Kusyoto
“Aku yakin ini ulah komplotan Tumengung
Brajamadenta,” geram nyai Tenung Ireng.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan
Taruma?” kata senapati Yuda Karna.
“Sebaiknya kita kembali dulu ke Sunda Sembawa.
Melaporkan semunya pada gusti prabu Tarusbawa”
“Baiklah kalau itu keputusan tuan Taruma.”
“Oh iya, siapakah gadis yang bersamamu itu
senapati Tandang Kaweruh?” kata Taruma Udaka.
Dipadangi seperti itu apalagi oleh pemuda gagah nan
tampan Niken Prabandari menjadi salah tingkah. Apa lagi
wajah pemuda yang ada dihadapannya itu tidak kalah
tampan dengan rahardian Sanjaya.
“Namanya Niken Prabandari anak rabuyut
Cibaruyan yang mengetahui letak tanaman Sambung
Nyawa itu.”
“Kalau begitu kita antarkan dulu dia ke rumahnya
sebelum kembali ke Sunda Sembawa.”
“Baik tuan Taruma. Ayo Niken,” ajak senapati
Tandang Kaweruh. Gadis ayu ini hanya mengangguk
pelan. Tidak menunggu lama semua orang meninggalkan
tepat tersebut diirngi gemeletek suara tanaman sambung
nyawa dan semak belukar kering yang masih terbakar.
Setelah semua orang berlalu dari tempat itu satu sosok
bayangan tinggi besar keluar dari balik gerumbul semak
belukar. Senyum penuh arti menyeruak dari sudut
bibirnya.
“Sunda Sembawa akan geger,” gumamnya.
-o0o-
151
Sengketa Tanah Galuh
Matahari perlahan bergeser ke arah barat.
Sengatannya sedikit meredup ditambah hembusan angin
dingin dan luncuran kabut tipis dari puncak gunung Sawal
menambah suasana pondok yang terletak di sisi timur
puncak gunung Sawal itu disaput kesunyian. Di dalam
pondok rahardian Sanjaya tengah berbincang serius
dengan rabuyut Sawal beberapa orang terlihat
mengelilingi meja bundar yang terbuat dari kayu jati.
“Senapati Anggada bagaimana persiapan pasukan
kita?”
“Saya berhasil menghimpun beberapa adipati dan
para nayaka Galuh yang masih setia dengan gusti prabu
Sanna.” Kata Senapati Anggada. Ia merupakan pemimpin
pasukan khusus Kalingga Utara yang diperintahkan untuk
membantu rahardian Sanjaya dalam rangka merebut
kembali kerajaan Galuh yang kini dikuasai oleh Purbasora
atau prabu Sora.
“Beberapa telik sandi sudah menyusup ke keraton
Galuh,” menambahkan hulu jurit Purangga Jaya.
“Apa saran rabuyut?” kata rahardian Sanjaya
ditujukan pada lelaki berjubah kelabu yang duduk terpekur
disisi meja sebalah barat. Rabuyut Sawal tampak
membetulkan lipatan jubah sebelum menjawab
pertanyaan.
“Waktunya belum tepat rahardian. Otot saja belum
cukup menghadapi Galuh. Saat ini beberapa orang rimba
persilatan kelas satu bergabung dengan Galuh. Ditambah
sokongan pasukan Kerajaan Indraprahasta yang juga harus
kita perhitungkan. Mohon maap rahardian, mungkin itu
yang ingin saya sampaikan.”
152
Kusyoto
Rahardian Sanjaya tercenung beberapa kejap.
Pemuda gagah ini tampak menarik napas dalam dan
menghembuskannya dengan pelan.
“Apa yang dikatakan rabuyut Sawal benar. Apalagi
beberapa waktu lalu gusti prabu Tarusbawa mengirim
surat pada saya. Beliau mengatakan sebelum saya
melakukan perhitungan dengan Galuh saya harus terlebih
dulu menaklukan bajak laut Naga Merah dengan semua
taktik dan strategi yang terdapat di dalam kitab pustaka
retuning balasarewu. Jika berhasil maka taktik dan strategi
itu bisa dilaksanakan terhadap Galuh.”
“lalu kapan rahardian menyerbu markas bajak laut
Naga Merah itu?”
“Besok sebelum ayam jantan bekokok semua
pasukan harus berangkat. Tiga hari kemudian kita akan
sampai di sarang mereka. Pada tengah malam kita serang
secara mendadak.”
Pada saat itulah diluar terdengar keributan. Tanpa
mebuang waktu semua orang yang ada di dalam pondok
berhamburan keluar. Di tengah halaman sepuluh orang
berkaparan mengerang kesakitan. Seorang tua
berselempang kain putih tegak berdiri. Di pinggang
kanannya terselip sebuah saluang atau seruling khas
Minangkabau terbuat dari bambu berwarna kuning gading.
“Siapa lelaki tua berselempang kain putih itu?”
kata Senapati Anggada.
“Orang tua itu yang dulu menyerang saya,” gumam
rahardian Sanjaya.
“Biar saya tanya apa kepentingannya mengacau di
sini,” kata hulu jurit Purangga Jaya. Lentingkan badan ke
atas, salto beberapa kali di udara. Ringan lelaki tinggi
153
Sengketa Tanah Galuh
besar itu kini jejakan kakinya di tanah satu tombak di
hadapan lelaki tua berselempang kain putih.
“Siapa kisanak? Ada keperluan apa sampai
menurunkan tangan jahat.” Kata hulu jurit Purangga Jaya.
Lelaki tua berselempang kain putih tampak acuh.
Tidak menggubris teguran orang. Telunjuknya seketika
tepat diacungkan pada rahardian Sanjaya.
“Wang yang telah merusak gubuk denai.
Pertanggung jawabkan perbuatan wang.”
“Orang tua gagah. Baiklah saya mengalah. Apa
yang harus saya lakukan untuk mu?”
Orang tua berselempang kain putih tatap sejenak
wajah tampan di hadapannya. Begitu tangan kananya
bergerak sebuah pedang pendek melesat menancap di
tanah. Satu tindak di hadapan rahardian Sanjaya.
“Wang ambil pedang itu dan tusukan di dada
sekarang juga.”
Rahardian Sanjaya terkejut.orang inginkan
nyawanya.
“Permintaan gila. Biar saya bereskan orang ini
rahardian,”sela senapati Anggada namun langkah pemuda
kekar ini terhenti begitu sebuah tangan dingin memegang
pundaknya.
