Babad Tanah Leluhur
M. Aboed
BABAD TANAH
LELUHUR
(Kisah Sepasang Anak Harimau)
2
Kisah Sepasang Anak Harimau
Babad Tanah Leluhur
(Kisah Sepasang Anak Harimau)
Karya : M. Aboed
Penyulih pustaka: Kusyoto
Editor: Tim Jsi
Tata Letak: Tim Jsi
Sampul Cover: Adi Suta
Diterbitkan Oleh: JSI Publisher
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
All right reserved
3
Babad Tanah Leluhur
4
Kisah Sepasang Anak Harimau
Blurb/teks belakang cover
kisah cinta segi tiga antara Anting Wulan, Saka Palwaguna dan
Intan Pandini membuat baper para pecinta Sandiwara Radio
Babad Tanah Leluhur.
Sekilas, ilustrasi yang tersirat tentu semakin membuat
penasaran untuk segera melahap apa isi cerita dari novel
tersebut.
Petrus Urspon. Daber profesional pengisi suara Raden Saka
Palwaguna.
Novel keren, wajib baca sebelum dilupakan. Bagi saya yang
pernah memerankan tokoh Saka Palwaguna, sangat
rekomended sebab novel ini bukan saja berperan sebagai
bacaan biasa namun ada sesuatu rahasia tersembunyi di
dalamnya. Bacalah dan selamat berpetualang.
Lamting. Aktor laga. Pemeran Raden Saka Palwaguna.
Bacalah. Dan kau akan menemukan dunia tidak berjalan biasa
saja. Novel nan luar biasa melambungkan angan dan imajinasi,
sarat makna dan pesan moral akan arti hidup dan kehidupan.
Cempur dan Ansa lovers wajib baca nih.
Yulie Muliana. Daber provesional pengisi suara Cempaka.
Novel ini bagai senandung alunan musik dalam lautan pasir,
oase penyejuk nan menyegarkan. Lembar demi lembarnya bak
melodi indah tiada batas.
Harry Sabar. Penata musik layar lebar, pencipta lagu, penata
musik Sandiwara Radio Babad Tanah Leluhur, Wahyu
Astabrata.
Seakan diajak berkelana ke dunia penuh imaji. Kisahnya
sangat komplit dan rapat. Terukur dan terstruktur. Satu kata
buat novel ini. Cerdas.
Joseph Hugan. Aktor laga. Pemeran Dadung Amoksa.
5
Babad Tanah Leluhur
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puja dan puji syukur ke hadirat Illahi
Robi atas nikmat yang tiada kira tercurahkan pada kita
semua sebagai mahluknya yang berbudaya dan atas
kehendak rahmat, inayah dan hidayahnya penulis dapat
menyelesaikan sulih suara menjadi sulih pustaka dalam
novel adaptasi sandiwara radio Babad Tanah Leluhur
hingga dapat dinimati oleh sobat-sobat pecinta sejarah
masa silam, terimakasih tak terhingga penulis haturkan
pada keluarga, istri terkasih, Unarih Tarahman, anak-anak
tercinta, Panji Gumilang, Adistya Ramadhani, kalian
sumber inspirasi tanpa batas dalam mengarungi bahasa
sunyi yang selama ini penulis geluti. Akhirul kalam,
simaklah suguhan pagelaran dalam bentuk novel yang
kaya akan makna kehidupan, sarat pesan tersembunyi,
simbol-simbol kehidupan tidak terlepas dari sentuhan
dingin sang pemilik jagat, pengatur sekenario kehidupan
nan indah.
Wassalam.
Indramayu, 2021
Penyulih Pustaka
(Kusyoto)
6
Kisah Sepasang Anak Harimau
Daftar Isi
Kata Pengantar ..........................................
Daftar Isi ...................................................
Sinopsis .....................................................
Endorsmen ................................................
Kisah Sepasang Anak Harimau ..................
Tentang Penulis .........................................
7
Babad Tanah Leluhur
Endorsmen
Mengukir kenangan lewat
indera dengar dan merealisasikan kekuatan indra
penglihatan (Mata) untuk membangun imajinasi lewat
sebuah cerita yang pernah didengar tentu mempunyai
pengalaman tersendiri bagi mereka yang pernah
mendengarkan Sandiwara Radio fenomenal karya
M.Aboed (Alm). Bagi para pecinta Sandiwara Radio di era
80-90 an, Sandiwara Radio Babad Tanah Leluhur tentu
sudah familiar. Sandiwara Radio yang diperankan oleh
para pemain Sanggar Prativi dan salah satunya saya
(Petrus Urspon) sebagai pemeran dalam mengisi suara
Raden Saka Palwaguna.
Sang penulis. Mas Kusyoto ingin mengaduk-aduk para
pembaca terutama pecinta Sandiwara Radio lewat
tulisannya dengan latar belakang Sandiwara Radio
Babad Tanah Leluhur yang penuh kisah heroik, kisah
cinta yang tercabik namun penuh ketulusan memaknai
arti cinta.
Raden Saka Palwaguna dan Anting Wulan diutus
gurunya resi Wanayasa mencari markas Jerangkong
Hidup, semantara itu Intan Pandini yang meminta tolong
pada Raden Saka Palwaguna mengakibatkan Anting
8
Kisah Sepasang Anak Harimau
Wulan cemburu, dia menyekap Intan Pandini di rumah
kosong, namun perbuatan adik seperguruannya itu
akhirnya diketahui Raden Saka Palwaguna, terlambat
ketika Raden Saka Palwaguna menemukan Intan Pandini
secara tidak sengaja Anting Wulan membunuh gadis
sainganya itu dan menyebabkan Saka Palwaguna marah.
Intinya, kisah cinta segi tiga antara Anting Wulan, Saka
Palwaguna dan Intan Pandini akan membikin baper para
pecinta Sandiwara Radio Babad Tanah Leluhur.
Sekilas, ilustrasi yang tersirat tentu semakin membuat
penasaran untuk segera melahap apa isi cerita dari novel
tersebut.
Buat para pecinta Sandiwara Radio mari kita
bernostalgia dengan memiliki dan membaca novel Babad
Tanah leluhur ini.
Nah, buat kita semua tanpa terkecuali mari berselancar
ke dalam imajinasi masa lalu yang penuh kenangan
manis, tentu dengan memiliki dan membaca novel karya
mas Kusyoto ini.
Petrus Urspon. Daber profesional pengisi suara Raden
Saka Palwaguna.
9
Babad Tanah Leluhur
Novel keren, wajib baca
sebelum dilupakan. Bagi saya yang pernah memerankan
tokoh Saka Palwaguna, sangat rekomended sebab novel
ini bukan saja berperan sebagai bacaan biasa namun
ada sesuatu rahasia tersembunyi di dalamnya. Bacalah
dan selamat berpetualang.
Lamting. Aktor laga. Pemeran Raden Saka Palwaguna.
Bacalah. Dan kau akan
menemukan dunia tidak berjalan biasa saja. Novel nan
luar biasa melambungkan angan dan imajinasi, sarat
makna dan pesan moral akan arti hidup dan kehidupan.
Cempur dan Ansa lovers wajib baca nih.
Yulie Muliana. Daber provesional pengisi suara
Cempaka.
10
Kisah Sepasang Anak Harimau
Novel ini bagai senandung
alunan musik dalam lautan pasir, oase penyejuk nan
menyegarkan. Lembar demi lembarnya bak melodi indah
tiada batas.
Harry Sabar. Penata musik layar lebar, pencipta lagu,
penata musik Sandiwara Radio Babad Tanah Leluhur,
Wahyu Astabrata.
Seakan diajak berkelana ke
dunia penuh imaji. Kisahnya sangat komplit dan rapat.
Terukur dan terstruktur. Satu kata buat novel ini.
Cerdas.
Joseph Hugan. Aktor laga. Pemeran Dadung Amoksa.
11
Babad Tanah Leluhur
Sinopsis.
BABAD TANAH LELUHUR
Episode: Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kincir metu adalah sebuah ilmu. Lahir dari
kepala, maka tariklah buntut sampai kepala."
Padepokan Goa Larang diserang pendekar
kelas satu golongan hitam. Resi Wanayasa dan
murid-muridnya cerai berai tak tahu rimbanya.
Pendekar Ning Sewu yang diperdaya Bidadari
Pencabut Nyawa berusaha melacak jejak
gurunya.
Di bukit Batu Larang, raden Purbaya yang
dijadikan alat bertempur kedua tokoh maha
sakti di zamannya yakni Mamang Kuraya dan
Jerangkong Hidup harus menelan pil pahit
ketika Mamang Kuraya meregang nyawa akibat
tipu daya Jerangkong Hidup melalui perantara
dirinya. Karena tertarik dengan watak Raden
Karmapala dan Raden Purbaya, Jerangkong
Hidup membawa kedua pangeran mahkota itu
untuk dijadikan murid.
