The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-12-14 22:54:14

Kisah Sepasang Anak Harimau

Babad Tanah Leluhur episode 2

Keywords: BTL2

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Dengar anakku. Satu ketika, kedua lenganmu ini
akan membawa perobahan besar atas dunia persilatan di
tanah Jawa dan Pasundan.”

“Maksud emak?”
“Kau akan mengetahuinya kelak ketika sudah
dewasa.”
“Burit dimana kau….” Terdengar suara Lingsang
Patri ayahnya dari bawah rumah.
“Itu bapakmu, temuai dia anaku.”
“Baik emak,” kata Burit Putra. Anak laki-laki
berusia dua belas tahun itu pun langsung bergegas turun
dari rumah panggung menemui sang ayah yang sudah
beriap dengan dua ekor kerbau.
“Hari ini bantu bapak membajak sawah ya.” Kata
Lingsang Patri sambil menyerahkan waluku yang
langsung dipanggul Burit Putra di pundak kirinya. Dari
balik jendela, sang ibu melihat kepergian suami dan
anaknya yang menuju selatan dengan sendu.

Matahari tepat di ubun-ubun ketika Lingsang Patri
dan anaknya Burit Putra yang sedang istirahat di dangau
dikejutkan dengan kedatangan ibunya Nanik Angkring
dengan napas tersengal-sengal.

“Ada apa mak?”
“Celaka pak, celaaka…,” kata Nanik Angkring
dengan wajah pucat pias.
“Ada apa, apanya yang celaka?”

Belum sempat Nanik Angkring menjelaskan, dari
balik rimbunnya pepohonan muncul puluhan orang
penduduk desa Cikamurang. Salah seorang maju ke depan.

101

Babad Tanah Leluhur

Orang ini bernama Sarpa Penaken, kepala desa
Cikamurang.

“Ada apa ki Sarpa?”
“Burit, anakmu itu harus pergi dari desa
Cikamurang ini.”
“Apa salah anak saya, ki Sarpa?”
“Anakmu itu pembawa sial. Desa Cikamurang
akan terus kena kutukan dan tulahnya jika anak siluman
kalong itu tidak segera pergi dari sini.”
“Ki Sarpa, mohon jaga ucapan aki. Burit anakku
bukan anak siluman kalong.”
“Kami tidak sudi hidup bersama anak siluman
kalong,” teriak beberapa warga dari pingir pematang
sawah.
“Dengar itu Lingsang. Mereka tidak menghendaki
Burit, berada bersama mereka.” Sela ki Sarpa Penaken.
“Ki Sarpa. Burit Putra adalah anak saya, saya yang
mengandung dan melahirkannya, dia bukan anak siluman
kalong yang kalian tuduhkan, apakah selama ini dia
pernah menyakiti kalian?” kata Nanik Angkring yang
semula hanya diam dan mendengarkan kini wanita paruh
baya itu tidak mampu mengendalikan amarahnya.
“Sudahlah, pokoknya kami tidak sudi hidup
bersama anak siluman kalong,” teriak beberapa warga
sambil mengacung-acungkan parang dan pentungan.
“Burit, anakku…,” desah Nanik Angkring ketika
anaknya perlahan melepas genggaman tangannya. Anak
lelaki berusia dua belas tahun itu tampak maju ke depan,
tiga tindak di hadapan sang kepala desa dia hentikan
langkahnya.

102

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Ki Sarpa. Baiklah saya akan pergi meningalkan
desa Cikamurang ini, jika itu yang kalian inginkan.”

“Ohh…, Burit Putra, anakku….”
“Sudahlah mak, relakan saya pergi.”
“Tapi kau mau pergi kemana, Burit?”
“Saya tidak tahu mak…,”
“Burit…, Burit Putra anakku…,” desah Nanik
Angkring sesenggukan melepas kepergian sang buah hati.
“Kalian puas sekarang…, kalian semua telah
mengusir anakku yang tidak bersalah. Kejam kalian
semua,” sungut Nanik Angkring berapi-api. Ki Sarpa
Penaken hanya mampu menarik napas panjang. Tanpa
berkata apa-apa lagi kepala desa Cikamurang itu pergi
meninggalkan Nanik Angkring dan Lingsang Patri
bersama penduduk desa lainnya.

Entah sudah berapa hari Burit Putra terlunta-lunta
meninggalkan kampung halamanya, desa Cikamurang
menuruti langkah kaki dan kehendak hatinya. Di
sepanjang perjalannya dia banyak dihujat, dicaci maki
bahkan diusir oleh para penduduk yang menganggapnya
sebagai siluman kalong. Beberapa perguruan dan
padepokan silat yang dia masuki mengusirnya dengan
kejam. Hingga pada satu hari di pinggir pesisir Lombang
Burit Putra bertemu dengan seorang pertapa dari
Hindustan. Pertapa sakti itu bernama Shadhu Godes Amba
yang sedang melakukan pengembaran rohani. Sang
pertapa begitu tersentuh hatinya melihat kondisi Burit
Putra yang compang-camping.

103

Babad Tanah Leluhur

“Sabbe satta bhavantu sukhitatta Shadhu (Semoga
semua mahluk hidup berbahagia)”. “Siapa namamu bocah
bagus?” kata sang pertapa

“Burit Putra.”
“Bhagavaan shaktishalee hai (Dewata agung).
kaulah yang selama ini kami nantikan dan main cari.”
“Siapakah tuan ini, saya tidak mengerti maksud
dan ucapan tuan?”
“Kau tidak perlu mengerti Burit Putra. Yang jelas,
main datang ke negri Javadwipantara ini mencari dirimu.
Ikutlah dengan main ke Hindustan.”
“Siapa nama tuan?”
“Panggil saja main Shadhu.”
“Baiklah tuan Shadhu, saya bersedia ikut ke negri
tuan.”
“Achchha…, (Bagus-bagus). Mari Burit Putra.”

Sejak saat itulah Burit Putra yang masih berusia
dua belas tahun menjadi murid sang pertapa sakti Shadhu
Godes Amba.

“Tidak diketahui bagaimana nasib Burit Putra
selanjutnya, hingga satu masa ketika kembali ke tanah
Jawa dia menjadi manusia maha sakti dan sangat kejam
dan menamakan dirinya Jerangkong Hidup,” kata Resi
Wanayasa mengakhiri ceritanya.

“Nah anak-anakku, Saka Palwaguna dan Anting
Wulan. Laksanakan tugas kalian dengan baik. Ingat-
ingatlah setelah dua belas purnama kalian aku tunggu di
tepi sungai Cagak.”

“Baik eyang resi,” jawab keduanya bersaman.

-o0o-

104

Kisah Sepasang Anak Harimau

Pasar desa Paciringan pagi itu begitu sibuk.
Aktifitas jual-beli berlangsung dengan meriah. Warga desa
yang rata-rata memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas
memanfaatkan pasar desanya dengan maksimal. Jadi tidak
mengherankan begitu matahari terbit di ufuk timur
aktifitas jual beli di pasar desa Paciringan menggeliat
dengan cepat. Anting Wulan dan Saka Palwaguna yang
baru saja memasuki gerbang desa Paciringan langsung
berbaur dengan warga desa lainnya walau hanya sekadar
melihat-lihat dan menikmati seteguk arak manis dari
pohon nira di pinggir jalan.

“Kakang yakin mereka berada di desa ini. Kenapa
kita tidak mencari di desa Sumur Opat?”

“Di desa itu masih banyak para perusuh yang
masih penasaran dengan raden Purbaya. Karena Sumur
Opat adalah desa terdekat dari padepokan kita.”

“Jadi kakang yakin akan menemukan mereka di
sini?”

“Iyah, kita lihat saja nanti. Adik Wulan. Jika kita
tidak menemukan mereka di desa ini, kita akan ke sebelah
barat yaitu desa Daun Jati.”

“Eh, kakang ayo kita ke warung itu.”
“Sebentar adik Wulan. Aku melihat dua orang
yang sangat mencurigakan.”
“Dua orang itukah yang kakang maksud?”
“Iyah. Orang tinggi kurus dengan hidung betet,
juga kawannya yang membawa golok besar dipingang.”
“Aku melihatnya. Tapi apa yang membuat kakang
curiga pada mereka?”

105

Babad Tanah Leluhur

“Keduanya sedang mengikuti laki-laki tua. Ayo
kita ikuti mereka adik Wulan.”

Setelah meneguk sampai tandas bumbung bambu
berisi tuak manis. Saka Palwaguna dan Anting Wulan
bergegas mengikuti dua orang laki-laki yang dicurigainya.

“Kurang ajar. Mereka menuju pinggiran desa.
Hehh…, awas kalian,” dengus Anting Wulan.

“Kenapa kau marah seperti itu adik Wulan?”
“Perutku sudah lapar kakang. Mereka pergi jauh
dari warung tadi.”
“Hah, hahah…, aku kira ada apa, hahah, adik
Wulan…, adik Wulan.”
“Kakang. Laki-laki tua yang diikuti masuk ke
dalam gubuk itu.”
“Aku ingin tahu, apa yang diinginkan kedua laki-
laki yang mengikuti orang tua itu. Kita gunakan aji empat
arah pembeda gerak untuk mengetahui pembicaraan
mereka.”
“Baik kakang.”

Keduanya mencari tempat tersembunyi. Setelah
dirasa aman Anting Wulan dan Saka Palwaguna segera
mengetrapkan aji empat arah pembeda gerak. Ajian yang
mampu memilah dan memilih suara-suara yang
dikehendaki. Tidak menunggu lama kedua remaja Ning
Sewu itu mampu mendengar pembicaraan dua orang yang
kini bersembunyi di bawah sebuah pohon besar di sebelah
gubuk kecil dimana orang tua yang diikutinya masuk ke
dalam gubuk tersebut.

“Heeh…aku yakin di tempat itu berkumpul tidak
lebih dari sepuluh orang yang kita cari adik Sempak.”

106

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Hyah, mereka akan kita bantai. Pandai sekali
mereka memilih tempat persembunyian. Ayo kita laporkan
pada ki Sudira.”

“Aku ingin membantai mereka sekarang juga, adik
Sempak.”

“Tidak mungkin kakang Saprang. Jumlah mereka
pasti jauh lebih banyak, baiknya kita kembali.”

“Baiklah, untuk semantara aku tangguhkan
dendamku ini. Ayo kita kembali.”

Saka Palwaguna dan Anting Wulan hentikan aji
empat arah pembeda gerak begitu dua orang laki-laki
bertampang sangar itu tinggalkan tempat
persembunyiannya.

