Kusyoto
“Saat ini sebagian anggota naga merah sedang
membajak kapal dagang Kalingga. Ini kesempatan kalian
membebaskan para tawanan, temanmu dan tentu saja ayah
mu. Pakaialah perahu kecil. Susuri teluk Mandeh sampai
muara. Sekitar satu hari perjalanan kalian akan sampai di
sebuah pulau kecil bernama pulau ular. Penduduk
setempat menamakanya pulau liang naga. Di sanalah para
tawanan itu kami tempatkan.” Nyai Tenung Ireng menarik
napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan
setelah menyelesaikan kalimatnya. Wajah perempuan
berjubah sutra hitam itu tampak puas.
“Nyai. Kenapa kau lakukan semua ini?”
“Tidak ada waktu lagi. Cepatlah bergerak den
ayu.”
Sumirah yang tidak lain dari Arimbi masih
tertegun di tempatnya. Ia tidak habis pikir mengapa wanita
yang dikenal paling ganas di kelompok naga merah itu
justru memberi tahu dimana para tawanan dari Sunda
Sembawa itu di sekap.
“Bagaimana saya bisa yakin, ini bukan sebuah
jebakan.”
Nyai Tenung Ireng tersenyum. Dari balik
pakiannya ia keluarkan sebilah pedang perak. Di badan
pedang tergurat lebah dalam lingkaran.
“Den ayu tentu mengenal siapa pemiliknya?”
“Senapati Yuda Karna,” gumam Sumirah dalam
hati. “Ada hubungan apa antara senapati Yuda Karna
dengan perempuan ini.”
“Cepatlah den ayu.”
“Baiklah,” tanpa banyak berpikir dan membuang
waktu Sumirah segera kelebatkan tubuhnya. Sosok
101
Sengketa Tanah Galuh
mungilnya terlihat jauh di lamping perbukitan sebelah
selatan.
“Ilmu meringankan tubuh yang sempurna,” gumam
Nyai Tenung Ireng lantas ia berpaling pada bi Saromah.
“Cepat pergi bi, bawa semua perempuan dari
tempat ini.”
Bi Saromah mengangguk kemudian berlalu
meninggalkan Nyai Tenung Ireng yang masih berdiri
mematung di tempatnya.
“Kakang Damar Sindu, tidak usah bersembunyi.
Keluarlah.”
Belum kering teriakan Nyai Tenung Ireng dari
tenggorokannya, dari samping semak perdu melesat satu
bayangan tiga langkah dari wanita berjubah sutra hitam
satu sosok tegap berjubah hitam bercaping bambu
menatapnya dengan berjuta arti.
“Kau telah melakukan hal yang tepat,
Sondari.”kata lelaki yang tak lain dari Senapati Yuda
Karna.
“Saya tidak mengira senapati Yuda karna itu
adalah kakang Damar Sindu, ketika kakang Sindu,
Sempani dan Taruma Udaka serta den ayu Arimbi saya
lihat pada dini hari itu. saya semakin yakin kakanglah
orang yang selama ini saya nantikan.”
“Sundari maapkan saya….”
“Jangan kau teruskan kalimat mu kakang, saya
sudah melupakan masalah itu.”
“Sekian tahun aku meninggalkan dirimu tanpa
kabar hingga kau memilih jalan sesat. Itu semua salahku
Sondari.”
102
Kusyoto
Wanita berjubah sutra hitam tersenyum. Perlahan
digenggamnya telapak tangan lalaki tegap bercaping
bambu itu dengan mesra.
“Melihat dirimu tak kurang satu apa. Cukup
membuat hati ku bahagia, kakang.”
“Setelah semua ini selesai. Aku akan menemui
ayah mu.”
“Kami bertiga akan menunggu mu di sana.”
“Kami bertiga. Maksud mu?”
“Ia kini sudah berumur lima tahun kakang.”
“Anak ku?”
Wanita berjubah sutra hitam mengangguk.
“Siapa namanya?”
“Damar Alit.”
“Sondari segera kau tinggalkan tempat ini. Cepat
atau lambat pasukan kerajaan akan datang menyerbu ke
mari. Tunggu aku kembali di tempat ayah mu.”
Sondari menganguk penuh haru. Dipandanginya
senapati Yuda Karna cukup lama ia lantas ingat pedang
yang masih digenggamnya, diserahkan pedang itu pada
lelaki tegap di hadapannya setelah itu sososknya terlihat
jauh di lamping perbukitan cadas sebelah utara.
“Bagaimana pedangku bisa ada pada Sondari,”
gumam Senapati Yuda Karna sambil memasukan
pedangnya pada warangka kemudian berlalu dari tempat
itu.
-o0o-
103
Sengketa Tanah Galuh
Lima purnama sudah Abilawa dan Kinanti
digembleng jurus sepasang cakar harimau oleh wanita
berwajah tegas yang tak lain dari ibu kandung Kinanti
juga istri mendiang gurunya Senapati Perkutut Kapimonda
di sebuah goa batu alam. Sesuai dengan nama jurusnya
sepasang cakar harimau, jurus ini harus diperagakan
secara perpasangan dan saling mengisi. Kebersamaan
pasangan muda-mudi selama dalam gemblengan sang guru
lambat laun menimbulkan benih-benih kasih lebih dari
sekadar seorang saudara perguruan.
Abilawa walau pada awalnya sangat mengagumi
Arimbi kini ia harus berpikir realistis, mengukur diri, siapa
dirinya dan siapa Arimbi yang notabenenya merupakan
putri seorang bangsawan Sunda Sembawa semantara
dirinya hanyalah anak angkat mendiang gurunya, ia masih
gelap siapa jati dirinya, siapa ia sebenarnya, siapa ayah
dan ibunya. Sejak kecil, sejak ia ingat selama itulah ia
haya tahu ia adalah anak angkat dari Senapati Perkutut
Kapimonda. Bahkan menjelang akhir hayat, sang guru
belum sempat menceritakan riwayat dan sejarah awal
bagaimana dirinya bisa diangkat anak oleh Senapati
Perkutut Kapimonda. Kini harapan itu tercurah pada Nyai
gurunya, Anggoni Maloka. Abilawa berharap istri
mendiang gurunya itu dapat menceritakan ihwal siapa jati
dirinya.
“Kalian telah menyempurnakan jurus sepasang
cakar harimau dengan baik. Walau belum sempurna
namun cukup sebagai bekal kalian dalam mengeban tugas
kerajaan,” kata wanita berwajah tegas yang duduk di atas
lempeng sebuah batu pipih segi empat.
“Terimakasih ibu. Kini saya semakin yakin mampu
menjalankan tugas itu.”
104
Kusyoto
“Meski begitu kalian berdua harus sering berlatih
dan berlatih. Hapal jurus saja belum cukup, harus
ditunjang dengan olah napas dan olah batin sehingga jurus
itu merasup jauh ke dalam sumsum, darah, tulang dan
daging kalian.”
“Saya mengerti nyai guru.”
“Bilawa, sejak kemarin ambo perhatikan
sepertinyo ado sesuatu yang ingin di tanyakan oleh kau”
Abilawa tertegun beberapa kejap, hatinya
mendadak berdebar detak jantungnya berpacu lebih cepat,
ia berpikir agaknya hari inilah waktu yang tepat untuk
menanyakan semua itu. maka sebelum ia menjawab
pertanyaan nyai gurunya terlebih dulu pemuda gagah itu
menarik napas sangat panjang sekadar mengatasi gemuruh
perasaannya.
“Nyai guru sangat waskita. Memang ada sesuatu
yang ingin saya tanyakan.”
“Apo yang ingin kau tanyakan, Bilawa?”
“Apakah mendiang guru pernah menceritakan
riwayat jati diri saya pada nyai guru?”
Untuk beberapa kejap lamanya wanita berwajah
tegas ini terdiam. Dipandanginya lekat-lekat Abilawa.
Desahan berat meluncur dari rongga dada wanita berjubah
hitam berwajah tegas tersebut.
“Mungkin sudah waktunya,” gumamnya. “Baiklah
Abilawa, ini saat yang tepat mengetahui jati diri kau,
kisah ini diceritakan guru kau puluhan tahun lalu sebelum
Kinanti lahir. Masa itu Kerajaan Tarumanagara masih
Berjaya dan terus melebarkan kekuasaannya menaklukan
daerah dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya….
Wanita paruh baya berwajah tegas mulai bercerita.
105
Sengketa Tanah Galuh
Dini hari nan kelam. Angin dingin pegunungan
Salaka begitu mencucuk persendian. Obor sewu meliuk-
liuk pada tiap sudut bangunan istana Aruteun sedang
beberapa prajurit jaga tampak terkantuk memeluk senjata
menahan gigil. Kabut dari lereng Salaka semakin banyak
berkumpul menenggelamkan istana Aruteun. Pada saat
itulah dari balik kabut muncul banyak sekali obor, puluhan
prajurit Tarumanagara berloncatan dari atas benteng dan
pertempuran antara balatentara Tarumanagara dan prajurit
Aruteun berkecamuk dengan sengit.
“Gusti prabu…, ampun gusti prabu,” teriak
beberapa prajurit sambil menyembah sang raja yang
terjaga dari tidurnya.
“Ada apa prajurit?”
“Pasukan Tarumanagara dalam jumlah besar
berhasil menjebol benteng utama.”
“Perintahkan seluruh prajurit khusus melawan
sampai titik darah penghabisan.”
“Sudah terlambat gusti prabu. Sebaiknya gusti
prabu dan permaisuri segera meninggalkan keraton,
mengungsi. Keraton sudah dikuasai musuh.”
“Amankan permaisuri dan putra mahkota.” Kata
sang prabu berjalan cepat menyongsong musuh. Sambil
menenteng pedang. Raja Aruteun itu tampak gagah berani
menghadapi musuh yang mulai merangsek ke dalam
keraton. Tampa membuang waktu prajurit yang
diperintahkan menyelamatkan permaisuri dan putra
mahkota segera berindak. Bersama puluhan kerabat
keraton lainnya melalui jalan rahasia mereka
meninggalkan istana Aruteun yang gegap gempita karena
peperangan.
106
Kusyoto
Di satu hutan kecil di pinggir sungai berarus deras
rombongan permaisuri itu di hadang puluhan prajurit
Tarumanagara. Pertempuan pun berkecamuk dengan
sengit namun apalah daya prajurit-prajurit Tarumanagara
lebih tangguh akhirnya seluruh pasukan Aruteun tumpas
habis termasuk sang permaisuri. Mendadak dari dalam
kereta terdengar tangisan orok. Dengan sigap salah satu
prajurit Tarumanagara masuk ke dalam kereta menemukan
seorang orok dalam bedungan. Seringai dingin membersit
dari sudut bibir prajurit tersebut tanpa belas kasih bilah
pedang yang masih berlumuran darah itu ditebaskan pada
sosok mungil di hadapannya. Sekejap lagi kepala sang
orok lepas dari badannya. Saat itulah….
Tranggg…!
