Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kisanak, menyusahkan cucuku dan teman-
temannya.”
“Salah satu dari keempat bocah itu, cucumu?”
“Segera tinggalkan tempat ini, sebelum terlambat
kisanak.”
“Kau meremehkan aku kakek,” kata Prabangkara,
lelaki tinggi kurus berwajah bengis itu rentangkan
gondewa siap melesatkan lima anak panah, tapi yang
terjadi selanjutnya justru ujung kelima anak panah itu
perlahan mengarah tubuhnya sendiri. Semakin ditahan,
ujung kelima anak panah semakin kuat menempel di dada
Prabangkara.
“Pergilah kisanak…,”
“Baik, baik kek…,” kata Prabangkara, agaknya ia
menyadari sedang berhadapan dengan siapa, kemudian
berlalu meningalkan tempat tersebut seiring leburnya
pengaruh tabir lingkaran halilintar hitam dari tubuh
keempat bocah yang masih tergeletak di rerumputan.
“Terima kasih, kalau boleh tahu siapakah kakek
sakti ini?”
“Sakti, hehehe.., kau terlalu berlebihan
Wanayasa.”
“Kakek mengenal ku?”
“Itu tidak penting. Wanayasa, aku titip Anting
Wulan, cucuku dan ketiga temannya, Seta Keling, Saka
Palwaguna dan Dampu Awuk, padamu, salammm…,”
seiring dengan ucapanya kakek misterius itu hilang begitu
saja dari hadapan resi Wanayasa dan ki Jatis Purut
Sarompa.
51
Babad Tanah Leluhur
“Jatis, ayo kita bawa mereka ke padepokan.”
“Baik kakang resi,” kata ki Jatis Purut Sarompa
kemudian memanggul dua bocah di pundak kanan dan
kiri, hal sama dilakukan resi Wanayasa, dalam satu
jejakan kaki di tanah keduanya melesat cepat, sosoknya
kemudian hilang di balik lamping bukit sebelah selatan.
Suasana kembali hening, sepi dan sunyi seakan tidak
terjadi apapun sebelumnya di tempat itu.
“Begitulah ceritanya raden,” kata Made Ludira
mengakhiri kisahnya.
“Andai kita bertatap muka, mungkin bisa mengusir
rasa jenuh ini raden.”
“Tidak usah paman Made. Saya yakin sebentar lagi
eyang resi akan membebaskan saya.” Kata raden
Karmapala. Putra prabu Sanna itu begitu yakin ia akan
dibebasakan dari kamar pengap tersebut.[]
52
Kisah Sepasang Anak Harimau
Mendung bergulung di atas langit sembilan sumber
mata air dewa. Jasad dewi Rara Angken, permaisuri prabu
Aji Konda baru saja dikebumikan diiringi rinai hujan dan
isak tangis raden Purbaya dan Cempaka. Putra mahkota
Karang Sedana ditemani emban pengasuhnya itu masih
terpekur di hadapan gundukan tanah merah penuh aneka
bunga, aroma kemenyan meruar melarutkan segenap rasa
yang berkecamuk dalam dada anak lelaki berusia dua
belas tahun itu. Dia tidak pernah menyangka secepat itu
ditingalkan ibundanya, orang yang selama ini
menemaninya dikala senang ataupun susah. Kini hanya
gundukan tanah merah beku yang tersisa juga kenangan
indah yang pernah dilalui bersama ibundanya ketika di
kraton Karang Sedana.
“Ibunda, akan kubalaskan semua sakit hati ini.
Karmapala harus bertanggung jawab,” gumam raden
Purbaya lirih.
“Sudahlah raden, ibunda sudah tenang di nirwana.
Mari kita kembali, raden perlu istirahat.”
“Sebentar bibi Cempaka, aku masih ingin berlama-
lama menemani ibunda di sini.”
“Saya mengerti apa yang dirasakan raden. Tapi,
ingatlah pesan-pesan ibunda yang mengharapkan raden
menjadi orang kuat dan hebat di kemudian hari. Ayo
bangkitlah raden.”
“Karmapala harus bertanggung jawab bi.”
“Iya raden, eyang resi sudah mengurung raden
Karmapala di ruangan khusus.”
“Aku harus memberi pelajaran anak itu bi.”
53
Babad Tanah Leluhur
“Iya raden, tapi sekarang kita kembali dulu ke
bilik, sudah seharian raden tidak melakukan apapun di
sini. Ingat pesan-pesan ibunda.”
“Baiklah bi. Mari kita kembali, aku ingin
istirahat.”
“Ayo raden,” kata Cempaka sambil membantu
raden Purbaya berdiri. Tak lama keduanya tampak
meninggalkan kawasan sembilan mata air dewa.
Belum jauh raden Purbaya dan emban
pengasuhnya Cempaka meninggalkan kawasan sembilan
mata air dewa. Dalam guyuran hujan tanpa sengaja mata
raden Purbaya melihat satu sosok tubuh menelungkup di
pingir sungai kering yang sekarang telah terisi air hujan.
“Bi, siapakah wanita ini?”
“Saya tidak tahu raden. Baiknya kita segera
memberitahu eyang resi.”
“Aku akan memberi tahu eyang resi. Tunggu
sebentar bi,” kata raden Purbaya kemudian berlari-lari
kecil menuju padepokan goa larang. Tidak menunggu
lama dibantu beberapa murid padepokan wanita yang
pingsan di pinggir sungai itu sudah dalam perawatan bi
Parmi.
“Bagaimana kondisinya Parmi?”
“DIa sudah siuman eyang resi.”
“Kau boleh mengurus yang lain. Aku ingin bicara
dengan wanita itu.”
“Silahkan eyang resi.”
Bi Parmi. Pengurus rumah tangga padepokan goa
larang mengangguk kemudian berlalu. Eyang resi
54
Kisah Sepasang Anak Harimau
Wanayasa perlahan dekati wanita yang terbaring lemah di
atas amben kayu.
“Bagaimana kondisi mu nyai?”
“Siapakah kakek ini?”
“Aku resi Wanayasa. Pemilik padepokan goa
larang ini.”
“Oh eyang resi. Maapkan ketidak tahuan saya ini.”
Kata wanita muda tersebut bermaksud bangun dari tempat
tidurnya.
“Tidak usah bangun anaku, kau masih lemah.”
“Baik eyang resi.”
“Siapa nama nyai?”
“Nama saya Mayang dari desa Beringin Watu.”
“Apa yang terjadi dengan nyai? Sampai pingsan di
pinggir sungai.”
Pertanyan resi Wanayasa membuat wanita yang
mengaku Mayang itu menangis tersedu-sedu, guru besar
padepokan goa larang itu heran dan bertanya-tanya dalam
hati.
“Ada apa nyai? Kenapa malah menangis.”
“Saya adalah manusia kotor dan penuh dosa eyang
resi,” kata Mayang di sela-selak isak tangisnya.
“Hyah.., iya. Sebenarnya kita manusia tidak akan
lepas dari semua kekotoran yang bernama dosa. Maka dari
itu hendaklah kita berusaha menghindarinya.”
“Tidak mungkin eyang, sebab buah dari kekotoran
itu kini sudah melekat pada diri saya.”
“Apa maksud nyai?’
“Saya…, saya telah melakukan perbuatan nista,
kini buah itu sudah ada pada badan saya.”
55
Babad Tanah Leluhur
“Apakah…,”
“Iya eyang. Saya hamil.”
“Dewata agung….”
“Tolonglah saya eyang resi. Orang tua saya pasti
marah, saya takut kembali ke desa.”
“Hyahh…, baiklah. Untuk sementara waktu nyai
bisa tinggal di padepokan ini.”
“Terimakasih eyang resi.”
Resi Wanayasa mengangguk pelan, kemudian
berlalu meningalkan bilik Mayang menuju ruang depan
padepokan di mana beberapa murid sedang berlatih dalam
pengawasan dan bimbingan embah Jatis Purut Saropa.
“Siapa wanita muda itu kakang resi?”
“Ia mengaku bernama Mayang dari desa beringin
watu. Oh ya, bagaimana dengan cucuku Karmapala?”
“Kata bi Parmi yang mengantarkan makanan, tiap
hari raden Karmapala mengamuk, memaki-maki dan
merusak barang-barang yang ada di sekitarnya.”
“Anak manja itu…, lalu bagaimana dengan
pengasuhnya, ki Rimbun?”
“Dari kemarin saya tidak melihatnya, mungkin dia
kembali ke Galuh melaporkan keadaan raden Karmapala
pada gusti prabu Sanna.”
“Hyaahh…, biarkan saja dia kembali ke Galuh,
biarkan ayahandanya tahu. Beda sekali tabiat anak itu
dengan kakak tirinya raden Sanjaya.”
“Oh iya Jatis. Beri tahu Luminta, Calung dan
beberapa pengajar padepokan untuk menemui ku di
tempat khusus. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan
dengan kalian.”
56
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Baik kakang resi.”
Resi Wanayasa tersenyum, kemudian berlalu
meninggalkan ki Jatis Purut Sarompa dan murid-murid
goa larang yang sedang berlatih.
-o0o-
Seminggu sudah Mayang menjadi bagian dari
keluarga padepokan goa larang. Gadis malang dari desa
Beringin Watu yang ditemukan pingsan di pinggir sungai
oleh Raden Purbaya dan Cempaka itu sudah mulai
menyibukan diri bersama murid-murid perempuan
padepokan melakukan kegiatan mengayam dan menyulam
juga membuat kerajinan tangan seperti tembikar, grabah
dan membantik. Wajahnya yang semula kusut masai mulai
segar, matanya yang sayu kembali berbinar. Hampir
semua murid goa larang mengenalnya, pun dengan
Cempaka. Emban pengasuh raden Purbaya itu begitu
dekat dengan Mayang. Hingga pada satu ketika. Sore itu
Cempaka dan Mayang tengah berbincang di sebuah gajebo
sambil menyulam.