“Kakang Saka. Orang tua yang kita ikuti rupanya
salah seorang dari saudara kita. Aku mengenal ikat kepala
yang dipakaianya itu khas dari perguruan goa larang.”

“Adik Wulan. Kau ketuk pintu itu.”
“Baik kakang.”

Anting Wulan segera mengetuk pintu. Karena
tidak ada jawaban dia kembali mengetuk agak keras.

“Sampurasun…, sampurasun….”

Karena tidak ada jawaban Saka Palwaguna pun
ikut mengetuk pintu sambil mengucap salam.

“Siapakah kalian kisanak?” terdengar suara laki-
laki dari dalam bilik.

“Keluarlah. Ada yang ingin kami bicarakan dengan
kalian. Kami datang dengan maksud baik, keluarlah
sebentar.” Kata Saka Palwaguna. Tidak menunggu lama
pintu gubuk itu berderit dan membuka ke dalam. Seraut
wajah muncul dari balik pintu.

107

Babad Tanah Leluhur

“Heh, paman Calung,”

“Oh, raden Saka dan Wulan. Heyy…, kawan-
kawan keluarlah raden Saka datang.” Teriak ki Calung
lantang tidak menunggu lama beberapa orang tampak
melongokkan kepalanya dari balik pagar. Setelah yakin
apa yang dilihatnya benar raden Saka Palwaguna beramai-
ramai keluar dari tempat persembunyiannya.

“Kemana saja kalian selama ini. Mana raden
Dampu Awuk, raden Seta Keling?” kata beberapa orang
anak murid padepokan goa larang yang mengerumuni
Saka Palwaguna dan Anting Wulan.

“Ah, tenanglah paman Luminta, paman Calung,
paman Sangka dan yang lainnya. Aku menemui kalian
untuk menyampaikan pesan dari eyang resi.” Kata Saka
Palwaguna.

“Dimana eyang resi sekarang?”

“Paman Luminta. Saat ini beliau sedang sibuk.
Eyang resi berpesan untuk semantara waktu tidak
melakukan kegiatan apapun yang dapat menarik
kecurigaan musuh. Kembalilah pada keluarga masing-
masing. Dua belas purnama lagi kalian diharap kembali ke
goa larang.”

“Kenapa kita harus berpisah begitu lama raden?”

“Pihak musuh yang belum mendapatkan
buruannya masih mengintai dan memata-matai goa larang.
Oleh karena itu, tinggalkan tempat ini sekarang juga.”

“Memangnya ada apa raden? Apa yang terjadi
raden?” kata beberapa orang meminta penjelasan.

“Beberapa saat lagi kalian akan dikepung oleh
perusuh. Dua orang diantara mereka membuntuti paman
Calung sampai tempat ini.”

108

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Kenapa kita tidak hadapi saja mereka, bukankah
ada raden dan Wulan di tempat ini?”

“Paman Luminta. Kita tidak tahu kekuatan mereka
sebenarnya.”

“Baiklah kami akan tinggalkan tempat ini.” Kata ki
Luminta kemudian bersama anggota perguruan lainya
secara berkala meninggalkan gubuk kecil di pinggir sungai
tersebut. Setelah semua murid-murid padepokan goa
larang dipastikan pergi, Saka Palwaguna dan Anting
Wulan segera mempersiapkan diri.

“Kita tunggu mereka di dalam sini. Adik Wulan.”
“Heeehhh…, apa perut kakang terbuat dari karet?”
“Maksud mu?”
“Kita harus mengisi perut dulu, baru menghajar
mereka kakang.”
“Baiklah. Tapi bagaimana jika mereka datang, kita
tidak ada, tidak ada kesempatan lagi untuk membalas
mereka?”
“Kakang tunggulah di sini. Saya akan mencari
makan sebentar.”
“Pergilah. Tapi jangan terlalu lama adik Wulan.”
Kata Saka Palwaguna sambil merengkuh pundak Anting
Wulan.

Anting Wulan tersenyum, hatinya langsung
berbunga-bunga mendengar perkataan Saka Palwaguna.
Perlahan telapak tangannya menyambut tangan Saka
Palwaguna dengan hati berdebar. Setelah itu dia bergegas
keluar gubuk sebelum Saka Palwaguna menyadari betapa
merah saganya kedua pipi adik seperguruannya itu.

109

Babad Tanah Leluhur

Saka Palwaguna yang masih berada di dalam
gubuk mulai dihinggapi rasa khawatir ketika hampir
sepenanakan nasi Anting Wulan belum juga muncul
membawakan makanan.

“Hemm, kenapa adik Wulan lama sekali. Ahh…,
kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan sangat menyesal
membiarkan dia pergi seorang diri.”

Saka Palwaguna bangkit dari amben bambu yang
didudukinya, mondar-madir di dalam ruangan sambil
memikirkan Anting Wulan yang tak kunjung tampak
batang hidungnya. Pendengaran terlatih Saka Palwaguna
terusik begitu mendengar satu gerakan yang
mencurigakan. Pemuda tampan itu segera bersiaga
menanti segala kemungkinan.

“Haiii…, keluarlah kalian kelinci-kelinci dari goa
larang.” Terdengar teriakan lantang dari luar gubuk.

“Mereka sudah datang. Tapi, kemana adik Wulan.
Kenapa belum juga tiba.”gumam Saka Palwaguna dalam
hati.

“Haiii…, keluar cepat atau kupecahkan pintu ini.”
Bruakkkk…! Pintu kayu itupun terbuka dengan
paksa ke dalam.
“Hah, kenapa tidak ada seorangpun. Apakah
mereka semua bersembunyi di dalam kamar itu. akan aku
lihat,” perlahan ki Saprang salah satu anggota dari perusuh
mengendap-endap mendekati pintu kamar. Tangan
kananya menggengam goloknya erat-erat siap dibabadkan
pada siapapun yang nanti ditemuinya di dalam. Semantara
itu anggota perusuh yang lain tampak bersiaga di luar
gubug.

110

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Kenapa kakang Saprang lama sekali. Apa yang
terjadi di dalam sana,” belum kering anggota perusuh itu
membatin. Dinding anyaman bambu yang ada di
hadapannya jebol dengan tubuh ki Saprang terlempar
membentur tanah dan muntah darah.

“Celaka, agaknya kakang Saprang terkena pukulan
telak di dadanya. Kakang Saprang…, kakang Saprang,”
teriak anggota perusuh sambil mengguncang tubuh
kawannya tersebut.

“Kawan-kawan ayo tangkap siapapun yang ada di
dalam pondok,” teriak salah satu anggota perusuh. Tidak
menunggu lama sekitar dua puluh orang bertampang
sangar dengan golok terhunus menerjang ke dalam gubuk.

Bagaikan lebah menerjang api. Satu per satu para
perusuh yang menerjang masuk ke dalam gubuk kembali
terlempar keluar kemudian ambruk muntah darah
bersaman dengan itu muncul satu sosok tegap berkumis
lebat.

“Hentikan. Kau lancang sekali Sopa. Berani
melanggar perintah ku. Aku sudah melarang mendatangi
tempat ini. Kau banyak mengorbankan orang-orangku.”
Sentak lelaki tegap itu penuh amarah.

“Ampun ki Sudira. Saya tidak mampu mencegah
kakang Saprang.”

“Berapa jumlah mereka?”
“Saya tidak tahu ki. Orang di dalam pondok itu
belum menampakan diri,”
“Baiklah biar aku urus.” Kata lelaki tegap tesebut
kemudian melenting dari punggung kudanya dan dengan
sangat ringan menjejak tanah tanpa mengeluarkan suara
sedikitpun.

111

Babad Tanah Leluhur

“Hai…,kisanak yang di dalam. Keluarlah kau.
Kalian sudah dikepung.”

Raden Saka Palwaguna yang sedari tadi berada di
dalam gubuk dengan tenang berjalan keluar halaman. Tiga
tindak dari ki Sudira dia hentikan langkah.

“Mana kawan-kawan mu yang lain hem?” kata ki
Sudira dengan nada suara sedikit ditekan.

“Aku sedirian di dalam sana.”

“Bohong ki. Saya mengawasi sejak dari pasar. Ada
orang tua masuk ke dalam gubuk itu. ki.” Sela salah
seorang perusuh.

“Hahaha…, tentu saja mereka sudah pergi. Kau
terlalu ceroboh mengawasinya.” Ujar Saka Palwaguna
sambil tertawa-tawa membuat ki Sudira gusar.

“Kisanak. Siapa kau sebenarnya? Kau tahu dari
mana kami akan datang.”

“Justru aku sengaja datang. Karena akan ada
keramaian di tempat ini.”

“Keparat…, kau benar-benar tidak memandang
kami hemp. Pasti kau salah satu murid goa larang.”

“Kau benar. Aku salah satu dari murid padepokan
goa larang.”

“Hemmp.”
“Heh, kemapa kau hanya bisa mendengus gusar.”

“Kurang ajar. Hai bocah, belum saatnya kau bicara
lantang padaku. Aku ki Sudira, akan menyeretmu
dibelakang kudaku sampai Karang Sedana, akan ku
hadapkan kau pada ki Sampar Angin.”

“Hahaha…, kenapa kau tidak cabut pedangmu itu
ki Sudira.”

112

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Hemmp. Kau terlalu sombong, anak muda. Ini
sambutlah pedangku ini,” sentak ki Sudira kemudian
dengan ganas merangsek ke depan sambil mengibaskan
pedangnya pada Saka Palwaguna. Dalam sekejap
pertarungan antara ki Sudira dan Saka Palwaguna
berlangsung sengit.

Pedang di tangan pemimpin prajurit pengintai
Karang Sedana yang ditugaskan di desa Paciringan itu
berkelebat cepat laksana curahan hujan. Silang menyilang
membabat atas bawah kiri dan kanan dalam jurus swastika
iblis. Jarang sekali lawannya yang sanggup menghadapi
jurus maut milik ki Sudira dalam lima jurus. Tapi kini
yang dihadapinya adalah raden Saka Palwaguna, salah
satu murid terbaik padepokan goa larang. Hingga dalam
satu kesempatan ki Sudira melihat pertahanan lawannya
mengendor maka dalam satu gerak tipu yang amat licik
pedangnya yang meluncur cepat dalam jurus tebasan
ganda diubahnya menjadi jurus tusukan terpilin. Pedang
ditangan ki Sudira meluncur cepat laksana mata bor pada
dada lawannya. Sekajap lagi mata pedang itu menembus
jantung Saka Palwaguna. Namun yang terjadi adalah hal
yang luar biasa. Dalam gerak reflek yang sangat cepat
badan pedang ki Sudira sudah berada dalam jepitan jari
tengah dan jari telunjuk Saka Palwaguna.

