The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-11-13 10:04:30

Sengketa Tanah Galuh

Kisah dari tanah pasundan

Keywords: Novel

Sengketa Tanah Galuh

KUSYOTO

Sengketa Tanah Galuh

Pustaka Ratuning Balasarewu

2

Kusyoto

Sengketa Tanah Galuh
Pustaka Ratuning Balasarewu
Copyright @2021 by Kusyoto

Viii + 212 hal ; 14x21 cm
Penulis: Kusyoto

Editor: Muklas Irwanto Subaktiar
Penata Sampul: JSI Studio
Penata Letak; JSI Studio
ISBN: 978-623-6085-15-8

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Diterbitkan oleh:

CV. Jendela Sastra Indonesia Press
Email: [email protected]

Website: jsipress.blogspot.com
Facebook: Penerbit JSI
Instagram: @Penerbitjsi

Dusun Pulorejo Rt.05 Rw. 01
Desa Sukoanyar Cerme-Gresik, 61171

Cetakan Pertama: Pebruari, 2021
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan
Sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam
Bentuk apapun secara elektronik maupun

mekanik tanpa izin dari penerbit
All Rights Reserved

3

Sengketa Tanah Galuh
4

Kusyoto

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puja dan puji syukur ke hadirat Illahi Robi
atas nikmat yang tiada kira tercurahkan pada kita semua
sebagai mahluknya yang berbudaya dan atas kehendak
rahmat, inayah dan hidayahnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan novel epic bertajuk perjuangan para
kesatria-kesatria bhumi Jawa, Pasundan dan Swarnabumi
hingga dapat dinimati oleh sobat-sobat pecinta sejarah
masa silam, terimakasih tak terhingga penulis haturkan
pada keluarga, istri terkasih, Unarih Tarahman, anak-anak
tercinta, Panji Gumilang, Adistya Ramadhani, kalian
sumber inspirasi tanpa batas dalam mengarungi bahasa
sunyi yang selama ini penulis geluti. Akhirul kalam,
simaklah suguhan pagelaran dalam bentuk novel yang
kaya akan makna kehidupan, sarat pesan tersembunyi,
simbol-simbol kehidupan tidak terlepas dari sentuhan
dingin sang pemilik jagat, pengatur sekenario kehidupan
nan indah.
Wassalam.

Indramayu, 2021
(Kusyoto)

5

Sengketa Tanah Galuh

Daftar Isi

Kata Pengantar ................................................ 4
Daftar Isi.......................................................... 5
Mandala Sunda Sembawa ................................ 8
Titian Bara sang Pangeran ............................... 25
Muslihat Prasasti Perdamaian.......................... 34
Bara Sekam sang Pendekar.............................. 52
Mutiara yang Belum Terasah ........................... 75
Misteri Liang Naga ........................................... 96
Jalan Pedang Pewaris Takhta........................... 118
Misteri Bubuk Pembalik Ingatan ...................... 144
Rona Jingga di Langit Galuh ............................ 161
Tentang Penulis ............................................... 175

6

Kusyoto

Sinopsis
Para bangsawan Sunda Sembawa yang baru pulang

lawatan dari kite nagari dibajak di selat sunda. Putra
mahkota diculik selagi berburu di hutan. Bertepatan pula
dengan datangnya raja Sriwijaya Sang Dapunta Hyang Sri
Jayanasa menawarkan kerja sama kesetaraan antar
Kerajaan Sriwijaya dan Sunda Sembawa. Ditambah lagi
tragedi pembunuhan resi Sidawirah utusan dari Kalingga
yang akan menjadi saksi kerja sama antar negara tersebut.
Kabar dan konspirasi merebak sang pembunuh diduga
adalah Taruma Udaka sebab dalam genggaman korban
terdapat kotak hitam milik Taruma yang diberikan Niluh
Arundaya ketika mereka masih kecil.

Taruma Udaka yang diutus prabu Tarusbawa untuk
membebaskan para bangsawan Sunda yang ditawan bajak
laut Naga Merah menjadi target perburuan dua kerajaan
tersebut. Pemuda gagah ini harus menanggung tuduhan
yang tidak pernah ia lakukan.
Abilawa dan Kinanti yang diutus secara rahasia oleh prabu
Tarusbawa untuk menyelidiki keberadaan putra mahkota
yang diculik tersesat jauh sampai ke pegunungan Kerinci
dan harus menghadapi komunitas Cindaku di puncak
gunung tersebut.

Sementara itu rahardian Sanjaya putra mahkota
Galuh yang tersingkir akibat takhta ayahhandanya sang
prabu Sanna dikudeta ranghyang Purbasora atau prabu
Sora meminta bantuan pada prabu Tarusbawa dan sesepuh
Galuh rajaresi Wanayasa di padepokan telaga Denuh.
Prabu Tarusbawa menyarankan rahardian Sanjaya
meminjam sebuah kitab pusaka bernama pustaka ratuning
balasarewu warisan kerajaan Kendan yang kini dimiliki
rabuyut Sawal di puncak gunung Sawal. Namun tidak
mudah mendapatkan kitab yang berisi strategi perang jitu
dan pemerintahan juga ilmu seribu satu macam

7

Sengketa Tanah Galuh

pengobatan tersebut. Dengan berbagai cara akhirnya kitab
dahsyat itu mampu dimiliki rahardian Sanjaya. Pemuda
tampan ini pun bersiap menggalang kekuatan untuk
merebut kembali takhta Galuh.
Perjuangan para pendekar Sunda dibalut kisah asmara
haru biru dari beberapa tokohnya, perjuangan dan cinta
berkelindan melahirkan peradaban yang terus berlangsung
hingga akhir masa.

Simak dan jadilah saksi. Kadang kala apa yang kita
lakukan tidak selamanya memerlukan sebuah alasan.

Selamat membaca.

8

Kusyoto

Mandala Sunda Sembawa

Selat Sunda. Paruh kedua akhir abad ke XVI
merupakan jalur alternatif perlintasan jung-jung antar
pulau Jawadwipa dan Swarnabumi sebelum mengarungi
laut Hindia menuju negri selatan jauh kite nagari. Selat itu
begitu sempit dengan lebar sekitar dua puluh kilo meter
dan hanya orang-orang dengan nyali besar yang mampu
melintasinya. Kala itu selat Sunda merupakan surganya
para lanun atau bajak laut paling kejam ‘Naga Merah’.

Hari masih sangat pagi. Dari garis cakrawala timur
bias jingga semburat menorah permukaan laut, semilir
angin dingin mencucuk persendian, di sebuah anjungan
kapal layar, bendera putih dengan lambang bunga Padma
di atasa kepala seekor gajah berkibar-kibar tertiup angin.
Kapal besar itu milik Kerajaan Sunda Sembawa yang baru
pulang dari negri Tiongkok dalam rangka lawatan kepada
Kaisar Tang atas penobatan Prabu Tarusbawa.

Mangkatnya Prabu Linggawarman, raja ke dua
belas Tarumanagara pada tahun 669 Masehi, tampuk
kekuasaan diserahkan pada menantunya Tarusbawa. Kala
itu pamor Tarumanagara memudar pasca dua tahun
kemerdekaan dari pendudukan pasukan Sriwijaya. Prabu
Tarusbawa menghendaki Tarumanagara kembali
termashur seperti pada zaman pemerintahan Purnawarman
raja ke tiga Tarumanagara. Maka setelah penobatannya
sebagai seorang raja pada tanggal 18 Mei 669 Masehi
dengan gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darma Wastika
Manungga Manggalajaya Sunda Sembawa, beliau
memindahkan pusat ibu kota Tarumanagara dari
Candrabaga, Bagasasasi atau Bekasi ke daerah pedalaman
dekat hulu sungai Cipakancilan. Kelak wilayah tersebut
dikenal dengan nama Pakuan atau Bogor di masa
sekarang. Di ibu kota yang baru inilah Tarusbawa

9

Sengketa Tanah Galuh

mendirikan lima buah keraton, baik bentuk maupun
besarnya sama dan posisinya berjajar di kelilingi parit dan
tembok benteng tinggi menjulang serta sebuah pintu
gerbang yang bisa dibuka dan ditutup dengan cara
dinaikkan dan diturunkan melintasi parit. Pintu gerbang
kokoh itu diberinama lawang gantung. Sedang kelima
keraton masing-masing diberi nama Bima, Puntadewa,
Narayana, Madura dan Suradipati. Pada tahun 670 Masehi
beliau mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan
Sunda atau Sunda Sembawa dengan ibu kota Sundapura.
Jadi dapat dikatakan kerajaan Sunda adalah penerus resmi
dari Kerajaan Tarumanagara.

Permukaan laut begitu tenang. Kapal layar besar
melaju perlahan membelah ombak melewati selat Sunda.
Suasana begitu hening, sepi dan sunyi hanya debur ombak
dan pekik camar terdengar nyaring di antara gelombang.
Begitu kapal besar dengan tiang susun tiga tepat berada di
dua celah sempit Selat Sunda, dentuman keras
menggelegar merobek langit, lambung kapal layar rusak
parah di beberapa bagian, entah dari mana datangnya lima
buah jung dengan bendera tengkorak naga berwarna
merah latar belakang api memepet kapal layar besar itu di
tengah-tengah. Menggunakan pengait dan tali temali
puluhan orang bertampang sangar melompat bergantungan
masuk ke dek kapal, sontak pertempuran berlangsung
sengit antara prajurit Sunda Sembawa dengan puluhan
anggota bajak laut naga merah.

Seorang pemudi bersenjatakan pedang di tangan
kanan dan selendang di tangan kiri tampak lincah
memapasi serangan lawan-lawannya, tiap kali
selendangnya berkelebat lima sampai sepuluh orang bajak
laut terkapar mandi darah, sebagian tercebur ke laut begitu
selendang sang dara melesat cepat mematuk dada.
Walaupun hanya selembar kain karena telah dialiri tenaga

10

Kusyoto

inti selendang lembut itu laksana baja lentur. Di samping
sang dara seorang pemuda gagah bersenjatakan pedang
tidak mau kalah. Pemuda tampan itu begitu lincah dan
piawai memainkan senjatanya, saat itulah tiga bayangan
melesat cepat menghampiri kedua remaja tersebut.

