahe Sumatera Utara sebagi
obat kanker. Pada saat riset dilakukan Hoya lebih dikenal sebagai tanaman hias
dibandingkan tanaman obat, namun berbeda halnya dengan masyarakat lokal di
Sumatera Utara yang memanfaatkan untuk obat. Hal ini menunjukkan bahwa
masih banyak pengetahuan masyarakat mengenai etnomedisin belum
terpublikasi dengan baik. Berdasarkan data yang ada, tumbuhan obat yang
dimanfaatkan masyarakat Indonesia mulai diteliti secara ilmiah oleh Rumphius
abad ke-19 (Walujo 2013). Sejak saat itu, jumlah spesies tumbuhan yang
bermanfaat sebagai obat terus bertambah. Heyne ( 1927) mencatat sekitar 1.040
jenis tumbuhan di Indonesia bermanfaat sebagai obat didokumentasikan pada
buku Tumbuhan Bermanfaat Indonesia. Jumlah tersebut terus meningkat

46 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

sehingga pada buku Medical Herb in Indonesia tercatat sekitar 7.000 spesies
etnomedisin (Walujo, 2013).

Pemanfaatan etnomedisi, secara tradisional telah lama dila- kukan oleh
berbagai suku di seluruh Indonesia. Perbedaan adat dan kebiasaan antar suku di
Indonesia merupakan kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai harganya.
Kondisi yang demikian juga dapat dicirikan dari keragaman jenis tumbuhan yang
digunakan, ramuan obat tradisional dan cara pengobatannya. Pengetahuan
etnomedisin masyarakat antar suku dari ekologi berbeda serta keragaman jenis
tumbuhan yang digunakan oleh setiap suku menarik untuk dikaji sehingga perlu
ada upaya penggalian, sebagai dasar untuk pengembangan etnomedisin. Riset
Jauhari dkk (2008) menunjukkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi
masyarakat dalam pemanfaatan pengobatan alternatif. Beberapa faktor itu antara
lain pengalaman, ekonomi, kebudayaan. Etnomedisin adalah sebuah
kepercayaan dan praktek yang berkenaan dengan penyakit yang merupakan hasil
dari perkembangan kebudayaan asli, eksplisit dan tidak berasal dari kerangka
kedokteran modern.

Pendokumentasian manfaat tumbuhan obat berpacu dengan waktu,
karena terjadinya pemanenan sumberdaya hayati maupun ekosistem hutan yang
berlebihan d a n berimplikasi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati. Dari
30.000 spesies tumbuhan berbunga dan diperkirakan sekitar 60% yang telah
dipertelakan secara ilmiah. Hal tersebut menjadi tantangan bagi peneliti sebelum
keaekaragaman tersebut benar-benar hilang sepenuhnya. Kartawinata (2010)
menyatakan bahwa laju kehilangan spesies sejalan dengan laju kehilangan
pengetahuan lokal. Di antara banyaknya spesies tumbuhan bermanfaat obat,
namun di Indonesia upaya seleksi dan penangkaran seperti itu untuk tumbuhan
obat belum pernah dikerjakan (Rifai & Kartawinata 1991). Kartawinata (2010)
menyatakan bahwa belum pernah diterapkan upaya penangkaran untuk

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 47

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

menghasilkan tumbuhan obat bermutu tinggi dengan sifat-sifat yang diinginkan
seperti kandungan farmakologi kuat, produktivitas tinggi dan kandungan abu
sangat rendah.

Kajian ilmu etnomedisin adalah sebuah kepercayaan dan praktek yang
berkenaan dengan penyakit yang merupakan hasil dari perkembangan
kebudayaan asli, eksplisit dan tidak berasal dari kerangka kedokteran modern
(Anderson dan Foster, 1986). Anderson dan Foster membagi jenis etnomedisin
menjadi dua jenisyaitu sistem personalistik dan sistem naturalistik. Sistem
personalistik merupakan suatu sistem dimana penyakit disebabkan oleh
intervensi dari suatu gen yang aktif. Gen yang aktif yang dimaksud berupa
makhluk supranatural (makhluk gaib atau dewa), makhluk bukan manusia
(hantu, roh leluhur, atau roh jahat) dan makhluk manusia (tukang sihir atau
tukang tenung). Sementara sistem naturalistik, mengakui adanya model
keseimbangan dalam tubuh manusia. Sehat terjadi jika unsur-unsur yang pada
dalam tubuh, seperti panas, dingin, cairan tubuh, yin dan yang, berada dalam
keadaan seimbang (Anderson dan Foster, 1986). Efek samping obat tradisional
relatif kecil jika digunakan secara tepat, serta memiliki kriteria:
1. Kebenaran bahan

Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala
sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Kebenaran bahan menentukan
tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan. Sebagai contoh lempuyang
dipasaran ada beberapa macam yang agak sulit untuk dibedakan satu dengan
yang lain. Lempuyang emprit (Zingiber amaricans) memiliki bentuk yang relatif
lebih kecil, berwarna kuning dan rasa pahit. Lempuyang emprit ini berkhasiat
sebagai penambah nafsu makan. Jenis kedua adalah lempuyang gajah (Zingiber
zerumbet) yang memiliki bentuk lebih besar dan warna kuning yang berkhasiat
penambah nafsu makan. Jenis yang ketiga adalah lempuyang wangi (Zingiber

48 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

aromaticum) yang berwarna agak putih dan bau harum, jenis ini berkhasiat
sebagai pelangsing (Sastroamidjojo, 2001).

2. Ketepatan dosis
Tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik memang tak bisa

dikonsumsi sembarangan, tetapi terdapat dosis yang harus dipatuhi, seperti
halnya resep dokter. Buah mahkota dewa, misalnya, hanya boleh dikonsumsi
dengan perbandingan satu buah daun dalam tiga gelas air. Sedangkan daun mindi
baru berkhasiat jika direbus sebanyak tujuh lembar dalam takaran air tertentu
(Suarni, 2005). Dengan demikian, pengetahuan ini akan menepis anggapan
bahwa obat tradisional tak memiliki efek samping. Pengetahuan masayarakat,
bila obat tradisional aman dikonsumsi walaupun gejala sakitsudah hilang adalah
keliru. Sampai batas tertentu, mungkin benar, akan tetapi bila sudah melampaui
batas, justru membahayakan (Oktora, 2006).

Efek samping tanaman obat dapat digambarkan dalam tanaman dringo
(Acorus calamus), yang biasa digunakan untuk mengobati stres. Tumbuhan ini
memiliki kandungan senyawa bioaktif asaron. Senyawa ini punya struktur kimia
mirip golongan amfetamin dan ekstasi. Pada dosis rendah, dringo memang dapat
memberikan efek relaksasi pada otot dan menimbulkan efek sedatif (penenang)
terhadap sistem saraf pusat ( Sukandar, 2006)). Namun, jika digunakan dalam
dosis tinggi malah memberikan efek sebaliknya. Takaran yang tepat dalam
penggunaan obat tradisional memang belum banyak didukung oleh data hasil
riset. Peracikan secara tradisional menggunakan takaran sejumput, segenggam
atau pun seruas yang sulitditentukan ketepatannya. Penggunaan takaran yang
lebih tepat dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek
yang tidak diharapkan karena batas antara racun dan obat dalam bahan obat
tradisional amatlah tipis. Dosis tepat membuat tanaman obat bisa menjadi
penyembuh, sedangkan jika dosis berlebih dan tidak tepat menjadi racun.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 49

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

3. Ketepatan waktu penggunaan
Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah

turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik
dikonsumsi saat datang bulan, akan tetapi jika diminum pada awal masa
kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Hal ini menunjukkan ketepatan
waktu penggunaan obat tradisional menentukan tercapai atau tidaknya efek yang
diharapkan (Oktora, 2006 ).

4. Ketepatan cara penggunaan
Satu tanaman obat dapat memiliki banyak zat bioaktif yang berkhasiat

di dalamnya. Setiap zatbioaktif berkhasiat kemungkinan membutuhkan
perlakuan yang berbeda dalam penggunaannya. Sebagai contoh adalah daun
Kecubung jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan digunakan
sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan
keracunan.

5. Ketepatan telaah informasi
Perkembangan teknologi informasi pada era global saat ini mendorong

derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses. Informasi yang tidak
didukung oleh pengetahuan dasar yang memadai dan telaah atau kajian ilmiah
yang baik, seringkali mendatangkan hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan bisa
menyebabkan obat tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan.
Contohnya, informasi di media massa meyebutkan bahwa biji jarak mengandung
risin yang jika dimodifikasi dapat digunakan sebagai antikanker, padahal risin
sendiri bersifat racun.

2. Mengulas Etnobotani dan bahan kajiannya

Pembahasan etnomedisin tidak terlepas pembahasan etnobotani. Makna
etnobotani terdiri dari akar katanya, berasal dari dua suku kata, yaitu etno (etnis)

50 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

dan botani. Kata etno berarti masyarakat adat/kelompok sosial dalam sistem
socialatau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena
keturunan, adat, agama, bahasa, dan lain sebagainya. Sedangkan botani adalah
tumbuhtumbuhan. Etnobotani adalah interaksi masyarakat setempat dengan
lingkungan hidupnya, khususnya tumbuh-tumbuhan serta suatu pengkajian
terhadap penggunaan tumbuh-tumbuhan asli dalam kebudayaan dan agama bagi
sesuatu kaum seperti cara penggunaan tumbuhan sebagai makanan, perlindungan
atau rumah, pengobatan, pakaian, perburuan dan upacara adat. Suatu bidang ilmu
yang mempelajari hubungan timbal balik secara menyeluruh antara masyarakat
lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumberdaya
alam tumbuhan (Purwanto, 1999).

Etnobotani dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mendo-
kumentasikan pengetahuan masyarakat tradisioal, masyarakat awam yang telah
menggunakan berbagai macam jasa tumbuhan untuk menunjang kehidupannya.
Pendukung kehidupan untuk kepentingan makaan, pengobatan, bahan bangunan,
upacara adat, budaya, bahan pewarna dan lainnya. Semua kelompok masyarakat
sesuai karakter wilayah dan adatnya memiliki ketergantungan pada berbagai
tumbuhan, paling tidak untuk sumber pangan. Dalam kehidupan modern telah
dikenal lebih dari seratus jenis tumbuhan untuk sumber makanan, tetapi
sebenarnya telah dipergunakan ribuan jenis tumbuhan di berbagai belahan bumi
oleh berbagai etnik (Suryadarma, 2008). Etnobotani memanfaatkan nilai-nilai
pengetahuan masyarakat tradisional dan dan memberi nilai-nilai maupun
pandangan yang memungkinkan memahami kebudayaan kelompok masyarakat
dalam penggunaan tumbuhan secara praktis. Terjadi hubungan saling mengisi,
yaitu memanfaatakan nilai nilai keunikan pengetahuan tradisional dan menerima
pandangan pandangan untuk memahami kebudayaanya dan penggunaan
tumbuhan secara praktis. Sumbangan pemikiran pengunaan tumbuhan secara

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 51

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

praktis dengan pendekatan ilmiah untuk memahami pengetahuan tersebut
(Suryadarma, 2008).