“Kurangajar. Lepaskan pedangku…!”
“Hahaha…, ki Sudira. Harusnya kau memilih
pedang yang lebih bagus dari ini. Bukan pedang rapuh
seperti ini, buat apa.”

Trakkk!

Batapa terkejutnya pemimpin prajurit pengintai
Karang Sedana itu begitu mengetahui pedang andalannya
patah menjadi dua bagian dalam jepitan jari lawannya.

113

Babad Tanah Leluhur

“Hahaha…ki Sudira; aku tidak punya banyak
waktu. Sampaikan salamku pada ki Sampar Angin.
Katakana padanya satu ketika aku akan membalas semua
penghinaannya,” kata Saka Palwaguna kemudian dalam
satu gerak tubuh murid padepokan goa larang itu sudah
tidak tampak lagi di hadapan ki Sudira dan anak buahnya.

Semantara itu Anting Wulan yang sedang mencari
makan di desa Paciringan di sebuah kedai tanpa sengaja
mendengar pembicaraan yang amat penting dari beberapa
orang yang sedang makan. Dengan mengetrapkan aji
empat arah pembeda gerak dara manis itu mampu
mendengar semua pembicaraan orang-orang yang sedang
berbincang sambil makan di sudut kedai.

“Aku kira nyai Mayang terlalu berani membawa
tawanan itu seorang diri dan hanya mempergunakan
gerobak kuda.”

“Yah, lagi pula kata-katanya sungguh menyakitkan
aku. Kita dianggap babi yang tidak berguna. Menganggap
sepasukan pengawal tidak berarti menyertainya.”

“Tapi ada untungnya juga. Kita lepas dari
tanggung jawab. Bayangkan jika perkataan anak itu benar,
resi Wanayasa akan datang mencarinya tentu kita ikut
celaka, kakang.”

“Hyah. Kau benar adi, tapi sikap nyai Mayang itu
aku sesalkan dia menghina kita. Tidak mengangap sebagai
kawan seiring.”

“Heheh, kau tau siapa nyai Mayang itu, kakang?
Lagi pula kalau tidak ada dia kita akan kesulitan.”

“Kesulitan apa adi?”
“Kau ingat bagaimana anak itu membuat kita
repot.”

114

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Yah. Kau ada benarya adi.”

Dirasa cukup, Anting Wulan segera menghentikan
aji empat arah pembeda gerak yang digelarnya.

“Hem, manurut keterangan mereka kemungkinan
raden Karmapala berada di tangan si bidadari pencabut
nyawa dan dalam perjalanan ke Karang Sedana. Aku harus
mengejarnya sebelum iblis betina itu semakin jauh
meninggalkan desa Paciringan. Biarlah kakang Saka
mengatasi kelinci-kelinci itu seorang diri. Aku harus
mencari seekor kuda tentu sangat berguna jika aku
berhasil merebut raden Karmapala.” Memikir sampai di
sana Anting Wulan segera maninggalkan kedai makanan
sedang dua bungkus nasi yang dibelinya dimasukan di
balik bajunya.

Tidak menunggu lama Anting Wulan sudah
terguncang-guncang di punggung kuda yang dibelinya.

“Aku kira ini jalan satu-satunya menuju kota raja
Karang Sedana. Jika benar si bidadari pencabut nyawa
membawa raden Karmapala dengan gerobak kuda aku
pasti mampu menyusulnya,” gumam Anting Wulan.

Setelah memacu kudanya berapa lama. Di
kejauhan Anting Wulan melihat gerobak kuda di tepi jalan
sedang tidak jauh dari gerobak kuda dua orang sedang
bertempur dengan sengitnya.

“Itu si bidadari pencabut nyawa, ah. Dia sedang
bertarung dengan Sariti.” Gumam Anting Wulan yang
mempercepat laju kudanya.

“Sariti serahkan perampuan iblis itu padaku.”
“Wulan. Tinggalkan iblis betina ini. Kau kejar
Dika Hanggara yang membawa lari tawananya.” Teriak

115

Babad Tanah Leluhur

Sariti sambil melesat kesana kemari mamapasi gempuran
selendang Mayang Telasih si Bidadari Pencabut Nyawa.

“Kau saja yang mengejar Dika Hanggara. Iblis
betina ini bagaianku, Sariti.”

“Baiklah Wulan, hati-hatilah wanita iblis ini sangat
licik,” kata Sariti kemudian melenting tinggi ke udara.
Dalam sekejap sosoknya sudah jauh terlihat di lamping
bukit sebelah selatan.

“Akhirnya kita bertemu kembali iblis betina licik.”
Dengus Anting Wulan.

“Hihihi…, kenapa kau masih juga marah padaku
anak manis? Bukankah aku mengalah menyerahkan
kekasihku pada mu.”

“Kurang ajar iblis betina licik. Kau harus menebus
semua penghinan mu pada padepokan goa larang.” Sungut
Anting Wulan. Tubuhnya melesat melenting ke atas.
Jungkir balik beberapa kali di udara kemudian dengan
kecepatan tinggi menerjang Mayang Telasih si bidadari
pencabut nyawa dengan jurus kincir metu tingkat enam.
Tubuh dara perkasa itu tampak berputar cepat melingkar-
lingkar mengincar titik lemah lawannya. Namun kali ini
yang dihadapi Anting Wulan adalah seorang wanita yang
sudah serat pengalaman bertarung dan banyak memiliki
jurus maut mematikan.

“Hihihi…, kita sudahi saja pertempuran ini anak
manis,” kata Mayang Telasih kemudian kibaskan
selendangnya sedemikian rupa. Ujung selendang si
Bidadari Pencabut Nyawa meluncur deras dengan sebat
Anting Wulan melesat ke atas memapasi selendang saat
itulah serangan senjata rahasia berupa bunga-bunga pipih
tajam melesat mengincar Anting Wulan. Begitu dara
perkasa ning sewu itu sibuk menangkis gempuran senjata

116

Kisah Sepasang Anak Harimau

rahasia si Bidadari Pencabut Nyawa melesat sebat
meningalkan Anting Wulan.

“Iblis betina licik, jangan lari kau.”
“Kurang ajar wanita iblis itu berhasil lari ketika
aku sibuk menghindari senjata rahasianya.” Sungut Anting
Wulan berapi-api.
“Aku harus menyusul Sariti yang mengejar Dika
Hanggara.” Memikir sampai di situ. Anting Wulan segera
melompat ke atas punggung kuda. Digebraknya binatang
itu hingga melesat bagai angin ke arah selatan. Belum
lama Anting Wulan terguncang-guncang di atas pelana
kuda sebuah suara memangilnya.
“Ah, itu Sariti.” Kata Anting Wulan kemudian
menemui anggota pengemis tongkat merah yang kini
berada di sampingnya.
“Kau berhasil mengejar Dika Hanggara. Bagaiana
dengan raden Karmapala.”
“Raden Karmapala. Jadi anak yang bersama Dika
Hanggara itu.”
“Benar Sariti.”
“Aku yakin Dika Hanggara masih berada dan
bersembunyi di sekitar sini.”
“Eh, Sariti. Mengapa kau muncul dan melibatkan
diri dengan urusan kami?”
“Salah satu anggota kami ditemukan tewas di
Karang Sedana. Tapi salah seorang mampu meloloskan
diri dari tawanan ki Sampar Angin. Jadi kami terlambat
membantu kalian. Dan memberitahu rencana mereka.”
“Terimakasih Sariti. Dua kali kalian dari tongkat
merah membantu kami.”

117

Babad Tanah Leluhur

“Wulan antara Eyang Resi Wanayasa dan guruku
merupakan sahabat karib. Jadi sudah sepantasnya saling
membantu.”

“Sariti baiknya kita segera mengejar Dika
Hanggara si kumbang madu itu.”

“Kau benar Wulan. Dia akan kesulitan membawa
tawananya. Baiknya kita berpencar Wulan.”

“Benar Sariti. Kau ke arah kanan jalan ini biar aku
ke kiri diantara gerumbul semak di sebalah sana.”

“Baik Wulan. Hati-hatilah.”

Anting Wulan mengangguk keduanya lantas
berpencar mencari jejak Dika Hanggara yang melarikan
raden Karmapala.

“Hem, kemana orang yang bernama Dika
Hanggara itu membawa lari raden Karmapala. Coba aku
ke arah gerumbul semak itu,” gumam Anting Wulan
kemudian bergerak perlahan menyibak rumpun perdu di
sepanjang langkahnya.

“Perutku perih sekali. Sejak sore tadi belum diisi
apapun. Baiknya aku istrirahat dulu. Untungnya
bungkusan makanan ini tidak hilang dalam pertempuran
tadi. Ahhh…, kasihan sekali kakang Saka. Tentu dia
menunggu nasi ini. Tapi biarlah, hihi…, kakang Saka bisa
mencari sendiri di desa Paciringan.”

Baru saja Anting Wulan hendak membuka
bungkusan makanannya. Pendengarannya yang terlatih
mendengar bunyi ranting yang terinjak.

“Kurang ajar siapa lagi yang mengganggu selera
makanku ini, apakah dia laki-laki yang dimaksud Sariti,
biar aku lihat” sungut Anting Wulan. Setelah memasukan

118

Kisah Sepasang Anak Harimau

kembali bungkusan nasi di balik pakaiannya gadis perkasa
itupun melesat ke balik gerumbul perdu.

“Hai…! siapa kau, keluar dari semak itu. Atau aku
pangkas berikut kepalamu,” tandas Anting Wulan lantas
sreet…, mencabut pedangnya.

“Baiklah jika kau mencari penyakit.” Dengus
Anting Wulan kemudian bersiap melancarkan serangan.
Saat itulah dari rumpun perdu keluar seorang laki-laki
berpakaian hitam-hitam lusuh laiknya petani dengan pacul
di pundak kirinya.

“Tunggu…, tunggu, jangan lakukan itu nona.”
Kata laki-laki petani sambil memohon-mohon.