“Bereskan kedua bocah bau kencur itu dalam tiga
jurus.” Kata seorang perempuan cantik berjubah sutra
hitam, wajahnya sebagian tertutup topeng berwarna
merah.

“Baik nyai,” ujar kedua orang dengan cadar merah
menutupi sebagaian wajahnya. Dua muda-mudi kembali
terlibat pertarungan sengit melawan dua orang bercadar
merah, sedang perempuan cantik berjubah sutra hitam
dengan penutup wajah berwarna merah kembali melesat
ke sana ke mari menghadapi gempuran para prajurit Sunda
Sembawa, jubah sutra hitam yang dikenakannya
merupakan senjata mematikan, tiap kali ia bergerak ujung
jubah bak gulungan ombak merontokan gerak laju prajurit
Sunda Sembawa. Seorang lelaki gagah dengan pedang
terhunus telah berdiri di hadapanya.

“Salah sasaran jika kalian merompak kami,” kata
lelaki gagah tersebut.

Prempuan cantik berpakian sutra hitam dengan
tutup wajah berwarna merah tatap tajam lelaki gagah di
hadapannya, detik berikut keduanya terlibat duel sengit.
Salah satu anggota bajak laut dengan postur jangkung
ceking bersenjatakan tongkat besi hitam berhadapan
dengan lelaki tegap bersenjatakan pedang, sedangkan sang
dara ayu dengan senjata selendang berwarna merah marun
dan pedang menghadapi lelaki tinggi besar bersenjatakan
trisula kembar. Tenggat waktu yang ditentukan
perempuan berjubah sutra hitam agaknya tidak berlaku
bagi keduanya, tiga jurus berlalu dengan cepat memasuki

11

Sengketa Tanah Galuh

jurus berikut dua muda mudi itu belum juga mampu
dirobohkan, saat itulah taburan bubuk putih melanda
wajah dua muda-mudi disusul sebuah jaring halus melibat
kedunya, sebelum menyadari apa yang terjadi benturan
benda tumpul di belakang kepala mengantar muda-mudi
tersebut ke alam bawah sadar, bersamaan dengan itu
seluruh prajurit sunda sembawa akhirnya bertekuk lutut di
bawah ancaman senjata para bajak laut naga merah. Hal
yang sama pun di alami lelaki gagah yang sedang duel
dengan perempuan cantik berpakaian sutra hitam, bubuk
putih yang ditaburkan ke wajahnya membuat ia pingsan,
terjerat jaring yang sangat kuat.

“Tarik kapal mereka, kita kembali ke markas,”
kata sang pemimpin bajak laut sembari mengibaskan
ujung jubah sutra hitamnya.

“Bagaimana dengan ketiga orang ini, nyai?”
“Siapkan tempat khusus dan kirim warta ke Sunda
Sembawa.”
“Baik nyai,” ujar beberapa anggota bajak laut,
lantas menarik kapal besar yang rusak parah dengan para
tawanan ke daratan Suwarnabumi bagian selatan. Suasana
selat Sunda kembali tenang, sepi, hening dan sunyi,
seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya di tempat
itu.

-o0o-

12

Kusyoto

Udara di sekitar klenteng Chao Xing Miao begitu
sejuk. Hembusan angin dingin dari lereng perbukitan di
sebelah barat merontokan bunga-bunga tajung yang
sedang mekar. Pada sebuah altar batu dengan pedupaan
yang senantiasa menebarkan aroma wangi minyak misik
bercampur gaharu. Di dalam klenteng seorang tua
bertudung dan berjubah kuning tengah kusuk sembahyang.
Kedua tangannya sesekali mengangkat lima buah hio
mengepulkan asap aroma wangi di depan arca dewi Kwan-
In, semantara di luar klenteng, setelah menyapu daun-daun
kering, lelaki muka pucat khusuk memanjatkan doa di
altar batu dengan prasasti bertuliskan Chao-Xing dalam
hurup China, ketika angin berhembus bunga-bunga
tanjung pun luruh menghujani altar batu dengan puluhan
kuntum bunganya nan semerbak. Begitu khusuknya lelaki
muka pucat berdoa sampai ia tidak menyadari dua orang
telah berdiri di belakangnya.

“Wulung Pujud…,” sebuah suara yang tidak asing
menyadarkan lelaki muka pucat dari kusuknya berdoa. Ia
balikkan badan mendapati dua orang berdiri di
hadapannya, ia memberi penghormatan dengan
menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada
dibalas hal serupa oleh sang tamu.

“Kami kembali ke sini untuk meminta jawaban
mu,” kata sang tamu. Wulung Pujud mempersilahkan
kedua tamunya duduk. Dengan bahasa isarat ia
mengatakan sesuatu.

“Kami hormati keputusanmu Wulung Pujud,
namun saat ini kami sangat membutuhkan bantuan mu,”
kata lelaki gagah yang kini duduk berhadapan dengan
dirinya.

“Yang dikatakan kakang Taruma benar, hanya
kamu yang dapat menuntun kami menemukan sarang para

13

Sengketa Tanah Galuh

perompak naga merah, keterlibatan komplotan nyai
Tenung Ireng begitu jelas,” sela sang dara cantik. “Lagi
pula, ayahanda Rajendra ada di antara para pejabat Sunda
yang ditahan.” Imbuhnya.

“Candrika dan Niluh Arundaya dalam tawanan
para lanun,” kata Taruma Udaka membuat Wulung Pujud
tercekat beberapa kejap, tampaknya ada guncangan cukup
berarti di hatinya mendengar ketiga nama yang diucapkan
Taruma Udaka barusan. Perobahan paras Wulung Pujud
hanya sebentar, ia menarik napas dalam
menghembuskannya dengan pelan, dialihkan
pandangannya pada barisan perbukitan yang mengelilingi
kawasan klenteng, sepasang mata sayu lelaki muka pucat
kembali menekuri ukiran nama dalam prasasti di atas altar.

“Bibi Chao-Xing sudah tenang di nirwana, saya
yakin ia pun pasti mendukung apa yang kami harapkan
dari mu,” sela Arimbi.

Wulung Pujud atau dahulu ia lebih dikenal dengan
sebutan Iblis Bisu tercenung cukup lama, ingatannya
kembali berputar pada peristiwa dua tahun lalu. Kala itu,
atas jasa Wulung Pujud melalui Chao-Xing Prabu
Linggawarman berhasil dipulihkan kesehatannya dari
pengaruh bubuk beracun Datura Metel dan extrac angrek
hitam. Sebagai ucapan terimakasih setelah kematian Chao-
Xing, Rahardian Tarusbawa memohon pada prabu
Linggawarman untuk membuatkan sebuah klenteng
sebagai penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan
Chao-Xing. Rahardian Tarusbawa mengangkat Babah
Louzi, ayah Chao-Xing sebagai pemuka agama Tionghoa
di kelenteng yang diberi nama Chao Xing Miou.

“Sudahlah kakang Taruma, kalau Wulung Pujud
tidak bersedia, kita bisa apa,” kata Arimbi, gadis cantik itu
siap pergi meninggalkan klenteng Chao Xing Miou.

14

Kusyoto

“Wulung Pujud, jika kau berobah pikiran kau tahu
di mana menemui kami,” ujar Taruma Udaka, setelah
memberikan penghormatan keduanya meningalkan
klenteng diantar tatapan nanar Wulung Pujud.

Malam belumlah larut, di dalam bilik Wulung
Pujud tidak bisa memejamkan kedua matanya, kilasan-
kilasan peristiwa dalam kehidupannya kembali berputar, ia
ingat masa kecilnya yang kelam, masa remajanya yang
penuh gelimang dosa bersama komplotan nyai Tenung
Ireng hingga ia dipertemukan dengan Chao-Xing,
keponakan sinse Li Sizen yang sangat dicintainya walau
rasa cinta itu ia pendam dalam hati, dalam diam, dalam
keheningan.

Wulung Pujud bangun dari pembaringan, dari
dalam lemari kayu dikeluarkannya sebuah peti besi,
dibukanya peti itu, sebuah rantai baja dalam posisi
melingkar tampak angker dalam pandangannya, Wulung
Pujud mendesah panjang. Dengan senjata itu ia melarikan
diri dari penjara, puluhan musuhnya meregang nyawa,
dengan senjata itu ia bergabung dengan kelompok nyai
Tenung Ireng menjadi pendekar bayaran, malang
melintang menyebar maut di mana-mana.

Dielusnya rantai baja dalam peti dengan berbagai
perasaan, ia baru sadar dari lamunan begitu terdengar
ketukan pintu. Wulung Pujud kembali memasukan peti
besi ke dalam lemari kayu.

“Boleh wo masuk, Wulung Pujud,” kata lelaki tua
berjubah kuning, Wulung Pujud mengangguk pelan,
mempersilahkan lelaki tua itu masuk dan duduk di
samping tempat tidurnya.

“Wulung Pujud, maapkan babah telah mendengar
semua pembicaraan kalian,” kata lelaki tua kemudian diam
memberi kesempatan pada lawan bicaranya, ketika

15

Sengketa Tanah Galuh

Wulung Pujud tetap diam terpekur lelaki tua itupun
melanjutkan kata-katanya.

“Wo menghargai keputusan ni mengundurkan diri
dari dunia kependekaran, namun sebagai sesama mahluk
Thian yang beradab kita tidak bisa menutup mata dengan
persoalan dunia luar, sejatinya kita adalah mahluk sosial
yang tidak lepas dari orang lain,” kata babah Laozi pelan.
Ayah mendiang Chao-Xing yang kini mengabdikan
dirinya sebagai agamawan atau Xue Shi di klenteng Chao
Xing Miou itu kembali diam, memberi kesempatan
Wulung Pujud mencerna kalimat yang diucapkannya.