Etnobotani adalah riset ilmiah murni yang mengunakan pengalaman
pengetahuan tradisional dalam memajukan dan improvisasi kualitas hidup, tidak
hanya bagi manusia tetapi juga kualitas lingkungan, karena nilai nilai guna yang
dimiliki dan digunakan secara antrophologis adalah konservasi tumbuhan
tersebut harus dilakukan sebagai konsekuensinya. Studi tersebut bermanfaat
ganda, karena selain bermanfaat bagi manusia dan lingkungan, dan perlindungan
pengetahuan tersebut, melalui perlindungan jenis jenis tumbuhan yang
digunakan. Tidak mungkin pula menyimpan pengetahuan tersebut dalam bentuk
daftar katalog tumbuhan obat dan mempelajari sifat sifat yang dimilikinya, dan
ilmu pengetahuan tersebut bersifat lebih luas dan lebih besar (Suryadarma,
2008).

Etnobotani muncul sebagai sebuah pendekatan multidisiplin keilmuan,
pada dekade terakhr terutama dalam metodelogi pengumpulan datanya.
Etnobotani berfokus mempelajari hubungan antara suatu etnik atau kelompok
masyarakat dan sumberdaya alam tumbuhan serta lingkungannya.
Pengembangan studi etnobotani memberikan kontribusi sangat besar dalam
proses pengenalan sumberdaya alam pada suatu daerah melalui kegiatan
pengumpulan kearifan lokal bersama masyarakat. Studi etnobotani dapat
membantu masyarakat untuk mengetahui secara ilmiah pengetahuan yang
dimiliki dalam menunjang kehidupannya, melalui membaca ulang hasil hasil riset
yang disusun secara praktis oleh para peneliti. Salah satu dari informasi tersebut
dilakukan dengan menyusun pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat
Bali yang disusun dalam bentuk buku panduan sederhana. Panduan paket bacaan
disebarkan luaskan kepada kepala desa adat, kepala subak, tokoh masyarakat,
dukun untuk dibaca pasiennya (Suryadarma, 2008).

52 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

3. Etnofarmasi dan Etnofarmakologi

Ilmu etnofarmasi berkaitan dengan berbagai ilmu pendukung yang
semuanya berdasarkan pengetahuan turun-temurun suatu etnik tertentu.
Etnofarmasi tidak hanya mencakup pengetahuan tradisional saja tetapi juga
pengetahuan penggunaan obat dan cara pengobatan khas suatu etnik, maka dalam
etnofarmasi akan terkait dengan pengetahuan pendukung seperti etnobotani,
etnozoologi, etnofarmakologi, etnofarmakognosi, etnofarmasetika, dan
antropologi medik (Moektiwardoyo, 2014).

Etnofarmasi adalah kajian ilmu interdisipliner mengenai aspek-aspek
farmasi yang terdapat pada suatu komunitas etnis masyarakat pada suatu daerah
tertentu. Etnofarmasi melibatkan kajian pengenalan, pengelompokan, dan
pengetahuan darimana obat dihasilkan, preparasi sediaan obat, aplikasi sediaan
obat (etnofarmakologi), dan aspek sosial dari penggunaan pengetahuan perobatan
dalam etnis tersebut (etnomedisin). Suatu riset etnofarmasi, yang menjadi objek
utama adalah sebuahkomunitas yang terisolasi untuk menemukan kembali resep
tradisional masyarakat tersebut dan mencoba melakukan evaluasi secara biologis
dan kultural (Pieroni et al., 2002). Etnofarmasi adalah bagian dari ilmu farmasi
yang mempelajari penggunaan obat dan cara pengobatan yang dilakukan oleh
etnik dan suku bangsa tertentu. B i d a n g Etnofarmasi merupakan bagian dari
ilmu pengobatan masyarakat tradisional yang seringkali terbukti secara empiris
dan setelah melalui pembuktian ilmiah dapat ditemukan atau dikembangkan
senyawa obat baru.

Penggunaan bahan alam untuk obat-obatan telah berlangsung sejak ribuan
tahun yang lalu. Para ahli kesehatan bangsa Mesir kuno pada 2500 tahun sebelum
Masehi telah menggunakan tumbuhan obat yang terdokumentasi dalam Code of
Hammurabi. Sejumlah besar resep penggunaan produk tumbuhan untuk
pengobatan berbagai penyakit, gejala penyakit dan diagnosisnya tercantum

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 53

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

dalam Papyrus Ebers. Dokumen De Materia Medica berisi uraian sekitar 600
jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat etnik Yunani dan
Mediterranian. De Historia Stirpium memuat 400 jenis tumbuhan yang
digunakan oleh bangsa Jerman dan Austria. John W. Harsberger (1895)
memperkenalkan istilah etnobotani yang kemudian mengerucut pada kajian yang
khas, diantranya etnofarmakognosi. Di Indonesia, pemanfaatan tumbuhan obat
juga telah berlangsung ribuan tahun yang lalu, namun penggunaannya belum
terdokumentasi dengan baik (Moektiwardoyo, 2014).

Sejarah ilmu mengenai etnofarmasi tidak terlepas dari budaya khas dan
lingkungan etniknya, sehingga tidaklah mengherankan untuk mengatasi
gangguan penyakit yang sama, etnik yang berbeda menggunakan tumbuhan
berbeda. Kelompok etnik tradisional mempunyai ciri dan jatidiri yang sudah
jelas, sehinggakemungkinan besar persepsi dan konsepsi masyarakat terhadap
sumber daya alam nabati akan berbeda tiap kawasan, termasuk persepsi dan
konsepsi pemanfaatan etnomedisin. Pada bidang Etnofarmasi, juga dikenal
bidang etnofarmakologi. Ditinjau dari definisi permulaan, etnofarmakologi
adalah multidisiplin ilmu yang mempelajari komponen aktif biologi yang
digunakan dalam pengobatan tradisional. Etnofarmakologi didefinisikan pula
sebagai studi ilmiah yang menghubungkan suatu kelompok etnik, kesehatan, dan
bagaimana kebiasaan dengan kondisi fisik dan metode dalam membuat dan
menggunakan obat. Banyak obat yang tergabung dalamFarmakope Internasional
berasal dari riset etnofarmakologi dan pengobatan tradisional. Tradisi
pengobatan tradisional dapat menawarkan sebuah pendekatan yang ebih
menyeluruh untuk desain obat dan target dalam analisis ilmiah.

4. Etnoteknologi dan Etnometodologi

Pada pembahasan berikut ini akan dibahas suatu kajian yang tidak kalah
menariknya yaitu etnoteknologi dan etnometodologi. Secara ontologi, hakekat

54 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

dari etnoteknologi (etnotek) dapat diartikan sebagai keseluruhan peralatan yang
dimiliki suatu masyarakat atau kelompok sosial tertentu beserta cara pemakainya
dan digunakan untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah dalam
berhadapan dengan situasi dan lingkungannya (Sudarmin dkk, 2020). Etnotek ini
dihasilkan dan dikembangkan oleh etnis masyarakat atau kelompok sosial itu
sendiri, dan diwariskan ke generasi berikutnya dalam kurun waktu relatif lama.
Pada bidang kajian etnosains dan etnotek, maka etnosains sebagai sistem
pengetahuan, sedangkan etnoteknologi sebagai peralatan yang dimiliki oleh suatu
masyarakat, suku bangsa, kelompok sosial tertentu, yang umumnya mempunyai
ciri dan karakteristik khusus tertentu.

Dengan menggunakan paradigma Etnosains dan Etnotek maka akan dapat
dicapai dua hal penting, yang semuanya merupakan pengejawantahan dari
pengembangan dan pemberdayaan ‘Kebudayaan‘ sebagai perangkat pandangan
hidup, perangkat pengetahuan, yakni: (1) Pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi berwawasan budaya; (2) Pemberdayaan pengetahuan dan teknologi
etnik atau budaya lokal. Pada bidang kajian dan riset etnosains dikenal etnografi
dan etnometodologi. Perbedaan mendasar adalah bahwa etnosains muncul dari
antropologi, sedangkan etnometodologi muncul dari sosiologi. Secara etimologi,
ada kesamaan dan perbedaan antara dua aliran tersebut.

Persamaannya adalah “etno” yang merujuk pada pengertian “folk”. Arti
dari “folk” tersebut adalah riset mencoba melihat gejala sosial tidak dari dirinya
sebagai objek yang bebas nilai melainkan dari orang atau masyarakat terlibat di
dalam gejala sosial tersebut. Sedangkan perbedaan keduanya dapat dilihat dari
perbedaan “sains” dan “metodologi”. Sains memiliki kecenderungan pada
sesuatu yang “saklek”, sudah jadi, sedangkan metodologi lebih pada tatacara,
metode, dan terkesan konotasi aktif (Ahimsa, 1994).

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 55

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Studi bidang kajian etnometodologi adalah studi tentang bagaimana
seorang individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-harinya, cara
menyelesaikan pekerjaan pada kehidupan setiap harinya (Ahimsa, 1998,
Sudarmin, 2020). Kajian etnometodologi mempelajari realitas sosial atas
interaksi yang berlangsung sehari-hari. Etnometodologi merupakan studi
eksperimental khas riset kualitatif karena bidang ini dapat meneliti bila terjadi
penyimpangan pada suatu aturan yang terdapat di masyarakat. Subyek riset sutau
etnometodologi bukan warga suku yang masih ‘primitif’ tetapi orang dari
berbagai situasi di dalam masyarakat tertentu.

Pada etnometodologi akan memberikan gambaran dengan tuturan bahasa,
serta mengkomunikasikan kenyataan sosial dan makna yang ada pada setiap
pelaku. Sedangka dilihat dari persamaan etnosains dengan etnometodologi
adalah (1) sama – sama menggunakan data “bahasa” atas pernyataan orang yang
diteliti sebagai bahan analisis (2) terlibat pada masalah relativisme budaya,
bahwa tidak ada budaya yang lebih tinggi dari kebudayaan lainnya (3) berusaha
mendapatkan aturan yang mendasari perilaku manusia (4) asumsi bahwa pada
dasarnya manusia selalu memberikan makna terhadap gejala sosial yang
dihadapi.

56 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB IV

TUMBUHAN SEBAGAI OBAT, TEH HERBAL TANAMAN
LOKAL HUTAN TROPIS DAN MANFAATNYA BAGI
KEHIDUPAN

4.1 Diskripsi Pembelajaran

Pada bab ini akan dibahas adalah tumnuhan sebagai obat yang merupakan
salah satu peninggalan Nenek Moyang kita dilanjutkan adalah teh herbal,
yangmana teh herbal atau “Wedang Teh” memiliki kekhasan sebagai minuman
khas bagi bangsa Indonesia. The herbal mampu berkhasiat sebagai antioksidan,
antibakteri, antikanker, imunitas tubuh, dan lain-lain. Senyawa yang berperan
adalah metabolit sekunder dan keberagaman metabolit sekunder dibahas dalam
bab ini. Pada akhir bab ini dibahas beberapa teh yang berasal dari tanaman hutan
tropis Indonesia dan manfaatnya bagi tubuh, yangmana data dan informasi dari
bahan kajian ini sebagai bagian produk riset PDU-PT ini.