“Siapa kau? Mengapa mengintai ku.”
“Saya…, saya tidak mengintai nona. Tapi
memperhatika nona dari semak ini.”
“Apa bedanya?”
“Saya, saya penduduk desa ini, hendak pulang dan
melihat nona yang sedang duduk di sana.”
“Heh. Apa kau melihat laki-laki yang membawa
seorang anak lewat di tempat ini?”
“Tidak nona.”
“Tunjukan di mana rumahmu.”
“Baik nona. Silahkan…, gubuk saya sudah tidak
jauh lagi dari sini.”
“Kau jalanlah dulu.”
“Baik nona,” dengan tertatih laki-laki petani itu
berjalan di depan Anting Wulan. Sekadar menguji dan
mengurangi rasa curiga secepat kilat dara manis itu
lancarkan serangan membuat lelaki petani itu terjengkang
dan berguling-guling.

119

Babad Tanah Leluhur

“Ampun nona…, apakah saya melakukan
kesalahan lagi hingga membuat nona pendekar marah.”

“Ahhh sudahlah. Maapkan aku. Salah orang,” kata
Anting Wulan kemudian bersiap meningalkan laki-laki
petani tersebut. Namun tanpa diduga oleh pendekar ning
sewu itu satu totokan halus melanda tubuhnya hingga
tidak bisa bergerak.

“Kau.., kau pasti Dika Hanggara. Ayo lepaskan
totokan mu ini, kita bertempur sampai mati” dengus
Anting Wulan.

“Hem. Hahaha…., kau kira sedang berhadapan
dengan siapa nona manis. Aku Dika Hangara si kumbang
madu tidak sebodoh itu. Ayolah katanya kau ingin ke
pondokku, lihat itu pondokku sudah dekat, mari…,”

“Apa yang akan kau lakukan. Jangan sentuh
diriku,” pekik Anting Wulan ketika Dika Hanggara
mendekatinya dan dengan sangat kurang ajar memondong
tubuh Anting Wulan dalam rengkuhan tangan kekarnya.

“Hahahaha…., kapan lagi aku bisa memondong
gadis pendekar seperti ini, hahahaha….beruntung sekali
aku hari ini.”

Anting Wulan yang menyadari situasai hanya bisa
pasrah dirinya dibawa Dika Hangara ke dalam pondok
bambu. Tiba di dalam pondok si Kumbang Madu
Mendudukan pendekar ning sewu itu di atas amben kayu.

“Kau duduklah di situ tenang-tenang nona manis.
Ahhh…, sayang sekali aku sedang menunggu Mayang
Telasih kekasihku. Jika tidak…, hahahah….”

“Dimana kau sembunyikan anak itu?”

“Ahhh, kau ingin bertemu dengannya. Baik…,
baik sebentar aku bawa anak itu menemui mu,” kata Dika

120

Kisah Sepasang Anak Harimau

Hanggara kemudian berlalu meninggalkan Anting Wulan.
Tak lama Dika Hangara si kumbang madu kembali lagi
dengan seorang anak berusia empat belas tahun dalam
kondisi kaki tangan terikat.

“Apa yang kau inginkan dariku? Kalau saja eyang
resi Wanayasa tahu. Kau akan dihukumnya.”

“Diam. Di sini bukan Karang Sedana, kau tidak
bisa seenaknya berkata lancang padaku. Dika Hanggara si
kumbang madu. Ada seseorang yang ingin menemui mu,
bocah.”

“Hai, rencana licik apa lagi yang kalian
persiapkan?”

“Eh, maap. Apakah raden ini raden Karmapala
putra sang prabu Sanna dari Galuh?” kata Anting Wulan.

“Benar aku Karmapala putra ayahanda Sanna di
Galuh. Siapa kau?”

“Saya salah seorang murid padepokan goa larang.
Ditugaskan eyang resi Wanayasa mencari raden.”

“Kau jangan membohongi ku. Aku kenal semua
murid padepokan goa larang.”

“Percayaalah raden. Saya dan kakang-kakang saya
ada di bukit batu larang ketika raden datang.”

“Apakah kau bibi Anting Wulan?”
“Benar raden.”
“Apa…, apakah kau pendekar ning sewu itu?” sela
Dika Hanggra yang merasa kaget mengetahui gadis
tawananya adalah salah satu pendekar ning sewu.
“Kau salah tangkap Dika Hanggara. Anak ini
bukan raden Purbaya buruan kalian. Dia adalah raden

121

Babad Tanah Leluhur

Karmapala purta dari sang prabu Sanna di Galuh.” Dengus
Anting Wulan.

“Hah. Hahahaha…, kau mencoba membalas
membodohiku rupanya. tidak bisa anak manis…, tidak
bisa…, ahhhh…sayang sekali aku sedang menunggu
kekasihku si bidadari pencabut nyawa. Jika tidak…,
hahaha….”

“Mau apa kau…?”
“Ah…, sayang sekali…sayang sekali….”
“Lepaskan totokan mu ini. Kita bertarung sampai
mati.”
“Ahh. Hahaha…, buat apa bertempur, lebih baik
kita…ah apa ini. Dua bungkus nasi. Apakah salah satunya
untuku…hahah…terimakasih nona manis.” Kata Dika
Hangara sambil mendekatkan wajahnya pada Anting
Wulan. Gadis pendekar ning sewu itu tertegun beberapa
kejap bilamana hawa yang sangat harum berhembus
memenuhi rongga hidungnya. Seketika pandangan mata
gadis ini menjadi sayu, di hadapan matanya kini yang
tampak bukan Dika Hanggara si Kumbang Madu tapi
raden Saka Palwaguna.

Belum jauh si kumbang madu mempermainkan
tawanannya tiba-tiba pintu pondok terpentang lebar
dengan satu sosok jelita berselendang kain merah berdiri
angker di hadapan Dika Hanggra.

“Ahh…, adik Mayang kekasihku. Kau sudah
datang rupanya.”

Gadis jelita dengan sorot mata setajan sembilu
tidak menggubris kata-kata Dika Hanggara. Pandangan
matanya yang angker justru menyorot tajam pada Anting

122

Kisah Sepasang Anak Harimau

Wulan. Perlahan senyum sinis terbersit dari sudut bibirnya
yang ranum.

“Huh, kau rupanya perempuan celaka. Dan
mengapa kau berpakaian seperti itu kakang Hanggara?”

“Aku menyamar untuk menagkap burung ini adik
Mayang. Dia salah satu pendekar ning sewu.”

“Lalu apa saja yang telah kau lakukan padanya?”
“Aku…, aku tidak melakukan apapun padanya.
Adik Mayang.”
“Lalu bungkusan nasi itu didapat darimana, kalau
bukan dari balik pakaian bibi Anting Wulan,” sela raden
Karmapala membuat mata indah Mayang Telasih
terbelalak menyeramkan.
“Bohong, jangan percaya omonga bocah sial itu
adik Mayang.”
“Kakang Hanggara…, kau…berani menghianati
ku.”
“Tidak adik Mayang. Jangan percaya anak sial
itu.”
“Andai saja bibi Wulan tidak malu. Mengatakan
kau telah menciumnya.” Pungkas raden Karmapala
membuat amarah Mayang Telasih meledak sudah.
“Kakang Hanggra…kau menghianati ku. Kau
harus mati di tanganku…,” sentak Mayang Telasih
selendang merah dalam genggamanya kini melilit leher
Dika Hanggra hingga megap-megap.
“Ampun adik Mayang. Percayalah…, hanya kau
yang aku cintai adik mayang.”

123

Babad Tanah Leluhur

“Kalau begitu biar perempuan sial itu yang harus
mati di tanganku,” dengus Mayang Telasih. Matanya
menyorot tajam pada Anting Wulan.

“Jangan bunuh dia adik Mayang….”
“Kakang Hanggara kau benar-benar ingin mati.
Kau membela gadis sial ini.”
“Bukan, bukan begitu adik Mayang. Dia masih kita
perlukan sebagai jaminan untuk anak itu dan memancing
saudara-saudaranya yang lain keluar dari
persembunyiannya.”
“Huh. Kau beruntung anak manis. Kami masih
memerlukan mu. Nah beristirahatlah,” dengus Mayang
Telasih kemudian bersama Dika Hanggara meninggalkan
Anting Wulan dan raden Karmapala begitu saja.

Semantara itu Sariti yang juga tengah melacak
keberadaan Dika Hanggara dan Mayang Telasih tampak
hentikan langkah. Gadis ayu salah satu anggota tongkat
merah itu dongakkan kepalanya ke langit yang mulai
merona jingga tanda sebentar lagi menjelang rembang
petang.

“Aku tidak menemukan apapun di tempat ini.
Baiknya menyusul Wulan,”memikir sampai di situ Sariti
segera kelebatkan tubuhnya menembus rumpun perdu.
Setelah beberapa lama dia berlari sekitar seratus meter di
antara temaram senja mata gadis ayu itu melihat
wuwungan sebuah pondok. Dia segera merapatkan
tubuhnya di dinding dan mulai mengintai.

“Tepat dugaan ku. Itu Wulan, tapi kenapa dia bisa
diperdaya seperti itu. Ke mana Mayang Telasih dan Dika
Hanggara,” gumam Sariti. Gadis ayu itu lantas mengintai
ke bilik sebelahnya. Paras Sariti seketika memerah saga

124

Kisah Sepasang Anak Harimau

begitu menyaksikan apa yang ada di dalam bilik. Sepasang
manusia tengah asik masyuk dalam olah rasa kamasutra.

“Jurigg…, mereka benar-benar tidak tahu malu.
Tapi ini kesempatan ku untuk membebaskan Wulan,”
dengan perasaan tidak menentu Sariti segera bergerak ke
bilik dimana Anting Wulan dan raden Karmapala disekap.
Beruntung bagi Sariti pintu bilik itu tidak terkunci.

“Sariti cepat bebaskan totokan ini.”
Tess…!
Bersamaan dengan itu….
Bruakkkk…!

Pintu kamar bilik dimana sepasang manusia tengah
mabuk surga dunia itu pecah berkeping-keping disusul
melesatnya sang Bidadari Pencabut Nyawa, Mayang
Telasih.

“Haii…kau lagi gadis pengemis celaka…!”

Tidak menunggu lama pertempuran antara Sariti
dan Anting Wulan menghadapi Mayang Telasih di dalam
pondok berlangsung seru apalagi kini Dika Hanggara si
Kumbang Madu juga sudah bergabung,

“Kakang Hanggara cepat bawa pergi anak itu…!”