Sementara itu. Berkat bimbingan dan
petunjuk kakek misterius yang tidak lain
Mamang Kuraya, guru eyang resi Wanayasa
dengan menyempurnakan jurus gerbang
12
Kisah Sepasang Anak Harimau
dewata. Raden Purbaya berhasil mengikuti
pesta pendadaran bagi murid pemula yang
mampu menguasi jurus kincir metu tingkat
lima, walau akhirnya harus mendapat
hukuman karena dianggap mencuri jurus yang
belum saatnya dipelajari.
Pun dengan Raden Karmapala yang tidak
diperbolehkan melanjutkan pendadaran karena
dianggap curang, menggunakan jurus dari luar
padepokan membuat putra Prabu Sanna itu
marah. Kekesalan Raden Karmapala
dilampiaskan dengan mengambil paksa
Cempaka, emban pengasuh Raden Purbaya
yang mengakibatkan dewi Rara Angken
meninggal dunia. Atas kesalahanya eyang resi
Wabayasa mengurung putra prabu Sanna itu
di ruangan khusus.
Dalem Sentana yang berhasil menguasi
Karang Sedana berkat bantuan pendekar
golongan hitam menugaskan ki Sampar Angin
merekrut pendekar kelas satu golongan hitam
untuk menyerang padepokan goa larang
dengan tujuan menangkap permaisuri dan
putra mahkota Karang Sedana yang lolos atas
bantuan pendekar ning sewu goa larang.
Sebelum menyerang goa larang mereka
menyusun siasat dengan mengurangi kekuatan
goa larang, menyusupkan Mayang Telasih si
bidadari pencabut nyawa memfitnah Raden
13
Babad Tanah Leluhur
Saka Palwaguna hingga kelopok ning sewu
yang sedang tirakat memperdalam kincir metu
terpaksa meninggalkan padepokan untuk
menyelesaikan masalah yang sebenanya itu
hanyalah siasat musuh.
Saat itulah pada satu malam serangan
mematikan dari pendekar kelas satu golongan
hitam, pendekar bayaran Dalem Sentana yang
dipimpin ki Sampar Angin dan kawan
kawannya berhasil memporak porandakan goa
larang, menewaskan puluhan murid dan ki
Jatis Purut Sarompa juga memaksa resi
Wanayasa mengungsi ke kali Cagak.
Pendekar ning sewu yang menyadari siasat
mayang telasih segera kembali ke goa larang
namun terlambat, goa larang sudah hancur
saat itulah muncul eyang resi Wanayasa yang
memerintahkan mencari Raden Karmapala
yang ditangkap Dika Hanggara dan Mayang
Telasih karen disngka Raden Purbaya oleh
kedua pasangan kekasih tersebut. Dalam satu
pengejaran kelompok ning sewu dibantu Sariti
mampu menyelamatkanRaden Karmapala.
Sementara itu. Jerangkong Hidup yang
ikut dalam penyerangan goa larang terlibat
duel sengit dengan Mamang Kuraya. Keduanya
seimbang dan sama-sama terluka dalam dan
tidak mampu lagi bertempur langsung secara
pisik. Maka keduanya sepakat memanfaatkan
14
Kisah Sepasang Anak Harimau
Raden Purbaya sebagai alat pertarungan
psikologis dengan mengajarkan jurus saktinya
masing masing pada Raden Purbaya.
Disaksikan kelompok ning Sewu.
Pertarungan psikologis antara Mamang Kuraya
dan Jerangkong Hidup berlangsung sengit
hingga akhirnya dengan licik melalui tangan
Raden Purbaya, Jerangkong Hidup mampu
mengalahkan Mamang Kuraya.
Karena tertarik dengan sikap dan sifat
Raden Karmapala dan Raden Purbaya,
Jerangkong Hidup membawa lari kedua
pangeran itu entah kemana. Saat itulah resi
Wanayasa muncul dan memerintahkan
kelompok ning sewu mencari sarang
Jerangkong Hidup untuk menyelamatkan
Raden Karmapala.
Situasi Karang Sedana mencekam, dalem
Sentana yang kini menjadi penguasa baru
Karang Sedana mengharuskan semua laki laki
dan orang dewasa menjadi prajurit guna
memenuhi janjinya pada Rahyang Prabusora
menyediakan prajurit sebanyak 10. Ribu orang.
Bukan itu saja kehidupan rakyat semakin
susah dengan pajak dan angkara murka antek
penguasa baru yang memeras rakyat mambuat
bayak rakyat tidak tahan lalu pergi
meninggalkan Karang Sedana. Termasuk ki
Cengkara, paman Intan Pandini itu
15
Babad Tanah Leluhur
memutuskan pergi ke Sumedang Larang
menghindari antek penguasa yang sudah
merampas harta bendanya.
Ditengah jalan, prajurit Karang Sedana
memergoki ki Cengkara . Ia dan istrinya
dibunuh. Di saat kritis Intan Pandini
diselamatkan ki Camar Sulung salah satu
anggota kelompok pengemis tongkat merah.
Intan Pandini minta tolong Sariti agar
dipertemukan dengan Saka Palwaguna yang
dulu menolongnya. Hal itu membuat Anting
Wulan cemburu dan gelap mata.
Anting Wulan menculik Intan Pandini
dengan tujuan menjauhkan gadis malang itu
dari Saka Palwaguna. Intan Pandini terbunuh
dengan tidak sengaja oleh Anting Wulan
membuat Saka Palwaguna marah dan
menantang saudara seperguruannya itu duel.
Anting Wulan yang terguncang pikirannya
memutuskan melarikan diri. []
16
Kisah Sepasang Anak Harimau
BABAD TANAH LELUHUR
(Kisah Sepasang Anak Harimau)
Desa Gunung Batu. Dini hari nan kelam, udara
begitu dingin mencucuk persendian, angin berhembus
kencang dari puncak bukit, kabut tebal meluncur
merambah bukit karang yang terletak di sebelah tenggara
di mana sebuah sungai jernih berbatu-batu dengan
panorama indah memesona terhampar sejuk, gemericik air
sungai terdengar menerpa batu-batu gunung menambah
suasana alam nan eksotik. Tiap pagi dan sore
serombongan gadis-gasis desa mandi dan mencuci. Di
sebelah barat desa, terhampar pemandangan persawahan,
membentag luas sejauh mata memandang.
Sebelumnya, desa terpencil yang terletak di antara
perbatasan Kerajaan Karang Sedana dan Kerajaan Galuh
itu begitu damai dan tentram. Penduduk desa yang rata-
rata petani menjalani kehidupannya dengan tenang.
Berangkat ke sawah dan kebun di pagi hari, pulang di sore
harinya dan beristirahat di malam hari, sebuah rutinitas
biasa dari sebuah desa. Namun, tiga hari belakangan
ketentraman dan kedamaian desa Gunung Batu ternoda
oleh peristiwa tragis. Encum, kembang desa Gunung Batu
yang sepekan lagi akan dipersuntiung Sumar, lurah muda
Gunung Batu ditemukan tewas gantung diri di dalam
biliknya.
Tiga hari sebelumnya. Sore itu, Encum dan kawan-
kawannya tengah mandi dan mencuci di sungai jernih
sebelah tenggara desanya ketika seorang pemuda tampan
17
Babad Tanah Leluhur
berpakaian hitam ringkas dengan sulaman bunga tanjung
di dada sebelah kiri memakai ikat kepala berwarna merah
menemui gadis-gadis itu di pinggir sungai. Pemuda itu
begitu ramah memperkenalkan diri dengan nama Dika
Hanggara. Berbekal keterangan dari salah satu teman
Encum, ketika matahari semburat di ufuk timur lurah
Sumar bersama ki Reksa Manggala gurunya, orang tua
Encum dan beberapa warga desa mendatangi pinggir desa
yang diyakini pemuda tampan bernama Dika Hanggara
dan beberapa teman-temanya akan mengadakan
pertemuan.
Semantara itu di pinggir desa gunung Batu
beberapa orang bertampang sangar tampak duduk-duduk
di bawah rindangnya pohon Janakeling. Mereka adalah ki
Sampar Angin bersama Dandung Amoksa muridnya,
pendeta Girindasana bersama muridnya Rakosapala, dan
seorang tokoh golongan hitam bernama Wira Geni.