“Kalau itu kemauan inyiek. Baiklah,” kata
rahardian Sanjaya lalu lepaskan pegangan tangannya pada
pundak Senapati Anggada. Perlahan ia cabut pedang
pendek dari tanah. Semua orang yang ada di tempat itu
seketika dilanda ketegangan. Mereka tidak habis pikir
mengapa rahardian Sanjaya mau saja menuruti keinginan
orang yang jelas mengincar nyawanya. Semua mata
menatap nanar begitu pedang di tangan kanan putra
154
Kusyoto
mahkota Galuh itu diarahkan pada dadanya sendiri.
Sedang orang tua berselempang kain putih memandang
dingin. Rahardian Sanjaya genggam gagang pedang
dengan kedua tangan lalu tusukan pada dadanya sendiri.
Ting…!
Ujung pedang melenceng ke kiri begitu sambaran
sinar putih memapasi badan pedang. Di saat yang sama
orang tua berselempang kain putih menyambar tubuh
rahardian Sanjaya dan dengan satu kali gerakan badan
tubuhnya telah raib dari pandangan. Semua orang yang
ada di tempat itu sontak gempar. Senapati Anggada segera
memerintahkan beberapa prajurit melakukan pengejaran
terhadap orang tua berselempang kain putih yang secara
tidak terduga menculik putra mahkota Galuh tersebut.
Di satu tempat orang tua berselampang kain putih
hentikan lari. Dengan seenaknya ia lemparkan tubuh
rahardian Sanjaya dari atas punggungnya. Seketika
totokan yang menguasai pemuda tampan itu lenyap. Ia
mampu bergerak dan bicara lagi.
“Denai puji jiwa kesatria wang. Sekarang berdiri
telapak tangan kembangkan ke depan,” kata orang tua
tersebut. Rahardian Sanjaya turuti permintaan orang. Ia
terperangah dan menjerit kesakitan ketika orang tua
berselempang kain putih itu arahkan ujung saluang yang
memancarkan sinar putih langsung menembus telapak
tangannya. Pemuda tampan ini langsung pingsan dan
seperti tidak terjadi apa-apa orang tua berselempang kain
putih itu tinggalkan begitu saja tubuh rahardian Sanjaya.
Ketika siuman didapatinya dirinya telah terbaring di
kamar pribadinya.
“Apa yang terjadi dengan saya?”
155
Sengketa Tanah Galuh
“Kami menemkan rahardian pingsan. Apa yang
dilakukan orang tua itu pada rahardian?” kata Senapati
Anggada.
Secara singkat rahardian Sanjaya ceritakan apa
yang dialaminya.
“Orang tua aneh. Ketika hampir saja pedang
pendek menghujam dada rahardian ia pergunakan ujung
serulingnya yang mengeluarkan sinar putih memepasi laju
pedang. Menculik rahardian dan meninggalkannya begitu
saja,” gumam hulu jurit Purangga Jaya.
“Kadang orang rimba persilatan suka berlaku
aneh.” Gumam rahardian Sanjaya.
“Apa rencana rahardian selanjutnya?”
“Seperti rencana awal.”
“Baiklah kami pamit untuk mempersiapkan segala
sesuatunya,” kata Senapati Anggada dijawab anggukan
lemah rahardian Sanjaya. Begitu semua orang
meningalkan bilik pribadi rahardian Sanjaya, sekelebatan
bayangan menerobos jendela dua orang muda mudi
tampak berdiri dihadapan putra mahkota Galuh tersebut.
“Maapkan kami datang dengan cara seperti ini
rahardian,” kata sang pemuda tegap yang berdiri gagah di
hadapan putra mahkota Galuh sedang di sampingnya
berdiri anggun seorang dara ayu berpakaian kuning.
Sebuah selendang merah melilit pinggangnya yang
ramping.
“Siapakah kalian berdua?”
“Saya Abilawa. Dan teman saya ini bernama
Kinanti. Kami diutus gusti prabu Tarusbawa
menyampaikan amanatnya.”
“Silahkan Bilawa.”
156
Kusyoto
Dari balik pakaiannya Abilawa keluarkan sebuah
surat. Menyerahkannya pada rahardian Sanjaya yang
langsung menerima membuka dan membacanya. Setelah
paham apa isi surat tersebut ia pandangi satu-persatu
muda-mudi yang ada di hadapanya.
“Surat sudah saya terima. Saya akan melaksanakan
titah gusti prabu.”
“Kalau begitu kami pamit. Rahardian,” kata kedua
muda-mudi ini sambil merangkapkan kedua tangan
masing-masing di depan dada.
“Sampaikan salam sembah bakti saya pada gusti
prabu. Dan sampaikan rasa duka cita saya sedalan-
dalamnya atas wafatnya sang putra mahkota.”
“Akan kami sampaikan rahardian. Kami mohon
pamit.”
Seperti kedatangannya pertama kali. Kedua muda-
mudi inipun melesat sebat melalui jendela meninggalkan
rahardian Sanjaya yang masih mengenggam daun rontal
surat dari prabu Tarusbawa. Dalam suratnya, di samping
mengabarkan mangkatnya putra mahkota, raja kerajaan
Sunda Sembawa itu mengajukan pinangan. Prabu
Tarusbawa meminang rahardian Sanjaya untuk menjadi
suami nay dewi Teja Kancana cucu dari sang raja agung
Sunda Sembawa, prabu Tarusbawa. Pemuda tampan ini
mendesah pelan. Terbayang di pelupuk matanya seorang
gadis ayu dengan segala perhatian terhadap dirinya.
“Niken Prabandari…,” gumam rahardian
Tarusbawa.
Masih segar dalam ingatan pemuda tampan ini
kebersamaan dirinya dengan Niken Prabandari selama
beberapa bulan di kediaman rabuyut Cibaruyan. Dengan
sangat telaten gadis ayu itu merawat luka-lukanya hingga
157
Sengketa Tanah Galuh
sembuh. Menyediakan makan, menyiapkan air hangat buat
mandi, mengajaknya jalan-jalan dan semua kenangan
indah itu terpampang begitu nyata dalam benak rahardian
Tarusbawa.