Sentak Mayang Telasih sambil melesatkan
selendang merah bersamaan dengan berhamburannya
senjata rahasai berupa bunga-bunga pipih. Begitu Sariti
sibuk menghindari senjata rahasiaa, Mayang Telasih
berkelebat cepat meningalkan pondok.

Tidak menunggu komando dua kali, Dika
Hanggara yang tengah bertempur denga Anting Wulan
segera menyambar tubuh raden Karmapala dan dengan
kecepatan tinggi sambil memanggul putra prabu Sanna

125

Babad Tanah Leluhur

diapun melesat ke atas menembus wuwungan pondok
menyusul Mayang Telasih.

“Bagaimana Wulan?”
“Mereka ke Barat.”.”
“Tolong lindungi aku Wulan. Aku coba
memulihkan diriku dengan tenaga inti.”
“Lakukanlah dengan tenang Sariti.”

Beberapa saat kemudian setelah peredaran darah
dan pernapasannya bekerja dengan baik, gadis manis
anggota tongkat merah itu hetikan semadinya.

“Bagaimana keadaan mu Sariti?”
“Sudah sedikit membaik Wulan.”
“Terimakasih Sariti. Kau menolongku lagi. Aku
memang bodoh dapat diperdaya oleh kedua iblis itu.
“Berhati-hatilah Wulan. Mereka sangat licik. Ayo
kita kejar mereka.”
“Sangat berbahaya melakukan pengejaran di
malam hari, Sariti.”
“Kau benar Wulan. Baiknya kita ke desa
Kumparan.”
“Ayo Wulan,” kata Sariti keduanya lantas melesat
sebat ke arah Barat dimana desa Kumparan berada.
Seantara itu di bukit baru larang. Raden Purbaya tengah
mendapat arahan dari Jerangkong hidup.
“Kenapa guru harus bertempur dengan kakek?
Menyiksa diri dengan saling memukul.”
“Hehh…, lalu apa maksudmu. Aku tidak boleh
bertempur dan mengadu nyawa?”

126

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Bukankah tujuan hidup manusia yang mulia
adalah mencari ketenangan lahir dan batin.”

“Hehehe…, bocah…, bocah. Kau tahu apa tentang
tujuan hidup. Apa gunanya aku mengasingkan diri
bertahun-tahun, mempelajari ilmu kepandean, jika bukan
untuk aku pergunakan mambunuh lawan-lawanku.”

“Bukankah ilmu kepandean itu digunakan untuk
membela diri, guru?”

“Bocah, bocah. Agaknya ajaran si Wanayasa itu
berpengaruh besar pada dirimu. Dengar,Purbaya, siapapun
itu jika telah mengasai sejurus dua jurus ilmu itu artinya
sudah mempersiapkan diri untuk menjatuhkan dan
menundukan juga membunuh lawan.”

“Membunuh lawan,” gumam Raden Purbaya
pelan. Seketika wajahnya berobah murung.

“Heh, ada apa bocah kenapa kau diam saja.
Apakah kau pernah membunuh manusia?”

“Saya…, saya. Tapi orang itu sangat jahat guru.
Dia membuhuh saudaranya sendiri bahkan ayahnya
menginginkan kematiannya.”

“Bagaimana kau membunuhnya muruidku?”
“Saya lempar kepalanya hingga pecah pakai batu
dari atas tebing.”
“Siapa orang itu?”
“Ki Dandung…, guru.”
“Ahhhh…, muridku. Banyak orang jahat di dunia
ini. Namun, tindakan jahat bukan dilakukan dengan
membunuh saja. Seorang raja yang hidup mewah di atas
penderitaan kawulanya itu jahat. Seseorang yang hidup di
atas kesengsaraan saudara-saudaranya dia juga jahat. Dan

127

Babad Tanah Leluhur

orang yang pura-pura tidak mau membantu padahal dia
mampu, itu juga jahat. Seperti Kuraya kekekmu itu.”

“Tidak. Kekek tidak jahat. Guru bohong, guru
dusta,” sungut raden Purbaya sedang Jerangkong Hidup
hanya tersenyum melihat kemarahan muridnya itu.

“Muridku. Kau lihat kondisi ku ini, untuk bergerak
banyakpun aku tidak mampu. Dan kau lihat juga
bagaimana kondisi kakekmu itu,” desis Jerangkong Hidup.

“Eh, sepertinya tidak jauh beda dengan kondisi
guru.”

“Hehhhh, Purbaya kau harus banyak belajar
tentang watak dan sipat orang. Muridku dengar. Kakek mu
itu kondisinya jauh lebih baik dari ku. Dia hanya berpura-
pura tidak berdayaKalau padahal dia mampu
menyembuhkan dirinya dan diriku.”

“Maksud guru?”
“Kakekmu itu memiliki pil dewa yang mampu
menyembuhkan dirinya.”
“Apakah guru yakin, kakek memiliki pil itu?”
“Eh, kau lihat kekek mu itu memberikan pil
berwarna kuning pada saudara-saudara mu. Pil itulah yang
aku perlukan, murudku.”
“Saya akan memintanya pada kekek.”
“Bagus sekali muridku.”
“Kalau boleh saya tahu. Mengapa guru dicap
sebagai orang jahat dan iblis kejam oleh semua orang?”
“Ahhh, jadi kau ingin tahu riwayatku?”
“Iya guru.”

128

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Baiklah Purbaya. Karena kau sudah menjadi
muridku. Aku akan mengisahkan sepenggal riwayat
hidupku padamu.”

-o0o-

Shadhu Godes Amba mengajak Burit Putra ke
tanah kelahirannya, negri Hindustan. Pertapa maha sakti
itu menggembleng Burit Putra hingga menjadi pendekar
sakti tiada tanding. Berbagai ilmu kanuragan langka dan
ilmu kedigjayaan dalam waktu singkat mampu diserap
Burit Putra dengan sempurna. Dia pun tumbuh menjadi
seorang pemuda gagah dengan paras rupawan. Kondisi
fisiknya yang berbeda dengan orang kebanyakan tidak
mejadi halangan bagi dirinya untuk bergaul hidup
membaur dengan masyarakat Lembah Hindus purba, salah
satu wilayah Kerajaan Darmaganti di tepi sungai
Gangganadi. Hindia Selatan di masa kuno.

Sebagai murid tunggal Shadhu Godes Amba, Burit
Putra sangat terkenal sebagai seorang pemuda gagah
rupawan nan sakti yang siap menolong siapapun yang
membutuhkan. Beberapa kali sri baginda Darma Wikalpa
mengutus dirinya menumpas para perampok yang
berkeliarn di sepanjang pegunugan lembah Hindus. Tugas
dari raja Darmaganti itupun mampu dikerjakan dan
diselesaikannya dengan baik dan sempurna membuat sang
raja terkesan dan menganugrahkan pemuda itu dengan
pangkat tinggi sebagai panglima Kerajaan Darmaganti.
Namun dengan santun Burit Putra menolaknya.

“Gusti Prabu, hamba lebih suka beralaskan rumput
berpayung langit biru. Namun, jika sewaktu waktu
baginda membutuhkan hamba selalu siap.”

129

Babad Tanah Leluhur

“Aku terkesan dengan pribadimu Burit Putra, tapi
tetap kau kuangkat menjadi Panglima perang ku.”

Bukan saja sri baginda Darma Wikalpa yang
terkesan dengan kepribadian Burit Putra bahkan semua
perguruan silat di tanah Hindustan begitu mengagumi
kepribadiannya. Beberapa kali murid tunggal pertapa sakti
itu membantu kesulitan tiap perguruan yang tersebar di
sepanjang pegunungan lembah Hindus.

Pada senja nan teduh pertapa sakti Shadu Godes
Amba memangil murid tunggalnya Burit Putra menghadap
dirinya. Pemuda gagah berwajah rupawan yang kini
berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu duduk bersila
di hadapan gurunya.

“Burit Putra. Sri baginda Darma Wikalpa kemarin
mengirim utusan ke padepokan kita,” sang pertapa
hentikan sejenak kalimatnya menuggu reaksi pemuda
gagah di hadapannya, begitu Burit Putra hanya diam,
diapun melanjutkan kata-katanya.

“Sri Baginda mengutus mu menjemput calon
menantunya dari kerajaan Linggamanik, Sri Devi
Sarasvati yang akan bersanding dengan putra mahkota
Darma Govala. Kau akan dikawal oleh beberapa prajurit
khusus Darmaganti.”

“Saya siap menjalankan perintah Shadu dan sri
baginda.”

“Bagus Burit Putra, sebentar lagi para prajurit
khusus Darmaganti akan datang menjemputmu,”

Benar saja. Belum kering kalimat Shadu Godes
Amba dari binirnya. Di luar padepokan terdengar ringkik
dan derap ladam kuda berhenti tepat di pintu regol
padepokan.

130

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Nah, mereka sudah datang. Kerjakan tugas dari
baginda dengan baik.”

“Baik shadu.” Kata pemuda gagah sambil
menyentuh kaki sang Shadu menyapukan kedua telapak
tanganya ke rambut setelah itu bergegas menemui para
prajurit khusus Darmaganti, tidak menunggu lama puluhan
ladam kuda terdengar meninggalkan padepokan Shadu
Godes Amba.

Tga hari kemudian, pada pagi hari nan sejuk
rombongan penjemput pengantin dari Kerajaan
Darmaganti yang dipimpin Burit Putra sampai di Kerajaan
Linggamanik. Maharaja Linggamanik Prabu
Duvalamaghada bersama sang permaisuri menyambut
rombongan itu dengan baik. Selama tiga hari utusan
Darmaganti dijamu dengan layak oleh raja
Duvalamaghada.

Sesuai waktu yang telah ditentukan. Tibalah
saatnya putri Sri Devi Sarasvati diboyong ke Darmaganti.
Sang putri sudah duduk anggun di dalam kereta ditemani
beberapa dayang dan kerabat keraton. Setelah persiapan
dirasa lengkap Burit Putra segera memerintahkan
rombongan besar itu berangkat bertolak dari kerajan
Linggamanik menuju kerajaan Darmaganti.

Tidak seperti keadaan ketika berangkat yang hanya
beberapa prajurit pilihan yang menemaninya kini di
tambah sang putri dan kerabat istana perjalanan kembali
ke kerajan Darmaganti dirasa begitu lama. Maklum
rombongan besar tersebut disamping membawa kerabat
juga membawa perbekalan dan perlengkapan lainya.
Mentari perlahan tenggelam di cakrawala barat ketika
rombongan besar itu sampai di sebuah hutan kecil dengan
sungai berbatu-batu. Burit Putra memutuskan beristirahat
di tempat itu.