“Kau menyulam bunga apa adik Cempaka?’
“Bunga melati, kak Mayang sendiri menyulam
bunga apa?”
“Coba perhatikan, bunga apa yang sedang saya
sulam.”
“Emmh, kalau tidak salah itu bunga kamboja.”
“Betul adik Cempaka.”
“Tapi kenapa berwarna hitam kak Mayang?”
“Bunga ini seperti nasib saya yang hitam kelam,”
desah gadis ayu itu membuat Cempaka tertegun beberapa
57
Babad Tanah Leluhur
lama. Isak tangis perlahan terdengar dari bibir gadis
malang tersebut.
“Maapkan saya kak Mayang, kalau pertanyaan
saya membuat susah.”
“Tidak adik Cempaka,”
“Kak Mayang bohong, pasti terjadi sesuatu dengan
kakak. Ada apa kak?”
“Umurmu berapa adik Cempaka?”
“Emm, enam belas tahun kak.”
“Masih terlalu muda…,”
“Maksud kak Mayang?”
“Apakah kau mengenal kakang Saka Palwaguna?”
kata Mayang balik bertanya, membuat Cempaka semakin
aneh dengan sikap lawan bicaranya itu.
“Iya, saya kenal paman Saka Palwaguna. Apakah
kakak Mayang mengenalnya juga?”
“Itulah alasan saya datang ke padepokan ini adik
Cempaka,” sela Mayang, gadis ayu itu hetikan sejenak
kalimatnya. Dihirupnya dalam-dalam udara sekitar
kemudian dihembuskannya dengan pelan. Setelah tiga kali
melakukan hal sama, Mayang tatap sejenak Cempaka.
“Enam purnama lalu…,” desah gadis ayu itu
pelan. Matanya sayu menerawang langit sepertinya dia
sedang mengumpulkan segenap ingatannya. Tanpa
diminta sebuah kisah meluncur dari bibir Mayang. Gadis
malang kembang desa Beringin Watu.
58
Kisah Sepasang Anak Harimau
Malam itu desa Beringin Watu begitu sunyi, sepi
dan sangat dingin. Kabut tebal melingkupi kawasan desa,
saat itulah terdengar lima ringkik kuda disusul gedoran
pintu yang sangat keras, Mayang yang tengah tidur terjaga
dan langsung berlari menuju kamar kedua orang tuanya
yang juga sudah terbangun, dilihatnya sang ayah
menghunus sebilah keris.
“Ada apa ayah?”
“Mayang, kau dan ibumu segera tinggalkan rumah
ini, cepat.” Sela sang ayah.
Saat itulah pintu didobrak dari luar. Lima orang
bertampang sangar masuk meyilangkan senjata masing-
masing di hadapan ki Pancala, sang kepala desa Beringin
Watu.
“Ki Pancala. Batas waktu yang kami tentukkan
sudah habis, maka jangan salahkan kami,” kata salah
seorang bertampang sangar.
“Sampai kapanpun rumah dan tanah ini tidak akan
pernah aku serahkan pada kalian. Perampok busuk.”
Salah seorang bertampang sangar tatap kepala desa
Beringin Watu dengan tajam.
“Kau memilih mati rupanya, ki Pancala.”
“Tempat ini terlalu sempit, aku tunggu kalian di
luar sana.”
“Hahaha…, punya nyali juga kau ki Pancala,” kata
gegeduk rampok tersebut lantas keluar dari rumah.
Kelimanya terlihat berdiri berjajar di halaman seiring
munculnya ki Pancala.
59
Babad Tanah Leluhur
“Maju kalian satu per satu atau sekaligus,” dengus
kepala desa Beringin Watu tersebut sambil menyilangkan
bilah keris di depan dadanya.
“Serang…!”
Tanpa dikomando dua kali lima orang bertampang
sangar lesatkan badan sambil membabadkan golok,
mengarah lima titik mematikan ki Pancala yang dengan
tenang kibaskan keris memapasi laju golok.
Trang….!
Denting beradunya senjata tajam terdengar
memekakan telinga. Tubuh renta ki Pancala kembali
berkelebat dalam satu jurus tendangan ganda, tiga golok
melesat ke udara sebelum menyadari apa yang terjadi
ketiganya terjerembab ke belakang dengan dada lebam
bekas jurus jatuhan tumit lawannya. Melihat hal itu dua
perampok lainnya memburu ki Pancala dengan jurus
gelombang pasang surut. Walau lihai dalam memainkan
jurus, usia tidak mampu menutupi kondisi kepala desa
Beringin Watu tersebut, dia mulai kelelahan. Dalam satu
gebrak tubuh rentanya terpelanting berguling-guling baru
berhenti ketika tubuhnya membentur sebuah pohon.
Kesempatan itu tidak disia-siakan kedua lawannya, golok
mendesing cepat, siap menebas leher ki Pancala.
Trakk…! Trakk…!
Dua patahan golok terdengar bersamaan dengan
berkelebatnya satu sosok pemuda tegap berwajah tampan.
“Mengeroyok orang tua, memalukan, akulah lawan
kalian,” kata sang pemuda sambil membantu ki Pancala
bangun.
“Terimakasih anak muda.”
60
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Aki silahkan istirahat, biar mereka aku hadapi”
“Hati-hatilah anak muda.”
Sang pemuda tersenyum kemudian dalam satu
gerak tubuhnya tampak berputar cepat seperti gasing.
“Kincir metu.”
“Benar adik Cempaka. Dengan jurus tersebut
kakang Saka berhasil menumbangkan lawan-lawannya.
Dan sejak saat itu saya mulai dekat dengannya. Tiap ada
kesepatan dia selalu mengunjungi saya, hingga dua bulan
lalu dia tidak pernah datang lagi setelah saya…,”
“Setelah kak Mayang…,”
“Mengandung buah dari perbuatan kami,” sela
Mayang kemudian kembali terisak-isak.
“Jadi…, jadi…”
“Betul adik Cempaka. Tapi begitu mendengar
kakang Saka adalah anak angkat eyang Resi, saya jadi
takut.”
“Apakah eyang resi mengetahui, bahwa paman
Saka yang melakukannya.”
“Soal kehamilan saya, eyang resi sudah tahu, tapi
siapa yang bertanggung jawab beliau belum
mengetahuinya adik Cempaka.”
“Kakak Mayang harus memberitahu eyang resi.”
“Saya takut adik Cempaka.”
“Marilah saya antar menemui eyang resi.”
“Baiklah adik Cempaka.”
Keduanya bergegas turun dari gajebo, berjalan
cepat menuju bilik eyang resi Wanayasa. Penanggung
jawab padepokan goa larang itu tersenyum arif
menyambut keduanya di ambang pintu.
61
Babad Tanah Leluhur
“Oh kalian, ada apa Mayang, Cempaka?”
“Ehh, saya mengantar kak Mayang.”
“Begitu, silahkan masuk.”
“Kalau begitu saya pamit eyang resi,” kata
Cempaka dijawab anggukan pelan resi Wanayasa.
“Nah, Mayang, anakku. Apakah ada sesuatu yang
ingin kau bicarakan?”
“Betul eyang resi. Maapkan saya sebelumnya jika
nanti membuat eyang marah.”
“Marah, hehehe…., ada apa sebenarya anakku?
Ceritakanlah.”
“Sebenarnya saya kemari mencari kakang Saka.”
“Mencari Saka, anakku?”
“Iya eyang resi…, kakang Saka…, kakang Saka,”
kembali gadis ayu itu mulai terisak-isak menahan tangis
membuat resi Wanayasa mengernyitkan dahi.
“Apakah ada hubungannya dengan kehamilan
mu?”
“Tapi…, tapi eyang resi jangan marah pada kakang
Saka.”
“Jadi benar Saka yang melakukannya?”
“Be.., benar eyang resi…,”
“Hahhh…, keterlaluan sekali Saka anakku itu.”
“Eyang resi tolong saya.”
“Aku akan menolongmu anakku, biar eyang
mengurus semuanya. Sekarang kau istirahatlah.”
“Baik eyang resi, saya pamit,” kata Mayang
kemudian berlalu meningalkan bilik resi Wanayasa yang
juga keluar dari biliknya menemui Jatis Purut Sarompa
yang tengah memantau murid-murid padepokan berlatih.
62
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Ada apa kakang resi?”
“Ini soal Mayang.”
“Wanita yang ditemukan di pinggir sungai?”
“Dia mengaku hamil dengan salah satu murid
padepokan ini, Jatis.”
“Siapa murid tidak tahu diri itu kakang resi?”
“Hahhh…, Saka…, Saka Palwaguna,”
“Keterlaluan sekali anak itu, membuat malu
padepokan. Kakang resi harus menghukum anak kurang
ajar itu.”
“Tapi Jatis. Saka Palwaguna dan saudara-
saudaranya tengah tirakat, memperdalam aji kincir metu.
Kita akan menggagalkan usaha mereka.”
“Bagaimanapun kakang resi harus mengambil
keputusan.”
“Hyahhh…, baiklah Jatis. Aku akan menyuruh
salah seorang murid menjemput mereka di bukit Batu
Larang.”
“Biarlah saya sendiri yang akan menjemput
mereka semua, kakang resi.”
“Baiklah Jatis. Jemput mereka semua dan
hadapkan padaku.”
“Baik kakang resi,” kata mbah Jatis Purut Sarompa
dengan megandalkan aji kidang mamprung dalam
beberapa kelebatan salah seorang guru padepokan goa
larang itu sudah sampai di bukit batu larang dimana empat
pendekar ning sewu tengah tirakat memperdalam aji kincir
metu.