Pedang prajurit itu mental entah kemana. Kini
dihadapannya berdiri satu sosok gagah mamakai baju jirah
dengan gambar lebah di dadanya orok merah dalam
dekapan tangan kiri sedang tangan kanan yang masih
menggenggam pedang ditepelkan pada pangkal leher
prajurit tersebut.
“Memalukan! Prajurit macam apa kau ini, seorang
orok tidak berdosa mau kau bunuh juga.”
“Ampun tuan Senapati. Orok itu putra mahkota
Aruteun, kalau tidak dihabisi sekarang kelak ketika
dewasa ia akan menuntut balas.”
“Kau tidak berhak menentukan nasib orok ini.
Kembali ke pasukan.”
“Baik tuan Senapati,” tanpa membuang waktu
prajurit itu berlalu meningalkan lelaki gagah yang masih
mendekap orok merah di tangan kirinya.
“Tuan se…, senapati…tuan senapati…,” sebuah
rintihan terdengar dari samping kereta, sigap Senapati
107
Sengketa Tanah Galuh
muda Tarumanagara itu bergegas mendukung tubuh
perempuan berlumurah darah dan menempatkannya di
tempat kelindungan.
“Tolong…, rawat anakku. Tolong selamatkan
rahardian Werkudara…,” seiring dengan kalimatnya
perempuan yang tak lain dari peraisuri Kerajaan Aruteun
itupun menghembuskan napas terakhirnya.
Keheningan menggayut di udara. Perempuan
berwajah tegas menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya dengan berat setelah menyelesaikan
riwayat pemuda gagah yang ada di hadapannya . Abilawa
tertunduk dalam setelah nyai Anggoni Maloka
menyelesaikan kisah yang dituturkan mendiang suaminya
Senapati Perkutut Kapimonda mengenai ihwal dan jati diri
Abilawa. Semantara Kinanti diam membisu, ia sama
sekali tidak menyangka Abilawa adalah seorang putra
mahkota kerajaan Aruteun yang telah runtuh ditundukan
Balatentara Tarumanagara puluhan tahun silam.
“Kakang Senapati lantas mengganti nama kau
menjadi Abilawa.”
“Apakah nyai guru tahu dimana ayah dan ibu saya
diperabukan?”
“Menurut guru kau, sang raja dan permaisuri
Aruteun diperabukan di desa Ciaruteun dekat muara
sungai Ciaruteun.”
“Sungguh besar pengorbanan mendiang guru.”
“Kini apa yang akan kau lakukan Bilawa?”
“Yahh…, kejadian itu sudah lama berlalu, dan
kerajaan Tarumanagara pun kini sudah berganti prabu,
berganti wajah menjadi Sunda Sembawa. Saya akan tetap
menjalankan tugas negara menyelidiki keberadan putra
mahkota yang di culik gerombolan pengacau.”
108
Kusyoto
“Ambo salut akan kebesaran hati kau Bilawa.”
“Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih, nyai
guru mau menceritakan ihwal, mengungkap jati diri saya.”
“Menurut karambit ganda bajubah biru.
Kemungkinan putra mahkota Sunda itu disekap pada salah
satu penjara bawah tanah milik Sriwijaya.”
“Karambit ganda bajubah biru? Apakah…”
“Benar Kinanti. Manusia harimau yang menyerang
kalian. Mereka hanya melaksanakan perjanjian tingkas
yang tanpa sengaja kalian langgar batas wilayahnya.
Namun begitu ambo ceritakan bahwa kau adalah anak
ambo dan Bilawa adalah murid ambo, karambit ganda
bajubah biru mau mengerti bahkan membantu menyirap
keberadaan putra mahkota Sunda yang di tahan prajurit
Sriwijaya.”
“Apa maksud Sriwijaya menculik dan menahan
putra mahkota Sunda. Bukankah antara Sunda Sembawa
dan Sriwijaya kini telah terjalin kerjasama kesetaraan,”
kata Abilawa.
“Ambo tidak mengerti tentang politik
pemerintahan Bilawa. Namun pesan ambo kalian harus
hati-hati. Biasanyo hal yang aneh menyimpan suatu
bahaya.”
“Akan saya perhatikan nyai guru.”
“Kapan kalian mulai menjalankan tugas dari prabu
Tarusbawa?”
“Besok pagi nyai guru.”
“Kalau begitu istirahatlah yang cukup.”
“Baik nyai guru.”
109
Sengketa Tanah Galuh
Wanita berjubah hitam pemilik wajah tegas
tersenyum, mengajak Kinanti meninggalkan goa seiring
rembang petang menyelimuti puncak Pegunungan Kerinci.
Di dalam biliknya Kinanti hampir tidak bisa memejamkan
mata. Hati dan pikiran gadis pemilik gigi gingsul ini
berkecamuk ia khawatir setelah Abilawa mengetahui jati
dirinya perasaan mindernya pada Arimbi kembali
berkobar.
“Apa yang kau pikirkan Kinanti. Tidurlah kau.”
“Ibu, saya khawatir.”
“Apo yang kau khawatirkan Kinanti?”
“Abilawa. Setelah ia tahu jati dirinya apakah….”
“Sttt…, jangan teruskan Kinanti. Selama di sini
kau telah mendapatkan separuh hatinya. Pertahankan, jaga
dan pelihara. Yakinlah satu ketika kau akan mendapat
sepenuh hatinya.”
“Batulah ibu?”
“Keyakinan merupakan separuh dari keberhasilan.
Sudahlah hari makin larut, tidurlah kau.”
“Baik ibu…”
Wanita pemilik tatapan tegas tersenyum. Usap
rambut panjang Kinanti dan mencium kening anakknya
dengan kasih. Semantara itu di biliknya, Bilawa,
sepertinya pemuda inipun tidak dapat memicingkan kedua
kelopak matanya. Dadanya masih sesak, pikirannya tidak
menentu, selintas bayangan Arimbi bermain di pelupuk
matanya.
“Kini tidak ada keraguan lagi dalam diriku. Aku
sepadan dengan gadis itu…, tapi.”
Wajah Kinanti mendadak mucnul di benaknya.
110
Kusyoto
“Lima purnama, kebersamaan dengan Kinanti
meninggalkan kesan yang mendalam. Ia gadis baik dan
sangat perhatian, selama ini saya sudah mengabaikan
perhatianya. Duhai dewata agung apakah saya mulai jatuh
cinta dengannya.”
Sumpek pikiran pemuda gagah ini membuka pintu
bilik, angin dingin dan kabut gunung Kerinci langsung
menerpa tubuh tegapnya. Bilawa melangkah pelan
memenbus kabut tipis. Pada langkahnya yang ke sekian
pemuda gagah ini terkesiap satu sosok tinggi besar berbulu
putih loreng hitam berjubah biru tegak menghadang
jalannya.
“Karambit ganda bajubah biru,” kata Abiawa
lantas pasang kuda-kuda pertahanan.
Sosok di balik kabut menyeringai memperlihatkan
dua taringnya yang mencuat tajam. Tiga langkah di
hadapan Abilawa sosok manusia harimau berjubah biru
hentikan langkah.
“Kalian ikut kami. Malam ini putra mahkota akan
dipindah ke pulau liang naga.”
“Saya akan bangunkan Kinanti.”
“Tidak perlu Bilawa. Aku sudah di sini.”
“Bagaimana dengan nyai guru?”
“Beliau sudah mengijinkan kita, Bilawa.”
“Ayolah kita jangan buang-buang waktu,” sergah
Karambit Ganda Bajubah Biru tidak sabar.
Keduanya menganguk. Bersama Karambit Ganda
Bajubah Biru, Kinanti dan Bilawa tinggalkan puncak
gunung Kerinci diiringi tatapan teduh wanita berwajah
tegas dari langkan rumahnya yang berada di atas tebing.
111
Sengketa Tanah Galuh
Kawasan Mandeh merupakan perpaduan antara
perbukitan dan teluk indah dengan airnya yang berwarna
biru, dihiasai gugusan pulau-pulau kecil nan cantik
diantaranya pulau Traju, pulau Setan Kecil, pulau
Sironjong Besar, dan pulau Sironjong Kecil serta pulau
Cubadak. Di bagian selatan kawasan ini terdapat sebuah
tanjung dalam posisi meliuk-liuk seperti danau dengan
riak kecil-kecil. Ada juga yang mengatakan tanjung yang
tampak meliuk itu seperti liukan ular naga yang sedang
berjalan.
Di bagian utara Tanjung terdapat gugusan pulau
yang melingkar-lingkar. Pulau-pulau itu antara lain pulau
Pagang, pulau Bintangor, pulau Marak dan pulau Ular atau
orang-orang rimba hijau persilatan tanah Swarnabumi kala
itu menyebutnya pulau Liang Naga.
Hari masih terang-terang tanah. Kabut tipis
melayang-layang diantara nyiur dan pepohonan waru laut
yang banyak tumbuh di pinggir pantai pasir putih.
Hempasan gelombang laut memecah karang terdengar
bergemuruh silih berganti. Dari lamping bukit batu karang
sebelah timur melesat empat sosok bayangan hitam, dalam
waktu kejapan mata keempat sosok sampai di lamping
bukit karang dimana di atas batu karang terjal itu berdiri
angker sebuah bangunan memanjang yang keseluruhannya
dipahat di dinding batu karang berwarna hitam. Beberapa
penjaga berdiri tegap dalam sikap siaga.
“Biarkan saya yang bereskan tuan Taruma,” kata
Senapati Yuda Karna dijawab anggukan mantap sosok
berwajah putih yang dalam satu kelebatan badan lima
orang penjaga bergelimpangan tak sadarkan diri.
“Ayo kita masuk,” kata sosok berwajah putih yang
dala satu jejakan kaki di tanah sosoknya tampak jauh
memasuki kawasan gugusan karang pipih diikuti ketiga
112
Kusyoto
sosok lainya. begitu memasuki gapura dari karang hitam
satu sosok tinggi besar bertampang sangar menghadang.
Di belakang sosok sangar dua orang berdiri gagah
memandang dingin keempat orang di depannya.Keempat
sosok tercekat dan seperti tidak percaya dengan
pandangan matanya sendiri.
“Senapati Ampal. Bukankah dua tahun lalu kakang
Taruma telah membereskan senapati Sriwijaya itu?” bisik
seorang gadis kurus berkulit hitam yang berdiri di samping
pemuda berwajah putih.
“Kau benar Arimbi. Bagaimana dia mampu
bangkit dari kematiannya.”
“Tuan Taruma. Saya dan Sempani akan
menghadapi dua orang yang ada di belakangnya itu,” bisik
Senapati Yuda Karna.
“Dan kau adikku Arimbi. Segera selidiki dimana
ayah kita di sekap.”
“Baik kakang Taruma,” kata Arimbi siap
berkelebat pergi. Di saat yang sama satu sosok tinggi besar
menghadang langkah gadis kurus berkulit hitam itu.
“Tuan besar,” sentak Arimbi.
“Hahaha…, aku salah memperhitungkan dirimu.