4.2 Tumbuhan Bermanfaat Etnomedisin dan Pengolahannya

Sudiarto dalam Suhra (2002), pengetahuan masyarakat dalam
pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat, erat kaitannya dengan budaya
masyarakat yang diwariskan nenek moyangnya secara turun-temurun dalam
upaya pemeliharaan kesehatan. Pmanfaatan obat dan penggunaan tumbuhan obat
berkhasiat obat, perlu diketahui secara pasti bagaimana cara mengkomposisikan
dalam pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat agar efektif mengatasi berbagai
jenis penyakit. Disamping itu perlu juga diketahui bahwa efektifitas pemanfaatan
tumbuhan berkhasiat obat tergantung pula prosespengambilan, pembersihan,
persiapan dan pengeringan serta formulasi resep. Pemanfaatan tumbuhan
berkhasiat obat pada masyarakat pedesaan biasanya diperoleh dengan cara
memetik secara langsung dan mengolahnya.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 57

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain: sifat tumbuhan, waktu pemetikan, cara pencucian dan
pengeringan, cara merebus ramuan obat, waktu dan cara minum obat, serta lama
pengobatan (Dalimarta, 1999). Nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dulu
telah menekuni pengobatan dengan memanfaatkan aneka tumbuhan ini telah
meninggalkan warisan berharga. Warisan tersebut berupa pengobatan yang
memang sudah turun-temurun dan diajarkan dari generasi terdahulu kegenerasi
selanjutnya.Tumbuhan obat tersebut ada yang berupa rempah, tanaman buah,
tanamanhias, sayur, teh bahkan tumbuhan liar.

Bahan-bahan tanaman obat tadi dapat berupa tumbuhsn utuh, bagian
tumbuhan ataupun eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah sel yang dengan
cara tertentu dikeluarkan dari selnya, demikian pula zat-zat nabati yang
dipisahkan dari tumbuhannya (Hargono, 1992). Obat tradisional atau populernya
adalah jamu merupakan ramuan berbagai tumbuhan. Semua bagian dari
tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk ramuan jamu, seperti buah,
bunga, daun, tangkai, akar dan kulit dahan. Susunan jamu dulu dianggap sebagai
rahasia keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. (Hargono, 1992).

Masyarakat memanfaatkan bahan-bahan asal tumbuhan obat ini untuk
memenuhi keperluan pelayanan kesehatan. Masyarakat menggunakannya dalam
keadaan segar, artinya baru diambil dati tumbuh-tumbuhan yang menjadi
sumbernya. Tetapi dapat pula bahan obat nabati yang telah dikeringkan, sehingga
dapat tersimpan lama (Hargono, 1992). Pengelolaan obat tradisional Indonesia
sangat bervariasi, mulai yang masihdilakukan dengan cara sederhana sampai
dengan yang menggunakan teknologi maju. Dalam cara sederhana umumnya
digerus (seperti dihancurkan tetapi tidak terlalu halus), digiling, direbus, disaring,
dikunyah, diremas, diiris, ditumis, dilarutkan dan sebagainya. Dalam pengelolaan
umumnya semua jenis tumbuhan dicampur dengan beberapa jenis tumbuhan lain
untuk menjadi satu ramuan. Pengolahan jamu, selain dicampur ada juga yang
diolah tunggal. Contoh pengolahannya secara sederhana, tumbuhan segar
58 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

dicacah (potong-potong), direbus dengan air dalam kuali sampai menghasilkan
cairan rebusan sebayaksetengah volume air yang digunakan untuk merebus tadi.
Cairan ekstrak hasil rebusan disamping dimanfaatkan sebagai obat alam atau teh,
digunakan untuk kompres.

4.3 Keberagaman Metabolit Sekunder dan Konservasinya
Pada pembahasan sebelumnya dibahas tanaman berkhasiat obat,

yangmana keberadaan senyawa metablolit sekunder dalam tanaman tersebut
yang menyebabkan tanaman tertentu berkhasiat obat. Pada bagian ini akan
dibahas mengenai Keberagaman senyawa metabolit sekunder sebagai senyawa
organik bahan alam, yangmana dihasilkan suatu mahkluk hidup, termasuk
tumbuhan, hewan, atau bakteri (Matsjeh, S., 2009). Senyawa metabolit sekunder
tersebut memainkan peranan penting bagi kehidupan organisme bersangkutan, dalam hal
memberikan karakteristik padaindividu tanaman dan sebagai daya tarik mahkluk hidup
lain. Keberagaman senyawa metabolit sekunder meliputi senyawa terpenoid, steroid,
flavonoid, poliketida, phenil propanoid, alkaloid, saponin, dan Tanin (Sjamsul A,
1986). Jalur biosintesis senyawa metabolit sekunder tersebut diturunkan dari
Metabolit primer (gula, asam amino, lemak, dan nukleotida). Pada tumbuhan,
pembentukan metabolit sekunder dimulai dari asam piruvat dan asam shikimat yaitu
senyawa yang dihasilkan dari glikolisis glukosa dari hasil fotosintesis.Darikedua
senyawa inilah berbagai metabolit sekunder diturunkan.

Perbedaaan metabolit primer dan sekunder berdasarkan kriteria berikut:
1. Metabolit sekunder distribusinya pada tanaman tidak universal artinya tidak terdapat

pada seluruh bagian tanaman, sedangkan metabolit primer terdistribusi secara
universal.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 59

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

2. Metabolit primer memberikan keterlibatan langsung pada metabolisme di dalam sel,
sedangkan metabolit sekunder tidak terlibat langsung pada metabolisme di dalam sel
organisme yangmenghasilkannya.

3. Metabolit sekunder jauh lebih sedikit terkandung di dalam tumbuhan atau binatang
dibandingkan metabolit primer.

Pada saat ini sebenarnya sudah ditemukan jutaan senyawa metabolit sekunder dari
berbagai tanaman hutan tropis Indonesia. Namun yang merupakan senyawa kunci
hanya sebagian kecil saja. Senyawa kimia kunci adalah senyawa kimia yang dapat
digunakan untuk mensintesis senyawa kimia lain dan menghasilkan bahan kimia
penting bagi kehidupan manusia dan masyarakat (Matsjeh, 2006). Pemerolehan
senyawa metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis dapat melalui tehnik
diisolasi dari tanaman hutan tropis yang dijadikan senyawa kimia kunci
,baikuntuksintesismaupunsemi sintesissenyawa lain. Pada saat ini suatu riset
sintesis metabolit sekunder menggunakan senyawa alami nabati yang melimpah
di Indonesia sebagai bahan dasar banyak dilakukan oleh periset perguruan tinggi
di Indonesia.

Hasil sintesis atau semi sintesis dari suatu riset tersebut diarahkan ke
pembuatan metabolit sekunder turunannya tyang mempunyai efek fisiologis dan
biologis potensial sebagai obat moderen, misalnya menghasilkan turunan
flavonoid, alkaloid, dan senyawa metabolit sekunder lain yang lebih bermanfaat
(Hartman, T et al, 1996 ). Senyawa flavonoid dan alkaloid sebagai senyawa
metabolit sekunder mempunyai biokativitas tertentu dan dapat dijadikan model
struktur senyawa target tertentu yang akan disintesis menjadi obat suatu penyakit
tertentu. Dengan demikian, metabolit sekunder hasil alam yang mudah didapat
dan mudah dibudidayakan di Indonesia dapat dikonservasi dengan cara diubah
menjadi senyawa metabolit sekunder turunannya yang lebih bernilai ekonomi
tinggi dan lebih beemanfaat bagi umat manusia.

60 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Secara ilmiah nilai penting tumbuhan bagi komponen obat terutama
terletak pada struktur, gugus fungsi yang terdapat pada berbagai senyawa
metabolit sekunder yang dihasilkan dari tumbuhan berkhasiat obat
(Sartrohamidjojo, 2003). Keberagaman metabolit sekunder ini pada awalnya
dianggap sebagai sampah metabolisme. Namun demikian saat ini diketahui
bahwa senyawa metabolit sekunder tersebut mempunyai peran dan manfaat
penting bagi kehidupan. Bagi tumbuhannya sendiri, keberagaman senyawa
metabolit sekunder membantu tumbuhan menghindarkan diri dari gangguan
herbivora, dan menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Keberagaman
senyawa metabolit sekunder dalam tanaman tersebut membuat orang tertarik
untuk mengklasifikasinnya, serta mengkonservasinya. Salah satu cara untuk
mengklasifikasikan tumbuhan obat adalah berdasarkan senyawa bioaktif yang
dikandungnya. Dua macam komponen senyawa bioaktif metabolit sekunder
digolongkan sebagai alkaloid dan glikosida.

Metabolit sekunder Alkaloid adalah komponen metabolit sekunder yang
aktif dan pada saat ini diperkirakan berjumlah kurang lebih 3000 jenis yang telah
diidentifikasi dari sekitar 4000 jenis tumbuhan. Metabolit sekunder alkaloid
terdistribusi secara luas dalam dunia tumbuhan, namun demikian beberapa famili
tumbuhan seperti herba dikotil diketahui kaya akan kandungan alkaloid. Famili-
tumbuhan yang penting penghasil metabolit sekunder alkaloid adalah Fabaceae,
Solanaceae dan Rubiaceae. Secara kimiawi struktur alkaloid sangat beragam,
namaun mempunyai ciri utama yaitu: mengandung nitrogen dan bersifat alkali
(basa), dan mempunyai rasa pahit. Metabolit sekunder alkaloid mempengaruhi
fisiologi dan yang paling sering berhubungan dengan sistem syaraf.

Manfaat dari senyawa metabolit sekunder lain yang berasal dari hutan
tropis di Indonesia, misalnya Tanaman Taxus Sumatrana sebagai antikanker
(Hidayat, A et al, 2014), Mangrove sebagai anti bakteri Enterococcus faecalis
(Hariningtyas D.R, 2017), Ekstrak kayu Gaharu sebagai Antirayap (Auditya M

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 61

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

et al, 2019), dan ekstrak akar dan kayu Bajakah dari Kalimantan sebagai
antikanker (Moch Khoiry, 2019). Tanaman sarang burung dari Meraku dan Papua
sebagai antikanker (Dinkes Papua, 2016) dan beberapa tanaman hutan tropis lain
dilaporkan sebagai aktivitas antibakteri tertentu (Tascioglu C et al, 2012).

Pada berapa literatur dan referensi diketahui bahwa metabolit sekunder
dapat bermanfaat sebagai (a) Antioksidan, yaitu metabolit sekunder yang dapat
mencegah atau memperlambat kerusakan sel akibat radikal bebas. Metabolit
sebagai penangkal radikal bebas, misalnya katekin dalam teh hijau dan berbagai
senyawa polifeol, (b) Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu
pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu
metabolisme mikroba yang merugikan. Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan
dengan metode difusi dan metode pengenceran, (c) Antikanker atau sitostatika
merupakan suatu obat yang digunakan untuk membunuh atau menghambat
mekanisme proliferasi sel kanker. Metabolit sekunder sebagai antikanker,
diantaranya alkaloid, terpenoid, dan iso-flavonoid, (d) antirayap adalah zat
metabolit sekunder yang mampu menghambat atau membasmi rayap, (e) zat
imunitas adalah zat metabolit sekunder yang mampu melawan dan melindungi
tubuh dari ancaman virus, bakteri, kuman, dan penyakit infeksi

4.4 Keberagaman Teh Herbal dan Manfaatnya

Pada bahasan sebelumnya telah dibahas senyawa metabolit sekunder
yang penting dan berperan sebagai senyawa bioaktivitas dalam mahkluk hidup.
Senyawa metabolit sekunder inilah, yang sebenarnya memberikan citra rasa dan
kenikmatan, serta memiliki bioaktivitas sebagai obat dan imunitas pada minuman
teh. Teh adalah jenis minuman non alkohol yang terbuat dari daun teh yang
mengalami proses proses pengolahan tertentu. Sutyamidjaja (2000) bahan kimia
yang terkandung dalam daun teh terdiri atas empat kelompok yaitu fenol dari
katekhin dan flavanol, senyawa bukan fenol dari pektin, resin, vitamin, dan

62 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

mineral, senyawa aromatik, dan enzim. Tanaman teh pertama kali masuk ke
Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang
Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.
Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat
perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal
Champuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi
Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut,
Jawa Barat. Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh
menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam
Paksa ( (Sosro, 2010).