Wulung Pujud perlahan mengangkat wajah,
ditatapnya ayah orang yang sangat dicintainya itu dengan
berbagai rasa, desahan halus terdengar dari rongga
hidungnya.

“Babah Laozi, engkau tidak akan pernah tahu
betapa aku sangat mencintai nona Chao-Xing anakmu,
aku sudah berjanji dan bersumpah dalam hatiku yang
paling dalam, sebagai bentuk rasa kasih, sayang ku pada
nona Chao-Xing, selama sisa hidupku akan tetap berada
di altar nya,” gumam Wulung Pujud, dan pernyataan itu
tentu saja tidak akan pernah didengar babah Laozi.

Rasa cinta kasih Wulung Pujud pada Chao-Xing
begitu mendalam, ia rela menghabiskan sisa hidupnya
menjaga altar orang yang paling dicintainya itu, selama
dua tahun, ia setia berada di sisi altar Chao-Xing, menjaga
altar tetap bersih dan harum, tiap hari ia mengganti hio di
pedupaan, membersihkan daun-daun kering, mencabuti
rumput, memanjatkan doa untuk kebahagiaan Chao-Xing
di nirwana. Sebuah kesetiaan dan pengabdian cinta luar
biasa.

“Mendiang gusti prabu Linggawarman sangat
bijaksana, walau suheng wo sinze Li Sizen telah membuat

16

Kusyoto

geger bumi Tarumanagara, namun beliau mengampuni
wo, mengangkat kita menjadi agamawan, membuatkan
tempat layak,” kembali babah Louzi hentikan kalimatnya,
begitu Wulung Pujud hanya diam terpekur, saudara
mendiang sinse Li Sizen itu kembali melanjutkan kata-
katanya. “Pun dengan Candrika, Niluh Arundaya dan gusti
Rajendra, mereka begitu baik padamu, Wulung Pujud.”

Wulung Pujud masih diam, namun jauh di dasar
hatinya ia membenarkan semua kata-kata babah Laozi.
Tidak dapat dipungkiri nama ketiga orang tersebut begitu
berarti bagi hidup lelaki muka pucat ini. Niluh Arundaya
dan Candrika pernah menolong dirinya ketika sekarat,
hampir mati dikeroyok komplotan Nyai Tenung Ireng.
Oleh Candrika dan Niluh Arundaya Wulung Pujud dibawa
ke rumah Rakeyan mantri kanuruhan Rajendra merawat
dirinya hingga sembuh.

Malam semakin tua, babah Laozi meninggalkan
Wulung Pujud yang masih diam terpekur di tempatnya,
pergulatan batin sedang berlangsung sengit di sanubari
lalaki muka puat ini, dini hari barulah Wulung Pujud bisa
memejamkan kedua matanya.

-o0o-

17

Sengketa Tanah Galuh

Dalam tahun 670 Masehi Prabu Tarusbawa
mengganti nama Tarumanagara menjadi Sunda Sembawa.
Memindahkan pusat ibu kota dari bumi Taruma (Bekasi)
ke Pakuan (Bogor), mendirikan lima buah istana yang
masing-masing diberinama Bima, Puntadewa, Narayana,
Madura dan Suradipati. Wilayah kerajaan ini meliputi
bagian barat Pulau Jawa, batasnya di sebelah Timur adalah
Sungai Cimanuk, tetapi kemudian batas itu pindah ke
sebelah Barat sungai Cilosari. Sebagian besar Tanah
Sunda berupa dataran tinggi dan pegunungan, hanya
bagian utara berupa dataran rendah. Pegunungan itu
memanjang dari Barat ke Timur. Tanahnya subur, karena
bagian atasnya dilapisi tanah hasil semburan lava gunung
berapi. Banyak pula dijumpai sungai yang berkelok-kelok
mengalir dari daerah pedalaman (pegunungan) menuju
laut, baik di utara (Laut Jawa), barat (Selat Sunda)
maupun di selatan (Lautan Hindia).

Batas sebelah barat Tatar Sunda berupa laut yang
memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera atau selat
Sunda. Letak Selat ini sangat strategis sehingga memiliki
peranan penting dalam perjalanan sejarah kawasan ini,
salah satu jalan yang dilalui rute perdagangan laut yang
menghubungkan kawasan Nusantara dan Asia Tenggara
dengan kawasan Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Barat
serta Eropa sejak awal masa sejarah (abad-abad pertama
masehi).

Peristiwa pergantian nama Tarumanagara ke Sunda
Sembawa membuka kesempatan Prabu Wretikandayun
raja Kendan terakhir, seorang raja bawahan Tarumanagara
melepaskan diri, ia mengirim surat tuntutan lepasnya
Kerajaan Kendan pada Prabu Tarusbawa. Sang prabu yang
memiliki sipat penyabar, welas asih dan cinta damai
mengabulkan tuntutan Kerajaan Kendan lepas dari
pengaruh Tarumanagara. Sungai Citarum ditetepkan

18

Kusyoto

sebagai Pal atau tanda batas wilayah antara Kerajaan
Sunda dan Kerajaan Kendan. (Cianjur ke barat wilayah
kerajaan Sunda, Bandung ke timur wilayah kerajaan
Kendan).

Sang Prabu Tarusbawa tersenyum arip begitu
Taruma Udaka memberikan laporan atas kegagalan
tugasnya membujuk Wulung Pujud.

“Semua orang berhak menentukan jalan hidupnya
sendiri, pun dengan Wulung Pujud. Kita tidak bisa
memaksa keyakinannya, kita hormati keputusannya,” kata
Prabu Tarusbawa yang duduk agung di singasana keraton
Suradipati.

Dari kelima istana yang dibangunnya, Suradipati
dipilih sebagai tempat para priyagung Sunda Sembawa
merumuskan dan memecahkan berbagai persoalan pelik,
letaknya yang paling belakang dari istana yang lain sangat
mendukung juga merupakan pertahanan terakhir jika
sewaktu-waktu terjadi serangan dari luar.

“Paman Udayana, bagaimana pandangan paman
akan hal itu?”sabda prabu Tarusbawa.

“Hamba, gusti prabu,” ujar Udayana Arimbata,
paman Taruma Udaka yang kini dipercaya menjabat
penasihat raja itu menghaturkan sembah sebelum
meneruskan kata-katanya.

“Apa yang disabdakan gusti prabu benar. Ibaratnya
satu orang jenderal tangguh mampu menumbangkan
sepuluh lawannya dalam pertempuran, akan tetapi sepuluh
jenderal tangguh belum tentu mampu atau mungkin juga
tidak akan bisa merobah keyakinan seseorang,” kata
Udayana pelan. “Jadi, mari kita semua hormati keputusan
Wulung Pujud,” pungkas Udayana Arimbata lantas
kembali menyembah dan membenarkan posisi duduknya.

19

Sengketa Tanah Galuh

Prabu Tarusbawa menganguk-angguk,
pandangannya beralih pada Senapati jaba Yuda Karna dan
Tandang Kaweruh atau dahulu dunia kependekaran tanah
Jawa dan Pasundan mengenalnya dengan gelar Belati
Terbang yang duduk bersebelahan di sisi kiri singasana.

“Senapati Yuda Karna dan Senapati Tandang
Kaweruh, bagaimana hasil penyelidikan kalian, apakah
sudah ada titik terang di mana markas para perompak naga
merah?”

“Hamba gusti prabu, setelah tiga hari kami
melakukan penyelidikan, kami berkesimpulan markas
mereka berada di sekitar pesisir selatan tanah
Swarnabumi,” kata Senapati Yuda Karna.

“Benar gusti prabu, nyai Tenung Ireng terlibat di
dalamnya,” kata Senapati Tandang Kaweruh
menambahkan keterangan rekannya.

“Nyai Tenung Ireng,” gumam Prabu Tarusbawa.
“Benar gusti prabu,” kata keduanya berbarengan
sambil menyembah.
“Gusti prabu, boleh hamba berpendapat,” kata
Udayana Arimbata sambil menyembah.
“Silahkan paman Udayana.”
“Menurut hamba, nyai Tenung Ireng dan
komplotannya itu hanya bidak catur atau pion, kita harus
menyelidiki lebih dalam siapa dalang yang menggerakan
mereka,” kata Udayana Arimbata.
“Baiklah, kalau begitu saya tugaskan Senapati
Yuda Karna menyelidiki lebih detail apa motif nyai
Tenung Ireng menyandera para pejabat Sunda dan siapa
dalang yang menggerakan mereka.”

20

Kusyoto

“Sendika gusti prabu,” kata Senapati Yuda Karna
sambil menyembah.

“Hulu jurit Kebo Sempani.”
“Hamba gusti prabu.”
“Bersama Taruma dan Arimbi, saya titahkan
menyelidiki markas mereka, jika memungkinkan bebaskan
para pejabat Sunda yang ditahan.”
“Sendika gusti prabu,” kata Kebo Sempani sambil
menyembah.
“Maap gusti prabu.”
“Silahkan Arimbi.”

Gadis cantik itu tampak mengaturkan sembah
sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Apakah guru Bilawa dilibatkan dalam misi ini
gusti prabu?”

“Abilawa dan Kinanti saya titahkan menjalankan
tugas khusus,” kata prabu Tarusbawa membuat paras gadis
cantik ini berobah semerah saga, rasa cemburu perlahan
menguasai diri gadis cantik ini.

Masih segar dalam ingatan Arimbi satu ketika di
padepokan Ciampea, pada satu kesempatan Kinanti
menemuinya, dara ayu itu secara mengejutkan merelakan
Abilawa untuk dirinya, tapi pada kenyataannya sampai
detik ini Abilawa belum sedikitpun mengungkapkan
perasaan hati yang sebenarnya. Arimbi menerik napas
dalam menghembuskanya dengan berat, melihat hal itu
sang kakak Taruma Udaka makpum, Arimbi sedang
dilanda rasa cemburu.

