The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-11-13 10:04:30

Sengketa Tanah Galuh

Kisah dari tanah pasundan

Keywords: Novel

Kusyoto

“Adhi prabu, silahkan beristirahat kembali. Kita
tunggu penjelasan langsung dari Taruma Udaka.”

“Baik kanda prabu,” kata Prabu Dapunta Hyang
Sri Jayanasa. Raja kerajaan Sriwijaya itu bangkit dari tepat
duduk, menganguk pelan pada Prabu Tarusbawa
kemudian diiringi beberapa prajurit kembali menuju
tempat peristirahatannya.

Semua priyagung Sunda Sembawa telah kembali
menjalankan tugasnya masing-masing. Di balerung istana
Puntadewa, prabu Tarusbawa masih berbincang serius
dengan Udayana penasihat kerajaan Sunda Sembawa
sekaligus paman dari Taruma Udaka.

“Bagaimana pandangan paman Udayana mengenai
masalah ini?”

Sebelum menjawab pertanyaan Prabu Tarusbawa,
Udayana menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskanya dengan pelan.

“Hamba melihat keganjilan dari peristiwa ini, gusti
prabu.”

“Hyah…, saya sependapat dengan paman.
Seseorang telah memfitnah Taruma Udaka.”

“Kita tunggu perkembangan selanjutnya gusti
prabu.”

“Semoga saja masalah ini segera menemui titik
terang.”

“Semoga saja gusti prabu,”gumam Udayana.

Penasihat kerajaan Sunda Sembawa itu tampak
merenung beberapa lama. Entah mengapa pikirannya
tertuju pada Tumenggung Brajamadenta.

51

Sengketa Tanah Galuh

“Wajahnya tidak asing lagi, tapi bukankah ia
sudah tewas di tangan Taruma. Apa hubungan
Tumenggung Brajamadenta dengan orang itu,” gumam
Udayana dalam hati.[]

52

Kusyoto

Bara Sekam Sang Pendekar

Malam belumlah larut, hembusan angin dingin dari
lerang pegunungan Dempo merambah lembah nan subur
di bawahnya. Abilawa tambahkan beberapa potong kayu
kering ke perapian, seketika api kebali berkobar,
mendesis, berkeretek melumat potongan kayu, ranting dan
dedaunan kering menghangatkan suasan mengusir
dinginnya udara nan berkabut.

Di samping kiri guru besar padepokan Ciampea
duduk memainkan kecapi seorang gadis ayu bergigi
gingsul. Dalam temaram kobaran api unggun, wajahnya
merona cerah sedang jari-jemari lentik lincah memetik
kecapi melantunkan irama sendu mendayu-dayu.

“Bilawa, sudah hampir seminggu kita melakukan
penyelidikan namun belum ada hasil yang memuaskan,
bagaimana kita melaporkan semua ini pada gusti prabu
Tarusbawa,” kata gadis bergigi gingsul sambil memetik
kecapi.

Abilawa menarik napas dalam, menghebuskannya
dengan pelan. Sepertinya guru besar padepokan Ciampea
ini sedang dirundung kegalauan hati.

“Kinanti maapkan aku, semua ini terjadi karena
kelemahan hatiku sebagai manusia bodoh,” kata Abilawa.
Dipatahkannya sebuah ranting dan melemparkannya ke
dalam kobaran api.

Kinanti hentikan petikan kecapi, meletakan benda
itu di pangkuanya. Ditatapnya sebentar Abilawa yang
duduk sambil memperhatika kobaran api unggun. Kinanti
medesah pelan, ia begitu memahami perasaan orang yang
selama ini diam-diam masih dicintainya itu. Segar dalam
ingatan putri mendiang Senapati Perkutut Kapimonda

53

Sengketa Tanah Galuh

tersebut ketika ia dengan sangat terpaksa melepaskan
perasaannya dan menyerahkan Abilawa pada Arimbi.

Dua tahun setelah mangkatnya prabu
Linggawarman, Prabu Tarusbawa ditabalkan menjadi raja
Tarumanagara menggantikan mertuanya. Prabu
Tarusbawa memiliki seorang anak laki-laki bernama
Rakeh Sunda Sambawa. Sebagai rasa terimakasih atas
perjuangan keluarga Rakeyan Kanuruhan Rajendra
terutama Taruma Udaka yang berhasil mendapatkan obat
penawar racun Datura Metel dan ekstrak anggrek hitam
yang menguasai Prabu Linggawarman selama
Tarumanagara dalam pendudukan Sriwijaya, Prabu
Tarusbawa meminang Dewi Arimbi putri Kanuruhan
Rajendra untuk dijadikan selir agung putra mahkota
kerajaan Sunda Sembawa tersebut.

Dalam derai hujan Arimbi pacu kuda
tunggangannya menuju padepokan Ciampea, gadis cantik
itu melompat dari punggung kuda dan berlari cepat
menemui Abilawa. Guru besar padepokan Ciampea itu
begitu terkejut melihat kondisi Arimbi yang tak karuan
rupa, agaknya semalaman tanpa henti gadis ini memacu
kudanya.

“Guru tolonglah saya, guru…,” kata Arimbi
terbata-bata.

“Ada apa den ayu, apa yang terjadi?”

Arimbi tidak lagsung menjawab, gadis cantik itu
jatuhkan tubuhnya dalam pelukan Abilawa bersaman
dengan munculnya Kinanti dari biliknya. Gadis ayu
pemilik gigi gingsul itu rapatkan tubuhnya di balik
dinding, matanya tajam menyaksikan pemandangan di
hadapannya.

54

Kusyoto

“Den ayu jangan begini, tidak enak dilihat murid-
murid,” kata Abilawa lantas membimbing gadis cantik itu
ke dalam teras rumah panggung.

“Den ayu ceritakan, apa yang terjadi?”

Arimbi mengusap sudut mata kiri kanan
menggunakan punggung tangan, ia masih tersengal
menahan isak tangis. Hujan semakin deras mengguyur
bumi sederas tangis Arimbi yang pecah berderai. Abilawa
hanya mampu terpaku di tempat menunggu Arimbi
memuaskan tangisnya.

“Saya dipinang gusti prabu Tarusbawa, akan
dijadikan selir untuk putra mahkota. Apa yang harus saya
lakukan guru?” kata Arimbi diantara isak tagisnya.

Abilawa terhenyak, dipandanginya Arimbi dengan
berbagai perasaan, tidak dapat di pungkiri sejak pertemuan
pertamanya dengan gadis ini, hati Abilawa bergetar
dengan rasa yang tidak mampu ia lukiskan. Abilawa tidak
menampik hati kecilnya, sebenarnya ia telah jatuh cinta
pada pandangan pertama pada anak gadis rakeyan
kanuruhan Rajendra tersebut.

“Bilawa, kau melamunkan apa?” kata Kinanti
membuat Abilawa yang sebagian jiwanya terbang
kemana-mana kembali pada diri sejatinya. Ia mendesah
panjang, mengusap wajah, coba tersenyum pada Kinanti,
walau senyum itu sangat hambar, cukup membuat hati
Kinanti berbunga.

“Tidurlah Kinanti, besok kita adakan penyelidikan
lagi.”

“Baiklah,” kata Kinanti, gadis ayu itu selonjorkan
badan di atas kain tebal sebagai alas tidurnya. Tidak
menunggu lama gadis ayu bergigi gingsul itu terbuai ke
alam mimpi, semantara Abilawa masih duduk bersila

55

Sengketa Tanah Galuh

sambil memasukan beberapa potong ranting, sekilas ia
pandangi wajah damai Kinanti yang tengah tidur, wajah
itu semakin ayu dalam temaram api unggun. Abilawa
mendesah panjang, membaringkan dirinya, tak lama
dengkur halusnya terdengar. Kinanti yang pura-pura tidur
buka perlahan kedua mata, pandanganya membentur
wajah gagah Abilawa yang sedang tidur.

“Sepertinya aku tidak pernah mendapatkan
kesempatan darimu, Bilawa.”gumam gadis ayu ini dalam
hati. Dini hari, barulah Kinanti dapat memejamkan kedua
matanya.

-o0o-

Dari hasil perkawinannya dengan dewi Manasih
putri sulung Prabu Linggawarman, raja terakhir
Tarumanagara, lahirlah seorang putra mahkota pewaris
takhta bernama Rakeh Sunda Sambawa, ia memiliki
seorang istri dari keturunan Ratu Shima dan mempunyai
dua orang anak perempuan, yang sulung diberi nama
Sekar Kencana atau Teja Kencana dan yang bungsu
diberinama Mayangsari. Dalam satu peristiwa dimana
putra mahkota sedang berburu di sebuah hutan, beberapa
orang tak dikenal menyerang rombongan putra mahkota
tersebut, dalam satu pertempuran sengit Rakeh Sunda
Sambawa tertangkap dan para prajurit yang mengawalnya
tumpas habis.

Dalam satu pertemuan rahasia, Prabu Tarusbawa
meminta bantuan Abilawa, guru besar padepokan
Ciampea dan Kinanti untuk menyelidiki siapa dalang di
balik penculikan dan penyekapan putra mahkota Sunda
Sembawa tersebut. Titik terang sedikit terkuak ketika
beberapa telik sandi yudha menemukan sebuah lambang
atau lencana yang tercampak di rerumputan. Karena belum
yakin dan tidak mau asal menuduh Prabu Tarusbawa

56

Kusyoto

mengutus keduanya ke Suwarnabumi bagian selatan untuk
menyelidiki kebenaran informasi tersebut.

“Kinanti apa kau sudah siap?” kata Abilawa.

Gadis ayu pemilik gigi gingsul mengangguk, sekali
jejakan kaki tubuhnya melayang ke atas, hinggap dengan
ringan di atas pelana kuda tunggangannya. Hal yang sama
dilakukan Abilawa, guru besar padepokan Ciampea itu
tampak jungkir balik di udara sebelum dengan enteng
duduk gagah di atas pelana kudanya. Tidak menunggu
lama digebraknya binatang itu menembus kabut dini hari
kaki gunung Dempo menuju kota raja Sriwijaya.

Belum begitu lama keduanya terguncang-guncang
di punggung kuda, di sebuah hutan kecil, kuda yang
ditunggangi Abilawa dan Kinanti berhenti mendadak
meringkik keras mengangkat kedua kaki depannya ke
udara bersamaan, sebuah pohon besar tumbang
menghadang laju kuda. Sekuat tenaga keduanya
mengendalikan kuda yang mendadak liar, setelah berhasil
mengendalikan kudanya masing-masing Abilawa dan
Kinanti turun dari punggung kuda memerikas pohon
tumbang yang melintang menghalangi jalan.