Pada kajian etnomedisi, maka komposisi kimia daun teh segar sangat
berpengaruh terhadap mutu teh yang dihasilkan. Menurut hasil riset yang telah
dilakukan di Jepang dan Rusia ada beberapa nilai nutrisi dan manfaat teh,
terutama teh hijau dan teh hitam. Metabolit sekunder pada minuman teh adalah
fenol yaitu katekin dan flanavol, Secara rinciannya kandungan zat kimia terdiri
atas (a) Zat yang tidak larut dalam air yaitu Protein (16%), Lemak (8%), Klorofil
dan pigmen lain (1,5%), pektin (4%), Pati (0,5 %), serat kasar,selulosa, dan lignin
(22%). (b) Zat yang larut dalam air yaitu polifenol yang dapat difermentasi
(20%), polifenol lain (10%), kafein (theine)(4%).

Teh berdasarkan proses pengolahannya, maka teh dibedakan menjadi teh
tanpa fermentasi (teh putih dan teh hijau), teh semi fermentasi (teh oolong), serta
teh fermentasi (teh hitam). Belakangan istilah fermentasi menjadi kurang populer
dan diganti dengan istilah teh oksidasi enzimatis atau oksimatis. Teh Putih
Diantara jenis teh yang ada, teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses
pengolahan paling sederhana, yaitu pelayuan dan pengeringan. Bahan baku yang
digunakan untuk proses pembuatan teh putih hanya berasal dari pucuk dan dua
daun dibawahnya. Pelayuan dapat dilakukan dengan memanfaatkan panas dari

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 63

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

sinar matahari. Biasanya proses pelayuan ini mampu mengurangi kadar air
sampai 12%. Daun teh yang sudah layu dikeringkan menggunakan mesin
pengering. Pucuk teh kemudian akan menjadi jenis mutu silver needle, sedangkan
dua daun di bawahnya menjadi white poeny.

Teh Hijau cecara umum dibedakan menjadi teh hijau China (Panning) dan
teh hijau Jepang (Steaming). Kedua teh tersebut, prinsip dasar proses pengolahan
inaktivasi enzim polifenol oksidase untuk mencegah terjadinya oksimatis yang
merubah polifenol menjadi senyawa oksidasinya berupa teaflavin dan tearubigin.
Pada proses pengolahan teh hijau China digunakan mesin pelayuan berupa rotary
panner untuk menginaktivasi enzim. Sementara itu, proses teh hijau Jepang
menggunakan steamer dalam menginaktivasi enzim. Daun teh yang sudah
dilayukan, kemudian digulung dan dikeringkan sampai kadar air tertentu.

Teh Oolong Setelah sampai di pabrik, daun teh sesegara mungkin
dilayukan dengan menfaatkan panas dari sinar matahari sambil digulung halus
secara manual menggunakan tangan ataupun menggunakan mesin. Penjelasan
ilmiah dari penggulungan halus ini adalah untuk mengoksidasi sebagian polifenol
yang terdapat dalam daun teh. Proses ini dikenal sebagai proses semi oksimatis.
Tteh hitam adalah teh yang paling banyak diproduksi yaitu sekira 78%, diikuti
teh hijau 20% kemudian sisanya adalah teh Oolong dan teh putih yaitu 2%.

Meski ada kata “teh”, teh herbal sebenarnya sama sekali tidak terbuat dari
daun teh. Teh herbal didapat dengan menyeduh rempah-rempah, bunga, buah,
daun, atau akar tumbuhan yang dikeringkan. Teh herbal atau herbal tea
merupakan salah satu produk minuman campuran teh dan tanaman herbal yang
memiliki khasiat dalam membantu pengobatan suatu penyakit atau sebagai
penyegar (Hambali et al., 2006) Meski demikian, teh herbal memiliki rasa dan
manfaat yang tak kalah nikmat dibanding teh biasa. Teh herbal yang berasal dari
tanaman hutan tropis yang dijual di Pasaran diantaranya Bajakah kalimatan,
Taxus Sumatrana, Akar kuning, Sarang semut, Mangrove, dan lain-lain. Teh
64 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

herbal juga memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan dipercaya akan
kegunaannya. Manfaat kegunaan teh herbal tergantung kandungan dari jenis
bahan baku yang kita gunakan. Syarat mutu teh kering dalam kemasan
berdasarkan SNI 3836:2013 disajikan pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Syarat Mutu Teh Kering dalam Kemasan Menurut SNI (2013)

No Kriteria uji Satuan Persyaratan

1. Keadaan air seduhan - -
2 Warna - Khas produk teh - Khas
3. Bau Bau produk teh
4. Rasa Rasa Khas
5. Kadar polifenol (b/b)% % produk teh
6. Serat kasar % Khas
7. Cemaran logam % produk teh
8. Kadmium (Cd) % Min. 5.2
9. Timbal (Pb) % Maks. 8,0
10. Timah (Sn) % Min. 32 5
11. Merkuri (Hg) % Maks. 8,0 6
12 Cemaran arsen (As) % Min. 45 7
13 Cemaran mikroba: M Maks. 16,5
14 Angka lempeng total (ALT) Mg/kg 1-3
15 Bakteri Coliform Mg/kg Maks. 16,5
16 Kapang Mg/kg
Maks. 0,2
Maks. 2,0
Maks. 40,0

Teh, tidak lagi hanya berperan sebagai minuman yang menerbitkan
kenikmatan, tapi lebih dari itu, kini popularitas teh kian berkibar sejalan dengan
makin banyaknya publikasi menyatakan teh mampu meningkatkan imunitas
kesehatan tubuh.

4.5 Keberagaman Teh Herbal Hutan Tropis dan Manfaatnya
Pada saat ini telah dikenal berbagai teh yang dihasilkan dari bagian

tanaman hutan tropis, yaitu teh bajakah, teh Taxus, teh akar kuning, teh sarang
semut, dan teh Mangrove. Pada riset beberapa teh tersebut menjadi fokus dari

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 65

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

riset PDU PT ini dan bagian ini akan dibahas setiap jenis teh tersebut, yaitu

1. Teh Bajakah

Teh Bajakah ini sebagai teh tradisional sebagai obat alternatif untuk
mengobati berbagai penyakit di Masyarakat, karena mengandung senyawa kimia
yang dikenal metabolit sekunder. Tumbuhan akar bajakah merupakan salah satu
tumbuhan yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat pedalaman
Kalimantan sebagai obat tradisional. Masyarakat dayak sejak dahulu
menggunakan akar bajakah sebagai obat untuk mengembalikan stamina saat
beraktifitas di hutan, obat kanker, obat antioksidan, dan obat tumor teh Bajakah
semakin dikenal setelah tiga Siswa sebuah SMU Palangkaraya yangmelaporkan
hasil riset mereka pada sebuah ajang lomba international di Seoul, Korea Selatan,
dan menyatakan bahwa bajakah dapat menyembuhkan kanker.

Hasil uji Fitokimia secara kualitatif oleh Anshari dkk (2012) pada
ekstrak Bajakah tampala diketahuai mengandung fenolik, flavonoid, tanin dan
saponin. Kandungan metabolit sekunder ini yang memiliki bioaktivitas untuk
mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, kanker, tumor dan
lain-lain. Hal ini diperkuat dengan riset Syarifah et al (2019) yang menyatakan
bahwa akar bajakah tampala dapat mengobati penyakit kanker. Ninkaew dan
Chantaranothai (2014) menyatakan terdapat 29 spesies genus Spatholobus Hassk
di hutan tropis Indonesia. Hasil uji fitokimia pada ekstrak kulit dan kayu, dan
akar Bajakah menunjukkan bahwa ekstrak kulit, kayu, dan akar Bajakah
mengandung metabolit sekunder dari alkaloid, flavonoids, terpenoid, dan fenolik.
Sedangkan metanolit saponin dan kuinon tidak terdapat pada baik ekstrak kulit
maupun kayu akar.

2. Teh Taxus Sumatrana
Tanaman Taxus sumatrana adalah suatu jenis cemara semak dan salah

satu dari delapan species taxus ini adalah jenis taxus yew. Tanaman Taxus
sumatrana ditemukan di sejumlah negara, diantaranya di negara Afghanistan,
66 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Tibet, Nepal, Filipina, Vietnam India, Burma, Taiwan, dan Cina. Seiringdengan
berkembangnya riset, paclitaxel menjadi obat anti kanker paling poluler dan
paling dicari di dunia karena efek samping yang kecil, efektif, dan efisien dalam
membunuh sel kanker. Cara pembuatan teh taxus adalah daun segar dan ranting
yang telah dipetik, terlebih dahulu dikeringkan selama 5 hari sampai kadar airnya
turun menjadi 10%. Setelah itu, bahan dihancurkan menggunakan blender,
kemudian ditimbang 1,5 gr kemudian dikemas dalam kantong teh. Kantong teh
taxus tersebut dapat langsung diseduh menggunakan air panas seperti teh celup
umumnya. Hasil Risetnya menyebutkan, ekstrak dari tumbuhan taxus yaitu taxol
dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker khususnya kanker
ovarium dan kanker payudara dan juga telah dicobakan untuk pengobatan
beberapa jenis kanker lainnya, yangaman “seduhan” dari teh cemara sumatra
disajikan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Seduhan produk teh etnomedisin dari cemara sumatra
(https://kabaralam.com/inovasi/taxus-teh-herbal-
antikanker-dari-aek-nauli)

3. Teh Akar kuning
Kayu kuning (Arcangelisia flava L.) merupakan tumbuhan merambat dari

famili Menispermaceae yang sudah tergolong rawan karena terbatasnya
penyebaran. Kayu kuning merupakan tumbuhan liar yang umumnya ditemukan
tumbuh di pantai berbatu atau di tepi-tepi hutan, pada ketinggian 100 meter

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 67

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

sampai 800 meter di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan Juli-September,
pengumpulan bahan dilakukan pada musim kemarau.
Penyebaran : Kayu kuning dapat dijumpai di Jawa, Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, Nusa tenggara dan sebagian di Irian. Tumbuhan ini mengandung
metabolit sekunder menunjukkan bahwa Arcangelisia flava memiliki
senyawa flavonoid, terpenoid, serta alkaloid protoberberin seperti berberin,
jatrorizin, dan palmatin.