Kehadiran orang-orang ini tidak lepas dari rencana Prabu
Jaya Sentana yang memerintahkan ki Sampar Angin
merekrut pendekar golongan hitam dan jika waktunya tiba
secara serentak menyerang padepokan goa larang. Prabu
Jaya Sentana menginginkan permaisuri Aji Konda dan
sang putra mahkota Karang Sedana ditangkap.
“Sayang sekali, Bidadari Pencabut Nyawa dan
Dika Hanggara belum datang. Seperti yang sudah kita
rencanakan, dua hari ke depan setelah Bidadari Pencabut
Nyawa berhasil menjalankan rencananya, kita serang
padepokan goa larang dari berbagai penjuru.” Kata ki
Sampar Angin dijawab anggukan beberapa orang yang
mengelilinginya.
18
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Bagaimana dengan ki Prabangkara? Kenapa tidak
datang di pertemuan kita ini?” kata ki Wira Geni sambil
mempernainkan bandul kalung tengkorak yang melingkar
di lehernya.
“Kakang Prabangkara sedang memperdalam
ilmunya, dia akan segera bergabung dengan kita.
Bagaimana dengan kesedian gurumu Jerangkong Hidup,
adi Girindasana?”
“Guruku Jerangkong Hidup mempertimbangkan
tawaran itu, apakah resi Wanayasa dapat memuaskan
dirinya dalam olah kanuragan. Sebab selama ini belum ada
seorang pendekarpun yang mampu mengalahkanya, beliau
terus mencari orang yang bisa mengimbangi ilmunya.”
“Bujuk terus gurumu itu adi Girindasana, gusti
prabu Jaya Sentana menjanjikan sebidang tanah di Karang
Sedana untuk kalian tempati.”
“Baik kakang Sampar.”
Saat itulah satu sosok banyangan berkelebat
disertai deru angin menebarkan aroma wangi dupa gaharu.
Seorang pemuda tampan berpakaian hitam ringkas,
bersulam bunga tanjung di dada dan ikat kepala berwarna
merah kini sudah berdiri tiga tindak di hadapan ki Sampar
Angin.
“Agaknya saya terlambat, maapkan ki Sampar
Angin.”
“Ah, Dika Hanggara, mana kekasihmu si Bidadari
Pencabut Nyawa?”
“Ia sudah terlebih dulu berangkat ke goa larang
untuk menjalkankan rencananya.”
“Kenapa kau terlambat datang Dika?”
19
Babad Tanah Leluhur
Sebelum Dika Hanggara Menjawab pertanyan ki
Sampar Angin dari ujung desa Sumur Batu rombongan
lurah Sumar tampak mendatangi tenpat di mana ki Sampar
Angin tengah berunding. Paling depan sekali lurah muda
itu berjalan cepat menghampiri Dika Hanggara.
“Kau yang bernama Dika Hanggara?”
Pemuda pesolek Dika Hanggara tersenyum
jumawa, dipandanginya pemuda kekar yang berdiri empat
langkah dihadapannya itu dengan congkak. Sambil
bersidakep ia menjawab pertanyaan lurah Sumar.
“Hehehe, tentunya kau lurah muda gunung batu
itu.”
“Kalau sudah tahu, cepat serahkan dirmu untuk
menerima hukuman.”
“Apa salah saya? Hingga kau bernapsu mau
menghukum.”
“Kau yang menyebabkan Encum, calon istriku
gantung diri.”
“Ohh, begitu rupanya, sayang sekali, dengar lurah
muda, saya hanya mempercepat malam pengantinnya saja,
masalah gadis manis itu bunuh diri, itu bukan urusan
saya.”
“Kurang ajar, pemuda laknat. Tangkap dia Sumar.”
Sela ayah Encum berang.
“Tenanglah paman. Aku akan balaskan kematian
anakmu.”
“Kau mau menangkap saya? Silahkan…,” kata
Dika Hangara sambil menyodorkan kedua tanganya
seolah-olah menyerah, namun begitu lurah Sumar
bermaksud mencekal tangan pemuda pesolek tersebut,
20
Kisah Sepasang Anak Harimau
tanpa ia duga dengan kecepatan sukar diikuti pandangan
mata, tangan Dika Hanggara yang terjulur dikibaskan ke
samping membuat lurah muda itu terhuyung akibat
hempasan tenaganya sendiri.
“Kau mempermainkanku, lihat serangan…!”
Lurah Sumar kembali menerjang dengan jurus
pembuka, tapi hanya dengan mengeser kakinya ke kanan
dan ke kiri semua serangan lurah muda itu dapat
dihindarinya dengan mudah oleh Dika Hanggara, hingga
pada satu kesempatan kepalan tangan Dika Hanggara
memaksa lurah Sumar jerjengkang ke tanah.
“Cukup, mundurlah kau Sumar.” Kata ki Reksa
Manggala.
“Baik guru,” kata Sumar, beberapa orang tampak
menolong lurah muda Gunung Batu itu menepi.
“Akulah lawanmu anak muda, kau harus
mempertangung jawabkan kesalahanmu.”kata ki Reksa
Manggala, lelaki paruh baya itu maju tiga tindak di
hadapan Dika Hangara. Pemuda ini tersenyum sinis, dari
bibirnya meluncur sebait syair.
“Apakah salah jika seekor kumbang menghisap
madu, apakah salah jika sang kumbang terus menghisap
madu dari bunga ke bunga,” kata Dika Hangara membuat
ki Reksa Manggala tertegun beberapa kejap, sikapnya
yang semula garang perlahan kendor, dengan nada begetar
ia menayakan sesuatu pada pemuda pesolek yang ada di
hadapanya.
“Apakah…, apakah kau si Kumbang Madu itu?”
21
Babad Tanah Leluhur
“Benar, akulah Dika Hanggara si kumbang madu.
Dan yang ada di sana itu adalah ki Wira Geni dan ki
Sampar Angin.” Tandasnya.
“Oh, maapkan ketidak tahuan ku,”kata ki Reksa
Manggala membuat lurah Sumar dan ayah Encum
kebingungan dengan sikap lunak ki Reksa Manggala pada
lawannya.
“Pergilah sebelum saya berobah pikiran.” Kata
Dika Hanggara sambil bersidakep.
“Baik, baik kami permisi, maapkan kami,” kata ki
Reksa Manggala lalu mengajak semua orang yang ada di
tempat itu pergi.
“Ki Reksa bagaimana dengan nasib Encum?”
“Sudahah, ayo kita tinggalkan tempat ini.”
“Tapi ki…,”
“Atau aku yang akan membunuhmu.”
“Baik…, baik ki Reksa, ayo kita pulang,” kata
orang tua Encum terbungkuk-bungkuk meninggalkan
pingiran desa Gunung Batu diiringi senyum sinis Dika
Hanggara.
“Pantas saja kau terlambat Dika, andai kekasihmu
si bidadari pencabut nyawa tahu kelakuanmu, kau habis
dibunuhnya,” kata ki Sampar Angin.
“Hahaha, percuma saya dijukuki si kumbang
madu, jika tidak mampu menundukan wanita itu paman
Sampar.”
“Ahh, terserah kau Dika, malam nanti kita harus
sudah sampai di sekitar goa larang.” Kata ki Sampar
Angin. Dan semua orang yang ada di tempat itupun
bergegas meninggalkan desa Gunung Batu.
22
Kisah Sepasang Anak Harimau
Kawasan sembilan mata air dewa malam itu begitu
hening, sepi, dan sunyi hanya desau angin dan gemericik
sembilan mata air yang terdengar membuncah bebatuan di
bawahnya, di udara kilat melintas cepat disusul gemuruh
samar dari langit nan kelam, kepak dan cuit kelelawar
memecah udara, di kejauhan lolong serigala hutan panjang
menggidikan, agaknya binatang itu melihat sesuatu hingga
lolongannya begitu memilukan. Hampir semua murid
padepokan goa larang sudah terbuai dalam dekapan
malam di biliknya masing-masing beristirahat
mengumpulkan tenaga untuk latihan olah kanuragan di
keesokan harinya.
Di tengah kesunyian malam nan kelam di sekitar
kawasan sembilan mata air dewa tampak raden Purbaya
berkelebat, melenting dan berputar di udara beberapa kali
memperagakan jurus-jurus khas goa larang, kincir metu
tingkat pertama, gerbang dewata dilanjutkan jurus kincir
metu tingkat dua, tiga, empat dan lima yang baru saja ia
dapatkan dari memperhatikan diam-diam murid-murid
seniornya berlatih. Entah sudah berapa lama putra
mahkota Karang Sedana ini berlatih olah kanuragan ketika
tawa keras berkumandang, bergema memekakan telinga,
seketika raden Purbaya hentikan gerakan, matanya tajam
menyapu gugusan perbukitan hitam di depannya.