“Bagaimana Bilawa?”
“Ini jelas pekerjaan orang, waspada dan persiapkan
dirimu, Kinanti.” Bisik Abilawa.

Kinanti mengangguk tanda mengerti. Suasana
masih hening sepi hanya gemerisik dedaunan tertiup
angin.

“Terlalu tenang,” gumam Abilawa.

Saat itulah diawali cuitan-cuitan nyaring dari
pepohonan melesat beberapa sosok mengurung Abilawa
dan Kinanti di tengah-tengah. Tampang orang-orang yang
baru datang itu begitu aneh, memakai pakaian dari kulit

57

Sengketa Tanah Galuh

harimau berwarna putih loreng hitam, mata mereka
menyorot merah dengan taring menyeringai berwarna
senada.

Belum sirap keterkejutan Abilawa dan Kinanti,
dari kerumunan manusia berbaju kulit harimau meyeruak
satu sosok tinggi besar manusia harimau lainnya, bedanya
ia memakai jubah berwarna biru. Manusia berpakaian kulit
harimau berjubah biru tatap tajam dua orang yang ada di
hadapanya, dari bibirnya terdengar teriakan lantang,
orang-orang berpakaian kulit harimau menggeram hebat,
dari kedua genggaman tangan masing-masing mencuat
bilah tajam sejenis senjata berbentuk kuku harimau.

Abilawa dan Kinanti yang telah siap dari tadi
genggam pedangnya erat-erat. Kembali manusia harimau
tinggi besar berjubah biru mengaum dahsyat, detik berikut
sepuluh orang berpakaian harimau melompat menyerang
Abilawa dan Kinanti. Pertarungan tak seimbang pun pecah
dengan sengit.

Karambit kembar dalam genggaman orang-orang
berpakaian kulit harimau menderu ganas, mengincar titik
mematikan lawannya. Abilawa dan Kinanti yang beradu
punggung putar pedangnya masing-masing, tiga orang
manusia harimau melesat dalam cabikan ganas, Abilawa
lentingkan badannya ke atas sambil menyilangkan kaki
dan menendang, tiga orang manusia harimau mengaum
begitu kepalanya terkena tendangan Abilawa, dua manusia
harimau lainnya megaum dahsyat melenting bak pusaran
dengan karambit kembar siap mengebor tubuh.

Satu jengkal lagi putaran tubuh dua manusia
harimau mengebor jantung lawan, replek Abilawa geser
badanya ke samping kiri sambil menendang lengan lawan.
Cakar harimau membeset udara kosong bersamaan dengan
terlemparnya karambit yang kena ditendang. Pedang guru

58

Kusyoto

besar padepokan Ciampea mendesing ganas detik berikut
dua orang manusia harimau meraung setinggi langit
ambruk ke tanah dengan dada berlumuran darah.

Di sisi lain. Mengandalkan kecepatan gerak dan
jurus-jurus pedangnya yang rumit, Kinanti bak burung
rajawali mengincar anak ayam. Tubuhnya melenting ke
udara ,jungkir balik beberpa kali dan menukik cepat
sambil menyabetkan pedang tipisnya. Lima orang manusia
harimau mengaum dahsyat, karambit kembar dalam
genggamannya beradu dengan ujung pedang Kinanti
menimbulkan benturan suara logam memekakan telinga.

Agaknya gadis ayu ini menginginkan pertarungan
cepat. Begitu lima orang manusia harimau kembali
menerjang, tubuh Kinanti melenting ke atas dengan
kecepatan sulit diikuti pandangan mata, tahu-tahu kelima
orang manusia harimau terjungkal lintang pukang.
Sepuluh karambit mencelat ke udara bersamaan dengan
terdengarnya jeritan mengerikan kelimanya. Rupaya
begitu sepuluh karambit masih melayang di udara, dengan
cepat Kinanti putar pedangnya sedemikian rupa, sepuluh
karambit berputar cepat mengikuti putaran pedang. Begitu
Kinanti kibaskan senjatanya, lima orang manusia harimau
sontak terjungkal termakan senjatanya sendiri. Senjata
makan tuan.

Melihat anak buahnya dipecundangi sedemikian
rupa, pemimpin Manusia harimau mendengus keras.
Jubah birunya berkibar-kibar menandakan ia tengah
menghipun hawa sakti. Abilawa dan Kinanti yang telah
membereskan lawan-lawannya tercekat kaget begitu
manusia harimau berjubah biru sudah berada satu langkah
di hadapannya, membeset ganas megunakan karambit
kembar berwarna senada dengan jubahnya. Tubuh
pemimpin manusia harimau mengaum dahsyat membuat

59

Sengketa Tanah Galuh

Kinanti dan Abilawa meringis menahan sakit menekap
kedua telinga masing-masing.

“Gelap ngampar,” gumam Abilawa.

Auman dahsyat pemimpin manusia harimau
menggema hebat. Menggetarkan gendang telinga bagai
ribuan jarum menusuk pendengaran. Dari kedua telinga
dan hidung Abilawa merembes cairan merah, pun dengan
kondisi Kinanti. Gadis ayu itu tekap kedua telinganya,
menjerit keras, perlahan kesadaran kedua muda-mudi itu
mulai hilang. Pengaruh aji gelap ngampar telah
mempengaruhi keduanya. Detik berikut, Kinanti dan
Abilawa terkapar di tanah.

Pemimpin manusia harimau menyeringai buas.
Karambit kembar biru dalam gengaman tanganya berkilat-
kilat ditimpa sinar matahari pagi. Pemimpin manusia
harimau itu mengaum dahsyat siap membeset tubuh muda-
mudi yang terbaring tak sadarkan diri. Pada saat yang
sangat genting itu, entah dari mana datangnya puluhan
ekor harimau kumbang tahu-tahu sudah mengurung rapat
tempat itu. Auman dahsyat terdengar menghentikan laju
karambit kembar biru yang siap membeset kedua muda-
mudi tersebut.

Pemimpin manusia harimau tercekat beberapa
kejap, rasa jerih tergambar jelas pada wajah seramnya.
Begitu puluhan harimau berbulu hitam legam mengaum
menampakkan sepasang taring putih runcing. Ia pun
memberikan isyarat rahasia pada anak buahnya. Dalam
sekali lompat, sosok pemimpin manusia harimau bersama
seluruh anak buahnya hilang ditelan gerumbul semak
belukar.

Dari kerumunan puluhan harimau kumbang
menyeruak sosok harimau betina berbulu hitam legam,
perlahan namun pasti tubuhnya berobah wujud menjadi

60

Kusyoto

perempuan berjubah hitam. Perlahan perempuan itu dekati
Kinanti yang terbaring pingsan, wajah tegasnya
mengernyit seakan melihat sesuatu yang membuat hatinya
tercekat, perlahan ia usap wajah Kinanti dengan pelan,
menggunakan bahasa isarat ia memerintahkan dua ekor
harimau kumbang untuk membawa Kinanti dan Bilawa.
Dua ekor harimau kumbang maju mendekati sosok
Kinanti, dengan moncongnya tubuh kinanti dinaikan ke
salah satu punggung harimau kumbamg temannya. Hal
yang sama dilakukan pada Abilawa. Setelah keduanya
berada di punggung harimau kumbang. Perempuan
berwajah tegas kembali memberikan perintah
meningalkan tepat tersebut seiring dengan perubahan
kembali wujudnya, harimau kumbang paling besar
diantara kawanannya. Dalam sekali lompat seluruh
harimau kumbang telah jauh meninggalkan hutan kecil,
sosok-sosoknya kini terlihat jauh di lamping perbukitan
sebelah utara.

-o0o-

Kinanti merasakan seluruh tubuhnya sakit. Tulang
belulangnya kaku dan kepalanya pening, kedua mata
bening gadis ayu itu perlahan membuka, ia dapati dirinya
terbaring di atas bale rotan beralaskan permadani tebal.
Seorang perempuan berwajah tegas memakai jubah hitam
tersenyum lembut padanya. Kinanti berusaha bangun dari
tempat tidur, jangankan bangun menggerakkan badannya
saja ia tidak mampu. Perempuan berwajah tegas
tersenyum, memegang tangan Kinanti.

“Tubuh kau masih lemah, berbaring sajo,” kata
perempuan berwajah tegas.

Kinanti pandang perempua jubah hitam di samping
tempat tidur, mata gadis ayu itu berputar seakan ada yang
sedang dicarinya.

61

Sengketa Tanah Galuh

“Kekasih kau ada di bilik sebelah,” kata
perempuan berjubah hitam seakan tahu apa yang sedang
dipikirkan Kinanti.

“Kekasih…?” kata gadis ayu itu polos.
“Bukankah pemuda gagah itu kekasih kau?”
“Ehhh….”
“Sudahlah, kau tidak usah kawatir, ia baik-baik
sajo.”
“Tapi di manakah saya dan siapa ibu ini?”
“Ibu? Aahhh…, lama sekali ambo indak dengar
kata ni,” gumam perempuan berjubah hitam ia segera
tersadar dari lamunan, tersenyum menatap Kinanti.
“Saya ada di mana bu?” kembai Kinanti
mengulang kalimatnya.
“Kau ada di rumah ambo di puncak gunung
Kerinci.”
“Gunung Kerinci,” gumam Kinanti.
“Dua hari lalu, kami menemukan kau dan pemuda
kekasih kau itu pingsan di sebuah hutan. Apo yang terjadi
sebenarnyo, oh iya, ambo sampai lupa menanyakan siapo
nama kau ana rancak?”
“Nama saya Kinanti bu, saya dan teman saya
diserang manusia-manusia berpakaian kulit harimau, saya
tidak ingat apa-apa lagi ketika manusia harimau berjubah
biru itu mulai mengeram hebat.”

Sesaat perempuan berwajah tegas tercekat
mendengar nama gadis ayu tersebut. Ia berdehem sekadar
mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba melingkupi
jiwanya.

62

Kusyoto

“Kinanti, bolehkan ambo melihat sesuatu pada diri
kau?”

Gadis ayu mengangguk namun dalam hati merasa
aneh, sesuatu apa yang ingin dilihat wanita anggun
berwajah tegas ini. Perlahan wanita berjubah hitam dekati
sang gadis, ia menyibak rambut bagian belakang Kinanti.