“Andai saja saya bisa membawa mu ke Kalingga
Utara. Saya akan jadikan kau pendamping hidup ku,
Niken…,”desah pemuda tampan ini syahdu. Namun,
rahardian Sanjaya sadar siapa dirinya dan siapa gadis ayu
yang diam-diam dicintainya itu. Sumpek di dalam bilik,
pemuda ini perlahan bangkit dari kursi kayu melangkah
menuju pintu, angin dingin dan basah sontak menyapu
wajahnya yang tampan. Ia melangkah pelan menuju
halaman pondok. Belum jauh putra mahkota Galuh ini
berjalan satu siuran angin teramat dingin mengelus lembut
pundaknya. Ia balikan badan, pemuda ini terkejut bukan
main bilamana satu sosok berjubah putih telah bediri satu
langkah di belakangnya.
“Inyiek…,”
Orang tua berselempang kain putih berwajah jernih
dengan saluang terselip di pinggang kirinya itu menatap
tajam membuat rahardian Sanjaya siaga dan diam-diam
menyalurkan hawa murni pelindung sekadar untuk
berjaga-jaga.
“Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek ala bajajak,
habiah tahun baganti musim sandi adat jangan
dianjak.(meskipun tahun berganti dan musim berubah,
tetapi pegangan hidup janganlah lepas).”
“Iyiek. Saya belum paham apa arti dan makna
yang barusan inyiek sampaikan.”
“Ana mudo. Seiring berjalannyo waktu, wang akan
mengerti dan mamahaminyo.”
“Kalau boleh tahu siapakah nama inyek ini?”
158
Kusyoto
“Denai datuk atar basaluang batuang.”
“Kenapa dulu datuk menyerang saya?”
“Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik
sakandak hati, kabuki tarang hujanlah taduah, nan hilang
patuik dicari (sekarang telah baik, keadaan telah pulih.
Sudah waktunya menyempurnakan kehidupan).” Kembali
orang tua berjubah putih ini melantunkan pepatah
Minangnya yang serat akan arti kehidupan.
“Indak seperti kelihatannyo. Anak mudo, puluhan
tahun denai mengembara mencari orang yang berhak
denai wariskan ilmu pengobatan. Denai sudah tuo,
agaknyo wang orang yang tepat.”
“Maksud datuk?”
Orang tua berselempang kain putih yang tak lain
dari datuk Atar basaluang batuang, kakek dari Kinanti
yang selama puluhan tahun meninggalkan kampung
halamannya, pulau Suwarnabumi puncak gunung Kerinci
karena kecewa dengan sang anak yang telah dianggapnya
mencemarkan darah murni Cindaku. Ia meninggalkan
tanah Andalas dan mengembara ke pulau Jawa dengan
tujuan mencari seorang yang kelak akan diwariskan
sebuah ilmu pengobatan. Dalam pengembaraannya sudah
banyak puluhan orang yang menginginkan ilmu
pengobatannya tewas. Tidak sanggup menerima tenaga
inti dasar berupa sinar putih keperakan yang masuk ke
dalam kedua telapak tangan melalui saluangnya. Kini sang
datuk menemukan orang yang tepat. Ketika datuk Atar
basaluang batuang telah putus asa. Ia menemukan orang
yang dicarinya selama ini. Rahardian Sanjaya mampu
bertahan dari tenaga inti dasar sebagai wadah ilmu
pengobatannya.
159
Sengketa Tanah Galuh
Datuk Atar basaluang batuang kembali tatap
rahardian Sanjaya dengan tajam. Pemuda tampan ini
sampai bergidik ngeri, ia Tarik napas dalam-dalam
sekadar menetralisir kegelisahan hatinya. Sepertiga tenaga
murni dian-diam kembali disalurkan ke seluruh tubuh. Di
depannya sang datuk tersenyum. Mendadak orang tua
berjubah putih itu gerakan kedua lenganya ke depan. Dua
ekor ular tedung melesat menyerang dua anggota tubuh
mematikan sang pemuda. Rahardian Sanjaya yang sudah
siaga dari tadi kepalkan tangan kanannya siap
mengeluarkan pedang biru. Namun pemuda ini tercekat
kaget, ia merasakan kedua tanganya tidak mampu
digerakan dan tubuhnya kaku. Dua ekor ular tedung
semakin dekat, detik berikut mematuk leher dan dada
sebelah kanan putra mahkota Galuh tersebut.
Raungan setinggi langit terdengar dari mulut
rahardian Sanjaya. Tubuhnya sontak jatuh berlutut.
Dirasakanya racun ular cepat menjalar mendekati jantung.
“Ana mudo cepat salurkan hawa murni pada
jantung dan pangkal leher, usap dengan kedua telapak
tangan wang,”kata sang datuk yang langsung diikuti
rahardian Sanjaya. Rasa panas dan sakit luar biasa di dada
dan leher perlahan berobah menjadi hawa sejuk. Kedua
ular tedung yang barusan mematuknya mati dengan tubuh
kering tergeletak di tanah.
“Datuk kenapa mau membunuh saya?”
“Ana mudo wang masih belum mengerti juo.
Sudahlah denai pergi.” Seiring dengan kalimatnya, begitu
orang berjubah putih itu balikan badan, sosoknya sudah
tidak ada lagi di hadapan rahardian Sanjaya.
“Orang tua yang aneh. Datang dan pergi
semaunya.” Gumam rahardian Sanjaya lantas kembali
menuju bilik pemondokannya. Malam semakin mendekati
160
Kusyoto
dini hari hawa dingin puncak Sawal menyergap sum-sum
tulang belakang. Suasana kembali hening, sepi dan sunyi
sepertinya tidak pernah terjadi apapun sebelumnya di
tempat itu.[]
161
Sengketa Tanah Galuh
Rona Jingga di Langit Galuh
Ranghyang Purbasora atau Prabu Sora tersentak
dari tidurya. Raja berumur tujuh puluh tiga tahun yang
masih tampak gagah di usia sepuh itu merlirik sang
permaisuri Nay Citrakirana yang juga terjaga dari
tidurnya. Ia dekati sang suami yang duduk di samping
tempat tidur dengan wajah penuh keringat, napas
memburu. Dipeluknya sang suami.
“Ada apa kanda? Mimpi itu menganggu tidur
kanda lagi.”
“Benar dinda. Ini malam ke tiga, dengan mimpi
yang sama, kirim utusan ke Indraprahasta, aku ingin tukar
pikiran dengan kanda prabu Wiratara.”
“Baik kanda. Malam ini juga dinda akan mengutus
telik sandi untuk menemui adinda Wiratara di
Indraprahasta.”
“Singgasana Galuh dinda. Apakah Sanna sedang
menyusun kekuatan untuk merebut takhta Galuh kembali.”
“Sudahlah kanda. Semuanya akan baik-baik saja,
bukankah mimpi hanya bunganya tidur. Tidurlah kembali
kanda, hari masih larut.”