Sumirah.” Sentak lelaki tinggi besar yang memang Tuan
Besar adanya. Arimbi tertegun dan usap wajahnya. Ia
sadar dirinya masih dalam penyamaran sebagai gadis
kurus lusuh berkulit hitam. Di saat yang sama berkelebat
satu sosok berjubah sutra hitam tegak di hadapan antara
Arimbi dan Tuan Besar.
“Nyai Tenung Ireng. Kau bereskan gadis
penghianat itu,” dengus Tuan Besar.
113
Sengketa Tanah Galuh
Perempuan cantik berjubah sutra hitam
sunggingkan senyum sinis.
“Selesaikan tugas mu, den ayu.” Bisik nyai Tenung
Ireng, dalam satu gebrakan kilat lancarkan sersangan
beruntun pada lelaki tinggi besar di hadapannya membuat
orang yang dikenal sebagai Tuan Besar ini kalang kabut
mendapat serangan dadakan.
“Apa yang kau lakukan nyai Tenung Ireng. Kau
berhianat.”
Suara lelaki tinggi besar tenggelam dalam deru
serangan beruntun lawannya. Sedang Arimbi yang
mendapat kesempatan langsung bergerak masuk ke dalam
bangunan. Semantara itu di halaman gedung pertarungan
baru saja dimulai. Taruma Udaka melenggak kaget bukan
kepalang begitu sosok senapati Ampal yang telah tewas itu
kini sudah berada satu langkah di hadapannya
melancarkan serangan, menggempur dirinya
menggunakan ajian Jaring Karang.
Taruma Udaka jatuhkan diri ke tanah. Tangan
kanannya dikembangkan ke depan diputar searah jarum
jam. Pemuda ini agaknya akan menggempur lawannya
dengan ajian Banyu Lantis. Begitu senapati Ampal
menerjang, Taruma Udaka dorong telapak tanganya ke
depan.
Duarrrrr…!
Dentuman keras menggelegar Tubuh Senapati
Ampal terpental ke belakang dengan tubuh cerai berai jadi
bubuk. Anehnya bubuk putih hancuran tubuh lawannya itu
terus menerjang dan menyergap Taruma Udaka. Pemuda
ini tersentak, belum dia menata kuda-kuda dirasakannya
kepalanya pening dan berputar lalu ambruk tak sadarkan
diri. Bubuk putih hancuran tubuh Senapati Ampal terus
114
Kusyoto
bergumpal, menyebar dalam waktu singkat melumpuhkan
Arimbi yang sudah ada di dalam bangunan, Kebo
Sempani, nyai Tenung Ireng dan Senapati Yuda Karna.
Keempat orang ini ambruk oleh pengaruh bubuk pembius
hancuran jasad Senapati Ampal. Setelah melumpuhkan
keempatnya bubuk putih kembali bersatu dan membentuk
jasad utuh senapati Ampal.
“Bagus sekali adikku Ampal. Warok Sampar
Kombayoni dan Datuk Jerangkong Hitam. Jebloskan
mereka semua ke penjara bawah tanah.”
“Baik tuan besar.” Kata Warok Sampar
Kombayoni kemudian bersuit nyaring disusul beberapa
orang muncul dari dalam bangunan batu karang
menggotong empat orang yang terkapar tak sadarkan diri
ke ruang tahana bawah tanah.
Semantara itu di tempat lain dalam waktu yang
hampir bersamaan. Abilawa, Kinanati, Karambit Ganda
Bajubah Biru dan sepuluh anak buahnya telah sampai di
teluk ketika putra mahkota Sunda Sembawa baru saja
dinaikkan ke sebuah perahu yang akan membawanya ke
pulau Liang Naga. Tanpa menunggu waktu mereka segera
melakukan penyergapan.
Karambit Ganda Bajubah Biru berkelebat cepat
naik ke anjungan perahu diikuti sepuluh anak buahnya.
Ketika menjejakan kaki di atas perahu wujudnya berubah
menjadi sosok manusia harimau putih belang hitam
berjubah biru dengan sepasang karambit kembar berwarna
biru mencuat dari sepasang tangannya. Beberapa anak
buah kapal terkapar mandi darah begitu menghadang
langkah-langkah puluhan manusia harimau ini. Abilawa
dan Kinanti tidak mau ketinggalan mengandalkan jurus
sepasang cakar harimau keduanyamelayang ke atas
jungkir balik di udara ketika jejakan kaki di tanah tangan
115
Sengketa Tanah Galuh
kanan Kinanti dan tangan kiri Abilawa saling
menggenggam erat, dalam satu gebrakan pedang keduanya
berkiblat cepat menumbangkan puluhan lawannya.
Sepuluh orang anak buah kapal bersenjatakan
golok besar menyerang bersamaan. Sepuluh ujung golok
berdesing cepat. Kinanti putar pedangnya sedemikian rupa
pun dengan Bilawa. Mereka membuka serangan bersama.
Enam orang terpental kena tendangan kaki kanan Abilawa
dan Kinanti disusul gulingan tubuh keduanya sambil
membabadkan pedang. Empat orang berikut terjungkal
masuk ke dalam laut. Setelah menyelesaikan jurus ketiga
kembali tangan kanan Kinanti menggenggam erat tangan
kiri Abilawa. Sebuah jurus yang sangat indah. Beberapa
orang bajak laut terpana menyaksikan keindahan sekaligus
keganasan jurus sepasang cakar harimau muda mudi
tersebut.
Lima awak kapal berbadan gempal tampak
menarik sang putra mahkota berusaha turun dari atas
kapal. Saat itulah Abilawa dan Kinanti telah berada
dihadapanya menggerakan tangan kanan dan kiri yang
menggenggam pedang. Telapak tangan masing-masing
dikembangkan. Serangkum angin dahsyat melabrak
kelima orang berbadan gempal tersebut hinga terjungkal
masuk ke dalam laut.
Belum sempat Abilawa menyelamatkan putra
mahkota sebilah anak panah entah datang dari mana
datangnya menancap di punggung putra mahkota Sunda
Sembawa tersebut. Karambit Gada Bajubah Biru
berkelebat cepat menyambar sang putra mahkota melesat
menaikkanya ke atas kuda lalu gebrak binatang tersebut
meninggalkan teluk. Begitu melihat Karambit Ganda
Bajubah Biru berhasil menyelamatkan putra mahkota
Sunda Sembawa. Abilawa dan Kinanti lipat gandakan
116
Kusyoto
serangan. Dalam satu kesmpatan keduanya tampak
melayang cepat menjejak kepala para awak kapal yang
tersisa. Sosok keduanya kini telah pula menungang kuda
dan memacu binatang tersebut meninggalkan teluk diikuti
sepuluh anak buah Karambit Ganda Bajubah Biru yang
juga memacu kuda tunggangannya kearah matahari
tenggelam.
-o0o-
Rona wajah wanita berjubah hitam kernyitkan dahi
bilamana luka dari bekas anak panah yang menancap di
punggung putra mahkota Sunda Sembawa itu perlahan
membengkak berwarna biru. Bibir wanita ini berdesis.
“Racun ular tedung. Ambo hanya bisa
menghambat aliran racun yang menuju jantungnya.
Selebihnya harus ada orang pandai yang mampu menyedot
seluruh racun yang kini berkumpul di dadanya.”
“Ibu siapa kira-kira orang pandai tersebut?”
Sebelum menjawab, wanita berwajah tegas
pandangi Kinanti dengan lesu. Desahan berat terdengar
dari rongga hidungnya.
“Di tanah Swarnabumi ini ada tiga orang pandai
yang menguasai ilmu pengobatan. Pertama datuk gadang
rajo yang berdiam di puncak Singgalang. Kedua, seorang
tabib kerajaan Skalabrak di puncak gunung Pasegi
bergelar datuk racun delapan penjuru angin, sayang kedua
orang pandai itu telah lama meninggal dunia….”
“Lalu siapa orang ketiga, ibu?”
“Kakek kau, Kinanti.”
“kakek?”
117
Sengketa Tanah Galuh
“Hyah, sayangnya kekek kau sudah lama pergi dari
tana Atar. Kabarnya kekek kau itu sekarang ada di tanah
Jawa.”
“Bagaimana menurut mu, Abilawa?” kata
Karambit Ganda Bajubah Biru.
“Misi penyelamatan putra mahkota sudah kami
laksanakan. Baiknya kami segera kembali ke tanah Jawa.
Sambil menyirap kabar keberadaan kakek mu. Kinanti.”
“Baiklah kalau itu sudah keputusan kau. Bilawa.
Ambo titip Kinanti pada kau.”
“Baik nyai guru.”
“Kami akan mengantar mu sampai di kapal.
Abilawa.”
“Terimakasih karambit ganda. Kami tidak akan
melupakan mu.”
Keesokan harinya diantar tatapan tegar wanita
berwajah tegas dan anggukan mantap Karambit Ganda
Bajubah Biru. Abilawa dan Arimbi membawa pulang
putra mahkota Sunda Sembawa kembali ke tanah Jawa. []
118
Kusyoto
Jalan Pedang Pewaris Takhta
Puncak Karantenan meremang dalam kabut senja
hari. Di salah satu puncak Gunung Sawal itu terdapat satu
tempat lapangan berumput diantara deretan bunga abadi
edelweiss tampak dilamun kabut sebuah pondok sederhana
beratap ilalang dan potongan bambu yang disusun
sedemikian rupa hingga tampak kuat dan asri. Di dalam
bilik di atas amben bambu duduk bersila seorang tua
berjubah putih dengan rambut, kumis dan janggut
berwarna senada dengan jubahnya. Matanya yang sedari
tadi terpejam perlahan membuka, tangan kananya
bergerak perlahan, luar biasa pintu kayu itu perlahan
membuka ke dalam. Di ambang pintu seorang pemuda
gagah terkaget-kaget. Ia heran belum juga mengetuk, pintu
itu telah terbuka dengan sendirinya.
“Masuklah rahardian. Tidak usah ragu,” kata orang
tua berwajah jernih itu pelan.
Pemuda gagah yang tak lain dari rahardian Sanjaya
melangkah pelan mendekati orang tua di hadapanya,
perlahan putra mahkota Galuh itu tundukan kepala dan
rangkapkan kedua telapak tangannya di dada memberi
penghormatan.
“Apakah saat ini saya berhadapan dengan rabuyut
Sawal?”
“Benar rahardian. Sayalah rabuyut Sawal.”
“Saya sengaja datang kemari atas petunjuk prabu
Tarusbawa.”
“Saya sudah tahu rahardian,” ujar rabuyut Sawal
membuat rahardian Sanjaya tertegun beberapa kejap.
“Apakah rabuyut juga tahu apa maksud kedatangan
saya kemari?”
119
Sengketa Tanah Galuh
Orang tua berjubah putih untuk pertama kalinya
turun dari atas balai bambu. Mempersilahkan tamunya
duduk di kursi sederhana yang terbuat dari kayu.