“Ahh….”
Mata perempuan berwajah tegas sontak berobah
dari bibirnya terdengar pekikan kecil begitu melihat tanda
tiga guratan berbentuk cakar pada tengkuk gadis ayu
tersebut.
“Apa hubungan kau dengan Perkutut Kapimonda,
Kinanti?”
“Beliau mendiang ayah saya, ibu.”
“Duhai dewata agung. Apakah ini satu anugerah,
engakau pertermukan jua ambo dengan anak ambo.
Kinanti ambo ibu kau.” Kata wanita berjubah hitam
membuat Kinanti tercekat.”
“Ibu…, ibu?”
“Baiklah, ibu akan menceritakan sebuah riwayat
pada kau. Kinanti,” kata wanita berjubah hitam.
Pandangan matanya sesaat menerawang seakan ia tengah
mengupulkan segenap ingatannya.

-o0o-

63

Sengketa Tanah Galuh

Ketidak tahuan kadang melahirkan dua sisi mata
anak panah yang saling berseberangan. Bisa bancana bisa
juga anugerah. Entahlah, apakah pertemuan ambo dengan
ayah kau ini merupakan keduanya atau memang sudah
garis suratan takdir yang terukir jauh sebelum manusia
terlahir ke dunia.

Ambo terlahir dari darah murni Cindaku, yakni
seorang keturunan manusia yang ditakdirkan tuhan
mampu merobah wujud menjadi seekor harimau pada
waktu-waktu tertentu. Untuk melestarikan keseimbangan
alam antara bangsa manusia dan bangsa kami kita
mengadakan perjanjian Tingkas, yakni perjanjian batas
wilayah. Ratusan tahun lamanya perjanjian itu terjaga.
Bangsa kami tidak pernah melewati batas wilayah
manusia, pun dengan bangsa manusia, tidak pernah
sekalipun melewati batas kami.

Hingga satu masa yang tak seorangpun mampu
mencegah dan tiada seorangpun dapat menerka kejadian
apa di esok hari. Kala itu ambo dan beberapa teman
tengah berburu di sisi barat lereng pegunungan Kerinci,
kami melihat sepasukan prajurit Jawadwipa di bawah
pimpinan seorang perwira muda melewati perbatasan yang
telah disepakati dalam perjanjian tingkas. Tanpa
membuang waktu, kami menyerang pasukan dari
Jawadwipa tersebut hingga tumpas.

Entah mengapa begitu ambo bermaksud
menyudahi pemimpinnya, tanpa sengaja mata kami saling
menatap. Ada keteguhan, keberanian, kepasrahan dan jiwa
kesatria yang ambo lihat dalam binar mata perwira
Jawadwipa tersebut, hati ambo luluh oleh tatapannya yang
teduh menyejukan itu. Ambo membawanya ke sarang
kami walau beberapa kerabat terutama ayah ambo yakni

64

Kusyoto

kekek kau marah besar dan hampir saja menghabisi
perwira tersebut.

“Anggoni Maloka, atas dasar apo anak manusia ni
kau bawa kemari? Bukankah ia telah melanggar perjanjian
tingkas.” Kata lelaki tinggi besar berjubah putih, tangan
kanannya tampak menggengam erat saluang yang
ujungnya diarahkan pada sosok lelaki gagah yang
terbaring pingsan di atas balai rotan beralas kain tebal.

“Maapkan Maloka Ayah. ia tidak sengaja melewati
batas wilayah kita. Ambo mohon ampuni dia, ayah,” kata
gadis manis itu memelas.

“Hemm, denai indak biso memutuskan, biar para
inyiek yang menentukan dalam pertemuan di bulan
purnamo yang akan datang.”

“Jadi ayah mengampuni dia?”
“Menangguhkan. Ingat itu Maloka.”
“Tarimakasih ayah.”

Lalaki gagah berjubah putih mengangguk berat.
Setelah menyelipkan saluang pada pinggangnya ia
melangkah pelan meninggalkan kamar Maloka, anak
gadisnya.

Sang waktu berjalan begitu cepat. Selama di sarang
kami, perwira muda yang kemudian hari diketahui
bernama Perkutut Kapimonda itu sangat baik dengan kami
walau ia tahu dirinya adalah seorang tawanan dan
nyawanya ditentukan di saat bulan purnama yang
beberapa bulan lagi muncul di puncak gunung Kerinci.

Benih-benih kasih antara ayah kau dan ambo tidak
seorangpun mampu membendung, pun dengan ayah ambo.
Sebelum malam bulan purnana muncul, melalui seorang
tetua adat di luar kelompok menikahkan kami menjadi

65

Sengketa Tanah Galuh

sepasang suami istri. Dan sudah ambo kira, kekek kau itu
begitu murka karena darah murni dari kelompoknya telah
tercemar, apalagi ketika ayah tahu ambo telah
mengandung diri kau.

“Denai telah gagal memimpin kelompok, mengapa
kau begitu tega menghianati kelompok mu, Maloka?”kata
lelaki gagah berjubah putih dengan tatapan masgul.

“Ambo sangat mencintainya, ayah.”
“Baiklah Maloka, denai tidak bisa berbuat apo-apo
lagi. Mungkin ini sudah takdir yang telah tergaris. Sesuai
keputusan para inyiek, denai harus menyerahkan
kepemimpinan para cindaku pada kau.” Kata lelaki gagah
berjubah putih itu pelan. Gontai ia meninggalkan lereng
Kerinci entah kemana. Namun sebelum pergi beliau
sempat mengatakan jika anak yang ambo kandung lahir
perempuan anak itu harus diberimana Kinanti, jika laki-
laki terserah pada ambo, kelak keturunannya itu akan
mewarisi tanda, yakni sebuah guratan seperti cakar
harimau di belakang tengkuknya.” Kata perempuan
berwajah tegas tersebut mengakhiri ceritanya.
“Jadi benar ibu adalah ibuku?”

Perempuan berjubah hitam mengangguk pelan,
keduanya saling berpelukan tangis keharuan pecah sudah
di puncak Kerinci.

“Siapa nama pemuda kekasih kau itu, Kinanti?”
“Dia bukan kekasih saya, ibu.”
“Maksud kau?”
“Abilawa, pewaris padepokan Ciampea setelah
meninggalnya ayah.”
“Hemm…, begitu rupanya. Jadi benar ayah kau
telah tewas di tangan perwira Sriwijaya itu?”

66

Kusyoto

“Benar ibu. Tapi perwira Sriwijaya itupun telah
tewas di tangan Taruma Udaka, teman kami.”

“Kalian harus hati-hati, kabar nan tersirap, kakak
perwira yang membunuh ayah kau itu memiliki saudara
kembar yang sakti dan ilmu hitam yang sangat berbahayo.
Kau harus memberi tahu hal ini pado Taruma Udaka.”

“Baik ibu.”
“Kinanti, ambo perhatikan dari sikap dan cara
bicara kau, sepertinya kau menaruh hati pada Abilawa,
apakah benar dugaan ambo?”

Kinanti mendesah berat, paras cantiknya berobah
murung.

“Kenapo Kinanti?”
“Sepertinya saya tidak punya kesempatan, dia
tidak pernah memberi kesempatan pada saya, ibu.”

Wanita berwajah tegas tersenyum arif, dielusnya
belakang rambut Kinanti dengan lembut.

“Dengar ana rancak, kesempatan akan datang pado
seseorang yang mau berusaho dan memiliki keyakinan
teguh. Setelahnyo serahkan semuo tu pado kehendak
dewata agung.”

“Entahlah ibu. Berulang kali sudah saya coba,
namun sepertinya dia lebih memilih Arimbi.”

“Arimbi, siapo pula dia?”
“Murid Abilawa. Putri seorang pejabat di Sunda
Sembawa.”
“Indak ado salahnyo mencoba. Sekeras apapun
sebongkah batuo jika tetesan air terus menerus jatuh di
tempat samo, akan berlobang jua. Pun dengan kekerasan
hati.”

67

Sengketa Tanah Galuh

“Ibu mendukung saya?”
“Mengapo tidak, Kinanti. Orang tuo akan selalu
mendukung anak-anaknyo.”

Kinanti tertegun beberapa saat. Agaknya kecamuk
batin tengah melanda gadis ayu pemilik gigi gingsul
tersebut.

“Apakah ibu tahu dimana keberadaan kakek?” kata
Kinanti merobah topik pembicaraan.

“Kakek kau berado di tana datar, kawasan danau
Atar. Namun, sudah lamo kekek kau itu pergi entah
kemano. Oh ya, ambo sampai lupo menanyakan ado
keperluan apo kalian sampai terpesat ke Swarnabumi?”

Kinanti lantas menceritakan tugas yang diberikan
Prabu Tarusbawa pada dirinya dan Abilawa.

“Semoga kalian mampu menjalankan tugas itu
dengan baik. Sekarang mari kita temui Abilawa di
biliknyo,” kata perempuan berjubah hitam kemudian
bersama Kinanti berjalan pelan menghampiri bilik
Abilawa.

Abilawa tertegun beberapa lama begitu dua orang
perempuan yang tak lain dari Kinanti dan ibuya berdiri di
ambang pintu bilik tempat ia dirawat. Guru besar
padepokan Ciampea itu memberikan salam penghormatan
yang langsung disambut anggukan ramah sang tuan
rumah.

“Bagaimana kondisi kau? Ana mudo.”
“Saya merasa sudah agak baik. Terimakasih atas
pertolongan yang diberikan pada kami.”
“Bilawa, beliau adalah ibu ku,” kata Kinanti
membuat Abilawa kembali tercenung.

68

Kusyoto

“Benarkah? Kalau begitu nyai adalah guru saya
juga. Terimalah sembah bakti saya, nyai guru.” Kata
Abilawa sambil memberikan penghormatan.

“Bangunlah Abilawa, ada beberapa hal yang ingin
ambo tanyakan pada kau,” kata wanita berwajah tegas
membuat dada Kinanti bergemuruh, apakah ibunya akan
menanyakan sesuatu mengenai dirinya, atau ibunya ini
akan melamarkan Abilawa untuknya, berbagai praduga
berkecamuk di dadnya, aliran darah gadis manis ini
berdesir hebat meronakan wajahnya yang ayu. Ia hanya
mampu menunduk dalam.

“Abilawa apakah guru kau pernah bercerita
mengenai jurus sepasang cakar harimau?”

Guru besar padepokan Ciampea itu tampak
menerawang mengingat segala hal mengenai mendiang
Senapati Perkutut Kapimonda, gurunya.

“Ketika saya diangkat mendiang guru menjadi
penerus padepokan, beliau pernah mengatakan bahwa
jurus sunda buhun akan sempurna bila digabungkan
dengan jurus sepasang cakar harimau. Sayang sekali guru
tidak memberikan petunjuk selanjutnya dimana saya dapat
mendapatkan jurus tersebut, keburu beliau berangkat ke
medan perang untuk mengusir pasukan Sriwijaya hingga
tewas.”