“Ada apa Arimbi? Sepertinya kau tidak senang
mendengar gurumu mendapat tugas khusus dari saya,”

21

Sengketa Tanah Galuh

kata prabu Tarusbawa membuat gadis cantik ini tersentak
kaget.

“Tidak. Oh…, maksud, maksud hamba tidak
seperti itu gusti prabu,” ujar Arimbi terbata.

“Arimbi adiku, kau tidak usah risau, Bilawa akan
baik-baik saja,” sela Taruma Udaka sambil merengkuh
pudak adiknya berusaha menenangkan kegugupan Arimbi.

“Arimbi, kau begitu menyayangi gurumu,”kata
prabu Tarusbawa.

“Iya gusti prabu, eh…, maksud, maksud hamba,
hamba…,” Arimbi tidak mampu meneruskan kata-
katanya, lidahnya mendadak kelu.

“Percayalah Arimbi, gurumu itu mampu
menjalankan tugasnya dengan baik,” sela prabu
Tarusbawa dijawab anggukan lemah Arimbi.

“Hamba, gusti prabu,” kata gadis cantik ini sambil
menundukan wajahnya. Kecamuk batin sepertinya tengah
melanda hati Arimbi.

“Gusti prabu, bukan masalah tugas khusus yang
aku risaukan, tapi Kinanti…, ah…, bagaimana ini, duhai
dewata agung aku begitu mencintai guru Bilawa, aku
tidak mau Kinanti mengambil kesempatan berdekatan dan
mengambil hati guru Bilawa,” jerit batin Arimbi
menghentak relung-relung sanubarinya.

“Jika tidak ada yang dibahas lagi, pertemuan hari
ini saya tutup, selamat menjalankan tugas, semoga dewata
agung senantiasa melindungi kita semua,” sabda prabu
Tarusbawa.

“Daulat gusti prabu,” jawab semua hadirin. Satu
per satu para pejabat Sunda Sembawa meningalkan
balerung istana Suradipati.

22

Kusyoto

“Paman Udayana, harap ikut saya.”
“Hamba, gusti prabu.”

Keduanya melangkah pelan melewati belakang
istana Suradipati, pada sebuah air terjun prabu Tarusbawa
hentikan langkah, begitu yakin tidak ada yang melihat
mereka di tempat itu, prabu Tarusbawa mengajak Udayana
menembus air terjun. Ternyata di balik air terjun terdapat
sebuah goa, keduanya terus melangkah melewati lorong-
lorong rahasia hingga sampai di sebuah ruangan yang
cukup lapang.

“Sepertinya ada hal yang sangat penting, hingga
gusti prabu membawa hamba ke tempat khusus ini,” kata
Udayana.

“Benar paman Udayana.”
“Masalah apa gusti prabu?”
“Kemarin malam rahardian Sanjaya menemui saya,
ia meminta dukungan dan restu saya untuk merebut
kembali Galuh dari tangan Purbasora.”
“Apakah gusti prabu mendukungnya?”
“Saya tidak mencegah atau menganjurkannya.
Sanjaya saya himbau untuk berhati-hati, sebab saat ini
puluhan tokoh-tokoh sakti dan tokoh mumpuni
Indraprahasta mendukung Purbasora, saya menyarankan
agar rahardian Sanjaya menemui Rabuyut Sawal di
gunung Sawal untuk meminjam sebuah kitab.”
“Kitab apa itu, gusti prabu?”
“Kitab itu bernama pustaka retuning bala sarewu.
Kitab kuno warisan kerajaan Kendan. Kitab pusaka itu
kini dipercayakan pada rabuyut Sawal. Di dalam kitab
tersebut diuraikan bergabai macam tak-tik peperangan,
strategi perang kuno, tata Negara atau pemerintahan juga

23

Sengketa Tanah Galuh

seribu satu pengobatan. Konon kemasyuran Tarumanagara
di zaman prabu Purnawarman dikarenakan beliau
mempelajari semua isi kitab tersebut.”

“Lantas apa hubungannya dengan hamba, gusti
prabu.”

“Rahardian Sanjaya adalah putra prabu Sanna
sahabat dekat saya paman Udayana, ia belum siap dan
masih sangat mentah dalam merencanakan sesuatu, ia
masih hijau menghadapi tipu daya dunia kependekaran,
banyak tokoh baik dari golongan hitam dan golongan
putih mengincar kitab pusaka itu, saya khawatir dalam
perjalannya ke gunung Sawal ia akan banyak menemui
rintangan.”

“Hamba paham gusti prabu. Bagaimana kalau
senapati Tandang Kaweruh mengemban tugas itu.”

“Yah saya setuju paman,” ujar prabu Tarusbawa
kemudian ia bertepuk tiga kali. Dari langit-langit goa
melesat satu bayangan hitam. Kini di hadapan prabu
Tarusbawa dan penasihat kerajaan, Udayana berlutut satu
sosok bercaping dan bercadar kain hitam. Puluhan belati
tersemat pada pinggang dan selempang bahu lelaki yang
dikenal dengan gelar belati terbang tersebut.

“Hamba gusti prabu,” kata sosok ini sambil
menyembah.

“Senapati Tandang Kaweruh. Saya titahkan
melindungi rahardian Sanjaya yang saat ini dalam
perjalanan ke gunung Sawal.”

“Sendika dawuh, gusti prabu.”

Seperti saat datang, sosok bercaping dan bercadar
hitam setelah menyembah, melesat ke atas dan sosoknya
hilang diantara stalagtit yang banyak menonjol di atap
goa.

24

Kusyoto

“Kalau begitu hambapun berkenan undur diri, gusti
prabu.”

“Silahkan paman Udayana, saya masih ingin
berlama-lama di sini.”

“Saya pamit gusti prabu,”kata Udayana sambil
menyembah kemudian berlalu meninggalkan goa.

Prabu Tarusbawa berjalan pelan menghampiri
sebuah batu persegi, ia duduk bersila di atasnya, perlahan
ingatannya terpesat pada satu masa. Masih segar dalam
benak prabu Tarusbawa ketika raja Kendan terakhir Prabu
Wretikandayun menuntut kemahardikaan atau
kemerdekaan kerajaan Kendan lepas dari pengaruh
Tarumanagara, ia mengabulkan tuntutan itu, prabu
Wretikandayun lantas mendirikan kerajaan baru yang
diberi nama Galuh.[]

25

Sengketa Tanah Galuh

Titian Bara Sang Pangeran

Dalam tahun 716 Masehi Purbasora atau Prabu
Sora bersama sang adik Demunawan dibantu pasukan
khusus Kerajaan Indraprahasta berhasil menggulingkan
kekuasaan Prabu Sanna atau Prabu Bratasenawa. Pada saat
kudeta berdarah itu terjadi rakyan Jamri atau Rahardian
Sanjaya putra mahkota Kerajaan Galuh tengah berada di
Kerajaan Kalinga Utara bersama neneknya Dewi Parwati
anak Maharani Sima, jadi Sanjaya ini merupakan cicit dari
Ratu Shima.

Prabu Sanna dan Permaisuri Sanahha diiringi
beberapa orang kepercayaan berhasil meloloskan diri.
Melalui Gunung Merapi dan akhirnya ia sampai di bumi
Kalingga Utara. Untuk menghibur kegundahan Prabu
Sanna, Dewi Parwati menyerahkan takhta Kalingga Utara
pada Prabu Sanna.

Rakyan Jamri atau rahardian Sanjaya sangat sedih
dan terpukul melihat sang ayahanda diguligkan dari
takhtanya seperti itu, ia tidak terima ayahandanya
dipermalukan sedemikian rupa oleh pamannya sendiri.

“Ayahanda izinkan saya merebut kembali takhta
Galuh dari paman ranghyang Purbasora.”kata sang putra
mahkota berapi-api.

“Ananda jangan gegabah. Pasukan kita belum kuat
untuk melakukan perlawanan. Lagipula Indraprahasta
sudah bergabung memperkuat Purbasora.

“lalu apa yang harus saya lakukan? Saya tidak
mugkin berdiam diri seperti ini, ayahanda.”

“Satu hal yang harus ananda ingat. Kelak jika
ananda akan membalas sakit hati ananda harus tetap
menghormati sesepuh Galuh terutama raja resi Sempak

26

Kusyoto

Waja. ananda hanya boleh berurusan dengan Purbasora
dan pasukannya. Jangan libatkan sesepuh Galuh.

“Titah ayahanda ananda jungjung tinggi.”
“Temuilah prabu Tarusbawa. Mintalah dukungan
dan pendapatnya.”
“Baik ayahanda.”

Sebelum menemui Prabu Tarusbawa terlebih
dahulu rakeyan Jamri atau rahardian Sanjaya menemui
Ranghyang Kidul atau raja resi Wanayasa yang berkuasa
di Denuh meminta restu dan dukungan merebut kembali
takhta Galuh dari Ranghyang Purbasora atau Prabu Sora.

Ranghyang Wanayasa adalah adik kandung
Ranghyang Sempak Waja ayah dari Purbasora, beliau
merasa serba salah menghadapi situasi tersebut, apalagi
anaknya Bimaraksa atau ki Patih Balangantrang
merupakan Senapati bahkan sahabat Prabusora.

“Cucunda Sanjaya, dalam hal ini eyang tidak
menganjurkan juga tidak melarang niat dan tekad dirimu.
Sebagai seorang resi, eyang telah lepas dari urusan
keduniawian, namun jika tekadmu sudah bulat eyang
harap cucunda Sanjaya tetap menghormati para sesepuh
Galuh seperti raja resi Sempak Waja.”

“Baik eyang resi,” ujar rahardian Sanjaya sambil
merangkapkan kedua telapak tangannya di dada.