“Apakah rahardian sudah yakin dengan apa yang
akan diperbuat?”
“Saya sudah bertekad bulat rabuyut.”
“Baiklah rahardian. Sebelum saya memberikan apa
yang rahardian kehendaki alangkah baiknya rahardian
bersuci terlebih dahulu di curug Ratu. Bersemadilah di
tempat itu selama tujuh hari.”
“Akan saya lakukan rabuyut.”
Orang tua berwajah jernih itu mengangguk pelan
kemudian kembali memejamkan kedua matanya. Tak lama
ia telah larut dalam semadi. Rahardia Sanjaya segera
maklum, pemuda tampan itu segera pula berlalu
meninggalkan pondok rabuyut sawal menuju curug Ratu.
Saat itulah dari rimbunnya pepohonan muncul empat
orang muda mudi disusul sorang lelaki bercaping bambu
dengan puluhan belati terselip di pinggang dan selempang
bahunnya. Keempat remaja dengan seorang lelaki
bercaping itu sesaat tegak berdiri di depan pintu gubuk
yang tertutup. Kelimanya baru beranjak masuk ketika dari
dalam gubuk terdengar suara menyuruhnya untuk masuk.
Kelimanya lantas masuk ke dalam gubuk seiring menutup
kembali pintu gubuk dengan sendirinya. Kelimanya kini
tampak duduk mengelilingi orang tua berjubah putih.
“Apakah kalian yang ditugaskan untuk menjaga
rahardian Sanjaya?”
“Benar rabuyut. Saya Tandang Kaweruh
ditugaskan gusti prabu Tarusbawa untuk mengawal
rahardian Sanja sampai ke puncak gunung Sawal ini.”
120
Kusyoto
Kata lelaki yang dalam dunia persilatan tanah Jawa dan
Pasundan dikenal dengan gelar Belati Terbang.
“Lalu siapa kalian berempat ini?”
“Kami murid raja resi Wanayasa dari padepokan
telaga Denuh. Nama saya Harsa Manggala, yang di
sebelah kiri saya adalah adik-adik sepergurun saya.”
“Saya Nanda Juna.”
“Saya Caya Pata.”
“Dan saya, Ranjani Sidi.”
Kata keempat remaja itu memperkenalkan dirinya
masing-masing.
“Raja Resi Wanayasa menugaskan kalian untuk
mengiringi perjalanan rahardian Sanjaya?”
“Benar rabuyut.”
“Baiklah anak-anak ku. Saat ini rahardian Sanjaya
tengah hening raga di curug Ratu. Kalian pergilah ke sana,
jaga dan awasi.”
“Sebelum ke sini kami sempat bersitegang dengan
lima orang yang ingin berbuat jahat pada rahardian
sanjaya,”menerangkan Tandang Kaweruh.
“Seorang nenek cantik berwajah putih bersenjata
celurit kembar, kakek tua berdestar hitam bersenjata
rencong kembar dan tiga orang bersenjatakan sepasang
parang bulan sabit.”kata Harsa Manggala.
“Mereka semua tokoh rimba hijau persilatan yang
menginginkan pedang langlang buana yang dimiliki
rahardian Sanjaya.”kata rabuyut Sawal membuat
keempatnya keheranan. Selama ini kelimanya tidak pernah
melihat putra mahkota Galuh itu membawa pedang.
121
Sengketa Tanah Galuh
“Si nenek cantik berwajah putih itu menanyakan
pedang tersebut. Tapi selama kami mengikuti rahardian
Sanjaya tak pernah sekalipun beliau mengeluarkan senjata
tersebut.” Kata Ranjani Sidi.
“Kalian akan tahu nanti setelah masa semadi
rahardian Sanjaya berakhir.”
“Baiklah rabuyut. Kami pamit menyusul rahardian
Sanjaya,” sela Tandang Kaweruh lantas bangkit dan pamit
diikuti keempat murid padepokan telaga Denuh. Setelah
kelimanya berlalu dari pondok rabuyut Sawal. Lima sosok
yang sedari tadi meguping pembiaraan tampak pula
melesat ke arah dimana rahardian Sanjaya pergi.
Sepekan kemudian….
Matahari baru saja menyemburatkan sinarnya
diantara pepohonan trembesi yang banyak tumbuh di
kawasan air terjun atau curug Ratu. Suasana di tempat itu
begitu asri dan sejuk. Gemuruh air terjun menerpa
bebatuan di bawahnya bak melodi indah menyejukan hati.
Begitu sang surya sepenggalah bias pelangi tercipta di
pertengahan curug Ratu. Indah bukan main.
Rahardian Sanjaya tampak khusuk bersemadi di
atas sebuah batu bulat datar di tengah sungai. Tujuh hari
sudah putra mahkota Galuh ini hening diri, menyatukan
pikiran dengan alam sekitar. Pelbagai godaan dilaluinya
dengan tabah dan ketegaran hati. Suasana mendadak sunyi
mencekam bahkan suara air terjun yang semula
bergemuruh sirap disaput keheningan. Begitu hening, sepi
dan sunyi bahkan angin pun seakan berhenti bertiup. Saat
itulah seberkas cahaya kuning keemasan berpendar di
hadapan pemuda tampan tersebut, membentuk satu sosok
berjubah putih dengan bias sinar kuning gading neyelimuti
seluruh tubuhnya.
122
Kusyoto
“Sanjaya cucu buyut ku. Semadi mu telah
sempurna. Kau berhak atas kitab pusaka retuning
balasarewu. Kami para sesepuh kabuyutan Kendan
merestui semua harapan dan cita-cita mu.”seiring dengan
kalimat terakhirnya, sosok lelaki gagah berjubah putih
kembali samar dan berobah menjadi sinar kuning gading
dan secepat kilat melesat masuk ke dalam tubuh rahardian
Sanjaya melalui kening pemuda tampan tersebut.
Bersamaan dengan itu tubuh Sanjaya bergetar hebat.
Kembali cahaya kuning gading membias dari tengah
kening disusul dadanya yang ikut bersinar terakhir telapak
tangan kanan rahardian Sanjaya membias seberkas sinar
biru membentuk sebilah pedang.
“Pedang langlang buana…!” teriak satu suara
disusul melesatnya satu sosok seorang nenek cantik
berwajah putih. Tangan kanan nenek ini mengembang siap
membetot pedang di tangan putra mahkota Galuh tersebut.
Saat yang sama melesat pula seorang kekek berjubah dan
berdestar hitam memapasi laju si nenek. Di susul tiga
orang melakukan hal sama. Saat itulah dari balik gerumbul
semak di samping air terjun melesat pula lima sosok
bayangan yang dalam waktu singkat pertarungan pecah di
hadapan air terjun dengan rahardian Sanjaya nasih semadi
sambil memegang pedang bersinar biru dalam genggaman
tangan kanannya.
Nyaeh Radin Bade Pote Tarik pulang tangannya
begitu satu sambaran kilat dalam genggaman tangan
seorang gadis berambut panjang melesat satu senti dari
wajahnya. Nenek cantik berwajah putih ini mendengus
kedua tanganya meraba pingang belakang detik berikut
sepasang celurit atau bade kembar berwarna perak
tergenggam di kedua tanganya.
123
Sengketa Tanah Galuh
“Boabo…, kaoh lagi anak cantik. Sengko tak akan
sungkan lagi, lihat bade…!”
Seiring kalimatnya bade kembar dari sang nenek
cantik berwajah putih melesat silang menyilang, menebas
dua kali atas bawah disusul sabetan kanan dan kiri
membentuk jurus swastika maut. Sang gadis yang tak lain
dari Ranjani Sidi murid paling bungsu perguruan telaga
Denuh putar pedang tipsnya sedemikian rupa membentuik
perisai pelindung yang dalam waktu cepat jurus balasan
dari sang gadis mengurung dan memapasi jurus sepasang
bade kembar nenek berwajah putih.
Harsa Manggala. Murid pertama padepokan telaga
Denuh, Nandana Juna dan Caya Pata berhadapan dengan
tiga orang anggota utama partai El Maut bukitan Menoreh.
Pedang ketiga pemuda itu menciptakan pusaran air
sambung-menyambung kadang surut sebentar lantas
menyerbu beruntun bak air bah menerjang. Di tempat lain
sang kakek berjubah dan berdestar hitam bergelar rencong
ganda lembah Haru tampak berjibaku dengan Senapati
Tandang Kaweruh atau dunia rimbah hijau tanah Jawa dan
Pasundan mengenalnya dengan gelar Belati Terbang.
Semantara itu rahardian Sanjaya seakan tidak mengetahui
pertempuran dahsyat yang tengah berlangsung di
hadapanya. Pemuda tampan itu tetap duduk bersila sambil
menggenggam pedang biru, ia sama sekali tidak terusik
dengan hiruk pikuk perkelahian di hadapannya. Saat itulah
di awali gelegar halilintar sebanyak tujuh kali berturut-
turut dari dada putra mahkota Galuh membersit satu sinar
terang berwarna kuning keemasan disusul melesatnya lima
bayangan hitam legam membentuk lima ekor harimau
kumbang yang langsung menyerang kelima orang yang
tengah bertarung.
124
Kusyoto
Nyaeh Radin Bade Pote menjerit ngeri begitu satu
sosok hatimau kumbang mengaum dahsyat di depan
wajahnya. Nenek yang wajahnya sudah putih itu
bertambah pucat ketika harimau kumbang membuka mulut
dan memperlihatkan barisan taringnya yang tajam. Ia
melompat mundur lima langkah dan dengan secepat kilat
meninggalkan arena pertempuran. Hal sama terjadi dengan
yang lain. Kekek rencong ganda lembah haru jatuhkan
badan dan berguling di tanah ketika sebuah lompatan
harimau kumbang hampir saja menerkam kepalanya.
Kekek berjubah dan berdestar hitam itupun ambil langkah
seribu meninggalkan air terjun atau curug Ratu. Tiga
tokoh utama partai El Maut bukit Menoreh melakukan hal
yang sama, begitu ketiganya berhasil menghindari
terkaman harimau kumbang dengan sisa tenaga yang di
miliki segera berkelebat cepat ambil langkah seribu.
Begitu kelima orang itu tidak tampak lagi, perlahan kelima
sosok harimau kumbang menjadi samar membentuk
berkas sinar berwarna kuning keperakan lalu melesat cepat
kembali ke dalam dada rahardian Sanjaya.
Rahardian Sanjaya perlahan buka kedua matanya.
Putra mahkota Galuh ini sesaat tertegun melihat lima
orang berdiri di tengah sungai sambil merapatkan kedua
telapak tangan masing-masing di di depan dadanya dengan
sikap hormat.
“Maap, siapakah andhika-andhika ini?”
Satu persatu kelimanya segera memperkenalkan
diri masing-masing dan menjelaskan semua tugasnya.
Mengetahui hal itu rahardian Sanjaya segera mengucapkan
terimakasih dan mengajak kelimanya untuk menemui
rabuyut Sawal.