63
Babad Tanah Leluhur
“Tempat ini banyak goa, buang waktu kalau aku
cari mereka satu per satu. Baiknya aku panggil saja.”
Memikir sampai di situ, mbah Jatis Purut Sarompa tampak
menghimpun tenaga murni yang terpusat di pusarnya
lantas disalurkan pada pita suara.
“Haaaaiiii…, Saka…, Seta…, Dampu…,
Anting…, dimana kalian, keluarlah. Eyang resi meminta
kalian menemuainya sekarang juga…!”
Tidak menunggu lama keempat pendekar ning
sewu yang tengah tirakat di dalam goanya masing-masing
sudah berdiri satu tombak di hadapan mbah Jatis Purut
Sarompa.
“Paman Jatis, ada apa berteriak-teriak seperti itu?”
kata Anting Wulan.
“Apakah ada hal penting paman?”kata Saka
Palwaguna.
“Ini menyangkut dirimu Saka.”
“Masalah adik Saka. Masalah apa paman Jatis?”
sela Seta Keling.
“Ceritakanlah pada kami paman Jatis.” Menimpali
Dampu Awuk yang mulai tidak sabar.
“Baiknya kalian segera temui eyang resi,” kata
mbah Jatis kemudian melesat cepat meninggalkan
keempatnya yang juga segera melesat mengikiuti mbah
Jatis Purut Sarompa menuju padepokan goa larang. Hujan
turun dengan deras ketika keempat pendekar ning sewu
sudah berada di dalam bilik pribadi eyang resi Wanayasa.
“Ada apa eyang memanggil kami? Bukankah
eyang memberi waktu tiga purnama untuk kami.”kata
Anting Wulan yang sudah tidak sabar ingin mengetahui
64
Kisah Sepasang Anak Harimau
permasalahan, apalagi menyangkut Saka Palwaguna,
kakak seperguruan yang sangat dicintainya.
“Betul eyang, apakah masalah itu berhubungan
dengan saya?” kata Saka Palwaguna.
“Baiknya kau mengaku dengan jujur perbuatan
tidak terpujimu itu, Saka,” sela mbah Jatis Purut Sarompa
membuat Saka Palwaguna terkejut.
“Maksud paman Jatis apa? Tindakan tidak terpuji
apa yang sudah dilakukan kakang Saka?”
“Anting, kakangmu itu sudah membuat seorang
wanita lemah menderita karena ulahnya.”
“Paman Jatis, saya tidak mengerti, apa yang
sebenarnya terjadi.”
“Baiklah Saka, anakku…, aku akan panggil wanita
itu menemuimu,” kata Resi Wanayasa kemudian bertepuk
tiga kali. Dari balik pintu muncul seraut wajah ayu
Mayang yang langsung berlari memeluk Saka Palwaguna
yang tentu saja gelagapan.
“Kakang Saka, ohhh…, akhirnya saya bertemu lagi
dengan mu kakang.”
“Siapa kau? Lepaskan pelukanmu ini. Aku tidak
mengenalmu.”
“Kakang Saka. Siapa dia?”
“Saya…, saya tidak tahu adik Wulan.”
“Tidak mengapa kakang Saka lupa dengan saya.
Tapi tolonglah, akui dia sebagai anakmu kakang.” Kata
Mayang sambil mengelus perutnya.
“Anakku, kau gila…,” ujar Saka Palwaguna
kemudian mendorong wanita ayu itu sampai terjengkang.
65
Babad Tanah Leluhur
“Adik Saka, apa yang ku lakukan,” kata Seta
Keling kemudian bertindak cepat melindungi Mayang.
“Dia pembohong, fitnah. Aku tidak mengenalnya
kakang Seta.”
“Tapi kenapa kau memperlakukannya dengan
kasar?”
“Saya.., saya emosi kakang.”
“Kakang Saka, benarkah dia….”
“Adik Wulan, percayalah padaku…, aku tidak
mengenal wanita itu.”
“Anakku Saka, apakah benar kau tidak mengenal
Mayang?”
“Saya tidak mengenalnya eyang.”
“Untuk membuktikannya biarlah Saka menemui
keluarga Mayang di desa Beringin Watu, minimal ada
yang tahu kalau Saka sering mengunjungi Mayang di desa
itu,” kata resi Wanayasa.
“Kami ikut eyang,” kata ketiga saudara
seperguruannya berbarengan.
“Yahhh, kalian bertiga temani saudaramu Saka
menemui keluarga Mayang.”
“Kami berangkat sekarang juga eyang resi.”
“Baiklah, berhati-hatiah kalian dan cepat kembali
begitu urusannya selesai.”
“Baik eyang resi.”
Maka, hari itu juga, setelah hujan reda, pendekar
ning sewu bersama Mayang meninggalkan padepokan goa
larang menuju desa Beringin Watu. Mereka tidak pernah
tahu sebentar lagi peristiwa besar akan terjadi pada
padepokan goa larang.
66
Kisah Sepasang Anak Harimau
Suasana padepokan goa larang malam itu begitu
sunyi, sepi dan hening. Hembusan angin dingin dari
perbukitan batu larang menambah suasana alam begitu
mistis penuh rahasia tak terpecahkan. Di kejauhan
terdengar lolongan serigala hutan begitu panjang
menggidikan, sepertinya binatang itu melihat sesuatu yang
mambuat ia melolong seperti itu.
Semantara itu di dalam bilik pribadinya, resi
Wanayasa terpekur kusuk dalam semadi. Guru besar
padepokan goa larang yang sejatinya adalah seorang
pangeran, putra kedua Maharaja Wretikandayun itu
tampak larut dalam puja mantra semadi, sang resi
berusaha menetralisir gejolak perasaannya yang beberapa
bulan itu mengganjal dan menggempur jiwanya bertubi-
tubi.
Dimulai dari masalah Made Ludira, salah satu
murid yang bertugas di ruang pustaka padepokan itu telah
membunuh salah seorang resi, tamu padepokan yang akan
mengikuti sembahyang meminta hujan dan Made Ludira
pun dengan lancang telah masuk ke dalam bilik resi
Wanayasa mencuri beberapa kitab pusaka kincir metu
pesanan pendeta sesat Rakosapala walau usahanya
akhirnya digagalkan oleh Anting Wulan dan Saka
Palwaguna. Masalah berikutnya yang lebih pelik datang
dari Mayang, seorang gadis desa Beringin Watu yang
mengaku menjalin hubungan dengan Saka Palwaguna
hingga mengandung.
“Duhai dewata agung…., berilah hamba petunjuk,
berilah kekuatan lahir dan batin dalam menghadapi semua
cobaan yang engkau berikan pada mahluk lemah
67
Babad Tanah Leluhur
ciptaanmu ini….” Munajat sang resi dalam keheningan
dini hari nan sepi, sunyi, hening dan suwung. Begitu
kusuknya resi Wanayasa bersemadi menyerahkan jiwa
raga mencurahkan asa dan karsanya pada sang pemilik
jagat, pengatur sekenario kehidupan sampai pada titik
puncak atma yakni kosong, kekosongan dalam isi, isi
dalam kosong.
Malam bergulir menuju puncaknya. Dini hari nan
kelam, hembusan angin dingin dari perbukitan batu larang
serasa mencucuk persendian. Rintik hujan mulai turun
perlahan dari langit, kilat melesat cepat menerangi alam,
diawali gemuruh samar disusul gelegar halilintar merobek
jagat.
Duaaarrr…!
Sebuah dentuman terdengar dari belakang
padepokan disusul kobaran api menjilat sebuah lumbung
persedian bahan pangan, dalam sekejap api berkobar di
mana-mana, jerit pekik dan erang kesakitan terdengar
memilukan, kentongan tanda kebakaran dipukul tanpa
jeda, seluruh murid padepokan seketika berhamburan
keluar berusaha memadamkan api, saat itulah puluhan
orang bercadar hitam dari berbagai penjuru muncul dan
menyerang murid-murid padepokan goa larang.
Resi Wanayasa segera menghentikan puja mantra
semadinya, dengan sigap pemimpin padepokan goa larang
itu melesat keluar bilik menuju sumber keributan. Betapa
terkejutnya sang resi begitu mengetahui orang-orang yang
menyerang padepokannya.
68
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Dewata agung, Prabangkara dan tokoh-tokoh
nomor satu golongan hitam menyerang padepokanku,”
gumam resi Wanayasa.
“Ha.Hahahaha…, Wanayasa, kita bertemu
kembali.”
“Prabangkara siapa yang menyuruhmu menyerang
padepokanku?”
“Menyuruhku, itu bukan urusanmu Wanayasa.
Aku datang menuntaskan urusan lama kita,” kata
Prabangkara lantas melesat cepat dalam jurus pembuka
mematikan yakni jurus lingkaran halilintar hitam.[]
69
Babad Tanah Leluhur
Sepanjang perjalanan menuju desa Beringin Watu
baik Seta Keling, Dampu Awuk, Anting Wulan terlebih
Saka Palwaguna hampir tidak ada pembicaraan yang
berarti, keempatnya diam membisu larut dalam angan
masing-masing. Perjalanan mereka tentu saja tidak
sebebas sebelumnya sebab ada Mayang yang sebentar-
sebentar minta istirahat karena kelelahan, gadis ayu ini
beralasan tidak pernah melakukan perjalanan jauh.
“Maapkan saya, sudah membuat tuan-tuan dari
padepokan goa larang susah karena saya,” kata Mayang
memecah kebisuan.
“Dengar Mayang, sebenarnya aku curiga padamu,
katakan siapa kau sebenarnya?”sela Anting Wulan yang
sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Mayang yang
menunggang kuda depannya.