“Kau berada di tempat yang tepat. Ana mudo.”

“Maksud nyai guru?”

“Kalian ikut ambo,” kata wanita berjubah hitam
tersebut lantas mengajak Abilawa dan Kinanti menuju
mulut sebuah goa di samping bangunan utama. Mulut gua
itu begitu sempit hanya bisa dilalui orang dengan posisi
miring. Ketiganya secara bergantian melalui mulut goa.
Betapa tercengangnya kedua anak muda itu ketika berada

69

Sengketa Tanah Galuh

di dalam goa. Sebuah lapangan luas terbentang di hadapan
ketiganya.

“Di tempat inilah kalian akan ambo latih. Sepasang
cakar harimau.”

“Kami ibu?”
“Benar. Kinanti jurus sepasang cakar harimau
harus diperagakan secara berpasangan. Seperti nama
jurusnya ‘sepasang cakar harimau’, kata wanita berwajah
tegas sambil memandang Abilawa dan Kinanti secara
bergantian.
“Baik nyai guru,” kata Abilawa takim. Semantara
Kinanti hanya mengangguk.

Di lain tempat dalam waktu yang bersamaan ketika
Abilawa dan Kinanti digembleng wanita berjubah hitam di
dalam sebuah goa di puncak gunung Kerinci.

Kebo Sempani dan Arimbi merasakan tubuhnya
membelintang di bahu orang sambil berlari secepat angin
pemuda ini coba mengetahui siapa tuan penolongnya. Ia
berusaha menelisik wajah orang yang terus berlari dengan
sangat cepat sambil mendukung keduanya. Kebo Sempani
dan Arimbi hanya menangkap kilasan-kilasan cepat pada
kedua matanya. Kelelah amat sangat membuat keduanya
kembali tak sadarkan diri.

Sosok bayangan hitam hentikan lari. Pada sebuah
batu pipih di pinggiran sungai tubuh Arimbi dan Sempani
dibaringkan. Ia teliti sejenak keduanya dengan saksama
setelah menemukan sumber masalah sosok bayangan
hitam keluarkan sesuatu dari balik baju hanboknya,
butiran kecil berwarna putih dimasukan ke dalam mulut
Arimbi dan Sempani. Diurutnya tenggorokan keduanya
hingga yakin butiran putih itu masuk sempurna kedalam
lambung. Setelah yakin apa yang dikerjakannya mendapat

70

Kusyoto

hasil, sosok bayangan misterius itupun melesat
meninggalkan Arimbi dan Kebo Sempani yang perlahan
siuman dari pingsannya.

“Gusti ayu Arimbi siapa yang menolong kita tadi?”
“Aku tidak mengenali wajahnya, ia bergerak
sangat cepat.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang.”
“Kita harus mengetahui dimana keberadan kakang
Taruma.”
“Gusti ayu lihat…!” kata Kebo Sempani begitu
sudut matanya melihat satu sosok bayangan hitam melesat
ke utara. Tanpa membuang waktu keduanya melenting
cepat mengejar bayangan hitam yang sepertinya segaja
ingin mereka mengikutinya. Pada sebuah lamping-lamping
batu cadas sosok bayangan hitam hentikan langkah seperti
menunggu Armbi dan Sempani, kemudian sosoknya
menghilang diantara rimbunnya rumpun ilalang.
“Ia menghilang di sini gusti ayu,” kata Kebo
Sempani, pandangan matanya menyapu ke segala penjuru.
“Sempani, kau lihat celah dinding itu,” kata
Arimbi.

Kebo Sempani mengangguk, keduanya masuk
celah sempit tersebut dan mendapati sebuah lorong
panjang dengan banyak obor menempel di dinding.

“Tempat apa ini Sempani?”
“Kita ikuti saja sampai ke ujung lorong, gusti ayu.”

Dengan sangat hati-hati keduanya kembali
melangkah dengan meningkatkan kewaspadaan. Di tempat
yang serba asing itu sesuatu bisa saja terjadi tanpa aba-
aba, setelah beberapa lama menyusuri lorong dengan

71

Sengketa Tanah Galuh

bantuan temaram obor, di depan mereka tampak seberkas
cahaya, keduanya mempercepat langkah, begitu menyibak
rumpun ilalang debur ombak terdengar riuh menghantam
karang. Di depan keduanya kini terbentang pemandangan
laut luas dengan pasir putih berlatar perbukitan cadas.

“Pesisir selatan Swarnabumi,” gumam Kebo
Sempani.

“Kau mengenali tempat ini?”
“Hanya dugaan saja gusti ayu. Lihat ombak besar
yang menghantam karang itu, biasanya ombak seperti itu
hanya ada di pesisir selatan.”

Keduanya terus melangkah diantara gerumbul
pepohonan bakau dan kayu api-api. Sekitar sepenguyahan
sirih, seratus tombak di hadapan mereka di antara
pepohonan waru laut tampak sebuah menara tinggi
menjulang. Di bawah menara terdapat beberapa bangunan
yang keseluruhannya terbuat dari batu-batu karang.
Beberapa orang bertampang tidak bersahabat tampak
mondar-mandir. Yang membuat mata Arimbi dan Kebo
Sempani terbelalak adalah sebuah bendera bergambar
tengkorak naga dengan latar api berkobar-kobar
terpancang tegak di atas sebuah karang.

“Bajak laut naga merah,” gumam Arimbi.
“Tidak salah lagi gusti ayu, ini markas bajak laut
naga merah.”
“Di mana mereka menyekap ayahanda, Candrika
dan Niluh Arundaya. Sempani ayo kita selidiki.”
“Sabar gusti ayu, jangan gegabah. Kita tidak tahu
berapa banyak jumlah meraka.”
“Apa rencana mu, Sempani?”

72

Kusyoto

“Menghadapi naga, kita harus menjadi naga, gusti
ayu.”

Arimbi tercenung beberapa kejap, gadis cantik ini
berusaha mencerna maksud dari kata-kata Kebo Sempani,
tak lama bibirnya mengukir senyum.

“Baiklah Sempani.”
“Kita tunggu hari gelap, gusti ayu.”

Arimbi kembali mengangguk-angguk tanda
mengerti.

Di tempat lain. Terpaut jarak ribuan mil dari
dataran Swarnabumi, di sebuah goa alam di dalam
belantara. Trauma Udaka merasakan seluruh tubuhnya
lemah tanpa tenaga. Ia mendapati dirinya terikat erat
sebuah rantai besi. Otaknya mulai bekerja, perlahan
ingatannya pulih.

“Di mana aku ini, tempat apa ini,” pikir Taruma
Udaka yang berusaha bangkit. Namum jangankan bangun,
menggerakan badan saja tidak mampu.

“Aku dalam pengaruh totokan. Arimbi, Sempani
bagaimana nasib mereka.”

Saat itulah nyala obor di mulut goa berdiri tegak
menandakan sesuatu menghalangi hembusan angin yang
masuk.

“Ada yang datang,” gumam Taruma Udaka.

Apa yang diperkirakan Taruma Udaka benar, tidak
menunggu lama satu sosok memakai baju hanbok
berwarna hitam dengan penutup wajah berwarna putih
telah berdiri tiga langkah di hadapan Taruma Udaka.
Orang yang baru datang itu seperti mengejar waktu segera
membopong tubuh Taruma dan meletakkan di punggung
kirinya. Dalam sekali hentakan kaki, tubuhnya melesat

73

Sengketa Tanah Galuh

dari dalam goa meninggalkan bunyi kerontang rantai besai
yang telah patah di beberapa bagian dan tercampak di
lantai goa.

Setelah beberapa lama Terguncang-guncang di
bahu orang, Taruma Udaka merasakan tubuhnya di
baringkan di atas rumput tebal. Sebuah butiran berwarna
putih dimasukkan orang tersebut ke dalam mulut. Taruma
merasakan orang itu mengurut tenggorokannya perlahan
hingga butiran putih masuk sempurna ke dalam
lambungnya. Setelah yakin usahanya berhasil, ia
melepaskan totokan yang menguasai Trauma Udaka dan
melesat pergi ketika Taruma Udaka sudah pulih dari
pengaruh bubuk pembius yang menguasainya.

“Siapakah orang itu, gerakannya sangat cepat. Ah
apa ini,” membatin Taruma Udaka, pemuda gagah itu
tertegun beberapa kejap begitu satu lembar daun rontal
tergeletak di tanah.

“Ia meninggalkan pesan,” pikir Taruma lantas
memungut daun rontal lantas membacanya tulisan yang
tertera di atas daun rontal.

“Kebo Sempani dan gusti ayu Arimbi sudah
berada di sarang naga merah. Trauma, hati-hatilah
seseorang telah memfitnah mu, kau dituduh membunuh
juru damai antar Negara, kini pasukan Sriwijaya,
Kalingga dan Sunda Sembawa tengah memburumu.”

“Apa yang terjadi. Siapa yang memfitnah ku?”
membatin Taruma Udaka.

Saat itulah lima bayangan hitam melesat dan kini
telah mengurung Taruma Udaka di tengah-tengah. Lima
orang bertampang sangar dengan seluruh tubuh dicat
warna keemasan, hanya menggunakan cawat hitam,

74

Kusyoto

bertelanjang dada, masing-masing menggenggam sebilah
tombak panjang dengan ujung tombak menyerupai trisula.

“Siapa kalian?”
Lima orang dengan senjata tombak menyeringai
seram. Salah satu dari kelima orang itu maju satu langkah,
matanya tajam menyapu Taruma Udaka dari ujung kaki ke
ujung kepala.
“Serahkan kepalamu,” kata lelaki berwajah
keemasan pertama, ia memiliki tinggi badan di atas rata-
rata.
“Ada silang sengketa apa antara aku dengan
kalian?”
“Kau bisa tanyakan semua itu pada malaikat maut
di akhirat sana,” geram orang tinggi jangkung lantas
memberi aba-aba pada kawan-kawannya untuk meringkus
Taruma Udaka.[]

75

Sengketa Tanah Galuh

Mutiara yang Belum Terasah

Puncak Gunung Pesagi meremang dalam dekapan
kabut dini hari. Hembusan angin dingin mencucuk
persendian. Namun tidak bagi sosok lelaki berperawakan
tinggi tegap tersebut. Seakan tidak mempedulikan alam
sekitarnya ia terus saja terpekur di hadapan sebuah altar
batu dengan pedupaan yang senantiasa mengepulkan asap
berbau stanggi menyengat hidung.