Ranghyang Purbasora mengangguk lemah.
Berbaring di tempat peraduannya disusul sang permaisuri
yang kini memeluknya. Tak lama raja kerajaan Galuh itu
terlelap kembali. Sang Permaisuri tatap sendu sosok lelaki
gagah di sampingnya, dalam hati ia berikir apakah wahyu
keprabon telah oncal atau pergi dari tubuh sang suami.
Sebenarnya ia pun selama tiga malam berturut-turut
bermimpi hal yang sama sebuah cahaya kuning kemasan
meningalkan singgasana suaminya menuju matahari
tenggelam.
162
Kusyoto
Pada hari yang sudah ditentukan Prabu Purbasora
mengadakan pasowanan agung di balerung singgasana
keraton Galuh. Tampak dalam pertemuan agung itu di
sebelah kanan singgasana ranghyang Bimaraksa atau ki
patih Balangantrang, putra raja resi Wanayasa yang
menjabat sebagai patih kerajan Galuh. Di sampingnya
duduk Prabu Wiratara raja kerajaan Indraprahasta yang
datang dengan anaknya rahardian Raksadewa. Di sebelah
kiri singgasana tampak ranghyang Demunawan adik
ranghyang Purbasora dan para nayaka praja juga para
bangsawan Galuh.
“Singgasana ku terbakar. Dalam gelap satu sosok
mengenggam keris menyeringai dan menertawakan diriku.
Tapi sosok itu bukan Sanna. Bagaimana menurut kanda
prabu?” kata ranghnyang Purbasora ditujukan pada prabu
Wiratara adik dari sang permaisuri Nay Citrakirana.
“Dinda prabu. Mimpi sekadar bunga tidur, jadi
janganlah perasaan mempengaruhi pikiran.” Kata prabu
Wiratara.
“Apa yang dikatakan paman prabu Wiratara benar
kanda. Itu hanya mimpi biasa. Tidak usah terlalu
dipikiran.”sela ranghyang Demunawan. Adik ranghyang
Purbasora.
“Maap gusti prabu. Hamba kurang sependapat.”
Sela rahardian Bima Raksa. Patih kerajaan Galuh yang
lebih dikenal dengan gelar Ki Balangantrang.
“Bagaimana pendapat mu. Ki patih
Balangantrang?”
Rahardian Bimaraksa perbaiki sikap duduk
sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Maap gusti prabu. Menurut hamba, mimpi
merupakan petunjuk tak tersirat dari dewata agung. Jadi
163
Sengketa Tanah Galuh
alangkah baiknya kita jangan meremehkan mimpi. Kita
harus selalu waspada, sebab kewaspadaan bagian dari
keselamatan.”
“Ki Patih Balangantrang tidak usah cemas.
Indraprahasta akan selalu membela Galuh jika terjadi
pemberontakan dan kudeta dari Sanna, bukankah begitu
ayahanda prabu?”kata rahardian Raksadewa.
“Benar apa yang dikatakan rahardian Raksadewa.
Indraprahasta akan selalu mendukung Galuh.” Kata prabu
Wiratara.
“Terimakasih kanda prabu Wiratara. Namun, ada
satu hal yang aku cemaskan.”
“Apakah itu dinda prabu?”
“Rahardian Sanjaya. Aku mempunyai pirasat ia
sedang menyusun kekuatan untuk merebut Galuh.”
“Pemuda itu sudah sejak lama tidak terdengar
kabarnya. Gusti prabu tidak usah cemas,” ujar rahardian
Raksadewa.
“Justru disitu yang saya khawatirkan,” sela ki patih
Balangantrang.
“Apa yang ki patih Balangantrang cemaskan?”
kata rahardian Raksadewa.
“Tidak ada kabar bukan berarti rahardian Sanjaya
menerima begitu saja kekalahan ayahandanya. Saya
khawatir satu saat ia akan menuntut balas kekalahan prabu
Sanna,ayahnya.”
“Apa yang dikatakan ki patih Balangantrang ada
benarnya. Sekian lama rahardian Sanjaya menghilang dari
Kalingga Utara. Saya menaruh curiga ia sedang menyusun
kekuatan,” kata ranghyang Demunawan yang sedari tadi
diam mendengarkan.
164
Kusyoto
“Lalu apa yang harus kita lakukan dengannya?”
“Gusti prabu. kita harus mencari dan mengetahui
keberadaan rahardian Sanjaya. Kita selidiki apakah ia
sedang menyusun kekuatan,” kata ki patih Balangantrang.
“Baiklah kalau itu yang terbaik buat Galuh. Kirim
telik sandi dan beberapa pendekar istana untuk melacak
keberadaan rahardian Sanjaya. Jika ia terbukti menyusun
kekuatan untuk merongrong Galuh. Kalian tahu apa yang
harus dilakukan terhadapnya.”
“Sendika gusti prabu.”
“Baik pisowanan agung hari ini aku rasa cukup.
Silahkan kembali ke tempat masing-masing. Kanda prabu
Wiratara aku harap tetap berada di ruangan ini.”
“Tandya gusti prabu…,” kata semua yang hadir.
Satu persatu mereka meninggalkan balerung singgasana.
Kini di ruangan singgasana hanya ada ranghyang
Purbasora dan prabu Wiratara.
“Kanda prabu. Bagaimana dengan enam ribu
pasukan yang dijanjikan itu?”
“Dinda prabu tidak usah khawatir. Saya telah
menyiapkannya di satu tempat.”
“Aku tenang sekarang kanda prabu.”
Prabu Wiratara menganguk. Ia lantas pamit dan
berlalu meningalkan ranghyang Purbasora menuju bilik
peristirahatan. Kini tinggal ranghyang Purbasora yang
masih duduk tenang-tenang di atas singgasananya.
Perlahan ia turun dari singgasana berjalan menuruni
undakan singgasana ketika penguasa Galuh itu sampai di
bawah ditatapnya singgasana itu dengan dada
berkecamuk. Singgasaana yang ada di hadapannya itu
165
Sengketa Tanah Galuh
sebelumnya diduduki prabu Sanna atau prabu
Bratasenawa.
“Jika Sanna akan merebut singgasana. Ia harus
berhadapan dengan ku,” gumam ranghyang Purbasora
sambil mengepalkan kedua tanganya. Ia tidak pernah
menduga justru ancaman yang sebenarnya datang dari
rahardian Sanjaya putra Sanna.