“Apa maksud nona Anting, bukankah saya sudah
menerangkan siapa saya.”
“Kau seperti mengulur waktu, apa tujuanmu
sebenarnya?”
“Saya…,”
“Aku tidak yakin. Kakang Saka melakukan
perbuatan nista itu, baiknya kau jujur, sebelum aku…,”
“Sudahlah adik Wulan, kenapa kau menekan
Mayang terus,” sela Seta Keling.
“Bersabarlah adik Wulan, apa kau tidak kasihan
dengan Mayang. Dalam kondisi hamil masih juga kau
mencurigainya,” kata Dampu Awuk.
“Kalian terlalu lunak. Apa karena dia cantik,
membuat kakang sekalian silau.”
70
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Adik Wulan, kau sadar apa yang baru saja kau
katakan?”
“Maapkan saya, membuat tuan-tuan bertengkar.”
Sela Mayang dengan nada lirih.
“Ini semua karenamu Mayang. Kakang Saka,
mengapa kakang diam saja, katakan kalau kakang tidak
melakukan hal memalukan itu, katakan bahwa kakang
tidak mengenal gadis itu.”
“Hyahh, aku harus bagaimana lagi adik Wulan,
tidak ada yang mepercayai ku, bahkan eyang resi.” Desah
Saka Palwaguna. Pemuda tampan itu kembali berdiam diri
di atas punggung kudanya.
“Maapkan kami adik Saka. Semuanya akan jelas
jika kita sudah bertemu dengan orang tua Mayang,” kata
Seta Keling.
Keheningan kembali tercipta, hanya derap ladam-
ladam kuda terdengar menapaki jalan berbatu-batu. Hari
menjelang tengah malam ketika rombongan Seta Keling
memasuki tapal batas desa Beringin Watu. Obor sewu
meliuk dipermainkan angin ketika melewati pintu gerbang
desa.
“Dimana rumah mu, Mayang?” kata Seta Keling,
matanya menyorot tajam pada deretan rumah yang berjajar
di sebelah kanan dan kiri jalan.
“Kita sudah sampai, itu yang halamannya luas,
tuan-tuan tunggu sebentar di sini, saya akan masuk
membangunkan ayah,”kata Mayang, gadis ayu itu turun
dari kuda lalu dengan hati-hati seakan ketakutan dia
melangkah pelan menuju rumahnya dan sosoknya hilang
di balik pintu.
71
Babad Tanah Leluhur
“Kakang Seta. Apakah tidak apa-apa kita bertamu
tengah malam seperti ini?”
“Apa boleh buat adik Awuk. Kita harus selesaikan
masalah ini secepatnya.”
“Agaknya semua yang dikatakan gadis itu benar,”
gumam Anting Wulan.
“Adik Wulan, kenapa kau bicara seperti itu? kau
tidak membelaku lagi.” Sela Saka Palwaguna, hati pemuda
tampan itu begitu terpukul mendengar pernyataan dari
adik seperguruannya tersebut.
“Hyahh…, kenyataan seperti ini kakang…,” kata
Anting Wulan kemudian menggigit bibirnya kuat-kuat,
gadis manis ini mencoba menahan pelupuk matanya yang
mulai memanas karena air mata. Hatinya hancur sudah,
orang yang diam-diam dikagumi dan begitu dicintainya
sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
“Adik Wulan…, kau….” Saka Palwaguna tidak
mampu meneruskan kalimatnya. Hatinya pun hancur
mendengar kalimat yang diucapkan Anting Wulan.
“Kakakng Seta. Mengapa Mayang lama sekali,
sudah hampir sepeminuman teh kita menunggu,” sela
Dampu Awuk.
“Mungkin Mayang mendapat kesulitan dari
ayahnya,” gumam Seta Keling yang sebenarnya hatinya
mulai gelisah.
“Biar urusan ini bagian ku,” kata Saka Palwaguna.
Pemuda tampan itu melompat dari kudanya, berlari cepat
melintasi pekarangan dan sesampainya di depan pintu.
Dessss…!
72
Kisah Sepasang Anak Harimau
Ditendangnya pintu itu hingga pecah berantakan.
Tentu saja perbuatannya menimbulkan tanda tanya dan
kekagetan luar biasa dari saaudara-saudara
seperguruannya.
“Adik Saka. Apa yang kau lakukan?” kata Seta
Keling kemudian melesat menemui Saka Palwaguna yang
berkacak pinggang di depan pintu yang sudah rusak.
“Kakang Seta. Lihat…, apakah kau masih
meragukan ku.”
Betapa terkejutnya Seta Keling dan ketiga
saudaranya begitu sampai di ambang pintu. Satu sosok
lelaki tua kedapatan tewas tergantung di tiang dalam
rumahnya.
“Ini jebakan. Adik-adik ayo kita keluar dari rumah
ini,” sela Seta Keling kemudian melesat keluar.
Keempatnya kembali terkejut ketika mendapati sosok
Mayang yang kini berobah seratus dua puluh derajat dari
penampilannya yang semula.
“Hihihihi…, betapa menariknya kisah gadis lemah
dari desa Beringin Batu, hihihi.”
“Kakang Seta lihat sulaman bunga kamboja hitam
yang melilit lehernya itu,” kata Dampu Awuk.
“Kau bidadari pencabut nyawa?”
“Hihihi…., benar anak-anak manis. Akulah
Mayang Telasih si bidadari pencabut nyawa.”
“Apa tujuanmu menjebak kami?”
“Dengarlah anak-anak manis. Mungkin saat ini
padepokan goa larang sudah hancur, aku ditugaskan
mengurangi kekuatannya dengan memancing kalian keluar
dari goa larang, Hihihi….”
73
Babad Tanah Leluhur
“Kurang ajar biar dia bagianku kakang Seta,”kata
Saka Palwaguna yang sudah tidak mampu menahan diri,
pemuda tampan itu bersiap mengetrapkan aji kincir metu.
“Adik Saka, tinggalkan dia. Kita harus segera
sampai di goa larang,” kata Seta Keling kemudian
mengajak adik-adik seperguruanya meningalkan Mayang
Telasih si Bidadari Pencabut Nyawa yang mengumbar
tawanya.
-o0o-
74
Kisah Sepasang Anak Harimau
Amarah resi Wanayasa hampir tidak tertahankan
lagi melihat beberapa murid-muridnya dibantai dengan
kejam oleh puluhan pendekar kelas satu golongan hitam.
Maka tanpa sungkan lagi sang resi langsung mengetrapkan
aji kincir metu tingkat sembilan yang baru saja
dikuasainya menghadapi Prabangkara salah satu
dedengkot golongan hitam.
Di tempat terpisah tampak mbah Jatis Purut
Sarompa bertarung menghadapi ki Sampar Angin dan
Dandung Amoksa, semantara ki Luminta berhadapan
dengan Dika Hanggara si Kumbang Madu. Ki Calung
bertempur mati-matian melawan pendeta sesat Rakosapala
dan Girindasana. Dan di bagian lain ki Prabangkara dan
Wira Geni dengan tanpa kenal belas kasih membantai
puluhan murid-murid goa larang.
Saat itulah sebuah tawa menggelegar di seantero
padepokan goa larang disusul dari kegelapan malam
selesat satu sosok hitam tinggi kurus yang kini sudah
berdiri di tengah-tengah antara resi Wanayasa dan
Prabangkara. Sosok yang baru datang itu sangatlah
mengerikan disamping tatapan matanya yang tajam sosok
berupa jerangkong itu memiliki kedua lengan yang
panjang menjuntai tanah.
“Wah wah wah, hahaha…, jadi kau yang bernama
Wanayasa, sayang sekali gurumu Mamang Kuraya sudah
mati.”
“Hai iblis Jerangkong, siapa bilang aku sudah mati,
hehehehe….,” di saat yang sama melesat pula satu sosok
lelaki tua bungkuk berjubah kelabu dengan kumis dan
jenggot senada dengan pakaiannya.
75
Babad Tanah Leluhur
“Guru…, bukankah kau…,”
“Diam kau murid kurang ajar, berani-beraninya
kau menguburku, aku belum mati tau.”
“Tapi guru,”
“Sudahlah…, kau selamatkan murid-muridmu itu,
aku ada sedikit urusan dengan iblis jerangkong ini.”
“Baik guru…,” kata resi Wanayasa kemudian
kembali bertarung melawan Prabangkara.
“Murid bodoh, aku suruh menyelamatkan murid-
muridnya eh…, malah kembali bertempur,” sungut orang
tua bungkuk berjubah kelabu yang tidak lain dari Mamang
Kuraya.
“Wah, wah, wah, hahahaha…, akhirnya kau
muncul juga Kuraya.”
“Jerangkong hidup, ayo kita cari tempat yang luas,
kita bermain-main seperti dulu,” kata Mamang Kuraya,
sosoknya kemudian melesat cepat menuju perbukitan batu
larang diikuti Jerangkong hidup.
Semantara itu, mbah Jatis Purut Sarompa yang
dikeroyok ki Sampar Angin dan muridnya Dandung
Amoksa mulai keteteran apalagi setelah Wira Geni datang
ikut serta menyerangnya.dalam beberapa jurus saudara
seperguruan resi Wanayasa itu harus menerima takdirnya
tewas ditangan ki Sampar Angin.
“Hai…, Wanayasa, kau lihat, Jatis Purut Sarompa
sudah menjadi mayat,” kata ki Sampar Angin.
“Celaka, bisa habis semua murid-muridku,”
Memikir sampai disitu sang resi lantas berteriak
keras memerintahkan seluruh murid padepokan goa larang
menyelamatkan diri. Secara berkala, dibantu ki Luminta
76
Kisah Sepasang Anak Harimau
dan ki Calung yang membuka jalan beberapa orang murid
padepokan goa larang yang tersisa bisa meloloskan diri
melalui jalur rahasia.