Sesekali tangan lelaki itu menaburkan sejenis
bubuk di atas pedupaan, mulutnya senantiasa bergumam
tak berkesudahan. Suasana masih sangat sunyi dan sepi
bahkan semilir angin pun seakan berhenti di kejauhan
lolong serigala tedengar panjang menyayat hati. Binatang
itu seakan melihat sesuatu yang membuatnya melolong
seram seperti itu.

Di awali gemuruh samar dari langit, seberkas
cahaya merah meluncur cepat menyisakan ekor panjang
dalam kegelapan. Cahaya merah yang ternyata bola api
besar meluncur cepat dan jatuh menimbulkan dentuman
keras di sebelah altar batu membuat lelaki kekar yang
masih terpekur di hadapan altar batu terlempar beberapa
depa. Tubuhnya tampak bergulingan dan berhenti
manakala membentur sebuah pohon panggang yang sangat
besar.

Di hadapan lelaki berperawakan tegap kini berdiri
satu sosok tubuh yang di kobari api berwarna merah
kehitaman.

“Anak manusia lancang!” dengus sosok dengan
kobaran api hitam sambil mengarahkan telunjuknya yang
berkobar-kobar pada lelaki tegap yang ada di hadapanya.

76

Kusyoto

“Datuk Angek Mambaro Kaliang, tarimolah salam
sembah bakti waang,” kata lelaki tersebut sambil
menjatuhkan tubuh di tanah dengan posisi menyembah.

“Siapo waang?”
“Aden Tumenggung Brajamadenta, datuk Angek.”
“Ado keperluan apo waang memanggil aden?”

Lelaki berperawakan tegap lantas angsurkan
sebuah guci terbuat dari perak.

“Waang hendak bersekutu dengan aden?”
“Benar datuk Angek Mambaro Kaliang.”
“Siapo musuh waang?”
“Taruma Udaka. Ia telah membunuh adik aden ini,
datuk.” Kata lelaki berperawakan tegap sambil
mengangsurkan guci perak berisi abu jenazah.
“Hahaha…, satu lagi anak manusio yang akan
menemani aden di nerako. Apo waang sudah siap dan tahu
apo konsekuensinyo?”
“Aden sudah bertekad bulat datuk Angek.”
“Bagus. Letakan abu jenazah adik waang di atas
altar batu itu.”

Tanpa disuruh kedua kali lelaki tegap yang tak lain
dari Tumenggung Brajamadenta itu letakan guci perak di
atas altar. Perlahan telapak tangan kanannya yang dikobari
api merah kehitaman raih guci perak dan meremasnya
hingga hancur berkeping-keping, abu jenazah sontak
bertebaran. Hal tidak masuk akal terjadi, abu jenazah yang
masih bertebaran di udara itu perlahan tapi pasti
membentuk satu sosok samar lelaki kekar yang
memandang tajam Tumenggung Brajamadenta.

“Ampal. Adik aden,” gumam lalaki tegap tersebut.

77

Sengketa Tanah Galuh

“Dia akan menuruti apapun yang waang
perintahkan.”

“Tarimokasih datuk Angek Mambaro Kaliang,”
kata Tumenggung Brajamadenta sambil menyembah.

“Ingatlah anak manusia. Kekuatannyo hanyo
bertahan selama empat puluh hari sajo. Waang harus
segera kembali ke siko. Jiko indak, adik waang akan
musnah dengan sendirnyo.”

“Baik datuk. Aden mengerti.”

“Kini diri waang telah tergadai.”

“Aden mengerti datuk.”

“Bagus. Hahaha…, dendam kesumat, sakit hati dan
persekutuan sesat adalah teman karib aden,” kata mahluk
sesat itu sambil tertawa-tawa penuh kemenangan. Perlahan
sosoknya mengecil berobah menjadi bola api lantas
melesat cepat meninggalkan puncak gunung Pesagi.

-o0o-

Lima orang lelaki bertampang sangar yang seluruh
badannya disepuh warna emas menggunakan tombak
panjang berujung trisula secara cepat atur pormasi
penyerangan. Taruma Udaka yang sedari tadi telah
waspada buang tubuhnya ke samping kiri begitu salah satu
lelaki yang seluruh badannya disepuh warna emas
hujamkan tombaknya ke dada pemuda tersebut.
Mengetahui serangan pertamanya gagal, ia segera cabut
tombak yang menancap di tanah, dengan cepat putar
senjata sedemikian rupa menimbulkan deru menggidikan.
Trauma Udaka atur kuda-kuda siap menyambut serangan
berikutnya semantara empat orang lelaki lainnya memutar-
mutar senjata bergerak perlahan mempersempit langkah
lawannya. Begitu sampai pada jangkauan titik tertentu satu
per satu secara bergiliran menyerang Taruma Udaka.

78

Kusyoto

Empat tombak silang menyilang menggempur
Taruma Udaka secara bergiliran. Tombak pertama
mengarah kepala, disusul tombak kedua yang mengincar
dada, tombak berikut mengincar perut. Tombak keempat
menusuk kaki,disusul lelaki pertama yang menyerang
Taruma Udaka secara mengejutkan kini sudah berada di
belakang tubuh Taruma Udaka menusukkan tombaknya
secara beruntun pada punggung diteruskan dengan tiga
tusukan cepat pada kaki, perut dan dada.

Mengandalkan jurus tatu lima yang bersumber
pada kitab pusaka mendiang eyang Jalatunda, sosok
Taruma Udaka bagai burung sikatan. Melenting ringan ke
sana ke mari menangkis serbuan lima jurus tombak
mengunakan ranting kering pohon Kiara. Walau hanya
ranting karena sudah dilambari dengan hawa murni maka
ranting kering rapuh itupun laksana lempengan baja lentur.
Percikan bunga api tercipta manakala berbenturan dengan
ujung tombak lawannya.

Empat ujung tombak menderu susul menyusul
pada kepala, dada, perut dan kaki. Keempat serangaan
silih berganti mampu diredam Taruma Udaka dengan baik.
Namun begitu serangan inti yang dilancarkan orang
kelima dari arah belakang yang mengincar kepala, dada,
perut dan kaki secara beruntun sempat merepotkan dan
membuyarkan konsentrasi pemuda gagah ini. Trauma
Udaka harus berpikir cepat dan akurat memecahkan
kelemahan juru lawannya. Kala itu dalam dunia persilatan
tanah Andalas jurus tombak yang diperagakan empat
lelaki tersebut dikenal dengan nama tombak cagak tigo
pamasuang awak. Sebuah jurus paling mematikan dari
ngarai Sihanok.

79

Sengketa Tanah Galuh

Tidak mau ambil risiko. Taruma Udaka segera
mengetrapkan jurus Banyu Lantis yang bersumber dari
kitab pusaka warisan eyang Jalatunda. Setelah berhasil
menghindari serangan beruntun orang ke lima yang
mengincar kepala, dada, perut dan kaki. Ranting kering
dalam genggaman pemuda ini meliuk secepat kilat dalam
irama tertentu kaki pemuda gagah ini berhasil menendang
dada lawan hingga ambruk, tombak lawan melesat ke
udara.Taruma Udaka melenting ke atas, tangan kirinya
berhasil meraih pangkal tombak. Masih di udara. Dengan
memanfaatkan grafitasi bumi sambil memutar tombak.
Pemuda gagah itu melesat laksana burung sikatan
mendobrak pertahanan empat lawannya.

Empat orang yang bersiap melancarkan serangan
secara bergiliran terhenyak. Menyadari kelemahan
jurusnya telah diketahui lawan. Terlambat. Sebelum
keempatnya mengusai situasi. Angin putaran tombak dari
atas sampai begitu cepat menderu ganas memuat keempat
orang itu mencelat ke udara. Taruma Udaka yang sampai
terlebih dahulu di tanah kembali putar tombak dengan
cepat begitu keempat lawannya menjejak tanah
menggunakan pangkal tombak menggedor satu persatu
dada lawanya hingga ambruk tak sadarkan diri.

“Jurus tombak mematikan,” gumam Taruma
Udaka.

“Pesisir selatan Swarnabhumi.”

Mengingat sampai di situ. Taruma Udaka segera
melesat meningalkan kawasan tersebut. Beberapa mil
berlari dengan mengandalkan jurus ringan badannya yang
bernama tapak bayu, Taruma Udaka telah sampai di satu
hutan kecil. Pemuda gagah ini terhenyak bilamana dari
perbukitan cadas terdengar ringkik kuda banyak sekali.
Tak menunggu lama puluhan umbul-umbul dan bendera

80

Kusyoto

kebesaran berupa Cakra dan bunga Teratai. Lambang
kebesaran Kerajaan Kalingga Utara muncul perlahan
mengurung tempat tersebut. Trauma Udaka hanya diam
memperhatikan bilamana puluhan prajurit berkuda
Kalingga Utara turun dari atas bukit cadas dan mengurung
dirinya di tengah-tengah. Dari kerumunan prajurit
menyeruak satu sosok tegap. Melangkah pelan dan
berhenti tiga tindak di hadapannya.

“Andika yang bernama Taruma Udaka?” kata
lelaki kekar tersebut dengan sorot mata tajam.

“Bukankah kalian prajurit Kalingga Utara?”
“Andika belum menjawab pertanyaan ku.”
“Benar. Saya Taruma Udaka.”
“Bagus sekali. Prajurit tangkap dia…!”

Taruma Udaka terhenyak. Pemuda gagah ini tidak
habis pikir mengapa prajurit-prajurit Kalingga Utara mau
menangkapnya.

“Apa salah saya?”
“Atas perintah sang maharani Shima. Kau
dinyatakan bersalah telah membunuh Resi Sidawirah.”
“Fitnah keji.”
“Jangan melakukan hal bodoh anak muda. Aku
Senapati Awug Galung diperintahkan menangkap mu.
Menyerahlah dan jangan mempersulit kami.”
“Saya tidak melakukan tuduhan keji itu.”
“Kau bisa jelaskan nanti di hadapan sang maharani
Shima.”

Menimbang kondisi tubuhnya yang masih lemah
akibat usai bertarung. Walau ia mampu menghadapi
puluhan prajurit Kalingga namun pemuda gagah ini segera

81

Sengketa Tanah Galuh

berpikir jernih dan jauh ke depan tentang akibat yang
timbul nantinya.