“Satu lagi cucunda Sanjaya. Saya mohon ada
pengecualian buat anak eyang, Bimaraksa dan
keluarganya apabila takhta Galuh sudah berada di
tanganmu.”

“Akan saya perhatikan amanat eyang resi.”
“Semoga dewata agung merestui dan melindungi
tiap langkah mu, cucunda.”

27

Sengketa Tanah Galuh

“Saya pamit, eyang resi,” kata Rahardian Sanjaya,
setelah menghaturkan sembah, pemuda gagah itu
meningalkan kediaman Ranghyang Kidul atau Raja Resi
Wanayasa menuju Sunda Sembawa menemui Prabu
Tarusbawa.

Raja resi Wanayasa masih terpaku di tempatnya
setelah melepas kepergian Rahardian Sanjaya dari
padepokannya, ia baru tersadar ketika empat orang murid
utama telah berdiri di belakangnya.

“Eyang resi,” kata kempatnya sambil menyembah.
“Oh kalian anak-anakku, Harsa Manggala,
Nandana Juna, Caya Pata dan Ranjani Sidi .”
“Sepertinya eyang tengah memikirkan sesuatu.”
“Kau benar Harsa.”
“Kalau kami boleh tahu, masalah apakah itu
eyang?”
“Ranjani, kau lihat pemuda yang baru saja
meninggalkan padepokan kita.”
“Benar eyang resi, siapakan pemuda itu?”
“Rahardian Sanjaya. Putra mahkota Galuh yang
tersingkir.”
“Ada keperluan apa rahardian Sajaya menemui
eyang?”
“Nandana, ia meminta restu eyang, mendukungnya
merebut kembali takhta Galuh dari tangan pamannya,
Ranghyang Purbasora.”
“Apa keputusan eyang?”
“Caya Pata. Sebagai seorang resi, eyang tidak
boleh mendukung siapapun. Sudahlah, apakah kalian
semua sudah siap menjalankan tugas dari eyang?”

28

Kusyoto

“Kami sudah siap eyang,” kata keepatnya takzim.”
“Pergilah, semoga dewata agung melindungi kalian
semua.”
“Baik eyang, kami pamit,” kata keempatnya sambil
merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Resi Wanayasa tersenyum arif. Setelah
menghaturkan sembah keempat murid utama padepokan
Telaga Denuh itu manaiki kudanya masing-masing dan
menggebrak tunggangannya menuju selatan.

-o0o-

Dalam derasnya guyuran hujan, ekor mata
rahardian Sanjaya melihat sebuah dangau kecil di tengah
sawah, sayup-sayup suara seruling mengalunkan nada
sendu terdengar dari sana. Aneh di tengah hujan lebat
seperti itu suara seruling malah terdengar nyaring seakan
mengalahkan suara lebatnya guyuran hujan, siapapun
manusianya dipastikan ia memiliki tenaga inti yang sangat
sempurna. Putra mahkota Galuh yang tersingkir itu
akhirnya sampai juga di depan dangau beratap ilalang, ia
segera masuk ke dalam dan berlindung dari tempias
guyuran hujan. Di dalam dangau tampak orang tua
bercaping bambu duduk bersila, ia tengah asik meniup
saluang, seruling khas Minangkabau. Anehnya tidak ada
suara apapun yang keluar dari saluang bambu tersebut.
Justru suaranya terdengar menggema di luar dangau
menyibak guyuran hujan dan rumpun padi yang tengah
menguning.

“Orang tua aneh, di dalam sini tidak terdengar
apapun kecuali suara hujan, justru suara serulingnya
terdengar nyaring di luar sana,” membatin rahardian
Sanjaya.

29

Sengketa Tanah Galuh

“Sampurasun kek, saya numpang berteduh ya
kek,” kata rahardian Sanjaya sambil merangkapkan kedua
telapak tangananya di depan dada.

Orang tua bercaping bambu masih asik meniup
saluang seakan tidak mendengar teguran dari sang
pemuda. Jari-jemari tangannya begitu lincah meniti empat
rongga saluang sedang bibirnya mengembang dan
mengempis meniup pangkal saluang, tidak ada suara
apapun yang terdengar.

“Mungkin kakek ini tuli,” membatin rahardian
Sanjaya.

“Siapo nan pakak, waang jangan seenaknyo
menuduah…!” bentak sang kekek membuat rahardian
Sanjaya terkejut bukan main, orang dapat membaca
pikirannya.

“Maap kek, bukan maksud saya seperti itu.”

“Lalu apo maksud waang?” kata sang kekek,
saluang bambu yang ada di tangan kanannya di acungkan
ke depan, satu gelombang angin dingin membersit dari
lobang di ujung saluang, menderu ganas melabrak
rahardian Sanjaya, pemuda ini buang tubuhnya ke
samping, gelombang angin dingin menderu sesenti dari
dada sang pemuda, mematahkan salah satu tiang dangau
hingga miring.

“Kalau begitu saya permisi kek,” kata rahardian
Sanjaya lantas pemuda ini menghambur keluar dari
dangau yang hampir roboh. Betapa terkejutnya sang
pemuda, kekek bercaping bambu itu kini sudah berdiri
menghadang langkahnya sedang dangau di belakangnya
ambruk di tengah guyuran hujan yang semakin lebat.

“Menuduah seenaknyo, merusak gubuk denai,
lantas pegi begitu sajo, indak semudah tu waang

30

Kusyoto

meninggalkan tempat ni,” kata sang kekek dengan nada
tinggi.

“Bukankah kekek sendiri yang mematahkan tiang
gubuk itu,” kata Sanjaya.

“Nah, kini waang menuduah denai lagi, mangecek
juo ang lai ! Jago serangan denai,” belum kering kalimat
dari bibirnya orang tua bercaping bambu itu kelebatkan
badan menyerang rahardian Sanjaya yang jungkir balik
menahan serangan beruntun dari sang kakek.

“Tunggu kek, ada silang sengketa apa hingga
kakek menyerang saya begini rupa?”

“Labi dalam biduak,” teriak sang kekek, kepalan
tanganya kini begitu dekat di wajah rahardian Sanjaya,
replek pemuda ini menyampok lengan lawan, justru saat
itulah tendangan ganda melanda dada rahardian Sanjaya
hingga pemuda gagah itu terjajar tiga tindak ke belakang.
Belum sempat rahardian Sanjaya memperbaiki posisi
kuda-kuda jatuhan tumit lawan menderu mengarah batok
kepala.

Des…!

Selang sepersekian detik rahardian Sanjaya geser
kepalan ke samping kiri, jatuhan tumit menderu satu senti
dari kepala, tak urung pundak kirinya jadi sasaran.
Pemuda gagah itu ambruk ke tanah, belum sempat
rahardian Sanjaya bangkit, hujaman telapak tangan kanan
sang kakek telak melanda dada hingga ia ambruk tak
sadarkan diri.

“Belum waktunyo waang mati, pangeran,” gumam
lelaki tua bercaping bambu lantas tinggalkan begitu saja
rahardian Sanjaya yang tergeletak di pematang sawah,
sebelum tak sadarkan diri samar-samar rahardian Sanjaya

31

Sengketa Tanah Galuh

mendengar orang tua bercaping bambu itu bersenandung
diakhiri tiupan saluangnya.

“Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo
mangkuto, dek baik budi nan mayan buik, pumpun kuku
patah pauahnyo. (Seseorang yang disambut dengan budi
yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun
tidak akan menjadi ganas). Setelahnya rahardian Sanjaya
tidak ingat apa-apa lagi.

-o0o-

Rahardian Sanjaya merasakan semua tulang
belulangnya kaku, seluruh badannya sakit, perlahan kedua
matanya terbuka, sebuah langit-langit dari anyaman daun
kepala terpampang di atasnya, ia memejamkan kembali
kedua mata begitu sinar mentari pagi membias dari kisi-
kisi jendela kayu.

“Dia sudah sadar abah,” terdengar satu suara
sangat lembut di telinga rahardian Sanjaya, ia coba
membuka kembali kedua mata namun dirasakanya dunia
di sekitar berputar, ia ambruk kembali begitu memaksa
menggerakkan badan.

“Jangan banyak bergerak kisanak, luka dalammu
sangat parah, untung saja sanghyang widi masih berberlas
kasih pada mu,” kata sebuah suara.

“Niken Prabandari, bantu kisanaki ini meminum
ramuan yang sudah abah siapkan.”

“Baik abah,” ujar sang dara lantas memangku
kepala rahardian Sanjaya perlahan ia meminumkan
ramuan yang ditampung dalam batok kelapa pada pemuda
tersebut.

“Pelan-pelan saja atuh akang,” ujarnya lembut.

32

Kusyoto

“Di mana saya, siapa kalian ini, apa yang terjadi
dengan saya?” kata rahardian Sanjaya. Orang tua
berselempeng kain putih tersenyum arif mendengar
pertanyaan bertubi-tubi tersebut.

“Kisanak berada di tempat aing, Cibaruyan nama
desa ini, aing rabuyut Cibaruyan. Tiga hari yang lalu
Niken menemukan kisanak tergeletak di pematang sawah.
Apa yang terjadi?”

Rahardian Sanjaya tertegun beberapa kejap, ia
tidak menyangka sudah tiga hari dirinya pingsan, pantas
saja rasa lapar dan dahaga begitu hebat menyerangnya.

“Nama saya Sanjaya, tiga hari yang lalu seseorang
menyerang saya.”

“Sebenarnya kisanak ini mau kemana?”
“Saya dalam perjalanan ke puncak gunung Sawal.”
“Puncak gunung Sawal tidak berapa jauh lagi, desa
Cibaruyan ini merupakan desa terakhir sebelum menuju ke
puncaknya.”
“Saya sangat berterimakasih ataspertolongan
rabuyut dan Niken.” Kata pemuda gagah disambut senyum
manis dara ayu yang ada di samping tepat tidur.
“Akang Sanjaya ada keperluan apa ke puncak
gunung Sawal?”
“Niken…, tidak baik mencampuri urusan orang
lain,” sela rabuyut Cibaruyan membuat dara ayu ini
cemberut manja.
“Uuuh, abah…, Niken kan hanya sekadar
bertanya.”
“Sudah kebelakang sana, siapkan bubur buat
kisanak Sanjaya.”