Selain alkaloid, juga memiliki sistem hepatoprotektor yang dimana akar
kuning memiliki khasiat dan fungsi memperbaiki sel hati yang rusak akibat suatu
penyakit seperti hepatitis, sirosis hepatis, hepatomegali, sirosis hepatis, penyakit
kuning, dan lain-lain sebagainya. Pada saat ini teh celup akar kuning mengalami
Inovasi terbaru untuk mengkomsumsi akar kuning. Teh akar kuning yang telah
dikemas, diambil dari kemasan tinggal seduh dengan air panas anda sudah bisa
mengkomsumsi akar kuning yang di percaya berkhasiat bagi kesehatan tubuh.

4. Teh Sarang semut
Sarang semut adalah istilah Indonesia untuk menyebut genus

Myrmecodia, suatu genus tanaman mirmekofita epifit berasal dari Asia Tenggara
dan kepulauan besar yang terbentang sampai Queensland, Australia. Istilah
Myrmecodia berasal dari bahasa Yunani myrmekodes, yang berarti "mirip
semut" atau "dikerumuni semut". Sarang semut, tumbuh pada dahan atau batang
tumbuhan dan banyak ditemukan di daerah Merauke dan Papua. Tumbuhan ini
bersifat epifit, artinya menempel pada tumbuhan lain. Tidak hidup secara parasit
pada inangnya, tetapi hanya memanfaatkannya untuk menempel. Tumbuhan ini
memang membentuk ruang atau lubang seperti sarang semut, dan memiliki
labirin di dalam batangnya yang menjadi tempat hidup bagi semut. Batang sarang
semut yang membesar memiliki bentuk yang menyerupai umbi. Batang ini
ternyata memiliki banyak manfaat, baik untuk daya tahan tubuh, imunitas, dan
mengobati berbagai penyakit.
68 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Periset Ediati Sasmito (2010) dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah
Mada (UGM), meneliti umbi tanaman sarang semut. Hasil risetnya menunjukkan
umbi tanaman sarang semut mengandung zat aktif imuno-modulator atau zat
pengaktif sistem kekebalan tubuh manusia, yang dapat dijadikan obat beberapa
penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan daya tahan tubuh. Di alam,
akar umbi Sarang Semut biasanya terjuntai pada cabang-cabang tanaman tanpa
jumlah substrat yang signifikan, sehingga bergantung kepada proses
simbiosis untuk kebutuhan nutrisinya. Tanaman ini menghantarkan sari makanan
dan air melalui bongkot coklat keabu-abuan yang mengembang dan ditumbuhi
duri-duri. Batangnya yang tebal dan tidak bercabang terbungkus oleh klipeoli
dan alveoli yang juga mengandung duri dan dipenuhi oleh daun kecil. Teh sarang
semut dari berbagai literatur dan narasumber menyebutkan bahwa teh ekstrak
sarang semut untuk mengobati:

a. Penyakit Jantung
Organ satu ini rentan sekali mengalami masalah kesehatan, seperti
hipertensi, stroke, jantung koroner, dan masih banyak lainnya. Kandungan
mineral, kalium, dan kalsium yang tinggi pada sarang semut mampu
mengatasi berbagai gejala penyakit jantung.

b. Kanker
Kanker biasanya disebabkan oleh pertumbuhan sel kanker yang sudah
semakin menyebar. Sel kanker tersebut mampu diatasi dengan obat
tradisional yang mengandung sarang semut. Penyembuhannya pun sangat
efektif dan tidak menyebabkan efek samping. Kandungan flavonoid yang
terdapat pada sarang semut, dapat mengatasi sel kanker.

c. Ambeien
Meskipun tidak mematikan, penyakit yang terdapat pada area dubur ini
sangat mengganggu. Bahkan pada beberapa pengidap, penyakit ini bisa
memicu penyakit lain dan untuk mengatasinya, bisa menggunakan teh

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 69

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

sarang semut sebagai pengobatan, Kandungan antioksidan dan tokoferol
pada sarang semut juga baik untuk mengobati rematik.

d. Meningkatkan Imunitas dan Antibiotik.
Salah satu cara untuk menjaga serta meningkatkan sistem imunitas tubuh
adalah dengan mengkonsumsi teh sarang semut. Selain sebagai sumber
antioksidan yang cukup tinggi, sarang semut juga bermanfaat sebagai
antibiotik tubuh.

5. Teh Daun Mangrove
Mangrove berasal dari bahasa Malay yaitu “Mangimangi” atau “Mangin”,

kemudian ada pula yang menyebutkan bahwa istilah tersebut merupakan
kombinasi dari bahasa Portugis dan Inggris “Mangue” dan “grove”, sehingga bila
dirangkaikan menjadi “Mangrove”. Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang
hidup di habitat air payau. Habitat Mangrove seringkali ditemukan di tempat
pertemuan antara muara sungai dan air laut. Lokasi ini yang kemudian menjadi
pelindung daratan dari gelombang air laut yang besar. Hutan Mangrove biasa
ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis (Irwanto, 2006).

Sebagian besar bagian dari tumbuhan Mangrove bermanfaat sebagai bahan
obat ekstrak dan bahan mentah dari mangrove telah banyak dimanfaatkan oleh
Masyarakat pesisir untuk keperluan obat-obatan alamiah. Campuran senyawa
kimia bahan alam oleh para ahli kimia dikenal pharmacopoeia. Sejumlah
tumbuhan Mangrove dan asosiasinya digunakan pula sebagai bahan tradisional
insektisida dan pestisida. Sedangkan kegiatan ini pembuatan teh daun Mangrove,
secara lengkap adalah dimulai dengan mengambil daun Mangrove. Bagian yang
diambil yaitu 4 daun keatas. Setelah pengambilan daun Mangrove dilakukan
pemisahan duri dan tulang daun. Daun dipotong kecil-kecil dan dicuci hingga
bersih lalu dijemur hingga kering. Proses penjemuran dilakukan selama dua hari.
Pembuatan dan penyajian teh daun Mangrove terbilang sangat sederhana,
sejumput atau sedikit dari irisan daun yang sudah kering diseduh dengan air
70 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

mendidih. Tunggu hingga daun teh mengendap dan tuang ke dalam gelas. Minum
selagi hangat dan sebaiknya tidak perlu ditambah gula.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 71

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

BAB V

BERKREASI MENDESAIN MODEL KETERPADUAN
PEMBELAJARAN INKUIRI TERINTEGRASI ETNO-STEM

5.1 Diskripsi Pembelajaran
Pada bab ini dibahas pengembangan model pembelajaran dan berkreasi

mendesain model keterpaduan pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM.
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menjelaskan secara konseptual dan
teoritis mengena pengembangan suatu desain model keterpadun pembelajaran
inkuiri terintegrasi Etno-STEM. Pada bagian ini akan disajikan juga pola
keberagaman keterpaduan model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM
dengan tahapan “Sudarmin” dan rekontruksi pengetahuan masyarakat berbasis
pengetahuan masyarakat sebaggai luaran dari riset PDU PT ini.

5.2 Pengembangangan Model Pembelajaran dan Tahapannya
Riset ini adalah riset dan pengembangan yaitu riset dan pengembangan

adalah suatu riset yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu
yaitu produk desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM untuk
bahan kajian bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis untuk
akselerasi karakter konservasi mahasiswa. Pada riset ini, maka pada tahap awal
dilakukan kegiatan rekontruksi pengetahuan sains ilmiah berbasis pengetahuan
sains asli masyarakat melalui kegiatan kolekting data, verifikasi dan penajaman
data riset, rekonstruksi, formulasi, dan konseptualisasi, dilanjutkan integrasi
pengetahuan sains ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat dalam suatu bahan
ajar (Sudarmin, 2013). Pada pengembangan desain model pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM ini, maka mengikuti tahapam pengembangan sebagai

72 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

berikut yaitu tahap define, desain, development, dan disemnasi (4D), seperti
disajikan pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Langkah Pengembangan dan Ketercapaian Indikator dari Desain
Model Pembelajaran Inkuari Terintegrasi Etbo-STEM

No Kegiatan Tahapan Pengembangan Luaran Riset

1 Define : Terkolektingnya:

Penetapan dokumen dan informasi Data informasi potensi dan masalah,

potensi dan masalah mengenai model mengenai model dan pendekatan

dan pendekatan pembelajaran KOBA pembelajaran KOBA yang diterapkan

yang umum diterapkan dosen, struktur dosen selama ini, struktur kurikulum,

kurikulum, RPS, capaian RPS, capaian pembelajaran (CP) Mata

pembelajaran (CP) Mata Kuliah Kuliah KOBA., beserta karakteristik

KOBA., beserta karakteristik model model dan perangat pembelajarannya.

dan perangat pembelajaran-nya.

2 Desain Produk Dihasilkan Produk

Ranangan dan validasi desain model Desain konseptual dari model

pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno- pembelajaran inkuiri terintegrasi Etbo-

STEM, perangkat pembela-jaran, STEM dan produk perang-kat

dilanjutkan kegiatan validasi pakar, pembelajaran, RPS, instrumen Riset

revisi, dan desain model pembelajaran valid, dan desain prosedur kerja uji

inkuiri terintegrasi Etno-STEM, serta bioaktivitas metabolit sekunder dari

prosedur kerja uji bioaktivitas ekstrak tanaman taxus sumatrana.

metabolit sekunder dari ekstrak

tanaman taxus sumatrana.

3. Development: Terlaksananya

Pada tahap ini desain produk kon- uji coba baik uji coba skala besar dan

septual dari model pembelajaran kecil, beserta demontrasi desain mdel

inkuiri terintegrasi Etno-STEM, pembelajaran dan perangkat yang telah

perangkat pembelajaran dilakukan uji dihasilkan, sehingga dihasilkan model

coba baik uji coba skala besar dan dan perangkat yang layak, valid, serta

kecil, beserta demontrasi desain mdel baik.

pembelajaran dan perangkat yangtelah

dihasilkan.

4 Desiminasi: Terlaksananya kegiatan Diseminasi,

Diseminasi, FGD demontrasi model FGD, dan demontrasi penerapan dari

pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno- model pembelajaran inkuiri

STEM dan perangkat pembelajarannya, terintegrasi Etno-STEM, serta

dan berbagai percobaan inkuiri untuk terlaksananya berbagai perco-baan

uji bioaktivitas dari metabolit sekunder inkuiri berbaai uji bioaktivitas

dari tanaman taxus sumatrana. metabolit sekunder dari tanaman

taxus sumatrana

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 73

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Pada bahan ajar ini disajikan produk riset mengenai pelaksanaan Model
pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM, beserta beberapa temuan
mengenai uji bioaktivitas metabolit sekunder dari tanaman taxus sumatrana).

5.3 Desain Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno- STEM dengan
Sintaks Sudarmin
Pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM merupakan model

pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar untuk
mempermudah pembelajaran dengan mengaitkan antara budaya dan bahan kajian
sains (kimia organik bahan alam terkait bioaktivitas metabolit sekunder). Model
pembelajaran inkuiri terintegrasi Etnosains mengajak mahasiswa untuk
berinteraksi langsung dengan budaya lokal dan menggali, mengeksplorasi,
memverifikasi, mereduksi, konseptulisasi, dan dokumentasi dari pengetahuan
ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat dari aktivitas budaya masyarakat yang
terkandung konsep atau pengetahuan sains. Landasan filosofis dari pendekatan
Etnosains adalah penedekatan Fenomologis dan Konstruktivis, sehingga proses
pembelajaran ini selalui dikembangkan dan dikaitkan dengan fenomena budaya
yang sesuai konteks pembelajaran sains untuk mata kuliah KOBA.