“Iniah kitab pusaka retuning bala sarewu. Kitab
pusaka ini saya pinjamkan pada rahardian. Pelajari semua
125
Sengketa Tanah Galuh
isi kitab dan kembalikan lagi setelah semua isinya
rahardian pahami.”kata rabuyut Sawal sambil meletakan
sebuah buku bersampul kulit harimau.
Rahardian Sanjaya pandangi dengan takjub kitab
pusaka retuning balasarewu yang kini berada di
hadapannya.perlahan telapak tangan kanan putra mahkota
galuh itu mengusap lembut sampul kitab. Terasa lembut
dan halus sekali. Kini jemari rahardian Sanjaya beraksud
membalik halaman pertama dari kitab pusaka retuning
balasarewu. Kernyit tergurat dari kening pemuda tampan
ini. Seyonyanya kitab yang terbuat dari daun lontar itu
dengan mudah bisa di buka. Namun sampai ia mengerahan
tenaga luar ia tidak mempu membukanya. Jangankan
terbuka bergeserpun tidak. Rahardian Sanjaya penasaran
ia kerahkan tenaga inti malah tenaga murni yang di
milikinya itu seakan tersedot oleh kekuatan yang tak kasat
mata hinga putra mahkota Galuh tersebut terjengkang oleh
daya tolak kekuatanya sendiri. Semua yang hadir di
tempat itu menjadi tertegun memandang penuh tanda
tanya pada orang tua berwajah jernih yang masih duduk
tenang di atas amben bambu.
“Kenapa saya tidak mampu membuka kitab pusaka
ini, rabuyut?”
Sebalum menjawab pertanyaan, rabuyut Sawal
Tarik napas panjang terlebih dahulu lantas
menghembuskanya dengan pelan.
“Apakah saat ini rahardian Sanjaya memiliki
ganjalan selain takhta Galuh?”
“Saya tidak memiliki ganjalan apapun rabuyut,”
kata pemuda tampan ini pelan, namun ia mendesah berat
dan segera meralat kalimatnya.
126
Kusyoto
“Maapkan saya rabuyut. Sebetulnya saya agak
kecewa dengan pernyataan rabuyut tadi.”
“Dengan hanya meminjamkan kitab ini pada
rahardian?”
“Benar rabuyut. Kenapa tidak diberikan atau
diwariskan saja pada saya.”
“Saya senang dengan kejujuran rahardian.
Ketahuilah saya haya menguji. Pada dasarnya semua
benda pusaka baik senjata ataupun kitab sejatinya
memiliki rohnya sendiri. Ia tidak akan rela dimiliki
sembarang orang yang bukan dari garis keturunan sang
empu atau pembuatnya. Eyang Manikmaya yang
menyusun kitab pusaka ini adalah eyang buyut dan masih
leluhur mu, rahardian. Tapi karena di hati rahrdian masih
menyimpan ganjalan dan angkara maka kitab inipun
seakan tidak rela dimiliki hati yang masih memendam
sekam bara amarah.”
“Kini saya mengerti rabuyut,” kata pemuda tampan
itu lantas susun kedua telapak tangannya di depan dada.
“Kitab pusaka Ratuning Balasarewu. Maapkan
saya. Jika berjodoh dengan kitab ini maka izinkan saya
membuka dan mempelajari semua isi kitab. Kalaupun
tidak berjodoh, saya ikhlas menerima semua kenyataan.”
Kalimat yang diucapkan rahardian Sanjaya begitu halus
menggetarkan. Perlahan jemari tangan putra mahkota
menyentuh sampul kitab yang terbuat dari kulit harimau.
Getaran hawa dingin menyergap jemari sang pemuda,
menjalar sepanjang lengan turun ke dada kemudian hawa
dingin itu mendekam di pusat tubuhnya. Dada pemuda
tampan ini bergetar, setelah menenetramkan hati dan
meluruskan niat perlahan dibukanya halaman pertama
kitab pusaka retuning balasaerwu. Kitab pusaka terbuka
127
Sengketa Tanah Galuh
serangkum angin sejuk mengelus wajah rahardian
Sanjaya.
“Rabuyut ada hal lain yang ingin saya tanyakan.”
Kata pemuda tampan itu sambil kembali menutup sampul
kitab pusaka retuning balasarewu.
“Siahkan rahardian.”
“Ketika saya menyelesaikan semadi di curug ratu.
Sebuah pedang biru tergenggam di tangan saya. Kemudian
lenyap begitu saja.”
“Yah, ya. Ketahuilah rahardian. Pedang itu
bernama langlang buana.”
“Orang-orang itu meminta pedang
tersebut,”gumam rahardian Sanjaya.
“Pedang itu sudah ada dalam tubuh rahardian.”
“Saya belum mengerti rabuyut.”
“Coba rahardian genggam tangan kanan, salurkan
tenaga inti dan katakana langlang buana.”
Rahardian Sanjaya lakukan apa yang dikatakan
rabuyut Sawal. Dalam sekejap,sebilah pedang tipis dengan
pamor biru tergenggam di tangan kanannya. Semua mata
yang ada di tempat itu sama-sama terbelalak kagum.
“Sekarang katakana langlang buana kembali.”
Pemuda tampan inipun mekakukannya. Ajaib,
dalam kejapan mata pedang yang tergenggam di tangan
rahardian Sanjaya raib dengan sendirinya.
“Apa rencana rahardian?”
“Kalau rabuyut mengizinkan tempat ini saya
jadikan basis pertahanan dan persiapan dalam upaya
mengembalikan takhta Galuh dari tangan paman
Prabusora.”
128
Kusyoto
“Dengan senang hati rahardian.”
“Paman Tandang Kaweruh. Saya utus paman
kembali ke Sunda Sembawa, kabarkan keberadaan dan
rencana saya ini pada gusti prabu Tarusbawa. Setelah itu
ke Kalingga Utara, berikan surat saya ini pada eyang ratu
Shima.”
“Sendika rahardian. Kalau begitu saya pamit.”
Kata Tandang Kaweruh atau Belati Terbang. Setelah
menghaturkan sembah lelaki bercaping dengan puluhan
belati terselip di pinggang dan selempang bahu melesat
cepat meninggalkan punak gunung Sawal.
“Kalau begitu kamipun mohon pamit, kembali ke
padepokan telaga Denuh,” kata Harsa Manggala.”
“Sampaikan salam takzim saya pada eyang resi
Wanayasa.”
“Baik rahardian. Kami mohon diri,” ujar keempat
murid utama padepokan telaga Denuh sambil
merangkapkan kedua tangan masing-masing di dada.
Kejap berikut sosok keempatnya sudah terlihat jauh
menuruni lereng-lereng gunung Sawal.
“Kakang Harsa, kita kemana sekarang?” kata
Ranjani Sidi.
“Sesuai perintah eyang resi. Kita ke kota raja
Galuh.”
“Kita jangan membuang waktu ayo kakang,” kata
gadis cantik nan lincah itu riang, melesat bak kilat
meninggalkan ketiga kakak seperguruannya. Kini keempat
murid utama padepokan telaga Denuh itu seakan berlomba
menuruni lereng-lereng gunung Sawal.
-o0o-
129
Sengketa Tanah Galuh
Suasana sangat sepi dingin dan sunyi. Pulau liang
naga tersaput kabut dalam gemuruh ombak memecah
karang. Di dalam penjara bawah tanah lima sosok tubuh
tergeletak lemah. Entah pingsan atau sudah menemui ajal.
Beberapa saat tangan kanan salah satu sosok yakni
seorang perempuan berjubah sutra hitam bergerak seiring
membuka kedua matanya. Didapatinya dirinya dalam
kondisi tangan terikat. Ia coba melirik ke arah kiri. Empat
orang tampak terikat dalam kondisi pingsan sama dengan
dirinya.
“Kakang Damar Sindu…, apakah kau mendengar
ucapan ku,” kata perempuan berjubah sutra hitam pada
sosok lelaki paruh baya yang tergolek tidak jauh darinya.
Orang yang ditanya tampak bergerak perlahan.
“Nyai Sondari. Aku mendengar, tapi seluruh
tubuhku tidak bisa digerakan.”
“Kau dalam pengaruh bubuk pembius pelumpuh
sukma. Cepat telan pil ini kakang,” dari dalam mulut
wanita berjubah sutra hitam melesat satu benda putih yang
dalam sekejap telah masuk ke dalam mulut orang yang
dengan susah payah menelannya.
“Atur jalan napas dan peredaran darah ke seluruh
tubuh.”
Lelaki paruh baya lakukan yang diperintahkan.
Sosoknya kini mampu bergerak dan duduk menyandar di
dinding ruang tahanan. Rantai yang mengikat dirinya kini
tercampak di tanah pun dengan rantai yang mengikat
wanita berjubah sutra hitam.
“Bagaimana kau melakukannya Sundari?”
“Aku tahu penangkal bubuk pembius itu kakang,
sebab aku sendiri yang meraciknya.”
“Bagaimana dengan mereka?”
130
Kusyoto
“Kau tidak usah khawatir kakang. Sebentar lagi
mereka siuman.”
Benar apa yang dikatakan perempuan berjubah
sutra hitam. Perlahan Taruma Udaka, Arimbi dan Kebo
Sempani siuman dari pingsannya. Ketiganya tampak kaget
mendapati dirinya terikat kuat di dalam penjara.
“Senapati Yuda Karna, Nyai Tenung Ireng,” kata
Taruma Udaka dengan tatapan mata menyorot tajam pada
wanita berjubah sutra hitam tersebut.
“Tenang tuan Taruma. Saya mengenal baik wanita
ini. Yang terpenting sekarang kita harus segera keluar dari
ruangan ini dan mencari keberadaan para bangsawan
Sunda Sembawa dan sahabatmu Niluh Arundaya juga
Candrika yang ditahan. Kata Senapati Yuda Karna yang
sekali gerakan tangan rantai yang mengikat Taruma
Udaka, Arimbi dan hulu jurit Kebo Sempani patah dan
terjatuh di tanah.
“Baiklah. Lalu bagaimana cara kita keluar dari
ruangan ini?”
“Serahkan pada ku,” kata Nyai Tenung Ireng.
Wanita berjubah sutra hitam ini tampak duduk bersila
mata dipejamkan. Beberapa saat kemudian bibirnya
meniup udara. Tak menungg lama terdengar langkah-
langkah beberpa orang dari balik tikungan tembok penjara
muncul lima orang penjaga melangkah pelan menghampiri
Nyai Tenung Ireng.
“Buka gembok ini cepat,” kata nyai Tenung Ireng.
Seperti tersirap salah satu dari lima orang penjaga
itu membuka gembok penjara. Setelah terbuka kelimanya
melesat keluar meninggalkan lima orang penjaga yang
terkulai lemas tak sadarkan diri di tanah. Namun belum
seratus langkah kelimanya berlari di sepanjang lorong di
131
Sengketa Tanah Galuh
depan mereka berdiri dua orang muda-mudi menghunus
pedang. Taruma Udaka kaget bukan main ketika
mengenali kedua muda-mudi yang menghadangnya.