“Siapa yang mengintip latihanku, keluarlah,” kata
raden Purbaya. Bukanya berhenti tawa itu malah lebih
keras dari sebelumnya seakan berasal dari empat penjuru
mata angin.
23
Babad Tanah Leluhur
“Bukan maksudku mencuri belajar jurus, semua ini
aku lakukan karena ingin sekali ikut dalam pesta
pendadaran itu.”
Belum kering kalimat dari bibir raden Purbaya,
satu sosok samar seorang tua bungkuk berjenggot putih
menjulai sampai dada, berselempang kain putih lusuh,
berambut putih awut-awutan tahu-tahu sudah berdiri di
belakang putra mahkota Karang Sedana sambil tertawa-
tawa.
“Hehehe…, Padepokan ini sangat luas, kenapa
tidak berlatih di salah satu ruangannya. Malah berlatih
sendirian di tempat gelap seperti ini.”
“Kekek siapa?”
“Aku, hemmm…, siapa yah, aku…, namaku, aku
tidak ingat, aku tidak punya nama.”
“Masa tidak punya nama kek, apakah orang tua
kakek tidak memberi nama? Seperti orang tua saya
memberi saya nama Purbaya.”
“Yaya, mungkin orang tuaku memberiku nama,
tapi sudah lama aku melupakan namaku itu.”
“Agaknya kekek sudah tua sekali, hingga lupa
nama sendiri.”
“Yaya, aku memang sudah tua…,
umurku…hemm, yaya…, berapa ya, sudahlah kau belum
menjawab pertanyaan ku bocah pencuri. Kenapa kau tidak
berlatih di dalam sanggar?”
“Pencuri, kakek menyebut saya pencuri.”
“Bukankah kau yang bilang sendiri.”
“Oh, tentang jurus itu, gerbang dewata?”
“Iya, kenapa kau tidak berlatih di dalam sanggar?”
24
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Itu tidak mungkin saya lakukan kek, saya takut
guru marah kalau tahu saya mencuri belajar kincir metu
tingkat lima.”
“Coba kau peragakan gerbang dewata mu.”
“Kincir metu tingkat pertama kek?”
“Iya, perlihatkan padaku.”
“Baik kek,”
Maka begitulah. Di bawah petunjuk dan bimbingan
kakek misterius, setiap malam setelah latihan bersama
murid lain di sangar, raden Purbaya selalu datang ke
pancuran sembilan mata air dewa, digembleng beberapa
jurus kembangan dari jurus-jurus gerbang dewata yang
disempurnakan oleh kekek misterius. Hinga pada satu
ketika.
“Apakah dengan jurus ini saya mampu
menjatuhkan lawan kek?”
“Apa? Menjatuhkan lawan. Bahkan dengan jurus
ini, gurumu pun mampu kau kalahkan.”
“Ah, kakek bergurau, masa saya bisa mengalahkan
guruku, ki Luminta.”
“Kau jangan meremehkan ku bocah. Sudahlah
untuk beberapa hari kita tidak akan bertemu dulu, tapi jika
sesuatu menyulitkan mu kau ingat-ingat kalimat yang akan
menyelamatkan mu ini,” kata kakek misterius.
“Apa itu kek?”
“Kincir metu adalah sebuah ilmu, lahir dari kepala,
mengapa tidak kau tarik buntut sampai kepala, coba kau
ulangi kata-kata ku tadi bocah.”
25
Babad Tanah Leluhur
“Kincir metu adalah sebuah ilmu, lahir dari kepala,
mengapa tidak kau tarik buntut sampai kepala. Benar
begitu kek?”
“Hehehe….Benar sekali bocah, nah selamat
tinggal.”
Raden Purbaya tertegun beberapa lama, ia baru
menyadari kekek misterius itu sudah tidak ada lagi di
sampingnya, namun suaranya masih terdengat jelas
berputar-putar mengelilingi dirinya.
“Aneh sekali kekek itu, masa aku mampu
mengalahkan guruku sendiri, ki Luminta.”
Setelah dirasa tidak ada lagi yang dikerjakan di
tempat itu, raden Purbaya segera berlalu meninggalkan
pancuran sembilan mata air dewa menuju biliknya untuk
istirahat.
Malam semakin larut, hawa dingin, kabut tebal
mendekap padepokan goa larang dengan damai, saat itulah
beberapa sosok bayangan tampak mengendap-endap di
sekitar kawasan padepokan, sosok-sosok itu kemudian
lenyap begitu saja ketika seberkas kilat melintas dengan
cepat di langit nan kelam. Suasana kembali sepi, hening
dan sunyi seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya
di tempat itu.
26
Kisah Sepasang Anak Harimau
Pajar semburat di ufuk timur. Mentari pagi
menghangatkan suasana padepokan goa larang. Beberapa
murid padepokan terlihat menyibukan diri dengan
berbagai aktifitas, menghias padepokan dengan rangkaian
daun kelapa atau janur, baik dari janur kuning ataupun
janur gading, hari itu merupakan acara pendadaran bagi
murid-murid baru yang sudah menguasai aji kincir metu
tingkat lima.
Tiap tahunnya sang resi Wanayasa selalu
mengadakan ritual pendadaran bagi murid-murid pemula
dengan syarat setidaknya menguasai tingkat lima kincir
metu.
Di tengah alun-alun padepokan sebuah panggung
bundar sudah disiapkan bagi para peserta. Penduduk desa
yang bermukim di sekitar padepokan goa larang
dipersilahkan untuk menonton pesta pendadaran tersebut.
Maka sejak pagi buta kerumunan orang yang ingin
penonton sudah memadati arena pendadaran.
“Para peserta pendadaran silahkan naik ke atas
panggung,” kata ki Luminta yang ditunjuk sebagai
pemandu acara pada kesematan pesta pendadaran tahun
ini. Beberapa murid baru juga raden Karmapala tampak
sudah naik ke atas panggung. Putra prabu Sanna dari
seorang selir itu tersenyum sinis pada raden Purbaya yang
berada di bawah pohon bersama pengasuhnya, Cempaka.
“Sayang sekali kau tidak ikut Purbaya. Itulah
resiko bagi murid bodoh seperti mu,” gumam raden
Karmapala dalam hati.
“Nah, para peserta pendadaran, persiapkan diri
kalian masing-masing,” kata ki Luminta membuka pesta
27
Babad Tanah Leluhur
pendadaran. Satu persatu beberapa murid pemula
termasuk raden Karmapala memperagakan jurus pertama
sampai jurus kelima kincir metu dengan baik. Tepuk
tangan riuh dari para penonton menyambut satu per satu
peserta pendadaran tersebut.
“Kalian sudah menyelesaikan tahap pertama
dengan baik, selanjutnya akan diundi siapa-siapa yang
akan bertanding untuk menentukan pemenangnya.”
“Paman Luminta, saya ingin mencoba,”kata raden
Purbaya membuat semua mata tertuju padanya.
“Raden belum memenuhi persyaratan, saya belum
memberikan tingkat lima kincir metu pada raden.”
“Tolongkah ki, saya akan mencoba, bukankah
pesta pendadaran ini terbuka untuk murid-murid goa
larang?”
“Tapi raden…,”
“Luminta biarkan Purbaya mencoba, dia benar,
pendadaran ini terbuka untuk murid-murid goa larang,”
kata eyang resi Wanayasa dari tempat duduknya.
“Baik eyang resi. Nah, raden silahkan.”
“Terimakasih ki Luminta,” kata raden Purbaya
kemudian naik ke atas panggung memperagakan jurus-
jurus kincir metu tingkat pertama sampai tingkat kelima
yang sudah dikuasainya berkat bimbingan kakek
misterius. Seketika suasana panggung kembali meriah,
tepuk tangan bergema menyambut raden Purbaya yang
telah menyelesaikan jurus kinci metu dengan baik.
“Kakang resi, dari mana anak itu mendapatkan
jurus kincir metu tingkat lima, bukankah Luminta belum
mengajarkanya.”
28
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Jatis, hal itu akan aku tanyakan pada Purbaya,”
kata resi Wanayasa.
Dua belas orang peserta pendadaran telah
dinyatakan lulus memperagakan jurus kincir metu sampai
tingkat lima, acara selanjutnya adalah pertandingan adu
ketangkasan. Dalam satu gebrakan, raden Purbaya berhasil
menjatuhkan lawannya dengan mudah, hal mana membuat
raden Karmapala semakin dibakar iri hati, mengandalkan
jurus yang diajarkan ki Pakih Sulung ketika di istana
Galuh, dia pun berhasil menjatuhkan lawanya.