33

Sengketa Tanah Galuh

“Uuh, abah…, Niken belum selesai meminumkan
ramuan ini.”

"Biar abah saja, kau kebelakang menyiapkan bubur
beras buat kisanak Sanjaya.”

“Baiklah abah,” ujar dara ayu itu manja lantas
bergegas pergi ke belakang.

“Niken itu satu-satunya anak perempuan aing,
sipatnya begitu manja sejak ditinggal mendiang
ambunya.”

“Dia gadis yang sangat baik,” gumam rahardian
Sanjaya.

“Yah, kasihan Niken…, sejak umur delapan tahun
harus terpisah dari kasih sayang ambunya, untung dia
cepat menemukan kisanak, sejengkal saja pukulan itu
bergeser ke kiri entah apakah nyawa kisanak bisa
tertolong.”

“Begitu berbahaya kah luka dalam saya ini,
rabuyut?”

“Kisanak terkena pukulan telapak datar.”

“Apakah rabuyut mengenal siapa orang tua yang
menyerang saya itu?”

“Hanya satu orang yang memiliki pukulan maut
itu, seorang tokoh kawakan dari tanah datar bergelar
Datuk Atar Basaluang Batuang, tapi yang menjadi
pertanyaan kenapa ia begitu tega menjatuhkan tangan
mautnya pada kisanak, ia salah satu pendekar dari
golongan putih, hemmm…, maap sebenarnya siapakah
kisanak ini?”

Tidak ada pilihan lain bagi rahardian Sanjaya
kecuali berterus terang siapa dirinya apalagi ia merasa
berhutang budi pada orang tua yang ada di hadapannya itu,

34

Kusyoto

secara singkat ia menceritakan ihwal tujuannya ke puncak
gunung Sawal.

“Sudah aing duga, pulihkan dulu kekuatan
rahardian sebelum mendaki puncak gunung Sawal, bukan
hanya kekuatan jasmani yang dibutuhkan namun butuh
juga rohani yang terlatih.”

“Saya belum paham apa maksud dari pernyataan
rabuyut?”

Saat itulah dari bilik dapur Niken Prabandari
muncul sambil membawa semangkuk bubur beras dan satu
bumbung gula aren. Dara ayu itu duduk di tempatnya
semula.

“Buburnya sudah siap akang Sanjaya, mari saya
suapin,” kata dara ayu itu lantas meniup dan menyuapi
rahardian Sanjaya yang tampak canggung dan kikuk.
Seumur-umur baru kali ini ia diperlakukan sedemikian
rupa oleh seorang gadis.

“Akang harus banyak makan atuh, biar cepat pulih
kesehatanya,” kata dara ayu itu yang sesekali membantu
rahardian Sanjaya minum dari ruas bambu berisi gula
aren.

“Cukup Niken, saya sudah kenyang.”

“Sedikit lagi atuh kakang, biar akang cepat sehat,”
kata dara ayu setengah memaksa. Mau tidak mau
rahardian Sanjaya membuka kembali mulut dan menelan
bubur berasyang disodorkan sang gadis.

“Niken, jangan terlalu banyak, usus kisanak
Sanjaya masih belum kuat.”

“Iya abah….”

“Niken, siapkan air hangat buat mandi kisanak
Sanjaya.”

35

Sengketa Tanah Galuh

“Sudah saya siapkan abah, ayo akang ke belakang
saya bantu.”

“Hus, kisanak Sajaya ini sudah besar, tidak perlu
kau mandikan juga.”

“Iya abah…, Niken tahu,” ujar dara ayu itu lantas
kembali masuk ke dalam bilik.

“Hehe…, Niken itu sejak kecil tidak memiliki
teman, ia begitu senang sekali ketika rahardian berada di
sini.”

“Hyah, saya memakluminya rabuyut, oh ya…,
rabuyut belum menjawab pertanyaan saya mengenai
kesiapan mendaki gunung Sawal.”

“Sebaiknya rahardian membersihkan diri dulu,
nanti malam aing akan menceritaka semua hal mengenai
gunung Sawal.”

“Baiklah rabuyut,” kata rahardian Sanjaya lantas
turun dari balai bambu melangkah pelan menuju pancuran
di belakang rumah panggung rabuyut Cibaruyan.

Waktu bergulir dengan cepat,siang malam silih
berganti, tak terasa hampir tiga purnama rahardian Sanjaya
berada di kediaman rabuyut Cibaruyan. Kondisi putra
mahkota Galuh yang tersingkir itu sudah semakin
membaik, luka dalam akibat pukulan telapak datar
berangsur pulih. Malam beranjak ke dini hari, kabut tebal
dari lereng gunung Sawal turun menyelimuti kawasan
desa Cibaruyan, hujan deras yang mengguyur kaki gunung
Sawal sudah lama berhenti namun hawa dingin semakin
menjadi, menusuk tulang sum-sum. Di dalam bilik,
rabuyut Cibaruyan dan rahardian Sanjaya duduk sambil
megobrol.

“Hal-hal seperti itulah yang mungkin akan ditemui
rahardian Sanjaya ketika berada di kawasan menuju

36

Kusyoto

puncak gunung Sawal, apakah rahardian Sanjaya sudah
siap?”

“Tekad saya sudah bulat, rabuyut.”
“Baiklah kalau begitu, semoga keterangan dari
aing berguna untuk rahardian Sanjaya.”
“Sangat berguna sekali rabuyut.”
“Rahardian Sanjaya bisa berangkat sekarang.”
“Baik rabuyut, tolong sampaikan rasa terimakasih
saya pada Niken Prabandari.”
“Hyah…, akan aing sampaikan.”
Setelah berpamitan dengan rabuyut Cibaruyan
malam itu juga rahardian Sanjaya bersiap mendaki gunung
Sawal. Malam semakin tua mendekati dini hari, hembusan
angin semakin dingin mencucuk persendian, rintik hujan
kembali turun perlahan, semakin lama semakin deras.
Desa Cibaruyan kembali diguyur hujan lebat pada malam
menjelang dini hari tersebut.

-o0o-

Matahari bersinar lembut diantara pucuk-pucuk
pohon siwalan yang banyak tumbuh di lereng perbukitan.
Kicau prenjak di dahan cemara, lenguh sapi di pematang
sawah semarakkan suasana pagi di desa Cibaruyan.

Sehabis mencuci pakaian di kali, Niken
Prabandari bergegas menuju kamar rahardian Sanjaya,
dara ayu itu mendapati kamar rahardian Sanjaya kosong,
ia mengira pemuda itu tengah berada di pancuran
belakang, segera Niken ke pancuran di belakang rumahnya

37

Sengketa Tanah Galuh

saat itulah ia berpapasan dengan ayahnya rabuyut
Cibaruyan.

“Abah lihat akang Sanjaya tidak?”
“Lihat.”
“Di mana abah?”
“Sudah pergi.”
“Pergi?”
“Iya, akang mu Sanjaya sudah pergi dari
semalam.”
“Kenapa abah mengijinkan?” kata dara ayu ini
mulai merajuk manja.
“Akang mu Sanjaya ada keperluan penting, jadi ia
pergi meninggalkan kita.
“Abah jahat…! Akang Sanjaya Jahat…!” Jerit
Niken Prabandari, dara ayu itu mulai menangis terisak-
isak.
“Loh kenapa malah menangis, Niken?”
“Kenapa akang Sanjaya tidak pamit sama Niken.”
“Niken, cah ayu…, akang mu Sanjaya sedang
mengemban tugas, jadi kau harus maklum, doakan saja
supaya ia berhasil.”
“Tugas apa atuh abah?”
“Ya, tugas penting atuh. Sudahlah…, kau siapkan
sarapan buat abahmu ini.”
“Baik abah,” ujar gadis ini dengan isak yang masih
tertahan. Rabuyut Cibaruya terseyum melihat kelakuan
putri satu-satunya yang mulai tumbuh menjadi gadis
remaja tersebut.[]

38

Kusyoto

Muslihat Prasasti Perdamaian

Sri Maharaja Prabu Tarusbawa Darma Wastika
Manungga Manggalajaya Sunda Sembawa lipat surat dari
rangkaian daun rontal, memasukannya kembali ke
bumbung bambu berukir setelah selesai membaca dan
memahami isi surat yang dikirim utusan Kerajan Sriwijaya
tersebut.

Dalam isi suratnya raja Sriwijaya Prabu Dapunta
Hyang Sri Jayanasa menulis keingiannya untuk melakukan
kerjasama antar Negara. Setelah Sriwijaya selama kurang
lebih tujuh belas tahun menduduki tanah Tarumanagara,
Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa hendak memperbaiki
hubungan dan mengikat kembali jalinan persaudaraan
antar menantu mendiang Prabu Linggawarman.

Prabu Tarusbawa yang memiliki sipat cinta damai
dan welas asih menerima keingina tersebut. Maka pada
hari yang sudah ditentukan datanglah prabu Dapunta
Hyang Sri Jayanasa ke Kerajaan Sunda Sembawa.

“Selamat datang di Sunda Sembawa adi prabu
Dapunta Hyang,” sabda prabu Tarusbawa. Raja Sunda itu
menyambut kedatangan Prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa dengan turun dari singasananya. Acara
penyambutan tamu Negara itu dilaksanakan di istana Bima
yang dikhususkan untuk menyambut tamu agung atau
tamu dari berbagai Negara.

“Terimakasih sambutannya kanda prabu
Tarusbawa,” kata prabu Dapunta Hyang Srijayanasa
kemudian duduk di tempat yang telah disediakan.