“Candrika…, Niluh Arundaya. Kalian….”
Belum kering ucapan Taruma Udaka dari bibirnya.
Tanpa diduga kedua muda-mudi itu menyergap Taruma
Udaka dengan jurus-jurus pedang mematikan.
“Hai apa yang kalian lakukan! Ini saya Taruma
Udaka sahabat kalian.” Ujar pemuda gagah ini sambil
menghindari gempuran maut sepasang pedang yang
menyerangnya. Tanpa menunggu lama Arimbi segera
berkelebat membantu kakaknya.
“Sondari apa yang terjadi?” kata Senapati Yuda
Karna.
“Mereka dalam pengaruh bubuk pembalik
ingatan.”
“Apa kau memiliki penangkalnya?”
“Hanya tuan besar yang punya penawarnya.”
“Tuan besar, siapa dia?”
“Sebenarya ia otak dan dalang dari semua
peristiwa yang selama ini menggemparkan Sunda
Sembawa, Kalingga dan Sriwijaya. Ia adalah Tumenggung
Brajamadenta kakak kandung Senapati Ampal.”
“Tidak menutup kemungkinan para bangsawan
Sunda Sembawa termasuk rakeyan mantri kanuruhan
Rajendra terpengaruh bubuk pembalik ingatan itu.” sela
Kebo Sempani.
“Betul. Maka dari itu kita selamatkan terlebih
dahulu mereka berdua,” kata nyai Tenung Ireng lantas
berkelebat cepat menyergap Candrika dan Niluh
132
Kusyoto
Arundaya. Kedua tangannya terkembang, selarik bubuk
putih menerjang kedua muda-mudi tersebut. Sebelum
keduanya jatuh pingsan akibat bubuk pembius, nyai
Tenung Ireng memberi kode pada Taruma Udaka dan
Arimbi membawa keluar Candrika dan Niluh Arundaya.
Begitu semuanya keluar dari ruang bawah tanah gemuruh
ombak memecah karang terdengar silih berganti. Rupanya
mereka kini sudah berada di sebelah selatan Teluk liang
naga.
Rasa senang Taruma Udaka sontak buyar bilamana
dari berbagai arah muncul puluhan anggota bajak laut
Naga Merah. Mengepung teluk tersebut denga rapat. Dua
orang lelaki maju tiga langkah di hadapan rombongan
Taruma Udaka.
“Nyai Tenung Ireng. Penghianat,” sentak Datuk
Jerangkong Hitam. Tongkat besi hitam di tangan kananya
menderu-deru mengelurkan suara menggidikan.
“Terserah apa kata kalian. Apa kalian tidak sadar,
kita sebagai pendekar sudah dimanpaatkan oleh tuan besar
untuk mencapai keinginannya. Setelah tidak diperlukan
kalian akan dibuang bagai sampah seperti diri ku.”
“Tutup mulutmu. Nyai Tenung Ireng. Anak-anak
tangkap orang-orang ini, kalau melawan habisi.
Saat itulah sekelebatan bayangan hitam melesat
dan langsung menyerang para anggota bajak laut Naga
Merah. Menggumakan sebuah rantai baja orang yang baru
datang itu mengamuk sejadi-jadinya. Seakan ia tengah
membuka jalan bagi Taruma Udaka dan kawan-kawan.
Beberapa lama pemuda gagah ini tertegun ia seperti
mengenali orang dengan senjata rantai baja tersebut.
Pemuda gagah ini tidak sempat berpikir panjang ketika
133
Sengketa Tanah Galuh
orang bersenjata rantai baja memberi isyarat dengan
bahasa tubuh menyuruhnya segera meningalkan tepat
tersebut.
Ketika orang bersenjata rantai baja melihat
rombongan Taruma Udaka sudah mencapai perahu layar
besar dan siap berlayar. Ia pun akan berusaha membuka
jalan bagi dirinya namun sebuah benda dingin dirasakan
menelusup ke dadanya sampai ke punggung. Benda itu
tongkat besi hitam milik datuk Jerangkong Hitam yang
menembus dadanya. Orang ini ambruk ke tanah,
pandangannya sontak buram namun perlahan sebuah
lorong panjang bersinar membias dalam penglihatanya
satu sosok wanita bermata sipit berbaju terusan kembang-
kembang seperti terbang menghampirinya, wanita cantik
ini tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Ia pun
tersenyum.
“Nona Chao-Xing…,”
Setelahnya semuanya gelap.
Tak lama sebuah perahu besar tampak
meninggalkan pulau liang naga menuju matahari
terbenam. Dari anjungan kapal layar Taruma Udaka masih
sempat melihat pertarungan terakhir orang yang
membukakan jalan pada rombongannya. Pemuda gagah
ini bergumam dalam hati menyebut sebuah nama Iblis
Bisu.
Perahu layar besar itu melesat meninggalkan pulau
liang naga. Tanpa mereka semua sadari dari puncak batu
karang di tengah pulau satu sosok tinggi besar
menyeringai memperhatikan kapal layar besar yang tengah
melaju menuju pulau Jawa.
“Mereka boleh lolos dari tempat ini. Namun,
bisakah kalian memusnahkan pengaruh bubuk pembalik
134
Kusyoto
ingatan yang telah mempengaruhi Niluh Arundaya dan
Candrika. Kalian membawa harimau ganas ke tanah
Jawa,” gumam sosok tinggi besar tersebut sambil
menyeringai.
Satu purnama sudah putra mahkota Sunda
Sembawa terbaring sakit akibat panah beracun yang
sebulan lalu menancap dipunggungnya ketika Abilawa,
Kinanti, senapati Tandang Kaweruh atau dunia persilatan
tanah Jawa dan Pasundan mengenalnya dengan gelar
Belati Terbang dibantu anak buah Karambit Ganda
Bajubah Biru menyelamatkannya dari sekapan para
perampok yang tidak lain dari kelompok bajak laut Naga
merah. Waktu itu sang putra mahkota Sunda Sembawa
akan dipindahkan ke pulau liang naga.
Dalam satu pertemuan tertutup prabu Tarusbawa
tengah berbincang serius dengan penasehat kerajaan,
Udayana Arimbata.
“Paman Udayana sudah satu bulan putra mahkota
terbaring sakit. Puluhan tabib tidak mampu mengeluarkan
racun ular tedung yang mendekam di tubuhnya.”
“Menurut Abilawa kakeknya Kinanti yang bergelar
Datuk Atar Basaluang Batuang mampu menyembuhkan
putra mahkota.”
“Kalau begitu perintahkan Kinanti untuk menemui
kekeknya itu.”
“Ini yang sulit gusti prabu. Mencari keberadaan
kekeknya Kinanti sama saja dengan mencari jarum di
tengah jerami.”
“Adakah cara lain paman Udayana?”
“Gusti prabu, beberapa malam dalam semadi,
hamba memperoleh petunjuk mengenai penawar racun
ular tedung itu.”
135
Sengketa Tanah Galuh
“Paman sudah mendapatkan penawarnya?”
“Belum gusti prabu. Tapi petunjuk mengatakan di
dalam kitab pustaka retuning balasarewu disamping
terdapat taktik perang dan pemerintahan, konon dalam
kitab itu juga terdapat seribu satu macam pengobatan.”
“Kalau begitu utus senapati Tandang Kaweruh ke
gunung Sawal untuk menanyakan penawar racun ular
tedung yang terdapat di dalam kitab pusaka retuning
balasarewu pada rahardian Sajaya.
“Baik gusti prabu.” Kata Udayana Arimbata.
Penasihat kerajaan Sunda Sembawa itu latas bersuit tiga
kali. Tidak menunggu lama dari langit-langit goa melesat
satu sosok bayangan membungkuk hormat sambil
merangkapkan kedua telapak tanganya di depan kening.
“Senapati Tandang Kaweruh, berangkatlah ke
gunung Sawal. Tanyakan pada rahardian Sanjaya penawar
racun ular tedung yang terdapat di dalam kitab pustaka
retuning balasarewu.”
“Sendika gusti prabu.” Setelah menyembah sosok
lelaki bercaping bambu dengan puluhan belati di pinggang
dan selempang bahu telah raib dari hadapan Prabu
Tarusbawa dan penasihat kerjaan Udayana Arimbata.
“Paman Udayana ada satu hal yang ingin saya
rembukkan dengan paman.”
“Silahkan gusti prabu.”
“Manusia boleh berencana dan berharap. Namun
ketentuan dewata agung di atas segalanya.” Prabu
Tarusbawa hentikan kalimat menunggu reaksi lawan
bicaranya.ketika penasihat kerajaan Udayana Arimbata
hanya diam, raja Sunda Sembawa itu lanjutkan
kalimatnya.
136
Kusyoto
“Saya berencana menikahkan cucu ku
Sobakancana dengan rahardian Sanjaya. Bagaimana
menurut pandangan paman Udayana?”
“Apakah gusti prabu menyangsikan kesembuhan
putra mahkota?”
“Seperti yang saya katakana paman Udayana. Kita
manusia hanya bisa berharap dan berencana. Semua hal
buruk itu bisa saja terjadi.”
“Kalau itu sudah keputusan gusti prabu hamba ikut
saja.”
“Bagaimana dengan kabar Taruma Udaka?”
“Kabar terakhir ia telah menyusup ke dalam sarang
naga merah di mana para bangsawan Sunda Sembawa
termasuk rakeyan kanuruhan Rajendra dan kedua
sahabatnya Candrika dan Niluh Arundaya disekap.Semoga
ada kabar secepatnya gusti prabu.”
“Baiklah paman Udayana. Pertemuan hari ini saya
rasa cukup.”
“Kalau begitu hamba pamit gusti prabu.”
Prabu Tarusbawa mengangguk. Setelah
memberikan sembah Udayana Arimbata berlalu
meninggalkan ruang rahasia yang berada di balik air terjun
yang terletak di belakang istana.
-o0o-
Rahardian Sanjaya usap sampul kitab pustaka
retuning bala sarewu kemudian meletakan kitab pusaka
warisan kerajaan Kendan itu di atas meja batu di
hadapannya. Setelah mengerahkan sepertiga tenaga inti ia
mulai membalik halaman demi halaman hingga
menemukan sesuatu yang dicarinya. Di halaman itu
tertulis dalam aksara bahasa jawa kuno berbunyi seribu
137
Sengketa Tanah Galuh
satu pengobatan. Ia terus membalik dan membaca hingga
akhirnya menemukan halaman yang menerangkan
mengenai penawar racun pelbagai ular berbisa.
“Daun sambung nyawa,” gumam rahardian
Sanjaya.
“Daun sambung nyawa,” kata senapati Tandang
Kaweruh mengulang kalimat rahardian Sanjaya.
“Benar senapati.”
“Di manakah keberadaan tanaman itu?”
“Menurut petunjuk di dalam kitab. Keberadaan
tanaman itu berada di hutan kaki gunung Sawal di sebelah
tenggara desa Cibaruyan.”