-o0o-
Malam belumlah larut di ruang peraduannya
rahardian Bima Raksa atau ki patih Balangantrang duduk
terpekur setelah bersantap malam. Istri dan kedua anaknya
tujuh hari yang lalu diungsikan ke tempat ayahandanya di
padepokan Telaga Denuh. Lelaki kekar dengan
pembawaan tenang ini menghela napas panjang. Segar
dalam ingatannya tujuh hari lalu ketika sedang berada di
pendopo empat orang muda-mudi menemuinya. Mereka
tidak lain dari empat murid utama padepokan telaga
Denuh, di mana sang ayah raja resi Wanayasa menjadi
pemimpinnya.
“Rahardian kami utusan eyang resi Wanayasa.
Nama saya Harsa Manggala dan ini ketiga saudara
seperguruan saya. Nandana Juna, Caya Pata dan Ranjani
Sidi.”
“Ada apakah ayahanda resi mengutus kalian
menemui ku?”
“Eyang resi Wanayasa menulis surat untuk
rahardian,” kata Harsa Manggala. Dari balik pakaian
ringkasnya pemuda gagah ini keluarkan sebuah bumbung
bambu lalu diberikannya pada rahardian Bima Raksa.
Patih kerajaan Galuh itu langsung membuka tutup
bumbung bambu, mengeluarka rangkiana daun rontal dan
mulai membaca.
166
Kusyoto
“Ananda Bima Raksa, salam sejahtera untuk
ananda sekeluarga. Semoga dewata agung selalu
melindungi ananda dan keluarga. Sekadar berjaga-jaga
anak dan istri ananda segera ungsikan ke padepokan telaga
Denuh. Ayahanda kirim keempat murid utama padepokan
untuk pengawalan. Salam sejahtera dari ayanada. Semoga
dewata agung selalu melindungi ananda. Salam sejahtera,
raja resi Wanayasa.”
Rahardian Bima Raksa lipat daun rontal dan
memasukannya kembali ke dalam bumbung bambu.
“Apa maksud ayahanda raja resi. Apakah kalian
tahu?”
“Kami hanya menjalankan perintah mengantarkan
surat itu, rahardian.” Jawab Harsa Manggala.
“Baiklah saya percaya ini tulisan tangan ayahanda
resi Wanayasa. Saya percayakan keselamatan keluarga
saya pada kalian berempat.”
“Kami akan melakukannya dengan sabaik-baiknya.
Rahardian,” jawab keempatnya bersamaan. Maka pada
hari itu juga anak dan istri rahardian Bima Raksa ikut
keempat murid utama padepokan telaga Denuh
meninggalkan gedung kepatihan.
Rahardian Bima Raksa tersentak dari lamunanya
begitu seorang prajurit jaga dalem mengetuk pintu kamar
dan memberitahukan sang prabu ranghyang Prabu Sora
hendak menemuinya secara empat mata. Lelaki gagah ini
mengangguk pelan. Tanpa diketahui siapapun ia
berkelebat meninggalkan kamar biliknya lewat jendela
rahasia yang ada di atap bangunan. Sosoknya tampak
samar berlari ringan diantara wuwungan bangunan istana.
Di satu tempat ia hentikan langkah. Di bawah pohon
beringin besar ia perhatikan sejenak situasai sekeliling
167
Sengketa Tanah Galuh
dirasa aman iapun menerobos masuk diantara celah dua
batu yang berada diantara akar beringin. Ia berlari melalui
lorong-lorong yang diterangi obor. Ketika sampai di ujung
lorong mata lelaki gagah itu memebentur satu pintu kayu
tebal brukir setelah diketuk dengan katukan sandi rahasia
pintu itu terbuka ke samping kanan dan menutup kembali
bilamana rahardian Bima Raksa sudah berada di
dalamnya.
“Gusti prabu.” sembah rahardian Bima Raksa di
hadapan lelaki tua gagah yang duduk bersila di
hadapannya.
“Bima Raksa. Dengarkan sabda ku, akupun
merasakan apa yang kau khawatirkan. Kau benar, mimpi
merupakan pertanda tak tersirat dari dewata agung. Mimpi
itu sudah jelas memberikan gambaran nasib Galuh
selanjutnya. Aku sadar, wahyu keprabon sudah
meninggalkan diriku. Cepat atau lambat Galuh akan jatuh
dan dikuasai musuh. kelak akan lahir raja agung yang akan
menguasai tanah Jawa dan Pasundan. Di tangannya Galuh
menuju puncak kejayaan.”
“Apakah gusti prabu mengetahui siapa raja agung
itu?”
Rahyang Purbasora menganguk pelan.
“Siapakah raja agung itu, gusti prabu?”
“Biarkan misteri dan rahasia dewata agung tetap
menjadi misteri di balik misteri, rahasia di balik rahasia.”
“Lalu apa yang harus hamba lakukan. Gusti
prabu?”
Dari balik pakaiannya ranghyang Purbasora
mengeluarkan sebilah kujang cangak bersarung dan
bergagang emas. Kujang cangak itu lantas diserahkan pada
rahardian Bima Raksa.
168
Kusyoto
“Kujang naga kulilo merupakan pusaka kerajaan
Galuh. Selamatkan kujang cangak itu. Kelak kau akan
memerlukannya untuk kembali menegakkan kebesaran
Galuh.”
“Apa tidak sebaiknya gusti prabu mengungsi
terlebih dahulu ke tempat aman.” Kata ki patih
Balangantrang sambil menyelipkan senjata pusaka Galuh
kebalik pakaiannya.
“Ki patih Balangantrang. Dengar, seorang raja
dianggap terhormat jika mempertahankan kerajaannya
sampai titik darah penghabisan. Aku seorang raja, akan
aku bela takhta ini sampai akhir hayat. Ingat pesan ku ki
patih Balangantrang. Jika terjadi peristiwa di Galuh, kau
harus mengungsi ke daerah Geger Sunten. Himpunlah
kekuatan, bila waktunya tiba kau harus merebut kembali
takhta Galuh.”
“Gusti prabu begitu yakin. Galuh akan dikuasai
musuh.”
“Laksanakan saja titahku. Ki patih Balangantrang.
“Semua titah gusti prabu akan hamba jungjung
tinggi.”
“Bagus. Ki patih Balangantrang.”
“Kalau begitu hamba mohon pamit.”
Rahyang Purbasora mengangguk pelan. Setelah
menyembah sosok lelaki gagah ki patih Balangantrang
melesat meninggalkan ruang rahasia bawah tanah tersebut.