“Saya sudah menerima dan mempelajari isi surat
adhi prabu. Hemat saya kerjasama antar Negara sangatlah
penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan kita

39

Sengketa Tanah Galuh

masing-masing.” Sabda prabu Tarusbawa dijawab
anggukan prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

“Namun ada hal yang masih mengganjal di hati
saja. Kanda prabu,” kata Prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa.

“Hal apakah itu adhi prabu?”
“Kalingga utara menolak kerjasama dan perjanjian
damai yang aku tawarkan.”
“Sang ratu Shima pasti memiliki alasan khusus,
adhi prabu.” Kata prabu Tarusbawa.
“Hyah, ini akibat kebodohan ku.”
“Maksud adi prabu?”
“Mungkin ratu Shima masih sungkan setelah ia
menolak pinangan yang aku kirim beberapa tahun lalu.”

Prabu Tarusbawa tercenung beberapa saat. Raja
Sunda Sembawa itu tidak mengira prabu Dapunta Hyang
Seri Jayanasa sudah begitu jauh melangkah untuk
mencapai ambisinya.

“Lantas apa rencana adhi prabu selanjutnya?”
“Jika kanda prabu tidak keberatan. Bagaimana
kalau kita tundukan Kalingga Utara?”

Prabu Tarusbawa tertegun mendengar penuturan
prabu Dapunda Hyang Srijayanasa.

“Silahkan dicicipi hidangan alakadarnya ini, adhi
prabu.” Kata Prabu Tarusbawa mengalihkan topik
pembicaraan. Sekadar mengurangi ketegangan yang
perlahan menggantung di udara.

Kedua raja itu tampak berbincang akrab sambil
menikmati jamuan. Setelah dirasa ada kesempatan untuk

40

Kusyoto

mengetahui keberadaan Taruma Udaka, maka berkatalah
prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

“Kanda prabu, ada hal yang ingin aku tanyakan.”
“Silahkan adhi prabu.”

Sebelum meneruskan kalimatnya prabu Dapunta
Huang Sri Jayanasa edarkan pandangan pada seluruh
nayaka, kerabat istana, para pini sepuh serta semua yang
hadir dalam acara pasewakan agung tersebut.

“Sepertinya adhi perabu sedang mencari
seseorang?” sela prabu Tarusbawa membuat raja Sriwijaya
itu tertegun beberapa kejap, ia berdehem sekadar
menetralisir gemuruh bhatinnya.

“Kanda prabu sangat waskita. Kalau aku tidak
menanyakan hal ini, belum reda rasa penasaranku.”

“Silahka adhi prabu, jangan sungkan.”
“Aku ingin bertemu pahlawan Tarumanagara,
Taruma Udaka yang termahsyur itu, kanda prabu.”
“Oh sayang sekali adhi prabu. Ia sedang
menjalankan tugas membebaskan para bangsawan Sunda
Sembawa yang ditawan bajak laut di perairan selat sunda.”

Walau sekejap, paras raja Sriwijaya itu tampak
berobah. Kembali ia berdehem untuk menenangkan
dirinya.

“Selat Sunda merupakan perbatasan antara pulau
Jawa dan Swarnabhumi daerah kekuasanku. Inilah
pentingnya kerjasama itu kanda prabu.

“Adhi prabu benar. Ohiya apakah adhi prabu
pernah mendengar kawanan bajak laut yang memiliki
gelar naga merah?”

41

Sengketa Tanah Galuh

Kembali raja Sriwijaya itu tercenung. Namun
segera ia gelengkan kepalanya.

“Jika peristiwa itu terjadi di selat sunda itupun
menjadi tangung jawabku kanda prabu.”

“Baiklah adhi prabu, sebelum kita lanjutkan
obrolan alangkah baiknya adhi prabu dan rombongan
beristirahat dahulu sebelum kita melaksanakan prosesi
kerjasama antar Negara.”

“Bagaimana dengan rencana penyerangan ke
Kalingga Utara kanda prabu?”

Sebelum menjawab pertanyaan, prabu Tarusbawa
tampak menarik napas dalam dan menghembuskanya
dengan pelan.

“Dinda prabu baiknya pikirkan masak-masak
terlebih dahulu. Jangan karena rasa sakit hati lantas
kesumat yang bicara.”

“Baiklah kanda prabu, kami akan beristirahat,”
pungkas prabu Dapunta Hyang Srijayanasa dijawab
anggukan prabu Tarusbawa.

Seluruh rombongan dari kerajaan Sriwijaya
dipersilahkan menempati istana Puntadewa yang
dikhususkan sebagai tempat peristirahatan tamu negara.
Semilir angin dingin dari perbukitan di samping kanan
istana Puntadewa melewati jendela kamar di mana prabu
Dapunta Hyang Sri Jayanasa beristirahat. Saat itu raja
kerajaan Sriwjaya tersebut tengah berbincang dengan
seorang kepercayaannya.

“Tumenggung Brajamadenta kau belum beruntung
agaknya,” kata perabu Daputa Hyang Sri Jayanasa.

“Hyahh…, sayang sekali gusti prabu. Padahal
hamba ingin sekali bertemu dan menjajal kemampuan

42

Kusyoto

pahlawan Tarumanagara yang telah membunuh adik
hamba itu,” kata lelaki kekar dengan pandangan setajam
sembilu tersebut sambil mengepalkan kedua tanganya.

“Tahan amarah mu Tumenggung. Masih ada
banyak kesempatan, jangan kau rusak rencana yang telah
aku siapkan sejak lama ini dengan tidakan bodohmu.”

“Hamba gusti prabu.”
“Bagus, manfaatkan waktu istirahat ini dengan
baik. Masih banyak hal yang akan kita lakukan.”
“Hamba gusti prabu,” kata Tumenggung
Brajamadenta sambil menyembah kemudian berlalu
meningalkan bilik peristirahatan prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa yang masih duduk terpekur di kursinya.

Penguasa Kerajaan Sriwijaya yang telah
menaklukan beberapa kerajaan besar seperti Kerajaan
Kedah, Minang Natamuan, Melayu, Bangka, Tulang
Bawang, bahkan kepulauan Ligor di Siam dan sempat juga
pada tahun 686 Masehi menaklukan dan menduduki
Kerajaan Tarumanagara yang kala itu diperintah oleh
mertuanya sendiri Prabu Linggawarman.

Masih segar dalam ingatan Prabu Dapunta Hyang
Sri Jayanasa sekitar dua tahun yang telah lewat disaat
Tumenggung Jari Kambang bersama sisa-sisa pasukan
Sriwijaya menghadap dan melaporkan kekalahannya
bahkan sang senapati andalan Sriwijaya yakni Senapati
Ampal tewas dalam pertempuran mempertahankan
Tarumanagara dari pasukan gabungan pejuang
Tarumanagara. Saat itu prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa
begitu murka. Kalau saja ia menuruti amarahnya saat itu ia
akan menyiapkan pasukan khusus Sriwijaya untuk
merebut kembali bumi Tarumanagara, di saat itulah ia
disibukan dengan serangan pasukan Rajendara Cola Dewa

43

Sengketa Tanah Galuh

dari negri Hindustan. Setelah peperangan yang berlarut-
larut antara Sriwijaya dengan Hindustan berakhir, pamor
Sriwijaya meredup, kehidupan perekonomian negara besar
itu di ambang pailit beberapa kerajaan bawahan yang
pernah ditaklukannya satu per satu melepaskan diri.

Mengantisipasi kehancuran Sriwijaya prabu
Dapunta Hyang Sri Jayanasa segera mengambil tindakan
dengan mengadakan kerjasama dan perjanjian kesetaraan
hak antar negara dengan kerajaan-kerajaan bawahanya
termasuk kerajaan Tarumanagara yang ibukotanya kini
telah dipindahkan oleh prabu Tarusbawa dari bumi
Taruma ke Sunda Sembawa.

Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa bangkit dari
tempat duduk, melangkah pelan menghampiri jendela dan
menyibak gorden bilik, angin dingin dari perbukitan serta
merta berhembus, mengelus wajah tampan raja Sriwijaya
tersebut.

“Tanah sunda nan subur makmur,” gumamnya.

-o0o-

Suasana masih terang-terng tanah ketika jung besar
yang ditumpagi pasukan Sunda Sembawa yang dipimpin
hulu jurit Kebo Sempani perlahan memasuki Selat Sunda.
Ombak tidak begitu besar hingga kapal layar bersusun tiga
itu dengan tenang membelah laut. Langit begitu cerah
tanpa awan, matahari semburat perlahan di garis
cakrawala. Di atas dek, sang hulu jurit Kebo Sempani
berdiri kukuh, matanya tajam memperhatikan hamparan
laut, saat itulah dari dalam bilik muncul Taruma Udaka
dan adiknya Arimbi.

“Sempani, apakah sudah ada tanda keberadaan
bajak laut Naga Merah?”

“Belum ada apapun di depan sana, Taruma.”

44

Kusyoto

“Kalau saja Wulung Pujud bersedia membantu,
tentu ia dapat menuntun kita menemukan
sarangnya,”gumam Arimbi.

“Sudahlah Arimbi. Itu sudah keputusannya,” sela
Taruma Udaka.

“Taruma, lihat…!” kata Kebo Sempani sambil
mencabut golok panjang yang terselip di pinggang.

Ketiganya seketika tertegun. Entah dari mana
datangnya, kini di sebelah kanan kapal terlihat lima buah
jung, begitupun di sebelah kiri kapal, lima buah jung lagi
bendera merah bergambar tengkorak naga berlatar api
telah memepet kapal layar besar bersusun tiga tersebut.
Menggunakan tali-temali dan pengait dari masing-masing
jung berloncatan orang-orang bertampang sangar.

“Kebetulan yang menyenangkan,”gumam Arimbi,
gadis cantik itu lantas cabut pedang dan menghambur ke
depan, menyongsong serangan para bajak laut yang kini
telah berada di hadapanya.