“Karmapala…, aku harus menyelamatkannya,”
Resi Wanayasa segera meninggalkan glanggang
pertempuran yang semakin sengit menuju tempat khusus
dimana raden karmapala disekap.
“Karmapala cepat keluar cucuku,” kata resi
Wanayasa setelah pintu tahana dibuka.
“Apa yang terjadi eyang? Saya mendengar
keributan di luar.”
“Padepokan kita diserang, cucuku, cepat kau
bersembunyi di goa-goa bukit batu larang.”
“Tunggu eyang, di kamar sebelah masih ada
paman Made Ludira.”
“Hyah kau benar cucuku,” kata resi Wanayasa
kemudian berkelebat cepat membebaskan Made Ludira.
“Nah kalian berdua segera bersembunyi di goa-goa
bukit batu larang, cepatlah.”
“Baik eyang resi,” jawab keduanya kemudian
berlari-lari kecil menuju bukit batu larang.
Di dalam salah satu bilik, Cempaka berusaha keras
mencegah raden Purbaya yang akan bertempur, pemuda
tanggung itu begitu bernapsu ingin membantu saudara-
saudara seperguruannya yang kini sedang manyabung
nyawa.
“Aku harus membantu mereka , bibi Cempaka.”
“Jangan raden, terlalu berbahaya, baiknya kita
mengungsi dari sini.”
“Tapi bi,”
77
Babad Tanah Leluhur
“Ayolah raden, ingat pesan ibunda, kita mengungsi
dulu, raden harus tetap hidup untuk membalas semua
perbuatan mereka kelak.”
“Baiklah bibi Cempaka.”
Keduanya lentas keluar dari pintu belakang
padepokan, kegelapan malam membantu mereka dalam
upaya meloloskan diri.
“Lihat bi itu ki Dandung, aku harus membalas
dendam padanya,” kata raden Purbaya begitu melihat
Dandung Amoksa yang juga melihatnya. Lelaki berbadan
gempal pendek dengan perut bak tempayan itu bergegas
menghampiri raden Purbaya.
“Ayo raden kita tinggalkan dia, terlalu berbahaya,”
kata Cempaka sambil menarik tangan jungjunganya
menuju perbukitan batu larang.
“Bwahh…,hahahah…, Purbaya, mau kemana kau
bocah. Aku akan menyerahkanmu pada prabu Jaya
Sentana di Karang Sedana,” kata Dandung Amoksa yang
sudah sampai di perbukitan batu larang.
“Keluarlah kau Purbaya…, cilukkkk….baaaa….,
hahahaha,”
Dandung Amoksa begitu gusar, berkali-kali dia
mendatangi satu per satu goa namun belum mendapat
hasil keberadaan buruannya. Semantara itu di bagian
tertinggi dari bukit batu larang, raden Purbaya
memandang lelaki gembrot yang telah menyengsarakan
dirinya itu dengan perasaan amarah yang tidak bisa
ditahan lagi.
“Aku akan melempar batu ini padanya bi.”
“Tapi raden, bagaimana kalau tidak kena?”
78
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Aku akan mencobanya bi,” kata raden Purbaya
kemudian melemparkan batu besar itu tepat mengenai
kepala Dandung Amoksa. Lelaki begis itu langsung
terkapar bermandikan darah dengan kepala pecah.
“Apakah dia sudah mati bi?”
Cempaka segera memeriksa tubuh ki Dandung Amoksa.
“Dia sudah mati raden,” desis Cempaka.
“Aku telah membunuhnya bi, aku pembunuh bi,”
“Sudahlah, bukankah raden ingin memecahkan
kepala ki Dandung.”
“Tapi bi,”
“Sudahlah raden, ayo kita tinggalkan tempat ini.”
-o0o-
Di sisi lain perbukitan batu larang. Mamang
Kuraya dan Jerangkong Hidup saling terjang adu
kekuatan, kedua tokoh yang sama-sama memiliki ilmu
tiada tanding itu bertarung tanpa jeda.
“Hehehe…., dua puluh tahun, kelelawar sakti mu
masih begini-begini saja. Jerangkong,”
“Kau jangan menghinaku, Kuraya. Ayo kita
lanjutkan pertempuran sampai dua hari dua malam.”
“Aku tidak mau, he, hehehe…, bagaimana kalau
aku pingin makan, minum atau berak.”
“Keparat kau Kuraya. Akan kubuat kau merangkak
sambil menangis.”
“Apa? kau ingin aku merangkak sambil menangis,
seperti ini…, hu, huhuhu.” Ejak Mamang Kuraya yang
79
Babad Tanah Leluhur
seolah merangkak sambil menangis dibuat-buat membuat
Jerangkong Hidup semakin gusar.
“Terimalah jurus pamungkas kelelawar sakti ku
ini, Kuraya,” geram Jerangkong Hidup. Tubuh tinggi
kurusnya perlahan melayang ke atas, kedua lengannya
yang panjang terentang ke samping, dari udara jurus
kelelawar sakti melesat cepat mengincar sebelas titik
mematikan Mamang Kuraya. Lelaki tua bungkuk
berjenggot dan berkumis kelabu itu melayaninya sambil
tertawa-tawa, begitu tawanya sirap serangkum angin
dahsyat melabrak tubuh Jerangkong Hidup hingga
terpental, bergulingan di atas tanah.
“Kuraya, jurus apa yang kau gunakan tadi?”
“Hehehe…, kalau aku katakana, kau pasti lari
terbirit-birit sampai kepicirit. Jerangkong, hehehe.”
“Katakan jurus apa itu Kuraya?”
“Baiklah, baiklah, dengar Jerangkong, kau tentu
pernah mendengar jurus semadi dewa gila,” kata Mamang
Kuraya membuat Jerangkong Hidup tercekat beberapa
kejap.
“Apa…, kau, kau tidak dusta?”
“Kenapa Jerangkong? Kau takut, resi Sanata
Darma mengetahui kau lari darinya?”
“Tidak mungkin itu jurus semadi dewa gila milik
resi Sanata Darma, jangan-jangan kau telah mencurinya,
Mamang Kuraya.”
80
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Dengar Jerangkong. Selama dua puluh tahun aku
berguru padanya.”
“Kau bohong. Dua puluh lima tahun lalu aku
bersamanya. Hingga aku mampu meloloskan diri
darinya.”
“Hehh, sudahlah Jerangkong, lebih baik kau
mengaku kalah, atau aku yang pura-pura mengaku kalah
pada mu supaya urusan kita selesai.”
“Kurang ajar kau Kuraya, ayo kita lanjutkan
pertarungan sampai salah satu dari kita mati.”
“Aku sudah bosan bertempur denganmu,
Jerangkong. Bagaimana kalau kita mengadakan
perlombaan.”
“Apa maksudmu orang tua licik?”
“Pertama kita adu pukulan. Kau lihat batu
sekepalan kepala bayi itu. Pukul batu itu hingga hancur
tanpa merusak tebing yang menyangganya.”
“Baik, lihat ini Kuraya.” Sentak Jerangkong
Hidup. Tokoh maha sakti di zamanya itu lantas
kembangkan kedua tanganya yang panjang ke samping
kemudian diangkat tinggi ke udara dan dikepak-kepakan.
Deru angin bersiut menyertai luncuran pukulan Kelelawar
Sakti yang dilancarkan Jerangkong Hidup. Seberkas
cahaya hitam menderu menerjang batu hingga hancur
berkeping-keping namun tebing yang berada di sekitarnya
tidak cidera sama sekali.
“Hehehe…, lihat itu Kuraya. Aku berhasil.”
81
Babad Tanah Leluhur
“Hahaha…, Kelelawar Sakti mu memang hebat.
Jerangkong. Sekarang lihat ini,” kata Mamang Kuraya
kemudian gelar aji Kincir Metu tingkat sepuluh. Seberkas
cahaya putih meluncur cepat menerjang batu yang ada adi
atas tebing. Batu itupun lumer jadi bubuk tanpa mencedrai
tumpukan batu yang menyangganya.”
“Lihat Jerangkong. Batu itu mampu aku buat lebih
halus.”
“Bagus, bagus sekali Kincir Metu milikmu itu
Kuraya. Sekarang apa lagi perlombaannya?”
“Hem, adu lompatan. Kau perhatikan tebing itu.
mampukah kau dalam sekali lompat sampai di ujung
tebing sana dan kembali lagi ke sini tanpa menjejak
tanah.”
Sebelum menjawab pertanyaan Mamang Kuraya.
Sebelah mata Jerangkong Hidup menyipit. Ia melihat
beberapa orang berlari-lari mendatangi tempatnya
bertarung.
“Kurang ajar, siapa mereka yang menuju kemari
itu. Kubunuh mereka,” sentak Jerangkong Hidup
kemudian melesat cepat meninggalkan Mamang Kuraya
menyongsong beberapa orang yang menuju gelanggang
pertempuran.[]
82
Kisah Sepasang Anak Harimau
Rona jingga semburat di kaki langit cakrawala
timur ketika pendekar ning sewu memasuki regol
padepokan goa larang. Keempat murid utama resi
Wanayasa kertakan rahang begitu melihat puluhan tubuh
saudara-saudara seperguruannya terkapar lintang pukang
berlumuran darah. Bau amis dan kepulan asap tipis meruar
dari sisa bangunan utama padepokan yang terbakar.
“Kita terlambat kakang Seta,” kata Dampu Awuk,
lelaki tinggi besar dengan jambang dan kumis lebat itu tak
kuasa menahan berat tubuh, lututnya menekuk dan
bersimpuh di atas rerumputan dengan bercak darah di
atasnya.