-o0o-
169
Sengketa Tanah Galuh
Debur ombak silih berganti menghempas karang
terjal yang terdapat di sepanjang pulau Liang Naga.
Markas besar bajak laut Naga Merah meremang disaput
halimun tipis yang melayang-layang diantara pepohonan
waru laut, tanaman bakau dan kayu api-api. Satu sosok
tinggi besar berselubung kain hitam tampak berdiri di atas
puncak suar. Lelaki itu adalah Warok Sampar Kombayoni.
Setelah pembelotan yang dilakukan rekannya Nyai
Tenung Ireng hingga perempuan cantik berjubah sutra
hitam itu pergi bersama orang-orang yang menyelamatkan
Candrika dan Niluh Arundya. Warok Sampar Kombayoni
seperti kehilangan separuh jiwanya. Tiap hari lelaki tinggi
besar itu sering melamun di atas puncak suar sambil
memebayangkan wajah Nyai Tenung Ireng yang selama
ini diam-diam dicintainya.
“Nyai. Apakah kau tidak pernah menyadari.
Selama ini aku begitu mengagumimu. Kini kau pergi.
Hatiku sepi,” desah lelaki ini sambil mengucek rambut
dengan kedua tangannya.
Antara Warok Sampar Kombayoni, Nyai Tenung
Ireng dan Datuk Jerangkong Hitam adalah saudara
seperguruan ketika sama-sama berguru pada seorang tua
aneh bergelar Ki Suduk Prawira yang berdiam di pantai
selatan. Belasan tahun ketiganya mempelajari ilmu
kanuragan dan kesaktian pada orang tua aneh tersebut. Di
sana Warok Sampar Kombayoni mulai mengagumi
saudara seperguruannya itu. Bukanya tidak tahu,
sebenarnya Nyai Tenung Ireng atau Sondari sebetulnya
sadar saudara seperguruannya mencintai dirinya. Namun
karena ia masih menaruh harapan pada seorang perwira
kerajaan Tarumanagara yang dikenalnya ketika melakukan
pengamanan dan pengawasan pada daerah yang dikuasai
Tarumanagara kala itu ia mengabaikan perhatian Warok
Sampar Kombayoni. Begitu ketiganya berhasil memiliki
170
Kusyoto
hampir semua ilmu kanuragan dan kesaktian ki Suduk
Prawira agar tidak ada lagi orang yang mempelajari ilmu
langka kakek tersebut ketiganya sepakat membunuh
gurunya sendiri dengan menaruh racun pada makanan dan
minuman ki Suduk Prawira.
Warok Sampar Kombayoni yakin. Cepat atau
lambat pasukan kerajaan Sunda Sembawa akan datang
menuntut balas akan kematian putra mahkota. Ia berharap,
diantara pasukan Sunda itu Nyai Tenung Ireng ikut andil
dalam penyerangan terhadap grombolan bajak laut Naga
Merah, ia tidak perduli apapun yang akan terjadi dengan
dirinya asal bisa melihat kembali Nyai Tenung Ireng
walau tahu wanita yang sangat dicintainya itu kini menjadi
musuhnya. Lelaki tinggi besar ini mendengus panjang
tanganya tiba-tiba bergerak ke samping ujung trisula telah
menempel di pangkal leher seseorang yang ada di
belakangnya.
“Warok Sampar Kobayoni. Kau masih memikirkan
dirinya.” Kata seorang lelaki jangkung berwajah hitam.
“Datuk Jerangkong hitam. Sekali lagi kau buat
kaget diriku putus kepala dari lehermu itu.”
“Hahah…, lain yang ditanya lain yang dijawab.”
“Sudahlah apa peduli mu.”
“Kau mengharapkan dia muncul bersama pasukan
Sunda yang akan menyerang kemari bukan?”
“Jaga bicara mu Jerangkong. Sudahlah kau
perhatikan saja apakan pasukan Sunda sudah datang.”
“Kalau sudah datang apakah kau sudah
mempersiapkan penyambutan untuknya.”
Warok Sampar Kombayoni tak menggubris ejekan
rekanya. Lelaki tinggi besar itu lantas tingglkan Datuk
171
Sengketa Tanah Galuh
Jerangkong Hitam yang masih tertawa-tawa sambil
membolang-baling tongkat besi hitamnya.
Malam merambat ke puncaknya. Dini hari nan
sepi, hanya debur ombak dan siur angin laut terdengar
menderu sambung menyambung. Suasana alam masih
sangat sunyi, lengang dan sepi. Warok Sampar
Kombayoni masih terjaga di atas suar sedang rekannya
Datuk Jerangkong Hitam sudah sejak dari tadi tertidur
memeluk tongkat hitamnya, saat itulah dari lamping
perbukitan karang sebelah timur puluhan prajurit Sunda
Sembawa di bawah pimpinan langsung rahardian Sanjaya
melakukan penyerangan. Dalam waktu singkat
pertempuran antara prajurit Sunda Sembawa dan anggota
bajak laut Naga Merah berkecamuk.
Beberapa anggota bajak laut Naga Merah yang
belum siap menjadi korban sia-sia. Tubuh-tubuh
bergelimpangan penuh luka. diantara deru melesatnya
ribuan anak panah sosok Warok Sampar Kombayoni
melesat sebat. Kaki dan tangannya bekerja cepat
merobohkan prajurit-prajurit Sunda. Semantara Datuk
Jerangkong Hitampun tidak mau ketinggalan.
Menggunakan tongkat besi hitam andalanya lelaki
jangkung hitam itu melesat ke sana ke mari mamapasi
puluhan anak panah yang menyerangnya.
Sesosok bayangan berkelebat cepat begitu jejakan
kaki di tanah seorang lelaki muda berpakaian ringkas telah
berdiri di hadapannya.
“Taruma Udaka.” Geramnya.
“Tumenggung Brajamadenta. Jadi tuan besar itu
adalah dirimu. Kau telah memfitnah ku.”
“Hahaha…, terserah apa kata mu Taruma.
Kebetukan kau datang sendiri jadi aku tidak susah menceri
172
Kusyoto
mu. Terimalah pembalasan atas tewasnya senapati Ampal.
Adikku.”
“Jadi kau kakaknya senapati Ampal.”