Kebo Sempani bersuit nyaring, tidak menunggu
lama dari bawah dek kapal dan tiang-tiang layar
berloncatan prajurit-prajurit Sunda Sembawa
menyongsong serangan para bajak laut. Pertempuran
sengitpun tak dapat dihindari.

Mengandalkan kecepatan gerak jurus tatu lima,
tubuh Taruma Udaka mencelat ke sana ke mari
menyongsong serangan. Tiap kali tangan dan kakinya
berkelebat lima sampai sepuluh orang bajak laut terlempar
ke udara dengan senjata berhamburan. Di sisi lain, sang
hulu jurit Kebo Sempani dengan golok panjang terhunus
membabat satu-persatu grombolan bajak laut yang
mengepungnya. Pun dengan Arimbi, gadis cantik itu
bagaikan alap-alap, jungkir balik di udara, tiap pedangnya

45

Sengketa Tanah Galuh

berkiblat tiga sampai lima orang bajak laut terkapar
bermandikan darah, sebagian tercebur ke dalam laut.
Sedang puluhan prajurit Sunda Sembawa bersenjata
tameng dan tombak menghadapi grombolan bajak laut
yang bersenjatakan pedang pendek.

“Warok, kau bereskan gadis itu,” kata wanita
cantik berjubah sutra hitam dengan topeng merah menutup
sebagian wajahnya.

“Baik nyai,” ujar lelaki kekar bertopeng merah
bersenjatakan trisula kembar, lantas melesat ke bawah.
Yang diincarnya adalah Arimbi.

“Dan kau datuk, ringkus hulu jurit itu.”
“Baik nyai,” kata lelaki kurus hitam bersenjatakan
tongkat besi berwarna hitam. Kakinya menjejak tiang dan
meluncur ke bawah, yang ditujunya adalah Kebo Sempani.
Semantara wanita berjubah sutra hitam bertopeng merah
melesat cepat, selendang hitamnya mengembang
kemudian mematuk bagian dada Taruma Udaka, replek
pemuda gagah ini menghindari jiratan selendang hitam.
“Kau tentu pemimpin naga merah itu,” kata
Taruma Udaka.

Wanita cantik berjubah sutra hitam hanya diam.
Mendadak telapak tangannya mengembang, selendang
hitam kembali melesat, Taruma Udaka geser badannya ke
kiri tangannya cepat menangkap laju selendang, siapa
mengira saat itulah bubuk putih melanda wajahnya.
Taruma terhuyung ke belakang, ambruk dan tidak ingat
apa-apa lagi.

Wanita cantik berjubah sutra hitam tersenyum
sinis, balikan badan Taruma Udaka dengan ujung kaki
sekali hentakkan kaki ke tanah tubuh pemuda gagah itu
melayang ke atas, detik berikut menelungkup di pundak

46

Kusyoto

kiri wanita cantik berjubah sutra hitam, sekali jejakan
badan sosoknya berada di dalam sampan. Tubuh Taruma
Udaka dibaringkan di atas sampan, tak lama sampan
melesat membelah gulungan ombak.

Di tempat lain. Arimbi dan hulu jurit Kebo
Sempani mengalami hal sama. Begitu kedua orang
betopeng merah berkelebat sambil menaburkan bubuk
putih, keduanya ambruk tak sadarkan diri, begitu lawan
siap membawanya, saat itulah sebuah rantai baja melibat
tubuh Kebo Sempani dan Arimbi, sekali hentak tubuh
Sempani melayang ke atas lalu melintang di bahu kiri
orang sedang Arimbi berada dalam pondongannya. Sekali
hentak orang bercadar putih melesat ke kawasan
Swarnabumi, semantara puluhan prajurit Sunda Sembawa
yang terkena bubuk serupa tergeletak tanpa daya di atas
dek kapal layar bersusun tiga.

“Tarik kapal mereka. Kita kembali ke markas,”
kata orang tinggi besar bersenjata trisula kembar.

“Baik Warok.” Segera para anggota bajak laut
naga merah menarik kapal layar bersusun tiga ke kawasan
Swarnabumi.

-o0o-

Wanita cantik berjubah sutra hitam hentikan lari,
di depan mulut goa, matanya tajam perhatikan sekeliling,
sesaat hirup udara sekitar, udara kering dan bau minyak
jarak tercium santar, pertanda belum ada siapapun yang
merambah kawasan tersebut.

Perempuan cantik berjubah sutra hitam masuk ke
dalam goa, dengan batu api ia menyalakan beberapa obor
yang menempel di dinding, setelah berjalan sertaus
langkah nampak di hadapannya sebuah batu persegi

47

Sengketa Tanah Galuh

beralas jerami kering. Dibaringkannya tubuh Taruma
Udaka di atas batu beralas rumput kering tersebut.

“Terlalu enak bagimu jika kau mati saat ini,
pahlawan Tarumanagara,”gumam perempuan cantik
berjubah sutra hitam, ia keruk saku baju bagian dalam
sang pemuda, sebuah kotak hitam berada dalam
genggamanya, sekali lagi perempuan cantik berjubah sutra
hitam tersenyum sinis, detik berikut sosoknya jauh
meninggalkan mulut goa di mana tubuh Taruma Udaka
terbaring pingsan akibat pengaruh bubuk putih yang
dihirupnya.

-o0o-

Tumenggung Brajamadenta buka ikatan daun
rontal dari bumbung bambu kecil dari badan merpati,
dibacanya isi tulisan diatas daun rontal. Ia tersenyum,
meremas daun rontal hingga lumat. Mengganti daun rontal
yang baru, memasukannya ke dalam bumbung bambu
kecil, lantas melepaskan binatang itu ke angkasa lewat
jendela biliknya.

“Muslihat baru saja dimulai,” gumam
Tumenggung Brajamadenta, senyum tipis menyeruak dari
sudut bibirnya, tak lama ia keluar dari bilik menuju
halaman istana Puntadewa menuju istana Narayana
dimana prosesi perundingan damai atau kerjasama antar
negara akan dilangsungkan.

Prosesi upacara kerjasama dan perjanjian damai
antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Sunda Sembawa
berlangsung dengan khidmad. Prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa dan Prabu Tarusbawa sepakat menandatangani
perjanjian damai tersebut. Pada tanggal 22 Januari tahun
685 Masehi Prabu Tarusbawa mengabadikan perjanjian
kerjasama itu dalam sebuah batu besar berbahasa melayu
dan Jawa kuno. Ketika tiba saat pemberkatan dan doa

48

Kusyoto

yang akan dipimpin pendeta Sidawirah terjadilah hal yang
tidak mungkin dilupakan oleh semua orang yang
menyaksikan prosesi tersebut. Seorang prajurit sandi
yudha melaporkan sang pendeta Sidawirah ditemukan
tewas dalam keretanya ketika sedang menuju Sunda
Sembawa untuk memberika pemberkatan doa.

“Siapa yang tega melakukan hal sekeji ini,”
gumam Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Seorang prajurit Sriwijaya mendekat dan
memberikan sesuatu pada Prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa.

“Kami menemukan benda ini dalam genggaman
pendeta Sidawirah,”kata prajurit tersebut, Prabu Dapunta
Hyang Sri Jayanasa terima benda tersebut dan
mengamatinya. Benda itu berupa kotak kecil berwarna
hitam, yang membuat geger semua orang yang ada di
tempat itu adalah rangkaian hurup yang tertera di bawah
kotak hitam.

“Udaka,” desis prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa
membuat semua orang tercekat lebih-lebih Prabu
Tarusbawa.

“Apakah ada yang mengenal benda ini?”kata Prabu
Dapunta Hyang Sri Jayanasa sambil mengacugkan benda
tersebut pada para hadirin yang semakin riuh.

“Adhi prabu, bolehkan saya melihat benda itu,”
kata Prabu Tarusbawa.

“Silahkan kanda prabu,” ujar Prabu Dapunta
Hyang Sri Jayanasa kemudian menyerahkan kotak hitam
itu pada prabu Tarusbawa.

“Apakah benar kotak hitam itu milik Taruma
Udaka?”

49

Sengketa Tanah Galuh

“Benar adhi prabu, beberapa waktu lalu Taruma
Udaka sempat memperlihatkan benda itu pada saya. Benda
itu diberikan Niluh Arundaya anak mendiang senapati
Benanda ketika mereka sama-sama masih kecil.”

“Jadi sudah jelas siapa pelaku pembunuhan keji
terhadap pendeta Sidawirah,” pungkas Prabu Dapunta
Hyang Sri Jayanasa.

“Hemm, saya tidak yakin adhi prabu. Kami semua
tahu siapa Taruma Udaka.”

“Apakah bukti yang sudah ada ini belum
meyakinkan kita semua?” kata Prabu Dapunta Hyang Sri
Jayanasa sambil mengacungkan kotak hitam tersebut.

“Adhi prabu. Masalah ini akan semakin jelas kalau
kita tanyakan langsung pada Taruma Udaka. Saya akan
mengutus beberapa prajurit menjemput Taruma Udaka.”

“Bolehkah saya sumbang saran kanda prabu.”
“Silahkan adhi prabu.”

“Kita telah sepakat untuk kerja sama, alangkah
baiknya beberapa prajurit ku ikut dalam penjemputan
Taruma Udaka, bagaimana menurut kanda prabu?”

“Itu pun baik, adhi prabu.”
“Tumenggung Brajamadenta.”

“Hamba gusti prabu,” kata lelaki tinggi besar
pemilik tatapan setajam elang sambil menyembah.

“Ajak beberapa prajurit kita menyertai prajurit
Sunda Sembawa menjemput Taruma Udaka di Selat
Sunda.”

“Sendika gusti prabu,” ujar Tumenggung
Brajamadenta sambil menyembah kemudian beringsut
mundur meninggalkan balerung istana Puntadewa.”

50


Click to View FlipBook Version