“Dewata agung….,” gumam senapati Tandang
Kaweruh. “Kalau begitu sekarang juga saya mencari daun
tersebut.”
“Sampaikan salam hormat saya pada rabuyut
Cibaruyan.”
“Baik rahardian. Saya pamit.”
Berbekal petunjuk dari kitab pustaka retuning bala
sarewu Senapati Tandang Kaweruh atau dunia persilatan
tanah Jawa dan Pasundan mengenalnya dengan gelar
Belati Terbang hari itu juga turun dari puncak gunung
sawal menuju hutan pegunungan sebelah tenggara desa
Cibaruyan. Ketika matahari tenggelam dan rona jingga
memenuhi lengkung langit sebelah barat, Senapati
Tandang Kaweruh yang menyamar sebagai seorang
pengembara sampai di gerbang desa Cibaruyan. Ia segera
menemui Rabuyut Cibaruyan di rumahnya. Seorang gadis
ayu muncul dari balik pintu.
“Kisanak siapa? Ada keperluan apa?” kata gadis
ayu ini ramah.
138
Kusyoto
Senapati Tandang Kaweruh tersenyum, ia telah
banyak mendengar dari orang-orang tentang kecantikan
alami gadis-gadis desa Cibaruyan. Saat ini ia
membuktikannya sendiri.
“Kisanak melamun?”
“Cantik sekali…,”
“Apa kisanak.”
“Eh, maksud saya…, saya, eh apakah benar ini
rumah rabuyut Cibaruyan?”
“Niken…, kenapa tidak dipersilahkan masuk.”
Terdengar suara seorang lelaki tua serak dan berat dari
dalam rumah.
“Silahkan masuk kisanak.”
“Terimakasih.”
Senapati Tandang Kaweruh melangkah masuk
kemudian duduk di bangku kayu di hadapan lelaki tua
berjubah putih.
“Maap apakah aki yang bernama rabuyut
Cibaruyan?”
“Benar kisanak.”
“Syukurlah. Rahardian Sanjaya menyampaikan
salam hormat pada rabuyut.”
“Kisanak mengenal kakang Sanjaya?” sela Niken
Prabandari dengan wajah berbinar.
“Niken…, ke dapur buatkan makanan dan
minuman buat kisanak ini.”
“Tapi abah,”
139
Sengketa Tanah Galuh
Wajah sumringgah Niken Prabandari meredup
begitu sang ayah menatapnya dengan tajam sambil
menggoyangkan kepalanya ke kanan.
“Baik abah…,” kata gadis ayu ini lesu kemudian
berlalu menuju bilik dapur.
“Harap dimaapkan kelakuan anak saya. Maklum ia
gadis dusun.”
“Sepertinya Niken mengenal dengan baik
rahardian Sanjaya.”
“Sebelum rahardian Sanjaya ke puncak gunung
Sawal, beberapa hari ia menginap di tepat saya.”
“Oh, pantas kalau begitu.”
“Oh iya, ada kepentingan apa kisanak menemui
saya?”
Dengan singkat, runut, padat dan jelas Senapati
Tandang Kaweruh menceritakan tugas yang diembannya
dari Prabu Tarusbawa.
“Daun Sambung Nyawa…,” gumam Rabuyut
Cibaruyan.
“Saya tahu tanaman itu abah,” sela Niken
Prabandari. Gadis ayu itu muncul dari pintu dapur sambil
membawa makanan dan minuman yang di tempatkan di
atas nampan anyaman bambu.
“Niken…, kalau mau bicara itu ya letakan dulu
makanan dan minmannya di meja, baru bicara.”
“Iya abah…, maap.” Kata gadis ayu ini lantas
meletakan makan yang di bawanya di atas meja kayu.
“Silahkan dinikmati makanannya kisanak, mohon
maap alakadarnya saja.”
“Ah, ini sudah cukup buat saya rabuyut.”
140
Kusyoto
“Oh iya, pikunnya otak tua ini. Saya belum tahu
siapa nama kisanak?”
“Maapkan saya rabuyut. Seharusnya saya yang
memperkenalkan diri. Nama saya Senapati Tandang
Kaweruh.”
“Oh begitu. Silahkan diteruskan makannya
kisanak. Besok pagi Niken akan mengantar kisanak ke
tempat tumbuhnya tanaman Sambung Nyawa itu.”
“Terimakasih rabuyut, terimakasih Niken.”
“Iya, eh kisanak bagaimana kabar kakang
Sanjaya?”
“Niken…, biarkan kisanak ini menghabiskan
makanannya, kau siapkan bilik buat istirahat kisanak ini.
“Baik abah….”
“Harap dimaklumi kisanak….”
“Ah, tidak apa-apa rabuyut,” kata Senapati
Tandang Kaweruh sambil melanjutkan makan.
Malam semakin larut, desa Cibaruyan tenggelam
di saput kabut yang turun dari puncak gunung Sawal. Di
dalam bilik Senapati Tandang Kaweruh terbaring
menelentang menatap langit-langit bilik. Wajah ayu Niken
Prabandari melintas dalam benaknya, pemuda gagah ini
tersenyum-senyum sendiri.
“Cantika alami,” gumamnya. Entah mengapa tiba-
tiba bayangan wajah Chao-Xing, gadis peranakan
Tionghoa keponakan sinse Li-Sizen yang dahulu diam-
diam dicintainya itu menari-nari di pikiran pemuda tegap
tersebut. Masih segar dalam ingatannya bagaimana ia
menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana gadis
peranakan Tionghoa itu mengakhiri hidupnya dengan cara
menubrukan tubuhnya dalam rangkulan Iblis Bisu yang
141
Sengketa Tanah Galuh
saat itu tengah menggenggam jarum panjang atas perintah
sinse Li-Sien untuk mengakhiri hidup keponakanya
tersebut. Sinse Li-Sizen sangat kecewa karena semua
tanaman datura metel dan anggrek hitam sebagai senjata
andalannya menguasai pemerintahan Tarumanaga dibakar
habis oleh Chao-Xing. Tabib kerajaan itu lantas menyuruh
Iblis Bisu membunuh Chao-Xing. Tak ayal jarum maut
tersebut mengantar gadis cantik bermata sipit itu ke alam
kematiannya. (untuk lebih lengkap mengenai kisah cinta
segi empat antara Chao-Xing, Taruma Udaka, Belati
Terbang dan Iblis Bisu harap baca novel karya Kusyoto
sebelumnya berjudul Geger Tarumanagara sub judul
Runtuhnya Sriwijaya di Bumi Jawa, pen.) dini hari
menjelang barulah Senapati Tandang Kaweruh atau dunia
persilatan tanah Jawa dan Pasundan mengenalnya dengan
gelar Belati Terbang bisa memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya Senapati Tandang Kaweruh di
antar Niken Prabandari menuju hutan sebelah tenggara
desa Cibaruyan. Sepanjang perjalanan ada saja yang
dikomentari gadis ayu nan lincah tersebut. Gadis yang
sangat periang membuat pemuda tegap ini begitu kikuk
dan salah tingkah ketika tanpa sungkan Niken Prabandari
menggandeng tangannya sambil menunjukan apapun yang
diketahuinya di hutan tersebut.
“Di balik perbukitan itu ada sebuah air terjun
berjumlah dua belas buah, indah sekali pemandangannya.
Sayangnya saya belum sempat mengajak kakang Sanjaya
ketempat itu, keburu ia pergi.”
“Kalau begitu ayo kita ke air terujun itu,” kata
Senapati Tandang Kaweruh.
“Lalu bagaimana dengan tanaman obat itu
kisanak?”
142
Kusyoto
“Ini masih pagi, Niken. Setelah dari air terjun kita
bisa ke tempat tanaman tersebut. Lagi pula bisakah kau
memanggilku dengan sebutan kakang, seperti kau
memanggil rahardian Sanjaya.”
“Itu tidak mungkin saya lakukan.”
“Loh kenapa, Niken?”
“Sebab kisanak sudah tua. Lebih pantas dipanggil
paman.”
Senapati Tandang kaweruh tertegun, pemuda tegap
ini usap wajahnya yang dipenuhi cambang bawuk
meranggas, dalam hati ia bergumam, pantas saja gadis ini
memanggilku paman. Kata hati pemuda tegap ini sambil
tersenyum.
“Kenapa kisanak tersenyum?”
“Ah tidak, bagamana Niken, kita ke air terjun itu.”
“Ayo,” kata gadis ayu ini riang. Lantas seperti tadi
tanpa sungkan ia mengandeng tangan Senapati Tandang
Kaweruh menuju air terjun. Ketika matahari sepengalah
keduanya telah sampai di kawasan air terjun. Air terjun
yang indah berjumlah dua belas buah, terdengar
bergemuruh jatuhan air menimpa bebatuan gunung di
bawahnya kemudian mengalir ke sungai berbatu,
penduduk sekitar menyebut air terjun tersebut dengan
nama curug salosin.
“Curug ini bernama salosin,” kata gadis ayu ini
sambil menengadahkan kepala dan merentangkan kedua
tangannya ke samping. Tempias air yang jatuh dari atas
memercik tubuh keduanya.
“Kenapa dinamakan curug salosin?” kata pemuda
tegap sambil memandang takjub kedua belas buah air
143
Sengketa Tanah Galuh
terjun yang bersumber dari mata air yang sama dari lereng
pegunungan Sawal.
“Kisanak bisa hitung sendiri jumlah curugnya”
“Ah, kau benar Niken. Bukankah dalam bahasa
sunda salosin itu dua belas.”
Saat ituah satu kelebatan bayangan dari balik
lamping air terjun melesat cepat dan dengan sangat ringan
dua orang muda-mudi dengan menggengam pedang
tampak berdiri di hadapan Senapati Tandang Kaweruh dan
Niken Prabandari. Senapati Sunda Sembawa ini tertegun
bilaman mengenali sosok muda-mudi tersebut.
“Bukankah kalian ini Niluh Arundaya dan
Candrika?”
Kedua muda-mudi ini hanya diam. Menatap tajam
Senapati Tandang Kaweruh dengan tatapan bengis haus
darah. Detik berikut, diawali bentakan nyaring keduanya
menggempur sang Senapati dengan jurus-jurus pedang
mematikan. Niken Prabandari langsung berlindung di
balik gundukan batu sebesar kerbau di sisi air terjun.
“Kenapa kalian menyerang ku?”
Kalimat Senapati Tandang Kaweruh tenggelam
dalam jurus-jurus maut sepasang muda-mudi tersebut. Apa
yang sebenarnya terjadi? Mengapa Niluh Arundaya dan
Candrika bisa berada di kaki gunung Sawal. Bukankah
mereka bersama Taruma Udaka, Arimbi, hulu jurit Kebo
Sempani dan nyai Tenung Ireng dalam perjalanana
kembali dari Swarnabumi menuju Sunda Sembawa. []
144
Kusyoto
Misteri Bubuk Pembalik Ingatan
Puncak gunung Pasagi meremang dalam kabut
senja hari. Matahari baru saja tenggelam di lengkung
langit sebelah barat. Hawa sedingin es membuncah di
tempat itu. Namun tidak buat sosok tinggi besar berjubah
dan bertudung hitam. Sejak tergelincirnya sang surya ia
masih saja duduk terpekur di hadapan sebuah altar batu.