131

Babad Tanah Leluhur

“Maap gusti putri. Malam ini kita beristirahat di
sini.” Kata Burit Putra sambil merangkapkan telapak
tangannya di depan dada.

“Berapa lama lagi kita sampai di Darmaganti?”
“Kalau tidak ada halangan. Lima hari lagi kita
sampai di kota raja Darmaganti.” Kata Burit Putra.

Melalui ujung alisnya pemuda rupawan itu melirik
pada lawan bicaranya namun segera tundukan wajah
begitu putri Sri Devi Sarasvati memandangi dirinya cukup
lama.

“Siapa namamu Panglima?”
“Nama hamba Burit Putra, gusti putri.”
“Burit Putra. Kita tidak berada di keraton, lupakan
sejenak segala penghormatan.panggil aku dengan nama
saja.”
“Hamba tidak berani. Gusti putri.”
“Burit Putra, tahukah kau, ibarat seni topeng. Aku
lebih menyukai kedoknya daripada dalangnya.”
“Maksud gusti putri?”
“Kalau kau ingin tahu jawabannya. Malam ini
berjagalah di depan tendaku.”
“Baik gusti putri.”

Putri Sri Devi Sarasvati tersenyum, kemudian
masuk ke dalam tenda. Malam semakin larut, Burit Putra
yang masih duduk di depan api unggun gosok kedua
telapak tanganya sekadar mengusir hawa dingin. Jauh
dilubuk hati pemuda rupawan itu berkecamuk akan arti
kata-kata putri Sri Devi Sarasvati.

“Burit Putra, tahukah kau, ibarat seni topeng. Aku
lebih menyukai kedoknya daripada dalangnya.”

132

Kisah Sepasang Anak Harimau

Dini hari. Pemuda rupawan itu baru bisa
memejamkan kedua matanya. Dan pada keesokan harinya
rombongan besar itu melanjutkan perjalanan menuju kota
raja kerajaan Darmaganti.

Shadu Godes Amba tercenung beberapa kejap
begitu Burit Putra menyelesaikan kalimatnya. Dalam hati
pertapa sakti ini begitu masgul dan prihatin juga khawatir
dengan keselamatan murid tunggalnya itu. Sinaloka atau
perumpamaan yang diucapkan putri Sri Devi Sarasvati
pada Burit Putra mengandung arti sangat mendalam.
Lebih meyukai topeng daripada dalangnya memiliki arti
bahwasannya putri Kerajaan Linggamanik itu lebih
mencintai Burit Putra daripada putra mahkota Kerajaan
Darmaganti. Ditambah lagi perintah sang baginda Darma
Wikalpa yang mengutus Burit Putra untuk memimpin
pasukannya menupas gerombolan perampok hutan
Pringga Devasana. Dan siapapun tahu hutan itu adalah
sebuah hutan larangan nan angker dan jarang orang yang
masuk ke dalam hutan tersebut dapat keluar dengan
selamat. Jelas sudah sang baginda bermaksud
menyingkirkan muridnya itu dengan jalan halus.

“Burit Putra. Apakah ada yang kau lewatkan dari
laopran yang kau berikan pada main setelah penjemputan
putri Sri Devi Sarasvati.” Kata sang pertapa sambil
menatap tajam muridnya.

“Maapkah saya shadu.Sebenarnya….

Malam menjelang dini hari. Burit Putra rentangkan
kedua tanganya ke samping mengusir penat. Api unggun
kembali berkobar begitu pemuda rupawan tersebut
menambahkan beberapa ranting kering di atas perapian.
Saat itulah kain tenda terbuka dan seraut wajah ayu
muncul dari balik tirai.

“Gusti Putri, kenapa belum beranjak ke peraduan?”

133

Babad Tanah Leluhur

Bukannya menjawab, putri kerajaan Linggamanik
itu malah keluar dari tenda dan duduk menjajari Burit
Putra.

“Burit Putra apakah kau sudah mengetahui arti dari
sinaloka itu?”

“Maapkan hamba gusti putri.”
“Kenapa? Aku tahu kaupun merasakan hal yang
sama.”
“Hamba hanya seorang utusan, gusti putri.”
“Jujurlah pada dirimu.”
“Hamba…”
“Aku mencintaimu sejak pertama kali kau datang
ke negriku. Bawalah aku pergi, aku ingin menjadi orang
biasa. Burit Putra.”

Burit Putra tergeragap manakala tubuh putri
Lingamanik itu jatuh dalam pelukannya. Sesaat keduanya
larut dalam suasana, sampai akhirnya pemuda gagah itu
tersadar dengan apa yang dia lakukan.

“Maapkah hamba gusti putri. Ini tidak benar,
melanggar aturan.” Kata pemuda itu kemudian berdiri dan
bermaksud meningalkan sang putri, namun hati pemuda
ini kembali bergetar hebat manakala putri Sri Devi
Sarasvati memeluknya dari belakang dengan erat.

“Gusti putri….”

Apa yang terjadi kemudian hanya halimun malam
dan desau angin menerpa dedaunan yang tahu. Namun
rupanya apa yang telah dilakukan kedua insan yang
sedang dimabuk asmara itu tidak lepas dari sepasang mata
yang sejak tadi mengintai keduanya dari balik gundukan
batu padas di tepi sungai.

134

Kisah Sepasang Anak Harimau

Kembali Shadu Godes Amba tercenung ketika
Burit Putra menyelesaikan ceritanya.

“Kau telah melakukan perbuatan nista, Burit
Putra.”

Burit Putra hanya diam dan semakin dalam
menundukan kepalanya.

“Megirim mu ke hutan Pringga Devasanta, secara
tidak langsung sri baginda ingin menyingkirkan mu.”

“Apapun itu, saya tanggung resikonya shadu.”
“Baiklah. Jika kau mampu keluar dari hutan
pringga devasanta dengan selamat tinggalkan negri
Hindustan ini dan kembalilah ke tanah Jawadwipa.
Lupakan apa yang terjadi disini. Bukalah lembaran baru.”
“Baik shadu.”

Maka demikianlah Burit Putra yang memimpin
pasukannya menumpas gerombolan perampok hutan
Pringga devasanta yang sejatinya semua itu hanya
rekayasa sri baginda Darmawikalpa menemui ajalnya.
Pemuda gagah itu dijebak, sebelumnya secara sengaja
anak buahnya yang sudah diperintah prabu Darmawikalpa
memasukan racun ke dalam kendi yang biasa Burit Putra
bawa. Namun rupanya takdir berkehendak lain. Di saat
pemuda gagah itu mejelang ajal satu sosok bayangan
hitam nyembar dan membawanya terbang entah kemana.
Dan ketika dia siuman satu sosok hitam besar yang
ternyata seekor kalong berkepala serigala sudah berada di
hadapanya.

“Jangan takut putraku. Kau adalah keturunanku,
tak seorangpun yang aku biarkan menyakiti dirimu. Burit
Putra.”

“Aku keturunan mu, mahluk apa kau ini?”

135

Babad Tanah Leluhur

“Hahaha…., sudah aku bilang kau adalah
keturunanku.”

“Tidak…, tidak mungkin…”

Belum selesai pemuda gagah itu berkata seberkas
cahaya hitam legam menerpa wajahnya seketika Burit
Putra ambruk tak sadarkan diri dan antara sadar dan tidak
dia menerima sebuah ajian dahsyat yang kelak
meggegerkan dunia persilatan tanah Jawa dan Pasundan.

“Begitulah ceritanya Purbaya. Sejak saat itu aku
memiliki keperibadian ganda. Namun kejahatan dalam
diriku lebih unggul satu langkah dari kebaikanku.”

“Apakah guru tidak ingin menjadi orang baik
kembali?”

“Kadang keinginan itu ada. Tapi kembali kekuatan
hitam dalam diriku selalu membelengguku. Sejak saat
itulah aku menjadi momok nomor satu di tanah Industan,
Jawadwipa dan Pasundan hingga satu ketika seorang resi
bernama Sanata Darma menghentikan sepak terjangku.
Ahh sudahlan Purbaya, ayo kita tunjukan jurus yang baru
saja aku ajarkan padamu pada Kuraya, kakek mu itu.”

“Baik guru….”

Keduanya kemudian keluar dari gugusan batu-batu
besar yang banyak berserakan di bukit batu larang.

“Kuraya keluar kau, terimalah jurus mautku ini,”
belum kering teriakan Jerangkong Hidup dari
tenggorokannya Mamang Kuraya sudah berdiri tujuh
langkah di hadapanya dan seperti biasa pendekar kosen itu
mengumbar tawa sebelum bicara.

“Huehehehe…Jerangkong. Belum tiga hari tenggat
waktu yang aku berikan kau sudah muncul di hadapanku.”

136

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Purbaya tunjukan jurus pamungkas itu padanya.
Nah, Kuraya terimalah jurusku itu dan aku tunggu
pemecahanya selama tiga hari.”

“Baik guru,” kata raden Purbaya.
“Nah, kek perhatikanlah jurus ini,” dalam satu
gerak jurus maut kelelawar sakti kembali diperagakan
raden Purbaya dengan cepat tepat dan akurat.
“Hahahaha…bagaimana Kuraya, aku tunggu tiga
hari kau memecahkan jurus tandinganya.”
“Hehehehe…kau sebut itu jurus pamungkas,
Jerangkong-jerangkong. Tanpa aku bimbingpun Purbaya
mempu memecahkannya sendiri. Tidak percaya? Eh kau
Purbaya peragakan jurus pertama kincir metu terbaikmu.”
“Eh, mungkin maksud kakek jurus gerbang dewata
yang sudah disempurnakan. Baiklah,” gumam raden
Purbaya lantas memperagakan jurus tersebut dengan
cepat, tepat dan akurat.”
“Huheheheh…, jurus andalamu itu dipatahkan oleh
muridmu sendiri…hehehe.”
“Kurang ajar. Kemari kau Purbaya.”
“Eit…, tidak bisa Jerangkong. Kini giliranku. Ayo
Purbaya ikut aku.”
“Baik kek,” kata raden Purbaya, lantas bersama
Mamang Kuraya tiggalkan begitu saja Jerangkong Hidup
yang masih terdiam dengan gejolak amarah tak
tertahankan karena jurus andalannya mampu dipecahkan
oleh muridnya sendiri.