“Baiklah. Saya ikut kalian.”
“Keputusan yang bijak. Anak muda, prajaurit
amankan pemuda ini,” kata Senapati Awug Galung. Dua
orang prajurit Kalingga maju ke depan bermaksud
mengikat tangan Taruma Udaka. Entah darimana
datangnya sebuah anak panah melesat cepat dan menancap
menghalangi langkah kedua prajurit Kalingga Utara.
“Tidak semudah itu kalian membawanya. Pemuda
itu tanggung jawab kami,” terdengar suara lantang di susul
munculnya pasukan Sunda Sembawa mengurung prajurit-
prajurit Kalingga Utara di tengah tengah.
“Bukankah kau Tumenggung Brajamadenta?”
“Hahaha…, Senapati Awug Galung. Kau masih
mengenalku rupanya.”
“Kenapa kau bersama prajurit-prajurit Sunda
Sembawa?”
“Dengar Senapati. Antara Sriwijaya dan Sunda
Sembawa kini telah terjalin kerja sama kesetaraan. Tidak
seperti kalian orang-orang Kalingga yang sombong
menolak ajakan kerjasama damai dengan kami.”
“Tumenggung Brajamadenta. Itu bukan urusan mu.
Urusan kami adalah membawa pemuda ini ke Kalingga.”
“Langkahi dulu mayat kami.” Geram Tumenggung
Brajamadenta.
“Tunggu Tumenggung. Kenapa urusannya jadi
seperti ini,” kata seorang laki-laki tegap. Ia adalah
Senapati Wulung Seta yang ditugaskan Prabu Tarusbawa
menjemput Taruma Udaka.

82

Kusyoto

“Bukankah sudah jelas Senapati Wulung Seta.
Mereka bermaksud menangkap tuan Taruma Udaka.
Apakah kita biarkan saja?”

“Biarkan aku yang bicara. Tumenggung
Brajamadenta,” dengus Senapati Wulung Seta sambil
menatap tajam mata Tumenggung Brajamadenta. Kedua
perwira ini sejenak saling menatap tajam. Namun
Tumenggung Brajamadenta segera tersenyum dan
mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Silahkan Senapati,” kata Tumenggung
Brajamadenta.

Senapati Wulung Seta maju selangkah berhadapan
dengan Senapati Awug Galung.

“Maap tuan Senapati. Apa salah pemuda itu hingga
harus ditangkap?”

“Ia telah membunuh Resi Sidawirah, penasihat
agung maharani Shima.”

“Tuan Senapati. Kami diperintah gusti prabu
Tarusbawa menjemput Taruma Udaka untuk dimintai
keterangan tentang hal ini. Jadi marilah kita bersama
menuju Sunda Sembawa, agar permasalahannya menjadi
jelas.”

“Maap. Perintah maharani Shima sudah jelas.
Kami harus membawa Taruma Udaka ke Kalingga Utara.”

“Urusan ini akan semakin rumit kisanak.”
“Maka biarkan kami membawa anak muda itu ke
Kalingga Utara. Urusan selesai.”
“Sayang sekali. Aku tidak mengizinkannya.”

83

Sengketa Tanah Galuh

“Maap tuan Senapati Wulung Seta. Alangkah
baiknya jika saya ikut mereka ke Kalingga,” sela Taruma
Udaka.

“Kau tidak punya hak bicara. Anak muda,
statusmu kini tersangka.” Ujar Senapati Wulung Seta.

“Waktu kami tidak banyak tuan Senapati. Biarkan
aku membawa Taruma Udaka ke Kalingga,” ujar Senapati
Awug Galung dengan nada tidak sabar.

“Sudah aku tegaskan. Trauma Udaka harus
kembali dulu ke Sunda Sembawa.”

“Kalau begitu tidak ada jalan lain. Cabut
senjatamu, jika aku kalah kau boleh membawa pemuda ini
ke Sunda Sembawa. Kalau kau yang kalah, ia harus ikut
kami ke Kalingga Utara.” Dengus Senapati Awug Galung
sambil mencabut pedangnya.

“Aku terima pedang tanpa warangka mu. Senapati
Awug Galung,” ujar Senapati Wulung Seta lalu cabut
pedang dari warangkanya. Kedua kesatria itu tampak
berhadapan.

“Dewata Agung. Kenapa jadi seperti ini,” gumam
Taruma Udaka.

Angin bertiup kencang menggugurkan daun-daun
kering. Senapati Awug Galung dan Senapati Wulung Seta
tampak berdiri tegap berhadap-hadapan. Agaknya kedua
kesatria ini sedang menelisik kemampuan lawannya.
Seekor pipit hinggap di atas batu, paruh kecilnya
mematuk-matuk lumut. Begitu kaki kecil sang pipit
menjejak dan terbang saat itulah pedang di tangan
Senapati Awug Galung dan Senapati Wulung Seta
berdesing menembus angin. Benturan senjata tajam tak
terhindarkan. Percik bunga api tercipta dari efek
beradunya senjata. Kedua kesatria sama-sama lentingkan

84

Kusyoto

tubuh ke belakang. Kembali atur pormasi kuda-kuda
penyerangan setelahnya pedang keduanya kembali beradu
tanpa jeda dalam rentang waktu yang diinginkan.

Dari awal jurus pembuka. Sebenarnya kemampuan
Senapati Awug Galung setingkat lebih tinggi dari Senapati
Sunda Sembawa tersebut. Namun keterburu-buruan
ditambah hasrat menyelesaikan pertarungan dengan cepat
membuat jurus Senapati Kalingga Utara itu sedikit
mengambang, kurang matang. Hal itu segera dimanfaatkan
Senapati Wulung Seta untuk lebih memancing emosi
lawannya. Ia sengaja mengulur-ulur waktu. Dengan
mengandalkan kelihaian akrobatik tubuhnya tampak
melenting ke sana ke mari menghindari jurus pedang
lawan. Hal mana semakin menyulut emosi Senapati Awug
Galung.

“Seperti ini kah kemampuan prajurit Sunda. Haya
menghindar dan berlari.” Dengus Senapati Awug Galung
sambil terus melancarkan serangan berantai memburu
lawannya.

Senapati Wulung Seta tersenyum penuh arti.
Pancinganya mengena. Maka ketika batas tenaga yang
dimiliki lawannya mulai tercapai. Dengan gerak muslihat
ia lentingkan badannya ke udara, melihat lawannya
melesat ke atas tanpa membuang waktu Senapati Kalingga
inipun hentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya mencelat ke
atas menyongsong lawan. Namun cepat dari perkiraan
sebuah jatuhan tumit Senapati Wulung Seta telak melanda
bahunya membuat Senapati Awug Galung terhempas
membentur tanah. Sebuah sentuhan logam dingin kini
dirasa menekan lehernya.

“Aku mengakui kelihaian mu. Senapati Wulung
Seta,” kata Senapati Awug Galung.

85

Sengketa Tanah Galuh

Senapati Wulung Seta tersenyum tipis. Ia
kendurkan tekanan ujung pedangnya dari leher Senapati
Awug Galung.

“Kurang ajar. Seseorang melarikan Taruma
Udaka!” teriak Tumenggung Brajamadenta lantang
membuat semua orang terperanjat lebih-lebih Senapati
Wulung Seta dan Senapati Awug Galung.

“Siapa yang melakukannya Tumenggung?”
“Aku tidak tahu. Gerakan orang itu sangat cepat.”
“Kearah mana?”
“Tenggara.”
“Kejar!”
Lima puluh pasukan Sunda Sembawa dan lima
puluh pasukan Sriwijaya segera melakukan pengejaran.
“Senapati bagaimana sekarang?” kata salah
seorang prajurit Kalingga Utara melihat sang kepala
pasukan hanya diam memperhatikan pasukan gabungan
Sunda Sembawa dan Sriwijaya itu melesat beramai-ramai
mengejar sosok bayangan yang melarikan Taruma Udaka.
“Kita kembali ke Kalingga,” gumam Senapati
Awug Galung.
Tidak menunggu lama derap puluhan ladam kuda
bergemuruh meninggalkan debu berterbangan di
belakangnya.

-o0o-

86

Kusyoto

Pesisir selatan Swarnabumi meremang dilamun
kabut dini hari. Kesibukan di markas besar bajak laut naga
merah menggeliat pasti seiring semburat jingga cakrawala
timur. Perlahan bola jagat menyembul dari permukaan
kaki langit menyibak halimun tipis yang melayang
diantara pepohonan nyiur, bakau dan kayu api-api. Di
belakang bangunan utama. Tepatnya dapur umum aroma
masakan tercium menggugah selera. Beberapa perempuan
paruh baya tampak mengolah berbagai macam masakan
untuk anggota para bajak laut. Rata-rata para perempuan
itu didatangkan dari daerah sekitar. Desa-desa di
sepanjang pesisir. Tak jarang ada beberapa yang diambil
paksa atau diiming-imingi pekerjaan dengan upah besar.

Di dalam bangunan induk. Seorang leki-laki tinggi
besar memakai baju jirah duduk di sebuah kursi beralas
selimut tebal. Sedang di hadapan lelaki dengan tatapan
setajam sembilu duduk melingkar beberapa orang anggota
bajak laut.

“Nyai Tenung Ireng. Tugas mu sudah kau
laksanakan?”

“Tentu saja tuan besar. Trauma Udaka saya
sembunyikan di satu tempat aman.”

“Begitu…?”

“Benar tuan besar.”

“Lalu apa ini!”sentak lelaki tinggi besar sambil
melemparkan sebuah rantai besi yang telah putus di
bebrapa bagian. Tepat di hadapan perempuan berjubah
sutra hitam tersebut. Semua orang yang berada di sana
sama tercekatnya.

“Tapi…, mana mungkin tuan besar.”

“Bahkan lima pendekar dari ngarai Sihanok pun
mampu dilumpuhkannya.”

87

Sengketa Tanah Galuh

“Saya akan membereskan semua kekacauan itu.
Tuan besar.”

“Bagus. Lantas bagaimana dengan para tawanan
itu?”

“Mereka kami tempatkan di tempat yang
aman.Tuan besar.”

“Aku yakin. Cepat atau lambat. Trauma Udaka
akan muncul di tempat ini untuk menyelamatkan ayahnya,
para pembesar Sunda Sembawa dan teman-temannya itu.”

“Tuan besar tidak usah khawatir. Kami telah
mempersiapkan segala sesuatunya,” sela seorang lelaki
jangkung bersenjatakan tongkat besi hitam.

“Masalah penyambutan maut aku percayakan
padamu. Datuk Jerangkong Hitam.”

“Saya tuan besar,” kata lelaki jangkung ceking
sambil menyembah.

“Warok Sampar Kombayoni.”
“Saya menunggu perintah. Tuan besar.”
“Kita membutuhkan lebih banyak prajurit-prajurit
tangguh untuk melaksanakan rencana tersebut. Minimal
kita membutuhkan paling sedikit sepuluh ribu prajurit
terlatih.”
“Saya sedang mengupayakannya tuan besar.”
“Bagus.”