“Raden, kau melanggar aturan pendadaran,
menggunakan jurus dari luar padepokan untuk
menjatuhkan lawan.”
“Tapi paman…”
“Raden tidak bisa melanjutkan pertandingan.”
Raden Karmapala mendengus gusar, dia segera
berlalu meningalkan arena pendadaran begitu saja tanpa
memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
“Raden Purbaya, eyang resi ingin bicara denga
mu,”
“Baik ki Luminta,” kata raden Purbaya kemudian
menemui eyang resi Wanayasa.
“Purbaya aku harap kau jujur pada eyang, dari
mana kau dapatkan jurus ke lima aji kincir metu?”
“Saya…, anu eyang. Saya.”
“Jawablah raden, apakah ada orang lain yang
mengajarkan ilmu itu pada mu?” kata mbah Jatis sambil
memandang tajam raden Purbaya.
“Seorang kakek tua bungkuk berjenggot panjang.”
“Siapa naman kakek itu raden?”
29
Babad Tanah Leluhur
“Saya tidak tahu, hanya saja kakek itu memberikan
kalimat yang katanya akan menyelamatkan saya jika
mendapat kesulitan dengan jurus yang saya gunakan.”
“Apa bunyi kalimat itu raden?”
“Kincir metu adalah sebuah ilmu, terlahir dari
kepala, kenapa tidak kau tarik buntut sampai kepala.”
“Apakah orang tua itu memiliki tahi lalat besar di
pipi sebelah kirinya?”
“Benar eyang resi.”
“Dewata agung…, terimakasih guru. Kau telah
memberi petunjuk kincir metu tingkat sepuluh padaku,”
gumam resi Wanayasa dalam hati.
“Purbaya kau telah melanggar aturan padepokan.
Kau tidak bisa meneruskan pertandingan.”
“Baik eyang resi,” kata raden Purbaya kemudian
pamit meninggalkan arena pendadaran menuju biliknya.
“Ada apa kakang Wanayasa?”
“Jatis, orang yang membimbing Purbaya adalah
guruku sendiri Mamang Kuraya.”
“Tapi, bukankah kita telah menguburnya di bukit
cadas gantung, kakang resi.”
“Hyah…, kalau memang guru ku itu masih hidup,
kita tidak usah mengkhawatirkan iblis jerangkong itu.
namun kita tetap harus waspada dengan segala
kemungkinan yang akan terjadi.”
“Baik kakang resi.”
Matahari perlahan bergeser ke arah barat, Pesta
pendadaran berakhir seiring rembang petang melingkupi
padepokan goa larang, seluruh penonton telah kembali ke
desanya masing-masing. Di dalam bilik tampak dewi Rara
30
Kisah Sepasang Anak Harimau
Angken, permaisuri Karang Sedana terbaring lemah di
atas amben kayu. Sudah hampir sebulan ratu Karang
Sedana itu terbaring sakit akibat paser beracun milik
pendeta sesat Rakosapala ketika terjadi penghadangan di
pinggir desa Gunung Batu.
Dalam pertempuran antara pendeta Rakosapala
dan Dampu Awuk, Rakosapala menyerang Dampu Awuk
membabi buta mengunakan paser-paser beracun. Dampu
Awuk mampu menghindari lemparan paser beracun yang
mencecarnya namun malang di saat yang sama salah satu
paser beracun mengenai punggung dewi Rara Angken
membuat permaisuri Karang Sedana itu lumpuh.
Eyang resi Wanayasa dengan berbagai cara
mancoba mengeluarkan racun paser yang mengendap di
tubuh dewi Rara Angken, sejauh ini usahanya berhasil
namun resi Wanayasa masih merasa khawatir sebab racun
telah menyusup ke bagian terdalam yang sangat
berbahaya, sewaktu-waktu racun paser dapat bereaksi dan
mempercepat daya kerjanya.
“Cempaka, gustimu Rara Angken tidak boleh
terguncang dengan masalah, ia harus tenang dan tidak
boleh berfikir yang berat-berat.”
“Apakah saya harus memberi tahu keadaan
ayahandanya pada raden Purbaya, eyang?”
“Semantara waktu biarkan gustimu itu istirahat
dengan tenang, kau mengerti maksud ku Cempaka?”
“Saya mengerti eyang.”
“Bagus, sekarang kembalilah ke bilikmu, urus
gusti mu dengan baik.”
31
Babad Tanah Leluhur
“Baik eyang resi,” kata Cempaka kemudian undur
diri kembali ke biliknya. Di dalam bilik raden Purbaya
sedang berbincang dengan ibundanya, dewi Rara Angken.
“Kemarilah Cempaka, duduk dekat ku.”
“Baik gusti,” kata Cempaka kemudian duduk di
sisi pembaringan dewi Rara Angken.
“Kau telah banyak membantu kami walaupun
sekarang saya bukan ratu Karang Sedanan lagi.”
“Bagi saya gusti tetap jungjungan hamba, hamba
akan mengabdi sampai kapanpun.”
“Terimakasih Cempaka, kau anak baik.” Kata dewi
Rara Angken lirih.
“Purbaya bagaimana dengan raden Karmapala,
apakah kalian berteman baik?”
Sesaat raden Purbaya tertegun mendengar
pertanyaan ibundanya, namun dia segera tersenyum.
“Kami berteman baik ibunda.”
“Bagus, baik-baiklah kau dengan dia. Satu saat
anak itu bisa membatumu.”
“Iya ibunda.”
“Baiknya gusti istirahat supaya kesehatan gusti
cepat pulih.”
“Benar apa yang dikatakan bibi Cempaka, ibunda
harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak berpikir,
demi kesembuhan ibunda.”
“Iya, ya…, aku akan coba mengikuti saran kalian.
Purbaya anakku, apakah kau sudah menanyakan tentang
ayahandamu pada eyang resi?”
“Belum ibunda.”
32
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kau tanyakanlah prihal ayahhandamu pada eyang
resi. Apakah utusan yang dikirimnya ke gunung Sawal
sudah kembali?”
“Baiklah ibunda, saat ini juga saya akan
menghadap eyang resi,” kata raden Purbaya kemudian
berlalu meninggalkan biliknya.
“Eh, gusti. Apakah saya boleh keluar sebentar.”
“Silahkan Cempaka.”
“Terimakasih gusti,” kata Cempaka. Emban
pengasuh raden Purbaya itu segera keluar dari bilik dewi
Rara Angken, berlari-lari kecil sambil memanggil raden
Purbaya.
“Ada apa bi? Kenapa mencegat saya?”
“Eh, ada hal yang ingin bibi sampaikan, raden.
Marilah kita bicara di taman itu,” kata Cempaka sambil
menggandeng raden Purbaya menuju sebuah taman di
pinggir telaga.
“Sepertinya ada yang penting bi?”
“Maapkan saya sebelumnya raden.”
“Katakanlah bi, jangan membuat saya semakin
bingung dengan sikap bibi.”
“Ini tentang ayahanda raden.”
“Ayahanda, kenapa dengan ayahanda bi, apakah
terjadi sesuatu?”
Cempaka sesaat menarik napas panjang dan
menghembuskannya dengan pelan, setelah gemuruh
batinnya reda, emban pengasuh raden Purbaya itu mulai
menceritakan hal yang beberapa hari ini selalu
dirembugkannya dengan eyang resi Wanayasa.
33
Babad Tanah Leluhur
“Utusan yang dikirim eyang resi Wanayasa dua
hari lalu telah kembali dari gunung Sawal, pondok kecil
milik kyai Seda Warna kosong, kemungkinan ayahanda
raden mengungsi ke tempat lain sebab tidak ditemukan
tanda-tanda bekas pertarungan di tempat itu.”
“Jadi, bibi sudah mengetahuinya?”
“Iya raden.”
“Kenapa bibi Cempaka tidak memberitahu saya
dan ibunda?”
“Eyang resi Wanayasa khawatir, raden lupa dan
menceritakan hal ini pada ibunda, itu akan membuat sakit
ibunda raden bertambah parah. Bukankah eyang resi
berpesan agar ibunda raden harus tenang, jangan sampai
mengguncang perasaannya yang menimbulkan racun paser
itu bekerja lebih cepat.”
“Bibi Cempaka benar, baiklah bi. Ayo kita
kembali.” Kata raden Purbaya. Keduanya berjalan
beriringan melewati pinggir telaga, belum seratus langkah
meninggalkan tepian telaga Denuh raden Karapala
bersama ki Rimbun sudah berdiri lima langkah di hadapan
raden Purbaya dan Cempaka.