-o0o-

137

Babad Tanah Leluhur

Hari masih sangat pagi ketika Anting Wulan dan
Sariti memasuki gerbang desa Kumparan. Kedua gadis
remaja yang tengah melacak keberadaan Bidadari
Pencabut Nyawa dan Dika Hanggara yang melarikan
raden Karmapala hentikan langah sepuluh tombak dari
penginapan yang terletak di tengah desa.

“Wulan kau yakin mereka ada di desa ini?”
“Semalam kita kurang teliti mencarinya Sariti.”
“Wulan coba perhatikan orang yang tidak jadi
keluar dari penginapan ketika melihat kita.”
“Yang mana Sariti?”
“Itu yang memakai caping bambu. Sayang sekali
di desa ini tidak ada anggota tongkat merah.”
“Ayo kita selidiki Sariti.”

Belum lagi keduanya beranjak dari samping
penginapan, sebuah kereta kuda meluncur cepat
menembus kabut pagi yang perlahan pudar disaput sang
mentari pagi.

“Itu mereka Wulan,” teriak Sariti.
“Hai Mayang Telasih, Dika Hangara…, mau lari
kemana kalian,” sentak Anting Wulan yang dengan sebat
bersama Sariti mengejar kereta kuda yang dipacu dengan
cepat oleh kusirnya. Dalam satu kelebatan keduanya
berhasil mengejar kereta kuda dan langsung melabrak
sang kusir.
“Ampun nona, ampun…,” kata sang kusir.
“Kita salah orang Wulan.”
“Tidak Sariti. Biar aku tanya orang ini.” Dalam
sekali gerak tenggorokan sang kusir telah berada dalam
cekalan gadis perkasa tersebut.

138

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Ampun nona. Lepaskan leher saya.”
“Jawab pertanyanku dengan jujur. Kalau tidak,
sekali betot putus urat lerermu ini.”
“Iya, iya nona. Tolong lepaskan dulu leher saya.”

Anting Wulan lepaskan cekalanya pada leher
orang yang tampak terbatuk dan meringis kesakitan.

“Apakah kau disuruh orang untuk mengecoh
kami?”

“Betul, betul nona. Saya disuruh untuk memancing
nona meningalkan desa Kumparan.”

“Pergilah kau,” kata Anting Wulan. Orang itu
segera berlari, sosoknya kemudian raib di balik
pepohonan.

“Ayo Sariti. Mereka pasti ke arah sebaliknya.”

Kedua gadis perkasa itupun melesat cepat. Namun
ketika beberapa saat mereka berlari cepat Sariti terlihat
hentikan larinya.

“Ada apa sariti?”
“Kita kembali ke desa Kumparan, ayo Wulan.”
“Kenapa Sariti?”
“Mereka benar-benar memperhitungkan segalanya
dengan matang.”
“Maksudmu?”
“Aku yakin. Sebenarnya mereka tidak kemana-
mana. Mereka masih di penginapan itu. luka yang aku
buat di pungung Mayang Telasih akan merepotkan gerak
mereka. Ayo Wulan, kita kembali.”
“Baiklah Sariti.”

139

Babad Tanah Leluhur

Tanpa membuang waktu keduanya kembali
melesat menuju desa Kumparan. Mentari sepenggalah
ketika Anting Wulan dan Sariti tiba di depan penginapan.

“Wulan kau naiklah ke wuwungan peginapan. Biar
aku yang memeriksa, jika mereka keluar kau bisa
melihatnya.”

“Tunggu Sariti. Biar aku yakinkan dulu dengan aji
empat arah pembeda gerak.”

“Lakukanlah Wulan. Aku akan melindungimu.”

Anting Wulan segera memusatkan perhatian.
Memilah dan memilih suara-suara yang masuk ke dalam
indra pendengaranya. Tidak menunggu lama dia telah
yakin di mana keberadaan orang yang dicarinya. Gadis
perkasa dari goa larang itupun memberi isyarat pada
Sariti. Semantara di bagian sudut penginapan Dika
Hanggara tampak mengobati punggung Mayang Telasih.

“Bagaimana pungung mu adik Mayang?”
“Sudah agak baikan kakang Hanggara. Baiknya
kita segera meninggalkan penginapan. Lebih cepat sampai
di Karang Sedana akan lebih baik. Apakah kau sudah
meberi makan anak itu.”
“Dia sudah menghabisakan dua bungkus nasi. Saya
kira sudah cukup.”
“Kita akan melakukan perjalan sepanjang malam.
Kau totok kembali jalan darahnya, kakang Hanggara.”
“Sudah aku lakukan adik Mayang.”

Saat itulah terdengar ketukan dari balik pintu.
“Siapa itu?”
“Mungkin pelayan, kau bukalah kakang
Hanggara.”

140

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Baik adik Mayang.”

Tanpa curiga Dika Hanggara si Kumbang Madu
perlahan membuka pintu. Saat itulah serangkum angin
panas melabrak dirinya hingga terjungkal disusul
melesatnya sosok Anting Wulan dan Sariti. Dika hanggara
yang bermaksud memanggul tubuh raden Karmapala
kembali menerima tendangan dari Anting Wulan. Melihat
situasai yang tidak memungkinkan Mayang Telasih segera
melesat pergi disusul Dika Hangara.

“Hai…, jangan lari kalian!” sentak Anting Wulan
yang bermaksud mengejar keduanya.

“Tunggu Wulan. Biarkan mereka pergi. Kita sudah
mendapatkan tawanannya.” Kata Sariti. “Sepertinya dia
dalam pengaruh totokan, baiar aku buka,” dengan cepat
Sariti membuka jalan darah yang menguasai raden
Karmapala.

“Bibi Wulan. Tolong antarakan saya ke Galuh.
Akan saya laporkan mereka pada ayahanda prabu Sanna.”

“Untuk saat ini tidak bisa raden.”
“Kenapa bibi Wulan?”
“Masih bayak orang yang ingin menangkapmu
Mereka menyangka raden adalah raden Purbaya.”
“Purbaya. Gara-gara anak itu aku menjadi bulan-
bulanan orang jahat. Awas kau Purbaya, kau telah
membuat saya sengsara, saya akan membuat perhitungan
denganmu.” Sentak raden Karmapala berapi-api.
“Sudahlah raden. Untuk semantara kita ke kali
Cagak.”
“Ada apa di kali Cagak, bibi Wulan?”
“Eyang Resi Wanayasa.”

141

Babad Tanah Leluhur

“Baiklah bibi Wulan.”
“Ayo Sariti. Supaya cepat sampai, kita ke Kali
Cagak melalui perbukitan batu larang.”
“Baiklah Wulan.”

Katigaya segera meninggalkan tempat tersebut
menuju kali Cagak. Semantara itu di bukit Batu Larang.
Raden Purbaya tengah dibimbing Mamang Kuraya dengan
jurus-jurus andalanya untuk diperagakan pada Jerangkong
Hidup.

“Hehehehe…, bagus, bagus, kau sudah menguasai
dengan baik jurus gerbang dewata. Sekarang, mainkan lagi
jurus itu tapi kau robah sedikit kuda-kudanya. Dan
gunakan sebelah kakimu saja.”

“Hah, sebelah kaki kek?”
“Iya. Pergunakan kaki kirimu. Kaki kanan letakan
pada lutut kirimu itu.”
“Ehh, saya kira akan sulit kek.”
“Lakukanlah dulu. Jangan sekali-kali menyebut
kata sulit. Lakukan!”
“Baik kek,” kata raden Purbaya kemudian kembali
memperagakan jurus gerbang dewata dengan bertumpu
hanya satu kaki. Dan seperti dibayangkannya hal itu
membuat gerakanya sedikit tidak terkontrol, sesekali raden
Purbaya tampak limbung dan bergoyang ke kanan atau ke
kiri.”
“Hehehe, nah bagaimana Purbaya?’
“Saya tidak mampu melakukanya dengan baik,
kek.”
“Yayaya…, itu sudah pasti. Tapi kau harus terus
mencoba sampai bisa. Dengar Purbaya, manpaatkan gerak

142

Kisah Sepasang Anak Harimau

jatuhmu. Gerakan yang tidak terkontrol itu akan menjadi
serangan yang tak terduga.”

“Tapi kek, gerakan saya tentu akan semakin
lambat. Dan lagi bagaimana jika lawan menyerang di saat
saya jatuh.”

“Hehehe…, pergunakan kembali kaki kananmu,
setiap tubuhmu terdorong jatuh karena hilang
keseimbangan. Dengan gerbang dewata kau dapat
mengelakan serangan. Untuk kelambanan mu aku akan
menolongmu.” Kata Mamamng Kuraya kemudian
tempelkan telapak tangan kanannya pada punggung raden
Purbaya.

“Eh, apa yang akan kakek lakukan?”
“Sudahlah tutup mulutmu Purbaya dan ikuti apa
yang aku katakana.”
“Baik kek.”
“Pergunakan kekuatan pikiranmu Purbaya.
Rasakah hawa hangat yang masuk ke dalam tubuhmu dan
dengan kekuatan pikiran salurkan hawa hangat itu ke
seluruh tubuhmu.”
“Baik kek.”
“Bagus Purbaya salurkan terus hawa itu ke seluruh
tubuh juga pada kedua kakimu. Sekarang bawa hawa
hangat itu pada pusar, simpanlah di situ.”
“Bagus sekali Purbaya. Tidak salah aku
menunjukmu sebagai alat dalam pertarungan ini.”
“Lalu untuk apa semua itu kau lakukan padaku
kek?”
“Dengar Purbaya. Hawa hangat yang aku salurkan
dalam tubuhmu adalah sebagian dari tenaga murni.

143

Babad Tanah Leluhur

Dengan tenaga itu kau dapat melakukan gerakan yang kau
katakana sulit itu. sekarang lakukan lagi jurus gerbang
dewata dengan kuda-kuda satu kaki.”

“Baik kek,”

Raden Purbaya segera memperagakan jurus yang
diminta Mamang Kuraya. Putra mahkota Karang Sedana
itu terkesiap bilamana mendapati tubuhnya seringan kapas
membuat dirinya gamang sendiri.