“Tepat sekali. Kini terimalah bubuk pembalik
ingatan,” dengus Tumenggung Brajamadenta. Lelaki
tinggi besar itu keruk sesuatu dari saku jubahnya satu
bubuk putih menderu ke arah Taruma Udaka. Saat itulah
sekelbatan bayangan hitam memapasi laju bubuk. Jubah
hitam yang dikenakannya berkibar, angin yang
ditimbulkan dari kebutan jubah membalikan bubuk
pembalik ingatan pada pemiliknya. Senjata makan tuan.
Tumenggung Brajamadenta tidak mengira
serangan balik bubuk pembalik ingatan miliknya itu kini
menerjangnya. Lelaki tinggi besar itu lentingkan badan ke
belakang pasang kuda-kuda serendah tanah kedua tangan
di kembang ke samping mulut terbuka menghisap bubuk
putih yang melesat pada dirinya. Hebat…, seluruh bubuk
putih masuk amblas ke dalam mulut dan
menyemburkannya ke samping kiri. Namun ia segera
menjerit kaget luar biasa ketika semburan air dingin yang
ditampung pada bumbung bambu melanda dirinya. Air di
dalam bumbung bambu itu adalah air hujan. Air
pantangan.
Tubuh tinggi besar Tumenggung Brajamadenta
sontak lunglai terjermbab di tanah seperti kapas basah.
Bersamaan dengan itu guci perak dan guci tembaga yang
ada di balik pakiannya meledak mengepulkan asap berbau
stanggi. Trauma Udaka segera menotok pangkal leher
Tumengung Brajamadenta lalu menyerbu ke dalam
bangunan utama menyusul Arimbi adiknya dan hulu jurit
Kebo Sempani yang sudah ada di dalam bersama
rahardian Sanjaya.
173
Sengketa Tanah Galuh
Arimbi bersama hulu jurit Kebo Sempani sudah
masuk ke dalam bangunan yang terbuat dari batu cadas. Ia
ingat betul ditempat inilah dulu ia dirobohkan oleh bubuk
pembius. Saat ini ia sudah membekali penawar bubuk itu.
sebelum menyerbu ia dan seluruh pasukan telah
mengguyur diri dengan air hujan. Kelemahan bubuk
pembius dan bubuk pembalik ingatan sudah diketahui dari
kitab pusaka retuning balasarewu.
Datuk Jerangkong Hitam mengamuk. Tiap tongkat
besi hitamnya bergerak, dua tiga prajurit Sunda tumbang
berklukuran. Saat itulah sekelebatan bayangan hitam
menerjang dirinya.
“Nyai Tenung Ireng. Penghianat,” geram lelaki
kurus hitam itu sambil menyerbu dengan senjata
andalanya. Tongkat besi hitam. Pertarungan antara saudara
seperguruan itupun berlangsung dengan sengit. tiga puluh
jurus berlalu, sebuah hantaman tongkat berhasil dielakan
wanita berjubah hitam ini namun sebuah tendangan
beruntun melanda dadanya hinga ia terjengkang jatuh
duduk. Tongkat besi hitam siap menebus tubuh Nyai
Tenung Ireng satu sosok tinggi besar menghadang tak ayal
tongkat menembus telak dada orang yang tak lain dari
Warok Sampar Kombayoni.
“Warok…!” Nyai Tenung Ireng hanya mampu
berteriak dari tempatnya. Ia tidak menyangka Warok
Sampar Kombayoni menjadi tameng maut melindungi
dirinya.
“Warok…, warok,” jerit wanita berjubah sutra
hitam itu histeris. Ia segera menubruk saudara
seperguruannya itu.
“Aku bahagia…, bisa…, mati di atas, pangkuan
mu…, nyai. Aku…, aku, masih tetap mencintai mu…,”
174
Kusyoto
seiring dengan ucapan terakhirnya, nyawa Warok Sampar
Kombayoni lepas meninggalkan jasad.
“Kau telah membunuhnya, iblis…!”
Datuk Jerangkong Hitam ganda tertawa. Wanita
berjubah sutra hitam tersentak dengan tawa yang
diperdengarkan lelaki tinggi kurus hitam itu. Seakan ada
rasa menang juga kepuasan tersendiri. Setelah
membaringkan tubuh Warok Sampar Kombayoni di tanah,
ia bangkit dan langsung menyerang lawannya. Selendang
sutra hitam menderu ganas mengincar titik mematikan
lawan.
Tongkat besi hitam menderu mengincar titik lemah
lawan. Nyai Tenung Ireng yang telah menyaksikan
saudara seperguruannya itu tewas sedemikian rupa
menjadi kalap. Rasa kehilangan perlahan menelusup pada
sanubarinya. Itulah…, kadang setelah orang yang kita
anggap tidak penting di kala hidup akan begitu berarti
ketika ia tiada lagi, Nyai Tenung Ireng baru sadar bahwa
iapun sebetulnya begitu menyayangi Warok Sampar
Kombayoni. Semuanya terlambat sudah. Penyesalan tiada
guna. Kini kemarahan Nyai Tenung Ireng tumpah pada
Datuk Jerangkong Hitam. Setelah membentak satu kali
selendang diputar sedemikian rupa menciptakan ribuan
bayangan selendang inilah jurus sampur seribu bayang
jurus pamungkas. Lelaki tinggi kurus hitam tersentak ia
tidak menyangka Nyai Tenung Ireng benar-benar akan
menghabisinya. Seperti diketahui jurus maut ini
mengandung tenung atau sihir hitam sangat ganas. Orang
yang kena pengaruhnya tidak akan bertahan melewati tiga
jurus di muka. Benar saja, dijurus yang ketiga selendang
sutra hitam Nyai Tenung Ireng melesat sebat. Lelaki tinggi
kurus hitam belalakan mata. Selendang telak menghujam
dadanya.
175
Sengketa Tanah Galuh
Lelaki ini roboh ke tanah. Aneh, senyum tipis
menyeruak dari sudut bibirnya.
“Aku lega, Sondari…,walau kita tidak
dipersatukan di dunia ini, aku yakin di alam yang akan
datang kita pasti bersama…,” seiriang ucapannya yang
disertai seringai dan tawa menyeramkan roh tokoh jahat
luar biasa ini lepas dari jasadnya.
Nyai Tenung Ireng terhenyak ia tidak menyangka
sama sekali, Datuk Jerangkong Hitam pun ternyata diam-
diam mencintainya. Perempuan cantik berjubah sutra
hitam ini terkulai lemas, Senapati Yuda Karna segera
memapahnya ke tempat aman. Saat itulah satu gulungan
kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut sejauh mata
memandang dari dalam kabut muncul satu sosok orang tua
berselempang kain putih dialah roh tokoh aneh dari pantai
selatan, ki Suduk Prawira. Guru dari Nyai Tenung Ireng
dan dua saudara seperguruannya yang telah tewas.