Riset ini model inkuiri dipadukan dengan Etno-STEM, karena tuntutan
sistem pembelajaran abad 21 yang menuntut perguruan tinggi untuk merubah
pembelajaran yang berpusat dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada
mahasiswa. Perubahan paradigma pembelajaran tersebut, agar didapatkan peserta
generasi masa depan yang mampu berpikir kritis, inovatif, deduktif dan induktif,
memecahkan masalah, kolaboratif, komunikatif, dan mandiri atau Entrepreneur
di era global saat ini, tanpa meninggalkan akar budaya bangsa Indonesaim
(Sudarminm 2020). Keberagaman kemampuan berpikir dan keterampilan yang
mampu mengantarkan mahasiswa sebagai generasi muda untuk
metransformasikan pada pemecahan masalah dalam era global, tanpa

74 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

meninggalkan akar budaya bangsa Indonesia; dan inilah esensi penting
pembelajaran Inkuiri terintegrasi Etno-STEM.

Pembahasan pembelajaran inkuiri, maka diketahui bahwa model
pembelajaran inkuiri mempunyai beberapa level, mulai dari discovery learning
sampai Real Word Inquiry (Ryzal, P et al, 2019). Disamping itu model
pembelajaran inkuiri memberikan peluang kepada mahasiswa untuk
mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan dan menyelidiki melalui
kegiatan inkuiri berbasis lesson, laboratorium, dunia nyata secara mandiri dalam
menemukan pengetahuannya atau hipotesis. Langkah ini dilakukan agar
Mahasiswa mampu menggali kemampuan berpikir kritis, inovatif, kreatif,
kolaboratif dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi melalui
metode kinerja ilmiah dan sikap ilmiah. Model pembelajaran inkuiri
memfasilitasi mahasiswa untuk tertarik kerja ilmiah dalam memperoleh
pengetahuan proseduralnya. Model pembelajaran inkuiri ini juga memacu
mahasiswa untuk mendapatkan temuan dan ide dan gagasan baru. Pada beberapa
hasil riset juga telah membuktikan bahwa model inkuiri telah terbukti dapat
mengembangkan potensi mahasiswa baik secara kognitif, afektif, dan
psikomtoriknya (Ryzal, P , 2019).

Secara konseptual, kegiatan dan aktivitas pembelajaran inkuiri meliputi
tiga kegiatan yaitu (1) exploration, dalamhal ini dosen berperan mengajukan
pertanyaan dan permasalahan yang akan dipecahkan oleh mahasiswa; (2)
pengenalan konsep, pada kegiatan ini mahasiswa melakukan pengumpulan
informasi atau data berkaitan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari; (3)
aplikasi konsep, pada kegiatan ini dosen menghadapkan aktivitas mahasiswa
pada situasi baru terutama pada riset ini terkait aktivitas budaya yang turun
temurun dan mengandung konsep dan pengetahuan sains berdasarkan kegiatan
exploration dan aplikasi konsep. Model Pembelajaran inkuiri melalui aktivitas
observasi, manipulasi, generalisasi, verifikasi, dan aplikasi dengan serangkain

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 75

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

akitivitas seperti disajikan pada Tabel 5.2

Tabel 5.2 Aktivitas Pembelajaran Inkuiri dan capaian kompetensi yang
dikembangkan bagi mahasiswa (Ryzal Pratama, 2019)

.

Aktivitas Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dan kompetensi yang
Inkuiri dikembangkan
kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan mahasiswa misalnya
Mengamati membaca, mendengar, menyimak, melihat (dengan atau tanpa
(observing) alat/media pembelajaran ). Kompetensi yang ingin dikembangkan
melalui pengalaman belajar mengamati adalah melatih
kesungguhan, ketelitian, dan kemampuan mencari
informasi, dan literasi big data.

Menanya Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan mahasiswa adalah
(questioning) model mengajukan pertanyaan tentang informasi apa yang tidak
pembelajaran dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
memperoleh informasi tambahan atau informasi lebih lanjut
mengenai apa yang sedang diamati. Pertanyaan yang mahasiswa
ajukan semestinya bersifat faktual hingga mengarah pertanyaan
hipotetik (dugaan). Kompetensi yang

dikembangkan adalah kreativitas, rasa ingin tahu , merumuskan

pertanyaan, dan berpikir kritis

Pengemumpulan Kegiatan ini adalah melakukan percobaan, membaca beragam
informasi sumber informasi lainnya selain yang terdapat pada buku teks,
(experimenting) mengamati objek, mengamati objek suatu budaya atau aktivitas
yang mengandung konsep konsep sains; mengamati kejadian,
melakukan aktivitas tertentu, hingga berwawancara dengan nara
sumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah sikap teliti, jujur,
kesopanan, menghargai orang lain, peduli lingkungan, cinta tanah
air, berkomunikasi, dan

mengumpulkan informasi

Mengasosiasi Bentuk kegiatan belajar yang dapat diberikan antara lain
(associating) pengolahan dan memperluas informasi hingga informasi saling
mendukung dan atau bertentangan. Kompetensi yang
Komunikasi (networking) dikembangkan adalah sikap jujur, teliti, disiplin, taat kepada
aturan, bekerja keras, mampu menerapkan suatu prosedur.

Memberikan pengalaman belajar untuk melakukan kegiatan
belajar berupa menyampaikan hasil pengamatan inkuiri,
kesimpulan yang diperolehnya berdasarkan hasil analisis,
dilakukan baik secara lisan, tertulis, atau media lainnya.
Kompetensinya yang dikembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
berpikir secara sistematis, mengutarakan pendapat dengan cara
yang singkat dan jelas, dan berbahasa secara baik dan benar.

76 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Tabel 5.2 telah dibahas pembelajaran inkuiri dan aktivitasnya. Sedangkan
sintaks model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM yang dikembangkan
pada riset ini, secara konseptual sebagai berikut :
1. Merumusan masalah : Pada riset ini, sebelum dosen menyajikan pertanyaan

atau masalah, mahasiswa diminta untuk melakukan observasi dan
wawancara ke narasumber terkait teh cemara sumatra atau teh taxussebagai
tanaman hutan tropis dan tanaman lokal berkhasiat sebagai obat etnomedisin
kanker dan imunitas tubuh. Fokus pertanyaan misalnya, nama tanaman,
bagian tanaman, cara pengolahan, cara pemakain dan efektivitasnya terhadap
kanker atau imunitas. Setelah observasi, mahasiswa melakukan rekontruksi
ilmiah secara mandiri atau kelompok melalui proses identifikasi, verifikasi,
reduksi, validasi data, dan konseptualisasi pengetahuan masyarakat yang
diperoleh dari hasil wawancara pada narasumber.

Serangkaian kegiatan di atas tersebut dalam kajian etnosains
disebut proses rekontruksi sains ilmiah. Mengacu hasil observasi dan
wawancara, dan rekontruksi sains ilmiah, maka dosen mengarahkan
mahasiwa untuk diskusi untuk merumuskan masalah yang ada dalam bentuk
kalimat tanya. Misalnya adalah Bagaimana menjelaskan pengetahuan
masyarakat secara ilmiah mengenai kepercayaan dan keyakin masyarakat
bahwa teh cemara sumatra mampu sebagai obat kanker, tumor, dan imunitas
tubuh?.

2. Merumuskan hipotesis: Dari rumusan masalah yang telah ditetapkan untuk
diselesaikan. Mahasiswa secara mandiri atau kelompok melakukan studi
literatur dan artikel yang relevan untuk meenyusun dan merumuskan
hipotesis. Misalnya hipotesisnya adalah teh cemara sumtra atau teh taxus
memiliki bioaktivitas antikanker dan imunitas tubuh, karena dalam dalam
bagian tanaman tersebut terdapat berbagai metabolit sekunder yang

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 77

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

menghambat sel kanker atau sebagai zat imun tubuh. Merancang percobaan:
Untuk menguji apakah hipotesis yang dirumuskan terbukti secara ilmiah,
maka mahasiswa secara kelompok dituntut merancang percobaan.
Rancangan disusun dalam bentuk prosedur kerja dan mengikuti kaidah
kaidah kerja ilmiah. Pada riset ini prosedur kerja yang dimaksud adalah
prosedur kerja ilmiah inkuiri berbasis laboratorium. Prosedur kerja inkuiri
berbasis laboratorium yang dilakukan adalah percobaan isolasi, ekstraksi,
pemurnian, uji fitokimia, uji struktur, dilanjutkan uji daya hambat antikanker
dan antibakteri, atau antiokasidan. Setiap kelompok mahasiswa dituntut
untuk presentasi sebelum praktikum, untuk mendapatkan masukan mengenai
ketepatan prosedur preparasinya dan analisis datanya benar.
3. Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi dan mengumpulkan data
: Pada kegiatan ini setiap kelompok mahasiswa melakukan percobaan untuk
menguji hipotesis. Dosen membimbing mahasiswa selama proses percobaan
inkuiri dan mengkonfirmasi jika ada hal-hal yang kurang tepat.
4. Menguji hipotesis: Setelah mengumpulkan dan menganalisis data baik
secara deskriptif maupun statistik. Mahasiswa secara berkelompok dituntut
untuk menguji hipotesisnya, yaitu jenis dan struktur senyawa bioaktif
metabolit sekunder dari ektrak sampel Taxus terhadap kemampuan
antikanker, antibakteri, atau antioksidan.
5. Membuat kesimpulan: Pada kegiatan ini mahasiswa membuat kesimpulan
dari hasil uji hipotesis dan pembahasan hasil analisis data.
6. Mengkomunikasikan : Rangkaian hasil kinerja ilmiah percobaan inkuiri
berbasis laboratorium baik sebelum, selama, dan sesudah percobaan
dikomunikasikan baik secara tertulis dan lisan. Komunikasikan ilmiah dapat
melalui presentasi dan publikasi di seminar atau artikel pada jurnal nasional
atau internasional.