Bau stanggi dalam wadah kemenyan merur memenuhi
tempat tersebut. Di kejauhan sesekali lolongan serigala
terdengar panjang menggidikan. Sepertinya binatang ini
melihat sesuatu di balik kabut yang makin menebal.
Entah untuk berapa kali sosok berjubah hitam itu
memasukan stanggi dalam bara api wadah kemenyan. Di
awali gelegar halilintar sambung menyambung sebanyak
enam kali. Di langit kelam meluncur sebuah titik merah
yang semakin dekat membentuk gumpalan api menyala-
nyala meluncur cepat ke altar batu. Begitu menghujam
altar ledakan keras terdengar memekakan telinga. Orang
tinggi besar sampai terpental tiga tombak ke belakang.
Dari dalam kabut muncul seorang tua berdestar hitam
dengan sekujur badan dikobari api berwarna hitam
menyala-nyala.
“Datuk Angek Mambaro Kaliang, tarimolah salam
sembah bakti aden,” kata sosok berjubah hitam sambil
merapatkan kedua telapak tangannya di atas kepala.
“Anak manusia terlahir bernama Brajamadenta.
Waang menyalahi aturan, datang sebelum hari ke empat
puluh setelah pertemuan yang pertama. Apa jawaban
waang?”
“Mohon aden dimaapkan datuk Angek. Ada satu
hal yang ingin aden tanyakan mengenai bubuk pembalik
pikiran yang beberapa waktu lalu aden kemukakan pada
datuk.”
145
Sengketa Tanah Galuh
“Hem, masalah itu rupanya.”
“Betul datuk Angek. Apakah bubuk itu bisa saya
dapatkan sekarang?”
“Baiklah. Apakah waang datang bersama jasad
adik waang?”
Dari balik pakaiannya orang berjubah hitam yang
tak lain dari Tumenggung Brajamadenta keluarkan sebuah
guci kecil terbuat dari tembaga. Begitu tutup guci dibuka
diawali sambaran angin dan lengkingan mirip serigala dari
dalam guci melesat serpihan-serpihan berwarna putih.
Perlahan serbuk putih yang mengambang di udara
membentuk satu sosok lelaki tegap bermata setajam
sembilu. Dialah jasad renik Senapati Ampal.
“Ampal, berikan segenggam bubuk putih dari raga
kau pada aden.” Kata sosok samar datuk Angek Mambaro
Kaliang.
Tidak diminta dua kali. Jasad renik Senapati
Ampal tampak menggembungkan mulut begitu meniup
dari dalam mulut itu meluncur bubuk putih yang langsung
ditampung datuk Angek pada sebuah guci terbuat dari
perak.
“Inilah bubuk pembalik ingatan. Dengan bubuk ini
seseorang yang terkena pengaruhnya akan menuruti semua
kemauan waang. Terimalah,” kata datuk Angek Mambaro
Kaliang sambil menyerahkan guci perak pada
Tumenggung Brajamadenta.
“Tarimokasih datuk Angek,” kata Tumenggung
Brajamadenta lantas menyimpan guci perak berisi bubuk
pembalik ingatan di balik jubah hitamnya bersamaan
dengan itu pula jasad senapati Ampal kembali berobah
menjadi bubuk putih dan meluncur cepat masuk ke dalam
146
Kusyoto
guci tembaga yang dengan cepat pula dimasukan ke balik
jubah hitam sang tumenggung Sriwijaya tersebut.
“Ingat akan pantangan waang. Brajamadenta.
Bubuk pembalik ingatan akan tawar dan musnah jika
terkena air hujan. Dan ingat pula tiap empat puluh hari
pada tiap bulan waang harus datang ke tempat ini. Jika
lalai jasad adik waang akan musnah dengan sendirinya.”
“Aden akan perhatikan itu semua datuk Angek.”
“Bagus. Sekarang pergilah cepat dari tempat ini.
Jangan sekali-kali menengok ke belakang.”
“Baik datuk Angek.” Kata Tumenggung
Brajamadenta lalu bangkit dari altar batu begitu
membalikan badan didapatinya dirinya telah berada di
kaki gunung Pesagi.
-o0o-
Senapati Tandang Kaweruh atau dunia persilatan
tanah Jawa dan Pasundan mengenalnya dengan gelar
Belati Terbang tidak habis pikir mengapa Niluh Arundaya
dan Candrika begitu bernapsu ingin membunuh dirinya.
Pertarungan antara ketiganya memasuki jurus ke tiga
puluh. Serangan pedang kedua muda mudi semakin cepat
dan ganas. Beberapa kali pedang Candrika hampir saja
menebas lehernya pun dengan Niluh Arundaya. Pedang
gadis manis itu bagai sambaran cakar elang mengintai
anak ayam. Lengah sedikit saja jantung senapati Sunda
Sembawa itu tembus berlumuran darah. Saat itulah
beberapa orang telah sampai di tempat pertarungan. Dua
orang tampak melesat dan memapasi pedang Niluh
Arundaya dan Candrika sedang seorang lagi menolong
Senapati Tandang Kaweruh ke tempat kelindungan.
“Tandang Kaweruh. Kau tidak apa-apa?” kata
orang itu lantas menyalurkan sedikit hawa murni melalui
147
Sengketa Tanah Galuh
dada pemuda kekar tersebut. Tak berapa lama ia telah
bersandar di bawah sebuah pohon rindang sementara
pertarungan terus berlangsung antara Candrika dan Niluh
Arundaya dengan dua orang yang baru datang tersebut.
“Yuda Karna. Apa yang terjadi dengan Candrika
dan Niluh Arundaya? Sepertinya mereka tidak mengenal
aku.”
“Bubuk pembaik ingatan,” sela seorang perempuan
berjubah sutra hitam yang tegak berdiri di samping
Senapati Yuda Karna.
“Bubuk pembalik ingatan. Maksud nyai?” ah…,
bukankah kau nyai Tenung Ireng.”
“Simpan dulu semua praduga mu Tandang
Kaweruh. Benar apa yang dikatakan nyai Tenung Ireng.
Candrika dan Niluh Arundaya dalam pengaruh bubuk
tersebut.” Kata Senapati Yuda Karna menerangkan.
“Aku belum mengerti.” Gumam Senapati Tandang
Kaweruh.
“Sapapun yang terkena bubuk itu. Ingatannya akan
hilang dan menuruti semua perintah orang yang memiliki
bubuk tersebut.”
“Kenapa kalian semua ada di sini? Bukankah
sedang menjalankan perintah gusti prabu Tarusbawa
menyelidiki kelompok bajak laut Naga Merah.”
“Kami berhasil menemukan sarang mereka.
Menyelamatkan kedua pemuda itu, tapi ketika kami baru
saja sampai di pelabuhan Sundapura entah siapa yang
melepaskan totokan yang mempengaruhi mereka.
Keduanya berhasil melarikan diri. Kami melakukan
pengejaran sampai kami bertemu dengan kalian.” Kata
Senapati Yuda Karna. “Oh iya, kenapa kaupun ada
ditempat ini Tandang Kaweruh?”
148
Kusyoto
Tandang Kaweruh secara singkat menceritakan
semuanya. Keberhasilannya menyelamatkan putra
mahkota Rakeh Sundasambawa yang hendak dibawa ke
pulau liang naga. Sakit yang diderita sang putra mahkota
juga petunjuk penawar racun ular tedung yakni daun
sambung nyawa sampai terjadinya pertarungan antara
dirinya dengan Niluh Arundaya dan Candrika.
“Jurus pedang Candrika dan Niluh Arundaya
sangat ganas. Tidak kenal ampun. Sedikit saja gusti ayu
Arimbi dan tuan Taruma lengah fatal akibatnya,” gumam
hulu jurit Kebo Sempani.
“Ayo kita bantu meringkus Candrika dan Niluh
Arundaya,” kata Senapati Tandang Kaweruh yang bersiap
masuk ke arena pertarungan. Namun gerakan senapati
Sunda Sembawa ini kalah cepat oleh melesatnya satu
sosok tinggi besar menerjang Taruma Udaka yang saat itu
tengah menghadapi Candrika.
Taruma Udaka begitu terkejut, senang bercampur
heran dengan orang yang baru datang dan menyerang
dirinya dengan ganas.
“Ayahanda kenapa menyerang saya?” kata pemuda
gagah ini. Ia dan semua orang yang ada di tempat itu
menjadi sangat terkejut dengan kemunculan satu sosok
tinggi besar masih mengenakan baju kebesaran Sunda
Sembawa. Bukanya menghentikan serangan orang tinggi
besar itu menerjang semakin ganas pada Taruma Udaka.
“Apakah gusti Rajendra juga dalam pengaruh
bubuk pembalik ingatan,” kata Senapati Yuda Karna.
“Sepertinya begitu kakang,” kata nyai Tenung
Ireng.
“Tolong lakukan sesuatu nyai.”
149
Sengketa Tanah Galuh
Nyai Tenung Ireng mengangguk dengan cepat
wanita berjubah sutra hitam itu keruk saku jubahnya.
Segenggam bubuk berwarna putih kini siap ditaburkan
pada orang-orang yang tengah bertarung, disaat yang sama
entah dar mana datangnya seberkas cahaya merah melesat
cepat kemudian menebar membentuk tabir bening
memapasi laju bubuk putih yang ditebar nyai Tenung
Ireng.
Blammmm…
Ledakan dahsyat terdengar memekakan gendang
telinga. Untuk beberapa saat kawasan itu diselimuti kabut
merah menghalangi pandangan mata. Begitu kabut merah
perlahan menipis Candrika, Niluh Arundaya dan Rakeyan
Mantri Kanuruhan Rajendra sudah tidak ada lagi di tempat
tersebut.
“Dunia persilatan tanah Jawa, Pasundan mungkin
Swarnabumi akan geger jika mereka tidak segera
dipulihkan kesadarannya,” kata nyai Tenung Ireng.
“Kebakaran…!” terdengar jeritan dari balik sebuah
pohon disusul munculnya seorang gadis ayu sambil
menunjuk-nunjukan tangannya ke arah tenggara. Semua
orang yang ada di tempat itu tersentak kaget. Senapati
Tandang Kaweruh yang mengetahui ada apa di arah
tenggara yang ditunjuk Niken Prabandari sontak berdebar
hatinya, tanpa membuang waktu ia segera melesat ke arah
tenggara diikuti semua orang yang ada di situ.
“Tanaman Sambung Nyawa…!” jerit Niken
Prabandari.
Semua orang tersentak kaget. Dihadapan mereka
api berkobar-kobar membumi hanguskan sebuah
pedataran dimana tumbuh serumpun tamanan yang kini
porak-poranda dan hangus dimakan api.
150