“Guru…,”
“Sondari…, saatnya penebusan dosa, kembalilah
ke goa pantai selatan. Tunggu aku di sana.”
“Baik guru.”
Orang berselempang kain putih tersenyum.
Kemudian pupus menjadi bayangan perlahan hilang dari
pandangan.
“Kakang Yuda Karna. Saya pamit untuk menebus
semua dosa yang pernah saya lakukan pada guru di pantai
selatan.”
“Pergilah Sondari. Jika semua ini selesai aku akan
menjemput mu di pantai selatan.”
Sondari atau Nyai Tenung Ireng menganguk pelan.
Sekali jejakan kakinya di tanah sosoknya kini melesat
176
Kusyoto
sebat mengikuti sosok bayangan samar roh mendiang
gurnya tersebut.
Semantara itu pertempuran antara pasukan
kerajaan Sunda yang dipimpin langsung Rahardian
Sanjaya menumpas gerombolan bajak laut Naga Merah
telah berhasil memusnahkan seluruh anggota bajak laut
ganas tersebut. Tumengung Brajamadenta segera dibawa
ke Sunda Sembawa untuk mempertanggung jawabkan
perbuatannya. Saat itulah sekelebatan bayagan melesat
dan dua orang muda-mudi kini tegak di hadapan Taruma
Udaka.
“Taruma,” sapa salah seorang dari muda-mudi
yang tak lain dari Candrika dan Niluh Arundaya yang
ingatannya pulih begitu guci perak dan guci tembaga milik
Tumenggung Brajamadenta meledak karena terkena
siraman air hujan sebagai pantangan atau penawar bubuk
pembius dan bubuk pembalik ingatan.
“Apakah kalian sudah mengenali diriku?”
“Bicara apa kau Taruma. Tentu saja kami
mengenal mu,” kata Niluh Arundaya.
“Syukurlah kalau begitu. Oh iya, apakah kalian
melihat ayahanda Rajendra?”
“Saya di sini Taruma.”
Sekelebatan bayangan melesat dari balik lamping
batu cadas. Lelaki gagah pemilik tatapan teduh itu
tersenyum sambil merentangkan kedua lenganya.
“Ayahanda Rajendra.”
Ayah dan anak yang telah terpisah beberapa lama
itu kini telah berkumpul kebali.
“Dimana Arimbi, adik mu itu Taruma?”
177
Sengketa Tanah Galuh
“Saya di sini ayahanda.” Kata gadis cantik itu lalu
menghambur masuk dalam pelukan ayahnya.
“Syukurlah kalian semua selamat.” Kata rahardian
Sanjaya yang kini telah bergabung.
“Apa rencana rahardian sekarang?”
“Saya akan kembali ke puncak gunung Sawal. Jika
waktunya sudah tepat saya akan membuat perhitungan
dengan paman prabu ranghyang Purbasora.”
“Baiklah rahardian, kamipun akan kembali ke
Sunda Sembawa.”
“Sampaikan salam saya pada gusti prabu
Tarusbawa.”
“Akan saya sampaikan rahardian,” kata rakeyan
kanuruhan Rajedra.
Dan merekapun kembali ke tempatnya masing-
masing. Rahardian Sanjaya bersama pasukanya ke puncak
gunung Sawal sedangkan rombongan Taruma Udaka dan
ayahnya kembali ke Sunda Sembawa.
-o0o-
Tujuh tahun setelahnya. Rahardian Sanjaya
bersama pasukan Kalingga Utara dan Kalingga Selatan di
bantu para perwira Galuh yang masih setia pada prabu
Sanna mulai meninggalkan puncak pegunungan Sawal
menuju pusat kerajaan Galuh. Pada tengah malam
pertempuran sengit antara pasukan yang dipimpin
langsung rahardian Sanjaya melawan pasukan Galuh
berjalan dengan sangat dramatis. Dari samping singgasana
diantara api yang berkobar-kobar muncul sosok rahardian
Sanjaya menggengam sebilah keris. Mimpi ranghyang
Purbasora menjadi kenyataan.
178
Kusyoto
Ketika fajar menyingsing di cakrawala timur.
Rahardian Sanjaya berhasil menguasai istana Galuh. Satu-
satunya bangsawan Galuh yang lolos dari maut adalah
ranghyang Bima Raksa atau Ki Balangantrang. Sesuai
titah ranghyang Purbasora ia bersama sedikit prajurit
pengawal mengungsi ke Geger Sunten. Kelak di kemudian
hari lewat tangan Manarah atau Ciung Wanara. Ki
Balangantrang merencanakan kudeta terhadap Prabu
Sanjaya yang kala itu sudah menjadi raja Mataram
Kuno.[]
Selesai
Indramayu, 2021
179
Sengketa Tanah Galuh
Tentang Penulis
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Akhirnya, penulis bisa balik lagi dengan karya terbaru
dengan judul: Sengketa Tanah Galuh (Pustaka Ratuning
Balasarewu)
KUSYOTO, lahir di Indramayu 02
Juli 1977 bergiat di Dewan
Kesenian Indramayu, Komite
Sastra, beberapa tulisannya baik
puisi dan cerpen di muat di
berbagai media Koran dan majalah
nasional, menulis baginya adalah
sebuah terapy hati dan ajang
silaturahim dalam menyampaikan
ide, pesan dan gagasan, selain
menulis cerpen dan puisi ia juga menulis novel genre
fiksi Sejarah, ia juga seorang paramedik di sebuah
Rumah Sakit swasta di bilangan Indramayu, Bergiat di
LBSD (Lembaga Basa dan Sastra Dermayu)
Bergiat di LKI (Lembaga Kesenian Indramayu)
Bergiat di FORMASI (Forum Masyarakat Sastra
Indramayu)
ALAMAT PRAKTIK PENULIS
Rumah Sakit MM. INDRAMAYU. Jl.LetJen. Soeprapto
No.292 Kelurahan Kepadean, Kec. Indramayu. Samping
PDAM. Indramayu.
ALAMAT RUMAH PENULIS
Jl. Larangan-Tugu, desa Tugu, Kecamatan Lelea,
Kabupaten Indramayu 45261 Jawa Barat
No. Hp/Wa. 081380790380.
Akun Fb. Kusyoto, Kyt
Email. [email protected]
180
Kusyoto
181