“Kau masih saja mengabdi pada pangeran miskin
ini Cempaka, lebih baik kau ikut denganku.”
“Cukup raden, jangan hina diriku lagi. Aku sudah
paham dengan kondisiku sekarang.”
“Hey Purbaya, pangeran miskin. Aku tidak bicara
denganmu. Apa yang bisa kau berikan pada emban
pengasuhmu ini?”
“Jangan hina aku lagi raden. Kalau tidak…,”
34
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kalau tidak apa Purbaya, kau mau melawanku?”
kata raden Karmapala. Kedua pangeran cilik itu tampak
beradu pandang. Melihat hal itu Cempaka langsung
bertindak menengahi.
“Kalau tidak ada hal lain kami mohon pamit,” kata
Cempaka kemudian menggandeng tangan raden Purbaya
meninggalkan raden Karmapala yang masih mengolok-
olok dirinya.
“Paman Rimbun, kurang ajar sekali pangeran
miskin itu.”
“Betul raden, ia sama sekali tidak menaruh hormat
pada raden, seorang putra raja besar di tanah pasundan
ini.”
“Aku akan mengambil Cempaka dari pangeran
miskin itu, bagaimana menurut paman?”
“Eh, tapi raden…”
“Apakah saya tidak boleh mengambil abdi untuk
saya, paman?”
“Tentu saja boleh raden…”
“Nah, ayo kita jemput Cempaka. Kita rebut dia
dari pangeran miskin itu,”
“Baik, baik raden,” kata ki Rimbun kemudian
mengiring raden Karmapala menuju bilik raden Purbaya.
Di dalam bilik dewi Rara Angken tersenyum
lembut melihat raden Purbaya dan Cempaka datang
menghampirinya.
“Kau sudah kembali Purbaya, bagaimana kabar
ayahadamu?”
“Ayahanda…, ayahanda…”
35
Babad Tanah Leluhur
Belum sempat raden Purbaya meneruskan
kalimatnya, di luar terdengar gedoran pintu yang sangat
keras sekali.
“Purbaya…, buka pintu ini cepat…!”
“Siapakah yang menggedor pintu Cempaka?”
“Eh, raden…, raden Karmapala, gusti.”
“Kau bukalah Cempaka.”
“Tapi gusti…,”
“Cepatlah, jangan sampai raden Karmapala
menunggu.”
“Baik, baik gusti,” kata Cempaka sambil tergopoh
membukakan pintu.
“Lama sekali kau membuka pintu, Cepaka.”
“Maap raden, ada perlu apa menemui kami?” kata
dewi Rara Angken lirih.”
“Aku akan mengabil Cempaka menjadi abdiku,
ayo kau ikut denganku,” kata raden Karmapala sambil
menarik tangan Cempaka. Hal mana membuat raden
Purbaya naik pitam. Bocah lelaki itu segera menepis
tangan raden Karmapala yang mencekal tangan Cempaka.
“Lepaskan bibi Cempaka, jangan kau ambil dia
dariku,”
“Purbaya…, purbaya, biarkan Cempaka ikut raden
Karmapala,” kata dewi Rara Angken lirih.
“Tapi bunda.”
“Ibundamu benar, biarkan Cempaka ikut
denganku.”
“Tidak, raden tidak boleh mengambil bibi
Cempaka.”
“Paman Rimbun, bawa Cempaka dari sini,”
36
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Baik raden. Ayo Cempaka…,” kata ki Rimbun
sambil menyerat Cempaka keluar dari biliknya.
“Jangan bawa bibi Cempaka,” teriak raden
Purbaya yang bersiap mengejar keluar bilik, namun
langkah raden Purbaya terheti begitu melihat ibundanya
mengerang kesakitan sambil memegang dadanya.
“Ibunda apa yang terjadi? Ada apa dengan
ibunda.”
“Dada ibunda sakit…,”
“Tunggulah sebentar bunda, saya akan memanggil
eyang resi,” kata raden Purbaya lalu menghambur keluar
dari biliknya menuju bilik eyang resi Wanayasa. Dengan
cepat resi Wanayasa berusaha mengatasi kondisi dewi
Rara Angken yang terbaring lemah. Resi Wanayasa
tampak berjuang keras memulihkan kesadaran permaisuri
Karang Sedana tersebut. Butir-butir keringat menganak
sungai di dahinya, hawa sakti sang resi perlahan
menyusup kedalam tubuh dewi Rara Angken, perlahan
permaisuri prabu Aji Konda itu membuka matanya.
“Eyang resi…,” katanya lirih.
“Ibunda, ibunda sadarlah…,”
“Purbaya…,”
“Saya, saya disini ibunda…,” kata raden Purbaya
sambil menggenggam tangan ibundanya.
“Sadarlah nyai, bertahanlah….,” kata eyang resi
Wanayasa yang masih menyalurkan hawa murni berusaha
membendung racun paser yang mulai bekerja.
“Purbaya…, jadilah anak baik, kau harus menuruti
semua perintah eyang resi…,”kata ibundnya lirih.
“Saya, saya akan menjadi anak baik ibunda,”
37
Babad Tanah Leluhur
“Eyang resi…,”
“Saya di sini nyai…,”
“Titip Purbaya…, bimbinglah dia menjadi pemuda
yang mampu menjaga martabat keluarganya…,”
“Baik nyai.”
“Waktunya telah tiba…, saya melihat ayahanda
dan ibunda menjemput…,” seiring dengan kalimatnya
dewi Rara Angken, permaisuri Prabu Aji Konda itupun
menghembuskan napas terakhirnya.
“Ibunda…, ibunda saya eyang resi…,”
“Hyah…, ibunda mu telah tiada Purbaya…,”
“Oh tidak…, ibunda jangan tingalkan Purbaya,
ibunda…, ibunda…” isak raden Purbaya berobah tangisan
begitu mengetahui sang ibunda telah pergi meninggalkan
dirinya untuk selama-lamanya, dipeluknya jasad
ibundanya itu dengan berbagai rasa, duka yang mendalam.
“Ibundamu telah pergi menghadap sang
penciptanya…,”
“Ini semua akibat raden Karmapala eyang resi.”
“Karmapala…?”
“Dia telah membawa paksa bibi saya, Cempaka.
Membuat ibunda terguncang perasannya, dia harus
dihukum eyang resi, Karmapala harus dihukum.”
“Baiklah, Karmapala harus menerima hukuman,
tapi untuk saat ini kita urus jasad ibundamu,” kata eyang
resi Wanayasa kemudian mengumpulkan semua murid-
murid padepokan goa larang mempersiapkan penguburan
dewi Rara Angken.
“Luminta, jemput Karmapala menghadapku.”
38
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Baik eyang resi,” kata ki Luminta kemudian
bergegas pergi menuju bilik raden Karmapala. Di dalam
bilik raden Karmapala, tiada henti-hentinya Cempaka
menangis, ia begitu mengkawatirkan keadaan gustinya
dewi Rara Angken ketika ditingalkan dalam kondisi
menghawatirkan.
“Berhentilah menangis Cempaka, apa yang kau
harapkan dari pangeran miskin itu.”
“Apa yang dikatakan raden Karmapala benar, kau
bisa hidup senang jika mengabdi pada raden Karmapala,
putra seorang raja besar di Galuh.”
“Saya mengerti, saya rela mengabdi pada
raden…,”
“Tapi kenapa kau menagis terus?”
“Saya mengkawatirkan kondisi gusti Rara Angken,
izinkan saya menengok sebentar saja.”
“Kau tidak boleh lagi memikirkan keluarga miskin
itu, sekarang kau adalah abdiku.”
Saat itulah sebuah ketukan terdengar dari luar.
“Siapa yang mengetuk itu paman Rimbun?’
“Eh, ki Luminta, raden.”
“Ada apa orang tua itu datang kemari?’
“Biar saya urus raden,” kata ki Rimbun kemudian
dengan cepat membuka pintu bilik, mendapati ki Luminta
yang berdiri tenang di ambang pintu.
“Ada apa ki Luminta?”
“Saya diutus eyang resi Wanayasa menjemput
raden Karmapala.”
“Raden Karmapala akan datang, sekarang
pergilah…,”
39
Babad Tanah Leluhur
“Eyang resi menghendaki raden Karmapala pergi
bersama saya.”
“Orang tua gila, tidak tahu diri.”
“Ada apa paman Rimbun?”
“Orang tua ini memaksa raden mengikutinya untuk
mengahdap eyang resi.”
“Pergilah paman Luminta, nanti saya akan datang
sendiri menemui eyang resi.”
“Maap raden, eyang resi menghendaki raden pergi
bersama saya, mengadapnya.”