“Aku bersumpah, mencari Mayang Telasih sampai
ketemu. Dia harus mempertanggung jawabkan
perbuatannya,” geram Saka Palwaguna.
“Di mana eyang resi. Kita harus mencarinya
kakang Seta.”
“Kau benar adik Wulan, mari kita cari eyang resi,”
kata Seta Keling. Lantas keempatnya berjalan tertatih
memeriksa satu per satu jasad yang bertebaran di
sekeliling padepokan.
“Kakang Seta, lihat ini paman Jatis,” jerit Anting
Wulan.
“Hyah benar, paman Jatis. Marilah adik-adik kita
urus jasad mereka,” kata Seta Keling, keempatnya
kemudian bahu membahu mengumpulkan jasad saudara
sepergruannya kemudian dikuburkanya dengan layak.
Mentari memancarkan sinarnya begitu seluruh jasad
murid-murid padepokan goa larang selesai dikebumikan.
“Kita tidak menemukan eyang resi, paman
Luminta, paman Calung dan yang lainnya,” kata Anting
Wulan.
83
Babad Tanah Leluhur
“Mudah-mudahan mereka semua selamat,” gumam
Seta Keling.
“Apa rencana kita kakang Seta?”
“Adik Awuk, kita secepatnya harus mencari eyang
resi.”
Pada saat itulah keempat pendekar ning sewu
secara tidak terduga bertemu dengan raden Purbaya dan
emban pengasuhnya Cempaka.
“Paman Saka, paman Seta, paman Dampu, bibi
Anting, kalian sudah kembali.”
“Raden di mana ibundamu?”
“Paman Seta, ibunda…, ibunda telah tiada.”
“Ohh, kami ikut bela sungkawa raden.”
“Apakah kalian melihat eyang resi?”
“Tidak bibi Anting. Ketika padepokan diserang,
saya dan raden Purbaya berhasil meloloskan diri,” kata
Cempaka.
“Apakah kalian mendengar sesuatu?” kata Anting
Wulan yang sedari tadi diam.
“Kau benar adik Wulan. Benturan aji-aji sakti.
Sepertinya dari arah bukit batu larang. Ayo kita lihat,”
kata Seta Keling kemudian berkelebat ke sumber suara
pertempuran diikuti ketiga saudaranya dan raden Purbaya
juga Cempaka.
Mata cekung Jerangkong Hidup begitu tajam
menggidikan. Pendekar angkatan tua tanpa tanding itu
tatap rombongan Seta Keling yang baru datang
menghampirinya. Dalam sekali gerak tubuh jangkung
cekingnya sudah berdiri lima langkah di hadapan pendekar
ning sewu.
84
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kalian datang mengantar nyawa. Aku paling tidak
suka ada yang melihat pertarunganku,” sentak Jerangkong
Hidup. Iblis Jerangkong itu tampak mengembangkan
kedua lenganya yang panjang siap mengeluarkan ajian
semburan beracun kelelawar sakti. Saat itulah Mamang
Kuraya sudah berdiri menghalanginya.
“Minggir kau Kuraya. Aku akan bereskan mereka
semua.”
“Ooh, tidak bisa Jerangkong, kau tidak boleh
mengusik mereka.”
“Apa hubungan mu dengan mereka, Kuraya?”
“Oh. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan
mereka, tapi aku tidak akan membiarkan kau ganggu
mereka dihadapanku.”
“Minggir kau Kuraya.”
“Hai Jerangkong, apa kau sudah lupa dengan
perlombaan kita.”
“Baiklah, kalian tetap di situ menyaksikan aku
membereskan si tua Mamang Kuraya,” kata Jerangkong
Hidup kemudian dalam sekali kelebatan badan tubuhnya
sudah kembali berhadapan dengan Mamang Kuraya.
“Lihat ini Kuraya…,” sentak Jerangkong Hidup.
Tubuhnya perlahan terangkat ke atas kemudian meluncur
cepat dan dalam satu lompatan sudah berada di atas tebing
kemudian balik kembali ke tempat semula tanpa menjejak
tanah sedikit pun.”
“Lihat ini Jerangkong,” kata Mamang Kuraya lalu
mengambil sebuah ranting kecil dan melemparnya ke
tanah, begitu ranting kecil memantul ke udara dengan
cepat dan sangat ringan tubuh Mamang Kuraya melompat
dan dengan memanfaatkan pantulan ranting dia mampu
85
Babad Tanah Leluhur
melesat cepat mencapai tebing dan kembali lagi masih
mengendarai ranting kecil tersebut.
“Sudah aku duga. Kau benar-benar licik Kuraya.”
“Apanya yang licik Jerangkong. Bukankah aku
tidak menginjak tanah. Aku hanya meminjam pijakan
pada rating kecil itu.”
“Ahhhh…, sudahlah. Perlombaan yang ketiga biar
aku yang tentukan.”
“Silahkan Jerangkong, kau tentukan sendiri.”
“Kita beradu langsung.”
“Hohoho…, siapa takut jerangkong.”
Dan pertarungan tingkat tinggi pun kembali digelar
oleh kedua tokoh maha sakti di zamanya itu di depan mata
pendekar ning sewu.
“Kakang Seta, bukankah itu…,”
“Betul adik Wulan. Kincir metu tingkat tertinggi,
tapi…, hanya satu kaki. Luar biasa.”
Memang benar. Apa yang dilihat pendekar ning
sewu itu adalah aji kincir metu tingkat sepuluh. Bukan
saja mengandalkan satu kaki, kini menggunakan ujung
jempol kaki, tubuh Mamang Kuraya berputar cepat
laksana gasing, saking cepatnya yang tampak hanya
kilasan-kilasan cahaya putih, perlahan tapi pasti mendekati
sosok Jerangkong yang juga bersiap melancarkan jurus
pamungkas semburan bisa kelelawar sakti.
Daaarrrr…!
Dentuman keras terdengar memekakan gendang
telinga. Debu, pasir, kerikil dan daun-daun semburat
menutupi gelanggang pertempuran. Pendekar ning sewu,
raden Purbaya dan Cempaka terpelanting beberapa depa
86
Kisah Sepasang Anak Harimau
ke belakang. Begitu pusaran angin puting beliung reda,
sosok Mamang Kuraya dan Jerangkong Hidup tampak
masih berdiri di tempatnya masing-masing, tak lama
keduanya pun terduduk lunglai di tanah berumput.
Mamang Kuraya segera bersila mengatur jalan napas.
“Kau curang Jerangkong. Menyerang ku dengan
jarum-jarum halus ini.” Kata Mamang Kuraya kemudian
dengan menyalurkan tenaga murni jarum-jarum halus
berbisa yang menancap di telapak tangan mampu
dikeluarkan semua dari telapak tangan. Mamang Kuraya
melemparnya kembali pada Jerangkong Hidup yang
bersusuah payah menghindari jarum-jarum berbisa
miliknya.
Mamang Kuraya segera bersemadi. Duduk bersila
di tanah dengan kedua telapak tangan bersitekan ke bumi
sedang kepalanya didongakkan ke atas. Hal yang sama
dilakukan oleh Jerangkong hidup. Ia segera bersemadi
menghatur jalan darahnya yang dirasa kacau.
Semantara itu di pinggir gelanggang pertarungan.
“Ini Kesepatan kita kakang Seta. Kita bereskan
iblis Jerangkong itu.”
“Benar adik Wulan. Ayo kita serang iblis itu
bersama-sama.”
“Tapi…, tapi. Ia terluka parah paman,” sela raden
Purbaya.
“Raden. Kalau kita menungu dia pulih. Urusannya
akan lain. Ayo kita serang bersama.” Kata Anting Wulan
dijawab anggukan ketiga saudaranya. Dalam satu gerak
keempatnya melesat cepat mengincar empat titik
mematikan Jerangkong Hidup yang sedang memulihkan
kekuatannya.
87
Babad Tanah Leluhur
Iblis Jerangkong yang merasakan udara tajam
disekelilingnya segera mengibaskan salah satu lenganya
membuat keempat pendekar ning sewu terpelanting
berguling-giling kemudian muntah darah. Seta Keling dan
Dampu Awuk yang mendapat pukulan telak kembali
muntah darah.
“Kurangajar. Kubunuh kalian semua…,” sentak
Jerangkong Hidup. Tubuhnya melesat sebat
mengenbangkan kedua lengannya yang panjang siap
melabrak keempat pendekar ning sewu.
“Hentikan perbuatan gilamu Jerangkong.” Sentak
Mamang Kuraya yang memapasi jurus maut kelelawar
sakti yang akan melanda pendekar ning sewu. Dari balik
jubahnya empat butir pil berwarna kuning dilemparkan.
“Cepat telan pil itu.” kata Mamang Kuraya. Anting
Wulan dan Saka Palwaguna segera menelan pil lalu
keduanya berupaya memasukan pil yang sama pada kedua
saudaranya. Hal mana membuat mata Jerangkong Hidup
menyipit tajam.
“Ternyata orang tua gila ini memiliki pil dewa.”
Membatin Jerangkong hidup. “Berarti benar, dia juga
memiliki kitab pusaka maha sakti milik pendeta Sanata
Darma. Hehhh…, dasar pencuri licik.”
“Bagaimana Jerangkong, kau masih kuat
menghadapi ku seratus jurus lagi?”
“Ayo kita lanjutkan, Kuraya.”
“Tunggu Jerangkong. Aku kira, sudah saatnya kau
mengangkat murid dan menurunkan semua ilmu
kesaktianmu itu.”
“Aku sudah punya murid yang akan mewariskan
semua kesaktianku.”
88
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Kau tidak punya banyak waktu, Jerangkong.”
“Apa maksudmu? Kuraya.”