“Apa yang terjadi kek?”
“Tubuhnu itu sudah dilambari tenaga murni.
Kendalikan tenaga itu dengan kekuatan pikiranmu.”
“Akan saya coba kek,” kata raden Purbaya
kemudian dengan cepat tepat dan akurat memperagakan
jurus gerbang dewata dilanjutkan dengan kincir metu
tingkat pertama sampai tingkat ke lima dengan sempurna,
“Hehehe…, cerdik sekali. Tidak aku sangka kau
mampu menguasai jurus itu dengan cepat. Sempurnakan
jurus itu, maka tokoh-tokoh kelas dua di tanah pasundan
dan jawa ini mampu kau kalahkan. Sekarang istirahatlah.”
“Baik kek,” kata raden Purbaya kemudian
menyandarkan punggungnya di batu dekat Mamang
Kuraya.
“Kek, boleh saya bertanya?”
“Hehehe…, tentu boleh. Apa yang akan kau
tanyakan padaku.”
“Kakek adalah orang baik. Saya belum pernah
melihat kakek menyusahkan orang. Tapi…, benarkah
kakek memperdaya guru saya?”
“Apa maksudmu Purbaya? Aku memperdaya
Jerangkong Hidup.”

144

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Maapkan jika dugaan dari guru saya salah. Kakek
telah memperdaya guru tentang kondisi kekek. Kakek
sebenarnya tidak sakit, sebab memiliki obat untuk
menangkal racun ular api.”

Mendengar perkataan raden Purnaya Mamang
Kuraya hanya diam.

“Apakah benar begitu kek?”
“Gurumu benar, aku memiliki obat itu. dan
memperdayainya. Semua itu aku lakukan semata demi
kepentingan mu, Purbaya.”
“Kepentingan saya kek?”
“Aku ingin mengangkatmu sebagai murid. Aku
ingin kelak kau menjadi pendekar tangguh aku percaya
dengan tekad dan kebersihan hatimu Purbaya.”
“Terimakasih atas kebaikan kekek. Tapi saya harap
kekek mau membantu guru saya.”
“Maksud mu, aku harus memberikan obat ini pada
gurumu?”
“Benar kek.”
“Hehh…, apa kau tidak tahu siapa Jerangkong
Hidup, gurumu itu. Tapi…, baiklah sebagaimana kau
memberikan kepercayaan padanya. Nanti kau akan
mendapatkan obat itu.”
“Oh terimakasih kek.”
“Yahh…sekarang mari kita lanjutkan latihanhya.”
“Baik kek.”

Dengan semangat, kembali raden Purbaya melatih
jurus-jurus yang sudah dikuasainya baru berhenti ketika
malam perlahan melingkupi kawasan batu larang.

145

Babad Tanah Leluhur

Kawasan bukit batu larang tersaput kabut tebal,
hawa dingin terasa mencucuk persendian, desir angin
gemerisik menerpa daun-daun Janakeling yang banyak
tumbuh di sekitar bukit batu larang. Malam perlahan
merambat ke dini hari raden Purbaya terjaga dari tidur,
putra mahkota Karang Sedana itu tertegun manakala
melihat kakeknya Mamang Kuraya masih duduk sambil
memandang langit kelam di atasnya. Sesekali terdengar
desahan halus dari rongga hidung pendekar kosen
tersebut.

“Ada apa kek? Sepertinya ada yang dipikirkan.”
“Hehehe, dari mana kau tahu aku sedang
memikirkan sesuatu, Purbaya.”
“Sikap kakek yang gelisah dan sesekali menarik
napas panjang.”
“Anak cerdas. Kau benar Purbaya. Aku sedang
memikirkan dosa-dosa ku di masa lalu.”
“Ehh, maap kek. Kalau saya boleh tahu.”
“Yah…, di masa muda, aku lebih dikenal sebagai
pencuri, maling aguna yang tidak pernah tertangkap.
Bahkan aku bisa mengambil sesuatu dari orang yang
sedang aku ajak bicara.”
“Hebat sekali kek. Tapi kenapa kekek tetap miskin.
Biasanya pencuri kan kaya kek.”
“Bukan sembarang orang yang aku curi barangnya.
Hanya orang-orang kaya kikir dan pejabat korup. Lagipula
hasil dari mencuri itu aku kasih pada orang yang
membutuhkan.”

Beberapa saat Mamang Kuraya terdiam.
Sepertinya dia sedang mengumpulkan segenap ingatannya
di masa lalu.

146

Kisah Sepasang Anak Harimau

Kala itu usia Mamang Kuraya sekitar dua puluh
lima tahun. Di masa pendudukan bala tentara Sriwijaya
atas Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Sri Maharaja
Linggawarman. Keahliannya mencuri didapatkanya dari
seorang pendekar tua yang sudah mundur dari dunia
persilatan bergelar bapa maling dari puncak Mahameru.

“Aku pernah diajak kerja sama oleh seorang yang
mengaku sebagai pimpinan pejuang Tarumanagara. Tapi
aku tolak, aku tidak suka dengan sifat dan sikapnya yang
arogan. Dia pergunakan nama pejuang Tarumanagara
demi kepentingan pribadi.”

Masa itu padepokan ki Poho Sugala yang berada di
pantai selatan bagitu terkenal seantero tanah Jawa dan
Pasundan. Di samping seorang guru kanuragan ki Poho
Sugala dikenal juga sebagai seorang tabib dewa. Banyak
sekali muridnya, termasuk diriku. Di padepokanya aku
bersahabat dengan Taruma Udaka anak seorang pejabat
kerajan Tarumanagara.

“Taruma, apakah kau pernah mendengar tentang
tujuh kitab milik eyang Jalatunda?”

“Iyah, salah satu dari kitab itu pernah aku
pelajari.”

“Apakah kitab itu ada padamu?”
“Begitu seluruh kitab aku kuasai, secara
mengejutkan langsung mengkerut kemudian meletup
menyisakan abu.”
“Sayang sekali kalau begitu.”
“Kuraya, apa kau tertarik dengan kitab eyang
Jalatunda?”
“Aku lebih tertarik dengan ajian mati suri, milik
guru kita.”

147

Babad Tanah Leluhur

“Mati Suri?”
“Benar Taruma. Apakah kau juga sama?”
“Buat apa Kuraya?”
“Dengar Taruma. Aku harap kau bisa menyimpan
rahasia ini.”
“Rahasia apa?”
“Berjanjilah kau akan menyimpan rahasiaku.”
“Baik, aku berjanji.”
“Aku telah mencuri pil dewa dan sebuah kitab dari
resi Sanata Darma, kitab semadi dewa gila.”
“Lalu apa hubunganya denganku?”
“Bantulah aku mengambil kitab yang berisi ajian
mati suri itu untuk lepas dari pendeta Sanata Darma. Aku
yakin, begitu dia mengetahui aku mati maka dia tidak
akan mencari ku lagi.”
“Bukankah kau terkenal dengan sebutan maling
aguna, Kuraya. Kenapa tidak kau sendiri yang
melakukannya.”
“Aku mengandalkanmu Taruma. Kau orang yang
dipercaya guru dan tahu dimana kitab-kitab dan pil dewa
itu guru simpan. Termasuk kitab Mati Suri.”
“Kau gila, Kuraya.”
“Aku bukan termasuk orang yang mengungkit
kebaikan. Ingatkah ketika aku memberi tahu letak
kelemahan Senapati Ampal. Hutang budi itu aku anggap
lunas jika kau memenuhi permintaanku.”

Taruma Udaka tercenung beberapa kejap. Pemuda
gagah itu tidak pernah mengira akan mendapat permintaan
yang sangat sulit tersebut.

148

Kisah Sepasang Anak Harimau

“Aku hanya meminjamnya saja Taruma. Begitu
ilmu mati suri sudah aku kuasai, kitab dan obat dewa itu
akan aku kembalikan padamu.”

“Baiklah Kuraya. Ingatlah, kau hanya meminjam.
Jika kau berkhianat aku akan membuat perhitungan
denganmu.”

“Terimakasih Taruma, kau memang teman yang
baik.”

Akhirnya pil dewa dan kitab pusaka yang berisi
ajian mati suri itu berhasil aku dapatkan. Pada keesokan
harinya aku kedapatan mati. Ki Poho Sugala dan seluruh
murid padepokan pantai selatan menguburkan jasadku di
satu tempat. Untuk beberapa masa aku terhindar dari
kejaran pendeta Sanata Darma.

“Tapi kini, setelah aku muncul kembali jika
pendeta Sanata Darma dan Taruma Udaka masih hidup
tentu mereka akan tahu yang sebenarnya.

“Kenapa Taruma Udaka juga memburu kakek?”

“Jika dia masih hidup, keadaannya tentu sama
denganku sudah menjadi kakek-kakek peot, hehehe. Aku
telah menghianatinya. Begitu hari ke empat puluh aku
bangkit dari mati suri. Kitab dan pil dewa tidak aku
kembalikan padanya…, nah, Purbaya ini pakai kembali
kalungmu,” kata Mamang Kuraya sambil menyerahkan
sebuah kalung yang terbuat dari kulit.

“Eh, sejak kapan kalung milik saya ada pada
kekek?”

“Sudah aku bilang, aku mampu mengambil barang
orang yang sedang aku ajak bicara tanpa orang itu sadari,
hehehe…, sudahlah hari semakin larut kau tidurlah. Besok
pagi kau peragakan jurusku pada gurumu itu.”

149

Babad Tanah Leluhur

“Baik kek, saya tidur,” kata raden Purbaya
kemudian merebahkan tubuhnya di samping Mamang
Kuraya.

Malam semakin kelam menuju titik puncak
kesunyian, kawasan bukit batu larang tersaput kabut tebal,
dini hari barulah Mamang Kuraya bisa memejamkan
kedua matanya.

Keesokan harinya….
“Ayo Purbaya, kita temui gurumu itu.”
“Tapi kek, bagaimana dengan janji kakek.”
“Janji, aku berjanji apa padamu, Purbaya?”
“Bukankah kakek akan membantu guru saya?”
“Ehhh, tapi…, baiklah Purbaya. Ini pil yang
dibutuhkan gurumu itu,” kata Mamang Kuraya sambil
menyerahkan satu pil berwarna kuning pada raden
Purbaya.
“Terimakasih kek.”
“Yahh, berikan pil itu, untuk kesembuhan total
tujuh hari kemudian baru aku kasih lagi. Ayo kita temui
gurumu.”
“Baik kek,” kata raden Purbaya kemudian berjalan
menjajari Mamang Kuraya.
“Hai Jerangkong keluarlah. Jangan bersembunyi
terus di balik batu itu. hehehe….”

Belum kering teriakan Mamang Kuraya dari
tenggorokannya satu sosok tinggi kurus kini sudah berdiri
lima tidak dari hadapanya.

“Purbaya. Peragakan jurus seranganku itu pada
gurumu.”

150


Click to View FlipBook Version