Saat itulah seorang pelayan muncnul dari balik
pintu belakang. Di bantu beberapa orang lelaki. Dengan
cekatan menata hidangan yang mengepulkan asap dan
aroma menggoda. Setelah selesai menata sajian
perempuan muda itu siap berlalu.

88

Kusyoto

“Tunggu.” Sebuah suara berat terdengar
menghentikan langkah perempuan muda.

“Aku baru kali ini melihat kehadiranmu di sini?”
“Saya…, saya pelayan baru. Keponakan bi
Saromah”
“Mana bi Saromah.”
“Di…, dia ada di belakang tuan besar.”
“Prajurit panggil bi Saromah kemari.”
“Siap tuan besar,” kata salah seorang anggota
perompak lantas berlalu meninggalkan bangunan utama.
Tidak menunggu lama ia telah kembali dengan seorang
perempuan tua. Tertatih menghadap lelaki tinggi besar
yang dipanggil tuan besar tersebut.”
“Bi Saromah. Siapa gadis ini?”
“Oh…, dia Sumirah keponakan saya. Gusti.”
“Baiklah. Sumirah kau boleh pergi.”
“Terimakasih tuan besar.” Kata gadis kurus
tersebut lantas berlalu kembali ke dapur.
“Bi Saromah. Biasakan dirimu memanggilku
dengan sebutan tuan besar.”
“Baik-baik gus…, eh. Tuan besar.”
“Ya sudah. Kembali ke belakang.”
“Baik tuan besar,” kata perempuan tua tersebut
lantas berlalu meninggalkan ruangan dimana masih
berlangsung pembicaraan penting seiring sang mentari
perlahan beranjak ke titik pulminasi.

-o0o-

89

Sengketa Tanah Galuh

Taruma Udaka berusaha menelisik siapa orang
yang memanggulnya sambil berlari. Kilasan-kilasan cepat
dan bayangan samar silih berganti membuat mata dan
kepalanya pusing, menandakan begitu cepatnya orang
yang memanggulnya itu berlari. Perlahan rasa kantuk
menguasai pemuda ini. Tak lama ia pun terkulai tak
sadarkan diri. Orang yang memanggul Taruma Udaka
hentikan lari. Pada satu mulut goa ia letakan tubuh Taruma
Udaka. Setelah melepaskan totokan pada pemuda tersebut.
Sosok bayangan hitam itupun melesat entah kemana
seiring kesadaran Taruma Udaka yang kembali pulih.

“Apa maksud bayangan hitam itu. sudah dua kali
ia membawa lari diriku.” Gumam pemuda ini lantas duduk
di mulut goa.

“Eh. Apa ini,” kata Taruma Udaka. Di dekatnya
tampak sebuah bungkusan kain hitam. Perlahan dibukanya
bungkusan tersebut.

“Beberapa potong pakaian hitam dan apa ini.”
Taruma Udaka tertegun di telapak tanganya tergenggam
sebuah topeng tipis dari karet dan sebuah peta dari kain.

“Hemm, siapakah orang itu. Peta ini menunjukan
sebuah kawasan pantai, pesisir selatan Swarnabumi.”
Membatin Taruma Udaka.

“Baiklah, aku tahu maksudnya,” gumam Taruma
Udaka. Pemuda ini lalu melesat ke balik semak belukar,
tidak begitu lama dari gerumbul semak, Taruma Udaka
muncul dengan penampilan berbeda dari sebelumnya.
Tapa membuang waktu sesuai petunjuk yang tertera di
peta, ia pun melesat ke arah selatan.

Sejenak kita tinggalkan Taruma Udaka. Kini kita
ikuti perjalanan putra mahkota Galuh yang tersingkir.
Rahardian Sanjaya yang tengah dalam perjalanan menuju

90

Kusyoto

puncak gunung Sawal. Sesuai petunjuk dari Prabu
Tarusbawa ia harus mendapatkan sebuah kitab pusaka
bernama ‘pustaka retuning bala sarewu’. Menurut kabar
yang tersirat kitab pusaka itu kini dimiliki Rabuyut Sawal
yang tinggal di puncak Gunung Sawal.

Senja temaram perlahan melingkupi lereng gunung
Sawal. Semilir angin dingin terasa mencucuk persendian,
kabut tipis merambah lereng kemudian berkumpul di
sebuah lembah terus meluncur ke kaki gunung. Rahardian
Sanjaya ingat wejanga yang diberikan rabuyut Cibaruyan
mengenai kabut misterius yang akan menyesatkan
siapapun ketika kala senja di lereng Gunung Sawal.

Pemuda gagah ini layangkan pandangannya ke
arah tenggara. Benar apa yang dikatakan sang Rabuyut
Cibaruyan ketika bayangan terakhir matahari jatuh
diantara lamping bukit, di bawah pohon randu alas
raksaksa sebuah goa alam tampak samar dalam temaram
senja. Ribuan kelelawar keluar masuk goa tersebut. Tidak
membuang waktu Rahardian Sanjaya ayunkan langkah
cepat dan tanpa ragu memasuki goa alam tersebut.

“Goa yang aneh, dari luar mulut goa ini sangat
kecil, ribuan kelelawar hilir mudik tapi begitu masuk
sangat luas dan bersih.” Membatin Rahardian Sanjaya. Ia
lantas duduk di sebuah batu pipih, semantara di luar goa
suara-suara aneh, seram, mistis dan misterius mulai
terdengar. Perlahan rahardian Sanjaya pejamkan kedua
matanya, atur napas ikuti alur keluar masuk udara dalam
rongga dadanya, setelah tujuh kali melakukan hal yang
sama seberkas cahaya biru membias diantara kening
pemuda gagah ini tak lama putra mahkota yang tersingkir
itu telah larut dalam semadi seiring rembang petang
melingkupi kawasan lereng Gunung Sawal.

91

Sengketa Tanah Galuh

Suara alam hutan pegunungan Sawal mulai
menunjukan eksistensi. Geraman sang raja hutan
berkumandang di kejauhan, lolongan srigala panjang
menggidikan, cleret yang tak berkesudahan juga desir
angin bergemuruh menerpa dedaunan menimbulkan
suasana mistis penuh misteri. Rahardian Sanjaya tenang
dalam alur napas olah prana. Ia ingat wejangan rabuyut
Cibaruyan mengenai suara-suara aneh dan gangguan yang
akan dihadapi di dalam goa yang kelak dikenal orang
dengan nama goa lalay tersebut.

Desis panjang terdengar seiring bergelungnya satu
sosok panjang yang terasa kasap ketika menyentuh tubuh
putra mahkota Galuh tersebut. Hampir saja semadinya
tergugah kalau saja rabuyut Cibaruyan tidak memberikan
wejangan sebelumnya tetang mahluk yang kini membelit
tubuhnya. Dalam mitologi tanah Jawa, mahluk berupa
ular raksaksa bermahkota itu dikenal dengan nama naga
Jawa, mahluk mitologi yang telah diperkirakan
keberadaannya sejak zaman Majapahit.

Mahluk ini memiliki wujud seperti ular raksaksa
mirip naga Tiongkok namun tanpa kaki. Naga Jawa raib
membentuk seberkas cahaya putih dengan kecepatan kilat
menembus dada Rahardian Tarusbawa. Raibnya naga
Jawa disusul suara auman dahsyat memenuhi relung goa
bersamaan munculnya puluhan sosok harimau berbulu
hitam legam bermata hijau. Harimau ini dikenal dengan
nama macan Lodaya. Rahardian Tarusbawa tetap tenang
dalam semadi. Ia yakin, semua penampakan dan gangguan
itu menurut rabuyut Cibaruyan merupakan godaan belaka.
Sosok puluhan harimau lodaya raib membentuk sinar biru
berpendar dan melesat secepat kilat masuk ke dalam
telapak tangan kanan Rahardian Sanjaya.

92

Kusyoto

Setelah semua godaan mampu dihadapi. Seberkas
cahaya kuning keemasan mucnul di hadapan putra
mahkota Galuh membentuk satu sosok lelaki tua gagah
berjubah putih. Terjadilah dialog batin antara Rahardian
Sanjaya dan sosok lelaki gagah berjubah putih tersebut.

“Kau berhasil incu. Kelak semua energi yang
berada dalam tubuhmu akan bersinergi mewujudkan
tujuan mu. Incu. Lanjutkan perjalanmu ke puncak gunung
sawal,” kata sosok bersinar tersebut.

“Terimakasih, kalau boleh saya tahu siapakah aki
ini?”

“Manikmaya, eyang buyut mu” seiring ucapannya
sosok lelaki berwibawa itu kembali ke ujudnya semula
yakni seberkas cahaya kuning keemasan kemudian pudar
seiring semburat rona jingga di ufuk timur.

“Eyang buyut Manikmaya,” gumam Rahadian
Sanjaya. Pemuda gagah ini lantas bangkit dari batu pipih
tempatnya bersemadi. Bias cahaya mentari pagi dan
segarnya udara pegunungan menyambutnya. Setelah
membersihkan tubuh di sebuah telaga kecil, rahardian
Sanjaya siap melanjutkan perjalan. Belum jauh putra
mahkota galuh meninggalkan goa lalay di sebuah tegalan
lima sosok telah menghadang langkahnya. Sosok pertama
seorang nenek cantik berwajah putih. Ia tokoh silat dari
tanah Madura bergelar Nyaeh raddin bade pote. Berdiri
gagah dengan sepasang tangan selalu di belakang
pinggang.

“Ramalan itu benar adanya. Anak muda serahkan
pedang langlang buana pada sengko,” kata nenek cantik
berwajah putih.

“H’an. Pedang harap serahkan pada lon,” kata
sosok ke dua. Seorang lelaki paruh baya berdestar hitam.

93

Sengketa Tanah Galuh

Dalam dunia persilatan tanah Swarnabumi ia dikenal
dengan nama rencong ganda lembah Haru.

“Mana bisa begitu. Kami bertiga lebih dari lima
purnama berada di tempat ini. Jadi partai el maut yang
berhak atas pedang tersebut,” sela salah satu dari tiga
sosok berjubah hitam. Ketiganya merupakan anggota dari
partai silat el maut perbukitan Menoreh.

“Maap para orang gagah. Saya tidak mengerti apa
yang kalian bicarakan,” ujar rahardian Sanjaya.

“Labi-labi dalam biduak,” gumam rencong ganda
lembah haru.

“Masih mungkir,” menambahkan el maut dari
perbukitan Menoreh.

“Anak muda, dengar. Siapapun yang berhasil
keluar hidup-hidup dari goa lalay dialah yang telah
berhasil mendapatkan pedang langlang buana itu,” sela
nenek cantik berwajah putih.