78 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Sudarmin (2021) telah berkreasi dan telah mendapat hak cipta dari
Kementerian Hukum dan HAM untuk suatu temuan desain model pembelajaran
inkuiri terintegrasi Etno-STEM dengan sintak Sudarmin, yaitu :
1. Sajikan dalam hal ini dosen menyajikan pertanyaan atau permasalahan.yang

menarik terkait tanaman cemara sumatra atau Taxus Sumatrana, misal
mengapa teh cemara sumatra berkhasiat antikanker?
2. Unjuk Kerja yaitu mahasiswa secara mandiri atau kelompok melakukan
kegiatan observasi dan mencari informasi ke narasumber atau referensi dari
berbagai sumber buku, dan artikel untuk menyusun hipotesis. Hipotesis
merupakan jawaban sementara dari pertanyaan pada rumusan masalah yang
telah disajikan. Hipotesis dibuktikan dengan percobaan inkuiri berbasis
laboratorium?
3. Diskusikan desain percobaan inkuiri: Mahasiswa secara kelompok
merancang percobaan untuk menjawab dan membuktikan kebenaran
hipotesis. Misalnya mendesain percobaan mengenai kebenaran senyawa
metabolit sekunder dalam ekstrak taxus sumatrana memilik bioaktivitas
untuk antikanker, antibakteri, ata antioksidan sebagai imunitas tubuh bagi
masyarakat.
4. Analisis dan ajukan hipotesis percobaan: Pada tahapan ini perlu dianalisis
kembali apakah desain percobaan dan hipotesis yang disampaikan telah
didukung oleh kajian pustaka dan referensi yang mendukung; sehingga
hipotesis dan rancangan percobaan yang diajukan secara konseptual benar
dan meyakinkan.
5. Rancang Jadwal Percobaan : Pada tahap ini dilakukan kegiatan diskusi
kelompok untuk menetapkan jadwal pelaksanaan riset. Pada tahapan ini
benar benar dirancang mulai kegiatan observasi sampai jadwal untuk
percobaan isolasi, ekstraksi, pemurnian, uji fitokimia uji struktur, uji
antibakteri, antikanker antioksidan dari dari ekstrak taxus sumatrana.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 79

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

6. Mantapkan rancangan percobaan dan jadwal percobaan: Pada tahapan,
dilakukan presentasi dan konsultasi dosen untuk menguatkan atau
memantapkan rancangan dan jadwal percobaan inkuiri. Pada tahapan ini
setiap kelompok akan mendapatkan tanggapan dan masukan terkait
ketepatan alat/ instrumen, bahan dan reagen digunakan, dan cara analisis data
data riset.

7. Implementasikan: Pada tahapan ini mahasiswa secara kelompok melakukan
implementasi terhadap rancangan percobaan untuk memperoleh informasi
dan mengumpulkan data percobaan dalam upaya menguji dan membuktikan
hipotesis yang ditetapkan. Setelah memperoleh data hasil percobaan, maka
dilanjutkan analisis data untuk menjawab hipotesisnya.

8. Nyimpulkan kebenaran hipotesis inkuiri : Setelah mengumpulkan dan
menganalisis data, mahasiswa secara berkelompok berusaha untuk
menyimpulkan dari kebenaran hipotesisnya. Pada riset ini untuk
menyimpulkan mengenai jenis dan struktur senyawa metabolit sekunder dari
tanaman hutan tropis dari Taxus Sumatrana, serta kemampuan uji
bioaktivitas dari metabolit sekunder terhadap kemampuan bioaktivitas
tertentu, misal sebagai antibakteri, antkanker, antioksidan atau imunitas.
Tahapan akhir percobaan inkuiri terintegrasi Etno-STEM ini untuk uji

bioaktivitas sampel dari simplisia Taxus Sumatrana yang dalam hal ini ekstrak dari
kulit dan daun dari cemara sumatra atau taxus, selanjutnya dikomunikasikan baik
secara tertulis maupun lisan. Pada naslah akademik ini, hasil riset PDU PT
dipublikasikan dalam jurnal bereputasi nasional dan internsaional maupuan
dalam prosiding internasional, yangmana beberpa naskah hasil publikasi artikel
dilampirkan dalam buku ini.

80 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

5.4 Model Keterpaduan “Integrated” Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM
Pada bagian ini sebelum membahasa model inkuiri terintegrasi Etno

STEM, maka kita bahas secara umum mengenai apa itu STEM. Pendidikan
STEM mulai dikembangkan tahun 1996 oleh National Science Teacher
Association (NSTA) for the Education of Teacher in Science, hingga saat ini
dianggap sebagai model atau pendekatan pembelajaran inovatif pada abad 21,
sehingga banyak sekali artikel, workshop, conference Internasional dan nasional
dengan Topik STEM. Pendekatan STEM sebagai bentuk integrasi interdisipliner
untuk mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan membekali
lulusan untuk terjun di lapangan kerja sesuai tuntutan Abad ke-2. Setiap aspek
dari STEM memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan antara ke empat aspek
tersebut. Setiap aspek atau komponen dalam STEM membantu mahasiswa
menyelesaikan masalah jauh lebih komprehensif. Dan naskah artikelnya
dilampirkan pada buku ini

Bidang Science (S) pada komponen STEM berarti keterampilan
menggunakan pengetahuan dan proses sains dalam memahami gejala alam dan
memanipulasi gejala tersebut sehingga dapat dipahamai dan diterapkan.
Technology dalam pendekatan STEM adalah keterampilan mahasiswa dalam
mengetahui bagaimana teknologi baru dapat dikembangkan, keterampilan
menggunakan teknologi dan bagaimana teknologi dapat digunakan dalam
memudahkan kerja manusia. Bidang Engineering dalam pendekatan STEM
adalah keterampilan yang dimiliki seorang mahasiswa untuk mengoperasikan
atau merangkai teknologi atau keterampilan merekayasa suatu proses dan produk
teknologi, sehingga lebih efektif dan berdaya gunu. Mathematics adalah
keterampilan yang digunakan untuk menganalisis, memberikan alasan,
mengkomunikasikan idea dan gagasan secara efektif dalam menyelesaikan
masalah dan menginterpretasikan solusi berdasarkan perhitungan dan data
matematis. Seluruh aspek dalam STEM ini dapat membuat pengetahuan menjadi

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 81

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

lebih bermakna jika diintegrasikan dalam proses pembelajaran.

Pada riset PDU PT ini akan ditemukan dan diterapkembangkan suatu
desain keterpaduan antara model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-STEM.
Pendekatan Etno-STEM yang dibahas adalah uji bioaktivitas metabolit sekunder
dari tanaman hutan tropis Taxus dikaji dalam konteks Etno-STEM yaitu
Etnosains, Etnoteknologi, Etnoengineering, dan Etnomatematika. Riset ini
dalam mendesain keterpaduan dari model pembelajaran inkuiri terintegrasi Etno-
STEM, maka tim riset berdiskusi dan mempertimbangkan berbagai buku,
referensi artikel, konsultasi dengan pakar baik terkait model keterpaduan, topik
STEM, etnosains, dan pendekatan saintifik. Hasil diskusi dan FGD dari kegiatan
ini dan mengacu pada buku model model keterpaduan Forgaty (2007), maka
model keterpaduan untuk Etno-STEM sebagai luaran riset ini adalah (1) Model
Integrated seperti pada Gambar 5.1.

STEM : Etno - STEM Etnosains:
Bahan kajian untuk bidang
keilmuan untuk keberagaman Bahan kajian dalam kontek
metabolit sekunder, isolasi, uji pengetahuan masyarakat
fitokimia, uji bioaktivitas, dan tentang etnobotani,
interpretasi uji struktur da etnofarmasi, dan etnomedisin
bioaktivitas. dari cemara sumatra dan
konservasinya.

Gambar 5.1 Model Keterpaduan Integrated Etno - STEM

Gambar 5.1, bagian Etnosains dikaji secara mendalam pengetahuan
masyarakat mengenai etbobotani, etnofarmasi, etnomedisin, dan budaya
konservasi pelestarian dan peduli terhadap tanaman cemara sumtra. Pada riset
etnosain, maka mahasiswa melakukan observasi, wawancara pada narasumber
terpilih untuk eksplorasi pengetahuan masyarakat mengenai etnobotani,
etnofarmasi, dan etnomedisin dari cemara sumatra atau taxus, bagainama
konservasi dan budi daya dari tanaman taxus, serta mengapa potensial sebagai
obat (etnomedisin), bagaimana meracik atau mengolah bagian tanaman sebagai

82 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

obat atau teh taxus. Pada bagian riset ini dapat juga mengeksplorasi mengapa
menyembuhkan atau mencegah bakteri dan kanker, bagaimana menghasilkan
minuman teh taxus atau ramuan yang efektif sebagai obat kanker, serta aspek
aspek lain yang menarik dan patut diteliti.

Pada riset ini, untuk memberikan pemahaman akan riset etnosains, maka
mahasiswa diberikan beberapa contoh etno-vlog atau video yang disiapkan oleh
dosen mengenai budaya di masyarakat Minang terkait pengetahun masyarakat
mengenai etnobotani, manfaat, metabolit sekunder, dan cara isolasi atau
mengekstrak secara tradisional. Kegiatan ini dilakukan oleh tim periset PDU PT
yang telah melakukan penyiapan media kegiatan dan direkam dan dimasukkan
dalam youtube dengan link Taxus https://youtu.be/-FqqzZMoElQ

Pada bagian tengah (Integrated) yaitu model inkuiri terintegrasi Etno-
STEM, maka mahasiswa diberikan permasalahan untuk dipecahkan mengikuti
sintaks model pembelajaran inkuiri terintegrasu Etno-STEM model Sudarmin.
Sintak Sudarmin terdiri atas delapan tahapan kegiatan inkuiri yaitu (1) Sajikan
permasalahan yang unik dan menantang, (2) Unjuk kerja untuk mencari solusi
permasalahan dan hipotesis, (3) Diskusikan proses pelaksanaan percobaan untuk
membuktikan hipotesis, (4) Analisis keterlaksanaan percobaan, (5) Rancang
kebutuhan alat dan bahan percobaan, ketersedian reagen, dan jadwal kegiatan
percobaan. (6) Mantapkan rancangan kegiatan, prosedur kerja percobaan inkuiri
dan jadwal pelaksanaan, (7) Implemenasikan dari rancangan percobaan inkuiri
terintegrasi Etbo-STEM sesuai kesepakatan dari prosedur kerja, serta jadwal
kegiatan, dan (8) Nyimpulkan hasil percobaan sesuai analisis data secara
mendalam antara kelompok mahasiswa dan didukun teori dan referensi yang
relevan.

Pada riset ini juga dilanjutkan presentasi secara lisan dan publikasi
ilmiah. Kerangka konseptual dan teoritis dari delapan tahapan Sudarmin ini
sangat sesuai dengan tahapan Inkuiri dalam pendekatan saintifik (Liliasari dkk,
2010) yaitu (1) orientasi masalah, (2) merumuskan masalah, (3) merumuskan

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 83

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, (6) menarik simpulan,
dan (7) mengkomunikasikan hasil temuan Desain model pembelajaran inkuiri
terintegrasi Etno-STEM dengan keterpaduan “integrated” yang ditemukan pada
riset PDU PT ini akan lebih bermakna dan efektif. Keunggulan dari desain model
keterpaduan Etno-STEM, karena mampu mengembangkan kompetensi
pengetahuan atau sains dan etnosains terkait bidang keilmuan etnobotani,
senyawa metabolit sekunder, proses isolasi dan identifikasi, dan bioaktivitas
metabolit sekunder.

Model integrated ini juga akan membekali capaian pembelajaran bidang
keterampilan atau kompetensi keterampilan penguasaan teknologi dan rekayasa,
terutama terkait proses isolasi, identifikasi, uji struktur, uji bioaktivitas dan
gagasan kreatif konsentrasi dan jenis pelarut yang digunakan untuk isolasi
metabolit sekunder, dan gagasan kreatif untuk menghasilkan produk minuman
teh taxus yang lebih efektif sebagai penyembuh kanker atau penemuan cara
budidaya taxus yang lebih baik untuk konservasi tanaman tersebut. Model
keterpaduan integrated Etno-STEM juga mengembangkan keterampilan berpikir
matematika dan etnomatematika, misalnya terkait menghitung rendeman, rugi
laba suatu usaha menjual minuman produk teh taxus atau budi daya taxus, serta
keterampilan hubungan logis antara takaran, pola minum teh taxus dengan
efektivitas penyembuhan penyakit kanker dan imunitas tubuh.