“Tiga jalan darah utama di pinggangmu telah
putus.”
“Apa…?”
“Periksalah Jerangkong.”
Perlahan Jerangkong Hidup raba bagian pinggang
kanan dan kirinya, seketika parasnya yang menyeramkan
berobah pucat.
“Kurang ajar, benar apa yang dikatakannya,”
gumam Jerangkong Hidup.
“Kaupun mengalami hal sama, Kuraya. Coba raba
bagian belikat kirimu.”
“Kau…”
“Hahahah…., kau pun terkena bisa ular apiku itu,
kita sama-sama terluka dalam cukup parah.”
“Hyah, kita bisa mati jika melanjutkan
pertarungan.”
“Tapi aku ingin tetap bertarung.”
“Jangan bodoh, Jerangkong. Aku punya cara agar
kita tetap melanjutkan pertarungan kita.”
“Bagaimana caramu? Kuraya.”
“Seperti yang aku katakan. Sudah saatnya kau
mengangkat murid.”
“Rencana licik apalagi yang akan kau gunakan.
Kuraya.”
Sebalum menjawab pertanyaan Jerangkong Hidup.
Mamang Kuraya pandangi satu-persatu pendekar ning
89
Babad Tanah Leluhur
sewu yang ada di belakangnya, menyaksikan pertarungan
tingkat tinggi antara dirinya dan Jerangkong Hidup.
“Hey kalian, pergilah dari sini, kecuali kau bocah.”
“Saya? Maksud kakek,” kata raden Purbaya.
“Benar.”
“Tapi eyang guru, bagaimana dengan kakang Seta
dan kakang Awuk yang…,” kalimat Anting Wulan
terputus begitu Mamang Kuraya memandanginya dengan
tajam.
“Cepat pergi dari sini. Biar bocah ini bersamaku.
Kedua saudaramu itu tidak apa-apa, rawat mereka di
padepokan, cepat pergi dari sini.”
“Baik.., baik eyang guru.” Kata Saka Palwaguna
kemudian mengajak Anting Wulan dan memapah Dampu
Awuk juga Seta Keling yang sudah siuman dari
pingsannya dan bersama Cempaka mereka meningalkan
bukit batu larang.
“Apa rencanamu dengan bocah itu, Kuraya.”
“Angkatlah dia sebagai muridmu. Ajarkan jurus-
jurus saktimu lalu suruh dia peragakan jurus itu di
hadapan ku, dan aku akan membalas dengan jurusku
melalui bocah itu. Begitupun sebaliknya.”
“Saya, saya tidak mau menjadi murid kakek seram
itu.” sela raden Purbaya.
“Hey bocah. Puluhan orang rela menyembahku
karena ingin menjadi muridku. Sekarang aku akan
mengangkatmu jadi murid. Berlututlah di hadapanku.”
“Tidak, aku tidak mau.”
“Hey bocah bagus. Purbaya, bukankah itu
namamu?”
90
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Benar kakek jenggot.”
“Kenapa kau tidak mau jadi murid Jerangkong
Hidup?”
“Saya adalah murid goa larang. Jadi…”
“Kalau kau tidak mau menjadi muridku. Paman
dan bibi mu dan semua murid padepokan ini akan
kubunuh,” tandas Jerangkong Hidup membuat raden
Purbaya bergidik,
“Purbaya, bocah bagus. Jadilah muridnya, daripada
paman-pamanmu dan semua saudara seperguruan mu jadi
korban.”
“Baiklah kekek jenggot.”
“Bagus. Berlututlah padaku dan panggil aku guru.”
“Baik guru, terimalah sembah bakti saya.” Kata
raden Purbaya.
“Heehehe…, bagus, bagus. Sekarang
bersumpahlah demi kedua orang tuamu.”
“Saya bersumpah demi ayahandaku dan ibundaku
di nirwana, saya bersedia menjadi muridmu, guru.”
“Hehehe…bagus Purbaya.
“Nah, Purbaya. Aku tidak akan memintamu jadi
muridku atau sumpah apapun dari mu. Tapi, aku ingin
memintamu menjadi cucuku, bagaimana?”
“Baiklah kekek jenggot.”
“Licik…, kau benar-benar licik, Kuraya.”
“Sudahlah Jerangkong. Nah, kau ajarkan muridmu
ini ilmu-ilmu pamungkasmu. Setelah itu tunjukan
padaku.”
91
Babad Tanah Leluhur
“Aku akan mengajarinya selama tiga hari. Kau
tunggulah Kuraya. Ayo bocah,”
“Baik guru,” kata raden Purbaya kemudian berlalu
meninggalkan Mamang Kuraya yang masih duduk bersila
di rerumputan.
Semantara itu resi Wanayasa yang memastikan
semua murid padepokan goa larang yang tersisa selamat
dari pembantaian para pendekar kelas satu golongan hitam
segera menemui raden Karmapala di sisi barat pancuran
sembilan mata air dewa.
“Cucuku Karmapala, mana Made Ludira?”
“Paman Made meninggalkan saya setelah eyang
pergi. Ia titip pesan permohonan maapnya pada eyang.”
“Hyahhh…, hya,” desah resi Wanayasa masgul
ketika mengingat kembali murid-muridnya yang sekarang
ini entah kemana.
“Apakah para pengacau itu sudah pergi eyang?”
“Sudah cucuku, tapi padepokan kita porak-
poranda.”
“Ayahanda di Galuh harus tahu.”
“Benar cucuku.”
“Mengapa mereka menyerang padepokan eyang?”
“Mereka adalah orang-orang yang haus harta,
tujuan mereka menangkap raden Purbaya dan mendiang
ibundanya, Rara Angken, demi hadiah yang dijanjikan
Jaya Suntana, penguasa baru Karang Sedana.”
“Apa rencana eyang selanjutnya?”
“Kau diamlah di dalam goa ini cucuku. Aku akan
mencari Seta Keling dan saudara-saudaranya.”
92
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Baik eyang resi,” kata raden Karmapala. Tidak
menungu lama resi Wanayasa berkelebat meninggalkan
kawasan pancuran sembilan mata air dewa.
-o0o-
Semantara itu di bukit batu larang. Jerangkong
Hidup yang telah menurunkan jurus-jurus kelelawar sakti
pada raden Purbaya bersiap menemui Mamang Kuraya.
“Hai…, Kuraya keluar kau. Aku sudah siap
memperagakan jurus-jurusku.”
Belum kering teriakan Jerangkong Hidup dari
bibirnya, dari balik batu-batu raksaksa yang tersebar di
kawasan bukit batu larang, melesat sosok Mamang
Kuraya, seperti biasa orang tua berjubah kelabu itu
mengumbar tawanya yang khas.
“Heheheh…, Jerangkong. Belum tiga hari waktu
yang ditentukan kau sudah muncul.”
“Aku sudah siap Kuraya. Perhatikan jurus pertama
yang akan diperagakan muridku ini. Ayo Purbaya,
tunjukan jurus yang aku ajarkan pada kakekmu itu.”
“Baik guru,” kata raden Purbaya. Dengan mantap
putra mahkota Karang Sedana itu rentangkan ke dua
tangannnya ke samping, bertumpu pada kedua ujung jari-
jari kaki begitu hebusan napas keluar dari ronga mulut,
perlahan tubuh raden Purbaya terangkat ke atas dan jurus
pembuka kelelawar sakti itupun digelar dengan cepat oleh
raden Purbaya.
“Hahahaha…, bagaimana Kuraya? Kau sudah siap
menandingi jurus pertama ku itu.”
93
Babad Tanah Leluhur
“Hoho…, Jerangkong. Hebat…, jurusmu hebat.
Kemarilah Purbaya, aku akan mengajarimu jurus
tandinganya.”
“Baik kakek.”
“Dan kau Jerangkong, jurus tandingan kelelawar
sakti mu itu besok akan aku perlihatkan melalui muridmu
ini.”
“Aku tunggu Kuraya, sampai ketemu besok,” kata
Jerangkong Hidup kemudian tubuhnya melesat sebat dan
hilang di balik gugusan bebatuan karang.
“Ayo Purbaya, kita ke balik batu-batu besar itu,
akan aku ajarkan jurus tandingan dari gurumu itu.”
“Baik kakek.”
Keduanya pun melesat cepat meninggalkan
gelanggang pertarungan seiring temaram senja melingkupi
kawasan perbukitan batu larang. Semantara itu. Di
kawasan pancuran sembilan mata air dewa, dalam waktu
dan detik yang sama ketika resi Wanayasa meningalkan
raden Karmapala untuk mencari keberadaan pendekar
ning sewu. Dua pasang mata yang sedari tadi
memperhatikan raden Karmapala dan resi Wanayasa
berkelebat cepat masuk ke dalam goa dimana raden
Karmapala bersembunyi. Tidak menunggu lama dua
bayangan itu keluar, salah satu dari bayangan tersebut
tampak memanggul tubuh raden Karmapala di pundak
kirinya. Suasana pancuran sembilan mata air dewa
kembali sepi dan hening, seakan sebelumnya tidak pernah
terjadi apa-apa di tempat itu.
-o0o-
94
Kisah Sepasang Anak Harimau
Dini hari nan kelam. Udara dingin mencucuk
persendian, suasana begitu hening dan sepi, padepokan
goa larang tersaput kabut tebal dari lereng bukit batu
larang. Di sebuah bangunan yang luput dari kebakaran
Saka Palwaguna dan Anting Wulan tampak berupaya
memulihkan Seta Keling dan Dapu Awuk yang terluka
dalam akibat benturan langsung aji semburan bisa beracun
kelelawar sakti milik Jerangkong Hidup.
“Kakang Saka.Bagaimana kondisi kakang Seta dan
kakang Dampu?”