“Tapi saya tidak memiliki pedang yang kalian
maksud.”

“Ahh…, agaknya tubuh tua ini perlu pemanasan
sedikit,” gumam nenek cantik berwajah putih. Begitu
kedua lenganya yang sejak tadi berada di belakang
digerakan, dua buah celurit besar dengan pamor hitam
angker tergenggam pada dua tangan si nenek berwajah
putih.

“Anak muda sekali lagi lon tegaskan. Serahkan
pedang itu pada lon,” sentak rencong ganda lembah Haru,
kedua tangannya bergerak ke samping, kini dua buah
rencong dengan bilah kelabu tergenggam di kedua
tangannya.Tiga el maut dari perbukitan menorah pun tidak
mau kalah. Kini di tangan masing-masing tergenggam
sepasang parang berbentuk bulan sabit.

94

Kusyoto

Saat itulah di udara berkelebat lima sosok
bayangan tegak berdiri membelakangi rahardian Sanjaya.
Sosok pertama adalah seorang lelaki gagah bercaping
bambu dengan puluhan belati terselip di pinggang dan
selempang bahunya, sedang sosok kedua, seorang gadis
manis berambut panjang dengan pedang terselempang di
punggung, sosok ketiga keempat dan kelima adalah
pemuda-pemuda gagah perawakan tegap.

“Serahkan mereka pada saya. Silahkan rahardian
lanjutkan perjalanan ke puncak gunung Sawal,” kata sosok
bercaping bambu dengan puluhan belati terselip di
pinggang dan selempang bahunya. Mendengar bisikan itu
rahardian Sanjaya lesatkan tubuhnya ke samping dan
secepat kilat meninggalkan tempat tersebut.

“Jangan berani kabur kau anak muda,” teriak si
nenek cantik muka putih siap mengejar namun salah satu
dari ke empat sosok yakni seorang gadis cantik berambut
panjang telah berdiri menghadangnya.

“Anak cantik, jangan salahkan sengko jika wajah
ayu mu itu tergores bade ganda sengko,” gertak si nenek
berwajah putih lantas sabetkan senjatanya pada lawan.
Pertempuran pun berjalan seimbang. Nenek cantik muka
putih berhadapan dengan gadis cantik bersenjata pedang,
rencong ganda lembah Haru berhadapan dengan sosok
bercaping bambu dengan puluhan belati di pinggang dan
selempang bahu dan tiga anggota el maut perbukitan
menorah berhadapan dengan tiga pemuda gagah kawan
dari si gadis yang tengah menghadapi nenek cantik
berwajah putih.

Tiga puluh jurus berlalu dengan cepat. Setelah
menghindari sabetan beruntun rencong ganda lelaki
bercaping bambu lemparkan beberapa belati pada lawan
begitu lawan sibuk menangkis puluhan belati, orang

95

Sengketa Tanah Galuh

bercaping putar tubuhnya dalam sekali jejakan kaki ke
tanah sosoknya melenting ke atas menerobos dedaunan
lalu raib dari pandangan. Pun dengan keempat remaja
begitu sosok lelaki bercaping memberi kode maka
keempatnya tingkatkan serangan ketika lawan mulai
terdesak dengan satu kelebatan keempatnya kini tampak
jauh di lamping bukit sebelah utara kemudian raib diantara
gerumbul semak.

“Sepertinya mereka hanya mengulur waktu kita,”
dengus sang nenek cantik berwajah putih.

“Ayo kejar. Lon yakin mereka mengikuti pemuda
itu.”

Keempatnya jejakan kaki ke tanah dalam sekejap
sosok mereka terlihat jauh melintasi lereng-lereng gunung
Sawal.[]

96

Kusyoto

Misteri Liang Naga

Pesisir selatan Swarnabumi meremang dalam
kabut dini hari. Debur ombak bergemuruh susul menyusul
memecah gugusan karang terjal. Angin dingin berhembus
mencucuk tulang. Di angkasa nan kelam kilat melintas,
suasana terang sekejap, lengang. Yang tampak hanya
gugusan batu karang yang terus dihantam gelombang laut.
Rintik hujan perlahan turun, kilat kembali melintas disusul
gelegar halilintar membelah angkasa. Saat itulah di antara
sambaran kilat dan gelegar halilintar empat sosok yang
luput dari perhatian mata biasa terlihat berdiri di atas
sebuah pilar kokoh sebuah menara mercusuar. Wajah
keempatnya antara ada dan tiada dalam lintasan kilat dan
deru angin mengibarkan ujung pakaian keempat sosok
misterius yang diam bak patung pualam.

“Senapati Yuda Karna. Sudah ada tanda-tanda di
mana ayah saya, Kinanti, Candrika, dan para bangsawan
Sunda Sembawa disekap?”

“Maapkan saya gusti dewi Arimbi. Agaknya
mereka semua tidak berada di tempat ini.”

“Mungkin disekap di tempat lain,” sela Sempani.

“Kemungkinan itu ada Sempani. Tapi di mana.”

“Bagaimana menurut kakang Taruma?”

“Hyah…, satu purnama sudah kita berbaur dengan
mereka namun dimana keberadaan para tawanan masih
misterius. Bersabarlah, kita tunggu satu purnama lagi.
Senapati Yuda Karna saya mohon tetap melakukan
penyelidikan sambil terus menyamar.”

“Baik tuan Taruma, saya pamit,” kata salah satu
sosok lantas memakai kembali caping yang sempat
dicopotnya, sekali hentakkan kaki di atas karang sosoknya
raib seiring sambaran kilat dan gelegar halilintar.

97

Sengketa Tanah Galuh

“Adikku Arimbi dan Kebo Sempani. Segera
kembali ke tempat masing-masing, tunggu aba-aba saya.”

“Baik kakang Taruma.”
“Tandya tuan Taruma.”
Jawab keduanya berbarengan, entah bagaimana
mereka bergerak kini sosok keduanya terlihat jauh di
lamping gugusan karang sebelah selatan. Semantara
Taruma Udaka masih berdiri di tempatnya, dengan sorot
nanar disapukan pandangannya ke sekeliling. Hanya
kegelapan di balut hujan yang semakin lebat mengguyur
permukaan laut, ketika sekali lagi kilat melintas disusul
gelegar halilintar sosok pemuda gagah itu telah raib dari
pandangan. Keempatnya tidak menyadari dari tadi semua
pembicaraan mereka telah diperhatikan dan didengar oleh
bayangan hitam yang sedari tadi mendekam di atas
wuwungan pilar mercusuar.
“Kini aku yakin. Siapa senapati itu sebenarnya,”
gumam sosok bayangan hitam tersebut sambil mengusap
bilah pedang tanpa warangka di tangan kananya.
Begitu Taruma Udaka dan kawan-kawan meninggalkan
tempat tersebut sosok ini perlahan tampakan diri, senyum
penuh arti menyeruak dari sudut bibirnya. Kilat kembali
melintas, sosok misterius kini sudah tidak ada lagi di
tempatnya.

-o0o-

Suitan-suitan nyaring dan bunyi genta terdengar
sambung menyambung dari atas menara mercusuar yang
kokoh berdiri di atas sebongkah bukit karang. Tidak

98

Kusyoto

menunggu lama dari lamping perbukitan karang terjal
berloncatan sosok-sosok tegap bertampang sangar, mereka
tak lain dari anggota bajak laut naga merah. Ketika semua
anggota bajak laut berkumpul membentuk barisan besar
dari bangunan utama muncul satu sosok tinggi besar,
memakai destar berwarna hitam, sebilah golok besar
terselip di pinggang kanannya. Dialah sang pemimpin
bajak laut naga merah yang selama ini dikenal dengan
sebutan tuan besar.

“Sebentar lagi para saudagar dari Kalingga akan
melintas selat Sunda. Sambut mereka dengan meriah.”

“Siap tuan besar…!” jawab semua anak buahnya
sambil mengacungkan senjata ke udara.

“Warok Sampar dan datuk jerangkong hitam
pimpin anak buahmu.”

“Baik tuan besar,” kata lelaki dengan cambang
bawuk meranggas di wajahnya yang angker itu lantas
pamit dan tinggalkan tempat tersebut diikuti lelaki
jangkung ceking berjubah hitam.

“Tuan besar bagaimana dengan saya?” kata
perempuan cantik berjubah sutra hitam.

Orang tinggi besar tatap tajam perempuan berjubah
sutra hitam. Senyum sinis menyeruak dari sudut bibirnya.

“Nyai Tenung Ireng. Dukun gagal seperti kau lebih
pantas membantu bi Saromah di dapur,” desis lelaki tinggi
besar membuat perempuan cantik berjubah sutra hitam
tertegun beberapa kejap.

“Kenapa masih di sini…!”
“Tapi tuan besar.”
“Itu satu hukuman atas kegagalan mu. Nyai tenung
ireng.”

99

Sengketa Tanah Galuh

“Tuan besar….”
“Pergi!”
“Baik tuan besar,” kata nyai Tenung Ireng sambil
bungkukan badan lantas berlalu meningalkan halaman
utama markas bajak laut naga merah menuju belakang
pondok, tepatnya dapur umum. Di ambang pintu ia
berpapasan dengan keponakan bi Saromah yang tengah
menyapu halaman.
“Sumirah di mana bi Saromah?”
“Di dalam biliknya nyai. Silahkan masuk.”
“Siapa yang datang Sumirah.”
“Nyai tenung ireng bi.”

Tak lama dari dalam pondok muncul bi Saromah.
Perempuan paruh baya juru masak itu membimbing nyai
tenung ireng masuk ke dalam biliknya. Diikuti Sumirah.

“Ada apa nyai. Sepertinya ada hal penting.”
“Harus aku lakukan. Kalau tidak sia-sia
semuanya.” Gumam nyai Tenung Ireng.
“Kami tidak mengerti maksud nyai,” kata bi
Saromah.
“Sumirah. Aku tahu siapa kau sebenarnya dan apa
yang kalian rencanakan,” kata wanita cantik berjubah sutra
hitam. Sumirah tertegun beberapa kejap. Gadis kurus
berkulit hitam itu perlahan selusupkan tangan kanannya ke
balik pinggang pakaian yang kedodoran. Di balik pakian
itulah ia meyimpan pedang tipisnya.
“Jangan panik den ayu. Seperti yang aku katakana
tadi, harus aku lakukan kalau tidak sia-sia semuanya.”
Nyai Tenung Ireng hentikan sejenak kalimatnya. Begitu
Sumirah sedikit tenang ia lanjutkan kata-kataya.

100


Click to View FlipBook Version