5.5 Keterpaduan “Share” Untuk Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM
Pada riset ini, selain ditemukan dan dikembangkan keterpaduan model

integrated, juga dikembangkan model share sebagai hasil diskusi antara tim riset.
Adapun kerangka konseptual keterpaduan “model share” antara Etnosains dan
STEM, maka dalam model ini, bidang riset dan pembelajaran Etnosains dan
STEM dibahas secara terpisah atau perbagian atau share, akan tetapi berurutan.
Pada tahap awal dibahas dahulu mengenai kajian pengetahuan sains masyarakat

84 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

dalam konteks etnosains, sedangkan kajian sains ilmiahnya adalah pengetahuan
(Sains) mengenai senyawa metabolit sekunder yaitu apa itu metabolit sekunder,
bagaimana cara isolasi dan identifikasi, dan klasifikasi. Pada bagian sains juga
dapat disampaikan mengenai bagaimana prosedur kerja uji fitokimia, uji struktur,
uji bioaktivitas sebagai antioksidan, antikanker, antibakteri atau bioaktivitas lain,
dan pengetahun mengenai analisis rendemen dan daya bioaktivitas metabolit
sekunder.

Pada kajian etnosains ditekankan “etnobotani, etnofarmasi, dan
etnomedisin” melalui observasi dan wawancara dengan narasumber untuk
memperoleh informasi dan mendokumentasikan dalam upaya rekontruksi
pengetahuan sains ilmiah berbasis pengetahuan sains masyarakat. Fokus
pertanyaan riset etnosains terkait nama daerah, karakteristik dan habitat hidup,
pemanfaatannya sebagai etnomedisin (obat tradisional), bagian yang bermanfaat,
proses pengolahan atau pembuatan teh herbal dari Taxus, serta cara
pemakainnya. Pada proses pembelajarannya, mahasiswa diberikan beberapa
contoh media video atau etno vlog yang disiapkan mengenai keberagaman
tanaman hutan tropis lokal sebagai etnomedisin, misal bajakah, taxus, akar
kuning, dan sarang semut. Pada aktivitas berikutnya membahas dari sisi
Tehnologi dan Etnoteknologi [Etnotek dan Teknologi) yaitu bagaimana cara
isolasi, ekstraksi dan identifikasi senyawa metabolit sekunder baik secara
tradisional maupun secara Laboratorium, bahkan diperkenalkan juga tehnik dan
metode percobaan untuk uji bioaktivitas antibakteri, antioksidan, antikanker, atau
bioaktivitas yang lain.

Pada tahap berikutnya, masuk pada tahapan aktivitas kegiatan
Engineering dan Etnoengineering yaitu dosen dan mahasiswa mencari solusi, dan
mencari contoh mengenai ide-ide kreatif dan inovatif dalam rekayasa tehnik cara
isolasi dan ekstraksi, yang dalam bahasa Jawa nyeduh; sehingga dihasilkan
rendemen metabolit sekunder taxus tinggi dan prosesnya efektif dan efisien. Pada

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 85

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

kegiatan komponen Engineering ini juga bisa berkaitan dengan rekayasa produk
senyawa turunan dari metabolit sekunder taxus, ataupun rekayasa pelestarian dan
konservasi dari tanaman taxus sumatrana baik secara tradisional (kebiasaan
masyarakat dilingkar hutan tropis) maupun rekayasa untuk pembudidayaan taxus
secara moderen.

Bagaimana untuk komponen Matematika (M) ataupun Etnomatema-
tikanya? Pada bagian komponen Matematika dan Etnomatematika [M] dari
pendekatan Etno-STEM, maka aktivitas dapat berupa antara dosen bersama
Mahasiswa berdiskusi Focus Group Discusion [FGD] mengenai analisis data
untuk hasil rendemen pada proses isolasi dan ekstraksi metabolit sekunder dari
ekstrak Taxus Sumatrana, analisis kualitatif dan kuantitatif mengenai hasil uji
bioaktivitas antibakteri, antioksidan, produk metabolit sekunder tanaman taxus,
menghitung kekuatan rugi laba dari usaha teh Taxus, atau hal-hal terkait logika
berpikir matemtika dari hasil uji bioaktivitas metabolit sekunder dari Tanaman
Taxus sumatrana.

Pada penerapannya untuk keterpaduan “Model Share” antara bagian
Etnosains dan STEM, maka dosen dapat menginsiasi dengan memberikan
permasalahan dan fenomena budaya lokal masyarakat sekitar hutan tropis Taxus
yang memiliki pengetahuan asli masyarakat, yaitu membuat teh cemara sumatra
atau teh taxus untuk menyembuhkan penyakit kanker, tumor, antibakteri, dan
terkadang untuk imunitas tubuh. Pada tahap berikutmya dosen dapat menuntut
mahasiswa untuk melakukan inkuiri berbasis Laboratorium untuk eksplanasi dan
menjawab serta membuktikan kemampuan bioaktivitas metabolit sekunder dari
teh cemara sumatra yang disamapikan dosen teraebut. Mahasiswa dapat
diarahkan untuk berinkuri menggunakan model share untuk inkuiri terintegrasi
Etno-STEM dengan tahapan “Sudarmin” atau model Wening (2005)

Pada bagian tengah dari model keterpaduan share seperti pada Gambar 5.2,
dosen bersama mahasiswa dapat membahas mengenai kegiatan observasi dan

86 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Sainswawancara pada nara sumber mengenai proses dan produk teh taxus di suatu
Etnosainsmasyarakat sekitar hutan tropis; dan bagaimana proses pembuatannya [Etnotek],
cara menghasilkan rendemen tinggi dan data matematika mengenai proses dan
Etnoenginerinproduksi teh cemara sumatra atau teh taxus (Etnomatematik). Model keterpaduan
share, disajikan pada Gambar 5.2.
Engineering
Teknologi

Etnoteknologi

Etnomedisin
Taxus

Etnomatematika

Matematika

Gambar 5.2 Keterpaduan Share [antar bagian] dari model inkuiri Terintegrasi
Etno-STEM

Tabel 5.2 disajikan hasil diskusi dari tim riset PDU PT yang membahas
konten dan konteks Etno-STEM mengenai produk teh Taxus sumatrana dan
manfaatnya sebagai etnomedisine yaitu untuk kesehatan sebagai antibakteri,
antioksidan, antikanker dan imunitas tubuh.

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 87

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

Tabel 5.3 Konten dan konteks Etno-STEM mengenai etnomedisin dan teh
herbal bagi kesehatan dan imunitas tubuh.

Fokus Komponen Diskripsi Pengetahuan
Etno-STEM
Masyarakat (Indegenouse Science Knowledge)
Etnosains
Pengetahuan masyarakat pinggir hutan tropis atau
Pengetahuan Etnoteknologi prtugas hutan terkait (a) apa itu teh herbal dan
Teh herbal khasiatnya bagi tubuh, (b) macam teh herbal, (c)
dari tanaman pengetahun teh herbal taxus (teh cemara sumatra)
hutan tropis: dan manfaatnya, (b) mengapa teh taxus berkhasiat
obat untuk kanker dan kesehatan.
Misal Teh [Case Study tentang khasiat teh Taxus]
taxus. Teh ini,
Pengetahuan masyarakat atau narasumber mengenai
oleh Etnoeingi- cara dan teknik menbuat teh herbal atau teh daun
masyarakat neering taxus sumatrana. Pengetahuan masyarakat membuat
Minang teh adalah semua bahan dari daun dan ranting taxus
dikenal dipotong dan dihaluskan, dimasukkan dalam
sebagai teh tempayan (wadah terbuat dari tanah), kemudian diisi
cemara air, dididihkan sampai air dalam tempayan tersisa
sumatra dan seperempatny.
berkhasiat (Konsep ilmiahnya proses isolasi, ekstraksi dan
maserasi )
sebagai obat
kanker dan Pengetahuan masyarakat untuk menghasilkan teh
imunitas sumatrana yang baik, adalah bahan taxus harus
tubuh. sudah tua dan tidak dikeringkan dalam teri matahar.
Masyarakat biasanya teh herbal ditambah guka atau
Etnomatema- madu secukupnya untuk menambah khasiatnya,
tematika terkadang dtambah perasan buah jeruk.
Pengetahuan masyarakat terkait ukuran atau takaran
antara air dan bahan dauh dan ranting Taxus,
Menghitung rugi laba usaha teh herbal taxus:).
Etnomatematika juga berkaitan logika berpikir antara
hubungan antara frekuensi minuman jamu dan efek
imunitas atau kesempuhan kanker.
(Konsep berpikir logis dan matemtika)

88 | Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana

5.6 Mengulas Antara Pengetahuan Masyarakat dan Pakar
Mengenai Taxus Sumatrana
Pada riset ini disajikan pengetahuan asli masyarakat lingkar hutan tropis

dan beberapa hasil observasi dan wawancara mahasiswa Jurusan IPA UNP
sebagai pengambil data dari riset PDU PT dan telah menghasilkan beberapa
pengetahuan masyarakat terkait etnosains. Selain itu terdapat juga hasil pencarian
artikel terkait pendapat pakar peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan
(Litbang) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) mengenai Taxus
Sumatrana, habitat hidup dan budi daya, pengolahann dan khasiatnya bagi
kesehatan. Hasil wawancara dengan narasumber yaitu Bapak Aek Nauli yang
berpendidikan SMA dan berusia 54, yang mana pengetahuan asli masyarakat dari
saudara Aek menyatakan bahwa (a) tanaman taxus dikenal sebagai cemara
sumatra, (b) mnnfaatnya sebagai obat kanker, tumor dan kebugaran, (c) coba
mengolah daun taxus menjadi teh herbal antikanker hanya diseduh dalam air
panas kemudiann diminum, (d) pada saat ini teh taxus juga dijual dalam kemasan
kantong. Hasil wawancara dari riset ini dan didokumentasikan oleh mahasiswa
UNP diketahui bahwa narasumber telah mengenal nama local, habitat, manfaat
dari taxus, sekaligus sebagai penambah penghasilan hidupnya.

Sedangkan pengetahuan dan pemahaman dari periset dan pakar dari
BP2LHK yaitu Ahmad Dany Sunandar (2020) diketahui bahwa pengetahuan dari
pakar BP2LHK lebih lengkap, baik menyangkut nama ilmiah, habitat tanaman
Taxus, kandungan komponen kimia, dan pembuatan teh taxus lebih menunjukkan
lebih modern, bahkan saat ini sedang diteliti budi daya Taxus yang lebih
moderen. Pada pengolahan dan pembuatan teh herbal dari Taxus, proses
fermentasi tidak digunakan pada pengolahan daun dan ranting taxus. Menurut
narasumber dari saudara Dany. pada saat ini kami juga sedang melakukan
pengujian terhadap pengeringan daun taxus dengan metode oven. Melalui

Naskah Akademik: Model Pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Etno-STEM Untuk Bahan | 89

Kajian Senyawa Bioaktif Metabolit Sekunder Pada Tanaman Taxus Sumatrana


Click to View FlipBook Version