“Keterlaluan, kau tidak menuruti perintahku, putra
raja besar di tanah pasundan ini?”
“Maap raden, perintah eyang resi sudah jelas.”
Saat itulah eyang resi Wanayasa telah berdiri di
depan bilik raden Karmapala bersama paman Jatis dan
beberapa murid padepokan goa larang.
“Ada apa ini?”
“Oh tuan resi. Ki Luminta memaksa raden
Karmapala menghadap tuan resi.”
“Memang aku yang menyuruhnya,”
“Oh eyang resi, ada apa memanggil saya?”
“Aku dengar kau mengambil Cempaka dari
Purbaya?”
“Apakah tidak boleh saya mengambil seorang
abdi, eyang?”
“Tentu saja boleh. Tapi, tahukah kau akibat
kelakuanmu ini membuat ibunda Purbaya…,”
“Ada apa dengan gusti saya, eyang resi?” kata
Cempaka. Emban pengasuh raden Purbaya itu terlihat
cemas.
40
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Hyahhh…, gustimu telah tiada Cempaka…,”
“Oh, gusti…, gusti Rara Angken…,”
“Luminta, bawa Karmapala ke ruangan khusus,”
“Baik eyang resi,” kata ki Luminta. Lelaki kekar
salah satu pengajar murid pemula padepokan goa larang
itu perlahan dekati raden Karmapala.
“Tidak…, saya tidak mau dikurung, lepaskan
tanganmu paman Luminta!” kata raden Karmapala yang
meronta-ronta dari cengkraman ki Luminta, putra sang
prabu Sanna itu mengamuk sejadi-jadinya, tidak ada
pilihan lain dengan sekali gerak halus eyang resi
Wanayasa menotok jalan darah raden Karmapala.
“Luminta, bawa cucuku ini ke kamar khusus,
lepaskan totokannya di sana.”
“Baik eyang resi,” kata ki Luminta sambil
membopong tubuh Karmapala menuju ruangan khusus di
belakang padepokan.
“Tuan resi, mohon dipertimbangkan lagi tindakan
tuan resi terhadap raden Karmapala,” kata ki Rimbun,
pengasuh raden Karmapala itu begitu khawatir dengan
nasib jungjunganya.
“Rimbun. Aku pemimpin padepokan ini, apa yang
kulakukan adalah tanggung jawabku.”
“Tapi tuan resi, bagaimana kalau ayahandanya
tahu.”
“Hehh, keterlaluan sekali kemenakanku Sanna
memberikan pengasuh seperti mu, Rimbun.”
“Tolonglah tuan resi, bebaskan raden Karmapala.”
“Aku kini yakin sifat manja cucuku itu akibat
pengaruh buruk mu, Rimbun.”
41
Babad Tanah Leluhur
“Tapi tuan resi.”
“Kaupun tidak boleh pergi dari goa larang sebelum
Karmapala aku bebaskan.” Kata eyang resi Wanayasa
kemudian berlalu meningalkan bilik raden Karmapala.
“Aku harus memberitahukan hal ini pada gusti
prabu di Galuh,” gumam ki Rimbun. Tanpa sepengetahuan
resi Wanayasa dan semua murid padepokan goa larang,
malam itu juga ia bergegas meninggalkan padepokan goa
larang.
-o0o-
Di dalam ruangan khusus raden Karmapala
mengamuk sejadi-jadinya, putra maha prabu Sanna dari
seorang selir itu melempar apa saja yang ada di dekatnya,
memaki, berteriak membuat gaduh kamar tahanannya.
“Siapa di kamar sebelah? Apa kau juga dikurung
di tempat ini?” sebuah suara terdengar dari sebelah
dinding kamar penyekapan.
“Hey kau siapa paman?”
“Kau belum menjaawab pertanyaanku bocah?”
“Saya cucu eyang resi Wanayasa.”
“Agaknya kau disekap karena kebohonganmu,
yang aku tahu eyang resi seorang diri dan tidak memiliki
keluarga, apalagi seorang cucu.”
“Sudahlah, kau sama saja dengan semua orang di
padepokan ini. Tidak menghormati saya.”
“Menghormatimu? Memangnya kau siapa?”
“Saya Karmapala, putra maha prabu Sanna di
Galuh.”
42
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Aneh sekali. Lalu mengapa kau disekap ditempat
ini raden?. Oh iya, namaku Made Ludira.”
“Saya dituduh penyebab kematian seorang wanita.
Lalu kau sendiri mengapa disekap paman Made?”
“Aku membunuh seorang resi, tamu padepokan
dan mencuri kitab kincir metu milik eyang resi. Semua ini
terjadi sejak kedatangan raden Seta Keling dan saudara-
saudaranya.”
“Raden Seta Keling.”
“Benar raden, apakah raden mengenalnya?”
“Tidak paman Made. Siapakah raden Seta Keling
dan saudara-saudaranya itu?”
“Aku akan menceritakan siapa raden Seta Keling,
Saka Palwaguna, Dampu Awuk dan Anting Wulan.
Mereka berempat dikenal sebagai pendekar ning sewu.”
kata Made Ludira.
“Pendekar ning sewu, tentu mereka sangat hebat.”
“Benar raden. Bahkan raden Seta Keling sudah
menguasai kincir metu tingkat delapan.”
“Jadi paman Made mencuri kitab karena iri dengan
paman Seta Keling?”
“Bukan begitu ceritanya raden. Ah, sudahlah.”
Kata Made Ludira dari balik ruangan tahananya. Rupanya
pemuda salah satu murid padepokan goa larang itu
mendapat sanksi kurungan setelah aksinya membunuh
salah satu tamu eyang resi Wanayasa ketika prosesi
sembahyang meminta hujan guna mendapat kitab kincir
metu yang dipesan pendeta sesat Rakosapala diketahui dan
dibongkar Saka Palwaguna dan Anting Wulan, Made
43
Babad Tanah Leluhur
Ludira menjalani hukuman kurungan badan di tempat
khusus tersebut.
“Mbah Jatis, menceritakan kisah mereka pada
saya,” kata Made Ludira dari balik ruangan tahananya
mata pemuda salah satu murid padepokan goa larang itu
menerawang jauh mengumpulkan segenap ingatannya,
tidak menunggu lama meluncurlah sebuah kisah dari bibir
Made Ludira.
Dua belas tahun yang lalu….
Dini hari nan kelam di pesisir utara laut Jawa.
Suasana masih gelap sepi dan sunyi hanya desir angin dan
suara ombak menghempas batu-batu karang yang banyak
bertebaran si sepajang pantai pasir putih tersebut. Sekitar
lima puluh tombak dari bibir pantai puing-puing bangunan
dan patahan badan perahu teronggok beku. Badai
semalaman memporak porandakan perkampungan nelayan
itu tanpa sisa.
Dalam keremangan dini hari menjelang fajar dua
bayangan tampak berkelebat cepat diantara gugusan
karang di sebelah timur, saking cepatnya yang tampak
hanya kilasan-kilasan warna putih dari pakaian yang
mereka kenakan. Cukup lama kedua bayangan itu
berkelabat ke sana ke mari memutari bibir pantai pada
sebuah puing perahu keduanya hentikan langkah.
“Jika sampai fajar kita belum juga menemukannya,
sia-sia tirakatku selama ini,” kata salah satu sosok
berjubah putih. Ia seorang laki-laki paruh baya berwajah
jernih dengan gelungan rambut di atas kepalanya.
44
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Apakah kakang resi yakin dengan petunjuk itu?
kita sudah enam kali memeriksa kawasan ini, tapi tidak
ada tanda-tanda keberadaan mereka.”
“Jatis. Aku sangat yakin seribu teja itu jatuh di
sekitar kawasan ini.”
“lalu apa rencana kakang resi?”
Lelaki paruh baya yang dipanggil kakng resi itu
termenung beberapa kejap sepertinya ia sedang
memikirkan sesuatu.
“Aku ingat sekarang, ayo Jatis ikut aku,” kata
lelaki paruh baya kemudian berkelebat cepat ke arah
selatan diikuti temannya. Pada sebuah hutan bakau dan
kayu api-api dengan gugusan batu karang diantara
rimbunnya pohon widara laut kedua orang itu hentikan
langkah. Di hadapan mereka diantara semak perdu
seberkas sinar kuning keperakan membias menyilaukan
mata. Di dalam lingkaran sinar empat tubuh bocah kecil
tergeletak beralaskan semak belukar.
“Kakang resi, apakah…?”
“Benar Jatis, seribu teja, ning sewu.”
“Apa yang akan kakang resi lakukan dengan
keempat bocah ini?”