“Aliran darahnya yang terbalik sudah kembali
normal. Tapi kita harus segera menemukan eyang resi
untuk minta petunjuk memulihkan tenaga dalam dan
luarnya yang masih terhambat.”
“Kita cari kemana kakang?”
“Kemana saja adik Wulan.”
“Tapi, tidak mungkin kita meninggalkan kakang
Seta dan kakang Dampu dalam kondisinya sekarang ini.”
“Kita harus bergerak cepat adik Wulan. Kau
rawatlah kakang Seta dan adik Dampu. Biar aku mencari
tahu keberadaan eyang resi.”
“Segeralah kakang temukan eyang resi.” Kata
Anting Wulan sambil menggenggam erat kedua telapak
tangan Saka Palwaguna. Sesaat kedua mata muda-mudi itu
saling bersitatap. Getaran hangat perlahan menjalari
simpul-simpul saraf keduanya.
“Baik adik Wulan,” kata Saka Palwaguna. Pemuda
gagah itu segera tersadar dari lamunanya, perlahan buka
telapak tangannnya yang masih digengam Anting Wulan.
Saat itulah sebuah suara yang tidak asing bergema di
relung-relung batin keduanya.
95
Babad Tanah Leluhur
“Anak-anakku…, Anting dan Saka. Ikutlah dengan
ku sekarang….,”
Suara itu terus berkumandang, berulang-ulang
memantul di relung-relung hati Saka Palwaguna dan
Anting Wulan.
“Kakang Saka, suara eyang resi.”
“Benar adik Wulan. Tapi dimana eyang resi.”
“Di sana kakang, dibalik gundukan batu-batu
karang itu.”
“Ayo kita ikuti jejaknya adik Wulan,” kata Saka
Palwaguna. Keduaya tanpa membuang waktu melesat
sebat megikuti kelebat bayangan putih yang melesat cepat
ke arah selatan meninggalkan padepokan goa larang. Di
sebuah hutan kecil sosok bayangan resi Wanayasa
hentikan larinya.
“Eyang resi kami menghadap.” Kata keduanya
berbarengan sambil merangkapkan kedua telapak tangan
di depan kening.
“Saka dan kau Wulan bagunlah. Dengarkan apa
yang akan aku sampaikan ini. Namun sebelumnya, aku
ingin tahu bagaimana dengan Mayang?”
“Eyang resi, ternyata wanita itu adalah Mayang
Telasih si bidadari pencabut nyawa. Kita semua terpedaya
oleh sikap dan kecantikan iblis bentina itu.”
“Hyahh…, kau benar Wulan. Rupanya mereka
menyadari kekuatan ning sewu. Kekuatan kalian
berempat.”
“Lalu apa rencana eyang resi selanjutnya?”
“Aku memiliki tanggung jawab pada kedua putra
mahkota, raden Purbaya dan cucuku Karmapala.”
96
Kisah Sepasang Anak Harimau
“Raden Purbaya saat ini bersama Jerangkong
Hidup dan Mamng Kuraya di bukit batu larang.”kata Saka
Palwaguna.
“Oh, kalau raden Purbaya bersama guruku
Mamang Kuraya, aku tidak perlu khawatir. Iblis
Jerangkong itu tidak akan berbuat macam-macam. Tapi
yang aku risaukan adalah cucuku Karmapala.”
“Apa yang terjadi dengan raden Karmapala, eyang
resi?”
“Wulan. Ketika aku kembali ke goa sekitar
pancuran sembilan mata air dewa. Anak itu sudah tidak
ada. Kemungkinan diculik orang-orang Jaya Sentana yang
mengira dia adalah raden Purbaya.”
“Lalu, apa yang harus kami lakukan eyang?”
“Saka dan kau Wulan. Kalian cari saudara-saudara
kalian di sekitar desa terdekat dari padepokan kita.
Katakana pada mereka untuk saling menghubungi dan
untuk semantara waktu kembali ke keluarganya masing-
masing. Dan diharap kembali ke padepokan setelah dua
belas purnama.”
“Bagaimana dengan kakang Seta dan kakang
Dampu, eyang resi?”
“Wulan. Kakang-kakang mu akan aku rawat.
Setelah dua belas purnama temui aku di dekat sungai
Cagak. Di tempat itu aku mendirikan sebuah gubug.”
“Maap eyang, bukankah eyang guru sudah lama
meninggal.”
“Kau betul Saka. Guruku itu, Mamang Kuraya aku
kuburkan di bukit apung. Sebelah selatan gunung
Tangkuban Perahu. Tapi jika memang guruku itu masih
97
Babad Tanah Leluhur
hidup kita patut bersyukur. Sebab dia pasti mampu
meredam keganasan iblis Jerangkong hidup.”
“Siapakah sebenarnya iblis Jerngkong hidup itu,
eyang resi?” kata Anting Wulan.
“Riwayat hidup iblis Jerangkong itu aku dapatkan
dari guruku Mamang Kuraya. Kisahnya terjadi sekitar
lima puluh tahun yang lalu….”
Perlahan sebuah kisah meluncur dari bibir eyang
resi Wanayasa.
Desa Cikamurang diguyur hujan lebat pada dini
hari nan sunyi. Gelegar halilintar sambung menyambung
diiringi gemuruh angin kencang menerpa pepohonan
janakeling yang banyak tumbuh di sekitar perbukitan batu
cadas di sebelah selatan desa. Di atas bale bambu di
sebuah rumah panggung satu sosok wanita muda terkulai
lemas setelah melahirkan anaknya. Orok merah itu
menagis keras seakan merobek guyuran hujan yang
semakin lebat. Sang paraji atau dukun bayi tercenung
beberapa lama bilamana mendapati sosok orok yang
dilahirkan Nanik Angkring di hadapannya.
“Ada apa mbok Wungsul?”
“Mana suami mu.”
“Saya…, saya di sini mbok Wungsul,” kata lelaki
muda dengan kain sarung terselempang di pundaknya.
“Lingsang Patri. Apa kau pernah membunuh
seekor kalong di bukit tengkorak ketika Nanik Angkring
mengandung?”
“Be…, benar, mbok. Untuk obat sesak napas yang
diderita Nanik. Ada apa, apa yang terjadi dengan bayi
saya…, oh…,” Lingsang Patri langsung lunglai bilamana
mendapati sosok bayi yang baru saja dilahirkan Nanik
98
Kisah Sepasang Anak Harimau
Angkring, istrinya. Orok merah laki-laki dalam bedungan
kain hitam itu memiliki sepasang lengan yang sangat
panjang sampai menyentuh telapak kakinya.
“Tulah, kutukan. Anakmu ini kena tulah atau
kutukan siluman kalong penghuni bukit tengkorak yang
anak buahnya kau bunuh.”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan mbok
Wungsul?”
“Kau harus membuat sebuah altar dan
pesanggrahan di bukit tengkorak sebagai bentuk
penebusan dosa atas dirimu yang telah membunuh salah
satu anak buahnya.”
“Baik…, baik mbok Wungsul.”
Perempuan tua bungkuk dukun paraji itu
tersenyum aneh, setelah membereskan perlengkapannya
dia segera keluar dari rumah panggung Lingsang Patri,
menembus guyuran hujan yang semakin lebat, sebuah
kilat melintas cepat, suasana terang sekejap, dalam
keremangan guyuran hujan tampak sosok dukun paraji itu
berobah menjadi seekor kalong besar berkepala serigala.
Begitu kilat melintas untuk kedua kalinya, sosok
menyeramkan itu sudah tidak tampak lagi, kini yang
tersisa hanyalah seonggok debu hitam yang luruh tergerus
derasnya air hujan.
Anak laki-laki yang dilahirkan Nanik Angkring itu
diberinama Burit Putra. Burit dalam bahasa setempat
artinya melorot, mengacu pada kondisi pisik kedua
lenganya yang panjang melorot sampai ke tanah. Ia
tumbuh menjadi anak yang kuat dan berwajah tampan
rupawan. Dalam kondisi tubuhnya yang tidak sempurna
justru merupakan daya tarik dan pesonanya, banyak gadis-
99
Babad Tanah Leluhur
gadis terpesona oleh ketampanan Burit Putra ketika kelak
dia beranjak remaja.
Karena kondisi pisiknya yang tidak normal
beberapa teman sebayanya memperlakukan dirinya tidak
manusiawi.
“Hey anak siluman kalong. Jangan dekat-dekat,
kami tidak sudi bermain dengan mu.”
“Benar, selain lengan mu burit. Jangan-jangan
kantong menyammu juga burit, hahaha….”
“Burut, maksudnya, hahaha….” Ejek beberapa
kawan sepermainannya. Hampir tiap hari Burit Putra
diejek dan dihina habis-habisan. Tak jarang dia pun kena
lemparan batu dan bogem mentah dari orang-orang yang
tidak suka ketika didatangi olehnya. Pernah satu waktu,
Lingsang Patri ayahnya ketika pulang dari sawah
mendapati dirinya tergantung dengan kepala di bawah
pada sebuah pohon di pinggir hutan Loyang. Rupanya
beberapa kawan sepermainan yang melakukan perbuatan
itu.
“Mak, kenapa mereka membenci saya?” kata Burit
Putra pada satu hari dia mengeluh pada Nanik Angkring,
ibunya. Sang ibu hanya bisa tersenyum sendu, wanita
paruh baya itu rengkuh Burit Putra sang anak dalam
dekapanya.
“Dengar Burit, meraka melakukan hal itu karena
iri, padamu.”
“Iri. Maksud emak?”
“Yah, mereka iri atas ketampanan dirimu.”
“Bukan karena kedua lengan saya mak?” kata
Burit Putra sambil memperlihatkan kedua lenganya.
100