“Mengangkat anak dan menjadikan mereka murid
utama goa larang.”
Saat itulah sebuah tawa membahana menggelegar
disusul munculnya satu sosok tinggi kurus bertudung
anyaman bambu, sebuah gondewa tergenggam di tangan
kanan, gagang pedang tersembul dari balik punggungnya.
“Prabangkara, jauh dari pantai selatan, apa kau
tersesat sampai kemari?”
45
Babad Tanah Leluhur
“Ha, hehehe…, Wanayasa. Tidak usah berlagak
pilon. Seribu teja, ning sewu, kaupun menginginkanya
bukan?”
“Pertapa gila dari selatan. Apa tujuanmu sama
dengan ku?”
“Ha, hehehe…, justru kebalikan dari niat mu,
Wanayasa.”
“Apa maksudmu?”
“Keempat bocah itu harus mati di tangan ku,
sebagai syarat sempurnanya ajian lingkaran halilintar
hitam.”
“Gila…, kau memang pertapa gila, Prabangkara.”
“Jatis, cepat kau amankan anak-anak itu,” bisik
resi Wanayasa. Jatis Purut Sarompa menganguk tanda
mengerti, ia segera berkelebat cepat bermaksud
mengambil empat bocah yang tergeletak tak sadarkan
diri. Namun, cepat dari gerakan Jatis, pertapa gila dari
selatan jentikan jari, seberkas sinar hitam membentuk tabir
halilintar mencuat dari tanah menghalangi langkah Jatis
Purut Sarompa satu tombak dari keempat bocah kecil di
hadapannya.
“Kau mau apa Jatis. Ha, hehehe…, tenang-
tenanglah kau di tempatmu. Lihat bagaimana aku memberi
pelajaran pada saudara seperguruanmu itu.”
“Apa maumu, Prabangkara?”
“Ha, hehehe…, kau tidak mengerti atau memang
bodoh, Wanayasa,” kata Prabangkara kemudian cabut
pedang, menyilangkan senjata itu di hadapan resi
Wanayasa.
46
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Aku terima pedang tanpa warangka itu
Prabangkara,” kata resi Wanayasa, dalam satu gerak,
entah dari mana datangnya sebilah pedang perak
tergenggam di tangan kanan lelaki paruh baya berwajah
jernih tersebut.
“Bagus, bagus sekali Wanayasa. Ha, hehehe…,”
Dalam gema tawa yang tak berkesudahan
Prabangkara lesatkan badannya ke belakang dua tombak,
merentangkan godewa dan melesatkan lima buah anak
panah sekaligus pada lawannya.
Desing melesatnya lima anak panah terdengar
memekakan telinga. Inilah jurus pembuka lingkaran
halilintar hitam lima jalur kematian. Sebuah jurus
pembuka yang sangat berbahanya dan mematikan
mengincar lima jalan darah utama lawannya.
Melihat hal itu resi Wanayasa putar badannya
sedemikian rupa, dari dalam pusaran cepat tubuhnya
mencuat gulungan sinar putih, inilah jurus kincir metu
tingkat sembilan yang di sebut pusaran angin dewa
menebar berkah. Agaknya guru besar padepokan goa
larang itu tidak mau ambil resiko, ia tahu siapa
Prabangkara.
Ledakan dahsyat terdengar membahana,
mengguncang kawasan sekitarnya, debu pasir, kerikil
berhamburan ke segala arah. Kesempatan sekejap itu
digunakan Jatis Purut Sarompa untuk menyambar empat
bocah yang terbaring di atas semak belukar. Namun,
seperti tadi sebelum satu jengkal Jatis Purut Sarompa
berhasil menyentuh tubuh empat bocah, dari dalam tanah
mencuat tabir halilintar berwarna hitam memaksa adik
47
Babad Tanah Leluhur
seperguruan eyang resi Wanayasa itu terpelanting ke
belakang, bergulingan dan baru berhenti ketika tubuhnya
membentur sebuah pohon. Lelehan darah merembes dari
sudut bibirnya.
“Ha, hehehe…, Jatis Purut, Jatis Purut. Seribu kali
kau cobapun sia-sia,” kata Prabangkara yang kini telah
bersiap kembali melancarkan jurus berikutnya.
“Bagaimana Wanayasa? kau masih memiliki
simpanan ilmu lain selain kincir metu.”
“Apa hubunganmu dengan wiku Darma Persada?”
“Kau mengenal guruku. Ha, hehehe…, kau takut?”
“Jaga bicaramu Prabangkara,” kata resi Wanayasa,
sebat tubuhnya melenting ke belakang, berdiri tegak
pasang kuda-kuda kokoh, bilah pedang perak disilangkan
di depan dada perlahan kedua mata lelaki berwajah jernih
itu terpejam.
“Kau mengajakku duel di alam pikir, boleh…,
boleh,” kata Prabangkara, dia pun lentingkan badanya ke
belakang dua tombak, tangan kiri menggenggam bilah
pedang sedang gondewa disilangkan di depan dada,
perlahan kedua mata tokoh nomor satu golongan hitam itu
terpejam.
Hampir sepenanakan nasi kedua tokoh nomor satu
rimba persilatan itu berdiri saling berhadapan, semilir
angin laut mengibarkan ujung jubah yang dikenakan resi
Wanayasa dan Prabangkara. Suasana kembali hening, sepi
dan sunyi, namun sejatinya pertarungan sengit sedang
berlangsung di alam pikir kedua tokoh kosen tersebut.
48
Kisah Sepasang Anak Harimau
Bayangan ratusan sinar pedang mengambang di
udara, berputar cepat membentuk pormasi suwastika,
begitu tangan kiri Prabangkara yang menggenggam
pedang dikibaskan ke depan, ratusan bayangan pedang
yang mengambang di udara serentak melesat cepat
mengincar titik mematikan resi Wanayasa, inilah jurus
seratus sebelas sinar pedang milik Prabangkara yang
sangat mematikan dan begitu terkenal di seantero rimba
persilatan tanah Jawa dan Pasundan bagian selatan.
Sejengkal lagi jurus mematikan itu melabrak resi
Wanayasa, seberkas sinar putih keperakan mencuat dari
putaran cepat tubuh resi Wanayasa memapasi ratusan sinar
pedang yang mengurungnya.
Duaaarrrr…!
Dentuman keras terdengar memekakan telinga.
Debu, pasir dan asap memenuhi arena pertarungan dimana
resi Wanayasa dan Prabangkara masih berdiri tenang di
tempatnya masing-masing. Ki Jatis Purut Sarompa hanya
mampu menyaksikan pertarunga tingkat tinggi di alam
pikir itu dengan rasa was-was.
“Semoga saja kakang resi mampu menghadapi
Prabangkara,”gumam Jatis Purut Sarompa. Kedua
matanya kembali melirik semak belukar dimana keempat
bocah tergeletak dalam pengaruh tabir lingkaran halilintar
hitam.
“Tidak ada jalan lain,kecuali menunggu.” Memikir
sampai di sana ki Jatis Purut Sarompa kembali
memperhatikan kedua tokoh nomor satu rimba persilatan
yang masih tegar berdiri berhadap-hadapan di tempatnya
masing-masing.
49
Babad Tanah Leluhur
Prabangkara berkelebat cepat, melenting tinggi ke
atas, jungkir balik beberapa kali di udara begitu telapak
tangan kanannya yang menggenggam gondewa
dikibaskan, sepuluh jalur hitam anak panah melesat cepat
memburu resi Wanayasa.
Sembilan dari sepuluh anak panah mampu di
hindari sang resi, namun satu anak panah sempat
menggores bahu kirinya. Tubuh pemimpin padepokan goa
larang yang masih berdiri tegap sesaat surut dua tindak ke
belakang, lelehan darah merembes dari balik bahu jubah
putihnya.
“Kakang resi terluka,” membatin ki Jatis Purut
Sarompa yang mulai khawatir dengan kondisi resi
Wanayasa.
Pada saat yang genting itulah seberkas sinar putih
keperakan membias di antara resi Wanayasa dan
Prabangkara.
“Salammm…,”
Dentuman keras sebanyak enam kali berturut-turut
terdengar membahana, tubuh resi Wanayasa dan
Prabangkara yang masih berdiri tegap terhempas ke
belakang dengan keras, kini di hadapan keduanya berdiri
seorang tua berselempang kain abu-abu. Baik kumis,
jenggot dan alisnya yang menjutai panjang berwarna
senanda dengan selempang kain yang dipakaianya.
“Siapa kau kakek? Kenapa mencampuri urusanku
dengan Wanayasa.”
“Salammm…,”
“Salam, apa namamu salam?”
50